P. 1
PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI KAWASAN KONSERVASI KAMOJANG GARUT, JAWA BARAT

PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI KAWASAN KONSERVASI KAMOJANG GARUT, JAWA BARAT

|Views: 305|Likes:
Published by KARYAGATA MANDIRI

More info:

Published by: KARYAGATA MANDIRI on Jul 30, 2012
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

09/01/2013

PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI KAWASAN KONSERVASI KAMOJANG GARUT, JAWA BARAT

Oleh : FIRDA TARUNAJAYA E14204044

PROGRAM STUDI BUDIDAYA HUTAN DEPARTEMEN SILVIKULTUR FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009

PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI KAWASAN KONSERVASI KAMOJANG GARUT, JAWA BARAT

Oleh : FIRDA TARUNAJAYA E14204044

SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kehutanan pada Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

PROGRAM STUDI BUDIDAYA HUTAN DEPARTEMEN SILVIKULTUR FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009

Firda Tarunajaya. E 14204044. Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di Kawasan Konservasi Kamojang Garut, Jawa Barat. Dibimbing oleh Dr. Ir. Lailan Syaufina, M.Sc RINGKASAN Kawasan Konservasi diantaranya terdiri dari Cagar Alam dan Taman Wisata Alam. Cagar alam merupakan kawasan suaka alam dengan keadaan alamnya yang khas baik kekhasan tunbuhan, satwa, maupun ekosistemnya dan perkembangannya berlangsung secara alami. Kawasan ini memiliki peranan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan, kebudayaan, pendidikan dan teknologi guna menunjang peningkatan kesejahteraan sumber daya manusia dan berpotensi untuk peningkatan pembangunan nasional. Adapun taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam terutama dimanfaatkan pariwisata dan rekreasi alam. Penetapan kawasan konservasi bertujuan sebagai upaya pengawetan keragaman flora, fauna serta ekosistemnya sekaligus merupakan wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan areal di sekitarnya. Dewasa ini gangguan terhadap kawasan Cagar Alam Kamojang Garut semakin terasa, sebagai akibat makin meningkatnya jumlah penduduk dan berlangsungnya krisis ekonomi yang cukup lama. Tekanan ini mendorong penduduk melakukan perambahan hutan, pencurian kayu, membuka lahan secara liar, dan terutama kasus-kasus kebakaran hutan dan lahan. Oleh karena itu perlu dilakukan sistem pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang efektif dan efisien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi, mendeskripsikan, dan menganalisis; 1) Sistem pengendalian kebakaran hutan dan lahan terpadu yang diterapkan di kawasan konservasi BKSDA Kamojang,2) Sistem koordinasi dan peran serta BKSDA Kamojang dengan instansi terkait dan masyarakat kawasan konservasi dalam sistem pengendalian kebakaran hutan. Penelitian dilakukan di BKSDA Kamojang SKW V Garut, Jawa Barat pada bulan Juli September 2008. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang berusaha mengidentifikasi dan mendeskripsikan pelaksanaan pengendalian kebakaran hutan dan lahan di Kamojang serta menggunakan metode triangulasi berupa teknik observasi, wawancara mendalam, dan analisis dokumen. Adapun aktifitas analisis data meliputi data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification. Pengendalian kebakaran hutan dan lahan pada kawasan konservasi memerlukan pendekatan dan penanganan yang berbeda dibandingkan kawasan hutan lainnya. Semua pihak yang berkepentingan memiliki tanggung jawab terhadap sumberdaya alam dan kelestariannya. Pengendalian kebakaran hutan yang diterapkan BKSDA Kamojang SKW V Garut Jawa Barat meliputi kegiatan pencegahan, pemadaman dan penanganan pasca kebakaran yang mengacu pada program yang telah ditetapkan Ditjen PHKA. Upaya BKSDA Kamojang dalam Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan diantaranya yaitu pemberian kesempatan pengolahan lahan masyarakat, pemberian insentif berupa ternak domba, pembinaan dan penyuluhan kelompok masyarakat sukarelawan melalui pemberian rangsangan, bimbingan, dorongan, pelatihan untuk peningkatan kemampuan berupa apel siaga, dan peningkatan kesadaran masyarakat dalam kegiatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang dibimbing oleh tingkat seksi dan resort Kamojang. Kata Kunci: Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di Kawasan Konservasi

Forest Fire and Land Control in Conservation Area Kamojang Garut, West Java. By: Firda Tarunajaya, Lailan Syaufina INTRODUCTION. A conservation area contains of nature reserve and nature park. A nature reserve is a protected area of importance for wildlife, flora, fauna or features of geological or other special interest, which is reserved and managed for conservation and to provide special opportunities for study or research of science, culture, education, and technology to support the improvement of human prosperity and national development. A nature park is an area that usually used for tourism and nature recreation. The declaration of a conservation area aim to preserve the variation of wildlife, flora, fauna and its ecosystem. It is also an area which absorbs the lives surround it. Kamojang forest area is an important area which is located in citarum and cimanuk rivers. It means it has a strategic role to carry on the vital project such as Saguling, Cirata, Jatiluhur and Jatigede water dam. Nowadays, the threat to the stability of Kamojang nature reserve area in Garut, West Java is getting worst because of the growth of people and crisis of economics. The pressures suggest many people to open the forest, illegal logging, and forest fire. Because of that forest fire management system is needed and done effectively and efficiently. The purpose of the research is to identify, describe and analyze; 1) Land and forest fire control in conservation forest Bureau of Natural Resources Conservation (BKSDA) Garut, West Java, 2) Coordination system and participation among BKSDA Kamojang and related institution, private company, and community around the conservation area in forest fire control system. MATERIAL AND METHOD. The research was done in BKSDA Kamojang SKW V Garut, West Java. It is conducted from July to September 2008. it used qualitative approach which attempted to identify and describe The implementation of land and forest fire control in BKSDA Kamojang. It used triangulation method with observation technique, deep interview, participatory observation and documentary analyzing. The Analyzing data contains data reduction, data display, and conclusion drawing/verification. RESULT AND CONCLUTIONS. Forest and land fire control in conservation area needs different approaching and handling than other types of forest. All stakeholders have their responsible to natural resources and its preservation. Forest fire control which is applied by BKSDA Kamojang Garut, west Java. It includes prevention activity, shutting down, and handling after burnout which refer to Directorate general of PHKA program. BKSDA Kamojang efforts in land and forest fire control such as, taking a chance of land cultivation for community, providing cattle incentive like a sheep, counseling and training for group of community volunteers through, serving motivation, counseling. Training to improve their ability and awareness in land and forest fire control activity which is guided by section and resort Kamojang level.

Key Words: Forest Fire and Land Control in Conservation Area

PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul “Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di Kawasan Konservasi Kamojang Garut, Jawa barat” adalah benar-benar hasil karya saya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka dibagian akhir skripsi ini.

Bogor, Februari 2009

Firda Tarunajaya NRP E14204044

LEMBAR PENGESAHAN
Judul Skripsi : Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di Kawasan Konservasi Kamojang Garut, Jawa Barat Nama Mahasiswa Nomor Pokok Program Studi Departemen : Firda Tarunajaya : E14204044 : Budidaya Hutan : Silvikultur

Menyetujui : Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Lailan Syaufina, M.Sc. NIP. 131 849 392

Mengetahui : Dekan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Hendrayanto, M.Agr. NIP. 131 578 788

Tanggal Lulus:

RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan pada tanggal 11 Mei 1985 di Indramayu Jawa Barat, merupakan anak ketiga dari empat bersaudara dari pasangan Bapak Tatang Taruna dan Ibu Ida Farida. Pendidikan SD ditempuh penulis pada tahun 1992 sampai dengan tahun 1998 di SD Negeri Hegarmanah. Pada tahun 1998 sampai dengan tahun 2001 penulis melanjutkan pendidikan di SLTPN 2 Kadungora Garut. Kemudian pada tahun 2001 penulis melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Cibatu Garut dan lulus pada tahun 2004. Pada tahun 2004 penulis diterima sebagai Mahasiswa Program Sarjana Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Pada bulan Juli – September 2007, penulis mengikuti Praktek Pengenalan dan Pengelolaan Hutan di Kamojang, Sancang dan KPH Sukabumi, dan Praktek Kerja Lapang (PKL) pada bulan April – Mei 2008 di PT. Timah Tbk (Persero) Pangkal Pinang Propinsi Bangka Belitung. Selama melakukan studi penulis aktif dalam beberapa organisasi diantaranya Forest Management Student Club (FMSC) periode 2005-2006 sebagai Divisi teknologi dan Informasi kehutanan. Penulis pernah terlibat dalam beberapa proyek diantarnya kegiatan pengadaan bibit Gerakan Rehabilitasi Nasional (Gerhan) di Sukabumi pada tahun 2006 yang mewakili Lembaga Penelitian Indonesia (LPI) sebagi tim penilai kelayakan bibit kayu komersil. Pada tahun 2006 penulis ikut berpartisipasi dalam menyelenggarakan kegiatan program peningkatan kapasitas Technopreneurship Mahasiswa dalam mengembangkan ide teknologi untuk masyarakat miskin dan program berkelanjutan yang diadakan oleh L-RAMP IPB (Lemelson Recognition and Mentoring Program). Selain itu pada tahun 2008 penulis ikut berpartisipasi dalam kegiatan relokasi lahan transmigrasi di Bokat Kab. Buol Sulawesi Tengah yang diselenggarakan oleh Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Sarjana Kehutanan, penulis melakukan penelitian di bidang kebakaran hutan dan lahan dengan judul Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di Kawasan Konservasi Kamojang garut, Jawa Barat, di bawah bimbingan Dr. Ir. Lailan Syaufina, M.Sc.

KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan menyusun karya ilmiah ini dengan baik. Sholawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah SAW, keluarga, para sahabat dan para pengikutnya yang senantiasa istiqomah hingga akhir zaman. Karya ilmiah ini merupakan tugas akhir dari penulis yang berjudul “Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di Kawasan Konservasi BKSDA Kamojang Garut, Jawa Barat” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan (S. Hut). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai September 2008 dan bertujuan untuk mengidentifikasi, mendeskripsikan, dan menganalisis sistem pengendalian kebakaran hutan dan lahan terpadu yang diterapkan di kawasan konservasi dan koordinasi antara BKSDA Kamojang dengan instansi terkait, swasta dan masyarakat dalam sistem pengendalian kebakaran hutan dan lahan di kawasan konservasi BKSDA Kamojang Seksi Konservasi Wilayah V Garut, Jawa Barat. Penulis menyadari bahwa karya ilmiah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dan pengembangan penelitian lebih lanjut. Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang menggunakannya.

Bogor, Februari 2009 Penulis

UCAPAN TERIMA KASIH Pada kesempatan yang berbahagia ini penulis memajatkan puji syukur yang tiada terhingga atas limpahan rahmat dan hidayah yang di berikan oleh Allah SWT. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW kepada para shohabat dan para pengikutnya hingga akhir zaman. Selain itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada: 1. Ibu Dr. Ir. Lailan Syaufina, M.Sc selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, arahan, nasihat, ilmu pengetahuan, dan motivasi selama proses studi. 2. Ibu Dr. Ir. Arzyana Sunkar, M.Sc dan Ibu Arinana, S.Hut, M.Si selaku dosen penguji perwakilan dari Departemen Hasil Hutan dan Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata. 3. Pihak BKSDA Propinsi Jawa Barat II melalui Bapak Teguh Setiawan S,Hut selaku kepala Seksi Konservasi Wilayah V Garut, Jawa Barat atas perizinan dan bantuan yang diberikan selama penelitian dan kepada Bapak Dadang Sobari, Bapak Oca Mulyana, Bapak Atoy, Bapak Walim, Asep Rosjana, Bapak Usman, Bapak Rakim, dkk atas petunjuk,informasi dan dokumentasi yang diberikan selama kegiatan penelitian. 4. Ayah Ibuku, kakak-kakaku dan adik kecilku atas Do’a, motivasi, petunjuk, arahan, suka cita dan kasih sayangnya, serta didikan kesabaran yang telah diajarkan. 5. Sudara-saudara 41 sejatiku yang selalu membuatku bahagia dan bersedih Adi, Novan, Agung, Daud, Irfan, Dani, Didik, Muhan, Hangga, Huda, Iqbal, Irfan, Nisa, Rita, Inggrid, Intan, Ica, Ratih, Tyas, Indri, Dini, dkk atas persaudaraan yang diberikan. Khusus kepada “Mrs. X” yang selalu kuanggap ada dan tiada semoga takdir illahi menyamakan persepsi dan ideology kita untuk memperoleh kebahagiaan yang hakiki, hanya perjuangan, waktu dan proses yang akan menjawabnya. 6. Para Asaders, Gunde Mania, Grya MBL dan sekitarnya yang selalu membuatku terinspirasi untuk berubah dan berkembang meskipun kalian membuat sedikit waktuku tersita. 7. Seluruh teman-teman angkatan 2004 di Fakultas Kehutanan pada umumnya dan temanteman BDH 41 pada khususnya atas kerjasama, bantuan dan motivasinya serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu oleh penulis semoga Alloh SWT mencatat dan membalasnya.

DAFTAR ISI
Halaman KATA PENGANTAR .............................................................................................................. i UCAPAN TERIMAKASIH ...................................................................................................... ii DAFTAR ISI ....................................................................................................................... iii DAFTAR TABEL ...................................................................................................................... v DAFTAR GAMBAR .......................................................................................................... vi DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................................... vii BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1 A. Latar Belakang .................................................................................................................... 1 B. Tujuan Penelitian ................................................................................................................. 2 C. Manfaat Penelitian .............................................................................................................. 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................ 4 A. Kebakaran Hutan dan Lahan ............................................................................................. B. Pengendalian Kebakaran Hutan ........................................................................................ 4 8

C. Perkembangan Pengelolaan Kawasan Konservasi ................................................ 12
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ............................................................................. 14

A. Tempat dan Waktu Penelitian ................................................................................ 14 B. Alat dan Bahan ....................................................................................................... 14 C. Teknik Pengumpulan Data ..................................................................................... 14 D. Metode Analisis Data ............................................................................................. 16
BAB IV KONDISI UMUM TEMPAT PENELITIAN ........................................................ 19 A. Keadaan Fisik Kawasan ....................................................................................................... 19 B. Potensi Biotik ........................................................................................................................ 21 C. Aksesibilitas .......................................................................................................................... 22 D. Keadaan Sosial Ekonomi Masyarakat ................................................................................. 22

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................................... 25

A. Kejadian Kebakaran Hutan dan lahan di Kawasan Konservasi Kamojang SKW V Garut, Jawa Barat …………………………………................ 21 B. Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di Kawasan Konservasi Kamojang Garut Jawa Barat ………...……………………………........................ 25 C. Peranserta Masyarakat Sekitar Kawasan Konservasi Kamojang, Pihak Swasta/BUMN (PT. Pertamina Kamojang), dan Upaya BKSDA Kamojang Garut dalam Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan ...................... 43
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................................. 52 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ . 53 LAMPIRAN........................................................................................................................ . 55

DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1 Peristiwa Kebakaran di SKW V Garut Jawa Barat ………………………… 25

DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1. Prinsip Segitiga Api …………………………………………………….….... Gambar 2. Macam-macam Teknik Pengumpulan Data ……............................................. Gambar 3. Tahap Observasi .............................................................................................. Gambar 4. Komponen dalan Analisis Data ………………………………….….……... Gambar 5. Peta Wilayah Kerja BKSDA Kamojang SKW V Garut..….……….….…… Gambar 6. Diagram Peristiwa Kebakaran 2004 – 2007 ………………..……..………... Gambar 7. Berbagai bentuk pelanggaran terhadap kawasan konservasi …….……........ Gambar 8. Papan-papan peringatan di Kawasan Konservasi Kamojang ………………. Gambar 9. Alat dan Barang Bukti Pencurian Kayu …………………………………….. Gambar 10. Struktur Organisasi Brigdalkarhut BKSDA Kamojang SKW V Garut Jawa Barat …………...…..………………………………………............. 4 16 17 18 21 23 24 27 29

31

Gambar 11. Radio/rig yang online ditingkat Resort, Seksi hingga Balai ………………. 35 Gambar 12. Kegiatan Apel Siaga Penanggulangan Kebakaran Hutan di Papandayan Garut ………….....………………………………..……..

37

Gambar 13. Posko Pengendalian Kebakaran Hutan SKW V Garut ……………….…... 39 Gambar 14. Kegiatan Pengendalian Kebakaran Hutan di PT Pertamina Kamojang ……………………………………………………………… Gambar 15. Kegiatan Masyarakat Sekitar Kawasan Hutan Kamojang ……………......

47 49

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Jadwal penelitian Lampiran 2. Rencana Anggaran Penelitian Lampiran 3. Surat Bantuan Dana Kebakaran Hutan dan Intensif Pamhut Swakarsa Lampiran 4. Surat Pemberitahuan Hasil Penyidikan Perkara Pidana dari Kejaksaan Negeri Garut Lampiran 5. Laporan Kebakaran Hutan tahun 2007 Lampiran 6. Berita Acara Kebakaran Hutan 2007 Lampiran 7. Daftar Hadir Anggota Pamhut Swakarsa yang Berpartisipasi dalam Upaya penanggulangan Pemadaman Api di Cagar Alam Kawah Kamojang Lampiran 8. Peta Wilayah Kerja Resort Kamojang Barat Lampiran 9. Keputusan Camat Pasirwangi tentang Pembentukan Kelompok Penyelamat Hutan dan Lingkungan Mitra Budaya Desa Barusari Kecamatan Pasirwangi Kabupaten Garut Tahun 2007 Lampiran 10. Surat Antisipasi Kebakaran Hutan Lampiran 11. Nota Kesepakatan Bersama BKSDA JAWA BARAT II dengan Kelompok Tani Sinergi Jaya Papandayan Tentang Bantuan Ternak Domba Kegiatan Pembinan Daerah Penyangga Sebanyak 50 (lima puluh) Ekor Lampiran 12 Sarana Komunikasi Pengendalian Kebakaran Hutan Tahun 2007 Lampiran 13 Sarana Transportasi Pengendalian Kebakaran Hutan Tahun 2007 Lampiran 14 Perlengkapan Perorangan Pengendalian kebakaran Hutan Tahun 2007 Lampiran 15 Keadaan SDM Pengendalian Kebakaran Hutan Manggala Agni Tahun 2007 Lampiran 16 Sarana Peralatan Tangan Pengendalian Kebakaran Hutan Tahun 2007

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kawasan Konservasi diantaranya terdiri dari Cagar Alam (CA) dan Taman Wisata Alam (TWA). Cagar alam merupakan kawasan suaka alam dengan keadaan alamnya yang khas baik kekhasan tumbuhan, satwa, maupun ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Cagar Alam merupakan suatu kawasan konservasi yang memiliki keanekaragaman hayati yang cukup potensial, baik flora maupun fauna, Kawasan ini memiliki peranan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan, kebudayaan, pendidikan dan teknologi guna menunjang peningkatan kesejahteraan sumber daya manusia dan berpotensi untuk peningkatan dalam pembangunan nasional. Adapun taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam. Penetapan kawasan konservasi ini bertujuan sebagai upaya pengawetan keragaman flora, fauna serta ekosistemnya sekaligus merupakan wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan bagi areal di sekitarnya serta sebagai wahana pendidikan dan penelitian serta kegiatan penunjang budidaya. Kawasan hutan CA/TWA Kamojang merupakan gugusan kawasan hutan yang berada dihulu sungai Citarum dan Cimanuk yang mempunyai arti sangat strategis mengingat fungsinya sebagai pendukung proyek-proyek vital diantaranya waduk Saguling, Cirata, Jatiluhur dan waduk Jatigede. Dewasa ini gangguan terhadap kawasan tersebut termasuk kawasan Cagar Alam Kamojang SKW V Garut Jawa Barat semakin terasa, sebagai akibat dari semakin meningkatnya jumlah penduduk dan berlangsungnya krisis ekonomi yang berlangsung cukup lama. Tekanan-tekanan ini mendorong penduduk untuk melakukan perambahan hutan, membuka lahan secara liar, melakukan pembakaran hutan dan melakukan pencurian kayu. Salah satu bentuk ancaman dan gangguan yang paling dikhawatirkan adalah kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran hutan dan lahan sering terjadi pada musim kemarau, terutama disebabkan oleh faktor manusia. Kebakaran ini merupakan ancaman terhadap kelestarian hutan dan lahan, ekonomi, sosial, lingkungan dan bahkan politik.

Masalah yang sangat penting bagi petugas kebakaran hutan adalah berapa besarnya bahaya kebakaran hutan pada saat itu, Apabila nilai kebakaran hutan dapat diketahui maka persiapan dari pencegahan dan pemberantasan kebakaran hutan dapat direncanakan dengan tepat. Orang yang menentukan nilai bahaya kebakaran hutan tidak cukup hanya menguasai sifat-sifat kebakaran hutan, tetapi harus dapat menganalisa dan menggunakan data dan keterangan mengenai faktor-faktor yang menentukan kebakaran hutan kedalam metode dan manajemen pemberantasan kebakaran hutan. Dampak bencana ini tidak bisa dibendung oleh satu batas wilayah. Kebakaran hutan dan lahan tersebut harus dapat diatasi dengan baik dalam rangka meminimalisir jumlah kejadian dan nilai dampak negatif (kerugian) yang ditimbulkannya melalui kegiatan pencegahan, operasional dan jaringan kerja dalam suatu sistem manajemen terpadu yang dikelola oleh lembaga khusus pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Pemberantasan kebakaran hutan tidak hanya meliputi aktifitas dalam pemadaman api atau kebakaran saja tetapi juga meliputi pencegahan dan aktifitas persiapan pemadaman kebakaran hutan. Sumber daya alam hayati dan non hayati ini perlu dipelihara keaslian dan keberadaannya agar dapat memberikan manfaat dan berfungsi secara optimal. Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya ini bertujuan untuk mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Masalah ini harus dicegah dan ditanggulangi secara serius melalui berbagai aktivitas. Oleh karena itu penting dilakukan suatu pengkajian, pengembangan dan penerapan sistem pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang tepat di kawasan konservasi yang didukung oleh semua pihak yang berkepentingan terhadap sumberdaya alam dan kelestariannya baik pihak pemerintah (Dinas Kehutanan, BKSDA, aparat pemerintahan, dll), swasta dan masyarakat.

B. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi, mendeskripsikan, dan menganalisis: 1. Sistem pengendalian kebakaran hutan dan lahan terpadu yang diterapkan di kawasan konservasi BKSDA Resort Kamojang Garut, Jawa Barat. 2. Sistem koordinasi dan peran serta antara BKSDA Resort Kamojang dengan instansi terkait, swasta dan masyarakat sekitar kawasan konservasi, dan upaya BKSDA Kamojang dalam sistem pengendalian kebakaran hutan dan lahan. C. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat positif bagi berbagai pihak yang peduli terhadap kelestarian lingkungan melalui sistem pengendalian kebakaran hutan dan lahan, khususnya kepada: 1. Pengelola kawasan konservasi BKSDA Resort Kamojang sehingga dapat merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pengendalian kebakaran hutan yang lebih baik. 2. Kalangan akademisi dapat menambah literatur dalam mengkaji pengendalian kebakaran hutan dan lahan. 3. Pemerintah setempat, masyarakat sekitar, dan pihak swasta sebagai masukan positif untuk menerapkan pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang lebih efektif dan efisien.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kebakaran Hutan dan Lahan 1. Definisi Kebakaran Hutan dan Lahan Kebakaran hutan merupakan kejadian pembakaran yang penjalarannya bebas pada areal yang tidak direncanakan serta mengkonsumsi bahan bakar alam dari hutan (Saharjo 2003). Syaufina (2008) menegaskan bahwa kebakaran hutan merupakan kejadian dimana api melalap bahan bervegetasi yang terjadi didalam kawasan hutan yang menjalar secara bebas dan tidak terkendali, sedangkan kebakaran lahan terjadi di kawasan non hutan. Api merupakan fenomena alam yang dihasilkan dari kombinasi yang cepat antara oksigen dengan suatu bahan bakar yang terjelma dalam bentuk panas, cahaya dan nyala. Tiga komponen diperlukan untuk setiap api agar dapat menyala dan mengalami proses pembakaran (Countryman 1975). Pertama harus tersedia bahan bakar yang dapat terbakar. Kedua, panas yang cukup digunakan untuk menaikkan suhu bahan bakar hingga ke titik penyalaan. Ketiga, udara diperlukan untuk mensuplai oksigen agar proses pembakaran tetap berjalan dan untuk mempertahankan suplai panas sehingga memungkinkan penyalaan bahan bakar yang sulit terbakar. Ketiga unsur itu adalah bahan bakar, panas, dan oksigen yang memungkinkan timbulnya api, disebut segitiga api (Fire Triangle). Bahan bakar

Oksigen

Panas

Gambar 1. Prinsip Segitiga Api Api hanya dapat terjadi bila ketiga komponen di atas berada pada saat yang bersamaan atau tidak ada api sama sekali. Untuk itu maka prinsip dasar dalam usaha pengendalian

kebakaran hutan dilakukan dengan cara memutus salah satu dari ketiga komponen tersebut. Mengurangi komponen bahan bakar dan panas dengan berbagai teknik sering dilakukan untuk mengendalikan kebakaran hutan. 2. Karakteristik Kebakaran Hutan dan lahan Kebakaran hutan yang relatif luas disebabkan karena banyaknya benda yang umumnya mudah terbakar. Dari segi kualitas dan kuantitas kebakaran pun beragam, begitu juga sifat pembakarannya cukup kompleks. Karakteristik tersebut diantaranya: a. Lokasi kebakaran; lokasi kebakaran biasanya dari kampung hingga jauh kedalam hutan yang pada umumnya sulit dijangkau dan air tidak tersedia. b. Bentuk permukaan tanah; keadaan hutan yang berbukit dengan perubahan cuaca yang drastis dapat menimbulkan kebakaran hutan yang sangat membahayakan. c. Meluasnya kobaran api di lereng pegunungan sangat cepat dan meluasnya kobaran api tersebut banyak yang disebabkan oleh loncatan api (Akihiro 2000). 3. Tipe Kebakaran Hutan dan Lahan Akihiro (2000) menjelaskan bahwa berdasarkan sumber apinya kebakaran hutan dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu kebakaran bawah permukaan, kebakaran permukaan, dan kebakaran batang dan tajuk. a. Kebakaran bawah permukaan. Kebakaran ini disebabkan oleh terbakarnya lapisan batubara, bauksit dan bahan organik (gambut) yang ada dilapisan bumi. b. Kebakaran permukaan. Kebakaran yang paling banyak terjadi karena terbakarnya belukar, limbah pembalakan, rerumputan, tonggak pohon, daun dan ranting (yang jatuh dan menutupi permukaan tanah). Kecepatan meluasnya kobaran api dipermukaan tanah sangat dipengaruhi oleh bentuk tanah dan cuaca (terutama angin). c. Kebakaran tajuk dan batang. Kebakaran ini terjadi karena terbakarnya pohon (ranting – daun) yang diakibatkan oleh api loncat (spot fire) yang umumnya timbul pada saat terjadinya kebakaran permukaan. Pada tipe ini arah dan kecepatan penjalaran api sangat dipengaruhi angin sehingga api menjalar dengan cepat, sulit dikendalikan, dan dapat

menghasilkan api loncat (Syaufina 2008). 4. Penyebab Kebakaran Hutan dan Lahan Syaufina (2008) menjelaskan faktor penyebab kebakaran hutan dan lahan di Indonesia 99% disebabkan oleh manusia baik sengaja maupun tidak sengaja, sedangkan faktor alam hanya memegang peranan yang sangat kecil yaitu hanya 1%. a. Faktor Alam Faktor alami kebakaran hutan dan lahan diantaranya terjadi karena petir. Petir merupakan faktor penyebab kebakaran yang penting di negara-negara subtropis. Sedangkan di negara tropis jarang mengalami kebakaran karena faktor alam dimana terjadinya petir bersamaan dengan terjadinya hujan. Hasilnya percikan api dari petir yang mengenai bahan bakar tidak dapat berkembang dan menjalar ke bagian yang lebih luas. Lokasi hutan yang berdekatan dengan gunung berapi juga beresiko terhadap kebakaran hutan karena udara yang dihasilkan dapat mengeringkan bahan bakar sehingga kemampuan bahan bakar untuk terbakar menjadi meningkat. Kebakaran hutan bisa disebabkan gejala alam seperti petir, tapi kebanyakan yang melanda hutan produktif, perkebunan dan ladang disebabkan oleh nyala api yang dilakukan manusia pada saat penyiapan lahan, kurang sempurna mematikan api dan kesengajaan

pembakaran. Sedangkan unsur yang memperluas kebakaran hutan sangat dipengaruhi oleh faktor alam. (Miyakawa, 1998 diacu dalam Kon Akihiro 2000). Saharjo (2005) menambahkan faktor pendukung terjadinya kebakaran hutan dipengaruhi oleh kondisi iklim, fisik, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat. b. Faktor Manusia Menurut penelitian CIFOR/ICRAF disepuluh lokasi penelitian menunjukkan penyebab langsung kebakaran hutan dan lahan di Indonesia adalah api digunakan dalam pembukaan lahan, api digunakan sebagai senjata dalam permasalahan konflik tanah, api menyebar secara tidak sengaja, dan api yang berkaitan dengan ekstraksi sumberdaya alam. Sedangkan penyebab

kebakaran secara tidak langsung yaitu penguasaan lahan, alokasi penggunaan lahan, alokasi penggunaan lahan, insentif/disinsentif ekonomi, degradasi hutan dan lahan, dampak dariperubahan karakteristik kependudukan, dan lemahnya kapasitas kelembagaan. 5. Dampak Kebakaran Hutan dan lahan Suratmo (1974) menjelaskan bahwa dampak kebakaran hutan ada yang segera dapat terlihat dan ada yang tidak, sedangkan besar derajat kerusakan dari kebakaran hutan tergantung berbagai faktor diantaranya jenis kebakaran, lamanya kebakaran, keadaan tegakan hutan dan cuaca. Kebakaran hutan dapat menyebabkan berbagai kerugian yang sangat besar baik ditinjau dari segi ekonomi maupun lingkungan. Disamping itu, kebakaran hutan dapat memberikan keuntungan pada lingkungan. a. Dampak Merugikan Kebakaran Hutan dan Lahan Dampak merugikan kebakaran hutan diantaranya pohon/vegetasi hutan akan mati, merusak tanah hutan (sifat fisik, kimia dan biologi tanah), mengganggu habitat margasatwa, serta dapat merusak keindahan, tempat rekreasi dan nilai ilmiah lainnya. Menurut Syaufina (2008) tumbuhan mati pada kebakaran dimana sel-sel hidup sampai ke titik lethal. Jaringan-jaringan dengan isi kandungan kelembaban yang lebih tinggi dapat mati pada temperatur rendah dalam waktu singkat. Jika panas yang dihasilkan memungkinkan vegetasi hidup maka akan menyisakan luka sehingga merangsang pertumbuhan hama dan penyakit atau menghasilkan cacat permanen. Saharjo (2005) menambahkan kebakaran hutan dan lahan menimbulkan banyak dampak negatif diantaranya terdegradasinya lingkungan, perubahan nilai sosial, gangguan terhadap kesehatan manusia, dimana dampak timbulnya asap yang berlebihan selama kebakaran berlangsung telah menimbulkan berbagai penyakit. Menurut Suratmo (1999) secara keseluruhan lebih dari 20 juta anggota masyarakat indonesia yang terkena asap akibat kebakaran 1997. Dampak langsung bagi masyarakat yaitu hilangnya sumber mata pencahariaan masyarakat yang masih menggantungkan hidupnya pada hutan. Dampak mendalam masyarakat lokal, yaitu perasaan diabaikan dan putus asa sering tidak mendapat perhatian. Masyarakat lokal

merasa sudah kehilangan banyak dan tidak menerima bantuan atau bahkan pengakuan atas kehilangan itu. Dampak sosial budaya ini, jika diabaikan akan menjadi potensi bagi munculnya konflik sosial yang serius (Tacconi 2003). b. Dampak Menguntungkan Kebakaran Hutan dan Lahan Adapun dampak menguntungkan setelah terjadinya kebakaran hutan dan lahan, yaitu membantu peremajaan alam, kebakaran tanaman bawah dan serasah dapat memudahkan penanaman dan dapat menekan biaya penanaman, kebakaran tanah dan humus dapat mempercepat penambahan mineral kedalam tanah, pembakaran yang terkendali dapat memberikan makanan dan tempat berlindung yang lebih baik pada margasatwa, kebakaran hutan dapat memusnahkan sumber hama dan penyakit, kebakaran hutan yang kecil dapat menghindarkan kebakaran hutan yang besar, serta kebakaran hutan dapat digunakan untuk memusnahkan tegakan rusak (Suratmo 1974). B. Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Husaeni (2003) menjelaskan pengendalian kebakaran hutan (forest fire management) merupakan aktifitas melindungi hutan dari kebakaran liar dan penggunaan api untuk mencapai tujuan dalam pengelolaan hutan. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004 Pasal 20 tentang Perlindungan Hutan menyatakan bahwa untuk mencegah dan membatasi kerusakan hutan yang disebabkan oleh kebakaran dapat dilakukan dengan melakukan kegiatan pencegahan, pemadaman, dan penanganan pasca kebakaran. 1. Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan Pada tingkat kesatuan pengelolaan hutan konservasi kegiatan pencegahan yang dilakukan yaitu melakukan kegiatan inventarisasi lokasi rawan kebakaran hutan,

menginventarisasi faktor penyebab kebakaran, menyiapkan regu-regu pemadam kebakaran, membuat prosedur tetap pemadaman kebakaran hutan, mengadakan sarana pemadaman kebakaran hutan, dan membuat sekat bakar. Menurut Suratmo et al (2003) metode pencegahan

hutan menggunakan metode 3 E, yaitu Education (Pendidikan), Law Enforcement (Penegakan Hukum), dan Engineering (Keteknikan). a. Pendidikan Pendidikan atau penyuluhan tentang kebakaran ditujukan kepada masyarakat umum. Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, sikap, dan minat masyarakat untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan sehingga masyarakat pengguna api akan selalu waspada dalam menggunakan api. Proses pendidikan atau penyuluhan dapat dilakukan perorangan, kelompok dan masal. Materi dan metode yang diterapkan harus disesuaikan kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat. b. Penegakan Hukum Dasar hukum untuk pencegahan kebakaran hutan bersumber dari undang-undang, surat keputusan dan peraturan daerah setempat tentang kebakaran hutan. Menegakan hukum dan peraturan secara adil dapat menghukum pelaku kebakaran hutan sebagai salah satu metode pencegahan kebakaran hutan. c. Pendekatan Teknis Pendekatan teknis ditujukan untuk mengurangi kemudahan bahan bakar terbakar (fuel flammability) dan mengurangi kesulitan pemadaman kebakaran hutan yang disebut manajemen kebakaran hutan. Manjemen bahan bakar dilakukan dengan cara isolasi bahan bakar, modifikasi bahan bakar dan pengurangan bahan bakar. 2. Pemadaman Kebakaran Hutan dan lahan Berdasarkan Peraturan Pemerintah Pasal 20 tersebut, maka setiap Kepala Kesatuan Pengelolaan Kawasan Hutan berkewajiban melakukan deteksi terjadinya kebakaran hutan, mendayagunakan sumberdaya yang ada, membuat sekat bakar untuk melokalisir api, dan memobilisasi masyarakat agar mempercepat proses pemadaman.

Ada 2 metode pemadaman kebakaran hutan yaitu metode pemadaman langsung dan metode pemadaman tidak langsung. Perbedaan dasar antara kedua metode ini adalah dalam hal penempatan lokasi ilaran api terhadap tepi api kebakaran. Dalam praktek, kedua metode ini dapat digunakan secara kombinasi (Husaeni 2003). Ismunandar (2003) menjelaskan bahwa metode pemadaman langsung dapat dilakukan dengan beberapa teknis pemadaman bergantung kondisi areal kebakaran. Kondisi tersebut diantaranya topografi yang terbakar, jenis tanaman yang ada (bahan bakar), luas areal yang terbakar, dan luas kebakaran yang terjadi. Pada metode pemadaman langsung, pemadaman langsung pada tepi api di areal kebakaran. Bahan bakar yang terbakar dipadamkan atau dipisahkan dari bahan bakar yang belum terbakar. Pada metode ini bahan mudah terbakar dihilangkan dari tepi kebakaran. Sedangkan pada metode pemadaman tidak langsung, pemadaman dilakukan pada bahan bakar yang tidak terbakar yang letaknya diluar tepi api kebakaran. Metode ini memungkinkan para petugas pemadaman untuk bekerja jauh dari pengaruh panas api dan dapat memanfaatkan tipe bahan bakar dan sekat-sekat alami yang sesuai (Husaeni 2003). Menurut Sumantri (2003) metode pemadaman tidak langsung tidak terlepas dari pengetahuan (backfiring) atau pembakaran balik. Metode pemadaman tidak langsung digunakan pada tipe kebakaran besar dengan laju penjalaran api sangat cepat dimana metode-metode pemadaman langsung maupun metode pemadaman pararel tidak dapat dilaksanakan. Ditegaskan oleh Ismunandar (2003) bahwa pemadaman tidak langsung bertujuan mengendalikan kobaran api dengan membuat ilaran api pada jarak tertentu bila kebakaran tidak mungkin dipadamkan secara langsung. Prinsip ilaran api adalah menghambat laju kebakaran, sebagai penghalang alamiah seperti sungai, rawa, jalan, atau sengaja dibuat yang disebut sekat bakar. Suratmo (1974) menjelaskan bahwa untuk mencegah menjalarnya api dari kebakaran hutan dibuatlah suatu jalur yang dapat mematikan api atau menghalangi agar tidak dapat menjalar ke bahan bakar lainnya yang disebut jalur pemadam kebakaran (Fire Breaks), diantaranya yaitu: a. Jalur pemadam kebakaran hutan secara mekanis. Fungsi jalur ini tidak dapat bertahan lama, karena segera ditumbuhi tanaman baru sehingga berfungsi kurang dari satu musim.

