Asuhan keperawatan pada Pasien dengan Tumor Colli TUMOR COLLI

1. Pengertian Pengertian Tumor secara umum adalah suatu pertumbuhan yang tidak terkendali dari suatu organ tubuh.

2. Jenis-jenis Tumor a. Tumor Jinak Tumor Jinak artinya pertumbuhan tersebut terbatas pada organ tersebut saja b. Tumor Ganas. Tumor ganas akan menyebar melalui pembuluh darah atau pembuluh getah bening ke organ tubuh lainnya. Tumor ganas nama lainnya adalah kanker.

3. Gejala Tumor Colli/Tumor Leher Tumor leher yang disebabkan oleh karsinoma nasopharynx terletak di ujung processus mastoideus, di depan m. sternocleidomastoideus dan di belakang angulus mandibullae. Pembesaran tumor leher ini merupakan penyebaran terdekat secara limfogen, sedang penyebaran jauh dapat ke hati, paru- paru, tulang pinggul, os sacrum dan lain-lain. Pembesaran tumor di leher inilah yang sering mendorong penderita pergi ke dokter.

4. Pembagian mengenai Penyebaran Tumor ke kelenjar limfe N0 : belum ada tumor di leher N1 : ada tumor leher homolateral dan tumor masih mudah bergerak N2 : ada tumor kontralateral atau bilateral, masih mudah bergerak. N3 : ada tumor leher kontralateral atau bilateral, tidakdapat bergerak

ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF KAMAR BEDAH PADA PASIEN DENGAN TUMOR COLLI

R b.A. No Register : 156901 d.5°C 3) Riwayat Kesehatan Dahulu : Pernah operasi ½ tahun yang lalu dengan penyakit yang sama Riwayat Kesehatan Saat ini : Pasien merasakan pegal di area sekitar benjolan 4) Cairan parenteral : Infus RL 500 CC 5) Kebersihan colon lambung : Puasa 6) Pencukuran daerah operasi : Sudah 7) Personal Hygiene (mandi) : Sudah 8) Kompres daerah operasi dengan kassa alcohol : Tidak 9) Pengosongan kandung kemih : Tidak terpasang DC. Tindakan Operasi : Eksisi Tumor Colli f. Kamar Op/Tanggal : II/ 4 April 2009 g. Dx Medis : Tumor Colli e. Asuhan Keperawatan Pra Operatif 1. Status Kesehatan : 1) Kesadaran : Compos Mentis 2) Vital Sign : TD 130/80 mmHg RR 23x/menit N 92x/menit Suhu : 36. 10) Baju operasi : Sudah 2. Umur : 35 tahun c. BIODATA PASIEN a. PERSIAPAN PENUNJANG Laboratorium Darah Lengkap : Sudah GDS : Sudah Elektrolit : Sudah Urine rutin : Sudah . Nama : Ny.

Pasien mengatakan tidak begitu takut menghadapi operasi Obyektif . Pasien terlihat tenang b. a.d agen-agen yang menyebabkan cedera 7. Kaji tingkat nyeri pasien b. Nyeri b. Limfe-Pertumbuhan jaringan abnormal (Leher)-Insisi leher 5. DIAGNOSA KEPERAWATAN Nyeri b. Pasin terlihat kurang nyaman dengan benjolan di lehernya 6.3. PATHWAY: Makanan yang mengandung zat karsinogenik-Menyebar ke seluurh tubuh melalui PD. P. DEFINISI DAN PATHWAY : Pengertian Tumor secara umum adalah suatu pertumbuhan yang tidak terkendali dari suatu organ tubuh.d agen-agen yang menyebabkan cedera b. INFORM CONSENT : Sudah 4. Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan masalah nyeri dapat teratasi. Pasien mengatakan nyeri di area sekitar benjolan b. Ajarkan pasien untuk menarik nafas dalam ketika merasa nyeri . Kriteria hasil : 1) Pasien merasa nyaman 2) Pasien tidak terlihat menahan nyeri 3) Nyeri pasien berkurang 8. RENCANA KEPERAWATAN a. Status Psikososial : Subyektif : a. INTERVENSI a. Kooperatif apabila diajak berkomunikasi c.

Memberikan posisi yang nyaman. Mengkaji tingkat nyeri pasien. Kooperatif 3. Mengajarkan pasien untuk menarik nafas dalam ketika merasa nyeri. Persiapan Alat : Instrumen Instrumen Tambahan Basic set : Jas Operasi Bengkok 2 Handscone Nailpuder2 Duk besar(2). duk klem 4 Klem arteri 10 Alkohol (3) Kom 2 Betadine Skapel 2 Bisturi no. Berikan posisi yang nyaman 9.c. duk sedang (2). Kooperatif (nyeri ditunjukan pada tingkat 6) Respon pasien 2. Implementsi 1. Persiapan Pasien : Posisi pasien : Supinasi TD : 136/66 mmHg Nadi : 93x/menit RR :18x/menit Pemasangan : Bed Side Monitor 2. siede 2-0 (1). plan 2-0 (1) Hipafix .22 Kooker 4 Kasa steril Gunting jaringan 1 Cauter Gunting benang 1 Hak Kulit Pinset anatomis 2 Kuret Pinset sirurgis 2 Benang. Kooperatif B. Asuhan Keperawatan Intra Operatif 1. IMPLEMENTASI No. duk lubang(1).

gunting. distribusi rambut baik. Pengkajian sekunder Kesadaran pasien : Compos Metis TD : 130/80 mmHg. Penutupan area operasi Kasa kering 2. Penjahitan kulit Nailpuder. Desinfeksi Kom. Nadi : 86X/menit Pemeriksaan fisik : 1) Kepala : Bentuk mesocepal. hepafix C. Pelaksanaan Asisten/Instrumen No.3. kasa. tidak ada serumen 6) Leher : Terdapat luka insisi. Desinfeksi area jahitan Betadine. duk lubang(1). TD 130/80 mmHg. kom 11. RR : 20X/menit C (Circulation) : Tidak ada sianosis. Penjahitan Subkutis Nailpuder. distribusi rambut baik dan bersih 2) Mata : Sklera unikterik. Insisi area operasi (benjolan di leher) Bisturi no. 7) Dada : Bentuk dada normal. Asuhan Keperawatan Post Operatif I. 4) Mulut : Mukosa lembab. gunting. Tindakan Peralatan yang Disiapkan 1. jarum. 5) Telinga : Simetris. Klem sisi-sisinya untuk melihat tumornya Hak kulit 7. payudara simetris. tidak ada masa. konjungtifa tidak anemis. Pengkajian primer A (Airway) : Tidak Ada sumbatan Jalan Nafas B (Breathing) : Suara nafas vesikuler. 3) Hidung : Bersih.22 5. CR < 2 detik. klem. b. jarum. duk klem 4 4. Cutting Cutter 6. mata simetris. klem. tidak ada nafas cuping hidung. Mengambil tumor Kuret (tumor pecah menjadi bagian kecil-kecil sehingga diambil dengan kuret) 8. tidak ada pembesaran tonsil. duk sedang (2). seide 2-0. alcohol. kasa 10. tidak ada benjolan. betadin. ekspansi dada normal. klem. kasa 2. Pengkajian a. gigi bersih. kasa+betadine 2. Drapping Duk besar(2). kasa. . Plan 2-0 9.

Diagnosa Keperawatan Resiko tinggi cidera b.d proses pemindahan pasien III. Diagnosa Keperawatan 1. Kooperatif Meninggikan pegangan di samping temoat tidur Kooperatif . Kriteri hasil Pasien merasa aman saat dilakukan pemindahan IV. Rencana keperawatan a. Meninggikan penyangga yang ada disamping tempat tidur pasien. Rencana Tindakan a. Kooperatif Menghitung bersama-sama saat mengangkat pasien. Mengangkat pasien secara bersamaan e. Kooperatif Mengangkat kepala pasien. Perhatikan posisi pasien b. 8) Abdomen : Turgor kulit normal. Mendekatkan bed ke samping tempat tidur pasien. 9) Genetalia : Tidak terpasang DC. c. Implementasi Mendekatkan bed ke samping tempat tidur pasien. Kolaborasi dengan 2-3 perawat yang ada d. Tujuan Resiko cidera berkurang b.tidak ada otot bantu nafas. V. 10) Ekstremitas : Tangan kiri terpasang infuse RL Jenis Anestesi : General anestesi Pemeriksaan Aldrette Score Nilai > 7 tanpa nilai 0 dapat pindah ruang II.

2001 ) Tumor Colli adalah adanya massa dalam tubuh pada bagian leher. Assesment: Masalah teratasi d. misalnya estrogen .com/2009/07/asuhan-keperawatan-pada-pasiendengan_29. 2005) Etiologi 1. misalnya Aflatoksin B1 pada kacang. vinylklorida pada industri plastik. (Muhsin. Obyektif: CM TD: 120/60 mmhg S : 37. Hormon. misalnya sinoar ionisasi pada nuklir. ( Antony. Karsinogen kimiawi dapat alami atau sintetik. Hidayat.5 C RR: 22 x/menit Nadi: 76x/menit c. kemoterapi dalam kesehatan. ( S.1 Tinjauan Medis Pengertian Tumor Colli adalah benjolan atau pembengkakan dalam tubuh pada bagian leher.html Asuhan Keperawatan Pada Pasien Tumor Colli 1. sinar ultraviolet. 2. Evaluasi Sumatif (SOAP) a. Subyektif: Pasien mengatakan lemes b. benzoapiran pada asap kendaraan bermotor. Planning: Lanjutkan perawatan anestesi/spinal di ruang RR http://musculoskeletalbedah. Karsinogen fisik. 2003 ) Tumor Colli adalah benjolan yang disebabkan oleh neoplasma pada bagian leher. sinar radioaktif. 3.6.blogspot.

kemampuan dalam berinfiltrasi dan menyebabkan metastase Pada umumnya tumor mulai tumbuh dari satu sel di suatu tempat (unisentrik). Penurunan imunitas Manisfestasi klinis 1. Adanya benjolan yang mudah digerakkan Pertumbuhan amat lambat Tidak memberikan keluhan Paralisis fasial unilateral Klasifikasi tumor Neoplasma dapat bersifat ganas atau jinak. HPV. merokok. Perbedaan sifat sel tumor tergantung dari besarnya penyimpangan dalam bentuk dan fungsinya. Neoplasma ganas atau kanker terjadi karena timbul dan berkembang biaknya sel-sel secara tidak terkendali sehingga sel-sel ini tumbuh terus merusak bentuk dan organ tempat tumbuh kanker. 5. . Neoplasma jinak tumbuh dengan batas tegas dan tidak menyusup.4. misalnya schistoma hematobium Genetik 8. tidak merusak tetapi membesar dan menekan jaringan sekitarnya (ekspansif) dan umumnya tidak bermetastase. tetapi kadang tumor berasal dari beberapa sel dalam satu organ (multisentrik) atau dari beberapa organ (multiokuler) pada waktu bersamaan (sinkron) atau berbeda (metakron). autonominya dalam pertumbuhan. Patofisiologi Sel tumor ialah sel tubuh yang mengalami transformasi dan tumbuh secara autonom lepas dari kendali pertumbuhan sel normal sehingga sel ini berbeda dari sel normal dalam bentuk dan strukturnya. HBV. 4. EBV Gaya hidup. 6. alcohol Parasit. 7. 2. misalnya TBL-I. Viral. misalnya diet. 3. Klasifikasi patologik tumor dibuat berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopis pada jaringan dan tumor .

tanggal dan jam MRS.2 Tinjauan Asuhan Keperawatan 1. Pemeriksaan penunjang 1.Selama pertumbuhan tumor masih terbatas pada organ tempat asalnya maka tumor dikatakan mencapai tahap local. Laboratorium patologi anatomi Pemeriksaan CT-Scan Diagnosa dari suatu tumor dapat tergantung pada batas-batas tumor dan hasil biobsi dari lesi. agama. urin. namum bilatelah infiltrasi ke organ sekitarnya dikatakan mencapai tahap invasive atau infiltratif . (Zwaveling. suku bangsa. Pada neoplasma sel tumbuh sambil menyusup dan merembes ke jaringan sekitarnya dan dapat meninggalkan sel induk masuk ke pembuluh darah atau pembuluh limfe. sehingga terjadi penyebaran hematogen dan limfatogen. 2. umur ( kebanyakan terjadi pada usia tua). Pemeriksaan rontgen Foto – foto rontgen tengkorak dan leher kadang-kadang dapat menunjukan ikut sertanya tulangtulang. Kanker dari organ-organ visceral lebih sulit di diagnosis dan di biobsi. 1985) 2. Identitas klien Meliputi nama. nomor register dan diagnosa medis. apakah tumor yang ditetapkan klinis itu berasal dari atau berhubungan dengan kelenjer-kelenjer ludah tersebut. pendidikan . Sel tumor bersifat tumbuh terus sehingga makin lama makin besar dan mendesak jaringan sekitarnya. pekerjaan. Persiapan penunjang . 1.1 Pengkajian 1. Pemeriksaan darah lengkap. alamat. Pemeriksaan ini penting untuk membedakan antara suatu tumor dengan radang (khronik). jenis kelamin. Pemeriksaan rontgen glandula parotis dan submandibularis dengan bahan kontras (sialografi) dapat menunjukan. Metode ini kurang berguna untuk membedakan antara tumor jinak dan ganas. Sedangakan foto thorax diperlukan untuk penilaian kemungkinan metastasis hematogen. Informasi dari pemeriksaan CT-Scan dapat bermanfaat untuk membantu mendiagnosis. Pemeriksaan laboratorium 1) 2) 3. dan kalau dapat ditambah dengan temografi.2.

< 20. 3. gigi. batuk non produktif – terutama bleomisin 2) Kaji tanda CHF 3) Lakukan pemeriksaan EKG 5) Sistem Neuromuskular 1) Perhatikan adanya perubahan aktifitas motorik 2) Perhatikan adanya parestesia . nyeri abdomen kuadran atas kanan 3) Sistem Hematopoetik 1) Kaji Netropenia 2) Kaji Trombositopenia : < 50. mulai.000/m3 – berat 3) Kaji Anemia 4) Sistem Respiratorik & Kardiovaskular 1) Kaji terhadap fibrosis paru yang ditandai : Dispnoe. berat ringannya mual & muntah setelah pemberian kemotherapi 2) Observasi perubahan keseimbangan cairan & elektrolit 3) Kaji diare & konstipasi 4) Kaji anoreksia 5) Kaji : jaundice.Meliputi laboratorium. Pemeriksaan fisik 1) Sistem Integumen : 1) Perhatikan : nyeri. durasi. flebitis. bengkak. ulkus 2) Inspeksi kemerahan & gatal. urine. kering.000/m3 – menengah. mukosa & lidah 2) Sistem Gastrointestinalis 1) Kaji frekwensi. eritema 3) Perhatikan pigmentasi kulit 4) Kondisi gusi. GDS.

anuria 4) Monitor BUN. Gunakan teknik aseptik yang cermat untuk semua prosedur invasif Rasional : untuk mencegah kontaminasi silang/menurunkan resiko infeksi 5). Pantau suhu dengan teliti Rasional : untuk mendeteksi kemungkinan infeksi 2). Tempatkan anak dalam ruangan khusus Rasional : untuk meminimalkan terpaparnya anak dari sumber infeksi 3). Berikan periode istirahat tanpa gangguan Rasional : menambah energi untuk penyembuhan dan regenerasi seluler . lemah. Inspeksi membran mukosa mulut. dan masalah gigi Rasional : untuk intervensi dini penanganan infeksi 6). kreatinin 1. ulserasi mukosa.3) Evaluasi refleks 4) Kaji ataksia. Evaluasi keadaan anak terhadap tempat-tempat munculnya infeksi seperti tempat penusukan jarum.2. Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan tubuh Tujuan : Anak tidak mengalami gejala-gejala infeksi Intervensi : 1). Anjurkan semua pengunjung dan staff rumah sakit untuk melaksanakan teknik mencuci tangan dengan baik Rasional : untuk meminimalkan pajanan pada organisme infektif 4). oliguria. kekeruhan urine 3) Kaji : hematuria.2 Diagnosa Keperawatan a. warna. menyeret kaki 5) Kaji gangguan pendengaran 6) Diskusikan ADL 6) Sistem genitourinari 1) Kaji frekwensi BAK 2) Perhatikan bau. Bersihkan mulut dengan baik Rasional : rongga mulut adalah medium yang baik untuk pertumbuhan organisme 7).

Berikan antibiotik sesuai ketentuan Rasional : diberikan sebagai profilaktik atau mengobati infeksi khusus b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat anemia Tujuan : terjadi peningkatan toleransi aktifitas Intervensi : 1). Berikan lingkungan tenang dan perlu istirahat tanpa gangguan Rasional: menghemat energi untuk aktifitas dan regenerasi seluler atau penyambungan jaringan 3). Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering Rasional : karena jumlah kecil biasanya ditoleransi dengan baik . Berikan bantuan dalam aktifitas sehari-hari dan ambulasi Rasional : memaksimalkan sediaan energi untuk tugas perawatan diri c. Berikan antiemetik awal sebelum dimulainya kemoterapi Rasional : untuk mencegah mual dan muntah 2). Berikan diet lengkap nutrisi sesuai usia Rasional : untuk mendukung pertahanan alami tubuh 9).8). perhatikan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dala aktifitas sehari-hari Rasional : menentukan derajat dan efek ketidakmampuan 2). Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah Tujuan : Tidak terjadi kekurangan volume cairan Pasien tidak mengalami mual dan muntah Intervensi : 1). Hindari memberikan makanan yang beraroma menyengat Rasional : bau yang menyengat dapat menimbulkan mual dan muntah 5). Evaluasi laporan kelemahan. Kaji respon anak terhadap anti emetik Rasional : karena tidak ada obat antiemetik yang secara umum berhasil 4). Kaji kemampuan untuk berpartisipasi pada aktifitas yang diinginkan atau dibutuhkan Rasional : mengidentifikasi kebutuhan individual dan membantu pemilihan intervensi 4). Berikan antiemetik secara teratur pada waktu dan program kemoterapi Rasional : untuk mencegah episode berulang 3).

Dorong orang tua untuk tetap rileks pada saat anak makan Rasional : jelaskan bahwa hilangnya nafsu makan adalah akibat langsung dari mual dan muntah serta kemoterapi 2). Izinkan anak memakan semua makanan yang dapat ditoleransi. Dorong masukan nutrisi dengan jumlah sedikit tapi sering Rasional : karena jumlah yang kecil biasanya ditoleransi dengan baik 6). Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan anoreksia. Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori kaya nutrient Rasional : kebutuhan jaringan metabolik ditingkatkan begitu juga cairan untuk menghilangkan produk sisa suplemen dapat memainkan peranan penting dalam mempertahankan masukan kalori dan protein yang adekuat 7). efek samping kemoterapi dan atau stomatitis Tujuan : pasien mendapat nutrisi yang adekuat Intervensi : 1). mual dan muntah.6). Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pemberian agens kemoterapi. khususnya bila BB dan pengukuran antropometri kurang dari normal e. Berikan cairan intravena sesuai ketentuan Rasional : untuk mempertahankan hidrasi d. Berikan makanan yang disertai suplemen nutrisi gizi. ukur TB dan ketebalan lipatan kulit trisep Rasional : membantu dalam mengidentifikasi malnutrisi protein kalori. radioterapi. malaise. rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat Rasional : untuk mempertahankan nutrisi yang optimal 3). seperti susu bubuk atau suplemen yang dijual bebas Rasional : untuk memaksimalkan kualitas intake nutrisi 4). imobilitas Tujuan : pasien mempertahankan integritas kulit Intervensi : . Timbang BB. Izinkan anak untuk terlibat dalam persiapan dan pemilihan makanan Rasional : untuk mendorong agar anak mau makan 5).

Ubah posisi dengan sering Rasional : untuk merangsang sirkulasi dan mencegah tekanan pada kulit 3). Anjurkan untuk menjaga agar rambut yang tipis itu tetap bersih. dan alat alat yang sesuai dengan jenis kelamin . Dorong anak untuk memilih wig (anak perempuan) yang serupa gaya dan warna rambut anak sebelum rambut mulai rontok Rasional : untuk membantu mengembangkan penyesuaian rambut terhadap kerontokan rambut 2). terutama di dalam mulut dan daerah perianal Rasional : karena area ini cenderung mengalami ulserasi 2). Jelaskan bahwa rambut mulai tumbuh dalam 3 hingga 6 bulan dan mungkin warna atau teksturnya agak berbeda Rasional : untuk menyiapkan anak dan keluarga terhadap perubahan penampilan rambut baru 5). Gangguan citra tubuh berhubungan dengan benjolan di leher Tujuan : pasien atau keluarga menunjukkan perilaku koping positif Intervensi : 1). ulserasi dapat terjadi dalam area radiasi pada beberapa agen kemoterapi 5). pendek dan halus Rasional : untuk menyamarkan kebotakan parsial 4). berdan. Berikan penutup kepala yang adekuat selama pemajanan pada sinar matahari. Dorong masukan kalori protein yang adekuat Rasional : untuk mencegah keseimbangan nitrogen yang negative 7). misalnya wig. Berikan perawatan kulit yang cemat. Anjurkan pasien untuk tidak menggaruk dan menepuk kulit yang kering Rasional : membantu mencegah friksi atau trauma kulit 6). Dorong hygiene. Kaji kulit yang kering terhadap efek samping terapi kanker Rasional : efek kemerahan atau kulit kering dan pruritus. skarf. Pilih pakaian yang longgar dan lembut diatas area yang teradiasi Rasional : untuk meminimalkan iritasi tambahan f. dan pakaian yang menarik Rasional : untuk meningkatkan penampilan .1). angin atau dingin Rasional : karena hilangnya perlindungan rambut 3). tata rias. topi. Mandikan dengan air hangat dan sabun ringan Rasional : mempertahankan kebersihan tanpa mengiritasi kulit 4).

6).tidak ada manifestasi perilaku akibat kecemasan. . Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien. Rasional : menciptakan rasa percaya dalam diri pasien bahwa dirinya mampu mengatasi masalahnya dan memberi keyakinan pada diri sendri yang dibuktikan dengan pengakuan orang lain atas kemampuannya. 4).g. Lakukan pendekatan dan berikan motivasi kepada pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan. Berikan penguatan yang positif untuk meneruskan aktivitas sehari-hari meskipun dalam keadaan cemas. Rasional : alat untuk mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi kecemasan. Rasional : pendekatan dan motivasi membantu pasien untuk mengeksternalisasikan kecemasan yang dirasakan. 5).klien melaporkan tidak ada gangguan persepsi sensori. harapan-harapan yang positif terhadap terapy yang di jalani. Rasional : memudahkan intervensi. Rasional : mempertahankan mekanisme koping adaftif. Kaji mekanisme koping yang digunakan pasien untuk mengatasi ansietas di masa lalu.klien mampu mempertahankan penampilan peran. 2).klien melaporkan tidak ada manifestasi kecemasan secara fisik. . 3).klien mampu merencanakan strategi koping untuk situasi-situasi yang membuat stress. . meningkatkan kemampuan mengontrol ansietas. Intervensi : 1). . . Cemas berhubungan dengan persiapan operasi Tujuan : ansietas berkurang/terkontrol. Motivasi pasien untuk memfokuskan diri pada realita yang ada saat ini. Kriteria hasil : . Anjurkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi.

6) Pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal. Rasional : mengurangi ansietas sesuai kebutuhan. Kolaborasi pemberian obat anti ansietas.com/2012/01/asuhan-keperawatan-pada-pasien-tumor.2. Christine. 2) Pasien memiliki persepsi yang positif terhadap penampilan dan fungsi tubuh. 3) Pasien menunjukkan koping yang efektif.blogspot.html . 2001). 8). 7). Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan Pre Operasi Tumor adalah : 1) Ansietas berkurang/terkontrol.Rasional : menciptakan perasaan yang tenang dan nyaman. Rasional : meningkatkan pengetahuan. 4) Pasien dan keluarga memahami perubahan perubahan dalam peran keluarga. 5) Pasien akan memperlihatkan pengendalian ketakutan. Sediakan informasi faktual (nyata dan benar) kepada pasien dan keluarga menyangkut diagnosis.3 Evaluasi Evaluasi addalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker. mengurangi kecemasan. http://dia-sukajaya. perawatan dan prognosis. 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful