P. 1
Laporan Akhir Pelimpahan Kewenangan

Laporan Akhir Pelimpahan Kewenangan

|Views: 1,343|Likes:

More info:

Published by: Syahrul Mustofa.S.H.,M.H on Aug 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/13/2014

pdf

text

original

LAPORAN STUDI TENTANG KECAMATAN DI KABUPATEN SUMBAWA BARAT

STUDI PELIMPAHAN KEWENANGAN PEMERINTAH KABUPATENKEPADA PEMERINTAH KECAMATAN [PELIMPAHAN KEWENANGAN BUPATI KEPADA CAMAT]

KERJASAMA LEGITIMID SUMBAWA BARAT dengan BAPPEDA KABUPATEN SUMBAWA BARAT

TALIWANG 2011

1

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Kebijakan otonomi daerah telah mendorong terjadinya berbagai perubahan, baik secara struktural, fungsional, maupun kultural dalam tananan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Salah satu perubahan yang sangat mendasar adalah menyangkut kedudukan, tugas pokok dan fungsi Pemerintahan Kecamatan. Pada satu sisi, Pemerintahan Kecamatan yang sebelumnya merupakan “perangkat wilayah” dalam rangka asas dekonsentrasi, berubah statusnya menjadi “perangkat daerah” dalam rangka asas desentralisasi. Pada sisi lain, Pemerintah Desa yang sebelumnya merupakan unit pemerintahan terendah dan berada di bawah Pemerintah Kecamatan (sub ordinasi), pada saat sekarang kedudukannya otonom dan tidak bersifat sub ordinasi dengan pemerintahan kecamatan. Perubahan tersebut telah menggeser posisi kecamatan dari “wilayah jabatan” menjadi “lingkungan kerja”. Meskipun terjadi perubahan status, Kecamatan tetap merupakan bagian dari struktur pemerintahan yang diberi kewenangan untuk menyelenggarakan pelayanan kepada masyarakat. Pelayanan kepada masyarakat merupakan fungsi utama pemerintah. Demikian pentingnya fungsi pelayanan ini, sehingga menjadi tolok ukur bagi terselenggaranya tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) terutama di tingkat pemerintahan daerah. Kondisi faktual selama ini masih menunjukkan bahwa kualitas pelayanan publik terutama yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah masih memprihatinkan. Padahal, kebijakan otonomi daerah dimaksudkan untuk mendekatkan jarak antara pemberi pelayanan (pemerintah daerah) dengan yang dilayani (warga masyarakat), sehingga kualitas pelayanan publik diharapkan sesuai dengan aspirasi masyarakat dan menjadi semakin berkualitas.

Rendahnya kualitas pelayanan publik yang terjadi selama ini ditandai oleh terbatasnya sarana pelayanan, perilaku petugas yang belum bersifat melayani, dan tidak jelasnya waktu serta biaya yang diperlukan untuk mendapatkan pelayanan publik, serta panjangnya prosedur yang harus dilalui untuk menyelesaikan suatu jenis pelayanan publik. Salah satu yang menjadi kendala dalam pemberian pelayanan publik selama ini adalah belum adanya standar yang jelas mengenai penyelenggaraan pelayanan publik itu sendiri. Padahal, standar itu sangat berguna sebagai panduan bagi pemerintah untuk memberikan pelayanan. Dalam rangka mengefektifkan dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat perlu ada upaya untuk menyusun standar pelayanan publik yang diselenggarakan oleh aparat pemerintah kecamatan. Selain itu, kewenangan kecamatan dalam pelayanan publik juga perlu diperjelas. Agar kedua hal tersebut dapat berjalan dengan baik maka perlu dilakukan sebuah kajian melalui kegiatan penelitian. Penelitian yang dilakukann mencakup existing condition kewenangan kecamatan di Sumbawa Barat; jumlah dan jenis pelayanan publik yang diselenggarakan kecamatan, analisis mengenai posisi dan peran kecamatan dalam Undang-Undang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Kecamatan, jumlah dan jenis kewenangan yang dapat dilimpahkan kepada kecamatan, dan rekomendasi mengenai jenisjenis pelayanan publik yang dapat diselenggarakan oleh kecamatan. Sehubungan dengan pemahanan tersebut, guna menjaga arah tugas dan fungsi Camat dalam membina penyelanggaraan pemerintahan umum diwilayahnya kewenangan delegatif adalah mutlak harus diberikan oleh Bupati, dimana pembinaan dan pengawasan sebagai piranti bagi Camat untuk bisa melakukan bargaining untuk melakukan segala tindakan yang dipandang perlu guna dan menjadikan mampu pemerintahan desa lebih roda bertanggungjawab mengurusi penyelenggaraan

peemerintahan secara lebih baik. Fakta dilapangan menunjukkan bahwa pelaksanaan UU No. 32 tahun 2004 dan PP No. 19 tahun 2008 belum dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat, dimana secara optimal kecamatan yang ada di

3

Kabupaten Sumbawa Barat belum optimal menyelenggarakan fungsinya sebagaimana yang diamanatkan dalam peraturan perundang-undangan yang ada, yakni sebagai public service, pembinaan, koordinator dan fasilitator Pemerintahan Desa yang ada diwilayahnya. Hal ini dikarenakan ketidakefektifan pelaksanaan tugas dan fungsi pemerintah kecamatan, yang antara lain disebabkan dengan kurang berfungsinya kewenangan yang dilimpahkan kepada Camat. Hal ini jelas mengakibatkan dilema bagi kecamatan, di satu sisi ingin memberikan pelayanan yang mudah, murah dan cepat, namun di sisi lain terhambat oleh sedikitnya kewenangan untuk menyelesaikan pelayanan kepada masyarakat. Salah satu upaya untuk itu adalah pelimpahan wewenang dari Bupati kepada camat untuk menyelenggarakan sebagian urusan pemerintahan dan pembangunan. Dengan adanya pelimpahan wewenang ini diharapkan beberapa pelayanan publik seperti pemberian ijin dan pelayanan non perijinan dapat diselesaikan secara langsung di kecamatan. Hal ini jelas akan memberikan semangat yang cukup kuat kepada pemerintah kecamatan untuk meningkatkan kinerjanya terutama dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat dan memudahkan warga masyarakat untuk memperoleh pelayanan yang murah, cepat dan berkualitas. Pelimpahan wewenang dari Bupati kepada Camat ini selain merupakan tuntutan dari warga masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang mudah, murah, cepat dan berkualitas, juga merupakan amanat dari Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, khususnya pasal 126 ayat 2 yang berbunyi ”Kecamatan dipimpin oleh camat yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan sebagian wewenang bupati atau walikota untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah”. Oleh sebab itu pembenahan secara internal organisasi dan penataan kembali format dan substansi pendelegasian kewenangan tersebut sangat perlu dan sesegera mungkin dilakukan. Hal ini didasari asumsi bahwa dengan perbaikan tersebut diharapkan Camat sebagai perangkat daerah diwilayah Kecamatan mempunyai posisi yang strategis. Sehingga bisa

lebih senafas dan tersinkronisasi yang pada gilirannya nanti fungsi pembinaan, fasilitator serta pemberian pelayanan kepada Pemerintah Desa/Kelurahan bisa berjalan efektif. Hasil penelitian merekomendasikan perlunya segera disusun Peraturan Bupati tentang Kecamatan sesuai dengan karakteristik dan kondisi daerah, yang isinya tentang pendelegasian kewenangan kepada camat untuk lebih mendekatkan dan mempermudah dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat. Dalam rangka pembentukan Peraturan Bupati tentang kecamatan, perlu terlebih dahulu dibuat naskah akademik sebagai dasar penyusunan Peraturan Bupati tersebut. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka permasalahan yang akan menjadi pokok bahasan dalam tulisan ini adalah: Apa sajakah pelimpahan kewenangan Pemerintah Kabupaten kepada Kecamatan? Bagaimanakah kewenangan kecamatan yang menerima pelimpahan dari Bupati diberbagai daerah? Tujuan dan Manfaat Studi Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan diatas maka dapat dikemukakan tujuan penelitian yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah sebagai berikut : Tujuan Penelitian Untuk mengetahui pelimpahan kewenangan Pemerintah Kabupaten kepada Kecamatan. Untuk mengetahui kewenangan kecamatan yang menerima pelimpahan dari Bupati diberbagai daerah. Manfaat Penelitian Manfaat teoritis yaitu sebagai bahan masukan untuk pengembangan ilmu hukum pada umumnya, khususnya pada hukum pemerintahan. Manfaat praktisnya yaitu memberikan solusi dalam memecahkan

5

masalah yang diteliti yaitu kemungkinan implementasi serta permasalahan yang timbul untuk Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat. Ruang Lingkup Studi Sesuai dengan latar belakang masalah maka ruang lingkup penelitian ini ditentukan secara tegas agar tidak terlalu meluas sehingga ruang lingkup penelitian hanya mengarah pada implementasi pemberian kewenangan oleh Pemda kepada Kecamatan dan permasalahan yang muncul setelah adanya pemberian kewenangan. Landasan Teoritik Teori Perundang-undangan Salah satu prinsip negara hukum adalah semua tindakan pemerintah harus didasarkan pada hukum tertulis (UndangUndang) atau asas legalitas. Asas tersebut menandakan bahwa hukum harus tertulis dan semua tindakan yang diambil harus menggunakan dasar hukum tertulis, suatu tindakan tidak sah ketika tidak memiliki landasan tertulis. Scheltema sebagaimana dikutip Azhari, menyebutkan beberapa unsur negara hukum, antara lain :1 Asas kepastian hukum, unsur-unsur turunannya adalah : Asas legalitas; Undang-undang yang mengatur tindakan yang berwenang sedemikian rupa sehingga warga dapat mengetahui apa yang diharapkan; Undang-undang yang tidak boleh berlaku surut; Hak azazi dijamin undang-undang; Pengendalian yang bebas dari pengaruh kekuasaan lain. Asas persamaan, unsur-unsur turunannya adalah : Tindakan yang berwenang diatur dalam undang-undang
1 Azhari, Negara Hukum Indonesia- Analis Normatif Tentang Unsur-unsurnya, UI Press, 1995,

hlm 50

dalam arti materiil; Adanya pemisahan kekuasaan. Asas demokrasi, unsur-unsur turunannya : Hak untuk memilih dan dipilih bagi warga negara; Peraturan untuk badan yang berwenang ditetapkan oleh parlemen; Parlemen mengawasi tindakan pemerintah. Asas pemerintahan untuk rakyat, unsur-unsur turunannya : Hak asasi dijamin Undang-Undang Dasar; Pemerintahan secara efektif dan efisien. Konsep di atas sejalan dengan pemikiran bahwa fungsi hukum adalah untuk menjamin kepastian dan menjaga agar setiap perkara diselesaikan melalui proses hukum yang berlaku.2 Kaidah hukum itu sendiri terdiri atas suatu keseluruhan hirarki kaidah hukum khusus yang bertumpu pada kaidah-kaidah hukum umum. Kelsen mengatakan bahwa hukum termasuk dalam system norma yang dinamik, karena itu hukum selalu dibentuk dan dihapus oleh lembaga-lembaga atau otoritas-otoritas yang berwenang membentuknya. Hukum itu sah bila dibuat oleh lembaga atau otoritas yang berwenang membentuknya dan berdasarkan norma yang lebih tinggi sehingga dalam hal ini norma yang lebih rendah dapat dibentuk oleh norma yang lebih tinggi sehingga membentuk suatu hirarki.3 Teori tersebut dalam ilmu perundang-undangan dikenal dengan stufentheorie atau teori penjenjangan norma. Selain berjenjang norma juga terdiri dari empat kelompok besar, yaitu :4 Staatsfundamentalnorm (norma fundamental negara) Staatsgrundgezetz negara)
2 R.Soeroso, Pengantar Ilmu Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2002, hlm 59 3 J.J.H. Bruggink, Refleksi Tentang Hukum , Alih bahas oleh Arief Sidharta, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999, hlm113 4 Maria Farida Indrati, Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan , UI Press, Jakarta, 2000, hal 44-47

(aturan

dasar

negara/aturan

pokok

7

Formell Gezetz (undang-undang formal) Verondnung & Autonome Satzung (aturan pelaksana & aturan otonom). Selain terkait dengan penjenjangan norma, suatu peraturan perundang-undangan juga harus memenuhi beberapa persyaratan yuridis (juridische gelding) yang antara lain :5 Keharusan adanya kewenangan dari pembuat undangundang, setiap peraturan perundang-undangan harus dibuat oleh badan atau pejabat yang berwenang, kalau tidak, peraturan perundang-undangan tersebut batal demi hukum (vanrechtwegeneitig), dianggap tidak pernah ada dan segala akibatnya batal secara hukum. Keharusan adanya kesesuaian bentuk atau jenis peraturan perundang-undangan dengan materi yang diatur, terutama kalau diperintahkan oleh perundang-undangan tingkat lebih tinggi atau sederajat. Keharusan mengikuti tata cara tertentu, apabila tata cara tersebut tidak diikuti, maka peraturan perundangundangan tersebut batal demi hukum. Keharusan tidak bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi. Disamping sangat sesuai itu juga terdapat butir-butir syarat sosiologis yang

mencerminkan kenyataan dalam kehidupan masyarakat, Hal ini dengan konsep sebagaimana dikemukakan oleh Prof. Sudikno Mertokusumo bahwa hukum atau perundang-undangan akan dapat berlaku secara efektif apabila memenuhi tiga daya laku sekaligus yaitu filosofis, yuridis, dan sosiologis. Disamping itu juga harus memperhatikan efektifitas/daya lakunya secara ekonomis dan politis. Masing-masing unsur atau landasan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
5 Bagir Manan, Dasar-dasar Perundang-undangan di Indonesia, Indo Hill, Jakarta, 1985, hlm 14

Landasan filosofis, maksudnya agar produk hukum yang diterbitkan oleh Pemerintah jangan sampai bertentangan dengan nilai-nilai hakiki ditengah-tengah masyarakat, dan erat kaitannya dengan cita hukum (rechtsidee) yaitu nilai dasar dari hukum yakni keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum, misalnya agama dan adat istiadat; Landasan yuridis berarti bahwa perundang-undangan tersebut harus sesuai dengan asas-asas hukum yang berlaku dan dalam proses penyusunannya sesuai dengan aturan main yang ada.; Produk-produk hukum yang dibuat harus memperhatikan unsur sosiologis, sehingga setiap produk hukum yang mempunyai akibat atau dampak kepada masyarakat dapat diterima oleh masyarakat secara wajar bahkan spontan; Landasan ekonomis, yang maksudnya agar produk hukum yang diterbitkan oleh Pemerintah daerah dapat berlaku sesuai dengan tuntutan ekonomis masyarakat dan mencakup berbagai hal yang menyangkut kehidupan masyarakat, misalkan kehutanan dan pelestarian sumberdaya alam; Landasan politis, maksudnya agar produk hukum yang diterbitkan oleh pemerintah daerah dapat berjalan sesuai dengan tujuan tanpa menimbulkan gejolak ditengahtengah harus masyarakat. selalu peraturan perundang-undangan sarana utama ditempatkan sebagai

melakukan perubahan-perubahan sosial. Tidak dipenuhinya kelima unsur daya laku tersebut diatas akan berakibat tidak dapat berlakunya hukum dan perundangundangan secara efektif. Kebanyakan produk hukum yang ada saat ini hanyalah berlaku secara yuridis tetapi tidak berlaku secara filosofis dan sosiologis. Ketidaktaatan asas dan keterbatasan kapasitas daerah dalam penyusunan produk hukum yang

9

demikian ini yang dalam banyak hal menghambat pencapaian tujuan otonomi daerah. Dalam hal ini, keterlibatan masyarakat akan sangat menentukan aspek keberlakuan hukum secara efektif. Teori Kewenangan Kewenangan adalah otoritas (Authority) yang dimiliki suatu lembaga untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Kewenangan merupakan wujud nyata dari kekuasaan. Kekuasaan mengandung makna kemampuan untuk mempengaruhi tingkah laku pelaku lain sedemikian rupa, sehingga tingkah laku terakhir menjadi sesuai dengan keinginan dari pelaku yang mempunyai kekuasaan.6 Istilah wewenang menurut Philipus M. Hadjon digunakan dalam bentuk kata benda, istilah ini seringkali dipergunakan dan ditukarkan dengan istilah kewenangan. Istilah wewenang atau kewenangan sering disejajarkan dengan istilah Bevoegheid (dalam istilah Belanda). Dalam Hukum Tata Negara ”Wewenang” (Bevoegheid) dideskripsikan sebagai kekuasaan hukum. Jadi dalam konsep Hukum Publik wewenang berkaitan dengan kekuasaan.7 Cara memperoleh kewenangan pemerintahan, dapat dilakukan dengan ”Mandate” yang ditempatkan sebagai cara tersendiri untuk memperoleh wewenang, Sedangkan ”Atribusi” dikatakan sebagai cara normal untuk juga dikatakan bahwa atribusi adalah merupakan wewenang untuk membuat keputusan(Besluit) yang langsung bersumber dari undang-undang dalam arti materiil. Dalam keputusan Hukum Administrasi, acara utama untuk memperoleh wewenang pemerintahan yaitu Atribusi dan Delegasi. Kewenangan Atributif, yakni kewenangan asli (orisinil) yang diberikan Undang-Undang Dasar dan Undang-Undang kepada lembaga atau pejabat tertentu. Sedangkan kewenangan
6 Bivitri Susanti, Semua Harus Terwakili: Studi Mengenai Reposisi MPR,DPR dan Lembaga Kepresidenan di Indonesia (Jakarta,PSHK,2000) hlm.6 7 Philipus M. Hadjon,”Tentang Wewenang”, Jurnal Yuridika, No. 5 dan 6 Tahun XII, Sep-Des l997.

Delegatif/Derivatif adalah kewenangan yang diberikan oleh pemegang kewenangan atributif kepada pejabat atau lembaga tertentu di bawahnya, untu mengatur lebih lanjut peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh pemegang kewenangan atributif.8 Kewenangan atau wewenang (authority, gezag) adalah suatu istilah yang biasa digunakan dalam lapangan hukum publik. Namun sesungguhnya terdapat perbedaan diantara keduanya. Kewenangan adalah kekuasaan yang diformalkan baik terhadap segolongan orang tertentu, maupun kekuasaan terhadap suatu bidang pemerintahan tertentu secara bulat. Sedangkan mengenai wewenang (Competence,bevoegheid) tertentu saja merupakan kaitannya kumpulan sama hanya dari dari suatu ”onderdeel”(bagian) kewenangan sangat erat

kewenangan. 9Jadi Kewenangan

wewenang-wewenang (rechtsbevoegheden). perbuatan pemerintah dalam penyelenggaraan pemerintahan. Perbuatan pemerintah harus memiliki dasar kewenangan yang sah dari Peraturan Perundang-undangan. Tanpa adanya kewenangan yang sah seorang pejabat ataupun badan tata usaha negara tidak dapat melakukan perbuatan pemerintahan. Oleh karena itu, kewenangan yang sah merupakan atribut bagi setiap pejabat ataupun bagi setiap badan. Jadi setiap perbuatan pemerintah harus tunduk kepada Peraturan Perundang-undangan. Hal tersebut merupakan penerapan dari prinsif asas legalitas yang dijadikan dasar dalam penyelenggaraan pemerintahan di setiap negara hukum. Dengan kata lain, setiap perbuatan pemerintah dalam penyelenggaraan pemerintahan harus memiliki legitimasi atau kewenangan yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan. Dengan demikian substansi asas legalitas
8 Mien Usihen,Peraturan Menteri Menurut Undang_Undang Nomor 10 Tahun 2004, Makalah tersedia di http/www.legalitas.org(di download april 20l0) 9 SF. Marbun, Peradilan Administrasi Negara dan Upaya Administratif di Indonesia, Cetakan I, Liberty, Yogyakarta, l997,hlm.154

11

adalah wewenang. 10 Hal senada juga disebutkan oleh H.D. Van Wijk, bahwa pemerintahan menurut undang-undang adalah pemerintahan mendapat kekuasaan diberikan kepadanya oleh undang-undang atau undang-undang dasar. 11 Pernyataan ini diperkuat oleh Indroharto, yang mengatakan bahwa ”tanpa adanya dasar wewenang yang diberikan oleh suatu peraturan perundangundangan yang berlaku, segala macam aparat pemerintah itu tidak akan memiliki wewenang yang dapat mempengaruhi atau mengubah keadaan atau posisi hukum warga masyarakatnya”.12 Menurut R.J.H.M.Huisman, organ pemerintahan tidak dapat bahwa ia memiliki sendiri wewenang pemerintahan. Kewenangan hanya diberikan oleh undang-undang. Pembuat undang-undang dapat memberikan wewenang pemerintahan tidak hanya pada organ pemerintahan, tetapi juga terhadap para pegawai atau terhadap badan khusus atau bahkan terhadap badan hukum privat.13 Wewenang adalah kemampuan untuk melakukan suatu tindakan hukum publik atau secara yuridis wewenang wewenang adalah kemampuan bertindak yang diberikan oleh undangundang yang berlaku untuk melakukan hubungan-hubungan hukum. 14 Menurut pengertian umum atau bahasa,wewenang adalah:15 Hak dan kekuasaan untuk bertindak atau melakukan sesuatu; ekuasaan membuat keputusan, memerintah dan melimpahkan tanggungjawab kepada orang lain H.D. Stout mengatakan bahwa wewenang adalah pengertian yang berasal dari hukum organisasi pemerintahan, yang dapat
10 Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara, cetakan I,UUI Press, Yogyakarta, 2002, hlm.95 11 Irfan Fachruddin, op cit, hlm.44 12 Indroharto,Usaha Memahami Undang-Undang Tentang Peradilan Tata Usaha Negara, Cetakan I,Sinar Harapan, Jakarta,1993, hlm. 83 13 Ridwan, op cit, hlm. 74 14 SF. Marbun, op cit, hlm.154 15 Anton M.Moeliono,dkk, Kamus Umum Bahasa Indonesia, cetakan I, Balai Pustaka, Jakarta,l955,hlm. 533

dijelaskan sebagai keseluruhan aturan-aturan yang berkenaan dengan perolehan dan penggunaan wewenang-wewenang pemerintahan oleh subyek hukum publik di dalam hubungan hukum publik.16 Hal ini senada dengan pendapat Prajudi Atmosudirjo yang memberikan definisi tentang wewenang sebagai kekuasaan untuk melakukan suatu tindakan hukum publik.17 Menurut F.P.C.L. Tonnaer, kewenangan pemerintah dalam kaitan ini dianggap sebagai kemampuan untuk melaksanakan hukum positif, dan dengan begitu, dapat dicptakan hubungan hukum antara pemerintah dengan warga negara.18 F.A.M. Stroink dan J.G. Steenbeek menyebut kewenangan sebagai konsep inti dalam hukum tata negara dan hukum administrasi. Dimana kewenangan yang didalamnya terkandung hak dan kewajiban. 19 Sedangkan P. Nicolai, kewenangan adalah kemampuan untuk melakukan tindakan hukum tertentu, yaitu tindakan-tindakan yang dimaksudkan untuk menimbulkan akibat hukum, dan mencakup mengenai timbul dan lenyapnya akibat hukum tertentu. 20 Menurut Bagir Manan, wewenang dalam bahasa hukum tidak sama dengan kekuasaan (macht). Kekuasaan hanya menggambarkan hak untuk berbuat atau tidak berbuat. Dalam hukum, wewenang sekaligus berarti hak dan kewajiban (rechten en plichten).21 Sedangkan menurut Herbert A. Simons, wewenang adalah suatu kekuasaan untuk mengambil keputusan dan berkaitan dengan hubungan atasan atau pimpinan dengan bawahan.22 Adapun menurut Soerjono Soekanto, wewenang adalah kekuasaan yang ada pada seseorang atau kelompok orang yang mempunyai dukungan atau mendapat pengakuan dari
16 Ridwan, op cit, hlm.40 17 Prajudi Atmosudirdjo, Hukum Administrasi Negara, Cetakan I Galia Indonesia, Jakarta, l981, hlm. 72 18 Ridwan, op cit, hlm. 72 19 Ibid, hlm. 72-73 20 Ibid., hlm. 66 21 Ibid, hlm, 72-73 22 Herbert A. Simons, Prilaku Administrasi (Terjemahan), Cetakan I, PT Bina Aksara, Jakarta ,l984, hlm.

195

13

masyarakat.23 Dari sekian definisi yang diuraikan tersebut diatas, wewenang merupakan kemampuan atau kekuasaan yang diperoleh oleh lembaga atau seseorang untuk melakukan suatu tindakan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang dimaksudkan untuk menimbulkan akibat tertentu yang mencakup han dan sekaligus kewajiban, baik antara pemerintah dengan warga negara atau atasan dengan bawahan. Dari segi sumber kewenangan itu lahir, maka kewenangan itu diperoleh dari dua cara, yaitu : Atribusi; Pelimpahan wewenang yang terdiri dari delegasi dan mandat. Kewenangan atribusi lazimnya digariskan atau berasal dari adanya pembagian kekuasaan negara oleh undang-undang dasar. Istilah lain untuk kewenangan atributif adalah kewenangan asli atau kewenangan yang tidak bisa dibagi-bagikan kepada siapapun24 atau wewenang yang melekat pada suatu jabatan.25 Atribusi terjadi pemberian wewenang pemerintahan yang baru oleh suatu ketentuan dalam peraturan perundang-undangan,26 Legislator yang kompeten memberikan atribusi wewenang pemerintahan dibedakan menjadi dua yaitu :27 Berkedudukan sebagai original legislator antara lain MPR sebagai DPRD pembentuk dan konstitusi, DPR bersama-sama melahirkan pemerintah sebagai yang melahirkan undang-undang dan Pemerintah Daerah yang peraturan daerah ; Delegated Legislator, seperti Presiden yang berdasarkan ketentuan
80 24 77

undang-undang

menciptakan

wewenang-

23 Soerjono Soekanto, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, Cetakan I, Rajawali Pers, Jakarta,l988, hlm. 79Lutfi Effendi,Pokok-Pokok Hukum Administrasi,cetakan III, Bayumedia Publishing, Malalng, 2004, hlm.

25 Philipus M. Hadjon, dkk, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Cetakan X, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 2008, hlm. 130 26 Indroharto, op cit, hlm. 91 27 Ibid

wewenang pemerintahan kepada badan atau jabatan tata usaha negara tertentu. Pembentukan perundang-undangan yang dilakukan baik oleh pembentuk maupun undang-undang pembentuk orisinil (originaire yang wetgevers) diwakilkan undang-undang

(gedelegeerde wetgevers) memberikan kekuasaan kepada suatu organ pemerintah yang dibentuk pada kesempatan itu atau kepada organ pemerintah yang sudah ada. Hal ini senada dengan dinyatakan oleh H.D.Van Wijk bahwa pembuat undang-undang menciptakan suatu wewenang pemerintahan (yang baru) dan menyerahkannya kepada suatu lembaga pemerintahan. Ini bisa berupa lembaga pemerintahan yang telah ada, atau suatu lembaga pemerintahan baru yang diciptakan pada kesempatan tersebut.28 Kewenangan delegasi merupakan kewenangan yang bersumber dari pelimpahan suatu organ pemerintahan kepada organ lain dengan dasar peraturan perundang-undangan. 29 Adapun mandat merupakan kewenangan yang bersumber dari proses atau prosedur pelimpahan dari pejabat atau badan yang lebih tinggi kepada pejabat atau badan yang lebih rendah (atasan bawahan).30 H.D. Van Wijk/Willem Konijnenbelt mendefinisikan sebagai berikut:31 Atribusi adalah pemberian wewenang pemerintahan oleh pembuat undang-undang kepada organ pemerintah. Delegasi adalah pelimpahan wewenang pemerintahan dari satu organ pemerintahan kepada organ pemerintahan lainnya. Mandat terjadi ketika organ pemerintahan mengizinkan kewenangannya dijalankan oleh organ lain atas namanya.
28 Irfan Fachruddin, op cit, hlm. 50 29 Lutfi Effendi, op cit, hlm.79 30 Ibid, hlm. 78 31 Ridwan HR, op cit, hlm. 75

15

Berbeda dengan Van Wijk, F.A.M. Stroink dan J.G. Steenbeek menyebutkan bahwa hanya ada dua cara organ pemerintahan memperoleh wewenang, yaitu atribusi dan delegasi. Atribusi berkenaan dengan penyerahan atau suatu wewenang baru, sedangkan delegasi menyangkut pelimpahan wewenang dari wewenang yang telah ada. Jadi delegasi secara logis selalu didahului oleh atribusi.32 Dalam wewenang yang didelegasikan dapat mengandung suatu kekurangan, 33 misalnya wewenang tersebut memang tidak mungkin didelegasikan, delegasi memang dimungkinkan, tetapi kenyataannya tidak pernah terjadi pendelegasian atau delegasi memang mungkin dilakukan, tetapi pendelegasiannya tidak dilakukan dengan cara yang tepat. Dalam hal mandat menurut F.A.M. Stroink dan J.G. Steenbeek34 menjelaskan bahawa pada mandat tidak dibicarakan mengenai penyeranhan wewenang, tidak pula pelimpahan wewenang. Dalam hal mandat tidak terjadi perubahan wewenang apapun (setidak-tidaknya dalam arti yuridis formal). Yang ada hanyalah hubungan internal. Indroharto menambahkan bahwa ”mandat” tidak terjadi perubahan wewenanga yang sudah ada dan merupakan hubungan internal pada suatu badan, atau penugasan bawahan melakukan suatu tindakan atas nama dan atas tanggungjawab mandat.35 Menurut H.D. Van Wijk, dikenal ”mandat bukan pada bawahan”. mandat yang demikian hanya sah jika dipenuhi tiga syarat:36 Mandataris menerima pemberian mandat; Wewenang yang diberikan adalah wewenang sehari-hari; dan Ketentuan perundang-undangan tidak menentang

32 Ibid 33 Indroharto, op cit, hlm. 91-92 34 Ridwan, op cit, hlm. 76 35 Indroharto, op cit. hlm. 92 36 Irfan Fahruddin, op cit, hlm. 54

pemberian mandat Di dalam Algemene Wet Bestuurrecht (AWB), mandat berarti pemberian wewenang oleh organ pemerintah kepada organ lainnya untuk mengambil putusan atas namanya. Sedangkan delegasi adalah pelimpahan wewenang oleh organ pemerintahan kepada orang lain untuk mengambil keputusan dengan tanggungjawab sendiri.37 Kewenangan tidak hanya dilihat dari sumber kewenangannya saja tapi juga dapat dilihat dari segi batasan kewenangannya (Isi/materi, wilayah, dan waktu), maka kewenangan terdiri dari :38 Kewenangan absolut, yakni kewenangan berdasar atas materi/isi dari wewenang yang dimaksud, atau kewenangan tersebut tentang obyek apa; Kewenangan relatif, yakni kewenangan berdasar atas wilayah hukum atau lokasi dimana kewenangan tersebut dapat dilakukan operasionalnya; Kewenangan temporis, yakni kewenangan berdasar atas waktu atau masa kapan kewenangan tersebut dilakukan. Dalam kewenangan temporis ini akan dilihat masa berlakunya suatu kewenangan yang ada pada pejabat ataupun pada badan tata usaha negara. Selain itu kewenangan juga dapat dilihat dari segi cacat kewenangan atau tidak berwenang (onbevoegdheid), yakni terdiri dari :39 Onbevoegdheid rational materiale, yaitu tidak berwenang karena materi atau persoalan yang dimuat dalam keputusan, tidak merupakan bagian dari wewenangnya; Onbevoegdheid rational loci, yakni suatu keputusan yang dibuat oleh badan atau pejabat yang tidak berwenang membuatnya, karena melampaui atau di luar ruang
37 Ibid 38 Ibid, hlm. 79-80 39 S.F. Marbun, Peradilan Administrasi ….., op cit, hal. L32-l33

17

lingkup

wilayah

yang

merupakan

wilayah

kewenangannya; dan Onbevoegdheid ratione tempori, yaitu suatu keputusan yang dibuat oleh badan atau pejabat tata usaha negara yang tidak berwenang, karena telah lewat waktunya yang telah ditentukan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. Metode Studi Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitis, artinya penelitian yang memberikan data atau gambaran mengenai obyek dari permasalahan40. Gambaran tersebut berupa fakta-fakta disertai analisis dengan bertitik tolak dari perundang-undangan, teori-teori yang ada dan pendapat para ahli yang bertujuan untuk mencari dan mendapatkan jawaban dari pokok masalah yang akan dibahas, yang berhubungan dengan materi yang diteliti berkaitan dengan Pelimpahan Kewenangan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur Kepada Kecamatan. Metode Pendekatan Untuk memecahkan atau menjawab masalah-masalah yang telah dirumuskan dalam rumusan masalah sebagai objek penelitian, digunakan beberapa pendekatan yaitu : Pendekatan Filosofis (Philosophical Approach) yakni Pendekatan yang menelaah isu hukum (legal issues) secara menyeluruh, mendalam pendekatan (mendasar), filosofis dan spekulatif. Dalam penelitian hal ini yang mengarahkan

fundamental41, yaitu suatu penelitian untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam terhadap implikasi sosial dan dampak penerapan suatu peraturan perundangan yang terhadap masyarakat atau kelompok masyarakat

melibatkan ilmu lainnya terhadap pemberlakuan suatu
40 Ibid, hlm.15. 41Op. Cit, halaman 320-321

peraturan hukum. Pendekatan Peraturan Perundang-Undangan (statute approach) yakni dengan mengkaji peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pelimpahan kewenangan Pemerintah Kabupaten kepada Kecamatan. Berkenaan dengan ini penelitian memandang hukum sebagai sistem tertutup yang mengandung sifat42: Comprehensive artinya norma-norma hukum yang ada di dalamnya terkait antara satu dengan lain secara logis; All-inclusive, kumpulan norma hukum tersebut cukup mampu menampung permasalahan hukum yang ada, sehingga tidak akan ada kekurangan yang ada; Systematic, bahwa di samping bertautan antara satu dengan yang lain, norma-norma hukum tersebut tersusun secara hierarkis. Berkenaan dengan itu, Penelitian ini juga meliputi sinkronisasi hukum yang vertikal dan horisontal, yakni mengkaji perundang-undangan suatu bidang kehidupan tertentu yang tidak saling bertentangan dan sesuai dengan pertingkatan perundang-undangan. Pendekatan Konseptual (conceptual approach) yang mengkaji pandangan ahli yang berkaitan dengan Pelimpahan Kewenangan Pemerintah Kabupaten kepada Kecamatan. Pendekatan ini bersifat kualitatif untuk memahami makna permasalahan substantif menyangkut nilai, azas dan norma serta peraturan hukum yang berlaku; Sumber dan Jenis Bahan Hukum Sumber bahan hukum diperoleh dari : Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat, antara lain : UU No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah,
42Diketengahkan oleh Haryono dalam Johnny Ibrahim, Teori & Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Surabaya, Bayumedia Publishing, 2007, halaman 303.

19

Lembaran Negara RI Tahun 2004 No. 125; PP No. 19 Tahun 2008 Tentang Pengadaan Kecamatan, Lembaran Negara RI Tahun 2008 No. 40; Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4826; Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 4 Tahun 2010 Tentang Pedoman Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan; Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 158 Tahun 2004 Tentang Pedoman Organisasi Kecamatan. Bahan hukum sekunder yaitu bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, seperti dokumen-dokumen resmi, buku-buku dan hasil penelitian, atau pendapat pakar hukum yang terkait dengan masalah yang diteliti. Analisis Studi Analisis dari studi ini bersifat deskriptif. Penelitian ini dikatakan bersifat deduktif, karena berdasarkan teori atau konsep yang bersifat umum diaplikasikan untuk menjelaskan tentang seperangkat bahan hukum atau menunjukkan hubungan seperangkat peraturan hukum dengan peraturan hukum yang lain.43 Sementara itu, karena bahan hukum yang dikumpulkan relatif sedikit dan berwujud kasus-kasus sehingga tidak dapat disusun ke dalam suatu struktur klasifikasi maka analisis yang dipergunakan adalah kualitatif.

43 Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum (suatu pengantar), PT.Raja Grafindo Persada, Cetakan V, 2003, Halaman 38

BAB II TINJAUAN UMUM Desentralisasi Pemerintahan Daerah Indonesia mengalami pasang surut dalam hal hubungan pusat dan daerah, beberapa tahun sejak kemerdekaan pola hubungan yang diambil adalah otonomi luas yang memberi keleluasaan pada daerah untuk mengelola diri sendiri, hal itu diselingi dengan berubahnya NKRI menjadi RIS yang merupakan bentuk Negara federal, dilanjutkan masa orde baru yang menerapkan bentuk sentralistik, setelah rezim suharto tidak lagi berkuasa, isu desentralisasi kembali dimunculkan, desentralisasi diatur dengan munculnya UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah. Prinsip otonomi daerah yang digunakan pada saat itu adalah otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab. Otonomi yang luas adalah keleluasaan daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan yang mencakup kewenangan semua bidang pemerintahan kecuali bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama, serta kewenangan lain yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Otonomi nyata adalah keleluasaan daerah untuk menyelenggarakan kewenangan pemerintah di bidang tertentu yang secara nyata ada dan diperlukan serta tumbuh hidup, dan berkembang di daerah, sedangkan otonomi yang bertanggung sebagai jawab adalah berupa pemberian perwujudan hak dan pertanggungjawaban konsekuensi

kewenangan kepada daerah dalam wujud tugas dan kewajiban yang dipikul oleh daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi, berupa peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik, pengembangan kehidupan demokrasi, keadilan, pemerataan, serta pemeliharaan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah dalam rangka menjaga keutuhan NKRI. Alasan-alasan dianutnya desentralisasi dalam UU No. 32 Tahun 2004 menurut The Liang Gie sebagaimana terdapat dalam Dadang Solihin antara lain menyebutkan:44
44 Dadang Solihin, Otonomi Daerah, dalam WWW.Dadangsolihin.Com

21

Dari Sudut Politik : Untuk mencegah penumpukan kekuasaan pada satu pihak saja yang ahirnya dapat menimbulkan tirani Untuk menarik rakyat ikut serta dalam pemerintahan dan melatih diri dalam mempergunakan hak-hak berdemokrasi. Dari Sudut Teknis Organisatoris Pemerintahan : Apa yang dianggap lebih utama untuk diurus oleh pemerintah setempat, pengurusannya diserahkan kepada daerah. Hal-hal yang lebih tepat di tangan pusat tetap diurus oleh pemerintah pusat. Dari Sudut Cultural : Supaya perhatian dapat sepenuhnya dilimpahkan kepadakekhususan suatu daerah, seperti geografi, keadaan penduduk, kegiatan ekonomi, watak kebudayaan atau latar belakang sejarahnya. Dari Sudut Pembangunan Ekonomi : Pemerintah daerah (pemda) dapat lebih banyak dan secara langsung membantu pembangunan daerahnya. Sedangkan menurut pendapat Mariun, 45 alasan dianutnya

desentralisasi adalah demi tercapainya efektivitas pemerintahan dan demi terlaksananya demokrasi dari bawah (grassroots democracy). Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan alasan dianutnya asas desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan antara lain: Agar tidak terjadi penumpukan kekuasaan yang mengakibatkan timbulnya tirani. Desentralisasi adalah suatu tindakan pendemokrasian rakyat. Agar tercapai pemerintahan yang efektif dan efisien. Masyarakat dapat berperan aktif dalam pemerintahan. Penyelenggaraan desentralisasi dalam rangka otonomi daerah mensyaratkan pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Seperti yang tercantum dalam PP No. 38
45 Mariun, Azas-azas Ilmu Pemerintahan, Fisip, UGM, Yogyakarta, 1975, hlm 30

Tahun

2007

tentang

Pembagian

Urusan

Pemerintahan

Antara

Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, urusan pemerintahan terdiri dari urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah dan urusan pemerintahan yang dikelola secara bersama antar tingkatan dan susunan pemerintahan. Urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah sebagaimana tercantum dalam pasal 10 UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah adalah urusan dalam bidang politik luar negeri, pertahanan, keamanan, moneter dan fiskal nasional, yustisi, dan agama. Urusan pemerintahan yang dapat dikelola secara bersama antar tingkatan dan susunan pemerintahan antara lain urusan-urusan pemerintahan selain urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi urusan pemerintah pusat. Guna mewujudkan pembagian urusan pemerintahan tersebut secara proporsional antara pemerintah dan pemda maka ditetapkan kriteria pembagian urusan pemerintahan yang meliputi eksternalitas, akuntabilitas dan efisiensi, seperti yang tercantum dalam pasal 11 ayat (1) UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Penggunaan ketiga kriteria tersebut diterapkan secara kumulatif sebagai satu kesatuan dengan mempertimbangkan keserasian dan keadilan hubungan antar tingkatan dan susunan pemerintahan. Kriteria eksternalitas berdasarkan atas pemikiran bahwa tingkat pemerintahan ditentukan yang berwenang jangkauan urusan atas dampak suatu yang tersebut. urusan pemerintahan dalam mencegah oleh diakibatkan Untuk

penyelenggaraan

pemerintahan

terjadinya tumpang tindih pengakuan atas dampak tersebut, maka ditentukan kriteria akuntabilitas yaitu tingkat pemerintahan yang paling dekat dengan dampak yang timbul adalah yang paling berwenang untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan tersebut. Urusan yang menjadi kewenangan daerah terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan. Urusan pemerintahan wajib adalah urusan pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh pemda yang terkait dengan

23

pelayanan dasar (basic services) bagi masyarakat, seperti pendidikan dasar, kesehatan, lingkungan hidup, perhubungan, kependudukan dan sebagainya. Urusan pemerintahan yang bersifat pilihan adalah urusan pemerintahan yang diprioritaskan oleh pemda untuk diselenggarakan yang terkait dengan upaya mengembangkan potensi unggulan (core competence) yang menjadi kekhasan daerah. Urusan pemerintahan di luar urusan wajib dan urusan pilihan yang diselenggarakan oleh pemda, sepanjang menjadi kewenangan daerah yang bersangkutan tetap harus diselenggarakan oleh pemda yang bersangkutan. Bila dikaitkan dengan pelaksanaan otonomi daerah menurut UU No. 32 Tahun 2004, maka pemerintah pusat telah menyelenggarakan asas desentralisasi yaitu penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah pusat kepada daerah otonom. Desentralisasi merupakan alat untuk mewujudkan pemerintahan lokal yang lebih terbuka, efektif, responsif serta untuk meningkatkan system yang representasional dalam pengambilan keputusan di masyarakat, dengan memberi kesempatan kepada masyarakat lokal dan regional untuk mengatur urusan mereka sendiri dan melalui hubungan antara pemerintah pusat dan daerah, system yang efektif dari pemda memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan prioritasnya lebih didahulukan. Sehubungan dengan hal tersebut, prinsip pokok desentralisasi mencakup tiga hal yakni :46 Sharing of power (pembagian kewenangan); Distribution of income (pembagian pendapatan) Empowering (kemandirian administrasi pemda). Desentralisasi diartikan pula sebagai suatu system, dimana bagianbagian dan tugas negara diserahkan penyelenggaranya kepada organ yang sedikit banyak mandiri.47 Joko Widodo menyebutkan desentralisasi adalah pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat kepada satuan-satuan organisasi pemerintahan untuk menyelenggarakan segenap kepentingan
46 Arif Nasution,dkk, Demokratisasi & Problema Otonomi Daerah, Mandar Maju, Bandung, 2000,

hlm 79

47 Joko Widodo,Good Governance Telaah Dari Dimensi: Akuntabilitas Dan Kontrol Birokrasi Pada Era Desentralisasi Dan Otonomi Daerah,Insan Cendikia,2001, hlm 39-40

setempat dari sekelompok penduduk yang mendiami suatu wilayah. Desentralisasi menurut Bryant dan White sebagaimana dikutip oleh Joko Widodo dapat bersifat administratif dan politik, desentralisasi administratif biasanya disebut dekonsentrasi dan berarti delegasi wewenang pelaksanaan kepada tingkat lokal, dan bekerja dalam kapasitas yang telah ditentukan, baik dalam soal perencanaan maupun dalam hal biaya, sedangkan desentralisasi politik atau devolusi berarti wewenang pembuatan keputusan dan kontrol tertentu terhadap sumber-sumber daya diberikan pada pejabat regional dan lokal, tujuannya demi pemberdayaan lokal. Tjokroamidjojo membedakan bentuk-bentuk desentralisasi dalam empat kelompok, yaitu :48 Dekonsentrasi, delegasi kewenangan tidak dilakukan sepenuhya dan dalam banyak hal hanya merupakan alat pelaksanaan tugastugas pemerintah pusat yang perlu dilakukan didaerah tersebut; Devolusi, delegasi kewenangan serta hukum yang berarti penyerahan tugas-tugas pemerintahan berada di tangan daerah; Sertatantra, Untuk kegiatan tertentu di daerah, beberapa bagian kegiatan pemerintah pusat dapat dilakukan dalam hubungan kerja dengan pemda; Bentuk-bentuk kegiatan yang merupakan pembinaan pemerintah tetapi dilakukan berdasarkan inisiatif dan partisipasi masyarakat setempat. Sedangkan Amran Muslimin membedakan desentralisasi hanya menjadi tiga bagian, yaitu :49 Desentralisasi politik, yakni pelimpahan kewenangan dari pemerintah pusat yang meliputi hak mengatur dan mengurus kepentingan rumah tangga sendiri bagi badan-badan politik di daerah-daerah yang dipilih oleh rakyat dalam daerah-daerah tertentu; Desentralisasi fungsional adalah pemberian hak kepada golongangolongan tertentu untuk mengurus segolongan kepentingan
48 Tjokroamidjojo Bintoro, Pengantar Administrasi Pembangunan, LP3S,Jakarta, 1987, hlm 82 49 Martin Jimung, Politik local dan pemerintahan daerah dalam perspektif otonomi daerah, Pustaka Nusatama, 2005, hlm 32-33

25

tertentu dalam masyarakat, baik terikat maupun tidak pada suatu daerah tertentu; Desentralisasi kebudayaan adalah pemberian hak kepada golongangolongan minoritas dalam masyarakat untuk menyelenggarakan kebudayaan sendiri, seperti mengatur pendidikan, agama dan sebagainya. Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa

desentralisasi pada dasarnya adalah suatu proses penyerahan sebagian wewenang dan tanggung jawab dari urusan yang semula adalah urusan pempus kepada badan-badan atau lembaga-lembaga pemda agar menjadi urusan rumah tangganya sehingga urusan-urusan tersebut beralih kepada daerah dan menjadi wewenang serta tanggung jawab pemda. Josef Riwu Kaho sebagai mana dikutip Martin Jimung melihat kelebihan desentralisasi adalah sebagai berikut :50 Mengurangi bertumpuknya pekerjaan di pusat pemerintahan; Dalam menghadapi masalah yang amat mendesak pemda tidak perlu menunggu instruksi dari pusat; Dapat mengurangi birokrasi dalam arti buruk karena keputusan dapat segera dilaksanakan; Dapat diadakan pembedaan dan pengkhususan yang berguna bagi kepentingan-kepentingan tertentu; Daerah otonom dapat menjadi laboratorium dalam hal yang berhubungan dengan pemerintahan; Mengurangi kewenangan-kewenangan dari pusat, dan Desentralisasi secara psikologis dapat memberikan kepuasan bagi daerah karena sifatnya langsung. Riwu Kaho juga menyebutkan beberapa kelebihan desentralisasi yang antara lain mencakup resiko kerugian dalam bidang kepegawaian, fasilitas dan organisasi dapat terbagi-bagi, dan bagi organisasi yang kecil dapat memperoleh manfaat yang bisa diterapkan dari organisasi yang lebih
50 Ibid, hlm 37

besar di tempat masing-masing, dan satu lagi, sebelum suatu rencana dapat diterapkan secara keseluruhan maka dapat diterapkan dalam satu bagian terlebih dahulu sehingga bila rencana tersebut tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan, rencana tersebut dapat diubah. Pemerintahan Kecamatan Kehadiran Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 membawa berbagai paradigma baru dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah telah mengubah secara mendasar praktek-praktek pemerintahan. Salah satu perubahan paradigmanya adalah menyangkut kedudukan, tugas, fungsi dan kewenangan camat. Perubahan tersebut diawali dengan perubahan definisi mengenai kecamatan itu sendiri. Pada Undang-undang Nomor 5 tahun 1974, Kecamatan merupakan wilayah administratif dalam rangka dekonsentrasi yakni lingkungan kerja perangkat Pemerintah yang menyelenggarakan pelaksanaan tugas pemerintahan umum di Daerah. Sedangkan pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dimana Kecamatan merupakan wilayah kerja Camat sebagai perangkat Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Artinya apabila dulu kecamatan merupakan salah satu wilayah administrasi pemerintahan, selain Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kotamadya, kota administratif. Namun pada saat sekarang ini kecamatan bukan lagi wilayah administrasi pemerintahan melainkan wilayah kerja dari perangkat kerja Daerah, dengan perkataan lain dapat dikemukakan apabila dahulu kecamatan merupakan wilayah kekuasaan, maka pada masa sekarang ini kecamatan adalah wilayah pelayanan. Perubahan pengertian kecamatan sebagaimana dikemukakan di atas membawa konsekuensi pada perubahan kedudukan Camat sebagai pimpinan organisasi kecamatan. Apabila dahulu Camat adalah “Kepala Wilayah, yang memiliki kekuasaan sebagi penguasa tunggal di bidang pemerintahan. Pada masa sekarang, Camat bukan lagi penguasa wilayah, melainkan Perangkat Daerah yang bertugas memberi pelayanan tertentu kepada masyarakat dalam wilayah kerja tertentu.”51
51 Sadu Wasistiono,M.S, Prof, Dr. Kapita Selekta: Manajemen Pemerintahan Daerah, Fokusmedia, Bandung, 2003. hal 94.

27

Berfungsi tidaknya Camat akan sangat tergantung seberapa besar delegasi kewenangan yang diberikan oleh Bupati/Walikota kepadanya.Untuk kabupaten atau kota yang memiliki wilayah yang luas, atau dengan karakteristik wilayah yang berupa pulau-pulau, atau wilayah yang sistem transportasi dan komunikasinya belum lancar, pendelegasian kewenangan kepada camat merupakan suatu keharusan, untuk wilayah yang karakteristiknya seperti itu tidak akan efektif menggunakan sistem pelayanan manunggal satu atap. Hal tersebut akan mambuat pelayanan menjadi mahal dan lama, terutama bagi masyarakat yang jauh letaknya dari ibu kota Kabupaten/Kota. Konsep Kecamatan Menurut Tri Widodo beberapa keuntungan yang diperoleh dari model transfer of power atau pelimpahan kewenagan dari pemerintah Kabupaten/Kota kepada Kecamatan/Kelurahan ini antara lain adalah:52 Beban pemerintah daerah dalam penyediaan/pemberian layanan semakin berkurang karena telah diambil alih oleh Kecamatan atau Kelurahan/Desa sebagai ujung tombak. Pemerintah daerah tidak perlu membentuk kelembagaan yang besar sehingga dapat menghemat anggaran. Alokasi dan distribusi anggaran lebih merata keseluruh wilayah sehingga dapat menjadi stimulan bagi pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi regional. Sebagai wahana memberdayakan fungsi Kecamatan atau Kelurahan/Desa yang selama ini terabaikan. Uraian di atas menggambarkan bahwa pendelegasian kewenangan kepada Kecamatan akan membawa manfaat tidak saja kepada Kecamatan yang menerima limpahan, namun juga kepada Kabupaten/Kota yang bersangkutan. Di samping itu, kebijakan untuk melimpahkan kewenangan kepada unit organisasi yang lebih rendah ini juga memiliki manfaat pada 3 (tiga) bidang, yakni:
52 Tri Widodo W.Utomo, Pendelegasian Kewenangan Pemerintah Daerah Kepada Kecamatan dan Kelurahan, (Bandung Pusat Kajian I Lembaga Administrasi Negara, 2004), hal 3.

Politik: menciptakan pemerintah yang demokratis (egalitarian governance) serta untuk mendorong perwujudan good governance and good society. Sosial Ekonomi: mengurangi kesenjangan antar wilayah (regional disparity) atau ketimpangan (inequity), memacu pertumbuhan pembangunan (economic growth), mendorong prakarsa dan partisipasi publik, dan sebagainya. Administratif: mendorong efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan, mempercepat pelayanan publik, dan memperkuat kinerja pemerintahan secara umum. Pola Pendelegasian Kewenangan Kepada Camat Ada Pola dua pola pendelegasian yang sebagian untuk kewenangan semua dari Bupati/Walikota kepada Camat yaitu: pendelegasian seragam kecamatan (Homogen) Pola pendelegasian yang beraneka ragam sesuai karakteristik kecamatan bersangkutan (Heterogen) Pola pendelegasian yang seragam/homogen untuk semua kecamatan adalah mendelegasikan sebagian kewenangan Bupati/Walikota secara seragam di semua kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten/Kota bersangkutan, tanpa memperhatikan faktor-faktor dominan yang mempengaruhi implementasinya. Pola ini mudah dibuat tetapi tidak akomodatif terhadap kebutuhan pelayanan masyarakat. Penggunaan pola ini cenderung diikuti dengan pemberian anggaran, personil dan logistik yang sama untuk semua kecamatan. Pola pendelegasian yang kedua yakni beranekaragam (heterogen) yang disesuaikan dengan karakteristik kecamatan yang bersangkutan. Adapun faktor-faktor dominan yang mempengaruhi yaitu: Karakteristik geografis ( daratan atau kepulauan, dataran atau pegunungan) Karakteristik penduduk dilihat dari jenis pendidikan, dan mata pencaharian.

29

Karakter wilayah (perkotaan, perkebunan, pedesaan, perumahaan) Pola ini memerlukan upaya untuk membuatnya tetapi akan menghasilkan pendelegasian kewenagan yang cocok dengan kebutuhan pelayanan masyarakat. Melalui pendelegasian dengan pola ini akan dapat disusun perkiraan bentuk organisasi, kebutuhan anggaran, kebutuhan personil, serta kebutuhan logistik akan lebih tepat. Akan tetapi dalam perakteknya opsi pertamalah yang lebih banyak diterapkan. Padahal, setipis apapun perbedaannya, setiap kecamatan memiliki ciri khas yang membedakannya dengan kecamatan lainnya. Dilihat dari jenisnya, ada delapan macam kewenangan yang dapat didelegasikan oleh Bupati/Walikota kepada Camat, yaitu: Kewenangan perijinan Kewenangan rekomendasi Kewenangan koordinasi Kewenangan pembinaan Kewenangan pengawasan Kewenangan fasilitasi Kewenangan penetapan Kewenangan pengumpulan dan penyampaian informasi Untuk dapat mendelegasikan sebagian kewenangan Bupati/Walikota kepada Camat, diperlukan beberapa prasyarat yaitu: Adanya keinginan politik dari Bupati/Walikota untuk mendelegasikan kewenangan kepada camat Adanya kemaun politik dari pemerintah daerah (Kepala Daerah dan DPRD) untuk menjadikan kecamatan sebagai pusat pelayana masyarakat, untuk pelayanan yang bersifat sederhana, seketika, mudah, dan murah serta berdaya lingkup setempat. Adanya kelegawaan dari dinas dan atau lembaga teknis daerah untuk melimpahkan sebagian kewenangan teknis yang dapat dijalankan oleh kecamatan. Menurut Sadu Wasistiono ada delapan langkah teknis yang perlu dilakukan untuk mengimplementasikan pendelegasian sebagian kewenangan Bupati/Walikota kepada Camat yaitu sebagai berikut:

Melakukan inventarisasi bagian-bagian kewenangan dari dinas dan atau lembaga teknis daerah yang dapat didelegasikan kepada Camat melalui pengisian daftar isian. Mengadakan rapat teknis antara dinas daerah dan lembaga teknis daerah beserta para camat untuk mencocokkan bagian-bagian kewenangan yang dapat didelegasikan dan yang mampu dilaksanakan oleh camat. Menyiapkan rancangan keputusan Kepala Daerah mengenai sebagian pendelegasian sebagian kewenangan Bupati/Walikota kepada Camat untuk dijadikan keputusan. Menyusun ulang organisasi kecamatan sesuai dengan besar dan luasnya kewenangan yang didelegasikan untuk masing-masing kecamatan. Mengisi organisasi dengan orang-orang yang sesuai kebutuhan, apabila perlu dilakukan persiapan melalui pendidikan teknis fungsional sesui kebutuhan lapangan. Menghitung perkiraan anggaran untuk masing-masing kecamatan sesuai dengan beban tugasnya, dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan Pemerintah Daerah. Menghitung perkiraan kebutuhan logistik untuk masing-masing kecamatan. Menyiapkan tolak ukur kinerja kecamatan.

BAB III HASIL STUDI Kedudukan Kecamatan Menurut Peraturan Perundangan-

Undangan Peraturan Pemerintahan Daerah

31

Keberadaan UU Nomor 22 Tahun 1999 sebagai “kontra-konsep” terhadap UU sebelumnya (UU 5 Tahun 1974) dilatarbelakangi adanya perbedaan filosofi serta paradigma yang mendasarinya. Mengapa menunjuk pada UU Nomor 22 Tahun 1999? Karena berdasarkan UU tersebut, kedudukan kecamatan termasuk tupoksi dan hubungan kerja dengan unit organisasi pemerintahan di bawahnya (desa dan kelurahan) berubah secara drastis yang ditandai dengan beberapa hal sebagai berikut : Dari filosofi “keseragaman” berubah menjadi filosofi “keanekaragaman” dalam kesatuan. Berdasarkan filosofi ini, Daerah diberi kebebasan yang luas untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, termasuk kebebasan mengatur organisasi kecamatannya. Dari paradigma administratif yang mengutamakan dayaguna dan hasilguna pemerintahan menjadi paradigma demokratisasi, partisipasi masyarakat serta pelayanan. Tugas utama pemerintah daerah yang semula sebagai promotor pembangunan berubah menjadi pelayan masyarakat, sehingga unit-unit pemerintahan yang berhadapan dan memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat perlu diperkuat. Dari dominasi eksekutif (executive heavy) berubah ke arah dominasi legislatif (legislative heavy). Pola otonomi yang digunakan adalah a-simetris, menggantikan pola otonomi simetris. Pengaturan terhadap Desa yang terbatas, menggantikan pengaturan yang luas dan seragam secara nasional. Penggunaan pendekatan “besaran dan isi otonomi” (size and content approach) dalam pembagian daerah otonom, menggantikan pendekatan berjenjang (level approach). Perubahan paradigma tersebut secara signifikan mengubah pula kedudukan kecamatan dengan berbagai implikasinya. Pada UU Nomor 5 Tahun 1974, kecamatan merupakan “wilayah administrasi pemerintahan” sebagai konsekuensi penggunaan “Fused Model” (B. C. Smith), sedangkan

menurut Undang-Undang 22 Tahun 1999, kecamatan merupakan “wilayah kerja camat sebagai perangkat daerah Kabupaten dan Daerah Kota”. Camat menerima pelimpahan sebagian wewenang Bupati/Walikota dalam bidang desentralisasi. Kewenangan yang dijalankan camat hanya bersifat delegasi dari Bupati/Walikota. Sementara menurut Undang-undang 32 Tahun 2004, Kecamatan merupakan “wilayah kerja camat sebagai perangkat Daerah Kabupaten/Kota” (Pasal 126 ayat (1)) dan Camat menerima pelimpahan sebagian wewenang Bupati/Walikota untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah (kewenangan delegatif). Camat juga melaksanakan tugas umum pemerintahan (kewenangan atributif) (Pasal 126 ayat (1) dan (2) UU 32/2004). Perubahan mendasar dalam penyelenggaraan pemerintahan kecamatan sebagaimana diatur di dalam UU Nomor 22 Tahun 1999, kemudian dilanjutkan pada UU Nomor 32 Tahun 2004. Perubahannya mencakup mengenai kedudukan kecamatan menjadi perangkat daerah kabupaten/kota, dan camat menjadi pelaksana sebagian urusan pemerintahan yang menjadi wewenang Bupati/ Walikota. Di dalam Pasal 120 ayat (2) UU Nomor 32 Tahun 2004 dinyatakan bahwa, “Perangkat daerah kabupaten/kota terdiri atas sekretariat daerah, sekretariat DPRD, dinas daerah, lembaga teknis daerah, kecamatan, dan Kelurahan”. Pasal tersebut menunjukkan adanya dua perubahan penting yaitu : Kecamatan bukan lagi wilayah administrasi pemerintahan dan dipersepsikan merupakan wilayah kekuasaan camat. Dengan paradigma baru, Kecamatan merupakan suatu wilayah kerja atau areal tempat Camat bekerja. Camat adalah perangkat Daerah Kabupaten dan Daerah Kota dan bukan lagi kepala wilayah administrasi pemerintahan, dengan demikian camat bukan lagi penguasa tunggal yang berfungsi sebagai administrator pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan, akan tetapi merupakan pelaksana sebagian wewenang yang dilimpahkan oleh Bupati/Walikota. Perubahan kedudukan kecamatan dan kedudukan camat, membawa dampak pada kewenangan yang harus dijalankan oleh camat.

33

Namun demikian ada karakter yang berbeda antara status perangkat daerah yang ada pada kecamatan dengan instansi/lembaga teknis daerah. Bila ditelaah lebih lanjut, kewenangan camat justru lebih bersifat umum dan menyangkut berbagai aspek dalam pemerintahan dan pembangunan serta kemasyarakatan. Hal ini berbeda dengan dengan instansi dengan lembaga dinas daerah ataupun lembaga teknis daerah yang bersifat spesifik. Sebagai perangkat Daerah, Camat memiliki kewenangan delegatif seperti yang dinyatakan dalam Pasal 126 ayat (2) bahwa : ”Kecamatan dipimpin oleh Camat yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan sebagian wewenang Bupati atau Walikota untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah”. Ini berarti bahwa kewenangan yang dijalankan oleh Camat merupakan kewenangan yang dilimpahkan oleh Bupati/Walikota. Dengan demikian luas atau terbatasnya pelimpahan kewenangan dari Bupati/Walikota sangat tergantung pada keinginan politis dari Bupati/Walikota. Selain itu, Camat juga melaksanakan tugas umum pemerintahan yang merupakan kewenangan atributif sebagaimana diatur dalam Pasal 126 ayat (3) yaitu sebagai berikut : mengoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat; Mengoordinasikan upaya penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban umum; mengoordinasikan mengoordinasikan penerapan dan penegakan dan peraturan fasilitas perundang-undangan; pemeliharaan prasarana pelayanan umum; mengoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan di tingkat kecamatan; membina penyelenggaraan pemerintahan desa dan/atau kelurahan; melaksanakan pelayanan masyarakat yang menjadi ruang lingkup tugasnya dan/atau yg belum dapat dilaksanakan

pemerintahan desa atau kelurahan. Tugas umum pemerintahan yang dimaksud dalam Pasal 126 ayat (3) UU Nomor 32 Tahun 2004 berbeda maknanya dengan urusan pemerintahan umum sebagaimana dimaksud pada UU Nomor 5 Tahun 1974. Menurut Pasal 1 huruf (j) UU Nomor 5 Tahun 1974, yang dimaksud dengan urusan pemerintahan umum adalah : “urusan pemerintahan yang meliputi bidang-bidang ketentraman dan ketertiban, politik, koordinasi, pengawasan dan urusan pemerintahan lainnya yang tidak termasuk dalam tugas sesuatu Instansi dan tidak termasuk urusan rumah tangga Daerah”. Urusan pemerintahan umum ini diselenggarakan oleh setiap kepala wilayah pada setiap tingkatan - sebagai wakil pemerintah pusat di daerah dalam rangka melaksanakan asas dekonsentrasi. Tugas umum pemerintahan yang diselenggarakan oleh Camat tidak dimaksudkan sebagai pengganti urusan pemerintahan umum, karena Camat bukan lagi sebagai kepala wilayah. Selain itu, intinya juga berbeda. Tugas umum pemerintahan sebagai kewenangan atributif mencakup pembinaan tiga jenis kewenangan yakni kewenangan melakukan kepada koordinasi yang meliputi lima bidang kegiatan, kewenangan melakukan serta kewenangan melaksanakan pelayanan masyarakat. Kewenangan koordinasi dan pembinaan merupakan bentuk pelayanan secara tidak langsung (indirect services), karena yang dilayani adalah entitas pemerintahan lainnya sebagai pengguna (users), meskipun pengguna akhirnya (end users) tetap masyarakat. Sedangkan kewenangan pemberian pelayanan kepada masyarakat, pengguna (users) maupun pengguna akhirnya (end users) sama yakni masyarakat. Jenis pelayanan ini dapat dikategorikan sebagai pelayanan secara langsung (direct services). Diberikannya kewenangan atributif bersama-sama kewenangan delegatif kepada Camat menurut UU Nomor 32 Tahun 2004 sebenarnya merupakan koreksi terhadap UU Nomor 22 Tahun 1999. Pada masa UU tersebut, Camat hanya memiliki kewenangan delegatif dari Bupati/Walikota tanpa disertai kewenangan atributif. Dalam prakteknya

35

selama UU tersebut berlaku, masih banyak Bupati/Walikota yang tidak mendelegasikan sebagian kewenangannya kepada Camat, entah karena tidak tahu ataupun karena tidak mau tahu. Akibatnya banyak Camat yang tidak mengetahui secara tepat mengenai apa yang menjadi kewenangannya. Mereka umumnya hanya menjalankan kewenangan tradisional yang sudah dijalankan secara turun temurun, padahal peraturan perundang-undangannya sudah berubah. Posisi camat menjadi serba tidak menentu. Pada sisi lain, bagi Bupati/Walikota yang paham tentang penyelenggaraan pemerintahan, mereka akan melakukan delegasi kewenangan yang luas kepada Camat sehingga fungsinya menjadi lebih besar dan luas dibanding pada waktu Camat masih menjadi kepala wilayah. Pendelegasian sebagian kewenangan Bupati/Walikota kepada Camat sebenarnya menguntungkan Bupati/Walikota bersangkutan, karena mereka tidak dibebani oleh urusan-urusan elementer berskala kecamatan yang dapat diselesaikan oleh Camat. Menyadari kedudukan kecamatan yang strategis tersebut, maka yang perlu dilakukan adalah bagaimana pemerintah daerah Kabupaten/Kota mendudukkan kecamatan sebagai bagian pemerintah daerah dalam menyelenggarakan otonomi serta memberikan penguatan untuk melalukan banyak peran dalam penyelenggaraan otonomi daerah melalui pelimpahan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan kabupaten/kota. Sebagai intitusi publik, keberadaan kecamatan hendaknya dimanfaatkan secara optimal untuk melayani masyarakat. Jangan sampai dana publik yang dikeluarkan untuk membayar gaji PNS dan membiayai fasilitas kantor namun tidak memberi manfaat bagi rakyat sebagai pemilik kedaulatan. Tugas, Fungsi dan Kewenangan Camat Keputusan Menteri Dalam Negeri (Kepmendagri) Nomor 158 Tahun 2004 tentang Pedoman Organisasi Kecamatan menyebutkan bahwa Camat mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan kewenangan pemerintahan yang dilimpahkan oleh Bupati/Walikota atau Walikotamadya/Bupati

Administrasi di Provinsi DKI Jakarta, sesuai karakteristik wilayah, kebutuhan daerah dan tugas pemerintahan lainnya berdasarkan paraturan perundang-undangan. Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan camat meliputi 5 (lima) bidang kewenangan pemerintahan yaitu : bidang pemerintahan; bidang pembangunan dan ekonomi; bidang pendidikan dan kesehatan; bidang sosial dan kesejahteraan; bidang pertanahan. Di samping urusan pemerintahan tersebut di atas yang dapat menjadi isi kewenangan dan menjadi tugas Camat, juga terdapat penyelenggaraan tugas umum pemerintahan sebagaimana diatur pada Pasal 126 ayat (3) UU Nomor 32 Tahun 2004. Penjabaran lebih lanjut mengenai tugas dan wewenang Camat, perlu ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah. Menurut Pasal 15 ayat (1) PP Nomor 19 Tahun 2008 tentang Kecamatan disebutkan bahwa : Camat menyelenggarakan tugas umum pemerintahan yang meliputi: mengoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat; mengoordinasikan upaya penyelenggaraan ketenteraman dan ketertiban umum; mengoordinasikan penerapan dan penegakan peraturan perundang-undangan; mengoordinasikan pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum; mengoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan di tingkat kecamatan; membina penyelenggaraan pemerintahan desa dan/atau kelurahan; melaksanakan pelayanan masyarakat yang menjadi ruang lingkup tugasnya; dan/atau yang belum dapat dilaksanakan pemerintahan desa atau kelurahan. Selanjutnya pada Pasal 15 ayat (2) PP Nomor 19 Tahun 2008

37

ditambahkan rambu-rambu kewenangan yang perlu didelegasikan oleh Bupati/ Walikota kepada Camat untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah, yang meliputi aspek : perizinan; rekomendasi; koordinasi; pembinaan; pengawasan; fasilitasi; penetapan; penyelenggaraan; dan kewenangan lain yang dilimpahkan. PP Nomor 19 Tahun 2008 mengatur secara lebih rinci mengenai tugas dan wewenang Camat, baik untuk kewenangan yang bersifat atributif maupun pedoman untuk kewenangan yang bersifat delegatif. Untuk kewenangan delegatif disusun berdasarkan kriteria Eksternalitas dan Efisiensi. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan tugas dan wewenang Camat diatur dengan Peraturan Bupati/Walikota. Issue Seputar Pendelegasian Kewenangan Pada umumnya, model kelembagaan di Kabupaten/Kota terdiri dari 4 (empat) jenis atau fungsi, yakni organisasi Lini (direpresentasikan oleh Dinas), Staf dan Auxiliary (Sekretriat), Supporting Units (Lembaga Teknis), serta organisasi Kewilayahan / Teritorial (Kecamatan dan Kelurahan). Oleh karena jenis dan fungsi dasarnya berbeda, maka kewenangan yang diemban-pun juga berbeda. Dinas adalah organisasi yang menjalankan tugas-tugas pokok (kewenangan substantif atau kewenangan material) daerah. Itulah sebabnya, bidang kewenangan dan nomenklatur dinas dibentuk berdasarkan pertimbangan sektoral (sektor pertanian, sektor kesehatan, dan sebagainya). Sedangkan Sekretariat adalah unit organisasi yang bertugas menjalankan fungsi-fungsi pembantuan untuk mendukung pelaksanaann fungsi lini yang dijalankan dinas. Dengan kata lain, unit-unit dalam Sekretariat berkewajiban melaksanakan tugas-tugas

ketatausahaan dalam rangka pengambilan kebijakan, seperti Bagian Umum, Bagian Kepegawaian, Bagian Keuangan, Bagian Bina Pemerintahan, dan sebagainya. Selanjutnya, Lembaga Teknis berbentuk Badan atau Kantor bertugas melaksanakan fungsi-fungsi strategis daerah yang belum terakomodasikan oleh pola kelembagaan yang lain. Fungsii-fungsi yang diemban oleh Lembaga Teknis bukanlah kewenangan substantif daerah, namun memiliki peran yang sangat penting bagi daerah. Contohnya adalah Badan Penelitian dan pengembangan, Badan Pengawasan, dan Badan Perencanaan Daerah. Adapun lembaga kewilayahan pada umumnya lebih diarahkan sebagai pelaksana tugas bidang “pemerintahan umum” seperti masalah ketentraman dan ketertiban (tramtib), administrasi kependudukan, serta pembinaan kemasyarakatan. Pada masa UU Nomor 5 Tahun 1974, Kecamatan adalah perangkat dekonsentrasi, yang bertugas menjalankan tugas pemerintahan umum dan kewenangan yang dilimpahkan oleh aparat dekonsentrasi yang lebih tinggi, yakni Bupati, Gubernur, ataupun Menteri. Namun dengan berlakunya UU Nomor 22 Tahun 1999, Kecamatan berubah menjadi “perangkar daerah”, sehingga secara tidak langsung, berkewajiban untuk ikut menjalankan sebagian tugas / kewenangan Kabupaten/Kota. Disinilah awal mula perlunya pelimpahan kewenangan kepada Kecamatan. Namun, dari sini pula-lah kompleksitas itu menjadi semakin rumit. Kecamatan yang masih berciri organisasi kewilayahan, justru diberi kewenangan yang bersifat sektoral. Dalam hal ini, terdapat dilema perlu tidaknya Kecamatan menjalankan kewenangan substantif / material. Sebab, pelimpahan kewenangan substantif kepada kecamatan akan menimbulkan potensi benturan dengan lembaga-lembaga sektoral (Dinas). Pada saat yang bersamaan, selain melaksanakan kewenangan substantif (yang diatur dalam Peraturan Daerah), Dinas juga dapat menerima pelimpahan kewenangan dari Bupati/Walikota melalui Surat Keputusan. Jika kita konsisten dengan jenis dan fungsi kecamatan sebagai lembaga kewilayahan (dibatasi oleh batas geografis dan administratif),

39

maka

perlu

dipertimbangkan

kemungkinan

Kecamatan

hanya

menyelenggarakan kewenangan / tugas-tugasn bidang “Pemerintahan Umum”. Hal ini sesuai dengan tugas pokok Camat sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No.061/729/TJ tanggal 21 Maret 2000 tentang Penataan Perangkat Daerah, yakni : Memimpin Membantu mengenai pelaksanaan Sekretaris wilayah kebijakan dalam yang Pemerintah penyiapan Daerah informasi dalam Kabupaten/Kota di wilayah Kecamatan; Daerah Kecamatan dibutuhkan

perumusan kebijakan bagi kepala Daerah; Mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan penyelenggaraan pelayanan lintas Kelurahan dan Desa. Fungsi kecamatan sebagai pelaksana tugas “pemerintahan umum” ini sebenarnya diakomodir juga dalam Kepmendagri No. 158/2004. hal ini terlihat dari pengaturan tentang 2 (dua) Seksi limitatif (dinyatakan secara wajib dalam peraturan perundangan), yakni Seksi Pemerintahan dan Seksi Ketenteraman dan Ketertiban. Kedua seksi ini, secara substantif termasuk dalam kategori kewenangan bidang “Pemerintahan Umum”. Hanya saja, kalau Kecamatan akan diarahkan untuk menjalankan fungsi “Pemerintahan Umum” saja, maka hal ini tidak sejalan dengan ketentuan pasal 3 Kepmendagri No. 158 Tahun 2004 yang menyatakan bahwa “Camat mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan kewenangan pemerintahan yang dilimpahkan oleh Bupati/Walikota sesuai karakteristik wilayah, kebutuhan daerah dan tugas pemerintahan lainnya”. Dengan kata lain, Kepmendagri No. 158 Tahun 2004 ini cenderung memerintahkan Kecamatan untuk ikut serta menyelenggarakan kewenangan substantif / material. Dan disinilah letak kekurang konsistenan Kepmendagri ini. Namun jika Kecamatan tetap harus menjalankan kewenangan substantif/material ini, maka nomenklatur 3 (tiga) Seksi lain di Kecamatan dapat disesuaikan dengan nomenklatur Asisten di Sekretariat Daerah, yakni : Seksi Perekonomian, dengan tugas mengkoordinasikan

pelaksanaan kewenangan di bidang-bidang perdagangan dan industri, koperasi dan UKM, perhubungan, pekerjaan umum, pertanian, kehutanan dan perkebunan, serta pertambangan dan energi. Seksi Kesejahteraan Sosial, dengan tugas mengkoordinasikan pelaksanaan kewenangan di bidang-bidang kesehatan, agama, pendidikan, Seksi lingkungan hidup, sosial, tugas transmigrasi dan ketenagakerjaan. Administrasi, dengan di mengkoordinasikan hukum dan pelaksanaan kewenangan bidang-bidang

informasi, kepegawaian, keuangan, perlengkapan, dan umum. Dalam hal Kecamatan tetap menjalankan fungsi / kewenangan substantif, maka jenis atau karakteristik kecamatan sesungguhnya telah berubah dari organisasi territorial menjadi organisasi lini territorial. Sementara itu, Dinas dapat dikatakan sebagai organisasi yang bersifat lini teknis.

41

BAB PELIMPAHAN KEWENANGAN BUPATI/WALIKOTA KE CAMAT DAN KELURAHAN/DESA (Pengalaman Dari Berbagai Daerah di Indonesia) Pada bab ini akan di bahas mengenai pelimpahan kewenangan Bupati/walikota kepada Camat dan Lurah dari berbagai daerah kabupaten dan kota di Indonesia. Kajian dan fokus pembahasan pada bab ini adalah melihat landasan dan kecendrungan hukum apakah yang digunakan dalam pelimpahan kewenangan dari berbagai daerah, jenis-jenis urusan atau kewenangan apasajakah yang dilimpahkan di masing-masing daerah, dan pembelajaran apa yang dapat dipetik dari berbagai pengalaman masing-masing Kabupaten/Kota dalam melaksanakan pelimpahan kewenangan dari Bupati/Walikota kepada Camat. Adapun Kabupaten dan Kota yang dipilih adalah dari beberapa daerah ini adalah berasal dari berbagai Kab/Kota yang ada pada masing-masing provinsi di Indonesia. Dengan karakteristik dan corak dan yang berbedabeda, baik dari sisi geografis, penduduk, potensi wilayah, ekonomi, sosial, budaya dan sebagainya diharapkan dapat memperkaya data dan informasi serta presfektif yang lebih luas dan komprehensif, sehingga kebijakan yang akan diambil nantinya dalam perumusan kebijakan mengenai pelimpahan kewenangan di KSB dapat dilaksanakan dan dengan harapan semua pihak. Kota Yogyakarta (Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta) Kondisi Umum Secara Geografis, Luas wilayah Kota Yogyakarta adalah sekitar 3.250 Ha atau 32,5 Km2 atau 1,02 persen dari luas wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara administratif Kota Yogyakarta terdiri dari berjalan efektif sesuai

14 Kecamatan, 45 Kelurahan, 617 RW dan 2.532 RT. Jumlah penduduk lebih dari 503.954. Selain di kenal sebagai Kota Pelajar, juga dikenal sebagai Kota pariwisata, dan telah menjadi Daerah Tujuan Wisata (DTW) utama di Indonesia (meski masih dibawah Pulau Bali). Visi Kota Yogyakarta adalah sebagai Kota Pendidikan Berkualitas, dan Pusat Pelayanan Jasa, yang Pariwisata Berbasis Budaya

Berwawasan Lingkungan. Dan dalam mewujudkan visi pembangunan Kota Yogyakarta tersebut, ada 9 (sembilan) misi pembangunan yang ingin diwujudkan, yakni: mempertahankan predikat Kota Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan, mempertahankan predikat Kota Yogyakarta sebagai Kota Pariwisata, Kota Budaya dan Kota Perjuangan, mewujudkan daya saing Kota Yogyakarta yang unggul dalam pelayanan jasa, mewujudkan Kota Yogyakarta yang nyaman dan ramah lingkungan, mewujudkan masyarakat Kota Yogyakarta yang bermoral, beretika, beradab dan berbudaya, mewujudkan Kota Yogyakarta yang good governance (tata kelola pemerintahan yang baik), clean government (pemerintah yang bersih), berkeadilan, demokratis dan berlandaskan hukum, mewujudkan Kota Yogyakarta yang aman, tertib, bersatu dan damai, mewujudkan pembangunan sarana dan prasarana yang berkualitas dan mewujudkan Kota Yogyakarta Sehat. Pelimpahan Kewenangan Walikota ke Camat Pelimpahan kewenangan dari Walikota ke Camat sesungguhnya telah berlangsung lama. Pada kajian ini hanya difokuskan Pemerintahan Daerah. Bahwa pada tahun 2002, Walikota Yogyakarta telah melimpahkan sebagian kewenangannya kepada Camat, pelimpahan kewenangan ini dituangkan dalam Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 28 Tahun 2002 tentang Pelimpahan Sebagian Kewenangan Daerah kepada Camat. Seiring dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun pelimpahan kewenangan sejak berlakukanya UU No.32 Tahun 2004 Tentang

43

2004, serta dinamika, masalah, kebutuhan dan tuntutan masyarakat Yogyakarta, maka dalam rangka untuk menyempurnakan kebijakan sebelumnya sekaligus mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, Walikota Yogyakarta menetapkan Peraturan Walikota Nomor 14 Tahun 2009 Tentang Pelimpahan Sebagian Kewenangan Walikota kepada Camat untuk melaksanakan Urusan Pemerintah Daerah. Pelimpahan kewenangan Walikota kepada Camat tersebut, adalah meliputi ; Pelimpahan kewenangan Camat muntuk menyelenggarakan tugas umum pemerintahan, kewenangan ini meliputi: mengkoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat; mengkoordinasikan upaya penyelenggaraan ketenteraman dan ketertiban umum; mengkoordinasikan mengkoordinasikan pelayanan umum; mengkoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan di tingkat kecamatan; membina penyelenggaraan pemerintahan kelurahan; melaksanakan pelayanan masyarakat yang menjadi ruang lingkup tugasnya dan/atau yang belum dapat dilaksanakan pemerintahan kelurahan. (2) Selain melaksanakan pelimpahan sebagian kewenangan Walikota untuk menangani urusan pemerintahan daerah, sebagaimana di atas, Camat juga melaksanakan pelimpahan kewenangan dari Walikota, pelimpahan kewenangan tersebut meliputi aspek : perizinan; rekomendasi atau kajian sosial kemasyarakatan ; koordinasi; pembinaan; pengawasan; fasilitasi; penerapan pemeliharaan dan penegakan dan peraturan fasilitas perundang-undangan; prasarana

penetapan ; mediasi; penyelenggaraan; dan kewenangan lain. Pelimpahan urusan pemerintah sebagaimana tersebut di atas adalah merupakan Urusan Wajib dan Urusan Pilihan Kota Yogyakarta. Dalam pelaksanakaan, sebagian kewenangan Walikota yang dilimpahkan kepada Camat, Pemerintah Yogyakarta mendukungnya dengan yang melengkapi sarana, prasarana, pembiayaan dan personil disesuaikan dengan kemampuan pemerintah daerah. Disamping kewenangan ditas, Pemerintah Kota Yogyakarta

sebelumnya juga telah memberikan pelimpahan kewenangan dibidang perizinan kepada Camat, dan secara khusus pelaksanaan pelimpahan dalam bidang perizinan di kecamatan ini dilaksanakan oleh Seksi Pelayanan dan telah dituangkan dalam Peraturan Walikota Yogyakarta No. 199/2005 tentang Penjabaran Fungsi dan Tugas Kecamatan, menyatakan” seksi pelayanan mempunyai fungsi pelaksanaan, pemprosesan, memberikan dan mengawasi perizinan yang menjadi kewenangan kecamatan”. Kewenangan dalam bidang perizinan yang dilimpahkan dari Walikota kepada Camat, adalah meliputi: Izin Membangun Bangun-Bangunan Izin Ganguan Izin Penutupan Jalan Tertentu Izin Lokasi Pedagang Kaki Lima Izin Usaha Penyelenggaraan Pondokan Kewenangan dalam bidang perizinan yang dilimpahkan oleh walikota kepada Camat diperkuat kembali dengan telah diterbitkannya dan seiring Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 09 Tahun 2007 tentang Pelayanan Perizinan Pada Pemerintah Kota Yogyakarta, dengan dinamika perkembangan masyarakat, pada tahun 2008,

45

Walikota

Yogyakarta

melakukan

perubahan

dengan meneritkan

Peraturan Nomor 33 Tahun 2008 Tentang penyelenggaraan perizinan pada Pemerintah Kota Yogyakarta. Perubahan ini dilakukan untuk lebih meningkatkan penyelenggaraan perizinan secara transparan, efisien dan efektif serta dalam rangka mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Dalam ketetuan Peraturan tersebut, dijelaskan pada pasal 6 mengenai lingkup dan jenis perizinan, jumlah perizinan di Kota Yogyakarta, adalah sebanyak 74 jenis perizinan. Dari jumlah tersebut sebanyak 29 jenis perizinan diselenggarakan oleh Dinas Perizinan, 18 perizinan masih diselenggarakan oleh Dinas Teknis tertentu, seperti ;Kantor Pertanahan, Kantor Pelayanan Pajak Daerah, Dinas Kesehatan, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas perhubungan dan lain sebagainya. Dan sebanyak 5 jenis perizinan yang diselenggarakan oleh Kecamatan. Kelima jenis perizinan yang dilaksanakan oleh Kecamatan adalah meliputi ; 1. Izin Membangun Bangun-Bangunan (IMBB), untuk bangunan : luas sampai dengan 100 m2; tidak bertingkat; kelengkapannya terletak di dalam kampung; tidak ditepi jalan yang harus mempunyai/terkena Garis Sempadan Bangunan (GSB); untuk rumah tinggal. Izin Gangguan untuk usaha yang berdampak : kecil yang lokasinya berada di kawasan pemukiman; sedang yang lokasinya berada di kawasan pemukiman; usaha pondokan. 3. Izin Penutupan Jalan Tertentu. 4. Izin Lokasi Pedagang Kaki Lima.

5. Izin Usaha Penyelenggaraan Pondokan

1.3. Inovasi Kota Yogyakarta : Pelayanan Berbasis Elektronik di Kelurahan dan Kecamatan (Pelayanan Berbasis Elektronik di Kecamatan dan Kelurahan) Kota yogyakarta, merupakan salah satu Kota di Indonesia yang dinilai cukup berhasil dalam mengimplementasikan pelimpahan kewenangan dari Walikota kepada Camat dan Lurah. Khususnya dalam memberikan berbagai pelayanan kepada masyarakat. Seiring dengan keberhasilan pelayanan yang telah dicapai, maka untuk meningkatkan dan mengoptimalkan penyelenggaraan pelayanan di Kelurahan dan Kecamatan pada tahun 2009, Kota Yogyakarta menerapkan kebijakan untuk sistem pelayanan berbasis elektronik di Kelurahan dan Kecamatan. Kebijakan ini telah dituangkan dalam Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 85 tahun 2009 Tentang Mekanisme Pelayanan Berbasis Elektronik di Kelurahan dan Kecamatan Kota Yoyakarta. Adapun jenis pelayanan bebasi elektronik di Kecamatan adalah, meliputi ; a. Pelayanan legalisasi meliputi: pernyataan domisili penduduk; pernyataan domisili usaha; keterangan untuk mendapatkan tunjangan keluarga; pernyataan tidak mampu; beasiswa; surat keterangan terkait warisan atau tanah; pengajuan kredit; keringanan biaya rumah sakit; keringanan biaya pendidikan; taksasi harga tanah;

47

pelayanan legalisasi yang menjadi kewenangan Kecamatan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. b. Pelayanan pemberian surat keterangan untuk: nikah, talak, cerai dan rujuk (NTCR) dan dispensasi; memperoleh Surat Izin Mengemudi (SIM); memperoleh Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK); memperoleh Akta Kelahiran dan Akta Kematian; keringanan PBB; keterangan beda nama; keterangan bepergian; keterangan domisili penduduk; keterangan domisili usaha; perubahan biodata; pelayanan pemberian surat keterangan sesuai yang menjadi kewenangan Kecamatan peraturan perundang-

undangan yang berlaku. c. Pelayanan pemberian kajian teknis meliputi: Izin Gangguan (HO); Izin Mendirikan Bangun Bangunan (IMBB); In gang; saluran air hujan (SAH); saluran air limbah (SAL). d. Pelayanan penerbitan perizinan yang menjadi kewenangan Kecamatan meliputi : Izin Gangguan (HO); Izin Mendirikan Bangun Bangunan (IMBB); Surat Izin Penyelenggaraan Pondokan (SIPP); Izin Penggunaan Lokasi Kaki Lima; penutupan jalan tertentu. e. Pelayanan Kependudukan meliputi: Surat Keterangan Pindah Antar Wilayah dalam satu kota; Kartu Tanda Penduduk (KTP);

Kartu Keluarga (KK); Kartu Identitas Anak (KIA); pelayanan kependudukan yang menjadi kewenangan Kecamatan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pemerintah Kota Yogyakarta juga telah menyusun dan melaksanakan masing-masing mekanisme dan standar pelayanan dari masing-masing jenis pelayanan, seperti dalam pelayanan perizinan misalnya, prosedur pelayanan perizinan yang ditetapkan dalam peraturan walikota Yogyakarta, adalah sebagai berikut : pemohon pelayanan datang ke Kecamatan dengan membawa berkas persyaratan administrasi sesuai jenis pelayanan yang dimohonkan dengan dilampiri pengantar atau rekomendasi dari Kelurahan; petugas front office melakukan verifikasi kelengkapan persyaratan administrasi; berkas yang belum memenuhi persyaratan disampaikan kembali kepada pemohon untuk dilengkapi; apabila kelengkapan persyaratan berkas telah memenuhi ketentuan yang berlaku, petugas front office memberikan tanda bukti penerimaan berkas sebagai alat bukti pengambilan output pelayanan; berkas yang telah memenuhi ketentuan yang berlaku diserahkan kepada petugas operator sistem pelayanan untuk dientrikan mengenai data pemohon dan jenis pelayanan yang dimohonkan; khusus pemohon pelayanan penduduk wilayah Daerah, maka data pemohon di input dari database kependudukan; data pribadi pemohon bukan penduduk wilayah Daerah harus di entri terlebih dahulu dan akan tersimpan dalam database server; petugas operator sistem pelayanan menyampaikan berkas permohonan kepada seksi yang membidangi untuk

49

dilakukan penyeliaan teknis; petugas operator sistem pelayanan menindaklanjuti rekomendasi persetujuan dari seksi teknis dengan mencetak form yang sudah disediakan oleh sistem pelayanan untuk ditandatangani Camat; apabila rekomendasi hasil penyeliaan teknis menyatakan bahwa permohonan tidak sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku, maka berkas dikembalikan kepada pemohon melalui petugas front office; apabila Camat berhalangan, maka proses penandatanganan dapat dilakukan oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan yang berlaku; petugas front office menyerahkan output pelayanan kepada pemohon. Selain pelimpahan kewenangan dari Walikota kepada Camat, Walikota Yogyakarta juga telah melimpahkan sebagain kewenangannya kepada Lurah. Kebijakan pelimpahan sebagian kewenangan dari Walikota kepada Lurah ini tertuang dalam Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 15 Tahun 2009 Tentang Pelimpahan Sebagian Kwenangan Walikota Kepala lurah Untuk Melaksanakan Urusan Pemerintahan Daerah. Dalam Peraturan tersebut telah ditegaskan bahwa Lurah

mempunyai tugas pokok menyelenggarakan urusan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan. Selain melaksanakan tugas tersebut, Lurah melaksanakan pelimpahan sebagian kewenangan Walikota untuk menangani urusan pemerintahan daerah. Adapun urusan yang dilimpahkan dari Walikota kepada Lurah, meliputi aspek: Rekomendasi atau kajian sosial kemasyarakatan; koordinasi; pembinaan;

pengawasan; fasilitasi; mediasi penyelenggaraan; dan kewenangan lain Jenis urusan yang dimpahkan tersebut adalah meliputi Urusan Wajib dan Urusan Pilihan yang dimiliki Kota Yogyakarta. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan, kendala dan tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan pelimpahan sebagian kewenangan Walikota kepada Lurah ini, maka dilakukan evaluasi setiap 1 ( satu ) tahun dan berdasarkan hasil evaluasi, Walikota Yogyakarta akan memberikan penilaian apakah kewenangan yang telah dilimpahkan perlu dilakukan penambahan ataukah dilakukan pengurangan sebagian kewenangan yang telah dilimpahkan kepada Lurah. Pelayanan Masyarakat Berbasis Elektronik Dalam Dan Peraturan Walikota Yogyakarta, Nomor 85 tahun 2009 Kota Yogyakarta, telah ditegaskan bahwa Tentang Mekanisme Pelayanan Berbasis Elektronik Di Kelurahan Kecamatan Penyelenggaraan pelayanan Kecamatan dan Kelurahan harus memenuhi dan menerapkan asas, prinsip dan standar pelayanan sebagaimana ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam rangka pelaksanaan pelayanan, di Kelurahan setiap pelayanan di Kelurahan maupun Kecamatan tersebut harus dapat memenuhi, yaitu : Pertama, transparansi pelayanan dengan penyediaan papan informasi pelayanan/ leaflet/buku prosedur pelayanan yang memuat informasi tentang jenis, prosedur, persyaratan dan biaya pelayanan; kedua, transparansi dan akuntabilitas pelayanan dengan pemberian resi atau kwitansi bukti pembayaran biaya pelayanan kepada pemohon pelayanan. Oleh karena itu, untuk melaksanakan prinsip pelayanan tersebut,

51

maka untuk :

setiap pelayanan Kelurahan dan Kecamatan, diharuskan

menyediakan sarana dan prasarana pelayanan seperti ruang tunggu, meja dan kursi tunggu pelayanan, sarana komputer, dan tempat sampah di ruang tunggu; menyediakan kotak pengaduan/saran dan formulir aduan sebagai bentuk pengawasan eksternal dari masyarakat; memberikan kepastian waktu pelayanan, sehingga pelayanan di Kelurahan dan Kecamatan dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pemerintah Kota Yogyakarta juga telah menerapkan standar pelayanan kepada para pelaksana layanan di Kelurahan dan Kecamatan, yang mengharuskan dalam setiap pelayanan Kelurahan memiliki dan Kecamatan, yang adalah petugas dalam yang di mampu

memberikan penjelasan/informasi pelayanan dengan baik dan ketrampilan memadai memberikan pelayanan; serta petugas pelayanan yang sopan, ramah dan empati dalam memberikan pelayanan. Adapun jenis pelayanan berbasis elektronik pada tingkat kelurahan adalah meliputi jenis pelayanan; a. Pelayanan legalisasi meliputi : surat keterangan terkait warisan atau tanah; surat pernyataan domisili; surat kuasa pengambilan pensiun dan keterangan pensiun; surat keterangan untuk mendapatkan tunjangan keluarga ; surat pernyataan beda nama; surat pernyataan kematian; pelayanan legalisasi yang menjadi kewenangan Kelurahan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. b. Pelayanan pemberian surat keterangan untuk:

nikah, talak, cerai dan rujuk (NTCR) dan dispensasi; memperoleh beasiswa; memperoleh Surat Izin Mengemudi (SIM); memperoleh Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK); memperoleh Akta Kelahiran dan Akta Kematian; pengajuan kredit; memperoleh keringanan biaya rumah sakit; memperoleh keringanan biaya pendidikan; taksasi harga tanah; keringanan PBB; pelayanan pemberian surat keterangan yang menjadi kewenangan Kelurahan sesuai peraturan perundang-

undangan yang berlaku. c. Pelayanan pemberian kajian teknis meliputi: Izin Gangguan (HO); Izin Mendirikan Bangun Bangunan (IMBB); surat izin penyelenggaraan pondokan (SIPP); izin penggunaan lokasi kaki lima; In gang; saluran air hujan (SAH) / saluran air limbah (SAL); penutupan jalan tertentu; pelayanan pemberian kajian teknis yang menjadi kewenangan Kelurahan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. d. Pelayanan kependudukan meliputi: Surat Keterangan Lahir; Surat Keterangan Kematian; Surat Keterangan Pindah Antar Wilayah dalam satu kecamatan; Kartu Tanda Penduduk (KTP); Kartu Keluarga (KK); Kartu Identitas Anak (KIA); pelayanan kependudukan yang menjadi kewenangan Kelurahan

53

sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penilaian Kinerja Lurah Secara Terbuka Untuk

Meningkatkan pelayanan Publik Dalam rangka mendorong serta meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, Walikota Yogyakarta melakukan penilaian kinerja lurah. Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 130 Tahun 2009 Tentang Penilaian Kinerja Lurah Di Kota Yogyakarta. Penilaian kinerja ini dimaksudkan untuk ; pertama, sebagai alat evaluasi kinerja Lurah dalam kegiatan kewilayahan dan hubungan kemasyarakatan. Kedua, sebagai salah satu bentuk pembinaan dan pengawasan dari Pemerintah Daerah terhadap kinerja Lurah. Tujuan dari penilaian ini adalah untuk ; pertama, meningkatkan kinerja, disiplin dan semangat kerja Lurah dalam pelaksanaan ketugasan Lurah yang dalam dapat kegiatan digunakan kewilayahan sebagai dan hubungan satu bahan kemasyarakatan. Kedua, mendapatkan hasil penilaian kinerja salah pertimbangan untuk mutasi dan promosi jabatan. Penilaian kinerja Lurah ini dilaksanakan 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun pada tribulan pertama. Yang cukup menarik dan menjadi bahan pembelajaran penting bagi Kabupaten Sumbawa Barat adalah : pertama, mengenai parameter dan instrumen penilaian kinerja lurah. Dalam Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 130 Tahun 2009 Tentang Penilaian Kinerja Lurah Di Kota Yogyakarta diatur dalam pasal 4 mengenai Parameter Penilaian Kinerja Lurah, meliputi: interaksi Lurah dengan masyarakat; kemampuan Lurah memotivasi/menggerakkan masyarakat; kemampuan Lurah sebagai mediator berbagai permasalahan kemasyarakatan/ kewilayahan;

peran dan keterlibatan Lurah dalam kegiatan kemasyarakatan dan pemberdayaan; hubungan antara Lurah dengan LPMK, RT, RW, PKK dan berbagai lembaga sosial di wilayah; tingkat responsivitas Lurah terhadap berbagai permasalahan kewilayahan; inovasi/kreativitas Lurah dalam kegiatan pembangunan di wilayah; penegakan aturan. Dan masing masing parameter tersebut dijabarkan ke dalam sub-sub parameter. Sedangkan Instrumen penilaian kinerja Lurah berupa daftar pertanyaan (kuesioner) disusun sesuai dengan parameter penilaian yang telah ditetapkan. Kedua, adalah mengenai tata cara penilaian. Dalam peraturan tersebut, diatur dalam pasal 5, sebagai berikut : Penilaian dilaksanakan pada satu kesatuan tempat dan waktu yang dikoordinasikan oleh Bagian Tata Pemerintahan Setda Kota Yogyakarta. Untuk menjaga objektivitas penilaian, maka Lurah tidak dihadirkan dalam kegiatan penilaian kinerja Lurah. Hak untuk memberikan penilaian kinerja Lurah tidak dapat diwakilkan. Penilai dari unsur masyarakat yang tidak hadir pada waktu penilaian yang telah ditentukan, haknya untuk menilai kinerja Lurah dianggap gugur. Hasil penilaian kinerja Lurah oleh Camat mempunyai bobot nilai yang sama dengan hasil penilaian oleh unsur masyarakat. Hasil penilaian kinerja Lurah diolah oleh Bagian Tata Pemerintahan Setda Kota Yogyakarta.

Hasil penilaian kinerja Lurah ini kemudian dilaporkan oleh Bagian

55

Tata Pemerintahan Setda Kota Yogyakarta kepada Walikota Yogyakarta dengan tembusan kepada Sekretaris Daerah, Asisten Pemerintahan, Kepala Badan Kepegawaian Daerah, Camat dan Lurah yang bersangkutan. Model penilaian kinerja seperti ini ternyata cukup efektif dalam mendorong upaya perbaikan kinerja pelayanan kepada masyarakat dan merupakan salah satu inovasi baru dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, khususya terkait dengan pelimpahan kewenangan kepada Lurah—menjadi isntrumen penting untuk mendorong perbaikan pelayanan masyarakat di masing-masing kelurahan, mengindari promosi jabatan yang tidak fair, mengukur kapasitas pelaksanaan pelimpahan kewenangan dan sebagainya. Pembelajaran dari Kota Yogyakarta Dari uraian sebagaimana yang telah digambarakan di atas, banyak pelajaran penting yang dapat dipetik bagi Kabupaten Sumbawa Barat. Pertama, tentang pelayanan dalam bidang perizinan. Perbedaan yang cukup menarik antara Kabupaten Sumbawa Barat terkait dengan pemberian izin yang dilaksanakan di Kota Yogyakarta, adalah ketentuan menegnai izin, bahwa izin yang diberikan oleh Instansi Teknis dan Kecamatan di Yogyakarta harus ditembuskan atau disampaikan kepada Dinas Perizinan. Sedangkan di Kabupaten Sumbawa Barat, selama ini meskipun ada Kantor Pelayanan tanpa ada Perizinan tembusan Terpadu, kepada namun masing-masing Terpadu. Dinas/Instansi Teknis masih menerbitkan izin masing-masing dan Kantor Pelayanan Keberhasilan, pelaksanaan penyelenggaraan pelimpahan

kewenangan dari Bupati, khususnya dalam bidang perizinan di Yogyakarta adalah karena adanya koordinasi dan sinergisitas antar Instansi Teknis, termasuk dengan Kecamatan dalam memberikan pelayanan perizinan. Sehingga, meskipun pelayanan perizinan berlangsung di masing-masing Dinas teknis dan Kecamatan,

penerbitan izin tetap terintegrasi dan terpadu. Dan dalam rangka meningkatkan pelayanan serta mendorong adanya perbaikan dalam pelayanan kewenangan perizinan, yang khususnya terkait dengan pelimpahan Camat, telah diberikan walikota kepada

dilakukan secara bertahap dan dilakukan evaluasi secara periodik untuk mengetahui perkembangan dari masing-masing pelaksanaan proses perizinan tersebut. Kedua, dari aspek regulasi, Pemerintah Kota Yogyakarta telah banyak melahirkan berbagai produk hukum daerah, khususnya Peraturan Walikota yang kreatif dan inovatif, serta cukup komprehensif untuk mendukung pelaksanaan pelimpahan sebagian kewenangan Walikota kepada Camat dan Lurah. Bahkan, Walikota menetapkan peraturan secara terpisah terkait dengan pelimpahan sebagian kewenangan kepada Camat dengan aturan tersendiri dan kepada Lurah dengan aturan sendiri. Peraturan tersebut didukung pula dengan sejumlah aturan teknis lainnya, sehingga dalam implementasu pelimpahan sebagian kewenangan, kendala, pelayanan. Ketiga, pelimpahan kewenangan yang diberikan kepada camat dan lurah dilakukan pembinaan dan evaluasi secara terus menerus, termasuk peraturan terkait dengan pelaksanaan sebagian kewenangan yang dilimpahkan, dilakukan evaluasi setiap tahun, sehingga beberapa kendala terkait dengan aspek regulasi, segera dapat disempurnakan. Keempat, pemerintah Kota Yogyakarta telah dapat menetapkan standar pelayanan dari berbagai jenis kewenangan/urusan yang khususnya telah terkait ada dengan pelayanan kepada masyarakat di kecamatan dan kelurahan tidak memiliki banyak karena pedoman untuk melaksanakan

57

dilimpahkan dari Kota ke Kecamatan dan Kelurahan, bahkan terus melakukan inovasi-inovasi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Saat ini, Kota Yogyakarta menjadi salah satu Kota percontohan dalam pelayanan di kelurahan dan kecamatan yang berbasis elektronik. Model pelayanan masyarakat di kelurahan dan kecamatan berbasis elektronik ini perlu untuk dipelajari lebih mendalam oleh Pemerintah Daerah kabupaten Sumbawa Barat— untuk kemudian diadopsi sebagai salah satu perbaikan dalam pelayanan di kelurahan dan kecamatan. Kelima, pelimpahan kewenangan dari Kota ke Kecamatan dan Kelurahan menjadi sangat penting karena belajar dari Yogyakarta ternyata selain mampu untuk medekatkan pelayanan kepada masyarakat juga telah mampu mendorong kecamatan dan kelurahan menjadi basis pelayanan masyarakat berbasis elektronik, sehingga dimasa mendatang pemerintah kecamatan dan kelurahan dapat semakin efektif dalam melaksanakan berbagai urusan yang dilimpahkan. Pemerintah Tantangan Kabupaten terbesar Sumbawa yang Barat mungkin saat ini dihadapi adalah

mempersiapkan SDM di masing-masing kecamatan dan kelurahan yang mampu mengelola sistem pelayanan berbasis elketronik, termasuk adalah mempersiapkan segala sarana dan prasarana untuk mendukung kegiatan tersebut.

Kabupaten Sragen Provinsi Jawa Tengah Dasar hukum dan jenis kewenangan yang dilimpahkan Bupati ke Camat Kabupaten Sragen secara geografis terletak antara 110.45 111.10 BT dan 7.15 7.30 LS. Kabupaten ini berada paling timur dari Propinsi Jawa Tengah dan berbatasan dengan Kabupaten Ngawi di Jawa Timur. Kabupaten Sragen memiliki luas wilayah sebesar 941,55 km2 terbagi dalam 20 kecamatan, 208 desa/kelurahan. Dari luas tersebut 40.339 Ha (43%) merupakan lahan sawah dan 53.816 Ha (57%) merupakan lahan bukan sawah. Menurut penggunaannya presentase lahan sawah yang berpengairan teknis sebesar 19,95 %, tadah hujan 15,26% dan lainnya berpengairan teknis dan sederhana.

Dasar hukum dan jenis kewenangan yang dilimpahkan

59

Bupati ke Camat Pelimpahan kewenangan Bupati kepada Camat di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah dituangkan dalam bentuk Surat Keputusan Bupati Sragen Nomor 36 Tahun 2002 tentang Perubahan Keputusan Bupati Sragen Nomor 12 Tahun 2002 tentang Penjabaran Uraian Tugas jabatan struktural dan fungsional pada pemerintah kecamatan. Dan penyerahan pelimpahan kewenangannya dalam Surat Bupati Sragen Nomor: Keputusan 53/186-03/2002 tentang Pemberian

Kewenangan Penandatanganan Keputusan Bupati Sragen tentang Perijinan Camat Kabupaten Sragen. Adapun Bidang-Bidang Kewenangan yang telah dilimpahkan

oleh Bupati Sragen Kepada Camat camat ; terdiri dari 16 (enam belas) kewenangan dengan 2 (dua) bidang yaitu bidang pemerintahan dan bidang ketentraman, ketertiban, dan perlindungan masyarakat. Dengan perincian sebagai berikut: a. Bidang pemerintahan, meliputi: Menerbitkan Izin Pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Menerbitkan Kartu Keluarga (KK) Melaksanakan Pengawasan Proyek-Proyek Pembangunan yang ada di Kecamatan Membuat Rekomendasi DP3 Para Kepala Unit Kerja yang ada di Kecamatan Melantik dan Mengambil Sumpah Lurah Desa, Pamong Desa Anggota BPD Melaksanakan Ujian Tertulis kepada Carik Desa Bidang ketentraman, ketertiban, dan perlindungan masyarakat meliputi: Menerbitkan Izin Perhelatan. Menerbitkan Izin Penggunaan/Penutupan Jalan Kabupaten. Menerbitkan Izin Pertunjukan/Hiburan Umum/Olah raga/Insidental. Menerbitkan Izin Tempat Usaha (Skala Kecil).

Menerbitkan Izin Salon (Skala Kecil). Menerbitkan Izin Mendirikan Bangunan (Permanen Kelas B, Permanen ½ bata pilar dan Semi Permanen). Menerbitkan Izin Bahan Galian Golongan C (Skala Kecil). Menerbitkan Izin Tebang dan Angkut Kayu Hutan Rakyat. Menerbitkan Izin Rumah Makan/Warung. Menerbitkan Izin Bengkel (Kecil). Proses Pelimpahan sesuai dengan sebagain Kewenangan dan kondisi Bupati kecamatan Sragen dalam

kepada Camat tersebut dilakukan secara bertahap oleh Bupati kemampuan menerima dan melaksanakan kewenangan yang didelegasikan, sedangkan pola dan jenis kewenangan yang dilimpahkan dilakukan secara seragan (16 kewenangan, tidak ada perbedaan pelimpahan kewenangan antara satu kecamatan dengan kecamatan yang lainnya. Kewenangan yang dilimpahkan meliputi dua bidang yaitu: Bidang Pemerintah dan Bidang Ketentraman, Ketertiban dan Perlindungan Masyarakat. Best practices dari pola pendelasian di kabupaten Sragen Pelimpahan kewenangan Bupati kepada Camat yang tercantum dalam Surat Keputusan Bupati Nomor 36 Tahun 2002, ternyata cukup mendukung upaya peningkatan pelayanan publik dan kinerja pegawai dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sejak, adanya pelimpahan kewenangan ke Camat, masyarakat yang membuat KTP disejumlah kecamatan meningkat, pemohon KTP dan pada tahun 2001 Penduduk komputerisasi, kabupaten. (KTP) misalna di Kantor Camat Karangmalang, pada tahun 2000 terdapat 13.120 terdapat 13.245 terjadi system peningkatan sebesar 125 pemohon, dan pembuatan Kartu Tanda saat ini telah menggunakan pemohon sehingga tidak perlu datang ke

61

Masyarakat merasa sangat diuntungkan, karena pengurusan KTP saat ini dapat diselesaikan di masing-masing kecamatan, biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk pengurus KTP sekarang jauh lebih murah dan singkat dibanding pelimpahan kepada Camat. Masyarakat sebelum adanya pada umumnya

menyatakan bahwa pembuatan KTP sebelum dilakukan di kantor kecamatan memerlukan waktu tiga (tiga) sampai 1 (minggu) dan dititipkan kepada aparat desa dan memerlukan biaya tambahaan, saat ini lebih efisien dan fektif. Begitupun dengan pelayanan perizinan, dan hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Sragen memiliki ruangan khusus untuk melayani masyarakat, seperti ruangan untuk melakukan pembayaran pula petugas dari Dinas Pendapatan Daerah. Best practices lainnya adalah terkait dengan adanya pelimpahan wewenang untuk melakukan pengawasan proyek pembangunan di kecamatan) dan membuat rekomendasi DP3 para Kepala Unit Kerja dan Satuan Unit Kerja di kecamatan, membuat posisi camat memiliki ’power’ untuk mengelola koordinasi sehingga muncul keterpaduan tugas sesuai dengan tupoksinya. Pendelagasian kewenangan ini juga membuar sejumlah program pembangunan dapat lebih tepat sasaran, lebih berdaya guna dan berhasil guna sehingga proyek pembangunan dirasakan tepat sasaran dan bermanfaat bagi masyarakat di masing-masing kecamatan. Adanya pendelegasian sejumlah kewenangan Bupati kepada Camat, ternyata mampu untuk memperbaiki citra dan kinerja aparat pemerintahan. Khususnya pada wilayah kecamatan yang menjadi sorotan dalam pelayanan publik dan berhubungan langsung dengan berbagai kepentingan masyarakat, masyarakat sehingga yang akan merasa nyaman dengan pelayanan PBB yang melibatkan

diberikan oleh Kecamatan, yang akhirnya masyarakat semakin

sadar akan suatu pemerintahan, karena kecenderungan akhirakhir ini masyarakat kurang menghargai kinerja pemerintahan. Kelemahan pola pendelegasian kewenangan di Kabupaten Sragen Pemberian kewenangan secara seragam dari Bupati Sragen camat di Kabupaten Sragen, ternyata memang tidak seluruhnya dapat dilaksanakan oleh Kecamatan, di Kecamatan Karangmalang, misalnya karena keadaan geografis wilayah Kecamatan Karangmalang yang Sebagian besar adalah lahan pertanian maka kewenangan seperti perizinan tebang dan angkut kayu hutan rakyat dan perizinan bahan galian golongan C skala kecil tidak dapat dilaksanakan. Karena Perizinan itu hanya dapat dilaksanakan pada Kecamatan yang memiliki geografis dan lahan hutan dan lahan galian golongan C seperti Kecamatan lain di utara bengawan Solo. Beberapa kendala dan tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan pelimpahan kewenangan di Kabupaten Sragen, antara lain adalah pertama, Kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM). Pegawai Kecamatan masih terkesan melakukan pekerjaan yang bersifat rutinitas dan terkesan kurang kreatif, pemahaman pegawai terhadap tugas pokok masih terbatas mengingat dari SDM yang berbeda-beda latar belakang pendidikanya dan lebih banyak berpendidikan SLTA serta kurang mau belajar, sehingga ketinggalan informasi yang direncanakan. Kedua, kondisi wilayah kerja dikecamatan yang berbeda, seperti di Karang Malang dilihat dari keadaan geografis, keadaan penduduk. Keadaan geografis dari luas keseluruhan 4.297,8200 wilayah Kecamatan Karangmalang sekitar Ha, sebagian besar adalah berbentuk lahan

sawah/pertanian dengan kepadatan penduduk masuk kategori padat. Dilihat dari keadaan geografis dikecamatan karangmalang Camat mempunyai 16 kewenangan, berbeda dengan kecamatan

63

lain. Seperti kecamatan mondokan yang memiliki 17 kewenangan salah satu kewenangan tersebut adalah menerbitkan ijin irigasi, kewenangan tersebut tidak dimiliki oleh Camat karangmalang. Sehingga dalam pengelolaan sawah di kecamatan karangmalang hanya bisa panen dua kali dalam setahun. Berbeda dengan kecamatan lain seperti kecamatan mondokan bisa panen tiga kali dalam setahun. Ketiga, Sarana dan prasarana yang kurang lengkap, seperti dalam penerbitan pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP) mamakai system komputerisasi masyarakat merasa mudah, karena pemohon tidak perlu datang ke kabupaten. pembuatan Kartu Tanda Penduduk Tetapi dalam (KTP) beberapa kali di

Kecamaran Karang Malang terhenti akibat terjadinya pemadaman listrik bergiliran, karena tidak adanya diesel (jamsed). Sehingga dalam pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP) bisa tertunda atau terhambat. Pembelajaran dari Kabupaten Sragen Ada beberapa pembelajaran penting yang dapat dipetik dari pelimpahan sebagian kewenangan bupati kepada camat. Pertama, tentang pola dan jenis/bidang kewenangan yang dilpahkan. Bidang kewenangan yang dilimpahkan dilakukan dengan seragam, ternyata memiliki kelemahan, salah satu kelemahan itu karena masingmasing kecamatan memiliki kondisi dan situasi geogarfis, potensi wilayah, sumber daya alam dan sumber daya manusia yang berbeda-beda, sehingga jika pelimpahan kewenangan dari Bupati kepada Camat dilakukan secara seragam, berpotensi beberapa kewenangan yang dilimpahkan tersebut tidak dapat dilaksanakan oleh kecamatan yang bersangkutan. Kedua, dalam melaksanakan pelimpahan kewenangan dari Bupati kepada Camat, ternyata harus didukung dengan Sumber Daya Manusia, khususnya pegawai yang mempunyai daya kreatifitas yang tinggi dan mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Ketiga, dalam proses pelimpahan kewenangan, ternyata harus pula sebaiknya disertai dengan

pelimpahan keuangan yang sesuai dengan jumlah dan luas cakupan kewenangan tugasnya yang diberikan, dapat sehingga dalam melaksanakan kewenangan yang camat melaksanakan

dilimpahkan tersebut, tanpa ada alasan ketidakmampuan karena ketiadaan anggaran untuk melaksanakan kewenangan yang telah dilimpahkan. Keempat, Pelimpahan kewenangan dari Bupati kepada Camat dipercayakan sepenuhnya kepada pemerintah kecamatan jika memang pemerintah Kecamatan mampu untuk melaksanakannya dan tidak sebatas jenis pelayanan yang bersifat kecil. Kelima, untuk mendukung dan meningkatkan kinerja Pemerintah pembinaan kecamatan dari dalam melaksanakan tentang pelimpahan pelaksanaan kewenangan, maka dibutuhkan pula adanya pemantauan dan kabupaten terhadap kewenangan yang telah dilimpahkan tersebut sehingga dapat dipastikan efektifitas, hambatan dan tantangan yang dihadapi pemerintah peningkatan Kecamatan. kinerja Keenam, pegawai Implementasi Kecamatan, pelimpahan dapat sebagian kewenangan Bupati kepada Camat dalam rangka ternyata

meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, hal ini didasarkan pada penilaian kualitas pelayanan, tanggungjawab, birokrasi, akuntabilitas dan strategi.

Kinerja Kecamatan Dalam Pelayanan Publik di Berbagai Daerah Kota Bandung Pada tahun 2001, Walikota Bandung menerbitkan Keputusan No. 1342 tentang Pelimpahan Sebagian Kewenangan Walikota Bandung

65

kepada Camat. Kebijakan tadi memberikan 19 bidang dan 96 rincian kewenangan kepada Camat. Kewenangan Kota Bandung sendiri berjumlah 19 bidang dengan 249 rincian (Perda No. 2/2001). Ini berarti bahwa kewenangan yang dilimpahkan kepada Camat masih sangat sedikit (38,6%), dan terdapat kemungkinan untuk menambah kewenangan yang baru pada waktu-waktu mendatang. Kewenangan Kota Bandung sendiri sebenarnya belum optimal, karena hanya terdiri dari 249 rincian. Padahal menurut Kepmendagri No. 130-67 Tahun 2002 tentang Pengakuan Kewenangan Kabupaten dan Kota, kewenangan yang dapat dilaksanakan oleh daerah terdiri dari 19 bidang dan 1.193 rincian kewenangan. Apabila dibuat perbandingan antara ketiga peraturan diatas, maka dapat diperoleh gambaran yang bersifat piramida terbalik. Artinya, kewenangan yang diakui oleh Pusat sebagai domein kabupaten/kota berjumlah sangat besar, namun ketika diformalisasi kedalam Perda, kewenangan tadi menjadi mengecil / mengerucut. Dan ketika kewenangan itu akan dilimpahkan kepada Camat, jumlahnya menjadi sangat kecil. Kota Batam Pelimpahan wewenang kepada camat terutama ditujukan kepada urusan pelayanan publik. Dilakukan melalui Peraturan Walikota No. 4/2006 tentang Pelimpahan Sebagian Wewenang Bupati Kepada Camat. Camat diberi kewenangan menandatangani langsung jenis-jenis dokumen perizinan yang dilimpahkan atas nama Walikota. Dokumen-dokumen itu a.l. : izin tanda daftar industri dan dagang untuk usaha mikro, surat keterangan domisili, izin usaha makanan dan minuman untuk kedai kopi. izin usaha jasa rekreasi dan hiburan umum (pangkas rambut, salon tanpa spa, rumah biliar maksimal 4 meja) Mengawasi rumah liar Mengawasi pangkalan minyak tanah Melantik Kepala SD Negeri

Menandatangani kartu kuning pencari kerja Untuk memudahkan para camat menyusun laporan keuangan, Pemko menunjuk bendahara khusus penerima yang wajib menyetorkan segala pendapatan yang diterima ke Kas Daerah paling lambat 1x24 jam.

Kota Surabaya Pelimpahan wewenang dilakukan sejak awal 2003. Berdasarkan hasil penelitian Univ. 17 Agustus Surabaya, pelimpahan terkesan setengah hati. Hal itu disebabkan rendahnya koordinasi antara dinas dan kecamatan. Misalnya, banyak aturan petunjuk teknis berada di kantor dinas, sehingga pihak kecamatan kesulitan dalam bekerja. Dalam implementasinya, masih mengalami kendala teknis dan politis. Masih tumpang tindih dengan dinas terkait di Pemkot yang memiliki prosedur tersendiri. Pelimpahan wewenang juga harus sesuai dengan kebutuhan masing-masing kecamatan. Jangan bersifat seragam (uniform). Kota Semarang Di ibukota Propinsi Jawa Tengah ini, pelimpahan wewenang disertai pelimpahan dana, infrastruktur dan kepegawaian untuk pemerintah kecamatan. Karena itu implementasi pelimpahan wewenang relatif berjalan dengan baik, terutama untuk pengawasan pedangang kaki lima, kebersihan, izin mendirikan bangunan dan izin reklame sudah berjalan dengan baik. Pihak tidak akan Pemerintah jalan Kota Semarang, menjelaskan pelimpahan harus wewenang kalau hanya sebatas pekerjaan saja yang dilimpahkan maka dengan benar. Bagaimanapun, pemkot menyerahkan "kesejahteraan" yang terkandung dalam pekerjaan yang dilimpahkannya tersebut. Sebagai contoh, pelimpahan wewenang berupa pemberian izin mendirikan bangunan kepada kecamatan dibarengi dengandiberikannya hak kepada kecamatan untuk memungut retribusi dari keluarnya IMB tersebut.

67

KOTA MAKASAR (Sulawesi) Dasar hukum pelimpahan kewenangan dan jenis

kewenangan yang dilmpahkan dari Walikota ke Camat Pelaksanaan pemerintahan kecamatan di Kota Makasar, secara yuridis didukung oleh dua peraturan daerah, yakni ; (1) Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 16 Tahun 2000 Tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kecamatan Dalam Wilayah Kota Makassar. (2) Keputusan Walikota Makassar Nomor 6 Tahun 2001, Tentang Uraian Tugas Pemerintahan Kecamatan Dalam Wilayah Kota Makassar. Sedangkan landasan operasional pelimpahan wewenang yang diberikan Pemerintah Kota Makassar kepada Camat didasarkan pada Keputusan Walikota Makassar Nomor 01 Tahun 2002 tentang Pelimpahan Kewenangan Walikota Kepada Camat untuk Penertiban Bangunan Tanpa/ tidak sesuai izin, dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima. Kedua kewenangan tersebut terinci lagi dalam 3 kegiatan, yakni: pertama, . Penertiban bangunan tanpa / tidak sesuai izin, yang meliputi : 1) izin bangunan dan 2) izin usaha. Kedua, Pembinaan pedagang kaki lima, yang meliputi : Menegur, menghentikan bangunan yang tidak berdasarkan / memiliki Surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Menegur, menghentikan sementara bangunan yang tidak sesuai izin mendirikan Bangunan (IMB) Memerintahkan pembongkaran bangunan yang tidak memiliki / tidak sesuai IMB 4). Menegur, menghentikan sementara kegiatan usaha yang tidak sesuai Surat Izin Tempat Usaha (SITU); Menetapkan lokasi konsentrasi tempat berjualan sementara Pedagang Kaki Lima (PKL) dengan memperhatikan rencana

pemanfaatan Tata Ruang Kota, Keindahan Lingkungan, ketertiban /ketentraman lingkungan; Menegur, menertibkan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang mengganggu kepentingan umum / tidak sesuai penataan kota. Ketiga, Pelaksanaan Kewengan yang Dilimpahkan yang meliputi ; 1). Penertiban bangunan tanpa / tidak sesuai izin, yang meliputi : (1) izin bangunan dan (2) izin usaha. 2). Pembinaan pedagang kaki lima Kegiatan yang dilaksanakan pada kewenangan penertiban bangunan tanpa/ tidak sesuai IMB dan tenpat usaha tanpa / tidak seuai SITU ini sebatas “pengawasan dan penertiban”. Selama ini dalam pengambilan keputusan ditentukan oleh Dinas Teknis. Artinya, kegiatan riil sebatas penertiban dan menutup sementara, sedangkan keputusan pencabutan ijin atau tindakan lain masih kewenangan Dinas Teknis. Kegiatan yang dilakukan dalam rangka penerbitan izin adalah pemberian rekomendasi tentang calon lokasi bangunan dan kesesuaian peruntukannya. Beberapa kewenangan yang telah dilimpahkan, namun sejauh ini hasilnya Bidang dinilai belum optimal ditetapkan (dianggap masih setengahsetengah), antara lain adalah : Trantibmas, berdasarkan SK Walikota tentang Pelimpahan Makassar Nomor 01 Tahun 2002

Kewenangan Walikota Kepada Camat untuk Penertiban Bangunan Tanpa/ tidak sesuai izin, dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima Bidang Kependudukan, ditetapkan dengan Perda No 13 Tahun 1999 Tentang Retribusi Penggantian Biaya Cetak KTP & Akta Capil, dan SK Walikota Makassar No. 71 / Kep-474.4/2002, tentang Pengaturan Kembali Rincian Kegiatan / Mekanisme Pelayanan Penyelesaian KK dan KTP. Bidang Pelayanan Publik, ditetapkan dengan Perda No. 14 Tahun

69

1999

tentang

Retribusi

Pelayanan

Persampahan

/

Kebersihan. Dari ke 3 bidang tersebut yang merupakan pelimpahan kewenangan baru adalah bidang trantibmas dengan dasar hukum pelimpahan kewenangan yang jelas. Meski pelaksanaan bidang trantibmas tersebut dirasakan oleh Kecamatan masih setengah hati karena tidak disertai dana, SDM, dan sarana yang diperlukan, namun demikian pelimpahan kewenangan ini telah memiliki dasar pelimpahan yang jelas. Dua bidang lainnya masih merupakan tugas tambahan, dan kewenangannya sangat terbatas, yakni ; bidang kependudukan dalam pembuatan KTP Kecamatan hanya penyedia data, mengusulkan dan menunggu hasil cetak dari Dinas kependudukan dan Capil. Pada dasarnya, Kecamatan membutuhkan penyelesaian akhir dan keputusan penerbitan KTP diharapkan dapat dilakukan Kecamatan, sedangkan peran dinas Dinas diharapkan adalah sebatas pengelola SIMDUK. Sementara itu, di bidang Pelayanan Masyarakat, Perda yang dikeluarkan baru sebatas ketentuan retribusi. Penanganan masalah sampah ini baru diujicobakan pada 1 kecamatan, dan sampai sekarang belum dapat berjalan optimal. Kendala dan tantangan yang dihadapi dalam

impelementasi kewenangan Dalam operasionalisasinya, masih dijumpai penerbitan izin yang tidak sesuai rekomendasi Camat, tanpa informasi yang memadai. Permasalahan Implementasi Pelimpahan di Kota Makasar yang dihadapi antara lain adalah : pertama, seringkali terjadi kondisi “bola mati”, dalam arti langkah-langkah penertiban yang diambil tak ada kelanjutan atau tak konsisten. Hal tersebut dikarenakan seringkali antara kebijakan yang diambil Camat tidak sejalan dengan kebijakan Dinas Teknis. Atau kurang koordinasi dalam

pengambilan langkah antara Camat dengan Dinas Teknis. Camat menilai Dinas masih merasa disamai / diduplikasi kewenangannya, bahkan terkesan merasa terganggu. Bisa jadi rekomendasi dari Camat tidak dipakai oleh Dinas Teknis tanpa memberikan alasan yang jelas. Kedua, kendala lain, dalam pelaksanaan kewenangan yang dilimpahkan kepada kecamatan di KotaMakasar adalah pelimpahan kewenangan tidak disertai dana, sdm dan sarana / prasarana. Oleh karenanya kesan tidak optimal sangat terasa. Tiadanya kelengkapan ini terkesan tidak ada beda antara melakukan tugas / fungsi seperti yang dijabarkan dalam uraian tugas (SK n0 6 tahun 2001) dengan melaksanakan pelimpahan kewenangan (SK 01 tahun 2002). Pola Pelimpahan kewenangan di Kota Makasar dan Harapan Pola pelimpahan kewenangan yang diberikan Walikota kepada Camat di masing-masing kecamatan dilakukan secara seragam, baik bidang, jumlah maupun jenis kewenangan yang dilimpahkan, tanpa ada pembedaan karakter wilayah maupun penduduknya. Pelimpahan kewenangan ini dilakukan secara bertahap sesuai kesiapan organisasi pelaksana yakni Kecamatan. Pada prinsipnya Pemda Kota Makasar menghendaki semua kegiatan yang merupakan pelayanan kepada masyarakat dapat dilakukan atau diturunkan ke tingkat Kecamatan. Namun demikian pelaksanaanya dilakukan secara bertahap sesuai kesiapan organisasi pelaksana yakni Kecamatan. Beberapa pelayanan yang diharapkan masyarakat dapat dilimpahkan Walikota Makasar ke Camat, antara lain adalah penyelesaian KTP di tk Kecamatan pembagian skala usaha pada pemberian ijin antara Dinas Teknis dan Kecamatan (pelibatan sampai pengambilan keputusan, bukan hanya pengawasan /

71

penindakan) pelaksanaan pembangunan fisik skala kecil pendataan subyek pajak ijin pelataran ijin reklame persampahan parkir Pembelajaran Penting dari Kota Makasar Pembelajaran penting yang dapat dipetik dari pelaksanaan pelimpahan kewenangan di Kota Makasar adalah terkait dengan persoalan “egoisme” antar instansi dan koordinasi antara Kecamatan dengan Dinas Teknis. Meskipun, Walikota Makasar telah melimpahkan sebagain kewenangan kepada Pemerintah Kecamatan, namun nampak beberapa Dinas Teknis, yang kewenangannya merasa “diambil” oleh Pemerintah Kecamatan, merasa perlu membatasi kewenangan pemerintah kecamatan. Efektifitas pelaksanaan pelimpahan kewenangan dari Walikota kepada Camat juga tidak dapat berjalan maksimal,karena minimnya dukungan sarana dan prasarana, SDM maupun keuangan. Meski demikian, dari sisi kebijakan, telah muncul komitmen dari Walikota Makassar untuk melimpahkan sebagian kewenangannya, dengan menegluarkan beberapa peraturan/surat keputusan Walikota tentang pelimpahan kewenangan. Beranjak dari pengalaman Kota Makasar, maka penting bagi Kabupaten Sumbawa Barat, adalah bagaimana sejak awal dalam perumusan pelimpahan kewenangan yang akan diberikan Bupati kepada Camat untuk melibatkan pula Dinas Teknis terkait, agar Dinas Teknis terkait benar-benar dapat memahami maksud dan tujuan dari pemberian pelimpahan kewenangan Bupati kepada Camat. Sehingga dikemudian hari, ketika Perbup mengenai pelimpahan kewenangan ditetapkan, tidak menimbulkan masalah

antara Dinas Teknis dengan Kecamatan.

Dukungan yang dibutuhkan untuk pelaksanaan pelimpahan kewenangan bupati ke camat dan kelurahan

73

Regulasi yang dibutuhkan Dari aspek regulasi yang dibutuhkan agar pelaksanaan pelimpahan kewenangan bupati ke camat dan lurah adalah adanya berbagai regulasi yang bersifat teknis, seperti petujuk Pelaksana dan Petunjuk Teknis, karena dari beberapa pengalaman daerah yang telah mengimpelemtasikan pelimpahan kewenangan, dalam pelaskanaan mengalami kendala atau kurang dapat berjalan optimal, disebabkan ketiadaan Petunjuk Pelaksana dan Petujuk Teknis (Juklak) dan Petunjuk Teknis (Juknis). Petunjuk pelaksana dan petujuk teknis yang perlu disiapkan antara lain adalah yang memuat pengaturan terkait dengan (1) Kelembagaan yang harus menangani di kecamatan (bentuk organisasi, tupoksi, personil). (2) Mekanisme koordinasi dalam pelaksanaannya (intern kecamatan, antar lembaga), pelaksanaan termasuk dan mekanisme pengendalian pengambilan (prosedur, keputusan pelaksana dalam dan pelaksanaannya., perencanaan (prosedur dan instansi yang terlibat),

penanggungjawab), pelaporan (mekanisme, pelapor, penerima laporan), pertanggungjawaban (mekanisme, petugas / penerima tanggungjawab, bentuk / format pertanggungjawaban), monitoring dan evaluasi (metoda / sistem dan instansi terkait), pengawasan (bentuk, unsur-unsur / obyek pengawasan, petugas / unit pengawas, instrument pengawasan, dan pelaksanaan pengawasan), dan sebagainya.

Bentuk regulasi pelimpahan kewenangan dari berbagai daerah Sebagian besar pelimpahan wewenang dari Bupati kepada Camat dilakukan melalui penerbitan Keputusan Bupati atau Peraturan Bupati.

Belum ditemukan daerah yang menggunakan Peraturan Daerah. Hal ini mengingat pelimpahan wewenang adalah pendelegasian dari pejabat (bupati) kepada pejabat bawahannya (camat) yang cukup diatur dengan Keputusan atau Peraturan Bupati. Daerah yang menggunakan Keputusan Bupati/Walikota untuk

pelimpahan wewenang kepada camat adalah Kota Bandung yang mengatur 19 bidang kewenangan meliputi 96 rincian kewenangan; Kota Surabaya mengatur 15 bidang dan 68 rincian kewenangan; Kabupaten Bandung mengatur 27 bidang dan 109 rincian kewenangan; Kabupaten Lampung Utara mengatur 23 bidang dan 317 rincian kewenangan. Daerah-daerah tersebut langsung melakukan pelimpahan wewenang dengan sejumlah rincian kewenangan dalam satu Surat Keputusan. Namun demikian ada pula yang mengatur pelimpahan per jenis kewenangan, seperti Peraturan Bupati Agam No. 9/2006 tentang Pelimpahan Wewenang Penandatanganan KTP kepada Camat.

75

BAB IV PUNUTUP Kesimpulan Keberhasilan program pemberdayaan Kecamatan melalui pelimpahan kewenangan, sangat tergantung kepada sejauhmana desain program disusun dengan baik, dan juga sejauhmana program tadi benarbenar berbasis pada kebutuhan dan kepentingan masyarakat local (people-centered policy). Salah satu hal yang sangat krusial disini adalah perlunya ada kejelasan tentang format kelembagaan kecamatan di masa mendatang, apakah akan dikembangkan menjadi “perangkat semi desentralisasi” dengan tugas-tugas sektoral substantif, atau tetap pada posisi semula sebagai “perangkat kewilayahan dibawah kabupaten”. Rekomendasi Pelimpahan wewenang kepada camat yang dilakukan dengan pola seragam, artinya kewenangan yang dilimpahkan sama untuk semua kecamatan tanpa melihat karakteristik wilayah, potensi, dan jumlah penduduknya. Hal ini membuat kecamatan tidak berkembang. Berdasarkan karakteristiknya, kewenangan pelayanan yang dapat dijalankan oleh Camat yaitu sebagai berikut : mudah, dalam arti tidak memerlukan persyaratan teknis tinggi; sederhana, dalam arti tidak memerlukan prosedur yang banyak; murah,dalam arti pembiayaannya lebih murah bagi masyarakat dibanding apabila ditangani oleh Dinas teknis di ibukota Kabupaten; terjangkau oleh masyarakat setempat, baik dilihat dari lokasi maupun waktunya. Oleh karena itu, kewenangan Camat untuk mengeluarkan izin-izin tertentu, kriterianya sebagai berikut: a) izin yang dampaknya terhadap lingkungan kecil, b) menggunakan teknologi yang sederhana, c) tidak membutuhkan penelitian yang mendalam, d) investasinya kecil, dan e)

teknologi tepat guna/padat karya.

77

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->