P. 1
PERENCANAAN KEBUTUHAN DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU SUSU UHT (ULTRA HIGH TEMPERATURE) PADA PT. INDOLAKTO - SUKABUMI

PERENCANAAN KEBUTUHAN DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU SUSU UHT (ULTRA HIGH TEMPERATURE) PADA PT. INDOLAKTO - SUKABUMI

|Views: 199|Likes:
Published by KARYAGATA MANDIRI

More info:

Published by: KARYAGATA MANDIRI on Jul 30, 2012
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

07/25/2015

Sections

PERENCANAAN KEBUTUHAN DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN
BAHAN BAKU SUSU UHT (
Ultra High Temperature)
PADA PT. INDOLAKTO - SUKABUMI

Oleh :
M I A W I D H I A S T U T I
A14102009

PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2006

2

RINGKASAN
MIA WIDHI ASTUTI. Perencanaan Kebutuhan dan Pengendalian
Persediaan Bahan Baku Susu UHT (
Ultra High Temprature) Pada
PT. Indolakto-Sukabumi. (Di bawah bimbingan SRI HARTOYO)

Susu UHT merupakan hasil dari perkembangan teknologi pengolahan susu,
yaitu melalui proses pengolahan pada suhu tinggi dan dalam waktu yang singkat
(135-145 derajat Celsius) selama 2-5 detik (Amanatidis dalam Republika Juli
2005). Perkembangan teknologi susu khususnya untuk susu UHT mendapat
perhatian yang serius dari pemerintah mengingat konsumsi susu cair masyarakat
Indonesia masih tergolong rendah, yaitu 62 juta liter per tahun. Oleh karena itu,
pemerintah akan mengambil tanggung jawab untuk mengkampanyekan kebiasaan
minum susu UHT.

Seiring dengan berkembangnya perusahaan pengolahan susu menyebabkan
persaingan semakin meningkat sehingga keunggulan kompetitif menjadi penting.
Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah pengembangan keragaan
manajemen produksi dan operasi organisasi melalui manajemen produksi dan
persediaan.

PT. Indolakto merupakan salah satu produsen susu UHT yang sedang
berkembang. Adanya perubahan permintaan konsumen terhadap susu UHT
seringkali menuntut pihak perusahaan untuk melakukan perubahan terhadap
rencana produksinya (revisi rencana produksi). Selain itu, kebijakan perusahaan
menyangkut perencanaan kebutuhan dan pengendalian persediaan bahan baku
sering dihadapkan pada kendala investasi yang terlalu banyak atau menekan
persediaan. Masing-masing akan memiliki konsekuensi terhadap biaya persediaan,
kelancaran produksi dan pelayanan kepada pelanggan. Untuk itu, diperlukan
sistem pengendalian persediaan yang optimal sehingga perusahaan mampu
meningkatkan efisiensi produksi dan meminimalkan biaya produksinya.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) Menganalisis sistem pengadaan dan
pengendalian bahan baku susu UHT yang dilakukan perusahaan. (2) Mengetahui
apakah ada suatu rencana yang lebih tepat untuk mengatasi adanya perubahan-
perubahan permintaan konsumen terhadap produk susu UHT pada PT. Indolakto.
(3) Mengetahui implikasi dari hasil perencanaan yang lebih tepat tersebut dalam
menentukan alternatif tingkat persediaan bahan baku PT. Indolakto untuk periode
selanjutnya. (4) Menganalisis sistem pengendalian persediaan bahan baku yang
optimal dilihat dari biaya persediaan.
Jenis data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan data sekunder. Data
primer diperoleh langsung dari PT. Indolakto yang berlokasi di Jalan Raya
Siliwangi, Cicurug, Sukabumi pada bulan April - Mei 2006 melalui hasil
pengamatan dan wawancara dengan karyawan, manajer, dan kepala divisi yang
berkaitan. Data sekunder diperoleh dari buku-buku, hasil laporan penelitian
terkait, catatan perusahaan, literatur perusahaan dan instansi terkait serta literatur
lainnya. Data kuantitatif diolah dengan menggunakan program Microsoft Excel
dan Minitab 14. Untuk menganalisis metode pengendalian persediaan bahan baku
perusahaan di tahun 2005 akan digunakan model MRP teknik EOQ, dan PPB.
Setelah itu dipilih satu model alternatif untuk digunakan dalam analisis
pengendalian persediaan bahan baku di tahun 2006 berdasarkan perencanaan
bahan baku hasil peramalan dekomposisi aditif.

3

Data produksi susu UHT PT. Indolakto (tahun 2000-2005) adalah tidak
stasioner, memiliki unsur tren dan musiman. Hal ini ditunjukkan dari sebaran data
produksi yang tidak berada disekitar garis lurus dan memiliki kecenderungan
meningkat serta nilai koefisien autokorelasi yang membentuk suatu siklus yang
memiliki titik tertinggi, terendah dan berulang setiap tahunnya. Metode peramalan
yang digunakan adalah metode dekomposisi aditif. Model ramalan yang terbentuk
adalah Ýt = 503951 + (23683.6 x t) + IMTt.
Penelitian ini menghasilkan beberapa kesimpulan, yaitu sistem pengadaan
dan pengendalian persediaan bahan baku susu UHT di PT. Indolakto belum
optimal dari segi biaya persediaan. Hal ini ditunjukkan dari tingginya biaya
persediaan yang dihasilkan perusahaan dibandingkan sistem pengendalian
menggunakan metode MRP teknik EOQ dan PPB.
Rencana produksi susu UHT untuk periode tahun 2006 diperoleh dari
pengurangan jumlah produksi hasil ramalan dan persediaan akhir (persediaan
pengaman) dengan persediaan awal tahun 2006. Persediaan pengaman dihitung
berdasarkan tingkat pelayanan perusahaan di tahun 2005 yaitu 102.97 persen.
Perencanaan kebutuhan bahan baku SMP dan gula diturunkan dari rencana
produksi susu UHT. Proporsi SMP dan gula dalam 1 kilogram susu UHT masing-
masing sebesar 9 persen dan 6 persen.
Ada suatu rencana yang lebih tepat untuk mengatasi adanya perubahan-
perubahan permintaan konsumen terhadap produk susu UHT pada PT. Indolakto,
yaitu melalui metode peramalan dekomposisi aditif. Metode peramalan tersebut
menghasilkan penyimpangan yang rendah. Perencanaan kebutuhan bahan baku
susu UHT pada PT. Indolakto melalui proyeksi hasil peramalan dekomposisi
aditif untuk periode tahun 2006 menunjukkan adanya peningkatan kebutuhan
bahan baku (SMP dan gula) akibat dari meningkatnya jumlah produksi susu UHT
di tahun 2006. Total produksi susu UHT pada tahun 2006 diperkirakan naik 21.47
persen menjadi 27 983 916.89 kg. Produksi puncak perusahaan diperkirakan
terjadi pada bulan September 2006.
Metode MRP teknik PPB merupakan model alternatif yang digunakan untuk
menganalisis pengendalian persediaan bahan baku berdasarkan hasil ramalan
tahun 2006 karena model tersebut terbukti menghasilkan penghematan terhadap
biaya persediaan dan biaya pembelian perusahaan pada tahun 2005. Sementara
hasil analisis pengendalian persediaan bahan baku pada tahun 2006 dengan
metode PPB masih memberikan penghematan terhadap biaya persediaan dan
biaya pembelian perusahaan Oleh karena itu metode MRP teknik PPB
direkomendasikan sebagai model alternatif dalam sistem pengendalian persediaan
bahan baku yang optimal dilihat dari biaya persediaan bahan bakunya.
Penggunaan metode MRP teknik PPB dapat dijadikan alternatif bagi pengendalian
persediaan perusahaan karena metode ini menghasilkan periode gabungan yang
akan meminimumkan biaya persediaan (biaya pemesanan dan biaya
penyimpanan). Metode ini lebih dinamis dalam menyeimbangkan antara biaya
pemesanan dan biaya penyimpanan yang dikeluarkan perusahaan. Selain itu,
metode PPB dapat lebih fleksibel dalam penggabungan kebutuhan bersih SMP
dan gula selama periode tertentu jika terjadi perubahan biaya persediaan. Metode
PPB juga dapat menggabungkan periode gabungan lebih dari satu periode
kebutuhan bersih bahan baku.

4

PERENCANAAN KEBUTUHAN DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN
BAHAN BAKU SUSU UHT (
Ultra High Temperature)
PADA PT. INDOLAKTO - SUKABUMI

SKRIPSI

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pertanian pada
Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor

Oleh :
M I A W I D H I A S T U T I
A14102009

PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2006

5

Judul Skripsi : Perencanaan Kebutuhan dan Pengendalian Persediaan Bahan
Baku Susu UHT (Ultra High Temperature) Pada PT. Indolakto –
Sukabumi

Nama

: Mia Widhi Astuti

NRP

: A14102009

Menyetujui,
Dosen Pembimbing

Dr. Ir Sri Hartoyo, MS
NIP. 131 124 021

Mengetahui,
Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. H. Supiandi Sabiham, MAgr
NIP. 130 422 698

Tanggal lulus : ________________

6

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL

PERENCANAAN KEBUTUHAN DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN

BAHAN BAKU SUSU ULTRA HIGH TEMPERATURE PADA PT.

INDOLAKTO-SUKABUMI” BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA

PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN UNTUK

TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA

MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA

SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH

DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI

BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.

Bogor, Juni 2006

Mia Widhi Astuti.
A14102009

7

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada tanggal 31 Mei 1984 di Praya, Lombok Tengah

Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Penulis yang bernama lengkap Mia Widhi

Astuti adalah anak kedua dari dua bersaudara pasangan ayahanda I Made Subamia

dan ibunda Yuni Astuti.

Penulis memulai pendidikan dasar di SD Negeri 2 Sumbawa Besar tahun

1990 hingga tahun 1992, kemudian penulis pindah ke SDN 6 Sumbawa Besar

hingga tahun 1996. Selanjutnya penulis melanjutkan pendidikan pada sekolah

menengah pertama di SLTP Negeri 1 Sumbawa Besar hingga tahun 1999. Pada

tahun 2002 penulis menamatkan pendidikan menengah atas pada SMU Negeri 1

Mataram, kemudian pada tahun yang sama melanjutkan studi di Institut Pertanian

Bogor (IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada Program

Studi Manajemen Agribisnis, Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian,

Fakultas Pertanian.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif di organisasi kemahasiswaan,

seperti Himpunan Peminat Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian (MISETA)

periode 2003-2004 sebagai staf IT (Information Technology) Departemen

Informasi, Student Company Archipelago (GLOBE) UKM Century pada periode

2003-2004 sebagai staf divisi Finance, UKM Century periode 2004-2005 sebagai

ketua divisi IT, klub fotografi (LENSA) periode 2004-2005, Badan Eksekutif

Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) periode 2004-2005 sebagai staf

Departemen Informasi dan Komunikasi, dan terakhir menjadi anggota Ikatan

Mahasiswa Masyarakat (IMMA) NTB-Bogor periode 2005-2006.

8

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................... i

UCAPAN TERIMAKASIH.................................................................................. ii

DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii

DAFTAR TABEL ................................................................................................ iv

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. v

DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ vi

I. PENDAHULUAN

Latar Belakang ............................................................................................... 1
Perumusan Masalah Penelitian ....................................................................... 4
Tujuan Penelitian ............................................................................................ 6
Kegunaan Penelitian........................................................................................ 7
Batasan Penelitian .......................................................................................... 7

II. TINJAUAN PUSTAKA

Persediaan........................................................................................................ 9
2.1.1 Pengertian dan Peran Persediaan ................................................ 9
2.1.2 Bahan Baku ................................................................................ 9
2.1.3 Fungsi persediaan ....................................................................... 10
2.1.4 Jenis dan Tipe Persediaan .......................................................... 10
2.1.5 Biaya Persediaan ........................................................................ 11
Model Pengendalian Persediaan ..................................................................... 11
Perencanaan Kebutuhan Bahan ( MRP) ......................................................... 12
2.3.1 Economic Order Quantity (EOQ) .............................................. 14
2.3.2 Lot For Lot ................................................................................. 15
2.3.3 Part Periode Balancing (PPB) ................................................... 16
Peramalan dan Perencanaan ............................................................................ 17
2.4.1 Peran Peramalan .......................................................................... 17
2.4.2 Metode-metode Peramalan.......................................................... 18
2.4.3 Identifikasi Pola Data .................................................................. 19
2.4.4 Metode Kausal ............................................................................ 20
2.4.5 Metode Time Series .................................................................... 21
2.4.6 Pemilihan Metode Peramalan ...................................................... 22
Hasil Penelitian yang Relevan ........................................................................ 22
Keunggulan Penelitian ................................................................................... 26
Kerangka Pemikiran Penelitian ...................................................................... 26

9

III. METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian .......................................................................... 32
Jenis dan Sumber Data ................................................................................... 32
Model Analisa Data ........................................................................................ 33
3.3.1 Identifikasi Sistem Pengadaan dan Pengendalian Persediaan
Bahan Baku Perusahaan ............................................................. 33
3.3.2 Analisis Kuantitatif Pengendalian Persediaan Bahan Baku ........ 33
3.3.3 Analisis Perbandingan Biaya dan Penghematan ........................ 37
3.3.4 Rekomendasi Model Alternatif Pengendalian Persediaan
Berdasarkan Data Historis .......................................................... 37
3.3.5 Peramalan Produksi .................................................................... 38
3.3.6 Metode Dekomposisi .................................................................. 38
3.3.7 Analisis Kuantitatif Pengendalian Persediaan Bahan Baku
Berdasarkan Hasil Ramalan ....................................................... 39
3.4 Definisi Operasional ............................................................................. 40

IV. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

4.1 Sejarah Perkembangan Perusahaan ...................................................... 39
4.2 Lokasi Perusahaan dan Tata Letak Bangunan ...................................... 40
4.2.1 Lokasi Perusahaan ...................................................................... 41
4.2.2 Tata Letak Bangunan ................................................................. 41
4.3 Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan .............................................. 42
4.3.1 Struktur Organisasi ................................................................... 43
4.3.2 Sistem Ketenagakerjaan ........................................................... 44
4.3.2.1 Tenaga Kerja .................................................................... 44
4.3.2.2 Strata Pendidikan Pekerja ................................................ 45
4.3.2.3 Waktu Kerja dan Sistem Intensif .................................... 45
4.3.2.4 Jaminan Kesejahteraan dan Masa Cuti ............................ 47
4.4 Proses Produksi ..................................................................................... 48

V. SISTEM PENGADAAN DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN
BAHAN BAKU PERUSAHAAN

5.1 Penyimpanan dan Penggunaan Bahan ................................................. . 53
5.2 Jenis dan Asal Bahan Baku ................................................................. . 54
5.3 Biaya-biaya Persediaan ......................................................................... 58
5.3.1 Biaya Pemesanan ........................................................................ 58
5.3.2 Biaya Penyimpanan .................................................................... 60
5.4 Prosedur Pengadaan dan Penerimaan Bahan Baku ............................... 62
5.5 Pengendalian Kualitas Bahan Baku ...................................................... 65

VI. ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU
PERUSAHAAN

Pengendalian Persediaan Bahan Baku Perusahaan ........................................ 67
Metode Material Requirement Planning (MRP) ............................................ 71
6.2.1 Metode MRP Teknik Economic Order Quantity (EOQ) ........... 73
6.2.2 Metode MRP Teknik Part Period Balancing (PPB) .................. 74
Analisis Perbandingan Metode Pengendalian Persediaan .............................. 76

10

Rekomendasi Alternatif Metode Pengendalian Persediaan Bahan Baku
Berdasarkan Data Historis Perusahaan Tahun 2005 ............................................ 78

VII. PERENCANAAN BAHAN BAKU

Peramalan Produksi ........................................................................................ 80
7.1.1 Identifikasi Pola Data ................................................................. 80
7.1.2 Peramalan Produksi ………………………………………….... 82
Perencanaan Produksi .................................................................................... 86
Perencanaan Kebutuhan Bahan ..................................................................... 88
Pengendalian Persediaan Bahan Baku Berdasarkan Metode MRP Teknik
PBB untuk Periode Selanjutnya .......................................................................... 90
Analisis Perbandingan Metode Pengendalian Persediaan.............................. 93
Rekomendasi Alternatif Metode Pengendalian Persediaan Bahan Baku
untuk Periode Selanjutnya ................................................................................... 94

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN

8.1 Kesimpulan .......................................................................................... 96
8.2 Saran .................................................................................................... 97

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 98

LAMPIRAN ........................................................................................................100

11

DAFTAR TABEL

Nomor

Hal

Tabel 1. Produksi dan Konsumsi Susu (Indonesia) ............................................ 2

Tabel 2. Tabel Penentuan Ukuran Lot dengan Menggunakan EPP .................. 16

Tabel 3. Format Rencana MRP ......................................................................... 34

Tabel 4. Spesifikasi Fresh Milk yang diterima PT. Indolakto........................... 54

Tabel 5. Standar Mutu Skim Milk Powder (SMP) PT. Indolakto...................... 57

Tabel 6. Standar Mutu Gula PT. Indolakto ....................................................... 58

Tabel 7. Biaya Pemesanan Bahan Baku PT. Indolakto per Pesanan ................ 60

Tabel 8. Biaya Penyimpanan Bahan Baku PT. Indolakto per tahun ................. 62

Tabel 9. Persediaan Akhir Bahan Baku SMP dan Gula Selama Tahun 2005 ... 69

Tabel 10. Biaya Persediaan Bahan Baku per tahun periode 2005
menggunakan Metode perusahaan ..................................................... 70

Tabel 11. Biaya Pembelian SMP dan Gula dengan Metode Perusahaan
Tahun 2005 ......................................................................................... 71

Tabel 12. Biaya Persediaan SMP dan Gula dengan Metode EOQ Tahun 2005 . 73

Tabel 13. Biaya Persediaan SMP dan Gula dengan Metode PPB Tahun 2005... 75

Tabel 14. Perbandingan Frekuensi, Biaya Persediaan Total SMP dan Gula
Tahun 2005.......................................................................................... 77

Tabel 15. Penghematan Biaya Persediaan dengan Metode MRP Teknik
EOQ dan PPB ...................................................................................... 77

Tabel 16. Hasil Peramalan Produksi Susu UHT Periode Tahun 2006
dengan Metode Dekomposisi Aditif ................................................... 83

Tabel 17. Perbandingan Hasil Ramalan dengan Data Aktual Produksi Susu
UHT PT. Indolakto Bulan Januari - Maret 2006................................. 86

Tabel 18. Jumlah Penjualan, Produksi, Persediaan Pengaman, dan Rencana
Produksi Susu UHT PT. Indolakto Tahun 2006 ................................. 87

Tabel 19. Rencana Produksi (kg) dan Rencana Kebutuhan Bahan Baku (kg)
Hasil Proyeksi Bulanan Tahun 2006 ................................................... 89

12

Tabel 20. Biaya Persediaan SMP dan Gula dengan Metode MRP teknik
PPB tahun 2006 ................................................................................... 92

Tabel 21. Biaya Pembelian SMP dan Gula dengan Metode PPB Tahun 2006 ... 92

Tabel 22. Perbandingan Biaya Persediaan Total SMP dan Gula Metode PPB
Tahun 2006 dengan Metode Perusahaan Tahun 2005 ........................ 93

13

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Hal

Gambar 1. .................................................................................................................. B
iaya Persediaan ........................................................................................................................13

Gambar 2. .................................................................................................................. P
enggunaan Peramalan Permintaan dalam Subsistem Produksi
Operasi .............................................................................................. 18

Gambar 3. .................................................................................................................. P
ola Permintaan terhadap Suatu Barang atau Jasa .............................. 19

Gambar 4. .................................................................................................................. B
agan Kerangka Pemikiran ................................................................. 27

Gambar 5. .................................................................................................................. B
agan Kerangka Operasional Penelitian ............................................. 31

Gambar 6. .................................................................................................................. P
lot Data Produksi Susu UHT PT. Indolakto Periode 2000-2005 ...... 80

Gambar 7. Plot Data Hasil Peramalan Produksi Susu UHT PT. Indolakto
Periode Tahun 2006 .......................................................................... 84

Gambar 8. .................................................................................................................. P
lot Data Aktual, Ramalan dan Error dari Data Produksi Susu
UHT PT. Indolakto Periode Tahun 2000-2005 ................................. 85

14

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

Hal

Lampiran 1. Denah Lokasi Pabrik PT. Indolakto ............................................. 100

