P. 1
makalah ilmu tafsir

makalah ilmu tafsir

|Views: 1,481|Likes:

More info:

Published by: Muhammad Rizal Samalanga on Jul 31, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/10/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

Al-Qur‟an adalah sumber hukum pertama dan utama bagi

Islam.

Keberadaannya merupakan sebuah pelita bukan hanya bagi umat Islam, tapi juga seluruh manusia. Berbicara, mengkaji dan membahas al- Qur‟an tak akan pernah habis walaupun sampai akhir zaman, karena al-Qur‟an bagaikan laut yang tak bertepi, penuh rahasia dan makna, semakin dikaji maka semakin banyak pula hal baru yang ditemukan. Belum lagi al-Qur‟an mempunyai banyak “makna”, tergantung dari sudut pandang mana manusia mengkajinya, sehingga amat nyata bahwa al-Qur‟an adalah Mukjizat dan bukan hasil cipta atau karya manusia. Melihat kenyataan tersebut, maka tidaklah heran kalau al-Qur‟an mendapatkan perhatian yang besar dari umat Islam dan umat lainnya, untuk itu diperlukan alat yang mampu membawa kita memahami al-Qur‟an secara komprehensif dan menyeluruh, dalam hal ini ilmu tafsir diakui dapat membantu memahami dan mengetahui al-Qur‟an secara mendalam, serta mendorong kita untuk memahami hal-hal yang menunjang pemahaman al-Qur‟an yang mulia ini. Karena penafsiran yang benar mempunyai pengaruh pada nilai-nilai pengamalan terhadap ayat-ayat al-Qur‟an.

Dalam makalah yang sederhana ini penulis memaparkan tentang tafsir bi alma‟tsur atau juga dikenal dengan tafsir bi al-riwayah dan tafsir bi al-manqul. Penulis memulai dengan pengertian dari tafsir bi al-ma‟tsur, kemudian jenis-jenisnya, kelebihan dan kekurangannya, pengembangannya, dan contoh-contoh dari kitab tafsir bi al-ma‟tsur.

1

al-Izhar (menampakkan). al-Itqan fi Ulum al-Qur’an. 451. at-Ta’rifat. dan al-Ibanah (menjelaskan). 3 Jalaluddin al-Suyuthi.BAB II PEMBAHASAN A. hal. 2005).tafsiiran yang berarti keterangan dan uraian. hal. ilmu tafsir. (Cairo: Dar al-Hadits). (Jeddah. 63. al-Jurjani berpendapat bahwa kata tafsir menurut pengertian bahasa adalah al-Kasyf wa al-Izhar yang artinya menyingkap (membuka) dan melahirkan.1 Pada dasarnya. al-Thaba’ah wa al-Nasyr wa al-Tauzi). pengertian tafsir berdasarkan bahasa tidak akan lepas dari kandungan makna al-Idhah (menjelaskan).2 Adapun pengertian tafsir berdasarkan istilah. serta menyimpulkan kandungan-kandungan hukum dan hikmahnya. َٔ‫استخشاج أحنبٍٔ ٗ حن‬ Artinya: “Tafsir adalah ilmu yang digunakan untuk memahami dan menjelaskan makna-makna kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nya. (bandung. al-Bayan (menerangkan). hal. Muhammad saw.”3 Menurut al-Kilabi dalam al-Tashil: 1 2 Al-Jurjani. al-Kasyf (mengungkap). menurut al-Zarkasyi: ٗ ٔ‫عيٌ يفٌٖ بٔ متبة هللا اىَْزه عيى ّبئ ٍحَذ صيى هللا عيئ ٗسيٌ ٗ بيبُ ٍعبّي‬ . Pustaka Setia. 2 . Rosihun Anwar. Pengertian Tafsir Bi al-Ma’tsur Kata tafsir diambil dari kata fassara – yufassiru . 141.

Taisir Mushthalah al-Hadits. Hasbi Ash-Shiddieqy.ٓ‫اىتفسيش ششح اىقشآُ ٗبيبُ ٍعْبٓ ٗاإلفصبح بَب يقتضئ بْصٔ أٗ إشبستٔ أٗ ّج٘ا‬ Artinya: “ Tafsir adalah menjelaskan al-Qur‟an. hal. atsar berarti: ” Segala sesuatu yang disandarkan kepada sahabat dan tabi‟in yang terdiri atas perkataan atau perbuatan”5 Dengan menggabungkan kedua pengertian di atas. 2. yakni: 1. M. (Semarang: Pustaka Rizki Putra. menerangkan maknanya. ada beberapa pendapat yang berbeda. secara sederhana dapat disimpulkan bahwa tafsir bil-ma‟tsur adalah menafsirkan al-Qur‟an dengan menggunakan keterangan dari al-Qur‟an dan atsar. dimana menurut bahasa berarti sisa dari sesuatu. 13. Menurut pendapat yang kedua ini. 2005). hal. 5 Mahmud al-Thahhan.”4 Kata al-Ma‟tsur adalah isim maf‟ul dari Atsar. isyarat. Atsar berbeda pengertiannya dengan Hadist. 2000). atau tujuannya. dan menjelaskan apa yang dikehendaki nash. memformulasikan tafsir bi al-ma‟tsur (disebut pula dengan tafsir bi al-riwayah dan tafsir bi al-manqul) berikut macam-macamnya sebagai berikut: T. Muhammad Ali al-Shabuni. 4 3 . (Cairo: Maktabah al-Iman. Atsar sama pengertiannya dengan Hadist. Sedangkan menurut istilah. 170. Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Quran dan Tafsir.

”6 Dapat difahami bahwa tafsir bil-ma‟tsur adalah sebuah cara menjelaskan maksud dari sebuah ayat atau lebih dengan menggunakan penjelasan ayat al-Qur‟an lainnya atau penjelasan dari Rasulullah saw. Karena al-Qur‟an pada dasarnya saling menafsirkan ayat yang ada. yaitu: 1) Tafsir al-Qur’an bi al-Qur’an Yaitu penafsiran ayat-ayat al-Qur‟an dengan ayat-ayat yang ada dalam alQur‟an juga. atau sunnah atau pendapat sahabat. al-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an. B. dalam rangka menerangkan apa yang dikehendaki Allah swt tentang penafsiran alquran berdasarkan al-Sunnah al-Nabawiyah. 6 4 .‫تفسيش اىقشآُ ببىسْت اىْب٘يت اٗ تفسيش اىقشآُ ببىَأث٘س عِ اىصحببت‬ Artinya : “Tafsir bi al-riwayah ialah tafsir yang terdapat di dalam al-Qur‟an. hal. 1401 H/1981M).‫اىتفسيش ببىشٗايت ٕ٘ ٍب جبء فى اىقشآُ ٗاىسْت اٗ مالً اىصحببت بيبّب ىَشاد هللا تعبىى‬ ٗ‫تفسيش اىقشآُ ببىسْت اىْب٘يت. atau dari sahabat maupun tabi‟in. ayat Muhammad Ali al-Shabuni. Jenis-jenis Tafsir Bi al-Ma’tsur Dari defenisi di atas bisa dikemukakan bahwa tafsir bi al-ma‟tsur dapat dibedakan dalam tiga bentuk. Dengan demikian maka tafsir bil ma‟tsur adakalanya ialah menafsirkan al-Qur‟an dengan al-Qur‟an atau menafsirkan al-Qur‟an dengan al-Sunnah al-Nabawiyah atau menafsirkan al-Qur‟an dengan pendapat sahabat. (Dimasyq: Maktabah al-Ghazali. فبىتفسيش ببىَأث٘س اٍب اُ ينُ٘ تفسيش اىقشآُ ببىقشآُ ا‬ . 63.

yang diuraikan pada ayat selanjutnya: “Kitab (al-Qur‟an) ini tidak ada keraguan padanya. (Jakarta: Pustaka Firdaus). lalu ayat lain memberikan uraian cerita yang lebih lengkap. pada sebuah ayat hanya diceritakan dengan ringkas. hal. 51. yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur‟an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitabkitab yang telah diturunkan sebelummu. lalu ayat yang lainlah yang menguraikannya dengan lebih jelas. seperti kata al-muttaqin pada surah al-Baqarah ayat 2. serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat “. seperti kisah nabi Musa as.7 Kedua adalah penjelasan tentang informasi tertentu yang dalam sebuah ayat hanya disebutkan secara ringkas. dan apa yang disebut secara ringkas dalam al-Qur‟an ditafsir secara mendetail pada ayat yang lain. Penafsiran dengan menggunakan penjelasan dari ayat lain seperti di atas dapat dibedakan menjadi beberapa macam. petunjuk bagi mereka yang bertakwa” Kata “mereka yang bertakwa” kemudian diuraikan pada ayat selanjutnya: ”(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib. yaitu: Pertama adalah bahwa maksud dari sebuah ayat diuraikan pada ayat lain. 7 Muhammad Amin Suma.yang global yang terdapat dalam al-Qur‟an ditafsirkan oleh ayat yang ada di tempat lain.( al-Baqarah : 3-4). studi ilmu-ilmu al-Quran. 5 .

juz 8. daging babi. 6 . (QS al-Ma‟idah: 3) Keempat adalah pengkompromian sebuah ayat yang pada zahirnya terlihat berbeda dengan ayat lain. 601. Fath al-Bari bi Syarhi Shahih al-Bukhari. mutlaq dengan muqayyad. (QS al-Maidah: 5) Ayat ini dikhususkan dengan ayat lainnya yakni: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai. 2004). maka hendaklah penjelasan atau tafsir tersebut dicari pada sesuatu yang terdapat pada sunnah atau Hadist Rasullah saw. karena fungsi dari Sunnah adalah sebagai penjelas atau penerang bagi al-Qur‟an.Ketiga adalah ayat-ayat mujmal ditafsirkan dengan ayat-ayat mubayyan. darah. maka maksud yang muncul kemudian adalah kombinasi antara kedua ayat atau lebih tersebut. (Cairo: Dar al-Hadits. Contoh: “Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik” . amm dengan khash. Di antara contohnya adalah Nabi saw menafsirkan kata ٌ‫( ظي‬zhulmun) dengan syirik (mempersekutukan Allah) ketika menafsirkan firman Allah:8 ُٗ‫اىزيِ ءاٍْ٘ا ٗىٌ ييبث٘ا إيَبٌّٖ بظيٌ أٗىئل ىٌٖ األٍِ ٌٕٗ ٍٖتذ‬ 8 Ibnu Hajar al-Asqalani. (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah”. hal. 2) Tafsir al-Qur’an dengan Sunnah Yaitu jika tidak ditemukan penjelasan tentang suatu ayat dalam al-Qur‟an pada al-Qur‟an itu sendiri.

Ali bin Abi Thalib ra. Umar bin Khattab ra.”(QS. Abdullah bin Mas‟ud ra. yang dikumpulkan oleh para imam-imam Hadist berdasarkan riwayat dan sanad. Zaid bin tsabit ra... studi ….( QS: al-An‟am: 82) Rasulullah saw menegaskan bahwa yang dimaksud dengan zhulm pada ayat diatas adalah syirik seraya beliau merujuk pada ayat 13 surat Luqman. dan Aisyah ra. Luqman: 13). Di antara para sahabat yang terkenal banyak menafsirkan al-Qur‟an adalah Abu Bakar ra. Hadist adalah rekaman perjalanan kehidupan Rasulullah saw.. Abdullah bin Umar ra. Abu Musa al-Asy‟ari ra.... Ubay bin Ka‟ab ra. Anas bin Malik ra. Abdullah bin Zubair ra.. Kesahihan 9 Muhammad Amin Suma... 7 . Cukup banyak riwayat-riwayat yang dinisbatkan kepada mereka dan kepada beberapa sahabat lain di beberapa tempat. Jabir bin Abdullah ra. mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. 58. hal. karena sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar. yaitu: ٌ‫ٗ إر قبه ىقَبُ البْٔ ٕٗ٘ يعظٔ يب بْي ال تششك ببهلل إُ اىششك ىظيٌ عظي‬ “ Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku janganlah kamu mempersekutukan Allah.Artinya: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman. Abdullah bin Amr bin Ash ra.9 3) Penafsiran ayat al-Qur’an dengan pendapat para sahabat...

203. terutama dalam bentuk tafsir al-Qur‟an bi al-Qur‟an dan tafsir al-Qur‟an dengan al-Sunnah al-Nabawiyah oleh kebanyakan bahkan seluruh mufassirin dinyatakan sebagai tafsir yang paling berkualitas dan paling tinggi kedudukannya. hal. yang kemudian beliau jawab bahwa peniadaan dosa di sini dimaksudkan sebagai penolakan terhadap keyakinan beberapa kaum muslimin bahwa sa‟i antara Shafa dan Marwa termasuk perbuatan jahiliyyah. 63. Fath al-Bari …. pernah bertanya kepada Aisyah ra. studi . (QS al-Baqarah: 158) Tentang ayat ini. Kelebihan dan Kekurangan Tafsir Bi al-Ma’tsur Tafsir bi al-ma‟tsur.11 Berkenaan dengan keistimewaan ini sebahagian ulama di antaranya Ibn Taymiyyah (661-728 H/1262-1327 M) dan Ibn Katsir (701-774/1301-1372 M) 10 11 Ibnu Hajar al-Asqalani.10 C. 8 . hal. Urwah bin al-Zubair ra. maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa`i antara keduanya. Contoh ayat yang dijelaskan dengan perkataan sahabat adalah surah al-Baqarah ayat 158: ”Sesungguhnya Shafaa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri Kebaikan lagi Maha Mengetahui” .. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati. Hal ini seperti yang terdapat sebuah riwayat yang berasal dari Imam Bukhari.. Muhammad Amin Suma..riwayat yang disandarkan kepada mereka tentu saja berbeda-beda tergantung kepada kekuatan keshahihan sanadnya. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah.

3. maka hendaklah ia berpegang dengan al-Sunnah. Bahkan Imam Muhammad bin Idris al-Syafi‟i mengatakan:”Setiap masalah yang ketentuannya hukumnya ditetapkan Rasulullah saw maka (pada dasarnya) itu merupakan (hasil) pemahamannya terhadap al-Qur‟an. Manakala seseorang tidak menjumpai (keterangannya) dalam al-Qur‟an.”12 Sungguhpun tafsir bi al-riwayah /bi al-ma‟tsur memiliki kedudukan yang sangat tinggi. tapi tidak berarti kitab-kitab tafsir bi al-riwayah terlepas dari berbagai kelemahan.keduanya mengatakan bahwa: ”sekiranya ada orang yang bertanya tentang cara penafsiran al-Qur‟an yang terbaik. jilid 1. 9 . dan bid‟ah yang seringkali menodai akidah Islamiyah. terutama: 1) Mencampuradukkan antara yang sahih dengan yang tidak sahih. hal. 2) Dalam buku-buku tafsir bi al-riwayah sering dijumpai kisah-kisah Israiliyat yang penuh dengan khurafat. seperti dapat dikenali dari informasi yang sering dinisbahkan (dihubungkan) kepada sahabat atau tabi‟in tanpa memiliki rangkaian sanad yang valid sehingga membuka peluang bagi kemungkinan bercampur antara yang hak dengan yang batil. maka jawabannya yang paling tepat ialah manafsirkan al-Qur‟an dengan al-Qur‟an. ada beberapa kelemahan didalamnya. karena jika pada sebahagian ayat al-Qur‟an ada yang mujmal (global).Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. Sekurang-kurangnya menyangkut hal-hal tertentu terutama ketika dihubungkan dengan tafsir al-Qur‟an yang diwarisi dari sahabat dan tabi‟in. tahayul. 12 Abu Fida’ Ismail bin Katsir al-Dimasyqi. sebab al-Sunnah berfungsi sebagai pensyarah dan penjelas bagi al-Qur‟an. Alasannya. (Dar al-Turats al-Arabi). maka pada bagian yang lain seringkali dijumpai uraian yang relatif rinci.

66. tafsir bi al-riwayah yang sahih ialah tafsir yang didasarkan kapada periwayatan yang sanad maupun matannya dapat dipertanggungjawabkan ilmu Hadits. al-Tibyan…. Termasuk dalam kelompok tafsir bi al-riwayah yang tidak sahih ialah kisah-kisah Israiliyyat yang relatif cukup banyak dijumpai dalam berbagai kitab tafsir terutama kitab-kitab tafsir bi al-ma‟tsur. yakni tafsir bi al-riwayah yang sahih dan tafsir bi alriwayah yang tidak sahih. 78-79. 13 14 Muhammad Ali al-Shabuni. Sebab. 10 . Kemungkinan Pengembangan Tafsir bi al-Ma’tsur Tidak jarang sebahagian orang menganggap tafsir bi al-ma‟tsur yang lebih banyak berorientasi kepada teks-teks wahyu atau riwayat itu sulit untuk dikembangkan.3) Sebahagian orang kafir zindiq yang nota bene memusuhi Islam. acapkali menyisipkan (kecercayaannya) melalui sahabat dan tabi‟in sebagaimana halnya mereka juga berusaha menyisipkannya melalui Rasul saw di dalam Hadits-hadits Nabawiyah. Yang demikian itu mereka lakukan untuk menghancurkan Islam dari dalam. dan selakigus kelemahannya. hal. Muhammad Amin Suma. Asumsi seperti ini mungkin tidak terlalu salah jika riwayat dan teks yang ada semata-mata difahami secara literalis atau tekstual. Namun realitanya akan menjadi lain ketika tafsir bi al-ma‟tsur difahami secara tekstual dan kontekstual sekaligus. Studi …. sedangkan tafsir bi al-riwayah yang tidak sahih ialah tafsir yang didasarkan kepada riwayat-riwayat yang tidak benar. sungguh aneh rasanya bila ada pemahaman tekstual tanpa kontekstual atau pemahaman kontekstual tanpa tekstual. maka mudahlah dimengerti jika tafsir bi al-riwayah dibedakan ke dalam dua kelompok besar.13 Memperhatikan beberapa kelebihan tafsir bi al-riwayah. hlm.14 D.

Mengapa dengan panah? Karena untuk zaman itu satu-satunya senjata yang paling jauh jangkauannya untuk menyerang musuh adalah panah. maka tidaklah salah jika kata quwwah diatas penafsirannya tidak dengan panah – meskipun Nabi menafsirkan demikian – akan tetapi umat islam diingatkan Allah supaya selalu siap siaga dan waspada dalam menghadapi berbagai kemungkinan serangan musuh. Kewaspadaan itu harus tetap diiringi dengan segenap daya kekuatan yang dimiliki. musuhmu dan orang-orang selain mereka. Caranya dengan 11 . firman Allah: ٗ ٌ‫ٗ أعذٗا ىٌٖ ٍب استطعتٌ ٍِ ق٘ة ٍِٗ سببط اىخيو تشٕبُ٘ بٔ عذٗ هللا ٗ عذٗم‬ ٌّٖٗ‫ءاخشيِ ٍِ د‬ “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka (musuh) kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (dengan persiapan itu) kamu menggertakan musuh Allah. Atas dasar ini. Nabi menafsirkan kata quwwah pada ayat diatas dengan panah (al-ramyu). tank. Jangkauan ajaran Nabi dan pendidikannya – termasuk dalam bidang tafsir alquran – pasti mengiringi irama al-Qur‟an itu sendiri yang akan terus eksis dan dinamis. termasuk didalamnya senjata-senjata berat yang canggih. Contoh sederhana bahwa tafsir bi al-ma‟tsur bisa dikembangkan.Sungguh tidak masuk akal jika Nabi Muhammad saw selaku perintis ilmu tafsir dan pendidik mufassirin memberikan dasar-dasar ilmu tafsir yang jumud (statis). dapat disimpulkan bahwa tafsir bi al-ma‟tsur masih tetap bisa dan bahkan perlu dikembangkan. dan lain-lain.” (QS: alAnfal:60). Kala itu belum dikenal jenis senjata seperti pistol. senjata mesin. granat. Berdasarkan uraian diatas berikut contohnya.

486. studi …. Al-Imam menempuh jalan penafsiran para sahabat dan tabiin. penulisnya adalah Imam Ibnu Jarir At-Thabari. 2) Tafsir As-Samarqandy Ditulis oleh Imam Nasr bin Muhammad As-Samarqandy. hal. hal. Beliau banyak mengutip komentar mereka tetapi tidak menyebut sanad-sanadnya.15 E. Kitab tafsir ini berjudul Bahrul Ulum dan tergolong sebagai tafsir bil ma‟tsur. Ia dilahirkan pada tahun 224 H dan wafat 310 H. Dalam menulis tafsir ini. paling benar dan paling banyak mencakup pandapat sahabat dan tabi‟in serta dianggap sebagai pedoman pertama bagi para mufassir. 12 . 67-70. Dengan kata lain. al-Itqan ….panggilannya Abu Ja‟far. 3)g Tafsir Al-Baghawi Pengarang tafsir ini adalah Imam Husain bin Mas‟ud Al-Farra‟ Al-Baghawi.memahami konteks ayat-ayat dan hadits-hadits itu sendiri di samping tetap memperhatikan teks-teks apa adanya. Jalaluddin al-Suyuthi. bergelar Muhyi As-sunnah (yang 15 16 Muhammad Amin Suma. Beberapa Contoh Kitab Tafsir bi al-Ma’tsur 1) Tafsir At-Thabari Nama asli tafsir ini adalah Jami’ Al-bayan fi Tafsir Al-Qur’an. Kitab beliau termasuk kitab tafsir bi al-ma‟tsur yang paling agung16. dikenal dengan Abu Laits (Wafat 373 H). Beliau juga seorang faqih lagi muhaddist. harus memperhatikan ruh (semangat) penafsiran Rasulullah saw itu sendiri dibalik teks-teks formal yang beliau sampaikan.

348-353. Kedudukannya berada pada posisi kedua setelah Tafsir Ibnu Jarir At-Thobari. hadis dan tafsir. Ibnu Khaldun menilai tafsir ini paling tinggi validitasnya. Nama aslinya adalah Tafsir AlQur‟an Al-Adzim. Amanah. cerdas dan terkenal faqih. Pengantar Ilmu al-Quran dan Tafsir. hal. 6) Tafsir As-Suyuthi Kitab yang bernama Ad-Dur Al-Mantsur fi Tafsir bi Al-Ma’tsur ini ditulis oleh Imam Jalaluddin As-Suyuthy. 13 . Ahli dalam hukum. Beliau memberi nama tafsirnya dengan Ma’alim At-Tanzil. ulama produktif yang memiliki ratusan karya cemerlang. 4) Tafsir Ibnu ‘Athiyyah Al-Muharrar Al-Wajiz fi Tafsir Al-Kitab Al-Aziz ialah nama asli tafsir ini. Penulisnya adalah Imam Abu Muhammad Abdul Haq bin ghalib bin „Athiyyah AlAndalusy. Beliau wafat tahun 510 H. Tafsir yang diterima di khalayak ramai umat Islam.menghidupkan sunnah). (Semarang: al-Syifa’. 1994). Beliau adalah seorang Qodhi yang adil.17 17 St. Beliau lahir tahun 749 H dan wafat tahun 911 H. 5) Tafsir Ibnu Katsir Kitab tafsir buah karya Al-Hafizh Imaduddin Ismail bin Amr bin Katsir (700774 H) ini adalah kitab yang paling masyhur dalam bidangnya.

Tafsir bi al-ma‟tsur dibedakan ke dalam dua kelompok besar. 14 . Tafsir bi al-ma‟tsur adalah sebuah cara menjelaskan maksud dari sebuah ayat atau lebih dengan menggunakan penjelasan ayat al-Qur‟an lainnya atau penjelasan dari Rasulullah saw. Caranya dengan memahami konteks ayat-ayat dan hadits-hadits itu sendiri di samping tetap memperhatikan teks-teks apa adanya. 2. atau dari sahabat maupun tabi‟in. Dengan kata lain. yaitu: 1) Tafsir al-Qur‟an bi al-Qur‟an. 3) Penafsiran ayat al-Qur‟an dengan pendapat para sahabat dan tabi‟in. 2) Tafsir al-Qur‟an dengan Sunnah. harus memperhatikan ruh (semangat) penafsiran Rasulullah saw itu sendiri dibalik teks-teks formal yang beliau sampaikan. Tafsir bi al-ma‟tsur dapat dibedakan dalam tiga bentuk.BAB III PENUTUP Kesimpulan Dari pembahasan di atas dapat kita simpulkan bahwa: 1. 3. Tafsir bi al-ma‟tsur masih tetap bisa dan bahkan perlu dikembangkan. yakni tafsir bi alriwayah yang sahih dan tafsir bi al-riwayah yang tidak sahih. 4.

(Semarang: al-Syifa’. Ibnu Hajar al-Asqalani. 15 . 1401 H/1981M). juz 8. M. (bandung. al-Thaba’ah wa al-Nasyr wa al-Tauzi). (Jakarta: Pustaka Firdaus. 2001). ilmu tafsir. (Cairo: Maktabah al-Iman. Rosihun Anwar. Hasbi Ash-Shiddieqy. at-Ta’rifat. Amanah. Mahmud al-Thahhan. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. 2000). Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Quran dan Tafsir. 2004). studi ilmu-ilmu al-Quran. 2005). Jalaluddin al-Suyuthi. (Cairo: Dar al-Hadits). (Jeddah. al-Itqan fi Ulum al-Qur’an. St. 2005). Pengantar Ilmu al-Quran dan Tafsir. Pustaka Setia. Muhammad Ali al-Shabuni. Taisir Mushthalah al-Hadits. 1994). (Semarang: Pustaka Rizki Putra. Al-Jurjani.DAFTAR PUSTAKA Abu al-Fida‟ Ismail bin Katsir al-Dimasyqi. (Dar al-Turats al-Arabi). (Dimasyq: Maktabah al-Ghazali. Fath al-Bari bi Syarhi Shahih al-Bukhari. T. al-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an. jilid 1. (Cairo: Dar al-Hadits. Muhammad Amin Suma.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->