P. 1
Morbus Hansen

Morbus Hansen

|Views: 126|Likes:
Published by andy_genex

More info:

Published by: andy_genex on Jul 31, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/15/2014

pdf

text

original

Sections

  • II. TINJAUAN PUSTAKA
  • A.Tinjauan Umum tentang Penyakit Kusta
  • 1.Tinjauan Penyakit Kusta
  • c.Epidemiologi Penyakit Kusta
  • a.Klasifikasi Penyakit Kusta
  • PB MB
  • Karakteristik Tuberkuloid
  • (BT)
  • Lesi
  • BTA
  • (LL) lepromatosa (BL)borderline (BB)
  • Gambar 1. Jenis Kusta Tipe Paucibacilary
  • Jenis Multibacillary
  • Gambar 2. Kusta Tipe Multibacilary
  • 4.Upaya Pencegahan Penyakit Kusta
  • 5.Penanggulangan Penyakit Kusta
  • 2)Rehabilitasi Nonmedik
  • 4)Rehabilitasi Karya
  • 5)Rehabilitasi Sosial
  • B.Tinjauan Umum Tentang Skrining
  • 1.Pengertian Skrining
  • 2.Tujuan dan Sasaran Skrining
  • 3.Berbagai Bentuk Pelaksanan Penyaringan (skrining)
  • 5.Kriteria Dalam Menyusun Program Skrining
  • C.Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Kusta
  • 1.Pengetahuan
  • 2.Sikap
  • 3. Tindakan
  • D.Kerangka Konsep
  • Pengetahuan
  • Tindakan
  • Responden Kejadian Penyalit Kusta

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum tentang Penyakit Kusta 1. Tinjauan Penyakit Kusta a.

Definisi Penyakit Kusta Istilah kusta berasal dari bahasa Sansekerta, yakni kushtha berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara umum. Penyakit kusta disebut juga Morbus Hansen, sesuai dengan nama yang menemukan kuman yaitu Dr. Gerhard Armauwer Hansen pada tahun 1874 sehingga penyakit ini disebut Morbus Hansen. Penyakit Hansen adalah sebuah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini adalah tipe penyakit granulomatosa pada saraf tepi dan mukosa dari saluran pernapasan atas; dan lesi pada kulit adalah tanda yang bisa diamati dari luar. Bila tidak ditangani, kusta dapat sangat progresif, menyebabkan kerusakan pada kulit, saraf-saraf, anggota gerak, dan mata. Tidak seperti mitos yang beredar di masyarakat, kusta tidak menyebabkan pelepasan anggota tubuh yang begitu mudah, seperti pada penyakit tzaraath yang digambarkan dan sering disamakan dengan kusta (Daili, 1998). Kusta merupakan penyakit menahun yang menyerang syaraf tepi, kulit dan organ tubuh manusia yang dalam jangka panjang mengakibatkan sebagian anggota tubuh penderita tidak dapat berfungsi sebagaimana

6

7

mestinya. Meskipun infeksius, tetapi derajat infektivitasnya rendah. Waktu inkubasinya panjang, mungkin beberapa tahun, dan tampaknya kebanyakan pasien mendapatkan infeksi sewaktu masa kanak-kanak. Tanda-tanda seseorang menderita penyakit kusta antara lain, kulit mengalami bercak putih, merah, ada bagian tubuh tidak berkeringat, rasa kesemutan pada anggota badan atau bagian raut muka, dan mati rasa karena kerusakan syaraf tepi. Gejalanya memang tidak selalu tampak. Justru sebaiknya waspada jika ada anggota keluarga yang menderita luka tak kunjung sembuh dalam jangka waktu lama. Juga bila luka ditekan dengan jari tidak terasa sakit. Kelompok yang berisiko tinggi terkena kusta adalah yang tinggal di daerah endemik dengan kondisi yang buruk seperti tempat tidur yang tidak memadai, air yang tidak bersih, asupan gizi yang buruk, dan adanya penyertaan penyakit lain seperti HIV yang dapat menekan sistem imun. Pria memiliki tingkat terkena kusta dua kali lebih tinggi dari wanita (Daili, 1998). Kusta tipe Pausi Bacillary atau disebut juga kusta kering adalah bilamana ada bercak keputihan seperti panu dan mati rasa atau kurang merasa, permukaan bercak kering dan kasar serta tidak berkeringat, tidak tumbuh rambut/bulu, bercak pada kulit antara 1-5 tempat. Ada kerusakan saraf tepi pada satu tempat, hasil pemeriksaan bakteriologis negatif (-), Tipe kusta ini tidak menular.Sedangkan Kusta tipe Multi Bacillary atau disebut juga kusta basah adalah bilamana bercak putih kemerahan yang tersebar

8

satu-satu atau merata diseluruh kulit badan, terjadi penebalan dan pembengkakan pada bercak, bercak pada kulit lebih dari 5 tempat, kerusakan banyak saraf tepi dan hasil pemeriksaan bakteriologi positif (+). Tipe seperti ini sangat mudah menular (Hasibuan, 1990). b. Sejarah Konon, kusta telah menyerang manusia sejak 300 SM, dan telah dikenal oleh peradaban Tiongkok kuno, Mesir kuno, dan India.. Pada 1995, Penyakit kusta atau lepra menjadi salah satu penyakit tertua yang hingga kini awet bertahan di dunia. Dari catatan yang ditemukan di India, penderita kusta sudah ditemukan sejak tahun 600 Sebelum Masehi. Dalam buku City of Joy (Negeri Bahagia) karya Dominique, mantan reporter untuk sejumlah penerbitan di Prancis pada dekade 1960-an hingga 1970-an, kusta menjadi penyakit yang 'populer' dan menjadi bagian dari kehidupan miskin di Calcutta, India. Namun, kuman penyebab kusta kali pertama baru ditemukan pada tahun 1873 oleh Armauer Hansen di Norwegia.Karena itu penyakit ini juga sering disebut penyakit Hansen. Saat ini penyakit kusta banyak terdapat di Benua Afrika, Asia, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan. Menurut sejarah pemberantasan penyakit kusta di dunia dapat kita bagi dalam 3 (tiga) zaman yaitu zaman purbakala, zaman pertengahan dan zaman moderen. Pada zaman purbakala karena belum ditemukan obat yang sesuai untuk pengobatan penderita kusta, maka penderita tersebut telah terjadi pengasingan secara spontan karena penderita merasa rendah diri dan

9

malu, disamping itu masyarakat menjauhi mereka karena merasa jijik. Pada zaman pertengan penderita kusta diasingkan lebih ketat dan dipaksa tinggal di Leprosaria/koloni perkampungan penderita kusta seumur hidup. 1) Zaman Purbakala Penyakit kusta dikenal hampir 2000 tahun SM. Hal ini dapat diketahui dari peninggalan sejarah seperti di Mesir, di India 1400 SM, istilah kusta yang sudah dikenal didalam kitab Weda, di Tiongkok 600 SM, di Nesopotamia 400 SM. Pada zaman purbakala tersebut telah terjadi pengasingan secara spontan penderita merasa rendah diri dan malu, disamping masyarakat menjauhi penderita karena merasa jijik dan takut. 2) Zaman Pertengahan Kira-kira setelah abad ke 13 dengan adanya keteraturan ketatanegaraan dan sistem feodal yang berlaku di Eropa mengakibatkan masyarakat sangat patuh dan takut terhadap penguasa dan hak azasi manusia tidak mendapat perhatian. Demikian pula yang terjadi pada penderita kusta yang umumnya merupakan rakyat biasa. Pada waktu itu penyebab penyakit dan obat-obatan belum ditemukan maka penderita kusta diasingkan lebih ketat dan dipaksakan tinggal di Leprosaria/Koloni Perkampungan penderita kusta untuk seumur hidup. 3) Zaman Modern.

Sitanala telah mempelopori perubahan sistem pengobatan yang tadinya dilakukan secara isolasi. bakteri penyebab lepra secara bertahap menjadi kebal terhadap dapson dan menjadi kian menyebar. Pada tahun 1951 dipergunakan DDS sebagai pengobatan penderita kusta. . Hal ini terjadi hingga ditemukannya pengobatan multiobat pada awal 1980-an dan penyakit ini pun mampu ditangani kembali. Sejak tahun 1982 Indonesia mulai menggunakan obat Kombinasi Multidrug Therapy (MDT) sesuai dengan rekomendasi World Health Organisation (Depkes RI. Hansen pada tahun 1873.10 Dengan ditemukannya kuman kusta oleh G. c. 2005). Bagaimanapun juga. maka mulailah era perkembangan baru untuk mencari obat anti kusta dan usaha penanggulangannya. Demikian halnya di Indonesia dr. Perkembangan pengobatan selanjutnya adalah sebagai berikut : a. Pada tahun 1969 pemberantasan penyakit kusta mulai diintegrasikan di puskesmas. b. secara bertahap dilakukan dengan pengobatan jalan. Pengobatan yang efektif terhadap penyakit kusta ditemukan pada akir 1940-an dengan diperkenalkannya dapson dan derivatnya.H.

Penyakit ini masuk ke Indonesia diperkirakan pada abad ke IV-V yang diduga dibawa oleh orang-orang India yang datang ke Indonesia untuk menyebarkan agamanya dan berdagang. Pada pertengahan tahun 2000 jumlah penderita kusta terdaftar di Indonesia sebanyak 20.742 orang. penjajahan. Berdasarkan pemeriksaan kerangka-kerangka manusia di Skandinavia diketahui bahwa penderita kusta ini dirawat di Leprosaria secara isolasi ketat.137 .11 c. Jumlah penderita kusta terdaftar ini membuat Indonesia menjadi salah satu Negara di dunia yang dapat mencapai eliminasi kusta sesuai target yang ditetapkan oleh World Health Organisation yaitu tahun 2000. 2) Epidemiologi Kusta di Indonesia Penyakit ini diduga berasal dari Afrika atau Asia Tengah yang kemudian menyebar keseluruh dunia lewat perpindahan penduduk ini disebabkan karena perang.539 kasus yang mendapat pengobatan MDT. Prevalensi Penderita Kusta Pada akhir tahun 2000 di seluruh Indonesia terdaftar 17. perdagangan antar benua dan pulau-pulau. tetapi dengan adanya perpindaham penduduk maka penyakit ini bisa menyerang di mana saja. Gambaran ini menurun menjadi 17. d. Epidemiologi Penyakit Kusta 1) Epidemiologi Secara Global Kusta menyebar luas ke seluruh dunia. dengan sebagian besar kasus terdapat di daerah tropis dan subtropis.

7%) dan 1.000 penduduk menurun dari 0.423 kasus (10. Dari gambaran prevalensi di propinsi.768 dan 11. Angka penemuan penderita baru pada tahun 2000 adalah7. Sedangkan jumlah penderita anak sebanyak 1. terlihat bahwa kebanyakan propinsi yang belum dapat mencapai eliminasi terletak di Kawasan Indonesia Timur dan daerah yang sering terjadi konflik.716 kasus baru.499 penderita anak (10.267 tipe MB (76.92.86 dan 0.0) dan terendah di Maluku utara (6. Dengan sendirinya PR per 10. Pada tahun 2001.6% dan 75.305 kasus (8.91 dan naik pada tahun 2002 yaitu 7.697 penderita baru.99).65) dan . Selama tahun 2001 dan 2002 ditemukan 14. Sedangkan pada tahun 2001 turun manjadi 6. Angka Penemuan Penderita Baru Selama tahun 2000 ditemukan 14.72). e.22 per 100.84 yang kemudian meningkat lagi menjadi 0.05 per 100.12 kasus pada desember 2001.100 kasus.000 penduduk. Diantaranya 11.0%) pada tahun 2001 dan 1. Di tingkat provinsi pada tahun 2001 angka penemuan tertinggi terdapat di Provinsi Papua (49.99 menjadi 0.000 penduduk.1%). Diantara kasus ini 10.061 dan 14. Prevalensi Rate di tingkat propinsi mempunyai variasi yang sangat lebar DI Yogyakarta (0. akan tetapi terjadi peningkatan pada tahun 2002 menjadi 19.5%).9%) pada tahun 2002.09) dan tertinggi di Propinsi Papua (5. Sedangkan pada tahun 2002 Prevalensi Rate terendah di propinsi DI Yogyakarta (0.132 penderita tipe MB (76.

Indeterminate (I) Tuberkuloid (T) Borderline-Dimorphous (B) . Jawa Timur termasuk di dalamnya. Indonesia memiliki 14 provinsi yang menjadi daerah rawan penyakit kusta. sedangkan pada tahun 2002 tertinggi di Provinsi Papua (39. Sulawesi Tenggara. sedangkan Puskesmas yang melaporkan penderita kusta sebanyak 4900 dengan angka kesembuhan lebih dari 90% Di tingkat propinsi. 2. dan DKI Yakarta (Depkes RI. NTT. NTB. Jawa Timur paling banyak menemukan penderita baru yaitu 3. Maluku. Jawa Tengah.785 kasus pada tahun 2001 dan 4. Papua. Cakupan penderita dengan MDT 100%.13 terendah di Provinsi Lampung (0. 2005). yaitu 8 kasus pada tahun 2001 dan 4 kasus pada tahun 2002. Klasifikasi Internasional (1953) 1. Sulawesi Barat. Maluku Utara. Bentuk-bentuk dan Gejala Penyakit Kusta a.55) dan terendah di Provinsi Bengkulu (0. 3. Sulawesi Utara. Aceh. Klasifikasi Penyakit Kusta 1) Jenis klasifikasi yang umum a. Provinsi yang paling sedikit menemukan kasus baru adalah Provinsi Bengkulu. Jawa Timur menyandang beban sebagai daerah rawan bersama Irian Jaya bagian Barat. Jawa Barat.391 pada tahun 2002. 2..50).250).

BB dan sebagian BT menurut kriteria Ridley dan Jopling atau B dan L menurut Madrid dan semua tipe kusta dengan BTA positif. 2. Multibasilar (MB) Termasuk kusta tipe LL. Klasifikasi untuk kepentingan program kusta /klasifikasi WHO (1981) dan modifikasi WHO (1988) 1. Tuberkoloid (TT) Boderline tubercoloid (BT) Mid-berderline (BB) Borderline lepromatous (BL) Lepromatosa (LL) c.14 4. Pausibasilar (PB) Hanya kusta tipe I. 3. TT dan sebagian besar BT dengan BTA negatif menurut kriteria Ridley dan Jopling atau tipe I dan T menurut klasifikasi Madrid. 2. 1. Lepromatosa (L) b. Untuk pasien yang sedang dalam pengobatan harus diklasifikasikan sebagai berikut : . BL. Klasifikasi untuk kepentingan riset /klasfikasi Ridley-Jopling (1962). 4. 5.

Bila awalnya didiagnosis tipe PB. plak eritem. nodus) 2. kerusakan  Hilangnya sensasi yang saraf(menyebabka jelas n hilangnya  Hanya satu cabang saraf senasasi/kelemaha n otot yang dipersarafi oleh saraf yang terkena) Sumber :Buku Pedoman Nasional Pemberantasan Dit.infiltrat. Jakarta MB  > 5 lesi  Distribusi lebih simetris  Hilangnya sensasi kurang jelas  Banyak cabang saraf Penyakit Kusta. tetapi diobati sebagai MB apapun hasil pemeriksaan BTA-nya saat ini. Gambaran klinis tipe PB Karakteristik Tuberkuloid (TT) Borderline tuberculoid Indeterminate (I) . papul yang  Distribusi tidak simetris meninggi. harus dibuat klasifikasi baru berdasarkan gambaran klinis dan hasil BTA saat ini. apakah ia akan menderita kusta bila ia mendapat infeksi Mycobacterium leprae dan tipe kusta yang akan dideritanya dalam spektrum penyakit kusta. 2.15 1. Tabel 1. Bila pada mulanya didiagnosis tipe MB. Perbedaan tipe PB dan MB menurut klasifikasi WHO PB 1. Lesi kulit  1-5 lesi (makula yang  Hipopigmentasi/eritema datar. Tabel 2. Kekebalan selular (cell mediated immunity = CMI) seseorang yang akan menentukan. Jen P2 dan PL.

Gambaran klinis tipe MB Karakteristik Lepromatosa Borderline Mid- .16 Lesi Tipe Jumlah Distribusi Permukaan Sensibilitas Makula dibatasi infiltrat Satu atau beberapa Terlokalisasi & asimetris Kering. Jakarta Negatif Positif kuat (3+) Tabel 3. skuama Hilang Negatif atau 1 + Positif (2 +) Makula Satu atau beberapa Bervariasi Dapat halus agak berkilat Agak terganggu BTA Pada lesi kulit Tes lepromin Sumber Biasanya negatif Meragukan (1 +) : Buku Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta. skuama Hilang (BT) Makula dibatasi infiltrat saja Satu dengan lesi satelit Asimetris Kering. Dit. Jen P2 dan PL.

papul. Jakarta Gambaran klinis penyakit kusta pada seorang pasien mencerminkan tingkat kekebalan selular pasien tersebut. nodus Beberapa. lesi Makula. plak. kulit sehat (+) Banyak. bakteriologis.Jen P2 dan PL. kubah. infiltrat papul punched-out difus. Sekarang . Adapun klasifikasi yang banyak dipakai dalam bidang penelitian adalah klasifikasi menurut Ridley dan Jopling yang mengelompokkan penyakit kusta menjadi 5 kelompok berdasarkan gambaran klinis. Dit. praktis tidak sehat masih ada ada kulit sehat asimetris simetris Kering. dapat juga (±) Sumber: Buku Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta. lesi berbntuk Makula. histopatologis dan imunologis. tapi kulit luas. skuama Halus dan berkilap Todak terganggu Banyak (globi) Banyak (globi) Negative Cenderung simetris Halus dan berkilap Sedikit berkurang Banyak Biasanya tidak ada Negatif sedikit berkilap. distribusi Banyak. beberapa lesi kering berkurang agak banyak tidak ada Distribusi Permukaan Sensibilitas BTA Pada lesi kulit Pada hembusan hidung Tes lepromin biasanya negatif.17 (LL) lepromatosa (BL) borderline (BB) Lesi Tipe Jumlah Plak.

Tipe borderline tubercoloid (BT) Lesi pada tipe ini menyerupai tipe TT. Disebut juga sebagai bentuk dimorfik dan bentuk ini jarang dijumpai. 2. Adanya infiltrasi tuberkuloid dan tidak adanya kuman merupakan tanda terdapatnya respons imun pejamu yang adekuat terhadap kuman kusta. Tipe mid borderline (BB) Merupakan tipe yang paling tidak stabil dari semua tipe dalam spektrum penyakit kusta. Permukaan lesi dapat bersisik dengan tepi yang meninggi bahkan dapat menyerupai gambaran psoriasis atau tinea sirsnata. Tipe tuberkoloid (TT) Lesi ini mengenai baik kulit maupun saraf. yakni berupa makula atau plak yang sering disertai lesi satelit di tepinya. kelemahan otot. Lesi kulit bisa satu atau beberapa. Adanya gangguan saraf tidak seberat tipe tuberkuloid. Adapun klasifikasinya adalah sebagai berikut : 1. 3. Dapat disertai penebalan saraf perifer yang biasanya teraba. dapat berupa makula atau plakat. dan sedikit rasa gatal. tetapi gambaran hipopigmentasi. Jumlah lesi dapat satu atau beberapa. Permukaan lesi . batas jelas dan pada bagian tengah dapat ditemukan lesi yang regresi atau cemntral healing.18 klasifikasi ini juga secara luas dipakai di klinik dan untuk pemberantasan. Lesi satelit biasanya ada dan terletak dekat saraf perifer yang menebal. dan biasanya asimetris. kekeringan kulit atau skuama tidak sejelas tipe tuberkuloid. Lesi dapat berbentuk makula infiltratif.

berkurangnya keringat dan hilangnya rambut lebih cepat muncul dibandingkan dengan tipe LL. simetris. cuping telinga. Makula lebih jelas dan lebih bervariasi bentuknya. Lesi bagian tengah tampak normal dengan pinggir dalam infiltrat lebih jelas dibandingkan dengan pinggir luarnya. lengan. Awalnya hanya dalam jumlah sedikit dan dengan cepat menyebar ke seluruh badan. 5. Tandatanda kerusakan saraf berupa hilangnya sensasi.19 dapat berkilap. Tipe lepromatosa (LL) Jumlah lesi sangat banyak. lebih eritematosa. papul dan nodus lebih tegas dengan distribusi lesi yang hampir simetris dan beberapa nodus tampaknya melekuk pada bagian tengah. hipipigmentasi. Walaupun masih kecil. Sedang dibadan mengenai bagian badan yang dingin. bentuk. permukaan halus. baik dalam ukuran. 4. Lesi sangat bervariasi. dan permukaan . Tipe borderline lepromatosa Secara klasik lesi dimulai dengan makula. berkilap. dagu. punggung tangan. dan beberapa plak tampak seperti punched out. Distribusi lesi khas. ataupun distribusinya. pelipis. Bisa didapatkan lesi punched out yang merupakan ciri khas tipe ini. Penebalan saraf dapat teraba pada tempat predileksi. berbatas tidak tegas dan pada stadium dini tidak ditemukan anestesi dan anhidrosis. yakni di wajah mengenai dahi. batas lesi kurang jelas dengan jumlah lesi yang melebihi tipe BT dan cenderung simetris.

iritis dan keratis. bokong atau muka. sedangkan lesi lama menjadi plakat dan nodus. tetapi diterima secara luas oleh para ahli kusta yaitu tipe indeterminate (I). tergantung dari tingkat atau tipe dari penyakit tersebut yaitu: 1) Adanya bercak tipis seperti panu pada badan/tubuh manusia. kadangkadang dapat ditemukan makula hipestesi atau sedikit penebalan saraf. Diagnosis tipe ini hanya dapat ditegakkan. lesi biasanya berupa makula hipopigmentasi dengan sedikit sisik dan kulit di sekitarnya normal. Lokasi biasanya di bagian ekstensor ekstremitas. muncul makula dan papul baru. Tanda-tanda penyakit kusta bermacam-macam. Lebih lanjut lagi dapat terjadi deformitas pada hidung. cuping telinga menebal. bila dengan pemeriksaan histopatologik. Dapat dijumpai pembesaran kelenjar limfe. orkitis yang selanjutnya dapat menjadi atrofi testis.20 ekstensor tungkai bawah. Salah satu tipe penyakit kusta yang tidak termasuk dalam klasifikasi Ridley dan jopling. Kerusakan saraf yang luas menyebabkan gejala stocking dan glove anaesthesia. Pada stadium lanjut serabut-serabut saraf perifer mengalami degenerasi hialin atau fibrosis yang menyebabkan anestesi dan pengecilan otot tangan dan kaki. garis muka menjadi kasar dan cekung membentuk fasies leonina yang dapat disertai madarosis. Bila penyakit ini menjadi progresif. Pada stadium lanjut tampak penebalan kulit yang progresif. .

4) Kelenjar keringat kurang kerja sehingga kulit menjadi tipis dan mengkilat. tetapi lama-lama semakin melebar dan banyak. 4) Cephalgia 5) Kadang-kadang disertai iritasi. Orchitis dan Pleuritis 6) Kadang-kadang disertai dengan Nephrosia. 5) Adanya bintil-bintil kemerahan (leproma. 2) Noreksia 3) Nausea. 3) Adanya pelebaran syaraf terutama pada syaraf ulnaris.21 2) Pada bercak putih ini pertamanya hanya sedikit. aulicularis magnus serta peroneus. Gejala-gejala umum pada lepra. medianus. kadang-kadang disertai vomitus. Nepritis dan hepatospleenomegali. 7) Neuritis . reaksi : 1) Panas dari derajat yang rendah sampai dengan menggigil. nodul) yang tersebar pada kulit 6) Alis rambut rontok 7) Muka berbenjol-benjol dan tegang yang disebut facies leomina (muka singa).

