BAB I PENDAHULUAN

Al-Qur‟an adalah sumber hukum pertama dan utama bagi

Islam.

Keberadaannya merupakan sebuah pelita bukan hanya bagi umat Islam, tapi juga seluruh manusia. Berbicara, mengkaji dan membahas al- Qur‟an tak akan pernah habis walaupun sampai akhir zaman, karena al-Qur‟an bagaikan laut yang tak bertepi, penuh rahasia dan makna, semakin dikaji maka semakin banyak pula hal baru yang ditemukan. Belum lagi al-Qur‟an mempunyai banyak “makna”, tergantung dari sudut pandang mana manusia mengkajinya, sehingga amat nyata bahwa al-Qur‟an adalah Mukjizat dan bukan hasil cipta atau karya manusia. Melihat kenyataan tersebut, maka tidaklah heran kalau al-Qur‟an mendapatkan perhatian yang besar dari umat Islam dan umat lainnya, untuk itu diperlukan alat yang mampu membawa kita memahami al-Qur‟an secara komprehensif dan menyeluruh, dalam hal ini ilmu tafsir diakui dapat membantu memahami dan mengetahui al-Qur‟an secara mendalam, serta mendorong kita untuk memahami hal-hal yang menunjang pemahaman al-Qur‟an yang mulia ini. Karena penafsiran yang benar mempunyai pengaruh pada nilai-nilai pengamalan terhadap ayat-ayat al-Qur‟an.

Dalam makalah yang sederhana ini penulis memaparkan tentang tafsir bi alma‟tsur atau juga dikenal dengan tafsir bi al-riwayah dan tafsir bi al-manqul. Penulis memulai dengan pengertian dari tafsir bi al-ma‟tsur, kemudian jenis-jenisnya, kelebihan dan kekurangannya, pengembangannya, dan contoh-contoh dari kitab tafsir bi al-ma‟tsur.

1

(Jeddah. َٔ‫استخشاج أحنبٍٔ ٗ حن‬ Artinya: “Tafsir adalah ilmu yang digunakan untuk memahami dan menjelaskan makna-makna kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nya. Pengertian Tafsir Bi al-Ma’tsur Kata tafsir diambil dari kata fassara – yufassiru . (Cairo: Dar al-Hadits).1 Pada dasarnya. 3 Jalaluddin al-Suyuthi. Pustaka Setia. at-Ta’rifat. al-Thaba’ah wa al-Nasyr wa al-Tauzi). serta menyimpulkan kandungan-kandungan hukum dan hikmahnya.tafsiiran yang berarti keterangan dan uraian. ilmu tafsir. 451. 2 . dan al-Ibanah (menjelaskan). 141. Rosihun Anwar. pengertian tafsir berdasarkan bahasa tidak akan lepas dari kandungan makna al-Idhah (menjelaskan). al-Bayan (menerangkan). al-Izhar (menampakkan). al-Kasyf (mengungkap).BAB II PEMBAHASAN A.”3 Menurut al-Kilabi dalam al-Tashil: 1 2 Al-Jurjani. al-Itqan fi Ulum al-Qur’an. hal. Muhammad saw. hal. 63.2 Adapun pengertian tafsir berdasarkan istilah. 2005). hal. menurut al-Zarkasyi: ٗ ٔ‫عيٌ يفٌٖ بٔ متبة هللا اىَْزه عيى ّبئ ٍحَذ صيى هللا عيئ ٗسيٌ ٗ بيبُ ٍعبّي‬ . (bandung. al-Jurjani berpendapat bahwa kata tafsir menurut pengertian bahasa adalah al-Kasyf wa al-Izhar yang artinya menyingkap (membuka) dan melahirkan.

Atsar berbeda pengertiannya dengan Hadist. M. 13. Atsar sama pengertiannya dengan Hadist. yakni: 1. 4 3 . Sedangkan menurut istilah. dan menjelaskan apa yang dikehendaki nash. 2005). Taisir Mushthalah al-Hadits.”4 Kata al-Ma‟tsur adalah isim maf‟ul dari Atsar. hal. ada beberapa pendapat yang berbeda. Menurut pendapat yang kedua ini. memformulasikan tafsir bi al-ma‟tsur (disebut pula dengan tafsir bi al-riwayah dan tafsir bi al-manqul) berikut macam-macamnya sebagai berikut: T. isyarat. atau tujuannya.ٓ‫اىتفسيش ششح اىقشآُ ٗبيبُ ٍعْبٓ ٗاإلفصبح بَب يقتضئ بْصٔ أٗ إشبستٔ أٗ ّج٘ا‬ Artinya: “ Tafsir adalah menjelaskan al-Qur‟an. 2. Hasbi Ash-Shiddieqy. 5 Mahmud al-Thahhan. Muhammad Ali al-Shabuni. hal. (Semarang: Pustaka Rizki Putra. dimana menurut bahasa berarti sisa dari sesuatu. secara sederhana dapat disimpulkan bahwa tafsir bil-ma‟tsur adalah menafsirkan al-Qur‟an dengan menggunakan keterangan dari al-Qur‟an dan atsar. 170. Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Quran dan Tafsir. menerangkan maknanya. (Cairo: Maktabah al-Iman. 2000). atsar berarti: ” Segala sesuatu yang disandarkan kepada sahabat dan tabi‟in yang terdiri atas perkataan atau perbuatan”5 Dengan menggabungkan kedua pengertian di atas.

Dengan demikian maka tafsir bil ma‟tsur adakalanya ialah menafsirkan al-Qur‟an dengan al-Qur‟an atau menafsirkan al-Qur‟an dengan al-Sunnah al-Nabawiyah atau menafsirkan al-Qur‟an dengan pendapat sahabat. al-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an. 1401 H/1981M).‫تفسيش اىقشآُ ببىسْت اىْب٘يت اٗ تفسيش اىقشآُ ببىَأث٘س عِ اىصحببت‬ Artinya : “Tafsir bi al-riwayah ialah tafsir yang terdapat di dalam al-Qur‟an.‫اىتفسيش ببىشٗايت ٕ٘ ٍب جبء فى اىقشآُ ٗاىسْت اٗ مالً اىصحببت بيبّب ىَشاد هللا تعبىى‬ ٗ‫تفسيش اىقشآُ ببىسْت اىْب٘يت. atau dari sahabat maupun tabi‟in. dalam rangka menerangkan apa yang dikehendaki Allah swt tentang penafsiran alquran berdasarkan al-Sunnah al-Nabawiyah. فبىتفسيش ببىَأث٘س اٍب اُ ينُ٘ تفسيش اىقشآُ ببىقشآُ ا‬ . Karena al-Qur‟an pada dasarnya saling menafsirkan ayat yang ada. atau sunnah atau pendapat sahabat. hal.”6 Dapat difahami bahwa tafsir bil-ma‟tsur adalah sebuah cara menjelaskan maksud dari sebuah ayat atau lebih dengan menggunakan penjelasan ayat al-Qur‟an lainnya atau penjelasan dari Rasulullah saw. Jenis-jenis Tafsir Bi al-Ma’tsur Dari defenisi di atas bisa dikemukakan bahwa tafsir bi al-ma‟tsur dapat dibedakan dalam tiga bentuk. ayat Muhammad Ali al-Shabuni. 63. yaitu: 1) Tafsir al-Qur’an bi al-Qur’an Yaitu penafsiran ayat-ayat al-Qur‟an dengan ayat-ayat yang ada dalam alQur‟an juga. 6 4 . B. (Dimasyq: Maktabah al-Ghazali.

51. yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur‟an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitabkitab yang telah diturunkan sebelummu. 5 . (Jakarta: Pustaka Firdaus). studi ilmu-ilmu al-Quran. petunjuk bagi mereka yang bertakwa” Kata “mereka yang bertakwa” kemudian diuraikan pada ayat selanjutnya: ”(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib. hal. Penafsiran dengan menggunakan penjelasan dari ayat lain seperti di atas dapat dibedakan menjadi beberapa macam.( al-Baqarah : 3-4). yang diuraikan pada ayat selanjutnya: “Kitab (al-Qur‟an) ini tidak ada keraguan padanya. yaitu: Pertama adalah bahwa maksud dari sebuah ayat diuraikan pada ayat lain. pada sebuah ayat hanya diceritakan dengan ringkas. 7 Muhammad Amin Suma. seperti kata al-muttaqin pada surah al-Baqarah ayat 2. serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat “.7 Kedua adalah penjelasan tentang informasi tertentu yang dalam sebuah ayat hanya disebutkan secara ringkas. seperti kisah nabi Musa as.yang global yang terdapat dalam al-Qur‟an ditafsirkan oleh ayat yang ada di tempat lain. lalu ayat lain memberikan uraian cerita yang lebih lengkap. dan apa yang disebut secara ringkas dalam al-Qur‟an ditafsir secara mendetail pada ayat yang lain. lalu ayat yang lainlah yang menguraikannya dengan lebih jelas.

2004). amm dengan khash.Ketiga adalah ayat-ayat mujmal ditafsirkan dengan ayat-ayat mubayyan. karena fungsi dari Sunnah adalah sebagai penjelas atau penerang bagi al-Qur‟an. Contoh: “Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik” . Fath al-Bari bi Syarhi Shahih al-Bukhari. hal. juz 8. 6 . 601. (QS al-Maidah: 5) Ayat ini dikhususkan dengan ayat lainnya yakni: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai. mutlaq dengan muqayyad. darah. 2) Tafsir al-Qur’an dengan Sunnah Yaitu jika tidak ditemukan penjelasan tentang suatu ayat dalam al-Qur‟an pada al-Qur‟an itu sendiri. (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah”. Di antara contohnya adalah Nabi saw menafsirkan kata ٌ‫( ظي‬zhulmun) dengan syirik (mempersekutukan Allah) ketika menafsirkan firman Allah:8 ُٗ‫اىزيِ ءاٍْ٘ا ٗىٌ ييبث٘ا إيَبٌّٖ بظيٌ أٗىئل ىٌٖ األٍِ ٌٕٗ ٍٖتذ‬ 8 Ibnu Hajar al-Asqalani. daging babi. (QS al-Ma‟idah: 3) Keempat adalah pengkompromian sebuah ayat yang pada zahirnya terlihat berbeda dengan ayat lain. maka maksud yang muncul kemudian adalah kombinasi antara kedua ayat atau lebih tersebut. (Cairo: Dar al-Hadits. maka hendaklah penjelasan atau tafsir tersebut dicari pada sesuatu yang terdapat pada sunnah atau Hadist Rasullah saw.

( QS: al-An‟am: 82) Rasulullah saw menegaskan bahwa yang dimaksud dengan zhulm pada ayat diatas adalah syirik seraya beliau merujuk pada ayat 13 surat Luqman. Hadist adalah rekaman perjalanan kehidupan Rasulullah saw. Ali bin Abi Thalib ra. Abdullah bin Umar ra. hal.Artinya: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman. 58. mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.. Zaid bin tsabit ra. studi …..”(QS.. Ubay bin Ka‟ab ra.... yang dikumpulkan oleh para imam-imam Hadist berdasarkan riwayat dan sanad. Cukup banyak riwayat-riwayat yang dinisbatkan kepada mereka dan kepada beberapa sahabat lain di beberapa tempat. Kesahihan 9 Muhammad Amin Suma. Anas bin Malik ra.. dan Aisyah ra. Luqman: 13). Abdullah bin Amr bin Ash ra. Di antara para sahabat yang terkenal banyak menafsirkan al-Qur‟an adalah Abu Bakar ra. Abu Musa al-Asy‟ari ra. 7 . Jabir bin Abdullah ra.. Abdullah bin Zubair ra. karena sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar..9 3) Penafsiran ayat al-Qur’an dengan pendapat para sahabat. yaitu: ٌ‫ٗ إر قبه ىقَبُ البْٔ ٕٗ٘ يعظٔ يب بْي ال تششك ببهلل إُ اىششك ىظيٌ عظي‬ “ Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku janganlah kamu mempersekutukan Allah.. Abdullah bin Mas‟ud ra. Umar bin Khattab ra..

yang kemudian beliau jawab bahwa peniadaan dosa di sini dimaksudkan sebagai penolakan terhadap keyakinan beberapa kaum muslimin bahwa sa‟i antara Shafa dan Marwa termasuk perbuatan jahiliyyah.. (QS al-Baqarah: 158) Tentang ayat ini. Hal ini seperti yang terdapat sebuah riwayat yang berasal dari Imam Bukhari. hal. Contoh ayat yang dijelaskan dengan perkataan sahabat adalah surah al-Baqarah ayat 158: ”Sesungguhnya Shafaa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri Kebaikan lagi Maha Mengetahui” . Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati. pernah bertanya kepada Aisyah ra.. Fath al-Bari …. terutama dalam bentuk tafsir al-Qur‟an bi al-Qur‟an dan tafsir al-Qur‟an dengan al-Sunnah al-Nabawiyah oleh kebanyakan bahkan seluruh mufassirin dinyatakan sebagai tafsir yang paling berkualitas dan paling tinggi kedudukannya.11 Berkenaan dengan keistimewaan ini sebahagian ulama di antaranya Ibn Taymiyyah (661-728 H/1262-1327 M) dan Ibn Katsir (701-774/1301-1372 M) 10 11 Ibnu Hajar al-Asqalani. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah. Muhammad Amin Suma.riwayat yang disandarkan kepada mereka tentu saja berbeda-beda tergantung kepada kekuatan keshahihan sanadnya. maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa`i antara keduanya. Kelebihan dan Kekurangan Tafsir Bi al-Ma’tsur Tafsir bi al-ma‟tsur. 8 . studi . hal.10 C. 63. Urwah bin al-Zubair ra..203.

(Dar al-Turats al-Arabi).keduanya mengatakan bahwa: ”sekiranya ada orang yang bertanya tentang cara penafsiran al-Qur‟an yang terbaik. ada beberapa kelemahan didalamnya.”12 Sungguhpun tafsir bi al-riwayah /bi al-ma‟tsur memiliki kedudukan yang sangat tinggi. sebab al-Sunnah berfungsi sebagai pensyarah dan penjelas bagi al-Qur‟an. karena jika pada sebahagian ayat al-Qur‟an ada yang mujmal (global).Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. Bahkan Imam Muhammad bin Idris al-Syafi‟i mengatakan:”Setiap masalah yang ketentuannya hukumnya ditetapkan Rasulullah saw maka (pada dasarnya) itu merupakan (hasil) pemahamannya terhadap al-Qur‟an. maka pada bagian yang lain seringkali dijumpai uraian yang relatif rinci. 3. 9 . tapi tidak berarti kitab-kitab tafsir bi al-riwayah terlepas dari berbagai kelemahan. 12 Abu Fida’ Ismail bin Katsir al-Dimasyqi. Alasannya. maka jawabannya yang paling tepat ialah manafsirkan al-Qur‟an dengan al-Qur‟an. maka hendaklah ia berpegang dengan al-Sunnah. seperti dapat dikenali dari informasi yang sering dinisbahkan (dihubungkan) kepada sahabat atau tabi‟in tanpa memiliki rangkaian sanad yang valid sehingga membuka peluang bagi kemungkinan bercampur antara yang hak dengan yang batil. Sekurang-kurangnya menyangkut hal-hal tertentu terutama ketika dihubungkan dengan tafsir al-Qur‟an yang diwarisi dari sahabat dan tabi‟in. hal. tahayul. dan bid‟ah yang seringkali menodai akidah Islamiyah. 2) Dalam buku-buku tafsir bi al-riwayah sering dijumpai kisah-kisah Israiliyat yang penuh dengan khurafat. Manakala seseorang tidak menjumpai (keterangannya) dalam al-Qur‟an. terutama: 1) Mencampuradukkan antara yang sahih dengan yang tidak sahih. jilid 1.

hal.3) Sebahagian orang kafir zindiq yang nota bene memusuhi Islam. 13 14 Muhammad Ali al-Shabuni. Muhammad Amin Suma. sedangkan tafsir bi al-riwayah yang tidak sahih ialah tafsir yang didasarkan kepada riwayat-riwayat yang tidak benar. dan selakigus kelemahannya. Namun realitanya akan menjadi lain ketika tafsir bi al-ma‟tsur difahami secara tekstual dan kontekstual sekaligus. Studi …. Asumsi seperti ini mungkin tidak terlalu salah jika riwayat dan teks yang ada semata-mata difahami secara literalis atau tekstual. Termasuk dalam kelompok tafsir bi al-riwayah yang tidak sahih ialah kisah-kisah Israiliyyat yang relatif cukup banyak dijumpai dalam berbagai kitab tafsir terutama kitab-kitab tafsir bi al-ma‟tsur. Sebab. yakni tafsir bi al-riwayah yang sahih dan tafsir bi alriwayah yang tidak sahih. Kemungkinan Pengembangan Tafsir bi al-Ma’tsur Tidak jarang sebahagian orang menganggap tafsir bi al-ma‟tsur yang lebih banyak berorientasi kepada teks-teks wahyu atau riwayat itu sulit untuk dikembangkan. 66.13 Memperhatikan beberapa kelebihan tafsir bi al-riwayah. 10 . acapkali menyisipkan (kecercayaannya) melalui sahabat dan tabi‟in sebagaimana halnya mereka juga berusaha menyisipkannya melalui Rasul saw di dalam Hadits-hadits Nabawiyah. 78-79. maka mudahlah dimengerti jika tafsir bi al-riwayah dibedakan ke dalam dua kelompok besar. hlm. sungguh aneh rasanya bila ada pemahaman tekstual tanpa kontekstual atau pemahaman kontekstual tanpa tekstual. al-Tibyan….14 D. tafsir bi al-riwayah yang sahih ialah tafsir yang didasarkan kapada periwayatan yang sanad maupun matannya dapat dipertanggungjawabkan ilmu Hadits. Yang demikian itu mereka lakukan untuk menghancurkan Islam dari dalam.

dan lain-lain. granat. termasuk didalamnya senjata-senjata berat yang canggih. musuhmu dan orang-orang selain mereka. maka tidaklah salah jika kata quwwah diatas penafsirannya tidak dengan panah – meskipun Nabi menafsirkan demikian – akan tetapi umat islam diingatkan Allah supaya selalu siap siaga dan waspada dalam menghadapi berbagai kemungkinan serangan musuh.Sungguh tidak masuk akal jika Nabi Muhammad saw selaku perintis ilmu tafsir dan pendidik mufassirin memberikan dasar-dasar ilmu tafsir yang jumud (statis). Kala itu belum dikenal jenis senjata seperti pistol. Kewaspadaan itu harus tetap diiringi dengan segenap daya kekuatan yang dimiliki. Caranya dengan 11 . firman Allah: ٗ ٌ‫ٗ أعذٗا ىٌٖ ٍب استطعتٌ ٍِ ق٘ة ٍِٗ سببط اىخيو تشٕبُ٘ بٔ عذٗ هللا ٗ عذٗم‬ ٌّٖٗ‫ءاخشيِ ٍِ د‬ “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka (musuh) kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (dengan persiapan itu) kamu menggertakan musuh Allah. dapat disimpulkan bahwa tafsir bi al-ma‟tsur masih tetap bisa dan bahkan perlu dikembangkan. Jangkauan ajaran Nabi dan pendidikannya – termasuk dalam bidang tafsir alquran – pasti mengiringi irama al-Qur‟an itu sendiri yang akan terus eksis dan dinamis. Atas dasar ini. Contoh sederhana bahwa tafsir bi al-ma‟tsur bisa dikembangkan. Berdasarkan uraian diatas berikut contohnya. Nabi menafsirkan kata quwwah pada ayat diatas dengan panah (al-ramyu).” (QS: alAnfal:60). Mengapa dengan panah? Karena untuk zaman itu satu-satunya senjata yang paling jauh jangkauannya untuk menyerang musuh adalah panah. senjata mesin. tank.

panggilannya Abu Ja‟far. Al-Imam menempuh jalan penafsiran para sahabat dan tabiin. bergelar Muhyi As-sunnah (yang 15 16 Muhammad Amin Suma. 12 . penulisnya adalah Imam Ibnu Jarir At-Thabari.memahami konteks ayat-ayat dan hadits-hadits itu sendiri di samping tetap memperhatikan teks-teks apa adanya. Beliau juga seorang faqih lagi muhaddist. hal. dikenal dengan Abu Laits (Wafat 373 H). 3)g Tafsir Al-Baghawi Pengarang tafsir ini adalah Imam Husain bin Mas‟ud Al-Farra‟ Al-Baghawi. 2) Tafsir As-Samarqandy Ditulis oleh Imam Nasr bin Muhammad As-Samarqandy. Beberapa Contoh Kitab Tafsir bi al-Ma’tsur 1) Tafsir At-Thabari Nama asli tafsir ini adalah Jami’ Al-bayan fi Tafsir Al-Qur’an. Beliau banyak mengutip komentar mereka tetapi tidak menyebut sanad-sanadnya. 67-70. Kitab tafsir ini berjudul Bahrul Ulum dan tergolong sebagai tafsir bil ma‟tsur. harus memperhatikan ruh (semangat) penafsiran Rasulullah saw itu sendiri dibalik teks-teks formal yang beliau sampaikan. Dengan kata lain. Dalam menulis tafsir ini. studi ….15 E. 486. hal. al-Itqan …. Ia dilahirkan pada tahun 224 H dan wafat 310 H. paling benar dan paling banyak mencakup pandapat sahabat dan tabi‟in serta dianggap sebagai pedoman pertama bagi para mufassir. Jalaluddin al-Suyuthi. Kitab beliau termasuk kitab tafsir bi al-ma‟tsur yang paling agung16.

Tafsir yang diterima di khalayak ramai umat Islam. Ibnu Khaldun menilai tafsir ini paling tinggi validitasnya. Nama aslinya adalah Tafsir AlQur‟an Al-Adzim.menghidupkan sunnah). (Semarang: al-Syifa’. Beliau lahir tahun 749 H dan wafat tahun 911 H. hal. Beliau adalah seorang Qodhi yang adil. 1994). hadis dan tafsir. 13 . 5) Tafsir Ibnu Katsir Kitab tafsir buah karya Al-Hafizh Imaduddin Ismail bin Amr bin Katsir (700774 H) ini adalah kitab yang paling masyhur dalam bidangnya. Beliau wafat tahun 510 H. Beliau memberi nama tafsirnya dengan Ma’alim At-Tanzil. Amanah. Pengantar Ilmu al-Quran dan Tafsir. cerdas dan terkenal faqih. Penulisnya adalah Imam Abu Muhammad Abdul Haq bin ghalib bin „Athiyyah AlAndalusy.17 17 St. 6) Tafsir As-Suyuthi Kitab yang bernama Ad-Dur Al-Mantsur fi Tafsir bi Al-Ma’tsur ini ditulis oleh Imam Jalaluddin As-Suyuthy. Ahli dalam hukum. 348-353. ulama produktif yang memiliki ratusan karya cemerlang. Kedudukannya berada pada posisi kedua setelah Tafsir Ibnu Jarir At-Thobari. 4) Tafsir Ibnu ‘Athiyyah Al-Muharrar Al-Wajiz fi Tafsir Al-Kitab Al-Aziz ialah nama asli tafsir ini.

Tafsir bi al-ma‟tsur adalah sebuah cara menjelaskan maksud dari sebuah ayat atau lebih dengan menggunakan penjelasan ayat al-Qur‟an lainnya atau penjelasan dari Rasulullah saw. atau dari sahabat maupun tabi‟in. Tafsir bi al-ma‟tsur masih tetap bisa dan bahkan perlu dikembangkan. 14 . yakni tafsir bi alriwayah yang sahih dan tafsir bi al-riwayah yang tidak sahih. harus memperhatikan ruh (semangat) penafsiran Rasulullah saw itu sendiri dibalik teks-teks formal yang beliau sampaikan. 4. Tafsir bi al-ma‟tsur dibedakan ke dalam dua kelompok besar. Caranya dengan memahami konteks ayat-ayat dan hadits-hadits itu sendiri di samping tetap memperhatikan teks-teks apa adanya.BAB III PENUTUP Kesimpulan Dari pembahasan di atas dapat kita simpulkan bahwa: 1. yaitu: 1) Tafsir al-Qur‟an bi al-Qur‟an. 3. 3) Penafsiran ayat al-Qur‟an dengan pendapat para sahabat dan tabi‟in. Dengan kata lain. 2. Tafsir bi al-ma‟tsur dapat dibedakan dalam tiga bentuk. 2) Tafsir al-Qur‟an dengan Sunnah.

(Semarang: Pustaka Rizki Putra. studi ilmu-ilmu al-Quran. (Dar al-Turats al-Arabi). Al-Jurjani. al-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an. al-Itqan fi Ulum al-Qur’an. al-Thaba’ah wa al-Nasyr wa al-Tauzi). Jalaluddin al-Suyuthi. Muhammad Amin Suma. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. (Cairo: Maktabah al-Iman.DAFTAR PUSTAKA Abu al-Fida‟ Ismail bin Katsir al-Dimasyqi. (Cairo: Dar al-Hadits). Rosihun Anwar. Taisir Mushthalah al-Hadits. T. 2004). (Dimasyq: Maktabah al-Ghazali. juz 8. Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Quran dan Tafsir. 2005). 2000). 2005). St. jilid 1. (bandung. Pustaka Setia. Ibnu Hajar al-Asqalani. Fath al-Bari bi Syarhi Shahih al-Bukhari. (Jakarta: Pustaka Firdaus. ilmu tafsir. (Jeddah. (Semarang: al-Syifa’. Pengantar Ilmu al-Quran dan Tafsir. (Cairo: Dar al-Hadits. at-Ta’rifat. Mahmud al-Thahhan. 1401 H/1981M). M. Amanah. Hasbi Ash-Shiddieqy. 15 . 2001). 1994). Muhammad Ali al-Shabuni.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful