ANALISIS DAMPAK DAN STRATEGI PENGEMBANGAN AGROPOLITAN BASIS JAGUNG TERHADAP PEREKONOMIAN WILAYAH SERTA ANALISIS PENDAPATAN MASYARAKAT

PETANI DI PROVINSI GORONTALO (Studi Kasus Kabupaten Pohuwato)

SHERLY GLADYS JOCOM

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis ”Analisis Dampak dan Strategi Pengembangan Agropolitan Basis Jagung terhadap Perekonomian Wilayah serta Analisis Pendapatan Masyarakat Petani di Provinsi Gorontalo (Studi Kasus Kabupaten Pohuwato)” adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau yang dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebut dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Januari 2009

Sherly Gladys Jocom A155050011

ABSTRACT
SHERLY GLADYS JOCOM. An Analysis of the Impact and Strategy of Corn-Based Agropolitant Development on the Regional Economy and Farmers’ Income Analysis in the Province of Gorontalo (Case study of Pohuwato Regency). Under the direction of EKA INTAN KUMALA PUTRI, and HIMAWAN HARIYOGA. This study was intended to identify the impact of the agropolitant development in relation to the regional development of Pohuwato Regency. The objective of the study was to analyze the impact of corn-based agropolitant development on the regional economy and farmers’ income, measure the level of people’s participation, and formulate the policies which can stimulate economic development in the agropolitant area. The research results show that corn-based agropolitant development has improved the regional economy of Pohuwato Regency through a change in the structure of regional economy and increased the farmers’ income although the major (prioritized) sectors such as agriculture, subfood crops, corn commodities and transportation are still low in competitiveness. The people’s participation in the agropolitant area was at the level of consultation. Therefore, the strategies for the development of regional economy in the agropolitant area should include (1) formation of investment service centers, (2) improvement in the promotion of UKM (small-medium scale businesses) and business opportunity campaigns, (3) the exertion of product and market diversification (4) provision of business permit / licenses under one roof ( onestop services office ), (5) improvement in facilities and quality of education as well as public and social facilities, (6) optimization in the development of growth centers in the rural areas (agropolitants), (7) improvement in cooperation policies between regions, and (8) empowerment of community and farmers’ institutions. Keywords : agropolitant, regional economy, community’s participation

per ha/tahun.per ha/tahun lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata pendapatan usahatani di kawasan non agropolitan sebesar Rp. mengkaji tingkat partisipasi masyarakat dan merumuskan strategi pembangunan yang dapat mendorong pengembangan ekonomi kawasan agropolitan. Gorontalo berkembang pesat dan menjadi salah satu provinsi yang diperhitungkan di Kawasan Timur Indonesia. namun secara kompetitif sektor-sektor unggulan seperti sub sektor tanaman bahan makanan. Analisis Tingkat Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan dan Analisis Rapid Assessment for Local Economic Development (RALED).080. sektor bangunan dan pengangkutan masih memiliki daya saing yang rendah sehingga dapat menghambat perekonomian wilayah. Analisis Dampak dan Strategi Pengembangan Agropolitan Basis Jagung terhadap Perekonomian Wilayah serta Analisis Pendapatan Masyarakat Petani di Provinsi Gorontalo (Studi Kasus Kabupaten Pohuwato).. Namun demikian sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Gorontalo yang menjadi kawasan rintisan pengembangan agropolitan. dan HIMAWAN HARIYOGA. Hasil uji statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan antara pendapatan usahatani di kawasan agropolitan dengan kawasan non agropolitan pada taraf nyata 95%. Multiplier Short Run dan Multiplier Long Run.506.966. Sebagai salah satu provinsi baru. Provinsi Gorontalo merupakan salah satu provinsi yang mengembangkan konsep agropolitan sebagai salah satu pendekatan dalam memacu pembangunan dan pengembangan wilayahnya.RINGKASAN SHERLY GLADYS JOCOM. 10. listrik dan air bersih sehingga dapat memberikan multiplier effect yang besar terhadap total perekonomiam wilayah. Secara komparatif pengembangan agropolitan basis jagung mampu menggerakkan sektor industri pengolahan. Rata-rata pendapatan usahatani di kawasan agropolitan yaitu sebesar Rp. 5.. Kabupaten Pohuwato masih memiliki banyak permasalahan seperti tingginya tingkat kemiskinan. Analisis Shift Share. Dibimbing oleh EKA INTAN KUMALA PUTRI.016. Pengembangan agropolitan basis jagung juga meningkatkan pendapatan masyarakat petani. Penelitian ini dilakukan untuk melihat dampak pengembangan program agropolitan dikaitkan dalam pembangunan wilayah Kabupaten Pohuwato. Analisis Uji Beda Pendapatan. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis dampak program agropolitan terhadap perekonomian wilayah dan pendapatan masyarakat petani. . Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan September – Oktober 2007. melalui penyuluhan. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pengembangan agropolitan basis jagung ternyata meningkatkan perekonomian wilayah melalui pergeseran struktur perekonomian wilayah. rendahnya tingkat pengetahuan petani dan masih terbatasnya sarana–prasarana penunjang menjadi faktor penting yang berpengaruh terhadap keberhasilan pengembangan agropolitan basis jagung. Adapun alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis Location Quotient. komoditi jagung. pembangunan infrastruktur jalan usaha tani dan intervensi harga dari pemerintah.

(6) mengoptimalkan pengembangan pusat-pusat pertumbuhan di perdesaan (Agropolitan) (7) meningkatkan kebijakan kerjasama antar daerah.9 dan aspek pengetahuan masyarakat terhadap forum pengambilan keputusan adalah 74. (2) peningkatan Promosi UKM dan Kampanye Peluang Berusaha oleh Pemda. kualitas dan fasilitas pendidikan yang masih rendah serta fasilitas umum dan sosial yang belum memadai. Dimensi atau aspek yang memiliki nilai indeks tertinggi adalah aspek kelompok sasaran yaitu sebesar 67. Kata Kunci : agropolitan. promosi produk UKM dari Pemda dan kampanye peluang berusaha yang masih relatif rendah. Hasil analisis Raled menunjukkan bahwa faktor pengungkit untuk aspek kelompok sasaran adalah belum tersedianya pusat layanan investasi. partisipasi masyarakat. perekonomian wilayah. total skor untuk aspek komunikasi adalah 80. Berdasarkan hasil analisis. (4) penerapan pelayanan perijinan satu atap.6. Berdasarkan berbagai kondisi diatas. Berdasarkan hasil analisis Raled dan penentuan bobot gabungan diperoleh bahwa dimensi PEL Kabupaten Pohuwato adalah sebesar 57. Selanjutnya untuk aspek tata pemerintahan faktor pengungkitnya adalah manfaat asosiasi bagi anggotanya. Faktor pengungkit aspek faktor lokasi adalah belum berjalannya pelayanan perijinan satu atap.99. Untuk aspek pembangunan berkelanjutan faktor pengungkitnya adalah belum adanya perusahaan yang melakukan inovasi pengembangan produk dan pasar. maka strategi pengembangan ekonomi kawasan agropolitan adalah (1) pembentukan pusat layanan investasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat di kawasan agropolitan masih berada pada taraf sebagai pelaksana program. (5) perbaikan fasilitas dan kualitas pendidikan serta fasilitas umum dan sosial. (3) upaya diversifikasi produk dan pasar.8 serta aspek kontrol terhadap kebijakan adalah 78. Faktor pengungkit untuk aspek proses manajemen adalah jumlah stakeholder yang terlibat dalam perencanaan pel serta analisis dan pemetaan potensi ekonomi. . Faktor pengungkit aspek kesinergian dan fokus kebijakan adalah kebijakan pengembangan pusat pertumbuhan di perdesaan (agropolitan) dan kebijakan kerjasama antar daerah/pemda.16 dan aspek yang memiliki nilai indeks terendah adalah aspek proses manajemen yaitu sebesar 50. kontribusi Pel terhadap peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan serta jumlah perusahaan yang memiliki bussiness plan. belum melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan. peran asosiasi terhadap kebijakan di bidang Pel dan prosedur pelayanan administrasi publik.19.Tingkat partisipasi masyarakat di kawasan agropolitan berada pada tingkat konsultasi. Hal ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan status pengembangan ekonomi lokal Kabupaten Pohuwato berada dalam kondisi baik. (8) pemberdayaan masyarakat dan kelembagaan masyarakat.

Pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.©Hak cipta milik IPB. penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah. penulisan karya ilmiah. . a. penelitian. penyusunan laporan. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan. 2 Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB. tahun 2009 Hak cipta dilindungi Undang Undang 1 Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. b.

ANALISIS DAMPAK DAN STRATEGI PENGEMBANGAN AGROPOLITAN BASIS JAGUNG TERHADAP PEREKONOMIAN WILAYAH SERTA ANALISIS PENDAPATAN MASYARAKAT PETANI DI PROVINSI GORONTALO (Studi Kasus Kabupaten Pohuwato) SHERLY GLADYS JOCOM Tesis Sebagai salah satu syarat utuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Ilmu-ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 .

Ir.Ir. Bambang Juanda. Ir. Eka Intan Kumala Putri. Notodiputro.Dr. Khairil A. Himawan Hariyoga. MS Ketua Dr. MSc Anggota Diketahui Ketua Program Studi Ilmu-Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan Dekan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor Dr. Ir.Judul Tesis : Analisis Dampak dan Strategi Pengembangan Agropolitan Basis Jagung terhadap Perekonomian Wilayah serta Analisis Pendapatan Masyarakat Petani di Provinsi Gorontalo (Studi Kasus Kabupaten Pohuwato) : Sherly Gladys Jocom : A155050011 Nama NIM Disetujui Komisi Pembimbing Dr. MS Prof. MS Tanggal Ujian : 19 Desember 2008 Tanggal Lulus : .

Ir. Yayasan Dana Mandiri dan Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian Unsrat atas dukungan beasiswa dan bantuan penelitian yang telah diberikan sehingga studi penulis dapat berjalan lancar. Ucapan terima kasih terutama penulis sampaikan kepada komisi pembimbing. Demikian juga kepada Dekan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor dan Ketua Program Studi Ilmu-ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan (PWD) beserta staf pengajar atas kesempatan dan bekal ilmu yang diberikan. Ir. Ucapan terima kasih dan penghargaan juga ingin penulis sampaikan kepada rekan-rekan seangkatan 2005 PWD atas segala bentuk solidaritas dan . MS sebagai ketua dan Dr. Eka Intan Kumala Putri. Terima kasih juga disampaikan kepada Rektor Universitas Sam Ratulangi Manado dan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi atas kesempatan yang telah diberikan kepada penulis untuk mengikuti Program Magister Sains (S2) di Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Tak lupa penulis menyampaikan terima kasih kepada Dikti melalui BPPS. Bambang Juanda. Himawan Hariyoga. Tesis ini berjudul : ”Analisis Dampak dan Strategi Pengembangan Agropolitan Basis Jagung terhadap Perekonomian Wilayah serta Analisis Pendapatan Masyarakat Petani di Provinsi Gorontalo (Studi Kasus Kabupaten Pohuwato)” Pada kesempatan ini penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu baik didalam studi secara keseluruhan maupun khususnya dalam penelitian tesis ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Dr.KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga sebuah kristalisasi pemikiran penulis yang diwujudkan dalam bentuk tesis dapat diselesaikan. MS yang telah bersedia menjadi penguji luar komisi dalam sidang ujian tesis. MSc sebagai anggota yang telah membimbing dan memberikan saran sehingga tesis dapat diselesaikan. Selanjutnya terima kasih dan penghargaan penulis sampaikan kepada Pemerintah Daerah dan masyarakat Kabupaten Pohuwato atas kerjasama dan partisipasinya selama pengumpulan data. Dr. Ir.

Penulis dengan rendah hati mohon saran dan kritik dari berbagai pihak untuk perbaikan tesis ini dan semoga tesis ini bermanfaat. Kepada kedua orang tua. Januari 2009 Sherly Gladys Jocom .social capital yang telah dibangun selama ini. Penulis dengan sepenuh cinta menyampaikan terima kasih kepada suamiku Steven Tolu atas segala pengorbanan dan kesabarannya dalam mendampingi penulis menjalani studi. Bogor. serta semua pihak atas berbagai perannya dalam studi penulis. Bapak Constantein Jocom dan Ibu Welmina Mantiri atas doa dan perjuangannya membesarkan penulis serta adik dan keluargaku yang telah memberikan dukungan material maupun spiritual. Akhirnya.

Pada tahun 2005. penulis melanjutkan pendidikan dan diterima sebagai mahasiswa pada program studi Ilmu-Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan (PWD) Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor dengan bantuan biaya BPPS Dikti. . Tahun 2003 penulis diangkat menjadi CPNS di Universitas Sam Ratulangi Manado dan ditempatkan sebagai staf pengajar pada Fakultas Pertanian Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. SE pada tanggal 31 Maret 2001. Pendidikan sekolah menengah atas pada SMAN 1 Manado dan tamat tahun 1992. Pendidikan sekolah dasar ditempuh penulis pada SD Kristen Tabita II Manado dan tamat tahun 1986. selanjutnya penulis menempuh pendidikan sarjana (S1) pada Program Studi Ekonomi Pertanian Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi Manado dan tamat tahun 1997. Menikah dengan Steven Tolu. Menamatkan pendidikan sekolah menengah pertama pada SMPN 1 Manado pada tahun 1989.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara pada tanggal 9 November 1973 dari Ayah Constantein Jocom dan Ibu Welmina Mantiri. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara.

..... PENDAHULUAN …………………………………………………...3.3. Lokasi dan Waktu Penelitian …………………………………....... dan Multiplier Long Run (ML) .. Hipotesis ……………………………………………………… METODE PENELITIAN …………………………………....... Analisis Location Quotient (LQ).. Peranan Pemerintah dalam Pengembangan Agropolitan ……. 2.. Revitalisasi Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL)…………… 2.7...1. Ruang Lingkup Penelitian ……………………………………....6..2....... 2....5. 2......2.. 4........ 1 1 6 11 11 12 13 13 16 20 23 25 26 30 32 33 37 41 41 42 46 47 47 47 48 50 50 II... Pengembangan Kawasan Agropolitan...........………………….......2.4..1... Multiplier Short Run (MS)....1...........9. III......... 2. ..………………………………………..... 4.5... Pentingnya Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan ……...DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL …... Kerangka Pendekatan Operasional …………………..... Komoditi Unggulan dan Teori Basis Ekonomi …………..... xix I..... 1.……………………………………................ 3.. Disparitas antar Wilayah dan Pembangunan Perdesaan..... 1.... KERANGKA PEMIKIRAN ……………………………………… 3... 2... TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………… 2... Metode Pengambilan Sampel ………………………………… 4. IV......……………………………………………………. Perumusan Masalah ....... Peran Infrastruktur dalam Pembangunan Perdesaan .…………………. Manfaat Penelitian ……...........1..... 4... 2...... Kerangka Pemikiran Penelitian ... Metode Analisis ………………………………………………...... Konsep Wilayah dan Wilayah Perdesaan.... 1... 2..4.3.... 2.……………………... Kemandirian Melalui Penguatan Kapasitas Kelembagaan Lokal Perdesaan dan Kemitraan ...... 1....... Sumber Data …………………………………………………....... ..3.....1....4.. 1.. xiv DAFTAR GAMBAR ………………………………………………………...... 4.. Latar Belakang ………………………………………………...10 Penelitian Terdahulu …………………………………………..2...4............ Tujuan Penelitian …. 3...... xvii DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………….....8...

.3.....4..2... 5..........2.1.1..2.3. Deskripsi Umum Kabupaten Pohuwato ………………………..... 4.........3.4. Prasarana dan Sarana Kimpraswil ……………………..... 5.......4. Subsistem Penunjang …………………………………... Pengganda Pendapatan Jangka Pendek .3. 5.3.........4.2..........2..... 6.. Deskripsi Umum Agropolitan Provinsi Gorontalo…………….....2.6....4....... Kondisi Perekonomian Wilayah ……………………….3.3.2.... 6.1..4...2... 5................2. Dampak terhadap Perekonomian Wilayah ……………....2.......... 5..4.....3..5...... Komoditi Unggulan ……………………………………...... 6....4... Subsistem Produksi ……………………………………........ 5....... 5... 5.. Analisis Rapid Assessment For Local Economic Development (RALED) ......1... 5...2.....1......... 5...4.... Subsistem Pengolahan …………………………………......... Struktur Perekonomian Wilayah ………………....... Fasilitasi Pemerintah dalam Pengembangan Agropolitan Randangan ……………………………………………………. Pendidikan …………………………………….... Kependudukan ………………………………… 5...... Dinas Pertanian ………………………………………… 5... 4.....3....... Pemerintah Daerah ……………………………………. Sosial Ekonomi Budaya Masyarakat …………………....2... 5.4......3........1.. 5......... Deskripsi Umum Kawasan Agropolitan Randangan …………...2.5.... 5.4.... Analisis Tingkat Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan ....3... 5. Dinas Kimpraswil ……………………………………… 5.. Karakteristik Aktivitas Pertanian di Kawasan Agropolitan Randangan ……………………………………………………......5.. 5......... 5..2...2........ 51 53 54 56 58 58 59 59 61 61 62 63 63 65 66 67 67 70 70 71 72 72 73 73 74 75 76 77 78 80 80 90 90 93 VI. Pertumbuhan Ekonomi ………………………… 5. Keadaan Geografis dan Administratif …………………...2.2..... 5.........1..... 4. .... Subsistem Distribusi dan Pasar ………………………..2..............1... Analisis Shift-Share . 5...4...... 5..2...3.3.. DESKRIPSI UMUM WILAYAH PENELITIAN ………………... Pola Penggunaan Lahan ………………………………. V... Pengganda Pendapatan Jangka Panjang ....2..........2. Deskripsi Umum Kawasan Non Agropolitan Kecamatan Taluditi………………………………………………………… DAMPAK PENGEMBANGAN AGROPOLITAN ……………… 6..2.... Analisis Uji Beda Pendapatan . Analisis Ekonomi Wilayah .4....1...... 5..... Penduduk dan Pekerjaan ……………………………….

. Strategi Pengembangan Ekonomi Lokal di Kawasan Agropolitan …………………………………………………… 8...... 146 LAMPIRAN .. 8... 95 7....2.......2. Aspek Sosial……………………………………....2.2.... Status dan Faktor Pengungkit Aspek Kelompok Sasaran 8... STRATEGI PENGEMBANGAN EKONOMI DI KAWASAN AGROPOLITAN …………………………………………………...VII... 8..........3........3.. 108 108 110 113 118 122 127 130 133 135 136 137 139 140 141 IX.. 8. Faktor Pengungkit Aspek Faktor Lokasi ……………….2......1.....4..... 8.. 8.1..............3. Faktor Pengungkit Aspek Proses Manajemen …………..1. Status dan Faktor Pengungkit Aspek Proses Manajemen....... KESIMPULAN DAN SARAN ...……… 96 7..2............. Status dan Faktor Pengungkit Aspek Kesinergian dan Fokus Kebijakan ……. Faktor Pengungkit Aspek Tata Pemerintahan ………….. Kesimpulan …………………………………………………… 143 9........ 143 9........1..1... Aspek Budaya…………………………………………....3......... 96 7. 8........ Status dan Faktor Pengungkit Aspek Faktor Lokasi ….......2.........2 Dampak Agropolitan terhadap Pendapatan Masyarakat Petani 96 7. Status dan Faktor Pengungkit Aspek Pembangunan Berkelanjutan ………………………………………….. 8.. 8. DAMPAK AGROPOLITAN TERHADAP MASYARAKAT…...1....2...........2..1.1.. 95 7..1......... 101 VIII.. Analisis Kondisi dan Status Pengembangan Ekonomi Lokal di Kabupaten Pohuwato ……………………………………….....2...1.........1...1........ 144 DAFTAR PUSTAKA ...6.1..2.. 8........ 95 7....1. Karakteristik Masyarakat di Kawasan Agropolitan….. Partisipasi Masyarakat dalam Kawasan Agropolitan…………... 8... Faktor Pengungkit Aspek Kelompok Sasaran ………….. Aspek Ekonomi ………………………………………... 8.......1.. Faktor Pengungkit Aspek Kesinergian dan Fokus Kebijakan………………………………………………... Faktor Pengungkit Aspek Pembangunan Berkelanjutan 8.5.......... Status dan Faktor Pengungkit Aspek Tata Pemerintahan............. Saran ………………………………………………………….....……………………………….5.. 150 ....2......4........

............... 3 PDRB Gorontalo Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2001 – 2005 ………………………. 8 Aspek dan Tingkatan dalam Menilai Derajat Partisipasi Menurut Arnstein …………………………………………….... Luas dan Jumlah desa di Kabupaten Pohuwato……………………………………………………… 11 Luas Lahan Menurut Kecamatan dan Penggunaannya di Kabupaten Pohuwato ... 6 Sarana Dasar Usaha Agribisnis …………………………............DAFTAR TABEL Halaman 1 Investasi Kimpraswil di Kawasan Agropolitan Randangan …. 12 Penduduk Menurut Kecamatan.. 2 Perkembangan Luas Panen.......... Jenis Kelamin dan Sex Ratio di Kabupaten Pohuwato Tahun 2006 ……………………........ 4 Jumlah Penduduk Usia 15 Tahun keatas Provinsi Gorontalo… 5 Kontribusi Sektor-sektor Ekonomi terhadap PDRB Gorontalo Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2001 – 2005 ……………….. 13 Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kabupaten Pohuwato …………………………………………. Produksi dan Produktivitas Tanaman Pangan Provinsi Gorontalo Tahun 2001 dan 2005. 9 Derajat Partisipasi Menurut Arnstein ………………………… 10 Nama Kecamatan............ 16 Persentase Penduduk Menurut Lapangan Pekerjaan Utama di Kabupaten Pohuwato Tahun 2006 …………………………… 5 7 8 9 9 24 49 55 56 60 60 61 62 63 64 65 ................... 7 Matriks Pendekatan Penelitian ……………………………….............. 14 Jumlah Murid dan Guru di Kabupaten Pohuwato Tahun 2004 dan 2006 ……………………………………………………… 15 Kontribusi Sektor Ekonomi dalam PDRB Kabupaten Pohuwato Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2004–2006…….

... 28 Hasil Analisis LQ Provinsi Gorontalo Tahun 2000 – 2006.......17 Pertumbuhan Sektor Ekonomi di Kabupaten Pohuwato Tahun 2004 – 2006…………………………………………………… 18 Pekerjaan Fisik dan Non Fisik di Kawasan Agropolitan Randangan Kabupaten Pohuwato……………………………... 21 Sebaran Kegiatan Pengembangan Agropolitan Provinsi Gorontalo Tahun 2002 – 2004………………………………....................... Tahun 2004 dan 2006…………………………… 32 Pengganda Pendapatan Jangka Pendek Berbagai Sektor di Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato Tahun 20032006…………………………………………………………… 33 Pengganda Pendapatan Jangka Panjang Berbagai Sektor di Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato Tahun 20032006…………………………………………………………… 66 68 70 71 75 76 77 78 79 80 81 83 84 88 89 92 93 ................................................ 24 Profil Kawasan Agropolitan Randangan dan Non Agropolitan................... Tahun 2001 dan 2003............ 29 Hasil Analisis LQ Kabupaten Boalemo Tahun 2000 – 2003 dan Kabupaten Pohuwato Tahun 2004 – 2006…………….... 23 Kegiatan Dinas Kimpraswil dalam Pengembangan Kawasan Agropolitan Randangan Tahun 2002 – 2006.......................................... 27 Ekspor dan Antar Pulau Komoditi Jagung di Gorontalo Tahun 2001 – 2007 .....…............................. 30 Hasil Analisis Shift-Share Provinsi Gorontalo Sebelum Agropolitan.................. 25 Penggunaan Lahan di Kawasan Non Agropolitan Taluditi…… 26 Luas Lahan Pertanian Menurut Kabupaten di Provinsi Gorontalo.......... 19 Penggunaan Lahan di Kawasan Agropolitan ………………… 20 Komoditas Unggulan Kawasan Agropolitan Randangan Kabupaten Pohuwato……………………………. 22 Kegiatan Dinas Pertanian dalam Pengembangan Kawasan Agropolitan di Kabupaten Pohuwato Tahun 2005 …………....................................... 31 Hasil Analisis Shift–Share Provinsi Gorontalo Sesudah Agropolitan...................

.... 35 Luas Lahan................................................................................................ 37 Hasil Analisis Derajat Partisipasi di Kawasan Agropolitan................. 97 98 99 103 104 109 117 118 134 ................................................... 39 Status Pengembangan Ekonomi Lokal Kabupaten Pohuwato........................................ Produksi dan Produktivitas Jagung di Kecamatan Randangan .......... 38 Derajat Partisipasi Menurut Arnstein di Kawasan Agropolitan.............34 Hasil Analisis Uji-t Perbandingan Pendapatan Kawasan Agropolitan dan Non Agropolitan…………………………............ 36 Sumber Pendapatan Utama Masyarakat Petani Kawasan Agropolitan dan Non Agropolitan......... 41 Kebutuhan dan Ketersediaan Jembatan Per Kecamatan Kabupaten Pohuwato.... 42 Faktor-faktor Pengungkit yang Berpengaruh terhadap Pengembangan Ekonomi Lokal Kabupaten Pohuwato. 40 Keadaan Prasarana Pendidikan Kabupaten Pohuwato Tahun 2005.............................................................

.............................................................................................................................................................................. 16 Faktor Pengungkit Aspek Kesinergian dan Fokus Kebijakan di Kabupaten Pohuwato …………………………………………............ 11 Faktor Pengungkit Aspek Kelompok Sasaran di Kabupaten Pohuwato ......................... 2 Heksagonal PEL...............................................DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Kerangka Klasifikasi Konsep Wilayah .......... 12 Status Aspek Faktor Lokasi di Kabupaten Pohuwato................................................................... 9 Diagram Laba-laba Status Pengembangan Ekonomi Lokal di Kabupaten Pohuwato.................................. 7 Laju Pertumbuhan Kabupaten Pohuwato Tahun 2004 – 2006.................................................... 5 Lokasi Penelitian......................................................................... 4 Kerangka Pendekatan Operasional…………………………......... 3 Kerangka Pemikiran Penelitian................... 8 Peta Kawasan Agropolitan Randangan Kabupaten Pohuwato ...... 18 Faktor Pengungkit Pembangunan Berkelanjutan di Kabupaten Pohuwato...... 17 Status Aspek Pembangunan Berkelanjutan di Kabupaten Pohuwato ...................... 14 Status Aspek Kesinergian dan Fokus Kebijakan di Kabupaten Pohuwato …………………………………………………….... 15 Jumlah Perusahaan Industri Kecil Menengah dan Tenaga Kerja Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Gorontalo Tahun 2005...... 10 Status Aspek Kelompok Sasaran di Kabupaten Pohuwato .......................................................................................... 13 Faktor Pengungkit Aspek Faktor Lokasi di Kabupaten Pohuwato. 15 37 42 45 47 59 65 69 110 111 111 114 115 119 120 122 123 124 .......... 6 Diagram Ekonomi Jagung …………………………………......................................................................................................

............ 126 126 128 130 131 132 ..................................... 20 Indeks Pembangunan Manusia Tingkat Kabupaten di Provinsi Gorontalo ...... 22 Faktor Pengungkit Aspek Tata Pemerintahan di Kabupaten Pohuwato... 24 Faktor Pengungkit Aspek Proses Manajemen di Kabupaten Pohuwato ..19 Perkembangan Pendapatan Per Kapita Penduduk Kabupaten Pohuwato.................................................................................... 21 Status Aspek Tata Pemerintahan di Kabupaten Pohuwato........................... 23 Status Aspek Proses Manajemen di Kabupaten Pohuwato .....................................................................................................................................................................................

........................ 5 Tabulasi Responden Pendapatan Usahatani Jagung Kawasan Agropolitan (Kecamatan Randangan) dan Non Agropolitan (Kecamatan Taluditi)…………………………... BUMD Provinsi Gorontalo .. 10 Gambar Jalan Usahatani Kawasan Agropolitan Randangan... 12 Gambar Program Agropolitan di Kecamatan Randangan.................................... 11 Gambar Gudang Agribisnis PT Gorontalo Fitra Mandiri........... 150 151 152 153 154 155 156 158 159 164 164 165 165 ................. 3 Produk Domestik Regional Bruto Atas Harga Dasar Konstan 2000 Kabupaten Boalemo Menurut Lapangan Usaha Tahun 2000-2006…………………………………………………….... 13 Gambar Terminal Randangan........ 7 Analisis Derajat Partisipasi di Kawasan Agropolitan………... 4 Produk Domestik Regional Bruto Atas Harga Dasar Konstan 2000 Kabupaten Pohuwato Menurut Lapangan Usaha Tahun 2004-2006……………………………………………………........... 2 Produk Domestik Regional Bruto Atas Harga Dasar Konstan 2000 Provinsi Gorontalo Menurut Lapangan Usaha Tahun 2000-2006……………………………………………………......................... 6 Analisis Uji Beda Pendapatan Kawasan Agropolitan dan Non Agropolitan……………………………………………………....................................................... 8 Peta Rencana Struktur Tata Ruang Provinsi Gorontalo……… 9 Indikator Komponen Heksagonal PEL..................DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Produk Domestik Bruto Indonesia Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha Tahun 2000-2006....

Salah satu alternatif pembangunan wilayah yang diharapkan dapat menanggulangi dampak negatif pembangunan seperti itu adalah pengembangan wilayah dengan basis pengembangan kota-kota pertanian atau yang lebih dikenal dengan kawasan agropolitan. Kegagalan strategi pertumbuhan yaitu tidak terjadinya trickle down effect dan spread effect karena aktifitas industri yang dikembangkan ternyata sebagian besar tidak mempunyai hubungan dengan basis sumberdaya di wilayah hinterland-nya. kawasan Utara Brazil berkembang pesat sebagai pusat kegiatan eksplorasi pertambangan dan bisnis perkebunan yang memacu pertumbuhan investasi swasta dan teknologi ke wilayah tersebut. 2000) Kecenderungan pembangunan yang mendahulukan pertumbuhan ekonomi dengan melakukan investasi yang besar pada industri di pusat kota melalui kutubkutub pertumbuhan (growth poles) yang semula diramalkan akan menciptakan trickle down effect (efek penetesan ke bawah) dan spread effect (dampak penyebaran) pertumbuhan ekonomi dari kutub pusat pertumbuhan ke wilayah hinterland-nya. Pertumbuhan ekonomi yang pesat ini berdampak pada semakin tertinggalnya pembangunan di wilayah Selatan yang kemudian berdampak pada kesenjangan ekonomi dan sosial antar dua wilayah tersebut (Haeruman. antara lain: (a) . Latar Belakang Berbagai pengalaman pembangunan daerah beberapa negara berkembang menunjukkan baik kegagalan maupun keberhasilan pengembangan wilayah yang dapat menjadi pelajaran kita dalam mengembangkan strategi pengembangan wilayah bagi Indonesia. ternyata net-effect-nya malah menimbulkan pengurasan besar (massive backwash effect). misalnya yang menggunakan konsep “growth poles” telah menunjukkan kegagalan konsep tersebut.1. Kebijaksanaan pembangunan wilayah di Brazil.I. PENDAHULUAN 1. Dengan adanya aglomerasi ekonomi dan peningkatan sumber daya manusia yang pesat. Konsep agropolitan sebetulnya merupakan konsep yang ditawarkan oleh Friedman dan Douglas (1975) atas pengalaman kegagalan pengembangan sektor industri di beberapa negara berkembang (khususnya di Asia) yang mengakibatkan terjadinya berbagai kecenderungan.

Implikasi dari keadaan tersebut menyebabkan tingginya laju urbanisasi dan kemiskinan di . (b) pembangunan “modern” hanya terjadi di beberapa kota saja. Kawasan Timur Indonesia (KTI) dengan Kawasan Barat Indonesia (KBI). dalam perspektif (regional) pembangunan di Indonesia mengalami ketidakadilan yang cukup menonjol antar wilayah dan ruang. 1986). Seperti kewilayahan di negara-negara berkembang lainnya. Terjadinya disparitas pembangunan wilayah/ruang berupa dikotomi perdesaan (rural) dengan perkotaan (urban). (e) kekurangan bahan pangan. et. Jawa dengan luar Jawa adalah bukti “ketidakseimbangan” pembangunan (Rustiadi. (f) penurunan tingkat kesejahteraan masyarakat desa (petani) dan (g) terjadinya ketergantungan pada dunia luar. Hal ini telah mengakibatkan terjadinya proses urban bias yaitu pengembangan kawasan perdesaan yang pada awalnya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat kawasan perdesaan malah berakibat sebaliknya yaitu tersedotnya potensi perdesaan ke perkotaan baik dari sisi sumber daya manusia. bahkan modal (Douglas. Meskipun demikian. 2005). (d) pembagian pendapatan yang tidak merata (kemiskinan).2 terjadinya hyperurbanization. Potensi konflik menjadi semakin besar karena wilayah-wilayah yang dulu kurang tersentuh pembangunan mulai menuntut hak-haknya. pendekatan pengembangan kawasan perdesaan seringkali dipisahkan dari kawasan perkotaan. sementara daerah pinggiran relatif tertinggal. sedangkan pusat-pusat pertumbuhan pada akhirnya juga menjadi lemah karena urbanisasi yang luar biasa. Kesenjangan antara kawasan perkotaan dan perdesaan serta kemiskinan di perdesaan telah mendorong upaya-upaya pembangunan di kawasan perdesaan. Kesenjangan ini pada akhirnya menimbulkan permasalahan yang dalam konteks makro sangat merugikan keseluruhan proses pembangunan. (c) tingkat pengangguran dan setengah pengangguran yang relatif tinggi. akibat perhatian pembangunan terlalu tercurah pada percepatan pertumbuhan sektor industri (rapid industrialization). alam. Demikian pula dengan hubungan antar wilayah telah membentuk suatu interaksi yang saling memperlemah. Wilayah-wilayah hinterland menjadi lemah karena pengurasan sumberdaya yang berlebihan. al. sebagai akibat terpusatnya penduduk di kota-kota yang padat.

Konsekuensi logis dari kondisi ini adalah menurunnya produktifitas pertanian (Djakapermana. diharapkan terjadi interaksi yang kuat antara pusat kawasan agropolitan dengan wilayah produksi pertanian dalam sistem kawasan agropolitan. 2003). Melalui pendekatan ini. Data Survey Penduduk Antar Sensus (SUPAS) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan tingkat urbanisasi di Indonesia dari 37. agropolitan menjadi salah satu program pemerintah melalui Departemen Pertanian dan menjadi pilihan bagi Pemerintah Daerah dalam melaksanakan otonomi-nya. produk pertanian dari kawasan produksi akan diolah terlebih dahulu di pusat kawasan agropolitan sebelum di jual (ekspor) ke pasar yang lebih luas sehingga nilai tambah tetap berada di kawasan agropolitan.5% (tahun 1995) menjadi 40.I. akan tetapi harus dicari solusi untuk mengurangi urban bias. Indonesia harus mengimpor kedelai sebanyak 1. dimana di pantai utara Jawa mencapai kurang lebih 20%. Tercatat. Kondisi ini mengakibatkan Indonesia harus mengimpor produk-produk pertanian untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Pengembangan kawasan agropolitan dapat dijadikan alternatif solusi dalam pengembangan kawasan perdesaan tanpa melupakan kawasan perkotaan. Di Indonesia. 2002).685 ton pada tahun 2000 dengan nilai nominal sebesar US$ 275 juta. . Kabupaten Bangli (Provinsi Bali). Pada tahap awal pengembangan kawasan agropolitan ini dilakukan di beberapa kabupaten percontohan antara lain yaitu: Kabupaten Agam (Provinsi Sumatera Barat).3 perdesaan. tidak berarti pembangunan perdesaan menjadi tidak penting. Kabupaten Rejanglebong (Provinsi Bengkulu). Konsep ini telah mulai dilaksanakan sejak tahun anggaran 2002. ditandai dengan konversi lahan kawasan pertanian menjadi kawasan perkotaan. Kabupaten Cianjur (Provinsi Jawa Barat). Indonesia mengimpor sayur-sayuran senilai US$ 62 juta dan buah-buahan senilai US$ 65 juta (Yudhohusodo. Yogyakarta). Kabupaten Kulon Progo (Provinsi D.277.5% (tahun 1998). Pada tahun yang sama. Kabupaten Barru (Provinsi Sulawesi Selatan) dan Kabupaten Boalemo (Provinsi Gorontalo). Proses urbanisasi yang terjadi seringkali mendesak sektor pertanian. Melalui pengembangan agropolitan. Berdasarkan kondisi tersebut.

Pengembangan ekonomi kelautan dengan sasaran peningkatan kinerja sektor perikanan dan pengembangan wilayah pesisir. penyimpanan serta pemasarannya. Gorontalo berkembang pesat dan menjadi salah satu provinsi yang diperhitungkan di Kawasan Timur Indonesia. c. peningkatan mutu intensifikasi (PMI) dan sisi off farm-nya dengan optimalisasi pengelolaan hasil. Pengembangan sumber daya manusia (SDM). Sebagai salah satu provinsi baru. peternakan dan perikanan.4 Provinsi Gorontalo merupakan salah satu provinsi yang mengembangkan konsep agropolitan sebagai salah satu pendekatan dalam memacu pembangunan dan pengembangan wilayahnya. Demplot hanya dilaksanakan untuk jangka pendek (satu tahun) yang dimaksudkan sebagai proses penyuluhan dan pembelajaran petani serta meyakinkan investor bahwa pemerintah memiliki komitmen tinggi dalam peningkatan kualitas. . Dilihat dari potensi sumber daya alam. provinsi yang memiliki kompetensi di bidang pertanian. kuantitas dan kontinuitas produksi. Gorontalo memiliki potensi yang layak dikembangkan dibidang pertanian. pengembangan sektor pertanian dilaksanakan dengan pendekatan konsep pengembangan agropolitan dengan menetapkan jagung dan ternak sapi sebagai komoditas utama. Konsep pengembangan agrobisnis jagung di Gorontalo dalam rangka mendukung program agropolitan didesain dalam dua model yakni demonstrasi plot (demplot) dan pengembangan. Dalam upaya mempercepat pertumbuhan dan pengembangan wilayah. b. Sebagai salah satu sektor unggulan di Provinsi Gorontalo. Khusus untuk sektor peternakan diprioritaskan pada pengembangan sapi potong dan ayam buras yang diharapkan dengan berkembangnya ternak sapi ini akan mendorong industri pengolahan dan pasca panennya. Pengembangan pertanian dengan menjadikan Gorontalo sebagai provinsi agropolitan. Sementara untuk model pengembangan dilaksanakan dengan menggunakan aplikasi teknologi yang spesifik seperti perluasan areal tanam (PAT). maka pemerintah Provinsi Gorontalo menetapkan 3 program unggulan yang diharapkan dapat memacu perkembangan sektor-sektor lainnya yang meliputi : a.

Selanjutnya pada tahun 2003 dilaksanakan Perencanaan dan Penyusunan Master Plan dan implementasinya beserta pengawasannya dilaksanakan dengan melibatkan masyarakat di kawasan melalui lembaga pengelolaan agropolitan.081 m 3 Unit 5.000 1. penetapan Kecamatan Randangan sebagai Kawasan Agropolitan untuk menjadi prioritas pembangunan hingga penetapan desa Motolohu sebagai desa pusat pertumbuhan. Pembangunan prasarana dan sarana perdesaan melalui pengembangan agropolitan akan mendorong iklim berusaha yang kondusif antar sesama pelaku ekonomi perdesaan.459.940. Pembangunan infrastruktur yang telah dilakukan antara lain peningkatan jalan poros desa. Tabel 1 Investasi Kimpraswil pada Pengembangan Kawasan Agropolitan di Kecamatan Randangan No. perbaikan pasar desa. Pemda setempat melalui tim Pokja.000 Sumber : Dinas Kimpraswil. Untuk mendukung usaha pertanian yang efisien yang dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi maka diperlukan infrastruktur pendukung.081 m 20 Unit 1 Paket Biaya 390. LSM.000 200.000. terutama usaha mikro dan usaha kecil dalam mendukung pertumbuhan ekonomi desa serta penciptaan lapangan kerja. pembangunan kios pasar serta pembangunan pelataran dan prasarana pasar. Keberadaan prasarana dan sarana ini tidak saja akan memberdayakan potensi ekonomi yang ada di masing-masing kawasan perdesaan tersebut.616.5 Sejak ditetapkan sebagai daerah pengembangan agropolitan pada tahun 2002 Gorontalo mulai berbenah diri dimulai dengan penyusunan program dan sosialisasi di Tilamuta (ibukota Kab. Boalemo). 1 2 3 4 5 Tahun 2002 2002 2003 2003 2003 Program Peningkatan Jalan Poros Desa Perbaikan Pasar Desa Peningkatan Jalan Poros Desa Pembangunan Kios Pasar Pembangunan Pelataran dan Prasarana Pasar Volume 3.200. 2003 .000 170.000 299. tetapi juga akan menarik potensi dari luar wilayah termasuk investasi swasta dalam berbagai sektor usaha jasa maupun produksi. Akademisi dan Swasta.690.

Perumusan Masalah Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. konsep pengembangan agropolitan muncul dari permasalahan adanya ketimpangan pembangunan wilayah antara kota sebagai pusat kegiatan dan pertumbuhan ekonomi dengan wilayah perdesaan sebagai pusat kegiatan pertanian yang tertinggal. Karenanya. kota dan desa harus berperan dan menjalankan fungsi-fungsi tersebut. Untuk mencapai pembangunan ekonomi yang baik. Proses interaksi kedua wilayah tersebut selama ini secara fungsional ada dalam posisi yang saling memperlemah. kapasitas pengolahan (industri pengolahan) setempat yang terbatas. Sejalan dengan hal tersebut hasil studi P4W (2002). Sementara itu. Berdasarkan hasil studi Hastoto (2003). 1. Penyebab utama aliran netto nilai tambah negatif adalah karena keterbatasan akses Gorontalo ke pasar ekspor langsung. fungsi kota lebih dititikberatkan sebagai pusat kegiatan non pertanian dan pusat administrasi. .6 Pendekatan pambangunan ekonomi dan wilayah berbasis agropolitan yang diimplementasikan dengan pilar utama penggerak ekonomi yaitu sektor pertanian dan perikanan dipacu dan diharapkan dapat menarik perkembangan sektor-sektor yang lainnya. desalah yang diarahkan sebagai pusat pertumbuhan. disamping lemahnya kapasitas sumberdaya manusia dan kelembagaan lokal. dikemukakan bahwa pembangunan yang dilaksanakan di Provinsi Gorontalo masih menunjukkan adanya kesenjangan antar kabupaten/kota dalam provinsi maupun antara kabupaten/kota di Provinsi Gorontalo dengan kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Utara. pengembangan kawasan agropolitan diharapkan dapat memberikan solusi bagi masalah perdesaan tersebut. mengemukakan bahwa secara umum wilayah provinsi Gorontalo mengalami fenomena backwash effect. Dalam konsep agropolitan. dalam arti akumulasi aliran netto nilai tambah berlangsung keluar wilayah terutama ke Bitung/Manado.2. Makasar atau langsung ke luar negeri. Kebijakan pembangunan perdesaan yang dilakukan selama ini belum mampu memberikan perubahan yang signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. bukan sebagai pusat pertumbuhan.

325 3. Kacang tanah 3. Untuk mencapai tujuan tersebut pembangunan wilayah berbasis komunitas lokal dijadikan acuan untuk membangun kualitas pertanian di Provinsi Gorontolo.153 44.233 12.525 81.038 11.33 12. Ubi jalar 618 352 5.13 3.32 37. Pada tahun 2005 luas panen jagung mencapai 107.56 42.610 107. Kacang hijau 248 595 249 726 10.173 4. Pengembangan kawasan agropolitan bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat melalui percepatan pembangunan wilayah dan peningkatan keterkaitan desa dan kota dengan mendorong berkembangnya sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing.048 12.110 158.211 103. Pemerintah Provinsi Gorontalo menerapkan pendekatan konsep agropolitan.04 12. Kedelai 1.046 ton. Pengembangan agropolitan berbasis jagung merupakan salah satu langkah yang dilakukan pemerintah untuk mencapai tujuan tersebut. Diharapkan dengan pendekatan ini partisipasi aktif masyarakat dapat terkristalisasi secara terpadu melalui pengembangan sistem agribisnis terpadu dalam rangka memperoleh nilai tambah produksi serta peningkatan jumlah produksi pertanian.17 93.74 2.720 400. Luas panen komoditi unggulan jagung mencapai 68.627 5. 2006 NO JENIS KOMODITAS Sebagai komoditi unggulan yang merupakan basis ekonomi di Provinsi Gorontalo.907 2. Sehingga pada gilirannya akan dapat mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat petani.89 4.185 1.308 86.78 13.378 11.525 hektar dengan produksi mencapai 400. Tabel 2 Perkembangan Luas Panen. Perdagangan antar pulau dan .23 116.99 Sumber : Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Gorontalo. Padi 35.639 39.20 6. Produksi dan Produktivitas Tanaman Pangan Provinsi Gorontalo Tahun 2001 dan 2005 LUAS PANEN PRODUKSI PRODUKTIVITAS (Ha) (Ton) (Ku/Ha) 2001 2005 2001 2005 2001 2005 1.52 7.7 Oleh karenanya untuk memacu pembangunan dan pengembangan wilayahnya.341 3. komoditas jagung mengalami perkembangan yang pesat dari tahun ke tahun baik dalam luas panen maupun jumlah produksi.046 22.845 2.39 5.202 4.98 persen dari total luas panen Tanaman Pangan Di Provinsi Gorontalo. Jagung 36.870 167. Ubi kayu 1.

964.Pertambangan dan Penggalian 3.39 trilyun tahun 2005 (Tabel 3).546.668.47 1.561 ton yang dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah ini.381.86 2. .16 186.148.436.320.21 122.074.937.195.063.680.77 819.53 127.Jasa-jasa Total 2001 542.Gas dan Air Bersih 5.42 371. Yang menjadi pertanyaan adalah seberapa besar agropolitan memiliki kontribusi dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi Gorontalo tersebut? Pertumbuhan penduduk selang 4 tahun terakhir mengalami peningkatan sebesar 1.87 171.Perdagangan.8 ekspor jagung Gorontalo tahun 2005 mencapai 127.147. lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional.571.37 236.06 % pada tahun 2005.80 189. Tabel 3 PDRB Gorontalo Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2001 .621.Listrik.40 410.386.11 232.749.749.33 194.828. Jika dilihat dari indikator makro.Industri Pengolahan 4.29 2.022.927.2005 (jutaan rupiah) Lapangan Usaha 1.38 % pada 2001 sebelum pengembangan agropolitan menjadi 7. Sejak perkembangan dicanangkan pembangunan sebagai provinsi pengembangan agropolitan.15 trilyun tahun 2002 dan meningkat menjadi Rp.452.479.Pengangkutan & Komunikasi 8. 3.45 25.987.64 50.086.09 2003 804.01 2.766. Hotel & Rest 7.01 14 .26 197. Hal ini dapat dilihat dimana PDRB nominal meningkat dari Rp.690.985. Pertumbuhan ekonomi Gorontalo meningkat dari 5.99 198.31 33.595. 1.Pertanian 2.02 200.125.03 172.05 16.04 330.620. provinsi Gorontalo sebagai provinsi muda hasil pemekaran dari Provinsi Sulawesi Utara mengalami kemajuan yang menggembirakan. 2.822.357.02 213.062.349.100.96 585. Seiring dengan pertumbuhan penduduk. 2006.16 16.354.65 145.591.55 218.88 18.Bangunan 6.92 22.24 364.92 Sumber : BPS.528.00 272.83% per tahun.805.587.192.544.97 10.30 280.785.30 2002 660.664.69 2004 853.597.691. jumlah angkatan kerja di Provinsi Gorontalo tiap tahun juga mengalami kenaikan.80 288.97 349.354.30 21.13 3.457.30 423.32 2005 981.01 184.101. yang Gorontalo menunjukkan peningkatan signifikan.21 348.82 trilyun tahun 2001 menjadi Rp.Keuangan 9.719.58 27.95 502.029.824.865.801.

89 8.65 6. Keuangan 9.97 14.Gas dan Air Bersih 5.625 45.95 14.75 0.985 323.882 34.61 20.69 100 2003 32.966 43.26 100 2004 30. Tabel 4 Jumlah Penduduk Usia 15 Tahun keatas Provinsi Gorontalo Jumlah Penduduk Penduduk Usia 15+ Angkatan Kerja Bekerja Pengangguran Sumber : BPS. 2006 Pertumbuhan perekonomian Gorontalo mengalami peningkatan.22 6.44 10. Tabel 5 Kontribusi Sektor-sektor Ekonomi terhadap PDRB Gorontalo Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2001-2005 Lapangan Usaha 1.38 9.31 0. Kontribusi sektor pertanian pada tahun 2003 setelah pengembangan agropolitan sebesar 32.78% pada tahun 2005. Pengangkutan & Komunikasi 8.48 26.39 0. diolah.184 350.175 368.47 0. namun sebaran kontribusi dari masing-masing sektor belum merata.75 8.29% dari angkatan kerja menurun menjadi 9.08 8.746 388.87 6.191 37.18 0. Perdagangan. Bangunan 6.75 7.392 2003 581.29 11.77 19.27 8.96 15.81 8.993 .06 8.9 Tingkat pengangguran pada tahun 2004 sebesar 12.483 2004 602.91 6.45% dari total PDRB diharapkan dapat menjadi pendorong bagi perkembangan sektor-sektor yang lainnya. Listrik.74 0. Pertanian 2. Hotel & Rest 7.358 285.69 0.57 13. Pertambangan dan Penggalian 3.60 6.19 100 2002 30.92 100 2005 28. Sektor pertanian yang masih mendominasi dalam kontribusi PDRB merupakan salah satu ciri khas dari kawasan perdesaan.07 10.79 7.80 10. Jasa-jasa Total Sumber: BPS tahun 2006.31 100 2002 568.93 10. 2001 29.97 0.45 0. Industri Pengolahan 4.95 7.863 329.360 2005 617.365 312.79 6.73 19.31 20.04 0.763 347.

10 Disamping itu pertumbuhan ekonomi suatu wilayah tidak selalu diikuti dengan berkurangnya berbagai kesenjangan dalam wilayah. dengan mengakomodasi penelitian yang pernah ada sebelumnya maka penelitian ini dimaksudkan untuk melihat apakah pengembangan agropolitan berbasis jagung yang dilaksanakan di Kabuapen Pohuwato Provinsi Gorontalo mampu menggerakkan perekonomian wilayah serta meningkatkan pendapatan masyarakat petani atau belum. dan lainnya yang sering terjadi di perdesaan dapat menyebabkan terjadinya keterbelakangan dan kemiskinan yang dalam jangka panjang pada akhirnya dapat mengakibatkan kemandekan pertumbuhan itu sendiri. Apakah pengembangan kawasan agropolitan berperan terhadap peningkatan pendapatan petani jagung? 3. fasilitas pelayanan. Hal ini penting untuk dilakukan agar dapat diperoleh gambaran kondisi sehingga karakteristik perekonomian setelah 5 tahun pelaksanaan agropolitan dapat dirumuskan kebijakan-kebijakan yang tepat untuk mengembangkan perekonomian kawasan agropolitan kedepan. Sejauhmana masyarakat telah dilibatkan dalam program pengembangan kawasan agropolitan berbasis jagung ? 4. Strategi Pembangunan seperti apa yang mampu mendorong pengembangan ekonomi kawasan agropolitan ? . Untuk melengkapi penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya terhadap pelaksanaan agropolitan di Provinsi Gorontalo sejak pelaksanaannya tahun 2002. Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang diuraikan di atas maka dirumuskan batasan masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini yaitu : 1. Di kawasan pengembangan agropolitan sendiri dalam hal ini Kabupaten Pohuwato masih terdapat banyak permasalahan seperti masih tingginya tingkat kemiskinan. Kesenjangan yang ada seperti kesenjangan pendapatan. Apakah pengembangan kawasan agropolitan berbasis jagung berperan dalam pertumbuhan ekonomi? 2. pertumbuhan ekonomi. rendahnya tingkat pengetahuan petani dan masih terbatasnya sarana– prasarana penunjang yang ada menjadi factor penting yang berpengaruh terhadap keberhasilan pengembangan agropolitan basis jagung di daerah ini.

2. Mengkaji tingkat partisipasi masyarakat dalam pengembangan kawasan agropolitan basis jagung. Sebagai acuan dimasa datang untuk pihak-pihak yang mempunyai relevansi dengan pengembangan kawasan berbasis agropolitan. Manfaat Penelitian : 1.4. Merumuskan strategi pembangunan yang dapat mendorong pengembangan ekonomi kawasan agropolitan.11 1. 1. 3. Dapat bermanfaat untuk memberikan kontribusi pemikiran bagi Pemerintah dan instansi terkait dalam rangka pengembangan pertanian berbasis agropolitan. . 2. Menganalisis dampak pengembangan agropolitan basis jagung terhadap perekonomian wilayah. 3. 4.3. Dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan tentang pembangunan wilayah . Menganalisis dampak pengembangan agropolitan terhadap pendapatan petani jagung. Tujuan Penelitian : 1.

Pemilihan Kabupaten Pohuwato karena pertimbangan bahwa setelah pemekaran Kecamatan Randangan sebagai kawasan agropolitan secara administratif berada di Kabupaten Pohuwato. infrastruktur pendukung agropolitan belum berkembang di Kecamatan Taluditi. Karena keterbatasan biaya dan waktu maka penelitian ini hanya dilakukan di Kabupaten Pohuwato. Adapun sebagai pembanding di pilih kawasan yang belum tersentuh dengan program agropolitan dalam hal ini Kecamatan Taluditi. Pemilihan Kecamatan Taluditi sebagai Kawasan Non Agropolitan adalah karena Kecamatan Taluditi masih berada dalam cakupan Kabupaten Pohuwato dan berbatasan secara administratif dengan Kecamatan Randangan.5. Ruang Lingkup Penelitian Pengembangan Kawasan Agropolitan di Provinsi Gorontalo pada awalnya berada di Kabupaten Boalemo yaitu di Kecamatan Randangan.12 1. Kecamatan Randangan memiliki kondisi infrastruktur pendukung yang relatif memadai. Sebagai kawasan agropolitan. . Namun sejak tahun 2003 Kabupaten Boalemo dimekarkan menjadi Kabupaten Boalemo dan Kabupaten Pohuwato. Selain itu.

setiap kawasan atau sub-kawasan memiliki fungsifungsi khusus yang tentunya memerlukan pendekatan program tertentu sesuai dengan fungsi yang dikembangkan tersebut. pelaksanaan. Karena itu batasan/definisi dari konsep kawasan adalah adanya karakteristik hubungan dari fungsi-fungi dan komponen-komponen di dalam suatu unit wilayah. Dari definisi tersebut. al. Indonesia digunakan karena adanya penekanan-penekanan fungsional dari suatu unit wilayah. pengendalian. Menurut Rustiadi et. al (2005). dibatasi dan digambarkan berdasarkan ciri atau kandungan area geografis tersebut. Batasan yang ada lebih bersifat “meaningfull’. terlihat bahwa tidak ada batasan yang spesifik dari luasan suatu wilayah. monitoring. Dengan demikian. Sementara menurut Rustiadi et. Dengan demikian. Sedangkan menurut Winoto (1999). Dalam prakteknya di Indonesia terdapat beberapa istilah yang merujuk kepada pengertian wilayah. batasan wilayah tidaklah selalu bersifat fisik dan pasti tetapi seringkali bersifat dinamis (berubah-ubah). . sehingga batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsional.1. maupun evaluasi. Konsep Wilayah dan Wilayah Perdesaan Wilayah menurut UU No. diantaranya adalah pemakaian istilah daerah dan kawasan. Sehingga wilayah dapat didefinisikan. baik untuk perencanaan. (2005) meskipun pengertian daerah tidak Sedangkan penggunaan istilah kawasan di disebutkan secara eksplisit namun umumnya dipahami sebagai unit wilayah berdasarkan aspek administratif. 24 tahun 1992 yang diperbaharui menjadi UU No 26 tahun 2007 adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur yang terkait kepadanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional.II. wilayah diartikan sebagai area geografis yang mempunyai ciri tertentu dan merupakan media bagi segala sesuatu untuk berlokasi dan berinteraksi. wilayah didefinisikan sebagai unit geografis dengan batas-batas yang spesifik (tertentu) dimana bagian-bagian dari wilayah tersebut (sub wilayah) satu sama lain saling berinteraksi secara fungsional. TINJAUAN PUSTAKA 2.

Daerah pemasaran barang dan jasa industri manufaktur dan umumnya terdapat suatu interdependensi antara inti dan plasma. pertumbuhan pusat-pusat atau kota ditunjang oleh hinterland yang baik.. yang mempunyai sifat-sifat tertentu dan mempunyai hubungan fungsional (Rustiadi et. Pusat . al. Inti (pusat simpul) adalah pusat-pusat pelayanan/permukinan.. wilayah berfungsi sebagai: 1. Secara historik. 3. 4.14 Konsep wilayah yang paling klasik (Hagget. dan 4. sedangkan faktor-faktor yang tidak dominan dapat beragam (heterogen). Pusat pelayanan terhadap daerah hinterland. walaupun Solo dan Yogyakarta relatif lebih dahulu berkembang tapi Jakarta. 3. Pemasok tenaga kerja melalui proses urbanisasi. Konsep wilayah nodal didasarkan atas asumsi bahwa suatu wilayah diumpamakan sebagai suatu “sel hidup” yang mempunyai plasma dan inti. Sedangkan hinterland berfungsi sebagai: 1. (2) wilayah nodal (nodal region). 2005). Bandung dan Medan terbukti lebih pesat perkembangannya karena sangat ditunjang oleh hinterland yang mendukung. 2005) mengenai tipologi wilayah. Penjaga fungsi-fungsi keseimbangan ekologis. 1977 dalam Rustiadi et. Pemasok (produsen) bahan-bahan mentah dan atau bahan baku. Wilayah homogen adalah wilayah yang dibatasi berdasarkan pada kenyataan bahwa faktor-faktor dominan pada wilayah tersebut bersifat homogen. 2. al. Pasar bagi komoditi-komoditi pertanian maupun industri. sedangkan plasma adalah daerah belakang (peripheri/hinterland). dan Lokasi pemusatan industri manufaktur yang diartikan sebagai kegiatan mengorganisasikan faktor-faktor produksi untuk menghasilkan suatu output tertentu. Cliff dan Frey. Misalnya. mengklasifikasikan konsep wiayah ke dalam tiga kategori. yaitu: (1) wilayah homogen (uniform/homogenous region). 2. dan (3) wilayah perencanaan (planning region atau programming region). Tempat terkonsentrasinya penduduk (pemukiman).

KATING.Lindung Wilayah Sistem/ Fungsional Sistem ekonomi: Agropolitan. Kabupaten. Kota   Gambar 1 Kerangka Klasifikasi Konsep Wilayah . hutan. pesisir Sistem Komplek Sistem Sosial .Politik: cagar budaya. dan sebagainya Administrasi-politik: propinsi. wilayah etnik Umumnya disusun/dikembangkan berdasarkan: Perencanaan/ Pengelolaan • • Konsep homogen/fungsional: KSP. Homogen Sistem Sederhana Nodal (pusat .15 Konsep wilayah berikutnya adalah wilayah perencanaan yaitu wilayah yang dibatasi berdasarkan kenyataan terdapatnya sifat-sifat tertentu pada wilayah tersebut yang dapat bersifat alamiah maupun artificial dimana keterkaitannya sangat menentukan sehingga perlu perencanaan secara integral.Kota Budidaya . Sebagai contoh secara alamiah suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan suatu wilayah yang terbentuk dengan matriks dasar kesatuan hidroorologis yang perlu direncanakan secara integral.hinterland ) Desa . Sedangkan secara artificial. kawasan produksi. wilayah Jabotabek yang mempunyai keterkaitan faktor-faktor sosial ekonomi yang cukup signifikan juga perlu direncanakan secara integral. kawasan industri Sistem ekologi: DAS.

pengertian wilayah perdesaan ini mencakup (scope) sangat tergantung kepada luas cakupan batas definisinya.2. Karena itu pembangunan wilayah perdesaan dapat diartikan sebagai suatu proses atau tahapan pengarahan kepada kegiatan pembangunan di suatu wilayah tertentu yang dalam perwujudannya melibatkan interaksi antara sumberdaya manusia dengan sumber-sumber daya lainnya. Pada dasarnya cakupannya dipusatkan kepada ruang (daratan) yang menjadi tempat kehidupan manusia dan komponen-komponen pendukungnya yang lebih besar dari kawasan kota (ruang supra urban). Selanjutnya wilayah perdesaan menurut UU No. dan kegiatan ekonomi. Namun sayangnya pendekatan perencanan dan pengelolaan wilayah seringkali lebih didasarkan pada aspek administrasi-politik daripada aspek keterkaitan wilayah sebagai sebuah sistem. yang dinyatakan sebagai kawasan perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian termasuk pengelolaan sumberdaya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman perdesaan. Sementara itu menurut Anwar (2001).16 Rustiadi et. termasuk sumberdaya alam dan lingkungannya melalui berbagai investasi guna memperbesar kapasitas ekonomi lokal. 2. pelayanan sosial. kawasan perdesaan dapat didefinisikan sebagai suatu kesatuan sistem spasial yang aktifitas ekonomi utama masyarakatnya. dari sisi suplai. (2005) mengemukakan pemahaman wilayah dapat dilihat dalam Gambar 1. Sedangkan menurut Saefulhakim (2001). berbasis pada pengelolaan sumberdaya alam lokal (natural resource based economy). 26 tahun 2007 tentang penantaan ruang. al. pelayanan jasa pemerintahan. Upaya ini bertujuan agar kapasitas produksi dan produktivitas masyarakat keseluruhan wilayah nasional secara agregat terus meningkat. Disparitas antar Wilayah dan Pembangunan Perdesaan Dalam konteks spasial. Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa wilayah merupakan suatu sistem yang mempunyai keterkaitan fungsional yang berbeda. proses pembangunan yang telah dilaksanakan selama ini ternyata telah menimbulkan berbagai permasalahan yang berkaitan .

Kesenjangan ini pada akhirnya menimbulkan berbagai permasalahan yang dalam konteks makro sangat merugikan bagi keseluruhan proses pembangunan. dan ekonomi yang makin kompleks dan rumit untuk diatasi. lingkungan. Demikian pula hubungan antar wilayah telah membentuk suatu interaksi yang saling memperlemah (Rustiadi et. provinsi. 2006). Secara nasional bahkan sempat muncul ancaman disintegrasi akibat ketimpangan 2006). seperti yang ditunjukkan oleh munculnya kabupaten-kabupaten baru dan provinsi-provinsi baru. terjadinya kemacetan dan sebagainya. tingginya tingkat polusi. Dalam konteks wilayah yang lebih luas. pembangunan wilayah (Rustiadi dan Hadi. al. antara wilayah Indonesia Timur dan Indonesia Barat. Ketimpangan wilayah dalam suatu wilayah administratif bahkan sering melatari kecenderungan terjadinya pemekaran wilayah administratif. Wilayah-wilayah hinterland menjadi lemah karena pengurasan sumberdaya yang berlebihan. sementara wilayahwilayah hinterland mengalami pengurasan sumberdaya yang berlebihan (massive backwash effect). Secara makro dapat kita lihat terjadinya ketimpangan pembangunan yang signifikan misalnya antara wilayah desa-kota. . Perkembangan perkotaan pada akhirnya sarat dengan permasalahanpermasalahan sosial. Fenomena urbanisasi yang mampu memperlemah perkembangan kota ini dapat kita lihat di kota-kota besar di Indonesia yang dipenuhi oleh daerahdaerah kumuh (slum area). Potensi konflik menjadi sedemikian besar karena wilayah-wilayah yang dulunya kurang tersentuh pembangunan mulai menuntut hak-haknya. sedangkan pusat-pusat pertumbuhan pada akhirnya juga menjadi lemah karena proses urbanisasi yang luar biasa. Pendekatan yang sangat menekankan pada pertumbuhan ekonomi dengan membangun pusatpusat pertumbuhan telah mengakibatkan investasi dan sumberdaya terserap dan terkonsentrasi di perkotaan sebagai pusat-pusat pertumbuhan. antara wilayah Jawa dan non Jawa dan sebagainya.17 dengan tingkat kesejahteraan antar wilayah yang tidak berimbang. regional bahkan nasional. maka disparitas wilayah dapat pula dilihat dari ketimpangan wilayah dalam suatu wilayah kabupaten.

Dengan demikian jelas bahwa disparitas antar wilayah ini harus diatasi mengingat banyaknya dampak negatif yang bisa ditimbulkan. Karena itu diperlukan upaya-upaya untuk mengatasi terjadinya urban bias. Hal ini didasari bukan hanya karena . Bahkan di pulau-pulau besar kawasan Timur Indonesia seperti Sulawesi. Aspek posisi geografis. dibutuhkan kebijakan pemerintah untuk mengatasi permasalahan disparitas antar wilayah dan perencanaan yang mampu mewujudkan pembangunan wilayah yang berimbang. dimana suatu wilayah memiliki keunggulan posisi geografis dibanding wilayah lain. Disamping itu ketimpangan juga dapat disebabkan bukan karena faktor penentu alamiah diatas. Maluku dan Papua jumlah penduduk yang bermukim di perdesaan masih berada diatas 70 persen. Disparitas antar wilayah telah menimbulkan banyak permasalahan sosial. Wilayah yang memiliki tradisi yang kuat dan sangat mementingkan proses pendidikan akan memiliki SDM serta SDS yang lebih. Menurut Nasution (2004). dengan mulai lebih memperhatikan masalah pengembangan kawasan perdesaan. Hal ini tentunya seiring dengan tujuan hakiki dari pembangunan yaitu untuk mewujudkan efisiensi ekonomi (efficiency). tapi karena perbedaan sumberdaya manusia (SDM) dan sumberdaya sosial (SDS). yaitu kecenderungan proses pembangunan untuk lebih memihak pada kepentingan kawasan perkotaan. sehingga akan lebih maju dibanding dengan wilayah yang memiliki SDM dan SDS yang kurang baik. Untuk itu. pembangunan kawasan perdesaan tidak dapat dipungkiri merupakan hal yang mutlak dibutuhkan.18 Ketimpangan/disparitas pembangunan antar wilayah secara alamiah bisa terjadi disebabkan oleh dua faktor penentu yaitu : 1. kawasan perdesaan masih dihuni oleh sebagian besar rakyat Indonesia (58%). dimana salah satu wilayah diberi kelimpahan sumberdaya alam yang lebih dibanding wilayah yang lain. pemerataan (equity) dan keberlanjutan (sustainability). Aspek kepemilikan sumber daya alam yang berbeda. 2. ekonomi dan politik. Pembangunan kawasan perdesaan merupakan hal yang harus mendapat perhatian karena berdasarkan sensus penduduk tahun 2000.

Menurut Anwar (2001). Kebijaksanaan mempertahankan nilai tukar (exchange rate) yang mendorong ekspor pertanian yang selalu kompetitif. 4. Pengendalian sebagian (partial controlled) melalui kebijaksanaan perpajakan dan monitoring kepada lalu lintas devisa dan modal. Dari sisi konsumsi. Kebijaksanaan (insentif lapangan kerja) yang membatasi migrasi penduduk dari desa ke kota. Dari sisi produksi. adalah dengan menciptakan peningkatan nilai tambah di perdesaan itu sendiri.19 terdapatnya ketimpangan antara kawasan perdesaan dan perkotaan akan tetapi juga mengingat banyaknya potensi yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong pembangunan. Peraturan Pemerintah No. 3. Redistribusi aset (tanah. kapital dan sebagainya). Artinya. Salah satu alternatif solusi yang ditawarkan oleh Rustiadi dan Hadi (2006). melainkan juga mampu menghasilkan bahan-bahan olahan atau industri hasil pertanian. Tahap Kedua : . 72 tahun 2005 tentang Otonomi Desa memberikan peluang bagi desa untuk mengembangkan perekonomian desa dengan potensi yang dimiliki desa. kawasan perdesaan harus didorong menjadi kawasan yang tidak hanya menghasilkan bahan primer pangan dan serat. Kenyataan ini berimplikasi bahwa pembangunan kawasan perdesaan merupakan keniscayaan. desa menjadi penyedia sumberdaya manusia yang merupakan faktor produksi utama selain teknologi dan modal. 5. Pengembangan lembaga dan pasar finansial di wilayah perdesaan. terdapat beberapa langkah atau upaya yang bisa dilakukan untuk mendorong pengembangan kawasan perdesaan sekaligus untuk mengurangi terjadinya urban bias dalam proses pembangunan yaitu: Tahap Pertama : 1. 2. kalau kesejahteraan masyarakat banyak yang menjadi sasaran akhir dari setiap upaya pembangunan. penduduk yang besar sekaligus merupakan potensi pasar bagi produk-produk komersial.

serta barang konsumsi lain 10. Dengan memperhitungkan beberapa faktor yang kait mengkait yang mempengaruhi pembangunan perdesaan. terutama melalui kebijaksanaan desentralisasi. . Konsep agropolitan berdasarkan Friedman (1975) yaitu terdiri dari distrikdistrik agropolitan sebagai kawasan pertanian pedesaan yang memiliki kepadatan mampu melayani. mendorong. menarik. dan menghela kegiatan pembangunan pertanian (agribisnis) daerah wilayah sekitarnya (Anonimous.dengan membangun trust fund di daerah-daerah untuk membiayai dua kapital di atas. 8. Kebijaksanaan (insentif fiskal) mendorong produksi dan distribusi ke arah wilayah perdesaan. Industrialisasi berbasis wilayah perdesaan/pertanian (melalui pembangunan sistem mikropolitan): • • • Industri pengolahan makanan dan pakan Industri pengolahan pertanian lainnya Industri peralatan dan input-input pertanian. Pembangunan regional berbasis kepada pemanfaatan sumberdaya wilayah/kawasan berdasar keunggulan komparatif masing-masing wilayah. Dalam pedoman ini yang dimaksud dengan agropolitan adalah kota pertanian yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis yang 2002). Investasi dalam human capital dan social capital serta teknologi berbasis perdesaan yang lebih kuat . 9. 2. 7.untuk mencoba keluar dari “The Debt Trap”. Pengembangan Kawasan Agropolitan Secara konseptual Agropolitan terdiri dari kata agro (pertanian) dan kata politan (polis=kota) sehingga agropolitan dapat diartikan kota dilahan pertanian. diharapkan terjadi keseimbangan ekonomi secara spatial antara wilayah perdesaan dengan kawasan perkotaan yang lebih baik dan sekaligus mampu menyumbang kepada pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.3.20 6. Secara berangsur mengurangi ketergantungan kepada kapital dan bantuan luar negeri .

3.21 penduduk 200 jiwa per km2 dan di dalamnya terdapat kota-kota tani dengan jumlah penduduk 10.000 – 150. yang efisien.000 – 25. Pengembangan kawasan agropolitan bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat melalui percepatan pembangunan wilayah dan peningkatan keterkaitan desa dan kota dengan mendorong berkembangnya sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing. 2. Menurut Saefulhakim (2004). Agro berasal dari istilah bahasa latin yang bermakna “tanah yang dikelola” atau “budidaya tanaman”. Dengan demikian agropolis atau agro-metropolis adalah lokasi pusat pelayanan sistem kawasan sentra-sentra aktivitas ekonomi berbasis pertanian. secara terminologi agropolitan berasal dari kata agro dan metropolis/metropolitan. sehingga akan menghasilkan jumlah penduduk total antara 50. pengelolaan hasil. yang dilakukan dengan pengembangan sistem dan usaha agribisnis .000 penduduk yang mayoritas bekerja di sektor pertanian (tidak dibedakan antara pertanian modern dan pertanian konvensional) dan tiap-tiap distrik dianggap sebagai satuan tunggal yang terintegrasi. produktivitas komoditi pertanian serta produk-produk olahan pertanian. Sementara luas wilayah distrik adalah cummuting berada pada radius 5 – 10 km. Sasaran pengembangan kawasan agropolitan adalah untuk mengembangkan kawasan pertanian yang berpotensi menjadi kawasan agropolitan. pemasaran dan penyedia jasa). Pengembangan kelembagaan sistem agribisnis (penyedia agroinput. yang kemudian digunakan untuk menunjuk berbagai aktivitas berbasis pertanian. Penguatan kelembagaan petani. Pemberdayaan masyarakat pelaku agribisnis agar mampu meningkatkan produksi. Sementara metropolis mempunyai pengertian sebagai sebuah titik pusat dari beberapa/berbagai aktivitas.000 jiwa. Karena itu pengembangan agropolitan sendiri berarti pengembangan berbagai hal yang dapat memperkuat fungsi/peran AGROPOLIS sebagai lokasi pusat pelayanan sistem kawasan sentra-sentra aktivitas ekonomi berbasis pertanian dimana tipologi pengembangan disesuaikan dengan karakteristik tipologi kawasan yang dilayaninya. melalui : 1.

pengembangan agropolitan di wilayah perdesaan pada dasarnya lebih ditujukan untuk meningkatkan produksi pertanian dan penjualan hasil-hasil pertanian. 2002). perumahan. mengurangi kemiskinan dan mencegah terjadinya urbanisasi tenaga produktif serta akan meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). agribisnis hilir (pengolahan hasil pertanian dan pemasaran) dan jasa penunjangnya (Anonimous. Segala aktivitas harus diorganisasikan terutama untuk membangun keterkaitan antara perusahaan di kota dengan wilayah suplai di perdesaan dan untuk menyediakan fasilitas. Menurut Rodinelli (1985). kesehatan dan jasa-jasa sosial di kota-kota kecil menengah untuk meningkatkan produktivitas dari tenaga kerja. Berkembangnya sistem dan usaha agribisnis di kawasan agropolitan tidak saja membangun usaha budidaya (on farm) saja tetapi juga off farm-nya yaitu usaha agribisnis hulu (pengadaan sarana dan prasarana pertanian). beberapa kecamatan dalam satu kabupaten. Perhatian juga perlu diberikan untuk memberikan kesempatan kerja di luar sektor produksi pertanian (off-farm) dan berbagai kenyamanan fasilitas perkotaan di kota-kota kecil-menengah di wilayah perdesaan yang bertujuan untuk mencegah orang melakukan migrasi keluar wilayah. pelayanan. beberapa kecamatan dalam lintas wilayah beberapa .22 4. Pengembangan iklim yang kondusif bagi usaha dan investasi. input produksi pertanian dan aksesibilitas yang mampu memfasilitasi lokasi-lokasi permukiman di perdesaan yang umumnya mempunyai tingkat kepadatan yang rendah dan lokasinya lebih menyebar. kesenjangan antar kota dan desa dan kesenjangan pendapatan antara masyarakat. 5. Sehingga akan mengurangi kesenjangan kesejahteraan antar wilayah. Pengembangan kelembagaan penyuluhan pembangunan terpadu. Kawasan agropolitan bisa berada dalam satu wilayah kecamatan. kawasan agropolitan dapat saja mencakup satu kecamatan administratif yang berbeda di setiap daerah. Investasi dalam bentuk jalan yang menghubungkan lokasi-lokasi pertanian dengan pasar merupakan suatu hal penting yang diperlukan untuk menghubungkan antara wilayah perdesaan dengan pusat kota. mendukung tumbuhnya industri agroprocessing skala kecil-menengah dan mendorong keberagaman aktivitas ekonomi dari pusat pasar. Sebagai unit wilayah fungsional. Perhatian perlu diberikan terhadap penyediaan air.

Pembangunan sistem dan usaha agribisnis yang berkerakyatan berarti pembangunan berasal dari rakyat.Alat-alat mesin pertanian (traktor. kawasan ini .Jalan-jalan akses (jalan usaha tani) . Selanjutnya implementasi program yang dijalankan adalah program agropolitan berbasis jagung. alat-alat prosesing) . Dalam hal ini pembangunan kota-kota kecil menengah di provinsi Gorontalo diarahkan menjadi kota pertanian yang tumbuh dan berkembang memiliki fasilitas yang dapat karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis di desa dalam kawasan sentra produksi. Adapun kajian dalam penelitian ini mengarah pada konsep agropolitan yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia termasuk provinsi Gorontalo. Kemandirian Melalui Penguatan Kapasitas Kelembagaan Lokal Perdesaan dan Kemitraan. menurut Sadjad (2004) hilangnya perlumbungan beras di desa yang digantikan oleh BULOG menggeser kelembagaaan lokal dan mematikan desa sebagai desa . dan untuk rakyat dimana pemerintah harus memfasilitasinya. bahkan hilang. yaitu program unggulan daerah untuk memacu pembangunan pertanian sekaligus menjadi motor penggerak pembangunan perekonomian daerah.4. mendukung lancarnya pembangunan pertanian yaitu : 2.Kios-kios sarana produksi . Provinsi Gorontalo sebagai salah satu provinsi yang menerapkan konsep agropolitan untuk memacu pertumbuhan dan pengembangan wilayah. mengacu pada konsep agropolitan yang dikembangkan oleh pemerintah melalui Departemen Pertanian sesuai dengan pedoman umum pengembangan kawasan agropolitan. oleh rakyat.Lembaga penyuluh dan alih teknologi .Pemasaran. Akibat dari paradigma pembangunan di masa lalu banyak kelembagaan tradisional /lokal yang sebelumnya merupakan bagian dari perekonomian lokal menjadi rusak.23 kabupaten atau bahkan beberapa kabupaten dalam satu provinsi atau lintas provinsi.Pengairan / jaringan irigasi . Sebagai contoh. Sebagai kota pertanian.

Hal ini menyebabkan kesempatan mencari nilai tambah yang menjadi ciri industri menjadi hilang di perdesaan. pemrosesan beras oleh rakyat. peranan pemerintah. Selanjutnya menurut Rustiadi dan Hadi (2006). Oleh karena itu kelembagaan dan organisasi lokal perlu dibangkitkan kembali dan diberdayakan untuk memperkuat pembangunan sistem dan usaha agribisnis yang berkelanjutan dan mandiri. benih/bibit . seperti terlihat pada Tabel 6 berikut : Tabel 6 Sarana Dasar Usaha Agribisnis URAIAN Input Modal. Pupuk. untuk menghindari adanya peluang pengaliran nilai tambah yang tidak terkendali keluar kawasan diperlukan penguatan sumberdaya manusia dan kelembagaan. penguatan permodalan perdesaan dan penguatan kelembagaan ekonomi. Dibangunnya BULOG secara sentralistik. Dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif. masyarakat dan dunia usaha cukup penting yang tentunya disesuaikan dengan proporsi kewenangan dan fungsi masing-masing. obat Pestisida Alsin Penunjang Jalan. Konsep Pembangunan Desa-Kota Berimbang.24 industri. transportasi beras dari desa ke kota. penguatan kelembagaan dalam memberdayakan kawasan agropolitan dilakukan dengan menciptakan iklim usaha yang kondusif terkait dengan input sarana dasar usaha pertanian. penguatan kelembagaan kawasan agropolitan. Menurut Suwandi (2004). irigasi Pasar Air bersih Pengolahan hasil Iptek Riset. 2006.Pengembangan Penyuluhan Sistem informasi √√ √√ √√ √√ √ √ √ √ √ √√ √ √ PEMERINTAH √ MASYARAKAT √ DUNIA USAHA √√ Sumber : Kawasan Agropolitan. menyebabkan hilangnya perlumbungan di desa. Sehingga penguatan .pakan. Kesemuanya itu merupakan proses industri yang dulunya terjadi di desa.

5. pengolahan dan pemasaran akan menjamin terhindarnya eksploitasi pelaku usaha tani di tingkat perdesaan oleh pelaku usaha yang lain dan memungkinkan terjadinya nilai tambah yang dapat dinikmati oleh pelaku usaha tani.25 kelembagaan lokal dan sistem kemitraan menjadi prasyarat utama yang harus ditempuh terlebih dahulu dalam pengembangan kawasan agropolitan. 2006). pelaksanaan dan pengendalian pelaksanaannya. Kemitraan menuntut dukungan semua stakeholder terkait sebagai refleksi dari kebersamaan publicprivate. Kemampuan sendiri pada dasarnya merupakan kemampuan masyarakat untuk membiayai dirinya sendiri. Oleh karena pelaksanaan pembangunan tidak bisa dijalankan oleh masyarakat perdesaan itu sendiri. 2. pelaku usaha bermodal dan pemerintah. disamping itu pendapat lain menyatakan bahwa faktor lain seperti sumberdaya manusia dan lokasi merupakan faktor terpentingnya. sektor swasta dan pemerintah.community partnership. diperlukan adanya kemitraan antara petani perdesaan. Peran Infrastruktur dalam Pembangunan Perdesaan Sebagian literatur menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan antara infrastrukur dengan tingkat perkembangan ekonomi. Oleh karena itu kemampuan masyarakat untuk melakukan saving menjadi penting dalam rangka meningkatkan akumulasi kapital yang nantinya akan berguna bagi peningkatan investasi dan pembangunan. Pada dasarnya dapat dinyatakan bahwa tanpa infrastruktur pembangunan ekonomi tidak . sehingga memungkinkan kawasan perdesaan melakukan investasi baik yang berupa pendidikan maupun penciptaan lapangan usaha baru (multiplier effect). Secara ekonomi. kemandirian dapat dibangun dengan penguatan lembaga keuangan dan organisasi petani/pelaku ekonomi lokal (Rustiadi dan Hadi. produksi. Beberapa berargumen bahwa jenis infrastruktur tertentu seperti transportasi merupakan hal terpenting dalam pembangunan ekonomi. diperlukan pola kemitraan dalam seluruh tahap pembangunan dari perencanaan. Mengingat rendahnya tingkat saving masyarakat perdesaan. Pola kemitraan seperti kemitraan permodalan. Kemitraan dimaksud melibatkan para pemangku kepentingan (stakehoders) yang terdiri dari masyarakat. Ini akan menjamin peningkatan pendapatan.

Infrastruktur memungkinkan bisnis perdesaan mudah mengakses input dan pasar outputnya. tidak terkecuali pembangunan pertanian dan perdesaan. Namun demikian. 2007). Hal ini disebabkan karena masih dominannya pendekatan top down dan dominannya peran pemerintah sedangkan partisipasi masyarakat masih sangat terbatas. Masalah lemahnya akses masyarakat lokal atas sumberdaya-sumberdaya utama khususnya lahan serta lemahnya kapasitas kelembagaan lokal menyebabkan keadaan dimana infrastruktur dan fasilitas-fasilitas yang dibangun di perdesaan lebih dinikmati oleh orang perkotaan dibanding masyarakat setempat (Rustiadi. Namun demikian. Menurut GTZ (2003) dalam Rustiadi (2007).al dalam Rustiadi. Namun demikian.2007). fenomena yang terjadi di lapangan dalam pengembangan kawasan agropolitan di lokasi-lokasi rintisan seperti pada agropolitan Cianjur adalah tidak munculnya common ownership atas sarana dan prasarana serta fasilitas yang dibangun. et. Investasi dalam infrastruktur mendorong pertumbuhan yang berpihak pada penduduk miskin (pro-poor) melalui peningkatan akses pada infrastruktur tersebut serta mengurangi resiko dan biaya transaksi yang terkait dengan produksi dan distribusi produknya. 2. yang pada akhirnya akan meningkatkan produktifitas usaha. Infrastruktur yang dibangun haruslah mampu meminimumkan biaya pelaksanaan bisnis dan mampu untuk memfasilitasi proses produksinya. Pentingnya Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Seperti telah diketahui bahwa pada awalnya pembangunan dilakukan untuk mendorong pertumbuhan. pertumbuhan ekonomi yang . tidak ada jaminan bahwa infrastruktur yang canggih akan senantiasa berdampak pada pembangunan ekonomi dengan pertumbuhan yang tinggi (DeRyk. Secara umum dapat dikatakan bahwa infrastruktur merupakan syarat perlu dalam pembangunan.6.26 dapat dilaksanakan. salah satu faktor untuk menjamin keberhasilan dan proses pembangunan ekonomi perdesaan yang mandiri adalah berfungsinya infrastruktur secara efektif (baik perangkat keras maupun lunaknya). Menurut GTZ (2003) dalam dokumen Guide to REED pelaku utama dalam menjamin berfungsinya infrastruktur efektif antara lain: pemerintah pusat dan daerah. swasta dan komunitas perdesaan beserta organisasi dan asosiasi atau lembaga lembaga yang ada di wilayah perdesaan tersebut.

Berbagai keuntungan dari pendekatan partisipasi ini telah mengakibatkan pendekatan partisipasi dijadikan mainstream dalam penyelenggaraan pembangunan di hampir semua negara.27 tinggi. Karena itu pendekatan yang terbaik adalah perlunya suatu kompromi dan konsensus diantara pihak-pihak yang terlibat untuk mencapai suatu tujuan yang telah disepakati bersama. Perubahan paradigma pembangunan memang merupakan suatu proses yang memerlukan waktu. Berbagai perangkat. dalam realitanya kondisi yang optimal dan ideal ini susah untuk dirumuskan. diperhatikan. Pergeseran pemikiran pembangunan mulai terjadi dimana selain pertumbuhan. peraturan dan sebagainya harus dipersiapkan untuk mencapai suatu proses partisipasi yang optimal. aspek pemerataan/keadilan dan keberlanjutan harus ikut Dengan bertambahnya tujuan-tujuan yang harus dicapai maka perencanaan yang dulunya ditujukan untuk mendorong terjadinya pertumbuhan. Setiap pihak mempunyai pandangan yang masingmasing berbeda sehingga kondisi yang ideal pada dasarnya bersifat relatif. sekarang mulai dilakukan untuk memanajemen konflik diantara ketiga tujuan tersebut agar bisa mencapai suatu kondisi yang optimal. peningkatan jumlah pengangguran dan kemiskinan serta pengrusakan sumber daya alam akan sangat berbahaya bagi kelangsungan pembangunan itu sendiri. Selain itu. Tanpa itu . mekanisme. Menurut Rustiadi (2003). maka proses partisipasi dari semua pihak menjadi penting. partisipasi juga menjadi penting karena keterlibatan berbagai pihak dalam setiap tahapan proses pembangunan akan menyebabkan rasa kepemilikan mereka terhadap proses pembangunan cukup tinggi. Namun sampai sekarang ternyata masih terjadi kesulitan dalam mewujudkan proses partisipasi di lapangan. Karena adanya rasa ikut memiliki tersebut maka kemauan untuk memperlancar proses pembangunan dan menjaga hasil-hasil pembangunan pun juga menjadi cukup tinggi. Sehingga dalam upaya untuk mencapai suatu kesepakatan bersama inilah. jika disertai dengan munculnya berbagai masalah berupa penurunan distribusi pendapatan. Partisipasi akan mendorong terjadinya pertukaran informasi sehingga informasi yang didapatkan menjadi lebih akurat dan komprehensif.

Batasan pembangunan yang partisipatif (participatory development) dari OECD adalah: “kemitraan (partnership) yang dibangun atas dasar dialog di antara beragam aktor pada saat mereka menyusun agenda kerja. Menyampaikan informasi 4. (2003). Peredaman (placation) . negosiasi atau dialog (komunikasi). Artinya. dimana pandangan lokal dan pengetahuan asli dicari dan dihargai. yaitu sejak perencanaan. Terapi 3.R (1969) menggolongkan partisipasi masyarakat kedalam dalam 8 jenjang yaitu : 1. (2003). Konsultasi 5. Dari batasan di atas. dalam implementasi program yang dirumuskan secara bersama-sama. al. partisipasi bekerja pada setiap tahap pengelolaan program. dan menikmati secara bersama-sama pula setiap benefit yang diterima dari keberhasilan program dimana mereka juga terlibat dalam proses evaluasi termasuk proses monitoring”. kesederajatan-kesetaraan. kerjasama-kemitraan. Selanjutnya Arnstein. Dari pemahaman konsep-konsep partisipasi seperti di atas. melihat partisipasi sebagai sebuah proses kemitraan dimana kerjasama dan pertukaran potensi antar pihak berlangsung secara kondusif. sampai dengan monitoring dan evaluasi. pengembangan sikap saling percaya. Hal ini berimplikasi pada berlangsungnya proses negosiasi daripada sekedar dominasi keputusan dari luar sistem sosial masyarakat atau externally set project agenda.28 semua. maka pembangunan yang partisipatif selalu ditandai dengan terdapatnya prinsip-prinsip: keterlibatan masyarakat luas dalam pengelolaan program (sejak perencanaan hingga evaluasi). Sementara itu OECD dalam Darmawan et. masyarakat berperan sebagai aktor-penentu dan bukan sekedar penerima sebuah program”. al. Dalam kerangka pembangunan pedesaan (rural development). implementasi dan eksekusi. Manipulasi 2. pemutusan kebijakan. S. COHEN dan UPHOFF dalam Darmawan et. memaknai konsep partisipasi sebagai: “keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. serta peran aktoraktif masyarakat. perubahan di level paradigma tidak akan bisa diterapkan dengan baik di lapangan.

kritik dan saran atas pengembangan kawasan agropolitan yang ada dan sedang berjalan. b. sehingga diharapkan: a.29 6. jenjang 3 sampai 5 dikategorikan sebagai tingkat tokenisme dimana belum ada jaminan pendapat dan persepsi masyarakat akan diimplementasikan. Akan terjadi mekanisme kontrol atas program-program pemerintah dalam pengembangan kawasan agropolitan. Serta jenjang 6 sampai 8 dikategorikan sebagai tingkat kekuasaan masyarakat. dan berwibawa akan selalu bersikap kooperatif dan kritis. serta pemerintahan yang bersih. Perguruan tinggi diharapkan akan menjadi soko guru bagi pengembangan pendidikan dan pelatihan agribisnis kepada masyarakat petani dan dunia usaha. Perguruan tinggi sebagai center of excellence akan menjadi mitra pemerintah baik ditingkat pusat maupun daerah dalam pengembangan riset dibidang budidaya pertanian. 3) Masyarakat dan dunia usaha: Dalam rangka mewujudkan pengembangan kawasan agropolitan perlu terus didorong keterlibatan masyarakat dan dunia usaha dengan pendekatan community driven planning. perikanan. Pengawasan masyarakat Dimana jenjang 1 dan 2 dikategorikan sebagai non partisipasi. peternakan. Kemitraan / partnership 7. masyarakat dapat berupa : 1) Perguruan Tinggi a. Pendelegasian kekuasaan 8. Dengan pendekatan ini diharapkan: . sehingga diharapkan akan memberikan feed back yang baik untuk perbaikan di masa yang akan datang. pengembangan agropolitan sendiri. 2) Lembaga Swadaya Masyarakat Sebagai mitra pemerintah untuk mewujudkan good governance. LSM akan memberikan masukan. dimana pada tingkat ini masyarakat memiliki mayoritas suara dalam proses pengambilan keputusan bahwa sangat mungkin Dalam memiliki kewenangan kawasan penuh mengelola itu suatu obyek peranan kebijaksanaan.

peranan pemerintah untuk memfasilitasi pengembangan kawasan agropolitan harus didasarkan pada UU No. (2) Mendorong partisipasi dan swadaya masyarakat dalam mempersiapkan master plan. Masyarakat dan dunia usaha menjadi pelaku langsung dan objek dari program pengembangan kawasan agropolitan.38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. menggerakkan. program dan melaksanakan program agropolitan. melaksanakan dan juga mengontrol pelaksanaan program pengembangan kawasan agropolitan.7. Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Pemerintah Kabupaten/Kota Sesuai dengan titik berat otonomi daerah pada kabupatenk/kota. 2. Masyarakat dan dunia usaha ikut merencanakan. Terciptanya kesadaran. kebijakan operasional dan koordinasi perencanaan dan pelaksanaan pengembangan agropolitan. Pengembangan agropolitan juga harus didasarkan pada UU No 26 tahun 2007 untuk menjamin keberlanjutannya secara spatial. kesepakatan dan ketaatan masyarakat dan dunia usaha terhadap pengembangan kawasan agropolitan. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan PP No. b. d. pemerintah Kabupaten/Kota adalah : (1) Merumuskan program. maka penanggung jawab Oleh Program karena Pengembangan itu peran utama Agribisnis dari adalah Bupati/Walikota. Meningkatkan legitimasi program pembangunan kawasan agropolitan. Adapun Perannya adalah sebagai berikut : a.30 a. (3) Mendorong tumbuh dan berkembangnya kelembagaan dan sarana dan prasarana pendukung program agropolitan. c. . Peranan Pemerintah dalam Pengembangan Kawasan Agropolitan Peranan pemerintah sangat berpengaruh terhadap pengembangan Sesuai dengan agropolitan. Pedoman Umum Pengembangan Kawasan Agropolitan dan Pedoman Rintisan Pengembangan Kawasan Agropolitan (2002).

program dan kebijakan pengembangan agropolitan dalam bentuk Pedoman Umum program pengembangan agropolitan beserta pedoman/petunjuk-petunjuk pelaksanaanya. Dalam program pengembangan agropolitan. permodalan. teknologi. jasa) dan dukungan pengembangan jaringan informasi serta kabupaten pengembangan . dalam agroinput. (2) Merumuskan standar teknis. Pemerintah Provinsi Kewenangan pemerintah provinsi adalah membantu/memfasilitasi Pemda Kabupaten/Kota terutama dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas Kabupten/Kota serta bidang pemerintahan tertentu lainnya.31 b. melaksanakan kewenangan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota. dan standar minimal terutama untuk sarana prasarana dan pembiayaan pengembangan agropolitan. Pemerintah Pusat Tugas Pemerintah Pusat adalah membantu Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam pengembangan program agropolitan serta kewenangan dalam bidang pemerintahan yang menyangkut lintas provinsi. (6) Membanun prasarana dan sarana publik yang bersifat strategis c. (4) Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan sumberdaya manusia (5) Membantu memecahkan masalah yang diminta oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. peranan pemerintah pusat adalah : (1) Menyusun rencana. pelayanan kerjasama informasi lintas (pasar. (2) Memberikan memfasilitasi agropolitan. Dalam program pengembangan agropolitan ini peranan pemerintah provinsi adalah : (1) Merumuskan dan mengkoordinasi rencana program dan kebijakan pengembangan agropolitan di wilayah provinsi. (3) Menyelenggarakan pengkajian teknologi sesuai kebutuhan petani dan pengembangan wilayah.

32 (3) Memberikan pelayanan informasi dan dukungan pengembangan jaringan informasi serta menfasilitasi kerjasama lintas provinsi dan Internasional dalam pengembangan agropolitan. Membangun prasarana sarana publik. Menurut Rustiadi dan Hadi (2006). dalam kaitannya dengan pembangunan wilayah agropolitan peranan dari pemerintah adalah untuk memberikan proteksi. Dalam perkembangan akhir. Dalam tahap awal pengembangan kawasan agropolitan pemerintah harus memfasilitasi untuk terbentuknya satu unit pengembangan kawasan agropolitan. Karena sifatnya yang multi lembaga. yang selebihnya dibangun sistem insentif melalui pajak dan transfer dalam mendorong pihak swasta untuk turut serta membinanya. Selanjutnya dalam perkembangan berikutnya peran pemerintah mulai dikurangi dan hanya masuk pada sektor-sektor publik. menyelenggarakan pembangunan. yang bersifat strategis. Posisi strategis ini didasarkan . 2. Komoditi Unggulan dan Teori Basis Ekonomi Komoditas unggulan adalah komoditas andalan yang memiliki posisi strategis untuk dikembangkan di suatu wilayah. Peran pemerintah dijalankan oleh berfungsinya departemen dan lembaga di tingkat pusat dan daerah yang terkait dengan pengembangan kawasan. efisien berarti dijalankannya tugas dan fungsi itu secara hemat. pengembangan kawasan agropolitan menuntut adanya koordinasi antar lembaga yang bisa menjamin alokasi sumberdaya pembangunan secara efektif dan efisien.8. (4) ( 5) Mengembangkan pendidikan dan pelatihan sumberdaya manusia. regulasi dan distribusi dan manajemen konflik. mengemukakan peranan pemerintah dalam pembangunan adalah dalam memberikan modal permulaan untuk mereplikasi pertumbuhan kota-kota kecil yang mempunyai lokasi strategik. penegakan hukum dan cenderung sebagai fasilitator. Selanjutnya Anwar (2006). Efektif ditunjukkan oleh berperannya departemen/lembaga sesuai tugas pokok dan fungsinya. kawasan agropolitan adalah kawasan yang mandiri dimana pemerintah hanya berperan pada sektor-sektor yang benar-benar publik seperti : pertahanan dan keamanan. melaksanakan fungsi fasilitasi.

baik untuk pasar domestik daerah maupun pasar luar wilayah/daerah. Pengembangan suatu komoditi pertanian harus mempertimbangkan kondisi relatif sumberdaya alam. Komoditas tertentu dikatakan layak secara biofisik jika komoditas tersebut diusahakan sesuai dengan zona agroekologi. modal dan manusia untuk menghasilkan dan juga kemungkinan pemasaran hasil produksi. Sedangkan layak secara ekonomi artinya komoditas tersebut menguntungkan. Sektor ekonomi suatu wilayah dapat dibagi dalam dua golongan. sosial ekonomi dan kelembagaan.33 pada pertimbangan teknis (kondisi tanah dan iklim). komoditas unggulan merupakan komoditi yang layak diusahakan karena memberikan keuntungan kepada petani baik secara biofisik. sosial maupun ekonomi. Sedangkan sektor non basis adalah sektor dengan kegiatan ekonomi yang hanya melayani pasar di daerahnya sendiri. 2005).9. Komoditi unggulan diharapkan dapat menjadi basis ekonomi sehingga dapat menjadi penggerak perekonomian daerah. Menurut Bustaman dan Susanto (2003). layak secara sosial jika komoditas tersebut memberikan peluang berusaha. dapat dilakukan dan diterima oleh masyarakat setempat sehingga berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Artinya industri basis ini akan menghasilkan barang dan jasa. Kegiatan ekonomi dikelompokkan atas kegiatan basis dan kegiatan nonbasis. Tujuan mengembangkan ekonomi pada suatu PEL adalah untuk mengembangkan ekonomi suatu . Hanya kegiatan basis yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah (Tarigan. dan kapasitas ekspor ekonomi daerah belum berkembang. 2. Revitalisasi Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) Pengembangan ekonomi lokal (PEL) adalah usaha untuk mengoptimalkan sumberdaya lokal yang melibatkan pemerintah. dunia usaha. Teori basis ekonomi (economic base theory) mendasarkan pandangannya bahwa laju pertumbuhan ekonomi suatu wilayah ditentukan oleh besarnya peningkatan ekspor dari wilayah tersebut. masyarakat lokal dan organisasi masyarakat madani untuk wilayah tertentu. yaitu sektor basis dimana kelebihan dan kekurangan yang terjadi dalam proses pemenuhan kebutuhan tersebut menyebabkan terjadinya mekanisme ekspor dan impor antar wilayah.

Terwujudnya kualitas kehidupan yang baik serta lancarnya akses dan arus informasi di suatu lokasi akan mampu menjadi penggerak utama dalam proses pengembangan ekonomi lokal. dimana dalam perkembangannya PEL telah mengalami 3 tahapan besar atau gelombang pengembangan. Dengan berbagai insentif tersebut diharapkan berbagai perusahaan individual akan menempatkan perusahaannya di lokasi-lokasi tertentu serta mampu menggerakkkan perkembangan ekonomi lokal di lokasi-lokasi tersebut. pengembangan kapasitas. kedua. banyak program dan kegiatan yang berlabel pengembangan ekonomi lokal (PEL) telah. pengurangan kesenjangan antar kelompok masyarakat. sosial dan pengetahuan dalam sebuah wilayah atau lokalitas tertentu. penurunan subsidi langsung atau penurunan pajak. Pendekatan ketiga menekankan pada peran penting dari kualitas infrastruktur fisik. Program–program tersebut yang pada umumnya menggunakan pendekatan pemberdayaan . PEL mulai berkembang di negara-negara maju baik di Amerika Serikat maupun Eropa sejak tahun 1960. Pendekatan pengembangan kapasitas (capacity building approach) mencoba mengembangkan infratruktur pendidikan dan teknologi dalam membangun basis pengetahuan yang diperlukan dalam menumbuhkembangkan kemampuan kompetitif dalam merespon perubahan lingkungan ekonomi. dan ketiga. dan akan dilaksanakan. fokus pada kualitas kehidupan dan aliran informasi. percepatan transfer teknologi dari perguruan tiggi ke dunia industri. Menurut Wolfe and Creutzberg (2003) dalam Bappenas (2006). infrastruktur yang bersbubsidi. dan peningkatan kemampuan (skill) pekerja dan manajemen. peningkatan kesejahteraan masyarakat. modernisasi perusahaan kecil dan menengah. Beberapa instrumen yang digunakan dalam pendekatan ini antara lain difokuskan pada upaya penutupan kesenjangan di pasar modal. sedang. ketiga gelombang tersebut adalah pertama. pendekatan tradisional (traditional approach). Pendekatan tradisional terutama memfokuskan pada upaya menarik perusahaan-perusahaan individual melalui input produksi yang murah.34 wilayah yang berkelanjutan dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal guna mempercepat pertumbuhan ekonomi wilayah. antar sektor dan antar wilayah. Di Indonesia.

konsep tersebut relatif sama dengan konsep ekonomi pada umumnya yang tidak memperhatikan ruang (spaceless world). Berbeda dengan konsep Porter’s Diamond. Kemitraan dan Pengembangan Ekonomi Lokal (KPEL). Padahal dalam ekonomi wilayah. Program Pengembangan Kecamatan (PPK). termasuk kawasan agropolitan. Pada umumnya program-proram tersebut tidak berkelanjutan (sustainable) setelah masa proyek berakhir. Namun sebagian besar program-program tersebut belum secara substansial mengembangkan ekonomi lokal. Berdasarkan hasil pemetaan tersebut kemudian dilakukan analisis terhadap komponen heksagonal PEL yang berperan sebagai faktor pengungkit (leverage konsep Heksagonal PEL yang dikembangkan oleh Jorg Meyer Stamer (2004) telah memasukkan aspek ruang . serta bersifat top down dari pemerintah pusat. Terdapat beberapa konsep yang menjadi dasar bagi revitalisasi PEL. salah satunya adalah konsep Porter’s Diamond dari Michael Porter. Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP) dan Proyek Peningkatan Pendapatan Petani dan Nelayan Kecil (P4K) serta Agropolitan. Wilayah yang dimaksud dapat berupa wilayah administratif ataupun wilayah/kawasan pengembangan usaha/komoditi unggulan tertentu. Oleh karenanya pada tahun 2006 dilakukan program revitalisasi pengembangan ekonomi lokal yaitu upaya meningkatkan fungsi pengembangan ekonomi lokal dan upaya menggerakkan kembali kekuatan ekonomi masyarakat lokal sebagai basis pengembangan perekonomian wilayah secara terukur.35 masyarakat (community development). dimulai sejak digulirkannya program Inpres Desa Tertinggal (IDT) pada tahun 1994. Namun konsep tersebut mempunyai kelemahan mendasar yaitu tidak ada aspek lokasi maupun ruang (spatial). faktor ini merupakan syarat keharusan sehingga jika tidak ada. terencana dan berkelanjutan. Pengembangan Prasarana Perdesaan (P2D). Selanjutnya diikuti oleh programprogram yang lain diantaranya: Program Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Daerah (P2MPD). 2006). Titik berat program lebih banyak diarahkan pada pemberdayaan masyarakat dan masih bersifat proyek. Heksagonal PEL merupakan alat analisis yang dapat digunakan untuk menggambarkan dan mengukur kondisi PEL di suatu wilayah. dalam model PEL-nya (Bappenas.

Heksagonal dapat membantu praktisi dan stakeholder untuk memahami kompleksitas PEL serta mempertimbangkan trade off dan kemungkinan konflik yang ada dalam PEL. Kelompok sasaran PEL Kelompok sasaran PEL dibedakan atas tiga pelaku usaha yaitu pelaku usaha lokal. 4. Aspek ini merupakan bagian dari pendekatan PEL yang inovatif. Faktor lokasi Faktor lokasi menggambarkan daya tarik dari sebuah lokasi bagi penyelenggaraan kegiatan usaha. Komponen PEL terdiri dari 6 unsur yang disebut dengan heksagonal.36 factor). lingkungan dan sosial. pemberdayaan masyarakat dan pengembangan komunitas. Terdapat enam segitiga yang secara keseluruhan membentuk heksagonal. 3. . yaitu faktor yang berpengaruh besar terhadap pengembangan PEL. Tata kepemerintahan Segitiga dalam ketatapemerintahan memastikan bahwa hubungan pelaku usaha masyarakat dibangun atas berlangsungnya reformasi sektor publik dan pengembangan organisasi pelaku usaha. faktor lokasi tidak terukur (intangible factor) bagi pelaku usaha dan faktor lokasi tidak terukur (intangible factor) bagi individu. Berdasarkan nilai faktor pengungkit tersebut selanjutnya disusun strategi pengembangan PEL. serta pembangunan wilayah. Terdiri dari faktor lokasi terukur (tangible factor). 2. Heksagonal PEL terdiri dari : 1. Pembangunan berkelanjutan Tiga faktor penentu pembangunan berkelanjutan terdiri dari pembangunan ekonomi. investor luar dan pelaku usaha baru. Ketiga hal tersebut memiliki tujuan yang berbeda namun saling berhubungan dan membentuk keterkaitan. yang berfungsi mengorganisasikan konsep utama dan instrumen PEL. 5. Kesinergian dan fokus kebijakan Tiga hal yang saling berkaitan dalam kebijakan PEL adalah perluasan ekonomi.

Gambar 2 Heksagonal PEL Untuk keperluan operasionalisasi konsep heksagonal PEL sebagai alat analisis selanjutnya diturunkan dalam bentuk indikator PEL (Lampiran 9). patok duga (benchmark) dan refleksi. Keseluruhan komponen PEL dalam heksagonal tersebut bertujuan untuk mengembangkan ekonomi wilayah secara berkelanjutan (Gambar 2). pengembangan kawasan agropolitan tanpa memperhatikan keterkaitan sosial ekonomi aktual yang terjadi antar hirarki wilayah di dalam . 2. Indikator ini kemudian dijadikan dasar untuk menyusun kuesioner evaluasi mandiri (self assessment). implementasi dan monitoring serta evaluasi. Namun. Penelitian Terdahulu Hasil penelitian Pribadi (2005) di Kawasan Agropolitan Cianjur mengemukakan bahwa Program agropolitan sejauh ini berdampak positif yaitu mampu meningkatkan nilai tambah terutama dari biaya transportasi yang lebih rendah.37 6.10. Proses manajemen PEL merupakan proses yang berkesinambungan yang terdiri dari diagnosa dan perencanaan.

meningkatnya kepadatan penduduk. Akses petani terhadap lahan ternyata semakin berkurang dengan berkembangnya infrastruktur wilayah (listrik dan sarana jalan). Pemanfaatan yang tidak optimal ini terjadi karena lokasi penempatan fasilitas yang tidak sesuai dengan pola aktivitas sosial ekonomi yang telah berkembang. aksesibilitas yang dekat dengan kota (Jakarta dan Bogor). Sementara ketersediaan air di kawasan agropolitan juga sudah mulai terganggu karena Kondisi ini akan mengancam keberlanjutan dari pengembangan kawasan agropolitan. kemampuan alami lahan di Kawasan Agropolitan Cianjur sudah mulai menurun karena usaha tani yang intensif pada lahan sempit dengan pola multiple cropping tanpa pernah mengistirahatkan lahan. Pembangunan infrastruktur wilayah . Pola jaringan yang bersifat networking antar desa harus diperkuat. dan apabila masyarakat harus dipaksakan untuk memanfaatkannya maka yang terjadi adalah aktivitas ekonomi masyarakat justru menjadi tidak efisien dan kurang menguntungkan. Sektor petanian sebagai sektor andalan di Kawasan Agropolitan Cianjur pada dasarnya sangat tergantung pada terjaganya kualitas lingkungan. pada akhirnya banyak sarana-prasarana penunjang pertanian yang telah dibangun tidak dimanfaatkan secara optimal dan bahkan biaya pemeliharaannya justru menjadi beban masyarakat. akan menyebabkan terjadinya inefisiensi dan pemborosan anggaran pembangunan. Jalanjalan desa yang bisa dilalui oleh motor ataupun kendaraan bak terbuka sudah mencukupi untuk membangun jalur transportasi antar desa. serta lemahnya kapasitas social capital dalam masyarakat. desa tidak mempunyai bargaining position yang kuat. Namun pada kenyataanya.38 kawasan. Akibatnya dalam konteks transaksi antar wilayah. Hal ini karena. tetapi tidak harus dalam bentuk jalan beraspal yang di-hotmix agar biaya pembangunannya tidak terlalu mahal. banyaknya penduduk miskin dan pengangguran di perdesaan. maraknya alih fungsi lahan menjadi villa dan bangunan. Pola jaringan jalan yang bersifat denritik kurang bisa mendorong pengembangan kawasan perdesaan karena setiap unit wilayah desa harus langsung berinteraksi dengan kawasan yang memiliki kapasitas skala ekonomi (economic of scale) yang lebih besar.

jembatan. sejak tahun pertama fasilitasi (tahun 2002) sampai dengan tahun ke 3 fasilitasi (tahun 2004) di 8 daerah rintisan agropolitan secara umum belum mengarah pada syarat pengembangan kawasan agropolitan. Masih rendahnya peran usaha besar dan menengah dalam berinvestasi di sektor tanaman pangan pada kawasan agropolitan. showroom.39 (listrik dan sarana jalan) justru membuat akses kota lebih dominan daripada akses desa terhadap kota dan mengarah pada hubungan yang eksploitatif. dan . namun masih berjalan sendiri-sendiri sehingga nuansa keterkaitan dan keharmonisan program belum dirasakan oleh masyarakat. Pemasaran produk pertanian yang berkaitan dengan informasi harga. b. Rendahnya ketrampilan bisnis (jiwa entreprenuership) dari masyarakat sehingga perlu penanganan melalui pendidikan informal dan pelatihanpelatihan. merupakan permasalahan esensial yang perlu segera di atasi mengingat akses informasi mengenai masalah ini sangat minim. fluktuasi harga dan kontinuitas pasar produk. Infrastruktur terutama jalan. Hasil identifikasi dan inventarisasi tim survey menemukan beberapa permasalahan utama dalam mengimplementasikan program-program dari masingmasing sektor dan bidang sebagai berikut: a. Sebagian besar masih pada pengembangan kawasan sentra produksi pertanian. pelaksanaan. pusat data dan informasi serta outlet produk pertanian dan hasil olahan pada saat ini masih kurang baik kuantitas maupun kualitasnya. e. Hasil studi dari Satuan Kerja Pengembangan Prasarana dan Sarana Desa Agropolitan Departemen Pekerjaan Umum (2005). Hal ini berakibat belum konsisten monitoring. c. Tingkat partisipasi masyarakat masih rendah karena kurang dilibatkannya masyarakat dalam hal perencanaan. evaluasi. d. Masih belum samanya persepsi dari semua elemen yang terlibat dalam pengembangan kawasan agropolitan. mengemukakan bahwa Program yang telah dilaksanakan dalam rangka pengembangan rintisan kawasan Agropolitan. f. Beberapa program belum dilaksanakan secara terpadu guna mendukung pengembangan kawasan.

adalah dalam penelitian ini tidak saja menggunakan analisis deskriptif seperti pada penelitian terdahulu tetapi juga diperkuat dengan analisis kuantitatif. provinsi maupun kabupaten. . Adapun yang membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya. Disamping itu dalam penelitian ini diterapkan suatu metode baru dalam mengidentifikasi dan merumuskan strategi pembangunan dengan menggunakan metode Rapid Assessment Techniques for Local Economic Development (RALED).40 dan sinergisnya program yang dilaksanakan baik dari pusat.

Langkah-langkah yang ditempuh dalam pengembangan agropolitan meliputi pengembangan agribisnis komoditas unggulan. Sasarannya adalah infrastruktur pendukung produksi pertanian.III. Pengembangan agropolitan ditujukan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui percepatan pembangunan wilayah. Pemberdayaan masyarakat merupakan konsep pembangunan yang mengutamakan partisipasi (participation) dan kemitraan (partnership) yang mengarah pada pembangunan dari dan untuk rakyat.1. Kerangka Pemikiran Penelitian Agropolitan adalah konsep pembangunan perdesaan yang mengintegrasikan pengembangan wilayah dan pemberdayaan masyarakat. KERANGKA PEMIKIRAN 3. dan pembangunan dapat dirasakan lebih adil dan merata. pembangunan agroindustri. perekonomian perdesaan tumbuh berkembang. Apabila hal ini dapat dicapai. dan konservasi sumberdaya alam dan lingkungan. . dan produktivitas pertanian meningkat. kelembagaan dan permodalan/investasi. kelestarian lingkungan terjaga. Agropolitan didasari pada konsep pengembangan wilayah dengan menekankan pada pembangunan infrastruktur. mengurangi pengurasan sumberdaya alam dan urbanisasi dari desa ke kota. Selanjutnya akan diidentifikasi kebijakan seperti apa yang dapat mendorong pengembangan ekonomi kawasan agropolitan ke depan. pengolahan hasil dan pemasaran. penguatan kelembagaan. Secara garis besar kerangka pemikiran umum tersebut dapat dilihat pada Gambar 3 berikut ini. serta pemukiman terbangun secara memadai dan setara infrastruktur kota. maka akan terbentuk kota di daerah perdesaan dengan sarana dan prasarana permukiman setara kota dengan kegiatan pertanian sebagai kekuatan penggerak perekonomian perdesaan. Multiplier effect selanjutnya adalah terbukanya lapangan kerja sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. disparitas perkembangan desa-kota dapat ditekan.Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat apakah pengembangan agropolitan yang dilaksanakan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat petani dan perekonomian wilayah atau belum.

42 AGROPOLITAN Pemberdayaan Masyarakat Pengembangan Wilayah Agribisnis Agroindustri Konservasi Infrastruktur Kelembagaan Kelestarian Lingkungan Ekonomi Perdesaan Produksi Pertanian Pendapatan Masyarakat Pembangunan Wilayah Belum Apakah terjadi peningkatan ? Identifikasi Kebijakan Ya Gambar 3 Kerangka Pemikiran Penelitian 3. Dampak tidak langsung terwujud sebagai akibat perkembangan kegiatan sektor tersebut yang berdampak kepada berkembangnya sektor-sektor lainnya. Kerangka Pendekatan Operasional Di setiap wilayah/daerah selalu terdapat sektor-sektor yang bersifat strategis akibat besarnya sumbangan yang diberikan dalam perekonomian wilayah serta keterkaitan sektoral dan aspek spatial-nya. Pada tahap awal akan dilakukan analisis Location Quotient (LQ) untuk mengetahui karakteristik pemusatan aktivitas di Provinsi Gorontalo dan di daerah .2. dan secara spatial berdampak secara luas di seluruh wilayah sasaran. Perkembangan sektor strategis tersebut akan memiliki dampak langsung dan tidak langsung yang signifikan.

Pergeseran pusat-pusat aktivitas antara sebelum dan sesudah program akan memberikan gambaran sektor mana saja yang kinerjanya mengalami penurunan. Kedua analisis diatas kemudian dilengkapi dengan analisis deskriptif terhadap perkembangan PDRB di kedua wilayah tersebut. Analisis ini selanjutnya dilengkapi dengan analisis Shift-share yang dapat menunjukkan seberapa besar dinamika perekonomian wilayah dan sektor-sektor ekonomi Provinsi Gorontalo berpengaruh terhadap sektor ekonomi di kabupaten Pohuwato sebelum dan sesudah program agropolitan. Kedua analisis ini akan memberikan informasi keunggulan komparatif dan kompetitif dari sektor-sektor perekonomian di Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato baik sebelum dan sesudah program agropolitan. Sementara itu untuk mengetahui dampak langsung dari pengembangan agropolitan terhadap masyarakat terlebih khusus pendapatan masyarakat petani. maka akan dilakukan wawancara dengan menggunakan kuesioner.student.43 contoh yaitu kabupaten Pohuwato sebelum dan sesudah program agropolitan. Dari ketiga analisis pertama ini diharapkan dapat diperoleh gambaran sampai sejauh mana program pengembangan agropolitan berperan terhadap perekonomian wilayah. Tingkat partisipasi masyarakat tersebut akan dilihat berdasarkan indikatorindikator tertentu menurut tangga partisipasi yang dikemukakan oleh Arnstein. Analisis ini diperlukan untuk mengetahui pusat-pusat aktivitas sektor terutama di kabupaten Pohuwoto sebagai kawasan agropolitan sebelum dan sesudah pemekaran. sektor yang kinerjanya tetap unggul dan sektor yang muncul sebagai sektor unggulan baru.Karena pertimbangan kesulitan dalam menggali informasi tentang pendapatan masyarakat petani sebelum pelaksanaan agropolitan maka perbandingan pendapatan dilakukan dengan kawasan yang belum tersentuh program agropolitan dengan menggunakan analisis uji beda rata-rata t. Selain itu analisis terhadap tingkat partisipasi masyarakat juga akan dilakukan terhadap proses pelaksanaan pembangunan kawasan agropolitan. . Analisis deskriptif ini penting untuk mengetahui pola pola perkembangan ekonomi wilayah sebelum dan sesudah program agropolitan.

(2) faktor lokasi. Secara ringkas tahapan-tahapan studi dapat dilihat pada Gambar 4 berikut ini. seringkali pemerintah ingin membenahi semua aspek yang terkait dalam kawasan. Analisis ini digunakan untuk mengetahui kondisi ekonomi kawasan agropolitan. (4) pembangunan berkelanjutan. sehingga diperlukan skala prioritas dalam pengembangan kawasan agropolitan agar dapat efisien untuk mengembangkan ekonomi wilayah. sehingga dapat diketahui aspek mana saja yang menjadi prioritas untuk dibenahi. (3) kesinergian dan fokus kebijakan. Analisis ini menggunakan data primer berupa persepsi dari semua stakeholder yang terkait dengan pengembangan kawasan agropolitan. Heksagonal PEL terdiri dari 6 aspek yaitu : (1) kelompok sasaran. Disisi lain pemerintah mempunyai keterbatasan dalam kemampuan dan lebih terarah dan dana. .44 Analisis tingkat partisipasi ini akan menggambarkan derajat partisipasi masyarakat dalam pengembangan agropolitan. Dalam mengembangkan ekonomi kawasan agropolitan. Untuk mengetahui dan mengidentifikasi aspek-aspek yang perlu mendapat perhatian dari pemerintah yang disebut sebagai faktor pengungkit akan dilakukan analisis Heksagonal Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL). (5) tata kepemerintahan. Untuk melihat faktor-faktor pengungkit dalam Heksagonal PEL digunakan teknik Rapid Assessment for Local Economic Development (RALED). dan (6) proses manajemen.

Pohuwato Data Primer Melalui kuesioner Analisis LQ Analisis LQ Analisis LQ . ML Analisis beda pendapatan Analisis Partisipasi Masy Analisis Heksagonal PEL Analisis SSA Analisis SSA Analisis SSA Analisis SSA Uji t-student Analisis Kualitatif RALED Peran dan Pertumbuhan Aktivitas eko regional Peran dan Pertumbuhan Aktivitas eko Wil. ML Analisis LQ .Gorontalo Data PDRB Kab.contoh Dampak terhadap Pendapatan Masyarakat Peran Masyarakat dalam Agropolitan Identifikasi Prioritas Kebijakan Dampak agropolitan Berdasar data sekunder Dampak agropolitan Berdasar data primer Pengembangan ekonomi Kawasan agropolitan Gambar 4 Kerangka Pendekatan Operasional .45 SEBELUM AGROPOLITAN SETELAH AGROPOLITAN Data PDRB Prov. MS. MS.Gorontalo Data PDRB Kab. contoh Peran dan Pertumbuhan Aktivitas eko regional Peran dan Pertumbuhan Aktivitas eko Wil.Boalemo Data PDRB Prov.

3. Diduga kontribusi komoditi unggulan jagung menonjol terhadap ekonomi wilayah Provinsi Gorontalo 2. maka hipotesis penelitian dapat diajukan sebagai berikut : 1. . Pengembangan agropolitan basis jagung memberikan dampak positif terhadap tingkat pendapatan petani. Hipotesis Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah dikemukakan.46 3.

untuk aspek proses pengembangan agropolitan akan dijelaskan secara deskriptif. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2007 hingga bulan Agustus 2008. Lokasi Penelitian Gambar 5 Lokasi Penelitian 4. Disamping itu untuk data . Analisis deskriptif kualitatif digunakan untuk melengkapi analisis kuantitatif yang fokus pada aspek output dan outcome.1.2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif dan analisis deskriptif kualitatif. 4. Selanjutnya. meliputi tahapan persiapan hingga pelaporan.IV. Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder yang diuraikan sebagai berikut : 1.Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Provinsi Gorontalo yaitu di Kabupaten Pohuwato yang merupakan daerah pengembangan kawasan agropolitan. Data Primer Data primer diperoleh melalui observasi langsung di lapang dan wawancara langsung dengan responden dengan menggunakan kuesioner di kawasan agropolitan dan di kawasan yang belum terpengaruh program agropolitan.

Dinas Prasarana dan Pemukiman dan instansi-instansi terkait lainnya yang telah tersedia 4. Dimana untuk penentuan lokasi kecamatan agropolitan dan non agropolitan metode sampling yang digunakan adalah purposive sampling. organisasi sosial lainnya). dimana 30 orang responden berasal dari kawasan agropolitan dan 30 orang lainnya berasal dari kawasan agropolitan. non . Bappeda. Responden adalah petani yang mengusahakan komoditas unggulan kawasan agropolitan yaitu komoditas jagung. Untuk sampel stakeholder. Metode Pengambilan Sampel Dalam penelitian ini digunakan dua tahap pengambilan sampel (multistage sampling) (Juanda. Pengumpulan data dengan mengguankan kuesioner dilakukan secara partisipatif dalam suatu focus group discussion (FGD). Dinas Pertanian. (eksekutif dan legislatif). pengambilan sampel dilakukan kepada seluruh stakeholder yang tergabung dalam forum kemitraan PEL yang sudah terbentuk di daerah penelitian yang terdiri dari usahawan (swasta dan perbankan). Perguruan Tinggi.3. yaitu berdasarkan penetapan kawasan agropolitan dan ketersediaan infrastruktur pendukung agropolitan. media massa. Jumlah responden petani adalah sebanyak 60 orang. 2. 2007). Selanjutnya penarikan sampel dilakukan secara acak di masing-masing kecamatan. yaitu data yang diperoleh dari instansi-instansi terkait seperti BPS. dalam bentuk dokumen dan studi literatur. Organisasi Masyarakat (LSM.48 stakeholder digunakan data seluruh stakeholder yang terkait dengan pengembangan ekonomi kawasan agropolitan. Data Sekunder Data sekunder.

Tata Pemerintahan . LSM - .Kesinergian dan Fokus Kebijakan .RALED Bappeda.Kualitatif menurut tangga partisipasi Arnstein - 4 Merumuskan strategi pembangunan yang dapat mendorong pengembangan Kawasan Agropolitan Identifikasi prioritas kebijakan pemerintah .Proses Manajemen . Kontrol masyarakat terhadap kebijakan publik .Faktor Lokasi . Pertumbuhan penduduk. ML . petani.Analisis LQ. Peningkatan Investasi Pendapatan usaha tani Kegiatan petani sehubungan dengan agropolitan.Pembangunan Berkelanjutan . pelaku usaha.Analisis SSA .Analisis Deskriptif . Pertumbuhan sektor-sektor perekonomian. Bappeda 2 Menganalisis dampak agropolitan terhadap pendapatan petani Petani kawasan agropolitan dan non agropolitan Petani kawasan agropolitan - Wawancara kepada masyarakat petani Wawancara kepada masyarakat dalam kawasan agropolitan Bappeda.Tabel 7 Matriks Pendekatan Penelitian No 1 Tujuan Menganalisis dampak pengembangan agropolitan terhadap perekonomian wilayah Aspek Keragaan Struktur Perekonomian wilayah Pendapatan Usaha tani Variabel PDRB.Analisis Heksagonal PEL . MS. Pertumbuhan angkatan kerja. Pemerintah daerah Key Informan (stakeholer) 3 Menganalisis tingkat partisipasi masyarakat sebagai pelaku pembangunan di kawasan agropolitan Tingkat partisipasi masyarakat Komunikasi (dialog). Pengetahuan masyarakat terhadap proses pengambilan keputusan. Alat Analisis .Analisis Uji Beda rata-rata tstudent Responden Non responden Data sekunder Sumber Data BPS.Kelompok Sasaran . Pertumbuhan PDRB. Pemerintah Daerah.

Metode Analisis Dari data yang telah terkumpul kemudian dianalisis sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian sehingga akan dapat menjawab permasalahan yang diangkat.4.1. Multiplier Short Run (MS) dan Multiplier Long Run(ML) Analisis ini dilakukan untuk mengetahui peranan/pengaruh sektoral dalam pertumbuhan ekonomi. Metode analisis yang dipakai antara lain: 4. LQij = Dimana : LQij Xij Xi.50 4. jumlah PDRB Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato untuk sector ke. j / X .j jumlah PDB Indonesia dan PDRB Provinsi Gorontalo total seluruh sektor Kriteria penilaian dalam penentuan ukuran derajat basis dan non basis adalah jika nilai indeks LQ lebih besar dari satu (LQ > 1 ) maka sektor tersebut merupakan sektor basis sedangkan jika nilainya sama atau lebih kecil dari satu (LQ < 1 ) berarti sektor yang dimaksud termasuk kedalam sektor non basis pada kegiatan perekonomian wilayah provinsi Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato . X. Untuk mengetahui potensi ekonomi yang merupakan basis dan bukan basis dapat menggunakan metode Location Quotient (LQ) yang merupakan perbandingan relatif antara kemampuan sektor yang sama pada daerah yang lebih luas dalam suatu wilayah. = = = = = indeks kuosien lokasi X ij / X i . X ..j jumlah PDRB Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato total seluruh sektor jumlah PDB Indonesia dan PDRB Provinsi Gorontalo untuk sector ke. Analisis Location Quotient (LQ).4. Disamping itu juga untuk melihat kontribusi jagung sebagai komoditas unggulan terhadap perekonomian wilayah..j X.

2. artinya untuk melihat beberapa kurun waktu yang berbeda apakah terjadi kenaikan atau penurunan. Pemahaman struktur aktifitas dari hasil analisis shift-share .4. Koefisien Pengganda Jangka Pendek dirumuskan sebagai berikut : Ms = 1 YN 1− YN + YB Dengan : MS YN YB = Multiplier Short Run / Pengganda jangka pendek = Pendapatan sektor/aktifitas non basis = Pendapatan sektor/aktifitas basis Dan koefisien pengganda jangka panjang dirumuskan sebagai berikut : ML = 1 Y +I 1− N YN + YB Dengan : ML YN YB I = Multiplier Long Run / Pengganda jangka panjang = Pendapatan sektor/aktifitas non basis = Pendapatan sektor/aktifitas basis = Investasi 4. Analisis Shift Share Shift-share analysis merupakan salah satu dari sekian banyak teknik analisis untuk memahami pergeseran struktur aktifitas di suatu lokasi tertentu dibandingkan dengan suatu referensi (dengan cakupan wilayah yang lebih luas) dalam dua titik waktu. Selanjutnya untuk mengetahui besarnya sumbangan sektor/aktifitas ekonomi basis terhadap sektor/aktifitas lain dalam suatu wilayah atau dampak sektor/aktifitas basis perekonomian wilayah digunakan Koefisien Pengganda.51 Analisis LQ ini dilakukan dalam bentuk time-series/trend.

Komponen ini menggambarkan dinamika (keunggulan/ketidakunggulan) suatu sektor/aktifitas tertentu di subwilayah tertentu terhadap aktifitas tersebut di sub-wilayah lain. Komponen ini menyatakan pertumbuhan total aktifitas tertentu secara relatif.(t1) a ⎞ ⎛ X. Komponen Pergeseran Proporsional (Komponen propotional shift). Komponen Laju Pertumbuhan Agregat (Komponen Agregat).... Analisis shift-share mampu memberikan gambaran sebab-sebab terjadinya pertumbuhan suatu aktifitas di suatu wilayah. 3.i(t1) ⎞ −1⎟ + ⎜ − − ⎟ ⎟ +⎜ X. Persamaan analisis shift-share ini adalah sebagai berikut : SSA = ⎜ ⎜ ⎛ X. Dengan demikian dari hasil analisis shift-share akan diperoleh gambaran kinerja aktifitas di suatu wilayah yang dapat dijelaskan dari 3 komponen.. yaitu : 1. Hasil analisis shift-share menjelaskan kinerja (performance) suatu aktifitas di suatu sub-wilayah dan membandingkan dengan kinerjanya di dalam wilayah total. Komponen Pergeseran Diferensial (Komponen differential shift).52 menjelaskan kemampuan berkompetisi (competitiveness) aktifitas tertentu di suatu wilayah secara dinamis atau perubahan aktifitas dalam cakupan lebih luas. Ukuran ini menjelaskan bagaimana tingkat kompetisi (competitiveness) suatu aktifitas tertentu dibandingkan dengan pertumbuhan total sektor/aktifitas tersebut dalam wilayah. Komponen ini menyatakan pertumbuhan total wilayah pada dua titik waktu yang menunjukkan dinamika total wilayah. dibandingkan dengan pertumbuhan secara umum dalam total wilayah yang menunjukkan dinamika sektoral/aktifitas total dalam wilayah.i(t 0) ⎟ ⎝ ⎠ ⎝ ⎠ ⎝ ⎠ b c .i(t 0) X.(t 0) ⎟ ⎜ X..i(t1) X.. 2.(t 0) ⎟ ⎜ Xij(t 0) X.(t1) ⎞ ⎛ Xij(t1) X. Sebab-sebab yang dimaksud dibagi menjadi tiga bagian yaitu : sebab yang berasal dari dinamika lokal sub-wilayah). sebab dari dinamika aktifitas/sektor (total wilayah) dan sebab dari dinamika wilayah secara umum (laju pertumbuhan agregat).

i = jumlah PDRB sektor tertentu dalam total wilayah Xij = jumlah PDRB sektor tertentu dalam unit wilayah tertentu ti = nilai tahun akhir t0 = nilai tahun awal 4. Artinya terdapat perbedaan rata-rata pendapatan petani antara kawasan agropolitan dan non agropolitan. H1 : µ1 > µ2 yakni rata rata pendapatan petani kawasan agropolitan lebih besar dari rata-rata pendapatan petani kawasan non agropolitan. dan X.53 dimana : a = komponen agregat / share b = komponen proportional shift c = komponen defferential shift. artinya tidak ada perbedaan antara pendapatan petani kawasan agropolitan dan non agropolitan.x 2 ) .4. Hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut : H0 : µ1 = µ2 yakni rata-rata pendapatan petani kawasan agropolitan sama dengan rata-rata pendapatan petani kawasan non agropolitan. = jumlah PDRB total seluruh sektor dalam total wilayah X.. Dengan Satistik Uji t (Steel and Torrie 1981) sebagai berikut : − − ( x1 − x 2 ) t= S− − ( x1 − x2 ) dimana : − x1 − = = rata-rata pendapatan petani kawasan agropolitan rata-rata pendapatan petani kawasan non agropolitan − − x2 S = Standar deviasi ( x1 . Analisis data dilakukan dengan bantuan program aplikasi Minitab for Window Release 14 .3.Analisis Uji Beda Pendapatan Selanjutnya untuk mengetahui dampak pengembangan agropolitan terhadap pendapatan masyarakat petani dilakukan analisis perbandingan rata-rata pendapatan usaha tani jagung antara kawasan agropolitan dan non agropolitan dengan menggunakan uji t-student pada taraf 5%.

(2) pengetahuan masyarakat atas proses pengambilan keputusan. maka terima H0 (tolak H1) 4. 3. Konsep partisipatif : Menurut anda apakah perencanaan yang ada di desa (dalam pengembangan agropolitan) sudah melibatkan masyarakat? 2. Tingkat kepuasan : Apakah anda puas dengan prosedur dan proses pengambilan keputusan dalam perencanaan pengembangan agropolitan? 3. maka tolak H0 (terima H1) Bila statistik hitung ≤ tα . Variabel yang digunakan untuk mengukur derajat komunikasi adalah : 1.4. 2. warga dan organisasi masyarakat tahu prosedur (tata cara) untuk ikut terlibat didalamnya? .54 Kaidah keputusan : Bila statistik hitung > tα. (3) kontrol masyarakatatas kebijakan perencanaan. Forum pengambilan keputusan : Dalam forum apa keputusan diambil dalam lingkungan desa. Jumlah orang yang berpartisipasi : Menurut anda berapa persen orang yang tahu dan diajak berembuk mengenai sebuah proyek yang akan berlangsung dilingkungan anda (agropolitan). Prosedur untuk berpartisipasi : Menurut anda apakah dalam perencanaan pengembangan agropolitan yang dilakukan selama ini. Analisis Tingkat Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Pengukuran terhadap tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan kawasan agropolitan akan didasarkan pada tangga partisipasi yang dikemukakan oleh Arnstein (1969).4. Intervensi yang dilakukan aparat : seberapa besar campur tangan/intervensi aparat dalam proses fasilitasi program agropolitan? Variabel yang digunakan untuk mengukur derajat pengetahuan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan adalah : 1. menggunakan metode skoring dalam menentukan tingkat partisipasi dengan menggunakan variabel (1) derajat Komunikasi. 4. Informasi : Apakah anda mendapat informasi tentang adanya pelaksanaan program agropolitan. Analisa derajat partisipasi arnstein.

5 75 Skor Penilaian 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 kepada pemerintah atau pihak yang anda anggap bertanggungjawab untuk merubah prosedur dan proses pengambilan keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan program sepenuhnya . Keterlibatan masyarakat dalam implementasi proyek : Menurut anda bagaimana agropolitan? Tabel 8 Aspek dan Tingkatan dalam Menilai Derajat Partisipasi Menurut Arnstein Aspek A. namun masih bersifat satu arah Ada dialog B.5 75 97. Pengetahuan masyarakat terhadap proses pengambilan keputusan C.5 30 52.5 120 3 4 Interval 30 52. Tingkat partisipasi dalam kelompok : Jika keputusan diambil dalam kelompok.5 75 97.55 4.5 97.5 52.5 30 52. bagaimana keputusan tersebut dibuat? Variabel yang digunakan untuk mengukur kontrol masyarakat terhadap kebijakan pembangunan adalah : 1. Akses terhadap forum perencanaan : Apakah warga dan arganisasi masyrakat lainnya dapat dengan mudah terlibat/ikutserta dalam forum perencanaan agropolitan? 2. Kritik atas mekanisme forum perencanaan: Apakah anda pernah memberi masukan keputusan? 3. Komunikasi Tingkatan Tidak ada komunikasi Komunikasi satu arah tetapi hanya sedikit keputusan publik yang bisa diklarifikasi Komunikasi telah cukup.5 75 97.5 75 97. Kontrol masyarakat terhadap kebijakan publik Tidak Tahu Tahu Mempengaruhi Berperan Besar Tidak ada Hanya bisa memberikan komentar (less control power) Bisa memberikan kritikan masukan (Has power) Bisa mengontrol (control powerly) dan 75 97.5 120 52.5 120 52.

Tabel 9 Derajat Partisipasi Menurut Arnstein Derajat Partisipasi Pengawasan Masyarakat Pendelegasian Kekuasaan Partnership/Kemitraan Peredaman Kemarahan Konsultasi Menyampaikan informasi Terapi Manipulasi Nilai Faktor A 4 4 4 4 3-4 2-3 2 1 B 4 3-4 3 2-3 2 1-2 1 1 C 4 3 2-3 2 2 1-2 1 1 12 10-11 9-10 8-9 7-8 7-8 4 3 Non Partisipasi Tingkat Otoritas Masyarakat Tingkat Tokenisme Indeks Kelompok Sumber : Arnstein 1969 A = Komunikasi B = Pengetahuan Masyarakat terhadap proses pengambilan keputusan C = Kontrol Masyarakat terhadap kebijakan publik 4. 5. Dimensi dalam RALED didekati dengan menggunakan Heksagonal PEL.4. (3) Kesinergian dan fokus kebijakan. Membandingkan hasil dengan indeks Arnstein. Mencari interval berdasarkan kuartil atas perhitungan terhadap s x f x b dengan cara mengurangkan nilai tertinggi (jika semua memili skala tertinggi) dan nilai terendah (jika semua memilih skala terendah). (5) tata kepemerintahan. Memberikan bobot penilaian terhadap variabel berdasarkan pengaruh variabel terhadap aspek yang dinilai (b) 4.56 Adapun tahapan perhitungan ketiga variabel tersebut dilakukan dengan cara : 1. yang terdiri dari 6 aspek yaitu : (1) kelompok sasaran. Penggunaan analisis ini didasarkan pada pertimbangan bahwa . (2) faktor lokasi.5. (4) pembangunan berkelanjutan. Rapid Assessment for Local Economic Development (RALED) Untuk mengkaji prioritas kebijakan yang dapat mendorong pengembangan kawasan agropolitan digunakan teknik analisis RALED. dan (6) proses manajemen. Teknik RALED didasarkan pada teknik ordinasi (menempatkan sesuatu pada urutan atribut yang terukur) secara Multi Dimensional Scaling (MDS). Pemberian skor dengan skala 1 – 4 (s) 2. Menghitung distribusi frekwensi (f) 3.

Adapun tahapan dalam analisis Raled adalah sebagai berikut : 1. Berdasarkan hasil pemetaan dari kondisi PEL tersebut kemudian dapat diidentifikasi komponen Heksagonal PEL yang berperan sebagai faktor pengungkit. .57 agropolitan merupakan salah satu merupakan kawasan program pemerintah yang menggunakan pendekatan pengembangan ekonomi lokal. termasuk pengembangan ekonomi lokal yang digunakan. Selanjutnya berdasarkan faktor pengungkit inilah maka dapat disusun strategi pengembangan selanjutnya. keterbatasan analisis ini adalah karena data yang digunakan merupakan data persepsi dari masing-masing stakeholder sehingga diperlukan kehati-hatian dalam menterjemahkannya (interpretasi). yang berjumlah 87 indikator merupakan penjabaran dari keenam aspek tersebut termasuk aspek lokasi maupun ruang sehingga mampu menggambarkan keadaan perekonomian lokal secara komprehensif. Analisis Montecarlo Selanjutnya untuk mengetahui kondisi atau status PEL secara keseluruhan dilakukan pembobotan dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Prosess (AHP). data yang dipakai adalah persepsi dari semua stakeholder yang terkait dalam pengembangan kawasan agropolitan dan data sekunder sebagai data penunjang. Analisis Sensitivitas 3. Keunggulan analisis ini adalah bahwa indikator menggambarkan kondisi ekonomi lokal pada suatu wilayah/kawasan. Analisis dengan metode Multi Dimensional Scaling (MDS) 2. Data ini selanjutnya dianalisis dengan menggunakan Rapid Assessment Techniques for Local Economic Development (RALED). yaitu faktor yang berpengaruh besar terhadap pengembangan PEL. Namun demikian. Sementara itu Heksagonal PEL alat analisis yang dapat digunakan untuk menganalisis dan agropolitan. Dalam analisis ini.

pengolahan hasil dan pemasaran. Akan tetapi rencana ini belum tertuang dalam masterplan agropolitan termasuk zonasi pusat-pusat produksi. Sehingga keragaman ini akan sangat perpengaruh terhadap tipe potensi lahan dan jenis tipe penggunaan lahan yang akan dikembangkan. Hal ini dilatarbelakangi karena kondisi lahan di suatu wilayah atau kawasan sangat beragam yang dipengaruhi oleh factor iklim. topografi dan hidrologi. DISKRIPSI UMUM WILAYAH PENELITIAN 5. F. dimana dengan berkoordinasi dengan dinas pertanian dan dinasi kimpraswil dilakukan pembangunan sarana prasarana untuk menunjang pengembangan agropolitan.V. tanah. 2008). Sebagai langka awal pengembangan agopolitan. Kondisi eksisting yang ada dilapang pusat-pusat produksi. Dalam jangka panjang akan dibangun industri hulu dan hilir yang berbasis jagung. Kabupaten Pohuwato merupakan salah satu dari 8 program rintisan pengembangan agropolitan yang dicanangkan oleh Pemerintah Pusat pada tahun 2002. pengolahan hasil dan pemasaran mengacu pada RTRW Provinsi Gorontalo dimana pusat-pusat produksi berada dalam Kawasan Andalan Kabupaten Boalemo (sebelum pemekaran) dan Kapet Kabupaten Gorontalo sedangkan pusat . pemerintah membuat masterplan pemwilayahan komoditas. disamping karena jagung juga merupakan komoditi yang sudah dikembangkan secara turun temurun oleh masyarakat gorontalo dan merupakan makanan pokok masyarakat gorontalo. Program ini dilaksanakan di seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Gorontalo. Sejalan dengan perkembangan yang ada pemeritah juga sementara merancang agar jagung sebagai komoditi unggulan dapat menjadi penggerak ekonomi dari sector-sektor lain yang terkait didalamnya melalui ‘ekonomi jagung’ (Muhammad. Atas dasar pertimbangan tersebut jagung akhirnya dipilih sebagai komoditas unggulan daerah sebagai titik masuk dari pengembangan agropolitan. Selanjutnya komoditas pertanian akan mampu berproduksi maksimal di lahan yang cocok atau sesuai dengan prasyarat tumbuhnya. Deskripsi Agropolitan Provinsi Gorontalo Dalam rangka memacu pertumbuhan dan perkembangan wilayahnya Provinsi Gorontalo mengembangkan konsep agropolitan.1.

Adapun batas wilayah Kabupaten Pohuwato adalah sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Buol Sulawesi Tengah. Penyimpanan Jasa Perbengkelan Corn oil Pakan ternak Asuransi/ Perbankan Gambar 6 Diagram Ekonomi Jagung 5.2.75 persen dari luas wilayah Provinsi Gorontalo.2 o C. Deskripsi Umum Kabupaten Pohuwato 5. Keadaan Geografis dan Administratif Kabupaten Pohuwato merupakan kabupaten yang berada di ujung barat Provinsi Gorontalo dengan letak geografis antara 0.27o – 1.2. sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Parigi Moutong dan sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Boalemo.244.01o Bujur Timur dan 121. sebelah selatan beratasan denga Teluk Tomini.23o – 122. 1 UPT dan .Diklat/workshop Pengujian&sertifikasi Jasa handling.31 km2 atau 34.4 – 33.59 pengolahan (Lampiran 8 ). Wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Pohuwato mencakup 7 kecamatan yang terdiri dari 69 desa.1. Luas wilayah Kabupaten Pohuwato adalah 4. dan pemasaran berada di kawasan andalan Kota Gorontalo infrastruktur Industri hilir Sweetener (Pemanis Industri hulu Benih/ Pemuliaan Mesin pertanian/ Pengolahan Jagung Ethanol Starch (Tepung) Bioproduct Pupuk R&D.44o Lintang Utara. dengan iklim 24.

266 480 850 208 Bukan Sawah (Ha) 139.431 Total 3. Tabel 11 Luas Lahan Menurut Kecamatan dan Penggunaannya di Kabupaten Pohuwato No 1 2 3 4 5 6 7 Kecamatan Popayato Lemito Randangan Marisa Paguat Taluditi Patilanggio Luas Sawah (Ha) 80 11 140 1.396 Jumlah (Ha) 139.997 29. Luas dan Jumlah Desa di Kabupaten Pohuwato No 1 2 3 4 5 6 7 Kecamatan Popayato Lemito Randangan Marisa Paguat Taluditi Patilanggio Jumlah Sumber : Profil Kabupaten Pohuwato.82 331.190 80.244.758 44. Namun yang menjadi prioritas dari pemerintah daerah adalah mengembangkan komoditi tanaman pangan dalam hal ini padi dan jagung sebagai komoditi basis.32 159. Adapun komoditi yang dikembangkan bermacam-macam terdiri dari tanaman pangan.58 449.674 421.210 80.90 807.035 Sumber : Pohuwato dalam Angka.290 30.392.132 29.31 Jumlah Desa 15 11 10 15 12 6 4 73 Aktifitas pertanian di Kabupaten Pohuwato dilaksanakan untuk meningkatkan produktifitas pertanian. jumlah desa dan luas wilayah dapat dilihat pada Tabel 10.842 31. 2006 .332 15. Tabel 10 Nama Kecamatan.747 44. perkebunan dan kehutanan.82 4. 2006 Luas (Km2) 1. komoditi jagung banyak diusahakan di lahan kering yang banyak terdapat di kabupaten Pohuwato.882 424.90 803.924 79. Sebagai produk unggulan.852 44.60 3 Kelurahan. Adapun nama kecamatan.97 298.982 33.

Faktor pengendali iklim yang banyak berpengaruh terhadap keberhasilan usaha pertanian adalah curah hujan dan temperatur.1o C dengan kelembaban relative berkisar antara 71 . Pada tahun 2006 suhu rata-rata pada siang hari berkisar antara 31. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pohuwato tahun 2006. Jumlah penduduk menurut kecamatan dan jenis kelamin di Kabupaten Pohuwato dapat dilihat pada Tabel 12.295 6. Secara keseluruhan jumlah penduduk yang berjenis kelamin laki-laki lebih banyak dari penduduk yang berjenis kelamin perempuan.721 penduduk laki-laki dan 56.891 15.2. Jenis Kelamin dan Sex Ratio di Kabupaten Pohuwato Tahun 2006 No 1 2 3 4 5 6 7 Kecamatan Popayato Lemito Randangan Taluditi Patilanggio Marisa Paguat Jumlah Laki-laki 10.721 Perempuan 11.85 persen.105 6.189 3.2 persen per tahun. Sosial Ekonomi Budaya Masyarakat 5.2.4o C sedangkan suhu pada malam hari berkisar 21. Hal ini tercermin dari rasio jenis kelamin penduduk Pohuwato lebih dari 100 yaitu 101 persen. Ini berarti dari setiap 100 orang perempuan terdapat 101 laki-laki. Tabel 12 Penduduk menurut Kecamatan.2.1.315 3.927 9.2 – 33. 5.998 7. sedangkan ketinggiannya berkisar antara 0 – 1800 dari permukaan laut (dpl).61 Topografi Kabupaten Pohuwato umumnya adalah dataran rendah. Tingkat kemiringan yakni 0 – 40o.140 15.2. Kependudukan Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (2006) jumlah penduduk Kabupaten Pohuwato adalah 114. sebagian kecil berbukit dan bergunung.132 4.929 penduduk perempuan.929 Sex ratio 100 103 107 98 106 100 99 101 Sumber : Pohuwato dalam Angka.000 7.756 3. 2006 . curah hujan di Kabupaten Pohuwato bervariasi berkisar antara 3 – 204 mm.8 – 24. yang masing masing terdiri dari 57.889 9.650 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk rata-rata 1.539 56.473 57.

862 5.49 . sebagian besar penduduk Kabupaten Pohuwato adalah berusia muda. Dilihat dari sex ratio.104 5.670 5.626 1.39 .807 5.2. 2006 5.205 5.59 .121 4.44 .03 persen penduduknya berada dibawah 35 tahun.270 1.612 12. Tabel 13 Penduduk menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Kabupaten Pohuwato Laki-laki 6.208 4.24 .665 3.337 1. kelompok umur 10 – 14 tahun memperlihatkan sex ratio yang besar dan pada kelompok umur ini jumlah penduduk laki-laki lebih banyak dari jumlah penduduk perempuan. .795 8.2.4 .385 4.407 6.14 .657 13.159 4.487 2.672 2.337 56.147 9.791 10.797 4.19 .192 9.871 7. Jumlah penduduk terbanyak yaitu pada umur 10 – 14 tahun yang mencapai 12.919 10.495 1.403 57. Diharapkan dengan program ini akan tercipta sumber daya manusia yang siap bersaing dalam era globalisasi mendatang.54 .64 65 + Jumlah Sumber : Pohuwato dalam Angka.2. gerakan nasional orang tua asuh.618 5.690 2.896 2.740 114.206 4.62 Berdasarkan kelompok umur.350 5.826 9.650 Kelompok Umur 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 .721 Perempuan 6.815 4.086 1.832 2.208 2.9 .110 2.29 .34 . bantuan operasional sekolah (BOS) dan lain-lain. Pendidikan Pendidikan merupakan salah satu sarana dalam meningkatkan sumber daya manusia.929 Jumlah 12.14 persen. karena 69.899 5.024 1. Salah satu upaya pemerintah dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan sumber daya manusia melalui pendidikan yaitu dengan mencanangkan berbagai program seperti program wajib belajar.

Hal ini mengindikasikan bahwa penyediaan tenaga pengajar kurang bisa mengimbangi pertambahan pelajar. tapi untuk tingkat pendidikan SLTA tidak mengalami banyak perubahan.812 4. Struktur Perekonomian Wilayah Kabupaten Pohuwato adalah kabupaten baru dalam wilayah Provinsi Gorontalo yang merupakan daerah agraris. Kondisi Perekonomian Wilayah 5.340 Sumber : Pohuwato dalam Angka.3.340 siswa pada tahun 2006 atau mengalami pertumbuhan sebesar 7.529 15.180 5. 5. 2006.3.8 persen.076 2.2.206 orang siswa meningkat menjadi 27. Tabel 14 NO Jumlah Murid dan Guru di Kabupaten Pohuwato Tahun 2004 dan 2006 2004 Jumlah Guru Murid Ratio Murid & Guru 39 33 26 18 Guru 2006 Jumlah Murid Ratio Murid & Guru 23 24 17 17 Tingkat Pendidikan 1 2 3 4 Sekolah Taman Kanak-kanak Sekolah Dasar /Ibtidaiyah SLTP/Tsanawiyah SLTA/Aliyah/ Kejuruan Jumlah 39 474 160 93 766 1. Pada tahun 2004 jumlah murid yang dapat menikmati pendidikan adalah sebanyak 23.206 94 689 298 162 1. Demikian halnya dengan jumlah guru di Kabupaten Pohuwato cukup mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya jumlah murid. Selama periode 2004 – 2006 ratio murid guru pada tingkat taman kanak-kanak hingga SLTP di Kabupaten Pohuwato sedikit mengalami penurunan.195 17.63 Tingkat kesadaran penduduk kabupaten Pohuwato terhadap arti pentingnya pendidikan relatif tingi.187 1.243 2.1. Hal ini dapat dilihat dari jumlah penduduk yang dapat menikmati pendidikan formal dari pendidikan taman kanak-kanak sampai sekolah lanjut tingkat atas mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hal ini menyebabkan tidak mustahil jika struktur perekonomiannya masih didominasi oleh sektor pertanian .889 27.678 23.2.

93 5.21 18. Sejak periode 2004 .91 0.16 11.96 6.20 0.34 persen bergelut disektor perdagangan dan jasa.87 8.73 0.73 persen sedangkan sektor lainnya kurang dari 10 persen Tabel 15 Kontribusi Sektor Ekonomi dalam PDRB Kabupaten Pohuwato Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2004 .00 Sumber: PDRB Kabupaten Pohuwato.02 8.06 persen. meskipun mengalami trend yang menurun.50 persen.84 3. paket kebijakan pemerintah daerah selama ini lebih menitik beratkan pada sektor pertanian/agraris diantaranya dengan program-program agropolitan dan terobosan-terobosan baru yang menjadikan sektor pertanian sebagai leading sector di kabupaten ini bahkan juga di Provinsi Gorontalo.50 3.79 17. 2006 Besarnya peranan sektor pertanian bukan hanya terlihat pada kontribusinya terhadap PDRB.80 5.2006 Sektor Pertanian Pertambangan & Pengagalian Industri Pengolahan Listrik.45 100. Untuk penduduk perempuan lebih merata yaitu sekitar 49.07 100.00 100.65 persen bekerja di sektor pertanian dan masing-masing sebesar 17. tetapi juga dari segi penyediaan lapangan pekerjaan.82 6. Dimana berdasarkan Susenas 2006 diperoleh bahwa kebanyakan penduduk laki-laki bekerja disektor pertanian yaitu sebesar 70. Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan & Akomodasi Angkutan dan Komunikasi Keuangan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB 2004 46.94 0.65 0. Terlebih lagi.88 6.75 3.91 persen sektor perdagangan dan akomodasi sebesar 17.26 10. sektor jasa-jasa sebesar 13.28 18.45 persen dan sektor keuangan sebesar 11. Tahun 2006 kontribusi sektor pertanian mencapai 40.64 (berdasarkan kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB).73 persen dan 22.82 0. .00 2006 40.00 2005 45.20 persen sementara disektor perdagangan hanya sebesar 7.49 8.93 5.2006 kontribusi sektor yang terbesar terhadap pembentukan PDRB adalah sektor pertanian.73 13.

8 6.93 6. Gas dan Air Bersih Perdagangan & Akomodasi Angkutan dan Komunikasi Keuangan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB Sumber: PDRB Kabupaten Pohuwato.1 7 6.39 2. Perekonomian di Kabupaten Pohuwato tumbuh sebesar 7.35 0.06 8.71 7.82 3.9 6.24 7.73 0. Pertumbuhan ekonomi yang sebesar ini diharapkan dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat luas sehingga tujuan untuk menciptakan masyarakat yang hidup makmur sejahtera dapat tercapai. 2006 2006 6.54 7.20 2.3.80 1.25 .2 Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu indikator keberhasilan pembangunan suatu daerah dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Gambar 7 Laju Pertumbuhan Kabupaten Pohuwato Tahun 2004-2006 7.05 0.06 17.3 7.65 100 Perempuan 49. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkesinambungan merupakan salah satu sarana untuk mencapai kehidupan yang layak bagi penduduk suatu wilayah.25 persen pada tahun 2006.34 100 5.35 22.28 5.65 Tabel 16 Persentase Penduduk Menurut Lapangan Pekerja Utama di Kabupaten Pohuwato.95 Laju pertumbuhan 7. Pertumbuhan ekonomi dapat tercermin dari kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan dari tahun sebelumnya. 2006 Laki-Laki 70. Tahun 2006 Sektor Pertanian Pertambangan & Pengagalian Industri Pengolahan Listrik.65 0.2 7.7 2003 2004 2005 Sumber : PDRB Kabupaten Pohuwato.2.

Peta Kawasan Agropolitan Kabupaten Pohuwato disajikan pada Halaman 69.16 6. pada tahun 2005 mengalami penurunan yaitu hanya sebesar 1. Tabel 17 Pertumbuhan Sektor Ekonomi di Kabupaten Pohuwato Tahun 2004-2006 Sektor 2004 Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolaha Listrik.18 11.16 persen.37 7.15 7.86 persen dan mengalami peningkatan kembali pada tahun 2006 sebesar 4. .50 1.86 4.52 persen.24 2006 4.3.17 1.37 persen. Sektor yang mengalami kenaikan terendah pada tahun 2006 adalah perdagangan dan akomodasi yaitu hanya sebesar 1.94 4.88 4.54 15. gas dan air bersih dengan laju pertumbuhan sebesar 14. 5. Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan dan Akomodasi Angkutan dan Komunikasi Keuangan & Jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB 6. Laju pertumbuhan sektor pertanian terlihat mengalami fluktuasi.33 7.70 32.95 Pertumbuhan ( %) 2005 1.41 4.47 5.52 2. Kemudian disusul oleh sektor listrik.97 30.99 6. pertumbuhan yang paling besar dialami oleh sektor jasajasa yaitu sebesar 32.69 7.25 Sumber : PDRB Kabupaten Pohuwato.66 Berdasarkan grafik diatas terlihat bahwa pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pohuwato mengalami peningkatan sejak tahun 2004.17 5.84 12.04 5. Deskripsi Umum Kawasan Agropolitan Randangan Kawasan Agropolitan randangan terletak di Kabupaten Pohuwato yang merupakan Kabupaten pemekaran dari Boalemo di Provinsi Gorontalo.98 11. Sedangkan secara sektoral.69 persen jauh melesat dari tahun 2005 yang hanya 4.74 14.98 persen. terlihat bahwa sektor–sektor mengalami pertumbuhan yang positif namun cenderung berfluktuasi setiap tahunnya.18 4.96 6. 2006 Pada tahun 2006.17 2.77 7.

Warung dan ruko 36. Konsep ini dikembangkan berdasarkan kebutuhan riil masyarakat di kawasan. sehingga mereka terpaksa menjualnya pada tengkulak. 5. terminal. dan lain-lain. nelayan. Selain itu sarana dan prasarana penunjang pemasaran hasil pertanian yang belum sempurna. Prasarana dan Sarana Kimpraswil Proyek fisik yang dibangun dalam kawasan ini berupa jaringan jalan penghubung dari sentra produksi di lahan perkebunan jagung dengan lebar seketar 3 m dan perkerasan penetrasi aspal.5 ha dan lokasi pendukung lainnya seperti pasar. hal ini akan sangat merugikan petani karena petani berada pada posisi tawar yang lemah.053. swasta. Proses usulan untuk pengaspalan jalan ini berasal dari usulan warga melalui wakil kelompok. Keseluruhan panjang jalan yang dibangun adalah 6.8 Km. kemudian disampaikan pada proyek agropolitan.2. Aktifitas sosial dan budaya penduduk kawasan ditunjang dengan keberadaaan fasilitas penunjang seperti lapangan olahraga. Dari Luas Kawasan agropolitan Randangan. rekreasi.3. . Penduduk dan Pekerjaan Jumlah penduduk di kawasan agropolitan randangan 13. pendidikan dan sarana air bersih sebagai media interaksi sosial. Penduduk Kawasan Agropolitan Randangan terdiri dari berbagai suku bangsa yang terdiri dari masyarakat transmigran dan masyarakat Gorontalo. tukang.982 ha atau sekitar 10. Sistem jaringan jalan kawasan Agropolitan berpola linier sepanjang jalan utama Trans Sulawesi. perdagangan. 5.43 m2).87 persen dari luas kawasan agropolitan di tanami dengan komoditi jagung (lahan jagung 4. Perekonomian penduduk pada umumnya beraktifitas pada kegiatan jual beli hasil pertanian yang didominasi pembeli (tengkulak). peribadatan.3. sekitar 10. PNS.071 orang dengan tingkat pertumbuhan 1. Fasilitas lainnya yang dibangun adalah : terminal agropolitan di kota Randangan oleh dinasKimpraswil dan perpanjangan penetrasi jalan di dalam kawasan.60 persen dari luas Kabupaten Pohuwato.1. kesehatan.67 Kawasan Agropolitan Randangan Kabupaten Pohuwato memiliki luas sekitar 44.2 persen per tahun dengan mata pencaharian dominan sebagai petani (70%) dan sisanya pedagang.889.

/ Kawasan GORONTALO Kab.Penyusunan DED Kws.Penyusunan Master Plan Kawasan Agropolitan 2.Identifikasi kebutuhan P&S Kimpraswil untuk mendukung Kawasan Agropolitan 3. . Agropolitan TA.Pohuwato Kec. Tabel 18 Pekerjaan Fisik dan Non-Fisik di Kawasan Agropolitan Randangan Kabupaten Pohuwato No 1 Provinsi / Kabupaten / Kec.Pembangunan kios pasar 3.081 M' 20 unit 1 unit 1 Paket 1 Paket 1 Paket Pekerjaan Volume Sumber: Penelitian Pengembangan Rintisan Kawasan Agropolitan Pasca 3 Tahun Fasilitasi.Randangan PENYUSUNAN RENCANA TEKNIS 1.Peningkatan jalan poros desa (Lapen) 2. 2005. disamping itu juga dibangun fasilitas terminal agrobisinis di kota randangan.68 Prasarana Sarana Kimpraswil (PSK) yang dibangun di wilayah Agropolitan berupa jalan penghubung sentra produksi ke jalan penghubung ke pusat Kecamatan yakni kota Randangan. 2003 PEKERJAAN FISIK : 1. Pembangunan PSK sudah dibangun sejak tahun 2002 dan masih terus berlangsung.Pelataran dan prasarana pasar 8.

Gambar 8 Peta Kawasan Agropolitan Randangan Kabupaten Pohuwato .

palawija.177 10. namun sebagian hasil taninya juga diekspor ke negara tetangga. Penggunaan lahan Kecamatan Randangan sebagai kawasan pengembangan agropolitan di Kabupaten Pohuwato disajikan pada Tabel 19. namun petani juga mengusahakan tanaman lain seperti padi. Secara agroklimat lokasi Kawasan Agropolitan Randangan sangat cocok untuk komoditi tanaman jagung. 2006 44. Kawasan ini sebelumnya dikenal sebagai Kawasan Agropolitan Boalemo. demikian juga dari sistem budaya pertanian maka usaha tani di bidang komoditi tanaman jagung merupakan kegiatan pertanian turun temurun mengingat makanan pokok masyarakat berasal dari jagung. seperti Philipina dan Malaysia melalui perusahaan eksportir di wilayah itu.3.70 5.630 594 1. Dengan dimekarkannya Kabupaten Boalemo menjadi Kabupaten Pohuwato dan Kabupaten Boalemo maka posisi kawasan agropolitan saat ini ada di Kabupaten Pohuwato dengan pusat tetap di Kecamatan Randangan.3. Produk/ Komodoti Unggulan Komoditas unggulan di kawasan agropolitan dan non agropolitan adalah jagung. sayuran. kopi dan kakao. kelapa. Tabel 19 Penggunaan Lahan di Kawasan Agropolitan No 1 2 3 4 5 6 7 8 Penggunaan Lahan Sawah Pekarangan Tegalan/Kebun Ladang/Huma Perkebunan Hutan Rakyat Hutan Negara Lain-lain Penggunaan Kawasan Agropolitan 140 985 863 1.115 29.4. Selama ini pemasaran hasil usaha taninya dipasarkan di sekitar kawasan di sekitar Gorontalo. Pola Penggunaan Lahan Kawasan Agropolitan Randangan terdapat di Kabupaten Pahuwato.378 Total Luas Lahan Sumber : Pohuwato dalam angka.3. Kawasan Agropolitan Randangan terletak di Kabupaten Pohuwato yang merupakan Kabupaten pemekaran dari Boalemo di .982 5.

Malaysia dan sekitar Gorontalo Sistem Usaha Agribisnis Agribisnis hulu. agama. Kawasa Agropolitan Randangan mencakup 10 desa dengan pusat pengembangan di Ibu Kota Kecamatan Randangan yaitu desa Motolohu. subsistem pengolahan dan subsistem distribusi/pasar. kelapa. pemodalan. Berikut ini adalah karakteristik aktivitas pertanian di Kawasan Agropolitan Randangan berdasarkan karakteristik subsistem penunjang. kesehatan pasar dan jalan. Selain itu dilakukan juga penanaman di sela-sela tanaman kelapa. Sebagian besar masyarakat di kawasan agropolitan menanam jagung baik di lahan pekarangan maupun di lahan kebun yang jaraknya cukup jauh (4 km) dari lingkungan pemukiman. selain itu dibangun terminal agribisnis seluas 1 Ha serta silo yang dibangun oleh PT. Tabel 20 Komoditas Unggulan Kawasan Agropolitan Randangan Kabupaten Pohuwato Komoditas Unggulan Padi. SDM. Panjang prasarana jalan yang dibangun pada tahun anggara 2002 oleh Kimpraswil Pusat lebar 3 meter dengan panjang total 6. Fitra Mandiri sebuah BUMD dari Provinsi Gorontalo yang bergerak dalam bidang pengumpulan jagung (pembeli). 5. Komoditas unggulan berupa Jagung yang dikembangkan di kawasan ini. sarana pendidikan. palawija. . pemasaran hasil dan jasa penunjang Pengembangan Kawasan Sarana prasarana kawasan. Komoditas unggulan berupa pertanian jagung. pengolahan hasil. sayuran. subsistem produksi.4.71 Provinsi Gorontalo. jagung.8 km. 2005 Sarana Prasarana yang ada dalam kawasan agropolitan berupa prasarana jalan. Usaha tani. kopi dan kakao Daerah Pemasaran Filipina. kelembagaan dan usaha tani Sumber : Penelitian Pengembangan Rintisan Kawasan Agropolitan Pasca 3 Tahun Fasilitasi. Karakteristik Aktivitas Pertanian di Kawasan Agropolitan Randangan Karakteristik aktivitas pertanian pada dasarnya dapat dipilah berdasarkan bagian-bagian subsistem dari suatu sistem agribisnis secara keseluruhan.

4. dan pestisida. Hal ini tentunya akan sangat menghambat perkembangan pertanian di kawasan agropolitan apabila tidak segera diupayakan solusinya. Ketersediaan saprotan (sarana produksi pertanian) juga cukup baik.2.4. Dari data sekunder di peroleh keberadaan bank di Kabupaten Pohuwato cukup tersedia. hal ini dapat dilihat dengan adanya penggunaan tekonolgi dalam proses produksi sehingga terjadi peningkatan produksi.1. 5. selain itu juga terdapat banyak toko atau kios yang menjual saprotan. di Marisa sebagai ibukota Kabupaten Pohuwato terdapat 7 Bank baik swasta maupun bank pemerintah.72 5. . mulai dari benih. Berdasarkan hasil wawancara hampir 100% responden menyatakan bahwa mereka tidak pernah melakukan pinjaman ke lembaga keuangan tertentu. diketahui bahwa untuk subsistem produksi dan penunjangnya relatif tidak terlalu bermasalah. dan fungsinya cukup dapat dirasakan oleh petani. namun keberadaan Bank Rakyat Indonesia unit Kecamtan Randangan belum berpengaruh karena belum tersedianya skim kredit untuk para petani. Lembaga KUD sebagai sarana keuangan petani juga belum banyak membantu karena lemahnya manajemen sehingga belum dapat berfungsi secara baik. nampak bahwa subsistem penunjang seperti lembaga keuangan. keberadaan dan fungsinya masih sangat terbatas. Subsistem Penunjang Berdasarkan data-data sekunder yang berhasil dikumpulkan dan hasil wawancara dengan para petani di Kawasan Agropolitan. Namun. Upaya penyuluhan yang dilakukan mulai direspon oleh petani sehingga terjadi peningkatan hasil produksi. pupuk. Dengan adanya penyuluhan membuat petani mulai beralih pada penggunaan tekologi dalam proses produksi. Subsistem Produksi Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan di lapang. Di Kecamatan Randangan sendiri terdapat 1 unit Bank Rakyat Indonesia. Petani bisa dengan mudah membeli saprotan di pasar terdekat. Mereka lebih banyak memakai modal sendiri atau meminjam dari pedagang pengumpul desa (tengkulak). Akses terhadap capital market yang sangat terbatas tentunya akan menghambat transformasi pertanian ke arah agribisnis. Untuk lembaga penyuluhan rata-rata sudah terdapat di setiap desa.

Khusus untuk dodol jagung.4. Meskipun harga seringkali mengalami fluktuasi.4. Namun hasil pengolahan ini masih dalam tahapan industri kecil rumah tangga dimana volume produksinya masih kecil. Subsistem Pengolahan Subsistem pengolahan di kawasan agropolitan sampai sejauh ini ternyata belum banyak berkembang. Belum berkembangnya industri pengolahan menyebabkan petani lebih suka menjual langsung produknya ke pasar. Akibatnya subsistem produksi ini sangat dipengaruhi oleh fluktusi harga pasar dan akibat lainnya adalah industri pengolahan menjadi tidak berkembang di kawasan tersebut karena volume bahan baku yang tidak stabil dan tidak mencukupi. serta produksinya juga belum kontinyu. Hal ini sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran akan sangat perpengaruh terhadap harga jual komoditas. penjualan hasil panen dalam bentuk biji jagung langsung ke pasar sampai sejauh ini juga masih besar tingkat permintaannya. Selain karena didesak kebutuhan.4.3. karena masih terbatasnya teknologi yang digunakan sehingga belum dapat dipasarkan secara luas karena masalah daya tahan dan kualitas sehingga hanya diproduksi jika ada pesanan atau order. Disaat panen raya maka harga akan cenderung untuk turun. Subsistem Distribusi dan Pasar Kawasan agropolitan Randangan mempunyai 1 pasar permanen sebagai tempat penjualan atau outlet penjualan jagung yang terletak di Pusat Desa . namun pasar untuk komoditas jagung dalam bentuk biji jagung sudah relatif lebih jelas dan sudah berlangsung sekian lama.73 Permasalahan yang dihadapi dalam proses produksi adalah waktu penanaman yang relatif bersamaan. pasarnya masih terbatas dan belum luas. Kelemahan utama dari subsistem produksi yang demikian adalah sulitnya suatu kawasan untuk melakukan pengaturan penanaman dalam satu kawasan guna menghindari fluktuasi harga pasar. 5. Dalam beberapa kesempatan memang sempat dipamerkan produk olahan beberapa produk olahan seperti keripik singkong. 5. dodol jagung. Selain itu untuk memperoleh volume produksi yang bisa mencukupi skala ekonomi pertanian yang berorientasi industri juga sulit untuk dilakukan.

5. STA yang ada di kawasan agropolitan masih belum berfungsi dengan baik. pasar kabupaten. provinsi maupun di tingkat kabupaten yang terkait dengan pengembangan kawasan. 38 tahun 2007 sebagai penyempurnaan dari UU No 22 tahun 1999 dan PP No 25 tahun 2000. Peran Pemerintah dijalankan oleh berfungsinya departemen dan lembaga di tingkat pusat. Hal ini menyebabkan petani berada dalam posisi yang lemah dalam menentukan harga dimana petani hanya sebagai pengambil harga saja. selama 3 tahun di fasilitasi oleh pemerintah baik Pemerintah Pusat. perkebunan. Sistem pemasaran jagung di kawasan agropolitan masih didominasi oleh tengkulak. Pemerintah Provisi maunpun Pemerintah Kabupaten. koperasi usaha kecil dan menengah serta bidang-bidang lainnya. Tetapi sebagian besar aktivitas pemasaran di kawasan agropolitan masih dikuasai oleh pedagang perantara/tengkulak. dan saluran irigasi sedangkan program non-fisik antara lain adalah peningkatan wawasan dan etos kerja serta peningkatan keterampilan masyarakat. Distribusi pemasaran jagung di kawasan agropolitan meliputi : pedagang pengumpul tingkat desa selanjutnya pedagang pengumpul tingkat kecamatan dan ke eskportir di wilayah tersebut. Fasilitasi Pemerintah dalam Pengembangan Agropolitan Randangan Peranan pemerintah dalam memfasilitasi pengembangan kawasan agropolitan didasarkan pada UU No 32 tahun 2004 dan PP No. Program fisik yang paling banyak dilaksanakan di berbagai kawasan adalah pembangunan infrastruktur jalan. 5. pasar agropolitan. pasar desa. Dimana petani masih enggan menjual hasil produksi ke STA karena harga jualnya masih berada di bawah harga jual pedagang pengumpul. kehutanan. pertanian. berdasarkan hasil survey lapangan berbagai program yang dilaksanakan baik fisik maupun non-fisik pada berbagai bidang ekonomi. dimana masing-masing mempunyai tugas dan wewenangnya sendiri. sub terminal. transportasi. Hasil studi dari SK Sarana dan Prasana Desa Departemen PU (2005). atau harga masih ditentukan oleh pihak pedagang.74 Pertumbuhan yaitu Desa Motolohu. .

000 825. 1 kota 4 kab.000. Karena sifatnya yang lintas sektoral. 1 kota 4 kab. 1 kota 4 kab. 11. 1 kota 4 kab. 2004 Khusus kawasan agropolitan Randangan Kabupaten Pohuwato . 5. 1 kota Provinsi Provinsi Provinsi Provinsi 1.479 250. 1 kota 4 kab.500.750 86.000 5.000. 6. 9.1. 2. Adapun Program yang dilaksanakan oleh Dinas Pertanian terkait dengan tugas dan fungsinya yaitu memperkuat atau . pengembangan agropolitan menuntut adanya koordinasi antar departemen yang bisa menjamin alokasi sumberdaya pembangunan secara efektif efisien.916 75. 12.5. Dinas Pertanian Dalam rangka menunjang program pembangunan pertanian yang menjadi prioritas di Gorontalo. 1 kota 4 kab. 7. 1 kota 4 kab.527 2.032. Dinas Pertanian dan Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah berkoordinasi dalam pengembangan kawasan agropolitan.000 25.400 18. Adapun penjabaran dari berbagai progran tersebut dapat dilihat pada tabel berkut : Tabel 21 No Sebaran Kegiatan Pengembangan Agropolitan Provinsi Gorontalo Tahun 2002-2004 Bidang / Sektor / Kegiatan Lokasi Dana (xRp.527.000 2.000 1. 10. 1 kota 4 kab.75 5. Pengembangan ekstensifikasi jagung Pengembangan intensifikasi jagung Promosi pembangunan pertanian Pengadaan buffer stok pestisida Pengembangan alat dan mesin pertanian Pembinaan kelompok tani penangkar benih jagung Pembinaan UPJA Posko Agropolitan Show windows Pameran ALSINTAN Pembangunan blending plant pupuk Pengembangan peralatan dan lahan pertanian Pengadaan mesin dryer jagung 4 kab. Dinas Pertanian sebagai pelaksana teknis dari program agropolitan melaksanakan berbagai program untuk menunjang kelancaran pengembangan kawasan agropolitan melalui dinas pertanian. 13. 4.000) Pengembangan agropolitan 1. efisien berarti dijalankannya tugas dan fungsi itu secara hemat. 8. 3.000 21.655 520. berbagai kegiatan atau program telah dilaksanakan oleh instasi yang terkait dalam pengembangan kawasan agropolitan. Efektif ditunjukkan oleh berperannya departemen sesuai tugas pokok dan fungsinya.000 Sumber : Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo.

000 150.76 meningkatkan kegiatan dalam on farm (peningkatan produksi) dan penguatan kelembagaan petani. 7. Dinas Kimpraswil Untuk menunjang pengembangan kawasan agropolitan diperlukan sarana dan prasarana yang memadai. 4. 3. 6.000 1. 5. 2.000 97. 4.000 Dana (000) Sumber : Lakip Dinas Pertanian Kabupaten Pohuwato. 3.5.000 10. 2. 5.000 200.423.2. Tabel 22 Kegiatan Dinas Pertanian dalam Pengembangan Kawasan Agropolitan di Kabupaten Pohuwato Tahun 2005 No 1. Adapun beberapa kegiatan dari Dinas Kimpraswil sebagai ujung tombak pelaksanaan agropolitan adalah sebagai berikut : .000 100. Dinas Kimpraswil melaksanakan beberapa program guna menunjang pelaksanaan pengembangan agropolitan sesuai dengan fungsinya sebagai penyedia sarana dan prasarana publik.000 35.279 5. Kegiatan / Program Pengembangan agropolitan Bantuan benih jagung hibrida/komposit dan arana lainnya Pelatihan Penangkar benih jagung Pelatihan sekolah lapang pengendali hama terpadu hama terpadu Peningkatan mutu intensifikasi padi sawah seluas 100 ha di 3 kecamatan Pemanfaatan lahan tidur untuk tanaman jagung Bantuan bibit vanili bagi KK tani prasejahtera Penunjang kegiatan posko agropolitan jagung Peningkatan Pemberdayaan Masyarakat Petani Peningkatan SDM petani Kakao Penyediaan dana pendamping Dana Pemguatan Modal (DPM) Lembaga Pemberdayaan penyuluh dan kelembagaan penyuluh Pengadaan sarana transportasi roda 2 bagi penyuluh 32. 2005 5. Untuk menunjang kegiatan disektor pertanian. penyediaan sarana dan prasarana fisik sangat diperlukan untuk menunjang aksebilitas masyarakat terhadap sumberdaya dan pasar. 1.000 262.000 46.

000 Sumber : Dinas Kimpraswil.per kg..000 216.400.. 2006 5.081 m 20 Unit 1 Paket 1 Paket 1 Paket 1 Paket 1.081 m 3 Unit 5. Disamping itu secara perlahan pergerakan harga mulai terlihat dimana sejak tahun 2005 harga jagung tidak pernah berada di bawah angka Rp.2006 No. pemerintah daerah dalan hal ini pemerintah provinsi Gorontalo melaksanakan kebijakan kepastian harga di tingkat petani melalui Limited Government Intervention Policy.000 200.616.per kg yang sebelumnya hanya dihargai sebesar Rp.000 1. Dengan semakin meningkatnya harga jual jagung semakin mendorong petani untuk meningkatkan hasil produksi sehingga tujuan pemerintah untuk meningkatkan perluasan dan produksi jagung menjadi semakin dipermudah.485.690.200.per kg melalui Surat Keputusan Gubernur No 370 Tahun 2002 tentang Harga Jual Jagung dalam Wilayah Provinsi Gorontalo.3.000 170..5. Melalui kebijakan ini.940. Pada tahun 2006 SK ini kemudian di perbaharui melalui SK Gubernur No 119 tahun 2006 tentang Harga jual jagung dalam wilayah provinsi Gorontalo.000. Dengan adanya jaminan harga dari pemerintah membuat petani memperoleh kepastian harga sehingga meningkatkan keinginan untuk meningkatkan produksi. . Fasilitasi Pemerintah Daerah Selanjutnya untuk menjaga harga dari permainan tengkulak. pemerintah daerah menetapkan harga dasar jagung ditingkat petani sebesar Rp 700.1000.459.700 m Biaya 390. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Tahun 2002 2002 2003 2003 2003 2004 2006 2006 2006 Program Peningkatan Jalan Poros Desa Perbaikan Pasar Desa Peningkatan Jalan Poros Desa Pembangunan Kios Pasar Pembangunan Pelataran dan Prasarana Pasar Pembangunan Terminal Randangan Pembangunan Pasar Hewan Pemagaran Keliling Peningkatan jalan usaha tani Volume 3.77 Tabel 23 Kegiatan Dinas Kimprawil dalam Pengembangan Kawasan Agropolitan Randangan Tahun 2002 .000 299. dengan penetapan harga Rp 850 di tingkat petani dan Rp 950 di tingkat pedagang (gudang).

997 ha atau sekitar 3. tukang.Jalan Usaha tani tersedia .Listrik Lembaga Keungan tersedia .Telekominukasi tersedia . Sama halnya dengan kawasan agropolitan Randangan mata pencaharian penduduk kawasan non agropolitan adalah dominan petani yaitu mendekati 70 persen dan sisanya adalah sebagai pedagang.Perkebunan Kelembambagaan Pertanian 65 .41 persen dari luas kawasan ditanamani dengan tanaman jagung. PNS.321 Jagung Kacao 46 9 tersedia belum tersedia belum tersedia tersedia tersedia belum tersedia tersedia Luas Lahan (Ha) 44.071 Komoditas Utama Jagung .982 Ha Jumlah Penduduk (orang) 13.Dinas Pertanian Kabupaten Pohuwato 5. Jumlah penduduk Kecamatan Taluditi sebagai kawasan non sebanyak 6.997 6. Dari luas Kecamatan Taluditi sekitar 17. Deskripsi Umum Kawasan Non Agropolitan Kecamatan Taluditi Kawasan non agropolitan yaitu Kecamatan Taluditi memiliki luas 15.Jumlah kelompok tani (unit) 13 .78 Tabel 24 Profil Kawasan Agropolitan Randangan dan Non Agropolitan Kawasan Aspek Agropolitan (Kecamatan Randangan Non Agropolitan (Kecamatan Taluditi) 15.Tanaman Pangan Kelapa . Perekonomian penduduk pada umumnya bertumpu pada aktivitas jual beli produk pertanian yang didominasi oleh pedagang perantara tingkat desa (tengkulak).6.Jumlah Penyuluh Lapangan (orang) Infrastruktur tersedia . Sarana prasarana penunjang pemasaran belum tersedia dengan baik .Jalan desa tersedia . swasta dan lain-lain.77 persen dari luas Kabupaten Pohuwato.BPS Kabupaten Pohuwato .Bank tersedia .Ketersediaan Pasar tersedia .Koperasi Unit Desa Sumber : .321 orang dengan tingkat pertumbuhan yang sama dengan kecamatan Randangan.

. 2006 Komoditas yang banyak dikembangkan di kawasan ini adalah jagung serta komoditi perkebunan kakao dan kopi. Pemasaran komoditas jagung dikawasan ini sama seperti kawasan agropolitan randangan didominasi oleh tengkulak yang berperan sebagai pengumpul jagung tingkat desa.79 di kawasan non agropolitan. Demikian halnya dengan prasarana kesehatan. petani kawasan non agropolitan biasanya meminjam kepada pedagang desa dengan konsekuensi hasil tani harus dijual kepada pedagang tersebut.997 Total Luas Lahan Sumber : Pohuwato dalam angka.844 15.150 527 2. Sarana prasarana kimpraswil berupa jalan akses atau jalan usaha tani belum tersedia meskipun jalan-jalan penghubung antar desa sudah tersedia secara memadai. Karena kekurangan modal usaha. Adapun penggunaan lahan di kawasan non agropolitan adalah sebagai berikut : Tabel 25 Penggunaan Lahan di Kawasan Non Agropolitan Kecamatan Taluditi No 1 2 3 4 5 6 7 8 Penggunaan Lahan Sawah Pekarangan Tegalan/Kebun Ladang/Huma Perkebunan Hutan Rakyat Hutan Negara Lain-lain Penggunaan Kawasan Non Agropolitan 850 626 5.479 310 211 5. pendidikan dan prasarana sosial lainnya.

846 940 28.528.28 Ha yang terdiri dari 383. bangunan. Gorontalo Kab.06 Total Lahan (Ha) 184.00 44.260 Ha lahan sawah.38 112. DAMPAK PENGEMBANGAN AGROPOLITAN 6. Dimana dari luas wilayah Provinsi Gorontalo 1. terlihat bahwa ada 4 sektor yang merupakan sektor basis karena memiliki nilai LQ lebih dari 1 yaitu sektor pertanian.06 5.28 Sumber : Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Gorontalo. 2007 . Analisis Ekonomi Wilayah Analisis basis ekonomi atau sering disebut analisis komparatif wilayah Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato melalui analisis LQ dipandang perlu untuk mengetahui sektor-sektor unggulan wilayah.113.174. dengan nilai LQ yang cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Boalemo Kab. Seperti sudah dijelaskan sebelumnya.00 383.00 443.159.05 6. Dari hasil analisis LQ dari setiap sektor yang ada berdasarkan nilai PDRB Provinsi Gorontalo tahun 2000 sampai tahun 2006.00 45. Hasil analisis menunjukkan bahwa sektor pertanian dan sub sektor tanaman bahan makanan merupakan sektor basis sebelum dan sesudah program agropolitan.035 1.981 18. Hal ini di mungkinkan karena luas lahan pertanian di Provinsi Gorontalo masih sangat potensial untuk dikembangkan.62 64. pengangkutan dan jasa-jasa.17.85 72.458 3.667.951.544 Ha terdapat potensi lahan pertanian sebesar 443. Tahun 2000 nilai LQ sektor pertanian adalah sebesar 1.38 133.140.140. Disamping itu juga untuk mengetahui apakah komoditi unggulan jagung yang dijadikan sebagai entry point pengembangan agropolitan merupakan sektor basis atau non basis.769 Ha lahan kering dan 28.496.1. Pohuwato Kab. Tabel 26 Luas Lahan Pertanian Menurut Kabupaten di Provinsi Gorontalo No 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota Kab.221.574.769.426.819. Bone Bolango Kota Gorontalo Jumlah Lahan Sawah (Ha) 3.VI.260 Lahan Kering (Ha) 157. analisis LQ sering digunakan untuk mengestimasi sektor yang memiliki karakteristik yang dapat membawa sejumlah unit uang kepada masyarakat melalui ekspor barang dan jasa.99 dan setelah program agropolitan nilai LQ terus meningkat dimana LQ tertinggi terjadi pada tahun 2006 mencapai 2.

700 18.950 12. dan 3.871 Ket : * Keadaan tanggal 15 Juli 2007 Sumber : Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Gorontalo. Hal ini kemungkinan disebabkan karena SDM Gorontalo masih sangat terbatas. Jagung sebagai komoditi unggulan daerah merupakan sektor basis dimana nilai LQ jagung sebelum agropolitan tahun 2000 sampai 2002 nilai LQ jagung mengalami trend yang cenderung menurun yaitu bernilai 4.960 21. Peningkatan nilai LQ komoditi jagung disebabkan karena terjadinya perluasan lahan jagung dan peningkatan produksi jagung.244 91.2007 No 1 2 3 4 5 6 7 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007* Tahun Eksport (Ton) 6. Sektor pertambangan dan sektor listrik dan air bersih bukan merupakan sektor basis di Provinsi Gorontalo.116 Antar Pulau (Ton) 48.720 ton meningkat menjadi 416.573 41. Nilai LQ komoditi jagung sempat mengalami penurunan pada tahun 2004.300 6.62 tahun 2002. Berdasarkan perkembangan diatas mengindikasikan bahwa sejak program agropolitan bergulir sektor pertanian termasuk sub sektor bahan makanan dan komoditi jagung mampu memberikan kontribusi yang cukup terhadap perekonomian wilayah Gorontalo.754 15.310 ton.601 109.222 ton pada tahun 2006.48 tahun 2003 dan 6. dimana dari tahun 2001 produksi jagung adalah sebesar 81. dimana pengelolaan sektor ini masih .81 Berdasarkan hasil analisis juga diperoleh bahwa komoditi Jagung dan Padi merupakan komoditi basis di Provinsi Gorontalo. Tabel 27 Ekspor dan Antar Pulau Komoditi Jagung di Gorontalo 2001 . karena mampu mendatangkan sejumlah pendapatan dari luar wilayah Gorontalo.310 35. Hal ini kemungkinan disebabkan karena turunnya ekspor komoditi jagung pada tahun 2004 yang hanya mencapai 12.606 49. 2007.62 tahun 2000.34 tahun 2006. Namun setelah program agropolitan bergulir trend LQ komoditi jagung mulai mengalami peningkatan yaitu bernilai 4.

nilai LQ sektor ini sedikit mengalami fluktuasi dan cenderung mengalami peningkatan. Hal ini kemungkinan disebabkan karena Provinsi Gorontalo masih didominasi oleh daerah pertanian yang identik dengan perdesaan sehingga jika di bandingkan dengan daerah industri atau perkotaan perkembangan sektor bangunan dan pengangkutan lebih besar di perkotaan dibanding perdesaan. Setelah pengembangan agropolitanpun terlihat kecenderungan penurunan nilai LQ kedua sektor ini. Lebih lanjut mengenai perkembangan nilai LQ Provinsi Gorontalo dapat dilihat pada Tabel 28. Sektor jasa-jasa merupakan sektor basis di Provinsi Gorontalo. Hal ini mengindikasikan bahwa perkembangan sektor jasa-jasa cukup baik di Provinsi Gorontalo dan sejak pengembangan agropolitan terlihat bahwa sektor jasa mulai berkembang. Selanjutnya sektor industri pengolahan. Kebanyakan produk pertanian yang merupakan input bagi sektor industri merupakan komoditi ekspor yang dikirim sebagai bahan mentah. perdagangan dan keuangan yang terkait erat dengan program agropolitan basis jagung merupakan sektor non basis di Provinsi Gorontalo. Demikian halnya dengan komoditas jagung yang merupakan entry point dari program agropolitan masih diekspor sebagai produk bahan mentah sehingga belum ada keterkaitan ke depan yang dapat menarik sektor-sektor ekonomi yang lain. hal ini mengindikasikan bahwa laju pertumbuhan kedua sektor ini di daerah perkotaan lebih besar dibandingkan di perdesaan. Keadaan ini kemungkinan disebabkan karena belum berkembangnya industri yang terintegrasi di provinsi Gorontalo yang terkait dari sektor hulu sampai ke hilir. Untuk sektor bangunan dan pengangkutan juga merupakan sektor basis di Gorontalo meskipun dari tahun ke tahun mengalami trend yang menurun.82 menggunakan teknologi sederhana sehingga hasilnya belum mampu mencapai produktivitas yang maksimal. . Kedepannya harus dikembangkan industri pengolahan yang berbasis pada potensi daerah seperti pengolahan industri tepung jagung atau pakan ternak sehingga dapat memberikan nilai tambah yang lebih tinggi bagi perekonomian wilayah.

94 1.90 2004 1.37 0.79 4.42 0.04 6.75 1.45 0. Sektor jasa yang sebelumnya menjadi sektor basis di kabupaten Boalemo menjadi sektor non basis di Kabaputen Pohuwato.99 1.62 1.Bahan Makanan .48 1.96 0. bangunan dan jasa-jasa.60 0.09 0.Jagung .98 2.29 0.92 2.93 0.24 0.99 1.02 1.61 4.10 1. Dan sejak tahun 2004 setelah program agropolitan. berdasarkan analisis LQ ternyata terdapat 3 sektor yang merupakan basis perekonomian wilayah Kabupaten Boalemo yaitu sektor pertanian.62 1.Padi Pertambangan Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan Pengangkutan Keuangan Jasa-jasa 1. Sebelum agropolitan tahun 2000 sampai tahun 2002 Pohuwato masih merupakan bagian dari Kabupaten Boalemo.33 0.35 0.91 0.72 3.91 1.47 0.63 4.03 0.03 2006 2.42 0.08 0.97 1. bangunan.06 Sumber : Data Hasil Olahan.29 0.08 1.78 2005 2.07 0.36 0.81 1.03 0.75 2002 2.77 1.09 0. dimana sejak memisahkan diri dari kabupaten Boalemo sebagai kabupaten induk sejak tahun 2003 mulai terlihat gejala pergeseran basis ekonomi.17 2.94 1. terlihat bahwa terdapat 5 sektor yang menjadi basis perekonomian wilayah yaitu sektor pertanian.23 0.86 Tahun 2003 2.87 1.06 0.83 Tabel 28 Hasil Analisis LQ Provinsi Gorontalo Tahun 2000 – 2006 Lapangan Usaha 2000 Pertanian Tan.99 2.96 1.03 0.10 0. disaat Pohuwato sudah merupakan daerah otonom yang berdiri sendiri sebagai suatu kabupaten.73 0.62 0.95 5.30 0.82 1.34 0.91 1.93 1. listrik dan air bersih.11 0.07 1.62 0.26 0. 2007 Pengembangan agropolitan berbasis jagung juga memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap perekonomian wilayah Kabupaten Pohuwato sebagai kawasan Agropolitan.94 1.11 1.34 0.09 0. Hal ini dimungkinkan karena sebagai kabupaten yang baru dimekarkan sektor jasa belum berkembang dengan baik di .91 1.58 2001 2.92 2.77 4.95 1.35 0.53 0. dan perdagangan.36 0.79 1. industri pengolahan.83 1.83 1.

59 0.69 0.89 1. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor pertanian sebagai sektor andalan memang sudah menjadi sektor basis sejak belum adanya program juga agropolitan.42 0.85 0.84 7.81 0.48 0.77 0.42 2001 1.36 1.76 6. Menurunnya nilai LQ komoditi jagung di kabupaten Pohuwato kemungkinan disebabkan oleh tingginya produksi yang berpengaruh pada harga produk.Bahan Makanan .33 0.24 1.32 1.71 1.41 0.95 1.83 0.61 0.74 0.95 1.64 1.90 1.50 1. dimana pada akhir tahun 2004 harga jagung sempat mengalami fluktuasi yang tajam dan sempat hanya dinilai seharga Rp.50 0.48 2005 1.07 1.85 0. .14 2003 1. Tabel 29 Hasil Analisis LQ Kabupaten Boalemo Tahun 2000 – 2003 dan Kabupaten Pohuwato Tahun 2004 .11 3.94 0. Hal ini disebabkan karena kurangnya kontrol pemerintah terhadap harga pembelian dari para pedagang pengumpul atau tengkulak.05 0.30 1.33 0.53 1.31 1.84 Kabupaten Pohuwato.Jagung .98 0. Hasil analisis LQ Kabupaten Boalemo dan Pohuwato di sajikan dalam Tabel 29.24 1.70 6. 675 atau berada dibawah harga dasar pembelian pemerintah yaitu sebesar Rp.32 0.56 4.35 3.58 1.50 Sumber : Data Hasil Olahan.86 0.60 0.29 0.50 1.2006 Kabupaten Boalemo Lapangan Usaha Pertanian Tan. 700.59 2.34 0.07 2004 1.76 0.37 0.11 1.12 1.Padi Pertambangan Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan Pengangkutan Keuangan Jasa-jasa Kabupaten Pohuwato 2000 1. 2007 Sektor pertanian dari tabel diatas sejak tahun 2000 memiliki nilai LQ lebih besar dari 1.15 0.22 2002 1.60 0.55 1.76 0.87 1.33 0.59 0. Sub sektor tanaman bahan makanan dan komoditi jagung berkontribusi terhadap ekonomi Kabupaten Pohuwato karena nilai LQ berada diatas 1 sehingga dikategorikan sebagai sektor basis meskipun dua tahun terakhir terlihat mengalami trend yang menurun.76 0.33 0.08 0.55 3.28 3.53 0.64 5.11 0.82 1.60 0.45 2006 1.24 0.06 1.68 0.65 0.60 0.-.80 0.24 1.59 0.45 1.

Sektor listrik dan air bersih juga menjadi sektor basis setelah pengembangan agropolitan. memperlihatkan bahwa masing-masing sektor di Provinsi Gorontalo maupun di Kabupaten Boalemo dan Pohuwato penyebarannya tidak seragam. . Sejak pengembangan agropolitan sektor industri pengolahan menjadi basis ekonomi daerah Kabupaten Pohuwato. hal ini disebabkan karena semakin meningkatnya tingkat kehidupan masyarakat sejak pengembangan agropolitan sehingga meningkatkan konsumsi terhadap listrik dan air bersih.85 Pergeseran basis ekonomi wilayah setelah pengembangan agropolitan terjadi pada sektor Industri pengolahan. Hasil analisis LQ diatas. Dengan adanya perbedaan karakteristik yang dimiliki. Hal ini mendorong berkembangnya industri makanan dan minuman skala rumah tangga di Kabupaten Pohuwato. maka upaya pengembangan wilayah haruslah berdasarkan pada sektor basis yang mempunyai kemampuan memberikan peningkatan pada perputaran konsumsi yang ada di wilayah Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato yang pada akhirnya akan meningkatkan multiplier effect bagi perekonomian daerah. Hal ini dimungkinkan karena masing-masing wilayah memiliki karakteristik dan sumber daya yang berbeda. Bergesernya sektor perdagangan menjadi basis ekonomi di Kabupaten Pohuwato dimungkinkan karena dengan semakin meningkatnya produksi pertanian menyebabkan meningkatnya kegiatan perdagangan produk pertanian terlebih komoditi jagung sebagai produk unggulan daerah. Munculnya basis ekonomi baru ini erat kaitannya dengan pengembangan agropolitan di Kabupaten Pohuwato. Hal ini disebabkan karena program agropolitan memiliki keterkaitan dengan ke 3 sektor ini sebagai penunjang keberhasilan program agropolitan itu sendiri. listrik dan air bersih serta sektor perdagangan. Dimana sektor industri pengolahan dan perdagangan merupakan sektor yang memiliki keterkaitan kedepan sedangkan listrik dan air bersih merupakan input untuk sektor industri pengolahan. sehingga kontribusi dari masingmasing sektor juga berbeda antar wilayah. Ini dimungkinkan karena keberhasilan kegiatan pertanian di kabupaten Pohuwato menyebabkan terjadinya kenaikan pendapatan masyarakat petani sehingga daya beli masyarakat meningkat.

Dimana sejak tahun 2000 sampai 2006 hanya terdapat 4 sektor yang menjadi basis ekonomi wilayah yaitu sektor pertanian. bangunan. Perubahan atau pergeseran basis ekonomi di Kabupaten Pohuwato setelah pengembangan agropolitan dapat disebabkan karena beberapa faktor antara lain karena sejak pengembangan agropolitan proses on farm dalam masyarakat cukup berhasil sehingga terjadi peningkatan produksi dan produktivitas lahan pertanian yang mengakibatkan peningkatan pendapatan masyarakat. Program agropolitan yang mengadakan penyuluhan dan pelatihan petani penangkar benih juga mendorong bertumbuhnya industri skala RT dalam penyediaan benih jagung. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi masyarakat sudah mulai berkembang tidak hanya dalam kelompok sektor primer saja tapi sudah merambah sampai ke kelompok tersier. Peningkatan pendapatan masyarakat juga berpengaruh terhadap industri pengolahan makanan di kabupaten Pohuwato. Hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan daya beli masyarakat sehingga aktivitas ekonomi dalam hal ini perdagangan dapat bergerak. Dimana peningkatan pendapatan masyarakat mendorong berkembangnya industri pengolahan makanan di wilayah ini. Berdasarkan pemahaman tersebut maka sektor yang merupakan basis diidentikkan dengan sektor-sektor yang mampu dikirim ke luar daerah dan dapat menciptakan aliran pendapatan yang berasal dari luar daerah yang pada akhirnya akan meningkatkan nilai siklus konsumsi di wilayah tersebut. di Kabupaten Pohuwato sejak program agropolitan dicanangkan mulai terjadi perubahan atau pergeseran basis ekonomi dimana sektor yang menjadi basis bukan saja berasal dari sektor primer yang mengandalkan sumber daya alam saja tetapi juga berasal dari sektor sekunder (industri pengolahan. Dari hasil analisis LQ terlihat bahwa perekonomian Gorontalo tidak mengalami pergeseran basis ekonomi karena tidak terjadi perubahan atau penambahan sektor basis. pengangkutan dan jasa-jasa. listrik dan bangunan) dan sektor tersier (perdagangan) yang mengandalkan aktivitas ekonomi. maka sektor basis sering disebut sebagai leading sector bagi perekonomian daerah. Berbeda halnya dengan Provinsi Gorontalo.86 Karena besarnya peran sektor basis terhadap proses peningkatan output suatu wilayah melalui proses multiplier. Selanjutnya peningkatan .

Sedangkan sektor-sektor seperti sub sektor tanaman bahan makanan. Hasil perhitungan dengan menggunakan SSA untuk tahun 2001 dan 2003 menunjukkan bahwa laju pertumbuhan berbagai sektor ekonomi di Provinsi Gorontalo sebelum pengembangan agropolitan adalah sebesar 0. perlu dirangsang investasi untuk pengembang industri pengolahan berbasis komoditi unggulan. listrik dan air bersih. Pada dasarnya pembangunan perdesaan tidak akan berhasil sebelum sektor non pertaniannya berkembang. dimana hasil pertanian terlebih khusus komoditi jagung masih diekspor dalam bentuk biji jagung sebagai bahan baku industri. Laju pertumbuhan sektor pertanian 0. Selanjutnya melengkapi analisis LQ. industri pengolahan.0016 lebih rendah dibandingkan dengan laju pertumbuhan di Provinsi Gorontalo. Jika diamati lebih lanjut lajut. Hal ini disebabkan karena produktifitas dari sektor primer pertanian secara relatif cenderung lemah (Rustiadi . Kendala yang dihadapi oleh Provinsi Gorontalo secara keseluruhan dan Kabupaten Pohuwato adalah belum berkembangnya industri pengolahan yang berbasis pada pertanian dalam hal ini komoditi unggulan jagung. komoditi jagung. Dalam hal ini laju . untuk melihat pengaruh dari masingmasing sektor ekonomi terhadap perekonomian Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato dapat dijelaskan dengan analisis shift-share (SSA). Namun dalam jangka panjang. Sektor pertanian. karena selain dapat menambah nilai tambah juga dapat mengatasi masalah tenaga kerja diluar sektor pertanian. Dalam jangka pendek. keuangan dan jasa-jaas memiliki laju pertumbuhan ekonomi yang lebih besar dibandingkan dengan laju laju pertumbuhan total di Provinsi Gorontalo. perdagangan dan sektor pengangkutan mempunyai laju pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dari dibandingkan laju pertumbuhan total di Provinsi Gorontalo.87 pendapatan dapat menjadi faktor pendorong bagi masyarakat untuk menggunakan listrik dan air bersih sehingga terjadi peningkatan konsumsi listrik dan air bersih. 2006). hal ini sangat menguntungkan bagi Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato karena kelebihan produksi dapat diekspor sehingga menghasilkan devisa bagi penerimaan daerah yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi daerah tumbuh cepat. Permintaan terhadap jagung yang sangat besar dari daerah lain maupun luar negeri membuka peluang pasar yang bagus buat komoditi jagung. pertambangan. bangunan.1378.

Sehingga untuk mengembangkan sektor tersebut tidak akan memberikan nilai tambah yang optimal. .0834 -0. keuangan dan jasa-jasa sebelum agropolitan mempunyai tingkat competitiveness lebih rendah dibandingkan sektor-sektor lain. bangunan.0062 0. perdagangan. dalam arti akan lebih meningkatkan nilai tambah jika di kembangkan.2472 lebih besar dibandingkan dengan laju pertumbuhan di provinsi Gorontalo.7195 -0.0238 -0.1061 -0.2627 0.0677 0. Hasil analisis menunjukkan bahwa laju pertumbuhan sektor pertambangan.2472 0.3255 0.0016 0.1378 Pergeseran Differensial 0.0074 0.1527 lebih kecil dibandingkan tingkat tingkat pertumbuhan sektor tersebut secara umum di Provinsi Gorontalo. Sebaliknya sektor-sektor seperti pertanian dan turunannya. industri pengolahan.2626 0.0233 -0.1678 -0.1260 -0. Nilai pergeseran differensial menunjukkan tingkat kompetisi berbagai sektor perekonomian sebelum pengembangan agropolitan.0439 -0. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan sektor sektor jasa-jasa 0.0842 0.Jagung Pertambangan Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan Pengangkutan Keuangan Jasa-jasa Pergeseran proporsional -0.1715 0.0568 0. listrik dan air bersih serta pengangkutan mempunyai keunggulan kompetitif yang relatif lebih besar.0875 -0. Tabel 30 Hasil Analisis Shift-Share Provinsi Gorontalo Sebelum Agropolitan Tahun 2001 dan 2003 Pertumbuhan ekonomi Lapangan Usaha Pertanian Tanaman Bahan Makanan .1527 Sumber : BPS Provinsi Gorontalo tahun 2001 dan 2003.88 pertumbuhan komoditi jagung 0. diolah.0302 -0.

Selanjutnya setelah pengembangan agropolitan yaitu periode tahun 2004 dan 2006.1502 Pergeseran Differensial -0.0500 -0.1649 -0.0285 -0.0698 -0.0166 -0. terjadi perubahan tingkat kompetisi (competitiveness) di Kabupaten Pohuwato.0116 0.1142 0. dimana sektor pertanian dan turunannya (Sub sektor tanaman bahan makanan dan komoditi jagung) mengalami kinerja yang menurun.2099 -0. komoditi jagung. sektor pertambangan.9082 0. sub sektor tanaman bahan makanan.1574 0. Sektor yang mengalami perubahan atau perbaikan kinerja yaitu sektor pertanian.0984 0.1208 0. diolah. Tabel 31 Hasil Analisis Shift-Share Provinsi Gorontalo Sesudah Agropolitan Tahun 2004 dan 2006 Pertumbuhan ekonomi Lapangan Usaha Pertanian Tanaman Bahan Makanan . sektor perdagangan dan sektor pengangkutan.1523 0. sedangkan .0292 0. sektor pengangkutan dan sektor jasa-jasa.8323 -0. Hal ini mengindikasikan bahwa setelah pengembangan agropolitan terjadi perbaikan kinerja dari sektor-sektor ekonomi di provinsi Gorontalo.1111 Sumber : BPS Provinsi Gorontalo tahun 2004 dan 2006.0951 0. Setelah program agropolitan ada 7 sektor yang memiliki laju pertumbuhan yang lebih besar dari laju pertumbuhan total Provinsi yaitu sektor pertanian.89 Hasil analisis pertumbuhan ekonomi di Provinsi Gorontalo dengan analisis shift-share pada tahun 2004 dan 2006 (setelah agropolitan) menunjukkan bahwa laju pertumbuhan berbagai sektor ekonomi di Provinsi Gorontalo adalah sebesar 0.1502 yang berarti terjadi peningkatan dibanding periode sebelumnya (sebelum agropolitan.0097 0.0793 0. sektor bangunan.0408 0. sektor bangunan.Jagung Pertambangan Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan Pengangkutan Keuangan Jasa-jasa Pergeseran proporsional 0.1988 -0.0952 -0.

dapat dilihat pada Tabel 32. sebelumnya.2. tetapi juga tergantung pada sektor non basis. Dampak terhadap Perekonomian Wilayah Menurut konsep basis ekonomi wilayah. keuangan dan jasa-jasa terjadi peningkatan kinerja. Besarnya effek pengganda pendapatan ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi dalam wilayah tersebut yang ditunjukkan oleh koefisien pengganda pendapatan yang dihasilkannya. bahwa pertumbuhan ekonomi pada suatu wilayah terjadi karena adanya efek pengganda (multiplier effect) dari pembelanjaan kembali pendapatan yang diperoleh melalui penjualan barang dan jasa yang dihasilkan wilayah itu atas penjualan keluar wilayah. Sehingga fluktuasi nilai pengganda jangka pendek akan dipengaruhi oleh keseimbangan pertumbuhan antara sektor non basis dan sektor basis. Untuk itu besarnya koefisien pengganda dapat diukur dengan menggunakan model analisis sebagai berikut : 6. Pengganda Pendapatan Jangka Pendek Dalam model basis ekonomi. karena dalam jangka panjang akan berpengaruh terhadap perekonomian wilayah.90 sektor-sektor tersier yaitu perdagangan. multiplier adalah perbandingan antara pendapatan non basis dengan total pendapatan daerah sehingga nilai ini menggambarkan mengenai aktivitas yang dilakukan penduduk pada suatu daerah dalam perekonomian terhadap total pendapatan. 6.2. Tabel Hasil perhitungan koefisien memperlihatkan fluktuasi pengganda jangka pendek dengan menggunakan model yang telah dikemukakan koefisien pengganda jangka pendek dari tahun 2003 sampai 2006 Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato. Namun demikian terlihat juga bahwa sektor pertanian yang menjadi sektor unggulan masih setelah agropolitan justru mengalami penurunan kinerja yang menggambarkan daya saing sektor tersebut masih rendah dan perlu mendapat perhatian serius. Hal ini mengindikasikan terjadi setelah agropolitan terjadi pergeseran keunggulan kompetitif dari sektor primer yang mengandalkan Sumber daya alam ke sektor sekunder dan tersier yang mengandalkan aktifitas ekonomi. .1. Namun besar kecilnya koefisien pengganda jangka pendek tidak hanya tergantung pada sektor basis.

91

Nilai koefisien

pengganda jangka pendek sektor pertanian dan sub

sektor tanaman bahan makanan serta komoditi jagung Kabupaten Pohuwato lebih rendah dibandingan dari Provinsi Gorontalo. Nilai pengganda jangka pendek sektor pertanian Provinsi Gorontalo mencapai nilai tertinggi pada tahun 2005 yaitu sebesar 3,28. Yang berarti bahwa setiap perubahan pendapatan sektor pertanian sebesar Rp. 100,- akan menyebabkan perubahan pendapatan daerah sebesar Rp.328,-. Dan mencapai nilai terendah pada tahun 2004 yaitu sebesar 3,10 yang berarti bahwa setiap perubahan pendapatan sektor pertanian sebesar Rp. 100,- akan menyebabkan perubahan pendapatan daerah sebesar Rp.310,-. Sedangkan nilai pengganda jangka pendek sektor pertanian Kabupaten Pohuwato mencapai nilai tertinggi pada tahun 2006 yaitu sebesar 2,17. Ini berarti bahwa setiap perubahan pendapatan pada sektor pertanian sebesar Rp.100,- akan menyebabkan perubahan pendapatan daerah sebesar Rp. 217,-. Selanjutnya nilai koefisien pengganda jangka pendek komoditi jagung Provinsi Gorontalo mencapai nilai tertinggi pada tahun 2004 yaitu sebesar 30,22 dan mencapai nilai terandah tahun 2005 yaitu sebesar 15,63. Hal ini berarti bahwa pada setiap perubahan pendapatan pada komoditi jagung sebesar Rp.100 akan menyebabkan perubahan pada pendapatan daerah sebesar Rp. 3.022,- pada tahun 2004 dan Rp.1.563.- tahun 2005. Sedangkan untuk Kabupaten Pohuwato, nilai pengganda pendapatan jangka pendek mencapai nilai tertinggi pada tahun 2004 sebesar 5,59 dan nilai terendah tahun 2006 yaitu sebesar 5,24. Hal ini berarti setiap perubahan pendapatan pada komoditi jagung sebesar Rp. 100,- akan menyebabkan perubahan pada pendapatan daerah sebesar Rp. 559,- pada tahun 2004 dan Rp. 524,- pada tahun 2006. Sektor industri pengolahan di Provinsi Gorontalo memiliki nilai LQ < 1 sehingga tidak dapat dilakukan pergitungan koefisien pengganda jangka pendek. Keadaan ini berarti bahwa sektor ini dalam perekonomian Gorontalo hanya mampu mensuplai hasilnya untuk kebutuhan dalam perekonomian sendiri atau bahkan kurang dari yang dibutuhkan oleh perekonomian Provinsi Gorontalo. Sedangkan nilai koefisien pengganda pendapatan jangka pendek sektor industri pengolahan di Kabupaten Pohuwato mencapai nilai tertinggi pada tahun 2006 yaitu sebesar 16,07 dan terendah pada tahun 2004 yaitu sebesar 15,10. Hal ini

92

berarti bahwa setiap perubahan pendapatan pada sektor industri pengolahan sebesar Rp.100,- akan menyebabkan perubahan pada pendapatan daerah Kabupaten Pohuwato sebesar Rp. 1.607,- pada tahun 2006 dan Rp. 1.510,- pada tahun 2004. Selanjutnya sektor listrik dan air bersih memberikan dampak pengganda jangka pendek yang paling tinggi di Kabupaten Pohuwato yaitu pada sebesar 128,00 pada tahun 2004. Hal ini berarti bahwa setiap perubahan pendapatan pada sektor listrik dan air bersih sebesar Rp.100 akan menyebabkan perubahan pada pendapatan daerah sebesar Rp.12.800,Tabel 32 Pengganda Pendapatan Jangka Pendek Berbagai Sektor di Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato Tahun 2003 - 2006
Provinsi Gorontalo Lapangan Usaha Pertanian Tan.Bahan Makanan - Jagung - Padi Pertambangan Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan Pengangkutan Keuangan Jasa-jasa 2003 3,17 7,39 29,65 20,32 13,00 11,57 5,73 2004 3,10 7,62 30,22 13,94 10,58 6,08 2005 3,28 7,14 15,63 21,88 13,61 9,90 5,38 2006 3,26 7,02 16,12 12,99 9,68 5,25 Kabupaten Pohuwato 2004 2,01 4,64 5,59 15,10 12,42 6,67 2005 2,12 4,47 5,51 15,25 12,69 5,49 2006 2,17 4,54 5,24 16,07 12,24 5,81 -

128,00 123,23 114,94

Sumber : Data Hasil Olahan, 2007

Dari nilai pengganda pendapatan jangka pendek terlihat bahwa sektor pertanian dan terlebih khusus komoditi unggulan jagung memiliki kontribusi yang cukup besar terhadap perekonomian Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato meskipun dari tahun ke tahun mengalami kecenderungan menurun. Berdasarkan hasil analisis (Tabel 32), terlihat bahwa sektor-sektor primer di Kabupaten Pohuwato memiliki koefisien pengganda jangka pendek yang lebih kecil dibandingkan dengan sektor-sektor sekunder dan tersier. Hal ini mengindikasikan

93

bahwa di samping sektor primer sektor-sektor sekunder dan tersier juga memiliki prospek yang sangat baik untuk dikembangkan di Kabupaten Pohuwato. 6.2.2. Pengganda Pendapatan Jangka Panjang Berdasarkan model pada metodologi maka perhitungan analisis jangka panjang dapat dilihat pada Tabel 33. Dari tabel terlihat bahwa nilai koefisien pengganda jangka panjang masing-masing sektor sangat fluktuatif. Sektor pertanian memiliki nilai koefisien pengganda yang cenderung stabil sepanjang tahun. Namun sektor industri pengolahan, listrik dan air bersih, bangunan, pengangkutan dan jasa cenderung fluktuatif. Tabel 33 Pengganda Pendapatan Jangka Panjang Berbagai Sektor di Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato Tahun 2003 - 2006
Provinsi Gorontalo Lapangan Usaha Pertanian Tan.Bahan Makanan - Jagung - Padi Pertambangan Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan Pengangkutan Keuangan Jasa-jasa 2003 3,63 10,50 108,21 27,08 21,52 7,43 22,15 14,72 7,25 2004 3,44 9,55 2005 3,65 9,17 30.30 67,89 23,52 14,28 6,45 2006 3,89 10,82 83,69 37,17 18,80 7,12 Kabupaten Pohuwato 2004 2,77 12,54 23,21 14,35 7,80 18,04 71,53 2005 2,83 9,58 16,05 18,66 9,00 24,78 15,91 2006 2,34 5,31 6,30 33,10 42,91 20,12 7,14 -

160,02 153,42

Sumber : Data Hasil Olahan, 2007.

Nilai koefisien pengganda jangka panjang sektor pertanian Provinsi Gorontalo mencapai nilai terendah pada tahun 2004 yaitu sebesar 3,44 dan tertinggi pada tahun 2006 sebesar 3,89. Angka ini berarti bahwa untuk setiap perubahan pendapatan sektor pertanian sebesar Rp.100 akan menyebabkan perubahan pada pendapatan daerah Gorontalo sebesar Rp.344,- pada tahun 2004 dan sebesar Rp. 389,- pada tahun 2006. Sedangkan Kabupaten Pohuwato

. . yang pada akhirnya berdampak pada nilai tambah petani.321.untuk Kabupaten Pohuwato.akan menyebabkan perubahan pada pendapatan daerah Provinsi Gorontalo sebesar Rp.2. 100.dan Rp. Hal ini berarti bahwa setiap perubahan pendapatan pada komoditi jagung sebesar Rp.02 untuk Provinsi Gorontalo dan tahun 2004 yaitu sebesar 23. Hal ini akan berdampak pada belum maksimalnya produktivitas dari kemampuan optimum benih yang seharusnya..34 dan tertinggi pada tahun 2005 yaitu sebesar 2...94 memiliki nilai koefisien pengganda jangka panjang sektor pertanian terendah pada tahun 2006 yaitu sebesar 2. 283 pada tahun 2005. Hal ini berarti bahwa setiap perubahan pendapatan pada sektor pertanian sebesar Rp. Masih terbatas pengetahuan petani dan keterbatasan modal menyebabkan pemupukan belum dilakukan sesuai dengan komposisi yang seharusnya.83. 16.100.002. Kecenderungan penurunan koefisien pengganda pendapatan ini dapat dipahami karena belum maksimalnya kinerja dari aspek-aspek yang dapat menunjang terkait dari sektor hulu sampai sektor hilir.21 untuk Kabupaten Pohuwato.akan menyebabkan perubahan pada pendapatan daerah Kabupaten Pohuwato sebesar Rp. Komoditi Jagung sebagai komiditi unggulan daerah juga memiliki kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian daerah meskipun mengalami kecenderungan yang menurun dimana nilai koefisien jangka panjang komoditi jagung mencapai nilai tertinggi pada tahun 2003 yaitu sebesar 160. Misalnya. 234 pada tahun 2006 dan Rp.

sosial dan budaya masyarakat.per ha per tahun dan 56.000 per ha per tahun sampai Rp.000. 7. Aspek Ekonomi Sebagai kawasan pertanian sebagaian besar masyarakat dikawasan agropolitan memiliki mata pencaharian sebagai petani.33% petani memiliki luas lahan kurang dari 2 Ha.per ha per tahun.1.000.000.per ha per tahun. Dimana 33.. nelayan dan lain-lain.12.7. Berdasarkan hasil penelitian dari Rompon (2006).66% petani memiliki pendapatan diatas Rp. tukang. dimana petani mendapat banyak informasi tentang usaha tani. misalnya dengan bergabungnya petani dalam kelompok tani dan aktif menghadiri kegiatan penyuluhan.1.10.10. yang dimaksud dengan partisipasi masyarakat dalam pembangunan adalah keikutsertaan masyarakat dalam perencanaan. Karena program agropolitan sangat terkait dengan petani sebagai pelaku utama maka keterlibatan petani baik sebagai individu maupun dalam kelompok tani terlihat jelas.33% memiliki luas lahan 2 Ha dan 13.000.VII. Tingkat pendapatan petani bervariasi antara Rp. dimana sebanyak 43.1. ada berbagai penyebab sehingga kurangnya partisipasi dalam kegiatan pembangunan yaitu faktor internal yang berkaitan dengan terbatasnya waktu dan faktor eksternal yang berkaitan dengan kurangnya transparansi penyampaian informasi dalam kegiatan pembangunan. 55. evaluasi dan monitoring serta manfaat yang dapat dirasakan masyarakat dalam setiap program atau kegiatan pembangunan. sebagian kecil sebagai PNS.. pedagang. Karakteristik Masyarakat Sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Seluruh responden yang terdata dalam penelitian ini 100% memiliki mata pencaharian utama sebagai petani pemilik.33% petani memiliki pendapatan kurang dari Rp. Disamping itu faktor lain yang mempengaruhi partisipasi masyarakat terkait dengan keadaan ekonomi.000.33% memiliki lahan lebih dari 2 Ha..000. DAMPAK AGROPOLITAN TERHADAP MASYARAKAT 7.000. Keterlibatan masyarakat dalam hal ini petani berkaitan dengan manfaat yang diperoleh dari kegiatan ini. teknologi tepat guna dan informasi tentang bantuan yang diberikan oleh pemerintah sehingga dapat meningkatkan ekonomi keluarga. pelaksanaan. .

terlihat bahwa sebagian besar petani dikawasan agropolitan memiliki tingkat pendidikan yang rendah.1. kekeluargaan. Disamping itu.33% petani memiliki tingkat pendidikan setara SMA sedangkan sisanya 43. pengetahuan dan ketrampilan masyarakat petani. Kawasan nonagropolitan yang diambil yaitu di Kecamatan Taluditi yang merupakan daerah hinterland-nya yang berada dalam satu kabupaten yang sama yaitu kabupaten Pohuwato.1.3. Di bidang pertanian budaya ini terlihat dari penyiapan lahan hingga panen yang dilakukan secara gotong-royong. Keadaan in sangat berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat dalam setiap kegiatan pembangunan. Nilai solidaritas sosial. Aspek Budaya Budaya juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat. 7. Budaya gotong-royong dalam masyarakat Gorontalo dikenal dengan sebutan huyula . kebersamaan dan kegotong royongan diantara warga masih melekat dalam masyarakat tani kawasan agropolitan. Dalam hal ini berkenaan dengan kebiasaan dan nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat. termasuk dalam kegiatan agropolitan. 7. Dalam analisis ini akan dilihat apakah pembangunan infrastruktur yang .2. Untuk mengetahui dampak pengembangan agropolitan terhadap pendapatan petani dilakukan dengan membandingkan pendapatan usahatani di kawasan agropolitan dan non agropolitan.96 7. Begitu pula untuk kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan. masyarakat secara bersama-sama membantu mereka yang mempunyai hajatan atau tertimpa musibah.33% setara SMP dan 33. hajatan maupun tertimpa musibah. SDM dibidang pertanian yang ada selama ini bekerja belum berdasarkan pengetahuan dan kemampuan teknis yang memadai. Dampak Agropolitan terhadap Pendapatan Masyarakat Petani Pengembangan kawasan agropolitan diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat petani. Responden petani dalam penelitian memiliki tingkat pendidikan yang bervariasi yaitu 23. tetapi hanya berdasarkan pengalaman yang diperoleh secara inkremental.33% SD.2. Aspek Sosial Dari aspek sosial yang berkaitan dengan tingkat pendidikan.

97

dilakukan dikawasan agropolitan berdampak terhadap peningkatan pendapatan petani. Hasil analisis usahatani pada wilayah sampel menunjukkan terdapat kecenderungan rata-rata tingkat pendapatan petani per hektar per tahun Rata-rata tingkat pendapatan petani di kawasan agropolitan di kawasan agropolitan lebih tinggi di bandingkan dengan kawasan non agropolitan. sebesar Rp.10.080.016,-/ ha per tahun, sedangkan rata-rata tingkat pendapatan petani di kawasan non agropolitan sebesar Rp. 5.506.966,- / ha per tahun. Hal ini berarti bahwa pembangunan infrastruktur agropolitan antara lain dengan pembangunan jalan dan pasar di kawasan agropolitan mempunyai efek yang berarti terhadap rata-rata peningkatan pendapatan petani. Lebih jauh hasil uji beda rata-rata dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 34 Hasil Analisis Uji t Perbandingan Pendapatan Kawasan Agropolitan dan Non Agropolitan Uraian Agropolitan Non agropolitan T –value T – tabel N 30 30 12,55 2,045 Mean 10080017 5506967 Standar Deviasi 1727609 1000130 Standar Error 315417 182598

Sumber : Hasil Olahan Data Primer 2007

Pada Tabel 34 diketahui bahwa hasil uji statistik t – test pada taraf nyata 95% memiliki pengaruh yang signifikan antara rata-rata pendapatan petani di kawasan agropolitan dan rata-rata pendapatan petani di kawasan non agropolitan. Dimana hasil perhitungan nilai statistik t hitung 12,55 lebih besar dari nilai statistik tabel 2,045. Hal ini disebabkan karena infratruktur di Kecamatan Randangan sebagai desa pusat pertumbuhan (DPP) lebih baik dibandingkan di Kecamatan Taluditi sebagai daerah belakang. Dengan adanya program agropolitan yang diwujudkan melalui pembangunan sarana dan prasarana jalan dan pemasaran sangat membantu petani dalam pendapatkan sarana produksi berupa bibit pupuk dan pestisida. Pembangunan jalan usaha tani di desa-desa kawasan agropolitan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, dimana dapat dilihat bahwa masyarakat dapat

98

memasarkan produksi pertanian langsung di lahan pertanian (dikebun) sehingga mengurangi atau meminimalisasi ongkos produksi petani. Dalam hal ini biaya transportasi menjadi tanggungan dari pedagang. Hal ini tidak terjadi di desa non agropolitan, tidak tersedianya fasilitas jalan usaha tani di Kecamatan Taluditi menyebabkan tingginya biaya produksi di tingkat petani karena biaya transportasi dibebankan kepada petani. Hal ini menyebabkan share dari petani / keuntungan petani yang menjadi pendapatan petani menjadi kecil. Di desa non agropolitan transaksi atau penjualan hasil panen tidak dilakukan di lahan/lapang tetapi harus dilakukan digudang, di rumah pedagang perantara atau di jalan desa yang dapat dijangkau oleh transportasi. Biaya pengangkutan dari kebun ke tempat transaksi menjadi beban petani. Petani harus mengeluarkan biaya pengangkutan yang tinggi karena tidak tersedianya jalan akses ke pasar dari lokasi produksi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa petani di desa non agropolitan untuk mengangkut hasil panen.
Tabel 35 Luas Lahan, Produksi dan Produktivitas Jagung di Kecamatan Randangan Tahun 2002 2003 2004 2005 Luas Lahan (Ha) 3.717 6.517 8.418 10.263 Produksi (Ton) 8.803 29.326 37.881 51.109 Produktivitas (Ton/Ha) 2,37 4,50 4,50 5,00

harus

mengeluarkan biaya pengangkutan rata-rata Rp.1.728.667,- per hektar per tahun

Sumber : - Kecamatan Randangan dalam Angka - Dinas Pertanian

Pelaksanaan penyuluhan pertanian, pembangunan infrastruktur pemasaran dan transportasi signifikan meningkatkan pendapatan petani. Secara hipotetik faktor yang mempengaruhi pendapatan petani diantaranya adalah meningkatnya produktivitas, menurunnya biaya usaha tani diantaranya biaya transportasi dan meningkatnya harga jual komoditi pertanian. Penyuluhan pertanian yang dilaksanakan sangat membantu petani dalam transfer teknologi sehingga terjadi peningkatan produktivitas dan hasil produksi. Ini sangat berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan petani karena sebelum agropolitan produksi jagung hanya

99

mencapai 1 - 2 ton per hektar namun

setelah program agropolitan terjadi

peningkatan produksi sebesar 5-6 ton per hektar. Hal ini disebabkan karena petani mulai menerapkan teknologi dengan menggunakan bibit unggul dan pemupukan dalam produksi. Tersedianya infrastruktur transportasi dan pemasaran yang memadai menyebabkan petani dapat menekan biaya produksi. Di kawasan agropolitan dengan dibangunnya jalan usaha tani sampai ke sentra-sentra produksi (hamparan/kebun), memudahkan pengangkutan hasil panen petani dan menekan biaya transportasi. Fakta dilapangan juga terlihat bahwa rata-rata harga komoditi jagung di kawasan agropolitan relatif lebih tinggi dari rata-rata harga komoditi jagung di kawasan non agropolitan. Jika dilihat dari sumber pendapatan petani responden kawasan agropolitan dan non agropolitan terlihat bahwa pendapatan dari pertanian merupakan sumber pendapatan terbesar dan 50 persen lebih sumber pendapatan petani responden berasal dari usahatani jagung. Hal ini mengindikasikan bahwa pengembangan infrastruktur agropolitan sangat berpengaruh terhadap tingkat pendapatan masyarakat petani di kawasan agropolitan. Tabel 36 Sumber Pendapatan Utama Masyarakat Petani Kawasan Agropolitan dan Non Agropolitan
Sumber Pendapatan A. On Farm • Jagung • Kelapa • Kakao B. Off Farm • Upah pertanian dan non pertanian C. Non Farm • Warung • Transportasi (musiman) Jumlah Randangan (Rp/Tahun) 151.200.250 22.537.500 % Taluditi (Rp/Tahun) 82.604.500 42.000.000 30.600.000 12,76 25.200.000 %

63,04 9,40

53,22 26,67 16,24

35.500.000 239.837.750

14,80 6.000.000 100 155.204.500 3,87 100

Sumber : Hasil olahan data primer, 2007

namun terdapat beberapa permasalahan dalam pengembangan agropolitan di Kecamatan Randangan. Petani masih melaksanakan budidaya sesuai dengan kemampuan modal yang ada. karena belum tersedianya skim kredit untuk pertanian dan petani masih enggan untuk meminjam di bank karena prosedur yang berbelit dan memerlukan agunan. Peran perbankan sebagai sarana penunjang pengembangan agribisnis belum terlihat. Ketiga adalah belum berfungsinya kelembagaan petani dalam proses pemasaran hasil. Dengan terbukanya jalan usaha tani. Keberadaan KUD. Petani di kawasan agropolitan cenderung lebih memilih pedagang pengumpul untuk menjual hasil produksinya karena untuk menekan biaya transportasi. kelompok tani dan gabungan kelompok tani (gapoktan) masih terbatas pada penyediaan saprodi dan . Disatu sisi keberadaan pedagang pengumpul membantu petani dalam aspek penyediaan modal namun di sisi yang lain keberadaan pedagang pengumpul/tengkulak menyebabkan petani hanya sebagai penerima harga (price taker) karena harga komoditi ditentukan oleh pedagang. Pertama. Petani masih menggunakan modal sendiri atau meminjam kepada pedagang pengumpul/tengkulak. Hal ini menyebabkan petani tidak mempunyai kemampuan dalam menegosiasikan harga dengan pedagang. Namun demikian meskipun terjadi peningkatan pendapatan petani. Hal ini disebabkan karena adanya komitmen yang kuat dari Pemerintah Daerah untuk mengembangkan ekonomi wilayahnya melalui program agropolitan dengan menerapkan berbagai instrumen misalnya dengan aa kebijakan intervensi harga dari pemerintah. Permasalahan kedua adalah sistem pemasaran yang masih dikuasai oleh tengkulak atau pedagang pengumpul.100 Jika dibandingkan dengan penelitian terdahulu tentang evaluasi agropolitan terlihat bahwa pengembangan agropolitan di Kabupaten Pohuwato relatif lebih baik. Program agropolitan belum dapat meningkatkan akses petani terhadap permodalan. kemampuan permodalan petani yang masih terbatas sehingga penggunaan pupuk masih belum sesuai dengan dosis. sehingga petani masih menjual hasil produksinya secara personal. pedagang dapat mengambil hasil produksi langsung di hamparan petani/kebun sehingga ongkos transportasi menjadi beban dari pedagang.

Hal ini dapat dilihat dari masih belum berfungsinya terminal Randangan yang dibangun oleh dinas Kimpraswil sebagai salah satu sarana penunjang agropolitan. Selanjutnya masalah keempat adalah masih belum berkembangnya industri pengolahan hasil di kawasan agropolitan. sehingga belum dapat menyerap tenaga kerja diluar sektor pertanian. Sebenarnya di kawasan agropolitan sudah mulai diupayakan pengembangan industri rumah tangga oleh BPPT dengan pembuatan dodol jagung.101 aspek produksi belum menyentuh aspek pengolahan hasil dan pemasaran. Selanjutnya masalah yang tidak kalah pentingnya dikawasan agropolitan adalah masalah kurangnya koordinasi antara berbagai instansi yang terkait dalam pelaksanaan pengembangan agropolitan dan masalah degradasi lingkungan. tuntutan kebutuhan hidup yang mendesak merupakan alasan kenapa petani langsung menjual hasil produksi secara perorangan ke pedagang pengumpul. keadaan ini lambat laun akan menyebabkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan karena lahan tidak pernah diistirahatkan. Industri pengolahan baik skala kecil (rumah tangga) maupun skala besar belum berkembang di kawasan agropolitan. Belum dimanfaatkannya terminal ini mencerminkan belum adanya koordinasi yang baik antar instansi dalam perencanaan dan pelaksanaaan proses pembangunan. target pemerintah yang besar disektor pertanian menyebabkan sektor ini digalakkan terus. kemiringan . Namun pemasaran dari dodol jagung masih sangat terbatas karena masalah kualitas dimana dodol jagung hanya bisa bertahan sampai 1 minggu sehingga belum bisa mencapai pasar yang luas dan hanya berproduksi jika ada pesanan. karena selain dapat mengatasi masalah tenaga kerja juga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat diluar sektor pertanian. Padahal jika kelembagaan petani berfungsi sampai pada pemasaran maka petani akan mempunyai bargaining position yang kuat dalam menentukan harga. Industri pengolahan skala sedang dan besar juga belum berkembang di kawasan agropolitan. Padahal keberadaan industri pengolahan ini akan sangat berpengaruh terhadap multiplier effect. Petani diintroduksi untuk meningkatkan hasil produksi. Faktor. Disamping itu harga komoditi jagung yang mulai merangkak naik menyebabkan petani bergairah menanam jagung tanpa memperhatikan kelayakan dari struktur tanah. Salah satu faktor penyebabnya adalah masalah teknologi pengolahan yang masih terbatas. Disamping itu.

Secara individu. Secara kelembagaan. berbagi manfaat dari program dan keterlibatan dalam evaluasi program. Partisipasi Masyarakat dalam Kawasan Agropolitan Partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan dilakukan sebagai perwujudan dari tanggapan masyarakat atas masalah yang ada dalam masyarakat serta dilaksanakan dengan cara-cara yang dapat diterima oleh masyarakat tersebut. memobilisir sumberdaya setempat dan mengembangkan kelompok organisasi masyarakat setempat. Dengan melibatkan masyarakat secara aktif dalam pembangunan berarti memberikan tanggungjawab kepada masyarakat untuk merumuskan masalahmasalah yang ada di masyarakat.3. 7. Peran serta atau partisipasi masyarakat dalam menunjang program agropolitan diwujudkan baik secara individu maupun kelompok. keterlibatan dalam pelaksanaan program dan keputusan dalam kontribusi sumberdaya atau bekerjasama dalam organisasi atau kegiatan khusus. Dampak positif dari proses partisipasi ini antara lain adalah bahwa masyarakat dapat mengerti permasalahan yang muncul serta memahami keputusan akhir yang diambil. Selanjutnya partisipasi masyarakat menurut Cofen dan Uphoff (1977) dalam Harahap (2001) adalah keterlibatan masyarakat dalam proses pembuatan keputusan tentang apa yang akan dilakukan dan bagaimana. maka partisipasi yang diharapkan dalam pembangunan adalah partisipasi yang interaktif dan mobilisasi swakarsa atau partisipasi dalam bentuk kemitraan. pendelegasian kekuasaan dan pengawasan oleh masyarakat. masyarakat dalam hal ini petani berpartisipasi dengan turut terlibat dalam setiap kegiatan yang terkait dengan program dan melaksanakan penerapkan teknologi tepat guna dan penggunaan bibit unggul dalam usahatani sehingga terjadi peningkatan produktivitas. Hal ini dapat berdampak terjadinya lahan-lahan kritis dan rawan longsor sehingga dalam jangka panjang dapat menurunkan kualitas lingkungan. Berdasarkan definisi diatas. melalui gabungan kelompok tani atau gapoktan adalah terjadinya pertukaran informasi antar sesama kelompok tani tentang usaha tani dan informasi harga. Namun fakta dilapang terlihat bahwa tujuan pembentukan kelembagaan dalam hal ini kelompok tani masih terbatas .102 lereng dan sebagainya.

Aspek Komunikasi • • • • • • • • Variabel Informasi Forum pengambilan keputusan Jumlah orang yang berpartisipasi Intervensi yang dilakukan aparat Konsep partisipasi Tingkat kepuasan Prosedur untuk berpartisipasi Tingkat partisipasi dalam kelompok Total Skor 80. Berdasarkan hasil analisis tingkat partisipasi di kawasan agropolitan diperoleh bahwa total skor untuk aspek komunikasi adalah 80. Kelembagaan ekonomi lokal yang ada dalam mayarakat seperti KUD belum banyak berperan karena masih sebatas sebagai penyedia sarana input produksi belum menangani masalah pasca panen dan pemasaran hasil.9 aspek pengetahuan masyarakat terhadap forum pengambilan keputusan dan kontrol terhadap kebijakan publik masing-masing adalah sebesar 74. 2 (dua) untuk aspek pengetahuan masyarakat terhadap proses pengambilan keputusan dan 3 (tiga) untuk aspek kontrol terhadap kebijakan publik. Kontrol terhadap kebijakan publik • Akses terhadap forum perencanaan • Kriritk atas mekanisme forum perencanaan • Keterlibatan masyarakat dalam implementasi proyek 78. .9 2. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Saptana.et all (2004) yang mengemukakan bahwa kelembagaan dibentuk lebih untuk tujuan distribusi bantuan dan memudahkan tugas kontrol dari pelaksana program dan kurang memperhatikan aspek pemberdayaan petani dan pelaku agribisnis lain. Selanjutnya dengan membandingkan total skor dengan partisipasi arnstein diperoleh bahwa skor penilaian untuk masing-masing aspek adalah 3 (tiga) untuk aspek komunikasi.6 Sumber : Data primer. Adapun total skor untuk keseluruhan aspek adalah 8 (delapan). Pengetahuan masyarakat terhadap forum pengambilan keputusan 74.6. Tabel 37 Hasil Analisis Derajat Partisipasi di Kawasan Agropolitan No 1.8 3.103 pada aspek produksi melalui penerapan teknologi produksi dan masih kurang memberikan perhatian pada aspek penangananan pasca panen dan pemasaran. hasil olahan (2007).8 dan 78.

ini dapat dilihat pada Tabel 38.104 Hasil analisis dengan menggunakan derajat partisipasi Arnstein.3% responden yang mengemukakan bahwa masyarakat masih melakukan apa yang diinstruksikan oleh pemerintah baik melalui penyuluh pertanian maupun melalui petugas tingkat kecamatan. Jadi meskipun terjadi komunikasi. Berdasarkan hasil analisis dan jawaban dari responden terlihat bahwa 66. Tabel 38 Derajat Partisipasi Menurut Arnstein di Kawasan Agropolitan Derajat Partisipasi Pengawasan Masyarakat Pendelegasian Kekuasaan Partnership/Kemitraan Peredaman Kemarahan Konsultasi Menyampaikan informasi Terapi Manipulasi Nilai Faktor A 4 4 4 4 3-4 2-3 2 1 B 4 3-4 3 2-3 2 1-2 1 1 C 4 3 2-3 2 2 1-2 1 1 12 10-11 9-10 8-9 7-8 7-8 4 3 Non Partisipasi Tingkat Otoritas Masyarakat Tingkat Tokenisme Indeks Kelompok Sumber : Data primer. Keadaan SDM yang masih sangat rendah baik pendidikan dan keahlian membuat hal ini dimungkinkan terjadi. Meskipun demikian intervensi dari pemerintah masih terlihat cukup dominan. Dimana kegiatan masyarakat harus disesuaikan dengan program-program yang dijalankan oleh pemerintah. menunjukkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat di Kecamatan Randangan sebagai kawasan agropolitan berada pada tingkat konsultasi. Karena pada hakekatnya agar program dapat tersosialisasi sampai pada masyarakat maka cara yang digunakan adalah disampaikan melalui kelompok tani atau melalui pertemuan desa dalam penyuluhan. namun masih bersifat satu arah. Hal ini direpresentasikan dengan 83. Yang diketahui . Dari segi komunikasi terlihat bahwa program-program dalam lingkup desa pada dasarnya sudah melalui diskusi baik kelompok tani maupun dalam forum desa. hasil olahan (2007) Dari segi pengetahuan masyarakat terhadap pengambilan keputusan masyarakat tidak mengerti dan tidak pernah terlibat didalamnya.6% responden mengetahui adanya program agropolitan yang dilaksanakan.

Hal ini sebagai akibat kurangnya pemahaman dari pokja mengenai peran LSM sebagai media kontrol yang cukup efektif terhadap pelaksanaan dan monitoring serta evaluasi dalam pengembangan kawasan agropolitan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Satuan Kerja Pengembangan Prasarana dan Sarana Desa Agropolitan (2005) yang mengemukakan bahwa masyarakat dilibatkan hanya secara prosedural. Peranan kelompok swadaya masyarakat ini penting dalam kaitannya dengan keberlanjutan dari program ini. Hal ini tentu saja tidak sejalan dengan esensi dari perencanaan partisipatif yang terkandung dalam desentralisasi (otonomi daerah) dimana masyarakat seharusnya lebih diberdayakan melalui keterlibatannya dalam pembangunan. Pelibatan dalam artian bahwa program/ kegiatan sudah sesuai dengan apa yang diperlukan oleh masyarakat masih belum berjalan dengan baik. Pelibatan LSM dalam peranan memediasi dan mengadvokasi semua kebutuhan dan responsibitilas masyarakat dalam kawasan agropolitan juga sangat rendah.105 masyarakat adalah bahwa kebijakan yang sudah ada harus mendapat dukungan masyarakat dengan keterlibatan mereka dalam setiap program yang ditawarkan. Keadaan ini disebabkan karena program agropolitan memang merupakan program pemerintah pusat. Seperti LSM “Pedas” Pohuwato. Perubahan konsep atau paradigma perencanaan yang lebih partisipatif tidak serta merta membuat organisasi yang ada (baik organisasi pemerintah maupun organisasi non pemerintah) menjalankan . Kurangnya sosialisasi program pada waktu proses perencanaan menyebabkan kondisi ini terjadi. Selanjutnya dari segi kontrol masyarakat terhadap kebijakan publik melalui wadah kelompok tani. masyarakat bisa melakukan kritik terhadap program yang tidak sesuai dengan kondisi dan keadaan eksisting dalam masyarakat meskipun itu hanya sebagai bahan informasi karena sering tidak mendapat respon yang positif. Menurut Ahmad (2004). partisipasi berada pada tingkat konsultatif dapat disebabkan karena kekakuan kelembagaan (institutional regidities) didalam forum perencanaan. hanya dilibatkan dalam sosialisasi saja selanjutnya tidak lagi. dimana pengalaman-pengalaman masa lalu menyebabkan organsisasi yang ada mengalami kekakuan atau kelembaman (inertia) dalam merespon perubahan yang ada. seperti pelibatan masyarakat karena status sebagai kepala dusun atau sebagai tokoh masyarakat.

Tinggi rendahnya partisipasi masyarakat tidak hanya diukur dari kemauan masyarakat untuk menanggung biaya pembagunan tetapi juga dengan ada tidaknya hak rakyat untuk menentukan arah dan tujuan program pembangunan serta kemauan masyarakat untuk secara mandiri melestarikan dan mengembangkan hasil program pembangunan. Sebagai bentuk kegiatan. melaksanakan. Kekakuan kelembagaan menyebabkan organisasi yang ada menjalankan kebiasaan yang ada dalam arti tidak mengalami perubahan. partisipasi masyarakat dalam program pembangunan mencakup partisipasi dalam perencanaan kegiatan. Dengan kata lain. Seperti yang terjadi di Kabupaten Pohuwato. Dalam era otonomi daerah program ini selanjutnya di delegasikan kepada pemerintah daerah untuk dilaksanakan untuk memacu perkembangan daerah perdesaan. Namun sangat disayangkan dalam pelaksanaannya di daerah sifat ini masih terus melekat. Partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan merupakan merupakan keikutsertaan dan kerjasama yang erat antara perencana dan masyarakat di dalam merencanakan. melestarikan dan mengembangkan hasil pembangunan yang telah tercapai.106 konsep partisipasi tersebut secara benar. yang mengemukakan bahwa paradigma partisipasi yang ada ternyata belum didukung oleh praksis yang memadai bahkan cenderung bertentangan dengan dirinya sendiri. pembuatan keputusan pelaksanaan . hasilnya adalah sebuah bentuk konsultasi yang tidak genuine dan belum partisipatif. atau terkesan setengah hati dan malahan menciptakan sebuah program kegiatan yang bertentangan dengan prinsip paradigmanya sendiri. Perencanaan partisipatif yang menjadi inti dari desentralisasi terkesan hanya sekedar untuk mencukupi syarat keharusan saja. upaya pemerintah daerah untuk membuka diri ternyata tidak diikuti oleh sebuah pemberlakuan mekanisme yang baik. dimana keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan masih sangat kurang diakomodasi. Program agropolitan merupakan program yang bersifat top down karena program ini merupakan program dari pusat yang ditujukan untuk mengatasi masalah disparitas pembanguan perdesaan dan perkotaan. Hal ini mengindikasikan bahwa proses musrembang belum benar benar efektif berjalan masih sebatas sebagai ritual belaka. Hal ini sejalan dengan penelitian Riyanto (2003). intervensi pemerintah masih sangat besar sehingga keterlibatan masyarakat hanya terbatas dalam pelaksanaan kegiatan.

107 kegiatan. . pelaksanaan dan evaluasi. Karenanya seharusnya pemerintah sebagai perencana dan pembuat kebijakan dalam pembangunan melibatkan masyarakat dalam setiap kebijakan yang ada melalui keterlibatan mereka dalam proses perencanaan. kegiatan serta pemanfaatan bahwa hasil pembangunan. pemantauan dan evaluasi diatas. Berdasarkan uraian dapat disimpulkan partisipasi masyarakat sangat berperan dalam keberhasilan dan keberlanjutan proyek pembangunan.

VIII. STRATEGI PENGEMBANGAN EKONOMI DI KAWASAN AGROPOLITAN
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya berdasarkan data-data kuantitatif yang ada diketahui bahwa sejak program agropolitan basis jagung yang dilaksanakan di Kabupaten Pohuwato telah memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap peningkatan pendapatan petani dan perekonomian wilayah. Hal ini terlihat di tingkat mikro terjadi peningkatan pendapatan petani jagung karena hadirnya berbagai fasilitas penunjang dalam kegiatan agribisnis dan di tingkat makro terjadi pergeseran struktur perekonomian dari sektor sektor primer ke sektor sekunder dan tersier. Namun permasalahan yang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah adalah belum maksimalnya keterlibatan masyarakat dalam setiap kegiatan pembangunan dan masih rendahnya daya saing wilayah yang ditunjukkan oleh masih rendahnya kinerja dari masing-masing sektor unggulan yang ada di Kabupaten Pohuwato dibandingkan dengan total wilayah yaitu Provinsi Gorontalo. Rendahnya daya saing wilayah dapat menyebabkan lambatnya perkembangan ekonomi lokal wilayah Kabupaten Pohuwato. Oleh karenanya untuk memperbaiki keadaan atau kondisi tersebut perlu diketahui faktor-faktor yang menjadi penyebabnya sehingga dapat dirumuskan strategi pengembangannya. 8.1. Analisis Kondisi dan Status Pengembangan Ekonomi Lokal di Kabupaten Pohuwato Untuk mengetahui apakah pengembangan agropolitan di Kabupaten Pohuwato dapat mendorong pengembangan ekonomi lokal, maka harus diketahui kondisi dan status pengembangan ekonomi lokal di Kabupaten Pohuwato. Dan untuk mengetahui status dan kondisi pengembangan ekonomi lokal di Kabupaten Pohuwato, dilakukan analisis terhadap enam komponen atau unsur yang disebut sebagai Heksagonal PEL yaitu : kelompok sasaran PEL, faktor lokasi, kesinergian dan fokus kebijakan, pembangunan berkelanjutan, tata pemerintahan dan proses manajemen. Keseluruhan komponen PEL dalam Heksagonal tersebut bertujuan untuk mengembangkan faktor-faktor ekonomi wilayah secara dari berkelanjutan. Dengan aspek dalam mengetahui pengungkit masing-masing

pengembangan ekonomi lokal maka dapat

diidentifikasi strategi untuk

109

mengembangkan ekonomi pada suatu kawasan pengembangan. Hal ini karena strategi pengembangan ekonomi disusun berdasarkan faktor pengungkit tersebut. Berdasarkan hasil analisis RALED secara keseluruhan status Pengembangan Ekonomi Lokal Kabupaten Pohuwato berada dalam kondisi baik. Hal ini berdasarkan hasil analisis bobot gabungan dimensi PEL yaitu sebesar 57,19 (lihat Tabel 39). Namun hasil dari masing-masing dimensi atau aspek PEL Kabupaten Pohuwato secara parsial berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Dimensi atau Aspek kelompok sasaran memiliki nilai indeks tertinggi yaitu sebesar 67,16 diikuti oleh aspek faktor lokasi dengan nilai indeks 59,50. Aspek kesinergian dan fokus kebijakan, pembangunan berkelanjutan, tata pemerintahan dan proses manajemen memiliki nilai indeks yang lebih rendah dibandingkan kedua aspek lainnya meskipun tidak dapat dikatakan sebagai indeks yang buruk karena sudah berada pada kisaran 50 tetapi memerlukan penanganan yang lebih teliti lagi, karena sangat rentan terhadap goncangan. Tabel 39 Status Pengembangan Ekonomi Lokal Kabupaten Pohuwato No Dimensi/Aspek PEL 1 2 3 4 5 6 Kelompok Sasaran Faktor Lokasi Kesinergian dan Fokus Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan Tata Pemerintahan Proses Manajemen JUMLAH
Sumber : Hasil olahan data primer, 2007

Nilai Indeks 67,16 59,50 53,49 51,91 51,09 50,99

Bobot Gabungan

Jumlah

0,252949095 16,98806124 0,190570254 11,33893014 0,158997939 8,50479974 0,072503375 3,763650181 0,202353005 10,33821502 0,122626332 6,252716677 57,18637299

Selanjutnya

berdasarkan

hasil dari

masing-masing

aspek

dalam

Pengembangan Ekonomi Lokal dengan menggunakan analisis RALED maka dibuat perbandingan masing-masing nilai aspek dalam bentuk Diagram Radar atau diagram laba-laba seperti berikut :

110

Status Pengem bangan Ekonom i Lokal Kabupaten Pohuw ato Kelompok Sasaran
100 80 60 40

67.16 Faktor Lokasi 59.5

Proses Manajemen 50.99

20 0

53.49 51.09 Tata Pemerintahan 51.91 Kesinergian dan Fokus Kebijakan

Pembangunan Berkelanjutan

Gambar 9

Diagram Laba-laba Status Pengembangan Ekonomi Lokal di Kabupaten Pohuwato

Untuk lebih spesifik melihat faktor pengungkit dari masing masing aspek atau dimensi pengembangan ekonomi lokal di Kabupaten Pohuwato, maka perlu dilihat faktor pengungkit dari masing-masing aspek tersebut.

8.1.1. Status dan Faktor Pengungkit Aspek Kelompok Sasaran Hasil analisa dengan menggunakan perangkat lunak RALED menunjukkan bahwa indeks dari aspek kelompok sasaran mencapai angka 67,16 atau berada diatas angka 50. Hal ini menunjukkan atau mengindikasikan bahwa kondisi aspek kelompok sasaran dalam pengembangan ekonomi lokal di Kabupaten Pohuwato menunjukkan status atau kondisi baik. Secara skematis status aspek kelompok sasaran ataupun ordinasi aspek kelompok sasaran disajkan pada Gambar 10. Dari indeks atau status tersebut, selanjutnya dapat ditentukan faktor pengungkit (leverage factor) dari aspek kelompok sasaran. Kegunaan faktor pengungkit adalah untuk mengetahui faktor sensitif ataupun intervensi yang dapat dilakukan dengan cara mencari faktor yang sensitif untuk dapat meningkatkan status kelompok sasaran menuju status yang lebih baik.

Manajemen dan Kelembagaan Lokal Attribute Promosi Produk UKM dari Pemda Upaya Fasilitasi Permodalan dari Pemda Pusat Layanan Investasi Kampanye Peluang Berusaha Keamanan Kepastian Berusaha dan Hukum Informasi Prospek Bisnis Peraturan tentang Kemudahan Investasi 0 0.111 RALED Ordination 60 UP 40 O e D tin is in F a re th r is g h g e tu s 20 Real Fisheries 0 0 BAD 20 40 60 80 GOOD 100 120 References Anchors -20 -40 DOWN -60 Fisheries Sustainability Gambar 10 Status Aspek Kelompok Sasaran di Kabupaten Pohuwato Hasil analisis faktor atribut/atribut pengungkit (leverage factor) untuk aspek kelompok sasaran di Kabupaten Pohuwato ditunjukkan pada gambar 11.5 3 3.5 2 2. dan keringanan biaya Pendampingan dan monitoring bisnis pelaku usaha baru Fasilitasi Pelatihan Kewirausahaan bagi Pelaku Usaha Baru Upaya Pemda untuk Peningkatan Teknologi. Leverage of Attributes Kecepatan pengurusan ijin bagi investasi baru Insentif pemda dalam bentuk pemberian dana stimulan.5 Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) Gambar 11 Faktor Pengungkit Aspek Kelompok Sasaran di Kabupaten Pohuwato .5 1 1.

457. Produk-produk hasil olahan pertanian seperti dodol jagung yang sedang dikembangkan oleh BPPT. keripik dan emping yang diproduksi oleh rumah tangga belum mendapat perhatian serius dari Pemerintah Daerah. Disamping itu salah satu faktor penghambat masuknya investasi juga disebabkan karena investasi merupakan kewenangan dari provinsi sehingga kabupaten/kota sangat tergantung pada provinsi. 2) Promosi Produk UKM dari Pemda Faktor pengungkit kedua. Munculnya faktor pengungkit utama pusat pelayanan investasi diduga disebabkan karena belum tersedianya informasi tentang peta kondisi potensi investasi terlebih khusus investasi agibisnis dan agroindustri jagung yang mendukung di Kabupaten Pohuwato serta belum berkembangnya jasa konsultasi investasi di wilayah tersebut. dukungan APBD untuk mengembangkan perekonomian Kabupaten Pohuwato sebagian besar masih ditujukan untuk pengembangan infrastruktur penunjang sedangkan untuk pengembangan pertanian sendiri masih relatif kurang yaitu hanya sebesar 2.112 Gambar 11 menunjukan bahwa indikator yang menjadi faktor pengungkit utama untuk aspek kelompok sasaran di Kabupaten Pohuwato sesuai dengan urutan prioritasnya adalah sebagai berikut : 1) Pusat layanan investasi Pusat pelayanan investasi mempunyai peran penting dalam pengembangan ekonomi lokal karena dapat memberikan informasi bagi calon investor luar mengenai potensi investasi agribisnis dan agroindustri jagung di kawasan pengembangan.dan dari total investasi tersebut 73% Selanjutnya bersumber dari pemerintah dan hanya 27% dari pihak swasta.596.682.077. disebabkan karena masih minimnya promosi produk UKM agribisnis dan agroindustri oleh Pemerintah Daerah.76% pada tahun 2004 dan meningkat menjadi 5. Pusat pelayanan investasi dapat memberikan jasa layanan konsultasi investasi bagi investor dari luar wilayah yang belum mengetahui tantang peta potensi investasi di kawasan pengembangan. Belum maksimalnya kinerja dinas perindustrian. koperasi dan penamanan modal tercermin dari masih kurangnya investasi dari pihak swasta di Kabupaten Pohuwato. Semestinya sebagai daerah .98% pada tahun 2005. Sampai pada tahun 2005 investasi di Kabupaten Pohuwato hanya sebesar Rp.

Satu hal yang luput dicontoh dari Pemda Kabupaten Pohuwato yaitu pembelajaran dari apa yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi. Kampanye peluang berusaha yang kontinyu dilakukan baik melalui media massa maupun melalui pameran. bubur jagung. Kedepannya agar PEL dapat berkembang baik maka pemerintah daerah perlu melakukan promosi UKM seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi terhadap promosi agropolitan. Salah satu penyebab dari minimnya atau kurangnya promosi UKM dari Pemda kemungkinan disebabkan karena saat ini konsentrasi pemerintah daerah masih terfokus pada pembangunan sarana-sarana fisik pelayanan publik berupa pembangunan pembangunan kantor-kantor pemerintah yang di pusatkan dalam satu kawasan pembangunan blok plan. Dalam arti pasar produk ini masih sebatas sebagai produk ekspor yang belum diolah. 8. Rendahnya intensitas sosialisasi peluang berusaha komoditas jagung menjadikan komoditi ini belum berkembang dalam diversifikasi produk. Status dan Faktor Pengungkit Aspek Faktor Lokasi Faktor lokasi merupakan salah satu syarat keharusan dalam ekonomi wilayah. aspek promosi ini sangat diperlukan oleh dunia usaha untuk memperluas pasar sehingga UKM daerah dapat lebih berkembang.1.2. pakan ternak dan sebagainya. 3) Kampanye Peluang Berusaha. Padahal jagung merupakan salah satu produk strategis karena selain dapat diekspor jagung merupakan bahan mentah bagi produk-produk lainnya seperti tepung jagung. seminar dan pada berbagai kesempatan akan membuat investor tertarik dan melakukan investasi memperbaiki status PEL kearah yang lebih baik.113 pengembangan yang baru berkembang. Faktor ini menggambarkan bagaimana daya tarik dari sebuah lokasi bagi penyelenggaraan suatu kegiatan usaha. Selanjutnya faktor pengungkit ke tiga yaitu kampanye peluang berusaha dibidang agribisnis dan agroindustri jagung. Kondisi aspek faktor lokasi dalam sehingga dapat . dimana promosi dan kampanye peluang berusaha yang gencar menyebabkan mata seluruh Indonesia bahkan dunia melirik ke pPovinsi Gorontalo. Prioritas pemerintah yang terfokus pada pembangunan fisik pelayanan publik menyebabkan aspek kampanye peluang berusaha belum maksimal dilakukan oleh perintah daerah.

Gambar 13 menunjukkan hasil analisis faktor/atribut pengungkit untuk aspek faktor lokasi di Kabupaten Pohuwato.50 atau berada diatas angka 50. status aspek faktor lokasi di sajikan pada RALED Ordination 60 UP 40 Other Distingishing Features 20 Real Fisheries 0 0 -20 BAD 20 40 60 80 100 GOOD 120 References Anchors -40 DOWN -60 Fisheries Sustainability Gambar 12 Status Aspek Faktor Lokasi di Kabupaten Pohuwato Selanjutnya dari indeks atau status tersebut dapat ditentukan faktor pengungkit (leverage factor) dari aspek faktor lokasi.114 pengembangan ekonomi lokal di Kabupaten Pohuwato menunjukkan status atau kondisi baik. Secara skematis Gambar 12. . Hal ini didasarkan pada hasil analisis untuk indeks atau status faktor lokasi dengan menggunakan analisis RALED yang mencapai 59. Dengan mengetahui faktor pengungkit maka akan dapat diketahui faktor sensitif ataupun intervensi yang dapat dilakukan oleh pembuat kebijakan untuk dapat memperbaiki atau meningkatkan status faktor lokasi menuju status yang lebih baik.

115 Leverage of Attributes Fasilitas umum dan fasilitas sosial Kualitas Pelayanan Kesehatan Kualitas dari fasilitas pendidikan Kualitas Lingkungan Kualitas Pemukiman Pelayanan perijinan satu atap Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pemerintah dan Swasta bukan Perguruan Tinggi Lembaga penelitian perguruan tinggi Peluang kerjasama dalam industri sejenis maupun industri hulu-hilir Industri yang memiliki mata rantai lengkap dari hulu ke hilir untuk suatu komoditas Citra dari dari kota/kabupaten Citra dari lokasi (sentra usaha) Peran dan kebijakan pemerintah pusat kepada daerah Peran dan kebijakan pemerintah propinsi kepada daerah Iklim perekonomian lokal Jumlah penyaluran kredit Jumlah Lembaga keuangan lokal Tenaga Kerja Terdidik Tenaga Kerja Terampil Upah TK dibanding Daerah Sekitar Infrastruktur Energi Infrastruktur Komunikasi Sarana Transportasi Akses ke Pelabuhan Udara Akses ke Pelabuhan Laut Kondisi Jaringan Jalan Attribute 0 10 20 30 40 50 60 70 Root M ean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) Gambar 13 Faktor Pengungkit Aspek Faktor Lokasi di Kabupaten Pohuwato Berdasarkan hasil analisis RALED diketahui bahwa yang menjadi faktor pengungkit aspek faktor lokasi di Kabupaten Pohuwato sesuai dengan urutan prioritasnya adalah sebagai berikut : 1) Pelayanan Perijinan satu atap Belum berjalannya pelayanan perijinan satu atap di Kabupaten Pohuwato menyebabkan faktor ini menjadi faktor pengungkit utama. Rantai birokrasi yang .

13% berada dalan keadaan rusak ringan dan 2.42% rusak berat. terutama terkait dengan investasi agribisnis jagung yaitu dengan memperpendek jalur birokrasi melalui pelayanan perijinan satu atap sehingga dapat menjadi pembuka jalan untuk masuknya investasi swasta di Kabupaten Pohuwato. ketersediaan fasilitas yang memadai dapat meningkatkan kualitas SDM dalam suatu wilayah.55% berada dalam kondisi rusak ringat dan 8.77% rusak berat. fasilitas belajar yang masih belum mencukupi secara memadai.46% untuk SMP/MTS 55. kesejahteraan pendidik yang masih rendah. Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan Kabupaten Pohuwato. Disamping itu keadaan prasarana pendidikan di Kabupaten Pohuwato sampai dengan tahun 2005 dapat dilihat pada Tabel 40. Untuk tingkat pendidikan lanjutan (setara SLTP) terdiri dari 27 unit gedung . dimana 88.116 terlalu panjang dan berbelit-belit dalam pengurusan perijinan dalam berinvetasi kemungkinan menyebabkan pengembangan ekonomi lokal belum dapat berkembang maksimal. Lamanya pengurusan perijinan menyebabkan salah satu faktor penentu masuknya investasi di suatu kawasan. Rendahnya kualitas pendidikan terutama disebabkan karena : • • • • Ketersediaan pendidik yang belum memadai baik secara kualitas maupun kuantitas.09% layak dipakai dan 9. jumlah kelas yang layak dipakai hanya 71. Kualitas pendidikan di Kabupaten Pohuwato yang masih rendah dan belum mampu memenuhi kebutuhan kompetensi peserta didik menjadi salah satu faktor munculnya kualitas dari fasilitas pendidikan sebagai faktor pengungkit. Keadaan prasarana pendidikan dasar terdiri dari 103 unit gedung dengan jumlah kelas sebanyak 613. Pada tabel terlihat bahwa tingkat pendidikan anak usia dini terdiri dari 43 unit gedung dengan 73 kelas. biaya operasional pendidikan yang belum tersedia secara memadai. Oleh karenanya kedepan diperlukan kemudahan dalam pengurusan perijinan. 2) Kualitas dari Fasilitas Pendidikan Kualitas dari Fasilitas pendidikan sangat berpengaruh terhadap pengembangan ekonomi lokal. tingkat kelayakan guru yang tidak layak mengajar untuk SD/MD 90.70% dan untuk SMA/SMK/MA sebesar 16.23% sedangkan 20.67% .

00 22.47 88.63 88.117 dengan 146 ruang kelas.77 0. 5 2 4 11 47 18 15 80 35 16 12 63 74.11 9.47% rusak berat.25% berada dalam kondisi rusak ringan. 5.09 11.47 2. 6. 4.42 2.09 90.93 15 15 50 6 56 10 4 14 20.58 9.23 52. 7.55 20. 3 ) Fasilitas Umum dan Sosial Sebagai kabupaten yang baru yang masih berbenah diri masih banyak fasilitas umum dan sosial yang belum tersedia secara memadai sehingga hal ini kemungkinan menjadi penyebab munculnya faktor fasilitas umum dan sosial sebagai faktor pengungkit.79 2.93% berada dalam keadaan layak pakai 9. dari jumlah tersebut 84.89 80.23 71.58% rusak ringan dan 5. 8. Tabel 40 Keadaan Prasarana Pendidikan Kabupaten Pohuwato Tahun 2005 No Jenis Pendidikan Jumlah Gedung Jumlah Ruang Kelas Kondisi Ruang Belajar Layak Pakai % Rusak Ringan % Rusak Berat % 1.22 5. TK Jlh PAUD SD MI Jlh Dikdas SMP MTs Jlh Dikdas 2 SMA SMK MA Jumlah Dikmen 43 43 99 4 103 17 10 27 73 73 594 19 613 110 36 146 52 52 530 10 540 100 24 124 71.58 6 6 14 3 17 0 8 8 8.55 8. Ketersediaan fasilitas jembatan untuk menunjang kelancaran transportasi dalam menunjang proses pemasaran komoditas unggulan jagung masih belum mencukupi di Kabupaten Pohuwato.91 66. 3.85% berada dalam kondisi layak pakai dan 21.13 9. Berdasarkan Uraian data tersebut nampak bahwa kebijakan pendidikan kedepan harus memprioritaskan peningkatan kualitas gedung pendidikan dan kualitas pengajar guna menunjang proses belajar mengajar.75 12 2 3 17 25.36 15. Sedangkan untuk pendidikan menengah (setara SMA) jumlah gedung 11 unit dengan 80 ruang kelas dimana 78.00 78.42 31.25 0 0 0 0 0 0 0 0 Sumber : Diknas Pohuwato. Data dari dinas .23 89.53 11.42 8.11 20. 2005.67 84.00 21.

Hal ini disebabkan karena meskipun sudah berada diantara range 50-75 yang dikategorikan baik.49.Status dan Faktor Pengungkit Aspek Kesinergian dan Fokus Kebijakan Berdasarkan hasil analisis RALED untuk aspek kesinergian dan fokus kebijakan PEL di Kabupaten Pohuwato diperoleh indeks mencapai 53. Secara skematis hasil analisis Raled untuk aspek Kesinergian dan Fokus Kebijakan dapat dilihat pada Gambar 14 berikut : . Ini menunjukan bahwa status aspek kesinergian dan kokus kebijakan di Kabupaten Pohuwato berada dalam kondisi marginal atau pas-pasan. Tabel 41 Kebutuhan dan Ketersediaan Jembatan Per Kecamatan Kabupaten Pohuwato No 1 2 3 4 5 6 7 Kecamatan Marisa Paguat Patilanggio Randangan Taluditi Lemito Popayato Total Sumber : Dinas kimpraswil Kabupaten Pohuwato Kebutuhan (5 Thn) 15 bh 14 bh 9 bh 11 bh 15 bh 14 bh 17 bh 95 bh Ketersediaan 8 bh 8 bh 8 bh 6 bh 9 bh 8 bh 4 bh 52 bh Untuk menunjang kelancaran pemasaran produk ungggulan jagung diperlukan ketersediaan jembatan. jalan usaha tani. tapi indeks ini hanya sedikit berada dibatas bawah range sehingga sangat rentan dan memerlukan perhatian yang lebih. serta jalan provinsi yang tersedia dalam kualitas baik sehingga usaha agribisnis jagung dapat terlaksana dengan baik dan semakin menarik investor untuk berinvestasi di Kabupaten Pohuwato 8.3.1.118 kimpraswil menyebutkan bahwa baru sekitar 50% ketersediaan jembatan yang ada dari kebutuhan yang seharusnya selama 5 tahun yang akan datang.

Hasil analisis faktor/atribut pengungkit (leverage attributes) untuk aspek kesinergian dan fokus kebijakan di Kabupaten Pohuwato ditunjukkan dalam Gambar 16.119 RALED Ordination 60 UP 40 Other Distingishing Features 20 Real Fisheries 0 0 BAD 20 40 60 80 100 GOOD 120 References Anchors -20 -40 DOWN -60 Fisheries Sustainability Gambar 14 Status Aspek Kesinergian dan Fokus Kebijakan di Kabupaten Pohuwato Dari indeks atau status tersebut. Dengan adanya agropolitan yang berbasis jagung diharapkan aktivitas masyarakat . sesuai dengan urutan prioritasnya yang menjadi faktor pengungkit utama untuk aspek kesinergian dan fokus kebijakan PEL di Kabupaten Pohuwato adalah : 1) Kebijakan Pengembangan pusat pertumbuhan di perdesaan (agropolitan) dan perkotaan CBD Pengembangan pusat pertumbuhan di perdesaan (agropolitan) diharapkan dapat mengembangkan ekonomi lokal suatu kawasan. Berdasarkan hasil analisis. selanjutnya dengan analisis RALED dapat diketahui atau ditentukan faktor faktor apa sajakah yang merupakan faktor pengungkit atau faktor yang sensitif yang dapat diintervensi sehingga dapat memperbaiki atau meningkatkan status aspek kesinergian dan fokus kebijakan mejadi lebih baik lagi. Hal ini disebakan karena kota pertanian dikawasan agropolitan dapat menjadi pusat pertumbuhan baru yang dapat menarik dan menghela desa-desa disekitarnya sebagai daerah hinterland.

Akan tetapi belum berkembangnya industri pengolahan yang berbasis jagung menyebabkan UKM dan IKM di kawasan agropolitan belum berkembang sehingga kemungkinan membuat faktor ini menjadi faktor pengungkit pertama. Kerjasama antar daerah baik di bidang pertanian. perdagangan. Gambar 15 Jumlah Perusahaan Industri Kecil. perhubungan dan bidang lainnya sangat diperlukan agar alokasi sumberdaya dapat lebih efisien dan efektif. Jika dibandingkan dengan kabupaten lain di Provinsi Gorontalo. Bone Bolango dan Kota Gorontalo. Masih terbatasnya jumlah perusahaan yang berinvestasi menyebabkan serapan TK di sektor non pertanian pun menjadi rendah. jumlah perusahaan IKM masih dibawah Kabupaten Gorontalo. aktivitas di bidang pertanian masih sangat dominan dalam kehidupan masyarakatnya. Pada hakekatnya kerjasama antar wilayah sudah menjadi kebijakan di Kabupaten Pohuwato akan tetapi dalam . Investasi UKM dan IKM di kabupaten masih sangat terbatas padahal masih banyak potensi daerah yang dapat dimanfaatkan dan digali. Menengah dan Tenaga Kerja Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Gorontalo Tahun 2005 8000 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 Boalemo Gorontalo P ohuw ato Bone Bolango Kota Gorontalo Jumlah Perusahaan Tenaga kerja Sumber : Gorontalo dalam angka. sehingga tidak dapat mendorong pertumbuhan wilayah . 2007 2) Kebijakan kerjasama antar daerah /pemda Selanjutnya untuk lebih menigkatkan ekonomi lokal suatu wilayah diperlukan kerjasama antar wilayah sehingga dapat memobilisasi potensi daerah untuk dikembangkan. Berdasarkan survey lapangan di Kawasan Agropolitan Randangan.120 di bidang non pertanian juga dapat lebih berkembang seperti UKM dan Industri kecil sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi lokal di wilayah tersebut.

Dengan memberikan perhatian dan memperbaiki kedua faktor diatas maka diharapkan dapat membuat pengembangan ekonomi lokal Kabupaten Pohuwato ke arah yang lebih baik. Kerjasama tersebut dalam hal pemasaran dan penyediaan bibit. dalam arti Pemda Kabupaten Pohuwato dapat menjalin kerjasama dengan Kabupaten Boalemo dengan membagi share yang adil atas penggunaan pelabuhan maka dapat terjalin suatu hubungan dan kerjasama yang baik antar daerah sehingga dapat membentuk suatu keterkaitan yang saling menguntungkan. Model kerjasama yang seperti ini masih belum berjalan sehingga masing-masing wilayah ingin membangun outlet sendiri-sendiri yang memerlukan dana yang tidak sedikit sehingga anggaran pemerintah masih belum teralokasi untuk kepentingan publik yang lebih luas dan mendasar. Untuk pengembangan wilayah secara keseluruhan terlihat dengan adanya rencana pemerintah untuk membangun pelabuhan laut di Kabupaten Pohuwato dalam RPJM 2005-2010.121 prakteknya egoisme daerah masih terlihat dan menguasai dalam keseharian pemerintahan. Akan tetapi kerjasama seperti ini belum terjadi pada tataran kabupaten. dimana Provinsi Gorontalo menyediakan bibit komposit hasil penangkaran dan hasil produksi dari provinsi-provinsi tersebut di jual ke Provinsi Gorontalo. baik untuk memenuhi skala produksi maupun skala ekonomi. Sedangkan kerjasama dalam pengembangan agribisnis jagung masih dalam tataran provinsi dimana terjalinya kerjasama antar provinsi dalam hal ini Provinsi Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah. Padahal di Kabupaten tetangga Boalemo terdapat pelabuhan laut yang dapat digunakan untuk aktivitas perdagangan dan bongkar muat. Jika hal ini dapat dimanfaatkan dengan baik. .

6 0. Secara skematis status aspek pembanguna berkelanjutan di sajikan pada Gambar 17 berikut : .8 1 1.4 1.91 atau berada sedikit di atas angka 50.2 0.4 0.2 1.8 Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) Gambar 16 Faktor Pengungkit Aspek Kesinergian dan Fokus Kebijakan di Kabupaten Pohuwato 8.6 1. perbaikan kampung Kebijakan pengembangan pusat pertumbuhan di perdesaan (agropolitan) dan perkotaan Kebijakan pembangunan kawasan industri hinterland/ industri Kebijakan pengurangan kemiskinan secara partisipatif Kebijakan pemberdayaan masyarakat berbasis kemitraan dengan dunia usaha Kebijakan Pengembangan keahlian Kebijakan informasi bursa tenaga kerja Kebijakan pengembangan jaringan usaha antar pelaku ekonomi Kebijakan peningkatan peran Perusahaan Daerah Kebijakan pemberdayaan UKM Kebijakan persaingan usaha Kebijakan promosi daerah Kebijakan peningkatan investasi Attribute 0 0.122 Leverage of Attributes Kebijakan pengembangan jaringan usaha antar sentra usaha Kebijakan tata ruang PEL Kebijakan kerjasama antar daerah/pemda Kebijakan pengembangan komunitas sep:perbaikan lingkungan. Hal ini ini berdasarkan pada hasil analisis untuk indeks atau status aspek pembangunan berkelanjutan dengan menggunakan analisis RALED yang mencapai 51.1.4. Status dan Faktor Pengungkit Aspek Pembangunan Berkelanjutan Kondisi aspek pembangunan berkelanjutan dalam Pengembangan Ekonomi Lokal Kabupaten Pohuwato menunjukkan status atau kondisi marjinal.

123 RALED Ordination 60 UP 40 Other Distingishing Features 20 Real Fisheries 0 0 BAD 20 40 60 80 GOOD 100 120 References Anchors -20 -40 DOWN -60 Fisheries Sustainability Gambar 17 Status Aspek Pembangunan Berkelanjutan di Kabupaten Pohuwato Berdasarkan hasil analisis faktor pengungkit diperoleh beberapa faktor utama yang merupakan faktor sensitif dari aspek pembangunan berkelanjutan. . Faktor pengungkit ini dapat menjadi bahan masukan bagi pemerintah sebagai pembuat kebijakan untuk melakukan intervensi yang dianggap perlu dan penting dalam rangka peningkatan pengembangan ekonomi lokal di daerah tersebut. Gambar 18 menunjukkan faktor pengungkit untuk aspek pembangunan berkelanjutan.

785 industri kerajinan rumah tangga. dimana proses ini pun terjadi di tingkat petani. Di Kabupaten Pohuwato jumlah perusahaan yang berinvestasi pada pengolahan komoditas jagung masih belum ada. Potensi di sektor . Belum adanya perusahaan yang melakukan inovasi pengembangan produk dan pasar menyebabkan faktor ini menjadi faktor pengungkit utama dalam aspek ini. 31 industri logam mesin dan kimia serta 5 aneka industri. Pengolahan komoditas jagung masih sebatas pada proses perubahan dari jagung tongkol menjadi jagung pipilan.124 Leverage of Attributes Kebijakan konservasi sumber daya alam dalam PEL Pengelolaan dan pendaur ulangan limbah Kebijakan pemecahan permasalahan lingkungan PEL mempertimbangkan Keberadaan adat dan kelembagaan lokal Attribute Kontribusi PEL terhadap peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat lokal Jumlah perusahaan yang melakukan Inovasi pengembangan produk dan pasar Jumlah perusahaan yang telah memiliki Business plan Pengembangan industri pendukung untuk keberlanjutan sistem industri Sistem industri yang berkelanjutan 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) Gambar 18 Faktor Pengungkit Aspek Pembangunan Berkelanjutan di Kabupaten Pohuwato Berdasarkan analisis RALED. Kebanyakan perusahaaan yang berinvestasi masuk pada sektor perikanan karena daerah ini juga memiliki potensi yang besar di sektor ini. diperoleh beberapa faktor pengungkit utama untuk aspek pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Pohuwato sesuai dengan prioritasnya yaitu sebagai berikut : 1) Jumlah Perusahaan yang melakukan inovasi pengembangan produk dan pasar. Pada tahun 2006 Pohuwato terdapat 617 industri hasil pertanian dan kehutanan.

Sehingga menjadi tugas pemerintah daerah untuk mempromosikan dan menjual potensi yang ada agar dilirik oleh investor. . Potensi sumber daya alam Pohuwato cukup banyak namun secara ekonomi belum dapat memberikan dampak bagi kesejahteraan masyarakat karena pemanfaatannya belum optimal.217. 3. Hal ini berarti bahwa banyak masyarakat Kabupaten Pohuwato prasejahtera yang hanya memiliki pendapatan kurang lebih $ 1 per hari. 3. Kebanyakan hasil produksi pertanian masyarakat dalam hal ini komoditi jagung masih di pasarkan dalam bentuk biji jagung (jagung pipilan) sebagai bahan mentah produksi.901 meningkat menjadi Rp. menegah maupun besar untuk berinvestasi dalam sektor pertanian basis jagung. 2) Kontribusi PEL terhadap peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat lokal Pengembangan ekonomi lokal melalui pengembangan komoditas pertanian di Kabupaten Pohuwato secara mikro sudah mampu meningkatkan pendapatan masyarakat petani namun secara absolut masih belum menghasilkan pendapatan yang memadai untuk hidup layak.125 pertanian lainnya terlebih sub sektor tanaman pangan dan perkebunan masih belum mendapat perhatian dari investor.205 pada tahun 2006. Proses pengolahan jagung belum menyentuh pada proses perubahan bentuk Jika dilihat dari potensi yang ada sektor ini sangat potensial untuk dikembangkan sebagai suatu industri yang terintegrasi. meskipun dari tahun ke tahun mulai ada peningkatan. Hal ini di lihat dari tingkat pendapat masyarakat yang masih rendah. Tahun 2004 pendapatan per kapita masyarakat adalah sebesar Rp.570. Proses pengolahan jagung selanjutnya masih sebatas pada perbaikan kualitas/ mutu biji jagung yang dilakukan oleh pedagang pengumpul baik dengan cara alami melalui penjemuran dengan sinar matahari maupun melalui teknologi dengan menggunakan mesin pengering. Hal ini terbukti dengan belum berkembangnya baik industri skala kecil.

pengembangan agribisnis basis jagung di kabupaten pohuwato sedikit banyak sudah mampu meningkatkan pendapatan masyarakat meskipun belum maksimal. Terkait dengan tingkat pendapatan masyarakat Pohuwato. Po hu K w ab at .4. IPM Kabupaten Pohuwato masih berada di bawah IPM Provinsi Gorontalo yaitu hanya sebesar 67.B oa l . Gambar 20 Indeks Pembangunan Manusia Tingkat Kabupaten di Provinsi Gorontalo IPM 72 71 70 69 68 67 66 65 64 63 em o Ka b. Bappenas 2008 K ot a K ab . Berdasarkan hasil dari kajian Bappenas (2008).4 meskipun berada diatas kabupaten Boalemo dengan nilai indeks 66.126 Pendapatan per kapita 3600000 3400000 3200000 3000000 2004 2005 2006 Pendapatan per kapita Gambar 19 Perkembangan pendapatan per kapita penduduk Kabupaten Pohuwato Salah satu indikator kesejahteraan adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM).B o on e Bo la ng o Pr ov .G or nt al o IPM Sumber : Human Development Index Provinsi Gorontalo.G or on ta lo G or on ta lo K ab .

Sedangkan untuk industri jagung sendiri belum ada perusahaan yang berkecimpung didalamnya. Kondisi aspek Tata Perintahan dalam Pengembangan Ekonomi Lokal di Kabupaten Pohuwato menunjukkan status atau kondisi marjinal (pas-pasan). dimana perlu dirangsang kreativitas masyarakat untuk menghasilkan produkproduk olahan berdasarkan basis pertanian masyarakat setempat. Status dan Faktor Pengungkit Aspek Tata Pemerintahan. Investasi-investasi swasta perlu dirangsang melalui kemudahan dalam berinvestasi serta berbagai instrumen lain seperti kebijakan fiskal dan sebagainya. Hal ini perlu mendapat perhatian dari pemerintah.1. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.127 3) Jumlah perusahaan yang memiliki Bussiness Plan Pada dasarnya perusahaan yang memiliki bussiness plan adalah perusahaan-perusahaan kelas menengah dan besar yang berinvestasi pada sektor pertanian secara umum dalam hal ini sektor perikanan. Secara skematis status aspek Tata Pemerintahan di sajikan pada Gambar 21 berikut ini : .09. Hal ini perlu dilakukan untuk menunjang sektor pertanian. industri pengolahan jagung yang berkembang di pohuwato masih sebatas pada perubahan jagung tongkol menjadi jagung pipilan dan perbaikan kualitas biji jagung. 8. Karena belum berkembangnya industri pengolahan basis jagung di Pohuwato menyebabkan perusahaan yang memiliki bussiness plan pun belum ada. karena pertanian yang tangguh perlu didukung oleh industri pengolahan berbasis pertanian. Hal ini didasarkan pada hasil analisis untuk indeks atau status Tata Pemerintahan dengan menggunakan analisis RALED ysng mencapai 51.5.

Gambar 22 berikut menunjukkan hasil analisis faktor/atribut pengungkit untuk aspek Tata Pemerintahan di Kabupaten Pohuwato. Dengan mengetahui faktor pengungkit maka akan dapat diketahui faktor sensitif ataupun intervensi yang dapat dilakukan oleh pembuat kebijakan untuk dapat memperbaiki atau mningkatkan status aspek Tata Pemerintahan menuju status yang lebih baik.128 RALED Ordination 60 UP Other Distingishing Features 40 20 Real Fisheries 0 0 -20 BAD 20 40 60 80 GOOD 100 120 References Anchors -40 DOWN -60 Fisheries Sustainability Gambar 21 Status Aspek Tata Pemerintahan di Kabupaten Pohuwato Selanjutnya dari indeks atau status tersebut sapat ditentukan faktor pengungkit (leverage factor) dari aspek Tata Pemerintahan. Hal ini disebabkan karena fungsi dan tujuan dari kelembagaan ini masih sebatas pada informasi untuk pengelolaan usaha tani belum menyentuh aspek pengolahan hasil dan pemasaran. Keberadaan kelembagaan kelompok tani yang ada di kawasan agropolitan secara kuantitas memang mengalami kemajuan karena semakin meningkat tapi secara kualitas keberadaannya masih belum banyak memberikan manfaat untuk memberdayakan masyarakat tani. Petani belum mampu . Adapun faktor pengungkit utama aspek Tata Pemerintahan berdasarkan hasil analisis adalah sebagai berikut : (1) Manfaat asosiasi/organisasi bagi anggotanya Hasil penelitian dilapang menemukan bahwa keadaan asosiasi dan organisasi industri yang dibentuk hanya untuk mencukupi syarat perlu saja.

Hal ini menyebabkan manfaat dari asosiasi dan lembaga tersebut tidak dapat dirasakan oleh anggota-anggotanya. . yaitu memudahkan kontrol dalam pemberian bantuan dan evaluasi. dimana pembentukan suatu organisasi atau asosiasi hanya untuk melengkapi presyaratan semata saja bukan merupakan suatu kebutuhan untuk mencapai tujuan. Pengurusan administrasi yang panjang dan berbelit menjadi penghalang masuknya investasi dan respek masyarakat terhadap pelayanan pemerintah. Hal ini juga yang menjadi penyebab peran asosiasi/forum bisnis terhadap perbaikan kebijakan pemerintah di bidang PEL belum banyak. Diharapkan dengan adanya intervensi atau perlakuan terhadap ke tiga faktor tersebut. Keadaan ini menyebabkan manfaat asosiasi tidak banyak dirasakan oleh para anggotanya. Karena kebanyakan para pengurus hanya berperan sebagai rent seeker untuk kepentingan sendiri. Kelembagaan kelompok tani ini justru terlihat lebih banyak bermanfaat bagi pihak pemerintah. Hal ini menyebabkan organisasi tidak bertahan lama dan hanya muncul disaat ada kegiatan saja. disamping keterbatasan SDM dalam manajemen dan SDM Petani yang masih rendah. Fenomena ini sudah sangat umum terjadi di Indonesia. Kelembagaan KUD yang sudah ada di desa pun masih belum banyak memberikan manfaat bagi anggotanya karena masih bersifat top down.129 memanfaatkan kelembagaan ini sabagai wadah untuk memberdayakan diri misalnya kelompok tani yang ada membentuk suatu asosiasi petani jagung yang akan bermanfaat dalam menegosiasikan harga komoditi tersebut dengan pihak pembeli. sehingga masyarakat sudah dapat lebih merasakan manfaat dari asosiasi tempat mereka bernaung dan perbaikan terhadap pelayanan publik maka diharapkan dapat meningkatkan status aspek tata pemerintahan ke tingkat yang lebih baik. (2) Peran asosiasi industri/komoditi/forum bisnis terhadap perbaikan kebijakan pemerintah di bidang PEL. (3) Prosedur pelayanan administrasi publik. Masih lemahnya prosedur pelayanan administrasi publik merupakan masalah dan kendala dalam pengembangan ekonomi di Kabupaten Pohuwato.

130 Leverage of Attributes Manfaat asosiasi/organisasi bagi anggotanya Peran Asosiasi industri/komoditi/ Forum bisnis terhadap perbaikan kebijakan pemerintah di Status Asosiasi industri/ komoditi/ Forum Bisnis Prosedur pelayanan administrasi publik Attribute Restrukturisasi organisasi pemerintah Reformasi sistem insentif pengembangan SDM aparatur Kemitraan di bidang pembiayaan usaha Kemitraan di bidang promosi dan perdagangan Kemitraan di bidang infrastruktur 0 0.99 dimana merupakan batas range kategori aman.5 0.2 0. Kondisi aspek proses Manajemen dalam Pengembangan Ekonomi Lokal di Kabupaten Pohuwato menunjukkan status atau kondisi baik. Status dan Faktor Pengungkit Aspek Proses Manajemen.6 0.1. Secara .6. Data hasil analisis RALED di Kabupaten Pohuwato untuk aspek Proses Manajeman menunjukkan indeks yang mencapai 50.1 0.4 0.7 Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) Gambar 22 Faktor Pengungkit Aspek Tata Pemerintahan di Kabupaten Pohuwato 8. skematis status aspek Proses Manajemen terlihat dapam Gambar 23. sehingga dapat dikategorikan dalam posisi marginal atau pas-pasan.3 0.

Hasil analisis faktor /atribut pengungkit (leverage attributes) untuk aspek Proses Manajemen di Kabupaten Pohuwato ditunjukkan dalam Gambar 24 berikut.131 RALED Ordination 60 UP 40 Other Distingishing Features 20 Real Fisheries 0 0 BAD 20 40 60 80 GOOD 100 120 References Anchors -20 -40 DOWN -60 Fisheries Sustainability Gambar 23 Status Aspek Proses Manajemen di Kabupaten Pohuwato Dari indeks atau status tersebut. selanjutnya dengan analisis RALED dapat diketahui atau ditentukan faktor faktor apa sajakah yang merupakan faktor pengungkit atau faktor yang sensitif yang dapat diintervensi sehingga dapat memperbaiki atau meningkatkan status aspek Kesinergian dan Fokus Kebijakan menjadi lebih baik lagi. .

Disamping itu jajaran pemerintah sebagai pembuat kebijakan juga sangat menentukan dalam kelangsungan dan keberlanjutan ekonomi lokal. Keterlibatan seluruh stakeholder yang terkait dalam perencanaan pengembangan ekonomi lokal sangat penting untuk keberhasilan program. Belum maksimalnya partisipasi dari seluruh stakeholder dalam perencanaan pengembangan ekonomi lokal menjadi penyebab . Keterlibatan dari para pengusaha sebagai pelaku dan stakeholder utama serta dunia perbankan dan masyarakat petani sangat menentukan keberhasilan berkembangnya ekonomi lokal di satu wilayah. sesuai dengan urutan prioritasnya yang menjadi faktor pengungkit utama untuk aspek Proses Manajemen PEL di Kabupaten Pohuwato adalah : 1) Jumlah stakeholder yang terlibat dalam proses perencanaan PEL.5 2 2.5 1 1.132 Leverage of Attributes Penggunaan hasil evaluasi dalam perbaikan perencanaan Frekuensi dilakukan diskusi bagi proses pemecahan permasalahan Frekuensi dilakukan evaluasi mandiri (self evaluation) Keterlibatan stakeholder dalam proses monitoring dan evaluasi Keterlibatan Stakholder dalam proses penyusunan indikator evaluasi Attribute Kesesuaian implementasi dengan perencanaan Sinkronisasi lintas sektoral dan spasial dalam perencanaan PEL Jumlah stakeholder yang terlibat dalam proses perencanaan PEL Penggunaan hasil diagnosis sebagai dasar perencanaan PEL Identifikasi stakeholder PEL Kepastian Berusaha dan Hukum Penilaian terhadap daya saing wilayah Analisis dan pemetaan potensi ekonomi 0 0.5 Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) Gambar 24 Faktor Pengungkit Aspek Proses Manajemen di Kabupaten Pohuwato Berdasarkan hasil analisis.

tata pemerintahan dan proses manajemen diketahui bahwa status pengembangan ekonomi lokal secara keseluruhan berada dalam kondisi baik. kebijakan mana saja yang belum dilaksanakan dan mana yang harus dioptimalkan. 2. IKM sampai usaha skala besar dan perbankan sebagai pelaku dari dan penerima efek dari setiap kebijakan yang ada dilibatkan sehingga dapat berkontribusi dalam pembangunan kawasan. kesinergian dan fokus kebijakan. Kurangnya keterlibatan dunia usaha dan perbankan merupakan salah datu faktor penghambat berkembangnya ekonomi lokal suatu kawasan. Meningkatkan produktifitas dan daya saing ekonomi daerah 3. Sedangkan misi Pemerintah Kabupaten Pohuwato adalah : 1. 8. Meningkatkan kualitas pendidikan dan pengamalan ajaran agama dan budaya dalam segala aspek kehidupan. pembangunan berkelanjutan. tangguh dan sejahtera yang dilandasi oleh iman dan taqwa”. faktor lokasi.133 faktor ini sebagai pemicu utama. Namun untuk lebih meningkatkan kondisi pengembangan ekonomi kearah yang lebih baik lagi diperlukan rencana pengelolaan guna menciptakan kegiatan pembangunan yang dapat mengembangkan perekonomian kawasan secara berkelanjutan sebagaimana yang tertuang dalam Visi dan misi Pemerintah Kabupaten Pohuwato. Strategi Pengembangan Ekonomi Lokal di Kawasan Agropolitan Berdasarkan hasil analisis kondisi dan status pengembangan ekonomi lokal di kabupaten Pohuwato berdasarkan aspek kelompok sasaran. Diharapkan pemerintah sebagai pengambil keputusan dan pembuat kebijakan dapat melihat ini sebagai faktor penting yang dapat mendorong perkembangan ekonomi lokal wilayah. Hasil-hasil analisis selanjutnya dibandingkan dengan keadaan eksisting yang ada sehingga dapat dilihat apa yang menjadi kebutuhan daerah. sehingga dalam setiap perencanaan kebijakan pihak dunia usaha mulai dari pelaku UKM. Mewujudkan pemerintahan yang baik . Adapun visi Pemerintah Kabupaten Pohuwato adalah ”Terwujudnya masyarakat Pohuwato yang produktif. Hal ini dapat dilihat dimana berdasarkan kajian partisipasi terlihat bahwa partisipasi masyarakat masih dalam taraf konsultasi.2.

perlu disusun rencana pengembangan ekonomi lokal berdasarkan faktor-faktor pengungkit yang berpengaruh dalam keberlanjutan sumberdaya yang dikaitkan dengan rencana strategis dari pemerintah Kabupaten Pohuwato. Untuk mencapai misi tersebut maka perlu ditingkatkan pengembangan ekonomi lokal di kawasan terbebut.134 4. Secara lebih lengkap. Meningkatkan peran masyarakat sebagai mitra dan pelaku utama pembangunan daerah. faktor-faktor pengungkit yang berpengaruh terhadap pengembangan ekonomi lokal di Kabupaten Pohuwato ditunjukan pada Tabel 42. Untuk mengembangkan ekonomi lokal. • Peran asosiasi industri/komoditi terhadap perbaikan kebijakan pemerintah dibidang Pel • Prosedur pelayanan administrasi publik 6 Proses Manajemen • Jumlah stakeholder yang terlibat dalam proses perencanaan Pel • Analisis dan pemetaan potensi ekonomi . Tabel 42 Faktor-faktor Pengungkit yang Berpengaruh terhadap Pengembangan Ekonomi Lokal di Kabupaten Pohuwato No 1 Dimensi/Aspek Pel Kelompok Sasaran Faktor Pengungkit • Pusat layanan investasi • Promosi produk UKM dari pemda • Kampanye peluang berusaha 2 Faktor Lokasi • Pelayanan perijinan satu atap • Kualitas dari fasilitas pendidikan • Fasilitas umum dan sosial 3 Kesinergian dan Fokus Kebijakan • Kebijakan pengembangan pusat pertumbuhan di perdesaan (agropolitan) • Kebijakan kerjasama antar daerah/pemda 4 Pembangunan Berkelanjutan • Jumlah perusahaan yang melakukan inovasi pengembangan produk dan pasar • Kontribusi Pel terhadap peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat lokal • Jumlah perusahaan yang memiliki business plan 5 Tata Pemerintahan • Manfaat asisiasi /organisasi bagi anggotanya. Salah satu misi diatas adalah untuk meningkatkan produktifitas dan daya saing ekonomi daerah.

2.2. Faktor Pengungkit Aspek Kelompok Sasaran 8.1994). dan mendorong .2. Sehingga pendekatan yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah ini adalah membentuk suatu pusat layanan investasi dimana didalamnya dapat diakses berbagai informasi potensi daerah dalam hal ini potensi agribisnis dan agroindustri jagung di kabupaten pohuwato. Atau dapat pula mencontoh dengan negara India yang mendirikan lembaga Pusat Investasi India di negara maju guna menarik modal asing swasta (Jhingan.2. Pengadaan Pusat layanan investasi Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Informasi ini sebaiknya dapat diakses dengan mudah oleh para investor melalui internet sehingga dapat diakses oleh investor dari berbagai negara. informasi potensi investasi yang sedang dan akan berkembang dan adanya insentif serta kemudahan investasi dari pemerintah bagi investor yang akan berinvestasi dalam agribisnis dan agroindustri jagung. Dan salah satunya adalah belum tersedianya pusat layanan investasi didaerah ini. Produk biji jagung dan hasil olahan jagung yang merupakan produk andalan daerah ini seperti dodol jagung yang merupakan industri kecil rumah tangga perlu disosialisasikan sehingga dapat menjadi produk andalan wilayah yang dapat memberikan nilai tambah pada pendapatan masyarakat kawasan.1.135 8. Oleh karenanya perlu adanya promosi dari pemerintah daerah tentang berbagai produk UKM termasuk didalamnya produk olahan jagung sehingga dapat menjadi daya tarik bagi ekonomi kawasan ekonomi wilayah.1. Keterbatasan modal dari pengusaha UKM menyebabkan sosialisasi atau promosi ini kurang diperhatikan.1. sebagai daerah pemekaran baru Kabupeten Pohuwato masih berbenah diri.1. Oleh karenanya banyak aspek pelayanan publik yang belum ada dan berjalan dengan baik . Belum adanya data base tentang potensi daerah dan potensi investasi terlebih khusus investasi agribisnis dan agroindustri jagung daerah yang dapat diakses oleh investor menyebabkan suatu daerah sulit atau mengalami perkembangan yang lambat atau stagnan karena kurangnya investasi dari pihak swasta. 8. Promosi produk UKM dari pemda Berbagai produk UKM yang berkembang dimasyarakat perlu disosialisasikan sehingga mendapat perhatian dari masyarakat dan pemerintah.

Kampanye peluang berusaha Selanjutnya untuk lebih mengembangkan perekonomian kawasan.1. Disamping itu banyaknya jumlah sekolah yang berada dalam keadaan rusak menyebabkan faktor ini menjadi faktor pengungkit. Kualitas dari fasilitas pendidikan Rendahnya kualitas pendidikan di kabupaten Pohuwato terutama disebabkan kaena : (1) Ketersediaan pendidik yang belum memadai baik secara kualitas maupun kuantitas.67% (2) kesejahteraan pendidik yang masih rendah. perlu disosialisasikan atau diinformasikan berbagai peluang usaha dari berbagai skala usaha yaitu usaha skala kecil. Untuk memudahkan proses penyelenggaraan perijinan agar lebih efisien dan efektif diperlukan pelayanan perijinan satu atap sehingga calon investor merasa dimudahkan dan tertarik untuk berinvestasi di Kabupaten Pohuwato. 8. baik dari sektor hulu sampai ke sektor hilir. Dengan demikian akan membuat makin banyak masyarakat lokal dan investor luar daerah untuk tertarik dan berinvestasi di Kabupaten Pohuwato.2. 8.2. Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan Kabupaten Pohuwato. dan (4) biaya operasional pendidikan yang belum tersedia secara memadai.46% untuk SMP/MTS 55. disamping itu perlu adanya ransangan insentif bagi investor yang berinvestasi dalam agribisnis dan agroindustri jagung.2.2.136 8. tingkat kelayakan guru yang tidak layak mengajar untuk SD/MD 90.3. Hal ini diperlukan agar masyarakat dan dunia usaha dapat melihat sektor-sektor mana saja yang dapat dimasuki dalam agribisnis dan agroindustri jagung.2. .1. dimana panjangnya birokrasi dan lamanya dalam pengurusan perijinan menjadi penghambat bagi investor untuk berinvestasi.2. Belum adanya investor yang berinvestasi dalam sektor agribisnis dan agroindustri jagung menjadi tantangan bagi Pemerintah Daerah untuk mengevaluasi kebijakan yang ada. menengah dan besar. Pelayanan perijinan satu atap Proses pelayanan publik yang berbelit dengan birokrasi yang rumit menjadi faktor penghalang dalam masuknya investasi disuatu daerah.2. Di Kabupaten Pohuwato hal ini sering menjadi permasalahan. (3) fasilitas belajar yang masih belum mencukupi secara memadai.70% dan untuk SMA/SMK/MA sebesar 16. Faktor Pengungkit Aspek Faktor Lokasi 8.2.

Belum baiknya fasilitas jalan dan jembatan menjadi masalah dalam masyarakat karena terkait dengan mata pencaharian dari sebagian besar masyarakat.3.Fasilitas umum dan sosial Belum tersedianya fasilitas umum dan sosial yang memadai diseluruh kecamatan merupakan permasalahan yang banyak terdapat di Kabupaten Pohuwato. Minimnya fasilitas kesehatan dan sarana prasarana rekreasi dan olahraga. 8. Selanjutnya meningkatkan. Semangat.2. memperluas dan memeratakan pendidikan dan kesempatan belajar terutama didaerah terpencil dan masyarakat miskin.2.2. Dengan demikian maka masyarakat desa dapat tetap berada di desa karena ketersediaan pendidikan sudah dapat diperoleh di desa. Disamping itu masyarakat sebagai faktor kunci pelaksanaan agropolitan memegang peran besar dalam keberhasilan pengembangan ekonomi lokal di kabupaten pohuwato. sangat berpengaruh terhadap produktivitas masyarakat desa karena masyarakat yang sehat akan menghasilkan kinerja yang baik dan berkontribusi terhadap pembangunan kawasan.1.3. Karenanya salah satu usaha untuk meningkatkan pengembangan ekonomi lokal adalah dengan melengkapi pengadaan fasilitas umum dan sosial yang lebih berkualitas bagi masyarakat desa. 8. Faktor Pengungkit Aspek Kesinergian dan Fokus Kebijakan 8.Kebijakan pengembangan pusat pertumbuhan di perdesaan (agropolitan) Belum maksimalnya kinerja agropolitan di Kabupaten Pohuwato disebabkan karena belum belum adanya koordinasi yang baik dari berbagai instansi yang terkait dengan agropolitan.137 Pendekatan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah ini adalah dengan memberikan perhatian yang lebih pada sektor ini dengan cara mengalokasikan dana yang lebih untuk sektor ini sehingga pemerintah dapat menyediakan pelayanan pendidikan dasar cuma-cuma bagi masyarakat prasejahtera atau masyarakat miskin dengan kualitas fasilitas pendidikan yang baik.2. motivasi dan .3. Diharapkan dengan tersedianya fasilitas-fasilitas ini maka ketersediaan tenaga kerja yang berkualitas dapat tersedia sehingga menghasilkan kinerja yang baik dalam kegiatan proses produksi agribisnis dan agoindustri jagung.

8. Kerjasama regional sangat diperlukan dalam pengembangan ekonomi lokal karena dengan adanya kerjasama maka alokasi dana pembangunan dapat dilakukan lebih efisien dan efektif.2. Otonomi Daerah memang dapat membuat suatu kabupaten dapat berkembang cepat karena keputusan mengenai pengelolaan daerah dapat ditangani oleh Pemerintah Daerah. Namun egosentris daerah masih melekat dalam pemerintahan Kabupaten Pohuwato.Kebijakan kerjasama antar daerah/pemda Permasalahan yang dihadapi oleh Kabupaten Pohuwato sebagai kabupaten pemekaran baru masih sangat kompleks. Namun di satu sisi dapat pula membuat daerah stagnan.3. Perlu didorong kerjasama dengan kabupaten lain misalnya Kabupaten Boalemo terkait dengan produksi jagung sehingga dapat memenuhi skala ekonomi dan produksi. . sanitasi dan infrastrukur urban lainnya belum banyak tersedia di perdesaan. permukiman penduduk. Aspirasi untuk memisahkan diri menjadi kabupaten baru merupakan salah satu semangat dari masyarakat dan pemerintah untuk terus mengembangkan daerahnya. Berdasarkan hasil pengamatan dilapangan terlihat bahwa pengembangan Kawasan Agropolitan Randangan Kabupaten Pohuwato masih pada taraf pengembangan sentra produksi pertanian. Karenaya perlu lebih diintensifkan lagi pengembangan sarana dan prasarana kesejahteraan sosial yang memadai sehingga masyarakat pohuwato dapat merasa nyaman berada di Pohuwato karena berbagai fasilitas yang tersedia sehingga dapat menekan laju migrasi penduduk ke kota. tidak tergantung pada intervensi pusat. Sehingga kontinuitas produk dapat terjaga dan kelangsungan agribisnis dapat berkesinambungan. jika Pemerintah Daerah menjalankan pemerintahan dan pembangunan tanpa melihat keterkaitan dengan daerah lain dalam hal ini keterkaitan regional. Masalah ketersediaan lapangan disektor non pertanian.138 kemauan keras dari mayarakat serta koordinasi yang baik dari berbagai elemen dalam pemeritahan dan dunia usaha merupakan sinergi yang dapat membawa kinerja agropolitan lebih baik lagi kedepan.2.

Namun karena adanya ’politik perberasan’ menyebabkan beras menjadi superior dibandingkan beras jagung sehingga posisinya menjadi termarginalkan. terlihat bahwa pasar komoditas jagung lebih banyak memenuhi permintaan luar kawasan baik secara regional maupun internasional. Faktor Pengungkit Aspek Pembangunan Berkelanjutan 8. Disamping itu. Kondisi eksisting yang ada terlihat bahwa produk unggulan jagung masih memiliki pasar yang terbatas. perlu dikembangkan keberagaman produk sehingga pasar menjadi semakin terbuka. menyebabkan jumlah perusahan yang melakukan inovasi produk belum berkembang di Kabupaten Pohuwato. Karena itu diperlukan upaya-upaya memaksimalkan potensi ekonomi daerah sehingga dapat meningkatan pendapatan masyarakat Pohuwato secara keseluruhan. Hal ini dapat mendorong pengembangan ekonomi lokal kearah yang lebih baik.2.2.4. jagung merupakan bahan pangan dan merupakan makanan pokok masyarakat Gorontalo yaitu beras jagung yang dalam bahasa lokal sebagai Baalobinthe. Namun demikian tingkat pendapatan masyarakat Pohuwato masih rendah jika dibandingkan dengan daerah lainnya.1.4. Oleh karenaya. Perlu adanya fokus terhadap program-program yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat petani . dimana konsentrasi pemerintah masih tertuju sebagai produk eksport dalam bentuk biji jagung.139 8. Dengan semakin baiknya image jagung sekarang ini sangat membuka peluang pengembangan pasar lokal untuk komoditas ini sebagai bahan pangan.4. Padahal jagung dapat dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki prospek yang besar melalui diversifikasi produk..Kontribusi Pel terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal kualitas hidup dan Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa pengembangan ekonomi lokal di Kabupaten Pohuwato berada dalam kondisi baik.2.2. Padahal diketahui bersama selain sebagai bahan baku industri.Jumlah perusahaan yang melakukan inovasi pengembangan produk dan pasar Belum berkembangnya industri pengolahan produk. Karena itu perlu diarahkan penggunaan pangan alternatif beras jagung sebagai makanan pokok masyarakat sehingga dapat merangsang investasi industri penggilingan beras jagung di tingkat masyarakat . 8.

Keberadaan kelembagaan tersebut belum dapat dimanfaatkan oleh petani sebagai sarana atau wadah untuk menguatkan eksistensi petani sebagai produsen penghasil komoditi andalan jagung.Manfaat asosiasi /organisasi bagi anggotanya Berdasarkan fakta dilapangan terlihat bahwa berkembangnya kelembagaan atau organisasi petani yaitu kelompok tani dan KUD belum banyak memberikan manfaat pemberdayaan bagi masyarakat petani. hal ini berdampak pada kurangnya jumlah perusahaan yang memiliki business plan.2. Kedepanya perlu ditumbuhkan motivasi dan keinginan dari petani agar dapat memanfaatkan organisasi yang ada sebagai wadah penguatan posisi petani dalam menegosiasikan harga produk jagung melalui asosiasi petani jagung atau sejenisnya. 8.3.5.4.Peran asosiasi industri/komoditi terhadap perbaikan kebijakan pemerintah dibidang Pel Karena manfaatnya belum dapat dirasakan oleh anggotanya. Faktor Pengungkit Aspek Tata Pemerintahan 8. Akan tetapi keberadaan kelompok tani baru sebatas sebagai sarana bagi kelembagaan penyuluh untuk menyampaikan informasi pengusahaan usaha tani dan sebagai alat kontrol bagi pemerintah dalam menyalurkan bantuan-bantuan yang ada.2.2.140 dengan mengadakan berbagai pelatihan–pelatihan baik dalam budidaya maupun dalam kewirausahaan. Perlu lebih diperhatikan usaha-usaha kecil masyarakat dan perlu dirangsang penciptaan usaha-usaha baru oleh masyarakat lokal dengan memanfaatkan sumber daya lokal.5.Jumlah perusahaan yang memiliki business plan Masih belum berkembangnya industri pengolahan di Kabupaten Pohuwato menyebabkan kurangnya investasi di Kabupaten Pohuwato. 8. 8. Ke depannya perlu dirangsang masuknya investasi swasta yang memiliki perencanaan bisnis yang matang dan memiliki keterkaitan kedepan dan kebelakang yang besar dengan basis pertanian yang ada di Kabupaten Pohuwato. Keadaan ini menyebabkan manfaat organsisasi belum dirasakan oleh anggotanya.5.2. menyebabkan peran dari asosiasi ini belum banyak bermanfaat terhadap perbaikan .2.1.

Untuk mengatasi masalah tersebut maka perlu dilakukan sanksi pagi petugas yang melakukan pelanggaran serta menginformasikan kepada masyarakat bagaimana prosedur yang seharusnya dalam setiap pengurusan pelayanan administrasi publik seperti pengurusan KTP. 8.2.Jumlah stakeholder yang terlibat dalam proses perencanaan Pel Permasalahan yang terkait di Kabupaten Pohuwato adalah masih minimnya kesadaran dari masing-masing stakeholder terhadap upaya pengembangan ekonomi lokal.3.6.5. dimana masih banyaknya terjadi penyimpangan. Sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa urusan ekonomi merupakan tanggungjawab pemerintah dan pelaku usaha. 8. Faktor Pengungkit Aspek Proses Manajemen 8.1.2. maupun ijin berusaha.141 kebijakan pemerintah.2. sehingga kehadirannya belum banyak berkontribusi.2.Prosedur pelayanan administrasi publik permasalahan yang dihadapi Kabupaten Pohuwato adalah masih lemahnya prosedur pelayanan administrasi publik. Ini disebabkan karena kelembagaan kebanyakan hanya dibentuk sebagai syarat perlu saja bagi pemerintah untuk melaksanakan kegiatan atau programnya.Analisis dan pemetaan potensi ekonomi Tidak adanya pemetaan potensi ekonomi merupakan salah satu masalah yang ada di Kabupaten Pohuwato. Oleh karenanya perlu di perkuat eksistensi dari berbagai kelembagaan yang ada agar dapat keberadaannya dapat bermanfaat bagi anggotanya sehingga secara tidak langsung melalui wadah ini masyarakat dapat berkontribusi terhadap perbaikan kebijakan di bidang pel. Rendahnya kualitas SDM stakeholder merupakan salah satu faktor penyebab hal ini bisa terjadi.6. akte. Padahal analisis dan pemetaan potensi ekonomi merupakan salah satu panduan bagi pemerintah dalam menerapkan kebijakan . Biaya pengurusan KTP yang tidak sesuai ketentuan yang berlaku merupakan salah satu masalah yang perlu diatasi.2.6. Padahal masalah pengembangan ekonomi merupakan tanggungjawab seluruh komponen masyarakat. 8. Tingginya biaya pengurusan dan lama pengurusan administrasi publik menjadi wacana yang harus mendapat perhatian pemerintah.

.142 pembangunan daerah supaya terarah dan tepat sasaran. Oleh karenanya pengadaan analisis dan pemetaan potensi ekonomi Daerah perlu dilakukan dan disosialisasikan serta dijabarkan kepada masing-masing instansi terkait sehingga dapat dirancang kebijakan yang sesuai dengan analisis dan peta potensi daerah.

016.506. 10. 3.966. Berdasarkan hasil analisis program agropolitan sedikit banyak sudah dapat mendorong pengembangan ekonomi lokal di Kabupaten Pohuwato. tersedianya infrastruktur jalan usaha tani dan intervensi harga dari pemerintah. meningkatkan pendapatan usahatani petani di kawasan agropolitan melalui kegiatan penyuluhan.per ha/tahun dan Rp5. Status PEL di Kabupaten Pohuwato digolongkan dalam kategori baik.per ha/tahun. Tingkat partisipasi masyarakat di kawasan agropolitan berdasarkan tingkat partisipasi Arnstein berada pada tingkat konsultasi. 4. Hal ini berarti bahwa partisispasi masyarakat masih sebatas pada taraf pelaksana saja karena masyarakat masih belum banyak dilibatkan dalam taraf perencanan program. 2. Rata-rata pendapatan usahatani di kawasan agropolitan lebih tinggi dari rata-rata pendapatan usahatani non agropolitan yaitu sebesar Rp. Akan tetapi secara kompetitif sektor-sektor unggulan seperti sub tanaman bahan makanan.1. Program agropolitan masih sangat bersifat top down karena intervensi pemerintah dalam setiap kegiatan masih sangat dominan. Program agropolitan basis jagung meningkatkan perekonomian wilayah Kabupaten Pohuwato melalui pergeseran struktur perekonomian wilayah. Secara komparatif pengembangan agropolitan basis jagung di Kabupaten Pohuwato mampu menarik atau menggerakkan sektor industri pengolahan. sektor bangunan dan pengangkutan masih memiliki daya saing yang rendah sehingga dapat menghambat perekonomian wilayah..080. listrik dan air besih sebagai sektor sekunder dan sektor perdagangan sebagai sektor tersier sehingga dapat memberikan multiplier effect yang besar terhadap total perekonomian wilayah. Untuk . Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan tentang dampak agropolitan basis jagung di Kabupaten Pohuwato dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Hasil analisis menunjukkan perbedaan yang signifikan antara pendapatan usahatani di kawasan agropolitan dengan pendapatan usahatani di kawasan non agropolitan.IX. komoditi jagung. KESIMPULAN DAN SARAN 9. Program agropolitan basis jagung di Kabupaten Pohuwato.

2. 3. 4. serta meningkatkan kebijakan yang merangsang masuknya investasi swasta. Perlu adanya pendampingan yang efektif untuk setiap kegiatankegiatan produktif dalam masyarakat sampai masyarakat betul-betul menjadi masyarakat yang mandiri. magang dan studi banding misalnya dengan Kabupaten Boalemo. Kebijakan pemberdayaan masyarakat perlu lebih ditingkatkan lagi dengan melibatkan masyarakat sejak proses perencanaan sampai proses monitoring dan evaluasi. provinsi dan kabupaten. 5. Perlu dibentuk pusat pelayanan investasi terlebih khusus investasi jagung untuk menarik investor menanamkan modalnya di kawasan pengembangan. misalnya dengan menjalin koordinasi yang baik dengan Dinas Perhubungan untuk pengoperasian terminal di Kecamatan Randangan. . Saran 1. Pengembangan Agropolitan memerlukan kerjasama lintas sektoral dan sinkronisasi kebijakan dari tingkat pusat. 2.144 mengembangkan dikawasan dan meningkatkan pengembangan ekonomi lokal diperlukan beberapa strategi yaitu : (1) agropolitan pembentukan pusat layanan investasi (2) peningkatan Promosi UKM dan Kampanye Peluang Berusaha oleh Pemda (3) upaya diversifikasi produk dan pasar (4) penerapan pelayanan perijinan satu atap (5) perbaikan fasilitas dan kualitas pendidikan serta fasilitas umum dan sosial (6) mengoptimalkan pengembangan pusat-pusat pertumbuhan di perdesaan (Agropolitan) (7) meningkatkan kebijakan kerjasama antar daerah (8) pemberdayaan masyarakat dan kelembagaan masyarakat 9. Mengoptimalkan kerjasama dengan kabupaten lain terkait penggunaan infrastruktur dan pengembangan agropolitan jagung baik untuk memenuhi kontinuitas produksi maupun dari segi pemasaran melalui kegiatan-kegiatan pelatihan. Perlu adanya kerjasama dan koordinasi yang baik antar instasi dalam pemerintah maupun pemerintah dengan pelaku usaha dan masyarakat petani dalam pengembangan agropolitan sehingga sarana-prasarana yang ada dapat dimanfaatkan dengan efisien.

pengolahan dan pemasaran. Perlu adanya pengawasan dalam pelaksanaan RTRW agar keberlanjutan agropolitan dan kelestarian fungsi lingkungan hidup dapat terjaga serta perlu adanya revisi terhadap masterplan agropolitan sesuai dengan rencana pengembangan pusat-pusat produksi.145 6. .

2002. Anonimous. Bahan Sosialisasi Agropolitan Tingkat Propinsi dan Kabupaten. 2007.M. Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah. Pedoman Umum Pengembangan Agropolitan dan Pedoman Program Rintisan Pengembangan Kawasan Agropolitan. 2006. A Ladder of Citizen Participation. S. BPS Provinsi Gorontalo.35 No. Kerjasama BPS dan Bappeda Gorontalo. Arnstein. Panduan Nasional Revitalisasi Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL). et al.R. (2006). W. Crespent Press. . A. Jakarta. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Ahmad. 1969. 4. 2002. Penjelasan Program Strategi Nasional Bidang Pengembangan Perkotaan dan Perdesaan. IPB. Manual Operasional Penentuan Status dan Faktor Pengungkit PEL. 2004. Kawasan Agropolitan. Anwar. Propinsi Gorontalo Dalam Angka 2007. 2006. 1999 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. in Rustiadi. 1999 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. 2001. Departemen Pertanian. Pembangunan Mikropolitan dalam Mendorong Kegiatan Sektor Pertanian dan Sektor Komplemennya di Wilayah Perdesaan. Jaip Vol . Tidak dipublikasikan. Konsep Pembangunan DesaKota Berimbang. Jakarta. Tesis. Evaluasi Tingkat Partisipasi Pembangunan di Tingkat Komunitas. Jakarta. Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah. 2007. Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian. Anwar. A. Direktorat Jenderal Tata Perkotaan dan Tata Pedesaan Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah. Makalah disampaikan pada Pembahasan Proyek Perintisan Pengembangan Perdesaan Bogor. pp 101-109. Bappenas. Pembangunan Wilayah Perdesaan dengan Desentralisasi Spatial melalui Pembangunan Agropolitan yang Mereplikasi Kota-kota Menengah dan Kecil. Jakarta.DAFTAR PUSTAKA Anonimous. 2006. pp 216-224.

Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Regional Networks Development UNHCS-Bappenas Friedman. Haeruman. Studi Kebijakan Pengembangan Partisipasi Masyarakat Perdesaan dan Perkotaan. Jakarta. Analisis Disparitas Pembangunan Regional di Provinsi Sulawesi Utara dan Provinsi Gorontalo. Ambon Darmawan Arya. Juanda.147 BPS Kabupaten Pohuwato. Agropolitan dan Permasalahan Pertanahan Perdesaan dan Pertanian. D.Jakarta. M. Muhammad. Tidak dipublikasikan. Metodologi Penelitian Ekonomi & Bisnis. S. 2003. 1986. . PT Raja Grafindo Persada. Pengembangan Kawasan Agropolitan Dalam Rangka Pengembangan Wilayah Berbasis Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN). 2000. Iman Laode. Kementerian Negara Percepatan Kawasan Timur Indonesia. Douglas. Jakarta. Douglas. Potensi Lahan dan Alternatif Komoditas Terpilih Berdasarkan Peta Zona Agroekologi Pada Setiap Kecamatan di Kabupaten Maluku Tengah. J. 1994. H. 2003. IPB. Prosiding Diseminasi dan Diskusi Progran-Program Pengembangan Wilayah dan Ekonomi Masyarakat di Daerah. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah Republik Indonesia. Development : Toward a New Strategy for Regional Planning in Asia.Japan. B. 1975. Setiahadi. Jhingan. Bogor. Puslitbang Sosial Ekonomi Pertanian. Tesis. Reinventing Local Government : Pengalaman dari Daerah.E. 2001. Regional Economic Centre. IPB. M. L. Gorontalo. Badan Litbang Pertanian. Js. Mewujudkan Revitaslisasi Pertanian Melalui Pembangunan 9 (sembilan) Pilar Agropolitan Menuju Pertanian Modern di Gorontalo.Bogor. 2003. IPB Press. Pribadi. Tesis. Pembangunan Daerah Melalui Pengembangan Wilayah. Kompas Gramedia. Hastoto. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku. 2003.O.A. Bogor. Kajian Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Hutan Mangrove.L. 2006. E. Djakapermana. Nasution.R. N. dan Susanto. Jakarta. 2004. 2007. and M. Harahap MK. 2008. Bustaman.Nagoya. Seminar Nasional Pengembangan agropolitan sebagai Strategi Pembangunan Perdesaan dan Wilayah secara Berimbang. F. Kerjasama BPS dan Bappeda Kabupaten Pohuwato. 2007. Pohuwato Dalam Angka 2006. IPB. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan. Tidak dipublikasikan.

IPB. Pengembangan Agropolitan sebagai Strategi Pembangunan Perdesaan dan Pembangunan Berimbang. IPB. Bahan Kuliah Tata Ruang. 2003. et. Pembangunan Berkelanjutan. Agropolitan : Strategi Pengembangan Pusat Pertumbuhan pada Kawasan Perdesaan. 2004. Disertasi. Westview Press / Boulder. . Bogor.. Pasca Sarjana IPB. D. Tidak dipublikasikan.A. Saefulhakim. Pengembangan Agropolitan Memacu Pembangunan Ekonomi Regional melalui Keterkaitan Desa-Kota. Kajian Pengembangan Sektor Pariwisata Dalam Rangka Meningkatkan Keragaan Perekonomian Wilayah Kabupaten Tana Toraja. Departemen Kimpraswil.148 Pranonto. Crestpent Press. Pembangunan Agropolitan melalui Pengembangan Kota-kota Kecil Menengah. et. S. Saefulhakim. Desa itu Industri. 2005. 2005. Program Studi PWD. Lahan dan Air di Jawa Barat. al. IPB. Tesis. S. Rustiadi . 2002. Bogor. IPB.pp1-31. Tidak dipublikasikan. Penyusunan Arahan Strategi Pengembangan Inter-regional Berimbang. Rustiadi. Makalah disampaikan pada Lokakarya Pembahasan Kriteria Kerusakan Hutan. 1985. 2006. Makalah dalam Seminar dan Lokakarya Menuju Desa 2030. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. E. 2008. E. E.S. London. M. Rustiadi. 2006. Applied Methods of Regional Analysis – The Spatial Dimensions of Development Policy. al. al.. Jakarta. Crespent Press. Rompon. Studi Pengembangan Model dan Tipologi Kawasan Agropolitan. IPB. Tidak dipublikasikan. Konsep Pembangunan Desa-Kota Berimbang. Rustiadi. et. Pembangunan Perdesaan Berkelanjutan melalui Model Pengembangan Agropolitan. Sadjad . Tesis. Analisis Dampak Kebijaksanaan Desentralisasi Fiskal terhadap Perekonomian Daerah dan Pemerataan Pembangunan Wilayah di Indonesia. 2004. Rustiadi. 2005. S. Rodinelli.Bogor. Tidak dipublikasikan. LPPM. P4W IPB dan Bapenas. Pribadi. Riyanto. Penataan Ruang dan Penguatan Infrastruktur Desa dalam Mendukung Konsep Agropolitan. Bogor.O. 2001. Dardak. Rustiadi. Makalah pada Workshop Agropolitan. S.E. Tesis.Peningkatan Efisiensi Pasar Perdesaan dan Penguatan Akses Masyarakat Terhadap Lahan. Institut Pertanian Bogor. E. Bogor. D.in Rustiadi et al (2006) Kawasan Agropolitan. 2004. Hadi. 2007. S. Makalah Workshop “Pengembangan Agropolitan sebagai Strategi Pembangunan Perdesaan dan Wilayah secara Berimbang”.

2005. . Teori dan Aplikasi. Jakarta. Ekonomi Regional. Departemen Pekerjaan Umum. Tarigan. Tim Pusat Pengkajian Perncanaan dan Pengembangan Wilayah (P4W). Departemen Pertanian. Suwandi. Penguatan Kelembagaan Ekonomi Perdesaan di Kawasan Agropolitan. 2004.149 Satuan Kerja Pengembangan Prasarana dan Sarana Desa Agropolitan.2002 Laporan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia. Yudhohusodo. 2005. Jakarta. Jakarta. Bumi Aksara. Advisory Pengembangan Rintisan Kawasan Agropolitan Pasca 3 Tahun Fasilitasi. S . Jakarta. R. Penyusunan Arahan Strategi Pengembangan Inter-Regional Berimbang. Bappenas dan Fakultas Pertanian IPB Bogor. 2002.

LAMPIRAN .

600 96.577.400 10.100 9.400 140.754.877.421. Tanaman Bahan Makanan 112.296.300 398.200 89.600 85.2006 LAPANGAN USAHA 2000 PERTANIAN 216.Padi * 47.389.400 138.300 145.801.685.483.900 9.932 PERTAMBANGAN DAN 167.850 75.080.393.192.452.349.878.183 168.085.000 170.800 BANGUNAN 76.896.400 271.800 243.975 167.300 2005 253.200 311.692.244.800 1.300 119.925.402.458.100 103.142.984.263.171.900 1.100 KOMUNIKASI KEUANGAN.604.607 169.123.388.654.100 Tahun 2003 240.442.300 152.300 80.163.400 491.366 62.906.148.952.800 256.481.800 TOTAL PDRB 1.800 19.300 76.495.600 9.932. PERSEWAAN & 115.600 .900 514.600 122.603.211.800 11.656.000 125.173.000 JASA PERUSAHAAN JASA-JASA 129.928.200 RESTORAN PENGANGKUTAN DAN 65.Lampiran 1 PRODUK DOMESTIK BRUTO INDONESIA ATAS DASAR HARGA KONSTAN 2000 MENURUT LAPANGAN USAHA ( Dalam Jutaan ) TAHUN 2000 .400 2004 247.200 PENGGALIAN INDUSTRI PENGOLAHAN 385.085.400 115.211.507.897.399.612.196 168.300 2006 261.200 96.571 74.924 160.500 2002 232.656.753.800 129.019.500 124.364 165.762.200 130.124.900 LISTRUK.600 133.182 98.849.957.611. GAS DAN AIR BERSIH 8.621.516.500 469.729.256 78.463.600 1.409.200 12.831.400 1.400 PERDAGANGAN.789.900 .104.832 .769.100.200 109.903.390.900 Sumber : .800 441.100 123.012.594.573.700 12.700 151.200 84.500 a.469.900 10.000 70.516.800 11.626.355.982.100 161.276.273.100 1.506.726.700 293.200 16.387.384.973.234.584.750.846.334.597.323.117.100 160.000 419.374. HOTEL DAN 224.700 113.164.868.100 1.500 170.467.BPS * merupakan data hasil proksi 2001 225.729.490 59.Jagung * 9.600 112.058.400 234.500 10.

981.01 19.274.23 148.260.178.073.99 2004 575.462. GAS DAN AIR BERSIH 8.477.254.58 252.38 116.218.Padi * 96.54 PERDAGANGAN.274.84 BANGUNAN 118.640.468.974.50 1.803.67 187.917.97 145.435.89 12.307.31 LISTRIK.00 12.03 1.72 1.96 10.937.196.508.290.614.92 92.86 281.32 65.68 Tanaman Bahan Makanan 191.85 16.94 219.027.970.344.728.16 283.80 PERTAMBANGAN DAN 11.139.00 377.55 106.56 192.44 175.84 RESTORAN PENGANGKUTAN DAN 139.16 .75 TOTAL PDRB Sumber : BPS Provinsi Gorontalo * NTB Jagung dan Padi Hasil Olahan BPS Prov.816.106.871.02 .673.187.95 142.Gorontalo 2002 533.829.238.438.00 .82 148.00 283.33 59.719.11 10.00 301.897.79 87.175.763.812.403.851.526.163.72 248.447.00 129.667.01 2006 667.42 178.00 122.38 11.51 262.26 2005 618.40 42.769.446.73 9.916.00 414.00 167.990.02 90.512.707.92 166.327.868.861.384.00 101.13 JASA PERUSAHAAN JASA-JASA 216.923.36 260.723.056.00 224.125.49 21.45 84.95 158.891.838.35 326.254.28 257.00 310.Lampiran 2 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ATAS DASAR HARGA KONSTAN 2000 PROVINSI GORONTALO MENURUT LAPANGAN USAHA TAHUN 2000 – 2006 ( Dalam Jutaan ) LAPANGAN USAHA 2000 2001 PERTANIAN 458.31 1.999.274.91 TAHUN 2003 557.00 204.243.00 181.00 185.75 12.87 43.471.260.182.780.00 2.655.669.121.677.462.520.554.95 308.83 KOMUNIKASI KEUANGAN.971.64 198.473.136.881.98 126.573.89 268. PERSEWAAN & 96.24 184.00700 2.61 136.353.727.738.082.86 152.180. HOTEL DAN 240.670.00 134.55 490.060.62 90.145.651.31 158.02 1.Jagung * 44.53 14.68 17.66 239.772.172.08 PENGGALIAN INDUSTRI PENGOLAHAN 182.545.230.680.61 172.323.

363.50 224.85 11.262.38 19.410.85 447.35 19.56 58.11 9.71 1.671.56 12.572.363..00 1.706.799.279.03 10.015.987.501.529.00 1.13 30.49 175.032.039.44 9.068.Jagung* .12 18.070.378.701.51 36.23 20.00 11.132.44 1.285.078.13 2006 103.45 19.612.232.112.Padi * PERTAMBANGAN & PENGGALIAN INDUSTRI PENGOLAHAN LISTRIK.79 25.588.57 254.181.479.68 17.411.00 14.290.910. HOTEL & RESTORAN PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI KEU.68 41.97 33.329.884.262.71 27.38 28.078.459.37 29.88 33.219.00 28.606.206.839.91 Sumber : BPS Kabupaten Boalemo * NTB Jagung dan Padi Hasil Olahan BPS Kabupaten Boalemo .27 21.39 10.81 39.123.982.40 37.50 653.24 18.20 20.87 10.73 2002 79.855.771.28 12.588.84 23.061.58 46.28 18.77 198. GAS & AIR BERSIH BANGUNAN PERDAG.180.882.73 44.884.988.427.05 12.594.933.711.01 38.811.30 1.20 25.11 35.00 1.975.29 10.26 Tahun 2003 86.00 1.806.643.46 2004 92.70 44.636.470.33 10.14 186.579.00 1.74 12.00 1.53 62.620.296.373.402.Lampiran 3 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ATAS DASAR HARGA KONSTAN 2000 KABUPATEN BOALEMO MENURUT LAPANGAN USAHA TAHUN 2000 .948.2006 ( Dalam Jutaan ) LAPANGAN USAHA PERTANIAN Tanaman Bahan Makanan .031.38 14.48 238.035.50 51.794.11 18.516.990.00 8.181.762.78 16.00 7.00 1.07 2005 98.21 211.84 22.48 12. & JASA PERUSAHAAN JASA-JASA TOTAL PDRB 2000 68.355.198.76 13.113.127.986.15 16.895.896.85 20.654.62 23.00 12.12 36.983.37 2001 72.149.00 23.911.42 10.46 785.52 11.918.942.70 1.46 11.771. PERSEWAAN.620.

633 66.240 74.546 2.551 23.362 LISTRIK.616 2006 180.778 31. Tanaman Bahan Makanan .156 27. PERSEWAAN DAN 26.Padi * PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN INDUSTRI PENGOLAHAN 22.187 KOMUNIKASI KEUANGAN. GAS DAN AIR BERSIH 2.Jagung * .587 TOTAL PDRB Sumber : BPS Kabupaten Boalemo * NTB Jagung dan Padi Hasil Olahan BPS Kabupaten Pohuwato .441 60.116 391.228 13.220 86.004 37.276 73.407 BANGUNAN 27.993 PERDAGANGAN.969 12.415 28.153 Lampiran 4 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ATAS DASAR HARGA KONSTAN 2000 KABUPATEN POHUWATO MENURUT LAPANGAN USAHA TAHUN 2004 – 2006 ( Dalam Jutaan ) LAPANGAN USAHA 2004 169.887 28.066 2.213 JASA PERUSAHAAN JASA-JASA 26.945 24.255 13.732 8.953 10.017 2. HOTEL DAN 51.364 RESTORAN PENGANGKUTAN DAN 11.660 2.160 340.454 67.512 Tahun 2005 172.682 PERTANIAN a.963 3.432 81.467 365.694 31.042 66.

200.126.000 10.016.000 14 5.460.040.000 2.67 2.000 11 3.000 2.109.000 2.924.290.088.000 5.000 3.180.400.005.920.030.340.752.000 6.500 165.232.000 2.000 4.078.200.000 2.000 2.300.33 5.000 2.455.000 5.500 82.000 2.227.000 4.000 2.814.015.400.000 8.570.539.313.000 5.000 22 5.500 6.207.000 3.000 6.500 8.250.000 2.000 5.415.899.000 20 5.340.000 12.290.500 4.000 15 4.889.720.285.007.080.67 .967.525.000 2.000 4.155.926.000 7.590.330.000 26 5.000 5.000 4.600.000 4.000 5.935.910.000 3.000 18 3.908.250 8.000 25 5.000 23 3.000 8.000 5.500 9.000 10.753.000 27 4.000 11.000 7.604.000 29 4.544.000 2.000 6.200.000 9 4.500 7.852.000 2.798.080.000 8 5.000 Jumlah 151.000 5.110.116.733.000 11.660.040.000 30 5.000 Rata-rata 5.000 3.615.000 2.430.895.500 10.000 24 5.850.050.000 13.030.000 16 5.622.440.170.245.895.000 11.730.966.577.015.098.500 4.154 Lampiran 5 Tabulasi Responden Pendapatan Usahatani Jagung Kawasan Agropolitan (Kecamatan Randangan) dan Non Agropolitan (Kecamatan Taluditi) Agropolitan Non Agropolitan Nomor (Kecamatan Randangan) (Kecamatan Taluditi) Responden Pendapatan Pendapatan Pendapatan Pendapatan (Rp/Ha) Per Tahun (Rp/Ha) Per Tahun (Rp/Ha) (Rp/Ha) 1 5.500 10.080.483.593.447.500.848.000 2.506.000 11.037.000 6.000 2.580.000 7 4.000 8.000 4 6.225.000 13 4.000 4.000 11.000 2.715.000 2.660.656.050.025.000 7.000 3 4.000 12 5.960.145.000 2 6.233.500 11.150.000 6.000 21 7.074.209.000 3.500 6.252.466.33 10.000 17 3.579.000 9.000 10.425.330.670.000 5.000 5 5.186.500 5.000 9.000 19 4.778.000 3.012.000 3.250 302.025.515.000 14.000 4.008.218.000 10.220.000 10 5.807.000 11.000 5.466.500 9.675.000 2.000 7.242.450.000 2.876.820.790.000 10.500 8.000 6 4.002.680.000 2.000 28 5.158.500 3.000 4.085.341.040.683.628.485.049.816.000 5.350.

5306666) T-Test of difference = 0 (vs not =): T-Value = 12.000 .155 Lampiran 6 Analisis Uji Beda Pendapatan Kawasan Agropolitan dan Non Agropolitan Two-sample T for Agropolitan vs Non-agropolitan N 30 30 Mean 10080017 5506967 StDev 1727609 1000130 SE Mean 315417 182598 Agropolitan Non-agropolitan Difference = mu (Agropolitan) .mu (Non-agropolitan) Estimate for difference: 4573050 95% CI for difference: (3839434.55 DF = 46 P-Value = 0.

156

Lampiran 7 Hasil Analisis Derajat Partisipasi di Kawasan Agropolitan
No A 1 Aspek Skor (S) Frekwensi (F) Bobot (B) % SxFxB %

Aspek Komunikasi Apakah anda mendapatkan informasi tentang adanya pelaksanaan pengembangan apropolitan a. Tidak b. Ya Dalam forum apa keputusan diambil dalam lingkungan desa a. Tidak ada b. Diskusi perorangan c. Diskusi dalam kelompok tani d. Diskusi dalam forum desa Menurut anda berapa orang yang tahu dan diajak berembuk menngenai sebuah proyek yang akan berlangsung di lingkungan anda (a.l. agropolitan) a. Dibawah 10 % b. Antara 10 - 30 % c. Antara 30 - 50 % d. Lebih dari 50 % Seberapa besar intervensi dari aparat terhadap proses fasilitasi program? a. Sangat Dominan b. Dominan c. Tidak terlalu Dominan d. Tidak Dominan

1 4

10 20

0,3 0,3

3 24 27

33.3 66.7

2

1 2 3 4

5 3 15 7

0,2 0,2 0,2 0,2

1 1,2 9 5,6 16,8

16.7 10.0 50.0 23.3

3

1 2 3 4

5 7 16 2

0,3 0,3 0,3 0,3

1,5 4,2 14,4 2,4 22,5

16.7 23.3 53.3 6.7

4

1 2 3 4

7 8 10 5

0,2 0,2 0,2 0,2 Total

1,4 3,2 6 4 14,6 80,9

23.3 26.7 33.3 16.7

B 1

Pengetahuan Masyarakat Atas Forum Pengambilan Keputusan Menurut anda apakah perencanaan yang ada dalam pengembangan agropolitan sudah melibatkan masyarakat ( sdh mencerminkan konsep partisipatif) a. Tidak 1 b. Ya 4 Apakah anda puas dengan prosedur dan proses pengambilan keputusan dalam forum perencanaan agropolitan? a. Tidak puas b. kurang puas c. Puas d. Sangat puas Menurut anda apakah dalam perencanaan pengembangan pembangunan (agropolitan) yang dilakukan selama ini, warga dan organisasi masyarakat tahu prosedur (tata cara) untuk ikut terlibat didalamnya. a. Tidak tahu b. Tahu tapi hanya sedikit c. Tahu dan ikut terlibat d. Sangat tahu dan ikut terlibat

13 17

0,25 0,25

3,25 17 20,25

43.3 56.7

2

1 2 3 4

6 16 8

0,25 0,25 0,25

1,5 8 6 15,5

20.0 53.3 26.7

3

1 2 3 4

4 18 8

0,3 0,3 0,3

1,2 10,8 7,2 19,2

13.3 60.0 26.7

4

Jika keputusan diambil dalam kelompok, bagaimana keputusan itu dibuat? a. Ditentukan oleh ketua saja Didiskusikan dalam kelompok tapi hasil akhir b. ditentukan oleh ketua Didiskusikan dan ditentukan oleh sebagian dari c. forum Didiskusikan dan hasil ditentukan oleh seluruh d. forum

1 2

3 4

0,2 0,2

0,6 1,6

10.0 13.3 0.0 13.3 63.3

3 4

4 19

0,2 0,2

2,4 15,2 19,8

157

Total Bobot (B) %

74,75

No c 1

Aspek Kontrol Terhadap Kebijakan Apakan warga dan organisasi masyarakat lainnya dapat dengan mudah terlibat/ ikut serta dalam forum perencanaan a. b. c. d. Sangat Sulit Sulit Mudah Sangat Mudah

Skor (S)

Frekwensi (F)

SxFxB

%

1 2 3 4

9 10 8 3

0,3 0,3 0,3 0,3

2,7 6 7,2 3,6 19,5

30.0 33.3 26.7 10.0

2

Apakah anda pernah memberikan masukan kepada pemerintah atau pihak yang anda anggap bertanggungjawab untuk merubah prosedur dan proses pengambilan keputusan a. b. c. d. Tidak pernah Pernah dan tidak mendapat tanggapan Pernah dan mendapat sedikit tanggapan Pernah dan mendapat tanggapan 1 2 3 4 8 10 0,4 0,4 9,6 16 27,6 26.7 33.3 5 0,4 2 16.7

3

Menurut anda, bagaimana keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan proyek agropolitan a. b. c. d. Tidak baik Cukup baik Baik Sangat baik 1 2 3 4 4 7 19 0,3 0,3 0,3 Total 2,4 6,3 22,8 31,5 78,6 13.3 23.3 63.3

Lampiran 8 Peta Rencana Struktur Tata Ruang Provinsi Gorontalo

konflik sosial.159 Lampiran 9 Indikator Komponen Heksagonal PEL ASPEK Kelompok Sasaran SUB ASPEK Investor luar INDIKATOR Peraturan(Perda/Perkada/SK Ka. dan buruh mogok) Kampanye peluang usaha melalui : 1. elektronik. Penyerdehanaan Perijinan c.SKPD) tentang kemudahan dalam bentuk: a. Media massa(media cetak. organisasi usaha) Fasilitasi pelatihan kewirausahaan bagi pengusaha baru (kemampuan teknik dan entrepreneurship) Pendampingan dan monitoring bisnis pelaku usaha baru Insentif pemda dalam bentuk pemberian dana stimulan dan keringanan biaya perijinan Kecepatan pengurusan ijin bagi investasi baru Pelaku Usaha lokal Pelaku Usaha Baru . ijin lokasi usaha.l. badan hukum. manajemen. peradilan niaga) Keamanan(penjarahan.premanisme. tata ruang. dan kelembagaan usaha lokal (aspek ijin usaha. Insentif fiskal b. persaingan usaha. Kegiatan interaktif(temu usaha/pameran/seminar potensi daerah) Pusat pelayanan investasi dengan jasa layanan konsultasi investasi Upaya fasilitasi permodalan bagi dunia usaha oleh pemda Promosi produk UKM untuk memperluas pasar oleh pemda Upaya pemda untuk peningkatan teknologi. arbitrase. Ketenagakerjaan Informasi prospek bisnis (buku/booklet/leaflet peluang investasi. Penyediaan Lokasi/Lahan d. official web site) Kepastian berusaha dan hukum (a. web site) 2.

KSP/USP) Jumlah penyaluran kredit (modal kerja dan investasi) perbankan/lembaga keuangan bukan bank Iklim perekonomian lokal Peran dan kebijakan pemerintah provinsi kepada daerah Peran dan kebijakan pemerintah pusat kepada daerah Citra dari lokasi (sentra usaha) Citra dari kota/kabupaten Industri yang memiliki mata rantai lengkap dari hulu ke hilir untuk suatu komoditas Peluang kerjasama dalam industri sejenis maupun dalam industri uluhilir Lembaga penelitian perguruan tinggi Lembaga penelitian dan pengemabngan pemerintah dan swasta bukan perguruan tinggi Pelayanan perijinan satu atap Peluang bekerja bagi tenaga kerja lokal dibanding dengan pendatang .160 ASPEK Faktor Lokasi SUB ASPEK Faktor Lokasi Terukur Faktor Lokasi Tidak Terukur INDIKATOR Kondisi jaringan jalan Akses ke pelabuhan laut Akses ke pelabuhan udara Sarana transportasi Infrastruktur komunikasi Infrastruktur energi Upah tenaga kerja dibanding daerah sekitar Tenaga kerja terampil Tenaga kerja terdidik (Jumlah angkatan kerja lulusan SLTA dibanding total angkatan kerja) Jumlah lembaga keuangan lokal (Bank umum. BPR.LKM.

tentang pembatasan lokasi pasar modern/ supermarket/hypermarket Kebijakan perbaiakan UKM (a. kemitraan dan subkontrak) Kebijakan peningkatan peran Perusahaan Daerah Kebijakan pengembangan jaringan usaha antar pelaku ekonomi Kebiajkan informasi bursa tenaga kerja Kebijakan pengembangan keahlian (peningkatan ketrampilan) Kebijakan pemberdayaan masyarakat berbasis kemitraan dengan dunia usaha (memanfaatkan dana CSR) Kebijakan pengurangan kemiskinan secara partisipatif Kebijakan pembangunan kawasan industri hinterland / industri Kebijakan pengembangan pusat pertumbuhan di perdesaan (agropolitan) dan perkotaan (central business district) Kebijakan pengembangan komunitas sprt: perbaikan lingkungan. prodksi dan pengolahan) .l. perbaikan kampung Kebijakan kerjasama antar daerah/pemda Keijakan tata ruang PEL Kebijakan pengembangan jaringan usaha antar sentra usaha Sistem industri yang berkelanjutan (adanya keterkaitan pengadaan bahan baku.l.161 ASPEK Faktor Lokasi SUB ASPEK Faktor Lokasi Tidak Terukur Individual Keterkaitan dan Fokus Kebijakan Perluasan Ekonomi Pemberdayaan Masyarakat dan Pengembangan Komunitas Pembangunan Wilayah INDIKATOR Kualitas permukiman Kualitas lingkungan Kualitas fasilitas pendidikan Kualitas pelayanan kesehatan Kualitas fasilitas umum dan sosial Kebijakan Peningkatan Investasi Kebijakan promosi daerah Kebijakan persaingan usaha (a.

162 ASPEK Pembangunan Berkelanjutan SUB ASPEK Ekonomi Sosial Lingkungan Tata Kemitraan Kepemerintahan Pemerintah dan Dunia Usaha Reformasi Sektor Publik INDIKATOR Perkembangan industri pendukung untuk keberlanjutan sistem industri Jumlah perusahaan yang telah memiliki business plan Jumlah perusahaan yang melakukan inovasi pengembangan produk dan pasar Kontribusi PEL terhadap peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat lokal PEL mempertimbangan keberadaan adat dan kelembagaan lokal Kebijakan pemecahan permasalahan lingkungan (a. jelas 3.l. terjangkau Status asosiasi industri/komoditi/ forum bisnis Peran asosiasi industri/komoditi/forum bisnis terhadap perbaikan kebijakan pemerintah di bidang PEL Manfaat asosiasi /organisasi bagi anggotanya Pengembangan Organisasi .l : pinkaman. produk organik) Kebijakan konservasi sumber daya alam dalam PEL Kemitraan di bidang infrastruktur (a.l. BOT) Kemitraan di bidang promosi dan perdagangan Kemitraan di bidang pembiayaan usaha ( a. cepat 4.l.: remunerasi. sederhana 2. PKBL) Reformasi sistem insentif pengembangan SDM aparatur(a.l. penerapan amdal) Pengelolaan dan pendaur ulangan limbah (a. jenjang karir Restrukturisasi organisasi pemerintah Prosedur pelayanan administrasi publik : 1. penyaluran kredit.

163 ASPEK Proses Manajemen SUB ASPEK Diagnosa Secara Partisipatif Perencanaan dan Implementasi Partisipatif Monitoring dan Evaluasi secara Partisipatif INDIKATOR Analisis dan pemetaan potensi ekonomi Penilaian terhadap daya saing wilayah Pemetaan kondisi politis lokal Identifiaksi stakeholder PEL Penggunaan hasis diagnosis sebagai dasar perencanaan PEL Jumlah stakeholder yang terlibat dalam proses perencanaan PEL Sinkronisasi lintas sektoral dan spasila dalam proses perencanaan PEL Kesesuaian implementasi dengan perencanaan Keterlibatan stakeholder dalam proses penyusunan indikator evaluasi Keterlibatan stakeholder dalam proses monitoring dan evaluasi Frekuensi dilakukan evaluasi mandiri (self evaluation) Frekuensi dilakukan diskusi bagi proses pemecahan permasalahan Penggunaan hasil evaluasi dalam perbaikan perencanaan .

BUMD Provinsi Gorontalo .164 Lampiran 10 Gambar Jalan Usahatani Kawasan Agropolitan Randangan Lampiran 11 Gambar Gudang Agribisnis PT Gorontalo Fitra Mandiri.

165 Lampiran 12 Gambar Program Agropolitan di Kecamatan Randangan Lampiran 13 Gambar Terminal Randangan .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful