P. 1
PENCAPAIAN STANDAR MUTU DAN KUALITAS PRODUKSI BUNGA POT KRISAN (DENDRANTHEMA GRANDIFLORA TZVELEV SYN.) DI PT. SAUNG MIRWAN

PENCAPAIAN STANDAR MUTU DAN KUALITAS PRODUKSI BUNGA POT KRISAN (DENDRANTHEMA GRANDIFLORA TZVELEV SYN.) DI PT. SAUNG MIRWAN

|Views: 164|Likes:
Published by KARYAGATA MANDIRI

More info:

Published by: KARYAGATA MANDIRI on Jul 30, 2012
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

04/23/2013

PENCAPAIAN STANDAR MUTU DAN KUALITAS PRODUKSI BUNGA POT KRISAN (Dendranthema grandiflora Tzvelev Syn.) DI PT.

SAUNG MIRWAN

AYU NINA SARI A24053363
                         

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUTPERTANIAN BOGOR 2010

PENCAPAIAN STANDAR MUTU DAN KUALITAS PRODUKSI BUNGA POT KRISAN (Dendranthema grandiflora Tzvelev Syn.) DI PT. SAUNG MIRWAN

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

AYU NINA SARI A24053363

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010

RINGKASAN

AYU NINA SARI. Pencapaian Standar Mutu dan Kualitas Produksi Bunga Pot Krisan (Dendranthema grandiflora Tzvelev Syn.) di PT Saung Mirwan. (Dibimbing oleh TATIEK KARTIKA SUHARSI).

Krisan (Dendranthema grandiflora Tzvelev Syn.) yang dikenal dengan seruni memiliki keragaman bentuk maupun warna bunga, vase life yang lebih lama dibanding bunga lain dan memiliki kemampuan untuk berbunga serentak pada waktu yang diinginkan. Krisan  sebagai tanaman pot memiliki keunggulan dibanding tanaman pot lain, antara lain sifat pembungaannya yang dapat diatur sehingga dapat diproduksi secara masal sepanjang tahun, bunganya sangat bervariasi dan tahan lama (hingga 5 minggu), dan penanganannya relatif mudah (Hadinata, 1999). Penulis melaksanakan magang di PT Saung Mirwan mulai tanggal 24oFebruari-20 Juni 2009 di PT Saung Mirwan yang berlokasi di Desa Sukamanah, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Magang ini bertujuan untuk memperoleh pengalaman, pengetahuan dan keterampilan tentang aspek teknis dan manajerial dalam budidaya krisan pot secara komersial dimPT Saung Mirwan, membandingkan antara standar mutu yang ditetapkan perusahaan dengan kualitas produk yang dihasilkan. PT Saung Mirwan melakukan budidaya krisan di dalam green house dengan menerapkan teknologi budidaya yang baik dan benar secara intensif sehingga produk yang dihasilkan bermutu dan berkualitas tinggi. Produk krisan yang diproduksi antara lain berupa stek, bibit (stek berakar), bunga potong dan pot. Perusahaan juga menetapkan sendiri standar untuk mutu bunga krisan pot yang dihasilkan. Selama magang penulis mengikuti dan mengamati setiap tahapan kegiatan budidaya krisan pot, yang terdiri dari aspek teknis dan manjerial. Kegiatan budidaya dimulai dari persiapan bibit, media, penanaman, pemeliharaan hingga panen dan pasca panen. Selain itu dilakukan pengamatan terhadap pengemasan, aspek pemasaran, varietas yang paling diminati oleh konsumen, persentase

kehilangan hasil pada masing-masing tahapan proses budidaya dan persentase tanaman yang termasuk kedalam standar mutu A dan B yang ditetapkan perusahaan dan perhitungan terhadap kelayakan usahatani krisan pot. Hasil pengamatan terhadap tinggi tanaman pada saat panen menunjukkan bahwa rata-rata tinggi semua varietas adalah 35.1 ± 1.3 cm yang berarti termasuk kedalam kelas mutu A. Apabila dilihat masing-masing tinggi varietas terdapat 10 varietas atau 67% dari varietas yang ada termasuk kedalam kelas mutu A dan 33% atau 5 varietas yang termasuk kedalam kelas mutu B. Berdasarkan jumlah kuntum bunga/pot semua varieats yang ditanam memenuhi kelas mutu A. PT Saung Mirwan memiliki 17 varietas bunga krisan pot yang sering ditanam, yang memiliki rata-rata daya tumbuh 79%. Secara rinci terdapat empat varietas yang memiliki daya tumbuh yang sangat rendah yaitu dibawah 70%, lima varietas antara 70-80%, sisanya memiliki daya tumbuh yang cukup tinggi yaitu di atas 80%. Berarti terdapat 22% memiliki persentase daya tumbuh <70%, 28% varietas memiliki persentase daya tumbuh antara 70-80% dan sisanya 50% varietas memiliki persentase daya tumbuh >80%. Selama proses kegiatan budidaya, dalam setiap tahapannya dapat menyebabkan kehilangan hasil sehingga mengurangi jumlah tanaman yang bisa dipanen. Kehilangan hasil antaranya dapat disebabkan oleh serangan hama dan penyakit, kegiatan pemindahan tanaman, proses pewiwilan, pengaplikasian ZPT, turunya vigor tanaman tersebut atau faktor lainnya. Serangan hama dan penyakit tanaman merupakan faktor yang menyebabkan kehilangan hasil panen terbesar yaitu hingga 9%. Hal ini dapat disebabkan oleh rentannya varietas tertentu terhadap serangan HPT seperti varietas 179, 112, 151 dan 242. Tingginya serangan HPT juga dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan lingkungan. Hasil analisis kelayakan usahatani menunjukkan bahwa pengusahaan krisan pot menguntungkan dan layak diusahakan. Keuntungan yang diperoleh dari penanaman 1000ppot/minggu selama 1.5 tahun adalah Rp..130.563.612,- dengan nilai NPV positif, IRR 21.03%, Net B/C rasio 1.68 dan pay back periode 0.816, berarti modal yang ditanam kembali dalam jangka waktu 9 bulan 3 minggu.

Judul

: PENCAPAIAN STANDAR MUTU DAN KUALITAS PRODUKSI BUNGA POT KRISAN (Dendranthema grandiflora Tzvelev Syn.) DI PT SAUNG MIRWAN

Nama NRP

: Ayu Nina Sari : A24053363

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Dr. Tatiek Kartika Suharsi, MS. NIP : 195503241982032001

Mengetahui, Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB

Dr. Ir. Agus Purwito, MSc.Agr. NIP : 196111011987031003

Tanggal Lulus :

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobbil’alamin, puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul Pencapaian Standar Mutu dan Kualitas Produksi Bunga Pot Krisan (Dendranthema grandiflora Tzvelev Syn.) di PT Saung Mirwan. Skripsi ini merupakan hasil dari kegiatan magang yang dilakukan pada bulan Februari hingga Juni 2009 di PT Saung Mirwan. Penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan kepada : 1. Dr. Tatiek Kartika Suharsi, MS selaku dosen pembimbing atas kesabaran dan keikhlasan dalam memberikan bimbingan ilmu dan nasehat kepada penulis selama proses penulisan skripsi. 2. Dr. Ir. Sandra Arifin Aziz, MS dan Dr. Dewi Sukma SP. Msi selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan dan bimbingannya. 3. Seluruh dosen dan staf pengajar Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian yang telah memberikan pelajaran berharga selama masa studi penulis di Institut Pertanian Bogor. 4. Seluruh Manajemen PT Saung Mirwan atas kesempatan magang yang telah diberikan, khususnya Pak Dudi, Bu Lina, Mbak Nina dan para pekerja lapang lainnya yang telah memberikan informasi, perhatian, nasehat, saran dan dorongan semangat bagi penulis selama berada di lokasi magang. 5. Papa, mama, uni, uda, kakak dan adek tercinta serta seluruh keluarga besar penulis atas doa, dukungan, motivasi serta kasih sayangnya kepada penulis. 6. Keluarga besar KSR PMI Unit 1 IPB, pengurus, alumni dan anggota atas semua dukungan semangat, pelajaran hidup, inspirasi dan kekeluargaannya kepada penulis selama menjadi anggota KSR, khususnya sahabatku Ningrum dan Ningsih terima kasih atas masukan, saran dan dorongannya. 7. Teman seperjuanganku selama magang dan penulisan ini Yolanda Geolnytha yang selalu menyemangati dan memberi motivasi kepada penulis.

8. Rekan-rekan selama kuliah di IPB, khususnya AGH 42 : Fitri, Fahmila, Amoy dan lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas kebersamaan dan dukungan semangatnya terhadap penulis. 9. Wisma Maharlika Depan khususnya Teh Sumi, Kak Uci, Kak Mila, TehoUgi, Vinachan, Almira, Veza, Ninu, Isna Rahmadini, Yuni, Oby, Isnawati, Dewi dan Mia atas persaudaraan dan dukungannya selama ini.

Penulis menyadari bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna kecuali DzatNya. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat penulis harapkan agar isi skripsi lebih baik. Semoga skripsi ini dapat berguna dan memberi manfaat bagi semua pihak yang memerlukan.

Bogor, Juli 2010

Penulis

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Solok, Propinsi Sumatera Barat pada tanggal 3 September 1987. Penulis merupakan anak keempat dari Bapak Nasril Saud dan Ibu Nurjanis Sain. Tahun 1999 penulis lulus dari SD Muhammadiyah Silungkang, kemudian pada tahun 2002 penulis menyelesaikan studi di SMP N 1 Solok. Selanjutnya, penulis lulus dari SMU N 1 Solok dan diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur SPMB pada tahun 2005. Tahun 2006 penulis diterima sebagai mahasiswa Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian. Semester ganjil tahun 2009 penulis menjadi asisten mata kuliah Dasar-dasar Agronomi dan Ilmu Tanaman Pangan. Selain itu Penulis menerima beasiswa PPA (Peningkatan Prestasi Akademik). Selama bulan Februari-Juni 2009 penulis

melaksanakan magang di PT Saung Mirwan, Megamendung , Bogor sebagai salah satu syarat penulisan skripsi. Tahun 2005 penulis bergabung di IPMM (Ikatan Pelajar Mahasiswa Minang) dan IKMS (Ikatan Keluarga Mahasiswa Solok), dan tahun 2008 menjabat sebagai bendahara IKMS. Pada tahun 2006 penulis dilantik menjadi Anggota Muda dan Anggota Tetap KSR PMI Unit 1 IPB, menjadi pengurus dari tahun 2007-2008 dan anggota BPO (Badan Pengawas Organisasi) dari tahun 2008 hingga sekarang. Penulis juga aktif di beberapa organisasi kampus lain seperti Rohis kelas, FKRD-A (Forum Komunikasi Rohis Departemen Fakultas Pertanian), dan HIMAGRON (Himpunan Mahasiswa Agronomi). Penulis juga terlibat dalam kepanitian beberapa kegiatan yang di adakan di kampus seperti MPKMB (Masa Perkenalan Kampus Mahasiswa Baru), MPF (Masa Perkenalan Fakultas), dan MPD (Masa Perkenalan Departemen). Selama perkuliahan penulis juga sering mengikuti beberapa seminar-seminar nasional dan workshop, diantaranya : seminar HIV/AIDS “Peningkatan Pengetahuan dan Pemahaman HIV/AIDS serta Kepedulian terhadap Permasalahannya” (2005), seminar nasional “Tanaman Hias Tropika : Perspektif Masa Kini dan Masa Datang” (2007), peserta One Day Technopreneurship Workshop “Burn Your Spirit with Technopreneurship” (2009) dan seminar kesehatan ‘Bahaya Kanker Serviks’ (2010).

DAFTAR ISI
Halaman PENDAHULUAN Latar Belakang .............................................................................................. Tujuan ........................................................................................................... TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Sejarah Krisan............................................................................. 3 Syarat Tumbuh Tanaman Krisan .................................................................. 4 Perbanyakan Krisan ...................................................................................... 6 Produksi Krisan Pot ...................................................................................... 6 Standar Mutu dan Kualitas Krisan ................................................................ 13 METODE MAGANG Waktu dan Tempat ........................................................................................ Metode Pelaksanaan ...................................................................................... Pengamatan dan Pengumpulan Data ............................................................. Analisis Data dan Informasi .......................................................................... KEADAAN UMUM PERUSAHAAN Sejarah Singkat Perusahaan .......................................................................... Visi dan Misi Perusahaan .............................................................................. Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan ..................................................... Kondisi Lingkungan ...................................................................................... Sarana dan Prasarana..................................................................................... Kemitraan ...................................................................................................... HASIL DAN PEMBAHASAN Aspek Teknis................................................................................................. Produksi Bibit Krisan ......................................................................... Produksi Bunga Krisan Pot ................................................................ Hasil Pengamatan ............................................................................... Analisis Usahatani.......................................................................................... Aspek Manajerial .......................................................................................... Manajemen Produksi ......................................................................... Manajemen Pemasaran dan Distribusi ................................................ KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ................................................................................................... 62 Saran.............................................................................................................. 63 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 64 LAMPIRAN ....................................................................................................... 66
 

1 2

15 15 16 17 19 21 21 22 23 26 27 27 32 48 55 58 58 60

DAFTAR TABEL

Nomor 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Halaman 8 11 32 35 38 43 44 49 50 51 57

Jumlah Ideal Stek Krisan per Pot ............................................................. Kandungan Nutrisi Ideal pada Larutan Pupuk Krisan ............................. Skema Jadwal Kegiatan produksi Bunga Krisan Pot ............................... Daftar Nama, Kode dan Ciri Morfologi Beberapa Varietas Krisan Pot yang Ditanam di PT Saung Mirwan ......................................................... Komposisi Larutan Pupuk AB Mix.......................................................... Syarat Mutu Panen Bunga Krisan Pot Segar............................................ Contoh Krisan Pot yang Memenuhi Syarat Mutu Panen Perusahaan ...... Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman pada Krisan Pot ............................... Tinggi Tanaman pada Saat Panen ............................................................

10. Hasil Pengamatan Jumlah Tunas Tanaman pada Krisan Pot ................... 11. Analisis Kelayakan Usahatani Budidaya Bunga Pot Krisan dengan Produksi 1000 Pot/minggu Selama 1.5 Tahun .........................................

DAFTAR GAMBAR

Nomor 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Halaman

Persiapan Lahan untuk Penanaman Tanaman Induk Krisan dengan Pengolahan Lahan Menggunakan Traktor ................................................ 28 (a) Penanaman Tanaman Induk Krisan dan (b) Pengkabutan Areal Tanaman Induk Krisan .............................................................................. 29 (a) Pemberian Cahaya Tambahan pada Tanaman Induk Krisan dan (b) Alat Pengukur Intensitas Cahaya......................................................... 30 (a) Kondisi Pertanaman Tanaman Induk dan (b) Aktivitas Pemanenan Stek Krisan ................................................................................................. 31 (a) Pemberian Cahaya Tambahan pada Persemaian dan (b) Aktivitas Pemanenan Stek Berakar Krisan ................................................................ 32 (a) Pengayakan Peat Moss dan (b) Proses Sterilisasi Campuran Media untuk Penanaman Krisan Pot .................................................................... 33 (a) Tugal Khusus untuk Membuat Lubang Tanam dan (b) Proses Pembuatan Lubang Tanam untuk Penanaman Krisan Pot ....................... 34 (a) Pemisahan Bibit Krisan berdasarkan Persamaan Tinggi dan (b) Aktivitas Penanaman Bibit Krisan Pot ................................................ 35 Diagram Alokasi Penanaman Krisan Pot Masing-Masing Varietas ......... 36

10. Pembuangan Titik Tumbuh pada Krisan Pot ............................................ 37 11. (a) Penambahan Cahaya pada Persemaian (long day) dan (b) Penyungkupan pada Masa Pembungaan (short day ............................ 37 12. (a) Tangki Pusat Irigasi dan (b) Proses Perendaman pada Krisan Pot ....... 39 13. EC Meter, Alat Ukur Electric Conductivity (EC) dan Derajat Keasaman (pH) Larutan Nutrisi ................................................................ 39 14. Proses Pewiwilan pada Bunga Pot ............................................................. 41 15. (a) Proses Repotting pada Bunga Pot dan (b) Tanaman yang Telah Direpotting ............................................................................................... 42 16. (a) Proses Pengemasan Krisan Pot dan (b) Krisan Pot yang di Demplot.. 45 17. Perangkap Serangga (Insect Trap) ............................................................ 46 18. Contoh Gejala Serangan Hama dan Penyakit pada Tanaman Krisan (a) Penggerek Daun, (b) Karat Putih, (c) Chrysanthemum Stunt Viroid .. 47 19. Keset Kaki pada Pintu Masuk Green House ............................................. 48 20. Jumlah Kuntum Bunga yang Dihasilkan per Pot Setiap Varietas untuk (a) Bunga Tipe Disbud dan (b) Bunga Tipe Spray .................................... 53

21. Persentase Daya Tumbuh Krisan Pot dari Tanam hingga Panen .............. 54 22. Persentase Kehilangan Hasil Selama Proses Budidaya Krisan Pot .......... 55 23. Alur Perencanaan Produksi Krisan Pot di PT Saung Mirwan................... 59

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.
   

Halaman

Data Karyawan PT Saung Mirwan 2009 .................................................. 67 Sketsa Tanah PT Saung Mirwan, Desa Sukamanah, Megamendung, Bogor .............................................................................. Struktur Organisasi Perusahaan PT Saung Mirwan ................................. Lay out Greenhouse PT Saung Mirwan ................................................... Skema Jaringan Irigasi Ebb and Flow ..................................................... Lay Out Bangunan PT Saung Mirwan, Desa Sukamanah, Megamendung, Bogor .............................................................................. 68 69 73 74 75

Daftar Pestisida yang Digunakan dalam Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Chrysanthemum ........................................................................ 76 Data Suhu Harian (0C), Kelembaban/RH (%), dan Cuaca Bulan April 2009 di Greenhouse Produksi Bunga Pot Krisan di PT Saung Mirwan .. 77

PENDAHULUAN

Latar Belakang Krisan (Dendranthema grandiflora Tzvelev Syn.) yang dikenal sebagai seruni ini memiliki ciri khas bentuk daunnya yang spesifik, sehingga dapat dengan mudah dikenali diantara bunga lain. Krisan memiliki kelebihan dibanding dengan bunga lain baik dari segi penampilan, tingkat keragaman bentuk bunga maupun warnanya. Menurut Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi (2008) bunga krisan memiliki vase life yang lebih lama dan mempunyai kemampuan untuk berbunga serentak sehingga dapat dipanen secara serentak pada waktu yang diinginkan. Krisan sebagai tanaman pot memiliki keunggulan dibanding tanaman pot lain, antara lain sifat pembungaannya yang dapat diatur sehingga dapat diproduksi secara masal sepanjang tahun, bunganya sangat bervariasi dan tahan lama (hingga 5 minggu), dan penanganannya relatif mudah (Hadinata, 1999). Kualitas dan mutu bunga adalah faktor yang sangat mempengaruhi harga jual bunga krisan. Peningkatan produksi bunga krisan juga harus disertai dengan perbaikan teknologi budidaya untuk meningkatkan kualitas produksi dan harga jual produk. Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura (2006) perbaikan teknik budidaya dilakukan dengan menerapkan teknologi budidaya anjuran spesifik lokasi dan komponen-komponen lain secara terpadu. Salah satu contoh adalah dengan membudidayakan krisan di dalam greenhouse karena krisan merupakan tanaman yang berasal dari daerah subtropis sehingga budidaya krisan di Indonesia membutuhkan modifikasi lingkungan tumbuh. Produk krisan yang bermutu dan berkualitas dapat dihasilkan melalui penerapan prinsip budidaya yang baik dan benar. PT Saung Mirwan melakukan budidaya krisan di dalam greenhouse dengan menerapkan teknologi budidaya yang baik dan benar secara intensif sehingga produk yang dihasilkan bermutu dan berkualitas tinggi. Produk krisan yang diproduksi antara lain berupa stek, bibit (stek berakar), bunga potong dan bunga pot. PT Saung Mirwan mulai mengusahakan bunga krisan berupa bunga stek berakar dan bunga pot pada tahun1994. Produksi bunga pot krisan di PT Saung Mirwan setiap tahunnya tidak selalu tetap, kadang mengalami peningkatan atau

2

penurunan. Produksi bunga pot krisan tahun 2002-2005 rata-rata 1850 pot/minggu. Pada tahun 2006 mengalami penurunan hingga 1500=pot/minggu. Mengalami peningkatan hingga 2000 pot/minggu pada tahun 2007, namun turun lagi pada tahun 2008 menjadi 1900 pot/tahun hingga 1200=pot/minggu pada tahun 2009. Fluktuasi produksi bunga pot krisan ini sangat dipengaruhi oleh kondisi perekonomian Indonesia saat itu. Perusahaan menetapkan sendiri standar untuk bunga pot krisan yang dihasilkan. Standar produk dapat dibagi menjadi kelas mutu A dan B. Penyeleksian dilakukan pada saat panen. Jika ada tanaman yang tidak memenuhi standar untuk kelas mutu A maupun B, maka tanaman tersebut tidak dijual atau dibuang. Cara ini diharapkan menghasilkan kualitas produk yang selalu terjaga sehingga produk bunga pot yang dihasilkan memiliki target pasar menengah keatas.

Tujuan 1. 2. Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam memasuki dunia kerja Memperoleh pengetahuan praktis, pengalaman, keterampilan kerja dari pelaksanaan magang di lapang dan pengetahuan tentang aspek teknis dan manajerial usaha tanaman krisan. 3. Mempelajari sistem usaha krisan secara komersial khususnya bunga pot krisan sehingga diperoleh tanaman yang bermutu dan berkualitas tinggi di PT. Saung Mirwan. 4. Membandingkan antara standar mutu yang ditetapkan perusahaan dengan kualitas produk bunga pot krisan yang dihasilkan.

TINJAUAN PUSTAKA

Botani dan Sejarah Krisan Bunga krisan dahulu diklasifikasikan ke dalam genus Chrysanthemum, namun sekarang telah diklasifikasikan menjadi genus Dendranthema dengan spesies D..grandiflora, dan termasuk ke dalam famili Compositae (Asteraceae), ordo Asterales, dan kelas Dicotyledoneae (Anderson, 1987). Krisan merupakan tanaman yang bersifat semak yang di habitat aslinya dapat tumbuh mencapai tinggi 30–200 cm, memiliki batang yang tumbuh tegak, berstruktur lunak dan berwarna hijau. Bila dibiarkan tumbuh terus, batang bunga ini akan menjadi keras (berkayu) dan berwarna hijau kecoklatan. Penampilan visual sosok tanaman krisan mirip dengan aster. Ciri khasnya dapat diamati pada bentuk daun, yaitu bagian tepi bercelah atau bergerigi, tersusun secara berselang-seling pada cabang atau batang (Rukmana dan Mulyana, 1997). Krisan memiliki banyak percabangan dimana masing-masing cabang ditumbuhi bulu-bulu halus yang berwarna perak (Moradjo, 1976). Bunga pada krisan disebut florets yang terdiri ray florets yang biasa disebut bunga pita dan disc florets atau bunga tabung yang berada ditengah bunga (Nasional Chryanthemum Society, 2003). Bunga krisan keluar dari ujung percabangan, petalnya banyak tersusun menurut lingkaran, membentuk malai datar dengan dasar bunga melebar, warna bunga bervariasi antara kuning, putih, merah dan oranye (Rukmana dan Mulyana, 1997). Berdasarkan bentuk bunganya, krisan terdiri dari delapan tipe (Krisantini, 2006) yaitu, singles/ daisy, spoon, anemones, spider, pompons, dekoratif, large flowered, dan fleurette. Berdasarkan cara budidayanya, krisan digolongkan menjadi tiga yaitu, tipe standard, disbud dan spray (Kofranek, 1992). Krisan merupakan salah satu tanaman hias bunga eksotik dan bernilai tinggi diantara produk bunga potong lainnya seperti mawar, gerbera, lili dan tulip. Bunga ini dikenal juga dengan sebutan seruni atau bunga emas (Golden Flower). Di Amerika krisan sering disebut “ratu musim gugur” dan juga merupakan bunga nasional Jepang (Krisantini, 2006). Krisan pertama kali ditanam sekitar 3000 tahun yang lalu di Cina, sedangkan di Jepang krisan mulai dibudidayakan pada abad ke-4. Bunga krisan dijadikan sebagai simbol kekaisaran Jepang dengan sebutan Queen of The East pada tahun 797. Tanaman krisan dari Cina dan Jepang menyebar ke kawasan Eropa dan

 

4 Perancis tahun 1795. Tanaman ini mulai dikembangkan di Inggris pada tahun 1843 dan selanjutnya tersebar luas di Eropa dan Amerika. Jenis atau varietas krisan modern diduga mulai ditemukan pada abad ke-17. Krisan masuk ke Indonesia pada tahun 1800 dan sejak tahun 1940 telah dikembangkan secara komersial. Beberapa daerah sentra produksi tanaman hias krisan diantaranya adalah Cipanas (Cianjur), Sukabumi, Lembang (Bandung), Bandungan (Jawa Tengah), Malang (Jawa Timur) dan Brastagi (Sumatera Utara) (Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, 2006). Lokasi pengembangan krisan di Indonesia ada di beberapa propinsi antara lain Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Sulaweasi Selatan, dan Sulawesi Utara (Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi, 2008). Kultivar krisan sangat banyak bermunculan dan sangat beragam baik warna maupun bentuk bunganya. Terdapat ribuan varietas yang sangat berbeda dan telah tersebar di seluruh dunia. Persilangan buatan dan seleksi terus dilakukan di banyak negara terutama Eropa dan Amerika. Seleksi untuk tujuan komersial terutama diarahkan untuk mendapatkan variasi bentuk dan warna bunga, peningkatan kemampuan berbunga terus menerus sepanjang tahun, ketahanan terhadap stres lingkungan, ketahanan terhadap hama dan penyakit serta peningkatan kualitas pasca panen. Syarat Tumbuh Tanaman Krisan Krisan umumnya dibudidayakan dan tumbuh baik di dataran medium sampai tinggi pada kisaran 650 hingga 1200 m dpl. Menurut International Chrysanthemum Society (2002), tanaman krisan tumbuh baik di tanah bertekstur liat berpasir, dengan kerapatan jenis 0.2-0.8 g/cm3 (berat kering), total porositas 50-75%, kandungan air 50-70%, kandungan udara dalam pori 10-20%, kandungan garam terlarut 1-1.25 dS/m2 dan kisaran pH sekitar 5.5-6.5. Kondisi ini dapat dicapai dengan memodifikasi media tumbuh dalam bedengan. Krisan berasal dari daerah subtropis, sehingga suhu yang terlalu tinggi merupakan faktor pembatas dalam pertumbuhan tanaman dan berpengaruh terhadap kualitas pembungaan krisan. Toleransi tanaman krisan terhadap faktor temperatur untuk tetap tumbuh baik adalah antara 17-30oC. Pada fase vegetatif kisaran suhu yang dibutuhkan untuk pertumbuhan optimal krisan harian adalah 22-28ºC pada siang hari dan tidak melebihi 26ºC pada malam hari (Khattak and Pearson, 1997). Suhu malam yang lebih rendah dari 15oC dapat mengakibatkan pertumbuhan

 

5 vegetatif yang berlebihan berupa tanaman lebih tinggi, lebih kekar, terlambat dalam pembungaan, tangkai bunga (pedicle) yang lebih panjang dan warna bunga yang lebih kuat. Suhu yang lebih tinggi dari 25oC akan menghambat pembentukan bakal bunga dan juga menyebabkan keterlambatan dalam pembungaan (Fides, 1992). Suhu harian ideal pada fase generatif adalah 16-18ºC (Wilkins et al., 1990). Menurut Maaswinkel and Sulyo (2004) pada suhu diatas 25ºC, proses inisiasi bunga akan terhambat dan menyebabkan pembentukan bakal bunga juga terlambat. Suhu yang ideal untuk pembungaan yaitu antara 16-18oC. Pada suhu yang tinggi (>18oC) bunga krisan cenderung berwarna kusam, pucat dan memudar, sedangkan pada temperatur yang rendah (<16oC) akan berpengaruh baik terhadap warna bunga, karena warna bunga cenderung semakin cerah. Suhu malam yang ideal bagi krisan berkisar antara 15-25oC. Berdasarkan respon tanaman terhadap panjang hari, krisan tergolong tanaman berhari pendek atau short day plant (SDP). Batas kritis panjang hari atau critical daylenght (CDL) krisan sekitar 13.5-16 jam tergantung genotipe (Langton, 1987). Krisan akan tetap tumbuh vegetatif bila panjang hari yang diterimanya lebih dari batas kritisnya dan akan tereduksi untuk masuk ke fase generatif (inisiasi atau pemunculan bunga) apabila panjang hari yang diterimanya kurang dari batas kritisnya. Krisan yang ditanam alami di daerah tropis akan selalu cepat berbunga. Fase vegetatifnya tidak cukup untuk menyediakan energi sehingga bunga yang dihasilkan tidak memenuhi standar. Perlu dilakukan modifikasi lingkungan berupa penambahan cahaya dengan menggunakan lampu pada malam hari agar dihasilkan tangkai bunga yang lebih panjang, bunga yang lebih besar dan tajuk yang rimbun untuk dapat menunjang bunga. Chang (1968) menambahkan bahwa penambahan penyinaran pada tanaman, sering kali dilakukan bukan hanya untuk memanipulasi fotoperiode tetapi juga dimaksudkan untuk meningkatkan laju fotosintesis. Kelembaban udara juga berpengaruh terhadap pertumbuhan krisan. Tanaman krisan membutuhkan kelembaban 90-95% pada awal pertumbuhan untuk pembentukan akar. Pada tanaman dewasa pertumbuhan optimal dicapai pada kelambaban udara sekitar 70-85% (Mortensen, 2000). Tanaman krisan

membutuhkan air yang memadai dan cukup banyak, akan tetapi tanaman krisan tidak tahan terhadap terpaan air hujan. Penanaman sebaiknya dilakukan di dalam bangunan rumah plastik untuk daerah yang curah hujannya tinggi. Pada pembudidayaan tanaman krisan dalam bangunan tertutup, seperti di rumah plastik

 

6 atau greenhouse dapat ditambahkan CO2, hingga mencapai kadar yang dianjurkan. Kadar CO2 di alam sekitar 300 ppm, sedangkan kadar CO2 yang ideal untuk memacu fotosintesis antara 600-900 ppm (Nuryanto, 2007). Perbanyakan Krisan Perbanyakan krisan dapat dilakukan secara vegetatif seperti dengan stek, secara generatif dengan biji dan kultur jaringan. Perbanyakan secara generatif lebih sering dilakukan oleh pemulia tanaman hias di lembaga-lembaga penelitian untuk menghasilkan varietas-varietas baru. Pada umumnya untuk tujuan komersial, krisan diperbanyak dengan menggunakan stek pucuk. Stek pucuk diambil dari tanaman induk yang secara khusus dibudidayakan untuk produksi stek. Penyetekan merupakan proses perbanyakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman yang jika ditempatkan pada kondisi optimun akan berkembang menjadi satu tanaman lengkap. Stek ini terlebih dahulu diakarkan sebelum ditanam pada lahan bedengan atau pot untuk dipelihara lebih lanjut hingga tanaman berbunga. Produksi Krisan Pot Hal yang perlu diperhatikan dalam membudidayakan tanaman krisan untuk menghasilkan kualitas bunga yang baik dan tahan terhadap hama dan penyakit antara lain meliputi pemilihan lokasi, penyiapan rumah lindung, penyiapan sarana irigasi, penyiapan instalasi pencahayaan, penyiapan lahan, pemilihan bibit berkualitas dan pemeliharaan tanaman. Pemilihan lokasi ditentukan berdasarkan persyaratan kesesuaian lahan dan agroklimat. Rumah lindung dibangun sesuai dengan luasan lahan, arah angin dan kekuatan konstruksi bangunan yang diinginkan serta dilengkapi sarana drainase (Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi, 2008).  Krisan yang diusahakan secara komersil pada umumnya dibudidayakan sebagai bunga potong, bunga pot dan tanaman induk sebagai sumber stek. Budidaya krisan dalam pot pada prinsipnya sama dengan budidaya krisan di lahan, hanya berbeda tempat tanam dan waktu perlakuan dalam pemeliharaannya saja. Secara garis besar tahapan budidaya krisan pot terdiri dari penyiapan bahan tanam, penyiapan media, penanaman, pemeliharaan dan panen. Penyiapan bahan tanam Benih yang digunakan harus berkualitas. Benih harus memiliki kemurnian genetik yang tinggi, sehat (bebas patogen terutama penyakit sistemik), tidak

 

7 mengalami gangguan fisiologis, daya tumbuh kuat dan memiliki nilai komersial di pasaran. Menjaga kemurnian genetik benih yang tinggi dapat dilakukan dengan cara menggunakan benih yang bersertifikat, melakukan proses produksi benih sesuai dengan standar prosedur produksi yang ada dan melakukan penyeleksian terhadap tipe simpang pada setiap tahapan produksi benih. Benih yang sehat dan prima berpotensi untuk menghasilkan tanaman yang tumbuh secara optimal dan pada akhirnya menghasilkan bunga yang berkualitas (Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, 2006). Media perakaran stek dipilih yang mempunyai sifat porous dan memiliki kapasitas menahan air yang besar untuk mempertahankan kelembaban pada masa perakaran sehingga pertumbuhan akar stek tidak terhambat. Media yang dapat digunakan seperti arang sekam, sekam, pasir, serbuk gergaji, cocopeat, mosspeat, perlite atau kombinasi bahan dari bahan-bahan tersebut dengan sifat serupa yang telah disterilisasi terlebih dahulu. Ruang tempat perakaran stek dianjurkan terpisah dari rumah lindung tanaman produksi bunga dan tanaman induk. Ruang produksi bunga harus terlindung dari sinar matahari langsung serta dilengkapi sarana instalasi listrik untuk penambahan cahaya dengan lampu di malam hari. Bahan tanam atau benih yang digunakan adalah stek yang diambil dari tunas samping sepanjang 5-8 cm atau sebanyak 3-4 ruas dan memiliki 5-7 daun sempurna. IBA dalam bentuk cair atau tepung diberikan dengan cara mencelupkan dasar stek (5-6 mm) ke larutan IBA dengan konsentrasi 1500 ppm (Krisantini, 2006). Lalu ditanam pada bak berisi pasir atau sekam bakar yang diberi alas agar air tetap tersedia. Temperatur dijaga sekitar 17oC. Jarak tanam rapat dan hindari penyinaran langsung dengan cara bak tanam dapat ditutup dengan kain blacu. Untuk mempertahankan suhu dan kelembabannya, pembibitan krisan memerlukan naungan. Setelah melalui proses pengakaran selama 14 hari, stek-stek tersebut dapat dibawa ke areal pertanaman dan siap untuk ditanam. Stek ditanam dalam bedengan setelah diberi lubang tanam dan jaring penegak tanaman untuk bunga potong. Stek untuk penanaman bunga pot dapat langsung ditanam pada pot yang telah diberi lubang tanam. Persiapan media tumbuh Selain tempat tumbuh dan tegak tanaman media tanam yang digunakan juga berfungsi untuk memberikan kondisi fisik, kimia dan biologi yang kondusif

 

8 sehingga dapat mendukung pertumbuhan akar pada khususnya dan tanaman secara keseluruhan. Secara umum media tanam harus mempunyai kapasitas menahan air yang besar dan mempunyai aerasi dan drainase yang baik serta bebas hama dan penyakit. Media untuk krisan harus bersifat remah, beraerasi baik, dengan kapasitas menahan air yang baik dan KTK (kapasitas tukar kation) tinggi. pH media sebaiknya 5.7-6.3. Unsur P dapat disuplai menggunakan pupuk superfosfat dan juga hara mikro yang dicampurkan pada medianya. Media buatan yang bersifat inert sangat disarankan, karena memudahkan dalam program pemupukan. Dengan media buatan yang kandungan haranya mendekati nol, jumlah pupuk diberikan per tanaman dapat diatur sehingga tanaman seragam pertumbuhannya (Krisantini, 2006). Media krisan pot idealnya merupakan media buatan (non-tanah). Media lokal yang tersedia antara lain adalah kompos, pasir, arang sekam dan serbuk sabut kelapa. Untuk mendapatkan media tanam yang lebih baik, beberapa media dapat dicampur dengan perbandingan tertentu. Misalnya: gambut, serbuk sabut kelapa, arang sekam (4: 4: 1) atau kompos, pasir, arang sekam (1: 1: 1) (Hadinata, 1999). Media buatan tidak memiliki atau sedikit sekali mengandung unsur hara, sehingga kebutuhan unsur hara harus diberikan dari luar. Harus dilakukan perhitungan yang tepat untuk jumlah pupuk yang diberikan agar mencukupi kebutuhan tanaman dan tidak berlebih sehingga tidak terbuang (Krisantini, 2006). Penanaman Bahan tanam berupa stek berakar dapat ditanam pada lahan bedengan dengan jarak tanam 12.5 cm x 12.5 cm (kerapatan tanam 64 tanaman/m2) setelah sebelumnya dibuat lubang tanam dengan menggunakan bambu atau penugal. Pada kebun tanaman induk, ditanam dengan kerapatan 25-40 tanaman/m2 (Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, 2006). Sedangkan untuk produksi bunga pot, kerapatan tanam tergantung pada ukuran pot (Tabel 1). Saat ini pada produksi bunga pot krisan di PT saung Mirwan mengunakan pot berdiameter 15 cm dan volume 700 cc, dengan menanam 5 stek/pot. Tabel 1. Jumlah Ideal Stek Krisan per Pot Ukuran pot (cm) Jumlah stek per pot 9-11 1 12-13 3 14-16 5 17-20 7
Sumber: Hadinata, D. 1999.

 

9 Faktor kelembaban media tanam perlu diperhatikan dalam penanaman krisan, karena tanaman ini tidak toleran terhadap kekeringan , kelembaban yang rendah dan suhu yang tinggi pada fase awal penanaman. Sebaiknya media dalam bedengan diberi air yang cukup sampai lapisan olah (daerah perakaran) sehari sebelum penanaman. Penanaman dilakukan pada pagi atau sore hari pada saat suhu udara tidak terlalu panas dan sinar matahari tidak terik. Pemberian air dilakukan setelah proses penanaman selesai dan pemberian air irigasi selanjutnya dilakukan 23 hari sekali disesuaikan dengan kondisi pertanaman (Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, 2006). Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan tanaman meliputi pemberian air atau irigasi, pemberian hari panjang, pemupukkan, penyiangan, pembuangan titik tumbuh apikal (pinching) dan pemeliharaan khusus lainnya. Pemberian irigasi Air berguna untuk proses metabolisme tanaman krisan. Dalam tubuh tanaman, air befungsi tidak hanya sebagai penjaga kestabilan suhu tanaman hingga proses-proses kimia metabolisme dalam tubuh tanaman dapat berjalan, tetapi air juga berfungsi sebagai salah satu unsur utama proses fotosintesis dan proses sintesis senyawa-senyawa penting lainnya. Pada pertanaman krisan, air dapat diberikan melalui beberapa cara, yaitu siraman secara manual, pemboyoran (flooding system), dengan menggunakan irigasi tetes (drip irigation) dan irigasi curah (springkler irrigation). Kedua cara terakhir memungkinkan pupuk juga dapat diberikan bersama-sama dengan pemberian air irigasi agar pupuk tersebar merata (Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, 2006). Menurut Krisantini (2006) penyiraman umumnya sangat tergantung pada lokasi, cuaca dan musim, umur tanaman, jenis media yang digunakan, ukuran pot dan metode penyiraman. Kebutuhan air krisan adalah 2-4 l/m2/hari. Media krisan pot sebaiknya dibiarkan sedikit kering sebelum penyiraman berikutnya. Namun pada saat penyiraman, air yang diberikan harus cukup banyak hingga mencapai kapasitas lapang, dengan sisa air yang keluar melalui drainase sekitar 10-15%. Pengaturan pencahayaan Sebagian besar varietas krisan pot sudah dapat dikendalikan

pembungaannya, sehingga tepat dapat dijadwal kapan tanaman berbunga agar sesuai dengan kebutuhan pasar dengan cara pengaturan pemberian cahaya. Krisan memiliki

 

10 dua panjang hari kritis, satu untuk inisiasi bunga dan satu lagi untuk perkembangan bunga. Setiap kultivar krisan pot memiliki panjang hari kritis yang berbeda-beda. Panjang hari kritis krisan dapat dikelompokkan berdasarkan kelompok waktu respon (respond time) tanaman terhadap panjang hari, sebagian besar kultivar berada dalam kelompok respon 8, 9 dan 10 minggu. Respond time adalah waktu yang dibutuhkan sejak mulainya hari pendek hingga tanaman berbunga. Terdapat hubungan antara kelompok respon dan panjang hari kritis, makin pendek masa respond time maka makin pendek pula periode gelap kritis yang dibutuhkan untuk inisiasi pembungaan dan sebaliknya. Hari pendek buatan diberikan pada tanaman krisan untuk menyeragamkan inisiasi dan perkembangan bunga. Hal ini dilakukan dengan cara mengerudungi tanaman dengan bahan berwarna hitam selama 12-15 jam/hari, umumnya dilakukan dari jam 5 sore hingga jam 8 malam. Pengerudungan tidak boleh terhenti selama periode hari pendek yang dibutuhkan tanaman, yaitu sejak mulai hari pendek hingga bunga muncul dan warna bunga sudah tampak. Hal yang harus dilakukan untuk mengatur pembungaan krisan pot adalah memberikan hari panjang agar tanaman tumbuh vegetatif dulu lalu dipindahkan ke kondisi hari pendek untuk merangsang pembungaan. Lamanya panjang hari yang diberikan menentukan ukuran vegetatif tanaman saat inisiasi bunga, dan pada akhirnya menentukan ukuran akhir tanaman saat siap jual. Hari panjang berupa penambahan penyinaran pada tanaman diberikan sejak dan selama propagasi, pertumbuhan awal, pinching, hingga tunas lateral tumbuh sepanjang 3.5-4 cm, namun ada variasai menurut ukuran pot dan kelompok respond time (Krisantini, 2006). Pemupukan Krisan merupakan tanaman yang perlu banyak hara terutama N dan K, terutama pada masa vegetatifnya. Nitrogen sering dijadikan patokan untuk penentuan konsentrasi pupuk, dan untuk krisan konsentrasi yang digunakan adalah 300-400 ppm (300-400 mg/l) bila menggunakan pupuk NPK yang seimbang (Krisantini, 2006). Pupuk pelengkap cair diperlukan untuk menunjang pertumbuhan tanaman secara optimal (Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, 2006). Ketersediaan unsur hara esensial pada lahan pertanaman krisan yang memadai dan seimbang sangat dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan optimal tanaman. Kekurangan unsur hara akan menyebabkan terjadinya hambatan dalam pertumbuhan