Kelemahan dari sistem jalur ini dapat menimbulkan masalah erosi karena terbukanya tanah dari vegetasi penutupnya. b. Jalur pemadam kebakaran hutan secara kimia. Bahan kimia yang digunakan dapat membunuh alang-alang atau pohon-pohon. Jalur ini juga dapat menyebabkan terbukanya tanah hutan. c. Jalur pemadam kebakaran hutan secara vegetatif. Jalur ini menggunakan jenis tanaman yang dapat menahan api yang merupakan jalur permanen. Biaya pembuatan dan pemeliharaan jalur ini relatif murah. d. Jalur pemadam kebakaran hutan secara pembakaran. Pembuatan jalur dengan membakar bahan bakar harus dilakukan pada waktu bahaya kebakaran tidak ada. Akihiro (2000) menjelaskan program pemadaman yaitu penyusunan pasukan pemadam, persiapan kemampuan pemadaman, pemeriksaan air dan kondisi lahan, pemberitaan tingkat bahaya kebakaran, penyebaran informasi, dan pemantauan. 3. Penanganan Pasca Kebakaran Hutan dan Lahan Dalam rangka penanganan pasca kebakaran maka dilakukan upaya identifikasi dan evaluasi, penegakan hukum, dan rehabilitasi. a. Identifikasi dan Evaluasi Setelah selesai pelaksanaan pemadaman kebakaran hutan atau setelah musim kebakaran dalam satu tahun berakhir harus dilakukan kegiatan lanjutan berupa evaluasi pelaksanaan. Hasil evaluasi ini digunakan untuk revisi atau penyempurnaan rencana pengendalian kebakaran hutan berikutnya (Suratmo et al. 2003). 1. Menyusun statistik kebakaran hutan, yang mencakup jumlah kebakaran hutan, luas areal yang terbakar, lokasi kebakaran dan sebab-sebab terjadinya kebakaran. 2. Melakukan evaluasi terhadap kebakaran-kebakaran yang berhasil dan tidak berhasil dipadamkan oleh petugas pemadaman dan menelaah sebab-sebabnya. 3. Menghitung kerusakan dan kerugian sosial, budaya, ekonomis, dan ekologis akibat kebakaran yang terjadi, baik didalam maupun diluar kawasan hutan.

4. Menghitung

pembiayaan

pengendalian

kebakaran

yang

telah

dikeluarkan

dan

membandingkannya dengan rencana biaya yang telah dianggarkan sebelumnya. 5. Mengevaluasi rencana dan pelaksanaan kegiatan pengendalian kebakaran hutan secara keseluruhan. 6. Melakukan prosedur penyelidikan dan penyidikan kebakaran untuk proses penegakan hukum lebih lanjut. b. Penegakan Hukum Penegakan hukum terhadap tindak pidana kebakaran hutan dilaksanakan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pertanggungjawaban meliputi tanggung jawab pidana, perdata, membayar ganti rugi, dan atau sanksi administrasi. c. Rehabilitasi Rehabilitasi areal hutan bekas kebakaran merupakan kegiatan yang penting, selain untuk mengembalikan fungsi hutannya, juga untuk mengurangi bahaya bahan bakar (fire hazard reduction) sebagai akibat dari kebakaran yang sudah terjadi. Untuk mengembalikan atau memulihkan fungsi hutan yang terbakar diperlukan tindakan rehabilitasi yang berupa penyehatan ekosistem, reboisasi, penanaman, pengayaan, atau hanya menjaga areal terbakar tersebut agar tidak terbakar kembali, sehingga dapat berlangsung regenerasi alami. Teknik- teknik rehabilitasi yang harus dilaksanakan diantaranya dengan melakukan survei evaluasi secara terencana pada areal hutan bekas kebakaran untuk menentukan cara rehabilitasi yang sesuai. Selanjutnya menyusun rencana rehabilitasi hutan bekas kebakaran berdasarkan kondisi vegetasi dari hasil survei dilapangan dan fungsi hutan yang diharapkan atau yang sesuai dengan keadaan asalnya. Saharjo et al. (2005) menegaskan tindakan pasca kebakaran hutan diantaranya: a. Penilaian Dampak Kebakaran

Penilaian dampak kebakaran dilakukan setelah terjadinya kebakaran, dengan tujuan untuk mengetahui dampak yang merugikan bagi manusia dan lingkungan dari berbagai sudut pandang, baik dari segi ekonomi, ekologi, sosial, maupun kesehatan. b. Upaya Yuridikasi Investigasi pasca kebakaran harus segera dilakukan untuk mengetahui siapa penyebab kejadian kebakaran, bagaimana prosesnya dan berapa besar kerugian yang diakibatkan dan selanjutnya melakukan upaya yuridikasi untuk menuntut si pelaku ke pengadilan. Dalam upaya yuridikasi ini perlu koordinasi yang terkait antara beberapa instansi, polisi, penyidik pegawai negeri sipil (PPNS), LSM, dan para ahli. Para ahli kebakaran, tanah, dan lingkungan dapat mendukung upaya penyelidikan dalam pengumpulan bukti-bukti serta hasil-hasil analisa yang dapat mengungkapkan bahwa kebakaran yang terjadi berasal dari penggunaan api yang ceroboh atau kebakaran tersebut dilakukan secara sengaja untuk tujuan tertentu. c. Rehabilitasi Kegiatan rehabilitasi lahan bekas terbakar banyak dipandang sebagai kegiatan yang terpisah dari manajemen pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang harus dilakukan secepat mungkin setelah terjadinya kebakaran sehingga dengan rehabilitasi diharapkan akan terjadi perbaikan kualitas lahan, yaitu pada areal kosong yang miskin vegetasi akan menjadi areal yang kaya akan keanekaragaman hayati. C. Perkembangan Pengelolaan Kawasan Konservasi 1. Pengelolaan Kawasan Cagar Alam (CA) Menurut Sutisna (1993), fungsi dan tujuan penetapan Cagar Alam untuk memonitoring gejala alam, kepentingan perlindungan ekosistem tertentu, serta untuk perlindungan flora dan fauna. Kawasan cagar alam dikelola dengan melakukan upaya pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan atau jenis satwa beserta ekosistemnya melalui perlindungan dan pengamanan kawasan, inventarisasi potensi kawasan, serta penelitian dan pengembangan dalam

menunjang pengawetan. Pengelolaan pemanfaatan kawasan Cagar Alam dilakukan untuk keperluan penelitian dasar dan penelitian penunjang pemanfaatan dan budidaya, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kegiatan penunjang budidaya. Pengelolaan potensi kawasan Cagar Alam terdiri dari: inventarisasi dan Identifikasi kawasan, pengembangan sistem pemantauan, evaluasi dan pelaporan, pembinaan habitat dan populasi, penyediaan plasma nutfah, dan rehabilitasi. Sedangkan perlindungan dan pengamanan Cagar Alam meliputi: pemeliharaan tanda batas, perlindungan dan pengamanan fisik kawasan, identifikasi daerah rawan gangguan, sosialisasi batas, pengembangan kemitraan, pemasangan pengumuman, penegakan hukum, pencegahan kebakaran, dan pengendalian hama dan penyakit. 2. Pengelolaan Taman Wisata Alam (TWA) Berdasarkan PP No. 68 Tahun1998, Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam memiliki tujuan utama untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pariwisata dan rekreasi alam. Pengelolaan TWA ditujukan pada upaya terwujudnya kelestarian sumberdaya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya untuk mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan. Berdasarkan fungsi kawasan tersebut, prinsip pengelolaan Taman Wisata Alam adalah pendayagunaan potensi (tumbuhan, satwa, ekosistem dan daya tarik obyek wisata) untuk kegiatan wisata alam, penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, penyediaan plasma nutfah untuk budidaya tanpa mengurangi luas dan merubah fungsi kawasan. Pengelolaan TWA terdiri atas kegiatan prakondisi, perencanaan, landscaping, pembukaan wilayah, dan pembangunan sarana prasarana, pelayanan dan pengembangan kepariwisataan, pembinaan potensi kawasan, pengelolaan pendidikandan penelitian, serta pembinaan masyarakat. Pembinaan Taman Wisata Alam terdiri atas kegiatan pengamanan kawasan, monitoring potensi, dan pembinaan potensi. Pengamanan kawasan merupakan upaya untuk

mempertahankan keutuhan Taman Wisata Alam dari berbagai gangguan. Pembinaan potensi TWA meliputi pembinan flora dan fauna, potensi fisik beserta ekosistemnya.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Pengumpulan Data Penelitian dilakukan di Balai Konservasi dan Sumberdaya Alam Resort Kamojang Seksi Konservasi Wilayah V (BKSDA Resort Kamojang SKW V) Garut, Jawa Barat pada bulan Juli sampai dengan September 2008. B. Alat dan Bahan Alat yang digunakan berupa kamera, tape recorder, alat tulis serta pedoman wawancara mendalam. Data yang digunakan berupa data sekunder meliputi dokumen-dokumen yang terkait dengan bentuk kegiatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang dilaksanakan BKSDA Kamojang, dokumen tentang keterlibatan pemerintah setempat dan masyarakat sekitar hutan dalam proses perlindungan hutan, serta upaya BKSDA Kamojang dalam penerapan pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Sedangkan data primer merupakan data yang langsung diperoleh melalui wawancara mendalam dan pengamatan berperan serta. C. Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang berusaha mengidentifikasi dan mendeskripsikan pelaksanaan pengendalian kebakaran hutan dan lahan di BKSDA Kamojang SKW V Garut, jawa Barat. Teknik pengumpulan ditunjukan pada Gambar 1. berikut ini:
Wawancara Dokumentasi

Observasi
Teknik Pengumpulan Data

Triangulasi

Gambar 1. Teknik Pengumpulan Data (Sugiyono 2005).

1. Observasi Pada tahap observasi deskriptif peneliti belum membawa masalah yang akan diteliti, maka peneliti melakukan penjelajahan umum dan menyeluruh, melakukan deskripsi terhadap semua yang dilihat, didengar, dan dirasakan. Kedua, observasi terfokus dimana peneliti telah melakukan mini tour observation, yaitu suatu observasi yang telah dipersempit untuk difokuskan pada aspek tertentu namun masih belum terstruktur. Ketiga, observasi terseleksi dimana peneliti telah menguraikan fokus tentang pengendalian kebakaran hutan di kawasan konservasi sehingga datanya lebih rinci. Dengan melakukan analisis komponensial terhadap fokus, maka pada tahap ini peneliti telah menemukan karakteristik, perbedaan dan kesamaan tentang pengendalian kebakaran hutan dan lahan, serta menemukan hubungan koordinasi antara peran serta aparat pemerintahan, swasta/BUMN (PT. Pertamina Kamojang), PT. Perhutani, Dinas Kehutanan, peran serta masyarakat, dan upaya yang dilakukan BKSDA Kamojang dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan (Spradley 1980 diacu dalam Sugiyono 2005). Tahapan observasi ini ditunjukkan pada Gambar 2 berikut ini:

TAHAP DESKRIPSI Memasuki situasi sosial: ada tempat, aktor, aktifitas

TAHAP REDUKSI Menentukan Fokus: memilih diantara yang telah dideskripsikan

TAHAP SELEKSI Mengurai Fokus: Menjadi komponen yang lebih rinci

Gambar 2. Tahap Observasi 2. Wawancara Peneliti menggunakan jenis wawancara semistruktur, yang dalam pelaksanaannya lebih bebas dalam teknik pengumpulan data. Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan lebih terbuka, dimana BKSDA, Dinas Kehutanan, masyarakat sekitar, aparat pemerintahan, swasta/BUMN (dalam hal ini PT. Pertamina Kamojang) dan pihak terkait lainnya diminta pendapat dan ide-idenya (Esterberg 2002, diacu dalam Sugiyono 2005).

3. Teknik Pengumpulan Data dengan Dokumen Data sekunder yang dikumpulkan merupakan dokumen yang berkaitan dengan pengendalian kebakaran hutan dan lahan, peran serta masyarakat sekitar hutan dan swasta/BUMN (PT. Pertamina Kamojang), dan upaya BKSDA Resort Kamojang dalam penerapan pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Selanjutnya menggunakan teknik observasi, wawancara, dan analisis dokumen secara serempak untuk sumber data yang sama agar dapat lebih meningkatkan kekuatan data yang disebut metode triangulasi. D. Metode Analisis Data Pengolahan dan analisis data ditujukan untuk dapat mendeskripsikan penerapan pengendalian kebakaran hutan dan lahan di BKSDA Kamojang, peran serta aparat pemerintah, swasta/BUMN (PT Pertamina Kamojang) dan upaya yang dilakukan BKSDA Resort Kamojang dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Analisis data penelitian kualitatif ini dilakukan saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah pengumpulan data selama lebih kurang dua bulan. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman. Aktifitas analisis data meliputi data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal penting, dan dicari polanya. Setelah data direduksi, langkah selanjutnya mendisplaykan. Data disajikan dalam bentuk naratif, tabel, dan Gambar. Langkah selanjutnya dilakukan verifikasi dan penarikan kesimpulan. Model interaktif analisis data ditunjukkan pada Gambar 3 berikut:
Data Colection

Conclusions: Drawing/Verifying
Data Reduction Data Display

Gambar 4. Komponen dalam Analisis Data (Miles dan Huberman diacu dalam Sugiyono 2005)

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN Kawasan hutan menurut fungsinya dibagi menjadi tiga kawasan yaitu kawasan hutan konservasi, hutan lindung, dan hutan produksi. Secara umum hutan konservasi sebagai pengemban misi pelestarian plasma nutfah, prioritas pengelolaannya diarahkan kepada upaya untuk menjaga kelestarian ekologis, sementara pembangunan ekonomi dan sosial diarahkan kepada bentuk-bentuk kegiatan yang tidak mengganggu fungsi ekologis yang dibebankan kawasan konservasi. A. Keadaan fisik kawasan 1. Letak, Luas dan Batas Letak Cagar Alam Kamojang secara geografis antara 7º 17' Lintang Selatan dan 107º 31' – 108º 5' Bujur Timur. Letak kawasan ini membujur dari bagian selatan puncak Caeke timur Gunung Guntur dan kecamatan Leles selatan. Kawasan Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Kawah Kamojang ditetapkan dengan surat Keputusan Mentri Kehutanan No.110/Kpts-II/1990 tanggal 14 Maret 1990 seluas 8.286 Ha, terdiri dari Cagar Alam seluas 7.786 Ha dan Taman Wisata Alam seluas 500 Ha.Pada tanggal 7 Mei 1999 terjadi perubahan fungsi Cagar Alam Kawah Kamojang (Gunung Guntur) seluas 8.286 Ha menjadi Taman Wisata Alam (TWA Guntur) seluas ± 250 Ha dan Hutan Lindung seluas ± 500 Ha dengan Surat Keputusan Mentri Kehutanan dan Perkebunan No.274/Kpts-II/1999. Secara administratif letak CA/TWA Kawah Kamojang dan TWA Guntur berada di kabupaten Garut meliputi kecamatan Leles,Tarogong, dan Samarang serta kabupaten Bandung yang meliputi kecamatan Pacet,Paseh dan Ibun. Pengelolaan kawasan di bawah BKSDA Jawa Barat Seksi Konservasi Wilayah V Garut Resort KSDA Kamojang barat dan Resort KSDA Kamojang timur.

Sedangkan batas kawasan Cagar Alam Kamojang , yaitu : a. Sebelah utara berbatasan langsung dengan Kecamatan Paseh, Kecamatan Ibun, dan hutan produksi b. Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Leles, Kecamatan Tarogong, hutan produksi dan hutan lindung. c. Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Samarang, Cagar Alam Papandayan Puncak Cae d. Sebelah barat berbatasan dengan Kec. Pacet dan kawasan hutan produksi. Berdasarkan wilayah administratif pemerintah terbagi dalam 2 (dua) kabupaten yaitu kabupaten Garut dan kabupaten Bandung. Untuk wilayah kabupaten Garut meliputi kecamatan Samarang, Tarogong dan Leles, sedangkan untuk kabupaten Bandung yaitu kecamatan Kertasari, Pacet dan Ibun. Untuk desa–desa yang berbatasan langsung dengan kawasan yaitu desa Karyamekar, Sarimukti, Padaawas dan Barusari termasuk kecamatan Samarang. Desa Lembang termasuk dalam kecamatan Leles sedangkan desa Rancabango, desa Pasawahan dan desa Pananjung termasuk dalam kecamatan Tarogong. Sedangkan desa Cihawuk, Neglasari dan desa Cibeureum masuk kabupaten Bandung. 2. Topografi Keadaan topografi Cagar Alam Kamojang umumnya bergelombang dengan kemiringan antara 10 % - 25 % dengan bentuk lapangan ditandai dengan adanya gunung merapi, ketinggian antara 1.260 meter – 1.900 meter di atas permukaan laut, akan tetapi terdapat juga daerah yang landai dan datar. 3. Iklim Menurut klasifikasi Schmidt dan Fergusson iklim kawasan Cagar Alam Kamojang termasuk tipe iklim C, dengan curah hujan rata–rata 2.855 mm per tahun terjadi antara bulan Agustus sampai Pebruari. Sedangkan musim kemarau biasanya terjadi antara bulan April sampai Juli, dengan suhu rata-rata berkisar 15º - 25º C.

4. Hidrologis Potensi Cagar Alam Kamojang selain merupakan obyek wisata juga merupakan pengatur tata air dan kesuburan tanah untuk masyarakat kabupaten Garut umumnya, khususnya untuk masyarakat di sekitar kawasan hutan, yang manfaatnya selain untuk pengairan sawah pertanian, juga dimanfaatkan untuk empang – empang. Hulu sungai dan anak sungai yang mengalir ke Garut diantaranya Sungai Cibitung, Citiis, Cibuneterang dan Cipanas yang bermuara di Sungai Cimanuk, sedangkan yang mengalir ke kabupaten Bandung yaitu sungai Cikembang dan sungai Cikawung yang bermuara ke sungai Citarum.

Gambar 5. Peta Wilayah Kerja BKSDA Kamojang SKW V Garut Jawa Barat
(Sumber: Dokumentasi BKSDA Kamojang Garut, Jawa Barat 2007)

5. Geologi dan tanah Cagar Alam Kamojang memiliki formasi yang terdiri dari batuan vulkanik berasal dari letusan gunung berapi, andosol dan intermedier sebagai bahan induk batuan vulkanik pegunungan tinggi, dengan tekstur tanah pada umumnya berdebu, dan lempung berwarna hitam.

B. Potensi Biotik 1. Keadaan Flora Vegetasi kawasan ini termasuk tipe hutan hujan tropik pegunungan dengan floranya terdiri dari jenis-jenis pohon dan liana serta epiphyt. Jenis-jenis pohon yang terdapat di kawasan ini diantaranya adalah : Jamuju (Podocarpus imbricatus), Puspa (Schima walichii), Saninten (Castanopsis tungurut), dan Pasang (Querqus sp.). Sedangkan jenis tumbuhan bawah didominasi oleh jenis Cantigi (Vaccinium sp.), dari jenis liana dan epiphyt diantaranya adalah Rotan (Calamus sp.) Seuseureuhan (Piper aduncum), Pungpurutan (Urena lobata), Hangosa (Amoeum dealatum), Kadaka (Dryanaria sp), dan Benalu (Diplazium esculenteum). 2. Keadaan Fauna Secara umum keanekaragaman fauna yang terdapat di Cagar Alam Kamojang tidak begitu tinggi, namun yang paling penting kawasan ini merupakan habitat tinggi dari satwa liar yaitu Surili (Presbytis comata) yang merupakan satwa endemik Jawa Barat. Satwa liar yang ada di kawasan ini antara lain: Babi Hutan (Susvitatus), Kijang (Muntiacus muntjak), MacanTutul (Panthera pardus), Musang (Paradoxurus hermoproditus), Trenggiling (Manis javanicus), Lutung (Trachypithecus auratus), Ayam Hutan (Gallus gallus), Burung Belibis (Anas sp.), dan Burung Kuntul (Egretta sp.). Adapula beberapa jenis ikan yang hidup di sungai-sungai. C. Aksesibilitas Untuk mencapai lokasi Cagar Alam Kamojang rata – rata dapat ditempuh dengan jalan yang beraspal, baik dari Garut maupun dari Bandung. Untuk menuju kawasan hutan konservasi Kamojang dapat menempuh jalur Garut, Tarogong, dan Samarang dengan jarak sekitar 23 km. Sedangkan dengan menggunakan jalur Bandung, Pangalengan, Cihawuk dengan jarak sekitar 75 km dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda 2 maupun roda 4.

D. Keadaan Sosial Ekonomi Masyarakat Berdasarkan monografi kecamatan tahun 2005 dari 21 desa yang berbatasan langsung dengan kawasan Cagar Alam Kawah Kamojang tercatat jumlah penduduk sebanyak 86.545 orang, terdiri dari 40.301 perempuan dan 46.244 laki-laki. Pendidikan masyarakat sekitar kawasan CA Kawah Kamojang yang mempunyai tingkat menengah pertama/SLTP (12,5%), pendidikan menengah atas (10,53%), tingkat perguruan tingi (4,12%), dan tingkat pendidikan dasar masih mencapai angka tertinggi yaitu 58,76%. Sedangkan mata pencahariaan penduduk di desa-desa sekitar Cagar Alam Kamojang diantaranya terdiri dari beberapa kelompok yaitu buruh tani, PNS (Guru, ABRI), dan wiraswasta (dagang).

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN D. Kejadian Kebakaran Hutan dan Lahan di Kawasan Konservasi Resort Kamojang SKW V Garut, Jawa Barat Langkah pertama untuk melaksanakan pencegahan kebakaran hutan yang baik adalah suatu rencana pencegahan kebakaran hutan yang menyeluruh agar operasi pencegahan dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien. Terkait dengan rencana pencegahan kebakaran hutan tersebut, data tentang sejarah dan faktor penyebab kebakaran hutan perlu diketahui sehingga dapat diidentifikasi semua faktor yang diperlukan untuk penyusunan rencana pengendalian kebakaran hutan. Data tersebut akan menentukan sasaran dari suatu rencana pencegahan kebakaran. 1. Sejarah dan Penyebab Kebakaran Hutan dan Lahan Kawasan CA dan TWA Kamojang berbatasan langsung dengan lahan pertanian masyarakat dan lahan Perhutani sehingga menimbulkan kerawanan terjadinya kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau. Sebenarnya masyarakat sekitar kawasan Resort Kamojang menyadari timbulnya bahaya kebakaran karena aktifitas mereka seperti membakar semak belukar untuk pembersihan lahan pertanian serta pembakaran ranting dan dedaunan setelah pekerjaan bercocok tanam selesai. Namun hal ini kurang mendapat perhatian dari masyarakat karena untuk memenuhi kebutuhan ekonomi yang mendesak dan mereka pun belum mendapatkan cara/alternatif pembersihan lahan lain yang lebih baik, efektif dan efisien selain dengan pembakaran. Program PHBM dari Perhutani pun menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya kebakaran hutan di kawasan konservasi Kamojang, karena masyarakat membuka dan membersihkan lahan dengan cara membakar sehingga terjadi api loncat yang berasal dari lahan Perhutani dan menyebar ke kawasan konservasi Kamojang. Faktor alam juga merupakan salah satu faktor pendukung terjadinya peristiwa kebakaran di kawasan konservasi Kamojang. Jika terjadi peristiwa kebakaran di sekitar puncak Gunung Guntur dengan mengeluarkan panas dan asap, akan memicu dan menyebabkan penjalaran api

lebih cepat. Keadaan demikian apalagi di musim kemarau mengakibatkan rerumputan, serasah dan tegakan menjadi semakin kering sehingga potensi bahan bakar semakin banyak. Hal ini sangat berbahaya karena pada musim kemarau serasah sangat kering dan angin bertiup kencang sehingga mudah terjadinya api dan penjalaran api cepat. Tercatat pada musim kemarau tahun 1997 lahan terbakar di kawasan CA/TWA Kamojang merupakan kebakaran terbesar seluas 1.149 Ha. Pada tahun 1999 seluas ± 100 Ha, tahun 2000 kebakaran hutan tercatat hanya 2,5 Ha dan pada bulan September 2001 terjadi lagi seluas 75 Ha serta pada bulan Desember 2001 seluas 46 Ha. Salah satu daerah kawasan CA/ TWA Kawah Kamojang yang sangat rawan terjadinya kebakaran di antaranya yaitu komplek Gunung Guntur. Hal ini disebabkan ulah masyarakat berupa pengarangan liar di sekitar kawasan, kelalaian pengunjung/pencuri kayu dan diduga sengaja dibakar, faktor alam seperti panas bumi, kondisi vegetasi serta adanya kepercayaan masyarakat Kabupaten Garut bahwa apabila Gunung Guntur telah terbakar di musim kemarau maka akan segera tiba musim hujan. Dengan kondisi tersebut, kawasan konservasi Kamojang telah mengalami beberapa kali kebakaran. Berdasarkan data lima tahun terakhir dan wawancara dengan pihak Satgas Polhut kebakaran terhebat selain pada tahun 1997 terjadi pula pada tahun 2006 dengan beberapa kali peristiwa kebakaran yang terjadi baik di dalam maupun di luar kawasan konservasi Kamojang menjalar keseluruh kawasan lainnya yang disebabkan ulah manusia yang tidak bertanggung jawab dan saat itu didukung kondisi iklim yang cukup kering akibat perubahan cuaca. Peristiwa kebakaran di kawasan konservasi Kamojang yang disebabkan ulah manusia itu diantaranya adalah perambahan, pembukaan lahan oleh masyarakat dengan cara membakar untuk pembersihan lahan yang dijadikan lahan untuk bertani dan berkebun. Selain itu di beberapa kawasan perluasan juga terjadi peristiwa kebakaran yang disebabkan adanya akitivitas pembakaran dilahan pertanian milik masyarakat. Ketidakdisiplinan dan kecerobohan seperti ini menyebabkan bencana yang sangat merugikan. Selama kurun waktu lima tahun (2003-2007), terjadi peningkatan luas kawasan hutan yang terbakar. Pada tahun 2006 peristiwa kebakaran terjadi di areal unit kerja Kamojang barat dan timur dengan luas areal yang terbakar seluas 919,5 Ha. Lokasi yang mengalami

kerusakan akibat kebakaran pun cukup beragam mulai dari yang berada di kawasan konservasi,

kawasan PHBM, perbatasan kawasan konservasi, perkebunan, pertanian hingga kawasan perluasan. Seperti yang tersaji dalam Tabel 1: Tabel 1 Peristiwa Kebakaran di kawasan konservasi Kamojang Garut
No Unit Kerja Status Kawasan Taman wisata Alam Cagar Alam Luas Kebakaran (Ha) 30 125 155 42 877,5 919,5 313 313 Tahun 2004 2004 2004 2006 2006 2006 2007 2007

1 Kamojang Timur 2 Kamojang Barat Sub Total 1 Kamojang Timur 2 Kamojang Barat Sub Total 1 Kamojang Barat Sub Total

Cagar Alam Cagar Alam

Cagar Alam

(Sumber: Dokumentasi BKSDA Resort Kamojang SKW V Garut Jawa Barat 2007)

Luas Terbakar

1000 800 600 400 200 0

919.5
2003 2004 2005 2006 2007

313 155 0
0

Tahun Kebakaran Gambar 6. Peristiwa kebakaran di kawasan konservasi Kamojang pada tahun 2003 - 2007 Jenis ekosistem yang mengalami kerusakan cukup beragam baik di kawasan konservasi, Perum Perhutani, perkebunan dan pertanian. Kebakaran juga mengakibatkan kerugian yang cukup besar bagi BKSDA Resort Kamojang. Disamping itu, kebakaran mengganggu aktifitas manusia, fungsi-fungsi hutan serta hilangnya keanekaragaman hayati. Nilai nominal kerugian yang dialami oleh BKSDA Resort Kamojang tidak dapat ditentukan, karena kawasan konservasi Kamojang ini merupakan suatu kawasan dimana tanaman tumbuh tanpa proses penanaman sehingga tidak dapat ditentukan jumlah bibit yang ditanam, jumlah pupuk yang digunakan, biaya operasional, biaya maintenance, dll. Peristiwa kebakaran hutan sering

mengancam kawasan konservasi Kamojang yang berbatasan langsung dengan lahan pertanian milik masyarakat karena adanya api loncat dari aktifitas mereka seperti membakar semak belukar untuk pembersihan lahan pertanian dan pembakaran ranting dan dedaunan setelah pekerjaan bercocok tanam selesai.

(a)

(b)

(c)

(d)
(Sumber: Dokumentasi pribadi 2008)

Gambar 7. Berbagai bentuk pelanggaran terhadap kawasan konservasi
Keterangan gambar: (a) Pembersihan lahan dengan cara membakar (b) Lahan bekas terbakar yang ditanami umbi-umbian oleh masyarakat (c) Lahan bekas terbakar pada tahun 2006 (d) Pemanfaatan lahan konservasi oleh masyarakat sekitar hutan

Menurut Purbowaseso (2004), angin dapat menerbangkan bara api, sehingga menimbulkan api loncat menyebabkan terjadinya lokasi kebakaran baru. Hal ini menyebabkan semakin banyaknya titik lokasi kawasan konservasi yang memliki sensitivitas tinggi untuk terbakar. Dengan melihat peristiwa kebakaran pada tahun 1997 serta dalam kurun waktu 5

tahun (2003-2007) di dalam kawasan konservasi maupun kawasan yang berbatasan langsung dengan lahan pertanian dapat mengancam keberadaan dan keutuhan pengelolaan kawasan konservasi Kamojang. Padahal kawasan konservasi sebagai kawasan pelestarian plasma nutfah, keterwakilan ekosistem yang merupakan benteng terakhir bagi pelestarian alam, sehingga kawasan konservasi Kamojang harus diselamatkan dari bahaya kerusakan salah satunya kebakaran hutan. Penyebab kebakaran hutan dan lahan di Indonesia hampir 99 % disebabkan manusia baik disengaja maupun tidak/unsur kelalaian, kegiatan konversi lahan menyumbang 34 %,

peladangan liar 25 %, pertanian 17 %, kecemburuan sosial 14 %, proyek transmigrasi 8 % dan hanya 1 % yang disebabkan oleh alam. Pemicunya diantaranya hamparan serasah, singkapan batubara dan iklim ekstrim/el nino (Nagawana dan Sumantri 2003). Dalam pengelolaan kawasan, pengelola dihadapkan pada berbagai masalah baik dalam hal gangguan hutan maupun masalah lainnya. Krisis ekonomi yang berkepanjangan dan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang memprihatinkan menyebabkan terjadinya perambahan hutan, oleh masyarakat disekitar hutan. pencurian kayu, kebakaran hutan dan munculnya masalah lahan sengketa. E. Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di Kawasan Konservasi Kamojang SKW V Garut, Jawa Barat Pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang diterapkan BKSDA Resort Kamojang SKW V Garut Jawa Barat meliputi kegiatan pencegahan, pemadaman dan penanganan pasca kebakaran yang mengacu pada program yang telah ditetapkan Ditjen PHKA. Artinya selaku Unit Pelaksana Teknis lapangan, Seksi Konservasi Wilayah V Garut diantaranya Konservasi Sumberdaya Alam (KSDA) Kamojang Garut berada dibawah petunjuk Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (Ditjen PHKA) yang mengatur berbagai peraturan diantaranya mengatur tentang pengendalian kebakaran hutan dan lahan.

1. Pencegahan Kebakaran Hutan Kegiatan pencegahan yang diterapkan BKSDA Resort Kamojang SKW V Garut terdiri dari metode pencegahan kebakaran hutan dan lahan, kegiatan perencanaan pencegahan kebakaran dan kegiatan pra pemadaman kebakaran. a. Metode Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan Telah menjadi kebijaksanaan nasional bahwa pengendalian kebakaran hutan difokuskan pada pencegahan kebakaran, namun tetap memperhatikan upaya penanggulangannya. Apabila kebakaran telah besar dan bencana api akan sangat sulit dipadamkan, diperlukan dana yang sangat besar, dibutuhkaan peralatan modern, dan SDM yang memadai untuk mengurangi resiko yang lebih besar. Menurut Suratmo et al. (2003), pencegahan kebakaran merupakan cara yang lebih ekonomis untuk mengurangi kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan oleh kebakaran, tanpa harus menggunakan metode/peralatan yang mahal. Metode yang digunakan dalam pencegahan kebakaran hutan dilakukan dengan menggunakan 3E yaitu: Education (Pendekatan pendidikan), Law Enforcement (Penegakan Hukum) dan Engineering (Pendekatan Teknis). 1. Pendekatan Pendidikan Adanya peristiwa kebakaran hutan di dalam kawasan yang sebagian besar api berasal dari lahan pertanian masyarakat yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi Kamojang, maka BKSDA Resort Kamojang menerapkan kegiatan penyuluhan yang ditujukan kepada masyarakat yang dilakukan di tingkat Resort. Pendidikan dan pelatihan merupakan upaya untuk menyebarluaskan informasi, teknologi, keahlian dan pengetahuan kepada agar diketahui, digunakan, diterapkan, dan disebarluaskan kepada orang lain, sehingga bermanfaat. Penyuluhan dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan cara langsung dan tidak langsung. Penyuluhan tidak langsung ini bersamaan dengan mendatangi penduduk yang bertempat tinggal disekitar hutan yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi Kamojang. Para petugas melakukan kegiatan patroli sekaligus memberikan peringatan kepada masyarakat tersebut. Kegiatan ini dilakukan oleh petugas Resort setempat. Materi yang diberikan diantaranya

menyangkut tentang dampak negatif dari pembakaran lahan, cara-cara pembersihan lahan pertanian, penyebab terjadinya kebakaran hutan dan bahaya kebakaran bagi lingkungan sekitarnya. Sedangkan penyuluhan yang dilakukan secara langsung berupa penyuluhan yang dilakukan dalam tingkat Resort setempat. Materi yang diberikan berupa pemberian informasi tentang bahaya kebakaran hutan dan lahan serta cara penanggulangannya. Sasarannya aparat desa sekitar kawasan dan tokoh masyarakat agar informasi diketahui masyarakat. Bentuk penyuluhan yang ditujukan bagi para pengunjung TWA Kamojang juga dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan cara langsung dan tidak langsung. Penyuluhan tidak langsung yakni dengan pengadaan papan peringatan aturan di pintu masuk TWA Kamojang. Namun dengan berjalannya waktu dan pengawasan yang kurang intensif dari para petugas, papan ini telah lama tidak ada sehingga para petugas harus bekerja lebih hati-hati dalam mengingatkan dan menyampaikan aturan-aturan yang harus dilaksanakan oleh para pengunjung. Papan-papan peringatan yang saat ini masih ada hanya disepanjang jalur kawasan konservasi Kamojang, di antaranya yaitu papan larangan memungut kayu di kawasan hutan, larangan menggarap lahan di kawasan hutan lindung, larangan penambangan pasir illegal, memburu binatang dan burung, serta papan peringatan tentang daerah rawan kebakaran hutan.

Gambar 8. Papan-papan peringatan di Kawasan Konservasi Resort Kamojang
(Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2008)

Penyuluhan secara langsung dilakukan secara rutin oleh Petugas Resort Kamojang khususnya di pintu masuk kawasan wisata. Pengunjung tidak diperkenankan membawa alat-alat yang berpotensi menimbulkan kerusakan hutan. Saat pengecekan petugas yang berada di tiap pintu masuk wisata memberitahukan aturan/peringatan untuk selalu menghindari pembuatan perapian terutama di Buper (Bumi Perkemahan) dan dilarang membawa senjata tajam (golok, sabit, parang, dll) yang berpotensi dapat merusak kelestarian lingkungan. Materi dan metode yang diterapkan perlu disesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat seperti pengetahuan, sikap, minat, pendapat, dan kepercayaan (Suratmo et al 2003). Kegiatan pencegahan jadi efektif karena menggunakan beberapa pendekatan seperti sosial, budaya, dan agama baik yang bersifat konvensional maupun modern sehingga dapat menyentuh melibatkan peranserta masyarakat sekitar khususnya masyarakat dalam pengelolaan hutan milik Perhutani, yaitu program PHBM dan Gerhan. Di kawasan sekitar kawasan Kamojang telah dilakukan program penanaman bersama masyarakat diantaranya program PHBM dari Perhutani, program Block Green dan program Gerhan (Gerakan Rehabilitasi Nasional) dari Dinas Kehutanan. 2. Pendekatan Hukum Tindakan hukum bagi para penyebab kebakaran secara tegas telah diatur dalam UU No. 41 tahun 1999 dalam Pasal 78 Ayat 3, 4, dan 11, yaitu: a. Sengaja membakar hutan: Pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak 5 milyar rupiah. b. Kelalaian sehingga menyebabkan kebakaran hutan: Pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak 1,5 milyar rupiah. c. Membuang benda yang dapat menyebabkan kebakaran hutan: Pidana penjara paling lama 3 tahun dan denda paling banyak 1 milyar rupiah. Menurut Adinugroho et al (2005) tindakan hukum bagi pelaku penyebab kebakaran yang menganut sanksi dan denda maksimal memperlemah kekuatan untuk membuat jera pelaku penyebab kebakaran, karena dengan sistem ini memungkinkan pelaku mendapatkan hukuman lebih ringan dari yang seharusnya ia terima bahkan mungkin dapat lepas dari tindakan hukum.

BKSDA melakukan penegakan hukum terhadap tindak pidana kebakaran hutan yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Proses penegakkan hukum ini melibakan lembaga dan instansi terkait seperti kepolisian, Kejaksaan, Kehakiman, aparat pemerintahan dan desa. Untuk mengetahui penyebab kebakaran hutan dilakukan penyelidikan secara seksama dan tuntas. Adapun tahapan penegakkan hukum yang diterapkan BKSDA adalah sebagai: a. Penyelidikan dilakukan oleh petugas yang diberi kewenangan untuk melakukan penyelidikan seperti Polisi Kehutanan. b. Penyidikan dilakukan oleh kepolisian sesuai wilayah hukumnya. c. Penuntutan oleh kejaksaan sesuai wilayah hukumnya. d. Proses sidang di Pengadilan Negeri setempat sesuai wilayah hukumnya. Tahapan yang telah dicapai BKSDA Resort Kamojang yaitu sudah sampai pada proses sidang di Pengadilan Negeri. Hal ini karena pelaku secara jelas tertangkap tangan melakukan pelanggaran terhadap kelestarian hutan dengan cara mencuri kayu. Pelaku di tangkap oleh polres setempat dan di bawa ke pengadilan negeri untuk sidang dan diproses lebih lanjut. Pelaku dikenakan pasal dan divonis sesuai dengan hukum yang berlaku untuk memberikan efek jera kepada pelaku, sehingga kejadian ini tidak terulang dan tidak dicontoh lagi dikalangan masyarakat.

Gambar 9. Alat dan Barang Bukti Pencurian Kayu
(Sumber: Dokumentasi BKSDA Kamojang).

3. Pendekatan Teknis Di kawasan BKSDA Resort Kamojang penerapan dari manajemen bahan bakar belum dapat dilaksanakan, seperti kegiatan isolasi bahan bakar dengan pengadaan vegetasi yang relatif tahan api sebagai sekat bakar alami atau jalur hijau karena keterbatasan dana dan sulitnya teknis

di lapangan. Padahal, pendekatan teknis atau manajemen bahan bakar adalah tindakan atau praktek yang ditujukan untuk mengurangi kemudahan bahan bakar untuk terbakar (fuel flammability) dan mengurangi kesulitan dalam pemadaman kebakaran hutan. Manajemen bahan bakar terdiri dari modifikasi bahan bakar, pengurangan bahan bakar serta isolasi bahan bakar (Suratmo et al 2003). Adapun teknis pelaksanaan pemadaman kebakaran hutan yang dilaksanakan oleh para petugas BKSDA Kamojang hanya mengandalkan kerja kerasnya di lapangan yaitu dengan cara membuat ilaran api dan bakar balik saat terjadi kebakaran. Metode yang digunakan tergantung dari besar, tinggi dan kecepatan api/angin yang terjadi saat kebakaran terjadi. Para petugas pemadaman kebakaran pun dituntut agar menguasai lapangan saat terjadi kebakaran agar proses pemadaman dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. b. Perencanaan Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan Agar dapat dilaksanakan secara efektif, pencegahan kebakaran hutan dan lahan memerlukan organisasi pelaksana dan petugas yang terlatih, pengetahuan tentang kebakaran, rencana pencegahan dan rencana biaya pelaksanaan pencegahan. Rencana pencegahan kebakaran diperlukan agar operasi pencegahan dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien. 1. Organisasi Pengendalian Kebakaran Hutan Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam membuat suatu wadah yang mempunyai komando jelas dan tegas mulai dari tingkat Balai, Seksi hingga Resort dalam menerapkan aktifitas pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Brigdalkarhut merupakan suatu lembaga yang dilengkapi sumberdaya tenaga, peralatan dan dana memadai untuk melakukan tugas dan fungsi pencegahan, pemadaman, dan penanganan pasca kebakaran. Anggota Brigdalkarhut berstatus Polisi Kehutanan dan Petugas Pengamanan Hutan Non Fungsional (PPHNF). Salah satu kunci keberhasilan dari penerapan strategi pengendalian kebakaran dalam suatu kawasan hutan berupa pengorganisasian sumberdaya yang diperlukan untuk keefektifan pengendalian kebakaran hutan. Untuk itu susunan organisasi regu pengendalian kebakaran hutan diperlukan agar mereka tahu peran, tugas, dan tanggung jawabnya (Saharjo et al. 2005).

Organisasi Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan lahan (Brigdalkarhut) banyak berperan nyata dalam operasi pemadaman di lapangan, ketika terjadi kebakaran di kawasan konservasi. Ketika petugas menerima adanya laporan tentang adanya kebakaran baik bersumber dari masyarakat maupun dari petugas sendiri, maka petugas langsung bergerak ke lapangan dan mengkoordinasikan kejadian ini ke petugas lain untuk segera melaksanakan pemadaman. Masalah keterbatasan personil yang dimiliki BKSDA secara tidak langsung mempengaruhi beberapa skema pelaksanaan aktifitas pengendalian kebakaran hutan di BKSDA Kamojang. Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban adanya kerjasama yang baik serta kepedulian pihak antara pengelola hutan dan aparat pemerintahan dengan masyarakat sekitar hutan dalam pengendalian kebakaran hutan. Selain itu, diperlukan kerjasama dan koordinasi dengan instansi lain mengingat keterbatasan sumberdaya dalam rangka pengendalian kebakaran hutan di dalam kawasan konservasi, diantaranya kerjasama yang baik telah dilakukan BKSDA Kamojang dengan instansi swasta PT. Pertamina Kamojang. Adapun Struktur Brigdalkarhut Kamojang seperti yang ditunjukan pada Gambar 10:
Kepala BBKSDA BRIGDALKARHUT PROPINSI Kepala BKSDA BRIGDALKARHUT WILAYAH BRIGDALKARHUT TWA/CA Kamojang Ket: : Garis Komando

Perencanaan

Operasi Pemadaman Logistik

Pencegahan & Yustisi Penyuluhan Pengelolaan Bahan Bakar Peringatan & Deteksi Yustisi Peralatan

Regu Damkar Masyarakat/Sukarelawan

Akomodasi & Konsumsi Komunikasi Transportasi

Gambar 10. Struktur Organisasi Brigdalkarhut BKSDA Kamojang SKW V Garut
(Sumber: BKSDA Resort Kamojang SKW V Garut Jawa barat 2007)

Berdasarkan Gambar 10, maka struktur organisasi Brigdalkarhut meliputi: 1. Kepala Brigdalkarhut, berperan dan bertugas dalam memimipin aktifitas pengendalian kebakaran hutan di kawasan konservasi. Dalam hal ini Kepala Brigdalkarhut merupakan Kepalai Balai. 2. Bidang Perencanaan, bertugas dan bertanggung jawab untuk memonitor data dan informasi, melakukan analisis, menyusun rencana pengendalian kebakaran hutan, dan menyusun program dan anggaran pengendalian kebakaran hutan. 3. Bidang Pencegahan dan Yustisi, bertugas dan bertanggung jawab untuk menyusun rencana dan melaksanakan penyuluhan, pengelolaan bahan bakar, peringatan dan deteksi kebakaran hutan dan yustisi. 4. Bidang Logistik, bertugas dan bertanggung jawab dalam menyusun rencana dan melaksanakan pembinaan peralatan, pengendalian kebakaran hutan, akomodasi dan konsumsi serta transportasi. 5. Bidang Operasi Pemadaman, bertugas dan bertanggung jawab dalam melaksanakan pembinaan regu pemadam dan regu sukarelawan serta melaksanakan kegiatan operasional pemadaman. c. Pra-Pemadaman Kebakaran Hutan Hal pertama yang harus dilakukan dilokasi kebakaran hutan dan lahan adalah melakukan perhitungan (size up) terhadap seluruh situasi untuk mendapatkan cara terbaik memadamkan api. Hal ini sangat membantu dalam melaksanakan kegiatan pemadaman yang akan dikerjakan, tanpa mengetahui kondisi kebakaran yang terjadi maka pelaksanaan pemadaman tidak akan efektif (Purbowaseso 2004). Adapun kegiatan pra-pemadaman yang dilaksanakan BKSDA Resort Kamojang terdiri dari: 1. Deteksi Kebakaran Metode deteksi kebakaran hutan yang diterapkan BKSDA Kamojang berupa patroli darat yang dilaksanakan rutin oleh petugas Resort dan Seksi. Patroli berupa kegiatan

pengamanan kawasan hingga pengendalian kebakaran hutan terutama di lokasi yang rawan gangguan dan rawan terbakar seperti Blok Citalepak, Blok Situ Burung, Blok Lebak Gede, Blok 70, Blok Curug Aul, Blok Cigenjreng, Blok Lejeng, Blok Legok Jambu, Blok Tapal Kuda, Blok Seureuh Jawa, Blok Citiis, Blok Sumur Bedul, Blok Pasir Bajing, Blok Pasir Meri dan lahan pertanian yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi Kamojang. Kegiatan patroli ini terdiri dari 2 kegiatan yaitu kegiatan preventif dan kegiatan represif. Kegiatan preventif berupa patroli rutin. Adapun kegiatan represif dilakukan bila ada indikasi terjadinya pelanggaran disuatu lokasi pada kawasan konservasi Kamojang. Adapun kegiatan represif yang dilakukan adalah patroli mendadak dan patroli fungsional. Pada setiap kegiatan patroli tersebut, petugas juga diharuskan membawa peralatan komunikasi berupa HandieTransceiver (HT), Hand Phone (HP) dari tingkat Resort, Seksi Konservasi Wilayah (SKW) hingga Balai sehingga informasi tentang terjadinya gangguan keamanan dan perlindungan hutan segera dapat diketahui oleh setiap petugas Resort, SKW maupun BBKSDA Propinsi. a. Patroli Rutin Patroli rutin merupakan kegiatan pengamanan yang dilaksanakan secara rutin diseluruh kawasan konservasi kamojang oleh petugas yang disesuaikan berdasarkan wilayah kerja dan grup yang telah terjadwal disetiap Resortnya. Penjelajahan patroli ini dilakukan tiga kali dalam seminggu, dengan tujuan lokasi yang memiliki tingkat kerawanan gangguan kawasan yang tinggi dimasing-masing Resort. Selain itu juga dilakukan pemantauaan dibeberapa titik lokasi yang rawan terbakar. Alokasi kegiatan patroli rutin di kawasan yang berbatasan langsung dengan lahan pertanian dilakukan siang hari. Termasuk dalam kegiatan patrol rutin ini terdapat patroli insidentil yang memiliki alokasi hari tertentu, artinya patroli dilakukan sewaktu-waktu pada lokasi tertentu apabila terdapat dugaan informasi mengenai kejadian yang mengganggu keutuhan pengelolaan kawasan hutan maka seluruh petugas pengamanan hutan siap patroli. b. Patroli mendadak Patroli mendadak ini merupakan operasi pengamanan hutan gabungan antara Polhut BKSDA Kamojang dengan melibatkan instansi lain, diantaranya anggota Polres, Kejaksaan,

Aparat Pemerintah Daerah dan Desa serta beberapa kelompok masyarakat yang peduli terhadap lingkungan termasuk didalamnya Pamhutswakarsa dan sukarelawan. Patroli ini dilakukan seteleh petugas lapangan menerima informasi adanya gangguan hutan yang dapat mengancam keutuhan dan kelestarian kawasan pengelolaan hutan. Petugas kehutanan yang dilapangan langsung melaporkan kejadian ini ke Resort untuk ditindaklanjuti ke tingkat Balai. Balai langsung membuat surat tugas kepada Resort setempat dan membuat surat kerjasama dengan aparat untuk segera melakukan operasi pengamanan di lapangan. c. Patroli Fungsional Patroli fungsional atau biasa disebut Operasi pengamanan hutan fungsional dilakukan oleh tenaga pengamanan hutan yaitu Polhut dan PPHNF, serta petugas lainnya sesuai dengan bidang tugasnya. Operasi ini dilakukan sesuai dengan peran, tugas dan tanggung jawab masingmasing petugas. Selain itu juga sekaligus melakukan pemantauan untuk menghindari aktivitas manusia yang dapat memicu terjadinya peristiwa kebakaran saat operasi tersebut dilakukan. Pada patroli fungsional ini melibatkan kelompok masyarakat dan Pamhutswakarsa Selain beberapa kegiatan patroli yang diuraikan di atas, juga terdapat kegiatan patroli yang berkaitan erat dengan aktifitas pengendalian kebakaran hutan. Seperti patroli pemantauan deteksi dini pengendalian kebakaran hutan. Patroli ini dilakukan apabila sudah memasuki musim kemarau dalam rangka deteksi dini (early warning system) kebakaran hutan dikawasan konservasi kamojang dengan memantau langsung di beberapa lokasi rawan terbakar di kawasan kamojang seperti lahan pertanian milik masyarakat yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi kamojang. Dengan berkembangnya teknologi elektronika, alat-alat elektronika telah banyak dikembangkan untuk membantu kemampuan manusia dalam mendeteksi awal kebakaran (incipient wildfires). Akan tetapi, di Indonesia tanggung jawab masih terletak pada petugas patroli. Perlu ditekankan bahwa pada areal hutan khususnya yang mempunyai penduduk banyak, tangung jawab pengamat kebakaran seharusnya diserahkan kepada masyarakat setempat (Jaya 2003).

2. Komunikasi Untuk mempermudah koordinasi dan komunikasi di lapangan ketika terjadi peristiwa kebakaran maupun gangguan keamanan yang dapat mempengaruhi keutuhan pengelolaan kawasan, serta untuk menjalin hubungan komunikasi antar petugas yang berada di tingkat Resort, Seksi hingga tingkat Balai disediakan alat komunikasi berupa radio antar Resort, Seksi hingga tingkat Balai. Selain radio, Resort Kamojang memiliki 7 unit Handy Transceiver (HT) yang harus dibawa saat melakukan patroli sehingga informasi tentang terjadinya gangguan keamanan dan perlindungan hutan diketahui antar petugas di Resort, Seksi maupun BBKSDA Jawa Barat. Namun komunikasi para petugas dilapangan yang sering digunakan adalah HandPhone (HP) karena dirasa sangat mudah dan praktis penggunaannya dan cepat dalam memberi dan menerima informasi. Menurut Prakoso (2003) ada dua tipe jaringan radio komunikasi, yaitu jaringan terkendali dan tidak terkendali. Jaringan terkendali terdiri dari satu stasiun pengendali dan beberapa stasiun bergerak (mobil). Dalam jaringan terkendali komunikasi dilakukan antar stasiun pengendali dengan beberapa stasiun bergerak (mobil). Sedagkan jaringan tidak

terkendali terdiri dari stasiun mobil dengan pesawat radio portable (HT) yang tidak dikendalikan oleh stasiun pengendali, sehingga setiap unit dapat berkomunikasi dengan unit manapun.

Gambar 11. Radio di tingkat Resort, Seksi hingga Balai
(Sumber: Dokumentasi Pribadi 2008)

Laporan sukarelawan dan masyarakat juga dikategorikan sebagai media komunikasi. Namun hal tersebut selalu diklarifikasi lebih lanjut untuk dihimpun informasi yang lebih akurat

dengan pengecekan ke lapangan oleh petugas di Resort. Hal ini dikarenakan banyak informasi dari masyarakat hanya isu belaka. 3. Penyiapan Organisasi Pemadaman Untuk mencapai keberhasilan tugas-tugas dalam pemadaman kebakaran hutan, maka diperlukan suatu langkah penyiapan organisasi yang baik (Suratmo et al. 2003). Dalam hal ini Resort Kamojang telah melakukan apel siaga pengendalian kebakaran hutan. Apel Siaga yang dilaksanakan yaitu menjelang musim kemarau dan kegiatan apel siaga ini sudah dilaksanakan sebanyak 3 kali yaitu tahun 2002 di Kamojang diikuti oleh Instansi pemerintahan se-Indonesia (Jabar II seksi II) dan masyarakat, pada tanggal 20 Juni 2007 yang dilaksanakan di Ds. Lembang Kec. Leles dengan peserta sebanyak 100 Orang yang berasal dari Anggota Polhut Seksi Konservasi Wilayah II, anggota masyarakat Desa Lembang dan berbagai Instansi dan LSM yang ada di Wilayah Kabupaten Garut, serta pada tanggal 30 Juli 2008 kegiatan apel siaga dilaksanakan di Papandayan yang langsung dibuka oleh Menteri Kehutanan M.S. Ka’ban dan dihadiri Tripida Jabar dan jajarannya, Dinas Kehutanan, Perum Perhutani, BBKSDA Propinsi, Aparat Keamanan, LSM, Tokoh masyarakat dan masyarakat kawasan Papandayan. Penyelenggara kegiatan apel siaga ini yaitu Dinas Kehutanan Prop. Jabar. Kegiatan apel siaga yang dilaksanakan pada tanggal 30 Juli 2008 sebagai salah satu upaya penanggulangan Kebakaran Hutan yang didasari pada kebijakan peraturan perundangundangan seperti UU No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, UU No.41 tahun 1999 tentang kehutanan, dan Peraturan pemerintah No. 45 tahun 2004 tentang perlindungan hutan. Maksud kegiatan Apel Siaga Kebakaran Hutan di Cagar Alam Kamojang ini adalah untuk meningkatkan keamanan di kawasan Cagar Alam Kamojang. Bentuk kegiatannya seperti mencegah dan menekan bentuk pelanggaran sedini dan seefektif mungkin dengan melibatkan instansi terkait baik muspika maupun tokoh masyarakat dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan fungsi manfaat hutan. Adapun tujuannya untuk menjaga kelestarian dan keutuhan kawasan CA sehingga berfungsi sesuai peruntukannya dan bermanfaat bagi masyarakat. Kegiatan apel siaga ini dikemas dalam bentuk upacara dan simulasi kesiapsiagaan berupa pemadaman kebakaran. Dalam upacara berisikan pembukaan yang dipimpin langsung

oleh Menteri Kehutanan Malem Sambat Ka’ban dan dilanjutkan pemeriksaan barisan serta diberikan pesan untuk saling kerja sama meningkatkan pembinaan dan memberikan kesadaran pada masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan dari bahaya kebakaran hutan. Sedangkan simulasi kesiapsiagaan ini berupa deteksi dini sampai penanganan kebakaran menggunakan peralatan pemadaman sederhana seperti pemukul api (flapper), sekop, cangkul, garpu, parang, golok, hingga menggunakan peralatan penyemprot api (jet shooter) dan alat pengaman seperti sepatu bot, sarung tangan, dan helm pemadaman kebakaran. Seluruh peserta mendapat penjelasan berbagai jenis alat pemadam yang biasa digunakan dalam penanggulangan kebakaran hutan serta fungsi alat dan cara penggunaannya. Peserta apel siaga juga mendemonstrasikan bagaimana cara penanggulangan kebakaran hutan, mulai dari bagaimana membaca situasi kebakaran, upaya apa yang harus dilakukan dalam melokalisir api agar tidak meluas, sekaligus mematikan api. Kemudian upaya yang dilakukan setelah nyala api sudah berhasil dimatikan, dan bagaimana cara melakukan Mop-Up.

Gambar 12. Kegiatan Apel Siaga Penanggulangan Kebakaran Hutan di Garut (Sumber: Dokumentasi BKSDA Kamojang 2008).

Papandayan

Simulasi ini berisi tata urutan kegiatan pemadaman dari penerimaan laporan masyarakat oleh pihak Resort hingga tim investigasi berhasil menaksir potensi yang terbakar (kerugian ekonomis maupun ekologis) dan mengkuantifikasi luas kebakaran. Pada tahap akhir ini diadakan sesi evaluasi dari keseluruhan kegiatan dimana peserta bertukar pikiran dan berbagi

pengalaman dengan nara sumber yang ada. Maksud dari pelibatan masyarakat tersebut untuk meningkatkan koordinasi dan sosialisasi dalam bidang peningkatan kesiapsiagaan pengendalian kebakaran hutan dalam lingkup masyarakat. Hal ini diperlukan karena pada dasarnya kewaspadaan tersebut tidak hanya menjadi tugas BKSDA dan aparat setempat tetapi juga merupakan tanggung jawab bersama dengan masyarakat, dimana masyarakat secara langsung dan tidak langsung mempunyai ketergantungan dengan kawasan hutan sekitar Kamojang. 4. Pelatihan Petugas Menjelang musim kemarau BKSDA Resort Kamojang melakukan Gladi Posko berupa pemberian materi dan simulasi sebagai salah satu upaya yang dilakukan dalam pengendalian kebakaran. Kegiatan Gladi Posko ini sering dilakukan di Posko Pengendalian Kebakaran bahkan di Kantor Resort sebelum ke lapangan. Salah satu kunci kesiapsiagaan adalah mempunyai jumlah dan kualitas tenaga terlatih yang memadai untuk menghadapi ancaman. Setiap tahun unit pengelola hutan dan lahan harus mengorganisasi dan mendeteksi personel dengan baik setiap menjelang musim kemarau. Untuk mencapai tujuan ini maka harus mencapai target yang mencakup recruit tenaga inti, dan tenaga cadangan baik dari unsur masyarakat atau staf/pekerja tetap, serta pelaksanaan pelatihannya (Sumantri 2003). Oleh karena itu, pelatihan petugas pemadaman kebakaran hutan merupakan bagian yang sangat penting dalam kegiatan pra-pemadaman. Fasilitas/peralatan terbaik yang disediakan tidak akan efektif bila petugas tidak terlatih dalam penggunaan peralatan tersebut. Pelatihan keterampilan juga harus dilakukan secara rutin (Suratmo et al. 2003). 5. Penyiapan Peralatan Peralatan pemadaman kebakaran hutan yang terdapat di BKSDA Resort Kamojang masih dalam kondisi baik digunakan hanya untuk keperluan pemadaman. Secara umum alatalat yang ada mudah untuk dipergunakan karena topografi kawasan hutan yang cukup landai. Hanya saja terdapat kesulitan ketika lokasi titik api terdapat di tengah hutan dimana mobil pemadam kebakaran tidak dapat menuju lokasi titik api. Pengadaaan alat pemadam kebakaran masih berupa pemberian dari Ditjen PHKA. Peralatan yang ada diantaranya adalah Mobil

Damkar, Mobil Patroli, Jet Shooter, Helm, Sabit, Sekop, Gepyok, Penggaruk, Pisau, Kapak, Golok, Sepatu dan Baju tahan api, Kaos kaki serta Sarung tangan. Dalam pemadaman kebakaran hutan peralatan tangan dapat digunakan untuk pembuatan ilaran, pembersihan dan pembuatan rintisan, mencungkil, merapihkan dan membuat parit, pembakaran, serta dapat diguanakan untuk penyelesaian/mop up. Karena tugas-tugas pemadaman kebakaran hutan sangat bervariasi baik dari waktu maupun tempat, maka dalam pemilihan alat harus mempertimbangkan beberapa kepentingan yaitu efektifitas, efisiensi (produktifitas), serbaguna, kemudahan untuk dibawa, kekuatan, pemeliharaan dan penggantian, dan standarisasi. Menurut Husaeni (2003) penggunan peralatan bertujuan untuk membatasi dan menghentikan reaksi pembakaran (combustion) dengan menggunakan satu dari beberapa cara atau kombinasi beberapa cara: Pertama, kombinasi petugas dan alat dapat mengurangi reaksi pembakaran dengan cara menghilangkan bahan bakar dari areal yang akan dilalui api, misalnya penggunaan garu api (fire rake) untuk menyingkirkan serasah kering. Kedua, suatu alat digunakan untuk mendinginkan bahan bakar yang sedang terbakar langsung di depan api, sampai suhunya tidak memungkinkan untuk terjadinya reaksi pembakaran. Contohnya adalah penggunaan air atau pasir/tanah pada bahan bakar yang sedang menyala. Ketiga, suatu alat dapat digunakan untuk berbagai keperluan misalnya untuk memadamkan nyala api, untuk mencegah agar nyala api tidak mendapat tambahan oksigen yang diperlukan untuk reaksi pembakaran. Pemukul api dan singkup dapat digunakan maksud tersebut. 6. Penyiapan lapangan Untuk menghadapi peristiwa kebakaran yang dapat terjadi sewaktu-waktu, Resort Kamojang menerapkan sistem siaga 24 jam bertempat di kantor Resort. Posko Pengendalian Kebakaran ini tetap siaga selama 24 jam dan diadakan piket bergantian dengan jumlah personil yang siaga sebanyak 3 orang dengan pergantian setiap 12 jam pada pukul 06.00 dan pukul 18.00 WIB.

Gambar 13. Posko Pengendalian Kebakaran Hutan SKW V Garut
(Sumber: Dokumentasi Pribadi 2008)

Selain itu, BKSDA Resort Kamojang Seksi Konservasi Wilayah V mempunyai beberapa menara api yang penempatannya tersebar di beberapa Resort, diantaranya adalah menara api yang terletak di Sancang sebanyak 2 menara, Cijeruk 1 menara, Cipalawah 1 menara dan Resort Kamojang sebanyak 1 menara. Ke 5 menara ini berfungsi sebelum tahun 1998. Namun, penggunaan menara tersebut tidak efektif, karena ketinggian menara tersebut tidak sebanding dengan ketinggian pohon, akhirnya menara api digunakan oleh masyarakat untuk kayu bakar dan sekarang menara tersebut sudah tidak ada lagi. Khusus 2 menara di Sancang digunakan untuk pengamatan Banteng. Menurut Jaya (2003) stasiun pengawasan dapat berupa menara pengawas atau titik pengawasan (look out points). Menara pengawas sebaiknya dibuat di daerah yang datar, sementara titik pos pengawasan umumnya dibuat di puncak bukit yang tinggi. Jarak efektif pengawasan dari stasiun pengawasan sekitar 10-15 km sekeliling daerah yang diawasi. Kisaran deteksi 30-40 km disekitar pos pengawasan. Faktor yang mempengaruhi penglihatan (visibility) yaitu waktu dalam sehari, posisi matahari, haze, dan asap. Menara pengawas dapat dibuat dari kayu atau baja, tinggi sekitar 5-25 meter tergantung pada tinggi pohon disekitarnya dan hambatan penglihatan yang ada.

2. Pemadaman kebakaran Hutan dan Lahan a. Prinsip Pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan Menurut Husaeni 2003, manajemen kebakaran hutan ( forest fire management) adalah semua aktifitas melindungi hutan dari kebakaran liar dan penggunaan api untuk mencapai tujuan yang ditetapkan dalam pengelolaan hutan. Prinsip pemadaman di BKSDA Resort Kamojang menggunakan berbagai cara dan kombinasi yang digunakan. Cara dan kombinasi tersebut berupa penggunaan air untuk menurunkan temperatur disekitar titik api, dengan menggunakan sekop/cangkul tanah untuk membersihkan vegetasi sampai tanah mineral untuk menghilangkan pasokan bahan bakar serta dengan memukul api dengan menggunakan pemukul api karet untuk mengurangi oksigen, bahkan dengan menggunakan peralatan pemadaman seadanya seperti menggunakan ranting pohon untuk memadamkan api. b. Metode Pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan 1. Tahap Persiapan Pemadaman Pada tahap ini bermula dari pemberian informasi oleh masyarakat atau sukarelawan yang berada di tempat lokasi kejadian kebakaran yang selanjutnya dilaporkan ke Resort terdekat. Ketika menerima laporan tersebut, petugas atau Kepala Resort melaporkan kejadian tersebut kepada Kepala Seksi dan dilanjutkan dengan meneruskan laporan kepada Kepala Balai melalui radio atau surat. Kepala Balai akan memberikan tugas/mandat kepada Kepala Seksi untuk segera melakukan persiapan dalam rangka mengantisispasi operasi persiapan pemadaman kebakaran di lapangan. Menurut Soedarmo (2003), tahap persiapan diantaranya persiapan administrasi, data informasi, dan persiapan perlengkapan. Persiapan administrasi meliputi surat tugas, tanda pengenal diri dan format berita acara. Sedangkan persiapan data informasi diantaranya data titik panas, data arah angin dan citra satelit. Adapun persiapan perlengkapan yaitu peta, alat, dan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan pengendalian kebakaran hutan.

2. Tahap Pelaksanaan Pemadaman Metode yang paling sering dilakukan Resort Kamojang untuk memadamkan api adalah dengan membuat ilaran api dan bakar balik serta dengan mengkombinasikan metode-metode tersebut. Ketika terjadi kebakaran maka metode yang digunakan dari ketiga metode ini yaitu dengan melihat terlebih dahulu besar, tinggi dan kecepatan api/angin yang terjadi saat kebakaran itu terjadi. Para petugas pemadaman kebakaran pun dituntut harus menguasai lapangan saat terjadi kebakaran agar proses pemadaman dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Setelah tim berhasil memadamkan api, langkah selanjutnya adalah melakukan kegiatan mop-up. Mop-up ini akan sangat menentukan sukses atau gagalnya seluruh operasi pemadaman. Terjadinya kebakaran kembali dilokasi yang telah terbakar dan sekitarnya karena mop-up dilaksanakan tidak sempurna. Mop-up atau sapu bersih sisa api merupakan kegiatan diakhir dalam proses pelaksanaan pemadaman untuk memastikan dan meyakinkan api dan bara benarbenar padam. 3. Penanganan Pasca Kebakaran Hutan dan Lahan Kawasan Konservasi Kegiatan penanganan pasca kebakaran merupakan bagian dalam rangkaian aktifitas pengendalian kebakaran hutan yang diterapkan BKSDA Resort Kamojang. Penanganan pasca kebakaran ini mencakup kegiatan identifikasi dan evaluasi kawasan hutan dan lahan terbakar, rehabilitasi dan penegakan hukum. a. Identifikasi dan Evaluasi Setelah selesai pelaksanaan pemadaman kebakaran hutan atau setelah musim kebakaran dalam satu tahun berakhir harus dilakukan kegiatan-kegiatan lanjutan yang berupa evaluasi pelaksanaan. Hasil-hasil evaluasi ini akan digunakan untuk revisi atau penyempurnaan rencana pengendalian kebakaran hutan berikutnya (Suratmo 2003). Kegiatan evaluasi dan identifikasi, yaitu: 2. Menyusun statistik kebakaran hutan, yang mencakup jumlah kebakaran hutan, luas areal yang terbakar, lokasi kebakaran dan sebab-sebab terjadinya kebakaran (sumber api)

3. Melakukan evaluasi-evaluasi terhadap kebakaran-kebakaran yang berhasil dan tidak berhasil dipadamkan oleh petugas pemadaman dan menelaah penyebabnya. 4. Menghitung kerusakan dan kerugian sosial, budaya, ekonomis, dan ekologis akibat kebakaran yang terjadi, baik didalam maupun diluar kawasan hutan. 5. Menghitung pembiayaan pengendalian kebakaran yang telah dikeluarkan dan

membandingkannya dengan rencana biaya yang telah dianggarkan sebelumnya. 6. Mengevaluasi rencana dan pelaksanaan kegiatan pengendalian kebakaran hutan secara keseluruhan. 7. Melakukan prosedur penyelidikan dan penyidikan kebakaran untuk proses penegakan hukum lebih lanjut. Kegiatan Identifikasi dan Evaluasi kebakaran hutan dilakukan oleh tim yang dibentuk saat tahap persiapan pemadaman kebakaran. Dalam lingkup BKSDA regu identifikasi dan evaluasi bertugas menyelidiki tentang pemicu terjadinya peristiwa kebakaran. Selain itu juga untuk menaksir luas areal yang terbakar terlebih dulu membuat sketsa lokasi kebakaran serta potensi yang terbakar berupa kerugian ekonomis maupun ekologis, namun untuk analisis kerugian belum bisa dilakukan karena semua vegetasi di kawasan konservasi merupakan hasil dari suksesi secara alami sehingga tidak dapat ditaksir biaya penanaman bibit, harga bibit, biaya pembuatan lubang tanam, biaya perawatan (pendangiran, penyiangan) dan biaya yang lainnya. b. Rehabilitasi Walaupun bukan merupakan bagian dari pengendalian kebakaran hutan, rehabilitasi areal hutan bekas kebakaran merupakan kegiatan yang penting, selain untuk mengembalikan fungsi hutannya, juga untuk mengurangi bahaya bahan bakar (fire hazard reduction) sebagai akibat dari kebakaran yang sudah terjadi. Untuk mempercepat proses suksesi kondisi lahan bekas terbakar di kawasan Kamojang, diperlukan rehabilitasi areal bekas terbakar tersebut dengan penanaman jenis pohon atau vegetasi asli setempat dengan catatan bahwa tumbuhan yang ditanam sudah pernah ada dilokasi yang hendak direhabilitasi. Pada tahun 2004 telah dilakukan Gerakan Rehabilitasi Nasional, dimana kawasan KSDA Kamojang yang direhabilitasi diantaranya TWA Kamojang seluas 100

Ha, Blok Pasir Kaute 50 Ha, dan Blok Cijaha seluas 70 Ha dengan jumlah bibit yang ditanam sebanyak 400 batang tiap hektarnya. Jenis bibit yang ditanam yaitu dari kayu alam jenis Puspa, Ki Beureum, Manglid, Huru, Saninten, Jamuju, dan jenis Kiputri. Besarnya areal yang direhabilitasi ini sangat berkaitan dengan jumlah dana yang tersedia. Kegiatan rehabilitasi yang dilaksanakan oleh Pihak KSDA ini bertujuan untuk mengembalikan atau memulihkan fungsi hutan yang terbakar berupa penyehatan ekosistem, reboisasi, penanaman, pengayaan, atau hanya menjaga areal terbakar tersebut agar tidak terbakar kembali, sehingga dapat berlangsung regenerasi alami. c. Penegakan Hukum Dalam rangka memberikan efek jera kepada pelaku tindak pidana pembakar hutan, maka hukum harus ditegakkan. Penegakan hukum terhadap tindak pidana kebakaran hutan di BKSDA Kamojang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan proses penegakan hukum yang melibatkan lembaga dan instansi terkait seperti Kepolisian, Kejaksaan, Kehakiman, dan lainlain. Saharjo et al. (2005) menegaskan bahwa tindakan paska kebakaran hutan dan lahan diantaranya yaitu upaya yuridikasi. Investigasi paska kebakaran harus segera dilakukan untuk mengetahui siapa penyebab kejadian kebakaran, bagaiman prosesnya dan berapa besar kerugian yang diakibatkan dan selanjutnya melakukan upaya yuridikasi untuk menuntut si pelaku ke pengadilan. Dalam upaya yuridikasi ini perlu koordinasi yang terkait antara beberapa instansi, polisi, penyidik pegawai negeri sipil (PPNS), LSM, dan para ahli. Para ahli kebakaran, tanah, dan lingkungan dapat mendukung upaya penyelidikan dalam pengumpulan bukti-bukti serta hasil-hasil analisa yang dapat mengungkapkan bahwa kebakarn yang terjadi berasal dari penggunaan api yang ceroboh atau kebakaran tersebut dilakukan secara sengaja untuk tujuan tertentu.

F. Peranserta

Masyarakat

Sekitar

Kawasan

Konservasi

Kamojang,

Pihak

Swasta/BUMN (PT. Pertamina Kamojang) dan Upaya BKSDA Kamojang SKW V Garut dalam Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan 1. Peranserta Masyarakat Sekitar Kawasan Konservasi Kamojang Kawasan Resort Kamojang dikelilingi oleh pemukiman penduduk yang sebagian besar masyarakat bermata pencahariaan dibidang pertanian. Namun, diantaranya adalah buruh tani yang tidak memiliki lahan garapan dan tergantung pada lahan orang lain. Hal tersebut dapat menimbulkan berbagai permasalahan berupa tekanan terhadap pengelolaan kawasan dan sumberdaya alam yang dimiliki Resort Kamojang, salah satu tekanan tersebut diantaranya berupa peristiwa kebakaran hutan yang datang dari adanya aktifitas masyarakat seperti membakar semak belukar untuk pembersihan lahan pertanian, pembakaran ranting dan dedaunan setelah pekerjaan bercocok tanam selesai. Disamping itu dari total luas keseluruhan kawasan konservasi Kamojang sebesar 8.286 Ha tidak sebanding dengan jumlah tenaga perlindungan hutan yang dimiliki BKSDA Resort Kamojang yang hanya berjumlah 13 orang. Jumlah tenaga yang bekerja di kantor sebanyak 5 orang, di lapangan sebanyak 4 orang meliputi Resort Kamojang Timur dan sebanyak 4 orang menjaga di Resort Kamojang Barat. Sehingga masing-masing Polisi Kehutanan di lapangan memiliki tanggung jawab untuk menjaga kelestarian kawasan hutan kamojang rata-rata sebesar 1000 Ha per orang. Berdasarkan permasalahan di atas, BKSDA Resort Kamojang tidak dapat menangani sejumlah permasalahan yang hanya ditangani oleh petugas Perlindungan Hutan saja, oleh karena itu dibentuk beberapa kelompok masyarakat. Beberapa kelompok masyarakat yang berada di sekitar kawasan Kamojang ini memiliki peran, fungsi dan tanggung jawab yang disesuaikan dengan tugasnya masing-masing. Kelompok masyarakat tersebut diantaranya adalah Pamhutswakarsa (yang berperan juga sebagai Masyarakat Peduli Api, Kader Konservasi, Sukarelawan, dan Masyarakat Peduli Lingkungan). Pamhutswakarsa ini sebanyak 10 kelompok yang beranggotakan 25 orang perkelompok dan tersebar di beberapa Resort di SKW V Garut di antaranya yaitu 2 kelompok

Pamhutswakarsa terdapat di daerah Papandayan dan Talaga Bodas, Tarogong Kaler, Gunung Guntur, Cisompet (G. Kareta), Kec. Caringin (H. Lindung), Sancang dan Malambong (G.

Cakrabuana). Selain itu juga, pada awal tahun 2008 ini telah ada 7 Kecamatan yang telah menyatakan siap untuk menjadi Pamhutswakarsa. Diantara beberapa kelompok ini ada yang telah menyatakan dirinya siap menjadi Pamhutswakarsa secara tertulis dan ada juga yang baru menyatakan secara lisan, 2 Kecamatan diantaranya telah menyatakan secara tertulis yang siap untuk menjadi Pamhutswakarsa dan 5 Kecamatan lainnya baru menyatakan secara lisan yang bersedia untuk jadi pamhutswakarsa diantaranya yaitu Kec. Leles, Kadungora, Karang Pawitan, Cikajang dan Kec. Cisewu. Usulan kesiapan untuk menjadi Pamhutswakarsa yang dilakukan secara tertulis dari 2 kecamatan tersebut masih dalam pertimbangan Dinas Kehutanan Kabupaten Garut. Berkas usulan akan dipertimbangkan dari segi tujuan dibentuknya Pamhutswakarsa di kecamatan yang bersangkutan dan pengamanan daerah dalam masalah apa, sehingga dikhawatirkan masyarakat menyalahgunakan status Pamhutswakarsanya. Setelah disurvey ke lapangan, dikaji dan dipertimbangkan kejelasan dari situasi daerah tersebut maka berkas usulan akan

dikoordinasikan dengan muspika kecamatan untuk mendapatkan pengukuhan/penetapan status kelompok masyarakat menjadi Pamhutswakarsa. Beberapa motivasi masyarakat bersedia untuk menjadi Pamhutswakarsa diantaranya adalah karena merupakan suatu hobi, sebagai bentuk pengamanan terhadap aset masyarakat, masyarakat sekitar kawasan ingin melestarikan kawasan hutan diantaranya dilaksanakan program PHBM, Block Green, dan program Gerhan dan mereka ingin mengetahui kejelasan batas desa sehingga masyarakat mendapatkan kejelasan dalam beberapa hal, misalnya dalam hal pembagian dan pengaturan aliran sumber mata air. Sosialisasi batas dimaksudkan agar batas-batas Cagar Alam dapat diketahui oleh pihak lain, sehingga dapat meminimalisir potensi konflik, baik konflik yang menyangkut klaim lahan maupun konflik karena penetrasi pihak lain ke dalam wilayah Cagar Alam. Selain batas luas sosialisasi batas juga perlu dilakukan terhadap batas zona di dalam areal Cagar Alam (Affif 1992). Profesi kelompok masyarakat tersebut beranekaragam diantaranya terdiri dari Guru Sekolah, tokoh agama dan tokoh masyarakat, anggota LSM, pencinta alam, aparat pemerintahan desa, petani dan ada juga para pegawai swasta. Sementara ini beberapa kendala yang selalu dihadapi Pamhutswakarsa diantaranya adalah kurang memadainya sarana dan pra-

sarana pengamanan kawasan hutan, pelanggar kawasan hutan merupakan masyarakat sekitar, pelaku pelanggaran hutan dari keluarga sendiri dan tetangga, dan terbatasnya kemampuan petugas pengamanan hutan dalam mendampingi dan membimbing Pamhutswakarsa karena minimnya dana. Tahun 2008 ini Dinas Kehutanan Kabupaten Garut sedang merumuskan kelompok Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) sebagai salah satu bentuk upaya dalam pengamanan kelestarian kawasan hutan dan sedang melakukan perumusan untuk pembentukan Asosiasi Kepala Desa Sekitar Hutan Negara (AKDSHN) yang bertujuan agar Kepala Desa dan jajarannya dapat mengetahui program-program pengelolaan dan pelestarian kawasan hutan di Desa Pemangkuan sendiri dimana Kepala Desa sebagai Social control. 2. Peranserta Pihak Swasta/BUMN (PT. Pertamina Kamojang) a. Metode Pengendalian Kebakaran Hutan yang diterapkan PT. Pertamina Kamojang Peristiwa kebakaran yang terjadi di sekitar Kamojang pada tahun 2006 lebih dari 30 kali antara bulan September sampai dengan Nopember. Sedangkan pada Tahun 2007 kejadian kebakaran hutan disekitar Kamojang sebanyak 10 kali yaitu antara bulan September sampai dengan bulan Nopember. Lain halnya dengan BKSDA Kamojang SKW V Garut, prinsip pemadaman kebakaran hutan yang diterapkan oleh PT. Pertamina Kamojang, yaitu keselamatan manusia dengan mengamankan jalan menuju titik kebakaran dari risiko terbakar dan menggunakan alat pelindung diri, keselamatan harta benda yaitu mencegah api bergerak menuju asset perusahaan (Pipa, Area Sumur, Bangunan), mencegah api bergerak menuju bangunan lain dan mencegah meluasnya kebakaran. Melokalisir kebakaran sehingga api akan padam kehabisan bahan bakar. Prinsip ini sesuai dengan prinsip segitiga api (Triangle fire). Sedangkan alat yang digunakan PT. Pertamina Kamojang dalam melakukan pemadaman kebakaran hutan diantaranya mobil pemadam kapasitas 3.000 lt yang dilengkapi Water cannon, selang berukuran 2,5 inchi dan 1,5 inchi, Nozzle, cangkul, dan sekop.

Gambar 14. Kegiatan Pengendalian Kebakaran Hutan PT Pertamina Kamojang
(Sumber: Dokumentasi PT Pertamina Kamojang)

Adapun kendala yang dihadapai PT. Pertamina dalam upaya pengendalian kebakaran hutan di Kamojang yaitu sulitnya mencari sumber air, terbatasnya jumlah personil yang terlatih serta belum ada hubungan yang baik antara beberapa pihak yang berkepentingan.

3. Upaya BKSDA Resort Kamojang SKW V Garut dalam Pengendalian Hutan.

Kebakaran

Faktor-faktor yang mempengaruhi peranserta masyarakat lokal dalam pengendalian kebakaran hutan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu kesempatan, pemberian intensif, rangsangan dan dorongan, peningkatan kemampuan masyarakat serta bimbingan (Adinugroho et al 2005). Sehingga jika pengelola hutan dalam hal ini BKSDA Resort Kamojang ingin melibatkan dan meningkatkan peranserta masyarakat lokal dalam pengendalian kebakaran hutan, maka upaya melibatkan dan meningkatkan peranserta mereka harus berlandaskan kelima faktor tersebut. Selanjutnya upaya-upaya yang telah dilakukan pihak BKSDA Resort Kamojang dalam meningkatkan peranserta masyarakat dalam pengendalian kebakaran hutan dianalisis berdasarkan kelima faktor tersebut. Adapun upaya-upaya yang dilakukan pihak BKSDA Resort Kamojang berupa: a. Pemberian Kesempatan Pengolahan Lahan Tanah Milik Kawasan konservasi Kamojang dikelilingi oleh daerah penyangga dan hutan lindung. Kawasan daerah pengangga ini terdiri dari desa Rancabango, Sukakarya, Pasawahan, Sukaraja, Pananjung, Haruman, Padaawas, Mekar Wangi, Ciburial, Cipancar, Lembang, dan desa Dano. Dengan memberikan kesempatan kepada masyarakat yang berada disekitar kawasan hutan dengan mengelola lahan di tanah milik dengan menanam bibit kayu pohon Eucalyptus, Suren, Pete, Alpukat, oleh kelompok tani yang merupakan program Block Green yang diselenggarakan Dinas Kehutanan, masyarakat akan ikut menjaga pohon yang ditanam untuk memperbaiki lahan kritis dikawasan tersebut. Secara tidak langsung program tersebut dapat mengurangi gagalnya penanaman pohon dengan intensifnya pemeliharaan oleh masyarakat serta menjaga dan mengawasai lahan mereka dari bahaya kebakaran. Selain itu juga mengurangi introduksi manusia masuk kedalam kawasan konservasi kamojang yang dapat menyebabkan kebakaran hutan dengan menyibukan mereka bercocok tanam di lahan garapan mereka. Selain program Block Green, PT. Perhutani yang bekerjasama dengan kelompok tani di Desa Lembang telah melakukan program PHBM. Dengan adanya kesempatan masyarakat lokal

mengolah lahan di sekitar hutan, maka masyarakat akan ikut menjaga hutan dan lahan dari kebakaran hutan karena mereka khawatir kebakaran akan menjalar dan merusak lahan yang mereka olah (Adinugroho et al. 2005). b. Pemberian Insentif Upaya untuk meningkatkan peranserta masyarakat yang dilakukan oleh Pihak BKSDA tidak dalam bentuk insentif murni, berupa pemberian materi. Namun pemberian insentif tersebut dikemas dalam bentuk lain yaitu dalam bentuk ternak Domba. Bantuan tersebut diberikan dengan melihat kelompok masyarakat yang aktif dan turut serta dalam berperanserta membantu BKSDA dalam mengelola kawasan dari berbagai gangguan, seperti aktif dalam pengamanan hutan, aktif patroli, aktif dalam memberikan penyuluhan, dan lain-lain. Bantuan ini sebagai program peningkatan dan pembinaan usaha konservasi di dalam dan luar kawasan hutan. Bentuk pemberian insentif murni berupa ternak Domba ini diberikan kepada 10 Desa yaitu Desa Pasawahan, Desa Pananjung, Desa Rancabango, Desa Sukaraja, Desa Sirnajaya, Desa Pangatikan, Desa Mekarjaya, Desa Sukarame, Desa Sagara dan Desa Sancang, masingmasing Desa tersebut sebanyak 50 ekor domba yang bertujuan untuk mengembangkan usaha ekonomi kepada masyarakat pedesaan sekitar kawasan BKSDA. Pemberian ternak domba ini sebelumnya telah diberikan pengetahuan tentang cara dan teknik untuk membudidayakan serta cara untuk merawatnya, sehingga dapat berhasil dan menghasilkan pendapatan dari usaha mereka yang berasal dari ternak tersebut. Diharapkan perekonomian masyarakat meningkat dan tidak akan kembali ke hutan untuk mencari dan menjual kayu bakar lagi (Petunjuk Teknis dan Kontrak Perjanjian Ternak Domba terlampir). Dengan adanya insentif masyarakat memperoleh manfaat dari partisipasi aktif mereka dalam mencegah dan menanggulangi kebakaran yaitu bagi perbaikan kehidupan sosial ekonomi mereka (Adinugroho et al. 2005).

Gambar 15. Kegiatan Masyarakat Sekitar Kawasan Hutan Kamojang
(Sumber: Dokumentasi Pribadi 2008)

Namun, pada kenyataannya upaya ini masih belum memberikan hasil yang optimal bagi kesejahteraan masyarakat Desa sekitar kawasan BKSDA Kamojang. Terbukti masih banyak masyarakat yang hanya mencari kayu bakar ke kawasan hutan sebagai bahan bakar mereka untuk memasak dan ada juga sebagian masyarakat yang menjadikan kegiatan ini sebagai mata pencahariaan pokok mereka sehari-hari. Seperti yang ditunjukan pada Gambar 15. c. Rangsangan dan Dorongan Adanya rangsangan dan dorongan akan semakin menggugah emosi dan perasaan

mereka untuk terlibat dalam pencegahan dan pengendalian kebakaran. Rangsangan dan dorongan ini dapat dilakukan melalui kegiatan peningkatan kesadaran (Adinugroho et al. 2005). Upaya yang dilakukan Pihak BKSDA untuk memberikan rangsangan dan dorongan berupa pemberian dukungan dan pembinaan Pamhutswakarsa. Sehingga secara langsung masyarakat dapat mencegah terjadinya kebakaran hutan di daerah sekitar mereka. Selain itu juga masyarakat diberikan penyuluhan dan peningkatan kesadaran serta kepedulian akan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Sehingga diharapkan masyarakat akan turut serta menjaga kawasan konservasi untuk kelangsungan kehidupan mereka. Bentuk penyuluhan dan peningkatan kesadaran serta kepedulian yang dilakukan BKSDA berupa penyuluhan langsung maupun tidak langsung kepada masyarakat sekitar kawasan dan melakukan pemasangan aturan/tanda peringatan dilokasi kawasan konservasi.

d. Peningkatan Kemampuan Masyarakat Untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam kegiatan pengendalian kebakaran hutan, Pihak BKSDA melibatkan sejumlah kelompok masyarakat untuk turut serta mengikuti pelatihan-pelatihan berupa kegiatan Apel Siaga. Diantaranya para petugas kehutanan, aparat pemerintahan daerah dan desa, serta masyarakat umum diajak untuk mengikuti kegiatankegiatan pembinaan diantaranya kegiatan Apel Siaga yang diselenggarakan oleh Dinas Kehutanan Propinsi pada bulan Juli 2008 di kawasan Resort Papandayan Kabupaten Garut. Apel Siaga ini diantaranya bertujuan untuk menyiapkan dan menyiagakan serta mengetahui kekuatan satuan pengamanan hutan. Selain itu juga Pihak BKSDA melalui para petugas dan polisi kehutanannya ketika melakukan patroli rutin di lapangan memberikan pengetahuan, pengalaman dan penyuluhan kepada masyarakat sekitar hutan sebagai upaya untuk membuka wawasan dan menambah pengetahuan masyarakat. Dengan demikian masyarakat menjadi terlatih dan terampil mengambil langkah cepat dan efisien ketika terjadi kebakaran hutan. Pelatihan dan pembinaan masyarakat dalam merawat ternak Domba pun sebagai salah satu upaya Pihak BKSDA bertujuan untuk mengembangkan kemampuan dan keahlian dalam sektor peternakan masyarakat sekitar kawasan hutan, disamping sebagai upaya untuk membina dan meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar hutan. Semua program dan kegiatan tersebut bertujuan agar masyarakat sekitar hutan dapat menjaga dan peduli kelestarian pengelolaan kawasan hutan untuk masa yang akan datang. e. Bimbingan Kelompok masyarakat yang memiliki peranserta dengan Pihak BKSDA tersebut dibina dan dibimbing oleh tingkat Resort setempat. Namun tidak semua kelompok masyarakat tersebut mendapatkan bimbingan dan binaan dari petugas karena keterkaitan dana. Seharusnya beberapa kelompok masyarakat tersebut dapat dibimbing oleh petugas setempat sehingga mereka merasa diperhatikan dan dilibatkan sebagai subyek dan partisipan aktif yang berharga dalam menjaga kawasan hutan dari kebakaran. Karena kegiatan yang mengikutsertakan masyarakat akan berjalan dengan baik jika ada bimbingan dari pihak terkait.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang diterapkan di kawasan konservasi Kamojang mencakup aktifitas pencegahan, pemadaman dan penanganan pasca kebakaran sesuai petunjuk Ditjen PHKA yang dikoordinasikan di tingkat Balai, Seksi, hingga Resort. 2. Gangguan hutan yang terjadi di kawasan konservasi kamojang berupa perambahan hutan, pembukaan lahan secara liar, pencurian kayu dan khususnya gangguan hutan berupa kejadian kebakaran hutan dan lahan. 3. Peranserta pihak terkait yaitu masyarakat sekitar kawasan konservasi Kamojang, yaitu swasta (PT. Pertamina), Dinas Kehutanan, PT. Perhutani dan aparat pemerintah setempat telah memberikan hasil nyata bagi tercapainya pengamanan dan kelestarian hutan. 4. Upaya BKSDA untuk meningkatkan peranserta masyarakat dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan berupa pemberian kesempatan untuk mengolah lahan, pemberian insentif ternak domba, dorongan dan peningkatan kemampuan masyarakat melalui pemberian motivasi dan pembinaan terhadap Pamhutswakarsa. B. Saran 1. Perlu adanya penambahan petugas pengamanan hutan dan pamhutswakarsa yang dikoordinasikan dengan pemerintah setempat, swasta (PT. Pertamina Kamojang), LSM, PT. Perhutani, Dinas Kehutanan dan Aparat pemerintahan dan Desa setempat karena total luas keseluruhan kawasan konservasi Kamojang yang tidak sebanding dengan jumlah tenaga perlindugan hutan yang dimiliki BKSDA Resort Kamojang 2. Pengendalian kebakaran hutan harus mengutamakan upaya pencegahan. Peranserta masyarakat sekitar kawasan konservasi merupakan aset vital sehingga kegiatan pembinaan dan pelatihan yang intensif harus dilakukan oleh pihak yang bersangkutan meskipun faktor dana kendala paling utama.

DAFTAR PUSTAKA Adinugroho WC, Suryadiputra, Bambang HS, Labueni S. 2005. Panduan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan gambut. Bogor: Wetlands Internasional. Afiff SA. 1992. Partisipasi Masyarakat dalam Menunjang Konservasi Biodiversity di Hutan. Bogor: Fahutan IPB. Akihiro K. 2000. Manual Dasar-Dasar Pengendalian Kebakaran Hutan. Bogor: Dephut. Brown AA, Davis KP. 1973. Forest Fire Control & Use. New York: McGraw Hill Company. Countryman CM. 1975. The Nature of Heat. Heat-Its role in wildland fire-part 1. California: Unnumbered publication, USDA For. Serv, Pacifik Southwest Forestry and Range Experiment Station. Dephut. 1991. Pola Pembinaan dan Penggunaan Tenaga Pengamanan Hutan. Bogor: Ditjen PHKA. Dephut. 1999. Petunjuk Teknis Pengembangan Daerah Penyangga. Jakarta: Ditjen PHKA Dephut. 1999. Petunjuk Teknis Pemadaman Kebakaran Hutan. Jakarta: Departemen Kehutanan Pusat Penyuluhan Kehutanan. Hardjanto. 1988. Study tentang Kehutanan Sosial. Bogor: Fahutan IPB. Ismunandar S. 2003. Pemadaman Kebakaran Alang-alang dan areal Lainnya. Bogor: Fahutan IPB. Miyakawa H. 1997. Survey Forest Fire of Several National Parks in Indonesia. Forest Fire Prevention Management Project. Technical Cooperation between the Ministry. of Forestry Estate Crops and japan International Cooperation Agency (JICA). Bogor. Nengah SJ. 2003. Metode Deteksi Api. Bogor: Fahutan IPB. Naganawa H, Sumantri. 2003. Manual Umum Pemadaman Kebakaran Hutan. Jakarta: Direktorat Penanggulangan Kebakaran Hutan. Ngadiono. 2005. Pengelolaan Hutan Indonesia Refleksi dan Prospek. Bogor: Yayasan Adi Sanggoro. Prakoso JH. 2003. Peralatan Komunikasi dan Peralatan Keselamatan. Bogor: Fakultas Kehutanan IPB. Purbowaseso B. 2004. Pengendalian Kebakaran Hutan Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Santosa MA. 1990. Peran Serta Masyarakat dan Potensi Peningkatannya di Indonesia. Makalah diskusi terbatas tentang peran serta masyarakat. Jakarta. Tidak dipublikasikan. Slamet M. 2003. Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan. Bogor: IPB Press. Sugiyono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: CV. Alfabeta. Suharjito D, Dudung D. 1998. Kehutanan Masyarakat: Beragama Pola Partsispasi Masyarakat dalam Pengelolaan Hutan. Bogor: IPB Press.

Sumantri. 2003. Perencanaan Pencegahan Kebakaran Hutan. Pencegahan Kebakaran Hutan. Bogor: Fakultas Kehutanan IPB. Hal. 192 – 204. Suratmo FG. 1974. Perlindungan Hutan. Bogor: IPB Press. Suratmo FG. 1999. Pedoman Nasional Perlindungan Hutan Terhadap Kebakaran: Pengendalian Kebakaran Hutan Terpadu di Indonesia Buku I. ITTO, CFC, IPB, Various. Suratmo FG, Endang AH, Nengah SJ. 2003. Pengetahuan Dasar Pengendalian Kebakaran Hutan. Bogor: Fahutan IPB. Syaufina L. 1988. Pola Penyebaran Kebakaran Hutan Menurut Musim di Jawa Tengah. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan IPB. Syaufina L. 2008. Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia. Malang: Bayumedia. Tacconi. 2003. Kebakaran Hutan di Indonesia: Penyebab, Biaya dan Implikasi Kebijakan. Bogor: CIFOR.

Wartaputra. 1993. Kebijaksanaan dan Strategi Pembangunan Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Jakarta: Ditjen PHKA Wibowo BA. 2008. Strategi Pengendalian Kebakaran Hutan di Taman Nasional (Study Kasus di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat). [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan IPB.

Lampiran 1. Tata Waktu Pelaksanaan Kegiatan Penelitian di BKSDA Kamojang Garut - Provinsi Jawa Barat TATA WAKTU PENELITIAN TAHUN 2008 September Oktober 1 2 3 4 1 2 3 4

No 1. 2. 3. 4. 5.

Nama Kegiatan 1 Penyusunan Proposal Pengumpulan data Pengolahan Data Penyusunan Laporan Seminar

Juli 2 3

4

Agustus 1 2 3 4

1

November 2 3 4

1

Dessmber 2 3 4

Lampiran 2 RENCANA ANGGARAN PENELITIAN No 1. 2. Jenis Kegiatan Penyusunan Proposal Pengumpulan data pengelolaan a. Transportasi b. Biaya hidup (30 hari) c. Dokumentasi d. Fotokopi Jumlah Penyusunan Skripsi Biaya tak terduga TOTAL Anggaran (Rp) 100.000,500.000,500.000,100.000,200.000,1.300.000,300.000,400.000,2.100.000,Keterangan

3. 4.

DEPARTEMEN KEHUTANAN

DIREKTORAT JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM

BALAI KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM JAWA BARAT II

SEKSI KONSERVASI WILAYAH II
Jl. Pahlawan No. 42 Telp./ Fax ( 0262) – 236705 ) G a r u t 44151

Nomor Lampiran Perihal

: : :

S. /BKSDA.JB.II-3/2007 1 ( satu ) lembar Antisipasi Kebakaran Hutan

20 Agustus 2007

Yth. Kepala Satuan Kerja / Kepala Resort KSDA Lingkup Seksi Konservasi Wilayah II TEMPAT

Menindak lanjuti surat Kepala Balai KSDA Jabar II Nomor : S.228/BKSDA.JB.II-1/2007 tanggal 7 Agustus 2007 perihal tersebut di atas, bersama ini kami sampaikan hal – hal sebagai berikut :

1.

Dengan datangnya musim kemarau, ancaman terhadap kawasan hutan tentang kebakaran sudah diambang pintu.

2.

Untuk memantau akan terjadinya kebakaran hutan, semua petugas agar selalu stanby di POSKO Kebakaran yaitu di kantor Seksi Konservasi Wilayah. Meningkatkan patroli rutin, patroli mendadak, penjagaan dan perondaan di lokasi – lokasi rawan kebakaran serta meningkatkan penyuluhan kepada masyarakat sekitar kawasan.

3.

4.

Meningkatkan koordinasi dengan Pemerintah Desa, Pamhut Swakarsa, Kelompok Tani dan pemuka masyarakat sekitar kawasan

5.

Apabila di wilayah Saudara terdapat kegiatan yang dilaksanakan oleh pihak ke III ( Chevron Texaco Ltd, Indonesia Power, Pertamina dll. ) agar ditingkatkan koordinasinya.

Demikian kami sampaikan dan dilaksanakan , atas perhatian Saudara diucapkan terima kasih

Kepala Seksi,

Achmad Susdjoto, S.Sos. NIP: 710002891 Tembusan Yth. Kepala Balai KSDA Jawa Barat II

Menjaga kelestarian hutan adalah tanggung jawab kita bersama

DEPARTEMEN KEHUTANAN

DIREKTORAT JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM

BALAI KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM JAWA BARAT II

SEKSI KONSERVASI WILAYAH II
Jl. Pahlawan No. 42 Telp./ Fax ( 0262) – 236705 ) G a r u t 44151

Nomor Lampiran Perihal

: : :

S. /BKSDA.JB.II-3/2007 1 ( satu ) lembar Antisipasi Kebakaran Hutan

20 Agustus 2007

Yth. Kepala Satuan Kerja / Kepala Resort KSDA Lingkup Seksi Konservasi Wilayah II TEMPAT

Menindak lanjuti surat Kepala Balai KSDA Jabar II Nomor : S.228/BKSDA.JB.II-1/2007 tanggal 7 Agustus 2007 perihal tersebut di atas, bersama ini kami sampaikan hal – hal sebagai berikut :

1.

Dengan datangnya musim kemarau, ancaman terhadap kawasan hutan tentang kebakaran sudah diambang pintu.

2.

Untuk memantau akan terjadinya kebakaran hutan, semua petugas agar selalu stanby di POSKO Kebakaran yaitu di kantor Seksi Konservasi Wilayah. Meningkatkan patroli rutin, patroli mendadak, penjagaan dan perondaan di lokasi – lokasi rawan kebakaran serta meningkatkan penyuluhan kepada masyarakat sekitar kawasan.

3.

4.

Meningkatkan koordinasi dengan Pemerintah Desa, Pamhut Swakarsa, Kelompok Tani dan pemuka masyarakat sekitar kawasan

5.

Apabila di wilayah Saudara terdapat kegiatan yang dilaksanakan oleh pihak ke III ( Chevron Texaco Ltd, Indonesia Power, Pertamina dll. ) agar ditingkatkan koordinasinya.

Demikian kami sampaikan dan dilaksanakan , atas perhatian Saudara diucapkan terima kasih

Kepala Seksi,

Achmad Susdjoto, S.Sos. NIP: 710002891 Tembusan Yth. Kepala Balai KSDA Jawa Barat II

Menjaga kelestarian hutan adalah tanggung jawab kita bersama

NOTA KESEPAKATAN BERSAMA BALAI KSDA JAWA BARAT II DENGAN KELOMPK TANI SINERGI JAYA PAPANDAYAN DESA SUKAJAYA KECAMATAN SUKARESMI KABUPATEN GARUT TENTANG BANTUAN TERNAK DOMBA PADA KEGIATAN PEMBINAAN DAERAH PENYANGGA SEBANYAK 50 (lima puluh) EKOR Pada hari ini …………………. tanggal …………….. bulan Juni Tahun Dua Ribu Lima, yang bertanda tangan di bawah ini kami ; 1. Nama Jabatan : Ir. ENDANG KARMANA : Kepala Seksi Konservasi Wilayah II

Bertindak sebagai pemberi bantuan, yang selanjutnya disebut PIHAK PERTAMA 2. Nama : SASA HERMANSYAH

Jabatan

: Kepala Desa Sukajaya.

Bertindak sebagai Atas Nama Kelompok Tani/koordinator, yang selanjutnya disebut PIHAK KEDUA Dalam rangka pelaksanaan kegiatan kegiatan Peningkatan Usaha Ekonomi Konservasi dalam bentuk Pembinaan daerah Penyangga, sebagai upaya meminimalisir tingkat kertergantungan masyarakat sekitar kawasan Hutan Cagar Alam Papandayan, kedua belah pihak sepakat untuk memberi bantuan ternak domba kepada masyarakat Desa Sukajaya, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Garut dengan ketentuan sebagai berikut :

UMUM
1. Bahwa kegiatan Pembinaan Daerah Penyangga ini adalah bertujuan untuk menanggulangi ketergantungan masyarakat terhadap kawasan Konservasi (hutan). 2. Bahwa untuk tercapainya tujuan tersebut perlu diberikan bantuan kepada masyarakat untuk meningkatkan pendapatannya, sehingga kesejahteraan dapat meningkat. 3. Atas dasar tersebut di atas dengan mempertimbangkan hasil rapat pembahasan bersama masyarakat dan kesesuaian lahan, maka kedua belah pihak sepakat untuk memberikan bantuan ternak domba untuk dipelihara dan digemukkan untuk

Pasal 1

selanjutnya dijual sebagai doba pedaging dan hasilnya dibagi dan dibelikan kembali domba untuk digulirkan ke anggota kelaompoak yang lain. Pasal 2

JENIS DAN JUMLAH TERNAK

1. PIHAK PERTAMA memberikan bantuan ternak domba kepada PIHAK KEDUA dikembangkan dengan sistem bergulir. 2. Jumlah ternak domba yang diberikan PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA adalah sebanyak 50 (lima puluh) ekor domba jantan untuk digemukkan.

PENERIMA BANTUAN
1. PIHAK PERTAMA memberikan bantuan ternak domba kepada PIHAK KEDUA, kemudian dengan melalui surat perjanjian kerja PIHAK KEDUA menyerahkan bantuan ternak domba tersebut kepada masyarakat Desa Sukajaya yang telah ditunjuk dan disepakati untuk dipelihara dan diternakan.

Pasal 3

2. Masyarakat desa tersebut adalah pengurus/anggota Kelompok Tani Sinergi Jaya Ppandayan Desa Sukajaya, Kecamatan Sukaresmi, kabupaten Garut. 3. Mengingat terdapat 5 (lima) kelompok kerja, maka pembagian dibagi menjadi empat kelompok kerja yang akan menerima bantuan ternak domba dengan rincian masing – masing kelompok kerja mendapat bagian 10 (sepuluh) ekor domba ternak. 4. Apabila dari kelompok belum mendapat bagian, maka ternak domba yang sudah siap dijual, dijual untuk dibagi keuntungannya dan modal dan keuntungan kelompok dibelikan kembali domba untuk dibagikan kembali ke anggota kelompok yang belum mendapat bagian untuk dibesarkan.

SISTEM PERGULIRAN
1. Sistem perguliran ternak domba diatur dan ditetapkan oleh PIHAK KEDUA dengan mempertimbangkan prinsip keadilan dan kesejahteraan dalam masyarakat. 2. Untuk tertib dan lancarnya sistem perguliran, maka kepada kelompok – kelompok penerima bantuan harus melaporkan perkembangan ternak domba tersebut kepada PIHAK KEDUA. Pasal 5

Pasal 4

PELAKSANAAN

Apabila pada waktunya ternak domba tersebut sudah siap dijual maka pemelihara berkewajiban melaporkan kepada pihak kedua dan pihak pertama untuk memperoleh persetujuan untuk dijual dan keuntungan dari penjualan dibagi 70 % untuk pemelihara, 20 % untuk dibelikan domba bersama sama dengan modal dan 10 % untuk kas Kelompok Tani, domba hasil keuntungan dan modal dibagikan kembali keanggota kelompok, diutamakan bagi anggota ynag belum pernah menerima. Pemeliharaan dilaksanakan secara bersama-sama dalam satu kandang untuk dipelihara oleh masing-masing kelompok. Domba tersebut dapat dijual apabila sudah cukup umur dan kondisi fisiknya sudah memenuhi sarat untuk dijual dan mendapakan keuntungan. Di buat suatu pembukuan dan laporan setiap terjadi penjualan ternak dan harus disaksikan oleh pengawas.

Pasal 6 HAK DAN KEWAJIBAN

Setiap kelompok penerima bantuan ternak domba berkewajiban untuk memelihara dan memelihara bantuan ternak tersebut dan tidak dibenarkan untuk menjualnya sebelum ternaknya berhasil di dahului oleh BAP tim Pengawas. Untuk keperluan pakan ternak tersebut tidak dibenarkan untuk mengembalakan mengambil pakan ternak tersebut dari dalam kawasan hutan PIHAK KEDUA berkewajiban untuk melaporkan perkembangan ternak domba setiap bulannya kepada PIHAK PERTAMA secara tertulis yang diketahui Ketua kelompoknya. PIHAK KEDUA bersama-sama dengan kelompok penerima bantuan berkewajiban untuk membuat/menyiapkan kandang domba. PIHAK PERTAMA dapat mencabut kembali bantuan ternak domba yang sudah diberikan kepada PIHAK KEDUA apabila ternyata PIHAK KEDUA tidak mentaati pasal 6 ayat 1,2,3,4 ketentuan yang tertuang dalam surat kesepakatan ini. Pasal 8

PERLINDUNGAN KAWASAN
Secara bersama-sama PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA untuk menjaga, melindungi dan memanfaatkan kawasan konservasi Cagar Alam Papandayan. PIHAK KEDUA berhak dan bersedia untuk membantu dan melaporkan segala bentuk pelanggaran yang terjadi terhadap keutuhan dan kelestarian kawasan Cagar Alam Papandayan.

FORCE MAJURE
1. Yang dimaksud dengan force majure yaitu apabila ternak domba tersebut mati atau hilang sebagai akibat dari kejadian bencana alam seperti mati akibat penyakit, mati akibat diterkam binatang buas, mati akibat tertabrak atau jatuh

Pasal 9

kejurang serta akibat keracunan. maka PIHAK KEDUA tidak dibebani untuk mengganti ternak tersebut. 2. Apabila terjadi force majure seperti tercantum dalam ayat 1 maka PIHAK KEDUA segera melaporkan jejadian dimaksud kepada PIHAK PERTAMA dan segera dibuatkan Berita Acara. 3. Apabila terjadi force majure dalam ayat 1 karena kelalaian pemelihara, PIHAK KEDUA/pemelihara berkewajiban untuk mengganti ternak tersebut. Demikian Nota Kesepakatan ini dibuat dengan sebenar-benarnya untuk dapat dipergunakan dan diindahkan sebagaimana mestinya dan segala hal yang belum tertuang dalam Nota Kesepakatan ini akan diatur dan ditinjau kembali secara terpisah, kemudian ditutup dan ditandatangani pada hari tempat dan tanggal seperti tersebut dibawah ini.

DITETAPKAN DI PADA TANGGAL

: SUKAJAYA : JULI 2005

PIHAK KEDUA KEPALA DESA SUKAJAYA

PIHAK PERTAMA KEPALA SEKSI KONSERVASI WILAYAH II

SASA HERMANSYAH

Ir. ENDANG KARMANA NIP. 080030693

Mengetahui KEPALA BALAI,

Ir. IKIN ZAINAL MUTAQIN NIP. 080036688

BKSDA

SARANA KOMUNIKASI PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN TAHUN : 2007
Sampai dengan Semester : 1

No.

Unit Kerja

Handy Talky (unit) 3 2

Rig (unit)

All Band

GPS Telepon (unit)

Fax (unit) 8

Internet AWS

Stasiun Satelit Keterangan

1

2 1 SKW II Garut

4 2

5

6

7 1

9 1

10

11

12 HT rusak

Jumlah

2

2

1

1

Catatan : Perlu ada penambahan dan perbaikan Handy Talky karena sangat diperlukan dalam kegiatan operasi

BKSDA SARANA TRANSPORTASI PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN

TAHUN : 2007
Sampai dengan Semester : 1 Slip Mobil On Monilog Tangki Tank 4 5 6 1 (D-Max)

No. 1

Unit Kerja 2 SKW II 1 GARUT

Sepeda Motor 3 5 (trail) 2 (GL Max) 1 (WIN) 1 (Supra)

Mobil Patroli

Mesin Keterangan Boat Tempel 8 9 10 kondisi baik

7

Jumlah

9 unit

1 Unit

BKSDA PERLENGKAPAN PERORANGAN PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN TAHUN : 2007 Sampai dengan Semester : I

No.

Unit Kerja

Pakaian Pemadam

Helm

Headlamp

Kopel Rim

Velples

Boot

Gogle

Slayer

Keterangan

1 1

2 SKW II Garut

3 20

4 20 -

5 -

6 -

7

8 20 -

9

13 20

14 di gudang

Jumlah

20

20

20

20

Keterangan : sepatu boot sebagian masih dipakai petugas lapangan

BKSDA

KEADAAN SUMBER DAYA MANUSIA PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN MANGGALA AGNI
TAHUN : 2007

Masyarakan Peduli Api (MPA) No. 1 Unit Kerja Jumlah Regu 6 Jumlah Anggota 7

Jumlah Regu 12

Jumlah Anggota 13

Keterangan

2
1 Resort Papandayan Barat 2 Resort Papandayan Timur 3 Resort Kamojang Barat 4 Resort Kamojang Timur 5 Reosort Sancang Barat 6 Resort Sancang Timur Resort Telaga 7 Bodas

4 4

40 40

4 4

40 PAMHUT SWAKARSA 40 PAMHUT SWAKARSA

4

40

4

40 PAMHUT SWAKARSA

Jumlah

12

120

12

120

SARANA PERALATAN TANGAN PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN
TAHUN : 2007 Sampai dengan Semester : Maret

No.

Unit Kerja

Sekop

Garu

Garu Tajam

Kapak Pulaski 6

Gepyok

Cangkul

Golok

Keteranga

1 SKW II 1 Garut

2

3

4

5

7

8

9

12

16

16

16

16

16

16

16 Di gudang

Jumlah

16

16

16

16

16

16

16

Catatan : peralatan sebagian masih berada di lapangan /dipakai petugas

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->