ANALISIS DAMPAK DAN STRATEGI PENGEMBANGAN AGROPOLITAN BASIS JAGUNG TERHADAP PEREKONOMIAN WILAYAH SERTA ANALISIS PENDAPATAN MASYARAKAT

PETANI DI PROVINSI GORONTALO (Studi Kasus Kabupaten Pohuwato)

SHERLY GLADYS JOCOM

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis ”Analisis Dampak dan Strategi Pengembangan Agropolitan Basis Jagung terhadap Perekonomian Wilayah serta Analisis Pendapatan Masyarakat Petani di Provinsi Gorontalo (Studi Kasus Kabupaten Pohuwato)” adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau yang dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebut dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Januari 2009

Sherly Gladys Jocom A155050011

ABSTRACT
SHERLY GLADYS JOCOM. An Analysis of the Impact and Strategy of Corn-Based Agropolitant Development on the Regional Economy and Farmers’ Income Analysis in the Province of Gorontalo (Case study of Pohuwato Regency). Under the direction of EKA INTAN KUMALA PUTRI, and HIMAWAN HARIYOGA. This study was intended to identify the impact of the agropolitant development in relation to the regional development of Pohuwato Regency. The objective of the study was to analyze the impact of corn-based agropolitant development on the regional economy and farmers’ income, measure the level of people’s participation, and formulate the policies which can stimulate economic development in the agropolitant area. The research results show that corn-based agropolitant development has improved the regional economy of Pohuwato Regency through a change in the structure of regional economy and increased the farmers’ income although the major (prioritized) sectors such as agriculture, subfood crops, corn commodities and transportation are still low in competitiveness. The people’s participation in the agropolitant area was at the level of consultation. Therefore, the strategies for the development of regional economy in the agropolitant area should include (1) formation of investment service centers, (2) improvement in the promotion of UKM (small-medium scale businesses) and business opportunity campaigns, (3) the exertion of product and market diversification (4) provision of business permit / licenses under one roof ( onestop services office ), (5) improvement in facilities and quality of education as well as public and social facilities, (6) optimization in the development of growth centers in the rural areas (agropolitants), (7) improvement in cooperation policies between regions, and (8) empowerment of community and farmers’ institutions. Keywords : agropolitant, regional economy, community’s participation

namun secara kompetitif sektor-sektor unggulan seperti sub sektor tanaman bahan makanan. Penelitian ini dilakukan untuk melihat dampak pengembangan program agropolitan dikaitkan dalam pembangunan wilayah Kabupaten Pohuwato. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan September – Oktober 2007. Dibimbing oleh EKA INTAN KUMALA PUTRI. Sebagai salah satu provinsi baru. Pengembangan agropolitan basis jagung juga meningkatkan pendapatan masyarakat petani.506. Analisis Uji Beda Pendapatan. melalui penyuluhan.016.966.per ha/tahun lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata pendapatan usahatani di kawasan non agropolitan sebesar Rp. Analisis Shift Share. Adapun alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis Location Quotient. rendahnya tingkat pengetahuan petani dan masih terbatasnya sarana–prasarana penunjang menjadi faktor penting yang berpengaruh terhadap keberhasilan pengembangan agropolitan basis jagung. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis dampak program agropolitan terhadap perekonomian wilayah dan pendapatan masyarakat petani. sektor bangunan dan pengangkutan masih memiliki daya saing yang rendah sehingga dapat menghambat perekonomian wilayah. dan HIMAWAN HARIYOGA. Analisis Dampak dan Strategi Pengembangan Agropolitan Basis Jagung terhadap Perekonomian Wilayah serta Analisis Pendapatan Masyarakat Petani di Provinsi Gorontalo (Studi Kasus Kabupaten Pohuwato). Rata-rata pendapatan usahatani di kawasan agropolitan yaitu sebesar Rp. Secara komparatif pengembangan agropolitan basis jagung mampu menggerakkan sektor industri pengolahan. . komoditi jagung. 10. mengkaji tingkat partisipasi masyarakat dan merumuskan strategi pembangunan yang dapat mendorong pengembangan ekonomi kawasan agropolitan. Analisis Tingkat Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan dan Analisis Rapid Assessment for Local Economic Development (RALED). Gorontalo berkembang pesat dan menjadi salah satu provinsi yang diperhitungkan di Kawasan Timur Indonesia. Multiplier Short Run dan Multiplier Long Run. listrik dan air bersih sehingga dapat memberikan multiplier effect yang besar terhadap total perekonomiam wilayah.. Kabupaten Pohuwato masih memiliki banyak permasalahan seperti tingginya tingkat kemiskinan. pembangunan infrastruktur jalan usaha tani dan intervensi harga dari pemerintah.. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pengembangan agropolitan basis jagung ternyata meningkatkan perekonomian wilayah melalui pergeseran struktur perekonomian wilayah. 5.RINGKASAN SHERLY GLADYS JOCOM. Provinsi Gorontalo merupakan salah satu provinsi yang mengembangkan konsep agropolitan sebagai salah satu pendekatan dalam memacu pembangunan dan pengembangan wilayahnya. Hasil uji statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan antara pendapatan usahatani di kawasan agropolitan dengan kawasan non agropolitan pada taraf nyata 95%.per ha/tahun. Namun demikian sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Gorontalo yang menjadi kawasan rintisan pengembangan agropolitan.080.

(6) mengoptimalkan pengembangan pusat-pusat pertumbuhan di perdesaan (Agropolitan) (7) meningkatkan kebijakan kerjasama antar daerah. Kata Kunci : agropolitan.16 dan aspek yang memiliki nilai indeks terendah adalah aspek proses manajemen yaitu sebesar 50. total skor untuk aspek komunikasi adalah 80. (2) peningkatan Promosi UKM dan Kampanye Peluang Berusaha oleh Pemda. (4) penerapan pelayanan perijinan satu atap.6. Berdasarkan berbagai kondisi diatas. Kondisi ini menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat di kawasan agropolitan masih berada pada taraf sebagai pelaksana program. Berdasarkan hasil analisis Raled dan penentuan bobot gabungan diperoleh bahwa dimensi PEL Kabupaten Pohuwato adalah sebesar 57. peran asosiasi terhadap kebijakan di bidang Pel dan prosedur pelayanan administrasi publik.Tingkat partisipasi masyarakat di kawasan agropolitan berada pada tingkat konsultasi. Selanjutnya untuk aspek tata pemerintahan faktor pengungkitnya adalah manfaat asosiasi bagi anggotanya. (3) upaya diversifikasi produk dan pasar.99. Hal ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan status pengembangan ekonomi lokal Kabupaten Pohuwato berada dalam kondisi baik. . Untuk aspek pembangunan berkelanjutan faktor pengungkitnya adalah belum adanya perusahaan yang melakukan inovasi pengembangan produk dan pasar. Hasil analisis Raled menunjukkan bahwa faktor pengungkit untuk aspek kelompok sasaran adalah belum tersedianya pusat layanan investasi. promosi produk UKM dari Pemda dan kampanye peluang berusaha yang masih relatif rendah. Faktor pengungkit aspek kesinergian dan fokus kebijakan adalah kebijakan pengembangan pusat pertumbuhan di perdesaan (agropolitan) dan kebijakan kerjasama antar daerah/pemda.9 dan aspek pengetahuan masyarakat terhadap forum pengambilan keputusan adalah 74. Dimensi atau aspek yang memiliki nilai indeks tertinggi adalah aspek kelompok sasaran yaitu sebesar 67. belum melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan. kualitas dan fasilitas pendidikan yang masih rendah serta fasilitas umum dan sosial yang belum memadai. partisipasi masyarakat. Faktor pengungkit aspek faktor lokasi adalah belum berjalannya pelayanan perijinan satu atap. (5) perbaikan fasilitas dan kualitas pendidikan serta fasilitas umum dan sosial. perekonomian wilayah. maka strategi pengembangan ekonomi kawasan agropolitan adalah (1) pembentukan pusat layanan investasi. kontribusi Pel terhadap peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan serta jumlah perusahaan yang memiliki bussiness plan.19. Berdasarkan hasil analisis. Faktor pengungkit untuk aspek proses manajemen adalah jumlah stakeholder yang terlibat dalam perencanaan pel serta analisis dan pemetaan potensi ekonomi. (8) pemberdayaan masyarakat dan kelembagaan masyarakat.8 serta aspek kontrol terhadap kebijakan adalah 78.

b. . Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan. penelitian. Pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB. penyusunan laporan. a. penulisan karya ilmiah.©Hak cipta milik IPB. tahun 2009 Hak cipta dilindungi Undang Undang 1 Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. 2 Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB. penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah.

ANALISIS DAMPAK DAN STRATEGI PENGEMBANGAN AGROPOLITAN BASIS JAGUNG TERHADAP PEREKONOMIAN WILAYAH SERTA ANALISIS PENDAPATAN MASYARAKAT PETANI DI PROVINSI GORONTALO (Studi Kasus Kabupaten Pohuwato) SHERLY GLADYS JOCOM Tesis Sebagai salah satu syarat utuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Ilmu-ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 .

Dr. MSc Anggota Diketahui Ketua Program Studi Ilmu-Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan Dekan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor Dr. Notodiputro. MS Prof. Ir.Ir.Judul Tesis : Analisis Dampak dan Strategi Pengembangan Agropolitan Basis Jagung terhadap Perekonomian Wilayah serta Analisis Pendapatan Masyarakat Petani di Provinsi Gorontalo (Studi Kasus Kabupaten Pohuwato) : Sherly Gladys Jocom : A155050011 Nama NIM Disetujui Komisi Pembimbing Dr. Himawan Hariyoga. Ir. MS Ketua Dr. Eka Intan Kumala Putri. MS Tanggal Ujian : 19 Desember 2008 Tanggal Lulus : . Khairil A. Ir. Bambang Juanda.

MSc sebagai anggota yang telah membimbing dan memberikan saran sehingga tesis dapat diselesaikan. Terima kasih juga disampaikan kepada Rektor Universitas Sam Ratulangi Manado dan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi atas kesempatan yang telah diberikan kepada penulis untuk mengikuti Program Magister Sains (S2) di Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Demikian juga kepada Dekan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor dan Ketua Program Studi Ilmu-ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan (PWD) beserta staf pengajar atas kesempatan dan bekal ilmu yang diberikan. MS yang telah bersedia menjadi penguji luar komisi dalam sidang ujian tesis. MS sebagai ketua dan Dr. Himawan Hariyoga. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Dr. Bambang Juanda. Ir.KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga sebuah kristalisasi pemikiran penulis yang diwujudkan dalam bentuk tesis dapat diselesaikan. Tesis ini berjudul : ”Analisis Dampak dan Strategi Pengembangan Agropolitan Basis Jagung terhadap Perekonomian Wilayah serta Analisis Pendapatan Masyarakat Petani di Provinsi Gorontalo (Studi Kasus Kabupaten Pohuwato)” Pada kesempatan ini penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu baik didalam studi secara keseluruhan maupun khususnya dalam penelitian tesis ini. Eka Intan Kumala Putri. Dr. Ucapan terima kasih terutama penulis sampaikan kepada komisi pembimbing. Ucapan terima kasih dan penghargaan juga ingin penulis sampaikan kepada rekan-rekan seangkatan 2005 PWD atas segala bentuk solidaritas dan . Yayasan Dana Mandiri dan Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian Unsrat atas dukungan beasiswa dan bantuan penelitian yang telah diberikan sehingga studi penulis dapat berjalan lancar. Ir. Ir. Selanjutnya terima kasih dan penghargaan penulis sampaikan kepada Pemerintah Daerah dan masyarakat Kabupaten Pohuwato atas kerjasama dan partisipasinya selama pengumpulan data. Tak lupa penulis menyampaikan terima kasih kepada Dikti melalui BPPS.

Akhirnya. serta semua pihak atas berbagai perannya dalam studi penulis. Januari 2009 Sherly Gladys Jocom . Penulis dengan sepenuh cinta menyampaikan terima kasih kepada suamiku Steven Tolu atas segala pengorbanan dan kesabarannya dalam mendampingi penulis menjalani studi. Penulis dengan rendah hati mohon saran dan kritik dari berbagai pihak untuk perbaikan tesis ini dan semoga tesis ini bermanfaat. Bapak Constantein Jocom dan Ibu Welmina Mantiri atas doa dan perjuangannya membesarkan penulis serta adik dan keluargaku yang telah memberikan dukungan material maupun spiritual. Kepada kedua orang tua.social capital yang telah dibangun selama ini. Bogor.

Pada tahun 2005. Menamatkan pendidikan sekolah menengah pertama pada SMPN 1 Manado pada tahun 1989.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara pada tanggal 9 November 1973 dari Ayah Constantein Jocom dan Ibu Welmina Mantiri. Pendidikan sekolah menengah atas pada SMAN 1 Manado dan tamat tahun 1992. . Tahun 2003 penulis diangkat menjadi CPNS di Universitas Sam Ratulangi Manado dan ditempatkan sebagai staf pengajar pada Fakultas Pertanian Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. penulis melanjutkan pendidikan dan diterima sebagai mahasiswa pada program studi Ilmu-Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan (PWD) Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor dengan bantuan biaya BPPS Dikti. selanjutnya penulis menempuh pendidikan sarjana (S1) pada Program Studi Ekonomi Pertanian Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi Manado dan tamat tahun 1997. Menikah dengan Steven Tolu. Pendidikan sekolah dasar ditempuh penulis pada SD Kristen Tabita II Manado dan tamat tahun 1986. SE pada tanggal 31 Maret 2001. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara.

Analisis Location Quotient (LQ)......1.2........ Tujuan Penelitian ….. xiv DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………….. 2... Perumusan Masalah ...1. Peran Infrastruktur dalam Pembangunan Perdesaan ....... Lokasi dan Waktu Penelitian ………………………………….......... 1...... 2..3.... Pengembangan Kawasan Agropolitan. IV.....9...1. 2...2.... Konsep Wilayah dan Wilayah Perdesaan... . Hipotesis ……………………………………………………… METODE PENELITIAN ………………………………….. 1.... Multiplier Short Run (MS).............……………………. III. 2..1.. 3.......... 4.... 4.. 1.…………………………………….............. Pentingnya Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan ……. 3.......………………….. 1.......... TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………… 2..............1......4.....3. 4.5..5.. Kerangka Pendekatan Operasional …………………........7... Komoditi Unggulan dan Teori Basis Ekonomi ………….. Ruang Lingkup Penelitian …………………………………….... Revitalisasi Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL)…………… 2...DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ….. Latar Belakang ………………………………………………... Kerangka Pemikiran Penelitian ...... 2.………………….. 1............8... Sumber Data ………………………………………………….6. 1 1 6 11 11 12 13 13 16 20 23 25 26 30 32 33 37 41 41 42 46 47 47 47 48 50 50 II....4......3..4... Disparitas antar Wilayah dan Pembangunan Perdesaan. 2............ PENDAHULUAN …………………………………………………..2......... Kemandirian Melalui Penguatan Kapasitas Kelembagaan Lokal Perdesaan dan Kemitraan ...... 2..…………………………………………………….……………………………………….4.10 Penelitian Terdahulu …………………………………………........ Metode Pengambilan Sampel ………………………………… 4..... xvii DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………. 2..2. Peranan Pemerintah dalam Pengembangan Agropolitan …….. 4.... dan Multiplier Long Run (ML) ... KERANGKA PEMIKIRAN ……………………………………… 3. xix I............. Metode Analisis ………………………………………………....3..... Manfaat Penelitian …….... ..

.....5...2. Pengganda Pendapatan Jangka Pendek ......... 6. Analisis Ekonomi Wilayah ......3........... Analisis Tingkat Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan . Deskripsi Umum Kawasan Non Agropolitan Kecamatan Taluditi………………………………………………………… DAMPAK PENGEMBANGAN AGROPOLITAN ……………… 6. 5. Komoditi Unggulan ……………………………………..2. Dinas Kimpraswil ……………………………………… 5....2...... 5. Kependudukan ………………………………… 5. Pengganda Pendapatan Jangka Panjang .....3............2....3.4.. Sosial Ekonomi Budaya Masyarakat ………………….1...2. 5...3..1. Analisis Shift-Share ....5...2............ 4. V......... Pola Penggunaan Lahan ……………………………….. 4.. 51 53 54 56 58 58 59 59 61 61 62 63 63 65 66 67 67 70 70 71 72 72 73 73 74 75 76 77 78 80 80 90 90 93 VI...4. Subsistem Penunjang …………………………………............. 5...... 5..... 5.......2.....2... 5.......3.....4. Prasarana dan Sarana Kimpraswil …………………….....4..4..3...... Pendidikan …………………………………….. Karakteristik Aktivitas Pertanian di Kawasan Agropolitan Randangan ……………………………………………………..4....... Keadaan Geografis dan Administratif ………………….4....2.1...1.. 5. DESKRIPSI UMUM WILAYAH PENELITIAN ………………... Kondisi Perekonomian Wilayah ……………………….........4..2..... Deskripsi Umum Kawasan Agropolitan Randangan …………. Analisis Uji Beda Pendapatan .2. 5.2...1...2.. ........2.......2. 5....1........3..3... Subsistem Distribusi dan Pasar ……………………….3............ Subsistem Produksi ……………………………………...2... 5........2... Fasilitasi Pemerintah dalam Pengembangan Agropolitan Randangan ……………………………………………………..... 4...2..... 6.....3........ Struktur Perekonomian Wilayah ……………….4.1.. Deskripsi Umum Kabupaten Pohuwato ………………………........ 5.....................4..........1.. 5.....1... 6.3..... 5.. Deskripsi Umum Agropolitan Provinsi Gorontalo…………….... Analisis Rapid Assessment For Local Economic Development (RALED) .......2................2.. Pertumbuhan Ekonomi ………………………… 5.. 5.4.... Dinas Pertanian ………………………………………… 5. Dampak terhadap Perekonomian Wilayah …………….3. 5.5.6... 5..... 5...... 5. Pemerintah Daerah ……………………………………..... Penduduk dan Pekerjaan ………………………………....3..... 5.4..2. Subsistem Pengolahan …………………………………..4..2.

.... 146 LAMPIRAN .....4.. Status dan Faktor Pengungkit Aspek Kelompok Sasaran 8. 8..... Aspek Sosial……………………………………..5.... Partisipasi Masyarakat dalam Kawasan Agropolitan…………..3.... KESIMPULAN DAN SARAN .....6......1......1........ Status dan Faktor Pengungkit Aspek Proses Manajemen.2....1.............. 96 7. 8................ 101 VIII..... Kesimpulan …………………………………………………… 143 9.. Strategi Pengembangan Ekonomi Lokal di Kawasan Agropolitan …………………………………………………… 8.... 8... 95 7...... STRATEGI PENGEMBANGAN EKONOMI DI KAWASAN AGROPOLITAN ………………………………………………….........2.1.2...1....2.......2 Dampak Agropolitan terhadap Pendapatan Masyarakat Petani 96 7... 8.. 8.4.2........ Faktor Pengungkit Aspek Pembangunan Berkelanjutan 8. Status dan Faktor Pengungkit Aspek Pembangunan Berkelanjutan …………………………………………......... 8....1....................3.... 143 9....2...............2......1..3.3. 8.. Aspek Budaya………………………………………….... 150 ......1.... 8..5.. Status dan Faktor Pengungkit Aspek Faktor Lokasi …. Status dan Faktor Pengungkit Aspek Kesinergian dan Fokus Kebijakan ……..... Faktor Pengungkit Aspek Tata Pemerintahan …………... 95 7.………………………………........ Faktor Pengungkit Aspek Proses Manajemen …………... Faktor Pengungkit Aspek Kelompok Sasaran …………..1.1.. 95 7.. Saran …………………………………………………………..... Analisis Kondisi dan Status Pengembangan Ekonomi Lokal di Kabupaten Pohuwato ………………………………………..... Faktor Pengungkit Aspek Faktor Lokasi ……………….....2.. Faktor Pengungkit Aspek Kesinergian dan Fokus Kebijakan……………………………………………….......1... DAMPAK AGROPOLITAN TERHADAP MASYARAKAT….1.2. Status dan Faktor Pengungkit Aspek Tata Pemerintahan......2..1............2.....1..... 108 108 110 113 118 122 127 130 133 135 136 137 139 140 141 IX.1... 8..... Karakteristik Masyarakat di Kawasan Agropolitan…. 8..2. 144 DAFTAR PUSTAKA ..VII... Aspek Ekonomi ………………………………………....... 8....……… 96 7..

........ 8 Aspek dan Tingkatan dalam Menilai Derajat Partisipasi Menurut Arnstein ……………………………………………. 13 Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kabupaten Pohuwato ………………………………………….... 12 Penduduk Menurut Kecamatan..... 14 Jumlah Murid dan Guru di Kabupaten Pohuwato Tahun 2004 dan 2006 ……………………………………………………… 15 Kontribusi Sektor Ekonomi dalam PDRB Kabupaten Pohuwato Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2004–2006……............. 3 PDRB Gorontalo Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2001 – 2005 ………………………..... 6 Sarana Dasar Usaha Agribisnis …………………………................ 2 Perkembangan Luas Panen......... 7 Matriks Pendekatan Penelitian ……………………………….... 9 Derajat Partisipasi Menurut Arnstein ………………………… 10 Nama Kecamatan......DAFTAR TABEL Halaman 1 Investasi Kimpraswil di Kawasan Agropolitan Randangan …........ 16 Persentase Penduduk Menurut Lapangan Pekerjaan Utama di Kabupaten Pohuwato Tahun 2006 …………………………… 5 7 8 9 9 24 49 55 56 60 60 61 62 63 64 65 ........ 4 Jumlah Penduduk Usia 15 Tahun keatas Provinsi Gorontalo… 5 Kontribusi Sektor-sektor Ekonomi terhadap PDRB Gorontalo Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2001 – 2005 ……………….. Luas dan Jumlah desa di Kabupaten Pohuwato……………………………………………………… 11 Luas Lahan Menurut Kecamatan dan Penggunaannya di Kabupaten Pohuwato ........ Jenis Kelamin dan Sex Ratio di Kabupaten Pohuwato Tahun 2006 …………………….... Produksi dan Produktivitas Tanaman Pangan Provinsi Gorontalo Tahun 2001 dan 2005.....

......... 21 Sebaran Kegiatan Pengembangan Agropolitan Provinsi Gorontalo Tahun 2002 – 2004………………………………...... Tahun 2001 dan 2003............................ 19 Penggunaan Lahan di Kawasan Agropolitan ………………… 20 Komoditas Unggulan Kawasan Agropolitan Randangan Kabupaten Pohuwato……………………………........... 31 Hasil Analisis Shift–Share Provinsi Gorontalo Sesudah Agropolitan... 22 Kegiatan Dinas Pertanian dalam Pengembangan Kawasan Agropolitan di Kabupaten Pohuwato Tahun 2005 …………...........................17 Pertumbuhan Sektor Ekonomi di Kabupaten Pohuwato Tahun 2004 – 2006…………………………………………………… 18 Pekerjaan Fisik dan Non Fisik di Kawasan Agropolitan Randangan Kabupaten Pohuwato……………………………............ 28 Hasil Analisis LQ Provinsi Gorontalo Tahun 2000 – 2006..... 30 Hasil Analisis Shift-Share Provinsi Gorontalo Sebelum Agropolitan.................................…...................................... 25 Penggunaan Lahan di Kawasan Non Agropolitan Taluditi…… 26 Luas Lahan Pertanian Menurut Kabupaten di Provinsi Gorontalo...................... 23 Kegiatan Dinas Kimpraswil dalam Pengembangan Kawasan Agropolitan Randangan Tahun 2002 – 2006...... 29 Hasil Analisis LQ Kabupaten Boalemo Tahun 2000 – 2003 dan Kabupaten Pohuwato Tahun 2004 – 2006…………….. 27 Ekspor dan Antar Pulau Komoditi Jagung di Gorontalo Tahun 2001 – 2007 ............................. Tahun 2004 dan 2006…………………………… 32 Pengganda Pendapatan Jangka Pendek Berbagai Sektor di Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato Tahun 20032006…………………………………………………………… 33 Pengganda Pendapatan Jangka Panjang Berbagai Sektor di Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato Tahun 20032006…………………………………………………………… 66 68 70 71 75 76 77 78 79 80 81 83 84 88 89 92 93 ...................................... 24 Profil Kawasan Agropolitan Randangan dan Non Agropolitan.............

.......................34 Hasil Analisis Uji-t Perbandingan Pendapatan Kawasan Agropolitan dan Non Agropolitan…………………………......... 38 Derajat Partisipasi Menurut Arnstein di Kawasan Agropolitan............................ Produksi dan Produktivitas Jagung di Kecamatan Randangan ............. 39 Status Pengembangan Ekonomi Lokal Kabupaten Pohuwato............................................................. 97 98 99 103 104 109 117 118 134 ..................... 41 Kebutuhan dan Ketersediaan Jembatan Per Kecamatan Kabupaten Pohuwato.. 36 Sumber Pendapatan Utama Masyarakat Petani Kawasan Agropolitan dan Non Agropolitan. 37 Hasil Analisis Derajat Partisipasi di Kawasan Agropolitan.. 42 Faktor-faktor Pengungkit yang Berpengaruh terhadap Pengembangan Ekonomi Lokal Kabupaten Pohuwato............................................................. 40 Keadaan Prasarana Pendidikan Kabupaten Pohuwato Tahun 2005................................................................. 35 Luas Lahan................................

......................................................... 16 Faktor Pengungkit Aspek Kesinergian dan Fokus Kebijakan di Kabupaten Pohuwato …………………………………………............................. 10 Status Aspek Kelompok Sasaran di Kabupaten Pohuwato ....................................... 9 Diagram Laba-laba Status Pengembangan Ekonomi Lokal di Kabupaten Pohuwato.......... 6 Diagram Ekonomi Jagung …………………………………..... 14 Status Aspek Kesinergian dan Fokus Kebijakan di Kabupaten Pohuwato …………………………………………………….............................. 11 Faktor Pengungkit Aspek Kelompok Sasaran di Kabupaten Pohuwato ... 3 Kerangka Pemikiran Penelitian...........DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Kerangka Klasifikasi Konsep Wilayah ............... 8 Peta Kawasan Agropolitan Randangan Kabupaten Pohuwato ............ 12 Status Aspek Faktor Lokasi di Kabupaten Pohuwato.. 7 Laju Pertumbuhan Kabupaten Pohuwato Tahun 2004 – 2006................................................................................................................................................. 18 Faktor Pengungkit Pembangunan Berkelanjutan di Kabupaten Pohuwato..... 15 Jumlah Perusahaan Industri Kecil Menengah dan Tenaga Kerja Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Gorontalo Tahun 2005............. 2 Heksagonal PEL................................. 4 Kerangka Pendekatan Operasional…………………………............................................................................... 5 Lokasi Penelitian.............................................................................................................................. 15 37 42 45 47 59 65 69 110 111 111 114 115 119 120 122 123 124 ................................................................................................... 17 Status Aspek Pembangunan Berkelanjutan di Kabupaten Pohuwato .................. 13 Faktor Pengungkit Aspek Faktor Lokasi di Kabupaten Pohuwato......................................

.... 23 Status Aspek Proses Manajemen di Kabupaten Pohuwato ................................................ 126 126 128 130 131 132 ...... 22 Faktor Pengungkit Aspek Tata Pemerintahan di Kabupaten Pohuwato.................................................................................. 24 Faktor Pengungkit Aspek Proses Manajemen di Kabupaten Pohuwato ............................................................................................................... 21 Status Aspek Tata Pemerintahan di Kabupaten Pohuwato............ 20 Indeks Pembangunan Manusia Tingkat Kabupaten di Provinsi Gorontalo .................................................19 Perkembangan Pendapatan Per Kapita Penduduk Kabupaten Pohuwato........................................

DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Produk Domestik Bruto Indonesia Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha Tahun 2000-2006...... 11 Gambar Gudang Agribisnis PT Gorontalo Fitra Mandiri......................................................................... 12 Gambar Program Agropolitan di Kecamatan Randangan............ 2 Produk Domestik Regional Bruto Atas Harga Dasar Konstan 2000 Provinsi Gorontalo Menurut Lapangan Usaha Tahun 2000-2006……………………………………………………..................... BUMD Provinsi Gorontalo . 10 Gambar Jalan Usahatani Kawasan Agropolitan Randangan....... 5 Tabulasi Responden Pendapatan Usahatani Jagung Kawasan Agropolitan (Kecamatan Randangan) dan Non Agropolitan (Kecamatan Taluditi)…………………………................... 4 Produk Domestik Regional Bruto Atas Harga Dasar Konstan 2000 Kabupaten Pohuwato Menurut Lapangan Usaha Tahun 2004-2006……………………………………………………................... 7 Analisis Derajat Partisipasi di Kawasan Agropolitan………......... 6 Analisis Uji Beda Pendapatan Kawasan Agropolitan dan Non Agropolitan……………………………………………………....... 150 151 152 153 154 155 156 158 159 164 164 165 165 .... 13 Gambar Terminal Randangan...................... 3 Produk Domestik Regional Bruto Atas Harga Dasar Konstan 2000 Kabupaten Boalemo Menurut Lapangan Usaha Tahun 2000-2006……………………………………………………........ 8 Peta Rencana Struktur Tata Ruang Provinsi Gorontalo……… 9 Indikator Komponen Heksagonal PEL................

Pertumbuhan ekonomi yang pesat ini berdampak pada semakin tertinggalnya pembangunan di wilayah Selatan yang kemudian berdampak pada kesenjangan ekonomi dan sosial antar dua wilayah tersebut (Haeruman.I. kawasan Utara Brazil berkembang pesat sebagai pusat kegiatan eksplorasi pertambangan dan bisnis perkebunan yang memacu pertumbuhan investasi swasta dan teknologi ke wilayah tersebut.1. ternyata net-effect-nya malah menimbulkan pengurasan besar (massive backwash effect). PENDAHULUAN 1. misalnya yang menggunakan konsep “growth poles” telah menunjukkan kegagalan konsep tersebut. Dengan adanya aglomerasi ekonomi dan peningkatan sumber daya manusia yang pesat. Latar Belakang Berbagai pengalaman pembangunan daerah beberapa negara berkembang menunjukkan baik kegagalan maupun keberhasilan pengembangan wilayah yang dapat menjadi pelajaran kita dalam mengembangkan strategi pengembangan wilayah bagi Indonesia. Salah satu alternatif pembangunan wilayah yang diharapkan dapat menanggulangi dampak negatif pembangunan seperti itu adalah pengembangan wilayah dengan basis pengembangan kota-kota pertanian atau yang lebih dikenal dengan kawasan agropolitan. Kebijaksanaan pembangunan wilayah di Brazil. antara lain: (a) . Kegagalan strategi pertumbuhan yaitu tidak terjadinya trickle down effect dan spread effect karena aktifitas industri yang dikembangkan ternyata sebagian besar tidak mempunyai hubungan dengan basis sumberdaya di wilayah hinterland-nya. Konsep agropolitan sebetulnya merupakan konsep yang ditawarkan oleh Friedman dan Douglas (1975) atas pengalaman kegagalan pengembangan sektor industri di beberapa negara berkembang (khususnya di Asia) yang mengakibatkan terjadinya berbagai kecenderungan. 2000) Kecenderungan pembangunan yang mendahulukan pertumbuhan ekonomi dengan melakukan investasi yang besar pada industri di pusat kota melalui kutubkutub pertumbuhan (growth poles) yang semula diramalkan akan menciptakan trickle down effect (efek penetesan ke bawah) dan spread effect (dampak penyebaran) pertumbuhan ekonomi dari kutub pusat pertumbuhan ke wilayah hinterland-nya.

Seperti kewilayahan di negara-negara berkembang lainnya. (c) tingkat pengangguran dan setengah pengangguran yang relatif tinggi. Kesenjangan ini pada akhirnya menimbulkan permasalahan yang dalam konteks makro sangat merugikan keseluruhan proses pembangunan. bahkan modal (Douglas. (b) pembangunan “modern” hanya terjadi di beberapa kota saja. Jawa dengan luar Jawa adalah bukti “ketidakseimbangan” pembangunan (Rustiadi. al. Implikasi dari keadaan tersebut menyebabkan tingginya laju urbanisasi dan kemiskinan di . 1986). sedangkan pusat-pusat pertumbuhan pada akhirnya juga menjadi lemah karena urbanisasi yang luar biasa. Meskipun demikian. sebagai akibat terpusatnya penduduk di kota-kota yang padat. Kawasan Timur Indonesia (KTI) dengan Kawasan Barat Indonesia (KBI). akibat perhatian pembangunan terlalu tercurah pada percepatan pertumbuhan sektor industri (rapid industrialization). dalam perspektif (regional) pembangunan di Indonesia mengalami ketidakadilan yang cukup menonjol antar wilayah dan ruang. alam. 2005).2 terjadinya hyperurbanization. Kesenjangan antara kawasan perkotaan dan perdesaan serta kemiskinan di perdesaan telah mendorong upaya-upaya pembangunan di kawasan perdesaan. (d) pembagian pendapatan yang tidak merata (kemiskinan). et. Hal ini telah mengakibatkan terjadinya proses urban bias yaitu pengembangan kawasan perdesaan yang pada awalnya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat kawasan perdesaan malah berakibat sebaliknya yaitu tersedotnya potensi perdesaan ke perkotaan baik dari sisi sumber daya manusia. Terjadinya disparitas pembangunan wilayah/ruang berupa dikotomi perdesaan (rural) dengan perkotaan (urban). pendekatan pengembangan kawasan perdesaan seringkali dipisahkan dari kawasan perkotaan. (f) penurunan tingkat kesejahteraan masyarakat desa (petani) dan (g) terjadinya ketergantungan pada dunia luar. sementara daerah pinggiran relatif tertinggal. Demikian pula dengan hubungan antar wilayah telah membentuk suatu interaksi yang saling memperlemah. Wilayah-wilayah hinterland menjadi lemah karena pengurasan sumberdaya yang berlebihan. (e) kekurangan bahan pangan. Potensi konflik menjadi semakin besar karena wilayah-wilayah yang dulu kurang tersentuh pembangunan mulai menuntut hak-haknya.

Konsekuensi logis dari kondisi ini adalah menurunnya produktifitas pertanian (Djakapermana. Berdasarkan kondisi tersebut. akan tetapi harus dicari solusi untuk mengurangi urban bias. dimana di pantai utara Jawa mencapai kurang lebih 20%.3 perdesaan. produk pertanian dari kawasan produksi akan diolah terlebih dahulu di pusat kawasan agropolitan sebelum di jual (ekspor) ke pasar yang lebih luas sehingga nilai tambah tetap berada di kawasan agropolitan. Indonesia mengimpor sayur-sayuran senilai US$ 62 juta dan buah-buahan senilai US$ 65 juta (Yudhohusodo.5% (tahun 1995) menjadi 40. Melalui pendekatan ini. Kabupaten Cianjur (Provinsi Jawa Barat). Kabupaten Barru (Provinsi Sulawesi Selatan) dan Kabupaten Boalemo (Provinsi Gorontalo). Indonesia harus mengimpor kedelai sebanyak 1. Data Survey Penduduk Antar Sensus (SUPAS) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan tingkat urbanisasi di Indonesia dari 37. Pengembangan kawasan agropolitan dapat dijadikan alternatif solusi dalam pengembangan kawasan perdesaan tanpa melupakan kawasan perkotaan. Pada tahap awal pengembangan kawasan agropolitan ini dilakukan di beberapa kabupaten percontohan antara lain yaitu: Kabupaten Agam (Provinsi Sumatera Barat). Kabupaten Kulon Progo (Provinsi D. Pada tahun yang sama. .277. ditandai dengan konversi lahan kawasan pertanian menjadi kawasan perkotaan. agropolitan menjadi salah satu program pemerintah melalui Departemen Pertanian dan menjadi pilihan bagi Pemerintah Daerah dalam melaksanakan otonomi-nya. tidak berarti pembangunan perdesaan menjadi tidak penting. Konsep ini telah mulai dilaksanakan sejak tahun anggaran 2002.685 ton pada tahun 2000 dengan nilai nominal sebesar US$ 275 juta. Kabupaten Bangli (Provinsi Bali). 2002). Kondisi ini mengakibatkan Indonesia harus mengimpor produk-produk pertanian untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya.5% (tahun 1998). Proses urbanisasi yang terjadi seringkali mendesak sektor pertanian.I. Di Indonesia. diharapkan terjadi interaksi yang kuat antara pusat kawasan agropolitan dengan wilayah produksi pertanian dalam sistem kawasan agropolitan. 2003). Yogyakarta). Kabupaten Rejanglebong (Provinsi Bengkulu). Melalui pengembangan agropolitan. Tercatat.

peningkatan mutu intensifikasi (PMI) dan sisi off farm-nya dengan optimalisasi pengelolaan hasil. peternakan dan perikanan. Pengembangan pertanian dengan menjadikan Gorontalo sebagai provinsi agropolitan. Sebagai salah satu sektor unggulan di Provinsi Gorontalo. Pengembangan sumber daya manusia (SDM). Gorontalo berkembang pesat dan menjadi salah satu provinsi yang diperhitungkan di Kawasan Timur Indonesia. Sementara untuk model pengembangan dilaksanakan dengan menggunakan aplikasi teknologi yang spesifik seperti perluasan areal tanam (PAT). Sebagai salah satu provinsi baru. Dalam upaya mempercepat pertumbuhan dan pengembangan wilayah. Gorontalo memiliki potensi yang layak dikembangkan dibidang pertanian. . Demplot hanya dilaksanakan untuk jangka pendek (satu tahun) yang dimaksudkan sebagai proses penyuluhan dan pembelajaran petani serta meyakinkan investor bahwa pemerintah memiliki komitmen tinggi dalam peningkatan kualitas. Konsep pengembangan agrobisnis jagung di Gorontalo dalam rangka mendukung program agropolitan didesain dalam dua model yakni demonstrasi plot (demplot) dan pengembangan. b. kuantitas dan kontinuitas produksi. c. Pengembangan ekonomi kelautan dengan sasaran peningkatan kinerja sektor perikanan dan pengembangan wilayah pesisir. pengembangan sektor pertanian dilaksanakan dengan pendekatan konsep pengembangan agropolitan dengan menetapkan jagung dan ternak sapi sebagai komoditas utama. Dilihat dari potensi sumber daya alam. provinsi yang memiliki kompetensi di bidang pertanian. maka pemerintah Provinsi Gorontalo menetapkan 3 program unggulan yang diharapkan dapat memacu perkembangan sektor-sektor lainnya yang meliputi : a.4 Provinsi Gorontalo merupakan salah satu provinsi yang mengembangkan konsep agropolitan sebagai salah satu pendekatan dalam memacu pembangunan dan pengembangan wilayahnya. Khusus untuk sektor peternakan diprioritaskan pada pengembangan sapi potong dan ayam buras yang diharapkan dengan berkembangnya ternak sapi ini akan mendorong industri pengolahan dan pasca panennya. penyimpanan serta pemasarannya.

LSM.690.000 170.940.5 Sejak ditetapkan sebagai daerah pengembangan agropolitan pada tahun 2002 Gorontalo mulai berbenah diri dimulai dengan penyusunan program dan sosialisasi di Tilamuta (ibukota Kab.000 1. Tabel 1 Investasi Kimpraswil pada Pengembangan Kawasan Agropolitan di Kecamatan Randangan No. perbaikan pasar desa.000 200.081 m 3 Unit 5. pembangunan kios pasar serta pembangunan pelataran dan prasarana pasar.081 m 20 Unit 1 Paket Biaya 390. Selanjutnya pada tahun 2003 dilaksanakan Perencanaan dan Penyusunan Master Plan dan implementasinya beserta pengawasannya dilaksanakan dengan melibatkan masyarakat di kawasan melalui lembaga pengelolaan agropolitan. 1 2 3 4 5 Tahun 2002 2002 2003 2003 2003 Program Peningkatan Jalan Poros Desa Perbaikan Pasar Desa Peningkatan Jalan Poros Desa Pembangunan Kios Pasar Pembangunan Pelataran dan Prasarana Pasar Volume 3.000. Untuk mendukung usaha pertanian yang efisien yang dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi maka diperlukan infrastruktur pendukung. Pembangunan prasarana dan sarana perdesaan melalui pengembangan agropolitan akan mendorong iklim berusaha yang kondusif antar sesama pelaku ekonomi perdesaan.000 299.459. 2003 . Keberadaan prasarana dan sarana ini tidak saja akan memberdayakan potensi ekonomi yang ada di masing-masing kawasan perdesaan tersebut. Pembangunan infrastruktur yang telah dilakukan antara lain peningkatan jalan poros desa.200.616. Akademisi dan Swasta. tetapi juga akan menarik potensi dari luar wilayah termasuk investasi swasta dalam berbagai sektor usaha jasa maupun produksi. penetapan Kecamatan Randangan sebagai Kawasan Agropolitan untuk menjadi prioritas pembangunan hingga penetapan desa Motolohu sebagai desa pusat pertumbuhan. terutama usaha mikro dan usaha kecil dalam mendukung pertumbuhan ekonomi desa serta penciptaan lapangan kerja. Pemda setempat melalui tim Pokja.000 Sumber : Dinas Kimpraswil. Boalemo).

Untuk mencapai pembangunan ekonomi yang baik. disamping lemahnya kapasitas sumberdaya manusia dan kelembagaan lokal. Berdasarkan hasil studi Hastoto (2003). mengemukakan bahwa secara umum wilayah provinsi Gorontalo mengalami fenomena backwash effect. pengembangan kawasan agropolitan diharapkan dapat memberikan solusi bagi masalah perdesaan tersebut.6 Pendekatan pambangunan ekonomi dan wilayah berbasis agropolitan yang diimplementasikan dengan pilar utama penggerak ekonomi yaitu sektor pertanian dan perikanan dipacu dan diharapkan dapat menarik perkembangan sektor-sektor yang lainnya. . Dalam konsep agropolitan.2. Kebijakan pembangunan perdesaan yang dilakukan selama ini belum mampu memberikan perubahan yang signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. dalam arti akumulasi aliran netto nilai tambah berlangsung keluar wilayah terutama ke Bitung/Manado. konsep pengembangan agropolitan muncul dari permasalahan adanya ketimpangan pembangunan wilayah antara kota sebagai pusat kegiatan dan pertumbuhan ekonomi dengan wilayah perdesaan sebagai pusat kegiatan pertanian yang tertinggal. Sejalan dengan hal tersebut hasil studi P4W (2002). desalah yang diarahkan sebagai pusat pertumbuhan. kota dan desa harus berperan dan menjalankan fungsi-fungsi tersebut. fungsi kota lebih dititikberatkan sebagai pusat kegiatan non pertanian dan pusat administrasi. Perumusan Masalah Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Penyebab utama aliran netto nilai tambah negatif adalah karena keterbatasan akses Gorontalo ke pasar ekspor langsung. Proses interaksi kedua wilayah tersebut selama ini secara fungsional ada dalam posisi yang saling memperlemah. Makasar atau langsung ke luar negeri. 1. kapasitas pengolahan (industri pengolahan) setempat yang terbatas. Karenanya. dikemukakan bahwa pembangunan yang dilaksanakan di Provinsi Gorontalo masih menunjukkan adanya kesenjangan antar kabupaten/kota dalam provinsi maupun antara kabupaten/kota di Provinsi Gorontalo dengan kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Utara. Sementara itu. bukan sebagai pusat pertumbuhan.

78 13.20 6.325 3.173 4.153 44.17 93.308 86. Luas panen komoditi unggulan jagung mencapai 68.99 Sumber : Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Gorontalo. Kacang tanah 3. Pengembangan agropolitan berbasis jagung merupakan salah satu langkah yang dilakukan pemerintah untuk mencapai tujuan tersebut. Tabel 2 Perkembangan Luas Panen. Kedelai 1.74 2.23 116.048 12.202 4.04 12.211 103.39 5.341 3. Jagung 36. Padi 35.7 Oleh karenanya untuk memacu pembangunan dan pengembangan wilayahnya.89 4. Ubi jalar 618 352 5. Diharapkan dengan pendekatan ini partisipasi aktif masyarakat dapat terkristalisasi secara terpadu melalui pengembangan sistem agribisnis terpadu dalam rangka memperoleh nilai tambah produksi serta peningkatan jumlah produksi pertanian.639 39.845 2. Untuk mencapai tujuan tersebut pembangunan wilayah berbasis komunitas lokal dijadikan acuan untuk membangun kualitas pertanian di Provinsi Gorontolo. Pemerintah Provinsi Gorontalo menerapkan pendekatan konsep agropolitan.110 158.720 400.046 22. Perdagangan antar pulau dan .525 hektar dengan produksi mencapai 400.52 7.98 persen dari total luas panen Tanaman Pangan Di Provinsi Gorontalo. Ubi kayu 1.378 11. 2006 NO JENIS KOMODITAS Sebagai komoditi unggulan yang merupakan basis ekonomi di Provinsi Gorontalo. komoditas jagung mengalami perkembangan yang pesat dari tahun ke tahun baik dalam luas panen maupun jumlah produksi.627 5.33 12.038 11. Pada tahun 2005 luas panen jagung mencapai 107. Pengembangan kawasan agropolitan bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat melalui percepatan pembangunan wilayah dan peningkatan keterkaitan desa dan kota dengan mendorong berkembangnya sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing. Sehingga pada gilirannya akan dapat mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat petani.185 1.32 37.233 12.907 2.610 107.525 81.13 3. Produksi dan Produktivitas Tanaman Pangan Provinsi Gorontalo Tahun 2001 dan 2005 LUAS PANEN PRODUKSI PRODUKTIVITAS (Ha) (Ton) (Ku/Ha) 2001 2005 2001 2005 2001 2005 1.046 ton.56 42. Kacang hijau 248 595 249 726 10.870 167.

985.561 ton yang dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah ini.47 1.01 184.86 2.801.8 ekspor jagung Gorontalo tahun 2005 mencapai 127. 2006.42 371.029.074.87 171.21 348.680.620.Jasa-jasa Total 2001 542.21 122.766. Jika dilihat dari indikator makro.Industri Pengolahan 4.65 145. 2.749.822.26 197. 1.865.30 280.063. provinsi Gorontalo sebagai provinsi muda hasil pemekaran dari Provinsi Sulawesi Utara mengalami kemajuan yang menggembirakan.785.29 2.100.664.690. Seiring dengan pertumbuhan penduduk. .16 186.83% per tahun. Hotel & Rest 7.33 194.96 585.31 33.32 2005 981.320.621.99 198.92 Sumber : BPS. lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional.354.381.40 410.357.Pertanian 2.Gas dan Air Bersih 5.04 330.97 10.80 288.805.Pertambangan dan Penggalian 3.30 21.92 22.668.824.591.88 18.546.Keuangan 9. yang Gorontalo menunjukkan peningkatan signifikan.987.53 127. Pertumbuhan ekonomi Gorontalo meningkat dari 5.349.95 502. Yang menjadi pertanyaan adalah seberapa besar agropolitan memiliki kontribusi dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi Gorontalo tersebut? Pertumbuhan penduduk selang 4 tahun terakhir mengalami peningkatan sebesar 1.97 349.00 272.544.595.02 200.101.354.45 25.64 50.457.05 16.927.80 189.937.749.192.77 819.37 236.38 % pada 2001 sebelum pengembangan agropolitan menjadi 7.479.01 2.02 213.Bangunan 6.03 172.528.Listrik.24 364.386.964. jumlah angkatan kerja di Provinsi Gorontalo tiap tahun juga mengalami kenaikan.11 232.39 trilyun tahun 2005 (Tabel 3). Hal ini dapat dilihat dimana PDRB nominal meningkat dari Rp.55 218.597.086.01 14 .691.13 3.09 2003 804.587.828.195.15 trilyun tahun 2002 dan meningkat menjadi Rp.Pengangkutan & Komunikasi 8.147.452.571.69 2004 853.16 16.062.2005 (jutaan rupiah) Lapangan Usaha 1.719.Perdagangan.30 423.022.30 2002 660.82 trilyun tahun 2001 menjadi Rp. Tabel 3 PDRB Gorontalo Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2001 .436.06 % pada tahun 2005. Sejak perkembangan dicanangkan pembangunan sebagai provinsi pengembangan agropolitan.125.148.58 27. 3.

Pertambangan dan Penggalian 3.22 6.77 19.75 8.69 100 2003 32.483 2004 602.81 8.65 6.19 100 2002 30. Perdagangan.89 8. Industri Pengolahan 4.365 312.27 8.625 45. Pengangkutan & Komunikasi 8.45% dari total PDRB diharapkan dapat menjadi pendorong bagi perkembangan sektor-sektor yang lainnya.07 10. 2006 Pertumbuhan perekonomian Gorontalo mengalami peningkatan. Hotel & Rest 7.38 9.763 347.31 20.29 11.78% pada tahun 2005. Kontribusi sektor pertanian pada tahun 2003 setelah pengembangan agropolitan sebesar 32.57 13.06 8.175 368.863 329.Gas dan Air Bersih 5.31 0.191 37.96 15.04 0.45 0.60 6.61 20.39 0.358 285. Bangunan 6.95 7.08 8.75 0.69 0.392 2003 581.74 0.95 14.29% dari angkatan kerja menurun menjadi 9.966 43.9 Tingkat pengangguran pada tahun 2004 sebesar 12. Pertanian 2.73 19.31 100 2002 568. Listrik.79 6.360 2005 617.48 26.92 100 2005 28.93 10.882 34.75 7. Tabel 4 Jumlah Penduduk Usia 15 Tahun keatas Provinsi Gorontalo Jumlah Penduduk Penduduk Usia 15+ Angkatan Kerja Bekerja Pengangguran Sumber : BPS.18 0.79 7.91 6.44 10. diolah. Jasa-jasa Total Sumber: BPS tahun 2006.26 100 2004 30. namun sebaran kontribusi dari masing-masing sektor belum merata. Keuangan 9.87 6.80 10. Tabel 5 Kontribusi Sektor-sektor Ekonomi terhadap PDRB Gorontalo Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2001-2005 Lapangan Usaha 1.47 0.184 350.985 323.746 388.97 0. Sektor pertanian yang masih mendominasi dalam kontribusi PDRB merupakan salah satu ciri khas dari kawasan perdesaan. 2001 29.993 .97 14.

dengan mengakomodasi penelitian yang pernah ada sebelumnya maka penelitian ini dimaksudkan untuk melihat apakah pengembangan agropolitan berbasis jagung yang dilaksanakan di Kabuapen Pohuwato Provinsi Gorontalo mampu menggerakkan perekonomian wilayah serta meningkatkan pendapatan masyarakat petani atau belum.10 Disamping itu pertumbuhan ekonomi suatu wilayah tidak selalu diikuti dengan berkurangnya berbagai kesenjangan dalam wilayah. Apakah pengembangan kawasan agropolitan berbasis jagung berperan dalam pertumbuhan ekonomi? 2. Strategi Pembangunan seperti apa yang mampu mendorong pengembangan ekonomi kawasan agropolitan ? . Untuk melengkapi penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya terhadap pelaksanaan agropolitan di Provinsi Gorontalo sejak pelaksanaannya tahun 2002. dan lainnya yang sering terjadi di perdesaan dapat menyebabkan terjadinya keterbelakangan dan kemiskinan yang dalam jangka panjang pada akhirnya dapat mengakibatkan kemandekan pertumbuhan itu sendiri. Kesenjangan yang ada seperti kesenjangan pendapatan. rendahnya tingkat pengetahuan petani dan masih terbatasnya sarana– prasarana penunjang yang ada menjadi factor penting yang berpengaruh terhadap keberhasilan pengembangan agropolitan basis jagung di daerah ini. Hal ini penting untuk dilakukan agar dapat diperoleh gambaran kondisi sehingga karakteristik perekonomian setelah 5 tahun pelaksanaan agropolitan dapat dirumuskan kebijakan-kebijakan yang tepat untuk mengembangkan perekonomian kawasan agropolitan kedepan. fasilitas pelayanan. pertumbuhan ekonomi. Sejauhmana masyarakat telah dilibatkan dalam program pengembangan kawasan agropolitan berbasis jagung ? 4. Apakah pengembangan kawasan agropolitan berperan terhadap peningkatan pendapatan petani jagung? 3. Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang diuraikan di atas maka dirumuskan batasan masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini yaitu : 1. Di kawasan pengembangan agropolitan sendiri dalam hal ini Kabupaten Pohuwato masih terdapat banyak permasalahan seperti masih tingginya tingkat kemiskinan.

Dapat bermanfaat untuk memberikan kontribusi pemikiran bagi Pemerintah dan instansi terkait dalam rangka pengembangan pertanian berbasis agropolitan. Menganalisis dampak pengembangan agropolitan terhadap pendapatan petani jagung.11 1.3. Menganalisis dampak pengembangan agropolitan basis jagung terhadap perekonomian wilayah. 2. Merumuskan strategi pembangunan yang dapat mendorong pengembangan ekonomi kawasan agropolitan. Sebagai acuan dimasa datang untuk pihak-pihak yang mempunyai relevansi dengan pengembangan kawasan berbasis agropolitan. . 2. 4. Tujuan Penelitian : 1. Dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan tentang pembangunan wilayah . Manfaat Penelitian : 1. 3.4. 3. 1. Mengkaji tingkat partisipasi masyarakat dalam pengembangan kawasan agropolitan basis jagung.

Pemilihan Kecamatan Taluditi sebagai Kawasan Non Agropolitan adalah karena Kecamatan Taluditi masih berada dalam cakupan Kabupaten Pohuwato dan berbatasan secara administratif dengan Kecamatan Randangan. Ruang Lingkup Penelitian Pengembangan Kawasan Agropolitan di Provinsi Gorontalo pada awalnya berada di Kabupaten Boalemo yaitu di Kecamatan Randangan. Sebagai kawasan agropolitan.12 1. Kecamatan Randangan memiliki kondisi infrastruktur pendukung yang relatif memadai. . Namun sejak tahun 2003 Kabupaten Boalemo dimekarkan menjadi Kabupaten Boalemo dan Kabupaten Pohuwato. Selain itu.5. Karena keterbatasan biaya dan waktu maka penelitian ini hanya dilakukan di Kabupaten Pohuwato. Adapun sebagai pembanding di pilih kawasan yang belum tersentuh dengan program agropolitan dalam hal ini Kecamatan Taluditi. infrastruktur pendukung agropolitan belum berkembang di Kecamatan Taluditi. Pemilihan Kabupaten Pohuwato karena pertimbangan bahwa setelah pemekaran Kecamatan Randangan sebagai kawasan agropolitan secara administratif berada di Kabupaten Pohuwato.

Sedangkan menurut Winoto (1999). dibatasi dan digambarkan berdasarkan ciri atau kandungan area geografis tersebut.1. Dalam prakteknya di Indonesia terdapat beberapa istilah yang merujuk kepada pengertian wilayah. Dari definisi tersebut. terlihat bahwa tidak ada batasan yang spesifik dari luasan suatu wilayah.II. Batasan yang ada lebih bersifat “meaningfull’. Dengan demikian. Dengan demikian. Sementara menurut Rustiadi et. pengendalian. setiap kawasan atau sub-kawasan memiliki fungsifungsi khusus yang tentunya memerlukan pendekatan program tertentu sesuai dengan fungsi yang dikembangkan tersebut. maupun evaluasi. diantaranya adalah pemakaian istilah daerah dan kawasan. Karena itu batasan/definisi dari konsep kawasan adalah adanya karakteristik hubungan dari fungsi-fungi dan komponen-komponen di dalam suatu unit wilayah. TINJAUAN PUSTAKA 2. Konsep Wilayah dan Wilayah Perdesaan Wilayah menurut UU No. batasan wilayah tidaklah selalu bersifat fisik dan pasti tetapi seringkali bersifat dinamis (berubah-ubah). Indonesia digunakan karena adanya penekanan-penekanan fungsional dari suatu unit wilayah. wilayah diartikan sebagai area geografis yang mempunyai ciri tertentu dan merupakan media bagi segala sesuatu untuk berlokasi dan berinteraksi. pelaksanaan. (2005) meskipun pengertian daerah tidak Sedangkan penggunaan istilah kawasan di disebutkan secara eksplisit namun umumnya dipahami sebagai unit wilayah berdasarkan aspek administratif. 24 tahun 1992 yang diperbaharui menjadi UU No 26 tahun 2007 adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur yang terkait kepadanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional. al. sehingga batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsional. . monitoring. baik untuk perencanaan. Sehingga wilayah dapat didefinisikan. Menurut Rustiadi et. wilayah didefinisikan sebagai unit geografis dengan batas-batas yang spesifik (tertentu) dimana bagian-bagian dari wilayah tersebut (sub wilayah) satu sama lain saling berinteraksi secara fungsional. al (2005).

al. dan Lokasi pemusatan industri manufaktur yang diartikan sebagai kegiatan mengorganisasikan faktor-faktor produksi untuk menghasilkan suatu output tertentu. walaupun Solo dan Yogyakarta relatif lebih dahulu berkembang tapi Jakarta. (2) wilayah nodal (nodal region). 2005) mengenai tipologi wilayah. Penjaga fungsi-fungsi keseimbangan ekologis. 4. yang mempunyai sifat-sifat tertentu dan mempunyai hubungan fungsional (Rustiadi et. Pasar bagi komoditi-komoditi pertanian maupun industri. 1977 dalam Rustiadi et. Sedangkan hinterland berfungsi sebagai: 1. Pemasok tenaga kerja melalui proses urbanisasi. dan 4. sedangkan plasma adalah daerah belakang (peripheri/hinterland). Secara historik.. 2005). Cliff dan Frey. sedangkan faktor-faktor yang tidak dominan dapat beragam (heterogen). Inti (pusat simpul) adalah pusat-pusat pelayanan/permukinan. 3. 2.. Konsep wilayah nodal didasarkan atas asumsi bahwa suatu wilayah diumpamakan sebagai suatu “sel hidup” yang mempunyai plasma dan inti. Pusat pelayanan terhadap daerah hinterland. mengklasifikasikan konsep wiayah ke dalam tiga kategori. dan (3) wilayah perencanaan (planning region atau programming region). Tempat terkonsentrasinya penduduk (pemukiman). Wilayah homogen adalah wilayah yang dibatasi berdasarkan pada kenyataan bahwa faktor-faktor dominan pada wilayah tersebut bersifat homogen. pertumbuhan pusat-pusat atau kota ditunjang oleh hinterland yang baik.14 Konsep wilayah yang paling klasik (Hagget. al. 3. Pemasok (produsen) bahan-bahan mentah dan atau bahan baku. 2. Daerah pemasaran barang dan jasa industri manufaktur dan umumnya terdapat suatu interdependensi antara inti dan plasma. Misalnya. Pusat . wilayah berfungsi sebagai: 1. yaitu: (1) wilayah homogen (uniform/homogenous region). Bandung dan Medan terbukti lebih pesat perkembangannya karena sangat ditunjang oleh hinterland yang mendukung.

15 Konsep wilayah berikutnya adalah wilayah perencanaan yaitu wilayah yang dibatasi berdasarkan kenyataan terdapatnya sifat-sifat tertentu pada wilayah tersebut yang dapat bersifat alamiah maupun artificial dimana keterkaitannya sangat menentukan sehingga perlu perencanaan secara integral. hutan. Homogen Sistem Sederhana Nodal (pusat .Politik: cagar budaya. Kabupaten.Kota Budidaya . dan sebagainya Administrasi-politik: propinsi. wilayah Jabotabek yang mempunyai keterkaitan faktor-faktor sosial ekonomi yang cukup signifikan juga perlu direncanakan secara integral. KATING. kawasan industri Sistem ekologi: DAS. kawasan produksi. pesisir Sistem Komplek Sistem Sosial . Sebagai contoh secara alamiah suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan suatu wilayah yang terbentuk dengan matriks dasar kesatuan hidroorologis yang perlu direncanakan secara integral. Kota   Gambar 1 Kerangka Klasifikasi Konsep Wilayah .Lindung Wilayah Sistem/ Fungsional Sistem ekonomi: Agropolitan. wilayah etnik Umumnya disusun/dikembangkan berdasarkan: Perencanaan/ Pengelolaan • • Konsep homogen/fungsional: KSP. Sedangkan secara artificial.hinterland ) Desa .

(2005) mengemukakan pemahaman wilayah dapat dilihat dalam Gambar 1. yang dinyatakan sebagai kawasan perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian termasuk pengelolaan sumberdaya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman perdesaan. proses pembangunan yang telah dilaksanakan selama ini ternyata telah menimbulkan berbagai permasalahan yang berkaitan .2. kawasan perdesaan dapat didefinisikan sebagai suatu kesatuan sistem spasial yang aktifitas ekonomi utama masyarakatnya. Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa wilayah merupakan suatu sistem yang mempunyai keterkaitan fungsional yang berbeda. berbasis pada pengelolaan sumberdaya alam lokal (natural resource based economy). dari sisi suplai. pelayanan sosial. Upaya ini bertujuan agar kapasitas produksi dan produktivitas masyarakat keseluruhan wilayah nasional secara agregat terus meningkat. al. Disparitas antar Wilayah dan Pembangunan Perdesaan Dalam konteks spasial. Karena itu pembangunan wilayah perdesaan dapat diartikan sebagai suatu proses atau tahapan pengarahan kepada kegiatan pembangunan di suatu wilayah tertentu yang dalam perwujudannya melibatkan interaksi antara sumberdaya manusia dengan sumber-sumber daya lainnya. pengertian wilayah perdesaan ini mencakup (scope) sangat tergantung kepada luas cakupan batas definisinya. termasuk sumberdaya alam dan lingkungannya melalui berbagai investasi guna memperbesar kapasitas ekonomi lokal. Selanjutnya wilayah perdesaan menurut UU No. 26 tahun 2007 tentang penantaan ruang. Namun sayangnya pendekatan perencanan dan pengelolaan wilayah seringkali lebih didasarkan pada aspek administrasi-politik daripada aspek keterkaitan wilayah sebagai sebuah sistem. pelayanan jasa pemerintahan. Sedangkan menurut Saefulhakim (2001). 2. dan kegiatan ekonomi. Sementara itu menurut Anwar (2001). Pada dasarnya cakupannya dipusatkan kepada ruang (daratan) yang menjadi tempat kehidupan manusia dan komponen-komponen pendukungnya yang lebih besar dari kawasan kota (ruang supra urban).16 Rustiadi et.

dan ekonomi yang makin kompleks dan rumit untuk diatasi. Pendekatan yang sangat menekankan pada pertumbuhan ekonomi dengan membangun pusatpusat pertumbuhan telah mengakibatkan investasi dan sumberdaya terserap dan terkonsentrasi di perkotaan sebagai pusat-pusat pertumbuhan. provinsi. terjadinya kemacetan dan sebagainya. Dalam konteks wilayah yang lebih luas. antara wilayah Jawa dan non Jawa dan sebagainya. Demikian pula hubungan antar wilayah telah membentuk suatu interaksi yang saling memperlemah (Rustiadi et. al. pembangunan wilayah (Rustiadi dan Hadi. Kesenjangan ini pada akhirnya menimbulkan berbagai permasalahan yang dalam konteks makro sangat merugikan bagi keseluruhan proses pembangunan. Potensi konflik menjadi sedemikian besar karena wilayah-wilayah yang dulunya kurang tersentuh pembangunan mulai menuntut hak-haknya. Fenomena urbanisasi yang mampu memperlemah perkembangan kota ini dapat kita lihat di kota-kota besar di Indonesia yang dipenuhi oleh daerahdaerah kumuh (slum area). seperti yang ditunjukkan oleh munculnya kabupaten-kabupaten baru dan provinsi-provinsi baru. Wilayah-wilayah hinterland menjadi lemah karena pengurasan sumberdaya yang berlebihan. Ketimpangan wilayah dalam suatu wilayah administratif bahkan sering melatari kecenderungan terjadinya pemekaran wilayah administratif. tingginya tingkat polusi. regional bahkan nasional. Secara makro dapat kita lihat terjadinya ketimpangan pembangunan yang signifikan misalnya antara wilayah desa-kota. Secara nasional bahkan sempat muncul ancaman disintegrasi akibat ketimpangan 2006). maka disparitas wilayah dapat pula dilihat dari ketimpangan wilayah dalam suatu wilayah kabupaten. sedangkan pusat-pusat pertumbuhan pada akhirnya juga menjadi lemah karena proses urbanisasi yang luar biasa. Perkembangan perkotaan pada akhirnya sarat dengan permasalahanpermasalahan sosial. .17 dengan tingkat kesejahteraan antar wilayah yang tidak berimbang. 2006). antara wilayah Indonesia Timur dan Indonesia Barat. lingkungan. sementara wilayahwilayah hinterland mengalami pengurasan sumberdaya yang berlebihan (massive backwash effect).

Aspek kepemilikan sumber daya alam yang berbeda. yaitu kecenderungan proses pembangunan untuk lebih memihak pada kepentingan kawasan perkotaan. dimana suatu wilayah memiliki keunggulan posisi geografis dibanding wilayah lain. kawasan perdesaan masih dihuni oleh sebagian besar rakyat Indonesia (58%). Pembangunan kawasan perdesaan merupakan hal yang harus mendapat perhatian karena berdasarkan sensus penduduk tahun 2000. Hal ini tentunya seiring dengan tujuan hakiki dari pembangunan yaitu untuk mewujudkan efisiensi ekonomi (efficiency). Disamping itu ketimpangan juga dapat disebabkan bukan karena faktor penentu alamiah diatas. Aspek posisi geografis. Untuk itu. Menurut Nasution (2004). Bahkan di pulau-pulau besar kawasan Timur Indonesia seperti Sulawesi. 2. Maluku dan Papua jumlah penduduk yang bermukim di perdesaan masih berada diatas 70 persen.18 Ketimpangan/disparitas pembangunan antar wilayah secara alamiah bisa terjadi disebabkan oleh dua faktor penentu yaitu : 1. Karena itu diperlukan upaya-upaya untuk mengatasi terjadinya urban bias. pembangunan kawasan perdesaan tidak dapat dipungkiri merupakan hal yang mutlak dibutuhkan. tapi karena perbedaan sumberdaya manusia (SDM) dan sumberdaya sosial (SDS). Dengan demikian jelas bahwa disparitas antar wilayah ini harus diatasi mengingat banyaknya dampak negatif yang bisa ditimbulkan. dibutuhkan kebijakan pemerintah untuk mengatasi permasalahan disparitas antar wilayah dan perencanaan yang mampu mewujudkan pembangunan wilayah yang berimbang. pemerataan (equity) dan keberlanjutan (sustainability). Hal ini didasari bukan hanya karena . dimana salah satu wilayah diberi kelimpahan sumberdaya alam yang lebih dibanding wilayah yang lain. Disparitas antar wilayah telah menimbulkan banyak permasalahan sosial. dengan mulai lebih memperhatikan masalah pengembangan kawasan perdesaan. Wilayah yang memiliki tradisi yang kuat dan sangat mementingkan proses pendidikan akan memiliki SDM serta SDS yang lebih. sehingga akan lebih maju dibanding dengan wilayah yang memiliki SDM dan SDS yang kurang baik. ekonomi dan politik.

Salah satu alternatif solusi yang ditawarkan oleh Rustiadi dan Hadi (2006). penduduk yang besar sekaligus merupakan potensi pasar bagi produk-produk komersial. Kebijaksanaan (insentif lapangan kerja) yang membatasi migrasi penduduk dari desa ke kota. Menurut Anwar (2001). 5. Redistribusi aset (tanah. Artinya. kalau kesejahteraan masyarakat banyak yang menjadi sasaran akhir dari setiap upaya pembangunan. 72 tahun 2005 tentang Otonomi Desa memberikan peluang bagi desa untuk mengembangkan perekonomian desa dengan potensi yang dimiliki desa. adalah dengan menciptakan peningkatan nilai tambah di perdesaan itu sendiri. 2. melainkan juga mampu menghasilkan bahan-bahan olahan atau industri hasil pertanian. kapital dan sebagainya). kawasan perdesaan harus didorong menjadi kawasan yang tidak hanya menghasilkan bahan primer pangan dan serat. 4. Kenyataan ini berimplikasi bahwa pembangunan kawasan perdesaan merupakan keniscayaan. Pengendalian sebagian (partial controlled) melalui kebijaksanaan perpajakan dan monitoring kepada lalu lintas devisa dan modal. Pengembangan lembaga dan pasar finansial di wilayah perdesaan. Kebijaksanaan mempertahankan nilai tukar (exchange rate) yang mendorong ekspor pertanian yang selalu kompetitif. Peraturan Pemerintah No. desa menjadi penyedia sumberdaya manusia yang merupakan faktor produksi utama selain teknologi dan modal. 3. Tahap Kedua : . Dari sisi produksi. terdapat beberapa langkah atau upaya yang bisa dilakukan untuk mendorong pengembangan kawasan perdesaan sekaligus untuk mengurangi terjadinya urban bias dalam proses pembangunan yaitu: Tahap Pertama : 1. Dari sisi konsumsi.19 terdapatnya ketimpangan antara kawasan perdesaan dan perkotaan akan tetapi juga mengingat banyaknya potensi yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong pembangunan.

9.20 6.3. Industrialisasi berbasis wilayah perdesaan/pertanian (melalui pembangunan sistem mikropolitan): • • • Industri pengolahan makanan dan pakan Industri pengolahan pertanian lainnya Industri peralatan dan input-input pertanian. Kebijaksanaan (insentif fiskal) mendorong produksi dan distribusi ke arah wilayah perdesaan. diharapkan terjadi keseimbangan ekonomi secara spatial antara wilayah perdesaan dengan kawasan perkotaan yang lebih baik dan sekaligus mampu menyumbang kepada pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. 7. terutama melalui kebijaksanaan desentralisasi. Investasi dalam human capital dan social capital serta teknologi berbasis perdesaan yang lebih kuat . 2. Pembangunan regional berbasis kepada pemanfaatan sumberdaya wilayah/kawasan berdasar keunggulan komparatif masing-masing wilayah. Secara berangsur mengurangi ketergantungan kepada kapital dan bantuan luar negeri .untuk mencoba keluar dari “The Debt Trap”. Konsep agropolitan berdasarkan Friedman (1975) yaitu terdiri dari distrikdistrik agropolitan sebagai kawasan pertanian pedesaan yang memiliki kepadatan mampu melayani. Pengembangan Kawasan Agropolitan Secara konseptual Agropolitan terdiri dari kata agro (pertanian) dan kata politan (polis=kota) sehingga agropolitan dapat diartikan kota dilahan pertanian. menarik. Dengan memperhitungkan beberapa faktor yang kait mengkait yang mempengaruhi pembangunan perdesaan. dan menghela kegiatan pembangunan pertanian (agribisnis) daerah wilayah sekitarnya (Anonimous. . Dalam pedoman ini yang dimaksud dengan agropolitan adalah kota pertanian yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis yang 2002).dengan membangun trust fund di daerah-daerah untuk membiayai dua kapital di atas. serta barang konsumsi lain 10. mendorong. 8.

Pemberdayaan masyarakat pelaku agribisnis agar mampu meningkatkan produksi.000 – 150. yang efisien. yang kemudian digunakan untuk menunjuk berbagai aktivitas berbasis pertanian. Dengan demikian agropolis atau agro-metropolis adalah lokasi pusat pelayanan sistem kawasan sentra-sentra aktivitas ekonomi berbasis pertanian.000 – 25. Pengembangan kelembagaan sistem agribisnis (penyedia agroinput. sehingga akan menghasilkan jumlah penduduk total antara 50. 3. secara terminologi agropolitan berasal dari kata agro dan metropolis/metropolitan.21 penduduk 200 jiwa per km2 dan di dalamnya terdapat kota-kota tani dengan jumlah penduduk 10. pemasaran dan penyedia jasa). Sasaran pengembangan kawasan agropolitan adalah untuk mengembangkan kawasan pertanian yang berpotensi menjadi kawasan agropolitan. Agro berasal dari istilah bahasa latin yang bermakna “tanah yang dikelola” atau “budidaya tanaman”. Pengembangan kawasan agropolitan bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat melalui percepatan pembangunan wilayah dan peningkatan keterkaitan desa dan kota dengan mendorong berkembangnya sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing. yang dilakukan dengan pengembangan sistem dan usaha agribisnis . Karena itu pengembangan agropolitan sendiri berarti pengembangan berbagai hal yang dapat memperkuat fungsi/peran AGROPOLIS sebagai lokasi pusat pelayanan sistem kawasan sentra-sentra aktivitas ekonomi berbasis pertanian dimana tipologi pengembangan disesuaikan dengan karakteristik tipologi kawasan yang dilayaninya.000 penduduk yang mayoritas bekerja di sektor pertanian (tidak dibedakan antara pertanian modern dan pertanian konvensional) dan tiap-tiap distrik dianggap sebagai satuan tunggal yang terintegrasi. melalui : 1. Menurut Saefulhakim (2004).000 jiwa. produktivitas komoditi pertanian serta produk-produk olahan pertanian. Sementara luas wilayah distrik adalah cummuting berada pada radius 5 – 10 km. 2. pengelolaan hasil. Sementara metropolis mempunyai pengertian sebagai sebuah titik pusat dari beberapa/berbagai aktivitas. Penguatan kelembagaan petani.

Perhatian perlu diberikan terhadap penyediaan air. Sebagai unit wilayah fungsional. 5. Pengembangan kelembagaan penyuluhan pembangunan terpadu. mendukung tumbuhnya industri agroprocessing skala kecil-menengah dan mendorong keberagaman aktivitas ekonomi dari pusat pasar. perumahan. Pengembangan iklim yang kondusif bagi usaha dan investasi. agribisnis hilir (pengolahan hasil pertanian dan pemasaran) dan jasa penunjangnya (Anonimous. beberapa kecamatan dalam satu kabupaten. Berkembangnya sistem dan usaha agribisnis di kawasan agropolitan tidak saja membangun usaha budidaya (on farm) saja tetapi juga off farm-nya yaitu usaha agribisnis hulu (pengadaan sarana dan prasarana pertanian). kawasan agropolitan dapat saja mencakup satu kecamatan administratif yang berbeda di setiap daerah. Segala aktivitas harus diorganisasikan terutama untuk membangun keterkaitan antara perusahaan di kota dengan wilayah suplai di perdesaan dan untuk menyediakan fasilitas.22 4. mengurangi kemiskinan dan mencegah terjadinya urbanisasi tenaga produktif serta akan meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). pelayanan. Kawasan agropolitan bisa berada dalam satu wilayah kecamatan. beberapa kecamatan dalam lintas wilayah beberapa . pengembangan agropolitan di wilayah perdesaan pada dasarnya lebih ditujukan untuk meningkatkan produksi pertanian dan penjualan hasil-hasil pertanian. Investasi dalam bentuk jalan yang menghubungkan lokasi-lokasi pertanian dengan pasar merupakan suatu hal penting yang diperlukan untuk menghubungkan antara wilayah perdesaan dengan pusat kota. kesenjangan antar kota dan desa dan kesenjangan pendapatan antara masyarakat. 2002). Menurut Rodinelli (1985). kesehatan dan jasa-jasa sosial di kota-kota kecil menengah untuk meningkatkan produktivitas dari tenaga kerja. Sehingga akan mengurangi kesenjangan kesejahteraan antar wilayah. input produksi pertanian dan aksesibilitas yang mampu memfasilitasi lokasi-lokasi permukiman di perdesaan yang umumnya mempunyai tingkat kepadatan yang rendah dan lokasinya lebih menyebar. Perhatian juga perlu diberikan untuk memberikan kesempatan kerja di luar sektor produksi pertanian (off-farm) dan berbagai kenyamanan fasilitas perkotaan di kota-kota kecil-menengah di wilayah perdesaan yang bertujuan untuk mencegah orang melakukan migrasi keluar wilayah.

Selanjutnya implementasi program yang dijalankan adalah program agropolitan berbasis jagung. Dalam hal ini pembangunan kota-kota kecil menengah di provinsi Gorontalo diarahkan menjadi kota pertanian yang tumbuh dan berkembang memiliki fasilitas yang dapat karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis di desa dalam kawasan sentra produksi. mendukung lancarnya pembangunan pertanian yaitu : 2. dan untuk rakyat dimana pemerintah harus memfasilitasinya.Pengairan / jaringan irigasi . Provinsi Gorontalo sebagai salah satu provinsi yang menerapkan konsep agropolitan untuk memacu pertumbuhan dan pengembangan wilayah. bahkan hilang.23 kabupaten atau bahkan beberapa kabupaten dalam satu provinsi atau lintas provinsi. menurut Sadjad (2004) hilangnya perlumbungan beras di desa yang digantikan oleh BULOG menggeser kelembagaaan lokal dan mematikan desa sebagai desa . Akibat dari paradigma pembangunan di masa lalu banyak kelembagaan tradisional /lokal yang sebelumnya merupakan bagian dari perekonomian lokal menjadi rusak.Pemasaran. Kemandirian Melalui Penguatan Kapasitas Kelembagaan Lokal Perdesaan dan Kemitraan. alat-alat prosesing) . Pembangunan sistem dan usaha agribisnis yang berkerakyatan berarti pembangunan berasal dari rakyat.Jalan-jalan akses (jalan usaha tani) .Lembaga penyuluh dan alih teknologi .Kios-kios sarana produksi .4. yaitu program unggulan daerah untuk memacu pembangunan pertanian sekaligus menjadi motor penggerak pembangunan perekonomian daerah. Sebagai contoh. kawasan ini .Alat-alat mesin pertanian (traktor. Sebagai kota pertanian. mengacu pada konsep agropolitan yang dikembangkan oleh pemerintah melalui Departemen Pertanian sesuai dengan pedoman umum pengembangan kawasan agropolitan. oleh rakyat. Adapun kajian dalam penelitian ini mengarah pada konsep agropolitan yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia termasuk provinsi Gorontalo.

penguatan kelembagaan kawasan agropolitan. untuk menghindari adanya peluang pengaliran nilai tambah yang tidak terkendali keluar kawasan diperlukan penguatan sumberdaya manusia dan kelembagaan. Menurut Suwandi (2004). Kesemuanya itu merupakan proses industri yang dulunya terjadi di desa. peranan pemerintah. transportasi beras dari desa ke kota. menyebabkan hilangnya perlumbungan di desa. Selanjutnya menurut Rustiadi dan Hadi (2006).Pengembangan Penyuluhan Sistem informasi √√ √√ √√ √√ √ √ √ √ √ √√ √ √ PEMERINTAH √ MASYARAKAT √ DUNIA USAHA √√ Sumber : Kawasan Agropolitan. Hal ini menyebabkan kesempatan mencari nilai tambah yang menjadi ciri industri menjadi hilang di perdesaan. pemrosesan beras oleh rakyat. seperti terlihat pada Tabel 6 berikut : Tabel 6 Sarana Dasar Usaha Agribisnis URAIAN Input Modal.24 industri. masyarakat dan dunia usaha cukup penting yang tentunya disesuaikan dengan proporsi kewenangan dan fungsi masing-masing. penguatan kelembagaan dalam memberdayakan kawasan agropolitan dilakukan dengan menciptakan iklim usaha yang kondusif terkait dengan input sarana dasar usaha pertanian. benih/bibit . penguatan permodalan perdesaan dan penguatan kelembagaan ekonomi.pakan. Dibangunnya BULOG secara sentralistik. Dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif. Oleh karena itu kelembagaan dan organisasi lokal perlu dibangkitkan kembali dan diberdayakan untuk memperkuat pembangunan sistem dan usaha agribisnis yang berkelanjutan dan mandiri. obat Pestisida Alsin Penunjang Jalan. Sehingga penguatan . Konsep Pembangunan Desa-Kota Berimbang. 2006. irigasi Pasar Air bersih Pengolahan hasil Iptek Riset. Pupuk.

2. diperlukan adanya kemitraan antara petani perdesaan.community partnership.5. Secara ekonomi. pelaksanaan dan pengendalian pelaksanaannya. Kemitraan dimaksud melibatkan para pemangku kepentingan (stakehoders) yang terdiri dari masyarakat. Peran Infrastruktur dalam Pembangunan Perdesaan Sebagian literatur menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan antara infrastrukur dengan tingkat perkembangan ekonomi. disamping itu pendapat lain menyatakan bahwa faktor lain seperti sumberdaya manusia dan lokasi merupakan faktor terpentingnya. Beberapa berargumen bahwa jenis infrastruktur tertentu seperti transportasi merupakan hal terpenting dalam pembangunan ekonomi. diperlukan pola kemitraan dalam seluruh tahap pembangunan dari perencanaan. Ini akan menjamin peningkatan pendapatan. pelaku usaha bermodal dan pemerintah. Pola kemitraan seperti kemitraan permodalan. pengolahan dan pemasaran akan menjamin terhindarnya eksploitasi pelaku usaha tani di tingkat perdesaan oleh pelaku usaha yang lain dan memungkinkan terjadinya nilai tambah yang dapat dinikmati oleh pelaku usaha tani. sektor swasta dan pemerintah. Pada dasarnya dapat dinyatakan bahwa tanpa infrastruktur pembangunan ekonomi tidak . Kemampuan sendiri pada dasarnya merupakan kemampuan masyarakat untuk membiayai dirinya sendiri. kemandirian dapat dibangun dengan penguatan lembaga keuangan dan organisasi petani/pelaku ekonomi lokal (Rustiadi dan Hadi. produksi. Oleh karena itu kemampuan masyarakat untuk melakukan saving menjadi penting dalam rangka meningkatkan akumulasi kapital yang nantinya akan berguna bagi peningkatan investasi dan pembangunan. Mengingat rendahnya tingkat saving masyarakat perdesaan. Kemitraan menuntut dukungan semua stakeholder terkait sebagai refleksi dari kebersamaan publicprivate. 2006).25 kelembagaan lokal dan sistem kemitraan menjadi prasyarat utama yang harus ditempuh terlebih dahulu dalam pengembangan kawasan agropolitan. Oleh karena pelaksanaan pembangunan tidak bisa dijalankan oleh masyarakat perdesaan itu sendiri. sehingga memungkinkan kawasan perdesaan melakukan investasi baik yang berupa pendidikan maupun penciptaan lapangan usaha baru (multiplier effect).

2007). Infrastruktur memungkinkan bisnis perdesaan mudah mengakses input dan pasar outputnya. yang pada akhirnya akan meningkatkan produktifitas usaha.2007). Hal ini disebabkan karena masih dominannya pendekatan top down dan dominannya peran pemerintah sedangkan partisipasi masyarakat masih sangat terbatas. Menurut GTZ (2003) dalam Rustiadi (2007). fenomena yang terjadi di lapangan dalam pengembangan kawasan agropolitan di lokasi-lokasi rintisan seperti pada agropolitan Cianjur adalah tidak munculnya common ownership atas sarana dan prasarana serta fasilitas yang dibangun. Secara umum dapat dikatakan bahwa infrastruktur merupakan syarat perlu dalam pembangunan.al dalam Rustiadi.6. et. Masalah lemahnya akses masyarakat lokal atas sumberdaya-sumberdaya utama khususnya lahan serta lemahnya kapasitas kelembagaan lokal menyebabkan keadaan dimana infrastruktur dan fasilitas-fasilitas yang dibangun di perdesaan lebih dinikmati oleh orang perkotaan dibanding masyarakat setempat (Rustiadi. Namun demikian. tidak terkecuali pembangunan pertanian dan perdesaan. salah satu faktor untuk menjamin keberhasilan dan proses pembangunan ekonomi perdesaan yang mandiri adalah berfungsinya infrastruktur secara efektif (baik perangkat keras maupun lunaknya). Menurut GTZ (2003) dalam dokumen Guide to REED pelaku utama dalam menjamin berfungsinya infrastruktur efektif antara lain: pemerintah pusat dan daerah. tidak ada jaminan bahwa infrastruktur yang canggih akan senantiasa berdampak pada pembangunan ekonomi dengan pertumbuhan yang tinggi (DeRyk. Namun demikian. Namun demikian. Pentingnya Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Seperti telah diketahui bahwa pada awalnya pembangunan dilakukan untuk mendorong pertumbuhan. Infrastruktur yang dibangun haruslah mampu meminimumkan biaya pelaksanaan bisnis dan mampu untuk memfasilitasi proses produksinya. pertumbuhan ekonomi yang . Investasi dalam infrastruktur mendorong pertumbuhan yang berpihak pada penduduk miskin (pro-poor) melalui peningkatan akses pada infrastruktur tersebut serta mengurangi resiko dan biaya transaksi yang terkait dengan produksi dan distribusi produknya.26 dapat dilaksanakan. swasta dan komunitas perdesaan beserta organisasi dan asosiasi atau lembaga lembaga yang ada di wilayah perdesaan tersebut. 2.

peningkatan jumlah pengangguran dan kemiskinan serta pengrusakan sumber daya alam akan sangat berbahaya bagi kelangsungan pembangunan itu sendiri. Tanpa itu . jika disertai dengan munculnya berbagai masalah berupa penurunan distribusi pendapatan. Perubahan paradigma pembangunan memang merupakan suatu proses yang memerlukan waktu. diperhatikan. Pergeseran pemikiran pembangunan mulai terjadi dimana selain pertumbuhan. Karena itu pendekatan yang terbaik adalah perlunya suatu kompromi dan konsensus diantara pihak-pihak yang terlibat untuk mencapai suatu tujuan yang telah disepakati bersama. Berbagai keuntungan dari pendekatan partisipasi ini telah mengakibatkan pendekatan partisipasi dijadikan mainstream dalam penyelenggaraan pembangunan di hampir semua negara. Sehingga dalam upaya untuk mencapai suatu kesepakatan bersama inilah. Berbagai perangkat. Setiap pihak mempunyai pandangan yang masingmasing berbeda sehingga kondisi yang ideal pada dasarnya bersifat relatif. sekarang mulai dilakukan untuk memanajemen konflik diantara ketiga tujuan tersebut agar bisa mencapai suatu kondisi yang optimal. mekanisme. Selain itu. Menurut Rustiadi (2003). Karena adanya rasa ikut memiliki tersebut maka kemauan untuk memperlancar proses pembangunan dan menjaga hasil-hasil pembangunan pun juga menjadi cukup tinggi. Partisipasi akan mendorong terjadinya pertukaran informasi sehingga informasi yang didapatkan menjadi lebih akurat dan komprehensif. aspek pemerataan/keadilan dan keberlanjutan harus ikut Dengan bertambahnya tujuan-tujuan yang harus dicapai maka perencanaan yang dulunya ditujukan untuk mendorong terjadinya pertumbuhan. partisipasi juga menjadi penting karena keterlibatan berbagai pihak dalam setiap tahapan proses pembangunan akan menyebabkan rasa kepemilikan mereka terhadap proses pembangunan cukup tinggi.27 tinggi. maka proses partisipasi dari semua pihak menjadi penting. dalam realitanya kondisi yang optimal dan ideal ini susah untuk dirumuskan. Namun sampai sekarang ternyata masih terjadi kesulitan dalam mewujudkan proses partisipasi di lapangan. peraturan dan sebagainya harus dipersiapkan untuk mencapai suatu proses partisipasi yang optimal.

negosiasi atau dialog (komunikasi). Terapi 3. Dalam kerangka pembangunan pedesaan (rural development). al. melihat partisipasi sebagai sebuah proses kemitraan dimana kerjasama dan pertukaran potensi antar pihak berlangsung secara kondusif. yaitu sejak perencanaan. pengembangan sikap saling percaya. Selanjutnya Arnstein. pemutusan kebijakan. maka pembangunan yang partisipatif selalu ditandai dengan terdapatnya prinsip-prinsip: keterlibatan masyarakat luas dalam pengelolaan program (sejak perencanaan hingga evaluasi). dimana pandangan lokal dan pengetahuan asli dicari dan dihargai. Sementara itu OECD dalam Darmawan et. masyarakat berperan sebagai aktor-penentu dan bukan sekedar penerima sebuah program”. dalam implementasi program yang dirumuskan secara bersama-sama. COHEN dan UPHOFF dalam Darmawan et.R (1969) menggolongkan partisipasi masyarakat kedalam dalam 8 jenjang yaitu : 1. serta peran aktoraktif masyarakat.28 semua. perubahan di level paradigma tidak akan bisa diterapkan dengan baik di lapangan. (2003). Manipulasi 2. al. partisipasi bekerja pada setiap tahap pengelolaan program. Konsultasi 5. Dari batasan di atas. Dari pemahaman konsep-konsep partisipasi seperti di atas. Batasan pembangunan yang partisipatif (participatory development) dari OECD adalah: “kemitraan (partnership) yang dibangun atas dasar dialog di antara beragam aktor pada saat mereka menyusun agenda kerja. Peredaman (placation) . Artinya. implementasi dan eksekusi. kesederajatan-kesetaraan. (2003). S. Menyampaikan informasi 4. sampai dengan monitoring dan evaluasi. dan menikmati secara bersama-sama pula setiap benefit yang diterima dari keberhasilan program dimana mereka juga terlibat dalam proses evaluasi termasuk proses monitoring”. Hal ini berimplikasi pada berlangsungnya proses negosiasi daripada sekedar dominasi keputusan dari luar sistem sosial masyarakat atau externally set project agenda. kerjasama-kemitraan. memaknai konsep partisipasi sebagai: “keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan.

masyarakat dapat berupa : 1) Perguruan Tinggi a. Perguruan tinggi sebagai center of excellence akan menjadi mitra pemerintah baik ditingkat pusat maupun daerah dalam pengembangan riset dibidang budidaya pertanian. Perguruan tinggi diharapkan akan menjadi soko guru bagi pengembangan pendidikan dan pelatihan agribisnis kepada masyarakat petani dan dunia usaha. Pendelegasian kekuasaan 8. b. Serta jenjang 6 sampai 8 dikategorikan sebagai tingkat kekuasaan masyarakat. dan berwibawa akan selalu bersikap kooperatif dan kritis. Pengawasan masyarakat Dimana jenjang 1 dan 2 dikategorikan sebagai non partisipasi. kritik dan saran atas pengembangan kawasan agropolitan yang ada dan sedang berjalan. LSM akan memberikan masukan. sehingga diharapkan: a. Kemitraan / partnership 7. perikanan.29 6. 2) Lembaga Swadaya Masyarakat Sebagai mitra pemerintah untuk mewujudkan good governance. pengembangan agropolitan sendiri. sehingga diharapkan akan memberikan feed back yang baik untuk perbaikan di masa yang akan datang. peternakan. 3) Masyarakat dan dunia usaha: Dalam rangka mewujudkan pengembangan kawasan agropolitan perlu terus didorong keterlibatan masyarakat dan dunia usaha dengan pendekatan community driven planning. jenjang 3 sampai 5 dikategorikan sebagai tingkat tokenisme dimana belum ada jaminan pendapat dan persepsi masyarakat akan diimplementasikan. dimana pada tingkat ini masyarakat memiliki mayoritas suara dalam proses pengambilan keputusan bahwa sangat mungkin Dalam memiliki kewenangan kawasan penuh mengelola itu suatu obyek peranan kebijaksanaan. Dengan pendekatan ini diharapkan: . Akan terjadi mekanisme kontrol atas program-program pemerintah dalam pengembangan kawasan agropolitan. serta pemerintahan yang bersih.

Terciptanya kesadaran.38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. Pedoman Umum Pengembangan Kawasan Agropolitan dan Pedoman Rintisan Pengembangan Kawasan Agropolitan (2002). . Meningkatkan legitimasi program pembangunan kawasan agropolitan. kesepakatan dan ketaatan masyarakat dan dunia usaha terhadap pengembangan kawasan agropolitan.7. peranan pemerintah untuk memfasilitasi pengembangan kawasan agropolitan harus didasarkan pada UU No. melaksanakan dan juga mengontrol pelaksanaan program pengembangan kawasan agropolitan. c. pemerintah Kabupaten/Kota adalah : (1) Merumuskan program. menggerakkan. Masyarakat dan dunia usaha menjadi pelaku langsung dan objek dari program pengembangan kawasan agropolitan. Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Masyarakat dan dunia usaha ikut merencanakan. Peranan Pemerintah dalam Pengembangan Kawasan Agropolitan Peranan pemerintah sangat berpengaruh terhadap pengembangan Sesuai dengan agropolitan.30 a. program dan melaksanakan program agropolitan. maka penanggung jawab Oleh Program karena Pengembangan itu peran utama Agribisnis dari adalah Bupati/Walikota. (2) Mendorong partisipasi dan swadaya masyarakat dalam mempersiapkan master plan. 2. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan PP No. Pemerintah Kabupaten/Kota Sesuai dengan titik berat otonomi daerah pada kabupatenk/kota. kebijakan operasional dan koordinasi perencanaan dan pelaksanaan pengembangan agropolitan. Pengembangan agropolitan juga harus didasarkan pada UU No 26 tahun 2007 untuk menjamin keberlanjutannya secara spatial. d. b. (3) Mendorong tumbuh dan berkembangnya kelembagaan dan sarana dan prasarana pendukung program agropolitan. Adapun Perannya adalah sebagai berikut : a.

dalam agroinput. teknologi.31 b. Pemerintah Provinsi Kewenangan pemerintah provinsi adalah membantu/memfasilitasi Pemda Kabupaten/Kota terutama dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas Kabupten/Kota serta bidang pemerintahan tertentu lainnya. (4) Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan sumberdaya manusia (5) Membantu memecahkan masalah yang diminta oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. Pemerintah Pusat Tugas Pemerintah Pusat adalah membantu Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam pengembangan program agropolitan serta kewenangan dalam bidang pemerintahan yang menyangkut lintas provinsi. pelayanan kerjasama informasi lintas (pasar. (6) Membanun prasarana dan sarana publik yang bersifat strategis c. (3) Menyelenggarakan pengkajian teknologi sesuai kebutuhan petani dan pengembangan wilayah. Dalam program pengembangan agropolitan. melaksanakan kewenangan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota. (2) Merumuskan standar teknis. jasa) dan dukungan pengembangan jaringan informasi serta kabupaten pengembangan . peranan pemerintah pusat adalah : (1) Menyusun rencana. dan standar minimal terutama untuk sarana prasarana dan pembiayaan pengembangan agropolitan. permodalan. Dalam program pengembangan agropolitan ini peranan pemerintah provinsi adalah : (1) Merumuskan dan mengkoordinasi rencana program dan kebijakan pengembangan agropolitan di wilayah provinsi. program dan kebijakan pengembangan agropolitan dalam bentuk Pedoman Umum program pengembangan agropolitan beserta pedoman/petunjuk-petunjuk pelaksanaanya. (2) Memberikan memfasilitasi agropolitan.

2. Komoditi Unggulan dan Teori Basis Ekonomi Komoditas unggulan adalah komoditas andalan yang memiliki posisi strategis untuk dikembangkan di suatu wilayah. pengembangan kawasan agropolitan menuntut adanya koordinasi antar lembaga yang bisa menjamin alokasi sumberdaya pembangunan secara efektif dan efisien. dalam kaitannya dengan pembangunan wilayah agropolitan peranan dari pemerintah adalah untuk memberikan proteksi. Selanjutnya Anwar (2006). yang selebihnya dibangun sistem insentif melalui pajak dan transfer dalam mendorong pihak swasta untuk turut serta membinanya. Membangun prasarana sarana publik. Karena sifatnya yang multi lembaga.32 (3) Memberikan pelayanan informasi dan dukungan pengembangan jaringan informasi serta menfasilitasi kerjasama lintas provinsi dan Internasional dalam pengembangan agropolitan. melaksanakan fungsi fasilitasi. (4) ( 5) Mengembangkan pendidikan dan pelatihan sumberdaya manusia. regulasi dan distribusi dan manajemen konflik. Dalam tahap awal pengembangan kawasan agropolitan pemerintah harus memfasilitasi untuk terbentuknya satu unit pengembangan kawasan agropolitan. Menurut Rustiadi dan Hadi (2006).8. kawasan agropolitan adalah kawasan yang mandiri dimana pemerintah hanya berperan pada sektor-sektor yang benar-benar publik seperti : pertahanan dan keamanan. Posisi strategis ini didasarkan . Selanjutnya dalam perkembangan berikutnya peran pemerintah mulai dikurangi dan hanya masuk pada sektor-sektor publik. Efektif ditunjukkan oleh berperannya departemen/lembaga sesuai tugas pokok dan fungsinya. mengemukakan peranan pemerintah dalam pembangunan adalah dalam memberikan modal permulaan untuk mereplikasi pertumbuhan kota-kota kecil yang mempunyai lokasi strategik. Dalam perkembangan akhir. yang bersifat strategis. penegakan hukum dan cenderung sebagai fasilitator. menyelenggarakan pembangunan. efisien berarti dijalankannya tugas dan fungsi itu secara hemat. Peran pemerintah dijalankan oleh berfungsinya departemen dan lembaga di tingkat pusat dan daerah yang terkait dengan pengembangan kawasan.

modal dan manusia untuk menghasilkan dan juga kemungkinan pemasaran hasil produksi. komoditas unggulan merupakan komoditi yang layak diusahakan karena memberikan keuntungan kepada petani baik secara biofisik. Kegiatan ekonomi dikelompokkan atas kegiatan basis dan kegiatan nonbasis. 2005). Revitalisasi Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) Pengembangan ekonomi lokal (PEL) adalah usaha untuk mengoptimalkan sumberdaya lokal yang melibatkan pemerintah. Pengembangan suatu komoditi pertanian harus mempertimbangkan kondisi relatif sumberdaya alam. Teori basis ekonomi (economic base theory) mendasarkan pandangannya bahwa laju pertumbuhan ekonomi suatu wilayah ditentukan oleh besarnya peningkatan ekspor dari wilayah tersebut. masyarakat lokal dan organisasi masyarakat madani untuk wilayah tertentu. Sedangkan sektor non basis adalah sektor dengan kegiatan ekonomi yang hanya melayani pasar di daerahnya sendiri. layak secara sosial jika komoditas tersebut memberikan peluang berusaha. dunia usaha. Komoditi unggulan diharapkan dapat menjadi basis ekonomi sehingga dapat menjadi penggerak perekonomian daerah. dapat dilakukan dan diterima oleh masyarakat setempat sehingga berdampak pada penyerapan tenaga kerja. sosial ekonomi dan kelembagaan. Komoditas tertentu dikatakan layak secara biofisik jika komoditas tersebut diusahakan sesuai dengan zona agroekologi. Hanya kegiatan basis yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah (Tarigan. 2. Menurut Bustaman dan Susanto (2003). Tujuan mengembangkan ekonomi pada suatu PEL adalah untuk mengembangkan ekonomi suatu . baik untuk pasar domestik daerah maupun pasar luar wilayah/daerah. dan kapasitas ekspor ekonomi daerah belum berkembang. yaitu sektor basis dimana kelebihan dan kekurangan yang terjadi dalam proses pemenuhan kebutuhan tersebut menyebabkan terjadinya mekanisme ekspor dan impor antar wilayah.9. sosial maupun ekonomi. Sektor ekonomi suatu wilayah dapat dibagi dalam dua golongan.33 pada pertimbangan teknis (kondisi tanah dan iklim). Sedangkan layak secara ekonomi artinya komoditas tersebut menguntungkan. Artinya industri basis ini akan menghasilkan barang dan jasa.

34 wilayah yang berkelanjutan dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal guna mempercepat pertumbuhan ekonomi wilayah. Terwujudnya kualitas kehidupan yang baik serta lancarnya akses dan arus informasi di suatu lokasi akan mampu menjadi penggerak utama dalam proses pengembangan ekonomi lokal. pengurangan kesenjangan antar kelompok masyarakat. Program–program tersebut yang pada umumnya menggunakan pendekatan pemberdayaan . pengembangan kapasitas. antar sektor dan antar wilayah. modernisasi perusahaan kecil dan menengah. Di Indonesia. peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan berbagai insentif tersebut diharapkan berbagai perusahaan individual akan menempatkan perusahaannya di lokasi-lokasi tertentu serta mampu menggerakkkan perkembangan ekonomi lokal di lokasi-lokasi tersebut. kedua. penurunan subsidi langsung atau penurunan pajak. Beberapa instrumen yang digunakan dalam pendekatan ini antara lain difokuskan pada upaya penutupan kesenjangan di pasar modal. banyak program dan kegiatan yang berlabel pengembangan ekonomi lokal (PEL) telah. dimana dalam perkembangannya PEL telah mengalami 3 tahapan besar atau gelombang pengembangan. Pendekatan ketiga menekankan pada peran penting dari kualitas infrastruktur fisik. pendekatan tradisional (traditional approach). dan akan dilaksanakan. Menurut Wolfe and Creutzberg (2003) dalam Bappenas (2006). Pendekatan pengembangan kapasitas (capacity building approach) mencoba mengembangkan infratruktur pendidikan dan teknologi dalam membangun basis pengetahuan yang diperlukan dalam menumbuhkembangkan kemampuan kompetitif dalam merespon perubahan lingkungan ekonomi. percepatan transfer teknologi dari perguruan tiggi ke dunia industri. dan peningkatan kemampuan (skill) pekerja dan manajemen. sosial dan pengetahuan dalam sebuah wilayah atau lokalitas tertentu. sedang. infrastruktur yang bersbubsidi. Pendekatan tradisional terutama memfokuskan pada upaya menarik perusahaan-perusahaan individual melalui input produksi yang murah. dan ketiga. fokus pada kualitas kehidupan dan aliran informasi. PEL mulai berkembang di negara-negara maju baik di Amerika Serikat maupun Eropa sejak tahun 1960. ketiga gelombang tersebut adalah pertama.

faktor ini merupakan syarat keharusan sehingga jika tidak ada. dalam model PEL-nya (Bappenas. Namun sebagian besar program-program tersebut belum secara substansial mengembangkan ekonomi lokal. Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP) dan Proyek Peningkatan Pendapatan Petani dan Nelayan Kecil (P4K) serta Agropolitan. Selanjutnya diikuti oleh programprogram yang lain diantaranya: Program Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Daerah (P2MPD). Kemitraan dan Pengembangan Ekonomi Lokal (KPEL). Berdasarkan hasil pemetaan tersebut kemudian dilakukan analisis terhadap komponen heksagonal PEL yang berperan sebagai faktor pengungkit (leverage konsep Heksagonal PEL yang dikembangkan oleh Jorg Meyer Stamer (2004) telah memasukkan aspek ruang . 2006). Heksagonal PEL merupakan alat analisis yang dapat digunakan untuk menggambarkan dan mengukur kondisi PEL di suatu wilayah. Namun konsep tersebut mempunyai kelemahan mendasar yaitu tidak ada aspek lokasi maupun ruang (spatial). Terdapat beberapa konsep yang menjadi dasar bagi revitalisasi PEL. Pada umumnya program-proram tersebut tidak berkelanjutan (sustainable) setelah masa proyek berakhir. Padahal dalam ekonomi wilayah. salah satunya adalah konsep Porter’s Diamond dari Michael Porter.35 masyarakat (community development). serta bersifat top down dari pemerintah pusat. Titik berat program lebih banyak diarahkan pada pemberdayaan masyarakat dan masih bersifat proyek. Pengembangan Prasarana Perdesaan (P2D). Oleh karenanya pada tahun 2006 dilakukan program revitalisasi pengembangan ekonomi lokal yaitu upaya meningkatkan fungsi pengembangan ekonomi lokal dan upaya menggerakkan kembali kekuatan ekonomi masyarakat lokal sebagai basis pengembangan perekonomian wilayah secara terukur. terencana dan berkelanjutan. Program Pengembangan Kecamatan (PPK). termasuk kawasan agropolitan. dimulai sejak digulirkannya program Inpres Desa Tertinggal (IDT) pada tahun 1994. konsep tersebut relatif sama dengan konsep ekonomi pada umumnya yang tidak memperhatikan ruang (spaceless world). Wilayah yang dimaksud dapat berupa wilayah administratif ataupun wilayah/kawasan pengembangan usaha/komoditi unggulan tertentu. Berbeda dengan konsep Porter’s Diamond.

36 factor). Aspek ini merupakan bagian dari pendekatan PEL yang inovatif. Faktor lokasi Faktor lokasi menggambarkan daya tarik dari sebuah lokasi bagi penyelenggaraan kegiatan usaha. pemberdayaan masyarakat dan pengembangan komunitas. Heksagonal dapat membantu praktisi dan stakeholder untuk memahami kompleksitas PEL serta mempertimbangkan trade off dan kemungkinan konflik yang ada dalam PEL. Komponen PEL terdiri dari 6 unsur yang disebut dengan heksagonal. Kesinergian dan fokus kebijakan Tiga hal yang saling berkaitan dalam kebijakan PEL adalah perluasan ekonomi. 2. faktor lokasi tidak terukur (intangible factor) bagi pelaku usaha dan faktor lokasi tidak terukur (intangible factor) bagi individu. Pembangunan berkelanjutan Tiga faktor penentu pembangunan berkelanjutan terdiri dari pembangunan ekonomi. . Terdapat enam segitiga yang secara keseluruhan membentuk heksagonal. Heksagonal PEL terdiri dari : 1. Terdiri dari faktor lokasi terukur (tangible factor). 3. Kelompok sasaran PEL Kelompok sasaran PEL dibedakan atas tiga pelaku usaha yaitu pelaku usaha lokal. 5. yaitu faktor yang berpengaruh besar terhadap pengembangan PEL. Berdasarkan nilai faktor pengungkit tersebut selanjutnya disusun strategi pengembangan PEL. Ketiga hal tersebut memiliki tujuan yang berbeda namun saling berhubungan dan membentuk keterkaitan. 4. lingkungan dan sosial. Tata kepemerintahan Segitiga dalam ketatapemerintahan memastikan bahwa hubungan pelaku usaha masyarakat dibangun atas berlangsungnya reformasi sektor publik dan pengembangan organisasi pelaku usaha. yang berfungsi mengorganisasikan konsep utama dan instrumen PEL. investor luar dan pelaku usaha baru. serta pembangunan wilayah.

implementasi dan monitoring serta evaluasi. Penelitian Terdahulu Hasil penelitian Pribadi (2005) di Kawasan Agropolitan Cianjur mengemukakan bahwa Program agropolitan sejauh ini berdampak positif yaitu mampu meningkatkan nilai tambah terutama dari biaya transportasi yang lebih rendah.37 6. Namun. Proses manajemen PEL merupakan proses yang berkesinambungan yang terdiri dari diagnosa dan perencanaan.10. Keseluruhan komponen PEL dalam heksagonal tersebut bertujuan untuk mengembangkan ekonomi wilayah secara berkelanjutan (Gambar 2). 2. patok duga (benchmark) dan refleksi. Indikator ini kemudian dijadikan dasar untuk menyusun kuesioner evaluasi mandiri (self assessment). pengembangan kawasan agropolitan tanpa memperhatikan keterkaitan sosial ekonomi aktual yang terjadi antar hirarki wilayah di dalam . Gambar 2 Heksagonal PEL Untuk keperluan operasionalisasi konsep heksagonal PEL sebagai alat analisis selanjutnya diturunkan dalam bentuk indikator PEL (Lampiran 9).

serta lemahnya kapasitas social capital dalam masyarakat. meningkatnya kepadatan penduduk. Akses petani terhadap lahan ternyata semakin berkurang dengan berkembangnya infrastruktur wilayah (listrik dan sarana jalan). banyaknya penduduk miskin dan pengangguran di perdesaan. tetapi tidak harus dalam bentuk jalan beraspal yang di-hotmix agar biaya pembangunannya tidak terlalu mahal. Jalanjalan desa yang bisa dilalui oleh motor ataupun kendaraan bak terbuka sudah mencukupi untuk membangun jalur transportasi antar desa. Hal ini karena. Sementara ketersediaan air di kawasan agropolitan juga sudah mulai terganggu karena Kondisi ini akan mengancam keberlanjutan dari pengembangan kawasan agropolitan. Pemanfaatan yang tidak optimal ini terjadi karena lokasi penempatan fasilitas yang tidak sesuai dengan pola aktivitas sosial ekonomi yang telah berkembang. maraknya alih fungsi lahan menjadi villa dan bangunan. dan apabila masyarakat harus dipaksakan untuk memanfaatkannya maka yang terjadi adalah aktivitas ekonomi masyarakat justru menjadi tidak efisien dan kurang menguntungkan. Pembangunan infrastruktur wilayah . desa tidak mempunyai bargaining position yang kuat. Pola jaringan jalan yang bersifat denritik kurang bisa mendorong pengembangan kawasan perdesaan karena setiap unit wilayah desa harus langsung berinteraksi dengan kawasan yang memiliki kapasitas skala ekonomi (economic of scale) yang lebih besar. Sektor petanian sebagai sektor andalan di Kawasan Agropolitan Cianjur pada dasarnya sangat tergantung pada terjaganya kualitas lingkungan. Pola jaringan yang bersifat networking antar desa harus diperkuat. akan menyebabkan terjadinya inefisiensi dan pemborosan anggaran pembangunan.38 kawasan. Namun pada kenyataanya. aksesibilitas yang dekat dengan kota (Jakarta dan Bogor). kemampuan alami lahan di Kawasan Agropolitan Cianjur sudah mulai menurun karena usaha tani yang intensif pada lahan sempit dengan pola multiple cropping tanpa pernah mengistirahatkan lahan. pada akhirnya banyak sarana-prasarana penunjang pertanian yang telah dibangun tidak dimanfaatkan secara optimal dan bahkan biaya pemeliharaannya justru menjadi beban masyarakat. Akibatnya dalam konteks transaksi antar wilayah.

e. d. sejak tahun pertama fasilitasi (tahun 2002) sampai dengan tahun ke 3 fasilitasi (tahun 2004) di 8 daerah rintisan agropolitan secara umum belum mengarah pada syarat pengembangan kawasan agropolitan.39 (listrik dan sarana jalan) justru membuat akses kota lebih dominan daripada akses desa terhadap kota dan mengarah pada hubungan yang eksploitatif. showroom. Hasil studi dari Satuan Kerja Pengembangan Prasarana dan Sarana Desa Agropolitan Departemen Pekerjaan Umum (2005). mengemukakan bahwa Program yang telah dilaksanakan dalam rangka pengembangan rintisan kawasan Agropolitan. Masih rendahnya peran usaha besar dan menengah dalam berinvestasi di sektor tanaman pangan pada kawasan agropolitan. Masih belum samanya persepsi dari semua elemen yang terlibat dalam pengembangan kawasan agropolitan. f. fluktuasi harga dan kontinuitas pasar produk. Tingkat partisipasi masyarakat masih rendah karena kurang dilibatkannya masyarakat dalam hal perencanaan. Hal ini berakibat belum konsisten monitoring. Sebagian besar masih pada pengembangan kawasan sentra produksi pertanian. evaluasi. pusat data dan informasi serta outlet produk pertanian dan hasil olahan pada saat ini masih kurang baik kuantitas maupun kualitasnya. Hasil identifikasi dan inventarisasi tim survey menemukan beberapa permasalahan utama dalam mengimplementasikan program-program dari masingmasing sektor dan bidang sebagai berikut: a. c. merupakan permasalahan esensial yang perlu segera di atasi mengingat akses informasi mengenai masalah ini sangat minim. Beberapa program belum dilaksanakan secara terpadu guna mendukung pengembangan kawasan. b. jembatan. namun masih berjalan sendiri-sendiri sehingga nuansa keterkaitan dan keharmonisan program belum dirasakan oleh masyarakat. Pemasaran produk pertanian yang berkaitan dengan informasi harga. dan . Infrastruktur terutama jalan. pelaksanaan. Rendahnya ketrampilan bisnis (jiwa entreprenuership) dari masyarakat sehingga perlu penanganan melalui pendidikan informal dan pelatihanpelatihan.

Adapun yang membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya. . Disamping itu dalam penelitian ini diterapkan suatu metode baru dalam mengidentifikasi dan merumuskan strategi pembangunan dengan menggunakan metode Rapid Assessment Techniques for Local Economic Development (RALED). provinsi maupun kabupaten.40 dan sinergisnya program yang dilaksanakan baik dari pusat. adalah dalam penelitian ini tidak saja menggunakan analisis deskriptif seperti pada penelitian terdahulu tetapi juga diperkuat dengan analisis kuantitatif.

kelestarian lingkungan terjaga. perekonomian perdesaan tumbuh berkembang.Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat apakah pengembangan agropolitan yang dilaksanakan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat petani dan perekonomian wilayah atau belum. Multiplier effect selanjutnya adalah terbukanya lapangan kerja sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. dan produktivitas pertanian meningkat. Apabila hal ini dapat dicapai. .1. penguatan kelembagaan. dan pembangunan dapat dirasakan lebih adil dan merata. serta pemukiman terbangun secara memadai dan setara infrastruktur kota. Langkah-langkah yang ditempuh dalam pengembangan agropolitan meliputi pengembangan agribisnis komoditas unggulan. mengurangi pengurasan sumberdaya alam dan urbanisasi dari desa ke kota. Pengembangan agropolitan ditujukan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui percepatan pembangunan wilayah.III. pengolahan hasil dan pemasaran. Kerangka Pemikiran Penelitian Agropolitan adalah konsep pembangunan perdesaan yang mengintegrasikan pengembangan wilayah dan pemberdayaan masyarakat. kelembagaan dan permodalan/investasi. KERANGKA PEMIKIRAN 3. Sasarannya adalah infrastruktur pendukung produksi pertanian. Agropolitan didasari pada konsep pengembangan wilayah dengan menekankan pada pembangunan infrastruktur. pembangunan agroindustri. Pemberdayaan masyarakat merupakan konsep pembangunan yang mengutamakan partisipasi (participation) dan kemitraan (partnership) yang mengarah pada pembangunan dari dan untuk rakyat. dan konservasi sumberdaya alam dan lingkungan. Selanjutnya akan diidentifikasi kebijakan seperti apa yang dapat mendorong pengembangan ekonomi kawasan agropolitan ke depan. maka akan terbentuk kota di daerah perdesaan dengan sarana dan prasarana permukiman setara kota dengan kegiatan pertanian sebagai kekuatan penggerak perekonomian perdesaan. disparitas perkembangan desa-kota dapat ditekan. Secara garis besar kerangka pemikiran umum tersebut dapat dilihat pada Gambar 3 berikut ini.

Kerangka Pendekatan Operasional Di setiap wilayah/daerah selalu terdapat sektor-sektor yang bersifat strategis akibat besarnya sumbangan yang diberikan dalam perekonomian wilayah serta keterkaitan sektoral dan aspek spatial-nya. dan secara spatial berdampak secara luas di seluruh wilayah sasaran.2. Perkembangan sektor strategis tersebut akan memiliki dampak langsung dan tidak langsung yang signifikan.42 AGROPOLITAN Pemberdayaan Masyarakat Pengembangan Wilayah Agribisnis Agroindustri Konservasi Infrastruktur Kelembagaan Kelestarian Lingkungan Ekonomi Perdesaan Produksi Pertanian Pendapatan Masyarakat Pembangunan Wilayah Belum Apakah terjadi peningkatan ? Identifikasi Kebijakan Ya Gambar 3 Kerangka Pemikiran Penelitian 3. Dampak tidak langsung terwujud sebagai akibat perkembangan kegiatan sektor tersebut yang berdampak kepada berkembangnya sektor-sektor lainnya. Pada tahap awal akan dilakukan analisis Location Quotient (LQ) untuk mengetahui karakteristik pemusatan aktivitas di Provinsi Gorontalo dan di daerah .

Analisis ini selanjutnya dilengkapi dengan analisis Shift-share yang dapat menunjukkan seberapa besar dinamika perekonomian wilayah dan sektor-sektor ekonomi Provinsi Gorontalo berpengaruh terhadap sektor ekonomi di kabupaten Pohuwato sebelum dan sesudah program agropolitan. Tingkat partisipasi masyarakat tersebut akan dilihat berdasarkan indikatorindikator tertentu menurut tangga partisipasi yang dikemukakan oleh Arnstein. sektor yang kinerjanya tetap unggul dan sektor yang muncul sebagai sektor unggulan baru. Pergeseran pusat-pusat aktivitas antara sebelum dan sesudah program akan memberikan gambaran sektor mana saja yang kinerjanya mengalami penurunan.43 contoh yaitu kabupaten Pohuwato sebelum dan sesudah program agropolitan. Analisis deskriptif ini penting untuk mengetahui pola pola perkembangan ekonomi wilayah sebelum dan sesudah program agropolitan. Dari ketiga analisis pertama ini diharapkan dapat diperoleh gambaran sampai sejauh mana program pengembangan agropolitan berperan terhadap perekonomian wilayah. maka akan dilakukan wawancara dengan menggunakan kuesioner.student. . Sementara itu untuk mengetahui dampak langsung dari pengembangan agropolitan terhadap masyarakat terlebih khusus pendapatan masyarakat petani. Kedua analisis ini akan memberikan informasi keunggulan komparatif dan kompetitif dari sektor-sektor perekonomian di Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato baik sebelum dan sesudah program agropolitan. Analisis ini diperlukan untuk mengetahui pusat-pusat aktivitas sektor terutama di kabupaten Pohuwoto sebagai kawasan agropolitan sebelum dan sesudah pemekaran.Karena pertimbangan kesulitan dalam menggali informasi tentang pendapatan masyarakat petani sebelum pelaksanaan agropolitan maka perbandingan pendapatan dilakukan dengan kawasan yang belum tersentuh program agropolitan dengan menggunakan analisis uji beda rata-rata t. Selain itu analisis terhadap tingkat partisipasi masyarakat juga akan dilakukan terhadap proses pelaksanaan pembangunan kawasan agropolitan. Kedua analisis diatas kemudian dilengkapi dengan analisis deskriptif terhadap perkembangan PDRB di kedua wilayah tersebut.

. sehingga dapat diketahui aspek mana saja yang menjadi prioritas untuk dibenahi. (5) tata kepemerintahan. Untuk melihat faktor-faktor pengungkit dalam Heksagonal PEL digunakan teknik Rapid Assessment for Local Economic Development (RALED). seringkali pemerintah ingin membenahi semua aspek yang terkait dalam kawasan. dan (6) proses manajemen.44 Analisis tingkat partisipasi ini akan menggambarkan derajat partisipasi masyarakat dalam pengembangan agropolitan. (2) faktor lokasi. (4) pembangunan berkelanjutan. Analisis ini digunakan untuk mengetahui kondisi ekonomi kawasan agropolitan. (3) kesinergian dan fokus kebijakan. Heksagonal PEL terdiri dari 6 aspek yaitu : (1) kelompok sasaran. Secara ringkas tahapan-tahapan studi dapat dilihat pada Gambar 4 berikut ini. Dalam mengembangkan ekonomi kawasan agropolitan. Analisis ini menggunakan data primer berupa persepsi dari semua stakeholder yang terkait dengan pengembangan kawasan agropolitan. sehingga diperlukan skala prioritas dalam pengembangan kawasan agropolitan agar dapat efisien untuk mengembangkan ekonomi wilayah. Disisi lain pemerintah mempunyai keterbatasan dalam kemampuan dan lebih terarah dan dana. Untuk mengetahui dan mengidentifikasi aspek-aspek yang perlu mendapat perhatian dari pemerintah yang disebut sebagai faktor pengungkit akan dilakukan analisis Heksagonal Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL).

ML Analisis LQ .45 SEBELUM AGROPOLITAN SETELAH AGROPOLITAN Data PDRB Prov.Boalemo Data PDRB Prov.Gorontalo Data PDRB Kab. contoh Peran dan Pertumbuhan Aktivitas eko regional Peran dan Pertumbuhan Aktivitas eko Wil.Pohuwato Data Primer Melalui kuesioner Analisis LQ Analisis LQ Analisis LQ . ML Analisis beda pendapatan Analisis Partisipasi Masy Analisis Heksagonal PEL Analisis SSA Analisis SSA Analisis SSA Analisis SSA Uji t-student Analisis Kualitatif RALED Peran dan Pertumbuhan Aktivitas eko regional Peran dan Pertumbuhan Aktivitas eko Wil.contoh Dampak terhadap Pendapatan Masyarakat Peran Masyarakat dalam Agropolitan Identifikasi Prioritas Kebijakan Dampak agropolitan Berdasar data sekunder Dampak agropolitan Berdasar data primer Pengembangan ekonomi Kawasan agropolitan Gambar 4 Kerangka Pendekatan Operasional . MS.Gorontalo Data PDRB Kab. MS.

3. Diduga kontribusi komoditi unggulan jagung menonjol terhadap ekonomi wilayah Provinsi Gorontalo 2. Pengembangan agropolitan basis jagung memberikan dampak positif terhadap tingkat pendapatan petani. Hipotesis Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah dikemukakan. . maka hipotesis penelitian dapat diajukan sebagai berikut : 1.46 3.

Lokasi Penelitian Gambar 5 Lokasi Penelitian 4. Selanjutnya. untuk aspek proses pengembangan agropolitan akan dijelaskan secara deskriptif. 4. Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder yang diuraikan sebagai berikut : 1. Data Primer Data primer diperoleh melalui observasi langsung di lapang dan wawancara langsung dengan responden dengan menggunakan kuesioner di kawasan agropolitan dan di kawasan yang belum terpengaruh program agropolitan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2007 hingga bulan Agustus 2008. Analisis deskriptif kualitatif digunakan untuk melengkapi analisis kuantitatif yang fokus pada aspek output dan outcome.IV. Disamping itu untuk data . meliputi tahapan persiapan hingga pelaporan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif dan analisis deskriptif kualitatif.2.1.Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Provinsi Gorontalo yaitu di Kabupaten Pohuwato yang merupakan daerah pengembangan kawasan agropolitan.

Jumlah responden petani adalah sebanyak 60 orang. Bappeda.3. Organisasi Masyarakat (LSM. 2. Responden adalah petani yang mengusahakan komoditas unggulan kawasan agropolitan yaitu komoditas jagung. Dinas Pertanian. Metode Pengambilan Sampel Dalam penelitian ini digunakan dua tahap pengambilan sampel (multistage sampling) (Juanda.48 stakeholder digunakan data seluruh stakeholder yang terkait dengan pengembangan ekonomi kawasan agropolitan. media massa. (eksekutif dan legislatif). yaitu data yang diperoleh dari instansi-instansi terkait seperti BPS. Untuk sampel stakeholder. Pengumpulan data dengan mengguankan kuesioner dilakukan secara partisipatif dalam suatu focus group discussion (FGD). non . 2007). Perguruan Tinggi. yaitu berdasarkan penetapan kawasan agropolitan dan ketersediaan infrastruktur pendukung agropolitan. dalam bentuk dokumen dan studi literatur. Selanjutnya penarikan sampel dilakukan secara acak di masing-masing kecamatan. organisasi sosial lainnya). Data Sekunder Data sekunder. Dinas Prasarana dan Pemukiman dan instansi-instansi terkait lainnya yang telah tersedia 4. pengambilan sampel dilakukan kepada seluruh stakeholder yang tergabung dalam forum kemitraan PEL yang sudah terbentuk di daerah penelitian yang terdiri dari usahawan (swasta dan perbankan). Dimana untuk penentuan lokasi kecamatan agropolitan dan non agropolitan metode sampling yang digunakan adalah purposive sampling. dimana 30 orang responden berasal dari kawasan agropolitan dan 30 orang lainnya berasal dari kawasan agropolitan.

MS. Pertumbuhan sektor-sektor perekonomian. Pemerintah daerah Key Informan (stakeholer) 3 Menganalisis tingkat partisipasi masyarakat sebagai pelaku pembangunan di kawasan agropolitan Tingkat partisipasi masyarakat Komunikasi (dialog).Tabel 7 Matriks Pendekatan Penelitian No 1 Tujuan Menganalisis dampak pengembangan agropolitan terhadap perekonomian wilayah Aspek Keragaan Struktur Perekonomian wilayah Pendapatan Usaha tani Variabel PDRB.Analisis Heksagonal PEL .Kesinergian dan Fokus Kebijakan . ML . Bappeda 2 Menganalisis dampak agropolitan terhadap pendapatan petani Petani kawasan agropolitan dan non agropolitan Petani kawasan agropolitan - Wawancara kepada masyarakat petani Wawancara kepada masyarakat dalam kawasan agropolitan Bappeda.Kualitatif menurut tangga partisipasi Arnstein - 4 Merumuskan strategi pembangunan yang dapat mendorong pengembangan Kawasan Agropolitan Identifikasi prioritas kebijakan pemerintah .Kelompok Sasaran . Alat Analisis . petani.Analisis LQ.Proses Manajemen .Analisis Deskriptif . Peningkatan Investasi Pendapatan usaha tani Kegiatan petani sehubungan dengan agropolitan.Analisis Uji Beda rata-rata tstudent Responden Non responden Data sekunder Sumber Data BPS. Pemerintah Daerah. Pertumbuhan angkatan kerja. LSM - .Pembangunan Berkelanjutan . Pertumbuhan PDRB. Kontrol masyarakat terhadap kebijakan publik . Pertumbuhan penduduk.Analisis SSA .Tata Pemerintahan . pelaku usaha.RALED Bappeda.Faktor Lokasi . Pengetahuan masyarakat terhadap proses pengambilan keputusan.

j jumlah PDB Indonesia dan PDRB Provinsi Gorontalo total seluruh sektor Kriteria penilaian dalam penentuan ukuran derajat basis dan non basis adalah jika nilai indeks LQ lebih besar dari satu (LQ > 1 ) maka sektor tersebut merupakan sektor basis sedangkan jika nilainya sama atau lebih kecil dari satu (LQ < 1 ) berarti sektor yang dimaksud termasuk kedalam sektor non basis pada kegiatan perekonomian wilayah provinsi Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato . jumlah PDRB Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato untuk sector ke. j / X .j X.4. X .50 4. LQij = Dimana : LQij Xij Xi. Multiplier Short Run (MS) dan Multiplier Long Run(ML) Analisis ini dilakukan untuk mengetahui peranan/pengaruh sektoral dalam pertumbuhan ekonomi. Metode Analisis Dari data yang telah terkumpul kemudian dianalisis sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian sehingga akan dapat menjawab permasalahan yang diangkat.j jumlah PDRB Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato total seluruh sektor jumlah PDB Indonesia dan PDRB Provinsi Gorontalo untuk sector ke. Disamping itu juga untuk melihat kontribusi jagung sebagai komoditas unggulan terhadap perekonomian wilayah..4..1. Untuk mengetahui potensi ekonomi yang merupakan basis dan bukan basis dapat menggunakan metode Location Quotient (LQ) yang merupakan perbandingan relatif antara kemampuan sektor yang sama pada daerah yang lebih luas dalam suatu wilayah. Metode analisis yang dipakai antara lain: 4. Analisis Location Quotient (LQ). = = = = = indeks kuosien lokasi X ij / X i . X.

51 Analisis LQ ini dilakukan dalam bentuk time-series/trend.4. artinya untuk melihat beberapa kurun waktu yang berbeda apakah terjadi kenaikan atau penurunan. Koefisien Pengganda Jangka Pendek dirumuskan sebagai berikut : Ms = 1 YN 1− YN + YB Dengan : MS YN YB = Multiplier Short Run / Pengganda jangka pendek = Pendapatan sektor/aktifitas non basis = Pendapatan sektor/aktifitas basis Dan koefisien pengganda jangka panjang dirumuskan sebagai berikut : ML = 1 Y +I 1− N YN + YB Dengan : ML YN YB I = Multiplier Long Run / Pengganda jangka panjang = Pendapatan sektor/aktifitas non basis = Pendapatan sektor/aktifitas basis = Investasi 4. Pemahaman struktur aktifitas dari hasil analisis shift-share . Analisis Shift Share Shift-share analysis merupakan salah satu dari sekian banyak teknik analisis untuk memahami pergeseran struktur aktifitas di suatu lokasi tertentu dibandingkan dengan suatu referensi (dengan cakupan wilayah yang lebih luas) dalam dua titik waktu.2. Selanjutnya untuk mengetahui besarnya sumbangan sektor/aktifitas ekonomi basis terhadap sektor/aktifitas lain dalam suatu wilayah atau dampak sektor/aktifitas basis perekonomian wilayah digunakan Koefisien Pengganda.

i(t 0) X.52 menjelaskan kemampuan berkompetisi (competitiveness) aktifitas tertentu di suatu wilayah secara dinamis atau perubahan aktifitas dalam cakupan lebih luas... sebab dari dinamika aktifitas/sektor (total wilayah) dan sebab dari dinamika wilayah secara umum (laju pertumbuhan agregat). Hasil analisis shift-share menjelaskan kinerja (performance) suatu aktifitas di suatu sub-wilayah dan membandingkan dengan kinerjanya di dalam wilayah total. Komponen Pergeseran Proporsional (Komponen propotional shift).i(t1) X. 2..(t 0) ⎟ ⎜ X. Dengan demikian dari hasil analisis shift-share akan diperoleh gambaran kinerja aktifitas di suatu wilayah yang dapat dijelaskan dari 3 komponen. yaitu : 1..i(t1) ⎞ −1⎟ + ⎜ − − ⎟ ⎟ +⎜ X. dibandingkan dengan pertumbuhan secara umum dalam total wilayah yang menunjukkan dinamika sektoral/aktifitas total dalam wilayah. Komponen ini menyatakan pertumbuhan total wilayah pada dua titik waktu yang menunjukkan dinamika total wilayah. Komponen Pergeseran Diferensial (Komponen differential shift). Komponen ini menyatakan pertumbuhan total aktifitas tertentu secara relatif. Persamaan analisis shift-share ini adalah sebagai berikut : SSA = ⎜ ⎜ ⎛ X. Analisis shift-share mampu memberikan gambaran sebab-sebab terjadinya pertumbuhan suatu aktifitas di suatu wilayah. Komponen Laju Pertumbuhan Agregat (Komponen Agregat).(t1) ⎞ ⎛ Xij(t1) X.(t 0) ⎟ ⎜ Xij(t 0) X. Sebab-sebab yang dimaksud dibagi menjadi tiga bagian yaitu : sebab yang berasal dari dinamika lokal sub-wilayah).i(t 0) ⎟ ⎝ ⎠ ⎝ ⎠ ⎝ ⎠ b c .(t1) a ⎞ ⎛ X. 3... Ukuran ini menjelaskan bagaimana tingkat kompetisi (competitiveness) suatu aktifitas tertentu dibandingkan dengan pertumbuhan total sektor/aktifitas tersebut dalam wilayah. Komponen ini menggambarkan dinamika (keunggulan/ketidakunggulan) suatu sektor/aktifitas tertentu di subwilayah tertentu terhadap aktifitas tersebut di sub-wilayah lain.

Dengan Satistik Uji t (Steel and Torrie 1981) sebagai berikut : − − ( x1 − x 2 ) t= S− − ( x1 − x2 ) dimana : − x1 − = = rata-rata pendapatan petani kawasan agropolitan rata-rata pendapatan petani kawasan non agropolitan − − x2 S = Standar deviasi ( x1 . = jumlah PDRB total seluruh sektor dalam total wilayah X. dan X. Artinya terdapat perbedaan rata-rata pendapatan petani antara kawasan agropolitan dan non agropolitan.Analisis Uji Beda Pendapatan Selanjutnya untuk mengetahui dampak pengembangan agropolitan terhadap pendapatan masyarakat petani dilakukan analisis perbandingan rata-rata pendapatan usaha tani jagung antara kawasan agropolitan dan non agropolitan dengan menggunakan uji t-student pada taraf 5%.4. H1 : µ1 > µ2 yakni rata rata pendapatan petani kawasan agropolitan lebih besar dari rata-rata pendapatan petani kawasan non agropolitan.53 dimana : a = komponen agregat / share b = komponen proportional shift c = komponen defferential shift.. Hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut : H0 : µ1 = µ2 yakni rata-rata pendapatan petani kawasan agropolitan sama dengan rata-rata pendapatan petani kawasan non agropolitan. artinya tidak ada perbedaan antara pendapatan petani kawasan agropolitan dan non agropolitan.x 2 ) . Analisis data dilakukan dengan bantuan program aplikasi Minitab for Window Release 14 .i = jumlah PDRB sektor tertentu dalam total wilayah Xij = jumlah PDRB sektor tertentu dalam unit wilayah tertentu ti = nilai tahun akhir t0 = nilai tahun awal 4.3.

maka tolak H0 (terima H1) Bila statistik hitung ≤ tα . menggunakan metode skoring dalam menentukan tingkat partisipasi dengan menggunakan variabel (1) derajat Komunikasi. Analisis Tingkat Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Pengukuran terhadap tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan kawasan agropolitan akan didasarkan pada tangga partisipasi yang dikemukakan oleh Arnstein (1969). Variabel yang digunakan untuk mengukur derajat komunikasi adalah : 1.4. (3) kontrol masyarakatatas kebijakan perencanaan. (2) pengetahuan masyarakat atas proses pengambilan keputusan. maka terima H0 (tolak H1) 4. Intervensi yang dilakukan aparat : seberapa besar campur tangan/intervensi aparat dalam proses fasilitasi program agropolitan? Variabel yang digunakan untuk mengukur derajat pengetahuan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan adalah : 1.4. Forum pengambilan keputusan : Dalam forum apa keputusan diambil dalam lingkungan desa. Analisa derajat partisipasi arnstein. Tingkat kepuasan : Apakah anda puas dengan prosedur dan proses pengambilan keputusan dalam perencanaan pengembangan agropolitan? 3. Prosedur untuk berpartisipasi : Menurut anda apakah dalam perencanaan pengembangan agropolitan yang dilakukan selama ini. Jumlah orang yang berpartisipasi : Menurut anda berapa persen orang yang tahu dan diajak berembuk mengenai sebuah proyek yang akan berlangsung dilingkungan anda (agropolitan). 4. 2. warga dan organisasi masyarakat tahu prosedur (tata cara) untuk ikut terlibat didalamnya? . 3. Konsep partisipatif : Menurut anda apakah perencanaan yang ada di desa (dalam pengembangan agropolitan) sudah melibatkan masyarakat? 2. Informasi : Apakah anda mendapat informasi tentang adanya pelaksanaan program agropolitan.54 Kaidah keputusan : Bila statistik hitung > tα.

Kritik atas mekanisme forum perencanaan: Apakah anda pernah memberi masukan keputusan? 3. Komunikasi Tingkatan Tidak ada komunikasi Komunikasi satu arah tetapi hanya sedikit keputusan publik yang bisa diklarifikasi Komunikasi telah cukup.5 75 Skor Penilaian 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 kepada pemerintah atau pihak yang anda anggap bertanggungjawab untuk merubah prosedur dan proses pengambilan keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan program sepenuhnya .5 75 97.5 120 3 4 Interval 30 52.5 30 52. Akses terhadap forum perencanaan : Apakah warga dan arganisasi masyrakat lainnya dapat dengan mudah terlibat/ikutserta dalam forum perencanaan agropolitan? 2.5 120 52. Keterlibatan masyarakat dalam implementasi proyek : Menurut anda bagaimana agropolitan? Tabel 8 Aspek dan Tingkatan dalam Menilai Derajat Partisipasi Menurut Arnstein Aspek A. namun masih bersifat satu arah Ada dialog B.55 4. bagaimana keputusan tersebut dibuat? Variabel yang digunakan untuk mengukur kontrol masyarakat terhadap kebijakan pembangunan adalah : 1.5 30 52.5 97.5 75 97.5 52. Tingkat partisipasi dalam kelompok : Jika keputusan diambil dalam kelompok.5 120 52. Pengetahuan masyarakat terhadap proses pengambilan keputusan C.5 75 97.5 75 97. Kontrol masyarakat terhadap kebijakan publik Tidak Tahu Tahu Mempengaruhi Berperan Besar Tidak ada Hanya bisa memberikan komentar (less control power) Bisa memberikan kritikan masukan (Has power) Bisa mengontrol (control powerly) dan 75 97.

5. Menghitung distribusi frekwensi (f) 3. Tabel 9 Derajat Partisipasi Menurut Arnstein Derajat Partisipasi Pengawasan Masyarakat Pendelegasian Kekuasaan Partnership/Kemitraan Peredaman Kemarahan Konsultasi Menyampaikan informasi Terapi Manipulasi Nilai Faktor A 4 4 4 4 3-4 2-3 2 1 B 4 3-4 3 2-3 2 1-2 1 1 C 4 3 2-3 2 2 1-2 1 1 12 10-11 9-10 8-9 7-8 7-8 4 3 Non Partisipasi Tingkat Otoritas Masyarakat Tingkat Tokenisme Indeks Kelompok Sumber : Arnstein 1969 A = Komunikasi B = Pengetahuan Masyarakat terhadap proses pengambilan keputusan C = Kontrol Masyarakat terhadap kebijakan publik 4. Penggunaan analisis ini didasarkan pada pertimbangan bahwa . (3) Kesinergian dan fokus kebijakan. dan (6) proses manajemen.56 Adapun tahapan perhitungan ketiga variabel tersebut dilakukan dengan cara : 1. Mencari interval berdasarkan kuartil atas perhitungan terhadap s x f x b dengan cara mengurangkan nilai tertinggi (jika semua memili skala tertinggi) dan nilai terendah (jika semua memilih skala terendah). Teknik RALED didasarkan pada teknik ordinasi (menempatkan sesuatu pada urutan atribut yang terukur) secara Multi Dimensional Scaling (MDS). yang terdiri dari 6 aspek yaitu : (1) kelompok sasaran. (5) tata kepemerintahan. (4) pembangunan berkelanjutan. Membandingkan hasil dengan indeks Arnstein. Dimensi dalam RALED didekati dengan menggunakan Heksagonal PEL. Rapid Assessment for Local Economic Development (RALED) Untuk mengkaji prioritas kebijakan yang dapat mendorong pengembangan kawasan agropolitan digunakan teknik analisis RALED.4. (2) faktor lokasi. Memberikan bobot penilaian terhadap variabel berdasarkan pengaruh variabel terhadap aspek yang dinilai (b) 4.5. Pemberian skor dengan skala 1 – 4 (s) 2.

Analisis Sensitivitas 3. Berdasarkan hasil pemetaan dari kondisi PEL tersebut kemudian dapat diidentifikasi komponen Heksagonal PEL yang berperan sebagai faktor pengungkit. Analisis dengan metode Multi Dimensional Scaling (MDS) 2. Dalam analisis ini. . Data ini selanjutnya dianalisis dengan menggunakan Rapid Assessment Techniques for Local Economic Development (RALED). yaitu faktor yang berpengaruh besar terhadap pengembangan PEL. data yang dipakai adalah persepsi dari semua stakeholder yang terkait dalam pengembangan kawasan agropolitan dan data sekunder sebagai data penunjang. yang berjumlah 87 indikator merupakan penjabaran dari keenam aspek tersebut termasuk aspek lokasi maupun ruang sehingga mampu menggambarkan keadaan perekonomian lokal secara komprehensif. keterbatasan analisis ini adalah karena data yang digunakan merupakan data persepsi dari masing-masing stakeholder sehingga diperlukan kehati-hatian dalam menterjemahkannya (interpretasi). termasuk pengembangan ekonomi lokal yang digunakan. Sementara itu Heksagonal PEL alat analisis yang dapat digunakan untuk menganalisis dan agropolitan.57 agropolitan merupakan salah satu merupakan kawasan program pemerintah yang menggunakan pendekatan pengembangan ekonomi lokal. Keunggulan analisis ini adalah bahwa indikator menggambarkan kondisi ekonomi lokal pada suatu wilayah/kawasan. Namun demikian. Selanjutnya berdasarkan faktor pengungkit inilah maka dapat disusun strategi pengembangan selanjutnya. Analisis Montecarlo Selanjutnya untuk mengetahui kondisi atau status PEL secara keseluruhan dilakukan pembobotan dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Prosess (AHP). Adapun tahapan dalam analisis Raled adalah sebagai berikut : 1.

2008). Hal ini dilatarbelakangi karena kondisi lahan di suatu wilayah atau kawasan sangat beragam yang dipengaruhi oleh factor iklim. Program ini dilaksanakan di seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Gorontalo. Kondisi eksisting yang ada dilapang pusat-pusat produksi. Kabupaten Pohuwato merupakan salah satu dari 8 program rintisan pengembangan agropolitan yang dicanangkan oleh Pemerintah Pusat pada tahun 2002. Selanjutnya komoditas pertanian akan mampu berproduksi maksimal di lahan yang cocok atau sesuai dengan prasyarat tumbuhnya. Dalam jangka panjang akan dibangun industri hulu dan hilir yang berbasis jagung. pengolahan hasil dan pemasaran.1. dimana dengan berkoordinasi dengan dinas pertanian dan dinasi kimpraswil dilakukan pembangunan sarana prasarana untuk menunjang pengembangan agropolitan. DISKRIPSI UMUM WILAYAH PENELITIAN 5. Sebagai langka awal pengembangan agopolitan. pemerintah membuat masterplan pemwilayahan komoditas. Akan tetapi rencana ini belum tertuang dalam masterplan agropolitan termasuk zonasi pusat-pusat produksi. Atas dasar pertimbangan tersebut jagung akhirnya dipilih sebagai komoditas unggulan daerah sebagai titik masuk dari pengembangan agropolitan. tanah. disamping karena jagung juga merupakan komoditi yang sudah dikembangkan secara turun temurun oleh masyarakat gorontalo dan merupakan makanan pokok masyarakat gorontalo. Sejalan dengan perkembangan yang ada pemeritah juga sementara merancang agar jagung sebagai komoditi unggulan dapat menjadi penggerak ekonomi dari sector-sektor lain yang terkait didalamnya melalui ‘ekonomi jagung’ (Muhammad. topografi dan hidrologi. F. Sehingga keragaman ini akan sangat perpengaruh terhadap tipe potensi lahan dan jenis tipe penggunaan lahan yang akan dikembangkan. Deskripsi Agropolitan Provinsi Gorontalo Dalam rangka memacu pertumbuhan dan perkembangan wilayahnya Provinsi Gorontalo mengembangkan konsep agropolitan. pengolahan hasil dan pemasaran mengacu pada RTRW Provinsi Gorontalo dimana pusat-pusat produksi berada dalam Kawasan Andalan Kabupaten Boalemo (sebelum pemekaran) dan Kapet Kabupaten Gorontalo sedangkan pusat .V.

1.23o – 122. dengan iklim 24.27o – 1. sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Parigi Moutong dan sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Boalemo.31 km2 atau 34. Keadaan Geografis dan Administratif Kabupaten Pohuwato merupakan kabupaten yang berada di ujung barat Provinsi Gorontalo dengan letak geografis antara 0.59 pengolahan (Lampiran 8 ). Penyimpanan Jasa Perbengkelan Corn oil Pakan ternak Asuransi/ Perbankan Gambar 6 Diagram Ekonomi Jagung 5. Wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Pohuwato mencakup 7 kecamatan yang terdiri dari 69 desa. Luas wilayah Kabupaten Pohuwato adalah 4. Deskripsi Umum Kabupaten Pohuwato 5.244.75 persen dari luas wilayah Provinsi Gorontalo. sebelah selatan beratasan denga Teluk Tomini. 1 UPT dan .44o Lintang Utara.01o Bujur Timur dan 121.2. dan pemasaran berada di kawasan andalan Kota Gorontalo infrastruktur Industri hilir Sweetener (Pemanis Industri hulu Benih/ Pemuliaan Mesin pertanian/ Pengolahan Jagung Ethanol Starch (Tepung) Bioproduct Pupuk R&D.2. Adapun batas wilayah Kabupaten Pohuwato adalah sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Buol Sulawesi Tengah.Diklat/workshop Pengujian&sertifikasi Jasa handling.2 o C.4 – 33.

Adapun nama kecamatan. 2006 . komoditi jagung banyak diusahakan di lahan kering yang banyak terdapat di kabupaten Pohuwato.332 15.982 33.60 3 Kelurahan.290 30.97 298.190 80. 2006 Luas (Km2) 1. Tabel 10 Nama Kecamatan.58 449. Adapun komoditi yang dikembangkan bermacam-macam terdiri dari tanaman pangan.132 29.266 480 850 208 Bukan Sawah (Ha) 139.244.747 44.431 Total 3.674 421. Tabel 11 Luas Lahan Menurut Kecamatan dan Penggunaannya di Kabupaten Pohuwato No 1 2 3 4 5 6 7 Kecamatan Popayato Lemito Randangan Marisa Paguat Taluditi Patilanggio Luas Sawah (Ha) 80 11 140 1. perkebunan dan kehutanan.32 159.035 Sumber : Pohuwato dalam Angka.997 29.392.842 31. Luas dan Jumlah Desa di Kabupaten Pohuwato No 1 2 3 4 5 6 7 Kecamatan Popayato Lemito Randangan Marisa Paguat Taluditi Patilanggio Jumlah Sumber : Profil Kabupaten Pohuwato.924 79. Namun yang menjadi prioritas dari pemerintah daerah adalah mengembangkan komoditi tanaman pangan dalam hal ini padi dan jagung sebagai komoditi basis.90 803.396 Jumlah (Ha) 139.210 80. jumlah desa dan luas wilayah dapat dilihat pada Tabel 10.31 Jumlah Desa 15 11 10 15 12 6 4 73 Aktifitas pertanian di Kabupaten Pohuwato dilaksanakan untuk meningkatkan produktifitas pertanian.90 807.82 4.852 44. Sebagai produk unggulan.82 331.758 44.882 424.

105 6.756 3.132 4.2. sebagian kecil berbukit dan bergunung.1o C dengan kelembaban relative berkisar antara 71 .1. Jumlah penduduk menurut kecamatan dan jenis kelamin di Kabupaten Pohuwato dapat dilihat pada Tabel 12. Ini berarti dari setiap 100 orang perempuan terdapat 101 laki-laki.2.721 Perempuan 11. Sosial Ekonomi Budaya Masyarakat 5.85 persen.998 7. 5.4o C sedangkan suhu pada malam hari berkisar 21.2. Pada tahun 2006 suhu rata-rata pada siang hari berkisar antara 31.473 57.891 15. 2006 .929 penduduk perempuan. Tingkat kemiringan yakni 0 – 40o.8 – 24.000 7.539 56. Faktor pengendali iklim yang banyak berpengaruh terhadap keberhasilan usaha pertanian adalah curah hujan dan temperatur. curah hujan di Kabupaten Pohuwato bervariasi berkisar antara 3 – 204 mm. sedangkan ketinggiannya berkisar antara 0 – 1800 dari permukaan laut (dpl). Tabel 12 Penduduk menurut Kecamatan.295 6. Kependudukan Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (2006) jumlah penduduk Kabupaten Pohuwato adalah 114.2.61 Topografi Kabupaten Pohuwato umumnya adalah dataran rendah.721 penduduk laki-laki dan 56. Hal ini tercermin dari rasio jenis kelamin penduduk Pohuwato lebih dari 100 yaitu 101 persen. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pohuwato tahun 2006.929 Sex ratio 100 103 107 98 106 100 99 101 Sumber : Pohuwato dalam Angka.189 3.2 – 33.650 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk rata-rata 1. Secara keseluruhan jumlah penduduk yang berjenis kelamin laki-laki lebih banyak dari penduduk yang berjenis kelamin perempuan. yang masing masing terdiri dari 57.140 15.2 persen per tahun.315 3. Jenis Kelamin dan Sex Ratio di Kabupaten Pohuwato Tahun 2006 No 1 2 3 4 5 6 7 Kecamatan Popayato Lemito Randangan Taluditi Patilanggio Marisa Paguat Jumlah Laki-laki 10.927 9.889 9.

64 65 + Jumlah Sumber : Pohuwato dalam Angka.62 Berdasarkan kelompok umur.797 4.791 10.34 .2.487 2.24 .2. kelompok umur 10 – 14 tahun memperlihatkan sex ratio yang besar dan pada kelompok umur ini jumlah penduduk laki-laki lebih banyak dari jumlah penduduk perempuan.690 2.721 Perempuan 6.29 .385 4.807 5.03 persen penduduknya berada dibawah 35 tahun. bantuan operasional sekolah (BOS) dan lain-lain.618 5.740 114.086 1.862 5.495 1.104 5.896 2.350 5.192 9.650 Kelompok Umur 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 .19 .815 4.899 5.024 1.4 .403 57. karena 69.54 .832 2.2. Dilihat dari sex ratio.147 9.919 10.626 1.39 .14 .270 1.929 Jumlah 12. sebagian besar penduduk Kabupaten Pohuwato adalah berusia muda.337 56.205 5. 2006 5.407 6.826 9. Diharapkan dengan program ini akan tercipta sumber daya manusia yang siap bersaing dalam era globalisasi mendatang.206 4. Pendidikan Pendidikan merupakan salah satu sarana dalam meningkatkan sumber daya manusia. Jumlah penduduk terbanyak yaitu pada umur 10 – 14 tahun yang mencapai 12. Salah satu upaya pemerintah dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan sumber daya manusia melalui pendidikan yaitu dengan mencanangkan berbagai program seperti program wajib belajar. .795 8.49 .121 4.657 13.670 5. gerakan nasional orang tua asuh.9 . Tabel 13 Penduduk menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Kabupaten Pohuwato Laki-laki 6.110 2.208 2.59 .612 12.871 7.44 .14 persen.337 1.665 3.672 2.159 4.208 4.

8 persen.195 17.2. 2006.529 15. Struktur Perekonomian Wilayah Kabupaten Pohuwato adalah kabupaten baru dalam wilayah Provinsi Gorontalo yang merupakan daerah agraris. Hal ini dapat dilihat dari jumlah penduduk yang dapat menikmati pendidikan formal dari pendidikan taman kanak-kanak sampai sekolah lanjut tingkat atas mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.889 27. Demikian halnya dengan jumlah guru di Kabupaten Pohuwato cukup mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya jumlah murid.3.340 siswa pada tahun 2006 atau mengalami pertumbuhan sebesar 7. Tabel 14 NO Jumlah Murid dan Guru di Kabupaten Pohuwato Tahun 2004 dan 2006 2004 Jumlah Guru Murid Ratio Murid & Guru 39 33 26 18 Guru 2006 Jumlah Murid Ratio Murid & Guru 23 24 17 17 Tingkat Pendidikan 1 2 3 4 Sekolah Taman Kanak-kanak Sekolah Dasar /Ibtidaiyah SLTP/Tsanawiyah SLTA/Aliyah/ Kejuruan Jumlah 39 474 160 93 766 1.076 2.243 2. Hal ini mengindikasikan bahwa penyediaan tenaga pengajar kurang bisa mengimbangi pertambahan pelajar. 5.187 1.3.678 23. tapi untuk tingkat pendidikan SLTA tidak mengalami banyak perubahan.2. Hal ini menyebabkan tidak mustahil jika struktur perekonomiannya masih didominasi oleh sektor pertanian . Pada tahun 2004 jumlah murid yang dapat menikmati pendidikan adalah sebanyak 23.812 4.1.206 94 689 298 162 1.63 Tingkat kesadaran penduduk kabupaten Pohuwato terhadap arti pentingnya pendidikan relatif tingi. Kondisi Perekonomian Wilayah 5. Selama periode 2004 – 2006 ratio murid guru pada tingkat taman kanak-kanak hingga SLTP di Kabupaten Pohuwato sedikit mengalami penurunan.206 orang siswa meningkat menjadi 27.180 5.340 Sumber : Pohuwato dalam Angka.

meskipun mengalami trend yang menurun.75 3.65 persen bekerja di sektor pertanian dan masing-masing sebesar 17.94 0.96 6.00 2005 45.34 persen bergelut disektor perdagangan dan jasa.49 8.65 0.00 Sumber: PDRB Kabupaten Pohuwato. Sejak periode 2004 .07 100.06 persen.79 17. Untuk penduduk perempuan lebih merata yaitu sekitar 49.20 0. Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan & Akomodasi Angkutan dan Komunikasi Keuangan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB 2004 46.2006 Sektor Pertanian Pertambangan & Pengagalian Industri Pengolahan Listrik.2006 kontribusi sektor yang terbesar terhadap pembentukan PDRB adalah sektor pertanian.80 5. 2006 Besarnya peranan sektor pertanian bukan hanya terlihat pada kontribusinya terhadap PDRB.00 100.93 5.73 0.28 18. sektor jasa-jasa sebesar 13. paket kebijakan pemerintah daerah selama ini lebih menitik beratkan pada sektor pertanian/agraris diantaranya dengan program-program agropolitan dan terobosan-terobosan baru yang menjadikan sektor pertanian sebagai leading sector di kabupaten ini bahkan juga di Provinsi Gorontalo.93 5.16 11.82 0.87 8.88 6. .91 0. tetapi juga dari segi penyediaan lapangan pekerjaan.73 persen dan 22.73 13.64 (berdasarkan kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB). Tahun 2006 kontribusi sektor pertanian mencapai 40.45 persen dan sektor keuangan sebesar 11.45 100.82 6.50 persen.50 3.02 8.00 2006 40.26 10. Terlebih lagi. Dimana berdasarkan Susenas 2006 diperoleh bahwa kebanyakan penduduk laki-laki bekerja disektor pertanian yaitu sebesar 70.21 18.73 persen sedangkan sektor lainnya kurang dari 10 persen Tabel 15 Kontribusi Sektor Ekonomi dalam PDRB Kabupaten Pohuwato Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2004 .91 persen sektor perdagangan dan akomodasi sebesar 17.20 persen sementara disektor perdagangan hanya sebesar 7.84 3.

06 8.35 0.06 17.54 7.39 2. Gambar 7 Laju Pertumbuhan Kabupaten Pohuwato Tahun 2004-2006 7.1 7 6.2. Gas dan Air Bersih Perdagangan & Akomodasi Angkutan dan Komunikasi Keuangan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB Sumber: PDRB Kabupaten Pohuwato.8 6.95 Laju pertumbuhan 7.65 0. Tahun 2006 Sektor Pertanian Pertambangan & Pengagalian Industri Pengolahan Listrik.28 5.24 7. 2006 Laki-Laki 70. Pertumbuhan ekonomi dapat tercermin dari kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan dari tahun sebelumnya.34 100 5.82 3.2 Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu indikator keberhasilan pembangunan suatu daerah dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi yang sebesar ini diharapkan dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat luas sehingga tujuan untuk menciptakan masyarakat yang hidup makmur sejahtera dapat tercapai.73 0.3 7.05 0.93 6.25 .65 100 Perempuan 49.80 1. Perekonomian di Kabupaten Pohuwato tumbuh sebesar 7. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkesinambungan merupakan salah satu sarana untuk mencapai kehidupan yang layak bagi penduduk suatu wilayah.20 2.3.65 Tabel 16 Persentase Penduduk Menurut Lapangan Pekerja Utama di Kabupaten Pohuwato.25 persen pada tahun 2006.9 6.2 7.71 7.35 22.7 2003 2004 2005 Sumber : PDRB Kabupaten Pohuwato. 2006 2006 6.

pada tahun 2005 mengalami penurunan yaitu hanya sebesar 1. Deskripsi Umum Kawasan Agropolitan Randangan Kawasan Agropolitan randangan terletak di Kabupaten Pohuwato yang merupakan Kabupaten pemekaran dari Boalemo di Provinsi Gorontalo.77 7.04 5.17 1. Kemudian disusul oleh sektor listrik.18 4.84 12.52 2.86 4.17 5. 5. 2006 Pada tahun 2006.25 Sumber : PDRB Kabupaten Pohuwato.41 4. pertumbuhan yang paling besar dialami oleh sektor jasajasa yaitu sebesar 32.98 11. Sektor yang mengalami kenaikan terendah pada tahun 2006 adalah perdagangan dan akomodasi yaitu hanya sebesar 1.66 Berdasarkan grafik diatas terlihat bahwa pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pohuwato mengalami peningkatan sejak tahun 2004. Laju pertumbuhan sektor pertanian terlihat mengalami fluktuasi.74 14.50 1. Sedangkan secara sektoral. .94 4.69 persen jauh melesat dari tahun 2005 yang hanya 4.70 32.69 7.15 7.95 Pertumbuhan ( %) 2005 1.88 4.97 30.16 persen.17 2.99 6.18 11. Peta Kawasan Agropolitan Kabupaten Pohuwato disajikan pada Halaman 69.96 6. Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan dan Akomodasi Angkutan dan Komunikasi Keuangan & Jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB 6.86 persen dan mengalami peningkatan kembali pada tahun 2006 sebesar 4.98 persen.16 6.3.54 15.47 5. gas dan air bersih dengan laju pertumbuhan sebesar 14.33 7.24 2006 4.37 7.52 persen.37 persen. terlihat bahwa sektor–sektor mengalami pertumbuhan yang positif namun cenderung berfluktuasi setiap tahunnya. Tabel 17 Pertumbuhan Sektor Ekonomi di Kabupaten Pohuwato Tahun 2004-2006 Sektor 2004 Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolaha Listrik.

2 persen per tahun dengan mata pencaharian dominan sebagai petani (70%) dan sisanya pedagang. sehingga mereka terpaksa menjualnya pada tengkulak. Dari Luas Kawasan agropolitan Randangan. hal ini akan sangat merugikan petani karena petani berada pada posisi tawar yang lemah.67 Kawasan Agropolitan Randangan Kabupaten Pohuwato memiliki luas sekitar 44.60 persen dari luas Kabupaten Pohuwato.982 ha atau sekitar 10.071 orang dengan tingkat pertumbuhan 1. sekitar 10. swasta. pendidikan dan sarana air bersih sebagai media interaksi sosial.3. nelayan. Prasarana dan Sarana Kimpraswil Proyek fisik yang dibangun dalam kawasan ini berupa jaringan jalan penghubung dari sentra produksi di lahan perkebunan jagung dengan lebar seketar 3 m dan perkerasan penetrasi aspal.053.3.2. Perekonomian penduduk pada umumnya beraktifitas pada kegiatan jual beli hasil pertanian yang didominasi pembeli (tengkulak). kemudian disampaikan pada proyek agropolitan. Konsep ini dikembangkan berdasarkan kebutuhan riil masyarakat di kawasan.8 Km. 5.43 m2). perdagangan. Warung dan ruko 36. rekreasi. 5. PNS. tukang. Keseluruhan panjang jalan yang dibangun adalah 6. Selain itu sarana dan prasarana penunjang pemasaran hasil pertanian yang belum sempurna.1. Proses usulan untuk pengaspalan jalan ini berasal dari usulan warga melalui wakil kelompok. . Sistem jaringan jalan kawasan Agropolitan berpola linier sepanjang jalan utama Trans Sulawesi. peribadatan. Fasilitas lainnya yang dibangun adalah : terminal agropolitan di kota Randangan oleh dinasKimpraswil dan perpanjangan penetrasi jalan di dalam kawasan.87 persen dari luas kawasan agropolitan di tanami dengan komoditi jagung (lahan jagung 4. Aktifitas sosial dan budaya penduduk kawasan ditunjang dengan keberadaaan fasilitas penunjang seperti lapangan olahraga.5 ha dan lokasi pendukung lainnya seperti pasar. kesehatan. Penduduk Kawasan Agropolitan Randangan terdiri dari berbagai suku bangsa yang terdiri dari masyarakat transmigran dan masyarakat Gorontalo. dan lain-lain. terminal. Penduduk dan Pekerjaan Jumlah penduduk di kawasan agropolitan randangan 13.889.

Peningkatan jalan poros desa (Lapen) 2. 2003 PEKERJAAN FISIK : 1.Pohuwato Kec.Randangan PENYUSUNAN RENCANA TEKNIS 1.081 M' 20 unit 1 unit 1 Paket 1 Paket 1 Paket Pekerjaan Volume Sumber: Penelitian Pengembangan Rintisan Kawasan Agropolitan Pasca 3 Tahun Fasilitasi.Pelataran dan prasarana pasar 8. 2005.Penyusunan Master Plan Kawasan Agropolitan 2. Pembangunan PSK sudah dibangun sejak tahun 2002 dan masih terus berlangsung.Penyusunan DED Kws. disamping itu juga dibangun fasilitas terminal agrobisinis di kota randangan. .68 Prasarana Sarana Kimpraswil (PSK) yang dibangun di wilayah Agropolitan berupa jalan penghubung sentra produksi ke jalan penghubung ke pusat Kecamatan yakni kota Randangan.Identifikasi kebutuhan P&S Kimpraswil untuk mendukung Kawasan Agropolitan 3. Agropolitan TA.Pembangunan kios pasar 3. / Kawasan GORONTALO Kab. Tabel 18 Pekerjaan Fisik dan Non-Fisik di Kawasan Agropolitan Randangan Kabupaten Pohuwato No 1 Provinsi / Kabupaten / Kec.

Gambar 8 Peta Kawasan Agropolitan Randangan Kabupaten Pohuwato .

palawija.3. 2006 44.982 5.70 5. namun sebagian hasil taninya juga diekspor ke negara tetangga. namun petani juga mengusahakan tanaman lain seperti padi.115 29. demikian juga dari sistem budaya pertanian maka usaha tani di bidang komoditi tanaman jagung merupakan kegiatan pertanian turun temurun mengingat makanan pokok masyarakat berasal dari jagung. Dengan dimekarkannya Kabupaten Boalemo menjadi Kabupaten Pohuwato dan Kabupaten Boalemo maka posisi kawasan agropolitan saat ini ada di Kabupaten Pohuwato dengan pusat tetap di Kecamatan Randangan. Kawasan Agropolitan Randangan terletak di Kabupaten Pohuwato yang merupakan Kabupaten pemekaran dari Boalemo di . seperti Philipina dan Malaysia melalui perusahaan eksportir di wilayah itu. Kawasan ini sebelumnya dikenal sebagai Kawasan Agropolitan Boalemo. sayuran. kopi dan kakao.630 594 1.378 Total Luas Lahan Sumber : Pohuwato dalam angka.3.177 10.4.3. Selama ini pemasaran hasil usaha taninya dipasarkan di sekitar kawasan di sekitar Gorontalo. Tabel 19 Penggunaan Lahan di Kawasan Agropolitan No 1 2 3 4 5 6 7 8 Penggunaan Lahan Sawah Pekarangan Tegalan/Kebun Ladang/Huma Perkebunan Hutan Rakyat Hutan Negara Lain-lain Penggunaan Kawasan Agropolitan 140 985 863 1. Penggunaan lahan Kecamatan Randangan sebagai kawasan pengembangan agropolitan di Kabupaten Pohuwato disajikan pada Tabel 19. Secara agroklimat lokasi Kawasan Agropolitan Randangan sangat cocok untuk komoditi tanaman jagung. kelapa. Produk/ Komodoti Unggulan Komoditas unggulan di kawasan agropolitan dan non agropolitan adalah jagung. Pola Penggunaan Lahan Kawasan Agropolitan Randangan terdapat di Kabupaten Pahuwato.

Kawasa Agropolitan Randangan mencakup 10 desa dengan pusat pengembangan di Ibu Kota Kecamatan Randangan yaitu desa Motolohu. 5. Tabel 20 Komoditas Unggulan Kawasan Agropolitan Randangan Kabupaten Pohuwato Komoditas Unggulan Padi. agama. pengolahan hasil. sayuran. Panjang prasarana jalan yang dibangun pada tahun anggara 2002 oleh Kimpraswil Pusat lebar 3 meter dengan panjang total 6. palawija. Berikut ini adalah karakteristik aktivitas pertanian di Kawasan Agropolitan Randangan berdasarkan karakteristik subsistem penunjang. Fitra Mandiri sebuah BUMD dari Provinsi Gorontalo yang bergerak dalam bidang pengumpulan jagung (pembeli). 2005 Sarana Prasarana yang ada dalam kawasan agropolitan berupa prasarana jalan. Usaha tani. sarana pendidikan. kopi dan kakao Daerah Pemasaran Filipina. pemodalan.8 km. jagung. Selain itu dilakukan juga penanaman di sela-sela tanaman kelapa. Komoditas unggulan berupa Jagung yang dikembangkan di kawasan ini. kelapa. Sebagian besar masyarakat di kawasan agropolitan menanam jagung baik di lahan pekarangan maupun di lahan kebun yang jaraknya cukup jauh (4 km) dari lingkungan pemukiman. subsistem pengolahan dan subsistem distribusi/pasar. Malaysia dan sekitar Gorontalo Sistem Usaha Agribisnis Agribisnis hulu. kelembagaan dan usaha tani Sumber : Penelitian Pengembangan Rintisan Kawasan Agropolitan Pasca 3 Tahun Fasilitasi. selain itu dibangun terminal agribisnis seluas 1 Ha serta silo yang dibangun oleh PT. kesehatan pasar dan jalan. subsistem produksi. SDM. pemasaran hasil dan jasa penunjang Pengembangan Kawasan Sarana prasarana kawasan.71 Provinsi Gorontalo. .4. Karakteristik Aktivitas Pertanian di Kawasan Agropolitan Randangan Karakteristik aktivitas pertanian pada dasarnya dapat dipilah berdasarkan bagian-bagian subsistem dari suatu sistem agribisnis secara keseluruhan. Komoditas unggulan berupa pertanian jagung.

4. dan pestisida. Upaya penyuluhan yang dilakukan mulai direspon oleh petani sehingga terjadi peningkatan hasil produksi. 5. Lembaga KUD sebagai sarana keuangan petani juga belum banyak membantu karena lemahnya manajemen sehingga belum dapat berfungsi secara baik. Berdasarkan hasil wawancara hampir 100% responden menyatakan bahwa mereka tidak pernah melakukan pinjaman ke lembaga keuangan tertentu. namun keberadaan Bank Rakyat Indonesia unit Kecamtan Randangan belum berpengaruh karena belum tersedianya skim kredit untuk para petani. selain itu juga terdapat banyak toko atau kios yang menjual saprotan. . Ketersediaan saprotan (sarana produksi pertanian) juga cukup baik.4.1. di Marisa sebagai ibukota Kabupaten Pohuwato terdapat 7 Bank baik swasta maupun bank pemerintah. Namun.72 5. Subsistem Penunjang Berdasarkan data-data sekunder yang berhasil dikumpulkan dan hasil wawancara dengan para petani di Kawasan Agropolitan. keberadaan dan fungsinya masih sangat terbatas. dan fungsinya cukup dapat dirasakan oleh petani. Hal ini tentunya akan sangat menghambat perkembangan pertanian di kawasan agropolitan apabila tidak segera diupayakan solusinya. Akses terhadap capital market yang sangat terbatas tentunya akan menghambat transformasi pertanian ke arah agribisnis. Dengan adanya penyuluhan membuat petani mulai beralih pada penggunaan tekologi dalam proses produksi. Di Kecamatan Randangan sendiri terdapat 1 unit Bank Rakyat Indonesia. diketahui bahwa untuk subsistem produksi dan penunjangnya relatif tidak terlalu bermasalah. pupuk. Petani bisa dengan mudah membeli saprotan di pasar terdekat. Subsistem Produksi Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan di lapang.2. Untuk lembaga penyuluhan rata-rata sudah terdapat di setiap desa. hal ini dapat dilihat dengan adanya penggunaan tekonolgi dalam proses produksi sehingga terjadi peningkatan produksi. nampak bahwa subsistem penunjang seperti lembaga keuangan. mulai dari benih. Mereka lebih banyak memakai modal sendiri atau meminjam dari pedagang pengumpul desa (tengkulak). Dari data sekunder di peroleh keberadaan bank di Kabupaten Pohuwato cukup tersedia.

4. pasarnya masih terbatas dan belum luas. Disaat panen raya maka harga akan cenderung untuk turun. serta produksinya juga belum kontinyu. Hal ini sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran akan sangat perpengaruh terhadap harga jual komoditas. Meskipun harga seringkali mengalami fluktuasi.73 Permasalahan yang dihadapi dalam proses produksi adalah waktu penanaman yang relatif bersamaan. namun pasar untuk komoditas jagung dalam bentuk biji jagung sudah relatif lebih jelas dan sudah berlangsung sekian lama. Belum berkembangnya industri pengolahan menyebabkan petani lebih suka menjual langsung produknya ke pasar.4. dodol jagung. Namun hasil pengolahan ini masih dalam tahapan industri kecil rumah tangga dimana volume produksinya masih kecil. Subsistem Distribusi dan Pasar Kawasan agropolitan Randangan mempunyai 1 pasar permanen sebagai tempat penjualan atau outlet penjualan jagung yang terletak di Pusat Desa . karena masih terbatasnya teknologi yang digunakan sehingga belum dapat dipasarkan secara luas karena masalah daya tahan dan kualitas sehingga hanya diproduksi jika ada pesanan atau order. Selain karena didesak kebutuhan. Selain itu untuk memperoleh volume produksi yang bisa mencukupi skala ekonomi pertanian yang berorientasi industri juga sulit untuk dilakukan.4. 5. Kelemahan utama dari subsistem produksi yang demikian adalah sulitnya suatu kawasan untuk melakukan pengaturan penanaman dalam satu kawasan guna menghindari fluktuasi harga pasar. penjualan hasil panen dalam bentuk biji jagung langsung ke pasar sampai sejauh ini juga masih besar tingkat permintaannya. 5. Dalam beberapa kesempatan memang sempat dipamerkan produk olahan beberapa produk olahan seperti keripik singkong.3. Khusus untuk dodol jagung. Akibatnya subsistem produksi ini sangat dipengaruhi oleh fluktusi harga pasar dan akibat lainnya adalah industri pengolahan menjadi tidak berkembang di kawasan tersebut karena volume bahan baku yang tidak stabil dan tidak mencukupi. Subsistem Pengolahan Subsistem pengolahan di kawasan agropolitan sampai sejauh ini ternyata belum banyak berkembang.

selama 3 tahun di fasilitasi oleh pemerintah baik Pemerintah Pusat. Sistem pemasaran jagung di kawasan agropolitan masih didominasi oleh tengkulak. Hasil studi dari SK Sarana dan Prasana Desa Departemen PU (2005). pertanian. pasar agropolitan. . kehutanan. provinsi maupun di tingkat kabupaten yang terkait dengan pengembangan kawasan. perkebunan. Peran Pemerintah dijalankan oleh berfungsinya departemen dan lembaga di tingkat pusat. sub terminal. atau harga masih ditentukan oleh pihak pedagang. pasar desa. Dimana petani masih enggan menjual hasil produksi ke STA karena harga jualnya masih berada di bawah harga jual pedagang pengumpul.74 Pertumbuhan yaitu Desa Motolohu. Fasilitasi Pemerintah dalam Pengembangan Agropolitan Randangan Peranan pemerintah dalam memfasilitasi pengembangan kawasan agropolitan didasarkan pada UU No 32 tahun 2004 dan PP No. dan saluran irigasi sedangkan program non-fisik antara lain adalah peningkatan wawasan dan etos kerja serta peningkatan keterampilan masyarakat. berdasarkan hasil survey lapangan berbagai program yang dilaksanakan baik fisik maupun non-fisik pada berbagai bidang ekonomi. STA yang ada di kawasan agropolitan masih belum berfungsi dengan baik. Hal ini menyebabkan petani berada dalam posisi yang lemah dalam menentukan harga dimana petani hanya sebagai pengambil harga saja. Distribusi pemasaran jagung di kawasan agropolitan meliputi : pedagang pengumpul tingkat desa selanjutnya pedagang pengumpul tingkat kecamatan dan ke eskportir di wilayah tersebut. koperasi usaha kecil dan menengah serta bidang-bidang lainnya. pasar kabupaten. 5. Program fisik yang paling banyak dilaksanakan di berbagai kawasan adalah pembangunan infrastruktur jalan. Pemerintah Provisi maunpun Pemerintah Kabupaten. transportasi.5. 38 tahun 2007 sebagai penyempurnaan dari UU No 22 tahun 1999 dan PP No 25 tahun 2000. Tetapi sebagian besar aktivitas pemasaran di kawasan agropolitan masih dikuasai oleh pedagang perantara/tengkulak. dimana masing-masing mempunyai tugas dan wewenangnya sendiri.

1 kota Provinsi Provinsi Provinsi Provinsi 1.000 5. 11. 8. 1 kota 4 kab.479 250. berbagai kegiatan atau program telah dilaksanakan oleh instasi yang terkait dalam pengembangan kawasan agropolitan. 1 kota 4 kab. Dinas Pertanian sebagai pelaksana teknis dari program agropolitan melaksanakan berbagai program untuk menunjang kelancaran pengembangan kawasan agropolitan melalui dinas pertanian. Pengembangan ekstensifikasi jagung Pengembangan intensifikasi jagung Promosi pembangunan pertanian Pengadaan buffer stok pestisida Pengembangan alat dan mesin pertanian Pembinaan kelompok tani penangkar benih jagung Pembinaan UPJA Posko Agropolitan Show windows Pameran ALSINTAN Pembangunan blending plant pupuk Pengembangan peralatan dan lahan pertanian Pengadaan mesin dryer jagung 4 kab. 2004 Khusus kawasan agropolitan Randangan Kabupaten Pohuwato .000 2.000 21. 3. 5. 1 kota 4 kab.655 520.916 75.400 18.527 2.000. 13. Adapun Program yang dilaksanakan oleh Dinas Pertanian terkait dengan tugas dan fungsinya yaitu memperkuat atau .000 1. Dinas Pertanian dan Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah berkoordinasi dalam pengembangan kawasan agropolitan.000 25.527. Karena sifatnya yang lintas sektoral. Dinas Pertanian Dalam rangka menunjang program pembangunan pertanian yang menjadi prioritas di Gorontalo. efisien berarti dijalankannya tugas dan fungsi itu secara hemat. 12. 2.000 825. 1 kota 4 kab. 1 kota 4 kab. 10.5. 1 kota 4 kab. Adapun penjabaran dari berbagai progran tersebut dapat dilihat pada tabel berkut : Tabel 21 No Sebaran Kegiatan Pengembangan Agropolitan Provinsi Gorontalo Tahun 2002-2004 Bidang / Sektor / Kegiatan Lokasi Dana (xRp. 7.500.000. 9. 6.032. 1 kota 4 kab. 1 kota 4 kab.750 86.000) Pengembangan agropolitan 1.75 5.000 Sumber : Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo. 4. Efektif ditunjukkan oleh berperannya departemen sesuai tugas pokok dan fungsinya.1. pengembangan agropolitan menuntut adanya koordinasi antar departemen yang bisa menjamin alokasi sumberdaya pembangunan secara efektif efisien.

000 262. 2.000 35. 5.423. 1. 2005 5. 6. 7.000 46. 4.000 10.000 100.5. Adapun beberapa kegiatan dari Dinas Kimpraswil sebagai ujung tombak pelaksanaan agropolitan adalah sebagai berikut : . penyediaan sarana dan prasarana fisik sangat diperlukan untuk menunjang aksebilitas masyarakat terhadap sumberdaya dan pasar. 3. 2.2. 5. Untuk menunjang kegiatan disektor pertanian. Tabel 22 Kegiatan Dinas Pertanian dalam Pengembangan Kawasan Agropolitan di Kabupaten Pohuwato Tahun 2005 No 1. 3. 4.279 5. Dinas Kimpraswil melaksanakan beberapa program guna menunjang pelaksanaan pengembangan agropolitan sesuai dengan fungsinya sebagai penyedia sarana dan prasarana publik.000 150. Kegiatan / Program Pengembangan agropolitan Bantuan benih jagung hibrida/komposit dan arana lainnya Pelatihan Penangkar benih jagung Pelatihan sekolah lapang pengendali hama terpadu hama terpadu Peningkatan mutu intensifikasi padi sawah seluas 100 ha di 3 kecamatan Pemanfaatan lahan tidur untuk tanaman jagung Bantuan bibit vanili bagi KK tani prasejahtera Penunjang kegiatan posko agropolitan jagung Peningkatan Pemberdayaan Masyarakat Petani Peningkatan SDM petani Kakao Penyediaan dana pendamping Dana Pemguatan Modal (DPM) Lembaga Pemberdayaan penyuluh dan kelembagaan penyuluh Pengadaan sarana transportasi roda 2 bagi penyuluh 32.000 97. Dinas Kimpraswil Untuk menunjang pengembangan kawasan agropolitan diperlukan sarana dan prasarana yang memadai.000 Dana (000) Sumber : Lakip Dinas Pertanian Kabupaten Pohuwato.76 meningkatkan kegiatan dalam on farm (peningkatan produksi) dan penguatan kelembagaan petani.000 200.000 1.

000 Sumber : Dinas Kimpraswil. Melalui kebijakan ini.per kg melalui Surat Keputusan Gubernur No 370 Tahun 2002 tentang Harga Jual Jagung dalam Wilayah Provinsi Gorontalo. pemerintah daerah dalan hal ini pemerintah provinsi Gorontalo melaksanakan kebijakan kepastian harga di tingkat petani melalui Limited Government Intervention Policy.3.per kg. Pada tahun 2006 SK ini kemudian di perbaharui melalui SK Gubernur No 119 tahun 2006 tentang Harga jual jagung dalam wilayah provinsi Gorontalo. pemerintah daerah menetapkan harga dasar jagung ditingkat petani sebesar Rp 700.485. . Dengan adanya jaminan harga dari pemerintah membuat petani memperoleh kepastian harga sehingga meningkatkan keinginan untuk meningkatkan produksi.per kg yang sebelumnya hanya dihargai sebesar Rp.459. dengan penetapan harga Rp 850 di tingkat petani dan Rp 950 di tingkat pedagang (gudang).940.5. Fasilitasi Pemerintah Daerah Selanjutnya untuk menjaga harga dari permainan tengkulak.690. 2006 5.1000..700 m Biaya 390.400.081 m 20 Unit 1 Paket 1 Paket 1 Paket 1 Paket 1.200.. Disamping itu secara perlahan pergerakan harga mulai terlihat dimana sejak tahun 2005 harga jagung tidak pernah berada di bawah angka Rp.000 170.2006 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Tahun 2002 2002 2003 2003 2003 2004 2006 2006 2006 Program Peningkatan Jalan Poros Desa Perbaikan Pasar Desa Peningkatan Jalan Poros Desa Pembangunan Kios Pasar Pembangunan Pelataran dan Prasarana Pasar Pembangunan Terminal Randangan Pembangunan Pasar Hewan Pemagaran Keliling Peningkatan jalan usaha tani Volume 3.000.000 216. Dengan semakin meningkatnya harga jual jagung semakin mendorong petani untuk meningkatkan hasil produksi sehingga tujuan pemerintah untuk meningkatkan perluasan dan produksi jagung menjadi semakin dipermudah..616.081 m 3 Unit 5.000 299.000 1.000 200.77 Tabel 23 Kegiatan Dinas Kimprawil dalam Pengembangan Kawasan Agropolitan Randangan Tahun 2002 .

Tanaman Pangan Kelapa .41 persen dari luas kawasan ditanamani dengan tanaman jagung.BPS Kabupaten Pohuwato .321 orang dengan tingkat pertumbuhan yang sama dengan kecamatan Randangan. Dari luas Kecamatan Taluditi sekitar 17. Jumlah penduduk Kecamatan Taluditi sebagai kawasan non sebanyak 6. Perekonomian penduduk pada umumnya bertumpu pada aktivitas jual beli produk pertanian yang didominasi oleh pedagang perantara tingkat desa (tengkulak).Jalan desa tersedia . PNS.Jumlah Penyuluh Lapangan (orang) Infrastruktur tersedia .321 Jagung Kacao 46 9 tersedia belum tersedia belum tersedia tersedia tersedia belum tersedia tersedia Luas Lahan (Ha) 44.997 ha atau sekitar 3. Deskripsi Umum Kawasan Non Agropolitan Kecamatan Taluditi Kawasan non agropolitan yaitu Kecamatan Taluditi memiliki luas 15.Jalan Usaha tani tersedia .Perkebunan Kelembambagaan Pertanian 65 .Koperasi Unit Desa Sumber : .071 Komoditas Utama Jagung .997 6. Sarana prasarana penunjang pemasaran belum tersedia dengan baik .Listrik Lembaga Keungan tersedia .Bank tersedia .6.Dinas Pertanian Kabupaten Pohuwato 5. swasta dan lain-lain. Sama halnya dengan kawasan agropolitan Randangan mata pencaharian penduduk kawasan non agropolitan adalah dominan petani yaitu mendekati 70 persen dan sisanya adalah sebagai pedagang.Ketersediaan Pasar tersedia .78 Tabel 24 Profil Kawasan Agropolitan Randangan dan Non Agropolitan Kawasan Aspek Agropolitan (Kecamatan Randangan Non Agropolitan (Kecamatan Taluditi) 15. tukang.77 persen dari luas Kabupaten Pohuwato.Telekominukasi tersedia .982 Ha Jumlah Penduduk (orang) 13.Jumlah kelompok tani (unit) 13 .

. Demikian halnya dengan prasarana kesehatan. Adapun penggunaan lahan di kawasan non agropolitan adalah sebagai berikut : Tabel 25 Penggunaan Lahan di Kawasan Non Agropolitan Kecamatan Taluditi No 1 2 3 4 5 6 7 8 Penggunaan Lahan Sawah Pekarangan Tegalan/Kebun Ladang/Huma Perkebunan Hutan Rakyat Hutan Negara Lain-lain Penggunaan Kawasan Non Agropolitan 850 626 5. Sarana prasarana kimpraswil berupa jalan akses atau jalan usaha tani belum tersedia meskipun jalan-jalan penghubung antar desa sudah tersedia secara memadai. pendidikan dan prasarana sosial lainnya. petani kawasan non agropolitan biasanya meminjam kepada pedagang desa dengan konsekuensi hasil tani harus dijual kepada pedagang tersebut.79 di kawasan non agropolitan. Karena kekurangan modal usaha. 2006 Komoditas yang banyak dikembangkan di kawasan ini adalah jagung serta komoditi perkebunan kakao dan kopi.844 15.997 Total Luas Lahan Sumber : Pohuwato dalam angka.150 527 2. Pemasaran komoditas jagung dikawasan ini sama seperti kawasan agropolitan randangan didominasi oleh tengkulak yang berperan sebagai pengumpul jagung tingkat desa.479 310 211 5.

00 45.06 5. bangunan.426.528. analisis LQ sering digunakan untuk mengestimasi sektor yang memiliki karakteristik yang dapat membawa sejumlah unit uang kepada masyarakat melalui ekspor barang dan jasa. 2007 . Dari hasil analisis LQ dari setiap sektor yang ada berdasarkan nilai PDRB Provinsi Gorontalo tahun 2000 sampai tahun 2006.819.00 44. Bone Bolango Kota Gorontalo Jumlah Lahan Sawah (Ha) 3. Hal ini di mungkinkan karena luas lahan pertanian di Provinsi Gorontalo masih sangat potensial untuk dikembangkan.1.28 Ha yang terdiri dari 383. Pohuwato Kab.035 1.00 383. Tahun 2000 nilai LQ sektor pertanian adalah sebesar 1.28 Sumber : Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Gorontalo.574. Dimana dari luas wilayah Provinsi Gorontalo 1. terlihat bahwa ada 4 sektor yang merupakan sektor basis karena memiliki nilai LQ lebih dari 1 yaitu sektor pertanian. Disamping itu juga untuk mengetahui apakah komoditi unggulan jagung yang dijadikan sebagai entry point pengembangan agropolitan merupakan sektor basis atau non basis.221.140.VI.62 64.38 112.458 3.140.00 443. Hasil analisis menunjukkan bahwa sektor pertanian dan sub sektor tanaman bahan makanan merupakan sektor basis sebelum dan sesudah program agropolitan.769.159.544 Ha terdapat potensi lahan pertanian sebesar 443.260 Lahan Kering (Ha) 157.113. dengan nilai LQ yang cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.06 Total Lahan (Ha) 184. Tabel 26 Luas Lahan Pertanian Menurut Kabupaten di Provinsi Gorontalo No 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota Kab.496. pengangkutan dan jasa-jasa.17.85 72.99 dan setelah program agropolitan nilai LQ terus meningkat dimana LQ tertinggi terjadi pada tahun 2006 mencapai 2. DAMPAK PENGEMBANGAN AGROPOLITAN 6. Seperti sudah dijelaskan sebelumnya.951.260 Ha lahan sawah. Boalemo Kab.981 18.05 6.38 133.769 Ha lahan kering dan 28.667.174.846 940 28. Analisis Ekonomi Wilayah Analisis basis ekonomi atau sering disebut analisis komparatif wilayah Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato melalui analisis LQ dipandang perlu untuk mengetahui sektor-sektor unggulan wilayah. Gorontalo Kab.

2007 No 1 2 3 4 5 6 7 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007* Tahun Eksport (Ton) 6.700 18.720 ton meningkat menjadi 416. Hal ini kemungkinan disebabkan karena SDM Gorontalo masih sangat terbatas. Jagung sebagai komoditi unggulan daerah merupakan sektor basis dimana nilai LQ jagung sebelum agropolitan tahun 2000 sampai 2002 nilai LQ jagung mengalami trend yang cenderung menurun yaitu bernilai 4. Nilai LQ komoditi jagung sempat mengalami penurunan pada tahun 2004.244 91.573 41.48 tahun 2003 dan 6.754 15.601 109.310 35. Tabel 27 Ekspor dan Antar Pulau Komoditi Jagung di Gorontalo 2001 .310 ton.62 tahun 2002. Sektor pertambangan dan sektor listrik dan air bersih bukan merupakan sektor basis di Provinsi Gorontalo.300 6. Berdasarkan perkembangan diatas mengindikasikan bahwa sejak program agropolitan bergulir sektor pertanian termasuk sub sektor bahan makanan dan komoditi jagung mampu memberikan kontribusi yang cukup terhadap perekonomian wilayah Gorontalo. dimana dari tahun 2001 produksi jagung adalah sebesar 81.62 tahun 2000. dimana pengelolaan sektor ini masih .81 Berdasarkan hasil analisis juga diperoleh bahwa komoditi Jagung dan Padi merupakan komoditi basis di Provinsi Gorontalo.960 21. 2007.950 12.871 Ket : * Keadaan tanggal 15 Juli 2007 Sumber : Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Gorontalo. Peningkatan nilai LQ komoditi jagung disebabkan karena terjadinya perluasan lahan jagung dan peningkatan produksi jagung.606 49. dan 3. Hal ini kemungkinan disebabkan karena turunnya ekspor komoditi jagung pada tahun 2004 yang hanya mencapai 12.222 ton pada tahun 2006.34 tahun 2006. karena mampu mendatangkan sejumlah pendapatan dari luar wilayah Gorontalo.116 Antar Pulau (Ton) 48. Namun setelah program agropolitan bergulir trend LQ komoditi jagung mulai mengalami peningkatan yaitu bernilai 4.

nilai LQ sektor ini sedikit mengalami fluktuasi dan cenderung mengalami peningkatan. Selanjutnya sektor industri pengolahan. Keadaan ini kemungkinan disebabkan karena belum berkembangnya industri yang terintegrasi di provinsi Gorontalo yang terkait dari sektor hulu sampai ke hilir. Kedepannya harus dikembangkan industri pengolahan yang berbasis pada potensi daerah seperti pengolahan industri tepung jagung atau pakan ternak sehingga dapat memberikan nilai tambah yang lebih tinggi bagi perekonomian wilayah. hal ini mengindikasikan bahwa laju pertumbuhan kedua sektor ini di daerah perkotaan lebih besar dibandingkan di perdesaan. Hal ini mengindikasikan bahwa perkembangan sektor jasa-jasa cukup baik di Provinsi Gorontalo dan sejak pengembangan agropolitan terlihat bahwa sektor jasa mulai berkembang. Lebih lanjut mengenai perkembangan nilai LQ Provinsi Gorontalo dapat dilihat pada Tabel 28. Hal ini kemungkinan disebabkan karena Provinsi Gorontalo masih didominasi oleh daerah pertanian yang identik dengan perdesaan sehingga jika di bandingkan dengan daerah industri atau perkotaan perkembangan sektor bangunan dan pengangkutan lebih besar di perkotaan dibanding perdesaan. perdagangan dan keuangan yang terkait erat dengan program agropolitan basis jagung merupakan sektor non basis di Provinsi Gorontalo. Kebanyakan produk pertanian yang merupakan input bagi sektor industri merupakan komoditi ekspor yang dikirim sebagai bahan mentah.82 menggunakan teknologi sederhana sehingga hasilnya belum mampu mencapai produktivitas yang maksimal. Untuk sektor bangunan dan pengangkutan juga merupakan sektor basis di Gorontalo meskipun dari tahun ke tahun mengalami trend yang menurun. Demikian halnya dengan komoditas jagung yang merupakan entry point dari program agropolitan masih diekspor sebagai produk bahan mentah sehingga belum ada keterkaitan ke depan yang dapat menarik sektor-sektor ekonomi yang lain. . Setelah pengembangan agropolitanpun terlihat kecenderungan penurunan nilai LQ kedua sektor ini. Sektor jasa-jasa merupakan sektor basis di Provinsi Gorontalo.

bangunan. berdasarkan analisis LQ ternyata terdapat 3 sektor yang merupakan basis perekonomian wilayah Kabupaten Boalemo yaitu sektor pertanian.10 1.83 1.10 0.87 1.62 1.83 Tabel 28 Hasil Analisis LQ Provinsi Gorontalo Tahun 2000 – 2006 Lapangan Usaha 2000 Pertanian Tan. disaat Pohuwato sudah merupakan daerah otonom yang berdiri sendiri sebagai suatu kabupaten.29 0.Bahan Makanan .09 0.60 0.06 Sumber : Data Hasil Olahan.11 1. Dan sejak tahun 2004 setelah program agropolitan.08 0.82 1.17 2.97 1.62 1. bangunan dan jasa-jasa.07 1.94 1.30 0.78 2005 2.99 1.90 2004 1. Sektor jasa yang sebelumnya menjadi sektor basis di kabupaten Boalemo menjadi sektor non basis di Kabaputen Pohuwato.48 1.33 0.93 1.86 Tahun 2003 2.79 1.61 4.94 1.53 0.99 2.93 0.47 0.35 0. listrik dan air bersih.26 0. Sebelum agropolitan tahun 2000 sampai tahun 2002 Pohuwato masih merupakan bagian dari Kabupaten Boalemo.03 0.92 2.07 0.29 0.62 0.79 4. dimana sejak memisahkan diri dari kabupaten Boalemo sebagai kabupaten induk sejak tahun 2003 mulai terlihat gejala pergeseran basis ekonomi.63 4.35 0.04 6.95 5.Jagung .58 2001 2.Padi Pertambangan Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan Pengangkutan Keuangan Jasa-jasa 1.42 0.77 1. terlihat bahwa terdapat 5 sektor yang menjadi basis perekonomian wilayah yaitu sektor pertanian.24 0.02 1.75 1.36 0.45 0.91 1.23 0.37 0.36 0.75 2002 2.72 3.95 1.99 1. industri pengolahan.11 0.34 0.09 0.42 0.06 0.03 2006 2.03 0.09 0.94 1. 2007 Pengembangan agropolitan berbasis jagung juga memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap perekonomian wilayah Kabupaten Pohuwato sebagai kawasan Agropolitan.34 0.91 1.62 0.91 0.91 1.92 2. dan perdagangan.96 0. Hal ini dimungkinkan karena sebagai kabupaten yang baru dimekarkan sektor jasa belum berkembang dengan baik di .73 0.98 2.96 1.08 1.81 1.83 1.03 0.77 4.

08 0.11 3.-.94 0.82 1.42 0.Jagung .55 1.64 1.76 0. 2007 Sektor pertanian dari tabel diatas sejak tahun 2000 memiliki nilai LQ lebih besar dari 1.80 0.29 0.55 3.33 0. Sub sektor tanaman bahan makanan dan komoditi jagung berkontribusi terhadap ekonomi Kabupaten Pohuwato karena nilai LQ berada diatas 1 sehingga dikategorikan sebagai sektor basis meskipun dua tahun terakhir terlihat mengalami trend yang menurun.71 1.31 1.70 6.68 0.34 0.24 1.35 3. Menurunnya nilai LQ komoditi jagung di kabupaten Pohuwato kemungkinan disebabkan oleh tingginya produksi yang berpengaruh pada harga produk. 675 atau berada dibawah harga dasar pembelian pemerintah yaitu sebesar Rp.48 0.85 0.90 1.50 1.37 0.Padi Pertambangan Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan Pengangkutan Keuangan Jasa-jasa Kabupaten Pohuwato 2000 1.95 1.36 1. Hal ini disebabkan karena kurangnya kontrol pemerintah terhadap harga pembelian dari para pedagang pengumpul atau tengkulak.65 0.74 0.50 Sumber : Data Hasil Olahan.60 0.50 1.24 1.15 0.22 2002 1.59 0. 700.87 1.56 4.60 0.61 0.95 1. Tabel 29 Hasil Analisis LQ Kabupaten Boalemo Tahun 2000 – 2003 dan Kabupaten Pohuwato Tahun 2004 .59 0.33 0.98 0.33 0.83 0.11 0.33 0.76 0. .77 0. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor pertanian sebagai sektor andalan memang sudah menjadi sektor basis sejak belum adanya program juga agropolitan.59 0.86 0.84 Kabupaten Pohuwato.24 1.2006 Kabupaten Boalemo Lapangan Usaha Pertanian Tan.12 1.41 0.50 0.85 0.24 0.42 2001 1.11 1.06 1.81 0. dimana pada akhir tahun 2004 harga jagung sempat mengalami fluktuasi yang tajam dan sempat hanya dinilai seharga Rp.32 0.69 0.64 5.32 1.60 0.53 1.76 0.30 1.45 2006 1.07 1.60 0.Bahan Makanan .58 1.28 3.89 1. Hasil analisis LQ Kabupaten Boalemo dan Pohuwato di sajikan dalam Tabel 29.84 7.48 2005 1.53 0.14 2003 1.07 2004 1.59 2.76 6.05 0.45 1.

Ini dimungkinkan karena keberhasilan kegiatan pertanian di kabupaten Pohuwato menyebabkan terjadinya kenaikan pendapatan masyarakat petani sehingga daya beli masyarakat meningkat.85 Pergeseran basis ekonomi wilayah setelah pengembangan agropolitan terjadi pada sektor Industri pengolahan. maka upaya pengembangan wilayah haruslah berdasarkan pada sektor basis yang mempunyai kemampuan memberikan peningkatan pada perputaran konsumsi yang ada di wilayah Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato yang pada akhirnya akan meningkatkan multiplier effect bagi perekonomian daerah. Hal ini disebabkan karena program agropolitan memiliki keterkaitan dengan ke 3 sektor ini sebagai penunjang keberhasilan program agropolitan itu sendiri. Munculnya basis ekonomi baru ini erat kaitannya dengan pengembangan agropolitan di Kabupaten Pohuwato. Bergesernya sektor perdagangan menjadi basis ekonomi di Kabupaten Pohuwato dimungkinkan karena dengan semakin meningkatnya produksi pertanian menyebabkan meningkatnya kegiatan perdagangan produk pertanian terlebih komoditi jagung sebagai produk unggulan daerah. Hal ini mendorong berkembangnya industri makanan dan minuman skala rumah tangga di Kabupaten Pohuwato. Dimana sektor industri pengolahan dan perdagangan merupakan sektor yang memiliki keterkaitan kedepan sedangkan listrik dan air bersih merupakan input untuk sektor industri pengolahan. Hasil analisis LQ diatas. Sejak pengembangan agropolitan sektor industri pengolahan menjadi basis ekonomi daerah Kabupaten Pohuwato. Hal ini dimungkinkan karena masing-masing wilayah memiliki karakteristik dan sumber daya yang berbeda. listrik dan air bersih serta sektor perdagangan. . hal ini disebabkan karena semakin meningkatnya tingkat kehidupan masyarakat sejak pengembangan agropolitan sehingga meningkatkan konsumsi terhadap listrik dan air bersih. Dengan adanya perbedaan karakteristik yang dimiliki. Sektor listrik dan air bersih juga menjadi sektor basis setelah pengembangan agropolitan. memperlihatkan bahwa masing-masing sektor di Provinsi Gorontalo maupun di Kabupaten Boalemo dan Pohuwato penyebarannya tidak seragam. sehingga kontribusi dari masingmasing sektor juga berbeda antar wilayah.

listrik dan bangunan) dan sektor tersier (perdagangan) yang mengandalkan aktivitas ekonomi. Program agropolitan yang mengadakan penyuluhan dan pelatihan petani penangkar benih juga mendorong bertumbuhnya industri skala RT dalam penyediaan benih jagung. pengangkutan dan jasa-jasa. Dari hasil analisis LQ terlihat bahwa perekonomian Gorontalo tidak mengalami pergeseran basis ekonomi karena tidak terjadi perubahan atau penambahan sektor basis. Berbeda halnya dengan Provinsi Gorontalo. Hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan daya beli masyarakat sehingga aktivitas ekonomi dalam hal ini perdagangan dapat bergerak. Berdasarkan pemahaman tersebut maka sektor yang merupakan basis diidentikkan dengan sektor-sektor yang mampu dikirim ke luar daerah dan dapat menciptakan aliran pendapatan yang berasal dari luar daerah yang pada akhirnya akan meningkatkan nilai siklus konsumsi di wilayah tersebut. Dimana peningkatan pendapatan masyarakat mendorong berkembangnya industri pengolahan makanan di wilayah ini. Selanjutnya peningkatan .86 Karena besarnya peran sektor basis terhadap proses peningkatan output suatu wilayah melalui proses multiplier. di Kabupaten Pohuwato sejak program agropolitan dicanangkan mulai terjadi perubahan atau pergeseran basis ekonomi dimana sektor yang menjadi basis bukan saja berasal dari sektor primer yang mengandalkan sumber daya alam saja tetapi juga berasal dari sektor sekunder (industri pengolahan. bangunan. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi masyarakat sudah mulai berkembang tidak hanya dalam kelompok sektor primer saja tapi sudah merambah sampai ke kelompok tersier. maka sektor basis sering disebut sebagai leading sector bagi perekonomian daerah. Dimana sejak tahun 2000 sampai 2006 hanya terdapat 4 sektor yang menjadi basis ekonomi wilayah yaitu sektor pertanian. Perubahan atau pergeseran basis ekonomi di Kabupaten Pohuwato setelah pengembangan agropolitan dapat disebabkan karena beberapa faktor antara lain karena sejak pengembangan agropolitan proses on farm dalam masyarakat cukup berhasil sehingga terjadi peningkatan produksi dan produktivitas lahan pertanian yang mengakibatkan peningkatan pendapatan masyarakat. Peningkatan pendapatan masyarakat juga berpengaruh terhadap industri pengolahan makanan di kabupaten Pohuwato.

perlu dirangsang investasi untuk pengembang industri pengolahan berbasis komoditi unggulan. Sedangkan sektor-sektor seperti sub sektor tanaman bahan makanan. industri pengolahan. karena selain dapat menambah nilai tambah juga dapat mengatasi masalah tenaga kerja diluar sektor pertanian. bangunan. Hasil perhitungan dengan menggunakan SSA untuk tahun 2001 dan 2003 menunjukkan bahwa laju pertumbuhan berbagai sektor ekonomi di Provinsi Gorontalo sebelum pengembangan agropolitan adalah sebesar 0. hal ini sangat menguntungkan bagi Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato karena kelebihan produksi dapat diekspor sehingga menghasilkan devisa bagi penerimaan daerah yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi daerah tumbuh cepat.87 pendapatan dapat menjadi faktor pendorong bagi masyarakat untuk menggunakan listrik dan air bersih sehingga terjadi peningkatan konsumsi listrik dan air bersih. Dalam hal ini laju . Permintaan terhadap jagung yang sangat besar dari daerah lain maupun luar negeri membuka peluang pasar yang bagus buat komoditi jagung. Selanjutnya melengkapi analisis LQ. dimana hasil pertanian terlebih khusus komoditi jagung masih diekspor dalam bentuk biji jagung sebagai bahan baku industri. pertambangan. Kendala yang dihadapi oleh Provinsi Gorontalo secara keseluruhan dan Kabupaten Pohuwato adalah belum berkembangnya industri pengolahan yang berbasis pada pertanian dalam hal ini komoditi unggulan jagung. Dalam jangka pendek.0016 lebih rendah dibandingkan dengan laju pertumbuhan di Provinsi Gorontalo. 2006). komoditi jagung. Namun dalam jangka panjang. untuk melihat pengaruh dari masingmasing sektor ekonomi terhadap perekonomian Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato dapat dijelaskan dengan analisis shift-share (SSA). Sektor pertanian. Laju pertumbuhan sektor pertanian 0. listrik dan air bersih. Pada dasarnya pembangunan perdesaan tidak akan berhasil sebelum sektor non pertaniannya berkembang. Jika diamati lebih lanjut lajut.1378. keuangan dan jasa-jaas memiliki laju pertumbuhan ekonomi yang lebih besar dibandingkan dengan laju laju pertumbuhan total di Provinsi Gorontalo. perdagangan dan sektor pengangkutan mempunyai laju pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dari dibandingkan laju pertumbuhan total di Provinsi Gorontalo. Hal ini disebabkan karena produktifitas dari sektor primer pertanian secara relatif cenderung lemah (Rustiadi .

0016 0. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan sektor sektor jasa-jasa 0.0233 -0.1715 0. perdagangan. Tabel 30 Hasil Analisis Shift-Share Provinsi Gorontalo Sebelum Agropolitan Tahun 2001 dan 2003 Pertumbuhan ekonomi Lapangan Usaha Pertanian Tanaman Bahan Makanan .2472 0.2472 lebih besar dibandingkan dengan laju pertumbuhan di provinsi Gorontalo.0238 -0. diolah.1678 -0.88 pertumbuhan komoditi jagung 0.0834 -0.2627 0.0302 -0.1061 -0. Sebaliknya sektor-sektor seperti pertanian dan turunannya.1260 -0. Nilai pergeseran differensial menunjukkan tingkat kompetisi berbagai sektor perekonomian sebelum pengembangan agropolitan.1378 Pergeseran Differensial 0. bangunan. Sehingga untuk mengembangkan sektor tersebut tidak akan memberikan nilai tambah yang optimal. Hasil analisis menunjukkan bahwa laju pertumbuhan sektor pertambangan.Jagung Pertambangan Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan Pengangkutan Keuangan Jasa-jasa Pergeseran proporsional -0.2626 0. keuangan dan jasa-jasa sebelum agropolitan mempunyai tingkat competitiveness lebih rendah dibandingkan sektor-sektor lain. .0062 0. industri pengolahan.1527 Sumber : BPS Provinsi Gorontalo tahun 2001 dan 2003.0439 -0. dalam arti akan lebih meningkatkan nilai tambah jika di kembangkan.1527 lebih kecil dibandingkan tingkat tingkat pertumbuhan sektor tersebut secara umum di Provinsi Gorontalo.0677 0.0074 0. listrik dan air bersih serta pengangkutan mempunyai keunggulan kompetitif yang relatif lebih besar.7195 -0.0842 0.0568 0.0875 -0.3255 0.

komoditi jagung. sektor bangunan.1142 0. Hal ini mengindikasikan bahwa setelah pengembangan agropolitan terjadi perbaikan kinerja dari sektor-sektor ekonomi di provinsi Gorontalo.1502 Pergeseran Differensial -0.0285 -0. sektor pertambangan.0292 0.1523 0.0500 -0.0698 -0. terjadi perubahan tingkat kompetisi (competitiveness) di Kabupaten Pohuwato.0793 0.2099 -0. sektor perdagangan dan sektor pengangkutan.1502 yang berarti terjadi peningkatan dibanding periode sebelumnya (sebelum agropolitan.0951 0. sektor bangunan.0952 -0.0166 -0.1111 Sumber : BPS Provinsi Gorontalo tahun 2004 dan 2006.9082 0.89 Hasil analisis pertumbuhan ekonomi di Provinsi Gorontalo dengan analisis shift-share pada tahun 2004 dan 2006 (setelah agropolitan) menunjukkan bahwa laju pertumbuhan berbagai sektor ekonomi di Provinsi Gorontalo adalah sebesar 0.1988 -0.0116 0.0097 0.8323 -0. Setelah program agropolitan ada 7 sektor yang memiliki laju pertumbuhan yang lebih besar dari laju pertumbuhan total Provinsi yaitu sektor pertanian.0984 0. Selanjutnya setelah pengembangan agropolitan yaitu periode tahun 2004 dan 2006. Sektor yang mengalami perubahan atau perbaikan kinerja yaitu sektor pertanian.1208 0. dimana sektor pertanian dan turunannya (Sub sektor tanaman bahan makanan dan komoditi jagung) mengalami kinerja yang menurun. sektor pengangkutan dan sektor jasa-jasa. diolah.1649 -0. sedangkan .Jagung Pertambangan Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan Pengangkutan Keuangan Jasa-jasa Pergeseran proporsional 0.1574 0. sub sektor tanaman bahan makanan.0408 0. Tabel 31 Hasil Analisis Shift-Share Provinsi Gorontalo Sesudah Agropolitan Tahun 2004 dan 2006 Pertumbuhan ekonomi Lapangan Usaha Pertanian Tanaman Bahan Makanan .

Namun demikian terlihat juga bahwa sektor pertanian yang menjadi sektor unggulan masih setelah agropolitan justru mengalami penurunan kinerja yang menggambarkan daya saing sektor tersebut masih rendah dan perlu mendapat perhatian serius. Dampak terhadap Perekonomian Wilayah Menurut konsep basis ekonomi wilayah. Besarnya effek pengganda pendapatan ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi dalam wilayah tersebut yang ditunjukkan oleh koefisien pengganda pendapatan yang dihasilkannya. Pengganda Pendapatan Jangka Pendek Dalam model basis ekonomi. Sehingga fluktuasi nilai pengganda jangka pendek akan dipengaruhi oleh keseimbangan pertumbuhan antara sektor non basis dan sektor basis.2. Tabel Hasil perhitungan koefisien memperlihatkan fluktuasi pengganda jangka pendek dengan menggunakan model yang telah dikemukakan koefisien pengganda jangka pendek dari tahun 2003 sampai 2006 Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato. keuangan dan jasa-jasa terjadi peningkatan kinerja. bahwa pertumbuhan ekonomi pada suatu wilayah terjadi karena adanya efek pengganda (multiplier effect) dari pembelanjaan kembali pendapatan yang diperoleh melalui penjualan barang dan jasa yang dihasilkan wilayah itu atas penjualan keluar wilayah. 6. karena dalam jangka panjang akan berpengaruh terhadap perekonomian wilayah.1. Untuk itu besarnya koefisien pengganda dapat diukur dengan menggunakan model analisis sebagai berikut : 6.90 sektor-sektor tersier yaitu perdagangan. multiplier adalah perbandingan antara pendapatan non basis dengan total pendapatan daerah sehingga nilai ini menggambarkan mengenai aktivitas yang dilakukan penduduk pada suatu daerah dalam perekonomian terhadap total pendapatan. . tetapi juga tergantung pada sektor non basis. sebelumnya. dapat dilihat pada Tabel 32. Namun besar kecilnya koefisien pengganda jangka pendek tidak hanya tergantung pada sektor basis. Hal ini mengindikasikan terjadi setelah agropolitan terjadi pergeseran keunggulan kompetitif dari sektor primer yang mengandalkan Sumber daya alam ke sektor sekunder dan tersier yang mengandalkan aktifitas ekonomi.2.

91

Nilai koefisien

pengganda jangka pendek sektor pertanian dan sub

sektor tanaman bahan makanan serta komoditi jagung Kabupaten Pohuwato lebih rendah dibandingan dari Provinsi Gorontalo. Nilai pengganda jangka pendek sektor pertanian Provinsi Gorontalo mencapai nilai tertinggi pada tahun 2005 yaitu sebesar 3,28. Yang berarti bahwa setiap perubahan pendapatan sektor pertanian sebesar Rp. 100,- akan menyebabkan perubahan pendapatan daerah sebesar Rp.328,-. Dan mencapai nilai terendah pada tahun 2004 yaitu sebesar 3,10 yang berarti bahwa setiap perubahan pendapatan sektor pertanian sebesar Rp. 100,- akan menyebabkan perubahan pendapatan daerah sebesar Rp.310,-. Sedangkan nilai pengganda jangka pendek sektor pertanian Kabupaten Pohuwato mencapai nilai tertinggi pada tahun 2006 yaitu sebesar 2,17. Ini berarti bahwa setiap perubahan pendapatan pada sektor pertanian sebesar Rp.100,- akan menyebabkan perubahan pendapatan daerah sebesar Rp. 217,-. Selanjutnya nilai koefisien pengganda jangka pendek komoditi jagung Provinsi Gorontalo mencapai nilai tertinggi pada tahun 2004 yaitu sebesar 30,22 dan mencapai nilai terandah tahun 2005 yaitu sebesar 15,63. Hal ini berarti bahwa pada setiap perubahan pendapatan pada komoditi jagung sebesar Rp.100 akan menyebabkan perubahan pada pendapatan daerah sebesar Rp. 3.022,- pada tahun 2004 dan Rp.1.563.- tahun 2005. Sedangkan untuk Kabupaten Pohuwato, nilai pengganda pendapatan jangka pendek mencapai nilai tertinggi pada tahun 2004 sebesar 5,59 dan nilai terendah tahun 2006 yaitu sebesar 5,24. Hal ini berarti setiap perubahan pendapatan pada komoditi jagung sebesar Rp. 100,- akan menyebabkan perubahan pada pendapatan daerah sebesar Rp. 559,- pada tahun 2004 dan Rp. 524,- pada tahun 2006. Sektor industri pengolahan di Provinsi Gorontalo memiliki nilai LQ < 1 sehingga tidak dapat dilakukan pergitungan koefisien pengganda jangka pendek. Keadaan ini berarti bahwa sektor ini dalam perekonomian Gorontalo hanya mampu mensuplai hasilnya untuk kebutuhan dalam perekonomian sendiri atau bahkan kurang dari yang dibutuhkan oleh perekonomian Provinsi Gorontalo. Sedangkan nilai koefisien pengganda pendapatan jangka pendek sektor industri pengolahan di Kabupaten Pohuwato mencapai nilai tertinggi pada tahun 2006 yaitu sebesar 16,07 dan terendah pada tahun 2004 yaitu sebesar 15,10. Hal ini

92

berarti bahwa setiap perubahan pendapatan pada sektor industri pengolahan sebesar Rp.100,- akan menyebabkan perubahan pada pendapatan daerah Kabupaten Pohuwato sebesar Rp. 1.607,- pada tahun 2006 dan Rp. 1.510,- pada tahun 2004. Selanjutnya sektor listrik dan air bersih memberikan dampak pengganda jangka pendek yang paling tinggi di Kabupaten Pohuwato yaitu pada sebesar 128,00 pada tahun 2004. Hal ini berarti bahwa setiap perubahan pendapatan pada sektor listrik dan air bersih sebesar Rp.100 akan menyebabkan perubahan pada pendapatan daerah sebesar Rp.12.800,Tabel 32 Pengganda Pendapatan Jangka Pendek Berbagai Sektor di Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato Tahun 2003 - 2006
Provinsi Gorontalo Lapangan Usaha Pertanian Tan.Bahan Makanan - Jagung - Padi Pertambangan Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan Pengangkutan Keuangan Jasa-jasa 2003 3,17 7,39 29,65 20,32 13,00 11,57 5,73 2004 3,10 7,62 30,22 13,94 10,58 6,08 2005 3,28 7,14 15,63 21,88 13,61 9,90 5,38 2006 3,26 7,02 16,12 12,99 9,68 5,25 Kabupaten Pohuwato 2004 2,01 4,64 5,59 15,10 12,42 6,67 2005 2,12 4,47 5,51 15,25 12,69 5,49 2006 2,17 4,54 5,24 16,07 12,24 5,81 -

128,00 123,23 114,94

Sumber : Data Hasil Olahan, 2007

Dari nilai pengganda pendapatan jangka pendek terlihat bahwa sektor pertanian dan terlebih khusus komoditi unggulan jagung memiliki kontribusi yang cukup besar terhadap perekonomian Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato meskipun dari tahun ke tahun mengalami kecenderungan menurun. Berdasarkan hasil analisis (Tabel 32), terlihat bahwa sektor-sektor primer di Kabupaten Pohuwato memiliki koefisien pengganda jangka pendek yang lebih kecil dibandingkan dengan sektor-sektor sekunder dan tersier. Hal ini mengindikasikan

93

bahwa di samping sektor primer sektor-sektor sekunder dan tersier juga memiliki prospek yang sangat baik untuk dikembangkan di Kabupaten Pohuwato. 6.2.2. Pengganda Pendapatan Jangka Panjang Berdasarkan model pada metodologi maka perhitungan analisis jangka panjang dapat dilihat pada Tabel 33. Dari tabel terlihat bahwa nilai koefisien pengganda jangka panjang masing-masing sektor sangat fluktuatif. Sektor pertanian memiliki nilai koefisien pengganda yang cenderung stabil sepanjang tahun. Namun sektor industri pengolahan, listrik dan air bersih, bangunan, pengangkutan dan jasa cenderung fluktuatif. Tabel 33 Pengganda Pendapatan Jangka Panjang Berbagai Sektor di Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato Tahun 2003 - 2006
Provinsi Gorontalo Lapangan Usaha Pertanian Tan.Bahan Makanan - Jagung - Padi Pertambangan Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan Pengangkutan Keuangan Jasa-jasa 2003 3,63 10,50 108,21 27,08 21,52 7,43 22,15 14,72 7,25 2004 3,44 9,55 2005 3,65 9,17 30.30 67,89 23,52 14,28 6,45 2006 3,89 10,82 83,69 37,17 18,80 7,12 Kabupaten Pohuwato 2004 2,77 12,54 23,21 14,35 7,80 18,04 71,53 2005 2,83 9,58 16,05 18,66 9,00 24,78 15,91 2006 2,34 5,31 6,30 33,10 42,91 20,12 7,14 -

160,02 153,42

Sumber : Data Hasil Olahan, 2007.

Nilai koefisien pengganda jangka panjang sektor pertanian Provinsi Gorontalo mencapai nilai terendah pada tahun 2004 yaitu sebesar 3,44 dan tertinggi pada tahun 2006 sebesar 3,89. Angka ini berarti bahwa untuk setiap perubahan pendapatan sektor pertanian sebesar Rp.100 akan menyebabkan perubahan pada pendapatan daerah Gorontalo sebesar Rp.344,- pada tahun 2004 dan sebesar Rp. 389,- pada tahun 2006. Sedangkan Kabupaten Pohuwato

.. 100. 16.83. Hal ini akan berdampak pada belum maksimalnya produktivitas dari kemampuan optimum benih yang seharusnya. Hal ini berarti bahwa setiap perubahan pendapatan pada sektor pertanian sebesar Rp.94 memiliki nilai koefisien pengganda jangka panjang sektor pertanian terendah pada tahun 2006 yaitu sebesar 2.2.akan menyebabkan perubahan pada pendapatan daerah Kabupaten Pohuwato sebesar Rp.100. yang pada akhirnya berdampak pada nilai tambah petani. Masih terbatas pengetahuan petani dan keterbatasan modal menyebabkan pemupukan belum dilakukan sesuai dengan komposisi yang seharusnya.akan menyebabkan perubahan pada pendapatan daerah Provinsi Gorontalo sebesar Rp.dan Rp.02 untuk Provinsi Gorontalo dan tahun 2004 yaitu sebesar 23.34 dan tertinggi pada tahun 2005 yaitu sebesar 2. 283 pada tahun 2005.321.21 untuk Kabupaten Pohuwato. . Misalnya. Komoditi Jagung sebagai komiditi unggulan daerah juga memiliki kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian daerah meskipun mengalami kecenderungan yang menurun dimana nilai koefisien jangka panjang komoditi jagung mencapai nilai tertinggi pada tahun 2003 yaitu sebesar 160... Hal ini berarti bahwa setiap perubahan pendapatan pada komoditi jagung sebesar Rp.untuk Kabupaten Pohuwato. 234 pada tahun 2006 dan Rp. Kecenderungan penurunan koefisien pengganda pendapatan ini dapat dipahami karena belum maksimalnya kinerja dari aspek-aspek yang dapat menunjang terkait dari sektor hulu sampai sektor hilir.002.

000.33% petani memiliki pendapatan kurang dari Rp. pedagang.000. tukang. Karena program agropolitan sangat terkait dengan petani sebagai pelaku utama maka keterlibatan petani baik sebagai individu maupun dalam kelompok tani terlihat jelas. Seluruh responden yang terdata dalam penelitian ini 100% memiliki mata pencaharian utama sebagai petani pemilik. ada berbagai penyebab sehingga kurangnya partisipasi dalam kegiatan pembangunan yaitu faktor internal yang berkaitan dengan terbatasnya waktu dan faktor eksternal yang berkaitan dengan kurangnya transparansi penyampaian informasi dalam kegiatan pembangunan.VII.10. 7.000.66% petani memiliki pendapatan diatas Rp. dimana sebanyak 43. Berdasarkan hasil penelitian dari Rompon (2006)..12. Dimana 33. nelayan dan lain-lain.1. teknologi tepat guna dan informasi tentang bantuan yang diberikan oleh pemerintah sehingga dapat meningkatkan ekonomi keluarga.per ha per tahun dan 56. 55.000. dimana petani mendapat banyak informasi tentang usaha tani. DAMPAK AGROPOLITAN TERHADAP MASYARAKAT 7. Keterlibatan masyarakat dalam hal ini petani berkaitan dengan manfaat yang diperoleh dari kegiatan ini.000. Tingkat pendapatan petani bervariasi antara Rp.33% petani memiliki luas lahan kurang dari 2 Ha..1. sosial dan budaya masyarakat. Disamping itu faktor lain yang mempengaruhi partisipasi masyarakat terkait dengan keadaan ekonomi.33% memiliki luas lahan 2 Ha dan 13. . Karakteristik Masyarakat Sebagaimana dijelaskan sebelumnya.per ha per tahun. misalnya dengan bergabungnya petani dalam kelompok tani dan aktif menghadiri kegiatan penyuluhan.per ha per tahun..10. pelaksanaan.33% memiliki lahan lebih dari 2 Ha. sebagian kecil sebagai PNS.000.1.000 per ha per tahun sampai Rp. Aspek Ekonomi Sebagai kawasan pertanian sebagaian besar masyarakat dikawasan agropolitan memiliki mata pencaharian sebagai petani.000. yang dimaksud dengan partisipasi masyarakat dalam pembangunan adalah keikutsertaan masyarakat dalam perencanaan. evaluasi dan monitoring serta manfaat yang dapat dirasakan masyarakat dalam setiap program atau kegiatan pembangunan.7.

Keadaan in sangat berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat dalam setiap kegiatan pembangunan.1. SDM dibidang pertanian yang ada selama ini bekerja belum berdasarkan pengetahuan dan kemampuan teknis yang memadai.96 7. 7. Untuk mengetahui dampak pengembangan agropolitan terhadap pendapatan petani dilakukan dengan membandingkan pendapatan usahatani di kawasan agropolitan dan non agropolitan. terlihat bahwa sebagian besar petani dikawasan agropolitan memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Di bidang pertanian budaya ini terlihat dari penyiapan lahan hingga panen yang dilakukan secara gotong-royong.1.33% SD. termasuk dalam kegiatan agropolitan. 7. Responden petani dalam penelitian memiliki tingkat pendidikan yang bervariasi yaitu 23. Dampak Agropolitan terhadap Pendapatan Masyarakat Petani Pengembangan kawasan agropolitan diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat petani.33% setara SMP dan 33. tetapi hanya berdasarkan pengalaman yang diperoleh secara inkremental. masyarakat secara bersama-sama membantu mereka yang mempunyai hajatan atau tertimpa musibah. Dalam analisis ini akan dilihat apakah pembangunan infrastruktur yang . hajatan maupun tertimpa musibah. Nilai solidaritas sosial. kebersamaan dan kegotong royongan diantara warga masih melekat dalam masyarakat tani kawasan agropolitan. Aspek Budaya Budaya juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat. Aspek Sosial Dari aspek sosial yang berkaitan dengan tingkat pendidikan. Budaya gotong-royong dalam masyarakat Gorontalo dikenal dengan sebutan huyula . Dalam hal ini berkenaan dengan kebiasaan dan nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat.33% petani memiliki tingkat pendidikan setara SMA sedangkan sisanya 43. pengetahuan dan ketrampilan masyarakat petani. Disamping itu.3. Kawasan nonagropolitan yang diambil yaitu di Kecamatan Taluditi yang merupakan daerah hinterland-nya yang berada dalam satu kabupaten yang sama yaitu kabupaten Pohuwato. Begitu pula untuk kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan. kekeluargaan.2.2.

97

dilakukan dikawasan agropolitan berdampak terhadap peningkatan pendapatan petani. Hasil analisis usahatani pada wilayah sampel menunjukkan terdapat kecenderungan rata-rata tingkat pendapatan petani per hektar per tahun Rata-rata tingkat pendapatan petani di kawasan agropolitan di kawasan agropolitan lebih tinggi di bandingkan dengan kawasan non agropolitan. sebesar Rp.10.080.016,-/ ha per tahun, sedangkan rata-rata tingkat pendapatan petani di kawasan non agropolitan sebesar Rp. 5.506.966,- / ha per tahun. Hal ini berarti bahwa pembangunan infrastruktur agropolitan antara lain dengan pembangunan jalan dan pasar di kawasan agropolitan mempunyai efek yang berarti terhadap rata-rata peningkatan pendapatan petani. Lebih jauh hasil uji beda rata-rata dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 34 Hasil Analisis Uji t Perbandingan Pendapatan Kawasan Agropolitan dan Non Agropolitan Uraian Agropolitan Non agropolitan T –value T – tabel N 30 30 12,55 2,045 Mean 10080017 5506967 Standar Deviasi 1727609 1000130 Standar Error 315417 182598

Sumber : Hasil Olahan Data Primer 2007

Pada Tabel 34 diketahui bahwa hasil uji statistik t – test pada taraf nyata 95% memiliki pengaruh yang signifikan antara rata-rata pendapatan petani di kawasan agropolitan dan rata-rata pendapatan petani di kawasan non agropolitan. Dimana hasil perhitungan nilai statistik t hitung 12,55 lebih besar dari nilai statistik tabel 2,045. Hal ini disebabkan karena infratruktur di Kecamatan Randangan sebagai desa pusat pertumbuhan (DPP) lebih baik dibandingkan di Kecamatan Taluditi sebagai daerah belakang. Dengan adanya program agropolitan yang diwujudkan melalui pembangunan sarana dan prasarana jalan dan pemasaran sangat membantu petani dalam pendapatkan sarana produksi berupa bibit pupuk dan pestisida. Pembangunan jalan usaha tani di desa-desa kawasan agropolitan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, dimana dapat dilihat bahwa masyarakat dapat

98

memasarkan produksi pertanian langsung di lahan pertanian (dikebun) sehingga mengurangi atau meminimalisasi ongkos produksi petani. Dalam hal ini biaya transportasi menjadi tanggungan dari pedagang. Hal ini tidak terjadi di desa non agropolitan, tidak tersedianya fasilitas jalan usaha tani di Kecamatan Taluditi menyebabkan tingginya biaya produksi di tingkat petani karena biaya transportasi dibebankan kepada petani. Hal ini menyebabkan share dari petani / keuntungan petani yang menjadi pendapatan petani menjadi kecil. Di desa non agropolitan transaksi atau penjualan hasil panen tidak dilakukan di lahan/lapang tetapi harus dilakukan digudang, di rumah pedagang perantara atau di jalan desa yang dapat dijangkau oleh transportasi. Biaya pengangkutan dari kebun ke tempat transaksi menjadi beban petani. Petani harus mengeluarkan biaya pengangkutan yang tinggi karena tidak tersedianya jalan akses ke pasar dari lokasi produksi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa petani di desa non agropolitan untuk mengangkut hasil panen.
Tabel 35 Luas Lahan, Produksi dan Produktivitas Jagung di Kecamatan Randangan Tahun 2002 2003 2004 2005 Luas Lahan (Ha) 3.717 6.517 8.418 10.263 Produksi (Ton) 8.803 29.326 37.881 51.109 Produktivitas (Ton/Ha) 2,37 4,50 4,50 5,00

harus

mengeluarkan biaya pengangkutan rata-rata Rp.1.728.667,- per hektar per tahun

Sumber : - Kecamatan Randangan dalam Angka - Dinas Pertanian

Pelaksanaan penyuluhan pertanian, pembangunan infrastruktur pemasaran dan transportasi signifikan meningkatkan pendapatan petani. Secara hipotetik faktor yang mempengaruhi pendapatan petani diantaranya adalah meningkatnya produktivitas, menurunnya biaya usaha tani diantaranya biaya transportasi dan meningkatnya harga jual komoditi pertanian. Penyuluhan pertanian yang dilaksanakan sangat membantu petani dalam transfer teknologi sehingga terjadi peningkatan produktivitas dan hasil produksi. Ini sangat berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan petani karena sebelum agropolitan produksi jagung hanya

99

mencapai 1 - 2 ton per hektar namun

setelah program agropolitan terjadi

peningkatan produksi sebesar 5-6 ton per hektar. Hal ini disebabkan karena petani mulai menerapkan teknologi dengan menggunakan bibit unggul dan pemupukan dalam produksi. Tersedianya infrastruktur transportasi dan pemasaran yang memadai menyebabkan petani dapat menekan biaya produksi. Di kawasan agropolitan dengan dibangunnya jalan usaha tani sampai ke sentra-sentra produksi (hamparan/kebun), memudahkan pengangkutan hasil panen petani dan menekan biaya transportasi. Fakta dilapangan juga terlihat bahwa rata-rata harga komoditi jagung di kawasan agropolitan relatif lebih tinggi dari rata-rata harga komoditi jagung di kawasan non agropolitan. Jika dilihat dari sumber pendapatan petani responden kawasan agropolitan dan non agropolitan terlihat bahwa pendapatan dari pertanian merupakan sumber pendapatan terbesar dan 50 persen lebih sumber pendapatan petani responden berasal dari usahatani jagung. Hal ini mengindikasikan bahwa pengembangan infrastruktur agropolitan sangat berpengaruh terhadap tingkat pendapatan masyarakat petani di kawasan agropolitan. Tabel 36 Sumber Pendapatan Utama Masyarakat Petani Kawasan Agropolitan dan Non Agropolitan
Sumber Pendapatan A. On Farm • Jagung • Kelapa • Kakao B. Off Farm • Upah pertanian dan non pertanian C. Non Farm • Warung • Transportasi (musiman) Jumlah Randangan (Rp/Tahun) 151.200.250 22.537.500 % Taluditi (Rp/Tahun) 82.604.500 42.000.000 30.600.000 12,76 25.200.000 %

63,04 9,40

53,22 26,67 16,24

35.500.000 239.837.750

14,80 6.000.000 100 155.204.500 3,87 100

Sumber : Hasil olahan data primer, 2007

Permasalahan kedua adalah sistem pemasaran yang masih dikuasai oleh tengkulak atau pedagang pengumpul. Petani masih melaksanakan budidaya sesuai dengan kemampuan modal yang ada. Disatu sisi keberadaan pedagang pengumpul membantu petani dalam aspek penyediaan modal namun di sisi yang lain keberadaan pedagang pengumpul/tengkulak menyebabkan petani hanya sebagai penerima harga (price taker) karena harga komoditi ditentukan oleh pedagang. Peran perbankan sebagai sarana penunjang pengembangan agribisnis belum terlihat. kelompok tani dan gabungan kelompok tani (gapoktan) masih terbatas pada penyediaan saprodi dan . Pertama. Petani masih menggunakan modal sendiri atau meminjam kepada pedagang pengumpul/tengkulak. Petani di kawasan agropolitan cenderung lebih memilih pedagang pengumpul untuk menjual hasil produksinya karena untuk menekan biaya transportasi. Hal ini menyebabkan petani tidak mempunyai kemampuan dalam menegosiasikan harga dengan pedagang. karena belum tersedianya skim kredit untuk pertanian dan petani masih enggan untuk meminjam di bank karena prosedur yang berbelit dan memerlukan agunan. Dengan terbukanya jalan usaha tani. Keberadaan KUD. Ketiga adalah belum berfungsinya kelembagaan petani dalam proses pemasaran hasil. sehingga petani masih menjual hasil produksinya secara personal. Namun demikian meskipun terjadi peningkatan pendapatan petani. namun terdapat beberapa permasalahan dalam pengembangan agropolitan di Kecamatan Randangan. kemampuan permodalan petani yang masih terbatas sehingga penggunaan pupuk masih belum sesuai dengan dosis. Program agropolitan belum dapat meningkatkan akses petani terhadap permodalan. Hal ini disebabkan karena adanya komitmen yang kuat dari Pemerintah Daerah untuk mengembangkan ekonomi wilayahnya melalui program agropolitan dengan menerapkan berbagai instrumen misalnya dengan aa kebijakan intervensi harga dari pemerintah.100 Jika dibandingkan dengan penelitian terdahulu tentang evaluasi agropolitan terlihat bahwa pengembangan agropolitan di Kabupaten Pohuwato relatif lebih baik. pedagang dapat mengambil hasil produksi langsung di hamparan petani/kebun sehingga ongkos transportasi menjadi beban dari pedagang.

Namun pemasaran dari dodol jagung masih sangat terbatas karena masalah kualitas dimana dodol jagung hanya bisa bertahan sampai 1 minggu sehingga belum bisa mencapai pasar yang luas dan hanya berproduksi jika ada pesanan. keadaan ini lambat laun akan menyebabkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan karena lahan tidak pernah diistirahatkan. karena selain dapat mengatasi masalah tenaga kerja juga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat diluar sektor pertanian. Padahal jika kelembagaan petani berfungsi sampai pada pemasaran maka petani akan mempunyai bargaining position yang kuat dalam menentukan harga. Faktor. Disamping itu harga komoditi jagung yang mulai merangkak naik menyebabkan petani bergairah menanam jagung tanpa memperhatikan kelayakan dari struktur tanah. Sebenarnya di kawasan agropolitan sudah mulai diupayakan pengembangan industri rumah tangga oleh BPPT dengan pembuatan dodol jagung. Disamping itu. Petani diintroduksi untuk meningkatkan hasil produksi. Salah satu faktor penyebabnya adalah masalah teknologi pengolahan yang masih terbatas. Industri pengolahan baik skala kecil (rumah tangga) maupun skala besar belum berkembang di kawasan agropolitan. Selanjutnya masalah yang tidak kalah pentingnya dikawasan agropolitan adalah masalah kurangnya koordinasi antara berbagai instansi yang terkait dalam pelaksanaan pengembangan agropolitan dan masalah degradasi lingkungan. tuntutan kebutuhan hidup yang mendesak merupakan alasan kenapa petani langsung menjual hasil produksi secara perorangan ke pedagang pengumpul. Industri pengolahan skala sedang dan besar juga belum berkembang di kawasan agropolitan. Selanjutnya masalah keempat adalah masih belum berkembangnya industri pengolahan hasil di kawasan agropolitan. Padahal keberadaan industri pengolahan ini akan sangat berpengaruh terhadap multiplier effect.101 aspek produksi belum menyentuh aspek pengolahan hasil dan pemasaran. Hal ini dapat dilihat dari masih belum berfungsinya terminal Randangan yang dibangun oleh dinas Kimpraswil sebagai salah satu sarana penunjang agropolitan. target pemerintah yang besar disektor pertanian menyebabkan sektor ini digalakkan terus. sehingga belum dapat menyerap tenaga kerja diluar sektor pertanian. Belum dimanfaatkannya terminal ini mencerminkan belum adanya koordinasi yang baik antar instansi dalam perencanaan dan pelaksanaaan proses pembangunan. kemiringan .

102 lereng dan sebagainya. masyarakat dalam hal ini petani berpartisipasi dengan turut terlibat dalam setiap kegiatan yang terkait dengan program dan melaksanakan penerapkan teknologi tepat guna dan penggunaan bibit unggul dalam usahatani sehingga terjadi peningkatan produktivitas. Namun fakta dilapang terlihat bahwa tujuan pembentukan kelembagaan dalam hal ini kelompok tani masih terbatas . Dengan melibatkan masyarakat secara aktif dalam pembangunan berarti memberikan tanggungjawab kepada masyarakat untuk merumuskan masalahmasalah yang ada di masyarakat. Hal ini dapat berdampak terjadinya lahan-lahan kritis dan rawan longsor sehingga dalam jangka panjang dapat menurunkan kualitas lingkungan. Peran serta atau partisipasi masyarakat dalam menunjang program agropolitan diwujudkan baik secara individu maupun kelompok. maka partisipasi yang diharapkan dalam pembangunan adalah partisipasi yang interaktif dan mobilisasi swakarsa atau partisipasi dalam bentuk kemitraan. Partisipasi Masyarakat dalam Kawasan Agropolitan Partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan dilakukan sebagai perwujudan dari tanggapan masyarakat atas masalah yang ada dalam masyarakat serta dilaksanakan dengan cara-cara yang dapat diterima oleh masyarakat tersebut. Secara kelembagaan. Secara individu. Selanjutnya partisipasi masyarakat menurut Cofen dan Uphoff (1977) dalam Harahap (2001) adalah keterlibatan masyarakat dalam proses pembuatan keputusan tentang apa yang akan dilakukan dan bagaimana. pendelegasian kekuasaan dan pengawasan oleh masyarakat.3. 7. Dampak positif dari proses partisipasi ini antara lain adalah bahwa masyarakat dapat mengerti permasalahan yang muncul serta memahami keputusan akhir yang diambil. Berdasarkan definisi diatas. keterlibatan dalam pelaksanaan program dan keputusan dalam kontribusi sumberdaya atau bekerjasama dalam organisasi atau kegiatan khusus. melalui gabungan kelompok tani atau gapoktan adalah terjadinya pertukaran informasi antar sesama kelompok tani tentang usaha tani dan informasi harga. memobilisir sumberdaya setempat dan mengembangkan kelompok organisasi masyarakat setempat. berbagi manfaat dari program dan keterlibatan dalam evaluasi program.

hasil olahan (2007). Tabel 37 Hasil Analisis Derajat Partisipasi di Kawasan Agropolitan No 1. Aspek Komunikasi • • • • • • • • Variabel Informasi Forum pengambilan keputusan Jumlah orang yang berpartisipasi Intervensi yang dilakukan aparat Konsep partisipasi Tingkat kepuasan Prosedur untuk berpartisipasi Tingkat partisipasi dalam kelompok Total Skor 80. .8 dan 78. Pengetahuan masyarakat terhadap forum pengambilan keputusan 74.103 pada aspek produksi melalui penerapan teknologi produksi dan masih kurang memberikan perhatian pada aspek penangananan pasca panen dan pemasaran.6. Berdasarkan hasil analisis tingkat partisipasi di kawasan agropolitan diperoleh bahwa total skor untuk aspek komunikasi adalah 80. Adapun total skor untuk keseluruhan aspek adalah 8 (delapan). 2 (dua) untuk aspek pengetahuan masyarakat terhadap proses pengambilan keputusan dan 3 (tiga) untuk aspek kontrol terhadap kebijakan publik. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Saptana.9 2.et all (2004) yang mengemukakan bahwa kelembagaan dibentuk lebih untuk tujuan distribusi bantuan dan memudahkan tugas kontrol dari pelaksana program dan kurang memperhatikan aspek pemberdayaan petani dan pelaku agribisnis lain. Selanjutnya dengan membandingkan total skor dengan partisipasi arnstein diperoleh bahwa skor penilaian untuk masing-masing aspek adalah 3 (tiga) untuk aspek komunikasi.6 Sumber : Data primer. Kelembagaan ekonomi lokal yang ada dalam mayarakat seperti KUD belum banyak berperan karena masih sebatas sebagai penyedia sarana input produksi belum menangani masalah pasca panen dan pemasaran hasil.9 aspek pengetahuan masyarakat terhadap forum pengambilan keputusan dan kontrol terhadap kebijakan publik masing-masing adalah sebesar 74. Kontrol terhadap kebijakan publik • Akses terhadap forum perencanaan • Kriritk atas mekanisme forum perencanaan • Keterlibatan masyarakat dalam implementasi proyek 78.8 3.

Keadaan SDM yang masih sangat rendah baik pendidikan dan keahlian membuat hal ini dimungkinkan terjadi. hasil olahan (2007) Dari segi pengetahuan masyarakat terhadap pengambilan keputusan masyarakat tidak mengerti dan tidak pernah terlibat didalamnya. Meskipun demikian intervensi dari pemerintah masih terlihat cukup dominan. Hal ini direpresentasikan dengan 83. Jadi meskipun terjadi komunikasi. Berdasarkan hasil analisis dan jawaban dari responden terlihat bahwa 66. Dimana kegiatan masyarakat harus disesuaikan dengan program-program yang dijalankan oleh pemerintah. Karena pada hakekatnya agar program dapat tersosialisasi sampai pada masyarakat maka cara yang digunakan adalah disampaikan melalui kelompok tani atau melalui pertemuan desa dalam penyuluhan. Dari segi komunikasi terlihat bahwa program-program dalam lingkup desa pada dasarnya sudah melalui diskusi baik kelompok tani maupun dalam forum desa. menunjukkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat di Kecamatan Randangan sebagai kawasan agropolitan berada pada tingkat konsultasi. Tabel 38 Derajat Partisipasi Menurut Arnstein di Kawasan Agropolitan Derajat Partisipasi Pengawasan Masyarakat Pendelegasian Kekuasaan Partnership/Kemitraan Peredaman Kemarahan Konsultasi Menyampaikan informasi Terapi Manipulasi Nilai Faktor A 4 4 4 4 3-4 2-3 2 1 B 4 3-4 3 2-3 2 1-2 1 1 C 4 3 2-3 2 2 1-2 1 1 12 10-11 9-10 8-9 7-8 7-8 4 3 Non Partisipasi Tingkat Otoritas Masyarakat Tingkat Tokenisme Indeks Kelompok Sumber : Data primer. ini dapat dilihat pada Tabel 38.3% responden yang mengemukakan bahwa masyarakat masih melakukan apa yang diinstruksikan oleh pemerintah baik melalui penyuluh pertanian maupun melalui petugas tingkat kecamatan.6% responden mengetahui adanya program agropolitan yang dilaksanakan. namun masih bersifat satu arah. Yang diketahui .104 Hasil analisis dengan menggunakan derajat partisipasi Arnstein.

Hal ini tentu saja tidak sejalan dengan esensi dari perencanaan partisipatif yang terkandung dalam desentralisasi (otonomi daerah) dimana masyarakat seharusnya lebih diberdayakan melalui keterlibatannya dalam pembangunan. hanya dilibatkan dalam sosialisasi saja selanjutnya tidak lagi. Seperti LSM “Pedas” Pohuwato. seperti pelibatan masyarakat karena status sebagai kepala dusun atau sebagai tokoh masyarakat. Kurangnya sosialisasi program pada waktu proses perencanaan menyebabkan kondisi ini terjadi. Keadaan ini disebabkan karena program agropolitan memang merupakan program pemerintah pusat. Menurut Ahmad (2004). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Satuan Kerja Pengembangan Prasarana dan Sarana Desa Agropolitan (2005) yang mengemukakan bahwa masyarakat dilibatkan hanya secara prosedural. Selanjutnya dari segi kontrol masyarakat terhadap kebijakan publik melalui wadah kelompok tani. partisipasi berada pada tingkat konsultatif dapat disebabkan karena kekakuan kelembagaan (institutional regidities) didalam forum perencanaan. Hal ini sebagai akibat kurangnya pemahaman dari pokja mengenai peran LSM sebagai media kontrol yang cukup efektif terhadap pelaksanaan dan monitoring serta evaluasi dalam pengembangan kawasan agropolitan. Perubahan konsep atau paradigma perencanaan yang lebih partisipatif tidak serta merta membuat organisasi yang ada (baik organisasi pemerintah maupun organisasi non pemerintah) menjalankan .105 masyarakat adalah bahwa kebijakan yang sudah ada harus mendapat dukungan masyarakat dengan keterlibatan mereka dalam setiap program yang ditawarkan. Pelibatan LSM dalam peranan memediasi dan mengadvokasi semua kebutuhan dan responsibitilas masyarakat dalam kawasan agropolitan juga sangat rendah. Peranan kelompok swadaya masyarakat ini penting dalam kaitannya dengan keberlanjutan dari program ini. Pelibatan dalam artian bahwa program/ kegiatan sudah sesuai dengan apa yang diperlukan oleh masyarakat masih belum berjalan dengan baik. masyarakat bisa melakukan kritik terhadap program yang tidak sesuai dengan kondisi dan keadaan eksisting dalam masyarakat meskipun itu hanya sebagai bahan informasi karena sering tidak mendapat respon yang positif. dimana pengalaman-pengalaman masa lalu menyebabkan organsisasi yang ada mengalami kekakuan atau kelembaman (inertia) dalam merespon perubahan yang ada.

hasilnya adalah sebuah bentuk konsultasi yang tidak genuine dan belum partisipatif. Partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan merupakan merupakan keikutsertaan dan kerjasama yang erat antara perencana dan masyarakat di dalam merencanakan. Namun sangat disayangkan dalam pelaksanaannya di daerah sifat ini masih terus melekat. yang mengemukakan bahwa paradigma partisipasi yang ada ternyata belum didukung oleh praksis yang memadai bahkan cenderung bertentangan dengan dirinya sendiri. atau terkesan setengah hati dan malahan menciptakan sebuah program kegiatan yang bertentangan dengan prinsip paradigmanya sendiri. Dengan kata lain. Perencanaan partisipatif yang menjadi inti dari desentralisasi terkesan hanya sekedar untuk mencukupi syarat keharusan saja. intervensi pemerintah masih sangat besar sehingga keterlibatan masyarakat hanya terbatas dalam pelaksanaan kegiatan. pembuatan keputusan pelaksanaan . Hal ini sejalan dengan penelitian Riyanto (2003). dimana keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan masih sangat kurang diakomodasi.106 konsep partisipasi tersebut secara benar. Kekakuan kelembagaan menyebabkan organisasi yang ada menjalankan kebiasaan yang ada dalam arti tidak mengalami perubahan. melaksanakan. Seperti yang terjadi di Kabupaten Pohuwato. Dalam era otonomi daerah program ini selanjutnya di delegasikan kepada pemerintah daerah untuk dilaksanakan untuk memacu perkembangan daerah perdesaan. Hal ini mengindikasikan bahwa proses musrembang belum benar benar efektif berjalan masih sebatas sebagai ritual belaka. Tinggi rendahnya partisipasi masyarakat tidak hanya diukur dari kemauan masyarakat untuk menanggung biaya pembagunan tetapi juga dengan ada tidaknya hak rakyat untuk menentukan arah dan tujuan program pembangunan serta kemauan masyarakat untuk secara mandiri melestarikan dan mengembangkan hasil program pembangunan. upaya pemerintah daerah untuk membuka diri ternyata tidak diikuti oleh sebuah pemberlakuan mekanisme yang baik. partisipasi masyarakat dalam program pembangunan mencakup partisipasi dalam perencanaan kegiatan. Sebagai bentuk kegiatan. Program agropolitan merupakan program yang bersifat top down karena program ini merupakan program dari pusat yang ditujukan untuk mengatasi masalah disparitas pembanguan perdesaan dan perkotaan. melestarikan dan mengembangkan hasil pembangunan yang telah tercapai.

107 kegiatan. pelaksanaan dan evaluasi. kegiatan serta pemanfaatan bahwa hasil pembangunan. Berdasarkan uraian dapat disimpulkan partisipasi masyarakat sangat berperan dalam keberhasilan dan keberlanjutan proyek pembangunan. . pemantauan dan evaluasi diatas. Karenanya seharusnya pemerintah sebagai perencana dan pembuat kebijakan dalam pembangunan melibatkan masyarakat dalam setiap kebijakan yang ada melalui keterlibatan mereka dalam proses perencanaan.

VIII. STRATEGI PENGEMBANGAN EKONOMI DI KAWASAN AGROPOLITAN
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya berdasarkan data-data kuantitatif yang ada diketahui bahwa sejak program agropolitan basis jagung yang dilaksanakan di Kabupaten Pohuwato telah memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap peningkatan pendapatan petani dan perekonomian wilayah. Hal ini terlihat di tingkat mikro terjadi peningkatan pendapatan petani jagung karena hadirnya berbagai fasilitas penunjang dalam kegiatan agribisnis dan di tingkat makro terjadi pergeseran struktur perekonomian dari sektor sektor primer ke sektor sekunder dan tersier. Namun permasalahan yang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah adalah belum maksimalnya keterlibatan masyarakat dalam setiap kegiatan pembangunan dan masih rendahnya daya saing wilayah yang ditunjukkan oleh masih rendahnya kinerja dari masing-masing sektor unggulan yang ada di Kabupaten Pohuwato dibandingkan dengan total wilayah yaitu Provinsi Gorontalo. Rendahnya daya saing wilayah dapat menyebabkan lambatnya perkembangan ekonomi lokal wilayah Kabupaten Pohuwato. Oleh karenanya untuk memperbaiki keadaan atau kondisi tersebut perlu diketahui faktor-faktor yang menjadi penyebabnya sehingga dapat dirumuskan strategi pengembangannya. 8.1. Analisis Kondisi dan Status Pengembangan Ekonomi Lokal di Kabupaten Pohuwato Untuk mengetahui apakah pengembangan agropolitan di Kabupaten Pohuwato dapat mendorong pengembangan ekonomi lokal, maka harus diketahui kondisi dan status pengembangan ekonomi lokal di Kabupaten Pohuwato. Dan untuk mengetahui status dan kondisi pengembangan ekonomi lokal di Kabupaten Pohuwato, dilakukan analisis terhadap enam komponen atau unsur yang disebut sebagai Heksagonal PEL yaitu : kelompok sasaran PEL, faktor lokasi, kesinergian dan fokus kebijakan, pembangunan berkelanjutan, tata pemerintahan dan proses manajemen. Keseluruhan komponen PEL dalam Heksagonal tersebut bertujuan untuk mengembangkan faktor-faktor ekonomi wilayah secara dari berkelanjutan. Dengan aspek dalam mengetahui pengungkit masing-masing

pengembangan ekonomi lokal maka dapat

diidentifikasi strategi untuk

109

mengembangkan ekonomi pada suatu kawasan pengembangan. Hal ini karena strategi pengembangan ekonomi disusun berdasarkan faktor pengungkit tersebut. Berdasarkan hasil analisis RALED secara keseluruhan status Pengembangan Ekonomi Lokal Kabupaten Pohuwato berada dalam kondisi baik. Hal ini berdasarkan hasil analisis bobot gabungan dimensi PEL yaitu sebesar 57,19 (lihat Tabel 39). Namun hasil dari masing-masing dimensi atau aspek PEL Kabupaten Pohuwato secara parsial berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Dimensi atau Aspek kelompok sasaran memiliki nilai indeks tertinggi yaitu sebesar 67,16 diikuti oleh aspek faktor lokasi dengan nilai indeks 59,50. Aspek kesinergian dan fokus kebijakan, pembangunan berkelanjutan, tata pemerintahan dan proses manajemen memiliki nilai indeks yang lebih rendah dibandingkan kedua aspek lainnya meskipun tidak dapat dikatakan sebagai indeks yang buruk karena sudah berada pada kisaran 50 tetapi memerlukan penanganan yang lebih teliti lagi, karena sangat rentan terhadap goncangan. Tabel 39 Status Pengembangan Ekonomi Lokal Kabupaten Pohuwato No Dimensi/Aspek PEL 1 2 3 4 5 6 Kelompok Sasaran Faktor Lokasi Kesinergian dan Fokus Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan Tata Pemerintahan Proses Manajemen JUMLAH
Sumber : Hasil olahan data primer, 2007

Nilai Indeks 67,16 59,50 53,49 51,91 51,09 50,99

Bobot Gabungan

Jumlah

0,252949095 16,98806124 0,190570254 11,33893014 0,158997939 8,50479974 0,072503375 3,763650181 0,202353005 10,33821502 0,122626332 6,252716677 57,18637299

Selanjutnya

berdasarkan

hasil dari

masing-masing

aspek

dalam

Pengembangan Ekonomi Lokal dengan menggunakan analisis RALED maka dibuat perbandingan masing-masing nilai aspek dalam bentuk Diagram Radar atau diagram laba-laba seperti berikut :

110

Status Pengem bangan Ekonom i Lokal Kabupaten Pohuw ato Kelompok Sasaran
100 80 60 40

67.16 Faktor Lokasi 59.5

Proses Manajemen 50.99

20 0

53.49 51.09 Tata Pemerintahan 51.91 Kesinergian dan Fokus Kebijakan

Pembangunan Berkelanjutan

Gambar 9

Diagram Laba-laba Status Pengembangan Ekonomi Lokal di Kabupaten Pohuwato

Untuk lebih spesifik melihat faktor pengungkit dari masing masing aspek atau dimensi pengembangan ekonomi lokal di Kabupaten Pohuwato, maka perlu dilihat faktor pengungkit dari masing-masing aspek tersebut.

8.1.1. Status dan Faktor Pengungkit Aspek Kelompok Sasaran Hasil analisa dengan menggunakan perangkat lunak RALED menunjukkan bahwa indeks dari aspek kelompok sasaran mencapai angka 67,16 atau berada diatas angka 50. Hal ini menunjukkan atau mengindikasikan bahwa kondisi aspek kelompok sasaran dalam pengembangan ekonomi lokal di Kabupaten Pohuwato menunjukkan status atau kondisi baik. Secara skematis status aspek kelompok sasaran ataupun ordinasi aspek kelompok sasaran disajkan pada Gambar 10. Dari indeks atau status tersebut, selanjutnya dapat ditentukan faktor pengungkit (leverage factor) dari aspek kelompok sasaran. Kegunaan faktor pengungkit adalah untuk mengetahui faktor sensitif ataupun intervensi yang dapat dilakukan dengan cara mencari faktor yang sensitif untuk dapat meningkatkan status kelompok sasaran menuju status yang lebih baik.

Leverage of Attributes Kecepatan pengurusan ijin bagi investasi baru Insentif pemda dalam bentuk pemberian dana stimulan.5 1 1.111 RALED Ordination 60 UP 40 O e D tin is in F a re th r is g h g e tu s 20 Real Fisheries 0 0 BAD 20 40 60 80 GOOD 100 120 References Anchors -20 -40 DOWN -60 Fisheries Sustainability Gambar 10 Status Aspek Kelompok Sasaran di Kabupaten Pohuwato Hasil analisis faktor atribut/atribut pengungkit (leverage factor) untuk aspek kelompok sasaran di Kabupaten Pohuwato ditunjukkan pada gambar 11.5 Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) Gambar 11 Faktor Pengungkit Aspek Kelompok Sasaran di Kabupaten Pohuwato . dan keringanan biaya Pendampingan dan monitoring bisnis pelaku usaha baru Fasilitasi Pelatihan Kewirausahaan bagi Pelaku Usaha Baru Upaya Pemda untuk Peningkatan Teknologi. Manajemen dan Kelembagaan Lokal Attribute Promosi Produk UKM dari Pemda Upaya Fasilitasi Permodalan dari Pemda Pusat Layanan Investasi Kampanye Peluang Berusaha Keamanan Kepastian Berusaha dan Hukum Informasi Prospek Bisnis Peraturan tentang Kemudahan Investasi 0 0.5 2 2.5 3 3.

Disamping itu salah satu faktor penghambat masuknya investasi juga disebabkan karena investasi merupakan kewenangan dari provinsi sehingga kabupaten/kota sangat tergantung pada provinsi.682. dukungan APBD untuk mengembangkan perekonomian Kabupaten Pohuwato sebagian besar masih ditujukan untuk pengembangan infrastruktur penunjang sedangkan untuk pengembangan pertanian sendiri masih relatif kurang yaitu hanya sebesar 2.596. Produk-produk hasil olahan pertanian seperti dodol jagung yang sedang dikembangkan oleh BPPT. Sampai pada tahun 2005 investasi di Kabupaten Pohuwato hanya sebesar Rp.98% pada tahun 2005.077. disebabkan karena masih minimnya promosi produk UKM agribisnis dan agroindustri oleh Pemerintah Daerah. keripik dan emping yang diproduksi oleh rumah tangga belum mendapat perhatian serius dari Pemerintah Daerah. Semestinya sebagai daerah .112 Gambar 11 menunjukan bahwa indikator yang menjadi faktor pengungkit utama untuk aspek kelompok sasaran di Kabupaten Pohuwato sesuai dengan urutan prioritasnya adalah sebagai berikut : 1) Pusat layanan investasi Pusat pelayanan investasi mempunyai peran penting dalam pengembangan ekonomi lokal karena dapat memberikan informasi bagi calon investor luar mengenai potensi investasi agribisnis dan agroindustri jagung di kawasan pengembangan. Belum maksimalnya kinerja dinas perindustrian. 457.76% pada tahun 2004 dan meningkat menjadi 5. 2) Promosi Produk UKM dari Pemda Faktor pengungkit kedua. Pusat pelayanan investasi dapat memberikan jasa layanan konsultasi investasi bagi investor dari luar wilayah yang belum mengetahui tantang peta potensi investasi di kawasan pengembangan. koperasi dan penamanan modal tercermin dari masih kurangnya investasi dari pihak swasta di Kabupaten Pohuwato. Munculnya faktor pengungkit utama pusat pelayanan investasi diduga disebabkan karena belum tersedianya informasi tentang peta kondisi potensi investasi terlebih khusus investasi agibisnis dan agroindustri jagung yang mendukung di Kabupaten Pohuwato serta belum berkembangnya jasa konsultasi investasi di wilayah tersebut.dan dari total investasi tersebut 73% Selanjutnya bersumber dari pemerintah dan hanya 27% dari pihak swasta.

seminar dan pada berbagai kesempatan akan membuat investor tertarik dan melakukan investasi memperbaiki status PEL kearah yang lebih baik. Kampanye peluang berusaha yang kontinyu dilakukan baik melalui media massa maupun melalui pameran. Status dan Faktor Pengungkit Aspek Faktor Lokasi Faktor lokasi merupakan salah satu syarat keharusan dalam ekonomi wilayah. Kondisi aspek faktor lokasi dalam sehingga dapat . Rendahnya intensitas sosialisasi peluang berusaha komoditas jagung menjadikan komoditi ini belum berkembang dalam diversifikasi produk. Padahal jagung merupakan salah satu produk strategis karena selain dapat diekspor jagung merupakan bahan mentah bagi produk-produk lainnya seperti tepung jagung. Prioritas pemerintah yang terfokus pada pembangunan fisik pelayanan publik menyebabkan aspek kampanye peluang berusaha belum maksimal dilakukan oleh perintah daerah.113 pengembangan yang baru berkembang.1. 3) Kampanye Peluang Berusaha. bubur jagung. Satu hal yang luput dicontoh dari Pemda Kabupaten Pohuwato yaitu pembelajaran dari apa yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi. 8. Salah satu penyebab dari minimnya atau kurangnya promosi UKM dari Pemda kemungkinan disebabkan karena saat ini konsentrasi pemerintah daerah masih terfokus pada pembangunan sarana-sarana fisik pelayanan publik berupa pembangunan pembangunan kantor-kantor pemerintah yang di pusatkan dalam satu kawasan pembangunan blok plan. Kedepannya agar PEL dapat berkembang baik maka pemerintah daerah perlu melakukan promosi UKM seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi terhadap promosi agropolitan. Faktor ini menggambarkan bagaimana daya tarik dari sebuah lokasi bagi penyelenggaraan suatu kegiatan usaha. Dalam arti pasar produk ini masih sebatas sebagai produk ekspor yang belum diolah. dimana promosi dan kampanye peluang berusaha yang gencar menyebabkan mata seluruh Indonesia bahkan dunia melirik ke pPovinsi Gorontalo. aspek promosi ini sangat diperlukan oleh dunia usaha untuk memperluas pasar sehingga UKM daerah dapat lebih berkembang. pakan ternak dan sebagainya.2. Selanjutnya faktor pengungkit ke tiga yaitu kampanye peluang berusaha dibidang agribisnis dan agroindustri jagung.

status aspek faktor lokasi di sajikan pada RALED Ordination 60 UP 40 Other Distingishing Features 20 Real Fisheries 0 0 -20 BAD 20 40 60 80 100 GOOD 120 References Anchors -40 DOWN -60 Fisheries Sustainability Gambar 12 Status Aspek Faktor Lokasi di Kabupaten Pohuwato Selanjutnya dari indeks atau status tersebut dapat ditentukan faktor pengungkit (leverage factor) dari aspek faktor lokasi.114 pengembangan ekonomi lokal di Kabupaten Pohuwato menunjukkan status atau kondisi baik. Gambar 13 menunjukkan hasil analisis faktor/atribut pengungkit untuk aspek faktor lokasi di Kabupaten Pohuwato. Dengan mengetahui faktor pengungkit maka akan dapat diketahui faktor sensitif ataupun intervensi yang dapat dilakukan oleh pembuat kebijakan untuk dapat memperbaiki atau meningkatkan status faktor lokasi menuju status yang lebih baik. . Secara skematis Gambar 12. Hal ini didasarkan pada hasil analisis untuk indeks atau status faktor lokasi dengan menggunakan analisis RALED yang mencapai 59.50 atau berada diatas angka 50.

115 Leverage of Attributes Fasilitas umum dan fasilitas sosial Kualitas Pelayanan Kesehatan Kualitas dari fasilitas pendidikan Kualitas Lingkungan Kualitas Pemukiman Pelayanan perijinan satu atap Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pemerintah dan Swasta bukan Perguruan Tinggi Lembaga penelitian perguruan tinggi Peluang kerjasama dalam industri sejenis maupun industri hulu-hilir Industri yang memiliki mata rantai lengkap dari hulu ke hilir untuk suatu komoditas Citra dari dari kota/kabupaten Citra dari lokasi (sentra usaha) Peran dan kebijakan pemerintah pusat kepada daerah Peran dan kebijakan pemerintah propinsi kepada daerah Iklim perekonomian lokal Jumlah penyaluran kredit Jumlah Lembaga keuangan lokal Tenaga Kerja Terdidik Tenaga Kerja Terampil Upah TK dibanding Daerah Sekitar Infrastruktur Energi Infrastruktur Komunikasi Sarana Transportasi Akses ke Pelabuhan Udara Akses ke Pelabuhan Laut Kondisi Jaringan Jalan Attribute 0 10 20 30 40 50 60 70 Root M ean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) Gambar 13 Faktor Pengungkit Aspek Faktor Lokasi di Kabupaten Pohuwato Berdasarkan hasil analisis RALED diketahui bahwa yang menjadi faktor pengungkit aspek faktor lokasi di Kabupaten Pohuwato sesuai dengan urutan prioritasnya adalah sebagai berikut : 1) Pelayanan Perijinan satu atap Belum berjalannya pelayanan perijinan satu atap di Kabupaten Pohuwato menyebabkan faktor ini menjadi faktor pengungkit utama. Rantai birokrasi yang .

tingkat kelayakan guru yang tidak layak mengajar untuk SD/MD 90. Disamping itu keadaan prasarana pendidikan di Kabupaten Pohuwato sampai dengan tahun 2005 dapat dilihat pada Tabel 40.67% .46% untuk SMP/MTS 55. kesejahteraan pendidik yang masih rendah. Rendahnya kualitas pendidikan terutama disebabkan karena : • • • • Ketersediaan pendidik yang belum memadai baik secara kualitas maupun kuantitas. Oleh karenanya kedepan diperlukan kemudahan dalam pengurusan perijinan. Pada tabel terlihat bahwa tingkat pendidikan anak usia dini terdiri dari 43 unit gedung dengan 73 kelas.13% berada dalan keadaan rusak ringan dan 2.09% layak dipakai dan 9.23% sedangkan 20. jumlah kelas yang layak dipakai hanya 71. biaya operasional pendidikan yang belum tersedia secara memadai. fasilitas belajar yang masih belum mencukupi secara memadai. Kualitas pendidikan di Kabupaten Pohuwato yang masih rendah dan belum mampu memenuhi kebutuhan kompetensi peserta didik menjadi salah satu faktor munculnya kualitas dari fasilitas pendidikan sebagai faktor pengungkit.116 terlalu panjang dan berbelit-belit dalam pengurusan perijinan dalam berinvetasi kemungkinan menyebabkan pengembangan ekonomi lokal belum dapat berkembang maksimal. Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan Kabupaten Pohuwato.77% rusak berat. dimana 88. Keadaan prasarana pendidikan dasar terdiri dari 103 unit gedung dengan jumlah kelas sebanyak 613. Untuk tingkat pendidikan lanjutan (setara SLTP) terdiri dari 27 unit gedung .70% dan untuk SMA/SMK/MA sebesar 16. 2) Kualitas dari Fasilitas Pendidikan Kualitas dari Fasilitas pendidikan sangat berpengaruh terhadap pengembangan ekonomi lokal.55% berada dalam kondisi rusak ringat dan 8. terutama terkait dengan investasi agribisnis jagung yaitu dengan memperpendek jalur birokrasi melalui pelayanan perijinan satu atap sehingga dapat menjadi pembuka jalan untuk masuknya investasi swasta di Kabupaten Pohuwato. ketersediaan fasilitas yang memadai dapat meningkatkan kualitas SDM dalam suatu wilayah.42% rusak berat. Lamanya pengurusan perijinan menyebabkan salah satu faktor penentu masuknya investasi di suatu kawasan.

TK Jlh PAUD SD MI Jlh Dikdas SMP MTs Jlh Dikdas 2 SMA SMK MA Jumlah Dikmen 43 43 99 4 103 17 10 27 73 73 594 19 613 110 36 146 52 52 530 10 540 100 24 124 71.63 88.47 88. 4. Data dari dinas .89 80.22 5. 8.42 2.00 21.47 2.55 8. dari jumlah tersebut 84.77 0. Berdasarkan Uraian data tersebut nampak bahwa kebijakan pendidikan kedepan harus memprioritaskan peningkatan kualitas gedung pendidikan dan kualitas pengajar guna menunjang proses belajar mengajar.58 6 6 14 3 17 0 8 8 8.47% rusak berat. 2005.23 71.117 dengan 146 ruang kelas.42 8. 5. 3 ) Fasilitas Umum dan Sosial Sebagai kabupaten yang baru yang masih berbenah diri masih banyak fasilitas umum dan sosial yang belum tersedia secara memadai sehingga hal ini kemungkinan menjadi penyebab munculnya faktor fasilitas umum dan sosial sebagai faktor pengungkit. Ketersediaan fasilitas jembatan untuk menunjang kelancaran transportasi dalam menunjang proses pemasaran komoditas unggulan jagung masih belum mencukupi di Kabupaten Pohuwato.75 12 2 3 17 25.55 20.58 9.23 89.53 11. Sedangkan untuk pendidikan menengah (setara SMA) jumlah gedung 11 unit dengan 80 ruang kelas dimana 78.91 66.00 78.11 9.25% berada dalam kondisi rusak ringan.36 15.79 2.13 9.58% rusak ringan dan 5. 5 2 4 11 47 18 15 80 35 16 12 63 74.11 20.85% berada dalam kondisi layak pakai dan 21.09 11.67 84.93% berada dalam keadaan layak pakai 9.23 52. Tabel 40 Keadaan Prasarana Pendidikan Kabupaten Pohuwato Tahun 2005 No Jenis Pendidikan Jumlah Gedung Jumlah Ruang Kelas Kondisi Ruang Belajar Layak Pakai % Rusak Ringan % Rusak Berat % 1.00 22.42 31.93 15 15 50 6 56 10 4 14 20. 6. 7. 3.09 90.25 0 0 0 0 0 0 0 0 Sumber : Diknas Pohuwato.

jalan usaha tani.3.118 kimpraswil menyebutkan bahwa baru sekitar 50% ketersediaan jembatan yang ada dari kebutuhan yang seharusnya selama 5 tahun yang akan datang. Ini menunjukan bahwa status aspek kesinergian dan kokus kebijakan di Kabupaten Pohuwato berada dalam kondisi marginal atau pas-pasan. Secara skematis hasil analisis Raled untuk aspek Kesinergian dan Fokus Kebijakan dapat dilihat pada Gambar 14 berikut : .1. serta jalan provinsi yang tersedia dalam kualitas baik sehingga usaha agribisnis jagung dapat terlaksana dengan baik dan semakin menarik investor untuk berinvestasi di Kabupaten Pohuwato 8.Status dan Faktor Pengungkit Aspek Kesinergian dan Fokus Kebijakan Berdasarkan hasil analisis RALED untuk aspek kesinergian dan fokus kebijakan PEL di Kabupaten Pohuwato diperoleh indeks mencapai 53. Hal ini disebabkan karena meskipun sudah berada diantara range 50-75 yang dikategorikan baik.49. tapi indeks ini hanya sedikit berada dibatas bawah range sehingga sangat rentan dan memerlukan perhatian yang lebih. Tabel 41 Kebutuhan dan Ketersediaan Jembatan Per Kecamatan Kabupaten Pohuwato No 1 2 3 4 5 6 7 Kecamatan Marisa Paguat Patilanggio Randangan Taluditi Lemito Popayato Total Sumber : Dinas kimpraswil Kabupaten Pohuwato Kebutuhan (5 Thn) 15 bh 14 bh 9 bh 11 bh 15 bh 14 bh 17 bh 95 bh Ketersediaan 8 bh 8 bh 8 bh 6 bh 9 bh 8 bh 4 bh 52 bh Untuk menunjang kelancaran pemasaran produk ungggulan jagung diperlukan ketersediaan jembatan.

Dengan adanya agropolitan yang berbasis jagung diharapkan aktivitas masyarakat . Hasil analisis faktor/atribut pengungkit (leverage attributes) untuk aspek kesinergian dan fokus kebijakan di Kabupaten Pohuwato ditunjukkan dalam Gambar 16. selanjutnya dengan analisis RALED dapat diketahui atau ditentukan faktor faktor apa sajakah yang merupakan faktor pengungkit atau faktor yang sensitif yang dapat diintervensi sehingga dapat memperbaiki atau meningkatkan status aspek kesinergian dan fokus kebijakan mejadi lebih baik lagi. Hal ini disebakan karena kota pertanian dikawasan agropolitan dapat menjadi pusat pertumbuhan baru yang dapat menarik dan menghela desa-desa disekitarnya sebagai daerah hinterland.119 RALED Ordination 60 UP 40 Other Distingishing Features 20 Real Fisheries 0 0 BAD 20 40 60 80 100 GOOD 120 References Anchors -20 -40 DOWN -60 Fisheries Sustainability Gambar 14 Status Aspek Kesinergian dan Fokus Kebijakan di Kabupaten Pohuwato Dari indeks atau status tersebut. Berdasarkan hasil analisis. sesuai dengan urutan prioritasnya yang menjadi faktor pengungkit utama untuk aspek kesinergian dan fokus kebijakan PEL di Kabupaten Pohuwato adalah : 1) Kebijakan Pengembangan pusat pertumbuhan di perdesaan (agropolitan) dan perkotaan CBD Pengembangan pusat pertumbuhan di perdesaan (agropolitan) diharapkan dapat mengembangkan ekonomi lokal suatu kawasan.

perdagangan. Investasi UKM dan IKM di kabupaten masih sangat terbatas padahal masih banyak potensi daerah yang dapat dimanfaatkan dan digali. Berdasarkan survey lapangan di Kawasan Agropolitan Randangan. Akan tetapi belum berkembangnya industri pengolahan yang berbasis jagung menyebabkan UKM dan IKM di kawasan agropolitan belum berkembang sehingga kemungkinan membuat faktor ini menjadi faktor pengungkit pertama. Bone Bolango dan Kota Gorontalo. 2007 2) Kebijakan kerjasama antar daerah /pemda Selanjutnya untuk lebih menigkatkan ekonomi lokal suatu wilayah diperlukan kerjasama antar wilayah sehingga dapat memobilisasi potensi daerah untuk dikembangkan. Pada hakekatnya kerjasama antar wilayah sudah menjadi kebijakan di Kabupaten Pohuwato akan tetapi dalam . Menengah dan Tenaga Kerja Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Gorontalo Tahun 2005 8000 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 Boalemo Gorontalo P ohuw ato Bone Bolango Kota Gorontalo Jumlah Perusahaan Tenaga kerja Sumber : Gorontalo dalam angka.120 di bidang non pertanian juga dapat lebih berkembang seperti UKM dan Industri kecil sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi lokal di wilayah tersebut. aktivitas di bidang pertanian masih sangat dominan dalam kehidupan masyarakatnya. jumlah perusahaan IKM masih dibawah Kabupaten Gorontalo. perhubungan dan bidang lainnya sangat diperlukan agar alokasi sumberdaya dapat lebih efisien dan efektif. Masih terbatasnya jumlah perusahaan yang berinvestasi menyebabkan serapan TK di sektor non pertanian pun menjadi rendah. Jika dibandingkan dengan kabupaten lain di Provinsi Gorontalo. sehingga tidak dapat mendorong pertumbuhan wilayah . Gambar 15 Jumlah Perusahaan Industri Kecil. Kerjasama antar daerah baik di bidang pertanian.

Untuk pengembangan wilayah secara keseluruhan terlihat dengan adanya rencana pemerintah untuk membangun pelabuhan laut di Kabupaten Pohuwato dalam RPJM 2005-2010. dalam arti Pemda Kabupaten Pohuwato dapat menjalin kerjasama dengan Kabupaten Boalemo dengan membagi share yang adil atas penggunaan pelabuhan maka dapat terjalin suatu hubungan dan kerjasama yang baik antar daerah sehingga dapat membentuk suatu keterkaitan yang saling menguntungkan. Dengan memberikan perhatian dan memperbaiki kedua faktor diatas maka diharapkan dapat membuat pengembangan ekonomi lokal Kabupaten Pohuwato ke arah yang lebih baik. Jika hal ini dapat dimanfaatkan dengan baik. Model kerjasama yang seperti ini masih belum berjalan sehingga masing-masing wilayah ingin membangun outlet sendiri-sendiri yang memerlukan dana yang tidak sedikit sehingga anggaran pemerintah masih belum teralokasi untuk kepentingan publik yang lebih luas dan mendasar. Akan tetapi kerjasama seperti ini belum terjadi pada tataran kabupaten. Sedangkan kerjasama dalam pengembangan agribisnis jagung masih dalam tataran provinsi dimana terjalinya kerjasama antar provinsi dalam hal ini Provinsi Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah. baik untuk memenuhi skala produksi maupun skala ekonomi. Padahal di Kabupaten tetangga Boalemo terdapat pelabuhan laut yang dapat digunakan untuk aktivitas perdagangan dan bongkar muat. dimana Provinsi Gorontalo menyediakan bibit komposit hasil penangkaran dan hasil produksi dari provinsi-provinsi tersebut di jual ke Provinsi Gorontalo. .121 prakteknya egoisme daerah masih terlihat dan menguasai dalam keseharian pemerintahan. Kerjasama tersebut dalam hal pemasaran dan penyediaan bibit.

Hal ini ini berdasarkan pada hasil analisis untuk indeks atau status aspek pembangunan berkelanjutan dengan menggunakan analisis RALED yang mencapai 51.8 1 1.6 0.4 1.8 Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) Gambar 16 Faktor Pengungkit Aspek Kesinergian dan Fokus Kebijakan di Kabupaten Pohuwato 8.2 0.1.2 1.6 1.4. perbaikan kampung Kebijakan pengembangan pusat pertumbuhan di perdesaan (agropolitan) dan perkotaan Kebijakan pembangunan kawasan industri hinterland/ industri Kebijakan pengurangan kemiskinan secara partisipatif Kebijakan pemberdayaan masyarakat berbasis kemitraan dengan dunia usaha Kebijakan Pengembangan keahlian Kebijakan informasi bursa tenaga kerja Kebijakan pengembangan jaringan usaha antar pelaku ekonomi Kebijakan peningkatan peran Perusahaan Daerah Kebijakan pemberdayaan UKM Kebijakan persaingan usaha Kebijakan promosi daerah Kebijakan peningkatan investasi Attribute 0 0. Secara skematis status aspek pembanguna berkelanjutan di sajikan pada Gambar 17 berikut : . Status dan Faktor Pengungkit Aspek Pembangunan Berkelanjutan Kondisi aspek pembangunan berkelanjutan dalam Pengembangan Ekonomi Lokal Kabupaten Pohuwato menunjukkan status atau kondisi marjinal.91 atau berada sedikit di atas angka 50.122 Leverage of Attributes Kebijakan pengembangan jaringan usaha antar sentra usaha Kebijakan tata ruang PEL Kebijakan kerjasama antar daerah/pemda Kebijakan pengembangan komunitas sep:perbaikan lingkungan.4 0.

Faktor pengungkit ini dapat menjadi bahan masukan bagi pemerintah sebagai pembuat kebijakan untuk melakukan intervensi yang dianggap perlu dan penting dalam rangka peningkatan pengembangan ekonomi lokal di daerah tersebut. .123 RALED Ordination 60 UP 40 Other Distingishing Features 20 Real Fisheries 0 0 BAD 20 40 60 80 GOOD 100 120 References Anchors -20 -40 DOWN -60 Fisheries Sustainability Gambar 17 Status Aspek Pembangunan Berkelanjutan di Kabupaten Pohuwato Berdasarkan hasil analisis faktor pengungkit diperoleh beberapa faktor utama yang merupakan faktor sensitif dari aspek pembangunan berkelanjutan. Gambar 18 menunjukkan faktor pengungkit untuk aspek pembangunan berkelanjutan.

diperoleh beberapa faktor pengungkit utama untuk aspek pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Pohuwato sesuai dengan prioritasnya yaitu sebagai berikut : 1) Jumlah Perusahaan yang melakukan inovasi pengembangan produk dan pasar. Potensi di sektor .124 Leverage of Attributes Kebijakan konservasi sumber daya alam dalam PEL Pengelolaan dan pendaur ulangan limbah Kebijakan pemecahan permasalahan lingkungan PEL mempertimbangkan Keberadaan adat dan kelembagaan lokal Attribute Kontribusi PEL terhadap peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat lokal Jumlah perusahaan yang melakukan Inovasi pengembangan produk dan pasar Jumlah perusahaan yang telah memiliki Business plan Pengembangan industri pendukung untuk keberlanjutan sistem industri Sistem industri yang berkelanjutan 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) Gambar 18 Faktor Pengungkit Aspek Pembangunan Berkelanjutan di Kabupaten Pohuwato Berdasarkan analisis RALED. dimana proses ini pun terjadi di tingkat petani. Belum adanya perusahaan yang melakukan inovasi pengembangan produk dan pasar menyebabkan faktor ini menjadi faktor pengungkit utama dalam aspek ini. Kebanyakan perusahaaan yang berinvestasi masuk pada sektor perikanan karena daerah ini juga memiliki potensi yang besar di sektor ini. 785 industri kerajinan rumah tangga. Pengolahan komoditas jagung masih sebatas pada proses perubahan dari jagung tongkol menjadi jagung pipilan. Pada tahun 2006 Pohuwato terdapat 617 industri hasil pertanian dan kehutanan. Di Kabupaten Pohuwato jumlah perusahaan yang berinvestasi pada pengolahan komoditas jagung masih belum ada. 31 industri logam mesin dan kimia serta 5 aneka industri.

Proses pengolahan jagung belum menyentuh pada proses perubahan bentuk Jika dilihat dari potensi yang ada sektor ini sangat potensial untuk dikembangkan sebagai suatu industri yang terintegrasi. Hal ini terbukti dengan belum berkembangnya baik industri skala kecil. Sehingga menjadi tugas pemerintah daerah untuk mempromosikan dan menjual potensi yang ada agar dilirik oleh investor. Tahun 2004 pendapatan per kapita masyarakat adalah sebesar Rp. Proses pengolahan jagung selanjutnya masih sebatas pada perbaikan kualitas/ mutu biji jagung yang dilakukan oleh pedagang pengumpul baik dengan cara alami melalui penjemuran dengan sinar matahari maupun melalui teknologi dengan menggunakan mesin pengering.217.570. 2) Kontribusi PEL terhadap peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat lokal Pengembangan ekonomi lokal melalui pengembangan komoditas pertanian di Kabupaten Pohuwato secara mikro sudah mampu meningkatkan pendapatan masyarakat petani namun secara absolut masih belum menghasilkan pendapatan yang memadai untuk hidup layak.125 pertanian lainnya terlebih sub sektor tanaman pangan dan perkebunan masih belum mendapat perhatian dari investor. Hal ini berarti bahwa banyak masyarakat Kabupaten Pohuwato prasejahtera yang hanya memiliki pendapatan kurang lebih $ 1 per hari. meskipun dari tahun ke tahun mulai ada peningkatan. menegah maupun besar untuk berinvestasi dalam sektor pertanian basis jagung. Kebanyakan hasil produksi pertanian masyarakat dalam hal ini komoditi jagung masih di pasarkan dalam bentuk biji jagung (jagung pipilan) sebagai bahan mentah produksi.901 meningkat menjadi Rp.205 pada tahun 2006. . 3. Potensi sumber daya alam Pohuwato cukup banyak namun secara ekonomi belum dapat memberikan dampak bagi kesejahteraan masyarakat karena pemanfaatannya belum optimal. 3. Hal ini di lihat dari tingkat pendapat masyarakat yang masih rendah.

pengembangan agribisnis basis jagung di kabupaten pohuwato sedikit banyak sudah mampu meningkatkan pendapatan masyarakat meskipun belum maksimal. Po hu K w ab at . Terkait dengan tingkat pendapatan masyarakat Pohuwato.126 Pendapatan per kapita 3600000 3400000 3200000 3000000 2004 2005 2006 Pendapatan per kapita Gambar 19 Perkembangan pendapatan per kapita penduduk Kabupaten Pohuwato Salah satu indikator kesejahteraan adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Gambar 20 Indeks Pembangunan Manusia Tingkat Kabupaten di Provinsi Gorontalo IPM 72 71 70 69 68 67 66 65 64 63 em o Ka b.B oa l . Berdasarkan hasil dari kajian Bappenas (2008).G or on ta lo G or on ta lo K ab .G or nt al o IPM Sumber : Human Development Index Provinsi Gorontalo.4. IPM Kabupaten Pohuwato masih berada di bawah IPM Provinsi Gorontalo yaitu hanya sebesar 67.B o on e Bo la ng o Pr ov . Bappenas 2008 K ot a K ab .4 meskipun berada diatas kabupaten Boalemo dengan nilai indeks 66.

Kondisi aspek Tata Perintahan dalam Pengembangan Ekonomi Lokal di Kabupaten Pohuwato menunjukkan status atau kondisi marjinal (pas-pasan).127 3) Jumlah perusahaan yang memiliki Bussiness Plan Pada dasarnya perusahaan yang memiliki bussiness plan adalah perusahaan-perusahaan kelas menengah dan besar yang berinvestasi pada sektor pertanian secara umum dalam hal ini sektor perikanan. Sedangkan untuk industri jagung sendiri belum ada perusahaan yang berkecimpung didalamnya.09. Status dan Faktor Pengungkit Aspek Tata Pemerintahan. Hal ini perlu dilakukan untuk menunjang sektor pertanian. industri pengolahan jagung yang berkembang di pohuwato masih sebatas pada perubahan jagung tongkol menjadi jagung pipilan dan perbaikan kualitas biji jagung. Hal ini didasarkan pada hasil analisis untuk indeks atau status Tata Pemerintahan dengan menggunakan analisis RALED ysng mencapai 51. Investasi-investasi swasta perlu dirangsang melalui kemudahan dalam berinvestasi serta berbagai instrumen lain seperti kebijakan fiskal dan sebagainya. Secara skematis status aspek Tata Pemerintahan di sajikan pada Gambar 21 berikut ini : .1. Hal ini perlu mendapat perhatian dari pemerintah. Karena belum berkembangnya industri pengolahan basis jagung di Pohuwato menyebabkan perusahaan yang memiliki bussiness plan pun belum ada.5. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. 8. karena pertanian yang tangguh perlu didukung oleh industri pengolahan berbasis pertanian. dimana perlu dirangsang kreativitas masyarakat untuk menghasilkan produkproduk olahan berdasarkan basis pertanian masyarakat setempat.

Dengan mengetahui faktor pengungkit maka akan dapat diketahui faktor sensitif ataupun intervensi yang dapat dilakukan oleh pembuat kebijakan untuk dapat memperbaiki atau mningkatkan status aspek Tata Pemerintahan menuju status yang lebih baik. Adapun faktor pengungkit utama aspek Tata Pemerintahan berdasarkan hasil analisis adalah sebagai berikut : (1) Manfaat asosiasi/organisasi bagi anggotanya Hasil penelitian dilapang menemukan bahwa keadaan asosiasi dan organisasi industri yang dibentuk hanya untuk mencukupi syarat perlu saja. Gambar 22 berikut menunjukkan hasil analisis faktor/atribut pengungkit untuk aspek Tata Pemerintahan di Kabupaten Pohuwato.128 RALED Ordination 60 UP Other Distingishing Features 40 20 Real Fisheries 0 0 -20 BAD 20 40 60 80 GOOD 100 120 References Anchors -40 DOWN -60 Fisheries Sustainability Gambar 21 Status Aspek Tata Pemerintahan di Kabupaten Pohuwato Selanjutnya dari indeks atau status tersebut sapat ditentukan faktor pengungkit (leverage factor) dari aspek Tata Pemerintahan. Keberadaan kelembagaan kelompok tani yang ada di kawasan agropolitan secara kuantitas memang mengalami kemajuan karena semakin meningkat tapi secara kualitas keberadaannya masih belum banyak memberikan manfaat untuk memberdayakan masyarakat tani. Hal ini disebabkan karena fungsi dan tujuan dari kelembagaan ini masih sebatas pada informasi untuk pengelolaan usaha tani belum menyentuh aspek pengolahan hasil dan pemasaran. Petani belum mampu .

Masih lemahnya prosedur pelayanan administrasi publik merupakan masalah dan kendala dalam pengembangan ekonomi di Kabupaten Pohuwato. (3) Prosedur pelayanan administrasi publik. (2) Peran asosiasi industri/komoditi/forum bisnis terhadap perbaikan kebijakan pemerintah di bidang PEL. Hal ini juga yang menjadi penyebab peran asosiasi/forum bisnis terhadap perbaikan kebijakan pemerintah di bidang PEL belum banyak. Karena kebanyakan para pengurus hanya berperan sebagai rent seeker untuk kepentingan sendiri. Pengurusan administrasi yang panjang dan berbelit menjadi penghalang masuknya investasi dan respek masyarakat terhadap pelayanan pemerintah. yaitu memudahkan kontrol dalam pemberian bantuan dan evaluasi. . Diharapkan dengan adanya intervensi atau perlakuan terhadap ke tiga faktor tersebut. Kelembagaan KUD yang sudah ada di desa pun masih belum banyak memberikan manfaat bagi anggotanya karena masih bersifat top down. Hal ini menyebabkan organisasi tidak bertahan lama dan hanya muncul disaat ada kegiatan saja. Fenomena ini sudah sangat umum terjadi di Indonesia. dimana pembentukan suatu organisasi atau asosiasi hanya untuk melengkapi presyaratan semata saja bukan merupakan suatu kebutuhan untuk mencapai tujuan. disamping keterbatasan SDM dalam manajemen dan SDM Petani yang masih rendah. Kelembagaan kelompok tani ini justru terlihat lebih banyak bermanfaat bagi pihak pemerintah.129 memanfaatkan kelembagaan ini sabagai wadah untuk memberdayakan diri misalnya kelompok tani yang ada membentuk suatu asosiasi petani jagung yang akan bermanfaat dalam menegosiasikan harga komoditi tersebut dengan pihak pembeli. Hal ini menyebabkan manfaat dari asosiasi dan lembaga tersebut tidak dapat dirasakan oleh anggota-anggotanya. Keadaan ini menyebabkan manfaat asosiasi tidak banyak dirasakan oleh para anggotanya. sehingga masyarakat sudah dapat lebih merasakan manfaat dari asosiasi tempat mereka bernaung dan perbaikan terhadap pelayanan publik maka diharapkan dapat meningkatkan status aspek tata pemerintahan ke tingkat yang lebih baik.

6 0.7 Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) Gambar 22 Faktor Pengungkit Aspek Tata Pemerintahan di Kabupaten Pohuwato 8.4 0.1 0. Secara .99 dimana merupakan batas range kategori aman.1.3 0. Data hasil analisis RALED di Kabupaten Pohuwato untuk aspek Proses Manajeman menunjukkan indeks yang mencapai 50.5 0. Status dan Faktor Pengungkit Aspek Proses Manajemen. skematis status aspek Proses Manajemen terlihat dapam Gambar 23. Kondisi aspek proses Manajemen dalam Pengembangan Ekonomi Lokal di Kabupaten Pohuwato menunjukkan status atau kondisi baik.130 Leverage of Attributes Manfaat asosiasi/organisasi bagi anggotanya Peran Asosiasi industri/komoditi/ Forum bisnis terhadap perbaikan kebijakan pemerintah di Status Asosiasi industri/ komoditi/ Forum Bisnis Prosedur pelayanan administrasi publik Attribute Restrukturisasi organisasi pemerintah Reformasi sistem insentif pengembangan SDM aparatur Kemitraan di bidang pembiayaan usaha Kemitraan di bidang promosi dan perdagangan Kemitraan di bidang infrastruktur 0 0.6.2 0. sehingga dapat dikategorikan dalam posisi marginal atau pas-pasan.

Hasil analisis faktor /atribut pengungkit (leverage attributes) untuk aspek Proses Manajemen di Kabupaten Pohuwato ditunjukkan dalam Gambar 24 berikut. . selanjutnya dengan analisis RALED dapat diketahui atau ditentukan faktor faktor apa sajakah yang merupakan faktor pengungkit atau faktor yang sensitif yang dapat diintervensi sehingga dapat memperbaiki atau meningkatkan status aspek Kesinergian dan Fokus Kebijakan menjadi lebih baik lagi.131 RALED Ordination 60 UP 40 Other Distingishing Features 20 Real Fisheries 0 0 BAD 20 40 60 80 GOOD 100 120 References Anchors -20 -40 DOWN -60 Fisheries Sustainability Gambar 23 Status Aspek Proses Manajemen di Kabupaten Pohuwato Dari indeks atau status tersebut.

Keterlibatan dari para pengusaha sebagai pelaku dan stakeholder utama serta dunia perbankan dan masyarakat petani sangat menentukan keberhasilan berkembangnya ekonomi lokal di satu wilayah.5 Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) Gambar 24 Faktor Pengungkit Aspek Proses Manajemen di Kabupaten Pohuwato Berdasarkan hasil analisis. Disamping itu jajaran pemerintah sebagai pembuat kebijakan juga sangat menentukan dalam kelangsungan dan keberlanjutan ekonomi lokal. sesuai dengan urutan prioritasnya yang menjadi faktor pengungkit utama untuk aspek Proses Manajemen PEL di Kabupaten Pohuwato adalah : 1) Jumlah stakeholder yang terlibat dalam proses perencanaan PEL. Belum maksimalnya partisipasi dari seluruh stakeholder dalam perencanaan pengembangan ekonomi lokal menjadi penyebab . Keterlibatan seluruh stakeholder yang terkait dalam perencanaan pengembangan ekonomi lokal sangat penting untuk keberhasilan program.5 2 2.132 Leverage of Attributes Penggunaan hasil evaluasi dalam perbaikan perencanaan Frekuensi dilakukan diskusi bagi proses pemecahan permasalahan Frekuensi dilakukan evaluasi mandiri (self evaluation) Keterlibatan stakeholder dalam proses monitoring dan evaluasi Keterlibatan Stakholder dalam proses penyusunan indikator evaluasi Attribute Kesesuaian implementasi dengan perencanaan Sinkronisasi lintas sektoral dan spasial dalam perencanaan PEL Jumlah stakeholder yang terlibat dalam proses perencanaan PEL Penggunaan hasil diagnosis sebagai dasar perencanaan PEL Identifikasi stakeholder PEL Kepastian Berusaha dan Hukum Penilaian terhadap daya saing wilayah Analisis dan pemetaan potensi ekonomi 0 0.5 1 1.

faktor lokasi. Diharapkan pemerintah sebagai pengambil keputusan dan pembuat kebijakan dapat melihat ini sebagai faktor penting yang dapat mendorong perkembangan ekonomi lokal wilayah. tangguh dan sejahtera yang dilandasi oleh iman dan taqwa”. kesinergian dan fokus kebijakan. Meningkatkan produktifitas dan daya saing ekonomi daerah 3. Kurangnya keterlibatan dunia usaha dan perbankan merupakan salah datu faktor penghambat berkembangnya ekonomi lokal suatu kawasan.133 faktor ini sebagai pemicu utama. kebijakan mana saja yang belum dilaksanakan dan mana yang harus dioptimalkan. Mewujudkan pemerintahan yang baik . sehingga dalam setiap perencanaan kebijakan pihak dunia usaha mulai dari pelaku UKM. Namun untuk lebih meningkatkan kondisi pengembangan ekonomi kearah yang lebih baik lagi diperlukan rencana pengelolaan guna menciptakan kegiatan pembangunan yang dapat mengembangkan perekonomian kawasan secara berkelanjutan sebagaimana yang tertuang dalam Visi dan misi Pemerintah Kabupaten Pohuwato. pembangunan berkelanjutan. Adapun visi Pemerintah Kabupaten Pohuwato adalah ”Terwujudnya masyarakat Pohuwato yang produktif. Sedangkan misi Pemerintah Kabupaten Pohuwato adalah : 1. Strategi Pengembangan Ekonomi Lokal di Kawasan Agropolitan Berdasarkan hasil analisis kondisi dan status pengembangan ekonomi lokal di kabupaten Pohuwato berdasarkan aspek kelompok sasaran. tata pemerintahan dan proses manajemen diketahui bahwa status pengembangan ekonomi lokal secara keseluruhan berada dalam kondisi baik. Hasil-hasil analisis selanjutnya dibandingkan dengan keadaan eksisting yang ada sehingga dapat dilihat apa yang menjadi kebutuhan daerah. 8. 2.2. IKM sampai usaha skala besar dan perbankan sebagai pelaku dari dan penerima efek dari setiap kebijakan yang ada dilibatkan sehingga dapat berkontribusi dalam pembangunan kawasan. Meningkatkan kualitas pendidikan dan pengamalan ajaran agama dan budaya dalam segala aspek kehidupan. Hal ini dapat dilihat dimana berdasarkan kajian partisipasi terlihat bahwa partisipasi masyarakat masih dalam taraf konsultasi.

Meningkatkan peran masyarakat sebagai mitra dan pelaku utama pembangunan daerah. perlu disusun rencana pengembangan ekonomi lokal berdasarkan faktor-faktor pengungkit yang berpengaruh dalam keberlanjutan sumberdaya yang dikaitkan dengan rencana strategis dari pemerintah Kabupaten Pohuwato. • Peran asosiasi industri/komoditi terhadap perbaikan kebijakan pemerintah dibidang Pel • Prosedur pelayanan administrasi publik 6 Proses Manajemen • Jumlah stakeholder yang terlibat dalam proses perencanaan Pel • Analisis dan pemetaan potensi ekonomi . Salah satu misi diatas adalah untuk meningkatkan produktifitas dan daya saing ekonomi daerah. Untuk mencapai misi tersebut maka perlu ditingkatkan pengembangan ekonomi lokal di kawasan terbebut. Secara lebih lengkap. faktor-faktor pengungkit yang berpengaruh terhadap pengembangan ekonomi lokal di Kabupaten Pohuwato ditunjukan pada Tabel 42.134 4. Untuk mengembangkan ekonomi lokal. Tabel 42 Faktor-faktor Pengungkit yang Berpengaruh terhadap Pengembangan Ekonomi Lokal di Kabupaten Pohuwato No 1 Dimensi/Aspek Pel Kelompok Sasaran Faktor Pengungkit • Pusat layanan investasi • Promosi produk UKM dari pemda • Kampanye peluang berusaha 2 Faktor Lokasi • Pelayanan perijinan satu atap • Kualitas dari fasilitas pendidikan • Fasilitas umum dan sosial 3 Kesinergian dan Fokus Kebijakan • Kebijakan pengembangan pusat pertumbuhan di perdesaan (agropolitan) • Kebijakan kerjasama antar daerah/pemda 4 Pembangunan Berkelanjutan • Jumlah perusahaan yang melakukan inovasi pengembangan produk dan pasar • Kontribusi Pel terhadap peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat lokal • Jumlah perusahaan yang memiliki business plan 5 Tata Pemerintahan • Manfaat asisiasi /organisasi bagi anggotanya.

Promosi produk UKM dari pemda Berbagai produk UKM yang berkembang dimasyarakat perlu disosialisasikan sehingga mendapat perhatian dari masyarakat dan pemerintah.1.2. Dan salah satunya adalah belum tersedianya pusat layanan investasi didaerah ini.1. Faktor Pengungkit Aspek Kelompok Sasaran 8.1994). Belum adanya data base tentang potensi daerah dan potensi investasi terlebih khusus investasi agribisnis dan agroindustri jagung daerah yang dapat diakses oleh investor menyebabkan suatu daerah sulit atau mengalami perkembangan yang lambat atau stagnan karena kurangnya investasi dari pihak swasta. 8.135 8. Oleh karenanya banyak aspek pelayanan publik yang belum ada dan berjalan dengan baik . Sehingga pendekatan yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah ini adalah membentuk suatu pusat layanan investasi dimana didalamnya dapat diakses berbagai informasi potensi daerah dalam hal ini potensi agribisnis dan agroindustri jagung di kabupaten pohuwato. Keterbatasan modal dari pengusaha UKM menyebabkan sosialisasi atau promosi ini kurang diperhatikan.2. Pengadaan Pusat layanan investasi Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Atau dapat pula mencontoh dengan negara India yang mendirikan lembaga Pusat Investasi India di negara maju guna menarik modal asing swasta (Jhingan.2. Produk biji jagung dan hasil olahan jagung yang merupakan produk andalan daerah ini seperti dodol jagung yang merupakan industri kecil rumah tangga perlu disosialisasikan sehingga dapat menjadi produk andalan wilayah yang dapat memberikan nilai tambah pada pendapatan masyarakat kawasan. Oleh karenanya perlu adanya promosi dari pemerintah daerah tentang berbagai produk UKM termasuk didalamnya produk olahan jagung sehingga dapat menjadi daya tarik bagi ekonomi kawasan ekonomi wilayah.2. Informasi ini sebaiknya dapat diakses dengan mudah oleh para investor melalui internet sehingga dapat diakses oleh investor dari berbagai negara. dan mendorong .1. informasi potensi investasi yang sedang dan akan berkembang dan adanya insentif serta kemudahan investasi dari pemerintah bagi investor yang akan berinvestasi dalam agribisnis dan agroindustri jagung. sebagai daerah pemekaran baru Kabupeten Pohuwato masih berbenah diri.1.

Pelayanan perijinan satu atap Proses pelayanan publik yang berbelit dengan birokrasi yang rumit menjadi faktor penghalang dalam masuknya investasi disuatu daerah.2.2. Kualitas dari fasilitas pendidikan Rendahnya kualitas pendidikan di kabupaten Pohuwato terutama disebabkan kaena : (1) Ketersediaan pendidik yang belum memadai baik secara kualitas maupun kuantitas. Kampanye peluang berusaha Selanjutnya untuk lebih mengembangkan perekonomian kawasan. tingkat kelayakan guru yang tidak layak mengajar untuk SD/MD 90. Dengan demikian akan membuat makin banyak masyarakat lokal dan investor luar daerah untuk tertarik dan berinvestasi di Kabupaten Pohuwato.1. perlu disosialisasikan atau diinformasikan berbagai peluang usaha dari berbagai skala usaha yaitu usaha skala kecil.2.70% dan untuk SMA/SMK/MA sebesar 16. menengah dan besar. baik dari sektor hulu sampai ke sektor hilir. 8.136 8. 8. disamping itu perlu adanya ransangan insentif bagi investor yang berinvestasi dalam agribisnis dan agroindustri jagung. (3) fasilitas belajar yang masih belum mencukupi secara memadai. Belum adanya investor yang berinvestasi dalam sektor agribisnis dan agroindustri jagung menjadi tantangan bagi Pemerintah Daerah untuk mengevaluasi kebijakan yang ada. Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan Kabupaten Pohuwato. Faktor Pengungkit Aspek Faktor Lokasi 8. dimana panjangnya birokrasi dan lamanya dalam pengurusan perijinan menjadi penghambat bagi investor untuk berinvestasi.2. Disamping itu banyaknya jumlah sekolah yang berada dalam keadaan rusak menyebabkan faktor ini menjadi faktor pengungkit. . Hal ini diperlukan agar masyarakat dan dunia usaha dapat melihat sektor-sektor mana saja yang dapat dimasuki dalam agribisnis dan agroindustri jagung.2.2. dan (4) biaya operasional pendidikan yang belum tersedia secara memadai.2. Untuk memudahkan proses penyelenggaraan perijinan agar lebih efisien dan efektif diperlukan pelayanan perijinan satu atap sehingga calon investor merasa dimudahkan dan tertarik untuk berinvestasi di Kabupaten Pohuwato.46% untuk SMP/MTS 55. Di Kabupaten Pohuwato hal ini sering menjadi permasalahan.3.67% (2) kesejahteraan pendidik yang masih rendah.1.2.

3.2.1.2.Fasilitas umum dan sosial Belum tersedianya fasilitas umum dan sosial yang memadai diseluruh kecamatan merupakan permasalahan yang banyak terdapat di Kabupaten Pohuwato. memperluas dan memeratakan pendidikan dan kesempatan belajar terutama didaerah terpencil dan masyarakat miskin.Kebijakan pengembangan pusat pertumbuhan di perdesaan (agropolitan) Belum maksimalnya kinerja agropolitan di Kabupaten Pohuwato disebabkan karena belum belum adanya koordinasi yang baik dari berbagai instansi yang terkait dengan agropolitan. Diharapkan dengan tersedianya fasilitas-fasilitas ini maka ketersediaan tenaga kerja yang berkualitas dapat tersedia sehingga menghasilkan kinerja yang baik dalam kegiatan proses produksi agribisnis dan agoindustri jagung. Selanjutnya meningkatkan. Disamping itu masyarakat sebagai faktor kunci pelaksanaan agropolitan memegang peran besar dalam keberhasilan pengembangan ekonomi lokal di kabupaten pohuwato.2. Belum baiknya fasilitas jalan dan jembatan menjadi masalah dalam masyarakat karena terkait dengan mata pencaharian dari sebagian besar masyarakat. 8. 8. Minimnya fasilitas kesehatan dan sarana prasarana rekreasi dan olahraga. Faktor Pengungkit Aspek Kesinergian dan Fokus Kebijakan 8.137 Pendekatan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah ini adalah dengan memberikan perhatian yang lebih pada sektor ini dengan cara mengalokasikan dana yang lebih untuk sektor ini sehingga pemerintah dapat menyediakan pelayanan pendidikan dasar cuma-cuma bagi masyarakat prasejahtera atau masyarakat miskin dengan kualitas fasilitas pendidikan yang baik. sangat berpengaruh terhadap produktivitas masyarakat desa karena masyarakat yang sehat akan menghasilkan kinerja yang baik dan berkontribusi terhadap pembangunan kawasan. Dengan demikian maka masyarakat desa dapat tetap berada di desa karena ketersediaan pendidikan sudah dapat diperoleh di desa. motivasi dan . Karenanya salah satu usaha untuk meningkatkan pengembangan ekonomi lokal adalah dengan melengkapi pengadaan fasilitas umum dan sosial yang lebih berkualitas bagi masyarakat desa.2.3.3. Semangat.

3.2. jika Pemerintah Daerah menjalankan pemerintahan dan pembangunan tanpa melihat keterkaitan dengan daerah lain dalam hal ini keterkaitan regional. Karenaya perlu lebih diintensifkan lagi pengembangan sarana dan prasarana kesejahteraan sosial yang memadai sehingga masyarakat pohuwato dapat merasa nyaman berada di Pohuwato karena berbagai fasilitas yang tersedia sehingga dapat menekan laju migrasi penduduk ke kota.138 kemauan keras dari mayarakat serta koordinasi yang baik dari berbagai elemen dalam pemeritahan dan dunia usaha merupakan sinergi yang dapat membawa kinerja agropolitan lebih baik lagi kedepan. Namun di satu sisi dapat pula membuat daerah stagnan. Kerjasama regional sangat diperlukan dalam pengembangan ekonomi lokal karena dengan adanya kerjasama maka alokasi dana pembangunan dapat dilakukan lebih efisien dan efektif. Berdasarkan hasil pengamatan dilapangan terlihat bahwa pengembangan Kawasan Agropolitan Randangan Kabupaten Pohuwato masih pada taraf pengembangan sentra produksi pertanian. sanitasi dan infrastrukur urban lainnya belum banyak tersedia di perdesaan. Namun egosentris daerah masih melekat dalam pemerintahan Kabupaten Pohuwato. 8. permukiman penduduk. tidak tergantung pada intervensi pusat. Masalah ketersediaan lapangan disektor non pertanian. Perlu didorong kerjasama dengan kabupaten lain misalnya Kabupaten Boalemo terkait dengan produksi jagung sehingga dapat memenuhi skala ekonomi dan produksi.Kebijakan kerjasama antar daerah/pemda Permasalahan yang dihadapi oleh Kabupaten Pohuwato sebagai kabupaten pemekaran baru masih sangat kompleks. Otonomi Daerah memang dapat membuat suatu kabupaten dapat berkembang cepat karena keputusan mengenai pengelolaan daerah dapat ditangani oleh Pemerintah Daerah.2. Aspirasi untuk memisahkan diri menjadi kabupaten baru merupakan salah satu semangat dari masyarakat dan pemerintah untuk terus mengembangkan daerahnya. . Sehingga kontinuitas produk dapat terjaga dan kelangsungan agribisnis dapat berkesinambungan.