 

11 tanaman dan gejala-gejala lain yang dapat mengganggu mutu pertumbuhan tanaman dan pada akhirnya dapat menurunkan penampilan dan mutu bunga yang dihasilkan. Sebaliknya, jika keberadaan suatu unsur berlebih maka akan berakibat kurang baik terhadap pertumbuhan bahkan dapat meracuni tanaman. Oleh karena itu, keseimbangan unsur yang diperlukan tanaman sangat penting. Analisis jaringan tanaman sangat dianjurkan untuk dilakukan sebelum pemupukan sehingga dosis dan waktu yang tepat mengacu pada kondisi nutrisi pada jaringan tanaman yang dianalisis. Kondisi nutrisi yang ideal pada media tumbuh pertanaman krisan dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Kandungan Nutrisi Ideal pada Larutan Pupuk Krisan Jenis senyawa Kandungan dalam media tumbuh (mmol/l) NH4 <0.2 Kopt 1.0 Navb 3,0 Capm 1.5 Mgo 0.8 NO3 2.0 Clop 3.0 1.5 SO4g HCO3 <0.5 P 0.15
Sumber : Maaswinkel dan Sulyo, 2004

EC (Electric Conductivity)  atau kandungan hara atau garam-garam yang terlarut total dan pH larutan media harus dimonitor sedikitnya setiap dua minggu selama masa produksi. EC diukur dalam milisiemens per cm (mS/cm) atau milimhos per cm (mmhos/cm) dengan EC meter. Untuk memudahkan pengertian atas EC, nilai ini (dalam satuan mS/cm) dapat dikalikan dengan 640 atau 700 dan setara dengan ppm (part per million). Data yang diperoleh harus dicatat dan dimonitor terus menerus. Kandungan garam terlarut sebaiknya 1.5-2 mmhos/cm2 bila menggunakan metode ekstraksi 2 : 1, namun tidak boleh lebih dari 2.5 mmhos/cm2 dan pH harus dijaga dalam kisaran 5.6-6.2. Metode pengukuran dengan perbandingan 2 : 1 adalah dengan mencampur dua bagian air dan satu bagian media, campuran tersebut didiamkan selama 30 menit, kemudian baru bisa diukur dengan menggunakan EC.meter (Krisantini, 2006). Pembuangan titik tumbuh apikal (pinching) Tindakan pemeliharaan yang dilakukan selanjutnya adalah pembuangan titik tumbuh apikal muda (pinching), disebut juga pemontesan atau penopingan. Pinching

 

12 berfungsi untuk merangsang pertumbuhan tunas aksilar dalam pembentukan percabangan. Pada bunga potong pinching dilakukan pada tipe spray pada saat tanaman berumur 2-3 minggu. Hal ini bertujuan agar jumlah bunga per tanaman banyak dan kompak. Tunas aksilar baru yang kemudian tumbuh menjadi cabang dipelihara hingga berbunga. Pembuangan titik tumbuh apikal pada budidaya bunga pot dilakukan saat tanaman berumur 7-10 hari sedangkan pada tanaman induk dilakukan pada saat tanaman telah mempunyai 6-7 daun sempurna, yaitu sekitar dua minggu setelah penanaman. Aplikasi ZPT Pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT) bertujuan menstimulasi kondisi fisiologi tertentu pada tanaman untuk meningkatkan kualitas dan keragaan tanaman yang diharapkan. Aplikasi ZPT ini akan membantu keragaan dan bentuk tanaman menjadi lebih baik, batang lebih tebal, dan warna daun lebih gelap. ZPT akan diserap melalui daun tanaman dalam durasi satu jam setelah aplikasi, dan dalam 12 jam akan terserap sempurna. Daun yang lebih muda akan menyerap ZPT lebih cepat dari daun yang lebih tua. Aplikasi ZPT sebaiknya tidak dilakukan apabila kondisi panas dan terik (>25ºC) atau suhu rendah (<16ºC) (Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, 2006). Salah satu ZPT yang sering digunakan untuk mengendalikan tinggi tanaman adalah B-Nine (Daminozide). B-Nine diaplikan dengan konsentrasi 2500-5000 ppm, namun konsentrasi ini juga tergantung kultivar, suhu lingkungan dan intensitas cahaya di lokasi pertanaman. Aplikasi dilakukan pada saat tunas lateral yang muncul setelah pinching telah mencapai panjang 3-5 cm. Untuk kultivar-kultivar yang berukuran besar atau tinggi, aplikasi mesti diulang hingga 2 atau 3 kali (Krisantini, 2006). Panen Menurut Kofranek (1992), krisan tipe standard dapat dipanen pada waktu kuncup yaitu pada saat bunga berdiameter 2-4 inci. Krisan tipe spray dipanen apabila sedikitnya telah terdapat empat bunga yang mekar dan diikuti lebih dari dua bunga yang setengah mekar. Panen bunga pot dapat dilakukan apabila 60% bunga telah mekar. Menurut Krisantini (2006) tinggi ideal krisan pot yang siap panen adalah 2-2.5 kali tinggi pot.

 

13 Hama dan penyakit yang menyerang tanaman krisan Banyak hama dan penyakit yang menyerang tanaman krisan, hama yang sering menyerang dan mengakibatkan kerugian yang signifikan pada pertanaman krisan diantaranya adalah penggorok daun (Liriomyza sp.), trips (Trips tabacci), ulat tanah (Agrotis ipsilon Hufn), tungau merah (Tetranycus sp.), ulat grayak (Spodoptera litura F.), dan siput (Parmarion pupillaris Humb). Sedangkan penyakit yang banyak menyerang tanaman krisan diantaranya adalah lanas daun (Pseudomonas), karat putih (Puccinia horiana), kapang kelabu (Botrytis cinerea Pers), bercak daun (Septoria chrysanthemi), penyakit tepung (Oidium

chrysanthemi), layu (Fusarium oxysporum), busuk akar dan pangkal batang (Pythium spp.), root knot (Meloidogyne sp.), serta penyakit yang disebabkan oleh virus dan viroid seperti Cucumber Mosaic Virus (CMV), Chrysanthemum Virus-B (CVB), dan Chrysanthemum Stunt Viroid (CSVd). Standar Mutu dan Kualitas Krisan Standarisasi merupakan suatu ukuran tingkat mutu dari suatu produk dengan menggunakan parameter tertentu, yang dapat berupa warna, ukuran, atau volume, bentuk, susunan, ukuran jumlah, kekuatan atau ketahanan, kadar air, estetika serta berbagai kriteria lain yang dapat dijadikan sebagai dasar standar mutu produk, termasuk bunga dan tanaman hias. Melalui standarisasi, para konsumen, produsen, pedagang dan lembaga pemasaran lainnya memiliki persamaan persepsi terhadap suatu ukuran tingkat mutu produk bunga. Standarisasi juga mampu menjamin terjadinya kepastian harga dari bunga dan tanaman hias itu sendiri. Beberapa kriteria yang digunakan sebagai dasar dalam standarisasi mutu bunga, terdiri dari: 1. Warna bunga, meliputi variasi warna, tingkat kecerahan bunga (chroma), dan tingkat kesegaran bunga. 2. Bentuk dan susunan bunga, mencakup spesifikasi bentuk, kerapatan, kekompakan serta tata letak dari tiap kuntum bunga pada tangkai bunga. 3. Ketahanan bunga (vase life), menyangkut kemampuan bunga untuk dapat bertahan lama dengan tingkat kesegaran yang relatif tetap mendekati seperti halnya pada saat di panen. 4. Jumlah kuntum dan panjang tangkai bunga, parameter ini juga sering digunakan dalam penentuan standarisasi mutu bunga. Semakin banyak jumlah kuntum bunga dalam setiap tangkainya, maka secara tidak langsung tangkai bunga yang ada juga semakin panjang sehingga sering kali dikategorikan sebagai bunga yang berkualitas baik (Rianto, 2008).

 

14 Kualitas dan mutu bunga adalah faktor yang sangat mempengaruhi harga jual bunga krisan. Peningkatan produksi bunga krisan harus disertai dengan perbaikan teknologi budidaya untuk meningkatkan kualitas produksi dan harga jual produk. Perbaikan teknik budidaya dilakukan dengan menerapkan teknologi budidaya anjuran spesifik lokasi dan komponen-komponen lain secara terpadu (Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, 2006).

METODE MAGANG
Waktu dan Tempat Kegiatan magang dilaksanakan di PT Saung Mirwan yang berlokasi di desa Sukamanah kecamatan Megamendung, kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kegiatan ini dilaksanakan mulai tanggal 24 Februari hingga 20 Juni 2009 Metode Pelaksanaan Metode yang digunakan pada kegiatan magang adalah : 1. Metode langsung yang digunakan berupa praktik kerja di lapangan dengan turut aktif dalam pelaksanaan kegiatan budidaya tanaman, baik pada bagian mother plant (tanaman induk krisan) yang memproduksi bahan stek, bagian propagation (persemaian bibit) yang menghasilkan stek berakar, produksi bunga potong dan tanaman hias pot. Kegiatan dilakukan beberapa tahap berdasarkan bagian-bagian budidaya yang ada, yaitu selama kurang lebih dua bulan di bagian tanaman hias pot, satu bulan di bagian mother plant dan propagation serta satu bulan di bagian bunga potong. Metode langsung akan menghasilkan data primer. 2. Metode tidak langsung dilakukan dengan mengumpulan data-data perusahaan berupa laporan mingguan, bulanan, tahunan dan arsip kebun lainnya serta mengumpulkan studi pustaka berkaitan dengan budidaya krisan. Dari pendekatan tidak langsung maka akan diperolah data sekunder. Data primer yang diperoleh merupakan hasil pengamatan langsung di lapang dan wawancara dengan staf serta pekerja di Saung Mirwan selama kegiatan magang berlangsung. Data pengamatan di lapang difokuskan pada data pertumbuhan dan kegiatan budidaya bunga pot krisan serta mengamati proses produksi bibit krisan dan proses budidaya tanaman induk krisan yang dipelihara untuk produksi bahan stek. Data pertumbuhan krisan pot antara lain adalah data tinggi tanaman, jumlah tunas, persentase daya tumbuh, jumlah kuntum bunga/pot dan persentase kehilangan hasil pada setiap tahapan kegiatan budidaya krisan pot. Data sekunder diperoleh dari laporan berkala, arsip perusahaan dan laporan penunjang lain. Data perusahaan yang diperlukan juga meliputi

   

16 pengelolaan usaha, kondisi umum perusahaan dan pemasaran. Pengelolaan usaha meliputi faktor manajerial (perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan,

pengawasan, norma kerja dan evaluasi teknik budidaya yang dilakukan) dan faktor tenaga kerja (jumlah, keterampilan, dan prestasi). Kondisi umum meliputi informasi sejarah, keadaan wilayah, tata guna lahan serta sarana dan prasarana yang tersedia. Pemasaran meliputi manajemen pemasaran, sistem penjualan, promosi, harga, penentuan harga dan kendala dalam pemasaran. Pengamatan dan Pengumpulan Data Bunga pot krisan yang diamati terdiri dari 15 varietas, diamati lima pot contoh setiap varietas dengan masing-masing terdiri dari lima tanaman pada setiap pot. Jumlah bunga krisan yang diamati adalah 75 pot yang terdiri dari 375 tanaman. Pengamatan dilakukan dari awal penanaman sampai tanaman siap dipanen yang disesuaikan pada kondisi perkembangan tanaman. Tinggi tanaman diukur dari pangkal batang hingga ruas batang terakhir dengan menggunakan mistar, dan untuk pengukuran tinggi tanaman minggu berikutnya dilakukan dari permukaan media hingga ruas terakhir batang. Persentase daya tumbuh krisan pot merupakan rasio antara banyak pot yang ditanam dengan stek berakar sebagai bibit dengan jumlah pot yang dapat dipanen. Kemudian dilakukan perbandingan persentase keberhasilan antar varietas yang ada. Kegiatan budidaya lainnya yaitu tahap pemeliharaan meliputi pewiwilan, pindah tanam, aplikasi ZPT, pengendalian hama dan penyakit dan perlakuan khusus berupa pengaturan pencahayaan. Hal-hal yang diamati antara lain waktu dan teknik pewiwilan, intensitas cahaya yang diberikan, lama pencahayaan dan jumlah tanaman yang rusak pada setiap kegiatan budidaya. Selain itu dilakukan pengamatan terhadap pengemasan, aspek pemasaran, varietas yang paling diminati oleh konsumen dan persentase tanaman yang termasuk ke dalam standar mutu A dan B yang ditetapkan perusahaan. Dilakukan juga pengamatan terhadap biaya yang diperlukan pada kegiatan budidaya untuk menghitung kelayakan usahatani budidaya krisan pot.

 

   

17 Analisis Data dan Informasi Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan antara data yang diperoleh (primer dan sekunder) dengan norma dan pustaka/literatur terkait dan tersedia. Data tersebut meliputi persentase daya tumbuh dan nilai ratarata jumlah bunga, jumlah tunas, tinggi tanaman dan alokasi penanaman masingmasing varietas serta persentase kehilangan hasil pada masing-masing tahapan proses budidaya. Tingkat kesukaan konsumen terhadap varietas tertentu dapat dilihat dari persentase alokasi penanaman masing-masing varietas yang telah ditetapkan perusahaan. Pengamatan terhadap kualitas bunga pot krisan dilakukan pada saat panen dengan cara membandingkan antara standar kualitas yang ditetapkan perusahaan dengan kualitas produk yang ditemukan di lapang. Perbandingan dilakukan dengan menampilkan contoh tanaman yang termasuk dalam standar mutu A dan B yang ditetapkan perusahaan. Selain itu juga dilakukan perhitungan persentase masing-masing varietas yang memenuhi standar mutu A dan B setiap parameter pengamatan pada saat panen seperti tinggi tanaman dan jumlah kuntum bunga per pot. Analisis kelayakan usahatani merupakan perkiraan biaya (pengeluaran) dan manfaat (pendapatan) dari suatu usaha pertanian yang dilakukan untuk membandingkan biaya-biaya dengan manfaatnya dan menentukan apakah usaha tersebut layak diusahakan dan mempunyai keuntungan yang layak. Kelayakan usaha dapat dilihat dari nilai NPV (Net Present Value), IRR (Internal Rate of Return), Net B/C Rasio (Net Benefit Cost Ratio) dan PBD (Pay back Periode). Asumsi-asumsi yang digunakan dalam analisis ini adalah sebagai berikut : 1. Penanaman dilakukan setiap minggu selama 1.5 tahun. Untuk menampung produksi maksimal setiap minggunya dibutuhkan greenhouse sebanyak tujuhobuah dengan luasan total lahan yang dibutuhkan adalah 300 m2. 2. Seluruh instalasi listrik, irigasi dan perendaman merupakan jumlah yang dibutuhkan untuk tujuh buah green house. 3. Pada pengusahaan bunga pot krisan ini tidak menggunakan modal awal.

 

   

18 4. Jumlah bunga pot krisan yang ditanam adalah 1250 pot/minggu denganmdaya keberhasilan tumbuh 80% sehingga jumlah tanaman yang dapat dipanen adalah 1000 pot/minggu 5. Biaya yang diperlukan adalah biaya investasi dan biaya produksi yang disesuaikan dengan harga barang dan bahan yang diperkirakan oleh perusahaan. 6. Lahan disewa dengan harga Rp 1.000/m2/bulan. 7. Suku bunga yang digunakan adalah 17%.

 

KEADAAN UMUM PERUSAHAAN

Sejarah Singkat Perusahaan PT. Saung Mirwan didirikan pada tahun 1983. Pada awalnya, Tatang=Hadinata selaku pemilik perusahaan memulai usahanya dengan menanam melon di atas lahan terbuka. Tahun 1985 mulai dikembangkan usahanya dengan menanam bawang putih seluas 7 ha di daerah Cipanas, Kab. Cianjur dan memperkerjakan karyawan sebanyak 100 orang. Banyak petani lain yang juga membudidayakan bawang putih mengakibatkan usaha tersebut kurang

memberikan keuntungan, kemudian diputuskan untuk mengembalikan usahanya di sekitar desa Sukamanah. Tatang Hadinata mulai mencoba usaha tanaman di dalam greenhouse, menggunakan sistem irigasi tetes. Hasil percobaan awal yang menunjukkan hasil sangat memuaskan sehingga ia memutuskan untuk memperbesar usaha ini dengan jenis tanaman melon, paprika, tomat, ketimun jepang (kyuuri) dan cabe jepang (shisito). Hingga tahun 1991 luas areal greenhouse telah mencapai 1.5 ha. Usaha penanaman sayur dalam greenhouse terus berkembang. Pada tahun 1992 tuntutan pasar memaksa PT. Saung Mirwan untuk meningkatkan produksi sayur, namun karena keterbatasan SDM perusahaan melakukannya dengan sistem kemitraan. Dimulai dengan melakukan kerjasama dengan petani kecil sekitar Sukamanah dengan menanam beberapa jenis komoditas di lahan terbuka dimana segala kebutuhan saprotan disediakan oleh perusahaan. Sebagai usaha diversifikasi, pada tahun 1992 PT. Saung Mirwan mulai mengadakan percobaan untuk memproduksi stek krisan yang sudah berakar (rooted cutting), yang kemudian dilanjutkan dengan produksi bunga pot. Dalam produksi rooted cutting dilakukan kerja sama dengan PT. Tecsuco Nusa Semesta sebagai agen pemasaran dan Fides Holland b.v. sebagai penyedia pohon induknya. Perusahaan mulai memproduksi bibit krisan secara komersil pada tahun 1993 berdasarkan lisensi dari Fides Holland b.v. dan pada tahun 1994 juga mendapatkan lisensi dari perusahaan lain di Belanda yaitu Chrysanthemum Breeders Association n.v. (CBA n.v.) dan dari P. van der Kamp b.v. pada tahun 1996. Awal tahun 1994 PT. Tecsuco Nusa Semesta mengundurkan diri sebagai agen pemasaran sehingga penjualan bibit krisan langsung ditangani oleh PT..Saung Mirwan.

20

Tahun 1995 luasan greenhouse untuk produksi bunga telah mencapai 1.5oha, sedangkan greenhouse untuk sayur mencapai 2 ha dan lahan luar 5.5 ha dengan karyawan sebanyak 225 orang. Melihat perkembangan perusahaan, tahun 1996 T. Hadinata mulai membenahi manajemen perusahaan dari pola konvensional kearah manajemen profesional. Pimpinan mulai membagi-bagi bidang kerja dan mendelegasikan pekerjaan dengan menunjuk stafnya untuk melakukan fungsi setingkat manager. Tahun 1997, PT. Saung Mirwan mulai memasuki pasar internasional dengan mulai mengekspor beberapa komoditas sayuran terutama paprika dengan negara tujuan ekspor utama adalah Hongkong dan Taiwan. Pada tahun 1999 PT.oSaung Mirwan bekerja sama dengan Deliflor Chrysanthen B.V. melakukan percobaan ekspor stek tidak berakar (unrooted cutting) krisan dengan membuka lahan produksi tambahan. Pada waktu itu sempat direncanakan sebelum akhir tahun akan dibuat perusahaan joint venture dengan Deliflor Chrysanthemum B.V. dengan nama Deliflor Indonesia, dengan target produksi 4 juta stek per minggu. Namun dengan alasan kondisi keamanan yang tidak kondusif, pihak Deliflor (Belanda) menarik diri dari kerja sama tersebut. Sejak pertengahan tahun 2004 hingga saat ini PT. Saung Mirwan bekerjasama dengan PT. Nanyo Jepang dalam hal pengadaan stek pucuk tanpa akar (unrooted cutting), dan pertengahan tahun 2009 ini kerjasama juga meliputi pengadaan bunga potong. Selanjutnya ada rencana ekspor bunga potong krisan untuk Malaysia dan daerah Timur Tengah. Permintaan bunga yang cukup tinggi menyebabkan greenhouse yang awalnya merupakan lokasi produksi sayur dijadikan sebagai produksi bunga, sedangkan produksi sayur sebagian besar dialihkan ke sistem kemitraan dengan petani. Jumlah karyawan PT Saung Mirwan hingga tahun 2009 mencapai 524 orang, data karyawan perusahaan dapat dilihat pada Lampiran 1. Luasan PT. Saung Mirwan sampai ini saat ini terdiri dari : desa Sukamanah (Bogor), Lemah Neundeut (Bogor), Garut, Lembang, dan Cipanas. Lahan di desa Sukamanah digunakan untuk kantor pusat Saung Mirwan, budidaya tanaman induk untuk produksi stek pucuk, bunga potong dan bunga pot (pada Lampiran 2 dapat terlihat sketsa tanah PT Saung Mirwan yang terletak di Desa Sukamanah). Sedangkan lahan yang ada di Lemah Neundeut digunakan untuk produksi bunga potong. Untuk daerah Lembang dan Cipanas digunakan untuk budidaya tanaman induk untuk produksi stek, produksi bunga potong, dan sayur.

21

Visi dan Misi Perusahaan Sebagai salah satu perusahaan yang sedang berkembang, PT. Saung Mirwan mempunyai Visi dan Misi yang jelas untuk membawa dunia pertanian ke dalam era modernisasi dan globalisasi. Visinya adalah : Menjadi salah satu leader di bidang pertanian khususnya hortikultura dengan menerapkan teknologi guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Misi perusahaan adalah : Menghasilkan produk pertanian yang berkualitas tinggi secara berkesinambungan dan konstan sesuai dengan kebutuhan pasar. Senantiasa meningkatkan kualitas produk, kualitas sumber daya manusia dan kualitas pelayanan untuk memberikan kepuasan pelanggan. Memperbesar usaha pertanian melalui pengembangan jaringan kemitraan dengan petani kecil. Melakukan kerjasama dengan institusiinstitusi pendidikan dan penelitian untuk mendapatkan dan menerapkan teknologi tepat guna untuk para pelaku usaha pertanian. Strktrur Organisasi dan Ketenagakerjaan PT Saung Mirwan dipimpin oleh seorang direktur utama yang sekaligus sebagai pemilik perusahaan. Direktur utama membawahi direktur umum, diektur komersil dan direktur produksi. Direktur komersil membawahi divisi penjualan sayur, divisi penjualan bunga, divisi pengadaan, divisi pengemasan, dan divisi kemitraan. Direktur bagian produksi membawahi divisi yang bertanggung jawab terhadap kebun Gadog, kebun Lemah Neundeut, kebun Cipanas, Kebun Lembang, dan kebun Garut. Sedangkan direktur bidang umum membawahi empat divisi yaitu Divisi GA (General Administration), Divisi HR (Human Resource), Divisi Keuangan dan Akunting dan Divisi Teknik. Struktur organisasi dapat dilihat pada Lampiran 3. Semua divisi dipimpin oleh seorang manajer yang membawahi beberapa bagian yang dipimpin oleh seorang kepala bagian atau kabag yang dibantu oleh beberapa staf. Kabag akan membawahi beberapa seksi yang dipimpin oleh kepala seksi atau kasi, yang masing-masing kasi akan membawahi sejumlah kepala subseksi atau kasubsi. Karyawan yang bekerja di PT Saung Mirwan terdiri dari karyawan bulanan, karyawan harian, dan karyawan borongan. Karyawan bulanan dan harian termasuk karyawan tetap, sedangkan karyawan borongan merupakan karyawan tidak tetap. Gaji karyawan sangat tergantung pada lama pengabdian, tingkat pendidikan, dan prestasi kerja. Semakin lama berkerja dan semakin tinggi tingkat pendidikan karyawan, maka semakin besar gaji yang didapatkan.

22

Karyawan borongan digaji setiap minggu berdasarkan jumlah pekerjaan yang dapat diselesaikannya. Misalnya untuk karyawan borongan pada bagian tanaman induk yang bertugas melakukan panen pucuk (cutting), maka besarnya gaji ditentukan berdasarkan jumlah cutting yang diperolehnya. Karyawan harian digaji setiap minggunya berdasarkan jumlah jam dan hari kerja yang dilihat absen karyawan. Gaji karyawan bulanan telah ditetapkan setiap bulannya dan ditambah dengan adanya tunjangan-tunjangan dan insentif kehadiran. Karyawan bulanan memperolah tunjangan transportasi, kesehatan, tempat tinggal, tunjangan jabatan, dan uang makan. Karyawan harian hanya memperolah uang makan dan tunjangan kesehatan. Kegiatan di PT. Saung Mirwan berlangsung dari hari senin hingga jumat untuk karyawan yang bekerja di kantor, dan senin hingga sabtu untuk karyawan yang bekerja di lapang. Dimulai pada pukul 07.30 s/d 16.00 untuk karyawan yang bekerja di lapang dan 07.30 s/d 16.30 untuk karyawan yang bekerja di kantor, dengan istirahat makan siang selama 1 jam pada pukul 12.00 s/d 13.00, namun untuk hari jumat istirahat dimulai pukul 11.00 s/d 13.00. Perusahaan sangat memperhatikan masalah kedisiplinan. Sebagai contoh adalah keterlambatan, keterlambatan akan mempengaruhi jumlah insentif atau bonus yang diperoleh, apabila terlambat bonus yang diterima akan dipotong atau tidak diberikan sama sekali tergantung lama dan frekuensi keterlambatan. Karyawan yang melakukan pelanggaran akan diberi teguran atau surat peringatan bahkan pemecatan berdasarkan tingkat kesalahan yang dilakukan. Kondisi lingkungan PT Saung Mirwan terletak di kaki gunung Pangrango, yang tepatnya berada di Kampung Pasir Muncang, Desa Sukamanah, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor , Jawa Barat. Berjarak sekitar 20 km dari kota Bogor dan kurang lebih 60 km dari ibukota Jakarta. Secara umum lokasi perkebunan berada di daerah pegunungan dengan topografi berbukit-bukit, rata, dan miring dengan jenis tanahnya latosol kecoklatan dan berada pada ketinggian 670 m dpl dengan koordinat geografis 6 41’ LS dan 106 51’ BT. Suhu rata-rata pada siang hari di dalam green house adalah antara 18°-38°C dengan kelembaban maksimum 90%. Suhu di luar greenhouse pada siang hari berada antara 18º-30ºC dengan kelembaban maksimum 70%. Curah hujan di lokasi tersebut cukup tinggi dengan

23

curah hujan bulanan berkisar antara 2945=mm.

32-594 mm dan curah hujan tahunan

PT Saung Mirwan adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang agribisnis tepatnya sebagai produsen dan trading company sayuran dan bunga. Jenis sayuran yang dibudidayakan seperti : cabe jepang (shisito), tomat beef, tomat cherry, ketimun jepang (kyuuri), timun mini, nasubi, okra, brokoli, kacang kedele edamame, dan paprika. Saat ini pengusahaan sayuran tidak dilakukan di lokasi perusahaan yang berlokasi di Pasir Muncang. Sayur hanya dibudidayakan di lahan yang berlokasi di Cipanas dan Lembah neundeut. Jenis bunga yang diproduksi diantaranya adalah krisan, kalanchoe, kalandiva, kastuba, baby rose, anturium bunga, dan lysiantus. Produk bunga yang dihasilkan berupa stek pucuk, stek berakar, bunga potong, dan bunga pot. Saat ini alokasi greenhouse untuk penanaman tanaman induk krisan baik untuk produksi stek pucuk maupun stek berakar adalah 55%. Pengusahaan bunga potong krisan ±=18%, bunga pot krisan ±,9%, tanaman induk dan bunga pot kalanchoe 9%, bunga pot kastuba ± 5%, 2% bunga potong lysiantus, dan sisanya digunakan untuk percobaan bunga-bunga lainnya. Perusahaan ini mengawali kegiatannya sebagai produsen sayur-sayuran dengan menerapkan teknik budidaya secara hidroponik. Sayur yang dihasilkan sebagian besar diproduksi dengan cara kerjasama dengan mitra petani. Mitra tani tersebar di Garut dan beberapa daerah di kabupaten Bogor seperti Cisarua, Cijeruk, Cicurug, Cipayung, Tapos, Bojong Murni, dan Cilember. Sejak tahun 1991 perusahaan ini memperluas usahanya dengan budidaya stek krisan, bunga pot krisan, dan bunga potong yang dibudidayakan di dalam greenhouse. Perusahaan melakukan pemasaran di dalam negeri dan ke luar negeri. Untuk pasar lokal yang menjadi sasaran utama adalah Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Disamping itu perusahaan juga telah mempunyai pelanggan di daerah Bandung, Surabaya, Lampung, Palembang bahkan Bali. Untuk pasar luar negeri, ekspor dilakukan ke Taiwan, Hongkong, Jepang, Malaysia dan Belanda. Sarana prasarana PT. Saung Mirwan menyediakan sarana dan prasarana penunjang bagi seluruh karyawannya sebagai salah satu upaya untuk mengoptimalkan kinerja dan aktivitas perusahaan, disamping juga sebagai kewajiban sebuah perusahaan

24

kepada karyawannya. Sarana dan prasarana yang dimiliki PT. Saung Mirwan meliputi bidang produksi, administrasi, dan sosial. Sarana produksi PT. Saung Mirwan dapat dijelaskan sebagai berikut : Greenhouse Bangunan greenhouse yang dimiliki PT. Saung Mirwan dibuat secara semi permanen berbentuk joglo dengan ukuran 6.4 m x 44 m memiliki lantai dasar semen dan kerangka greenhouse yang dilas. Posisi greenhouse melintang dari arah utara ke selatan agar tanaman mendapatkan penyinaran matahari secara optimal. Bentuk atap greenhouse adalah segitiga bertingkat sehingga terdapat ventilasi diantara segitiga tersebut yang menjadikan sirkulasi udara berjalan dengan baik. Atap ditutup dengan plastik polyvinyl chloride (PVC) jenis 6 % berwarna kehijauan yang dapat mentransmisikan sinar matahari sebanyak 94%. Memiliki nilai ekonomis 5 tahun tetapi dalam penggunaan komersil hanya mampu bertahan 2-3 tahun, harganya tidak terlalu mahal, ringan dan mudah dibentuk. Kekurangannya adalah sifatnya yang mudah lapuk apabila terkena sinar UV. Apabila menggunakan plastik, suhu dalam greenhouse akan menjadi lebih tinggi dibanding suhu di luar greenhouse. Dinding greenhouse menggunakan kasa nilon yang berwarna hijau, sirkulasi udara ke dalam greenhouse lancar sehingga dapat menurunkan suhu udara di dalam greenhouse. Lebih jelasnya dapat melihat penampang melintang dari lay out bangunan greenhouse pada Lampiran 4. Pada pintu masuk greenhouse disediakan keset busa yang direndam larutan desinfektan untuk menjaga kesterilan ruangan dimana setiap pekerja yang melewati pintu diwajibkan keset terlebih dahulu sehingga dapat menghindari penyebaran penyakit. Selain itu di dalam greenhouse juga diberlakukan larangan merokok karena asap rokok yang mengandung nikotin dapat menyebabkan daun tanaman layu. Sistem Irigasi Sistem irigasi yang digunakan PT. Saung Mirwan terdiri dari sistem irigasi tetes (drip irrigation) pada sebagian krisan pot dan tanaman induk kastuba dan kalanchoe, irigasi via flow pada untuk bunga potong dan tanaman induk krisan dan kalanchoe, irigasi ebb and flow untuk bunga pot, sistem pengkabutan pada bunga potong dan persemaian serta penyiraman secara manual. Skema jaringan irigasi sistem Ebb and Flow dapat dilihat pada Lampiran 5. Sistem irigasi tetes merupakan sistem irigasi yang cara pemberian air nutrisi pada tanaman secara langsung pada permukaan media dekat perakaran

25

tanaman saja melalui tetesan secara berkesinambungan dan perlahan-lahan pada media dengan menggunakan alat yang disebut emitter pada ujung selang. Sistem irigasi via flow merupakan sistem irigasi yang menggunakan pipa plastik yang berpori-pori, yang ditempatkan antara barisan tanaman sehingga air yang berupa butiran halus keluar dari pipa tersebut dan pembasahan tanah berjalan lambat. Sedangkan sistem irigasi ebb and flow adalah sistem irigasi yang dilakukan dengan cara perendaman dimana meja yang digunakan untuk meletakkan pot-pot tanaman dialiri air sehingga menggenangi pot setinggi 5 cm. Pipa plastik ini bersifat lentur sehingga mudah dibongkar pasang pada saat yang diperlukan dan mampu mengikuti arah kontur bedengan. Ruang Penyimpanan Perusahaan memiliki tujuh buah cool storage, lima buah pada bagian bunga dan dua buah untuk bagian sayur. Pada bagian bunga digunakan untuk penyimpanan hasil panen stek krisan dan kalanchoe. Cool storage pada sayur digunakan untuk penyimpanan stok sayuran sebelum dan sesudah dilakukan proses pasca panen. Penyimpanan stok panen dilakukan dalam ruang pendingin (cool room), yang memiliki kapasitas dan suhu yang berbeda-beda sesuai fungsi penyimpanan dan jenis tanaman yang disimpan. Cool room yang digunakan untuk menyimpan hasil panen stek yang akan ditanam di persemaian memiliki suhu 2-4 ºC dengan kelembaban mencapai 95%. Unit Transportasi Perusahaan menyediakan beberapa unit mobil dengan berbagai jenis untuk tranportasi hasil panen dan distribusi ke konsumen, Untuk jarak dekat sekitar greenhouse digunakan alat angkut berupa kereta dorong beroda. Sarana administrasi meliputi bangunan kantor, gudang, alat absensi otomatis, mesin fotokopi, komputer, printer, perangkat telekomunikasi berupa telepon dan feksimili. Sarana produksi (budidaya) antara lain greenhouse, sistem irigasi, unit transportasi, bengkel, unit pembakaran sekam, unit sterilisasi media, unit pencahayaan, ruang penyimpanan berupa ruang pendingin (cool room), power sprayer, generator, dan alat-alat untuk pembibitan, persemaian, budidaya, panen dan pasca panen. Sarana sosial yang dimiliki perusahaan antara lain : mess karyawan, sarana olahraga (seperti : lapangan mini golf, lapangan tenis, lapangan voli), sarana ibadah (musholah), kamar mandi, kantin, dan kolam pemancingan

26

ikan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lay out bangunan PT. Saung Mirwan pada Lampiran 6. Kemitraan Memenuhi permintaan sayur yang terus meningkat, perusahaan

memperluas penanaman dengan cara membina mitra tani dengan berkerjasama dengan petani yang ada disekitar perusahaan. Tahapan untuk bisa menjadi mitra PT Saung Mirwan adalah : pertama pihak perusahaan melakukan survey ke lapang atau ke lahan petani yang akan menjadi mitra, apabila memenuhi kriteria perusahaan, selanjutnya petani melakukan registrasi. Sistem budidaya yang dilakukan petani harus mengikuti standar budidaya yang ditetapkan oleh perusahaan. Pihak perusahaan akan melakukan pengontrolan pada saat sebelum tanam, setelah tanam, dan selanjutnya rutin tiap minggu. Penggunaan pupuk, pestisida dan lainnya dilakukan berdasarkan rekomendasi perusahaan. Untuk panen, hasil panen diseleksi dilahan dan di bagian packaging perusahaan Komoditas yang ditanam oleh mitra umumnya adalah sayuran yang jarang ada di pasaran umum seperti letus, buncis mini, timun mini, pakcoy, pakcoy baby, okra, edamame, nasubi (terong), dan lainnya. Pemasaran produk yang ditanam oleh mitra secara tidak langsung akan terikat pada perusahaan. Lokasi kemitraan saat ini hanya berada di wilayah kabupaten Bogor dan Garut. Kabupaten Bogor meliputi Megamendung, cijeruk, cipayung, tapos, bojong murni dan lainnya. Luas penanaman di kabupaten Bogor mencapai 1.5 ha/minggu, sedangkan untuk wilayah Garut mencapai 2 ha/minggu.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Aspek Teknis Seiring dengan meningkatnya tuntutan masyarakat global terhadap produk yang aman terhadap lingkungan, berbagai negara maju telah menerapkan prinsip budidaya yang baik dan benar atau Good Agriculture Practices (GAP). Prinsip GAP menekankan peningkatan produksi dan mutu hasil dengan memperhatikan kelestarian lingkungan dan sumber daya serta keselamatan kerja, kesehatan dan kesejahteraan pekerja (Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi, 2008). Krisan pot berkualitas yang dihasilkan oleh PT. Saung Mirwan tentunya tidak lepas dari proses budidaya yang diterapkan. Perusahaan sangat memperhatikan proses budidaya yang baik dan benar mulai dari persiapan media dan bibit hingga proses panen dan pasca panen. 1.1 Produksi Bibit Krisan Proses budidaya yang diterapkan pada bagian tanaman induk telah sesuai dengan Prosedur Operasional Standar (POS) Produksi Benih Krisan yang dikeluarkan oleh Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi, Direktorat Jendral Hortikultura. POS pada produksi benih krisan meliputi pemilihan lokasi, penyiapan rumah lindung, sarana irigasi, instalasi pencahayaan dan lahan untuk tanaman induk, perlakuan tanah dan penanaman tanaman induk, pengaturan pencahayaan tambahan, pengairan dan pemupukan tanaman induk, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), panen dan pasca panen stek pucuk krisan, persiapan media pengakaran, pengakaran stek pucuk krisan, panen dan pasca panen stek pucuk berakar, standar mutu benih krisan dan legalisasi mutu. Stek krisan yang dihasilkan oleh bagian tanaman induk ini juga telah memenuhi standar untuk pasar ekspor. Hal ini menghasilkan bibit krisan yang kualitasnya tidak diragukan lagi. 1.1.1 Persiapan Lahan Persiapan lahan diawali dengan sanitasi lahan dari sisa-sisa tanaman dan gulma pada penanaman sebelumnya dengan cara manual. Kemudian ditebarkan pupuk kandang dan diratakan dengan menggunakan garu. Dosis pupuk kandang

28

yang diberikan adalah 15 ton/ha atau setara dengan 15 karung/bedeng, tiap atap terdiri dari empat bedeng dan setiap bedeng berukuran 6.4 m x 40 m. Selanjutnya, lahan diolah dengan menggunakan traktor (Gambar 1) dan dilakukan pemberian furadan 1 kg/bedeng dan pupuk dasar yang terdiri dari MgSO4 80 g/m2, SP-36 100 g/m2 atau SP-27 150 g/m2 atau SP-18 200 g/m2 dan urea 100 g/m2 dengan cara ditabur merata di atas lahan. Setelah itu, lahan diolah dengan menggunakan traktor kembali dan dilakukan sterilisasi. Sterilisasi lahan bertujuan untuk membunuh nematoda, sisa-sisa gulma, bakteri, dan fungi yang tersisa di lahan. Sterilisasi dapat dilakukan dengan menggunakan formalin, Gold, atau Basamid, fumigasi, solarisasi dan pemanasan atau pasteurisasi. Formalin digunakan dengan dosis 250 l/atap atau sekitar 1 l/m2 yang diberikan 7 hari sebelum penanaman dengan cara disemprotkan secara merata pada lahan kemudian ditutup selama 7 hari dengan plastik. Aplikasi Gold yang mengandung bahan aktif mefenoksan 4% dan mankozeb 64% dapat dilakukan dengan dosis 15 l/atap dengan cara disemprotkan secara merata pada lahan 8 hari sebelum penanaman. Apabila menggunakan Basamid yang mengandung bahan aktif dazomet 98% maka dosis yang digunakan adalah 70 gr/m2 dengan cara dicampurkan ke lahan secara merata kemudian ditutup dengan menggunakan plastik hitam selama 7-8 hari. Pasteurisasi atau pemanasan lebih dikenal dengan istilah steam dilakukan dengan cara menyalurkan uap panas yang berasal dari air yang berada dalam bak yang terdapat pada mesin yang menghasilkan panas sebesar 80-100ºC ke bedengan yang telah ditutup plastik hitam sehingga suhu lahan menjadi 60ºC. Selanjutnya, dilakukan pemasangan selang irigasi di atas bedengan tersebut.

Gambar 1. Persiapan Lahan untuk Penanaman Tanaman Induk Krisan dengan Pengolahan Lahan Menggunakan Traktor

29

1.1.2 Penanaman dan Pemeliharaan Setelah lahan siap ditanami kemudian dibuat lubang tanam dengan jarak tanam 10 cm x 10 cm menggunakan alat pelubang. Penanaman dilakukan dengan menggunakan stek yang telah diakarkan terlebih dahulu (Gambar 2a). Setelah penanaman, dilanjutkan dengan pengkabutan dengan air sebanyak 3000 l/atap, agar akar menyatu dengan tanah dan stek kembali segar. Setelah tanaman berumur 2 MST irigasi dan nutrisi diberikan bersamaan melalui selang-selang irigasi menggunakan sistem via flow atau taifun dengan frekuensi 2-3 kali dalam seminggu yang disesuaikan dengan keadaan cuaca. Apabila cuaca terlalu panas, maka ditambah dengan pengkabutan (Gambar.2b).

(a) (b) Gambar 2. (a) Penanaman Tanaman Induk Krisan dan (b) Pengkabuatan Areal Tanaman Induk Krisan Menurut Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi (2008) topping atau pinching adalah pembuangan titik tumbuh apikal muda dengan menyisakan 4-5 helai daun. Berfungsi untuk merangsang pertumbuhan tunas lateral untuk percabangan tanaman. Topping dilakukan pada 2 MST dengan menggunakan pisau khusus atau gunting yang sebelumnya dioles alkohol atau desinfektan setiap pindah tanaman. Pucuk hasil topping pertama belum bisa digunakan sebagai bahan stek. Pengaplikasian ZPT yang termasuk dalam kelompok retardan yaitu Alar 64 SP (yang mengandung bahan aktif daminozide) dilakukan apabila pertumbuhan terlalu pesat karena akan dihasilkan cabang tunas yang terlalu panjang namun berdiameter kecil. Aplikasi alar ini bertujuan untuk menghambat pertumbuhan cabang dan memperbesar diameter tunas.

30

Tanaman induk diberikan cahaya tambahan pada malam hari selama 6 jam untuk mempertahankan pertumbuhan vegetatif tanaman. Apabila lama penyinaran kurang, maka akan terjadi inisiasi bunga yang menyebabkan ketidakseragaman pertumbuhan stek ketika ditanam kembali. Penyinaran diberikan dengan lampu yang memiliki daya 100 watt dan intensitas 50-70 lux, dapat dilihat pada Gambar 3a. Lampu dipasang dua meter dari permukaan atas tanaman dengan jarak antar lampu masing-masing dua meter, sehingga setiap tanaman mendapatkan pencahayaan yang rata. Setiap minggu dilakukan pengukuran intensitas cahaya lampu untuk menghindari terjadinya inisiasi bunga pada tanaman induk krisan, dengan menggunakan alat yang terlihat pada Gambar.3b.

(a) (b) Gambar 3. (a) Pemberian Cahaya Tambahan pada Tanaman Induk Krisan dan (b) Alat Pengukur Intensitas Cahaya 1.1.3 Panen Stek Pucuk Krisan Panen stek pertama dapat dilakukan pada saat tanaman berumur 4 MST, dengan cara memotong pucuk tanaman sepanjang 7 cm di atas daun keempat dari pangkal bawah dan stek telah mempunyai 2-3 daun sempurna. Dengan empat daun yang ditinggalkan, diharapkan tetap terjadi fotosintesis untuk menunjang pertumbuhan tunas lateral berikutnya. Demikian seterusnya hingga tanaman induk akan menjadi tinggi dan bercabang-cabang. Panen dapat terus dilakukan hingga tanaman berumur 14 MST. Pada proses pemanenan diusahakan bekas potongan stek harus lurus dan tidak rusak. Kondisi pertanaman tanaman induk krisan dan aktivitas pemanenan stek krisan dapat terlihat pada Gambar 4a dan 4b.

31

(a) (b) Gambar 4. (a) Kondisi Pertanaman Tanaman Induk dan (b) Aktivitas Pemanenan Stek Krisan 1.1.4 Persemaian Stek Media yang digunakan untuk persemaian adalah peat moss (gambut), cocopeat (sabut kelapa) dan arang sekam dengan perbandingan 1:1:1. Sebelum penanaman, media disiram dengan air agar media menjadi lembut dan mempermudah dalam pembuatan lubang tanam. Jarak tanam yang digunakan yaitu 4 cm x 4 cm, dan lubang tanam dibuat dengan mengunakan alat pembuat lubang khusus. Stek yang akan disemai atau diakarkan, sebelum ditanam diberi zat perangsang akar yaitu Rootone-F yang merupakan auksin sintesis dan mengandung bahan aktif 1-Naftalenasetamida (0.067%), 2-Metil-1Naftalenasetamida (0.013%), 2-Metil-1-Naftalenasetat (0.033%), Indol-3-Butirat (0.057%) dan Tiram (4%). Stek ditanam dalam posisi tegak lurus agar pada saat disiram bibit yang dihasilkan tidak rebah. Pemberian cahaya tambahan dilakukan di ruang persemaian dari penanaman hingga panen, agar bibit tidak berbunga selama masih dipersemaian, dapat dilihat pada Gambar 5a. Pemasangan paranet pada atap green house bertujuan untuk mengatur pencahayaan pada siang hari. Apabila cuaca panas paranet ditutup untuk menghindari stres pada bibit. Paranet dibuka apabila cuaca mendung agar bibit mendapat cahaya yang cukup. Stek akan berakar dan dipanen setelah berumur 12-14 HST. Pemanenan dilakukan dengan mencabut bibit dari media lalu dimasukkan ke dalam plastik transparan yang berlubang. Kemudian stek tersebut diberi label sesuai varietas, dan setiap kantongnya berisi 26 stek berakar. Kegiatan panen dapat terlihat pada Gambar 5b.

32

(a) (b) Gambar 5. (a) Pemberian Cahaya Tambahan Pada Persemaian dan (b) Aktivitas Pemanenan Stek Berakar Krisan 1.2 Produksi Bunga Krisan Pot Kegiatan produksi bunga krisan pot dimulai dari persiapan media, penanaman, perlakuan hari panjang dan pendek, pembuangan titik tumbuh apikal (topping), pewiwilan, aplikasi ZPT, pemupukan, irigasi, pengendalian HPT hingga panen dan pasca panen (Tabel 3). Tabel 3. Skema Jadwal Kegiatan Produksi Bunga Krisan Pot
Kegiatan budidaya 1 Persiapan media Penanaman Perlakuan hari panjang Topping Perlakuan hari pendek Pewiwilan I Pewiwilan II Aplikasi ZPT Pemupukan dan irigasi Pengendalian HPT Repotting Panen dan pasca panen 2 3 4 Waktu kegiatan (MST) 5 6 7 8 9 10 11 12

1.2.1 Persiapan Media Media yang digunakan adalah peat moss (gambut), cocopeat (sabut kelapa) dan arang sekam dengan perbandingan 1:1:1. Peat moss diperoleh dari Lampung dengan harga Rp 11.000/karung, sedangkan cocopeat diperoleh dari Banjar dan Ciamis dengan harga berkisar antara Rp 9.000 hingga Rp 11.000/karung, masing-masing dengan karung ukuran 25 kg. Pembuatan arang sekam dilakukan sendiri di perusahaan dengan membeli sekam dari pengilingan

33

padi yang ada disekitar perusahaan. Sekam diperoleh dengan harga Rp 2.000 perkarung dengan karung ukuran 25 kg. Pembakaran sekam dilakukan dengan bantuan cerobong. Kapasitas pembakaran dapat mencapai 100 karung/hari apabila menggunakan tiga cerobong sekaligus. Pembakaran dilakukan pada jam tiga sore hingga jam tujuh pagi. Hal ini dilakukan agar asap yang dihasilkan pada proses pembakaran tidak mengganggu aktifitas lain di sekitar tempat pembakaran. Sebelum media dicampur, peat moss terlebih dahulu diayak karena tanah ini masih menggumpal-gumpal, seperti yang terlihat pada Gambar 6a. Media yang digunakan terlebih dahulu disterilisasi. Sterilisasi dilakukan dengan cara menyalurkan uap panas yang berasal dari air yang berada dalam bak yang terdapat pada mesin ke tumpukan campuran media yang telah ditutup plastik, ini dapat di lihat pada Gambar 6b. Suhu yang dihasilkan dari mesin adalah 80-100ºC, dan suhu yang terdapat pada media adalah 60°C. Proses ini dilakukan selama ±7 jam dengan menggunakan air sebanyak 1000 l sebagai sumber uap dan menghabiskan solar sebanyak 50 l sebagai bahan bakar. Campuran media yang telah selesai disterilisasi didinginkan selama dua hari, kemudian dimasukkan ke dalam karung. Kapasitas sterilisasi dapat mencapai 50-70 karung untuk mesin kecil dan 100-200 karung untuk mesin yang lebih besar.

(a) (b) Gambar 6. (a) Pengayakan Peat Moss dan (b) Proses Sterilisasi Campuran Media untuk Penanaman Krisan Pot Pot yang digunakan terbuat dari bahan polyethylen berwarna putih dengan diameter 15 cm, dan volume 700 cc. Pot diisi dengan media hingga penuh dengan sedikit tekanan pada permukaannya dan diratakan dengan telapak tangan. Pot yang telah terisi disusun di atas meja yang memiliki tinggi 60 cm, lebar 80 cm,

34

dan panjang 1.5 m/meja. Di lahan tempat perlakuan hari panjang terdapat lima baris meja dengan jumlah 17 meja dan jarak antar baris adalah 68 cm. Kemudian pot yang telah diisi disiram dengan air biasa hingga mencapai kapasitas lapang. Selanjutnya lima lubang tanam dibuat pada masing-masing pot. Lubang tanam dibuat dengan menggunakan tugal yang ujungnya diruncingkan dengan panjang 15-20 cm (Gambar 7a). Lubang tanam yang dibuat dengan kedalaman ± 5 cm dan diameter ± 2 cm (Gambar 7b).

(a) (b) Gambar 7. (a) Tugal Khusus untuk Membuat Lubang Tanam (b) Proses Pembuatan Lubang Tanam untuk Penanaman Krisan Pot 1.2.2 Penanaman Bibit diseleksi terlebih dahulu sebelum penanaman untuk mengetahui ada atau tidaknya hama, penyakit dan kerusakan pada bibit. Kemudian dipisahkan setiap lima bibit berdasarkan persamaan ketinggian agar pertumbuhannya seragam dalam setiap potnya (Gambar 8a). Hal ini sesuai dengan jumlah ideal yang dianjurkan Hadinata (1999). Selain itu, daun bawah harus dihilangkan sehingga tidak tumbuh tunas bawah yang tidak dikehendaki. Bibit segera ditanam, masingmasing pot berisi lima bibit (Gambar 8b). Jumlah dan jenis varietas yang ditanam disesuaikan dengan permintaan pasar dengan rata-rata penanaman 1500 pot/minggu. Pada hari-hari besar nasional, keagamaan atau peringatan khusus lainnya seperti Valentine biasanya jumlah penanaman ditingkatkan. Bunga pot terdapat 18 varietas yang sering ditanam (Tabel 4). Untuk memudahkan dalam mengingat nama dan varietas yang ada, maka dibuat kode berupa angka untuk tiap varietas.

35

(a) (b) Gambar 8. (a) Pemisahan Bibit Krisan berdasarkan Persamaan Tinggi dan (b) Aktivitas Penanaman Bibit Krisan Pot Jumlah penanaman krisan pot pada saat pengamatan pertama adalah sebanyak 1076 pot yang terdiri dari 15 varietas. Krisan pot yang lebih disukai pada umumnya adalah yang berwarna dasar seperti merah, kuning dan putih. Saat pengamatan, varietas 373, 179 dan 213 penanaman tidak dilakukan. Varietas tipe 213 pada tahun 2009 sudah tidak ditanam, karena memiliki warna, bentuk dan tipe bunga yang sama dengan varietas 374, namun tingkat keseragaman kemekaran bunga rendah dibanding varietas 374. Varietas 373 dan 179 tidak dilakukan penanaman karena sedikitnya permintaan terhadap varietas tersebut. Tabel 4. Daftar Nama, Kode dan Ciri Morfologi Beberapa Varietas Krisan Pot yang Ditanam di PT. Saung Mirwan
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Varietas Rage Delano Red Time Sunny Time Fire Miramar Bufer field 2001-08 Surf Diamond White Time Jewel Splendor Pink Coral Delano Tan Dark Charm Coral Oranye Pamona Revert SR 01 Kode 112 240 120 151 213 374 JP08 306 148 218 242 140 211 136 133 373 179 SR01 Warna Mahkota Bunga Merah Merah Kuning Kuning Kuning Kuning Putih Putih Putih cream Putih cream Pink Pink Ungu Oranye Oranye Oranye Hijau Merah Bentuk Bunga Aster Decoratif Decoratif Pompom Aster Aster Decoratif Decoratif Decoratif Decoratif Decoratif Decoratif Decoratif Aster Decoratif Decoratif Jarum Decoratif Tipe Pembungaan Spray Disbud Disbud Disbud Spray Spray Disbud Disbud Disbud Disbud Disbud Disbud Disbud Spray Disbud Disbud Disbud Spray

Sumber: PT. Saung Mirwan (2009)

36

Jumlah tanaman yang ditanam setiap varietas ditentukan berdasarkan warna bunga dan tingkat kesukaan konsumen. Alokasi penanaman untuk masingmasing varietas dapat dilihat pada diagram Gambar 9. Krisan pot yang ada terdiri dari warna merah, kuning, putih, pink, oranye, ungu, dan hijau. Krisan pot yang berwarna merah, kuning dan putih lebih besar pengalokasiannya dibanding dengan warna oranye, pink, ungu dan hijau. Penentuan alokasi varietas pada setiap warna disesuaikan dengan permintaan konsumen. Warna merah dialokasikan 21% yang didominasi oleh varietas 112 dan 240 masing-masing 10%, sisanya 1% untuk varieatas SR01. Varietas 120 (9%) dan 374 (8%) dialokasikan lebih banyak untuk warna kuning dibanding varietas 151 yang hanya dialoksikan 3%. Alokasi varietas 306 lebih besar yaitu 8% dibanding varietas JP08 yang dialokasikan sebesar 5% untuk warna putih dan masing-masing 4% untuk varietas 148 dan 218. alokasi untuk warna pink lebih banyak pada varietas 242 yaitu 9% dibanding varietas 140 yang hanya 6%.

140 6% 242 9% 179 3% 211 8%

112 10% 240 10% SR01 1% 120 9%

373 6% 133 3% 136 3% 218 4% JP08 5% 148 4% 306 8% 151 3% 374 8%

Gambar 9. Diagram Alokasi Penanaman Krisan Pot Masing-masing Varietas 1.2.3 Pembuangan Titik Tumbuh Apikal (Topping) Topping atau pembuangan titik tumbuh apikal biasa dilakukan pada saat tanaman berumur 10 hari karena pada saat itu tanaman dianggap sudah mampu beradaptasi dengan lingkungan. Pembungan titik tumbuh dilakukan pada tanaman yang telah tumbuh tegak dan kokoh dengan akar telah mencapai dasar dan sisi

37

pot. Pembuangan titik tumbuh dilakukan dengan cara memotong pucuk tanaman kira-kira satu cm dengan menggunakan tangan dan menyisakan 4-5 helai daun (Gambar 10).

Gambar 10. Pembuangan Titik Tumbuh pada Krisan Pot 1.2.4 Perlakuan Pencahayaan Perlakuan pencahayaan terbagi menjadi dua yaitu long day dan short day. Masa long day bertujuan untuk memacu pertumbuhan vegetatif krisan dengan cara pemberian cahaya tambahan dengan lampu selama enam jam mulai pukul 21.00 hingga 03.00 WIB (Gambar 11a). Masa long day diberikan langsung setelah penanaman hingga tanaman berumur 2 minggu setelah tanam (MST). Pada masa short day dilakukan penyungkupan menggunakan plastik hitam mulai pukul 17.00 WIB hingga keesokan paginya (Gambar 11b). Sungkup biasanya dibuka pada pukul 07.00 WIB pada saat pekerja memulai aktivitas di lapang. Masa short day bertujuan untuk memacu pertumbuhan generatif atau inisiasi pembungaan dan dilakukan mulai 2 MST hingga panen.

(a)

(b)

Gambar 11. (a) Penambahan Cahaya pada Persemaian (long day) dan (b) Penyungkupan pada Masa Pembungaan (short day)

38

1.2.5 Pemupukan dan Irigasi Pemupukan diberikan bersamaan dengan air irigasi dengan menggunakan sistem ebb and flow atau perendaman. Pupuk yang digunakan untuk krisan pot adalah larutan stok A dan stok B ( Tabel 5) yang masing-masing dilarutkan dalam air menjadi 90 l. Larutan pekat ini ditampung pada bak yang terpisah. Larutan pupuk pekat ini selanjutnya dicampurkan ke dalam air irigasi dengan perbandingan 1:1:298 antara stok A, stok B dan air. Tangki irigasi yang memiliki kapsitas 3000 l membutuhkan 10 l stok A, 10 l stok B dan 2980 l air (Gambar,12a). Tabel 5. Komposisi Larutan Pupuk AB mix No Jenis pupuk Stok A 1 Ca(NO3)2 2 KNO3 3 NH4 NO3 4 HNO3 Fe Edta 13% 5 Fe Edta 12% Stok B 1 KNO3 2 KH2 PO4 3 MgSO4 4 Mg(NO3)2 5 MnSO4 6 ZnSO4 7 Borax 8 CuSO4 9 NaMo
Sumber: PT. Saung Mirwan (2006)

Komposisi 16.7 kg 8 kg 2.25 l 600 cc 269 g 749.6 g 7.6 kg 3.7 kg 6.6 kg 510 cc 90 g 25 g 50 g 3g 3g

Perendaman dimulai saat tanaman dipindahkan ke masa perlakuan hari pendek. Larutan pupuk yang sudah dicampur ke dalam air irigasi, lalu disalurkan ke meja-meja perendaman. Air yang menggenang merembes ke media melalui lubang-lubang yang ada di dasar pot. Perendaman dilakukan setiap dua hari sekali atau disesuaikan dengan kondisi cuaca. Perendaman dilakukan dengan cara pengisian larutan pupuk siap pakai ke bench (meja tanam) hingga merendam pot lebih kurang setinggi 5 cm selama 30 menit (terdiri dari 10 menit pengisian, 10 menit perendaman dan 10 menit

39

pengeluaran larutan nutrisi) (Gambar 12b). Perendaman dilakukan sejak tanaman dipindahkan ke long day hingga terjadi colouring pada bunga.

(a) (b) Gambar 12. (a) Tangki Pusat Irigasi dan (b) Proses Perendaman pada Krisan Pot Pengecekan EC (electric conductivity) dan derajat keasaman (pH) larutan nutrisi dilakukan seminggu sekali untuk mengetahui dan memantau kandungan nutrisi pada air irigasi dengan menggunakan EC meter (Gambar 13). Nilai EC yang diharapkan adalah 1.5-1.8 dan tidak boleh melebihi 2.0. Sedangkan nilai pH yang diharapkan adalah 6.5-7.5 dan harus kurang dari 8.0. Apabila EC terlalu tinggi, berarti larutan nutrisi terlalu pekat sehingga komposisi nutrisinya harus dikurangi. Semakin rendah nilai EC maka akan semakin mudah bagi tanaman untuk menyerap nutrisi.

Gambar 13. EC Meter, Alat Ukur Electric Conductivity (EC) dan Derajat Keasaman (pH) Larutan Nutrisi Tanda-tanda kekurangan unsur hara pada tanaman biasanya dapat terlihat dari penampakan daun. Beberapa gejala kekurangan unsur hara yang ditemukan pada saat pengamatan antara lain adalah kekuarangan unsur N terlihat dari daun muda yang berwarna pucat dan daun yang lain mulai menguning. Gejala lain yaitu

40

kekurangan unsur K, terlihat nekrosis pada daun-daun tua, gejala ini mirip dengan gejala serangan spider mite yang sudah menyerang pada intensitas tinggi. Untuk membedakannya dapat diperiksa apakah spider mite ditemukan di bawah daun, apabila tidak ada maka kemungkinan nekrotis disebabkan oleh kekurangan unsur.K. Biasanya untuk mengatasi kekurangan unsur hara ini, perusahaan melakukan penambahan pupuk daun (Rosasol) yang mengandung NPK dan unsur mikro lainnya. Pupuk diberikan secara bertahap dengan dosis sesuai kebutuhan tanaman. Larutan pupuk AB mix yang digunakan sudah lengkapnkandungan unsurunsurnya baik unsur makro (seperti : C, H, N, O, P, K, s, Ca, dan Mg) maupun unsur mikro (seperti : Fe, Zn, Mo, Cu, dan Mn). Selain itu dengan dilakukan pengecekkan EC dan pH setiap minggu dapat mengantisipasi tanaman keracunan akibat media yang terlalu asam atau basa dan kekurangan atau kelebihan unsur hara. Penggunaan pupuk yang lengkap dan pengecekkan EC dan pH setiap minggu diharapkan tanaman akan tumbuh dengan baik dan memiliki penampilan yang sempurna. 1.2.6 Pembuangan Kuncup Bunga (Pewiwilan) Pewiwilan (disbuding) merupakan pembuangan kuncup bunga lateral (Gambar 14) yang dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama dilakukan pada tanaman berumur 6 MST (waktu munculnya primordia bunga) dan tahap kedua dilakukan pada 8 MST (waktu primordial bunga mulai colouring). Cara pewiwilan dibedakan berdasarkan tipe bunga, yaitu tipe disbud dan tipe spray. Pewiwilan pada bunga tipe disbud dilakukan dengan membuang semua tunas aksilar atau samping sehingga hanya menyisakan tunas bunga terminal atau tunas utama dalam setiap tangkai untuk dipelihara agar tetap tumbuh. Pada bunga tipe spray, pewiwilan dilakukan dengan membuang tunas terminal dengan menyisakan 3-5 tunas bunga aksilar pada setiap tangkai.

41

Gambar 14. Proses Pewiwilan pada Bunga Pot 1.2.7 Pengaplikasian Alar Setiap varietas krisan memiliki karakteristik masing-masing dalam pertumbuhannya ada yang cepat dan lambat. Varietas yang tumbuh cepat menyebabkan tinggi tanaman tidak seragam. Oleh karena itu, diperlukan pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT) yang bertujuan untuk meningkatkan keseragaman pertumbuhan tanaman. ZPT yang dipakai adalah Alar 64 SP (bahan aktif dominizide) yang bertujuan menghambat pertumbuhan tanaman dan memperbaiki kualitas bunga krisan yaitu dengan memperkuat tangkai terutama pada saat kondisi pertumbuhan yang berlebihan atau pada varietas yang memiliki kuntum bunga yang besar seperti pada tipe standard. Selain itu, juga bertujuan untuk mencegah penyimpangan tangkai bunga dan memperbaiki formasi bunga sehingga kuntum bunga lebih merata terutama pada bagian atas tangkai. Pemberian ZPT di lahan lebih dikenal dengan istilah pemberian alar. Aplikasi alar dilakukan setiap minggu mulai 4 MST dan dihentikan pada saat colouring atau kuncup bunga mulai berwarna. Pengaplikasian alar dapat dibedakan menjadi tiga konsentrasi berdasarkan golongan tinggi tanaman, yaitu 1,5 g/l untuk kultivar short seperti tipe 148, 218, 151, dan SR 01, 2 g/l untuk kultivar medium seperti tipe 306, 133, 122, 140, 136, 242, 374, JP 08, 373 dan 3 g/l untuk kultivar tall. Setiap tanaman memperoleh 3-5 kali aplikasi ZPT disesuaikan dengan golongan varietas tersebut. Penyemprotan alar harus pada daun muda atau pucuk tanaman sehingga arah penyemprotan harus dari atas tanaman. Penyemprotan tidak boleh dilakukan dalam kondisi cuaca panas atau pada kelembaban tinggi dan pada kuncup bunga yang telah berwarna. Untuk 70 pot krisan dapat menghabiskan 1 l larutan alar.

42

1.2.8 Penggantian Pot (Repotting) Repotting atau penggantian pot merupakan pengaturan kembali susunan tanaman dalam pot yang dilakukan ketika kelima tanaman dalam satu pot tersebut tidak tumbuh secara merata atau ada yang mengalami kematian. Hal ini dapat disebabkan oleh serangan hama penyakit, kerusakan akibat proses pemeliharaan seperti tangkai bunga yang patah pada saat pemindahan atau karena varietas tersebut memiliki daya tumbuh yang rendah. Repotting diawali dengan pengumpulan pot-pot yang pertumbuhannya tidak rata atau kurang dari lima tanaman/pot. Tanaman beserta media dikeluarkan dari pot, lalu tanaman yang rusak atau kerdil dipisahkan dari media (Gambar 15a). Kemudian disisipkan tanaman pengganti yang sesuai dari pot lain yang akan direpotting. Setelah dilakukan repotting akan diperoleh tanaman yang lengkap dan seragam dalam tiap pot (Gambar 15b).

(a) (b) Gambar 15. (a) Proses Repotting pada Bunga Pot dan (b) Tanaman yang Telah Direpotting 1.2.9 Panen dan Pasca Panen Umur panen krisan pot berbeda-beda untuk setiap varietasnya yang terbagi menjadi tiga kelompok panen yaitu varietas yang memiliki umur panen 8-9 minggu (varietas 148, 218, 306, 151, 120 dan 374) , 10-11 minggu (varietas 133, 140, 136, 179 213, 240, 242, 211, 08 dan 373) dan 12-13 minggu (varietas 112). Secara umumn kriteria krisan pot yang sudah layak dipanen adalah memiliki ukuran normal dan ideal, memiliki tingkat kemekaran bunga 60-80% atau disesuaikan dengan permintaan konsumen. Tanaman yang telah memenuhi umur panen kemudian diseleksi. Seleksi meliputi keseragaman warna dan tingkat

43

kemekaran bunga, keseragaman tinggi tanaman, jumlah bunga per pot dan ada tidaknya serangan hama dan penyakit. Perusahaan menetapkan sendiri standar mutu panen untuk krisan pot, terlihat pada.Tabel 6. Seleksi bertujuan untuk memperoleh tanaman yang layak jual berdasarkan kelas mutu yang ditetapkan. Tabel 6. Syarat Mutu Panen Bunga Krisan Pot Segar No Kriteria kualitas Satuan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Tinggi tanaman Diameter tangakai bunga Tingkat kemekaran bunga Jumlah kuntum bunga Tipe standar Tipe spray Kesegaran bunga Benda asing / kotoran maksimal Keadaan tangkai bunga cm mm % Kuntum Kuntum %

Kelas mutu A 35-40 >5 60-80 10-15 50-60 Segar 3 B <35, >40 3-4 >80 8-10 40-50 Segar 5 Kuat, tidak pecah Seragam Lengkap dan seragam Mutlak perlu Bebas Agak pudar

Keseragaman kultivar Daun pada 2/3 bag tangkai bunga 10. Penanganan pasca panen 11. Bebas serangan / bekas HPT 12. Warna bunga
Sumber : PT.Saung Mirwan, 20 Februari 2008

Kuat, lurus, tidak pecah Seragam Lengkap dan seragam Mutlak perlu Bebas Cerah

Pertumbuhan tanaman dalam setiap pot tidak selalu seragam, diantaranya dari tinggi, tingkat kemekaran bunga, keseragaman kultivar dalam setiap pot, dan jumlah kuntum bunga/pot. Apabila ketidakseragaman pertumbuhan tersebut mengakibatkan tanaman pada pot tersebut tidak memenuhi standar kelas mutu panen A ataupun B, maka dilakukan repotting. Apabila setelah repotting masih ada tanaman yang tidak memenuhi standar panen maka tanaman tersebut dibuang. Contoh tanaman yang memenuhi standar mutu panen krisan pot segar dapat dilihat pada Tabel 7. Tanaman yang termasuk dalam kelas mutu A terlebih dahulu dijual, selanjutnya setelah kelas mutu A habis terjual baru tanaman dengan kelas mutu B dijual. Varietas tertentu memang memiliki tinggi yang tidak memenuhi kelas mutu A seperti SR01, seleksi lebih ditekankan pada keseragaman mekar bunga dan keseragaman pertumbuhan setiap pot.

44

Tabel 7. Contoh Krisan Pot yang Memenuhi Syarat Mutu Panen Perusahaan
No 1 Kriteria A Tinggi tanaman (tajuk + pot) 35-40 cm <35 cm, >40 cm Kelas mutu B Tinggi tanaman juga dipengaruhi oleh sifat varietas dan ketepatan pengaplikasian ZPT. bunga telah mekar sempurna namun belum terjual, maka bunga tersebut dibuang. Apabila tidak memenuhi standar kelas mutu A atau B, pot tersebut dilakukan repotting. Keterangan

2

Tingkat kemekaran bunga

60-80%

>80%

3

Jumlah kuntum bunga/pot

Disbud : 10-15

Disbud : 8-10

Spray : 50-60

Spray : 40-50

4

Bebas serangan / bekas HPT

Bebas dari serangan atau bekas serangan HPT

Tidak terdapat bagian tanaman yang terserang atau adanya bekas serangan HPT. Apabila terdapat kultivar yang berbeda dalam satu pot, maka dilakukan repotting. Agak pudar
Warna agak pudar apabila telah terlalu mekar.

5

Keseragaman Dalam satu pot setiap tangkai bunga merupakan kultivar kultivar yang sama

6

Warna bunga

Cerah

Sumber : Data pengamatan di lapang, Maret-Mei 2009

45

Krisan pot yang sudah dipesan atau terjual dikemas dengan plastik bening berukuran 35 cm x 55 cm yang bagian atasnya terbuka, lalu disusun dalam kardus karton berukuran 120 cm x 50 cm x 50 cm yang berkapasitas 20-21 pot (Gambar 16a). Apabila tidak langsung di distribusikan pada hari itu maka kardus tersebut disimpan di ruang penyimpanan sementara. Pendistribusian luar kota dilakukan pada malam atau dini hari. Apabila masih ada krisan yang belum terjual, maka sisa tanaman di simpan di demplot yang berfungsi sebagai ruang pamer (Gambar 16b).

(a) (b) Gambar 16. (a) Proses Pengemasan Krisan Pot dan (b) Krisan Pot yang di Demplot 1.2.10 Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Krisan Pengendalian hama dan penyakit di PT Saung Mirwan dilakukan secara intensif dan terpadu oleh bagian hama dan penyakit tanaman (HPT). Bagian HPT menangani semua areal pertanaman yang ada di perusahaan mulai dari bagian tanaman induk, bunga potong dan bunga pot. Tingkat serangan atau ada tidaknya hama yang menyerang diketahui dengan memasang perangkap serangga (insect trap) berupa plastik kuning yang dibentuk segi empat dengan ukuran 11 cm x 15 cm yang diolesi perekat seperti pada Gambar 19. Satu perangkap dipasang untuk setiap atap yang diletakkan di bagian tengah meja. Pemeriksaan perangkap dilakukan seminggu sekali, dan penghitungan hama yang terperangkap dijadikan sebagai acuan penentuan pestisida yang akan digunakan. Pada Lampiran 7 dapat terlihat daftar pestisida yang digunakan dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman krisan.

46

Gambar 17. Perangkap Serangga (Insect Trap) Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap hama tersebut, apabila jumlah hama yang ditemukan melebihi ambang batas, maka akan diambil tindakan lebih lanjut untuk menanggulangi masalah tersebut. Tindakan berupa penyemprotan dengan menggunakan pestisida disesuaikan dengan hama yang ditemukan. Dosis setiap pestisida disesuaikan dengan petunjuk pemakaian yang tertera di dalam kemasan. Penyemprotan dilakukan satu kali seminggu pada hari jumat saat cuaca sudah tidak panas atau pada sore hari saat suhu kurang dari 29°.C. Apabila ditemukan tanaman yang terserang penyakit maka tanaman tersebut dicabut. Berdasarkan jumlah tanaman yang dicabut atau bagian tanaman yang dibuang tersebut dapat dilihat tingkat serangan hama dan penyakit. Serangan hama dan penyakit juga dipengaruhi keadaan suhu dan kelembaban. Apabila kelembaban tinggi seperti pada musim hujan maka biasaya serangan penyakit akan banyak seperti karat putih, busuk, layu dan yang lainnya. Sedangkan bila suhu tinggi dan kelembaban rendah seperti musim kemarau maka serangan hama akan meningkat. Pada awal penanaman, banyak tanaman yang terserang penyakit kerdil yang disebabkan oleh virus Chrysanthemum Stunt Viroid (CSVd) yang menyebabkan tanaman kerdil dan tidak berkembang dengan sempurna. Tanaman yang terserang dicabut dan dibuang agar tidak menyebar ke tanaman lain. Hal ini disebabkan oleh rendahnya suhu dan kelembaban yang tinggi karena sekitar bulan Maret tersebut masih musim kemarau. Pada April dan Mei tanaman banyak terserang mite atau tungau, terutama pada varietas 151 dan 112 yang memang rentan terhadap hama ini. Pada Lampiran 8. dapat dilihat data suhu harian (0C), kelembaban/RH (%), dan cuaca bulan April 2009 di greenhouse produksi bunga pot krisan di PT. Saung Mirwan. Serangan

47

yang terjadi cukup parah, menyebabkan sebagian besar daun menguning dan tanaman tidak layak untuk dipanen. Tingginya serangan disebabkan oleh cuaca yang sudah mulai panas pada bulan April dan Mei tersebut. Apabila serangan terjadi pada saat tanaman masih muda, pertumbuhannya akan terganggu yang menyebabkan tanaman tidak dapat mencapai tinggi yang maksimal, sehingga tidak lolos pada saat seleksi panen. Hama yang banyak ditemukan di lapang adalah penggerek daun (Liriomyza sp.) (Gambar 18a), thrips (Thrips tabacci), tungau merah atau spider mite (Tetranychus sp.), ulat tanah (Agrotis ipsilon) dan ulat grayak (Spodoptera litura). Penyakit yang ditemukan antara lain karat putih atau white rust yang disebabkan oleh cendawan Puccinia horiana (Gambar 18b), layu fusarium yang disebabkan oleh bakteri dan jamur Fusarium sp. dan penyakit kerdil yang disebabkan oleh virus Chrysanthemum Stunt Viroid (CSVd) (Gambar 18c).

(a)

(b)

(c) Gambar 18. Contoh Gejala Serangan Hama dan Penyakit pada Tanaman Krisan (a) Penggerek Daun, (b) Karat Putih, (c) Chrysanthemum Stunt Viroid. Hal penting yang harus diperhatikan dalam pengendalian HPT adalah kebersihan. Kebersihan dan keamanan karyawan dalam proses kerja dan kebersihan tempat pada budidaya krisa pot ini sangat diperhatikan. Sebagai contoh

48

pada pewiwilan , setiap pergantian pot tangan harus dicelupkan pada alkohol atau larutan desinfektan yang bertujuan agar penyakit atau bakteri tidak berpindah dari satu tanaman ke tanaman lain. Pada pengaplikasian pestisida atau alar, karyawan harus menggunakan masker dan pakaian yang tertutup. Setiap sesudah penyemprotan, karyawan yang melakukan penyemprotan tersebut akan diberi susu gratis dari perusahaan. Di setiap pintu masuk atau keluar greenhouse ditempatkan keset basah yang sebelumnya diberi larutan desinfektan seperti bayclin, dan setiap orang yang melewati pintu itu harus terlebih dahulu membersihkan alas kakinya pada keset tersebut (Gambar 19). Ini bertujuan agar bakteri atau penyakit yang terbawa alas kaki tersebut dari luar atau daerah yang berpenyakit tidak tersebar bebas di dalam greenhouse.

Gambar 19. Keset Kaki pada Pintu Masuk Green House 1.3 Hasil Pengamatan Pengamatan terhadap pertumbuhan bunga pot krisan dilakukan setiap minggu, namun mulai 5 MST pengamatan dilakukan dua minggu sekali karena pertumbuhan tanaman dinilai sudah tidak terlalu berbeda setiap minggunya. Apabila dalam sehari pengamatan tidak selesai maka dilanjutkan hari berikutnya. Bahkan pada saat peubah yang diamati bertambah banyak, pengamatan membutuhkan waktu hingga tiga hari. Peubah yang diamati antara lain adalah tinggi tanaman, jumlah tunas, jumlah kuntum bunga, persentase daya tumbuh dan.persentase kehilangan hasil pada setiap proses budidaya krisan pot. 1.3.1 Tinggi Tanaman Tinggi tanaman diukur dari pangkal batang hingga ruas terakhir batang dengan menggunakan mistar, dan untuk pengukuran tinggi tanaman minggu

49

berikutnya dilakukan dari permukaan media hingga ruas terakhir batang. Tabel 8 merupakan hasil pengamatan tinggi tanaman 1, 2, 3, 4, 5, 7, 9 dan 10 MST. Pada 2 MST tinggi tanaman mengalami penurunan hal ini disebabkan oleh dilakukannya proses pembuangan titik tumbuh apikal atau pinching. Pembuangan titik tumbuh dilakukan dengan cara memotong pucuk tanaman kira-kira 1-2 cm. Tanaman krisan pot yang ditanam di PT Saung Mirwan pada umumnya memiliki tinggi yang seragam, hal ini terlihat pada Tabel 8. Pada 2 MST varietas 242 memiliki tinggi yang kurang seragam, hal ini disebabkan oleh banyaknya daun yang terserang karat. Daun yang terserang dibuang, sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman yang berakibat pada ketidakseragaman tinggi varietas 242 hingga panen pada 10 MST. Perusahaan menggolongkan bunga pot krisan menjadi tiga golongan berdasarkan perbedaan tinggi, yaitu golongan tall (varietas 242, 240, 133, 140, 179, 211, 112, 136 dan JP08), golongan medium (varietas 218, 306, 151, 120, 374, 136, dan 148), dan golongan short (varietas SR01). Berdasarkan pengamatan tinggi tanaman (Tabel 8), tinggi tanaman contoh yang diamati tidak seluruhnya sesuai dengan penggolongan di atas. Ada beberapa varietas yang termasuk golongan medium justru memiliki tanaman yang lebih tinggi dibanding varietas yang digolongkan tall dan sebaliknya. Varietas SR01 memiliki tinggi yang paling rendah dibanding varietas lainnya. Tabel 8. Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman pada Krisan Pot
Varietas 148 218 306 151 120 133 211 140 136 242 240 JP08 374 112 SR01 Rata-rata 1 MST 9.2 ± 0.8 6.8 ± 0.7 6.1 ± 0.6 6.7 ± 0.5 6.0 ± 0.5 6.3 ± 0.7 7.1 ± 0.7 5.8 ± 0.6 8.1 ± 0.4 6.4 ± 0.7 7.0 ± 0.4 6.6 ± 0.4 8.0 ± 0.7 8.0 ± 0.8 7.6 ± 0.4 7.0 ± 1.0 2 MST 6.1 ± 0.5 3.9 ± 0.5 3.4 ± 0.4 4.7 ± 0.4 4.4 ± 0.4 4.2 ± 0.8 5.8 ± 0.3 4.5 ± 0.5 5.9 ± 0.4 5.1 ± 1.4 6.0 ± 0.4 4.6 ± 0.7 5.2 ± 0.5 6.6 ± 0.8 4.2 ± 0.5 5.0 ± 0.9 Tinggi tanaman (cm) 3 MST 5 MST 7 MST 7.2 ± 0.5 12.3 ± 0.7 16.3 ± 0.5 5.0 ± 0.9 11.1 ± 0.7 15.6 ± 1.1 4.0 ± 0.4 49.8 ± 0.4 18.7 ± 0.8 5.5 ± 0.4 12.2 ± 0.7 18.8 ± 1.2 4.8 ± 0.7 29.8 ± 0.4 18.1 ± 1.0 4.9 ± 0.7 89.7 ± 0.8 17.5 ± 0.5 6.3 ± 0.8 10.7 ± 0.7 17.7 ± 0.9 5.3 ± 0.3 10.0 ± 0.9 17.7 ± 1.2 6.8 ± 0.5 11.0 ± 0.8 18.2 ± 0.7 5.8 ± 1.2 10.5 ± 1.5 16.8 ± 2.2 6.1 ± 0.6 10.9 ± 0.6 15.6 ± 0.8 5.6 ± 0.6 10.3 ± 0.8 17.4 ± 0.7 6.3 ± 0.4 10.7 ± 0.4 15.6 ± 1.4 7.0 ± 0.6 11.7 ± 1.6 17.5 ± 2.4 4.9 ± 0.5 07.1 ± 0.5 13.8 ± 1.8 5.7 ± 0.9 10.5 ± 1.2 17.5 ± 1.4 9 MST 19.4 ± 0.6 20.6 ± 2.0 21.8 ± 1.2 21.2 ± 1.3 21.2 ± 1.5 21.3 ± 0.9 20.9 ± 0.9 21.0 ± 1.5 22.8 ± 0.6 20.3 ± 2.2 20.6 ± 0.8 22.2 ± 1.6 20.1 ± 1.5 21.3 ± 3.1 17.5 ± 1.7 20.8 ± 1.2 10 MST 20.1 ± 0.7 21.4 ± 1.9 22.9 ± 1.2 21.6 ± 1.6 23.3 ± 1.4 22.7 ± 0.7 22.1 ± 0.9 22.4 ± 1.7 23.8 ± 0.6 22.2 ± 2.1 22.1 ± 1.0 23.5 ± 1.9 21.8 ± 1.5 22.8 ± 3.1 18.9 ± 1.6 22.1 ± 1.3

Sumber : Data pengamatan di lapang, Maret-Mei 2009

Keterangan : Angka merupakan rata-rata dan standar deviasi

50

Salah satu kriteria krisan pot yang sudah layak dipanen adalah memiliki tinggi 35-40 cm dari dasar pot untuk kelas mutu A dan <35, >40 untuk kelas mutu B. Pot yang digunakan memiliki tinggi 15.cm. Tinggi tanaman diperoleh dari penambahan tinggi tajuk dan tinggi pot, lalu dikurangi dengan penyusutan permukaan media dalam pot (2 cm). Rata-rata tinggi tanaman hasil pengamatan pada saat 10 MST (saat panen) adalah 35.1 ± 1.3 cm (Tabel 9), ini berarti bahwa rata-rata varietas memiliki tinggi tanaman yang termasuk dalam kelas mutu A. Secara rinci terdapat 67% atau 10 varietas yang termasuk dalam kelas mutu A dan 33% atau lima varietas yang termasuk ke dalam kelas mutu B karena memiliki tinggi <35.cm. Varietas 218, 151, dan 374 yang rata-rata tinggi pada saat panen termasuk dalam kelas mutu B memiliki standar deviasi >1, yang berarti ada beberapa tanaman dari varietas tersebut yang termasuk dalam kelas mutu A. Varietas SR01 merupakan varietas yang pendek dibanding varietas lainnya yaitu memiliki rata-rata tinggi 31.9 ± 1.6 cm. Dilihat dari standar tinggi untuk kelas mutu A, varietas ini memiliki perbedaan tinggi yang cukup nyata dan sama sekali tidak ada yang termasuk kedalam kelas mutu A. Penanaman varietas SR01 dilakukan karena masih adanya permintaan konsumen terhadap varietas ini. Tabel 9. Tinggi Tanamana pada Saat Panen Varietas Tinggi tanaman pada saat panen (cm) Tajuk Tajuk + pot 148 20.1 ± 0.7 33.1 ± 0.7 218 21.4 ± 1.9 34.4 ± 1.9 306 22.9 ± 1.2 35.9 ± 1.2 151 21.6 ± 1.6 34.6 ± 1.6 120 23.3 ± 1.4 36.3 ± 1.4 133 22.7 ± 0.7 35.7 ± 0.7 211 22.1 ± 0.9 35.1 ± 0.9 140 22.4 ± 1.7 35.4 ± 1.7 136 23.8 ± 0.6 36.8 ± 0.6 242 22.2 ± 2.1 35.3 ± 2.1 240 22.1 ± 1.0 35.1 ± 1.0 JP08 23.5 ± 1.9 36.5 ± 1.9 374 21.8 ± 1.5 34.8 ± 1.5 112 22.8 ± 3.1 35.8 ± 3.1 SR01 18.9 ± 1.6 31.9 ± 1.6 Rata-rata 22.1 ± 1.3 35.1 ± 1.3
Sumber : Data pengamatan di lapang, Maret-Mei 2009 Keterangan : Angka merupakan rata-rata dan standar deviasi

51

1.3.2 Jumlah Tunas Pengamatan terhadap jumlah tunas tanaman dihentikan hingga tanaman berumur 6 MST karena jumlah tunas dari 5 MST hingga panen sudah tetap (Tabel.10). Tunas yang tumbuh kemudian tidak dipelihara, agar pertumbuhan tunas yang ada seragam. Pada 2 MST jumlah tunas tanaman adalah 0 atau tidak memiliki tunas karena telah dilakukan pembuangan pucuk atau titik tumbuh apikal. Jumlah tunas tanaman dari 4-6 MST terus menurun karena dilakukannya penjarangan tunas dan tidak semua tunas yang muncul tumbuh serta berkembang dengan baik. Tunas yang memiliki tinggi tidak sama, tumbuh lebih kecil, tumbuh terlalu rapat atau tunas yang terlambat menghasilkan bunga kemudian dibuang. Tunas yang dipelihara diharapkan akan menghasilkan bunga, apabila tunas tersebut memiliki pertumbuhan yang sama atau seragam maka diharapkan akan diperoleh bunga yang tingkat kemekarannya sama atau seragam pada saat panen. Setiap tunas yang dipelihara diharapkan akan menjadi satu tangkai bunga yang masing-masing akan menghasilkan satu kuntum bunga untuk bunga tipe disbud dan 4-5 kuntum bunga untuk bunga tipe spray. Sebagai contoh varietas 148 memiliki jumlah tunas 4.7 ± 0.3 buah, diperkirakan akan menghasilkan >20 kuntum bunga/pot. Tabel 10. Hasil Pengamatan Jumlah Tunas Tanaman pada Krisan Pot
Varietas 148 218 306 151 120 133 211 140 242 240 JP08 374 112 136 SR01 Rata-rata 1 MST 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 MST 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Jumlah tunas tanaman 3 MST 4 MST 5 MST 5.4 ± 0.6 5.2 ± 0.6 4.7 ± 0.3 4.7 ± 0.4 4.2 ± 0.2 3.2 ± 0.2 3.6 ± 0.3 3.4 ± 0.3 2.9 ± 0.4 3.8 ± 0.4 3.4 ± 0.4 2.8 ± 0.2 3.6 ± 0.3 3.3 ± 0.3 2.9 ± 0.5 5.2 ± 0.2 3.5 ± 0.2 2.8 ± 0.1 7.8 ± 0.2 6.4 ± 0.2 6.2 ± 0.3 4.0 ± 0.4 3.8 ± 0.4 3.7 ± 0.3 4.0 ± 0.5 3.9 ± 0.4 3.3 ± 0.5 4.8 ± 0.5 4.4 ± 0.5 3.1 ± 0.4 4.8 ± 0.3 4.3 ± 0.3 4.0 ± 0.3 3.8 ± 0.3 3.1 ± 0.5 3.1 ± 0.2 4.4 ± 0.3 4.3 ± 0.2 3.6 ± 0.2 4.0 ± 0.7 3.3 ± 0.2 3.0 ± 0.3 4.5 ± 0.6 3.6 ± 0.6 3.2 ± 1.1 4.6 ± 1.1 4.0 ± 0.9 3.5 ± 0.9 6 MST 4.7 ± 0.3 3.2 ± 0.2 2.9 ± 0.4 2.8 ± 0.2 2.9 ± 0.5 2.8 ± 0.1 6.2 ± 0.3 3.7 ± 0.3 3.3 ± 0.5 3.1 ± 0.4 4.0 ± 0.3 3.1 ± 0.2 3.6 ± 0.2 3.0 ± 0.3 3.2 ± 1.1 3.5 ± 0.9

Sumber : Data pengamatan di lapang, Maret-Mei 2009 Keterangan : Angka merupakan rata-rata dan standar deviasi

52

1.3.3 Jumlah Kuntum Bunga Bunga tipe disbud setiap tangkai memiliki satu kuntum bunga yang dipelihara dari tunas apikal, contoh pada varietas 148, 218, 306, 151, 120, 133, 211, 140, 242, 240 dan JP08. Tipe spray pada setiap tangkai terdapat empat kuntum bunga yang dipelihara dari tunas aksilar atau samping, seperti pada varietas 374, 112 dan 136. Varietas 148 memiliki jumlah kuntum bunga lebih banyak dibandingkan varietas lain tipe disbud. Hal ini dapat disebabkan oleh varietas ini mempunyai diameter bunga lebih kecil dibanding varietas lain. Varietas 120 memiliki diameter bunga lebih besar bila dibandingkan bunga tipe disbud lain sehingga jumlah kuntum bunga per pot lebih sedikit. Untuk tipe spray, varietas yang memiliki diameter bunga yang lebih besar dibanding varietas lainnya adalah varietas 374. Hasil pengamatan terhadap jumlah kuntum bunga (Gambar 20), terlihat bahwa seluruh varietas yang ada memenuhi standar mutu krisan pot yang ditetapkan perusahaan dari segi jumlah kuntum bunga/pot baik dari tipe disbud maupun tipe spray. Syarat jumlah bunga yang harus dimiliki agar memenuhi kelas mutu A untuk bunga tipe disbud adalah 10-15 kuntum perpot, dari grafik dapat dilihat bahwa jumlah bunga yang dimiliki adalah antara 11-21,4 kuntum per pot. Sedangkan syarat untuk bunga tipe spray, harus memiliki 50-60 kuntum bunga per pot, dan hasil pengamatan yang diperoleh adalah antara 53,6-60 kuntum per pot. Berarti jika dilihat dari jumlah kuntum bunga yang dimiliki, seluruh atau 100% varietas bunga krisan pot yang dihasilkan perusahaan memenuhi kelas mutuoA.

53

(a)
25 jumlah kuntum bunga 20 15.4 15 10 5 0 148 218 306 151 120 133 211 140 242 240 JP08 varietas 13 13.2 11 12.2 12.2 12.6 12.4 11.6 12.6 21.4
jumlah kuntum bunga

(b)
62 60 60 58 56 54 52 50 374 112 varietas 136 53.6 58.4

Gambar 20. Jumlah Kuntum Bunga yang Dihasilkan per Pot Setiap Varietas ……………..(a) Bunga Tipe Disbud dan (b) Bunga Tipe Spray 1.3.4 Persentase Daya Tumbuh Kualitas tanaman yang ditanam dapat dilihat dari tinggi atau rendahnya daya tumbuh tanaman tersebut. Daya tumbuh adalah kemampuan tanaman untuk tetap bertahan hidup dari awal ditanam hingga memenuhi standar mutu panen. Angka ini diperoleh dari perbandingan antara jumlah realisasi panen dan jumlah realisasi tanam pada 10 minggu terakhir tahun 2008 dan 10 minggu awal tahun 2009 dikalikan seratus persen. Persentase daya tumbuh untuk krisan pot berbedabeda setiap varietas (Gambar 21). Keseragaman pertumbuhan yang rendah dan kualitas bunga yang dihasilkan juga mengurangi persentase daya tumbuh beberapa varietas. Hal ini dapat disebabkan oleh turunnya vigor varietas tersebut karena varietas tersebut sudah lama tidak diperbaharui tanaman induknya. Daya tumbuh beberapa varietas krisan pot dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kerentanan varietas terhadap serangan HPT, kerapuhan batang atau cabang tanaman, dan vigor varietas tersebut Rendahnya daya tumbuh varietas 179, 112, 151 dan 242 disebabkan kerentanan varietas tersebut terhadap serangan hama dan penyakit. Pada saat pengamatan dilapang, keempat varietas tersebut banyak terserang tungau merah atau spider mite yang disebabkan oleh Tetranychus sp. Serangan tungau merah menyebabkan daun tanaman sebagian besar bintik-bintik kuning sehingga merusak penampilan yang menyebabkan banyak tanaman yang tidak layak jual. Disamping itu varietas 179 memiliki batang yang rapuh, mengakibatkan cabang

54

mudah patah pada saat kegiatan budidaya seperti pewiwilan atau pemindahan tanaman, sehingga menurunkan jumlah tanaman yang dapat memenuhi standar panen. Hal ini menyebabkan daya tumbuh varietas 179 sangat rendah. Saung Mirwan memiliki 17 varietas bunga krisan pot yang sering ditanam, yang memiliki rata-rata daya tumbuh 79 % dari semua varietas yang ada. Secara rinci terdapat empat varietas yang memiliki daya tumbuh yang sangat rendah yaitu dibawah 70%, lima varietas antara 70-80%, sisanya memiliki daya tumbuh yang cukup tinggi yaitu di atas 80%. Dengan kata lain terdapat 22% memiliki persentase daya tumbuh <70%, 28% varietas memiliki persentase daya tumbuh antara 70-80% dan sisanya 50% varietas memiliki persentase daya tumbuh >80%. Permintaan untuk varietas 112, 151 dan 242 cukup tinggi walaupun memiliki persentase daya tumbuh yang rendah, sebagai jalan keluar rendahnya daya tumbuh varietas ini dilakukan peningkatan jumlah penanaman. Sehingga jumlah penanaman untuk varietas ini lebih banyak dibandingkan varietas lainnya. Rendahnya keseragaman pertumbuhan dan kualitas bunga yang dihasilkan juga mengurangi daya tumbuh beberapa varietas. Hal ini dapat disebabkan oleh turunnya vigor varietas tersebut karena varietas tersebut sudah lama tidak diperbaharui tanaman induknya.
100 90 92 80 85 92 87 73 63 90 92 94 79

88

persentase daya tumbuh (%)

80 70 60 50 40 30 20 10 0
148 218 306 151 120 8

70

73 66

76 60

40

373

SR01

133

140

179

242

136

374

211

240

112

varietas

ratarata

Gambar 21. Persentase Daya Tumbuh Krisan Pot dari Tanam hingga Panen Selama proses kegiatan budidaya, dalam setiap tahapannya dapat menyebabkan kehilangan hasil sehingga mengurangi jumlah tanaman yang

55

memenuhi standar panen (Gambar 22) yang berpengaruh pada persentase daya keberhasilan tumbuh. Kehilangan hasil antaranya dapat disebabkan oleh serangan hama dan penyakit, kegiatan pemindahan tanaman, proses pewiwilan, pengaplikasian ZPT, turunya vigor tanaman tersebut atau faktor lainnya. Serangan hama dan penyakit tanaman merupakan faktor yang menyebabkan kehilangan hasil panen terbesar yaitu hingga 9%. Hal ini dapat disebabkan oleh rentannya varietas tertentu terhadap serangan HPT seperti varietas 179, 112, 151 dan 242. Tingginya serangan HPT juga dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan lingkungan. Semakin resistennya suatu hama atau penyakit tanaman terhadap pestisida dapat juga menyebabkan tingginya kehilangan hasil akibat serangan HPT.
10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 HPT pindah wiwil I wiwil II ZPT dll

persentase kehilangan hasil (%)

kegiatan budidaya

Gambar 22. Persentase Kehilangan Hasil Selama Proses Budidaya Krisan Pot

2. Analisis Usahatani Analisis kelayakan usahatani merupakan perkiraan biaya (pengeluaran) dan manfaat (pendapatan) dari suatu usaha pertanian yang dilakukan untuk membandingkan biaya-biaya dengan manfaatnya dan menentukan apakah usaha tersebut layak diusahakan dan mempunyai keuntungan yang layak. Biaya dan manfaat yang telah diidentifikasi akan dibandingkan dan dinilai dalam bentuk uang sehingga dapat diketahui tingkat kelayakan suatu usaha dan perkiraan keuntungan yang didapat. Kelayakan usahatani budidaya krisan dapat dilihat dari nilai NPV (Net Present Value), IRR (Internal Rate of Return), Net B/C Rasio (Net Benefit Cost Ratio) dan PBD (Pay Back Periode) (Tabel 11).

56

Biaya dalam arus kas (cas flow) dikelompokkan menjadi dua yaitu biaya investasi dan biaya operasional. Biaya investasi adalah biaya yang umumnya dikeluarkan pada awal kegiatan budidaya dan biasanya memiliki nilai yang besar. Biaya investasi meliputi biaya pembangunan greenhouse, pembelian kendaraan operasional, pembelian dan pemasangan instalasi listrik dan irigasi, sewa lahan dan lainnya. Biaya operasional adalah biaya yang harus dikeluarkan secara rutin dalam kegiatan budidaya, meliputi gaji karyawan dan upah pekerja, biaya pemeliharaan, biaya pengemasan dan distribusi. NPV digunakan untuk menggambarkan nilai penerimaan saat ini dikurangi biaya sekarang yang digunakan untuk memperoleh besarnya nilai penerimaan tersebut. Suatau usaha dinyatakan layak jika nilai NPV lebih besar atau sama dengan nol (NPV ≥ 0). Jika NPV sama dengan nol (NPV = 0), berarti usaha tersebut dapat mengembalikan manfaat yang sama besarnya dengan modal yang dikeluarkan. Jika NPV lebih kecil dari nol (NPV < 0), berarti usaha tersebut tidak layak untuk dilaksanakan. IRR adalah tingkat suku bunga (discount rate) yang menjadikan NPV suatu usaha sama dengan nol (NPV = 0), atau yang dapat membuat B/C Ratio = 1. Dapat pula dianggap sebagai keuntungan atau investasi bersih dari suatu usaha yang dapat dihasilkan usaha tersebut untuk sumber daya yang digunakan, yang biasanya dinyatakan dalam persen. Apabila IRR lebih besar dari tingkat suku bunga (IRR > i) maka usaha tersebut layak diusahakan, sedang jika IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga (IRR < i) maka usaha tersebut tidak layak diusahakan. Net B/C rasio adalah angka perbandingan jumlah nilai sekarang (present value) yang positif (PV positif) dengan jumlah nilai sekarang yang bernilai negatif (PV negatif). Apabila nilai Net B/C rasio lebih besar atau sama dengan satu (Net B/C ≥ 1), maka usaha tersebut layak diusahakan. Apabila nilai Net B/C rasio lebih kecil dari satu (Net B/C < 1) maka usaha tersebut tidak layak diusahakan. Pay Back Periode (PBD) adalah suatu periode yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan aliran kas.

57

Tabel 9. Analisis Kelayan Usahatani Budidaya Bunga Pot Krisan dengan Produksi 1000 Pot/minggu Selama 1.5 Tahun
Periode (Per 3bln) URAIAN INFLOW Penjualan Krisan Pot (@15.000) TOTAL INFLOW OUTFLOW 1. Biaya Investasi a. Green House b. Instalasi Irigasi c. Kendaraan Operasional d. Instalasi Listrik e. Meja Perendaman f. Sewa Lahan 0,3ha (Rp1rb/m2/bln) g.Peralatan lain Total Biaya Investasi 2. Biaya Produksi a. Upah Tenaga Kerja - Penanaman - Perlakuan hari pendek - Pewiwilan - Penyemprotan - Penyiraman - Aplikasi alar - Panen - Pengawas b. Bahan tanam c. Pot d. Media e. Pestisida f. Larutan pupuk g. ZPT/ Alar h.Listrik pd masa hari panjang i. Pengemasan dan distribusi Total Biaya Produksi TOTAL OUTFLOW NET BENEFIT Discount Factor 17 % PV/3 bulan NPV IRR PV POSITIF PV NEGATIF NET B/C Pay Back Periode 325,000 825,000 1,500,000 213,281 284,375 70,313 30,000 4,500,000 16,250,000 24,375,000 8,937,500 7,962,500 3,981,250 8,268,750 780,000 1,400,000 79,702,969 239,702,969 -224,702,969 0.855 -192,053,819 130,563,612 21.03% 322,617,432 -192,053,819 1.680 0.816 325,000 1,787,500 2,785,714 396,094 528,125 121,875 390,000 4,500,000 16,250,000 24,375,000 8,937,500 14,787,500 7,393,750 15,356,250 780,000 18,200,000 116,914,308 126,914,308 68,085,692 0.855 58,192,899 325,000 1,787,500 2,785,714 396,094 528,125 121,875 390,000 4,500,000 16,250,000 24,375,000 8,937,500 14,787,500 7,393,750 15,356,250 780,000 18,200,000 325,000 1,787,500 2,785,714 396,094 528,125 121,875 390,000 4,500,000 16,250,000 24,375,000 8,937,500 14,787,500 7,393,750 15,356,250 780,000 18,200,000 325,000 1,787,500 2,785,714 396,094 528,125 121,875 390,000 4,500,000 16,250,000 24,375,000 8,937,500 14,787,500 7,393,750 15,356,250 780,000 18,200,000 25,000 1,100,000 1,500,000 213,281 284,375 107,813 390,000 4,500,000 1,250,000 1,875,000 687,500 7,962,500 3,981,250 8,268,750 90,000 18,200,000 50,435,469 60,435,469 1,650,000 9,075,000 14,142,857 2,010,938 2,681,250 665,625 1,980,000 27,000,000 82,500,000 123,750,000 45,375,000 75,075,000 37,537,500 77,962,500 3,990,000 92,400,000 597,795,670 807,795,670 182,204,330 0.624 113,763,019 100,800,000 10,500,000 25,000,000 4,480,000 8,050,000 9,000,000 2,170,000 160,000,000 0 0 0 0 0 9,000,000 1,000,000 10,000,000 0 0 0 0 0 9,000,000 1,000,000 10,000,000 0 0 0 0 0 9,000,000 1,000,000 10,000,000 0 0 0 0 0 9,000,000 1,000,000 10,000,000 0 0 0 0 0 9,000,000 1,000,000 10,000,000 100,800,000 10,500,000 25,000,000 4,480,000 8,050,000 54,000,000 7,170,000 210,000,000 15,000,000 15,000,000 195,000,000 195,000,000 195,000,000 195,000,000 195,000,000 195,000,000 195,000,000 195,000,000 195,000,000 195,000,000 990,000,000 990,000,000 1 2 3 4 5 6 Jumlah

116,914,308 116,914,308 116,914,308 126,914,308 126,914,308 126,914,308 68,085,692 0.855 58,192,899 68,085,692 0.855 58,192,899

68,085,692 134,564,531 0.731 0.731 49,737,521 98,301,214

Keterangan : NPV
Net B/C Rasio

: Net Present Value : Net Benefit Cost Ratio)

IRR PBD

: Internal Rate of Return : Pay Back Periode

Hasil perhitungan kelayakan usahatani bunga pot krisan menunjukkan bahwa pengusahaan bunga pot krisan menguntungkan dan layak diusahakan. NPV menunjukkan nilai yang positif. Keuntungan yang diperoleh dari pengusahaan bunga pot krisan sebanyak 1000ppot/minggu selama 1.5 tahun adalah Rp..130.563.612,00. IRR yang dihasilkan adalah 21.03%, nilai ini lebih besar dari suku bunga yang digunakan yaitu 17%. Net B/C rasio bernilai 1.68 yang

58

menunjukkan usaha tersebut menghasilkan 0.68/satuan modal yang dikeluarkan. Dengan kata lain setiap Rp 1,- modal menghasilkan pendapatan Rpp1,68 atau keuntungan Rp 0,68. Pay Back Periode yang diperoleh adalah 0.816. Hal ini berarti bahwa modal yang ditanam akan kembali dalam jangka waktu 9.bulan 3 minggu atau pada bulan ke-10 minggu ke-4 telah diperoleh keuntungan.

3. Aspek Manajerial

3.1 Manajemen produksi Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumberdayasumberdaya organisasi lain yang telah ditetapkan (Stoner dalam Handoko, 1995). Manajemen produksi merupakan suatu pengelolaan (perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian), proses pengubahan dari sumberdaya yang merupakan input menjadi barang atau jasa sebagai output yang dilakukan oleh suatu organisasi berdasarkan tujuannya (Poerwanto, 2008). Manajemen produksi di PT. Saung Mirwan bertujuan untuk memproduksi produk sayur dan bunga secara komersil. Salah satunya adalah memproduksi produk berupa bunga krisan pot. Produksi bunga pot yang dilakukan di PT. Saung Mirwan berada di bawah tanggung jawab divisi produksi. Proses perencanaan produksi bunga krisan pot merupakan kerjasama antara divisi produksi dan divisi pemasaran. Tahapan perencanaan produksi bunga krisan pot dapat dilihat pada Gambar 23. Perencanaan sangat penting karena merupakan alat untuk mendorong tercapainya target tertentu yang telah ditetapkan oleh perusahaan dan untuk mengkoordinasikan kegiatan pemasaran. Setiap triwulan ketiga atau sekitar bulan Agustus selalu dilaksanakan rapat koordinasi yang diikuti oleh seluruh manajer PT. Saung Mirwan dan pimpinan perusahaan. Rapat koordinasi tersebut membicarakan rencana target penjualan tahun mendatang dan harga minimal setiap produk dengan pertimbangan-pertimbangan dari bagian pengadaan, pemasaran dan produksi. Kemudian divisi pemasaran menyusun target penjualan tahun mendatang, dan melakukan koordinasi dengan divisi produksi untuk merumuskan rencana panen tahun mendatang.

59

Rencana panen yang mencakup jumlah, jenis, warna dan varietas yang akan ditanam dan disusun dengan mempertimbangkan permintaan pelanggan tetap, perkiraan permintaan pelanggan tidak tetap berdasarkan adanya hari-hari besar agama, kenegaraan atau hari-hari khusus lainnya seperti hari Valentine. Divisi produksi kemudian menyusun program tanam untuk tahun tersebut berupa rencana tanam tiap minggu dari Januari-Desember. Rencana tanam kemudian dilaksanakan dalam bentuk realisasi tanam. Realisasi tanam disesuaikan dengan ketersediaan bibit dan lahan serta kondisi yang terjadi di lapang. Dari realisasi tanam kemudian akan diperoleh jumlah real panen. Real panen adalah jumlah tanaman yang layak panen dan layak jual setelah diseleksi sesuai dengan standar yang di tetapkan perusahaan.

Target Penjualan

Rencana Panen

Rencana Tanam

Realisasi Panen

Realisasi Tanam

Gambar 23. Alur Perencanaan Produksi Krisan Pot di PT Saung Mirwan Pengawasan dan pengendalian merupakan bagian yang paling penting dalam suatu sistem manajeman. Pengawasan dan pengendalian berfungsi untuk mengarahkan jalannya kegiatan agar sesuai dengan rencana dan tujuan yang telah ditetapkan agar tidak terjadi penyimpangan. Pengendalian dalam proses produksi selanjutnya merupakan tanggung jawab bagian bunga pot yang berada di bawah pengawasan divisi produksi. Bagian bunga pot dikepalai oleh seorang kepala subseksi yang bertugas mengawasi dan memastikan proses produksi bunga pot berjalan lancar. Kepala subseksi juga diawasi oleh kepala seksi yang bertanggung jawab kepada kepala bagian yang merupakan pimpinan lapang divisi produksi. Setelah panen selanjutnya bunga pot tersebut berada di bawah tanggung jawab divisi pemasaran bunga. Divisi pemasaran bunga harus berusaha untuk menjual semua bunga tersebut. Apabila belum ada permintaan maka bunga-bunga tersebut dipindahkan ke demplot yang berfungsi sebagai ruang pamer oleh bagian pengemasan bunga yang berada dibawah divisi pemasaran.

60

3.2 Manajemen Pemasaran dan Distribusi Pemasaran adalah sistem keseluruhan dari kegiatan usaha yang bertujuan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial. Jadi manajemen pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksaan konsepsi, penentuan harga, promosi dan distribusi ide-ide, barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang memuaskan tujuan individu dan tujuan organisasi. Manajemen pemasaran juga meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengorganisasian, pengendalian dan pegawasan terhadap proses pemasaran tesebut. Perencanaan meliputi perencanaan harga dan jumlah produk yang akan dipasarkan, perencanaan target pasar dan strategi pemasaran. Target pasar PT..Saung Mirwan adalah pangsa pasar kelas menengah ke atas, hal ini tentu saja telah disesuaikan dengan produk berkualitas yang dihasilkan perusahaan. Strategi yang dilakukan perusahaan dalam menyikapi kondisi pasar saat ini meliputi strategi produk, strategi harga, strategi distribusi dan strategi promosi. Strategi produk meliputi pemilihan varietas, mempertahankan dan meningkatkan kualitas serta special order. Special order dilakukan dengan menanam lebih banyak bunga krisan untuk menghadapi bulan atau hari-hari besar seperti hari besar keagamaan dan kenegaraan. Strategi harga dilakukan dengan memberikan diskon atau potongan harga. Potongan harga diberikan berdasarkan jenis pembeli, jumlah permintaan dan kredibilitas pelanggan tersebut. Harga satuan krisan pot untuk konsumen langsung adalah Rp.15.000,00. Untuk pelanggan tetap biasanya diberi harga khusus, atau diberikan bonus produk apabila produk yang tersedia banyak karena terjadi kelebihan panen. Promosi yang dilakukan oleh PT. Saung Mirwan antara lain melalui website dengan alamat www.saungmirwan.com, media massa misalnya ketika wawancara ataupun profil perusahaan yang diliput oleh majalah pertanian atau televisi, pemberian logo dan label perusahaan pada produk-produk yang dihasilkan, dan mengikuti pameran-pameran. Kunjungan dari berbagai pihak pemerintahan seperti instansi-instansi atau lembaga-lembaga juga digunakan sebagai sarana untuk memperkenalkan perusahahan kepada masyarakat.

61

PT. Saung Mirwan melakukan pemasaran krisan pot yang dihasilkan dengan beberapa cara diantaranya langsung menjual ke konsumen yang biasanya langsung datang sebagai pengunjung, florist dan menyalurkan ke distributor I atau distributor II. Wilayah pemasaran yang dijangkau PT. Saung Mirwan untuk bunga pot mencakup hampir seluruh kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Bali, dan Lampung. Pengiriman luar kota yang dilayani untuk pemesanan bunga pot adalah pemesanan di atas 100 pot dan dikenakan biaya pengiriman sebesar Rp 1.700/pot untuk bunga krisan dan kalanchoe dan Rp 2.000/pot untuk bunga kastuba. Pengiriman barang untuk wilayah di pulau Jawa menggunakan mobil box dengan rute perjalanan Bogor–Semarang–Surabaya–Malang–Nongkonegoro–Jember apabila melewati jalur Pantura. Apabila daerah yang dituju tidak melewati Pantura maka pengiriman dilakukan lewat jasa pengiriman barang dari PT. Pahala Kencana atau perusahaan yang disetujui oleh pelanggan. Sedangkan untuk permintaan luar Pulau Jawa, pengiriman dilakukan dengan pesawat terbang melalui jasa kargo atau agen. Semua biaya pengiriman dan biaya lain-lain seperti harga dus dan biaya karantina dibebankan pada pelanggan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan 1. Selama mengikuti proses magang di PT Saung Mirwan mahasiswa menjadi mengetahui cara budidaya tanaman krisan secara komersil dan memperoleh pengetahuan tentang aspek teknis dan aspek manajerial pengusahaan tanaman krisan tersebut. 2. PT Saung Mirwan melakukan budidaya bibit krisan yang sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Direktorat Jendral Hortikultura 2008. 3. PT Saung Mirwan melakukan budidaya bunga krisan pot secara intensif sehingga diperoleh produk berkualitas dan menetapkan sendiri standar untuk mutu bunga krisan pot yang dihasilkan. 4. Berdasarkan jumlah kuntum bunga setiap pot, 100% krisan pot yang dihasilkan PT Saung Mirwan termasuk dalam kelas mutu A. 5. Berdasarkan rata-rata tinggi tanaman hasil pengamatan, 67% varietas termasuk kedalam kelas mutu A dan 33% kelas mutu B. 6. Berdasarkan daya tumbuh, 22% varietas yang memiliki daya tumbuh <70%, 28% varietas yang memiliki daya tumbuh antara 70-80%, dan 50% varietas yang memiliki daya tumbuh >80%. 7. Kehilangan hasil selama kegiatan budidaya yang menyebabkan turunnya daya tumbuh krisan pot disebabkan oleh serangan hama penyakit (9%) dan proses kegiatan budidaya seperti proses pewiwilan (5%), kesalahan dalam aplikasi ZPT (2%), proses pemindahan tanaman (2%) dan faktor lainnya (3%). 8. Hasil analisis kelayakan usahatani menunjukkan bahwa pengusahaan krisan pot menguntungkan dan layak diusahakan. Keuntungan yang diperoleh dari penanaman 1000ppot/minggu selama 1.5 tahun adalah Rp..130.563.612,- dengan nilai NPV positif, IRR 21.03%, Net B/C rasio 1.68 dan pay back periode 0.816, berarti modal yang ditanam kembali dalam jangka waktu 9 bulan 3 minggu.

63

Saran

1. Perlunya peningkatan pengawasan terhadap setiap kegiatan budidaya yang dilakukan untuk meminimalkan kehilangan hasil akibat kesalahan dalam setiap tahapan budidaya. 2. Perlunya peninjauan lebih lanjut terhadap pengendalian HPT seperti dari cara maupun jenis pestisida yang digunakan seiring dengan makin resistennya HPT yang ada. 3. Perlunya dilakukan regenerasi terhadap varietas-varietas yang vigornya sudah turun. 4. Perlu ditinjau ulang lagi dalam pemberian nutrisi pada lahan produksi bunga pot melalui sistem ebb and flow mengenai masalah penyebaran penyakit karena penggunaan sistem irigasi dengan perendaman.

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, N. O. 1987. Reclasifications of the genus Chrysanthemums L. Hort Science. 22(2): 313. Badan Pusat Statistik. 2009. Produksi tanaman hias di Indonesia. http:// www.bps.go.id. [ 7 Maret 2010]. Chang, J. H. 1968. Climate and Agriculture an Ecological Survey. Aldine Publishing Co. Chicago. 74 p. Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi. 2008. Prosedur Operasional Standar (POS) Produksi Benih Krisan (Dendrathema grandiflora Tzvelev Syn.). Direktorat Jenderal Hortikultura. Jakarta. 76 hal. Fides. 1992. Fides Mum Manual for all Year Round Chrysanthemum. Alsmeer. 102 p. Hadinata, D. 1999. Produksi Krisan Pot. Prosiding Workshop Florikultua , IPB, Bogor. Vol. II:167-176. International Chrysanthemum Society. 2002. Chrysanthemum : Challenge and Prospect. Mcgraw-Hill, Inc. New York. pp 4-5. Khattak, A. M. and S. Pearson. 1997. The effect of light quality and temperature on the growth and development of chrysanthemum cvs bright golden anne and snowdon. Acta Hort 435: 113-131. Kofranek, A. M. 1992. Cut Chrysanthemum. In R. A. Larson (Ed.) Introduction to Floriculture. Acad Press, Inc., New York. 636 p. Krisantini. 2006. Produksi Krisan Pot : Budidaya Bunga dan Tanaman Hias. Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. 16 hal. Langton, F. A. 1987. Apical dissection and light integral monitoring as methods to determine when long day interruption should be given in chrysanthemum growing. Acta Hort 197: 31-41. Masswinkel, R and Y. Sulyo. 2004. Chrysanthemum Physiologie. Training on Chrysanthemum Cultivation I, 24 Oktober 2004. Balai Penelitian Tanaman Hias. Moradjo, M. 1976. Bunga Hias II. PT Karya Nusantara. Jakarta. 32 hal. Mortensen, L. M. 2000. Effect of air humidity on growth, flowering, keeping quality and water relation of four short-day green house species. Scientia Hortic 86: 299-310.

 

65 Nasional Chrysanthemum Society. 2003. Chrysanthemum classes. http:// www.nationalchrysanthemumsociety.org.uk [11 Desember 2009]. Nuryanto, H. 2007. Budidaya Tanaman Krisan. Ganeca Exact : Jakarta. 76 hal. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura. 2006. Budidaya Krisan Bunga Potong (Prosedur Sistem Produksi). Horticultural Research Cooperation Between Indonesia and the Netherlands. 60 hal. Rianto, D. 2008. Standarisasi Mutu Bunga Potong dalam Pelelangan. Standar di UPT Rawa Belong. 6 hal. Rukmana, R. dan A. E. Mulyana. 1997. Krisan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 108 hal. Wilkins, H. F., W. E. Healy and K. L. Grueber. 1990. Temperature regimens at various stage of production influences growth and flowering of Dendranthema grandiflora. Soc. Hort. Sci. 115: 732-736.

3   

Lampiran 1. Data Karyawan PT. Saung Mirwan 2009

Jumlah Karyawan Manajer Kabag Kasi Kasubsi Bulanan Harian Tetap Belum tetap Produksi sayur kebun luar 0 0 0 0 0 5 0 Bunga 1 4 1 7 18 30 30 Sales 1 2 1 0 0 0 0 Pengadaan 0 1 1 2 0 0 0 Pengemasan 1 3 0 5 7 15 1 Kemitraan 0 0 1 0 0 0 0 MFI 0 0 0 2 3 4 3 Lemah Neundeut 0 0 1 3 12 19 0 SM Cipanas 0 1 0 3 3 0 46 SM Garut 1 0 2 2 3 12 0 Distribusi 0 0 0 2 23 0 0 Keuangan/ ACC 1 1 4 7 0 0 0 IT 0 0 1 1 1 0 0 Umum 0 1 5 8 25 9 4 SM Lembang 1 1 1 1 2 0 20 Total 6 14 18 43 97 94 104 Sumber : Bagian IT Perusahaan PT Saung Mirwan (Sukamanah)

Divisi

Borongan 0 98 0 0 31 0 5 12 0 0 0 0 0 2 0 148

Grand Total 5 189 4 4 63 1 12 47 53 20 25 13 3 54 26 524

 

3   

Lampiran 2. Sketsa Tanah PT Saung Mirwan, Desa Sukamanah, Megamendung, Bogor

Sumber : Bagian IT Perusahaan PT Saung Mirwan (Sukamanah)

 

3   

Lampiran 3. Struktur Organisasi Perusahaan PT Saung Mirwan

PT. SAUNG MIRWAN

QA

IT

R&D

BIDANG PRODUKSI

BIDANG KOMERSIL

BIDANG UMUM

KEBUN GADOG

DIV. PENJUALAN SAYUR

DIV. G A

KEBUN LEMAH NEUNDEUT

DIV. PENJUALAN BUNGA

DIV. HR

KEBUN CIPANAS

DIV. PENGADAAN

DIV. KEU/AK

KEBUN GARUT

DIV. PENGEMASAN

DIV. TEKNIK

DIV. KEMITRAAN

  Sumber : Bagian IT Perusahaan PT Saung Mirwan (Sukamanah)

 

3   

Lanjutan Lampiran 3. Struktur Organisasi Perusahaan PT Saung MIrwan
   
BIDANG PRODUKSI

ADMIN

TENAGA AHKLI HPT

KABAG PROD POT MUM, BCF, SEED LST, PROPAG, PACK

KABAG PROD MP EXPORT,LOKAL, HPT

KASIE PROPAG, PACGK, UMUM

KASIE POT MUM, BCF, SEED LST

KASIE MP EXPORT , LOKAL

KASIE HPT

KASUBSIE PROPAG

KASUBSIE PACKG EXPORT

KASUBSIE BCF/SEED LST

KASUBSIE BPF

KASUBSIE MP LOKAL

KASUBSIE MP EXPORT LOKASI "S"

KASUBSIE HPT

KASUBSIE UMUM

KASUBSIE MP EXPORT LOKASI "C"

Sumber : Bagian IT Perusahaan PT Saung Mirwan (Sukamanah)

 

3   

Lanjutan Lampiran 3. Struktur Organisasi Perusahaan PT Saung Mirwan

BIDANG KOMERSIAL

DIV. PENJUALAN SAYUR

DIV. PENJUALAN BUNGA

DIV. PENGADAAN

DIV. PENGEMASAN

DIV. KEMITRAAN

BAG EKSPOR

BAG PENJUALAN

BAG PEMBELIAN

BAG PENERIMAAN SAYUR

BAG MITRA TANI

BAG SALES KOORDINATOR

BAG PACKAGING

ADMINISTRASI

BAG FRESH VEGETABEL

BAG MITRA BELI

BAG REPORTING

BAG FRESH CUT VEGETABLE SALES ADMIN

BAG SORTASI & PENERIMAAN

DISTRIBUSI

BAG UMUM

SORTASI

PACKING

Sumber : Bagian IT Perusahaan PT Saung Mirwan (Sukamanah)

 

3   

Lanjutan Lampiran 3. Struktur Organisasi Perusahaan PT Saung Mirwan

BIDANG UMUM

DIV. G A

DIV. HR

DIV. KEU/AK

DIV. TEKNIK

BAG UMUM

BAG PERSONALIA

BAG KEUANGAN

BAG TEKNIK

PENGAMANAN/ HUMAS/ LEGAL

ADMINISTRASI

KAS & BANK

MEKANIK

HARWATSAR

KELUHAN KRY

AR

LISTRIK/ SDL

LOGISTIK

BAG PENGEMBANGAN

GUDANG

PENDINGIN

BAG R T K

SELEKSI & REKRUITMENT

BAG AKUNTING

TOOLS/ GUDANG

SECRETARIAT/ SERVICEIN

TRAINING

GENERAL AKT

KEND. DINAS

COST AKT

  Sumber : Bagian IT Perusahaan PT Saung Mirwan (Sukamanah)

 

3   

Lampiran 4. Lay Out Greenhouse PT Saung Mirwan
  Wuwungan      20/40 + reg 3/4  Reg 3/4 0.30 

Gambar Lampiran 5. Skema Jaringan Ebb and Flow
Kuda‐kuda     20/40  0.75

Gording L.30/30 + reg 3/4  0.85

Kawat Nyamuk  Hijau 
L.30/30  4.00 

Tiang 40/40 

Plastik UV 12%
0.25 0.70

6.40
PENAMPANG  MELINTANG 

GREEN HOUSE SAUNG MIRWAN ( LUAS = 40.00 X 6.40 = 256.00M2 )

 

3   

Lampiran 5. Skema Jaringan Irigasi Ebb and Flow

Sumber : Bagian Irigasi Lahan Produksi Bunga Pot PT Saung Mirwan (Sukamanah)

 

3   

Lampiran 6. Lay out Bangunan PT Saung Mirwan, Desa Sukamanah, Megamendung, Bogor

Sumber : Bagian IT Perusahaan PT saung Mirwan (Sukamanah)

 

3   

Lampiran 7. Daftar Pestisida yang Digunakan dalam Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Chrysanthemum
No 1 Hama Leaf miners Pestisida Trigard 0.3 gr/ltr Agrimec 0.75 ml/ltr Rampage 0.75 ml/l Tokuthion 1ml/ltr Decis 0.75 ml/ltr Akodan 1 ml/ltr Decis 0.75 ml/ltr Decis 0.75 ml/ltr Trigard 0.25 gr/ltr Confidor 0.75 ml/ltr Agrimec 0.75 ml/ltr Mesurol 1,5 gr/ltr Pegasus 1 ml/ltr Agrimec 0.75 ml/ltr mitecut 1 ml/l Rampage 0.75 ml/l Kelthane 1 ml/ltr Nissorun 0.75 ml/ltr Samite 1 ml/ltr Ye mante 1 ml/l Metindo 1.5 gr/ltr Lanate 1,5 gr/ltr Metindo 1.5 gr/ltr Lanate 1,5 gr/ltr Confidor 0.75 ml/ltr Proclaim 0.2 gr/ltr Matador 1 ml/ltr Dursban 1,5 ml/ltr Metindo 1.5 gr/ltr Lanate 1,5 gr/ltr Bahan Aktif siromazin 75% abamektin 18.4 g/l klorfenapir 100 g/l protiofos 500 g/l deltametrin 25 g/l endosulfan 20% deltametrin 25 g/l deltametrin 25 g/l siromazin 75% imidakloprid 200 g/l abamektin 18.4 g/l merkaptodimetur 50% diafentiuron 500 g/l abamektin 18.4 g/l Abamektin, Klorfirifos klorfenapir 100 g/l dikofol 191 g/l heksitiazok 50 g/l piridaben 135 g/l pyridaben, petroleum metomil metomil 25% metomil metomil 25% imidakloprid 200 g/l emamektin benzoat 5% lamda sihalotrin 25 g/l klorpirifos 14% metomil metomil 25% azoksistrobin 250 g/l triforine 17.8% menkozeb 430 g/l klorotalonil 75% heksakonazol 50 g/l propamokarb hidrokloida 722 g/l klorotalonil 75% menkozeb 430 g/l heksakonazol 50 g/l difenokonazol 250 g/l bupirimat 250 g/l bitertanol 300 g/l Keterangan Larva Dewasa Dewasa Dewasa Dewasa + Larva

2

Trips

3

Mites

Larva

4 5

White Fly Apids

6

Ulat

1

Amistar 0.5 ml/ltr Saprol 1ml/ltr Dithane 2 ml/ltr Daconil 1 ml/ltr Anvil 1 ml/ltr 2 Busuk Batang Provicur N 0.5 ml/ltr Busuk Daun Daconil 1 ml/ltr Dithane 1 gr/ltr Anvil 1 ml/ltr 3 Mildew Score 0.5 ml/ltr Embun tepung Nimrod 1 ml/ltr Baycor 0.75 ml/ltr Saung Mirwan, 11 Agustus 2006

Penyakit White Rus (Karat)

Pencegahan/ disiram

 

 

3   

Lampiran 8. Data Suhu Harian (0C), Kelembaban/RH (%), dan Cuaca Bulan April 2009 di Greenhouse Produksi Bunga Pot krisan di.PT.Saung Mirwan
Jam dan  factor  1  2  3  4  5  6  7  8  9  10  11  12  13  14  15  8 : 00  Suhu  RH  Cuaca  25  92  C  27  92  C  24  91  C  27  92  C  ‐  ‐  ‐  25  02  C  21  91  M  21  91  M  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  26  92  C  ‐  ‐  ‐  23  91  C  23  91  C  28  92  C  10 : 00  Suhu  RH  Cuaca  27  84  P  27  84  P  27  84  M  30  84  P  ‐  ‐  ‐  28  84  M  21  82  M  25  84  M  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  29  84  P  ‐  ‐  ‐  26  84  P  27  84  M  31  86  P  13 : 00  Suhu  RH  Cuaca  30  77  P  31  77  P  30  77  P  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  26  76  M  29  78  M  27  84  M  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  31  77  P  ‐  ‐  ‐  27  77  P  30  84  P  32  73  P  15 : 00  Suhu  RH  Cuaca  31  78  P  31  70  P  30  70  M  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  20  91  H  27  84  M  26  84  M  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  29  71  P  27  84  M  27  70  M  27  70  M  30  77  P  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  30  72  P  28  92  M  29  71  P  28  77  M  29  84  P  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  30  85  P  29  84  P  29  84  P  29  84  P  ‐  ‐  ‐  28  77  P  31  70  P  31  70  P  ‐  ‐    32  73  P  30  92  P  27  88  M  30  70  P  30  71  P  32  73  P  ‐  ‐  ‐  27  77  M  26  84  M  27  84  M  31  72  P  ‐  ‐  ‐  29  85  P  28  85  P  27  85  P  ‐  ‐  ‐  28  85  P  29  85  P  30  85  P  30  85  P  29  78  P  29  85  P  ‐  ‐  ‐  30  85  P  32  66  P  30  78  P  29  78  P  ‐  ‐  ‐  23  91  C  25  92  C  25  92  C  ‐  ‐  ‐  24  91  C  24  75  C  25  92  C  28  77  C  28  70  C  27  84  C  ‐  ‐  ‐  27  84  C  29  71  C  28  70  C  25  92  C  ‐  ‐  ‐  Tanggal  16  17  18  19  20  21  22  23  24  25  26  27  28  29  30  31 

Keterangan :

C H

: Cerah : Hujan

M P

: Mendung : Panas 

 

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->