P. 1
Diktat Kuliah s2 Analisis Real

Diktat Kuliah s2 Analisis Real

|Views: 2,500|Likes:
Published by Onny Khaeroni
Diktat Kuliah Analisis Real S2 Matematika Terapan IPB.
The www.khaeroni.net is not mine anymore. Visit my new blog at http://onnythea.wordpress.com and get the editable version of this documents.
Diktat Kuliah Analisis Real S2 Matematika Terapan IPB.
The www.khaeroni.net is not mine anymore. Visit my new blog at http://onnythea.wordpress.com and get the editable version of this documents.

More info:

Published by: Onny Khaeroni on Jul 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/11/2015

pdf

text

original

Sections

Diberikan himpunan X dan ℘(X) himpunan subset dari X. Misalkan A dan B subset dari X,
didefinisikan operasi irisan, gabungan, dan komplemen sebagai berikut:

Definisi :

Irisan himpunan A dengan B, ditulis A B, didefinisikan sebagai:
A
B = {x X | x A dan x B}
Gabungan himpunan A dengan B, ditulis A B, didefinisikan sebagai:
A
B = {x X | x A atau x B}

Komplemen himpunan A, ditulis –A atau Ac

, didefinisikan sebagai:

–A = Ac

= {x X |x A}

Dari, definisi-definisi di atas, diturunkan sifat-sifat operasi pada himpunan dalam teorema

berikut:

Teorema :

Diberikan himpunan X dan A dan B adalah subset dari X. Maka berlaku:
1. A B = B A
2. A B = B A
3. A BA
4. AAB
5. AB = AAB
6. AB = ABA
7. (AB) ∩ C = A ∩ (BC) = ABC
8. (AB) ∪ C = A ∪ (BC) = ABC
9. A ∩ (BC) = (AB) ∪ (AC)
10. A ∪ (BC) = (AB) ∩ (AC)
Bukti :
1. x A B x A dan x B
x B dan x A
B A
2. x A B x A atau x B
x B atau x A
B A
3. x A B x A dan x B

Bab 1 – Teori Himpunan Compiled by : Khaeroni, S.Si

6

x A

Jadi A B A
4. x Ax A atau x B
Jadi AAB
5. AB = AAB
(i) Diketahui AB = A, akan dibuktikan bahwa AB
Diambil sebarang xA.
Karena AB = A dan x A, maka xAB
Karena xAB, maka xA dan xB.
Jadi, terbukti bahwa untuk setiap xA maka xB.
(ii) Diketahui AB, akan dibuktikan bahwa AB = A
Pertama, dibuktikan ABA. Dengan menggunakan (3) terbukti.
Kedua, dibuktikan AAB.
Diambil sebarang xA.
Karena AB, maka xB. Jadi, xA dan xB, atau xAB
Jadi, terbukti bahwa AB = A.
6. AB = ABA
(i) Diketahui AB = A, akan dibuktikan bahwa BA
Diambil sebarang xB.
Andaikan xA, maka xAB.
Karena xAB maka xA dan xB.
Kontradiksi dengan diketahui xB. Jadi pengandaian salah, yang benar xA.
(ii) Diketahui BA, akan dibuktikan bahwa A B = A
Pertama, dibuktikan ABA
Diambil sebarang xAB, maka xA atau xB. Karena BA dan xB, maka
xA. Jadi, untuk setiap xAB maka xA.
Kedua, dibuktikan AAB. Dengan menggunakan (4) terbukti.
Jadi terbukti AB = A
7. x ∈ (AB) ∩ Cx ∈ (AB) dan x C
xA dan xB dan xC
x ∈ (ABC)
xA dan (xB dan xC)
xA dan x ∈ (BC)
xA ∩ (B C)
8. x ∈ (AB) ∪ Cx ∈ (AB) atau xC
xA atau xB atau xC
x ∈ (ABC)
xA atau (xB atau xC)
xA atau x ∈ (BC)
xA ∪ (BC)
9. x A ∩ (BC) ⇔ x A dan x ∈ (BC)
xA dan (xB atau xC)
⇔ (xA dan xB) atau (xA dan xC)
x ∈ (AB) atau x ∈ (AC)
x ∈ (AB) ∪ (AC)
10. xA ∪ (BC) ⇔ xA atau x ∈ (BC)
xA atau (xB dan x C)

Bab 1 – Teori Himpunan Compiled by : Khaeroni, S.Si

7

⇔ (xA atau xB) dan (xA atau xC)
x ∈ (AB) dan x ∈ (AC)
x ∈ (AB) ∩ (AC)

Himpunan kosong Ø memainkan peranan yang penting di dalam ruang X, dan disebutkan

melalui sifat berikut:

Teorema :

Jika Ø himpunan kosong, X sebarang himpunan dan AX, maka berlaku:
1. AØ = A
2. AØ = Ø
3. AX = X
4. AX = A
Bukti :
1. Diambil sebarang xAØ, maka xA atau xØ. Karena xØ salah, maka haruslah
xA. Sebaliknya, diambil sebarang xA. Maka xA atau xØ. Jadi, xAØ
2. Andaikan AØØ maka terdapat xA ∩ Ø. Karena xA ∩ Ø maka xA dan x
Ø. Dari sini timbul kontradiksi, karena xØ salah. Jadi, pengandaian salah, yang benar
adalah AØ = Ø.
3. Diambil sebarang xAX, maka xA atau xX. Jadi, xX. Sebaliknya, diambil
sebarang xX. Maka xA atau xX. Jadi, xAX.
4. Diambil sebarang xAX, maka xA dan xX. Jadi, xA. Sebaliknya, diambil
sebarang xA. Karena AX dan xA, maka xX. Jadi, xAX.

Dari definisi komplemen A, diperoleh teorema sebagai berikut:

Teorema :

Jika Ø himpunan kosong, X sebarang himpunan dan AX, maka berlaku:
1. Øc

= X

2. Xc

= Ø

3. (Ac

)c

= A

4. AAc

= X

5. AAc

= Ø
6. ABBc

Ac

Bukti :
1. Karena Ø = {xX | xX}, maka Øc

= {xX | xX} = X

2. Karena X = {xX | xX}, maka Xc

= {xX | xX} = Ø

3. Karena Ac

= {xX | xA}, maka (Ac

)c

= {xX | xA} = A

4. Diambil sebarang xAAc

, maka xA atau xAc

. Karena AX maka xX.
Sebaliknya, diambil sebarang xX. Karena AX, maka xA atau xA. Jadi, xA
atau xAc

. Maka, xAAc
.

5. Andaikan AAc

Ø, maka terdapat x ∈ AAc

. Karena x AAc

maka xA dan x

Ac

. Akibatnya, xA dan xA. Terjadi kontradiksi. Jadi, pengandaian salah, yang benar

AAc

= Ø.
6. ABBc

Ac
(i) Diketahui AB, akan dibuktikan bahwa Bc

Ac

.

Diambil sebarang xBc

. Karena xBc

, maka xB. Karena AB, maka xA. Jadi,

xAc

.

Bab 1 – Teori Himpunan Compiled by : Khaeroni, S.Si

8

(ii) Diketahui Bc

Ac

, akan dibuktikan bahwa AB
Diambil sebarang xA. Karena xA, maka xAc

. Karena Bc

Ac

, maka xBc
.

Karena xBc

, maka xB.

Dua hukum yang mengaitkan komplemen suatu himpunan dengan gabungan dan irisannya
diberikan dalam Hukum De Morgan sebagai berikut:

Teorema (Hukum De Morgan) :

Jika X sebarang himpunan dan A dan B himpunan bagian dari X, maka berlaku:
1. (AB)c

= Ac

Bc

2. (AB)c

= Ac

Bc

Bukti :
1. x ∈ (AB)c

x ∉ (AB)
xA dan xB
xAc

dan xBc

x ∈ (Ac

Bc

)

2. x ∈ (AB)c

x ∉ (AB)
xA atau xB
xAc

atau xBc

x ∈ (Ac

Bc

)

Jika A dan B merupakan himpunan bagian dari X, didefinisikan beda (difference) A dan B, ditulis
B ~ A atau komplemen relatif dari A di B sebagai himpunan yang elemen-elemennya di A tetapi tidak
di B. Jadi,

B ~ A = {x X | x A dan x B}

Dari sini terlihat bahwa, B ~ A = ABc
.
Beda simetri (symmetric difference) dari dua himpunan A dan B didefinisikan sebagai:
AB = (A ~ B) ∪ (B ~ A)
Beda simetri dari dua himpunan berisi semua elemen yang menjadi anggota dari himpunan yang
satu atau yang lainnya tetapi bukan anggota keduanya.
Jika irisan dari kedua himpunan adalah kosong, dikatakan kedua himpunan tersebut saling lepas
atau disjoint. Koleksi himpunan-himpunan, ς dikatakan koleksi disjoint atas himpunan-himpunan jika
setiap dua himpunan di ς adalah disjoint.
Proses mengambil irisan atau gabungan dari dua himpunan dapat diperluas dengan melakukan
perulangan untuk memberikan irisan atau gabungan dari sebarang koleksi berhingga atas himpunan.
Kita bisa memberikan definisi dari irisan untuk sebarang koleksi ς atas himpunan-himpunan. Irisan dari
koleksi ς adalah himpunan yang elemen-elemen dari X merupakan anggota untuk setiap anggota dari ς.
Kita menuliskan irisan ini dengan

A

A

ς

∩ atau {|

}

AA ς

. Jadi,

{|

}{

|

, untuk setiap

}

A

A

AA

xXxA

A

ς

ς

ς

∈ =

∈ = ∈ ∈

∩ ∩

Secara sama, definisi dari gabungan sebagai berikut:
{|

}{

|

, untuk suatu

}

A

A

AA

xXxA

A

ς

ς

ς

∈ =

∈ = ∈ ∈

∪ ∪

Teorema (Hukum De Morgan) :

1.

c

c

A

A

A

A

ς

ς

⎡ ⎤

=

⎢ ⎥
⎣ ⎦

∩ ∪

Bab 1 – Teori Himpunan Compiled by : Khaeroni, S.Si

9

2.

c

c

A

A

A

A

ς

ς

⎡ ⎤

=

⎢ ⎥
⎣ ⎦

∪ ∩

Bukti :

1. Diambil sebarang

c

A

x

A

ς

⎡ ⎤
∈⎢ ⎥
⎣ ⎦

, untuk suat

.

.
.

u
, untuk suat

.

u

c

A

A

c

c

A

x

A

x

A

xA

A

xA

A

x

A

ς

ς

ς

ς

ς

⎡ ⎤

⇔ ∉

⎢ ⎥
⎣ ⎦

⇔ ∉

⇔ ∈

⇔ ∈

2. Diambil sebarang

c

A

x

A

ς

⎡ ⎤
∈⎢ ⎥
⎣ ⎦

.

.
.

,

,

.

c

A

A

c

c

A

x

A

x

A

xAA
xA

A

x

A

ς

ς

ς

ς

ς

⎡ ⎤

⇔ ∉

⎢ ⎥
⎣ ⎦

⇔ ∉ ∀ ∈
⇔ ∈ ∀ ∈
⇔ ∈

Teorema (Hukum Distributif) :

1.

(

)

A

A

B

A

BA

ς

ς

⎡ ⎤

= ∩

⎢ ⎥
⎣ ⎦

∪ ∪

2.

(

)

A

A

B

A

BA

ς

ς

⎡ ⎤

= ∪

⎢ ⎥
⎣ ⎦

∩ ∩

Bukti :

1. Diambil sebarang

A

xB

A

ς

⎡ ⎤
∈ ∩⎢ ⎥
⎣ ⎦

∪, diperoleh:

dan

dan

untuk suatu

.

.

A

A

xB

A

xB

x

A

xB

xA

A

ς

ς

ς

⎡ ⎤

∈ ∩

⇔ ∈

⎢ ⎥
⎣ ⎦

⇔ ∈

(

) untuk suat

.
.

u

(

)

A

xBA

A

x

BA

ς

ς

⇔ ∈ ∩

⇔ ∈ ∩

2. Diambil sebarang

A

xB

A

ς

⎡ ⎤
∈ ∪⎢ ⎥
⎣ ⎦

∩, diperoleh:

Bab 1 – Teori Himpunan Compiled by : Khaeroni, S.Si

10

atau

atau

untuk setiap

.

.
.

(

) untuk setiap

(

)

.

A

A

A

xB

A

xB

x

A

xB

xA

A

xBA

A

x

BA

ς

ς

ς

ς

ς

⎡ ⎤

∈ ∪

⇔ ∈

⎢ ⎥
⎣ ⎦

⇔ ∈

⇔ ∈ ∪

⇔ ∈ ∪


Barisan pada himpunan bagian dari X kita artikan barisan dari ℘(X), yaitu sebuah pemetaan
dari N ke ℘(X). Jika <Ai> adalah sebuah barisan tak-hingga pada himpunan bagian dari X, kita
menotasikan

1

i
iA

=

∪ untuk gabungan dari daerah hasil (range) barisannya. Sehingga,

1

{

|

, untuk suatu }

i

i

iA

xXxA

i

= = ∈ ∈

; dan

1

{

|

, untuk setiap }

i

i

iA

xXxA

i

= = ∈ ∈

Secara sama, jika

1

n
ii

B = merupakan barisan hingga pada himpunan bagian dari X, kita

menuliskan

1

n

i
iB

=

∩ sebagai irisan dari daerah hasil barisannya, oleh karena itu:

1

2

1

n

i

n

iBB

B

B

= = ∩ ∩ ∩

Himpunan bagian dari X yang berindex adalah suatu fungsi pada himpunan indeks Λ ke X atau
ke himpunan bagiannya. Jika Λ himpunan bilangan asli, maka notasi himpunan berindeks sama dengan
notasi bilangan asli. Biasanya menggunakan notasi xλ dari pada x(λ) dan menuliskan indeks-nya dengan
{xλ} atau {xλ : λ ∈Λ}. Berikut ini definisi irisan dan gabungan dari himpunan berindeks:
{

|

, untuk setiap

}

A

xXxA

λ

λ

λ

λ

∈Λ = ∈ ∈

∈Λ

{

|

, untuk suatu

}

A

xXxA

λ

λ

λ

λ

∈Λ = ∈ ∈

∈Λ

Bilamana Λ = N maka diperoleh

1

i

i

iN

i

A

A

=

=

∩ ∩ (serupa juga untuk gabungan)

Jika f memetakan X kepada Y dan {Aλ} koleksi himpunan bagian dari X, maka:

[ ]

f

A

fA

λ

λ

λ

λ

⎡ ⎤

=

⎢ ⎥
⎣ ⎦

∪ ∪

dan

()

f

A

fA

λ

λ

λ

λ

⎡ ⎤

⎢ ⎥
⎣ ⎦

∩ ∩

Bukti :

Versi Pa Jaharuddin:
(i) Diambil sebarang yf

Aλ

λ

⎡ ⎤
∈ ⎢ ⎥
⎣ ⎦

, maka terdapat x

Aλ

λ

∈∪ sehingga y = f(x).

Karena x

Aλ

λ

∈∪, maka xAλ untuk suatu λ ∈ Λ. Karena xAλ sehingga y = f(x),

maka

()

yfAλ

untuk suatu λ. Jadi,

[]

y

fAλ

λ

∈∪

(ii) Left as an exercise!
My Version:

Bab 1 – Teori Himpunan Compiled by : Khaeroni, S.Si

11

(),

untuk suatu

(), untuk suatu
(

.

.
.

)

yf

A

yfx

xA

yfA
y

fA

λ

λ

λ

λ

λ

λ

λ

λ

⎡ ⎤

⇒ = ∀ ∈

⎢ ⎥
⎣ ⎦

⇒ ∈
⇒ ∈

()

(), untuk suatu

y

fA

yfA

λ

λ

λ

λ

⇒ ∈

(),

, untuk suatu

yfx

xA

yf

A

λ

λ

λ

λ

⇒ = ∀ ∈
⎡ ⎤
⇒ ∈ ⎢ ⎥
⎣ ⎦

Selanjutnya, akan dibuktikan bahwa :

()

f

A

fA

λ

λ

λ

λ

⎡ ⎤

⎢ ⎥
⎣ ⎦

∩ ∩

.

.

(),

,

(

.

()

.

),

yf

A

yfx

xA

yfA
y

fA

λ

λ

λ

λ

λ

λ

λ

λ

⎡ ⎤

⇒ = ∀ ∈ ∀

⎢ ⎥
⎣ ⎦

⇒ ∈

⇒ ∈

Untuk prapeta, misalkan {Bλ} koleksi himpunan bagian dari Y, maka

1

1

()

f

B

fB

λ

λ

λ

λ

⎡ ⎤

=

⎢ ⎥
⎣ ⎦

∪ ∪

dan 1

1

()

f

B

fB

λ

λ

λ

λ

⎡ ⎤

=

⎢ ⎥
⎣ ⎦

∩ ∩

Bukti :
Akan dibuktikan bahwa 1

1

()

f

B

fB

λ

λ

λ

λ

⎡ ⎤

=

⎢ ⎥
⎣ ⎦

∪ ∪

.

Pertama, dibuktikan bahwa 1

1

()

f

B

fB

λ

λ

λ

λ

⎡ ⎤

⎢ ⎥
⎣ ⎦

∪ ∪

1

1

1

,

(), untuk suatu

(), untuk suatu
(

.

.

)

.

xf

B

xByfx

xfB
x

fB

λ

λ

λ

λ

λ

λ

λ

λ

⎡ ⎤

⇒∀ ∈ =

⎢ ⎥
⎣ ⎦

⇒ ∈
⇒ ∈

Kedua, dibuktikan bahwa

1

1

()

fB

f

B

λ

λ

λ

λ

− ⎡ ⎤
⊂ ⎢ ⎥
⎣ ⎦

1

1

1

()

(), untuk suatu

,

(), untuk suatu

.

.

.

x

fB

xfB

xByfx

xf

B

λ

λ

λ

λ

λ

λ

λ

λ

⇒ ∈

⇒∀ ∈ =

⎡ ⎤
⇒ ∈ ⎢ ⎥
⎣ ⎦

Selanjutnya akan dibuktikan bahwa,

1

1

()

f

B

fB

λ

λ

λ

λ

⎡ ⎤

=

⎢ ⎥
⎣ ⎦

∩ ∩

Bab 1 – Teori Himpunan Compiled by : Khaeroni, S.Si

12

Pertama, dibuktikan bahwa 1

1

()

f

B

fB

λ

λ

λ

λ

⎡ ⎤

⎢ ⎥
⎣ ⎦

∩ ∩

1

1

1

,

(),

.

(

.

(),

)

.

xf

B

xByfx

xfB
x

fB

λ

λ

λ

λ

λ

λ

λ

λ

⎡ ⎤

⇒∀ ∈ = ∀

⎢ ⎥
⎣ ⎦

⇒ ∈

⇒ ∈

Kedua, dibuktikan bahwa

1

1

()

fB

f

B

λ

λ

λ

λ

− ⎡ ⎤
⊂ ⎢ ⎥
⎣ ⎦

1

1

1

()

()

.

.

,

,

(,

.

)

x

fB

xfB

xByfx

xf

B

λ

λ

λ

λ

λ

λ

λ

λ

⇒ ∈

⇒∀ ∈ = ∀
⎡ ⎤
⇒ ∈ ⎢ ⎥
⎣ ⎦

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->