Faktor Pengungkit Aspek Pembangunan Berkelanjutan 8.4.2. Perlu adanya fokus terhadap program-program yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat petani .4.Kontribusi Pel terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal kualitas hidup dan Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa pengembangan ekonomi lokal di Kabupaten Pohuwato berada dalam kondisi baik. 8.2. Hal ini dapat mendorong pengembangan ekonomi lokal kearah yang lebih baik.2. Disamping itu. Oleh karenaya.. Padahal diketahui bersama selain sebagai bahan baku industri. terlihat bahwa pasar komoditas jagung lebih banyak memenuhi permintaan luar kawasan baik secara regional maupun internasional. menyebabkan jumlah perusahan yang melakukan inovasi produk belum berkembang di Kabupaten Pohuwato.Jumlah perusahaan yang melakukan inovasi pengembangan produk dan pasar Belum berkembangnya industri pengolahan produk. perlu dikembangkan keberagaman produk sehingga pasar menjadi semakin terbuka. dimana konsentrasi pemerintah masih tertuju sebagai produk eksport dalam bentuk biji jagung. Karena itu perlu diarahkan penggunaan pangan alternatif beras jagung sebagai makanan pokok masyarakat sehingga dapat merangsang investasi industri penggilingan beras jagung di tingkat masyarakat . jagung merupakan bahan pangan dan merupakan makanan pokok masyarakat Gorontalo yaitu beras jagung yang dalam bahasa lokal sebagai Baalobinthe. Namun demikian tingkat pendapatan masyarakat Pohuwato masih rendah jika dibandingkan dengan daerah lainnya.1.139 8. Kondisi eksisting yang ada terlihat bahwa produk unggulan jagung masih memiliki pasar yang terbatas. Namun karena adanya ’politik perberasan’ menyebabkan beras menjadi superior dibandingkan beras jagung sehingga posisinya menjadi termarginalkan. Dengan semakin baiknya image jagung sekarang ini sangat membuka peluang pengembangan pasar lokal untuk komoditas ini sebagai bahan pangan. Karena itu diperlukan upaya-upaya memaksimalkan potensi ekonomi daerah sehingga dapat meningkatan pendapatan masyarakat Pohuwato secara keseluruhan. Padahal jagung dapat dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki prospek yang besar melalui diversifikasi produk.2.4.

2.4. 8.2.5. Keberadaan kelembagaan tersebut belum dapat dimanfaatkan oleh petani sebagai sarana atau wadah untuk menguatkan eksistensi petani sebagai produsen penghasil komoditi andalan jagung. Kedepanya perlu ditumbuhkan motivasi dan keinginan dari petani agar dapat memanfaatkan organisasi yang ada sebagai wadah penguatan posisi petani dalam menegosiasikan harga produk jagung melalui asosiasi petani jagung atau sejenisnya.2. menyebabkan peran dari asosiasi ini belum banyak bermanfaat terhadap perbaikan . Faktor Pengungkit Aspek Tata Pemerintahan 8.1. 8.5. Ke depannya perlu dirangsang masuknya investasi swasta yang memiliki perencanaan bisnis yang matang dan memiliki keterkaitan kedepan dan kebelakang yang besar dengan basis pertanian yang ada di Kabupaten Pohuwato. 8.2. Perlu lebih diperhatikan usaha-usaha kecil masyarakat dan perlu dirangsang penciptaan usaha-usaha baru oleh masyarakat lokal dengan memanfaatkan sumber daya lokal. Akan tetapi keberadaan kelompok tani baru sebatas sebagai sarana bagi kelembagaan penyuluh untuk menyampaikan informasi pengusahaan usaha tani dan sebagai alat kontrol bagi pemerintah dalam menyalurkan bantuan-bantuan yang ada.3.2. Keadaan ini menyebabkan manfaat organsisasi belum dirasakan oleh anggotanya.Manfaat asosiasi /organisasi bagi anggotanya Berdasarkan fakta dilapangan terlihat bahwa berkembangnya kelembagaan atau organisasi petani yaitu kelompok tani dan KUD belum banyak memberikan manfaat pemberdayaan bagi masyarakat petani.140 dengan mengadakan berbagai pelatihan–pelatihan baik dalam budidaya maupun dalam kewirausahaan. hal ini berdampak pada kurangnya jumlah perusahaan yang memiliki business plan.Jumlah perusahaan yang memiliki business plan Masih belum berkembangnya industri pengolahan di Kabupaten Pohuwato menyebabkan kurangnya investasi di Kabupaten Pohuwato.Peran asosiasi industri/komoditi terhadap perbaikan kebijakan pemerintah dibidang Pel Karena manfaatnya belum dapat dirasakan oleh anggotanya.5.

2.2. 8.6. Tingginya biaya pengurusan dan lama pengurusan administrasi publik menjadi wacana yang harus mendapat perhatian pemerintah. Ini disebabkan karena kelembagaan kebanyakan hanya dibentuk sebagai syarat perlu saja bagi pemerintah untuk melaksanakan kegiatan atau programnya.1.Analisis dan pemetaan potensi ekonomi Tidak adanya pemetaan potensi ekonomi merupakan salah satu masalah yang ada di Kabupaten Pohuwato. Padahal masalah pengembangan ekonomi merupakan tanggungjawab seluruh komponen masyarakat. dimana masih banyaknya terjadi penyimpangan.141 kebijakan pemerintah.6. Oleh karenanya perlu di perkuat eksistensi dari berbagai kelembagaan yang ada agar dapat keberadaannya dapat bermanfaat bagi anggotanya sehingga secara tidak langsung melalui wadah ini masyarakat dapat berkontribusi terhadap perbaikan kebijakan di bidang pel.6. Sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa urusan ekonomi merupakan tanggungjawab pemerintah dan pelaku usaha. Padahal analisis dan pemetaan potensi ekonomi merupakan salah satu panduan bagi pemerintah dalam menerapkan kebijakan . 8. akte. sehingga kehadirannya belum banyak berkontribusi. maupun ijin berusaha. 8.Jumlah stakeholder yang terlibat dalam proses perencanaan Pel Permasalahan yang terkait di Kabupaten Pohuwato adalah masih minimnya kesadaran dari masing-masing stakeholder terhadap upaya pengembangan ekonomi lokal. Rendahnya kualitas SDM stakeholder merupakan salah satu faktor penyebab hal ini bisa terjadi. Biaya pengurusan KTP yang tidak sesuai ketentuan yang berlaku merupakan salah satu masalah yang perlu diatasi.2.2. Untuk mengatasi masalah tersebut maka perlu dilakukan sanksi pagi petugas yang melakukan pelanggaran serta menginformasikan kepada masyarakat bagaimana prosedur yang seharusnya dalam setiap pengurusan pelayanan administrasi publik seperti pengurusan KTP.2.Prosedur pelayanan administrasi publik permasalahan yang dihadapi Kabupaten Pohuwato adalah masih lemahnya prosedur pelayanan administrasi publik.5. Faktor Pengungkit Aspek Proses Manajemen 8.3.

142 pembangunan daerah supaya terarah dan tepat sasaran. Oleh karenanya pengadaan analisis dan pemetaan potensi ekonomi Daerah perlu dilakukan dan disosialisasikan serta dijabarkan kepada masing-masing instansi terkait sehingga dapat dirancang kebijakan yang sesuai dengan analisis dan peta potensi daerah. .

Rata-rata pendapatan usahatani di kawasan agropolitan lebih tinggi dari rata-rata pendapatan usahatani non agropolitan yaitu sebesar Rp. Hasil analisis menunjukkan perbedaan yang signifikan antara pendapatan usahatani di kawasan agropolitan dengan pendapatan usahatani di kawasan non agropolitan. 4. Program agropolitan basis jagung meningkatkan perekonomian wilayah Kabupaten Pohuwato melalui pergeseran struktur perekonomian wilayah. Tingkat partisipasi masyarakat di kawasan agropolitan berdasarkan tingkat partisipasi Arnstein berada pada tingkat konsultasi.080.1. 3. tersedianya infrastruktur jalan usaha tani dan intervensi harga dari pemerintah. 2.016. Program agropolitan basis jagung di Kabupaten Pohuwato. Untuk . 10. Akan tetapi secara kompetitif sektor-sektor unggulan seperti sub tanaman bahan makanan. Berdasarkan hasil analisis program agropolitan sedikit banyak sudah dapat mendorong pengembangan ekonomi lokal di Kabupaten Pohuwato..per ha/tahun. Hal ini berarti bahwa partisispasi masyarakat masih sebatas pada taraf pelaksana saja karena masyarakat masih belum banyak dilibatkan dalam taraf perencanan program. meningkatkan pendapatan usahatani petani di kawasan agropolitan melalui kegiatan penyuluhan. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan tentang dampak agropolitan basis jagung di Kabupaten Pohuwato dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Program agropolitan masih sangat bersifat top down karena intervensi pemerintah dalam setiap kegiatan masih sangat dominan. komoditi jagung. Status PEL di Kabupaten Pohuwato digolongkan dalam kategori baik.IX.966. listrik dan air besih sebagai sektor sekunder dan sektor perdagangan sebagai sektor tersier sehingga dapat memberikan multiplier effect yang besar terhadap total perekonomian wilayah. sektor bangunan dan pengangkutan masih memiliki daya saing yang rendah sehingga dapat menghambat perekonomian wilayah. KESIMPULAN DAN SARAN 9.per ha/tahun dan Rp5. Secara komparatif pengembangan agropolitan basis jagung di Kabupaten Pohuwato mampu menarik atau menggerakkan sektor industri pengolahan.506.

Pengembangan Agropolitan memerlukan kerjasama lintas sektoral dan sinkronisasi kebijakan dari tingkat pusat. serta meningkatkan kebijakan yang merangsang masuknya investasi swasta. misalnya dengan menjalin koordinasi yang baik dengan Dinas Perhubungan untuk pengoperasian terminal di Kecamatan Randangan. 5. magang dan studi banding misalnya dengan Kabupaten Boalemo. Kebijakan pemberdayaan masyarakat perlu lebih ditingkatkan lagi dengan melibatkan masyarakat sejak proses perencanaan sampai proses monitoring dan evaluasi. 4.2. . Mengoptimalkan kerjasama dengan kabupaten lain terkait penggunaan infrastruktur dan pengembangan agropolitan jagung baik untuk memenuhi kontinuitas produksi maupun dari segi pemasaran melalui kegiatan-kegiatan pelatihan. Perlu adanya kerjasama dan koordinasi yang baik antar instasi dalam pemerintah maupun pemerintah dengan pelaku usaha dan masyarakat petani dalam pengembangan agropolitan sehingga sarana-prasarana yang ada dapat dimanfaatkan dengan efisien.144 mengembangkan dikawasan dan meningkatkan pengembangan ekonomi lokal diperlukan beberapa strategi yaitu : (1) agropolitan pembentukan pusat layanan investasi (2) peningkatan Promosi UKM dan Kampanye Peluang Berusaha oleh Pemda (3) upaya diversifikasi produk dan pasar (4) penerapan pelayanan perijinan satu atap (5) perbaikan fasilitas dan kualitas pendidikan serta fasilitas umum dan sosial (6) mengoptimalkan pengembangan pusat-pusat pertumbuhan di perdesaan (Agropolitan) (7) meningkatkan kebijakan kerjasama antar daerah (8) pemberdayaan masyarakat dan kelembagaan masyarakat 9. 3. Saran 1. Perlu adanya pendampingan yang efektif untuk setiap kegiatankegiatan produktif dalam masyarakat sampai masyarakat betul-betul menjadi masyarakat yang mandiri. 2. Perlu dibentuk pusat pelayanan investasi terlebih khusus investasi jagung untuk menarik investor menanamkan modalnya di kawasan pengembangan. provinsi dan kabupaten.

145 6. pengolahan dan pemasaran. Perlu adanya pengawasan dalam pelaksanaan RTRW agar keberlanjutan agropolitan dan kelestarian fungsi lingkungan hidup dapat terjaga serta perlu adanya revisi terhadap masterplan agropolitan sesuai dengan rencana pengembangan pusat-pusat produksi. .

2006. 1999 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Evaluasi Tingkat Partisipasi Pembangunan di Tingkat Komunitas. Kawasan Agropolitan. A Ladder of Citizen Participation. Jaip Vol . (2006). Arnstein.M. Makalah disampaikan pada Pembahasan Proyek Perintisan Pengembangan Perdesaan Bogor. Manual Operasional Penentuan Status dan Faktor Pengungkit PEL. Anwar.DAFTAR PUSTAKA Anonimous. Penjelasan Program Strategi Nasional Bidang Pengembangan Perkotaan dan Perdesaan. IPB. Kerjasama BPS dan Bappeda Gorontalo. Direktorat Jenderal Tata Perkotaan dan Tata Pedesaan Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah.35 No. 4. in Rustiadi. Propinsi Gorontalo Dalam Angka 2007. Panduan Nasional Revitalisasi Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL). 2007. Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah. pp 101-109. pp 216-224. BPS Provinsi Gorontalo. Pembangunan Mikropolitan dalam Mendorong Kegiatan Sektor Pertanian dan Sektor Komplemennya di Wilayah Perdesaan. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Ahmad. Bahan Sosialisasi Agropolitan Tingkat Propinsi dan Kabupaten. Crespent Press. Anonimous. Jakarta. Tidak dipublikasikan. S. Tesis. Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian. 2002. Konsep Pembangunan DesaKota Berimbang. Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah. A. 2002. 2006. 1999 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Pedoman Umum Pengembangan Agropolitan dan Pedoman Program Rintisan Pengembangan Kawasan Agropolitan.R. Jakarta. W. 2006. A. Departemen Pertanian. 2007. Anwar. Jakarta. 1969. Bappenas. et al. 2004. Pembangunan Wilayah Perdesaan dengan Desentralisasi Spatial melalui Pembangunan Agropolitan yang Mereplikasi Kota-kota Menengah dan Kecil. . Jakarta. 2001.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan. M. 2004.O. Bogor. 1986. Djakapermana. Puslitbang Sosial Ekonomi Pertanian. 1975. Muhammad. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah Republik Indonesia. Tidak dipublikasikan.A. 2007. 2008. Kerjasama BPS dan Bappeda Kabupaten Pohuwato. Tesis.Nagoya. Reinventing Local Government : Pengalaman dari Daerah. Tidak dipublikasikan. Douglas. IPB. IPB Press. B. Jakarta. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Douglas. D. Prosiding Diseminasi dan Diskusi Progran-Program Pengembangan Wilayah dan Ekonomi Masyarakat di Daerah. Harahap MK. Kementerian Negara Percepatan Kawasan Timur Indonesia. Kajian Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Hutan Mangrove. 2003. IPB. 1994.Japan. Regional Economic Centre. Kompas Gramedia. PT Raja Grafindo Persada. . Hastoto. Jakarta.R. S. and M.Bogor.L. Bogor. Js. 2003. Iman Laode. Tesis.E. H. Pengembangan Kawasan Agropolitan Dalam Rangka Pengembangan Wilayah Berbasis Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN). Regional Networks Development UNHCS-Bappenas Friedman. Jakarta. Metodologi Penelitian Ekonomi & Bisnis. Haeruman. Pohuwato Dalam Angka 2006. Development : Toward a New Strategy for Regional Planning in Asia. Jhingan. Pembangunan Daerah Melalui Pengembangan Wilayah. 2003. F. M. 2003. Agropolitan dan Permasalahan Pertanahan Perdesaan dan Pertanian. Studi Kebijakan Pengembangan Partisipasi Masyarakat Perdesaan dan Perkotaan. Ambon Darmawan Arya. Gorontalo. IPB. Seminar Nasional Pengembangan agropolitan sebagai Strategi Pembangunan Perdesaan dan Wilayah secara Berimbang. 2006. Nasution. Potensi Lahan dan Alternatif Komoditas Terpilih Berdasarkan Peta Zona Agroekologi Pada Setiap Kecamatan di Kabupaten Maluku Tengah.147 BPS Kabupaten Pohuwato.Jakarta. Analisis Disparitas Pembangunan Regional di Provinsi Sulawesi Utara dan Provinsi Gorontalo. Mewujudkan Revitaslisasi Pertanian Melalui Pembangunan 9 (sembilan) Pilar Agropolitan Menuju Pertanian Modern di Gorontalo. 2007. N. L. Pribadi. J. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku. Juanda. Badan Litbang Pertanian. Setiahadi. 2001. dan Susanto. 2000. Bustaman. E.

2005. Studi Pengembangan Model dan Tipologi Kawasan Agropolitan. Rompon. Saefulhakim. E. S. Tidak dipublikasikan. Rodinelli. 2005..148 Pranonto. Pengembangan Agropolitan Memacu Pembangunan Ekonomi Regional melalui Keterkaitan Desa-Kota. . Lahan dan Air di Jawa Barat. IPB. S. E. al. et. Sadjad . Makalah pada Workshop Agropolitan. IPB. London. Tidak dipublikasikan. IPB. Penataan Ruang dan Penguatan Infrastruktur Desa dalam Mendukung Konsep Agropolitan. Tesis. Makalah disampaikan pada Lokakarya Pembahasan Kriteria Kerusakan Hutan. Bogor. Crestpent Press. 2001. Applied Methods of Regional Analysis – The Spatial Dimensions of Development Policy. al. 2003. D. Makalah dalam Seminar dan Lokakarya Menuju Desa 2030. 2004. Analisis Dampak Kebijaksanaan Desentralisasi Fiskal terhadap Perekonomian Daerah dan Pemerataan Pembangunan Wilayah di Indonesia. al. Program Studi PWD. Desa itu Industri. Bogor. Institut Pertanian Bogor. 2007. Crespent Press. 2002. Rustiadi. Pembangunan Berkelanjutan. Bahan Kuliah Tata Ruang.Bogor. Makalah Workshop “Pengembangan Agropolitan sebagai Strategi Pembangunan Perdesaan dan Wilayah secara Berimbang”. Konsep Pembangunan Desa-Kota Berimbang. 2004. Tidak dipublikasikan. Rustiadi.S. Departemen Kimpraswil. Tesis. Bogor. 2008. Hadi. S. Agropolitan : Strategi Pengembangan Pusat Pertumbuhan pada Kawasan Perdesaan. S. Pembangunan Agropolitan melalui Pengembangan Kota-kota Kecil Menengah. 2006. Rustiadi. Pasca Sarjana IPB. Tidak dipublikasikan. Jakarta. E. Rustiadi. Saefulhakim. et.in Rustiadi et al (2006) Kawasan Agropolitan. Kajian Pengembangan Sektor Pariwisata Dalam Rangka Meningkatkan Keragaan Perekonomian Wilayah Kabupaten Tana Toraja. Tesis. 2005.pp1-31. IPB. Penyusunan Arahan Strategi Pengembangan Inter-regional Berimbang. LPPM. S. Disertasi. IPB. 1985. Westview Press / Boulder. Bogor. M..O. Rustiadi . Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Pribadi. 2004. D. Pengembangan Agropolitan sebagai Strategi Pembangunan Perdesaan dan Pembangunan Berimbang. Pembangunan Perdesaan Berkelanjutan melalui Model Pengembangan Agropolitan. et.A. P4W IPB dan Bapenas. E.E. Riyanto. Dardak.Peningkatan Efisiensi Pasar Perdesaan dan Penguatan Akses Masyarakat Terhadap Lahan. Rustiadi. 2006.

Tarigan. Departemen Pertanian. Penguatan Kelembagaan Ekonomi Perdesaan di Kawasan Agropolitan.2002 Laporan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia. . 2005.149 Satuan Kerja Pengembangan Prasarana dan Sarana Desa Agropolitan. Bappenas dan Fakultas Pertanian IPB Bogor. Jakarta. Bumi Aksara. Departemen Pekerjaan Umum. Teori dan Aplikasi. 2005. Ekonomi Regional. 2004. Penyusunan Arahan Strategi Pengembangan Inter-Regional Berimbang. Yudhohusodo. Jakarta. Jakarta. S . Advisory Pengembangan Rintisan Kawasan Agropolitan Pasca 3 Tahun Fasilitasi. Suwandi. 2002. Tim Pusat Pengkajian Perncanaan dan Pengembangan Wilayah (P4W). Jakarta. R.

LAMPIRAN .

100 9.300 2006 261.800 TOTAL PDRB 1.626.323.400 234.374.080.400 2004 247.123.753.400 491.600 1.906.925.594.700 293.300 145.500 a. GAS DAN AIR BERSIH 8.058.700 12.364 165.421.467.000 JASA PERUSAHAAN JASA-JASA 129. PERSEWAAN & 115.846.928.300 398.171.685.388.577.932 PERTAMBANGAN DAN 167.234.500 10.200 311.Lampiran 1 PRODUK DOMESTIK BRUTO INDONESIA ATAS DASAR HARGA KONSTAN 2000 MENURUT LAPANGAN USAHA ( Dalam Jutaan ) TAHUN 2000 .163.607 169.500 469.900 514.100 1.729.196 168.506.000 125.349.Jagung * 9.600 9.800 129. Tanaman Bahan Makanan 112.2006 LAPANGAN USAHA 2000 PERTANIAN 216.692.173.868.200 16.801.366 62.516.973.334.244.400 271.400 10.469.516.409.762.600 112.300 119.Padi * 47.263.400 138.603.182 98. HOTEL DAN 224.000 170.878.389.903.621.896.300 152.924 160.957.458.490 59.085.148.832 .192.600 133.355.000 70.402.012.500 124.849.877.800 11.200 12.BPS * merupakan data hasil proksi 2001 225.183 168.400 140.200 130.393.200 PENGGALIAN INDUSTRI PENGOLAHAN 385.507.142.400 PERDAGANGAN.100 Tahun 2003 240.900 1.831.273.900 LISTRUK.900 10.573.200 109.100 123.600 .387.800 19.463.754.611.500 2002 232.984.800 256.600 122.300 80.800 243.897.584.100 1.604.656.296.384.100 160.850 75.200 84.452.900 Sumber : .932.300 2005 253.400 1.656.000 419.483.750.975 167.700 113.256 78.211.729.600 85.124.019.800 11.789.571 74.211.900 9.100 KOMUNIKASI KEUANGAN.400 115.085.800 BANGUNAN 76.200 96.399.300 76.442.481.597.700 151.600 96.982.100 161.100 103.726.100.800 1.276.500 170.769.390.495.200 RESTORAN PENGANGKUTAN DAN 65.612.104.952.654.164.117.900 .800 441.200 89.

53 14.64 198.056.769.68 17.196.50 1.31 1.917.95 158.344.02 .274.87 43.89 268.060.Padi * 96.981.31 158.990.728.677.545.868.125.75 TOTAL PDRB Sumber : BPS Provinsi Gorontalo * NTB Jagung dan Padi Hasil Olahan BPS Prov.02 90.00 204.Gorontalo 2002 533.260.861.23 148.526.838.08 PENGGALIAN INDUSTRI PENGOLAHAN 182.738.471.16 283.82 148.121.218.00 167.353.187.45 84.230.72 1.42 178.680.971.00 185.33 59.803.175.477.384.79 87.00 . GAS DAN AIR BERSIH 8.254.554.260.51 262.00 134.00 377.84 BANGUNAN 118.323.438.136.55 490.83 KOMUNIKASI KEUANGAN.91 TAHUN 2003 557.92 92.447.28 257.512.67 187.49 21.72 248.073.61 136.44 175.95 142.56 192.00 181.Lampiran 2 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ATAS DASAR HARGA KONSTAN 2000 PROVINSI GORONTALO MENURUT LAPANGAN USAHA TAHUN 2000 – 2006 ( Dalam Jutaan ) LAPANGAN USAHA 2000 2001 PERTANIAN 458.670.86 152.24 184.667.780.651.172.00 122.31 LISTRIK.937.254.35 326.00 12.462.54 PERDAGANGAN.40 42.851.707.13 JASA PERUSAHAAN JASA-JASA 216.99 2004 575.829.923.26 2005 618.719.94 219.97 145.881.85 16.970.723.01 2006 667.55 106.61 172.027.772.00 414.73 9.139.62 90.812.01 19.00 283.816.614.03 1.11 10.180.238.446.00 310.75 12.897.145.36 260.468.89 12.727. PERSEWAAN & 96.00 101.66 239. HOTEL DAN 240.974.163.274.58 252.00 301.92 166.327.669.891.403.38 11.80 PERTAMBANGAN DAN 11.243.274.95 308.640.00 2.473.68 Tanaman Bahan Makanan 191.84 RESTORAN PENGANGKUTAN DAN 139.435.00 224.871.16 .86 281.999.178.00700 2.182.32 65.520.00 129.082.96 10.307.763.290.916.Jagung * 44.38 116.98 126.462.02 1.573.508.655.106.673.

00 1.38 28.373.948.12 18.180.58 46.479.37 2001 72.00 23.91 Sumber : BPS Kabupaten Boalemo * NTB Jagung dan Padi Hasil Olahan BPS Kabupaten Boalemo .46 11.529.00 1.00 1. GAS & AIR BERSIH BANGUNAN PERDAG.00 1.00 12.612.70 1.127.14 186.38 19.05 12.988.40 37.910.329.28 12.671.181.97 33.262.73 44.00 1.771.149..198.123.37 29.794.45 19.806.363.50 653. PERSEWAAN.84 22.078.00 1.987.884.56 12.911.50 224.53 62.07 2005 98.296.035.363.00 7.39 10.79 25.579.24 18.942.711.2006 ( Dalam Jutaan ) LAPANGAN USAHA PERTANIAN Tanaman Bahan Makanan .Padi * PERTAMBANGAN & PENGGALIAN INDUSTRI PENGOLAHAN LISTRIK.855.572.219.00 1.11 18.078.588.643.799.355.594. & JASA PERUSAHAAN JASA-JASA TOTAL PDRB 2000 68.11 9.427.62 23.03 10.470.032.81 39.378.00 11.501.49 175.606.21 211.46 785.132.78 16.895.459.Jagung* .85 447.771.85 20.402.52 11.73 2002 79.38 14.70 44.896.986.410.975.112.46 2004 92.918.11 35.031.88 33.00 28.015.30 1.232.29 10.57 254.27 21.44 9.48 238.882.01 38.068.839.44 1.12 36.285.113.42 10.061.13 2006 103.620.00 8.070.68 41.516.50 51. HOTEL & RESTORAN PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI KEU.181.85 11.13 30.84 23.23 20.762.039.76 13.51 36.811.636.588.71 27.87 10.411.77 198.74 12.983.279.20 25.620.701.20 20.206.654.Lampiran 3 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ATAS DASAR HARGA KONSTAN 2000 KABUPATEN BOALEMO MENURUT LAPANGAN USAHA TAHUN 2000 .56 58.35 19.15 16.933.290.71 1.68 17.990.00 14.28 18.706.48 12.884.33 10.982.262.26 Tahun 2003 86.

116 391.953 10.255 13. GAS DAN AIR BERSIH 2. PERSEWAAN DAN 26.969 12.004 37.616 2006 180.945 24.633 66.156 27.454 67.682 PERTANIAN a.187 KOMUNIKASI KEUANGAN.993 PERDAGANGAN.364 RESTORAN PENGANGKUTAN DAN 11.778 31.066 2.407 BANGUNAN 27.220 86.694 31.276 73.Padi * PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN INDUSTRI PENGOLAHAN 22.017 2.240 74.732 8.441 60. HOTEL DAN 51.Jagung * .432 81.228 13.362 LISTRIK.415 28.467 365.963 3.546 2.042 66.587 TOTAL PDRB Sumber : BPS Kabupaten Boalemo * NTB Jagung dan Padi Hasil Olahan BPS Kabupaten Pohuwato .160 340.153 Lampiran 4 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ATAS DASAR HARGA KONSTAN 2000 KABUPATEN POHUWATO MENURUT LAPANGAN USAHA TAHUN 2004 – 2006 ( Dalam Jutaan ) LAPANGAN USAHA 2004 169.660 2.512 Tahun 2005 172.213 JASA PERUSAHAAN JASA-JASA 26.887 28.551 23. Tanaman Bahan Makanan .

000 16 5.000 14.000 2.000 3.000 4.050.000 11.250 8.030.967.200.155.425.500 11.000 4.790.000 27 4.577.752.030.500 165.285.025.000 2.000 Jumlah 151.580.000 11.926.000 8.088.000 19 4.450.000 11 3.910.290.242.466.158.340.109.924.000 5.000 29 4.000 5.341.000 6.876.000 2.000 2.000 6.000 4.000 2.000 10.227.000 21 7.895.593.000 26 5.000 10 5.000 4.683.500 10.500.000 25 5.820.000 7.590.000 22 5.000 12 5.899.730.000 7.000 3.500 9.232.500 6.660.074.628.000 14 5.000 2.150.000 11.080.098.245.154 Lampiran 5 Tabulasi Responden Pendapatan Usahatani Jagung Kawasan Agropolitan (Kecamatan Randangan) dan Non Agropolitan (Kecamatan Taluditi) Agropolitan Non Agropolitan Nomor (Kecamatan Randangan) (Kecamatan Taluditi) Responden Pendapatan Pendapatan Pendapatan Pendapatan (Rp/Ha) Per Tahun (Rp/Ha) Per Tahun (Rp/Ha) (Rp/Ha) 1 5.000 6.500 7.002.000 20 5.816.000 5.622.000 3.000 6.000 2.000 24 5.000 11.483.000 11.000 2.000 4.330.000 6.000 5.000 2.000 3 4.720.180.000 6 4.209.000 2.015.570.000 5 5.500 4.400.110.500 5.200.600.500 8.049.778.012.007.000 10.506.218.200.000 2.000 4.908.000 5.250.000 9.33 5.225.500 4.000 2.000 10.040.000 8 5.889.415.037.170.000 17 3.050.798.340.500 6.000 2.025.000 5.000 3.008.466.807.615.000 2.000 23 3.000 4.000 8.733.753.500 82.350.000 5.078.525.290.000 3.000 7.186.000 9 4.000 11.460.000 8.207.220.005.000 2 6.670.656.000 13 4.500 10.000 Rata-rata 5.080.250 302.000 18 3.000 30 5.000 2.040.145.000 10.000 2.000 5.850.485.000 9.016.233.447.539.000 2.126.848.400.500 3.680.000 7 4.000 28 5.895.000 5.000 2.040.430.920.660.500 9.000 2.000 3.000 4 6.440.313.000 12.000 15 4.33 10.675.715.085.000 7.000 3.080.544.000 2.67 .852.116.000 13.814.500 8.000 5.966.515.000 2.960.579.000 4.300.67 2.000 10.455.252.604.015.000 5.330.935.

55 DF = 46 P-Value = 0.155 Lampiran 6 Analisis Uji Beda Pendapatan Kawasan Agropolitan dan Non Agropolitan Two-sample T for Agropolitan vs Non-agropolitan N 30 30 Mean 10080017 5506967 StDev 1727609 1000130 SE Mean 315417 182598 Agropolitan Non-agropolitan Difference = mu (Agropolitan) .mu (Non-agropolitan) Estimate for difference: 4573050 95% CI for difference: (3839434.000 . 5306666) T-Test of difference = 0 (vs not =): T-Value = 12.

156

Lampiran 7 Hasil Analisis Derajat Partisipasi di Kawasan Agropolitan
No A 1 Aspek Skor (S) Frekwensi (F) Bobot (B) % SxFxB %

Aspek Komunikasi Apakah anda mendapatkan informasi tentang adanya pelaksanaan pengembangan apropolitan a. Tidak b. Ya Dalam forum apa keputusan diambil dalam lingkungan desa a. Tidak ada b. Diskusi perorangan c. Diskusi dalam kelompok tani d. Diskusi dalam forum desa Menurut anda berapa orang yang tahu dan diajak berembuk menngenai sebuah proyek yang akan berlangsung di lingkungan anda (a.l. agropolitan) a. Dibawah 10 % b. Antara 10 - 30 % c. Antara 30 - 50 % d. Lebih dari 50 % Seberapa besar intervensi dari aparat terhadap proses fasilitasi program? a. Sangat Dominan b. Dominan c. Tidak terlalu Dominan d. Tidak Dominan

1 4

10 20

0,3 0,3

3 24 27

33.3 66.7

2

1 2 3 4

5 3 15 7

0,2 0,2 0,2 0,2

1 1,2 9 5,6 16,8

16.7 10.0 50.0 23.3

3

1 2 3 4

5 7 16 2

0,3 0,3 0,3 0,3

1,5 4,2 14,4 2,4 22,5

16.7 23.3 53.3 6.7

4

1 2 3 4

7 8 10 5

0,2 0,2 0,2 0,2 Total

1,4 3,2 6 4 14,6 80,9

23.3 26.7 33.3 16.7

B 1

Pengetahuan Masyarakat Atas Forum Pengambilan Keputusan Menurut anda apakah perencanaan yang ada dalam pengembangan agropolitan sudah melibatkan masyarakat ( sdh mencerminkan konsep partisipatif) a. Tidak 1 b. Ya 4 Apakah anda puas dengan prosedur dan proses pengambilan keputusan dalam forum perencanaan agropolitan? a. Tidak puas b. kurang puas c. Puas d. Sangat puas Menurut anda apakah dalam perencanaan pengembangan pembangunan (agropolitan) yang dilakukan selama ini, warga dan organisasi masyarakat tahu prosedur (tata cara) untuk ikut terlibat didalamnya. a. Tidak tahu b. Tahu tapi hanya sedikit c. Tahu dan ikut terlibat d. Sangat tahu dan ikut terlibat

13 17

0,25 0,25

3,25 17 20,25

43.3 56.7

2

1 2 3 4

6 16 8

0,25 0,25 0,25

1,5 8 6 15,5

20.0 53.3 26.7

3

1 2 3 4

4 18 8

0,3 0,3 0,3

1,2 10,8 7,2 19,2

13.3 60.0 26.7

4

Jika keputusan diambil dalam kelompok, bagaimana keputusan itu dibuat? a. Ditentukan oleh ketua saja Didiskusikan dalam kelompok tapi hasil akhir b. ditentukan oleh ketua Didiskusikan dan ditentukan oleh sebagian dari c. forum Didiskusikan dan hasil ditentukan oleh seluruh d. forum

1 2

3 4

0,2 0,2

0,6 1,6

10.0 13.3 0.0 13.3 63.3

3 4

4 19

0,2 0,2

2,4 15,2 19,8

157

Total Bobot (B) %

74,75

No c 1

Aspek Kontrol Terhadap Kebijakan Apakan warga dan organisasi masyarakat lainnya dapat dengan mudah terlibat/ ikut serta dalam forum perencanaan a. b. c. d. Sangat Sulit Sulit Mudah Sangat Mudah

Skor (S)

Frekwensi (F)

SxFxB

%

1 2 3 4

9 10 8 3

0,3 0,3 0,3 0,3

2,7 6 7,2 3,6 19,5

30.0 33.3 26.7 10.0

2

Apakah anda pernah memberikan masukan kepada pemerintah atau pihak yang anda anggap bertanggungjawab untuk merubah prosedur dan proses pengambilan keputusan a. b. c. d. Tidak pernah Pernah dan tidak mendapat tanggapan Pernah dan mendapat sedikit tanggapan Pernah dan mendapat tanggapan 1 2 3 4 8 10 0,4 0,4 9,6 16 27,6 26.7 33.3 5 0,4 2 16.7

3

Menurut anda, bagaimana keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan proyek agropolitan a. b. c. d. Tidak baik Cukup baik Baik Sangat baik 1 2 3 4 4 7 19 0,3 0,3 0,3 Total 2,4 6,3 22,8 31,5 78,6 13.3 23.3 63.3

Lampiran 8 Peta Rencana Struktur Tata Ruang Provinsi Gorontalo

ijin lokasi usaha.l. dan kelembagaan usaha lokal (aspek ijin usaha. Insentif fiskal b. official web site) Kepastian berusaha dan hukum (a. Ketenagakerjaan Informasi prospek bisnis (buku/booklet/leaflet peluang investasi. persaingan usaha. dan buruh mogok) Kampanye peluang usaha melalui : 1.premanisme.SKPD) tentang kemudahan dalam bentuk: a. Media massa(media cetak. Kegiatan interaktif(temu usaha/pameran/seminar potensi daerah) Pusat pelayanan investasi dengan jasa layanan konsultasi investasi Upaya fasilitasi permodalan bagi dunia usaha oleh pemda Promosi produk UKM untuk memperluas pasar oleh pemda Upaya pemda untuk peningkatan teknologi. web site) 2. elektronik.159 Lampiran 9 Indikator Komponen Heksagonal PEL ASPEK Kelompok Sasaran SUB ASPEK Investor luar INDIKATOR Peraturan(Perda/Perkada/SK Ka. arbitrase. konflik sosial. organisasi usaha) Fasilitasi pelatihan kewirausahaan bagi pengusaha baru (kemampuan teknik dan entrepreneurship) Pendampingan dan monitoring bisnis pelaku usaha baru Insentif pemda dalam bentuk pemberian dana stimulan dan keringanan biaya perijinan Kecepatan pengurusan ijin bagi investasi baru Pelaku Usaha lokal Pelaku Usaha Baru . badan hukum. tata ruang. peradilan niaga) Keamanan(penjarahan. Penyediaan Lokasi/Lahan d. Penyerdehanaan Perijinan c. manajemen.

BPR.KSP/USP) Jumlah penyaluran kredit (modal kerja dan investasi) perbankan/lembaga keuangan bukan bank Iklim perekonomian lokal Peran dan kebijakan pemerintah provinsi kepada daerah Peran dan kebijakan pemerintah pusat kepada daerah Citra dari lokasi (sentra usaha) Citra dari kota/kabupaten Industri yang memiliki mata rantai lengkap dari hulu ke hilir untuk suatu komoditas Peluang kerjasama dalam industri sejenis maupun dalam industri uluhilir Lembaga penelitian perguruan tinggi Lembaga penelitian dan pengemabngan pemerintah dan swasta bukan perguruan tinggi Pelayanan perijinan satu atap Peluang bekerja bagi tenaga kerja lokal dibanding dengan pendatang .160 ASPEK Faktor Lokasi SUB ASPEK Faktor Lokasi Terukur Faktor Lokasi Tidak Terukur INDIKATOR Kondisi jaringan jalan Akses ke pelabuhan laut Akses ke pelabuhan udara Sarana transportasi Infrastruktur komunikasi Infrastruktur energi Upah tenaga kerja dibanding daerah sekitar Tenaga kerja terampil Tenaga kerja terdidik (Jumlah angkatan kerja lulusan SLTA dibanding total angkatan kerja) Jumlah lembaga keuangan lokal (Bank umum.LKM.

tentang pembatasan lokasi pasar modern/ supermarket/hypermarket Kebijakan perbaiakan UKM (a.161 ASPEK Faktor Lokasi SUB ASPEK Faktor Lokasi Tidak Terukur Individual Keterkaitan dan Fokus Kebijakan Perluasan Ekonomi Pemberdayaan Masyarakat dan Pengembangan Komunitas Pembangunan Wilayah INDIKATOR Kualitas permukiman Kualitas lingkungan Kualitas fasilitas pendidikan Kualitas pelayanan kesehatan Kualitas fasilitas umum dan sosial Kebijakan Peningkatan Investasi Kebijakan promosi daerah Kebijakan persaingan usaha (a. prodksi dan pengolahan) . kemitraan dan subkontrak) Kebijakan peningkatan peran Perusahaan Daerah Kebijakan pengembangan jaringan usaha antar pelaku ekonomi Kebiajkan informasi bursa tenaga kerja Kebijakan pengembangan keahlian (peningkatan ketrampilan) Kebijakan pemberdayaan masyarakat berbasis kemitraan dengan dunia usaha (memanfaatkan dana CSR) Kebijakan pengurangan kemiskinan secara partisipatif Kebijakan pembangunan kawasan industri hinterland / industri Kebijakan pengembangan pusat pertumbuhan di perdesaan (agropolitan) dan perkotaan (central business district) Kebijakan pengembangan komunitas sprt: perbaikan lingkungan.l.l. perbaikan kampung Kebijakan kerjasama antar daerah/pemda Keijakan tata ruang PEL Kebijakan pengembangan jaringan usaha antar sentra usaha Sistem industri yang berkelanjutan (adanya keterkaitan pengadaan bahan baku.

l.l. jelas 3.162 ASPEK Pembangunan Berkelanjutan SUB ASPEK Ekonomi Sosial Lingkungan Tata Kemitraan Kepemerintahan Pemerintah dan Dunia Usaha Reformasi Sektor Publik INDIKATOR Perkembangan industri pendukung untuk keberlanjutan sistem industri Jumlah perusahaan yang telah memiliki business plan Jumlah perusahaan yang melakukan inovasi pengembangan produk dan pasar Kontribusi PEL terhadap peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat lokal PEL mempertimbangan keberadaan adat dan kelembagaan lokal Kebijakan pemecahan permasalahan lingkungan (a. penyaluran kredit. sederhana 2. jenjang karir Restrukturisasi organisasi pemerintah Prosedur pelayanan administrasi publik : 1. cepat 4. produk organik) Kebijakan konservasi sumber daya alam dalam PEL Kemitraan di bidang infrastruktur (a.: remunerasi. terjangkau Status asosiasi industri/komoditi/ forum bisnis Peran asosiasi industri/komoditi/forum bisnis terhadap perbaikan kebijakan pemerintah di bidang PEL Manfaat asosiasi /organisasi bagi anggotanya Pengembangan Organisasi . BOT) Kemitraan di bidang promosi dan perdagangan Kemitraan di bidang pembiayaan usaha ( a.l. penerapan amdal) Pengelolaan dan pendaur ulangan limbah (a.l : pinkaman. PKBL) Reformasi sistem insentif pengembangan SDM aparatur(a.l.

163 ASPEK Proses Manajemen SUB ASPEK Diagnosa Secara Partisipatif Perencanaan dan Implementasi Partisipatif Monitoring dan Evaluasi secara Partisipatif INDIKATOR Analisis dan pemetaan potensi ekonomi Penilaian terhadap daya saing wilayah Pemetaan kondisi politis lokal Identifiaksi stakeholder PEL Penggunaan hasis diagnosis sebagai dasar perencanaan PEL Jumlah stakeholder yang terlibat dalam proses perencanaan PEL Sinkronisasi lintas sektoral dan spasila dalam proses perencanaan PEL Kesesuaian implementasi dengan perencanaan Keterlibatan stakeholder dalam proses penyusunan indikator evaluasi Keterlibatan stakeholder dalam proses monitoring dan evaluasi Frekuensi dilakukan evaluasi mandiri (self evaluation) Frekuensi dilakukan diskusi bagi proses pemecahan permasalahan Penggunaan hasil evaluasi dalam perbaikan perencanaan .

164 Lampiran 10 Gambar Jalan Usahatani Kawasan Agropolitan Randangan Lampiran 11 Gambar Gudang Agribisnis PT Gorontalo Fitra Mandiri. BUMD Provinsi Gorontalo .

165 Lampiran 12 Gambar Program Agropolitan di Kecamatan Randangan Lampiran 13 Gambar Terminal Randangan .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful