P. 1
ANALISIS SISTEM PENGADAAN DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU JAMU TRADISIONAL PADA PT X BOGOR

ANALISIS SISTEM PENGADAAN DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU JAMU TRADISIONAL PADA PT X BOGOR

|Views: 302|Likes:
Published by KARYAGATA MANDIRI

More info:

Published by: KARYAGATA MANDIRI on Jul 30, 2012
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

02/27/2014

ANALISIS SISTEM PENGADAAN DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU JAMU TRADISIONAL PADA PT X BOGOR

Oleh :

HELENA A07400143

PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2005

RINGKASAN
HELENA. Analisis Sistem Pengadaan dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Jamu Tradisional Pada PT X Bogor. Di bawah bimbingan NETTI TINAPRILLA.

Industri jamu tradisional yang mengolah tanaman obat sebagai bahan bakunya sangat tergantung pada sumber daya alam dalam memperoleh tanaman obat, yang umumnya bersifat musiman dari areal produksi yang tersebar. Pengadaan dan pengendalian persediaan bahan baku memegang peranan penting dalam menentukan efektivitas dan efisiensi proses produksi. Dua kendala yang dihadapi dalam pengadaan persediaan bahan baku adalah pertama, jika persediaan bahan baku yang ditetapkan perusahaan terlalu besar maka perusahaan akan menghadapi tingginya biaya penyimpanan dan resiko kerusakan bahan akibat terlalu lama disimpan. Kedua, jika persediaan terlalu kecil maka akan menghambat kelancaran proses produksi dan tingginya biaya pemesanan akibat pemesanan yang berulang-ulang. Untuk dapat menjaga kelangsungan proses produksi dan efisiensi biaya, perusahaan perlu merencanakan dengan tepat suatu sistem pengadaan dan pengendalian persediaan bahan bakunya. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan pada perusahaan yang bergerak dalam industri jamu tradisional dengan tujuan (1) menganalisis kebijakan pengendalian bahan baku yang diterapkan perusahaan dan (2) memberikan model alternatif pengendalian bahan baku bagi perusahaan sehingga dapat meminimumkan biaya yang terkait dengan adanya persediaan bahan baku. Penelitian dilakukan pada PT X di daerah Bogor Jawa Barat yang mengolah tanaman obat (simplisia) menjadi jamu tradisional dalam bentuk kapsul dan teh herbal. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa PT X merupakan satu-satunya perusahaan yang memproduksi jamu tradisional yang terdaftar pada Dinas Kesehatan Kota Bogor. Penentuan jumlah persediaan simplisia baik dari segi tingkat pemesanan ataupun kuantitas pembeliannya dianalisis dengan menggunakan metode Material Requirement Planning (MRP) dengan penentuan ukuran lot teknik Lot For Lot (LFL), Economic Order Quantity (EOQ) dan Part Period Balancing (PPB). Simplisia yang digunakan PT X dalam proses produksi berjumlah 21 jenis. Dalam penelitian ini simplisia yang dianalisis dibatasi dengan sistem klasifikasi ABC yang menerapkan ”Pareto Analysis” yang membagi bahan baku me njadi tiga kelas yaitu A,B dan C berdasarkan nilai pembeliannya. Bahan baku yang dianalisis adalah simplisia yang termasuk dalam kelas A yaitu jahe merah dan adas soa. Simplisia yang digunakan oleh PT X diperoleh dari pemasok yang berada di Yogyakarta dan pasar tradisional di daerah Bogor. Sistem pengadaan simplisia yang dilakukan perusahaan berdasarkan pada rencana produksi selama satu tahun. Metode yang digunakan oleh perusahaan dalam penggunaan simplisia adalah metode First In First Out (FIFO) yaitu persediaan simplisia yang pertama kali masuk gudang penyimpanan digunakan terlebih dahulu pada proses produksi.

Metode ini dipakai untuk menghindari kerusakan simplisia akibat terlalu lama disimpan di gudang. Dalam kebijakan pengendalian persediaan simplisia PT X belum menerapkan metode tertentu. Berdasarkan kebijakan perusahaan biaya pemesanan untuk simplisia jahe merah selama tahun 2004 sebesar Rp 3.075.000,00 dan simplisia adas soa sebesar Rp 1.950.000,00 sedangkan biaya penyimpanan untuk simplisia jahe merah sebesar Rp 1.467.835,87 dan simplisia adas soa sebesar Rp 674.657,28. Total biaya persediaan yang dikeluarkan perusahaan untuk kedua simplisia tersebut adalah Rp 4.542.835,87 untuk simplisia jahe merah dan Rp 2.624.657,28 untuk simplisia adas soa. Hasil analisis pengendalian persediaan simplisia dengan menggunakan metode MRP menunjukkan bahwa metode MRP dapat memberikan penghematan bagi pengeluaran biaya dari kebijakan perusahaan. Metode MRP teknik PPB memberikan penghematan terbesar pada biaya persediaan. Untuk simplisia jahe merah biaya pemesanan yang dihasilkan teknik PPB adalah sebesar Rp 750.000,00 dengan frekuensi pemesanan sebanyak 10 kali dan biaya penyimpanan sebesar Rp 695.746,49 sehingga total biaya persediaan selama setahun sebesar Rp 1.445.746,00. Untuk simplisia adas soa biaya pemesanan yang dihasilkan teknik PPB sebesar Rp 375.000,00 dan biaya penyimpanan sebesar Rp 273.563,14, sehingga total biaya persediaan selama setahun sebesar Rp 776.094,14. Penghematan biaya pemesanan yang dihasilkan teknik PPB terhadap kebijakan perusahaan untuk simplisia jahe merah sebesar Rp 2.325.000,00 atau sebesar 75,6 persen sedangkan untuk simplisia adas soa sebesar Rp 1.575.000,00 atau sebesar 80,76 persen. Biaya penyimpanan yang dihemat untuk simplisia jahe merah adalah sebesar Rp 772.089,38 atau sebesar 54,93 persen sedangkan untuk simplisia adas soa sebesar Rp 273.563,14 atau sebesar 40,55 persen. Total biaya persediaan yang dihemat untuk simplisia jahe merah adalah sebesar Rp 3.097.089,38 atau sebesar 68,18 persen dan untuk simplisia adas soa adalah sebesar Rp 1.848.563,14 atau sebesar 69,56 persen. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh maka disarankan agar (1) perusahaan menggunakan metode MRP teknik PPB karena memberikan penghematan biaya persediaan terbesar, (2) biaya yang dihemat dapat dipakai untuk meningkatkan kualitas produk, sehingga dapat meningkatkan daya saing dan (3) perusahaan tetap menjaga hubungan dan kerjasama yang baik kepada pihak pemasok untuk memudahkan perusahaan memperoleh simplisia yang berkualitas dengan harga yang relatif stabil sesuai standar yang disetujui bersama.

ANALISIS SISTEM PENGADAAN DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU JAMU TRADISIONAL PADA PT X BOGOR

Oleh :

HELENA A07400143

Skripsi Sebagai Bagian Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR Desember, 2005

PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR Dengan ini menyatakan bahwa Skripsi yang disusun oleh : Nama NRP Judul Skripsi : : : Helena A07400143 Manajemen Agribisnis Analisis Sistem Pengadaan dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Jamu Tradisional Pada PT X Bogor

Program Studi :

dapat diterima sebagai bagian persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Ir. Netti Tinaprilla, MM NIP. 132 133 965

Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. H. Supiandi Sabiham, M.Agr NIP. 130 422 698

Tanggal Lulus : 13 Desember 2005

PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL “ANALISIS SISTEM PENGADAAN DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU JAMU TRADISIONAL PADA PT X BOGOR” BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU

LEMBAGA LAIN MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN

RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.

Bogor, 13 Desember 2005

Helena A07400143

RIWAYAT HIDUP
Helena dilahirkan di Jakarta pada tanggal 1 November 1981 dari ayah Henry Alfred Joseph Mamesah dan ibu Nuryani. Penulis merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Tahun 2000 penulis lulus dari SMU Negeri 81 Jakarta dan pada tahun 2000 lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Penulis memilih Program Studi Manajemen Agribisnis, Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian. Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif dalam acara-acara kegiatan kampus. Untuk kegiatan di luar kampus penulis juga aktif mengikuti kegiatankegiatan perkumpulan pecinta trah Golden Retriever di Jakarta.

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkat dan karunia-Nya yang besar yang memberikan segala hikmat dan kekuatan sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Judul skripsi ini adalah “Analisis Sistem Pengadaan dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Jamu Tradisional Pada PT X Bogor”. Sesuai dengan judul tersebut, skripsi ini menganalisis kebijakan PT X Bogor mengenai sistem pengadaan dan persediaan bahan baku jamu tradisional yang selama ini dilakukan oleh pihak perusahaan untuk mencari alternatif model pengendalian persediaan yang optimum. Penulis menyadari kekurangan dalam penulisan skripsi ini sehingga diperlukan kritik dan saran untuk perbaikan skripsi ini. Penulis berharap penelitian yang dilakukan dapat diterima dan dimanfaatkan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan pihak lain yang berkepentingan.

Bogor, Desember 2005

Penulis

UCAPAN TERIMA KASIH
Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada : 1. Ir. Netti Tinaprilla, MM selaku dosen pembimbing yang dengan kesabaran telah memberikan bimbingan, arahan, kritik dan saran dalam melakukan penelitian dan penyusunan skripsi ini. 2. Ir. Anna Fariyanti, MS selaku dosen penguji utama yang telah memberikan saran dan arahan yang sangat membantu dalam penyelesaian skripsi ini. 3. Dra. Yusalina, MS selaku dosen penguji komisi pendidikan yang telah memberikan saran dan arahan yang sangat membantu dalam penyelesaian skripsi ini. 4. Orang Tua Papa dan Mama dan kakak-kakak atas dukungan dan doanya selama penulisan skripsi. 5. Max, Chirripa dan Mathilda atas kebersamaan selama ini dalam suka dan duka. 6. Bapak Chairul selaku pimpinan PT X atas kesempatan yang diberikan untuk melaksanakan penelitian ini. 7. Ibu Farida dan Mas Yudi selaku staf PT X yang telah membimbing dan memberikan saran serta masukan selama penulis melakukan penelitian. 8. John S. Cay atas doa, dukungan, bantuan dan perhatian yang diberikan dengan tulus kepada penulis selama ini. Thank you for loving me just the way I am. I love you. 9. Anissa, Inoe, Nia, Dhona, Mirenk, Terra, Nink-Nink, B-No, Santi dan Yanti untuk persahabatan dan dukungan selama ini. Thank God for giving me the chance to know these wonderful people. You’re the best guys. 10. Nanda, Kribo, Irma, Lenni, Debbi “Juju” atas kebersamaan selama penulis tinggal di Bogor. 11. Kiki “Mbee”, Indry, Fitri, Septi, Teguh, Mirvan “Cekel” dan Dona atas persahabatan selama ini, semoga awet sampai seterusnya. 12. Ardian K.G atas kesetiakawanan, kesabaran dan bantuan yang diberikan kepada penulis selama proses pembuatan proposal dan penelitian.

13. Popon atas bantuan selama ini khususnya pada saat penulis mengikuti ujian sidang skripsi. 14. Teh Ida (KOMDIK), Suprehatin, SP (staf sekretariat AGB), Mas Hamid (staf sekretariat MAB) dan segenap staf Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. 15. Teman-teman AGB 37 yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

DAFTAR ISI
Halaman DAFTAR ISI .............................................................................................. viii DAFTAR TABEL ...................................................................................... xi DAFTAR GAMBAR ................................................................................. xiii DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................. xiv BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1.1 Latar Belakang ......................................................................... 1.2 Perumusan Masalah ................................................................. 1.3 Tujuan Penelitian ..................................................................... 1.4 Kegunaan Penelitian................................................................. BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................ 2.1 Deskripsi Simplisia .................................................................. 2.2 Tanaman Obat Tradisional ....................................................... 2.3 Sentra Produksi Tanaman Obat ................................................ 2.4 Industri Obat Tradisional ......................................................... 2.5 Hasil Penelitian Terdahulu ....................................................... 2.5.1 Tinjauan Hasil Penelitian Terdahulu Mengenai Pengendalian Persediaan Bahan Baku ............................ 2.5.2 Tinjauan Hasil Penelitian Terdahulu Mengenai Pengendalian Persediaan Simplisia................................. BAB III KERANGKA PEMIKIRAN ........................................................ 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis ................................................ 3.1.1 Pengadaan Bahan Baku ................................................ 3.1.2 Konsep Persediaan ....................................................... 3.1.3 Jenis-Jenis Persediaan .................................................. 3.1.4 Fungsi Persediaan......................................................... 3.1.5 Biaya Persediaan .......................................................... 3.1.6 Pengendalian Persediaan Bahan Baku ......................... 3.1.7 Metode Analisis ABC .................................................. 3.1.8 Model-Model Dalam Pengendalian Persediaan Bahan Baku .................................................................. 3.1.8.1 Teknik Lot For Lot (LFL) ................................ 3.1.8.2 Teknik Economic Order Quantity (EOQ) ........ 3.1.8.3 Teknik Part Period Balancing (PPB) .............. 3.2 Kerangka Pemikiran Operasional.......................................... 3.2.1 Sistem Pengadaan dan Penanganan Bahan Baku ......... 3.2.2 Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku ........... 3.2.3 Alternatif Metode Pengendalian Persediaan Bahan Baku ............................................................................. 1 1 4 6 7 8 8 10 12 13 15 15 16 18 18 19 19 20 20 21 23 24 26 29 29 32 32 33 33 34

BAB IV METODE PENELITIAN ............................................................ 4.1 Lokasi Penelitian ................................................................... 4.2 Metode Pengumpulan Data ................................................... 4.3 Metode Pengolahan dan Analisis Data.................................. 4.3.1 Identifikasi Kondisi Perusahaan Dalam Manajemen Pengendalian Persediaan Bahan Baku ......................... 4.3.2 Penentuan Bahan Baku Pokok Perusahaan .................. 4.3.3 Pendugaan dan Penentuan Biaya Persediaan ............... 4.3.4 Penentuan Volume Pemakaian Bahan Baku ................ 4.3.5 Penyesuaian dan Penentuan Waktu Tunggu Bahan Baku ............................................................................. 4.3.6 Analisis Model Pengendalian Persediaan Bahan Baku ............................................................................. 4.4 Perbandingan Antar Berbagai Model .................................... 4.4.1 MRP Teknik Lot For Lot (LFL) ................................... 4.4.2 MRP Teknik Economic Order Quantity (EOQ) .......... 4.4.3 MRP Teknik Part Period Balancing (PPB) ................. 4.4.4 Kebijakan Perusahaan .................................................. 4.5 Analisis Perbandingan Biaya ................................................ 4.6 Definisi Operasional.............................................................. BAB V GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN...................................... 5.1 Sejarah Berdirinya Perusahaan.............................................. 5.2 Struktur Organisasi Perusahaan ............................................ 5.3 Produk dan Strategi Pemasaran PT X ................................... 5.3.1 Produk .......................................................................... 5.3.2 Strategi Pemasaran ....................................................... 5.4 Proses Produksi Jamu PT X .................................................. 5.4.1 Proses Produksi Jamu Kapsul ...................................... 5.4.2 Proses Produksi Teh Herbal ......................................... BAB VI SISTEM PERSEDIAAN BAHAN BAKU.................................. 6.1 Jenis, Asal dan Kualitas Bahan Baku .................................... 6.2 Perencanaan Pengadaan Bahan Baku.................................... 6.3 Prosedur Pembelian Bahan Baku .......................................... 6.4 Sistem Pengadaan Bahan Baku ............................................. BAB VII ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN SIMPLISIA PT X ............................................................................................ 7.1 Klasifikasi Bahan Baku ......................................................... 7.2 Biaya Persediaan ................................................................... 7.3 Pemakaian Bahan Baku......................................................... 7.4 Waktu Tunggu Pengadaan Bahan Baku ................................ 7.5 Sistem Pengendalian Persediaan Bahan Baku PT X ............. 7.5.1 Kebijakan Pengendalian Persediaan Bahan Baku pada PT X..................................................................... 7.5.2 Metode MRP (Material Requirement Planning) ......... 7.5.2.1 Metode MRP Teknik Lot For Lot (LFL) ......... 7.5.2.2 Metode MRP Teknik Economic Order Quantity (EOQ) ................................................

37 37 37 38 38 38 39 40 41 41 43 43 44 45 47 47 48 49 49 50 53 53 53 54 55 56 58 58 59 59 60 63 63 64 66 67 68 68 71 71 73

7.5.2.3 Metode MRP Teknik Part Period Balancing (PPB) ................................................................ 7.5.3 Analisis Perbandingan Metode Pengendalian Persediaan .................................................................... 7.5.3.1 Analisis Perbandingan Metode Pengendalian pada Tiap Jenis Simplisia................................. 7.5.3.2 Rekapitulasi Perbandingan pada Keseluruhan Persediaan Simplisia ........................................ 7.5.4 Analisis Penghematan Terhadap Kebijakan Perusahaan.................................................................... 7.5.5 Alternatif Model Pengendalian Persediaan Simplisia ......................................................................

76 78 79 82 84 88

BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN .................................................. 90 8.1 Kesimpulan ........................................................................... 90 8.2 Saran...................................................................................... 91 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 93 LAMPIRAN ............................................................................................... 95

DAFTAR TABEL
Nomor Teks 1 Jumlah Industri Obat Tradisional (IOT) dan Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) di Indonesia Tahun 1999-2002 ..................................................................... Volume Penggunaan Simplisia pada Industri Obat Tradisional di Indonesia (kg) ................................................... Rekapitulasi Produksi dan Penjualan Produk Jamu PT X Tahun 2000-2002 ..................................................................... Halaman

2 3 6

2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18

Cara Perhitungan Bagian Periode ............................................ 32 Format Perencanaan Kebutuhan Bahan Baku (MRP) .............. 41 Spesifikasi Tenaga Kerja PT X Tahun 2004 ............................ 50 Tingkat Pembelian Simplisia Jahe Merah dan Adas Soa (kg) PT X Tahun 2004 ..................................................................... 61 Komponen Biaya Pemesanan per Pesanan Simplisia Jahe Merah dan Adas Soa (Rp) PT X, 2004 .................................... 64 Komponen Biaya Penyimpanan per Unit Simplisia Jahe Merah dan Adas Soa (Rp) PT X, 2004 .................................... 66 Tingkat Pemakaian Persediaan Simplisia Jahe Merah dan Adas Soa PT X, 2004 .............................................................. 67 Frekuensi Pemesanan dan Kuantitas Pesanan dengan Kebijakan yang Diterapkan PT X, 2004 .................................. 69 Biaya Persediaan Simplisia Jahe Merah dan Adas Soa dengan Kebijakan PT X, 2004 ................................................. 70 Frekuensi Pemesanan dan Kuantitas Pesanan dengan Metode MRP Teknik LFL PT X, 2004 .................................... 72 Biaya Persediaan Simplisia Jahe Merah dan Adas Soa dengan Metode MRP Teknik LFL PT X, 2004........................ 73 Frekuensi Pemesanan dan Kuantitas Pesanan dengan Metode MRP Teknik EOQ PT X, 2004 ................................... 74 Biaya Persediaan Simplisia Jahe Merah dan Adas Soa dengan Metode MRP Teknik EOQ PT X, 2004....................... 75 Frekuensi Pemesanan dan Kuantitas Pesanan dengan Metode MRP Teknik PPB PT X, 2004 .................................... 77 Biaya Persediaan Simplisia Jahe Merah dan Adas Soa dengan Metode MRP Teknik PPB PT X, 2004........................ 78

19 20

Perbandingan Frekuensi Pemesanan dan Kuantitas Pesanan Metode MRP dengan Kebijakan Perusahaan PT X, 2004 ....... 79 Perbandingan Biaya Pemesanan Simplisia Jahe Merah dan Adas Soa Metode MRP dengan Kebijakan Perusahaan (Rp), 2004 .......................................................................................... 80 Perbandingan Biaya Penyimpanan Simplisia Jahe Merah dan Adas Soa Metode MRP dengan Kebijakan Perusahaan (Rp), 2004 .......................................................................................... 81 Perbandingan Biaya Persediaan Simplisia Jahe Merah dan Adas Soa Metode MRP dengan Kebijakan Perusahaan (Rp), 2004 ......................................................................................... 81 Rekapitulasi Perbandingan Antar Teknik Pada Persediaan Simplisia Jahe Merah Metode MRP dengan Kebijakan Perusahaan, 2004..................................................................... 82 Rekapitulasi Perbandingan Antar Teknik Pada Persediaan Simplisia Adas Soa Metode MRP dengan Kebijakan Perusahaan, 2004..................................................................... 83 Persentase Penghematan Metode MRP Terhadap Kebijakan Perusahaan, 2004...................................................................... 85 Persentase Penghematan Biaya Persediaan Berbagai Teknik Metode MRP Terhadap Kebijakan Perusahaan, 2004 ............. 85 Rekapitulasi Perbandingan Penghematan Antar Teknik dalam Metode MRP Untuk Simplisia Jahe Merah Terhadap Kebijakan Perusahaan, 2004 .................................................... 86 Rekapitulasi Perbandingan Penghematan Antar Teknik dalam Metode MRP Untuk Simplisia Adas Soa Terhadap Kebijakan Perusahaan, 2004...................................................................... 87

21

22

23

24

25 26 27

28

DAFTAR GAMBAR
Nomor Teks 1 2 3 4 5 6 Grafik Metode Analisis ABC Terhadap Bahan Baku....................... 26 Hubungan Antara Biaya Pemesanan dengan Biaya Penyimpanan ........................................................................... 30 Kurva Penggunaan Bahan.................................................................. 31 Bagan Alir Kerangka Pemikiran Operasional ................................... 36 Struktur Organisasi PT X................................................................... 52 Bagan Proses Produksi Jamu PT X.................................................... 57 Halaman

DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Teks 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Klasifikasi ABC Persediaan Simplisia.................................. 95 Perhitungan Biaya Persediaan Rata-Rata Simplisia Jahe Merah dan Adas Soa dengan Kebijakan Perusahaan ........... 96 Perhitungan EOQ dan EPP................................................... 97 Perhitungan PPB Persediaan Simplisia Jahe Merah dan Adas Soa PT X 2004 ............................................................ 98 Perhitungan Persediaan Simplisia Jahe Merah Dengan Metode MRP Teknik LFL ...................................... 99 Perhitungan Persediaan Simplisia Jahe Merah Dengan Metode MRP Teknik EOQ ..................................... 100 Perhitungan Persediaan Simplisia Jahe Merah Dengan Metode MRP Teknik PPB ...................................... 101 Perhitungan Persediaan Simplisia Adas Soa Dengan Metode MRP Teknik LFL ...................................... 102 Perhitungan Persediaan Simplisia Adas Soa Dengan Metode MRP Teknik EOQ ..................................... 103 Perhitungan Persediaan Simplisia Adas Soa Dengan Metode MRP Teknik PPB ...................................... 104 Halaman

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang kaya akan keanekaragaman hayati. Diperkirakan sekitar 30.000 spesies tumbuhan yang tumbuh dalam hutan hujan tropika di Indonesia. Dari jumlah tersebut terdapat sekitar 1.260 spesies tumbuhan yang berkhasiat sebagai obat (Supriadi, 2001). Tumbuhan obat yang diolah menjadi obat tradisional atau yang lebih dikenal dengan sebutan jamu, sudah sejak dulu dipergunakan masyarakat Indonesia secara turun-temurun untuk mengobati berbagai penyakit. Misalnya tumbuhan temu lawak yang memiliki khasiat dalam penyembuhan radang hati kronis atau buah merah dari Papua yang memiliki banyak manfaat bahkan dapat digunakan dalam pengobatan bagi penderita HIV dan kanker. Sampai saat ini jamu tradisional masih ditempatkan sebagai komplemen pengobatan alternatif, artinya hanya digunakan bila terjadi kelangkaan obat modern. Padahal jika dikembangkan melalui kajian ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga memenuhi persyaratan keamanan, khasiat dan mutu maka jamu tradisional tidak hanya menjadi pelengkap obat modern tetapi dapat menjadi unsur sistem pelayanan kesehatan. Dewasa ini penggunaan tumbuhan obat sebagai bahan baku semakin meluas dalam industri farmasi dan kosmetik. Krisis ekonomi yang menyebabkan melonjaknya harga obat-obatan kimiawi mengakibatkan kesehatan menjadi mahal harganya, padahal banyak masyarakat yang tidak mampu membeli obat-obatan

dengan harga yang sangat tinggi. Kenaikan harga obat-obatan tersebut mendorong masyarakat untuk beralih ke pengobatan tradisional. Selain itu peran pemerintah dalam pengembangan potensi tumbuhan obat dan trend back to nature dalam gaya hidup masyarakat juga menciptakan peluang bagi perkembangan industri jamu tradisional. Perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam industri jamu tradisional baik dalam skala besar yang dikelompokkan dalam Industri Obat Tradisional (IOT) ataupun dalam skala kecil dan menengah yang dikelompokkan dalam Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) jumlahnya selalu meningkat setiap tahun. Peningkatan jumlah IOT dan IKOT sejak tahun 1999 sampai 2002 dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Jumlah Industri Obat Tradisional (IOT) dan Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) di Indonesia Tahun 1999-2002
Tahun 1999 2000 2001 2002
Sumber : Badan POM, 2004

IOT 77 79 87 94

IKOT 559 608 722 759

Peningkatan jumlah perusahaan yang bergerak dalam industri jamu tradisional mengakibatkan peningkatan penggunaan tumbuhan obat sebagai bahan bakunya (simplisia). Selama periode 1999-2002 total volume simplisia yang digunakan mencapai 49.356.325 kg dengan rata-rata kenaikan volume penggunaan sebesar 11,1 persen per tahun (BPS, 2004). Besarnya volume penggunaan simplisia pada industri obat tradisional selama periode 1999-2002 dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Volume Penggunaan Simplisia Pada Industri Obat Tradisional di Indonesia (kg)
Tahun 1999 2000 2001 2002 Total
Sumber : BPS, 2004 (diolah)

Volume Penggunaan Simplisia (kg) 6.120.883 9.189.066 10.679.618 23.336.758 49.354.325

Kenaikan jumlah perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam industri jamu tradisional, selain menunjukkan kemajuan industri jamu tradisional juga mengindikasikan tingkat persaingan yang semakin ketat setiap tahunnya. Untuk dapat bertahan dalam menghadapi persaingan perusahaan dapat memperkuat daya saing dengan meningkatkan mutu produk melalui efisiensi biaya produksi. Untuk menghasilkan produk yang berkualitas dengan harga terjangkau maka dalam pelaksanaan proses produksi perusahaan harus bertindak secara efektif dan efisien dalam proses produksi dan penggunaan biaya produksi. Pengadaan dan pengendalian persediaan bahan baku memegang peranan penting dalam menentukan efektivitas dan efisiensi proses produksi yang secara langsung menentukan mutu produk perusahaan. Dalam proses produksi perusahaan tidak terlepas dari keberadaan dan kontinuitas bahan baku yang digunakan. Perusahaan perlu merencanakan dengan tepat suatu sistem pengadaan dan pengendalian persediaan bahan baku. Jika persediaan bahan baku terlalu besar maka perusahaan akan dihadapkan pada tingginya biaya penyimpanan dan resiko kerusakan bahan baku akibat terlalu lama disimpan. Sedangkan jika persediaan bahan baku yang ditetapkan perusahaan terlalu kecil akan mengakibatkan kekurangan bahan baku yang dapat menghambat kelancaran proses produksi serta tingginya biaya pemesanan akibat pemesanan

yang berulang-ulang. Perencanaan yang tidak tepat akan menimbulkan inefisiensi baik dalam proses produksi ataupun biaya produksi sehingga dapat

mengakibatkan kerugian bagi perusahaan.

1.2 Perumusan Masalah Dalam industri jamu tradisional pengadaan dan persediaan bahan baku merupakan faktor yang sangat penting dalam proses produksi. Hal ini disebabkan karena simplisia sebagai bahan baku jamu berasal dari tanaman obat dengan kualitas yang beragam dan bersifat bergantung dari alam. Kondisi tersebut bertentangan dengan kebutuhan simplisia secara kontinu dengan kualitas sesuai standar perusahaan dalam proses produksi. Seiring dengan kenaikan jumlah perusahaan yang bergerak dalam industri jamu tradisional setiap tahunnya menyebabkan peningkatan penggunaan simplisia. Padahal simplisia yang digunakan biasanya berasal dari hutan atau kebun sehingga bersifat musiman dan dapat terjadi kelangkaan sewaktu-waktu. Untuk menjaga kelangsungan proses produksi dan efisiensi biaya perusahaan dapat menerapkan suatu sistem pengendalian persediaan yang mampu untuk mengantisipasi ketidakpastian dan kemungkinan lain seperti kekurangan atau kelebihan bahan baku. PT X merupakan home industry yang bergerak dalam industri jamu tradisional yang tergolong dalam Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT). Perusahaan ini memproduksi jamu tradisional yang berkhasiat untuk menjaga stamina tubuh, perawatan kecantikan, mengobati penyakit asam urat, darah tinggi, rheumatik, diabetes dan kolesterol. Pasar sasaran yang dituju PT X adalah konsumen golongan menengah di wilayah Bogor dan Tangerang. Pada tahun 2004

PT X mulai mengembangkan usaha dengan memperluas daerah pemasaran ke Jakarta, Lampung dan Bali. Simplisia yang digunakan PT X dalam proses produksi sebagian besar diperoleh dari pemasok yang berada di Yogyakarta. Jauhnya jarak dari pemasok dan sifat simplisia yang tergantung pada alam membuat pihak perusahaan perlu merencanakan suatu sistem pengendalian persediaan bahan baku secara efektif dan efisien. Pada bulan Januari tahun 2003 PT X sempat mengalami kekurangan simplisia dipasok dari Yogyakarta. Untuk menghindari kekurangan pasokan simplisia maka pada periode produksi selanjutnya jika perusahaan akan memesan salah satu atau beberapa jenis simplisia yang dipasok dari Yogyakarta maka simplisia lainnya yang juga dipasok dari daerah tersebut juga dipesan sehingga terjadi penumpukan stok simplisia dalam jumlah yang sangat besar. Agar persediaan simplisia tidak rusak akibat terlalu lama disimpan maka perusahaan menggunakan persediaan tersebut dalam proses produksi sehingga pada akhir tahun 2003 terjadi over produksi yang mengakibatkan kelebihan stok dalam jumlah besar karena tidak diimbangi dengan tingkat penjualan yang cukup tinggi (Tabel 3). Berdasarkan Tabel 3 produksi jamu kapsul pada tahun 2003 meningkat dari 10.738 botol menjadi 19.021 botol atau naik sebesar 77,14 persen dari tahun sebelumnya. Sedangkan produksi teh herbal meningkat dari 8.530 kotak menjadi 11.019 kotak atau naik sebesar 29,17 persen dari tahun sebelumnya. Tetapi peningkatan ini tidak diimbangi dengan peningkatan penjualan yang cukup tinggi. Peningkatan penjualan untuk jamu kapsul hanya sebesar 5.908 botol atau sebesar 67,22 persen dari tahun sebelumnya dan teh herbal sebesar 1.083 kotak atau

sebesar 13,89 persen dari tahun sebelumnya. Hal tersebut menyebabkan kerugian besar bagi perusahaan.

Tabel 3. Rekapitulasi Produksi dan Penjualan Produk Jamu PT X Tahun 2001-2003
Jenis Jamu Jamu kapsul (botol) Teh herbal (kotak)
Sumber : PT X, 2004

2001 5724 3208

Produksi 2002 10738 8530

2003 19021 11019

2001 4845 2097

Penjualan 2002 8926 7792

2003 14834 8875

Berdasarkan uraian di atas maka permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimana kebijakan pengendalian bahan baku yang selama ini dilakukan PT X? 2. Apakah ada model alternatif pengendalian persediaan bahan baku bagi PT X sehingga dapat meminimumkan biaya persediaan bahan baku ?

1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan maka tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Menganalisis kebijakan pengendalian persediaan bahan baku yang dilakukan PT X. 2. Memberikan metode alternatif pengendalian persediaan bahan baku bagi perusahaan sehingga dapat meminimumkan biaya persediaan bahan baku.

1.4 Kegunaan Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat sebagai : 1. Bahan pertimbangan bagi perusahaan dalam mengambil kebutuhan tentang manajemen persediaan bahan baku sehingga diperoleh tingkat persediaan bahan baku yang optimal dengan biaya persediaan minimum. 2. Aplikasi ilmu yang didapat oleh penulis khususnya mengenai manajemen persediaan bahan baku. 3. Informasi dan bahan referensi untuk penelitian selanjutnya bagi pembaca.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 Deskripsi Simplisia Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No.230/Menkes/IX/76 yang dimaksud simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain berupa bahan yang telah dikeringkan. Ada empat macam simplisia yaitu : 1. Simplisia Nabati Yaitu simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman atau eksudat tanaman. Eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau isi sel yang dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya atau zat-zat nabati lainnya dengan cara tertentu dipisahkan dari tanamannya dan belum berupa zat kimia murni. Simplisia yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah simplisia nabati yang berupa tanaman obat. 2. Simplisia Hewani Yaitu simplisia yang berupa hewan utuh, bagian hewan atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni. 3. Simplisia Pelikan/Mineral Yaitu simplisia yang berupa bahan pelikan/mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni. 4. Simplisia Impor

Yaitu simplisia baik yang berupa simplisia nabati, hewani ataupun pelikan yang dimasukkan ke dalam wilayah Indonesia dengan melalui jalan darat, laut atau udara. Spektrum penggunaan simplisia dibagi menjadi dua yaitu (Suryadi, 2001): 1. Spektrum Sempit (Terbatas) : Dalam hal ini simplisia yang digunakan hanya memliki satu macam manfaat, contohnya simplisia daun kumis kucing yang terbatas digunakan sebagai diuretikum (pelancar air seni). 2. Spektrum Luas (Multiguna) : Simplisia yang digunakan memiliki banyak manfaat, contohnya simplisia jahe yang selain digunakan sebagai obat tradisional penghilang nyeri juga dapat digunakan sebagai bumbu masakan, minyak atsiri dan bahan baku industri makanan dan minuman. Dalam perdagangan simplisia tidak selalu mungkin untuk memperoleh simplisia yang sepenuhnya murni. Ketentuan yang ditetapkan oleh Depkes RI (1995) mengenai kandungan bahan asing yang tidak boleh terdapat dalam simplisia yaitu : § Simplisia nabati harus bebas dari serangga, fragmen hewan atau kotoran hewan, tidak boleh menyimpang bau dan warnanya, tidak boleh mengandung lendir dan cendawan atau menunjukkan tanda-tanda pengotoran lain, tidak mengandung bahan lain yang beracun dan atau berbahaya. § Simplisia hewani harus bebas dari fragmen hewan asing atau kotoran hewan, tidak boleh menyimpang bau dan warnanya, tidak boleh mengandung cendawan dan tanda-tanda pengotoran lainnya.

§

Simplisia pelikan harus bebas dari pengotoran oleh tanah, batu, hewan, fragmen hewan dan bahan asing lainnya.

2.2 Tanaman Obat Tradisonal Tanaman obat tradisional merupakan tanaman yang diketahui atau dipercaya masyarakat mempunyai khasiat dan telah digunakan sebagai bahan baku obat tradisional (Zuhud, 1994). Di Indonesia tanaman obat dapat diperoleh dari beberapa sumber yaitu : 1. Hutan Sampai saat ini belum ada catatan yang pasti mengenai jumlah tanaman di Indonesia yang telah dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Sumber bahan baku obat tradisional yang terbesar berasal dari hutan. Ditjen POM (1991) mencatat sekitar 283 spesies tanaman yang sudah terdaftar digunakan oleh industri obat tradisional. Berdasarkan buku Materia Medika Indonesia jilid I-V yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan (1977, 1978, 1980, 1989, 1995) baru tercatat 140 spesies tanaman obat yang berasal dari hutan tropika Indonesia. 2. Perkebunan Selain dari hutan tanaman obat juga dihasilkan oleh perkebunan swasta ataupun kebun-kebun percobaan milik pemerintah. Program intensifikasi pola tanam dari tanaman obat selain melalui pola tanam monokultur juga dapat dilakukan pola tanam tumpang sari yang dilakukan bersama-sama atau di antara tanaman lain. 3. Pertanian

Beberapa tanaman obat merupakan hasil pertanian yang cukup potensial melalui peningkatan intensifikasi lahan pertanian. Dalam upaya meningkatkan pendapatan petani sekaligus meningkatkan produktivitas lahan salah satunya adalah dengan menggunakan tanaman obat sebagai tanaman sela atau menerapkan pola tanam campuran. 4. Tanaman Obat Keluarga (TOGA) Pada tahun 1980 Ditjen POM telah menghimbau masyarakat Indonesia untuk mulai menanam tanaman obat di sekitar rumah baik di atas tanah langsung atau di dalam pot. Tanaman obat yang ditanam biasanya merupakan tanaman yang selain dapat dimanfaatkan sebagai obat juga dapat digunakan sebagai bumbu masakan, misalnya jahe, kunyit, kencur atau lengkuas. Menurut asalnya tanaman obat dikelompokkan menjadi empat kelompok yaitu (Zuhud, 1994) : 1. Tanaman Obat Budidaya Tanaman obat telah dibudidayakan oleh masyarakat baik perseorangan di kebun, sawah ataupun di perkebunan dalam jumlah yang besar. Saat ini telah banyak industri obat tradisional yang menjalin kemitraan dengan petani-petani guna menjaga kontinuitas pasokan dan kualitas bahan baku. 2. Tanaman Obat Hutan Tanaman obat hutan adalah tanaman obat yang dipungut dari hutan, banyak digunakan oleh industri obat tradisional sebagai bahan baku. Menurut Zuhud (1994) sekitar 74 persen bahan baku obat tradisional berasal dari hutan. 3. Tanaman Obat Liar

Tanaman yang dimanfaatkan sebagai obat, tumbuh liar bahkan tanpa ada yang sengaja menanam dapat hidup subur bahkan hidup di antara tanaman pertanian ataupun perkebunan sebagai gulma atau di lahan lain di luar hutan alam. 4. Tanaman Obat Impor Beberapa tanaman obat diimpor dari luar negeri seperti dari Cina, India dan Irak.

2.3 Sentra Produksi Tanaman Obat Sistem pengembangan komoditas tanaman obat mempunyai kaitan ke belakang (bacward linkage) yaitu diusahakan oleh banyak petani atau pengumpul yang ada di pedesaan dan kaitan ke depan (forward linkage) yaitu menyediakan bahan baku industri obat tradisional salah satu komoditas yang memiliki pasar dalam dan luar negeri. Pemasaran tanaman obat di Indonesia selain untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri obat tradisional dalam negeri juga ditujukan untuk memenuhi permintaan dari luar negeri. Akhir-akhir ini beberapa industri obat tradisional mulai menjalin kemitraan dengan para petani, guna menjaga kontinuitas pasokan dan kualitas bahan baku yang dibutuhkan. Perusahaan sebagai mitra memberi bimbingan teknis budidaya sehingga menghasilkan bahan baku yang sesuai dengan standar kualitas yang ditetapkan (Duryatmo, 2001). Perusahaan-perusahaan tersebut antara lain adalah Sido Muncul dengan petani di daerah Boyolali untuk tanaman adas, lempuyang dan temulawak, PT Air Mancur dan Deltomed di daerah

Wonogiri, Klaten, dan Boyolali untuk tanaman obat seperti bangle, kencur, lempuyang dan temulawak. Sentra produksi tanaman obat 90 % terdapat di Pulau Jawa khususnya Jawa Tengah (Chanisah, 1996). Untuk tanaman obat budidaya berasal dari daerah Klaten, Boyolali, Wonogiri, Tawangmangu, Purwodadi, Demak, Kudus, Jepara, Magelang dan Purwokerto. Di Jawa Timur terdapat di daerah Banyuwangi, Jember, Malang dan Pacitan. Untuk Jawa Barat adalah Garut dan Subang. Beberapa tanaman obat budidaya yang berasal dari luar Pulau Jawa adalah lada hitam dari Lampung, pala dari Sulawesi dan Irian Jaya, kayu manis dari Kalimantan, cengkeh dari Kalimantan dan Sulawesi. Untuk tanaman obat hutan sentra produksinya adalah Jawa, Kalimantan, Madura dan Irian Jaya. Pengusahaan tanaman obat umumnya dilakukan oleh petani secara swadaya melalui pola tanaman monokultur dan tumpang sari dengan tanaman keras ataupun tanaman semusim pada lahan kebun dan lahan pekarangan. Untuk tanaman obat impor berasal dari India dan Cina. Sedangkan tanaman obat liar hampir keseluruhannya dipasok dari daerah Jawa Tengah seperti Wonogiri, Tawangmangu, Boyolali, Klaten dan sebagian kecil dari daerah di Jawa Timur.

2.4 Industri Obat Tradisional Menurut Departemen Perindustrian dan Perdagangan industri

dikelompokkan berdasarkan jumlah tenaga kerjanya menjadi : a. Industri Besar Yaitu industri yang memiliki tenaga kerja lebih dari 100 orang.

b. Industri Sedang Yaitu industri yang memiliki tenaga kerja antara 20 orang sampai dengan 99 orang. c. Industri Kecil Yaitu industri yang memiliki tenaga kerja antara 5 orang sampai dengan 19 orang. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No.

246/MENKES/Per/V/1990 tentang Izin Usaha Industri Obat Tradisional dan Pendaftaran Obat Tradisional, maka industri obat tradisional dibagi dalam kategori : 1. Industri Obat Tradisional (IOT) Industri Obat Tradisional (IOT) adalah industri yang memproduksi obat tradisional dengan total aset di atas Rp 600.000.000,00 tidak termasuk harga tanah dan bangunan. Beberapa contoh industri yang termasuk IOT adalah Jamu Air Mancur, Jamu Jago dan Mustika Ratu. 2. Industri Kecil Obat Tradisonal (IKOT) Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) adalah industri yang memproduksi obat tradisional dengan total aset tidak lebih dari Rp 600.000.000,00 tidak termasuk harga tanah dan bangunan. 3. Usaha Jamu Racikan Usaha jamu racikan adalah usaha peracikan, pencampuran dan atau pengolahan obat tradisional dalam bentuk rajangan, serbuk, cairan, pilis, tapel atau parem dengan skala kecil, dijual dalam satu tempat tanpa penandaan dan atau merk dagang.

4. Usaha Jamu Gendong Usaha jamu gendong adalah usaha peracikan, pencampuran, pengolahan dan pengedaran obat tradisional dalam bentuk cairan, pilis, tapel atau parem, tanpa penandaan dan atau merek dagang serta dijajakan untuk langsung digunakan.

2.5 Hasil Penelitian Terdahulu Analisis tentang pengendalian bahan baku telah banyak dilakukan. Berbagai model digunakan untuk menganalisis dan meningkatkan optimalitas persediaan bahan baku sehingga meminimumkan biaya persediaan.

2.5.1

Tinjauan Hasil Penelitian Persediaan Bahan Baku

Terdahulu

Mengenai

Pengendalian

Pada penelitian di PT Fajar Taurus (Yustiana, 1999) sistem pengendalian bahan baku perusahaan dianalisis dengan menggunakan metode Just In Time (JIT) untuk bahan baku susu segar dan metode EOQ untuk bahan baku gula pasir dan coklat bubuk. Perbedaan metode analisis disebabkan karena susu segar merupakan komoditi yang mudah rusak sedangkan gula pasir dan coklat bubuk relatif lebih tahan lama. JIT biasa digunakan untuk bahan baku yang cepat rusak dan tidak tahan disimpan lama. Metode JIT lebih tepat digunakan bila biaya pesan setiap melakukan pemesanan cukup rendah sehingga perusahaan dapat memesan setiap hari kerja tanpa adanya tambahan biaya pemesanan. Hasil analisis dengan metode EOQ menunjukkan kebijakan perusahaan berkaitan dengan persediaan bahan baku gula pasir dan coklat bubuk belum optimal.

Hasil penelitian yang dilakukan Lim Evily (2001) pada PT KNA menyatakan bahwa dalam pengadaan bahan baku air kelapa sistem persediaan yang diterapkan PT KNA hampir mendekati optimal. Sedangkan penerapan metode EOQ untuk bahan baku gula pasir impor lebih optimal dibandingkan jika menggunakan gula pasir lokal. Penelitian Zakiah (2002) mengenai sistem pengendalian persediaan bahan baku produk Dodol Garut pada PT Herlinah Cipta Pratama (HCP) bertujuan untuk mencari model pengendalian persediaan yang terbaik bagi perusahaan dengan menggunakan metode MRP teknik LFL, EOQ dan PPB. Bahan baku yang dianalisis adalah ketan, kelapa, gula pasir dan gula merah. Setelah dilakukan perhitungan biaya persediaan dengan teknik MRP maka penghematan terbesar untuk bahan baku kelapa, gula pasir dan gula merah didapat dengan menggunakan teknik LFL. Sedangkan untuk bahan baku ketan penghematan terbesar dicapai dengan menggunakan teknik EOQ. Teknik PPB tidak dapat digunakan karena tidak sesuai dengan sifat bahan baku yang digunakan PT HCP karena sebagian besar bahan baku merupakan produk-produk hasil pertanian yang tidak tahan lama.

2.5.2

Tinjauan Hasil Penelitian Persediaan Simplisia

Terdahulu

Mengenai

Pengendalian

Yuliana (2000) menganalisis manajemen pengendalian persediaan simplisia Zingiberaceae pada PT Martina Berto, Jakarta dengan metode MRP yang disimulasikan dengan teknik EOQ. Tidak dijelaskan secara spesifik mengapa hanya persediaan simplisia dari golongan Zingiberaceae yang dianalisis Penelitian ini bertujuan untuk menentukan saat terjadinya kekurangan bahan baku

dan jumlah persediaan pengaman yang harus tersedia untuk mengatasi kekurangan bahan baku dengan biaya persediaan yang minimum. Hasil analisis dengan metode EOQ untuk ketiga jenis Zingiberaceae tidak terlalu nyata, namun untuk 130 macam bahan baku yang digunakan dampaknya terhadap peningkatan biaya operasional akan semakin besar. Penelitian yang dilakukan Tupanwael (2003) menganalisis sistem persediaan simplisia temulawak dan kumis kucing pada Fa Pusaka Ambon Jakarta dengan metode EOQ. Hasil analisis dengan menggunakan metode EOQ menunjukkan bahwa kebijakan pengadaan persediaan simplisia yang dilakukan perusahaan selama ini belum optimal. Pengendalian persediaan simplisia dengan metode EOQ menghasilkan biaya persediaan yang lebih minimal dibandingkan dengan kebijakan perusahaan. Namun dalam penelitian ini tidak dilakukan perhitungan dengan kedua teknik dari metode MRP lainnya sehingga tidak diketahui teknik mana yang dapat memberikan biaya persediaan paling minimum. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan berkaitan dengan manajemen persediaan bahan baku bertujuan untuk mencapai optimalisasi tingkat persediaan pada perusahaan untuk dalam mengefisiensikan biaya produksi. Hasil penelitian dengan metode MRP menunjukkan bahwa metode MRP dapat memberikan penghematan biaya persediaan yang cukup besar bagi perusahaan. Dalam penelitian ini bahan baku yang dianalisis adalah simplisia berupa tanaman obat. Karena perusahaan cukup banyak menggunakan jenis simplisia maka simplisia yang akan dianalisis ditentukan dengan metode Analisis ABC yang memfokuskan pada simplisia yang bernilai tinggi. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya berkaitan dengan bahan baku simplisia adalah

dalam penelitian ini menggunakan metode MRP dengan teknik LFL, EOQ dan PBB, dimana dalam penelitian sebelumnya hanya menggunakan metode EOQ sehingga tidak diketahui apakah kedua teknik lainnya dapat memberikan penghematan yang lebih besar.

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Bahan Baku Bahan baku memegang peranan penting dalam industri yang mengolah suatu produk. Menurut Mulyadi (2000) bahan baku adalah bahan yang membentuk bagian integral atau menyeluruh dari produk jadi. Pembelian bahan baku merupakan kegiatan utama dalam pengadaan bahan baku. Prosedur pembelian yang dilakukan setiap perusahaan berbeda satu sama lain tergantung jenis bahan baku, volume kegiatan dan pembebanan tanggung jawab persediaan pada masing-masing perusahaan. Menurut Stevenson (1990) bahan baku yang digunakan dalam proses produksi digolongkan menjadi : 1. Raw Materials, yaitu bahan yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari barang jadi dan merupakan bagian pengeluaran terbesar dari suatu proses produksi. 2. Purchased Parts, yaitu bahan dari produk jadi yang digunakan dalam jumlah kecil. 3. Supplies, yaitu bahan yang digunakan dalam proses produksi tetapi tidak menjadi bagian dari barang jadi. 4. Component Parts, yaitu bahan yang menjadi bagian-bagian dari barang jadi. Pengawasan terhadap bahan baku mutlak diperlukan bagi setiap perusahaan. Pengawasan dimulai sejak proses pengadaan bahan baku termasuk di

dalamnya pemilihan pemasok, mutu bahan baku, distribusi, penanganan penyimpanan sampai bahan baku tersebut digunakan dalam proses produksi. 3.1.2 Konsep Persediaan Biegel (1992) mendefinisikan persediaan sebagai bahan yang disimpan dalam gudang untuk kemudian digunakan atau dijual. Persediaan dapat berupa bahan baku untuk keperluan proses, barang-barang yang masih dalam pengolahan dan barang jadi yang disimpan untuk penjualan. Menurut Assauri (1998) persediaan merupakan suatu aktiva yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud dan tujuan untuk dijual dalam suatu periode usaha yang normal, atau persediaan barang-barang yang masih dalam proses produksi, ataupun persediaan bahan baku yang menunggu penggunaannya dalam suatu proses produksi. Pada dasarnya dari kedua definisi tersebut persediaan merupakan hal pokok dalam menjaga kontinuitas produksi. Tujuan utama dari persediaan adalah sebagai penyangga antara supply dan demand (Assauri, 1998). Sistem persediaan merupakan serangkaian kebijakan dan pengendalian persediaan yang memonitor tingkat persediaan dan menentukan tingkat persediaan. Dengan adanya persediaan perusahaan dapat terus memenuhi permintaan konsumen walaupun bahan yang dibutuhkan dalam proses produksi tidak tersedia dalam fasilitas penyimpanan atau sedang dalam pengiriman.

3.1.3 Jenis-Jenis Persediaan Menurut Waters (1992) persediaan yang berdasarkan tujuan dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis yaitu :

1. Cycle stocks Persediaan terjadi karena pemesanan yang teratur, biasanya perusahaan mengadakan persediaan lebih didasarkan pada permintaan konsumen. 2. Safety stocks Persediaan yang diadakan perusahaan berfungsi sebagai penyangga yang akan digunakan jika terjadi kekurangan persediaan agar tidak menghambat proses produksi. 3. Seasonal stocks Merupakan persediaan yang disimpan untuk mempertahankan kestabilan proses produksi walaupun terjadi variasi musiman. 4. Pipeline stocks Merupakan persediaan yang sedang dalam proses pengiriman dari pemasok sampai ke tangan perusahaan. Perusahaan perlu memperkirakan dengan tepat kapan pemesanan persediaan ini harus dilakukan agar resiko keterlambatan ataupun kerusakan bahan dapat dihindari. 5. Other stocks Persediaan yang disimpan karena alasan-alasan tertentu.

3.1.4 Fungsi Persediaan Efisiensi dan efektivitas kegiatan produksi dari suatu perusahaan dapat ditingkatkan dengan mengoptimalkan persediaan bahan baku. Hal tersebut disebabkan karena persediaan memiliki beberapa fungsi penting. Fungsi-fungsi tersebut menurut Handoko (1992) meliputi : 1. Fungsi Decoupling

Merupakan fungsi persediaan bahan baku yang memungkinkan perusahaan dapat memenuhi permintaan pelanggan tanpa tergantung pemasok. Persediaan bahan baku diadakan agar perusahaan tidak sepenuhnya tergantung pada pengadaannya dalam hal kuantitas dan waktu pengiriman. 2. Fungsi Economic Lot Sizing Merupakan fungsi yang menyimpan persediaan sehingga perusahaan dapat membeli bahan baku dalam kuantitas yang dapat mengurangi biaya-biaya per unit. Persediaan ini mempertimbangkan potongan pembelian dan biaya pengangkutan yang lebih murahkarena perusahaan melakukan pembelian dalam jumlah yang besar. 3. Fungsi Anticipation Yaitu fungsi yang berguna bagi perusahaan dalam menghadapi ketidakpastian waktu kedatangan barang selama periode pemesanan kembali sehingga memerlukan persediaan pengaman. Fungsi ini menjadi pelengkap bagi fungsi Decoupling.

3.1.5 Biaya Persediaan Menurut Stevenson (1990) ada tiga biaya yang menjadi dasar dari biaya persediaan yaitu biaya penyimpanan, biaya transaksi atau biaya pemesanan dan biaya kehilangan atau kekurangan bahan. 1. Biaya Penyimpanan (holding costs atau carrying costs) Biaya penyimpanan berhubungan langsung dengan bahan-bahan yang disimpan di gudang. Biaya ini terdiri dari biaya-biaya yang berkaitan secara langsung dengan kuantitas persediaan seperti biaya fasilitas penyimpanan

(termasuk penerangan, pemanas atau pendingin), biaya modal (opportunity of capital) yaitu alternatif pendapatan atas dana yang diinvestasikan dalam persediaan, biaya keusangan, biaya perhitungan fisik dan konsiliasi laporan, biaya asuransi persediaan dan biaya penanganan persediaan. Biaya-biaya ini bersifat variabel, bila bervariasi dengan tingkat persediaan. 2. Biaya Pemesanan (ordering costs) Merupakan biaya-biaya yang dikeluarkan berkaitan dengan pemesanan dan penerimaan bahan-bahan dari penjual atau dari tingkat produksi sebelumnya. Biaya pemesanan ini meliputi biaya pemrosesan pesanan, biaya untuk menentukan berapa bahan yang diperlukan, biaya pengontrolan ketika bahan sampai ke gudang, baik kontrol maupun kuantitas, upah, biaya pengepakan dan penimbangan. 3. Biaya Kehabisan/Kekurangan Bahan (shortage costs) Biaya kekurangan bahan muncul ketika kebutuhan bahan melebihi persediaan yang ada. Biaya ini meliputi biaya kehilangan penjualan, kehilangan pelanggan, biaya pemesanan khusus, biaya ekspedisi dan lain-lain. Biaya ini sulit diperkirakan, bahkan perusahaan sering memperkirakan biaya kekurangan bahan ini secara subyektif. Biaya yang akan dianalisis dalam analisis ini adalah biaya pemesanan dan biaya penyimpanan bahan baku. Biaya yang termasuk dalam biaya pemesanan adalah biaya pemesanan simplisia lewat telepon dan biaya administrasi. Sedangkan yang termasuk dalam biaya penyimpanan adalah biaya opportunity cost, biaya penyusutan bahan baku dan biaya pemeliharaan bahan baku.

Opportunity cost diperhitungkan dari tingkat suku bunga yang berlaku tahun 2004

terhadap bahan baku. Biaya kehabisan bahan tidak dimasukkan dalam analisis karena seperti yang telah disebutkan di atas biaya ini sulit diperkirakan oleh perusahaan.

3.1.6 Pengendalian Persediaan Bahan Baku Bagi industri pengolahan hasil-hasil pertanian (agroindustri) persediaan bahan baku menjadi permasalahan tersendiri dalam proses produksi karena selain bahan baku tidak selalu tersedia setiap saat juga sifat dari bahan baku tersebut sangat dipengaruhi oleh alam. Jumlah persediaan yang terlalu besar akan merugikan perusahaan karena ini berarti lebih banyak uang atau modal yang tertanam dan biaya-biaya yang ditimbulkan dengan adanya persediaan tersebut. Sebaliknya suatu persediaan yang terlalu kecil akan merugikan perusahaan karena akan mengganggu kelancaran dari kegiatan produksi. Strategi yang diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara kelebihan dan kekurangan persediaan agar tercapai biaya optimum dikenal dengan pengendalian persediaan (Buffa dan Sarin, 1996). Menurut Assauri (1998) pengendalian persediaan bertujuan untuk mempertahankan suatu jumlah sediaan yang optimum yang dapat menjamin kebutuhan bagi kelancaran kegiatan perusahaan dalam jumlah dan mutu yang tepat serta dengan biaya seminimal mungkin. Tujuan perusahaan dalam menjalankan sistem pengendalian persediaan adalah untuk (Assauri, 1998) : 1. Menjaga agar jangan sampai perusahaan kehabisan persediaan sehingga mengakibatkan terhentinya kegiatan produksi

2. Menjaga supaya pembentukan persediaan oleh perusahaan tidak terlalu besar atau berlebihan, sehingga biaya-biaya yang timbul dari persediaan tidak terlalu besar. 3. Menjaga agar pembelian secara kecil-kecilan dapat dihindari karena akan mengakibatkan biaya pemesanan menjadi besar.

3.1.7 Metode Analisis ABC Pada perusahaan yang menggunakan bermacam-macam jenis bahan baku membutuhkan banyak tenaga kerja dan biaya untuk mengawasi persediaan, sehingga perusahaan memerlukan kebijakan pengawasan dengan pertimbangan efisiensi dan efektivitas terhadap bahan baku yang memerlukan pengawasan agak ketat dan jenis bahan baku yang pengawasannya dapat dilakukan agak longgar. Menurut Buffa dan Sarin (1996) perusahaan harus memusatkan perhatian pada item persediaan yang nilainya lebih tinggi dan tidak terlalu memikirkan item persediaan yang nilainya rendah. Dalam penentuan kebijakan pengawasan persediaan yang ketat dan agak longgar terhadap jenis-jenis bahan yang ada dalam persediaan, maka dapat digunakan Metode Analisis ABC (ABC Analysis Method). Metode Analisis ABC ini menggunakan “Pareto Analysis” yang menekankan bahwa sebagian kecil dari jenis-jenis bahan yang terdapat dalam persediaan mempunyai nilai penggunaan yang cukup besar yang mencakup kira-kira lebih daripada 60 persen dari seluruh nilai penggunaan bahan yang terdapat dalam persediaan, sehingga tidak efektif jika perusahaan melakukan pengawasan yang ketat terhadap jenis-jenis persediaan yang mempunyai penggunaan yang rendah. Oleh karena itu, perusahaan cukup

menekankan pengawasan persediaan yang ketat terhadap jenis-jenis persediaan yang mempunyai nilai penggunaan yang terbesar dan biasanya jenis bahan bakunya tidak begitu banyak (Assauri, 1998). Metode Analisis ABC digunakan untuk memberikan penekanan perhatian pada golongan atau jenis-jenis bahan yang terdapat dalam persediaan yang mempunyai nilai penggunaan yang relatif mahal. Dengan metode ini persediaan yang terdapat dalam suatu perusahaan digolongkan ke dalam tiga golongan yaitu golongan bahan baku A, golongan bahan baku B dan golongan bahan baku C. Grafik Analisa ABC terhadap bahan baku dapat dilihat pada Gambar 1. % nilai penggunaan bahan baku
Kelas A 80 70 60 50 40 30 20 10 10 20 30 Kelas B Kelas C

% volume persediaan bahan baku
40 50 60 70

Gambar 1 : Grafik Metode Analisis ABC Terhadap Bahan Baku
Sumber : Heizer dan Render, 1999

Dalam industri jamu tradisional simplisia yang digunakan sebagai bahan baku dibagi menjadi tiga golongan. Untuk golongan A terdiri dari jenis simplisia yang mempunyai nilai penggunaan mencapai 80 persen dari seluruh nilai penggunaan bahan tetapi jumlah simplisia tidak melebihi 10 persen dari seluruh bahan yang terdapat dalam persediaan. Golongan B terdiri dari jenis simplisia yang mempunyai nilai penggunaan mencapai 15 persen dari seluruh nilai

penggunaan bahan tetapi jumlah simplisia tidak melebihi 20 persen dari seluruh jumlah bahan yang terdapat dalam persediaan. Sedangkan untuk golongan C terdiri dari jenis simplisia yang mempunyai nilai penggunaan mencapai lima persen dari seluruh nilai penggunaan bahan tetapi jumlah simplisia tidak melebihi 70 persen dari seluruh jumlah bahan yang terdapat dalam persediaan. Jadi dalam hal ini pihak perusahaan akan cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar kepada bahan baku yang termasuk dalam golongan A.

Model-Model dalam Pengendalian Persediaan Bahan Baku Model-model dalam persediaan berasumsi bahwa sifat permintaan untuk suatu barang dapat bebas (independent) atau dapat terikat (dependent) tergantung dari kondisi barang tersebut dalam produksi. Untuk kedua jenis permintaan tersebut, maka model persediaan yang dapat digunakan akan berbeda. Model yang digunakan untuk analisis pengendalian persediaan pada barang dengan sifat permintaan bebas (independent) adalah Economic Order Sizes (EOS) dan Economic Lot Sizes (ELS). Pengendalian persediaan barang dengan sifat permintaan terikat (dependent) menggunakan Material Requirement Planning (MRP). Simplisia (tanaman obat) merupakan contoh sediaan bahan baku yang permintaannya terikat dengan permintaan produk akhir karena simplisia merupakan bahan baku untuk produk jamu. Model analisis pengendalian persediaan yang cocok untuk simplisia adalah MRP. Pengertian terikat disini adalah permi ntaan dari barang sebagai bahan baku tersebut berhubungan dengan permintaan dari bahan lain. Permintaan barang terikat diketahui jika hubungan

antara barang-barang tersebut dengan barang-barang bebas juga diketahui. Jika hubungan tersebut juga diketahui, maka ramalan terhadap permintaan produk akhir dapat digunakan untuk menghitung kuantitas kebutuhan semua komponenkomponennya. Material Requirement Planning (MRP) adalah suatu sistem perencanaan dari penjadwalan kebutuhan material untuk produksi yang dilakukan ketika suatu bahan harus dipesan dari pemasok saat persediaan di tangan habis atau saat produksi dari suatu bahan harus dimulai untuk memenuhi kepuasan pelanggan dengan menggunakan waktu tenggang tertentu (Heizer dan Render, 1999). Sistem ini merencanakan ukuran lot sehingga barang-barang tersebut tersedia saat dibutuhkan. MRP merupakan sistem penjadwalan mundur yang dimulai dengan produk akhir. Kemudian dikerjakan mundur yaitu menuju bahan, melalui berbagai tingkat perakitan dan pabrikasi. Tujuannya adalah merencanakan persediaan sehingga tersedia saat dibutuhkan. Untuk menggunakan model persediaan terikat, maka manajer harus mengetahui (Heizer dan Render, 1999) : 1. Jadwal Produksi Master (Master Production Schedule) menjabarkan apa yang harus dibuat dan kapan. Jadwal ini harus sesuai dengan rencana produksi. 2. Spesifikasi dari Bill Of Material, merupakan daftar kuantitas komponen, kandungan dan kebutuhan bahan untuk membuat produk yang

menggambarkan struktur produk. Bill Of Material tidak hanya menjabarkan kebutuhan tetapi juga dalam pembiayaan, dan dapat memberikan daftar barang-barang yang akan diproduksi atau dirakit.

3. Catatan persediaan yang akurat akan menciptakan manajemen persediaan yang baik. 4. Pengetahuan atas perjanjian pesanan pembelian harus dimiliki dalam bagian pengendalian persediaan. Ketika pemesanan pembelian terjadi, catatan tentang pesanan tersebut dan jadwal pengantaran harus tersedia sehingga manajer dapat menyiapkan rencana produksi dengan baik. 5. Pengetahuan atas waktu ancang-ancang untuk masing-masing komponen diperlukan dalam menentukan kapan waktu yang tepat untuk melakukan pembelian, produksi, atau perakitan yang sesuai dengan kapan produk tersebut dibutuhkan. MRP memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan sistem ukuran pesanan tetap untuk mengendalikan barang-barang produksi. Kelebihan MRP dalam menangani barang-barang dengan permintaan terikat (Heizer dan Render, 1999) adalah : 1. Meningkatkan pelayanan dan kepuasan pelanggan, 2. meningkatkan kegunaan fasilitas dan tenaga kerja, 3. Perencanaan dan penjadwalan persediaan yang lebih baik, 4. Respon lebih cepat terhadap perubahan dasar, 5. Mengurangi tingkat persediaan tanpa mengurangi pelayanan kepada pelanggan. Dalam sistem MRP ada beberapa teknik yang digunakan untuk menentukan ukuran lot. Berikut ini akan dibahas sistem MRP teknik Lot For Lot (LFL), Economic Order Quantity (EOQ) dan Part Period Balancing (PPB).

3.1.8.1 Teknik Lot For Lot (LFL) Dalam model ini perusahaan memesan tepat sebesar yang dibutuhkan tanpa persediaan pengaman dan tanpa antisipasi atas pemesanan lebih lanjut. Prosedur semacam ini konsisten dengan ukuran lot kecil, pesanan berkala, persediaan tepat waktu rendah dan permintaan terikat (Heizer dan Render, 1999). Teknik ini dapat menekan biaya yang ditanamkan dalam persediaan barangbarang terikat, apabila perusahaan mampu menyediakan fasilitas yang memadai bagi teknik ini dan memiliki bahan baku dengan kondisi dan sifat yang sesuai. Teknik ini berusaha menghilangkan biaya penyimpanan atas persediaan yang dipegang melewati suatu persediaan. Tetapi teknik ini tidak dapat mengambil keuntungan ekonomis yang berhubungan dengan ukuran pesanan tepat.

3.1.8.2 Teknik Economic Order Quantity (EOQ) Teknik EOQ seperti yang sering digunakan dalam persediaan barangbarang bebas juga dapat digunakan dalam teknik ukuran lot. Asumsi dari prosedur MRP adalah terdapat permintaan terikat yang dapat diketahui dengan menurunkan dari jadwal produksi. Metode ini mengidentifikasikan kuantitas pesanan atau pembelian optimal. Pada penelitian ini akan di bahas model EOQ dasar atau juga sering disebut model EOQ klasik atau model EOQ. Asumsi yang digunakan dalam menerapkan metode EOQ adalah (Buffa dan Sarin, 1996) : 1. Permintaan rata-rata bersifat kontinu dan konstan. 2. Waktu tenggang pasokan bahan konstan.

3. Setiap mata sediaan bersifat independen, yaitu pengisian kembali mata satu sediaan tidak mempengaruhi pengisian kembali mata sediaan yang lain. 4. Harga beli, biaya pemesanan dan biaya penyimpanan konstan. 5. Jumlah bahan yang dikirim sama dengan jumlah yang dipesan. Dalam metode EOQ hanya terdapat biaya pemesanan dan biaya penyimpanan sedangkan biaya kehabisan bahan diabaikan. Bila perusahaan memesan bahan baku dalam jumlah yang kecil maka biaya pemesanan akan tinggi dan biaya penyimpanan akan rendah, dan sebaliknya. Metode EOQ bertujuan mengatasi hal tersebut dengan menentukan jumlah pembelian dimana biaya pemesanan sama dengan biaya penyimpanan. Hubungan antara biaya pemesanan dan biaya penyimpanan dapat dilihat pada Gambar 2. Jumlah pesanan ekonomis terletak pada titik potong antara biaya pemesanan dan penyimpanan (titik Q).

Biaya Biaya total dari persediaan Biaya penyimpanan

Q

Biaya pemesanan Kuantitas bahan baku

O

Qo
Sumber : Buffa dan Sarin, 1996

Gambar 2. Hubungan Antara Biaya Pemesanan dengan Biaya Penyimpanan

Grafik biaya penyimpanan terus meningkat karena semakin besar bahan baku yang dipesan (Q) maka semakin besar pula rata-rata biaya penyimpanan yang dikeluarkan untuk menangani persediaan. Grafik biaya pemesanan

cenderung menurun karena biaya pemesanan akan menurun apabila pemesanan semakin jarang dilakukan. Hal ini terjadi jika setiap pemesanan dipesan dalam jumlah besar sehingga frekuensi pemesanan semakin kecil. Tingkat penggunaan persediaan dalam model ini dapat dilihat pada Gambar 3. Pemesanan persediaan bahan baku dapat dilakukan ketika mencapai titik B unit, yaitu ketika persediaan hanya mencukupi untuk kebutuhan selama waktu tunggu (lead time). Titik C merupakan titik ketika persediaan sudah habis dan pada saat yang sama pesanan datang.

C

Persediaan Maksimum Kurva Penggunaan Bahan

B

Garis Pemesanan Kembali Waktu Minimum Persediaan

A

Gambar 3. Kurva Penggunaan Bahan
Sumber : Handoko, 1992

Kelebihan dari metode EOQ yaitu dalam metode ini ukuran lot yang ditetapkan sama dengan kebutuhan aktual dalam jumlah periode yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan demikian kelebihan sediaan yang mungkin timbul dapat dihilangkan. Selain itu metode mudah dianalisis dalam me nghitung jumlah pesanan dan frekuensi pemesanan yang optimum. Secara intuitif metode ini menarik karena meminimumkan biaya inkremental yang terkait dengan adanya persediaan. Namun kelemahan dari metode ini adalah kurang peka terhadap pemakaian dan waktu tunggu yang berfluktuasi. Untuk mengatasi hal tersebut

maka harus ditambahkan perhitungan persediaan pengaman atau sediaan penyangga pada metode EOQ.

3.1.8.3 Teknik Part Period Balancing (PBB) Teknik PPB merupakan pendekatan yang lebih dinamis untuk

menyeimbangkan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan. PPB membentuk bagian periode ekonomis, yang merupakan resiko antara biaya pemesanan dengan biaya penyimpanan.Teknik PPB secara sederhana menambahkan kebutuhan sampai nilai bagian periode mencapai EPP (Economic Part Period). Teknik ini memiliki prinsip mencoba untuk menggabungkan suatu periode dengan periode berikutnya. Kemudian menghitung kumulatif bersih dari periode gabungan tersebut dan juga menghitung kumulatif bagian periodenya. Kumulatif bagian periode dapat diperoleh dengan mengakumulatifkan perkalian kebutuhan bersih suatu periode dengan periode tambahan yang ditanggung (Tabel 4).

Tabel 4. Cara Perhitungan Bagian Periode
Periode yang Digabungkan 1 1, 2 1, 2, 3
Sumber : Stevenson, 1990

Kebutuhan Bersih Kumulatif A A+B A+B+C

Kumulatif Bagian Periode A x (1-1) = 0 B x (2-1) B x (2-1) + C x (3-1)

Kumulatif yang mendekati nilai EPP merupakan pilihan gabungan periode yang dipilih. Besar pesanan adalah sebesar kebutuhan bersih kumulatif yang dilakukan sebelum kebutuhan tersebut terjadi dengan diterima tepat pada awal periode gabungan tersebut dan digunakan selama periode gabungan.

3.2 Kerangka Pemikiran Operasional Persediaan bahan baku merupakan salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam menentukan efektivitas dan efisiensi kegiatan produksi suatu perusahaan untuk menghasilkan produk yang bermutu. Pengendalian bahan baku yang optimal selain menjaga kontinuitas produksi juga dapat menghasilkan biaya yang minimal sehingga perusahaan dapat memperoleh margin laba tanpa harus menaikkan harga jual produk. Dengan demikian aspek pengendalian persediaan bahan baku perlu dikaji untuk melihat seberapa besar efektivitas dan efisiensi dari kegiatan produksi perusahaan.

3.2.1 Sistem Pengadaan dan Penanganan Bahan Baku Pengawasan terhadap bahan baku perlu dilakukan mulai dari proses pengadaan bahan baku, distribusi, penyimpanan sampai bahan baku tersebut digunakan dalam proses produksi menjadi produk jadi. Perusahaan harus menerapkan kebijakan mengenai tingkat persediaan dan pengendalian persediaan secara efektif dan efisien. Analisis mengenai sistem pengadaan dan penanganan bahan baku perusahaan meliputi jenis dan asal bahan baku, identifikasi kebutuhan bahan baku, prosedur pembelian bahan baku, pemeriksaan kualitas dan penyimpanan bahan bahan baku.

3.2.2 Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku Pengendalian bahan baku bertujuan untuk mempertahankan jumlah sediaan yang optimum sehingga dapat meminimalkan total biaya persediaan guna menjaga kelancaran proses produksi. Analisis persediaan bahan baku bertujuan

untuk mengetahui berapa jumlah pemesanan optimal dan total biaya persediaan yang muncul. Metode yang digunakan dalam analisis pengendalian persediaan bahan baku adalah metode Material Requirement Planning (MRP) teknik LFL, EOQ dan PPB. Informasi yang dibutuhkan meliputi biaya-biaya persediaan (biaya pemesanan dan biaya penyimpanan), volume penggunaan bahan baku perusahaan, frekuensi dan kuantitas pesanan serta waktu tunggu kedatangan bahan baku.

3.2.3 Alternatif Metode Pengendalian Persediaan Bahan Baku Alternatif metode pengendalian persediaan bahan baku yang dapat dipilih perusahaan untuk diterapkan adalah metode yang dapat menghasilkan tingkat sediaan bahan baku yang optimum dengan total biaya persediaan yang terendah sesuai dengan kondisi perusahaan. Metode ini didapat dari hasil perhitungan metode MRP yang kemudian dibandingkan dengan kebijakan pengendalian persediaan yang dilakukan perusahaan. Kerangka penelitian ini disajikan dalam bagan alir kerangka pemikiran operasional pada Gambar 4. Tahap awal analisis dimulai dengan mengetahui sistem pengadaan dan penanganan bahan baku yang meliputi jenis, asal dan kualitas bahan baku; identifikasi kebutuhan bahan baku; prosedur pembelian, pengiriman, penerimaan dan pengawasan kualitas bahan baku. Tahap selanjutnya adalah mengidentifikasi kebijakan pengendalian persediaan bahan baku yang selama ini dilakukan perusahaan. Informasi yang diperlukan meliputi volume pemakaian bahan baku, biaya persediaan, waktu tunggu kedatangan bahan baku, ukuran lot dan frekuensi pemesanan.

Tahap akhir analisis ialah pemilihan alternatif metode pengendalian persediaan yang dapat digunakan oleh perusahaan. Alternatif metode didapat dengan membandingkan metode MRP yang digunakan dengan kebijakan perusahaan. Setelah dilakukan analisis perbandingan kemudian dilakukan pemilihan metode terbaik yaitu metode yang memberikan tingkat sediaan yang optimum dengan biaya terendah, untuk direkomendasikan pada perusahaan sebagai alternatif sistem pengendalian persediaan bahan baku yang efektif dan efisien yang disesuaikan dengan kebijakan pengendalian persediaan yang selama ini diterapkan perusahaan untuk menghindari inefisiensi produksi, sehingga perusahaan dapat terus menjaga kontinuitas proses produksinya dan

meminimumkan biaya produksi.

Sistem Pengadaan dan Penanganan Persediaan Bahan Baku PT X

Jenis dan Asal Bahan Baku

Pemakaian Bahan Baku

Prosedur Pembelian

Pengawasan Kualitas Bahan Baku

Kebijakan Pengendalian Persediaan Bahan Baku PT X

Biaya Persediaan

Volume Pemakaian Bahan Baku

Ukuran Lot dan Frekuensi Pemesanan

Waktu Tunggu

Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku

MRP Teknik LFL

MRP Teknik EOQ

MRP Teknik PPB

Kebijakan Perusahaan

Perbandingan Antar Berbagai Model Pengendalian Persediaan Alternatif Metode Pengendalian Persediaan Bahan Baku

Gambar 4. Bagan Alir Kerangka Pemikiran Operasional

BAB IV METODE PENELITIAN

4.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan pada PT X yang berlokasi di Bogor, Jawa Barat. Pemilihan lokasi didasarkan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan, bahwa PT X merupakan satu-satunya produsen jamu tradisional yang terdaftar pada Dinas Kesehatan Kota Bogor. Penelitian dilakukan selama bulan JuliAgustus 2005.

4.2 Metode Pengumpulan Data Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan di lapangan dan wawancara langsung dengan pimpinan dan staf bagian produksi perusahaan. Selain itu juga dilakukan wawancara terhadap bagian pemasaran dan keuangan sebagai wawancara pelengkap. Data primer yang diperlukan adalah gambaran umum perusahaan, beserta kebijakan perusahaan dalam pengadaan dan pengendalian persediaan bahan bakunya. Data sekunder diperoleh dari laporan perusahaan tahun 2003-2004, meliputi data penjualan dan produksi, persediaan awal dan persediaan akhir bahan baku, kebutuhan bahan baku, waktu tunggu pemesanan, biaya-biaya yang terkait dengan persediaan, jumlah bahan baku yang dipesan dan frekuensi pemesanan. Sebagai data penunjang diperoleh informasi dari instasi terkait seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM),

Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kota Bogor, Dinas Kesehatan Kota Bogor serta literatur dan penelitian yang relevan.

4.3 Metode Pengolahan dan Analisis Data Sistem pengadaan bahan baku yang meliputi perencanaan dan

pelaksanaannya akan dianalisis secara kualitatif dalam bentuk uraian. Dalam merumuskan suatu model untuk mengendalikan persediaan bahan baku perusahaan, data yang diperoleh ditabulasikan dan diolah dengan menggunakan alat bantu kalkulator dan software komputer. Data kuantitatif dari hasil analisa tersebut akan dibandingkan untuk mencari suatu alternatif model yang tepat untuk diterapkan pada perusahaan sesuai dengan kondisi perusahaan.

4.3.1

Identifikasi Kondisi Perusahaan Dalam Manajemen Pengendalian Persediaan Bahan Baku Hal yang pertama kali dilakukan dalam analisis pengendalian persediaan

bahan baku adalah mengidentifikasi kondisi perusahaan dalam manajemen pengadaan dan persediaan bahan baku. Sebelum melakukan analisa perlu diketahui kebijakan perusahaan sehubungan dengan produksi, pembelian bahan baku, fasilitas penyimpanan yang dimiliki perusahaan, perjanjian pesanan pembelian antara perusahaan dan pemasok dan proses pencatatan bahan baku yang dilakukan.

4.3.2 Penentuan Bahan Baku Pokok Perusahaan Penentuan bahan baku dalam pembuatan jamu dilakukan dengan memfokuskan pengendalian persediaan kepada bahan baku yang bernilai tinggi

daripada yang bernilai rendah. PT X menggunakan 21 jenis simplisia dalam proses produksinya. Dalam penelitian ini tidak semua bahan baku akan dianalisis. Dalam menentukan bahan baku yang bernilai tinggi digunakan metode analisis ABC (Pareto Analysis). Persediaan dibagi dalam tiga kelas yaitu kelas A, B dan C berdasarkan nilai pembelian yang terpakai dalam satu periode (tahun). Nilai pembelian adalah jumlah nilai seluruh item pada satu periode. Nilai pembelian didapat dengan mengalikan volume persediaan item dengan harga per unit. Simplisia yang dianalisis adalah simplisia yang tergolong dalam kelas A yaitu simplisia yang bernilai tinggi.

4.3.3 Pendugaan dan Penentuan Biaya Persediaan Perhitungan–perhitungan yang dilakukan dalam menentukan kuantitas optimal pesanan dalam analisis pengendalian persediaan merupakan perhitungan yang melibatkan berbagai jenis biaya yang terkandung dalam persediaan. Oleh karena itu sebelum melakukan perhitungan, perlu dilakukan penentuan komponen-komponen biaya persediaan yang terjadi. Biaya yang akan dibahas meliputi biaya pemesanan dan biaya penyimpanan bahan baku. Biaya pemesanan bahan baku adalah biaya-biaya yang dikeluarkan berkenaan dengan pemesanan dan penerimaan bahan-bahan dari pemasok. Biaya ini berhubungan dengan pesanan tetapi tidak tergantung pada besarnya pesanan. Biaya ini meliputi biaya telepon dalam pemesanan bahan baku kepada pihak pemasok dan biaya administrasi. Biaya pemesanan selama setahun dihitung dengan rumus :

TC = F x C Dimana : T C = biaya pemesanan setahun
F = banyak pemesanan selama setahun C = biaya pemesanan per pesanan

Biaya penyimpanan adalah biaya-biaya yang diperlukan berkaitan dengan adanya persediaan. Biaya ini berhubungan dengan tingkat rata-rata persediaan yang ada di gudang. Biaya ini meliputi biaya opportunity cost, biaya penyusutan bahan baku dan biaya pemeliharaan bahan baku. Biaya penyimpanan selama setahun dihitung dengan rumus : TH = ? tHi tHi = Q ri x h Qri = (Qawi + Qaki)/2 tHi = [ (Qawi + Qaki)/2 ] x h TH = ? [ (Qawi + Qaki)/2 ] x h Dimana : T H
tHi Qri h Qawi Qaki = biaya penyimpanan setahun = biaya penyimpanan per periode = tingkat persediaan rata-rata bulan ke-i = biaya penyimpanan/unit = tingkat persediaan awal bulan ke-i = tingkat persediaan akhir bulan ke-i

4.3.4 Penentuan Volume Pemakaian Bahan Baku Volume pemakaian bahan baku merupakan faktor yang sangat penting dan akan banyak digunakan dalam analisa ini, sebab volume pemakaian bahan baku dapat menunjukkan besar permintaan akan bahan baku, yang termasuk salah satu variabel penentu dalam kuantitas pesanan optimal. Volume pemakaian bahan baku didasarkan atas catatan-catatan historis perusahaan.

4.3.5 Penyesuaian dan Penentuan Waktu Tunggu Bahan Baku Waktu tunggu bahan baku akan digunakan dalam menentukan waktu pelaksanaan pesanan sehingga pesanan dapat diterima pada saat yang tepat. Waktu tunggu bahan baku didasarkan atas catatan-catatan historis perusahaan dan atau dilakukan pendugaan pendugaan berdasarkan informasi-informasi yang relevan.

4.3.6 Analisis Model Pengendalian Persediaan Bahan Baku Dua hal utama yang dicari melalui model-model persedian adalah kuantitas dan waktu pesanan yang optimal bagi perusahaan. Dalam penelitian ini akan dilakukan perbandingan atas beberapa model tersebut sehingga dapat memberikan alternatif pilihan model yang tepat bagi perusahaan. Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah persediaan bahan baku yang termasuk rencana kebutuhan bahan Material Requirement Planing (MRP) System. Teknik yang digunakan adalah teknik LFL, teknik EOQ, dan teknik PBB. Format yang digunakan seperti yang terdapat pada Tabel 5.

Tabel 5. Format Perencanaan Kebutuhan Bahan Baku (MRP)
Periode (minggu) 4 5 6 7 8 9

Keterangan Kebutuhan Kotor Persediaan di Tangan Kebutuhan Bersih Rencana Penerimaan Pesanan Rencana Pelaksanaan Pesanan Sumber : Buffa dan Sarin, 1996

1

2

3

10

...

53

Langkah pertama adalah menentukan kebutuhan kotor bahan baku. Kebutuhan kotor ini adalah rencana pemakaian bahan baku perusahaan yang telah ditentukan sebelumnya pada saat penjadwalan produksi. Stok yang tersedia (awal)

adalah persediaan awal yang ada ditangan untuk suatu periode. Apabila tidak terdapat penerimaan yang dijadwalkan dan tidak terdapat kebutuhan bersih, maka besar stok yang tersedia (awal) untuk suatu periode adalah stok yang tersedia (awal) periode sebelumnya. Apabila terdapat penerimaan terjadwal pada periode sebelumnya, maka stok yang tersedia (awal) untuk suatu periode adalah sebesar penerimaan yang dijadwalkan periode sebelumnya ditambah stok yang tersedia (awal) periode sebelumnya dikurangi kebutuhan kotor periode sebelumnya. Penerimaaan yang dijadwalkan adalah bahan baku yang akan diterima pada periode tertentu dalam periode pengamatan berdasarkan pemesanan yang dilakukan sebelum periode pengamatan. Kebutuhan bersih adalah kebutuhan bahan baku yang tidak dapat lagi dipenuhi perusahaan. Kebutuhan bersih untuk suatu periode tertentu adalah sebesar total kebutuhan kotor dikurangi stok yang tersedia (awal). Stok yang tersedia (akhir) adalah jumlah bahan baku yang masih tersisa digudang pada akhir periode. Stok yang tersedia (akhir) ini merupakan stok awal pada periode berikutnya. Pesanan yang direncanakan adalah besar pesanan yang direncanakan akan dipesan pada suatu periode, dengan harapan akan diterima perusahaan tepat pada saat dibutuhkan yaitu pada saat penerimaan yang dijadwalkan, hanya saja periode pelaksanaannya adalah sebelum penerimaan yang dijadwalkan. Pesanan yang diasumsikan akan diterima ketika barang terakhir meninggalkan pesanan.

4.4 Perbandingan Antar Berbagai Model 4.4.1 MRP Teknik LFL Hal yang pertama kali dilakukan dalam model MRP teknik LFL (Lot For Lot) adalah menentukan kebutuhan kotor, apabila di awal periode terdapat persediaan yang cukup besar maka perusahaan akan persediaan awal terlebih dahulu, sehingga tidak perlu melakukan pemesanan selama dapat memenuhi kebutuhan di waktu tunggu. Pada saat persediaan suatu periode tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan kotor maka dilakukan perencanaan penerimaan pesanan tepat sebesar kebutuhan bersih. Proyeksi kebutuhan persediaan ditangan untuk periode-periode dimana sudah terdapat dan rencana penerimaan pesanan pada periode sebelumnya dapat ditekan sampai sebesar nol. Yang perlu diketahui dalam menjalankan teknik ini adalah besar dan waktu pemakaian bahan baku secara akurat yang didasarkan pada jadwal produksi master dan waktu tunggu bahan baku. Kelemahan dari metode ini adalah perusahaan hanya memesan tepat sebesar jumlah yang dibutuhkan, tanpa ada antisipasi atas pesanan lebih lanjut sehingga pemesanan harus dilakukan berulang-ulang sesuai dengan kebutuhan bersihnya sehingga akan menimbulkan biaya pemesanan yang besar.

Kelebihannya yaitu biaya penyimpanan dalam metode ini ditiadakan karena pemesanan dilakukan sebesar kebutuhan bersihnya. Ada beberapa asumsi yang dipakai dalam teknik ini yaitu : § § § Harga simplisia konstan Pemasok tetap dan tidak ada hambatan pengiriman BBM dan tarif listik dianggap konstan

§

Tidak ada diskon kuantitas terhadap jumlah simplisia yang dipesan

4.4.2 MRP Teknik EOQ Perhitungan persediaan bahan baku dilakukan dengan metode EOQ (Economic Order Quantity). Persediaan bahan baku yang optimal akan meminimalkan biaya-biaya yang terkait dengan adanya persediaan. Biaya

persediaan terdiri dari biaya pemesanan dan penyimpanan bahan baku. Menurut Buffa dan Sarin (1996) biaya-biaya tersebut dirumuskan sebagai berikut : Biaya pemesanan bahan baku tahunan = (R / Q)C

Biaya penyimpanan bahan baku tahunan = (Q / 2)H Sedangkan biaya inkremental total (TIC) akibat adanya persediaan dihitung dengan rumus : TIC = (Q / 2)H + (R / Q)C Kuantitas sediaan bahan baku (Q) akan optimal jika biaya inkremental total mencapai nilai minimum. Hal ini akan dicapai apabila turunan pertama dari TIC tersebut terhadap variabel Q sama dengan 0. Dengan demikian perhitungannya adalah sebagai berikut : TIC d TIC dQ 0 H/ 2 Q2 (H) Q2 = (H / 2) – (C) (R) / Q2 = (C) (R) / Q2 = 2 (C) (R) = 2 (C) (R) / (H) = (Q / 2)H + (R / Q)C = (H / 2) – (C) (R) / Q2 = 0

Q optimal (EOQ) = v 2 (C) (R) / (H)

Dimana : R Q H C TIC = = = = = Pemakaian rata-rata bahan baku per periode Tingkat sediaan Biaya penyimpanan unit per periode Biaya pemesanan per pemesanan Biaya inkremental total

Apabila terdapat persediaan awal yang cukup besar maka perusahaan tidak perlu melakukan rencana permintaan bahan baku sampai persedian tersebut tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan perusahaan. Pesanan yang direncanakan akan diterima pada saat dan jumlah yang mencukupi dan mendekati kebutuhan bersih sesuai dengan kelipatan EOQ yang telah dihitung sebelumnya. Pada penelitian ini diasumsikan tidak ada safety stock agar teknik EOQ ini dapat dibandingkan dengan dua teknik lainnya yaitu LFL dan PPB. Asumsi yang dipakai dalam teknik ini adalah : § § § § § Harga simplisia konstan Pemasok tetap dan tidak ada hambatan pengiriman BBM, tarif listik dan telepon dianggap konstan Tidak ada diskon kuantitas terhadap jumlah simplisia yang dipesan Kapasitas gudang mencukupi

4.4.3 MRP Teknik PPB Dalam teknik PPB (Part Period Balancing) besar pesanan dilakukan sebesar kebutuhan kotor pada suatu periode yang dapat digabungkan. Penggabungan periode dilakukan untuk gabungan berurutan yang memiliki nilai kumulatif bagian periode mendekati nilai Economic Part Period (EPP). EPP dihitung dengan rumus EPP = C/H, dimana C adalah biaya pemesanan per

pesanan dan H adalah biaya penyimpanan per unit per periode. Bagian periode dihitung dengan cara mengalikan persedian ekstra yang ditanggung dengan periode yang ditanggung. Pesanan yang direncanakan akan diterima pada saat dan jumlah yang mencukupi kebutuhan kotor sepanjang periode gabungan sesuai dengan perhitungan PPB berdasarkan EPP yang telah dihitung sebelumnya. Sehingga pada saat suatu periode gabungan yang telah ditentukan tidak memilki kebutuhan bersih maka ada rencana penerimaan pesanan. Pada periode gabungan yang kedua dan yang ketiga dan seterusnya dari suatu gabungan periode, dimana kebutuhan kotornya sudah diterima pada periode pertama dari gabungan periode, maka periode kedua, ketiga dan seterusnya tidak terdapat kebutuhan bersih, sehingga pesanan yang direncanakan akan diterima sama dengan nol. Pada awal periode gabungan direncanakan pesanan yang akan diterima sebesar kebutuhan kotor sepanjang periode gabungan. Kelebihan dari teknik ini yaitu perusahaan akan mendapat beberapa keuntungan melakukan pemesanan dalam jumlah besar dengan frekuensi pemesanan yang lebih kecil. Kelema han dari teknik ini adalah metode ini kurang sesuai diterapkan untuk bahan baku yang mudah rusak. Asumsi yang dipakai adalah : § § § § § Harga simplisia konstan Kapasitas gudang mencukupi Pemasok tidak mengalami hambatan dalam menyediakan simplisia BBM, tarif listrik dan telepon dianggap konstan Tidak ada diskon kuantitas terhadap jumlah simplisia yang dipesan

4.4.5 Kebijakan Perusahaan Untuk dapat menganalisis sistem pengadaan dan pengendalian persediaan bahan baku yang dilakukan perusahaan hal-hal yang harus diketahui meliputi persediaan awal, persediaan akhir, pemakaian bahan baku oleh perusahaan, frekuensi dan kuantitas pesanan.

4.5 Analisis Perbandingan Biaya Setelah dilakukan analisis biaya persediaan bahan baku dengan metode MRP maka langkah selanjutnya adalah membandingkan metode tersebut dengan kebijakan perusahaan. Perbandingan yang dilakukan meliputi perbandingan antar metode pada tiap jenis bahan baku dan perbandingan antar metode pada keseluruhan bahan baku Tujuan dari perbandingan antar metode tersebut adalah untuk mendapatkan alternatif metode pengendalian persediaan dalam rangka efisiensi produksi. Setelah dilakukan perbandingan langkah selanjutnya adalah melakukan analisis penghematan biaya yang dilakukan dengan menghitung selisih nilai pada metode MRP dengan kebijakan perusahaan. Analisis penghematan yang dilakukan meliputi penghematan biaya persediaan pada tiap jenis bahan baku dan penghematan pada keseluruhan bahan baku. Berdasarkan analisis perbandingan dan penghematan kemudian dilakukan pemilihan metode terbaik untuk direkomendasikan pada perusahaan sebagai alternatif sistem pengendalian persediaan bahan baku yang efektif dan efisien yang disesuaikan dengan kebijakan pengendalian persediaan yang diterapkan perusahaan.

4.6 Definisi Operasional 1. Bahan baku yang dipergunakan dalam proses produksi jamu tradisional adalah simplisia yang berupa tanaman obat utuh dan bagian tanaman obat yang telah dikeringkan. 2. Jenis bahan baku yang dianalisis adalah bahan baku yang termasuk kelas A dalam klasifikasi ABC yaitu jahe merah dan adas soa. 3. Waktu tunggu adalah selang waktu antara pemesanan bahan baku dengan saat kedatangan dan penerimaan bahan baku di gudang penyimpanan. Waktu tunggu diukur dalam satuan hari. 4. Frekuensi pemesanan adalah banyaknya (kali) pemesanan yang dilakukan perusahaan selama satu periode (tahun) produksi. 5. Biaya pemesanan bahan baku adalah biaya yang dilakukan setiap kali melakukan pemesanan. Biaya pemesanan diukur dalam satuan rupiah per pesanan (Rp/pesanan). 6. Biaya penyimpanan bahan baku adalah semua biaya yang dikeluarkan perusahaan selama satu periode (tahun) produksi karena penyimpanan persediaan bahan baku. Biaya penyimpanan bahan baku diukur dalam satuan rupiah per kilogram (Rp/kg).

BAB V GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

5.1 Sejarah Berdirinya Perusahaan PT X didirikan pada tanggal 1 April 2000. Pendirinya merupakan seorang peneliti bidang botani di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Setelah terjadi krisis ekonomi di Indonesia yang menyebabkan melonjaknya harga obatobatan modern kegiatan penelitian lebih difokuskan pada pemanfaatan khasiat dan sumber tumbuhan obat asli Indonesia. Berbekal dari ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, peneliti tersebut mulai memformulasikan obat-obatan alami (jamu) dari tumbuhan obat yang sudah diteliti selama bertahun-tahun. Tujuan pertama beliau mencari formulasi jamu tersebut adalah untuk mengobati penyakit asam urat dan kolesterol beliau. Ketika formulasi jamu yang dibuat beliau berhasil mengobati penyakitnya, rekan-rekan kerja dan relasi beliau mulai tertarik untuk mengkonsumsi jamu tersebut. Produk-produk jamu yang diformulasikan mulai bertambah sehingga beliau dibantu beberapa rekan kerjanya sepakat untuk mendirikan usaha jamu tradisional. Pada tanggal 1 April 2000 PT X resmi didirikan dengan Nomor Induk Pendaftaran Industri Kecil (NIPIK) 09.32.71.00877. PT X berlokasi di daerah Bogor, Jawa Barat. Pada awal berdirinya produk jamu PT X belum dikenal oleh masyarakat sehingga PT X memasarkan produknya hanya melalui mulut ke mulut pada orang di daerah Bogor dan Tangerang yang dikenal oleh pemilik dan karyawan. Setelah produk jamu PT X mulai dikenal masyarakat dan perusahaan mulai berkembang,

PT X mulai memanfaatkan apotek dan warung-warung jamu untuk menjual produknya. Pada tahun 2004 PT X me njalin kerjasama dengan distributor di daerah Jakarta, Lampung dan Bali. PT X memiliki sembilan orang tenaga kerja tetap dengan jam kerja pukul 07.30-16.30 dari hari Senin sampai Jum’at. Spesifikasi tenaga kerja PT X dapat dilihat pada Tabel 6. Namun jika ada jumlah pesanan yang cukup besar maka PT X membayar tenaga kerja tambahan dari luar untuk proses produksi.

Tabel 6. Spesifikasi Tenaga Kerja PT X Tahun 2004
Pendidikan S3 S2 S1 D3 SLTA Total
Sumber : PT X, 2004

Jabatan Pimpinan Bagian Keuangan Bagian Pemasaran Bagian Produksi Karyawan

Jumlah (Orang) 1 1 1 1 5 9

5.2 Struktur Organisasi Perusahaan Struktur organisasi perusahaan menggambarkan hubungan tanggung jawab dan wewenang yang terdapat dalam perusahaan tersebut. Struktur organisasi PT X tergolong sederhana. Struktur organisasi ini sering digunakan pada perusahaan yang tergolong dalam skala kecil karena akan memudahkan dalam mengelola manajemen perusahaan. PT X memiliki struktur organisasi yang terdiri atas pimpinan, bagian keuangan, bagian produksi, bagian pemasaran dan karyawan bagian produksi. Berikut ini adalah gambaran tugas dan wewenang dari masingmasing bagian tersebut :

1. Pimpinan Pimpinan bertanggung jawab untuk mengawasi jalannya kegiatan operasional perusahaan dan aliran dana, mengurus administrasi, mengevaluasi seluruh kegiatan perusahaan dan memberikan laporan secara berkala kepada para pemilik saham. Wewenang yang dimiliki pimpinan adalah menetapkan kebijakan yang berhubungan dengan pemasok bahan baku, proses produksi, pemasaran, keuangan serta mengambil keputusan yang berkaitan dengan kegiatan perusahaan. 2. Bagian Keuangan Bagian keuangan bertanggung jawab atas aliran dana dalam perusahaan, termasuk di dalamnya penerimaan hasil penjualan dan pengeluaran untuk pembelian bahan baku, administrasi, pemasaran produk, transportasi, gaji karyawan serta memberikan laporan keuangan perusahaan secara berkala kepada pimpinan. Bagian keuangan memiliki wewenang untuk menerima uang hasil penjualan produk dari bagian pemasaran sebelum dilaporkan. Dalam menjalankan tugasnya bagian keuangan dibantu oleh seorang karyawan bidang keuangan. 3. Bagian Pemasaran Bagian pemasaran bertanggung jawab dalam mengawasi stok produk jadi yang sudah atau belum terjual di apotek atau warung jamu yang menjual produk tersebut, mengantarkan pesanan produk jadi kepada konsumen atau distributor dan memberikan laporan hasil penjualan secara berkala. Bagian pemasaran berwenang untuk menerima uang hasil penjualan produk dari konsumen atau distributor sebelum disetorkan ke bagian keuangan. Dalam

menjalankan tugasnya bagian pemasaran dibantu oleh seorang karyawan bidang pemasaran. 4. Bagian Produksi Bagian produksi bertanggung jawab atas proses produksi, penyimpanan dan pengawasan stok bahan baku, pemeliharaan gudang dan memberikan laporan penggunaan bahan baku dan produk jadi yang dihasilkan dalam proses produksi. Bagian produksi memiliki wewenang untuk mengajukan pembelian bahan baku ke bagian keuangan, menerima pesanan bahan baku dari pemasok dan mengajukan komplain kepada pemasok jika bahan baku yang diterima tidak sesuai pesanan. Dalam menjalankan tugasnya bagian produksi dibantu tiga orang karyawan. 5. Karyawan Karyawan bagian produksi berjumlah tiga orang yang bertugas untuk menyimpan stok bahan baku sesuai aturan yang ditetapkan perusahaan, menyiapkan bahan-bahan yang akan digunakan dalam proses produksi dan memelihara kebersihan gudang dan ruangan produksi. Karyawan bagian pemasaran dan keuangan membantu pelaksanaan tugas-tugas pada bagian terkait. Karyawan tidak memiliki wewenang dalam perusahaan.

Pimpinan

Bagian Keuangan

Bagian Produksi

Bagian Pemasaran

Karyawan

Karyawan

Karyawan

Gambar 5. Struktur Organisasi PT X
Sumber : PT X, 2004

5.3 Produk dan Strategi Pemasaran PT X 5.3.1 Produk PT X memproduksi 18 jenis jamu tradisional yang berkhasiat untuk menjaga stamina tubuh, perawatan kecantikan, mengobati penyakit asam urat, darah tinggi, rheumatik, diabetes dan kolesterol. Produk jamu PT X dijual dalam bentuk kapsul. Dari delapan jenis jamu tersebut tiga jenis di antaranya yaitu jamu untuk perawatan kecantikan, pengobatan asam urat dan rheumatik selain diproduksi dalam bentuk jamu kapsul juga diproduksi dalam bentuk teh herbal. Variasi bentuk ini bertujuan untuk memberikan alternatif pilihan bagi konsumen untuk mengkonsumsi jamu tersebut. Produk-produk yang dihasilkan PT X dibuat dari simplisia berupa tanaman obat yang sudah diuji melalui penelitian ilmiah sehingga kandungan kimiawi dan

khasiat dari bahan tersebut memenuhi persyaratan keamanan dan kesehatan dari Depkes RI dan Badan POM.

5.3.2 Strategi Pemasaran Wilayah pemasaran produk PT X adalah kota Bogor dan Jakarta. Produkproduk tersebut selain dijual langsung dari tempat pembuatan juga dijual di beberapa apotek dan warung jamu yang tersebar di daerah tersebut. Saat ini PT X mulai memperluas wilayah pemasaran produknya ke daerah Lampung dan Bali. PT X menetapkan harga yang sama untuk semua produk yaitu Rp 25.000,00 untuk 1 botol jamu kapsul yang berisi 30 kapsul dan 1 kotak teh herbal dengan berat 100 gr. Harga ini ditetapkan sesuai dengan target pasarnya yaitu untuk kalangan menengah. Promosi yang dilakukan PT X adalah dengan menyebarkan brosur, poster dan informasi dari mulut ke mulut. Strategi promosi dari mulut ke mulut dinilai perusahaan paling berhasil dalam memasarkan produknya sebab produk PT X belum banyak dikenal masyarakat sehingga orang akan lebih percaya pada khasiat produk tersebut setelah melihat atau mendengar sendiri dari orang yang pernah atau sedang mengkonsumsi produk tersebut.

5.4 Proses Produksi Jamu PT X Simplisia yang diterima dari pemasok sebelum disimpan di gudang dan digunakan dalam proses produksi diperiksa terlebih dahulu agar jika ada kerusakan atau tidak sesuai dengan pesanan dapat langsung dikembalikan ke

pihak pemasok sehingga dapat secepatnya diganti. Sebelum menjadi produk jadi simplisia akan melalui tahapan-tahapan dalam proses produksi yang meliputi : 1. Sortasi Simplisia yang akan digunakan disortir terlebih dahulu untuk menghindari terdapatnya benda atau bahan asing yang tidak diinginkan masuk dalam proses produksi misalnya batu, paku, plastik dan kotoran lainnya. 2. Pencucian Simplisia yang sudah disortir dicuci dengan air yang terjamin kebersihannya. Pencucian dilakukan dengan tujuan menghilangkan

pencemaran pada simplisia. 3. Pengeringan Setelah dilakukan pencucian simplisia dikeringkan dalam dua tahap. Tahap pertama simplisia dijemur di bawah sinar matahari dan tahap kedua dikeringkan dengan oven pengering. Proses pengeringan dengan dua tahap ini bertujuan untuk tetap menjaga agar simplisia tetap berada dalam keadaan kering atau tidak lembab sehingga terhindar dari perkembangbiakan mikroorganisme yang dapat merusak mutu simplisia tersebut. Simplisia yang sudah melalui proses pengeringan dikategorikan sebagai bahan baku bersih. 4. Penggilingan Bahan baku bersih yang akan diolah menjadi produk jadi sebelum diracik akan melalui proses penggilingan per jenisnya dengan mesin giling. Setelah digiling bahan baku tersebur diayak menjadi serbuk halus sesuai standar yang ditentukan untuk digunakan dalam pembuatan jamu kapsul. Untuk pembuatan teh herbal hasil gilingan akan langsung dicampur dengan daun teh kering.

5. Pencampuran Bahan baku yang sudah berupa serbuk halus akan ditimbang dan diracik dengan bahan lain sesuai dengan formula produk yang akan dibuat. Setelah diracik bahan-bahan tersebut diaduk dengan mesin pengaduk sehingga tercampur rata menjadi serbuk jamu yang akan diolah lagi.

5.4.1 Proses Produksi Jamu Kapsul 1. Serbuk jamu sebelum diekstrak akan diayak kembali sehingga diperoleh serbuk yang lebih halus. Setelah diekstrak bahan tersebut dipanaskan untuk mencegah kontaminasi mikroorganisme. 2. Ekstrak jamu yang sudah dipanaskan diaduk dengan mixer dan ditimbang untuk dimasukkan ke dalam kapsul yang sudah dicetak. 3. Jamu kapsul dimasukkan ke dalam botol sesuai ukuran yang ditetapkan, Kemudian botol tersebut disegel dan disterilisasi untuk menjamin mutu produk tersebut.

5.4.2 Proses Pembuatan Teh Herbal 1. Bahan baku yang sudah digiling dipanaskan untuk mencegah kontaminasi mikroorganisme. Kemudian bahan-bahan tersebut ditimbang dan diracik sesuai formula. 2. Bahan-bahan yang sudah diracik diaduk dengan mixer dan ditambahkan dengan daun teh kering yang sudah digiling kemudian diadauk kembali agar tercampur rata menjadi teh herbal.

3.

Teh herbal ditimbang sesuai ukuran yang ditetapkan dan dikemas dalam plastik kedap udara kemudian dimasukkan ke dalam kotak kardus untuk disterilisasi.

Secara singkat alur proses produksi jamu tradisional PT X dapat dilihat pada Gambar 6.
Sortasi Pencucian Pengeringan Penggilingan

Bahan baku kotor

Hasil Penggilingan

Pengayakan

Pemanasan

Serbuk jamu

Pencampuran dengan daun teh

Ekstraksi

Teh herbal

Pemanasan

Pencetakan jamu kapsul

Pengemasan dan sterilisasi

Gambar 6. Bagan Proses Produksi Jamu PT X
Sumber : PT X, 2004

BAB VI SISTEM PERSEDIAAN BAHAN BAKU

6.1 Jenis, Asal dan Kualitas Bahan Baku Dalam pembuatan produk-produk jamu PT X menggunakan 21 jenis simplisia. Simplisia tersebut selain didatangkan dari pemasok di Yogyakarta juga diperoleh dari pasar tradisional di Bogor. Jenis simplisia yang dipasok dari Yogyakarta adalah jahe merah, adas soa, angkak, daun tempuyung, akar tempuyung, pasak bumi, lempuyang, kulit delima, pule pandak, bangle dan kunyit putih. Sedangkan simplisia yang bisa didapatkan di pasar tradisional di Bogor adalah ketumbar, adas bintang, cengkeh, kayu manis, mengkudu, pala, lada, bunga lada dan phylanthus. Simplisia yang digunakan dalam proses produksi adalah simplisia dalam bentuk kering. Pembelian simplisia dalam bentuk kering dapat menghemat waktu dan biaya. Jika perusahaan membeli simplisia yang masih dalam keadaan segar maka perusahaan harus mengeringkan terlebih dahulu sebelum disimpan dan digunakan. Selain itu selama dalam proses pengeringan bobot simplisia segar akan menyusut disebabkan berkurangnya kadar air. Pembelian simplisia kering selain menghemat waktu dan biaya, simplisia tidak akan cepat membusuk sehingga dapat disimpan dalam waktu yang cukup lama sebelum digunakan dalam proses produksi. PT X menerapkan standar kualitas untuk simplisia yang akan digunakan dalam pembuatan produk jamu. Dari segi fisik simplisia tidak boleh terdapat pasir, paku, kotoran, kapang dan benda-benda asing lainnya, tidak ada bagian

yang membusuk atau berlendir dan berbau khas jenis simplisia tersebut. Kadar air yang diizinkan adalah 5-7 persen dari bobot simplisia untuk simplisia dalam bentuk daun, sedangkan untuk simplisia dalam bentuk akar, bunga, buah, rimpang dan kulit adalah kurang dari 10 persen dari bobot simplisia. Tingkat kadar air dipengaruhi oleh ketebalan simplisia. Akar, bunga, buah, rimpang dan kulit memiliki ketebalan yang lebih besar dari daun sehingga dalam keadaan lembab daun lebih cepat berjamur. Sebelum digunakan dalam proses produksi PT X melakukan uji kualitas termasuk uji mikroba pada simplisia.

6. 2 Perencanaan Pengadaan Simplisia Perencanaan pengadaan bahan baku PT X melibatkan bagian pemasaran, bagian produksi dan bagian keuangan. Bagian produksi menyusun rencana produksi produk jadi selama satu periode produksi (tahun). Jika ada informasi permintaan konsumen dari bagian pemasaran maka bagian produksi memeriksa persediaan bahan baku yang ada di gudang. Bila persediaan bahan baku di gudang tidak mencukupi, maka bagian produksi mengajukan permintaan pembelian bahan baku kepada bagian keuangan. Kemudian bagian keuangan akan melakukan pembelian bahan baku. Bon-bon dalam proses pembelian dicatat dalam pembukuan keuangan. Jika bahan yang dibeli telah sampai maka bahan-bahan tersebut diperiksa dahulu sebelum masuk ke gudang penyimpanan.

6.3 Prosedur Pembelian Bahan Baku PT X mendapatkan bahan baku (simplisia nabati) dari pemasok yang berada di Yogyakarta dan dari pasar tradisional di Bogor. Untuk pembelian

simplisia dari pemasok di Yogyakarta pemesanan dilakukan lewat telepon. Setelah disepakati harga dan kuantitas pembelian maka pemasok mengirimkan pesanan sesuai waktu yang disepakati. Setelah bahan baku diterima oleh perusahaan maka perusahaan melakukan pembayaran lewat bank ke rekening pemasok. Secara garis besar prosedur pembelian yang dilakukan PT X terhadap pihak pemasok adalah : 1. Perusahaan memesan bahan baku yang dibutuhkan lewat telepon. 2. Perusahaan melakukan negosiasi harga dengan pemasok mengenai harga, kuantitas dan spesifikasi kualitas bahan baku. 3. Bahan baku siap dikirim. 4. Bahan baku yang diterima dari pemasok disortir terlebih dahulu. Jika kualitas bahan baku tidak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan perusahaan maka bahan tersebut dikembalikan kepada pemasok untuk diganti dengan bahan yang sesuai. 5. Setelah bahan diterima dan siap masuk gudang perusahaan menandatangani surat perjanjian pembayaran dari pihak pemasok. 6. Perusahaan mentransfer pembayaran bahan baku yang diterima lewat bank ke rekening pemasok.

6.4 Sistem Pengadaan Bahan Baku Jumlah persediaan bahan baku yang dimiliki PT X setiap bulannya tidak sama. Tujuan perusahaan memiliki persediaan adalah untuk memperlancar produksi dan mengantisipasi ketersediaan simplisia yang sulit diperoleh.

Kerusakan bahan baku selama dalam proses penyimpanan atau proses produksi juga menjadi bahan pertimbangan diadakannya persediaan bahan baku. Tujuan akhir dari persediaan adalah untuk memenuhi permintaan konsumen. Berdasarkan tujuannya persediaan PT X termasuk jenis safety stock sebagai persediaan pengaman agar tidak menghambat proses produksi. Sifat simplisia baik kualitas ataupun kuantitasnya yang tergantung dari alam dan adanya produksi setiap bulannya membuat perusahaan harus mengatur manajemen yang baik dalam pengendalian persediaan bahan baku. Sistem pengadaan simplisia yang dilakukan perusahaan didasarkan pada rencana produksi selama satu tahun yang telah disusun sebelumnya dengan

mempertimbangkan tingkat penjualan tahun lalu.

Tabel 7. Tingkat Pembelian Simplisia Jahe Merah dan Adas Soa (kg) PT X, 2004
Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Total
Sumber : PT X, 2004

Jenis Simplisia Jahe Merah (kg) Adas Soa (kg) 280 60 95 0 450 454 2658 415 1583 102 990 53 67 12 51 6 21 3 15 0 0 0 10 0 6.222 1.105

Pada Tabel 7 pembelian berdasarkan volume tertinggi adalah simplisia jahe merah sebesar 6.222 kg. Sedangkan untuk simplisia adas soa sebesar 1.105

kg. Harga pembelian untuk simplisia jahe merah adalah sebesar Rp 75.000,00 per kg dan simplisia adas soa sebesar Rp 200.000,00 per kg. Persediaan simplisia yang dibeli disimpan dalam gudang penyimpanan. Bagian produksi selalu memeriksa jumlah, jenis, waktu dan nilai persediaan simplisia yang dibeli dan dipakai. Simplisia disimpan dalam wadah (tong) kedap udara di dalam gudang penyimpanan dengan ventilasi sinar matahari dan sirkulasi udara yang baik. Wadah penyimpanan simplisia diberi label tanggal kedatangan untuk memudahkan pemeriksaan dan penggunaan bahan, lalu diletakkan di atas lantai yang diberi alas dari kayu. Berdasarkan catatan perusahaan pada bulan Januari 2004 persediaan awal untuk masing-masing simplisia jahe merah dan adas soa adalah sebesar 160 kg dan 30 kg. Metode yang dipakai adalah metode FIFO yaitu persediaan simplisia yang pertama kali masuk digunakan terlebih dahulu. Metode ini dipakai untuk menghindari kerusakan simplisia akibat terlalu lama disimpan di gudang.

BAB VII ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN SIMPLISIA PT X

7.1 Klasifikasi Bahan Baku Simplisia berupa tanaman obat merupakan bahan baku utama pada industri jamu tradisional. Simplisia yang digunakan dalam proses produksi jamu PT X berjumlah 21 jenis. Pengawasan persediaan sebanyak 21 jenis simplisia membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu perusahaan perlu menerapkan suatu kebijakan dengan mempertimbangkan segi efisiensi dan efektivitas, yaitu dengan membedakan bahan baku yang memerlukan pengawasan ketat dan bahan baku yang pengawasannya dapat dilakukan agak longgar. Bahan baku yang membutuhkan pengawasan ketat adalah jenis bahan baku yang membutuhkan nilai investasi yang cukup tinggi. Sebaliknya pengawasan agak longgar dapat diberikan pada bahan baku yang mempunyai investasi rendah. Dalam penelitian ini persediaan simplisia yang akan dianalisis dibatasi dengan sistem klasifikasi ABC yang menerapkan “Pareto Analysis”, dimana untuk sistem persediaan yang memiliki jenis yang cukup banyak akan lebih efektif bila dilakukan pengelompokkan berdasarkan nilai pembeliannya. Biasanya untuk bahan baku yang relatif sedikit jumlahnya, tetapi memiliki nilai pembelian yang cukup tinggi diberikan perhatian yang lebih besar dalam pengendaliannya. Berdasarkan klasifikasi ABC diperoleh dua jenis simplisia yang tergolong kelas A. Simplisia yang tergolong kelas B sebanyak lima jenis. Sedangkan simplisia yang tergolong dalam kelas C berjumlah 14 jenis. Pada penelitian ini persediaan simplisia yang akan dianalisis adalah simplisia yang tergolong dalam kelas A

yaitu jahe merah dan adas soa. Perhitungan untuk menentukan kelas-kelas simplisia ini dapat dilihat pada Lampiran 1.

7.2 Biaya Persediaan Biaya persediaan merupakan biaya yang terjadi akibat perusahaan mengadakan persediaan bahan baku. Biaya persediaan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah biaya pemesanan dan biaya penyimpanan. Biaya pemesanan merupakan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan akibat adanya pemesanan bahan baku. Biaya ini tidak dipengaruhi oleh besarnya jumlah pesanan yang dilakukan perusahaan. Komponen biaya pemesanan simplisia PT X terdiri atas biaya telepon dan biaya administrasi. Biaya telepon diperlukan saat bagian keuangan memesan simplisia kepada pihak pemasok. Besarnya biaya telepon dipengaruhi oleh jarak pemasok. Semakin jauh jarak pemasok dari perusahaan maka semakin besar besar biaya yang diperlukan. Sedangkan biaya administrasi diperlukan untuk pembuatan faktur dan biaya administrasi bank. Pihak pemasok mengambil kebijakan menetapkan harga simplisia yang dibeli di dalamnya sudah termasuk biaya transportasi. Secara terperinci komponen biaya pemesanan perusahaan untuk simplisia jahe merah dan adas soa dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Komponen Biaya Pemesanan per Pesanan Simplisia Jahe Merah dan Adas Soa (Rp) PT X, 2004
Jenis Simplisia Komponen Biaya Biaya Telepon Biaya Administrasi Total
Sumber : PT X, 2004 (diolah)

Jahe Merah 50.000 25.000 75.000

Adas Soa 50.000 25.000 75.000

Berdasarkan Tabel 8 biaya pemesanan kedua simplisia tersebut adalah sama karena kedua simplisia tersebut dipesan dari pemasok yang sama di daerah Yogyakarta. Biaya telepon merupakan komponen biaya terbesar yaitu sebesar 66,67 persen dari total biaya pemesanan. Sedangkan biaya administrasi hanya sebesar 33,33 persen dari total biaya pemesanan. Biaya persediaan selanjutnya adalah biaya penyimpanan. Biaya ini dikeluarkan perusahaan akibat menyimpan bahan baku. Biaya ini terdiri atas opportunity cost, biaya penyusutan simplisia dan biaya pemeliharaan bahan baku (Tabel 9). Opportunity cost adalah biaya yang dikorbankan dengan adanya persediaan dibandingkan apabila dana untuk persediaan tersebut disimpan di bank. Besarnya opportunity cost dipengaruhi oleh harga pembelian simplisia dan besarnya tingkat suku bunga tahun 2004 yaitu 7,38 persen. Biaya penyusutan simplisia diperhitungkan sebesar 1,5 persen dari harga pembelian simplisia. Angka ini diperoleh dari bagian produksi yang menyatakan rata-rata penyusutan bobot simplisia sebesar 1,5 persen dari bobot semula. Biaya pemeliharaan dikeluarkan untuk memelihara bahan baku dari serangan tikus atau jamur. PT X hanya menggunakan bahan alami yaitu cabai yang dimasukkan dalam wadah kedap udara yang berisi simplisia. Cabai yang mulai layu atau tidak segar lagi akan diganti dengan yang baru untuk menjaga kualitas simplisia selama dalam proses penyimpanan.

Tabel 9. Komponen Biaya Penyimpanan Simplisia Jahe Merah dan Adas Soa PT X, 2004
Komponen Biaya Penyimpanan Opportunity Penyusutan Pemeliharaan Cost (Rp/kg) Bahan Baku (Rp/kg) (Rp/kg) Jahe Merah 5.535 1.125 150 Adas Soa 14.760 3.000 150 Sumber : PT X, 2004 (diolah) Jenis Simplisia Biaya Penyimpanan Setahun (Rp/kg) 7.406,08 18.506,08 Biaya Penyimpanan Seminggu (Rp/kg) 131,32 337,92

Biaya penyimpanan per minggu yang paling besar adalah untuk simplisia adas soa yaitu sebesar Rp 337,92 sedangkan untuk jahe merah sebesar Rp 131,32. Perbedaan ini disebabkan karena kedua simplisia tersebut memiliki harga per kilogram yang berbeda. Dalam penelitian ini biaya pemeliharaan fasilitas gudang tidak dianalisis. Biaya ini bersifat tetap karena nilainya tidak tergantung pada banyaknya jumlah persediaan yang disimpan. Biaya ini akan tetap dikeluarkan meskipun persediaan ada dalam jumlah yang sedikit.

7.3 Pemakaian Bahan Baku Pemakaian bahan baku PT X disesuaikan dengan rencana produksi yang disusun oleh bagian produksi. Pemakaian simplisia berfluktuasi sepanjang tahun. Diasumsikan produksi dapat berjalan sesuai dengan rencana produksi yang telah direncanakan sebelumnya. Tingkat pemakaian simplisia jahe merah dan adas soa dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Tingkat Pemakaian Persediaan Simplisia Jahe Merah dan Adas Soa PT X, 2004
Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Total Jenis Simplisia Jahe Merah (kg) 126,5 43 362,5 1980 1179 1160,5 243,5 155 30 60,5 1,3 18 5.359,8 Adas Soa (kg) 6 0 318 322 130 167 30 10 1 2 0 0 699,8

Sumber : PT X, 2004 (diolah)

Berdasarkan Tabel 10 pemakaian simplisia pada PT X berfluktuasi sepanjang tahun. Pada bulan Maret sampai Juni pemakaian simplisia meningkat karena PT X mulai menjual produk jamu di daerah Lampung, Bali dan Jakarta Barat dengan memanfaatkan distributor yang ada di daerah tersebut. Pemakaian terendah terjadi pada bulan November, karena pada bulan puasa konsumsi jamu cenderung menurun dan jam kerja karyawan perusahaan berkurang sehingga produksi produk jadi tidak sebanyak bulan-bulan sebelumnya. Berdasarkan catatan perusahaan pada awal bulan Januari 2004 terdapat catatan persediaan awal simplisia jahe merah dan adas soa yang merupakan sisa pemakaian dari periode tahun 2003. Persediaan awal untuk jahe merah sebesar 160 kg dan adas soa sebesar 30 kg.

7.4 Waktu Tunggu Pengadaan Bahan Baku Waktu tunggu (lead time) pengadaan persediaan simplisia merupakan waktu yang dibutuhkan sejak simplisia dipesan sampai simplisia tersebut sampai di gudang penyimpanan perusahaan dan siap digunakan dalam proses produksi. Perusahaan belum memiliki catatan detail mengenai waktu tunggu antara pemesanan dan penerimaan pesanan. Berdasarkan keterangan dari pihak perusahaan diperoleh keterangan bahwa waktu tunggu pengadaan simplisia jahe merah dan adas soa adalah 6 hari.

7.5 Sistem Pengendalian Persediaan Bahan Baku Pada PT X Pengendalian persediaan bahan baku yang dilakukan perusahaan bertujuan agar produksi dapat berjalan dengan kontinu, efektif dan efisian. Pada penelitian ini akan dibahas kebijakan pengendalian persediaan yang dilakukan PT X dan metode pengendalian persediaan yang disebut Material Requirement Planning (MRP) dengan tiga teknik alternatif ukuran lot yaitu teknik Lot For Lot (LFL), Economic Order Quantity (EOQ) dan Part Period Balancing (PPB). Prinsip pengendalian persediaan bahan baku adalah untuk meminimalkan total biaya persediaan bahan baku dan menjaga ketersediaan bahan baku agar dapat memenuhi kebutuhan bahan baku tersebut. Pembahasan kebijakan pengendalian persediaan perusahaan dan ketiga teknik pengendalian persediaan metode MRP dari simplisia jahe merah dan adas soa dapat dillihat pada Lampiran 5.

7.5.1 Kebijakan Pengendalian Persediaan Bahan Baku pada PT X Dalam melakukan pengendalian persediaan bahan baku PT X melakukan pemesanan bahan baku berdasarkan rencana produksi dan permintaan konsumen. Sifat simplisia baik kualitas ataupun kuantitasnya sangat tergantung dari alam membuat manajemen perusahaan perlu melakukan pengendalian persediaan simplisia yang baik agar dapat menjaga kontinuitas dan mengantisipasi kerusakan simplisia. Bagian produksi harus terus melakukan pemeriksaan rutin terhadap bahan baku yang ada di gudang. Bagian produksi sebagai pengendali persediaan menghitung jumlah persediaan bahan baku yang diperlukan sebanyak kebutuhan ditambah stok antisipasi agar jika ada permintaan mendadak perusahaan tetap dapat memenuhi permintaan.

Tabel 11. Frekuensi dan Kuantitas Pembelian dengan Kebijakan yang Diterapkan PT X, 2004
Jahe Merah Frekuensi Kuantitas (kali) (kg) 4 280 4 95 5 450 7 2658 6 1583 5 990 4 67 3 51 1 21 1 15 0 0 1 10 41 6.222 Adas Soa Frekuensi Kuantitas (kali) (kg) 2 60 0 0 6 454 5 415 5 102 4 53 2 12 1 6 1 3 0 0 0 0 0 0 26 1.105

Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Total

Sumber : PT X, 2004 (diolah)

Pada tahun 2004 untuk simplisia jahe merah dilakukan pembelian sebanyak 41 kali. Sedangkan untuk simplisia adas soa dilakukan pembelian sebanyak 26 kali. Berdasarkan kebijakan pengendalian persediaan simplisia yang diterapkan perusahaan, total biaya persediaan yang dikeluarkan perusahaan selama tahun 2004 mencapai Rp 7.167.493,15. Biaya pemesanan menjadi komponen terbesar dalam biaya persediaan yaitu sebesar Rp 5.025.000,00 atau sebesar 70,1 persen dari total biaya persediaan. Hal ini disebabkan karena tingginya frekuensi biaya pembelian simplisia yang dilakukan oleh perusahaan. Biaya pemesanan tertinggi adalah untuk simplisia jahe merah. Secara terperinci komponen biaya persediaan dengan kebijakan perusahaan dapat dilihat pada Tabel 12. Berdasarkan Tabel 12 dapat dilihat bahwa biaya penyimpanan jahe merah sebesar Rp 1.467.835,87 pada tahun 2004 lebih tinggi dari biaya penyimpanan adas soa yang hanya Rp 674.657,28. Hal ini disebabkan karena kuantitas penyimpanan jahe merah lebih besar dibandingkan frekuensi pemesanan dan kuantitas penyimpanan adas soa.

Tabel 12. Biaya Persediaan Simplisia Jahe Merah dan Adas Soa dengan Kebijakan PT X, 2004
Uraian Frekuensi (kali) Biaya Pemesanan per Pesanan (Rp) Biaya Pemesanan (Rp) Biaya Penyimpanan (Rp/kg/minggu) Biaya Penyimpanan Setahun (Rp) Biaya Persediaan Setahun (Rp)
Sumber : PT X, 2004 (diolah)

Jenis Simplisia Jahe Merah Adas Soa 41 26 75.000 75.000 3.075.000 1.950.000 131,32 337,92 1.467.835,87 674.657,28 4.542.835,87 2.624.657,28

Kuantitas pembelian jahe merah selama tahun 2004 adalah sebesar 6.222 kg dan dan adas soa sebesar 1.105 kg. kuantitas pembelian yang paling besar adalah jahe merah karena paling banyak digunakan pada produk jamu PT X. Biaya pembelian untuk simplisia jahe merah sebesar Rp 466.650.000 dan untuk simplisia adas soa sebesar Rp 221.000.000,00.

7.5.2 Metode MRP (Material Requirement Planning) Kuantitas produksi jamu PT X tidak sama untuk setiap periodenya. Oleh karena itu PT X dapat menerapkan metode pengendalian persediaan bahan baku yang disebut Material Requirement Planning (MRP) sebagai alternatif proses pengendalian persediaan. Langkah pertama yang harus dilakukan dalam metode MRP adalah penetapan kebutuhan kotor dari masing-masing jenis bahan baku sesuai dengan rencana dan kapasitas produksi. Jika persediaan di tangan masih ada maka persediaan tersebut harus dihabiskan dulu baru ditentukan kebutuhan bersihnya yang merupakan hasil pengurangan dari kebutuhan kotor dengan penerimaan terjadwal dan persediaan di tangan. Kemudian ditentukan ukuran lot pemesanan bahan baku berdasarkan teknik LFL, EOQ dan PPB.

7.2.5.1 Metode MRP Teknik Lot For Lot (LFL) Besarnya pesanan yang dilakukan dengan metode MRP teknik LFL adalah sebesar kebutuhan bersih sesuai dengan lead time masing-masing jenis bahan baku. Kebutuhan simplisia jahe merah dan adas soa diharapkan dapat tersedia dalam jumlah dan waktu yang tepat sehingga dapat menghilangkan persediaan di gudang agar bias mengurangi biaya penyimpanan yang dikeluarkan perusahaan.

Pemesanan simplisia jahe merah dilakukan mulai bulan Februari 2004 sedangkan adas soa pada bulan Maret 2004. Besar pesanan sesuai dengan kebutuhan bersih masing-masing simplisia yaitu untuk jahe merah sebesar 9,5 kg dan adas soa sebesar 2,5 kg. Pemesanan dilakukan saat persediaan awal bulan Januari 2004 tidak mencukupi kebutuhan bersih pada periode produksi. Rencana penerimaan pesanan disesuaikan dengan waktu tunggu masing-masing jenis simplisia tersebut. Pada tahun 2004 frekuensi pemesanan jahe merah dan adas soa dengan menggunakan metode LFL jauh lebih besar dibandingkan kebijakan perusahaan. Frekuensi pemesanan untuk jahe merah adalah sebesar 40 kali dan adas soa sebesar 29 kali (Tabel 13). Berdasarkan Tabel 13 kuantitas pembelian untuk jahe merah sebesar 5.256,3 kg dimana jumlah tersebut lebih kecil dibandingkan pembelian yang dilakukan perusahaan. Sedangkan kuantitas pembelian adas soa sebesar 669,8 kg lebih kecil dari pembelian yang dilakukan perusahaan.

Tabel 13. Frekuensi Pemesanan dan Kuantitas Pesanan dengan Metode MRP Teknik LFL PT X, 2004
Jahe Merah Frekuensi Kuantitas (kali) (kg) 0 0,0 2 89,5 4 472,5 5 2.249,0 4 1.129,0 4 860,5 4 236,0 4 121,0 4 37,5 5 45,8 1 4,5 3 11,0 40 5.256,3 Adas Soa Frekuensi Kuantitas (kali) (kg) 0 0,00 0 0,00 3 72,80 5 292,00 4 134,75 4 135,00 5 24,75 4 8,25 2 1,75 1 0,50 0 0,00 0 0,00 29 669,80

Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Total

Total biaya pembelian simplisia jahe merah dan adas soa dengan menggunakan teknik LFL adalah sebesar Rp 528.182.500,00. Pembelian tertinggi pada simplisia jahe merah sebesar Rp 394.222.500,00 atau sebesar 74,64 persen dari total pembelian. Sedangkan biaya pembelian simplisia adas soa adalah sebesar Rp 133.960.000,00 atau sebesar 25,36 persen dari total biaya pembelian Berdasarkan Tabel 14 total biaya pemesanan dengan metode MRP teknik LFL adalah sebesar Rp 5.175.000,00 atau sebesar 98,66 persen dari total biaya persediaan. Tingginya biaya pemesanan disebabkan oleh tingginya frekuensi pemesanan dimana pemesanan dilakukan hampir setiap minggunya. Total biaya penyimpanan dengan teknik ini sebesar Rp 145.205,04 atau sebesar 1,34 persen dari total biaya persediaan. Rendahnya biaya penyimpanan disebabkan dalam teknik LFL ini pemesanan dilakukan tepat sebesar kebutuhan bersihnya sehingga persediaan di tangan ditiadakan. Adanya biaya penyimpanan berasal dari persediaan awal tahun 2004. Total biaya persediaan dengan teknik LFL mencapai Rp 5.245.205,04. Biaya persediaan tertinggi adalah untuk simplisia jahe merah yaitu sebesar Rp 3.062.245,68 atau sebesar 58,38 persen dari total biaya persediaan. Sedangkan biaya persediaan untuk simplisia adas soa adalah sebesar Rp 2.182.959,36 atau sebesar 41,62 persen dari total biaya persediaan.

Tabel 14. Biaya Persediaan Simplisia Jahe Merah dan Adas Soa dengan MRP Teknik LFL PT X, 2004
Jenis Simplisia Jahe Merah Adas Soa 40,00 29,00 75.000,00 75.000,00 3.000.000,00 2.175.000,00 474,00 245,50 131,32 337,92 62.245,68 82.959,36 3.062.245,68 2.182.959,36

Uraian Frekuensi (kali) Biaya Pemesanan per Pesanan (Rp) Biaya Pemesanan (Rp) Persediaan Rata-Rata Setahun (kg) BiayaPenyimpanan (Rp/kg/minggu) Biaya Penyimpanan Setahun (Rp) Biaya Persediaan Setahun (Rp)

7.2.5.2 Metode MRP Teknik Economic Order Quantity (EOQ) Sistem pengendalian persediaan simplisia dengan metode MRP teknik EOQ melakukan pemesanan sebesar kelipatan dari EOQ terdekat yang lebih besar dari kebutuhan bersihnya (2 x EOQ, 3 x EOQ, dst). Nilai EOQ merupakan kuantitas optimal dalam melakukan pemesanan. Berdasarkan rumus EOQ diperoleh besarnya kuantitas ekonomis untuk ukuran lot tiap jenis simplisia. Pada metode ini rencana pelaksanaan pesanan dilakukan pada saat kebutuhan bersih lebih besar dari kebutuhan kotor. Jika terdapat persediaan awal pada bulan Januari 2004 maka persediaan awal tersebut harus digunakan terlebih dahulu. Frekuensi pemesanan dengan MRP teknik EOQ untuk jahe merah dan adas soa relatif rendah yaitu sebanyak 16 kali untuk simplisia jahe merah dan 8 kali untuk simplisia adas soa. Berdasarkan Tabel 15 kuantitas pemesanan untuk jahe merah adalah sebesar 5.438 kg dan adas soa sebesar 599,24 kg. Total biaya pembelian untuk simplisia jahe merah dan adas soa adalah sebesar Rp 527.698.000,00. Jumlah pembelian terbesar adalah untuk simplisia jahe merah sebesar Rp 407.850.000,00, sedangkan simplisia adas soa sebesar Rp 119.848.000,00.

Tabel 15. Frekuensi Pemesanan dan Kuantitas Pesanan dengan Metode MRP Teknik EOQ PT X, 2004
Jahe Merah Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Total Frekuensi (kali) 0 1 1 7 3 3 0 1 0 0 0 0 16 Kuantitas (kg) 0,000 339,875 339,875 2.379,125 1.019,625 1.019,625 0,000 339,875 0,000 0,000 0,000 0,000 5.438,000 Adas Soa Frekuensi (kali) 0 0 1 3 2 2 0 0 0 0 0 0 8 Kuantitas (kg) 0,000 0,000 74,905 224,715 149,810 149,810 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 599,240

Berdasarkan Tabel 16 total biaya pemesanan adalah sebesar Rp 1.800.000,00 atau sebesar 52,63 persen dari total biaya persediaan. Biaya pemesanan terbesar adalah simplisia jahe merah sebesar Rp 1.200.000 atau sebesar 35,09 persen dari total biaya persediaan. Hal ini disebabkan karena frekuensi pemesanan jahe merah lebih banyak dibandingkan adas soa. Total biaya penyimpanan dengan metode MRP teknik EOQ adalah Rp 1.620.259,29 atau sebesar 47,37 persen dari total biaya persediaan. Hal ini disebabkan karena jumlah simplisia jahe merah yang disimpan lebih besar dibandingkan adas soa (Tabel 16). Total biaya persediaan dengan menggunakan metode MRP teknik EOQ adalah sebesar Rp 3.420.259,29. Biaya persediaan terbesar adalah pada simplisia jahe merah sebesar Rp 1.246.635,9 atau 37 persen dari total biaya persediaan. Hal ini disebabkan karena tingginya frekuensi pemesanan dan kuantitas penyimpanan

yang lebih besar pada simplisia tersebut dibandingkan adas soa. Sedangkan untuk simplisia adas soa adalah sebesar Rp 354.362,39 atau 10,36 persen dari total biaya persediaan. Besarnya biaya persediaan dan komponen biaya persediaan yang terjadi pada metode MRP teknik EOQ dapat dilihat pada Tabel 16.

Tabel 16. Biaya Persediaan Simplisia Jahe Merah dan Adas Soa dengan MRP Teknik EOQ PT X, 2004
Jenis Simplisia Jahe Merah Adas Soa 8,00 4,00 75.000,00 75.000,00 1.200.000,00 600.000,00 9.637,80 1.049,43 131,32 337,92 1.265.635,90 354.623,39 2.465.635,90 954.623,39

Uraian Frekuensi (kali) Biaya Pemesanan per Pesanan (Rp) Biaya Pemesanan (Rp) Persediaan Rata-Rata Setahun (kg) BiayaPenyimpanan (Rp/kg/minggu) Biaya Penyimpanan Setahun (Rp) Biaya Persediaan Setahun (Rp)

7.2.5.3 Metode MRP Teknik Part Period Balancing (PPB) Sistem pengendalian persediaan dengan metode MRP teknik PPB melakukan pemesanan sebesar kebutuhan kotor pada suatu periode yang dapat digabungkan. Penggabungan periode dilakukan untuk gabungan periode berurutan yang memiliki nilai kumulatif bagian periode mendekati nilai Economic Part Period (EPP). EPP dihitung dengan rumus EPP = C/H, dimana C adalah biaya pemesanan per pesanan dan H adalah biaya penyimpanan per unit per periode. Bagian periode dihitung dengan mengalikan persediaan yang ditanggung dengan jumlah periode yang ditanggung. Berdasarkan metode ini rencana pelaksanaan pesanan dilakukan setelah kebutuhan bersih lebih besar dari kebutuhan kotor. Apabila terdapat persediaan awal pada tahun 2004 maka persediaan awal tersebut dihabiskan terlebih dahulu. Pemesanan simplisia dilakukan jika persediaan di tangan masing-masing jenis

simplisia sudah tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan bersih. Pemesanan untuk simplisia jahe merah dimulai pada bulan Februari dan pada bulan Maret untuk simplisia adas soa sebesar nilai kebutuhan kotor periode yang digabungkan yang mendekati nilai EPP masing-masing jenis simplisia. Berdasarkan Tabel 17 kuantitas pemesanan dengan menggunakan teknik PPB adalah sebesar 4.894,5 kg untuk simplisia jahe merah, sedangkan kuantitas pemesanan untuk simplisia adas soa adalah sebesar 669,8 kg. Jumlah pembelian simplisia jahe merah dan adas soa adalah Rp 501.047.500,00. Pembelian terbanyak adalah simplisia jahe merah yaitu sebesar Rp 367.087.500,00. Untuk simplisia adas soa biaya pembelian sebesar Rp 133.960.000,00.

Tabel 17. Frekuensi Pemesanan dan Kuantitas Pesanan dengan Metode MRP Teknik PPB PT X, 2004
Jahe Merah Frekuensi Kuantitas (kali) (kg) 0 0,0 1 272,0 1 540,0 2 1.634,0 2 1.129,0 2 1.054,0 1 231,0 0 0,0 0 0,0 1 34,3 0 0,0 0 0,0 10 4.894,3 Adas Soa Frekuensi Kuantitas (kali) (kg) 0 0,0 0 0,0 1 72,8 2 362,0 1 144,2 1 90,8 0 0,0 0 0,0 0 0,0 0 0,0 0 0,0 0 0,0 5 669,8

Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Total

Biaya pemesanan yang dikeluarkan pada metode MRP teknik PPB relatif lebih kecil dibandingkan teknik LFL dan EOQ. Total biaya pemesanan pada teknik ini adalah sebesar Rp 1.125.000,00 atau sebesar 49,07 persen dari total biaya persediaan. Biaya pemesanan terbesar adalah untuk simplisia jahe merah

yaitu sebesar Rp 750.000,00 atau sebesar 66,67 persen dari total biaya pemesanan. Biaya pemesanan untuk simplisia adas soa sebesar Rp 375.000 atau sebesar 33,33 persen dari total biaya pemesanan. Total biaya penyimpanan yang dikeluarkan adalah sebesar Rp 969.309,63 atau sebesar 43,63 persen dari total biaya persediaan. Biaya penyimpanan terbesar adalah untuk simplisia jahe merah sebesar Rp 695.746,49 atau sebesar 31,31 persen dari total biaya penyimpanan. Untuk biaya penyimpanan simplisia adas soa adalah sebesar Rp 273.563,14 atau sebesar 12,31 persen dari total biaya penyimpanan. Total biaya persediaan selama tahun 2004 dengan menggunakan metode MRP teknik PPB adalah sebesar Rp 2.221.840,63. Biaya persediaan terbesar adalah pada simplisia jahe merah sebesar Rp 1.445.746,49 atau 65,07 persen dari total biaya persediaan. Hal ini disebabkan karena tingginya frekuensi pemesanan dan kuantitas penyimpanan pada simplisia tersebut. Sedangkan untuk simplisia adas soa adalah sebesar Rp 776.094,14 atau 34,93 persen dari total biaya persediaan. Besarnya biaya persediaan dan komponen biaya persediaan yang terjadi pada metode MRP teknik PPB dapat dilihat pada Tabel 18.

Tabel 18. Biaya Persediaan Simplisia Jahe Merah dan Adas Soa dengan MRP Teknik PPB PT X, 2004
Jenis Simplisia Jahe Merah Adas Soa 10,00 5,00 75.000,00 75.000,00 750.000,00 375.000,00 5.298,1,0 1.186,95 131,32 337,92 695.746,49 273.563,14 1.445.746,49 776.094,14

Uraian Frekuensi (kali) Biaya Pemesanan per Pesanan (Rp) Biaya Pemesanan (Rp) Persediaan Rata-Rata Setahun (kg) Biaya Penyimpanan (Rp/kg/minggu) Biaya Penyimpanan Setahun (Rp) Biaya Persediaan Setahun (Rp)

7.5.3 Analisis Perbandingan Metode Pengendalian Persediaan Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode MRP yang meliputi teknik LFL, EOQ dan PPB yang akan dibandingkan dengan kebijakan perusahaan untuk menganalisis pengendalian persediaan. Hasil perbandingannya meliputi perbandingan antar metode pada tiap jenis bahan baku dan perbandingan antar metode pada keseluruhan bahan baku. Hasil kedua perbandingan tersebut akan dapat menentukan metode alternatif terbaik bagi perusahaan sehingga dapat dilakukan pengendalian persediaan simplisia yang efektif dan efisien.

7.5.3.1 Analisis Perbandingan Pada Tiap Jenis Simplisia Perbandingan yang dilakukan antar metode pada tiap jenis simplisia meliputi perbandingan frekuensi pembelian, kuantitas pembelian, biaya

pembelian, biaya pemesanan, biaya penyimpanan dan biaya persediaan. Metode yang digunakan adalah metode MRP teknik LFL, EOQ dan PPB yang akan dibandingkan dengan kebijakan perusahaan. Setelah dibandingkan kemudian dihitung penghematan biaya persediaan pada tiap jenis simplisia.

Tabel 19. Frekuensi Pemesanan dan Kuantitas Pesanan Metode MRP dan Kebijakan Perusahaan, 2004
Jenis Simplisia Kebijakan Perusahaan Frek. Kuant. (kali) (kg) 41 6.222 26 1.105 Metode Pengendalian Persediaan Simpl isia MRP Teknik MRP Teknik MRP Teknik PPB LFL EOQ Frek. Kuant. Frek. Kuant. Frek. Kuant. (kali) (kg) (kali) (kg) (kali) (kg) 40 5.256,3 16 5.438 10 4.894,5 29 669,8 8 599,24 5 669,8

Jahe Merah Adas Soa

Berdasarkan Tabel 19 frekuensi pemesanan dengan kebijakan perusahaan relatif besar jika dibandingkan dengan metode MRP teknik EOQ dan PPB.

Sedangkan dengan metode MRP teknik LFL frekuensi pesanan menjadi sangat besar karena pemesanan dilakukan setiap ada kebutuhan simplisia dan meniadakan persediaan, sehingga pemesanan dilakukan hampir setiap minggu selama tahun 2004. Pada metode MRP teknik EOQ pemesanan dilakukan berdasarkan kelipatan EOQ, sedangkan pada MRP teknik PPB dilakukan berdasarkan suatu gabungan periode dan pemesanan hanya dilakukan pada awal gabungan periode sehingga frekuensi pemesanan dapat pada kedua teknik tersebut dapat dikurangi. Frekuensi pemesanan tertinggi untuk simplisia jahe merah terdapat pada kebijakan perusahaan dan untuk simplisia adas soa terdapat pada metode MRP teknik LFL. Frekuensi pemesanan jahe merah sebesar 38,32 persen dan adas soa sebesar 42,65 persen dari total frekuensi pemesanan masing-masing jenis simplisia tersebut. Sedangkan frekuensi terendah pada tiap jenis simplisia terdapat pada metode MRP teknik PPB yaitu untuk simplisia jahe merah sebesar 9,35 persen dan simplisia adas soa sebesar 7,32 persen dari total frekuensi pemesanan. Berdasarkan Tabel 19 kuantitas pesanan tertinggi kedua jenis simplisia tersebut terdapat pada kebijakan perusahaan yaitu simplisia jahe merah sebesar 28,57 persen dan adas soa sebesar 36,31 persen dari total kuantitas pesanan pada masing-masing jenis simplisia. Kuantitas pesanan terendah terdapat pada metode MRP teknik PPB yaitu untuk simplisia jahe merah sebesar 22,47 persen dan adas soa sebesar 22,01 persen dari total kuantitas pesanan pada masing-masing jenis simplisia tersebut.

Tabel 20. Perbandingan Biaya Pemesanan Simplisia Jahe Merah dan Adas Soa Metode MRP dengan Kebijakan Perusahaan (Rp), 2004
Metode Pengendalian Persediaan Simplisia Kebijakan MRP Teknik MRP Teknik MRP Teknik Perusahaan LFL EOQ PPB 3.075.000 3.000.000 1.200.000 750.000 1.950.000 2.175.000 600.000 375.000

Jenis Simplisia Jahe Merah Adas Soa

Biaya pemesanan berkaitan dengan frekuensi pemesanan. Biaya pemesanan tertinggi pada untuk simplisia jahe merah sebesar 38,32 persen terdapat pada kebijakan perusahaan, sedangkan untuk simplisia adas soa terdapat pada metode MRP teknik LFL sebesar 42,63 persen (Tabel 20). Biaya pemesanan terendah terdapat pada metode MRP teknik PPB yaitu sebesar 9,35 persen untuk simplisia jahe merah dan 7,35 persen untuk simplisia adas soa.

Tabel 21. Perbandingan Biaya Penyimpanan Simplisia Jahe Merah dan Adas Soa pada Metode MRP dengan Kebijakan Perusahaan (Rp), 2004
Jenis Simplisia Jahe Merah Adas Soa Metode Pengendalian Persediaan Simplisia MRP Teknik MRP Teknik MRP Teknik LFL EOQ PPB 62.245,68 1.265.635,9 695.746,49 82.959,36 354.623,39 273.563,14

Kebijakan Perusahaan 1.467.835,87 674.657,28

Berdasarkan Tabel 21 biaya penyimpanan pada tiap jenis simplisia tertinggi terdapat pada kebijakan perusahaan yaitu untuk simplisia jahe merah sebesar 42,04 persen dan adas soa sebesar 48,68 persen dari total biaya

penyimpanan masing-masing jenis simplisia tersebut. Biaya penyimpanan terendah pada tiap jenis simplisia tersebut terdapat pada metode MRP teknik LFL karena tidak terdapat sisa persediaan sebagai akibat pembelian dilakukan tepat sebesar kebutuhan bersih. Biaya penyimpanan tiap

jenis simplisia tersebut adalah sebesar 1,78 persen untuk simplisia jahe merah dan 5,97 persen untuk adas soa.

Tabel 22. Perbandingan Biaya Persediaan Simplisia Jahe Merah dan Adas Soa Metode MRP dengan Kebijakan Perusahaan (Rp), 2004
Jenis Simplisia Jahe Merah Adas Soa Metode Pengendalian Persediaan Simplisia Kebijakan MRP Teknik MRP Teknik MRP Teknik Perusahaan LFL EOQ PPB 4.542.835,87 3.062.245,68 2.465.635,9 1.445.746,49 2.624.657,28 2.182.959,36 954.623,39 776.094,14

Berdasarkan Tabel 22 biaya persediaan tertinggi simplisia jahe merah dan adas soa terdapat pada kebijakan perusahaan yaitu sebesar 18,41 persen dan 19,74 persen dari total biaya persediaan tiap jenis simplisia. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan pengendalian persediaan yang dilakukan perusahaan belum optimal. Berdasarkan perbandingan ketiga metode lainnya, metode PPB

menimbulkan biaya persediaan terendah pada tiap jenis simplisia, masing-masing sebesar 14,77 persen untuk simplisia jahe merah dan 13,55 persen untuk simplisia adas soa. Hal ini berarti metode PPB dapat memberi alternatif penghitungan biaya persediaan yang optimal.

7.5.3.2 Rekapitulasi Perbandingan Pada Keseluruhan Persediaan Simplisia Tabel 23-24 di bawah ini me nunjukan rekapitulasi dari semua perbandingan antar metode pengendalian persediaan pada keseluruhan persediaan simplisia jahe merah dan adas soa yang meliputi frekuensi pemesanan, kuantitas pesanan, biaya pembelian, biaya pemesanan, biaya penyimpanan dan biaya persediaan.

Tabel 23. Rekapitulasi Perbandingan Antar Teknik Pada Keseluruhan Persediaan Simplisia Jahe Merah, 2004
Uraian
Frek. Pemesanan (kali) Kuant. Pesanan (kg) Biaya Pembelian (Rp) Biaya Pemesanan(Rp) Biaya Penyimpanan (Rp) Biaya Persediaan (Rp)

Kebijakan Perusahaan
41 6.222 466.650.000 3.075.000 1.467.835,87 4.542.835,87

LFL
40 5.256,3 394.222.500 3.000.000 62.245,68 3.062.245,68

Metode MRP EOQ
16 5.438 407.850.000 1.200.000 1.265.635,9 2.465.635,9

PPB
10 4.894,5 367.087.500 750.000 695.746,49 1.445.746,49

Pada Tabel 23 di atas menunjukkan bahwa frekuensi pemesanan simplisia jahe merah yang dilakukan perusahaan sebanyak 41 kali lebih besar dari metode MRP. Frekuensi pemesanan yang dilakukan dengan metode MRP menggunakan teknik LFL sebanyak 40 kali, teknik EOQ sebanyak 16 kali dan teknik PPB sebanyak 10 kali. Kuantitas pesanan simplisia jahe merah yang dibeli perusahaan lebih besar dari metode MRP. Hal ini mengakibatkan tingginya biaya pembelian yaitu sebesar Rp 466.650.000,00. Biaya pemesanan tertinggi terdapat pada kebijakan perusahaan sebesar Rp 3.075.000,00, sedangkan biaya pemesanan terendah terdapat pada metode MRP teknik PPB sebesar Rp 750.000,00. Biaya penyimpanan tertinggi terdapat pada kebijakan perusahaan sebesar Rp 1.467.835,87, sedangkan biaya penyimpanan terendah terdapat pada metode MRP teknik LFL sebesar Rp 62.245,68. Biaya persediaan tertinggi terdapat pada kebijakan perusahaan sebesar Rp 4.542.835,87 dan biaya persediaan terendah terdapat pada metode MRP teknik PPB sebesar Rp 1.445.746,49.

Tabel 24. Rekapitulasi Perbandingan Antar Teknik Pada Keseluruhan Persediaan Simplisia Adas Soa, 2004
Uraian
Frek. Pemesanan (kali) Kuant. Pesanan (kg) Biaya Pembelian (Rp) Biaya Pemesanan(Rp) Biaya Penyimpanan (Rp) Biaya Persediaan (Rp)

Kebijakan Perusahaan
26 1.105 221.000.000 1.950.000 674.657,28 2.624.657,28

LFL
29* 669,8 133.960.000 2.175.000 82.959,36 2.182.959,36

Metode MRP EOQ
8 599,24 119.848.000 600.000 354.623,39 954.623,39

PPB
5 669,8 133.960.000 375.000 273.563,14 776.094,14

Keterangan :

*

= Frekuensi pembelian lebih besar dari metode perusahaan

Tabel 24 di atas menunjukkan bahwa frekuensi pemesanan yang dilakukan perusahaan untuk simplisia adas soa sebanyak 26 kali lebih kecil dari metode MRP teknik LFL, namun lebih besar dari metode MRP teknik EOQ dan PPB. Frekuensi pemesanan yang dilakukan dengan metode MRP teknik LFL sebanyak 29 kali, teknik EOQ sebanyak 8 kali dan teknik PPB sebesar 5 kali. Kuantitas pemesanan simplisia adas soa yang dilakukan perusahaan sebesar 1.105 kg lebih besar dari metode MRP. Hal ini berakibat pada tingginya biaya pembelian yaitu sebesar Rp 221.000.000,00, sedangkan biaya pembelian terendah terdapat pada metode MRP teknik LFL dan PPB sebesar Rp 133.960.000,00. Biaya pemesanan tertinggi pada metode MRP teknik LFL yaitu sebesar Rp 2.175.000,00 sedangkan biaya pemesanan terendah pada metode MRP teknik PPB sebesar Rp 375.000,00. Biaya penyimpanan tertinggi terdapat pada kebijakan perusahaan sebesar Rp 674.657,28 dan biaya penyimpanan terendah pada metode MRP teknik LFL sebesar Rp 82.959,36. Sedangkan biaya persediaan terendah sebesar Rp 776.094,14 dan frekuensi pemesanan optimal sebanyak 5 kali terdapat pada metode MRP teknik PPB.

7.5.4 Analisis Penghematan Terhadap Kebijakan Perusahaan Penghitungan penghematan hasil pengendalian persediaan simplisia jahe merah dan adas soa selama tahun 2004 dilakukan dengan menghitung selisih antara nilai pada metode alternatif dengan nilai pada kebijakan perusahaan. Analisis penghematan yang dilakukan adalah analisis biaya persediaan tiap jenis bahan baku dan penghematan pada keseluruhan bahan baku dan hasilnya adalah metode terbaik. Tabel 25. Persentase Penghematan Metode MRP Terhadap Kebijakan Perusahaan, 2004
Jenis Simplisia Jahe Merah Adas Soa MRP Teknik LFL (%)
Frek. Pesan Kuant. Pesan B. Pemb

MRP Teknik EOQ (%)
Frek. Pesan Kuant. Pesan B. Pemb

MRP Teknik PPB (%)
Frek. Pesan Kuant. Pesan B. Pemb

2,5 11,53
**
**

15,53 39,38

15,53 39,38

60,67 69,23

12,6 45,77

12,6 45,77

75,6 80,76

21,34 39,38

21,34 39,38

Keterangan :

= Tidak terjadi penghematan (bernilai negatif)

Berdasarkan Tabel 25 di atas pada metode MRP teknik LFL untuk simplisia adas soa tidak terjadi penghematan frekuensi pemesanan. Hal ini disebabkan frekuensi pemesanan pada teknik ini lebih besar dibandingkan dengan kebijakan perusahaan. Frekuensi pemesanan terendah untuk kedua jenis simplisia tersebut terdapat pada metode MRP teknik PPB. Tetapi pada kuantitas pesanan dan biaya pembelian terjadi penghematan pada ketiga teknik pada metode MRP. Besar penghematan kuantitas pesanan dan biaya pembelian pada teknik LFL untuk simplisia jahe merah dan adas soa adalah 15,53 persen dan 39,38 persen, pada teknik EOQ sebesar 12,6 persen untuk simplisia jahe merah dan 45,77 persen untuk adas soa, sedangkan pada teknik PPB sebesar 21,34 persen untuk simplisia jahe merah dan 39,38 persen untuk simplisia adas soa.

Tabel 26. Persentase Penghematan Biaya Persediaan Berbagai Teknik Metode MRP Terhadap Kebijakan Perusahaan, 2004
Jenis Simplisia Jahe Merah Adas Soa MRP Teknik LFL Biaya Biaya Pesan Simpan 2,5 95,76 11,53** 87,7 (%) Biaya Pers. 32,59 14,38 MRP Teknik EOQ (%) Biaya Biaya Biaya Pesan Simpan Pers. 60 13,76 45,72 69,23 47,44 62,55 MRP Teknik PPB (%) Biaya Biaya Biaya Pesan Simpan Pers. 75,6 54,93 68,18 80,76 40,55 69,56

Keterangan : ** = Tidak terjadi penghematan (bernilai negatif)

Pada biaya pemesanan penghematan terbesar terdapat pada metode MRP teknik PPB yaitu sebesar 75,6 persen untuk simplisia jahe merah dan 80,76 persen untuk simplisia adas soa (Tabel 26). Sedangkan biaya penyimpanan penghematan terjadi pada metode MRP teknik LFL sebesar 95,76 persen pada simplisia jahe merah dan 87,7 persen pada simplisia adas soa. Hal ini disebabkan karena persediaan yang disimpan jumlahnya sedikit. Penghematan biaya persediaan terbesar terdapat pada metode MRP teknik PPB untuk kedua jenis simplisia sebesar 68,18 persen untuk simplisia jahe merah dan untuk simplisia adas soa sebesar 69,56 persen. Secara keseluruhan frekuensi pemesanan, kuantitas pesanan, biaya pembelian, biaya pemesanan, biaya penyimpanan dan biaya persediaan yang optimal terdapat pada metode MRP teknik PPB. Dengan kebijakan perusahaan frekuensi pemesanan dan biaya pemesanan menjadi sangat besar yang mengakibatkan tingginya biaya persediaan. Tabel 27. Rekapitulasi Perbandingan Penghematan Antar Teknik dalam Metode MRP dengan Kebijakan Perusahaan Untuk Simplisia Jahe Merah Tahun 2004
Uraian Frek. Pemesanan (kali) Kuant. Pesanan (kg) Biaya Pembelian (Rp) Biaya Pemesanan(Rp) Biaya Penyimpanan (Rp) Biaya Persediaan (Rp) Teknik LFL Jumlah % 1 2,5 965,7 15,52 72.427.500 15,52 75.000 2,5 1.405.590 95,76 1.480.590,19 32,59 Metode MRP Teknik EOQ Jumlah % 25 60,67 784 12,6 58.800.000 12,6 1.875.000 60 202.199,97 13,76 2.077.199,97 45,72 Teknik PPB Jumlah % 31 75,6 1.327,5 21,34 79.562.500 21,34 2.325.000 75,6 772.089,38 54,93 3.097.089,38 68,18

Berdasarkan Tabel 27 di atas untuk frekuensi pemesanan simplisia jahe merah terdapat penghematan pada metode MRP teknik LFF sebesar 2,5 persen, teknik EOQ sebesar 60,67 persen dan pada teknik PPB sebesar 75,6 persen. Penghematan kuantitas pesanan terdapat pada ketiga teknik dalam metode MRP dimana penghematan terbesar sebesar 1.327,5 kg atau 21,34 persen terdapat pada metode MRP teknik PPB. Pada biaya pembelian terdapat penghematan pada metode MRP teknik PPB sebesar Rp 79.562.500,00 atau sebesar 21,34 persen. Penghematan biaya penyimpanan terbesar terdapat pada metode MRP teknik LFL sebesar Rp 1.405.590,00 atau sebesar 95,76 persen. Penghematan biaya persediaan terbesar simplisia jahe merah terdapat pada metode MRP teknik PPB sebesar Rp 3.097.089,38 atau sebesar 68,18 persen.

Tabel 29. Rekapitulasi Perbandingan Penghematan Antar Teknik dalam Metode MRP dengan Kebijakan Perusahaan Untuk Simplisia Adas Soa, 2004
Uraian Frek. Pemesanan (kali) Kuant. Pesanan (kg) Biaya Pembelian (Rp) Biaya Pemesanan(Rp) Biaya Penyimpanan (Rp) Biaya Persediaan (Rp) Teknik LFL Jumlah % 3* 11,53** 435,2 39,38 87.040.000 39,38 225.000** 11,53** 591.697,92 87,7 366.697,92 13,97 Metode MRP Teknik EOQ Jumlah 18 505,76 101.152.000 1.350.000 320.033,89 1.670.033,89 Teknik PPB Jumlah 21 435,2 87.040.000 1.575.000 273.563,14 1.848.563,14

% 69,23 45,77 45,77 69,23 47,44 63,63

% 80,76 39,38 39,38 80,76 40,55 70,43

Keterangan :

* **

= Frekuensi pembelian lebih besar dari metode perusahaan = Tidak terjadi penghematan (bernilai negatif)

Berdasarkan Tabel 28 untuk simplisia adas soa terdapat penghematan jumlah frekuensi pemesanan pada metode MRP teknik EOQ dan PPB masingmasing sebesar 69,23 persen dan 80,76 persen, sedangkan untuk teknik LFL tidak terjadi penghematan karena pada teknik LFL frekuensi pemesanan lebih tinggi dibandingkan kebijakan perusahaan. Pada kuantitas pemesanan terjadi

penghematan pada metode MRP masing-masing untuk teknik LFL dan PPB sebesar 435,2 kg atau sebesar 39,38 persen, teknik EOQ sebesar 505,76 kg atau sebesar 45,77 persen. Pada biaya pembelian penghematan terbesar terjadi pada metode MRP teknik LFL dan PPB sebesar Rp 87.040.000,00 atau 39,38 persen dari biaya pembelian yang dikeluarkan perusahaan. Pada biaya pemesanan terjadi penghematan terbesar pada metode MRP teknik PPB sebesar Rp1.575.000,00 atau sebesar 80,76 persen. Untuk metode MRP teknik LFL tidak terjadi penghematan biaya pemesanan karena frekuensi pemesanan pada teknik ini jauh lebih besar dibandingkan dengan kebijakan perusahaan. Penghematan biaya penyimpanan terdapat pada metode MRP teknik LFL sebesar Rp 591.697,92 atau sebesar 87,7 persen. Hal ini disebabkan karena jumlah persediaan yang disimpan sedikit dimana pada teknik ini pengadaan persediaan dilakukan sebanyak kebutuhan bersih setelah persediaan di tangan habis. Untuk biaya persediaan penghematan terbesar terdapat pada metode MRP teknik PPB sebesar Rp 1.848.563,14 atau sebesar 70,43 persen. Hal ini berarti pada teknik PPB dapat dijadikan alternatif teknik pengendalian persediaan simplisia pada PT X. Teknik tersebut dapat menurunkan biaya persediaan yang nantinya dapat menurunkan biaya produksi.

7.5.5 Alternatif Model Pengendalian Persediaan Simplisia Alternatif pengendalian persediaan simplisia pada PT X didasarkan pada analisis perbandingan antar metode pada tiap jenis simplisia dan analisis perbandingan antar metode pada keseluruhan persediaan simplisia. Tetapi secara keseluruhan ditentukan berdasarkan penghematan pada total biaya persediaan

pada

keseluruhan

bahan

baku.

Alternatif

metode

ini

juga

harus

mempertimbangkan sistem pengendalian persediaan dan sistem manajemen produksi yang sudah dijalankan perusahaan. Kegiatan produksi yang kontinyu menyebabkan perusahaan membutuhkan persediaan bahan baku yang cukup bagi proses produksinya. Persediaan bahan baku yang cukup akan menjamin kelancaran proses produksi. Hasil analisis pengendalian persediaan dengan menggunakan metode MRP memberikan penghematan biaya persediaan terbesar pada teknik PPB. Untuk biaya penyimpanan metode MRP teknik LFL memberikan penghematan terbesar namun tidak untuk kriteria lainnya. Teknik LFL ini tidak sesuai dengan manajemen perusahaan yang mengharuskan adanya persediaan bahan baku di gudang. Untuk masing-masing teknik pada metode MRP memiliki kelebihan dan kekurangan. Teknik LFL merupakan suatu teknik yang konsisten dengan ukuran lot yang kecil, pesanan berkala, persediaan tepat waktu dan rendah. Kelebihan dari teknik ini adalah dapat mengurangi persediaan sehingga dapat mengurangi biaya persediaan. Teknik EOQ memiliki keuntungan dapat mengurangi biaya persediaan karena memesan sejumlah sebesar EOQ dan kelipatannya. Teknik PPB merupakan teknik yang merefleksikan kebutuhan untuk periode-periode sesudahnya. Teknik ini lebih tepat digunakan jika biaya pemesanan cukup tinggi, sehingga akan lebih menguntungkan melakukan pemesanan dalam jumlah besar dan menyimpan bahan tersebut daripada melakukan pemesanan dalam frekuensi sering dengan kuantitas kecil. Dengan berbagai pertimbangan yang telah diuraikan di atas maka metode MRP teknik PPB dapat dijadikan alternatif dalam melakukan pengendalian

persediaan simplisia bagi perusahaan. Metode ini dapat mengurangi kuantitas pemesanan, biaya pembelian dan biaya persediaan. Teknik ini juga dapat mendukung manajemen yang diterapkan perusahaan untuk meningkatkan efisiensi biaya produksi. Metode MRP teknik PPB dapat direkomendasikan untuk dijadikan alternatif metode pengendalian persediaan bagi perusahaan karena memiliki penghematan total yang lebih besar dalam biaya persediaan dibanding teknik EOQ. Teknik ini memiliki kelemahan yaitu persediaan simplisia dapat rusak selama dalam proses penyimpanan, namun hal itu dapat diperkecil karena simplisia kering tahan disimpan selama enam bulan asal tempatnya tidak lembab, cukup cahaya dan disimpan dalam wadah kedap udara.

BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN

8.1 Kesimpulan PT X merupakan salah satu produsen produk jamu tradisional yang termasuk dalam golongan Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) yang terletak di daerah Bogor, Jawa Barat. Bahan baku utama yang digunakan dalam proses produksi adalah simplisia berupa tanaman obat yang sudah dikeringkan. Simplisia yang digunakan sebagai bahan baku berasal dari pemasok di daerah Yogyakarta dan pasar tradisional di Bogor. Pengadaan simplisia pada PT X melibatkan bagian produksi, bagian pemasaran dan bagian keuangan berdasarkan rencana produksi selama satu tahun. Berdasarkan tujuannya persediaan yang diadakan perusahaan termasuk jenis safety stock sebagai persediaan pengaman agar tidak menghambat proses produksi. Pengendalian persediaan yang dianalisis dalam penelitian ini adalah simplisia yang tergolong dalam kelas A yang bernilai tinggi bagi perusahaan yaitu jahe merah dan adas soa. Kedua jenis simplisia tersebut diperoleh dari pemasok yang berada di Yogyakarta. Dalam kebijakan pengendalian persediaan simplisia PT X belum menerapkan suatu metode tertentu. Dari hasil penelitian di PT X dapat dilihat bahwa sistem pengadaan persediaan simplisia yang dilakukan perusahaan belum optimal. Kurangnya kontrol persediaan mengakibatkan terjadinya kekurangan simplisia ataupun persediaan simplisia yang berlebih pada waktu tertentu. Hal tersebut menyebabkan inefisiensi biaya yang dikeluarkan perusahaan.

Hasil analisis pengendalian persediaan simplisia dengan menggunakan metode MRP menunjukkan bahwa metode MRP dapat memberikan penghematan bagi pengeluaran biaya persediaan yang dihasilkan oleh perusahaan. Kriteria yang dibandingkan meliputi frekuensi pemesanan, kuantitas pesanan, biaya pembelian, biaya pemesanan, biaya penyimpanan dan biaya persediaan. Dari hasil perhitungan dengan metode MRP teknik LFL, EOQ dan PPB terdapat beberapa penghematan yang dihasilkan. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengendalian persediaan simplisia yang dilakukan perusahaan belum mampu mengoptimalkan biaya persediaan. Teknik PPB dipilih karena teknik ini dapat mendukung manajemen perusahaan yang menghendaki adanya kontinuitas bahan baku di gudang agar tidak menghambat proses produksi. Metode MRP teknik PPB juga sesuai untuk perusahaan yang berusaha melakukan efisiensi di berbagai bidang termasuk biaya persediaan. Jika diterapkan pada keseluruhan jenis simplisia yang berjumlah 21 jenis penghematan biaya yang dihasilkan akan jauh lebih besar.

8.2 Saran Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh maka penulis menyarankan : 1. Dari tiga teknik dalam metode MRP yang digunakan metode PPB dapat dijadikan alternatif metode pengendalian persediaan bahan baku bagi perusahaan. Hal ini karena teknik PPB dapat memberikan biaya persediaan yang optimal dan sesuai dengan manajemen perusahaan yang selalu menghendaki adanya persediaan bahan baku di gudang agar tidak menghambat proses produksi. Pemakaian metode ini juga harus

memperhatikan pemeliharaan persediaan untuk menghindari kerusakan bahan baku. 2. Biaya yang dihemat dapat dipakai untuk peningkatan kualitas produk yang dihasilkan agar dapat meningkatkan daya saingnya dalam menghadapi persaingan. 3. Perusahaan sebaiknya selalu menjaga hubungan dan kerjasama yang baik terhadap pemasok, sehingga memudahkan perusahaan dalam memperoleh simplisia yang berkualitas dengan harga yang relatif stabil serta sesuai dengan standar yang disetujui bersama.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->