P. 1
ANALISIS+PUTUSAN+MAHKAMAH+KONSTITUSI Tentang Terhadap Pembatalan Ketentuan Hak Pengusahaan Perairan Pesisir - HP3_KIARA

ANALISIS+PUTUSAN+MAHKAMAH+KONSTITUSI Tentang Terhadap Pembatalan Ketentuan Hak Pengusahaan Perairan Pesisir - HP3_KIARA

|Views: 65|Likes:

More info:

Published by: Faisol Faisol Rahman on Jul 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/25/2012

pdf

text

original

2011

Analisis Putusan Mahkamah Konstitusi
Terhadap Pembatalan Ketentuan Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (HP-3)

Analisis Putusan Mahkamah Konstitusi 1
Terhadap Pembatalan Ketentuan Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (HP-3)

M. Riza Damanik2

1

Tulisan ini merupakan analisis terhadap Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 3/PUU-VIII/2010 yang membatalkan ketentuan Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (HP-3) seperti yang termaktub dalam Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Kamis 16 Juni 2011. Adapun sistematika penulisan sebagai berikut: Bagian 1, memaparkan inisiatif penulisan dokumen, penjabaran awal terkait persoalan HP-3 dan urgensi dilakukannya Uji Materi ke Mahkamah Konstitusi. Bagian 2, menjabarkan substansi gugatan Koalisi Tolak HP-3 ke Mahkamah Konstitusi. Bagian 3, analisis substansi Putusan Mahkamah Konstitusi. Bagian 4, analisis terhadap terobosan yang dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi selain terhadap pokok pembatalan ketentuan HP-3. Bagian 5, ambiguitas putusan Mahkamah Konstitusi. Dalam hal ini menjabarkan halhal yang perlu menjadi perhatian. Bagian 6, (peluang) tindakan advokasi yang dapat dilakukan pasca putusan Mahkamah Konstitusi. Dokumen dapat diunduh melalui website www.kiara.or.id
2

Sekretaris Jenderal KIARA (Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan); Pemohon I Uji Materi UU No.27 Tahun 2007. Dapat dihubungi di Sekretariat Nasional KIARA: Jl. Lengkeng Blok J-5, Perumahan Kalibata Indah, Jakarta, INDONESIA 12750, Telp: +62 21 797 0482, Fax: +62 21 797 0482, website: www.kiara.or.id, email: riza.damanik@gmail.com atau kiara@kiara.or.id. 2

BAGIAN 1. PENGANTAR SETELAH sekitar 13 tahun menggeluti langsung isu-isu kelautan dan kenelayanan. Ada yang berbeda kurun empat tahun terakhir. Pertama, agresivitas para nelayan untuk mencari tahu dan mempelajari berbagai kebijakan dan program terkait kenelayanan relatif tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dengan demikian, satu tahapan menuju organisasi nelayan yang kuat: terorganisir, terdidik, dan mandiri—semakin dekat terwujud.

Kedua, keterlibatan dan perhatian publik—baik yang pro maupun kontra—mulai dari
aparatur pemerintah, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), politisi, akademisi, mahasiswa/i, praktisi hukum, LSM, budayawan, dan perhatian publik secara umum untuk membincangkan berbagai kebijakan dan program pemerintah dalam lingkup kelautan dan kenelayanan semakin membesar. Hal ini ditunjukkan dengan semakin mengarusutamanya gelombang politik, baik di tingkat lokal, nasional, hingga pada forum-forum global yang mendesakkan terwujudnya keadilan perikanan dalam beragam perspektif.

Kali ini, pasca Putusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan pasal-pasal terkait Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (HP-3), Kamis 16 Juni 2011, saya mendapati kembali keduanya. Di Sulawesi Utara, Selasa 21 Juni 2011, di hadapan sejumlah pimpinan-pimpinan organisasi nelayan tradisional, saya menemukan modalitas juang yang besar untuk menindaklanjuti Putusan Mahkamah Konstitusi ke dalam kehidupan keseharian kaum nelayan. Bagi mereka yang sedang “terusir” dari ruang hidupnya (baca: perairan pesisir)— mereka ingin merebut kembali hak-haknya dengan cara-cara yang konstitusional. Demikian pula bagi mereka yang (merasa) kehilangan eksistensinya sebagai nelayan tradisional Indonesia—tak sabar ingin mengetahui, adakah terobosan Putusan Mahkamah Konstitusi yang dapat memulihkan kembali eksistensi keluarga nelayan. Di saat yang sama, publik luas, baik yang (sebelumnya) pro maupun kontra terhadap HP-3, tertarik mendalami Putusan Mahkamah Konstitusi yang telah menghabiskan waktu persidangan lebih dari 1 tahun 5 bulan tersebut. Kesemuanya, mengharapkan adanya dokumen analisis sederhana terhadap putusan Mahkamah Konstitusi: yang berisikan 169 halaman, dengan kerumitan sistematika penulisan dan bahasa hukumnya yang khas. Untuk itulah, analisis putusan Mahkamah Konstitusi terhadap Uji Materi UndangUndang No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil perlu dituliskan. Agar dapat memberikan gambaran yang lebih sederhana terhadap Putusan Mahkamah Konstitusi, sekaligus berharap dapat memicu diskusi konstruktif untuk mengoperasionalkan hal-hal yang bermanfaat dari putusan ini untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Sekilas Mengenai HP-3 Pada tanggal 26 Juni 2007, dalam Sidang Paripurnanya, DPR RI mengesahkan Undang-Undang No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil (PWP-PPK). Konon idenya adalah sebagai sebuah terobosan untuk mengurai konflik peraturan perundangan yang (sebelumnya) telah mengatur wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, termasuk menjembatani keinginan negara melindungi 3

kepentingan keluarga nelayan dan masyarakat adat. Asumsinya, dengan hadirnya undang-undang tersebut, pembangunan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dapat berjalan ke arah maksimal. Secara prosedural, penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) PWP-PPK memakan waktu yang panjang dan melibatkan sejumlah pihak, termasuk asing. Yakni, diperlukan waktu tujuh tahun lebih untuk mengesahkan undang-undang ini. Diawali dengan penyusunan Naskah Akademik pada paruh kedua tahun 2000, yang melibatkan akademisi, praktisi hukum, LSM, juga memperoleh masukan dari sejumlah ahli dari luar, terutama dari Rhode Island University dan sejumlah pegiat kebijakan publik asal Amerika Serikat. Demikian halnya dalam konteks anggaran. Selain menggunakan alokasi anggaran negara, pada tahap inisiasi, penyusunan hingga sosialisasi UU PWP-PPK—baik secara langsung maupun tidak langsung—diketahui pula melibatkan serangkaian pendanaan asing, semisal Badan Bantuan Pembangunan Internasional Amerika (USAID), termasuk utang luar negeri yang bersumber dari Bank Pembangunan Asia (ADB) dan Bank Dunia. Sayangnya, meski telah melibatkan sejumlah pakar di bidang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil belum sungguh-sungguh menggunakan pendekatan pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu (Integrated Coastal Management). Hal ini ditandai dengan tidak adanya koreksi terhadap: ketimpangan penguasaan dan pengusahaan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil, serta kian rumitnya tumpang-tindih antar peraturan perundang-undangan yang mengatur kawasan tersebut. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 juga lebih menekankan pada aspek investasi dan lebih pro dunia usaha, sehingga tidak ada ruang bagi masyarakat, khususnya nelayan tradisional dan masyarakat adat dalam pengusulan rencana pengelolaan. Lebih jauh, UU PWP-PPK menyerahkan masalah kedaulatan wilayah teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) hanya pada setingkat Peraturan Pemerintah. Dalam UU PWP-PPK diatur tentang Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (HP3). Dapat disebut bahwa HP-3 merupakan “jantung” Undang-Undang No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. HP3 merupakan instrumen sertifikasi yang melegalkan pengusahaan perairan pesisir dan pulau-pulau kecil—untuk kegiatan budidaya, pariwisata, dan pertambangan—kepada sektor swasta, termasuk asing. Lebih rinci, obyek pengusahaan perairan berupa permukaan air, kolom, hingga dasar perairan dengan masa pengusahaan 60 tahun akumulatif. Bahkan, dapat beralih, dialihkan dan dijadikan jaminan utang dengan dibebankan hak tanggungan. Dengan demikian itu, substansi HP-3 dipastikan akan melegalkan pencabutan hakhak keluarga nelayan, masyarakat adat dan pesisir dalam mengakses sumber daya baik di wilayah pesisir, laut dan pulau-pulau kecil. Semua akses terhadap sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil terbuka untuk dikuasai oleh pemilik modal. Sebab, hanya merekalah (baca: para pemodal) yang mampu memenuhi segala persyaratan yang diatur dalam undang-undang untuk memperoleh sertifikat HP-3, yakni: syarat 4

administratif, teknis, dan operasional. Masyarakat pesisir pun berpotensi hanya menjadi penonton. Karena, tidak mempunyai kapasitas: modal, pengetahuan, akses informasi dan teknologi—untuk bersaing dengan para pemilik modal. Hingga pada akhirnya, tidak ada lagi ruang bagi masyarakat pesisir, khususnya nelayan, pembudidaya, dan buruh nelayan melakukan aktivitas sosial, ekonomi, dan budaya di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Kesemuanya berpotensi memperparah himpitan kemiskinan keluarga nelayan. Secara garis besar, UU PWP-PPK menyisakan sejumlah persoalan, di antaranya pertama, Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 selalu dikait-kaitkan dengan adaptasi terhadap situasi global. Tidak jelas apa konteks global yang dimaksudkan. Namun, jika ditelisik lebih dalam, konsep global di sini lebih mengarah pada globalisasi.

Kedua, persoalan yang muncul akibat praktik privatisasi dalam ranah yang harusnya dikuasai negara serta persoalan tata ruang; ketiga, melemahnya perlindungan terhadap kelompok rentan di pedesaan pesisir; keempat, persoalan kemiskinan dan ancaman kedaulatan negara di pulau kecil; kelima, disharmonisasi UU PWP-PPK
dengan peraturan perundangan lainnya yang terkait dengan pengelolaan wilayah pesisir.

Karenanya, Koalisi Tolak HP-3 yang terdiri dari 9 organisasi masyarakat sipil, dan 27 pimpinan organisasi nelayan, pada tanggal 13 Januari 2010 lalu, secara bersamasama mengajukan gugatan Uji Materi terhadap Undang-Undang No. 27 Tahun 2007, utamanya pada pasal-pasal terkait HP-3 ke Mahkamah Konstitusi. Tabel 1. Daftar Pemohon Uji Materi Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pemohon Organisasi Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) diwakili oleh M Riza Adha Damanik Indonesian Human Right Committe for Social Justice (IHCS) diwakili oleh Gunawan Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim (PK2PM) diwakili oleh Muhamad Karim Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) diwakili oleh Idham Arsyad Serikat Petani Indonesia (SPI) diwakili oleh Henry Saragih Yayasan Bina Desa Sadajiwa diwakili oleh Dwi Astuti Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) diwakili oleh Patra Mijaya Zein; Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) diwakili oleh Berry Nahdian Forqan Aliansi Petani Indonesia (API) diwakili oleh Muhammad Nur Uddin No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Pemohon Nelayan Tiharom Waun Wartaka Carya Bin Darja Kadma Saidin Jamhuri Rosad Tarwan Tambrin Bin Tarsum Yusup Rawa Bin Caslani Kasirin Salim Warta

5

16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27

Rakim Bin Taip Kadim Abdul Wahab Bin Kasda Mujahidin Kusnan Caslan Bin Rasita Kartim Rastono Bin Cartib Ratib Bin Takrib Wardi Andi Sugandi Budi Laksana

Dengan dukungan para Ahli, di antaranya: Prof. Dr. Nurhasan Ismail; Prof.Dr. I Nyoman Nurjaya; Prof Ronald Z.Titahelu; Dr. Dedi Supriadi Adhuri, Ph.D; dan, Henry Thomas Simarmata serta Saksi dari nelayan dan masyarakat adat: Bapak Karyono, Bapak H. Masnun dan Bapak Bona Beding.

6

BAGIAN 2. SUBSTANSI GUGATAN KOALISI TOLAK HP-3 SECARA substansi, terdapat 7 pokok pikiran yang melatari upaya Uji Materi terhadap Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil oleh Koalisi Tolak HP-3. 1. Bahwa Pasal 1 angka 43, angka 74, dan angka 185, Pasal 16 ayat (1)6, Pasal 23 ayat (2)7 dan ayat (4)8 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 sebagai penjelasan objek HP-3 tumpang tindih dengan peraturan perundangundangan yang lain sehingga menimbulkan ketidakpastian hukum dan bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945; 2. Bahwa Pasal 1 angka 18 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 yang mengatur konsep HP3 sebagai hak bertentangan dengan Pasal 33 ayat (2) dan ayat (3) UUD 1945; 3. Bahwa Pasal 14 ayat (1)9 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 bertentangan dengan Pasal 1 ayat (3), Pasal 28A , Pasal 28D ayat (1), Pasal 28I ayat (2) dan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945.
3

Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah sumber daya hayati, sumber daya non hayati; sumber daya buatan, dan jasa-jasa lingkungan; sumber daya hayati meliputi ikan, terumbu karang, padang lamun, mangrove dan biota laut lain; sumber daya nonhayati meliputi pasir, air laut, mineral dasar laut; sumber daya buatan meliputi infrastruktur laut yang terkait dengan kelautan dan perikanan, dan jasa-jasa lingkungan berupa keindahan alam, permukaan dasar laut tempat instalasi bawah air yang terkait dengan kelautan dan perikanan serta energi gelombang laut yang terdapat di Wilayah Pesisir.
4

Perairan Pesisir adalah laut yang berbatasan dengan daratan meliputi perairan sejauh 12 mil laut diukur dari garis pantai, perairan yang menghubungkan pantai dan pulau-pulau, estuari, teluk, perairan dangkal, rawa payau, dan laguna.
5

Hak Pengusahaan Perairan Pesisir, selanjutnya disebut HP-3, adalah hak atas bagian-bagian tertentu dari perairan pesisir untuk usaha kelautan dan perikanan, serta usaha lain yang terkait dengan pemanfaatan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang mencakup atas permukaan laut dan kolom air sampai dengan permukaan dasar laut pada batas keluasan tertentu.
6

Pemanfaatan perairan pesisir diberikan dalam bentuk HP-3.

7

Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil dan perairan di sekitarnya diprioritaskan untuk salah satu atau lebih kepentingan berikut: a. konservasi; b. pendidikan dan pelatihan; c. penelitian dan pengembangan; d. budidaya laut; e. pariwisata; f. usaha perikanan dan kelautan dan industri perikanan secara lestari; g. pertanian organik; dan/atau h. peternakan.
8

Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil dan perairan di sekitarnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan memenuhi persyaratan pada ayat (3) wajib mempunyai HP-3 yang diterbitkan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya.
9

Usulan penyusunan Rencana Strategis Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RSWP-3-K), Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP-3-K), Rencana Pengelolaan Wialayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RPWP-3-K), dan Rencana Aksi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RAPWP-3-K) dilakukan oleh Pemerintah Daerah serta dunia usaha.

7

4. Bahwa Pasal 16 ayat (1) dan ayat (2)10 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 yang mengatur HP-3 bertentangan dengan Pasal 18B ayat (2) UUD 1945, Pasal 28A UUD 1945 dan Pasal 33 ayat (1) dan ayat (3) UUD 1945. 5. Bahwa Pasal 20 ayat (1)11 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 yang memperkenankan HP-3 sebagai objek hak tanggungan bertentangan dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. 6. Bahwa Pasal 23 ayat (4), ayat (5)12, dan ayat (6)13 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 yang mewajibkan pemanfaatan pulau-pulau kecil dan perairan di sekitarnya mempunyai HP-3 yang diterbitkan oleh pemerintah atau pemerintah daerah bertentangan dengan Pasal 18B ayat (2), Pasal 28C ayat (2), dan Pasal 28H ayat (2) UUD 1945. 7. Bahwa Pasal 60 ayat (1) huruf b14 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 bertentangan dengan Pasal 28A, Pasal 28E ayat (1) dan ayat (2) dan Pasal 28G ayat (1) UUD 1945.

10

HP-3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pengusahaan atas permukaan laut dan kolom air sampai dengan permukaan dasar laut. 11 HP-3 dapat beralih, dialihkan, dan dijadikan jaminan utang dengan dibebankan hak tanggungan.
12

Untuk pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil dan perairan di sekitarnya yang telah digunakan untuk kepentingan kehidupan Masyarakat, Pemerintah atau Pemerintah Daerah menerbitkan HP-3 setelah melakukan musyawarah dengan Masyarakat yang bersangkutan.
13

Bupati/walikota memfasilitasi mekanisme musyawarah sebagaimana dimaksud pada ayat (5).
14

… memperoleh kompensasi karena hilangnya akses terhadap Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang menjadi lapangan kerja untuk memenuhi kebutuhan akibat pemberian HP-3 sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

8

BAGIAN 3. TELAAH SUBSTANSI PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI SEPERTI dijabarkan dalam dokumen putusan Mahkamah Konstitusi sebelumnya, terdapat dua persoalan konstitusional yang harus dijawab oleh Mahkamah, yaitu: 1. Apakah pemberian HP-3 bertentangan prinsip penguasaan negara atas sumber daya alam bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, jaminan konstitusi terhadap hak hidup dan mempertahankan kehidupan bagi masyarakat pesisir, prinsip non-diskriminasi serta prinsip kepastian hukum yang adil sebagaimana didalilkan oleh Koalisi Tolak HP-3; 2. Apakah penyusunan RSWP-3-K, RZWP-3-K, RPWP-3-K, RAPWP-3-K yang tidak mendudukkan masyarakat sebagai peserta musyawarah melanggar hakhak konstitusional para Pemohon (baca: Koalisi Tolak HP-3) sehingga bertentangan dengan konstitusi. Terkait kedua pertanyaan di atas, Mahkamah Konstitusi memberi penjabaran sebagai berikut: 1. Dengan adanya anak kalimat “dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat” dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, maka sebesar-besar

2.

3.

4.

5.

kemakmuran rakyatlah yang menjadi ukuran utama bagi negara dalam menentukan pengurusan, pengaturan atau pengelolaan atas bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Penguasaan oleh negara atas bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya harus juga memperhatikan hak-hak yang telah ada, baik hak individu maupun hak kolektif yang dimiliki masyarakat hukum adat (hak ulayat), hak masyarakat adat serta hak-hak konstitusional lainnya yang dimiliki oleh masyarakat dan dijamin oleh konstitusi, misalnya hak akses untuk melintas, hak atas lingkungan yang sehat, dan lain-lain. HP-3 akan mengakibatkan hilangnya hak-hak masyarakat adat/tradisional yang bersifat turun-temurun. Padahal hak-hak masyarakat tersebut mempunyai karakteristik tertentu, yaitu tidak dapat dihilangkan selama masyarakat adat itu masih ada. HP-3 akan mengakibatkan tereliminasinya masyarakat adat/ tradisional dalam memperoleh HP-3, karena kekurangan modal, teknologi serta pengetahuan. Padahal, negara dalam hal ini pemerintah berkewajiban memajukan kesejahteraan umum dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia [ vide Pembukaan UUD 1945 alinea keempat dan Pasal 34 ayat (2) UUD 1945]. Maksud pembentukan undang-undang ini adalah dalam rangka melegalisasi pengkaplingan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil untuk dijadikan private ownership dan close ownership kepada perseorangan, badan hukum atau masyarakat tertentu, sehingga bagian terbesar dari pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil diserahkan kepada perseorangan, badan hukum, dan kelompok masyarakat yang dikonstruksikan menurut Undang-Undang No. 27 Tahun 2007 dengan pemberian HP-3. Hal ini berarti bahwa terdapat semangat privatisasi pengelolaan dan pemanfaatan perairan pesisir dan pulau-pulau kecil kepada usaha perseorangan dan swasta.

Sejalan dengan penjelasan di atas, Mahkamah Konstitusi menyatakan: Pasal 1 angka 18, Pasal 16, Pasal 17, Pasal 18, Pasal 19, Pasal 20, Pasal 21, Pasal 22, Pasal 23 ayat 9

(4) dan ayat (5), Pasal 50, Pasal 51, Pasal 60 ayat (1), Pasal 71 15 serta Pasal 7516 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau- Pulau Kecil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4739) bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Atau, dengan kata lain seluruh pasal terkait HP-3—termasuk Pasal 71 dan 75 yang tidak diajukan oleh Pemohon—dinyatakan bertentangan dengan konstitusi dan dibatalkan.

15

Ayat (1) Pelanggaran terhadap persyaratan sebagaimana tercantum di dalam HP-3 dikenakan sanksi administratif. Ayat (2) Sanksi administratif sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) berupa peringatan, pembekuan sementara, denda administratif, dan/atau pencabutan HP-3. Ayat (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai denda administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri.
16

Dipidana dengan pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) setiap Orang yang karena kelalaiannya: (a) melakukan kegiatan usaha di Wilayah Pesisir tanpa HP-3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1); dan/atau (b) tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (4).

10

BAGIAN 4. TEROBOSAN MAHKAMAH KONSTITUSI MENCERMATI dokumen putusan setebal 169 halaman, terdapat setidaknya 3 terobosan Mahkamah Konstitusi—baik ke dalam untuk menguatkan perjuangan masyarakat nelayan dan masyarakat adat, maupun keluar untuk memperjelas tafsir konstitusi terhadap sejumlah produk legislasi baik di nasional maupun di daerah.

Keluar, dalam menilai sejauh mana pemberian HP-3 akan memberikan manfaat bagi

sebesar-besar kemakmuran rakyat, Mahkamah Konstitusi mempergunakan empat tolak-ukur, yaitu: (i) kemanfaatan sumber daya alam bagi rakyat; (ii) tingkat pemerataan manfaat sumber daya alam bagi rakyat; (iii) tingkat partisipasi rakyat dalam menentukan manfaat sumber daya alam, serta; (iv) penghormatan terhadap hak rakyat secara turun-temurun dalam memanfaatkan sumber daya alam. Dengan menggunakan keempat indikator tersebut, Mahkamah Konstitusi menetapkan HP-3 bertentangan dengan Konstitusi. Atau dengan kata lain, pemberian HP-3 tidak dapat memberikan (jaminan) pemanfaatan sumber daya perairan pesisir dan pulau-pulau kecil untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Menurut hemat saya, keempat indikator tersebut tidak saja dapat dipergunakan untuk mengukur konstitusionalitas HP-3, namun juga dapat digunakan sebagai alat ukur terhadap konstitusionalitas produk legislasi lain (nasional maupun daerah) terkait pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup Indonesia. Semisal, UU Perkebunan, UU Mineral dan Batubara, UU Perikanan, dan seterusnya. Dengan demikian itu, Mahkamah Konstitusi dalam putusannya terhadap HP-3 juga memberi kontribusi besar-keluar, yakni mempertegas dan menyiapkan alat ukur konstitusi terhadap pemaknaan “sebesar-besar kemakmuran rakyat”.

Ke dalam, putusan Mahkamah Konstitusi menyebut dan menegaskan eksistensi

nelayan tradisional (sekali lagi: nelayan tradisional)—bukan nelayan kecil (seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan) yang penyebutannya rancu dan cenderung bias kepentingan ekonomi dan teknologi semata. Yakni, sebagai nelayan kecil (merujuk pada Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan) mengkategorikan nelayan hanya berdasarkan bobot dan teknologi kapal, serta kapasitas ekonomi yang digelutinya. Alhasil, aspek kebudayaan dan kearifan tradisional yang sejatinya adalah panduan komunitas nelayan untuk mengelola sumber daya perikanan dan keluatan secara adil dan lestari—termarjinalkan. Sejalan dengan itu, secara tidak langsung Mahkamah Konstitusi juga menjabarkan adanya hak-hak konstitusional nelayan tradisional, di antaranya: hak untuk melintas (akses); hak untuk mengelola sumber daya sesuai dengan kaidah budaya dan kearifan tradisional yang diyakini dan dijalankan secara turun-temurun; hak untuk memanfaatkan sumber daya; termasuk, hak untuk mendapatkan lingkungan perairan yang sehat dan bersih. Kesemuanya adalah hak yang melekat pada individu maupun kolektif nelayan tradisional dan tak boleh ditukar-gulingkan. 11

Sepanjang pemahaman saya mengikuti dan mempelajari diskursus kebijakan perikanan dan kenelayanan di Indonesia, baru kali ini penegasan terhadap eksistensi nelayan tradisional Indonesia, termasuk hak-hak konstitusionalnya tertuang ke dalam lembar negara. Karenanya, pantas kiranya, terminologi nelayan kecil di dalam UU Perikanan perlu dikoreksi. Termasuk di dalamnya mengarusutamakan pemenuhan hak-hak konstitusional nelayan tradisional dalam seluruh kebijakan dan program pemerintah.

12

BAGIAN 5. AMBIGUITAS KEPUTUSAN MAHKAMAH MESKI secara substansi pembatalan pasal-pasal terkait HP-3 telah dinyatakan oleh 9 (Sembilan) Hakim Konstitusi, terdapat sejumlah terobosan Mahkamah Konstitusi, baik ke dalam maupun keluar urusan kenelayanan dan HP-3. Keputusan Mahkamah Konstitusi meninggalkan sejumlah persoalan yang patut untuk dicermati.

Pertama, terkait status Pasal 14. Meski Mahkamah Konstitusi telah memberikan pertimbangan hukum terhadap Pasal 14 ayat (1), yakni: pertama, Pasal 14 ayat (1)

menyebabkan terjadinya praktik pembungkaman hak masyarakat untuk turut serta menyampaikan usulan, sehingga masyarakat tidak memiliki pilihan untuk menolak atau menerima rencana tersebut (baca: usulan penyusunan RSWP-3-K, RZWP-3-K, RPWP-3-K, dan RAPWP-3-K); kedua, ketika sebuah kebijakan tidak didasarkan pada partisipasi publik, berpotensi besar terjadinya pelanggaran hak publik di kemudian hari, yaitu diabaikannya hak-hak masyarakat yang melekat pada wilayah yang bersangkutan, padahal masyarakat setempatlah yang mengetahui dan memahami kondisi wilayah. Menurut Mahkamah, penyampaian usulan yang hanya melibatkan pemerintah dan dunia usaha ini merupakan sebuah bentuk perlakuan berbeda antarwarga negara (unequal treatment) dan mengabaikan hak-hak masyarakat untuk memajukan dirinya dan memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa, dan negaranya yang bertentangan dengan Pasal 27, Pasal 28C ayat (2), dan Pasal 28D ayat (3) UUD 1945. Namun demikian, dalam amar putusannya, Mahkamah Konstitusi tidak memasukkan/menyebutkan Pasal 14 (seperti yang dimintakan oleh Pemohon) bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan mengikat. Karenanya, dalam hal ini Mahkamah Konstitusi secara teknis patut dinilai kurang cermat, meski dalam pertimbangan hukumnya cukup jelas status konstitusionalitas Pasal 14—yakni bertentangan dengan UUD 1945.

Kedua, terkait pandangan Mahkamah Konstitusi yang menyebut: “… untuk

menghindari pengalihan tanggung jawab penguasaan negara atas pengelolaan perairan pesisir dan pulau-pulau kecil kepada pihak swasta, maka negara dapat memberikan hak pengelolaan tersebut melalui mekanisme perizinan”. Sebagian kalangan, utamanya dari pemerintah, membaca pandangan Mahkamah Konstitusi secara terpisah (tidak satu-kesatuan). Tanpa melihat keseluruhan substansi permohonan Uji Materi yang diajukan oleh Koalisi Tolak HP-3, yang pada akhirnya dikabulkan oleh Mahkamah Konstitusi dengan pembatalan pasal-pasal terkait HP-3. Jika dicermati secara keseluruhan, maka proses Uji Materi terhadap Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir terkait pasal-pasal HP-3 bukan sekadar pada konteks struktur hukum, yakni menggantikan istilah “Hak”— untuk penyebutan Hak Pengusahaan Perairan Pesisir—menjadi “Izin”. Lebih dari itu, memastikan pemanfaatan ruang bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat—bukan sektor swasta, apalagi 13

asing. Lalu menegaskan pengakuan dan penghormatan terhadap kesatuan masyarakat adat beserta hak-hak tradisionalnya, serta menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, termasuk bagi keluarga nelayan. Dengan demikian, pendapat Mahkamah Konstitusi terkait pemberian hak pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil melalui mekanisme perizinan ke depannya (tetap) tidak boleh mengesampingkan pendapat Mahkamah Konstitusi terkait tolak-ukur pemanfaatan sebesar-besar kemakmuran rakyat; pengakuan dan penghormatan terhadap kesatuan masyarakat adat beserta hak-hak tradisionalnya; serta, perwujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, termasuk bagi keluarga nelayan.

Ketiga, terkait status Putusan Mahkamah Konstitusi yang hanya berlaku ke depan (prospective) dan tidak berlaku surut (retroactive). Hal ini tentu dimungkinkan untuk
diperdebatkan. Apalagi setelah Putusan Mahkamah Konstitusi untuk membatalkan pasal-pasal HP-3 bersifat mutlak dengan penjabaran pertimbangan hukum yang jelas dan lengkap.

Terkait hal ini, pemerintah perlu membuka informasi status perizinan yang telah diberikan terkait pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil kepada sektor swasta, termasuk asing. Hal ini diperlukan agar berbagai kerugian masyarakat, seperti yang dijabarkan oleh Mahkamah Konstitusi dalam putusannya, tidak meluas dan bisa diselesaikan sesegera mungkin.

14

BAGIAN 6. REKOMENDASI DAN USULAN (AGENDA) TINDAK LANJUT MENCERMATI Putusan Mahkamah Konstitusi terhadap Uji Materi Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007, ada harapan terpulihkannya hak-hak konstitusional keluarga nelayan tradisional, masyarakat adat dan pesisir. Karenanya, perlu kepatuhan kolektif untuk menjalankan keputusan tersebut demi sebesar-besar kemakmuran rakyat!

Pertama, secara filosofis, optimalisasi peran sektor kelautan dan perikanan—dengan

menghadirkan Kementerian (khusus) Kelautan dan Perikanan satu dekade terakhir— tidak boleh sekedar memindahkan pundi-pundi ekonomi yang hampir “bangkrut” di darat ke laut. Apalagi amar Putusan Mahkamah Konstitusi telah menegaskan bahwa kebijakan privatisasi perairan pesisir dan pulau-pulau kecil adalah perbuatan yang melanggar konstitusi.

Kedua, secara teknis, pemerintah dan DPR perlu merevisi seluruh aturan, baik pusat maupun daerah, yang merujuk semangat pengelolaan dan privatisasi ala HP-3.
Termasuk “membersihkan” wilayah pesisir, laut, dan pulau-pulau kecil dari berbagai wujud komersialisasi yang memiskinkan. Di Sumatera Utara, misalnya, telah ada Peraturan Daerah No. 5 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulaupulau Kecil yang di dalamnya terang menyebut Hak Pengusahaan Perairan Pesisir. Pada tahap ini, konsolidasi masyarakat sipil lintas sektor perlu diperbesar untuk mengkampanyekan substansi keberhasilan organisasi nelayan dalam mengawal konstitusi, sembari menginspirasi kemenangan serupa di sektor strategis lainnya. Termasuk, mempercepat proses pembatalan terhadap Peraturan Daerah maupun Rancangan Peraturan Daerah di wilayah masing-masing.

Ketiga, secara operasional, negara wajib memulihkan hak-hak konstitusional warga

nelayan: hak untuk melintas (akses); hak untuk mengelola sumber daya sesuai dengan kaidah budaya dan kearifan tradisional yang diyakini dan dijalankan secara turuntemurun; hak untuk memanfaatkan sumber daya; termasuk, menjamin agar tidak ada lagi penggelontoran material pencemar ke laut (baca: ruang hidup dan penghidupan nelayan). Karena sejatinya, secara keseluruhan pembatalan HP-3 adalah upaya sadar untuk menolong rakyat Indonesia (baca: keluarga nelayan tradisional dan masyarakat adat) untuk keluar dari himpitan kemelaratan yang kian bertambah berat. Di saat yang sama menyelamatkan marwah penyelenggara negara agar tak menjalankan kebijakan sesat yang bertentangan dengan konstitusi. Sejalan dengan hal tersebut, keputusan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) memasukkan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Nelayan kedalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2009-2014 perlu ditindaklanjuti dengan memastikan keterlibatan penuh organisasi nelayan dan masyarakat adat dalam penyusunannya. Kesemuanya perlu dijalankan dalam waktu yang tak terlalu lama agar pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil dapat bermanfaat bagi sebesarbesar kemakmuran rakyat, disaat yang sama tak bertabrakan dengan konstisusi— Undang-Undang Dasar Tahun 1945.*** Kalibata, 2 Juli 2011 M.Riza Damanik 15

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->