Lampiran 2. Denah Tata Letak Pabrik PT. Indolakto ........................................ 101

Lampiran 3. Bagan Struktur Organisasi PT. Indolakto ..................................... 102

Lampiran 4. Diagram Alir Proses Pengolahan Susu UHT ................................ 103

Lampiran 5. Bagan Alir Prosedur Penerimaan Bahan Baku di Warehouse
Raw Material ................................................................................. 104

Lampiran 6. Perbandingan Antara Merode Pengendalian Persediaan Pada
Keseluruhan Persediaan SMP dan Gula Tahun 2005.................... 105

Lampiran 7. Data Produksi Bulanan Susu UHT PT. Indolakto Tahun 2000-
2005 ............................................................................................... 106

Lampiran 8. Plot Autokorelasi (ACF) dan Autokorelasi Parsial (PACF)
Produksi Susu UHT....................................................................... 108

Lampiran 9. Hasil Differensing pertama Autokorelasi (ACF d1) dan
Autokorelasi Parsial (PACF d1).................................................... 109

Lampiran 10. Perbandingan Nilai MSE dari Beberapa Model Time Series
yang Diujikan ................................................................................ 110

Lampiran 11. Suku Bunga Simpanan Berjangka Rupiah Bank Umum
(12 Bulan) Tahun 2005 ................................................................. 110

Lampiran 12. Metode Dekomposisi Model Aditif (L= 12) ................................. 111

Lampiran 13. Penentuan Ukuran Lot dengan Menggunakan EPP untuk Bahan
Baku SMP Tahun 2005 ................................................................. 116

Lampiran 14. Penentuan Ukuran Lot dengan Menggunakan EPP untuk Bahan
Baku Gula...................................................................................... 116

Lampiran 15. MRP untuk Bahan Baku SMP dengan Teknik EOQ Tahun 2005
(EOQ SMP = 36 199.35 kg) (buffer stock = 86 389.30 kg) ................. 117

Lampiran 16. MRP untuk Bahan Baku Gula dengan Teknik EOQ Tahun 2005
(EOQ Gula = 51 683.53 kg) (buffer stock = 28 796.43 kg).................. 117

Lampiran 17. Biaya Pembelian SMP dan Gula dengan Metode EOQ Tahun
2005

15

Lampiran 18. MRP Teknik PPB yang disesuaikan untuk Bahan Baku SMP Tahun
2005 dengan sediaan pengaman 50% ................................................ 118

Lampiran 19. MRP Teknik PPB yang disesuaikan untuk Bahan Baku Gula Tahun
2005 (buffer 25%) ........................................................................... 118

Lampiran 20. Biaya Pembelian SMP dan Gula dengan Metode PPB Tahun
2005 ............................................................................................... 118

Lampiran 21. Penentuan Ukuran Lot dengan Menggunakan EPP untuk Bahan
Baku SMP Tahun 2006 ................................................................. 119

Lampiran 22. Penentuan Ukuran Lot dengan Menggunakan EPP untuk Bahan
Baku Gula Tahun 2006 ................................................................. 119

Lampiran 23. MRP Teknik PPB yang disesuaikan untuk Bahan Baku SMP
Tahun 2006 dengan sediaan pengaman 50% ................................ 120

Lampiran 24. MRP Teknik PPB yang disesuaikan untuk Bahan Baku Gula
Tahun 2006 (buffer 25%) .............................................................. 120

16

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Susu merupakan bahan pangan yang banyak mengandung unsur-unsur

penting yang diperlukan tubuh seperti: protein, lemak, karbohidrat, mineral,

vitamin dan unsur penting lainnya. Mengkonsumsi susu memberikan banyak

manfaat, diantaranya mengurangi resiko kanker usus dan rectum (hasil penelitian

di Harvard School of Public Health and Women), mencegah osteoporosis,

hipertensi dan dianjurkan dalam DASH (Dietary Approaches to Stop

Hypertension)1

, mempunyai kemampuan untuk mengikat polutan yang membantu

mengurangi dampak buruk polusi, serta mampu meningkatkan tubuh

memproduksi melatonin di malam hari yang berfungsi sebagai hormon sekaligus

antioksidan yang membuat tubuh bisa beristirahat. Upaya penggalakan minum

susu dirintis oleh Prof. Poorwo Sudarmo (Bapak Gizi Indonesia) yang

mencetuskan Empat Sehat Lima Sempurna pada tahun 1950-an.

Berdasarkan jenisnya, susu yang kini beredar meliputi susu bubuk, susu

kental manis, susu pasteurisasi dan susu Ultra Hight Temperature (UHT). Susu

UHT merupakan hasil dari perkembangan teknologi pengolahan susu, yaitu

melalui proses pengolahan pada suhu tinggi dan dalam waktu yang singkat (135-

145 derajat Celsius) selama 2-5 detik1

. Susu UHT memiliki keunggulan dalam hal

penyimpanan yang lebih tahan lama (lebih dari 6bulan tanpa disimpan dalam

mesin pendingin), berkualitas tinggi, bebas dari mikroorganisme, dan adanya

pengurangan waktu produksi, serta meminimalisasi jeda waktu antara pengiriman

dan pendinginan. Susu UHT biasanya dikemas dengan kemasan aseptik yang

1

Republika,19 Juli 2005

17

membuat susu dapat dikonsumsi kapan saja tanpa memerlukan alat pendingin

khusus. Perkembangan teknologi susu khususnya untuk susu UHT mendapat

perhatian yang serius dari pemerintah. Pemerintah akan mengambil tanggung

jawab untuk mengkampanyekan kebiasaan minum susu UHT2)
.

Mengingat pentingnya manfaat dan kegunaan dari susu dalam kehidupan

sehari-hari, maka peluang dalam agroindustri susu masih terbuka lebar. Hal ini

juga didukung oleh jumlah konsumsi susu nasional pada Tabel 1 yang

menunjukkan peningkatan meskipun pada tahun 1996, 1997, 1998, dan 2001

mengalami penurunan. Penurunan terbesar terjadi pada tahun 1998, yaitu 219 100

ton dari konsumsi tahun 1997 yang dipengaruhi oleh terjadinya krisis moneter.

Tabel 1. Produksi dan Konsumsi Susu (Indonesia) Tahun 1994-2004 (000 ton)

Tahun

Produksi Nasional

Impor

Ekspor

Konsumsi Nasional

1995

433.4

974.7

0.0

1 408.1

1996

441.2

739.4

0.0

1 180.6

1997

423.7

692.8

0.0

1 116.5

1998

375.4

588.0

66.0

897.4

1999

436.0

822.0

142.0

1 116.0

2000

495.7

1 479.8

575.5

1 400.0

2001

479.9

1 476.0

693.0

1 262.9

2002

493.4

1 382.6

609.6

1 266.4

2003

553.4

1 425.2

461.2

1 517.4

2004*

596.3

1 425.2

461.2

1 560.3

Sumber : Deptan, 2004
Keterangan : * Angka sementara 2004

Produksi susu nasional juga mengalami peningkatan meskipun beberapa

tahun tertentu mengalami penurunan yang tidak terlalu signifikan. Berdasarkan

Tabel 1 terlihat bahwa impor susu Indonesia masih terus meningkat. Dengan kata

lain, produksi susu dalam negeri masih belum dapat memenuhi konsumsi dalam

negeri itu sendiri sehingga masih terbuka peluang untuk mengembangkan usaha

pengolahan susu di Indonesia. Masyarakat Indonesia lebih memilih

mengkonsumsi susu olahan. Selain itu, berdasarkan hasil survei perusahaan riset

2

Kompas, 19 April 2004

18

pasar global Canadean pada tahun 20043)

, konsumsi susu cair penduduk Indonesia

baru mencapai 62 juta liter per tahun. Sementara Amerika Serikat (AS) mencapai

22 350 juta liter, India 42 001 juta liter, Cina 6 345 juta liter, Pakistan 28 671 juta

liter, Spanyol 4 577 juta liter. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi susu cair

masyarakat Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara lain.

Seiring dengan berkembangnya perusahaan pengolahan susu

menyebabkan persaingan dalam industri tersebut semakin meningkat. Keunggulan

kompetitif perusahaan akan menjadi penting untuk dapat bertahan dalam industri

tersebut. Salah satu strategi yang dapat diterapkan untuk mendapatkan keuntungan

dari pengembangan organisasi dalam globalisasi adalah pengembangan keragaan

manajemen produksi dan operasi organisasi. Manajemen produksi dan persediaan

sangat memainkan peranan penting dalam penciptaan keunggulan kompetitif dari

industri karena mempengaruhi formulasi dari strategi-strategi bisnis industri.

Pengendalian persediaan bahan baku merupakan bagian dari manajemen

produksi dalam rangka memenuhi jumlah persediaan bahan baku, waktu, dan

kualitas yang tepat. Bahan baku industri merupakan sumberdaya yang dapat

memberikan value added komoditas/produk bila dipergunakan secara efisien dan

efektif. Bahan baku membentuk bagian menyeluruh dari produk jadi sehingga

ketersediaan bahan baku sangat menunjang dalam menghasilkan produk jadi.

Kelebihan persediaan mengakibatkan adanya biaya ekstra dari sudut biaya

penyimpanan dan opportunity cost yang disebabkan nilai investasi pada

persediaan yang menganggur sebenarnya dapat dialokasikan untuk kepentingan

lain. Sebaliknya jika terjadi kekurangan persediaan dapat menghambat beberapa

3

Pikiran Rakyat, 30 April 2005

19

hal, diantaranya proses produksi, pemenuhan permintaan pelanggan, dan

peningkatan biaya pemesanan sejalan dengan meningkatnya frekuensi pembelian.

Dalam rangka menciptakan keunggulan kompetitif melalui manajemen

pengendalian persediaan, maka diperlukan suatu perencanaan yang tepat.

Perencanaan dan pengendalian untuk operasi menuntut penaksiran atas

permintaan akan produk atau jasa yang diharapkan akan disediakan organisasi di

masa mendatang (Buffa dan Sarin, 1996). Peramalan atau penaksiran bisnis

ekonomi akan sangat membantu manajer untuk pengambilan keputusan dalam

strategi bisnis. Kebutuhan akan peramalan meningkat sejalan dengan usaha

manajemen untuk mengurangi ketergantungan pada hal-hal yang belum pasti.

Peramalan menjadi lebih ilmiah sifatnya dalam menghadapi lingkungan

manajemen, karena setiap bagian organisasi berkaitan satu sama lain, baik

buruknya ramalan dapat mempengaruhi seluruh bagian organisasi (Makridakis et

al, 1999).

Salah satu manfaat yang diperoleh melalui peramalan adalah manajer

dapat memperkirakan kebutuhan bahan baku untuk memenuhi permintaan dan

menentukan jumlah produksi berdasarkan hasil ramalan. Peningkatan efisiensi

produksi akan dapat tercapai ketika ramalan yang akurat diperoleh sehingga

pengalokasian biaya yang sia-sia dapat diminimalisir bahkan dihilangkan.

1.2 Perumusan masalah

PT. Indolakto merupakan salah satu produsen susu UHT yang sedang

berkembang. Untuk menghadapi persaingan dalam industri susu UHT,

PT. Indolakto merasa perlu menciptakan keunggulan kompetitif. Salah satunya

melalui manajemen produksi dan persediaan yang optimal, yaitu melalui

20

perencanaan kebutuhan dan pengendalian persediaan bahan baku susu UHT. Hal

ini didasari dari beberapa permasalahan dalam manajemen produksi dan

persediaan yang dihadapi PT. Indolakto, diantaranya: perubahan permintaan

konsumen akan produk susu UHT, kapasitas gudang bahan baku yang tidak dapat

menampung seluruh bahan baku yang diterima, dan keterlambatan kedatangan

bahan baku dari pemasok.

Ketersediaan bahan baku sangat menunjang kelancaran produksi

perusahaan, terlebih ketersediaan untuk bahan baku utama. Skim Milk Powder

(SMP) dan gula merupakan bahan baku utama dalam memproduksi susu UHT.

Pada waktu-waktu tertentu perusahaan mengalami keterlambatan kedatangan

bahan baku yang menghambat jalannya operasi dan di lain waktu, perusahaan

mengalami kelebihan bahan baku dan produk jadi susu UHT yang disimpan di

gudang sehingga mengakibatkan tingginya biaya penyimpanan perusahaan dan

berakibat pada berkurangnya keuntungan yang diperoleh perusahaan. Oleh karena

itu, masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana sistem pengadaan

dan pengendalian persediaan bahan baku susu UHT yang dilakukan oleh PT.

Indolakto.

Pengadaan dan pengendalian persediaan bahan baku susu UHT yang baik

membutuhkan perencanaan yang tepat. Perencanaan kebutuhan bahan baku dapat

diturunkan dari perencanaan produksi produk jadi perusahaan. Adanya perubahan

permintaan konsumen yang cepat terhadap produk jadi susu UHT yang di

produksi oleh PT. Indolakto seringkali menuntut pihak perusahaan untuk

melakukan perubahan terhadap rencana produksinya (revisi rencana produksi).

Menghadapi kondisi perusahaan dengan perubahan-perubahan tersebut maka

21

dibutuhkan suatu metode peramalan yang akurat, yaitu metode peramalan yang

menghasilkan penyimpangan/selisih terkecil antara nilai ramalan dan nilai

aktualnya. Sehingga masalah berikutnya yang dikaji dalam penelitian ini adalah

adakah suatu rencana yang lebih tepat untuk mengatasi adanya perubahan-

perubahan permintaan konsumen terhadap produk susu UHT serta implikasi dari

hasil perencanaan tersebut dalam menentukan alternatif tingkat persediaan bahan

baku PT. Indolakto untuk periode selanjutnya.

Kebijakan perusahaan menyangkut perencanaan kebutuhan dan

pengendalian persediaan bahan baku sering kali dihadapkan pada dua kendala,

yaitu jika perusahaan menginvestasikan dana terlalu banyak dalam persediaan

bahan baku dengan tujuan memenuhi kepuasan konsumen, maka akan

menimbulkan biaya yang besar terutama biaya penyimpanan. Sebaliknya jika

perusahaan berupaya menekan persediaan dengan tujuan menurunkan biaya

produksi, maka akan menimbulkan risiko tidak tersedianya produk untuk

menjamin kelancaran produksi dan ketersediaan produk dalam memenuhi

kepuasan konsumen. Untuk itu, diperlukan sistem pengendalian persediaan yang

optimal dilihat dari biaya yang dikeluarkan karena adanya persediaan. Melalui

sistem pengendalian persediaan yang optimal tersebut diharapkan perusahaan

mampu meningkatkan efisiensi produksi dan meminimalkan biaya produksinya.

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk :

1. Menganalisis sistem pengadaan dan pengendalian bahan baku susu UHT yang

dilakukan perusahaan.

22

2. Mengetahui apakah ada suatu rencana yang lebih tepat untuk mengatasi

adanya perubahan-perubahan permintaan konsumen terhadap produk susu

UHT pada PT. Indolakto.

3. Mengetahui implikasi dari hasil perencanaan yang lebih tepat tersebut dalam

menentukan alternatif tingkat persediaan bahan baku PT. Indolakto untuk

periode selanjutnya.

4. Menganalisis sistem pengendalian persediaan bahan baku yang optimal dilihat

dari biaya persediaan.

1.4 Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi perusahaan, penulis

maupun pembaca. Bagi perusahaan, penelitian ini diharapkan dapat membantu

manajer dalam memberikan alternatif metode peramalan produksi yang akurat

dan model pengendalian persediaan bahan baku yang optimal sehingga dapat

meminimumkan biaya produksi perusahaan. Bagi penulis, penelitian ini berguna

untuk menambah pengalaman dan sarana dalam menerapkan ilmu yang diperoleh

di bangku kuliah. Selain itu diharapkan penelitian ini juga dapat bermanfaat bagi

pembaca sebagai sumber informasi mengenai peramalan produksi dan

pengendalian pesediaan bahan baku serta sebagai masukan bagi penelitian-

penelitian selanjutnya.

1.5 Batasan Penelitian

Secara umum, produk yang dihasilkan oleh PT. Indolakto adalah susu

kental manis (SKM) dan susu Ultra High Temperature (UHT). Penelitian ini

difokuskan pada produk susu UHT dengan formula recombined. Hal ini didasari

23

atas kecenderungan konsumsi masyarakat Indonesia yang meningkat terhadap

susu cair olahan, salah satunya adalah susu UHT. Kajian yang dibahas dalam

penelitian ini meliputi perencanaan kebutuhan dan pengendalian bahan baku

khususnya bahan baku skim milk powder (SMP) dan gula yang merupakan bahan

baku utama dalam memproduksi susu UHT dengan formula recombined.

24

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Persediaan

2.1.1 Pengertian dan Peran Persediaan

Persediaan didefinisikan sebagai aktiva yang meliputi barang jadi, barang

dalam proses dan bahan baku yang digunakan untuk tujuan tertentu seperti untuk

proses produksi atau perakitan, untuk dijual, dan untuk suku cadang dari suatu

peralatan atau mesin (Assauri, 1999; Herjanto, 1999; Rangkuti, 2004). Persediaan

merupakan salah satu unsur yang paling aktif dalam operasi perusahaan yang

secara kontinu diperoleh, diubah, yang kemudian dijual kembali (Assauri, 1999).

Dua alasan yang diutarakan Assauri (1999) mengenai perlunya persediaan

bagi suatu perusahaan pabrik yaitu (1) waktu yang dibutuhkan untuk

menyelesaikan operasi produksi dari suatu tingkat ke tingkat proses yang lain dan

(2) alasan organisasi perusahaan.

2.1.2 Bahan Baku

Pengertian dari bahan baku meliputi semua bahan yang dipergunakan

dalam perusahaan pabrik, kecuali terdapat bahan-bahan yang secara fisik akan

digabungkan dengan produk yang dihasilkan oleh perusahaan pabrik tersebut

(Assauri, 1999). Perusahaan yang memiliki penguasaan atas produksi bahan baku

sendiri dapat lebih menjamin ketersediaan bahan baku dibandingkan bila

pengadaan bahan baku tersebut dilakukan melalui pembelian. Namun bagi

perusahaan yang pengadaan bahan bakunya berasal dari pembelian, maka

kegiatan pembelian mempunyai peran yang sangat penting. Pembelian merupakan

kegiatan yang penting bagi perusahaan karena berkaitan dengan penjadwalan dan

pengendalian pemasok (Gaspersz, 2002).

25

2.1.3 Fungsi persediaan

Efisiensi operasional organisasi dapat ditingkatkan karena berbagai fungsi

penting persediaan. Menurut Handoko (2000) dan Rangkuti (2004) serta Heizer

and Render (2004), fungsi persediaan terdiri atas (1) fungsi decoupling, dimana

adanya kebebasan dalam operasi internal dan eksternal perusahaan; (2) fungsi

economic lot sizing, dimana mempertimbangkan penghematan atau potongan

pembelian; (3) fungsi antisipasi, diperlukan dalam menghadapi ketidakpastian

jangka waktu pengiriman dan permintaan barang-barang selama periode

pemesanan.

2.1.4 Jenis dan Tipe Persediaan

Persediaan dapat dikelompokkan berdasarkan jenis dan posisi barang

tersebut di dalam urutan pengerjaan produk, yaitu (1) persediaan bahan baku (Raw

materials stock), yaitu barang-barang berwujud yang digunakan dalam proses

produksi, (2) persediaan bagian produk atau parts yang dibeli (purchased

parts/komponents stock) yang terdiri dari parts yang diterima dari perusahaan

lain, (3) persediaan barang-barang pelengkap (supplies stock) atau bahan

penolong yang diperlukan dalam proses produksi, (4) persediaan barang setengah

jadi atau barang dalam proses (work in process/progress stock) yang keluar dari

tiap-tiap bagian dalam satu pabrik, dan (5) persediaan barang jadi (finished goods

stock) yang telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap untuk dijual

kepada pelanggan atau perusahaan lain (Assauri, 1999; Handoko 2000 dan

Rangkuti 2004).

26

2.1.5 Biaya Persediaan

Menurut Handoko (2000) dan Rangkuti (2004), ada beberapa hal yang

harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan

besarnya jumlah persediaan, biaya-biaya variabel yaitu (1) biaya penyimpanan

(holding cost/carrying cost) yang terdiri atas biaya-biaya yang bervariasi secara

langsung dengan kuantitas persediaan, (2) biaya pemesanan atau pembelian

(ordering costs/procurement cost) meliputi proses pesanan dan biaya ekspedisi,

upah, biaya telepon, pengeluaran surat-menyurat, biaya pengepakan dan

penimbangan, biaya pemeriksaan (inspeksi) penerimaan, biaya pengiriman ke

gudang, biaya utang lancar dan sebagainya, (3) biaya penyiapan (manufacturing)

atau set-up cost yang tediri dari biaya mesin-mesin menganggur, biaya persediaan

tenaga kerja langsung, biaya penjadwalan, biaya ekspedisi dan sebagainya, dan

(4) biaya kehabisan atau kekurangan bahan (shortage cost) yang timbul apabila

persediaan tidak mencukupi adanya permintaan bahan dan termasuk biaya

kekurangan bahan adalah kehilangan penjualan, kehilangan pelanggan, biaya

pemesanan khusus, biaya ekspedisi, selisih harga, terganggunya operasi,

tambahan pengeluaran kegiatan manajerial dan sebagainya

2.2 Model Pengendalian Persediaan

Pengendalian persediaan merupakan fungsi manajerial yang sangat penting

karena melibatkan sejumlah investasi yang besar. Tujuan pengendalian persediaan

yaitu meminimalkan investasi dalam sediaan, namun tetap konsisten dengan

penyediaan tingkat layanan yang diminta (Harding, 2001). Untuk mencapai tujuan

tersebut diperlukan model pengendalian persediaan yang tepat. Dalam model

pengendalian persediaan perlu diketahui mengenai sifat dari permintaan untuk

27

suatu barang. Permintaan tersebut dapat bersifat independent (bebas) atau

dependen (terikat). Menurut Indrajit dan Djokopranoto (2005), permintaan

independent atas persediaan adalah untuk jenis barang-barang akhir dan

permintaannya tidak tegantung (bebas) dari permintaan akan barang lainnya.

Sedangkan permintaan dependent atas persediaan adalah untuk jenis-jenis

persediaan komponen, bahan baku, dan barang dalam proses yang digunakan

dalam produksi untuk menghasilkan barang jadi. Permintaan untuk jenis barang

dengan permintaan terikat ini sangat tergantung dari permintaan jenis barang

dengan permintaan bebas.

Menurut Indrajit dan Djokopranoto (2005), model yang digunakan untuk

analisis pengendalian persediaan pada barang dengan sifat permintaan

independent adalah model perhitungan jumlah pemesanan kembali seperti sistem

pemesanan tetap, sistem produksi tumpukan (batch), sistem periodik tetap, dan

sistem minimum-maksimum. Sedangkan model pengendalian barang dengan sifat

permintaan dependent menggunakan Material Requirement Planning (MRP).

Beberapa model yang banyak digunakan dalam penentuan lot dalam MRP adalah

model Economic Order Quantity (EOQ), Lot For Lot, dan Part Periode

Balancing (PPB).

2.3 Perencanaan Kebutuhan Bahan (MRP)

Menurut Buffa (1996), Herjanto (1999), Rangkuti (2004), Indrajit dan

Djokopranoto (2005), MRP merupakan metode perencanaan dan pengendalian

pesanan dan persediaan untuk barang-barang dengan sifat permintaan dependent

(terikat) dimana permintaan cenderung tidak berlanjut ke permintaan barang lain

dan jumlahnya tertentu pada satuan waktu tertentu pula. Sasaran manajerial dalam

28

menggunakan MRP adalah menghindari kehabisan sediaan sehingga produksi

berjalan mulus, sesuai rencana, dan menekan investasi sediaan bahan baku dan

barang setengah jadi (Buffa, 1996). Jenis-jenis barang yang cocok untuk MRP

adalah komponen produk yang tercantum dalam daftar bahan produk (product’s

bill of materials) yang menunjukkan kebergantungan dari komponen-komponen

sub rakitan terhadap produk akhir (Buffa, 1996 dan Rangkuti, 2004).

MRP merupakan sistem penjadwalan mundur yang dimulai dengan produk

akhir, kemudian dikerjakan mundur yaitu menuju bahan baku melalui berbagai

tingkat pabrikan dan pabrikasi. MRP memiliki banyak kelebihan dibandingkan

dengan sistem ukuran pesanan tetap untuk pengendalian barang-barang produksi.

Kelebihan tersebut antara lain dapat mengurangi persediaan dan biaya

gabungannya (inventory holding cost) karena biaya itu hanya sebesar materi dan

komponen yang dibutuhkan (Rangkuti, 2004). Selain itu, kelebihan MRP dalam

menangani barang-barang dengan permintaan terikat (Heizer and Render, 2004)

adalah (1) meningkatkan pelayanan dan kepuasan pelanggan, (2) meningkatkan

kegunaan fasilitas dan tenaga kerja, (3) perencanaan dan penjadwalan persediaan

yang lebih baik, (4) respon lebih cepat terhadap perubahan pasar, dan (5)

mengurangi tingkat persediaan tanpa mengurangi pelayanan kepada pelanggan.

Lebih lanjut Heizer and Render (2004) menegaskan beberapa hal yang

harus diketahui manajer dalam merancang model persediaan terikat yang efektif

yaitu (1) jadwal produksi induk/master production schedule (MPS) yang

berkaitan dengan apa yang harus dibuat dan kapan, (2) spesifikasi daftar

bahan/bill of materials (BOM) yang berkaitan dengan kebutuhan produk,

(3) persediaan yang tersedia/inventory availibility, (4) perjanjian pesanan

29

pembelian/purchase orders outstanding, (5) waktu ancang-ancang (lead time),

yang dibutuhkan untuk memperoleh barang.

2.3.1 Economic Order Quantity (EOQ)

Model EOQ merupakan teknik pengendalian persediaan tertua dan paling

umum dikenal (Herjanto, 1999). Teknik ini sering digunakan dalam persediaan

barang-barang bebas dan dapat juga digunakan dalam teknik penentuan lot.

Menurut Heizer dan Render (2004), beberapa asumsi yang digunakan

dalam teknik EOQ antara lain (1) diketahuinya tingkat permintaan dan bersifat

konstan, (2) waktu tenggang (lead time) bersifat konstan, (3) persediaan diterima

dengan segera dalam bentuk kumpulan produk pada satu waktu, (4) diskon tidak

diberikan, (5) biaya variabel yang muncul hanya biaya pemasangan atau

pemesanan dan biaya penahanan atau penyimpanan persediaan, dan (6) keadaan

kehabisan stok (kekurangan) dapat dihindari sama sekali bila pemesanan

dilakukan pada waktu yang tepat.

Gambar 1. Biaya Persediaan
Sumber: Rangkuti, 2004

Metode EOQ digunakan untuk menentukan kuantitas pesanan persediaan

yang meminimumkan biaya langsung penyimpanan persediaan dan biaya

EOQ

Q (kuantitas)

Biaya Total

Biaya Penyimpanan

Biaya Pemesanan

Biaya
Total

30

kebalikannya (inverse cost) pemesanan persediaan (Handoko, 2000).

Meminimumkan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan, dapat berarti

meminimumkan biaya total. Gambar 1 menunjukkan hubungan antara biaya

penyimpanan (holding/carrying cost) dan biaya pemesanan (ordering atau set up

cost), dalam bentuk grafik.

Kuantitas pesanan tetap yang meminimumkan biaya tersebut terjadi pada

saat kurva biaya pemesanan dan kurva biaya penyimpanan berpotongan, yaitu

pada saat total biaya pemesanan sama dengan total biaya penyimpanan. Ukuran

lot dengan biaya minimum diperoleh pada saat turunan pertama dari biaya total

terhadap kuantitas (Q) tahunan sama dengan nol (Buffa, 1996; Herjanto, 1999;

Rangkuti, 2004).

2.3.2 Lot For Lot

Dalam teknik ini, ukuran satu batch yang dipilih untuk memenuhi

kebutuhan bersih satu periode tunggal. Kebijakan Lot For Lot hanya efektif,

bilamana biaya awal (penyetelan) sangat kecil dibandingkan dengan biaya

penyimpanan (Buffa, 1996). Pemesanan dilakukan tepat sebesar yang dibutuhkan,

tanpa persediaan pengaman dan tanpa antisipasi atas pesanan lebih lanjut.

Prosedur semacam ini konsisten dengan ukuran lot kecil, pesanan berkala,

persediaan tepat waktu rendah, dan permintaan terikat (Heizer dan Render, 2004).

Teknik Lot For Lot berusaha menghilangkan biaya penyimpanan atas

persediaan yang dipegang melewati suatu persediaan. Menurut Herjanto, 1999

biaya yang ditanamkan dalam persediaan barang terikat dapat ditekan dengan

teknik ini, apabila perusahaan mampu memiliki persediaan dengan kondisi dan

31

sifat yang sesuai. Teknik ini tidak dapat mengambil keuntungan ekonomis yang

berhubungan dengan ukuran pesanan tetap.

2.3.3 Part Periode Balancing (PPB)

Teknik penyeimbangan bagian periode merupakan pendekatan yang lebih

dinamis yaitu menyeimbangkan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan.

Menurut Herjanto (1999), metode PPB secara sederhana menambahkan kebutuhan

sampai nilai bagian periode mencapai Economic Part Period (EPP), yang

merupakan rasio antara biaya pemesanan dengan biaya penyimpanan.

Prinsip dari teknik ini adalah mencoba menggabungkan suatu periode

dengan periode berikutnya kemudian menghitung kumulatif bersih dari periode

gabungan tersebut serta kumulatif bagian periodenya. Kumulatif bagian periode

diperoleh dengan mengakumulasikan perkalian kebutuhan suatu periode dengan

periode tambahan yang ditanggung. Tabel 2. menunjukkan penentuan ukuran lot

dengan menggunakan EPP.

Bagian periode yang paling mendekati nilai EPP merupakan gabungan

periode yang dipilih (Herjanto, 1999). Besar pesanan adalah sebesar kebutuhan

bersih kumulatif yang dilakukan sebelum kebutuhan tersebut terjadi, dengan

harapan akan diterima tepat pada awal periode gabungan tersebut dan akan

digunakan selama periode gabungan.

Tabel 2. Penentuan Ukuran Lot dengan Menggunakan EPP

Periode Kebutuhan Lama Penyimpanan
(Periode)

Periode-
bagian

Akumulasi periode-bagian

1
1, 2
1, 2, 3

A
B
C

0
1
2

A x (0)
B x (1)
C x (2)

A x (0)
A x (0) + B x (1)
A x (0) + B x (1) + C x (2)

Sumber: Herjanto, 1999

32

2.4 Peramalan dan Perencanaan

Pengertian peramalan menurut Indrajit dan Djokopranoto (2005) adalah

kegiatan yang berhubungan dengan meramalkan atau memproyeksikan hal-hal

yang terjadi di masa lampau ke masa depan. Menurut Sugiarto (2000) peramalan

merupakan studi terhadap data historis untuk menemukan hubungan,

kecenderungan dan pola sistematis. Peramalan merupakan seni dan ilmu dalam

memprediksi kejadian yang mungkin dihadapi pada masa yang akan datang dan

menjadi dasar dalam penyusunan rencana (Assauri, 1999).

2.4.1 Peran Peramalan

Dalam dunia bisnis, hasil peramalan mampu memberikan gambaran

tentang masa depan perusahaan yang memungkinkan manajemen membuat

perencanaan, menciptakan peluang bisnis maupun mengatur pola investasi mereka

(Sugiarto et al, 2000). Salah satu peran peramalan adalah penyusunan rencana,

dimana perencanaan yang dibuat oleh perusahaan salah satunya adalah

perencanaan produksi. Menurut Assauri (1999), dalam menentukan atau

merencanakan jumlah hasil yang akan diproduksi umumnya sangat ditentukan

oleh jumlah atau besarnya permintaan akan produk tersebut. Oleh karena itu

setiap perusahaan selalu memperkirakan atau meramalkan jumlah permintaan dari

produknya. Berdasarkan jumlah permintaan yang diramalkan untuk operasi, maka

subsistem produksi operasi merencanakan dan merancang sistem, menjadwalkan

sistem dan mengendalikan sistem tersebut yang pada akhirnya akan menentukan

hasil keluaran berupa barang dan jasa (Gambar 2).

33

Gambar 2. Penggunaan Peramalan Permintaan dalam Subsistem Produksi Operasi
Sumber: Assauri, 1999

2.4.2 Metode – metode Peramalan

Secara umum terdapat dua macam metode peramalan menurut Gaynor dan

Kirkpatrick (1994), yaitu: (1) Peramalan kualitatif, didasarkan pada intuisi atau

pengalaman empiris dari perencana atau pengambil keputusan, sehingga relatif

bersifat subjektif. Kelemahan metode ini adalah dapat memberikan hasil yang

tidak baik ketika beberapa individu tertentu mendominasi proses peramalan

melalui reputasi, kekuatan pribadi, atau posisi strategis dalam organisasi.

Biasanya peramalan secara kualitatif didasarkan atas hasil penyelidikan seperti:

Delphi, S Curve, Analogies dan penelitian bentuk Morphological research, atau

didasarkan atas ciri-ciri normatif seperti decision matrices atau decisions trees.

(2) Peramalan kuantitatif, didasarkan atas data kuantitatif pada masa lalu,

sehingga lebih bersifat objektif. Kualitas hasil ramalan sangat bergantung pada

kualitas data dan metode yang digunakan, yaitu sangat ditentukan oleh perbedaan

atau penyimpangan antara hasil ramalan dengan kenyataan yang terjadi. Metode

Informasi tentang permintaan
yang ada dan produksi

Peramalan Permintaan
untuk Operasi

Keluaran Berupa
Barang atau jasa

Perencanaan/Perancangan
Sistem

Perancangan produk
Perancangan proses
Investasi & penggantian
peralatan
Perencanaan kapasitas

Penjadwalan Sistem

Perencanaan produksi agregat
Penjadwalan operasi

Pengendalian Sistem

Pengendalian produksi
Pengendalian persediaan
Pengendalian tenaga kerja
Pengendalian biaya

34

yang baik adalah metode yang memberikan nilai-nilai perbedaan atau

penyimpangan serendah mungkin.

Menurut Makridakis et al (1999), syarat-syarat kondisi penerapan

peramalan kuantitatif yaitu (1) tersedia informasi masa lalu, (2) informasi tersebut

dapat dikuantitatifkan dalam bentuk data numerik, dan (3) pola data masa lalu

akan berkelanjutan pada masa yang akan datang.

2.4.3 Identifikasi Pola Data

Menurut Assauri (1999), prakiraan atau peramalan permintaan suatu

barang atau jasa membutuhkan informasi tentang pola permintaan terhadap barang

atau jasa tersebut. Pola permintaan terhadap suatu barang atau jasa dapat

berbentuk garis trend linear sesuai dengan perkembangan waktu, dan dapat

berbentuk musiman atau tetap selalu konstan (Gambar 3). Untuk melihat pola

permintaan terhadap barang atau jasa tersebut, maka dibutuhkan informasi tentang

permintaan akan barang atau jasa tersebut selama ini.

Gambar 3. Pola Permintaan terhadap suatu barang atau jasa
Sumber: Assauri (1999)

Identifikasi pola data dilakukan untuk memahami perilaku data time series

dan membantu dalam penentuan metode peramalan yang terbaik. Menurut

Makridakis (1999), pola data kuantitas memiliki empat unsur, yaitu (1) pola

horizontal/konstan, terjadi bila nilai data berfluktuasi disekitar nilai rata-rata yang

konstan; (2) pola musiman, terjadi bila suatu deret dipengaruhi oleh faktor

Permintaan
Produk

Waktu

Konstan

Musiman

Trend Linear

35

musiman (kuartal tahun tertentu, bulanan, atau hari-hari pada minggu tertentu);

(3) pola siklis, terjadi bila data dipengaruhi oleh fluktuasi ekonomi jangka panjang

seperti yang berhubungan dengan siklus bisnis; dan (4) pola trend, terjadi

bilamana terdapat kenaikan atau penurunan sekuler jangka panjang dalam data.

2.4.4 Metode Kausal

Menurut Makridakis (1999), metode ini mencoba mengajukan variabel

lain yang berkaitan dengan rangkaian data dan mengembangkan suatu model yang

menyatakan adanya saling ketergantungan fungsional diantara semua variabel

terebut. Metode peramalan kausal/sebab-akibat juga didasarkan dari data yang

lalu, tetapi menggunakan data dari variabel yang lain yang menentukan atau

mempengaruhi pada masa depan (Assauri, 1984).

Metode kausal yang dapat digunakan dapat berupa :(1) Metode regresi,

yaitu mencoba memperkirakan keadaan di masa yang akan datang dengan

menemukan dan mengukur beberapa faktor bebas (independen) yang penting

beserta pengaruh mereka terhadap variabel tidak bebas (dependen) yang akan

diramalkan (Makridakis et al, 1999). Metode ini banyak digunakan untuk

meramalkan penjualan, perencanaan keuntungan, peramalan permintaan dan

peramalan keadaan ekonomi. (2) Metode ekonometri, yaitu menggabungkan teori

ekonomi dengan alat-alat matematis dan statistik untuk menganalisis hubungan

ekonomi (Pappas & Hirschey, 1995). Menurut Assauri (1999) metode ekonometri

didasarkan atas peramalan pada sistem persamaan regresi yang diestimasi secara

simultan. Metode ini memiliki variabel eksogen dan variabel endogen. Metode ini

juga dipergunakan untuk peramalan penjualan menurut kelas produk, atau

peramalan keadaan ekonomi masyarakat, seperti permintaan, harga dan

36

penawaran. (3) Metode Input – Output, yaitu menganalisis arus barang dan jasa

antar industri dalam perekonomian atau antar departemen dari suatu organisasi

besar yang ditunjukkan oleh tabel input-output. Menurut Assauri (1984) metode

ini dipergunakan untuk menyusun proyeksi trend ekonomi jangka panjang.

Metode ini banyak dipergunakan untuk peramalan penjualan perusahaan,

penjualan sektor industri dan subsektor industri.

2.4.5 Metode Time Series

Metode peramalan time series merupakan bagian dari peramalan

kuantitatif dengan menggunakan data-data masa lalu dalam membuat ramalan

untuk masa depan dengan mengidentifikasikan pola data historis dan

mengekstrapolasi pola tersebut untuk masa mendatang (Buffa et al, 1996).

Menurut Sugiarto et al (2000), beberapa asumsi penting yang mendasari

penggunaan metode time series antara lain (1) adanya ketergantungan kejadian

masa yang akan datang dengan masa sebelumnya, (2) aktivitas di masa yang akan

datang mengikuti pola yang terjadi di masa lalu, (3) hubungan atau keterkaitan

masa lalu dan masa kini dapat ditentukan dengan observasi atau penelitian.

Beberapa metode time series adalah metode naïve, metode rata-rata

sederhana/simple average, metode rata-rata bergerak sederhana/simple moving

average, metode rata-rata bergerak ganda/double moving average, metode

pemulusan eksponensial/exponential smoothing, pemulusan eksponensial

tunggal/single exponential smoothing, pemulusan eksponensial tunggal:

pendekatan adaptif, double exponential smoothing: metode linear satu-parameter

dari Brown, pemulusan eksponensial ganda: metode dua parameter dari Holt,

pemulusan eksponensial tripel: metode kuadratik satu-parameter dari Brown,

37

triple Exponential Smoothing (Winters), metode dekomposisi, model

Autoregresisve Integrated Moving Average (ARIMA).

2.4.6 Pemilihan Metode Peramalan

Penggunaan peramalan dalam pengambilan keputusan merupakan hal

yang sangat penting sehingga pemilihan teknik dan metode peramalan yang tepat

sangat diperlukan untuk pemecahan suatu masalah atau keadaan tertentu. Ada

enam faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan metode peramalan

(Assauri, 1984), yaitu : (1) Horison waktu, (2) Pola data, (3) Jenis dari model,

(4) Biaya, (5) Ketepatan (accuracy), (6) Mudah tidaknya penggunaan atau

aplikasinya.

Ukuran-ukuran akurasi model peramalan dapat dikelompokkan menjadi

dua bagian besar (Aritonang, 2002), yaitu: ukuran yang bersifat mutlak, terdiri

atas mean error (ME), mean absolute error (MAE), mean squared error (MSE)

dan ukuran yang bersifat relatif terdiri dari mean percentage error (MPE), mean

absolute percentage error (MAPE), U dari Theil dan McLaughlin Batting

Average (MBA). Dari semua ukuran tersebut ukuran yang lebih lazim digunakan

adalah MSE, dengan pedoman bahwa semakin kecil nilai MSE berarti model itu

semakin tepat untuk digunakan.

2.5 Hasil penelitian yang relevan

Hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian

Widyastuti (2001) dengan judul Sistem Pengendalian Persediaan Bahan Baku

Susu Kental Manis, studi kasus PT. Indolakto, Sukabumi. Penelitian tersebut

menggunakan analisis EOQ, persediaan pengaman (safety stock), dan titik

38

pemesanan kembali (reorder point). Bahan baku yang menjadi fokus dalam

penelitian tersebut adalah susu segar, gula, skimmed milk powder (SMP). Hasil

penelitian ini menyatakan bahwa kebijakan perusahaan terhadap pengendalian

persediaan belum optimal dan perusahaan perlu mengurangi persediaan pengaman

untuk ketiga bahan baku tersebut.

Astuti (2002), menganalisis pengendalian persediaan bahan baku susu

bubuk, studi kasus: PT. Mirota KSM Inc., Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman,

Daerah Istimewa Yogyakarta menggunakan metode EOQ dan model persediaan

probabilistik (persediaan pengaman dan titik pemesanan kembali). Bahan baku

yang menjadi fokus penelitian adalah Full Cream Milk Powder (FCMP) dan

Skimmed Milk Powder (SMP) yang masing-masing didatangkan dari Australia

dan New Zealand. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan metode EOQ

jumlah pemesanan bahan baku memiliki kuantitas yang lebih kecil dengan

frekuensi pemesanan optimal yang lebih sering dibanding jumlah dan frekuensi

pemesanan bahan baku yang dilakukan perusahaan. Jika perusahaan mengadakan

persediaan pengaman (dengan perhitungan metode EOQ) maka persediaan

pengaman yang optimal bagi perusahaan adalah 41 255.4 kg untuk FCMP dan

19 834 kg untuk SMP asal New Zealand. Sedangkan FCMP dan SPM asal

Australia masing-masing 38 270 Kg dan 21 261 Kg. Pemesanan kembali kepada

pemasok di New Zealand dilakukan pada saat FCMP dan SMP asal New Zealand

di gudang masing-masing berjumlah 169 304.8 Kg dan 90 972.5 Kg. Sedangkan

pemesanan kembali kepada pemasok di Australia terjadi saat FCMP dan SMP asal

Australia di gudang masing-masing berjumlah 220 804.4 Kg dan 122 669 Kg.

39

Rajagukguk (2004), menganalisis pengadaan dan pengendalian persediaan

bahan baku susu olahan (studi kasus di PT. Indomilk). Penelitian tersebut

bertujuan mengetahui pengadaan dan pengendalian persediaan bahan baku susu

olahan yang dilakukan di PT. Indomilk, kemudian menganalisis besarnya biaya

yang dikeluarkan dalam rangka pengadaan dan pengendalian persediaan bahan

baku dengan metode MRP teknik EOQ dan Part Period Balancing (PPB) serta

membandingkan model aternalif pengendalian persediaan bahan baku yang efektif

dan efisien pada perusahaan. Teknik Lot For Lot yang prinsipnya tidak

memerlukan adanya persediaan di gudang tiap periodenya tidak digunakan dalam

penelitian tersebut karena kebijakan PT. Indomilk menginginkan adanya

persediaan pengaman dalam pelaksanaan proses produksinya. Hasil penelitian

tersebut menunjukkan bahwa metode MRP memberikan penghematan yang cukup

besar terutama dengan teknik EOQ jika dibandingkan dengan metode yang

digunakan perusahaan selama ini.

Sary (2004), menganalisis mengenai peramalan produksi dan pengendalian

persediaan bahan baku kelapa pada PT. Riau Sakti United Plantations. Penelitian

tersebut memperkirakan kebutuhan bahan baku kelapa yang diturunkan dari hasil

peramalan produksi perusahaan tahun 2004 dengan metode ARIMA sehingga

perusahaan dapat menentukan persediaan bahan baku yang optimal. Metode

pengendalian persediaan yang digunakan adalah metode Material Requirement

Planning (MRP) dengan teknik EOQ, Lot For Lot, dan PPB. Teknik pengendalian

persediaan kelapa yang dilakukan perusahaan selama ini adalah menggunakan

teknik Lot For Lot. Total biaya persediaan terendah diperoleh dengan metode PPB

yaitu sebesar 1.2 miliyar rupiah. Dengan menggunakan metode PBB, perusahaan

40

dapat menghemat biaya persediaan sebesar 6.8 persen yaitu dari 1.271 miliyar

rupiah menjadi 1.18 miliyar rupiah.

Widowati (2004) dengan penelitiannya yang berjudul “Perencanaan

Kebutuhan dan Pengendalian Persediaan Benang Sebagai Bahan Baku Produk

Tekstil Pada PT. Asaputex Nusantara, Tegal, Jawa Tengah” menganalisis sistem

pengadaan dan pengendalian persediaan bahan baku perusahaan dalam rangka

memberikan model alternatif pengendalian persediaan bahan baku yang dapat

meminimumkan biaya persediaan dan pembelian bahan baku perusahaan dengan

analisis MRP teknik Lot For Lot, EOQ, dan PPB. Selain itu, penelitian tersebut

juga melakukan perencanaan produksi, perencanaan kebutuhan bahan baku dan

pengendalian persediaan bahan baku pada periode selanjutnya berdasarkan

peramalan penjualan dengan metode trend. Hasil penelitian tersebut menyebutkan

bahwa metode LFL dan PPB merupakan metode yang dapat direkomendasikan

sebagai alternatif alat pengendalian persediaan benang perusahaan untuk periode

operasi tahun 2004 karena memberikan penghematan terbesar yaitu 77.67 persen

terhadap biaya persediaan perusahaan dan 6.77 persen terhadap biaya pembelian.

Namun dalam pelaksanaannya, metode PPB lebih sesuai untuk diterapkan karena

lebih dinamis dalam menyeimbangkan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan

benang perusahaan. Selain itu, metode PPB lebih fleksibel dalam penggabungan

kebutuhan bersih benang selama periode tertentu jika terjadi perubahan biaya

persediaan yang diakibatkan oleh peningkatan biaya pemesanan benang.

Berdasarkan hasil-hasil penelitian terdahulu mengenai perencanaan

kebutuhan dan pengendalian persediaan bahan baku, dapat disimpulkan bahwa

umumnya model analisis untuk persediaan bahan baku adalah model MRP. Model

41

MRP teknik LFL cocok digunakan pada perusahaan yang melakukan pemesanan

hanya sejumlah kebutuhan bersihnya atau tanpa sediaan pengaman. Model MRP

teknik PPB lebih fleksibel dalam menggabungkan kebutuhan bersih selama

periode tertentu dan lebih dinamis dalam menyeimbangkan biaya pemesanan dan

biaya penyimpanan.

2.6 Keunggulan Penelitian

Keunggulan penelitian ini, yaitu mengkaji sistem pengendalian persediaan

PT. Indolakto untuk periode tahun 2005 yang menjadi dasar dalam melakukan

perencanaan kebutuhan bahan baku dan pengendalian persediaan bahan baku

tersebut pada periode tahun 2006. Penelitian ini tidak hanya menganalisis

kebijakan pengendalian persediaan perusahaan juga melakukan perencanaan

terhadap kebutuhan bahan baku utama susu UHT dan menganalisis kembali

pengendalian persediaan bahan baku tersebut.

2.7 Kerangka Pemikiran Penelitian

Bahan baku merupakan unsur yang penting dalam proses produksi

perusahaan. Untuk menghasilkan produk susu UHT dibutuhkan beberapa bahan

baku utama diantaranya Skim Milk Powder (SMP) dan gula. Ketersediaan bahan

baku tersebut sangat menunjang dalam perencanaan produksi perusahaan.

Rencana produksi yang dibuat oleh perusahaan dihasilkan dari estimasi

permintaan konsumen akan susu UHT. Estimasi yang tidak tepat akan

menyebabkan perusahaan beroperasi secara tidak efisien. Oleh karena itu

dibutuhkan suatu estimasi yang menghasilkan penyimpangan terkecil.

42

Berdasarkan rencana produksi tersebut, perusahaan merencanakan kebutuhan

bahan baku SMP dan gula.

Dalam merencanakan kebutuhan bahan baku perusahaan sangat diperlukan

suatu sistem pengendalian persediaan bahan baku yang tepat agar aktivitas

produksi perusahaan berjalan dengan efisien. Sitem pengendalian persediaan

bahan baku tersebut dapat dianalisis dengan beberapa model-model system

pengendalian persediaan, diantaranya model EOQ dan MRP teknik PPB.

Berdasarkan model-model tersebut diharapkan dapat dihasilkan suatu model

alternative yang menghasilkan system pengendalian persediaan yang optimal.

Gambar 4. Kerangka Pemikiran Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan alternatif sistem pengendalian

persediaan bahan baku susu UHT khususnya bahan baku SMP dan gula yang

optimal dilihat dari biaya yang dikeluarkan akibat adanya persediaan. Oleh karena

itu langkah awal yang dilakukan dalam penelitian ini adalah mengidentifikasi

kebijakan perusahaan dalam perencanaan dan pengendalian persediaan bahan

Bahan Baku
Susu UHT

SMP

GULA

INPUT

PROSES

Rencana
Produksi UHT

Estimasi
Permintaan
Konsumen

Rencana
Kebutuhan
Bahan Baku

Model Sistem
Pengendalian
Persediaan

EOQ

PPB

Sistem Model
Pengendalian
Persediaan
Optimal

OUTPUT

43

baku. Kegiatan yang termasuk di dalamnya adalah mengidentifikasi fasilitas

penyimpanan dan penanganan bahan baku, jenis dan asal bahan baku, biaya-biaya

persediaan, prosedur perolehan bahan baku, serta pengendalian kualitas bahan

baku.

Kebijakan perusahaan dalam perencanaan dan pengendalian persediaan

bahan baku susu UHT tidak terlepas dari perhitungan-perhitungan kuantitas dan

biaya. Perhitungan mengenai penentuan kuantitas pesanan dan frekuensi

pemesanan bahan baku yang optimal melibatkan berbagai jenis biaya yang

terkandung dalam persediaan. Oleh karena itu, perlu diidentifikasi juga mengenai

komponen-komponen biaya persediaan yang terjadi. Biaya persediaan dalam

penelitian diasumsikan meliputi biaya pemesanan bahan baku dan biaya

penyimpanan bahan baku.

Langkah selanjutnya, kebijakan perusahaan dalam pengendalian bahan

baku selama tahun 2005 dianalisis dan dibandingkan dengan metode MRP sebagai

alternatif dalam pengendalian persediaan bahan baku khususnya SMP dan gula

yang ditujukan untuk produksi susu UHT. Metode MRP yang digunakan sebagai

perbandingan dengan metode yang digunakan perusahaan adalah metode MRP

teknik EOQ dan PPB. Komponen yang dibandingkan dalam analisis model

pengendalian persediaan bahan baku tersebut meliputi: frekuensi pemesanan,

biaya pemesanan, biaya penyimpanan dan total biaya persediaan. Hasil analisis ini

dapat digunakan untuk mengetahui tingkat persediaan dan kebijakan pengendalian

bahan baku yang optimal sehingga perusahaan dapat merumuskan suatu alternatif

strategi dalam pengendalian persediaan bahan baku yang digunakannya. Metode

terbaik dari beberapa metode yang dianalisis tersebut akan direkomendasikan

44

sebagai metode alternatif dalam pengendalian persediaan bahan baku dan akan

digunakan sebagai metode pengendalian persediaan bahan baku SMP dan gula

untuk periode tahun 2006 berdasarkan rencana produksi yang diramalkan.

Setelah itu dilakukan perencanaan bahan baku susu UHT yaitu SMP dan

gula yang didasarkan dari hasil peramalan produksi produk jadi susu UHT untuk

tahun 2006. Data produksi susu UHT selama beberapa tahun ke belakang (tahun

2000 – 2005) akan dianalisis dan diestimasi dengan metode peramalan time series.

Data-data produksi perusahaan selama beberapa tahun ke belakang (tahun 2000-

2005) tersebut perlu diidentifikasi terlebih dahulu pola datanya. Pola data yang

terjadi dapat berupa pola horizontal, trend, musiman, dan siklis. Pola horizontal

terjadi bilamana nilai data berfluktuasi di sekitar nilai rata-rata yang konstan. Pola

trend terjadi bilamana terdapat kenaikan atau penurunan sekuler jangka panjang

dalam data. Pola musiman terjadi bilamana suatu deret dipengaruhi oleh faktor

musiman (misalnya kuartal tahun tertentu, bulanan, atau hari-hari pada minggu

tertentu). Pola siklis terjadi bilamana datanya dipengaruhi oleh fluktuasi ekonomi

jangka panjang seperti yang berhubungan dengan siklus bisnis.

Setelah mengetahui pola data produksi tersebut, selanjutnya adalah

menentukan model peramalan dengan metode peramalan time series terbaik.

Metode yang memberikan hasil ramalan mendekati kenyataan yang terjadi atau

menghasilkan penyimpangan antara hasil peramalan dengan nilai kenyataan yang

sekecil mungkin merupakan metode peramalan terbaik. Metode time series yang

digunakan untuk mengestimasi jumlah produksi susu UHT selama satu periode ke

depan (tahun 2006) adalah metode dekomposisi aditif.

45

Dengan mengetahui jumlah produksi susu UHT dari hasil ramalan

dekomposisi aditif, selanjutnya akan diestimasi jumlah bahan baku berupa SMP

dan gula yang dibutuhkan selama satu periode ke depan (tahun 2006). SMP dan

gula merupakan bahan baku yang memiliki sifat permintaan dependen (terikat)

terhadap permintaan produk jadinya, yaitu susu UHT. Hal tersebut merupakan

tahapan dalam perencanaan kebutuhan bahan baku. Metode perencanaan

kebutuhan bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

Material Requirement Planning (MRP). Teknik penentuan lot dalam rangka

pengendalian persediaan bahan baku menggunakan teknik lot sizing terbaik dari

beberapa teknik yang ada.

Berdasarkan analisis perbandingan model pengendalian persediaan bahan

baku SMP dan gula pada tahun 2005 akan dihasilkan model alternatif untuk

pengendalian persediaan bahan baku SMP dan gula. Model alternatif tersebut

kemudian akan digunakan kembali untuk menganalisis tingkat persediaan bahan

baku SMP dan gula di tahun 2006 berdasarkan perencanaan kebutuhan yang telah

diramalkan sebelumnya.

Setelah menganalisis pengendalian persediaan bahan baku SMP dan gula

di tahun 2006 dengan model alternatif, kemudian akan dibandingkan kembali

dengan metode pengendalian persediaan bahan baku yang dilakukan perusahaan.

Perbandingan tersebut dimaksudkan untuk mengetahui apakah model alternatif

yang digunakan dalam pengendalian persediaan bahan baku khususnya SMP dan

gula pada tahun 2006 masih memberikan tingkat persediaan bahan baku yang

optimal dari segi biaya persediaan bahan bakunya. Kerangka operasional

penelitian dapat dilihat pada Gambar 5.

46

= alat analisis

Keterangan:

Gambar 5. Bagan Kerangka Operasional Penelitian

Model Pengendalian Persediaan Bahan Baku
yang Optimal

Identifikasi Kondisi Perusahaan dalam Sistem
Pengadaan dan Penanganan Bahan Baku

Jenis dan
Asal
Bahan
Baku

Biaya-biaya
Persediaan
Bahan Baku

Prosedur
Perolehan
Bahan
Baku

Penyimpanan
dan
Penggunaan
Bahan Baku

Pengendalian
Kualitas
Bahan Baku

Analisis Pengendalian Persediaan
Bahan Baku Tahun 2005

Kebijakan
Perusahaan

MRP Teknik
EOQ

MRP Teknik
PPB

Perencanaan Penggunaan Bahan Baku
Perusahaan Tahun 2006 melalui Peramalan
Produksi dengan Metode Terbaik

Analisis Pengendalian Persediaan
Bahan Baku Tahun 2006

Analisis Perbandingan
Model Pengendalian Persediaan

Rekomendasi Model Alternatif Pengendalian
Persediaan Bahan Baku

47

III. METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di PT. Indolakto yang berlokasi di Jalan Raya

Siliwangi, Cicurug, Sukabumi. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja

(purposive) dengan mempertimbangkan bahwa perusahaan ini merupakan

perusahaan agroindustri yang berpengalaman dalam memproduksi susu UHT.

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-Mei 2006.

3.2 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data kualitatif

dan kuantitatif yang terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer

diperoleh secara langsung dari PT. Indolakto yang terdiri atas: gambaran umum

perusahaan, data produksi dan penjualan produk susu UHT perusahaan, kebijakan

pengadaan dan penanganan bahan baku di perusahaan yang mencakup jenis bahan

baku yang digunakan, jumlah kebutuhan bahan baku, waktu tunggu (lead time)

pembelian bahan baku, pemasok, sistem pemesanan dan penyimpanannya.

Data primer dikumpulkan melalui hasil pengamatan, pencatatan langsung

di lapang dan wawancara dengan pihak perusahaan. Wawancara langsung

dilakukan kepada karyawan, manajer, dan kepala divisi yang berkaitan. Pemilihan

responden ini dilakukan dengan sengaja (porposive) dengan pertimbangan bahwa

responden mengetahui dan dapat memberikan informasi mengenai kondisi

perusahaan dengan baik, khususnya mengenai kebijakan pengendalian persediaan

bahan baku dan pelaksanaan pengendalian persediaan bahan baku di perusahaan.

Sedangkan data sekunder diperoleh dari (bahan pustaka) buku, hasil laporan

48

penelitian terkait, catatan-catatan yang dimiliki perusahaan, literatur perusahaan

dan instansi terkait serta literatur lainnya, yaitu: artikel-artikel dalam majalah,

surat kabar dan internet.

3.3 Model Analisis Data

Hasil perolehan data kuantitatif diolah dengan menggunakan program

Microsoft Excel dan Minitab 14. Software Minitab adalah salah satu program

yang dapat digunakan untuk peramalan. Output data kuantitatif disajikan dalam

bentuk tabel, grafik, dan diuraikan secara narasi. Sedangkan untuk data kualitatif

disajikan dalam bentuk deskriptif dengan gambar dan tabel agar mudah dipahami.

3.3.1 Identifikasi Sistem Pengadaan dan Pengendalian Persediaan Bahan
Baku Perusahaan

Identifikasi awal ini meliputi identifikasi proses produksi susu UHT dan

kebijakan-kebijakan dalam proses produksi. Selain itu, identifikasi terhadap

manajemen persediaan bahan baku juga dilakukan. Identifikasi tersebut meliputi

identifikasi terhadap fasilitas penyimpanan dan penanganan bahan baku, jenis dan

asal bahan baku, biaya-biaya persediaan, prosedur perolehan bahan baku,

prosedur penyimpanan, pengendalian kualitas bahan baku, frekuensi pemesanan,

tingkat persediaan bahan baku, lead time, serta kebijakan-kebijakan dalam

pengendalian persediaan bahan baku.

3.3.2 Analisis Kuantitatif Pengendalian Persediaan Bahan Baku

Tujuan dari analisis kuantitatif ini adalah untuk menentukan waktu pesan

yang tepat dan kuantitas pesanan yang optimal. Dengan demikian diharapkan

49

tingkat persediaan di tangan menjadi lebih optimal dan biaya persediaan bahan

baku dapat ditekan.

Bahan baku yang diteliti adalah SMP dan gula sebagai bahan baku

pembuatan susu UHT. Sifat permintaan dari bahan baku ini termasuk ke dalam

permintaan terikat (dependen) yang dipengaruhi oleh permintaan produk jadi susu

UHT. Oleh karena itu, model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model

persediaan bahan baku yang termasuk ke dalam rencana kebutuhan

bahan/Material Requirement Planning (MRP). Penggunaan sistem MRP biasanya

menggunakan format seperti pada Tabel 3. Teknik yang digunakan untuk

menentukan ukuran lot pada sistem MRP diantaranya adalah teknik EOQ, Lot For

Lot, dan PPB.

Tabel 3. Format Rencana MRP

Uraian

Periode
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Kebutuhan kotor (kg)
Sediaan di tangan (kg)
Penerimaan terjadwal (kg)
Kebutuhan bersih (kg)
Pesanan yang direncanakan (kg)
Sumber : Buffa, S. Elwood, 1996

Berikut ini beberapa teknik yang digunakan dalam penentuan lot (lot

sizing technique), yaitu:

a. Teknik Kuantitas Pesanan Ekonomis (EOQ technique)

Jumlah atau besarnya pesanan yang diadakan menghasilkan biaya-biaya

yang timbul dalam penyediaan adalah minimal. Besar pesanan yang dilakukan

sebesar EOQ atau kelipatan dari EOQ yang lebih besar dan terdekat dengan

kebutuhan bersih. Pendekatan yang dapat digunakan untuk menentukan EOQ,

yaitu dengan menggunakan tabel (tabular approach), dengan menggunakan grafik

50

(graphical approach) dan dengan menggunakan rumus (formula approach).

Penentuan kuantitas pesanan yang optimal dengan menggunakan model EOQ

adalah sebagai berikut:

Total biaya per tahun (TC) = Biaya Penyimpanan + Biaya Pemesanan

TC = +

Dimana:

TC = Total biaya tahunan

H = Biaya penyimpanan (carrying cost) per unit per tahun

S

= Biaya pemesanan (ordering cost)

Ukuran lot dengan biaya minimum diperoleh pada saat turunan pertama

dari biaya total terhadap kuantitas (Q) tahunan sama dengan 0.

TC min :

Sehingga rumus dasar dari EOQ adalah: EOQ =

dimana,

S

= Biaya pemesanan per pesanan (Rp)

D

= Permintaan bahan baku per periode (Rp)

H

= Biaya penyimpanan per unit per periode (Rp)

H

SD

2

2

HQ

Q

SD

0

=

dQ

dTC

2

2Q

SD

H

dQ

dTC

=

2

2Q

SD

H

=

2

2

0

Q

SD

H

=

H

SD

Q

2

2

=

51

Pesanan direncanakan akan diterima pada saat dan jumlah yang

mencukupi dan mendekati kebutuhan bersih sesuai dengan kelipatan EOQ

yang telah dihitung sebelumnya.

b. Teknik Lot For Lot

Langkah awal pada teknik ini adalah menentukan kebutuhan kotor.

Apabila pada awal periode pengamatan terdapat persediaan yang cukup besar,

maka perusahaan akan menghabiskan persediaan awal tersebut terlebih dahulu

sehingga tidak perlu dilakukan pemesanan bahan baku sampai diperkirakan

persediaan awal tersebut hanya cukup memenuhi kebutuhan bahan baku

perusahaan selama waktu tunggu dan tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan

bahan baku perusahaan selanjutnya. Pada metode ini diasumsikan perusahaan

tidak menetapkan persediaan pengaman.

Pada saat persediaan suatu periode tidak lagi dapat memenuhi

kebutuhan kotor, maka dilakukan perencanaan penerimaan pesanaan tepat

sebesar kebutuhan bersih. Proyeksi persediaan di tangan untuk periode-

periode dimana sudah terdapat rencana penerimaan pesanan pada periode

sebelumnya dapat ditekan sebesar nol. Besar dan waktu pemakaian bahan

baku secara akurat yang didasarkan pada jadwal produksi master dan waktu

tunggu bahan baku perlu diketahui dalam menjalankan teknik ini.

c. Teknik Penyeimbangan Bagian Periode (Part Period Balancing/PBB)

Dalam teknik ini, besarnya pesanan dilakukan sebesar kebutuhan

bersih pada suatu periode yang dapat digabungkan. Penggabungan periode

dilakukan untuk gabungan periode berurutan yang memiliki nilai kumulatif

52

bagian periode mendekati nilai Economic Part Period (EPP). Rumus untuk

menghitung EPP adalah:

EPP =

Dimana,

S

= Biaya pemesanan per pesanan (Rp)

H

= Biaya penyimpanan per unit per periode (Rp)

Selanjutnya dihitung kumulatif bersih dari periode gabungan tersebut

serta kumulatif bagian periodenya. Kumulatif bagian periode diperoleh dengan

mengakumulatifkan perkalian kebutuhan suatu periode dengan periode

tambahan yang ditanggung.

3.3.3 Analisis Perbandingan Biaya dan Penghematan

Analisis perbandingan biaya diukur berdasarkan hasil analisis biaya

persediaan untuk setiap model yang digunakan. Variabel yang dibandingkan dari

masing-masing model terdiri atas: frekuensi pesanan, banyaknya pesanan, biaya

pemesanan, biaya penyimpanan dan biaya persediaan total sera biaya pembelian.

Analisis penghematan yang dilakukan adalah analisis penghematan biaya

pemesanan, biaya penyimpanan, biaya persediaan total dan biaya pembelian.

3.3.4 Rekomendasi Model Alternatif Pengendalian Persediaan Berdasarkan
Data Historis

Berdasarkan analisis perbandingan biaya dan penghematan akan dipilih

suatu model alternatif yang memberikan tingkat biaya persediaan yang paling

rendah dan tepat bagi perusahaan. Model alternatif ini tentunya harus disesuaikan

dengan kondisi perusahaan dan kebijakan-kebijakan yang ada dalam perusahaan

mengenai pengendalian persediaan bahan baku.

H

S

53

3.3.5 Peramalan Produksi

Metode peramalan yang digunakan adalah deret berkala (time series). Pada

dasarnya ada tiga langkah peramalan yang penting, yaitu:

1. Menganalisis data yang lalu, yaitu mengidentifikasi pola yang terjadi pada

masa lalu. Pola data produksi susu UHT PT. Indolakto diidentifikasi dengan

mengamati plot data produksi susu UHT hasil dari program Minitab 14 dan

plot autokorelasinya.

2. Menentukan metode yang digunakan. Metode peramalan yang baik adalah

metode yang memberikan penyimpangan sekecil mungkin antara hasil

peramalan dengan nilai kenyataan. Standar yang digunakan adalah nilai MAE

(mean absolute error) atau nilai MSE (mean squared error). Metode

peramalan time series yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Dekomposisi Aditif.

3. Memproyeksikan data yang lalu dengan metode Dekomposisi Aditif dan

mempertimbangkan faktor-faktor perubahan, seperti perubahan kebijakan

pemerintah, kebijakan perusahaan, perkembangan potensi masyarakat,

perkembangan teknologi, dan perbedaan antara hasil ramalan yang ada dengan

kenyataan. Sehingga dapat ditentukan hasil ramalan akhir yang dipergunakan

sebagai dasar perencanaan dan pengambilan keputusan produksi serta

implikasinya terhadap persediaan bahan baku yang digunakan.

3.3.6 Metode Dekomposisi

Metode dekomposisi merupakan suatu metode yang dapat digunkan untuk

mengidentifikasi komponen tren (T), musiman (S), siklis (C), dan acak (E) yang

terdapat pada data time series. Model keterkaitan dari keempat komponen tersebut

54

dapat bersifat multiplikatif (perkalian) dan aditif (penjumlahan). Model yang

dipergunakan dalam penelitian ini adalah model dekomposisi aditif dengan rumus

umum Y = T + S + C + E.

Bila data yang tersedia dinyatakan dalam dimensi tahunan, maka

komponen yang terdapat pada data time series tetsebut hanya terdiri atas

komponen T, S dan E. Komponen T dinyatakan dalam satuan data aktual dan

komponen S dinyatakan dalam bentuk indeks atau Y dibagi dengan T. Bila data

yang tersedia dinyatakan dalam dimensi waktu yang kurang dari satu tahun maka

komponen yang terdapat dalam data time series tersebut terdiri dari komponen T,

S, C (seharusnya tidak ada), dan E. Bila dimensi waktunya merupakan kuartalan,

maka komponen S diidentifikasikan untuk tiap kuartalan, dan bila dimensi

waktunya berupa bulanan maka komponen S diidentifikasikan untuk tiap bulan.

3.3.7 Analisis Kuantitatif Pengendalian Persediaan Bahan Baku
Berdasarkan Hasil Ramalan

Setelah peramalan produksi ditentukan, perencanaan produksi dapat

dilakukan. Cara menghitung jumlah produksi adalah produksi (peramalan)

ditambah persediaan akhir dan dikurangi persediaan awal atau dengan kata lain

produksi (peramalan) ditambah dengan selisih antara persediaan akhir dengan

persediaan awal. Rencana produksi ini dapat digunakan untuk menghitung

kebutuhan bahan baku. Selanjutnya dilakukan analisis pengendalian persediaan

bahan baku untuk tahun 2006 dengan menggunakan model alternatif hasil

rekomendasi model pengendalian persediaan bahan baku tahun 2005. Setelah itu,

dilakukan analisis perbandingan biaya dan penghematan. Hal ini dilakukan untuk

mengetahui apakah model alternatif tersebut masih layak untuk digunakan.

55

Analisis perbandingan biaya diukur berdasarkan hasil analisis biaya

persediaan untuk setiap model yang digunakan. Variabel yang dibandingkan dari

masing-masing model terdiri atas: frekuensi pesanan, banyaknya pesanan, biaya

pemesanan, biaya penyimpanan dan biaya persediaan total sera biaya pembelian.

Analisis penghematan yang dilakukan adalah analisis penghematan biaya

pemesanan, biaya penyimpanan, biaya persediaan total dan biaya pembelian.

3.4 Definisi Operasional

1. Waktu tunggu (lead time) adalah selang antara pemesanan bahan baku

dengan saat datang dan diterimanya bahan baku di gudang persediaan.

Waktu tunggu ini diukur dalam satuan hari, minggu atau bulan, tergantung

dari sifat dan kebutuhan bahan yang diperlukan perusahaan. Untuk bahan

baku SMP dan gula dihitung dalam satuan bulan.

2. Frekuensi pembelian adalah banyaknya (kali) pembelian yang dilakukan

perusahaan selama satu tahun produksi.

3. Biaya pemesanan bahan baku yaitu biaya yang dikeluarkan setiap kali

melakukan pemesanan dan penerimaan pesanan. Biaya pemesanan diukur

dalam rupiah per pesanan (Rp/pesanan). Besarnya biaya yang dikeluarkan

tidak tergantung pada besarnya atau banyaknya barang yang dipesan.

4. Biaya penyimpanan bahan baku yaitu semua biaya yang dikeluarkan

perusahaan selama satu tahun produksi karena penyimpanan persediaan

bahan baku. Biaya penyimpanan bahan baku diukur dalam satuan rupiah

per kilogram per tahun (Rp/kg/th).

56

IV. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

4.1 Sejarah Perkembangan Perusahaan

PT. Indolakto merupakan perusahaan PMDN (Penanaman Modal dalam

Negeri) swasta yang bergerak di bidang usaha industri pengolahan susu (IPS).

Perusahaan ini didirikan pada tanggal 3 Juli 1992 atas dasar akte notaris Nomor

20, NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) 1.596.125.3/011, dengan notaris Benny

Kristianto dan sudah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman. Berdirinya

perusahaan ini merupakan kerjasama antara Salim Group dengan Marison.

PT. Indolakto merupakan bagian dari Dairy Division Group yang terdiri

dari perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam pengolahan susu. Perusahaan-

perusahaan tersebut yaitu PT. Indomilk, PT. Indolakto, PT. IndoMeiji,

PT. Ultrindo, PT. Indomurni, PT. Sumber AlamVita dan PT. Dairyville.

Luas tanah yang dimiliki oleh Dairy Group adalah 38 hektar. Tanah ini

dikembangkan menjadi sebuah kawasan industri dengan nama Indolakto

Industrial Estate. PT. Indolakto menempati lahan seluas 12 hektar, dimana 10

hektar untuk bangunan kantor dan pabrik serta dua hektar untuk pusat pengolahan

limbah. Penetapan tanah dan proses pembangunan pabrik seluas 12 ha dilakukan

pada tanggal 10 Desember 1994. Pembangunan konstruksi bangunan pabrik

dimulai pada bulan Januari 1995 dan selesai pada akhir tahun 1996. sedangkan

pemasangan peralatan dan mesin dilakukan pada bulan Januari 1997.

Kegiatan produksi PT. Indolakto dimulai pada bulan Juni 1997 dengan

produk pertamanya Susu Kental Manis (SKM) full cream dengan merek dagang

Indomilk Putih (IMP), Indomilk Coklat (IMC), dan creamer kental manis “Cap

Enak” yang dikemas dalam kemasan kaleng. PT. Indolakto juga memproduksi

57

susu UHT dengan berbagai ukuran dan rasa. Produksi susu UHT dimulai pada

bulan Oktober 1997 yang terdiri dari rasa coklat, strawberry, manis (sweetened),

melon, tawar (Plain Full Cream), dan madu. Susu UHT dikemas dalam kemasan

tetrapack dengan merek dagang Indomilk dan Indomilk kids berukuran 125 ml,

200 ml, dan 1000 ml. Pada bulan April 1998, PT. Indolakto meluncurkan produk

baru dengan merek dagang sendiri yaitu Krimer Kental Manis (KKM) “Tiga Sapi”

dan “Krima”. PT. Indolakto juga mulai mengembangkan produk-produknya

sebagai hasil dari penelitian dan pengembangan Corporate Development

Laboratory (CDL) pada tahun-tahun berikutnya. PT. Indolakto telah

menggunakan standar internasional dalam manajemen perusahaan dan

produksinya, yaitu ISO 9002 yang tercatat pada tahun 1998. Penggunaan standar

ini diharapkan dapat lebih menjamin kualitas produk dan pelayanan kepada

masyarakat yang dianggap sebagai mitra usaha perusahaan. PT. Indolakto juga

telah memperoleh sertifikat HALAL dan telah mendaftarkan diri untuk

memperoleh sertifikat Good Manufacturing Practices (GMP) dan HACCP.

PT. Indolakto tidak hanya memasarkan produknya di pasar lokal tetapi

juga dipasarkan ke pasar ekspor, seperti SKM Corina, KKM Crima dan UHT

sesuai permintaan konsumen. Pemasaran dan distribusi produk susu PT. Indolakto

ditangani oleh PT. Indomarco sebagai distributor utama.

4.2 Lokasi Perusahaan dan Tata Letak Bangunan

Penentuan lokasi PT. Indolakto dipengaruhi oleh beberapa faktor,

diantaranya ketersediaan bahan baku, tenaga kerja, sarana dan prasarana

transportasi, serta daerah pemasaran.

58

4.2.1 Lokasi Perusahaan

PT. Indolakto berlokasi di jalan raya Siliwangi, Desa Pesawahan,

Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat. Lokasi ini sangat

strategis karena terletak di tepi jalan yang menghubungkan Sukabumi-Bogor dan

Jakarta sehingga memudahkan transportasi bahan baku dan pemasaran produk

akhir. Letak yang strategis ini juga memudahkan penyerapan tenaga kerja. Selain

itu, di lokasi tersebut terdapat sumber daya air yang bagus untuk menunjang

proses produksi. Sebelah barat pabrik PT. Indolakto berbatasan dengan PT.

Yakult Indonesia Persada, PT. Indomeiji dan industri lain yang nantinya ada di

kawasan industri ini. Sebelah timur berbatasan dengan jalan raya Cicurug-

Sukabumi, sedangkan sebelah utara dan selatan berbatasan dengan perumahan

penduduk. Denah lokasi pabrik PT. Indolakto dapat dilihat pada Lampiran 1.

4.2.2 Tata Letak Bangunan

Tata letak bangunan dan susunan ruangan pabrik diatur sedemikian rupa

untuk mengoptimalkan keterkaitan antara proses, aliran bahan, pekerjaan, aliran

informasi, dan metode operasi dalam rangka mencapai tujuan perusahaan.

Bangunan pabrik PT. Indolakto terdiri dari tiga bangunan utama yaitu dairy

building, service building, dan auxiliary building.

Dairy building adalah bangunan pabrik atau ruang produksi yang terdiri

dari dua lantai. Lantai satu terdiri dari ruang pengolahan, ruang pengemasan,

gudang penyimpanan, dan ruang pengendalian mutu. Lantai dua merupakan plan

office yang terdiri dari kantor beberapa departemen. Ruang pengolahan terdiri dari

ruang produksi SKM dan ruang produksi UHT. Ruang pengemasan terdiri dari

ruang filling (pengisian), ruang labelling (pelabelan), ruang packing (ruang

59

pengepakan), dan ruang can line (ruang pembuatan kaleng). Gudang penyimpanan

terdiri dari ruang penyimpanan bahan baku dan kemasan (raw material and

packaging) dan ruang penyimpanan produk akhir (finished good). Ruang

pengendalian mutu terdiri dari laboratorium fisika-kimia, laboratorium in process,

dan laboratorium mikrobiologi.

Ruang pengolahan SKM berdekatan dengan ruang pengendalian mutu dan

laboratorium pengendalian mutu. Ruang can line berdekatan dengan ruang

pengisian SKM, dan berlanjut dengan ruang pelabelan, ruang pengepakan dan

gudang produk jadi SKM. Untuk ruang proses UHT, ruang pengolahan

berdekatan dengan ruang sterilisasi, di sebelahnya adalah ruang pengisian UHT.

Pada bagian luarnya terdapat ruang pengepakan dan ruang produk jadi UHT.

Service building adalah bangunan untuk mekanik dan mesin yang terdiri

dari ruang transformer, ruang boiler, ruang genset, ruang suku cadang (spare

part), ruang kompresor, dan instalasi pengolahan air. Bangunan ini terletak di

belakang pabrik.

Auxiliary building terdiri dari kantor utama (main office) berlantai tiga,

ruang kantin, tiga unit ruang supir, dua unit ruang satpam, ruang pemadam

kebakaran, tempat pembuangan sampah dan masjid. Bangunan ini terletak di

bagian depan pabrik. Denah tata letak pabrik PT. Indolakto dapat dilihat pada

Lampiran 2.

4.3 Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan

Struktur organisasi bertujuan untuk membantu mengatur dan mengarahkan

usaha-usaha dalam organisasi sedemikian rupa hingga usaha tersebut terkoordinir

dan sejalan dengan tujuan-tujuan organisasi (Reksohadiprodjo et al, 1992).

60

Struktur organisasi yang digunakan oleh PT. Indolakto dalam menjalankan

aktifitasnya menggunakan struktur organisasi yang umum digunakan di industri

pangan. Bagian-bagian yang terdapat di dalamnya yaitu: bagian produksi, bagian

pengendalian mutu, bagian penggudangan, dan sebagainya. Perusahaan juga

mengatur masalah-masalah ketenagakerjaan sesuai dengan ketentuan yang

berlaku.

4.3.1 Struktur Organisasi

Bentuk struktur organisasi PT. Indolakto adalah berbentuk lini (garis).

Alasan yang mendasari pemilihan bentuk ini adalah agar terjaminnya kesatuan

komando. Perusahaan yang dipimpin oleh satu orang cenderung memiliki proses

pengambilan keputusan yang lebih cepat dan mengutamakan wewenang yang

utuh. Hal ini berati masing-masing karyawan hanya bertanggung jawab kepada

seorang pemimpin.

Kekuasaan tertinggi di PT. Indolakto dipegang oleh para pemegang saham

yang mempercayakan pengelolaannya kepada Steering Commite yang terdiri dari

Chief Executive Officer (CEO) dan Deputy CEO. Pelaksanaannya dipegang oleh

General manager dibantu oleh Sekretaris dan Technical Advisor.

Secara organisator, PT. Indolakto dipimpin oleh seorang General Manager

yang bertugas memimpin perusahaan secara keseluruhan dan bertanggung jawab

penuh atas berhasilnya perusahaan, mengawasi serta mengkoordinasikan semua

bagian dalam melaksanakan tugasnya. Terdapat 15 unit fungsional departemen

yang bertanggung jawab kepada General Manager dan masing-masing

departemen dipimpin oleh seorang manager. Manager tersebut adalah Senior Milk

Prossesing Manager, SCM Processing Manager, UHT Production Manager,

61

SKM Package Manager, Chief Engineer, Deputy Chief Engineer, Environment

Officer, Quality Control Manager, Quality Assurance Manager, HRD dan

Industrial Estate Manager, Purchase Manager, Finance Manager, Accounting

Manager, Information and Technology Manager dan Logistic Manager. Bagan

struktur organisasi PT. Indolakto dapat dilihat pada Lampiran 3.

4.3.2 Sistem Ketenagakerjaan

PT. Indolakto dalam peraturan perusahaannya telah mengatur hubungan

kerja antara pengusaha dengan pekerja dengan Keputusan No. 206/w.9/PP/98

tahun 1998 yang telah disyahkan oleh Departemen Tenaga Kerja Propinsi Jawa

Barat. Peraturan perusahaan PT. Indolakto terdiri dari 41 pasal yang diantaranya

memuat ketentuan hari kerja, jam kerja, waktu shift, sistem pengupahan, kerja

lembur, keselamatan kerja, bonus, tunjangan, skorsing, pemutusan hubungan

kerja, dan hak serta kewajiban pekerja. Peraturan ini mulai berlaku setiap dua

tahun dan selanjutnya diperpanjang sesuai kesepakatan. Pelaksanaan peraturan ini

dijamin dengan terbentuknya SPSI (Serikat Pekerja Seluruh Indonesia) PT.

Indolakto pada bulan Juli 1998.

4.3.2.1 Tenaga Kerja

PT. Indolakto mengklasifikasikan karyawan menjadi dua bagian yaitu

karyawan overtime dan karyawan non overtime. Karyawan overtime adalah

karyawan yang waktu lemburnya diperhitungkan dan mendapat pembayaran

tambahan atas waktu lemburnya, sedangkan karyawan non overtime adalah

karyawan yang waktu lemburnya tidak diperhitungkan.

62

Berdasarkan status hubungan dengan perusahaan, karyawan yang bekerja

di PT. Indolakto terdiri dari karyawan tetap dan karyawan kontrak serta karyawan

harian. Karyawan tetap adalah karyawan yang terikat hubungan kerja untuk waktu

tidak tertentu dengan perusahaan, dan telah melampaui masa percobaan tiga bulan

dengan mendapat upah setiap bulan. Karyawan kontrak adalah karyawan yang

terikat hubungan kerja dengan perusahaan untuk waktu tertentu dan masa

kerjanya dapat diperpanjang atau tidak diperpanjang. Karyawan harian adalah

karyawan yang terikat hubungan kerja atas dasar pekerjaan harian yang insidental

(sewaktu-waktu).

4.3.2.2 Strata Pendidikan Pekerja

Seluruh pekerja didistribusikan ke berbagai departemen dengan proporsi

yang disesuaikan dengan departemen yang bersangkutan. Strata pendidikan untuk

manajer dan wakil menejer minimal sarjana, sedangkan untuk supervisor adalah

D3 atau sarjana. Pekerjaan bagian produksi dan bagian pengendalian mutu seperti

operator dan teknisi lab adalah setingkat SLTA dan D3. Strata pendidikan untuk

pekerja di bagian gudang dan pekerja kasar adalah SD, SLTP dan SLTA.

Pekerjaan di bagian administrasi dan keuangan adalah lulusan SLTA dan D3.

Dalam rangka meningkatkan keterampilan dan keahlian pekerja, PT. Indolakto

juga mengikutsertakan pekerjanya untuk mengikuti pelatihan dan seminar.

4.3.2.3 Waktu Kerja dan Sistem Insentif

Waktu kerja karyawan PT. Indolakto adalah lima hari kerja dalam

seminggu. Jumlah jam kerja adalah delapan jam sehari atau 40 jam seminggu

yang dilakukan dalam dinas normal atau shift. Pekerja kantor/non produksi

63

bekerja mulai dari Senin hingga Jumat dengan jam kerja dari jam 08.00 hingga

16.30 dengan waktu istirahat selama 30 menit. Untuk pekerja pabrik diberlakukan

sistem shift yang dibagi menjadi empat shift yaitu shift malam (jam 22.30 –

07.00), shift pagi (jam 06.30 – 15.00), shift siang (jam 14.30 – 23.00) dengan

waktu istirahat 30 menit, dan shift khusus yang waktunya disesuaikan dengan

kebutuhan. Pertukaran dilakukan satu minggu sekali sesuai dengan kebutuhan

operasional perusahaan dengan memperhatikan keselamatan dan kesehatan

karyawan. Hari Sabtu dan Minggu merupakan hari kerja lembur untuk karyawan

non eksekutif, sedangkan untuk pekerja eksekutif yang masuk pada hari tersebut,

maka pada minggu selanjutnya diperbolehkan untuk libur antara hari Senin

sampai Jumat.

Sistem pembayaran gaji di PT. Indolakto didasarkan pada golongan dan

jabatan pekerja dengan memperhatikan tingkat pendidikan, tanggung jawab,

keahlian, kemampuan, serta pengalaman yang dibutuhkan untuk jabatan tersebut.

Pembayaran gaji karyawan tetap dan kontrak dilakukan setiap bulan antara

tanggal 26 sampai 30, sedangkan untuk karyawan harian dilakukan dua kali dalam

sebulan. Karyawan yang telah menjalani masa kerja selama setahun akan

mendapatkan THR (Tunjangan Hari raya) sebesar satu bulan gaji, sedangkan

untuk karyawan yang masa kerjanya belum satu tahun, besar THR diatur secara

proporsional oleh perusahaan. Pemberian bonus juga dilakukan oleh perusahaan,

namun sifatnya tidak tetap, tergantung pada keadaan perusahaan.

Upah lembur diberikan kepada pekerja yang melakukan kerja lembur,

yaitu pekerjaan yang dilakukan melebihi empat jam dari jam yang ditentukan (40

jam seminggu) atau pada hari-hari besar. Perhitungan upah lembur berbeda-beda

64

tergantung dari hari lembur (hari biasa, hari minggu dan hari raya resmi)

karyawan dan jumlah jam lembur.

4.3.2.4 Jaminan Kesejahteraan dan Masa Cuti

Fasilitas yang tersedia bagi karyawan antara lain sarana kantin, tempat

beribadah (masjid), loker, seragam, poliklinik, rawat inap dan rawat jalan, serta

jamsostek. Setiap hari karyawan memperoleh jatah makan satu kali yang sesuai

dengan waktu shifnya. Sedangkan untuk pekerja yang lembur empat jam atau

lebih diberikan uang makan yang besarnya senilai satu kali makan. Selain itu

setiap bulan semua karyawan memperoleh enam kaleng susu kental manis.

Perlengkapan karyawan juga disediakan oleh perusahaan yaitu seragam, sepatu

dan tutup kepala yang diberikan sesuai kebutuhan serta diberikan juga fasilitas

laundry. Fasilitas lainnya adalah fasilitas antar jemput untuk karyawan tingkat

eksekutif dan karyawan yang bekerja pada shift malam untuk daerah Sukabumi

dan Bogor, sedangkan karyawan non eksekutif mendapatkan uang transport.

Fasilitas perumahan hanya diberikan pada pekerja terkait yang harus bisa

memberi suatu keputusan pada perusahaan.

PT. Indolakto juga memberikan jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan

kerja, hari tua dan jaminan kematian. Jaminan kesehatan diberlakukan bagi

karyawan dan keluarga. Pemeriksaan dan pengobatan dapat dilakukan di

poliklinik yang terdapat di area PT. Indolakto. Untuk karyawan yang sudah

berkeluarga, apabila istri dan dua orang anak memerlukan perawatan rumah sakit,

perusahaan akan menggantikan semua biaya perawatan, pengobatan maupun

rawat inap atau rawat jalan. Rumah sakit yang ditunjuk perusahaan untuk

sementara ini adalah Rumah Sakit PMI Bogor.

65

Jaminan kecelakaan kerja, hari tua dan jaminan kematian terhadap pekerja

dikelola oleh PT. JAMSOSTEK. Hal ini disesuaikan dengan peraturan Undang-

undang yang berlaku yaitu UU No. 3 Tahun 1992, tentang jaminan sosial tenaga

kerja. Selain jaminan-jaminan di atas, pekerja yang meninggal dunia karena

kecelakaan di luar kerja akan mendapat sumbangan dari PT. Indolakto.

PT. Indolakto memberikan masa cuti bagi karyawannya. Setiap pekerja

yang telah bekerja selama satu tahun berhak atas cuti tahunan selama 12 hari kerja

dan tetap mendapat upah penuh. Bagi karyawati yang hamil diperbolehkan untuk

cuti selama tiga bulan dengan mendapat upah penuh. Selain itu, karyawati yang

mendapat haid diperbolehkan cuti sebanyak-banyaknya dua hari bila benar-benar

dibutuhkan dengan surat keterangan dokter.

4.4 Proses Produksi

PT. Indolakto secara umum memproduksi dua jenis produk yaitu susu

kental manis (SKM) dan susu Ultra High Temperature (UHT). Proporsi produksi

susu UHT terhadap total produksi perusahaan adalah 30.72 persen. Susu UHT

yang diproduksi oleh PT. Indolakto menggunakan dua formula bahan baku yaitu

formula susu segar dan formula recombined. Formula susu segar jarang digunakan

perusahaan untuk memproduksi susu UHT karena adanya keterbatasan pasokan

susu segar, selain itu susu segar lebih banyak digunakan untuk produksi SKM.

Oleh karena itu penelitian ini memfokuskan pada produk susu UHT dengan

formula recombined.

Produksi UHT selama lima tahun terakhir mengalami peningkatan dari

segi jumlah dan variasi produk. Tahun 2000 total produksi UHT PT. Indolakto

adalah 6 744.96 ton, kemudian mengalami peningkatan setiap tahunnya menjadi

66

9 695.58 ton pada tahun 2001, 17 259.87 ton pada tahun 2002, 20 710.09 ton pada

tahun 2003, 21 077.37 ton pada tahun 2004, dan 23 037.15 ton pada tahun 2005.

Proses produksi Sistem Ultra High Temperature (UHT) merupakan salah

satu cara pengolahan susu yang berlangsung secara kontinyu dengan pemanasan

yang tinggi dan dalam waktu singkat serta diikuti dengan pendinginan secara

cepat untuk menghasilkan produk yang steril secara komersial. Perlakuan panas

yang digunakan adalah secara tidak langsung menggunakan Plate Heat Exchanger

(PHE) dan Tabular Heat Exchanger (THE) atau alat penukar panas dimana

produk susu tidak langsung kontak dengan uap panas.

Secara garis besar, tahap-tahap proses pengolahan susu UHT meliputi

proses penyiapan bahan baku, proses dumping, pencampuran bahan baku

(mixing), homogenisasi, pasteurisasi, hidrasi, sterilisasi, pengemasan dan

pengepakan (aseptic filling and packing). Diagram alir proses pengolahan susu

UHT ini dapat dilihat pada Lampiran 4.

1.

Tahap Persiapan Bahan Baku

Langkah awal dalam proses produksi adalah mempersiapkan bahan-bahan

yang diperlukan, antara lain Skim Milk Powder (SMP), Anhydrous Milk Fat

(AMF), gula, air dan minor ingredients yang terdiri dari vitamin, flavor, pewarna

dan stabilizer. Proses penyiapan minor ingredients dilakukan oleh bagian Quality

Control (QC) dengan sangat teliti agar menghasilkan mutu produk yang seragam.

2.

Proses Dumping

Proses dumping adalah proses penuangan bahan baku utama ke dalam silo

tank yang dilengkapi dengan saringan (filter) berukuran 2 x 4 centimeter dan

berfungsi untuk mencegah benda-benda asing yang tidak diinginkan masuk ke

67

dalam tangki. Bahan baku yang tertampung dalam silo tank tersebut kemudian

ditransfer ke dalam mixer.

3.

Proses Pencampuran Bahan /Mixing

Proses pencampuran bahan/mixing adalah proses pencampuran semua

bahan yang digunakan agar diperoleh suatu campuran yang homogen. Umumnya

perusahaan menggunakan dua mixing tank untuk sekali produksi dengan kapasitas

15 ton untuk setiap tangkinya.

4.

Prosaes Homogenisasi

Proses homogenisasi berfungsi untuk memecah globula lemak dan

menyeragamkannya menjadi berdiameter 2 µ sehingga terbentuk emulsi yang

stabil. Sebelum proses homogenisasi, dilakukan proses pre-heating dengan

menggunakan PHE dengan suhu 70 °C sebagai pemanasan awal. Proses

homogenisasi dilakukan dengan menggunakan tekanan 200 bar pada suhu 70 °C

selama 30 detik.

5.

Proses Pasteurisasi

Proses pasteurisasi dilakukan dengan menggunakan PHE yang terbuat dari

stainless-steel. PHE memiliki kisi-kisi dengan kedalaman tertentu pada

permukaannya. Fungsinya adalah untuk memperluas permukaan PHE agar proses

pasteurisasi berlangsung lebih efektif dan efisien. Proses pasteurisasi berlangsung

selama 30 detik bertujuan untuk memusnahkan mikroorganisme patogen.

Selanjutnya hasil pasteurisasi disimpan di dalam tangki hidrasi yang berkapasitas

60 000 liter dan bersuhu 4-10 °C, maksimal selama 10 jam yang bertujuan untuk

memberi kesempatan bagi stabilizer untuk menggabungkan air dan lemak.

68

6.

Proses Hidrasi

Proses hidrasi dilakukan pada produk yang suhunya masih dibawah 10 °C,

dengan masa hidrasi selama 1-2 jam. Waktu hidrasi adalah waktu yang diberikan

untuk produk agar komponen-komponen yang terpisah (vitamin, protein, lemak,

dan lain-lain) dapat menyatu kembali dengan bantuan stabilizer dan membentuk

produk yang memiliki karakter mendekati susu segar.

7.

Proses Sterilisasi

Sterilisasi bertujuan untuk membunuh mikroorganisme termasuk spora

yang terkandung dalam susu tanpa merusak kandungan gizi susu tersebut dan

dapat memperpanjang umur simpan. Proses sterilisasi susu di PT. Indolakto

menggunakan sterilisasi dengan metode indirect heating, pemanasan dilakukan

melalui penukar panas, yaitu PHE atau THE.

Setelah sterilisasi selesai, produk dipertahankan selama 4 detik dalam

holding tube setelah itu produk dilewatkan ke Flow Diversion tube (FDV) yang

berfungsi sebagai pengecek suhu produk. Jika suhunya < 142 °C setelah

sterilisasi, maka produk akan dialirkan kembali ke balance tank untuk mengalami

proses homogenisasi dan sterilisasi ulang. Jika terjadi sebaliknya, maka produk

dialirkan ke proses selanjutnya. Proses selanjutnya, produk mengalami

pendinginan secara bertahap dengan menggunakan cooler hingga bersuhu 26 °C.

Produk yang telah dingin dan steril dimasukkan ke aseptic tank dengan kapasitas

20 000 kg, kemudian produk di dorong dengan udara steril ke aseptic filling

menggunakan tekanan 1.5 bar.

69

8.

Proses Pengisian dan Pengemasan

Proses pengisian dilakukan di dalam ruangan khusus yang sangat steril dan

harus selaku dijaga kesterilannya, baik ruangan, pekerja, bahan pengemas, dan

peralatan lainnya. Proses pengemasan dilakukan secara aseptik untuk mencegah

kontaminasi secara mikrobiologis yang dapat menyebabkan perubahan aroma,

rasa dan penurunan nilai gizi produk sehingga shelf life produk lebih panjang.

Materi pengemasan yang digunakan adalah tetra paper®

dan tetap dilakukan

sterilisasi terlebih dahulu. Kemasan yang telah terbentuk dari gulungan kertas

kemasan yang telah dicetak tanggal kadaluarsa dan kode produksinya, kemudian

diisikan dengan produk. Kotak-kotak yang telah terisi dengan rapi dikeluarkan

melalui konveyer dari ruang filling ke ruang packing untuk dikemas karton dan

diberi straw (sedotan) pada karton boxnya.

9.

Proses Pengepakan

Proses pengepakan dilakukan menggunakan mesin pengepak karton

(cardboard packer machine) secara otomatis. Mesin tersebut memasukkan pak-

pak produk jadi dan operator yang bertugas secara bersamaan memasukkan straw

(sedotan) sesuai dengan volume produk yang dibuat ke dalam kemasan karton

bergelombang (corrugated paper). Mesin akan melipat karton untuk membentuk

suatu box dan akan membubuhkan tanggal kadaluarsa, jenis produk dan kode

mesin. Selanjutnya box akan keluar melalui rak besi dan siap untuk disusun ke

atas palet/palletizing yang dilakukan oleh operator mesin secara manual.

70

V. SISTEM PENGADAAN DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN
BAHAN BAKU PERUSAHAAN

5.1 Penyimpanan dan Penggunaan Bahan

Penyimpanan bahan baku SMP, dan gula dilakukan dalam suatu gudang

yang sama, yaitu gudang raw material (RM) dan packaging material (PM)

bersama dengan bahan baku lainnya. Penyimpanan bahan baku tersebut

menggunakan pallet (alas) agar bahan baku tidak bersentuhan langsung dengan

lantai dan memudahkan pengangkutan. Mengingat keterbatasan jangkauan forklift

yang ada, susunan pallet secara vertikal adalah maksimum tiga pallet. Setiap satu

susunan pallet memuat 40 karung untuk gula dan 60 karung untuk SMP.

Luas total area gudang raw material adalah 1 323.75 m2

. Luas area untuk

penyimpanan gula adalah 306.75 m2

dengan kapasitas penyimpanan sebanyak 780

metrik ton atau 15 600 karung (50 kg/karung). Sedangkan untuk area

penyimpanan SMP adalah 183.75 m2

dengan kapasitas penyimpanan sebanyak

360 metrik ton atau 14 400 karung (25 kg/karung). Perusahaan tidak memisahkan

bahan baku SMP dan gula yang ditujukan untuk kebutuhan produksi SKM dan

UHT, semuanya disimpan dalam satu area penyimpanan.

Penyimpanan bahan baku di gudang dikelompokkan berdasarkan jenis dan

waktu kedatangan bahan baku tersebut (metode FIFO) sehingga bahan baku yang

lebih dulu disimpan akan lebih dulu digunakan. Layout gudang bahan baku RM

saat ini dirancang untuk kebutuhan dua minggu, sehingga penyimpanan bahan

baku terbatas untuk jumlah tertentu, namun saat ini jumlah bahan baku yang ada

melebihi kapasitas normal gudang. Oleh karena itu, perusahaan telah

merencanakan untuk mengembangkan area gudang penyimpanan bahan baku agar

71

dapat menyimpan dalam jumlah yang lebih banyak, mengingat kapasitas produksi

perusahaan juga semakin meningkat.

Fasilitas yang dimiliki oleh WH adalah listrik dan forklift. Fasilitas listrik

berupa lampu yang berfungsi sebagai penerangan, sedangkan forklift diperlukan

untuk mengangkut gula dan SMP dari warehouse ke bagian produksi. Jumlah

lampu yang disediakan di dalam gudang raw material adalah sebanyak 30 lampu,

namun yang digunakan hanya 18 lampu dengan daya satu lampunya sebesar 250

watt. Forklift yang digunakan untuk keperluan pemindahan bahan baku tersebut

berjumlah tiga buah.

Pemeliharaan fasilitas WH dilakukan oleh petugas maintenance yang

bertugas membersihkan WH agar tetap terawat. Perusahaan bekerjasama dengan

perusahaan jasa ECOLAB dalam pemeliharaan bahan baku. Pemeliharaan yang

dilakukan adalah dengan melakukan pest control dan fogging setiap sebulan

sekali. Jadwal pelaksanaan fogging disesuaikan dengan jadwal produksi, yaitu

pada saat perusahaan sedang tidak berproduksi. Selain pemeliharaan tersebut,

petugas WH juga memiliki jadwal rutin untuk membersihkan gudang setiap hari,

yaitu mulai pukul 07.00 hingga pukul 08.00 agar ruang tempat penyimpanan

bahan/gudang selalu dalam keadaan bersih.

5.2 Jenis dan Asal Bahan Baku

Bahan baku yang digunakan dalam produksi susu pada PT. Indolakto,

khususnya untuk produk susu UHT bervariasi dan berasal dari pemasok yang

berbeda-beda pula. Secara umum bahan baku yang digunakan dalam produksi

susu UHT adalah sebagai berikut:

72

1. Susu Segar/Fresh Milk

Susu UHT yang diproduksi oleh PT. Indolakto mempunyai dua alternatif

formulasi, yaitu formulasi dengan menggunakan susu segar/fresh milk sebagai

bahan baku utama dan tanpa menggunakan susu segar/fresh milk biasa disebut

dengan metode rekombinasi. Susu segar yang digunakan oleh PT. Indolakto

adalah susu sapi segar yang memenuhi spesifikasi pada Tabel 4.

Tabel 4. Spesifikasi Fresh Milk yang diterima PT. Indolakto

SPESIFIKASI

NILAI

Temperatur (°C)

Maks 8 °C

pH

6.6 – 6.8

Keasaman (%)

0.13 – 0.17

Alkohol Test

Negatif

Resazurin Test

5 – 6

Kadar Lemak (%)

Min 3.3

Berat Jenis (20 °C)

Min 1.0250

Total Solid (%)

Min 11

Solid Non Fat (%)

Min 7.7

Kadar Karbonat (ppm)

< 100

Kandungan Antibiotik

Negatif

Freezing Point (°C)

Maks – 0.520

TPC (CFU/g)

Maks 3.000.000

Spora (CFU/g)

Maks 100

MPC (CPU/g)

Maks 100

Sumber: Departemen QC. PT. Indolakto, 2006

Susu segar yang digunakan untuk produksi perusahaan diperoleh dari

pemasok lokal yang dikirim secara rutin setiap hari. Pemasok susu segar ke PT.

Indolakto yang masih aktif sampai saat ini ada lima pemasok dari tujuh pemasok

yang terdaftar. Pemasok tersebut diantaranya KSU Puspa Mekar, KSU Tandang

Sari, Sinar Jaya, Taurus Dairy Farm, dan UPS GKSI (Gabungan Koperasi Susu

Indonesia) Sukabumi. Susu segar yang digunakan sebagai bahan baku produk

susu UHT dan SKM disimpan dalam ruang penampungan/tangki yang dikelola

oleh bagian produksi SKM. Bagian produksi UHT dapat menggunakan susu segar

tersebut dengan membuat surat permintaan barang ke bagian warehouse dan

mengkoordinasikan dengan bagian produksi SKM.

73

Pasokan susu segar dari pemasok masih dirasa belum mencukupi kebutuhan

perusahaan, sehingga perusahaan mengambil kebijakan untuk menggunakan

formula rekombinasi untuk produksi UHT, yaitu menggunakan SMP sebagai

bahan baku utamanya. Harga susu segar yang digunakan berdasarkan harga yang

telah ditetapkan oleh GKSI (Gabungan Koperasi Susu Indonesia) yang merupakan

hasil negosiasi dengan para pengusaha pengelola industri pengolahan susu. Harga

susu segar yang diperoleh PT. Indolakto bervariasi sesuai dengan kualitas susu

tersebut. Kisaran harga susu segar selama satu tahun terakhir yaitu mulai dari

Rp 1 795.37 hingga Rp 2 306.45 per kilogramnya. Tinggi rendahnya harga

tersebut tergantung dari kualitas susu yang dipasok. Sistem pembayaran yang

digunakan adalah nontunai atau pembayaran dilakukan seminggu sampai sebulan

setelah barang diterima.

2. Susu Bubuk/Milk Powder

Susu bubuk yang ditambahkan dalam pembuatan susu UHT terdiri dari tiga

macam, yaitu Skim Milk Powder (SMP), Butter Milk Powder (BMP), Anhydrous

Milk Fat (AMF). Susu bubuk ditambahkan untuk standarisasi mutu susu segar.

SMP merupakan produk susu yang dihasilkan dengan memisahkan cream

(lemak susu) dan menghilangkan air dari susu segar dengan cara dikeringkan

dengan spray dryer sehingga dihasilkan skim bubuk bebas lemak. SMP berbentuk

bubuk, berwarna putih dan tidak menggumpal. Fungsi SMP pada pembuatan susu

UHT adalah untuk meningkatkan total solid non fat. SMP ini dikemas dalam

paper dan polybag ukuran 25 kilogram dan disimpan dalam ruangan kering dan

berventilasi selama maksimum 12 bulan, namun perusahaan selalu berusaha

menggunakannya dalam waktu kurang dari sebulan. SMP ini diperoleh dengan

74

cara mengimpor dari beberapa negara, yaitu dari Fonterra (SEA) Pte. Ltd

(Singapura), James Farrel and Co, Ferjidson Pte. Ltd (Singapura), Interfood B.V

(Belanda), Amberston Pte. Ltd (Singapura). Harga SMP selama satu tahun

terakhir berkisar antara USD 2 150 hingga USD 2 595 per metrik ton. Harga SMP

yang digunakan dalam perhitungan adalah USD 2 372.5 per metrik ton

{(USD 2 150 + USD 2595): 2}. Sistem pembayaran yang diberlakukan adalah

sistem non tunai, yaitu 14 hari sampai 120 hari setelah barang diterima. PT.

Indolakto tidak pernah melakukan pembayaran secara cash untuk pembelian

dalam jumlah besar.

SMP yang dipergunakan untuk produksi susu UHT adalah dari jenis medium

heat. Jenis-jenis tersebut ditetapkan berdasarkan jumlah panas yang diterima saat

pengeringan yang dinyatakan dengan nilai WPNI (Whey Protein Nitrogen Index).

Standar SMP yang digunakan oleh PT. Indolakto dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Standar Mutu Skim Milk Powder (SMP) PT. Indolakto

Analisa

Spesifikasi SMP

Asam lemak bebas
Bilangan peroksida
Organoleptik
Kadar air
Bilangan iod

< 0.3 %
0.1 mg eq O2/kg
-
< 0.1 %
26 - 38

Sumber: Departemen QC PT. Indolakto

3. Gula/Sugar

Gula berfungsi sebagai pemanis dan pengawet karena gula dapat

menghalangi aktivitas bakteri dan dapat menurunkan aktivitas air. Selain itu

penambahan gula juga dapat mencegah denaturasi protein susu akibat pemanasan

yang berlebihan. Gula yang digunakan adalah disakarida dalam bentuk kristal

sukrosa (C12H12O11). Gula ini dikemas dalam karung plastik pada bagian luar dan

plastik pada bagian dalam dengan berat 50 kilogram yang disimpan pada suhu

75

ruang yang kering dan tidak lembab. Standar mutu gula yang digunakan oleh PT.

Indolakto dapat dilihat pada Tabel 6.

Gula yang digunakan diperoleh dari pemasok lokal, yaitu PT. Indomilk

(trade), PT. Nusa Indah, PT. Angels Products, dan juga diimpor dari ETS

Internasional (Saudi Arabia), Hottlet Sugar Trading N.V (Belgia), dan Ferjidson

Pte. Ltd (Singapura). Pengiriman gula dilakukan secara bertahap berdasarkan

perjanjian bagian purchasing dengan pemasok. Hal ini dilakukan, mengingat

perusahaan tidak bisa menyimpan gula dalam jumlah banyak dan terlalu lama

dalam gudang karena khawatir akan mudah mengkristal karena kelembaban yang

tinggi. Harga rata-rata gula selama satu tahun terakhir yaitu sebesar Rp 5 200 per

kilogram. Pembayaran dilakukan rata-rata tujuh hari setelah barang diterima

perusahaan.

Tabel 6. Standar Mutu Gula PT. Indolakto
Analisa

Spesifikasi SMP

pH
So2
CaCO3
Ekstraneous matters
Gula pereduksi

> 5.50
< 20 mg/g
< 30 mg / 100 g
Standar
< 20 mg / 100 g

Sumber: Departemen QC PT. Indolakto

5.3 Biaya-biaya Persediaan

Biaya persediaan PT. Indolakto secara umum dapat dikelompokkan menjadi

dua, yaitu biaya pemesanan dan biaya penyimpanan.

5.3.1 Biaya Pemesanan

Biaya pemesanan total per periode adalah hasil kali antara jumlah pesanan

yang dilakukan setiap periode dengan biaya yang harus dikeluarkan setiap kali

pesan. Biaya ini bersifat agak konstan dimana besarnya biaya yang muncul tidak

76

dipengaruhi besarnya kuantitas bahan yang dipesan oleh perusahaan. Pemesanan

untuk bahan baku produk susu kental manis (SKM) dan UHT digabungkan dalam

suatu pemesanan ke masing-masing pemasok. Komponen biaya pemesanan bahan

baku SMP dan gula untuk kebutuhan produksi susu UHT dapat diuraikan sebagai

berikut:

(a) Biaya administrasi, meliputi biaya pembuatan dokumen-dokumen

pemesanan dan penerimaan bahan berupa dokumen Purchase Request (PR)

dari bagian PPIC dan dokumen Purchase Order (PO) dari bagian Purchasing

kepada pemasok serta kelengkapan administrasi lainnya. Total biaya

administrasi per pesanan PT. Indolakto untuk bahan baku SMP adalah

sebesar Rp 57 369.60 per pesanan dan Rp Rp 8 191.33 per pesanan untuk

bahan baku gula.

(b) Biaya telepon, email dan correspondent fax, dikeluarkan untuk mengirimkan

PO kepada pemasok dan mengkonfirmasi mengenai dokumen PO yang telah

dikirim oleh bagian purchasing perusahaan. Biaya ini meliputi biaya telepon

internal dan eksternal perusahaan. Biaya telepon internal perusahaan yaitu

biaya telepon yang digunakan untuk koordinasi antara bagian-bagian

perusahaan yang terkait seperti bagian gudang raw material, bagian PPIC

dan bagian purchasing. Sedangkan biaya telepon eksternal perusahaan adalah

biaya telepon antara bagian purchasing kepada para pemasok dan pihak-

pihak terkait lainnya. Total biaya telepon, email dan correspondent fax per

pesanan PT. Indolakto untuk bahan baku SMP adalah Rp 115 968.00 dan

16 622.25 untuk gula. Komponen dan besarnya biaya pemesanan per pesanan

bahan baku secara rinci dapat dilihat pada Tabel 7.

77

Berdasarkan Tabel. 7 diketahui bahwa bahan baku SMP memiliki total biaya

pemesanan per pesanan lebih besar dibandingkan bahan baku gula. Biaya

pemesanan total bahan baku SMP yaitu Rp 173 337.6 per pesanan sedangkan

biaya pemesanan total bahan baku gula sebesar Rp 24 813.58 per pesanan.

Tabel 7. Biaya Pemesanan Bahan Baku PT. Indolakto per Pesanan

Komponen Biaya Pemesanan

SMP

Gula

Nilai
(Rp/pesanan)

(%)

Nilai
(Rp/pesanan)

(%)

1. Administrasi

57 369.60 33.10 8 191.33 33.01

2. Telepon dan correspondent fax

115 968.00 66.90 16 622.25 66.99

Total

173 337.60 100

24 813.58 100

Sumber: PT. Indolakto (diolah), 2006

5.3.2 Biaya Penyimpanan

Biaya penyimpanan merupakan biaya yang dikeluarkan karena perusahaan

menyimpan bahan baku di gudang. Biaya ini bervariasi langsung dengan kuantitas

persediaan. Biaya penyimpanan adalah hasil perkalian dari tingkat persediaan

rata-rata dengan biaya penyimpanan bahan baku per unit. Komponen biaya

penyimpanan bahan baku SMP dan gula yang dilakukan oleh PT. Indolakto dapat

diuraikan sebagai berikut:

(a) Biaya fasilitas penyimpanan, meliputi biaya listrik sebagai penerangan dan

pendinginan, serta biaya pengadaan alat-alat kebersihan seperti: sapu,

sabun/deterjen, dan karet pengering lantai. Biaya fasilitas penyimpanan

untuk bahan baku SMP sebesar Rp 3.48 per tahun sehingga biaya fasilitas

penyimpanan per bulannya sebesar Rp 0.290/kg. Sedangkan untuk bahan

baku gula memiliki biaya fasilitas per tahun sebesar Rp 0.52 sehingga biaya

per bulannya sebesar Rp 0.043/kg.

78

(b) Biaya pemeliharaan, meliputi biaya fogging dan pest control gudang raw

material (RM) yang dilakukan sebulan sekali. Biaya pemeliharaan per tahun

bahan baku SMP sebesar Rp 0.11/kg. Sedangkan biaya pemeliharaan bahan

baku gula per tahun sebesar Rp 0.02/kg. Biaya pemeliharaan memiliki biaya

yang paling rendah dalam komponen biaya penyimpanan. Hal ini

menunjukkan bahwa biaya pemeliharaan tidak mempunyai pengaruh yang

signifikan terhadap perubahan total biaya penyimpanannya. Namun biaya ini

harus tetap diperhatikan karena akan mempengaruhi kualitas dari bahan baku

yang disimpan. Tidak adanya pemeliharaan akan menyebabkan bahan baku

yang disimpan mengalami penurunan kualitas bahkan dapat mengakibatkan

kerusakan.

(c) Biaya modal, yaitu biaya yang terjadi karena kehilangan pendapatan berupa

bunga bank yang seharusnya diperoleh tetapi tidak diperoleh karena uang

yang ada digunakan untuk membeli barang. Besarnya biaya ini tergantung

dari lamanya barang disimpan dan tingkat suku bunga yang berlaku. Tingkat

suku bunga yang digunakan adalah rata-rata tingkat suku bunga simpanan

berjangka rupiah bank umum (12 bulan) tahun 2005, yaitu sebesar 8.06

persen. Biaya modal merupakan biaya terbesar dalam biaya penyimpanan

perusahaan. Biaya modal terbesar adalah untuk bahan baku SMP sebesar

Rp 544.97/kg (USD 2.3725/kg x 8.06% x Rp 9 2774)

x 30.72%) atau sebesar

99.35 persen dari biaya total penyimpanannya. Biaya modal SMP ini hampir

mendekati 100 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa bahan baku SMP

memiliki nilai modal yang sangat tinggi. Semakin banyak persediaan/stock

4

nilai tukar 1 USD = Rp 9 277

79

SMP di gudang, maka akan mempunyai pengaruh yang besar terhadap

peningkatan biaya penyimpanannya. Biaya modal untuk bahan baku gula

adalah Rp 25.11/kg (Rp 5 200 x 8.06% x 5.99%) per tahun. Biaya ini juga

merupakan komponen biaya terbesar dari total biaya penyimpannya.

Tabel 8. Biaya Penyimpanan Bahan Baku PT. Indolakto

Komponen Biaya Penyimpanan

SMP

Gula

Nilai
(Rp/kg)

(%)

Nilai
(Rp/kg)

(%)

1. Biaya Fasilitas

3.48 0.63

0.52 2.03

2. Biaya Pemeliharaan

0.11 0.02

0.02 0.08

3. Biaya Modal

544.97 99.35 25.11 97.89

Total Biaya Penyimpanan setahun

548.56 100

25.65 100

Total Biaya Penyimpanan sebulan 45.71

2.14

Sumber: PT. Indolakto (diolah), 2006

Berdasarkan Tabel. 8 diketahui bahwa biaya penyimpanan total untuk

bahan baku SMP per tahun adalah Rp 548.56/kg sehingga untuk setiap periode

bulanan total biaya penyimpanan SMP menjadi Rp 45.71/kg. Sedangkan total

biaya penyimpanan bahan baku gula per tahun adalah Rp 25.65/kg sehingga total

biaya penyimpanan per bulan untuk gula adalah sebesar Rp2.14/kg untuk gula.

Biaya penyimpanan SMP perusahaan merupakan biaya penyimpanan terbesar.

Oleh karena itu, pengelolaannya harus diperhatikan agar tidak menimbulkan

pemborosan.

5.4 Prosedur Pengadaan dan Penerimaan Bahan Baku

Perolehan bahan baku pada PT. Indolakto dimulai dari adanya kebutuhan

dan rencana penggunaan bahan baku oleh perusahaan. Rencana penggunaan

bahan baku untuk produk susu UHT ditetapkan oleh bagian PPIC (Product

Planning Inventory Control). Rencana tersebut dibuat berdasarkan hasil

penyesuaian antara jumlah permintaan konsumen yang termuat dalam SO (Supply

80

Order) yang merupakan perkiraan/peramalan dari departemen marketing (PT.

Indomilk) dengan kemampuan dan kapasitas perusahaan. Selanjutnya PPIC

memberikan konfirmasi kepada bagian marketing berupa CSO (Confirm Supply

Order) mengenai kesanggupan perusahaan dalam memproduksi order tersebut.

PPIC kemudian membuat rencana produksi dan kebutuhan bahan baku untuk

produksi susu UHT. Perencanaan dibuat per tiga bulan (satu bulan rencana tetap

dan dua bulan ramalan) yang selanjutnya diturunkan menjadi rencana mingguan.

Setelah merencanakan produksi baik jumlah, jenis produk dan kebutuhan

bahan, bagian PPIC membuat PR (Purchase Requestion), yaitu permohonan

pembelian yang diserahkan ke bagian purchasing. PR ini terdiri dari tiga lembar

yang didistribusikan ke bagian purchasing, akunting, dan PPIC. PR untuk raw

material (RM) harus disetujui terlebih dahulu oleh manajer logistik dan PPIC

sebelum diserahkan ke bagian purchasing. Bagian purchasing akan

menindaklanjuti PR tersebut dengan menghubungi para pemasok yang telah

ditetapkan. Penetapan pemasok itu sendiri mempunyai prosedur tertentu, namun

untuk bahan baku yang dibahas dalam penelitian ini yaitu gula dan SMP diatur

oleh Dairy Group pusat yaitu PT. Indomilk.

Setelah menerima PR, bagian purchasing akan menerbitkan PO (Purchase

Order) untuk memesan bahan baku dan melakukan negosiasi harga dengan

pemasok. Khusus untuk bahan baku SMP dan gula, negosiasi harga dan pemilihan

pemasok dilakukan oleh Dairy Group pusat yaitu PT. Indomilk. PO terdiri dari

tiga lembar yang akan didistribusikan ke pemasok (dokumen asli), accounting

(copy warna putih), dan purchasing (copy warna kuning). Selanjutnya bagian

purchasing akan melakukan controlling terhadap realisasi PO tersebut dengan

81

membuat form jadwal kedatangan barang, kemudian menanyakan ke bagian

warehouse (WH), dan konfirmasi ke pemasok. Bahan baku yang dikirim oleh

pemasok akan diterima dan disimpan oleh bagian WH. Pengaturan tata letak

bahan baku diatur oleh bagian gudang agar kualitasnya tidak berkurang.

Prosedur penerimaan bahan baku raw material (RM) yang berlaku di PT.

Indolakto dimulai dari pelaporan pihak supplier/pembawa bahan baku RM ke pos

satpam dengan meninggalkan identitas diri dan menunjukkan surat jalan.

Kemudian satpam yang bertugas akan menghubungi bagian gudang (WH) yang

akan melakukan penimbangan di jembatan timbang. Tujuan penimbangan tersebut

adalah untuk mendapatkan data/angka yang benar yang dipergunakan sebagai

perbandingan di surat jalan yang ada dengan hasil penimbangan yang tercetak.

Hasil penimbangan tersebut juga dapat dipergunakan untuk perhitungan tagihan

dari supplier. Setelah ditimbang barang tersebut dibawa ke gudang bahan baku

RM yang disertai surat jalan untuk di uji oleh QC (Quality Control).

Pengujian tersebut ditujukan untuk mengetahui apakah bahan baku yang

diterima sesuai dengan PO, layak digunakan dalam produksi, dan kuantitasnya

sesuai dengan perjanjian. QC akan mengeluarkan pernyataan realease apabila

bahan tersebut memenuhi kriteria dan dapat digunakan dalam produksi, kemudian

dilakukan bongkar muat dan pihak WH membuat Surat Penerimaan Barang (SPB)

yang kemudian memasukkan ke dalam stock untuk disimpan. Sistem

penyimpanan yang digunakan adalah sistem First In First Out (FIFO). Sebaliknya

QC akan mengeluarkan pernyataan reject apabila kriteria bahan baku tidak

terpenuhi. Alasan untuk bahan baku gula dan SMP yang reject terjadi karena

sudah berjamur, kemasan rusak dan membantu (gula). Bahan baku yang

82

dinyatakan reject oleh QC bisa dikembalikan kepada pemasok, karena sudah ada

perjanjian antara pemasok dengan bagian purchasing. Namun apabila bahan baku

reject karena kesalahan dalam penyimpanan sehingga terjadi penurunan kualitas

maka bahan baku tidak bisa dikembalikan. Kasus reject karena kesalahan

penyimpanan ini jarang sekali terjadi di PT. Indolakto. Bagan alir prosedur

pengadaan bahan baku RM dapat dilihat pada Lampiran 6.

PT. Indolakto dalam memilih pemasok sangat selektif. Calon pemasok

bahan baku harus memenuhi beberapa kriteria yang telah ditetapkan perusahaan

dan telah lulus seleksi oleh bagian purchasing dan QC. Kriteria PT. Indolakto

dalam menentukan pemasok bahan baku adalah sebagai berikut:

1. Kriteria produk, yaitu bahan baku harus memenuhi standar yang ditetapkan.

2. Kriteria pengiriman, yaitu pengiriman bahan baku harus tepat waktu.

3. Kriteria harga, yaitu harga bahan baku yang ditawarkan harus bisa bersaing.

4. Kriteria tempat kedudukan pemasok (lokasi), yaitu pemasok harus jelas

domisilinya, mudah dihubungi dan tanggap untuk menerima komplain.

5.5 Pengendalian Kualitas Bahan Baku

Pengendalian kualitas bahan dan produk merupakan hal yang esensial

dalam industri pangan, khususnya industri pengelolaan susu. Pengendalian

mutu/kualitas sangat penting dilakukan untuk menjaga mutu produk,

mengendalikan agar menghasilkan mutu yang konsisten, dan yang terpenting

adalah sebagai jaminan keamanan makanan.

PT. Indolakto memiliki bagian khusus untuk pengendalian kualitas/mutu,

yaitu departemen PDQC (Product Development Quality Control). Pengendalian

kualitas dilakukan melalui berbagai pengujian, mulai dari bahan baku (susu segar,

83

SMP, gula, air, dan bahan-bahan lainnya) sampai produk jadi dengan jenis

pengujian TPC, kapang jamur, koliform, dan salmonella. Bagian QC (Quality

Control) mempunyai wewenang untuk menetapkan status suatu bahan baku

ataupun produk jadi. Bahan baku atau produk jadi yang diberikan status reject,

tidak boleh digunakan dalam proses produksi maupun dilepas ke konsumen.

Hanya produk yang berstatus release yang dapat digunakan dan dilepas ke

konsumen.

PT. Indolakto sangat memperhatikan masalah kualitas. Hal ini terlihat dari

quality slogan yang ditetapkan perusahaan, yaitu:

1. Produk dan jasa tanpa cacat dan aman saja yang hanya diberikan kepada

pelanggan

2. Amat mengerti dan memahami semua persyaratan proses kerja terkait.

3. Semua persyaratan dalam proses terkait harus dipenuhi.

4. Semua aktivitas yang dilakukan ditujukan untuk meningkatkan kepuasan

pelanggan.

PT. Indolakto memiliki tiga laboratorium yaitu mikrobiologi, fisika-kimia,

dan pengawasan proses. Pengawasan mikrobiologi meliputi pengawasan

penggunaan terhadap bahan mentah, ruang pengisian, dan produk akhir. Bahan

mentah yang dipasok ke perusahaan harus memenuhi syarat dari laboratorium

mikrobiologi sebelum bahan tersebut diterima. Laboratorium pengawasan proses

cenderung melihat aspek fisika karena aspek ini mengandung parameter mutu

yang lebih mudah diketahui dan yang pertama dilihat konsumen. Pengawasan

mutu fisika-kimia, sama halnya dengan pengawasan mutu mikrobiologi, yaitu

dilakukan mulai dari bahan baku sampai produk akhir.

84

VI. ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU
PERUSAHAAN

6.1 Pengendalian Persediaan Bahan Baku Perusahaan

Pengendalian persediaan yang dilakukan oleh perusahaan bertujuan untuk

memperlancar proses produksi, mengantisipasi kekurangan bahan dan

mengantisipasi terhadap kelebihan persediaan yang akan menyebabkan

pemborosan biaya. Selain itu, efisiensi operasional suatu organisasi dapat

meningkat karena fungsi penting persediaan, yaitu berfungsi menghadapi

ketidakpastian dari pemasok. Berdasarkan fungsi persediaan tersebut diketahui

bahwa jenis persediaan perusahaan adalah jenis anticipation stock. Sistem

pemakaian bahan baku perusahaan adalah sistem FIFO (First In First Out),

dimana bahan baku yang terlebih dahulu masuk gudang akan keluar

gudang/digunakan terlebih dahulu.

Kebutuhan bahan baku perusahaan dalam hal ini SMP dan gula diturunkan

dari rencana produksi susu UHT. Rencana produksi susu UHT ini diperoleh dari

Supply Order (SO) yang perkirakan oleh bagian marketing (PT. Indomilk).

Selanjutnya bagian PPIC PT. Indolakto akan menyesuaikan SO yang diterima

dengan kapasitas produksi perusahaan yang tercermin dalam Confirm Supply

Order (CSO). Berdasarkan kesepakatan tersebutlah PT. Indolakto berproduksi.

Sehingga dapat dikatakan bahwa tujuan perusahaan dalam berproduksi adalah

untuk memenuhi pesanan.

Kebutuhan bahan baku SMP dan gula diperoleh dari pemasok-pemasok

yang telah mengalami penyeleksian terlebih dahulu. Perusahaan melakukan

perjanjian dengan pemasok berupa kontrak selama waktu tertentu untuk bahan

85

baku yang dibutuhkan dalam jumlah besar termasuk didalamnya adalah SMP dan

gula. Pemesanan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan beberapa waktu tertentu

namun penyerahan/delivery barangnya dilakukan secara bertahap. Untuk bahan

baku SMP, perusahaan biasanya melakukan pemesanan untuk kebutuhan selama

tiga bulan mengingat lead time SMP adalah tiga bulan, namun setiap bulannya

ada penyerahan barang. Sementara pemesanan untuk bahan baku gula dilakukan

sejumlah kebutuhan gula selama sebulan pemakaian, karena lead time gula adalah

satu bulan. Jadi penyerahan/delivery barang tidak dilakukan sekaligus dalam suatu

waktu karena jumlahnya yang sangat besar sedangkan kapasitas gudang terbatas.

Selain itu sifat bahan baku yang tidak tahan lama (perishable) juga menjadi

pertimbangan untuk menetapkan kebijakan penyerahan/delivery secara bertahap.

Bagian produksi susu UHT menerima jadwal produksi dari PPIC setiap

minggunya. Selanjutnya bagian produksi susu UHT akan menghitung kebutuhan

bahan baku per hari dan mengajukan permintaan bahan kepada bagian

gudang/WH dengan membuat Surat Permintaan Bahan. Setelah menerima Surat

Permintaan Bahan, bagian gudang/WH akan mentransfer bahan ke bagian

produksi susu UHT untuk kebutuhan setiap hari produksi dan mengeluarkan Surat

Pengeluaran Bahan. Bagian gudang/WH memiliki label stok untuk masing-

masing bahan baku yaitu sejenis kartu yang berfungsi mengetahui jumlah bahan

baku yang diterima, yang keluar dan yang tersisa. Perhitungan secara fisik

terhadap bahan baku yang ada di gudang dilakukan setiap dua minggu sekali oleh

petugas gudang. Selain itu perusahaan juga menggunakan software SOLOMON

sebagai sistem informasi perusahaan sehingga memudahkan dalam memonitor

inventory stock status.

86

Sistem pengendalian persediaan yang dilakukan perusahaan pada

prinsipnya bertujuan untuk melakukan pesanan sejumlah kebutuhan untuk

beberapa waktu tertentu (sesuai lead time) yang ditambah dengan persediaan

pengaman. Lead time untuk bahan baku SMP adalah tiga bulan dan untuk bahan

baku gula adalah satu bulan. Perusahaan menetapkan persediaan pengaman untuk

bahan baku SMP sebanyak kebutuhan SMP selama dua minggu produksi

(0.5 bulan) setiap bulannya sedangkan persediaan pengaman untuk bahan baku

gula adalah sebanyak kebutuhan gula selama satu minggu produksi (0.25 bulan).

Penyimpanan persediaan di gudang diusahakan seminimal mungkin dengan

kebijakan penyerahan/delivery pesanan bahan baku secara bertahap. Hal itu semua

dilakukan untuk menjaga kualitas dan ketersediaan bahan baku agar dapat

memenuhi kebutuhan pemakaiannya.

Tabel 9. Persediaan SMP dan Gula per Bulan di Gudang Selama Tahun 2005

Bulan

SMP

Gula

Januari

121 813.91

32 736.63

Februari

196 760.76

62 002.95

Maret

189 096.16

49 033.78

April

8 363.01

60 067.48

Mei

55 902.72

24 291.67

Juni

185 779.51

21 734.54

Juli

90 714.32

20 475.98

Agustus

176 894.36

24 926.55

September

67 245.47

9 942.56

Oktober

60 329.16

14.50

November

46 264.32

2 750.67

Desember

171 624.75

157 232.82

Total

1 370 788.45

465 210.12

Rata-rata

114 232.37

38 767.51

Sumber: PT. Indolakto (diolah), 2006

Persediaan bahan baku SMP dan gula setiap bulannya dapat dilihat pada

Tabel 9. Berdasarkan Tabel. 9 tersebut diketahui bahwa selama tahun 2005, total

persediaan yang tersimpan di gudang adalah 1 370 788.45 kg SMP dan

87

465 210.12 kg gula. Adanya persediaan ini akan berpengaruh terhadap biaya

penyimpanan perusahaan. Semakin banyak persediaan yang di simpan, maka

semakin besar biaya penyimpanannya.

Total biaya persediaan bahan baku per tahun adalah total biaya antara

pemesanan bahan baku dan biaya penyimpanan bahan baku. Biaya pemesanan

perusahaan selama tahun 2005 adalah Rp 4 680 115.20 untuk bahan baku SMP

dengan frekuensi pemesanan sebanyak 27 kali pesan. Pengiriman barang setiap

kali pesanan biasanya dilakukan secara bertahap, yaitu beberapa kali dalam

sebulan tergantung dari permintaan perusahaan. Sedangkan biaya pemesanan

bahan baku gula adalah Rp 818 848.14 dengan frekuensi pemesanan sebanyak 33

kali. Biaya penyimpanan total perusahaan selama tahun 2005 untuk bahan baku

SMP adalah Rp 62 658 740.05 dan Rp 995 549.66 untuk bahan baku gula.

Sehingga biaya persediaan total bahan baku perusahaan selama tahun 2005 adalah

sebesar Rp 67 338 855.25 untuk SMP dan untuk bahan baku gula adalah sebesar

Rp 1 814 397.80. Biaya persediaan total perusahaan untuk bahan baku SMP dan

Gula adalah sebesar Rp 69 153 253.05. Secara rinci mengenai frekuensi

pemesanan, biaya pemesanan dan biaya penyimpanan bahan baku SMP dan gula

dengan metode perusahaan dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Biaya Persediaan Bahan Baku per tahun periode 2005
menggunakan Metode perusahaan.

Bahan
Baku

Biaya Pemesanan/tahun

Biaya Penyimpanan/tahun

Biaya Total
Persediaan

Rp/pesan Frek

Total Biaya
Pemesanan
per tahun
(Rp/tahun)

Rp/kg

Jml stock
setahun
(kg/tahun)

Total Biaya
Penyimpanan
per tahun
(Rp/tahun)

(Rp)

SMP

173 337.60 8 1 386 700.80 45.71 1 370 788.45 62 658 740.05 64 045 440.85

Gula

24 813.58 20 496 271.60 2.14

465 210.12

995 549.66 1 491 821.26

Total Biaya Persediaan

65 537 262.11

Sumber: PT. Indolakto (diolah), 2006

88

Selama tahun 2005 perusahaan melakukan pemesanan sebanyak delapan

kali untuk SMP dan dua puluh kali untuk gula. Perusahaan melakukan pemesanan

sebanyak delapan kali untuk SMP karena bahan baku tersebut diperoleh dengan

cara mengimpor dari beberapa negara, dimana biaya pemesanannya yang relatif

mahal. Kuantitas pemesanan yang dilakukan perubahaan berbeda-beda setiap

periode pemesanan, tergantung dari perkiraan permintaan konsumen. Oleh karena

itu perusahaan selalu menyediaakn sediaan penyangga yang mengakibatkan

adanya persediaan di gudang setiap periodenya. Hal ini disebabkan perusahaan

tidak ingin mengambil resiko ketidakandalan pemasok yang berdampak pada

terganggunya proses produksi perusahaan. Perusahaan saat ini memiliki enam

pemasok untuk SMP dan tujuh pemasok untuk gula. Dalam rangka memenuhi

kebutuhan bersih SMP dan gula setiap bulannya, perusahaan melakukan

pemesanan kepada seluruh pemasok tersebut.

Tabel 11. Biaya Pembelian SMP dan Gula Kebijakan Perusahaan
Tahun 2005

Kuantitas
(kg)

Harga beli + Biaya
tranportasi
(Rp/kg)

Biaya Bongkar
Muat
(Rp/kg)

Biaya Pembelian
Total
(Rp/tahun)

SMP

2 178 414.89 22 009.68

1.90

47 950 353 659.12

Gula

1 510 913.78 5 200.00

1.90

7 859 622 373.48

Biaya Pembelian Total

55 809 976 032.60

Sumber: PT. Indolakto (diolah), 2006

Pada Tabel 11. dapat dilihat rincian biaya pembelian bahan baku SMP dan

gula. Kuantitas pembelian bahan baku SMP yang ditujukan untuk produksi UHT

pada tahun 2005 adalah 2 178 414.89 kilogram dengan biaya pembelian sebesar

Rp 47 950 353 659.12. Sedangkan untuk bahan baku gula, kuantitas pembelian

perusahaan adalah 1 510 913.78 kilogram dengan biaya pembelian sebesar

89

Rp 7 859 622 373.48. Biaya pembelian total untuk bahan baku SMP dan gula

yang dilakukan perusahaan pada tahun 2005 adalah Rp 55 809 976 032.60.

6.2 Metode Material Requirement Planning (MRP)

MRP merupakan metode perencanaan dan pengendalian pesanan dan

persediaan untuk barang-barang dengan sifat permintaan dependent (terikat). SMP

dan gula yang digunakan oleh PT. Indolakto merupakan bahan baku untuk

produksi susu UHT yang memiliki sifat permintaan terikat. Sehingga metode

MRP ini dapat digunakan sebagai alternatif bagi perusahaan untuk merencanakan

kebutuhan bahan dan mengelola persediaan bahan baku terutama dalam hal

ukuran lot pemesanan, biaya persediaan, dan besarnya tingkat persediaan. Ada

beberapa macam teknik MRP yang dalam perhitungan besarnya lot yang dipesan.

Teknik MRP tersebut adalah teknik Lot For Lot (LFL), Economic Order Quantity

(EOQ) dan teknik Part Period Balancing (PPB). Namun dalam pembahasan ini

hanya mengkaji teknik EOQ dan PPB sedangkan teknik LFL tidak digunakan

mengingat kebijakan perusahaan yang menginginkan adanya persediaan

pengaman. Sementara teknik LFL pada prinsipnya mengharuskan perusahaan

untuk selalu memesan sebesar kebutuhan bersih SMP dan gula yang disesuaikan

dengan waktu tunggu masing-masing bahan tersebut tanpa sediaan pengaman.

Rencana pelaksanaan pesanan merupakan perhitungan waktu mundur dari

rencana penerimaan pesanan. Dalam hal ini, rencana pelaksanaan pesanan sangat

tergantung dari lead time pengadaan bahan baku SMP dan gula tersebut. Dengan

demikian, perusahaan harus memesan SMP dan gula masing-masing pada tiga

bulan dan satu bulan sebelum timbul adanya kebutuhan bersih persediaan bahan

baku tersebut, agar persediaan SMP dan gula tersedia pada saat dibutuhkan.

90

6.2.1 Metode MRP Teknik Economic Order Quantity (EOQ)

Penggunaan metode EOQ mengharuskan perusahaan melakukan

pemesanan SMP dan gula sebesar tingkat EOQnya atau sebesar kelipatan dari

EOQ pada setiap kali melakukan pemesanan apabila kebutuhan bersih SMP dan

gula lebih besar dari nilai EOQ. Nilai EOQ untuk bahan baku SMP adalah

36 199.35 kg dan 51 683.53 kg untuk bahan baku gula.

Dengan menggunakan metode EOQ, perusahaan melakukan pemesanan

sebanyak sembilan kali untuk bahan baku SMP dan sebelas kali untuk bahan baku

gula. Jumlah persediaan di tangan selama tahun 2005 dengan metode EOQ adalah

sebanyak 1 220 357.73 kg untuk bahan baku SMP dan 634 488.53 kg gula.

Adanya persediaan tersebut mengakibatkan perusahaan harus menanggung biaya

penyimpanan untuk SMP dan gula masing-masing sebesar Rp 55 782 551.61 dan

Rp 1 357 805.45. Biaya persediaan total SMP dan gula dengan menggunakan

metode EOQ adalah Rp 58 973 344.84. Biaya ini masih lebih kecil dibandingkan

biaya persediaan total yang ditanggung perusahaan. Hal ini disebabkan frekuensi

pemesanan dan jumlah persediaan di tangan selama tahun 2005 dengan metode

EOQ lebih kecil dibandingkan dengan perusahaan.

Tabel 12. Biaya Persediaan SMP dan Gula dengan Metode EOQ Tahun 2005

Bahan
Baku

Biaya Pemesanan/tahun

Biaya Penyimpanan/tahun

Biaya Total
Persediaan

Rp/pesan Frek Total Biaya
Pemesanan
per tahun
(Rp/tahun)

Rp/kg Jml stock
setahun
(kg/tahun)

Tot Biaya
Penyimpanan
per tahun
(Rp/tahun)

(Rp/tahun)

SMP

173 337.60 9 1 560 038.40 45.71 1 220 357.73 55 782 551.61 57 342 590.01

Gula

24 813.58 11 272 949.38 2.14 634 488.53 1 357 805.45 1 630 754.83

Total

1 832 987.78

57 140 357.06 58 973 344.84

Sumber: PT. Indolakto (diolah), 2006

Frekuensi pemesanan yang dilakukan perusahaan lebih sedikit karena

perusahaan melakukan pemesanan lebih jarang namun dengan kuantitas pesan

91

yang relatif tinggi sehingga menyebabkan persediaan perusahaan menjadi besar.

Secara rinci mengenai frekuensi pemesanan, biaya pemesanan dan biaya

penyimpanan SMP dan gula dengan metode EOQ dapat dilihat pada Tabel 12.

Kuantitas pembelian bahan baku SMP untuk produksi UHT pada tahun

2005 dengan metode EOQ adalah 1 701 369.45 kg dengan biaya pembelian

sebesar Rp 37 449 829 758.23. Sedangkan untuk gula, kuantitas pembelian adalah

1 292 088.25 kg dengan biaya pembelian sebesar Rp 6 721 313 867.68. Kuantitas

tersebut masih lebih sedikit dibandingkan kuantitas yang dibeli perusahaan.

Perusahaan melakukan pembelian dengan kuantitas yang lebih besar karena

perusahaan tidak mau mengambil resiko kekurangan bahan baku. Biaya

pembelian total SMP dan gula dengan metode EOQ adalah Rp 44 171 143 625.91.

Rincian biaya pembelian bahan baku SMP dan gula dengan metode EOQ dapat

dilihat pada Lampiran 17.

6.2.2 Metode MRP Teknik Part Period Balancing (PPB)

Dalam penggunaan metode PPB, perusahaan melakukan pemesanan bahan

baku SMP dan gula sebesar kebutuhan kotor pada suatu periode yang

digabungkan. Banyaknya periode yang digabungkan tergantung dari nilai

kumulatif bagian periode yang mendekati nilai Economic Part Period (EPP).

Nilai EPP untuk masing-masing bahan baku diperoleh dari hasil bagi antara biaya

pemesanan per pesanan dengan biaya penyimpanan per kilogram per bulan SMP

dan gula tersebut. Nilai EPP SMP dan gula masing-masing sebesar 3 792.12 dan

11 595.13.

Berdasarkan Lampiran 13 dan Lampiran 14 diperoleh nilai akumulasi

periode bagian yang mendekati nilai EPP untuk bahan baku SMP dan bahan baku

92

gula, yaitu satu periode. Nilai EPP yang menghasilkan periode gabungan satu

periode tersebut menyebabkan frekuensi dan kuantitas pemesanan masing-masing

SMP dan gula adalah sembilan dan sebelas kali.

Kuantitas pemesanan yang direncanakan adalah sejumlah kebutuhan kotor

selama periode gabungan, dalam hal ini adalah sejumlah kebutuhan kotor satu

periode yang jumlahnya berbeda-beda untuk setiap periodenya ditambah dengan

persediaan pengaman. Kebijakan perusahaan menginginkan adanya persediaan

pengaman untuk antisipasi terhadap permintaan konsumen, oleh karena itu dalam

penentuan lot pemesanan perlu diikutsertakan perhitungan persediaan pengaman.

Biaya persediaan total selama tahun 2005 dari bahan baku SMP adalah

Rp 48 946 297.45 dan Rp 1 012 441.80 untuk bahan baku gula. Secara

keseluruhan, biaya persediaan total perusahaan selama tahun 2005 dari bahan

baku SMP dan gula dengan teknik PPB adalah sebesar Rp 49 958 739.25. Biaya

persediaan total dengan teknik PPB ini masih lebih rendah bila dibandingkan

dengan teknik perusahaan. Secara rinci mengenai frekuensi pemesanan, biaya

pemesanan dan biaya penyimpanan bahan baku SMP dan gula dengan metode

PPB dapat dilihat pada Tabel 13.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->