P. 1
PEMILIHAN AGAMA PADA ANAK DARI PERKAWINAN BEDA AGAMA (STUDI KASUS PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN MEMILIH AGAMA DI KEL. LAU CIMBA DAN PADANG MAS KEC. KABANJAHE KAB. KARO)

PEMILIHAN AGAMA PADA ANAK DARI PERKAWINAN BEDA AGAMA (STUDI KASUS PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN MEMILIH AGAMA DI KEL. LAU CIMBA DAN PADANG MAS KEC. KABANJAHE KAB. KARO)

|Views: 97|Likes:
Published by KARYAGATA MANDIRI

More info:

Published by: KARYAGATA MANDIRI on Aug 01, 2012
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

04/23/2013

Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama

di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo)

SKRIPSI
D I S U S U N OLEH: MINARTI SURBAKTI (040905020)

DEPARTEMEN ANTROPOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

HALAMAN PERSETUJUAN Nama Nim Judul : Minarti Surbakti : 040905020 : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus dalam proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo).

Departemen : Antropologi

Medan,

Februari 2009

Pembimbing Skripsi

Ketua Departemen

(Dra. Mariana Makmur, MA) Nip. 131 476 038

(Drs. Zulkifli Lubis, MA) Nip. 131 882 278

Dekan FISIP USU

(Prof. Dr. M. Arif Nasution, MA) Nip. 131 757 010
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah Swt, karena dengan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini guna melengkapi dan memenuhi salah satu

syarat untuk memperoleh gelar sarjana Antropologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Adapun judul skripsi ini adalah Pemilihan Agama pada Anak dari Perkawinan beda Agama. Selama penulisan skripsi ini, penulis banyak menerima bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada: 1. Bapak Prof. Dr. M. Arif Nasution, MA selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. 2. Bapak Drs. Zulkifli, MA selaku ketua Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. 3. Ibu Dra. Sri Emiyanti, Msi selaku dosen penasehat akademik yang telah banyak memberi masukan dan nasehat kepada penulis. 4. Ibu Dra. Mariana Makmur, MA selaku dosen pembimbing skripsi penulis yang telah banyak meluangkan waktu serta memberikan banyak pengetahuan baru yang sangat berguna bagi penulis. 5. Bapak Drs. Irfan Simatupang, Msi selaku dosen ketua penguji penulis yang telah banyak memberi masukan guna penyempurnaan skripsi ini. 6. Ibu Dra. Sri Alem Sembiring, Msi selaku dosen penguji yang juga telah memberi banyak masukan dan saran kepada penulis guna penyempurnaan skripsi ini. 7. Kepada seluruh dosen Antropologi dan dosen yang ada di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara yang telah membantu penulis selama proses perkuliahan di Departemen Antropologi. 8. Kepada seluruh pegawai Antropologi dan pegawai yang ada di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara yang telah membantu penulis
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

dalam menyelesaikan urusan administrasi selama proses perkuliahan di Departemen Antropologi. 9. Ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada orangtua tercinta Ayahanda N. Surbakti dan Ibunda Zumiaty yang telah mengasuh, mendidik dan mendo’akan ananda dengan penuh kasih sayang. Inilah persembahan yang dapat ananda berikan sebagai tanda bakti ananda. 10. Adinda tersayang Darmawan Surbakti dan Deviany Surbakti. Terima kasih do’a kalian selama ini. Mbak ayu sayang kalian. 11. Keluarga besar ayah dan ibu, terima kasih atas dukungan dan do’anya. 12. Sahabat-sahabat yang penulis sayangi, Icha, Uni Rika, Piepiet, Ru, Imon Tonang, Uda Badi, Mas Iwan, Diah dan Yogie Batam. Terima kasih atas kebersamaan yang telah kalian berikan selama ini. Tetap semangat ya!!!!!!! 13. Terima kasih kepada seluruh sahabat-sahabat penulis di Antropologi khususnya stambuk 2004.

Medan, Februari 2009

Minarti Surbakti

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

ABSTRAKSI

Minarti Surbakti, 2009. Pemilihan Agama pada Anak dari Perkawinan beda Agama. Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas, Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Karo. Skripsi ini terdiri dari 5 bab+94 halaman+daftar pustaka+lampiran. Penelitian ini khususnya untuk pasangan yang melakukan perkawinan beda agama antara agama Kristen Protestan dengan agama Islam. Tipe penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan sebuah model studi kasus. Informasi dari para informan pokok diperoleh dengan melakukan wawancara mendalam dan dengan menggunakan life history method. Dalam perkawinan beda agama akan muncul berbagi persoalan-persoalan salah satunya adalah agama untuk anak-anak mereka. Sebagian besar pasangan beda agama yang ada di Kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas telah menetapkan agama untuk anak mereka ketika lahir. Akan tetapi setelah anak mereka dewasa akan diberi kebebasan untuk memilih agama mana yang benar-benar mereka yakini. Hasil wawancara dengan para informan baik itu pasangan yang melakukan perkawinan beda agama maupun kepada anak-anak mereka diketahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi anak-anak tersebut dalam memilih agamanya. Faktor tersebut adalah peran ayah, peran ibu, peran kerabat orangtua, peran orangtua angkat, peran sahabat, hubungan kekasih dan peran pemuka agama. Walaupun memiliki agama yang berbeda dalam satu keluarga, mereka selalu berusaha mengutamakan perdamaian tanpa menyinggung-nyinggung masalah perbedaan agama di antara mereka. Mereka tidak pernah mengganggu saudara yang berbeda agama dengannya ketika sedang melaksanakan ibadah. Dengan demikian, sehari-hari terlihat bahwa kehidupan beragama bukanlah suatu masalah yang harus mereka besar-besarkan. Karena sebagian besar dari mereka bukanlah penganut agama yang fanatik. Di daerah tersebut masyarakatnya lebih mengutamakan hubungan baik dalam sistem adat-istiadat mereka. Jika ada anggota keluarga yang dikucilkan karena keluar dari agama yang telah mereka anut dan berpindah ke agama yang lain, hubungan tali silaturahmi mereka masih tetap bisa terjalin melalui acara adatistiadat yang mengharuskan kehadiran mereka. Jadi dalam hal ini kebudayaan atau adatistiadat yang menjadi pengikat dan menyatukan mereka. Oleh karena itu sudah seharusnya masalah perkawinan beda agama mendapat perhatian dari pemerintah. Dilarang atau disahkannya perkawinan beda agama harus benar-benar dijelaskan dalam undang-undang perkawinan agar bagi yang ingin melakukan perkawinan tersebut tidak akan berani memalsukan identitasnya dan memiliki kekuatan hukum negara.

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

DAFTAR ISI

Lembar Persetujuan Kata Pengantar……………..……….…………………,....….……….i Abstraksi……………………………………………..….…..….……...iii Daftar Isi…………………………………….………….….…...………iv

BAB I : Pendahuluan 1. 1. Latar Belakang Masalah…………………………………..……...….1
1. 2. Perumusan Masalah……………………………………….................8 1. 3. Ruang Lingkup dan Lokasi Penelitian…………..……………...……9 1. 4. Tujuan dan Manfaat Penelitian ………………………………..…...10 1. 5. Tinjauan Pustaka 1. 5. 1. Kerangka teori…………………………….………………..…10 1. 5. 2. Kerangka konsep…………………………...…........................14 1. 6. Metode Penelitian………………………………………………..…15

BAB II: Gambaran Umum Masyarakat di Kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas
2. 1. Kelurahan Lau Cimba 2. 1. 1. Sejarah Singkat Kelurahan Lau Cimba…………………….…..23 2. 1. 2. Letak dan Luas wilayah Kelurahan Lau Cimba………...……..24 2. 1. 3. Komposisi Penduduk………………………………………......25 2. 1. 4. Sarana dan Prasarana...……………………………….……..…27 2. 2. Kelurahan Padang Mas 2. 2. 1. Sejarah Singkat Kelurahan Padang Mas…...…………...…..….29 2. 2. 2. Letak dan Luas Wilayah Kelurahan Padang Mas……….…......29
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

2. 2. 3. Komposisi Penduduk………………………………….…….....31 2. 2. 4. Sarana dan Prasarana………………………….……….……....34 2. 2. 5. Iklim……...………………………...…………………..………35 2. 3. Gambaran Umum Masyarakat yang Melakukan Perkawinan beda Agama di Kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas……..…..35

BAB III: Mengenal Perkawinan Beda Agama
3. 1. Menurut Agama Islam………………………………………………39 3. 2. Menurut Agama Kristen Protestan………………………………….41 3. 3. Menurut Agama Katholik…………………………………...………43 3. 4. Menurut Agama Hindu dan Budha……………………...………….45

BAB IV: Pemilihan Agama Pada Anak
4. 1. Timbulnya Agama pada Anak……………………….….………..…53 4. 2. Perkembangan Agama pada Anak…………………….…..………..55 4. 3. Sifat Agama pada Anak……………………………….…..…..…….56 4. 4. Pemilihan Agama pada Anak dari Perkawinan beda Agama……….58 4. 5. Kasus-kasus 7 Keluarga yang Melakukan Perkawinan beda Agama.63 4. 6. Pendapat Masyarakat di Kecamatan Kabanjahe Tentang Perkawinan beda Agama………………………………….….....…..83

BAB V: Penutup
5. 1. Kesimpulan…………….………………………………..……….…..91 5. 2. Saran…………………….……………………………..………….…93 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang masalah.
Ditinjau dari sudut Antropologi, perkawinan itu sangat penting karena perkawinan merupakan usaha untuk mengatur masyarakat. Perkawinan berawal dari ikatan antara seorang laki-laki dengan perempuan yang nantinya akan lebih berkembang lagi setelah lahirnya anak-anak. Tujuan perkawinan yang ideal adalah mewujudkan hidup bersama dalam ikatan cinta kasih serta untuk mendapatkan keturunan demi kelangsungan hidup manusia (Sukarti; 2003: 52). Di abad teknologi komunikasi ini telah menjadikan masyarakat pedesaan yang tertutup menjadi masyarakat yang terbuka, dari masyarakat yang homogen di pedesaan telah banyak berinteraksi dengan masyarakat perkotaan yang heterogen. Kemajuan di bidang teknologi modern dan pembangunan nasional telah banyak menimbulkan perubahan-perubahan di kalangan masyarakat, yang juga telah banyak mendatangkan kemajuan pada berbagai bidang kehidupan. Majunya komunikasi berarti pula telah membuka kesempatan yang lebih besar kepada anggota-anggota dari satu golongan masyarakat, baik yang namanya suku, ras, maupun agama, untuk berinteraksi dengan anggota-anggota masyarakat dari luar golongannya. Dari interaksi tersebut bukanlah suatu hal yang mustahil bila terlahir perkawinan antar suku, antar ras bahkan antar agama (Asmin; 1986: 34).
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

Dalam kehidupan bermasyarakat, perkawinan beda agama terjadi sebagai suatu realitas yang tidak dipungkiri. Berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, telah jelas dan tegas menyatakan bahwa sebenarnya perkawinan beda agama dilarang, karena bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia. Khususnya dalam pasal 2 UU Perkawinan no. 1 tahun 1974 yang menyatakan

“perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut agamanya masing-masing dan kepercayaannya itu”. Namun dalam kenyataannya, perkawinan beda agama masih saja terjadi dan akan terus terjadi sebagai akibat interaksi sosial di antara seluruh warga negara Indonesia yang pluralis agamanya. Banyak kasus yang terjadi di dalam masyarakat, seperti perkawinan antara artis Jamal Mirdad dengan Lidia Kandau, Katon Bagaskara dengan Ira Wibowo, Yuni Shara dengan Henry Siahaan, Adi Subono dengan Chrisye, Ari Sihasale dengan Nia Zulkarnaen, Dedi Khobuser dengan Kalina, Frans dengan Amara, Sony Lauwany dengan Cornelia Agatha, dan lain-lain. Untuk mengesahkan perkawinan tersebut, mereka pergi keluar negeri seperti Singapura dan mencatatkan perkawinan mereka di Kantor Catatan Sipil negara tersebut (http://Anggara.org/2007/07/05/perkawinan-beda-agama-di

Indonesia/). Sebagian besar alasan mereka tetap melakukan perkawinan walaupun memiliki

agama yang berbeda adalah alasan yang cukup klise yaitu karena cinta. Pada dasarnya, pasangan-pasangan tersebut mencoba untuk mencari jalan terbaik untuk menganut satu agama ketika akan membentuk rumah tangga mereka. Namun, meninggalkan agama yang sejak lahir telah diyakini dan memeluk agama baru bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilaksanakan.
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

Kasus-kasus perkawinan beda agama juga telah banyak diteliti. Contohnya status perkawinan antar agama di Jakarta yang diteliti oleh Asmin (1986:81). Ia menyatakan dari sudut agama, orang-orang yang melakukan perkawinan beda agama relatif memang dapat dikatakan sebagai orang yang tidak taat kepada hukum agama. Akan tetapi hal tersebut tidak benar keseluruhannya. Banyak pasangan yang telah melakukan perkawinan beda agama tetap menjalankan perintah agamanya masing-masing secara tertib dan tekun tanpa terpengaruh oleh agama pasangannya. Kehidupan rumah tangga mereka terlihat bahagia dan rukun-rukun saja. Mereka bukanlah orang-orang yang yang tidak mengerti ajaran agama. Haruskah negara menghalangi perkawinan beda agama? Haruskah dua insan yang ingin mencari kebahagiaan hidup dalam perkawinannya kehilangan ketenteraman hanya karena perkawinan itu tidak diakui sah oleh hukum agama dan tidak terlindungi oleh hukum negara? Bagaimana pula dengan status anak-anak mereka?. Dari berbagai pertanyaan tersebut ia melihat bahwa telah sering terjadi semacam kompromi di antara calon pasangan mempelai beda agama yang hendak melangsungkan perkawinan. Di antara mereka ada kata sepakat bahwa salah seorang akan bersedia masuk (pura-pura) ke agama pasangannya agar perkawinan dapat dilangsungkan dan memperoleh status yang sah menurut undang-undang dan hukum agama. Setelah perkawinan mereka dilangsungkan dan memperoleh status yang sah, pihak yang purapura tadi dalam waktu beberapa bulan atau bahkan beberapa minggu saja setelah perkawinannya diresmikan, akan kembali lagi ke agamanya yang semula. Jadi demi status yang sah seseorang akan rela melakukan apa saja termasuk memalsukan identitasnya.
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

Agustina (2005) dalam tesisnya berjudul perkawinan antar agama dan hukumnya yang mengkaji tentang putusan MARI No. 1400/K/Pdt/1986. Ia mengatakan jika

dipandang dari sudut agama, agama apapun melarang umatnya melakukan perkawinan beda agama. Jika tetap dilakukan perkawinan tersebut dianggap tidak syah dan tidak diakui oleh Negara. Padahal sebelum UU No. 1 Tahun 1974 berlaku sudah ada undangundang yang mengatur tentang perkawinan campuran melalui ketetapan Raja tanggal 29 Desember 1896 No. 23 (Stb. 1898 No. 58) yang disebut dengan Regeling op de Gemengde Huwelijken (GHR). Setelah berlakunya Undang-Undang Perkawinan Nasional yaitu UU No. 1 Tahun 1974, telah terjadi unifikasi di lapangan hukum perkawinan. Perkawinan campuran hanya boleh dilakukan antara dua orang yang berbeda kewarganegaraan saja. Sementara untuk perkawinan yang beda agama tidak diatur dalam undang-undang. Tidak diaturnya perkawinan antar agama dalam undang-undang telah menimbulkan kekosongan hukum terhadap perkawinan beda agama. Kajian putusan MARI (Mahkamah Agung Republik Indonesia) No. 1400/K/Pdt/1986 mencoba melihat masalah ini dan menyatakan dari salah satu keputusannya adalah memberikan wewenang kepada pihak Kantor Catatan Sipil untuk mengesahkan perkawinan bagi pasangan beda agama. Namun kenyataannya sampai saat ini belum juga terealisasikan. Contoh kasus lain, dalam disertasinya Lemire dalam Siong (1961: 41) menulis tentang larangan perkawinan akibat tingkat sosial dan perbedaan agama. Banyak orang yang melakukan peralihan agama akibat perkawinan. Di lingkungan hukum adat Minahasa seringkali terjadi perkawinan beda agama antara agama Kristen Protestan
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

dengan agama Islam. Masyarakatnya masih memegang kuat hukum adat dan hukum adat mereka sangat menentang perkawinan beda agama. Sistem kekerabatan Minahasa adalah patrilineal, di mana garis keturunan diambil dari pihak orangtua laki-laki (ayah). Dalam sistem ini laki-laki yang memegang kekuasaan penuh. Sehingga kebanyakan dalam hal demikian sang istri yang beralih ke agama suaminya.Di kepulauan Ternate juga demikian, sering terjadi perkawinan antara agama Kristen dan bukan Kristen. Larangan perkawinan karena perbedaan susunan tingkat terdapat pula di sana-sini dalam berbagai lingkungan hukum adat misalnya di Buru (Maluku) terdapat larangan bagi perempuan untuk menikah dengan laki-laki dari tingkat yang lebih rendah, namun banyak juga perempuan yang rela diusir dan dibuang oleh keluarga demi laki-laki yang dicintainya. Sehingga larangan adat untuk mengadakan perkawinan beda agama maupun beda tingkat sosial tidak ditaati sama sekali. Perkawinan beda agama dapat ditemukan di banyak tempat di Indonesia, demikian pula pada warga masyarakat di Kabupaten Karo, khususnya di Kecamatan Kabanjahe, Kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas. Dari data BPS (badan pusat statistik) Kecamatan Kabanjahe tahun 2007 terdapat 55 KK (kepala keluarga) yang melakukan perkawinan beda agama. Mereka pasangan suami istri yang beragama Islam dengan agama Kristen Protestan, agama Islam dengan agama Katolik, agama Islam dengan agama Budha, agama Kristen Protestan dengan agama Budha, dan lain-lain. Dalam penelitian ini, masalah yang diteliti khusus kepada pasangan suami istri beda agama yang beragama Kristen Protestan dengan agama Islam. Pasangan ini dipilih karena jumlah mereka lebih banyak dibandingkan jumlah pasangan beda agama yang lain.

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

Masyarakat Karo bukan hanya menganut agama Islam, Kristen Protestan, Katolik, Budha dan Hindu tetapi juga masih banyak yang menganut agama lokal (aliran kepercayaan) yang disebut dengan pemena yang tidak bisa dipisahkan dengan kebudayaan Karo. Oleh karena itu, pemena merupakan bentuk kepercayaan umum di Kabupaten Karo yang sudah diyakini masyarakatnya sejak lama. Namun masuknya agama Islam, Kristen Protestan, Katolik, Budha dan Hindu tidak menyebabkan terjadinya konflik karena terdapat kesamaan substansi ajaran antara agama lokal dengan agamaagama tersebut yaitu sama-sama menerangkan pengayaan spiritual (Hidayat: 2003). Bahkan perkawinan beda agama yang mereka jalani mendapat “perlindungan” dari budaya lokal mereka yaitu adanya sistem kekerabatan di daerah ini yang termodifikasi dari hubungan perkawinan. Sistem kekerabatan yang bertumpu pada konsep rakut sitelu yang menegaskan bahwa semua orang yang ada dalam satu kampung (kuta) berada dalam satu ikatan kekerabatan yang besar. Adanya perkawinan beda agama kadangkala menimbulkan konflik dalam hubungan kekerabatan mereka. Namun hubungan kekerabatan mereka masih dapat terjalin melalui konsep rakut sitelu tersebut yang harus tetap melibatkan mereka dalam upacara adat-istiadat. Konsep rakut sitelu sama halnya dengan hula-hula di Tapanuli Utara, atau kahanggi di Tapanuli Selatan. Kartini Kartono (1985; 63) mengatakan bahwa dari suatu perkawinan terciptalah kesatuan anggota keluarga yang terdiri dari seorang ayah, ibu dan anak. Anak, keluarga dan masa depan bangsa merupakan tiga hal penting yang saling berkaitan. Keluargalah yang mempunyai kedudukan kunci yang sentral, karena perkembangan anak dimulai dan dimungkinkan dalam lingkungan keluarga. Keluarga merupakan tempat di mana setiap individu dibesarkan, sejak individu lahir sampai datang masanya ia meninggalkan rumah
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

untuk membentuk keluarga sendiri. Di dalam keluargalah hubungan manusia yang paling awal terjadi, sebelum mengenal lingkungan yang lebih luas. Sebagai lembaga pembentukan pribadi, mental dan karakter, keluarga juga harus mampu merangkap kepentingan masing-masing anggotanya. Dalam hal ini peran dan tanggung jawab orang tua merupakan faktor yang utama, mereka merupakan pimpinan sekaligus pengambil keputusan. Selain itu orang tua juga dijadikan acuan atau contoh oleh anaknya, baik itu dalam hal kebiasaan, sifat, cara bicara, cara bertindak dan sebagainya. Hal ini akan lebih besar pengaruhnya karena pada umumnya seorang anak lebih banyak menghabiskan waktunya tinggal bersama keluarga, saat si anak masih berusia balita (Hatta, 2002: 49). Seorang anak yang lahir dari perkawinan beda agama, ketika ia telah dewasa dan mengerti akan masalah-masalah hidup yang ia hadapi akan mempertanyaka hal ini. Mengapa agama orang tuanya berbeda dan agama siapa yang harus ia pilih?. Ketika akan memilih agamanya sendiri, akan banyak sekali faktor-faktor dan pemikiran yang mempengaruhi si anak. Sampai pada akhirnya ia akan benar-benar mengambil satu keputusan apakah ia tetap memilih agama yang telah ditetapkan orang tuanya sejak lahir atau memilih agama yang baru atau agama di luar agama orang tuanya. Seorang anak memilih agamanya sendiri yang ia yakini benar-benar bisa menjadi pedoman dan pegangan dalam hidupnya karena telah timbul emosi keagamaan dalam dirinya, yaitu getaran jiwa yang mendorong seseorang melakukan tindakan-tindakan yang bersifat keagamaan/religi yang akan terjadi ketika ia telah dewasa dan mampu menyikapi masalah dalam hidupnya (Koentjaraningrat,1986: 179).

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

Anak-anak yang lahir dari perkawinan beda agama yang ada di Kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas sebagian aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan keagamaan mereka. Kegiatan-kegiatan tersebut seperti ikut kebaktian di Gereja, sekolah minggu bagi yang beragama Kristen Protestan dan mengikuti pengajian dan remaja mesjid bagi yang beragama Islam. Hal ini terjadi karena walaupun orang tua mereka memiliki agama yang berbeda tetapi tetap menghargai agama lain dan tetap menjalankan kehidupan beragama yang semestinya. Namun sebagian lagi ada yang tidak aktif mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut bahkan seperti tidak peduli. Hal ini terjadi karena mereka melihat orang tua yang juga tidak terlalu peduli dengan hal tersebut.Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana anak-anak dari perkawinan beda agama tersebut memilih agamanya dan menjalankan kehidupan beragamanya.

1. 2. Perumusan masalah.
Dari semua yang telah di uraikan dalam latar belakang masalah, maka yang dapat dijadikan sebagai perumusan masalah adalah sebagai berikut: Bagaimana proses pemilihan agama pada anak dari perkawinan beda agama?

1. 3. Ruang lingkup masalah dan lokasi penelitian.
Untuk mendapatkan data yang diinginkan, maka ruang lingkup penelitian ini adalah: Apa alasan pasangan-pasangan suami istri tersebut mau melakukan perkawinan beda agama?. Agama siapa yang akan dianut oleh anak-anak mereka ketika baru lahir?. Agama siapa yang akan dianut oleh anak-anak mereka ketika telah dewasa?. Mengapa seorang anak memilih agamanya sendiri?.

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

-

Faktor apa saja yang mempengaruhi seorang anak dalam memilih agamanya?. Apakah mereka aktif menjalankan kegiatan-kegiatan keagamaan mereka?. Apa tanggapan masyarakat terhadap perkawinan beda agama?.

Lokasi penelitian dilakukan di Kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas, Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Karo. Di daerah ini penduduknya sudah sangat heterogen, dalam arti terdiri dari banyak suku bangsa yang memberi peluang besar untuk dapat dikatakan sebagai masyarakat yang majemuk. Dari 28% jumlah penduduk Kec. Kabanjahe yang telah menikah, 1,03% adalah jumlah pasangan suami istri yang melakukan perkawinan beda agama. Pasangan suami istri yang melakukan perkawinan beda agama tersebut 27 KK tinggal di Kelurahan Lau Cimba, 24 KK tinggal di Kelurahan Padang Mas, 3 KK tinggal di Kelurahan Gung Negeri dan 1 KK tinggal di Kelurahan Gung Leto ( BPS Kec, Kabanjahe 2007).

1. 4. Tujuan dan Manfaat Penelitian.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gejala-gejala apa saja yang timbul dari perkawinan beda agama khususnya mengetahui bagaimana pemilihan agama pada anak dari hasil perkawinan beda agama. Penelitian ini juga bermanfaat menambah pengetahuan masyarakat tentang masalah-masalah dalam perkawinan beda agama serta sebagai pedoman masyarakat untuk memikirkan lebih jauh lagi bila ingin melakukan perkawinan dengan pasangan yang beda agama.

1. 5. Tinjauan pustaka.
1. 5. 1. Kerangka teori.

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

Dalam meneliti persoalan tentang agama, Berger (1991) menggabungkan antara aspek sains dan aspek kemanusiaan. Pengetahuan dan agama dipahaminya sebagai konstruksi sosial, bukan pengetahuan yang objektif dari kenyataan (jika sains) atau dari Tuhan (jika agama) yang terlepas dari manusianya, masyarakat dan sejarah. Fungsi agama tidak bisa sampai ke tingkat kebenaran universal. Esensi agama adalah kemampuan manusia untuk melewati nature biologisnya masuk kepengalaman rohaniah atau spiritual melalui konstruksi makna yang dianggap objektif, moralis dan mencakup segalanya. Makna agama bukan hanya fakta sosial tetapi juga suatu fenomena kehidupan manusia yang berupa kerinduan dan usaha untuk terangkat dari pengalaman nyata seharihari. Kemampuan orang beragama itu bervariasi dari sekedar khusyuk, ikhlas, rasa

mendapat ampunan, rahmat dan kasih sayang Tuhan sampai kepada yang mampu merasakan dekat dan dekat sekali, bahkan bersatu dengan-Nya. Edward B. Tylor dalam Bahtiar (2003: 200) menyatakan bahwa memahami budaya sebagai kata kerja merupakan keseluruhan yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat-istiadat serta kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Budaya juga merupakan cara berfikir dan cara merasa yangmenyatakan dirinya dalam seluruh segi kehidupan sekelompok manusia yang membentuk kesatuan sosial (masyarakat) dalam suatu ruang dan waktu. Budaya bersifat dinamis, tidak statis. Sedangkan sebagai kata benda, budaya memiliki kaitan yang erat terhadap agama. Budaya dan agama dapat melahirkan sintesis “budaya yang bernafaskan agama”. Agama merupakan pedoman untuk kepentingan hidup manusia dalam menjalankan fungsi dan kewajibannya sebagai hamba Tuhan. Sementara budaya merupakan olah fikir dan hasil cipta, karsa dan karya manusia .
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

Clifford Geertz (1992) menganggap agama sebagai sebuah sistem budaya yang mampu mengubah sebuah tatanan masyarakat dan dapat membentuk karakter masyarakat. Agama juga merupakan makna dari gerakan atau simbol yang biasa berbeda dari penampilannya. Kehidupan suatu suku bangsa atau agama tidak boleh dijelaskan hanya dari struktur yang tampak saja. Pengetahuan mengenai struktur yang tampak itu mencakup pencarian makna dan maksud di balik semua kehidupan dan pemikiran. Hal itu sangat penting karena kebudayaan hanyalah konteks makna yang dipahami bersama atau “struktur arti yang mapan”. Walaupun disadari pula bahwa simbol juga menduduki peran penting dalam kebudayaan. Dari studinya di Jawa dan Bali, suatu masyarakat yang kompleks, yang telah dipengaruhi oleh Hindu, Budha, animisme, Islam dan kebudayaan Barat, tidak seperti suku Nuer atau Azande yang diteliti oleh Evans-Pritchard. Geertz sampai ke suatu pandangan bahwa masyarakat juga dibentuk oleh agamanya. Ia juga melihat agama sebagai fakta budaya, bukan sebagai kebutuhan sosial ataupun ketegangan ekonomi. Yang dimaksud dengan agama sebagai sistem budaya adalah: 1. Sebuah sistem simbol yang berperan. 2. Membangun suasana hati dan motivasi yang kuat, pervasif, dan tahan lama di dalam diri manusia . 3. Merumuskan konsepsi tatanan kehidupan yang umum. 4. Membungkus konsepsi-konsepsi tersebut dengan suatu aura faktualitas semacam itu sehingga suasana hati dan motivasi tampak realistik secara unik. Agama merumuskan konsep tentang tatanan kehidupan yang umum, memberi suatu arti yang mutlak, suatu tujuan pesanan yang besar pada dunia. Maka dalam agama, pada

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

suatu sisi berdiri konsepsi tentang dunia, dan pada sisi lain berdiri serangkaian suasana hati dan motivasi yang dibimbing oleh ide-ide moral. Dalam proses pemilihan agama, seseorang mengalami proses yang berbeda dengan orang lain. Zakiyah Darajat (1979: 42) mengatakan bahwa tiap-tiap pemilihan agama itu melalui proses kejiwaan sebagai berikut: 1. Masa tenang pertama: sebelum mengalami pemilihan agama dan bersikap acuh tak acuh terhadap agama. 2. Masa ketidaktenangan: yang berlangsung jika masalah agama telah

mempengaruhi batinnya sehingga mengakibatkan terjadinya kegoncangan yang berkecamuk dalam bentuk rasa gelisah, putus asa, panik, tegang dan sebagainya. Pada masa ini biasanya orang menjadi perasa, cepat tersinggung dan mudah terkena sugesti. Akhirnya terjadilah proses pemilihan terhadap agama lain. 3. Masa pemilihan agama: setelah konflik batin mencapai puncaknya, maka terjadilah peristiwa pemilihan agama itu sendiri. Karena kemantapan batin telah terpenuhi oleh pilihan yang dianggap serasi ataupun timbulnya rasa pasrah. Hidupnya kini berubah menjadi tenang dan berserah diri kepada Tuhan. 4. Masa tenang dan tentram: yang ditimbulkan oleh kepuasan terhadap keputusan yang telah diambil. Sehingga merasa aman, damai dalam hati, dan segala dosa merasa diampuni Tuhan. 5. Masa ekspresi pemilihan agama: tingkat terakhir dari penentuan pemilihan agama itu adalah pengungkapan dari sikap menerima terhadap konsep baru (ajaran agama) yang diyakininya tadi, maka tingkah laku dan sikap hidupnya diselaraskan dengan ajaran dan peraturan agama yang dipilihnya tersebut.
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

Ada tiga faktor penting mengapa seorang anak harus memilih agama yang benarbenar mampu menjadi pedoman hidupnya (Siahaan; 199: 43): 1. Agama memberi bimbingan dalam kehidupan manusia sejak masih anak-anak, di masa dewasa sampai kepada hari tua agar bermoral luhur dan

berperikemanusiaan. 2. Agama dapat menolong manusia sejak masa anak-anak agar menjadi sseseorang yang tabah, sabar dan fikirannya terbuka dalam menghadapi problem dan kesukaran. 3. Agama dapat membimbing anak-anak agar hidup tenang dan jiwanya lebih tentram. Dengan demikian anak-anak akan merasa bahwa Tuhan turut campur dan bersedia menolong mereka untuk menanggulangi masalah yang dihadapi dalam mencapai cita-cita mereka. Ketiga hal di atas dianggap sangat penting, sehingga si anak bisa mengerti dan tahu maksud dari kita memeluk dan mempercayai suatu agama yang dianut. Agama merupakan jalan ataupun sumber dari segala kebahagiaan dan kelestarian seluruh mahkluk. Dengan agamalah mereka dapat mengarungi hidup dan kehidupan ini dengan baik, tanpa itu tidak akan mungkin. Dengan syarat ataupun aturan yang tertera dalam ajaran agama itu manusia dapat hidup rukun, damai, sejahtera, tenteram dan bahagia (Mahali; 1983: 124). 1. 5. 2. Kerangka konsep. 1. Perkawinan; ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dengan perempuan sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam penelitian ini perkawinan beda
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

agama yaitu perkawinan yang dilaksanakan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang mempunyai agama yang berbeda. 2. Agama; pedoman hidup manusia yang dijadikan sarana hubungan antara manusia dengan Tuhan dalam bentuk ibadah. 3. Keluarga; unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu dan anak yang mempunyai berbagai pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya 4. anak; seseorang yang belum mencapai umur 18 tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan, ada di bawah kekuasaan orang tuanya. 5. pemilihan agama; dalam masalah ini pemilihan agama adalah pengambilan keputusan yang dilakukan seorang anak untuk menentukan pilihannya tentang keyakinan beragama, yaitu ikut agama ayahnya, ibunya atau mermilih agamanya sendiri.

1. 6. Metode Penelitian.
Dalam penelitian ini, tipe penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan sebuah model studi kasus. Studi kasus adalah strategi penelitian yang terfokus pada pemahaman terhadap sesuatu yang dinamis yang melibatkan satu kasus atau lebih dengan tingkat analisa yang berbeda-beda dan dapat memberikan gambaran terhadap suatu masalah. Ketika menggunakan model studi kasus, masalah yang diteliti adalah suatu realitas sosial yang benar-benar terjadi di masyarakat sehingga masalah tersebut dapat dideskripsikan dari awal sampai akhir. Oleh karena itu penelitian ini menggunakan model studi kasus `alasannya adalah agar dapat lebih memahami dan mengerti permasalahan penelitian sehingga mampu memberikan satu gambaran yang lebih dalam tentang gejala-gejala yang ada dalam perkawinan beda agama.
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

a. Tehnik pengumpulan data. Data telah dikumpulkan dengan melakukan berbagai macam tehnik dan dengan jenisjenis informan sebagai berikut:

Informan adalah orang yang memberikan informasi sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh peneliti. Informan dalam penelitian ini terdiri dari informan pangkal, informan pokok/kunci dan informan biasa. Informan pangkal adalah orang yang dianggap memiliki pengetahuan lebih banyak tentang masalah yang diteliti yaitu perkawinan beda agama misalnya pemuka-pemuka agama seperti Ustadz, Pendeta dan Guru-guru agama, pihak KUA dan Catatan Sipil. Wawancara dengan informan pangkal untuk mendapat data-data mengenai sah atau tidaknya melakukan perkawinan beda agama maupun status (hukum) melakukan perkawinan beda agama. Informan pokok/kunci adalah orang yang melakukan perkawinan beda agama dan anak-anak yang lahir dari hasil perkawinan mereka. Informan pokok/kunci yang dibutuhkan peneliti yaitu yang sesuai dengan kriteria dan ketentuan yang ada dalam masalah penelitian yaitu keluarga suku bangsa Karo yang telah melakukan perkawinan beda agama di Kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas dengan masa perkawinan 18-30 tahun dari tahun 1979-1991 dan anak-anak dari hasil perkawinan beda agama tersebut dari umur 16-24 tahun (khusus yang masih dalam masa pendidikan di SMA- Perguruan tinggi). Dari data yang diperoleh, pasangan yang berasal dari agama Islam dengan agama Kristen Protestan berjumlah 33 KK, agama Islam dengan agama Katolik 5 KK, agama Kristen
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

Protestan dengan agama Budha 8 KK, agama Islam dengan agama Budha 3 KK, agama Katolik dengan agama Budha 4 KK, dan agama Kristen Protestan dengan agama Katolik 2 KK. Dari 33 KK, ada 13 KK pasangan beda agama khususnya agama Islam dengan agama Kristen Protestan yang memenuhi kriteria tersebut dan dijadikan sebagai informan pokok/kunci. Mereka adalah keluarga G. Tarigan, K. Tarigan, A. Ginting, D. Milala, R. Suka, L. Purba, H. Perangin-angin, M. Keliat, N. Sinuraya, T. Brahmana, K. Perangin-angin, G. Ginting, N. Surbakti. Anak-anak mereka yang dijadikan informan adalah Ika br Tarigan dan Guntur Tarigan anak dari G. Tarigan, Dina br Surbakti anak dari N. Surbakti, Dita br Ginting dan Saad Ginting anak dari A. Ginting, Fauzi Tarigan dan Alista br Tarigan anak dari K. Tarigan, Endi Milala anak dari D. Milala, Rehulina br Purba dan Anta Purba anak dari L. Purba, Vera br Suka, Gina br Suka dan Reymon Suka anak dari R. Suka, Asman Perangin-angin dan Dista Perangin-angin anak dari H. Perangin-angin. Wawancara dengan informan pokok/kunci adalah untuk mendapatkan data-data mengenai bagaimana awalnya mereka bisa melakukan perkawinan beda agama sampai bagaimana anak-anak mereka memilih agama mereka sendiri. Dari informan pangkal dan informan pokok/kunci diperoleh data mengenai perkawinan beda agama serta bagaimana anak-anak mereka memilih agama mereka sendiri. Untuk membuktikan data dan memperkuat data yang diperoleh dari informan pangkal dan informan pokok maka diwawancarai juga informan biasa seperti pasangan suami istri yang melakukan perkawinan beda agama di luar informan pokok/kunci, tetangga pasangan suami istri yang melakukan perkawinan
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

beda agama, anggota keluarga mereka yang lain serta masyakat yang ada di sekitar lingkungan mereka seperti Ana Lita, Ricardo Tarigan, Adelia br Keliat, Raskita br Surbakti, Antonius Solin, Sondang Manalu, Firman, Zalaluddin dan Sagian Purba. Informasi yang telah diperoleh dari para informan untuk melengkapi data-data dilakukan melalui proses wawancara. Metode wawancara yang digunakan adalah wawancara yang bersifat tidak berstruktur, bebas dan mendalam (depth interview).

Wawancara yang bersifat mendalam adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara peneliti dan informan, di mana peneliti dan informan terlibat percakapan yang cukup lama. Para informan yang diwawancarai secara mendalam adalah para informan pokok sebanyak 13 KK dan anakanak mereka seperti yang telah disebutkan di atas. Pelaksanaan wawancara tersebut tidak hanya dilakukan sekali atau dua kali saja melainkan berulang-ulang dengan intensitas yang tinggi. Sedangkan informasi yang didapat dari informan pangkal dilakukan melalui wawancara tidak berstruktur. Wawancara tidak berstruktur sifatnya lebih fleksibel dan terbuka. Dalam wawancara ini peneliti dapat mengikuti perkembangan pertanyaan berikutnya sebatas tidak menyimpang dari masalah yang diteliti. Sebelum mengumpulkan data di lapangan dengan metode wawancara tersebut, peneliti menyusun pedoman wawancara (interview guide) sebagai pedoman di lapangan. Hal ini bertujuan agar proses wawancara antara peneliti dengan informan berjalan dengan lancar karena pedoman wawancara dapat digunakan untuk menghindari peneliti dari “kehabisan pertanyaan”. Untuk melengkapi dan memperkuat data yang sudah ada, peneliti juga menggunakan metode wawancara yang bersifat bebas yaitu wawancara yang dilakukan peneliti kepada
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

informan tanpa ada persiapan terlebih dahulu dan biasanya wawancara tersebut dilakukan apabila peneliti secara kebetulan bertemu dengan si informan. Walaupun wawancara ini dilakukan secara bebas, tetapi kebebasan ini tidak terlepas dari pokok permasalahan yang akan ditanyakan kepada informan. Dengan metode tersebut, peneliti dapat

mengumpulkan data-data yang dibutuhkan yang berkaitan dengan perkawinan beda agama pada masyarakat Karo. Dalam melakukan wawancara ini, langkah pertama adalah peneliti menyaring daftar para informan yang ada, yaitu yang sesuai dengan kriteria dan ketentuan yang ada dalam masalah penelitian. Informan yang dibutuhkan terdiri dari beberapa keluarga yang telah melakukan perkawinan beda agama yang berdomisili di kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas. Setelah peneliti merasa yakin dengan informan yang ada maka wawancara dilakukan secara bertahap pada masing-masing keluarga informan dan ini dilakukan secara berkali-kali sampai data yang diperlukan terkumpul. Untuk melengkapi data yang telah terkumpul dari lapangan, peneliti kemudian mencari data kepustakaan dengan satu tujuan untuk mendapatkan landasan teori yang kuat, melalui pendapat para ahli yang berkaitan dengan masalah yang telah diteliti. Hal ini dapat ditemukan dari beberapa buah literatur, yang terdiri dari buku-buku, internet, artikel-artikel dan majalah-majalah tertentu yang sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Untuk melengkapi data, peneliti juga melakukan pengamatan (observasi). Observasi adalah suatu usaha pengumpulan data melalui pengamatan secara langsung terhadap suatu gejala sosial yang diteliti. Dalam hal ini peneliti melakukan pengamatan seputar kehidupan informan yang melakukan perkawinan beda agama khususnya yang berkaitan dengan pemilihan agama pada anak bagi keluarga beda agama. Situasi-situasi yang
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

diamati oleh peneliti adalah kegiatan-kegiatan mereka yang berkaitan dengan peribadatan yang dilakukan oleh keluarga beda agama. Seperti berdoa ketika makan, ucapan salam ketika berpamitan, ke Gereja di hari minggu, merayakan hari besar agama atau melakukan kebaktian rohani bagi yang beragama Kristen maupun ke Mesjid atau mengaji bagi yang beragama Islam. Untuk yang beragama Kristen Protestan, mereka memiliki satu perkumpulan dengan nama perpulungen sada arih. Mereka mengadakan pertemuan sekali seminggu yaitu hari minggu sore pukul 15.30 WIB sampai dengan selesai. Sedangkan untuk yang beragama Islam, mereka memiliki perkumpulan pengajian dengan nama Nurul Fallah yang diadakan seminggu sekali yaitu setiap senin malam pukul 20.00 WIB sampai dengan selesai. Untuk informan pokok dilakukan wawancara mendalam dengan menggunakan life history method. Life history method adalah tehnik pengumpulan data yang mendeskripsikan (menggambarkan) riwayat hidup para informan yang berhubungan dengan perkawinan beda agama dan bagaimana anak-anak mereka memilih agamanya sendiri. Penggunaan life history method ini bertujuan mendeskripsikan kehidupan para informan kunci. Dari 13 informan kunci diambil riwayat hidup (life history) 7 pasang keluarga sebagai contoh yang mewakili pasangan-pasangan yang melakukan perkawinan beda agama untuk mendukung data yang dibutuhkan. Mereka adalah keluarga G. Tarigan, K. Tarigan, A. Ginting, D. Milala, R. Suka, L. Purba dan H. Perangin-angin. Pengalaman dan hambatan-hambatan yang ditemui peneliti di lapangan: Selama melakukan penelitian tentang Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama di Kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas, ada beberapa pengalaman yang ditemui peneliti di lapangan, di antaranya adalah tidak semua perbedaan membuat
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

seseorang dengan yang lainnya menjadi saling bertentangan. Akan tetapi ada juga seseorang dengan yang lainnya bersatu dalam perbedaan. Contohnya perbedaan agama dalam satu rumah tangga. Di antara suami, istri dan anak-anak memiliki agama yang berbeda satu sama lainnya. Tapi perbedaan tersebut tidak membuat mereka saling bermusuhan. Mereka tetap bisa hidup rukun dan saling menghargai dalam satu atap. Peneliti juga mengalami beberapa hambatan-hambatan yaitu ada beberapa informan pangkal seperti pegawai Kantor Catatan Sipil yang bernama Bapak D. Simanjuntak yang sangat sulit untuk ditemui. Ketika pertama kali peneliti datang ke Kantor Catatan Sipil dan menjelaskan kepentingannya, peneliti diberi nomor telepon Bapak D. Simanjuntak selaku pegawai yang bisa memberi keterangan yang dibutuhkan oleh peneliti. Pada saat itu beliau sedang tidak ada di kantor. Sebanyak 4 kali peneliti menghubunginya selalu ditolak dengan alasan masih banyak pekerjaan. Setelah dihubungi kembali untuk yang kelima kalinya baru beliau bersedia untuk ditemui di kantornya yang ada di Jalan Mumah Purba, Kabanjahe. Setelah menunggu satu jam, beliau keluar dan mengatakan ada urusan mendadak dan peneliti diminta untuk datang kerumahnya di hari libur. Setelah datang kerumahnya pada hari minggu yang ada di Jalan Kebersihan, Kabanjahe barulah beliau bersedia memberi keterangan yang dibutuhkan oleh peneliti. Ketika mengurus surat ijin penelitian ke kantor Lurah Kecamatan Padang Mas, peneliti juga mengalami sedikit kesulitan karena dari pihak kelurahan meminta surat rekomendasi dari kantor Kecamatan Kabanjahe. Ketika meminta surat rekomendasi tersebut, pihak kecamatan tidak dapat memberikannya karena penelitian tersebut dilakukan di kelurahan bukan di kecamatan secara keseluruhan. Setelah berulangkali dijelaskan baru pihak kelurahan bersedia memberikan surat ijin penelitian yang
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

dibutuhkan peneliti. Tapi untuk urusan administrasi di Kelurahan Lau Cimba semuanya berjalan dengan lancar. Kemudian ada beberapa informan pokok yang sama sekali tidak bersedia memberi keterangan seputar kehidupan sebagai pasangan beda agama yang telah mereka jalani. Mereka adalah keluarga A. Ginting, D. Milala dan anak-anak dari pasangan beda agama tersebut yaitu Dita br Ginting, Dina br Surbakti, Endi Milala, Anta Purba, Saad Ginting dan Fauzi Tarigan. Mereka tidak bersedia memberi keterangan tentang hal tersebut kepada peneliti dengan alasan malu. Peneliti terpaksa berbohong dengan mengatakan bahwa peneliti juga memiliki keluarga yang beda agama. Awalnya mereka masih ragu juga tapi akhirnya mereka percaya dan mulai terbuka. Mereka bersedia menceritakan pengalaman mereka dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. Demikianlah pengalaman dan hambatan-hambatan yang dialami peneliti selama melakukan penelitian ini. Walaupun peneliti mengalami sedikit kesulitan ketika mencari data, tapi peneliti sangat berterima kasih kepada para informan yang bersedia memberikan data yang sangat dibutuhkan oleh peneliti.

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

BAB II GAMBARAN UMUM MASYARAKAT DI KELURAHAN LAU CIMBA DAN PADANG MAS

2. 1. Kelurahan Lau Cimba.
2. 1. 1. Sejarah Singkat Kelurahan Lau Cimba. Menurut cerita dari salah seorang pemuka adat Karo,Lau Cimba berasal dari bahasa karo yang artinya air yang ditimbai. Daerah ini dulunya memiliki sungai yang airnya sangat jernih. Sungai sangat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya sebagai sumber air minum, memasak, mencuci pakaian, perabotan rumah tangga dan menyiram tanaman mareka. Walaupun musim kemarau tiba, air di sungai tersebut tidak pernah surut apalagi sampai kering. Setiap akan mengambilnya, mereka menggunakan gayung atau peralatan lainnya seperti mengambil air dalam sumur. Sehingga mereka menyebutnya lau cimba (air yang ditimbai). Lama-kelamaan nama Lau Cimba semakin dikenal sehingga siapa saja yang akan pergi ke daerah tersebut akan mengatakan “ke Lau Cimba”, hal itu berlangsung sampai sekarang. Seiring dengan pertambahan waktu, penduduk di Kelurahan Lau Cimba semakin bertambah dan pembangunan fisik (rumah,
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

jalan beraspal, toko-toko, bangunan sekolah, puskesmas, dll) banyak dilakukan sehingga luas sungai tersebut semakin sempit. Sampai sekarang sungai tersebut masih ada tetapi seakan-akan tidak ada artinya lagi bagi warga masyarakat yang ada di Kelurahan Lau Cimba.

2. 1. 2. Letak Dan Luas Wilayah Kelurahan Lau Cimba. Letak Astronomi Kelurahan Lau Cimba terletak pada koordinad 2º ΄50 LU 3 ° 1 ´ 9 LU dan 97° 15´ BT - 98° 38´ BT. Secara geografis Kelurahan Lau Cimba terletak di bagian selatan Kecamatan Kabanjahe yang berjarak 3 KM dari pusat pemerintahan Kabupaten Karo. Letak administratif Kelurahan Lau Cimba adalah sebagai berikut : -Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Kampung Dalam. - Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Padang Mas. - Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Kacaribu. - Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Rumah Kaban Jahe. Luas wilayah Kelurahan Kampung Dalam adalah 200 ha, 14,8% dari luas Kecamatan Kabanjahe. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel: TABEL 1 Luas Wilayah Kecamatan Kabanjahe NO Kelurahan Luas (ha) Ratio (luas%)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

1 2 3 4 5

Padang Mas Lau Cimba Kampung Dalam Gung Negeri Gung Leto Jumlah

300 200 200 450 200 1350

22,2% 14,8% 14,8% 33,4% 14,8% 100%

Sumber : Data primer. 2. 1. 3. Komposisi Penduduk. - Menurut jenis kelamin. Berdasarkan data komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat perbandingan antara laki-laki dan perempuan. Jumlahnya tidak jauh berbeda dan hanya terpaut 128 orang lebih banyak jumlah laki-laki. Hal ini dapat dilihat pada tabel.

TABEL 2 Komposisi penduduk menurut jenis kelamin NO Kelurahan 1 2 3 4 5 Lau Cimba Padang Mas Gung Leto Gung Negeri Kampung Dalam Laki-laki 3243 3970 4028 3547 4080 Perempuan 3115 3938 4055 3847 4041 Jumlah 6358 7908 8083 7394 8182

Sumber : Data primer.

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

- Menurut Kepercayaan. Mayoritas penduduk Kelurahan Lau Cimba adalah agama Kristen Protestan dan agama Islam dan sebagian lagi menganut agama Katolik, Hindu, Budha dan aliran kepercayaan. Untuk jumlahnya dapat dilihat pada tabel:

TABEL 3 Komposisi penduduk menurut kepercayaan N Kelurahan O 1 2 3 4 5 Lau Cimba Padang Mas Gung Leto Gung Negeri Kampung Dalam Jumlah 16237 14979 5652 498 498 37864 Kristen Protestan 2950 3744 3395 2785 3359 2022 3329 3261 2972 3395 1147 414 1167 1590 1334 Islam Katolik Budha/ Hindu 151 196 110 66 75 120 228 100 40 10 6358 7908 8083 7394 8121 Lain Jmlh

Sumber : Data primer. Dari tabel di atas dapat dilihat jumlah penduduk di Kelurahan Lau Cimba yang beragama Islam 2022 jiwa, yang beragama Kristen Protestan 2950 jiwa, yang beragama Katolik 1147 jiwa, yang beragama Hindu dan Budha 151 jiwa sedangkan yang menganut aliran kepercayaan Pemena berjumlah 120 jiwa. - Menurut Jenis Pekerjaan.

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

Sebagian besar penduduk di Kelurahan Lau Cimba bekerja sebagai petani sebagian lagi bekerja di bidang wiraswasta. Pada table terlihat sebagai berikut :

TABEL 4 Komposisi penduduk menurut pekerjaan NO Kelurahan 1 2 3 4 5 Lau Cimba Padang Mas Gung Leto Gung Negeri Kampung Dalam Sumber:Data primer. Petani 225 346 572 324 785 Industri 4 8 2 2 PNS/ABRI Wiraswasta Jumlah 9 46 31 22 32 78 91 35 103 83 316 491 640 449 902

2. 1. 4. Sarana dan Prasarana. - Sarana Pendidikan. Sarana pendidikan merupakan sarana yang paling penting untuk menunjang kemakmuran dan kecerdasan bangsa. Jumlah seluruh sekolah yang ada di Kelurahan Lau Cimba adalah Sekolah Dasar Negeri (SDN) berjumlah 1 buah,Sekolah Dasar Swsasta (SDS) berjumlah 1 buah,dan Sekolah Menengah Atas (SMA) 1 buah. Sedangkan jumlah

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

siswa yang bersekolah di Kelurahan Lau Cimba berjumlah 2010 jiwa dengan perincian siswa di SDN berjumlah 345 jiwa, di SDS 320 jiwa dan di SMA 1345 jiwa.

- Sarana Kesehatan. Sarana terpenting lainnya adalah sarana kesehatan yang sangat di butuhkan oleh setiap warga masyarakat. Kelurahan Lau Cimba memiliki 1 buah Puskesmas pembantu dan 1 buah Posyandu. - Sarana Ibadah. Sarana ibadah adalah tempat untuk melakukan peribadatan dimana manusia bisa lebih konsentrasi lagi melakukan komunikasi dengan sang Maha Penciptanya. Di Kelurahan Lau Cimba terdapat 1 buah Mesjid,1 buah Mushola dan 3 buah Gereja. - Bengkel. Sarana bengkel adalah sarana yang sangat menunjang lancarnya hubungan transportasi bagi setiap daerah. Demikian juga halnya dengan Kelurahan Lau Cimba. Di daerah ini terdapat 10 buah bengkel mobil,6 bengkel sepeda motor dan 2 buah bengkel sepeda. - PLN dan PDAM. Fasilitas PLN (Perusahan Listrik Negara) dan PDAM di Kelurahan Lau Cimba sudah cukup baik. Banyaknya pelanggan PLN di Kelurahan Lau Cimba berjumlah 1160 jiwa dan pelanggan PDAM berjumlah 400 jiwa.

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

2. 2. Kelurahan Padang Mas.
2. 2. 1. Sejarah Singkat Kelurahan Padang Mas. Menurut cerita salah seorang pemuka adat Karo, secara singkat Kelurahan Padang Mas adalah sebagai berikut; dahulunya daerah tersebut merupakan area yang ditumbuhi padi darat yang sangat luas sekali. Seluruh kehidupan penduduknya tergantung pada tanaman padi mereka. Padi darat yang mereka tanam dengan sistem tadah hujan memberi hasil yang sangat melimpah. Setiap musim panen, mereka selalu berhasil karena tidak pernah diganggu oleh hama maupun binatang. Karena tanaman padi yang sangat luas tersebut orang-orang menyebutnya dengan nama Padang Mas. Padang artinya lebar atau luas. Sedangkan kata Mas diambil dari warna padi yang kuning seperti warna perhiasan mas. Namun seiring dengan bertambahnya waktu dan munculnya pendatang dari luar daerah Kelurahan Padang Mas, banyak lahan yang ditanami padi tersebut dibeli oleh para pendatang dan diganti dengan bangunan rumah, ruko, dll. Lama-kelamaan tanaman padi tersebut sudah semakin sedikit. Walaupun banyak lahan yang masih dijadikan lahan pertanian, namun tanaman yang ada sudah beraneka ragam seperti jeruk, sayur-mayur dan berbagai jenis bunga. 2. 2. 2. Letak dan Luas Wilayah Kelurahan Padang Mas. Secara astronomis, Kelurahan Padang Mas terletak pada koordinat 2º 50΄ LU 3° 19´ LU dan 97° 15´ BT - 98° 38´ BT. Secara geografis, Kelurahan Padang Mas terletak di

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

bagian Tenggara Kecamatan Kaanjahe yang berjarak 2 KM dari pusat pemerintahan Kabupaten Karo. Letak administratif Kelurahan Padang Mas adalah sebagai berikut: Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Gung Leto. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Tiga Panah. Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Kampung Dalam. Sebelah Utara berbatasan dengan dengan Kelurahan Gung Negeri.

Luas wilayah padang Mas adalah 300 ha, 22,2% dari luas Kecamatan Kabanjahe. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

TABEL 1 Luas Wilayah Kecamatan Kabanjahe NO Kelurahan 1 2 3 4 5 Padang Mas Lau Cimba Kampung Dalam Gung Negeri Gung Leto Jumlah Sumber : Data primer. Luas (ha) 300 200 200 450 200 1350 Ratio (luas%) 22,2% 14,8% 14,8% 33,4% 14,8% 100%

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

2. 2. 3. Komposisi Penduduk. - Menurut Jenis Kelamin. Data komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat bahwa jumlah laki-laki lebih banyak 32 orang daripada jumlah perempuan. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

TABEL 2 Komposisi penduduk menurut jenis kelamin NO Kelurahan 1 2 3 4 5 Lau Cimba Padang Mas Gung Leto Gung Negeri Kampung Dalam Laki-laki 3243 3970 4028 3547 4080 Perempuan 3115 3938 4055 3847 4041 Jumlah 6358 7908 8083 7394 8182

Sumber : Data primer.

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

- Menurut Kepercayaan. TABEL 3 Komposisi penduduk menurut kepercayaan NO Kelurahan Kristen Protestan 1 2 3 4 5 Lau Cimba Padang Mas Gung Leto Gung Negeri Kampung Dalam Jumlah 16237 14979 5652 498 498 37864 2950 3744 3395 2785 3359 2022 3329 3261 2972 3395 1147 414 1167 1590 1334 151 196 110 66 75 120 228 100 40 10 6358 7908 8083 7394 8121 Islam Katolik Budha/Hindu Lainnya Jumlah

Sumber : Data primer. Dari tabel di atas, penduduk di Kelurahan Padang Mas yang beragama Kristen Protestan berjumlah 3744 jiwa, yang beragama Islam berjumlah 3329 jiwa, yang beragama Katholik berjumlah 414 jiwa, yang beragama Budha dan Hindu berjumlah 196 jiwa serta yang masih menganut aliran kepercayaan pemena berjumlah 228 jiwa.

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

- Menurut Jenis Pekerjaan. Sebagian besar penduduk di Kelurahan Padang Mas bekerja sebagai petani sebagian lagi bekerja di bidang wiraswasta. Penduduk yang bekerja sebagai petani berjumlah 346 jiwa, yang bekerja di bidang industri berjumlah 28 jiwa, yang bekerja sebagai PNS/ABRI berjumlah 46 jiwa dan yang bekerja di bidang wiraswasta berjumlah 91 jiwa. Pada table terlihat sebagai berikut :

TABEL 4 Komposisi penduduk menurut pekerjaan NO Kelurahan 1 2 3 4 5 Lau Cimba Padang Mas Gung Leto Gung Negeri Kampung Dalam Sumber: Data Primer Petani 225 346 572 324 785 Industri 4 8 2 2 PNS/ABRI Wiraswasta Jumlah 9 46 31 22 32 78 91 35 103 83 316 491 640 449 902

2. 2. 4. Sarana dan Prasarana.
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

- Sarana Pendidikan. Jumlah lembaga pendidikan yang ada di Kelurahan Padang Mas adalah Sekolah Dasar Negeri (SDN) berjumlah 5 buah, Sekolah Dasar Negeri (SDS) berjumlah 3 buah dan 1 buah untuk jumlah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Sedangkan untuk jumlah siswa yang sekolah di daerah tersebut adalah 1549 jumlah siswa di SDN, 855 siswa di SDS dan 101 siswa di SLTP. Siswa-siswa tersebut bukan hanya berasal dari Kelurahan Padang Mas saja, tetapi banyak siswa juga siswa yang berasal dari luar daerah. - Sarana Kesehatan. Jumlah sarana kesehatan yang ada di Kelurahan Padang Mas sudah sangat mencukupi karena sudah terdapat 2 buah rumah sakit yang buka 24 jam, 1 buah puskesmas pembantu dan 1 buah posyandu. - Sarana Ibadah. Untuk sarana rumah ibadah di Kelurahan Padang Mas terdapat 1 buah Mesjid, 3 buah Gereja dan 1 buah Vihara. - Bengkel. Banyaknya bengkel menurut jenis kendaraan yang ada di Kelurahan Padang Mas terdapat 7 buah bengkel mobil, 6 buah bengkel sepeda motor dan 1 buah bengkel khusus untuk sepeda. - Sarana PLN dan PDAM. Jumlah pengguna fasilitas Perusahaan Listrik Negara da Perusahaan Dagang Air Minum (PDAM) di Kelurahan Padang Mas lebih banyak jika dibandingkan dengan Pengguna PLN dan PDAM yang ada di Kelurahan Lau Cimba. Di Kelurahan Padang Mas terdapat 1669 pengguna PLN dan 1531 pengguna PDAM.
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

2. 2. 5. Iklim. Iklim di Kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas sama yaitu beriklim tropis di mana terdapat curah hujan sepanjang tahun. Temperatur udara berkisar 16º C sampai dengan 27º C dengan kelembaban udara 82 %. Dua kelurahan tersebut memiliki dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan terjadi antara bulan Agustus sampai dengan bulan Januari dan musim kemarau terjadi antara bulan April sampai dengan bulan Agustus. Rata-rata curah hujan setiap tahunnya antara 1000-3000 M³.

2. 3. Gambaran Umum Masyarakat yang Melakukan Perkawinan beda Agama di Kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas.
Kabupaten Karo adalah salah satu kabupaten di Sumatera Utara. Ibukota Kabupaten Karo terletak di Kecamatan Kabanjahe. Kabupaten Karo memiliki 13 kecamatan yaitu Kecamatan Barusjahe, Berastagi, Juhar, Kabanjahe, Kutabuluh, Lau baleng, Mardinding, Merek, Munte, Payung, Simpang Empat, Tiga Binanga dan Tiga Panah. Sedangkan Kecamatan Kabanjahe memiliki 5 kelurahan yaitu Kelurahan Gung Leto, Gung Negeri, Padang Mas, Lau Cimba dan Kampung Dalam. Penelitian dilakukan di Kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas, Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Karo. Di daerah ini penduduknya sudah sangat heterogen, dalam arti terdiri dari banyak suku bangsa yang memberi peluang besar untuk dapat dikatakan sebagai masyarakat yang majemuk. Dari data yang diperoleh di kantor Kecamatan, penduduk Kecamatan Kabanjahe berjumlah 37.864 jiwa dengan perincian sebagai berikut; penduduk di Kelurahan Lau Cimba berjumlah 6.358 jiwa, penduduk di
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

Kelurahan Padang Mas berjumlah 7.908

jiwa, penduduk di Kelurahan Gung Leto

berjumlah 8.083 jiwa, penduduk di Kelurahan Gung Negeri berjumlah 7.394 jiwa dan penduduk di Kelurahan Kampung Dalam berjumlah 8.121 jiwa. 41% beragama Kristen Protestan, 39% beragama Islam, 15% beragama Katolik, 2,5% beragama Hindu dan Budha serta 2,5% lagi masih menganut aliran kepercayaan. Dari 28% jumlah penduduk Kecamatan Kabanjahe yang telah menikah, 1,03% adalah jumlah pasangan suami istri yang melakukan perkawinan beda agama. Pasangan yang menikah antara agama Islam dengan agama Kristen Protestan berjumlah 33 KK, agama Islam dengan agama Katolik 5 KK, agama Kristen Protestan dengan agama Budha 8 KK, agama Islam dengan agama Budha 3 KK, agama Katolik dengan agama Budha 4 KK, dan agama Kristen Protestan dengan agama Katolik 2 KK. Pasangan beda agama tersebut 27 KK tinggal di Kelurahan Lau Cimba, 24 KK tinggal di Kelurahan Padang Mas, 3 KK tinggal di Kelurahan Gung Negeri dan 1 KK tinggal di Kelurahan Gung Leto. Sementara di Kelurahan Kampung Dalam tidak ada pasangan yang melakukan perkawinan beda agama (BPS Kec, Kabanjahe 2007). Dari data yang diperoleh, perkawinan beda agama di daerah tersebut terjadi mulai tahun 1963 sampai dengan tahun 2005. Pengesahan perkawinan mereka ada yang dilakukan di KUA (kantor urusan agama) bagi yang calon suaminya beragama Islam dan calon istrinya beragama Kristen Protestan. Pihak KUA bersedia mengesahkan pernikahan mereka dengan syarat dalam waktu yang telah ditentukan, suami sebagai kepala rumah tangga dapat membimbing istrinya masuk ke dalam agamanya yaitu Islam. Janji tersebut hanya mereka ucapkan di depan pihak KUA saja, akan tetapi dalam kehidupan seharihari janji tersebut tidak pernah terlaksana. Sampai saat ini mereka masih tetap membawa
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

agamanya

masing-masing.

Demikian

juga

bagi

mereka

yang

mengesahkan

pernikahannya di Kantor Catatan Sipil dengan memalsukan salah satu identitas pasangannya dan yang lainnya menikah secara adat saja baik itu adat Batak Karo, Batak Toba, Nias dan yang lain-lain. Tergantung kesepakatan pasangan calon pengantin serta keluarga mereka. Untuk urusan administrasi seperti membuat KTP (kartu tanda penduduk), akta kelahiran, kartu keluarga dan lain sebagainya, di daerah tersebut semuanya berjalan dengan lancar karena mereka tidak pernah dimintai syarat-syarat yang menyulitkan. Mereka akan semakin mudah menyelesaikan urusan administrasi tersebut apabila mereka telah mengenal dengan baik atau semarga dengan pegawai yang bertugas menyelesaikan urusan tersebut. Pasangan yang melakukan perkawinan beda agama banyak tinggal di Kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas karena merasa memiliki masalah yang sama. Sehingga mereka merasa lebih leluasa dalam menjalani hidup mereka khususnya yang berkaitan dengan kehidupan beragama. Misalnya dalam merayakan hari-hari besar agama. Mereka sudah tidak merasa canggung lagi untuk dua kali merayakannya dalam satu tahun yaitu merayakan hari besar agama suaminya dan merayakan hari besar istrinya. Namun ada juga keluarga yang sama sekali tidak merayakan kedua hari besar agama tersebut seperti Natal, Tahun Baru, maupun Lebaran. Bagi keluarga yang tidak merayakan hari-hari besar agama tersebut, mereka akan berkunjung kerumah saudara mereka yang sedang merayakannya.

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

Dengan adanya perkawinan beda agama tersebut, agama yang dipilih anak mereka juga berbeda-beda. Ada yang ikut agama ibunya, ikut agama ayahnya ataupun agama di luar agama ibu dan ayahnya. Masyarakat yang tinggal di Kelurahan Gung Letto dan Gung Negeri sebagian besar menganut agama Kristen dan di Kelurahan Kampung Dalam sebagian besar menganut agama Islam. Sedangkan di Kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas agama yang dianut oleh masyarakatnya tidak ada yang mayoritas dan minoritas sehingga kegiatan-kegiatan keagamaan tidak terlihat begitu mencolok seperti yang ada di tiga kelurahan lagi. Oleh karena itu pasangan-pasangan yang menikah beda agama sebagian besar tinggal di dua Kelurahan ini. Di Kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas masyarakatnya tidak mempersoalkan pasangan-pasangan yang menikah beda agama sehingga konflik di antara mereka yang berkaitan dengan hal tersebut tidak pernah terjadi. Suku bangsa yang mendiami Kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas mayoritasnya adalah suku bangsa Batak Karo. Namun selain suku bangsa Batak Karo masih ada suku bangsa lain yang tinggal di daerah tersebut seperti suku bangsa Jawa, Nias, Minang, Batak Toba, Batak Simalungun, Batak Tapanuli, Aceh, Melayu, dan lain sebagainya. Dengan keanekaragaman etnis dan agama yang mereka anut, mereka berusaha untuk hidup berdampingan tanpa menimbulkan konflik yang berkaitan dengan hal tersebut. Mereka sama sekali tidak merasa terganggu dengan adanya perkawinan beda agama di tengah-tengah kehidupan mereka. Adanya kesadaran untuk hidup rukun dan saling harga-menghargai membuat mereka bisa menerima fenomena tersebut. Karena menganut agama apapun serta menikah adalah hak setiap orang.
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

BAB III MENGENAL PERKAWINAN BEDA AGAMA

Perkawinan beda agama merupakan ikatan lahir dan bathin antara seorang pria dan seorang wanita, yang karena berbeda agama menyebabkan tersangkutnya dua peraturan yang berlainan mengenai syarat-syarat dan tata cara pelaksanaan perkawinan sesuai dengan hukum dan agamanya masing-masing, dengan tujuan untuk membentuk keluarga bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. 3. 1. Menurut Agama Islam. Perkawinan menurut agama Islam adalah pelaksanaan, peningkatan dan

penyempurnaan ibadah kepada Allah. Dalam hubungan antara dua jenis manusia laki-laki dan perempuan yang ditakdirkan oleh Allah satu sama lain saling memerlukan. Juga untuk memenuhi nalurinya dalam hubungan seksual maupun untuk melanjutkan keturunan yang sah. Serta mendapatkan kebahagiaan dan kesejahteraan lahir dan bathin

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

bagi keselamatan keluarga, masyarakat dan negara serta keadilan dan kedamaian baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat. Menurut agama Islam, proses hubungan seksual manusia harus berjalan dengan semangat kerukunan dan kedamaian. Menghormati hak-hak azasi manusia antara lakilaki dengan perempuan untuk menempuh kehidupan yang lebih baik di dunia. Dalam AlQur’an surat Al-Maidah ayat 5 dijelaskan bahwa laki-laki muslim diperbolehkan menikahi perempuan nonmuslim ahli kitab. Tetapi perempuan muslim dilarang menikah dengan laki-laki non muslim. Adapun alasannya melarang perkawinan antara seorang perempuan muslim dengan laki-laki non muslim karena perempuan bersifat lemah hati dan mudah tersinggung perasaannya. Serta kebanyakan perempuan berada di bawah kekuasaan pihak laki-laki. Maka dikhawatirkan perempuan muslim tersebut

meninggalkan agamanya dan memilih ikut agama suaminya sebagai agama baru yang diyakininya. Ada tiga prinsip pokok pandangan agama Islam terhadap masalah perkawinan antara pemeluk agama Islam dengan orang-orang yang bukan beragama Islam, yaitu: a. Melarang perkawinan umat Islam dengan orang-orang yang beragama menyembah berhala (polytheisme), agama-agama yang tidaka mempunyai kitab suci dan dengan kaum atheis. b. Melarang perkawinan antara perempuan muslim dengan laki-laki non muslim. c. Mengenai perkawinan antara laki-laki muslim dengan perempuan non muslim yang ahli kitab, terdapat tiga macam pendapat yaitu: 1. Melarang secara mutlak. 2. Memperbolehkan secara mutlak.
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

3. Memperkenankan dengan syarat pria muslim tersebut kuat imannya serta mampu membawa anak-anak mereka dan istrinya lambat laun masuk ke agamanya (Agustina; 2005: 42).

3. 2. Menurut Agama Kristen Protestan. Pandangan agama Kristen Protestan mengenai perkawinan berdasarkan Al-Kitab adalah: a. Perkawinan sebagai suatu persetujuan hidup. b. Perkawinan mempermiskin dan merusakkan jika perkawinan itu dipandang hanya dari sudut persetubuhan semata. Jadi perkawinan menurut agama Kristen Protestan adalah suatu persekutuan hidup yang meliputi keseluruhan hidup. Yang menghendaki laki-laki dan perempuan yang telah kawin supaya dua jenis kelamin yang berbeda menjadi satu di dalam kasih Tuhan, satu di dalam kasih-mengasihi, satu di dalam kepatuhan, satu di dalam menghayati kemanusiaan mereka dan satu di dalam memikul beban pernikahan (Tama; 1984: 28). Dengan demikian, maka perkawinan itu menjadi suatu kesempatan untuk memberi jawaban kepada soal mereka masing-masing di segala lapangan kehidupan. Memiliki kesempatan untuk saling melayani agar mencapai kebahagiaan dalam perkawinan.
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

Walau dikatakan agama Kristen Protestan tidak melarang umatnya menikah dengan orang yang bukan beragama Kristen Protestan, akan tetapi pada prinsipnya agama Kristen Protestan menghendaki perkawinan yang seagama. Hal ini dapat diketahui bahwa tujuan utama dalam perkawinan adalah kebahagiaan. Oleh karena itu agama Kristen Protestan memandang perkawinan sebagai perwujudan kasih sayang kepada manusia di dalam persekutuan kasih yang paling dalam antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan. Perkawinan merupakan suatu perbuatan yang dikehendaki Tuhan. Perkawinan akan melahirkan keluarga. Keluarga sebagai persekutuan jemaat terkecil dalam Gereja yang mempunyai jabatan untuk menyebarkan cinta kasih Allah kepada seluruh manusia. Menurut Pendeta J. Sembiring sebagai salah satu informan, perkawinan baru dapat dilangsungkan di Gereja apabila telah memiliki syarat-syarat sebagai berikut: 1. Adanya persetujuan dari kedua calon mempelai. 2. Kedua calon mempelai tidak terikat tali perkawinan dengan orang lain. 3. Sekurang-kurangnya salah seorang calon mempelai beragama Kristen Protestan. 4. Sekurang-kurangnya salah seorang calon mempelai erupakan anggota jemaat Gereja yang bersangkutan. Demi kesejahteraan perkawinan, gereja menganjurkan kepada umatnya untuk mencari pasangan hidup yang seagama dengan mereka. Tetapi walaupun demikian, karena menyadari bahwa umatnya hidup bersama-sama dengan pemeluk agama lainnya,

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

gereja tidak melarang umatnya secara mutlak untuk menikah dengan orang-orang yang bukan beragama Kristen Protestan. 3. 3. Menurut Agama Katholik. Agama Kristen Protestan dan agama Katholik sumber ibadah dan tata cara kehidupannya tetap bersumber kepada Al-Kitab baik kepada perjanjian baru maupun perjanjian lama. Dipandang dari segi Al-Kitab, bahwa perkawinan menurut agama Kristen secara umum adalah perkawinan sebagai peraturan suci yang ditetapkan Tuhan dan perkawinan sebagai peraturan monogami (Tama; 1984: 26). Perkawinan sebagai tata tertib suci yang ditetapkan oleh Tuhan yang di dalamnya terdapat aturan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Perkawinan sebagai peraturan monogami, bahwa perkawinan yang digambarkan dalam Al-kitab sebagai suatu penyerahan seorang wanita kepada seorang laki-laki untuk seumur hidup sebagi pasangan suami istri. Menurut ajaran agama Katholik, bahwa perkawinan adalah suatu sakramen. Agama Katholik mendasarkan ajaran tersebut berdasarkan Al-Kitab (Efesus 5: 25-33) (Agustina: 2005). Oleh karena itu agama Katholik memandang perkawinan sebagai sesuatu yang suci, persatuan cinta dan hidup antara seorang laki-laki dan perempuan. Di dalamnya terdapat persetujuan antara seorang laki-laki dengan perempuan untuk saling mengikatkan diri sampai salah seorang dari mereka meninggal dunia dan hanya pada seorang itu saja untuk memperoleh keturunan. Sehingga untuk dapat melangsungkan perkawinan menurut agama Katholik, pada masing-masing pihak harus terkandung maksud: a. Untuk setia kepada satu orang saja.
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

b. Sampai kematian pihak lain. c. Untuk memperoleh keturunan. Salah satu saja dari ketiga unsur tersebut tidak dipenuhi, maka perkawinan dianggap batal dari semula. Di samping hal tersebut di atas ada tiga hal lagi yang harus dipenuhi untuk dapat melangsungkan perkawinan pada agama Katholik secara sah, yaitu: 1. Adanya persetujuan kedua belah pihak. 2. Tidak ada halangan yang mengakibatkan perkawinan tidak sah menurut hukum Illahi. 3. Perkawinan harus dilakukan menurut aturan Gereja Katholik. Salah satu halangan yang dapat mengakibatkan perkawinan tidak syah, yaitu perbedaan agama. Gereja Katholik pada umumnya menganggap bahwa perkawinan antara seorang yang beragama Katholik dengan orang yang bukan beragama Katholik tidak ideal. Keharmonisan hidup perkawinan dan kelengkapan pendidikan anak sangat sulit dibina apabila ada perbedaan tata nilai hidup antara suami dan istri. Oleh karena itu Gereja Katholik menganjurkan kepada anggotanya untuk mencari teman hidup yang seagama. Tetapi walaupun demikian, Gereja Katholik cukup realistis, yaitu bahwa uskup dalam hal-hal tetentu dapat memberikan dispensasi terhadap perkawinan beda agama. Dispensasi hanya diberikan apabila ada harapan akan terbinanya suatu keluarga yang baik dan utuh. Pemeliharaan pastorial sesudah perkawinan dapat diteruskan. Dispensasi akan diberikan kepada mereka apabila pihak yang bukan Katholik mau berjanji:

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

1. Bahwa ia tidak akan menghalangi pihak yang Katholik melaksanakan ibadahnya. 2. Bahwa ia bersedia mendidik anak-anak mereka secara Katholik. Pihak yang beragama Katholik juga harus berjanji: 1. Ia tetap setia terhadap keyakinannya sebagai seorang Katholik setelah perkawinannya berlangsung. 2. Bahwa ia bersedia mendidik anaknya secara Katholik.

3. 4. Menurut Agama Hindu dan Budha. Dalam pandangan agama Hindu dan Budha, perkawinan beda agama adalah perkawinan yang dilarang secara mutlak. Berdasarkan kitab Manuswriti, perkawinan bersifat religius dan obligatoir karena dikaitkan dengan kewajiban seseorang untuk mempunyai keturunan dan untuk menebus dosa-dosa orangtua dengan menurunkan seorang putra. Perkawinan (wiwaha) diidentikkan dengan sakramen (samsakara) sehingga lembaga perkawinan tidak terpisahkan dengan hukum agama (Tama; 1984: 30). Wiwaha dan samskara itu wajib hukumnya, dan harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh hukum agama (Dharma). Perkawinan sebagai suatu sakramen adalah suatu ritual yang memberikan kedudukan sah tidaknya suatu perkawinan. Dalam kitab Manawadharma Sastra III (20), disebutkan delapan sistem perkawinan Hindu: Manawadharma Sastra II (20) berbunyi: “Hai manusia, perhatikanlah olehmu sekarang semua perihal delapan cara perkawinan yang dapat dilakukan oleh keempat
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

golongan warna sanskara, sebahagian ada membawa pahala dan sebahagian lagi dapat menimbulkan azab derita, baik selagi hidupnya maupun kelak sesudah mati. Sedangkan di dalam manawadharma Sastra II (21) disebutkan bahwa kedelapan system perkawinan itu adalah Brahmana Wiwaha, Daiwa Wiwaha, Resi Wiwaha, Arsa Wiwaha, Prajapti Wiwaha, Asura Wiwaha, Gandhara Wiwaha dan Paisaca Wiwaha. Dari delapan sistem perkawinan Hindu itu, tidak ada satupun mengenai masalah perkawinan beda agama. Mengenai hal tersebut agama agama Hindu mengatakan bahwa:”……….yang harus diperhatikan dalam melakukan tata perkawinan menurut hukum Hindu ialah bahwa suatu perkawinan menurut hukum Hindu hanya dapat disyahkan berdasarkan hukum Hindu, jika antara kedua mempelai itu telah menganut agama yang sama, yaitu Hindu”. Bagi pengesahan suatu perkawinan, menurut hukum Hindu tidak ada suatu dispensasi yang mengakibatkan bagi Brahmana untuk melakukan pengesahan upacara perkawinan yang ia lakukan jika antara kedua mempelai itu terdapat perbedaan agama. Karena itu jalan yang lazim mereka tempuh dalam hal ini adalah menikah secara adat saja atau memalsukan identitas salah satu pasangannya. Apabila kedua calon mempelai berbeda agama, maka Brahmana (Pendeta) baru bersedia mengesahkan perkawinan tersebut jika pihak yang bukan Hindu itu telah Disuddhikan (disyahkan) sebagai pemeluk agama Hindu dan menandatangani Sudi Vadhani (surat pernyataan masuk agama Hindu). Demikian juga halnya dengan agama Budha. Perkawinan beda agama memang tidak disarankan dalam Agama Buddha. Hal ini sesuai dengan petunjuk Sang Buddha tentang syarat kebahagiaan dalam rumah tangga, yang salah satunya menyebutkan ‘keyakinan yang setara’. Sebenarnya upacara perkawinan antar mereka yang beda agama tidaklah
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

terlalu bermasalah dalam Agama Buddha. Hanya saja, memang disarankan untuk satu agama. Hal ini tentu ada sebabnya. Permasalahan bukan pada upacara perkawinannya, namun kehidupan dalam perkawinan itu sendiri. Banyak permasalahan yang timbul karena perkawinan beda agama. Salah satunya adalah pemilihan lokasi pemberkahan perkawinan itu sendiri, menurut agama yang pria atau wanita. Kalau hal ini sudah dapat diselesaikan dengan baik, maka berikutnya akan timbul masalah seputar kegiatan kebaktian setiap hari Minggu, akan pergi ke tempat ibadah agama si laki-laki atau perempuan. Kalaupun masalah ini bisa diselesaikan, maka jika memiliki anak, akankah dididik menurut agama si bapak atau si ibu?. Jika masalah ini sudah bisa diselesaikan dengan baik pula, maka apabila si ayah dan ibu semakin tua serta sakit-sakitan, akankah didoakan menurut agama si sakit ataukah yang sehat? Kalaupun hal ini bisa diselesaikan, apabila salah satu meninggal dunia, akankah didoakan menurut agama yang meninggal atau yang hidup?. Demikian pula dengan bentuk upacara penyempurnaan jenasahnya, begitu pula dengan bentuk makamnya, seandainya dimakamkan. Perbedaan agama ini juga terbawa sampai dengan upacara kematian 3 hari, 7 hari, 49 hari, dan seterusnya. Akankah dilaksanakan menurut agama yang meninggal ataukah yang hidup. Oleh karena itulah, maka disarankan pasangan hendaknya satu agama sebelum memutuskan untuk hidup bersama dalam rumah tangga.

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

BAB IV PEMILIHAN AGAMA PADA ANAK

Mulder (1999) mengatakan bahwa masyarakat Indonesia dicirikan oleh heterogenitas berbagai aspek kehidupan, antara lain agama dan kepercayaan, suku dan ras, daerah dan bahasa. Kemajemukan ini di satu segi merupakan potensi besar untuk dikembangkan kearah kekayaan budaya bangsa, tetapi di segi lain dapat merupakan faktor yang kondusif menimbulkan perpecahan. Kehidupan nyata masyarakat yang sangat majemuk tampak pula pada tingkat regional, bahkan sampai ke desa-desa. Dalam kaitan ini kesadaran sesama anggota masyarakat sangat diharapkan agar persatuan dan kesatuan bangsa tetap terjamin. Salah satu elemen penting dalam kenyataan hidup masyarakat Indonesia adalah agama. Dalam masyarakat terdapat berbagai macam kegiatan dan kepentingan bersama
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

yang dapat semakin erat dan padu karena pengaruh agama. Keberadaan satuan atau golongan sosio-relegius didasarkan pada sikap relegius para penganutnya (Wahid; 200: 39). Agama bagi kehidupan manusia berfungsi sebagi wadah untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia maupun di akhirat. Agama berperan menuntun kehidupan manusia di alam profan dan trasedental. Agama dan sistem kepercayaan telah mengalami perkembangan yang hampir seusia dengan peradaban manusia itu sendiri, meskipun dengan tingkat perkembangan yang berbeda. Pada tahap awal timbul dalam bentukbentuk kepercayaan animisme dan dinamisme. Seringkali agama diungkapkan melalui simbol-simbol kepercayaan, sekaligus melakukan pemujaan terhadap benda-benda sakral yang terdapat di sekitarnya. Pada tahap akhir, manusia memandang agama dalam konteks yang lebih luas, bukan hanya sekedar hubungan dengan kekuatan sakral-natural tetapi juga mengatur hubungan antar sesama manusia. Para pemeluk agama dan penganut kepercayaan telah mendapat tempat yang luas dalam tatanan masyarakat Indonesia. Para pemeluk agama bukan saja diakui tetapi sekaligus juga dilindungi oleh negara. Artinya, negara tidak saja memberikan pengakuan formal terhadap agama dan kepercayaan, juga memberikan hak dan perlindungan kepada para penganutnya untuk melakukan peribadatan sesuai agama dan kepercayaannya itu. Setiap pemeluk agama dapat mengekspresikan jiwa keagamaannya atau menjalankan tata cara peribadatan yang diyakininya. Hal ini membawa masyarakat ke dalam struktur atau tingkatan penghayatan dan pengamalan ajaran agama yang berbeda-beda. Karena mereka berhak memilih salah satu agama yang benar-benar ia yakini sebagai pedoman hidupnya.

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

Agama dapat membangkitkan kebahagian lahir dan bathin yang paling sempurna maupun perasaan takut dan ngeri. Secara psikologis, agama dapat berfungsi sebagai motif intrinsik (dalam diri). Dari sinilah tercipta sentimen dan jiwa keagamaan. Artinya, agama memiliki nilai-nilai bagi kehidupan manusia sebagai orang-perorangan maupun dalam hubungannya dengan kehidupan masyarakat. Wujud keyakinan seseorang terhadap agama merupakan pola-pola hidup

beragamanya. Wujud paling nyata terlihat dalam bentuk peribadatan. Sebab pemeluk agama yang paling sempurna bukan dilihat dari keyakinan semata-semata, melainkan juga dari pola pengamalan ajaran agama yang dianut seseorang. Semua ibadah yang dilakukan manusia pada pokoknya bermuara kepada tujuan mencapai kebahagiaan lahir dan bathin, dunia dan akhirat. Dengan kenyataan banyaknya pola beragama yang ditunjukkan, memungkinkan dilakukannya suatu pemilihan agama yang benar-benar menjadi suatu keyakinan dalam kehidupan. Mengkaji fenomena keagamaan sama halnya mempelajari prilaku religius para penganutnya. Sebab fenomena hidup beragama adalah manifestasi dari sikap, pandangan dan prilaku yang bersumber pada ajaran agama yang bersangkutan. Prilaku manusia yang dipelajari itu merupakan prilaku yang dipandang sebagai bagian dari integral dalam pembangunan masyarakat. Ada 4 unsur pokok yang penting dalam pola-pola keagamaan yang terbentuk dari kepercayaan sebagai sistem religi, yaitu: 1. Emosi keagamaan atau getaran jiwa yang menyebabkan manusia menjalankan kelakuan keagamaan.

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

2. Sistem kepercayaan atau bayangan manusia tentang dunia, alam ghaib, hidup, mati dan lain sebagainya. 3. Sistem upacara keagamaan yang bertujuan mencari hubungan dengan dunia ghaib berdasarkan suatu system kepercayaan. 4. Kelompok keagamaan atau kesatuan-kesatuan sosial yang mengkonsepsikan dan mengaktifkan religi beserta sistem upacara-upacara keagamaan (Koentjaraningrat; 1985: 230). Dalam konteks ini, pemilihan agama pada anak dari perkawinan beda agama tidak terlepas dari unsur-unsur tersebut. Walaupun sejak lahir telah ditetapkan satu agama kepadanya, bukan tidak mungkin setelah dewasa dan mampu menyikapi masalah dalam hidupnya akan timbul emosi keagamaan dalam dirinya yang membuat ia memilih agama yang lain. Manusia dilahirkan dalam keadaan lemah, fisik maupun psikis. Walaupun dalam keadaan yang demikian ia telah memiliki kemampuan bawaan yang bersifat latent. Potensi yang dibawa ini hanya memerlukan pengembangan melalui bimbingan dan pemeliharaan yang mantap, lebih-lebih pada tahun-tahun permulaan. Sesuai dengan prinsip pertumbuhannya, maka seorang anak ketika akan menjadi dewasa harus mengalami bimbingan dengan prinsipnya, yaitu (Berger; 1991: 19): a. Eksternalisasi. b. Internalisasi. c. Sosialisasi. Eksternalisasi adalah suatu keharusan Antropologi dalam kehidupan. Manusia, menurut pengetahuan empiris, seorang anak tidak bisa dibayangkan terpisah dari
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

pencurahan dirinya terus-menerus ke dalam dunia yang ditempatinya. Manusia bagaimanapun tidak bisa dibayangkan tetap tinggal diam di dalam dirinya sendiri. Dalam suatu lingkup tertutup kemudian bergerak keluar untuk mengekspresikan diri dalam dunia sekelilingnya. Diri manusia itu esensinya melakukan eksternalisasi dan ini sudah ada sejak awal. Secara biologis, manusia tidak memiliki dunianya maka dia membangun suatu dunia. Dunia itu adalah kebudayaan. Tujuannya adalah memberikan kepada kehidupan manusia struktur-struktur kokoh yang sebelumnya tidak dimilikinya secara biologis. Kebudayaan adalah sesuatu yang berbeda dari alam karena merupakan hasil aktifitas manusia itu sendiri. Kebudayaan harus selalu dihasilkan dan dihasilkan kembali oleh manusia. Karena itu, secara inheren strukturnya adalah rawan dan ditakdirkan untuk berubah. Demikian halnya agama pada anak dari perkawinan beda agama. Agama yang telah ditetapkan oleh kedua orangtuanya sejak ia lahir bisa saja berubah ketika ia telah dewasa dan bisa memilih apa yang menurutnya terbaik untuk dirinya. Internalisasi adalah proses panjang sejak seorang individu dilahirkan sampai ia hampir meninggal. Di mana ia belajar menanamkan dalam kepribadiannya segala perasaan, hasrat, nafsu serta emosi yang diperlukannya sepanjang hidup. Internalisasi juga suatu proses penyerapan kedalam kesadaran dunia yang terobyektivasi sedemikian rupa sehingga struktur dunia ini menentukan struktur subyektif kesadaran itu sendiri. Masyarakat kini berfungsi sebagai pelaku formatif bagi kesadaran individu. Sejauh internalisasi itu telah terjadi, individu kini memahami berbagai unsur dunia yang terobyektivasi sebagai fenomena yang internal terhadap kesadarannya. Bersamaan dengan saat dia memahami unsu-unsur itu sebagai fenomena-fenomena realitas eksternal.
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

Setiap masyarakat yang terus berjalan dalam sejarah akan menghadapi masalah pengalihan makna-makna terobyektivasinya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Masalah ini akan diselesaikan dengan cara proses sosialisasi, yaitu proses yang dipakai generasi baru untuk hidup sesuai dengan program-program kelembagaan masyarakat tersebut. Tentu saja sosialisasi secara psikologis dapat disebut sebagai suatu proses belajar. Generasi baru diperkenalkan pada makna-makna budaya, belajar ikut serta dalam tugas yang sudah ditetapkan dan menerima peran-peran selain menerima identitasidentitas yang membentuk struktur sosialnya. Namun sosialisasi memiliki suatu dimensi penting yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan hanya dengan berbicara mengenai proses belajar. Individu tidak hanya belajar mengenai makna-makna terobyektivasi tetapi juga menghubungkan diri dengan dan dibentuk oleh makna-makna tersebut. Dia menyerap makna-makna tersebut dan menjadikannya maknanya sendiri. Dia menjadi tidak saja seseorang yang memiliki makna-makna ini, tetapi juga seseorang yang memiliki dan mengekpresikan makna-makna tersebut. Sosialisasi tidak akan pernah berakhir, sosialisasi merupakan proses yang akan terus berkelanjutan selama hidup individu. 4. 1. Timbulnya Agama Pada Anak. Menurut beberapa ahli, anak dilahirkan bukanlah sebagai mahkluk religius. Selain itu ada pula para ahli yang berpendapat sebaliknya bahwa anak dilahirkan telah membawa fitrah keagamaan dan baru berfungsi di kemudian hari melalui bimbingan dan latihan setelah mencapai tahap kematangan. Menurut tinjauan pendapat yang pertama, bayi dianggap sebagai manusia yang dipandang dari segi bentuk dan bukan kejiwaan. Apabila bakat elementer bayi lambat bertumbuh dan matang maka agak sukar untuk melihat

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

adanya bentuk keagamaan pada dirinya. Manusia dilahirkan kedunia dengan berbagai kebutuhan yaitu (Daradjat; 1998: 27): 1. Kebutuhan akan rasa kasih sayang. Sebagai pernyataan tersebut apabila tidak terpenuhi dalam bentuk negatif dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari misalnya mengeluh, mengadu, dan lain-lain. 2. Kebutuhan akan rasa aman, yaitu kebutuhan yang mendorong manusia mengharapkan perlindungan. Kebutuhan akan rasa aman aman ini membuat manusia sering curiga, membela diri dan menggunakan jimat-jimat. Kenyatan dalam kehidupan ialah dengan adanya perlindungan manusia terhadap kemungkinan adanya gangguan terhadap dirinya, misalnya sistem perdukunan, pertapaan, dan lain-lain. 3. Kebutuhan akan rasa harga diri, yaitu kebutuhan yang bersifat individual yang mendorong manusia agar dirinya dihormati dan diakui oleh orang lain. Dalam kenyataan terlihat misalnya sikap sombong atau sikap sok tahu. 4. Kebutuhan akan rasa bebas, yaitu kebutuhan yang menyebabkan seseorang bertindak secara bebas untuk mencapai kondisi dan situasi rasa lega. Kebebasan dapat dilihat dalam bentuk tindakan dan pernyataan verbal. Kebutuhan akan rasa bebas ini terlihat dari pernyataan kebebasan menyatakan keinginan sesuai dengan pertimbangan batinnya. 5. Kebutuhan akan rasa sukses, yaitu kebutuhan manusia yang menyebabkan ia mendambakan rasa keinginan untuk dibina dalam bentuk penghargaan terhadap hasil karyanya. Jika kebutuhan akan rasa sukses ini ditekan, maka seseorang yang mengalami hal tersebut akan kehilangan harga dirinya.
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

6. Kebutuhan akan rasa ingin tahu (mengenal) yaitu kebutuhan yang menyebabkan manusia selalu meneliti dan menyelidiki sesuatu. Berdasarkan kenyataan dan keterkaitan dari keenam kebutuhan tersebut maka manusia dilahirkan hidup dalam ketergantungan. Dengan adanya berbagai macam kebutuhan tersebut menyebabkan orang memilih agama yang benar-benar diyakininya. Hal diatas berkaitan dengan: a. Cipta (reason) yang berperan untuk menentukan benar atau tidaknya ajaran suatu agama yang telah dipilih seorang anak berdasarkan pertimbangan intelek seseorang. b. Rasa (emotion) yang menimbulkan sikap batin yang seimbang dan positif dalam menghayati kebenaran ajaran agama yang dipilih oleh seorang anak. c. Karsa (will) yang menimbulkan amalan-amalan atau doktrin keagamaan yang yang benar dan logis. 4. 2. Perkembangan Agama Pada Anak. Ada tiga tingkat perkembangan agama pada anak, yaitu (Mahali; 1983: 46): 1. Tingkat dongeng (The fairy tale stage). Pada tingkat ini dimulai pada anak yang berusia 3-6 tahun. Pada tingkat ini konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Tingkat perkembangan ini seakan-akan anak itu menghayati konsep ke-Tuhanan itu kurang masuk akal, sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya. Kehidupan masa ini masih banyak dipengaruhi kehidupan fantasi hingga dalam menanggapi agamapun anak masih menggunakan konsep fantastis yang diliputi oleh dongeng-dongeng yang kurang masuk akal.
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

2. Tingkat kenyataan (The realistic stage). Tingkat ini dimulai sejak anak masuk Sekolah Dasar hingga sampai ke usia (masa usia ) adolesense. Pada masa ini ide ke-Tuhanan anak sudah mencerminkan konsepkonsep yang berdasarkan kepada kenyataan (realis). Konsep ini timbul melalui lembagalembaga keagamaan dan pengajaran agama dari orang dewasa lainnya. Pada masa ini ide keagamaan pada anak didasarkan atas emosional. Maka pada masa ini mereka telah melahirkan konsep Tuhan yang formalis. Berdasarkan hal itu maka pada masa ini anak-anak tertarik dan senang pada lembaga keagamaan yang mereka lihat dilakukan oleh orang-orang dewasa dalam lingkungan mereka. Segala bentuk tindak (amal) keagamaan mereka ikuti dan ada rasa tertarik untuk mempelajarinya. 3. Tingkat individual (The individual stage). Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan, emosi yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang individualisti ini terbagi atas tiga golongan, yaitu: a. Konsep ke-Tuhanan yang konvensial dan konservatif dengan dipengaruhi oleh sebagian kecil fantasi. Hal tersebut disebabkan oleh pengaruh luar. b. Konsep ke-Tuhanan yang lebih murni dinyatakan dengan pandangan yang bersifat personal (perorangan). c. Konsep ke-Tuhanan yang bersifat humanistik adalah agama telah menjadi ethos humanis pada diri mereka dalam menghayati ajaran agama. Perubahan ini setiap tingkatan dipengaruhi oleh faktor dari dalam yaitu perkembangan usia dan faktor dari luar berupa pengaruh luar yang dialaminya.
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

4. 3. Sifat Agama Pada Anak. Menurut Daradjat (1979: 23) sifat agama pada anak dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Kurang mendalam/tanpa kritik (Unreflective). Sejumlah konsep ke-Tuhananpada diri anak dari penelitian para ahli 73% mereka menganggap Tuhan itu bersifat seperti manusia. Anggapan mereka terhadap ajaran agama dapat saja mereka terima dengan tanpa kritik. Kebenaran yang mereka terima tidak begitu mendalam sehingga cukup sekedarnya saja dan keterangan yang kadangkadang kurang masuk akal. Meskipun demikian pada beberapa orang anak banyak memiliki ketajaman fikiran untuk menimbang masukan yang mereka terima dari orang lain. 2. Egosentris. Anak memiliki kesadaran akan diri sendiri sejak pada tahun pertama dalam pertumbuhannya dan akan berkembang sejalan dengan pertambahan pengalamannya. Apabila kesadaran akan diri itu mulai subur pada diri anak, maka akan tumbuh keraguan pada rasa egonya. Semakin tumbuh semakin meningkat pula egoismenya. Sehubungan dengan hal itu maka dalam masalah keagamaan anak telah menonjolkan kepentingan dirinya dan telah menuntut konsep keagamaan yang mereka pandang dari kesenangan pribadinya. 3. Anthromorphis. Pada umumnya konsep anak mengenai ke-Tuhanan berasal dari hasil pengalamannya di kala ia berhubungan dengan orang lain. Tapi suatu kenyataan bahwa konsep keTuhanan mereka tampak jelas memegang aspek-aspek kemanusiaan. Melalui konsepMinarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

konsep yang terbentuk dalam fikiran-fikiran mereka menganggap bahwa keadaan Tuhan itu sama dengan manusia. Pekerjaan Tuhan mencari dan menghukum orang yang berbuat jahat di saat orang itu berada dalam tempat yang gelap. Surga terletak di langit dan untuk tempat orang yang baik. Anak menganggap bahwa Tuhan dapat melihat segala perbuatannya langsung ke rumah mereka sebagai layaknya orang mengintai. 4. Verbalis dan Ritualis. Dari kenyataan yang dialami ternyata kehidupan agama pada anak-anak sebagian besar tumbuh mula-mula dari sebab verbal (ucapan). Mereka menghafal secara verbal kalimat-kalimat dan selain itu pula dari amal yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman mereka menurut tuntutan yang diajarkan kepada mereka. Sepintas lalu kedua hal tersebut kurang ada hubungannya dengan perkembangan agama pada anak di masa mendatang. Tetapi menurut penelitian, hal itu sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan anak di masa dewasanya. Banyak orang dewasa yang agamais karena pengaruh ajaran dan praktek keagamaan yang dilaksanakan pada masa kanak-kanak mereka. Sebaliknya belajar agama di usia dewasa banyak mengalami kesukaran. Latihan-latihan yang bersifat verbalis dan upacara keagamaan yang bersifat ritualis (praktek) merupakan hal yang berarti dan merupakan salah satu sifat dari tingkat perkembangan agama pada anak-anak. 4. 4. Pemilihan Agama pada Anak dari Perkawinan beda Agama. Sebenarnya dalam membicarakan proses pemilihan agama, sangat sulit untuk menentukan satu rentetan proses yang akhirnya membawa pada keadaan keyakinan atau agama yang dianut sekarang. Karena proses ini berbeda antara satu orang dengan orang

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

lainnya, sesuai dengan perkembangan jiwa serta pengalaman dan pendidikan yang diterimanya sejak kecil. Di samping itu pemilihan agama juga menyangkut bathin seseorang secara mendasar. Di mana segala bentuk kehidupan bathinnya yang semula mempunyai pola tersendiri berdasarkan pandangan agama yang sebelumnya. Maka setelah terjadi pemilihan agama yang baru pada dirinya, secara spontan pola-pola yang ada sebelumnya berganti dengan pola-pola pemikiran yang baru. Agama yang dianut oleh anak-anak dari perkawinan beda agama pada masyarakat Karo yang ada di Kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas berbeda-beda. Ada yang telah ditetapkan oleh orangtua mereka sejak mereka lahir hingga dewasa. Ada juga yang telah ditetapkan ketika lahir namun mereka memberi kebebasan kepada anak-anak untuk memilih agama yang benar-benar mereka yakini setelah mereka dewasa. Jika dilihat dari realitas budaya, agama harus dipahami dari orang biasa bukan dari para pemuka-pemuka agama seperti Ulama, Pendeta ataupun Biksu. Agama bukan sesuatu yang diwahyukan, tetapi juga sesuatu yang tumbuh dari masyarakat. Sehingga yang menjadi pendorong terjadinya pemilihan agama dalam penelitian ini adalah faktor psikologis yang ditimbulkan oleh faktor intern dan ekstern (Mulder; 1999: 65). Faktor intern adalah faktor yang berasal dari dalam diri anak tersebut. Ketika ia memilih agama baru dan meninggalkan agama yang dianut sebelumnya. Hal tersebut atas kemaunnya sendiri tanpa dipengaruhi dan dipaksa oleh siapapun. Ada kalanya apa yang ada di dalam hati tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Karena jika menyinggung masalah pemilihan agama dari faktor intern, banyak mengandung hal-hal yang “aneh”, terutama dalam pandangan ilmiah dan rasional. Walaupun percaya segala sesuatunya atas
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

kehendak-Nya, namun dalam menjalani kehidupan dan terbentur dengan berbagai masalah seseorang akan melakukan upacara ritual dengan maksud membuang sial ataupun percaya kepada hal-hal yang gaib dalam membantu menghadapi berbagai persoalan dunia. Dari hasil penelitian di Kelurahan Lau Cimba dan Kelurahan Padang Mas, faktorfaktor luar (ekstern) yang mempengaruhi anak dalam memilih agamanya adalah sebagai berikut: a. Peran Ayah. Anak-anak yang memilih agama yang sama dengan yang dianut oleh orangtua lakilaki (ayah) mereka karena besarnya ketergantungan ekonomi si anak kepada ayahnya. Walaupun sang ayah tidak mengharuskan anak-anaknya untuk ikut memeluk agama yang sama dengan dirinya. Namun si anak sebagai pihak yang menikmati kebaikan, pemeliharaan dan bimbingan sang ayah dengan sendirinya merasa berhutang budi dan timbul paksaan dari dalam diri mereka untuk mengikuti ayahnya dan salah satunya adalah agama yang dianutnya. b. Peran Ibu. Meskipun dalam konteks keturunan ayah dan ibu sama pentingnya, rumah tangga cenderung berfokus pada ibu. Urusan hidup berumah tangga lebih berkisar pada ibu daripada ayah. Ibu dan keluarga menjadi sumber utama kepastian dan kelangsungan anak-anak. Rumah jelas seakan merupakan wilayah ibu. Keterpusatan pada ibu lebih lanjut dikembangkan lagi dengan kultus kepada ibu, dan anak-anak dicekoki dengan keteladanan moral sang ibu. Para ibu di hormati bukan hanya karena memberi

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

pengasuhan, tetapi juga karena menyerahkan diri sepenuhnya kepada kepentingan anaknya dengan cintanya yang tak bersyarat. “Syurga ada di bawah telapak kaki ibu”, artinya kesetiaan anak pada ibu merupakan kepatuhan dasar seseorang. Sebagaimana kalimat “kebaikan ibu membanjiri dunia”, dan kebaikan yang lebih itu menghasilkan kewajiban-kewajiban yang abadi. Bagi sebagian orang kedudukan ibu yang tidak dapat dilanggar diungkapkan dengan terang dalam simbol Bunda Tersuci. Penyerahan pada ibu dan penghormatan terhadapnya merupakan penghargaan pada hirarki moral yang dilambangkan oleh-Nya. Sehingga anak yang memiliki orangtua dengan agama yang berbeda lebih memilih dan menganut agama yang sama dengan ibunya. Tentu saja para ayah juga harus dihormati. Akan tetapi betapapun bermoral baik dan bijaksananya mereka, para ayah mewakili dunia kehidupan yang lain yaitu hierarki dunia luar yang diharapkan mereka kuasai dengan baik. Pada dasarnya dunia luar adalah arena persaingan barang materi, prestise, pengaruh dan kuasa. c. Peran orang tua angkat. Di kelurahan Lau cimba, ada anak dari perkawinan beda agama yang memiliki orangtua angkat. Anak tersebut bernama Dina br. Bangun. Sejak umur 5 tahun telah diasuh oleh orangtua angkatnya. Ayah kandungnya beragama Islam dan Ibu kandungnya beragama Kristen Protestan. Sejak lahir orangtuanya telah sepakat bahwa anak mereka harus ikut agama ayahnya yaitu agama Islam. Sedangkan orangtua angkatnya beragama Katholik. Setelah menamatkan sekolahnya di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), si anak memutuskan ikut agama orangtua angkatnya yaitu agama Katholik. d. Hubungan dengan kerabat orangtua.
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

Seorang anak yang lahir dari perkawinan beda agama akan memiliki dua keluarga besar dengan dua agama yang berbeda. Sebagian pasangan-pasangan yang melakukan perkawinan beda agama di Kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas tersebut memang telah menetapkan agama yang harus dianut oleh anak-anak mereka sejak lahir. Namun mereka memberi kebebasan kepada anak-anak untuk memilih agama yang benar-benar mereka yakini setelah mereka dewasa. Ternyata keluarga besar dari pihak kedua orangtua mereka juga sangat mempengaruhi mereka dalam memilih agama. Sebagian anak yang lebih dekat dengan keluarga ayah, setelah dewasa akan memilih ikut agama yang dianut oleh ayahnya. Dan tidak tertutup kemungkinan anak yang lebih dekat dengan keluarga ibunya setelah dewasa juga akan memilih agama yang dianut oleh ibunya. Dalam hal ini terdapat unsur-unsur pokok yaitu utang budi, kewajiban serta suara hati yang terdapat dalam hubungan sosial yang dikenal secara nyata. Hubungan sosial menyusun dunia yang sangat personal di mana seseorang diikat pada kelompokkelompok tertentu. Hubungan-hubungan tersebut mempunyai kewajiban-kewajiban yang sulit untuk dihindari dari unsur moral yang tersirat dalam hubungan tersebut. e. Hubungan kekasih. Salah seorang informan pokok yang diwawancarai bernama Guntur Tarigan sejak lahir ia ikut agama ayahnya yaitu Kristen Protestan sedangkan ibunya beragama Islam. Ketika masih duduk di kelas 3 SMA ia menjalin hubungan kekasih dengan seorang gadis yang beragama Islam. Hubungan mereka berlanjut sampai ke perguruan tinggi dan telah berjalan selama 4 tahun. Mereka telah sepakat setelah tamat kuliah dan mendapatkan pekerjaan, mereka akan menikah. Akan tetapi sang gadis tidak mau pindah ke agama
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

kekasihnya. Ia pun meminta agar Guntur Tarigan yang masuk ke agamanya yaitu Islam sebelum menikah. Setelah berfikir dan mempertimbangkan segalanya ia pun akhirnya memilih agama kekasihnya yaitu Islam. f. Peran Pemuka Agama. Salah seorang informan pokok yang diwawancarai bernama Alista br Tarigan. Ayahnya beragama Islam dan Ibunya beragama Kristen Protestan. Ketika lahir orangtuanya telah menetapkan agama Islam untuknya. Ketika duduk di kelas lima SD, ia mengidap sebuah penyakit (Alista tidak mau menyebutkan nama penyakitnya). Setelah berobat keman-mana ia tidak juga sembuh. Ketika duduk di kelas dua SMA ia dibawa ibunya berobat kepada seorang pendeta. Setelah menjalani pengobatan selama dua minggu, akhirnya ia pun sembuh dan penyakitnya tidak pernah kambuh lagi. Wujud dari rasa syukurnya ia pun memutuskan mengganti agamanya dan memilih agama Kristen Protestan sebagai agama yang ia yakini. Agama yang sama dengan pendeta tersebut. Sampai saat ini ia tetap menjaga hubungan baik dengan pendeta tersebut. Ia juga selalu minta pendapat dan bimbingan sang Pendeta dalam mengambil keputusan penting dalam hidupnya. 4. 5. Kasus-kasus 7 Keluarga yang Melakukan Perkawinan beda Agama. 1. Keluarga G. Tarigan. Keluarga G. Tarigan (Gani) dan R. br Karo (Rohana) adalah pasangan beda agama dengan usia perkawinan 30 tahun. Gani berumur 56 tahun. Ia lahir di Desa Tangkulen, Kecamatan Berastagi pada tahun 1953. Ia adalah anak dari pasangan Anugrah Tarigan (alm) dan Sabar br Sembiring. Keluarga Gani memeluk agama Islam. Sebelum adanya perkawinan beda agama, dalam sejarahnya memang pernah ada paman Gani, saudara
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

kandung ibunya yang ia panggil dengan sebutan mama yang juga pernah melakukan perkawinan beda agama. Akan tetapi Gani menjelaskan bukan pengaruh dari mamanya tersebut ia melakukan perkawinan beda agama karena di antara mereka juga jarang mengadakan komunikasi yang disebabkan tempat tinggal mereka sangat berjauhan. Apalagi Gani pergi merantau ke Medan untuk bekerja. Keluarga Gani adalah penganut Islam. Di mana sejak usia anak 7 tahun orang tua sudah mengajari mereka untuk melakukan Sholat. Kadang kala sesudah magrib anakanak tidak boleh lagi keluar rumah, karena harus mengaji dan belajar. Pola sikap beragama mereka sangat ketat. Setelah dewasa, Gani pergi merantau ke Medan, lingkungan tempat tinggal membuat Gani berubah. Karena di perantauan sudah tidak ada lagi perhatian orangtua secara langsung yang mengontrol segala kegiatannya. Maka nilainilai yang sudah ditanamkan menjadi longgar. Istri Gani bernama R br Karo (Rohana). Rohana berumur 51 tahun. Ia lahir di Kecamatan Tiga Panah pada tahun 1958. Anak dari pasangan Sikap Purba dan Rita br Ginting. Keluarga Rohana memeluk agama Kristen Protestan. Sejarah keluarganya menunjukkan tidak ada yang melakukan perkawinan beda agama. Keluarga Rohana, walaupun melakukan perkawinan tetapi hanya berbeda suku bangsa dan sebagian besar keluarga tersebut menikah dengan orang yang bersuku bangsa Batak Toba maupun Batak Karo yang sama-sama memeluk agama Kristen Protestan. Namun keluarga tersebut juga tidak mengharuskan anak-anaknya untuk menikah dengan orang-orang yang beragama Kristen Protestan saja. Bagi keluarganya, yang penting agamanya sama-sama Kristen jadi menikah dengan agama Kristen Katholik juga tidak masalah.

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

Dalam keluarga Rohana sudah menjadi kebiasaan mengajak anak-anak pergi ke Gereja. Tiap-tiap anak diberi pola sikap agama yang sama. Tiap minggu ke Gereja, mengerti tentang pendalaman Al-Kitab juga mengikuti kegiatan-kegiatan di Gereja. Seluruh keluarga terutama anak-anak pergi ke Gereja untuk sekolah minggu dan mengikuti kebaktian. Setelah tamat SMA, Rohana melanjutkan kuliahnya di salah satu Universitas Negeri di Medan dan tinggal dengan Bi Udanya (tantenya). Ketika tinggal di Medan, Gani juga tinggal/kost di rumah keluarga Rohana. Mereka jadi sering bertemu. Selain itu sering juga keduanya pergi bersama misalnya belanja atau berkunjung kerumah teman. Karena saling merasa membutuhkan, kebersamaan yang ada akhirnya mereka lanjutkan ke hubungan yang lebih serius lagi. Bantuan dalam bentuk moril dan materil, yaitu dukungan dan kebutuhan sehari-hari di antara keduanya pun berjalan terus. Kadang Gani yang memberi bantuan kadang sebaliknya Rohana yang memberi bantuan. Setiap saat mereka saling memberi semangat dan dorongan. Kedua pasangan tersebut akhirnya mengambil keputusan untuk menikah. Rohana yakin jika Gani adalah calon suami yang bertanggung jawab. Hal ini terlihat dari Gani yang mau bekerja keras. Ketika melakukan perkawinan keduanya memang sudah tahu jika mereka menganut agama yang berbeda. Ketika meminta restu kepada orangtua awalnya memang tidak mendapat restu, tapi akhirnya orangtua mereka pasrah dengan pilihan anaknya. Perkawinan mereka berlangsung di Kantor KUA (Kantor Urusan Agama) secara agama Islam. Keluarga ini terdiri dari seorang suami yang beragama Islam dan istri beragama Kristen Protestan. Mereka mempunyai anak yang berjumlah 3 orang. Semua anaknya ikut agama ayahnya yaitu Islam, karena dari awal mereka telah membuat kesepakatan. 3
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

orang anak terdiri dari 2 orang perempuan dan 1 orang laki-laki. Anak yang pertama bernama Rehulina br Tarigan berumur 27 tahun telah menikah dengan laki-laki yang seagama dengannya yaitu agama Islam. Anak yang kedua bernama Ika br Tarigan berumur 21 tahun masih kuliah di Perguruan Tinggi Swasta di Medan. Anak yang ketiga bernama Guntur Tarigan berumur 17 tahun masih duduk di kelas 2 SMA. Gani membuka toko elektronik dan Rohana bekerja sebagai guru di salah satu SLTP di Kecamatan Kabanjahe. Mereka menikah pada tahun 1979 dengan usia perkawinan 30 tahun. Keluarga tersebut tinggal di Kelurahan Padang Mas. Dalam kehidupan beragama keluarga ini selalu mengutamakan hubungan yang baik, walaupun mereka mempunyai agama yang berbeda. Namun ada juga pengaruhpengaruh yang mereka dapati terutama terjadi pada anak-anak. Bila anak-anak dari keluarga tersebut pergi ke rumah orangtua dari pihak ayah, maka pengaruh Islam yang mereka dapatkan. Demikian juga sebaliknya bila anak-anak tadi pergi ke pihak orangtua ibu, pengaruh agama Kristen Protestan yang sering mereka terima. Sampai saat ini hubungan Gani dan Rohana dengan orang tua dan keluarga mereka masing-masing tetap berjalan dengan baik. Ketika diadakan upacara-upacara adapt, mereka tetap dilibatkan. Mereka bisa menerima perbedaan yang ada dalam kehidupan rumah tangga Gani dan Rohana. 2. Keluarga K. Tarigan. Keluarga K. Tarigan (Kawas) dan R. br Ginting (Rudang) adalah pasangan beda agama dengan usia perkawinan 21 tahun. Kawas berumur 48 tahun, ia lahir di Binjai pada tahun 1961. Anak dari pasangan Ukurta Tarigan dan Maria br Karo. Keluarga Kawas memeluk agama Islam. Sejarah keluarga, seperti yang diuraikan oleh Kawas tidak ada
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

yang melakukan perkawinan dengan orang yang berbeda agama. Sebagai keluarga yang taat beragama, sholat dan mengaji sudah menjadi kewajiban. Dalam keluarga ini orangtua memang tidak begitu ketat dalam menerapkan pola sikap beragama kepada anak. Orang tua tidak memaksakan kepada anak harus seperti orangtua dalam menjalankan ibadah. Anak diberi kebebasan untuk menjalankan nilai-nilai agamanya tanpa keluar dari nilai-nilai yang telah diajarkan. Sebagai penganut agama Islam, dalam keluarga ini sudah terbiasa menerapkan sikap beragama yang demokratis, yaitu anak tidak begitu dipaksakan untuk pergi pengajian di malam jum’at, melakukan puasa sunat atau melakukan sholat sunat. Kawas menikah dengan R. br Ginting (Rudang). Rudang berumur 42 tahun. Ia lahir di Medan pada tahun 1967. Anak pasangan dari Giat Ginting dan Morina Kembaren. Keluarga Rudang adalah pemeluk agama Nasrani yang taat, karena dari kecil sudah diajak melakukan ibadah oleh orangtuanya ke Gereja dan diwajibkan mengikuti kebaktian-kebaktian. Kawas dan Rudang bertemu dan saling kenal ketika menghadiri kerja tahun (pesta panen) di rumah mamanya Rudang di Kecamatan Munte 22 tahun yang lalu. Setelah 2 bulan kenalan, merekapun menjadi pasangan kekasih. Ketika hubungan mereka telah berjalan selama 10 bulan, akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Mereka yakin bahwa perbedaan agama di antara mereka bukan penghalang untuk membangun rumah tangga. Pada saat tahu mereka melakukan perkawinan beda agama, sikap orang tua dan kerabat mereka masing-masing awalnya marah dan tidak bisa menerima. Namun Kawas dan Rudang bersikeras dengan keputusan mereka untuk tetap menikah. Setelah diberi penjelasan bahwa mereka akan membuktikan rumah tangga yang
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

mereka bangun akan tetap baik-baik saja dengan perbedaan tersebut, lama-kelamaan akhirnya orangtua dan kerabat Kawas mau menerima keputusan mereka. Akan tetapi orang tua dan kerabat Rudang sama sekali tidak mau menerima dan merestui perkawinan Kawas dan Rudang. Akhirnya mereka menikah pada tahun 1988 tanpa dihadiri oleh orang tua dan kerabat Rudang. Kini usia perkawinan mereka telah berjalan selama 21 tahun. Perkawinan mereka disyahkan di Kantor KUA secara Islam. Mereka memiliki 5 orang anak. Anak yang pertama laki-laki berumur 19 tahun bernama Fauzi Tarigan. Ia masih kuliah dan menganut agama Islam, agama yang ia anut sejak lahir. Anak yang kedua perempuan bernama Alista br Tarigan berumur 16 tahun beragama Kristen Protestan. Ketika lahir ia menganut agama Islam, namun Ketika kelas lima SD ia mengidap suatu penyakit (Alista tidak mau menyebutkan nama penyakitnya). Setelah berobat kemana-mana ia tidak juga sembuh. Ketika duduk di kelas dua SMA ia dibawa ibunya berobat kepada seorang Pendeta. Setelah menjalani pengobatan selama dua minggu, akhirnya ia pun sembuh dan penyakitnya tidak pernah kambuh lagi. Wujud dari rasa syukurnya ia pun memutuskan mengganti agamanya dan memilih agama Kristen Protestan sebagai agama yang ia yakini. Agama yang sama dengan Pendeta tersebut. Sampai saat ini ia tetap menjaga hubungan baik dengan Pendeta tersebut. Ia juga selalu minta pendapat dan bimbingan sang Pendeta dalam mengambil keputusan penting dalam hidupnya. Anak yang ketiga bernama Ria br Tarigan, perempuan berumur 15 tahun dan duduk di kelas 2 SLTP, beragama Islam. Anak yang keempat berumur 10 tahun, duduk di kelas 4 SD beragama Islam dan anak yang kelima berumur 8 tahun, masih duduk di kelas 2 SD
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

beragam Islam juga. Kedua orangtua mereka bekerja membuka toko kelontong di pasar Kecamatan Kabanjahe. Keluarga tersebut tinggal di Kelurahan Padang Mas. Sampai saat ini keluarga Rudang masih belum bisa menerima mereka. Padahal berbagai usaha telah mereka lakukan untuk meminta maaf dan bisa diterima oleh keluarga besar Rudang. Tapi semua usaha tersebut sia-sia saja. Oleh karena itu, dalam kegiatan-kegiatan adat-istiadat keluarga besar Kawas tetap melibatkan mereka. Tetapi hubungan mereka dengan keluarga besar Rudang sudah terputus. 3. Keluarga A. Ginting. Keluarga A. Ginting (Agita) dan M. br Sitepu (Mika) adalah pasangan beda agama dengan usia perkawinan 28 tahun. Agita berumur 54 tahun, ia lahir di Kecamatan Kabanjahe pada tahun 1955. Anak dari pasangan Njileken Ginting (alm) dan Misreh br Payung (alm). Keluarga Agita adalah pemeluk agama Islam. Keluarga ini adalah suku bangsa Batak Karo bermarga Ginting. Dalam Keluarganya tidak ada yang melakukan perkawinan beda agama. Hanya Agita saja yang melakukan perkawinan beda agama sehingga keluarga menganggap hal ini sesuatu yang aneh. Keluarga menganggap bahwa Agita sangat nekat dan berani menikah dengan orang yang berbeda agama dengannya. Pada awal pernikahannya keluarga bersikap acuh tak acuh kepadanya. Tapi setelah anak pertama mereka lahir, keluarganya sudah bisa menerima, walau tidak sebaik penerimaan dengan keluarga yang menikah dengan agama yang sama. Ini terjadi karena keluarga Agita sebenarnya sangat menentang perkawinan beda agama. Seperti keluarga-keluarga yang lain, pada keluarga Agita pola sikap beragama sangat ketat. Sebagai penganut Islam, setiap anggota keluarga juga diwajibkan untuk
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

menjalankan semua kewajiban sebagai umat Islam, yaitu sholat lima waktu, mengaji dan puasa khususnya di bulan Ramadhan. Istri Agita bernama M br Sitepu (Mika). Mika berumur 52 tahun, ia lahir di

Kecamatan Simpang Empat pada tahun 1957. Anak dari pasangan Timotius Sitepu (alm) dan Riahna br Ginting. Keluarga Mika adalah pemeluk agama Kristen Protestan. Dari sejarah keluarganya belum ada yang melakukan perkawinan beda agama. Dari jumlah saudara kandung Mika yang berjumlah 6 orang semuanya menikah dengan orang yang seagamanya. Jadi baru dia yang melakukan perkawinan beda agama di dalam keluarganya. Pola sikap beragama yang diajarkan oleh orangtuanya juga sangat ketat. Dari anak masih kecil sudah dibiasakan untuk ikut dan harus pergi ke Gereja. Setiap ada kegiatan di Gereja mereka selalu mengikutinya. Sejak kelas 1 SMA, Agita dan Mika menempuh pendidikan di sekolah yang sama. Pertemuan antara keduanya berawal di sekolah yang sama. Keduanya sering mengerjakan tugas sekolah dan pulang sekolah bersama-sama. Setelah tamat SMA, dari cinta monyet mereka akhirnya mengambil keputusan untuk membina hubungan yang sudah terjalin ke jenjang yang lebih serius lagi. Mereka merasa hubungan yang mereka bina tersebut sudah merupakan keputusan dari sikap yang dewasa, tidak untuk main-main dan menuju hubungan yang serius, jadi bukan remaja lagi. Waktu mengambil keputusan dalam melakukan perkawinan, Mika sudah “dibuang” dari keluarganya. Hal ini terjadi setelah keluarganya tahu kalau anaknya serius menjalin hubungan dengan laki-laki yang agamanya berbeda. Jadi hanya dengan nekad lari dari runah tanpa restu orang tua, ia pun menikah dengan Agita. Perkawinan itu terjadi karena
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

rasa cinta yang besar, sehingga melakukan perkawinan dengan resiko terbuang dari keluarganya. Orangtua Mika tidak pernah mau merestui anaknya untuk melakukan perkawinan dengan orang yang berbeda agama, apapun alasannya. Akhirnya perkawinan Agita dan Mika dilangsungkan di Kantor KUA dengan tata cara agama Islam. Pasangan ini menikah pada tahun 1981 dengan masa perkawinan 28 tahun. Mereka telah dikaruniai 6 orang anak. Yang pertama perempuan bernama Tiur br Ginting berumur 25 tahun telah menikah dengan laki-laki etnis Tionghoa. Sejak lahir ia beragama Islam. Namun setelah menikah ia ikut agama suaminya yaitu agama Budha. Anak yang kedua perempuan bernama Bina br Ginting berumur 23 tahun dan telah menikah dengan laki-laki yang seagama yaitu Islam. Anak yang ketiga laki-laki bernama Saad berumur 22 tahun. Dan anak yang keempat perempuan bernama Dita br Ginting berumur 20 tahun. Mereka berdua masih kuliah di Perguruan Tinggi Swasta di Medan dan beragama Kristen Protestan. Hal ini karena sejak kecil mereka lebih dekat dengan keluarga ibu yang beragama Kristen Protestan dari pada dengan keluarga ayah yang beragama Islam. Ketika ada hari besar keagamaan, mereka berdua lebih sering merayakan hari besar agama Kristen Protestan. Sehingga dengan kesepakatan semua keluarga dan keinginan kedua anak tersebut, ketika tamat dari SLTP mereka dibabtis dan disyahkan sebagai penganut agama Kristen Protestan. Anak yang kelima laki-laki berumur 17 tahun sudah bekerja di sebuah bengkel dan tetap beragama Islam. Anak yang keenam perempuan umur 14 tahun masih duduk di kelas 2 SLTP. Keluarga ini tinggal di Kelurahan Lau Cimba. Hubungan mereka dengan keluarga besar Agita tetap terjalin dengan baik. Walaupun ada beberapa saudara dari
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

pihak ibu Agita yang masih tetap menentang perkawinan mereka. Namun dalam kegiatan-kegiatan adat mereka tetap diikut sertakan. Lain halnya dengan keluarga Mika yang sampai saat ini masih tetap tidak mau menerima mereka dan tidak pernah melibatkan mereka dalam kegiatan apapun. Keluarga besar Mika mau menerima Mika dan keluarganya jika mereka mau menganut agama yang sama yaitu Kristen Protestan. Tapi samapai saat ini suami dan anak-anak Mika yang beragama Islam tidak bisa memenuhi permintaan tersebut. 4. Keluarga D. Milala. Keluarga D. Milala (Dion) dan M br Sitepu (Maya) adalah pasangan beda agama dengan usia perkawinan 19 tahun. Dion berumur 51 tahun. Ia lahir di Pancur Batu pada tahun 1958. Anak dari pasangan Satria Milala (alm) dan Arihta Manik (alm). Keluarga Dion memeluk agama Kristen Protestan. Mereka juga memilih pasangannya dari agama yang sama, sehingga tidak terjadi halangan dan pertentangan yang kuat. Walaupun ada perbedaan, itu hanya dari suku bangsanya saja, bukan dari agamanya. Menurut keluarga hal tersebut tidak jadi persoalan. Karena jika perbedaan hanya terdapat pada suku bangsa, masih mudah untuk saling menyesuaikan diri terhadap pasangan. Tapi bila sudah berbeda pada agama maka akan banyak kendala yang akan dihadapi dalam perkawinan tersebut. Pola sikap yang berhubungan dengan pola sikap beragama pada keluarga ini sangat ketat, dalam arti sejak kecil sudah ditanamkan pentingnya nilai-nilai beragama. Anakanak terbiasa untuk mengerti mana yang baik dan mana yang buruk, ini penting untuk bekal kehidupan nanti. Mereka diajarkan cara beribadah dan menjalankan kewajiban sebagai manusia beragama dan saling membantu untuk kebaikan antara sesama manusia. Adanya larangan dari orang tua untuk berbuat kejahatan, rasa iri dan perbuatan yang
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

merugikan orang lain, juga tidak menjalankan perintah agama. Tapi setelah anak dewasa ada yang pergi dari kotanya untuk mengadu nasib atau melanjutkan sekolahnya ke kota yang lain. Setelah tamat dari SMA, Dion merantau ke Jakarta. Di tempat perantauan inilah kadang si anak lupa dengan pesan-pesan atau nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh orang tua di kampung halamannya. Istri Dion bernama Maya. Maya berumur 40 tahun. Ia lahir di Bintang Meriah pada tahun 1969. Anak dari pasangan Giat Pinem (alm) dan Sri Yanti. Keluarga Maya adalah keluarga yang memeluk agama Islam. Sebagai penganut Islam yang taat, sudah selayaknya dalam keluarga ini pola sikap beragamanya sudah ditanamkan sejak kecil kepada anak-anaknya. Semua anak harus menjalankan perintah orangtua untuk beribadah. Misalnya menjalankan sholat 5 waktu, mengaji, dan berpuasa. Tapi ada anak yang tidak mendengar apa yang dikatakan oleh orangtuanya. Anak mencari jalannya sendiri dan merasa dirinya yang yang benar dan larilah si anak dari nilai-nilai agama yang diberikan orang tuanya. Sama seperti Dion, Maya juga ke Jakarta mencari pekerjaan dan tinggal dengan salah satu kerabatnya. Pertemuan mereka terjadi ketika mereka samasama di Jakarta. Kebetulan tempat tinggal Dion berdekatan dengan tempat tinggal Maya, sehingga keduanya sering bertemu. Karena mereka tinggal dalam wilayah yang sama, maka akhirnya mereka berkenalan. Suatu kebetulan mereka berdua juga sama-sama menjadi anaggota karang taruna di wilayahnya. Karena sering keduanya bertemu, maka keduanya pun menjadi akrab. Awalnya tidak ada perasaan tertentu antara keduanya, sehingga mereka berjalan bersama-sama selama satu tahun. Pada waktu menyatakan cintanya, Maya tidak begitu memperhatikan latar

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

belakang Dion. Akhirnya keduanya sepakat untuk menjalin hubungan yang serius. Hubungan untuk membentuk rumah tangga. Setelah menjalin hubungan yang agak lama, yaitu sekitar dua tahun maka keduanya memutuskan untuk melakukan perkawinan. Pada waktu mereka meminta restu dari keluarga Maya, pada saat itulah ia baru tahu jika calon suaminya beragama Kristen Protestan. Pada saat itu ia bingung mendapat tantangan dari kedua orang tuanya. Karena rasa cintanya yang begitu besar dan tidak bisa lepas lagi dari kekasihnya, maka keduanya mengambil keputusan untuk melakukan kawin lari. Maka keduanya pulang kampung kerumah salah satu kerabat Dion dari pihak ayahnya yang mendukung keputusan mereka. Akhirnya mereka melakukan perkawinan di Kelurahan Padang Mas, tanpa di hadiri oleh pihak keluarga Maya, karena mereka tidak merestui perkawinan yang ada. Pada saat perkawinan dilangsungkan, mereka menikah secara adat Karo. Mereka menikah pada tahun 1990 dengan usia perkawinan 19 tahun dan telah dikaruniai 2 orang anak. Yang pertama laki-laki bernama Endi Milala berumur 16 tahun sedang duduk di kelas 1 SMA. Sejak lahir, orang tuanya telah menetapkan agama Islam sebagai agama yang dianutnya. Namun setelah dewasa mereka diberi kebebasan untuk memilih agama yang dianutnya. Anak yang pertama ini ketika kelas 3 SLTP minta dibabtis dan disyahkan menjadi penganut agama Kristen Protestan yaitu agama ayahnya. Hal ini karena secara emosional, ia lebih dekat kepada ayahnya. Ia sering ikut menemani ayahnya pergi ke Gereja dan merayakan Natal bersama. Ia juga merasa segala kebutuhan hidupnya lebih tergantung kepada ayahnya. Sehingga tanpa diminta oleh ayahnya ia memilih agama yang sama dengan sang ayah. Dengan tujuan sikap baktinya lebih nyata. Anak yang kedua
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

perempuan berumur 13 tahun dan masih duduk di kelas 1 SLTP. Ia beragama Islam. Ayah mereka bekerja sebagai supir di sebuah minimarket di Kecamatan Kabanjahe dan ibu mereka bekerja sebagai penjual sayur di pasar. Mereka tinggal di Kecamatan Padang Mas. Keluarga besar Dion tidak semua bisa menerima keputusan mereka untuk menikah dengan pasangan yang beda agama. Tapi sebagian lagi tidak mempermasalahkan hal tersebut. Dalam kegiatan adat-istiadat mereka tetap dilibatkan. Namun ada yang bersikap sinis, acuh tak acuh dan ada juga yang bersikap sewajarnya saja. Demikian juga dengan keluarga besar Maya. Orang tua dan beberapa saudara kandungnya masih belum bisa menerimanya. Mereka masih tetap menyayangkan keputusan Maya menikah dengan orang beda agama. Tapi tidak semua keluarga langsung membenci dan memutuskan tali silaturahmi di antara mereka, sehingga dalam kegiatan adat-istiadat mereka tetap dilibatkan. Jika mereka bertemu dalam acara tersebut, mereka sudah tidak saling bertegur sapa seperti orang yang tidak saling kenal. 5. Keluarga R. Suka. Keluarga R. Suka (Ruli) dan J br Bangun (Jumpa) adalah pasangan beda agama dengan usia perkawinan 26 tahun. Ruli berumur 55 tahun. Ia lahir di Medan pada tahun 1954. Ia anak dari pasangan Teguh Suka (alm) dan Lina br Sinuhaji. Keluarga Ruli beragama Kristen Protestan. Sama seperti umat beragama yang lainnya, mereka juga selalu menjalankan ibadah ke Gereja dan melakukan kebaktian. Dalam silsilah keluarga mereka tidak ada yang melakukan perkawinan beda agama. Istri Ruli bernama J br Bangun (Jumpa). Jumpa berumur 49 tahun. Ia lahir di Kecamatan Berastagi pada tahun 1960. Ia anak dari pasangan Usman Bangun dan Misna.
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

Keluarga Jumpa beragama Islam. Mereka melaksanakan ibadah sesuai dengan ajaran agama yang mereka anut. Keluarga Jumpa memiliki kebun jeruk yang sangat luas di Desa Ketaren Kecamatan Kabanjahe dan jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka. Sehingga untuk merawatnya dan memetik hasilnya dibutuhkan beberapa pekerja yang membantu pekerjaan mereka. Salah satu pekerjanya adalah Ruli yang merupakan pekerja tetap Keluarga Jumpa. Dengan demikian mereka berdua sering bertemu. Jumpa sangat simpati melihat cara kerja Ruli yang ulet, rajin dan sangat bertanggung jawab. Demikian juga dengan Ruli. Ia pun sangat menyukai Jumpa yang tidak sombong dan cantik. Semakin lama hubungan mereka semakin dekat namun tanpa sepengetahuan orangtua dan keluarga Jumpa. Setelah selesai bekerja, mereka sering pergi bersama dengan berbagai alasan kepada orangtuanya. Karena terlalu sering pergi berdua, akhirnya mereka pun melakukan kesalahan besar. Jumpa hamil sebelum menikah. Mengetahui hal tersebut keluarganya sangat marah dan mengusirnya dari rumah. Mereka sangat bersyukur keluarga Ruli masih mau menerima mereka. Akhirnya mereka menikah secara adat Karo saja tanpa dihadiri oleh keluarga dari pihak perempuan. Mereka menikah pada tahun 1983 dengan usia perkawinan 26 tahun. Mereka telah dikaruniai 4 orang anak. Yang pertama laki-laki bernama Joni Suka berumur 24 tahun telah menikah dan yang kedua perempuan bernama Vera br Suka berumur 20 tahun masih kuliah. Kedua anak tersebut tetap beragama Kristen Protestan yaitu agama ayahnya. Anak yang ketiga laki-laki bernama Raymon Suka berumur 23 tahun masih kuliah. Ia beragama Katholik karena ikut orangtua angkatnya. Orangtua angkat Raymon adalah sahabat dekat ibunya, Jumpa. Sahabat Jumpa bernama Vina Hia.

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

Tempat tinggal mereka tidak berjauhan. Vina telah menikah selama 15 tahun dengan Daniel tapi belum juga mendapat keturunan. Mereka berdua beragama Katholik. Hubungan Jumpa dengan Vina sudah seperti saudaranya sendiri. Vina selalu menyampaikan keluh kesahnya dan keinginannya yang begitu besar untuk bisa memiliki anak. Akhirnya ketika Jumpa mengandung anak yang ketiga, dengan penuh harapan Vina memohon agar ia dan suaminya diizinkan untuk mengasuh anak tersebut. Jumpa bisa merasakan kesedihan Vina dan suaminya. Oleh karena itu, setelah musyawarah dengan keluarga dan dengan berbagai pertimbangan mereka mengizinkan Vina dan suaminya mengasuh anak ketiga mereka yaitu Raymon. Dari usia kandungan Jumpa berumur 3 bulan sampai ia melahirkan, semua biaya yang berkaitan dengan hal tersebut ditanggung oleh Vina dan suaminya. Setelah Raymon lahir, mereka tidak pernah menutup-nutupi identitas Raymon yang sebenarnya. Sejak kecil ia sudah diberi tahu siapa orangtua kandungnya dan siapa yang mengasuhnya. Raymon tidak pernah marah dengan hal tersebut. Ia malah sangat bersyukur memiliki 2 orangtua yang sangat menyayanginya. Dengan kesepakatan keluarga Jumpa dan keluarga Vina, Raymon ikut agama Vina dan suaminya yaitu Katholik. Sampai saat ini Vina belum juga dikaruniai seorang anak sehingga ia dan suaminya telah menganggap Raymon sebagai anak kandung mereka sendiri. Anak yang keempat perempuan Gina br Suka berumur 17 tahun masih duduk di kelas 2 SMA dan beragama Islam karena lebih dekat dengan ibunya. Walaupun awalnya keluarga Jumpa mengusir dan sangat menentang hubungan Jumpa dengan Ruli, tapi begitu mengetahui Jumpa melahirkan anak yang pertama keluarganya pun dating menjenguknya. Hati orangtua Jumpa akhirnya luluh juga dan sangat bahagia
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

menyambut kehadiran cucu pertama mereka. Karena Jumpa adalah anak pertama dari 3 bersaudara dan pada saat itu adik-adiknya belum ada yang menikah. Keluarga Jumpa hanya pasrah melihat tekad Jumpa dan Ruli membangun rumah tangga dengan agama yang berbeda. Sampai saat ini hubungan mereka dengan keluarga dan kerabat masing-masing tetap berjalan dengan baik. Dalam kegiatan adat-istiadat mereka tetap dilibatkan. Mereka bekerja menggarap ladang yang cukup luas. Keluarga ini berdomisili di Kelurahan Lau Cimba.

6. Keluarga L. Purba. Keluarga L. Purba (Lawi) dan D br Tarigan (Desi) adalah pasangan beda agama dengan usia perkawinan 22 tahun. Lawi berumur 47 tahun. Ia lahir di Desa Kacaribu pada tahun 1962. Ia anak dari pasangan Jamil Purba dan Ros Baik br Tarigan. Keluarga Lawi beragama Kristen Protestan. Mereka juga keluarga yang taat menjalankan perintah agamanya sebagai umat Nasrani. Dalam silsilah keluarga mereka tidak ada yang melakukan perkawinan beda agama. Istri Lawi bernama D br Tarigan (Desi). Desi berumur 45 tahun. Ia lahir di Desa Bintang Meriah pada tahun 1964. Keluarga Desi adalah keluarga yang beragama Islam. Mereka juga selalu menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya. Namun dari keterangan Desi, kedua keluarga tersebut bukanlah orang-orang yang fanatik terhadap agamanya. Tempat tinggal keluarga Lawi dan Desi sangat berdekatan dan mereka hidup sebagai tetangga yang sangat rukun. Mereka selalu tolong-menolong dalam segala hal.

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

Karena tempat tinggal Lawi dan Desi saling berdekatan, mereka berdua sering bertemu dan menjadi teman dekat. Ketika Lawi menamatkan sekolahnya di SMA dan Desi duduk di kelas 3 SMA mereka baru menyadari bahwa mereka saling menyukai satu sama lain dan merekapun menjalin hubungan kekasih. Mereka sangat beruntung karena begitu kedua keluarga mereka mengetahui hal tersebut, masing-masing keluarga mereka memberi dukungan penuh. Begitu Desi menamatkan sekolahnya di SMA, kedua keluarga merekapun membicarakan keseriusan hubungan tersebut. Kedua keluarga pun setuju jika mereka menikah. Namun mereka sadar bahwa perbedaan agama akan menjadi penghalang dalam pengesahan perkawinan mereka. Akhirnya setelah diadakan musyawarah, mereka sepakat untuk memalsukan identitas Desi. Data-data Desi yang beragama Islam dipalsukan menjadi agama Kristen Protestan. Dengan demikian setelah mereka dipasu-pasu di Gereja mereka bisa mencatatkan perkawinan mereka di Kantor Catatan Sipil setempat. Namun dalam kehidupannya sehari – hari, Desi tetap beragama Islam dan menjalankan ibadahnya sesuai dengan ajaran agama Islam. Mereka menikah tahun 1987 dengan usia perkawinan 22 tahun. Mereka telah dikaruniai tiga orang anak. Yang pertama perempuan bernama Rehulina br Purba berumur 20 tahun sedang kuliah di Perguruan Tinggi Negeri di Medan beragama Islam. Karena sejak kecil lebih dekat dengan keluarga ibunya. Sedangkan anak yang kedua lakilaki bernama Andika Purba berumur 19 tahun dan telah bekerja di toko elektronik dan anak yang ketiga laki-laki bernama Anta Purba berumur 17 tahun masih duduk di kelas 2 SMA. Mereka berdua memilih agama Kristen Protestan, agama yang sejak lahir mereka anut.
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

Keluarga ini tinggal di Kelurahan Lau Cimba. Karena kedua belah pihak menyetujui perkawinan mereka, sampai saat ini hubungan dengan keluarga dan kerabat mereka masing-masing berjalan dengan baik. Walaupun kadangkala mereka mendengar tanggapan yang kurang menyenangkan dari beberapa kerabat jauh tapi hal tersebut tidak sampai membuat mereka saling bermusuhan. Dalam acara adat-istiadat mereka tetap diikut sertakan sebagaimana biasanya.

7. Keluarga H. Perangin-angin. Keluarga H. Perangin-angin (Hadi) dan A br Sembiring(Anik) adalah pasangan beda agama dengan usia perkawinan 24 tahun. Hadi berumur 52 tahun. Ia lahir di Pematang Siantar pada tahun 1957. Ia anak dari pasangan Karta Perangin-angin dan Ulina Sinaga. Keluarga Hadi adalah keluarga yang beragama Kristen Protestan. Dalam silsilah keluarga mereka memang sudah ada yang melakukan perkawinan beda agama yaitu kakak kandung Hadi yang paling tua dari 4 bersaudara. Istri Hadi bernama A br Sembiring (Anik). Anik berumur 51 tahun. Ia lahir di Kecamatan Kabanjahe pada tahun 1958. Ia anak dari pasangan Bambang Sembiring dan Ratna Sinuraya. Keluarga Anik adalah keluarga yang beragama Islam. Hadi dan Anik saling kenal ketika mereka sama-sama sedang kuliah di Perguruan Tinggi Negeri di Medan dengan jurusan yang sama. Ketika mereka masih pacaran, mereka sudah saling mengenalkan pasangannya ke keluarga mereka masing-masing. Semula keluarga mereka

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

tidak setuju dengan hubungan mereka karena perbedaan agama di antara mereka. Namun mereka bisa meyakinkan keluarga mereka. Akhirnya setelah tamat kuliah dan mendapatkan pekerjaannya, pada tahun 1985 mereka pun menikah dengan memalsukan identitas Anik menjadi agama Kristen Protestan. Dengan dipalsukannya agama Anik menjadi Kristen Protestan, seolah-olah mereka berdua adalah pasangan dengan agama yang sama sehingga tidak ada masalah yang memberatkan pengesahan perkawinan mereka. Setelah dipasu-pasu di Gereja, merekapun mencatatkan perkawinan mereka di Kantor Catatan Sipil. Kini usia perkawinan mereka sudah 23 tahun dan dikaruniai 4 orang anak. Anak yang pertama laki-laki bernama Muji Perangin-angin berumur 22 tahun telah menikah, ia beragama Kristen Protestan memilih agama ayahnya. Anak yang kedua laki-laki bernama Asman Perangin-angin berumur 20 tahun masih kuliah, ia beragama Kristen juga. Mereka beragama Kristen karena lebih dekat dengan keluarga ayahnya. Anak yang ketiga perempuan bernama Dista br Perangin-angin berumur 17 tahun beragama Katholik karena ia mempunyai teman dekat yang juga beragama Katholik sehingga ia pun memilih agama yang sama dengan sahabatnya tersebut. Dista memiliki sahabat bernama Nomi. Sejak sekolah di TK sampai saat ini Dista tetap berteman baik dengan Nomi. Awalnya Nomi heran dengan adanya perbedaan agama di dalam keluarga Dista. Nomi seringkali menanyakan prihal tersebut kepada Dista. Sejak lahir agama yang ditetapkan kepada Dista adalah agama Kristen Protestan. Banyak hal yang sering mereka lakukan bersama-sama termasuk ke Gereja. Sebenarnya Gereja Nomi dan Dista tidak sama karena Nomi beragama Katholik. Akan tetapi Dista tidak peduli. Ketika kelas dua SMP Nomi menyarankan agar Dista minta izin kepada
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

orangtuanya untuk masuk agama Katholik. Dista mengikuti saran sahabatnya tersebut dengan alasan ingin menjadikan agama Katholik sebagai pedoman hidup yang benarbenar ia yakini. Orangtua Dista tidak bisa melarang keinginannya karena mereka sudah berjanji akan memberi kebebasan kepada anak-anaknya untuk memilih agama yang benar-benar mereka yakini. Anak yang keempat perempuan bernama Lia br Perangin-angin berumur 13 tahun dan masih duduk di kelas 1 SLTP beragama Kristen Protestan. Karena kedua belah pihak menyetujui perkawinan mereka, sampai saat ini hubungan dengan keluarga dan kerabat mereka masing-masing berjalan dengan baik. Dalam acara adat-istiadat mereka tetap diikut sertakan sebagaimana biasanya. Keluarga tersebut tinggal di Kelurahan Padang Mas.

4. 6. Pendapat Masyarakat Tentang Perkawinan beda Agama
di Kecamatan Kabanjahe

1) Nama Umur

: Ana Lita. : 32 tahun

Pekerjaan: Guru Dalam perkawinan beda agama itu apakah pelakunya mempertimbangkan tumbuhkembang kehidupan beragama anaknya ya? Umumnya, ibulah yang mendominasi pola asuh anaknya sehingga jika seorang ibu agamis maka tata-cara beragama ibunyalah yang akan ditiru anaknya. 2) Nama Umur : Pdt. J. Sembiring : 66 tahun

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

Pekerjaan: Guru (Pendeta). Dalam menyikapi persoalan perkawinan beda agama, kita tidak bisa menyalahkan pemerintah yang dianggap tidak menetapkan undang-undang yang secara jelas mengatur perkawinan beda agama. Sudah seharusnya kita introspeksi diri sendiri. Agama bukanlah satu hal yang boleh dipermainkan. Tuhan menciptakan tidak sedikit saudara-saudara yang seagama dengan kita. Jadi kita juga bisa mencari pasangan hidup yang seagama, yang bisa beribadah secara bersama-sama. Menikah dengan orang yang seagama, bagi saya akan membuat kehidupan bathin jauh lebih baik.

3) Nama Umur

: Ricardo Tarigan : 19 tahun

Pekerjaan: Mahasiswa Banyak orang ketika akan melangsungkan perkawinan beda agama pindah ke agama pasangannya, tapi nantinya dalam pernikahan kembali ke agama masing-masing. Kalau soal tumbuh kembang, sebetulnya disekeliling saya banyak yang tak mengalami masalah, sepanjang orangtua bisa saling mendukung. Setelah anak dewasa mereka boleh memilih agamanya masing-masing (saat kecil sesuai kesepakatan ortu; atau kalau cowok A dan cewek B). Sepupuku lebih aneh lagi, kakeknya penganut Budha dan jadi biksu, orangtua Islam, kakak perempuan Islam, dan adiknya Katolik. Dari sisi agama, semua mempunyai pertanggungan jawaban masing-masing pada Tuhan sesuai agama yang dipeluknya, yang perlu diberikan solusi adalah bagaimana koridor hukumnya. 4) Nama Umur : Adelia br. Keliat : 27 tahun

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

Pekerjaan: Perawat Jangan perjual belikan agama hanya demi cinta, menurut saya pelajari dulu agama keduanya, jika ada kesepakatan dan dianggap paling baik dan cocok, maka salah satu harus masuk agama yang lain. Ingat, jika pernikahan tidak syah maka tidak akan ada kebahagiaan dalam rumah tangga. Karena jika pernikahan tidak syah, maka selamanya akan berzina terus.

5) Nama Umur

: Raskita br. Surbakti : 22 tahun

Pekerjaan: Pedagang saya pikir kalau kawin sesama jenis akan lebih memiliki penentang yang luar biasa di Indonesia. Jadi untuk apa perkawinan beda agama diributkan? Meski negara ini sejatinya bukan negara agama, namun kehidupan yang katanya “beragama” mendominasi rakyat penghuni Indonesia. 6) Nama Umur : Antonius Solin : 49 tahun

Pekerjaan: Pedagang Seharusnya negara tidak boleh melarang suatu perkawinan yang akan dilangsungkan karena masalah agama yang berbeda, itu prinsipnya. Namun tidak semua orang bersedia memahami dan menerima prinsip tersebut. Sehingga diperlukan mekanisme hukum melalui pengadilan untuk memerintahkan perkawinan tersebut dilangsungkan. 7) Nama : Mega

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

Umur

: 25 tahun

Pekerjaan: Operator Yang pasti perkawinan beda agama tidak sesuai konsepsi hukum perkawinan sama sekali. Yang tujuannya untuk membina perkawinan yang kekal dan abadi berdasarkan ketuhanan YME. Diluar segi yuridis pun bisa berdampak jelek ke sosiologis, bagaimana nanti bisa punya kehidupan bahagia kalo anak-anaknya bakal bingung dirumah mau ikut agama yg mana. Mending dari awal nyari jodoh yg seagama aja. Atau biar itu orang pindah agama dulu lah baru dipacarin. 8) Nama Umur : Sondang Manalu : 39 tahun

Pekerjaan: Dosen Kalau boleh komentar masalah dari perkawinan beda agama, bagi saya kendalanya ialah di UU no 1 thn 1974 itu sendiri, karena prosesnya didasari pada hukum Islam sehingga perlu adanya revisi lagi (sehingga dulu UU perkawinan campur ditiadakan). Bahwa negara kita mengakui 6 agama. Buat apa kita harus melakukan penyelundupan hukum kalau itu memang bisa dan benar. Dengan penyelundupan hukum tetap saja salah satu pihak yang berbeda agama tetap harus mengalah (masih ada ego akan agamanya). Sehingga unsur keterpaksaan melekat. Kalau agama menjadi penghalang bagi setiap orang untuk mempersatukan diri dalam pertalian yang suci, bagi saya itu hal yang konyol! Kalau kita merenungkan sejenak, tanyalah pada diri anda masing-masing. Siapakah yang menciptakan agama? Apakah Tuhan menentukan agama yang terbaik untuk kita anut? Bagi saya agama adalah sarana bukan tujuan, tujuan kita semua sama yaitu Tuhan.
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

Dari sini kita sadar bahwa kita semua sama dalam satu naungan Tuhan. Jadi tidak ada lagi kata perbedaan kalau kita sadar akan sumber visi dan misi kita. Kepada teman-teman yang memiliki pasangan beda agama yakinlah dengan pilihan kita, sebab kita bukan menikah dengan agama, tapi menikah dengan orang yang kita cintai (sama-sama ciptaan Tuhan). Jangan terlalu dipengaruhi oleh agama, berpikirlah realistis sedikit. Jadi jangan bertindak dengan pikiran, bertindaklah dengan hati dan logika.Terima kasih,Tuhan Memberkati kita semua. 9) Nama Umur : Firman : 24 tahun

Pekerjaan: Mahasiswa Kalo bisa sih nikah sama orang yang satu agama. Lebih gampang proses hukumnya. Bila ego sudah mulai berbicara susah deh… kalau bener-bener cinta, mau tidak kita meredam ego kita buat menerima perbedaan pasangan kita, bukannya menuntut dia untuk berpindah ke agama kita supaya bisa bersama. Saya orang yang fanatik dengan agama saya, tapi saya meliat kalo agama lain itu juga tidak salah. Kasihan sekali orang yang ngaku fanatik dengan agamanya tapi bikin orang lain sakit hati, menderita, atau sampai meninggal (demi agama lagi!!!). ck ck ck… fanatik atau psikopat mbak??? Bukannya di mana-mana agama diajarin yang baik-baik? Saya memilih agama saya karena saya merasa enjoy sekali menyembah Tuhan saya dengan agama saya, dan orang lain juga enjoy menyembah Tuhannya dengan agamanya. Perbedaan itu yang bikin kita sempurna… asaaaaaal, ya itu tadi, mau menerima perbedaan dan tidak memaksa!! (ayah saya juga beda agama dengan saya, sahabat-sahabat saya yang paling dekat dengan saya juga ada yang beda agama, cinta sejati saya juga beda agama dengan saya. Orang-orang
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

yang paling berarti buat saya kebanyakan beda agama dengan saya. So, what’s wrong with different relligion???!!! (tapi teteeep, saya tau Tuhan saya yang paling sayang dengan saya). Jadi, cari pasangan kalo bisa cari yang seagama, tapi ya itu tadi, kalau cinta sejati anda memang beda agama dan dua-duanya mau nikah beda agama, yakinlah dengan keputusan itu (tapi juga kalo bisa jangan pindah agama gara-gara pasangan yaaa?). Soalnya tidak dari hati. Bohongin Tuhan. Indonesia kita ini masih menganut demokrasi dan berdasarkan Pancasila kan???, bukan negara yg berdasarkan agama tertentu kan???. Yang tegas dan adil dong. Boleh ya boleh, enggak ya enggak!! jangan bolehin yang enggak2!. 10) Nama Umur : Zalaluddin : 59 tahun

Pekerjaan: Guru Agama Islam (Ustad). Tolong agar semua meluruskan masalah pernikahan beda agama ini. Khususnya kepada muslim dan muslimah. Dalam Al-Qur’an tercantum dengan jelas bahwa ada larangan untuk melakukan pernikahan antara 2 orang yang berkeyakinan berbeda. Dengan demikian, setelah pernikahan dilangsungkan, tak pantas lagi ia menyebut dirinya seorang muslim, karena ia telah melakukan larangan Allah SWT. Selain itu, dampak psikologis juga akan muncul pada anak yang merupakan hasil dari perkawinan ibubapaknya yang berbeda agama. Jadi, pertanyaan saya yang bisa anda jawab secara terbuka pada saya khususnya pada yang ingin melakukan pernikahan beda agama (yang beragama Islam) tersebut ialah “Mana yang Anda lebih pentingkan? suami/istri anda yang bukan beragama Islam yang hanya menjadi penghibur selama hidup di dunia yang tidak kekal ini ataukah anda lebih
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

memegang prinsip keagamaan anda dan patuh serta menjauhi larangan-Nya dan anda akan mendapatkan kesenangan kelak di akhirat yang abadi itu?.

11) Nama Umur

: Sagian Purba : 42 tahun

Pekerjaan: Pegawai Kantor Catatan Sipil. Berdasarkan Putusan MA No 1400 K/Pdt/1986, Kantor Catatan Sipil diperkenankan untuk melangsungkan perkawinan beda agama. Kasus ini bermula dari perkawinan yang hendak dicatatkan oleh Ani Vonny Gani P (perempuan/Islam) dengan Petrus Hendrik Nelwan (laki-laki/Kristen). Dalam putusannya, MA menyatakan bahwa dengan pengajuan pencatatan pernikahan di Kantor Catatan Sipil maka Vonny telah tidak menghiraukan peraturan agama Islam tentang perkawinan dan karenanya harus dianggap bahwa ia menginginkan agar perkawinannya tidak dilangsungkan menurut agama Islam. Dengan demikian, mereka berstatus tidak beragama Islam, maka KCS harus melangsungkan perkawinan tersebut. Nah putusan ini, secara sekilas hanya berlaku bila perempuan yang beragama Islam dan Laki-laki yang beragama Nasrani hendak melangsungkan perkawinan. Lalu bagaimana bila sebaliknya?. Secara argumentum a

contrario maka KUA wajib melangsungkan perkawinannya, karena perempuan yang beragama Nasrani tidak lagi menghiraukan statusnya yang beragama Nasrani. Oleh karena itu melakukan penundukkan hukum secara jelas kepada seluruh hukum Islam yang terkait dengan perkawinan. Tapi untuk di Kecamatan Kabanjahe pihak Kantor Catatan Sipil boleh menikahkan pasangan yang beda agama belum terealisir secara jelas. Karena Undang-Undang yang
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

mengatur tentang perkawinan tetap berpedoman kepada Undang-Undang perkawinan no. 1 tahun 1974. Sehingga pasangan-pasangan beda agama yang ingin melakukan perkawinan pura-pura pindah ke agama pasangannya. Jika saja pemerintah dengan tegas memberikan wewenang kepada pihak Kantor Catatan Sipil untuk mengesyahkan perkawinan mereka, dari semula pasangan yang berbeda agama tidak perlu melakukan penyelundupan hukum dengan mengganti agama untuk sementara, namun bisa melangsungkan perkawinan tanpa berpindah agama.

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

BAB V PENUTUP
5. 1. Kesimpulan.
Terjadinya perkawinan beda agama sebagian besar karena didasari atas rasa cinta yang begitu besar terhadap pasangan. Sehingga mereka tidak memperdulikan lagi tanggapan orang-orang yang ada di sekitar mereka. Perkawinan beda agama yang terjadi di dua kelurahan di Kecamatan Kabanjahe yaitu Kelurahan Lau Cimba dan Kelurahan Padang Mas sebagian mendapat restu dari keluarga khususnya orangtua, sebagian lagi awalnya tidak mendapat restu dari orangtua tapi lama-kelamaan oarangtua luluh juga apalagi setelah mendapatkan cucu dari anaknya. Namun ada juga pasangan yang melakukan perkawinan beda agama dari awal sampai sekarang tidak mendapat restu juga dan tidak diterima oleh keluarganya.
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

Dalam kehidupan sehari-hari terlihat bahwa kehidupan beragama bukanlah suatu masalah yang harus mereka besar-besarkan. Karena sebagian besar dari mereka bukanlah penganut agama yang fanatik. Di daerah tersebut masyarakatnya lebih mengutamakan hubungan baik dalam sistem adat-istiadat mereka. Jika ada anggota keluarga yang dikucilkan karena keluar dari agama yang telah mereka anut dan berpindah ke agama yang lain, hubungan tali silaturahmi mereka masih tetap bisa terjalin melalui acara adatistiadat yang mengharuskan kehadiran mereka. Pengaturan tentang perkawinan beda agama yang tidak ada dalam Undang-Undang Perkawinan di Indonesia, membuat pasangan-pasangan yang ingin melangsungkan perkawinan tidak mempunyai tempat untuk mengesahkan perkawinan mereka secara syah dalam hukum negara. Hal ini membuat banyak pasangan beda agama harus pergi ke luar negeri untuk melangsungkan dan mengesahkan perkawinan mereka misalnya ke Singapura. Tapi bagi mereka yang tidak mempunyai banyak uang untuk biaya pergi ke luar negeri hanya melangsungkan perkawinan mereka secara adat saja. Namun ada juga pasangan yang nekat memalsukan identitas salah satu pasangannya. Hal ini mereka lakukan agar mereka seolah-olah memiliki agama yang sama sehingga pihak Kantor Catatan Sipil bisa melangsungkan perkawinan mereka. Khusus bagi pasangan laki-laki beragama Islam dengan perempuan yang beragama Kristen pihak KUA dapat mengesyahkan perkawinan mereka karena diperbolehkan dalam Al-Qur’an. Selain masalah-masalah yang timbul pada pasangan itu sendiri, perkawinan beda agama juga berdampak kepada anak-anak yang mereka lahirkan. Dari penelitian, sebagian besar anak-anak yang lahir dari perkawinan beda agama juga memiliki agama
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

yang berbeda dengan orangtuanya. Memiliki orang tua dengan dua agama yang berbeda membuat mereka setelah dewasa juga mempunyai keinginan untuk memilih agama yang benar-benar mereka yakini. Selain keinginan dari dalam diri sendiri, ada faktor-faktor dari luar diri mereka yang mempengaruhi terjadinya pemilihan agama tersebut misalnya peran ayah, peran ibu, peran orangtua angkat, hubungan dengan kerabat orangtua, hubungan kekasih dan peran pemuka agama. Ketika mengurus surat-surat penting dan administrasi lainnya mereka tidak pernah mengalami kesulitan karena tidak pernah dimintai syarat-syarat yang mempersulit mereka. Dalam urusan tersebut mereka lebih mengutamakan hubungan kekeluargaan sehingga dalam urusan apapun semuanya selalu berjalan dengan lancar. Salah satu elemen penting dalam hidup manusia adalah agama. Agama bagi kehidupan manusia berfungsi sebagai wadah untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Agama yang telah di akui khususnya di Indonesia semuanya mengajarkan tentang kebaikan yaitu melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dengan demikian, agama apapun yang dipilih oleh anak-anak dari perkawinan beda agama tidaka menjadi masalah. Jika ajaran agama yang telah mereka pilih benar-benar diamalkan, tetap akan menjadi pedoman hidup mereka yang menuntun ke jalan yang benar.

5. 2. Saran.
1. Bagi pasangan-pasangan beda agama, harus benar-benar difikirkan secara matang sebelum mengambil keputusan untuk melakukan perkawinan dengan

pasangannya. Karena tidak semua orang bisa menerima keputusan tersebut terutama keluarga.

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

2. Bagi anak yang memiliki orangtua yang beda agama, agama apapun yang akan dipilih haruslah benar-benar diyakini akan dapat menjadi pedoman hidup. Jangan sampai agama hanya menjadi suatu formalitas saja. Karena agama sangat penting sebagai sarana untuk mencapai tujuan akhir kebahagiaan hidup. 3. Peraturan perkawinan antar agama perlu dibentuk untuk mengisi kekosongan hukum dan mengatur pergaulan hidup manusia agar terwujud ketenangan dan kedamaian. 4. Seharusnya timbul kesadaran bagi masyarakat agar tetap jujur dan tidak melakukan penyelundupan hukum dengan pura-pura berpindah ke agama pasangannnya untuk mendapatkan kemudahan dalam mencapai tujuannya. 5. Pemerintah ataupun pembuat undang-undang perlu kiranya segera memikirkan jalan keluar yang terbaik untuk mengatur perkawinan antar agama. 6. Jika undang-undang yang mengatur tentang perkawinan beda agama memang tidak bisa dibentuk, maka tidak ada salahnya dibuat suatu Badan/Lembaga. Memang tidak dapat dipungkiri betapa sulitnya untuk menentukan sikap terhadap masalah perkawinan beda agama karena adanya persintuhan-persintuhan atau pertentangan-pertentangan yang sulit dicari jalan keluarnya. Dalam hal ini penulis menyarankan agar dibentuk suatu Badan/Lembaga Penasehat Perkawinan Antar Agama, khususnya untuk orang-orang yang hendak melangsungkan perkawinan beda agama. Di mana Badan/Lembaga ini berfungsi untuk memberikan penjelasan, bimbingan ataupun nasehat kepada kedua calon mempelai sesuai dengan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut calon mempelai. Hal tersebut guna mencegah terjadinya perkawinan beda agama.
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

DAFTAR PUSTAKA

Agustina 2005

Perkawinan Antar Agama dan Akibat Hukumnya. (Kajian Putusan MARI No. 1400 K/Pdt/1986). Medan, Tesis Tidak Diterbitkan, Pascasarjana USU.

Amirin, M, Tatang. 2000

Menyusun Rencana Penelitian. Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada.

Asmin. 1986 Status Perkawinan Antar Agama. Jakarta, PT. Dian Rakyat.

Bahtiar, Purnama, Asep. 2003

“Dialektika Agama dan Budaya” dalam Thoyibi (ed), Sinergi Agama&Budaya Lokal. Surakarta, Muhammadiyah University Press.

Berger, L, Peter. 1991

Langit Suci, Agama Sebagai Realitas Sosial.

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

Jakarta, LP3ES. Bungin, Burhan. 2007

Penelitian Kualitatif. Jakarta, Kencana Prenada Media Group.

Daradjat, Zakiah. 1979

Ilmu Jiwa Agama. Jakarta, Bulan Bintang.

Geertz, Clifford. 1992

Kebudayaan dan Agama. Jakarta, Kanisius.

Hatta, Mohammad. 2002 Hidayat, Komaruddin. 2003

Sosialisme Religius. Yogyakarta, Kreasi Wacana. “Budaya Lokal Dalam Persepektif Baru” dalam Amin Abdul (ed), Agama dan Pluralitas Budaya Lokal. Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial, Surakarta, Universitas Muhammadyiah.

Kartono, Kartini. 1985

Peranan Keluarga Memandu Anak. Jakarta, Rajawali.

Koentjaraningrat. 1981

“Metode Wawancara” dalam Koentjaraningrat (ed), Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta, Aksara baru.

1986

Mahali. 1983 Beragama dan Tujuannya. Jakarta, Raja Grafindo Perkasa.

Mulder, Niels. 1999

Agama, Hidup Sehari-hari dan Perubahan Budaya. Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama.

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

Siahaan, Henry. 1991

Peranan Ibu Bapak Mendidik Anak. Bandung, Aksara.

Siong, Giok, Gouw. 1961

Segi-segi Hukum Peraturan Perkawinan Tjampuran. Djakarta, Djambatan.

Spradley, James. 1997

Metode Etnografi. Yogyakarta, PT. Tiara Wacana Yogya.

Sukarti, Dewi. 2003

Perkawinan Antar Agama Menurut Al-Quran dan Hadis. Jakarta, PBB UIN Syarif Hidayatullah.

Tama, Rusli. 1984

Perkawinan Beda Agama dan Masalahnya. Bandung, Sartika Dharma.

Wahid, Abdurrahman. 2001

Pergulatan Agama, Negara dan Kebudayaan. Depok, Desantara.

Sumber lain dari Internet: - Perkawinan beda agama (8 Juni 2008). http://www.google.co.id/search?hl=id&q=perkawinan+beda+agama&meta= www.Asiamaya.com/konsultasi_hukum/perkawinan/perk_bedaagama.htm.

- Studi kasus (8 Juni 2008) http://www.google.com/search?hl=pengertian+studi+kasus&start=10&sa=N - Agama dilecehkan, mengapa harus tersinggung? (13 Agustus 2008)
Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

http://www. Google.co.id/search?q=perkawinan+beda+agama+di+kabupaten karo&hl=id&sa=2. http://Brahmana-medan.blog.com/1985651. http://www.scribd.com/doc/31144824/perkawinan+beda +agama+di+Indonesia. http://Anggara.org/2007/07/05/perkawinan-beda-agama-di Indonesia/ http:www.scrib.com/doc/3144824/perkawinan-Beda-Agama-di-Indonesia.

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009. USU Repository © 2009

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->