P. 1
Model Pembangunan Berbasis RT Sebuah Evaluasi

Model Pembangunan Berbasis RT Sebuah Evaluasi

|Views: 461|Likes:

More info:

Published by: Syahrul Mustofa.S.H.,M.H on Aug 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/08/2014

pdf

text

original

MENATA MODEL PEMBANGUNAN BERBASIS RUKUN TETANGGA (PBRT

)
“Inovasi Yang Penuh Prestasi Namun Miskin Kreasi Inovasi”

Penulis : Syahrul Mustofa, S.H.,M.H

Diterbitkan Oleh : Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa TAHUN 2010

BAB I PENDAHALUAN

1.1.

Latar Belakang Masalah Program Pembangunan Berbasis Rukun Tetangga, telah dimulai sejak

tahun 2007 sampai dengan sekarang. PBRT adalah merupakan program prioritas sekaligus unggulan KSB. Program ini telah menjadi wacana dan diskursus yang menarik dari berbagai kalangan, bukan hanya warga masyarakat di KSB, melainkan pula dari Kabupaten/Kota lainnya di NTB, dan Kab/Kota lainnya di Indonesia. Bahkan, pada tahun 2010 sebanyak 8 delegasi negara asing dan 15 Provinsi di Indonesia mengunjungi KSB untuk mempelajari model Program Pembangunan Berbasis Rukun Tetangga. Sejumlah prestasi telah diraih dalam program ini, antara lain adalah ; sebagai juara II dalam Sayembara GLG (Good Local Governance) oleh Pemerintah Provinsi NTB yang bekerjasama dengan GTZ, salah satu NGO/LSM Internasional asal Negara Jerman pada tahun 2008 dan menghatarkan pula Bupati KSB, Dr. KH. Zulkifli Muhadli, SH.,MM menjadi seorang Doktor Ilmu Sosial. Program Pembangunan Berbasis Rukun Tetangga adalah merupakan salah satu program inovatif KSB. Program ini secara umum adalah berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin yang ada di setiap lingkungan RT melalui proses pemberdayaan dan penguatan warga desa dan RT. Semangat yang melatarbelakangi RT sebagai basis pembangunan dilatarbelakangi oleh sejarah, kedudukan, peran dan fungsi RT selama ini. RT merupakan organisasi sosial kemasyarakatan yang keberadaannya sudah lama dan memiliki kedekatan dengan warga, posisi RT sebagai pondasi sekaligus ujung tombak dalam proses pembangunan. Sejarah telah membuktikan bahwa

kedudukan dan peran RT yang strategis dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik dan budaya masyarakat telah dijadikan sebagai sarana atau salah satu instrumen penting bagi penjajah-jepang melakukan proses pembodohan masyarakat dan mampu mempertahankan keamanan lingkungan. Melalui keberadaan dan peran RT pula, pemerintah Orde Baru berhasil

mempertahankan dan memenangkan Pemilu dari orde ke orde, dari RT inipula kita bisa menyaksikan bagaimana prakarsa gotong royong dan swadaya masyarakat yang murni itu terbangun dan fakta-fakta lainnya. Artinya posisi, fungsi dan peran RT di Indonesia sesungguhnya sangatlah strategis dan potensial dalam rangka mendorong sebuah proses

perubahan sosial, ekonomi bahkan politik dan keamanan lingkungan. Tinggal pertanyaannya sekarang adalah kemana arah kebijakan dan perubahan yang akan dicapai atau dituju dari kedudukan dan peran RT yang strategis tersebut. Semuanya itu akan sangat tergantung dari sejauhmana Pemerintah Daerah menempatkan posisi dan peran RT, serta bagaimana kehendak masyarakat terhadap peran dan fungsi RT saat ini. Program PBRT adalah merupakan instrumen untuk mendorong

terwujudnya kesejahteraan ekonomi, sosial, politik dan budaya sekaligus merupakan sarana tranformasi sosial yang diharapkan mampu untuk mendongkrak keterpurukan situasi dan kondisi masyarakat yang berkembang selama ini. Inovasi ini cukup menarik dan unik, karena merupakan satusatunya model pembangunan yang ada di provinsi NTB bahkan di Indonesia. Namun, sejauh ini belum banyak dilakukan upaya untuk dilakukan kajian dan evaluasi secara mendalam mengenai perkembangan pelaksanaan PBRT di daerah, khususnya terkait capaian pelaksanaan keberhasilan, permasalahan yang berkembang maupun terkait dengan kekuatan dan kelemahan serta harapan-harapan masyarakat KSB dimasa mendatang atas PBRT.

1.2.

Rumusan Masalah

Penelitian ini difokuskan untuk menjawab permasalahan dan pertanyaan sebagai berikut :

1. Bagaimanakan

konsep

umum

Pembangunan

Berbasis

Rukun

Tetangga dan gambaran implementasi dari PBRT di Kabupaten Sumbawa Barat sejak diberlakukan hingga sekarang? 2. Sejauhmanakah capaian keberhasilan pelaksanaan PBRT dan

permasalahan-permasalahan yang dihadapai dalam implementasi PBRT selama ini? 3. Faktor-faktor apakah yang merupakan faktor pendukung maupun penghambat dari keberhasilan dan kegagalan implementasi program PBRT di Kabupaten Sumbawa Barat ? 4. Program dan kegiatan apasajakah yang inovatif dan populer di tengah-tengah masyarakat dan memperoleh respons yang positif dan sejauhmanakah tingkat kepuasan masyarakat atas program dan kegiatan dilapangan? 5. Bagaimanakah Visi, Misi, Program dan Kegiatan yang perlu dikembangkan dan disempurnakan dalam Pembangunan Berbasis RT untuk lima tahun kedepan ?

1.3.

Tujuan penelitian Penelitian ini bertujuan untuk : 1. Mendeskripsikan mengenai konsep PBRT serta perjalanan

pelaksanaan Program Pembangunan Berbasis RT di Kabupaten Sumbawa Barat sejak tahun 2007 hingga sekarang 2. Mengidentifikasi tingkat capaian keberhasilan pelaksanaan PBRT dan permasalahan-permasalahan yang dihadapai dalam implementasi PBRT selama ini. 3. Mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor pendukung maupun penghambat dari keberhasilan maupun kegagalan implementasi program Pembangunan Berbasis RT di Kabupaten Sumbawa Barat. 4. Mengidentifikasi dan menganalisis Program dan kegiatan yang inovatif dan populer di tengah-tengah masyarakat serta

mendeskripsikan tingkat kepuasan masyarakat atas program dan kegiatan dilapangan. 5. Mengidentifikasi dan memformulasikan rumusn Visi, Misi, Program dan Kegiatan yang perlu dikembangkan dan disempurnakan dalam Pembangunan Berbasis RT untuk lima tahun kedepan (2011-2015).

1.4.

Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pemerintah daerah antaralain manfaat tersebut adalah ; a. Sebagai bahan dokumentasi atas pelaksanaan Program

Pembangunan Berbasis Rukun Tetangga yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah. b. Sebagai bahan evaluasi bagi Pemerintah Daerah sekaligus sarana informasi untuk dapat mengetahui tingkat keberhasilan/kegagalan Program Pembangunan Berbasis RT secara obyektif dan

independen. c. Sebagai bahan bagi Pemerintah daerah untuk mengetahui posisi dan perkembangan program PBRT sekaligus mengetahui peta

kelemahan dan kekuatan, maupun peta peluang dan tantangan pelaksaaan Pembangunan Berbasis Rukun Tetangga yang dihadapi selama ini dan masa yang akan datang. d. Sebagai sarana bagi Pemerintah Daerah untuk dapat merumuskan kebijakan, anggaran, Program dan Kegiatan Pembangunan Berbasis Rukun Tetangga 2015). e. Secara akademik adalah sebagai bahan referensi untuk yang tepat untuk periode selanjutnya (2011-

pengembangan pendidikan dan penelitian selanjutnya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Perencanaan Beberapa rumusan mengenai perencanaan ada di berbagai literatur. Menurut Abe (2005:27) perencanaan berasal dari kata rencana yang berarti rancangan atau rangka sesuatu yang akan dikerjakan. Pengertian sederhana tersebut dapat diuraikan beberapa komponen penting, yakni tujuan (apa yang hendak dicapai), kegiatan (tindakan-tindakan untuk merealisasikan tujuan), dan waktu kapan (bilamana kegiatan tersebut hendak dilakukan). Selanjutnya Abe (2005:31) menjelaskan perencanaan adalah susunan (rumusan)

sistematik mengenai langkah-langkah yang akan dilakukan di masa depan, dengan pertimbangan-pertimbangan yang seksama atas potensi-potensi, faktor-faktor internal dan pihak-pihak yang berkepentingan dalam mencapai tujuan tertentu. Nawawi (2003:29) mengemukakan sebagai berikut “Perencanaan

adalah proses pemilihan dan penetapan tujuan, strategi, metode, anggaran, dan standar (tolok ukur) keberhasilan suatu kegiatan”. Pengertian ini menunjukkan bahwa perencanaan merupakan proses atau rangkaian beberapa kegiatan yang saling berhubungan dalam memilih salah satu dari beberapa alternatif tentang tujuan yang ingin dicapai dan oleh metode sebuah untuk

organisasi/perusahaan.

Kemudian

memilih

strategi

mencapai tujuan tersebut. Hasibuan

(2005:91) mengemukakan bahwa

perencanaan (planning) adalah fungsi dasar (fundamental) manajemen, karena organizing, staffing, directing, dan controlling pun harus terlebih dahulu direncanakan. Perencanaan ini adalah dinamis. Perencanaan ini ditujukan pada masa depan yang penuh dengan ketidakpastian, karena adanya perubahan kondisi dan situasi. Sedangkan Siagian (2005:41) pada dasarnya merupakan pengambilan

mendefinisikan perencanaan

keputusan sekarang tentang hal-hal yang akan dikerjakan di masa depan.

Conyers dalam Riyadi (2003:2) “Planning is a continuous process which

involves decisions, or choices, about alternative ways of using available resources, with the aim of achieving particulars goals at some time in the future.” Artinya, perencanaan adalah suatu proses yang terus menerus yang
melibatkan keputusan-keputusan atau pilihan-pilihan penggunaan sumber daya yang ada dengan sasaran untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu di masa yang akan datang. Sedangkan menurut Catanese dan Snyder (1996: 50) perencanaan merupakan aktivitas universal manusia, suatu keahlian dasar dalam kehidupan yang berkaitan dengan pertimbangan suatu hasil sebelum diadakan pemilihan diantara berbagai alternatif yang ada. Selanjutnya dengan memperbandingkan definisi perencanaan dari beberapa ahli, Kaho (2005:259) mengemukakan pengertian perencanaan merupakan suatu proses yang tidak mengenal akhirnya dan untuk mencapai hasil yang memuaskan, maka perencanaan harus mempertimbangkan kondisikondisi waktu yang akan datang di mana perencanaan tersebut akan dilaksanakan dan juga kondisi-kondisi pada saat sekarang, saat perencanaan dibuat. Dari uraian di atas, menurut Hasibuan (2005:94-95) dapat ditarik kesimpulan dari beberapa pengertian perencanaan sebagai berikut: 1. Perencanaan merupakan fungsi utama manajer. Pelaksanaan pekerjaan tergantung pada baik buruknya suatu rencana; 2. Perencanaan harus diarahkan pada tercapainya tujuan. Jika tujuan tidak tercapai mungkin disebabkan oleh kurang baiknya rencana; 3. Perencanaan harus didasarkan pada kenyataan-kenyataan obyektif dan rasional untuk mewujudkan adanya kerjasama yang efektif; 4. Perencanaan harus mengandung atau dapat diproyeksikan kejadian-kejadian pada masa yang akan datang; 5. Perencanaan harus memikirkan matang-matang tentang anggaran, kebijaksanaan, program, prosedur, metode, dan standar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan; 6. Perencanaan harus memberikan dasar kerja dan latar belakang bagi fungsi-fungsi manajemen lainnya. Dari berbagai pendapat ahli tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa perencanaan merupakan sebuah tindakan awal dalam proses

pengambilan keputusan dengan melakukan pengkajian yang mendalam terhadap konsep maupun fakta (pilihan alternatif) secara komprehensif yang dapat dirumuskan dalam bentuk kebijakan yang kemudian

dilaksanakan sesuai tujuan yang ditetapkan (pada waktu yang akan datang). Dalam melakukan suatu perencanaan, maka perencanaan harus memenuhi unsur-unsur perencanaan. Menurut Riyadi dan Bratakusumah (2004:3), unsur-unsur perencanaan yang baik adalah sebagai berikut : 1. Adanya asumsi-asumsi yang didasarkan pada fakta-fakta. Ini berarti bahwa perencanaan hendaknya disusun dengan berdasarkan pada asumsi-asumsi yang didukung dengan fakta-fakta atau bukti-bukti yang ada. Hal ini menjadi penting karena hasil perencanaan merupakan dasar bagi pelaksanaan suatu kegiatan atau aktifitas. 2. Adanya alternatif-alternatif atau pilihan-pilihan sebagai dasar penentuan kegiatan yang akan dilakukan. Ini berarti bahwa dalam menyusun rencana perlu memperhatikan berbagai alternatif pilihan sesuai dengan kegiatan yang akan dilaksanakan. 3. Adanya tujuan yang ingin dicapai. Dalam hal ini perencanaan merupakan suatu alat/sarana untuk mencapai tujuan melalui pelaksanaan kegiatan. 4. Bersifat memprediksi sebagai langkah untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang dapat mempengaruhi pelaksanaan perencanaan. 5. Adanya kebijaksanaan sebagai hasil keputusan yang harus dilaksanakan. Selanjutnya Silalahi (2003 : 166) mengemukakan bahwa di dalam suatu perencanaan haruslah dirumuskan dan ditetapkan jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tentang : a. Apa yang harus dikerjakan (what must be done) b. Mengapa harus dikerjakan (why must be done) c. Di mana dikerjakan (where will be done) d. Kapan akan dikerjakan (when will be done) e. Siapa yang akan mengerjakan (who will do it); dan f. Bagaimana hal tersebut akan dikerjakan (how will it be done). Sedangkan Kunarjo (2002:23) mengemukakan pada dasarnya

perencanaan yang baik mempunyai beberapa persayaratan sebagai berikut:

1. 2. 3. 4. 5.

Perencanaan harus didasari dengan tujuan pembangunan; Perencanaan harus konsisten dan realistis; Perencanaan harus dibarengi dengan pengawasan yang kontinyu; Perencanaan harus mencakup aspek fisik dan pembiayaan; Para perencana harus memahami berbagai perilaku dan hubungan antarvariabel ekonomi; dan 6. Perencanaan harus mempunyai koordinasi. Dari berbagai pengertian yang telah di sampaikan tersebut dapat

dikatakan bahwa perencanaan yang baik adalah perencanaan yang dapat menjawab atau memenuhi pertanyaan-pertanyaan sebagaimana di

kemukakan. Selanjutnya dalam perencanaan harus terkandung tujuan-tujuan atau sasaran-sasaran yang akan dicapai, pendayagunaan sumber daya yang ada baik sumber daya manusia maupun materiil dan waktu agar efektifitas pencapaian tujuan dapat tercapai. Perencanaan juga harus konsisten dan realistis, disertai pengawasan yang terus menerus, mencakup aspek fisik dan pembiayaan, mempunyai koordinasi dan para perencananya harus memahami permasalahan ekonomi. Ada beberapa manfaat dari suatu perencanaan. Menurut Tjokroamidjojo (1995:8), manfaat perencanaan didasarkan pada tiga hal yaitu pada : a) Penggunaan sumber-sumber pembangunan secara efisien dan efektif; b) Keperluan mendobrak ke arah perubahan struktural ekonomi dan sosial masyarakat; c) Yang terpenting adalah arah perkembangan untuk kepentingan keadilan sosial. Sedangkan menurut Hasibuan (2005:110) manfaat perencanaan adalah : 1. Dengan perencanaan tujuan menjadi jelas, obyektif dan rasional; 2. Perencanaan menyebabkan semua aktivitas terarah, teratur dan ekonomis; 3. Perencanaan akan meningkatkan daya guna dan hasil guna semua potensi yang dimiliki; 4. Perencanaan menyebabkan semua aktivitas teratur dan bermanfaat; 5. Perencanaan dapat menggambarkan keseluruhan organisasi; 6. Perencanaan dapat memperkecil resiko yang dihadapi organisasi; 7. Perencanaan memberikan landasan untuk pengendalian; 8. Perencanaan merangsang prestasi kerja;

9. Perencanaan memberikan gambaran mengenai seluruh pekerjaan dengan jelas dan lengkap; 10. Dengan perencanaan dapat diketahui tingkat keberhasilan pegawai. Selanjutnya, manfaat perencanaan menurut Kaho (2005:260) akan memberikan banyak manfaat bagi organisasi, antara lain: a. Membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahanperubahan lingkungan; b. Membantu dalam kristalisasi persesuaian pada masalah-masalah utama; c. Memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran operasi lebih jelas; d. Membantu penempatan tanggung jawab lebih tepat; e. Memberikan cara pemberian perintah untuk beroperasi; f. Memudahkan dalam melakukan koordinasi; g. Membuat tujuan lebih khusus, terinci, dan lebih mudah dipahami; h. Meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti; i. Menghemat waktu, usaha, dan dana. Dapat disimpulkan bahwa perencanaan bermanfaat untuk

menggunakan sumberdaya yang dimiliki secara optimal guna mencapai hasil optimal ke arah perubahan struktur ekonomi dan sosial serta mengurangi adanya kesenjangan di antara masyarakat suatu negara atau daerah. Setiap organisasi memerlukan perencanaan dalam pelaksanaan setiap kegiatannya menimbulkan baik organisasi pemerintah rencana maupun dalam swasta, sehingga

berbagai

macam

perkembangannya.

Perencanaan (Arsyad;1999) dan Jhingan (2004) dapat dikelompokkan pada berbagai segi, yaitu: (1) Berdasarkan jangka waktu, (2) berdasarkan sifat perencanaan, (3) berdasarkan alokasi alokasi sumberdaya, (4) berdasarkan tingkat keluwesan, (5) berdasarkan sistem ekonomi, dan (6) berdasarkan cara pelaksanaannya (arus informasi) Berdasarkan jangka waktu, perencanaan dibagi menjadi perencanaan jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek. Perencanaan jangka panjang biasanya mempunyai rentang waktu antara 10 sampai 25 tahun. Rencana jangka panjang merupakan cetak biru pembangunan yang harus dilaksanakan dalam jangka waktu panjang. Sedangkan perencanaan jangka menengah biasanya mempunyai rentang waktu antara 4 sampai 6 tahun.

Dalam perencanaan jangka menengah ini walapun masih umum, sasaransasaran dalam kelompok besar (sasaran sektoral) sudah dapat diproyeksikan dengan benar. Rencana jangka pendek mempunyai rentang waktu 1 tahun, biasanya disebut juga rencana operasional tahunan. Rencana jangka pendek biasanya lebih akurat, karena melihat masa depan yang pendek lebih mudah daripada melihat masa depan dalam jangka panjang. Berdasarkan pada sifat perencanaan, perencanaan dapat dibagi menjadi perencanaan dengan komando (planning by direction) dan perencanaan dengan rangsangan (planning by enducement). Dalam perencanaan komando, pemerintah pusat merencanakan, mengatur dan memerintahkan pelaksanaan rencana sesuai dengan sasaran dan prioritas yang ditetapkan sebelumnya. Perencanaan dengan rangsangan merupakan sistem perencanaan demokratis dimana ada kebebasan berusaha, kebebasan berkonsumsi, dan kebebasan berproduksi. Tetapi kebebasan itu juga tunduk pengaturan pemerintah. Berdasarkan pengalokasian sumberdaya perencanaan dibagi menjadi perencanaan keuangan dan perencanaan fisik. Perencanaan keuangan adalah teknik perencanaan dalam mengalokasikan dana (uang), sementara kepada pengendalian dan

perencanaan fisik adalah pengalokasian sumberdaya secara fisik misalnya manusia, bahan dan peralatan. Berdasarkan tingkat keluwesan suatu perencanaan dapat dibagi menjadi perencanaan indikatif dan perencanaan imperatif. Dalam perencanaan indikatif pemerintah memberikan wewenang kepada swasta untuk melakukan perencanaan dan mengelola sumber daya dengan bebas. Sedangkan dalam perencanaan indikatif semua menurut komando negara. Berdasarkan cara pelaksanaannya, perencanaan dapat dibedakan menjadi perencanaan sentralistik (Centralized) atau Top-down Planning dan Perencanaan Desentralistik (Decentralized) atau Bottom-up Planning. Pada perencanaan sentralistik, keseluruhan proses perencanaan suatu negara berada di bawah badan perencanaan pusat. Badan ini merumuskan suatu kegiatan dan sumber daya ekonomi berjalan

rencana pusat, menetapkan tujuan, sasaran dan prioritas untuk setiap sektor pembangunan. Perencanaan desentralistik pada perencanaan dari bawah. Rencana dirumuskan oleh badan perencanaan pusat setelah berkonsultasi dengan berbagai unit administrasi negara. Rencana ini menggabungkan rencana daerah/wilayah.

2.2. Pengertian Pembangunan Secara sederhana terminologi pembangunan kerap diartikan sebagai proses perubahan ke arah keadaan yang lebih baik. Pengertian pembangunan menurut Kartasasmita (1997:6) adalah suatu proses yang berkesinambungan dari peningkatan pendapatan riil perkapita melalui peningkatan jumlah dan produktivitas sumber daya. Dengan defenisi ini pembangunan dapat dimaknai sebagai kegiatan nyata dan berencana untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Siagian (1999:4) menyepakati bahwa pembangunan merupakan suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana dan dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah, menuju modernitas dalam rangka nation building. Lebih lanjut Saul M.Katz (Tjokrowinoto, 1996:7) menyebutkan bahwa definisi

pembangunan adalah : “pergeseran dari satu (one state of national being) kondisi nasional yang satu menuju ke kondisi nasional yang lain, yang dipandang lebih baik (more valued), tetapi apa yang disebut more valued (lebih baik/lebih berharga), berbeda dari satu negara ke negara lain (culture specific) atas dari satu periode ke periode lain (time specific)” Istilah pembangunan secara luas (Todaro, 2003:21) sebagai suatu proses perbaikan yang berkesinambungan atas suatu masyarakat atau sistem sosial secara keseluruhan menuju kehidupan yang lebih baik atau lebih manusiawi. Dari defenisi tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa pada prinsipnya pembangunan merupakan kegiatan yang sengaja dilakukan untuk

mengadakan suatu perubahan sesuai yang diinginkan. Perubahan ini dimaksudkan untuk manambah nilai. Dalam pelaksanaannya memerlukan suatu waktu yang telah disepakati serta bersifat berkelanjutan.

Pada dasarnya pembangunan bertujuan untuk memperbaiki kehidupan sesuai yang diharapkan berupa terpenuhinya kebutuhan pokok, adanya perubahan kualitas standar kehidupan, maupun pilihan-pilihan ekonomis lainnya. Pilihan ekonomi ini memberikan alternatif manusia dalam memenuhi kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial. Ada tiga tujuan inti pembangunan (Todaro, 2003:28). Ketiga tujuan inti tersebut adalah pertama, peningkatan ketersediaan serta perluasan distribusi berbagai macam barang kebutuhan hidup yang pokok, seperti pangan, sandang, papan, kesehatan dan perlindungan keamanan; kedua, peningkatan standar hidup yang tidak hanya merupakan peningkatan pendapatan, tetapi juga penambahan penyediaan lapangan kerja, perbaikan kualitas pendidikan, serta peningkatan perhatian atas nilai-nilai kultural dan kemanusiaan, yang kesemuanya tidak hanya untuk memperbaiki kesejahteraan materiil, melainkan juga menumbuhkan harga diri pada pribadi dan bangsa yang bersangkutan;

ketiga, serta perluasan pilihan-pilihan ekonomis dan sosial bagi setiap individu
serta bangsa secara keseluruhan, yakni dengan membebaskan mereka dari belitan sikap menghamba dan ketergantungan, bukan hanya terhadap negara atau bangsa-bangsa lain, namun juga terhadap setiap kekuatan yang berpotensi merendahkan nilai-nilai kemanusiaan mereka. Pembangunan memiliki beberapa paradigma. Setiap paradigma

pembangunan tersebut mengalami pergeseran paradigma tergantung kepada sistem paradigma pembangunan yang berlaku. Paradigma pembangunan yang menjadi acuan pembangunan nasional, dapat mengalami perubahan dengan paradigma pembangunan yang baru. Paradigma diartikan sebagai cara pandang terhadap suatu bidang keilmuan. Paradigma yang satu dengan yang lainnya tidak dapat disamakan tapi dapat diperbandingkan. Pembangunan yang dilakukan oleh Indonesia sebagai negara berkembang merupakan suatu proses kegiatan yang terencana dalam upaya pertumbuhan ekonomi, perubahan sosial, dan modernisasi bangsa guna peningkatan kualitas hidup manusia dan kesejahteraan masyarakat.

Perkembangan paradigma dan strategi pembangunan menurut Suryono (2001 : 55) adalah sebagaiberikut : 1. Paradigma dan Strategi Pertumbuhan (growth) Merupakan konsep pembangunan untuk mengejar ketinggalan suatu negara dalam rangka peningkatan pendapatan masyarakat dan pertumbuhan pendapatan nasional. Muncul teori Rostow (1960) tentang tahapan pembangunan, yaitu tahap masyarakat tradisional; tahap pra kondisi untuk tinggal landas; tahap tinggal landas, tahap menuju kedewasaan; dan tahap konsumsi massa tinggi. 2. Paradigma pertumbuhan dan pemerataan (growth and equity). Strategi ini lebih diorientasikan pada pengelolaan dan investasi sumber daya manusia dan pembangunan sosial dalam proses pembangunan. 3. Paradigma Pembangunan yang Berkelanjutan (sustainable development) Konsep pembangunan yang ditawarkan oleh Korten karena adanya beberapa masalah di negara-negara yang sedang berkembang, antara lain pertambahan penduduk, urbanisasi, kemiskinan, kebodohan, partisipasi masyarakat, organisasi sosial politik, kerusakan lingkungan dan pembangunan masyarakat pedesaan. Di samping itu juga adanya masalah kependudukan (pengangguran, urbanisasi, kemiskinan, pendidikan, kesehatan dan pendapatan) dan kerusakan lingkungan alam akibat dari pembangunan yang tidak berdimensi pada pembangunan manusia, sehingga berpengaruh terhadap masalah keadilan, kelangsungan hidup dan integritas pembangunan yang saling mendukung. Strategi Pembangunan yang berkelanjutan dicirikan oleh : (a) Pembangunan yang berdimensi pelayanan sosial yang diarahkan pada kelompok sasaran melalui pemenuhan kebutuhan pokok; (b) Pembangunan yang ditujukan pada pembangunan sosial seperti mewujudkan keadilan, pemerataan dan peningkatan budaya, serta menciptakan kedamaian; (c) Pembangunan yang diorientasikan pada manusia untuk berbuat melalui pembangunan yang berpusat pada manusia dan meningkatkan pemberdayaan manusia. 4. Paradigma Pembangunan yang Berpusat Pada Manusia (people centered development). Arah pembangunannya ádalah untuk mendukung pemerataan dan pertumbuhan dalam rangka kelangsungan pembangunan yang bersifat global, seperti transformasi nilai, kelembagaan, teknologi, dan perilaku manusia yang konsisten terhadap kualitas kehidupan sosial dan lingkungannya.

Sedangkan menurut Hamzens (2005 : 37), terdapat lima paradigma pembangunan, antara lain : 1. Paradigma Pertumbuhan (growth pole) Keberhasilan pembangunan dinilai dari presentase pertumbuhan yang diraih dari berbagai bidang pembangunan, keberhasilan pembangunan dilaporkan pada setiap akhir tahun anggaran.

2. Paradigma Pemerataan (equity) Karena pertumbuhan yang berlangsung pada tahap selanjutnya disadari tidak merata dimiliki oleh seluruh rakyat, kekayaan yang dimiliki dan diproduksi Bangsa Indonesia tidak merata dapat dimiliki secara adil oleh semua penduduknya. Pemerintah kemudian menerapkan model pemerataan untuk kelanjutan pelaksanaan pembangunan. 3. Paradigma Pemenuhan Kebutuhan Dasar (Basic Need Strategy) Pembangunan didasarkan pada pemenuhan terhadap kebutuhan dasar manusia. 4. Paradigma Keberlanjutan (Sustainable) Pembangunan yang dilakukan harus berkelanjutan dan tidak merusak lingkungan alam. 5. Paradigma Pemberdayaan (Empowerment) Pembangunan dilakukan melalui pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM).

2.3. Perencanaan Pembangunan Dalam memahami perencanaan pembangunan daerah maka pengertian perencanaan pembangunan harus dipahami terlebih dahulu. Perencanaan pembangunan merupakan tahapan awal yang akan digunakan sebagai bahan atau acuan bagi pelaksanaan kegiatan pembangunan (action plan). (2004;7) memberikan defenisi perencanaan pembangunan sebagai : “Suatu perumusan alternatif-alternatif atau keputusan-keputusan yang didasarkan pada data-data dan fakta-fakta yang akan digunakan sebagai bahan untuk melaksanakan suatu rangkaian kegiatan/aktivitas kemasyarakatan, baik yang bersifat fisik (material) maupun non fisik (mental dan spritual), dalam rangka mencapai tujuan yang lebih baik.” Riyadi

Berdasarkan UU No 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Perencanaan Pembangunan disebutkan sebagai sebuah sistem, sehingga membentuk sistem pembangunan nasional. Dalam undang-undang tersebut yang dimaksud dengan Sistem Perencanaan

Pembangunan Nasional adalah satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam

jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat Pusat dan Daerah. Dari pengertian tentang perencanaan pembangunan di atas, dapat dikatakan bahwa perencanaan pembangunan dapat efektif apabila

penyelenggara negara (pemerintah) harus mampu merumuskan tujuan yang akan direalisasikan. Penyelenggara negara (pemerintah) harus mengetahui proses dan segala bentuk hubungan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pemerintah harus mempunyai kekuatan dan kekuasaan

menggunakan sumber daya. Tjokroamidjojo (1995 : 49) telah memberikan ciri-ciri perencanaan pembangunan, yaitu ;

pertama, yaitu perencanaan pembangunan yang dicerminkan dalam suatu usaha peningkatan produksi nasional, kedua perencanaan
pembangunan yang berorientasi pada pendapatan per kapita. Ini merupakan kelanjutan dari ciri pertama. Ketiga, perencanaan pembangunan yang merupakan usaha untuk mengadakan perubahan struktur ekonomi, keempat, perencanaan pembangunan yang merupakan usaha untuk perluasan kesempatan kerja, kelima, perencanaan pembangunan yang mempunyai kecenderungan pada usaha untuk pemerataan pembangunan, keenam, perencanaan pembangunan yang merupakan usaha pembinaan kepada lembagalembaga ekonomi masyarakat yang menunjang kegiatan-kegiatan pembangunan, ketujuh, yaitu perencanaan pembangunan yang mengarah pada kemampuan pembangunan secara bertahap didasarkan pada kemampuan nasional, kedelapan, perencanaan pembangunan yang merupakan usaha secara terus menerus menjaga stabilitas ekonomi, dan kesembilan, merupakan tujuan pembangunan yang fundamental ideal atau bersifat jangka panjang. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri tersebut merupakan tahapan bentuk dari perencanaan pembangunan bagi suatu negara atau daerah dalam melakukan perencanaan. Tahapan ini ditentukan berdasarkan tingkat kemampuan bagi suatu daerah. Apabila suatu daerah baru atau negara baru melakukan perencanaan, maka harus dilihat apakah mereka sudah mempunyai tingkat produksi yang tinggi, dan apabila

hal ini dinyatakan sudah, maka mereka baru dapat melakukan perencanaan pembangunan pada ciri yang kedua, demikian seterusnya sampai pada akhirnya perencanaan terhadap pencapaian tujuan yang ideal atau

fundamental. Disamping ciri-ciri perencanaan pembangunan, perlu diperhatikan unsur-unsur pokok perencanaan pembangunan. Sebagaimana diungkapkan oleh Tjokroamidjojo (1995), unsur-unsur pokok dalam perencanaan

pembangunan adalah sebagai berikut : a) Kebijaksanaan dasar atau strategi dasar rencana pembangunan, yang merupakan unsur dasar daripada seluruh rencana yang kemudian dituangkan dalam unsur-unsur pokok lainnya. Salah satunya adalah penetapan tujuan-tujuan rencana. b) Kerangka rencana, yang biasa juga disebut dengan kerangka makro, yang menghubungkan berbagai variabel pembangunan serta implikasi hubungan tersebut. c) Perkiraan sumber-sumber pembangunan, yang seringkali merupakan bagian dari penelaahan kerangka makro rencana. d) Uraian tentang kerangka kebijaksanaan yang konsisten. Berbagai kebijakan perlu dirumuskan dan kemudian dilaksanakan dimana kebijakan-kebijakan tersebut harus serasi dan konsisten. Antara lain yaitu kebijakan fiskal, penganggaran, moneter, harga serta kebijakan lainnya. e) Program investasi, yang perlu dilakukan secara bersamaan dengan penyusunan sasaran-sasaran rencana. Penyusunan di sini perlu dilakukan secara seksama dan dilakukan berdasar perencanaan yang lebih operasional. Dalam penyusunan program investasi dan sasaran rencana pembangunan diserasikan dengan kemungkinan pembiayaan yang wajar. f) Administrasi pembangunan. Salah satu segi penting perencanaan adalah pelaksanaan rencana, dan untuk itu siperlukan administrasi negara yang mendukung usaha perencanaan dan pelaksanaan pembangunan tersebut. Dalam hal ini perlu penelaahan terhadap mekanisme dan kelembagaan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Proses perencanaan merupakan suatu prosedur dan tahapan dari perencanaan itu dilaksanakan. Secara hirarki, prosedur perencanaan itu dilakukan atas dasar prinsip Top-Down Planning, yaitu proses perencanaan yang dilakukan oleh pemimpin tertinggi suatu organisasi kemudian atas dasar keputusan tersebut dibuat suatu perencanaan di tingkat yang lebih rendah.

Prinsip lainnya adalah lawan dari prinsip di atas yaitu Bottom-Up Planning yang merupakan perencanaan yang awalnya dilakukan di tingkat yang paling rendah dan selanjutnya disusun rencana organisasi di atasnya sampai dengan tingkat pusat atas dasar rencana dari bawah. Senada dengan pendapat di atas menurut Abe (2005 : 77), bahwa,“tahap-tahap dalam perencanaan pembangunan adalah penyelidikan, perumusan, menentukan tujuan dan target, mengidentifikasi sumberdaya (daya dukung), merumuskan rencana kerja, dan menentukan anggaran (budget) yang hendak digunakan dalam realisasi rencana. Dalam konteks upaya perubahan, langkah untuk melakukan evaluasi, dapat dimasukkkan menjadi bagian dari tahap kerja.” Dari pendapat tersebut dapat dijelaskan bahwa perencanaan yang dimaksud adalah perencanaan yang merupakan kegiatan penyusunan rencana dalam hal ini merupakan pembuatan dokumen rencana. Namun, seperti telah dikemukakan bahwa perencanaan bukanlah merupakan suatu kegiatan penyusunan dokumen rencana saja, melainkan dalam pengertian yang luas yaitu perencanaan yang meliputi proses kegiatan yang menyeluruh dan terus menerus dari penyusunan rencana, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi. Berikut ini disampaikan proses atau tahap-tahap dalam suatu perencanaan oleh Tjokroamidjojo (1995), yaitu : a) Penyusunan Rencana Penyusunan rencana ini meliputi unsur-unsur, yakni : 1. Tinjauan keadaan, merupakan kegiatan berupa tinjauan sebelum memulai suatu rencana atau tinjauan terhadap pelaksanaan rencana sebelumnya. Di sini diusahakan dapat diidentifikasi masalah-masalah pokok yang dihadapi, sejauh mana kemajuan telah dicapai, hambatan-hambatan dan potensi-potensi yang ada. 2. Forecasting (peramalan), yaitu merupakan perkiraan keadaan masa yang akan datang. 3. Penetapan tujuan dan pemilihan cara-cara pencapaian tujuan tersebut. 4. Identifikasi kebijaksanaan dan/atau kegiatan usaha yang perlu dilakukan dalam rencana. Suatu policy mungkin perlu didukung oleh program-program pembangunan, yang agar lebih operasional rencana kegiatan usaha ini perlu dilakukan berdasarkan pemilihan alternatif yang terbaik, yang dalam hal ini dilakukan berdasarkan opportunity cost dan skala prioritas.

5. Persetujuan Rencana. b) Penyusunan Program Rencana Merupakan tahap perumusan yang lebih terperinci mengenai tujuantujuan atau sasaran, suatu perincian jadwal kegiatan, jumlah dan jadwal pembiayan serta penentuan lembaga mana yang akan melakukan program-program pembangunan tersebut. c) Pelaksanaan Rencana Dalam tahap ini merupakan tahap untuk melaksanakan rencana dimana perlu dipertimbangkan juga kegiatan-kegiatan pemeliharaan. Kebijaksanaan-kebijaksanaanpun perlu diikuti implikasi pelaksanaannya, bahkan secara terus-menerus perlu untuk dilakukan penyesuaian-penyesuaian. d) Pengawasan Adapun tujuan dari pengawasan ini adalah : Agar pelaksanaan berjalan sesuai dengan rencananya. Jika terdapat penyimpangan maka perlu untuk diketahui berapa jauh penyimpangan tersebut dan dicari penyebabnya. - Dilakukan tindakan korektif terhadap penyimpangan tersebut. Untuk itu diperlukan suatu sistem monitoring dengan pelaporan dan feedback daripada pelaksanaan rencana. e) Evaluasi Tahap ini dilakukan secara terus-menerus selama proses pelaksanaan. Selain itu, tahap ini dilakukan sebagai pendukung tahap penyusunan rencana yaitu evaluasi tentang situasi sebelum rencana dimulai dan evaluasi tentang pelaksanaan rencana sebelumnya. Sehingga dengan evaluasi dapat dilakukan perbaikan terhadap perencanaan selanjutnya dan penyesuaian terhadap perencanaan itu sendiri.

Perencanaan pembangunan daerah merupakan bentuk dari perumusan kepentingan lokal dalam memenuhi kebutuhan daerah itu sendiri. Mendukung pendapat tersebut, Abe (2002:65) mengemukakan perencanaan daerah merupakan proses menyusun langkah-langkah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah dalam rangka menjawab kebutuhan masyarakat untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Senada dengan hal tersebut, Arsyad (1999:303) menganggap bahwa perencanaan pembangunan daerah adalah perencanaan untuk memperbaiki penggunaan sumber daya publik yang tersedia di daerah dan untuk memperbaiki kapasitas sektor swasta dalam menciptakan nilai sumber daya secara bertanggung jawab.

Perencanaan pembangunan daerah menurut Syahroni (2002:5) adalah suatu usaha yang sistematik dari berbagai pelaku (aktor), secara terus menerus menganalisis kondisi, merumuskan tujuan, kebijakan, menyusun konsep strategi, menggunakan sumber daya daerah yang tersedia, untuk

meningkatkan

kesejahteraan

masyarakat

secara

berkelanjutan.

Sedangkan perencanaan pembangunan daerah menurut Riyadi (2004:7) adalah melakukan perubahan menuju arah yang lebih baik bagi suatu komunitas masyarakat, pemerintah dan lingkungannya dalam wilayah

tertentu/daerah tertentu dengan memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dan harus memiliki orientasi yang bersifat menyeluruh, lengkap tapi tetap berpegang pada azas prioritas. Ada beberapa tahapan dalam perencanaan pembangunan daerah. Menurut Syahroni (2002), terdapat empat tahapan dasar perencanaan pembangunan daerah. Tahap Pertama adalah pemahaman daerah, keluarannya adalah berupa profil daerah antara lain kondisi fisik geografis, sosial ekonomi, sosial budaya, lingkungan hidup, masalah-masalah daerah, potensi-potensi daerah, peluang dan tantangan. b. Tahap Kedua adalah Perumusan Kebijakan hasil/keluaran adalah dapat berupa visi dan misi, tujuan, arahan pembangunan, strategi umum dan prioritas pembangunan. Tahap ketiga adalah adalah perumusan dan penetapan programc. program dan rencana tindak, menghasilan program dan rencana tindak yang merupakan pedoman pelaksanaan pembangunan daerah. d. Tahap keempat adalah monitoring dan evaluasi, yang menhasilkan koreksi apabila terdapat penyimpangan, dan memberikan umpan balik bagi perencanaan selanjutnya. Tahapan kegiatan dalam proses perencanaan pembangunan daerah, a. menurut UU No. 25 Tahun 2004 adalah pertama, penyusunan rencana, kedua, penetapan rencana, ketiga, pengendalian pelaksanaan rencana dan keempat, evaluasi pelaksanaan rencana. Tahapan penyusunan rencana dilakukan untuk menghasilkan rancangan lengkap suatu rencana yang siap untuk ditetapkan yang terdiri dari empat langkah. Langkah pertama adalah penyiapan rancangan rencana

pembangunan yang bersifat teknokratik, menyeluruh dan terukur. Langkah

keua, masing-masing instansi pemerintah menyiapkan rancangan kerja dengan berpedoman pada rancangan rencana pembangunan yang telah disiapkan. Langkah berikutnya adalah melibatkan masyarakat (stakeholders) dan menyelarskan pembangunan yang dihasilkan masing-masing jenjang pemerintahan melalui musyawarah perencanaan pembangunan. Sedangkan langkah keempat adalah penyusunan rancangan akhir rencana pembangunan. Tahapan penetapan rencana bertujuan untuk menjadikan rencana menjadi produk hukum sehingga mengikat semua orang untuk

melaksanakannya. Menurut undang-undang ini, rencana pembangunan jangka panjang Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah (RPJPD), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) ditetapkan dengan

Peraturan Kepala Daerah dan Rencana Pembangunan Tahunan Daerah yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) ditetapkan sebagai Peraturan Kepala Daerah. Pengendalian pelaksanaan rencana pembangunan dimaksudkan untuk menjamin tercapainya tujuan dan sasaran pembangunan yang tertuang dalam rencana melalui kegiatan-kegiatan tersebut oleh koreksi Satuan dan Kerja penyesuaian Perangkat selama Daerah.

pelaksanaan

rencana

Selanjutnya Kepala Bappeda menghimpun dan menganalisis hasil pemantauan pelaksanaan rencana pembangunan dari masing-masing Satuan Kerja

Perangkat Daerah sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Evaluasi pelaksanaan rencana adalah bagian dari kegiatan perencanaan pembangunan yang secara sistematis mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk menilai pencapaian sasaran, tujuan dan kinerja pembangunan. Evaluasi ini dilaksanakan berdasarkan indikator dan sasran

kinerja yang tercantum dalam dokumen rencana pembangunan. Keberhasilan pencapaian tujuan perencanaan pembangunan daerah, menurut Riyadi (2004:15) dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor perencanaan pembangunan daerah merujuk pada faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pembangunan. Beberapa faktor tersebut adalah; faktor lingkungan, sumber daya manusia perencana, sistem yang digunakan, perkembangan ilmu dan teknologi, dan faktor pendanaan.

Faktor lingkungan ini bisa berasal dari luar (eskternal) maupun dari dalam (internal). Baik dari luar mapun dari dalam, faktor tersebut dapat mencakup sosial, budaya, ekonomi dan politik. Faktor sumber daya manusia merupakan motor penggerak perencanaan. Kualitas perencanaan yang baik akan lebih memungkinkan tercipta oleh sumber daya manusia yang baik. Menyangkut faktor sistem yang digunakan adalah aturan atau kebijakan yang digunakan oleh daerah tertentu sebagai pelaksanaan perencanaan

pembangunan. Hal ini bisa menyangkut prosedur, mekanisme pelaksanaan, pengesahan dan lain sebagainya. memberikan pengaruhnya Faktor ilmu pengetahuan dapat

dimana tidak hanya dari segi peralatan namun

dapat juga adanya berbagai teknik dan pendekatan yang lebih maju. Sedangkan faktor pendanaan merupakan membiayai sebuah aktivitas. Demikian faktor yang harus ada dalam halnya dengan perencanaan

pembangunan. Kepastian adanya sumber dana dapat memberikan jaminan akan terlaksananya perencanaan tersebut. Menurut Kuncoro (2004 : 54), mekanisme perencanaan pembangunan di era otonomi daerah terdiri dari proses top-down dan bottom-up. Proses

top-down dimulai dari pembahasan atas. Sebaliknya, proses bottom-up,
merupakan proses konsultasi di mana setiap tingkat pemerintahan menyusun

draft proposal pembangunan tahunan berdasarkan proposal yang diajukan
oleh tingkat pemerintahan di bawahnya.

2.4. Pengertian Partisipasi Pembangunan yang berorientasi pada pembangunan manusia, dalam pelaksanaannya sangat mensyaratkan keterlibatan langsung pada masyarakat penerima program pembangunan (partisipasi pembangunan). Karena hanya dengan partisipasi masyarakat penerima program, maka hasil pembangunan ini akan sesuai dengan aspirasi dan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Dengan adanya kesesuaian ini maka hasil pembangunan akan memberikan manfaat yang optimal bagi pemenuhan kebutuhan masyarakat. Oleh

karenanya salah satu indikator keberhasilan pembangunan adalah adanya partisipasi masyarakat penerima program. Demikian pula pembangunan sebagai proses peningkatan kemampuan manusia untuk menentukan masa depannya mengandung arti bahwa masyarakat perlu dilibatkan dalam proses tersebut. Di sini masyarakat perlu diberikan empowerment (kuasa dan wewenang) dan berpartisipasi dalam pengelolaan pembangunan. Ada banyak ahli yang mendefinisikan tentang partisipasi. Menurut Almond dalam Syamsi (1986:112), partisipasi didefinisikan “sebagai orang-

orang yang orientasinya justru pada penyusunan dan pemrosesan input serta melibatkan diri dalam artikulasi dari tuntutan-tuntutan kebutuhan dan dalam pembuatan keputusan”. Jnanabrota Bhattacharyya dalam Ndraha (1990:102)
mengartikan partisipasi sebagai pengambilan bagian dalam kegiatan bersama. Sedangkan Mubyarto dalam Ndraha (1990:102) mendefinisikannya sebagai kesediaan untuk membantu berhasilnya setiap program sesuai kemampuan setiap orang tanpa berarti mengorbankan kepentingan diri sendiri. Sementara Davis dalam Syamsi (1986:114) mendefinisikan partisipasi sebagai berikut “participation is defined as mental and emotional involvement

of persons in group situations that encourage them to contribute to group goals and share responsibility for them”. Dari pengertian tersebut, partisipasi
masyarakat dalam pembangunan desa adalah keterlibatan baik mental maupun emosi individu-individu anggota masyarakat untuk memberikan kontribusi dan bertanggung jawab terhadap tujuan pembangunan desa. Dalam keterlibatannya, masyarakat harus memberikan dukungan semangat berupa bentuk dan jenis partisipasi yang kesemuanya disesuaikan dengan kebutuhan dan fase pembangunan desa (perencanaan, pelaksanaan,

pemanfaatan dan pengawasan serta penilaian). Partisipasi warga menurut Sj Sumarto (2004:17) adalah “proses ketika warga, sebagai individu maupun kelompok sosial dan organisasi, mengambil peran serta ikut mempengaruhi proses perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan kebijakan-kebijakan yang langsung mempengaruhi kehidupan mereka”. Keterlibatan aktif atau partisipasi masyarakat menurut

Tjokroamidjojo (1983:207) dapat berarti keterlibatan dalam proses penentuan arah, strategi dan kebijaksanaan pembangunan yang dilakukan pemerintah. Berdasarkan beberapa definisi menurut para ahli tersebut di atas, bisa di tarik kesimpulan bahwa partisipasi merupakan pengambilan bagian atau keterlibatan anggota masyarakat dengan cara memberikan dukungan

kontribusi (tenaga, pikiran maupun materi) dan tanggung jawabnya terhadap setiap keputusan yang telah diambil demi tercapainya tujuan yang telah ditentukan bersama.

2.5. Bentuk dan Manfaat Partisipasi Masyarakat Bentuk partisipasi yang dapat dilakukan oleh masyarakat penerima program pembangunan, menurut Cohen dalam Syamsi (1986:114) terdiri dari partisipasi dalam pengambilan keputusan (decision making), implementasi, pemanfaatan (benefit) dan evaluasi program pembangunan. Keempat macam partisipasi tersebut merupakan suatu siklus yang dimulai dari decision making, implementasi, benefit dan evaluasi, kemudian merupakan umpan-balik bagi

decision making yang akan datang. Namun dapat pula dari decision making
langsung ke benefit atau pada evaluasi, begitu pula mengenai umpan baliknya. Di samping keempat bentuk partisipasi dari Cohen tersebut, Conyers (1992:154) perlu menambahkan satu lagi, yaitu masyarakat sebagai penerima program perlu dilibatkan dalam identifikasi masalah pembangunan dan dalam proses perencanaan program pembangunan. Sementara Ndraha (1990:103-104) membagi bentuk atau tahap partisipasi menjadi 6 (enam) bentuk/tahapan, yaitu: a. partisipasi dalam/melalui kontak dengan pihak lain (contact change) sebagai salah satu titik awal perubahan sosial; b. patisipasi dalam memperhatikan/menyerap dan memberi tanggapan terhadap informasi, baik dalam arti menerima (mentaati, memenuhi, melaksanakan), mengiyakan, menerima dengan syarat, maupun dalam arti menolaknya; c. partisipasi dalam perencanaan pembangunan, termasuk pengambilan keputusan; d. partisipasi dalam pelaksanaan operasional pembangunan; e. partisipasi dalam menerima, memelihara dan mengembangkan hasil pembangunan; dan

f. partisipasi dalam menilai pembangunan, yaitu keterlibatan masyarakat dalam menilai sejauh mana pelaksanaan pembangunan sesuai dengan rencana dan sejauh mana hasilnya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Terjadinya partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah menurut Cohen dalam Syamsi (1986:122-123) disebabkan karena empat hal. Pertama, dari segi basisnya, yaitu partisipasi karena desakan (impetus) dan partisipasi karena adanya insentif. Kedua, segi bentuk yaitu partisipasi terjadi secara terorganisasi, ada pengarahan dari pimpinan kelompok, dan partisipasi yang dilakukan secara langsung oleh individu itu sendiri. Ketiga, segi keluasannya, yaitu partisipasi terjadi dengan mengorbankan waktu dan dengan menambah kesibukan di luar untuk kepentingan pribadinya. Keempat, dari segi efektivitasnya, yaitu dengan menjadi partisipan berharap bisa memberikan masukan/saran atau kontribusi yang tentunya pada akhirnya akan memberi manfaat terhadap dirinya. Dilihat dari keempat segi partisipasi tersebut di atas bila dilihat dari prakarsa terjadinya partisipasi maka bisa digolongkan menjadi dua bentuk, yaitu partisipasi yang datang dari atas (with initiative coming from

the top down), dan partisipasi yang datang dari bawah (with initiative coming from the bottom up).
Ada tiga alasan utama menurut Conyers (1992:154-155) mengapa partisipasi masyarakat mempunyai sifat sangat penting, yaitu: pertama, partisipasi masyarakat merupakan suatu alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan dan sikap masyarakat setempat, yang tanpa kehadirannya program pembangunan serta proyek-proyek akan gagal. Kedua, masyarakat akan lebih mempercayai proyek atau program pembangunan jika merasa dilibatkan dalam proses, persiapan dan perencanaannya, karena mereka akan lebih mengetahui seluk-beluk proyek tersebut dan akan mempunyai rasa memiliki terhadap proyek tersebut. Ketiga, timbul anggapan bahwa merupakan suatu hak demokrasi bila masyarakat dilibatkan dalam pembangunan masyarakat mereka sendiri. Demikian pula Goulet dalam Supriatna (2000:211), tanpa partisipasi pembangunan justru akan

mengganggu manusia dalam upayanya untuk memperoleh martabat dan kemerdekaannya. Mengapa partisipasi menjadi amat penting, menurut Tjokrowinoto (1993) terdapat beberapa alasan pembenar bagi partisipasi masyarakat dalam pembangunan, yaitu: a. Rakyat adalah fokus sentral dan tujuan terakhir pembangunan, partisipasi merupakan akibat logis dari dalil tersebut; b. Partisipasi menimbulkan harga diri dan kemampuan pribadi untuk dapat turut serta dalam keputusan penting yang menyangkut masyarakat; c. Partisipasi menciptakan suatu lingkungan umpan balik arus informasi tentang sikap, aspirasi, kebutuhan dan kondisi daerah yang tanpa keberadaannya akan tidak terungkap. Arus informasi ini tidak dapat dihindari untuk berhasilnya pembangunan; d. Partisipasi dilaksanakan lebih baik dengan dimulai dari di mana rakyat berada dan dari apa yang mereka miliki; e. Partisipasi memperluas zone (wawasan) penerima proyek pembangunan; f. Ia akan memperluas jangkauan pelayanan pemerintah kepada seluruh masyarakat; g. Partisipasi menopang pembangunan; h. Partisipasi menyediakan lingkungan yang kondusif baik bagi aktualisasi potensi manusia maupun pertumbuhan manusia; i. Partisipasi merupakan cara yang efektif membangun kemampuan masyarakat untuk pengelolaan program pembangunan guna memenuhi kebutuhan khas daerah; j. Terakhir, tetapi tidak kalah pentingnya, partisipasi dipandang sebagai pencerminan hak-hak demokratis individu untuk dilibatkan dalam pembangunan mereka. Perencanaan pembangunan yang berkiblat dan melibatkan kelompok sasaran pada akhirnya akan dapat diciptakan proyek-proyek pembangunan yang sesuai dengan sumber daya, kondisi, kebutuhan dan potensi kelompok sasaran tersebut. Dengan kesesuaian ini, maka partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program pembangunan akan tinggi dan pada tingkat selanjutnya proyek pembangunan itu akan bermanfaat dan dimanfaatkan kelompok sasaran. Dengan demikian tujuan pembangunan kualitas manusia melalui

partisipasi masyarakat ini hanya akan tercapai apabila masyarakat melalui kelompok swadaya masyarakat memiliki kesempatan yang lebih besar untuk terlibat dalam setiap proses pembangunan.

2.6. Partisipasi dalam Pengertian Pembangunan Berbasis RT Perda PBRT No. 27 Tahun 2008 Bab I Pasal I menyebutkan yang dimaksud dengan Pembangunan Berbasis RT yang selanjutnya disingkat PBRT adalah

“instrumen kebijakan kebijakan Pemerintah Kabupaten Sumbawa

Barat sebagai upaya untuk menumbuh kembangkan partisipasi seluruh komponen masyarakat dalam perencanaan dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembangunan guna mencapai kesejahteraan pada segala bidang kehidupan dengan berbasis pada Rukun Tetangga (RT)”. Pembangunan
disegala bidang kehidupan adalah dapat dikelompokkan atas tiga bidang yaitu; (a) sosial budaya dan kependudukan, (b) ekonomi dan infrastruktur serta (c) fisik dan lingkungan. Pembangunan Berbasis RT di Kabupaten Sumbawa Barat

diselenggarakan berdasarkan asas-asas : 2) Asas Partisipasi, memiliki makna bahwa penyelenggaraan pembangunan di segala bidang kehidupan harus mampu mewujudkan peran aktif masyarakat agara senantiasa memiliki dan turut serta bertanggungjawab terhadap perkembangan pembangunan dalam kehidupan bersama sebagai sesama warga. 3) Asas Demokrasi, memiliki makna bahwa penyelenggaraan pembangunan di segala bidang kehidupan harus mengakomodasi aspirasi dan kebutuhan masyarakat yang direpresentasikan melalui musyawarah warga/rembug warga di tingkat RT. 4) Asas Gotong Royong, memiliki makna bahwa penyelenggaraan pembangunan di segala bidang harus dilaksanakan secara bersamasama dengan cara gotong royong dengan harapan tumbuhnya kesadaran kolektif terhadap pentingnya kualitas kehidupan. 5) Asas Pemberdayaan Masyarakat, memiliki makna bahwa penyelenggaraan pembangunan disegala bidang ditujukan untuk meningkatkan kualitas taraf hidup dan kehidupan masyarakat melalui program/kegiatan yang sesuai dengan potensi sumber daya dan prioritas kebutuhan masyarakat setempat. 6) Asas Transparansi, memiliki makna bahwa penyelenggaraan pembangunan disegala bidang harus mampu membka diri terhadap hak masyarakat untuk memberikan masukan yang seluas-luasnya dengan tetap mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban. 7) Asas Akuntabilitas, memiliki makna bahwa penyelenggaraan pembangunan dan hasil akhir kegiatan pembangunan harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

8) Asas kepentingan umum, memiliki makna bahwa penyelenggaraan pembangunan harus mengutamakan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif, akomodatif dan selektif. Sasaran PBRT adalah seluruh komponen masyarakat yang berbasis di RT digugah dan didorong untuk berpartisipasi aktif dalam seluruh proses pembangunan di segala bidang, sehingga tumbuh kesadaran kolektif dan selanjutnya berkembang menjadi kebiasaan yang terus menerus dan akhirnya akan menjadi budaya.

BAB III METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian Pada dasarnya, penelitian ini berupaya mengembangkan konsep dan fakta secara mendalam untuk menjawab pertanyaan, bagaimanakah konsep Pembangunan Berbasis Rukun Tetangga dan Pelaksanaan Pembangunan PBRT selama 2007 sampai dengan sekarang, sejauhmanakah tingkat pencapaian keberhasilan dan kegagalan serta permasalahan dalam PBRT, faktor-faktor apasajakah yang mendukung pencapaian keberhasilan dan faktor penghambat pencapaian PBRT, sejauhmanakah tingkat kepuasan masyarakat dan respons masyarakat terhadap PBRT, bagaimanakah visi, misi dan program PBRT dimasa mendatang. Oleh karena itu penelitian ini menekankan pada proses pencarian dan pengungkapan makna dari fenomena proses pelaksanaan pembangunan berbasis rukun tetangga, faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam PBRT, harapan-harapan masyarakat serta ide visi, misi, program dan kegiatan PBRT 2011-2015. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif-

evaluatif dengan pendekatan kualitatif yaitu prosedur pemecahan masalah yang diteliti dengan menggunakan cara memaparkan data yang diperoleh dari

pengamatan

lapangan

dan

kepustakaan,

kemudian

di

analisa

dan

diinterpretasikan dengan memberikan kesimpulan. Menurut Arikunto (1998:12) ”Penelitian Deskriptif (to describe = menggambarkan, membeberkan) adalah penelitian yang dilakukan dengan menjelaskan/menggambarkan variabel masa lalu dan sekarang (sedang terjadi)”. Peneltian dengan pendekatan kualitatif, menurut Hamidi (2004:14) berangkat dari penggalian data berupa pandangan responden, yang kemudian responden bersama peneliti memberi penafsiran sehingga menciptakan konsep sebagai temuan.

3.2. Fokus dan lokasi Penelitian Penelitian ini akan difokuskan untuk melakukan identifikasi

perkembangan Perkembangan PBRT, khususnya terkait dengan ingkat keberhasilan/pencapaian PBRT dan faktor-faktor pendukungnya, identifikasi permasalahn PBRT, kelemahan dan tantangannya, serta identifikasi harapan dan program PBRT untuk lima tahun kedepan, khususnya terkait dengan Perumusan Visi, Misi, Program dan Kegiatan PBRT 2011-2015. Penelitian ini dilakukan di 8 Kecamatan dan masing-masing kecamatan dipilih secara acak untuk menentukan 2 Desa. Jumlah 16 desa. Kelompok

strategis yang akan dijadikan sebagai situs penelitian antara lain adalah Pemerintah daerah (Eksekutif-Legislatif), DPRD, Satuan Kerja Perangkat Daerah, Camat, Desa/Kelurahan, Kepala Dusun dan Ketua RT, KPPM dan para kelompok strategis lainnya.

3.3. Sumber dan Jenis Data Sumber data utama adalah data lapangan yang diperoleh dari para informan yang diperoleh secara langsung dari para pelaku PBRT, pemilihan informal awal dipilih secara acak, didasarkan pada subyek yang menguasai permasalahan, memiliki data dan bersedia memberikan data atau narasumber lain yang berkompeten dengan permasalahan penelitian mereka adalah para pihak yang mengetahui dan memahami PBRT dan para penerima manfaat dari PBRT diantaranya, adalah ; Pemerintah daerah (Eksekutif), DPRD (Legislatif),

Satuan Kerja Perangkat Daerah, Camat, Desa/Kelurahan, KPM, Ketua RT, masyarakat, dan kelompok strategis lainnya. Penelitian ini juga menggunakan data pendukung yang bersumber dari berbagai dokumen yang berhubungan dengan masalah penelitian, seperti ; Peraturan Daerah Nomor 27 Tahun 2008 tentang PBRT, dokumen RPJP dan RPJM Kabupaten, Petunjuk Teknik Operasional Dana Stimulan Dukungan Pemberdayaan Masyarakat, Petunjuk Teknis Operasional Rehab Rumah, laporan GLG dan dokumen pendukunga lainnya.

3.4. Metode Pengumpulan Data dan Analisis Data Proses pengumpulan data dilakukan secara berjenjang dan dilakukan pula dengan pendekatan triangulasi mulai dari para aktor penerima manfaat PBRT yang berada di tingkat RT, Desa dan seterusnya. Begitupun dengan para aktor pelaku pembangunan PBRT dan kelompok strategis lainnya sebagaimana tertuang dalam Perda No.27 Tahun 2008. Proses pengumpulan data dan informasi melalui indeph interview dilakukan dengan dua cara, yakni indept interview secara terbuka dan

terstruktur, dengan pertanyaan-pertanyaan difokuskan pada permasalahan yang diajukan dalam penelitian dan Indep interview yang tidak terstuktur— dilakukan untuk menggali dan mengajukan pertanyaan secara lebih bebas dan leluasa, tanpa terikat oleh susunan pertanyaan yang telah dibuat sebelumnya sehingga berbagai pandangan dengan berbagai presfektif maupun ekplorasi terhadap berbagai permasalahan yang ada dalam PBRT dapat diekplorasi secara lebih luas dan mendalam. Disamping melakukan wawancara mendalam pengumpulan data

dilakukan pula melalui focus group discussion dimaksudkan untuk lebih memperdalam dan memperluas hasil-hasil dan temuan-temuan penelitian sekaligus memperkaya presfektif dan membangun kesepakatan para

stekaholder terkait dengan hasil identifikasi yang ditemukan dalam penelitian,
FGD ini diantaranya dilakukan adalah dengan RT, FGD dengan KPM dan desa/kelurahan.

Melakukan survey kepuasan masyarakat. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mendukung data dan informasi yang diperoleh dari hasil wawancara maupun FGD terkait dengan PBRT. Melalui survey ini diharapkan hasil-hasil wawancara maupun FGD serta kekurangan ketersediaan dari data kualitatif yang diperoleh melalui wawancara dan FGD dapat dan informasinya tersedia melalui data survey. Survey ini difokuskan pada program dan kegiatan PBRT yang berhubungan langsung dengan periman manfaat program, sekaligus sebagai sara untuk menilai secara lebih obyektif situasi dan kondisi trend perkembangan PBRT. Kegiatan dilakukan pada 8 kecamatan dengan jumlah responden sebanyak 250 orang yang diambil secara acak, survey ini dilakukan untuk memperkuat data dan informasi maupun temaun-temuan penting dari hasil penelitian.

BABIV HASIL DAN PEMBAHASAN (I)

REVIEW PERJALANAN PELAKSANAAN PROGRAM
PEMBANGUNAN BERBASIS RT

4.1. REVIEW KONSEP PROGRAM PBRT
Pada bagian pertama ini akan dibahas dan dikaji kembali mengenai konsep PBRT, antara lain meliputi ; latar belakang dan tujuan, nilai-nilai dan hakaket dari keberadaan Program Pembangunan Berbasis Rukun Tetangga sebagai sebuah gagasan inivasi daerah KSB

4.1.1. Latar Belakang PBRT Pada tahun 2006 gagasan/ide Program Pembangunan Berbasis Rukun Tetangga diluncurkan oleh Bupati KSB, Dr.KH.Zulkifli Muhadli, SH.MM. Ide/gagasan ini cukup menarik dan inovatif, meski pada tahun 2006 secara konseptual saat ini belum ada kejelasan mengenai konsepsi PBRT namun dalam berbagai pertemuan dengan warga maupun dalam rapat-rapat Bupati KSB mensosialiasi ide/gagasannya mengenai sebuah Program yang kemdudian dikenal dengan Program Pembangunan Berbasis Rukun Tetangga atau PBRT. Gagasan tersebut kemudian menjadi wacana dan diskursus publik yang kemudian dalam rangka merespons itu, dalam waktu yang relatif singkat dan cepat, Dinas Sosial, tenaga Kerja, Pemberdayaan Masyarakat dan

Pemerintahan Desa bekerjasama dengan Forum LSM dan LEGITIMID KSB kemudian pada tahun 2007 PBRT mulai merespons, menginisiasi dan mengkreasikan konsepsi PBRT dan bahkan memulai melaksanakan PBRT

(learning by doing).
Jika merepleksikan kembali kehadiran PBRT, maka setidaknya ada 4 (empat) hal yang melatarbelakangi semangat lahirnya program PBRT.

Pertama, adalah semangat visi dan misi kabupaten sebagai Kabupaten
Percontohan di NTB. Semangat ini merupakan semangat dari visi dan misi KSB, dan dalam rangka mewujudkan visi dan misi tersebut dipandang perlu untuk melakukan sebuah terobosan kebijakan baru yang inovatif, konstruktif

dan diharapkan menjadi model baru yang inovatif yang dapat menjadi conth teladan bagi Kabupaten/Kota lainnya di NTB—semangat untuk melakukan

inovasi pembangunan daerah ditungkan dalam kreasi program PBRT.

Kedua, adalah semangat untuk melakukan perubahan sosial secara
cepat dan sistematis untuk merubah paradigma pembangunan dan pola pendekatan pembangunan yang selama ini berlangsung dari pola top-down menjadi bottom-up. Pola buttom-up yang dibangun bukan lagi pada tingat desa atau kelurahan melainkan pada tingkat komunitas paling bawah atau rendah yakni komunitas RT, sehingga ada perluasan ruang partisipasi masyarakat yang semakin terbuka dan luas. Semangat lainnya adalah untuk meletakkan partisipasi warga dalam proses pembangunan sebagai “pelaku utama” (subjek pembangunan) atas dasar semangat itupula maka dibutuhkan adanya sutau kerangka kebijakan untuk “memindahkan” locus dan penerima manfaat pembangunan dari sebelumnya didominasi oleh para elite untuk diarahkan pada komunitas langsung terendah yang ada pada wilayah atau kepada basis lingkungan/komunitas RT sehingga dengan cara itu selain diharapkan ruang partisipasi semakin terbuka karena semakin dekat dengan masyarakat juga diharapkan kelompok masyarakat miskin yang selama ini tidak memperoleh ruang untuk berpartisipasi dan mengakses program pembangunan daerah maupun program pembangunan desa akan semakin terbuka dan luas. Seiring dengan itu, maka keberadaan, peran dan fungsi RT yang selama ini belum berjalan secara maksimal/optimal dalam proses pembangunan (karena RT hanya sebagai “pengantar surat” atau “penjaga ketertiban masyarakat di tingkat RT), dipandang perlu untuk dilakukan revitalisasi dan restrukturisasi kelembagaan RT, kedudukan, fungsi maupun peran RT ; dimana RT sebagai ujung tombak penyelanggaran pembangunan dan

pelayanan publik di tingkat komunitas desa/kelurahan didorong agar mampu memainkan fungsi dan perannya sekaligus merubah fungsi dan perannya dari semula yang hanya sebagai “penjaga malam atau pengantar surat” menjadi sebagai fasilitator pembangunan dilingkungannya. Dengan cara ini diharapkan RT mampu memfasilitasi kebutuhan dan kepentingan warga miskin yang ada

di lingkungannya untuk dapat mengakses pembangunan dan lebih jauh adalah diharapkan ketersediaan, keterjangkauan dan kesetaraan pelayanan publik dapat diwujudkan bagi warga miskin.

Kedua, semangat program pembangunan berbasis RT dilatarbelakangi
pula oleh suatu kenyataan atau fakta dimana proses reformasi selama ini— ternyata tidak cukup mampu untuk membuka ketersediaan ruang

demokratisasi dan partisipasi warga di tingkat daerah, dan tumbuhnya peran serta masyarakat miskin dalam proses pembangunan pembangunan) (perencanaan, di daerah.

pelaksanaan

maupun

evaluasi/pengawasan

Ketersediaan wadah atau ruang dan mekanisme partisipasi warga yang disediakan dari dulu hingga sekarang adalah hanya dalam bentuk musyawarah rencana pembangunan desa/kelurahan (musrenbangdes/kel) yang dalam impelementasinya selama ini ternyata hanyalah lebih bersifat “seremonial”

tahunan dan wadah tersebut hanyalah menjadi wadah penyaluran aspirasi pembangunan bagi kepentingan para elite yang berada di tingkat desa dan kelurahan yang notabennya memiliki kepentingan dalam pembangunan— sehingga musrenbangdes/kel tidak banyak dapat mengakomodir usulan-usulan atau kebutuhan warga miskin dalam kebijakan, program dan kegiatan pembangunan daerah atau dengan kata lain musrenbangdes/kelurahan belum dapat mencerminkan kebutuhan dan memiliki mengakomodasikan kelompok warga miskin. Pelibatan musrenbangdes/kelurahan yang hanya melibatkan para tokoh masyarakat, agama, pemuda dan meniadakan elibatan warga miskin dalam musrenbangdes/kel—ternyata semakin menjauhkan kelompok warga miskin dalam proses pembangunan, mereka tetap menjadi penonton karena “para wakil tokoh masyarakat” yang ada di desa dan kelurahan ternyata tidak menyuarakan berbagai permasalahan dan kebutuhan yang diinginkan oleh warga miskin. Berdasarkan kondisi itulah, maka dipandang perlu untuk melakukan terobosan baru—salah satunya adalah dengan menyediakan ruang untuk tumbuhnya partisipasi warga miskin dalam proses pembangunan di KSB dengan cara menyediakan dan menjamin keterlibatan (partisipasi ) warga miskin dalam proses perencanaan pembangunan—melalui wadah musyawarah

RT. Wadah partisipasi ini diharapkan dapat menjadi sarana penting bagi warga miskin yang ada di setiap lingkungan RT dalam desa/kelurahan untuk menyuarakan aspirasinya dalam proses perencanaan pembangunan dan untuk menjamin perlindungan hak-hak warga miskin untuk dapat berpartisipasi dalam proses pembangunan, maka didorongnya regulasi daerah yang kemudian dituangkan dalam produk hukum daerah berupa Perda No.27 Tahun 2008 tentang Pembangunan Berbasis Rukun Tetangga. Latar Belakang yang Ke-tiga pemerintah daerah KSB menyadari bahwa proses percepatan pembangunan daerah (sebagai kabupaten baru) dalam

rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat membutuhkan adanya upaya pemberdayaan masyarakat secara intens, sistematis dan berkelanjutan dan pembangunan itu sendiri adalah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat sebagaimana secara prinsipil tertuang dalam konsep demokrasi bahwa pembangunan daerah atau demokrasi itu berasal dari, oleh dan untuk rakyat/masyarakat. Tujuan utama dari kerangka pemberdayaan masyarakat ini adalah bagaimana pemerintah daerah mampu untuk memandirikan dan

mensejahterakan masyarakat, khususnya kelompok masyarakat miskin dan kelompok marginal. Untuk mencapai tujuan tersebut tentu tidaklah mudah karena modal sosial dan pranata sosial-ekonomi-budaya masyarakat telah “prak-poranda” karena selama kurun waktu 32 tahun lebih (masa Orba) masyarakat hidup dalam kunngkungan sistem tyrani. Tatanan dan pranata sosial budaya, ekonomi, politik masyarakat yang sebelumnya merupakan potensi sekaligus merupakan kekuatan dari kearifan lokal masyarakat telah banyak yang hilang akibat kebijakan dan sistem pembangunan yang cenderung menegasikan kepentingan dan kebutuhan daerah dan kelompok masyarakat miskin. Refleksi lainnya adalah dari kenyataan yang berkembang selama ini, dimana proses pembangunan yang hanya meletakkan masyarakat sebagai objek pembangunan ternyata tidak memiliki dampak dan manfaat yang signifikan bagi masyarakat dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat, bahkan hasil-hasil pembangunan, seperti jalan, irigasi, jembatan dan

sebagainya dibiarkan bahkan sejumlah warga justeru merusaknya karena masyarakat merasa tidak memilikinya dan merasa tidak harus

bertanggungjawab atas hasil-hasil pembangunan yang ada. Beranjak dari kenyataan dan hal itulah, kemudian pemerintah daerah KSB berkesimpulan dan menyadari bahwa proses pembangunan tanpa melibatkan partisipasi masyarakat akan mengurangi kualitas pembangunan, mengurangi adanya tanggungjawab sosial, rasa memiliki dan sebagainya, dan proses

pembangunan yang tanpa partisipasi masyarakat

atau dukungan dari

masyarakat akan memprsulit pemerintah dan semakin memperbesar tanggung jawab pemerintah daerah terhadap proses pembangunan. Konsep dan kenyataan ini disadari tidak sejalan dengan prinsip otonomi daerah dan semangat untuk mewujudkan good governance. Relkesi

Keempat,

adalah

bahwa

dalam

perjalanan

program

pembangunan di Indonesia, khususnya di kabupaten Sumbawa Barat sesungguhnya telah banyak program dan kegiatan pembangunan yang diarahkan pada upaya untuk percepatan pengentasan kemiskinan selama ini (2 tahun terakhir 2005-2006). Akan tetapi semangat program untuk mempercepat pengentasan kemiskinan tidak dibarengi pula dengan upaya

pembenahan sistem pendataan dan informasi yang memadai (akurat dan tepat), sehingga banyak program pengentasan kemiskinan yang pada akhirnya tidak dinikmati oleh warga miskin melainkan dinikmati oleh para elite dan berlangsung dari orde ke orde. Potret peristiwa pemberian Bantuan Langsung Tunai-BBM yang terjadi pada tahun 2006 dan 2007 adalah peristiwa yang cukup mengerikan, dimana berbagai aksi muncul sebagai sikap protes ketidakpuasan atas kebijakan

penetapan penerima dana BLT. Berbagai peristiwa yang terjadi dipenjuru tanah air itu, ternyata juga terjadi di Desa Lalar, Kecamatan Taliwang, akibat ketidakjelasan data dan informasi—salah sasaran penerima BLT, akhirnya Kantor Desa lalar Liar dirusak masyarakat setempat yang merasa tidak puas atas pemberian BLT. Kasus seperti ini ternyata juga terjadi dalam konteks Pemilu maupun Pilkada yang disebabkan ketiadaan ketersediaan data dan

informasi yang memadai tentang keadaan desa dan kelurahan, khususnya lagi keberadaan penduduk dan penduduk miskin. Sistem data dan informasi kependudukan menjadi sangat penting untuk dilakukan penataan karena beranjak dari ketersediaan data dan informasi inilah sesungguhnya Pemerintah Daerah akan dapat menyusun atau

memformulasikan kebijakan secara tepat dan cepat untuk merespons berbagai kebutuhan dan keinginan rakyat dalam berbagai bidang; seperti, bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan sebagainya. Keberadaan dan peran RT dalam konteks pendataan tentu sangatlah strategis karena RT adalah merupakan unit organisasi sosial yang berada pada garis terdepan dalam kesehariannya bersama-sama dengan masyarakat setempat. (RT diasumsikan sangat mengetahui situasi dan kondisi lingkungannya). Beranjak dari hal itulah, maka iniasi dan inovasi kebijakan

pembangunan dengan menggunakan Program Pembangunan Berbasis RT (Rukun Tetangga) sebagai model dalam proses (perencanaan, pelaksanaan, evaluasi) pembangunan di Kabupaten Sumbawa Barat dinilai sebagai langkah strategis untuk mendorong percepatan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan memfokuskan pada agenda awal yakni mendorong terpenuhinya kebutuhan layanan dasar bagi masyarakat

berdasarkan atas prinsip-prinsip partisipasi, transparansi dan akuntabilitas publik.Peletakkan sasaran pembangunan di tingkat RT diharapkan dapat lebih mendekatkan ketersediaan, keterjangkauan dan kesetaraan dalam pelayanan publik, khususnya bagi warga miskin di tingkat komunitas paling bawah (RT). Disamping itu program ini juga diharapkan dapat merubah paradigma proses pembangunan yang berlangsung selama ini. Kondisi tersebut dapat

ditunjukkan dalam skema PBRT sebagai berikut :

Sumber Data : Disampaikan oleh KH. Zulkifli Muhadli, SH,MM, pada Seminar dan Lokakarya Best Practices Jakarta 10 Desember 2008

Inisiasi

pemerintah

daerah

Kabupaten

Sumbawa

Barat

dalam

mengembangkan kebijakan best practices pada PBRT ini sekaligus melengkapi inovasi kebijakan pendidikan dan pelayanan kesehatan gratis di KSB—yang ketika itu membutuhkan pula adanya ketersediaan data dan informasi yang memadai untuk dapat mengalokasikan program pendidikan dan kesehatan gratis secara tepat dan cepat (tidak salah sasaran).

4.1.2. Konsep Tujuan Umum PBRT Program Pembangunan Berbasis Rukun Tetangga sesungguhnya adalah sebuah program yang meletakkan wilayah (locus) proses

pembangunan di tingkat lingkungan RT dan meletakkan warga miskin yang ada di lingkungan RT adalah sebagai pelaku utama dari proses pembangunan, sekaligus mereka adalah kelompok penerima utama dari pembangunan. Oleh karena itulah, maka dalam PBRT haruslah ada pelibatan masyarakat, khususnya warga miskin mulai sejak perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi dan pengawasan pembangunan. (sesuai makna demokrasi

kerakyatan). Dengan pradigma berpikir dan semangat itulah, maka dalam PBRT meletakkan kedudukan dan peran pemerintah hanyalah sebagai fasilitator, yakni berperan dan berfungsi memfasilitasi apa yang menjadi kebutuhan dan kehendak rakyat. Secara prinsipil semangat dan tujuan akhir (goals) yang hendak dicapai dari PBRT adalah meningkatkan kemampuan dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu untuk mengukur keberhasilan PBRT digunakan indikator IPM (Indeks Pembangunan Manusia). Melalui keberadaan PBRT diharapkan dapat menghasilkan atau memberikan daya dorong terhadap, setidak-tidaknya lima hal, yakni; (1) kemampuan sumber daya manusia/kelompok/individu

(capacity). (2) tumbuhnya kebersamaan, pemerataan dan kesejahteraan (equity). (3). menaruh kepercayaan kepada masyarakat untuk membangun dirinya sendiri (empowerment). (4). kemandirian (sustainability), serta ; (5). menciptakan hubungan yang saling menguntungkan dan menghormati (interdepedency). Adapun Dampak dan manfaat yang diharapkan dari PBRT adalah dalam janka panjang kesejahteraan sosial dan kemandirian sosial, ekonomi politik masyarakat akan semakin meningkat. Sedangkan dalam jangka pendek diharapkan ada perubahan pada seluruh aspek kehidupan masyarakat, khususnya adalah terpenuhinya kebutuhan dasar rakyat. Semangat dan tujuan ini ternyata cukup sejalan dengan tujuan pembangunan sosial, yakni; (1) peningkatan standar hidup, melalui seperangkat dan jaminan sosial segenap lapisan masyarakat, terutama kelompok masyarakat yang kurang beruntung dan sangat memerlukan perlindungan sosial (2) Peningkatan pemberdayaan melalui penetapan sistem dan kelembagaan ekonomi, sosial dan politik yang menunjang harga diri dan martabat manusia dan (3) Penyempurnaan kebebasan melalui perluasan aksesibilitas dan pilihan-pilihan kesempatan sesuai dengan aspirasi, kemampuan dan standar kemanusiaan. Melalui Program PBRT diharapkan bukan hanya menjadi sebuah dimensi baru (inovasi baru) dalam proses pembangunan daerah di KSB, melainkan juga adalah menjadi cara pandang alternatif dalam pembangunan daerah untuk mencapai human well being masyarakat di KSB. Di dalam Perda

Nomor 27 Tahun 2008 Tentang Pembangunan Berbasis RT (Rukun Tetangga) telah ditegaskan bahwa PBRT adalah instrumen kebijakan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat sebagai upaya untuk menumbuhkembangkan partisipasi seluruh komponen masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, evaluasi pembangunan guna mencapai kesejahteraan pada segala bidang kehidupan dengan berbasis pada Rukun Tetangga (RT)1. Pembangunan disegala bidang kehidupan masyarakat kemudian

dikelompokkan menjadi tiga bidang yaitu : (1) bidang sosial budaya dan kependudukan, (2) Bidang ekonomi dan infrastuktur, (3) bidang fisik dan

lingkungan. Dalam Perda tersebut juga telah ditegaskan bahwa tujuan Pembangunan Berbasis adalah: 1. Memaksimalkan partisipasi masyarakat dalam perencanaan,

pelaksanaan dan evaluasi pembangunan 2. Mempercepat tercapainya tujuan pembangunan pada segala bidang kehidupan 3. Meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat 4. Memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menyampaikan masukan dalam pelaksanaan pembangunan 5. Mencapai hasil pembangunan yang mengutamakan kesejahteraan umum dan tepat sasaran 6. Meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Dengan telah ditetapkannya Peraturan Daerah No. 27 Tahun 2008 Tentang Program Pembangunan Berbasis RT, maka secara “konstitusional” PBRT merupakan amanag yang mesti harus dijalankan oleh Pemerintah daerah Kabupaten Sumbawa Barat. Amanah itupula yang telah menjadikan program pembangunan berbasis rukun tetangga bukan hanya sebagai program unggulan daerah KSB melainkan program prioritas pembangunan tahunan daerah di KSB. Bahkan dalam berbagai baliho atau reklame resmi Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Barat menyebutkan dan

mengucapkan “Selamat Datang di Bumi PBRT”. Gaung Pembangunan Berbasis Rukun Tetangga, bukan hanya telah menjadi wacana dan diskursus
1

Tujuan PBRT dalam Perda Nomor 27 Tahun 2008

publik yang menarik dan terus berkembang, bukan hanya di level kabupaten, propinsi, nasional bahkan mulai ke tingkat internasional. Bahkan pada tahun 2010, delegasi 8 negara dan 15 Provinsi di Indonesia telah mengunjungi KSB untuk mempelajari model Pembangunan Berbasis RT. Berbagai penghargaan pun telah diberikan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah atas keberhasilan Inovasi pembangunan yang telah dilakukan KSB dalam program

best practices PBRT. Bahkan, Pemerintah Daerah dalam hal ini Bupati KSB
telah ke Jerman untuk mempresentasikan model PBRT.

4.1.3. Persiapan dan Perjalananan awal PBRT Pada tahap awal pelaksanaan program PBRT (tahun 2007) pemerintah daerah menetapkan tujuan umum (goal) PBRT adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin melalui penguatan partisipasi, transpraransi, akuntabilitas dan keberpihakan anggaran untuk rakyat miskin di KSB serta perbaikan atas ketersediaan, keterjangkauan dan kesetaraan dan kinerja pelayanan publik. Keberhasilan program pembangunan berbasis RT tercermin dari meningkatnya IPM (pendidikan, kesehatan dan perekonomian masyarakat miskin) secara partisipatif, mandiri dan berkelanjutan. Sedangkan tujuan khusus (objective) PBRT adalah : (1). Meningkatkan partisipasi masyarakat (RT) dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi pembangunan secara partisipatif. Pemerintah daerah KSB juga telah menetapkan indikator keberhasilan tujuan tersebut tercermin dari tumbuhnya inisiasi dan partisipasi aktif warga RT dalam proses pembangunan, adanya mekanisme partisipasi warga RT, meningkatnya swadaya murni masyarakat dalam mengelola pembangunan, adanya pengawasan warga atas proses pembangunan di lingkungan RT; (2). Meningkatkan pelayanan dasar bagi warga miskin melalui peningkatan ketersediaan, keterjangkauan, kesetaraan dalam pelayanan publik ke tingkat RT. tingkat warga, penyediaan Indikator keberhasilannya adalah adanya desentralisasi kewenangan pengelolaan pembangunan swakelola ke pelayanan dasar bagi warga miskin khususnya pendidikan dan kesehatan, pelibatan RT dalam Jumantara, penyediaan informasi dan mekanisme komplain pelayanan bagi warga; (3). Meningkatkan APBD dan APBDes yang pro-rakyat miskin (pro poor budgeting) melalui

penguatan SIOS, informasi publik, penguatan partisipasi RT dalam proses penggaraan dan komitmen. Indikator keberhasilan tercermin dari adanya data dan informasi SIOS di tingkat RT dan daerah, RPJM/RPJP Desa, musyawarah perencanaan pembangunan dilingkungan RT, meningkatnya ketepatan sasaran anggaran bagi warga miskin; (4). Meningkatkan keberdayaan kelembagaan masyarakat (RT) dan warga dalam pembangunan dilingkungan RT melalui penataan organisasi, pendidikan/pelatihan-pelatihan, pendampingan serta penguatan kapasitas kelembagaan dalam pemberdayaan ekonomi. Untuk mencapai serta tujuan tersebut kemudian yang Pemerintah dilakukan dan Daerah dalam Kabupaten Sumbawa Barat berusaha untuk merumuskan ruang lingkup program/kegiatan 1. Tahapan tahapan-tahapan mencakup perlu sosial implementasi PBRT, yakni sebagai berikut ;

Persiapan,
regulasi

penyiapan

perkuatan

kelembagaan RT melalui sosialisasi program, identifikasi stakeholder, penyusunan pelaksanaan program dan perekrutan tenaga

pendamping sesuai target yang ingin dicapai; 2. Tahapan Pelaksanaan, meliputi pelaksanaan masing-masing fokus program, yaitu; inisiasi partisipatif pembelajaran mandiri, kegiatan

pengentasan keaksaran fungsional, fasilitasi pembentukan Taman Bacaan Mini pada masing-masing dan atau lintas RT untuk dikembangkan menjadi PAUD dan Play Group, promosi dan aksi penyehatan lingkungan dan pemukiman secara gotong royong, fasilitasi perekrutan tenaga kerja lokal dalam pengerjaan proyek-proyek berskala kecil di lingkungan RT, dan penyaluran dana stimulan untuk usaha keluarga (home industri) serta melakukan pendataan kondisi sosio ekonomi masyarakat dalam rangka mendukung keberadaan Sistem Informasi Orang Susah (SIOS); 3. Tahapan Monitoring dan Pelaporan, meliputi penyusunan laporan masing-masing kegiatan, publikasi hasil kegiatan dan melakukan evaluasi pelaksanaan masyarakat. program serta menindaklanjuti saran dan pengaduan

a. Langkah-Langkah Implementasi Meski merupakan sebuah gagasan atau inovasi baru Pemerintah Daerah pada tahap awal Implementasi program Pembangunan Berbasis RT ternyata dilaksanakan pada seluruh wilayah administrasi Kabupaten Sumbawa Barat dengan menggunakan pendekatan secara bertahap meliputi; persiapan, pelaksanaan, pelaporan dan evaluasi. Metodologi dan proses implementasinya adalah sebagai berikut : 1. Sosialisasi intensif program Pembangunan Berbasis RT. Kegiatan ini dilaksanakan dengan mengadakan sosialisasi secara terpadu di semua wilayah kecamatan/kelurahan/desa dengan mengundang semua perangkat RT dan tokoh-tokoh masyarakat, termasuk lewat media khutbah jumat untuk menjelaskan tujuan, manfaat, dan proses implementasi program; 2. Perkuatan kelembagaan RT. Kegiatan ini diimplementasi melalui penerbitan Keputusan Bupati tentang tupoksi perangkat RT, formalisasi perangkat RT dengan menerbitkan SK Lurah/Kades, dan penyediaan tenaga pendamping untuk mendukung pelaksanaan kegiatan pendahuluan seperti pemetaan dan pendataan kondisi masyarakat serta sekaligus sebagai fasilitator dalam pelaksanaan program kegiatan. Perkuatan kelembagaan RT dengan formalisasi perangkat RT melalui penerbitan SK Lurah/Kades dimaksudkan agar partisipasi masyarakat dapat dipacu/dimotivasi/digerakkan oleh perangkat RT berkenaan sesuai dengan tupoksi yang ditetapkan dalam SK Bupati. Dengan demikian perkuatan kelembagaan RT sebagaimana diuraikan di atas diharapkan dapat menjamin keberlangsungan partisipasi itu sendiri; 3. Inventarisasi stakeholder. Kegiatan ini dilakukan melalui mekanisme pendataan dan pemetaan kembali terhadap stakeholder yang mempunyai kapasitas dan komitmen dalam mendukung keberhasilan pelaksanaan program; 4. Pembuatan rincian tugas dan peran masing-masing pelaksana kegiatan; kegiatan ini dimaksudkan agar para pelaksana kegiatan yang telah ditetapkan memahami dan mengerti masing-masing tugasnya sehingga

tidak terjadi tumpang tindih dalam implementasinya. Rincian tugas dimaksud akan dituangkan dalam bentuk Surat Keputusan Bupati; 5. Penyusunan Standart Operating Procedure (SOP) masing-masing fokus kegiatan. Kegiatan ini dilaksanakan dengan melibatkan semua pelaksana program sehingga SOP yang dihasilkan dapat memberikan kejelasan arah, serta sekaligus menjadi perekat semua pihak dalam rangka mensukseskan pelaksanaan program; 6. Sosialisasi SOP. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menginformasikan kepada masyarakat terhadap SOP yang telah disusun guna mendukung

transparansi kinerja pelayanan publik; 7. Penentuan model kegiatan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menentukan proses dan langkah-langkah atas rencana kegiatan yang hendak

dilaksanakan secara partisipatif di lingkungan RT masing-masing; 8. Mengintegrasikan kegiatan pembangunan berbasis RT ke dalam

AAK/APBDes, dimaksudkan agar kegiatan pembangunan yang tidak tertampung melalui APBD dapat menjadi bagian kegiatan yang khusus diprogramkan dalam AAK/APBDes. Kegiatan ini dilaksanakan oleh

perangkat kelurahan/desa melalui asistensi dan sinkronisasi dengan TAPD; 9. Penyusunan laporan kegiatan dan keuangan masing-masing fokus

kegiatan, kegiatan ini dilakukan sebagai wujud tanggung jawab terhadap pelaksanaan program kepada publik (akuntabilitas publik) yang

dilaksanakan per triwulan; 10. Kerjasama dengan media massa dalam rangka sosialisasi dan publikasi rencana/hasil program. Kegiatan ini dimaksudkan memberikan informasi kepada publik terhadap semua agenda dan capaian program maupun hambatan-hambatan dalam implementasi program, sehingga diharapkan ada masukan dari masyarakat untuk melakukan perbaikan terhadap pelaksanaan program di masa yang akan datang; 11. Pembuatan sistem database capaian hasil kegiatan, implementasi kegiatan ini melalui pengembangan Sistem Informasi Orang Susah (SIOS) sebagai tindak lanjut atas pendataan yang dilaksanakan oleh perangkat RT;

12. Perkuatan lembaga Unit Pengaduan Masyarakat (UPM). Kegiatan ini dilakukan dengan mengoptimalkan peran perangkat RT untuk merespon secara cepat permasalahan yang ada di lingkungan masing-masing untuk selanjutnya secara langsung maupun tidak langsung

diinformasikan/diteruskan kepada UPM guna mendapat respon dalam kesempatan pertama.

b. Target Capaian awal PBRT Dari rencana peningkatan program yang telah disusun di atas, maka target capaian dalam jangka pendek lebih diarahkan kepada penyiapan sosial, perkuatan kelembagaan RT, dan optimalisasi Unit Pengaduan Masyarakat (UPM) sebagai berikut : 1. Terlaksananya sosialisasi program Pembangunan Berbasis RT di

kabupaten, 8 kecamatan, 6 Kelurahan, 43 Desa dan 642 RT. 2. Teridentifikasinya stakeholder. 3. Tersusunnya SOP pelaksanaan program. 4. Tersusunnya Peraturan Bupati tentang Tugas Pokok dan Fungsi RT. 5. Tersusunnya SK Lurah/Kades tentang Pengangkatan Perangkat RT. 6. Tersusunnya Peraturan Bupati tentang Tugas Pokok dan Fungsi Pelaksana Kegiatan. 7. Tersedianya tenaga pendamping RT di setiap Kelurahan/Desa. 8. Tertatanya administrasi kependudukan di tingkat RT. 9. Terwujudnya pelaksanaan kegiatan penyehatan lingkungan dan

pemukiman, kegiatan pembelajaran masyarakat, pemanfaatan pekarangan dan usaha rumah tangga secara mandiri oleh masyarakat. 10. Terbangunnya Sistem Informasi Orang Susah (SIOS). 11. Tersusunnya laporan kegiatan. 12. Terpublikasinya pelaksanaan program minimal satu kali di media lokal. 13. Berfungsinya Unit Pengaduan Masyarakat secara efektif melalui optimalisasi peran kesekretariatan, penyegaran tim, dan peningkatan koordinasi rencana tindak lanjut pengaduan masyarakat.

c. Implementasi Persiapan dan awal PBRT Untuk mencapai tujuan, sasaran dan hasil diatas. Maka, ada dua target indikator yang dipakai dari keberhasilan PBRT saat itu, yakni; pertama ; adanya penguatan partisipasi warga di lingkungan RT melalui pelatihan, pendampingan/ pengorganisasian secara sistematis dan berkelanjutan. Kedua; adanya perbaikan pelayanan publik melalui pelibatan warga dalam proses perencanaan, pelaksanaan, maupun pengawasan pelayanan. Beranjak dari dua target tersebut serangkaian kegiatan dan hasil yang dicapai pada awal program PBRT adalah sebagai berikut :
No
1

Kegiatan Yang Dilaksanakan
Workshop kemitraan antara Pemda dengan LSM dalam pencanangan PBRT Grand design Program Pembangunan Berbasis RT secara partisipatif yang melibatkan para pihak (stakeholders). Penyusunan dan pematangan draft buku panduan program yang akan dicetak sebagai referensi sekaligus menjadi pedoman dalam implementasi program. Penyusunan draft regulasi dan konsultasi publik Program Pembangunan Berbasis RT, yang terdiri dari : • Penyusunan Regulasi Perencanaan Partisipatif Berbasis RT, • Penyusunan Regulasi SOP Sistem Informasi Orang Susah (SIOS), • Penyusunan Regulasi kelembagaan RT, • Penyusunan Regulasi Kader Pemberdayaan Masyarakat, • Penyusunan Regulasi BUMDES, • Penyusunan Regulasi RPJM Desa, dan • Penyusunan Regulasi tentang SOP Unit Pengaduan Masyarakat

Hasil Yang Dicapai
Terbangunnya kemitraan antara Pemda dan LSM Adanya formulasi program PBRT yang sistematis, terarah, terpadu serta terukur

Penanggung Jawab
Bappeda dengan Forum LSM Bappeda dan Dinas Sosial, Nakertrans dan Pmberdayaan Masyarakat dan LEGITIMID KSB Dinas Sosial, Nakertrans dan Pemberdayaan Masyarakat bekerjasama dengan LEGITIMID KSB DSTTPBM, Bagan Hukum dan Organisas bekerjasama dengan LEGITIMID KSB.

2

3

Tersedia modul panduan PBRT

4

Adanya (Perda/Perbup/SK) mendukung PBRT

Regulasi untuk

5

Sosialisasi berjenjang.

PBRT

secara

Tersosialisasinya PBRT di 642 RT

Bupati, Wartawan, Sekretriat Daerah, Camat, Lurah dan Kepala Desa, LSM

6

Penataaan kelembagaan RT, sejumlah 642 RT di KSB sesuai dengan kebutuhan dan melalui mekanisme musyawarah RT.

Terbentuknya kelembagaan/kepengurusan RT sebanyak 642 RT di 6 Kelurahan dan 42 Desa beserta SK penetapan

7 8 9

Pelatihan SIOS untuk para ketua /Pengurus RT Penyediaan 3 paket Buku untuk SIOS RT Fasilitasi dukungan dana stimulan untuk RT

502 pengurus RT mengikuti pelatihan SIOS 3 x 642 RT telah menerima buku SIOS Sejak bulan April 2007 Pengurus RT memperoleh insentif Rp. 100.000/ bulan/RT, dan memperoleh bantuan dana PBRT sebesar Rp. 1,5 juta/RT. Untuk TA. 2008 dialokasikan sebesar Rp. 2 juta/RT Pemberian hadiah sebagai reward keberhasilan RT dalam melaksanaan PBRT sebesar Rp. 10 juta untuk juara I, Rp. 7,5 juta untuk pemenang II, dan Rp. 5 juta untuk pemenang III pada buan November 2007. 40 orang Kader Pemberdayaan Masyarakat (KPM) telah direkrut dan ditetapkan sebagai pendamping RT dengan SK Bupati KSB. 1. 40 orang KPM mengikuti Pelatihan CO/pengorganisasian masyarakat sipil 2. 40 orang KPM mengikti Pelatihan SIOS 1. Tersedianya perangkat dan sistem komputerisasi database SIOS 2. 35 Desa/Kelurahan sudah tersusun SIOS

Masyarakat difasilitasi kelurahan/desa dan ditetapkan dengan Surat Keputusan Lurah dan Kepala Desa DSTTPM dengan LSM DSTTPM dengan LSM BPKAD dan Dinas Sosial, Nakertrans, dan Pemberdayaan Mayarakat

10

Achievment

RT

Award

(sayembara tata kelola RT) seKSB dalam Harlah Pemkab KSB

Bappeda dan Dinas Sosial, Nakertrans, dan Pemberdayaan Mayarakat

11

Rerutmen Tenaga Pendamping

12

Pelatihan Tenaga Pendamping RT (KPM)

Dinas Sosial, Nakertrans, dan Pemberdayaan Mayarakat bekerjasama dengan Forum LSM DSTTPM bekerjasama dengan LSM

13

Pembuatan SIOS komputer dari TKST.

berbasis

14

Pendampingan KPM ke masing-masing RT di 42 desa

1. Adanya pendampingan

proses yang

Pengurus RT bekerjasama dengan YSTP yang dikoordinasikan oleh Dinas Sosial, Nakertrans dan Pemberdayaan Masyarakat. KPM berkoordinasi dengan

dan 6 kelurahan

15

Pembentukan petugas/Juru Pemantau Kesehatan Masyarakat (Jumantara) dari pengurus RT Pilot Project Penyelenggaraan Anak Usia Dini tingkat RT Aplikasi Pendidikan (PAUD) di

2. 1. 2.

16

1.

2.

dilakukan secara berkelajutan oleh KPM dimasing-masing RT dalam kelurahan/desa Terorganisirnya 642 RT Terbentuknya Jumantara di setiap RT Terbentunya Forum Jumantara se-KSB dari unsur RT Telah terbentuk PAUD di 2 (dua) desa dan 1 (satu) kelurahan Adanya bahan pembelajaran

Pemdes/Kelurahan dan Pemerintah Kecamatan

Dinas Kesehatan bekerjasama dengan Kader Posyandu dan KPM Dinas Dikpora dan SKB

17

18

Pilot project informasi pembangunan untuk transparansi program pembangunan sampai tingkat RT Inisiasi awal pembentukan/ penerapan mekanisme komplain dan keluhan warga

19

20

Musyawarah-Musyawarah di tingkat RT : a. Musyawarah perencanaan pembangunan; b. Musyawarah pemetaan kemiskinan; c. Musyawarah pemanfaatan dana stimulan; d. Musyawarah gotongroyong ; e. Musyawarah penyelesaiaan masalah sosial kemasyarakatan. Aksi Pembangunan oleh RT bersama warga ; seperti penyehatan lingkungan, pemukiman, pekarangan dan usaha rumah tangga secara mandiri.

3. 1. Telah tersedia papan informasi dan kotak pengaduan bagi masyarakat dilingkungan RT pada Kelurahan Bugis dan Menala 1. Adanya mekanisme komplain yang disediakan Pemda namun baru melalui media massa lokal (kerjasama pemda dengan media) dan website 2. Adanya draf konsep mekanisme komplain, namun masih dikoordinasikan dengan SKPD terkait. 1. 642 RT x 10 orang mengikuti musyawarah 2. Adanya rencana pembangunan di 642 RT 3. Adanya Rencana Tindak Lanjut Aksi disetiap RT 4. Meningkatnya keterlibatan warga dalam musyawarah RT

Kantor Kelurahan Bugis dan Menala

Sekretariat Daerah

Sekretariat Daerah, Kecamatan, Kelurahan/Desa, dan RT, SKPD terkait yang telah memprogramkan agenda kerjanya untuk PBRT

1. 642 RT x 10 warga x 3 kali melaksanakan gotong royong 2. adanya perbaikan sejumlah fasilitas lingkungan RT, seperti jalan, drainase dll. 3. Meningkatnya partisipasi warga dilingkungan RT

Dinas Kesehatan, Dinas Dikpora, DSTTPM

21

Serial Workshop Evaluasi dan Pelaporan

22

Publikasi dan Penyusunan Rencana Program PBRT tahun 2008

1. Terlaksananya workshop evaluasi program bulanan 2. 40 KPM mengikuti workshop evaluasi bulanan 3. adanya laporan progrest report program secara obyektif dan partisipatif 1. Terpulikasikannya PBRT di media massa lokal 2. Tersusunnya RKA PBRT tahun 2008 3. Adanya Rencana tindak lanjut PBRT

DSTTPM dan Legitimid KSB

Media Lokal DSTTPM

dan

d. Kemajuan Yang Dicapai pada awal PBRT Program Pembangunan Berbasis Rukun Tetangga (PBRT) yang telah dilaksanakan pada tahap awal tersebut ternyata telah memberikan banyak

perubahan di Kabupaten Sumbawa Barat. Berikut perbandingan sebelum adanya PBRT dan setelah adanya PBRT:
No 1 Sebelum adanya PBRT Mekanisme partisipasi warga dalam proses pembangunan hanya sampai pada tingkat desa/kelurahan (Musrenbangdes). Minimnya partisipasi RT dan warga, khususnya warga miskin dan perempuan dalam proses pembangunan Setelah adanya PBRT Adanya mekanisme partisipasi warga dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan sampai tingkat RT. Perubahan & potensinya dimasa Mendatang PBRT menyediakan ruang partisipasi yang semakin luas bagi warga dalam proses pembangunan dan kondisi ini akan mendorong semakin meningkatkan partisipasi warga.

2

3

Kedudukan, pokok dan RT tidak Peran RT banyak pengamanan kampung

Tugas fungsi jelas. lebih untuk dan

Adanya ruang dan partisipasi warga miski\n dan perempuan dalam proses pembangunan. Khsusunya, dalam merumuskan prioritas pembangunan di tingkat desa/kelurahan Adanya penataan kelembagaan RT. Regulasi RT diatur secara khusus, dan RT ditempatkan sebagai organsiasi masyarakat otonom

PBRT mensyaratkan/mengharuskan agar dalam perencanaan pembangunan ditingkat RT melibatkan partisipasi warga miskin dan perempuan dalam pengambilan keputusan

Dengan adanya kejelasan kedudukan, Tupoksi RT serta kewenangan yang lebih besar dalam proses pembangunan serta adanya upaya penguatan organisasi RT. Dimas mendatang organisasi RT akan semakin kuat

pengatar surat

4

Tidak adanya dukungan dari Pemda, baik berupa finansial maupun peningkatan kapasitas. Perhatian Pemda sangat minim

5

6

Anggaran Pemda (APBD) maupun Anggaran Desa (APBDes) belum mengacu pada masalah dan kebutuhan warga miskin Tidak ada database dan informasi kependudukan (warga miskin, kesehatan, pendidikan, ekonomi) di tingkat RT Tidak adanya Achievment RT Award (sayembara tata kelola pembangunan yang biak)

7

8

Database dan informasi orang miskin dan orang susah kurang valid, sehingga banyak terjadi konflik misalnya BLT dan kontraproduktif terhadap

yang diberikan peran besar dalam proses pembangunan. Adanya dukungan baik berupa dana operasional pembangunan Rp. 1 juta/RT, honorarium untuk pengurus RT, pelatihan-pelatihan juga adanya pendampingan RT oleh KPM/tenaga pendamping. APBD dan APBDES diarahkan pada data SIOS (Sistem Informasi Orang Susah) dan hasil musyawarah pembangunan di tingkat RT Adanya data dan informasi mnegenai kependukan (warga miskin, kesehatan, pendidikan, ekonomi) di tingkat RT dalam desa/kelurahan yang bersifat aktual Adanya Achievmnet RT Award mendorong peningkatan motivasi dan partisipasi RT dan warga pada masingmasing RT untuk menggerakkan proses pembangunan dilingkungan RT Data dan informasi tentang orang miskin ditentukan oleh warga sendiri dengan indikatorindikator yang ditetapkan sendiri

dan mandiri.

Semakin meningkatnya kapasitas RT, dan akselereasi pembangunan di tingkat desa/kel semakin cepat. PBRT memberikan ruang lahirnya proses pembelajaran bagi warga setempat dalam mengelola program pembangunan secara mandiri

Anggaran akan semakin terarah sesuai kebutuhan warga miskin dan upaya pengentasan kemiskinan di KSB akan semakin cepat teratasi.

Data dan informasi di masingmasing RT akan membuka peluang lahirnya partisipasi dan transparansi, berkurangnya kesalahan dalam perencanaan pembangunan serta adanya alat ukur bagi masyarakat untuk menilai progrest program pembangunan. Para pengurus RT akan semakin termotivasi untuk berpartisipasi dan terus menunjukkan eksistensi keberhasilan dalam pelaksanaan program pembangunan di masing-masing lingkungannya. Kondisi ini akan mendorong semakin meningkatnya kompetsisi dalam meraih hasil pembangunan yang lebih baik.

-

Data dan informasi tentang orang miskin menjadi lebih valid Mendorong pelaksanaan pembangunan lebih tepat pada sasaran dalam usaha memecahkan masalah kemiskinan

9

pembangunan dan orang miskin sering menjadi justifikasi dalam melaksanakan program tapi dalam realitanya tidak tepat sasaran Banyak Program dan kegiatan pembangunan belum mengacu pada RPJP dan RPJM, kurang terintegrasi dan masih bersifat sektoral pada masing-masing SKPD

10

Informasi publik tentang anggaran maupun kebijakan masih minim, rahasia dan menjadi stigma bahwa publik tidak perlu mengetahuinya.

11

12

Minimnya upaya pemberdayaan para lulusan sarjanayang menganggur, namun memiliki potensi untuk dapat diberdayakan menjadi tenaga kerja produktif, bermanfaat bagi masyarakat setempat Tidak tersedianya Adanya

SKPD menyesuaikan program dan kegiatan dengan hasil musyawarah perencanaan pembangunan di tingkat RT. Di tingkat Kelurahan/Desa didorong adanya RPJP dan RPJM Desa sebagai kerangka acuan pembangunan melalaui perda Informasi publik tentang anggaran dan kebijakan pembangunan mulai diinformasikan kepada warga. Beberapa desa telah membuat papan informasi pembangunan. Pemkab akan mengalokasikan anggaran 2008 untuk penyediaan perangkat informasi di tingkat desa/kelurahan Adanya rekruitmen KPM sebagai tenaga pendamping, serta proses pemberdayaan melalaui pelatihan, pendampingan dll secara berkelanjutan

Program dan kegiatan akan lebih terintegrasi dan fokus pada RPJM Daerah

Terbukanya aparatur pemerintahan untuk menyediakan informasi-informasi tentang pembangunan kepada warga, dan warga juga aktif melakukan pencarian data dan informasi. Kondisi ini akan mendorong warga semakin kritis dan berusaha mengambil peran dalam proses pembangunan

Berkurangnya jumlah penggangguran. Para sarjana menjadi lebih berdaya, mampu melakukan pendampingan warga, memiliki motivasi, inisiasi dan kreatifitas untuk melaksanakan pemberdayaan masyarakat di tempatnya berada.

regulasi Aparatur pemerintah tidak lagi

mekanisme komplain/keluhan masyarakat atas pelayanan publik dan aparatur pemerintah daerah masih enggan untuk menerima komplain dari warga

13

Rendahnya pelibatan LSM dalam merumuskan, melaksanakan dan mengevaluasi kebijakan program Adanya perebedaan data dan informasi antar instansi (BPS, Dikes, Dukcapil. dll) tentang kemiskinan dan warga miskin sehingga menimbulkan masalah ketika adanya program pengentasan kemiskinan, seperti ; kasus BLT BBM Belum adanya pemetaan potensi RT, Pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat dan keluarga miskin selama ini belum menyentuh sasaran, baik karena akses permodalan maupun lemahnya dukungan dari komunitas

14

tentang komplain dan keluhan warga, Pemda memberikan ruang bagi warga untuk mengkomplain pelayanan dan mengevaluasi kinerja aparatur pemerintah. Telah dikembangkan model mekanisme penyelesaian pelayanan di tingkat RT Adanya pelibatan LSM dalam proses perumusan, pelaksanaan dan monev program dan kemitraan LSM dengan Pemda Ukuran/indikator kemiskinan dan warga miskin miskin di setiap kelurahan/desa dilakukan secara partsipaif melalui mekanisme musyawarah perangkingan kemiskinan di masing-masing RT

menganggap komplain dan keluhan sebagai pengganggu tapi sebagai evaluasi kinerja. -warga tidak takut lagi menyampaikan komplain dan keluhan tentang pelayanan publik. Kondisi kedepan potensi pelayanan publik akan semakin baik dan meningkat

Kemitraan Pemda KSB dengan sejumlah LSM akan mendorong adanya penguatan LSM dan kemitraan menuju tata kelola kepemerintahan lokal yang baik (good governance). Berkurangnya konflik dan resistensi dalam masyarakat atas pola penyaluran program stimulan dan dukungan bantuan terhadap masyrakat miskin dan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk secara bersama-sama menuntaskan masalah kemiskinan di RT masing-masing.

15

Adanya draf regulasi Kedepan home industry berbasis pembentukan RT diharapkan dapat tumbuh dan Bumdes untuk home berkembang industri berbasis RT. KJKS saat ini membantu akses modal untuk usaha kecil dan rumah tangga yang difasilitasi oleh pengurus RT dan didukung oleh warga, termasuk memaksimalkan pemanfaatan lahan pekarangan rumah. Sudah tumbuhnya kegiatan usaha rumah tangga baik

16

RT belum terlibat secara aktif dalam upaya peningkatan derajat kesehatan, dan perbaikan kualitas SDM dan perbaikan pendidikan warga masyarakat sbagai kebutuhan dasar (basic need)

17

Bazda dan KJKS kesulitan dalam membrikan data Bantuan untuk kaum duafa, fakir dan miskin, yatim piatu, dan lainnya melalui BAZDA dan KJKS

itu produk makanan khas, maupun kerajinan yang dilakukan secara koektif di lingkup RT yang ditunjang oleh dukungan permodalan dari KJKS maupun termasuk dari dinas terkait. RT dilibatan secara aktif dalam pendataan mesalah pengamatan masalah kesehatan masyarakat sebagai Jumantara dan penunjang program desa siaga termasuk dalam memberikan data dan informasi kodisi pendidikan masyarakat yang dibahas dalam rapat dengan Komite Sekolah dan Dewan Pendidkan BAZDA dan KJKS dapat memperoleh data dan informasi langsung dari RT dan SIOS

Keterlibtan RT memberikan dampak terhadap peningkatan kesehatan lingkungan dan pemukiman warga dengan efektifnya kegiatan Jum’at bersih yang dikoordnir oleh RT. Akses dan koordinasi penanganan masalah penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarkat semakin kuat baik oleh PKBM, PAUD dan SKB trutama bagi warga yang tidak memiliki kemampuan baca tulis dan tidak terampil.

Bantuan tepat sasaran sangat membantu kaum dhuafa, dan kondisi ini akan mendorong kepercayaan bagi para pemberi zakat, infak, sadakoh di KSB.

e. Hambatan Dan Tantangan awal PBRT Dari pembelajaran proses yang dilaksanakan pada awal pelaksanaan program PBRT ditemukan bebera hambatan dan tantangan, antara lain adalah sebagai berikut ; 1. Besaran cakupan dan luasnya sektor yang menjadi target yang ditetapkan belum diimbangi oleh ketersediaan jumlah dan kapasitas tenaga pendamping baik dari TKST (Tenaga Kerja Sukarelas Terdidik/sekarang disebut KPM) maupun dari aparatur pemerintah terutama dalam

melakukan monitoring terhadap efktifitas pelaksanaan program untuk semua RT di KSB; 2. Untuk konsep aplikasi dari mekanisme transparansi dan akutabilitas baru efektif sampai di tingkat kelurahan/desa, sedangkan menyangkut mekanisme tranparansi dan akuntabilitas anggaran dan program

pembangunan dari masing-masing SKPD masih terpusat melalui sekrtariat daerah (belum ada unit khusus) dan semetara masih dilakukan melalui kerjasama dengan media massa (kolom khusus keluhan pelayanan publik); 3. Perubahan regulasi dan kebijakan (seperti: PP No. 41 Th. 2007 tentang Struktur OPD) maupun kebijakan lainnya (kebijakan anggaran) acapkali memberikan dampak yang membias terhadap konsistensi dan

keberlangsungan program-program teremasuk PBRT.

f. Pembelajaran awal program PBRT Pembelajaran yang diperoleh dari pelaksaan awal Program PBRT yang dapat dipetik saat itu adalah sebagai berikut: 1. Luasnya ruang publik yang diberikan sampai kepada unit komunitas warga terkecil untuk berpartisipasi dalam pembangunan semakin memperbesar kesadaran dan rasa tanggung jawab masyarakat terhadap upaya penyuksesan program dan kegiatan pembangunan yang

direncanakan termasuk peranserta dari perempuan; 2. Efisiensi dan penghematan anggaran sampai 68% (terutama biaya operasional dan beaya tenaga kerja) pada proyek/kegiatan dengan skala menengah ke bawah yang bisa dilaksanakan langsung oleh masyarakat, seperti pembukaan dan penataan jalan lingkungan dan pemukiman dengan mutu yang sangat memuaskan; 3. Mengurangi kebocoran anggaran dalam hal penyediaan pengadaan barang dan jasa, oleh karena dana langsung diluncurkan kepada masyarakat yang berdampak pada berkurangnya beban pemerintah daerah dalam menyediakan dan pemeliharaan sarana dan prasarana

pelayanan umum yang bisa disediakan sendiri oleh masyarakat yang dikembangkan dari dana stimulan; 4. Menunjang upaya percepatan pengentasan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah melalui program-program pemberdayaan masyarakat khususnya bagi masyarakat/warga miskin karena relatif tepat sasaran. Dari proses itupula kemudian pemerintah KSB mencoba menarik faktor-faktor kunci dari keberhsilan pelaksanaan PBRT, sebagai berikut : 1. Adanya dukungan masyarakat dan good will pemda untuk menginisiasi inovasi pola pengembangan partisipasi, transparansi dan akuntbilitas pembangun daerah; 2. Adanya semangat perubahan sebagai Kabupaten baru yang merupakan potensi sekaligus modal sosial bagi pemerintah daerah untuk melakukan perubahan; 3. Visi dan misi pembangunan daerah yang tertuang dalam RPJM KSB sebagai Kabupaten Percontohan di NTB menjadi motivasi Pemerintah dan sluruh lapisan masyarakat untuk berkreasi melakukan inovasi

pembangunan daerah; 4. Adanya keinginan kuat dan semangat kebersamaan untuk membangun KSB sebagai kabupaten baru untuk mengejar ketertinggalannya dengan kabupaten/kota lainnya di NTB menjadi modal sosial untuk membangun motivasi masyarakat dalam PBRT; 5. Adanya pelibatan para pihak pemangku kepentingan dalam program PBRT dari semua unsur/ranah civil society (pemerintah, swasta, masyaraat/LSM, perguruan tinggi, dan mass media) yang terpadu dalam koordinasi perumusan, pernecanaan, operasioanalisasi dan monitoring dan evaluasi partisipatif secara berkala; 6. Pemda dan DPRD KSB berkomitmen untuk mendukung pengalokasian dari semua tahapan kegiatan dan rencana implementasi dari PBRT untuk dialokasikan dalam APBD secara berkelanjutan mulai TA 2007 yang diintegrasikan dalam kegiatan SKPD terkait.

g. Rencana Tindak Lanjut PBRT dari pengalaman awal program Belajar dari pelaksanaan awal program PBRT, maka pada Pada tahun selanjutnya kemudian Pemda merencanakan akan melakukan serangkaian kegiatan (tindak lanjut program) sebagai berikut : 1. Meningkatkan/memperkuat kapasitas dan skill KPM (Kader Pemberdayaan Masyarakat) dalam melakukan proses pendampingan RT melalui berbagai kegiatan pelatihan, yaitu: o Pelatihan analisis sosial (social maping)dan memperkuat kapasitas KPM dalam PBRT; o o Pelatihan teknik fasilitasi perencanaan; Pelatihan pemetaan kemiskinan secara partisipatif (Poor Wealth Ranking/PWR); 2. Fasilitasi pelaksanaan kegiatan Musrenbang di tingkat RT terutama pelibatan waga miskin dan kelompok perempuan dalam menyusun program dan rencana kegiatan pembangunan TA. 2009; 3. Pengembangan dan desiminasi konsep dan implementasi PBRT dalam semua tataran dan sektr pembangunan di KSB; 4. Pengembangan dan perluasan akses ketersedian, keterjangkauan, dan kesetaraan menyediakan sarana dan parasarana kebutuhan dasar termasuk pemberian pelayanan yang optimal; 5. Pengembangan evaluasi dan monitoring secara partisipatif yang

melibatkan para pihak untuk melihat progress keberhasilan dan capaian implemtasi program; 6. Meningkatkan Kapasitas Kelembagaan RT dalam proses pembangunan; antara lain adalah peningkatan skill pengurus RT dalam memfasilitasi proses musyawarah/pelatihan, pendataan SIOS dan sebagainya; 7. Melakukan proses pendampingan model inovasi pembangunan berbasis RT (Pilot project di beberapa desa); 8. Membentuk Model Informasi Pembangunan di Tingkat RT dan model pengelolaan dana pembangunan dibawah Rp. 50 juta rupiah; 9. Melakukan Analisis dan Advokasi APBD Berbasis RT;

10. Memfasilitasi model mekanisme komplain pelayanan publik.

Namun dari serangkaian rencana tindak lanjut tersebut tidak seluruhnya dapat ditindaklanjuti oleh Pemerintah daerah, antara lain disebabkan ; keterbatasan anggaran, personil dan sebagainya sehingga hanya beberapa program dan kegiatan yang kemudian dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya.

4.2.

PELAKSANAAN

PROGRAM

DAN

KEGIATAN

PBRT

PASCA

PEMBELAJARAN DAN PENGALAMAN AWAL PROGRAM

Dari proses pengalaman dan pembelajaran awal program PBRT tahun 2007. Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Barat kemudian melakukan berbagai inovasi PBRT. Pada bagian ini akan dikaji inovasi PBRT dan diinventarisir program PBRT yang dinilai masyarakat cukup populer dan cukup inovatif serta dirasakan langsung manfaat dari PBRT dan di indetifikasi pula apakah program PBRT hanya dilaksanakan oleh BPM atau ada SKPD lainnya yang juga melakukan inovasi PBRT. Dari hasil penelitian ternyata Program Pembangunan Berbasis Rukun Tetangga tidak hanya dilakukan oleh Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintahan desa Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana, melainkan juga dilaksanakan oleh sejumlah SKPD lainnya. Dari hasil identifikasi program dan kegiatan PBRT, tercatat ada beberapa program PBRT yang dikenal dan memperoleh perhatian publik. Kelima Program dan kegiatan tersebut adalah sebagai berikut ;
No 1 Nama Program Rehab Rumah Berbasis Rukun Tetangga (RRBR) Mulai Program Badan Pemberdayaan Masyarakat T.A. 2008 Pemerintahan Desa s.d. sekarang Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Badan Pemberdayaan Masyarakat T.A. 2007 Pemerintahan Desa Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Badan Pemberdayaan Masyarakat T.A. 2007 Pemerintahan Desa s.d. sekarang Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Dinas Kesehatan Instansi Pelaksana

2

Sistem Informasi Orang Susah (SIOS)

3

Dana Stimulant RT untuk Pemberdayaan Masyarakat Juru Masyarakat Pemantau

4

5

Koperasi Berbasis Rukun Dinas Koperasi, Tetangga (KBRT) Perdagangan

Industri

dan T.A. 2009 s/d sekarang

Sumber : data diolah dari berbagai sumber

Pada bagian ini akan dibahas bagaimanakah gambaran perjalanan pelaksanaan program dan kegiatan tersebut, permasalahan dan kelemahan apasajakah yang muncul dari program dan kegiatan tersebut dilapangan, apa yang menjadi harapan masyarakat dan kearahmanakah kebijakan program dimasa mendatang perlu untuk dikembangkan. 4.2.1. Program Rehab Rumah Berbasis Rukun Tetangga (RRBR) 4.2.1.1. Latar Belakang, Tujuan dan Sasaran RRBR

Program

Rehab

Rumah

dilatarbelakangi oleh semangat Pemerintah Daerah untuk

memenuhi sembilan kebutuhan pokok masyarakat fundamental di yang dari KSB.

merupakan roda

pembangunan

Kesembilan kebutuhan pokok tersebut adalah pangan, pakaian (sangdang), perumahan (papan), pendidikan, kesehatan, lapangan kerja, keamanan, kesenangan dan kenyamanan. Program Rehab Rumah Berbasis Rukun Tetangga diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat sebagai wujud upaya untuk memenuhi salah satu dari sembilan kebutuhan pokok masyarakat. Salah satu kebutuhan pokok tersebut adalah terjaminnya ketersediaan tempat tinggal (papan) yang layak bagi masyarakat. Tempat tinggal yang layak merupakan salah satu tolak ukur derajat kualitas kehidupan anggota masyarakat karena kondisi tempat tinggal akan berbanding lurus dengan kualitas hidup penghuni rumah yang menempati semakin layak tempat tinggal yang ditempati maka kecendrungan kualitas kehidupannya semakin baik. Oleh karena itu, program RRBR menitikberatkan prioritasnya pada anggota masyarakat miskin yang masih menghuni rumah tidak layak ditempati. Melalui program RRBR diharapkan tempat tinggal warga

miskin layak huni dan sehat dan dalam jangka panjang diharapkan kualitas kehidupan warga miskin akan/dapat semakin membaik, paling tidak dilihat dari aspek atau presfektif kesehatan lingkungan perumahan. Secara teknis operasional dalam rangka memudahkan pelaksanaan rehab rumah berbasis RT, pemerintah daerah telah menyusun dan

menetapkan petunjuk teknis operasional program Rehab Rumah Berbasis Rukun Tetangga (PTO-RRBR) pada bulan Mei 2010. Petunjuk teknis ini berisikan tentang kebijakan progam, peran pemerintah dan stakeholder lain yang terkait RRBR mulai dari proses identifiasi sampai dengan pelaksanaan program, termasuk dalam PTO RRBR juga ditetapkan mengenai kriteria rumah yang dapat dijadikan obyek program RRBR. Dalam PTO RRBR, kriteria rumah tidak layak huni dan tidak sehat yang patut untuk menerima program RRBR, adalah sebagai berikut: 1) Rumah tanah; lantai tanah, dinding sudah rapuh, atap terbuat dari daun rumbia, luas rumah kurang dari 8 m2/orang serta tidak ada sekat ruangan/ruang tidur menyatu dengan ruang keluarga. 2) Rumah Panggung; lantai sudah rapuh, dinding sudah rapuh, tiang sebagian sudah rapuh, atap terbuat dari daun rumbia dan banyak yang bocor, luas rumah kurang 8 m2/orang dan tidak ada sekat/ruang tidur menyatu dengan ruang keluarga. 3) Rumah Semi Permanen ; lantai belum diplester, dinding belum diplester, tidak memiliki ventalasi yang cukup, atap banyak yang bocor, luas rumah kurang dari 8m2/orang dan tidak ada sekat ruangan/ruang tidur menyatu dengan ruang keluarga. 4) Status Tanah, lokasi dan pemilik ; tanah tempat rumah yang akan direhab tidak dalam sengketa, dibuktikan dengan sertifikat atau surat kepemilikan tanah, lokasi rumah tidak bertentangan dengan konsep tata ruang KSB, misalnya; ada dibantaran sungai atau daerah rawan bencana, pemilik rumah warga KSB yang dibuktikan dengan KTP atau KK. Dasar kriteria di atas menjadi dasar dalam menentukan dan

menetapkan rumah yang tidak layak huni.

Adapun proses tahapan

pelaksanaan RRBR dibagi kedalam 4 (empat) tahapan, yakni ; tahap Perencanaan, Pengorganisasian, Pelaksanaa serta Monitoring dan Evaluasi. 1. Tahap Perencanaan Pada tahap perencanaan, proses awal atau langkah awal dimulai dengan diselenggarakannya musyawarah warga tingkat RT yang

melibatkan unsur pemerintahan desa dan masyarakat. Musyawarah RT ini bertujuan untuk mengidentifikasi rumah-rumah yang dianggap tidak layak huni dan tidak sehat, sekaligus mencari kesepakatan bersama mengenai rumah yang perlu direhab di desa/kelurahan di lingkungan RT. Hasil musyawarah warga RT ini kemudian diajukan kepada Pemerintah Desa dan dibuatkan dalam bentuk berita acara hasil musyawarah RT yang

kemudian di serahkan RT kepada Kepala Desa. Ditingkat desa, diadakan pertemuan untuk dilakukan pemeriksaan silang terhadap daftar usulan penerima bantuan, dalam pertemuan hadir calon penerima bantuan, Ketua RT, perangkat desa, BPD, LPM, dan unsur desa lainnya. Hasil pertemuan tersebut, selanjutnya dibuatkan berita acara untuk diserahkan ke kantor kecamatan. Tugas pemerintah kecamatan adalah memeriksa kesiapan desadesa dalam menyelenggarakan RRBR serta inventarisasi rumah-rumah yang dibedah, dengan menghadirkan kepala desa, staf kecamatan, dan unsur Muspika (posramil, kapolsek dan camat). Setelah data base tersebut rampun, tahapan selanjutnya adalah pihak camat (kecamatan)

menyerahkan kepada Pemerintah Daerah ( Bupati Sumbawa Barat) melalui Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Sumbawa Barat. Sementara kegiatan pada level Kabupatennya, Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) kemudian menginventarisir data base yang terkumpul dari seluruh desa/kelurahan sekaligus membahas teknis penyelenggaraan program untuk diserahkan kepada Bupati. Berikut ini adalah alur atau bagan singkat proses perencanaan Rehab Rumah Berbasis RT :

Tahap 1 Musyawarah RT - Identifikasi dan menentukan rumah yang layak menerima bantuan - Identifikasi kebutuhan bahanbahan rehab rumah

Tahap 4 Musyawarah Kabupaten (BPM) - Memeriksa berkas-berkas yang terkumpul dari masing-masing desa/kelurahan - Inventasrisasi rumah yang akan dibedah dalam data base - Pembahasan teknis program - Hasil tersebut diserahkan ke Bupati

Tahap 2 Musyawarah Desa - Pemeriksaan silang rumah yang akan direhab

Tahap 3 Musyawarah Kecamatan - Memeriksa kesiapan masingmasing desa - Menyusun data base rumah yang akan dibedah

Sumber Data : Diolah dari PTO Rehab Rumah Berbasis Rumah Tangga Tahun 2010

2. Tahap Pengorganisasian Untuk mengorganisasikan program rehab rumah berbasis RT, pemkab membentuk Tim Koordinasi program dari tingkat Kabupaten, Kecamatan, Desa/Kelurahan dengan beban tugas yang berbeda-beda. Susunan tugas Tim Koordinasi tersebut digambarkan sebagai berikut :

Tim Kabupaten

•Menyusun Petunjuk Teknis Operasional Program RRBR Menyusun •Sosialisasi kepada Camat, Desa/Kelurahan, Pengurus RT, dan KPM Sosialisasi •Mengkoordinasikan seluruh tahapan program dengan semua elemen RRBR Mengkoordinasikan •Memfasilitasi pencairan dana program Memfasilitasi •Monev tahapan program Monev •Membuat laporan pelaksanaan program kepada Bupati Membuat

•Sosialisasi tahapan program kepada Desa/Kelurahan, Kepala Dusun/Lingkungan Sosialisasi dan Pengurus RT •Koordinasi pelaksanaan program Koordinasi Membuat Tim Kecamatan •Membuat laporan hasil program

Tim Desa/Kelurahan

•Pemerintah Desa/Kelurahan bertugas Koordinasi, sosialisasi, pengawasan, konsultasi program, Pemerintah membuat laporan hasil program •BPD bertugas Sosialisasi dan pengawasan BPD •LPM bertugas Menggerakkan swadaya masyarakat, dan pengawasan LPM •Ketua RT bertugas Pendataan dan identifikasi, musyawarah RT, Menggerakkan Swadaya, Membuat Ketua laporan bersama KPM •KPM bertugas Menggerakkan Swadaya, Bersama RtTmelakukan pendataan, Pendampingan RT, KPM Dokumentasi dan laporan

Sumber Data : Diolah dari PTO Rehab Rumah Berbasis Rumah Tangga Tahun 2010

3. Tahap Pelaksanaan Guna menghindari kesalahan pendataan, Pemerintah Kabupaten melalui BPM melaukan proses validasi data akhir rumah penerima M bantuan. Alokasi biaya rehab rumah per unitnya yang disiapkan pemerintah daerah sebesar Rp. 5 Juta, disalurkan melalui rekening kas desa/kelurahan menyelesaikan setelah kepala desa seperti ; dan kelurahan setelah

tahapan-tahapan tahapan

Rekapitulasi

identifikasi

kebutuhan bahan bahan bangunan bagi rumah yang akan direhab, bahan-bahan menandatangani berita acara serah terima bantuan, dan

menandatangani surat perjanjian kerjasama.

4. Tahap Monitoring dan Evaluasi

Kegiatan monitoring dan evaluasi program dilaksanakan secara bersama-sama antara pemerintah kabupaten, kecamatan dengan

pemerintah desa/kelurahan.

4.2.1.2. Keberhasilan dan capaian Program RRBR Pada tahun 2009 pemerintah daerah telah berhasil merehab 860 unit rumah. Dan hingga saat ini tahun 2010 jumlah rumah miskin yang mendapat bantuan perbaikan rumah sebanyak 1.900 unit yang menyedot anggaran daerah sekitar Rp. 6 Milyar dalam tiga tahun terakhir (2008-2010). Tahun 2010 jumlah unit rumah warga miskin yang akan memperoleh bantuan rehab rumah berjumlah 500 unit rumah dengan kebutuhan anggaran Rp.2,5 Milyar. Dengan dana sebesar itu, diharapkan warga dapat menikmati sebuah rumah yang layak untuk dihuni. Di Kabupaten Sumbawa Barat, penyebaran rumah tangga dan keluarga miskin ternyata hampir merata di 8 (delapan) kecamatan. Dapat dikatakan bahwa masih banyak warga miskin di Sumbawa Barat yang tidak memiliki penghasilan tetap/berpenghasilan rendah dan membutuhkan intervensi serius pemerintah daerah untuk kedepannya. Diakui oleh masyarakat bahwa kehadiran program rehab rumah sungguh telah memberikan angin segar bagi warga miskin, kebutuhan masyarakat akan perumahan yang layak, sehat dan nyaman kini bukanlah impian belaka, warga penerima bantuan dapat menikmati dan merasakan langsung manfaatnya dalam jangka panjang. Program rehab rumah mungkin belum memberikan efek yang significan untuk merubah kondisi sosial ekonomi warga miskin, namun kemauan baik pemerintah daerah untuk melindungi dan mengayomi kelompok rentan telah mendapat apresiasi dari masyarakat, khususnya kelompok masyarakat miskin dan marginal. Secara umum masyarakat menilai program bedag rumah yang dilaksanakan selama ini sudah cukup baik (memuaskan) dan menurut masyarakat program ini perlu untuk dilanjutkan di masa mendatang. Karena dampak dan manfaat atas program bedah rumah ini dirasakan langsung

menyentuh kebutuhan masyarakat miskin dan sangat efektif dalam rangka membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar (rumah layak huni) memenuhi dan rumah sehat. Masyarakat juga berharap melalui program ini, dimasa dimasa mendatang diharapkan metode pengelolaan rehab rumah bagi warga miskin untuk dilakukan secara lebih terbuka dan memberikan akses bagi warga miskin untuk dapat bekerja. Pola pelaksanaan rehab rumah perlu dirubah dengan cara merubah pendekatan melalui padat karya, tidak di pendekatan—melalui proyekkan atau dilaksanakan oleh perusahaan, melainkan warga setempat, khususnya warga miskin, sehingga dapat menimbulkan m multi player effect yang lebih besar atas keberadaan program rehab rumah.

4.2.1.3. Tingkat Kepuasan Masyarakat Atas Program RRBR Dari hasil survey yang dilakukan LEGITIMID KSB terhadap tingkat kepuasan masyarakat (penerima program) rehab rumah menyatakan b bahwa sebanyak 90 orang atau 36% mengatakan puas dan 75 orang atau 30% mengatakan puas2. Namun demikian sebanyak 30 orang atau 12% merasa tidak puas dengan program rehab rumah. Berikut tabel tingkat kepuasan masyarakat terhadap Program Rehab Rumah ;

Tingkat Kepuasan Masyarakat terhadap program rehab rumah
30; 12% 3; 1% 2; 1% Sangat Puas 75; 30% 50; 20% 90; 36% Puas cukup Puas Tidak Puas Mengecewakan Tidak menjawab

Sumber : data diolah dari hasil survey LEGITIMID KSB 2010

2 Dari hasil wawancara dengan beberapa warga penerima bantuan bedah rumah mengaku bangga dan senang dengan adanya bantuan pemerintah, pemilik rumah merasa puas dengan hunian barunya, lebih sehat dan layak huni. Diakuinya pula, bedah rumah ini juga melibatkan swadaya masyarakat dilingkungan (gotong royong).

Dari hasil penelusuran lebih jauh mengenai materi ketidakpuasan masyarakat atas program rehab rumah tersebut ternyata terkait dengan antara lain meliputi; (1) alokasi pembiayaan yang disediakan oleh pemerintah terhadap program bedah rumah yang dinilai tidak memadai hanya sekitar Rp. 5 juta dan dari dana tersebut yang terealisasi untuk bedah rumah antaar Rp.3 s.d. 3,5 juta/rumah. Dalam pandangan masyarakat—mengacu pada sosialiasi yang disampaikan Bupati KSB terkait dengan jumlah bantuan dana rehab rumah sebesar Rp.5 juta/rumah. Masyarakat beranggapan bahwa dana tersebut adalah murni diterima atau direalisasikan sebesar Rp.5 juta/rumah, namun dalam kenyataannya ternyata tidaklah demikian, karena dari jumlah tersebut masih harus dikeluarkan biaya administrasi dan “keuntungan” pelaksana proyek sehingga akibat pengurangan jumlah biaya tersebut, kuantitas dan kualitas rehab rumah menjadi berkurang. (2). Adalah terkait dengan metode pelaksanaan rehab rumah. Sebagian masyarakat penerima program menilai bahwa pelaksanaan rehab rumah yang dikelola atau dikerjakan oleh perusahaan atau kontraktor pelaksana tidaklah tepat dan dinilai merugikan kepentingan masyarakat, masyarakat tidak puas karena beberapa kontraktor pelaksana tidak mengerjakan rehab rumah sesuai dengan volume pembiayaan dan keinginan/kebutuhan dari rehab rumah itu sendiri. (3). Kurangnya transparansi dalam pengelolaan rehab rumah yang dikelola di tingkat desa atau pelaksana proyek.

4.2.1.4. Kelemahan dan Tantangan Program RRBR Disamping permasalahan diatas, dari beberapa pandangan

kelompok strategis di masyarakat menilai bahwa alokasi jumlah penerima rehab rumah sebanyak 10 rumah/desa/tahun dinilai relatif masih sangat minim karena jumlah penduduk miskin di setiap desa/kelurahan disejumlah desa/kelurahan melebihi 10 KK/Miskin/rumah tidak layak huni dan sehat. Dengan jumlah rehab rumah yang masih sangat terbatas inilah yang terkadang menimbulkan persoalan kecemburuan sosial di kalangan

masyarakat desa/kelurahan. Ada masyarakat yang beranggapan mereka lebih

berhak untuk menerima program rehab rumah dibandingkan dengan penerima program. Kondisi ini ternyata tidak lepas dari kelemahan Pemerintahan Desa setempat dalam menetapkan kriteria rumah tidak layak huni dan sehat, dan menentukan kriteria keluarga miskin. Dalam kenyataannya dilapangan, ternyata di sejumlah desa tidak konsisten dan obyektif dalam menentukan kriteria rumah tidak layak huni dan sehat, bahkan kebijakan beberapa desa dalam menentukan penerima program masih mengkedepankan keluarga dan pendukungnya, sehingga sejumlah warga miskin dan rumahnya tidak layak huni tidak dimasukkan sebagai penerima program. Temuan masalah lainnya dibalik kisah keberhasilan program rehab rumah di atas ternyata petunjuk teknis yang disiapkan dan telah ditetapkan pemerintah daerah tidak berjalan efektif bahkan hanya terkesan menjadi formalitas belaka karena dalam implementasinya tidak mengacu pada juklak dan juknis. Fakta dan temuan dilapangan proses perencanaan hingga pelaksanaan program belum mengikuti ketentuan teknis yang diatur

sebelumnya oleh Pemerintah Daerah dan diindikasikan oleh masyarakat program rehab rumah potensial mengalami penyimpangan karena minimnya pengawasan dari pemerintah daerah disatu sisi dan buruknya kinerja pemerintahan desa pada sisilain. Hasil investigasi dan wawancara dilapangan menunjukkan beberapa warga penerima bantuan atau warga yang memantau pelaksanaan pekerjaan rehab rumah dilingkungannya menilai hasil pelaksanaan program tidak sesuai dengan jumlah dana yang diterima untuk per unitnya (Rp. 5 Juta), sehingga diduga ada pemotongan anggaran bantuan oleh pihak-pihak tertentu khsususnya pada tingkat desa. Terkadang yang direnovasi hanya pada bagian depan rumah, sementara yang lainnya tidak atau masalah pengadaan bahan/materilal bangunan yang kurang layak dengan nilai anggaran. Temuan lainnya terkait dengan bedah rumah, yakni penentuan penerima bantuan bedah rumah baik Ketua RT, Kepala Dusun dan Pemerintah Desa tidak diputuskan dalam musyawarah warga /rembug warga. Akan tetapi layak atau tidaknya penerima hanya bantuan ditentukan berdasarkan

pendataan di masing-masing Dusun. Masyarakat sendiri juga tidak pernah mendapat laporan hasil pekerjaan rehab rumah baik dari RT maupun Pemerintah Desa. Dari hasil wawancara dilapangan ditemukan pula bahwa sejumlah Kepala Desa kesulitan untuk memformulasikan kebijakan yang tepat untuk memberikan dana rehab rumah, apakah dalam bentuk uang cash ataukah dalam bentuk barang ataukah dalam bentuk lainnya. Kekulitan dan

kekhawatiran sejumlah Kepala Desa jika dana rehab rumah diserahkan langsung dalam bentuk uang, dikhawatirkan dana tersebut akan digunakan oleh penerima manfaat dalam bentuk lainnya, sehingga tidak terjadi rehab rumah. Oleh sebab itulah, sebagian Kepala Desa mengambil langkah kebijakan dengan cara membelanjakan kebutuhan rehab rumah dalam bentuk barangbarang—sesuai dengan kebutuhan rehab rumah penerima manfaat. Beberapa Kepala Desa, khususnya di daerah lingkar tambang (18 desa) merasa kesulitan untuk menggerakkan partisipasi masyarakat—untuk membantu penerima manfaat program, karena sebagian besar warga bekerja. Begitupun dengan sumbangan sosial yang diharapkan dari masyarakat setempat yang memiliki nilai kelebihan ekonomi (mapan) sangat minim tingkat solidaritas sosial masyarakat—sehingga upaya penggalangan dana swadaya yang diharapkan dapat membantu menutupi kekurangan pembiayaan rehab rumah tidak ada. Dari uraian diatas teridentifikasi permasalahan sekaligus kelemahankelemahan yang masih ditemukan dari program diantaranya adalah ; (1) inkosistensi penerapan program dengan petunjuk teknis yang berlaku (2) lemahnya regulasi khususnya terkait dengan mekanisme pengawasan dan pertanggungjawaban (3) kurangnya sosialiasi terhadap PTO RRBR sehingga para stakeholders tidak memahami secara mendalam hak dan kewajiban, kedudukan, peran dan fungsinya dalam program RRBR. (4). masih lemahnya budaya partisipasi, transparansi dan akuntabilitas di lingkungan RT. Sehingga selama kurun waktu 2007-2010, masih terdapat adanya indikasi/dugaan penyimpangan dana bantuan ditingkat desa/kelurahan sehingga berdampak pada buruknya hasil pelaksanaan progam yang diterima warga miskin. Berikut masalah dan kelemahan program ;

No 1

Masalah dan Kelemahan-kelemahan Adanya indikasi/dugaan penyimpangan dana bantuan ditingkat desa/kelurahan sehingga berdampak pada buruknya hasil pelaksanaan progam yang diterima warga miskin. Masih adanya kesalahan dalam menentukan kelompok sasaran penerima program dan kriteria/indikator mengenai rumah tidak layak huni tidak dilaksanakan secara konsisten

Faktor pendorong (sebab-Sebab) Masih Lemahnya sistem pengawasan serta kurangnya transparansi pengelolaan program yang dilaksanakan oleh pemerintahan desa disisilain partisipasi masyarakat masih rendah Hasil Pendataan yang dilakukan oleh RT dan pemerintahan desa tidak dimusyawarah di tingkat RT dan desa. Keputusan dalam penentuan kelompok penerima program masih didominasi oleh personal Kepala desa

2

3

Beberapa desa penerima program tidak Tingkat kepatuhan terhadap juklak memberikan pertanggungjawaban dan juknis masih rendah pelaksanaan program kepada masyarakat Belum dilaksanakannya Petujuk Beberapa desa tidak memhami PTO Pelaksana dan Teknis Operasional Program Pembangunan Rehab Rumah Masih lemahnya kegiatan Masyarakat tidak dapat melakukan pemantauan/pengawasan terhadap pengawasan karena akses data dan pelaksanaan program di tingkat bawah. informasi tidak dapat diakses oleh warga Belum optimalnya peran KPM sebagai pendamping RT. Tugas-tugas seperti identifikasi, pendataan, dan penyusunan laporan tidak dilakukan oleh KPM, bahkan KPM banyak yang tidak melaksanakan proses pendampingan dalam program rehab rumah, peran dan fungsi KPM tidak berjalan KPM tidak memahami hak dan kewajiban sebagai pendamping program, disisilain aturan mengenai peran KPM dalam program rehab rumah belum cukup tegas, khususnya terkait dengan penerapan sanksi terhadap KPM yang kinerjanya buruk

4

5

6

7

Lemahnya hubungan koordinasi dan kerjasama antara RT dengan KPM maupun dengan organsiasi sosial kemasyaratan lainnya

8

Rendahnya partisipasi masyarakat dan Pergeran nilai sosial di masyarakat solidaritas masyarakat (basiru) seiring dengan proses industrialisasi yang berlangsung

4.2.1.5. Tantangan Program RRBR Amanat Perda Nomor 27 Tahun 2008 Tentang Pembangunan Berbasis RT maupun Petunjuk Teknis Operasional Rehab Rumah Berbasis Rukun Tetangga yang menekankan agar pelaksanaan program rehab rumah didasarkan atas semangat dan nilai-nilai kearifan lokal (gotong royong/basiru) atau partisipasi warga ternyata dibeberapa daerah nilai dan tradisi tersebut semakin berkurang, bahkan khusus di daerah lingkar tambang, Kecamatan Maluk, Sekongkang dan Jereweh basiru semakin sirna akibat proses industrialisasi dan globalisasi yang berlangsung dalam waktu yang begitu cepat3, sehingga sangat sulit pelaksanaan program pembangunan rehab berjalan di atas rel kekuatan basiru. Dalam konteks inipula sesungguhnya dalam program PBRT untuk RRBR dimasa mendatang adalah bagaimana mampu mendorong kekuatan dan potensi lokal (basiru) untuk mampu bertahan dan menjadi kekuatan potensial untuk bergerakkan partisipasi warga. Tantangan lainnya adalah perkembangan jumlah penduduk, khususnya para pendatang (masyarakat urban) ke KSB nyang dari tahun ketahun terus mengalami peningkatan, dan sebagian besar mereka pula menetap di KSB dan tidak semua mereka sukses atau mapan secara ekonomi. Kondisi ini dapat menjadi beban bagi pemerintah daerah setempat, jika tidak ada kerangka yang jelas untuk mengantisipasi program tersebut, termasuk dalam konteks ini adalah masyarakat transmigrasi, karena sebagain besar masyarakat transmigrasi adalah masyarakat yang notabennya tergolong miskin, seperti kasus masyarakat transmigrasi SP 1, SP 2 dan SP 3. Keberadaan mereka dinilai oleh masyarakat adat (indegenous people) telah mengambil bagian dari hak-hak masyarakat adat, seperti dalam kasus

3

Globalisasi adalah suatu sistem atau tatanan yang menyebabkan seseorang atau Negara tidak mungkin untuk mengisolasikan diri sebagai akibat dari kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Globalisasi merupakan tantangan bagi Negara berkembang , seperti Negara Indonesia karena dengan globalisasi maka unsur-unsur budaya luar mudah masuk ke Indonesia. Budaya luar tidak semuanya positif bagi perkembangan dan kehidupan bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila.

program bedah rumah yang dilakukan oleh PT.NNT. sehingga menimbulkan kecemburuan sosial antara masyarakat lokal/adat (indegenous people) dengan masyarakat pendatang. Tantangan lainnya yang berpotensi dihadapi oleh Pemerintah daerah dalam kerangka program RRBR adalah terkait dengan peningkatan harga, khususnya barang-barang yang menjadi kebutuhan untuk pembangunan rehab rumah dimana harga di KSB tergolong tinggi dan tentu semakin meningkat tatakala pemerintah pusat pada tahun 2011 menerapkan kebijakan kenaikan harga BBM, maka dapat dipastikan alokasi anggaran sebesar Rp. 5 juta/rumah tidak akan mampu untuk memenuhi kebutuhan pembangunan rehab rumah. Pemerintah daerah juga perlu mengantisipasi proses pemekaran desa dan kelurahan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini. Karena proses pemekaran desa/kelurahan ternyata juga berdampak pada distribusi alokasi jumlah penerimaan kelompok sasaran penerima program. Semakin besar jumlah desa, maka semakin besar alokasi anggaran yang mesti dipersiapkan oleh Pemerintah daerah setiap tahunnya. Disamping itu, pmemrintah juga akan dihadapkan pada tantangan berupa standar kehidupan yang layak di KSB yang semakin meningkat—terlebih lagi dengan

ditempatkannya KSB sebagai Kabupaten terkaya ke-6 di Indonesia, maka tentu standar minimum mengenai kriteria rumah layak huni dan sehat di KSB akan semakin meningkat. Terlebih lagi dengan berkembangnya rumah-rumah yang berkualitas, mega dan mewah yang tumbuh dan berkembang saat ini dibeberapa desa, seperti desa dalam wilayah lingkar tambang, (pekerja newmont vs petani) maka kesenjangan ini akan dapat memicu pada semakin meningkatnya standar mengenai kelayakan rumah huni dan sehat serta tuntutan kelompok warga miskin untuk dapat memperoleh manfaat dan dampak atas program rehab rumah.

4.2.1.6. Rekomendasi Arah Kebijakan Program RRBR di masa mendatang Program rehab rumah perlu dilanjutkan di masa mendatang, namun agar program tersebut dapat lebih berjalan efektif, efisien dan berkelanjutan

sehingga berdampak signifikan bagi masyarakat miskin, maka pemerintah daerah perlu untuk melakukan perbaikan/penyempurnaan, antara lain sebagai berikut ; pertama, perlu ada upaya untuk melakukan revitalisasi nilai basiru sebagai modal sosial masyarakat sekaligus modal sosial dalam pembangunan berbasis RT. Pembangunan kembali nilai basiru dapat dilakukan dalam bentuk pengembangan interaksi sosial masyarakat melalui pertemuan-pertemuan dan peningkatan kegiatan sosial kemasyarakatan, pengembangan kearifan lokal serta nilai-nilai kebersamaan dan semangat untuk membangun dan menata desa/lingkungan secara bersama-sama. Pemerintahan desa dan organisasi sosial kemasyaratan harus mampu berperan aktif dalam menjaga dan melestarikan kekuatan sosial besiru, simbol-simbol sosial yang menjadi kekuatan basiru harus ditumbuhkan kembali, khususnya basiru dalam pembangunan rumah.

Kedua, perlu ada penguatan dan penegakkan regulasi terkait dengan
pembangunan rehab rumah. Penerapan reward and punishment harus dapat dilakukan untuk memotivasi dan memberikan sanksi terhadap para pengelola program pembangunan rehab rumah yang berhasil maupun mengalami kegagalan dalam pencapaian target pembangunan. Misalnya dalam bentuk pemberian tambahan jumlah penerima manfaat program bagi desa/kelurahan yang berhasil dan pengurangan jatah alokasi penerimaan manfaat bagi desa/kelurahan yang melakukan penyimpangan terhadap pelaksanaan

program. Disamping itu, pemerintah daerah juga harus melakukan sosialiasi kepada seluruh para pemangku kepentingan terhadap program pembangunan rehab rumah berbasis RT. Konsistensi pelaksanaan juklak-juknis sangat dibutuhkan untuk memastikan dan menjamin program rehab rumah telah berjalan sesuai dengan aturan main yang telah ditetapkan (on the track).

Ketiga,

prinsip-prinsip

tata

kelola

program,

seperti

partisipasi,

transparansi dan akuntabilitas perlu untuk diterapkan secara optimal. Termasuk dalam konteks ini adalah wadah dan mekanisme komplain terhadap pelaksanaan program harus dapat tersedia—sehingga masyarakat yang merasa tidak puas atau menduga adanya praktek penyimpangan atas

pelaksanaan program dapat menyalurkan aspirasi dan keluhannya secara benar.

Keempat, proses perencanaan, khususnya terkait dengan kelompok
penerima manfaat selain dilakukan melalui melakukan pendataan dibutuhkan pula adanya mekanisme pengambilan keputusan secara terbuka dan bersama. Misalnya, sebelum menetapkan siapa-siapa saja calon penerima program, pemerintah desa mengumumkan daftar nama-nama calon penerima program, membuka ruang bagi masyarakat setempat untuk memberikan penilaian dan tanggapan balik atas hasil pendataan yang telah dilakukan oleh RT, dan jika dibutuhkan pengambilan keputusan terkait dengan kelompok penerima manfaat program dilakukan melalui musyawarah dan kesepakatan bersama, sehingga praktek dugaan kesalahan kelompok sasaran penerima program dan kecurigaan-kecurigaan warga atas program dapat semakin berkurang, disamping itu diharapkan dengan adanya ketersediaan data dan informasi secara terbuka masyarakat setempat juga dapat melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program rehab rumah.

Kelima, pada tahap pelaksanaan program dibutuhkan adanya suatu
pengawasan yang ketat terhadap program dan koordinasi yang kuat, terlebih lagi pada program rehab rumah di daerah lingkar tambang—yang selama ini juga menerima program rehab rumah dari PT.NNT. Double account maupun duplikasi anggaran berpotensi terjadi dan peluang terhadap penyimpangan anggaran juga semakin terbuka karena selama ini pula dalam program rehab rumah yang dilaksanakan oleh PT.NNT dilakukan oleh Pemerintahan Desa setempat. Koordinasi program rehab rumah yang dilaksanakan oleh Pemrintah daerah dan PT.NNT menjadi sangat penting untuk dilakukan mengingat tingkat kebutuhan dan tuntutan masyarakat terhadap alokasi jumlah penerima manfaat program dari tahun ke tahun terus meningkat. Disamping itu pemerintah daerah perlu pula melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat, khususnya departeman terkait yang membidangi pembangunan perumahan rakyat sehingga diharapkan dimasa mendatang program pembangunan rehab rumah tidak hanya bertumpuh pada ketersediaan fiskal daerah melainkan pula bantuan pemerintah pusat baik melalui DAK maupun dalam bentuk lainnya,

termasuk dalam konteks ini adalah mencari terobosan baru dengan cara menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga donor internasional, seperti USAID, UNDP, Ford foundation, JICA, Kedutaan-kedutaan dan sebagainya untuk memperoleh dana bantuan hibah atau grant program.

Keenam,

pertanggungjawaban,

pengawasan

dan

evaluasi

pelaksanaan program rehab rumah kedepan harus ditingkatkan, khususnya pertanggungjawaban pemerintahan desa kepada masyarakat setempat. Dalam konteks pemantauan/pengawasan dan evaluasi perlu ada pelibatan langsung kelompok penerima manfaat program sehingga dapat diketahui tingkat dampak dan manfaat atas program yang dijalankan. Disamping itu, pemerintah daerah juga perlu untuk mendokumentasikan dan

mempublikasikan hasil-hasil capaian keberhasilan dari program rehab rumah sehingga dapat diketahui oleh publik secara luas dan dapat menjadi sarana untuk memperoleh perhatian atau daya tarik bagi para pihak untuk membantu pelaksanaan program. Minimnya publikasi program selama ini ternyata telah menyebabkan banyak pihak yang belum banyak memahami program rehab rumah, termasuk dalam konteks ini adalah para stakeholders di daerah. Padahal dari sisi inisiasi dan inovasi program ini telah menginspirasi daerah lainnya di Indonesia untuk melakukan replikasi. Melalui publikasi inipula diharapkan promosi daerah KSB akan semakin dikenal luas dan dapat menjadi salah satu kabupaten percontohan di Indonesia.

4.2.2. Pemberdayaan Masyarakat dan RT melalui pemberian Dana Dukungan (Stimulan RT) 4.2.2.1. Latar Belakang, Tujuan dan Sasaean Dana Stimulus RT Untuk menggairahkan semangat gotong royong dan swadaya masyarakat sekaligus penguatan kelembagaan RT, pemerintah daerah KSB telah menyediakan dana dukungan pemberdayaan masyarakat (stimulan RT) kepada masing-masing RT, dana tersebut dapat digunakan RT bersama warga lingkungan untuk dikelola sebagai dana pembangunan berdasaran kebutuhan dilingkungan RT. Dari data yang ada jumlah dana stimulan yang diberikan

pemerintah daerah sumbawa barat dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2006-2007 dana stimulan yang diterima RT sebesar Rp. 1.000.000 (satu juta rupiah), pada tahun 2008-2010 ditingkatkan menjadi Rp.1.400.000 (satu juta empat ratus ribu rupiah) per RT. tahun 2010 ini tercatat sekitar 715 (tujuh ratus lima belas) RT yang menerima dana stimulan. Adapaun mengenai bentuk dan jenis dari kegiatan yang dibiayai dari dana dukungan pemberdayaan masyarakat adalah sebagai berikut : 1. Kegiatan musyawarah rencana pembangunan RT atau

musyawarah pertanggungjawaban, dengan alokasi dana Rp. 150.000 (seratus lima puluh ribu rupiah) 2. Biaya administrasi sebesar Rp. 50.000 (lima puluh ribu rupiah) 3. Kegiatan pembangunan/perbaikan sarana prasarana lingkungan yang dapat memberikan manfaat langsung, alokasi dananya sebesar Rp. 1.200.000 (satu juta dua ratus ribu rupiah) Sebelum pemerintah daerah menyalurkan dana stimulan RT, pengurus RT sebelumnya melakukan beberapa hal: Pertama, menyusun rencana kegiatan bersama warga. Kedua, menyampaikan rencana kegiatan (skala prioritas) kepada BPM Sumbawa Barat dengan melampirkan Rencana Penggunaan Anggaran, Daftar hadir peserta rapat, serta Surat pernyataan penggunaan dana dukungan. Sedangkan tugas BPM selanjutnya memverifikasi dan menentukan kelayakan rencana pengajuan kegiatan, setelah dinyatakan layak maka BPM mencairkan anggarannya ke rekening Desa/Kelurahan setelah kepala desa/kelurahan bersama RT menandatangani surat perjanjian

kerjasama, berita acara serah terima, dan surat pernyataan. Dari hasil investigasi dilapangan ternyata penggunaan atau

pemanfaatan dana stimulan RT oleh masing-masing RT pada masing-masing desa/kelurahan berbeda-beda hal ini sangat tergantung dari hasil

rembug/musyawarah warga lingkungan; dari temuan dilapangan pemanfaatan dana misalnya, adalah diperuntukkan untuk pembelian sound system, genset, kursi, pengadaan lampu jalan, pengerasan gang, pembuatan deker jembatan, dll. Salah satu contoh penggunaan dana stimulan yang dilaksanakan warga RT pada kelurahan Bugis Kecamatan Taliwang pada tahun 2009 antara lain :

RT 01 02 03

04

Realisasi Anggaran Pembuatan Meja pimpong, Pembelian Kursi, Biaya Rp. 1.518.000 rapat , Administrasi Biaya rapat, Perbaikan gang lingkungan, Adminitrasi, Rp. 1.638.000 Pengadaan cangkul, sekop, terpal, mikrofon, tali Rp. 1.733.000 tambang, perbaikan selokan, biaya rapat dan administrasi Pembelian tanah urug, terpal, biaya rapat dan Rp. 1.694.000 administrasi

Jenis Kegiatan

Sumber data : Laporan pertanggunjawaban Dana Stimulan PBRT Kel. Bugis Kec. Taliwang

Bantuan dana dukungan pemberdayaan masyarakat (dana stimulan) RT ini ternyata cukup berhasil dalam merangsang dan membuka partispasi warga dalam membangun lingkungan sesuai kebutuhan warga. Bantuan pemberdayaan tersebut relatif dimanfaatkan secara maksimal untuk

kepentingan warga setempat, seperti pembelian terop atau kursi yang digunakan untuk acara-acara perkawinan, kegiatan ibadah, takziah, perbaikan gang jalan lingkungan atau pembelian tanah urug, turut membantu upaya pemerintah didaerah. Keuntungan ganda (multiplayer effec) yang diperoleh dengan adanya bantuan pemberdayaan ini adalah warga lingkungan ikut terlibat sebagai perencana (merumuskan), pelaksana, mengawasi serta menerima manfaat langsung dari hasil perencanaan musyawarah antar sesama warga. Terutama jika proyek pemerintah daerah yang bernilai Rp. 50 s/d Rp. 100 juta dikelola langsung desa/kelurahan, maka bisa dibayangkan meringankan pengerjaan/percepatan proyek pembangunan

manfaat/keuntungan yang dapat diperoleh baik oleh pemerintah daerah maupun pemerintah desa/kelurahan. 4.2.2.2. Kelemahan dan Tantangan Pemberdayaan Masyarakat melalui Dana Stimulus RT Salah satu kelemahan dan tantangan yang dihadapi dalam

pengembangan program dana stimulan RT adalah pada aspek management pengelolaan. Pertama, beberapa RT ditemukan proses pengelolaan dana

stimulan, pemanfaatan dan peruntukkannya ditetapkan sendiri oleh Pengurus RT, bahkan disejumlah desa masih ditemukan penetapan pemanfaatan dana stimulan RT hanya oleh seorang Ketua RT.

Kedua, dana stimulant RT tersebut dirasakan masih belum cukup
memenuhi kebutuhan pembangunan di lingkungan RT, khususnya lagi dalam konteks pembangunan infrastuktur, seperti gang, perbaikan saluran irigasi dan sebagainya. Dan sejauh ini belum ada upaya untuk dilakukan upaya pengembangan kerjasama antar RT. Khususnya terkait dengan pembangunan sarana infrastuktur yang menghubungkan RT satu dengan RT lainnya, seperti pembuatan jalan atau pembangunan sarana irigasi. Sehingga pelaksanaan program tidak mampu menjangkau skala dalam bentuk yang lebih besar. Persoalan koordinasi antar RT dan koordinasi program pemanfaatan dana stimulan RT belum maksimal berjalan di tingkat RT, semantara itu fungsi dan peran Kader Pemberdayaan Masyarakat (KPM) dalam memfasilitasi proses terselenggaranya kerjasama antar RT masih sangat lemah. Keberadaan RW sebagai wadah pemersatu RT sekaligus wadah bersama belum dapat dimanfaatkan, begitupun dengan peran dan fungsi pemerintahan desa, khususnya Pemdes dan BPD serta LPM terlihat belum optimal dalam memfasilitasi terselenggaranya pelaksanaan dana stimulan secara baik, minimnya supervisi dari pemerintahan desa maupun kecamatan selama ini juga menjadi kelemahan dan tantangan pelaksanaan program. Bahkan, banyak pemerintahan desa dan camat yang tidak mengetahui penggunaan dan pemanfataan dana stimulan. Praktek lainnya yang ditemukan dilapangan adalah masih adanya upaya untuk “mensunat” dana program oleh Kades, seperti yang terjadi di Sekongkang Bawah. Sejumlah RT mengeluhkan pemotongan dana yang dilakukan Rp.100.000/RT oleh Pemerintah Desa— dengan alasan proses pengelolaan dana stimulan RT membutuhkan biaya administrasi dan transportasi. Dari hasil studi yang dilakukan oleh LEGITIMID juga menemukan selaian dihadapkan pada berbagai masalah dan tantangan sebagaimana di atas adalah terkait dengan meningkatnya jumlah RT pemekaran. Sejak Pembangunan berbasis RT dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah (2007),

muncul kecendrungan jumlah RT di setiap desa/kelurahan semakin meningkat terlebih lagi dengan meningkatkan jumlah pemekaran desa dan kelurahan yang terjadi saat ini. Dengan bertambahnya jumlah RT tentu berimplikasi terhadap ketersediaan pembiayaan atau alokasi anggaran dana stimulan RT di masa mendatang. 4.2.2.3. Rekomendasi Arah Kebijakan Dana Stimulus RT Kebijakan pemberian dana stimulan bagi RT ternyata dirasakan cukup bermanfaat, bukan hanya pada kelembagaan RT melainkan masyarakat, melalui dana stimulan RT itupula kelembagaan RT nampak mulai tumbuh, bangkit dan berkembang. Namun, demikian beberapa kelemahan dan tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan program dana stimulan RT pun semakin meningkat. Oleh sebab itupula perlu dilakukan langkah antisipasi sekaligus penyempurnaan pelaksanaan dana stimulan, antara lain meliputi;

pertama, penataan kelembagaan dan kinerja RT. Penataan kelembagaan
ditujukan pada sejumlah kelembagaan RT yang menunjukkan capaian kinerja dan prestasi yang buruk serta para pengurus RT tidak aktif dan kurang cukup akomodatif terhadap kebutuhan masyarakat. Kedua, dibutuhkan adanya penguatan kapasitas kelembagaan RT, khususnya terhadap keberadaan sejumlah RT yang memiliki kapasitas yang tergolong rendah dalam memahami tupoksi sebagai RT namun pengurus RT tersebut mmeiliki komitmen untuk memajukan lingkungannya.

Ketiga,

sejauh

ini

peran

KPM

(Kader

Pemberdayaan Masyarakat) pada sejumlah desa dan kelurahan menunjukkan prestasi kerja yang buruk, bahkan KPM tidak menunjukkan jati diri dan komitmennya sebagai tenaga pendamping RT. Oleh karen itulah dimasa mendatang perlu dilakukan pula penataan terhadap KPM dan penilaian prestasi KPM secara objektif. Pemerintah daerah harus memiliki report penilaian terhadap seluruh KPM yang bekerja dalam PBRT. Keempat, perlu ada penegakkan dan penerapan sanksi yang tegas terhadap para pelaku yang melakukan penyimpangan. Kelima, perlu ada peningkatan koordinasi antar

stakholders khususnya antara RT dengan organisasi sosial kemasyarakatan
lainnya yang ada di tingkat kelurahah dan desa. Pemerintah daerah juga perlu

untuk melakukan koordinasi program rehab rumah dengan PT.NNT-yang selama ini pula telah melaksanakan program rehab rumah tidak layak huni dan sehat-sehingga segala keterbatasan khususnya terkait dengan program dan kegiatan dapat diantisipasi oleh pemerintah daerah. Pemerintah Daerah KSB juga perlu pula untuk mendorong sektor swasta, khususnya agar pihak perusahaan (PT.NNT) agar dapat lebih bersifat terbuka dalam pengelolaan dana CSR-Comdev.

4.2.3. Program Stimulus Ekonomi untuk Usaha Mikro Kecil Menengah dan Koperasi Berbasis RT (KBRT) 4.2.3.1. Latar Belakang, Tujuan dan Sasaran KBRT Dalam rangka memperluas peluang mengatasi

kesempatan berusaha,

kerja, serta

pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi

masyarakat, pemerintah daerah menumbuhkembangkan Usaha

Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan Koperasi di Kabupaten

Sumbawa Barat bekerjasama dengan perbankan sebagai penyedia dana usaha. Sebuah rencana pembangunan ekonomi daerah yang lebih maju dan berkeadilan. Program yang berlandaskan asas kekeluargaan dan gotong royong masih tetap yang utama dan terus dikembangkan didaerah pariri lema bariri. Pada tahun 2009 lalu, pemerintah daerah sumbawa barat me-

launching pendirian 720 unit Koperasi Berbasis RT yang tersebar di 37 Desa
meliputi delapan kecamatan se-KSB. Dan sebagai dana awalnya Pemkab Sumbawa Barat mengalokasikan dari dana ABPD sebesar Rp. 10 Milyar sebagai dana stimulus. Masing-masing KBRT memperoleh dana stimulus

sebesar Rp. 10 Juta4. Pendirian KBRT ini bertujuan untuk mendekatkan ekonomi masyarakat yang diharapkan bisa menumbuhkembangkan wirausaha baru bagi masyarakat ekonomi menengah kebawah5. Dasar pembentukan Koperasi Berbasis RT (KBRT) telah didukung oleh SK Bupati Nomor 17 Tahun 2010 tentang petunjuk pelaksanaan program dana stimulus. Atas komitmen penuh Bupati Sumbawa Barat terhadap

pembangunan ekonomi masyarakat melalui koperasi, maka pada tahun 2010 ini Bupati Sumbawa Barat DR KH Zulkifli Muhadli, SH,MM menerima penghargaan Satya Lencana Wira Bhakti Koperasi dari Presiden RI. Penghargaan yang sama juga diberikan oleh Menteri Negara Koperasi dan UMKM RI sebagai kabupaten penggerak koperasi dengan nama penghargaan Paramadhana Madya Koperasi. Berdasarkan Peraturan Bupati No. 5 Tahun 2010 tentang Program Stimulus Ekonomi untuk Mikro Kecil Menengah dan Koperasi Kerjasama Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat dengan Perbankan, jenis usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh pelaku UMKM dan Koperasi adalah sebagai berikut : • Usaha pada sektor pertanian seperti, pertanian tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikanan-kelautan • Usaha pada sektor pertambangan, energi, gas dan air bersih seperti pertambangan rakyat, energi terbarukan, gas dan air bersih. • Usaha pada sektor industri/agroindustri seperti aneka jenis industri, non pertanian, home industri.
Penyerahan dana Stimulus secara resmi dilakukan Pemkab Sumbawa Barat melalui Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi (Perindagkop) dan UMKM pada hari senin tanggal 19 April 2010 jumlah dana stimulus yang diserahkan berjumlah sebesar Rp.13 miliar kepada 720 Koperasi Berbasis Rukun Tetangga (KBRT) se KSB. Dalam Acara penyerahan ini disaksikan pula Prof.DR.H. Sri Edy Swasono Nitidiningrat. 5 Dalam sambutan pada acara penyerahan dana stimulus, Drs.H.Amrullah Ali, SH.MH mengatakan bahwa Penciptaan KBRT tersebut merupakan salah satu kepedulian Pemkab terhadap program peningkatan kesejahteraan masyarakat, karena penyaluran dana stimulus melalui koperasi yang dikelola oleh masing-masing RT tersebut dinilai memiliki peran,fungsi yang sangat startegis dalam mendongkrak perekonomian rakyat, terutama petani, nelayan dan para pedagang ekonomi menegah kebawah, “Dana Stimulus yang disalurkan melalui masing-masing RT se KSB ini, merupakan salah satu langkah Pemkab dalam membantu peningkatan dan pendapatan perekonomian rakyat, karena bertujuan sebagai badan usaha yang dapat menaungi serta mempersatukan rakyat kecil dalam meningkatkan kesejahteraan,” jelasnya.www.sumbawanews.com
4

Usaha pada sektor perhubungan, telekomunikasi, informasi, dan komputer seperti perbengkelan, tehnologi informasi, komputer dan sebagainya.

Usaha pada sektor perdagangan, koperasi, pariwisata, hotel dan restoran seperti, usaha dagang/warung dan sebagainya

Usaha pada sektor keuangan dan jasa lainnya seperti lembaga keuangan mikro, simpan pinjam, BUMDes, dan usaha jasa lainnya. Melihat peluang dan kesempatan diatas UMKM dan KBRT sangat

mumpuni didayagunakan untuk mencapai perkembangan sosial ekonomi daerah yang mantap (steady social economic growth), dan perluasan kesempatan kerja.

4.2.3.2. Kelemahan dan Tantangan KBRT Terkait dengan implementasi program KBRT di Sumbawa Barat, dari hasil studi menemukan beberapa permasalahan yang berkembang, antara lain; 1. Tidak jelasnya rencana usaha yang akan dikembangkan oleh masingmasing KBRT. Sebagian besar KBRT yang telah terbentuk sejauh ini belum jelas jenis usahanya bahkan banyak KBRT yang pasif atau tidak mengetahui usaha apa yang harus dikembangkan? 2. Sebagian besar para pengurus KBRT belum memahami tentang kedudukan, peran dan fungsi sebagai pengurus KBRT bahkan banyak diantara pengurus KBRT koperasi (apa itu koperasi?). 3. Tidak jelasnya managemen KBRT, disisilain tingkat kejujuran para pengurus KBRT, sistem koordinasi dan pengawasan sangat rendah, sehingga beberapa KBRT yang telah terbentuk, memanfaatkan dana stimulan KBRT bukan untuk pengembangan usaha, melainkan belum memahami dasar-dasar mengenai

didistribusikan dan dimanfaatkan hanya untuk kepentingan para pengurus KBRT (dana KBRT dibagi-bagi kepada pengurus KBRT). 4. Secara prinsipil keberadaan KBRT adalah diperuntukkan khususnya untuk

mendorong

kesejahteraan

masyarakat,

kelompok

masyarakat miskin, namun dari hasil studi menemukan sebagian besar kelompok masyarakat miskin merasa kesulitan untuk memperoleh pinjaman dari KBRT yang bergerak dalam usaha simpan pinjam. Justeru dilapangan banyak ditemukan pengurus KBRT memberikan pinjaman hanya kepada masyarakat/individu/kelompok yang mapan atau bahkan “pengusaha” dengan alasan karena ada jaminan mereka akan mampu untuk membayar pinjaman yang diberikan kendatipun bukan sebagai anggota KBRT. 5. Tidak adanya kejelasan mengenai kelompok/sasaran penerima manfaat dan skala prioritas masyarakat penerima manfaat, sehingga para

pengurus KBRT kesulitan untuk menentukan penerima manfaat, dalam praktek kecendrungan sebagian besar memilih untuk memberikan dana kepada warga yang berekonomi menengah ke atas. Sehingga KBRT belum mampu untuk mendorong peningkatan pendapatan dan

kesejahteraan bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah yang lebih baik. 6. Pengelolaan KBRT tidak berlandaskan pada prinsip-prinsip tata kelola koperasi yang baik, seperti management yang transparans dan akubtabel, dan belum berjalannya mekanisme secara baik, dari hasil studi misalnya banyak ditemukan KBRT dalam menentukan kelompok penerima dana KBRT yang tidak melalui rapat musyawarah RT,

melainkan didasarkan atas faktor hubungan keluarga, saudara, kolega atau orang-orang terdekat. Bahkan penggunaan dana KBRT digunakan untuk kepentingan yang lain. 7. Belum adanya regulasi dan penegakkan sanksi yang jelas dan tegas terhadap para pengurus KBRT yang melakukan praktek penyimpangan atau pelanggaran dana KBRT. 8. Ketidaksiapan menjalankan masyarakat rencana usaha dan pengurus pemerintah KBRT ketika hendak

progam

seperti

kemampuan

mengembangkan

ekonomi

perdagangan,

telekomunikasi,

Perkebunan dan usaha lainnya.

Disamping itu, KBRT juga dihadapkan pada permasalahan pada jenis pengembangan usaha karena jika usaha yang dikembangkan sama, misalnya simpan pinjam, maka dengan keberadaan 720 Koperasi/masing-masing RT tentu sulit KBRT tersebut akan berkembang karena jumlah komunitas KK yang ada dilingkungan RT sangatlah terbatas 25 s.d.50 KK. Begitupun dengan usaha lainnya, misalnya pengadaan sembako. Tingginya jumlah KBRT juga akan semakin menyulitkan pemerintah daerah dalam melakukan pengedalian program, melakukan koordinasi maupun pengawasan atas pengelolaan dana stimulan. Membangun koperasi dalam waktu serentak dan sangat singkat ini tentu tidaklah mudah, terlebih lagi dengan ketersediaan kapasitas para pengurus koperasi di lingkungan RT yang sangat terbatas. Berbagai kelamahan dan permasalahan diatas, menjadi penting untuk mendapat perhatian dari Pemerintah daerah, khususnya Dinas Koperasi, Industri dan Perdagangan yang merupakan leading sektor dari program KBRT. Karena jika tidak dapat dikembangkan secara baik, bukan hanya akan menghabur-haburkan anggaran, melainkan akan menjadi citra buruk bagi pemerintah daerah KSB—karena gaung KBRT dan penghargaan yang telah diraih KBRT—jika tidak sejalan dengan capaian keberhasilan, maka publik akan menilai program KBRT hanyalah sebatas kamuflase atau simularca politik.Oleh karenanya, penyelesaian masalah mendasar tersebut sangat membutuhkan upaya serius pemerintah daerah (dinas teknis).

4.2.3.3. Rekomendasi Arah Kebijakan KBRT di Masa Mendatang Koperasi mempunyai kedudukan yang kuat dan sangat penting di dalam rangka membangun sistem perekonomian daerah Kabupaten Sumbawa Barat yang berbasis kerakyatan. Sebagaimana amanah dalam dalam UUD 1945 pasal 33 ayat 1 yang berbunyi “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan”. Pasal ini secara implicit jelas menunjukan bahwa kedudukan koperasi sangat penting, karena koperasi merupakan badan

usaha yang berdasarkan azas kekeluargaan tersebut. Sehingga koperasi diyakini dapat diandalkan untuk menopang perekonomian daerah. Sebagai salah satu pelaku ekonomi daerah bahkan nasional, koperasi memiliki misi sebagai stabilisator ekonomi disamping sebagai agen

pembangunan. Keberadaan dan peran koperasi telah teruji dan terbukti ketika krisis ekonomi yang melanda perekonomian nasional, semua pihak baru tersadarkan bahwa pengelolaan ekonomi yang mengandalkan perusahaan besar telah membuat rapuh basis ekonomi nasional. Ketika krisis moneter terjadi, banyak perusahaan besar yang mengalami stagnasi dan terpuruk usahanya. Namun di tengah kondisi perekonomian nasional yang lemah tersebut ternyata usaha kecil, menengah dan koperasi masih dapat bertahan dan menjadi tumpuan untuk berperan dalam menjalankan roda perekonomian nasional. Beranjak dari hal tersebut di atas, kebijakan daerah untuk membangun dan mengembangkan koperasi sudah tepat karena melalui koperasi inilah

diharapkan koperasi benar-benar mampu menjalankan fungsi dan peranannya dalam menggerakkan ekonomi rakyat. Namun, untuk mengatasi dan mengantisipasi permasalahan yang berkembang sebagaimana telah diuraikan di atas, maka pemerintah daerah perlu melakukan pembenahan

pengembangan usaha KBRT yakni menyangkut permasalahan kualitas pengurus, partisipasi anggota, permodalan dan pengawasan. Secara normatif pengelola (pengurus) dalam KBRT memiliki fungsi yang amat strategis yaitu bertindak sebagai pengusaha yang menjaga

kesinambungan koperasi sebagai lembaga ekonomi yang efisien. Tantangan yang dihadapi oleh daerah saat ini dalam konteks pembangunan KBRT adalah terkait dengan Rendahnya kualitas dari pengurus koperasi—sebagai seorang wirausaha dalam mengelola koperasi. Hal ini yang mengakibatkan proses manajemen KBRT menjadi sangat lemah sehingga arah dan tujuan yang hendak di capai KBRT sulit untuk bisa tercapai terutama dalam peningkatan perkembangan usaha dari KBRT. Salah satu faktor yang akan menentukan keberhasilan KBRT dimasa mendatang adalah menyangkut pula soal manajemen. Dengan kata lain

berhasil tidaknya KBRT akan sangat tergantung pada kemampuan manajemen yang dilaksanakan oleh pengurus KBRT. Mengingat tantangan terbesar yang dihadapi KBRT berada dalam arena persaingan global, tentu dimasa mendatang persaingan semakin ketat, eksistensi individu, masyarakat ataupun KBRT akan sangat ditentukan oleh keunggulan daya saing yang

berkesinambungan. Hanya dengan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan mempunyai daya saing tinggi KBRT dapat mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang yang ada. Dalam konteks itulah maka penting bagi pemerintah daerah untuk ;

Pertama, meningkatkan kemampuan Pengurus KBRT sebagai wirausaha
koperasi. KBRT sebagai salah satu badan usaha yang beranggotakan orangseorang atau badan hukum koperasi yang melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan (Undang-Undang No. 25 Tahun 1992). Oleh sebab itu KBRT harus dilengkapi dengan alat-alat organisasi KBRT yang memadai, produktif dan efektif karena alat tersebut merupkan pilar-pilar yang akan menentukan tumbuh dan runtuhnya KBRT termasuk yang akan menentukan tercapainya atau tidaknya tujuan KBRT. Sejauh ini Perangkat KBRT yang terdiri dari Rapat anggota, Pengurus dan Pengawas belum berjalan efektif, bahkan banyak dari pengurus dan anggota KBRT yang tidak memahami fungsi dan peran Rapat tersebut. Padahal beberapa alat KBRT ini memiliki peranan penting dalam kehidupan berkoperasi. Kedua, mendorong terciptanya Pengeolaan KBRT yang profesional dan bertanggung jawab, khususnya para Pengurus KBRT. Sebagai pengelola, para pengurus KBRT memiliki tanggung jawab yang besar terhadap seluruh anggota KBRT karena pengurus KBRT dipilih oleh anggota dalam rapat anggota (Musyawarah RT), mereka yang telah terpilih dan dipercaya sebagai pengelola KBRT haruslah dapat menjalankan amanah tersebut. Dari sisi akuntabilitas pengurus KBRT terhadap anggota masih sangat rendah, bahkan ditemukan banyak terjadi penyimpangan. Oleh sebab itu dimasa mendatang

pmerintah

daerah

perlu

mendorong

adanya

wadah

dan

mekanisnya

akuntabilitas yang ketat terhdap pengelolaan KBRT.

Ketiga, mendorong kemampuan para pengurus KBRT. Merujuk pada
pendapat Sumarsono (2003:60) yang menyatakan bahwa ada tiga syarat yang harus dimiliki oleh seorang pengelola (manajer/pengurus) , yaitu : Managerial skill, Technical skill dan Entrepreneur skill. Maka, penting kedepan KBRT yang telah terbentuk dan yang akan terbentuk di masa mendatang, untuk mensyaratkan atau mendorong terpenuhinya prasayarat diatas. Sebab keberhasilan KBRT akan sangat ditentukan dari sejauhmanakah keahlian kewirausahaan dalam proses pengembangan KBRT karena tanpa jiwa wirausaha yang baik maka KBRT sulit untuk dapat berkembang. Tantangan penting kedepan yang perlu diantisipasi dalam KBRT dimasa dimasa mendatang adalah bagaimana para pengurus KBRT mampu untuk menjadi seorang wirausaha.

Keempat, meningkatkan kemampuan Wirausaha para pengurus KBRT,
antara lain berupa upaya peningkatan terhadap pengetahuan mengenai permodalan, pemasaran, manajemen usaha, teknologi, dan informasi serta mendorong lahirnya sikap kewirausahaan seperti ; Kemauan yang kuat untuk berkarya dengan semangat kemandirian, Kemauan dan kemampuan

memecahkan masalah dan mengambil keputusan secara sistematis termasuk keberanian mengambil risiko usaha, Kemampuan berfikir dan bertindak kreatif dan inovatif, Kemampuan bekerja secara teliti, tekun, dan produktif dan mendorong adanya kemauan dan kemampuan untuk berkarya dalam

kebersamaan berlandaskan etika bisnis yang sehat. Sebab untuk menjadi wirausaha koperasi berarti harus memiliki kemampuan dalam menemukan dan mengevaluasi peluang-peluang, mengumpulkan sumber-sumber daya yang diperlukan dan bertindak untuk memperoleh keuntungan dan peluang-peluang itu.

Kelima, mendorong para pengelola KBRT memiliki sifat-sifat, jiwa dan
semangat kewirausahaan (enterprenuershup) ; 1. Capacity for hard work (Kemauan bekerja keras)

Sikap kerja keras yang merupakan modal dasar untuk keberhasilan seseorang dan dalam pelaksanaannya terdapat satu unsur yang sangat penting serta mendukung sikap ini yaitu disiplin dalam menggunakan waktu.

2. Getting Things Done With And Through People (Bekerjasama dengan orang lain) Berprilaku menyenangkan bagi semua orang dan juga memiliki banyak teman baik kalangan atas ataupun kalangan bawah serta menghindarkan

permusuhan merupakan kiat menjalin kerjasama dengan orang lain sehingga akan memudahkan dalam mencapai keberhasilan. 3. Good Appearance (Penampilan yang baik) Penampilan ini bukan berarti penampilan body face /muka yang elok atau paras yang cantik, akan tetapi lebih ditekankan pada penampilan perilaku yang baik, jujur pada siapapun. 4. Self Confidence (Yakin) Self confidence ini diimplementasikan dalam tindakan sehari-hari dengan melangkah pasti, tekun, sabar, tidak ragu-ragu, memiliki keyakinan diri bahwa kesuksesan pasti akan diraih. 5. Making Sound Decision (Pandai membuat keputusan) Sikap memiliki pertimbangan yang matang dalam memilih alternatif pilihan dengan mengumpulkan terlebih dahulu berbagai informasi yang akurat merupakan langkah yang terbaik dalam membuat suatu keputusan dengan tidak ragu-ragu. 6. College Education (Mau menambah ilmu pengetahuan) Rajin mengembangkan wawasan dengan melakukan penambahan ilmu pengetahuan dengan cara mengikuti pendidikan tambahan yang berupa pelatihan, kursus, penataran, membaca buku dan lain sebagainya.

7. Ambition Drive (Ambisi untuk maju) Sikap memiliki semangat tinggi, mau berjuang untuk maju, gigih dalam menghadapi pekerjaan dan tantangan dan mampu melihat ke depan dan berjuang untuk menggapai apa yang dicita-citakan.

8. Ability to Communicate (Pandai berkomunikasi) Keterampilan berkomunikasi dengan cara pandai mengorganisasi buah pikiran kedalam bentuk ucapan-ucapan yang jelas, menggunakan tutur kata yang enak didengar dan mampu menarik perhatian orang lain, serta harus diikuti oleh perilaku jujur dan konsisten. Keenam, Pemerintah Daerah perlu memfasilitasi proses pemetaan potensi sumber daya alam dan geografis serta potensi-potensi usaha yang potensial untuk dikembangkan sebagai basis usaha PBRT, serta mendorong adanya perencanaan usaha KBRT sehingga dimasa mendatang masing-masing KBRT memiliki usaha dan krakteristik usaha sesuai dengan basis potensi yang ada pada masing-masing lingkungan RT. Ketujuh, untuk mendorong adanya kemandirian usaha KBRT melalui upaya pendampingan (monev dan tehnical asistensi) yang dilakukan secara massif dan sistematis terhadap proses penyelenggaraan KBRT sehingga Kedelapan, mendorong berbagai regulasi dan kebijakan, program dan anggaran yang memadai untuk mewujudkan KBRT yang maju dan mandiri.

4.2.4. Pemantauan Kesehatan Masyarakat Melalui Juru Pemantau Kesehatan Masyarakat (Jumantara) 4.2.4.1. Latar Belakang, Tujuan dan Sasaran Jumantara Juru Pemantau masyarakat (Jumantara) adalah sebuah program yang dimaksudkan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan di bidang kesehatan. Program ini merupakan modifikasi dari program Desa Siaga yang kemudian disesuaikan dan dikembangkan oleh

pemerintah daerah KSB sesuai dengan situasi permasalahan dan potensi yang dimiliki Kabupaten Sumbawa Barat Dalam program Pemantauan kesehatan masyarakat ini Pemerintah Daerah melibatkan Para Ketua Rukun Tetangga atau Tokoh Masyarakat lain ditingkat RT untuk melakukan pemantauan, untuk dapat melakukan

pemantauan masyarakat para ketua RT dan tokoh masyarakat ini diberikan orientasi/pelatihan guna melakukan pencatatan dan pemantauan terkait dengan permasalahan kesehatan masyarakat di wilayahnya. Pemantauan yang dilakukan antara lain adalah terkait dengan penyebaran penyakit demam berdarah dan malaria, pemantauan jentik nyamuk, Pemantauan kesehatan ibu dan anak, pemantauan masalah gizi, pemantauan orang sakit, pemantauan kesehatan lingkungan, serta

pemantauan kewaspadaan dini permasalaham kesehatan masyarakat. Jumantara dimaksudkan untuk mendorong kesiapan warga dan peningkatan kapasitas warga serta kemauan warga untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Program ini telah dimulai sejak tahun 2006-2007 pengembangan Desa Siaga 100 % melalui perencanaan program Sistem Antar Jaga (SIAGA), melibatkan 66 orang bidan diseluruh Kecamatan Se-KSB, Forum Jumantara Kecamatan Se-KSB serta peran Kader secara bersama-sama bergerak menyukseskan Desa SIAGA 100%. Keberhasilan pemerintah daerah sumbawa barat dalam pengembangan desa siaga 100% dibuktikan dengan berbagai penghargaan Desa Siaga 100%, antara lain ; Tahun 2007 berupa penghargaan Swasti Saba Padapa (Kab/Kota Sehat Tingkat Pemantapan) diberikan oleh Gubernur NTB, Swasti Saba Padapa (Kab/Kota Sehat) diberikan oleh Menteri Kesehatan RI, Manggala Karya Bakti Husada Arutala diberikan oleh Menteri Kesehatan RI. Tahun 2008 penghargaan Swasti Saba Padapa (Kab/Kota Sehat) diberikan oleh Menteri Kesehatan RI, Manggala Karya Bakti Husada Arutala diberikan oleh Menteri Kesehatan RI, Swasti Saba Wiwerda diberikan oleh Gubernur NTB. Tahun 2009 penghargaan Swasti Saba Wiwerda dari Presiden RI. Indikator keberhasilan lainnya adanya Pos Kesehatan Desa

(Poskesdes) yang bertugas mengembangkan Desa Siaga. kegiatan dalam desa SIAGA, antara lain adalah ; Tahun 2006 1. Pelayanan kesehatan gratis 2. Brigade Mobil pelayanan kesehatan masyarakat 3. Bulletin KSB Sehat 4. Bantuan rujukan Keluarga rawan 5. Aktualisasi seni dan informasi keluarga sehat bahagia

Program dan

6. Pembentukan juru pemantau kesehatan masyarakat (Jumantara) 7. Program khsusus S1 Kesehatan Masyarakat, D-III Keperawatan dan DIII Kebidanan Tahun 2007 1. Brigade mobil wanita pelayanan kesehatan masyarakat sebagai wujud partisiasi aktif Dharma Wanita Kesehatan 2. Penambahan 2 puskesmas yaitu puskemas tano dan brang ene 3. Peningkatan status Puskesmas Taliwang menjadi Puskesmas Perawatan Plus, serta Pukesmas Seteluk dan Puskemas Maluk menjadi Puskesmas Perawatan Tahun 2008 1. Pemantapan 100% Desa siaga di kabupaten sumbawa barat 2. Pengadaan ambulance desa sebagai solusi alternatif transportasi kesehatan masyarakat pedesaan 3. Pembentukan TFC (Therapiutic Feeding Center) untuk mnjawab persoalan kasus gizi buruk 4. Pembangunan poskesdes

Tahun 2009 1. Pencanangan P4K Plus 2. Pembentukan PAM (Physical Asset Management Center) 3. Penetapan Eliminasi Malaria 2015 (lebih cepat 5 Tahun dari target nasional)

4. Launching Rumah Tangga Sehat Berbasis Rukun Tetangga (RTS-BRT) Tahun 2010 1. Ambulance Gratis 2. Pembangunan Puskesmas Tongo

4.2.4.2. Kelemahan dan Tantangan Program Jumantara Persoalan ketersediaan, keterjangkauan dan kesetaraan pelayanan kesehatan masih menjadi tantangan dan kendala bagi Pemda KSB untuk menjangkau pelayanan kesehatan bagi daerah-daerah terpencil. Penyediaan program Brimob Yankesmas oleh Pemda KSB yang diperuntukkan bagi masyarakat didaerah terpencil seperti Talonang, Rarak Ronges, Mataiyang ataupun Desa Mantar, belum menunjukkan hasil yang significan. Intensitas kunjungan Brimob Yankesmas ke daerah tersebut relatif masih rendah, padahal pelayanan kesehatan yang diselenggarakan oleh Brimob Yankesmas sangat membantu warga untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dasar yang layak. Sementara fasilitas kesehatan berupa peralatan dan obat-obatan diwilayah terpencil hanya dilengkapi dengan peralatan seadanya. Kelemahan lainnya adalah, kurangnya ketersediaan tenaga kesehatan yang bertugas di daerah terisolir, juga berdampak pada buruknya kualitas pelayanan kepada masyarakat.Tentu akan sangat menyulitkan bagi pasien yang harus

mendapatkan pelayanan secara cepat dan tepat. Jumlah Kunjungan Brimob-Yankesmas selama 5 Tahun (2006-2010) Tahun Jumlah Daerah 2006 6 Kali Talonang, Rarak Ronges, Mataiyang, Mantar 2007 8 Kali SDA 2008 8 Kali SDA 2009 8 Kali SDA 2010/Mei 3 Kali SDA Total Kunjungan 33 Kali
Sumber data: Edisi Khusus KSB Sehat tahun 2010

Persoalan lainnya adalah lemahnya sosialisasi terpadu seluruh program pemerintah terhadap Ketua RT berdampak pada minimnya pemahaman Ketua RT untuk menjalankan Program Desa Siaga atau Jumantara dilingkungan warganya. Bahkan untuk memberikan pemahaman kepada warga lingkungan, banyak RT yang belum untuk melakukan pemantauan karena minimnya upaya penguatan kapasitas dan pemberdayaan dibidang kesehatan untuk para pengurus RT. 4.2.4.3. Rekomendasi Arah Kebijakan Jumantara di masa mendatang Dimasa mendatang perlu ada upaya antara lain adalah ; pertama, untuk peningkatan kapasitas dan pendampingan secara intens, bukan hanya kepada para Ketua RT melainkan pula kepada seluruh para Pengurus RT, sehingga secara kelembagaan proses dan kinerja pemantauan kesehatan masyarakat, bukan hanya dapat dilakukan oleh Ketua RT melainkan pula para pengurus RT. Sehingga manakala para Ketua RT tidak dapat melaksanakan proses pemantauan, maka ada pengurus RT lainnya yang dapat melakukan kerja tersebut. Kedua, perlu ada koordinasi antara Dinas Kesehatan dengan Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa agar pelaksanaan program SIAGA-Jumantara dapat terintegrasikan dengan PBRT. Ketiga, perlu ada sistem informasi kesehatan yang terintegrasi, berjenjang dan sistematis sebagai sarana untuk memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan kesehatan masyarakat secara dini dan tepat. Keempat, perlu ada peningkatan optimalisasi dan akselerasi program kesehatan bagi daerah-daerah terpencil, antara lain; adalah peningkatan pelayanan Brimob Yankes, peningkatan ketersediaan pelayanan kesehatan di daerah terpendil, peningkatan

ketersediaan obat-obatan bagi daerah terpencil. Kelima, perlu ada Indeks Kepuasan Pelayanan Kesehatan Masyarakat (IKM) dan standar pelayanan kesehatan masyarakat (SPM) yang jelas untuk mengukur tingkat keberhasilan pelaksanaan pelayanan kesehatan masyarakat.

4.2.4. Pemberdayaan Sarjana Mengganggur Melalui Pemberdayaan sebagai Kader Pemberdayaan Masyarakat 4.2.4.1. Latar Belakang, Tujuan dan Sasaran KPM Program ini bertujuan untuk mendorong agar para sarjana yang masih menganggur yang ada di masing-masing desa dapat produktif untuk memajukan desa/kelurahannya melalui pemberdayaan masyarakat. Program ini sekaligus dimaksudkan pula untuk membuka peluang dan kesempatan bagi para sarjana untuk bekerja—mengabdikan dirinya kepada masyarakat untuk mensejahterakan dan memajukan desa/kelurahannya. Pada awal Program Pemerintah Daerah (tahun 2007) telah merekrut sebanyak 44 Desa/Kelurahan, mereka ditempatkan di masing-masing desa sebagai Pendamping Program PBRT. Para Pendamping RT ini pada awalnya disebut dengan Tenaga Kerja Sukarela Terdidik (TSKT) dan kemudian seiring dengan berlakunya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 7 tahun 2007 tentang Kader Pemberdayaan Masyaraat, TKST berubah menjadi KPM. Peran dan fungsi utama KPM adalah

melakukan proses pendampingan PBRT, khususnya pemberdayaan bagi masyarakat miskin, antara lain ; (a) merancang program perbaikan kehidupan sosial ekonomi, politik dan budaya masyarakat (b) memobilisasi sumber daya setempat (c) memecahkan masalah sosial, ekonomi dan politik yang ada di masyarakat (d) menciptakan atau membuka akses bagi pemenuhan kebutuhan masyarakat miskin dan (e) menjalin kerjasama dengan berbagai pihak yang relevan dengan konteks pemberdayaan masyarakat dalam PBRT. KPM sebagai fasilitator diharapkan mampu untuk memberikan motivasi, kesempatan, dan dukungan bagi masyarakat miskin, seperti melakukan mediasi dan negosiasi, memberi dukungan, membangun konsensus bersama, serta melakukan pengorganisasian dan pemanfaatan sumber yang ada. KPM sebagai Pendidik diharpkan dapat memberikan masukan positif dan direktif berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya serta bertukar gagasan dengan pengetahuan dan pengalaman masyarakat yang didampinginya, menyelenggarakan

membangkitkan kesadaran, menyampaikan informasi,

pendidikan dan pelatihan bagi masyarakat dan beberapa tugas lainnya yang berkaitan dengan peran sebagai pendidik. KPM sebagai Perwakilan masyarakat diharapkan dapat berperan memfasilitasi terjadinya proses interaksi antara pendamping dengan lembagalembaga eksternal atas nama dan demi kepentingan melakukan masyarakat pembelaan,

dampingannya,

mencari

sumber-sumber,

menggunakan media, meningkatkan hubungan masyarakat, dan membangun jaringan kerja. Singkatnya, dalam PBRT, KPM iharapkan mampu sebagai ‘manajer perubahan” yang mampu ; 1. Menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi

masyarakat miskin berkembang secara optimal. Kehadiran TKST diharapkan mampu untuk membebaskan masyarakat miskin dari sekatsekat kultural dan struktural yang menghambat. 2. Memperkuat pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki masyarakat miskin dalam memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhankebutuhannya. Peran TKST dalam kerangka ini adalah mendorong adanya tumbuh dan berkembangnya segenap kemampuan dan

kepercayaan diri masyarakat miskin yang menunjang kemandirian mereka. 3. Melindungi masyarakat terutama kelompok-kelompok lemah agar tidak tertindas oleh kelompok kuat, menghindari terjadinya persaingan yang tidak seimbang (apalagi tidak sehat) antara yang kuat dan lemah, dan mencegah terjadinya eksploitasi kelompok kuat terhadap kelompok lemah atau singkatnya menghapus segala jenis diskriminasi dan dominasi yang tidak menguntungkan rakyat kecil. 4. Memberikan bimbingan dan dukungan agar masyarakat miskin mampu menjalankan peranan dan tugas-tugas kehidupannya. TKST berperan untuk menyokong masyarakat miskin agar tidak terjatuh ke dalam keadaan dan posisi yang semakin lemah dan terpinggirkan. 5. Memelihara kondisi yang kondusif agar tetap terjadi keseimbangan distribusi kekuasaan antara berbagai kelompok dalam masyarakat.

Dalam konteks ini TKST harus dapat mendorong adanya keselarasan dan keseimbangan yang menjamin dan memungkinkan setiap orang memperoleh kesempatan berusaha. Adapun tugas dari TKST dalam PBRT diantaranya, adalah ; 1. Melakukan penguatan kapasitas baik secara individu maupun

kelembagaan kepada Ketua RT, Pemerintah dan Perangkat Desa, dan warga setempat melalui pendidikan/pelatihan, diskusi komunitas, pengembangan media informasi dan lainnya agar masyarakat memiliki kemampuan dalam proses pembangunan ; 2. Memfasilitasi proses perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan

evaluasi pembangunan secara partisipatif yang dimulai dari tingkat RT hingga desa secara periodik dan berkelanjutan ; 3. Merumuskan dan mendorong Sistem Informasi Orang Susah (SIOS) yang efektif dan menemukan metode yang efektif untuk dikembangkan di tingkat komunitas ; 4. Melakukan pendataan dan updating kependudukan secara rinci dan melakukan analisis atas data tersebut, serta merumuskannya dalam rencana pengembangan pembangunan RT ; 5. Memperkuat upaya peningkatan kesehatan masyarakat dengan cara membantu dan bekerjasama dengan seluruh tenaga media baik di tingkat desa, kecamatan maupun kabupaten ; 6. Mendorong partisipasi warga untuk mewujudkan upaya pengembangan gerakan sejuta pohon melalui pendidikan kesadaran lingkungan, pemantauan lingkungan dan pengembangan kemitraan dengan pihak lain ; 7. Merumuskan potensi pembangunan dimasing-masing RT, termasuk potensi home indutsri ditiap RT yang dapat dikembangkan dimasa mendatang ; 8. Meningkatkan kesadaran pendidikan formal maupun informal untuk mendukung proses percepatan peningkatan Sumber Daya Manusia di KSB melalui pengembangan pendidikan.

9. Mengkooordinasikan , menisnergiskan dan mengintegrasikan seluruh sektor pembangunan yang ada di masing masing RT untuk dirumuskan masing-masing dalam program pembangunan RT 10. Mendorong peran serta masyarakat dalam proses pembangunan mulai dari tingkat RT, RW, Dusun, Desa dan seterusnya. 11. Menyampikan laporan secara periodik perkembangan keadaan dan siatusi dimasing masing RT yang ada disetiap desa serta melakukan dimasing-masing updating dan analisis data secara sistematis dan berkelanjutan. 12. dan tugas lainnya.

4.2.4.2.Kelemahan dan tantangan Kinerja KPM Kelemahan Berdasarkan hasil studi menemukan kinerja KPM dalam proses pendampingan PBRT masih sangat lemah, bahkan dari hasil survey terkait dengan kepuasan masyarakat atas kinerja KPM menunjukkan kekecewaan dan ketidakpuasan masyarakat atas kinerja yang dilakukan oleh KPM dalam masyarakat melakukan proses pendampingan PBRT. Berikut tabel hasil survey tingkat kepuasan masyarakat atas kinerja KPM KPM.
TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT ATAS KINERJA KPM DALAM PBRT
Sangat Puas Tidak Puas Tidak menjawab Puas Mengecewakan Cukup Puas Sangat Mengecewakan

35; (14%)

2; (1%)

10; (4%)

12;( 5% 5%) 41; (16%)

85; (34%)

65; (26%)

Sumber : Data diolah dari hasil survey LEGITIMID KSB 2010 Jumlah reponden 250. Metode sampling 2010.
dilakukan secara acak pada 8 kecamatan

Kekecewaan

dan

ketidakpuasan

masyarakat

atas

kinerja

KPM

dalam

melakukan proses pemberdayaan masyarakat dan proses pendampingan pada Program PBRT ini antara lain adalah terkait dengan ; (1). Inisiasi dan dengan

kretaifitas KPM dalam melakukan pendampingan PBRT. Sebagian besar Para Ketua RT menegeluhkan KPM karena inisiatif KPM dan kreatifitas KPM yang rendah dalam menginisiasi berbagai ide/gagasan program/kegiatan, termasuk mengekseskuis program/kegiatan yang seringkali meninggu atau pasif, bahkan di beberapa desa ditemukan KPM seringkali tidak berada di tempat untuk melaksanakan program/kegiatan. Padahal, menurut masyarakat seyogyanya KPM berada terdepan pada setiap program/kegiatan PBRT. Seperti misalnya, dalam kegiatan gotong royong yang ada di lingkungan RT/Desa/Kelurahan, maupun kegiatan lainnya seperti ; Musyawarah RT. (2) KPM tidak melakukan sosialiasikan program PBRT kepada masyarakat, dan kurang mampu

memahami program PBRT, bahkan interaksi dan beritengrasi KPM dengan masyarakat sangat rendah sehingga selain masyarakat tidak memahami agenda kegiatan tahunan PBRT, ternyata masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui keberadaan dan peran KPM dalam PBRT (3). Tidak ada proses pemetaan sosial dan pendampingan sosial yang dilakukan oleh para KPM secara intens kepada masyarakat yang merupakan wilayah dampingannya, sehingga data dan informasi yang komperehensif mengenai perkembangan situasi dan kondisi ekonomi, sosial, politik-budaya tidak terupdating, bahkan banyak yang tidak tersedia di masing-masing lingkungan RT. Dari hasil wawancara dengan sejumlah KPM mengatakan bahwa lemahnya kinerja KPM dalam pelaksanaan PBRT selama ini dikarenakan antara lain ; pertama, keterbatasan kapasitas KPM dalam memahami PBRT secara komprehensif, termasuk target dan capaian tahunan dari PBRT itu sendiri karena tidak adanya target capaian dan indikator yang jelas mengenai keberhasilan PBRT, dari beberapa kegiatan yang ditetapkan Pemerintah Daerah dalam hal ini Badan Pemeberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa cenderung menoton. Tidak jelas apa yang harus kami kerjakan dalam pendampingan, apa yang perlu kami dampingi? Apa tujuan dan sasarannya? Bagaimana strateginya dan sebagainya. Termasuk juklak maupun juknik kegiatan pendampingan yang hingga saat ini belum tersedia, hanya juklak dan juknik mengenai rehab rumah dan itupun dalam juklak dan juknis tersebut, peran KPM lebih sebatas pada monitoring karena yang mengelola adalah para

Kepala Desa. Kedua, rendahnya penguatan kapasitas, seperti menyangkut peningkatan keahlian KPM dalam memahami dan menggunakan berbagai metodelogi dalam pemberdayaan masyarakat, semestinya KPM diberikan pemahaman dan keahlian mengenai antara lain misalnya ; metode PRA, RRA, ZOPP, SWOT, Wealth Rangking Poor dan sebagainya. Ketiga, selama ini proses pengawasan terhadap KPM juga lemah, tidak ada yang mengawasi kinerja KPM dilapangan, termasuk dalam konteks ini adalah akuntabilitas KPM— selama ini KPM hanya memberikan laporan kepada BPM dan berdasarkan

laporan itu KPM memperoleh gaji, isntrumen penilaian atas prestasi dan kinerja KPM pun ternyata tidak cukup tersedia. Sehingga KPM dapat saja membuat laporan fiktif dan sebagainya. Keempat, pekerjaan sebagai pendamping PBRT lebih bersifat “sampingan” atau bukan pekerjaan utama, karena tidak cukup jika mengandalkan dari honorarium KPM untuk menutupi biaya kehidupan. Kelima, tidak ada regulasi yang jelas yang mengatur bagaimana kedudukan, tugas dan fungsi KPM dalam PBRT, termasuk sanksi yang tegas terhadap KPM yang tidak melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik. Banyak KPM yang kemudian lebih memilih sebagai pelaksana program PNPM atau menjadi CO pada program Comdev PT.NNT karena dinilai lebih menjanjikan dari sisi fiskal atau pada akhirnya memilih pekerjaan lainnya. Tantangan inilah yang menjadi salah satu tantangan terbesar dalam rangka pemberdayaan KPM dalam PBRT.

4.2.4.3. Rekomendasi Arah Kebijakan Pengembangan KPM di masa mendatang Mengacu pada permasalahan, kelemahan dan tantangan di atas maka dimasa mendatang perlu ada reformulasi kebijakan antara lain adalah terkait dengan ; pertama, agenda program pendampingan dan pemberdayaan masyarakat, perlu ada rumusan kerangka kerja yang jelas mengenai materi maupun metode pendampingan yang akan dilakukan, termasuk ukuran mengenai target dan capaian keberhasilan program. Kedua adalah

menyangkut metode peningkatan kapasitas KPM, perlu ada pendidikan dan

pelatihan khusus mengenai berbagai metodelogi dalam pemberdayaan masyarakat, termasuk dalam konsteks ini adalah pemahaman yang

komprehensif mengenai program PBRT kepada para KPM. Ketiga, perlu ada formulasi kebijakan baru mengenai sistem atau mekanisme pengawasan dan pelaporan maupun penilaian atas prestasi dan kinerja KPM, termasuk dalam konteks ini adalah penerapan sistem reward and punishment terhadap KPM yang lebih jelas dan tegas. Keempat, perlu ada regulasi baik berupa peraturan maupun juklak dan juknis terkait dengan berbagai kegiatan sebagai kerangka pedoman bagi para KPM dalam melaksanakan kegiatan.

4.2.5. Sistem Informasi Orang Susah (SIOS) 4.2.5.1. Latar belakang, Tujuan dan sasaran SIOS Dalam rangka meningkatkan ketersediaan, keterjangkauan, kesetaraan dalam proses pembangunan yang lebih baik bagi masyarakat miskin/orang susah, serta untuk mengoptimalkan sasaran program pembangunan agar dapat berbasis/mengarah pada kebutuhan bagi kebutuhan masyarakat miskin maka Pemerintah Daerah memerlukan adanya ketersediaan data dan informasi yang akurat dan tepat mengenai keberadaan warga miskin yang ada di KSB. Program dan kegiatan ini sesungguhnya dilatarbelakangi dari maraknya persoalan terkait program pengentasan kemiskinan yang selama ini banyak dan diperuntukkan bagi warga miskin, namun penerima manfaat atau sasaran program tidak tepat, justeru yang memperoleh manfaat adalah kelompok masyarakat yang mampu. Salah satu fakta dan pembalajaran penting yang ditarik Pemerintah Daerah KSB adalah dalam kasus BLT-BBM pada tahun 2006. Data dan informasi mengenai warga miskin, termasuk ukuran dan keberadaan dari warga miskin selama ini ternyata berbeda-beda, data yang digunakan atau dimiliki BPS terkadang berbeda dengan Dinas, Kesehatan, Dinas Kependudukan, Bappeda dan sebagainya, kategori dan standar mengenai klafisikasi warga miskin seringkali berbeda-beda dan celakanya seringkali pula dimana keberadaan warga miskin itu sering tidak tersedia data

dan informasinya secara lengkap. Sehingga menyulitkan Pemerintah Daerah dalam melaksanakan program dan kegiatan pengentasan kemiskinan. Beranjak dari permasalahan diatas, maka pada tahun 2007 Pemerintah Daerah KSB menggagas sebuah program/kegiatan yang dikenal dengan SIOS (Sistem Informasi Orang Susah). Pendataan mengenai warga miskin dilakukan oleh RT karena RT diasumsikan sebagai pihak yang paling mengetahui atau memahami keberadaan, situasi dan kondisi setiap warga yang ada

dilingkungannya. Melalui pendataan yang dilakukan oleh RT diharapkan data dan informasi yang diperoleh akan lebih akurat/valid dan dapat lebih obyektif dalam menilai warga miskin yang ada dilingkungannya, RT juga diasumsikan sebagai pihak yang paling mengetahui tingkat perkembangan kondisi ekonomisosial masyarakat dilingkungannya, sehingga updating terhadap

perkembangan kemiskinan yang ada dilingkungannya dapat diketahui secara cepat dan tepat. Berikut ini bagan alur pengumpulan dan pengolahan data :
PDE- BAPPEDA

BPS Kependudukan dan Catatan Sipil

Pusat Informasi Kependudukan

Perencanaan Kebijakan dan Pembangunan Daerah dan Nasional

BKKBN
Kecamatan

Pemerintah Desa

Ketua RT

Sumber : Konsep Paper SIOS, Legitimid KSB 2007

4.2.5.2. Keberhasilan Pelaksanaan Program SIOS Pada tahun 2007, Pemerintah Daerah (BPM) bekerjasama dengan Forum LSM telah melakukan kerjasama dalam melakukan pendataan. Peran forum LSM dalam proses pendataan adalah melakukan entry terhadap seluruh

data dan informasi yang diperoleh dari RT yang didampingi TKST. Data dan informasi tersebut berhasil dikumpulkan, meskipun belum cukup

komprehensif. Namun demikian inisiasi awal ini telah menjadi inspirasi dan pembelajaran penting bagi semua pihak bahwa data dan informasi mengenai kemiskinan dan warga miskin sangat penting untuk mendorong programprogram dan kegiatan pembangunan lebih terarah pada kelompok warga miskin. Sehingga program dapat dirasakan langsung dapat bermanfaat bagi warga miskin.

4.2.5.3. Kelemahan dan Tantangan SIOS Pengembangan program Sistem Informasi Orang Sudah (SIOS) berbasis RT ternyata tidak berjalan secara berksinambungan. Proses updating atau pemutakhiran data mengenai perkembangan kemiskinan dan warga miskin di masing-masing lingkungan ternyata tidak berjalan secara intens. Pengurus RT maupun KPM yang diharapkan dapat berperan aktif untuk melakukan pemantauan dan pendataan ternyata tidak berjalan, bahkan kemiskinan data dan informasi kembali terjadi. Harapan adanya data dan informasi yang lengkap dan akurat yang dapat dijadikan sebagai bahan pengembangan perencanaan, kebijakan, program dan anggaran yang berpihak kepada warga miskin dan terfokus pada upaya percepatan pengentasan kemiskinan di masing-masing lingkungan pada akhirnya tidak berjalan efektif. Dari hasil studi menemukan adanya beberapa permasalahan sekaligus merupakan kelemahan, antara lain adalah ; pertama, tidak adanya juklak dan juknis yang dapat dijadikan sebagai pedoman bagi para RT maupun KPM untuk melakukan pendataan kemiskinan dan warga miskin, disisilain

peningkatan kapasitas terkait dengan pendataan dan pengembangan sistem SIOS sangatlah minim, bahkan sejauh ini tidak ada kesepahaman bersama mengenai konsepsi SIOS secara bersama-sama. Kedua, belum adanya supervisi dari pemerintahan desa maupun kecamatan secara intens untuk mendorong KPM maupun RT untuk melakukan pendataan. Sementara dari presfektif Para Pengurus RT terindetifikasi beberapa permasalahan dan kendala, yakni ; (1) ketersediaan waktu para Ketua RT untuk melaksanakan

proses pendataan karena begitu banyaknya jenis kegiatan yang meski harus dilaksanakan oleh Ketua RT, seperti dalam Jumantara—RT juga melakukan pemantauan dan pendataan. (2). Kurangnya bimbingan dan arahan yang diberikan oleh RT, bahkan KPM yang diharapkan dapat membantu dan menginisiasi proses pendataan sama sekali tidak berjalan. (3). Rendahnya kapasitas para pengurus RT, dibeberapa RT masih ada yang tidak memilki kemampuan untuk menbaca dan menulis. Dengan pemberlakuan Undang-Undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, Pemerintah Daerah KSB berinisiatif untuk melakukan inovasi dalam rangka memacu perkembangan pembangunan daerah. Namun, tidak dipungkiri upaya untuk mewujudkan inovasi tersebut bukanlah hal yang mudah, terlebih lagi langkah tersebut merupakan sesuatu yang sama sekali baru diterapkan di Indonesia, maka konsekuensinya tentu Pemerintah Daerah dihadapkan pada tuntutan realisasi atas ide/gagasan kearah yang lebih operasional untuk dapat diterapkan. Inovasi penerapan Sistem Informasi Orang Susah atau dikenal dengan SIOS tentu juga akan berdampak pada perubahan peran kelembagaan kemasyaratan, khususnya Rukun Tetangga (RT) yang akan semakin besar dan dalam konteks itupula persoalan kelembagaan dan sumber daya manusia pengelola data berbasis RT menjadi salah satu komponen penting dalam mencapai SIOS yang efektif, efisien dan berkesinambungan.

4.2.5.4. Rekomendasi Arah Kebijakan Pengembangan SIOS Untuk mewujudkan Sistem Informasi Orang Susah (SIOS) yang akurat dan komprehensif serta dapat digunakan sebagai bahan dalam pengembangan kebijakan daerah, maka dibutuhkan adanya ketersediaan instrumen yang memadai, seperti petunjuk pelaksana dan petunjuk teknis mengenai SIOS yang dapat digunakan sebagai pedoman teknis bagi KPM maupun para RT untuk melakukan pendataan warga miskin di masing-masing lingkungan RT, serta upaya peningkatan kapasitas RT, baik melalui proses pendidikan dan pelatihan maupun proses pendampingan. Pemerintah daerah perlu

mendorong para KPM yang ada di masing-masing desa untuk melakukan

proses pendataan—sebagai bagian dari agenda kerja rutin KPM, keahlian KPM khususnya terkait dengan metode pemetaan kemiskinan dan warga miskin (Poor Wealth Rangking) perlu untuk diberikan agar proses pendataan berjalan secara partisipatif. Kedua, perlu ada upaya untuk melakukan pengolahan dan analisis data secara intens, termasuk dokumentasi data dan informasi serta pengembangan informasi. Data dan informasi mengenai kemiskinan dan warga miskin serta oleh perkembangannya masing-masing harus didokumentasikan dan jika

dipublikasikan

desa/kelurahan—bahkan

memungkinkan adalah dengan tehnologi e-goverment mengingat saat ini di hampir semua desa/kelurahan di KSB telah tersedia komputer—maka dokumentasi komputerisasi dan jaringan informasi (internet) dapat digunakan sebagai sarana untuk pengembangan jaringan informasi, sehingga data dan informasi tersebut dapat diakses mulai dari tingkat desa/kelurahan maupun kabupaten secara cepat dan akurat. Ketiga, perlu ada sistem pengawasan dan evaluasi yang kuat terhadap proses pendataan kemiskinan dan warga miskin yang berlangsung, pemerintah desa, kecamatan perlu melakukan pemantauan dan memberikan tehnical asistensi kepada para RT dalam proses pendataan, disamping turut mendorong adanya partisipasi warga untuk terlibat secara langsung dalam proses pendataan. Keterlibatan masyarakat dalam proses pendataan penduduk dapat dilakukan dalam bentuk penyampaian data dan informasi mengenai keadaan ekonomi (kemiskinan) yang dialami kepada RT baik secara tertulis maupun secara lisan. Dalam arti masyarakat tidak mesti harus menunggu pendataan RT/KPM. Keempat, perlu ada peningkatan

koordinasi antar SKPD, khususnya terkait dengan pendataan, sehingga proses pendataan tidak berjalan sektoral, misalnya terkait dengan program Jumantara yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan, Program pendataan penduduk dan pemilih yang dilakukan oleh KPU, program pendataan yang dilakukan oleh BPS dan sejumlah instansi lainnya. Berbagai kegiatan tersebut perlu untuk diintegrasikan menjadi satu kesatuan, sehingga dilakukan secara komprehensif, dan tidak proses pendataan dapat menimbulkan beban bagi

pemerintahan desa/kelurahan maupun RT setempat. Hal ini dimaksudkan pula untuk menghindari terjadinya kesimpangsiuran data maupun tumpang tindih

data, akibat perbedaan materi, indikator, nilai maupun strategy yang digunakan berbeda. Sehingga sistem SIOS yang diharapkan menjadi semakin sulit untuk diwujudkan, karena proses pendataan dilakukan yang berlangsung sebelum adanya PBRT dengan setelah adanya PBRT tidak ada perubahannya. 4.3. ISSUE PERMASALAHAN, FAKTOR PENDORONG DAN

PENGHAMBAT PBRT Pada bagian ini akan dibahas mengenai berbagai issue permasalahan maupun keberhasilan yang berkembang dalam PBRT dan akan dilakukan identifikasi dan analisis terhadap faktor-faktor pendorong keberhasilan maupun faktor penghambat/kelemahan maupun tantangan dalam pelaksanaan PBRT. Issue permasalahan ini dilakukan secara umum atas program PBRT, karena analsisi terhadap PBRT berdasarkan atas program/kegiatan telah dilakukan pada bagian sebelumnya.

4.3.1. Ketercapaian tujuan PBRT secara umum Dalam rangka menjamin dan mencapai tujuan pembangunan dan proses pembangunan dapat berjalan efektif, efisien dan produktif, Pemerintah daerah Kabupaten Sumbawa Barat telah menyadari akan pentingnya

partisipasi aktif seluruh unsur masyarakat dalam pengambilan keputusan, perumusan, pelaksanaan, dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan pembangunan kebijakan PBRT sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah Nomor 27 Tahun 2008 Tentang Pembangunan Berbasis Rukun tetangga berusaha meletakkan instrumen partisipasi masyarakat sebagai kekuatan pendorong perubahan sekaligus sebagai sarana untuk untuk mewujudkan terciptanya, kemandirian dan kesejahteraan masyarakat. Namun, dalam implementasinya wadah partisipasi dan akses informasi masyarakat dalam proses pembangunan masih berada dan hanya pada tingkat RT, sementara ruang (wadah) partisipasi dan akses informasi pembangunan pada level yang lebih tinggi, seperti dalam musyawarah perencanaan pembangunan daerah (Musrenbangkab) dan pembahasan APBD belum tersedia. Artinya dari sisi ketercapaian pengembangan partisipasi masyarakat

berupa wadah dan tingkat partisipasi warga masih sebatas pada ranah RT dan partisipasi tersebut baru sebatas penyampaian aspirasi masyarakat. Dalam konteks partisipasi masyarakat yang lebih tinggi seperti dalam perumusan kebijakan APBD maupun regulasi daerah, Proses pelibatan warga dalam Musrenbang Kabupaten masih hanya diperuntukkan bagi para tokoh masyarakat, tokoh agama, LSM, wartawan dan sebagainya, tidak tersedia wadah partisipasi yang menjamin hak-hak bagi warga miskin untuk terlibat secara langsung dalam musrenbang dan dapat mempengaruhi kebijakan tersebut. Begitupun terkait dengan capaian keberhasilan dalam tingkat

akomodasi usulan masyarakat sebagai basis kebijakan ternyata masih sangatlah rendah. Karena hasil-hasil musyawarah di tingkat RT dalam Musrenbangkab dan pembahasan APBD belum cukup dapat diakomodir oleh eksekutif maupun legislatif. Bahkan, kecendrungan yang muncul program dan kegiatan pembangunan yang teralokasi dalam APBD masih bersifat “elitis” dan cenderung hanya mengakomodasikan kebutuhan dan kepentingan kekuatan elite atau dengan kata lain belum berbasis pada hasil-hasil musyawarah warga RT dan mengarah pada upaya pencapaian percepatan pengentasan

kemiskinan di lingkungan RT. Dominasi kepentingan elit dan “politis” para anggota DPRD masih cukup besar dalam menentukan APBD, dan DPRD masih cenderung untuk mengkedepankan kepentingan dan kebutuhan para

konstituennya, bukan kebutuhan warga miskin. Persoalan inilah yang menyebabkan tingkat partisipasi warga semakin rendah, bahkan saat ini semakin berkembang sikap apatisme masyarakat miskin untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan RT, karena

musyawarah perencanaan pembangunan RT yang dilaksanakan selama ini ternyata tidak diakomodir dalam kebijakan APBD. Menurunnya gerak partisipasi warga miskin dalam PBRT belakangan ini ternyata berdampak besar bagi keberhasilan pelaksanaan PBRT. Bahkan menjadi ancaman dan tantangan besar bagi Pemerintah Daerah di masa mendatang. Secara yuridis, sesungguhnya telah ada kemajuan karena Pemerintah Daerah telah menjamin dan menyediakan wadah bagi partisipasi warga miskin

dengan lahirnya Perda PBRT No.27 Tahun 2008 tentang Pembangunan Berbasis RT. Namun, sejauh ini ternyata Perda tersebut belum mampu untuk menjangkau dan menjamin keterlibatan masyarakat miskin dalam proses penyusunan kebijakan (perdaturan daerah) maupun APBD daerah. Rendahnya komitmen dan politicall will DPRD untuk membuka ruang partisipasi warga miskin dalam proses penyusunan kebijakan menjadi tantangan dan ancaman bagi warga miskin untuk dapat berpartisipasi. Dan hingga saat ini sebagian besar anggota DPRD masih beranggapan bahwa

penyusunan kebijakan Peraturan daerah, termasuk APBD adalah hanya ruang kekuasaan DPRD dan Eksekutif. Masyarakat tidak perlu dilibatkan karena sebagian besar anggota DPRD beranggapan bahwa kepentingan dan kebutuhan masyarakat, termasuk masyarakat miskin telah direpresentasikan dan diagregasikan oleh DPRD bahkan beberapa anggota DPRD menilai pelaibatan masyarakat akan menghambat proses pembahasan APBD di DPRD dan keberadaan warga miskin tidaklah signifikan dalam formulasi kebijakan APBD karena warga miskin itu sendiri tidak memiliki kapasitas untuk menganalisis APBD. Semangat, tujuan dan nilai-nilai dari PBRT untuk merangsang dan membangkitkan partisipasi masyarakat dari tingkat yang paling bawah (RT)— sekaligus sebagai sarana pengembangan dan pembelajaran bagi partisipasi warga untuk dapat belajar menyuarakan kepentingannya dalam kebijakan dalam tujuan PBRT yang telah tertuang

sebagaimana yang diamanahkan

dalam Perda No. 27 Tahun 2008 tentang Pembangunan Berbasis RT ; 1. Memaksimalkan partisipasi masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembangunan 2. Mempercepat tercapainya tujuan pembangunan pada segala bidang kehidupan 3. Meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat 4. Memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menyampaikan masukan dalam pelaksanaan pembangunan 5. Mencapai hasil pembangunan yang mengutamakan kesejahteraan umum dan tepat sasaran 6. Meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Tujuan PBRT tersebut ternyata belum dipahami oleh sebagian besar anggota DPRD. Kondisi ini dalam perkembangannya berdampak pula terhadap minimnya dukungan DPRD terhadap program dan anggaran untuk PBRT. Ketercapaian tujuan PBRT dilihat dari sisi keberhasilan dalam

memajukan dan memandirikan RT. Dilihat dari aspek ini, belum banyak RT yang dapat mandiri dan mampu melaksankan program PBRT sesuai dengan harapan, bahkan masih banyak anggota DPRD yang belum memahami semangat, tujuan, program dan kegiatan dari PBRT, sehingga kinerja kelembagaan RT dinilai masyarakat belum cukup memuaskan. Dilapangan ditemukan sebagian besar RT masih “mengeluhkan” justeru dengan PBRT saat ini beban dan tanggung jawab RT dan warga dirasakan semakin berat karena berbagai kegiatan yang “dilimpahkan” dari atas ke lingkungan RT terkadang tidak dibarengi dengan dukungan juklak-juknis, anggaran, tehnical asistensi dan sebagainya yang memadai sehingga menyulitkan RT dalam melaksanakan tugas tersebut. Pola pendekatan program yang diharapkan berubah dari pola

top down menjadi buttum-up ternyta belum banyak mengalami pergeseran,
begitupun dengan orientasi dan keberpihakan program pembangunan daerah kearah pengentasan kemiskinan dan kelompok warga miskin belum banyak mengalami perubahan. Sejauh ini, belum banyak program dan kegiatan PBRT yang memang betul-betul lahir dari inspirasi dan kebutuhan/keinginan para RT bersama warga lingkungannya, menurut masyarakat, khususnya para

pengurus RT mengatakan bahwa proses PBRT masih top down sehingga tidaklah mengherakan jika banyak program dan kegiatan yang dilaksanakan dalam PBRT seringkali tidak seiring atau sejalan dengan hasil musyawarah perencanaan di tingkat RT. Ketercapaian tujuan pemenuhan kebutuhan dasar. Dilihat dari sisi ketercapaian tujuan PBRT dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasar warga masyarakat. Sebagian besar masyarakat menilai bahwa beberapa program dalam PBRT, seperti rehab rumah, bantuan dana stimulan untuk RT, dinilai cukup baik dan dirasakan langsung oleh masyarakat. Namun, demikian masyarakat menilai belum banyak program pembangunan daerah yang langsung menyentuh pada warga miskin atau dinilai masih sangat minim.

Masyarakat sesungguhnya berharap pada lima tahun kedepan, Pemerintah daerah dapat lebih banyak mengorientasikan pembangunannya pada upaya percepatan pengentasan kemiskinan, dari sisi kuantitas program diharapkan akan lahir program-program inovatif yang lebih berpihak kepada masyarakat dan diharapkan pula dimasa mendatang sasaran kelompok penerima program difokuskan pada kelompok masyarakat miskin yang berada didesa/kelurahan. Disamping itu kedepan masyarakat sangat berharap, media atau wadah musyawarah pembangunan di tingkat RT dapat dijadikan sebagai

dasar dalam pertimbangan perumusan kebijakan dan program PBRT, hasilhasil musyawarah RT sebagai inisiasi dari bawah (buttom up) dapat diakomodir dan disinergiskan dengan perencanaan pembangunan dari daerah yang bersifat teknoratis. Sehingga, masyarakat merasakan bahwa apa yang telah diinisiasi tersebut bukanlah merupakan pekerjaan yang sia-sia belaka.

4.3.2.Faktor-Faktor Pendukung Keberhasilan Implementasi PBRT Dari hasil identifikasi dan analisis ditemukan bebarapa faktor-faktor pendorong ataupun faktor-faktor yang menjadi kekuatan dan keberhasilan pelaksanaan PBRT. Dari hasil identifikasi LEGITIMID KSB tentang identifikasi beberapa faktor-faktor pendukung PBRT, terungkap antara lai sebagai berikut: a. Adanya dukungan masyarakat dan good will pemda untuk menginisiasi inovasi pola pengembangan partisipasi, transparansi dan akuntbilitas pembangun daerah. b. Adanya semangat perubahan sebagai Kabupaten baru yang merupakan potensi sekaligus modal sosial bagi pemerintah daerah untuk melakukan perubahan. c. Visi dan misi pembangunan daerah yang tertuang dalam RPJM KSB sebagai Kabupaten Percontohan di NTB menjadi motivasi Pemerintah dan sluruh lapisan masyarakat untuk berkreasi melakukan inovasi pembangunan daerah. d. Adanya keinginan kuat dan semangat kebersamaan untuk membangun KSB sebagai kabupaten baru untuk mengejar

ketertinggalannya

dengan

kabupaten/kota

lainnya

di

NTB

menjadi modal sosial untuk membangun motivasi masyarakat dalam PBRT; e. Adanya pelibatan para pihak pemangku kepentingan dalam program PBRT dari semua unsur/ranah civil society (pemerintah, swasta, masyaraat/LSM, perguruan tinggi, dan mass media) yang terpadu dalam koordinasi perumusan, pernecanaan,

operasioanalisasi dan monitoring dan evaluasi partisipatif secara berkala. f. Pemda dan DPRD KSB berkomitmen untuk mendukung

pengalokasian dari semua tahapan kegiatan dan rencana implementasi dari PBRT untuk dialokasikan dalam APBD secara berkelanjutan sejak TA 2007 yang diintegrasikan dalam kegiatan SKPD terkait;

4.3.3.Faktor-faktor Penghambat/kelemahan Implementasi PBRT Adapun yang menjadi beberapa kelemahan sekaligus menjadi faktor penghambat dari pelaksanaan PBRT antara lain adalah : a. Belum adanya pemahaman bersama mengenai Konsep

Pembangunan Berbasis RT. Secara umum Konsep pembangunan berbasis RT dan beberapa regulasi yang mendukung PBRT telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah KSB, akan tetapi tingkat pemahaman terhadap konsep PBRT secara komprehensif,

sistematis dan mendalam belum sepenuhnya dapat dipahami oleh para pelaku atau aktor pembangunan di daerah

(stakeholders), bahkan antar SKPD terkadang masih mengalami
silang pendapatan mengenai PBRT. Akibat kurangnya RT, pemahaman terhadap konsep pembangunan berbasis

ternyata telah melahirkan dua masalah utama ; (1) program tidak dapat berjalan sesuai dengan gagasan atau inisiasi awal program pembangunan berbasis RT, antar stakeholders

pembangunan kesulitan dalam membangun sinergitas kegiatan. (2) tidak jelasnya tahapan pelaksanaan program dan kegiatan, sinergisitas program tidak berjalan maksimal dan tahapan program berjalan kurang sistematis, terarah, terpadu serta terukur. Sehingga keberhasilan program pun semakin sulit untuk dapat diukur. Oleh sebab itulah dibutuhkan adanya master plann atau grand design program pembangunan berbasis rukun tetangga untuk lima tahun kedepan sebagai kerangka pedoman penyelenggaraan PBRT, antara lain mengenai program PBRT lima tahun kedepan, visi, misi dan design

kerangka

pengembangan program SIOS (Sistem Informasi Orang Susah). Model pendampingan masyarakat dan peran KPM dan RT serta kerangka program lainnya. b. Masih lemahnya Impementasi Perda No 27 Tahun 2008 Tentang Pembangunan Berbasis Rukun Tetangga. Lemahnya

implementasi Perda ini disebabkan karena subtansi perda belum diketahui dan pahami oleh para pelaku PBRT, khususnya Pengurus RT, KPM dan Pemerintah desa/kelurahan. Disamping itu, beberapa regulasi pendudkungseperti petunjuk pelaksana dan teknis PBRT, kedudukan, tugas pokok dan fungsi RT, sistem informasi orang susah, tata cara pendampingan/pemberdayaan RT dan sebagainya belum tersedia. Oleh sebab itu perlu ada sosialiasi dan kerangka regulasi juklak-juknis program. c. Belum optimalnya koordinasi dan sinergisitas pelaksanaan PBRT. Sejauh ini meskipun SKPD yang menjadi leading sektor adalah BPM dalam pelaksanaan PBRT, namun ternyata SKPD lainnya pun melaksanakan sejumlah program/kegiatan terkait dengan PBRT, seperti Dinas Koperasi, Inudstri dan Perdagangan dengan Programnya KBRT (Korerasi Berbasis Rukun Tetangga) dan Dinas Kesehatan, dengan Programnya Jumantara (Juru Pemantau Kesehatan Masyarakat) yang juga berbasis RT. Koordinasi dan sinergisitas program PBRT masih rendah, sehingga pada tingkat

impelemntasi dillapangan para pengurus RT kesulitan dan kebingungan untuk melaksanakan program/kegiatan. Oleh sebab itu kedepan dibutuhkan koordinasi dan sinergisitas program dan kegiatan agar dapat berjalan sinergis, efektif dan efisien dan para pengurus RT karena tidak menjadi akan tempat “Kumpulan

Dinas/Badan”

melahirkan

overload

program/kegiatan pada tingkat RT bagi para RT yang pada akhirnya RT tidak mampu untuk melaksanakan program/kegiatan dengan baik. Kedepan diperlukan pula adanya kerangka design program bersama antar SKPD dan koordinasi sehingga tidak terjadi overload atau tumpang tindih kegiatan. d. Masih lemahnya orientasi program berbasis RT yang berorientasi kepada kelompok miskin. Mengacu pada tujuan akhir yang hendak dicapai dari PBRT serta strategi pendekatan yang digunakannya. Maka, proses penyusunan program dan kegiatan PBRT haruslah difokuskan pada program pengentasan

kemiskinan dan diarahkan kepada kelompok penerima manfaat utama program adalah kelompok warga miskin. Oleh sebab itu kedepan, SKPD harus dapat mengintegrasikan program

berdasarkan atas data dan kebutuhan real masyarakat yang ada pada masing-masing lingkungan RT sesuai dengan basis potensi, ketersediaan personil, anggaran dan sebagainya. Kedepan, penyusunan anggaran maupun kegiatan tahunan PBRT yang dilaksanakan oleh masing-masing instansi/SKPD harus mampu menterjemahkan database dan informasi yang tersedia di tingkat RT dan harus “rela” mengorbankan kepentingan proyek kearah prioritas warga miskin. Sehingga dibutuhkan komitmen dan politicall will yang sama seluruh stakeholder yang ada,

khsususnya para pengambil kebijakan yang ada ditingkat daerah.. e. Masih Lemahnya Fungsi dan Peran Kader Pemberdayaan Masyarakat (KPM) dalam melakukan proses pemberdayaan RT

dan masyarakat. KPM merupakan pendamping sosial yang bertugas meningkatkan keberdayaan masyarakat. Fungsi dan Peran KPM adalah bagaimana mendorong adanya partisipasi masyarakat, memajukan dan memandirikan masyarakat secara sosial, ekonomi, politik dan budaya serta melakukan penguatan terhadap kelembagaan RT agar RT mampu secara profesional, mandiri dan berkelanjutan meningkatkan keberdayaan

masyarakat setempat. Sejauh ini peran dan fungsi KPM dalam melakukan pemberdayaan masyarakat sangatlah lemah, bahkan banyak KPM yang tidak mengetahu peran dan fungsinya. Salah satu penyebabnya adalah proses rekrutmen KPM yang

berlangsung di tingkat desa/kelurahan masih mengkedepankan kepentingan keluarga, golongan dan sebagainya, belum

mengkedepankan aspek komitmen sosial dan kapasitas KPM. Oleh sebab itu kedepan perlu ada pengawasan yang kuat dalam proses rekrutmen KPM. Pemerintah daerah juga perlu melakukan

re-design mengenai KPM, antara lain adalah menyangkaut ;
Sistem pelaporan kinerja dan akuntabilitas Kinerja KPM, pola atau model pemberdayaan yang dilakukan oleh KPM, sistem

reward and punishment KPM, penguatan kapasitas KPM, antara
lain meliputi; dasar-dasar dan prinsip-prinsip pendamping masyarakat, metodelogi perencanaan dan monev partisipatif dan sebagainya. f. Masih Lemahnya peran dan Fungsi Organisasi RW Sosial dalam

Kemasyarakatan,

khususnya

kelembagaan

mendukung PBRT. Pembangunan Berbasis RT selama ini cenderung menegasikan keberadaan, peran dan fungsi

organsiasi sosial kemasyaratan lainnya, seperti keberadaan RW (Rukun Warga). Beberapa persoalan terkait dengan keberadaan program mulai muncul, banyak ketua RW merasa kurang diperhatikan dan menilai program pembangunan berbasis RT cenderung diskriminatif. Para ketua RW beranggapan organsasi

RW juga merupakan organsiasi sosial kemasyaratan yang sama halnya seperti RT, termasuk peran dan fungsi RW. Bahkan, RW selama ini menjadi sarana bagi para Ketua RT, apabila mendapatkan berbagai persoalan—Para Ketua RT mengadukan permasalahan dan penyelesaian persolan itu kepada RW. Dari hasil identifikasi permasalahan dan kelemahan, peran dan fungsi organsiasi mengalami sosial kemasyaratan adalah lainnya, selain RW yang

“kevakuman”

Lembaga

Pemberdayaan

Masyarakat (LPM), karena sebagain program dan kegiatan yang seyogyanya menjadi bagian urusan atau kewenangan LPM kini menjadi kewenangan RT. Misalnya, dalam program

pembangunan infrastuktur, rehab rumah dan sebagainya. Kondisi inilah yang memicu munculnya kecemburuan sosial antar lembaga dan lemahnya efektifitas beberapa lembaga organsiasi sosial kemasyaratan Kedepan, dalam perlu melakukan ada penataan pemberdayaan kelembagaan,

masyarakat.

khususnya terkait dengan kedudukan, pola hubungan dan tupoksi antar lembaga. g. Rendahnya dukungan ketersediaan program untuk peningkatan kapasitas kelembagaan RT. Beberapa kelemahan dari sisi kapasitas antara lain adalah terkait dengan administrasi dan

tatalaksana RT, kapasitas RT dalam melakukan pemetaan, memfasilitasi proses pembangunan dan sebagainya. Disamping itu, adalah kelemahan terkait dengan ketersediaan dan

keterbatas anggaran. h. Masih Lemahnya Dukungan dan Kerjasama dari Pihak Ketiga. Seluruh jajaran pemerintahan, pihak swasta dan masyarakat dalam Perda No. 27 Tahun 2008 telah diposisikan sebagai pelaku sekaligus penanggungjawab mengelola PBRT. Ketiga aktor ini memiliki peran dan fungsi yang berbeda, prinsip ini dilandasi oleh semangat untuk mewujudkan good governance dan sebagai upaya pengembangan PBRT, pemerintah daerah telah menyadari

dan membutuhkan adanya kerjasama dari berbagai elemen masyarakat, termasuk dalam konteks ini adalah pihak ketiga atau sektor swasta untuk dapat berperan aktif dalam rangka membangun masyarakat, khususnya kelompok warga miskin. Namun sejauh ini dukungan khususnya dari keberadaan

Perusahaan yang ada di KSB untuk mengeluarkan dana CSR untuk mendukung PBRT masih sangat rendah, bahkan nyaris nihil. Begitupun terkait dengan pola kemitraan Pemda dengan Organisasi Masyarakat Sipil (NGO/Ormas dll). Kedepan, perlu ada upaya pengembangan kemitraan dan sinergisitas program antara Pemda, Swasta dan Organisasi Masyarakat Sipil.

BABV HASIL DAN PEMBAHASAN (2) MENGAGAS DAN MEWUJUDKAN VISI, MISI PROGRAM DAN KEGIATAN PBRT 2011-2015
Pada bagian ini akan di bahas mengenai gagasan berbagai program PBRT di masa mendatang ; perumusan visi, misi, tujuan, program dan kegiatan PBRT untuk periode 2011-2015. Gagasan ini beranjak dari permasalahan dan kelemahan serta tantangan program yang dihadapi selama ini serta harapan-harapan yang muncul di masyarakat sebagaimana telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya.

5.1. Perumusan Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran, Program dan Kegiatan PBRT 2011-2015

5.1.1. Visi PBRT 2011-2015 Mengacu pada hasil-hasil yang telah dicapai pada program dan kegiatan PBRT sebelumnya, serta hasil evaluasi atas ketercapaian PBRT dan

perkembangan saat ini maupun di masa mendatang, maka visi PBRT untuk priode 2011-2015 adalah : “Terwujudnya kesejahteraan sosial, ekonomi,

politik dan budaya di lingkungan RT secara adil dan berkelanjutan berlandaskan nilai Fitrah”
Keberhasilan pencapaian visi sebagaimana di atas akan tercermin dari (indikator keberhasilan), sebagai berikut; 1. Berkurangnya jumlah warga miskin yang ada pada setiap lingkungan RT dalam desa dan kelurahan. 2. Terpenuhinya kebutuhan dasar warga miskin secara memadai di setiap lingkungan RT dalam desa dan kelurahan 3. Terciptanya kemandirian ekonomi, sosial, politik dan budaya warga miskin di setiap lingkungan RT dalam desa dan kelurahan

5.1.2. Misi PBRT 2011-2015 Untuk mewujudkan tercapainya visi PBRT sebagaimana di atas, maka misi yang perlu untuk dijalankan adalah sebagai berikut ; 1. Melakukan upaya peningkatan Sumber Daya Warga Miskin di bidang ekonomi, sosial, politik, budaya dan keamanan agar mampu

berpartisipasi secara aktif dalam pembangunan di tingkat daerah, desa/kelurahan maupun RT. 2. Mengembangkan usaha produktif serta mengoptimalkan potensi geografis dan sumber daya alam potensial di masing-masing lingkungan RT dalam desa dan kelurahan sebagai upaya untuk pengembangan dan peningkatan kesejahteraan warga miskin. 3. Mendorong lahirnya program-pprogram untuk peningkatan akselerasi pengentasan kemiskinan melalui pengembangan kebijakan, anggaran dan program PBRT yang inovatif, efektif dan efisien guna mendukung penyelenggaraan PBRT secara mandiri dan berkelanjutan. 4. Melakukan penataan dan peningkatan kelembagaan, peran dan fungsi organisasi sosial kemasyarakatan di tingkat Kelurahan dan Desa serta kelompok strategis lainnya untuk turut serta berpartisipasi dalam usaha pencapaian keberhasilan pelaksanaan PBRT 5.1.3. Tujuan dan sasaran PBRT 2011-2015 Tujuan dan sasaran (hasil) Pembangunan Berbasis Rukun Tetangga untuk periode 2011-2015 difokuskan pada tujuan dan sasaran (hasil) sebagai berikut; 1. Meningkatkan kapasitas dan partisipasi warga miskin dalam bidang ekonomi, sosial, budaya dan politik agar lebih kreatif, mandiri, berdaya saing dalam proses pelaksanaan pembangunan di tingkat daerah, desa dan kelurahan maupun lingkungan. Indikator keberhasilan tujuan di atas tercermin dari ; a. Meningkatnya partisipasi dan peran sosial budaya, ekonomi, politik warga miskin dalam proses pembangunan (perencanaan, pelaksanaan,

evaluasi dan monitoring) baik di tingkat daerah, desa dan kelurahan maupun lingkungan RT. b. Meningkatnya kemampuan warga miskin dalam merumuskan,

melaksanakan dan mengevaluasi proses pembangunan ekonomi, sosial, politik dan budaya berdasarkan permasalahan dan kebutuhan yang dihadapi warga miskin di lingkungan RT. c. Meningkatnya derajat/kualitas dan kemandirian kehidupan sosial budaya, ekonomi dan politik warga miskin di lingkungan RT secara berkelanjutan.

2. Memanfaatkan potensi geografis dan sumberdaya alam secara optimal untuk kepentingan peningkatan kesejahteraan bagi warga miskin. Adapun indikator keberhasilan dari tujuan ini adalah ; a. Terbangunnya sistem data dan informasi yang akurat mengenai peta potensi potensial dan perkembangannya di masing-masing lingkungan RT, desa dan kelurahan. b. Adanya perencanaan usaha dan pengembangan usaha produktif untuk warga miskin secara berkelanjutan. c. Adanya pemanfaatan atau optimalisasi atas potensi geografis dan sumber daya alam sebagai usaha untuk peningkatan pendapatan warga miskin.

3. Mengoptimalkan potensi & kekuatan organisasi sosial kemasyarakatan desa dan kelurahan (pemerintahan desa, LPM, KPM, RW, RT dll) serta kelompok strategis lainnya (swasta, LSM dll) untuk percepatan

pengentasan kemiskinan. Adapun indikator keberhasilan pencapaian tujuan tercermin dari ; a. Meningkatnya kemampuan dan keahlian pemerintahan

desa/kelurahan dan organisasi sosial kemasyaratan lainnya dalam memfasilitasi proses terselenggaranya PBRT.

b. Terbangunnya sinergisitas antar lembaga organisasi (pemerintahan daerah, pemerintahan desa/kelurahan, RW/RT) serta para pelaku pembangunan PBRT. c. Meningkatnya dukungan dan kerjasama dengan para stakeholders strategis lainnya (swasta, LSM, kelompok profesi dll) untuk

mensukseskan ketercapaian program PBRT.

4. Meningkatkan ketersediaan, keterjangkauan dan kesetaraan sarana dan prasarana kebutuhan dasar warga miskin di masing-masing lingkuangan RT dalam desa dan kelurahan. Adapun indikator keberhasilan tujuan tercermin dari ; a. Meningkatnya ketersediaan sarana dana prasarana dasar (9 kebutuhan pokok) warga miskin di setiap lingkungan RT dalam desa dan kelurahan. b. Adanya kebijakan-kebijakan, program-program dan kegiatan serta anggaran yang berpihak kepada kelompok warga miskin serta inovasiinovasi baru yang kreatif dan konstruktif untuk kemajuan

pembangunan berbasis rukun tetangga.

5. Mengembangkan model PBRT percontohan yang dapat dijadikan sebagai contoh teladan (best practices) serta dapat direplikasi untuk

pengembangan PBRT di masa mendatang. Adapun indikator keberhasilan tujuan tercermin dari ; a. Meningkatnya program dan kegiatan inovatif dalam PBRT setiap tahunnnya atau secara priodik. b. Adanya RT teladan/percontohan (inovatif dan berhasil) yang memiliki keunggulan di bidang tertentu (misalnya di bidang pengembangan partisipasi, ekonomi, sosial, budaya dan politik serta keamanan). c. Adanya sistem penilaian keberhasilan program PBRT secara obyektif melalui indeks penilaian desa/kelurahan dan pemberian sistem reward dan

punishment

yang

mendorong

motivasi

semangat

untuk

pencapaian tujuan PBRT di masa mendatang.

6. Mengembangkan kebijakan dan program untuk meningkatkan rasa aman, nyaman dan damai di lingkungan RT melalui pengembangan sistem peringatan dini. Adapun indikator keberhasilan tujuan tercermin dari ; a. Berkurangya tingkat kriminilitas dan ganguan ketertiban umum di lingkungan RT b. Tersedianya data dan informasi yang cepat dan akurat mengenai situasi dan kondisi kerawanan ekonomi, sosial, budaya, politik dan

keamanan di masing-masing lingkungan RT. c. Adanya sistem informasi peringatan dini yang menjamin pencegahan dan penanggulangan dini bencana sosial, ekonomi, politik, keamanan berbasis lingkungan RT secara cepat dan tepat.

5.1.4. Program dan Kegiatan PBRT 2011-2015 Secara umum Program Pembangunan Berbasis Rukun Tetangga pada tahun 2011 dan 2015 mengacu pada visi dan misi sebagaimana di atas dan diarahkan pada upaya untuk ; pertama, memperkuat keberhasilan program yang telah tercapai pada tahun-tahun sebelumnya. (PBRT tahap I), seperti; program rehab rumah bagi warga miskin, pemberdayaan RT dan dana stimulan dan beberapa program lainnya.

Kedua,

merepons permasalahan

dan perkembangan dinamika sosial, ekonomi, budaya politik dan keamanan kekinian yang dihubungkan pula dengan kerangka umum kebijakan

pembangunan daerah 2011-2015. Dilihat dai sifat program dan kegiatannya, maka pada tahun 2011-2015 terdapat program yang bersifat rutin dan insidentiil. Program yang bersifat rutin adalah program/kegiatan yang setiap tahunnya dibutuhkan dalam PBRT, misalnya terkait dengan pelaksanaan musyawarah RT. Sedangkan yang dimaksud dengan program dan kegiatan yang bersifat insidenttil adalah program dan kegiatan yang ditujukan untuk merespon dinamika

perkembangan dan kebutuhan program dan kegiatan selama kurun waktu lima tahun ke depan. Secara umum, bentuk program dan kegiatan utama yang akan dilaksanakan meliputi ;

1. Program penguatan partisipasi pembangunan ekonomi, sosial, politik, budaya dan keamanan/ketertiban bagi warga miskin. Kegiatan yang akan dilaksanakan antara lain meliputi ; a. Meningkatkan ketersediaan data dan akses informasi PBRT antara lain ; data dan informasi SIOS, data dan informasi program tahunan PBRT dll. b. Menyelenggarakan sosialiasi PBRT baik melalui dialog, penerbitan brosur, buletin dan lain sebagainya c. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat di bidang ekonomi, sosial, politik, budaya dan keamanan/ketertiban. d. Melakukan pendampingan secara intens untuk peningkatan partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan ekonomi, sosial, politik, budaya dan ketertiban. e. Memfasilitasi pengembangan partisipasi masyarakat melalui pelibatan masyarakat dalam berbagai program perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan PBRT melalui dialog, konsultasi publik, serial diskusi/forum warga, pembuatan kotak pengaduan, pembentukan pusat informasi pembangunan desa/kel/RT dsb. f. Menyusun berbagai regulasi sesuai dengan kebutuhan dan dinamika PBRT, antara lain ; misalnya regulasi yang menjamin akses informasi dan penerima manfaat program adalah warga mikin, regulasi tentang dana bantuan dll.

2. Program Optimalisasi Peningkatan SumberDaya Alam dan ekonomi untuk peningkatan kesejahteraan ekonomi warga miskin. Kegiatan

meliputi ; a. Melakukan Pemetaan dan kajian potensi geografis dan

sumberdaya alam serta ekonomi

potensial dan produktif di

masing-masing lingkungan RT secara periodik dan berkelanjutan (data dan informasi potensi RT).

b. Penyusunan

Pembuatan

data

dan

penyebaran

informasi

(promosi) potensi geografis dan sumber daya alam serta ekonomi potensial berbasis desa/keluharan berdasarkan atas data dan informasi dari RT. c. Pembentukan Badan Usaha atau Kelompok Usaha Produktif berbasis potensi yang ada di lingkungan RT/desa/kelurahan untuk mengembangkan potensi yang ada (akan dilakukan pula reformulasi bentuk kelembagaan usaha yang tepat di tingkat RT/reformulasi KBRT) d. Pengembangan usaha produktif, meliputi ; penyusunan rencana usaha berbasis potensi dan management usaha, peningkatan jaringan usaha dan kerjasama e. Memfasilitasi pemberian bantuan usaha/permodalan bagi

kelompok warga miskin yang memiliki potensi usaha dan jiwa

enterprenurship (termasuk melakukan reformulasi kelompok
sasaran KBRT) f. Melakukan Pendampingan dan pelatihan-pelatihan untuk

mendukung usaha ekonomi produktif berdasar potensi dan perencanaan usaha, termasuk memnfasilitasi jaringan usaha dan kerjasama g. Penyusunan regulasi dan program inovatif untuk mendukung pengembangan usaha masyarakat berbasis potensi di masa mendatang 3. Program Optimaliasi Pengembangan potensi & kekuatan organisasi sosial kemasyarakatan desa dan kelurahan (pemerintahan desa, LPM, KPM, RW, RT dll) serta kelompok strategis lainnya (swasta, LSM dll) untuk percepatan pengentasan kemiskinan. Kegiatan yang perlu dilaksanakan, antara lain meliputi; a. Menyelenggarakan Pelatihan management Tata Kelola PBRT, Tatalaksana Organisasi, dan metodelogi pemberdayaan

masyarakat untuk para pelaku PBRT (khususnya pemerintahan desa/kelurahan, LPM, BPD, RT/RW). b. Menyelenggaran training of trainers untuk KPM, antara lain ; teknik untuk memfasilitasi perencanaan dan monev secara partisipatif, teknik melakukan pemetaan sosial, teknik

pengorganisasian masyarakat dan lainnya c. Mengkaji dan menyusun berbagai regulasi pendukung PBRT ; seperti juklak dan juknis untuk para pelaksana PBRT (misalnya, juknis tentang pemetaan sosial, juklak dan juknis SIOS, juklak dan juknis KBRT, dll) d. Memfasilitasi adanya forum koordinasi dan monev bersama serta peningkatan dukungan dan kerjasama yang sinergis dan singkron dalam PBRT baik dari aspek program maupun dari aspek para pelaku PBRT (stakeholders) antara lain ; koordinasi antar SKPD, KPM, RT, desa dan para pelaku lainnya yang dilakukan serta koordinasi program, seperti jumantara, KBRT dll secara berkala.

4. Program peningkatan ketersediaan, keterjangkauan dan kesetaraan sarana dan prasarana kebutuhan dasar warga miskin di masing-masing lingkungan RT dalam desa dan kelurahan. Kegiatan yang perlu dilaksanakan, antara lain meliputi; a. Penyediaan sarana dana prasarana dasar (9 kebutuhan pokok) warga miskin di setiap lingkungan RT dalam desa dan kelurahan berdasarkan potensi dan kemampuan masyarakat dan

difokuskan pada daerah terpencil/terbelakang. b. Melanjutkan program pembangunan rehab rumah dengan

meningkatkan partisipasi dan swadaya lokal masyarakat serta kerjasama antar RT. c. Memfasilitasi ketersediaan Penyediaan air bersih secara gratis bagi warga miskin yang kesulitan air bersih, dan pembangunan fasilitas MCK

d. Memberikan bantuan khusus bagi keluarga miskin, jompo dan anak-anak terlantar untuk pemenuhan infastuktur dasar, seperti bantuan beras bagi warga miskin. e. Menyusun program dan kegiatan tahunan dibidang infrastuktur berbasis atas kebutuhan warga miskin serta program yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar warga miskin.

5. Program peningkatan perlindungan kerawanan sosial-budaya, ekonomi, politik dan alam berbasis RT/desa/kelurahan. Kegiatan yang perlu

direncanakan antara lain adalah; a. Melakukan pemetaan/identifikasi situasi dan kondisi kerawanan sosial, ekonomi, politik dan alam melalui pendekatan Early Warning System dan Early Response System b. Menyelenggarakan pelatihan kepada para stakholders tentang

EWS untuk pencegahan dan penanggulan bencana alam dan sosial serta ganguan keamanan lingkungan berbasis komunitas c. Memfasilitasi adanya Team Relawan Tanggap Darurat berbasis komunitas di masing-masing desa/kelurahan dan RT d. Memfasilitasinya adanya data dan informasi serta sistem informasi dan peringan dini berbasis desa/kelurahan dan RT

6. Program pengembangan model PBRT percontohan yang dapat dijadikan sebagai contoh teladan (best practices) serta dapat direplikasi untuk pengembangan PBRT di masa mendatang. Adapun kegiatan yang perlu untuk dilaksanakan antara lain adalah; a. Menyelenggarakan Desa/kelurahan di sayembara PBRT Award oleh ; Tingkat

selenggarakan

masing-masing

desa/kelurahan, Tingkat Kecamatan di selenggarakan oleh masing-masing Kecamatan dan Tingkat Kabupaten di

selenggarakan oleh Kabupaten (Wakil Pemenang dari Kecamatan akan dikompetisikan pada tingkat Kabupaten).

b. Menyusun dan melaksanakan Indeks Tata Kelola Pemerintahan Desa dan Kelurahan (termasuk PBRT) secara berkala c. Menyusun dan mendokumentasikan praktek-praktek best

practices PBRT dari masing-masing lingkungan RT. d. Mempublikasikan dan menyebarkan informasi dalam bentuk brosur, buku-buku, dll terkait dengan praktek best practices PBRT. e. Menyusun pedoman dan melaksanakan replikasi best practices PBRT kepada RT lainnya atau desa/kelurahan lainnya. f. Menyelanggarakan seminar dan lokakarya terkait dengan

keberhasilan inovasi PBRT. g. Melakukan evaluasi (lesson learned) atas inovasi dan praktek

best practices secara berkala serta menyusun program dan
kegiatan yang inovatif di masa mendatang

Indikasi Kegiatan Sasaran
Terintegrasinya program Pembangunan Berbasis Rukun Tetangga dengan Program Daerah, Desa/kelurahan/RT dan program lainnya

Keterangan

Program
Optimalisasi & Sinergisitas PBRT

Kegiatan
(1) Integrasi program melalui penyusunan RPJMDesa (pengumpulan data dan informasi mulai dari tingkat RT, RW dan Dusun). (2) Peningkatan koordinasi antar SKPD melalui pertemuan secara berkala ( khususnya;SKPD yang memasukkan bagian kegiatan dalam PBRT), seperti Dinas Koperasi dengan program KBRT, Dinas Kesehatan dengan Program Jumantara, dll serta Peningkatan koordinasi dan sinergisitas antar organsiasi kemasyarakatan, RT dengan RW, RT dengan Dusun, RT dengan KPM dll. (3) Peningkatan singkroniasai dan sinergisitas PBRT dengan program lainnya, sepertu PNPM, Program CSR- Comdev PT.NNT dll. (4) Menyusun kerangka regulasi kebijakan dan atau juklak-juknis (tupoksi) untuk memperjelas keberadaan, peran dan fungsi SKPD leading Sektor dalam PBRT dan SKPD pendukung lainya

Kerangka Regulasi

Kerangka Anggaran (tahun) ke(1) (1) Untuk Penyusunan RPJMDesa dan RPJM Kabupaten. Pola pendekatan yang digunakan adalah Apakah RPJM Desa menyesuaikan dengan RPJM Kabupaten ataukah RPJM Kabupaten merupakan mengkompilasi RPJMDesa

(1) Perda Pedoman Penyusunan RPJM Desa & Perdes RPJM Desa -

(4) Perbup/Perda ttg yang mengatur CSR PT.NNT dan perusahaan lainnya (5) Perbup/SK Bupati

(1)

(1) (1)

(1)

Organisasi sosial kemasyaratan memiliki kepedulian dan pemahaman terhadap PBRT serta sense of responsilibilty terhadap kelompok warga miskin dan rawan di lingkungan RT; Meningkatnya

Sosialiasi review PBRT

dan

(1) Pembuatan poster dan brosur yang berisikan tujuan dan kelompok sasaran atau penerimana manfaat program PBRT (2) Sosialiasi tatap muka tentang PBRT dengan para pelaku atau pelaksana dan kelompok penerima program (multistakeholders). (3) Penerbitan buletin jum’at (6 bulan sekali) berisikan tentang PBRT (Islam dan pengentasan kemiskinan) (1) Pelatihan Perencanaan Pembangunan Berbasis RT

-

(1) (1) (1)

(2) juknis Sosialiasi

Program

kemampuan dan keahlian pemerintahan desa dan kelurahan setempat dan Kader Pemberdayaan Masyarakat untuk memfasilitasi terselenggaranya PBRT

Peningkatan Partisipasi Desa/Kelurahan dan RT untuk PBRT

(2) Pelatihan Monitoring dan Evaluasi Partisipatif dalam PBRT (3) Pelatihan Pemetaan potensi desa dan kelurahan secara partisipatif (4) Pelatihan Pemetaan Kemiskinan Secara Partisipatif (5) Pelatihan Teknik Fasilitator Pembangunan (6) Pelatihan Pengembangan Usaha berbasis potensi desa dan kelurahan/RT (7) Pelatihan Manajement Tata Kelola RT

-

(1) (1) (1)

Modul Pelatihan (juklak dan juknis)

Meningkatnya partisipasi dan peran sosial budaya, ekonomi, politik warga miskin dalam kehidupan sosial budaya, ekonomi dan politik Meningkatnya kapasitas dan keahlian RT (sekurang-kurangnya 25 %) dari seluruh jumlah RT yang dapat melaksanakan program pembangunan berbasis rukun tetangga secara baik Terbangunnya struktur organisasi kelembagaan RT yang kuat, mandiri dan memiliki kedudukan dan pola hubungan yang jelas, termasuk TUPOKSI pengurus RT sehingga adminitrasi dan

Program Peningkatan Partisipasi Warga Miskin dalam PBRT

(1) Pelatihan untuk peningkatan partisipasi warga miskin (2) Penyediaan akses informasi program-program pembangunan bagi warga miskin, misalnya informasi tentang dana bantuan bagi warga miskin, rehab rumah dll. (3) Pelibatan warga miskin dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan monitoring program pembangunan (1) Pelatihan Teknik memfasilitasi musyawarah RT/Rapat-rapat (2) Pelatihan Mediasi untuk menyelesaikan permasalahan/laporan warga (3) Pelatihan Administrasi Kelembagaan RT. (4) Pelatihan PBRT (Latar belakang, tujuan PBRT, tahapan PBRT, agenda PBRT dll).

(2) (2) (1)

Modul Pelatihan

Program Peningkatan Kapasitas RT

Juklak Juknis/Modul

dan

(2) (2) (2) (2)

Program Penataan kelembagaan RT

(1) Restrukturisasi kelembagaan RT yang tidak efektif (2) Penyusunan Pedoman TUPOKSI RT (3) Indeks Kemajuan/Perkembangan Kelembagaan dan Kinerja RT secara periodik

(2) (2) (2,3,4,5)

tatalaksana RT dalam PBRT menjadi jelas.

Terbangunnya sistem data dan informasi yang akurat mengenai peta potensi potensial dan perkembangannya di masing-masing lingkungan RT, desa dan kelurahan

Pengembangan Sistem data dan Informasi Potensi Desa/kelurahan Berbasis RT

(1) Penyusunan potensi RT oleh Pengurus RT (2) Penyusunan Kompliasi Data RT oleh RW/Dusun (3) Penyusunan Kompilasi data dan informasi potensi RT oleh Desa/Kelurahan untuk menjadi data potensi desa/kelurahan (4) Pembuatan Sistem Jaringan Data dan Informasi Potensi Desa/Kelurahan melalui e-goverment (5) Publikasi potensi desa dan kelurahan (6) Updating data perkembangan potensi desa dan kelurahan 1 tahun sekali

(1 dan 2) (1 dan 2) (1 dan 2) (2 dan 3) (3 ) (1 s/d 5)

Point 1 s.d. 3 Juklak dan Juknis

Adanya perencanaan usaha dan pengembangan usaha untuk warga miskin secara profesional, mandiri dan berkelanjutan

Program Inovasi Model KBRT berbasis Potensi RT/Desa/kelurahan

(1) Penyusunan model Pengembangan Usaha Koperasi Berbasis RT yang mengacu pada potensi desa/kelurahanh (2) Penataan Pengelolaan Koperasi Berbasis RT (kerangka regulasi, konsepsi, dll) (3) Pengembangan jaringan usaha dan kerjasama usaha KBRT (4) Penerapan sanksi yang tegas terhadap para pengurus KBRT yang “nakal”. (5) Pemberian Penghargaan terhadap pengurus KBRT yang inovatif dan berhasil mensejahterakan warga miskin.

(1 dan 2) (1 dan 2) (2, 3, 4 dan 5) (5). SK Bupati (2, 3, 4 dan 5)

Juklak juknis/Modul pelatihan

dan

Adanya pemanfaatan atau optimalisasi atas potensi potensial geografis dan sumber daya alam oleh warga miskin sebagai usaha untuk peningkatan

Optimalisasi Potensi Geografis dan Sumber Daya Alam (Inisiasi industrialisasi pedesaan/keluraha n berbasis potensi RT)

(1) Pemberdayaan potensi desa dan kelurahan melalui proses pendampingan (2) Pengembangan inovasi pemanfaatan potensi desa/kelurahan berbasis RT (3) Pemberian dana stimulan bagi warga yang memiliki potensi usaha dan jiwa enterprenurship (4) Evaluasi keberhasilan pencapaian optimalisasi potensi desa/kelurahan

(1,2,3,4,5) (idem) (2,3,4,5) (1,2,3,4,5)

Juklak juknis/Modul pelatihan

dan

pendapatan miskin ;

warga

Pengembangan sarana dan prasarana infastuktur dasar untuk warga miskin ; seperti pembangunan rehab rumah, bantuan sosial pendidikan dan kesehatan, air bersih, irigasi, MCK dan sebagainya.

Penyediaan Infrastuktur Warga Miskin berbasis RT

(1) Merubah model pelaksaan program rehab rumah dengan lebih menekankan pada aspek partisipasi misalnya dengan cara mendesentralisasikan kewenangan pengelolaan rehab rumah termasuk anggaran kepada desa secara langsung dan pola pembangunan rehab rumah dengan menekankan sistem padat karya atau gotong royong, tidak melalui tender dan dikelola/dimonopoli pengusaha (kontraktor pelaksana)—melainkan masyarakat setempatlah, khususnya pemilik rumah sebagai kontraktor pelaksana. (2) Penyediaan air bersih secara gratis bagi warga miskin yang kesulitan air bersih, dan pembangunan fasilitas MCK (3) Penyediaan bantuan bagi keluarga miskin, jompo dan anak-anak terlantar untuk pemenuhan infastuktur dasar. (1) Menyusun berbagai regulasi sesuai dengan kebutuhan dan dinamika PBRT, antara lain ; misalnya regulasi yang menjamin akses informasi dan penerima manfaat program adalah warga mikin, regulasi tentang dana bantuan dll. (2) Menyusun program dan alokasi anggaran pembangunan untuk pengentasan kemiskinan sesuai dengan masalah dan kebutuhan yang dihadapi warga miskin (3) Fasilitasi /Asistensi pengelolaan ADD, Donasi PT NNT dan bantuan lainnya yang diperuntukkan bagi desa untuk difokuskan/prioritaskan pada program pengentasan kemiskinan (4) Melakukan evaluasi dan inovasi-inovasi atas pencapaian PBRT secara berkala

Perbup/SK Bupati

(1 dan 2)

Menciptakan kebijakankebijakan, programprogram dan kegiatan serta anggaran yang berpihak kepada kelompok warga miskin serta inovasi-inovasi baru yang kreatif dan konstruktif untuk kemajuan pembangunan berbasis rukun tetangga.

Pengembangan Kebijakan, program dan kegiatan inovasi PBRT

(1,2,3,4,5) Idem Idem

Idem

Adanya model RT percontohan yang dapat dijadikan bahan pembelajaran bersama

(lesson

learned)

Pilot Project Inisiasi Inovasi pengembangan model Best Practices PBRT

sekaligus bahan replikasi best practices

(1) Menyusun Indeks Pemetaan Keberhasilan (Best Practices) RT dalam pengelolaan PBRT (2) Merubah pola penilaian lomba RT dengan mengacu pada pendekatan hasil indeks (3) Mendokumentasikan dan mempublikasikan praktekpraktek best practices yang muncul dalam PBRT. (4) Membuat replikasi best practices untuk dikembangkan pada wilyah RT lainnya (1) Identifikasi Relawan Tanggap Darurat dan Keamanan Lingkungan RT (2) Pelatihan EWS untuk pencegahan dan penanggulan bencana alam dan sosial serta ganguan keamanan lingkungan berbasis komunitas (3) Pembentukan Team Relawan Tanggap Darurat berbasis komunitas di masing-masing desa/kelurahan/RT

(1,2,3,4,5) (2) (1,2,3,4,5,) 2, 3,4

Adanya kelompok pemerhati sosial atau tanggap darurat di masing-masing lingkungan yang memiliki kapasitas untuk merespons secara cepat dan tepat dalam pencegahan dan penanggulangan dini. Adanya sistem informasi kerawanan dini (Early Warning System and Early Respons System) Berbasis Komunitas (Bidang Kesehatan, Pendidikan, Ekonomi, Sosial, Budaya, termasuk daerah rawan bencana alam)

Peningkatan Perlindungan Keamanaan Warga Berbasis RT

(1) (1) (1)

Juklak juknis/Modul pelatihan

dan

Pengembangan Sistem EWS berbasis komunitas RT

(1) Pemetaan daerah rawan sosial, ekonomi dan bencana alam (2) Pembentukan Team Relawan Tanggap Darurat berbasis komunitas tingkat desa/kelurahan (3) Pembuatan Sistem Data dan Informasi daerah rawan bencana

(1) (1) (2)

Juklak juknis/Modul pelatihan

dan

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->