EVALUASI PEMBELAJARAN

EVALUASI TES HASIL PEMBELAJARAN DI PERGURUAN TINGGI
Oleh : Hartono PENGOLAHAN TES HASIL BELAJAR A. Pengolahan Lembar Jawaban Tes Objektif Analisis tes hasil belajar bentuk objektif dapat diketahui dari dua kriteria atau dua parameter, yaitu indeks kesukaran dan indeks daya diskriminasi. Menurut Fernandes (1984) analisis tes meliputi tingkat kesukaran tes, daya beda, dan efektifitas pengecoh. Analisis juga untuk menguji efektifitas distraktor pada setiap butir soal untuk menentukan apakah setiap distraktor yang dibuat sudah berfungsi dengan baik. Hasil analisis ini akan menghasilkan suatu keputusan apakah butir soal itu nantinya dapat dipakai, diperbaiki atau dibuang. Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk mengetahui tingkat kesukaran, daya beda dan efektifitas distraktor pada soal bentuk objektif adalah dengan menggunakan analisis psikometrik klasik. Teori tes klasik mempunyai beberapa kelemahan, antara lain perhitungan tingkat kesukaran dan daya pembeda soal sangat bergantung pada sampel yang digunakan dalam analisis. Kondisi sampel sangat mempengaruhi hasil analisis, bila sampel yang digunakan memiliki rentang dan sebaran kemampuan yang tinggi maka hasil analisisnya akan berbeda dengan rentang dan sebaran kemampuan siswa yang rendah. Sebagai contoh daya pembeda soal akan tinggi bila tingkat kemampuan siswa sangat bervariasi atau mempunyai rentang kemampuan yang besar. Sebaliknya daya pembeda soal akan kecil bila tingkat kemampuan siswa mempunyai rentang kemampuan yang kecil. Oleh karena itu kondisi sampel sangat mempengaruhi perhitungan statistik yang dihasilkannya. Guna mengatasi kelemahan dari teori tes klasik, maka langkah yang dapat ditempuh adalah berhati-hati dalam mengambil sampel. Dengan kata lain sampel yang digunakan harus benarbenar mewakili (representatif) dari populasi. Bila sampel yang digunakan tidak representatif maka akibatnya hasil analisis tidak bisa digeneralisasikan pada populasi. Berikut ini akan dibahas karakteristik tes yang akan menentukan kualitas tes. 1. Tingkat Kesukaran Untuk menghitung tingkat kesukaran (p) cara yang paling mudah dan paling umum digunakan adalah jumlah peserta tes yang menjawab benar pada soal yang dianalisis dibandingkan dengan peserta tes seluruhannya. Untuk menentukan butir soal tersebut mudah, sedang atau sukar dapat digunakan kriteria sebagai berikut : (Bahrul Hayat, 1997) Tabel Tingkat Kesukaran Soal Proportion correct (p) dan Kategori Soal P > 0,70 = Mudah 0,30 < 70 =" Sedang" 30 =" Sukar" p =" 0,600" d =" niT" nit =" Banyaknya" nt =" Banyaknya" nir =" Banyaknya" nr =" Banyaknya" d =" pT" 40 =" Bagus" 39 =" Bagus" 29 =" Belum" 20 =" Jelek" 100 =" 80">

Itu sebabnya bentuk tes ini disebut dengan tes subjektif. . Sedangkan memeriksa tes essay hasilnya bisa berbeda kalau yang memeriksa orangnya berbeda. Jumlahkan total nilai (skor kerja) setiap item lalu dibagi dengan skor ideal. Untuk menghindari faktor subjektifitas maka sebaiknya sebelum memeriksa lembar jawaban dipersiapkan dulu kriteria jawaban yang benar. Mulailah skoring dari angka 1. misalnya skala 1-4. Proses penetapan skornya adalah sebagai berikut: 1. Pengolahan Lembar Jawaban Tes Essay 1. Lembar jawaban diperiksa perorang. Sebaiknya gunakan skala 1-10. sedang bobotnya 3 dan soal yang sulit bobotnya 5. lalu si C dan seterusnya. Setelah menetapkan skoring langkah selanjutnya adalah menetapkan pembobotan sesuai dengan tingkat kesukaran soal. Untuk lebih jelasnya berikut akan diberikan contoh perhitungan. Nilai rata-rata sebelum diberi bobot adalah 35/6 = 5. Maksudnya setelah selesai memeriksa punya si A dan diberi skor lalu memeriksa punya si B. Pemberian Skoring pada tes Essay Pemberian skoring dapat dipilih dari beberapa skala pengukuran. 2. Sehingga skala pengukuran tiap item tidak sama. Pemberian skor ini berlaku sama untuk semua nomor soal. Setelah selesai dilanjutkan dengan nomor dua untuk seluruh lembar jawaban mahasiswa demikian seterusnya.971 Pemberian bobot dalam pengolahan lembar jawaban soal essay sangat penting. Kenyataan juga menunjukkan bahwa setiap item tes tingkat kesukarannya berbeda. karena skor diberikan benar-benar atas dasar kemampuan. Cara Memeriksa tes Essay Memeriksa tes bentuk essay lebih sulit dibandingkan dengan bentuk tes objektif. Semakin tinggi skala pengukuran yang digunakan maka hasilnya semakin halus dan akurat. Sedangkan cara pertama lebih subjektif. maka pemeriksaan lembar jawaban dilakukan mulai nomor satu pada seluruh lembar jawaban essay. Lembar jawaban diperiksa nomor demi nomor. Siapapun yang menilai lembar jawaban tes objektif hasilnya pasti sama. Ada juga yang melakukan penilaian lembar jawaban tidak mengikuti cara di atas. skor setiap Item diperoleh dengan cara nilai setiap item dikali Bobot. sekalipun kriteria jawaban yang tepat sudah ditetapkan. 2. Bila dibandingkan cara pertama dengan cara kedua maka cara kedua lebih objektif. Ada dua cara yang bisa dilakukan dalam memeriksa lembar jawaban tes objektif. Misalnya satu lokal terdiri dari 30 orang. Sebaiknya jangan memberikan skor nol. Oleh karena itu sebaiknya untuk memperoleh hasil yang lebih objektif gunakan cara kedua. 1-10 dan 1100. misalnya soal yang mudah diberi bobot 2. dimana setiap soal langsung diberi bobot nilai tanpa mempertimbangkan skala pengukuran.B.833 Nilai rata-rata setelah diberi bobot adalah 104/35 = 2.

yaitu batas lulus aktual. Konversi Hasil Scoring Menjadi Nilai Akhir Kesalahan sering terjadi pada pemberian nilai akhir. Batas lulus ideal Batas lulus ideal hampir sama dengan batas lulus aktual. Misalnya nilai maksimum mahasiswa di kelas 80. Bila standar deviasinya kecil maka interval . dalam bentuk skala 1-4. karena batas lulus ideal juga menggunakan rata-rata dan simpangan baku. Batas lulus aktual Batas lulus aktual didasarkan pada nilai rata-rata aktual yang dicapai oleh kelompok mahasiswa. Padahal seharusnya hasil skoring tersebut harus dikonversi dulu menjadi nilai akhir dalam bentuk skala yang sudah ditetapkan sebelumnya. Misalnya kriteria yang digunakan dalam bentuk persentase. Oleh karena itu sebaiknya dipakai keduanya dengan cara bergantian. dimana hasil skoring dianggap sebuah nilai akhir. Karena cara ini mengabaikan tingkat variansi kemampuan mahasiswa. sedangkan mahasiswa yang nilainya kurang dari 60 dinyatakan tidak lulus. Perhitungan skor di atas masih dalam bentuk skor mentah. Bedanya batas lulus ideal rata-ratanya ditentukan setengah dari skor maksimum. oleh karena itu hasil perhitungannya perlu diolah lagi guna menentukan nilai akhir. batas lulus ideal dan batas lulus purposif. berikut akan dibahas cara mengkonversi hasil skor menjadi nilai akhir.C.25SD. tidak mustahil akan terjadi kesalahan interpretasi. Konversi Sederhana Cara ini sangat sederhana dan mengabaikan tingkat ketelitian dan keakuratan data. Berikut akan dijelaskan secara ringkas. yang perlu dihitung adalah nilai rata-rata dan standar deviasinya. skala 1-10 dan skala 1100. Skor yang dinyatakan lulus adalah skor di atas X + 0. Penetapan Nilai dan Kelulusan Hasil belajar Menetapkan nilai hasil belajar dapat dilakukan dengan dua cara yaitu menggunakan acuan patokan dan menggunakan acuan norma. D. Nilai 10 bila mencapai angka 100% Konversi dengan Menggunakan Mean dan Standar Deviasi Cara ini lebih akurat karena sudah mempertimbangkan tingkat variansi hasil belajar. Misalnya batas kelulusan adalah skor di atas 75% dari skor maksimum. Setidak-tidak nya ada dua fungsi yaitu: menentukan posisi dan prestasi atau nilai siswa dibandingkan dengan kelompoknya. sehingga tidak perlu menghitung nialai rata-rata dan simpangan bakunya. Sedangkan simpangan baku sepertiga dari nilai rata-rata ideal. Batas lulus purposif Batas lulus purposif mengacu pada penilaian acuan patokan. menentukan batas kelulusan berdasarkan kriteria yang ditentukan. sehingga nilai akhir sangat ditentukan oleh kelompoknya. jadi mahasiswa yang dinyatakan lulus adalah yang nilainya lebih dari 60. Masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan. Untuk menentukan batas kelulusan setidak-tidaknya dapat dilakukan dengan tiga cara. Nilai dibuat berdasarkan kriteria tertentu yang sudah ditetapkan. maka batas kelulusannya adalah 75% x 80 = 60.

25 (SD) = 3 M . Membuat interval nilai .25 (SD) = 5 M . Kurang dari 60 tidak lulus.75 (SD) = 7 M + 0.0.25 (SD) = 10 M + 1. dalam hal ini skor tertinggi (H)100 terendah (L) 60. misalnya yang dinyatakan lulus minimal C.75 (SD) = 2 M . Maka perhitungan intervalnya adalah sebagai berikut.1.B.75 (SD) = 4 M .nilainya juga kecil.75 (SD) = 9 M + 1. 3. Penetapan Nilai Akhir Semester Penetapan nilai akhir semester biasanya berdasarkan total nilai mandiri. Persoalan biasanya timbul saat menetapkan interval nilai A. B. Hitung range skor tertinggi dengan skor terendah.25 (SD) = 8 M + 0.25 (SD) = 1 Catatan : M = Mean atau nilai rata-rata SD = Standar Deviasi Kriteria yang digunakan untuk melakukan konversi skor mentah menjadi standar 4 atau standar huruf adalah sebagai berikut: E. Bararti banyak nya interval adalah 3. nilai yang dinyatakan lulus adalah A. lebih dari atau sama dengan 60 dinyatakan lulus. C dan D.1. C. terstruktur. maka interval nilainya juga besar. 1. R = H – L = 100 – 60 = 40 2.0.0. Misalnya batas kelulusan adalah 60. 4. Menentukan rentang interval. Untuk menetapkan interval seharusnya dimulai dari batas kelulusan. Konversi cara ini biasanya dilakukan untuk penilaian standar 10 dan standar 4 atau standar huruf. mid semester dan semester. Tetapkan banyak intervalnya. Sebaliknya bila standar deviasinya besar. Kriteria yang digunakan untuk melakukan konversi skor mentah menjadi standar 10 adalah sebagai berikut: M + 2.25 (SD) = 6 M . Setelah diperoleh totalnya lalu di konversi menjadi huruf.

3. Z skor dan T skor. B+.Jika kita menginginkan nilai plus dan minus diperhitungkan maka proses penetapan intervalnya sebagai berikut: 1. Membuat interval nilai Dari dua contoh di atas menunjukkan bahwa semakin banyak interval yang digunakan (menggunakan plus dan minus) maka nilai yang ditetapkan semakin halus. C. B-. Sebaliknya semakin sedikit interval yang digunakan (tidak menggunakan plus dan minus) maka nilai yang ditetapkan semakin kasar. Bararti banyak nya interval adalah . C-. Masih ada hal-hal lain yang seharusnya dimasukkan dalam tulisan ini antara lain bagaimana mengolah nilai yang menggunakan non tes. nilai yang dinyatakan lulus adalah A+. R = H – L = 100 – 60 = 40 2. B. . uji kurva normal.F. Tetapkan banyak intervalnya. Mudah-mudahan tulisan kecil ini bermanfaat bagi peserta workshop evaluasi pembelajaran. Apa yang sudah dipaparkan adalah menurut konsep dan teori evaluasi pendidikan sepanjang yang penulis ketahui. A. C+. Kalau ada kelemahan dan kesalahan mohon kritik dan saran yang membangun. A-. misalnya yang dinyatakan lulus minimal -C. Penutup Demikianlah uraian ringkas tentang pengolahan nilai hasil belajar. Menentukan rentang interval. Hitung range skor tertinggi dengan skor terendah. 4. dalam hal ini skor tertinggi (H)100 terendah (L) 60. mengubah data ordinal menjadi data interval dll. Namun karena keterbatasan waktu hanya ini yang bisa disajikan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful