P. 1
ANALISIS PRODUKTIVITAS KERJA BURUH OLAH DI PT. PERKEBUNAN NUSANTARA VIII KEBUN RANCABALI KECAMATAN RANCABALI KABUPATEN BANDUNG PROVINSI JAWA BARAT

ANALISIS PRODUKTIVITAS KERJA BURUH OLAH DI PT. PERKEBUNAN NUSANTARA VIII KEBUN RANCABALI KECAMATAN RANCABALI KABUPATEN BANDUNG PROVINSI JAWA BARAT

|Views: 102|Likes:
Published by KARYAGATA MANDIRI

More info:

Published by: KARYAGATA MANDIRI on Jul 30, 2012
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

04/23/2013

ANALISIS PRODUKTIVITAS KERJA BURUH OLAH DI PT.

PERKEBUNAN NUSANTARA VIII KEBUN RANCABALI KECAMATAN RANCABALI KABUPATEN BANDUNG PROVINSI JAWA BARAT

Oleh MEGA PUSPITARINI A14102552

PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2005

RINGKASAN

MEGA PUSPITARINI. Analisis Produktivitas Kerja Buruh Olah di PT Perkebunan Nusantara VIII Kebun Rancabali Kecamatan Rancabali Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat. Di bawah bimbingan EKA INTAN KUMALA PUTRI. Pertanian merupakan salah satu sektor yang menjadi unggulan Indonesia, karena potensi sumberdaya alam yang dimiliki Indonesia sebagai salah satu negara agraris di dunia. Salah satu sektor pertanian yang telah lama dikenal oleh pasar internasional dan dunia adalah sub sektor perkebunan khususnya tanaman teh yang banyak diminati oleh para negara pengimpor sektor perkebunan dunia. Indonesia merupakan salah satu negara produsen sekaligus eksportir utama teh dunia. Komoditi teh dari Indonesia dewasa ini diekspor ke 128 negara. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai produsen teh terbesar kelima setelah India, Cina, Srilangka dan Kenya. PTPN VIII Kebun Rancabali merupakan salah satu BUMN yang memproduksi teh hitam jenis Orthodoks. Selama periode tahun 2002-2004 produksi teh yang dihasilkan oleh PTPN VIII Kebun Rancabali mengalami fluktuasi. Berfluktuasinya nilai produksi teh kering dapat diakibatkan oleh beberapa faktor, diantaranya menurunnya tingkat produktivitas pekerja pemetik ataupun menurunnya tingkat produktivitas buruh bagian pengolahan. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas kerja karyawan terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berhubungan dengan kondisi diri karyawan, sedangkan faktor eksternal berhubungan dengan kondisi di luar diri karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis karakteristik umum karyawan khususnya buruh bagian pengolahan di PTPN VIII Kebun Rancabali, (2) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja buruh bagian pengolahan di PTPN VIII Kebun Rancabali. Penelitian dilakukan di PTPN VIII Kebun Rancabali Ciwidey, Jawa Barat. Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa metode, diantaranya: observasi, wawancara, dan studi kepustakaan.. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder, baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Pemilihan responden dilakukan secara proportionate random sampling yang merupakan bagian stratified random sampling, yaitu dengan cara mengelompokkan responden berdasarkan bagiannya (strata) kemudian diambil sampel secara acak untuk setiap strata populasi secara tidak proporsional. Jumlah responden yang ditunjuk secara acak pada penelitian ini berjumlah 45 responden buruh yang bekerja pada tujuh bagian dalam pengolahan. Analisis yang digunakan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi produktivitas kerja karyawan adalah analisis regresi linier berganda yang diolah dengan menggunakan bantuan program MINITAB 13 for Windows. Faktor-faktor yang dianalisis dan digunakan untuk menentukan model regresi adalah : usia (X1), tingkat pendidikan formal (X2), pengalaman kerja (X3), alokasi waktu kerja (X4), jumlah tanggungan keluarga (X5), jumlah pendapatan pokok (X6), jumlah pendapatan diluar penghasilan sebagai buruh (X7), jumlah

pengeluaran rata-rata (X8), jumlah tunjangan (X9), jumlah bonus akhir tahun (X10), cuti tahunan (X11), kepuasan kompensasi yang diterima (X12), hubungan atasan bawahan (X13), hubungan sesama buruh pengolahan (X14), jenis kelamin (D1), status kerja (D2), sistem bekerja (D3). Karakteristik buruh pengolahan yang ada di PT Perkebunan Nusantara VIII Kebun Rancabali sebagian besar adalah laki-laki. Dari 45 responden yang terpilih sebanyak 31 orang laki-laki dan 14 orang perempuan. Berdasarkan usia responden berkisar antara 21 – 55 tahun dengan jumlah responden terbanyak antara usia 41 – 50 tahun, sedangkan tingkat pendidikan rata-rata buruh pengolahan adalah tamatan SD dengan jumlah 35 orang dari 45 responden. Pengalaman kerja buruh pengolahan berkisar antara 1 –35 tahun, dengan jumlah terbanyak 21 orang yang mempunyai pengalaman 11 –20 tahun. Sistem kerja yang sering dilakukan di lingkungan pengolahan adalah sistem kerja borongan. Jumlah pendapatan pokok yang diterima buruh pengolahan rata-rata Rp 360.000 – Rp 400.000 per bulan. Sedangkan jumlah pengeluaran rata-rata keluarga per bulan adalah Rp 560.000 – Rp 600.000. Besarnya tunjangan yang biasa diterima oleh buruh pengolahan adalah sebesar Rp 112.000 – Rp 116.000. Buruh pengolahan rata-rata merasa puas dengan sistem kompensasi yang diberikan oleh pihak perkebunan, sedangkan hubungan atasan dengan bawahan, rata-rata responden menyatakan menyenangkan. Hubungan antara sesama buruh pengolahan pun dinyatakan responden sebagai hubungan yang menyenangkan. Sedangkan hasil kuisioner menunjukkan nilai rata-rata produktivitas pada bulan Juli 2005 lebih dari 110 kg/HKE. Nilai koefisien determinasi (R2) yang diperoleh sebesar 79.8 persen. Hal ini berarti bahwa variasi nilai Y dapat dijelaskan 79.8 persen oleh variasi dari nilai-nilai variabel bebas (X1, X2, ........, X14, D1, D2, D3) dalam model, sedangkan sisanya 20.2 persen diterangkan oleh faktor-faktor yang lain yang tidak terdapat dalam model. Faktor-faktor yang berpengaruh nyata secara statistik pada taraf kepercayaan 99 persen adalah usia; pada taraf kepercayaan 95 persen adalah masa kerja, status kerja, jumlah tanggungan keluarga, jumlah pendapatan pokok dan bonus akhir tahun; pada taraf kepercayaan 90 persen adalah kepuasan kompensasi yang diterima; pada taraf kepercayaan 85 persen adalah hubungan atasan dengan bawahan; pada taraf kepercayaan 80 persen adalah sistem kerja dan tunjangan. Faktor-faktor yang tidak berpengaruh nyata adalah jenis kelamin, tingkat pendidikan, alokasi waktu kerja, jumlah pendapatan diluar penghasilan sebagai buruh pengolahan, jumlah pengeluaran rata-rata keluarga setiap bulan, cuti tahunan, dan hubungan sesama buruh pengolahan. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, PTPN VIII sebaiknya lebih memperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas kerja buruh pengolahan seperti usia, status kerja, jumlah pendapatan pokok, dan bonus akhir tahun yang akan diterima, sehingga seluruh buruh olah akan merasa lebih puas lagi dengan segala macam kompensasi yang akan diterimanya.dan dapat membuat buruh pengolahan dapat bekerja dengan lebih baik lagi. Pekerjaan sebagai buruh pengolahan memerlukan ketrampilan yang tinggi, oleh karena itu sebaiknya sering diadakan pelatihan internal kepada buruh pengolahan tentang cara-cara pengolahan teh sesuai dengan standar pihak perkebunan yaitu standar mutu ISO 9001-2000.

ANALISIS PRODUKTIVITAS KERJA BURUH OLAH DI PT. PERKEBUNAN NUSANTARA VIII KEBUN RANCABALI KECAMATAN RANCABALI KABUPATEN BANDUNG PROVINSI JAWA BARAT

Oleh MEGA PUSPITARINI A 14102552

SKRIPSI Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar SARJANA PERTANIAN Pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2005

PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang ditulis oleh : Nama NRP Judul : Mega Puspitarini : A 14102552 : Analisis Produktivitas Kerja Buruh Olah di PT Perkebunan Nusantara VIII Kebun Rancabali Kecamatan Rancabali Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat Dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor, Desember 2005 Menyetujui, Dosen Pembimbing

Program Studi : Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis

Dr. Ir. Eka Intan Kumala Putri, MSi NIP. 131 918 659 Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Supiandi Sabihan, M. Agr NIP. 130 422 698

Tanggal Kelulusan: 7 Desember 2005

PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENARBENAR HASIL KARYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI TULISAN ILMIAH PADA SUATU PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.

Bogor, Desember 2005

MEGA PUSPITARINI A14102552

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada tanggal 22 Mei 1981 di Bandung, sebagai anak kedua dari dua bersaudara dari pasangan H. Yusrizal (alm) dan Hj. Suryati. Penulis memulai pendidikan di SDN Pajagalan 47/ III, dan lulus tahun 1993. Selanjutnya penulis melanjutkan pendidikannya di SMPN 33 Bandung dan berhasil menyelesaikannya pada tahun 1996. Di tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikannya di SMUN 17 Bandung dan lulus pada tahun 1999. Penulis kemudian meneruskan pendidikan ke Program Diploma III Program Studi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas

Padjadjaran dan lulus pada tahun 2002. Selanjutnya pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan di Program Studi Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis, Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan pertolongan-Nya penulis akhirnya dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Semoga shalawat dan salam tetap tercurah pada junjungan umat Nabi Besar Muhammad SAW. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Skripsi ini berjudul “Analisis Produktivitas Kerja Buruh Olah di PT Perkebunan Nusantara VIII Kebun Rancabali Kecamatan Rancabali Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat” ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik karyawan khususnya buruh pengolahan di PTPN VIII Kebun Rancabali serta menganalisis faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi produktivitas kerja buruh pengolahan dengan menggunakan aplikasi regresi linear berganda. Bersama ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberi bantuan baik moril maupun materiil selama proses penyusunan skripsi ini. Penulis menyadari banwa masih terdapat beberapa kekurangan dalam penyusunan skripsi ini, karenanya penulis mengharapkan masukan dan saran yang bersifat membangun dalam penyempurnaan skripsi selanjutnya. Namun demikian penulis berharap semoga skrpsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan serta dapat memenuhi apa yang diharapkan.

Bogor, Desember 2005

Penulis

UCAPAN TERIMA KASIH

Penyesaian skripsi ini tidak terlepas dari bantuan semua pihak. Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Ibu Dr. Ir. Eka Intan Kumala Putri, MSi selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu, menuntun, mengarahkan dan membimbing penulis dengan sabar sejak awal hingga selesainya penulisan skripsi ini. 2. Ibu Dr. Ir. Henny K. Daryanto, MEc selaku dosen evaluator kolokium yang telah memberikan koreksi, masukan dan saran bagi penulis. 3. Bapak Ir. M. Firdaus, MSi selaku dosen penguji kelayakan skripsi yang telah memberikan masukan dan saran bagi penulis. 4. Ibu Ir. Netti Tinaprilla, MM selaku dosen penguji utama dalam sidang skripsi yang telah memberikan masukan dan saran bagi penulis. 5. Ibu Sahara, SP, MSi selaku dosen komisi pendidikan pada sidang skripsi yang telah memberikan masukan dan saran bagi penulis. 6. Mamah dan Papah (alm) yang tak henti-hentinya memberikan dukungan materi dan doa serta kasih sayangnya yang tak akan terbalas, serta Andri yang telah memberikan inspirasi penulis untuk tetap semangat dalam menyelesaikan skripsi ini (masa’ kamu bisa, aku nggak bisa!) 7. Terima kasih dan cintaku untuk seseorang yang tak pernah hilang dari benakku. 8. Pimpinan Direksi PTPN VIII yang telah memberikan izin dan waktunya kepada penulis untuk melakukan penelitian. 9. Pimpinan PTPN VIII Kebun Rancabali serta Pak Ir. Budi yang telah membantu penulis pada awal-awal penelitian. 10. bapak Ir. Zulfa Hasyim selaku Sinder Pengolahan yang telah memberikan waktu dan sarannya kepada penulis saat melakukan penelitian sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

11. Ibu Nenah, Pak Erlan dan Istri serta seluruh karyawan dan mandor PTPN VIII yang telah membantu saat melaksanakan penelitian di PTPN VIII Kebun Rancabali. 12. Sahabatku di C-10A (Dian, Rina, Ria, Sarah, Iena, Yaya) yang telah membantu memberikan dorongan agar penulis tetap semangat, semoga silaturahmi kita tetap terjalin. 13. Sahabatku Mia, Meydi, Fe’i, Aep, QQ, Rudi ‘boy’, Yanuar, Tinem, Toya, Donna yang telah membantu dan selalu berusaha untuk hadir dalam kolokium dan seminar penulis. 14. Teman-temanku Ayu, TeDi, yang telah membantu memberikan semangat dan dorongan kepada penulis. 15. Seluruh teman-teman Ekstensi Angkatan 7. 16. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI ……………………………………………………………. i DAFTAR TABEL ……………………………………………………… DAFTAR GAMBAR …………………………………………………… DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………… I PENDAHULUAN Latar Belakang …………………………………………………… 1.2 Perumusan Masalah ……………………………………………… 1.3 Tujuan Penelitian ………………………………………………… 1.4 Kegunaan Penelitian ……………………………………………… 1.5 Ruang Lingkup Penelitian ………………………………………… II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Umum Komoditi Teh ………………………………… 2.2 Konsep Manajemen Sumberdaya Manusia ……………………… 10 13 1 5 8 8 9 vi vi vi

2.3 Penelitian Terdahulu ……………………………………………… 14 III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis …………………………………… 19 3.1.1 Produktivitas ……………………………………………… 19 3.1.2 Pengukuran Produktivitas ………………………………… 20 3.1.3 Produktivitas Tenaga Kerja ……………………………… 3.1.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Tenaga Kerja ……………………………………………………… 23 24

3.1.5 Analisis Regresi Linear Berganda ....................................... 27 3.2 Kerangka Pemikiran Operasional ………………………………… 27 3.3 Hipotesis Penelitian ……………………………………………… IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian …………………………………… 34 31

4.2 Pengumpulan Data ……………………………………………… 4.3 Jenis dan Sumber Data …………………………………………… 4.4 Teknik Pengambilan Contoh ……………………………………… 4.5 Pengolahan dan Analisis Data …………………………………… 4.6 Definisi Operasional ……………………………………………… V GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 5.1 Sejarah Singkat PT Perkebunan Nusantara VIII ………………… 5.2 Wilayah Kerja & Kondisi Fisik Kebun Rancabali ……………… 5.3 Struktur Organisasi PTPN VIII Kebun Rancabali ……………… 5.4 Sistem Pengupahan ……………………………………………… 5.5 Kegiatan Budidaya Tanaman Teh ………………………………… 5.6 Kegiatan Pengolahan Teh Hitam ………………………………… VI KARAKTERISTIK UMUM RESPONDEN 6.1 Tingkat Produktivitas Kerja …………………………………….. 6.2 Jenis Kelamin …………………………………………………… 6.3 Usia ……………………………………………………………… 6.4 Tingkat Pendidikan ……………………………………………… 6.5 Pengalaman Kerja ………………………………………………… 6.6 Status Kerja ……………………………………………………… 6.7 Alokasi Waktu Kerja …………………………………………… 6.8 Sistem Bekerja …………………………………………………… 6.9 Jumlah Tanggungan Keluarga …………………………………… 6.10 Jumlah Pendapatan Pokok sebagai Buruh Pengolahan ………… 6.11 Jumlah Pendapatan diluar Penghasilan Buruh …………………… 6.12 Jumlah Pengeluaran Rata-Rata Keluarga ……………………… 6.13 Tunjangan ……………………………………………………… 6.14 Bonus Akhir Tahun ……………………………………………… 6.15 Cuti Tahunan …………………………………………………… 6.16 Kepuasan Kompensasi yang Diterima ………………………… 6.17 Hubungan dengan Mandor ……………………………………… 50

34 35 35 36 43

46 49 54 56 57

65 66 67 68 69 70 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80

6.18 Hubungan dengan Sesama Buruh Pengolahan ………………… VII ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIVITAS KERJA BURUH PENGOLAHAN 7.1 Pengujian Asumsi .....…………………………………………… 7.2 Hasil Analisis Regresi …………………………………………… 7.2.1 Variabel yang Berpengaruh Nyata Terhadap Produktivitas 7.2.1.1 Usia ………………………………………………… 7.2.1.2 Masa Kerja ………………………………………… 7.2.1.3 Status Kerja ………………………………………… 7.2.1.4 Jumlah Tanggungan Keluarga ……………………… 7.2.1.5 Jumlah Pendapatan Pokok ……………………..…… 7.2.1.6 Bonus Akhir Tahun ………………………………… 7.2.1.7 Kepuasan Kompensasi …………………… ………… 7.2.1.8 Hubungan Atasan dengan Bawahan ………………… 7.2.1.9 Sistem Kerja ………………………………………… 7.2.1.10 Tunjangan ………………………………………… 7.2.2 Variabel yang Tidak Berpengaruh Nyata Terhadap Produktivitas ………………………………………………….. 7.2.2.1 Jenis Kelamin ……………………………………… 7.2.2.2 Tingkat Pendidikan ………………………………… 7.2.2.3 Alokasi Waktu Kerja ……………………………… 7.2.2.4 Jumlah Pendapatan diluar Penghasilan Buruh …… 7.2.2.5 Jumlah Pengeluaran Keluarga ……………………… 7.2.2.6 Cuti Tahunan ……………………………………… 7.2.2.7 Hubungan Sesama Buruh Pengolahan ……………… VIII KESIMPULAN DAN SARAN 8.1 Kesimpulan ……………………………………………………… 8.2 Saran ……………………………………………………………. DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… LAMPIRAN …………… …………………………………….…………. 108 98

81

83 85 87 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 97 98 99 100 101 102

103 104 106

DAFTAR TABEL Nomor 1 Perkembangan Produksi Teh (dalam juta Kg) di Lima Negara Produsen Utama Tahun 1999-2003 …………………………… 2 Volume dan Nilai Ekspor Teh Tahun 1998-2003 ……………… 3 Perkembangan Produktivitas Perkebunan Teh Indonesia Menurut Status Pengusahaan …………………………………… 4 Produksi Kering dan Tingkat Produktivitas Kerja Buruh Bagian Pengolahan di PTPN VIII Kebun Rancabali Periode Tahun 2002-2004 ……………………………………………………… 5 Jumlah Buruh Bagian Pengolahan dan Responden Berdasarkan Bagiannya ………………………………………………………. 6 Nama Afdeling dan Luas Areal Perkebunan Rancabali ……….. 7 Daftar Tenaga Kerja PTPN VIII Kebun Rancabali ……………. 8 Jenis-Jenis Teh berdasarkan Mutu di PTPN VIII Kebun Rancabali ……………………………………………………….. 9 Perbandingan Setiap Bagian Pengolahan dengan Kapasitas Kerja Pabrik ............................................................................................. 10 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Produktivitas Kerja ……..……………………………………………………… 11 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin dengan Produktivitas ……………………………………………………. 12 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia dengan Produktivitas …………………………………. ……………….. 13 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Dengan Produktivitas …………………………………………… 14 Karakteristik Responden Berdasarkan Pengalaman Kerja Dengan Produktivitas ………………………………………….. 15 Karakteristik Responden Berdasarkan Status Kerja dengan Produktivitas …………………………………… ……………… 16 Karakteristik Responden Berdasarkan Alokasi Waktu Kerja Dengan Produktivitas ………………………………………….. 17 Karakteristik Responden Berdasarkan Sistem Kerja dengan Produktivitas …………………………………………………… Halaman Teks 1 2 3

6 36 49 54 62 64 66 66 67 68 69 70 71 72

18 Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan Keluarga dengan Produktivitas ………………………………… 19 Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Pendapatan Pokok Sebagai Buruh Pengolahan dengan Produktivitas ……… 20 Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Pendapatan Diluar Penghasilan Sebagai Buruh Pengolahan dengan Produktivitas …………………………………………………… 21 Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Pengeluaran Rata-Rata Keluarga dengan Produktivitas……..…...................... 22 Karakteristik Responden Berdasarkan Perolehan Tunjangan Dengan Produktivitas ………………………………………….. 23 Karakteristik Responden Berdasarkan Perolehan Bonus Akhir Tahun dengan Produktivitas ……………………………………. 24 Karakteristik Responden Berdasarkan Perolehan Cuti dengan Produktivitas …..………………………………………………... 25 Karakteristik Responden Berdasarkan Persepsi Terhadap Kepuasan Kompensasi yang Diterima dengan Produktivitas…… 26 Karakteristik Responden Berdasarkan Persepsi Terhadap Hubungan dengan Mandor dengan Produktivitas ……………… 27 Karakteristik Responden Berdasarkan Persepsi Terhadap Hubungan dengan Sesama Buruh Pengolahan dengan Produktivitas …………………………………….……………… 28 Hasil Analisis Regresi Produktivitas Kerja Buruh Pengolahan PTPN VIII Kebun Rancabali ……………………………….……

73 74

75 76 77 78 78 79 80

81 85

DAFTAR GAMBAR Nomor 1 Kerangka Pemikiran Operasional …………………………… 2 Plot antara Standardized Residual dengan Y ............................ Halaman Teks 30 83

DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Struktur Organisasi PTPN VIII Kebun Rancabali … ............. 2 Jumlah Produksi Kering PTPN VIII Kebun Rancabali ……... 3 Hasil Analisis Regresi ……………………………… ............. 109 110 111

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pertanian merupakan salah satu sektor yang menjadi unggulan Indonesia, karena potensi sumberdaya alam yang dimiliki Indonesia sebagai salah satu negara agraris di dunia dan juga merupakan salah satu sumber penambah devisa bagi negara. Selain itu sub sektor pertanian merupakan penghasil utama komoditas ekspor non migas Indonesia. Salah satu sektor pertanian yang telah lama dikenal oleh pasar internasional dan dunia adalah sub sektor perkebunan khususnya tanaman teh yang banyak diminati oleh para negara pengimpor sektor perkebunan dunia. Indonesia merupakan salah satu negara produsen sekaligus eksportir utama teh dunia. Komoditi teh dari Indonesia dewasa ini diekspor ke 128 negara dengan 10 negara pengimpor terbesar yaitu: Inggris, Rusia, Malaysia, Pakistan, AS, Jerman, Polandia, Belanda, Australia dan Arab Saudi.1 Produksi teh Indonesia di pasaran dunia rata-rata 165,068 juta kg selama periode 1999-2003. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai produsen teh terbesar kelima setelah India, Cina, Srilangka dan Kenya seperti yang terlihat pada Tabel 1 berikut ini. Tabel 1. Perkembangan Produksi Teh (juta kg) di lima Negara Produsen Utama Tahun 1999-2003
Negara 1999 India 824,408 Cina 675,871 Srilangka 284,149 Kenya 248,818 Indonesia 161,003 Sumber: BPS, 2004 2000 846,483 683,324 306,794 236,286 164,568 Tahun 2001 853,710 701,699 296,301 294,631 166,992 Rata-rata 2002 847,107 685,683 303,914 297,481 165,212 2003 869,721 703,512 299,613 298,735 167,564 848,286 690,018 298,154 275,190 165,068

1. Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia, BPS, Periode Januari-Desember 2003

Perkembangan ekspor

teh Indonesia ke mancanegara selama kurun

waktu enam tahun terakhir (1998-2003) ini cenderung berfluktuasi dari tahun ke tahun. Volume ekspor tertinggi Indonesia dicapai pada tahun 2000 yaitu sebesar 102.223 ton sedangkan volume ekspor terendah terjadi pada tahun 1998 yaitu sebesar 63.892 ton. Tetapi nilai ekspor tertinggi terjadi pada tahun 1998 yaitu sebesar US$ 108,364 juta, hal ini sangat dipengaruhi oleh nilai tukar dollar Amerika yang berlaku di Indonesia saat itu. Data selengkapnya mengenai perkembangan total ekspor teh dari tahun 1998-2003 dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini. Tabel 2. Volume dan Nilai Ekspor Teh Indonesia Tahun 1998-2003 Tahun 1998 1999 2000 2001 2002 2003 Volume (ton) 63.892 94.048 102.223 94.974 95.457 89.748 Nilai (juta US$) 108,364 92,016 108,144 94,685 98,024 91,831 % Perubahan Nilai 84,91 117,53 87,55 103,53 93,68

Sumber: Buletin BPS, 2004

Produksi teh Indonesia saat ini dihasilkan dari 13 provinsi, yaitu dari seluruh provinsi di Sumatera, seluruh provinsi di Jawa kecuali DKI Jakarta dan dua provinsi di Sulawesi yaitu Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. Diantara 13 provinsi tersebut hanya tiga provinsi yang menguasai produksi teh dalam negeri yaitu provinsi Jawa Barat, Sumatera Utara dan Jawa Tengah. Provinsi Jawa Barat menempati urutan pertama dalam produksi teh, hal ini disebabkan karena kondisi lahan dan iklimnya yang cocok untuk budidaya tanaman teh. Produksi teh yang dihasilkan oleh provinsi Jawa Barat berasal dari Perkebunan Rakyat (PR), Perkebunan Besar Negara (PBN) dan Perkebunan Besar Swasta (PBS).

Produksi

dan

produktivitas

PBN

mengalami

fluktuasi

dalam

perkembangannya, dimana selama tahun 1999-2003 produksi dan produktivitas PBN mengalami penaikan dan penurunan. Angka penurunan terjadi pada tahun 2002 sebesar 6,84 persen, sedangkan peningkatan produksi dan produktivitas teh terjadi pada tahun 2001 yaitu sebesar 12,12 persen dan pada tahun 2003 sebesar 0,74 persen. Dari ketiga jenis perkebunan tersebut, PBN menempati posisi pertama dengan jumlah produksi terbesar disusul PR dan yang terkecil dalam jumlah produksi adalah PBS. Hal ini dikarenakan umur tanaman teh yang masih muda serta perawatan yang kurang maksimal terhadap tanaman teh tersebut. Akan tetapi, produksi tidak hanya ditentukan oleh luas dan banyaknya pokok tanaman, tapi juga oleh tingkat produktivitas tenaga kerja, baik itu pemetik ataupun buruh bagian pengolahan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Perkembangan Produktivitas Perkebunan Teh Indonesia Menurut Status Pengusahaan (1999-2003)
Status Pengusahaan Perkebunan Rakyat Luas lahan (Ha) Produksi (Ton) Produktivitas (Ton/Ha) Trend Produktivitas (%) Perkebunan Besar Negara Luas lahan (Ha) Produksi (Ton) Produktivitas (Ton/Ha) Trend Produktivitas (%) Perkebunan Besar Swasta Luas lahan (Ha) Produksi (Ton) Produktivitas (Ton/Ha) Trend Produktivitas (%) 1999 65.348 34.561 0,529 56.148 86.099 1,533 35.493 40.343 1,137 2000 67.147 39.743 0,588 11,15 54.863 85.103 1,551 1,17 35.174 39.992 1,136 0,09 Tahun 2001 67.575 40.228 0,593 0,85 50.273 87.427 1,739 12,12 33.021 39.337 1,191 4,84 2002 66.339 44.837 0,676 14,00 51.814 83.937 1,620 -6,84 32.634 36.438 1,117 -6,21 2003 67.735 44.915 0,652 -3,55 52.217 85.216 1,632 0,74 32.507 37.433 1,152 3,13

Sumber : Statistik Indonesia BPS, 2004

Penurunan produksi dan produktivitas teh dirasakan oleh semua perkebunan besar di Indonesia, termasuk perkebunan besar negara ataupun perkebunan besar swasta di Jawa Barat. Salah satu perkebunan besar negara yang terdapat di Jawa Barat adalah PT Perkebunan Nusantara VIII Kebun Rancabali yang juga merasakan dampak dari penurunan tersebut. Oleh karena itu diperlukan suatu upaya untuk meningkatkan produksi dan mutu teh khususnya di PTPN VIII Kebun Rancabali sehingga dapat meningkatkan produksi dan produktivitas teh bagi provinsi Jawa Barat. Tingkat produktivitas merupakan suatu ukuran yang dapat menentukan keberhasilan suatu perusahaan dalam persaingan di dunia usaha, dimana keberadaan suatu perusahaan tergantung dari tinggi rendahnya produktivitas perusahaan. Terdapat beberapa kunci atau unsur-unsur penting yang dapat

meningkatkan produktivitas total perusahaan yaitu tenaga kerja, modal, produksi, organisasi dan pemasaran, dimana unsur yang paling mampu memberikan keuntungan terbesar adalah tenaga kerja. Hal ini disebabkan karena tenaga kerja merupakan tenaga penggerak dalam perusahaan, baik untuk produksi, organisasi ataupun pemasaran sehingga bila tenaga kerja yang dimiliki berkualitas, maka hasil yang didapat pun akan maksimal. Salah satu kontribusi penting yang diberikan tenaga kerja kepada perusahaan adalah jasanya. Hasil yang diperoleh akibat curahan kerja dari tenaga kerja adalah prestasi kerja yang akan memberikan nilai tambah bagi perusahaan. Melalui produktivitas kerja, perusahaan dapat mengukur besarnya kontribusi yang diberikan oleh tenaga kerja (Kussriyanto, 1986).

Karyawan yang berperan besar terhadap kegiatan operasional pada suatu perusahaan perkebunan teh adalah karyawan dasar/ buruh. Kedudukan karyawan non staf terutama buruh sangat penting dalam struktur produksi perkebunan, hal ini disebabkan karena berbagai tugas fisik yang dilakukan oleh buruh merupakan bagian penting dalam suatu proses produksi di suatu perkebunan. Tanpa adanya dukungan karyawan dasar maka secara otomatis proses produksi akan terhenti.

1.2 Perumusan Masalah PTPN VIII Kebun Rancabali merupakan salah satu BUMN yang memproduksi teh hitam jenis Orthodoks. Selama periode tahun 2002-2004 produksi teh yang dihasilkan oleh PTPN VIII Kebun Rancabali mengalami fluktuasi. Berfluktuasinya nilai produksi teh kering dapat diakibatkan oleh beberapa faktor, diantaranya menurunnya tingkat produktivitas pekerja pemetik sehingga mengakibatkan jumlah pucuk basah yang diterima menurun ataupun menurunnya tingkat produktivitas buruh bagian pengolahan. Bila produktivitas buruh bagian pengolahan menurun, dapat mengakibatkan menurunnya tingkat produksi teh yang dihasilkan, selain itu dapat meningkatkan biaya produksi. Peningkatan biaya produksi dapat disebabkan karena kurang disiplinnya buruh pengolahan ketika melakukan pengolahan teh sesuai dengan prosedur kerja dan instruksi kerja yang telah ditetapkan oleh pihak perkebunan, sehingga bila teh tidak diolah dengan baik akan menyebabkan kerugian bagi pihak perkebunan karena teh harus diolah dari awal kembali. Selain itu, dalam pengolahan teh diperlukan buruh pengolahan yang sudah berpengalaman. Hal ini disebabkan karena dalam mengolah teh diperlukan keterampilan dan kecakapan dalam

melihat setiap perubahan atau ciri-ciri secara visual dalam setiap proses pada pengolahan sehingga teh yang sedang diproses dapat dipindahkan sesuai dengan waktunya. Dalam tiga tahun terakhir ini, produktivitas kerja buruh bagian pengolahan mengalami fluktuasi, hal ini dapat dilihat dari hasil rata-rata yang didapat berdasarkan kilogram per hari kerja efektif (Kg/HKE). Pada tahun 2002, produktivitas kerja buruh bagian pengolahan rata-rata sebesar 104,3 Kg/HKE, sedangkan pada tahun 2003 produktivitas kerja buruh bagian pengolahan mengalami peningkatan sebesar 106,7 Kg/HKE, dan pada tahun 2004 mengalami penurunan menjadi 99 Kg/HKE. Penurunan produksi dan produktivitas kerja buruh pengolahan dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Produksi Kering dan Tingkat Produktivitas Kerja Buruh Pengolahan di PTPN. VIII Kebun Rancabali Periode Tahun 2002-2004 Tahun 2002 2003 2004 Produksi Kering (Kg) 2.718.550 2.757.893 2.383.196 Perubahan (%) 1,45 -13,9 Produktivitas Kerja Buruh Pengolahan (Kg/HKE) 104,3 106,7 99 Perubahan (%) 2,3 -7,2

Sumber: Evaluasi Laporan Bag. Pengolahan PTPN VIII Kbn. Rancabali, 2005

Berdasarkan Data Induk Karyawan Bagian Pengolahan terlihat bahwa sebagian besar buruh bagian pengolahan memiliki tingkat pendidikan sampai SD ataupun SMP. Sedangkan bila dilihat dari faktor umur, hampir 50 persen buruh bagian pengolahan berumur lebih dari 30 tahun, dan berdasarkan masa kerja ratarata karyawan sudah bekerja lebih dari 15 tahun sehingga buruh bagian pengolahan sudah memiliki pengalaman yang cukup banyak di dalam pekerjaannya. Untuk menunjang ketrampilan para buruh bagian pengolahan,

PTPN VIII Kebun Rancabali pun melakukan pelatihan internal sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan oleh bagian Tata Usaha dan Keuangan (TUK). Sistem pengupahan yang diberikan oleh PTPN VII Kebun Rancabali adalah sistem upah harian dan borongan. Sistem upah borongan bagi buruh bagian pengolahan diberikan apabila jumlah pucuk teh yang diterima oleh pabrik lebih dari 40 ton/ hari, sedangkan bila jumlah pucuk teh yang diterima oleh pabrik kurang dari 40 ton/ hari, upah harian tetap diberikan berdasarkan kebijakan perusahaan. Bila dilihat dari jumlah upah yang diterima karyawan setiap harinya, upah tersebut telah di atas UMR yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Selain hal-hal di atas, produktivitas kerja buruh bagian pengolahan akan mengalami naik turun apabila faktor-faktor lain yang mempengaruhinya tidak mendukung dalam peningkatan produktivitas kerja. Sehingga diperlukan upaya atau langkah peningkatan produksi yang dapat dilakukan dengan meningkatkan produktivitas kerja karyawan khususnya buruh bagian pengolahan karena dengan produktivitas kerja yang meningkat maka diharapkan produksi juga meningkat. Produktivitas kerja buruh bagian pengolahan di PTPN VIII Kebun Rancabali akan tinggi apabila faktor-faktor yang mempengaruhi dalam keadaan baik. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas kerja karyawan terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berhubungan dengan kondisi diri karyawan, sedangkan faktor eksternal berhubungan dengan kondisi di luar diri karyawan. Berdasarkan hal tersebut di atas permasalahan yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana karakteristik umum karyawan khususnya buruh bagian pengolahan di PTPN VIII Kebun Rancabali ?

2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi produktivitas kerja buruh bagian pengolahan di PTPN VIII Kebun Rancabali ?

1.3 Tujuan Penelitian Untuk dapat menjawab permasalahan yang dihadapi oleh PTPN VIII Kebun Rancabali di atas, maka perlu dianalisis faktor-faktor produktivitas kerja karyawan, khususnya buruh bagian pengolahan sehingga tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah: 1. Menganalisis karakteristik umum karyawan khususnya buruh bagian pengolahan di PTPN VIII Kebun Rancabali. 2. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja buruh bagian pengolahan di PTPN VIII Kebun Rancabali, dan seberapa besar produktivitas kerjanya.

1.4 Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan kegunaan sebagai berikut: 1. Sebagai bahan pertimbangan bagi PTPN VIII Kebun Rancabali dalam mengambil keputusan ataupun menetapkan kebijakan yang berkaitan dengan upaya pengembangan sumberdaya manusianya di masa yang akan datang terutama yang berkaitan dengan produktivitas kerja karyawan, sehingga dapat membantu dalam pencapaian tujuan bersama baik perusahaan maupun karyawan.

2. Bagi penulis sendiri diharapkan dapat menambah wawasan mengenai aspek sumberdaya manusia dan berguna untuk melatih kemampuan penulis dalam mengidentifikasi masalah berdasarkan fakta dan data yang tersedia.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini dilakukan pada PTPN VIII yang berstatus Badan Usaha Milik Negara (BUMN), khususnya PTPN VIII Kebun Rancabali yang mengusahakan komoditi teh.Dari hasil survey di lapang, diketahui bahwa bagian yang berhubungan langsung dengan pengolahan teh adalah bagian pemeberan, pelayuan, penyalinan, penggilingan, pengeringan, sortasi dan pengepakan. Penelitian ini menitikberatkan pada faktor-faktor yang mempengaruhi

produktivitas kerja buruh bagian pengolahan di PTPN VIII Kebun Rancabali.

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gambaran Umum Komoditi Teh Tanaman teh (Camellia sinensis L.) termasuk famili Theaceae. Tanaman teh ini diperkirakan berasal dari daerah Asia Tenggara. Teh diperkenalkan pertama kali oleh pedagang Belanda sebagai komoditas perdagangan di Eropa pada tahun 1610 M dan menjadi minuman populer di Inggris sejak 1664 M. Tanaman ini dapat tumbuh subur di daerah tropis dan subtropis mulai dari pantai sampai pegunungan dengan menuntut cukup sinar matahari dan hujan sepanjang tahun. Teh ditanam pada ketinggian lebih dari 2.000 m dpl. Namun, perkebunan teh umumnya dikembangkan di daerah pegunungan yang beriklim sejuk. Meskipun dapat tumbuh subur di dataran rendah, tanaman teh tidak akan memberikan hasil dengan mutu yang baik. Semakin tinggi daerah penanaman teh, semakin tinggi mutunya (Tim Penulis PS, 1993). Tanaman teh berbentuk pohon, tingginya bisa mencapai belasan meter, namun tanaman teh di perkebunan selalu dipangkas sampai tinggi 90-120 cm untuk memudahkan pemetikan. Tanaman teh pada umumnya harus mencapai umur empat tahun untuk dapat dipetik secara terus menerus, dan memberikan hasil daun teh yang cukup besar selama kurang lebih 40 tahun, baru kemudian dilakukan peremajaan (Tim Penulis PS, 1993). Berdasarkan sistem pengolahan, teh dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu:

1. Teh Hitam Teh hitam diolah melalui proses fermentasi. Teh ini dibagi menjadi dua, yaitu: a. Teh Orthodox, teh yang diolah melalui proses pelayuan sekitar 16 jam, penggilingan, fermentasi, pengeringan, sortasi, hingga berbentuk teh jadi. b. Teh CTC (Cutting, Tearing, dan Curling), teh yang diolah melalui perajangan, penyobekan dan penggilingan daun basah menjadi bubuk kemudian dilanjutkan dengan fermentasi, pengeringan, sortasi hingga berbentuk teh jadi. 2. Teh Hijau Teh hijau diolah tanpa melalui proses fermentasi. Teh ini dibagi menjadi tiga jenis, yaitu : a. Teh Hijau (murni), teh diolah melalui pelayuan sekitar 3 menit, selanjutnya dilakukan penggilingan, sortasi, dan berbentuk teh jadi. b. Teh oolong, teh diolah melalui semi pelayuan selama 6-9 jam, selanjutnya diproses menjadi teh hijau. c. Teh gunga, teh oolong yang diberi aroma tertentu, seperti bunga melati.

Pengolahan teh hitam menurut urutan kegiatannya dibagi ke dalam empat tahap utama, yaitu: 1) Tahap pelayuan pucuk, 2) Tahap penggilingan, sortasi basah dan fermentasi, 3) Tahap pengeringan, 4) Tahap sortasi kering, penyimpanan dan pengepakan. Pelayuan merupakan langkah pertama dalam pengolahan teh hitam. Setelah daun dipetik, proses fisiologis dan biokimia pada jaringan masih terjadi tetapi prosesnya agak berbeda. Tolak ukur yang menandakan akhir pelayuan didasarkan pada kandungan air daun yang dikenal

dengan istilah derajat layu. Setelah daun menjadi layu, dilakukan proses penggulungan. Proses fermentasi teh adalah proses oksidasi enzimatis senyawa polifenol daun teh. Selama proses fermentasi ini pucuk akan mengalami perubahan warna menjadi merah tembaga. Oksidasi enzimatis dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu suhu, kelembaban, kadar substrat dan aktivitas enzim. Pengeringan bertujuan untuk mengurangi kadar air sampai di bawah 5% dan menonaktifkan enzim-enzim. Pengeringan dilakukan dengan mengalirkan udara panas di atas bubuk teh sehingga terjadi pemindahan kalor udara ke teh basah untuk menguapkan sebagian dari kandungan air. Tahap sortasi kering bertujuan untuk: 1) membersihkan teh kering dari potongan tangkai tua, serat dan benda asing, dan 2) memisahkan teh menurut ukuran partikel dan bentuknya menjadi jenis-jenis bermutu. Di pasaran, ada beberapa jenis produk teh, diantaranya teh panili yaitu teh hitam dengan ekstrak panili, teh herbal (herbal tea) yaitu teh dengan tambahan ramuan rempah tertentu, dan lemon tea. Beragamnya produk teh tergantung pada tradisi suatu daerah atau negara. Di Jawa Tengah, teh dengan aroma bunga melati disajikan dengan gula, sedangkan di Jawa Barat disajikan tanpa gula. Di India, teh disajikan dengan susu, sedangkan masyarakat eropa Timur menyukai seduhan teh yang kental.Teh bukan sekedar sebagai minuman semata, teh terbukti bermanfaat bagi kesehatan dibanding dengan kopi ataupun soft drink. Manfaat teh sudah sejak lama diketahui, baik sebagai pengurang resiko hipertensi dan stroke.

2.2 Konsep Manajemen Sumberdaya Manusia Manajemen menurut Haiman dalam Manullang (1994) adalah fungsi untuk mencapai sesuatu melalui kegiatan orang lain dan mengawasi usaha-usaha individu untuk mencapai tujuan bersama. Sedangkan pengertian manajemen adalah seni mengatur proses pemanfaatan sumberdaya manusia dan sumbersumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu (Hasibuan, 2001). Manajemen sumberdaya manusia dapat dirumuskan sebagai seni dan ilmu memperoleh, memajukan dan memanfaatkan tenaga kerja sehingga tujuan organisasi dapat direalisir secara daya guna sekaligus adanya kegairahan bekerja dari para pekerja (Manullang, 1994). Sedangkan pengertian manajemen sumberdaya manusia menurut Hasibuan (2001) adalah ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat. Mangkuprawira (2002), menjelaskan bahwa manajemen sumberdaya manusia merupakan penerapan pendekatan sumberdaya manusia dimana secara bersama-sama terdapat dua tujuan yang ingin dicapai, yaitu (1) tujuan untuk perusahaan; (2) tujuan untuk karyawan. Dua kepentingan tujuan tersebut tidak dapat dipisahkan dalam kesatuan kebersamaan yang utuh. Jika kepentingan yang yang satu tercapai sedangkan yang lain tidak tercapai, pendekatan MSDM ini dinilai gagal. Latar belakangnya, SDM tidak saja dipandang sebagai unsur produksi, tetapi juga sebagai manusia yang memiliki emosi dan kepribadian aktif yang dapat dijadikan kekuatan untuk menggerakkan perusahaan. Intinya, setiap

proses produksi diarahkan pada bertemunya dua manfaat, untuk perusahaan dan karyawan.

2.3 Penelitian Terdahulu Terdapat beberapa penelitian yang membahas tentang karyawan, baik itu tentang sistem kompensasi, ataupun produktivitas karyawan. Kurnia (2003) mengenai analisis faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja pemetik teh pada PT Perkebunan Nusantara VIII Kebun Papandayan, diperoleh hasil bahwa dari 13 faktor yang diduga berpengaruh terhadap produktivitas kerja pemetik teh, enam variabel berpengaruh secara signifikan pada taraf kepercayaan 95 persen. Keenam variabel tersebut adalah jenis kelamin, status kerja, pendapatan dari pemetikan, pengeluaran keluarga, hubungan dengan sesama pemetik dan pengalaman kerja. Sedangkan variabel-variabel yang tidak berpengaruh terhadap produktivitas adalah usia, tingkat pendidikan formal, pendapatan dari luar usaha pemetikan, jarak tempuh, hubungan dengan atasan dan jumlah tanggungan keluarga. Pratiwi (1999) melakukan penelitian tentang Analisis Produksi Teh dan Penentuan Saat Optimum Pemangkasan Tanaman Teh (Studi Kasus Kebun Percobaan Pasir Sarongge-PPTK Gambung). Berdasarkan analisis produksi yang dilakukan oleh peneliti, diperoleh beberapa kesimpulan yang berkaitan dengan produksi teh yaitu produksi teh basah berpengaruh nyata terhadap produksi teh kering. Hal ini disebabkan karena pucuk teh merupakan bahan baku pada produksi teh kering. Kemudian kandungan air pada pucuk basah dan jenis petikan juga berpengaruh nyata terhadap produksi teh teh kering. Harga teh berpengaruh nyata

terha p produksi teh ke da ring pa sa t á = 0,05 dima se p kena n ha teh da a na tia ika rga di pasaran sebesar satu persen dapat meningkatkan produksi sebesar 2,97%. Kenaikan biaya pengolahan hanya menghasilkan produksi teh kering rata-rata yang lebih kecil. Keadaan ini disebabkan perusahaan akan tetap berproduksi meski terjadi kenaikan pada komponen biaya pengolahan seperti biaya listrik dan bahan bakar, karena pucuk teh tidak dapat disimpan dan bila ada pucuk teh yang dihasilkan maka pengolahan tetap dilakukan. Sedangkan upah berpengaruh nyata terhadap produksi teh kering melalui hubungan yang negatif. Keadaan ini disebabkan karena dengan meningkatnya upah tenaga kerja, perusahaan tidak dapat meningkatkan jumlah tenaga kerja karena akan meningkatkan biaya, sehingga produksi akan berkurang. Rachmatulloh (2003) meneliti tentang Sistem Kompensasi Karyawan di PTPN VIII Perkebunan Jalupang Subang, Jawa Barat: Kajian Aspek Kepuasan Kerja dan Produktivitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem kompensasi yang diterapkan oleh PTPN VIII Perkebunan Jalupang, menganalisis tingkat kepuasan kerja karyawan PTPN VIII Perkebunan Jalupang, menganalisis tingkat produktivitas kerja karyawan PTPN VIII Perkebunan Jalupang, menganalisis hubungan sistem kompensasi dengan kepuasan kerja karyawan, dan menganalisis hubungan sistem kompensasi dengan produktivitas kerja karyawan. Pengukuran kepuasan kerja karyawan diukur dengan cara menskoring jawaban yang diberikan oleh responden mengenai kepuasan kerja mereka dilihat dari kompensasi yang diberikan, sedangkan pengukuran produktivitas kerja karyawan diukur berdasarkan indikator produktivitas kerja yang terdiri dari pengalaman, perilaku kerja, tanggung jawab, prestasi kerja, minat dan motivasi.

Untuk melihat hubungan sistem kompensasi dengan kepuasan kerja dan produktivitas kerja dilakukan dengan alat analisis Rank-Spearman. Dari penelitian ini didapatkan bahwa rata-rata karyawan baik karyawan sadap maupun pabrik memiliki produktivitas tinggi, hubungan sistem kompensasi dengan kepuasan kerja akan berubah apabila terjadi perubahan kebijakan. Hubungan yang signifikan pun terjadi antara sistem kompensasi dengan produktivitas, dimana apabila terjadi perubahan kebijakan kompensasi maka produktivitas kerja karyawan juga akan berubah. Pada penelitian Zulkarnain (2004) tentang Analisis Sistem Kompensasi serta Pengaruhnya Terhadap Motivasi dan Produktivitas Tenaga Pemetik Teh (Studi Kasus: Perkebunan Teh Cianten PTPN VIII, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sistem kompensasi yang diterapkan oleh perkebunan dan menganalisis pengaruh kompensasi terhadap motivasi dan pengaruh motivasi terhadap produktivitas kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem kompensasi yang diterapkan oleh Perkebunan Cianten PTPN VIII dibedakan menjadi kompensasi finansial langsung dan kompensasi finansial tidak langsung. Kompensasi finansial langsung secara umum dibedakan menjadi upah borongan, upah harian, serta premi dan upah lembur. Upah finansial tidak langsung berupa upah sosial, tunjangan-tunjangan, jamsostek dan dapenbun serta fasilitas-fasilitas. Upah dinas pemetik tetap berupa upah borongan, artinya upah yang diperoleh pemetik berdasarkan prestasi kerjanya yang berupa kuantitas dan kualitas hasil petikan. Sedangkan perhitungannya berdasarkan analisis petik dan basic yield yang telah ditetapkan dengan menerapkan sistem reward and punishment. Upah

dinas dibayarkan kepada karyawan petik dalam bentuk uang tunai yang akan diterima pada awal bulan setelah bekerja selama satu bulan. Hasil analisis regresi untuk mengetahui hubungan antara motivasi dengan produktivitas kerja pemetik menunjukkan bahwa secara statistik, faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas kerja pemetik hanyalah faktor tinggi badan. Sedangkan faktor-faktor yang lain seperti usia, jenis kelamin, tinggi badan, pengalaman kerja, jarak rumah ke lokasi kerja, kondisi perjalanan ke lokasi kerja, jumlah anggota keluarga yang bekerja serta kepuasan non kompensasi dan kepuasan kompensasi ternyata tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas kerja pemetik pada tingkat kepercayaan 85%. Berdasarkan hasil pengamatan di lapang dan wawancara langsung dengan pihak perkebunan maupun karyawan petik mengenai faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja pemetik adalah kondisi tanaman, kondisi kesehatan pemetik dan kondisi cuaca juga merintangi pendugaan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produktivitas kerja. Sutanto (2000), menganalisis tentang Sistem Kompensasi dan Kaitannya dengan Motivasi dan Produktivitas (kasus Pemetik Teh Perkebunan Patuahwattee, PT MP Indorub Sumber Wadung, PT Smart, Tbk, Bandung Selatan). Penelitian ini akan menggunakan koefisien korelasi Rank Spearman. Sistem kompensasi yang dilaksanakan PT MP Indorub Sumber Wadung bagi SKU harian di PTEH dibedakan dua bagian utama, yaitu upah untuk pekerja harian dan pekerja borongan (disamping benefits yang ditawarkan perkebunan). Upah yang diterima pemetik berupa upah borong yang didasarkan pada prestasi kerjanya, upah kulir

untuk pekerja di luar dinas dan premi sebagai imbalan untuk prestasi yang di atas rata-rata. Kepuasan berkorelasi positif secara nyata dengan kondisi kerja perkebunan, hubungan dengan atasan, hubungan dengan teman, upah pokok, upah kulir dan premi serta tidak nyata dengan benefits. Artinya perbaikan dalam keenam faktor tersebut akan meningkatkan kepuasan secara signifikan, namun tidak demikian halnya dengan benefits. Ini berarti keenam faktor di atas dapat dianggap sebagai motivator. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa secara statistik, variabel jenis kelamin, jarak, kepuasan non kompensasi dan kepuasan kompensasi berpengaruh secara nyata terhadap tingkat produktivitas pemetik ratarata pada tingkat kepercayaan 80%. Dari hasil penelitian terdahulu, terlihat jelas bahwa banyak sekali faktorfaktor yang mempengaruhi produktivitas karyawan dalam bekerja. Diantaranya hubungan pimpinan dengan karyawan, kepuasan karyawan terhadap kompensasi yang diterimanya, motivasi dari masing-masing karyawan. Pada penelitian ini akan dibahas tentang faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja buruh bagian pengolahan. Penelitian ini berbeda dengan penelitian terdahulu dari segi objek dan subjek pengamatan serta pengambilan sampelnya. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan Analisis Regresi Linier Berganda.

III KERANGKA PEMIKIRAN

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Produktivitas Produktivitas merupakan hasil dari efisiensi pengelolaan masukan dan efektivitas pencapaian sasaran, dimana efektivitas dan efisiensi yang tinggi akan menghasilkan produktivitas yang tinggi (Atmosoeprapto, 2000). Menurut Ravianto (1985), terdapat banyak pengertian mengenai produktivitas.

Produktivitas pada dasarnya adalah merupakan sikap mental terhadap kemajuan dan kehidupan. Produktivitas juga merupakan suatu alat untuk meningkatkan daya kompetisi dan keuntungan yang telah lama disadari di dalam dunia industri. Nawawi (2001) menyatakan bahwa produktivitas sebagai tujuan manajemen sumberdaya manusia yang pada dasarnya bukan hasil proses produksi. Produktivitas sebagai tujuan manajemen sumberdaya manusia adalah tersedianya tenaga kerja yang produktif. Tujuan ini tercapai jika rekruitmen, seleksi, penempatan, pengembangan karier dan sebagainya dilakukan secara tepat, sehingga karyawan yang tersedia merupakan sumberdaya manusia yang produktif. Produktivitas dapat diartikan sebagai hubungan antara hasil nyata maupun fisik dengan masukan yang sebenarnya, selain itu juga diartikan sebagai tingkatan efisiensi dalam memproduksi barang dan jasa. Produktivitas mengutarakan cara pemanfaatan secara baik terhadap sumberdaya dalam memproduksi barang (Sinungan, 2005). Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat dikatakan produktivitas merupakan suatu perbandingan antara keluaran (output) yang dicapai dengan

masukan (input) yang diberikan. Selain itu produktivitas dapat diartikan sebagai ukuran tingkat efisiensi dan efektivitas sumberdaya yang digunakan selama proses produksi berlangsung dengan membandingkan jumlah yang dihasilkan dengan setiap atau seluruh sumber-sumber masukan yang digunakan. Konsep produktivitas terbagi dalam dua tingkatan yaitu makro dan mikro. Konsep produktivitas pada tingkat makro bertujuan untuk pembangunan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat, sedangkan konsep produktivitas pada tingkat mikro mencakup produktivitas, tingkat modal, produksi, organisasi, penjualan dan produk yang bertujuan menghasilkan suatu perkembangan atau pertumbuhan melalui kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba (Sinungan, 2005).

3.1.2 Pengukuran Produktivitas Pelaksanaan pengukuran produktivitas penting untuk membantu

mengidentifikasi beberapa bidang bagi tindakan perbaikan terhadap perencanaan, pengalokasian sumberdaya, dan pengendalian manajemen (Ravianto, 1986). Lingkup pengukuran produktivitas menurut Reksasudharma (1989) dibedakan dalam empat tingkat yaitu : 1. Ruang lingkup nasional atau tingkat ekonomi makro, dimana dalam lingkup ini faktor tenaga kerja (sumberdaya manusia), modal, sumberdaya alam, manajemen dan input lainnya diperhitungkan dalam menghasilkan output untuk negara secara keseluruhan. 2. Ruang lingkup industri atau tingkat sektoral, yang hanya memperhitungkan faktor-faktor yang berkaitan dengan suatu sektor misalnya sektor pertanian, industri atau jasa.

3. Ruang lingkup badan usaha atau organisasi atau tingkat mikro. Dalam tingkat ini banyak kemungkinan untuk memperhitungkan hubungan timbal balik antara faktor yang diukur sehingga dapat diperbandingkan dengan badan usaha atau organisasi lain. 4. Ruang lingkup pekerjaan perorangan atau tingkat parsial. Perhitungan untuk tingkat ini dipengaruhi oleh lingkup pekerjaan atau ketersediaan fasilitas untuk menyelesaikan pekerjaan. Pengukuran harus pula menjangkau faktor motivasi kerja, walaupun sulit dalam pelaksanaannya. Pengukuran produktivitas menurut Manullang (1990) dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu : 1. Indeks Produktivitas Indeks produktivitas adalah rasio indeks keluaran dengan indeks masukan. Perhitungan indeks produktivitas memperlihatkan baik tingkat produktivitas maupun perubahan yang terjadi dalam perjalanan waktu (time series). Perubahan yang diukur dari tahun ke tahun dapat diungkapkan dalam bentuk persentase maupun indeks. Perubahan persentase dilakukan dengan membagi selisih antara produktivitas periode dasar dengan tingkat periode dasar. 2. Produktivitas dengan Pengukuran Nilai Tambah Jika nilai tambah digunakan sebagai ukuran keluaran, maka perlu dibuat secara terpisah indeks harga, baik untuk nilai keluaran maupun untuk bahanbahan yang digunakan sebagai masukan sesuai dengan perubahan-perubahan harga tercatat. Hal ini perlu karena nilai tambah merupakan hasil pengurangan penjualan dengan masukan antara, dimana variabel-variabel ini dipengaruhi oleh perubahan harga.

3. Produktivitas apabila ditinjau dari sisi masukannya dapat dibedakan atas dua jenis yaitu produktivitas parsial dan produktivitas total. a. Produktivitas Parsial Merupakan rasio dari total output dengan salah satu jenis input. Produktivitas parsial = dimana : In P (O,In) b. Produktivitas Total Merupakan hasil dari total output dengan kumpulan seluruh input yang dikorbankan untuk menghasilkan output total. Produktivitas total dapat menjadi alat diagnostik yang berharga untuk tingkat perusahaan atau unit operasi, misalkan untuk melihat kontribusi dari faktor modal, tenaga kerja dan input lainnya pada pertambahan hasil atau pertumbuhan produktivitas. Produktivitas Total = dimana : O = output I = input Sampai saat ini, tenaga kerjalah yang lazim dijadikan faktor pengukur produktivitas. Hal ini disebabkan karena biaya yang dikorbankan untuk tenaga kerja sebagai bagian dari biaya terbesar untuk pengadaan produk atau jasa dan karena masukan pada sumberdaya manusia lebih mudah dihitung daripada masukan pada faktor-faktor lain seperti modal (Kussriyanto, 1986). Total O Total I O In

= input ke-n = produktivitas dari input ke-n

3.1.3 Produktivitas Tenaga Kerja Produktivitas tenaga kerja mengandung pengertian perbandingan antara hasil yang dicapai dengan peran serta tenaga kerja per satuan waktu (Simanjuntak, 1985). Secara sederhana, produktivitas tenaga kerja merupakan keberhasilan tenaga kerja dalam menghasilkan produk dalam satuan waktu tertentu (Ravianto, 1985). Menurut Sinungan (2005), produktivitas tenaga kerja merupakan hal yang sangat menarik karena mengukur hasil kerja manusia dengan segala masalahnya. Pengukuran produktivitas tenaga kerja menurut sistem pemasukan fisik perorangan atau per orang per jam kerja diterima secara luas, namun dari sudut pandang atau pengawasan harian, pengukuran tersebut pada umumnya tidaklah memuaskan, karena adanya variasi dalam jumlah yang diperlukan untuk memproduksi satu unit produk yang berbeda. Oleh karena itu digunakan metode pengukuran waktu tenaga kerja (jam, hari atau tahun), pengeluaran diubah ke dalam unit-unit pekerja yang biasanya diartikan sebagai jumlah kerja yang dapat dilakukan dalam satu jam oleh pekerja yang terpercaya yang bekerja menurut pelaksanaan standar. Ravianto (1986) menyatakan bahwa produktivitas tenaga kerja adalah jumlah produk atau nilai uang (nilai tambah) terhadap jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam memproduksi suatu produk. Bila jumlah produk dibandingkan terhadap jumlah tenaga kerja yang digunakan, maka ukuran tersebut dinamakan physical labor productivity. Jika yang dibandingkan adalah nilai tambah produk terhadap jumlah penggunaan tenaga kerja, maka dinamakan value added (labor) productivity. Bila ingin mengukur hubungan antara pertumbuhan daya produksi

dengan tingkat harga atau antara produktivitas tenaga kerja dengan tingkat upah, maka akan lebih baik bila digunakan physical productivity index. Rumus dasar bagi pengukuran produktivitas adalah keluaran dibagi masukan. Rumus dasar ini banyak digunakan dalam pengukuran physical labor productivity. Ravianto (1986) menuliskan rumus yang sering digunakan dalam pengukuran physical labor productivity sebagai berikut : Keluaran Jumlah keluaran (dalam ton, unit , area, dll ) = Masukan Jumlah tenaga ker ja ( jumlah karyawan, jam ker ja, dll )

3.1.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Tenaga Kerja Menurut Simanjuntak (1985), produktivitas tenaga kerja dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor yang berhubungan dengan tenaga kerja itu sendiri maupun faktor yang berhubungan dengan lingkungan perusahaan dan

kebijaksanaan pemerintah. Faktor tersebut terdiri dari pendidikan, ketrampilan, disiplin, sikap dan etika kerja, motivasi, gizi dan kesehatan, tingkat penghasilan, jaminan sosial, lingkungan dan iklim kerja, hubungan industrial, teknologi, sarana produksi, manajemen, kesempatan untuk berprestasi dan kebijaksanaan

pemerintah di bidang produksi, investasi, perijinan, teknologi, moneter, fiskal, harga,distribusi dan lain-lain. Menurut Ravianto (1986), produktivitas tenaga kerja dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu : 1. Latar belakang pendidikan dan pelatihan. 2. Alat-alat produksi dan teknologi yang digunakan dalam proses produksi.

3. Value system, nilai-nilai atau pranata sosial masyarakat atau juga faktor lingkungan hidup tenaga kerja (modern atau tradisional, statis atau dinamis), kuat tidaknya ikatan keluarga, mobilitas tenaga kerja, motivasi dan lain-lain. 4. Lingkungan pekerjaan dan iklim kerja. 5. Derajat kesehatan (kesehatan lingkungan), nilai gizi makanan, sanitasi dan tersedianya air bersih. 6. Tingkat upah minimal yang berlaku. Tingkat upah yang terlalu rendah tidak memungkinkan untuk mampu bekerja produktif (malas akibat kurang gizi).

Melalui pendekatan sistem, Simanjuntak (1985) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas tenaga kerja dalam suatu perusahaan dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok yaitu : 1. Kualitas atas kemampuan tenaga kerja yang dapat dipengaruhi oleh pendidikan, latihan, motivasi kerja, etos kerja, sikap mental dan kondisi fisik seseorang. 2. Sarana pendukung tenaga kerja, mencakup lingkungan kerja dan kesejahteraan tenaga kerja. Lingkungan kerja meliputi kesehatan dan keselamatan kerja, sarana produksi dan teknologi, sedangkan kesejahteraan tenaga kerja tercermin dalam sistem upah dan jaminan sosial. 3. Supra sarana yang meliputi kebijakan pemerintah, hubungan industrial Pancasila dan kemampuan dalam mencapai kerja yang optimal.

Dalam teori human capital, peningkatan produktivitas tenaga kerja dapat dilakukan melalui investasi sumberdaya manusia (SDM). Investasi sumberdaya

manusia dapat dilakukan dalam bentuk: (1) pendidikan dan latihan, (2) migrasi, dan (3) perbaikan gizi dan kesehatan (Simanjuntak, 1985). Pendidikan dan latihan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam perkembangan SDM. Hubungan pendidikan dengan produktivitas kerja dapat tercermin dalam tingkat penghasilan. Pendidikan yang lebih tinggi mengakibatkan produktivitas kerja yang lebih tinggi, dan oleh sebab itu memungkinkan penghasilan yang lebih tinggi juga. Latihan sebagai salah satu aspek human capital, dapat dilakukan di dalam maupun di luar pekerjaan. Latihan luar pekerjaan umunya bersifat formal. Latihan di dalam pekerjaan juga akan meningkatkan produktivitas kerja seseorang dan biasanya diukur dalam bentuk pengalaman kerja. Penerapan lain dari teori human capital adalah di bidang migrasi atau perpindahan penduduk. Asumsi dasar adalah bahwa seseorang mau untuk berusaha pindah kerja dari satu tempat ke tempat lain untuk memperoleh penghasilan yang lebih besar. Besarnya arus pendapatan yang seyogyanya diterima selama hidupnya di tempat asal merupakan penghasilan yang dikorbankan untuk memperoleh arus pendapatan yang jumlahnya lebih besar di tempat tujuan (Simanjuntak, 1985). Perbaikan gizi dan kesehatan juga sangat penting untuk meningkatkan produktivitas kerja. Oleh karena itu, investasi yang dilakukan untuk perbaikan gizi dan kesehatan dapat dipandang sebagai salah satu aspek human capital. Cara yang praktis untuk perbaikan gizi tenaga kerja adalah dengan memperbaiki sistem pengupahan mereka sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup minimumnya termasuk gizi minimumnya.

3.1.5 Analisis Regresi Linear Berganda Analisis regresi linier berganda adalah metode yang digunakan untuk menganalisis pengaruh beberapa variabel bebas terhadap variabel tak bebasnya. Model regresi yang digunakan adalah : Y = b0+ biXi + ei dimana : b0 = intersep/ konstanta bi = koefisien regresi variabel ke i (i = 1,2,3,…..,17) ei = sisa Pendugaan koefisien regresi bi dengan menggunakan metode Ordinary Least Squares (OLS). Suatu model regresi klasik atau regresi linear umum harus memenuhi beberapa asumsi, diantaranya : 1) Nilai yang diharapkan bersyarat dari e (variabel pengganggu), tergantung pada Xi tertentu adalah nol. Tiap populasi Y yang berhubungan dengan suatu X tertentu didistribusikan di sekitar nilai rata-rata dengan beberapa nilai Y diatas nilai rata-rata dan beberapa di bawahnya. 2) Tidak adanya autokorelasi berurutan atau tidak adanya autokorelasi. 3) Homoskedastisitas yang berarti bahwa populasi Y yang berhubungan dengan berbagai nilai X mempunyai varians yang sama. 4) Variabel pengganggu (e) dan varians yang menjelaskan X tidak berkorelasi.

3.2 Kerangka Pemikiran Operasional Sebagai salah satu unit produksi PTP Nusantara VIII, Rancabali turut memberikan kontribusi bagi produksi teh di Jawa Barat. Apabila produksi teh di Rancabali meningkat, maka produksi PTPN VIII juga akan meningkat dan akhirnya produksi teh Indonesia pun akan meningkat pula.

Faktor-faktor produksi yang ada di Rancabali terdiri dari lahan, modal, tenaga kerja dan teknologi. Dari keempat faktor produksi tersebut, tenaga kerja memegang peranan yang paling penting, karena produktivitas dari modal, lahan dan teknologi sangat ditentukan oleh tenaga kerja. Dengan semakin tingginya tingkat produktivitas tenaga kerja, maka akan semakin tinggi pula tingkat produktivitas dari faktor produksi yang lainnya. Selain pemetik, buruh pengolahan merupakan tenaga kerja yang berhubungan langsung dalam menentukan jumlah dan mutu produksi yang dihasilkan. Hal ini disebabkan karena bagian pengolahan yang bertanggung jawab dalam menentukan jumlah produksi kering dan mutu teh. Bila produksi pucuk basah yang diterima tidak diolah secara benar dan sesuai dengan prosedur kerja, maka akan dapat mengakibatkan kerugian bagi perusahaan, karena dapat meningkatkan biaya produksi. Oleh sebab itu, upaya peningkatan produktivitas buruh sangat diperlukan dalam usaha meningkatkan produksi teh di perkebunan Rancabali. Dalam upaya meningkatkan produktivitas buruh bagian pengolahan (pabrik) dilakukan dengan terlebih dahulu mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya. Mengacu pada berbagai hasil penelitian mengenai faktorfaktor yang mempengaruhi produktivitas tenaga kerja, maka dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya produktivitas kerja buruh bagian pengolahan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal berhubungan dengan kondisi diri buruh seperti: umur, jenis kelamin, pengalaman kerja, dan tingkat pendidikan. Sedangkan faktor-faktor yang bersifat eksternal berhubungan dengan kondisi di

luar diri buruh pengolahan seperti: status kerja, alokasi waktu kerja dan hubungan atasan dengan bawahan. Penelitian ini akan mengukur dan menganalisis beberapa faktor yang diduga mempengaruhi tingkat produktivitas buruh bagian pengolahan yang terdapat di PTPN VIII Kebun Rancabali. Adapun faktor-faktor tersebut tersebut adalah faktor usia karyawan, jenis kelamin, tingkat pendidikan formal, pengalaman kerja, jumlah tanggungan keluarga, jumlah pengeluaran rata-rata tiap bulan, jumlah pendapatan keluarga di luar penghasilan responden sebagai buruh pengolahan dalam satu bulan, jumlah pendapatan pokok sebagai buruh pengolahan dalam satu bulan, tunjangan, cuti tahunan, bonus akhir tahun, status kerja, sistem bekerja, alokasi waktu kerja, persepsi kepuasan pendapatan yang diterima dan kondisi lingkungan sosial. Kondisi lingkungan sosial dalam penelitian ini adalah hubungan atasan-bawahan dan hubungan sesama karyawan. Kondisi semua faktor di atas bila diperbaiki akan meningkatkan produktivitas kerja buruh, yang selanjutnya akan meningkatkan hasil dan mutu produksi teh Rancabali. Kerangka Pemikiran dari penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1.

PT Perkebunan Nusantara VIII Kebun Rancabali

Penurunan Produktivitas Tenaga Kerja

Faktor Internal
¬ ¬ ¬ ¬ ¬ ¬ ¬ ¬ ¬ ¬ ¬ Usia Jenis kelamin Tingkat pendidikan Pengalaman kerja Jumlah tanggungan keluarga Jumlah pengeluaran keluarga Jumlah pendapatan pokok Tunjangan Bonus akhir tahun Cuti tahunan Jumlah pendapatan diluar penghasilan sebagai buruh

Faktor eksternal
¬ ¬ ¬ ¬ Hubungan atasanbawahan Hubungan sesama karyawan Status kerja Kepuasan kompensasi yang diterima Sistem kerja Alokasi waktu kerja

Tenaga khususnya Bagian Pengolahan

Kerja Buruh

¬ ¬

Sumberdaya Lahan

Sumberdaya Modal

Sumberdaya Teknologi

Produktivitas Lahan

Produktivitas Modal

Produktivitas Teknologi

Produktivitas Total Produksi Teh Tujuan Perusahaan

Keterangan : ------- = ruang lingkup penelitian

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Operasional

3.3 Hipotesis Penelitian Berdasarkan pada fungsi yang menyatakan hubungan antara tingkat produktivitas kerja buruh bagian pengolahan dengan faktor-faktor yang telah dipilih dan dengan ditunjang oleh berbagai teori serta hasil penelitian terdahulu, maka penulis membuat hipotesis sebagai berikut. 1) Jenis kelamin berpengaruh positif, artinya buruh pengolahan laki-laki mempunyai produktivitas kerja yang lebih tinggi dibandingkan dengan buruh pengolahan perempuan. 2) Usia berpengaruh positif, artinya sampai pada usia tertentu yaitu umur produktif (15-65 tahun), tingkat produktivitas kerja buruh pengolahan akan semakin meningkat dengan semakin meningkatnya usia. 3) Tingkat pendidikan formal berpengaruh positif, artinya semakin tinggi tingkat pendidikan formal maka akan semakin tinggi produktivitas kerja, karena buruh pengolahan dapat memilih cara kerja yang lebih efisien. 4) Masa kerja mempunyai pengaruh positif, artinya semakin lama masa kerja sebagai buruh pengolahan, maka akan semakin tinggi tingkat produktivitasnya karena dengan pengalaman kerja yang semakin tinggi akan semakin tinggi pula tingkat pengetahuan yang dimiliki tentang pengolahan teh yang baik dan benar. 5) Status kerja mempunyai pengaruh positif, artinya buruh pengolahan yang berstatus buruh tetap akan mempunyai tingkat produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan buruh pengolahan berstatus buruh lepas.

6) Alokasi waktu kerja mempunyai pengaruh positif, artinya semakin banyak alokasi waktu yang digunakan untuk bekerja maka akan meningkatkan tingkat produktivitas kerja buruh pengolahan. 7) Sistem kerja mempunyai pengaruh positif, artinya semakin sering buruh pengolahan melakukan sistem kerja borongan daripada sistem kerja harian, maka akan semakin tinggi tingkat produktivitas kerja buruh. 8) Jumlah tanggungan keluarga berpengaruh positif, artinya semakin banyak jumlah tanggungan keluarga, akan meningkatkan tingkat produktivitas kerja buruh, karena buruh akan terpacu untuk mencari uang yang lebih banyak guna memenuhi kebutuhan anggota keluarganya. 9) Jumlah pendapatan pokok berpengaruh positif, artinya semakin tinggi tingkat jumlah pendapatan pokok sebagai buruh pabrik setiap bulannya, maka akan semakin tinggi tingkat produktivitas kerja, karena akan memacu buruh pengolahan untuk lebih giat lagi dalam bekerja. 10) Jumlah pendapatan diluar penghasilan sebagai buruh pengolahan mempunyai pengaruh negatif, artinya kenaikan jumlah pendapatan yang diperoleh di luar penghasilan sebagai buruh, akan menurunkan tingkat produktivitas kerja karena akan membuat buruh pengolahan lebih giat bekerja di luar. 11) Jumlah pengeluaran rata-rata keluarga berpengaruh positif, artinya semakin tinggi jumlah pengeluaran rata-rata setiap bulannya, akan meningkatkan tingkat produktivitas kerja, karena buruh perlu tambahan uang yang lebih banyak untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. 12) Tunjangan mempunyai pengaruh positif, artinya buruh pengolahan yang memperoleh tunjangan dan semakin besar tunjangan yang diterima akan

meningkatkan tingkat produktivitas dibandingkan buruh pengolahan yang tidak memperoleh tunjangan. 13) Bonus akhir tahun berpengaruh positif, artinya semakin besar jumlah bonus akhir tahun yang diterima oleh buruh pengolahan, akan meningkatkan tingkat produktivitas kerja, karena akan memacu buruh pengolahan untuk bekerja lebih giat lagi. 14) Cuti tahunan mempunyai pengaruh negatif, artinya semakin banyak cuti yang sudah diambil oleh buruh pengolahan, akan menurunkan tingkat produktivitas kerja, karena buruh pengolahan sering tidak masuk dalam bekerja. 15) Kepuasan kompensasi mempunyai pengaruh positif, artinya semakin tinggi kepuasan buruh terhadap kompensasi yang diterima, maka akan semakin tinggi tingkat produktivitas kerja buruh. 16) Hubungan atasan bawahan berpengaruh positif, artinya semakin

menyenangkan hubungan dengan mandor, akan meningkatkan tingkat produktivitas kerja buruh. 17) Hubungan sesama buruh mempunyai pengaruh positif, artinya semakin menyenangkan hubungan dengan sesama buruh pengolahan, tingkat produktivitas kerja pun akan meningkat.

IV METODE PENELITIAN

4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di PT. Perkebunan Nusantara VIII Kebun Rancabali Ciwidey, Jawa Barat. Perusahaan ini merupakan perusahaan perkebunan yang bergerak dalam bidang produksi dan pengolahan teh hitam orthodoks. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa perusahaan merupakan salah satu perusahaan perkebunan besar negara yang telah cukup lama berkecimpung dalam produksi dan pengolahan teh hitam orthodoks. Selain itu, PTPN VIII Kebun Rancabali merupakan kebun ketiga terbesar yang dimiliki oleh PTPN VIII dan sudah menerapkan ISO 9001:2000. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2005.

4.2 Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan melalui beberapa metode, diantaranya : a. Observasi, dengan observasi diharapkan akan diperoleh data dan informasi langsung mengenai lingkungan perusahaan untuk melakukan analisis terhadap faktor-faktor produktivitas karyawan. b. Wawancara, dilakukan baik langsung maupun melalui kuisioner kepada karyawan untuk memperoleh informasi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja karyawan. c. Studi kepustakaan, dilakukan dengan cara membaca, mempelajari, menelaah dan mengutip pendapat dari berbagai sumber buku, diktat, makalah dalam

rangka memperoleh landasan teori dan data penunjang yang berkaitan dengan materi penelitian.

4.3 Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder, baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Data primer diperoleh wawancara dengan responden berdasarkan kuisioner yang telah disiapkan dan pengamatan langsung di lapangan. Kuisioner berisi pertanyaan yang mengenai karakteristik umum dan faktor-faktor yang diduga mempengaruhi produktivitas kerja karyawan yang terdapat di PTPN VIII Kebun Rancabali. Selain kuisioner juga diperoleh data dari perusahaan mengenai sejarah awal berdirinya perusahaan, jumlah karyawan dan struktur organisasi. Sedangkan data sekunder diperoleh dari data yang dimiliki perusahaan, Badan Pusat Statistik literatur dari perusahaan dan instansi terkait. (BPS), internet, serta

4.4 Teknik Pengambilan Contoh Pemilihan responden dilakukan secara proportionate random sampling yang merupakan bagian stratified random sampling, yaitu dengan cara mengelompokkan responden berdasarkan bagiannya (strata) kemudian diambil sampel secara acak untuk setiap strata populasi secara tidak proporsional (M. Nasir, 1998) Instrumen pengambilan contoh yang digunakan adalah berupa kuisioner, yang diberikan kepada setiap responden yaitu karyawan bagian pengolahan yang terbagi dalam tujuh bagian.

Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan kaidah teknik Stratified Random Sampling, dalam teknik ini populasi dibagi kelompok yang homogen terlebih dahulu atau dalam strata, kemudian anggota sampel ditarik dari setiap strata (M. Nasir, 1998). Jumlah responden yang ditunjuk secara acak pada penelitian ini berjumlah 45 responden buruh yang bekerja pada tujuh bagian dalam pengolahan. Pembagian jumlah sampel dihitung dengan menggunakan sampling friction dengan rumus: fi = dimana : Ni N ni = f i .n

fi = sampling friction stratum ke-i Ni = besar sub populasi strata ke-i N = besar populasi ni = besar subsampel stratum ke-i n = besar sample

Tabel 5. Jumlah Buruh Bagian Pengolahan dan Responden Berdasarkan Bagiannya di PTPN VIII Kebun Rancabali Tahun 2005 No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Bagian Pemeberan Pelayuan Penyalinan Penggilingan Pengeringan Sortasi Pengepakan Total Jumlah Karyawan 8 8 8 20 5 23 7 79 Jumlah Responden 5 5 5 11 3 12 4 45

Sumber : Data Sekunder, diolah

4.5 Pengolahan dan Analisis Data Data yang telah diperoleh ditabulasi dalam bentuk jumlah dan persentase. Pengolahan dilakukan secara manual dengan menggunakan Microsoft Excel. Analisis yang digunakan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi produktivitas kerja karyawan adalah analisis regresi linier

berganda yang diolah dengan menggunakan bantuan program MINITAB 13 for Windows. Karakteristik buruh pengolahan secara umum dapat dilihat dari jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan formal, pengalaman kerja, jumlah tanggungan keluarga, pendapatan pokok sebagai buruh pengolahan, tunjangan, bonus akhir tahun, cuti tahunan, pengeluaran rata-rata tiap bulan, serta pendapatan di luar penghasilan sebagai buruh pengolahan. Karakteristik ini akan digunakan untuk melihat karakteristik umum buruh pengolahan yang terdapat di PTPN VIII Kebun Rancabali. Selain itu juga karakterisktik buruh juga dapat digunakan untuk menduga tingkat produktivitas kerja buruh pengolahan, dimana karakteristik tersebut dijadikan sebagai faktor-faktor yang dianggap berpengaruh terhadap tingkat produktivitas kerja buruh. Karakteristik yang menyangkut kondisi diri dan keluarga buruh ini disebut faktor internal yang mempengaruhi produktivitas kerja buruh. Faktor-faktor eksternal yang menyangkut kondisi lingkungan kerja meliputi alokasi waktu kerja, status kerja, sistem bekerja, serta persepsi kepuasan kompensasi yang diterima, persepsi hubungan atasan dengan bawahan dan persepsi hubungan dengan sesama karyawan. Faktor-faktor ini juga akan digunakan untuk menduga tingkat produktivitas kerja buruh bagian pengolahan. Di bawah ini adalah beberapa pertanyaan dan pernyataan yang berkaitan dengan persepsi kepuasan kompensasi, hubungan mandor dan bawahan, serta hubungan sesama buruh olah.

A. KEPUASAN KOMPENSASI
Pertanyaan 1. Saya merasa puas akan kebijakan perusahaan mengenai besarnya upah lembur bagi karyawan. 2. Jumlah tunjangan yang diberikan perusahaan cukup memadai dengan standar hidup. 3. Kebijaksanaan perusahaan tentang cuti dan izin khusus cukup baik. 4. Perhatian terhadap kesehatan dan keselamatan kerja (K3) oleh perusahaan cukup baik. 5. Evaluasi sistem kompensasi yang dilakukan perusahaan cukup baik. 6. Atasan selalu memberikan penghargaan kepada karyawan atas prestasi yang dicapai. Pertanyaan 1 Tidak setuju Tidak cukup Tidak baik Tidak setuju Tidak setuju Tidak pernah

Skor 2 Biasa saja Pas-pasan Biasa saja Biasa saja Biasa saja Jarang Skor 2 Jarang Jarang Jarang Jarang Raguragu Jarang Skor 2 Jarang Jarang Jarang Biasa Jarang Jarang

3 Setuju Cukup Baik Setuju Setuju Sering

B. HUBUNGAN MANDOR DAN BURUH OLAH
1. Frekuensi pertemuan dengan mandor 2. Frekuensi terjadinya konflik dengan mandor. 3. Frekuensi bercakap-cakap dalam setiap pertemuan 4. Frekuensi komunikasi di luar jam kerja. 5. Tanggapan terhadap sistem pengawasan mandor. 6. Frekuensi buruh dibantu mandor dalam bekerja. Pertanyaan

1 Tidak pernah Sering Sering Tidak pernah Terlalu ketat/ longgar Sering

3 Sering Tidak pernah Tidak pernah Sering Baik Tidak pernah 3 Tidak pernah Sering Sering Baik Sering Sering

C. HUBUNGAN SESAMA BURUH OLAH
1. Frekuensi terjadinya konflik. 2. Frekuensi memberi pertolongan kepada karyawan lain. 3. Frekuensi menerima pertolongan dari karyawan lain. 4.Hubungan karyawan dengan keluarga dari karyawan lain. 5. Frekuensi bercakap-cakap tentang masalah pekerjaan di luar jam kerja. 6. Frekuensi bercakap-cakap tentang masalah lain di luar jam kerja. 1 Sering Tidak pernah Tidak pernah Tidak baik Tidak pernah Tidak pernah

Langkah selanjutnya adalah dengan menjumlahkan seluruh skor yang dimiliki oleh setiap responden. Setelah itu skor tersebut dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu: responden yang mempunyai jumlah skor antara 6 – 10 masuk

dalam kategori “kurang memuaskan”, responden yang mempunyai jumlah antara 11 – 15 masuk dalam kategori “biasa saja”, dan yang terakhir skor lebih dari 15 masuk dalam kategori “memuaskan”.

Analisis Regresi Linier Berganda Model produktivitas kerja buruh pengolahan secara ekonometrik dapat ditulis dalam bentuk persamaan regresi linier berganda, yaitu : Y = a+b1X1+b2X2+b3X3+b4X4+b5X5+b6X6+b7X7+b8X8+b9X9+b10X10+ b11X11+b12X12+b13X13+b14X14+b15D1+b16D2+b17D3+e dimana : Y a X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10 X11 X12 = tingkat produktivitas (Kg/ HKE) = konstanta = usia (tahun) = tingkat pendidikan formal (tahun) = pengalaman kerja (tahun) = alokasi waktu kerja (jam/hari) = jumlah tanggungan keluarga (orang) = jumlah pendapatan pokok kerja buruh pengolahan (Rp 00 000/tahun) = jumlah pendapatan keluarga di luar penghasilan responden sebagai buruh pengolahan (Rp 00 000/tahun) = jumlah pengeluaran rata-rata (Rp 00 000/tahun) = jumlah tunjangan gaji (Rp 00.000/tahun) = jumlah bonus akhir tahun (Rp 00 000/tahun) = cuti tahunan (hari/tahun) = persepsi kepuasan kompensasi yang diterima (total skor) 6 – 10 = kurang memuaskan 11 – 15 = biasa saja > 15 = memuaskan = persepsi hubungan atasan-bawahan (total skor) 6 – 10 = kurang menyenangkan 11 – 15 = biasa saja > 15 = menyenangkan = persepsi hubungan sesama karyawan (total skor) 6 – 10 = kurang menyenangkan 11 – 15 = biasa saja > 15 = menyenangkan = jenis kelamin, dimana 1 untuk laki-laki dan 0 untuk perempuan

X13

X14

D1

D2 D3

= status kerja, dimana 1 untuk buruh tetap dan 0 untuk buruh lepas = sistem bekerja, dimana 1 untuk borongan dan 0 untuk harian
17

b1, b2, ……, b e

= koefisien masing-masing variabel

= variabel pengganggu

b1, b2, b3, b4, b6, b8, b9, b10, b11, b12, b13, b14 > 0 b7, b11 < 0

Uji hipotesis yang dilakukan terhadap model adalah uji statistik-F dan uji statistik-t. a. Uji Statistik F Uji statistik F digunakan untuk menguji apakah keragaman variabel bebas secara bersama-sama dapat menjelaskan keragaman dari variabel tak bebas atau apakah secara statistik peubah-peubah bebas berpengaruh nyata secara bersamasama terhadap produktivitas. Hipotesis yang digunakan untuk uji F adalah: H0 : b1 = b2 = … = b17 = 0 H1 : paling tidak ada satu bi • 0 Statistik uji yang digunakan dalam uji F: F hitung = ESS /(k − 1) RSS /(n − k )

dimana: ESS = jumlah kuadrat regresi RSS = jumlah kuadrat sisa n = jumlah sample k = konstanta Apabila : - Fhit > Ftabel maka tolak H0, berarti semua variable bebas mampu secara bersama-sama menjelaskan variasi dari variable tak bebas.

- Fhit < Ftabel maka terima H0, berarti semua variable bebas tidak mampu secara bersama-sama menjelaskan variasi dari variable tak bebas.

b. Uji Statistik t Uji statistik t digunakan untuk menguji koefisien regresi dari masingmasing variabel bebas apakah variabel bebas ke-i berpengaruh nyata terhadap variabel tak bebas. Hipotesis yang digunakan adalah: H0 : bi = 0 variabel yang diuji tidak berpengaruh nyata terhadap variabel tak bebas H1 : bi • 0 va be ya diuji be nga nya te da va bel ta be s ria l ng rpe ruh ta rha p ria k ba Statistik uji yang digunakan dalam t-hitung

t hitung =

bi ; derajat bebas (n – k) Se(bi )

dimana: bi = koefisien regresi Se(bi) = simpangan baku untuk koefisien regresi ke-i Apabila: thit > ttabel (n-k-1), maka tolak H0 thit < ttabel (n-k-1), maka terima H0

c. Uji Koefisien Determinasi (R2) Untuk melihat kebaikan suatu model digunakan ukuran koefisien determinasi yang dapat memperlihatkan kemampuan variabel bebas secara bersama-sama menjelaskan keragaman variabel tak bebas. Nilai koefisien determinasi (R2) semakin mendekati 100 %, maka model yang digunakan semakin baik.

R2 =

JKR JKG =1− JKT JKT

dimana : JKR = Jumlah Kuadrat Regresi JKT = Jumlah Kuadrat Total JKG = Jumlah Kuadrat Galat d. Uji Multikolinearitas Multikolinearitas merupakan hubungan atau korelasi yang besar antara satu variabel bebas dengan variabel bebas lainnya, sehingga variabel tersebut tidak dapat menjelaskan atau mempengaruhi variabel tak bebas. Pengujian adanya multikolinearitas dapat dilakukan dengan uji Marquardt dan dapat dilihat dari nilai VIF (Variance Inflation Factor) pada masing-masing variabel-variabel bebas. Besarnya VIF dapat dihitung dengan persamaan: VIF Xi = 1 (1 − R 2 X i ) dimana: Xi = variabel ke-i yang diuji.

Jika nilai VIF > 10 maka variabel tersebut memiliki masalah multikolinearitas Jika nilai VIF < 10 maka variabel tersebut tidak mengalami multikolinearitas

e. Uji Homoskedastisitas Uji homoskedastisitas ini pada dasarnya menyatakan bahwa nilai-nilai Y bervariasi dalam satuan yang sama baik untuk error term yang tinggi ataupun untuk error term yang rendah. Untuk menguji asumsi ini, dibuat plot antara standardized residual dengan Y. Jika tidak terdapat suatu pola dalam plot tersebut maka dikatakan bahwa data tersebut homogen.

4.6 Definisi Operasional Dalam penelitian ini peubah yang diduga berpengaruh terhadap tingkat produktivitas kerja karyawan adalah usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan formal, pengalaman kerja, jumlah tanggungan keluarga, jumlah pengeluaran, jumlah pendapatan keluarga diluar penghasilan sebagai buruh pengolahan, jumlah pendapatan pokok buruh pengolahan, status kerja, alokasi waktu kerja, sistem bekerja, tunjangan, bonus akhir tahun, cuti tahunan, kepuasan kompensasi yang diterima, hubungan atasan dan bawahan serta hubungan sesama karyawan. Adapun pengukuran peubah-peubah tersebut di atas akan dilakukan sebagai berikut : 1. Tingkat produktivitas kerja karyawan, yaitu perbandingan antara berat kering teh (dalam kilogram) yang dapat dihasilkan per hari kerja efektif yang dihitung selama bulan Juli 2005. 2. Jenis kelamin, merupakan ukuran nominal. Dalam analisis regresi, jenis kelamin dinyatakan dalam bentuk variabel dummy. Variabel dummy diberi nilai 1 untuk jenis kelamin laki-laki dan nilai 0 untuk jenis kelamin perempuan. 3. Usia, merupakan angka yang menunjukkan usia karyawan sejak dilahirkan sampai tahun dilakukannya penelitian, satuan yang digunakan adalah tahun. 4. Tingkat pendidikan formal, yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pendidikan formal yang pernah diperoleh karyawan, satuan yang digunakan adalah tahun. 5. Status kerja, merupakan jenjang atau pangkatan kerja. Dalam analisis regresi, status kerja dinyatakan dalam bentuk variabel dummy. Variabel dummy diberi

nilai 1 untuk status kerja karyawan tetap dan nilai 0 untuk status kerja karyawan tidak tetap. 6. Sistem bekerja merupakan cara bekerja dalam sehari. Dalam analisis regresi, sistem bekerja dinyatakan dalam bentuk variabel dummy. Variabel dummy diberi nilai 1 untuk sistem kerja borongan dan nilai 0 untuk sistem kerja harian. 7. Pengalaman kerja, merupakan angka yang menunjukkan lamanya karyawan berkecimpung secara aktif dalam bekerja di bagian pengolahan, satuan yang digunakan adalah tahun. 8. Alokasi waktu kerja adalah lamanya karyawan bekerja di pabrik selama sehari, satuan yang digunakan adalah jam per hari. 9. Jumlah pendapatan pokok adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh buruh pengolahan diluar tunjangan yang didapat per bulan. Satuan yang digunakan adalah ratus ribu rupiah per tahun. 10. Jumlah pendapatan diluar adalah jumlah pendapatan keluarga yang diperoleh per bulan selain dari pendapatan sebagai buruh pengolahan, seperti usaha rumah tangga lainnya. Satuan yang digunakan adalah ratus ribu rupiah per tahun. 11. Tunjangan gaji berupa uang yang diberikan pihak perkebunan setiap bulannya kepada buruh tetap. Satuan yang digunakan adalah ratus ribu rupiah per tahun. 12. Bonus akhir tahun berupa bonus yang diberikan pihak perkebunan setiap akhir tahun kepada karyawan. Besarnya bonus yang diterima disesuaikan dengan jumlah keuntungan yang diterima pihak perkebunan setiap tahunnya. Satuan yang digunakan adalah ratus ribu rupiah per tahun.

13. Jumlah tanggungan keluarga, menunjukkan jumlah jiwa yang masih menjadi tanggung jawab dan dibiayai secara rutin oleh responden, baik yang merupakan keluarga inti maupun keluarga sanak lainnya. Satuan yang digunakan adalah orang. 14. Jumlah pengeluaran rata-rata per bulan, jumlah ini dihitung dengan menjumlahkan uang yang dikeluarkan untuk konsumsi, baik pangan maupun sandang ataupun berupa barang-barang dan jasa, yang dikeluarkan selam satu bulan. Satuan yang digunakan adalah ratus ribu rupiah per tahun. 15. Persepsi kepuasan kompensasi yang diterima, menyatakan bagaimana karyawan menilai tentang kompensasi yang diterimanya setiap bulan. 16. Persepsi hubungan atasan-bawahan, menyatakan tingkat kedekatan antara atasan dan bawahan. 17. Hubungan sesama karyawan menyatakan tanggapan atau persepsi tingkat kedekatan diantara sesama karyawan (buruh) pabrik.

V GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

5.1 Sejarah Singkat PT Perkebunan Nusantara VIII PT Perkebunan Nusantara VIII (selanjutnya disingkat PTPN VIII) didirikan berdasarkan akta notaris Harun Kamil, SH No. 41 tanggal 11 Maret 1996 dan telah disahkan oleh menteri kehakiman RI dengan SK. No.C28336.HT.01.01 Tahun 1996 tanggal 8 Agustus sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 13 Tahun 1996 tentang peleburan Perusahaan Perseroan (Persero) PTPN XI, Perusahaan Perseroan (Persero) PTPN XII dan Perusahaan Perseroan (Persero) PTPN XIII, menjadi PTPN VIII. Pada awalnya PTPN VIII merupakan perusahaan-perusahaan perkebunan swasta dan negara. Pada tahun 1870 pemerintah Hindia Belanda melalui UndangUndang pemberian HGU memberikan izin kepada pihak swasta untuk membuka usaha di bidang perkebunan. Setelah Undang-Undang tersebut diberlakukan, mulailah berdiri perkebunan-perkebunan swasta berupa maskapai-maskapai perkebunan (Cultuur Maatschaapijen) yang berbentuk PT (pada saat itu NV yaitu Nammloze Venootschap). Untuk kronologis lebih jelas mengenai riwayat singkat berdirinya PTPN VIII adalah sebagai berikut: Periode 1957-1960 Berdasarkan penetapan Penguasa Militer T.T III No. 38/12/SPM/1957, tanggal 20 Desember 1957 perusahaan perkebunan di Jawa Barat dikelompokkan ke dalam 5 unit perusahaan perkebunan, dengan unit-unit sebagai berikut: 1. Unit Bandung I-21 kebun; eks 4 kebun eks N.V. Parakansalak dan 17 kebun eks Perkebunan Tunggal.

2. Unit Bandung II-21 kebun; eks N.V. Tiedeman & Van Kerchem. 3. Unit Bandung III-17 kebun; eks N.V. Watering & Loeber. 4. Unit Jakarta I-18 kebun. 5. Unit Jakarta II-22 kebun. Periode 1960-1963 Pada tahun 1960 diadakan penggabungan perusahaan dalam lingkup PPN lama dan PPN baru dengan satu lembaga Badan Pimpinan Umum Urusan Perkebunan Negara (BPU-PPN) di Jakarta dengan perwakilan BPU-PPN di daerah. Periode 1963-1968 Pada tahun 1963 diadakan reorganisasi dengan tujuan agar pengelolaan perkebunan lebih tepat guna, dengan pembentukan BPU per budidaya, di Jawa Barat terdiri dari: 1. PPN Aneka Tanaman VII (Sebagian eks Jabar II dan Jabar III) – Teh dan Kina 2. PPN Aneka Tanaman VIII (Sebagian eks Jabar II dan Jabar III)– Teh dan Kina 3. PPN Aneka Tanaman IX (Sebagian eks Jabar II dan Jabar III) – Teh dan Kina 4. PPN Aneka Tanaman X (Sebagian eks Jabar II dan Jabar III) – Teh dan Kina 5. PPN Aneka Tanaman XI (Sebagian eks Jabar II dan Jabar III) – Teh dan Kina 6. PPN Aneka Tanaman XII (Sebagian eks Jabar II dan Jabar III) – Teh dan Kina Periode 1968-1971 Dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektivitas Perusahaan Perkebunan Negara (PPN), berdasarkan PP No. 13 Tahun 1968, 88 unit PPN yang ada disederhanakan menjadi 28 Perusahaan Negara Perkebunan (PNP). Termasuk kebun-kebun yang ada di Jawa Barat diciutkan menjadi 68 kebun, yaitu menjadi:

1. PNP XI berkedudukan di Jakarta, yang meliputi perkebunan-perkebunan eks PPN karet X dan XI (24 kebun). 2. PNP XII berkedudukan di Bandung, yang meliputi beberapa perkebunan eks karet XI, XII dan sebagian eks Antan VII dan VIII (24 kebun). 3. PNP XIII berkedudukan di Bandung, yang meliputi beberapa perkebunan eks karet XII, eks Antan IX dan X (20 kebun). Periode 1971-1996 (10 Maret 1996) Sejak tahun1971 PNP di Jawa Barat dan Sumatera Selatan berubah bentuk hukumnya menjadi PT Perkebunan (Persero), yaitu PTP XI, XII dan XIII pada tahun 1971, PTP X pada tahun 1980 dan PTP XIV pada tahun 1981. Selanjutnya pada tanggal 2 Mei 1974 diadakan peletakan batu pertama pembangunan pabrik teh oleh H.O Adiwinata, H.A.D Sastrawinata dan H.R Yusuf Argadipraja sebagai Direksi PTP XII. Kurang lebih satu tahun pembangunan pabrik dilaksanakan, dan baru pada tahun 1975 berdirilah Perkebunan Rancabali sebagai penggabungan dari sebagian areal pemekaran kebun Sinumbra dan Rancasuni. Meskipun telah berdiri selama kurang lebih satu tahun, namun pabrik teh ini baru diresmikanpada tanggal 7 Juli 1976 oleh Presiden Soeharto yang sekaligus menandakan beroperasinya pabrik teh Rancabali. Periode Penggabungan Tahapan awal penggabungan kebun-kebun PTP XI, PTP XII dan PTP XIII dimulai sejak 1 April 1994 dan berlangsung sampai dengan tanggal 10 Maret 1996. Pada periode ini pengelolaan ketiga perusahaan ditangani satu manajemen

(Direksi), terdiri dari Direktur Utama, Direktur Produksi, Direktur Komersil, Direktur Umum dan Pengembangan, dibantu oleh 3 orang kuasa Direksi. Periode Peleburan Sejak tanggal 11 Maret 1996 PTP XI, PTP XII dan PTP XIII, dilebur menjadi PTPN VIII yang berkantor pusat di Jl. Sindang Sirna No. 4 Bandung, Jawa Barat.

5.2 Wilayah Kerja dan Kondisi Fisik Kebun Rancabali Perkebunan Rancabali merupakan salah satu kebun milik PTPN VIII yang terletak di Kecamatan Rancabali, Kabupaten Daerah Tk. II Bandung Provinsi Jawa Barat. Perkebunan ini bergerak dalam usaha pengelolaan teh. Dengan menempati luas lahan sebesar 1688,86 Ha, Perkebunan Rancabali terbagi menjadi lima afdeling. Berikut ini disajikan luas areal dari masing-masing afdeling di kebun Rancabali. Tabel 6. Nama Afdeling dan Luas Areal Perkebunan Rancabali Tahun 2005 Nama Afdeling Rancabali I, Desa Patengan Kecamatan Rancabali Rancabali II, Desa Patengan Kecamatan Rancabali Rancabali III, Desa Patengan Kecamatan Rancabali Rancasuni, Desa Patengan Kecamatan Rancabali Cibitu, Desa Sukaresmi Kecamatan Rancabali Total Luas Areal (Ha) 348,35 262,03 345,26 365,14 368,08 1688,86

Sumber: Laporan Bagian Tanaman PTPN VIII Kebun Rancabali, 2005

Perkebunan Rancabali termasuk kebun dataran tinggi yang terletak pada ketinggian antara 1100 – 1800 m dpl, dengan keadaan lereng bervariasi dari datar, landai sampai curam. Kemudian iklim Perkebunan Rancabali tergolong daerah basah dengan rata-rata hujan per tahun 4.039 mm. Memiliki temperatur terendah

dan tertinggi sepanjang tahun antara 4 ºC sampai dengan 27 ºC dengan kelembaban antara 50% sampai dengan 90%.

5.3 Struktur Organisasi PTPN VIII Kebun Rancabali Perkebunan Rancabali dipimpin oleh seorang Administratur. Dalam pelaksanaan tugasnya, Administratur dibantu oleh beberapa karyawan operasional yaitu: Sinder Kepala, Sinder Pabrik, Sinder Teknik, Sinder TUK dan Sinder Afdeling. Adapun tugas dan tanggung jawab serta wewenang dari masing-masing adalah sebagai berikut: 1. Administratur Administratur adalah karyawan operasional yang membantu direksi

melaksanakan pengelolaan perusahaan di bidang produksi. Tugas pokok administratur adalah melaksanakan dan bertanggung jawab atas kelancaran tugas pekerjaan sebagai unit produksi dengan berpedoman pada Rencana Jangka Panjang (RJP), menyusun rencana kerja dan rencana anggaran belanja, mengelola kebun berdasarkan rencana kerja, RAB, kebijaksanaan dan peraturan Direksi. Selain mempunyai tugas dan tanggung jawab, administratur juga mempunyai wewenang yaitu wewenang untuk mengatur pelaksanaan tugas pekerjaannya dalam rangka mengelola perkebunan secara efektif dan efisien, termasuk melakukan koordinasi dengan perkebunan-perkebunan lain dan bagian-bagian lain di kantor direksi, memformulasikan kebijakan mutu serta sasaran mutu perusahaan, menyusun struktur organisasi SMM ISO 90012000 dan menetapkan tugas, wewenang, tanggung jawab dan kualifikasi

masing-masing jabatan, menjamin sasaran mutu dan perencanaan mutu yang ditetapkan pabrik. Administratur bertanggung jawab langsung kepada Direksi PTPN VIII. 2. Sinder Kepala Sinder kepala mempunyai tugas pokok mengelola perkebunan yang ada dalam ruang lingkup tugasnya dengan berpedoman kepada policy direksi dan kebijakan yang telah digariskan oleh administratur serta Rencana Kerja dan Anggaran Pendapatan (RKAP) yang telah disahkan. Tugas-tugas lain merupakan penjabaran dari tugas pokok yang harus dilaksanakan oleh sinder kepala adalah memimpin para kepala bagian dan mengawasi staf personil bagian kebun, mengusahakan dengan sebaik-baiknya bahwa policy direksi dan kebijaksanaan administratur dalam bidang kultur teknis dilaksanakan dalam batas waktu yang telah ditentukan, menyusun RKAP dalam bidang rencana produksi, rencana pemeliharaan kebun, dan jumlah tenaga kerja yang diperlukan. Sinder kepala dalam melaksanakan berbagai tugasnya

bertanggung jawab kepada administratur. 3. Sinder Afdeling Sinder afdeling adalah karyawan operasional yang membantu sinder kepala dalam melaksanakan tugasnya. Sinder afdeling bertugas dan bertanggung jawab atas pelaksanaan dan kelancaran pekerjaan di bidang pengelolaan tanaman di setiap afdeling dengan berpedoman kepada RKAP, Permintaan Modal Kerja (PMK), RJP, petunjuk administratur dan kebijakan-kebijakan direksi. Sinder afdeling mempunyai wewenang untuk mengatur pelaksanaan tugas pekerjaannya secara efektif dan efisien, termasuk melakukan koordinasi

dengan sinder afdeling yang lain serta dengan perkebunan lain dengan sepengetahuan administratur, mengikuti perkembangan produksi,

pemeliharaan tanaman dan selalu mengadakan perbaikan-perbaikan yang diperlukan. Sinder afdeling bertanggung jawab atas kelancaran tugas pekerjaannya kepada administratur atau sinder kepala. 4. Sinder Pabrik Sinder pabrik adalah karyawan operasional yang membantu administratur dalam melaksanakan tugas di unit kerja pengolahan. Tugas pokok sinder pabrik adalah melaksanakan dan bertanggung jawab atas kelancaran tugas di bidang pengolahan sesuai dengan RKAP, PMK, petunjuk administratur dan kebijkan direksi, serta berkewajiban melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan pengolahan bahan mentah dari kebun sampai menjadi hasil akhir, menjamin mutu produk sesuai dengan keinginan pelanggan dan bertanggung jawab terhadap pencapaian sasaran mutu yang telah ditetapkan. Sinder pabrik mempunyai wewenang mengatur pelaksanaan tugas pekerjaannya secara efektif dengan melaksanakan tindakan perbaikan apabila terjadi

ketidaksesuaian selama proses pengolahan, memelihara pelaksanaan dan kinerja Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO 9001-2000, meninjau prosedur sistem mutu dan instruksi kerja ISO 9001-2000. Sinder pabrik bertanggung jawab kepada administratur. 5. Sinder Teknik Sinder teknik berkewajiban menyelenggarakan dan menyelesaikan pekerjaanpekerjaan, persoalan-persoalan yang berhubungan dengan bidang teknik kendaraan, mesin-mesin, teknik umum, dll serta menjamin kelancaran proses

pengolahan. Sinder teknik mempunyai tanggung jawab dalam melaksanakan pemeliharaan dan perbaikan seluruh mesin dan peralatan, melaksanakan administrasi teknik dengan cara yang “ up to date”, sesuai dengan kebijaksanaan administratur. Sinder teknik dalam melaksanakan tugasnya dapat dibantu oleh asisten teknik dan pembantu lainnya. Sinder teknik bertanggung jawab kepada administratur. 6. Sinder Tata Usaha dan Keuangan (TUK) Sinder TUK adalah karyawan operasional yang membantu administratur dalam melaksanakan tugas pekerjaan di unit kerja administrasi. Sinder TUK berkewajiban menyelenggarakan dan menyelesaikan pekerjaan/ persoalan yang berhubungan dengan TU Personalia, Keuangan dan Pergudangan sesuai dengan kebijakan administratur, menyelenggarakan pelatihan karyawan sesuai dengan bidang pekerjaannya, serta memantau persediaan dan kebutuhan barang bahan, dan membantu administratur membina pekerjaan petugas pemeriksa intern kebun. Dalam menjalankan tugasnya sinder TUK dibantu oleh petugas dan pembantu lainnya menurut kebutuhan. Sinder TUK bertanggung jawab kepada administratur.

Jumlah tenaga kerja yang berada di lingkungan Perkebunan Rancabali terus mengalami perubahan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi perkebunan. Pada bulan Juli 2005 jumlah tenaga kerja di lingkungan perkebunan Rancabali sebesar 2.701 tenaga kerja, yang uraiannya dapat dilihat pada Tabel 7 berikut ini:

Tabel 7. Daftar Tenaga Kerja PTPN VIII Kebun Rancabali Uraian Pimpi nan (Gol IIIA IVD) L 1 1 5 3 2 1 13 Karya-wan (Gol IB -IID) Karyaw an (Gol IA) L P Ho norer KLM

Administratur Sinder Kepala Sinder/ Asisten: - Kebun - Pengolahan - Teknik - TUK Pelaksana Total

L

P

L

P

L

P

200 206

6

Sumber: Bagian Umum PTPN VIII Kebun Rancabali, 2005

70 56 7 3 1270

8 18

10

55 66 2 0 1212

5.4 Sistem Pengupahan Karyawan pelaksana (buruh) bagian pengolahan di PTPN VIII Kebun Rancabali terdiri atas buruh yang berstatus buruh tetap dan buruh lepas. Sistem pengupahan pada bagian pengolahan dilakukan berdasarkan jumlah pucuk basah yang diterima. Bila pucuk yang diterima lebih dari 40 ton/ hari, maka buruh akan menerima upah borongan sedangkan bila kurang dari 40 ton/ hari, buruh pengolahan tetap mendapat upah harian. Karyawan yang berstatus buruh tetap memperoleh upah setiap harinya berdasarkan jumlah pucuk basah yang akan diolah setiap harinya ditambah dengan hari libur nasional atau cuti, yaitu upah berdasarkan UMP yang berlaku, sedangkan buruh yang berstatus buruh lepas hanya mendapatkan upah harian dan bila ada upah borongan. Sistem pengupahan yang ditetapkan oleh perusahaan, disesuaikan dengan golongan masing-masing karyawan serta status kerja para karyawan. Golongan yang terdapat di PTPN VIII Kebun Rancabali mulai dari golongan IVD sampai

dengan golongan IA, sedangkan berdasarkan status kerja dibagi menjadi karyawan tetap dan karyawan lepas. Karyawan yang mempunyai golongan dan berstatus karyawan tetap mendapatkan upah minimum provinsi (UMP) khusus untuk sektor perkebunan. Sedangkan untuk karyawan yang berstatus kerja harian lepas sistem pengupahannya hanya berdasarkan upah pokok per bulan tanpa mendapatkan tunjangan, dan bila ada borongan maka buruh tersebut akan mendapatkan upah borongan berdasarkan jumlah produksi kering yang dihasilkannya. Pada umumnya, buruh pengolahan mempunyai golongan IA, dengan upah pokok yang diterimanya setiap bulan berkisar antara Rp 322.000 – Rp 362.000 pada tahun 2005 atau sekitar Rp 14.400 per hari, baik untuk buruh tetap ataupun buruh lepas. Sedangkan tunjangan hanya diberikan kepada buruh tetap saja setiap bulannya sebesar Rp 107.000 – Rp 120.000 pada tahun 2005. Upah borongan diberikan berdasarkan jumlah produksi kering yang dihasilkannya sebesar Rp 400 per kg produksi kering. Hari kerja dalam seminggu adalah enam hari kerja, dimulai dari hari Senin sampai dengan hari Sabtu. Jam kerja yang diberlakukan oleh pihak perkebunan untuk karyawan yang ada di kantor dan di lapangan adalah tujuh jam dalam setiap hari (Senin sampai dengan Sabtu). Jam kerja karyawan pengolahan disesuaikan dengan kedatangan pucuk ke pabrik untuk diolah lebih lanjut.

5.5 Kegiatan Budidaya Tanaman Teh Pada pokoknya kegiatan budidaya tanaman teh terdiri dari kegiatan penyemaian, penanaman, pemeliharaan dan pemanenan/ pemetikan. a. Penyemaian dan Penanaman

Jenis tanaman teh yang diusahakan di Perkebunan Rancabali sebagian besar berasal dari varietas Assamica. Penyemaian dilakukan dengan menggunakan stek, yaitu stek dari klon TRI 2025, TRI 2024 dan Gambung. Lokasi yang digunakan sebagai tempat penyemaian disesuaikan dengan afdeling yang akan ditanami teh. Penyemaian dilakukan di dalam bangunan yang berfungsi sebagai naungan yang bagian atasnya ditutup dengan sasak yang berfungsi sebagai ventilasi, agar sinar matahari dapat terserap dengan baik. Penanaman teh biasanya dilakukan pada musim hujan. Setelah penanaman dilakukan penyiangan secara manual, dimana tanaman yang mati segera diganti. Kemudian setelah tanaman teh tumbuh dilakukan pemangkasan dengan tujuan untuk membentuk bidang pemetikan dan membentuk percabangan yang baik. b. Pemeliharaan Kegitan pemeliharaan meliputi penyiangan, pemupukan serta

pemberantasan hama penyakit. Penyiangan ini dilakukan pada kebun yang telah dibersihkan cabang pangkasnya pada akhir tahun dan cara penyiangannya tergantung dari keadaan gulma. Dalam usaha mempertahankan kesuburan tanah dan meningkatkan produksi tanaman teh, maka dilakukan pemupukan. Kegiatan pemeliharaan lainnya adalah pemberantasan hama dan penyakit. Pengendalian hama dan penyakit 100% dilakukan secara kimia.

c. Pemetikan Pemetikan merupakan usaha terakhir dalam kegiatan budidaya tanaman teh, yang bertujuan untuk memanen pucuk dengan cara yang tepat agar mendapatkan hasil petikan pucuk yang jumlahnya banyak dengan mutu baik.

Berdasarkan waktu petikan, terdapat tiga jenis petikan yang dilakukan di Perkebunan Rancabali yaitu petikan jendangan, petikan gendesan dan petikan produksi. Pemetikan jendangan disebut juga tipping adalah pemetikan yang dilakukan pada tahap awal setelah perdu dipangkas, yang tujuannya adalah untuk membentuk bidang petik yang lebar dan rata dengan ketebalan lapisan daun yang cukup agar tanaman mempunyai potensi produksi daun yang tinggi. Pemetikan dilaksanakan dua sampai tiga bulan setelah tanaman dipangkas. Pemetikan gendesan adalah pemetikan yang dilakukan pada kebun yang akan dipangkas produksi. Semua pucuk yang memenuhi syarat untuk diolah pada pemetikan ini akan dipetik tanpa memperhatikan daun yang ditinggalkan. Tujuan pemetikan ini adalah untuk memanfaatkan tunas-tunas dan daun-daun muda yang ada pada perdu, yang apabila tidak terpetik maka akan terbuang dengan adanya pemangkasan. Pemetikan produksi atau juga disebut pemetikan biasa adalah pemetikan yang dilaksanakan setelah pemetikan jendangan selesai dilakukan, yang dilakukan terus secara rutin.

5.6 Kegiatan Pengolahan Teh Hitam Pada pokoknya kegiatan pengolahan teh hitam orthodoks terdiri dari kegiatan penerimaan bahan baku pucuk, pembeberan, pelayuan, penyalinan (turun layu), penggilingan, oksidasi enzymatis, pengeringan, sortasi dan pengepakan. a. Penerimaan Bahan Baku Pucuk Bahan baku pucuk pertama kali diterima oleh petugas penimbangan. Bahan baku pucuk biasanya berasal dari kebun Rancabali maupun kebun seinduk. Petugas penimbangan melakukan penimbangan pada jembatan timbang.

Pucuk yang diterima harus sesuai dengan berat hasil penimbangan, kemudian diserahkan ke unit pembeberan. b. Pembeberan Bahan baku pucuk yang sudah ditimbang, kemudian diangkut dengan Monorail untuk dimeberkan di Withering Trough, kemudian dianginanginkan. Pembeberan dilakukan dengan maksud untuk memeriksa kadar air pucuk segar. c. Pelayuan Setelah pembeberan akan diteruskan dengan proses pelayuan. Proses pelayuan bertujuan untuk menguapkan sebagian air yang ada pada daun teh dan tangkainya sehingga daun menjadi lemas dan mudah digulung. Selama proses pelayuan, pucuk teh mengalami perubahan kimia dan perubahan fisika. Perubahan kimia selama pelayuan dimulai dengan resporasi daun teh yang menghasilkan protein serta peningkatan enzim dan protein mengalami penurunan diimbangi dengan kenaikan kandungan asam amino seperti lisin, leussin dan valin. Perubahan fisika yang terjadi selama proses pelayuan adalah terjadinya penurunan kadar air dari 72-80 % menjadi 50 % yang mengakibatkan daun menjadi lentur. Bila dalam Thermometer Dry/ Wet terdapat selisih suhu udara kering dan basah dibawah 2 ºC atau 4 ºF maka akan diberikan udara panas dengan menggunakan heater sehingga selisih udara kering dan basah diatas 2 °C atau 4 °F. Apabila cuaca cerah maka pemakaian udara panas hanya digunakan beberapa saat untuk menghemat bahan bakar. Pelayuan dilakukan selama 12 – 24 jam atau sesuai kebutuhan.

d. Penyalinan (Turun Layu) Penyalinan diperiksa secara indrawi (dilihat dan diraba) oleh mandor turun layu. Apabila daun dapat membentuk sebuah bola pada saat dikepel-kepel, maka berarti pelayuan telah cukup. Indikator lainnya adalah tidak patahnya tangkai pucuk bila dibengkokkan atau adanya bekas jari pada daun saat ditekan. Untuk memeriksa kecukupan layuan dilakukan pengujian kadar air pucuk layu dan kerataan layuan oleh petugas uji mutu. Apabila hasil pelayuan tidak sesuai dengan standar, maka untuk hasil pucuk layu yang kadar airnya dibawah standar (kurang layu) dilakukan perpanjangan pelayuan dan mengatur kembali urutan turun layu, untuk hasil layu yang kadar airnya diatas standar (lewat layu) dilakukan pengaturan tanda urutan turun layu menjadi urutan paling awal. Pucuk layu yang akan digiling pada proses penggilingan ditimbang dan dicatat. e. Penggilingan Penggilingan adalah perlakuan fisik terhadap pucuk layu untuk memberikan efek fisis maupun kimia terhadap pucuk tersebut. Pada dasarnya, penggilingan merupakan upaya menggulung, meremas dan memotong pucuk layu menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Tujuan penggilingan adalah meremas cairan sel daun agar terjadi reaksi fermentasi serta mengupayakan bentuk dan ukuran-ukuran tertentu dari daun sesuai keinginan konsumen. Dalam penggilingan, hal yang perlu diperhatikan adalah waktu penggilingan. Waktu penggilingan yang digunakan di pabrik pengolahan adalah 30-40 menit. Selama penggilingan daun mengalami kerusakan pada sel-selnya, sehingga substrat akan bercampur dengan enzim dan akan terjadi reaksi

oksidasi pada saat berhubungan dengan udara. Dengan demikian, sebetulnya pada tahap penggilingan ini proses fermentasi sudah terjadi. Pada saat penggilingan, aroma telah terbentuk. Oleh karena itu, suhu dan waktu penggilingan harus diperhatikan agar aroma tidak hilang. Suhu pada saat penggilingan yang digunakan adalah 19-24 °C dengan kelembaban 96-98 %. f. Oksidasi Enzymatis (Fermentasi) Fermentasi adalah proses reaksi kimia yang melibatkan enzim. Tujuan fermentasi adalah membentuk teaflavin dan tearubugin dengan perbandingan tertentu. Selama fermentasi, daun mengalami perubahan yaitu perubahan warna daun menjadi coklat akibat oksidasi polifenol membentuk teaflavin yang berwarna kuning dan tearubugin yang berwarna coklat tua. Bubuk hasil penggilingan difermentasikan dengan menghamparkannya di meja fermentasi. Tebal hamparan tiap jenis bubuk diatur sama, yaitu sekitar 2,5-7 cm. Suhu di ruang fermentasi sama dengan suhu di ruang penggilingan yaitu sekitar 19-24 °C dengan kelembaban 90-98 %. Waktu fermentasi dihitung sejak pucuk layu masuk Open Top Roller (OTR) sampai bubuk siap untuk dikeringkan. Dengan demikian lama penghamparan bubuk pada meja fermentasi berbeda-beda sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh masing-masing jenis bubuk pada tahap penggilingan. Dari hasi penelitian dan pengalaman, untuk mendapatkan mutu teh hitam yang diharapkan, pabrik menetapkan waktu fermentasi sebagai berikut : Bubuk I (105 menit), Bubuk II (110 menit), Bubuk III (120 menit), dan Bubuk IV/ Badag (125 menit). g. Pengeringan

Pengeringan teh bertujuan untuk menghentikan proses fermentasi dan menguapkan air (sampai kadar ± 3 %). Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam proses pengeringan adalah: kadar air basah, suhu udara masuk dan udara keluar, waktu pengeringan dan ketebalan daun teh diatas trays. Pengeringan dilakukan dengan mengatur pengisian baki bubuk teh ke roda trollys secara teratur sesuai dengan bubuk yang akan dimasukkan ke masingmasing mesin pengering yang telah dipanaskan. Mandor pengeringan memeriksa bubuk teh yang keluar dari mesin pengering setiap seri secara indrawi (dilihat, diraba, dan dicium) untuk mengetahui kematangan bubuk, jika belum matang maka bubuk teh ditahan di mesin pengering sampai menjadi matang. Bubuk teh yang keluar dari mesin pengering diambil contohnya setiap dua jam sekali untuk diserahkan kepada petugas uji mutu untuk dilakukan pengujian kadar air dan pengujian Inner – Outer. h. Sortasi Sortasi adalah proses pemisahan partikel teh berdasarkan ukuran, berat jenis dan kandungan tulang atau serat, sehingga diperoleh partikel teh yang seragam sesuai dengan standar yang ditentukan. Selain itu juga untuk memisahkan teh kering dari kotoran, debu dan ranting-ranting yang terbawa. Bila ada bubuk hasil pengeringan yang kurang matang (baleuy) diinformasikan ke unit kerja pengeringan untuk dilakukan pengeringan ulang. Pemeriksaan teh jadi hasil sortasi dilakukan oleh Sinder Pabrik atau Mandor Basah Kering dan Mandor Sortasi yang dilakukan secara visual dengan menggunakan melamin putih dan

hitam. Pada prinsipnya, pengelompokkan jenis bubuk teh kering didasarkan pada keseragaman berat jenis, ukuran dan elektrostatis. i. Pengepakan Pengepakan bertujuan untuk mempermudah dalam pengangkatan serta melindungi teh agar tidak mengalami perubahan yang dapat menurunkan kualitas teh. Pengepakan pabrik pengolahan dilakukan dengan menggunakan paper sack, yang bagian dalamnya dilapisi oleh kertas alumunium foil, dengan tujuan untuk melindungi teh dari uap air dan sinar ultraviolet.

Tabel 8. Jenis-Jenis Teh berdasarkan Mutu di PTPN VIII Kebun Rancabali No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Jenis Broken Orange Pecco I Broken Orange Pecco Broken Orange Pecco Fanning Pecco Fanning Dust Broken Pecco Broken Tea Pecco Fanning II Dust II Broken Pecco II Broken Tea II Broken Pecco II AMG Broken Pecco II S Broken Tea II AMG Broken Tea S Dust III Dust IV Fluff Mutu I

II

III

j. Pemasaran Hasil produksi teh Perkebunan Rancabali sebagian besar adalah untuk tujuan ekspor, sekitar 80 % dan hanya sebagian kecil saja sekitar 20 % untuk pasar domestik. Hal ini tidak terlepas darai Tri Dharma Perkebunan yang diantaranya adalah menghasilkan devisa untuk negara. Saluran pemasaran

yang dilakukan oleh Perkebunan Rancabali adaalah melalui Kantor Pemasaran Bersama (KPB), dengan sistem penentuan harga jual berdasarkan pelelangan atau auction sale. Pelelangan dilakukan stiap minggu paada hari rabu di Jakarta. Sebelum dilakukan pelelangan, perkebunan mengirimkan sample ke kantor direksi. Sampel ini diambil pada saat pengepakan, sebanyak 31 buah untuk satu chop (40 sack). Dari 31 sampel, 29 buah dikirim ke KPB, 1 sampel untuk bagian Teknologi direksi dan 1 buah dijadikan arsip perkebunan. Selain melalui sistem pelelangan, Perkebunan Rancabali juga melakukan sistem penjualan dalam bentuk Long Term Contract (LTC) daan Free Sale. Dalam prakteknya Perkebunan Rancabali lebih banyak memakai sistem pelelangan, karena dengan sistem ini lebih menguntungkan karena harga teh di pasaran berfluktuatif. Sedangkan untuk sistem kontrak dilakukan apabila harga teh daalam kondisi kurang menguntungkan, dengan sistem ini diharapkan adanya kepastian pembeli di saat harga sedang jatuh.

Tabel 9. Perbandingan Setiap Bagian Pengolahan dengan Kapasitas Kerja Pabrik No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Bagian Pemeberan Pelayuan Penyalinan Penggilingan Pengeringan Sortasi Pengepakan Rata-Rata Kapasitas 900 Kg kering/ HKE 1100 Kg kering/ HKE 1050 Kg kering/ HKE 500 Kg kering/ HKE 1600 Kg kering/ HKE 400 Kg kering/ HKE 1000 Kg kering/ HKE 110 Kg kering/ HKE Konversi Kapasitas terhadap Rata-Rata Kering 8,19 10 9,54 4,54 14,54 3,64 9,09

Sumber: RKAP Bagian Pengolahan PTPN VIII Kebun Rancabali, 2005

Untuk mengukur tingkat produktivitas kerja khusus buruh olah adalah dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari setiap badian dalam

pengolahan. Setiap hasil produksi yang dihasilkan oleh setiap buruh olah selalu dibandingkan dengan kapasitas kerja pabrik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 9. Berdasarkan jumlah produksi teh kering setiap bulan selama tahun 2005 ini seperti terdapat pada Lampiran 2, nilai produksi yang dihasilkan oleh PTPN VIII Kebun Rancabali setiap bulannya berfluktuasi. Hal ini disebabkan karena jumlah pucuk teh basah yang diterima oleh bagian pengolahan tidak sama setiap harinya .

VI KARAKTERISTIK UMUM RESPONDEN

Karakteristik umum responden yang terdapat di PT Perkebunan Nusantara VIII Kebun Rancabali terdiri dari faktor jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, masa kerja, status kerja, alokasi waktu kerja, sistem bekerja, jumlah tanggungan keluarga, jumlah pendapatan pokok buruh pengolahan, jumlah pendapatan selain sebagai buruh pengolahan, jumlah pengeluaran rata-rata, tunjangan, bonus akhir tahun, cuti tahunan, persepsi kepuasan kompensasi yang diterima, persepsi hubungan dengan mandor, persepsi hubungan sesama buruh pengolahan dan tingkat produktivitas kerja buruh pengolahan. Penjelasan dari masing-masing faktor tersebut yaitu sebagai berikut:

6.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Produktivitas Kerja Tingkat produktivitas kerja diukur berdasarkan hasil olahan produksi kering per hari kerja efektif (HKE), yang diperoleh dengan mencari rata-rata hasil olahan produksi kering setiap hari kerja efektif. Jumlah produksi kering diperoleh dari data hasil produksi kering setiap bagian dalam pengolahan. Pengelompokan buruh pengolahan berdasarkan jumlah produksi kering yang dihasilkan per HKE yaitu produksi tinggi dan produksi rendah. Tingkatan tersebut diartikan sebagai tingkat produktivitas kerja buruh pengolahan yang didasari oleh kapasitas setiap bagian dalam pengolahan yang telah ditetapkan oleh pihak perkebunan yaitu sebesar 110 Kg/ HKE. Buruh pengolahan yang mempunyai produktivitas tinggi adalah buruh yang mampu bekerja lebih dari 110 Kg/ HKE, sedangkan buruh pengolahan yang masuk dalam kelompok

produktivitas rendah adalah buruh yang mampu bekerja antara 100 - 110 Kg/ HKE (Tabel 10). Tabel 10. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Produktivitas Kerja di PTPN VIII Kebun Rancabali Produktivitas Rendah (100 – 110 Kg/HKE) Tinggi (> 110 Kg/HKE) Jumlah 10 35 % 22 78

Sumber: Data Primer, diolah, 2005

Terlihat pada Tabel 10 di atas, responden yang memiliki produktivitas kerja tinggi berjumlah 35 orang (78 %), sedangkan yang memiliki tingkat produktivitas kerja rendah ada sebanyak 10 orang (22 %) dari jumlah keseluruhan responden.

6.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin buruh pengolahan yang terdapat di PTPN VIII Kebun Rancabali terbagi dalam dua golongan yaitu lakilaki dan perempuan. Buruh pengolahan yang berjenis kelamin laki-laki berjumlah 31 orang (69 %), sedangkan buruh pengolahan yang berjenis kelamin perempuan berjumlah 14 orang (31 %). Data lengkap dapat dilihat pada Tabel 11 berikut: Tabel 11. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin dengan Produktivitas di PTPN VIII Kebun Rancabali Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Jumlah Rendah 6 4 10 Produktivitas % Tinggi 13 25 9 10 22 35 % 56 22 78 Jumlah 31 14 45 % 69 31 100

Sumber: Data Primer, diolah, 2005

Bila dilihat dari produktivitas, tenaga kerja laki-laki yang mempunyai produktivitas rendah berjumlah 6 orang dan 25 orang yang mempunyai produktivitas tinggi. Sedangkan dari 14 orang buruh olah wanita terdapat 4 orang yang mempunyai produktivitas rendah dan 10 orang memiliki produktivitas tinggi. Jumlah buruh pengolahan laki-laki lebih banyak dibandingkan buruh pengolahan perempuan karena pekerjaan di pengolahan lebih memerlukan ketrampilan, kecepatan dan kekuatan fisik yang lebih besar yang porsinya relatif lebih besar dimiliki oleh laki-laki dibandingkan perempuan.

6.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Usia responden pada penelitian ini berkisar antara 21 – 55 tahun. Responden terbanyak berkisar antara usia 41 – 50 tahun yaitu sebesar 24 orang (53 %), disusul oleh kelompok usia 31 – 40 tahun yaitu 13 orang (29 %), kemudian kelompok usia lebih dari 50 tahun yaitu 5 orang (11 %). Tabel 12. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia dengan Produktivitas di PTPN VIII Kebun Rancabali Usia 21-30 tahun 31-40 tahun 41-50 tahun > 50 tahun Jumlah Rendah 1 3 5 1 10 Produktivitas % Tinggi 2 2 7 10 11 19 2 4 22 35 % 4 22 42 9 78 Jumlah 3 13 24 5 45 % 7 29 53 11 100

Sumber: Data Primer, diolah, 2005

Terlihat pada Tabel 12, responden yang memiliki kelompok usia 21 – 30 tahun yaitu sebesar 3 orang (7 %). Angka tersebut merupakan jumlah terkecil dari jumlah keseluruhan responden. Sedangkan dari nilai produktivitas, jumlah yang

paling banyak untuk kategori produktivitas tinggi ataupun kategori produktivitas rendah terdapat pada kelompok 41-50 tahun.

6.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Sebagian besar responden berdasarkan tingkat pendidikan hanyalah lulusan Sekolah Dasar (SD) dan hanya sebagian kecil yang lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dari jumlah responden tidak ada yang lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA). Responden yang tamat SD berjumlah 35 orang (78 %), dan yang tamat SMP hanya 10 orang ( 22 %) dari jumlah responden sebesar 45 orang. Data selengkapnya disajikan dalam Tabel 13.

Tabel 13. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan dengan Produktivitas di PTPN VIIIKebun Rancabali Tingkat Pendidikan Tamat SD Tamat SMP Jumlah Rendah 7 3 10 Produktivitas % Tinggi 16 28 6 7 22 35 % 62 16 78 Jumlah 35 10 45 % 78 22 100

Sumber: Data Primer, diolah, 2005

Dari Tabel 13, dapat dilihat responden tamat SD yang mempunyai produktivitas rendah sebanyak 7 orang dan 28 orang yang mempunyai produktivitas tinggi. Sedangkan responden tamat SMP yang mempunyai produktivitas tinggi dan rendah sebanyak 7 orang dan 3 orang. Tingkat pendidikan yang rendah pada buruh pengolahan di PTPN VIII Kebun Rancabali tidak merupakan syarat utama yang harus dipenuhi dalam pekerjaan di bagian pengolahan. Hal ini disebabkan karena pekerjaan di

pengolahan memerlukan ketrampilan fisik yang lebih besar dibandingkan dengan kemampuan berfikir atau tingkat pengetahuan.

6.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Pengalaman Kerja Pengalaman kerja buruh pengolahan yang menjadi responden di PTPN VIII Kebun Rancabali berkisar antara 1 – 35 tahun. Buruh pengolahan terbanyak adalah buruh yang telah bekerja selama 11 – 20 tahun yaitu sebanyak 21 orang (47 %) dari jumlah responden 45 orang, disusul oleh kelompok yang mempunya masa kerja selama 21 – 30 tahun sebanyak 16 orang (36 %), disusul kelompok 1 – 10 tahun yaitu sebanyak 6 orang (13 %). Jumlah terkecil adalah responden yang memiliki pengalaman kerja lebih dari 30 tahun yaitu sebanyak 2 orang (4 %). Data lengkapnya dapat dilihat di Tabel 14.

Tabel 14. Karakteristik Responden Berdasarkan Pengalaman Kerja dengan Produktivitasdi PTPN VIII Kebun Rancabali Pengalaman Kerja 1-10 tahun 11-20 tahun 21-30 tahun > 30 tahun Jumlah Rendah 3 1 4 2 10 Produktivitas % Tinggi 7 3 2 20 9 12 4 22 35 % 7 44 27 78 Jumlah 6 21 16 2 45 % 13 47 36 100

Sumber: Data Primer, diolah, 2005

Buruh olah yang mempunyai produktivitas tinggi terbanyak terdapat pada kelompok 11-20 tahun sedangkan yang mempunyai produktivitas rendah terbanyak pada kelompok 21-30 tahun.

6.6 Karakteristik Responden Berdasarkan Status Kerja Buruh pengolahan yang bekerja di PTPN VIII Kebun Rancabali terbagi dalam dua kelompok yaitu buruh yang berstatus tetap dan buruh berstatus lepas. Buruh pengolahan yang berstatus buruh tetap berjumlah 67 orang dan yang berstatus buruh lepas ada 12 orang. Responden yang terpilih yang berstatus tetap berjumlah 34 orang (76 %) dari jumlah responden sebesar 45 orang, sedangkan yang berstatus buruh lepas ada 11 orang (24 %). Bila dilihat dari tingkat produktivitas kerja buruh olah, buruh tetap yang mempunyai produktivitas rendah dan tinggi berjumlah 7 dan 27 orang, sedangkan yang berstatus buruh lepas 3 orang yang mempunyai produktivitas rendah dan 8 orang yang mempunyai produktivitas tinggi. Data lengkapnya dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15. Karakteristik Responden Berdasarkan Status Kerja dengan Produktivitas di PTPN VIII Kebun Rancabali Status Kerja Buruh lepas Buruh tetap Jumlah Rendah 3 7 10 Produktivitas % Tinggi 7 8 16 27 22 35 % 18 60 78 Jumlah 11 34 45 % 24 76 100

Sumber: Data Primer, diolah, 2005

6.7 Karakteristik Responden Berdasarkan Alokasi Waktu Kerja Alokasi waktu kerja responden di PTPN VIII Kebun Rancabali berkisar antara 7 –10 jam kerja per hari kerja efektif (HKE). Jumlah responden terbanyak adalah yang rata-rata bekerja selama 8 jam/ HKE yaitu sebanyak 16 orang (36 %) dengan tingkat produktivitas kerja rendah sebanyak 3 orang dan 13 orang

memiliki produktivitas tinggi. Disusul dengan yang rata-rata bekerja selama 7 jam/ HKE sebanyak 15 orang (33 %) dengan jumlah 3 orang memiliki produktivitas rendah dan 12 orang produktivitas tinggi.. Dan yang paling terkecil adalah yang rata-rata bekerja lebih dari 8 jam/ HKE yaitu 14 orang (31 %). Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 16.

Tabel 16. Karakteristik Responden Berdasarkan Alokasi Waktu Kerja dengan Produktivitas di PTPN VIII Kebun Rancabali Alokasi Waktu Kerja 7 jam/ HKE 8 jam/ HKE > 8 jam/ HKE Jumlah Rendah 3 3 4 10 Produktivitas % Tinggi 7 12 7 13 9 10 22 34 % 27 29 22 78 Jumlah 15 16 14 45 % 33 36 31 100

Sumber: Data Primer, diolah, 2005

6.8 Karakteristik Responden Berdasarkan Sistem Bekerja Sistem kerja yang diterapkan di bagian pengolahan PTPN VIII Kebun Rancabali adalah sistem kerja borongan dan sistem kerja harian. Sistem borong dilakukan bila pucuk yang diterima > 40 ton/ hari, sedangkan sistem kerja harian dilakukan sebaliknya. Jumlah responden terbesar yang melakukan sistem kerja borongan ada sebesar 29 orang (64 %) dan yang melakukan sistem kerja harian hanya 16 orang (36 %). Dari tingkat produktivitas kerja, sistem kerja harian atau borongan yang mempunyai produktivitas kerja rendah sama-sama berjumlah 5 orang. Produktivitas tinggi berjumlah 24 orang untuk sistem kerja borongan dan 11 orang untuk sistem kerja harian. Data lengkap dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 17. Karakteristik Responden Berdasarkan Sistem Kerja dengan Produktivitas di PTPN VIII Kebun Rancabali Sistem Kerja Harian Borongan Jumlah Rendah 5 5 10 Produktivitas % Tinggi 11 11 11 24 22 35 % 24 53 78 Jumlah 16 29 45 % 36 64 100

Sumber: Data primer, diolah, 2005

6.9 Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan Keluarga Jumlah tanggungan dalam keluarga merupakan jumlah keluarga yang ditanggung kebutuhan hidupnya oleh responden, yang dapat terdiri dari istri/ suami, anak,orangtua, keponakan dan anggota keluarga lainnya yang tinggal dalam satu rumah. Jumlah tanggungan keluarga dari responden berkisar antara 0 – 6 orang. Jumlah terbesar adalah yang memiliki tanggungan keluarga sebanyak 4 – 5 orang (52%) , disusul dengan yang mempunyai tanggungan sebanyak 2 –3 orang 20 orang (44 %). Responden yang mempunyai produktivitas tinggi berjumlah 17 orang, yaitu dengan jumlah tanggungan keluarga sebanyak 2-3 orang dan 4-5 orang. Sedangkan yang mempunyai produktivitas rendah paling banyak dimiliki oleh kelompok dengan jumlah tanggungan keluarga sebanyak 4-5 orang. Data selengkapnya dapat dilihat di Tabel 18.

Tabel 18. Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan Keluarga dengan Produktivitas di PTPN VIII Kebun Rancabali Jumlah Tanggungan Keluarga 2-3 orang 4-5 orang > 5 orang Jumlah Rendah 3 6 1 10 Produktivitas % Tinggi 7 13 2 22 17 17 1 35 % 38 38 2 78 Jumlah 20 23 2 45 % 44 51 4 100

Sumber: Data Primer, diolah, 2005

6.10 Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Pendapatan Pokok Sebagai Buruh Pengolahan Pendapatan pokok sebagai buruh pengolahan responden tiap bulan merupakan pendapatan yang dihitung berdasarkan penghasilan hanya sebagai buruh pengolahan saja tidak ditambah dengan penghasilan lain di luar kegiatan pengolahan. Jumlah pendapatan pokok sebagai buruh pengolahan yang didapat setiap bulannya berkisar antara Rp 310.000 – Rp 430.000 per bulan atau Rp berkisar antara Rp 3.720.000 – Rp 5.160.000 per tahun Jumlah pendapatan pokok tersebut diberikan berdasarkan jumlah produksi pucuk basah yang diolah menjadi produksi teh kering, baik itu harian ataupun borongan. Berdasarkan hasil wawancara di lapangan, diperoleh rata-rata jumlah produksi kering yang dihasilkan oleh setiap buruh pengolahan sebesar 126 kg/HKE. Jumlah responden terbanyak adalah yang memiliki penghasilan pokok sebagai buruh pengolahan antara Rp 4.320.000 – Rp 4.800.000 per tahun yaitu sebesar 25 orang (56 %) dengan perincian yang mempunyai produktivitas rendah sebanyak 3 orang dan 22 orang yang mempunyai produktivitas tinggi. Disusul dengan penghasilan antara Rp 3.720.000 – Rp 4.200.000 per tahun sebesar 15

orang (33 %) dengan produktivitas rendah dan produktivitas tinggi sebanyak 6 orang dan 9 orang. Data lengkapnya dapat dilihat pada Tabel 19.

Tabel 19. Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Pendapatan Pokok Sebagai Buruh Pengolahan di PTPN VIII Kebun Rancabali Jumlah Pendapatan Pokok (Rp /thn) 3.720.0004.200.000 4.320.0004.800.000 > 4.800.000 Jumlah Rendah 6 3 1 10 Produktivitas % Tinggi 13 9 7 2 22 22 4 35 % 20 49 9 78 Jumlah 15 25 5 45 % 33 56 11 100

Sumber: Data Primer, diolah, 2005

Hasil ini memperlihatkan bahwa pendapatan yang diperoleh oleh buruh pengolahan sudah sesuai dengan Upah Minimum Propinsi (UMP) untuk perkebunan, selain itu upah yang diterima oleh buruh pengolahan pun disesuaikan dengan golongannya.

6.11 Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Pendapatan Diluar Penghasilan Sebagai Buruh Pengolahan Jumlah pendapatan yang diperoleh diluar penghasilan sebagai buruh pengolahan setiap bulannya adalah pendapatan yang didapatkan dari usaha yang lain, baik yang diperoleh dari istri/ suami. Pendapatan tersebut dapat saja diperoleh dari usaha pribadi yang dimiliki oleh responden. Jumlah responden terbanyak yaitu mempunyai jumlah penghasilan sebesar Rp 1.320.000 – Rp 1.800.000 per tahun sebanyak 22 orang (49 %) dengan tingkat produktivitas kerja rendah sebanyak 4 orang dan produktivitas tinggi sebanyak 18 orang. Disusul

dengan jumlah penghasilan Rp 720.000 – Rp 1.200.000 per tahun sebanyak 19 orang (42 %) dengan tingkat produktivitas rendah sebanyak 4 orang dan 15 orang mempunyai produktivitas tinggi, dan yang terakhir lebih dari Rp 1.800.000 per tahun berjumlah 4 orang (9 %). Data lengkapnya dapat dilihat pada Tabel 20.

Tabel 20. Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Pendapatan Diluar Penghasilan Sebagai Buruh Pengolahan di PTPN VIII kebun Rancabali Jumlah Pendapatan diluar (Rp /thn) 720.000-1.200.000 1.320.000- 1.800.000 > 1.800.000 Jumlah Rendah 4 4 2 10 Produktivitas % Tinggi 9 15 9 18 4 2 22 35 % 33 40 4 78 Jumlah 19 22 4 45 % 42 49 9 100

Sumber: Data Primer, diolah, 2005

6.12 Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Pengeluaran Rata-Rata Keluarga

Jumlah pengeluaran responden merupakan jumlah pengeluaran rata-rata yang dikeluarkan responden dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.. Jumlah pengeluaran rata-rata keluarga responden setiap bulan berkisar antara Rp 460.000 – Rp 650.000 per bulan atau Rp 5.520.000 – Rp 7.800.000 per tahun Responden yang memiliki pengeluaran rata-rata antara Rp 5.520.000 – Rp 6.000.000 sebanyak 12 orang (27 %), kemudian yang mempunyai pengeluaran sebesar Rp 6.120.000 – Rp 6.600.000 sebanyak 18 orang (40 %), dan yang paling rendah adalah 2 orang (4 %) yaitu responden yang mempunyai pengeluaran ratarata lebih dari Rp 7.200.000. Bila dilihat dari produktivitas kerja, kelompok yang mempunyai produktivitas tinggi terbanyak terdapat pada kelompok Rp 6.120.000 – Rp 6.600.000. Dan yang mempunyai produktivitas rendah sebanyak 3 orang

terdapat pada kelompok yang sama yaitu Rp 6.120.000 – Rp 6.600.000 dan Rp 6.720.000 – Rp 7.200.000. Data lengkapnya dapat dilihat pada Tabel 21.

Tabel 21. Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Pengeluaran Rata-Rata Keluarga dengan Produktivitas di PTPN VIII Kebun Rancabali Jumlah Pengeluaran (Rp /thn) 5.520.0006.000.000 6.120.0006.600.000 6.720.0007.200.000 > 7.200.000 Jumlah Produktivitas Rendah 4 3 3 10 % 9 7 7 22 Tinggi 8 15 10 2 35 % 18 33 22 4 78 Jumlah 12 18 13 2 45 % 27 40 29 4 100

Sumber: Data Primer, diolah, 2005

6.13 Karakteristik Responden Berdasarkan Perolehan Tunjangan Gaji Tunjangan merupakan salah satu kebijakan pihak perkebunan yang diberikan kepada para karyawannya, biasanya tunjangan yang diberikan berupa tunjangan gaji. Tunjangan biasanya diberikan kepada karyawan tetap. Jumlah responden terbanyak adalah mereka yang memperoleh tunjangan dari perusahaan sebanyak 34 orang, sedangkan yang tidak memperoleh tunjangan sebanyak 11 orang (24%). Responden terbanyak yang memperoleh tunjangan antara Rp 1.344.000 – Rp 1.392.000 per tahun berjumlah 26 orang (59 %), disusul yang lebih dari Rp 1.392.000 per tahun sebanyak 6 orang (13 %), dan yang paling kecil antara Rp 1.284.000 – Rp 1.332.000 per tahun sebanyak 2 orang (4 %). Kelompok yang mempunyai produktivitas tinggi terbanyak, terdapat pada kelompok Rp 1.344.000 – Rp 1.392.000 per tahun dengan jumlah 23 orang dan produktivitas

tinggi terendah pada kelompok Rp 1.284.000 – Rp 1.332.000 per tahun. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 22.

Tabel 22. Karakteristik Responden Berdasarkan Perolehan Tunjangan dengan Produktivitas di PTPN VIII Kebun Rancabali Tunjangan (Rp /thn) Tidak mendapat 1.284.0001.332.000 1.344.0001.392.000 > 1.392.000 Jumlah Rendah 5 1 3 1 10 Produktivitas % Tinggi 11 6 2 1 7 2 22 23 5 35 % 13 2 51 11 78 Jumlah 11 2 26 6 45 % 24 4 58 13 100

Sumber: Data Primer, diolah, 2005

6.14 Karakteristik Responden Berdasarkan Perolehan Bonus Akhir Tahun Bonus akhir tahun biasanya diberikan kepada setiap buruhnya oleh pihak perkebunan, baik itu buruh tetap ataupun buruh lepas. Bonus akhir tahun biasanya diberikan dalam bentuk uang, besarnya berdasarkan keuntungan perusahaan yang didapat setiap tahunnya. Seluruh responden buruh pengolahan memperoleh bonus akhir tahun secara rutin. Responden yang mempunyai produktivitas tinggi terbanyak terdapat dalam kelompok Rp 760.000 – Rp 800.000, sedangkan yang mempunyai produktivitas rendah terbanyak terdapat dalam dua kelompok yaitu Rp 760.000 – Rp 800.000 dan > Rp 800.000 dengan jumlah 4 orang. Data lengkapnya dapat dilihat pada Tabel 23.

Tabel 23. Karakteristik Responden Berdasarkan Perolehan Bonus Akhir Tahun dengan Produktivitas di PTPN VIII Kebun Rancabali Bonus Akhir Tahun (Rp /thn) 710.000750.000 760.000800.000 > 800.000 Jumlah Rendah 2 4 4 10 Produktivitas % Tinggi 4 9 9 22 3 22 10 35 % 7 49 22 78 Jumlah 5 26 14 45 % 11 58 31 100

Sumber: Data Primer, diolah, 2005

6.15 Karakteristik Responden Berdasarkan Cuti Tahunan Cuti diberikan oleh pihak perkebunan kepada karyawannya, apabila karyawan tersebut tidak masuk bekerja dengan alasan yang memang telah disetujui dan diketahui pihak perkebunan. Cuti diberikan setiap tahunnya sebanyak 12 hari per tahun. Jumlah responden buruh pengolahan yang sudah mengambil cuti tahunannya berkisar antara 0 – 5 hari. Responden yang mempunyai produktivitas kerja rendah terbanyak yaitu kelompok yang sudah mengambil cuti sebanyak 3 – 4 hari, sedangkan yang mempunyai produktivitas kerja tinggi yaitu kelompok yang sudah mengambil cuti 0 – 2 hari. Untuk lebih lengkapnya, dapat dilihat pada Tabel 24. Tabel 24. Karakteristik Responden Berdasarkan Perolehan Cuti dengan Produktivitas di PTPN VIII Kebun Rancabali Cuti Tahunan 0 – 2 hari 3 – 4 hari Jumlah Rendah 4 6 10 Produktivitas % Tinggi 9 21 13 14 22 35 % 47 31 78 Jumlah 25 20 45 % 56 44 100

Sumber: Data Primer, diolah, 2005

6.16 Karakteristik Responden Berdasarkan Persepsi Terhadap Kepuasan Kompensasi yang Diterima

Karakteristik responden berdasarkan tanggapan terhadap kepuasan kompensasi yang diterima dibagi dalam tiga kategori yaitu memuaskan, biasa saja, dan kurang memuaskan. Pembagian kategori tersebut dilakukan berdasarkan jumlah skor dari setiap responden berdasarkan pertanyaan yang diberikan Karakteristik tersebut dapat dilihat pada Tabel 25 berikut:

Tabel 25. Karakteristik Responden Berdasarkan Persepsi Kepuasan Kompensasi yang Diterima di PTPN VIII Kebun Rancabali Kepuasan Kompensasi Kurang memuaskan Biasa saja Memuaskan Jumlah Rendah 5 5 10 Produktivitas % Tinggi 11 11 22 6 29 35 % 13 64 78 Jumlah 11 34 45 % 24 76 100

Sumber: Data Primer, diolah, 2005

Terlihat dari Tabel 25, sebagian besar responden menyatakan kepuasannya terhadap kompensasi yang diterimanya. Sebanyak 34 orang (76 %) menyatakan puas terhadap kompensasi yang diterimanya dengan produktivitas tinggi sebanyak 29 orang dan produktivitas rendah sebanyak 5 orang, sedangkan yang menyatakan biasa saja terhadap kompensasi yang diterima sebanyak 11 orang (24 %). Responden menyatakan puas terhadap sistem pengupahan yang diterapkan perusahaan, serta tentang pemberian cuti khusus, pemberian tunjangan dan perhatian pihak perusahaan terhadap kesehatan para karyawan khususnya buruh bagian pengolahan.

6.17 Karakteristik Responden Berdasarkan Persepsi Terhadap Hubungan Dengan Mandor Karakteristik responden berdasarkan tanggapan terhadap hubungan dengan atasan dibagi dalam tiga kategori yaitu menyenangkan, biasa saja, dan kurang menyenangkan. Karakteristik tersebut dapat dilihat pada Tabel 26 berikut.

Tabel 26. Karakteristik Responden Berdasarkan Persepsi Hubungan dengan Mandor dengan Produktivitas di PTPN VIII Kebun Rancabali Hubungan dengan Mandor Kurang menyenangkan Biasa saja Menyenangka n Jumlah Produktivitas Renda h 6 4 10 % 13 9 22 Tinggi 13 22 35 % 29 49 78 Jumlah 19 26 45 % 42 58 100

Sumber: Data Primer, diolah, 2005

Terlihat dari Tabel 26 di atas bahwa sebanyak 26 orang responden (58 %) menyatakan bahwa hubungan dengan atasan (mandor) menyenangkan dengan jumlah responden terbesar yang mempunyai produktivitas tinggi sebanyak 22 orang. Dan sebanyak 19 orang responden (42 %) menyatakan hubungan mereka dengan mandor biasa saja. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar responden mempunyai hubungan yang menyenangkan dengan atasan, responden menyatakan bahwa hubungan yang terjadi diantara mereka merupakan hubungan kekeluargaan yang tidak hanya terjalin di luar pekerjaan tapi juga pada saat melakukan pekerjaan.

Responden menyatakan hubungan yang terjalin dengan mandor pada saat melakukan pekerjaan adalah biasa saja, berpendapat bahwa hal ini disebabkan karena mereka merasa mandor memberikan pengawasan yang terlalu ketat pada saat mereka bekerja. Tetapi responden juga menyatakan bahwa mandor kadang memberikan arahan pada saat mereka bekerja sehingga jika mereka melakukan kesalahan, mandor akan siap membantunya.

6.18 Karakteristik Responden Berdasarkan Persepsi Terhadap Hubungan dengan Sesama Buruh Pengolahan Karakteristik responden berdasarkan tanggapan terhadap hubungan dengan sesama buruh pengolahan dibagi dalam tiga kategori yaitu menyenangkan, biasa saja, dan kurang menyenangkan. Tabel 27 memperlihatkan bahwa sebanyak 39 orang (87 %) dari jumlah responden menyatakan hubungan dengan sesama buruh pengolahan menyenangkan dengan produktivitas tinggi terbanyak yaitu berjumlah 33 orang, sedangkan sebanyak 6 orang (13 %) menyatakan bahwa hubungan dengan sesama buruh pengolahan biasa saja dengan perincian responden yang mempunyai produktivitas rendah sebanyak 4 orang dan 2 orang yang mempunyai produktivitas tinggi.

Tabel 27. Karakteristik Responden Berdasarkan Persepsi Hubungan dengan Sesama Buruh Pengolahan dengan Produktivitas di PTPN VIII Kebun Rancabali Hubungan Sesama Buruh Kurang menyenangkan Biasa saja Menyenangkan Jumlah Rendah 4 6 10 Produktivitas % Tinggi 9 13 22 2 33 35 % 5 73 78 Jumlah 6 39 45 % 13 87 100

Sumber: Data Primer, diolah, 2005

Sebagian besar responden menyatakan hubungan yang terbina diantara sesama buruh pengolahan adalah menyenangkan, hal ini disebabkan karena hubungan yang terjalin diantara mereka sangat dekat, tidak jarang diantara mereka memiliki hubungan keluarga. Responden yang menyatakan hubungan yang terbina diantara mereka biasa saja berpendapat bahwa terkadang terjadi konflik dalam melakukan pekerjaan.

VII ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIVITAS KERJA BURUH PENGOLAHAN

7.1 Pengujian Asumsi a. Uji Homoskedastisitas Asumsi ini pada dasarnya menyatakan bahwa nilai-nilai Y (variabel dependen) bervariasi dalam satuan yang sama, baik untuk error term yang tinggi maupun error term yang rendah. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menguji asumsi ini yaitu dengan membuat plot antara standardized residual dengan Y. Asumsi homoskedastisitas dapat dikatakan terpenuhi jika dalam analisis plot, variabel tidak menggambarkan suatu pola tertentu.
Residuals Versus the Fitted Values
(response is Y)

3

Standardized Residual

2

1 0

-1

-2 105 115 125

Fitted Value

Gambar 2. Plot antara Standardized Residual dengan Y

Berdasarkan Gambar 2, dapat dilihat bahwa error term tersebar, ada yang berada di bawah nol dan ada yang berada di atas nol. Selain itu error term tidak

menggambarkan suatu pola tertentu, karena itu dapat disimpulkan bahwa error term tidak menampakkan suatu perbedaan yang nyata dalam variasi standardized residual untuk Y yang berbeda-beda, atau asumsi homoskedastisitas bisa terpenuhi. Sehingga dapat dikatakan, setiap nilai Y (produktivitas kerja) yang dihasilkan oleh setiap buruh pengolahan bervariasi, dan dipengaruhi oleh setiap variabel bebas yang bernilai tinggi maupun rendah.

b. Uji Multikolinearitas Satu dari asumsi model linear adalah tidak adanya multikolinearitas di antara variabel-variabel yang menjelaskan yaitu diantara variabel X.

Multikolinearitas berhubungan dengan situasi dimana ada hubungan linear yang baik , yang pasti atau mendekati pasti di antara variabel X (Gujarati, 1991). Untuk melihat ada atau tidaknya suatu multikolinearitas pada suatu regresi dapat dilihat dari hasil Variance Inflation Factors (VIF) (Lampiran 3) pada masing-masing peubah bebas. Jika nilai VIF kurang dari 10 menunjukkan bahwa persamaan tersebut tidak mengalami multikolinearitas. Berdasarkan analisis nilai VIF, dalam model regresi tidak terdapat multikolinearitas, hal ini dapat dilihat dari nilai VIF yang kurang dari 10 sehingga dapat dikatakan bahwa model sudah memenuhi asumsi. Atau dengan kata lain, tidak terdapat hubungan antara satu variabel bebas dengan variabel bebas lainnya, sehingga variabel bebas tersebut dapat menjelaskan atau mempengaruhi variabel tak bebas (Y).

7.2 Hasil Analisis Regresi Faktor-faktor yang akan dianalisis dan digunakan untuk menentukan model regresi adalah usia (X1), tingkat pendidikan (X2), masa kerja (X3), alokasi waktu kerja (X4), jumlah tanggungan keluarga (X5), jumlah pendapatan pokok (X6), jumlah pendapatan diluar buruh pengolahan (X7), jumlah pengeluaran (X8), tunjangan (X9), bonus akhir tahun (X10), cuti tahunan (X11), kepuasan kompensasi (X12), hubungan atasan bawahan (X13), hubungan sesama buruh (X14), jenis kelamin (D1), status kerja (D2), sistem kerja (D3). Hasil analisis regresi dapat ditunjukkan pada Tabel 28 berikut ini:

Tabel 28. Hasil Analisis Regresi Produktivitas Kerja Buruh Pengolahan PTPN VIII Kebun Rancabali
Variabel 1. Usia 2. Tk Pendidikan 3. Masa Kerja 4. Alokasi Waktu Kerja Koefisien -0.3800 -0.6809 2.722 0.4088 1.6896 2.206 -0.362 -0.087 -0.6460 2.173 -0.2013 0.0598 0.6040 -0.3948 1.653 5.610 0.554 t-hitung -2.85 * -1.19 2.56 ** 0.75 1.99 ** 2.19 -0.27 -0.08 -1.38 2.13 -0.52 1.85 1.44 -0.62 1.04 2.53 1.31 ** ***** ** *** **** ** ***** P-value 0.002 0.245 0.017 0.459 0.041 0.038 0.789 0.937 0.189 0.035 0.606 0.082 0.124 0.542 0.308 0.018 0.173 VIF 2.8 1.8 2.5 1.5 2.7 2.2 2.8 2.0 1.5 3.2 1.3 2.4 1.5 1.5 1.9 2.2 2.1

5.

Jumlah

Tanggungan Keluarga

6. Jumlah Pendapatan Pokok 7. Jumlah Pendapatan diluar 8. Jumlah Pengeluaran 9. Tunjangan gaji 10 Bonus Akhir Tahun 11. Cuti 12. Kepuasan Kompensasi 13. Hub. Atasan Bawahan 14. Hub. Sesama Karyawan 15. Jenis kelamin 16. Status Kerja 17. Sistem kerja R2 = 79.8 % Fhitung = 16.36 Ket : * = nyata pada taraf 1 % ** = nyata pada taraf 5 % *** = nyata pada taraf 10 % **** = nyata pada taraf 15 % ***** = nyata pada taraf 20 %

R2 (adj) = 67.4 %

Persamaan regresi yang dihasilkan: Y = 106 - 0.380 X1 - 0.681 X2 + 2.72 X3 + 0.409 X4 + 1.69 X5 + 2.21 X6 - 0 .36 X7 - 0.09 X8 - 0.646 X9 + 2.173 X10 - 0.201 X11 + 0.60 X12 + 0.604 X13 - 0.395 X14 + 1.65 D1 + 5.61 D2 + 0.55 D3 Dari hasil analisis regresi, didapat Fhitung sebesar 16.36 lebih besar dari Ftabel sebesar 2.063 dengan tingkat signifikansi 0.000 jauh lebih kecil dari 0.05. Hal ini menunjukkan bahwa ada variabel bebas dalam persamaan ini yang berpengaruh nyata terhadap tingkat produktivitas kerja, atau dapat disimpulkan bahwa secara bersama-sama peubah bebas dalam model dapat menjelaskan dengan baik fungsi produktivitas kerja buruh pengolahan di PTPN VIII Kebun Rancabali. Nilai koefisien determinasi (R2) yang diperoleh sebesar 79.8 persen. Hal ini berarti bahwa variasi nilai Y (tingkat produktivitas kerja) dapat dijelaskan 79.8 persen oleh variasi dari nilai-nilai variabel bebas (X1, X2, ........, X17, D1, D2, D3) dalam model, sedangkan sisanya 20.2 persen diterangkan oleh faktor-faktor yang lain yang tidak terdapat dalam model. Berdasarkan Tabel 27, maka dapat diketahui nilai dari thitung maupun nilai P-value. Dari nilai tersebut, yang berpengaruh nyata pada taraf satu persen adalah usia; yang berpengaruh nyata pada taraf lima persen adalah masa kerja, status kerja, jumlah tanggungan keluarga, jumlah pendapatan pokok, dan bonus akhir tahun. Yang berpengaruh nyata pada taraf sepuluh persen adalah kepuasan kompensasi; yang berpengaruh nyata pada taraf 15 persen adalah hubungan atasan dengan bawahan; dan yang berpengaruh nyata pada taraf 20 persen adalah system kerja dan tunjangan. Di bawah ini adalah penjelasan tentang variabel-variabel yang berpengaruh nyata dan variabel-variabel yang tidak berpengaruh nyata.

7.2.1 Variabel yang Berpengaruh Nyata Terhadap Produktivitas 7.2.1.1 Usia Pada taraf nyata satu persen, usia berpengaruh nyata terhadap tingkat produktivitas kerja buruh pengolahan. Hal ini dapat dilihat dari nilai thitung variabel ini sebesar |-2.85| yang berarti lebih besar dari ttabel pada persamaan ini sebesar 2.576. Pada dasarnya usia merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas. Dengan bertambahnya usia, pengetahuan buruh pengolahan pun akan semakin baik sehingga diharapkan buruh pengolahan dapat bekerja lebih baik lagi daripada tahun sebelumnya. Variabel usia memiliki nilai koefisien regresi sebesar –0.3800 yang artinya apabila usia bertambah 1 tahun, maka produktivitas kerja akan menurun sebesar 0.3800 kg/HKE. Tanda koefisien regresi variabel ini tidak sesuai dengan hipotesis yang diharapkan, yaitu usia diharapkan berpengaruh positif terhadap tingkat produktivitas kerja. Hal ini disebabkan karena peningkatan produktivitas kerja hanya sampai pada usia tertentu saja dimana selanjutnya jika usia bertambah, maka produktivitas menurun. Penurunan ini dapat disebabkan oleh kondisi fisik dan kesehatan akan menurun seiring bertambahnya usia sehingga berdampak menurunnya tingkat produktivitas kerja. Berdasarkan hasil kuisioner terlihat bahwa pada usia 35-50 tahun buruh pengolahan mampu bekerja dalam jumlah produksi melebihi kapasitas yang ditetapkan pihak perkebunan, sehingga dapat dikatakan bahwa batas peningkatan produktivitas adalah pada usia 50 tahun. Pada usia di atas 50 tahun kemungkinan yang terjadi adalah produktivitas kerja akan menurun. Nilai VIF sebesar 2.8 menunjukkan bahwa peubah usia tidak memiliki

masalah multikolinearitas dengan variabel bebas lainnya sehingga dapat diperkirakan besarnya nilai koefisien variabel ini.

7.2.1.2 Masa Kerja Berdasarkan hasil pengolahan data pada taraf nyata lima persen menunjukkan bahwa variabel masa kerja berpengaruh nyata terhadap besarnya produktivitas kerja. Hal ini ditunjukkan oleh besarnya nilai thitung pada variabel ini sebesar 2.56, yang berarti lebih besar dari nilai ttabel yang diperoleh dari persamaan ini sebesar 1.960. Lamanya masa kerja buruh pengolahan dalam melakukan pekerjaannya sebagai buruh pengolahan di PTPN VIII Kebun Rancabali akan dapat meningkatkan tingkat produktivitas kerja. Dengan bertambahnya masa kerja buruh pengolahan setiap tahunnya, diharapkan buruh pengolahan dapat bekerja dengan lebih baik, lebih cepat dan teliti karena pengalaman bekerja setiap harinya akan membuat buruh pengolahan tersebut menjadi terbiasa dalam melihat setiap perubahan yang terjadi dalam setiap proses pengolahan teh. Hal ini disebabkan karena setiap bagian dalam proses pengolahan teh, akan mempunyai hasil yang berbeda secara indrawi (dilihat, diraba, dan dicium). Nilai koefisien regresi variabel masa kerja sebesar 2.722. Tanda positif pada nilai koefisien regresi ini menunjukkan apabila terjadi penambahan pengalaman kerja sebanyak 1 tahun, maka produktivitas kerja akan meningkat sebesar 2.722 kg/HKE. Hal ini sesuai dengan hipotesis masa kerja, yaitu apabila semakin lama buruh pengolahan bekerja di perkebunan akan dapat meningkatkan tingkat produktivitas kerjanya. Sedangkan bila dilihat dari nilai VIF sebesar 2.5,

dapat dijelaskan bahwa variabel ini tidak memiliki masalah multikolinearitas dengan variabel bebas lainnya.

7.2.1.3 Status Kerja Dalam model regresi yang dipakai, variabel status kerja dinyatakan dalam bentuk dummy dimana buruh pengolahan tetap diberi nilai 1 dan untuk buruh pengolahan berstatus lepas diberi nilai 0. Nilai koefisien regresi variabel status kerja sebesar 5.610. Tanda positif pada nilai koefisien regresi ini menunjukkan bahwa beda jumlah produksi kering rata-rata antara buruh tetap dengan buruh lepas sebesar 5.610 kg/HKE, dimana hasil produksi kering dari buruh pengolahan tetap lebih banyak dibandingkan jumlah produksi kering dari buruh pengolahan lepas. Dari hasil pengolahan data pada taraf nyata lima persen, status kerja berpengaruh nyata terhadap tingkat produktivitas kerja. Hal ini dapat dilihat dari nilai thitung yang diperoleh dari persamaan ini sebesar 2.53. Sesuai dengan hipotesa status kerja, yaitu buruh pengolahan berstatus tetap akan mempunyai tingkat produktivitas kerja yang lebih tinggi dibandingkan dengan buruh pengolahan berstatus lepas. Selain itu, nilai VIF sebesar 2.2 menunjukkan bahwa variabel ini tidak memiliki masalah multikolinearitas dengan variabel bebas lainnya. Perbedaan produktivitas kerja ini disebabkan karena antara buruh pengolahan tetap dengan buruh pengolahan lepas ada perbedaan dalam hal pemberian fasilitas seperti fasilitas kesehatan, asuransi tenaga kerja, upah social ataupun dana pensiun, dimana buruh pengolahan lepas tidak memperoleh semua fasilitas seperti yang diterima oleh buruh pengolahan tetap. Hal ini dapat

menyebabkan buruh pengolahan lepas tidak bersemangat dalam bekerja, karena buruh lepas tersebut hanya mendapatkan gaji pokok saja dari pihak perkebunan, tanpa mendapatkan fasilitas yang ada di perkebunan.

7.2.1.4 Jumlah Tanggungan Keluarga Berdasarkan hasil pengolahan data penelitian diperoleh pada tingkat

kepercayaan 95 persen variabel ini berpengaruh nyata terhadap besarnya tingkat produktivitas kerja. Hal ini pun ditunjukkan oleh besarnya nilai thitung dari variabel ini sebesar 0.041 yang berarti lebih besar dari nilai ttabel pada taraf nyata lima persen yaitu sebesar 1.960. Sedangkan nilai VIF sebesar 2.7 menunjukkan bahwa variabel ini tidak memiliki masalah multikolinearitas dengan variabel bebas lainnya. Melalui hasil regresi diperoleh nilai koefisien regresi variabel jumlah tanggungan keluarga sebesar 1.6896 dimana setiap penambahan 1 orang yang harus dibiayai maka produktivitas akan meningkat sebesar 1.6896 kg/HKE. Hal ini sesuai dengan hipotesis awal dimana dengan bertambahnya jumlah tanggungan keluarga, maka produktivitas kerja pun akan meningkat. Buruh pengolahan yang mempunyai jumlah tanggungan keluarga banyak, akan mempunyai tingkat produktivitas kerja yang lebih besar daripada buruh pengolahan yang mempunyai junlah tanggungan keluarga sedikit ataupun yang tidak mempunyai tanggungan keluarga. Hal ini disebabkan karena semakin banyak jumlah tanggungan keluarga dari buruh pengolahan, maka akan semakin besar pula biaya yang harus dikeluarkan setiap bulannya, sehingga buruh

pengolahan harus mencari penghasilan yang lebih besar lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup anggota keluarganya dengan cara bekerja dengan lebih giat lagi.

7.2.1.5 Jumlah Pendapatan Pokok Hasil regresi menunjukkan bahwa nilai koefisien untuk variabel ini sebesar 2.206. Satuan yang digunakan dalam variabel ini adalah Rp 00.000/tahun, maka peningkatan pendapatan pokok buruh pengolahan sebesar Rp 100.000 per tahun akan menyebabkan tingkat produktivitas kerja meningkat sebesar 2.206 kg/HKE. Hal ini sesuai dengan hipotesis awal yang menyatakan bahwa semakin tinggi jumlah pendapatan pokok sebagai buruh pabrik setiap bulannya, maka akan semakin tinggi tingkat produktivitas kerja, karena akan memacu buruh pengolahan untuk lebih giat lagi dalam bekerja. Jumlah pendapatan pokok yang diterima buruh pengolahan, berhubungan langsung dengan sistem kerja yang dilakukan oleh buruh tersebut. Semakin sering buruh pengolahan melakukan sistem kerja borongan, maka akan semakin besar pula pendapatan pokok yang akan diterimanya. Hasil pengolahan data penelitian diperoleh bahwa pada tingkat kepercayaan 95 persen variabel ini berpengaruh nyata terhadap besarnya produktivitas kerja. Selain itu, hal ini ditunjukkan oleh besarnya nilai thitung yang diperoleh dari variabel ini sebesar 2.19 yang berarti lebih besar daripada ttabel persamaan ini sebesar 1.960 pada taraf nyata lima persen. Selain itu nilai VIF sebesar 2.2 berarti bahwa variabel ini tidak memiliki masalah multikolinearitas dengan variabel lainnya.

7.2.1.6 Bonus Akhir Tahun Hasil pengolahan data pada tingkat kepercayaan 95 persen, bonus akhir tahun berpengaruh nyata terhadap tingkat produktivitas kerja. Hal ini dapat dilihat dari nilai thitung yang diperoleh sebesar 2.13 yang berarti lebih besar dari nilai ttabel yang diperoleh dari persamaan ini sebesar 1.960. Berdasarkan keterangan diatas, hal ini sesuai dengan hipotesis awal dimana semakin banyak bonus akhir tahun yang diterima akan meningkatkan produktivitas kerjanya. Bonus akhir tahun biasanya diberikan sekali setahun dan dilaksanakan pada akhir tahun. Besarnya jumlah bonus akhir tahun yang akan diterima oleh buruh pengolahan didasarkan kepada keuntungan pihak perkebunan setiap tahunnya biasanya sebesar dua atau tiga kali gaji pokok. Bonus akhir tahun yang diberikan setahun sekali, mampu meningkatkan produktivitas kerja buruh pengolahan, hal ini disebabkan karena jumlah bonus yang akan diterima oleh buruh pengolahan tersebut termasuk dalam jumlah yang besar. Hal ini menyebabkan buruh pengolahan merasa tertantang untuk bekerja lebih baik dan lebih giat lagi sehingga bonus akhir tahun yang akan diterimanya nanti akan lebih besar pula. Variabel bonus akhir tahun memiliki koefisien 2.173. Satuan yang digunakan untuk variabel ini adalah Rp 00.000/tahun, maka peningkatan bonus akhir tahun yang diterima buruh pengolahan sebesar Rp 100.000 per tahun akan menyebabkan tingkat produktivitas meningkat sebesar 2.173 kg/HKE. Nilai VIF yang diperoleh adalah sebesar 3.2 menunjukkan bahwa variabel ini tidak memiliki masalah multikolinearitas dengan variabel bebas lainnya.

7.2.1.7 Kepuasan Kompensasi Kepuasan kompensasi ini dilakukan berdasarkan kepuasan buruh pengolahan dalam menerima kompensasi yang diberikan oleh pihak perkebunan. Kompensasi yang diberikan oleh pihak perkebunan tersebut dapat berupa upah tetap, tunjangan, bonus akhir tahun, ataupun fasilitas lainnya yang diberikan oleh pihak perkebunan seperti perumahan ataupun madrasah. Dari hasil pengolahan data pada tingkat kepercayaan 90 persen, kepuasan kompensasi yang diterima berpengaruh nyata terhadap besarnya tingkat produktivitas kerja, hal ini dapat dilihat dari nilai thitung yang diperoleh dari persamaan ini adalah 1.85 yang berarti lebih besar dari nilai ttabel sebesar 1.645. Hal ini sesuai dengan hipotesis awal dimana semakin tinggi kepuasan kompensasi yang diterima akan semakin tinggi pula tingkat produktivitasnya. Pada umumnya, buruh pengolahan sudah merasa puas dengan kompensasi yang diterimanya setiap bulannya baik itu dilihat dari gaji pokok, tunjangan ataupun fasilitas yang diberikan oleh pihak perkebunan. Walaupun ada juga buruh lepas yang tidak memperoleh tunjangan, namun mereka merasa puas dengan nilai gaji pokok yang diterimanya setiap bulan. Bila mereka sering melakukan borongan, maka gaji pokok yang akan diterimanya pun akan cukup besar. Nilai koefisien regresi untuk variabel kepuasan kompensasi yang diterima oleh buruh pengolahan adalah 0.0598, artinya semakin puas buruh pengolahan menerima kompensasi yang diterimanya, yang dapat dilihat dengan bertambahnya satu nilai total skor dari buruh pengolahan akan dapat meningkatkan tingkat produktivitas kerja sebesar 0.0598 kg/HKE. Berdasarkan nilai VIF yang diperoleh

untuk variabel kepuasan kompensasi sebesar 2.4 menunjukkan bahwa variabel ini tidak memiliki masalah multikolinearitas dengan variabel bebas lainnya.

7.2.1.8 Hubungan Atasan dengan Bawahan Hubungan atasan dengan bawahan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tingkat kedekatan antara buruh pengolahan dengan mandornya. Hubungan kedekatan ini dinilai berdasarkan frekuensi konflik, frekuensi komunikasi, frekuensi pemberian bantuan dalam bekerja dan tanggapan terhadap pengawasan yang dilakukan mandor terhadap buruh pengolahan. Dari hasil pengolahan data pada tingkat kepercayaan 85 persen, hubungan atasan dengan bawahan berpengaruh nyata terhadap besarnya tingkat

produktivitas kerja. Setelah diuji dengan uji t maka dihasilkan nilai P-value sebesar 0.124. Hal ini sesuai dengan hipotesis awal dimana semakin

menyenangkan hubungan dengan mandor akan semakin tinggi pula tingkat produktivitasnya. Pada umumnya, buruh pengolahan mempunyai hubungan yang menyenangkan dengan mandor, tetapi ada pula yang menilai biasa saja. Buruh pengolahan merasa bila hubungannya dengan mandor cukup baik akan dapat membuat buruh tersebut merasa betah dan nyaman saat bekerja sehingga mereka tidak akan sungkan untuk bertanya saat bekerja bila ada yang tidak mereka mengerti mengenai pengolahan teh. Hasil regresi menunjukkan bahwa variabel hubungan atasan dengan bawahan ini mempunyai nilai koefisien regresi sebesar 0.6040. Hal ini berarti semakin menyenangkan hubungan atasan dengan bawahan maka akan meningkatkan produktivitas kerja sebesar 0.6040 kg/HKE. Berdasarkan nilai VIF

yang diperoleh untuk variabel hubungan atasan dengan bawahan sebesar 1.5 menunjukkan bahwa variabel ini tidak memiliki masalah multikolinearitas dengan variabel bebas lainnya.

7.2.1.9 Sistem Kerja Hasil pengolahan data penelitian, diperoleh bahwa pada tingkat kepercayaan 80 persen variabel ini berpengaruh nyata terhadap tingkat produktivitas. Selain itu ditunjukkan oleh besarnya thitung yang dari variabel ini sebesar 1.31 yang berarti lebih besar dari nilai ttabel sebesar 1.282 pada taraf nyata dua puluh persen. Hal ini sesuai dengan hipotesis awal dimana semakin sering buruh pengolahan melakukan sistem kerja borongan maka akan semakin tinggi pula tingkat produktivitasnya. Sistem kerja borongan dilakukan apabila pucuk basah yang diterima oleh bagian pengolahan melebihi 40 ton/ hari. Buruh pengolahan yang sering melakukan sistem kerja borongan, akan mempunyai nilai produktivitas yang tinggi. Hal ini disebabkan karena sistem kerja borongan dilakukan bila jumlah pucuk basah yang diterima setiap harinya melebihi 40 ton/ hari sehingga secara otomatis nilai produksi kering yang dihasilkan oleh buruh bagian pengolahan pun akan semakin besar jumlahnya. Dari hasil analisis regresi didapat koefisien untuk variabel sistem kerja sebesar 0.554. Dalam model regresi yang dipakai, variabel sistem kerja ini dinyatakan dalan bentuk dummy dimana untuk sistem bekerja borongan diberi nilai 1 dan nilai 0 untuk sistem kerja harian. Dengan koefisien regresi 0.554 berarti perbedaan jumlah produksi kering rata-rata antara sistem borongan dengan sistem harian adalah sebesar 0.554 kg/HKE dimana hasil produksi kering dengan

sistem borongan lebih banyak dibandingkan dengan sistem harian. Sedangkan nilai VIF diperoleh sebesar 2.1, hal ini berarti variabel ini tidak memiliki masalah multikolinearitas dengan variabel bebas lainnya.

7.2.1.10 Tunjangan Gaji Pada taraf nyata 20 persen, tunjangan berpengaruh nyata terhadap tingkat produktivitas. Hal ini dapat dilihat dari nilai thitung variabel ini sebesar |-1.38| yang berarti lebih besar dari ttabel pada persamaan ini sebesar 1.282. Berdasarkan keterangan di atas, hal ini sesuai dengan hipotesis awal yaitu buruh pengolahan yang menerima dan semakin besar jumlah tunjangan yang diperoleh akan meningkatkan tingkat produktivitas kerja dibandingkan yang tidak memperoleh tunjangan. Buruh pengolahan yang menerima tunjangan merasa bahwa besarnya nilai tunjangan yang diberikan oleh pihak perkebunan cukup membantu besarnya pengeluaran keluarga setiap bulannya, walaupun belum berarti besar. Peningkatan nilai tunjangan akan disesuaikan dengan peningkatan golongan buruh pengolahan tersebut, biasanya peningkatan golongan dilakukan setiap satu tahun sekali. Namun ada juga yang tidak mengalami peningkatan golongan, hal ini disebabkan karena buruh pengolahan tersebut dinilai tidak baik dalam bekerjanya. Hasil regresi menunjukkan nilai koefisien variabel ini sebesar –0.646. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan dalam jumlah tunjangan yang diterima sebesar Rp 100.000 per tahun akan menurunkan tingkat produktivitas sebesar 0.646 kg/HKE. Berdasarkan nilai VIF yang diperoleh adalah sebesar 1.5 menunjukkan bahwa peubah nilai tunjangan tidak memiliki masalah

multikolinearitas dengan variabel bebas lainnya sehingga dapat diperkirakan besarnya nilai koefisien variabel ini.

7.2.2 Variabel yang Tidak Berpengaruh Nyata Terhadap Produktivitas 7.2.2.1 Jenis Kelamin Berdasarkan hasil pengolahan data penelitian diperoleh bahwa pada taraf nyata 20 persen variabel ini tidak berpengaruh nyata terhadap besarnya tingkat produktivitas kerja buruh pengolahan di PTPN VIII Kebun Rancabali. Hal ini ditunjukkan oleh besarnya thitung dari variabel ini sebesar 1.04 yang berarti lebih kecil dari nilai ttabel sebesar 1.282. Hal ini tidak sesuai dengan hipotesis awal bahwa buruh pengolahan laki-laki mempunyai tingkat produktivitas yang lebih besar dibandingkan dengan buruh pengolahan perempuan. Umumnya, buruh pengolahan laki-laki mempunyai tenaga yang lebih besar dalam bekerja dibandingkan dengan buruh perempuan. Akan tetapi, buruh perempuan bisa mempunyai tingkat produktivitas yang tinggi pula dalam bekerja. Hal ini disebabkan karena di dalam setiap bagian proses pengolahan teh, setiap pekerjaan selalu menggunakan mesin ataupun alat bantu untuk memudahkan dalam bekerja sehingga tingkat produktivitas kerja buruh pengolahan perempuan pun akan sama dengan buruh pengolahan laki-laki. Peubah bebas variabel jenis kelamin mempunyai koefisien regresi sebesar 1.653. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kondisi yang sama, tingkat produktivitas kerja buruh pengolahan laki-laki lebih besar sebesar 1.653 kg/HKE dibandingkan dengan buruh pengolahan perempuan.

7.2.2.2 Tingkat Pendidikan Hasil pengolahan data penelitian menunjukkan bahwa pada taraf nyata 20 persen, variabel tingkat pendidikan tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat produktivitas. Hal ini ditunjukkan oleh nilai thitung dari variabel ini sebesar |-1.19| yang berarti lebih kecil daripada ttabel sebesar 1.282, sehingga hal ini tidak sesuai dengan hipotesis awal bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan maka akan semakin tinggi pula tingkat produktivitas kerja buruh pengolahan. Pihak

perkebunan telah menetapkan bahwa syarat menjadi buruh pengolahan minimal tamatan SD, sehingga banyak buruh pengolahan hanya lulusan SD dan SMP, hal ini disebabkan karena pekerjaan sebagai buruh pengolahan adalah pekerjaan kasar yang lebih memerlukan tenaga daripada ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh buruh tersebut, sehingga tingkat pendidikan tidak dipermasalahkan oleh pihak manajemen perkebunan. Besarnya koefisien variabel tingkat pendidikan formal yang diperoleh dari hasil analisis regresi adalah –0.6809. Angka ini menunjukkan bahwa jika pendidikan formal bertambah 1 tahun ceteris paribus, maka tingkat produktivitas kerja akan menurun sebesar 0.6809 kg/HKE.

7.2.2.3 Alokasi Waktu Kerja Hasil analisis regresi diperoleh koefisien regresi sebesar 0.4088. Hal ini berarti apabila terjadi penambahan satu jam kerja dalam sehari akan meningkatkan jumlah produksi kering sebanyak 0.4088 kg/HKE. Berdasarkan hasil pengolahan data, variabel alokasi waktu kerja tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat produktivitas. Hal ini ditunjukkan oleh nilai thitung yang diperoleh

dari variabel ini sebesar 0.75 yang berarti lebih kecil dari nilai ttabel yang diperoleh dari persamaan ini sebesar 1.282, pada taraf nyata 20 persen. Hal ini tidak sesuai dengan hipotesis awal bahwa semakin banyak alokasi waktu yang digunakan untuk bekerja, maka akan semakin besar pula tingkat produktivitas kerjanya. Semakin lama alokasi waktu kerja yang digunakan, belum tentu produktivitasnya pun akan semakin besar. Hal ini dapat saja disebabkan produksi yang dihasilkan oleh salah satu bagian dalam proses pengolahan tidak berjalan dengan baik, sehingga diperlukan waktu yang lebih lama untuk mengolahnya kembali sesuai dengan standar mutu yang telah ditentukan oleh pihak perkebunan. Selain itu, dapat pula disebabkan oleh rusaknya salah satu mesin pengolahan sehingga diperlukan waktu yang lebih lama dalam pengolahan teh karena tidak berfungsinya salah satu mesin pengolahan.

7.2.2.4 Jumlah Pendapatan diluar Penghasilan Buruh Pengolahan Selain pendapatan yang diperoleh dari penghasilan sebagai buruh pengolahan, pendapatan total keluarga juga dapat berasal dari usaha lain seperti bertani, berdagang, serta dari usaha rumah tangga lainnya yang dilakukan oleh anggota keluarga yang lain. Jumlah pendapatan yang diperoleh dari usaha diluar penghasilan buruh pengolahan yang dilakukan responden diduga mempengaruhi produktivitas kerja buruh pengolahan. Hasil pengolahan data penelitian menunjukkan bahwa pada taraf nyata 20 persen, jumlah pendapatan diluar penghasilan sebagai buruh pengolahan tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat produktivitas kerja. Hal ini ditunjukkan oleh nilai thitung dari variabel ini sebesar |-0.27| yang berarti lebih kecil daripada nilai

ttabel pada persamaan ini sebesar 1.282. Berdasarkan hasil di atas, dapat disimpulkan bahwa hipotesis awal tidak sesuai dimana semakin besar jumlah pendapatan diluar penghasilan sebagai buruh pengolahan akan menyebabkan menurunnya tingkat produktivitas kerja. Hal ini disebabkan karena jumlah pendapatan diluar tersebut biasanya dihasilkan oleh anggota keluarga lainnya baik itu istri, ibu, ataupun bapak, sehingga tidak akan mengganggu produktivitas kerja responden yang memang bekerja hanya sebagai buruh pengolahan. Selain itu, hasil pendapatan diluar buruh pengolahan pun tidak terlalu besar sehingga buruh pengolahan pun harus tetap bekerja dengan giat agar mendapatkan penadapatan yang lebih besar lagi. Hasil regresi menunjukkan bahwa nilai koefisien regresi dari variabel jumlah pendapatan diluar penghasilan sebagai buruh pengolahan ini bernilai 0.362. Karena satuan yang digunakan dalam variabel ini adalah Rp 00.000/tahun, maka peningkatan pendapatan diluar penghasilan buruh pengolahan yang dilakukan responden sebesar Rp 100.000/tahun akan menyebabkan tingkat produktivitas menurun sebesar 0.362 kg/HKE.

7.2.2.5 Jumlah Pengeluaran Keluarga Hasil regresi menunjukkan nilai koefisien variabel jumlah pengeluaran keluarga yaitu sebesar -0.087. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan dalam jumlah pengeluaran rata-rata keluarga sebesar Rp 100.000 per tahun akan menurunkan produktivitas sebesar 0.087 kg/HKE. Berdasarkan hasil pengolahan data penelitian diperoleh bahwa pada tingkat kepercayaan 80 persen variabel ini tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat produktivitas kerja. Selain itu,

ditunjukkan oleh nilai thitung yang diperoleh dari persamaan ini untuk variabel tersebut adalah sebesar |-0.08| jauh lebih kecil daripada ttabel sebesar 1.282 pada taraf nyata 20 persen. Hal ini tidak sesuai dengan hipotesis awal yaitu semakin banyak jumlah pengeluaran rata-rata keluarga setiap bulannya akan meningkatkan produktivitas kerja buruh pengolahan. Semakin banyak jumlah pengeluaran

keluarga setiap bulannya, akan dapat membuat produktivitas buruh pengolahan menjadi menurun. Hal ini disebabkan karena buruh pengolahan akan mencoba mencari pendapatan lain diluar penghasilan sebagai buruh pengolahan. Walaupun buruh pengolahan mencari pendapatan sampingan setelah bekerja sebagai buruh pengolahan, tetap saja hal tersebut dapat membuat produktivitas kerjanya menurun karena buruh pengolahan tidak bisa berkonsentrasi lagi dalam bekerja karena disebabkan kelelahan dalam bekerja dan kurangnya istirahat yang seharusnya dilakukan.

7.2.2.6 Cuti Tahunan Variabel cuti tahunan mempunyai nilai koefisien sebesar –0,2013 yang artinya apabila penambahan cuti tahunan yang diperoleh buruh pengolahan akan dapat menurunkan tingkat produktivitas kerja sebesar 0,2013 kg/HKE. Pada taraf nyata 20 persen nilai cuti tahunan tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat produktivitas kerja, selanjutnya dapat dilihat pada nilai thitung yang diperoleh adalah sebesar |-0.52| yang berarti jauh lebih kecil daripada nilai ttabel dalam persamaan ini sebesar 1.282. Hal ini tidak sesuai dengan hipotesis awal, dimana semakin banyak buruh pengolahan mengambil cuti tahunan sampai saat ini akan dapat menurunnya tingkat produktivitas kerja buruh pengolahan. Setiap buruh

pengolahan akan mendapat jatah cuti tahunan sebanyak 12 hari, dan buruh pengolahan pun bebas untuk mengambil jatah cutinya setiap saat diperlukan. Cuti tahunan tidak membawa pengaruh dapat menurunkan tingkat produktivitas karena cuti tahunan merupakan hal yang sudah diberikan oleh pihak perkebunan kepada karyawannya.

7.2.2.7 Hubungan Sesama Buruh Pengolahan Dari hasil pengolahan data pada tingkat kepercayaan 80 persen, hubungan sesama buruh tidak berpengaruh nyata terhadap besarnya tingkat produktivitas kerja, hal ini dapat dilihat dari nilai thitung yang diperoleh dari persamaan ini adalah |-0.62| yang berarti lebih kecil dari nilai ttabel sebesar 1.282. Hal ini tidak sesuai dengan hipotesis awal dimana semakin menyenagkan hubungan dengan sesama buruh pengolahan akan dapat meningkatkan produktivitas kerja buruh pengolahan. Hubungan sesama buruh pengolahan dianggap sebagai hubungan yang biasa saja seperti hubungan teman lainnya sehingga buruh pengolahan pun tidak merasa dengan baiknya hubungan sesama buruh pengolahan akan dapat meningkatkan produktivitas kerja, karena selain itu dalam bekerja pun kadangkadang terjadi konflik antara sesama buruh. Dari hasil analisis regresi, diketahui bahwa nilai koefisien variabel hubungan dengan sesama buruh pengolahan adalah –0.3948. Hal ini menunjukkan bahwa buruh pengolahan yang menganggap hubungan dengan sesama buruh pengolahan menyenangkan akan menurunkan tingkat produktivitas kerja sebesar 0.3948 kg/HKE.

VIII KESIMPULAN DAN SARAN

8.1 Kesimpulan Dari hasil dan pembahasan yang telah dikemukakan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut : 1) Karakteristik buruh pengolahan yang ada di PT Perkebunan Nusantara VIII Kebun Rancabali sebagian besar laki-laki dengan jumlah 31 orang laki-laki, dengan usia responden berkisar antara 21 – 55 tahun dan tingkat pendidikan rata-rata tamatan SD dengan jumlah 35 orang. Pengalaman kerja buruh pengolahan berkisar antara 1 –35 tahun, dan rata-rata berstatus buruh tetap dengan alokasi waktu kerja per hari 8 jam/HKE. Sistem kerja yang dilakukan adalah sistem kerja borongan. Jumlah pendapatan pokok yang diterima buruh pengolahan rata-rata Rp 360.000 – Rp 400.000 per bulan, dan rata-rata pendapatan diluar penghasilan sebagai buruh pengolahan adalah Rp 110.000 – Rp 150.000. Jumlah pengeluaran rata-rata keluarga per bulan adalah Rp 560.000 – Rp 600.000. Besarnya tunjangan yang biasa diterima oleh buruh pengolahan adalah sebesar Rp 112.000 – Rp 116.000. Buruh pengolahan ratarata merasa puas dengan sistem kompensasi yang diberikan oleh pihak perkebunan, sedangkan hubungan atasan dengan bawahan ataupun hubungan sesama buruh pengolahan, rata-rata responden menyatakan menyenangkan. Sedangkan hasil kuisioner menunjukkan nilai rata-rata produktivitas pada bulan Juli 2005 lebih dari 110 kg/HKE. 2) Nilai koefisien determinasi (R2) yang diperoleh sebesar 79.8 persen. Hal ini berarti bahwa variasi nilai Y (tingkat produktivitas kerja) dapat dijelaskan 79.8 persen, sedangkan sisanya 20.2 persen diterangkan oleh faktor-faktor yang

lain yang tidak terdapat dalam model. Faktor-faktor yang berpengaruh nyata pada taraf satu persen adalah usia; pada taraf lima persen adalah masa kerja, status kerja, jumlah tanggungan keluarga, jumlah pendapatan pokok dan bonus akhir tahun; pada taraf sepuluh persen adalah kepuasan kompensasi yang diterima; pada taraf 15 persen adalah hubungan atasan dengan bawahan; pada taraf 20 persen adalah sistem kerja dan tunjangan. Faktor-faktor yang tidak berpengaruh adalah jenis kelamin, tingkat pendidikan, alokasi waktu kerja, jumlah pendapatan diluar penghasilan sebagai buruh pengolahan, jumlah pengeluaran rata-rata keluarga setiap bulan, cuti tahunan, dan hubungan sesama buruh pengolahan.

8.2 Saran Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan di atas, kepada pihak PTPN VIII dapat diberikan beberapa saran diantaranya: 1) PTPN VIII sebaiknya lebih memperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas kerja buruh pengolahan seperti usia, status kerja, jumlah pendapatan pokok, dan bonus akhir tahun yang akan diterima, sehingga buruh pengolahan dapat bekerja dengan lebih baik lagi. 2) Sebaiknya pihak PTPN VIII Kebun Rancabali lebih sering memberikan bonus-bonus diluar bonus akhir tahun ataupun fasilitas-fasilitas lainnya sehingga seluruh buruh olah akan merasa lebih puas lagi dengan segala macam kompensasi yang akan diterimanya. 3) Sebaiknya pihak PTPN VIII bagian pengolahan dapat bekerjasama dengan pihak perkebunan khususnya bagian pemetikan, sehingga nilai produksi pucuk

teh yang dihasilkan dapat sesuai dengan yang diinginkan oleh bagian pengolahan. 4) Pekerjaan sebagai buruh pengolahan memerlukan ketrampilan yang tinggi, oleh karena itu sebaiknya sering diadakan pelatihan internal kepada buruh pengolahan tentang cara-cara pengolahan teh sesuai dengan standar pihak perkebunan yaitu standar mutu ISO 9001-2000.

DAFTAR PUSTAKA Aroef, M. 1986. Pengukuran Produktivitas Kebutuhan Mendasar di Indonesia. Prisma No.11. LP3ES. Jakarta. Atmosoeprapto, K. 2000. Produktivitas Aktualisasi Budaya Perusahaan Mewujudkan Organisasi yang Efektif Melalui SDM Berdaya. PT. Elex Media Komputindo. Jakarta. Badan Pusat Statistik. 2004. Ekspor Indonesia Menurut Kode ISIC Tahun 2004. BPS. Jakarta. ________________ . 2004. Buletin Statistik Perdagangan Luar Negeri (Ekspor). BPS. Jakarta. ________________ . 2004. Statistik Indonesia. BPS. Jakarta. Gujarati, D. 1991. Ekonometrika Dasar. PT Erlangga. Jakarta. Hasibuan, M. S. 2001. Manajemen Sumberdaya Manusia. Edisi Revisi. PT Bumi Aksara. Jakarta. Kurnia, K. 2003 Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja Pemetik Teh di PT. Perkebunan Nusantara VIII Kebun Papandayan Kabupaten Garut. Skripsi. Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Kussriyanto, B. 1986. Peningkatan Produktivitas Karyawan. PT. Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta. Mangkuprawira, S. T. 2002. Manajemen Sumberdaya Manusia Strategik. Ghalia Indonesia. Jakarta. Manullang, M. 1990. Pengukuran Produktivitas dengan Menggunakan Metode Nilai Tambah. Pusat Produktivitas Nasional Dewan Produksi Nasional. Jakarta. __________ . 1994. Manajemen Personalia. PT Ghalia Indonesia. Jakarta. Nasir, M. 1998. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta. Nawawi, H. 2001. Manajemen Sumberdaya Manusia untuk Bisnis yang Kompetitif. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Pratiwi. 1999. Analisis Produksi Teh dan Penetuan Saat Optimum Pemangkasan Tanaman Teh (Studi Kasus: Kebun Percobaan Pasir Sarongge-PPTK Gambung). Skripsi. Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Rachmatulloh, Y. 2003. Sistem Kompensasi di PTPN VIII Perkebunan Jalupang Subang, Jawa Barat : Kajian Aspek Kepuasan Kerja dan Produktivitas. Skripsi. Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Ravianto, J. dkk. 1985. Produktivitas dan Tenaga Kerja Indonesia. SIUP. PT. Binaman Teknika Aksara. Jakarta. Ravianto, J. 1986. Produktivitas dan Pengukuran. SIUP. PT. Binaman Teknika Aksara. Jakarta. Reksasudharma, C. 1989. Peningkatan Produktivitas dan Mutu. Jurnal Ekonomi Desember 1989 tahun kedua Vol. I No. I. Fakultas Ekonomi. UKI. Jakarta. Sarwoko. 2005. Dasar-Dasar Ekonometrika. PT. Andi. Yogyakarta. Simanjuntak, P. 1985. Produktivitas Kerja: Pengertian dan Ruang Lingkupnya. Prisma No. II. LP3ES. Jakarta. Sinungan, M. 2005. Produktivitas Apa dan Bagaimana. Aksara Persada Press. Jakarta. Sutanto, S. 2000. Analisis Sistem Kompensasi dan Kaitannya dengan Motivasi dan Produktivitas (Kasus Pemetik Teh Perkebunan Patuahwattee PT MP Indorub Sumber Wadung, PT Smart, Tbk., Bandung Selatan). Skripsi. Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Tim Penulis PS. 1993. Pembudidayaan dan Pengolahan Teh. Penebar Swadaya. Jakarta. Walpole, R. E. 1992. Pengantar Statistika. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Zulkarnain, A. 2004. Analisis Sistem Kompensasi Serta Pengaruhnya Terhadap Motivasi dan Produktivitas Tenaga Pemetik Teh (studi Kasus: Perkebunan Teh Cianten PTPN VIII). Skripsi. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Insitut Pertanian Bogor.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Struktur Organisasi PT Perkebunan Nusantara VIII Kebun Rancabali

Lampiran 2. Jumlah Produksi Kering PTPN VIII Kebun Rancabali Tahun 2002 2003 2004 2005 : - Januari s/d Januari - Februari s/d Februari - Maret s/d Maret - April s/d April - Mei s/d Mei - Juni s/d Juni Produksi Kering (kg) 2.718.550 2.757.893 2.383.196 244.375 244.375 225.637 470.012 219.798 689.810 253.797 943.607 256.111 1.199.718 280.609 1.480.327

Sumber: Evaluasi Produksi Bagian Pengolahan, PTPN VIII Kebun Rancabali

Lampiran 3. Hasil Analisis Regresi
Regression Analysis: Y versus X1; X2; ...
The regression equation is Y = 106 - 0.380 X1 - 0.681 X2 + 2.72 X3 + 0.409 X4 + 1.69 X5 + 2.21 X6 - 0.36 X7 - 0.09 X8 - 0.646 X9 + 2.173 X10 - 0.201 X11 + 0.060 X12 + 0.604 X13 - 0.395 X14 + 1.65 D1 + 5.61 D2 + 0.55 D3 Predictor Constant X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10 X11 X12 X13 X14 D1 D2 D3 S = 3.599 Coef 105.53 -0.3800 -0.6809 2.722 0.4088 1.6896 2.206 -0.362 -0.087 -0.6460 2.1753 -0.2013 0.0598 0.6040 -0.3948 1.653 5.610 0.554 StDev 16.51 0.1334 0.5733 1.065 0.5442 0.8490 1.009 1.336 1.088 0.6497 1.063 0.3855 0.5912 0.5605 0.6385 1.591 2.219 1.623 T 6.39 -2.85 -1.19 2.56 0.75 1.99 2.19 -0.27 -0.08 -1.38 2.13 -0.52 1.85 1.44 -0.62 1.04 2.53 1.31 P 0.000 0.002 0.245 0.017 0.459 0.041 0.038 0.789 0.937 0.189 0.035 0.606 0.082 0.124 0.542 0.308 0.018 0.173 VIF 2.8 1.8 2.5 1.5 2.7 2.2 2.8 2.0 1.5 3.2 1.3 2.4 1.5 1.5 1.9 2.2 2.1

R-Sq = 79.8%

R-Sq(adj) = 67.4%

Analysis of Variance Source Regression Error Total DF 17 27 44 SS 1164.34 349.66 1514.00 MS 68.49 12.95 F 16.36 P 0.000

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->