ADAB ISLAMI DALAM HUTANG PIUTANG / ‫يف ضرقلا بادآ‬ ‫اإل س المي ال ف قه‬

Posted on Maret 2, 2012 | 2 Komentar

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc

DOA AGAR TERBEBAS DARI HUTANG

Di dalam kehidupan sehari-hari ini, kebanyakan manusia tidak terlepas dari yang namanya hutang piutang. Sebab di antara mereka ada yang membutuhkan dan ada pula yang dibutuhkan. Demikianlah keadaan manusia sebagaimana Allah tetapkan, ada yang dilapangkan rezekinya hingga berlimpah ruah dan ada pula yang dipersempit rezekinya, tidak dapat mencukupi kebutuhan pokoknya sehingga mendorongnya dengan terpaksa untuk berhutang atau mencari pinjaman dari orang-orang yang dipandang mampu dan bersedia memberinya pinjaman.

Dalam ajaran Islam, utang-piutang adalah muamalah yang dibolehkan, tapi diharuskan untuk ekstra hati-hati dalam menerapkannya. Karena utang bisa mengantarkan seseorang ke dalam surga, dan sebaliknya juga menjerumuskan seseorang ke dalam neraka. PENGERTIAN HUTANG PIUTANG: Di dalam fiqih Islam, hutang piutang atau pinjam meminjam telah dikenal dengan istilah Al-Qardh. Makna AlQardh secara etimologi (bahasa) ialah Al-Qath’u yang berarti memotong. Harta yang diserahkan kepada orang yang berhutang disebut Al-Qardh, karena merupakan potongan dari harta orang yang memberikan hutang. (Lihat Fiqh Muamalat (2/11), karya Wahbah Zuhaili) Sedangkan secara terminologis (istilah syar‟i), makna Al-Qardh ialah menyerahkan harta (uang) sebagai bentuk kasih sayang kepada siapa saja yang akan memanfaatkannya dan dia akan mengembalikannya (pada suatu saat) sesuai dengan padanannya. (Lihat Muntaha Al-Iradat (I/197). Dikutip dariMauqif Asy-Syari’ah Min Al-Masharif Al-Islamiyyah Al-Mu’ashirah, karya DR. Abdullah Abdurrahim Al-Abbadi, hal.29). Atau dengan kata lain, Hutang Piutang adalah memberikan sesuatu yang menjadi hak milik pemberi pinjaman kepada peminjam dengan pengembalian di kemudian hari sesuai perjanjian dengan jumlah yang sama. Jika

peminjam diberi pinjaman Rp. 1.000.000 (satu juta rupiah) maka di masa depan si peminjam akan mengembalikan uang sejumlah satu juta juga.

HUKUM HUTANG PIUTANG: Hukum Hutang piutang pada asalnya diperbolehkan dalam syariat Islam. Bahkan orang yang memberikan hutang atau pinjaman kepada orang lain yang sangat membutuhkan adalah hal yang disukai dan dianjurkan, karena di dalamnya terdapat pahala yang besar. Adapun dalil-dalil yang menunjukkan disyariatkannya hutang piutang ialah sebagaimana berikut ini: Dalil dari Al-Qur‟an adalah firman Allah I: “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepadaNya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245) Sedangkan dalil dari Al-Hadits adalah apa yang diriwayatkan dari Abu Rafi‟, bahwa Nabi r pernah meminjam seekor unta kepada seorang lelaki. Aku datang menemui beliau membawa seekor unta dari sedekah. Beliau menyuruh Abu Rafi‟ untuk mengembalikan unta milik lelaki tersebut. Abu Rafi‟ kembali kepada beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah! Yang kudapatkan hanya-lah sesekor unta ruba‟i terbaik?” Beliau bersabda, “Berikan saja kepadanya. Sesungguhnya orang yang terbaik adalah yang paling baik dalam mengembalikan hutang.”(HR. Bukhari dalam Kitab Al-Istiqradh, baba istiqradh Al-Ibil(no.2390), dan Muslim dalam kitab Almusaqah, bab Man Istaslafa Syai-an Fa Qadha Khairan Minhu (no.1600) Nabi r juga bersabda: “Setiap muslim yang memberikan pinjaman kepada sesamanya dua kali, maka dia itu seperti orang yang bersedekah satu kali.” (Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albani di dalam Irwa‟ Al-ghalil Fi Takhrij Ahadits manar As-sabil (no.1389)). Sementara dari Ijma’, para ulama kaum muslimin telah berijma„ tentang disyariatkannya hutang piutang (peminjaman). Adapun hokum berhutang atau meminta pinjaman adalah diperbolehkan, dan bukanlah sesuatu yang dicela atau dibenci, karena Nabi r pernah berhutang. (HR. Bukhari IV/608 (no.2305), dan Muslim VI/38 (no.4086)).

Namun meskipun berhutang atau meminta pinjaman itu diperbolehkan dalam syariat Islam, hanya saja Islam menyuruh umatnya agar menghindari hutang semaksimal mungkin jika ia mampu membeli dengan tunai atau tidak dalam keadaan kesempitan ekonomi. Karena hutang, menurut Rasulullah r, merupakan penyebab kesedihan di malam hari dan kehinaan di siang hari. Hutang juga dapat membahayakan akhlaq, sebagaimana sabda Rasulullah r: “Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka dia sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas memungkiri.” (HR. Bukhari). Rasulullah r pernah menolak menshalatkan jenazah seseorang yang diketahui masih meninggalkan hutang dan tidak meninggalkan harta untuk membayarnya. Rasulullah r bersabda: “Akan diampuni orang yang mati syahid semua dosanya, kecuali hutangnya.” (HR. Muslim).

Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil. Ibnu Katsir rahimahullah berkata. Dan bertakwalah kepada Allah . dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Rabbnya. Dengan kata lain. hendaklah ditulis. Keharaman itu meliputi segala macam bunga atau manfaat yang dijadikan syarat oleh orang yang memberikan pinjaman kepada si peminjam.Bagaimana Islam mengatur berhutang-piutang yang membawa pelakunya ke surga dan menghindarkan dari api neraka? Perhatikanlah adab-adabnya di bawah ini: BEBERAPA ADAB ISLAMI DALAM HUTANG PIUTANG: [1]. As-Sunnah. Jika tidak ada dua orang lelaki. dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu. Hutang piutang harus ditulis dan dipersaksikan. dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli .147) . dan janganlah penulis dan saksi saling sulit-menyulitkan. (jika) kamu tidak menulisnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan. maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Hal ini terjadi jika salah satunya mensyaratkan atau menjanjikan penambahan. dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang ditulis itu). Karena tujuan dari pemberi pinjaman adalah mengasihi si peminjam dan menolongnya. Dan di ayat lain. “ini merupakan petunjuk dariNya untuk hambaNya yang mukmin. maka tak ada dosa bagi kamu. supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. (Lihat Tafsir Al-Quran Al-Azhim. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya. Allah Subhanahu wa Ta‟ala telah mengingatkan salah satu ayat : “Hal itu lebih adil di sisi Allah dan memperkuat persaksian dan agar tidak mendatangkan keraguan”. Jika mereka bermu‟amalah dengan transaksi non tunai. maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai. dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan. Pemberi hutang atau pinjaman tidak boleh mengambil keuntungan atau manfaat dari orang yang berhutang. bahwa pinjaman yang berbunga atau mendatangkan manfaat apapun adalah haram berdasarkan Al-Qur‟an. hendaklah kamu menuliskannya. Jika kamu lakukan (yang demikian) maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. dan ijma’ para ulama. Kaidah fikih berbunyi : “Setiap hutang yang membawa keuntungan. (Lihat AlFatawa Al-Kubra III/146. [2]. maka hukumnya riba”. (QS. kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu. agar lebih terjaga jumlahnya dan waktunya dan lebih menguatkan saksi. maka hendaklah ia menulis. III/316). Yang demikian itu. Tujuannya bukan mencari kompensasi atau keuntungan. Dalilnya firman Allah I: “Hai orang-orang yang beriman. Al-Baqarah: 282) Berkaitan dengan ayat ini. Allah mengajarmu . (Tulislah mu’amalahmu itu).

Berhutang dengan niat baik dan akan melunasinya Jika seseorang berhutang dengan tujuan buruk. Karena biasanya jika meminta tidak diberi. Bukhari. maka AllahI akan membinasakannya”. ia berkata: “Nabi mempunyai hutang kepada seseorang. 2394) [4]. kitab Al-Istiqradh. Bukhari. Sebaliknya. akan tetapi ada keinginan untuk ditambah atau mengharapkan tambahan. (yaitu) seekor unta dengan usia tertentu. Shalih Al-Fauzan.berkata : “Hendaklah diketahui. atau anda hadiahkan kepadaku sesuatu”. d). 2305) Dari Jabir bin Abdullah t ia berkata: “Aku mendatangi Nabi r di masjid. Dan barangsiapa mengambilnya untuk menghabiskannya (tidak melunasinya. tidak terlarang mengambil tambahan. “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dalam pengembalian (hutang)”. sedangkan beliau mempunyai hutang kepadaku. ketika seseorang . Berapa banyak orang yang berhutang dengan niat dan tekad untuk menunaikannya. adapun jika yang berhutang menambahnya atas kemauan sendiri. Kebaikan sepantasnya dibalas dengan kebaikan Dari Abu Hurairah t. Dia pun menjawab. atau karena dorongan darinya tanpa syarat dari yang berhutang ataupun berharap. pent). Berhutang untuk sekedar bersenang-senang c). ia berkata bahwa Nabi r bersabda: “Barangsiapa yang mengambil harta orang lain (berhutang) dengan tujuan untuk membayarnya (mengembalikannya). Semoga Allah I membalas dengan setimpal”. [3]. berarti pinjaman berbunga yang diterapkan oleh bank-bank maupun rentenir di masa sekarang ini jelas-jelas merupakan riba yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. no. Berhutang untuk menutupi hutang yang tidak terbayar b). seperti seseorang mengatakan “saya beri anda hutang dengan syarat dikembalikan dengan tambahan sekian dan sekian. Nabi (pun) berkata : “Berikan kepadanya”. Dari Abu Hurairah t. karena kenyataan sering membenarkan sabda Nabi diatas. Berhutang dengan niat meminta. maka digunakan istilah hutang agar mau memberi. akan tetapi mereka tidak menemukan kecuali yang lebih berumur dari untanya.Dengan dasar itu. Maka Nabi r bersabda. Diantara tujuan buruk tersebut seperti: a). no. kitab Al-Wakalah. atau dengan syarat anda berikan rumah atau tokomu. Bukhari. sehingga bisa terkena ancaman keras baik di dunia maupun di akhirat dari Allah ta‟ala. sehingga Allah pun memudahkan baginya untuk melunasinya.orang itupun datang menagihnya.( HR. Berhutang dengan niat tidak akan melunasinya. Atau juga dengan tidak dilafadzkan. (Misalnya). “Berikan kepadanya” kemudian mereka mencari yang seusia dengan untanya. maka dia telah berbuat zhalim dan dosa. lalu beliau membayarnya dam menambahkannya”. inilah yang terlarang. “Engkau telah menunaikannya dengan lebih. 2387) Hadits ini hendaknya ditanamkan ke dalam diri sanubari yang berhutang. tambahan yang terlarang untuk mengambilnya dalam hutang adalah tambahan yang disyaratkan. kitab Al-Istiqradh. (Maka) beliaupun berkata. Syaikh Shalih Al-Fauzan –hafizhahullah. (HR. maka Allah I akan tunaikan untuknya. (HR. II/51). no. (Lihat Al-Mulakhkhash AlFiqhi. maka tatkala itu.

Tidak boleh melakukan jual beli yang disertai dengan hutang atau peminjaman Mayoritas ulama menganggap perbuatan itu tidak boleh. membeli. [6]. Abu Daud no. [7]. no.1234. Kalau hal itu terjadi di dunia yang fana. Yakni agar transaksi semacam itu tidak dimanfaatkan untuk mengambil bunga yang diharamkan. yang awalnya sebagai wujud kasih sayang.” (HR. lalu datangkan kepadaku. maka Allah I membinasakan hidupnya dengan hutang tersebut. An-Nasa‟I VII/288. 2400. dan selainnya). hendaklah orang yang berhutang memberitahukan kepada orang yang memberikan pinjaman. (HR. Akupun mendatangi Nabi r meminta syafaat (bantuan) kepada mereka. berubah menjadi permusuhan dan perpecahan. (HR. [9]. Dan dia letihkan jiwanya karena memikirkan hutang tersebut. bagaimana dengan akhirat yang kekal nan abadi? [5]. Karena hal ini termasuk bagian dari menunaikan hak yang menghutangkan. dan Ajwa satu kelompok. [8]. Beliau r pun datang lalu duduk dan menimbang setiap mereka sampai lunas. Diperbolehkan bagi yang berhutang untuk mengajukan pemutihan atas hutangnya atau pengurangan. Beliau r berkata. Dari Jabir bin Abdullah t. Sebab orang yang menunda-menunda pelunasan hutang padahal ia telah mampu. ia berkata: (Ayahku) Abdullah meninggal dan dia meninggalkan banyak anak dan hutang. “Pisahkan kormamu sesuai dengan jenisnya. Dan At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih”).3504. menyewakan atau menyewa dari orang yang menghutanginya. karena akan memperparah keadaan. dan kurma masih tersisa seperti tidak disentuh. (HR.bertekad pada dirinya. At-Tirmidzi no. Allah I melelahkan badannya dalam mencari. akan tetapi mereka enggan. bahwa hutang yang dia peroleh dari seseorang tidak disertai dengan niat yang baik. Maka aku memohon kepada pemilik hutang agar mereka mau mengurangi jumlah hutangnya. akan tetapi . Bukhari no. Bersegera melunasi hutang Orang yang berhutang hendaknya ia berusaha melunasi hutangnya sesegera mungkin tatkala ia telah memiliki kemampuan untuk mengembalikan hutangnya itu. Tandan Ibnu Zaid satu kelompok. Dasarnya adalah sabda Nabi: “Tidak dihalalkan melakukan peminjaman plus jual beli. (Namun) merekapun tidak mau. Tirmidzi dalam kitab Al-buyu’. Sebagaimana sabda Nabi r: “Menunda (pembayaran) bagi orang yang mampu merupakan suatu kezhaliman”. tetapi tidak kunjung dapat. Jika terjadi keterlambatan karena kesulitan keuangan. bahwa pinjaman merupakan amanah yang harus dia kembalikan. Bukhari kitab Al-Istiqradh. Rasulullah r bersabda: “Tangan bertanggung jawab atas semua yang diambilnya. dan juga mencari perantara (syafa’at) untuk memohonnya. Menyadari. 2405). hingga dia menunaikannya”. Tidak boleh memberikan syarat dalam pinjaman agar pihak yang berhutang menjual sesuatu miliknya. Abu Dawud dalam Kitab Al-Buyu’. Janganlah berdiam diri atau lari dari si pemberi pinjaman. Menggunakan uang pinjaman dengan sebaik mungkin. maka ia tergolong orang yang berbuat zhalim. dan merubah hutang. Yang lembut satu kelompok.” (Maka) akupun melakukannya.

3628 dan Ibnu Majah.”(QS. Tanggal 15 November 2010] Pinjam-Meminjam Menurut Tinjauan Alqur'an dan Sunnah Pinjam-Meminjam Menurut Tinjauan Al-qur'an dan Sunnah A. lebih baik bagimu. ia berkata. Al-Baqarah: 280). Muqodimah . 2390) [10]. Edisi. Diriwayatkan dari Abul Yusr. Semoga menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. pent). halal dan berkah. serta terbebas dari lilitan hutang. Memberikan Penangguhan waktu kepada orang yang sedang kesulitan dalam melunasi hutangnya setelah jatuh tempo. maka hendaklah ia menangguhkan waktu pelunasan hutang bagi orang yang sedang kesulitan.lafazhnya dikeluarkan oleh Abu Dawud. Allah I berfirman: “Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran. 2427). Dan semoga Allah menganugerahkan kepada kita semua rezki yang lapang. jika kamu Mengetahui. 1963) Demikian penjelasan singkat tentang beberapa adab Islami dalam hutang piutang. Diriwayatkan dari Abu Hurairah t. no. kecuali yang aku sisihkan untuk pembayaran hutang”. seorang sahabat Nabi. no. telah bersabda Rasulullah r: “Sekalipun aku memiliki emas sebesar gunung Uhud. ia berkata.” (Shahih Ibnu Majah no. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu. Amin. Maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. (HR Bukhari no. Rasulullah r bersabda: “Barangsiapa yang ingin dinaungi Allah dengan naungan-Nya (pada hari kiamat. atau hendaklah ia menggugurkan hutangnya. aku tidak akan senang jika tersisa lebih dari tiga hari. [Sumber: Majalah PENGUSAHA MUSLIM. bab Al-Habs fiddin wal Mulazamah. kitab Al-Aqdhiah.

Dengan demikian tidak heran. banyak kita jumpai akhir-akhir ini. dan kita semua mengetahui betapa susah dan pahitnya hidup ditengah-tengah negara yang sedang dilanda krisis.Sejarah mencatat. lebih terkusus lagi dalam hal pinjam meminjam barang. Masingmasing berusaha dengan berbagai upaya. Akan tetapi ironisnya.[3] Adapun menurut mazhab hanafi. Maka berangkat dari hal ini kami ingin mengupas dan membahas bagaimana islam memutuskan hal ini? B. Setiap individu berharap serta beranganrangan. tolong menolong diantara sesama. Karena islam telah mengajarkan umat manusia untuk bebuat baik dan tolong-menolong diantaranya dalam masalah pinjam meminjam barang. atau dengan ungkapan yang lebih .[2] Sedangkan menurut Sayid Sabiq Pinjaman adalah harta yang diberikan kreditur kepada debitur (orang yang meminjam). Ta'rif Al-Qhordu Al-qhordu menurut bahasa adalah potongan. keyakinan dan yang tidak kalah pentingnya adalah krisis ekonomi.[1] sedangkan menurut syar'i adalah menyerahkan uang kepada orang yang yang bisa memanfaatkannya kemudian ia meminta kembaliannya sebesar uang tersebut. Dan ini merupakan harapan yang sangat mustahil bisa tercapai. Sehingga manusia sangat mudah mendapatkan barang yang ia inginkan dan tidak harus membelinya. seandainya banyak individu yang dirugikan dan merasa dizhalimi. bagaimana bisa hidup berkecukupan dan tidak kekurangan dari hal-hal yang dibutuhkan. Kemudian debitur mengembalikan pinjaman tersebut setelah dirinya mampu untuk mengembalikannya. Mereka membantu dengan meminjami barang dengan motif untuk mendapatkan keberuntungan yang sebesar-besarnya. dengan maksud harta tersebut akan dikembalikan kembali. diantaranya adalah krisis moral. kalangan yang ingin memanfaatkan kesempatan ditengah-ditengah kesempitan orang lain. Tentunya didalamnya tidak lepas dari hubungan timbal balik. pinjaman ialah harta yang dipinjamkan kepada orang lain. untuk menciptakan suatu kondisi yang memudahkan keberlangsungan hidupnya. Karena pada hakekatnya manusia itu adalah makhluk sosial yang membutuhkan bantuan orang lain dan ini tidak dapat dipungkiri. Manusia hidup erat hubungannya dengan muamalah dengan individu yang lain.

atau perabotan.S Al-Hadid: 11) Rosulullah bersabda.tepat pimjaman ialah akad khusus yang disepakati oleh kedua pihak yaitu antara kreditur (orang yang meminjami) dan debitur (orang yang dipinjami) dalam masalah barang yang dipinjamkan." pinjaman yang baik. yang nantinya akan dikembalikan kembali. mengenai pahala orang yang memberikan pinjaman kepada orang lain. maka Allah "Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah (Q."" Barang siapa menghilangkan salah satu kesulitan dunia dari sauadaranya. atau hewan hingga waktu tertentu. Maka Allah (Diriwayatkan Imam Muslim) . Kemudian aku kembalikan kepadamu pada waktunya. C. Hukum Pinjaman dalam islam Al-qhordhu .[4] Contohnya. disunnahkan bagi pemberi pinjaman berdasarkan dalil berikut. Orang dimintai pinjamanpun memberikan pinjaman uang kepada orang tersebut. ‫يٍ َفظ عٍ أخُّ كشتح يٍ كشب انذَُا َفظ هللا عُّ كشتح يٍ كشب عىو انمُايح‬ akan menghilangkan darinya salah satu kesulitan pada hari kiamat. Firman Allah )11(‫يٍ را انزٌ َمشض هللا لشضا حغُا فُضاعفّ نّ ونّ أجش كشَى‬ akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya dan dia akan memperoleh pahala yang banyak. orang yang membutuhkan uang berkata kepada orang yang layak dimintai pinjaman "Pinjamkan untukku uang sebesar sekian.

saya melihat diatas pintu surga tulisan yang berbunyi."(Diriwayatkan oleh Bukhari). "Wahai jibril. Kaum muslimin telah sepakat tentang bolehnya al-qhordu dan hal itu disunnahkan bagi para kreditur dan hukumnya mubah bagi para debitur berdasarkan dengan dalil-dalil diatas. Maka saya berkata kepada jibril." (Diriwayatkan Ibnu Majah dan Al-baihaqi) Demikian pula al-qhordu diperbolehkan menurut ijma' kaum muslimin. meminta sesuatu sedangkan dirinya mempunyai sesuatu itu. ‫إٌ يٍ خُش انُاط أحغُهى لضاء‬ "Sesngguhnya manusia yang baik adalah orang yang paling baik pengembaliannya (utangnya). Beliau bersabda. ‫ألٌ ألشض دَُاسٍَ ثى َشدا ثى ألشضهًا أحة إنٍ يٍ أٌ أتصذق تهًا‬ "Sungguh dua dinar yang aku pinjamkan (kepada orang lain) kemudian uang tersebut dikembalikan kepadaku. mengapa pahala orang yang meminjamkan sesuatu itu lebih besar dari orang yang bersedekah?" Jibril menjawab. ‫لشض يشتٍُ خُش يٍ صذلح يشج‬ . Dan Abu darda' pernah berkata mengenai hal ini. maka diperbolehkan karena Rosulullah pernah meminjam onta kepada Abu Bakar Radiyallahu 'anhu dan mengembalikan dengan onta yang lebih baik.Adapun bagi muqtarid atau peminjam. Sedekah itu semisal dengan sepuluh (kebaikan) dan pinjaman itu semisal dengan delapan belas (kebaikan). Dan Rosulullah r juga pernah besabda. Sedangkan orang yang berhutang tidaklah ia berhutang melainkan untuk keperluannya." Ibnu Mas'ud dan Ibnu Abbas berkata. itu lebih aku sukai dari pada aku menyedekahkannya. setelah itu aku meminjamkannya kembali. "Karena orang yang meminta (sedekah) itu. :‫سأَت نُهح األعشي تٍ عهً تاب انجُح يكتىتا انصذلح تعشش أيثانها وانمشض تثًاَُح عشش فمهت‬ ‫َا جثشَم ياتال انمشض أفضم يٍ انصذلح ؟ لال ألٌ انغائم َغأل وعُذِ وانًغتعشض ال‬ ‫َغتعشض إال يٍ حاجح‬ Ketika malam isra'.

Maka boleh dibayar ditempat manapun yang diinginkan kreditur jika merepotkan. Tapi jika penambahan pengembalian pinjaman itu bentuk itikad baik dari debitur. ia memelikinya dan menjadi tanggungannya. ‫إٌ يٍ خُش انُاط أحغُهى لضاء‬ "Sesungguhnya menusia yang baik adalah orang yang paling baik pengembaliannya (utangnya). 2. "Sedekah itu lebih utama dari pada meminjamkan sesuatu (kepada orang lain)."Meminjamkan sesuatu (kepada orang lain) sebanyak dua kali itu lebih baik dari pada sedekah yang dilakukan hanya sekali. Pinjaman boleh sampai batas waktu tertentu. . itu tidak ada salahnya. Jadi jika debitur atau peminjam telah menerimanya. kurang atau bertanbah." Sedangkan menurut mazhab Hambali. maka sikembalikan utuh seperti itu. 5. Tapi jika tidak sampai batas waktu tertentu itu lebih baik karena itu meringankan debitur. 3. atau berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak."(Diriwayatkan oleh Bukhari). Jika pengembalian pinjaman tidak membutuhkan biaya tramportasi. maka dari itu tidak dosa bagi yang dipinjami sesuatu kemudian ia tidak memberikannya. Jika ada dan jika tidak ada maka dengan uang seharga barang tersebut. maka dikembalikan dengan barang lain sejenisnya. maka debitur tidaj harus mengembalikan ditempat lain. Naun jika telah mengalami perubahan. Diantara hukum pinjaman sebagai berikut: 1. Jika barang yang dipinjamkan itu tetap utuh seperti ketika saat dipinjamkan. 4. Pinjaman dimiliki dengan diterima. karena Rosulullah r memberi Abu Bakar unta yang lebih baik dari unta yang dipinjamnya dan beliau bersabda. Kreditur haram hukumnya mengambil manfaat dari pinjaman dengan penambahan jumlah pinjaman atau meminta kembalian pinjaman lebih baik atau manfaat lain yang keluar dari akad perjanjian jika itu semua disyaratkan.

Hukum menentukan waktu pengembalian Jumhur fuqoha' berpendapat bahwa tidak diperbolehkan bagi kreditur menentukan waktu pengembalian barang yang ia pinjamankan.D. maka tidak sempurna akad tersebut melainkan dilakukan oleh orang yang mampu melakukannya. Sifar pinjaman dan usianya harus diketahui jika dalam bentuk hewan.[5] E.[8] G. Sedangkan lafadz yang digunakan ialah lafadz meminjam atau setiap lafadz yang memiliki makna yang serupa dengannya. Sedangkan menurut imam Malik diperbolehkan menentukan waktu pengembaliannya dan harus menetapi syarat yang sudah ada.[6] Seperti. Jadi pinjaman tidak syah dari orang yang tidak memeliki sesuatu yang bisa dipinjam atau orang yang tidak normal akalnya. jika tidak ada pelaksanaan ijab dan qobul antara kreditur dan debitur. b. "Barang ini sekarang menjadi kepemilikanmu dan suatu saat kamu harus mengembalikannya kepadaku" [7] F. Akad dalam meminjam barang Akad yang dipakai dalam meminjam barang ialah akad tamlik ( kepemilikan). Hal ini bertujuan untuk mempermudah . Syarat-syarat dalam meminjam barang a. Pinjaman berasal dari orang yang layak diminta pinjaman. Dengan demikian hubungan pinjam meminjam ini mengharuskan adanya lafadz ijab dan qobul seperti akad yang dilakukan dalam jual beli dan pemberian. c. Besarnya pijaman harus diketahui dengan takaran. Mengambil manfaat dari barang pinjaman Sesungguhnya adanya pinjam-meminjam tersebut bermaksud untuk mendekatkan hubungan kesetiakawanan antara sesama muslim dan sebagai bentuk pertolongan kepada orangorang yang memang membutuhkan pertolongan. timbangan dan jumlahnya. Dan akad ini dianggap tidak syah.

Yusuf Qaradawi." (Diriwayatkan oleh Bukhari.[10] Dan hal ini serupa dengan fatwanya Dr. Dengan demikian tidak boleh bagi sang peminjam mengembalikan pinjamannya kepada debitur. Tapi jika kreditur tidak mensyaratkan hal tersebut atau tidak memberitahukannya. [9] Dengan demikian pedoman yang dipakai dalam hal ini ialah setiap pinjaman yang didalamnya diberlakukan syarat. Muslim dan Ahmad). melainkan ia harus mengembalikan barang yang ia pinjam sebelumnya atau mengembalikan dengan barang yang serupa dan tidak menambahnya. ٍَ‫كاٌ نٍ عهً سعىل هللا حك فمضاٍَ وصدا‬ "(Ketika itu). Karena ada sebuah qoidah fikih yang berbunyi. maka hukumnya haram. ketika beliau ditanya tentang seseorang yang memberi pinjaman uang sebanyak seribu dirham kepada orang lain dan dalam . Maka diperbolehkan bagi debitur untuk mengembalikan pinjaman tersebut dengan sesuatu yang lebih baik atau melebihkannya. ‫كم لشض جش َمعا فهى ستا‬ "Setiap pinjaman yang yang difungsikan untuk mendatangkan manfaat. maka itu termasuk riba. artinya setiap manfaat yang ada karena kesepakatan antara kedua belah pihak dan diketahui bersama. Ibnu mundzir pernah berkata. Hal ini sebagaimana telah dilakukan rosulullah r kepada Jabir bin Abdullah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad." Larangan disini bersifat muqayad. bukan sebagai sarana untuk mencari atau mengais rezeki apalagi dijadikan sarana untuk memperdayai orang lain. maka ini termasuk riba. Rosulullah r mempunyai hak yang harus dipenuhi terhadap diriku. yaitu harus ada tambahan ketika barang dikembalikan. Para ulama telah sepakat. supaya menambah pengembalian barang yang ia pinjamkan. Bukhari dan Muslim bahwa Jabir bin Abdullah pernah berkata.keberlangsungan hidup diantara sesama muslim. jika seorang yang kreditur membuat syarat kepada debitur. Dan bagi kreditur tidak mengapa menerima yang demikian itu dan hukumnya tidak makruh. kemudian beliau menunaikan hak tersebut dan memberikannya kepadaku dengan melebihkan (kembaliannya).

[11] H. perak atau uang kertas. Bahkan diperbolehkan pula meminjamkan barang yang berbentuk roti adanon. hal sebagaimana telah dilakukan oleh Ummul mukminin A'isyah dirinya berkata. karena yang demikian itu merupakan bentuk kebersamaan. yaitu beliau pernah meminjam onta yang masih muda. karena itu hukumnya haram bila dikelola secara riba. Apakah perbuatan ini termasuk riba? dan Rosulnya. Demikian juga barang yang bisa ditakar dan ditimbang atau barang yang berbentuk barang perniagaan maka barang tersebut syah atau boleh dipinjamkan kepada orang lain. maka ia telah memasuki wilayah hukum riba yang diharamkan dan diancam akan diperangi oleh Allah r yang telah melaknat pemakan hasil riba. bukan berharap sesuatu yang lebih dari (pinjaman tersebut}. Dan barang siapa yang bersekutu dalam akad riba ini dia terkutuk menurut lisan Nabi Muhamad Beliau menjawab. sesungguhnya tetangga (kita) meminjam roti dan roti yang sudah diadoni. uang kertas dalam hal ini menduduki posisi emas dan perak dalam muamalah. "Tidak mengapa. Dalam bermuamalah. Saya tidak melihat adanya alasan untuk meragukan hal ini. ‫لهت َاسعىل هللا : إٌ انجُشاٌ َغتعشضىٌ انخثض وانحًُش وَشدوٌ انضَادج وَمصاَا فمال ال‬ ٍ‫تأط إًَا رنك ي‬ ‫يشافك انُاط ال َشاد تّ انفضم‬ Saya berkata kepada Rosululloh r. Maka barang siapa mengambil bunga atas uang kertas atau memberi bunga. Wahai Rosulullah."[12] Sedangkan menurut mazhab Maliki. Syafi'i dan Hambali mereka berpendapat. Tidak ada perbedaan antara emas. yang menulisnya dan yang menjadi saksi. .jangka waktu tertentu orang yang berhutang mengembalikan utang itu sebesar seribu seratus atau seribu dua ratus dirham. Ketentuan Barang yang boleh dipinjamkan Diperbolehkan meminjamkan pakaian dan hewan karena telah ada ketetepan dari Rosul r. kemudian mereka mengembalikannya dengan melebihkannya dan mengurangainya? Maka Rosulullah bersabda.

Contoh dari kedua macam tersebut seperti. mengenai hal ini Imam Ahmad pernah berkata. Al Mughni 5. Al Munawir 2. karena barang tersebut tidak ada yang serupa bentuknya. "Hukumnya makruh meminjamnya. yaitu hukumnya makruh tanzih meminjam anak adam atau manusia. Karena ketetapan yang dipakai dalam hal ini ialah setiap barang yang biasa dijualkan belikan dengan penjualan salam yang memiliki sifat dan wujud yang jelas. emas. Sedangkan pinjaman yang berbentuk anak adam ataun manusia. Adapun Al-Qhodi memilih atau mengambil pendapat yang pertama. barang-barang perniagaan atau hewan dan semisalnya. Sedangkan barang yang termasuk dalam katagori ini yang tidak boleh untuk dipinjamkan adalah barang yang berbentuk mutiara atau yang semisalnya. Padahal onta tersebut tidak bisa ditakar maupun ditimbang. Maka barang ini tidak boleh dipinjamkan. Tidak boleh meminjamkan barang yang tidak bisa ditakar dan ditimbang. perak. Karena Rosulullah r pernah meminjam onta yang masih berumur masih muda. Fiqh Islami . seperti mutiara. Minhajul Muslim 3. berbagai jenis makanan.Setiap barang (harta) yang biasa dijual-belikan dengan cara "Penjualan salam"." Sedangkan Al-Muzani dan Ibnu Juraij membolehkannya. Fiqh Sunnah 4. maka barang tersebut boleh dipinjamkan. Referensi : 1. Fatwa – Fatwa Yusuf Qhardawi 6. Baik barang tersebut berupa barang yang bisa ditakar atau ditimbang atau barang yang tidak bisa ditimbang. karena suatu saat akan dikembalikan kembali. maka barang tersebut boleh dipinjamkan.[13] Dan Abu Hurairah pernah berkata. dan larangan disini bersifat makruh tanzih.

lalu bertanya. 4. Ibnu Majah II: 807 no: 2414). “Ya Rasulullah. dan (ketiga) dari tanggungan hutang.” (Shahih: Shahihul Jami‟ no: 6779 al-Misykah no: 2915 dan Tirmidzi II: 270 no: 1084). dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. karena sesungguhnya Jibril ’alaihissalam menyampaikan hal itu kepadaku. niscaya Allah akan merusakkan dirinya. Tirmidzi III: 127 no: 1765 dan Nasa‟i VI: 34). PERINTAH MELUNASI HUTANG Allah swt berfirman : “Sesunguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya. ORANG YANG MENGAMBIL HARTA ORANG LAIN DENGAN NIAT HENDAK DIBAYAR ATAU DIRUSAKNYA Dari Abi Hurairah ra dari Nabi saw. dan barang siapa yang mengambilnya dengan niat hendak merusaknya. (kedua) dari khianat. barang siapa memberi kemudahan kepada orang yang didera kesulitan. dari Rasulullah saw.”(Hasan: Irwa-ul Ghalil no: 1389 dan Ibnu Majah II: 812 no: 2430). Dari Abu Qatadah ra bahwasannya Rasulullah pernah berdiri di tengah-tengah para sahabat. Dari Ibnu Mas‟ud ra bahwa Nabi saw bersabda. karena di sana tidak ada lagi Dinar dan tidak (pula) Dirham. „Aunul Ma‟bud XIII: 289 no: 4925). Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah bersabda. mantan budak Rasulullah. Dari Syu‟aib bin Amr. Al Mughni 1.7. “Barangsiapa yang rohnya berpisah dari jasadnya dalam keadaan terbebas dari tiga hal. maju pantang melarikan diri. apakah dosa-dosaku akan terhapus dariku?” Maka jawab Rasulullah saw kepadanya “Ya.” Kemudian Rasulullah bersabda: “Melainkan hutang. PERINGATAN KERAS TENTANG HUTANG Dari Tsauban. dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut selalu menolong saudaranya. “Barangsiapa mengambil harta orang lain dengan niat hendak menunaikannya. bagaimana pendapatmu jika aku gugur di jalan Allah. niscaya ia bertemu Allah (kelak) sebagai pencuri.” (Shahih: Shahihul Jami‟ no: 598 dan Fathul Bari V: 53 no: 2387). “Barangsiapa menghilangkan satu kesusahan di antara sekian banyak kesusahan dunia dari seorang muslim. lalu Beliau mengingatkan mereka bahwa jihad di jalan Allah dan iman kepada-Nya adalah amalan yang paling afdhal. jika engkau gugur di jalan Allah dalam keadaan sabar mengharapkan pahala. “Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan menanggung hutang satu Dinar atau satu Dirham.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 1197. 3. “Jiwa orang mukmin bergantung pada hutangnya hingga dilunasi. niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan dari sekian banyak kesusahan hari kiamat. bahwasannya Beliau bersabda. bahwa Beliau bersabda. Kemudian berdirilah seorang sahabat. Beliau bersabda. Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda. Sesungguhnya Allah . Ibnu Majah II: 806 no: 2412. niscaya masuk surga: (pertama) bebas dari sombong. 1501 no: 1885.” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no: 1985. “Tidaklah seorang muslim memberi pinjaman kepada orang muslim yang lain dua kali. Tirmidzi III: 68 no: 1621).” (Shahih: Mukhtashar Muslim no: 1888. niscaya Allah memberi kemudahan kepadanya di dunia dan di akhirat. Muslim III.” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no: 1956. maka dibayarilah (dengan diambilkan) dari kebaikannya. melainkan pinjaman itu (berkedudukan) seperti shadaqah sekali. niscaya Allah akan menunaikannya. 2. “Setiap orang yang menerima pinjaman dan ia bertekad untuk tidak membayarnya. dari Rasulullah saw. ia berkata: Shuhaibul Khair ra telah bercerita kepada kami. KEUTAMAAN QIRADH (PINJAM MEMINJAM) Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda. Tirmidzi IV: 265 no: 4015. Muslim IV: 2047 no: 2699.” (Hasan Shahih: Shahihul Ibnu Majah no: 1954 dan Ibnu Majah II: 805 no: 2410).

Tatkala Beliau tiba (di Madinah). “Barangsiapa yang ingin dinaungi Allah dalam naungan-Nya (pada hari kiamat). Beliau membayarnya kepadanya. 9. “Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kamu adalah orang yang terbaik di antara kamu dalam membayar hutang.” (Hasan: Shahih Nasa‟i no: 4373. “Saya pernah berjual beli dengan orang-orang. “Penundaan orang yang mampu adalah suatu kezhaliman. Kemudian Beliau bersabda. kemudian Rasulullah bersabda. 6. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. “Bayar (hutangku) kepadanya. bahwa Nabi saw pernah meminjam uang kepadanya pada waktu perang Hunain sebesar tiga puluh atau empat puluh ribu. jika kamu mengetahui. 5. Muslim III: 1225 no: 1601. niscaya Allah menyempurnakan karunia-Nya kepadamu. Dari Jabir bin Abdullah ra. baik ia membayar ataupun tidak bayar. „Aunul Ma‟bud X: 56 no: 3611 dan Bukhari secara mu‟allaq lihat Fathul Bari V: 62). BOLEH MEMENJARAKAN ORANG YANG ENGGAN MELUNASI HUTANG PADAHAL MAMPU Dari Amr bin asy-Syuraid dari bapaknya Rasulullah saw bersabda.” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no: 1965 dan Ibnu Majah II: 809 no: 2421). Fathul Bari IV: 58 no: 2393. “Saya pernah menemui Nabi saw di dalam masjid Mis‟ar berkata.” (Hasan: Shahih Ibnu Majah no: 1968 dan Ibnu Majah II: 809 no: 2424. 8.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil V: 225. Dari Abul Yusri. Kemudian ia datang menemui Nabi saw lalu menagihnya. MEMBERI TANGGUH KEPADA ORANG YANG KESULITAN Allah swt berfirman: “Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran. Kemudian Nabi saw bersabda kepadanya. sahabat Nabi saw.” Lalu jawab laki-laki itu. ia berkata: Saya pernah mendengar Nabi saw bersabda.” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no: 1963 dan Fathul Bari V: 58 no: 2391). SETIAP PINJAMAN YANG MENDATANGKAN MANFA’AT ADALAH RIBA . bahwa Rasulullah saw bersabda. 10.” Dan Rasulullah pernah mempunyai tanggungan hutang kepadaku. karena sesungguhnya pembayaran hutang itu hanyalah pelunasan dan ucapan syukur alhamdulillah. Ibnu Majah II: 811 no: 2427. PENUNDAAN ORANG MAMPU ADALAH ZHALIM Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda. Dan. MENAGIH HUTANG DENGAN SOPAN Dari Ibnu Umar dan Aisyah ra bahwa Rasulullah saw bersabda. “Engkau membayar (hutangmu) kepadaku (dengan lebih sempurna). Nasa‟I VII: 317 dan Ibnu Majah II: 803 no: 2403). “Penundaan orang yang mampu (membayar) dapat menghalalkan kehormatannya dan pemberian sanksi kepadanya. lebih baik bagimu.” Nabi saw bersabda. Maka Beliau bersabda kepada para Shahabat.memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. maka diampunilah dosa-dosanya. lalu saya menagih hutang kepada orang yang berkelapangan dan memberi kelonggaran kepada orang berada dalam kesempitan. MEMBAYAR DENGAN BAIK Dari Abu Hurairah ra. “Mudahmudahan Allah memberi barakah kepadamu pada keluarga dan harta kekayaanmu. menshadaqahkan (sebagian atau semua hutang) itu.” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no: 1963 dan Ibnu Majah II: 808 no: 2419). Dari Isma‟il bin Ibrahim bin Abdullah bin Abi Rabi‟ah al-Makhzumi dari bapaknya dari datuknya. “Shalatlah dua raka‟at. ia berkata. ternyata tidak mendapatkannya. “Barangsiapa menuntut haknya. melainkan yang lebih tua.” (Shahih: Fathul Bari V: 59 no: 2394. “Saya berpendapat dia (Jabir) berkata: Di waktu shalat dhuha.” (QS al-Baqarah: 280) Dari Hudzaifah ra. 7. “Apakah yang pernah engkau katakan (perbuat) dahulu?” Jawab Beliau.” (Muttfaaqun ‟alaih: Fathul Bari V: 61 no: 2400. Nasa‟i VII: 291 dan Tirmidzi II: 389 no: 1330 secara ringkas).” Kemudian ia ditanya. maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Muslim III: 1197 no: 1564 „Aunul Ma‟bud IX: 195 no: 3329. lalu Rasulullah membayar lebih kepadaku.” (QS An-Nisaa‟: 58). Tirmidzi II: 386 no: 1323. dan Nasa‟i VII: 314). “Telah meninggal dunia seorang lakilaki. “Bayarkanlah kepadanya. „Aunul Manusia‟bud IX: 197 no: 3331 kalimat terakhir saja). maka tuntutlah dengan cara yang baik. maka hendaklah memberi tangguh kepada orang yang berada dalam kesempitan atau bebaskan darinya.” Kemudian mereka mencari unta yang berusia setahun. ia berkata: Adalah Nabi saw pernah mempunyai tanggungan berupa unta yang berumur satu tahun kepada seorang laki-laki. Nasa‟i VII: 317.

” Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-„Asqalani berkata: “Hadits ini diriwayatkan oleh Haris ibnu Abi Usamah (dalam Musnad-nya.). . Salah satu argumentasinya adalah hadits di atas. Ibnu Abdil Hadi dalam At-Tanqih (3/192) dan Al-Imam Al-Albani t dalam Irwa`ul Ghalil (5/236.” Hadits ini didhaifkan pula oleh Ibnul Mulaqqin dalam Khulashah Al-Badrul Munir (2/78). kemudian apabila batas waktunya sudah tiba. dan di antara pintu-pintu riba adalah seorang di antara kamu yang memberi pinjaman (kepada orang lain) sampai batas waktu (tertentu). untuk nantinya dikembalikan yang sama pada waktu yang telah disepakati. Ketahuilah. Namun manakala ada penambahan dalam pengembalian atau dikembalikan dengan sesuatu yang lebih bagus/baik. Bab As-Salam wal Qardh war Rahn. 437.” Al-Hafizh juga mengatakan dalam At-Talkhish (3/997): “Dalam sanad hadits ini ada Sawar ibnu Mush‟ab. penambahan kualitas ataupun kuantitas. Kitabul Buyu‟. lalu bertemu dengan Abdullah bin Salam. Dan hadits ini memiliki syahid (pendukung) yang dhaif pula dari Fadhalah bin „Ubaid yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (di dalam As-Sunanul Kubra.702. hal. Syubhat Seputar Pinjam Meminjam Ribawi Kategori: Majalah AsySyariah Edisi 029 (ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari) Diriwayatkan dari „Ali bin Abi Thalib z secara marfu‟: “Setiap pinjaman yang membawa manfaat keuntungan adalah riba. pen. terj. hadits no. setiap pinjam meminjam yang mendatangkan keuntungan teranggap riba. Sumber: Diadaptasi dari 'Abdul 'Azhim bin Badawi al-Khalafi. maka hendaklah engkau menghindar dari sekeranjang (makanan) itu dan apa yang ada di dalamnya. 1398). diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abdullah bin Salam z((lihat Bulughul Maram. “Marilah pergi bersamaku ke rumahku. tentunya kita tidak boleh memakainya sebagai hujjah. “Saya pernah datang di Madinah. Pendukung lainnya adalah hadits mauquf. terjadilah riba. 6/348.” Kemudian aku pergi bersamanya (ke rumahnya). hlm. 1/500 no. dan dalam Maratibul Ijtima‟. orang yang menerima pinjaman itu datang kepadanya dengan membawa sekeranjang (makanan) sebagai hadiah. Abdul Haq di dalam AlAhkam. Sebagaimana dinukilkan oleh Imam Ibnu Hazm Al-Andalusi t (dan yang lainnya) bahwa setiap pinjam meminjam yang di dalamnya dipersyaratkan sebuah keuntungan. 5/350 dan Ma‟rifatus Sunan wal Atsar. atau AlWajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahihah. Ma'ruf Abdul Jalil (Pustaka AsSunnah).Dari Abu Buraidah (bin Abi Musa). dan aku shalat di masjidnya. ia bercerita. 146-148) yang ditulis guru kami Asy-Syaikh Abdurrahman bin „Umar bin Mar‟i Al-‟Adnani hafizhahullah. 694 . dia adalah rawi yang matruk (yang ditinggalkan haditsnya). Pinjam meminjam pada asalnya adalah perbuatan kebaikan di mana seseorang memberikan kepada yang lain suatu barang atau uang. termasuk riba. pen. Kemudian ia menyatakan kepadaku. hadits no. 4/391. saya akan memberimu minum dengan sebuah gelas yang pernah dipakai minum Rasulullah saw dan kamu bisa shalat di sebuah masjid yang Beliau pernah shalat padanya. 165) Dalam hal ini ada beberapa syubhat yang beredar di tengah kaum muslimin yang sengaja disebarkan oleh ahlus syubhat yang dipandang tokoh oleh sebagian orang. Hanya saja makna hadits di atas terpakai.) dan di dalam sanadnya ada seorang rawi yang gugur periwayatannya (saqith). Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil 'Aziz. Namun karena haditsnya dhaif. 812. diperkuat oleh ushul syariat dan telah dinukilkan adanya ijma‟ (kesepakatan) para ulama dalam masalah ini. -pen). lalu (di sana) ia memberiku minum dengan minuman yang dicampur tepung gandum dan memberiku makan dengan tamar. Kami nukilkan secara ringkas beberapa syubhat tersebut berikut jawabannya dari kitab Syarhul Buyu‟ war Riba Min Kitabid Darari (hal. (Al-Muhalla bil Atsar. “Sesungguhnya engkau berada di tempat di mana praktik riba merajalela. Kemudian ia berkata kepadaku.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil V: 235 dan Baihaqi V: 349).

“Kami akan memenuhi permintaan anda namun kami catat dalam pembukuan kami jumlah Rp. sehingga bertambahlah jumlah hutang dari orang yang berhutang tersebut (istilahnya: engkau bayar sekarang atau hutangmu bertambah). dan tangan dengan tangan (serah terima di tempat). Dalam hadits tentang enam macam barang yang terkena hukum riba disebutkan: “Emas dengan emas. “Berikan pinjaman kepada saya sebesar Rp.000. Barangsiapa menambah atau minta tambah berarti dia jatuh dalam riba.Beliau hafizhahullah menyatakan ada pihak-pihak yang tidak menganggap riba pinjam meminjam (qardh) yang memberi faedah.. perak dengan perak.-. disebutkan dalam Ahkamul Qur`an (1/563-564) karya Al-Imam Al-Jashshash. kurma dengan kurma dan garam dengan garam.” Memang ayat-ayat tentang riba tidak menunjukkan keharaman bentuk seperti ini. berarti pihak yang berhutang dan yang memberi piutang tidak berpegang dengan dua ketetapan yang disebutkan dalam hadits di atas yaitu: (harus sama timbangannya dan tangan dengan tangan (serah terima di tempat). seorang “pakar” hukum di masa ini. Namun demikian. Hal itu terjadi karena tertundanya pembayaran hutang kepada pihak yang memberi piutang. seseorang menghutangi orang lain dengan perjanjian akan dibayar dalam tempo tertentu. karena sebenarnya riba jahiliah itu memiliki dua bentuk: Bentuk pertama: Bentuk yang masyhur yaitu „engkau bayar sekarang (ketika sudah jatuh tempo) atau hutangmu bertambah‟ Bentuk kedua: Penetapan adanya tambahan pembayaran/pengembalian (ziyadah) dari jumlah yang semestinya dibayarkan sejak di awal akad.hingga waktu setahun. Menurut mereka.kepada orang tersebut namun dicatat jumlahnya Rp.000. Hal ini tidak bisa diterima. Akibatnya si pemberi piutang memberi denda dengan jumlah tertentu yang harus dibayarkan bersama hutang. 100. Muslim no.000.000. harus sama timbangannya. burr (satu jenis gandum) dengan burr. sya‟ir (satu jenis gandum juga) dengan sya‟ir. riba jahiliah dilarang karena mengambil ziyadah dari pokok harta (yang dipinjamkan). Kalaupun dianggap bahwa ayat-ayat tentang riba yang ada dalam surah Al-Baqarah hanya mencakup bentuk yang pertama. c. Gambaran riba jahiliah yang ayat-ayat Al-Qur`an diturunkan tentangnya hanyalah berupa „engkau bayar sekarang (ketika sudah jatuh tempo) atau hutangmu bertambah‟.. Bentuk seperti ini adalah riba jahiliah. yaitu riba dalam hutang piutang. Mereka menguatkan pendapat mereka dengan beberapa dalil/perkara berikut ini: 1. Karena kedua bentuk ini sama-sama menerima ziyadah hanya bila telah jatuh tempo. Adapun pembayaran tambahan yang telah disebutkan (dipersyaratkan) di awal akad pinjam meminjam. pengharamannya disebutkan dalam As-Sunnah. namun sebenarnya ayat tersebut juga bisa dijadikan sebagai dalil akan haramnya ziyadah yang dipersyaratkan di awal akad. Dijawab: Sebab yang disebutkan ini juga ada pada akad pinjam meminjam yang mensyaratkan pembayaran . Dalam hal ini mereka menggunakan dua sudut pandang: Pertama: Riba yang diharamkan hanyalah riba jahiliah. memang tidak dinyatakan keharamannya oleh ayat-ayat yang berbicara tentang riba. Jawaban terhadap dalil mereka ini adalah: a.” (HR. Mereka yang berpendapat seperti ini di antaranya Muhammad Rasyid Ridha penulis Tafsir Al-Manar dan murid Muhammad Abduh. Ziyadah yang dipersyaratkan dalam akad hutang piutang khususnya pada mata uang (dinar/emas dan dirham/perak) serta yang serupa dengan keduanya sebagai alat pembayaran seperti uang kertas. 100. namun ternyata sampai tempo yang ditentukan orang yang berhutang belum melunasinya. 2. 1587) Bila pihak bank memberikan pinjaman Rp.” Pihak bank mengatakan. Mereka yang melakukan muamalah seperti ini berarti telah mengumpulkan dua macam riba.sampai akhir tahun. riba fadhl dan riba nasi`ah. bukan disebabkan ingin memberikan kemanfaatan kepada si pemberi hutang. 120. serta diikuti oleh „Abdurrazzaq As-Sanhawuri. Misalnya. namun hadits-hadits Nabi n menunjukkan secara jelas keharamannya. b. mereka mengatakan bahwa itu bukan riba yang diharamkan. Untuk lebih jelasnya perhatikanlah contoh berikut ini: Bila seseorang datang ke bank lalu berkata. 120.

orang yang meminjamkan berkata kepada pihak yang dipinjami. apa yang dianggap masuk akal oleh Muhammad Rasyid Ridha justru bertentangan dengan nash dan tidak sepantasnya ditanyakan “Mengapa?” dan “Bagaimana?” kepada nash. Jawabannya: Dalam hal ini ada perbedaan antara membatasi bentuk dengan membatasi hukum. Jawabannya: Menggunakan akal dan pendapat dalam perkara yang telah disebutkan nash-nya secara syar‟i adalah sesuatu yang sia-sia.” (AnNur: 51) 6. Adapun dalam pinjam meminjam. . Bila ada seseorang menukar 1 real perak dengan 4 real perak dengan serah terima yang ditunda sampai waktu tertentu. Sungguh keumuman dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah telah mencakup hal yang ditolak tersebut. Al-Qurthubi. “Engkau bayar sekarang atau hutangmu bertambah (didenda). “Huruf alif dan lam adalah lil-‟ahd. Sehingga lafadz riba menjadi sebuah hakikat syariat di mana didudukkan pada seluruh bentuk riba. di mana mereka menyatakan bahwa ini adalah bentuk riba jahiliah dan Nabi n telah menerangkan bentuk-bentuk riba lain yang diharamkan seperti riba fadhl dan riba nasi`ah. mereka akan mengatakan. Ath-Thahawi. apakah bisa diterima oleh akal bahwa perbuatan seperti ini dikenakan ancaman yang disebutkan dalam ayat-ayat yang melarang riba berupa diperangi oleh Allah l dan Rasul-Nya? Yang bisa diterima oleh akal hanyalah bila bentuknya seperti bentuk yang awal yaitu „engkau bayar (ketika sudah jatuh tempo) atau hutangmu bertambah‟. Karena dalam riba jahiliah. Karena Allah l berfirman: “Hanyalah ucapan kaum mukminin bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Allah dan Rasul-Nya menghukumi (memutuskan perkara) di antara mereka. penafsirannya disebutkan dalam As-Sunnah. Jawabannya: Telah disebutkan adanya ijma‟ (kesepakatan ulama) tentang berlakunya riba dalam qardh. Kemudian. Kedua: Membatasi riba hanya dalam jual beli saja. sehingga riba yang dilarang dan dicerca adalah riba yang dikenal. Ia berkata. Ketika telah jatuh tempo. Apalagi memang di antara mereka ada yang mengatakan. Dijawab: Kalaulah dianggap alif dan lam yang ada pada kata riba tersebut lil-‟ahd. Muhammad Rasyid Ridha pun berdalil bahwa riba jahiliah adalah riba yang menyebabkan kerusakan. Al-Mawardi. dimaklumi dan diketahui kalangan orang-orang jahiliah yaitu „engkau bayar (ketika sudah jatuh tempo) atau hutangmu bertambah‟.tambahan (ziyadah). dan Ibnu Hajar Al-Haitsami. „Kami dengar dan kami taat‟. meruntuhkan rumah-rumah. yang mereka maukan adalah menerangkan tentang riba yang masyhur dan dikenal/dimaklumi yaitu riba „engkau bayar atau hutangmu bertambah‟. pada sebagian ucapan ulama yang disebutkan justru didapatkan bantahan terhadap pendapat Muhammad Rasyid Ridha. yakni Rabb kita menyebutkan (dalam ayat) keharaman riba atas sesuatu yang tertentu yang biasa dilakukan orang-orang jahiliah. Muhammad Rasyid Ridha berdalil juga dari sisi bahasa. “Ancaman yang keras dan cercaan yang demikian menikam tidaklah mungkin diberikan kecuali kepadadosa-dosa yang besar.” Sehingga persyaratan tambahan di awal akad tentunya lebih tampak dan lebih jelas kezalimannya. 5. Dijawab: Mensyaratkan tambahan pembayaran/pengembalian di awal akad justru lebih besar dan lebih tampak kezalimannya daripada tambahan yang ditetapkan setelah jatuh tempo. Muhammad Rasyid Ridha juga berdalil dengan akal. Ayat-ayat riba menyebutkan secara global dan ditafsirkan oleh hadits-hadits Rasulullah n. “Riba adalah lafadz yang global. maka As-Sunnah telah menyebutkan keharaman bentuk riba yang lain (tidak hanya yang disebutkan dalam ayat Al-Qur`an). Namun dalam hadits tersebut hanya disebutkan jual beli dan tidak ada penyebutan qardh. Di antara ulama yang disebutkannya adalah Malik. seseorang memberi satu pinjaman kepada orang lain untuk dikembalikan dalam tempo sebulan misalnya.” 4. 3. Bukanlah maksud mereka untuk membatasi hukum riba hanya pada bentuk seperti ini. An-Nawawi. riba (qardh) tidaklah berlaku. Dan ketahuilah. Asy-Syathibi. Muhammad Rasyid Ridha berargumen dengan ucapan-ucapan ulama untuk membatasi riba yang dilarang hanyalah „engkau bayar atau hutangmu bertambah‟. dan memutuskan silaturahim. Mereka berdalil sebagaimana berikut: 1. Beda halnya dengan apa yang dipegangi oleh Muhammad Rasyid Ridha. Ath-Thabari. Ia berkata. kemudaratan. Ibnu Rusyd. Tatkala ulama yang disebutkan di atas menyebutkan hal itu.

Karena yang namanya riba hanya berlangsung pada sesuatu yang di dalamnya ada penggantian. seperti hadits: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik pembayarannya. Sebagai akhir. An-Nasa`i dan yang selainnya mengatakan bahwa dia matruk. Demikian beberapa syubhat yang ada dalam pinjam meminjam (qardh) yang mengandung unsur riba. Allah l berfirman: “Tidaklah balasan kebaikan (perbuatan ihsan) melainkan kebaikan pula (perbuatan ihsan pula). mendapat untung dan ziyadah. Sedangkan Abu Dawud mengatakan bahwa dia adalah rawi yang tidak bisa dipercaya. bukan lagi semata-mata qardh. Karena qardh hanyalah ditegakkan untuk tujuan berbuat ihsan dan memberi manfaat bagi yang dipinjami. Mereka berdalil bahwa sebagian fuqaha Hanafiah menjadikan qardh sebagai analogi dari berderma. Sebagaimana orang yang meminjamkan telah berbuat ihsan kepada orang yang dipinjami. 3/343) . namun hanyalah untuk menambah harta secara maknawi yaitu taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah l dengan memenuhi hajat orang-orang yang membutuhkan dan hanya menginginkan pengembalian yang sesuai dengan besarnya pinjaman (tanpa ada syarat minta tambah atau syarat mendapatkan kemanfaatan lainnya. penambahan/pertumbuhan dan kebaikan pada harta. yang berarti riba bisa terjadi di dalamnya. Mereka menyatakan hal ini secara jelas. maka disyariatkan pula bagi orang yang dipinjami untuk berbuat ihsan kepada orang yang meminjamkan. namun pada akhirnya mereka menjadikannya perlu penggantian. Mereka berdalil dengan hadits-hadits yang menunjukkan bolehnya pengembalian dengan tambahan dalam masalah qardh. bagus sekali untuk kita nukilkan di sini nasihat dari Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Alu Fauzan hafizhahullah. Catatan Kaki: 1 Al-Imam Ash-Shan‟ani berkata: “Hadits ini tidak ditemukan dalam Shahih Al-Bukhari pada bab Al-Istiqradh. Jawabannya: Telah disebutkan penukilan yang lain dari ulama dan fuqaha tersebut tentang penetapan adanya riba dalam qardh sebagaimana dalam jual beli. Hendaklah ia mengikhlaskan niatnya dalam qardh tersebut dan juga dalam melakukan amal shalih yang lain.” (Al-Mulakhkhash Al-Fiqhiyyah.” Jawabannya: Hadits seperti ini dibawa pemahamannya kepada qardh yang tidak ada persyaratan minta tambah dalam pengembalian. Beliau berkata. (Mizanul I‟tidal. Karena tujuan dari qardh ini bukanlah untuk menambah harta secara hakiki.” (Subulus Salam. bila memang tujuannya untuk memberikan manfaat dan berbuat baik.” (Ar-Rahman: 60) Maka hal ini masuk dalam permasalahan membalas kebaikan dengan kebaikan pula.).2. 4. Seandainya hadits ini ada dalam Shahih Al-Bukhari. Al-Bukhari mengatakan bahwa dia munkarul hadits. “Wajib bagi seorang muslim untuk memerhatikan dan berhati-hati dari qardh (pinjam meminjam) yang mensyaratkan adanya tambahan. 3. Beda halnya dengan qardh yang ada syarat „minta tambah‟. tentu beliau tidak akan menghilangkan penisbahannya kepada Al-Bukhari. Mereka berdalil dengan penukilan dari fuqaha dan ulama Hanafiah yang membatasi riba hanya dalam jual beli. pent. Adapun ucapan mereka bahwa qardh adalah berderma. Adanya syarat „minta tambah‟ ini menjadikan muamalah tersebut sama dengan jual beli. Jawabannya: Para fuqaha tersebut walaupun mereka menjadikan qardh sebagai perbuatan derma pada awalnya. sehingga tidak terjadi riba di dalamnya. Sedangkan qardh yang disyaratkan adanya ziyadah di dalamnya maka maksud atau tujuannya adalah meminta penggantian. AlHafizh juga tidak menisbahkannya kepada Al-Bukhari dalam kitabnya At-Talkhish…. 2/53) Wallahu ta‟ala a‟lam bish-shawab. Bila yang seperti ini menjadi tujuan dalam qardh niscaya Allah l akan menurunkan barakah (keberkahan). Qardh yang seperti ini bukan bertujuan berbuat ihsan dan memberi manfaat tapi tujuannya meminta ganti. 3/82) 2 Nama lengkapnya Sawar ibnu Mush‟ab Al-Hamdani Al-Kufi Abu Abdillah Al-A‟ma Al Mu`adzdzin.

tidak dihalalkan.3 Sama saja baik minta tambah (ziyadah) di sini dinamakan keuntungan. Demikian dinyatakan oleh Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Alu Fauzan hafizhahullah dalam kitab beliau Al-Mulakhkhash Al-Fiqhiyyah (2/52). 2/196) Demikian pula Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni. . 4 Al-Hafizh Abul Hasan Ibnul Qaththan t: “Para ulama bersepakat bahwa persyaratan pengembalian hutang dengan tambahan atau yang lebih baik daripada pinjaman tersebut adalah perkara yang haram. hadiah. faedah.” (Al-Iqna‟ fi Masa`il Al-Ijma‟. hadiah. ataupun manfaat ini diberikan sebagai persyaratan. atau berupa izin menempati sebuah rumah bagi yang meminjamkan atau izin mengendarai mobil sekalipun selama ziyadah. dan Ibnul Mundzir dalam Al-Ijma‟.