Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet

I. PENDAHULUAN
Karet merupakan komoditi perkebunan yang sangat penting peranannya di Indonesia. Selain sebagai sumber lapangan kerja bagi sekitar 1,4 juta tenaga kerja, komoditi ini juga memberikan kontribusi yang signifikan sebagai salah satu sumber devisa non-migas, pemasok bahan baku karet dan berperan penting dalam mendorong pertumbuhan sentra-sentra ekonomi baru di wilayah-wilayah pengembangan karet. Sampai dengan tahun 1998 komoditi karet masih merupakan penghasil devisa terbesar dari subsektor perkebunan dengan nilai US$ 1.106 juta, namun pada tahun 2003 turun menjadi nomor dua setelah kelapa sawit dengan nilai US$ 1.494 juta (nilai ekspor minyak sawit mencapai US$ 2.417 juta). Di samping itu perusahaan besar yang bergerak di bidang karet telah memberikan sumbangan pendapatan kepada negara dalam bentuk berbagai jenis pajak dan pungutan perusahaan. Perkebunan karet di Indonesia juga telah diakui menjadi sumber keragaman hayati yang bermanfaat dalam pelestarian lingkungan, sumber penyerapan CO2 dan penghasil O2, serta memberi fungsi orologis bagi wilayah di sekitarnya. Selain itu tanaman karet ke depan akan merupakan sumber kayu potensial yang dapat menstubsitusi kebutuhan kayu yang selama ini mengandalkan hutan alam. Indonesia merupakan negara dengan areal tanaman karet terluas di dunia. Pada tahun 2002, luas perkebunan karet Indonesia mencapai 3,318 juta ha, disusul Thailand (1,96 juta ha), Malaysia (1,54 juta ha), China (0,61 juta ha), India (0,56 juta ha), dan Vietnam (0,32 juta ha). Dari areal tersebut diperoleh produksi karet Indonesia sebesar 1,63 juta ton yang menempati peringkat kedua di dunia, setelah Thailand dengan produksi sekitar 2,35 juta ton. Posisi selanjutnya ditempati India (0,63 juta ton), Malaysia (0,62 juta ton), China (0,45 juta ton), dan Vietnam (0,29 juta ton). Sebagai negara produsen karet kedua terbesar di dunia pada saat ini, Indonesia berpotensi besar untuk menjadi produsen utama dalam dekade-dekade mendatang. Potensi ini dimungkinkan karena Indonesia mempunyai potensi sumberdaya yang sangat memadai
1

617 (76) 223 (10) 292 (14) 2.3 juta ha pada tahun 2003. areal perkebunan karet di Indonesia meningkat sekitar 1. sedangkan pada perkebunan besar negara dan swasta cenderung menurun (Tabel 1). Partial. mayoritas (85%) perkebunan karet di Indonesia adalah perkebunan rakyat. negara-negara pesaing Indonesia.15 . Dari keseluruhan areal perkebunan rakyat tersebut. dengan sistem kelembagaan peremajaan tanaman karetnya yang jauh lebih mapan.26 2 3 . Pertumbuhan luas areal karet di indonesia (1967-2003) Deskripsi Perkebunan Rakyat Perkebunan Negara Perkebunan Swasta Total Area (000 ha) 1967 1.0. Agribisnis Primer dan Hulu Selama lebih dari 35 tahun (1967-2003).5% per tahun). PRPTE. juga sedang menata diri untuk merebut pasar karet yang sangat prospektif dalam dua dekade mendatang. KONDISI AGRIBISNIS KARET SAAT INI A. baik melalui pengembangan areal baru maupun melalui peremajaan areal tanaman karet tua dengan menggunakan klon unggul latekskayu. Namun pertumbuhan ini hanya terjadi pada areal karet rakyat (+ 1.132 (100) 2003 2.15 1. Permasalahan utama yang dihadapi perkebunan karet nasional adalah rendahnya produktivitas karet rakyat (+ 600 kg/ha/th). Dengan luasan sekitar 3.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet untuk meningkatkan produksi dan produktivitas.039 ha (+ 9 %) dibangun melalui proyek PIR.2% per tahun. Dengan kondisi demikian. Pada saat yang sama.58 . dan tingginya proporsi areal tanaman karet yang telah tua. Namun potensi ini akan dapat termanfaatkan dengan baik hanya jika langkahlangkah strategis penanganan operasionalnya dapat dikoordinasikan dengan baik. II. dan sebagian kecil lainnya yaitu sekitar 288. dan Swadaya Berbantuan. Pengembangan agribisnis karet Indonesia ke depan perlu didasarkan pada perencanaan yang lebih terarah dengan sasaran yang lebih jelas serta mempertimbangkan berbagai permasalahan.797 (85) 221 (7) 272 (8) 3. sebagian besar kebun karet rakyat menyerupai hutan karet. Makalah ini diharapkan dapat menjadi referensi dan acuan bagi para pelaku usaha. yang menjadi tumpuan mata pencaharian lebih dari 15 juta jiwa. Tabel 1. rusak atau tidak produktif (+ 13% dari total areal). baik langsung ataupun tidak langsung dalam mendukung Pengembangan Agribisnis Karet Indonesia ke depan. sebagian besar (+ 91%) dikembangkan secara swadaya murni. Pada saat ini sekitar 400 ribu ha areal karet berada dalam kondisi tua dan rusak dan sekitar 2-3% dari areal tanaman menghasilkan (TM) yang ada setiap tahun akan memerlukan peremajaan.290 (100) Pertumbuhan (%/thn) 1. penentu kebijakan dan stakeholders lainnya yang terkait. UPP Berbantuan. antara lain karena sebagian besar tanaman masih menggunakan bahan tanam asal biji (seedling) tanpa pemeliharaan yang baik.0. peluang dan tantangan yang sudah ada serta yang diperkirakan akan ada sehingga pada gilirannya akan dapat diwujudkan agribisnis karet yang berdaya saing dan berkelanjutan serta memberi manfaat optimal bagi para pelaku usahanya secara berkeadilan.

Hal ini terjadi karena lokasi pabrik pengolah kayu jauh dari sumber bahan baku sehingga proporsi biaya transportasi menjadi tinggi (> 50% dari harga jual petani). SIR 3WF dan thin pale crepe yang tergolong karet jenis mutu tinggi (high grades).500 yang bervariasi menurut jenis klonnya.6 . Malaysia dan India. papan partikel dan papan serat.2. maupun yang tidak direkomendasikan (asam cuka. tawas. 5 . kayu karet yang ada saat ini baru sebagian kecil dimanfaatkan untuk kayu olahan.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet Masalah usahatani karet yang dihadapi petani secara umum adalah keterbatasan modal baik untuk membeli bibit unggul maupun sarana produksi lain seperti herbisida dan pupuk. Dengan harga tersebut tingkat B/C ratio pengusahaan kebun petani sampai menghasilkan bokar tersebut pada umumnya adalah sekitar 1.75. Harga bahan tanam karet unggul dalam polibeg (1-2 payung) saat ini di tingkat penangkar adalah sekitar Rp. dan pada sebagian lokasi harga yang diterima di tingkat petani masih relatif rendah (60-75% dari harga FOB) karena belum efisiennya sistem 4 pemasaran bahan olah karet rakyat (bokar). sehingga biaya transportasi menjadi tinggi. Pada sisi lain. Perkembangan industri perbenihan di sentra-sentra produksi karet cukup pesat sejalan dengan meningkatnya permintaan bahan tanam karet klon unggul oleh petani. Dengan penataan kelembagaan yang lebih baik. Bahan tanam karet unggul yang terjamin mutunya hanya tersedia di Balai Penelitian atau para penangkar benih binaan melalui sistem Waralaba di sentra-sentra pembibitan yang juga masih sangat terbatas jumlahnya. baik yang dihasilkan oleh perkebunan rakyat maupun perkebunan besar dapat diolah menjadi komoditi primer dalam berbagai jenis mutu. promosi.5. Persoalan mendasar untuk meningkatkan produktivitas karet rakyat melalui peremajaan tanaman tua/rusak adalah tidak tersedianya dana khusus untuk peremajaan dengan suku bunga yang wajar sesuai dengan tingkat resiko yang dihadapi. Di Indonesia. Bahan olah karet dari petani pada umumnya berupa bekuan karet yang dibekukan dengan bahan pembeku yang direkomendasikan (asam format).500 . Permasalahan utama lainnya di perkebunan karet rakyat adalah bahwa bahan baku yang dihasilkan umumnya bermutu rendah. Belum efisiennya sistem pemasaran tersebut antara lain disebabkan lokasi kebun jauh dari pabrik pengolah karet dan letak kebun terpencar-pencar dalam skala luasan yang relatif kecil dengan akses yang terbatas terhadap fasilitas angkutan. Namun secara umum mutu bibit karet yang dihasilkan oleh para penangkar bibit masih sangat beragam. pungutan CESS untuk pengembangan komoditi perkebunan telah dihentikan sejak tahun 1970. masalah lain yang dihadapi penangkar bibit adalah keterbatasan sumber entres yang terjamin kemurniannya dan keterbatasan jenis klon unggul baru yang dimiliki. Sementara koagulum lapangan. SIR 20 dan brown crepe yang tergolong jenis karet mutu rendah (low grades). harga kayu karet di tingkat petani masih rendah dan tidak menarik bagi petani. Hal ini sangat berbeda dengan negara-negara produsen utama karet lainnya seperti Thailand. Dana pengembangan. yakni lateks yang membeku secara alami selanjutnya hanya dapat diolah menjadi jenis karet padat yakni antara lain jenis mutu SIR10. SIR 3CV. tingkat B/C ratio pengusahaan bahan tanam karet dalam polibeg minimal 1. Oleh karena itu. Pada saat ini bahan olah karet tersebut mendominasi pasar karet di Indonesia karena dinilai petani paling praktis dan menguntungkan. Selain itu ketersediaan sarana produksi pertanian tersebut di tingkat petani juga masih terbatas. dsb). karena pasarnya masih sangat terbuka dan potensi keuntungan yang dapat diraih oleh penangkar cukup memadai. dan peremajaan karet di negara-negara tersebut umumnya disediakan oleh pemerintah yang diperoleh dari pungutan CESS ekspor komoditi karet.Rp 3. SIR 3L. Lateks kebun dapat diolah menjadi jenis karet cair dalam bentuk lateks pekat dan lateks dadih serta karet padat dalam bentuk RSS. Sebagai gambaran. Harga bokar di tingkat petani dengan kualitas sedang (cukup bersih) dan kadar KKK sekitar 50% adalah sekitar Rp 4000Rp 5000. kayu karet rakyat merupakan potensi yang sangat besar dalam agribisnis karet. Selain itu. Prospek bisnis penyediaan bahan tanam karet ke depan cukup menjanjikan.1. Bahan olah karet berupa lateks dan koagulum lapangan.

7%-32. antara tahun 2000-2002.013 5.955 6. marjin pabrik dan bagian harga yang diterima petani pada beberapa propinsi utama karet. pada umumnya masih didominasi oleh produk primer (raw material) dan produk setengah jadi.931 4.457 4.824 5. (5) barang jadi karet untuk penggunaan umum dan (6) kesehatan dan farmasi. (2) barang jadi karet untuk industri.315 957 178 849 2.5 16.249 4.3 70.173 4.701 4.0 76.160 4.4 18.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet B.088 6. sebagaimana disajikan pada Tabel 2 berkisar antara 3. namun pada lima tahun mendatang diperlukan investasi baik untuk merehabilitasi pabrik yang ada maupun untuk membangun pabrik pengolahan baru untuk menampung pertumbuhan pasokan bahan baku.9 3.913 761 793 1.146 5.3 71.957. Selain itu industri karet di luar ban umumnya dalam skala kecil atau menengah.520 ton/tahun. 7 . SIR) dijadikan bahan baku untuk menghasilkan berbagai jenis barang karet.247 3.7 16.658 4.237 4. Pengelompokan yang umum dilakukan adalah menurut penggunaan akhir yakni: (1) ban dan produk terkait serta ban dalam.740 3. Kapasitas pabrik pengolahan crumb rubber pada saat ini sudah mencukupi untuk mengolah bahan baku yang tersedia. Ragam produk karet yang dihasilkan dan diekspor oleh Indonesia masih terbatas. Prospek bisnis pengolahan crumb rubber ke depan diperkirakan tetap menarik.475 4. angkutan. Sementara itu industri berbasis lateks pada saat ini nampaknya belum berkembang karena banyak menghadapi kendala.577 3. 2000-2002 Harga (Rp/kg KK) Propinsi Tahun Marjin pabrik % 14.198 5.4 2000 2001 2002 Rataan 2000 Jambi 2001 2002 Rataan 2000 Kalimantan 2001 Barat 2002 Rataan Sumatera Selatan Pemanfaatan karet alam di luar industri ban kendaraan masih relatif kecil.5 62. Tingkat harga FOB itu sendiri sangat dipengaruhi oleh harga dunia yang mencerminkan permintaan dan penawaran karet alam.3 75.406 507 926 1.7 18.005 Bagian harga petani (%FOB) 80. (4) alas kaki dan komponennya. Agribisnis Hilir Bahan olah karet berupa lateks dapat diolah menjadi berbagai jenis produk barang jadi lateks (latex goods) dan karet padat (RSS.757 5. yakni kurang dari 30 persen.029 5.299 4.744 4.4 79. Industri barang jadi karet dibangun atas sekumpulan usaha/perusahaan yang bergerak dalam penyediaan bahan baku utama karet alam/sintetik.400 ton/tahun. Tabel 2.1 19. Jika dibandingkan dengan negara-negara produsen utama karet alam lainnya. seperti Thailand dan Malaysia. Pada saat ini jumlah sarana pengolahan karet berbasis lateks mencapai 23 unit dengan kapasitas sebesar 144.4 16. Kendala utama adalah rendahnya daya saing produk-produk industri lateks Indonesia bila dibandingkan dengan produsen lain terutama Malaysia.079 4. Barang jadi dari karet terdiri atas ribuan jenis dan dapat diklasifikasikan atas dasar penggunaan akhir (end use) atau menurut saluran pemasaran (market channel).8 32. sedangkan lainnya diolah dalam bentuk RSS dan lateks pekat.8 10.1 74. karena marjin keuntungan yang diperoleh pabrik relatif pasti. Sebagian besar produk karet Indonesia diolah menjadi karet remah (crumb rubber) dengan kodifikasi “Standard Indonesian Rubber” (SIR).527 3.047 8.631 1. keuangan dan jasa lainnya.9 76.5 22. (3) kemiliteran.8 73. ragam produk karet Indonesia tersebut lebih sedikit. dan pengolahan crumb rubber swasta di luar PTPN sebanyak 75 unit dengan kapasitas 1. bahan bantu dan pembuat cetakan (molding) serta ditunjang beberapa institusi pendukung yang bergerak dalam bidang jasa penelitian dan pengembangan.470 4. Harga karet. tergantung pada tingkat harga yang berlaku.3 Export/ Pabrik/ (Rp/ Tkt petani FOB Prosesor kg KK) 5. perdagangan.7 23.939 6.580 1. regulasi.488 4.646 4. Industri kecil menengah barang jadi karet secara umum masih memerlukan pembinaan di dalam pengembangan usahanya.0 87.5% dari harga FOB.741 5.786 5.022 4.767 4. dan harga beli pabrik dipengaruhi kontrak pabrik dengan pembeli/buyer (biasanya pabrik 6 ban) yang harus dipenuhi.242 4. Pada umumnya marjin yang diterima pabrik akan semakin besar jika harga meningkat. Marjin pemasaran.480 4.9 79.

Harga barang karet untuk suatu komponen tertentu dijual ke konsumen akhir oleh mitra. pengrajin industri kecil barang jadi karet biasanya menjadi vendor dari suatu perusahaan besar seperti pabrik otomotif atau pabrik elektronik. Mitra pengrajin dalam sistem pemasaran produk barang jadi karet pada umumnya adalah perusahaan pengadaan suku cadang untuk industri elektronik dan otomotif dari merek-merek terkenal. Penurunan volume ekspor yang terjadi sejak tahun 1998 ini sangat erat kaitannya dengan penurunan harga karet di pasaran dunia sejak periode tersebut.5 juta ton dengan nilai US$ 1. hingga pada tahun 2000 ekspor karet alam Indonesia berada di bawah 1.6 juta ton. Produk barang jadi karet yang dihasilkan oleh para pengrajin dapat sampai di tangan konsumen melalui tiga saluran utama yakni melalui mitra.4 juta ton. Pengrajin barang jadi karet. Volume ekspor karet pada tahun 2002 mencapai 1. yakni tertumpu pada proses pencetakan dan vulkanisasi (pemasakan) pada kompon yang dibeli dari perusahaan pembuat kompon. Hal yang dianggap lebih penting oleh mereka adalah kontinuitas produksi walaupun volumenya relatif kecil. Dengan demikian seluruh pengrajin barang jadi karet sama sekali tida berhubungan dengan teknologi kompon (compounding). dalam arti hampir tidak terjadi interaksi antar pengrajin. Seringkali industri kecil ini beroperasi dengan mengandalkan pesanan (captive market) Industri kecil barang jadi karet pada umumnya dikelola dalam bentuk industri rumah tangga secara informal. Jenis produk yang dihasilkan oleh industri kecil barang jadi karet terutama diarahkan pada barang-barang karet untuk otomotif berupa karet untuk spare part dan barang-barang karet untuk teknik dan industri. Hal ini diamati dari mutu produk barang jadi karet yang dihasilkan yang diamati secara visual. Selain itu jenis karet tersebut pada umumnya hanya diproduksi oleh industri kecil sehingga tidak mendapat saingan dari produsen perusahaan besar. Vulkanisasi menggunakan panas yang bersumber dari kompor tradisional. Jenis-jenis barang ini relatif mudah dalam proses pemasarannya dan tidak terlalu memerlukan spesifikasi yang rumit. Setelah itu terus menurun. Pengrajin pada umumnya tidak berminat dan menganggap tidak ada manfaatnya tergabung dalam asosiasi atau koperasi. Dengan bentuk usaha rumah tangga para pengrajin pada umumnya belum memiliki akses terhadap sumber modal secara formal. Suhu untuk pemasakan dan lama waktu pemasakan benar-benar didasarkan atas pengalaman yang dilakukan secara berulang-ulang sehingga didapatkan parameter suhu dan waktu pemasakan yang dianggapnya paling tepat.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet Dalam operasionalnya. Dalam pengadaan bahan baku. Pengrajin barang jadi karet menggunakan teknologi yang sangat sederhana. Kerjasama dengan mitra dilakukan secara informal atas dasar saling percaya tanpa adanya suatu ikatan kontrak formal. pengrajin industri kecil barang jadi karet menjalin hubungan secara interpersonal dengan usaha lainnya baik dalam pengadaan bahan baku maupun dalam sistem pemasarannya. setelah dikemas merek terkenal. melalui broker atau sering juga disebut sebagai pengorder atau melalui kedua saluran tersebut di atas. Walaupun demikian akhir-akhir ini terdapat produkproduk impor dari China dan Korea yang dikhawatirkan menjadi saingan berat bagi barang-barang karet produksi pengrajin barang jadi karet domestik. Pada tahun 1996 ekspor karet alam Indonesia adalah sekitar 1. Perdagangan dan Harga Volume ekspor karet alam Indonesia sejak tahun 1996 hingga 2000 mengalami fluktuasi dan cenderung mengalami penurunan. pada umumnya para pengrajin tidak menganggap perlu pengembangan usaha ke arah yang lebih besar. 8 9 . Selain itu karena segmen produk yang mereka hasilkan relatif terbatas.5 juta ton kemudian menurun pada tahun 1997. pengrajin industri kecil barang jadi karet terutama menjalin hubungan secara informal dengan pabrik kompon sebagai bahan baku utama. menjual ke toko secara langsung atau menggunakan pedagang perantara. C. dengan harga berlipat dari harga jual di tingkat pengrajin.049 juta (Tabel 3). Hal ini dilakukan karena industri kecil belum memiliki kemampuan membuat kompon. dan naik kembali pada tahun 1998 hampir mendekati 1. dalam operasional usahanya berjalan secara soliter. Demikian juga dalam pemasaran produk.

2003 19 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 2099 2000 2001 2002 03 Tahun 11 . nilai dan harga rata-rata ekspor karet alam indonesia. Sebagai salah satu komoditi ekspor.2 0 976.1 1.8 33. Volume ekspor karet alam indonesia berdasarkan tipe produk.79 0.894 juta pada tahun 1996 hingga menjadi US$ 854 juta pada tahun 1999 dan kemudian mengalami peningkatan pada tahun 2002 menjadi US$ 1.19 0.165. 2003.3 96 0 0 8.2 0 31. Harga karet alam mencapai titik terrendah pada bulan Nopember 2001. Rekor nilai ekspor yang tertinggi justru dicapai pada tahun 1995 dengan nilai sebesar US$ 1. tahun 1969-2002 Tipe Produk RSS SIR Crepe Lateks Lainnya Total 1969 Volume % (000 ton) 387.9 20 658. CIF New York.0 Nilai Ekspor (000 US $) 171. Volume.9 153.8 1 1495.26 1. Devisa yang dihasilkan dari karet alam mengalami penurunan yang sangat nyata dari US$ 1.3 100 1990 Volume % (000 ton) 124 12 915.69 Sumber: International Rubber Study Group (IRSG). devisa yang diperoleh dari komoditas karet juga mengalami penurunan dari 5 persen pada tahun 1996 menjadi hanya 1.6 1 7.0 657.037.037 juta (Tabel 4). yaitu US$ 579. Pada bulan Desember 2001 harga TSR 20 mulai meningkat secara sangat perlahan hingga pada Maret 2002 yang mencapai US$ 793.7 per ton dan pada bulan 10 RSS 1 200 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 TSR20 Sumber: International Rubber Study Group (IRSG). nilai ekspor karet alam mengalami penurunan dari 37 persen pada tahun 1966 menjadi 20 persen pada tahun 1999 dan 21 persen pada tahun 2000.379.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet Tabel 3.9 4 1.077. Demikian halnya relatif terhadap nilai ekspor komoditas pertanian.623 1.64 0.964 juta.3 59 1 12 5 23 100 1980 Volume % (000 ton) 191.2 0 1077. Harga karet alam RSS (Ribbed Smoke Sheet) 1 dan TSR (Technical Specified Rubber) 20. tahun 1969-2002 April 2002 sedikit mengalami penurunan lagi hingga US$ 762.1 per ton (Tabel 4. Harga (sen US$/Kg) Penurunan volume ekspor karet alam Indonesia yang tejadi selama enam tahun terakhir disertai dengan penurunan harga karet alam di pasar dunia berdampak secara langsung terhadap perolehan devisa negara yang diperoleh dari komoditas ini.321 846.496.3 976.3 67 81 8 43.6 per ton.562 Harga Rata -rata/kg (US $/kg) 0. Tabel 4.6 4.2 3 1435.75 1.4 100 2002 Volume % (000 ton) 44.6 1.9 100 Tahun 1969 1980 1990 2000 2002 Volume (000 ton) 657.7 3 2. 2003 Gambar 1.3 85 4. Tahun 1970. harga karet alam Indonesia sangat tergantung pada harga karet alam di pasar internasional yang sangat berfluktuasi.9 persen pada tahun 2000.876 888.0 78.3 1. Gambar 1). Secara relatif terhadap nilai ekspor komoditas non-migas.

Kawasan Industri Masyarakat Perkebunan (KIMBUN) karet yang telah dirancang didayagunakan sesuai perencanaannya dengan selalu mengkaitkan dan bersinergi dengan kepentingan sektor industri pengolahan dan perdagangan.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet Volume impor karet alam ke Indonesia relatif sangat kecil. Infrastruktur. infrastruktur untuk mendukung pengembangan agribisnis karet di daerah pada umumnya masih kurang atau sangat terbatas. D.Dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya. sedangkan sisanya (7-10%) diserap oleh industri dalam negeri. Infrastruktur berupa jalan dan jembatan kecuali untuk proyek PIRBUN/NES pada umumnya dibangun tidak secara langsung untuk mendorong pengembangan agribisnis karet di daerah. Pada kenyataannya. Kelompok tani dan koperasi tani/perkebunan cukup banyak tumbuh dan berkembang di daerah sentra karet rakyat. Untuk membantu pengembangan agribisnis karet. dan terbatas dalam bentuk lateks pekat yang dibutuhkan oleh industri barang jadi lateks dalam negeri. China. Kelembagaan dan Kebijakan Pemerintah Kebijakan dalam pengembangan infrastruktur agribisnis karet diarahkan pada upaya konsolidasi dan optimalisasi pendayagunaan dan pemanfaatan potensi sumberdaya infrastruktur yang ada. Singapura. serta sektor terkait lainnya. Lembaga/organisasi petani di tingkat pedesaan sudah cukup lama dikembangkan sejalan dengan pelaksanaan proyek-proyek pengembangan karet berbantuan. Kebijakan pengembangan kelembagaan karet diarahkan pada upaya pemanfaatan kawasan-kawasan pembangunan terpadu yang 12 pernah diperkenalkan dan disosialisasikan (kapet. yang berada di bawah naungan organisasi petani tingkat nasional yaitu Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia (GAPPERINDO). Jawa Tengah. Jepang dan Jerman. Puslit karet didukung oleh empat balai penelitian yang berada di Sumatera Utara. klaster industri. 13 . Rendahnya konsumsi karet alam domestik mencerminkan belum berkembangnya industri hilir yang berbasis karet alam. dan KIMBUN). melainkan terkait dengan program pembangunan infrastruktur daerah. Pada kenyataannya koordinasi vertikal dari hulu (on farm) ke hilir (pengolahan dan pemasaran) dalam sistem agribisnis karet di Indonesia belum optimal. Jawa Barat. tersedia lembaga riset/penelitian Puslit Karet yang mempunyai mandat untuk melakukan penelitian dan pengembangan yang berkaitan dengan teknologi industri perkaretan. Sumatera Selatan. dimana industri hilir di dalam negeri mampu menyerap sekitar 70% dari total produksi negara tersebut. Di tingkat wilayah (kabupaten dan propinsi) juga telah terbentuk Asosiasi Petani Karet Indonesia (APKARINDO). Kondisi ini jauh berbeda dibandingkan dengan Malaysia. Hal ini mengakibatkan perolehan nilai tambah komoditi karet masih relatif rendah. Sementara itu volume ekspor karet alam mencapai lebih dari 90% dari total produksi karet nasional dengan negara tujuan utama USA.

Thailand. Amerika Serikat. India dan Korea merupakan negara konsumen karet alam utama. Pada tahun 2002 konsumsi karet alam dunia tercatat sekitar 7. persaingan antara karet alam dengan produk substitusi ini diperkirakan akan semakin berkurang. Dalam enam tahun terakhir.15% per tahun (Gambar 2).Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet III. dan Vietnam mengalami pertumbuhan produksi yang relatif tinggi. yang berarti lebih besar daripada tingkat produksi pada tahun yang sama. Di lain pihak. 8000 K u a n tita s (rib u to n ) 7500 7000 6500 6000 5500 5000 4500 1993 1994 1995 1996 1997 2001 2002 1991 1992 1998 1999 2000 Pr o d u k si Ko n su msi 4000 Ta h u n Gambar 2. India. Produksi karet alam dunia pada tahun 2002 tercatat sekitar 7. Malaysia memiliki tingkat konsumsi karet alam yang paling tinggi dengan tingkat pertumbuhan yang relatif konsisten. Lebih tingginya konsumsi dibanding produksi pada tahun 2002 mencerminkan pertumbuhan konsumsi 14 yang lebih cepat sebagai dampak dari perubahan-perubahan tersebut di atas.2% per tahun. Produksi dan konsumsi Prospek perkaretan dunia diperkirakan akan cerah dengan semakin kuatnya kesadaran akan lingkungan yang lebih sehat dan beberapa pabrik ban terkemuka dunia mulai memperkenalkan jenis ban “green tyres” yang kandungan karet alamnya lebih banyak (semula 30-40% menjadi 60-80%). Jepang. Produksi karet alam dunia meningkat dari 2 juta ton lebih pada tahun 1960 mencapai 6. dan semakin meningkatnya persaingan dengan komoditas lain terutama kelapa sawit. sedangkan Indonesia mengalami perkembangan yang fluktuatif. POTENSI. Produksi karet dunia menurut negara tahun 2002 (000 ton) (total 7.0 persen per tahun.15 juta ton pada tahun 1996 dengan laju pertumbuhan 3. Sementara pada kelompok negara konsumen. dan ini merupakan prospek pasar yang lebih baik dibanding Dalam kelompok negara produsen karet alam. Selain itu jumlah perusahaan industri polimer yang menggunakan bahan baku karet alam diperkirakan juga akan meningkat. maka negara konsumen utama telah mengalami pergeseran dari kawasan Amerika . Produksi dan konsumsi karet alam dunia 1991-2002 (000 ton) 91 96 108 120 373 468 2459 534 589 640 1632 Gambar 3. Malaysia mengalami penurunan produksi yang relatif signifikan.100 ribu ton) 15 . Sementara itu tingkat konsumsi agregat karet alam dunia selama enam tahun terakhir (1996-2002) tumbuh sekitar 3. China. PROSPEK DAN ARAH PENGEMBANGAN A. Prospek Agribisnis Karet 1.1 juta ton (Gambar 3).Eropa ke kawasan Asia Pasifik. Melihat kecenderungan konsumsi karet alam dunia. Namun selama enam tahun terakhir (1996-2002) produksi karet alam dunia tidak memperlihatkan pertumbuhan yang mencolok yaitu hanya sekitar 2. Dengan semakin berkurangnya sumber-sumber ladang minyak bumi dan batu bara (non-renewable natural resources) sebagai bahan baku karet sintetis. karena beberapa faktor antara lain semakin mahalnya upah tenaga kerja.39 juta ton (Gambar 2).

yaitu sebagai bahan baku perabotan rumah tangga. mainan anak. perlak. rubber bushing. Menurunnya harga karet alam dunia sejak pertengahan tahun 1997 mendorong ketiga negara produsen utama karet alam dunia yakni Thailand. Pada bulan Januari 2002 mencapai US $ 53. oil seal. ban of the road. Pohon industri berbasis karet 17 .46 cent per kg.55 cents/kg. dll Balon karet. pelampung.88cents/kg dan pada bulan Agustus 2003 mencapai US $ 83. basket. Berdasarkan proyeksi jangka panjang (2010 . Gambar 4 menunjukkan pohon industri berbasis karet. Pemanfaatan kayu karet merupakan peluang baru untuk meningkatkan margin keuntungan dalam agribisnis karet. harga mencapai tingkat tertinggi yaitu US $ 96. Namun sampai saat ini potensi kayu karet tua belum dapat dimanfaatkan secara optimal.00 cents/kg. harga merangkak naik dan pada bulan September 2002 harga mencapai US $ 89. Pada bulan Maret 2003. Hal ini diharapkan akan merupakan daya tarik bagi pelaku bisnis di bidang agribisnis karet di Indonesia. dot susu. Dengan ditandatangani MoU pada tanggal 8 Agustus 2002. volley. Kayu karet Nilai tambah produk karet dapat diperoleh melalui pengembangan industri hilir dan pemanfaatan kayu karet sebagai bahan baku industri kayu. kayu karet juga merupakan salah satu kayu tropis yang memenuhi persyaratan ekolabeling karena komoditi ini dibudidayakan (renewable) dengan kegunaan yang cukup luas. Setelah masing-masing negara anggota melaksanakan AETS (Agreed Export Tonnage Scheme) dan SMS (Supply Management Scheme). MDF (Medium Density Fibreboard) dan lain sebagainya. particle board. Pasok karet alam itu sendiri dipengaruhi oleh berbagai faktor. Slang stetoskop. karena warnanya yang cerah dan coraknya seperti kayu ramin. Terlihat bahwa cukup banyak ragam produk yang dapat dihasilkan dari lateks. parquet. karet kaca mobil. sheet. Indonesia dan Malaysia untuk melakukan kerjasama tripartite dibidang produksi dan pemasaran karet alam. dll Sepatu & sandal karet. bokar Crumb rubber Pipet. namun pada bulan Mei 2003 menjadi US $ 82.2020) harga karet alam diperkirakan akan dapat mencapai sekitar US$2. Oleh karena itu.50 cents/kg (sejak krisis moneter Juli 1997). 16 3. Alat kesehatan dan laboratorium Perlengkapan kendaraan Lateks. harga merangkak naik. dan di sisi yang lain penurunan produksi karet alam akibat kompetisi dengan komoditas atau industri lainnya seperti yang telah terjadi di Malaysia. Seiring dengan terbentuknya kerjasama tripartite antara tiga negara produsen karet alam dunia tersebut. kayu gergajian. dll Air house. harga karet alam pernah mencapai titik terrendah pada bulan Nopember 2001. pedal sepeda dan motor. Pada akhir tahun 2001 (sebelum ditanda tanganinya Bali Declaration 2001) harga karet alam berkisar antara US $ 46 cents/kg US $ 52 cents/kg.06 cents/kg. dll Karpet. Industrialisasi di negara penghasil karet alam yang terus berkembang akan mengakibatkan di satu sisi peningkatan konsumsi domestik karet alam di negara tersebut. Harga Peningkatan konsumsi karet alam di negara-negara Asia tersebut antara lain disebabkan pertumbuhan ekonomi dan populasi yang terjadi di kawasan tersebut. agribisnis karet pada saat ini bukan hanya berorientasi untuk produksi lateks (polimer) tetapi juga untuk produksi kayu. kemudian menurun lagi. Pada saat ini kayu karet sebenarnya banyak diminati oleh konsumen baik dalam maupun luar negeri. Harga karet alam di pasar internasional sangat berfluktuasi. dll Alat olah raga Perlengkapan pakaian Perlengkapan teknik industri Pohon Karet Kayu Arang. pakaian s elam. utamanya non ban. Di samping itu. Dalam satu dasa warsa terakhir. yang mencapai sekitar US $ 0. perlengkapan lain Kondom. dll Bola sepak.00 cents/kg. antara lain harga. pulp Furniture Perlengkapan anak dan bayi Perlengkapan rumah tangga Barang lain Gambar 4.5 per kg. sedangkan ragam produk dari kayu karet tidak sebanyak dari lateks. dan pada tanggal bulan April 2003 harga karet turun menjadi US $ 81.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet 2. dll Ban kendaraan. harga karet alam di pasaran dunia memperlihatkan kecenderungan yang membaik. dan relokasi industri barang jadi karet dari negara barat ke negara produsen karet alam.

tenaga ahli. Dengan didukung oleh sistem dan manajemen produksi yang efisien dan efektif. Dengan asumsi bahwa peremajaan tanaman karet di Indonesia seluas 56 ribu ha per tahun dan tiap hektar dapat menghasilkan 50m3 kayu log untuk kayu olahan. sementara total produksi kayu hutan hanya sekitar 52 juta m3 /tahun. potensi yang dimiliki tersebut dapat dimanfaatkan untuk menjadikan Indonesia sebagai produsen karet alam nomor satu di dunia. teknologi. maka potensi kayu karet adalah sebesar 2. Daerah tersebut terutama tersebar di Jawa Timur.8 juta m3/th.VI. Dalam aspek produksi. masih mampu memproduksi karet alam secara menguntungkan. Pada tingkat harga di bawah US $ 0. Pada kenyataannya. Selain itu agribisnis karet di Indonesia memiliki keunggulan komparatif (comparative advantage) yang berpotensi untuk ditingkatkan menjadi keunggulan bersaing (competitive advantage).143 ha atau hanya 0. eksploitasi kayu hutan yang berlebihan dan tidak diikuti dengan program reboisasi yang berkesinambungan. Ditinjau dari segi kelas kemampuan tanah berkisar IV . Daerah beriklim kering ditandai oleh curah hujan berkisar 1000-1500 mm/thn. kelembagaan yang integratif dalam peremajaan tanaman karet termasuk pemanfaatan kayu karet sangat diperlukan sehingga baik petani 18 19 . 2.4 juta m3/th. Malaysia sudah tidak mampu menutupi ongkos produksi (taping-cost) karet alamnya dan Thailand sudah pada tingkat mendekati rugi. Dengan memanfaatkan potensi lahan tersebut. dengan bulan kering berkisar 4 . Namun permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi dari hutan alam yang ada sekarang karena adanya penurunan areal hutan. Potensi peningkatan produksi karet nasional pada jangka menengah (20052010) terdapat pada areal karet yang ada (exisiting) saat ini (2003) seluas 3. Hasil studi yang dilakukan oleh Asian Development Bank (ADB) tahun 1993 menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara penghasil karet alam dengan tingkat daya saing tertinggi jika dibandingkan dengan Thailand dan Malaysia. Indonesia memiliki kemampuan bersaing. Pabrik pengolah kayu karet baru berkembang di Sumatera Utara dan Sumatera Selatan. maka dampak terhadap produksi karet nasional pada jangka panjang akan sangat nyata. terutama dalam segmen produksi bahan olah karet (bokar) dibanding dengan negara-negara produsen utama karet alam lainnya. Potensi ini akan menjadi tiga kali lebih besar atau 8. maka lahan tersebut sesuai untuk tanaman tahunan.8 per kg. Luas perkebunan karet di KTI saat ini adalah sekitar 17. Areal perkebunan karet di Indonesia tersebar terutama di sepanjang pulau Sumatera.2 juta ha melalui upaya peremajaan dan rehabilitasi tanaman. baik pada subsistem agribisnis hulu (on farm). Kalimantan Barat. Namun pada jangka panjang (2010-2025) pengembangan areal perkebunan karet dapat dilakukan pada wilayah-wilayah nontradisional karet terutama di kawasan Indonesia Timur yang pada umumnya merupakan daerah beriklim kering. kebutuhan kayu bulat total dunia per tahun terus meningkat. Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan (93% dari luas total karet di Indonesia). Produksi kayu Potensi hasil agribisnis karet yang perlu segera dieksplorasi saat ini dan ke depan adalah kayu karet. Sedangkan Indonesia pada level harga seperti ini. dengan berbagai kendala terutama ketersediaan bahan baku yang tidak kontinyu. Kalimantan Timur dan sebagian besar daerah KTI dengan luas ± 9 juta ha. seperti sumberdaya alam (lahan dan iklim yang sesuai). Potensi Pengembangan Agribisnis Karet 1. maupun subsistem hilir. serta plasma nutfah bahan tanaman yang cukup memadai akan meningkatkan peluang tersebut. Ke depan. untuk mengantisipasi permintaan kayu di tingkat domestik dan dunia yang terus meningkat.7 bulan. Produksi lateks Dari uraian di atas tergambar bahwa peluang untuk pengembangan usaha agribisnis karet cukup terbuka pada hampir semua subsistem. jika kayu karet juga dimanfaatkan untuk keperluan industri panel rakitan seperti papan partikel (particle board) dan papan serat (fibre board). Besarnya potensi sumberdaya yang dimiliki Indonesia. diperkirakan bahwa kebutuhan kayu mencapai 58 juta m3 per tahun.5 % dari luas perkebunan karet di Indonesia.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet B. Di tingkat nasional.

Untuk mengisi peluang tersebut Indonesia perlu menetapkan arah pengembangan komoditi karet ke depan. Berdaya saing berarti bahwa agribisnis karet harus selalu berorientasi pada pasar. sejalan dengan perkembangan teknologi otomotif dan prasarana jalan. yang diperoleh melalui kegiatan penelitian dan pengembangan yang dibutuhkan. pelaku selalu merespon perubahan pasar 21 20 . Dengan semakin berkembangnya teknologi otomatisasi dalam proses pembuatan barang jadi karet di negara konsumen karet alam. 2. produksi karet sangat tergantung pada teknologi dan manajemen yang diterapkan dalam sistem dan proses produksinya. mengandalkan produktivitas dan nilai tambah melalui pemanfaatan modal (capital-driven). mensejahterakan. Berwawasan lingkungan dan berkelanjutan berarti bahwa dalam menjalankan agribisnis karet. pemupukan. Dengan demikian maka peluang ini paling mungkin diisi oleh Indonesia karena memiliki beberapa keunggulan yang ada seperti tersedianya tenaga kerja yang berlimpah dan murah serta tersedianya lahan dan agroklimat yang sesuai untuk pengembangan karet baru serta peningkatan produksi dan produktivitas tanaman melalui upaya peremajaan tanaman tua/rusak. agribisnis karet diarahkan menjadi usaha agribisnis yang berbasis lateks dan kayu yang berdaya saing tinggi. termasuk juga mutu karet alam. dan meningkatnya kesadaran akan kelestarian lingkungan. dan pemeliharaan tanaman yang dapat meningkatkan efisiensi dan profitabilitas usaha perkebunan. nilai tambah dan mengembangkan produk industri hilir karet. 3. telah tersedia berbagai klon karet unggul dengan potensi produksi lateks > 3 ton/ha/tahun dan kayu karet > 1 m3/pohon. C. Status industri perkebunan Indonesia akan berubah dari pemasok bahan mentah menjadi pemasok barang jadi atau setengah jadi yang bernilai tambah lebih tinggi yang berarti kandungan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dari produk akan meningkat.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet maupun pengusaha kayu karet akan sama-sama mendapatkan keuntungan lebih besar dari hasil usahanya. maka tuntutan ke arah mutu produk yang spesifik semakin besar. teknologi dan inovasi di bidang perkaretan. Indonesia dalam hal ini telah memiliki lembaga penelitian karet yang mempunyai sejarah sangat panjang (sejak 1930-an) dalam menyediakan ilmu pengetahuan. 3. diharapkan bermutu baik. Arah Pengembangan Arah pengembangan agribisnis karet Indonesia ke depan dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal sebagai berikut : 1. Produk industri perkebunan karet perlu disesuaikan dengan kebutuhan pasar yang senantiasa berubah. berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Oleh karenanya karet alam sebagai bahan baku utama. Dalam menjawab tantangan peningkatan produktivitas tanaman dan kebun. Produksi karet di Malaysia diperkirakan akan terus mengalami penurunan karena kebijakan pemerintahnya lebih berkonsentrasi pada industri hilir dan juga telah mengalihkan sebagian areal tanaman karet menjadi areal kelapa sawit. Selain itu juga telah tersedia paket teknologi eksploitasi. Di samping itu agribisnis karet yang dibangun harus berorientasi mensejahterakan bagi para pelaku utama usaha agribisnis tersebut dan memberikan nilai tambah yang dapat dinikmati secara nyata oleh masyarakat. Thailand diperkirakan akan menghadapi banyak kendala dalam upaya peningkatan karet alamnya karena keterbatasan ketersediaan lahan pengembangan yang berlokasi di wilayah bagian utara dengan kondisi marginal sehingga produktivitasnya lebih rendah serta keterbatasan dalam jumlah tenaga kerja. Di bidang pasca panen juga tersedia berbagai teknologi/inovasi yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan mutu. Inovasi teknologi Sebagai salah satu komoditi pertanian. Permintaan karet alam dunia ke depan akan semakin meningkat sejalan dengan pertumbuhan perekonomian dunia. Berkembangnya teknologi otomatisasi dan komputerisasi juga sangat menuntut pasokan bahan baku yang bermutu konsisten. semakin mahalnya bahan baku karet sintetis. pemanfaatan inovasi teknologi (innovationdriven) dan kreativitas sumberdaya manusia (skill-driven). Saat ini kualitas ban dituntut lebih prima. Pada jangka panjang (2025). Kesemuanya ini memerlukan dukungan teknologi yang lengkap.

Pendapatan petani pekebun akan mencapai US$ 2. petani mempunyai saham di unit pengolahan karet serta pendapatan dari diversifikasi usaha termasuk hasil kayu karet. Jenis bahan tanam yang digunakan minimal 55% klon karet unggul penghasil lateks dan kayu. Meningkatkan produksi dan produktivitas serta mutu hasil perkebunan karet melalui upaya rehabilitasi dan intensifikasi kebun. 3. 3. Produksi karet Indonesia akan tumbuh dari 2 juta ton menjadi 2. Riau. 4. dan Kalimantan Barat.4 juta ton dan menjadi produsen utama karet alam dunia. Sasaran Sasaran jangka panjang (2005-2025) pengembangan agribisnis karet adalah sebagai berikut: 1. 4.700 kg/ha. Berkembangnya industri hilir berbasis karet alam nasional dan industri pengolahan kayu karet di sentra-sentra penghasil karet seperti Sumatera Utara. dari semula 600 .3 juta ton. Tujuan Tujuan kegiatan pengembangan agribisnis karet ke depan adalah sebagai berikut: 1.000/KK. 4.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet IV. Pendapatan ini terkait juga dengan harga yang diterima petani yaitu minimal 75% dari harga FOB dan petani mempunyai saham di unit pengolahan karet serta pendapatan dari diversifikasi usaha termasuk hasil kayu karet. Produksi karet Indonesia akan mencapai 3.500/KK. Sumatera Selatan. 2. 3. Meningkatkan nilai tambah dan pendapatan pekebun. Dari produksi tersebut 10% akan digunakan didalam negeri dan 90% untuk ekspor. Dari produksi tersebut 25% diserap oleh industri di dalam negeri dan 75% untuk ekspor. Jenis bahan tanam yang digunakan minimal 85% klon karet unggul penghasil lateks dan kayu. Mengembangkan industri hilir berbasis karet alam. B. Produktivitas rata-rata karet akan meningkat menjadi minimal 800 kg/ha. Pendapatan ini terkait juga dengan harga yang diterima petani yaitu minimal 80% dari harga FOB. 22 Sementara itu sasaran jangka pendek (2005-2009) adalah sebagai berikut: 1. Pendapatan petani pekebun akan mencapai US$ 1. TUJUAN DAN SASARAN A. 23 .200-1. Mempercepat peremajaan karet dengan menggunakan teknologi anjuran. Produktivitas rata-rata kebun karet akan meningkat menjadi 1. 2.5 . dan hasil kayu karet minimal 300 m3/ha/siklus. Jambi.500 kg/ha. Berkembangnya industri hilir berbasis karet alam dan industri pengolahan kayu karet. 2. 5.

mulai dari pusat. maupun prosedur penerapannya. STRATEGI DAN PROGRAM A. 2. berorientasi pada nilai tambah domestik dengan proses produksi yang efisien dan efektif dan terintegrasi dalam semua tingkatan/subsistem mulai subsistem hulu (on farm). pendidikan sumberdaya manusia. yaitu pembebanan pajak dan pungutan lainnya yang rasional. harmonis dan sinergis dalam bidang moneter. Kebijakan pengembangan kelembagaan (institutional policy) baik lembaga keuangan. Kebijakan ekonomi makro (terutama di bidang moneter dan fiskal) yang kondusif bagi pembangunan sistem dan usaha agribisnis karet. karena usaha agribisnis karet masih cukup prospektif dan tingkat profitabilitasnya cukup memadai. penelitian dan pengembangan. Untuk itu diperlukan inovasi dan kreasi di tingkat nasional maupun lokal dalam mengupayakan tersedianya dana bagi pengembangan usaha agribisnis karet. dan penyuluhan. pemerintah dan pemda di semua tingkatan hendaknya memiliki kebijakan yang kondusif bagi pengembangan usaha agribisnis karet. telepon. serta sifat dari arus tunainya (cash flow) berkelanjutan. pupuk. 3. 8. maupun antar negara dalam kerangka mewujudkan suatu perdagangan yang lebih bebas dan lebih adil (freer and fairer trade) dan dinamis dalam merespon perkembangan pasar. domestik. 5. Kebijakan pengembangan infrastruktur (jalan. Arah kebijakan industri (industrial policy) memberikan prioritas pada pengembangan klaster industri (industrial cluster). Serangkaian kebijakan umum yang diperlukan antara lain adalah sebagai berikut: 1. Dalam bidang moneter diupayakan agar tersedia dana dari sumber-sumber perbankan atau non perbankan yang dapat memberikan rangsangan dan dorongan bagi tumbuh dan berkembangnya usaha agribisnis karet yang kompetitif pada semua sub-sistem usaha agribisnis tersebut. diperlukan kebijakan yang tepat dalam pengembangan agribisnis karet di Indonesia ke depan. Kawasan Industri Masyarakat Perkebunan (KIMBUN) karet dapat diadopsi dan didayagunakan sesuai dengan perencanaannya dan selalu mengkaitkan dan bersinergi dengan kepentingan sektor industri pengolahan dan perdagangan.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet V. serta sektor terkait lainnya. 6. terutama di bidang moneter dan fiskal hendaknya kondusif bagi terwujudnya pembangunan sistem dan usaha agribisnis karet. 7. pengairan) di daerah-daerah yang kondusif bagi keberlangsungan usaha agribisnis yang efisien dan efektif. propinsi dan 24 kabupaten seyogyanya mempunyai kebijakan yang terintegrasi. Sebagai langkah awal. yaitu kebijakan yang didasari atas kepentingan jauh ke depan. Kebijakan perdagangan internasional (international trade policy) yang netral namun antisipatif baik secara sektoral. Kebijakan industri (industrial policy) yang memberi prioritas pada pengembangan klaster industri (industrial cluster). 25 . Jajaran pemerintah. Arah kebijakan pada sub-sistem hulu adalah terwujudnya suatu kondisi dimana ketersediaan sarana produksi (bibit. Kebijakan ekonomi makro. pestisida. Kebijakan Pengembangan Agribisnis Berbasis Karet Untuk meraih peluang sebagai produsen karet dan produk karet terbesar di dunia. Pemerintah daerah seyogyanya memikirkan dampak jangka panjang dalam penetapan retribusi ataupun pungutanpungutan lainya dalam usaha agribisnis karet. listrik. Di bidang fiskal. terutama pada subsistem “on farm”. serta pengembangan kelembagaan dan organisasi petani. dan peralatan) dapat tercukupi dari produksi dalam negeri dengan tingkat mutu dan harga bersaing dengan produk-produk sejenis yang diimpor. KEBIJAKAN. Kebijakan pendayagunaan sumber daya alam dan lingkungan secara efisien dan bijaksana. Kebijakan ketahanan pangan dikaitkan dengan sistem dan usaha agribisnis karet. 4. Dukungan pendanaan dari perbankan diharapkan akan kembali pulih sebagaimana sediakala. baik menyangkut besaran yang dibebankan. pelabuhan. pemasaran dan jasa pendukung lainnya. Kebijakan pengembangan pertumbuhan agribisnis karet di daerah. pengolahan.

Klaster Industri. Penggunaan klon unggul penghasil lateks dan kayu yang mempunyai produktivitas lateks potensial lebih dari 3. yang nilainya pada tahun 2002 mencapai US$ 1 milyar lebih.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet Kebijakan pada sub-sistem agribisnis “on farm” diarahkan kepada upaya untuk meningkatkan produktivitas hasil lateks dan kayu. Off-farm Di bidang off-farm upaya yang ditempuh untuk meningkatkan mutu. perlu dimantapkan dan terus ditingkatkan pangsanya. b. Oleh karena itu. On-farm Upaya yang ditempuh adalah meningkatkan produksi dan produktivitas perkebunan karet melalui: a. Peningkatan efisiensi usaha pada setiap tahap proses produksi untuk menjamin marjin keuntungan dan daya saing yang tinggi. arah kebijakan perdagangan internasional harus bersifat responsif dan antisipatif. Produk karet terutama crumb rubber. dengan pangsa pasar melebihi 1. dan menghasilkan produktivitas kayu karet lebih dari 300 m3/ha/siklus. merupakan produk ekspor. Kebijakan pada sub-sistem pengolahan dan industri hilir diarahkan kepada upaya untuk mewujudkan tumbuh dan berkembangnya pengolahan dan industri hilir karet yang menghasilkan jenis produk sesuai dengan tuntutan pasar atau konsumen yang berkembang dinamis.000 kg/ha/th. Diversifikasi usahatani karet melalui integrasi dengan tanaman pangan dan ternak untuk peningkatan pendapatan keluarga tani. mutu hasil panen. Strategi Untuk mencapai kondisi agribisnis karet yang berdaya saing tinggi dan posisi Indonesia sebagai negara penghasil karet dan produk karet terbesar di dunia tersebut diperlukan langkah-langkah strategis sebagai berikut: 1. dan meningkat menjadi 85% pada tahun 2025). Peningkatan kualitas bahan olah karet (bokar) yang dihasilkan petani sesuai dengan SNI bokar yang disyaratkan oleh industri pengolahan. sehingga persoalan-persolan yang diperkirakan akan muncul dalam perdagangan internasional/global dapat segera ditangani lebih awal. 2. baik pada pasar yang sudah ada maupun melalui pengembangan pasar baru. yang terutama direalisasikan melalui gerakan peremajaan tanaman karet rakyat seluas 400 ribu ha sampai dengan tahun 2009 dan seluas 1. Dalam jangka panjang. dan KIMBUN) perlu dimanfaatkan.3 juta ton. 26 27 . d. serta dapat memberikan nilai tambah optimal di dalam negeri. Peningkatan efisiensi pemasaran bokar dan penguatan kelembagaan petani untuk mencapai bagian harga yang diterima petani minimal 75% dari harga FOB pada tahun 2009 dan 80% pada tahun 2025. Percepatan peremajaan karet tua dan tidak produktif terutama pada perkebunan karet rakyat (peningkatan adopsi klon dari 40% pada tahun 2004 menjadi 55% pada tahun 2009. dan upaya ini akan direalisasikan dalam bentuk pengembangan usaha patungan yang bercirikan perusahaan kemasyarakatan (corporate community) melalui replikasi model-model pengembangan yang sudah ada atau membangun model baru yang sesuai. nilai tambah dan pendapatan petani adalah melalui: a. Upaya regenerasi tanaman/peremajaan (replanting) sudah harus dimulai seiring dengan habisnya masa produktif tanaman karet. seluruh potensi sumberdaya pemasaran yang ada. baik di dalam maupun di luar negeri perlu dimanfaatkan dengan sebaikbaiknya. Kebijakan dalam pengembangan infrastruktur agribisnis karet diupayakan pada upaya konsolidasi dan optimalisasi pendayagunaan dan pemanfaatan potensi sumberdaya infrastruktur yang ada (soft ware maupun hard ware). antara lain kawasan-kawasan pembangunan terpadu yang pernah diperkenalkan dan disosialisasikan (KAPET. keterkaitan sub-sistem “on farm” dengan subsistem pengolahan dan pemasaran dalam usaha agribisnis karet perlu mendapat perhatian yang proporsional.2 juta ha sampai dengan tahun 2025. b. Untuk itu. B. c. melalui pemanfaatan sumberdaya secara efisien dan efektif serta mengindahkan kelestarian lingkungan (good farming practices).

Pendekatan Wilayah meliputi: perbedaan akses informasi. Dinas Perkebunan. Peningkatan nilai tambah produk melalui pengembangan industri hilir yang ramah lingkungan yang dicerminkan melalui peningkatan daya serap bokar minimal 10% dari produksi pada tahun 2009. Prinsip dasar pendekatan self-help development adalah mendorong masyarakat untuk belajar mengatasi masalah mereka 28 . dan penciptaan usaha industri kecil dan menengah pedesaan. kesiapan kelembagaan dan ketersediaan sarana pendukung. perusahaan kayu karet. Beberapa pendekatan yang dipergunakan dalam penerapan model ini adalah : a. Pemerintah Daerah. Untuk itu perlu adanya keterpaduan dengan industri 29 C. b. Pelaksanaan peremajaan karet dilakukan dengan melibatkan seluruh stakeholders yang terlibat di wilayah pengembangan. dan lembaga keuangan/perbankan. Pendekatan Individu meliputi: perbedaan pengetahuan. Menurut Pusat Penelitian Karet Balai Penelitian Sembawa.000 pada tahun 2025 melalui berbagai upaya peningkatan hasil usahatani (perbaikan sistem produksi. Model peremajaan karet partisipatif ini telah diterapkan pada peremajaan karet rakyat di beberapa kabupaten di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan.500 pada tahun 2009 dan US$ 2. ketrampilan. Penyediaan Kredit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang terkait dengan peremajaan karet dan pengembangan usaha bersama dalam kegiatan pengolahan dan pemasaran. Peningkatan pendapatan petani mencapai sekitar US$1. antara lain petani karet/koperasi petani. motivasi dan kemampuan finansial. landasan utama pendekatan partisipatif dalam program peremajaan karet rakyat adalah adanya kebutuhan untuk mengubah paradigma pembangunan karet rakyat yang semula menggunakan pendekatan “proyek berbantuan” menjadi “gerakan swadaya masyarakat” (self-help community development) atau “pendekatan dari bawah” (bottom-up approach). e. Lingkup pelaksanaan peremajaan karet meliputi karet rakyat baik karet rakyat swadaya maupun karet rakyat eks proyek PIR dan UPP. dan meningkatkan pengetahuan serta kemajuan dalam penguasaan sumberdaya dan berusahatani. Dengan demikian program peremajaan menjadi prioritas kegiatan pembangunan agribisnis karet pada jangka menengah.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet c. 1. Model peremajaan Model peremajaan karet rakyat yang diterapkan adalah Model Peremajaan Partisipatif. pengolahan dan pemasaran). GAPKINDO. diperlukan upaya peremajaan dan intensifikasi pemeliharaan tanaman. Program Untuk mencapai sasaran jangka menengah (2005-2009) yaitu peningkatan produksi karet di atas 2 juta ton/th dengan tingkat produktivitas rata-rata kebun di atas 800 kg/ha. Pengembangan infrastruktur yang menunjang pengembangan produksi dan pengolahan barang jadi karet. dan minimal 25% pada tahun 2025. Dalam pelaksanaan peremajaan karet ini. Dengan demikian Landasan Model Peremajaan Karet Rakyat adalah Partisipatif dan Pemberdayaan Masyarakat. f. Dalam pelaksanaan peremajaan dilakukan penanaman tanaman sela (intercropping) dan sekaligus memanfaatkan kayu karet hasil tebangan. Pendekatan ini sangat tergantung pada karakteristik wilayah dan kondisi sosial ekonomi petani. Sasaran peremajaan Peremajaan tanaman karet rakyat dilaksanakan pada kebun karet rakyat yang kondisinya memang sudah tidak produktif atau tanamannya tua/rusak. Hal ini dimaksudkan agar petani/masyarakat dapat lebih termotivasi. d. petani atau kelompok tani pemilik kebun dilibatkan langsung dalam kegiatan. 2. sekaligus mengikutsertakan petani dalam mengelola usahataninya. sendiri dengan menggunakan sumberdaya yang dimiliki dan mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam setiap proses pembangunan. Balai Penelitian.

Jumlah ini dapat menutupi kebutuhan utama pada tahun awal peremajaan karet. Hasil penjualan kayu karet tersebut digunakan untuk membiayai sebagian dana peremajaan. Perkiraan rencana peremajaan karet rakyat per tahun menurut propinsi dapat dilihat pada Lampiran 1. 31 . dan lain-lain) ÿ§ Pembinaan ÿ§ Avalis dalam pendanaan GAPKINDO ÿ§ Memberikan bantuan dana baik untuk bahan tanam maupun sarana produksi ÿ§ Memfasilitasi pemasaran Perbankan / Bank Pembangunan Daerah / ÿ§ Penyediaan dana Lembaga Pembiayaan Petani/Kelompok Tani/Koperasi/Asosia si ÿ§ Mengelola dana hasil penjualan kayu untuk kegiatan peremajaan Petani Karet/CCDC Karet/ ÿ§ Koordinator kegiatan pemeliharaan dan pengadaan sarana produksi Perusahaan Kayu Karet ÿ§ Penebangan kayu karet ÿ§ Pembelian kayu karet Perusahaan Pupuk ÿ§ Penyediaan pupuk Kelompok Tani ÿ§ Mengelola kepentingan kelompok dalam hubungannya dengan pihak di luar kelompok. 30 ÿ§ Menyiapkan Pedoman dan rencana peremajaan Memfasilitasi pembiayaan peremajaan Pusat Penelitian Karet/Balai Penelitian ÿ§ Menyiapkan Pedoman Teknis Peremajaan Karet yang mencakup Karet bibit. Instansi dan peranannya dalam kegiatan peremajaan Instansi Fungsi/Peran Sesuai dengan kondisi tanaman karet rakyat dan kemampuan untuk melakukan peremajaan. maka direncanakan akan dilakukan peremajaan karet rakyat seluas 56. Sesuai dengan fungsi dan kewenangannya. investor instansi . maka untuk pelaksanaan di daerah perlu dibentuk kelompok kerja (Pokja) yang beranggotakan semua pihak yang terkait. penanaman/ peremajaan dan pemeliharaan ÿ§ Menyiapkan bibit karet klon unggul (melalui waralaba benih) Pemda Propinsi/Kabupaten ÿ§ Menyiapkan Petunjuk Teknis ÿ§ Pembinaan teknis ÿ§ Koordinator Pelaksanaan ÿ§ Fasilitasi Pembiayaan PTPN (PIR Karet) ÿ§ Penyediaan saprodi (bahan tanaman. Perkebunan pengolahan kayu karet. maka pihak-pihak yang terlibat serta tugas dan kewajiban masing-masing pihak ditetapkan sebagaimana disajikan pada Tabel 5.5 juta/ha. maka hasil penjualan kayu karet dapat bervariasi antara Rp 5-7. Pada kondisi dimana pabrik pengolah kayu karet tersedia dan akses transportasi relatif baik.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet 3. perbankan dan Pemda. lembaga penelitian. yaitu petani/koperasi. Ditjen BP. Tabel 5. Organisasi Pelaksanaan Rancangan peremajaan karet rakyat secara partisipatif melibatkan banyak pihak. terkait. penebangan kayu. Agar pelaksanaan peremajaan karet tersebut dapat berjalan sesuai dengan rencana dan tujuan.000 ha/tahun dengan menggunakan klon unggul.

000) 2 3 Total (Rp.100 1. 32 . pemeliharaan 4.500.500 10. Besarnya dana hasil penjualan kayu karet yang digunakan untuk tambahan biaya peremajaan tergantung pada kesepakatan petani/kelompok tani dengan perusahaan kayu karet. c. Besarnya kredit yang menjadi beban petani harus diinformasikan kepada petani secara terbuka.400 1.500 1.500 Sumber pendanaan untuk peremajaan karet rakyat dapat berasal dari : a. karena kredit ini akan menjadi tanggung jawab petani. Kredit perbankan.000 1. yang diperlukan untuk membiayai peremajaan dan penanaman tanaman sela perkebunan. Tabel 6. d. GAPKINDO. pupuk. Hasil penjualan kayu karet.000 1. bibit.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet 4. Khusus untuk dana APBD dapat digunakan untuk subsidi bunga bagi petani. Dana pemerintah baik APBN maupun APBD. Perkiraan biaya peremajaan karet per hektar Biaya tahun ke (Rp. e. Pembiayaan Untuk peremajaan karet rakyat per ha diperlukan dana sekitar Rp 10.000. pestisida.0 00) Jenis Pengeluaran 0 1 4 5 Persiapan lahan. Swadaya petani. Pengelolaan dana untuk peremajaan khususnya yang bersumber dari kredit perbankan dan hasil penjualan kayu karet disarankan dapat dilakukan oleh koperasi. penanaman. tanaman sela. b. Perkiraan kebutuhan biaya peremajaan disajikan pada Tabel 6.