P. 1
Askep Ispa

Askep Ispa

|Views: 215|Likes:
Published by Erwin Dwi Julianto

More info:

Published by: Erwin Dwi Julianto on Jul 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/18/2014

pdf

text

original

http://syamsuddin-acho.blogspot.com/2012/05/askepispa.

html Askep ISPA

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NEONATUS DENGAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN

a.

Pengertian

Infeksi saluran pernafasan adalah suatu keadaan dimana saluran pernafasan (hidung, pharing dan laring) mengalami inflamasi yang menyebabkan terjadinya obstruksi jalan nafas dan akan menyebabkan retraksi dinding dada pada saat melakukan pernafasan (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 450). Infeksi saluran nafas adalah penurunan kemampuan pertahanan alami jalan nafas dalam menghadapi organisme asing(Whaley and Wong; 1991; 1418).

b.

Angka kejadian dan diagnosis

Pada rumah sakit umum yang telah menjadi rumah sakit rujukan terdapat 8,76 %-30,29% bayi dan neonatal yang masih mengalami infeksi dengan angka kematian mencapai 11,56%-49,9%. Pengembangan perawatan yang canggih mengundang masalah baru yakni meningkatnya infeksi nosokomial yang biasanya diakhiri dengan keadaan septisemia yang berakhir dengan kematian (Victor dan Hans; 1997; 220).

453). Disamping itu terdapat beberapa faktor yang turut mempengaruhi yaitu. Usia bayi atau neonatus. c. clamydia trachomatis. Agen infeksi adalah virus atau kuman yang merupakan penyebab dari terjadinya infeksi saluran pernafasan.Diagnosis dari penyakit ini adalah melakukan kultur (biakan kuman) dengan swab sebagai mediator untuk menunjukkan adanya kuman di dalam saluran pernafasan. usia dari bayi/ neonatus. Etiologi dan karakteristik Infeksi saluran pernafasan adalah suatu penyakit yang mempunyai angka kejadian yang cukup tinggi. haemophylus influenzae. Ada beberapa jenis kuman yang merupakan penyebab utama yakni golongan A β-hemolityc streptococus. ukuran dari saluran pernafasan. 1419). 1991. pada anak yang mendapatkan air susu ibu angka kejadian pada usia dibawah 3 bulan rendah karena mendapatkan imunitas dari air susu ibu. Penyebab dari penyakit ini adalah infeksi agent/ kuman. . Pada hitung jenis (leukosit) kurang membantu sebab pada hitung jenis ini tidak dapat membedakan penyebab dari infeksi yakni yang berasal dari virus atau streptokokus karena keduanya dapat menyebabkan terjadinya leukositosis polimorfonuklear (Pincus Catzel & Ian Roberts. 1990. daya tahan tubuh anak tersebut terhadap penyakit serta keadaan cuaca (Whaley and Wong. mycoplasma dan pneumokokus. staphylococus.

tetapi juga biasa terjadi pada musim dingin(Whaley and Wong. 1991. serta obat yang . kelelahan. Infeksi saluran pernafasan biasanya terjadi pada saat terjadi perubahan musim. asthma serta kongesti paru. e. Kondisi klinis secara umum turut berpengaruh dalam proses terjadinya infeksi antara lain malnutrisi. 1990. 451). 1420). d. Terapi dan Penatalaksanaan Tujuan utama dilakukan terapi adalah menghilangkan adanya obstruksi dan adanya kongesti hidung pergunakanlah selang dalam melakukan penghisaapan lendir baik melalui hidung maupun melalui mulut. Manifestasi klinis Penyakit ini biasanya dimanifestasikan dalam bentuk adanya demam. anemia. Keadaan yang terjadi secara langsung mempengaruhi saluran pernafasan yaitu alergi. adanya obstruksi hisung dengan sekret yang encer sampai dengan membuntu saluran pernafasan.Ukuran dari lebar penampang dari saluran pernafasan turut berpengaruh didalam derajat keparahan penyakit. Terapi pilihan adalah dekongestan denganpseudoefedrin hidroklorida tetes pada lobang hidung. bayi menjadi gelisah dan susah atau bahkan sama sekali tidak mau minum (Pincus Catzel & Ian Roberts. Karena dengan lobang yang semakin sempit maka dengan adanya edematosa maka akan tertutup secara keseluruhan dari jalan nafas.

1990. f. Suhu tubuh bisa mencapai 39. adalah tanda meningeal tanpa adanya infeksi pada meningens. 452). 454). dengan demikian sekret dapat mengalir dengan lancar sehingga drainase sekret akan lebih mudah keluar(Pincus Catzel & Ian Roberts. Seringkali demam muncul sebagai tanda pertama terjadinya infeksi. Pada infeksi yang disebabkan oleh streptokokus manifestasi lain yang muncul adalah nyeri abdomen akuta yang sering disertai dengan muntah (Pincus Catzel & Ian Roberts. biasanya terjadi selama periodik bayi mengalami panas. Penatalaksanaan pada bayi dengan pilek sebaiknya dirawat pada posisi telungkup. 2. Tanda dan gejala yang muncul 1. 1990. g. hitungan darah dan test Paul-bunnell. pada neonatus mungkin jarang terjadi tetapi gejala demam muncul jika anak sudah mencaapai usia 6 bulan sampai dengan 3 tahun.lain seperti analgesik serta antipiretik. Antibiotik tidak dianjurkan kecuali ada komplikasi purulenta pada sekret.5OC-40. Diagnosis banding Penyakit infeksi saluran pernafasan ini mempunyai beberapa diagnosis banding yaitu difteri. Mereka masing-masing dibedakan melalui biakan kultur melalui swab. Demam. gejalanya adalah nyeri .5OC. Meningismus. mononukleosis infeksiosa dan agranulositosis yang semua penyakit diatas memiliki manifestasi klinis nyeri tenggorokan dan terbentuknya membrana.

crackless. Vomiting. kedalaman. . 3. 7. stridor. Pola. biasanya muncul dalam periode sesaat tetapi juga bisa selama bayi tersebut mengalami sakit. 6. dan tidak terdapatnya suara pernafasan (Whaley and Wong. h. 9. Pengkajian terutama pada jalan nafas Fokus utama pada pengkajian pernafasan ini adalah pola. nyeri pada abdomen mungkin disebabkan karena adanya lymphadenitis mesenteric. 8. merupakan tanda umum dari tejadinya infeksi saluran pernafasan. mungkin tanda ini merupakan tanda akut dari terjadinya infeksi saluran pernafasan. Bayi akan menjadi susah minum dan bhkan tidak mau minum. Anorexia. kaku dan nyeri pada punggung serta kuduk. Batuk. 5. 1419). pada saluran nafas yang sempit akan lebih mudah tersumbat oleh karena banyaknya sekret. 4. cepat (tachynea) atau normal. seringkali terjadi mengiringi infeksi saluran pernafasan akibat infeksi virus.kepala. 1991. Abdominal pain. biasa terjadi pada semua bayi yang mengalami sakit. terdapatnya tanda kernig danbrudzinski. biasa terdapat wheezing. Suara nafas. Diare (mild transient diare). Sumbatan pada jalan nafas/ Nasal. usaha serta irama dari pernafasan.

pemeriksaan hitung darah (deferential count). Irama pernafasan. bervariasi tergantung pada pola dan kedalaman pernafasan. terputus-putus. nyeri. Bisa juga didapati adanya cyanosis.Kedalaman. j. Usaha. Tujuan: . nyeri pada rongga dada dan peningkatan produksi dari sputum (Whaley and Wong. 1991. hasil yang didapatkan adalah biakan kuman (+) sesuai dengan jenis kuman. 224). i. nafas normal. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan penunjang yang lazim dilakukan adalah pemeriksaan kultur/ biakan kuman (swab). suara nafas wheezing. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul. 1997. Observasi lainya adalah terjadinya infeksi yang biasanya ditandai dengan peningkatan suhu tubuh. dangkal atau terlalu dalam yang biasanya dapat kita amati melalui pergerakan rongga dada dan pergerakan abdomen. adanya batuk. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan proses inflamasi pada saluran pernafasan. 1420). kontinyu. tujuan dan intervensi 1. atau tiba-tiba berhenti disertai dengan adanya bersin. laju endap darah meningkat disertai dengan adanya leukositosis dan bisa juga disertai dengan adanya thrombositopenia dan pemeriksaan foto thoraks jika diperlukan(Victor dan Hans.

Berikan O2 dan nebulizer sesuai dengan instruksi dokter. f. Berikan obat sesuai dengan instruksi dokter (bronchodilator). kedalaman dalam pernafasan. d. Lakukan penyedotan sekret jika diperlukan.Pola nafas kembali efektif dengan kriteria: usaha nafas kembali normal dan meningkatnya suplai oksigen ke paru-paru. adanya cyanosis. Intervensi: a. e. Berikan posisi yang nyaman sekaligus dapat mengeluarkan sekret dengan mudah. peningkatan produksi sekret. . serta pola. b. meningkatnya pengeluaran sekret. Anjurkan pada keluarga untuk membawakan baju yang lebih longgar. c. tipis serta menyerap keringat. proses inflamasi. 2. Intervensi: a. Observasi tanda vital. Tujuan: Bebasnya jalan nafas dari hambatan sekret dengan kriteria: jalan nafas yang bersih dan patent. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi mekanik dari jalan nafas oleh sekret. Ciptakan dan pertahankan jalan nafas yang bebas.

Jelaskan terapi yang diberikan dan respon anak terhadap terapi yang diberikan. g. Berikan informasi secukupnya kepada orang tua (perawatan dan pengobatan yang diberikan). . h. b. d. f. c. Observasi pengeluaran sekret dan tanda vital. 3. Berikan dorongan secara moril kepada orang tua. Berikan nebulizer sesuai instruksi dokter.b. Berikan kelembaban udara yang cukup. e. Anjurkan kepada keluarga agar bertanya jika melihat hal-hal yang kurang dimengerti/ tidak jelas. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan perparenteral yang adekuat. d. Berikan posisi yang nyaman dan mencegah terjadinya aspirasi sekret (semiprone dan side lying position). hospitalisasi pada anak Tujuan: Menurunnya kecemasan yang dialami oleh orang tua dengan kriteria: keluarga sudah tidak sering bertanya kepada petugas dan mau terlibat secara aktif dalam merawat anaknya. c. Intervensi: a. Cemas berhubungan dengan penyakit yang dialami oleh anak. Cegah jangan sampai terjadi posisi hiperextensi pada leher. Anjurkan untuk tidak memberikan minum agar tidak terjadi aspirasi selama periode tachypnea.

e. f. Observasi tingkat kecemasan yang dialami oleh keluarga. . Anjurkan kepada keluarga agar terlibat secara langsung dan aktif dalam perawatan anaknya.

Monintja. (1997). DEFINISI PENYAKIT Menurut Corwin (2001).com/notes/keluarga-sehat-klinikita/ispa-penyakit-yang-seringmuncul-/119661940543) B. Whalley & wong. Jakarta: Balai penerbit FKUI.html ASKEP ISPA 22:42 Posted In artikel Edit This 0 Comments » A.com/2011/11/askep-ispa. H.Y. Yang dimaksud dengan saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung sampai gelembung paru. beserta organ-organ disekitarnya seperti : sinus. infeksi saluran pernafasan akut adalah infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme termasukcommon cold. dan laringitis.blogspot. USA: CV. Nursing Care of Infant and Children Volume II book 1. (1990). Beberapa Masalah Perawatan Intensif Neonatus. Jakarta: EGC. http://chapung-vierche.DepKes RI (1998). Kapita Seleta Pediatri Edisi II.facebook. Mosby-Year book. Pincus & Ian robets. yohanes gunawan. alih bahasa oleh Dr. faringitis. (http://www. ruang telinga tengah dan selaput paru. Victor & Hans E. dimana secara klinis suatu tanda dan gejala akut akibat infeksi yang terjadi di setiap bagian saluran pernafasan atau struktur yang berhubungan dengan saluran pernafasan yang berlangsung tidak lebih dari 14 hari. ETIOLOGI . ISPA adalah infeksi saluran pernapasan yang berlangsung sampai 14 hari. Inc Yu. radang tenggorokan.DAFTAR PUSTAKA Catzel. (1991). ISPA adalah infeksi saluran pernafasan yang dapat berlangsung sampai 14 hari.

Bordetella Pertusis.Kerusakan stuktur lapisan dinding saluran pernafasan menyebabkan kenaikan aktifitas kelenjar mukus yang banyak terdapat pada dinding saluran nafas.Sehingga pada tahap awal gejala ISPA yang paling menonjol adalah batuk. di udara bebas akan masuk dan menempel pada saluran pernafasan bagian atas yaitu tenggorokan dan hidung. 2004). yang disebabkan oleh berbagai etiologi. 1983).Masuknya virus sebagai antigen ke saluran pernafasan menyebabkan silia yang terdapat pada permukaan saluran nafas bergerak ke atas mendorong virus ke arah faring atau dengan suatu tangkapan refleks spasmus oleh laring. bronkiolitis dan penyakit demam saluran nafas bagian atas. Bakteri tersebut. PATOFISIOLOGI Perjalanan klinis penyakit ISPA dimulai dengan berinteraksinya virus dengan tubuh.Pada bayi dan anak-anak. Untuk golongan virus penyebab ISPA antara lain golonganmiksovirus (termasuk di dalamnya virus para-influensa.Infeksi saluran pernafasan akut merupakan kelompok penyakit yang komplek dan heterogen. Pneumokokus.Rangsangan cairan yang berlebihan tersebut menimbulkan gejala batuk (Kending and Chernick. virus. Bakteri penyebab ISPA misalnya: Streptokokus Hemolitikus. Virus parainfluensa merupakan penyebab terbesar dari sindroma batuk rejan. dan virus campak). 2002). Stafilokokus. (Siregar dan Maulany. Biasanya bakteri ini menyerang anak-anak yang kekebalan tubuhnya lemah misalnya saat perubahan musim panas ke musim hujan (PD PERSI. Adanya infeksi virus merupakan predisposisi terjadinya infeksi sekunder bakteri. 1974). Etiologi ISPA terdiri dari 300 lebih jenis bakteri.Akibat infeksi virus tersebut terjadi kerusakan mekanisme mukosiliaris yang merupakan mekanisme perlindungan pada saluran pernafasan terhadap infeksi bakteri sehingga memudahkan bakteribakteri patogen yang terdapat pada saluran pernafasan atas seperti streptococcus pneumonia. haemophylus influenza dan staphylococcus menyerang mukosa yang rusak tersebut (Kending dan Chernick. virusinfluensa.dan jamur. dan adenovirus. C.Untuk virus influensa bukan penyebab terbesar terjadinya terjadinya sindroma saluran pernafasan kecuali hanya epidemi-epidemi saja. 1983). 95).Jika refleks tersebut gagal maka virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa saluran pernafasan (Kending dan Chernick.. danKorinebakterium Diffteria (Achmadi dkk.Kebanyakan infeksi saluran pernafasan akut disebabkan oleh virus dan mikroplasma. Iritasi virus pada kedua lapisan tersebut menyebabkan timbulnya batuk kering (Jeliffe. 1983). sehingga terjadi pengeluaran cairan mukosa yang melebihi noramal. virus-virus influenza merupakan penyebab terjadinya lebih banyak penyakit saluran nafas bagian atas daripada saluran nafas bagian bawah. Hemofilus Influenza. Infeksi sekunder bakteri ini menyebabkan sekresi mukus bertambah banyak dan dapat menyumbat saluran nafas sehingga timbul sesak nafas dan juga menyebabkan batuk yang .

Bila sudah dalam kegagalan pernapasan maka dibutuhkan penatalaksanaan yang lebih rumit. dan juga bisa menyebar ke saluran nafas bawah (Tyrell. Tubuh menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya memang sudah rendah. meskipun demikian mortalitas masih tinggi. sehingga dapat menyebabkan kejang. dapat menginfeksi paru-paru sehingga menyebabkan pneumonia bakteri (Shann. c. Dampak infeksi sekunder bakteripun bisa menyerang saluran nafas bawah. Penanganan penyakit saluran pernafasan pada anak harus diperhatikan aspek imunologis saluran nafas terutama dalam hal bahwa sistem imun di saluran nafas yang sebagian besar terdiri dari mukosa.produktif.Invasi bakteri ini dipermudah dengan adanya fakor-faktor seperti kedinginan dan malnutrisi. maka perlu diusahakan agar yang ringan tidak menjadi lebih berat dan yang sudah berat cepat-cepat ditolong dengan tepat agar tidak jatuh dalam kegagalan pernapasan. Tahap dini penyakit. menjadi kronis dan dapat meninggal akibat pneumonia. dimulai dari munculnya gejala penyakit. Virus yang menyerang saluran nafas atas dapat menyebar ke tempat-tempat yang lain dalam tubuh.Dalam perjalanan penyakit mungkin gejala-gejala menjadi lebih berat dan bila semakin berat dapat jatuh dalam keadaan kegagalan pernapasan dan mungkin meninggal. Ciri khas berikutnya adalah bahwa IgA memegang peranan pada saluran nafas atas sedangkan IgG pada saluran nafas bawah. 1980). merupakan ciri khas system imun mukosa.Timbul gejala demam dan batuk. penyebab telah ada tetapi penderita belum menunjukkan reaksi apa-apa. yaitu dapat sembuh sempurna. virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. sehingga bakteri-bakteri yang biasanya hanya ditemukan dalam saluran pernafasan atas. Tahap prepatogenesis. TANDA DAN GEJALA I. dibagi menjadi empat. 1994). demam. Dari uraian di atas.Diketahui pula bahwa sekretori IgA (sIgA) sangat berperan dalam mempertahankan integritas mukosa saluran nafas (Siregar. tidak sama dengan sistem imun sistemik pada umumnya. 1985). b. sembuh dengan ateletaksis. . Sistem imun saluran nafas yang terdiri dari folikel dan jaringan limfoid yang tersebar. d. 1980). sesudah terjadinya infeksi virus.Suatu laporan penelitian menyebutkan bahwa dengan adanya suatu serangan infeksi virus pada saluran nafas dapat menimbulkan gangguan gizi akut pada bayi dan anak (Tyrell. Tahap inkubasi. Tahap lanjut penyakit. D. Tanda-tanda ISPA Pada umumnya suatu penyakit saluran pernapasan dimulai dengan keluhan-keluhan dan gejala-gejala yang ringan. yaitu: a. perjalanan klinis penyakit ISPA ini dapat dibagi menjadi empat tahap.

Serak.Tanda-tanda bahaya dapat dilihat berdasarkan tanda-tanda klinis dan tanda-tanda laboratoris. mudah terangsang. Panas atau demam. • Hypercapnia dan • Acydosis (Metabolik dan atau Respiratorik). Gejala ISPA • Gejala dari ISPA Ringan Seseorang dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan satu atau lebih gejalagejala sebagai berikut : a. grunting expiratoir dan wheezing. • Pada hal umum adalah : letih dan berkeringat banyak. papil bendung. hypertensi. • Pada sistem cardial adalah: tachycardia. kesadaran menurun. Tanda-tanda bahaya pada anak golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun adalah: tidak bisa minum. yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung d. napas cuping hidung. hypotensi dan cardiac arrest. bingung. bradycardiam. • Pada sistem cerebral adalah : gelisah. Wheezing. stridor dan gizi buruk. sedangkan tanda bahaya pada anak golongan umur kurang dari 2 bulan adalah: kurang bisa minum (kemampuan minumnya menurun ampai kurang dari setengah volume yang biasa diminumnya). kejang dan coma. Batuk b. kejang. sakit kepala. Tanda-tanda klinis : • Pada sistem respiratorik adalah: tachypnea. suhu badan lebih dari 37oC • Gejala dari ISPA Sedang Seseorang dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala dari ISPA ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut : . Tanda-tanda laboratoris : • Hypoxemia. Pilek. yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (misalnya pada waktu berbicara atau menangis) c. napas tak teratur (apnea). kesadaran menurun. stridor. retraksi dinding thorak. II. cyanosis. kejang. demam dan dingin. suara napas lemah atau hilang.

Tenggorokan berwarna merah d. Pernafasan berbunyi seperti mengorok dan anak tampak gelisah d. Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga f. penutupan tuba eusthacii dan penyebaran infeksi. Nadi cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba f. KOMPLIKASI Penyakit ini sebenarnya merupakan self limited disease. Pernafasan cepat (fast breating) sesuai umur yaitu : untuk kelompok umur kurang dari 2 bulan frekuensi nafas 60 kali per menit atau lebih dan kelompok umur 2 bulan . Tenggorokan berwarna merah E.Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan foto rontgen dan transiluminasi pada anak besar. Bibir atau kulit membiru b. b. Kadang-kadang disertai sumbatan hidung. Timbul bercak-bercak merah pada kulit menyerupai bercak campak e. Sela iga tertarik kedalam pada waktu bernafas e.<5 tahun : frekuensi nafas 50 kali atau lebih untuk umur 2 – <12 bulan dan 40 kali per menit atau lebih pada umur 12 bulan – <5 tahun. cepat lelah dan sukar berkonsentrasi (pada anak besar). . Anak tidak sadar atau kesadaran menurun c. Pernafasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur) • Gejala dari ISPA Berat Seseorang dinyatakan menderita ISPA berat jika dijumpai gejal-gejala ISPA ringan atau ISPA sedang disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut : a. Sinusitis paranasal Komplikasi ini hanya terjadi pada anak besar karena pada bayi dan anak kecil sinus paranasal belum tumbuh.Bila didapatkan pernafasan mulut yang menetap dan rangsang faring yang menetap tanpa sebab yang jelas perlu yang dipikirkan terjadinya komplikasi sinusitis.Komplikasi yang dapat terjadi adalah sinusitis paranasal.Sinusitis paranasal ini dapat diobati dengan memberikan antibiotik. Suhu lebih dari 390C (diukur dengan termometer) c. nyeri kepala hilang timbul. nyeri kepala bertambah. yang sembuh sendiri 5-6 hari jika tidak terjadi invasi kuman lainnya. Proses sinusitis sering menjadi kronik dengan gejala malaise. bersin yang terus menerus disertai secret purulen dapat unilateral ataupun bilateral. rasa nyeri dan nyeri tekan biasanya didaerah sinus frontalis dan maksilaris.Gejala umum tampak lebih besar. a.a.

b. juga disertai muntah atau diare. . Penutupan tuba eusthachii Tuba eusthachii yang buntu memberi gejala tuli dan infeksi dapat menembus langsung kedaerah telinga tengah dan menyebabkan otitis media akut (OMA). Faktor-faktor OMP yang sering dijumpai pada bayi dan anak adalah : a) Tuba eustachii pendek.Gejala OMA pada anak kecil dan bayi dapat disertai suhu badan yang tinggi (hiperpireksia) kadang menyebabkan kejang demam. pilek. Penyebaran infeksi Penjalaran infeksi sekunder dari nasofaring kearah bawah seperti laryngitis. gelisah. trakeitis. c.Karena bayi yang menderita batuk pilek sering menderita infeksi pada telinga tengah sehingga menyebabkan terjadinya OMA dan sering menyebabkan kejang demam. bronkiis dan bronkopneumonia. Riwayat penyakit keluarga ( adakah anggota keluarga yang pernah mengalami sakit seperti penyakit klien ). sakit tenggorokan ) 2. maka bayi perlu dikonsul kebagian THT. F. batuk. c) Hipertrofi kelenjar limfoid nasofaring akibat infeksi telinga tengah walau jarang dapat berlanjut menjadi mastoiditis atau ke syaraf pusat (meningitis). misalnya terjadi meningitis purulenta. Keluhan utama ( demam. Kadang-kadang hanya ditemui gejala demam. lebar dan lurus hingga merintangi penyaluran sekret. b) Posisi bayi anak yang selalu terlentang selalu memudahkan perembesan infeksi juga merintangi penyaluran sekret.Biasanya bayi dilakukan parsentesis jika setelah 48-72 jam diberikan antibiotika keadaan tidak membaik.Parasentesis (penusukan selaput telinga) dimaksudkan mencegah membran timpani pecah sendiri dan terjadi otitis media perforata (OMP). Riwayat penyakit seseorang ( kondisi klien saat diperiksa ) 3. 4. Riwayat penyakit dahulu ( apakah klien pernah mengalami penyakit seperti yang dialaminya sekarang ). Anak sangat gelisah. PENGKAJIAN FOKUS Menurut Whaley and Wong ( 2000 ). Riwayat sosial ( lingkungan tempat tinggal klien ). fokus pengkajian dari ISPA sebagai berikut : 1. 5. terlihat nyeri bila kepala digoyangkan atau memegang telinganya yang nyeri (pada bayi juga dapat diketahui dengan menekan telinganya dan biasanya bayi akan menangis keras).Selain itu dapat pula terjadi komplikasi jauh.

Tidak tampak penggunaan otot-otot pernapasan tambahan 6.enjar limfoid. PEMERIKSAAN PENUNJANG  Tanggal  HB  LED  Hematokrit  Trombosit  MCV  MCH  MCHC  DiffCount  Urien PH  Ureum  Kreatinin  SGOT  SGPT  Na  Kalium  Cl  AGD  PCO2 . Tansil tampak kemerahan dan edema 3. 4. Tidak teraba adanya pembesaran ke. Adanya demam 2. Membran mukosa hidung – faring tampak kemerahan 2. 3. Teraba adanya pembesaran kelenjarlimfe pada daerah leher / nyeri tekan pada nodus limfe servikalis. Tidak ada jaringan parat pada leher. Inspeksi 1. d. Perkusi Suara paru normal ( resonansi ). Auskaltasi Suara napas vasikuler / tidak terdengar ronchi pada kedua sisi paru G. Pernapasan cuping hidung b.a. 5. Tampak baluk tidak produktif. Palpasi 1. c.

Untuk perawatan ISPA dirumah ada beberapa hal yang perlu dikerjakan seorang ibu untuk mengatasi anaknya yang menderita ISPA.blogspot.Pemberian ASI pada bayi yang menyusu tetap diteruskan.  Mengatasi panas (demam) Untuk anak usia 2 bulan samapi 5 tahun demam diatasi dengan memberikan parasetamol atau dengan kompres. dianggap sebagai radang tenggorokan oleh kuman streptococcuss dan harus diberi antibiotik selama 10 hari.Penderita dengan gejala batuk pilek bila pada pemeriksaan tenggorokan didapat adanya bercak nanah disertai pembesaran kelenjar getah bening dileher. Pilihan obatnya Kotrimoksasol. tablet dibagi sesuai dengan dosisnya. Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu 2 hari. celupkan pada air (tidak perlu air es). Radiologi  ECG (http://ot-indo. • Pneumonia: diberi obat antibiotik melaui mulut. kemudian digerus dan diminumkan. sedikit-sedikit tetapi berulang-ulang yaitu lebih sering dari biasanya.  Pemberian makanan Berikan makanan yang cukup gizi. PENATALAKSANAAN MEDIS ( TERMASUK INTERVENSI FARMAKOLOGIS ) Pengobatan pada ISPA • Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit. di beri oksigen dan sebagainya. Ampisilin • Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotik. Cara pemberiannya.html) H. Bila demam diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol. jika terjadi alergi / tidak cocok dapat diberikan Amoksilin. bayi dibawah 2 bulan dengan demam harus segera dirujuk. dengan menggunakan kain bersih. diberikan antibiotik melalui jalur infus . Diberikan perawatan di rumah. lebih-lebih jika muntah.  Mengatasi batuk Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu jeruk nipis ½ sendok teh dicampur dengan kecap atau madu ½ sendok teh . diberikan tiga kali sehari. Memberikan kompres. Penisilin.com/2010/07/askep-ispa. untuk batuk dapat digunakan obat batuk tradisional atau obat batuk lain yang tidak mengandung zat yang merugikan. .

Dan untuk penderita yang mendapatkan antibiotik. bersihkan hidung yang berguna untuk mempercepat kesembuhan dan menghindari komplikasi yang lebih parah. . . selain tindakan diatas usahakan agar obat yang diperoleh tersebut diberikan dengan benar selama 5 hari penuh. usahakan agar setelah 2 hari anak dibawa kembali kepetugas kesehatan untuk pemeriksaan ulang.Untuk penderita yang mendapat obat antibiotik. air buah dan sebagainya) lebih banyak dari biasanya. lebihlebih pada anak dengan demam. Pemberian minuman Usahakan pemberian cairan (air putih. Ini akan membantu mengencerkan dahak. kekurangan cairan akan menambah parah sakit yang diderita.Usahakan lingkungan tempat tinggal yang sehat yaitu yang berventilasi cukup dan tidak berasap.Apabila selama perawatan dirumah keadaan anak memburuk maka dianjurkan untuk membawa kedokter atau petugas kesehatan.Jika pilek.  Lain-lain Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal dan rapat.

yang tipis dan yang dapat menyerap keringat Anjurkan klien untuk minum banyak ± 2000 – Anjurkan klien istirahat ditempat tidur selama 1. dianjurkan. . obatantimicrobial Antipiretika. Intervensi ( NIC) Suhu tubuh normal berkisar antara 36 –Observasi tanda – tanda vital kompres dingin ( air biasa) pada kepala / axial. buang secret berikan wadah Ketidakseimbangan kurang b. Kolaborasi normal husus untuk sekali pakai dan tisu dan ciptakan  klien dapat mentoleransi diet yang Konsul ahli gizi untuk memberikan diet sesuai kebutuhan klien. Beriakan oral sering. . Atur sirkulasi udara 2500 ml/hr.danoreksia dari nutrisi Klien dapat mencapai BB yang lingkungan beersih dan menyenamgkan.  Tidak menunujukan tanda malnutrisi. 5 ‘ C Pasien mengatakan tidak demam.Berikan makan pporsi kecil tapi sering dan 3.  kebutuhan direncanakan mengarah kepada BB 4. Kaji kebiasaan diet. fase febris penyakit. 5. Tingkatkan tirai baring.Diagnosa Keperawatan Peningkatan suhu tubuh Rencana Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil ( NOC ) 37. Anjurkan pada klien/keluarga umtuk melakukan Anjurkan klien untuk menggunakan pakaian seperti terbuat dari katun. Kolaborasi dengan dokter Dalam pemberian therapy. input-output dan timbang BB setiap hari dalam keadaan hangat 2.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->