Dit. Jenis Multibacillary a. c. Jakarta. Dit. 3.22 Gambar 1. Kusta Tipe Multibacilary Sumber:Buku Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta. Jakaerta. Jen P2 dan PL. Kusta jenis ini boleh berjangkit Gambar 2. Tompok putih-kemerahan yang merebak di seluruh kulit badan b. Transmisi Penularan Penyakit Kusta . Tanda-tanda awal dari jenis ini sering terjadi pada cuping telinga dan muka. Jenis Kusta Tipe Paucibacilary Sumber :Buku Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta. Jen P2 dan PL.

b. Setelah lima tahun. Selain banyak membentuk safrifit. Mycrobakterium leprae) yang menyebabkan penyakit menahun dengan menimbulkan lesi jenis granuloma infeksion. kulit mengalami bercak putih. terdapat juga golongan organisme patogen (misalnya Mycrobacterium tuberculosis. Organisme Penyebab Penyakit Kusta Penyebab kusta adalah kuman mycobacterium leprae. Kuman Mycobacterium Leprae menular kepada manusia melalui kontak langsung dengan penderita dan melalui pernapasan. rasa kesemutan bagian anggota tubuh hingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya (Melniek. berukuran panjang 1 – 8 micro. Patogenesis .5 micro biasanya berkelompok dan ada yang tersebar satu-satu. merah. tandatanda seseorang menderita penyakit kusta mulai muncul antara lain. berbentuk batang.23 a. kemudian kuman membelah dalam jangka 14-21 hari dengan masa inkubasi rata-rata dua hingga lima tahun. dikelilingi oleh membran sel lilin yang merupakan ciri dari spesies Mycobacterium. Mycobacterium leprae belum dapat dikultur pada laboratorium.2 – 0. tidak membentuk spora.tidak mudah diwarnai namun jika diwarnai akan tahan terhadap dekolorisasi oleh asam atau alkohol sehingga oleh karena itu dinamakan sebagai basil “tahan asam”. hidup dalam sel dan bersifat tahan asam (BTA) atau gram positif. 2001). Dimana microbacterium ini adalah kuman aerob. lebar 0.

1990). yang kemudian dapat merusak jaringan (Depkes RI. histiosit) untuk memfagositnya (Hasibuan. sel mononuklear.24 Meskipun cara masuk Mycobacterium leprae ke dalam tubuh masih belum diketahui dengan pasti. serta sifat kuman yang avirulen dan nontoksis (Hasibuan. kemampuan hidup Mycobacterium leprae pada suhu tubuh yang rendah. makrofag akan berubah menjadi sel epiteloid yang tidak bergerak aktif dan kadang-kadang bersatu membentuk sel datia langhans. waktu regenerasi yang lama. Bila kuman Mycobacterium leprae masuk ke dalam tubuh. dengan demikian makrofag tidak mampu menghancurkan kuman sehingga kuman dapat bermultiplikasi dengan bebas. 2002) Pada kusta tipe TT kemampuan fungsi sistem imunitas selular tinggi. Bila infeksi ini tidak segera di atasi akan terjadi reaksi . sehingga makrofag sanggup menghancurkan kuman. Pengaruh Mycobacterium leprae terhadap kulit bergantung pada faktor imunitas seseorang. beberapa penelitian telah memperlihatkan bahwa tersering ialah melalui kulit yang lecet pada bagian tubuh yang bersuhu dingin dan melalui mukosa nasal. maka tubuh akan bereaksi mengeluarkan makrofag (berasal dari sel monosit darah. Mycobacterium leprae merupakan parasit obligat intraseluler yang terutama terdapat pada sel makrofag di sekitar pembuluh darah superfisial pada dermis atau sel Schwan di jaringan saraf. 1990) Pada kusta tipe LL terjadi kelumpuhan sistem imunitas selular. Sayangnya setelah semua kuman di fagositosis.

Penularan kusta secara alamiah ditemukan terjadi pada monyet dan simpanse yang ditangkap di Nigeria dan Sierra Lione. kuman dapat bermigrasi dan beraktivasi. dan basil terbukti dapat hidup selama 7 hari . Cara Penularan Meskipun cara penularannya yang pasti belum diketahui dengan jelas penularan di dalam rumah tangga dan kontak/hubungan dekat dalam waktu yang lama tampaknya sangat berperan dalam penularan. disamping itu sel Schwan berfungsi sebagai demielinisasi dan hanya sedikit fungsinya sebagai fagositosis. Jadi. Reservoir Sampai saat ini manusia merupakan satu-satunya yang diketahui berperan sebagai reservoir. Berjuta-juta basil dikeluarkan melalui lendir hidung pada penderita kusta tipe lepromatosa yang tidak diobati. 2000) c. 1990) Sel Schwan merupakan sel target untuk pertumbuhan Mycobacterium lepare. Diduga secara alamiah dapat terjadi penularan dari Armadilo kepada manusia. Akibatnya aktivitas regenerasi saraf berkurang dan terjadi kerusakan saraf yang progresif (Depkes RI. bila terjadi gangguan imunitas tubuh dalm sel Schwan. d.25 berlebihan dan masa epiteloid akan menimbulkan kerusakan saraf dan jaringan disekitarnya (Hasibuan. Di Lusiana dan Texas binatang Armadillo liar diketahui secara alamiah dapat menderita penyakit yang mempunyai kusta seperti pada percobaan yang dilakukan dengan binatang ini.

Pada kasus anak-anak dibawah umur satu tahun.26 pada lendir hidung yang kering. menurut Shepard. Walaupun terdapat laporan bahwa ditemukanya bakteri tahan asam di epitel deskuamosa di kulit. Dalam penelitian terbaru. Weddel et al melaporkan bahwa mereka tidak menemukan bakteri tahan asam di epidermis. Hal ini membentuk sebuah pendugaan bahwa organisme tersebut dapat keluar melalui kelenjar keringat.000. Job et al menemukan adanya sejumlah Mycobacterium leprae yang besar di lapisan keratin superfisialkulit di penderita kusta lepromatosa.000.000 bakteri.000 organisme per hari.000 hingga 10. . Pedley melaporkan bahwa sebagian besar pasien lepromatosa memperlihatkan adanya bakteri di sekret hidung mereka. Davey dan Rees mengindikasi bahwa sekret hidung dari pasien lepromatosa dapat memproduksi 10. penularannya diduga melalui plasenta (Daili. Bagaimanapun masih belum dapat dibuktikan bahwa organisme tersebut dapat berpindah ke permukaan kulit. Pentingnya mukosa hidung telah dikemukakan oleh Schäffer pada 1898. antara 10. 1998). Ulkus kulit pada penderita kusta lepromatusa dapat menjadi sumber penyebar basil. Dua pintu keluar dari Mycobacterium leprae dari tubuh manusia diperkirakan adalah kulit dan mukosa hidung. Telah dibuktikan bahwa kasus lepromatosa menunjukkan adanya sejumlah organisme di dermis kulit. Organisme kemungkinan masuk melalui saluran pernafasan atas dan juga melalui kulit yang terluka. Jumlah dari bakteri dari lesi mukosa hidung di kusta lepromatosa.

Syarat-syaratnya adalah harus dibawah umur 15 tahun. Kuman kusta dapat . yakni selaput lendir hidung. lebih besar kemungkinan menyebabkan penularan dari pada orang yang tidak utuh lagi Mycobacterium leprae bersifat tahan asam. Yang diketahui hanya pintu keluar kuman kusta dari tubuh si penderita. Penyakit kusta dapat ditularkan dari penderita kusta tipe multi basiler kepada orang lain dengan cara penularan langsung.5 mikron. bermentuk batang dengan panjang 1-8 mikron dan lebar 0. keduanya harus ada lesi baik mikoskopis maupun makroskopis. hidup dalam sel terutama jaringan yang bersuhu dingin. dan adanya kontak yang lama dan berulang-ulang. diluar masih dapat hidup 2–7 x 24 jam. biasanya berkelompok dan ada yang tersebar satu-satu. basil yang berasal dari sekret hidung penderita yang sudah mengering. Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah dan tidak perlu ditakuti tergantung dari beberapa faktor antara lain : 1) Faktor Kuman kusta Dari hasil penelitian dibuktikan bahwa kuman kusta yang masih utuh (solid) bentuknya. tapi sebagian besar para ahli berpendapat bahwa penyakit kusta dapat ditularkan melalui saluran pernapasan dan kulit. 2) Kontak kulit dengan kulit.27 Cara-cara penularan penyakit kusta sampai saat ini masih merupakan tanda tanya. Tetapi ada yang mengatakan bahwa penularan penyakit kusta adalah: 1) Melalui sekret hidung. Penularan yang pasti belum diketahui.2-0.

Prevalensinya juga meningkat sesuai dengan umur dengan puncak umur 30 sampai 50 tahun dan kemudian secara perlahan-lahan menurun (Hasibuan. Sebaliknya dengan meningkatnya taraf hidup dan perbaikan imunitas merupakan faktor utama mencegah munculnya kusta.28 hidup diluar tubuh manusia antara 1 sampai 9 hari tergantung suhu atau cuaca dan diketahui hanya kuman kusta yang utuh (solid) saja dapat menimbulkan penularan (Depkes RI. merupakan faktor penyebab tingginya angka kusta. 3 orang sembuh sendiri tanpa obat dan 2 orang menjadi sakit. 1990). Hal ini belum lagi mempertimbangkan pengaruh pengobatan (Depkes RI. 5) Faktor Jenis Kelamin . 2002). 2) Faktor Imunitas Sebagian manusia kebal terhadap penyakit kusta (95%). 4) Faktor Umur Penyakit kusta jarang ditemukan pada bayi. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa dari 100 orang yang terpapar. 95 0rang yang tidak menjadi sakit. 2002). 3) Keadaan Lingkungan Keadaan rumah yang berjejal yang biasanya berkaitan dengan kemiskinan. Incidence Rate penyakit ini meningkat sesuai umur dengan puncak pada umur 10 sampai 20 tahun dan kemudian menurun.

infeksi dan malnutrisi akan mengakibatkan perubahan klinis penyakit kusta (Hasibuan.29 Insiden maupun prevalensi pada laki-laki lebih banyak dari pada wanita. e. Masa inkubasi maksimum dilaporkan selama 30 tahun Hal ini dilaporan berdasarkan pengamatan pada veteran perang yang pernah terekspos di daerah endemik dan kemudian berpindah ke daerah nonendemik. Dari hasil penelitian menunjukkan gambar sebagai berikut dari 100 orang yang terpapar. kecuali di Afrika dimana wanita lebih banyak dari pada laki-laki. Dengan rata-rata adalah 4 tahun untuk kusta tuberkuloid dan dua kali lebih lama untuk kusta lepromatosa. Faktor fisiologis seperti pubertas. 95 orang tidak menjadi sakit. berdasarkan adanya kasus kusta pada bayi muda. Masa inkubasi Masa inkubasi pasti dari kusta belum dapat dikemukakan. Tidak semua orang yang terinfeksi oleh kuman Mycobacterium leprae menderita kusta (Depkes RI. 2 orang menjadi sakit. Beberapa peneliti berusaha mengukur masa inkubasinya. Kehamilan. lebih dari 50 kasus telah ditemukan pada anak-anak . Penyakit ini jarang sekali ditemukan pada anak-anak dibawah usia 3 tahun. 2005). 1990). meskipun. Masa inkubasi minimum dilaporkan adalah beberapa minggu. 3 orang sembuh sendiri tanpa obat. hal ini belum lagi memperhitungkan pengaruh pengobatan. monopause. Sebagian besar manusia kebal terhadap penyakit kusta.

sehingga penularan dapat dicegah. Upaya Pencegahan Penyakit Kusta Hingga saat ini tidak ada vaksinasi untuk penyakit kusta. Jadi dalam hal ini pentingnya sinar matahari masuk ke dalam rumah dan hindarkan terjadinya tempat-tempat yang lembab.30 dibawah usia 1 tahun. yang paling muda adalah usia 2. Secara umum. Pengobatan kepada penderita kusta adalah merupakan salah satu cara pemutusan mata rantai penularan. Jadi faktor pengobatan adalah amat penting dimana kusta dapat dihancurkan. Dari hasil penelitian dibuktikan bahwa kuman kusta yang masih utuh bentuknya. Kuman kusta diluar tubuh manusia dapat hidup 24-48 jam dan ada yang berpendapat sampai 7 hari. dan mereka datang ke Puskesmas untuk diobati. 1995).5 bulan. Makin panas cuaca makin cepatlah kuman kusta mati. lebih besar kemungkinan menimbulkan penularan dibandingkan dengan yang tidak utuh. telah disetujui. Disini letak salah satu peranan penyuluhan kesehatan kepada penderita untuk menganjurkan kepada penderita untuk berobat secara teratur. bahwa masa inkubasi rata-rata dari kusta adalah 3-5 tahun (Nadesul. Ada beberapa obat yang dapat menyembuhkan penyakit kusta. Dengan demikian penting sekali agar petugas kusta memberikan . 4. ini tergantung dari suhu dan cuaca diluar tubuh manusia tersebut. Tetapi kita tidak dapat menyembuhkan kasus-kasus kusta kecuali masyarakat mengetahui ada obat penyembuh kusta.

tujuan program pemberantasan penyakit kuista adalah menurunkan angka prevalensi penyakit kusta menjadi 0.3 per 1000 penduduk pada tahun 2000. Upaya yang dilakukan untuk pemberantasan penyakit kusta melalui : a) Penemuan penderita secara dini. Kasus-kasus menular tidak akan menular setelah diobati kira-kira 6 bulan secara teratur (Depkes RI. Enam dari tujuh kasus kusta tidaklah menular pada orang lain d. Penanggulangan Penyakit Kusta Penanggulangan penyakit kusta telah banyak didengar dimana-mana dengan maksud mengembalikan penderita kusta menjadi manusia yang berguna. rehabilitasi sosial. c) Penyuluhan kesehatan di bidang kusta. 2005). . b) Pengobatan penderita. 5.31 penyuluhan kusta kepada setiap orang. Metode penanggulangan ini terdiri dari metode rehabilitasi yang terdiri dari rehabilitasi medis. Di Indonesia. Ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit kusta b. materi penyuluhan kusta kepada setiap orang. rehabilitasi karya dan metode pemasyarakatan yang merupakan tujuan akhir dari rehabilitasi. produktif dan percaya diri. materi penyuluhan berisikan pengajaran bahwa : a. dimana penderita dan masyarakat membaur sehingga tidak ada kelompok tersendiri. Sekurang-kurangnya 80 % dari semua orang tidak mungkin terkena kusta c. Ketiga metode tersebut merupakan suatu sistem yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. mandiri.

Makin berat keadaan suatu cacat. yaitu rehabilitasi sosial (rehabilitasi nonmedis). a) Penanggulangan Penyakit Kusta melalui Rehabilitasi 1) Rehabilitasi Medik Kiranya tidak perlu diragukan lagi bahwa timbulnya cacat pada penyakit kusta merupakan salah satu hal yang paling penting ditakuti. dan tidak menjadi . menunjukkan bahwa lebih dari 73% pasien yang datang berobat di poliklinik telah disertai cacat kusta. akan tetapi cacat yang telah timbul atau mungkin yang akan timbul merupakan persoalan yang cukup kompleks. fisioterapi. pemberian alas kaki. Walaupun dengan pengobatan yang benar dan teratur penyakit kusta dapat disembuhkan. protese atau alat bantu lainnya. maka akan berlanjut semakin parah serta berakhir fatal. perawatan luka. Untuk itulah diperlukan pengetahuan rehabilitasi medik secara terpadu. maka makin cepat pula keadaan memburuk. bedah rekonstruksi dan bedah septik. serta terapi okupasi. Diperlukan pencegahan cacat sejak dini dengan disertai pengelolaan yang baik dan benar. kembali berkarya membangun negara. agar mantan pasien kusta dapat siap kembali ke masyarakat. mulai dari pengobatan. Penting pula diperhatikan rehabilitasi selanjutnya. Dari hasil penelitian pada bulan Maret 1996 di Rumah Sakit Kusta Sitanala. e) Rehabilitasi penderita kusta. psikoterapi. Bila hal ini tidak ditangani secara benar.32 d) Peningkatan ketrampilan petugas kesehatan di bidang kusta.

Bila kasus dini. disusul dengan perawatan yang cermat. Diagnosis dan terpai secara dini. Bila kasus lanjut. paralisis. b) c) d) Hentikan kerusakan mata untuk mencegah kebutaan. perlu dibuat program rehabilitasi medik yang terencana dan terorganisasi. terapis dan pasien harus bekerjasama untuk mendapat hasil yang maksimal. Pengetahuan medis dasar yang perlu dikuasai adalah anatomi anggota gerak. Pengobatan untuk mematikan basil lepra dan mencegah perburukan keadaan penyakit. pemilihan dan saat yang tepat untuk pemakaian modalitas terapi dan latihan. Kegiatan terpadu pengelolaan pasien kusta dilakukan sejak diagnosis ditegakkan. dan kontraktur. sehingga terhindar pula dari gangguan sensorik. prinsip dasar penyembuhan luka. Perawatan terhadap reaksi lepra mempunyai 4 tujuan. upaya rehabilitasi difokuskan pada . akan mencegah pengembangan terjadinya kecacatan.33 beban pemerintah. Rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial merupakan satu kesatuan kegiatan yang dikenal sebagai rehabilitasi paripurna. Dokter. Menghadapi kecacatan pada pasien kusta. yaitu : a) Mencegah kerusakan saraf. Kontrol nyeri. upaya rehabilitasi medis lebih bersifat pencegahan kecacatan.

sedapatnya jarak dekat dan perlahan pakai sarung tangan waktu bekerja stop merokok jangan sentuh gelas/barang panas secara . luka dan lain-lain) b) Proteksi tangan dan kaki 1) Tangan : a) b) c) langsung d) lapisi gagang alat-alat rumah tangga dengan bahan lembut 2) Kaki a) b) selalu pakai alas kaki batasi jalan kaki. Gosok kaki dengan karet busa agar kulit kering terlepas.34 pencegahan handicap dan mempertahankan kemampuan fungsi yang tersisa. Beberapa hal yang harus dilakukan oleh pasien adalah : a) Pemeliharaan kulit harian 1) cuci tangan dan kaki setiap malam sesudah bekerja dengan sedikit sabun (jangan detergen) 2) Rendam kaki sekitar 20 menit dengan air dingin 3) kalau kulit sudah lembut. 5) secara teratur kulit diperiksa (adakah kemerahan. hot spot. nyeri. 4) kulit digosok dengan minyak.

b) Latihan aktif meluruskan jari-jari tangan dengan tenaga otot sendiri c) Untuk tungkai lakukan peregangan otot-otot tungkai bagian belakang dengan cara berdiri menghadap tembok.35 c) meninggikan kaki bila berbaring c) Latihan fisioterapi Tujuan latihan adalah : 1) Cegah kontraktur 2) Peningkatan fungsi gerak 3) Peningkatan kekuatan otot 4) Peningkatan daya tahan (endurance) a) Latihan lingkup gerak sendi : secara pasif meluruskan jari-jari menggunakan tangan yang sehat atau dengan bantuan orang lain. d) Program latihan dapat ditingkatkan secara umum untuk mempertahankan elastisitas otot. dan daya tahan. d) Bidai . mobilitas. Frekuensi dapat ditingkatkan untuk mencegah kontraktur. Pertahankan 10 detik. Latihan lingkup gerak sendi juga dikerjakan pada jari-jari ke seluruh arah gerak. kekuatan otot. lakukan 5 – 10 kali per hari untuk mencegah kekakuan. ayunkan tubuh mendekati tembok. sementara kaki tetap berpijak.

sesuai dengan deformitas yang terjadi.36 Pembidaian dapat dilakukan untuk jari dan pergelangan tangan agar tidak terjadi deformitas. sekaligus melatih koordinasi gerak dengan bagian ekstremitas yang sehat. 2) Latihan redukasi sensorik . tetapi perlu diingat hal-hal yang harus diperhatikan untuk melindungi alat gerak dari bahaya pekerjaan rumah tangga. Bidai dipasang pada anggiota gerak fungsional saat timbul reaksi penyakit. e) Dapat di buat sepatu khusus. c) Gerak terampil tangan dan jari d) Latihan posisi dan postur pasif dan aktif. f) Program terapi okupasi merupakan program yang sangat penting untuk mempertahankan dan meningkatkan kemampuan menolong diri. kecuali pada waktu latihan lingkup gerak sendi. b) Memanfaatkan alat bantu kerja. sesuai dengan deformitas pasien. Alat bantu khusus dapat dibuat untuk kemudahan bekerja. Bidai dapat mengurangi nyeri dan mencegah kerusakan saraf. 1) latihan redukasi motorik a) diawali dengan latihan lingkup gerak sendi dan latihan peregangan. Dianjurkan memakai bidai yang ringan yang dipakai sepanjang hari. dilakukan gerakan motorik tangan dan jari-jari.

Penyakit ini sering kali menyebabkan permasalahan yang sangat kompleks bagi penderita kusta itu sendiri. mulai dari sentuhan kasar. evaluasi psikologis dan evaluasi kondisi sosial. 3) Latihan aktivitas menolong diri 4) Latihan aktivitas rumah tangga 5) Latihan aktivitas kerja 6. latihan daya tahan kerja g) Dukungan psikososial dari keluarga dan lingkungan merupakan hal yang harus dilaksanakan. 2) Rehabilitasi Nonmedik Meskipun penyakit kusta tidak menyebabkan kematian. Bila ada masalah. Pada . c) Latihan pengenalan bentuk berbagai benda. dan masyarakat. dapat dijadikan titik tolak program terapi psikososial. dan menolong pasien untuk mencari alternatif lain untuk meningkatkan sensibilitas sehingga kapasitas fungsional juga meningkat b) Latihan sensorik bertahap. namun penyakit ini termasuk penyakit yang paling ditakuti diseluruh dunia.37 a) Latihan ini akan meningkatkan kualitas sensori pasien. dingin dan hangat. sampai halus. keluarga.

akan tetapi bila fisinya cacat. sehingga ia dan keluarganya akan dijauhi oleh masyarakat di sekitarnya. Ia akan selalu sedapat mungkin menyembunyikan keadaannya sebagai seorang penderita kusta.38 penyakit kusta ini dikenal 2 jenis cacat yaitu cacat psikososial dan cacat fisik. Akibat hal-hal tersebut di atas. Tentu saja semua tersangka kasus kusta harus diperiksa secara cermat dan hati-hati sekali untuk menghindari salah diagnosis. maka predikat kusta akan tetap melekat untuk seluruh sisa hidup penderita. Bayangan cacat kusta menyebabkan penderita sering kali tida dapat menerima keputusan bahwa ia menderita kusta. Seringkali penyakit kusta di identikkan dengan cacat fisk yang menimbukan rasa jijik atau ngeri serta rasa takut yang berlebihan terhadap mereka yang melihatnya. karena setiap kesalahan dalam penegakkan diagnosis akan dapat menimbulkan beban psikis dan dampak social yang tidak hanya dapat dialami oleh penderita itu sendiri. . sebaliknya kan memperbesar resiko timbulnya caca bagi penderita itu sendiri. Hal ini tidak menunjang proses pengobatan dan kesembuhan. Akibatnya aka nada perubahan mendasar pada kepribadian dan tingkah laku penderita. meskipun penderita kusta telah diobati dan dinyatakan sembuh secara medis. tetapi juga terhadap keluargannya.

Hal ini akan . maka akan sulit dicapai partisipasi aktif dari penderita agar berobat teratur dan menyelesaikan secara tuntas program pengobatan yang telah dianjurkan. Pengobatan penyakit kusta sangat penting untuk memutuskan mata rantai penularan dan mencegah terjadinya cacat fisik. Sikap dan perilaku masyarakat yang negative terhadap penderita kusta seringkali di menyebabkan dalam penderita dan kusta tidak mendapatkan lingkungannya. Cacat psikososial ini mulai dirasakan oleh penderita sejak saat ia dinyatakan menderita penyakit kusta dan bila hal tersebut mulai diketahui oleh keluarganya maupun oleh masyarakar di sekitarnya. serta informasi yang keliru tentang penyakit kusta. Hal ini disebabkan oleh karena adanya stigma leprofobi yang banyak dipengaruhi oleh berbagai paham keagamaan.39 Masalah psikososial yang timbul pada penderita kusta lebih menonjol dibandingkan dengan masalah medisnya sendiri. maka upaya rehabilitasi harus segera dimulai sedini mungkin. sebaiknya sebelum pengobatan kusta itu dimulai dan dilakukan secara terus menerus secara paripurna sampai ia dapat mencapai kemandirian dan hidup bermasyarakat seperti sediakala. tempat keluarganya masyarakat Setelah diagnosis ditegakkan. Dengan kata lain tujuan akhir rehabilitasi adalah resosialisasi penderita itu sendiri. Bila pengobatan tersebut tidak diimbangi oleh rehabilitasi mental.

bakteriologis. tetapi hasil pemeriksaan klinis. Untuk mengindari terjadinya hal-hal tersebut. sebaiknya segera merujuk penderita kepada mereka yang dianggap lebih berpengalaman. Setelah diagnosis kusta ditegakkan. maka pengobatan harus segera dimulai. maka upaya rehabilitasi untuk mencegah berlanjutnya cacat harus segera dilakukan. keluarganya. Bila tanda-tanda cacat kusta sudah sedemikian jelas. Andaikata cacat kusta te lah terjadi. maka bila ada keragu-raguan meskipun sedikit saja. Pada penderita harus ditekankan bahwa obat-obat kusta tidak dapat menyembuhkan cacat fisik yang telah ada. Komplikasi antara lain seperti penyakit kusta.40 bertambah berat bila ia merupakan tumpuan hidup dan sumber nafkah bagi keluarganya. dan masyarakat sekitarnya. dan histopatologis menyatakan bahwa penyakit kusta dalam keadaan inaktif. maka pengobatan tidak diperlukan lagi dan hanya dilakukan upaya-upaya rehabilitasi. Dalam banyak hal ia dapat kehilangan sumber penghasilannya dan memperburuk keadaannya beserta keluarga. Pengobatan penyakit kusta tidak boleh diberikan bila seseorang belum dapat dipastikan menderita penyakit kusta atau penyakitnya masih diragukan. supaya ia tidak mencari pengobatan di luar ketentuan yang . disertai upaya rehabilitasi mental terhadap penderita. harus ditangani sedini mungkin dan secara adekuat untuk mencegah terjadinya cacat kusta.

setiap penderita yang dinyatakan menderita penyakit kusta akan mengalami kegoncangan jiwa dan masingmasing mempunyai cara sendiri untuk bereaksi terhadap keadaan ini. Hal ini merupakan dasar bagi setiap petugas kesehatan dalam melakukan penyuluhan kusta. dengan menekankan bahwa sebenarnya penyakit kusta bila diobati secara dini dan benar akan dapat mengurangi risiko terjadinya cacat semaksimal mungkin. ada pula yang berusaha menolak kenyataan dengan mencari pertolongan alternative termasuk berobat pada dukun. Pengobatan hanya diberikan pada penderita kusta aktif. untuk memberikan dorongan dan semangat agar . Suatu hal yang perlu kita sadari bahwa tidak seorang sehatpun ingin mendapatkan cacat dalam kehidupannya. dan ada pula yang berfikir untuk melakukan tindakan bunuh diri.41 telah digariskan oleh Departemen Kesehatan. menyendiri. Dan adapula yang merasa rendah diri mengalami depresi. harus diupayakan sedini mungkin pada setiap penderita. dengan atau tanpa cacat kusta. 3) Rehabilitasi Mental Seperti telah dijelaskan. tabib dan sebagainya. dan masyarakat sekitarnya. keluarganya. Pada umumnya mereka dibayang-bayangi oleh ketakutan yang sangat mendalam akan timbulnya cacat fisik akibat penyakit ini. Penyuluhan kesehatan berupa bimbingan mental. Ada yang segera dapat menerima keadaan ini dan segera mancari pertolongan medis. menyembunyikan dirinya karena malu.

Informasi yang perlu disampaikan antara lain sebagai berikut: a) Hal-hal yang berkaitan dengan stigma dan leprofobi b) Masalah psikososial kusta c) Komplikasi. Selain itu juga agar penderita dapat segera mulai menjalani pengobatan dengan teratur dan benar sampai dinyatakan sembuh secara medis. baik tenaga medis maupun paramedis harus dibekali dengan pengatahuan kusta yang memadai supaya terampil dalam memberikan penyuluhan kusta dengan baik dan bermanfaat. Hal-hal ini harus disampaikan oleh petugas kesehatan kepada penderita dan keluarganya sebelum pengobatan kusta dimulai. f) Masalah rujukan dan rumah sakit rujukan. Bimbingan . g) Dan lain-lain yang dianggap perlu. Petugas kesehatan. berbagai upaya kesehatan terhadap penyakit kusta.42 mereka dapat menerima kenyataan ini. misalnya neuritis dan reaksi yang sering sekali timbul selama proses pengobatan dan setelah pengobatan selesai. secara sederhana dan mudah dimengerti oleh mereka. Hanya dengan demikian kita dapat mengharapkan keberhasilan penanggulangan penyakit kusta secara paripurna. d) Proses terjadinya cacat kusta dan berlanjutnya cacat tersebut. misalnya rehabilitasi. e) Peran serta masyarakat pada penanggulangan penyakit kusta.

dan menghilangnya penderita tanpa melanjutkan pengobatannya menimbulkan banyak masalah dalam keberhasilan upaya penanggulangan penyakit kusta. Hal ini akan menjadi beban bagi negara dan bangsa. maka penderita cenderung menjadi bosan menghadapi masa pengobatan yang panjang dan itu-itu saja. Walaupun pengobatan medis kusta dan upaya rehabilitasi ini berhasil dilakukan. sehingga ia akan berobat semaunya secara tidak teratur. sehingga timbul pikiran negative untuk menghentikan saja pengobatan yang telah berjalan dengan baik dan mencari pertolongan pengobatan secara alternatif. Tetapi. Hal ini akan memperbesar risiko kecacatan dan resistensi terhadap obat kusta. upaya penanggulangan penyakit kusta akan menjadi bertambah berat karena diperlukan rehabilitasi medis dan nonmedis yang lebih komleks dan biaya yang lebih besar. Lebih celaka lagi bila selama masa pengobatan timbul komplikasi berupa neuritis atau reaksi yang memperburuk kondisi tubuhnya.43 mental ini harus didukung juga oleh partisipasi aktif dari pemuka masyarakat dan pemuka agama pada setiap kesempatan yang ada. Ketidakteraturan berobat. Dengan timbulnya cacat kusta. tetapi dengan adanya stigma dan leprofobi akan timbul banyak kendala dalam memasyarakatkan kembali penderita dan bekas penderita kusta. Tanpa dibekali informasi yang tepat tentang hal-hal tersebut. dengan memberikan informasi yang benar .

maka stigma dan leprofobi dapat dikurangi dan ditekan hingga seminimal mungkin. Adanya hilang rasa (anastesi) pada palmar atau plantar menyebabkan pekerjaan tertentu harus dihindari. apalagi bila pekerja terlanjur mengalam cacat fisik. Dengan demikian penyakit kusta dapat dianggap sama seperti penyakit menular lainnya dan penderita kusta dapat diterima dan diperlakukan secara wajar oleh masyarakat dengan hak yang sama seperti orang sehat yang lain. pendidikan dan pengalaman bekerja sebelumnya. sehungga perlu mengganti jenis pekerjaan untuk memugkinkan mencari nafkah bagi diri dan keluarganya. atau dapat melatih diri terhadap pekerjaan baru sesuai dengan tingkat cacat.44 tentang penyakit kusta serta menanamkan pengertian yang baik. Upaya rehabilitasi karya ini dilakukan agar penderita yang sudah terlanjur cacat dapat kembali melakukan pekerjaan yang sama. Disampng itu . Walaupun telah diupayakan rehabilitasi medis dan dinyatakan sembuh dari penyakitnya. 4) Rehabilitasi Karya Tidak semua penderita kusta bila sembuh datang kembali bekerja pada pekerjaan semula. mantan penderita tidak dapat melakukan pekerjaan yang sama seperti sediakala. Dalam banyak hal adanya stigma atau leprofobia akan menyebabkan penderita (mantan) kerap kali menghadapi kendala sosial.

sandang. melaikan upaya yang bertujuan untuk menunjang kemandirian penderita. jaminan kesehatan. c) Memberikan alat bantu cacat. misalnya pangan. Rehabilitasi social bukanlah bantuan social yang harus diberikan secara terus menerus. h) Memberikan permodalan bagi usaha wiraswasta. 5) Rehabilitasi Sosial Rehabilitasi social bertujuan memulihkan fungsi social ekonomi pernderita. misalnya kursi roda atau tongkat jalan. Upaya ini dapat berupa : a) Memberikan bimbingan sosial. . dan sebagainya. i) Memberikan bantuan pemulangan ke daerah asal. g) Memberikan bantuan kebutuhan pokok.45 penempatan di tempat kerja yang aman dan tepat akan mengurangi risiko berlanjutnya cacat pada penderita kusta. Hal ini sangat sulit dicapai oleh penderita sendiri tanpa partisipasi aktif dari masyarakat di sekitarnya. papan. j) Memberikan bimbingan mental/spiritual. k) Memberikan pelatihan ketrampilan/magang kerja dan sebagainya. e) Membantu membeli/memakai hasil-hasil usaha mereka f) Membantu pemasaran hasil-hasil usaha mereka. b) Memberikan peralatan kerja. d) Memberikan bantuan penempatan kerja yang lebih sesuai dengan keadaan cacatnya.

2005). Semua akan dapat terlaksana dengan baik apabila stigma dan leprofobi dapat ditekan hingga seminimal mungkin. hasil karya dan usaha mereka mau dibeli serta dipakai oleh masyarakat. Dengan demikian kehadiran mereka dapat diterima oleh masyarakat. yang singkat dan sederhana dapat memisahkan mereka yang sehat terhadap mereka yang kemungkinan besar menderita. maka segala usaha tersebut tidak akan berhasil (Depkes RI. 2. Pengertian Skrining Penyaringan (skrining) adalah suatu usaha untuk mendeteksi mencari penderita penyakit tertentu yang tampak gejala (tidak tampak) dalam suatu masyarakat atau kelompok tertentu melalui suatu tes/pemeriksaan.46 Dari segala upaya tersebut . B. Tujuan dan Sasaran Skrining a) Mendapatkan mereka yang menderita sedini mungkin sehingga dapat segera memperoleh pengobatan. yang selanjutnya diproses melalui diagnosis dan pengobatan. sangat diharapkan peran serta masyarakat dalam menunjang keberhasilan resosiaisasi mereka. b) Mencegah meluasnya penyakit dalam masyarakat. Tinjauan Umum Tentang Skrining 1. sehingga hasil yang didapat betulbetul didasarkan pada hasil pemerikasaan tes tertentu sedangkan kepastian diagnosis klinik yang dilakukan kemudian (Nasri. . 1997). Tanpa partisipasi. Penyaringan bukan diagnosis.

b) Lebih cepat mendapatkan keterangan tentang penyakit dalam masyarakat. e) Hasilnya dapat dipercaya selama tetap memperhatikan nilai: 1) Rehabilitas 2) Validasi 3) Kekuataan tes berdasrkan sensivitas dan spesivitas 5. Keuntungan Skrining a) Biaya dapat dilaksanakan sangat efektif. d) Mendidik dan memberikan gambaran kepada petugas kesehatan tentang sifat penyakit dan untuk selalu waspada/melakukan pengamatan terhadap setiap gejala dini. c) Dapat dilakukan untuk suatu penyakit atau serentak lebih dari satu penyakit. d) Pelaksanaannya cukup sederhana dan mudah. 4. b) Dapat dilakukan secara selektif maupun random terutama mereka dengan risko yang lebih besar. c) Mempunyai fleksibilitas dalam pelaksanaannya. Berbagai Bentuk Pelaksanan Penyaringan (skrining) a) Dapat dilakukan secara massal pada suatu penduduk tertentu. e) Mendapat keterangan epidemiologis yang berguna bagi peneliti. Kriteria Dalam Menyusun Program Skrining a) Penyakit yang dituju harus merupakan masalah kesehatan yang berarti .47 c) Mendidik dan membiasakan masyarakat untuk memeriksakan diri sedini mungkin. 3.

f) Ada standar yang disepakati tentang mereka yang menderita. Bentuk seri yakni pad dua penyaringan. mereka yang positif pada satu tes dinyatakan positif dan dilanjutkan pemeriksaan untuk diagnosis. Bentuk.Tersedianya fasilitas dan biaya untuk diagnosis pasti dan pengobatan. Bentuk paralel yakni pada dua penyaringan. g) Biaya yang digunakan harus seimbang dengan resiko biaya tanpa skrining. 6. positif palsu akan lebih rendah.48 b) Tersedianya obat yang potensial dan memungkinkan pengobatan bagi mereka yang dinyatakan menderita. . e) Sifat perjalanan penyakit diketahui dengan pasti. h) Harus dimungkinkan untuk diadakan follow up. Pada bentuk bentuk paralel.Bentuk Skrining/Penyaringan Penyaringan dapat dilakukan dalam bentuk seri maupun parallel. dan kemungkinan pencarian penderita secara berkesinambungan. Cara ini dapat digunakan tergantung tujuan penyaringan. bentuk penyakit serta keadaan dana dan fasilitas yang tersedia. untuk selanjutnya diadakan pemeriksaan untuk diagnosis. d) Teknik dan cara pemeriksaan harus dapat diterima masyarakat secara umum. jumlah positif palsu akan lebih besar dan negatif palsu akan lebih kecil. Pada bentuk seri. mereka dinyatakan positif bila menghasilkan hasil positif pada kedua tes penyaringan yang dilakukan. c) Pemeriksaan skrining memenuhi syarat untuk tingkat sensivitas dan spesivitas. sedangkan negatif palsu meningkat.

. ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian suatu materi atau obyek (Notoatmojo. Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang mengindera terhadap suatu obyek tertentu. b) Memahami (comprehension) diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui. pendengaran. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Kusta 1. e) Sintesis (synthesis) menunjuk kepada sesuatu kemampuan untuk meletakan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam bentuk keseluruhan yang baru dari formulasi-formulasi yang ada. d) Analisis (analysis) adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek ke dalam komponen-komponen. yang dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.49 C. Sebagian besar pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang terhadap obyek diperoleh melalui indra penglihatan. c) Aplikasi (aplication) diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi real (sebenarnya). f) Evaluasi (evaluation). tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut atau masih ada kaitannya satu sama lain. 1989). Pengetahuan mempunyai enam tingkatan : a) Tahu (know) diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Penginderaan dapat terjadi melalui indera penglihatan. penciuman rasa dan raba.

c) Mekanisme. Sebelum seseorang mengadopsi suatu inovasi baru didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan yakni : .50 2. Adapun tahapan-tahapan tindakan adalah : a) Persepsi. artinya tindakan itu sudah dimodifikasi. karena untuk mewujudkan sikap menjadi perubahan nyata diperlukan faktor pendukung atau kondisi yang memungkinkan. d) Adaptasi adalah suatu praktek atau tundakan yang sudah berkembang dengan baik. 3. Tindakan Suatu sikap belum tentu otomatis terwujud didalam suatu tindakan (over behavior). b) Respon terpimpin adalah melalui sesuatu dengan urutan yang besar sesuai dengan contoh atau merupakan indikator tingkat kedua. artinya mengenal atau memilih berbagai obyek dengan tindakan yang akan di ambil adalah praktek tingkat pertama. 2003). apabila seseorang telah melakukan sesuatu dengan benar maka secara otomatis akan menjadi kebiasaan dan pencapaian praktek tingkat ketiga. Sikap Sikap adalah bentuk evaluasi atau perasaan seseorang terhadap suatu obyek yaitu perasaan mendukung atau memihak maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada objek tertentu (Azwar.

Di Wilayah Puskesmas Kulisusu pada tahun 2008 angka penemuan kasus baru (CDR) sebesar 26 per 100. b) Ketertarikan (interest). sebelum aktifitas mental untuk menimbang-nimbang baik tidaknya sebuah stimulus bagi dirinya. D.51 a) Kesadaran (awareness).000 penduduk. e) Penerimaan (adaptasi). sehingga tingkat penularan masih tergolong tinggi bila dibandingkan dengan target program Penanggulangan Penyakit Kusta CDR < 10 per 100. dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus/obyek terlebih dahulu. kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus (Notoatmodjo. dimana orang telah mulai untuk mencoba sebuah perilaku yang baru dan merasakan dampaknya. . c) Penilaian (evaluation). d) Mencoba (trial). dimana subyek telah menerima inovasi sebagai bagian dari perilakunya sesuai dengan pengetahuan.000 penduduk. ketika orang mulai tertarik terhadap stimulus yang diberikan oleh subyek. Kerangka Konsep Penyakit kusta merupakan penyakit menular menahun yang menyerang manusia pada semua kelompok umur dan dapat menyebabkan kerusakan saraf tepi serta menimbulkan kecacatan yang permanen pada manusia. 1993).

sikap dan tindakan responden yang kurang sehat. Untuk lebih jelasnya. seperti kerangka acuan penelitian. dapat dilihat pada bagan di bawah ini : Skrining Pengetahuan Sikap Sakit Kusta (Penderit) .52 Kejadian penyakit kusta tersebut terkait dengan berbagai faktor dan diantaranya termasuk kurangnya pengetahuan.

53 Tindakan Responden Kejadian Penyalit Kusta Sehat (Bukan Penderita) Pendidikan Lingkungan Keterangan : Variabel yang diteliti : Variabel yang tidak diteliti Gambar 3. Bagan Kerangka Konseptual .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->