P. 1
EVALUASI KELAYAKAN USAHA TERNAK KAMBING PERAH PERANAKAN ETAWA (PE), DI PETERNAKAN UNGGUL, KECAMATAN CIAMPEA, KABUPATEN BOGOR

EVALUASI KELAYAKAN USAHA TERNAK KAMBING PERAH PERANAKAN ETAWA (PE), DI PETERNAKAN UNGGUL, KECAMATAN CIAMPEA, KABUPATEN BOGOR

|Views: 239|Likes:
Published by KARYAGATA MANDIRI

More info:

Published by: KARYAGATA MANDIRI on Jul 30, 2012
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

05/23/2014

EVALUASI KELAYAKAN USAHA TERNAK KAMBING PERAH PERANAKAN ETAWA (PE), DI PETERNAKAN UNGGUL, KECAMATAN CIAMPEA, KABUPATEN BOGOR

SKRIPSI

ABDUL ROSID H34066001

DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009

RINGKASAN
ABDUL ROSID. Evaluasi Kelayakan Usaha Ternak Kambing Perah Peranakan Etawa (PE), di Peternakan Unggul, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Sekripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor (DI bawah bimbingan HARMINI). Adanya penetapan kebijakan diberlakukannya otonomi daerah, setiap daerah didorong untuk mampu mengembangkan komoditas unggulan sebagai sumber pemasukan bagi pendapatan asli daerah. Salah satu komoditas pada subsektor peternakan yang mulai dikembangkan pemerintah daerah khusunya propinsi Jawa Barat adalah kambing perah. Selain itu pengembangan kambing perah didukung dengan adanya sumber daya ternak kambing lokal yang berkualitas dan adaptif terhadap kondisi lingkungan yang panas dan lembab. Indikator peningkatan pembangunan subsektor peternakan dapat dilihat dengan adanya indikasi bertambahnya populasi ternak pada komoditas yang ada. Penyebaran populasi ternak kambing dari tahun ke tahun umumya terjadi peningkatan. Peningkatan terbesar populasi kambing terjadi di propinsi Jawa Tengah yang merupakan salah satu daerah sentra ternak kambing nasional. Hal ini terlihat bahwa Propinsi Jawa Tengah merupakan populasi kambing terbesar di Indonesia, yaitu mencapai 3.193.842 ekor pada tahun 2007 (data sementara). Sedangkan Jawa Barat berada pada urutan ketiga terbesar, sebanyak 1.393.190 ekor setelah propinsi Jawa Timur. Berdasarkan jumlah populasi terbesar ketiga nasional tersebut dapat dikatakan bahwa ternak kambing merupakan salah satu komoditas unggulan di provinsi Jawa Barat yang masih berpotensi untuk dikembangkan. Pengembangan agribisnis peternakan khususnya kambing perah PE di Kabupaten Bogor dapat dijadikan sebagai pengembangan sentra usaha komoditi unggulan. Angka populasi ternak kambing PE yang berada di Kabupaten Bogor mengalami peningkatan. Kecamatan Ciampea merupakan salah satu sentra perkembangan populasi ternak kambing perah di Kabupaten Bogor. Data dinas peternakan dan perikanan Kabupaten Bogor pada tahun 2007 menjelaskan bahwa Kecamatan Ciampea, terjadi peningkatan jumlah populasi kambing perah cukup signifikan mencapai 129,26 persen diantara kecamatan yang ada di Kabupaten Bogor. Peningkatan jumlah populasi tersebut mengindikasikan bahwa perkembangan usaha ternak kambing keberadaannya dapat diterima oleh masyarakat. Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah di atas maka tujuan dari penelitian ini adalah :1) Menganalisis kelayakan usaha Peternakan Unggul dari aspek kelayakan finansial dan non finansial (aspek pasar, teknis, manajemen dan sosial). 2) Menganalisis tingkat kepekaan kelayakan usaha kambing perah PE terhadap perubahan dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi manfaat dan biaya dari usaha tersebut. Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang aspek-aspek budidaya kambing perah PE secara umum meliputi analisis aspek pasar, aspek teknis, aspek institusional-organisasi-manajerial, dan aspek

sosial Peternakan Unggul. Analisis kuantitatif meliputi analisis kelayakan finansial pengusahaan kambing unggul, analisis kelayakan finansial ini menggunakan perhitungan kriteria-kriteria investasi yaitu, Net Present Value (NPV), Internal Rate Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Payback Period (PBP) dan analisis Switching value. Data yang diperoleh diolah secara manual dengan menggunakan program komputer Ms. Excel. Analisis yang dilakukan terhadap aspek non finansial penting untuk dilakukan karena dapat memberikan gambaran terhadap usaha yang akan maupun sedang dijalankan. Walaupun aspek non finansial belum ada keseragaman yang pasti tentang aspek apa saja yang menjadi acuan untuk diteliti. Namun pada penelitian ini yang dilakukan terhadap aspek non finansial meliputi aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, dan aspek sosial. Hasil analisis kriteria kelayakan finansial, usaha Peternakan Unggul berdasarkan dua skenario menunjukan Skenario I dilihat dari kriteria NPV, IRR, net B/C dan PBP lebih menguntungkan dibandingkan dengan Skenario II: masingmasing nilai yang diperoleh NPV sebesar Rp 359. 966.477, IRR: 127 persen, Net B/C: 5,77 dan PBP: 2,01 tahun atau setara dengan dua tahun, tiga hari. Skenario II hasil yang diperoleh dari pendekatan NPV nilai yang diperoleh adalah Rp 57.872.694 IRR : 44 persen, Net B/C : 1,61 dan PBP : 6,88 tahun, setara dengan enam tahun sepuluh bulan,enam belas hari. Analisis Switching Value pada skenario I diperoleh tingkat penurunan harga susu yang dapat ditolerir sebesar 30,16 persen, dan kenaikan biaya yang dapat ditolerir sebesar 55,43 peersen. Sedangkan skenario II diperoleh tingkat kepekaan terhadap penurunan harga susu kambing sebesar 13,03 persen, sedangkan peningkatan biaya variabel diperoleh sebesar 18,52 persen. Hasil perbandingan tersebut menunjukan skenario II lebih peka atau sensitif terhadap perubahan baik dari penurunan harga susu maupun kenaikan biaya variabel. Semakin sensitif terhadap suatu perubahan dampak usaha yang akan dijalankan semakin berrisiko. Perbandingan Switching Value usaha Peternakan Unggul. Penyebab skenario II lebih peka/sensitif dibandingkan skenario I, dikarenakan pada skenario II kemampuan usaha kambing perah PE dengan kapasitas kandang sebanyak 50 ekor ternak kambing dan kemampuan investasi awal sebnnyak 21 ekor, penerimaan outflow yang dikeluarkan lebih besar dibandingkan inflow yang dihasilkan sehingga kurang efisien menggunakan biaya investasi yang ditanamkan.

EVALUASI KELAYAKAN USAHA TERNAK KAMBING PERAH PERANAKAN ETAWA (PE), DI PETERNAKAN UNGGUL, KECAMATAN CIAMPEA, KABUPATEN BOGOR

SKRIPSI

ABDUL ROSID H34066001

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Agribisnis

DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009

Judul Skripsi

: Evaluasi

Kelayakan Usaha Ternak kambing Etawa (PE), Di Peternakan

Perah Unggul,

Peranakan

Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor Nama NIM : Abdul Rosid : H34066001

Disetujui, Pembimbing

Ir. Harmini, MSi NIP. 196009211987032002

Diketahui, Ketua Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS NIP.195809081984031002

Tanggal Lulus: .....................

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Evaluasi Kelayakan Usaha Ternak Kambing Perah Peranakan Etawa (PE), di Peternakan Unggul, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor” adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, September 2009

Abdul Rosid H34066001

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bekasi, Jawa Barat pada tanggal 15 Maret 1983. Penulis merupakan anak ketiga dari empat bersaudara dari pasangan Bapak Alih Jeran dan Ibu Aisah. Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Strada

Bekasi pada tahun1997 dan pendidikan sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) diselesaikan pada tahun 2000 di SLTP Strada Bekasi. Lulus dari SLTP penulis langsung melanjutkan ke SMK Negeri 1 Cibadak, Sukabumi dan lulus pada tahun 2003. Ditahun yang sama penulis diterima

sebagai mahasiswa Program Studi Diploma III, Pengelola Perkebunan, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor melalui jalur Reguler dan lulus pada tahun 2006. Setelah lulus dari Diploma III penulis mendapat kesempatan melanjutkan pada Jenjang Strata Satu (S1) Program Sarjana Agribisnis Penyelenggaraan Khusus Departemen

Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Selama mengikuti pendidikan penulis aktif sebagai pengurus himpunan propesi mahasiswa Agronomi (Himagron) IPB tahun 2004-2005. Tim pemberdayaan masyarakat desa IPB masa bakti 2004-2005. Assessment team lahan perkebunan di PT Baris Agro tahun 2006-2007. Pengurus Keluaga Muslim Ekstensi, 20072008. Serta asisten dosen di Universitas Al- Zaytun Indonesia pada Fakultas Pertanian Terpadu tahun 2009.

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Evaluasi Kelayakan Usaha Ternak Kambing Perah Peranakan Etawa (PE), di Peternakan Unggul, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor” Penelitian ini bertujuan menganalisis kelayakan usaha di Peternakan Unggul baik dari aspek finansial maupun aspek non finansial. Penulis menyadari dalam penulisan skripsi ini jauh dari kesempurnaan dikarenakan keterbatasan dan kendala yang dihadapi penulis. Oleh karenanya, penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari semua pihak ke arah penyempurnaan skripsi ini sehingga bermanfaat bagi semua pihak, baik bagi pelaku usaha peternak kambing perah, pembaca dan khususnya bagi penulis sendiri.

Bogor, September 2009

Abdul Rosid

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulisan

skripsi yang berjudul “Evaluasi

Kelayakan Usaha Ternak

Kambing Perah Peranakan Etawa (PE), Di Peternakan Unggul, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor” ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. sehingga skripsi ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya sebagai salah satu syarat kelulusan. Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada: 1. Ir. Harmini, MSi selaku dosen pembimbing atas bimbingan, motivasi dan arahannya selama penulis menyusun skripsi ini. 2. Ir. Popong Nurhayati, MM dan Etrya, SP. MM selaku dosen penguji pada ujian sidang penulis yang telah meluangkan waktunnya serta memberikan kritik, saran maupun masukan demi menyempurnakan penelitian ini. 3. Ir. Juniar Atmakusuma, MS sebagai dosen evaluator pada kolokium rencana penelitian yang telah memberikan masukan dan saran sebagai bekal turun lapang. 4. Jumadi atas kesediaannya menjadi pembahas dalam seminar hasil skripsi yang telah memberikan masukan dan koreksi untuk penyempurnaan hasil skripsi ini 5. Orang tua tercinta, abang Samin, Limih, Rusman serta seluruh keluargaku atas doa dan dukungannya selama penulis menyelesaikan kuliah di IPB, semoga ini bisa menjadi persembahan yang terbaik. 6. Keluarga Dr.Ir. Hariyadi MS, Ibu Yuli Nurlestari, SE. MM beserta keluarga atas motivasi dan dukungannya selama penulis penyelesaikan kuliah. 7. Bapak Wisnanto selaku pemilik Peternakan Unggul, trimakasih atas diskusi, pengalaman dan kesempatan yang diberikan kepada penulis melakukan penelitian. 8. Wahyu Dwihartanto, Dewintha Stani, Surahmat,Nike Irawati, Ai maslihah, Bembi, Arief Rivai, Ragel, Amir Elbani, Risman, Nuning, Yosi, Ajen

Mukarom, Ayila, Tessa Magrianti, Kang Husein trimakasih atas bantuan, saran, diskusi dan masukannya selama penulis menyelesaikan kuliah di IPB.

9. Teman teman PLP, Keluarga Besar Asrama Kalsel, Keluarga Besar Muslim Ekstensi Institut Pertanian Bogor beserta Pembina, Seluruh Staf dan dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen, teman-teman Ekstensi khusunnya angkatan satu atas kebersamaan dan perjuangannya yang telah kita lalui semoga rasa kekeluargaan dan kebersamaan tetap terjaga. 10. Serta seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, terimakasih atas bantuannya.

Bogor, September 2009

Abdul Rosid

DAFTAR ISI

Halaman DAFTAR TABEL .................................................................................. DAFTAR GAMBAR ............................................................................. DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................... I PENDAHULUAN ....………..……………………………………….. 1.1. 1.2. 1.3. 1.4. 1.5. Latar Belakang ……………………………………………. Perumusan Masalah ………………………………………. Tujuan Penelitian …………………………………………. Kegunaan Penelitian ………………………………………… Ruang Lingkup Penelitian ………………………………... v vii viii 1 1 6 7 7 7 9 9 10 10 13 18 18 18 18 21 22 25 25 25 25 30 33 33 34 36 39 39 39 40

II TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………. 2.1. 2.2. 2.3. 2.4 Usaha Peternaan Kambing Perah …………………………… Klasifikasi Biologi dan Karakteristik Kambing PE ………… Budidaya ……………………………………………………. Penelitian Terdahulu ...............................................................

III KERANGKA PEMIKIRAN ......................................................... 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis ……………………………….. 3.1.1. Studi Kelayakan Proyek ............................................. 3.1.2. Aspek-aspek Analisis Kelayakan .............................. 3.1.3. Analisis Sensitivitas .................................................... 3.2. Kerangka Pemikiran Operasional ………………………….. IV METODE PENELITIAN ………………………………………. 4.1. 4.2. 4.3. 4.4. Lokasi dan Waktu Penelitian ………………………………. Jenis dan Sumber Data ............................................................ Metode Pengolahan dan Analisis Data ................................... Asumsi Dasar ……………………………………………….

V GAMBARAN UMUM....................................................................... 5.1 Sejarah dan Perkembangan.......................................................... 5.2 Lokasi Peternakan........................................................................ 5.3 Keadaan Penduduk Kecamatan Ciampea.................................... VI ANALISIS ASPEK NON FINANSIAL............................................ 6.1 Aspek Pasar.................................................................................. 6.1.1 Permintaan........................................................................ 6,1.2 Penawaran.......................................................................

6.1.3 Analisis Pesaing dan Peluang Pasar................................ 6.1.4 Bauran Pemasaran........................................................... 6.1.5 Analisis Aspek Pasar........................................................ 6.2 Aspek Teknis................................................................................ 6.2.1 Lokasi Produksi................................................................ 6.2.2 Teknis Budidaya............................................................... 6.2.3 Produksi susu.................................................................... 6.2.4 Tenaga Kerja.................................................................... 6.3 Aspek Manajemen....................................................................... 6.4 Aspek Sosial................................................................................ VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL.................................................. 7.1 Inflow.......................................................................................... 7.2 Outflow....................................................................................... 7.3 Analisis Kelayakan Finansial..................................................... 7.4 Analisis Switchinng value.......................................................... VIII KESIMPULAN DAN SARAN..................................................... 8.1 Kesimpulan................................................................................ 8.2 Saran.......................................................................................... DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... LAMPIRAN .......................................................................................

40 41 45 46 46 48 54 54 55 56 58 58 61 66 70 72 72 72 74 76

DAFTAR TABEL

Nomor 1. Populasi Ternak Menurut Jenis di Kabupaten Bogor Tahun 2006-2007 .................................................................. Populasi Kambing Perah di Beberapa Kecamatan di Kabupaten Bogor Tahun 2006-2007 ........................................ Perkembangan Konsumsi Susu Per Kapita Per Tahun di Indonesia Tahun 2005-2006 ................................................ Perbandingan Komposisi Susu Sapi, Susu Kambing, dan Air Susu Ibu Per 100 gram ………………………………………… Jumlah Pemberian Pakan Berdasarkan Kondisi Pertumbuhan Kambing.............................................................. Luas Wilayah Setiap Desa di Kecamatan Ciampea Tahun 2008............................................................................... Luas Lahan (Ha) Berdasarkan Pemanfaatan Lahan di Kecamatan Ciampea Tahun 2008....................................... .. Jumlah Penduduk dan Kepala Keluaarga di Kecamatan Ciampea Tahun 2008................................................................. Jumlah Penduduk di Kecamatan Ciampea Berdasarkan Umur Tahun 2008......................................................................

Halaman 2

2.

3

3.

4

4.

5

5.

13

6.

35

7.

36

8.

37

9.

37

10. Jumlah Penduduk (jiwa) Kecamatan Ciampea Berdasarkan Mata Pencharian Tahun 2008............................... 11. Estimasi Produksi Susu Kambing di Peternakan Unggul........ . 12. Estimasi Penerimaan Penjualan Anak Kambing Per Tahun..... 13. Biaya Investasi pada Peternakan Unggul................................. . 14. Biaya Re-Investasi Usaha Peternakan Unggul.......................... 15. Rincian Biaya Tetap Usaha Peternakan Unggul....................... 16. Angsuran Pembayaran Pinjaman Usaha Peternakan Unggul................................................................... .

38 59 61 62 63 64

65

17. Rincian Biaya Konsentrat Per Ekor Per Hari............................ 18. Hasil Kriteria Kelayakan Usaha Pada Skenario 1..................... 19. Perbandingan Hasil Kelayakan Usaha Pada Dua Skenario....... 20. Perbandingan Hasil Switching Value Usaha Peternakan Unggul....................................................................

65 68 70

71

DAFTAR GAMBAR

Halaman 1. Kerangka Pemikiran Oprasional............................................... 2. Kemasan Susu Murni di Peternakan Unggul............................ 3. Kandang Tipe Panggung di Peternakan Unggul....................... 4. Pemberian Pakan Ampas Kedelai............................................. 5. Kegiatan Sanitasi Kandang di Peternakan Unggul................... 24 43 48 50 51

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman 1. 2. 3. Kuisoner.................................................................................... Estimasi perkembangan Populasidan Produksi Kambing PE.... Biaya investasi, penyusutan dan nilai sisia Usaha peternakan Unggul..................................................................... Rincian Biaya variabel Usaha Peternakan Unggul................... Laba Rugi Skenario I................................................................ Cashflow skenario I .................................................................. Switching Value penurunan harga susu (Skenario I)................. Switching Value Kenaikan Biaya Variabel (Skenario I)............ Estimasi Perkembangan Populasi danProduksi Kambing PE (Skenario II)........................................................................ Biaya Investasi, Penyusutan dan Nilai Sisa (Skenario II) ......... Estimasi Penerimaan Usaha Peternakan Unggul (Skenario II).... Rincian Biaya Variabel (Skenario II)......................................... Cashflow skenario II ................................................................ Laba Rugi Skenario II................................................................ Switching Value penurunan harga susu (Skenario II)................ Switching Value Kenaikan Biaya Variabel (Skenario II)........... 77 80 85 86 87 88 90 92 94 99 100 101 102 104 105 107

4. 5. 6. 7. 8. 9.

10. 11. 12. 13. 14. 15. 16.

I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Adanya penetapan kebijakan diberlakukannya otonomi daerah, setiap daerah didorong untuk mampu mengembangkan komoditas unggulan sebagai sumber pemasukan bagi pendapatan asli daerah. Salah satu komoditas pada subsektor peternakan yang mulai dikembangkan pemerintah daerah kusunya propinsi Jawa Barat adalah kambing perah. Selain itu pengembangan kambing perah didukung dengan adanya sumber daya ternak kambing lokal yang berkualitas dan adaptif terhadap kondisi lingkungan yang panas dan lembab. Indikator peningkatan pembangunan subsektor peternakan dapat dilihat dengan adanya indikasi bertambahnya populasi ternak pada komoditas yang ada. Menurut BPS Peternakan (2007) penyebaran populasi ternak kambing dari tahun ke tahun umumya terjadi peningkatan. Peningkatan terbesar populasi kambing terjadi di propinsi Jawa Tengah yang merupakan salah satu daerah sentra ternak kambing nasional. Hal ini terlihat bahwa Propinsi Jawa Tengah merupakan populasi kambing terbesar di Indonesia, yaitu mencapai 3.193.842 ekor pada tahun 2007 (data sementara). Sedangkan Jawa Barat berada pada urutan ketiga terbesar, sebanyak 1.393.190 ekor setelah propinsi Jawa Timur. Berdasarkan jumlah populasi terbesar ketiga nasional tersebut dapat dikatakan bahwa ternak kambing merupakan salah satu komoditas unggulan di provinsi Jawa Barat yang masih berpotensi untuk dikembangkan. Populasi kambing perah Peranakan Etawa (PE) di Kabupaten Bogor

relatif lebih kecil dibandingkan jumlah populasi jenis ternak lainnya, namun berdasarkan informasi data tersebut (Tabel 1) memperlihatkan perkembangan ternak kambing PE merupakan ternak yang mengalami peningkatan populasi tertinggi di Kabupaten Bogor mencapai 51,01 persen dibandingkan dengan jenis ternak lain seperti sapi, kerbau, domba, babi, ayam dan sebagainya. Informasi khusus mengenai perkembangan populasi kambing (perah) di Jawa Barat khususnya di Kabupaten Bogor dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1. Populasi Berbagai Jenis Ternak di Kabupaten Bogor Tahun 2006-2007
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Jenis Ternak Sapi Potong Sapi Perah Kerbau Kambing PE Kambing Non PE Domba Babi Ayam Ras Petelur Ayam Ras Pedaging Ayam Ras Pembibit Ayam Buras Itik Puyuh Aneka Ternak - Kuda - Kelinci - Kera Jumlah Populasi (ekor) Tahun 2006 14.831 5.123 21.228 1.382 120.682 229.012 5.779 3.533.007 11.864.000 601.000 1.201.644 241.299 16.000 277 4.118 6.498 Tahun 2007 17.502 5.268 16.662 2.087 115.299 223.253 2.406 3.791.836 12.756.836 748.239 1.007.202 150.986 4.000 292 5.756 6.277 Pertumbuhan (%) 18,01 2,83 -21,51 51,01 -4,46 -2,51 -58,37 7,33 7,52 24,50 -16,18 -37,43 -75 5,42 39,78 -3,40

Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor (2008) Pengembangan agribisnis peternakan khususnya kambing perah PE di Kabupaten Bogor dapat dijadikan sebagai pengembangan sentra usaha komoditas unggulan. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya (Tabel 1), angka populasi ternak kambing PE yang berada di Kabupaten Bogor mengalami peningkatan, sedangkan daerah mana saja di Kabupaten Bogor yang merupakan sentra produksi susu kambing dapat dilihat pada Tabel 2. Kecamatan Ciampea merupakan salah satu sentra perkembangan populasi ternak kambing perah di kabupaten Bogor. Data dinas peternakan dan perikanan Kabupaten Bogor pada tahun 2007 menjelaskan bahwa Kecamatan Ciampea, terjadi peningkatan jumlah populasi kambing perah cukup signifikan mencapai 129,26 persen diantara kecamatan yang ada di Kabupaten Bogor. Peningkatan jumlah populasi tersebut mengindikasikan bahwa perkembangan usaha ternak kambing keberadaannya dapat diterima oleh masyarakat.

Tabel 2. Populasi Kambing Perah di Beberapa Daerah Sentra di Kabupaten Bogor Tahun 2006-2007
Populasi (ekor) Kecamatan 2006 Cijeruk Caringin Ciampea Pamijahan Cigombong 324 245 123 187 117 2007 404 341 282 243 222 Persentase Perkembangan (%) 24,69 39,18 129,26 29,95 89,74

Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor (2008)

Kambing perah merupakan ternak dwiguna, selain susu sebagai produk utama, daging dan produk sampingan seperti kotoran ternak dapat dimanfaatkan sebagai sumber pupuk organik. Usaha ternak kambing perah dapat dijadikan sebagai ternak alternatif diversifikasi hasil peternakan selain sapi, karena terbatasnya daerah yang sesuai untuk pengembangan sapi perah di Indonesia. Namun, hanya kambing perah tertentu yang dapat menghasilkan susu kambing, karena mengingat tidak semua jenis kambing dapat menghasilkan susu secara kontinyu dan produktivitas susu dalam jumlah yang banyak. Salah satu jenis kambing yang berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia adalah kambing PE. Dilihat dari kebutuhan konsumsi susu, umumnya terjadi peningkatan baik susu segar maupun susu olahan (Tabel 3). Peningkatan populasi penduduk dan pendapatan masyarakat merupakan faktor yang dapat mempengaruhi pola konsumsi susu per kapita. Konsumsi susu baik susu olahan maupun susu segar pada tahun 2006 terjadi peningkatan sebesar 10,47 kg per tahun per kapita dibandingkan pada tahun sebelumya. Masyarakat Indonesia umumnya

mengkonsumsi susu kambing dalam bentuk susu segar. Secara khusus jumlah konsumsi susu segar per tahun per kapita termasuk didalammya susu kambing terjadi peningkatan, pada tahun 2005 sebesar 0,1 kg menjadi 0,16 kg per tahun per kapita.

Tabel 3. Perkembangan Konsumsi Produk Susu Per Kapita Per Tahun di Indonesia Tahun 2005-2006
No. Jenis Produk 2005 1 2 3 4 5 6 7 Susu segar Susu cair pabrik Susu kental manis Susu bubuk Susu bubuk bayi Keju Hasil lain dari susu Total konsumsi Susu 0,10 0,12 1,10 4,59 3,90 0,01 0,01 9,82 Tahun/(kg) 2006 0,16 0,14 1,10 5,16 3,90 0,00 0,01 10,47

Sumber : BPS Peternakan (2007)

Keunggulan susu kambing perah dibandingkan susu yang bersumber dari susu sapi, susu kambing mudah dicerna dan tidak menimbulkan gangguan pencernaan bagi mereka yang alergi mengkonsumsi susu sapi. Susu segar yang biasa dikonsumsi masyarakat adalah susu sapi. Keberadaan ternak kambing perah sebagai ternak ruminansia kecil berpotensi sebagai penghasil susu selain sapi yang umumnya kita kenal. Susu segar yang dimaksud adalah tanpa adanya penambahan atau pengurangan suatu apapun kandungan alami dari susu tersebut yang dihasilkan dari pemerahan. Dari sisi kandungan nutrisi, susu kambing memiliki kandungan nutrisi yang lebih baik dibandingkan susu sapi (Tabel 4). Selain sebagai sumber minuman bernutrisi susu kambing juga diyakini dapat menyembuhkan beberapa penyakit seperti gangguan pernafasan dan lambung. Perbandingan komposisi kimia antara susu sapi, susu kambing dan air susu ibu (ASI), kandungan kimia susu kambing memiliki keunggulan dibandingkan susu lainnya, komposisi kimia tersebut diantaranya kandungan Protein, Kalsium, Magnesium, Natrium, dan Niacin dimana kandungan kimia tersebut dibutuhkan oleh tubuh manusia.

Tabel 4. Perbandingan Komposisi Susu Sapi, Susu Kambing, dan Air Susu Ibu Per 100 gram Komposisi Kimia Protein Lemak Karbohidrat Kalori Fosfor Kalsium Magnesium Besi Natrium Kalium Vitamin A Thiamin Riboflavin Niacin Vitamin B6 Satuan gram gram gram kal gram gram gram gram gram gram IU mg mg mg mg Susu Sapi 3,3 3,3 4,7 61 93 19 13 0,05 49 152 126 0,04 0,16 0,08 0,04 Susu Kambing 3,6 4,2 4,5 69 111 134 14 0,05 50 204 185 0,05 0,14 0,28 0,05 Air Susu Ibu 1,0 4,4 6,9 70 14 32 3 0,03 17 51 241 0,014 0,04 0,18 0,01

Sumber : US Department of Agriculture dalam Sutama dan Budiarsana (1997)

Susu kambing memiliki harga jual yang lebih tinggi dibandingkan harga susu sapi. Sebagai informasi harga susu kambing ditingkat konsumen di luar Jakarta sudah mencapai Rp 20.000-40.000/liter sedangkan harga susu sapi hanya berkisar Rp 4000-5000/liter (Sodiq dan Abidin 2008). Bahkan peternak kambing perah di wilayah Bogor, Dwi Susanto mampu menjual harga susu kambing mencapai 100.000/liter)1. Harga jual susu kambing yang tinggi menjadikan insentif bagi peternak untuk mengembangkan usaha kambing perah. Tingginya harga susu kambing adalah karena susu kambing dijadikan sebagai minuman obat dan bahan baku untuk kecantikan. Selain itu, juga dipengaruhi oleh masih sedikitnya peternak yang mengusahakan ternak kambing, sehingga menyebabkan pasokan susu terbatas. Adanya peluang bisnis usaha ternak kambing perah di Kecamatan Ciampea Bogor menjadikan daya tarik investor untuk berinvestasi. Pemilik Peternakan Unggul adalah salah seorang yang mampu membaca peluang bisnis tersebut dengan mendirikan peternakan yang khusus memelihara jenis kambing PE. Peternakan ini terletak di Kecamatan Ciampea yang merupakan salah satu
1

“Adijaya, Dian. Tangguk Rezeki dari Susu Kambing. Trubus no 468 edisi november 2008”.

daerah sentra produksi susu kambing. Dengan hadirnya usaha Peternakan Unggul, diharapkan tidak hanya menguntungkan bagi peternaknya sendiri, tetapi juga memiliki manfaat bagi masyarakat sekitar dan sebagai pemasukan pendapatan pemerintah daerah setempat.

1.2.Perumusan Masalah Kambing perah merupakan ternak yang bersifat dwiguna selain penghasil susu sebagai produk utama juga dapat dimanfaatkan dagingnya. Kandungan susu kambing memiliki nutrisi yang cukup baik. Adanya peningkatan konsumsi susu per kapita per tahun, dan memiliki harga jual yang cukup tinggi, menjadikan daya tarik pelaku usaha untuk memasuki usaha kambing perah dengan harapan memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnnya. Peternak Kambing Unggul dalam menjalankan usaha tersebut, belum melakukan analisis kelayakan terhadap usaha yang sedang dijalankan. Manfaat dengan melakukan analisis kelayakan bagi pelaku usaha dapat mengetahui apakah usaha yang dijalankan mendatangkan keuntungan atau kerugian serta sebagai informasi bagi investor maupun pelaku usaha melakukan investasi pada komoditi peternakan, khususnya kambing perah peranakan etawa, selain itu pengembangan dan pengusahaan kambing PE tersebut membutuhkan waktu tidak sebentar dalam penanaman modal investasi yaitu selama lima tahun. Biaya investasi yang

dikeluarkan seperti biaya pembangunan kandang, pengadaan bibit kambing PE, pengeluaran untuk biaya produksi membutuhkan modal yang besar serta setiap usaha dihadapi adanya risiko. Risiko yang dihadapi seperti adanya pesaing antar produsen susu kambing, tingkat kematian ternak akibat penyakit ternak, perubahan harga input, ketersediaan pakan, perubahan ekonomi suatu negara seperti sekarang ini terjadi krisis global. Oleh karena itu, penting untuk mempelajari bagaimana kelayakan pengusahaan ternak kambing perah tersebut. Berdasarkan uraian di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimana kelayakan investasi pengusahaan ternak kambing perah ini, apakah sudah layak diusahakan dilihat dari aspek finansial dan non finansial ?

2.

Bagaimana tingkat kepekaan (sensitivitas) kelayakan pengusahaan kambing perah apabila terjadi perubahan pada faktor-faktor yang dapat mempengaruhi manfaat dan biaya ?

1.3.

Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah di atas maka tujuan

dari penelitian ini adalah : 1. Menganalisis kelayakan usaha Kambing Perah Peranakan Etawa di Peternakan Unggul dari aspek kelayakan finansial dan non finansial (aspek pasar, teknis, manajemen dan sosial) 2. Menganalisis tingkat kepekaan kelayakan usaha kambing perah PE terhadap perubahan dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi manfaat dan biaya dari usaha tersebut.

1.4.

Kegunaan Penelitian Kegunaan penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan-masukan

yang bermanfaat bagi pemilik usaha kambing perah mengenai kelayakan usaha tersebut demi keberlangsungan usahanya. Bagi penulis, untuk mengaplikasikan ilmu yang dipelajari selama masa perkuliahan dan sebagai sarana informasi dunia usaha di subsektor peternakan secara nyata. Bagi pembaca, diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi atau rujukan sebagai informasi pengusahaan kambing perah, serta sebagai pertimbangan ketika terjun ke dunia usaha atau pemilihan bisnis dalam pengambil keputusan.

1.5.

Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini dibatasi hanya mengkaji aspek yang berkepentingan

langsung dengan perusahaan, sehingga penelitian ini mencakup aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek sosial dan aspek finansial. Kriteria kelayakan untuk aspek pasar ditinjau dari komponen potensi pasar dan bauran pemasaran yang dijalankan perusahaan. Kriteria kelayakan untuk aspek teknis ditinjau dari komponen lokasi produksi, tata letak tempat produksi, perencanaan dan proses

budidaya. Kriteria kelayakan untuk aspek manajemen ditinjau dari komponen manajemen sumberdaya manusia dan manajemen organisasi perusahaan. Kriteria investasi aspek finansial yang digunakan Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C) dan Payback Period (PBP).

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Usaha Peternakan Kambing Perah Peternakan adalah usaha manusia untuk mendayagunakan hewan bagi

kesejahteraan umat manusia. Kegunaan yang diperoleh manusia dari ternak yang dipeliharanya, antara lain tenaga kerja, makanan berupa daging, telur dan susu, olah raga dan rekreasi, serta kotorannya yang digunakan sebagai pupuk organik maupun biologis. Menurut Mubyarto (1989), peternakan dilihat dari pola pemeliharaannya di Indonesia dapat dibagi tiga kelompok, yaitu 1) peternakan rakyat dengan cara pemeliharaan yang tradisional, 2) peternakan rakyat dengan cara pemeliharaan yang semi komersial dan 3) peternakan komersial. Agar dapat berproduksi dengan optimal maka diperlukan faktor-faktor produksi meliputi ternak, tenaga kerja, modal dan manajemen. Manajemen kambing perah adalah seni merawat, menangani dan mengatur kambing. Terdapat beberapa hal yang termasuk didalamnya, yaitu pemeliharaan, tenaga kerja, modal, pencegahan penyakit, dan kotoran. Agar sukses menjalankan usaha peternakan kambing perah, ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu bibit ternak yang digunakan, teknik pemberian pakan dan manajemen usaha ternak itu sendri (Siregar dan Ilham 2003). Kambing merupakan hewan yang sangat penting dalam pertanian subsisten, karena kemampuannya yang unik dalam mengadaptasikan dan mempertahankan dirinya dalam lingkungan yang kering (William dan Payne dalam Fauzian 2002). Sebagian masyarakat pedesaan memperlakukan kambing sebagai pabrik kecil penghasil daging dan susu. Hasil lain yang bisa diperoleh dari ternak kambing adalah kulit dan kotorannya yang berfungsi sebagai pupuk kandang (Sarwono 2006). Menurut Devendra dan Burns (1994), ternak perah merupakan ternak yang memproduksi susu melebihi kebutuhan anaknya dan dapat mempertahankan produksi susunya sampai jangka waktu tertentu.

2.2.

Klasifikasi Biologi dan Karakteristik Kambing PE Berdasarkan klasifikasi biologi, kambing digolongkan dalam kerajaan

animalia, filum cordata, kelas kelompok mamalia, ordo Arthodactyla, famili Bovidae, sub famili Caprinae dan genus Capra. Menurut Sodik dan Abidin (2008), dalam perkembanganya tipe kambing diklasifikasikan berdasarkan produk utamanya seperti kambing tipe perah, tipe potong, tipe dwiguna ( gabungan tipe potong dan perah) dan kambing tipe bulu. Kambing PE merupakan kambing unggul asal Indonesia, hasil persilangan antara kambing kacang lokal dengan kambing Jamnapari asal India. Diantara jenis kambing perah tersebut, kambing PE memiliki kemampuan memproduksi susu sebanyak 1,5-3 liter per hari. Dengan kemampuan produksi susu tersebut maka kambing perah PE cukup signifikan untuk dikembangkan sebagai ternak penghasil susu yang sangat potensial. Selain itu, kambing PE pun sangat adaptif dengan topografi Indonesia, tidak memerlukan lahan luas dan pembudidayaannya relatif mudah. Ciri fisik kambing PE diantarannya warna bulu kombinasi dari warna putih dan hitam/ putih dan coklat. Dimana bagian kepala hingga leher berwarna coklat atau hitam, dengan bentuk telingga panjang dan menggantung. Garis muka cembung dengan bulu rewos/surai menggantung terkulai. Berat kambig jantan mencapai 90 kg dan kambing betina mencapai 60 kg Jantan dan betina memiliki tanduk kecil dengan produk susu 136-253 kg selama masa laktasi 175-287 hari.

2.3.

Budidaya Pengusahaan ternak kambing perah adalah semua kegiatan produksi

dengan tujuan produk

utama yang dihasilkan berupa susu, disamping

menghasilkan anak untuk bibit atau sebagai kambing potong. Aspek yang harus diperhatikan ketika membudidaya kambing perah diantaranya : 1) Pemilihan Bibit Unggul Bibit berpengaruh sangat besar terhadap produktivitas ternak, dan oleh karenanya pemilihan bibit yang berkualitas baik sangat penting untuk diperhatikan. Menurut Sutama (2007), hal yang harus diperhatikan ketika memilih induk kambing agar memiliki kemampuan produksi susu yang tinggi diantaranya :

untuk ciri kambing betina yaitu mempunyai karakter keibuan, garis punggung rata, mata cerah bersinar, kulit bulu halus dan bulu tidak kusam. Posisi rahang atas dan bawah rata, kapasitas rongga perut besar, dada lebar serta kaki kuat dan normal. Ukuran ambing cukup besar, kenyal, dan berbentuk simetris. Puting susu dua buah dan normal. Sedangkan bibit kambing jantan yang baik, memiliki kriteria dengan ciri-ciri diantaranya: mempunyai karakter jantan yang kuat, perototan kuat dan mata yang dimiliki terlihat bersinar. Bentuk punggung kuat dan rata. Bentuk kaki kuat dan simetris, testis dua buah berbentuk normal, simetris dan kenyal, penis normal serta libido tinggi. 2) Reproduksi Pemeliharaan yang sesuai dan sumber induk kambing yang unggul sangat mempengaruhi kualitas keturunan ternak yang dihasilkan. Menurut Sutama

(2007), Kambing Peranakan Etawa betina mulai dapat dikawinkan umur ternak 12-15 bulan. Sedangkan kambing jantan pada umur 1,5 tahun. Kambing jantan berpotebnsi mengawinkan kambing betina setiap bulannya mencapai 12-16 ekor. Adanya pengaturan interval beranak adalah delapan bulan maka potensi kelahiran selama dua tahun menghasilkan tiga kali masa kelahiran. Lamanya kambing bunting adalah sekitar 144-156 hari. Setelah melahirkan pemberian susu pada anak kambing pra sapih sebaiknya umur 1-7 hari bersumber dari susu induknya. Minggu ke dua mulai diperkenalkan susu sapi dan susu kambing (50:50%) sebanyak 800ml/hari/ekor. Usia anak kambing 3-4 minggu mulai di tingkatkan pemberian susu hingga 1 liter susu sapi/hari/ekor. Sedangkan minggu ke 5-10 diberikan susu sapi sebanyak 1,5-2 liter sapi/ekor/hari dan mulai memperkenalkan pakan tambahan seperti rumput. Hingga minggu ke 11-12 pemberian susu sapi mulai dikurangi hingga ternak tersebut beralih memakan rumput/konsentrat. 3) Kandang Pembuatan kandang dapat dilakukan dengan jenis panggung dan non panggung seperti penggunaan lantai dengan tanah atau beton. Umumnya jenis kandang yang sering dijumpai menggunakan jenis kandang panggung. Kandang merupakan tempat tinggal bagi ternak, pola pemeliharaan secara intensif harus memperhatikan kontruksi kandang. Tujuannya adalah agar kontruksi kandang kuat dan yang lebih penting lagi ternak yang berada di dalam kandang merasa

nyaman atau tidak gaduh. Menurut Setiawan dan Tanius (2003), fungsi kandang bagi ternak diantaranya: sebagai tempat ternak berlindung dari semua gangguan yang dapat diprediksi seperti aklimatisasi, terpaan angin, sinar matahari maupun binatang pengganggu. Fungsi kandang harus mempermudah pengawasan dan pemeliharaan bagi peternak, seperti makan, minum, tidur, membuang kotoran. Hingga pada proses pemerahan susu nasntinya. Kebutuhan luas kandang menurut Sarwono (2006) kapasitas induk beranak dan 10 pejantan di perlukan kadang seluas 165 meter persegi dengan ketinggian panggung kandang 0,5 m2, serta kebutuhan lahan seluas 6.000 m2. 4) Pakan Ternak ruminansia perlu hijauan sebagai makanan yang dikonsumsi ternak setiap hari. Penyediaan hijauan yang cukup dan berkualitas tinggi merupakan prioritas utama dalam menunjang keberhasilan suatu usaha peternakan. Pakan yang sempurna mengandung protein, karbohidrat, lemak, air, vitamin dan mineral. Jenis hijauan yang dapat digunakan sebagai pakan ternak adalah jenis rumput seperti rumput gajah, rumput raja, panicum maxsimum, paspalum atratum dan kacang-kacangan seperti desmodium rensonii, gliricidia sp, sesbania sp dan calliandra sp. Jenis jenis pakan ternak yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi diantaranya rumput, daun-daunan, onggok, dedak, shorgum, ketela rambat dan singkong merupakan sumber energi yang dibutuhkan ternak. Sumber protein meliputi legum, limbah hasil pertanian (bungkil kedelai, bungkil kelapa, ampas tahu). Pemenuhan sumber energi bagi ternak dapat menggunakan garam dapur, kapur, tepung tulang dan mineral mix, sedangkan sebagai sumber vitamin dapat menggunakan jagung kuning, hijauan segar (rumput dan legum), dan wortel. Hal yang harus diperhatikan ketika memberikan pakan disesuaikan dengan kondisi dan umur ternak (Tabel 5). Seperti pada Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Cita Rasa (P4S Cita Rasa), pemberian pakan untuk kebutuhan ternak meliputi konsentrat, ampas tahu, rumput dan dedaunan. Pemberian pakan pada masa induk bunting dan masa laktasi diberikan dalam jumlah yang lebih banyak.

Tabel 5. Jumlah Pemberian Pakan Berdasarkan Kondisi Pertumbuhan Kambing
Kondisi Pertumbuhan Konsentrat Jumlah Pemberian (kg/ekor) Ampas tahu Rumput Dedaunan

Kambing laktasi Induk bunting Pejantan Anak > 8 bulan Anak 5-8 bulan

0,5 0,25 0,5 0,25 0,1

3 3 3 1,5 1

5 5 6 2,5 1.5

2 2 4 2 1

Sumber : P4S Cita Rasa dalam Setiawan dan Tanius (2003)

5) Penyakit pada Kambing Kambing yang sehat mencirikan sistem manajemen pemeliharaan seperti kebersihan kandang, pakan yang cukup, tanggap terhadap gejala penyakit sehingga dapat ditanggulangi sedini mungkin. Dengan harapan produksi yang dihasilkan seoptimal mungkin. Beberapa jenis penyakit ada yang bersifat menular dan tidak menular. Menurut Sutama (2007), penyakit menular disebabkan oleh inveksi virus, bakteri, jamur, parasit darah, cacing dan kutu. Jenis penyakit yang sering menyerang ternak diantaranya mastitis, scabies, puru, cacingan. Sedangkan jenis penyakit yang tidak menular dikarenakan kekurangan mineral, tanaman beracun, racun. Jenis penyakit tidak menular diantaranya perut kembung, kurus kurang gizi, patah kaki karena terjepit dan lain sebagainya. Penyebaran penyaki dapat terjadi melalui : kontak langsung dengan hewan sakit, tanaman beracun, racun, melalui serangga, angin dan pekerja kandang.

2.4.

Penelitian Terdahulu Penelitian mengenai kambing perah PE telah dilakukan oleh Ardia (2000),

pada penelitiannya mengenai analisis pendapatan usaha ternak kambing perah peranakan etawa di peternakan Barokah, Desa Caringin, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Berdasarkan hasil penelitiannya, penerimaan di peroleh dari penjualan susu kambing, kambing betina usia enam bulan, dan penjualan dara siap kawin. Harga pokok produksi per kg pada tahun 1997 sebesar Rp 2.885,88, tahun

1998 sebesar Rp 2.992.29, dan pada tahun 1999 sebesar Rp 3.195.59. Sedangkan harga jual susu kambing setiap tahunnya sama sebesar enam ribu rupiah. Dari struktur biaya, biaya yang paling tinggi adalah biaya pakan dan gaji tenaga kerja. Biaya pakan dari tahun 1997-1999 sebesar 38 persen, 36,88 persen dan 40,09 persen. sehinga mempengaruhi pendapatan dari tahun 1997-1999 yaitu sebesar Rp 25.046.666, Rp 21.402.016 dan Rp 21.163.958. terjadinya penurunan pendapatan karena adanya kenaikan biaya pakan. Analisis usaha ternak kambing perah dan pemasaran susu kambing yang dilakukan oleh Ahmad (2000) di Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Cita Rasa. Menggunakan dua metode pengusahaan ternak kambing dengan memelihara semua anak yang lahir dan pengusahaan ternak dengan menjual semua anak yang lahir selama pemeliharaan ternak kambing perah. Masing-masing metode mempunyai keunggulan dan kelebihan. pengusahaan dengan memelihara semua anak kambing, nilai pendapatan turun naik karena setiap tahunnya peternak harus mengeluarkan biaya investasi pembuatan kandang. Pengusahaan dengan menjual seluruh anak akan memberikan pendapatan bersih yang positif setelah tahun pertama. Penerimaan dari menjual susu konstan karena tidak ada penambahan jumlah ternak, tidak ada investasi tambahan ditengah tahun proyek, tetapi untuk dapat melanjutkan pengusahaan ternak harus dilakukan investasi ulang setelah induk afkir. Pengusahaan dengan memelihara semua anak kambing nilai NPV yang diperoleh pada tingkat diskonto 16 persen adalah sebesar Rp 560.151.929, pada tingkat diskonto 20 persen sebesar Rp 414.872.987, nilai IRR sebesar 39 persen menunjukan lebih besar dari tingkat diskonto maupun sukubunga pinjaman yang berlaku. Net B/C yang dihasilkan pada tingkat sukubunga 16 dan 20 persen sebesar 1,59 dan 1,45. Sedangkan pengusahaan dengan menjual semua anak kambing NPV yang diperoleh pada tingkat diskonto 16 dan 20 persen sebesar Rp 277.500.080 dan Rp 204.620.206 nilai IRR yang didapat sebesar 37 persen, nilai Net B/C pada tingkat sukubunga 16 dan 20 persen adalah 1,35 dan 1,27. Hasil analisis aspek finansial yang dilakukan Setyowati (2001) pada prospek pengembangan usaha ternak kambing perah peranakan etawa berlokasi di Desa Ciherang Pondok, Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor. Berdasarkan

aspek finansial tahun 2000 diperoleh nilai keuntungan Rp 28.277.360 dengan nilai R/C yang diperoleh 1,33, nilai BEP Rp 61,951,398,63 hal ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 1999 sebesar 37,72 persen, karena terjadi peningkatan biaya tetap 30,32 persen khususnya biaya tenaga kerja

(42,03 persen ). Sedangkan peningkatan penerimaan sebesar 2,8 persen harga popok penjualan yang diperoleh sebesar Rp 67.427.025 dan rasio laba penjualan sebesar 24,64 persen. Hasil analisis dilihat dari matrik SWOT menunjukan faktor internal dan eksternal terbagi menjadi kekuatan dan peluang yang akan mendukung usaha perusahaan serta kelemahan dan ancaman dapat menghambat perkembangan usaha. Alternatif strategi pengembangan yang dilakukan di Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya Citra Rasa dengan memadukan foktor eksternal dan internal adalah mempertahankan pelanggan yang sudah ada, memudahkan jalur distribusi produk, meningkatkan pelayanan pada konsumen, meningkatkan kondisi keuangan, melakukan diversifikasi produk, memanfaatkan perkembangan teknologi, meningkatkan kegiatan promosi, memperbaiki sistem pembukuan, dan menurunkan HPP guna meningkatkan penerimaan dan melakukan penyuluhan. Dalam penelitian Ratnawati (2002) mengenai kelayakan usaha peternakan sapi dan kambing perah di pesantren Darul Fallah. Pengembangan usaha kambing perah pada sekala 50 ekor berdasarkan analisa aspek finansial menyimpulkan layak untuk diusahakan baik pada tingkat diskonto 13 maupun 18 persen. IRR yang didapatkan adalah 23 persen dan payback period nya selama 3,4 tahun. pada tingkat diskonto 13 persen nilai NPV yang didapatkan adalah sebesar Rp 35.709.280 dan N/B nya sebesar 1,34. pada tingkat diskonto sebesar 18 persen NPV yang didapatkan sebesar Rp 15.102.390 dan Net B/C yang didapatkan 1,11. Pengembangan usaha kambing perah pada sekala usaha 50 ekor tidak layak untuk dilakukan ketika terjadi penurunan harga sebesar 15 persen pada tingkat diskonto sebesar 18 persen. Kajian kelayakan pada aspek non finansial, dilihat dari aspek pasar menunjukan bahwa susu sapi yang diproduksi oleh Darul Fallah memiliki pasar yang bagus karena menjaga kualitas susu yang dihasilkan. Darul Fallah selalu mengalami kelebihan permintaan. Begitu juga dengan susu kambing memiliki

prospek yang bagus karena masih sedikit yang mengusahakan ternak kambing perah sehingga terjadi kelebihan permintaan. Penelitian tentang kelayakan Finansial penggemukan kambing dan domba pada Mitra Tani Farm yang dilakukan oleh Fitrial (2009), berlokasi di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Hasil analisis yang didapat dilihat dari kelayakan non finansial pada aspek pasar dan manajemen layak untuk dijalankan. Analisis aspek finansial usaha penggemukan kambing dan domba peternakan Mitra Tani Farm selama lima tahun dengan tingkat diskonto 8,5 persen diperoleh nilai NPV sebesar 359.346.744, net B/C dan Gross B/C sebesar 2,53, IRR sebesar 11,7 persen dan PBP selama 1,5 tahun. hasil dari analisis yang diperoleh masingmasing kriteria investasi tersebut sesuai dengan nilai indikator yang ditetapkan sehingga usaha penggemukan kambing dan domba layak untuk dijalankan. Melalui pendekatan nilai analisis switching value menunjukan usah tersebut dapat mentolerir kenaikan harga input mencapai 5,34 persen dan penurunan kuantitas penjualan output sebesar 4,79 persen. Analisis Struktur Biaya Usaha Ternak Kambing Perah di Kabupaten

Bogor yang dilakukan Stani (2009), berdasarkan hasil analisis struktur biaya dengan mengelompokan biaya-biaya yang terjadi pada usaha kambing perah, struktur biaya tersebut terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Menyimpulkan semakin besar skala usaha yang dilakukan, maka biaya persatuan ternak dan biaya per liter susu semakin menurun. Masing –masing skala yang diperoleh: skala I dengan jumlah kepemilikan ternak sebesar Rp 26.521 per liter, skala II Rp 25.750 per liter dan skala III sebesar Rp 17.472. Penelitian terahulu yang dilakukan oleh Fitrial (2009) mengkaji apek finansial dan non finansial, komoditi yang diteliti pada ternak kambing dan domba sebagai usaha penggemukan. Sedangkan Ratnawati (2002) hanya mengkaji dari sisi aspek Finansial, dengan komoditi yang diteliti sapi dan kambing perah. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan Ardia (2000) dan Ahmad (2000)

penelitian yang dilakukan mengkaji dari aspek pendapatan, sekenario yang dilakukan penelitian Ahmad (2000) dengan memelihara semua anak yang lahir dan pengusahaan ternak dengan menjual semua anak yang lahir selama

pemeliharaan ternak kambing perah. Penelitian Setyowati (2001) meneliti dari sisi

prospek pengembangan usaha ternak kambing dengan melihat asfek finansial dan analisis SWOT. Sedangkan penelitian yang akan saya lakukan mengkaji dari aspek finansial dan non finansial dengan sekenario yang dilakukan. Penerimaan menggunakan dua sekenario yaitu bersumber dari susu saja artinnya sumber penerimaan yang diperoleh hanya dari produk susu kambing. Sedangkan skenario ke dua sumber penerimaan selain dari produk susu yang dihasilkan juga dari penjualan anak dan kambing afkir.

III KERANGKA PEMIKIRAN

3.1.

Kerangka Pemikiran Teoritis

3.1.1. Studi Kelayakan Proyek Studi kelayakan dapat dilakukan untuk menilai kelayakan investasi baik pada sebuah proyek maupun bisnis yang sedang berjalan, sehingga kita mengetahui berhasil atau tidaknya investasi yang telah ditanamkan. Studi kelayakan proyek merupakan penelitian tentang layak atau tidaknya suatu proyek dibangun untuk jangka waktu tertentu (Umar 2005). Menurut Soeharto (1999), Investasi dapat dilakukan oleh swasta maupun negara dengan motif keuntungan finansial ataupun keuntungan non finansial. Pihak swasta lebih berminat tentang manfaat ekonomis suatu investasi. Sedangkan pemerintah dan lembaga nonprofit melihat apakah proyek bermanfaat bagi masyarakat luas yang berupa penyerapan tenaga kerja, pemanfaatan sumberdaya yang melimpah, dan penghematan devisa. Semakin luas skala proyek maka dampak yang dirasakan baik secara ekonomi maupun sosial semakin luas.

3.1.2. Aspek-Aspek Analisis Kelayakan Aspek-aspek dalam studi kelayakan adalah bidang kajian dalam studi kelayakan tentang keadaan objek tertentu, yang dilihat dari fungsi-fungsi bisnis. Menurut Subagyo (2007), pembagian dan pengkajian aspek-aspek dalam studi kelayakan terbagi menjadi dua bagian yaitu aspek primer dan aspek sekundear. Aspek primer merupakan aspek yang utama dalam penyusunan studi kelayakan. Aspek primer ini ada dalam semua sektor usaha yang terdiri dari : aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis dan teknologi, aspek manajemen dan organisasi, aspek hukum, serta aspek ekonomi dan keuangan. Aspek sekunder adalah aspek pelengkap yang disusun berdasarkan permintaan instansi/lembaga yang terkait dengan objek studi, yaitu aspek analisis mengenai dampak lingkungan dan aspek sosial. Secara umum analisis kelayakan terbagi menjadi aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek sosial, dan aspek finansial.

1) Aspek Pasar Evaluasi aspek pasar sangat penting dalam pelaksanaan studi kelayakan proyek. Salah satu syarat agar pemasaran berhasil, proyek yang akan dilaksanakan harus dapat memasarkan hasil produksinya secara kompetitif dan menguntungkan. Analisis aspek pasar terdiri dari rencana perasarana output yang dihasilkan oleh proyek dan rencana penyediaan input yang dibutuhkan untuk kelangsungan dan pelaksanaan proyek (Gittinger, 1986). Kriteria kelayakan pada aspek pasar dikatakan layak apabila usaha kambing perah memiliki peluang pasar, artinya potensi permintaan lebih besar dari penawaran. Keberhasilan dalam menjalankan usaha perlu adanya strategi pemasaran dan pengkajian aspek pasar dengan cermat. Hal yang dapat dipelajari bentuk pasar yang dimasuki, komposisi dan perkembangan permintaan dimasa lalu dan sekarang. 2) Aspek Teknis Pengkajian aspek teknis dalam studi kelayakan dimaksudkan untuk memberikan batasan garis besar parameter-parameter teknis yang berkaitan dengan perwujudan fisik proyek. Aspek teknis memiliki pengaruh besar terhadap perkiraan biaya dan jadwal kegiatan yang dilakukan nantinya, karena akan memberikan batasan-batasan lingkup proyek secara kuantitatif (Soeharto 1999). Indikasi suatu proyek dikatakan layak dalam menjalankan usahanya dapat dilihat dari adanya perkembangan produksi yang dihasilkan, lokasi usaha yang strategis, dalam artian mudah dijangkau keberadaannya. Infrastruktur yang mendukung seperti fasilitas jalan, listrik, transportasi, pengadaan bahan baku serta sarana produksi mudah diperoleh, dan bentuk layout usaha tertata secara sistematis guna memudahkan dalam proses produksi. Menurut Husnan dan Suwarsono (2000) aspek teknis merupakan suatu aspek yang berkenaan dengan proses pembangunan proyek secara teknis dan operasi setelah proyek selesai dibangun. Aspek teknis dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai lokasi proyek, besar skala operasi/luas produksi, kriteria pemilihan mesin dan peralatan yang digunakan, proses produksi yang dilakukan dan jenis teknologi yang digunakan. 3) Aspek Manajemen

Analisis ini berkaitan dengan hal-hal yang berkenaan dengan pertimbangan mengenai sesuai tidaknya proyek dengan pola sosial budaya masyarakat setempat, susunan organisasi proyek dengan pembentukan tim kerja, pembagian kerja, pembuatan rencana kerja agar sesuai dengan prosedur organisasi setempat, kesanggupan atau keahlian staf yang ada untuk mengelola proyek. Menurut Subagyo (2007) Struktur organisasi manajemen proyek disusun berdasarkan

skala dan kompleksitas proyek. Semakin besar skala proyek, semakin kompleks struktur yang diterapkan. 4) Aspek Sosial Ekonomi Analisis sosial berkenaan dengan implikasi sosial yang lebih luas dari investasi yang diusulkan, dimana pertimbangan-pertimbangan sosial harus dipikirkan secara cermat agar dapat menentukan apakah suatu proyek tanggap (responsive) terhadap keadaan sosial (Gittinger 1986). Dampak positif pembangunan proyek pada masyarakat sekitar antara lain adalah ikut menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan penduduk sekitar, baik secara langsung maupun tidak langsung, peningkatan fasilitas infrastruktur umum dan lain sebagainya. Sedangkan dampak negatif yang ditimbulkan bisa berupa pencemaran lingkungan karena limbah, hingga faktor keamanan yang tidak nyaman untuk berinvesatasi. 5) Aspek Finansial Gittinger (1986) menyatakan bahwa analisa proyek pertanian adalah untuk membandingkan biaya-biaya dengan manfaatnya dan menentukan proyek-proyek yang mempunyai keuntungan yang layak. Suatu proyek dapat dilaksanakan atau tidak, bila hasil yang diperoleh dari proyek dapat dibandingkan dengan sumbersumber yang diperlukan (biaya). Dana yang diinvestasikan layak atau tidaknnya akan diukur melalui kriteria investasi net present value, net benefit cost ratio, dan Internal Rate of Return Menurut Umar (2005), tujuan menganalisis aspek

keuangan dari suatu studi kelayakan proyek bisnis adalah untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan, dengan

membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan seperti ketersediaan dana, modal, kemampuan proyek untuk membayar kembali dana tersebut dalam waktu yang telah ditentukan dan menilai apakah proyek akan dapat berkembang terus.

Kritertia investasi yang digunakan yaitu Net Present Value, Return, Net Benefit Cost Ratio, Payback Period. a) Net Present Value (NPV)

Internal Rate of

Present Value merupakan nilai selisih antara nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih di masa yang akan datang (Husnan dan Suwarno 2000). Menurut Umar (2005), NPV yaitu selisih antara present value dari investasi dengan nilai sekarang dari penerimaan-penerimaan kas bersih di masa yang akan datang. Untuk menghitung nilai sekarang perlu ditentukan tingkat bunga yang relevan. b) Internal Rate of Return (IRR) Tingkat imbalan internal atau internal rate of return (IRR) adalah tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang (present value) dari arus kas yang diharapkan di masa datang atau dapat didefenisikan juga sebagai tingkat bunga yang menyebabkan NPV=0. c) Net Benefit Cost Ratio ( Net B/C Ratio) Rasio manfaat dan biaya atau net benefit cost (B/C ratio) adalah nilai nilai perbandingan antara jumlah present value yang bernilai positif (pembilang) dengan present value yang bemilai negatif (penyebut). Nilai net B/C ratio menunjukkan besarnya tingkat tambahan manfaat pada setiap tambahan biaya sebesar satu rupiah (Husan dan Suwarsono 2000). d) Payback Period (PBP) Payback period adalah suatu periode yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan aliran kas, dengan kata lain payback period merupakan rasio antara pengeluaran investasi dengan cash inflow yang hasilnya merupakan satuan waktu (Umar 2005). Selama proyek dapat mengembalikan modal/investasi sebelum berakhirnya umur proyek, berarti proyek masih dapat dilaksanakan.

3.1.3. Analisis Sensitivitas Proyeksi selalu menghadapi kendala yang dapat saja terjadi pada keadaan yang telah kita perkirakan. Proyek-proyek sensitif berubah-ubah diantaranya diakibatkan oleh harga, keterlambatan pelaksanaan, kenaikan biaya, dan hasil.

Mengenai harga, analis boleh saja membuat asumsi alternatif lain mengenai harga jual pada masa yang akan datang dan meneliti pengaruhnya terhadap manfaat sekarang. Analisis sensitivitas dapat dilakaukan dengan pendekatan switching value. Analisis switching value digunakan untuk mengetahui seberapa besar perubahan pada nilai penjualan dan biaya variabel yang akan menghasilkan keuntungan normal yaitu NPV sama dengan nol. Variabel yang akan dianalisis dengan switching value merupakan variabel yang dianggap signifikan dalam proyek. Adapun variabel-variabel yang dimaksud antara lain nilai input dan biaya

variabel, sehingga dengan analisis ini akan dicari tingkat harga penjualan minimum dan peningkatan biaya maksimum agar proyek masih dapat dikatakan layak. Penggunaan variabel analisis tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa harga input dan jumlah output merupakan komponen biaya yang penting. Oleh karena itu akan dilihat perubahan nilai penjualan minimum dan biaya variabel, apakah masih memenuhi kriteria umum kelayakan investasi. Parameter harga jual produk dan biaya dalam analisis finansial diasumsikan tetap pertahunnya, namun dalam kondisi nyata kedua parameter tersebut dapat berubah-ubah sejalan dengan pertambahan waktu. Untuk itu analisi switching value perlu dilakukan untuk melihat seberapa besar tingkat kepekaan yang masih bisa ditolerir terhadap penurunan harga atau kenaikan biaya sehingga suatu usaha dikatakan layak atau tidak.

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional Seiring dengan diberlakukannya otonomi daerah, setiap daerah didorong untuk mampu mengembangkan komoditas unggulan sebagai pemasukan bagi pendapatan daerah. Salah satu komoditas pada subsektor peternakan yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan pemerintah daerah adalah kambing perah. Kambing perah merupakan ternak dwiguna, selain susu sebagai produk utama, daging dan produk sampingan seperti kotoran ternak dapat dimanfaatkan sebagai sumber pupuk organik. Selain itu, usaha ternak kambing perah dapat dijadikan sebagai ternak alternatif upaya diversifikasi hasil peternakan selain sapi,

karena terbatasnya daerah yang sesuai untuk pengembangan sapi perah di Indonesia. Susu kambing memiliki harga jual yang lebih tinggi dibandingkan harga susu sapi. Harga jual susu kambing yang tinggi menjadikan insentif bagi peternak untuk mengembangkan usaha kambing perah. Adanya peluang bisnis tersebut menyebabkan banyak orang tertarik berinvestasi langsung pada sub sektor peternakan, khususnya ternak kambing perah Peternak Unggul adalah salah satu usaha peternakan yang bergerak dibidang peternakan kambing perah yang berlokasi di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Usaha yang dijalankan ini sudah berjalan kurang lebih satu tahun. Selama usaha ternaknya berjalan, pemilik telah mengeluarkan biaya investasi yang tidak sedikit, mengingat setiap usaha yang dilaksanakan memiliki risiko. Oleh karena itu perlu dilakukan pengkajian kelayakan usaha pada saat merencanakan dan mengembangkan usaha tersebut. Analisis kelayakan ini dapat dilihat dari aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek sosial, aspek finansial dan analisis Switching value. Adapun alur kerangka pemikiran

oprasional dapat dilihat seperti pada Gambar 1.

Adanya pengembangan usaha ternak kambing perah diharapkan dijadikan sebagai sumber peningkatan pendapatan penghasilan daerah.

Adanya prospek dan peluang bisnis kambing PE

Apakah usaha peternakan Unggul layak dijalankan

Aspek non finansial : Aspek pasar  Aspek teknis  Aspek manajemen  Aspek sosial

Aspek finansial :
 Analisis Kriteria Investasi (NPV, IRR, Net B/C, PBP)  Analisis Sensitivitas

Pengusahaan Ternak Unggul

Layak (lanjutkan usaha )

Tidak layak (sebaiknya perbesar skala usaha atau di investasikan ke usaha lain)

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Operasional

IV METODE PENELITIAN

4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kampung Malang, Desa Cibuntu, Cikampak Ciampea, Kabupaten Bogor pada Peternakan Unggul. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Peternakan Unggul merupakan salah satu peternakan kambing perah yang baru berjalan dan merupakan daerah yang mengalami peningkatan ternak kambing PE tertinggi di Kabupaten Bogor (Tabel 3). Kegiatan pengumpulan data untuk keperluan penelitian dilakukan pada bulan Juni-Juli 2009. Waktu tersebut digunakan untuk memperoleh data dan keterangan dari pemilik peternak dan semua pihak yang terkait.

4.2. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer dan dan data sekunder. Data primer diperoleh secara langsung melalui pengamatan dan wawancara lebih mendalam dengan pemilik ternak dan karyawan serta menggunakan daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya (Lampiran 1). Data sekunder diperoleh dari catatan-catatan serta dokumentasi dari pihak atau instansi yang terkait, seperti Departemen Pertanian, Dinas Peternakan, Biro Pusat Statistik setempat, dan Perpustakaan. Selain itu, dilakukan juga penelusuran melalui buku serta penelitian-penelitian sebelumnya yang dapat dijadikan sebagai bahan rujukan yang berhubungan dengan topik penelitian.

4.3. Metode Pengolahan Data dan Analisis Data Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang aspek-aspek budidaya kambing perah PE secara umum meliputi analisis aspek pasar, aspek teknis, aspek institusional-organisasi-manajerial, dan aspek sosial Peternakan Unggul. Analisis kuantitatif meliputi analisis kelayakan finansial pengusahaan kambing unggul, analisis kelayakan finansial ini menggunakan

perhitungan kriteria-kriteria investasi yaitu, Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Payback Period (PBP) dan analisis Switching value. Data yang diperoleh diolah secara manual dengan menggunakan program komputer Ms. Excel. 1) Analisis Aspek Pasar Analisis aspek pasar dapat dilihat dari sisi output yaitu terdapat suatu permintaan yang efektif akan didapatkan penerimaan yang menguntungkan dari kegiatan pemasaran. Dari sudut pandangan input yaitu mengkaji pasar input dan pasar output, harga, bagaimana penawaran baik informasi di masa lalu maupun dimasa yang akan datng, distribusi atau jalur pemasaran untuk input, proporsi penjualan untuk pasar yang dituju, konsumen dari perusahaan, persaingan yang dihadapi, perkiraan penjualan, dan kendala dalam pemasaran produk output. 2) Analisis Aspek Teknis Aspek teknis dianalisis secara deskriptif untuk mendapatkan gambaran mengenai lokasi budidaya kambing perah, agroklimat, besar skala operasi/luas produksi, ketersediaan input, fasilitas produksi dan peralatan yang digunakan, ketepatan penggunaan teknologi, dan perencanaan output serta kendala produksi yang dapat terjadi, serta proses produksi yang dilakukan. 3) Aspek Institusional-Organisasi-Manajerial Aspek ini dapat dilihat berdasarkan sesuai tidaknya usaha dengan pola sosial budaya masyarakat setempat, spesifikasi keahlian dan tanggung jawab pihak yang terlibat untuk mengelola usaha. Mengkaji struktur organisasi dalam perusahaan, bagaimana bentuk organisasi/kelembagaan dalam perusahaan. 4) Analisis Aspek Sosial dan Lingkungan Aspek sosial dapat dilakukan dengan menganalisis perkiraan dampak

yang ditimbulkan terhadap berjalanya usaha terhadap kondisi sosial masyarakat, lingkungan maupun terhadap manfaat-manfaat kegiatan pengusahaan secara menyeluruh. Aspek lingkungan dikaji secara deskriptif untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan usaha ternak kambing perah peranakan etawa. 5) Analisis Aspek Finansial Dalam melakukan analisis finansial diperlukanlah kriteria investasi yang digunakan untuk menyatakan layak atau tidaknya suatu usaha. Kriteria investasi

yang digunakan yaitu Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Payback Period (PBP). Analisis kelayakan investasi dilakukan dengan terlebih dahulu menyusun aliran tunai diskontokan (discounted cashflow) karena adanya pengaruh waktu terhadap nilai uang atau semua biaya dan manfaat yang akan datang harus diperhitungkan. a) Net Present Value (NPV) Net Present Value dapat diartikan sebagai nilai sekarang dari arus pendapatan yang ditimbulkan oleh investasi. NPV menunjukkan keuntungan yang akan diperoleh selama umur investasi, merupakan jumlah nilai penerimaaan arus tunai pada waktu sekarang dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan selama waktu tertentu. Rumus yang digunakan dalam perhitungan NPV adalah sebagai berikut :

keterangan : Bt = Penerimaan (Benefit) tahun ke-t (Rupiah) Ct = Biaya (Cost) tahun ke-t (Rupiah) n i t = Umur ekonomis proyek (Tahun) = Tingkat suku bunga/Discount rate (persen) = Periode Tahun

Dalam metode NPV terdapat tiga penilaian investasi, yaitu :  NPV ≥ 0 berarti secara finansial usaha layak untuk dilaksanakan karena manfaat yang diperoleh lebih besar dari biaya.  NPV ≤ 0 berarti secara finansial usaha tersebut tidak layak untuk dilaksanakan, hal ini dikarenakan manfaat yang diperoleh lebih kecil dari biaya/tidak cukup untuk menutup biaya yang dikeluarkan.  NPV = 0, berarti secara finansial proyek sulit dilaksanakan karena manfaat yang diperoleh hanya cukup untuk menutupi biaya yang dikeluarkan

b) Internal Rate of Return (IRR) Internal Rate Return adalah nilai discount rate yang membuat NPV dari suatu proyek sama dengan nol. Internal Rate of Return adalah tingkat rata-rata keuntungan intern tahunan dinyatakan dalam satuan persen. Jika diperoleh dari IRR lebih besar dari tingkat diskonto yang berlaku, maka proyek layak untuk dilaksanakan. Sebaliknya jika nilai IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga yang berlaku maka proyek tersebut tidak layak untuk dilaksanakan. Rumus yang digunakan dalam menghitung IRR adalah sebagai berikut :

Keterangan : NPV1 = NPV yang bernilai positif NPV2 = NPV yang bernilai negatif i1 i2 = Tingkat bunga yang menghasilkan NPV positif = Tingkat bunga yang menghasilkan NPV negatif

c) Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Net B/C ratio merupakan angka perbandingan antara nilai kini arus manfaat dibagi dengan nilai sekarang arus biaya. Angka tersebut menunjukkan tingkat besarnya tambahan manfaat pada setiap tambahan biaya sebesar satu satuan uang. Kriteria yang digunakan untuk pemilihan ukuran Net B/C ratio dari manfaat proyek adalah memilih semua proyek yang nilai B/C rationya sebesar satu atau lebih jika manfaat didiskontokan pada tingkat biaya opportunitis capital (Gittinger, 1986) tetapi jika nilai Net B/C < 1, maka proyek tersebut tidak layak untuk dilaksanakan. Rumus yang digunakan sebagai berikut

Net B/C Ratio =

Keterangan : Net B/C Bt Ct n i t = Nilai Benefit-cost ratio = Penerimaan yang diperoleh pada tahun ke t = Biaya yang dikeluarkan pada tahun ke-t = Umur ekonomis proyek = Tingkat suku bunga (persen) = Tingkat Investasi (t= 0,1,2,…n)

untuk pembilang yaitu Bt- Ct > 0 dan penyebut yaitu BT- Ct < 0.

d) Payback Period Payback Period merupakan jangka waktu periode yang dibutuhkan untuk membayar kembali semua biaya-biaya yang telah dikeluarkan di dalam investasi suatu proyek. Semakin cepat waktu pengembalian, semakin baik proyek tersebut untuk diusahakan. Akan tetapi analisis PBP memiliki kelemahan karena mengabaikan nilai uang terhadap waktu (present value) dan tidak

memperhitungkan periode setelah PBP. Secara sistematis dapat dirumuskan sebagai berikut :

PBP =

Keterangan : PBP = Waktu yang diperlukan untuk mengembalikan modal investasi (Tahun/bulan) I Ab = Besarnya biaya investasi yang diperlukan (Rupiah) = Manfaat bersih yang diperoleh setiap tahunnya (Rupiah)

e) Analisis Switching value Keuntungan dengan kita menganalisis Switching value diharapkan dapat mengidentifikasi pengaruh yang terjadi akibat peningkatan dan penurunan suatu variabel seperti penurunan harga jual produk, penurunan produksi serta peningkatan

harga input. Pendekatan switching value, dimana analisis ini mencari beberapa perubahan maksimum yang dapat ditolerir agar proyek masih bisa dilaksanakan dan masih memberikan keuntungan normal, dimana nilai NPV sama dengan nol.

Analisis ini dilakukan dengan cara mencoba-coba terhadap perubahan variabel yang terjadi dapat diketahui batasan tingkat kenaikan dan penurunan maksimum yang masih bisa ditolerir, sehingga suatu usaha masih memperoleh laba normal. Parameter harga jual produk susu yang dihasilkan dan biaya dalam analisis finansial diasumsikan tetap setiap tahunnya. Namun pada kondisi di lapang kenyataannya dapat berubah-ubah. Untuk itu switching value perlu dilakukan guna melihat sampai berapa persen penurunan harga atau kenaikan biaya yang terjadi dapat mengakibatkan perubahan dalam kelayakan investasi dari kondisi layak menjadi tidak layak.

4. 4. Asumsi Dasar yang Digunakan 1. Lahan yang digunakan adalah lahan milik sendiri, luasan lahan yang ada seluas 2.570 m2. 2. Umur proyek adalah lima tahun berdasarkan pada umur produktif kambing selama 5 tahun. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa kambing merupakan aset penting dalam usaha dan merupakan biaya investasi terbesar. Sumber modal yang digunakan berdasarkan pada dua skenario, skenario I modal yang digunakan bersumber dari modal sendiri 50 persen dan modal pinjaman 50 persen. Hal tersebut dikarenakan keterbatasan pemilik dalam penyediaan modal investasi dengan cara meminjam modal yang bersumber dari bank. Sedangkan skenario II modal yang digunakan adalah seluruhnya menggunakan modal sendiri sesuai dengan kemampuan modal investasi yang dimiliki oleh peternak, yaitu sebesar 124.910.000 rupiah. Sehingga biaya investasi yang dikeluarkan disesuaikan dengan kemampuan modal yang dimiliki, seperti kepemilikan luas lahan, kapasitas ternak dalam kandang, biaya pendirian kandang dan pengadaan kambing diasumsikan biaya yang dikeluarkan setengah dari biaya yang berlaku pada Skenario I.

3. Jumlah hari dalam satu bulan adalah 30 hari dan kapasitas kandang menampung 100 ekor kambing produktif/dewasa scenario I dan 50 ekor Skenario II. 4. Setiap masa produksi susu kambing (laktasi) diasumsikan susu yang dihasilkan habis terjual. 5. Kegiatan pemerahan susu dilakukan dua kali dalam sehari. Dengan masa laktasi (masa waktu diperah) selama enam bulan. Kemampuan menghasilkan susu sebanyak 0,64 liter per ekor per hari. 6. Harga jual anak kambing jantan adalah Rp 500.000 per ekor, betina Rp 600.000 per ekor dan nilai ternak afkir Rp 1.500.000 per ekor. 7. Nilai penerimaan/penjualan usaha pada scenario I pada tahun pertama belum mencapai 100 persen, dikarenakan pada tahun tersebut, enam bulan pertama digunakan untuk pembangunan proyek dan jumlah kambing belum mencapai 100 persen (lima ekor jantan dan 95 ekor betina). 8. Harga jual susu kambing yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rp 40.000/liter berdasarkan harga yang belaku pada saat penelitian. 9. Biaya yang dikeluarkan terdiri dari biaya investasi dan biaya oprasional. Biaya investasi dan oprasional dikeluarkan pada tahun pertama dan biaya reinvestasi yang dikeluarkan untuk peralatan-peralatan yang sudah habis umur ekonomisnnya. Biaya oprasional terdiri dari biaya tetap dan variabel. 10. Harga input dan output yang digunakan adalah konstan hal ini untuk mempermudah perhitungan cash flow. 11. Nilai sisa dihitung berdasarkan perhitungan metode garis lurus dimana harga beli dibagi umur ekonomis. Sedangkan untuk harga tanah dasumsikan sama harga beli dengan harga jual pada ahkir umur proyek. 12. Tipe lahan adalah kelas A3, Mengingat lokasi peternakan jauh dari

keramaian dan jalan yang dilewati merupakan jalann desa. 13. Setiap kelahiran anak kambing sebanyak satu ekor, dari total anak yang dilahirkan tingkat kematian sebesar lima persen (Sutama, 2007). Perbandingan rasio jumlah kambing jantan yang lahir sebesar 31,5 persen (data di lapang).

14. Tingkat sukubunga yang digunakan untuk modal sendiri adalah tingkat sukubunga deposito BI bulan Juni-Juli 2009 sebesar tujuh persen sedangkan suku bunga pinjaman 14 persen. 15. Nilai sisa pada ahkir umur proyek diasumsikan bernilai nol, kecuali barang-barang yang masih memiliki umur ekonomis lebih dari lima tahun dan ternak kambing. 16. Besarnya pajak yang digunakan berdasarkan undang-undang Republik Indonesia tentang perpajakan no. 17 tahun 2000 yang isinya adalah (kantor perpajakan kota Bogor, 2009): a) Tidak dikenakan pajak apabila perusahaan menderita kerugian b) Dikenakan pajak 10 persen apabila perusahaan memperoleh

pendapatan kurang atau sama dengan Rp 50.000.000 c) Dikenakan pajak 15 persen apabila perusahaan memperolah

pendapatan antara Rp 50.000.000 sampai dengan Rp 100.000.000 Dikenakan pajak 30 persen apabila perusahaan memperolah

pendapatan sebesar lebih dari sama dengan Rp 100.000.000

V GAMBARAN UMUM

5.1. Sejarah dan Perkembangan Peternakan Kambing Unggul adalah peternakan yang dikelola oleh Bapak Wisnanto. Awal berdirinya usaha Peternakan Unggul didirikan pada bulan Juli 2008. Usaha ternak kambing perah yang dilakukan merupakan usaha yang

bersifat komersial, artinya tidak hanya untuk pemenuhan kebutuhan keluarga, tetapi diusahakan lebih untuk dipasarkan. Awal mula Pak Wisnanto terjun dalam bisnis peternakan dengan mengusahakan kambing kacang sebagai tujuan utama untuk hewan kurban (pedaging). Pertama kali memelihara ternak jenis kambing kacang tersebut berjumlah 10 ekor hingga jumlah kambing yang dimiliknya berkembang menjadi 50 ekor. Karena kesulitan memasarkan kambing kacang yang dimiliknya, maka pemilik beralih usaha yang pada awal mulanya

mengusahakan kambing kacang menjadi kambing perah PE. Kambing PE yang diperolehnya dipesan langsung dari daerah Jepara, yang merupakan salah satu sentra pembibitan kambing PE di Jawa Tengah. Alasan yang membuat pemilik peternakan ini tertarik menekuni usaha ternak kambing PE adalah usaha tersebut bersifat dwiguna, selain susu sebagai produk utama juga dapat dimanfaatkan dagingnya, bila kambing tersebut sudah tidak produktif lagi sebagai penghasil susu. Selain itu usaha kambing PE sangat menguntungkan disebabkan oleh tingginya harga jual susu kambing dan juga masih tingginya permintaan konsumen yang belum terpenuhi. Harapan pemilik terhadap usaha yang sedang dijalankan sebagai sumber pendapatan utama jika beliau telah pensiun dari pekerjaannya. Investasi awal usaha ternak kambing perah berasal dari modal sendiri pemilik dan pinjaman dari bank. Tenaga kerja pengelolaan ternak tersebut berjumlah dua orang dengan riwayat pendidikan lulusan SMU. Dimana tenaga kerja yang digunakan sebelumnya sempat bekerja disalah satu usaha peternakan kambing perah. Sehingga pekerja yang digunakan sudah terbiasa melakukan aktivitas usaha peternakan kambing perah. Pekerja tersebut difasilitasi tempat tinggal yang berada di sekitar kandang. Tujuan pemilik menyediakan tempat

tinggal yakni untuk memudahkan dalam pengawasan ternaknya dan pengontrolan terhadap keamanan ternak dari pencurian. Pemasaran produk yang telah dihasilkan awal mulanya dilakukan melalui mulut ke mulut, seperti menawarkan kepada sodara-sodara pemilik ternak, rekan kerja, hingga kepada pihak lain. Sekarang ini peternakan Unggul sudah mempunyai Agen yang membantu dalam pemasaran produk susunya (toko-toko herbal sekitar Jakarta dan Bogor) bahkan mulai dicoba pada salah satu Indomaret di Jakarta sebagai tempat untuk memasarkan. Perkembangan usaha cukup baik, ini ditandai dengan respon permintaan terhadap susu kambing yang selalu meningkat. Pemilik berencana untuk menguji susu hasil ternaknya pada laboratorium uji mutu susu karena banyak konsumen yang meminta hasil sertifikasi susunya. Target pasar susu kambing diperuntukkan bagi konsumen menengah ke atas dan orang-orang mengkonsumsi untuk penyembuhan.

5.2.

Lokasi Peternakan Lokasi usaha peternakan kambing perah Unggul terbagi dua. Untuk

kantor pemasaran terletak di Jl Anggrek No 13, Perumahan Taman Cimanggu, Kota Bogor. Sedangkan kandang terletak di Desa Cibuntu, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Kecamatan Ciampea berlokasi di bagian Barat Kabupaten Bogor. Kecamatan Ciampea memiliki jarak 34 km dari Ibukota Kabupaten Bogor, 122 km dari Ibukota Provinsi Jawa Barat, 72 km dari Ibukota Negara RI Jakarta dan 5 km dari desa/kelurahan yang terjauh, dapat dilihat bahwa jarak antara Kecamatan Ciampea dengan Ibukota Negara RI Jakarta tidak terlalu jauh, sehingga memudahkan aksessibilitas ke pusat pasar Negara Indonesia. Kecamatan Ciampea secara geografis mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut : a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Ranca Bungur. b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Tenjolaya. c. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Dramaga. d. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Cibungbulang. Secara topografi, bentuk dan kontur wilayah, lokasi kandang merupakan dataran yang agak berombak sekitar 45 persen. Ketinggiannya berada di antara 300 m di atas permukaan laut dengan suhu rata-rata 20° - 30°C. Hari hujan rata-rata per

tahun sekitar 22 hari dan banyaknya curah hujan sekitar 278 mm. Jenis tanah yang ada di lokasi ini adalah latosol (Laporan Tahuhan Kecamatan Ciampea, 2007). Kecamatan Ciampea memiliki luas wilayah sekitar 3,062.5 hektar yang terdiri dari 13 Desa yaitu Benteng, Bojong Jengkol, Bojong Rangkas, Ciampea, Ciampea Udik, Cibanteng, Cibadak, Cibuntu. Cicadas. Cihideung Udik, Cihideung hilir. Cinangka dan Tegalwaru. Desa Cinangka sebagai desa terluas dengan Iuas wilayah 340 hektar, sedangkan Desa Bojong Rangkas sebagai desa dengan luas wilayah terkecil yaitu 104 hektar. Luas wilayah masing-masing Desa dapat dilihat seperti pada Tabel di bawah ini.

Tabel 6. Luas Wilayah tiap Desa di Kecamatan Ciampea, Tahun 2008 No.
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 11.

Nama Desa
Cihideung Ilir Cinangka Cihideung Udik Bojong Jengkol Cibanteng Benteng Bojong Rangkas Cibuntu Ciampea Cicadas

Luas Wilavah (Ha)
178 340 284 212 162 248,5 104 254 246 338 320 262 114 3.062,5

Luas Wilayah (Km2)
1,78 3,40 2,84 2,12 1,62 2,485 1,04 2,54 2,46 3,38 3,20 2,62 1,14 30.625

Persentase (%)
5,81 11,10 9,28 6,92 5,29 8,11 3,40 8,30 8,03 11,04 10,45 8,55 3,72 100,00

10. Tegal Waru 12. Ciampea Udik 13. Cibadak Jumlah

Sumber : Monografi Kecamatan Ciampea, Tahun 2008 Pemanfaatan lahan yang telah dilakukan di Kecamatan Ciampea diantaranya digunakan untuk permukiman (rumah), sawah, ladang/kebun,

empang, dan Iain-lain. Untuk mengetahui luas lahan yang digunakan untuk masing-masing pemanfaatan lahan tersebut dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Luas lahan (Ha) Berdasarkan Pemanfaatan Lahan di Kecamatan Ciampea, Tahun 2008
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Desa Ciampea Udik Cinangka Cibuntu Cicadas Tegal Waru Bojong Jengkol Cihideung Udik Cihideung Ilir Cibanteng Bojong Rangkas Cibadak Benteng Ciampea Jumlah Rumah 103 90 92 135 189 109 99 101 116 75 95 98 115 1.417 Sawah 203 127 148,4 125 150 85 197 80 50 45 6 40 30 1.286,4 Ladang/Kebun 3 4 1,7 1,5 5 4 2 1 2 0 0 2 2,5 28,7 Empang 1,3 0,5 3 1,3 0,5 1,2 3,5 2 0,5 0,5 0,5 2,5 1,5 18,3 Lain-lain 3.5 5 2,3 2,5 5,5 0 6 4,1 4 3 3 2,5 3 44,4

Sumber : Laporan Tahunan Kecamatan Ciampea, Tahun 2008

5.3. Keadaan Penduduk Kecamatan Ciampea Jumlah penduduk di Kecamatan Ciampea adalah 139.037 jiwa dengan jumlah laki-laki sebanyak 70.827 jiwa. Sedangkan perempuan sebanyak 68,210 jiwa. Jumlah penduduk dan kepala keluarga dapat dilihat pada Tabel 8. Jumlah penduduk diperkirakan akan meningkat setiap tahunnya. Desa Cibanteng merupakan desa yang memiliki jumlah penduduk lebih banyak yaitu 15.740 jiwa dengan 3.619 kepala keluarga, sedangkan desa yang memiliki jumlah penduduk lebih sedikit adalah Desa Ciampea Udik yaitu 7.183 jiwa dengan 1.648 kepala keluarga. Dengan jumlah penduduk 139.037 jiwa dan luas wilayah 30.625 km2 maka Kecamatan Ciampea memiliki kepadatan penduduk 4.540 jiwa/km2.

Tabel 8. Jumlah Penduduk dan Jumlah Kepala Keluarga di Kecamatan Ciampea, Tahun 2008
No. 1. 2. 3. 4 5. 6. 7. 8. 9. 11. 12. Nama Desa Benteng Bojong Rangkas Bojong Jengkol Ciampea Cibadak Cihideung Ilir Cibanteng Cihideung Udik Cicadas Ciampea Udik Cmangka Jumlah Penduduk Laki-Laki Perempuan 5.575 5.370 5.733 4.748 5.040 4.881 4.886 8.075 7.126 5.178 4.008 3.740 5.773 6.064 70.827 5.433 4.430 5.080 5.062 4.539 7.665 6.556 4.975 4.066 3.443 5.511 6.080 68.210 Total (jiwa) 10.945 11.166 9.178 10.120 9.943 9.425 15.740 13.682 10.153 8.074 7.183 11.284 12.144 139.037 Jumlah KK 2.754 2.818 2.193 2.4 15 2.345 2.021 3.619 3.158 2.419 1.736 1.668 2.756 2.885 32.787

10. Cibuntu

13. Tegal Waru Jumlah

Sumber: Monografi Kecamatan Ciampea, Tahun 2008 Berdasarkan Tabel 9. dapat diketahui bahwa umur penduduk di Kecamatan Ciampea sebagian besar berada pada umur produktif (15-40 tahun). Produktif adalah mampu menghasilkan sesuatu dalam jumlah besar, sehingga membuka peluang untuk pengembangan ternak kambing perah di Kecamatan Ciampea. Tabel 9. Jumlah Penduduk di Kecamatan Ciampea Berdasarkan Umur, Tahun 2008
No. 1 2 3 4 Jumlah Umur (tahun) 0 -14 15-29 30-40 40 tahun ke atas Jumlah (jiwa) 25.043 51.581 34.967 13.727 125.318 Persentrase (%) 20,00 41,16 27,90 10,94 100

Sumber : Monografi Kecamatan Ciampea, Tahun 2008

Penduduk Kecamatan Ciampea mempunyai pekerjaan yang beraneka ragam, namun secara garis besar sebagian besar penduduk bekerja sebagai petani dan buruh. Keadaan masyarakat berdasarkan mata pencahariannya (Tabel 10). Adannya informasi mengenai monografi suatu wilayah diharapkan sebagai bahan informasi pendukung aktifitas usaha seperti kebutuhan akan tenaga kerja, lokasi usaha peternakan yang sesuai (jauh dari pemukiman) dan lain sebagainnya.

Tabel 10. Jumlah Penduduk (jiwa) Kecamatan Ciampea Berdasarkan Mata Pencaharian, Tahun 2008 No.
1. 2. 3. 4. 5 6 7 8 9 10. 11. 12. 13.

Mata Pencaharian
Petani pemilik lahan Petani penggarap sawah Buruh tani Pengusaha Pengrajin Buruh industry Pertukangan Buruh pertambangan Pengemudi Pedagang TNl/Polri Pegawai Negeri Sipil Lain-lain

Jumlah (orang)
2.129 3.130 3.719 4,672 9.737 2.442 1.194 5.857 563 10.871 180 944 1.963

Sumber : Laporan Tahunan Kecamatan Ciampea, Tahun 2008

VI ANALISIS ASPEK NON FINANSIAL

Analisis yang dilakukan terhadap aspek non finansial penting untuk dilakukan karena dapat memberikan gambaran terhadap usaha yang akan maupun sedang dijalankan. Walaupun aspek non finansial belum ada keseragaman yang pasti tentang aspek apa saja yang menjadi acuan untuk diteliti. Namun pada penelitian ini yang dilakukan terhadap aspek non finansial meliputi aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, dan aspek sosial dan ekonomi.

6.1.

Aspek Pasar

6.1.1. Permintaan Berkembangnya pola perubahan gaya hidup, menyebabkan seseorang mulai memperhatikan pola hidup sehat. Adanya trend back to nature mengarahkan konsumen untuk mengkonsumsi yang bersumber dari alam. Selain itu didukung dengan pengetahuan masyarakat tentang khasiat susu kambing sehingga menyebabkan terjadi peningkatan permintaan susu kambing. Sampai saat ini belum ada data pasti baik dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag) maupun Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai jumlah permintaan susu kambing secara nasional maupun ekspor. Namun informasi permintaan susu kambing dapat diketahui dari Ketua Asosiasi Peternak Kambing Perah (Indonesia) yang mengatakan “dari kebutuhan 6,000 liter per hari hanya baru seperempatnya yang bisa terpenuhi”2. Permintaan susu kambing akan tetap ada selama masih ada yang sakit dan keinginan masyarakat untuk menjaga kesehatan. Dilihat dari segmentasi pasar konsumsi susu kambing cenderung untuk kalangan menengahatas3.

Adijaya, Dian. Tangguk Rezeki dari Susu Kambing. Trubus no 468 edisi november 2008” 3 hasil wawancara langsung dengan peternak dan Dinas Peternakan

2

6.1.2. Penawaran Sampai saat ini Deperindag dan BPS belum dapat menyajikan data

mengenai total penawaran yang pasti untuk produksi susu kambing, khususnya untuk wilayah Bogor. Berdasarkan informasi dari hasil survei dan dilihat dari jumlah peternak dan pedagang (agen) susu kambing banyak terlihat di pinggirpinggir jalan khususnya wilayah Bogor. Beberapa peternak atau kelompok peternak sudah mulai mengembangkan peternakan kambing dengan tujuan utama sebagai penghasil susu mengarah pada pengusahaan skala besar termasuk Peternakan Unggul dalam menjalankan usahanya. Di beberapa daerah seperti Bogor, Sukabumi, Bandung dan beberapa lokasi di Pulau Jawa, sudah banyak peternak mandiri yang memiliki populasi kambing PE di atas 100 ekor (Sodik dan Abidin 2008). Selain didukung oleh ketersediaan sumber pakan, Bogor memiliki agroklimat yang cocok untuk pengembangan usaha ternak kambing perah. Serta lokasi Bogor yang dekat dengan konsumen potensial seperti Jakarta, Tangerang, Bekasi dan kota-kota besar lainnya sehingga usaha kambing yang dijalankan tersebut kedepanya memiliki prospek usaha yang menguntungkan. Menurut informasi yang bersumber dari Peternak Unggul tingkat penyerapan pasar susu kambing dapat diketahui dengan adanya produksi susu yang selalu habis terjual bahkan beberapa agen untuk mendapatkan produk susu kambing sebelumnya melakukan pemesanan terlebih dahulu. Minimal pemesanan setiap agen rata-rata mencapai 5-10 liter per minggu. Adannya peningkatan jumlah penduduk dan menyebarnya informasi tentang kasiat susu kambing diharapkan menjadikan peluang meningkatnya permintaan terhadap susu kambing.

6.1.3. Analisis Pesaing dan Peluang Pasar Usaha ternak kambing PE dilihat dari pesaing usaha dapat dikatakan cukup tinggi. Hal ini tercermin dari jumlah peternakan kambing perah yang cukup banyak. Informasi ini mengindikasikan tingginya minat peternak untuk mengembangkan usaha ternak kambing perah, akan tetapi jumlah peternak yang cukup banyak tersebut tidak menimbulkan persaingan yang terlalu ketat. Persaingan yang terjadi bersifat sehat dan saling melengkapi. Artinya sesama

pelaku produsen susu kambing saling menginformasikan jika ada pesanan susu yang disesuaikan dengan daya beli konsumen. Usaha ternak kambing perah masih memiliki prospek yang cukup menjanjikan. Malaysia dan Brunai merupakan pasar regional produk ternak dan tidak dapat dipenuhi oleh Indoensia. Malaysia memerlukan sekitar 2.000 ekor kambig/domba per bulan dan pasar Timur Tengah khusunya Arab Saudi sekitar 13 juta ekor per tahun untuk ternak kurban (Sutama et,al 2007). Adanya kebutuhan ekspor ternak khususnya kambing yang belum terpenuhi mengindikasikan produksi susu kambing yang diproduksi relatife stabil. Hasil wawancara dengan pemilik ternak, selama masih ada yang sakit permintaan akan susu kambing masih akan tetap dibutuhkan. Apalagi melihat pola hidup masyarakat dewasa ini mengarah kepada minuman kesehatan dan pengobatan alami membuat kebutuhan akan mengkonsumsi susu kambing meningkat. Selain susu kambing sebagai sumber pendapatan dapat juga menjual produk lain seperti ternak afkir, anakan kambing hingga pada kotoran ternak yang digunakan sebagai pupuk organik. Hal ini menjadi peluang karena dapat memberikan potensi pendapatan tambahan.

6.1.4. Bauran Pemasaran Bauran pemasaran yang diterapkan oleh Peternak Unggul meliputi price, product, place, dan promotion. Tujuan menerapkan bauran pemasaran

diharapkan mengetahui tingkat intensitas persaingan sesama pelaku usaha. sehingga produk yang dihasilkan ketika dipasarkan dapat ditrima oleh konsumen. Selain itu menguntungkan bagi pelaku usaha yang akan menjalankan suatu usaha.

6.1.4.1. Harga (Price) Untuk mengetahui perkembangan harga susu di pasaran, pemilik Peternak Unggul melakukan survei kepada penjual susu di pinggir-pinggir jalan yang bertujuan untuk membandingkan keunggulan produk lain dengan produk Peternak Unggul seperti dari sisi rasa dan aroma yang nantinya sebagai bahan evaluasi produk yang dihasilkannya. Peternakan Unggul dalam menetapkan harga jual susu kambing, mengacu pada harga susu kambing yang berlaku di pasaran. Peternak tersebut mempunyai formula sendiri dalam menghasilkan susu yang

diproduksinya, artinya peternak unggul sangat memperhatikan kualitas dan kuantitas susu yang dihasilkan Harga jual susu kambing di Peternakan Unggul dengan harga yang ditetapkan sebesar Rp 40.000 per liter. Harga tersebut merupakan harga di tingkat pengecer atau agen. Harga yang berlaku ditingkat peternak lain di bawah harga Rp 40.000 per liternnya dikarenakan disesuaikan dengan kualitas susu yang dihasilkan. Kemasan yang kurang menarik dan rasa susu yang dihasilkan kurang gurih dan beraroma prengus mempengaruhi terhadap harga jual. . Faktor trend back to nature juga dapat menentukan harga susu kambing yang akan dipasarkan. Susu kambing Peternakan Unggul saat ini dipasarkan melalui

agen/distributor yang berada di Jakarta, Bekasi, dan Bogor. Bahkan Peternakan Unggul bekerjasama dengan Indomaret yang berlokasi di Jakarta. Berkembangnya agen-agen yang tertarik bekerja sama dengan Peternakan Unggul, menyebabkan produksi susu yang dihasilkan selalu habis terjual.

6.1.4.2. Produk (Product) Hasil susu yang dipasarkan dalam bentuk susu segar yang sudah dikemas plastik. Produk yang dipasarkan sudah dalam bentuk kemasan yang menarik yaitu pada kemasan bagian depan mencantumkan gambar kambing Etawa dengan tulisan (berwarna hitam) dalam kemasan tercantum lambang W yang berarti inisial nama pemilik usaha tersebut, identitas nama usahanya yaitu ‘Unggul’ kemudian mencantumkan ‘susu kambing organik berkhasiat. Tidak lupa pula mencantumkan label halal. Setiap kemasan tercantum informasi tanggal produksi, serta pada kemasan bagian belakang tercantum informasi mengenai khasiat susu kambing. Diantaranya meningkatkan daya tahan tubuh, meningkatkan kecerdasan anak, memperlambat osteoporosis atau kerapuhan tulang dan menyembuhkan rematik, hingga mempercepat penyembuhan penyakit maag kronis, membantu penyembuhan penyakit kangker. Hal ini bertujuan agar dapat mengedukasi khasiat susu kambing kepada konsumen. Susu yang dipasarkan per liternya terbagi menjadi lima kantong dengan ukuran 200 ml (Gambar 2). Hal tersebut dapat memudahkan agen untuk menjual kepada konsumen apabila konsumen membeli dalam jumlah kurang dari satu liter.

Gambar 2. Kemasan Susu Murni di Peternakan Unggul Kemasan susu yang dihasilkan oleh peternakan unggul merupakan susu murni tanpa campuran bahan lain. Lamanya masa simpan susu kambing peternak unggul dapat disimpan selama tiga bulan dengan kondisi susu keadaan beku. Apabila susu dalam keadaan suhu ruang hanya mampu bertahan selama delapan sampai sepuluh jam. Sebelum dikonsumsi direkomendasikan susu kambing tersebut dipanaskan dalam suhu 50-60 0C selama 5-10 menit bersamaan dengan kemasannya. Penyajian susu kambing tersebut dapat dikombinasikan dengan gula, kopi, jahe, sirup sesuai selera konsumen bahkan dapat disajikan dalam keadaan dingin. Susu kambing baik dikonsumsi setiap hari, pagi dan sore hari.

6.1.4.3. Tempat (Place) Pemilihan lokasi untuk memasarkan produk susu yang dihasilkan perlu dilakukan guna produk yang akan dipasarkan dapat diketahui oleh konsumen. Untuk saat ini tempat penjualan susu kambing masih tergolong spesifik. Hal ini dapat dilihat seperti pemasaran yang dilakukan tidak disemua lokasi, produk tersebut dapat dipasarkan pada toko herbal, tempat pengobatan alternatif. Di samping itu, cakupan wilayah susu kambing ini masih sekitar wilayah

Jabodetabek. Beberapa distributor tetap dari perusahaan yaitu diantaranya toko herbal yang berada di jalan Sukasari-Bogor, Pasar Minggu, Pasar Santa, Jati Bening-Bekasi,dan mulai menawarkan pada Indomart yang berlokasi di Jakarta. Dalam mendistribusikan produk yang dihasilkan, pihak Peternakan Unggul menggunakan dua saluran pemasaran, yaitu : a) Peternakan Unggul Konsumen Akhir Distributor/agen Konsumen Akhir

b) Peternakan Unggul

Saluran pemasaran pertama, Peternakan Unggul memasarkan secara langsung produk ke konsumen akhir dan biasanya pihak konsumen akhir langsung memesan produk pada kantor pemasaran yang terdapat di wilayah Cimanggu Bogor. Lalu pihak perusahaan mengantarkan pesanan produk tersebut kepada pihak konsumen akhir atau biasanya disebut dengan layanan antar (delivery service). Pada saluran dua, pihak perusahaan memasarkan produknya terlebih dahulu ke distributor kemudian produk dipasarkan ke konsumen akhir. Sebelum produk susu dipasarkan, produk yang dihasilkan terlebih dahulu di simpan di freezer (lemari pendingin) yang berada pada kantor pemasaran maupun di lokasi kandang, kemudian setelah susu tersebut dalam kondisi beku baru dapat disalurkan kepada distributor ataupun konsumen akhir. Dengan kondisi kemasan susu pada kondisi beku, hal ini dapat mempertahankan kondungan

nutrisi yang terkandung pada susu tersebut, sehingga tidak mengalami kerusakan. Pengiriman susu dengan jarak jauh perlakuan yang dilakukan dengan melakukan pengemasan produk yaitu susu dikemas di dalam Styrofoam tujuannya adalah menjaga agar susu tetap beku lebih lama.

6.1.4.4. Promosi (Promotion) Promosi produk bagi usaha yang baru berjalan perlu dilakukan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Anggororatri (2008), susu kambing merupakan produk yang masih berada pada tahap perkenalan, pada proses tahap perkenalan perlunya pengembangan terhadap kesadaran tentang susu kambing salah satunya dengan pemberian edukasi manfaat dan khasiat susu kambing. Promosi yang dilakukan untuk mengenalkan produknya kepada konsumen yaitu pada mulanya pemilik menginformasikan melalui mulut ke mulut. Diantaranya pemilik memperkenalkan produk kepada sesama rekan kerja, saudara terdekat dan menawarkan kepada individu lainnya serta memberikan kartu nama guna memudahkan untuk berkomunikasi bila tertarik untuk memesannya. Selain itu dengan menerima mahasiswa untuk melakukan penelitian di lokasi kandang Peternakan Unggul sebagai salah satu bentuk promosi untuk memberikan informasi kepada pihak lain.

Pemasaran susu kambing dipengaruhi juga oleh sertifikasi produk. Sertifikasi produk berguna untuk meyakinkan konsumen akan khasiat dan kandungan zat dari susu yang dihasilkan oleh produsen. Sebelum agen bekerjasama memasarkan produk susu kambing tersebut, pemilik

menginformasikan terlebih dahulu mengenai keunggulan susu yang dihasilkan dan khasiat susu kambing bila mengkonsumsinnya. Selain itu pemilik memberikan fasilitas berupa spanduk yang berisikan mengenai khasiat susu kambing dan mencantumkan nama Peternakan Unggul sebagai produsennya. Hal ini dilakukan juga sebagai bentuk promosi Peternakan Unggul sebagai produsen susu kambing, disamping baik agen maupun konsumen mengetahui manfaat dan khasiat susu kambing yang diproduksinya. Sehingga dengan adanya informasi tersebut diharapkan konsumen mengingat dan tertarik untuk mengkonsumsi susu kambing tersebut.

6.1.5. Hasil Analisis Aspek Pasar Berdasarkan uraian sebelumnya, dapat dikatakan bahwa pengusahaan ternak kambing perah yang dilakukan oleh Peternakan Unggul tidak ada masalah terkait dengan aspek pasar yang dapat menghambat jalannya usaha peternakan kambing perah ini, sehingga dapat dikatakan layak untuk dijalankan. adannya informasi tentang permintaan kambing hidup ke Negara tetangga dan permintaan susu kambing yang belum terpenuhi menurut ketua asosiasi peternakan kedepannya sebagai peluang usaha, mengingat masyarakat tidak hannya terfokus terhadap usaha kambing perah saja. Faktor modal dapat dijadikan sebagai

hambatan bagi para pelaku usaha yang bergerak pada usaha peternakan kambing perah, sehingga persaingan sesama produsen susu kambing kedepannya masih relatif kecil.

6.2.

Aspek Teknis

6.2.1. Lokasi Produksi Lokasi usaha ternak kambing perah di Peternakan Unggul terbagi menjadi dua. Kandang berlokasi di Jalan Cibuntu, Cikampak Kecamatan Ciampea dilahan seluas 2570 m2, merupakan salah satu daerah sentra produksi susu kambing di Kabupaten Bogor (Tabel 3). Sedangkan kantor pemasaran terletak di Jalan Raya Cimanggu, yang secara lokasi mempunyai akses mudah ke kota-kota lain yang berpotensi sebagai konsumen susu kambing seperti Puncak, Tangerang, Depok, Bekasi hingga ke Jakarta. Sehingga lokasi ini mempunyai nilai strategis yang tinggi bagi pemasaran produk pertanian. Kriteria-kriteria utama dalam pemilihan lokasi ini adalah : 1. Ketersediaan Bahan Baku Ketersediaan bahan baku pada pengusahaan kambing perah ini diantarannya Bibit, pakan, obat-obatan, dan bahan bangunan. Pihak Peternakan Unggul mendapatkan sumber bibit yang dibelinya dari daerah Kaligesing, pemesanan bibit dapat dipesan pada sesama peternak kambing perah yang ada di wilayah Bogor, khusunya Ciampea akan tetapi bibit kambing peternakan unggul diperolehnya dengan mengusahakan sendiri dari ternak yang sudah ada. Sehingga kebutuhan akan bibit bisa dipenuhi sendiri dengan cara memanfaatkan anak yang lahir nantinya dijadikan sebagai ternak untuk diproduksi. Estimasi dari jumlah ternak sebannyak 54 ekor kambing betina produktif menghasilkan jumlah anak yang lahir sebanyak 51 ekor dengan asumsi tingkat kematian ternak sebannyak tiga ekor yaitu lima persen tingkat kematian. Jumlah anak jantan yang lahir 16 ekor (31,5 persen dari total anak yang hidup), sisanya dari total 35 ekor anak yang hidup merupakan anak kambing betina. Kapasitas kandang yang telah disediakan memuat 100 ekor kambing produktif/dewasa, dari total 100 ekor kapasitas kandang jumlah kambing jantan yang dipelihara sebannyak lima ekor yang nantinya sebagai induk jantan sisanya diasumsikan dijual. Mengenai perkembangan dan produksi ternak dapat dilihat seperti lampiran 2. Pakan seperti rumput dapat dibudidayakan sendiri seperti menanam rumput gajah disekitar lokasi kandang. Mengingat susu yang dihasilkan

mengarah pada susu organik, maka pakan yang diberikan dalam bentuk pakan alami, untuk mendukung hal tersebut kotoran ternak yang dihasilkan dimanfaatkan untuk lahan rumput yang telah disediakan. Tujuannya menyediakan lahan yang ditanami rumput agar pasokan rumput dapat disediakan sendiri, mengingat kebutuhan pakan yang bersumber dari rumput tidak mencukupi seiring bertambahnya jumlah populasi kambing, untuk mengatasi peternak memberikan pakan tambahan berupa konsentrat dan ampas tempe yang didapatnnya dari pengrajin tempe. Banyaknnya kebutuhan pakan yang dibutuhkan lebih lengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 2. konsentrat dan obat-obatan dibelinya dari koperasi peternakan di daerah Cimanggu. Bahkan untuk keperluan obat-obatan Peternakan Unggul dapat menyediakan sendiri mengingat istri dari pemilik membuka jasa Klinik Kesehatan Hewan yang berlokasi di daerah Cimanggu. Sedangkan Sedangkan bahan-bahan untuk membuat perlengkapan bangunan seperti kandang diperolehnya dari wilayah sekitar lokasi kandang, dengan memanfaatkan kayu-kayu kampung (kayu albasia, nangka) dan membelinya di matrial

bangunan yang berada dekat dengan lokasi kandang. 2. Listrik dan air Sarana infrastruktur tenaga listrik di lokasi kandang tidak menjadi masalah dikarenakan sudah adanya saluran listrik di lokasi usaha Peternakan Unggul. Tenaga listrik ini dimanfaatkan untuk sarana penerangan di sekitar kandang dan penggunaan alat seperti Freezer dan shiler. Sumber air didapatnya dari sumur air tanah yang telah dibuatnya. Bahkan kebutuhan air juga didapat dari saluran air sungai/air hujan yang tidak jauh dari lokasi kandang, yang nantinya ditampung di penampungan kolam air yang telah disediakan. 3. Suplai tenaga kerja dan fasilitas transportasi Kebutuhan tenaga kerjanya yang digunakan, Peternakan Unggul

memperkerjakan karyawan sebanyak dua orang. Menurut buku laporan data monografi Kecamatan Ciampea tahun 2008, potensi jumlah angkatan kerja di Kecamatan Ciampea adalah untuk angkatan kerja pria sebanyak 37.876

orang sedangkan angkatan kerja perempuan sebanyak 38.268 orang, artinya potensi untuk sumber tenaga kerja masih berpotensi dalam penyediaan sumber tenaga kerja. Selain itu daerah Ciampea merupakan daerah pertanian, diantaranya peternakan. Sehinga sumbear daya manusianya berpotensi sebagai tenaga kerja dibidang pertanian. Lokasi usaha Peternakan Unggul hanya berjarak kurang lebih 15 km dari jalan yang menghubungkan provinsi (Jawa Barat, Banten, Jakarta) yaitu Jalan Raya Ciampea. Dari jalan propinsi tersebut tersedia sarana transportasi umum yang menjangkau daerah tersebut seperti angkutan umum dan ojek motor sehingga untuk mencapai lokasi mudah dijangkau oleh pihak distributor dan konsumen akhir.

6.2.2. Teknis Budidaya 1. Kandang Sistem pemeliharaan ternak kambing perah dilakukan secara intensif. Kandang berbentuk panggung (Gambar 3) yang terdiri dari tiga bagian kandang. Artinya aktifitas kambing mulai dari makan hingga pemerahan susu aktifitasnya dilakukan di dalam kandang.

a). Bagian dalam

b). Tampak luar

Gambar 3. Kandang Tipe Panggung di Peternakan Unggul

Kandang dibagi berdasarkan fungsinya yaitu kandang produksi, kandang pembesaran atau penggemukan dan kandang tempat bunting. Kandang produksi adalah kandang yang disediakan khusus untuk dihuni oleh induk produktif dan kambing yang sedang kawin, di kandang ini pula pemerahan dilakukan. Luasan kandang yang digunakan kurang lebih 150 m dengan daya tampung ternak dewasa

sebanyak 100 ekor, dengan rincian panjang kandang 25 m dan lebar kandang 6 m. Tiap kandang dibuat beberapa sekat, ukuran 2,5 m x 3 m sebanyak 14 sekat, tiap sekat memuat 6 ekor dewasa. Sekat berukuran 1,5 m x 2,5 m sebanyak empat sekat dengan total kapasitas tampung ternak sejumlah 16 ekor. Sedangkan ukuran kandang untuk anak berukuran 4 m x 3 m, sebanyak delapan sekat menampung kurang lebih 32 ekor anak kambing dibawah umur empat bulan. Kandang dibuat permanen dengan tiang kolong kandang terbuat dari semen cor. Lantai kolong kandang dibuat miring agar limbah kotoran kambing dapat langsung mengalir ke parit atau bak penampungan limbah yang sudah disediakan di sekitar kandang. 2. Pakan Peternakan Unggul memberikan pakan berupa rumput dan dedaunan, pemberiannya dengan cara disabitkan (cut and carry). Untuk sumber protein diperoleh dari dedaunan, konsentrat yaitu campuran bungkil kelapa sawit, dedak, onggok, dan garam mineral dan ampas tempe. Rumput diperoleh dengan menanam sendiri di lahan sekitar kandang, sedangkan konsentrat, ampas tempe diperoleh dengan cara membeli. Peternakan Unggul memberikan pakan tambahan berupa konsentrat dan ampas tempe. Masing masing pakan diberikan rumput sebannyak dua kg, konsentrat 0,5 kg, dan ampas tempe sebanyak tiga kg. Sebagai sumber energi, ternak diberi rumput gajah dan rumput lapang. Menurut Mathius, yulistiani dan Wilson (1989), Pemberian pakan yang baik sebanyak sepuluh persen dari bobot badan ternak. Rata-rata kambing dewasa produktif peternakan unggul adalah 40 kg per ekor. Artinya kebutuhan pakan yang harus diberikan adalah sebannyak 40 kg dikali sepuluh persen, setara dengan empat kg. Kebutuhan pakan Peternakan Unggul dilihat dari pemberian jumlah pakan

terbilang sudah lebih dari cukup, rata-rata total pemberian pakan sebanyak 5,5 kg per ekor per harinnya. Frekuensi pemberian rumput dilakukan tiga kali yaitu pagi, siang dan sore pada pukul 06.00, 12.00 dan 17.00. Konsentrat dan ampas tempe diberikan dua kali sehari yaitu pukul 06.30, dan 17.30 WIB. Pemberian konsentrat pada pagi dan sore dilakukan setelah pemberian pakan rumput dan sebelum pemerahan yang berfungsi untuk menenangkan kambing ketika diperah. Posisi tempat pemberian pakan berada di luar kandang. Manfaat yang didapat dengan posisi kotak pakan berada di luar diantaranya, memudahkan dalam pemberian

pakan, memudahkan pembersihan sisa-sisa pakan, kondisi kandang menjadi lebih bersih, selain itu ternak tersebut mendapatkan sirkulasi udara yang baik (Gambar 4).

Gambar 4. Pemberian Pakan Ampas Kedelai

Kegiatan memberi pakan mulai dari mengarit rumput hingga mencacahnya menjadi potongan-potongan kurang lebih sepanjang lima cm. tujuannya agar ternak menjadi lebih mudah memakan ruput yang telah diberikan. Rumput yang diberikan sebanyak dua kg per harinnya. Biasanya pemberian dilakukan satu jam setelah pencacahan. Sedangkan pemberian konsentrat peternakan Unggul membuat pormulasi sendiri yaitu dengan melakukan pencampuran bahan seperti onggok, bungkil sawit, dedak, garam dapur dengan perbandingan 1:1:5:0,05 kg. Banyaknya pemberian per ekor per hari sebanyak 0,5 kg. Pemberian konsentrat dapat dilakukan setelah kambing berusia empat bulan, peternakan Unggul dalam pemberian konsentrat sangat memperhatikan ternaknya terlebih pada ternak yang sedang diperah (masa laktasi) dimaksudkan untuk menjaga kualitas susu yang dihasilkan. Pemilik Peternakan Unggul menyakini dengan pemberian konsentrat secara teratur selain untuk menjaga kesehatan ternak juga memberikan rasa gurih pada susu yang dihasilkan. Pemberian ampas kedelai dilakukan tiga kg per ekor per harinya. Sumber pakan ampas tempe didapatnya dari pengusaha tempe di wilayah Jakarta. Peternak untuk menjaga kontinuitas pasokan dengan mencari dibeberapa tempat. Penanganan anak kambing yang dilakukan oleh Peternakan Unggul adalah masa menyusui anak kambing selama tiga bulan. Anak kambing yang baru lahir, susu yang bersumber dari induk digantikan dengan susu sapi. Tujuan menggantikan susu kambing dengan susu sapi agar susu kambing yang

dihasilkan dapat dijual mengingat harga susu kambing yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan susu kambing per liternnya. 3. Sanitasi Pembersihan kandang (sanitasi) yang dilakukan di Peternakan Unggul dalam sehari dilakukan dua kali, yaitu pagi dan sore hari dilakukan satu jam sebelum melakukan pemerahan susu kambing. Alat yang digunakan yaitu ember untuk mengambil air dari kolam penampungan air dan sapu lidi untuk

membersihkan kotoran kambing. Tujuan utama pembuatan lantai kolong yang miring agar tercipta kebersihan kandang. Pembersihan sisa-sisa pakan juga dilakukan setiap hari, apabila sisa-sisa pakan tidak dibersihkan terlebih pada ampas tempe, dapat menimbulkan aroma tidak sedap dan berakibat pengurangan nafsu makan pada ternak. Kandang yang bersih merupakan cara pencegahan serangan penyakit pada ternak. Ruang kandang dibuat dengan lorong/gang. Lorong dibuat di tengah dengan ruangan di samping kiri dan kanan, biasanya lorong ini dipakai sementara untuk ternak (terutama ternak sapihan dan proses pemerahan). Dengan model lorong ini, ada beberapa keuntungan yang bisa diperoleh yaitu pintu keluar kandang cukup satu, keluar masuknya ternak lebih mudah diatur, dan membersihkan kandang lebih mudah (Gamabr 5).

Gambar 5. Kegiatan Sanitasi Kandang di Peternakan Unggul

4. Reproduksi Sistem perkawinan Peternakan Unggul dilakukan secara alami, belum pernah melakukan perkawinan dengan menerapkan Inseminasi Buatan (IB). artinya proses perkawinan menggunakan kambing pejantan yang dimilikinya. Peternak menganggap dengan menggunakan teknologi IB akan menambah beban

biaya dan juga untuk memanfaatkan kambing jantan yang berlebih. Meskipun begitu, ternak kambing yang dipelihara peternak tetap menghasilkan anak. Hal ini merupakan kelebihan dari jenis kambing PE dimana dalam keadaan fertilitas yang baik, kambing betina mampu menghasilkan anak kambing setiap tahun pada keadaan yang sehat. Sumber indukan didatangkan dari daerah Kaligesing, awal mulanya Peternakan Unggul mendatangkan sebanyak 21 ekor (usia sepuluh

bulan) yaitu kambing jantan sebanyak satu ekor dan sisanya 20 ekor kambing betina. Kini jumlah ternak yang ada sebanyak 61 ekor dengan tingkat kematian yang disebabkan kembung dan mencret pada anak kambing sebanyak dua ekor artinya lima persen dari total anak yang lahir. Populasi kambing seluruhnya menjadi 59 ekor. Ternak kambing mulai dikawinkan pada usia satu tahun baik jantan dan betina. Ternak mulai memiliki keturunan/anak yang lahir dari masa perkawinan, lamanya kurang lebih 150 hari (5 bulan) masa kebuntingan. Rata-rata kambing di Peternakan Unggul menghasilkan anak dalam satu tahun menghasilkan satu ekor anak (data di lapangan). Peternakan Unggul belum mencatat (recording) mengenai keadaan ternaknya seperti produksi, kesehatan dan reproduksi. Rekording yang telah dilakukan adalah data penjualan, data pembelian dan transaksi keuangan. 5. Pemerahan Sebelum proses pemerahan, langkah awal yang dilakukan oleh pekerja adalah pemberian pakan dan sanitasi kandang. Mengingat susu kambing sangat peka terhadap kondisi aroma bau yang tidak sedap dan dapat terkontaminasi dari mikroba. Terlebih bau yang bersumber dari kotoran ternak, maka dari itu kualitas susu sangat dipengaruhi dari kondisi kebersihan kandang. Kambing betina mulai dapat diperah setelah melahirkan (masa laktasi) Sebelum melakukan pemerahan ambing kambing dilakukan pembersihan dengan air hangat, tujuannya membersihkan kotoran yang menempel disekitar ambing. Satu persatu kambing betina diperah bergiliran dengan kambing tersebut dibawa ke luar dan diikat dengan tali tambang agar memudahkan dalam pemerahan. Peternakan Unggul sangat memperhatikan kebersihan susu yang dihasilkan yaitu pemerahan dilakukan di lorong jalan kandang, bertujuan mengurangi tingkat kepanikan

kambing yang berada di kandang dan kondisi lorong lebih bersih dari kotoran ternak selain itu memudahkan dalam proses pemerahan. Peralatan yang digunakan yaitu ember bersih untuk menampung susu, gelas ukur, sealer, dan saringan susu. 6. Penanganan Hama Penyakit Beberapa penyakit yang sering menyerang kambing perah di peternakan Unggul adalah mencret, kembung perut dan kudis. Umumnya ternak kambing perah yang terkena mencret dan kembung masih anak dibawah umur satu tahun. Sedangkan kudis dapat menyerang hingga usia ternak lebih dari satu tahun. Cara mengatasi penyakit kudis dengan obat ipomex dan menjaga kebersihan kandang agar penyakit kudis tersebut tidak menular ke ternak yang lain dan berkembang biak. Sedangkan penyakit kembung, pengobatan yang dilakukan peternak adalah dengan memberikan obat kembung untuk manusia dapat diberikan kepada kambing yang sakit dengan tingkat keberhasilan yang bervariasi. Kemungkinan penyebab kedua penyakit ini sering menyerang ternak adalah karena memberikan hijauan yang masih terlalu muda atau hijauan yang basah oleh embun. Penyebab lainnya adalah waktu penelitian dilakukan pada saat musim hujan yang memungkinkan ternak lebih mudah terserang penyakit diare/mencret karena lingkungan atau udara dingin dan lembab. Sehingga faktor kebersihan kandang menjadi salah satu faktor yang dapat menekan serangan hama dan penyakit yang merugikan bagi ternak. Upaya pemeliharaan kesehatan ternak dilakukan sendiri oleh pemilik. Istri pemilik sudah berpengalaman dan mempunyai pengetahuan di bidang tersebut. Istri pemilik adalah salah satu dosen Fakultas Kedokteran Hewan di IPB dan memiliki klinik hewan yang berlokasi tidak jauh dari tempat tinggalnya. 7. Penanganan Limbah Kotoran Ternak Kedepannya usaha peternakan Unggul mengarah pada produsen susu kambing organik murni. Hasil kotoran ternak yang dihasilkan oleh Peternak Unggul dimanfaatkan sebagai pupuk organik di lahan rumput yang dimilikinya. Pemanfatan kotoran yang dihasilkan mendukung dengan tujuan Peternakan Unggul sebagai produsen susu kambing organik, karena pakan yang diberikan bersumber dari pakan rumput yang dipupuk dengan pupuk hasil kotoran ternak. Penanganan limbah yang dihasilkan dengan cara membersihkan kotoran ternak

dengan sapu lidi dan menyiram air di bagian kolong kandang dari penampungan kolam air kemudian mengarahkan ke tempat penampungan kotoran yang berada di sisi kandang. Setelah kotoran dalam kondisi kering kotoran tersebut dimasukan kedalam karung yang nantinnya diangkut ke lahan rumput.

6.2.3. Produksi Susu Dari sisi produktifitas susu kambing yang dihasilkan terbilang belum mencapai efisiensi usaha. Saat ini produktifitas susu hanya mencapai 0,64 liter per ekor per hari. Produktifitas susu tersebut lebih rendah dari yang dilaporkan oleh Sutama (2007) mengatakan bahwa kambing PE memiliki kemampuan

memproduksi susu sebanyak 1,5 liter, bahkan dapat mencapai tiga liter per ekor per hari. Rendahnya produksi susu yang dihasilkan diduga ambing yang dimiliki ternak berukuran relatif kecil. Semakin kecil ambing, maka semakin sedikit dihasilkan kelenjar penghasil susu. Penanganan susu hasil pemerahan setelah disaring, kemudian ditakar sebanyak 200 ml, setelah itu dikemas dengan kantong plastik berlabel yang direkatkan dengan alat sealer yang diberi tanggal produksi susu. Kemudian disimpan ke dalam lemari pendingin (freezer). Peternak meyakini cara mengatasi kambing agar tidak stres sesekali ternak diberi lagu-lagu, kondisi ternak dalam keadaan nyaman dapat mengurangi penurunan produksi susu.

6.2.4. Tenaga Kerja Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa kegiatan yang biasa dilakukan pekerja dalam mengelola usaha ternak kambing perah adalah membersihkan kandang dan peralatan kandang, mengambil rumput, mengambil ampas kedelai, memberi pakan dan minum, pemerahan susu, pengemasan susu dan pemasaran hasil yang dilakukan oleh pemilik usaha Peternakan Unggul. Kegiatan membersihkan kandang rutin dikerjakan pagi dan sore menjelang pemerahan susu sehabis pemberian pakan. Kegiatan yang dibersihkan mulai dari pembersihan sisa-sisa pakan yang berada dikotak tempat pakan hingga membersihkan bawah kandang. Pembersihan dibagian dalam kandang

menggunakan alat berupa sapu lidi, sedangkan bagian bawah awalnya dengan sapu lidi kemudian dibersihkan lagi dengan menyiramkan dengan air. Sisa sisa

kotoran tersebut ditampung dan apabila dalam keadaan kering dimasukan kedalam karung yang nantinya digunakan pada lahan rumput. Sedangkan air siraman tersebut dialirkan langsung ke kebun rumput.

6.3 . Aspek Manajemen Aspek manajemen yang diterapkan Peternak Unggul mencakup planing, organizing, actuating dan contoling. Perencanaan terhadap usaha peternakan kambing perah khususnya kambing PE, pemilik Peternakan Unggul sudah menerapkannya usaha tersebut yang berlokasi di Kecamatan Ciampea. Perencanaan pengembangan usaha ini yaitu dengan penjualan susu sebagai produk utamanya, penjualan ternak afkir sebagai pedaging dan anakan kambing PE. Pengembangan usaha peternakan kambing perah ini peternak telah melakukan penanaman biaya investasi, mengeluarkan biaya oprasional dan biaya tetap. Organisasi yang diterapkan pada peternakan Unggul, memiliki struktur manajerial yang sederhana selain itu usaha yang dijalankan merupakan usaha perorangan. Dalam menjalankan usahannya pemilik usaha merupakan sekaligus sebagai manajer. Untuk menjalankan aktifitas usahannya pemilik dibantu oleh dua orang pekerja. Pekerja yang digunakan merupakan lulusan SMU yang telah lama berpengalaman beternak kambing perah, pengalaman yang diperoleh sebelumnya pekerja pernah bekerja di peternakan lain, sehingga pekerja sudah terbiasa mengurus dan mempekerjakan aktifitas di kandang. Masing-masing pekerja telah memiliki tanggungjawab yang jelas. Sistem pengupahan yang dilakukan peternakan unggul, pembayarannya dengan sistem bulanan. Kontrol terhadap usaha dan aktivitas usaha yang dijalankan dilakukan oleh Bapak Wisnanto yang merupakan pemilik sekaligus manajer usaha tersebut. Pengontrolan yang dilakukan, pemilik melakukannya dalam seminggu biasannya dua kali yaitu pada hari libur kerja (Sabtu dan Minggu). Terkecuali hari-hari libur lainnya. Mengingat pemilik selain menjalankan usaha Peternakan Unggul juga bekerja di salah satu instansi pemerinthan yang belokasi di Bekasi. Pengontrolan ini berkaitan dengan tugas-tugas yang diberikan agar benar-benar telah dilaksanakan oleh karyawan seperti pemberian pakan, pembersihan kandang, pemerahan susu hingga penanganan pengemasan susu hasli perahan. Pengontrolan

yang dilakukan pemilik bertujuan untuk menjaga kualitas dan kuantitas produk yang nantinya akan dipasarkan serta kesehatan ternak terjaga.

6.3.1. Hasil Analisis Aspek Manajemen Hasil dari analisis aspek manajemen, yang meliputi manajemen sumberdaya manusia dan manajemen organisasi usaha peternakan dapat

dikatakan bahwa pengusahaan ternak kambing perah yang dilakukan oleh Peternakan Unggul tidak ada masalah manajemen yang dapat menghambat jalannya usaha peternakan ini, walau struktur organisasi terbilang sederhana

sehingga dapat dikatakan layak untuk dijalankan.

6.4 . Aspek Sosial Usaha budidaya kambing perah Peranakan Etawa yang dilakukan Peternakan Unggul, merupakan salah satu kegiatan yang memiliki manfaat baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung memberikan manfaat berupa penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat sekitart. Hal ini dalam menjalankan usahanya Peternakkan Unggul memberdayakan masyarakat sekitar sebanyak dua pekerja, dengan difasilitasi mes. Manfaat sosial secara tidak langsung, usaha tersebut dalam melakukan aktifitasnya memerlukan sarana transportasi dalam proses pengangkutan baik untuk pengambilan pakan maupun proses pemasaran hasil ternak yang dijalankannya. Bagi pihak lain dapat dimanfatkan sebagai sumber penghasilan tambahan seperti pakan berupa konsentrat yang didapat dari membeli di lingkungan sekitar. Dampak yang ditimbulkan dari usaha tersebut berupa menimbulkan bau yang bersumber dari kotoran ternak. Upaya yang dilakukan peternak tersebut dengan melakukan pengelolaan limbah ternak dengan cara pembersihan kandang secara teratur dan memanfaatkan kotoran tersebut sebagai pupuk organik yang dimanfaatkan sebagai pemupukan pada lahan rumput yang tersedia. Penanganan yang dilakukan dengan menampung kotoran ternak tersebut dan dimasukan kedalam karung yang nantinya diangkut ke lahan rumput.

6.1.4.1. Hasil dari Analisis Aspek Sosial Hasil dari analisis aspek sosial ekonomi, dapat dikatakan bahwa pengusahaan ternak kambing perah yang dilakukan oleh Peternakan Unggul tidak ada masalah manajemen yang dapat menghambat jalannya usaha ternak ini, sehingga dapat dikatakan layak untuk dijalankan. Penanganan limbah ternak yang baik dapat mengatasi pencemaran terhadap bau yang tidak sedap yang bersumber dari kotoran/limbah ternak di sekitar lingkungan dekat lokasi kandang. Selain itu berdampak positif terhadap masyarakat sekitar, antara lain secara langsung

menciptakan kesempatan lapangan kerja. Secara tidak langsung usaha kambing perah tersebut tidak bertentangan langsung dengan masyarakat sekitar dan sebagai penyedia minuman susu yang bergizi.

VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL

7.1. Inflow Dalam sebuah cashflow, inflow merupakan aliran kas masuk bagi suatu usaha. Inflow Peternakan Unggul terdiri dari pinjaman dari bank, nilai sisa, penerimaan penjualan produk utama, berupa susu murni, serta penerimaan yang bersumber dari ternak afkir dan penjualan anak kambing. Besarnya pinjaman pada usaha kambing perah ini adalah sebesar 131.100.000 rupiah. Besarnnya biaya tersebut diperoleh dari setengah dari total biaya investasi. Sedangkan nilai sisa diperoleh hanya pada tahun ahkir umur proyek yaitu sebesar 91.076.667 rupiah. Komponen yang masih memiliki umur sisa adalah komponen biaya yang

memiliki umur ekonomis lebih dari lima tahun atau komponen yang masih memiliki sisa umur ekonomis diahkir umur proyek diantaranya : lahan diasumsikan memiliki nilai sisa sama dengan nilai beli yaitu 69.390.000 rupiah, kandang sebesar 17.500.000 rupiah, mes 2.500.000 rupih, sumur timba 500,000 rupiah, instalasi listrik 1.000.000 rupiah, cangkul 16.667 rupiah, arit 20.000 rupiah, ember 50.000 rupiah, glas ukur 25.000 rupiah dan sepatu boot sebesar 75.000 rupiah. sedangkan ternak kambing afkir dimasukan sebagai komponen penerimaan, lebih lengkapnnya dapat dilihat pada (Lampiran 3).

7.1.1. Penerimaan Susu Murni Penerimaan susu murni adalah penerimaan yang bersumber dari hasil produk utama usaha peternakan kambing perah khususnya peranakan etawa. Jumlah penerimaan ini kecenderungan mengalami peningkatan dari tahun pertama hingga tahun ke lima. Hal ini dikarenakan jumlah populasi kambing betina yang mengalami masa laktasi pada tahun ke satu hingga tahun ke tiga belum mencapai 100 persen (Lampiran 2). Peningkatan populasi kambing ini diperoleh dari usaha perbanyakan sendiri. Harga jual yang ditetapkan berdasarkan harga yang berlaku dipasaran. Harga jual susu yang ditetapkan adalah dengan harga 40.000 rupiah per liter. Produk susu merupakan produk yang dapat dihasilkan sepanjang tahun, artinya selama kambing mengalami masa laktasi/menyusui, kambing tersebut

dapat menghasilkan susu murni setiap hari. Adapun estimasi susu yang dihasilkan Peternakan Unggul hingga akhir proyek dapat dilihat pada Tabel 11 di bawah ini.

Tabel 11. Estimasi Produksi Susu Kambing di Peternakan Unggul
Tahun 1 semester 1 semester 2 2 semester 1 semester 2 3 semester 1 semester 2 4 semester 1 semester 2 5 semester 1 semester 2 total Produksi Susu (Liter) 6,221 1,037 5,184 6,893 1,037 5,856 10,253 4,397 5,856 10,944 4,512 6,432 10,944 4,512 6,432 45,254 Harga Susu Per Liter (Rp) 40,000 Penjualan Susu (Rp) 248,832,000 41,472,000 207,360,000 275,712,000 41,472,000 234,240,000 410,112,000 175,872,000 234,240,000 437,760,000 180,480,000 257,280,000 437,760,000 180,480,000 257,280,000 1,810,176,000

40,000

40,000

40,000

40,000

Agar produk susu yang dihasilkan secara berkesinambungan, tindakan yang dilakukan oleh peternakan Unggul dengan mengatur masa bunting atau laktasi. Penerimaan susu di tahun pertama sebessar 248.832.000 rupiah (Tabel 11.) diperoleh dari total kambing laktasi pada tahun pertama (54 ekor) dikalikan ratarata produksi susu per ekor (0,64 liter) dikalikan dengan lamannya maasa laktasi yaitu enam bulan (180 hari ) serta dikalikan harga jual susu per liter (Lampiran 2)

7.1.2. Penerimaan Sampingan Peternakan kambing perah merupakan usaha yang bersifat dwiguna, artinya selain susu sebagai produk utamanya juga dapat dimanfaatkan produk sampingan. Diantaranya penerimaan yang diperoleh dari penjualan ternak afkir. Ternak afkir yang dimaksud adalah ternak yang dari sisi produksi susu sudah tidak produktif lagi, artinya produksi susu yang dihasilkan tidak optimal lagi. Umumnya ternak yang dikatakan ternak afkir adalah ternak yang mempunyai umur lima tahun. Biasanya daging ternak tersebut dapat dimanfaatkan sebagai

makanan sate kambing, atau pada hari raya idul kurban. Rata-rata bobot kambing afkir berkisar antara 30-50 kg. Harga ternak afkir yang berlaku dipasaran per ekornya sebesar 1.500.000 rupiah sedangkan ternak produktif harga yang berlaku dipasaran adalah 2.250.000 rupiah. Penerimaan ternak afkir ditahun ke lima diperoleh dari perhitungan jumlah kambing afkir diahkir umur proyek (100 ekor) dikalihkan harga kambing afkir per ekornnya (Rp 1.500.000), total penerimaan yang bersumber dari ternak afkir adalah sebesar 150.000.000 rupiah. Ternak yang tergolong sebagai ternak afkir adalah ternak jantan dan betina yang sudah tidak produktif lagi menghasilkan susu, biasannya usia ternak sudah mencapai lima tahun atau lebih. Besarnya penerimaan yang bersumber dari ternak afkir yang didapat, berdasarkan jumlah ternak yang diinvestasikan selama umur proyek. Anak kambing dapat dimanfaatkan sebagai sumber penerimaan.

Penerimaan yang diperoleh dari penjualan anak kambing adalah anak kambing yang berusia minimal empat bulan. Dikarenakan pada usia empat bulan ternak sudah mulai tidak menyusui dan sudah dapat memakan rerumputan, sehingga konsumen yang berminat untuk membeli tidak terlalu khawatir terhadap kematian ternak. Harga per ekor anak kambing betina sebesar 600.000 rupiah, sedangkan harga untuk anak kambing jantan sebesar 500.000 rupiah. Tujuan Peternakan Unggul menjual anak kambing sebagai sumber tambahan penerimaan, sehingga usaha yang dijalankan menghasilkan penerimaan tambahan. Mengingat produk utama berupa susu maka jumlah populasi ternak yang lebih banyak di pelihara adalah kambing betina. Menurut Sutama (2007), dengan pengaturan yang baik setiap kambing pejantan dapat mengawini betina sebanyak 12-16 ekor per bulan. Secara teoritis satu ekor jantan mampu mengawinkan kambing betina mencapai 1 : 74-112 Ekor. Sedangkan perbandingan jantan dan betina yang dilakukan oleh peternakan Unggul adalah 1:20 ekor. Berdasarkan pengalaman yang telah dilakukan, perbandingan jantan dan betina 1:20 dirasa cukup untuk mengawinkan kambing betina yang ada, mengingat dalam satu hari jumlah kambing yang siap dikawinkan belum tentu secara bersamaan. Penjualan anak kambing dilakukan setelah kapasitas kandang terpenuhi yaitu sebanyak 100 ekor. Berdasaran rasio ternak jantan dan betina yang dilakukan 1:20 ekor, kebutuhan kambing jantan yang dipelihara sebagai indukan

sebanyak lima ekor selebihnnya dari anak kabing jantan yang lahir dilakukan penjualan.. Penjualan yang dilakukan pada anak kambing betina yaitu setelah jumlah kambing betina mencapai 95 ekor, dapat dilihat pada Lampiran 2. Penerimaan yang bersumber dari penjualan anak kambing setiap tahunnya berbeda, karena jumlah kambing yang melahirkan pertahunnya tidak secara bersamaan seperti pada Tabel 12). Besarnnya penerimaan bersumber dari penjualan anak kambing baik jantan maupun betina adalah jumlah kambing

jantan ditahun pertama (16 ekor) dikalikan harga per ekor kambing jantan (Rp 500.000) ditambah jumlah kambing betina yang siap dijual dikalikan harga per ekor anak kambing betina (Rp 600.000). Dikarenakan tahun pertama belum ada pemasukan dari penjualan anak kambing betina maka besarnya penerimaan dari penjualan anak kambing ditahun pertama adalah sebesar 8.000.000 rupih yang bersumber dari penjualan anak kambing jantan, begitu juga perhitungan penerimaan hingga tahun kelima.

Tabel 12 Estimasi Penerimaan Penjualan Anak Kambing Per Tahun (skenario I)
Sumber Pemasukan 1 1. Kambing jantan (ekor) 2. Kambing betina (ekor) Total anak kambing terjual (ekor) 16 0 16 2 16 29 45 Tahun 3 26 58 84 4 28 62 90 5 28 62 90

7.2 . Outflow

7.2.1. Biaya Investasi Outflow adalah aliran kas yang dikeluarkan oleh suatu usaha. outflow Peternakan Unggul dikelompokan menjadi biaya investasi dan biaya oprasional diantarannya biaya tetap dan biaya variabel. Biaya investasi yang dilakukan oleh Peternakan Unggul dilakukan pada tahun pertama. Biaya investasi yang dikeluarkan oleh Peternakan Unggul adalah lahan, kandang, mes, lemari pendingin/freezer, alat perekat kemasan plastik/sealer, cangkul, garpu, arit,

ember, drum, glas ukur, kambing PE, kolam penampungan air dan peralatan kandang yang masa pakainya satu tahun atau lebih (Tabel 13).

Tabel 13. Biaya Investasi Pada Peternakan Unggul (Skenario I)
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Komponen biaya Lahan instalasi listrik Kandang Mes Sumur timba Freezer Shiler timbangan mesin air selang Kambing kolam Drum Garpu Cangkul Arit Ember Gelas ukur Sepatu boot Total Satuan meter unit unit unit unit unit unit unit unit meter ekor unit unit unit unit unit unit unit unit Jumlah 2570 1 1 1 1 2 1 1 1 20 59 2 15 1 1 2 10 2 3 Harga satuan (Rp) 27,000 2,000,000 35,000,000 5,000,000 1,000,000 4,000,000 200,000 250,000 1,500,000 6,000 2,250,000 5,000,000 100,000 80,000 50,000 30,000 10,000 25,000 50,000 Jumlah biaya (Rp) 69,390,000 2,000,000 35,000,000 5,000,000 1,000,000 8,000,000 200,000 250,000 1,500,000 120,000 132,750,000 5,000,000 1,500,000 80,000 50,000 60,000 100,000 50,000 150,000 262,200,000

Lahan yang tersedia dimanfaatkan untuk membangun fasilitas kandang, mes, kolam penampungan air dan sisanya dipergunakan sebagai lahan rumput. Kandang yang dibangun adalah kandang permanen, dengan bahan yang digunakan adalah terbuat dari kayu, bambu, lantai bawah terbuat dari semen cor, dan atap menggunakan asbes. Sedangkan pembuatan kandang dilakukan dengan cara borongan, hal ini bertujuan agar pembuatan kandang lebih cepat dalam pengerjaannya. Lemari pendingin yang digunakan untuk kebutuhan penyimpanan hasil produk susu sebanyak dua buah. fungsi lemari pendingin bagi usaha peternakan kambing perah adalah dapat memperpanjang masa simpan susu yang dihasilkan, sehingga susu tidak mengalami kerusakan kandungan gizinya. Alat sealer yang digunakan sebanyak satu buah berfungsi sebagai perekat kemasan. Biaya investasi usaha peternakan unggul dilakukan tidak hanya pada tahun pertama. Biaya investasi yang dilakukan Peternakan Unggul dikeluarkan kembali

pada tahun tertentu atau disebut biaya re-investasi. Hal tersebut dikarenakan nilai ekonomis seperti cangkul, arit, gelas ukur, ember, dan sepatu boot lamanya umur pakai kurang dari lima tahun seperti pada table dibawah ini.

Tabel 14. Biaya Re-Investasi Usaha Peternakan Unggul
Uraian 1. Cangkul 2. Arit 3. Ember 4. Gelas ukur 5. Sepatu boot Total Umur ekonomis (thn) 3 3 2 2 2 1 50,000 60,000 100,000 50,000 150,000 410,000 0 100,000 50,000 150,000 300,000 110,000 2 3 4 50,000 60,000 100,000 50,000 150,000 300,000 5

Biaya re-investasi yang dikeluarkan kembali berdasarkan lamannya umur ekonomis peralatan yang digunakan. Diantaranya untuk pembelian kembali peralatan seperti cangkul, arit, ember, gelas ukur, serta sepatu boot yang dilakukan pada tahun ke 3, 4 dan 5 (Tabel 14). Peralatan yang masih memiliki sisa umur ekonomis nantinnya diperhitungkan kedalam nilai sisa.

7.2.2. Biaya Operasional Biaya operasional adalah biaya yang dikeluarkan agar terlaksananya suatu kegiatan usaha yang sedang dijalankan. Biaya oprasional yang dikeluarkan untuk mengusahakan Peternakan Unggul terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tersebut akan dikeluarkan secara berkala selama usaha tersebut masih berjalan. 1. Biaya Tetap Biaya tetap yang akan dikeluarkan setiap usaha berbeda-beda. Biaya tetap yang dikeluarkan oleh Peternakan Unggul membayar (Tabel 15) diantaranya untuk

gaji pimpinan sebesar 2.000.000 per bulan atau setara dengan

24.000.000 per tahun, sedangkan gaji karyawan sebanyak dua orang sebesar 2.000.000 setara dengan 24.000.000 rupiah per tahun, gaji yang diterima oleh karyawan diterimannya secara bulanan. Penggunaan biaya listrik per bulan

berdasarkan informasi di tempat penelitian

sebesar 170.000 rupiah. Listrik

dipergunakan untuk lampu penerangan kandang dan mes, serta alat pendingin susu. Biaya promosi sebesar 2.000.000 rupiah digunakan untuk pembuatan kartu nama, biaya komunikasi dan spanduk. Sedangkan biaya pajak bumi dan bangunan yang deikeluarka per tahun sebesar 80.000 rupiah (informasi di lapang).

Tabel 15. Rincian Biaya Tetap Usaha Peternakan Unggul
No. Komponen Biaya Biaya per unit (Rp) 2.000.000 1.000.000 170.000 80.000 2.000.000 Jumlah biaya per bulan(Rp) 2.000.000 2.000.000 170.000 Jumlah biaya per tahun(Rp) 24.000.000 24.000.000 2.040.000 80.000 2.000.000 38.187.273 90.307.273

1 2 3 4 5

Gaji Pimpinan Gaji Karyawan Tagihan Listrik PBB Promosi

6 Angsuran Total biaya tetap

Biaya angsuran pinjaman modal peternakan kambing perah PE Peternakan Unggul dalam menjalankan usahannya dilakukan setiap tahun selama umur proyek. Lamanya pinjaman tersebut yaitu lima tahun sesuai dengan umur proyek, rumus yang digunakan yaitu rumus perhitungan angsuran kredit dengan annuity (nilai angsurn tetap).

Angsuran per Tahun = pinjaman x {interest x (1 + interest)^periode} {(1 + interest)^periode – 1}

Adapun rincian perhitungan cicilan pinjaman pokok dan bunga pinjaman dapat di lihat pada Tabel 16. Sukubunga yang digunakan adalah sebesar 14 persen, nilai tersebut berdasarkan acuan suku bunga yang berlaku bulan Agustus 2009 pada Bank Indonesia.

Tabel 16. Angsuran Pembayaran Pinjaman Usaha Petrernakan Unggul
Perhitungan Pembayaran Kredit No Uraian 1 Pinjaman 2 Jangka Waktu Pengembalian (tahun) 3 Tingkat Suku Bunga 4 Angsuran Kredit per Tahun Pembayaran Angsuran Pinjaman No 1 2 3 4 5 Tahun 1 2 3 4 5 Pokok Pinjaman 19,833,273 22,609,931 25,775,322 29,383,867 33,497,608 Biaya Bunga 18,354,000 15,577,342 12,411,951 8,803,406 4,689,665 Keterangan Rp131,100,000 5 14% Rp38,187,273 Angsuran 38,187,273 38,187,273 38,187,273 38,187,273 38,187,273 Sisa Pokok Pinjaman 111,266,727 88,656,796 62,881,474 33,497,608 0

7.2.2.2. Biaya Variabel Biaya variabel yang dikeluarkan diantaranya untuk kebutuhan pembelian susu sapi, obat-obatan, transportasi, kain penyaring susu, dan plasik untuk kemasan susu. Biaya pembelian susu sapi untuk anak kambing yang baru lahir, harga per liter susu kambing sebesar 5.000 rupiah. Susu tersebut dipesan dari peternakan sapi di Darul Fallah yang berlokasi tidak jauh dari lokasi kandang. Harga bahan baku konsentrat seperti : onggok Rp1.300 per kg, bungkil sawit Rp1.500 per kg, dedak Rp1.300 per kg dan garam dapur Rp 2.500 per kg. Berdasarkan informasi harga-harga tersebut maka biaya yang dikeluarkan setiap 0,5 kg konsentrat adalah sebesar 668 rupiah atau setara dengan 1.336 rupiah/kg. Rincian biaya konsentrat lebih jelasnnya dapat dilihat seperti pada Tabel 17 dibawah ini dengan perbandingan pakan onggok, bungkil sawit, dedak dan garam dapur masing-masing sebannyak 1:1:5:0.05 kg.

Tabel 17. Rincian Biaya Konsentrat Per 0,5 Kg
Kosentrat : a. Bungkil sawit b. Onggok c. Dedak d. Garam mineral Total Komposisi (kg) 1 1 5 0,05 7,05 Harga /kg 1.500 1.300 1.300 2.500 6.600 Gram/ekor/ Hari 0,071 0,071 0,355 0,004 0,500 Biaya/ Ekor/ Hari (Rp) 142,0 106,5 461,0 200,0 668

Pemberian ampas kedelai per ekor mencapai tiga kg, dengan harga ampas kedelai sebesar 150 rupiah per kg. Sumber ampas kedelai diperoleh dari pengrajin tempe yang berlokasi di Jakarta. Pengambilan ampas kedelai dalam sebulan sebayak delapan kali dengan biaya pengangkutan ampas kedelai sebesar 300.000 rupiah. Biaya obat-obatan yang dikeluarkan untuk pembelian Ipomex sebesar 11.017 rupiah per ekor per tahun serta vitamin sebesar 2.034 rupiah per ekor per tahun. Sedangkan biaya kemasan susu dengan ukuran 200 ml, sebesar 1.450 rupiah. Rincian biaya variabel dapat di lihat pada lampiran tiga.

7.2.2.3. Analisis Rugi Laba Analisis rugi laba digunakan untuk mengeahui perkembangan usaha dalam kurun waktu tertentu, komponen rugi laba terdiri dari penerimaan, biaya oprasional, penyusutan, dan biaya lain di luar usaha dan pajak penghasilan. Rincian perhitungan rugi laba, dimana perhitungan rugi laba akan berpengaruh terhadap pajak penghasilan usaha, yang secara otomatis akan mempengaruhi hasil perhitungan Cashflow tersebut. Rata-rata rugi laba yang diperoleh dari hasil perhitungan skenario I dan II selama lima tahun masing-masing sebesar 130.486.871 dan 12.095.643 rupiah (lampiran 5 dan 14). Hasil laba bersih yang dihasilkan menunjukan bahwa skenario I memperoleh laba bersih lebih besar dibandingkan pada skenario II. Hal ini dikarenakan pada skenario II dari sisi penerimaan lebih keci di bandingkan skenario II, mengingat modal yang digunakan kurang lebih setengah dari modal skenario I, selain itu kapasitas ternak pada skenario II setengah dari skenario I yaitu sebannyak 50 ekor kambing dewasa produktif.

7.3. Analisis Kelayakan Finansial Analisis kelayakan finansial kriteria investasi pengusahaan peternakan kambing perah peranakan etawa yang dilakukan oleh Peternakan Unggul dilihat dari pendekatan empat kriteria yaitu NPV, Net B/C, IRR dan PBP. Hasil

perhitungan investasi ini diperoleh dari hasil pengurangan komponen outflow dengan inflow. Komponen inflow yang diperoleh pada usaha peternakan Unggul meliputi, penjualan susu kambing, dan anakan kambing jantan maupun betina. Sedangkan kotoran ternak yang dihasilkan tidak diperhitungkan. Mengingat

kotoran ternak tersebut dimanfaatkan untuk pemupukan lahan rumput yang telah disediakan. Sehingga tidak mengguunakan pupuk yang bersumber dari bahan kimia seperti pupuk urea, SP36 dan KCl. Melainkan sumber pupuk organik berasal dari limbah ternak yang diusahakan. Skenario usaha yang digunakan terdiri dari dua skenario yaitu, skenario I modal yang digunakan adalah bersumber dari modal sendiri dan pinjaman.

Masing-masing biaya yang dikeluarkan baik modal sendiri maupun modal pinjaman adalah sebesar 50 persen. Alasan pemilik ternak menggunakan sebagian modal pinjaman agar modal usaha yang digunakan dapat menutupi kekurangan biaya yang dikeluarkan. Sedangkan skenario II modal yang digunakan bersumber dari modal sendiri, artinya modal usaha yang digunakan tidak bersumber dari pinjaman bank maupun dari pinjaman pihak lain. Tingkat suku bunga pinjaman yang digunakan sebesar 14 persen sedangkan tingkat suku bunga deposito adalah sebesar tujuh persen mengacu pada bank sentral Indonesia. Berdasarkan analisis kelayakan skenario I (Tabel 18), nilai NPV yang diperoleh berdasarkan nilai sekarang akan memperoleh keuntungan sebesar 359.966.477 rupiah selama umur proyek. Berdasarkan kriteria investasi NPV ≥ 0 berarti secara finansial usaha layak untuk dilaksanakan karena manfaat yang diperoleh lebih besar dari biaya yang dikeluarkan. Artinnya pengusaahn kambing perah yang dijalakan oleh Peternakan Unggul memberikan manfaat positif selama umur proyek dengan suku bunga pinjaman 14 persen, sehingga dari keriteria tersebut usaha ini layak untuk dilaksanakan. Apabila besarnnya NPV yang

diperoleh ≤ 0 berarti secara finansial usaha tersebut tidak layak untuk dilaksanakan, hal ini dikarenakan manfaat yang diperoleh lebih kecil dari biaya

sehingga tidak cukup untuk menutup biaya yang dikeluarkan. Bila besarnnya penerimaan NPV = 0, berarti secara finansial proyek sulit dilaksanakan karena manfaat yang diperoleh hanya cukup untuk menutupi biaya yang dikeluarkan. Dilihat dari nilai IRR pada skenario I yaitu sebesar 127 persen, Nilai tersebut menunjukan lebih besar dari tingkat suku bunga pinjaman sebesar 14 persen. Jika diperoleh IRR lebih besar dari tingkat diskonto yang berlaku, maka proyek layak untuk dilaksanakan. Sebaliknya jika nilai IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga yang berlaku maka proyek tersebut tidak layak untuk dilaksanakan. Berdasarkan kriteria IRR usaha ini layak untuk dijalankan. Nilai net benefit cost ratio (Net B/C) yang diperoleh sebesar 5,77. Faktor yang mempengaruhi besarnnya nilai IRR pada skenario I karena nilai PV psositif yang dihasilkan lebih besar dibandingkan PV negatif. Hasil tersebut diperoleh dari nilai PV positif dibagi dengan nilai PV negatif, Masing-masing angka yang diperoleh adalah sebesar : Rp 435.497.978 dan Rp -75.531.501 (Lampiran 6.) faktor yang mempengaruhi besarnnya nilai net B/C pada skenario I karena nilai PV psositif yang dihasilkan lebih besar dibandingkan PV negatif. Masing-masing angka yang diperoleh adalah sebesar : Rp 435.497.978 dan Rp -75.531.501 (Lampiran 6.). Nilai tersebut menunjukan lebih dari satu. Artinnya dari setiap satu satuan biaya yang dikeluarkan mampu menghasilkan manfaat bersih sebesar 5,77 satuan. Angka tersebut menunjukkan tingkat besarnya tambahan manfaat pada setiap tambahan biaya sebesar satu satuan uang. Nilai tersebut menunjukan usaha peternakan kambing perah pada peternakan kambing Unggul dijalankan (net B/C > dari 1). Payback Periode yang diperoleh (Tabel 18) adalah selama 2,01 tahun. proyek berahkir. Hal ini menunjukan kemampuan tingkat pengembalian modal usaha peternakan Unggul lebih kecil dari umur proyek yaitu selama lima tahun. Artinnya usaha peternakan Unggul dilihat dari PBP usaha ini layak karena pengembalian modal investasi tercapai sebelum umur proyek berahkir. Pentingnya mengetahui tingkat pengembalian modal bagi para pelaku usaha maupun investor yang ingin menanamkan modal pada usaha tertentu agar dapat mengantisipasi terhadap perubahan risiko pengembalian modal. Artinnya semakin cepat tingkat layak untuk

pengembalian modal investasi, semakin kecil risiko terhadap perubahan nilai uang yang terjadi.

Tabel 18. Hasil Kriteria Kelayakan Usaha pada Skenario I
No. 1 2 3 4 NPV (Rp) IRR (%) Net B/C PBP (tahun) Kriteria kelayakan Skenario I 359.966.477 127 5,77 2,01

Hasil analisis skenario II dengan penggunaan modal investasi bersumber dari modal sendiri yang dilakukan sesuai dengan kemampuan modal yang dimilikinnya. Besarnnya modal investasi adalah sebesar 124.910.000 rupiah (Lampiran 10). Nilai NPV yang diperoleh lebih besar dari pada nol yaitu sebesar 57.872.694 rupiah. Artinnya pengusahaan kambing perah yang dijalakan oleh Peternakan Unggul memberikan manfaat positif selama umur proyek menurut nilai sekarang akan menghasilkan keuntungan sebesar 57.872.694 rupiah dengan suku bunga deposito tujuh persen, sehingga dari keriteria tersebut usaha ini layak untuk dilaksanakan. Dilihat dari nilai IRR pada skenario satu yaitu sebesar 44 persen nilai tersebut menunjukan lebih besar dari tingkat suku bunga diskonto sebesar tujuh persen. Berdasarkan kriteria IRR usaha ini layak untuk dijalankan. Nilai net benefit cost ratio (Net B/C) yang diperoleh sebesar 1,61 nilai tersebut menunjukan lebih dari satu. Artinnya bahwa setiap nilai pengeluaran sekarang sebesar Rp 1,00 akan memberikan manfaat bersih sebesar Rp 1,61. Nilai tersebut menunjukan usaha peternakan kambing perah pada peternakan Unggul layak untuk dijalankan. Namun dari hasil perbandingan nilai IRR yang diperoleh pada dua skenario, hasil terbesar lebih kecil dibandingkan pada skenario II (Tabel 19) yaitu sebesar 5,77. Kecilnya nilai net B/C pada skenario II dikarenakan pada tahun ke 1,2 dan 4 net benefit yang dihasilkan mengalami kerugian (bernilai negatif) dapat dilihat seperti pada Lampiran 13. Payback Periode yang diperoleh adalah selama 6,88 tahun setara dengan enam tahun sepuluh bulan enam belas hari. Hal ini menunjukan kemampuan tingkat pengembalian modal pada skenario II usaha peternakanan Unggul lebih

besar dari pada umur proyek. Artinnya usaha peternakan Unggul dilihat dari PBP usaha ini tidak layak karena pengembalian modal investasi tercapai melebihi umur proyek berahkir (Lampiran 13). Hal ini menggambarkan bahwa semakin kecil manfaat bersih per tahun yang dihasilkan, semakin kecil juga nilai inflow yang dihasilkan oleh usaha tersebut. Selain itu net benefit yang diperoleh pada

skenario II pada tahun ke 1 hingga tahun ke 4 bernilai negatif, sedangkan ditahun ke 5 diperoleh net benefit bernilai positif sebesar 132.481.552 rupiah.

Tabel 19. Perbandingan Hasil Kelayakan Usaha pada Dua Skenario
No.
1 2 3 4

Kriteria kelayakan
NPV (Rp) IRR (%) Net B/C PBP (tahun)

Skenario I
359.966.477 127 5,77 2,01

Skenario II
57.872.694 44 1.61 6.88

Hasil perbandingan dua skenario tersebut pada Tabel 19. Secara umum skenario I lebih layak dibandingkan dengan skenario II. Tingkat penerimaaan yang diperoleh pada skenario II lebih kecil dibandingkan hasil skenario I hal ini disebabkan karena kurang efisennya biaya investasi yang dikeluarkan. Pernyataan tersebut didukung dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Stani (2009), yang menyatakan semakin besar skala usaha yang dilakukan semakin efisien usaha yang dijalankan diantarannya biaya persatuan ternak dan biaya yang dikeluarkan per liter susu semakin menurun.

7.4. Analisis Switching Value Hasil analisis Switching Value yang dapat dilihat pada Tabel 20 (hasil perhitungan lampiran 7, 8, 15 dan 16), parameter yang digunakan adalah dengan melihat tingkat kepekaan atau perubahan terhadap penurunan harga susu kambing dan peningkatan biaya variabel sehingga pada tingkat berapa usaha tersebut masih dapat memperoleh laba positif. Penurunan harga susu kambing dapat terjadi mengingat usaha susu kambing perah merupakan pasar persaingan sempurna, dimana setiap pelaku usaha mempunyai peluang memasuki usaha kambing perah

mengingat harga susu kambing yang cukup tinggi menjadi daya tarik pelaku usaha baru terjun pada usaha susu kambing. Semakin banyak pesaing/investor masuk pada usaha susu kambing berdampak terhadap harga yang berlaku dipasaran terjadi penurunan, maka dari itu perlu dikaji sejauh mana sensitvitas melalui pendekatan switching value masih bisa menguntungkan. Begitu juga terhadap perubahan biaya variabel, bisa saja biaya-biaya variabel yang dikeluarkan terjadi kenaikan akibat kebijakan pemerintah menaikan harga bahan bakar minyak yang berimbas terhadap kenaikan biaya variabel. Tabel 20. Perbandingan Hasil Switching Value Usaha Peternakan Unggul

Parameter

Switching Value (%) Skenario I Skenario II 13,03 % 18,52 %

Masimum Penurunan harga susu Maksimum Peningkatan biaya variabel

30,16 % 55,43 %

Dari hasil perhitungan (Tabel 20) skenario I menghasilkan bahwa penurunan harga susu kambing masih dapat ditolerir adalah sebesar 30,16 persen artinya apabila tingkat penurunan harga diatas 30,16 persen usaha yang dijalankan menjadi tidak layak. Dikarenakan berdampak terhadap tidak sesuainya dengan kriteria kelayakan dilihat dari nilai NPV, IRR, Net B/C, dan PBP. Begitu juga pada analisis Switching Value dilihat dari kepekaan peningkatan biaya variabel. Hasil yang didapat pada skenario I peningkatan biaya variabel dapat ditolerir dibawah atau sama dengan 55,43 persen. Apabila terjadi peningkatan biaya variabel diatas 55,43 persen maka usaha tersebut menjadi tidak layak. Hal ini dikarenakan keuntungan yang diperoleh habis digunakan untuk seluruh biaya kegiatan usaha pada Peternakan Unggul. Analisis Switching Value pada skenario II diperoleh tingkat kepekaan terhadap penurunan harga susu kambing sebesar 13,03 persen, sedangkan peningkatan biaya variabel diperoleh sebesar 18,52 persen. Hasil perbandingan tersebut menunjukan skenario II lebih peka atau sensitif terhadap perubahan baik dari penurunan harga susu maupun kenaikan biaya variabel seperti pada Tabel 20 Semakin sensitif terhadap suatu perubahan dampak usaha yang akan dijalankan

semakin berrisiko. Perbandingan Switching Value

usaha Peternakan Unggul.

Penyebab skenario II lebih peka/sensitif dibandingkan skenario I, dikarenakan pada skenario II kemampuan usaha kambing perah PE dengan kapasitas kandang sebanyak 50 ekor ternak kambing dan kemampuan investasi awal sebnnyak 21 ekor, penerimaan outflow yang dikeluarkan lebih besar dibandingkan inflow yang dihasilkan sehingga tidak efisien dalam menggunakkan biaya investasi yang telah ditanamkan.

VIII KESIMPULAN DAN SARAN

8.1 Kesimpulan 1. Berdasarkan kriteria aspek kelayakan non finansial usaha peternakan kambing perah peranakan etawa yang dilakukan di peternakan Unggul terdiri dari aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen dan sosial memiliki tingkat kelayakan yang relatif baik sehingga usaha peternakan unggul layak untuk dikembangkan. 2. Hasil analisis kriteria kelayakan finansial, usaha Peternakan Unggul dari ke dua skenario menunjukan Skenario I dilihat dari kriteria NPV, IRR, net B/C dan PBP lebih menguntungkan dibandingkan dengan Skenario II: masing-masing nilai yang diperoleh NPV sebesar Rp 359. 966.477, IRR: 127 persen, Net B/C: 5,77 dan PBP: 2,01 tahun atau setara dengan dua tahun, tiga hari. Skenario II hasil yang diperoleh dari pendekatan NPV nilai yang diperoleh adalah Rp 57.872.694 IRR : 44 persen, Net B/C : 1,61 dan PBP : 6,88 tahun, setara dengan enam tahun sepuluh bulan,enam belas hari. 3. Analisis switching value dengan pendekatan parameter penurunan harga susu dan kenaikan biaya variabel yang dilakukan pada dua skenario.

Skenario II (modal sendir) merupakan skenario yang paling sensitif terhadap parameter penurunan harga dan peningkatan biaya variabel dibandingkan skenario I (modal sendiri dan pinjaman), masing-masing nilai yang diperoleh skenario I sebesar 30,16 persen dan 55,43 persen sedangkan Skenario II sebesar 13,03 persen dan 18,52 persen.

8.2 Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan saran yang dapat

diberikan pada usaha peternakan unggul diantaranya : 1. Peternakan unggul dari sisi aspek teknis dalam menjalankan usahanya sebaiknya melakukan rekording bertujuan untuk menghindari terjadinnya perkawinan kerabat dekat/inbreeding sehingga menghasilkan kambing yang berkualitas baik dan dapat meningkatakn produksi susu.

2. Peningkatan produksi susu dapat ditingkatkan dengan cara selektif dalam memilih calon induk kambing yang nantinya untuk dikembangkan. Kurang optimalnya produksi susu yang dihasilkan diduga adannya

penggunaan induk yang memiliki ambing yang berukuran relatif kecil. Semakin kecil ambing yang dimilik ternak, maka semakin sedikit dihasilkan kelenjar penghasil susu. 3. Penggunaan modal investasi yang digunakan apabila memiliki dana yang tidak mendukung, sebaiknnya menggunakan dana bersumber dari modal sendiri dan pinjaman agar diperoleh keuntungan yang lebih besar. Hasil perhitungan apabila penggunaan modal yang dimiliki Peternakan Unggul sebaiknya tidak dilakukan karena kurang efisien. Hasil perhitungan menunjukan tingkat investasi awal peternakan kambing perah sebanyak 59 ekor dengan kapasitas kandang sebanyak 100 ekor lebih menguntungkan dibandingkan pada investasi awal sebanyak 21 ekor kambing produktif dengan kapasitas kandang sebanyak 50 ekor.kambing dewasa produktif.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad NF. 2002. Analisis Usaha Ternak Kambing Perah dan Pemasaran Susu Kambing [skripsi]. Bogor: Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Anggororatri R. 2008. Analisis Daya Saing dan Strategi Pemasaran Susu Kambing CV Lakta Tridia, Ciwidey, Jawa Barat. [Bogor]: Program Studi Manajemen Agribisnis. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Ardia AW. 2000. Analisis Pendapatan Usaha Ternak Kambing Perah Peranakan Etawa [skripsi]. Bogor: Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Badan Pusat Statistik. 2007 Statistik Peternakan. Jakarta. Departemen Pertanian RI. BPS. 2007. Bogor : Statistik Peternakan. Drinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor Devendra C dan Burns. 1994. Produksi kambing di daerah tropis. Bandung: Institut Teknologi Bandung. Fauzan AN. 2002. Analisis Usaha Ternak Kambing Perah Dan Pemasaran Susu Kambing : Kasus Di Pusat Penelitian Dan Pedesaan Swadaya (P4S) Cita Rasa, Kabupaten Bogor. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Fitrial. 2009. Analisis Tingkat Kelayakan Finansial Penggemukan Kambing dan Domba pada Mitra Tani Farm [skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Gitingger JP.1968. Analisis Ekonomi Proyek-Proyek Pertanian. Penerjemah Slamet Sutomo Dan Komet Manggiri. Jakarta: Universitas Indonesia perss. Husnan S. dan Suwarsono.2000. Studi Kelayakan Proyek Yogyakarta: UPP AMP YKPN. Mathius, Yulistiani, dan Wilson. 1989.Tata Laksana Pemberian Pakan Kambing dan Domba. Kumpulan Peragaan dalam Rangka Penelitian Kambing dan Domba di Pedesaan. Balai Penelitian ternak. Pusat Penelitian dan pengembangan Peternak. Bogor. Mubyarto (1989) Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta: LP3ES.

Ratnawati N. 2002. Kajian Kelayakan Finansial Pengembangan Usaha Peternakan Sapi dan Kambing Perah [skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Sarwono, B. 2006. Beternak kambing Unggul. Jakarta: Penebar Swadaya. Setiawan A dan Tanius A. 2003. Beternak Kambing Perah Peranakan Etawa. Jakarta: Penebar Swadaya. Setyowati D. 2001. Prospek Pengembangan Usaha Ternak Kambing Perah Peranakan Etawa [skripsi]. Bogor: Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Siregar, M. dan N. Ilham. 2003. Upaya Peningkatan Efisiensi Usahaternak Ditinjau dari Aspek Agribisnis yang Berdaya Saing. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor. Soeharto, Iman. 1999. Manajemen Proyek.. Jakarta: Erlangga Stani, Dewintha. (2009). Analisis Stuktur Biaya Usaha Ternak Kambing Perah (Kasusu: Tiga Skala Pengusahaan di Kabupaten Bogor). [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor. Subagyo, A. 2007. Studi Kelayakan. Jakarta: Elex Media Komputindo. Sodik, A. Dan Abidin, Z. 2008. meningkatkan produksi susu kambing peranakan etawa. Jakarta: Agromedia Pustaka. Sutama I K , et al. 2007. Budidaya Kambing Perah. Direktorat Budidaya Ternak Rumenansia. Direktorat Jendral Peternakan. Departemen Pertanian. Jakarta Sutama I-K. 2007. Petunjuk Teknis Beternak Kambing Perah. Bogor: Penelitian Ternak. Balai

Sutama I-K. dan Budiarsana. I-G M. 1997. Kambing Peranakan Etawa Penghasil Susu Sebagai Sumber Pertumbuhan Baru Subsektor Peternakan di Indonesia. Bogor: Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Balai Penelitian Ternak. Umar H. 2005. Studi Kelayakan Bisnis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Kuisoner 1) Identitas Perusahaan : 1. Nama perusahaan 2. Pemilik perusahaan 3. Tanggal berdiri 4. Sumber modal 5. Status perusahaan 6. alamat perusahaan

: : : : : :

2) Biaya Investasi :  Bangunan
No. Uraian Jumlah/luas (m2) Harga satuan (Rp) Nilai (Rp) Umur ekonomis

1 2 3 4 5

Jumlah kandang Luas kandang Biaya pembuatan/sewa Daya tampung kandang …


No. 1 2 3 4

Lahan
Uraian Luas lahan Beli/sewa … Jumlah/luas (m2) Harga satuan (Rp) Nilai (Rp) Umur ekonomis


No. 1 2 3 4 5

Peralatan
Uraian Mesin air Cangkul Parang Ember Freezer Jumlah Harga satuan (Rp) Nilai (Rp) Umur ekonomis

Lanjutan Lampiran 1 3) Biaya oprasional  Benih/induk kambing
No. 1 2 3 4 5 Jantan Betina ….. Uraian Jumlah (ekor) Harga satuan (Rp) Nilai (Rp) Umur ekonomis


No. 1 2 3 4

Pakan dan Konsentrat
Uraian Ampas tempe/tahu Onggok Dedak Mineral …. Jumlah (kg) Harga satuan (Rp) Nilai (Rp) Umur ekonomis


No. 1 2 3 4

Obat-obatan dan vitamin
Uraian Jumlah Harga satuan (Rp) Nilai (Rp)

Ipomex …….


No. 1 2 3 4

Transportasi
Uraian Jumlah Harga satuan (Rp) Nilai (Rp) Umur ekonomis

Jenis kendaraan Jumlah Sewa/beli ……

Lanjutan Lampiran 1 4) Aspek pasar :  Tujuan pasar susu kambing  Berapa jumlah permintaan pasar  Bagaimana persaingan yang dihadapi perusahaan  Perbandingan harga dengan pesaing  Jumlah pesaing  Lainnya… 5) Aspek teknis :  Lokasi proyek  Jenis kandang  Peralatan  Pemeliharaan kambing PE  Transportasi  Panen  Lainnya… 6) Aspek manajemen  Badan hukum  Struktur organisasi  Penyediaan tenaga kerja  Sistem pembagian kerja  Lainnya…

7) Aspek sosial  Dampak usaha terhadap masyarakat  Dampak usaha terhadap lingkungan  Reaksi masyarakat terhadap usaha yang dijalankan  Lainnya…

Lampiran 2. Estimasi Perkembangan Populasi dan Produksi Kambing PE (Skenario I)
No. Keterangan 1 induk (ekor) a. jantan b. betina c. penambhn induk betina kawin (ekor) bunting (bulan) kelahiran anak kambing (ekor) a. jantan b. betina jumlah kambing laktasi (ekor) masa kering (ekor) produksi susu (liter) kebutuhan pakan (kg/liter) a. ampas kedelai b. konsentrat c. susu sapi kebutuhan kemasan (kantong) penjualan anak (ekor) a. jantan b. betina 1,037 1,037 1,037 1,037 1,037 1,037 59 5 54 0 2 59 5 54 0 3 59 5 54 0 4 59 5 54 0 5 59 5 54 0 Tahun ke 1 (bulan) 6 7 59 59 5 5 54 54 0 0

8 59 5 54 0

9 59 5 54 0

10 59 5 54 35

11 94 5 89 0

12 94 5 89 0 54

2 3 4

1

2

3

4

5 51 16 35 54 54 54 54 54 54 54

5 6 7 8

5,310 885

5,310 885

5,310 885

5,310 885

5,310 885

5,310 885 1,154 5,184

5,310 885 1,154 5,184

5,310 885 1,154 5,184

5,310 885

5,310 885

8,481 1,414

8,481 1,414

9 10

5,184

5,184 16 16 0

5,184

Lanjutan Lampiran 2
Tahun Ke 2 (bulan) 1 94 5 89 0 2 94 5 89 0 3 94 5 89 0 4 94 5 89 0 5 94 5 89 0 6 94 5 89 0 35 1 2 3 4 5 51 16 35 54 54 54 54 54 54 1 2 3 4 5 33 10 23 35 54 1,037 1,037 1,037 1,037 1,037 1,037 672 7 94 5 89 0 8 94 5 89 0 9 94 5 89 0 10 94 5 89 0 11 94 5 89 0 12 94 5 89 0 54

8,481 1,414

8,481 1,414

8,481 1,414

8,481 1,414

8,481 1,414

8,481 1,414 1,154 5,184

8,481 1,414 1,154 5,184

8,481 1,414 1,154 5,184

8,481 1,414

8,481 1,414

8,481 1,414

8,481 1,414 743

5,184

5,184 45 16 29

5,184

3,360

Lanjutan Lampiran 2
Tahun ke 3 (bulan) 1 94 5 89 0 2 94 5 89 0 3 94 5 89 0 4 94 5 89 0 5 94 5 89 6 6 100 5 95 0 35 1 2 3 4 5 51 16 35 35 54 672 672 672 672 672 35 35 35 35 54 35 1,037 54 35 1,037 1,037 1,037 1,037 1,037 54 54 54 54 1 2 3 4 5 33 10 23 35 54 672 7 100 5 95 0 8 100 5 95 0 9 100 5 95 0 10 100 5 95 11 100 5 95 0 12 100 5 95 0 60

8,481 1,414 743 3,360

8,481 1,414 743 3,360

8,481 1,414

8,481 1,414

8,481 1,414

9,021 1,504 1,154

9,021 1,504 1,154 5,184

9,021 1,504 1,154 5,184

9,021 1,504

9,021 1,504

9,021 1,504

9,021 1,504 743

3,360

3,360 33 10 23

3,360

5,184

5,184

5,184 51 16 35

5,184

3,360

Lanjutan Lampiran 2
Tahun ke 4 (bulan) 1 100 5 95 0 2 100 5 95 0 3 100 5 95 0 4 100 5 95 0 5 100 5 95 0 6 100 5 95 0 35 1 2 3 4 5 57 18 39 35 54 672 672 672 672 672 35 35 35 35 60 35 1,152 60 35 1,152 1,152 1,152 1,152 1,152 60 60 60 60 1 2 3 4 5 33 10 23 35 60 672 7 100 5 95 0 8 100 5 95 0 9 100 5 95 0 10 100 5 95 0 11 100 5 95 0 12 100 5 95 0 60

9,021 1,504 743 3,360

9,021 1,504 743 3,360

9,021 1,504

9,021 1,504

9,021 1,504

9,021 1,504 1,283

9,021 1,504 1,283 5,760

9,021 1,504 1,283 5,760

9,021 1,504

9,021 1,504

9,021 1,504

9,021 1,504 743

3,360

3,360 33 10 23

3,360

5,760

5,760

5,760 57 18 39

5,760

3,360

Lanjutan Lampiran 2
Tahun ke 5 (bulan) 7 100 100 5 5 95 95 0 0 35 1 2 3 4 5 57 18 39 35 60 672 672 672 672 672 35 35 35 35 60 35 1,152 60 35 1,152 1,152 1,152 1,152 1,152 60 60 60 60 1 2 3 4 5 33 10 23 35 60 672

1 100 5 95 0

2 100 5 95 0

3 100 5 95 0

4 100 5 95 0

5 100 5 95 0

6

8 100 5 95 0

9 100 5 95 0

10 100 5 95 0

11 100 5 95 0

12 100 5 95 0

9,021 1,504 743 3,360

9,021 1,504 743 3,360

9,021 1,504

9,021 1,504

9,021 1,504

9,021 1,504 1,283 5,760

9,021 1,504 1,283 5,760

9,021 1,504 1,283 5,760

9,021 1,504

9,021 1,504

9,021 1,504

9,021 1,504 743 3,360

3,360

3,360 33 10 23

3,360

5,760

5,760 57 18 39

5,760

Lampiran 3. Biaya Investasi, Penyusutan dan Nilai Sisa Usaha Peternakan Unggul
no. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Komponen biaya Lahan instalasi listrik Kandang Mess Sumur timba Freezer Shiler timbangan mesin air selang Kambing kolam Drum Garpu Cangkul Arit Ember Gelas ukur Sepatu boot Total Satuan meter unit unit unit unit unit unit unit unit meter ekor unit unit unit unit unit unit unit unit Jumlah 2570 1 1 1 1 2 1 1 1 20 59 2 15 1 1 2 10 2 3 Harga satuan (Rp) 27,000 2,000,000 35,000,000 5,000,000 1,000,000 4,000,000 200,000 250,000 1,500,000 6,000 2,250,000 5,000,000 100,000 80,000 50,000 30,000 10,000 25,000 50,000 Jumlah biaya (Rp) 69,390,000 2,000,000 35,000,000 5,000,000 1,000,000 8,000,000 200,000 250,000 1,500,000 120,000 132,750,000 5,000,000 1,500,000 80,000 50,000 60,000 100,000 50,000 150,000 262,200,000 10 10 10 10 5 5 5 5 5 5 5 5 5 3 3 2 2 2 200,000 3,500,000 500,000 100,000 1,600,000 40,000 50,000 300,000 24,000 26,550,000 1,000,000 300,000 16,000 16,667 20,000 50,000 25,000 75,000 34,366,667 Umur ekonomis (Thn) Penyusutan per tahun(Rp) Nilai sisa 69,390,000 1,000,000 17,500,000 2,500,000 500,000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 16,667 20,000 50,000 25,000 75,000 91,076,667

Lampiran 4. Rincian Biaya Variabel Usaha Peternakan Unggul
no. Komponen Biaya Satuan Biaya per unit (Rp) 1 1 Pakan a. Ampas tempe b. Konsentrat c. susu sapi 2 Obat-obatan a. Ipomex b. Vitamin 3 4 Transportasi Perlengkapan a. Kain lap b. Sapu lidi c. Saringan 5 Kemasan susu unit unit unit kantong 10,000 15,000 15,000 1,450 ekor ekor unit 11,017 2,034 300,000 kg kg liter 150 1337 5,000 43,435,311 10,509,345 15,612,216 17,313,750 770,006 650,000 120,006 28,800,000 40,000 10,000 15,000 15,000 45,100,800 2 54,689,863 10,985,018 22,678,595 21,026,250 1,226,789 1,035,593 191,196 28,800,000 65,000 20,000 15,000 30,000 49,972,800 Tahun 3 63,432,845 11,460,690 23,520,905 28,451,250 1,226,789 1,035,593 191,196 43,200,000 90,000 30,000 30,000 30,000 79,344,000 4 66,433,918 11,936,363 24,122,555 30,375,000 1,305,095 1,101,695 203,400 43,200,000 120,000 30,000 30,000 60,000 79,344,000 5 66,909,590 12,412,035 24,122,555 30,375,000 1,305,095 1,101,695 203,400 43,200,000 120,000 30,000 30,000 60,000 79,344,000

Total biaya variabel

118,146,117

134,754,452

187,293,634

190,403,013

190,878,685

Lampiran 5. Laba Rugi Skenario 1
No. A. INFLOW 1 2 3 Penerimaan susu Penjualan Anak kambing Ternak afkir Total inflow B. OUTFLOW II. Biaya Operasional a. Biaya Tetap 1 2 2 3 4 5 Gaji pimpinan Gaji karyawan Listrik PBB Promosi penyusutan Total Biaya Tetap b. Biaya Variabel 1 2 3 4 5 Pakan Obat-obatan Transportasi Perlengkapan Kemasan susu Total Biaya Variabel Total out flow laba sebelum bunga dan pajak biaya bunga laba sebelum pajak pajak pendapatan usaha laba bersih 24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 34,366,667 86,486,667 43,435,311 770,006 28,800,000 40,000 45,100,800 118,146,117 204,632,784 52,199,216 18,354,000 33,845,216 3,384,522 30,460,695 24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 34,366,667 86,486,667 54,689,863 1,226,789 28,800,000 65,000 49,972,800 134,754,452 221,241,118 79,870,882 15,577,342 64,293,540 7,144,031 57,149,509 24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 34,366,667 86,486,667 63,432,845 1,226,789 43,200,000 90,000 79,344,000 187,293,634 273,780,301 184,131,699 12,411,951 171,719,748 34,015,924 137,703,823 24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 34,366,667 86,486,667 66,433,918 1,305,095 43,200,000 120,000 79,344,000 190,403,013 276,889,679 212,070,321 8,803,406 203,266,914 43,480,074 159,786,840 24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 34,366,667 86,486,667 66,909,590 1,305,095 43,200,000 120,000 79,344,000 190,878,685 277,365,352 361,594,648 4,689,665 356,904,983 89,571,495 267,333,488 248,832,000 8,000,000 256,832,000 275,712,000 25,400,000 301,112,000 410,112,000 47,800,000 457,912,000 437,760,000 51,200,000 488,960,000 437,760,000 51,200,000 150,000,000 638,960,000 Uraian 1 2 3 4 5

Lampiran 6. Cashflow Skenario I (Modal Sendiri dan Pinjaman )
No. 1 2 3 4 5 Uraian A. INFLOW Penerimaan susu Penjualan Anak kambing Pinjaman penjualan ternak afkir Nilai sisa Total inflow B. OUTFLOW I. Investasi Lahan Instalasi listrik Kandang Mess Sumur timba Freezer sealer Timbangan Mesin air Selang Kambing Kolam Drum Garpu Cangkul Arit Ember Gelas ukur Sepatu boot total investasi II. Biaya Operasional a. Biaya Tetap Gaji pimpinan Gaji karyawan Listrik PBB 1 248,832,000 8,000,000 131,100,000 2 275,712,000 25,400,000 3 410,112,000 47,800,000 4 437,760,000 51,200,000 5 437,760,000 51,200,000 150,000,000 91,076,667 730,036,667

387,932,000

301,112,000

457,912,000

488,960,000

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

69,390,000 2,000,000 35,000,000 5,000,000 1,000,000 8,000,000 200,000 250,000 1,500,000 120,000 132,750,000 5,000,000 1,500,000 80,000 50,000 60,000 100,000 50,000 150,000 262,200,000

50,000 60,000 100,000 50,000 150,000 300,000 100,000 50,000 150,000 300,000

0

110,000

1 2 2 3

24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000

24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000

24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000

24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000

24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000

4 5

1 2 3 4 5 6

Promosi Angsuran Total Biaya Tetap b. Biaya Variabel Pakan Obat-obatan Transportasi Perlengkapan Kemasan susu pajak pendapatan usaha Total Biaya Variabel Total out flow Net Benefit DF 14 % PV per Tahun NPV IRR PV Positif PV Negatif N B/C Manfaat bersih rata-rata /tahun PBP

2,000,000 38,187,273 90,307,273 43,435,311 770,006 28,800,000 40,000 45,100,800 3,384,522 121,530,638 474,037,911 -86,105,911 0.8772 -75,531,501 359,966,477 127% 435,497,978 -75,531,501 5.77 130,486,871.05 2.01

2,000,000 38,187,273 90,307,273 54,689,863 1,226,789 28,800,000 65,000 49,972,800 7,144,031 141,898,483 232,205,756 68,906,244 0.7695 53,021,117

2,000,000 38,187,273 90,307,273 63,432,845 1,226,789 43,200,000 90,000 79,344,000 34,015,924 221,309,559 311,916,832 145,995,168 0.6750 98,542,580

2,000,000 38,187,273 90,307,273 66,433,918 1,305,095 43,200,000 120,000 79,344,000 43,480,074 233,883,087 324,300,360 164,659,640 0.5921 97,491,725

2,000,000 38,187,273 90,307,273 66,909,590 1,305,095 43,200,000 120,000 79,344,000 89,571,495 280,450,180 371,057,453 358,979,214 0.5194 186,442,555

Lampiran 7. Switching Value Penurunan Harga Susu 30,16 % (Skenario 1)
No. A. INFLOW 1 2 3 4 5 Penerimaan susu Penjualan Anak kambing Pinjaman penjualan ternak afkir Nilai sisa Total inflow B. OUTFLOW I. Investasi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Lahan Instalasi listrik Kandang Mess Sumur timba Freezer sealer Timbangan Mesin air Selang Kambing Kolam Drum Garpu Cangkul Arit Ember Gelas ukur Sepatu boot Total investasi 69,390,000 2,000,000 35,000,000 5,000,000 1,000,000 8,000,000 200,000 250,000 1,500,000 120,000 132,750,000 5,000,000 1,500,000 80,000 50,000 60,000 100,000 50,000 150,000 262,200,000 0 100,000 50,000 150,000 300,000 110,000 50,000 60,000 100,000 50,000 150,000 300,000 312,900,873 217,975,659 334,249,587 356,960,795 173,800,873 8,000,000 131,100,000 150,000,000 91,076,667 598,037,462 192,575,659 25,400,000 286,449,587 47,800,000 305,760,795 51,200,000 305,760,795 51,200,000 Uraian 1 2 3 4 5

II. Biaya Operasional a. Biaya Tetap 1 2 3 4 5 6 Gaji pimpinan Gaji karyawan Listrik PBB Promosi Angsuran Total Biaya Tetap b. Biaya Variabel 1 2 3 4 5 6 Pakan Obat-obatan Transportasi Perlengkapan Kemasan susu pajak pendapatan usaha Total Biaya Variabel Total out flow Net Benefit DF 14 % PV per Tahun NPV IRR PV Positif PV Negatif N B/C Manfaat bersih rata-rata /tahun PBP 43,435,311 770,006 28,800,000 40,000 45,100,800 3,384,522 121,530,638 474,037,911 -161,137,038 0.8772 -141,348,279 0 14% 152,297,877 -152,297,877 1.00 21,321,212.80 12.30 54,689,863 1,226,789 28,800,000 65,000 49,972,800 7,144,031 141,898,483 232,205,756 -14,230,097 0.7695 -10,949,598 63,432,845 1,226,789 43,200,000 90,000 79,344,000 34,015,924 221,309,559 311,916,832 22,332,755 0.6750 15,073,974 66,433,918 1,305,095 43,200,000 120,000 79,344,000 43,480,074 233,883,087 324,300,360 32,660,435 0.5921 19,337,600 66,909,590 1,305,095 43,200,000 120,000 79,344,000 89,571,495 280,450,180 371,057,453 226,980,009 0.5194 117,886,304 24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 38,187,273 90,307,273 24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 38,187,273 90,307,273 24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 38,187,273 90,307,273 24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 38,187,273 90,307,273 24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 38,187,273 90,307,273

Lampiran 8. Cashflow Switching Value Kenaikan Biaya Variabel 55,43 % (Skenario 1)
no. 1 2 3 4 5 Uraian A. INFLOW Penerimaan susu Penjualan Anak kambing Pinjaman penjualan ternak afkir Nilai sisa Total inflow B. OUTFLOW I. Investasi Lahan Instalasi listrik Kandang Mess Sumur timba Freezer sealer Timbangan Mesin air Selang Kambing Kolam Drum Garpu Cangkul Arit Ember Gelas ukur Sepatu boot Total investasi 1 248,832,000 8,000,000 131,100,000 2 275,712,000 25,400,000 3 410,112,000 47,800,000 4 437,760,000 51,200,000 5 437,760,000 51,200,000 150,000,000 91,076,667 730,036,667

387,932,000

301,112,000

457,912,000

488,960,000

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

69,390,000 2,000,000 35,000,000 5,000,000 1,000,000 8,000,000 200,000 250,000 1,500,000 120,000 132,750,000 5,000,000 1,500,000 80,000 50,000 60,000 100,000 50,000 150,000 262,200,000

50,000 60,000 100,000 50,000 150,000 300,000 100,000 50,000 150,000 300,000

0

110,000

1 2 2 3 4 5

1 2 3 4 5 6

II. Biaya Operasional a. Biaya Tetap Gaji pimpinan Gaji karyawan Listrik PBB Promosi Angsuran Total Biaya Tetap b. Biaya Variabel Pakan Obat-obatan Transportasi Perlengkapan Kemasan susu pajak pendapatan usaha Total Biaya Variabel Total out flow Net Benefit DF 14 % PV per Tahun NPV IRR PV Positif PV Negatif N B/C Manfaat bersih rata-rata /tahun PBP

24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 38,187,273 90,307,273 43,435,311 770,006 28,800,000 40,000 45,100,800 3,384,522 188,905,755 541,413,028 -153,481,028 0.8772 -134,632,481 0 14% 142,142,913 -142,142,914 1.00 19,712,189.83 13.30

24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 38,187,273 90,307,273 54,689,863 1,226,789 28,800,000 65,000 49,972,800 7,144,031 220,565,286 310,872,559 -9,760,559 0.7695 -7,510,433

24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 38,187,273 90,307,273 63,432,845 1,226,789 43,200,000 90,000 79,344,000 34,015,924 344,000,902 434,608,175 23,303,825 0.6750 15,729,418

24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 38,187,273 90,307,273 66,433,918 1,305,095 43,200,000 120,000 79,344,000 43,480,074 363,545,042 453,962,315 34,997,685 0.5921 20,721,439

24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 38,187,273 90,307,273 66,909,590 1,305,095 43,200,000 120,000 79,344,000 89,571,495 435,928,368 526,535,641 203,501,025 0.5194 105,692,056

Lampiran 9. Estimasi Perkembangan Populasi dan Produksi Kambing PE (Skenario II)
no. 1 Keterangan 1 induk (ekor) a. jantan b. betina c. penambhn induk betina kawin (ekor) Bunting (bulan) kelahiran anak kambing a. jantan b. betina jumlah kambing laktasi masa kering produksi susu (liter) kebutuhan pakan (kg/liter) a. ampas kedelai b. konsentrat c. susu sapi kebutuhan kemasan (kantong) penjualan anak a. jantan b. betina 384 384 384 384 384 384 21 1 20 0 2 21 1 20 0 3 21 1 20 0 4 21 1 20 0 5 21 1 20 0 6 21 1 20 0 1 (Bulan) 7 21 1 20 0 8 21 1 20 0 9 21 1 20 0 10 21 1 20 0 11 21 1 20 0 12 36 3 20 13 20

2 3 4

1

2

3

4

5 19 6 13 20 20 20 20 20 20 @

5 6 7 8

1,890 315

1,890 315

1,890 315

1,890 315

1,890 315

1,890 315 428 1,920

1,890 315 428 1,920

1,890 315 428 1,920

1,890 315

1,890 315

1,890 315

3,240 540

9 10

1,920

1,920 5 5 0

1,920

Lanjutan Lampiran 9.
1 36 3 33 0 2 36 3 33 0 3 36 3 33 0 4 36 3 33 0 5 36 3 33 0 13 1 2 3 4 5 1 19 6 13 20 @ 384 384 384 384 384 629 20 20 20 20 2 3 4 5 13 4 9 33 @ 245 13 Tahun ke 2 (Bulan) 6 7 36 49 3 3 33 33 0 13 8 49 3 46 0 9 49 3 46 0 10 49 3 46 0 11 49 3 46 0 12 49 3 46 0 20

3,240 540

3,240 540

3,240 540

3,240 540

3,240 540

3,240 540 428 1,920

4,411 735 428 1,920

4,411 735 428 1,920

4,411 735

4,411 735

4,411 735 287 3,145

4,411 735 287 1,225

1,920

1,920 6 6 0

Lanjutan Lampiran 9.

1 49 3 46 0

2 49 3 46 0

3 49 3 46 0

4 49 3 46 0

5 49 3 46 0 13

Tahun ke 3 (Bulan) 6 7 49 50 3 3 46 46 0 1

8 50 3 47 0

9 50 3 47 0

10 50 3 47 0

11 50 3 47 0

12 50 3 47 0 20

1

2

3

4

5

1 19 6 13

2

3

4

5 12 4 8

13 @ 245

13

13

13 @ @

20

20

20

20

20

33 @

13

245

245

245

384

384

384

384

384

634

250

4,411 735 287

4,411 735

4,411 735

4,411 735

4,411 735

4,411 735 428 1,920

4,501 750 428 1,920

4,501 750 428 1,920

4,501 750

4,501 750

4,501 750 278 3,169

4,501 750 278 1,249

1,920

1,920 18 6 12

13 4 9

Lanjutan Lampiran 9.

1 50 3 47 0

2 50 3 47 0

3 50 3 47 0

4 50 3 47 0

5 50 3 47 0 14

Tahun ke 4 (Bulan) 6 7 50 3 47 0

8 50 3 47 0 50 3 47 0

9 50 3 47 0

10 50 3 47 0

11 50 3 47 0

12 50 3 47 0 20

1

2

3

4

5

1 19 6 13

2

3

4

5 13 4 9

13 @ 250

13

13

13 @ @

20

20

20

20

20

33 @

33

250

250

250

384

384

384

384

384

640

640

4,501 750 278

4,501 750

4,501 750

4,501 750

4,501 750

4,501 750 428 1,920

4,501 750 428 1,920

4,501 750 428 1,920

4,501 750

4,501 750

4,501 750 300 3,198

4,501 750 300 3,198

1,920

1,920 19 6 13

12 4 8

Lanjutan Lampiran 9.

1 50 3 47 0

2 50 3 47 0

3 50 3 47 0

4 50 3 47 0

5 50 3 47 0 14

Tahun ke 5 (Bulan) 6 7 50 50 3 3 47 47 0 0

8 50 3 47 0

9 50 3 47 0

10 50 3 47 0

11 50 3 47 0

12 50 3 47 0 20

1

2

3

4

5

1 19 6 13

2

3

4

5 13 4 9

33 @ 640

14

14

14 @ @

20

20

20

20

20

33 @

14

269

269

269

384

384

384

384

384

640

269

4,501 750 300

4,501 750

4,501 750

4,501 750

4,501 750

4,501 750 428 1,920

4,501 750 428 1,920

4,501 750 428 1,920

4,501 750

4,501 750

4,501 750 300 3,198

4,501 750 300 1,345

1,920

1,920 19 6 13

13 4 9

Lampiran 10. Biaya Investasi, Penyusutan dan Nilai Sisa Usaha Peternakan Unggul modal sendiri (skenario II)

no. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

Komponen biaya Lahan instalasi listrik Kandang Mess Sumur timba Freezer Sealer timbangan mesin air selang Kambing kolam Drum Garpu Cangkul Arit Ember Gelas ukur Sepatu boot Total

Satuan meter unit unit unit unit unit unit unit unit meter ekor unit unit unit unit unit unit unit unit

Jumlah 1300 1 1 1 1 2 1 1 1 20 21 2 15 1 1 2 10 2 3

Harga satuan (Rp) 27,000 2,000,000 17,500,000 5,000,000 1,000,000 4,000,000 200,000 250,000 1,500,000 6,000 2,250,000 5,000,000 100,000 80,000 50,000 30,000 10,000 25,000 50,000

Jumlah biaya (Rp) 35,100,000 2,000,000 17,500,000 5,000,000 1,000,000 8,000,000 200,000 250,000 1,500,000 120,000 47,250,000 5,000,000 1,500,000 80,000 50,000 60,000 100,000 50,000 150,000 124,910,000

Umur ekonomis (Thn) 10 10 10 10 5 5 5 5 5 5 5 5 5 3 3 2 2 2

Penyusutan per tahun(Rp) 200,000 1,750,000 500,000 100,000 1,600,000 40,000 50,000 300,000 24,000 9,450,000 1,000,000 300,000 16,000 16,667 20,000 50,000 25,000 75,000 15,516,667

Nilai sisa 35,100,000 1,000,000 17,500,000 2,500,000 500,000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 16,667 20,000 50,000 25,000 75,000 56,786,667

Lampiran 11. Estimasi Penerimaaan usaha peternakan unggul Skenario II

Keterangan Produksi susu (liter) Penjualan susu (Rp) Penjualan anak kambing (ekor) Jantan Betina Penjualan anak kambng (Rp) Jantan Betina Nilai sisa Ternak afkir Total penerimaan

1 2,304 92,160,000 5 5 0 2,500,000 2,500,000 0

2 2,304 92,160,000 6 6 0 3,600,000 3,600,000 0

Tahun 3 2,794 111,760,000 31 10 21 17,600,000 5,000,000 12,600,000

4 3,039 121,560,000 31 10 21 17,600,000 5,000,000 12,600,000

5 3,284 131,360,000 32 10 22 18,200,000 5,000,000 13,200,000 56,786,667 75,000,000

94,660,000

95,760,000

129,360,000

139,160,000

281,346,667

Lampiran 12. Rincian Biaya variabel skenario II

No. 1

Komponen Biaya Pakan a. Ampas tempe b. Konsentrat c. susu sapi

Satuan

Biaya per unit (Rp) 1 7,117,155 2 26,400,695 6,886,215 10,229,855 9,284,625 469,834 396,610 73,224 28,800,000 65,000 20,000 15,000 30,000 20,257,776 75,993,305

Tahun 3 28,881,804 8,021,430 10,229,855 10,630,519 652,547 550,847 101,700 15,000,000 90,000 30,000 30,000 30,000 20,327,376 64,951,727 4 30,769,559 8,102,430 12,036,610 10,630,519 652,547 550,847 101,700 43,200,000 120,000 30,000 30,000 60,000 23,194,687 97,936,793 5 31,045,099 8,102,430 12,036,610 10,906,059 652,547 550,847 101,700 43,200,000 120,000 30,000 30,000 60,000 20,508,232 95,525,878

kg kg liter ekor ekor unit unit unit unit kantong

150 1337 5,000 11,017 2,034 300,000 10,000 15,000 15,000 1,450

283,500 421,155 6,412,500 274,070 231,356 42,714 28,800,000 40,000 10,000 15,000 15,000 16,704,000 52,935,225

2

Obat-obatan a. Ipomex b. Vitamin

3 4

Transportasi Perlengkapan a. Kain lap b. Sapu lidi c. Saringan

5

Kemasan susu Total biaya variabel

Lampiran 13 cash flow Skenario II (Modal Sendiri )

No. 1 2 3 4 5

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

1 2 3 4 5

Uraian A. INFLOW Penerimaan susu Penjualan Anak kambing Modal sendiri Penjualan ternak afkir Nilai sisa Total inflow B. OUTFLOW I. Investasi Lahan Instalasi listrik Kandang Mes Sumur timba Freezer Sealer Timbangan Mesin air Selang Kambing Kolam Drum Garpu Cangkul Arit Ember Gelas ukur Sepatu boot total investasi II. Biaya Operasional a. Biaya Tetap Gaji pimpinan Gaji karyawan Listrik PBB Promosi Total Biaya Tetap b. Biaya Variabel

1 92,160,000 2,500,000 124,910,000

2 92,160,000 3,600,000

3 111,760,000 17,600,000

4 121,560,000 17,600,000

5 131,360,000 18,200,000 75,000,000 56,786,667 281,346,667

219,570,000

95,760,000

129,360,000

139,160,000

35,100,000 2,000,000 17,500,000 5,000,000 1,000,000 8,000,000 200,000 250,000 1,500,000 120,000 47,250,000 5,000,000 1,500,000 80,000 50,000 60,000 100,000 50,000 150,000 124,910,000

50,000 60,000 100,000 50,000 150,000 300,000 100,000 50,000 150,000 300,000

0

110,000

24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 52,120,000

24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 52,120,000

24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 52,120,000

24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 52,120,000

24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 52,120,000

1 2 3 4 5 6

Pakan Obat-obatan Transportasi Perlengkapan Kemasan susu pajak pendapatan usaha Total Biaya Variabel Total out flow Net Benefit DF 7 % PV per Tahun NPV IRR PV Positif PV Negatif N B/C Manfaat bersih rata-rata /tahun PBP

7,117,155 274,070 28,800,000 40,000 16,704,000 0 52,935,225 229,965,225 -10,395,225 0.9346 -28,258,630 57,872,694 44% 104.243.517 -64.914.289 1,61 18,142,900.26 6.88

26,400,695 469,834 28,800,000 65,000 20,257,776 0 75,993,305 128,113,305 -32,353,305 0.8734 -28,258,630

28,881,804 652,547 15,000,000 90,000 20,327,376 0 64,951,727 117,371,727 11,988,273 0.8163 9,786,002

30,769,559 652,547 43,200,000 120,000 23,194,687 0 97,936,793 150,166,793 -11,006,793 0.7629 -8,397,030

31,045,099 652,547 43,200,000 120,000 20,508,232 919,237 96,445,115 148,865,115 132,481,552 0.7130 94,457,515

Tabel Lampiran 14. Rugi Laba skenario II no. 1 2 3 Uraian A. INFLOW Penerimaan Susu Penjualan Anak Kambing Ternak afkir Total inflow B. OUTFLOW II. Biaya Operasional a. Biaya Tetap Gaji Pimpinan Gaji Karyawan Listrik PBB Promosi Penyusutan Total Biaya Tetap b. Biaya Variabel Pakan Obat-obatan Transportasi Perlengkapan Kemasan susu Total Biaya Variabel Total out flow Laba Sebelum Pajak Pajak Pendapatan Usaha Laba Bersih 1 92,160,000 2,500,000 94,660,000 2 92,160,000 3,600,000 95,760,000 3 111,760,000 17,600,000 129,360,000 4 121,560,000 17,600,000 139,160,000 5 131,360,000 18,200,000 75,000,000 224,560,000

1 2 3 4 5 6

24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 15,516,667 67,636,667

24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 15,516,667 67,636,667

24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 15,516,667 67,636,667

24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 15,516,667 67,636,667

24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 15,516,667 67,636,667

1 2 3 4 5

7,117,155 274,070 28,800,000 40,000 16,704,000 52,935,225 120,571,892 -25,911,892 0 -25,911,892

26,400,695 469,834 28,800,000 65,000 20,257,776 75,993,305 143,629,972 -47,869,972 0 -47,869,972

28,881,804 652,547 15,000,000 90,000 20,327,376 64,951,727 132,588,394 -3,228,394 0 -3,228,394

30,769,559 652,547 43,200,000 120,000 23,194,687 97,936,793 165,573,460 -26,413,460 0 -26,413,460

31,045,099 652,547 43,200,000 120,000 20,508,232 95,525,878 163,162,545 61,397,455 919,237 60,478,219

Lampiran 15. Penurunan Harga Susu 13,03 % (Skenario II)
no. 1 2 3 4 5 Uraian A. INFLOW Penerimaan susu Penjualan Anak kambing Modal sendiri Penjualan ternak afkir Nilai sisa Total inflow B. OUTFLOW I. Investasi Lahan Instalasi listrik Kandang Mess Sumur timba Freezer Sealer Timbangan Mesin air Selang Kambing Kolam Drum Garpu Cangkul Arit Ember Gelas ukur Sepatu boot total investasi II. Biaya Operasional a. Biaya Tetap Gaji pimpinan Gaji karyawan Listrik PBB Promosi Total Biaya Tetap 1 80,154,315 2,500,000 124,910,000 2 80,154,315 3,600,000 3 97,201,022 17,600,000 4 105,724,376 17,600,000 5 114,247,730 18,200,000 75,000,000 56,786,667 264,234,396

207,564,315

83,754,315

114,801,022

123,324,376

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

35,100,000 2,000,000 17,500,000 5,000,000 1,000,000 8,000,000 200,000 250,000 1,500,000 120,000 47,250,000 5,000,000 1,500,000 80,000 50,000 60,000 100,000 50,000 150,000 124,910,000

50,000 60,000 100,000 50,000 150,000 300,000 100,000 50,000 150,000 300,000

0

110,000

1 2 3 4 5

24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 52,120,000

24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 52,120,000

24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 52,120,000

24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 52,120,000

24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 52,120,000

1 2 3 4 5 6

b. Biaya Variabel Pakan Obat-obatan Transportasi Perlengkapan Kemasan susu pajak pendapatan usaha Total Biaya Variabel Total out flow Net Benefit DF 7 % PV per Tahun NPV IRR PV Positif PV Negatif N B/C Manfaat bersih rata-rata /tahun PBP

7,117,155 274,070 28,800,000 40,000 16,704,000 0 52,935,225 229,965,225 -22,400,910 0.9346 -38,744,860 0 7% 82,256,703 -100,066,133 1 3,839,251.76 32.53

26,400,695 469,834 28,800,000 65,000 20,257,776 0 75,993,305 128,113,305 -44,358,990 0.8734 -38,744,860

28,881,804 652,547 15,000,000 90,000 20,327,376 0 64,951,727 117,371,727 -2,570,705 0.8163 -2,098,461

30,769,559 652,547 43,200,000 120,000 23,194,687 0 97,936,793 150,166,793 -26,842,417 0.7629 -20,477,952

31,045,099 652,547 43,200,000 120,000 20,508,232 919,237 96,445,115 148,865,115 115,369,282 0.7130 82,256,703

Lampiran 16. Kenaikan Biaya Variabel 18,52 % (Skenario II)
No. 1 2 3 4 5 Uraian A. INFLOW Penerimaan susu Penjualan Anak kambing modal sendiri penjualan ternak afkir Nilai sisa Total inflow B. OUTFLOW I. Investasi Lahan Instalasi listrik Kandang Mess Sumur timba Freezer sealer Timbangan Mesin air Selang Kambing Kolam Drum Garpu Cangkul Arit Ember Gelas ukur Sepatu boot total investasi II. Biaya Operasional a. Biaya Tetap Gaji pimpinan Gaji karyawan Listrik PBB Promosi Total Biaya Tetap 1 92,160,000 2,500,000 124,910,000 2 92,160,000 3,600,000 3 111,760,000 17,600,000 4 121,560,000 17,600,000 5 131,360,000 18,200,000 75,000,000 56,786,667 281,346,667

219,570,000

95,760,000

129,360,000

139,160,000

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

35,100,000 2,000,000 17,500,000 5,000,000 1,000,000 8,000,000 200,000 250,000 1,500,000 120,000 47,250,000 5,000,000 1,500,000 80,000 50,000 60,000 100,000 50,000 150,000 124,910,000

50,000 60,000 100,000 50,000 150,000 300,000 100,000 50,000 150,000 300,000

0

110,000

1 2 3 4 5

24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 52,120,000

24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 52,120,000

24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 52,120,000

24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 52,120,000

24,000,000 24,000,000 2,040,000 80,000 2,000,000 52,120,000

1 2 3 4 5 6

b. Biaya Variabel Pakan Obat-obatan Transportasi Perlengkapan Kemasan susu pajak pendapatan usaha Total Biaya Variabel Total out flow Net Benefit DF 7 % PV per Tahun NPV IRR PV Positif PV Negatif N B/C Manfaat bersih rata-rata /tahun PBP

7,117,155 274,070 28,800,000 40,000 16,704,000 0 62,743,235 239,773,235 -20,203,235 0.9346 -40,556,896 0 7% 81,716,693 -103,392,061 1 3,755,206.34 33.26

26,400,695 469,834 28,800,000 65,000 20,257,776 0 90,073,590 142,193,590 -46,433,590 0.8734 -40,556,896

28,881,804 652,547 15,000,000 90,000 20,327,376 0 76,986,193 129,406,193 -46,193 0.8163 -37,707

30,769,559 652,547 43,200,000 120,000 23,194,687 0 116,082,839 168,312,839 -29,152,839 0.7629 -22,240,561

31,045,099 652,547 43,200,000 120,000 20,508,232 919,237 114,314,778 166,734,778 114,611,889 0.7130 81,716,693

`

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->