ADAB ISLAMI DALAM HUTANG PIUTANG / ‫يف ضرقلا بادآ‬ ‫اإل س المي ال ف قه‬

Posted on Maret 2, 2012 | 2 Komentar

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc

DOA AGAR TERBEBAS DARI HUTANG

Di dalam kehidupan sehari-hari ini, kebanyakan manusia tidak terlepas dari yang namanya hutang piutang. Sebab di antara mereka ada yang membutuhkan dan ada pula yang dibutuhkan. Demikianlah keadaan manusia sebagaimana Allah tetapkan, ada yang dilapangkan rezekinya hingga berlimpah ruah dan ada pula yang dipersempit rezekinya, tidak dapat mencukupi kebutuhan pokoknya sehingga mendorongnya dengan terpaksa untuk berhutang atau mencari pinjaman dari orang-orang yang dipandang mampu dan bersedia memberinya pinjaman.

Dalam ajaran Islam, utang-piutang adalah muamalah yang dibolehkan, tapi diharuskan untuk ekstra hati-hati dalam menerapkannya. Karena utang bisa mengantarkan seseorang ke dalam surga, dan sebaliknya juga menjerumuskan seseorang ke dalam neraka. PENGERTIAN HUTANG PIUTANG: Di dalam fiqih Islam, hutang piutang atau pinjam meminjam telah dikenal dengan istilah Al-Qardh. Makna AlQardh secara etimologi (bahasa) ialah Al-Qath’u yang berarti memotong. Harta yang diserahkan kepada orang yang berhutang disebut Al-Qardh, karena merupakan potongan dari harta orang yang memberikan hutang. (Lihat Fiqh Muamalat (2/11), karya Wahbah Zuhaili) Sedangkan secara terminologis (istilah syar‟i), makna Al-Qardh ialah menyerahkan harta (uang) sebagai bentuk kasih sayang kepada siapa saja yang akan memanfaatkannya dan dia akan mengembalikannya (pada suatu saat) sesuai dengan padanannya. (Lihat Muntaha Al-Iradat (I/197). Dikutip dariMauqif Asy-Syari’ah Min Al-Masharif Al-Islamiyyah Al-Mu’ashirah, karya DR. Abdullah Abdurrahim Al-Abbadi, hal.29). Atau dengan kata lain, Hutang Piutang adalah memberikan sesuatu yang menjadi hak milik pemberi pinjaman kepada peminjam dengan pengembalian di kemudian hari sesuai perjanjian dengan jumlah yang sama. Jika

peminjam diberi pinjaman Rp. 1.000.000 (satu juta rupiah) maka di masa depan si peminjam akan mengembalikan uang sejumlah satu juta juga.

HUKUM HUTANG PIUTANG: Hukum Hutang piutang pada asalnya diperbolehkan dalam syariat Islam. Bahkan orang yang memberikan hutang atau pinjaman kepada orang lain yang sangat membutuhkan adalah hal yang disukai dan dianjurkan, karena di dalamnya terdapat pahala yang besar. Adapun dalil-dalil yang menunjukkan disyariatkannya hutang piutang ialah sebagaimana berikut ini: Dalil dari Al-Qur‟an adalah firman Allah I: “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepadaNya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245) Sedangkan dalil dari Al-Hadits adalah apa yang diriwayatkan dari Abu Rafi‟, bahwa Nabi r pernah meminjam seekor unta kepada seorang lelaki. Aku datang menemui beliau membawa seekor unta dari sedekah. Beliau menyuruh Abu Rafi‟ untuk mengembalikan unta milik lelaki tersebut. Abu Rafi‟ kembali kepada beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah! Yang kudapatkan hanya-lah sesekor unta ruba‟i terbaik?” Beliau bersabda, “Berikan saja kepadanya. Sesungguhnya orang yang terbaik adalah yang paling baik dalam mengembalikan hutang.”(HR. Bukhari dalam Kitab Al-Istiqradh, baba istiqradh Al-Ibil(no.2390), dan Muslim dalam kitab Almusaqah, bab Man Istaslafa Syai-an Fa Qadha Khairan Minhu (no.1600) Nabi r juga bersabda: “Setiap muslim yang memberikan pinjaman kepada sesamanya dua kali, maka dia itu seperti orang yang bersedekah satu kali.” (Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albani di dalam Irwa‟ Al-ghalil Fi Takhrij Ahadits manar As-sabil (no.1389)). Sementara dari Ijma’, para ulama kaum muslimin telah berijma„ tentang disyariatkannya hutang piutang (peminjaman). Adapun hokum berhutang atau meminta pinjaman adalah diperbolehkan, dan bukanlah sesuatu yang dicela atau dibenci, karena Nabi r pernah berhutang. (HR. Bukhari IV/608 (no.2305), dan Muslim VI/38 (no.4086)).

Namun meskipun berhutang atau meminta pinjaman itu diperbolehkan dalam syariat Islam, hanya saja Islam menyuruh umatnya agar menghindari hutang semaksimal mungkin jika ia mampu membeli dengan tunai atau tidak dalam keadaan kesempitan ekonomi. Karena hutang, menurut Rasulullah r, merupakan penyebab kesedihan di malam hari dan kehinaan di siang hari. Hutang juga dapat membahayakan akhlaq, sebagaimana sabda Rasulullah r: “Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka dia sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas memungkiri.” (HR. Bukhari). Rasulullah r pernah menolak menshalatkan jenazah seseorang yang diketahui masih meninggalkan hutang dan tidak meninggalkan harta untuk membayarnya. Rasulullah r bersabda: “Akan diampuni orang yang mati syahid semua dosanya, kecuali hutangnya.” (HR. Muslim).

(QS. Dan di ayat lain. Dalilnya firman Allah I: “Hai orang-orang yang beriman. kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu. dan janganlah penulis dan saksi saling sulit-menyulitkan. III/316). (jika) kamu tidak menulisnya. hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Jika kamu lakukan (yang demikian) maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dengan kata lain.147) .Bagaimana Islam mengatur berhutang-piutang yang membawa pelakunya ke surga dan menghindarkan dari api neraka? Perhatikanlah adab-adabnya di bawah ini: BEBERAPA ADAB ISLAMI DALAM HUTANG PIUTANG: [1]. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan. apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan. “ini merupakan petunjuk dariNya untuk hambaNya yang mukmin. Jika mereka bermu‟amalah dengan transaksi non tunai. Yang demikian itu. dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang ditulis itu). lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. maka tak ada dosa bagi kamu. Tujuannya bukan mencari kompensasi atau keuntungan. dan ijma’ para ulama. hendaklah ditulis. Pemberi hutang atau pinjaman tidak boleh mengambil keuntungan atau manfaat dari orang yang berhutang. Jika tidak ada dua orang lelaki. (Tulislah mu’amalahmu itu). bahwa pinjaman yang berbunga atau mendatangkan manfaat apapun adalah haram berdasarkan Al-Qur‟an. agar lebih terjaga jumlahnya dan waktunya dan lebih menguatkan saksi. Allah Subhanahu wa Ta‟ala telah mengingatkan salah satu ayat : “Hal itu lebih adil di sisi Allah dan memperkuat persaksian dan agar tidak mendatangkan keraguan”. maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai. baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. As-Sunnah. (Lihat Tafsir Al-Quran Al-Azhim. (Lihat AlFatawa Al-Kubra III/146. maka hukumnya riba”. dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. Kaidah fikih berbunyi : “Setiap hutang yang membawa keuntungan. Karena tujuan dari pemberi pinjaman adalah mengasihi si peminjam dan menolongnya. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya. dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Rabbnya. Hutang piutang harus ditulis dan dipersaksikan. Dan bertakwalah kepada Allah . [2]. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli . Allah mengajarmu . Keharaman itu meliputi segala macam bunga atau manfaat yang dijadikan syarat oleh orang yang memberikan pinjaman kepada si peminjam. Ibnu Katsir rahimahullah berkata. dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil. supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Al-Baqarah: 282) Berkaitan dengan ayat ini. maka hendaklah ia menulis. Hal ini terjadi jika salah satunya mensyaratkan atau menjanjikan penambahan.

orang itupun datang menagihnya. kitab Al-Istiqradh. atau karena dorongan darinya tanpa syarat dari yang berhutang ataupun berharap. seperti seseorang mengatakan “saya beri anda hutang dengan syarat dikembalikan dengan tambahan sekian dan sekian. (Lihat Al-Mulakhkhash AlFiqhi. karena kenyataan sering membenarkan sabda Nabi diatas. atau anda hadiahkan kepadaku sesuatu”. Berhutang untuk menutupi hutang yang tidak terbayar b). “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dalam pengembalian (hutang)”. no. II/51). tidak terlarang mengambil tambahan. no. akan tetapi ada keinginan untuk ditambah atau mengharapkan tambahan. Berhutang dengan niat meminta. no. (HR. Nabi (pun) berkata : “Berikan kepadanya”. Shalih Al-Fauzan. atau dengan syarat anda berikan rumah atau tokomu. Semoga Allah I membalas dengan setimpal”. Berhutang dengan niat baik dan akan melunasinya Jika seseorang berhutang dengan tujuan buruk. maka digunakan istilah hutang agar mau memberi. Sebaliknya. adapun jika yang berhutang menambahnya atas kemauan sendiri. maka tatkala itu. Maka Nabi r bersabda. sedangkan beliau mempunyai hutang kepadaku. (HR. Berapa banyak orang yang berhutang dengan niat dan tekad untuk menunaikannya. Syaikh Shalih Al-Fauzan –hafizhahullah. ia berkata: “Nabi mempunyai hutang kepada seseorang. Bukhari. ketika seseorang . (Misalnya). Bukhari. lalu beliau membayarnya dam menambahkannya”. “Engkau telah menunaikannya dengan lebih. ia berkata bahwa Nabi r bersabda: “Barangsiapa yang mengambil harta orang lain (berhutang) dengan tujuan untuk membayarnya (mengembalikannya). [3]. kitab Al-Istiqradh. (yaitu) seekor unta dengan usia tertentu. (Maka) beliaupun berkata. Atau juga dengan tidak dilafadzkan.berkata : “Hendaklah diketahui. Dari Abu Hurairah t. maka dia telah berbuat zhalim dan dosa. tambahan yang terlarang untuk mengambilnya dalam hutang adalah tambahan yang disyaratkan. Bukhari. Kebaikan sepantasnya dibalas dengan kebaikan Dari Abu Hurairah t. Berhutang untuk sekedar bersenang-senang c). 2394) [4]. maka Allah I akan tunaikan untuknya. kitab Al-Wakalah.( HR. Berhutang dengan niat tidak akan melunasinya. Diantara tujuan buruk tersebut seperti: a). d). sehingga bisa terkena ancaman keras baik di dunia maupun di akhirat dari Allah ta‟ala. Karena biasanya jika meminta tidak diberi. akan tetapi mereka tidak menemukan kecuali yang lebih berumur dari untanya. 2387) Hadits ini hendaknya ditanamkan ke dalam diri sanubari yang berhutang. inilah yang terlarang. “Berikan kepadanya” kemudian mereka mencari yang seusia dengan untanya. 2305) Dari Jabir bin Abdullah t ia berkata: “Aku mendatangi Nabi r di masjid. berarti pinjaman berbunga yang diterapkan oleh bank-bank maupun rentenir di masa sekarang ini jelas-jelas merupakan riba yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa mengambilnya untuk menghabiskannya (tidak melunasinya. pent).Dengan dasar itu. Dia pun menjawab. maka AllahI akan membinasakannya”. sehingga Allah pun memudahkan baginya untuk melunasinya.

Sebab orang yang menunda-menunda pelunasan hutang padahal ia telah mampu. Tidak boleh melakukan jual beli yang disertai dengan hutang atau peminjaman Mayoritas ulama menganggap perbuatan itu tidak boleh. Dan At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih”). menyewakan atau menyewa dari orang yang menghutanginya. dan Ajwa satu kelompok. Menggunakan uang pinjaman dengan sebaik mungkin. Beliau r berkata. Diperbolehkan bagi yang berhutang untuk mengajukan pemutihan atas hutangnya atau pengurangan. Abu Daud no. Janganlah berdiam diri atau lari dari si pemberi pinjaman. 2405). An-Nasa‟I VII/288.” (HR. dan kurma masih tersisa seperti tidak disentuh. [8]. [7]. no. yang awalnya sebagai wujud kasih sayang. Akupun mendatangi Nabi r meminta syafaat (bantuan) kepada mereka. tetapi tidak kunjung dapat. Menyadari. Bukhari no. (HR. Bersegera melunasi hutang Orang yang berhutang hendaknya ia berusaha melunasi hutangnya sesegera mungkin tatkala ia telah memiliki kemampuan untuk mengembalikan hutangnya itu. Allah I melelahkan badannya dalam mencari. Karena hal ini termasuk bagian dari menunaikan hak yang menghutangkan. Beliau r pun datang lalu duduk dan menimbang setiap mereka sampai lunas. Abu Dawud dalam Kitab Al-Buyu’. Rasulullah r bersabda: “Tangan bertanggung jawab atas semua yang diambilnya. Bukhari kitab Al-Istiqradh. membeli. hendaklah orang yang berhutang memberitahukan kepada orang yang memberikan pinjaman. 2400. Dari Jabir bin Abdullah t. akan tetapi . (HR. hingga dia menunaikannya”. dan selainnya). akan tetapi mereka enggan. Yakni agar transaksi semacam itu tidak dimanfaatkan untuk mengambil bunga yang diharamkan. Kalau hal itu terjadi di dunia yang fana. Maka aku memohon kepada pemilik hutang agar mereka mau mengurangi jumlah hutangnya. At-Tirmidzi no. ia berkata: (Ayahku) Abdullah meninggal dan dia meninggalkan banyak anak dan hutang. (Namun) merekapun tidak mau.” (Maka) akupun melakukannya. Dasarnya adalah sabda Nabi: “Tidak dihalalkan melakukan peminjaman plus jual beli. maka Allah I membinasakan hidupnya dengan hutang tersebut. berubah menjadi permusuhan dan perpecahan. bagaimana dengan akhirat yang kekal nan abadi? [5]. Dan dia letihkan jiwanya karena memikirkan hutang tersebut. [6].bertekad pada dirinya. Tidak boleh memberikan syarat dalam pinjaman agar pihak yang berhutang menjual sesuatu miliknya. bahwa hutang yang dia peroleh dari seseorang tidak disertai dengan niat yang baik.3504. Sebagaimana sabda Nabi r: “Menunda (pembayaran) bagi orang yang mampu merupakan suatu kezhaliman”. dan merubah hutang. Yang lembut satu kelompok. karena akan memperparah keadaan. Tirmidzi dalam kitab Al-buyu’. “Pisahkan kormamu sesuai dengan jenisnya. [9]. (HR. dan juga mencari perantara (syafa’at) untuk memohonnya. bahwa pinjaman merupakan amanah yang harus dia kembalikan. lalu datangkan kepadaku. Jika terjadi keterlambatan karena kesulitan keuangan.1234. maka ia tergolong orang yang berbuat zhalim. Tandan Ibnu Zaid satu kelompok.

ia berkata. Allah I berfirman: “Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran. Dan semoga Allah menganugerahkan kepada kita semua rezki yang lapang. Edisi. Rasulullah r bersabda: “Barangsiapa yang ingin dinaungi Allah dengan naungan-Nya (pada hari kiamat. [Sumber: Majalah PENGUSAHA MUSLIM. serta terbebas dari lilitan hutang. telah bersabda Rasulullah r: “Sekalipun aku memiliki emas sebesar gunung Uhud. maka hendaklah ia menangguhkan waktu pelunasan hutang bagi orang yang sedang kesulitan. halal dan berkah. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu. 3628 dan Ibnu Majah. Diriwayatkan dari Abul Yusr. atau hendaklah ia menggugurkan hutangnya. Tanggal 15 November 2010] Pinjam-Meminjam Menurut Tinjauan Alqur'an dan Sunnah Pinjam-Meminjam Menurut Tinjauan Al-qur'an dan Sunnah A. kecuali yang aku sisihkan untuk pembayaran hutang”.” (Shahih Ibnu Majah no. aku tidak akan senang jika tersisa lebih dari tiga hari. bab Al-Habs fiddin wal Mulazamah. pent). 2390) [10]. kitab Al-Aqdhiah. Amin. seorang sahabat Nabi. Maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Muqodimah .”(QS. 1963) Demikian penjelasan singkat tentang beberapa adab Islami dalam hutang piutang.lafazhnya dikeluarkan oleh Abu Dawud. Memberikan Penangguhan waktu kepada orang yang sedang kesulitan dalam melunasi hutangnya setelah jatuh tempo. Semoga menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. no. 2427). ia berkata. lebih baik bagimu. jika kamu Mengetahui. Al-Baqarah: 280). Diriwayatkan dari Abu Hurairah t. no. (HR Bukhari no.

dengan maksud harta tersebut akan dikembalikan kembali. Manusia hidup erat hubungannya dengan muamalah dengan individu yang lain. Dan ini merupakan harapan yang sangat mustahil bisa tercapai. Kemudian debitur mengembalikan pinjaman tersebut setelah dirinya mampu untuk mengembalikannya. kalangan yang ingin memanfaatkan kesempatan ditengah-ditengah kesempitan orang lain. Karena pada hakekatnya manusia itu adalah makhluk sosial yang membutuhkan bantuan orang lain dan ini tidak dapat dipungkiri. Sehingga manusia sangat mudah mendapatkan barang yang ia inginkan dan tidak harus membelinya. Akan tetapi ironisnya. Tentunya didalamnya tidak lepas dari hubungan timbal balik. diantaranya adalah krisis moral.Sejarah mencatat. Ta'rif Al-Qhordu Al-qhordu menurut bahasa adalah potongan.[3] Adapun menurut mazhab hanafi. untuk menciptakan suatu kondisi yang memudahkan keberlangsungan hidupnya. Mereka membantu dengan meminjami barang dengan motif untuk mendapatkan keberuntungan yang sebesar-besarnya. Masingmasing berusaha dengan berbagai upaya.[1] sedangkan menurut syar'i adalah menyerahkan uang kepada orang yang yang bisa memanfaatkannya kemudian ia meminta kembaliannya sebesar uang tersebut. Maka berangkat dari hal ini kami ingin mengupas dan membahas bagaimana islam memutuskan hal ini? B. keyakinan dan yang tidak kalah pentingnya adalah krisis ekonomi. seandainya banyak individu yang dirugikan dan merasa dizhalimi. pinjaman ialah harta yang dipinjamkan kepada orang lain. dan kita semua mengetahui betapa susah dan pahitnya hidup ditengah-tengah negara yang sedang dilanda krisis. lebih terkusus lagi dalam hal pinjam meminjam barang. Setiap individu berharap serta beranganrangan. banyak kita jumpai akhir-akhir ini. Karena islam telah mengajarkan umat manusia untuk bebuat baik dan tolong-menolong diantaranya dalam masalah pinjam meminjam barang. tolong menolong diantara sesama. atau dengan ungkapan yang lebih . bagaimana bisa hidup berkecukupan dan tidak kekurangan dari hal-hal yang dibutuhkan.[2] Sedangkan menurut Sayid Sabiq Pinjaman adalah harta yang diberikan kreditur kepada debitur (orang yang meminjam). Dengan demikian tidak heran.

‫يٍ َفظ عٍ أخُّ كشتح يٍ كشب انذَُا َفظ هللا عُّ كشتح يٍ كشب عىو انمُايح‬ akan menghilangkan darinya salah satu kesulitan pada hari kiamat.[4] Contohnya. Firman Allah )11(‫يٍ را انزٌ َمشض هللا لشضا حغُا فُضاعفّ نّ ونّ أجش كشَى‬ akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya dan dia akan memperoleh pahala yang banyak. maka Allah "Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah (Q. Kemudian aku kembalikan kepadamu pada waktunya.tepat pimjaman ialah akad khusus yang disepakati oleh kedua pihak yaitu antara kreditur (orang yang meminjami) dan debitur (orang yang dipinjami) dalam masalah barang yang dipinjamkan. Orang dimintai pinjamanpun memberikan pinjaman uang kepada orang tersebut. Maka Allah (Diriwayatkan Imam Muslim) ."" Barang siapa menghilangkan salah satu kesulitan dunia dari sauadaranya. orang yang membutuhkan uang berkata kepada orang yang layak dimintai pinjaman "Pinjamkan untukku uang sebesar sekian. mengenai pahala orang yang memberikan pinjaman kepada orang lain.S Al-Hadid: 11) Rosulullah bersabda. disunnahkan bagi pemberi pinjaman berdasarkan dalil berikut. C. Hukum Pinjaman dalam islam Al-qhordhu . yang nantinya akan dikembalikan kembali. atau perabotan. atau hewan hingga waktu tertentu." pinjaman yang baik.

meminta sesuatu sedangkan dirinya mempunyai sesuatu itu. Beliau bersabda. setelah itu aku meminjamkannya kembali. saya melihat diatas pintu surga tulisan yang berbunyi. maka diperbolehkan karena Rosulullah pernah meminjam onta kepada Abu Bakar Radiyallahu 'anhu dan mengembalikan dengan onta yang lebih baik." (Diriwayatkan Ibnu Majah dan Al-baihaqi) Demikian pula al-qhordu diperbolehkan menurut ijma' kaum muslimin. Maka saya berkata kepada jibril. Dan Rosulullah r juga pernah besabda. ‫ألٌ ألشض دَُاسٍَ ثى َشدا ثى ألشضهًا أحة إنٍ يٍ أٌ أتصذق تهًا‬ "Sungguh dua dinar yang aku pinjamkan (kepada orang lain) kemudian uang tersebut dikembalikan kepadaku. ‫لشض يشتٍُ خُش يٍ صذلح يشج‬ . "Karena orang yang meminta (sedekah) itu. ‫إٌ يٍ خُش انُاط أحغُهى لضاء‬ "Sesngguhnya manusia yang baik adalah orang yang paling baik pengembaliannya (utangnya). Sedekah itu semisal dengan sepuluh (kebaikan) dan pinjaman itu semisal dengan delapan belas (kebaikan).Adapun bagi muqtarid atau peminjam. :‫سأَت نُهح األعشي تٍ عهً تاب انجُح يكتىتا انصذلح تعشش أيثانها وانمشض تثًاَُح عشش فمهت‬ ‫َا جثشَم ياتال انمشض أفضم يٍ انصذلح ؟ لال ألٌ انغائم َغأل وعُذِ وانًغتعشض ال‬ ‫َغتعشض إال يٍ حاجح‬ Ketika malam isra'. Dan Abu darda' pernah berkata mengenai hal ini. Kaum muslimin telah sepakat tentang bolehnya al-qhordu dan hal itu disunnahkan bagi para kreditur dan hukumnya mubah bagi para debitur berdasarkan dengan dalil-dalil diatas. Sedangkan orang yang berhutang tidaklah ia berhutang melainkan untuk keperluannya." Ibnu Mas'ud dan Ibnu Abbas berkata. "Wahai jibril."(Diriwayatkan oleh Bukhari). itu lebih aku sukai dari pada aku menyedekahkannya. mengapa pahala orang yang meminjamkan sesuatu itu lebih besar dari orang yang bersedekah?" Jibril menjawab.

"(Diriwayatkan oleh Bukhari). Maka boleh dibayar ditempat manapun yang diinginkan kreditur jika merepotkan. ."Meminjamkan sesuatu (kepada orang lain) sebanyak dua kali itu lebih baik dari pada sedekah yang dilakukan hanya sekali. 4. Jika ada dan jika tidak ada maka dengan uang seharga barang tersebut. Tapi jika tidak sampai batas waktu tertentu itu lebih baik karena itu meringankan debitur. maka dikembalikan dengan barang lain sejenisnya. Pinjaman boleh sampai batas waktu tertentu. itu tidak ada salahnya. "Sedekah itu lebih utama dari pada meminjamkan sesuatu (kepada orang lain). maka sikembalikan utuh seperti itu. Pinjaman dimiliki dengan diterima. 2. maka debitur tidaj harus mengembalikan ditempat lain. Jadi jika debitur atau peminjam telah menerimanya. karena Rosulullah r memberi Abu Bakar unta yang lebih baik dari unta yang dipinjamnya dan beliau bersabda. Jika barang yang dipinjamkan itu tetap utuh seperti ketika saat dipinjamkan. Tapi jika penambahan pengembalian pinjaman itu bentuk itikad baik dari debitur. maka dari itu tidak dosa bagi yang dipinjami sesuatu kemudian ia tidak memberikannya. ia memelikinya dan menjadi tanggungannya. ‫إٌ يٍ خُش انُاط أحغُهى لضاء‬ "Sesungguhnya menusia yang baik adalah orang yang paling baik pengembaliannya (utangnya). Kreditur haram hukumnya mengambil manfaat dari pinjaman dengan penambahan jumlah pinjaman atau meminta kembalian pinjaman lebih baik atau manfaat lain yang keluar dari akad perjanjian jika itu semua disyaratkan. kurang atau bertanbah." Sedangkan menurut mazhab Hambali. 3. 5. Jika pengembalian pinjaman tidak membutuhkan biaya tramportasi. Diantara hukum pinjaman sebagai berikut: 1. Naun jika telah mengalami perubahan. atau berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.

Hal ini bertujuan untuk mempermudah . maka tidak sempurna akad tersebut melainkan dilakukan oleh orang yang mampu melakukannya. Pinjaman berasal dari orang yang layak diminta pinjaman. "Barang ini sekarang menjadi kepemilikanmu dan suatu saat kamu harus mengembalikannya kepadaku" [7] F. jika tidak ada pelaksanaan ijab dan qobul antara kreditur dan debitur. Syarat-syarat dalam meminjam barang a. Hukum menentukan waktu pengembalian Jumhur fuqoha' berpendapat bahwa tidak diperbolehkan bagi kreditur menentukan waktu pengembalian barang yang ia pinjamankan. Sedangkan lafadz yang digunakan ialah lafadz meminjam atau setiap lafadz yang memiliki makna yang serupa dengannya. b. Dan akad ini dianggap tidak syah. Sedangkan menurut imam Malik diperbolehkan menentukan waktu pengembaliannya dan harus menetapi syarat yang sudah ada. Mengambil manfaat dari barang pinjaman Sesungguhnya adanya pinjam-meminjam tersebut bermaksud untuk mendekatkan hubungan kesetiakawanan antara sesama muslim dan sebagai bentuk pertolongan kepada orangorang yang memang membutuhkan pertolongan. Besarnya pijaman harus diketahui dengan takaran.[8] G. timbangan dan jumlahnya. Dengan demikian hubungan pinjam meminjam ini mengharuskan adanya lafadz ijab dan qobul seperti akad yang dilakukan dalam jual beli dan pemberian.[5] E. c. Jadi pinjaman tidak syah dari orang yang tidak memeliki sesuatu yang bisa dipinjam atau orang yang tidak normal akalnya.[6] Seperti. Sifar pinjaman dan usianya harus diketahui jika dalam bentuk hewan. Akad dalam meminjam barang Akad yang dipakai dalam meminjam barang ialah akad tamlik ( kepemilikan).D.

Yusuf Qaradawi." Larangan disini bersifat muqayad. [9] Dengan demikian pedoman yang dipakai dalam hal ini ialah setiap pinjaman yang didalamnya diberlakukan syarat. ‫كم لشض جش َمعا فهى ستا‬ "Setiap pinjaman yang yang difungsikan untuk mendatangkan manfaat. Karena ada sebuah qoidah fikih yang berbunyi. Muslim dan Ahmad). ٍَ‫كاٌ نٍ عهً سعىل هللا حك فمضاٍَ وصدا‬ "(Ketika itu). yaitu harus ada tambahan ketika barang dikembalikan." (Diriwayatkan oleh Bukhari. Hal ini sebagaimana telah dilakukan rosulullah r kepada Jabir bin Abdullah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Dengan demikian tidak boleh bagi sang peminjam mengembalikan pinjamannya kepada debitur. artinya setiap manfaat yang ada karena kesepakatan antara kedua belah pihak dan diketahui bersama. Ibnu mundzir pernah berkata. Tapi jika kreditur tidak mensyaratkan hal tersebut atau tidak memberitahukannya. Dan bagi kreditur tidak mengapa menerima yang demikian itu dan hukumnya tidak makruh. supaya menambah pengembalian barang yang ia pinjamkan. maka itu termasuk riba. kemudian beliau menunaikan hak tersebut dan memberikannya kepadaku dengan melebihkan (kembaliannya). Bukhari dan Muslim bahwa Jabir bin Abdullah pernah berkata. melainkan ia harus mengembalikan barang yang ia pinjam sebelumnya atau mengembalikan dengan barang yang serupa dan tidak menambahnya. Rosulullah r mempunyai hak yang harus dipenuhi terhadap diriku.keberlangsungan hidup diantara sesama muslim. bukan sebagai sarana untuk mencari atau mengais rezeki apalagi dijadikan sarana untuk memperdayai orang lain. ketika beliau ditanya tentang seseorang yang memberi pinjaman uang sebanyak seribu dirham kepada orang lain dan dalam . Para ulama telah sepakat. Maka diperbolehkan bagi debitur untuk mengembalikan pinjaman tersebut dengan sesuatu yang lebih baik atau melebihkannya. maka ini termasuk riba. maka hukumnya haram. jika seorang yang kreditur membuat syarat kepada debitur.[10] Dan hal ini serupa dengan fatwanya Dr.

‫لهت َاسعىل هللا : إٌ انجُشاٌ َغتعشضىٌ انخثض وانحًُش وَشدوٌ انضَادج وَمصاَا فمال ال‬ ٍ‫تأط إًَا رنك ي‬ ‫يشافك انُاط ال َشاد تّ انفضم‬ Saya berkata kepada Rosululloh r. perak atau uang kertas.jangka waktu tertentu orang yang berhutang mengembalikan utang itu sebesar seribu seratus atau seribu dua ratus dirham. Dalam bermuamalah. Saya tidak melihat adanya alasan untuk meragukan hal ini. Dan barang siapa yang bersekutu dalam akad riba ini dia terkutuk menurut lisan Nabi Muhamad Beliau menjawab. Apakah perbuatan ini termasuk riba? dan Rosulnya. Tidak ada perbedaan antara emas. sesungguhnya tetangga (kita) meminjam roti dan roti yang sudah diadoni. yang menulisnya dan yang menjadi saksi. yaitu beliau pernah meminjam onta yang masih muda. Maka barang siapa mengambil bunga atas uang kertas atau memberi bunga. uang kertas dalam hal ini menduduki posisi emas dan perak dalam muamalah. karena yang demikian itu merupakan bentuk kebersamaan. "Tidak mengapa. bukan berharap sesuatu yang lebih dari (pinjaman tersebut}. maka ia telah memasuki wilayah hukum riba yang diharamkan dan diancam akan diperangi oleh Allah r yang telah melaknat pemakan hasil riba. Syafi'i dan Hambali mereka berpendapat. Bahkan diperbolehkan pula meminjamkan barang yang berbentuk roti adanon.[11] H. hal sebagaimana telah dilakukan oleh Ummul mukminin A'isyah dirinya berkata. . Ketentuan Barang yang boleh dipinjamkan Diperbolehkan meminjamkan pakaian dan hewan karena telah ada ketetepan dari Rosul r. karena itu hukumnya haram bila dikelola secara riba. kemudian mereka mengembalikannya dengan melebihkannya dan mengurangainya? Maka Rosulullah bersabda."[12] Sedangkan menurut mazhab Maliki. Wahai Rosulullah. Demikian juga barang yang bisa ditakar dan ditimbang atau barang yang berbentuk barang perniagaan maka barang tersebut syah atau boleh dipinjamkan kepada orang lain.

yaitu hukumnya makruh tanzih meminjam anak adam atau manusia. dan larangan disini bersifat makruh tanzih. Referensi : 1. Fiqh Sunnah 4. karena barang tersebut tidak ada yang serupa bentuknya. Maka barang ini tidak boleh dipinjamkan.[13] Dan Abu Hurairah pernah berkata. maka barang tersebut boleh dipinjamkan.Setiap barang (harta) yang biasa dijual-belikan dengan cara "Penjualan salam". Sedangkan pinjaman yang berbentuk anak adam ataun manusia. Padahal onta tersebut tidak bisa ditakar maupun ditimbang. Contoh dari kedua macam tersebut seperti. perak. Baik barang tersebut berupa barang yang bisa ditakar atau ditimbang atau barang yang tidak bisa ditimbang. Tidak boleh meminjamkan barang yang tidak bisa ditakar dan ditimbang. Al Mughni 5. berbagai jenis makanan. Sedangkan barang yang termasuk dalam katagori ini yang tidak boleh untuk dipinjamkan adalah barang yang berbentuk mutiara atau yang semisalnya. Fiqh Islami . mengenai hal ini Imam Ahmad pernah berkata. karena suatu saat akan dikembalikan kembali. Al Munawir 2. Minhajul Muslim 3. seperti mutiara. Karena ketetapan yang dipakai dalam hal ini ialah setiap barang yang biasa dijualkan belikan dengan penjualan salam yang memiliki sifat dan wujud yang jelas. barang-barang perniagaan atau hewan dan semisalnya. Karena Rosulullah r pernah meminjam onta yang masih berumur masih muda. Fatwa – Fatwa Yusuf Qhardawi 6. maka barang tersebut boleh dipinjamkan. Adapun Al-Qhodi memilih atau mengambil pendapat yang pertama. "Hukumnya makruh meminjamnya." Sedangkan Al-Muzani dan Ibnu Juraij membolehkannya. emas.

3. dari Rasulullah saw. maju pantang melarikan diri. PERINTAH MELUNASI HUTANG Allah swt berfirman : “Sesunguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya. ORANG YANG MENGAMBIL HARTA ORANG LAIN DENGAN NIAT HENDAK DIBAYAR ATAU DIRUSAKNYA Dari Abi Hurairah ra dari Nabi saw. Dari Abu Qatadah ra bahwasannya Rasulullah pernah berdiri di tengah-tengah para sahabat. Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah bersabda. “Ya Rasulullah. Kemudian berdirilah seorang sahabat.7. Ibnu Majah II: 807 no: 2414).” Kemudian Rasulullah bersabda: “Melainkan hutang. niscaya Allah memberi kemudahan kepadanya di dunia dan di akhirat. karena di sana tidak ada lagi Dinar dan tidak (pula) Dirham. bagaimana pendapatmu jika aku gugur di jalan Allah. “Jiwa orang mukmin bergantung pada hutangnya hingga dilunasi. barang siapa memberi kemudahan kepada orang yang didera kesulitan. mantan budak Rasulullah. lalu Beliau mengingatkan mereka bahwa jihad di jalan Allah dan iman kepada-Nya adalah amalan yang paling afdhal. niscaya masuk surga: (pertama) bebas dari sombong. dan (ketiga) dari tanggungan hutang. PERINGATAN KERAS TENTANG HUTANG Dari Tsauban. niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan dari sekian banyak kesusahan hari kiamat. bahwa Beliau bersabda. Tirmidzi III: 127 no: 1765 dan Nasa‟i VI: 34).” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no: 1985. “Setiap orang yang menerima pinjaman dan ia bertekad untuk tidak membayarnya. “Tidaklah seorang muslim memberi pinjaman kepada orang muslim yang lain dua kali. Tirmidzi III: 68 no: 1621). “Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan menanggung hutang satu Dinar atau satu Dirham.” (Hasan Shahih: Shahihul Ibnu Majah no: 1954 dan Ibnu Majah II: 805 no: 2410). 1501 no: 1885. Ibnu Majah II: 806 no: 2412. 2. KEUTAMAAN QIRADH (PINJAM MEMINJAM) Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda. “Barangsiapa mengambil harta orang lain dengan niat hendak menunaikannya. Dari Ibnu Mas‟ud ra bahwa Nabi saw bersabda. niscaya Allah akan menunaikannya. Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda. lalu bertanya. jika engkau gugur di jalan Allah dalam keadaan sabar mengharapkan pahala. dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Beliau bersabda.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 1197. Muslim IV: 2047 no: 2699.” (Shahih: Shahihul Jami‟ no: 6779 al-Misykah no: 2915 dan Tirmidzi II: 270 no: 1084). Dari Syu‟aib bin Amr. ia berkata: Shuhaibul Khair ra telah bercerita kepada kami. Sesungguhnya Allah . dari Rasulullah saw.” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no: 1956. „Aunul Ma‟bud XIII: 289 no: 4925). (kedua) dari khianat. niscaya Allah akan merusakkan dirinya. dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut selalu menolong saudaranya. Tirmidzi IV: 265 no: 4015. niscaya ia bertemu Allah (kelak) sebagai pencuri.” (Shahih: Mukhtashar Muslim no: 1888. dan barang siapa yang mengambilnya dengan niat hendak merusaknya. “Barangsiapa menghilangkan satu kesusahan di antara sekian banyak kesusahan dunia dari seorang muslim. maka dibayarilah (dengan diambilkan) dari kebaikannya. karena sesungguhnya Jibril ’alaihissalam menyampaikan hal itu kepadaku. 4. apakah dosa-dosaku akan terhapus dariku?” Maka jawab Rasulullah saw kepadanya “Ya. “Barangsiapa yang rohnya berpisah dari jasadnya dalam keadaan terbebas dari tiga hal. bahwasannya Beliau bersabda. Muslim III.” (Shahih: Shahihul Jami‟ no: 598 dan Fathul Bari V: 53 no: 2387). Al Mughni 1.”(Hasan: Irwa-ul Ghalil no: 1389 dan Ibnu Majah II: 812 no: 2430). melainkan pinjaman itu (berkedudukan) seperti shadaqah sekali.

„Aunul Manusia‟bud IX: 197 no: 3331 kalimat terakhir saja). Dari Isma‟il bin Ibrahim bin Abdullah bin Abi Rabi‟ah al-Makhzumi dari bapaknya dari datuknya. Kemudian ia datang menemui Nabi saw lalu menagihnya. 9. “Apakah yang pernah engkau katakan (perbuat) dahulu?” Jawab Beliau. kemudian Rasulullah bersabda. Kemudian Beliau bersabda. „Aunul Ma‟bud X: 56 no: 3611 dan Bukhari secara mu‟allaq lihat Fathul Bari V: 62). 7. niscaya Allah menyempurnakan karunia-Nya kepadamu.” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no: 1963 dan Ibnu Majah II: 808 no: 2419).” Kemudian mereka mencari unta yang berusia setahun. bahwa Rasulullah saw bersabda. “Mudahmudahan Allah memberi barakah kepadamu pada keluarga dan harta kekayaanmu. “Saya pernah berjual beli dengan orang-orang. maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. “Telah meninggal dunia seorang lakilaki. ia berkata: Saya pernah mendengar Nabi saw bersabda.” Dan Rasulullah pernah mempunyai tanggungan hutang kepadaku. maka tuntutlah dengan cara yang baik. dan Nasa‟i VII: 314). MEMBERI TANGGUH KEPADA ORANG YANG KESULITAN Allah swt berfirman: “Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran. Nasa‟i VII: 291 dan Tirmidzi II: 389 no: 1330 secara ringkas). Beliau membayarnya kepadanya. “Saya berpendapat dia (Jabir) berkata: Di waktu shalat dhuha. Kemudian Nabi saw bersabda kepadanya. 6. maka hendaklah memberi tangguh kepada orang yang berada dalam kesempitan atau bebaskan darinya.” Nabi saw bersabda. Tatkala Beliau tiba (di Madinah). 5. PENUNDAAN ORANG MAMPU ADALAH ZHALIM Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda. BOLEH MEMENJARAKAN ORANG YANG ENGGAN MELUNASI HUTANG PADAHAL MAMPU Dari Amr bin asy-Syuraid dari bapaknya Rasulullah saw bersabda.” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no: 1965 dan Ibnu Majah II: 809 no: 2421). melainkan yang lebih tua.” Kemudian ia ditanya. MENAGIH HUTANG DENGAN SOPAN Dari Ibnu Umar dan Aisyah ra bahwa Rasulullah saw bersabda. ia berkata. lalu Rasulullah membayar lebih kepadaku. Nasa‟I VII: 317 dan Ibnu Majah II: 803 no: 2403). Ibnu Majah II: 811 no: 2427. Maka Beliau bersabda kepada para Shahabat. lalu saya menagih hutang kepada orang yang berkelapangan dan memberi kelonggaran kepada orang berada dalam kesempitan. lebih baik bagimu.memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. sahabat Nabi saw. MEMBAYAR DENGAN BAIK Dari Abu Hurairah ra.” (QS An-Nisaa‟: 58). 10. karena sesungguhnya pembayaran hutang itu hanyalah pelunasan dan ucapan syukur alhamdulillah.” Lalu jawab laki-laki itu. 8. “Bayar (hutangku) kepadanya. ia berkata: Adalah Nabi saw pernah mempunyai tanggungan berupa unta yang berumur satu tahun kepada seorang laki-laki. Dari Jabir bin Abdullah ra. “Engkau membayar (hutangmu) kepadaku (dengan lebih sempurna). Muslim III: 1197 no: 1564 „Aunul Ma‟bud IX: 195 no: 3329. Dan.” (Hasan: Shahih Nasa‟i no: 4373. Nasa‟i VII: 317.” (QS al-Baqarah: 280) Dari Hudzaifah ra.” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no: 1963 dan Fathul Bari V: 58 no: 2391). “Penundaan orang yang mampu adalah suatu kezhaliman.” (Hasan: Shahih Ibnu Majah no: 1968 dan Ibnu Majah II: 809 no: 2424. menshadaqahkan (sebagian atau semua hutang) itu. jika kamu mengetahui.” (Shahih: Fathul Bari V: 59 no: 2394. “Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kamu adalah orang yang terbaik di antara kamu dalam membayar hutang. maka diampunilah dosa-dosanya. SETIAP PINJAMAN YANG MENDATANGKAN MANFA’AT ADALAH RIBA . “Shalatlah dua raka‟at. Muslim III: 1225 no: 1601. “Bayarkanlah kepadanya. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. ternyata tidak mendapatkannya.” (Muttfaaqun ‟alaih: Fathul Bari V: 61 no: 2400. Fathul Bari IV: 58 no: 2393. “Barangsiapa menuntut haknya. bahwa Nabi saw pernah meminjam uang kepadanya pada waktu perang Hunain sebesar tiga puluh atau empat puluh ribu. baik ia membayar ataupun tidak bayar.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil V: 225. “Saya pernah menemui Nabi saw di dalam masjid Mis‟ar berkata. “Penundaan orang yang mampu (membayar) dapat menghalalkan kehormatannya dan pemberian sanksi kepadanya. “Barangsiapa yang ingin dinaungi Allah dalam naungan-Nya (pada hari kiamat). Dari Abul Yusri. Tirmidzi II: 386 no: 1323.

“Saya pernah datang di Madinah.” Kemudian aku pergi bersamanya (ke rumahnya). Kemudian ia menyatakan kepadaku. lalu (di sana) ia memberiku minum dengan minuman yang dicampur tepung gandum dan memberiku makan dengan tamar. -pen). Ibnu Abdil Hadi dalam At-Tanqih (3/192) dan Al-Imam Al-Albani t dalam Irwa`ul Ghalil (5/236. termasuk riba. 812. hal. hadits no. setiap pinjam meminjam yang mendatangkan keuntungan teranggap riba. . Pendukung lainnya adalah hadits mauquf. Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil 'Aziz. “Sesungguhnya engkau berada di tempat di mana praktik riba merajalela. 6/348. terj. “Marilah pergi bersamaku ke rumahku. Namun manakala ada penambahan dalam pengembalian atau dikembalikan dengan sesuatu yang lebih bagus/baik. terjadilah riba. Namun karena haditsnya dhaif.” Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-„Asqalani berkata: “Hadits ini diriwayatkan oleh Haris ibnu Abi Usamah (dalam Musnad-nya. dan dalam Maratibul Ijtima‟. dan aku shalat di masjidnya. Kemudian ia berkata kepadaku. kemudian apabila batas waktunya sudah tiba.) dan di dalam sanadnya ada seorang rawi yang gugur periwayatannya (saqith). 1/500 no. maka hendaklah engkau menghindar dari sekeranjang (makanan) itu dan apa yang ada di dalamnya. (Al-Muhalla bil Atsar. Ma'ruf Abdul Jalil (Pustaka AsSunnah). lalu bertemu dengan Abdullah bin Salam. Hanya saja makna hadits di atas terpakai.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil V: 235 dan Baihaqi V: 349). 165) Dalam hal ini ada beberapa syubhat yang beredar di tengah kaum muslimin yang sengaja disebarkan oleh ahlus syubhat yang dipandang tokoh oleh sebagian orang. 146-148) yang ditulis guru kami Asy-Syaikh Abdurrahman bin „Umar bin Mar‟i Al-‟Adnani hafizhahullah. 4/391. diperkuat oleh ushul syariat dan telah dinukilkan adanya ijma‟ (kesepakatan) para ulama dalam masalah ini. saya akan memberimu minum dengan sebuah gelas yang pernah dipakai minum Rasulullah saw dan kamu bisa shalat di sebuah masjid yang Beliau pernah shalat padanya. Abdul Haq di dalam AlAhkam. pen. dia adalah rawi yang matruk (yang ditinggalkan haditsnya).702. Syubhat Seputar Pinjam Meminjam Ribawi Kategori: Majalah AsySyariah Edisi 029 (ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari) Diriwayatkan dari „Ali bin Abi Thalib z secara marfu‟: “Setiap pinjaman yang membawa manfaat keuntungan adalah riba. ia bercerita. diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abdullah bin Salam z((lihat Bulughul Maram.” Al-Hafizh juga mengatakan dalam At-Talkhish (3/997): “Dalam sanad hadits ini ada Sawar ibnu Mush‟ab. dan di antara pintu-pintu riba adalah seorang di antara kamu yang memberi pinjaman (kepada orang lain) sampai batas waktu (tertentu). Sumber: Diadaptasi dari 'Abdul 'Azhim bin Badawi al-Khalafi. Dan hadits ini memiliki syahid (pendukung) yang dhaif pula dari Fadhalah bin „Ubaid yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (di dalam As-Sunanul Kubra.). Kami nukilkan secara ringkas beberapa syubhat tersebut berikut jawabannya dari kitab Syarhul Buyu‟ war Riba Min Kitabid Darari (hal. 437. hadits no. hlm. 5/350 dan Ma‟rifatus Sunan wal Atsar. orang yang menerima pinjaman itu datang kepadanya dengan membawa sekeranjang (makanan) sebagai hadiah. Kitabul Buyu‟. 1398). Salah satu argumentasinya adalah hadits di atas. Bab As-Salam wal Qardh war Rahn. untuk nantinya dikembalikan yang sama pada waktu yang telah disepakati. pen. 694 .Dari Abu Buraidah (bin Abi Musa). penambahan kualitas ataupun kuantitas. Pinjam meminjam pada asalnya adalah perbuatan kebaikan di mana seseorang memberikan kepada yang lain suatu barang atau uang. tentunya kita tidak boleh memakainya sebagai hujjah. atau AlWajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahihah. Sebagaimana dinukilkan oleh Imam Ibnu Hazm Al-Andalusi t (dan yang lainnya) bahwa setiap pinjam meminjam yang di dalamnya dipersyaratkan sebuah keuntungan. Ketahuilah.” Hadits ini didhaifkan pula oleh Ibnul Mulaqqin dalam Khulashah Al-Badrul Munir (2/78).

pengharamannya disebutkan dalam As-Sunnah. Ziyadah yang dipersyaratkan dalam akad hutang piutang khususnya pada mata uang (dinar/emas dan dirham/perak) serta yang serupa dengan keduanya sebagai alat pembayaran seperti uang kertas. 100. Muslim no. Adapun pembayaran tambahan yang telah disebutkan (dipersyaratkan) di awal akad pinjam meminjam. Hal itu terjadi karena tertundanya pembayaran hutang kepada pihak yang memberi piutang. disebutkan dalam Ahkamul Qur`an (1/563-564) karya Al-Imam Al-Jashshash. 2. Dalam hadits tentang enam macam barang yang terkena hukum riba disebutkan: “Emas dengan emas. namun hadits-hadits Nabi n menunjukkan secara jelas keharamannya. dan tangan dengan tangan (serah terima di tempat). “Berikan pinjaman kepada saya sebesar Rp. Dalam hal ini mereka menggunakan dua sudut pandang: Pertama: Riba yang diharamkan hanyalah riba jahiliah. Namun demikian.” (HR. 120. Kalaupun dianggap bahwa ayat-ayat tentang riba yang ada dalam surah Al-Baqarah hanya mencakup bentuk yang pertama. yaitu riba dalam hutang piutang. serta diikuti oleh „Abdurrazzaq As-Sanhawuri.” Memang ayat-ayat tentang riba tidak menunjukkan keharaman bentuk seperti ini. namun ternyata sampai tempo yang ditentukan orang yang berhutang belum melunasinya. mereka mengatakan bahwa itu bukan riba yang diharamkan. sya‟ir (satu jenis gandum juga) dengan sya‟ir. 1587) Bila pihak bank memberikan pinjaman Rp. Untuk lebih jelasnya perhatikanlah contoh berikut ini: Bila seseorang datang ke bank lalu berkata.000. riba fadhl dan riba nasi`ah. karena sebenarnya riba jahiliah itu memiliki dua bentuk: Bentuk pertama: Bentuk yang masyhur yaitu „engkau bayar sekarang (ketika sudah jatuh tempo) atau hutangmu bertambah‟ Bentuk kedua: Penetapan adanya tambahan pembayaran/pengembalian (ziyadah) dari jumlah yang semestinya dibayarkan sejak di awal akad. sehingga bertambahlah jumlah hutang dari orang yang berhutang tersebut (istilahnya: engkau bayar sekarang atau hutangmu bertambah). harus sama timbangannya.000.000. burr (satu jenis gandum) dengan burr. Dijawab: Sebab yang disebutkan ini juga ada pada akad pinjam meminjam yang mensyaratkan pembayaran . Gambaran riba jahiliah yang ayat-ayat Al-Qur`an diturunkan tentangnya hanyalah berupa „engkau bayar sekarang (ketika sudah jatuh tempo) atau hutangmu bertambah‟. Misalnya.Beliau hafizhahullah menyatakan ada pihak-pihak yang tidak menganggap riba pinjam meminjam (qardh) yang memberi faedah. Karena kedua bentuk ini sama-sama menerima ziyadah hanya bila telah jatuh tempo.hingga waktu setahun. Mereka menguatkan pendapat mereka dengan beberapa dalil/perkara berikut ini: 1. seorang “pakar” hukum di masa ini. Jawaban terhadap dalil mereka ini adalah: a. bukan disebabkan ingin memberikan kemanfaatan kepada si pemberi hutang. Hal ini tidak bisa diterima. Barangsiapa menambah atau minta tambah berarti dia jatuh dalam riba.000. kurma dengan kurma dan garam dengan garam. riba jahiliah dilarang karena mengambil ziyadah dari pokok harta (yang dipinjamkan). Mereka yang berpendapat seperti ini di antaranya Muhammad Rasyid Ridha penulis Tafsir Al-Manar dan murid Muhammad Abduh. Menurut mereka. 120. c..sampai akhir tahun. “Kami akan memenuhi permintaan anda namun kami catat dalam pembukuan kami jumlah Rp. Mereka yang melakukan muamalah seperti ini berarti telah mengumpulkan dua macam riba. perak dengan perak. Akibatnya si pemberi piutang memberi denda dengan jumlah tertentu yang harus dibayarkan bersama hutang. berarti pihak yang berhutang dan yang memberi piutang tidak berpegang dengan dua ketetapan yang disebutkan dalam hadits di atas yaitu: (harus sama timbangannya dan tangan dengan tangan (serah terima di tempat). b. 100.-. memang tidak dinyatakan keharamannya oleh ayat-ayat yang berbicara tentang riba. Bentuk seperti ini adalah riba jahiliah. seseorang menghutangi orang lain dengan perjanjian akan dibayar dalam tempo tertentu.kepada orang tersebut namun dicatat jumlahnya Rp.” Pihak bank mengatakan. namun sebenarnya ayat tersebut juga bisa dijadikan sebagai dalil akan haramnya ziyadah yang dipersyaratkan di awal akad..

seseorang memberi satu pinjaman kepada orang lain untuk dikembalikan dalam tempo sebulan misalnya. Di antara ulama yang disebutkannya adalah Malik. “Huruf alif dan lam adalah lil-‟ahd. yang mereka maukan adalah menerangkan tentang riba yang masyhur dan dikenal/dimaklumi yaitu riba „engkau bayar atau hutangmu bertambah‟. sehingga riba yang dilarang dan dicerca adalah riba yang dikenal. Al-Qurthubi. Tatkala ulama yang disebutkan di atas menyebutkan hal itu. penafsirannya disebutkan dalam As-Sunnah. . Ayat-ayat riba menyebutkan secara global dan ditafsirkan oleh hadits-hadits Rasulullah n. Ath-Thahawi. Jawabannya: Telah disebutkan adanya ijma‟ (kesepakatan ulama) tentang berlakunya riba dalam qardh.tambahan (ziyadah). riba (qardh) tidaklah berlaku. Sehingga lafadz riba menjadi sebuah hakikat syariat di mana didudukkan pada seluruh bentuk riba. pada sebagian ucapan ulama yang disebutkan justru didapatkan bantahan terhadap pendapat Muhammad Rasyid Ridha. „Kami dengar dan kami taat‟.” (AnNur: 51) 6. Apalagi memang di antara mereka ada yang mengatakan.” 4. meruntuhkan rumah-rumah. Ibnu Rusyd. apa yang dianggap masuk akal oleh Muhammad Rasyid Ridha justru bertentangan dengan nash dan tidak sepantasnya ditanyakan “Mengapa?” dan “Bagaimana?” kepada nash. Dijawab: Mensyaratkan tambahan pembayaran/pengembalian di awal akad justru lebih besar dan lebih tampak kezalimannya daripada tambahan yang ditetapkan setelah jatuh tempo. Ath-Thabari. kemudaratan. Ia berkata. Karena dalam riba jahiliah. Dijawab: Kalaulah dianggap alif dan lam yang ada pada kata riba tersebut lil-‟ahd. Muhammad Rasyid Ridha juga berdalil dengan akal. mereka akan mengatakan. Bila ada seseorang menukar 1 real perak dengan 4 real perak dengan serah terima yang ditunda sampai waktu tertentu.” Sehingga persyaratan tambahan di awal akad tentunya lebih tampak dan lebih jelas kezalimannya. yakni Rabb kita menyebutkan (dalam ayat) keharaman riba atas sesuatu yang tertentu yang biasa dilakukan orang-orang jahiliah. Muhammad Rasyid Ridha pun berdalil bahwa riba jahiliah adalah riba yang menyebabkan kerusakan. “Riba adalah lafadz yang global. Muhammad Rasyid Ridha berdalil juga dari sisi bahasa. Beda halnya dengan apa yang dipegangi oleh Muhammad Rasyid Ridha. orang yang meminjamkan berkata kepada pihak yang dipinjami. Adapun dalam pinjam meminjam. Ia berkata. Jawabannya: Dalam hal ini ada perbedaan antara membatasi bentuk dengan membatasi hukum. Asy-Syathibi. Namun dalam hadits tersebut hanya disebutkan jual beli dan tidak ada penyebutan qardh. Mereka berdalil sebagaimana berikut: 1. 5. di mana mereka menyatakan bahwa ini adalah bentuk riba jahiliah dan Nabi n telah menerangkan bentuk-bentuk riba lain yang diharamkan seperti riba fadhl dan riba nasi`ah. Sungguh keumuman dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah telah mencakup hal yang ditolak tersebut. Bukanlah maksud mereka untuk membatasi hukum riba hanya pada bentuk seperti ini. Kedua: Membatasi riba hanya dalam jual beli saja. “Ancaman yang keras dan cercaan yang demikian menikam tidaklah mungkin diberikan kecuali kepadadosa-dosa yang besar. Al-Mawardi. apakah bisa diterima oleh akal bahwa perbuatan seperti ini dikenakan ancaman yang disebutkan dalam ayat-ayat yang melarang riba berupa diperangi oleh Allah l dan Rasul-Nya? Yang bisa diterima oleh akal hanyalah bila bentuknya seperti bentuk yang awal yaitu „engkau bayar (ketika sudah jatuh tempo) atau hutangmu bertambah‟. Jawabannya: Menggunakan akal dan pendapat dalam perkara yang telah disebutkan nash-nya secara syar‟i adalah sesuatu yang sia-sia. Karena Allah l berfirman: “Hanyalah ucapan kaum mukminin bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Allah dan Rasul-Nya menghukumi (memutuskan perkara) di antara mereka. maka As-Sunnah telah menyebutkan keharaman bentuk riba yang lain (tidak hanya yang disebutkan dalam ayat Al-Qur`an). dan memutuskan silaturahim. dimaklumi dan diketahui kalangan orang-orang jahiliah yaitu „engkau bayar (ketika sudah jatuh tempo) atau hutangmu bertambah‟. Dan ketahuilah. Muhammad Rasyid Ridha berargumen dengan ucapan-ucapan ulama untuk membatasi riba yang dilarang hanyalah „engkau bayar atau hutangmu bertambah‟. “Engkau bayar sekarang atau hutangmu bertambah (didenda). Kemudian. 3. An-Nawawi. dan Ibnu Hajar Al-Haitsami. Ketika telah jatuh tempo.

” (Al-Mulakhkhash Al-Fiqhiyyah. Mereka berdalil dengan hadits-hadits yang menunjukkan bolehnya pengembalian dengan tambahan dalam masalah qardh. maka disyariatkan pula bagi orang yang dipinjami untuk berbuat ihsan kepada orang yang meminjamkan. bagus sekali untuk kita nukilkan di sini nasihat dari Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Alu Fauzan hafizhahullah. Adapun ucapan mereka bahwa qardh adalah berderma. 4. namun pada akhirnya mereka menjadikannya perlu penggantian. Karena qardh hanyalah ditegakkan untuk tujuan berbuat ihsan dan memberi manfaat bagi yang dipinjami. Bila yang seperti ini menjadi tujuan dalam qardh niscaya Allah l akan menurunkan barakah (keberkahan). Qardh yang seperti ini bukan bertujuan berbuat ihsan dan memberi manfaat tapi tujuannya meminta ganti. Jawabannya: Telah disebutkan penukilan yang lain dari ulama dan fuqaha tersebut tentang penetapan adanya riba dalam qardh sebagaimana dalam jual beli. Demikian beberapa syubhat yang ada dalam pinjam meminjam (qardh) yang mengandung unsur riba. Mereka berdalil bahwa sebagian fuqaha Hanafiah menjadikan qardh sebagai analogi dari berderma. penambahan/pertumbuhan dan kebaikan pada harta. AlHafizh juga tidak menisbahkannya kepada Al-Bukhari dalam kitabnya At-Talkhish…. Jawabannya: Para fuqaha tersebut walaupun mereka menjadikan qardh sebagai perbuatan derma pada awalnya. bukan lagi semata-mata qardh. namun hanyalah untuk menambah harta secara maknawi yaitu taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah l dengan memenuhi hajat orang-orang yang membutuhkan dan hanya menginginkan pengembalian yang sesuai dengan besarnya pinjaman (tanpa ada syarat minta tambah atau syarat mendapatkan kemanfaatan lainnya. yang berarti riba bisa terjadi di dalamnya. 3/343) . 3. Catatan Kaki: 1 Al-Imam Ash-Shan‟ani berkata: “Hadits ini tidak ditemukan dalam Shahih Al-Bukhari pada bab Al-Istiqradh. Sedangkan qardh yang disyaratkan adanya ziyadah di dalamnya maka maksud atau tujuannya adalah meminta penggantian. Sebagaimana orang yang meminjamkan telah berbuat ihsan kepada orang yang dipinjami. Adanya syarat „minta tambah‟ ini menjadikan muamalah tersebut sama dengan jual beli. Mereka menyatakan hal ini secara jelas. “Wajib bagi seorang muslim untuk memerhatikan dan berhati-hati dari qardh (pinjam meminjam) yang mensyaratkan adanya tambahan. Karena yang namanya riba hanya berlangsung pada sesuatu yang di dalamnya ada penggantian. Mereka berdalil dengan penukilan dari fuqaha dan ulama Hanafiah yang membatasi riba hanya dalam jual beli. bila memang tujuannya untuk memberikan manfaat dan berbuat baik. 2/53) Wallahu ta‟ala a‟lam bish-shawab. sehingga tidak terjadi riba di dalamnya. Allah l berfirman: “Tidaklah balasan kebaikan (perbuatan ihsan) melainkan kebaikan pula (perbuatan ihsan pula). mendapat untung dan ziyadah. pent. Beliau berkata. seperti hadits: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik pembayarannya. tentu beliau tidak akan menghilangkan penisbahannya kepada Al-Bukhari. Beda halnya dengan qardh yang ada syarat „minta tambah‟. An-Nasa`i dan yang selainnya mengatakan bahwa dia matruk. Karena tujuan dari qardh ini bukanlah untuk menambah harta secara hakiki. Hendaklah ia mengikhlaskan niatnya dalam qardh tersebut dan juga dalam melakukan amal shalih yang lain. 3/82) 2 Nama lengkapnya Sawar ibnu Mush‟ab Al-Hamdani Al-Kufi Abu Abdillah Al-A‟ma Al Mu`adzdzin. (Mizanul I‟tidal. Seandainya hadits ini ada dalam Shahih Al-Bukhari.” (Ar-Rahman: 60) Maka hal ini masuk dalam permasalahan membalas kebaikan dengan kebaikan pula. Sebagai akhir.” (Subulus Salam.” Jawabannya: Hadits seperti ini dibawa pemahamannya kepada qardh yang tidak ada persyaratan minta tambah dalam pengembalian. Sedangkan Abu Dawud mengatakan bahwa dia adalah rawi yang tidak bisa dipercaya.).2. Al-Bukhari mengatakan bahwa dia munkarul hadits.

hadiah. 2/196) Demikian pula Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni.3 Sama saja baik minta tambah (ziyadah) di sini dinamakan keuntungan. faedah. . Demikian dinyatakan oleh Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Alu Fauzan hafizhahullah dalam kitab beliau Al-Mulakhkhash Al-Fiqhiyyah (2/52). atau berupa izin menempati sebuah rumah bagi yang meminjamkan atau izin mengendarai mobil sekalipun selama ziyadah. ataupun manfaat ini diberikan sebagai persyaratan. 4 Al-Hafizh Abul Hasan Ibnul Qaththan t: “Para ulama bersepakat bahwa persyaratan pengembalian hutang dengan tambahan atau yang lebih baik daripada pinjaman tersebut adalah perkara yang haram. dan Ibnul Mundzir dalam Al-Ijma‟. hadiah. tidak dihalalkan.” (Al-Iqna‟ fi Masa`il Al-Ijma‟.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful