P. 1
Keseimbangan Ekonomi Dua Sektor

Keseimbangan Ekonomi Dua Sektor

|Views: 189|Likes:
Published by Ujanqk Erwin Thea

More info:

Published by: Ujanqk Erwin Thea on Jul 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/20/2015

pdf

text

original

KESEIMBANGAN EKONOMI DUA SEKTOR

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengantar Ilmu Ekonomi Makro

Dosen : Endang Tasli Susandi, Drs., M.Si

Oleh : Silvi Mumtahana 091100068

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI YASA ANGGANA – GARUT 2010

Dan dalam hal ini kita hanya memperhatikan pembelajaran para konsumen untuk membeli barang konsumsi (C) dan pembelanjaan para produsen atau dunia usahaswasta yang membeli barang produksi baru (Investasi Netto). Dengan demikian. Perekonomian dua sektor merupakan penyederhanaan dalam mempelajari sistem perekonomian secara keseluruhan. bisa digunakan asumsi sebagai berikut :  Peranan pemerintah (G dan T) serta perdagangan luar negeri (X dan M) untuk sementara diabaikan dahulu. tetapi kita anggap seluruh tabungan masyarakat berasal dari RTK. Keseimbangan dalam perekonomian dua sektor merupakan keseimbangan dari sisi pendapatan dan sisi pengeluaran yang dilakukan oleh sektor rumah tangga dan sektor swasta. Dengan kata lain. Untuk penyederhanaan masalah.  Meskipun dunia usaha juga ada tabungan. kita asumsikan “situasi keynesian” yaitu perekonomian berada dalam bagian kurva AS yang STIE YASA ANGGANA | Keseimbangan Ekonomi Dua Sektor 1 . Ini berarti dalam perekonomian itu dimisalkan tidak terdapat kegiatan pemerintah maupun perdagangan luar negeri. NNP = Y = Yd = C + S dan S = Srtk.091100068 KESEIMBANGAN EKONOMI DUA SEKTOR Yang dimaksud dengan perekonomian dua sektor adalah perekonomian yang terdiri dari sektor rumah tangga dan perusahaan.  Untuk menghilangkan perubahan harga pada tingkat upah dari tahun ke tahun kita pakai harga konstan. dengan mengabaikan sektor pemerintah dan sektor luar negeri.

2. yaitu membeli barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan oleh sektor perusahaan. yang berarti masih ada pengangguran SD sehingga suatu tambahan effective demand akan memperbesar produksi dan kesempatan kerja tanpa menyebabkan kenaikan tingkat harga. bunga dan untung. 3. Dari sifat sirkulasi aliran pendapatan seperti itu dapat diambil kesimpulan bahwa aliran-aliran pendapatannya mempunyai ciriciri sebagai berikut : 1. sewa. Sebagian besar pendapatan yang diterima rumah tangga akan digunakan untuk konsumsi. Faktor-faktor produksi tersebut memperoleh pendapatan berupa gaji dan upah. Sektor perusahaan menggunakan faktor-faktor produksi yang dimiliki rumah tangga. Aliran-aliran pendapatan yang terdapat dalam perekonomian seperti itu telah digambarkan sebelumnya. Pengusaha yang ingin melakukan investasi akan meminjam tabungan rumah tangga yang dikumpulkan oleh institusi-institusi keuangan 2 STIE YASA ANGGANA | Keseimbangan Ekonomi Dua Sektor . 4. Sisa pendapatan rumah tangga yang tidak digunakan untuk konsumsi akan ditabung dalam institusi-institusi keuangan.091100068 horisontal.

yaitu hubungan antara ∆C dan ∆Y (yang sama dengan koefisien arah kurva konsumsi) Pendapatan yang diterima oleh RTK sebagian besar dibelanjakan untuk konsumsi dan sebagian tidak dibelanjakan. maka dikatakan ditabung : Y=C+S→S=Y-C Bila konsumsi diketahui. atau besarnya C pada Y = 0.091100068 1. HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI DAN PENDAPATAN Fungsi konsumsi menyatakan hubungan antara besarnya pengeluaran masyarakat untuk konsumsi dan tingkat produksi dan pendapatan nasional (NNP = Y) dan (dalam bentuk paling sederhana dapat dinyatakan dalam bentuk : C = Co + cY Co = jumlah konsumsi “otonom”. c = Marginal Propensy to Consume atau MPC. maka fungsi tabungan dapat dijabarkan : S = -Co + (1+c) Y dimana (1 – c) atau (I – MPC) sama dengan MPS = ∆S/∆Y Y= C C = a + bY c dY dC 45 0 0 y Fungsi Konsumsi 3 STIE YASA ANGGANA | Keseimbangan Ekonomi Dua Sektor . yaitu jumlah konsumsi minimal yang tidak tergantung dari besarnya pendapatan.

Tabel yang menggambarkan hubungan di antara konsumsi rumah tangga dan pendapatannya dinamakan daftar (skedul) konsumsi. Besarnya hasrat konsumsi ini berkisar antara nol dan satu (0 < MPC < 1). Terdapat beberapa faktor yang menentukan tingkat pengeluaran rumah tangga (secara seunit kecil atau dalam keseluruhan ekonomi). Bentuk dari fungsi konsumsi adalah C = a + bY yang berarti konsumsi merupakan fungsi dari tingkat pendapatan nasional dan terdapat hubungan positif antara tingkat konsumsi dan tingkat pendapatan nasional (Y) sebesar 0.091100068 Keseimbangan pendapatan nasional yang menunjukkan sisi penawaran (Y) sama dengan sisi permintaan (C). Daftar konsumsi 4 STIE YASA ANGGANA | Keseimbangan Ekonomi Dua Sektor . berarti bahwa tingkat konsumsi sebesar nilai intercept (a) yaitu nilai konsumsi minimum yang harus dipenuhi walaupun tidak ada pendapatan apa-apa di suatu negara. karena penduduk dari negara itu harus tetap hidup. Kemudian peningkatan konsumsi kurang sebanding dengan peningkatan pendapatan nasional yaitu hanya sebesar hasrat konsumsi (b). atau merupakan lereng fungsi konsumsi. Hasrat konsumsi yang sering disebut sebagai “marginal propensity to consume” (MPC) adalah perbandingan antara peningkatan jumlah konsumsi dan peningkatan jumlah pendapatan nasional (dC/dY). Garis 450 yang berawal dari titik asal (O) merupakan garis pertolongan yang menunjukkan bahwa pada setiap titik tingkat pendapatan nasional selalu sama dengan tingkat konsumsi. Seperti yang tertera pada gambar. dilukiskan sumbu horizontal untuk menunjukkan tingkat pendapatan nasional (Y) dan sumbu vertikal menunjukkan konsumsi (C). Yang terpenting adalah pendapatan rumah tangga.

Konsumsi dan Tabungan (dalam ribu rupiah) Tabungan (S) (3) 125 100 75 500 25 0 25 50 75 100 125 Dalam kolom tersebut ditunjukkan berbagai tingkat pendapatan disposebel yang mungkin diterima oleh suatu rumah tangga. sedangkan dalam kolom (2) ditunjukkan berbagai jumlah pengeluaran konsumsi yang akan dilakukan oleh rumah tangga tersebut. Pendapatan. Tabel di bawah ini secara terperinci menunjukkan hubungan di antara tingkat pendapatan disposebel dengan pengeluaran konsumsi dan tabungan rumah tangga.091100068 pada dasarnya menggambarkan besarnya konsumsi rumah tangga pada tingkat pendapatan yang berubah-ubah. Jumlah tabungan (atau kelebihan pendapatan sesudah melakukan pengeluaran konsumsi yang akan dilakukan oleh rumah tangga pada berbagai tingkat pendapatan yang mungkin diterimanya) ditunjukkan dalam kolom (3). Contoh angka yang dibuat dalam tabel di atas adalah contoh yang memberikan gambaran mengenai ciri-ciri khas dari hubungan di antara pengeluaran konsumsi dan pendapatan disposebel seperti yang baru diterangkan di atas. Ciri-cirinya sebagai berikut: 5 Pendapatan disposebel (Yd) (1) 0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000 Pengeluaran konsumsi (C) (2) 125 200 275 350 425 500 575 650 725 800 875 STIE YASA ANGGANA | Keseimbangan Ekonomi Dua Sektor .

apabila pendapatan bertambah sebanyak Rp 100 ribu. 6 STIE YASA ANGGANA | Keseimbangan Ekonomi Dua Sektor . Pada waktu rumah tangga tidak memperoleh pendapatan. Sisa pertambahan pendapatan itu (Rp 25 ribu) ditabung. pengeluaran konsumsi adalah Rp 125 ribu. konsumsi bertambah sebanyak Rp 75 ribu. apabila pendapatan rumah tangga lebih daripada Rp 500 ribu. Ia akan mampu menabung sebagian dari pendapatannya. Pada pendapatan yang rendah rumah tangga mengorek tabungan. 3. Sebagai contoh. Ini berarti rumah tangga harus menggunakan harta atau tabungan masa lalu untuk membiayai pengeluaran konsumsinya. Tabungan negatif. Kenaikan pendapatan menaikkan pengeluaran konsumsi.091100068 1. Pada Pendapatan yang tinggi rumah tangga menabung. atau mengorek tabungan (dissaving) akan selalu dilakukan oleh rumah tangga apabila pendapatannya masih di bawah Rp 500 ribu. yaitu pendapatan disposebel adalah nol (Yd = 0). Biasanya pertambahan pendapatan adalah lebih tinggi daripada pertambahan konsumsi. Contoh dalam tabel di atas menunjukkan. konsumsinya lebih rendah dari pendapatannya. pada pendapatan Rp 900 ribu. Contoh dalam tabel di atas menunjukkan. dan ini menunjukkan rumah tangga sudah menabung sebanyak Rp 100 ribu. 2. Disebabkan pertambahan pendapatan selalu lebih besar dari pertambahan konsumsi maka pada akhirnya rumah tangga tidak “mengorek tabungan” lagi. konsumsi adalag Rp 800 ribu.

yaitu: a) Kecondongan mengkonsumsi marginal. dapat didefinisikan sebagai perbandingan di antara pertambahan konsumsi (C) yang dilakukan dengan pertambahan pendapatan disposebel (Y) yang diperoleh. Nilai APC dapat dihitung dengan menggunakan formula : APC = 7 STIE YASA ANGGANA | Keseimbangan Ekonomi Dua Sektor . dapat didefinisikan sebagai perbandingan di antara tingkat konsumsi (C) dengan tingkat pendapatan disposebel ketika konsumsi tersebut dilakukan (Yd).091100068 A. atau secara ringkas selalu dinyatakan sebagai APC (berasal dari istilah Inggris: average propensity to consume). Definisi Kecondongan Mengkonsumsi Konsep kecondongan mengkonsumsi dibedakan menjadi dua pengertian. KECONDONGAN MENGKONSUMSI DAN MENABUNG Untuk memahami dengan lebih baik sifat hubungan di antara pendapatan disposebel dengan konsumsi. dan dengan tabungan ada dua konsep penting berikut: 1. Nilai MPC dapat dihitung dengan menggunakan formula : MPC = b) Kecondongan mengkonsumsi rata-rata. atau secara ringkas selalu dinyatakan sebagai MPC (berasal dari istilah Inggris: marginal propensity to consume).

atau secara ringkas MPS (dari perkataan marginal propensity to save). Nilai MPS dapat dihitung dengan menggunakan formula : MPS = b) Kecondongan Menabung rata-rata.091100068 2. Definisi Kecondongan Menabung Konsep kecondongan menabung juga dibedakan kepada dua istilah yaitu : a) Kencondongan Menabung Marjinal. dapat didefinisikan sebagai perbandingan di antara pertambahan tabungan (S) dengan pertambahan pendapatan disposebel (Yd). atau secara ringkas APS (dariperkataan average propensity to save). HUBUNGAN ANTARA KECONDONGAN MENGKONSUMSI DAN MENABUNG Dalam tabel di bawah dihitung MPC + PMS (lihat kolom 4) dan APC + APS (lihat kolom 7). Hasil penghitungan tersebut menunjukkan bahwa dalam contoh 1 dan contoh 2: 1. Nilai APS dapat dihitung dengan menggunakan formula: APS = B. menunjukkan perbandingan di antara tabungan (S) dengan pendapatan disposebel (Yd). MPC + MPS = 1 2. APC + APS = 1 8 STIE YASA ANGGANA | Keseimbangan Ekonomi Dua Sektor .

maka konsumsi dan tabungannya akan bertambah.75 0.125 0 0.25 1 1.8 0.9375 0.70 0. Dalam setiap nilai APC dan APS.75 CONTOH 1 : MPC DAN MPS TETAP 0.30 1 1.25 1 1.00 0. yaitu apakah APC dan APS adalah tetap (contoh 1) atau berubah (contoh 2). bahwa pendapatan disposebel adalah sama dengan konsumsi rumah tangga ditambah dengan tabungan rumah tangga. Pembuktian rumusan (2) Rumusan 1 dan 2 di atas dapat dengan mudah dibuktikan dengan menggunakan persamaan aljabar yang sederhana.017 0.0625 1 1 1 1 Berdasarkan kepada penghitungan tersebut dapatlah dibuat rumusan yang berikut: 1. yaitu apakah nilainya tetap (contoh 1) atau berubah (contoh 2). APC + APS akan selalu sama dengan satu.017 0.50 0.25 1 1. 9 STIE YASA ANGGANA | Keseimbangan Ekonomi Dua Sektor .9375 0.125 0. MPC + MPS akan selalu sama dengan satu.091100068 Hubungan antara Kecondongan Mengkonsumsi dan Menabung Pendapatan disposebel (1) MPC (2) MPS (3) MPC+MPS (4) APC (5) APS (6) APC+APS (7) Rp 200 rb 400 rb 600 rb 800 rb 0.25 1 1. Dalam setiap nilai MPC dan MPS.50 0.50 0.50 0.15 0.75 0. 2.0625 1 1 1 1 Rp 200 rb 400 rb 600 rb 800 rb CONTOH 2 : MPC DAN MPS BERUBAH 0. Pembuktian rumusan (1) Apabila rumah tangga mengalami kenaikan pendapatan.2 1 1.15 0.75 0.

Seterusnya kecondongan fungsi konsumsi adalah kurang dari 450 dan selalu memotong garis 450. terlebih dahulu diterangkan dan didefinisikan arti dari istilah fungsi konsumsi dan fungsi tabungan. STIE YASA ANGGANA | Keseimbangan Ekonomi Dua Sektor 10 . FUNGSI KONSUMSI DAN TABUNGAN A. Fungsi tabungan memotong sumbu datar pada pendapatan nasional misalkan sebanyak Rp 360 triliun karena pada pendapatan ini tabungan rumah tangga = 0. 1.091100068 2. Fungsi tabungan adalah suatu kurva yang menggambarkan sifat hubungan di antara tingkat tabungan rumah tangga dalam perekonomian dengan pendapatan nasional (atau pendapatan disposebel) perekonomian tersebut. Sifat ini disebabkan karena MPC lebih kecil dari satu. 2. Hal itu dapat dibuktikan dengan melihat kepada akibat dari pergerakan di antara dua titik pada fungsi konsumsi dan fungsi tabungan. Fungsi konsumsi memotong garis 450 pada nilai pendapatan nasional misalkan sebanyak Rp 360 triliun karena pada tingkat pendapatan itu konsumsi rumah tangga = pendapatan nasional. dan ini disebabkan karena nilai MPC dan MPS adalah tetap. CIRI-CIRI FUNGSI KONSUMSI DAN TABUNGAN Sebelum menerangkan ciri-ciri fungsi konsumsi dan fungsi tabungan. Fungsi konsumsi dan fungsi tabungan adalah merupakan garis lurus. B. MPC DAN MPS DAN KECONDONGAN FUNGSI KONSUMSI DAN TABUNGAN Dalam menerangkan ciri-ciri fungsi konsumsi dan tabungan nilai MPC akan menentukan kecondongan fungsi konsumsi dan nilai MPS akan menentukan kecondongan fungsi tabungan. Fungsi konsumsi adalah suatu kurva yang menggambarkan sifat hubungan di antara tingkat konsumsi rumah tangga dalam perekonomian dengan pendapatan nasional (atau pendapatan disposebel) perekonomian tersebut.

Untuk orang yang tidak memperoleh warisan atau kekayaan. dapat dinyatakan dalam persamaan aljabar. Persamaan aljabar untuk fungsi konsumsi dan tabungan adalah seperti berikut ini : 1. b adalah kecondongan konsumsi marginal. dalam keadaan seperti itu sudah tidak terdorong lagi untuk menabung lebih banyak. C adalah tingkat konsumsi dan Y adalah tingkat pendapatan nasional. D. mereka akan lebih bertekad untuk menabung untuk memperoleh kekayaan yang lebih banyak di masa yang akan datang atau untuk memenuhi kebutuhan masa depan keluarganya. PERSAMAAN FUNGSI KONSUMSI DAN TABUNGAN Fungsi konsumsi dan fungsi tabungan. Fungsi tabungan ialah : S = a + (1  b)Y dimana a adalah konsumsi rumah tangga pada ketika pendapatan nasional adalah 0. Kekayaan yang telah terkumpul Harta warisan atau tabungan yang banyak sebagai akibat usaha di masa lalu. PENENTU-PENENTU LAIN KONSUMSI DAN TABUNGAN Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi dan tabungan rumah tangga: 1. 2.091100068 C. Fungsi konsumsi ialah : C = a + bY 2. 11 STIE YASA ANGGANA | Keseimbangan Ekonomi Dua Sektor . Suku Bunga Apabila suku bunga tinggi lebih banyak pendapatan dari penabungan akan diperoleh. Suku bunga yang rendah tidak begitu suka membuat tabungan karena merasa lebih baik melakukan pengeluaran konsumsi dari menabung.

dan (2) golongan masyarakat ini mempunyai kecenderungan menabung yang lebih tinggi. masyarakat berkecenderungan melakukan pengeluaran lebih aktif.091100068 3. masyarakat cenderung menabung lebih banyak ketika mereka bekerja 12 STIE YASA ANGGANA | Keseimbangan Ekonomi Dua Sektor . tingkat pengangguran menunjukkan tendensi meningkat dan sikap masyarakat lebih hati-hati dalam mempergunakan uang. Ada masyarakat yang tidak suka belanja berlebih-lebihan dan lebih mementingkan tabungan. Dengan demikian (1) sebagian besar pendapatan nasional dinikmati oleh segolongan kecil penduduk yang sangat kaya. para pekerja tidak terdorong untuk melakukan tabungan yang banyak pada masa bekerja dan ini menaikkan tingkat konsumsi. sebaliknya apabila pendapatan pensiun sebagai jaminan hari tua tidak mencukupi. 4. Sikap berhemat Berbagai masyarakat mempunyai sikap yang berbeda dalam menabung dan berbelanja. Tetapi dalam keadaan perekonomian yang lambat. 5. lebih banyak tabungan yang akan dapat diperoleh. 6. Tersedia Tidaknya Dana Pensiun yang Mencukupi Apabila pendapatan dari pensiun besar jumlahnya. Distribusi Pendapatan Dalam masyarakat yang distribusi pendapatannya tidak merata. Keadaan Perekonomian Dalam perekonomian yang tumbuh dengan teguh dan tidak banyak pengangguran.

artinya tidak tergantung dari tingkat pendapatan nasional. Oleh karena itu. pada tingkat teknologi dan suku bunga yang berlaku. beban pajak. Keputusan para pengusaha di RTP untuk mengadakan investasi dipengaruhi oleh banyak faktor. kita pakai nilai Produk Nasional Netto (NNP) karena penyusutan termasuk biaya produksi dan tidak menjadi pendapatan RTK. Besarnya investasi sebagian bersifat “otonom” (In=lo). disingkat dengan huruf In (Investasi Netto = Investasi Bruto dikurangi Penyusutan). 13 STIE YASA ANGGANA | Keseimbangan Ekonomi Dua Sektor . Supaya lebih teliti. para pengusaha mau mengeluarkan uang untuk membeli peralatan produksi tersebut semahal apapun harganya. melainkan dari pertimbangan RTP sendiri. dan barang-barang produksi yang disalurkan ke RTP untuk memperbesar kapasitas produksi di dunia usaha.091100068 3. kita anggap dari tabungan masyarakat melalui kredit bank. pembelajaran RTP untuk investasi sangat variabel. tingkat bunga yang berlaku dan lain-lain. Demikia pula arus pembayaran terdiri atas dua macam : Pembelanjaan RTK untuk konsumsi (C) dan pembelanjaan RTP untk barang-barang modal. Dari mana dunia usaha mendapat dana untuk membiayainya tidak dipersoalkan dulu. INVESTASI Arus barang hasil produksi nasional dirinci atas dua macam : barang-barang konsumsi yang dijual ke RTK. perkembangan teknologi. Kita misalkan dalam contoh dibawah. antara lain harapan akan dapat menjual seluruh hasil produksinya dengan mendapat laba (expections). tersedianya kredit bank.

Perekonomian mencapai ekuilibrium jika: pengeluaran yang direncanakan (planned spending) sama dengan output yang direncanakan (planned output) atau tabungan yang direncanakan (planned saving) sama dengan investasi yang direncanakan (planned investment) Dengan anggapan demikian maka permintaan masyarakat ditentukan oleh fungsi Konsumsi (Keputusan RTK) dan fungsi Investasi (Keputusan RTP). KESEIMBANGAN Ekuilibrium (keseimbangan) menggambarkan situasi dimana kekuatan- kekuatan yang berbeda berada dalam kondisi seimbang (balance). RTP menghasilkan produk NNP senilai 160. NNP = Y 0 40 80 120 160 200 C 20 50 80 110 140 170 S -20 -10 0 +10 +20 +30 I0 20 20 20 20 20 20 C + I0 40 70 100 130 160 190 Y=C+S 0 40 80 120 160 200 Angka menunjukkan berbagai tingkat output (real NNP) yang akan dihasilkan dan ditawarkan oleh para pengusaha di RTP dengan harapan mereka menerima jumlah penerimaan yang sama dari hasil penjualannya. Maksudnya.091100068 4.1 dibawah ini. dan untuk itu membayar balas karya 14 STIE YASA ANGGANA | Keseimbangan Ekonomi Dua Sektor . Pertanyaan yang akan adalah : pada tingkat produksi berapakah akan tercapai equilibrium? Berbagai tingkat produksi (NNP) dan pendapatan (Y) yang mungkin terjadi (data hipotesis) dicantumkan dalam tabel IX.

maka I = S. NNP = Suply barang dan jasa dinilai dalam uang dihasilkan oleh RTP Y = Income Balas karya dibayar oleh RTP diterima oleh RTK Y dibagi ats C + S SPENDING = Effective Demand Dari RTK = C dari RTP = I0 diterima oleh RTP Keterangan :  NNP = Y nilai produk nasional menimbulkan dan sama dengan nilai pendapatan nasional yang dibayar oleh RTP kepada RTK  Penerimaan dunia usaha = pembelanjaan masyarakat = C + I ini menjadi penghasilan masyarat : C + I = Y  Y yang diterima di RTK dibagi atas C dan S → Y = C + S . Berarti hanya kalau jumlah pembelanjaan masyarakat (aggregate/total spending = C + I) juga sebesar 160. 15 STIE YASA ANGGANA | Keseimbangan Ekonomi Dua Sektor . laba) sebanyak 160 (=Y) hanya kalau mereka dapat menjual hasil produksi itu dengan mendapatkan 160 juga dalam bentuk penerimaan hasil penjualan.Sebagian tidak dibelanjakan.Sebagian besar dibelanjakan untuk konsumsi (C) . sewa.091100068 faktor produksi (upah. Dalam keadaan equilibrium. jadi ditabung (S)  Dalam keadaan equilibrium NNP = Y = C + I = C + S. bunga.

pembelian bahan-bahan mentah. 16 STIE YASA ANGGANA | Keseimbangan Ekonomi Dua Sektor . Peristiwa yang menimbulkan proses multiplier Misalkan para pengusaha meminjam dari bank-bank umum untuk membiayai perluasaan kegiatan itu berupa menambah produksi dari tingkat yang dicapai sekarang kepada yang lebih tinggi. pendapatan masyarakat pun bertambah pula. MULTIPLIER A. Dengan terjadinya pertambahan. pertambahan ini menimbulkan pertambahan baru dalam konsumsi rumah tangga yang selanjutnya akan menimbulkan lagi pertambahan dalam pendapatan nasional. Pertambahan pendapatan nasional yang terjadi tidak akan berhenti sampai di sini saja. SUATU GAMBARAN MENGENAI PROSES MULTIPLIER 1. tenaga kerja.091100068 GDP Y 4200 3900 3600 3300 3000 2700 Planned C onsumption C 3800 3600 3400 3200 3000 2800 Planned Saving S 400 300 200 100 0 -100 Planned Investment I 200 200 200 200 200 200 GDP 4200 3900 3600 3300 3000 2700 > > = < < < Total Spending Y=C +I 4000 3800 3600 3400 3200 3000 Tendensi Output Turun Turun Ekuilibrium Naik Naik Naik Contoh equilibrium 5. Untuk mewujudkannya para pengusaha harus menambah barang modal.

yaitu konsumsi yaitu menyebabkan pertambahan pendapatan nasional.091100068 B. 1. MENENTUKAN BESARNYA MULTIPLIER Nilai multiplier menggambarkan dalam perbandingan pendapatan di antara dengan jumlah jumlah pertambahan/pengurangan nasional pertambahan/pengurangan dalam pengeluaran agregat yang telah menimbulkan perubahan dalam pendapatan nasional tersebut. pada akhirnya pendapatan nasional akan bertambah. dan tabungan rumah tangga bertambah. 2. 17 STIE YASA ANGGANA | Keseimbangan Ekonomi Dua Sektor . Ini akan menimbulkan kenaikan konsumsi tahap kedua. Kenaikan konsumsi ini menimbulkan proses multiplier tahap kedua. Proses pertambahan pendapatan konsumsi dan tabungan ini terus berlangsung sehingga tidak wujud lagi pertambahan pendapatan. pertambahan pendapatan nasional dan pertambahan konsumsi yang akan berlangsung. Cara menentukan multiplier Dalam perekonomian dua sektor corak dari rangkaian pertambahan pengeluaran. Seterusnya kenaikan pendapatan rumah tangga tersebut akan menaikkan konsumsi. Formula untuk menentukan multiplier Apabila proses multiplier tersebut terus berjalan. Tambahan investasi pada permulaannya akan menaikkan pendapatan nasional dan pendapatan rumah tangga. konsumsi rumah tangga bertambah.

dan perdagangan luar negeri berpengaruh terhadap output dan kesempatan kerja dalam perekonomian. dengan asumsi: Upah dan harga tidak berubah perekonomian terdapat pengangguran sumberdaya Tidak ada perubahan dalam pasar uang 18 STIE YASA ANGGANA | Keseimbangan Ekonomi Dua Sektor . yang disingkat dengan huruf k (sekian kali lipat). hasil perhitungan dan grafik segera dapat dilihat bahwaada hubungan tertentu ∆I (tambahan pembelajaran masyarakat atau permintaan efektif) dan ∆Y (Produksi dan Pendapatan Nasional). atau dari I = 20 menjadi I’ = 30).091100068 C. Kenaikan investasi menyebabkan tingkat investasi yang baru. Gejala ini dikenal dengan nama multiplier atau angka pengganda. maka pada tingkat keseimbangan yang baru pendapatan nasional Dari data yang ada. PERUBAHAN KESEIMBANGAN PENDAPATAN NASIONAL Pada mulanya fungsi konsumsi adalah bahwa pengeluaran agregat tersebut mewujudkan pendapatan nasional. Pengganda juga menjelaskan bagaimana shocks yang terjadi pada investasi. maka Y equilibrium bertambah dengan jumlah yang lebih besar. pajak dan pengeluaran pemerintah. Bila permintaan efektif bertambah (dari I = 0 menjadi I = 20.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->