Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Malaria Falciparum BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Malaria adalah penyakit infeksi akut maupun kronis yang disebabkan oleh plasmodium dan ditularkan melalui gigitan nyamuk malaria dengan demam yang rekuren, anemia dan hepatospneomegali. Diperkirakan 15 sampai 20 juta orang menderita penyakit hemolisis infeksi ini, jadi malaria adalah salah satu dari penderitaan manusia yang paling luas. Malaria merupakan andemik di Asia dan Afrika, tetapi seiring dengan perjalanan waktu banyak kasus malaria yang dilaporkan dari seluruh dunia. Malaria disebabkan oleh : Plasmodium Vivax ( malaria tertiana ), Plasmodium Palsifarum ( malaria tropika ), Plasmodium Malariae ( malaria quartana ), dan Plasmodium Ovale ( malaria ovale). Penyakit ini ditularkan oleh nyamuk anopheles betina dan manusia merupakan tempat reservoir satu-satunya. Banyak cara penanganan tradisional gagal mengatasi beratnya infeksi parasistik. Pada pertengahan abad ini, terdapat optimisme yang menyebar luas bahwa penyebab penyakit ini dapat dibasmi dengan penyemprotan DDT di rumah dan dengan mengobati individu dengan klorokuin. Namun, perkembangan resistensi insektisida menyeluruh pada nyamuk dan resistensi terhadap klorokuin pada plasmodium palsifarum menyebabkan timbulnya kembali malaria dalam dua decade terakhir. Sebagai contoh, di Sri Lanka jumlah kasus malaria tahunan yang dilaporkan pada tahun 1960an naik dari 18 sampai lebih dari setengah juta. Terlebih lagi adanya usaha modernisasi di banyak negara berkembang menyebabkan meningkatnya penyebaran infeksi parasit tertentu secara paradoks. Setiap tahun ratusan juta orang menderita malaria. Di Indonesia sampai saat ini malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Angka kesakitan penyakit ini masih cukup tinggi terutama di daerah luar Jawa dan Bali. Berikut ini adalah data statistic yang menjelaskan tentang jumlah penderita malaria di Rumah Sakit Santo Antonius pada bulan Januari 2006 sampai Maret 2006. Bulan Jlh penderita malaria berdasarkan umur Jumlah penderita malaria 0-28 hr 28-< 1 thn 1-4 thn 5-14 thn 15-24 thn 25-44 thn 45-46 thn 65> thn LK PR KEL Meninggal Jan _ _ 1 2 3 6 1 1 11 3 14 _ Feb _ 1 _ 1 3 7 2 1 10 5 15 _ Mar _ _ _ _ 3 7 3 _ 11 2 13 _

Pasien rawat jalan Jan _ _ _ _ _ 1 _ _ 1 _ _ _ Dengan angka kejadian tersebut tenaga kesehatan umumnya dan tenaga keperawatan khususnya perlu untuk mengadakan penanggulangan secara intensif terhadap kasus malaria. Dengan pertimbangan di atas peran tenaga kepaerawatan dirasakan sangat penting karena merupakan tenaga kesehatan yang lebih sering kontak dengan keluarga dan pasien. Berdasarkan hal tersebut penulis berminat menyusun makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan pada Nn. N dengan Gangguan Sistem Hematologi: Malaria Tropika di Unit St. Fransiskus Rumah Sakit Santo Antonius Pontianak. B. Ruang Lingkup Di dalam penulisan laporan kasus ini cakupannya sangat luas, maka pembahasan ini dibatasi pada masalah-masalah pada satu pasien dengan malaria tropika yang dirawat di unit St. Fransiskus Rumah Sakit Santo Antonius Pontianak yang dimulai dari tanggal 24-26 Juli 2006. Asuhan keperawatan pada pasien diberikan melalui penerapan proses keperawatan. C. Tujuan Penulisan Tujuan Umum : Meningkatkan pengetahuan tentang penyakit malaria dan Asuhan Keperawatan yang diberikan kepada pasien malaria Tujuan Khusus : 1. Meningkatkan pengetahuan tentang konsep dasar medis Malaria 2. Meningkatkan pengetahuan tentang konsep dasar keperawatan pada pasien dengan malaria 3. Memberikan gambaran tentang pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien dengan malaria 4. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan malaria 5. Menerapkan pengetahuan dan keterampilan perawat dalam membina hubungan terapeutik pada pasien, keluara pasien maupun tim kesehatan lain D. Metode Penulisan Dalam penulisan makalah ini, penulis menggunakan metode deskriptif, yaitu: dengan cara mengumpulkan data, mengolah data dan menarik kesimpulan dari kasus yang diamati dengan pendekatan melalui : 1. Studi kepustakaan, mencari dan mempelajari literature-literatur yang berhubungan dengan kasus untuk mendapatkan data-data dasar yang mendukung. 2. Wawancara dengan pasien dan keluarganya 3. Pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara : inspeksi, palpasi, perkusi,

dan auskultasi 4. Pengamatan dan perawatan langsung pada pasien di unit St. Fransiskus Rumah Sakit Santo Antonius E. Sistematika Penulisan Laporan makalah ini disusun secara sistematis, terdiri dari 5 bab : BAB I : Pendahuluan, terdiri dari : A. Latar Belakang B. Ruang Lingkup C. Tujuan Penulisan D. Metode Penulisan E. Sistematika Penulisan BAB II : Landasan Teoritis, terdiri dari : A. Konsep Dasar Medis 1. Definisi 2. Anatomi Fisiologi 3. Etiologi 4. Patofisiologi 5. Tanda dan Gejala 6. Pemeriksaan Diagnostik 7. Penatalaksanaan Medis 8. Komplikasi B. Konsep Dasar Keperawatan 1. Pengkajian 2. Diagnosa Keperawatan 3. Rencana Keperawatan 4. Implementasi 5. Evaluasi BAB III : Pengamatan Kasus BAB IV : Pembahasan BAB V : Penutup, terdiri dari : Kesimpulan dan Saran

BAB II LANDASAN TEORITIS A. Konsep Dasar Medik 1. Definisi Kata malaria berasal dari bahasa Italia, yaitu “mal” yang artinya “busuk” dan “aria” artinya “udara”, sehingga malaria berarti udara busuk (bad air). Hal ini

disebabkan karena malaria terjadi secara musiman di daerah yang kotor dan banyak tumpukan air. Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh protozoa dari genus plasmodium (Sjaifoellah,H.M,1998:505) Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh sporozoa dari genus plasmodium dengan gejala-gejala proksimal dan periodic anemia serta splenomegali dan kadang-kadang komplikasi permisiosa, seperti ikterus, diare, black water fever, acute tubular nekrosis (ANT) dan malaria serebral (Rampengan,TH, Penyakit Infeksi Tropik pada Anak) Malaria ialah penyakit yang bersifat akut maupun kronis, yang disebabkan oleh protozoa genus plasmodium dan ditandai dengan panas, anemia dan splenomegali. (Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak UI, 1985:655) 2. Anatomi Fisiologi Darah adalah cairan di dalam pembuluh darah yang mempunyai fungsi sangat penting dalam tubuh yaitu transportasi. Darah mempunyai dua komponen yaitu komponen padat dan komponen cair. Fungsi transportasi darah adalah membawa dan mengantarkan nutrisi dan oksigen dari usus dan paru-paru kepada sel diseluruh tubuh dan mengangkut sisa-sisa metabolisme ke oganorgan pembuangan. Darah juga membawa dan menghantar hormon-hormon dari kelenjar endokrin ke organ sasarannya. Ia mengangkut enzim, zat buffer, elektrolit, dan berbagai zat kimia untuk didistribusikan ke seluruh tubuh. Peran penting dilakukan juga oleh sel darah, yaitu pengaturan suhu tubuh karena dengan cara konduksi ia membawa panas tubuh dari pusat-pusat produksi panas untuk didistribusikan ke seluruh tubuh dan ke permukaan tubuh yang pada akhirnya diatur pelepasannya dalam upaya homeostatis suhu (termoregulasi). Jumlah darah manusia bervariasi tergantung berat badan seseorang. Rata-rata jumlah darah adalah 70cc/kgBB. Bagian padat darah terdiri dari eritrosit, leukosit dan trombosit. Bagian padat darah merupakan 45% dari seluruh volume darah, 55% adalah plasma yang merupakan komponen cair darah.

a. Sel darah merah atau eritrosit

Bentuknya bulat pipih dengan cekungan di tengahnya. Sel darah merah normal tidak mempunyai inti sel, diameternya 7 mikron yang bersifat kenyal sehingga bisa berubah bentuk menyesuaikan pembuluh darah yabg dilaluinya. Sel darah merah dibuat di dalam sumsum tulang. Rata-rata umur hidup sel darah merah sekitar 105-120 hari. Kemudian sel menjadi usang dan dihancurkan dalam system retikuloendoteal. Terutama di limfa dan hati. Globin dan globulin diubah menjadi asam amino untuk digunakan sebagai protein dalam jaringan dan zat besi dalam hem dari hemoglobin diubah menjadi glirubin dan bili verdin yang berwarna kehijau-hijauan. Jumlah hemoglobin pada laki-laki 14-16% dan pada wanita 12-14%. b. Sel darah putih atau leukosit Fungsi utama sel darah putih adalah sebagai pertahanan tubuh dengan cara menghancurkan antigen (kuman, virus, toksin) yang masuk. Ada 5 jenis leukosit : Neutrofil (65%-75%) Eosinofil (2%-5%) Basofil (0,5%-1%) Limfosit (20%-25%) Monosit (3%-8%) Leukosit berwarna kuning dan bentuknya lebih besar dari sel darah merah, tetapi jumlahnya lebih kecil. Leukosit sebagai bala tentara pertahanan dikerahkan ke tempat-tempat terjadi infeksi dan jumlahnya pu dapat dilipatgandakan dalam keadaan infeksi. Leukosit bersama-sama dengan system makrofag jaringan yaitu hepar,limfa, sumsum tulang, alveoli paru serta kelenjar getah melakukan fagositosis terhadap kuman atau virus yang masuk. Jumlah leukosit adalah 5000-9000/mm3 darah. Bila jumlah leukosit berkurang disebut leukopenia. Sedangkan bila tubuh tidak membuat leukosit sama sekali disebut Agranulositosis. c. Trombosit atau keping-keping darah Trombosit berbentuk keeping-keping yang merupakan bagian-bagian kecil dari sel yang besar yang membuatnya yaitu megakaryosit. Trombosit dibuat di sumsum tulang, paru-paru dan limfa. Ukurannya kecil sekitar 2-4 mikron. Umur peredarannya hanya berkisar 10 hari. Trombosit mempunyai kemampuan untuk melakukan : Daya aglutinasi (membeku atau menggumpal) Daya adesi (saling melekat) Daya agregasi (berkelompok) Jumlah trombosit di dalam tubuh antara 150.000-350.000 keping/mm3 darah. Fungsi trombosit yaitu : Hemostasis (penghentian aliran darah/ perdarahan) Pembekuan darah Bila ada kerusakan pembuluh darah, trombosit akan berkumpul di daerah

d. globulin. fibrinogen. 3. Beberapa merozoit berkembang menjadi gametosit yang jika terambil oleh nyamuk lain pada waktu nyamuk mengisap darah orang yang terinfeksi menyebabkan perkembangan sporozoit yang inefektif untuk manusia. berperan dalam mempertahankan volume darah dengan menjaga tekanan osmotic koloid. Patofisiologi Parasit malaria memberikan contoh yang baik bagi penjamu mengenai pangenalan. kalium. prostaglandin dan tromboxan yang akan keluar bila ada kerusakan pembuluh darah. bese. terjadi melalui transfuse darah atau jarum suntik 4. Merozoit yang banyak ini kemudian keluar dari hepatosit masuk ke aliran darah dan menginvasi eritrosit. penyebab malaria malariae d. asam amino. Parasit kemudian membagi diri dalam eritrosit untuk menghasilkan banyak merozoit yang merusak sel dan menginvasi eritrosit lain pada siklus yang berulang yang bertanggung jawab untuk penyakit klinis. Di dalam hepar setiap parasit membagi diri secara aseksual untuk menghasilkan banyak merozoit. dan enzim).pH dan keseimbangan elektrolit. penyebab malaria tertiana b. berkelompok dan menggumpalyang kemudian dilanjutkan dengan proses pembekuan darah. glukosa. Zat ini juga dapat menimbulkan efek vasokontriksi sehingga aliran darah berkuang dan membantu proses pembekuan darah.tersebut dan menutup lubang bocoran dengan cara saling melekat. juga ada unsure natrium. fosfor. penyebab malaria tropika c. yaitu melalui gigitan anopheles Penularan tidak alamiah Malaria bawaan (conginetal) terjadi karena ibunya menderita malaria Secara mekanik. Plasma Plasma terdiri dari 91-92% air yang berperan sebagai medium transfor dan 79% terdiri dari zat padat (protein seperti albumin. Etiologi Genus Plasmodium dan terdapat 4 spesies yang dapat menyerang manusia. Plasmodium malariae. kolesterol. yaitu : a. penyebab malaria ovale Penularan malaria dapat terjadi melalui : Secara alamiah (natural infection). Plasmodium falciparum. Albumin yang dibentuk di hati merupakan 53% dari seluruh protein serum. Trombosit mempunyai dua zat. Membrane permukaan sporozoit malaria ditutupi oleh protein spesifik stadium yang disebut protein sirkumsporozoit (CSP) yang secara intensif telah diselidiki . perlekatan dan invasi oleh stadium parasit yang terinfeksi. Plasmodium vivax. kalsium. Sporozit malaria dimasukkan ke dalam aliran darah dari kelenjar ludah nyamuk yang kemudian menginvasi hepar. Plasmodium ovale.

gametosit ini hidup labih lama dan tidak mempunyai hubungan dengan keadaan sakitnya. pada akhir siklus 48 jam (72 jam untuk plasmodium malaria).terminal (disebut region II) yang memiliki urutan asam amino serupa demam daerah adesi sel yang dikenal dari protein antara trombospondin. pigmennya semakin tampak jelas dan parasit tersebut mengambil bentuk irregular atau ameboid. Spesies malaria yang berbeda memilih tipe eritrosit yang berbeda. Parasit telah tumbuh untuk menempati sebagian besar eritrosit. bentuk cincin yang kecil dari keempat spesies parasit tampak serupa di bawah mikroskop cahaya dengan membesarnya trofozoit. Vivax P. Ovale . Falcifarum P. Setelah periode reproduksi aseksual. Selama stadium awal perkembangannya. Setelah membrane eritrosit dan parasit membentuk hubungan ketat. Setelah masuk ke aliran darah. Fiksi nucleus (merogoni) yang multiple kemudian berlangsung dan sel darah merah mengalami rupture untuk melepaskan 6-32 buah merozoit anak yang baru masing-masing mampu menginvasi sel darah merah yang baru dan mengulangi siklus di atas. merozoit harus berorientasi sendiri sehingga ujung apicalnya (yang mengandung organel kunci untuk invasi) menghadap membrane sel penjamu. PATOFLOW P. Selain melekat pada permukaan eritrosit. sejumlah parasit berkembang menjadi bentuk seksual (gametosit) yang secara morfologis berbeda. Pelekatan ini diperantarai oleh reseptor permukaan eritrosit yang spesifik. Senyawa glikoforin yaitu famili sialoglikoforin membiak merupakan tempat pada sel darah merah untuk pelekatan merozoit plasmodium falciparum. Infeksi aliran darah dimulai jika merozoit plasmodium menginvasi sel darah merah. Selain daerah sentral imunogenik. muncul invaginasi pada membrane eritrosit membentuk vakuola parasitoforus yang menelan merozoit. uji mutakhir memperlihatkan bahwa protein sporozoit melekat ke hepatosit dan tidak ke sel atau organ lain dan khususnya melekat pada segmen membrane hepatosit bilateral yang terpapar dengan aliran darah. protein sirkumsporozoit yang mengandung region karboksil. Malariae P. Region II peptide sintetik bukan hanya dapat menghambat perlekatan protein sirkumsporozoit rekombinan ke hepatosit. karakteristik spesifik spesies semakin nyata. tetapi juga penetrasi sporozoit hidup ke dalam sel mati yang menunjukkan bahwa motif molekul parasit adesif ini kritis terhadap pangenalan dan invasi sel penjamu kasar. merozoit dengan cepat menginvasi eritrosit.untuk mencari vaksin malaria.

Ggn.mual sel kufer Ggn. Tanda dan Gejala .anoreksia sumsum Hiperparasitemia malaria (Dp.nyeri abdomen Diare . Kebutuhan pembelajaran) (Dp. Hipertermi) Sel hati terinfeksi Gangguan sel-sel hati Parasit membelah diri Terbentuk merozoit Sel-sel eritrosit terinfeksi Kerusakan eritrosit Eritrosit berkurang Anemia.nyeri epigastrium (Dp.Aliran Darah Terinfeksi Sitosoid dan sitoplasma sel-sel hati.muntah hati.dll Serebral .Demam (Dp. Intoleransi Nyeri kepala aktivitas ) Pusing (Dp.Perubahan nutrisi) otak. Ginjal . Udema paru .kelemahan Dalam darah. suplai fisik O2 berkurang ke otak ( Dp. rasa nyaman nyeri) 5. Perubahan perfusi jaringan perifer) Sel-sel saling melekat satu sama lain Puing-puing eritrosit (melekat pada pembuluh darah) keluar dari sirkulasi sirkulasi lambat Terakumulasi pada sel Sel terfiksasi dalam pembuluh darah retikuloendofelia liapa Terjadi hambatan dan sumbatan pada Hiperplastis pd folikel Pembuluh darah ke organ Spelomegali Nekrotik Komplikasi .

Penberian transfuse apabila terjadi anemia. Pemeriksaan Diagnostik Foto thorax : bila timbul batuk dan sputum berdarah Laboratorium : pemeriksaan analisis darah untuk mengetahui adanya parasit dal sel darah ( malaria positif. hemoglobin. Nyeri kepala c. Pada Malaria tertiana. seperti : c. trombosit) 7. Nyeri epigastrium f. demam tidak teratur. 6. Anemia Timbulnya anemia disebabkan oleh : Penghancuran eritrosit berlebihan Eritrosit normal tidak dapat hidup lama (reduced survival time) Gangguan pembentukan eritrosit karena defisiensi eritropoesis dalam sumsum tulang (diseritropoesis) h. demam timbul pada hari I dan IV Pada malaria tropika. Splenomegali Limpa membesar karena harus kerja keras menghancurkan sel-sel eritrosit yang rusak. Kelemahan fisik d. demam tidak khas b. demam timbul pada hari I dan III Pada Malaria quartana.a. g. pada keadaan Hb <80gm/dl. Mencegah gigitan vector Menghalangi Tidur menggunakan kelambu nyamuk dengan insektisida . Pencegahan Penyakit malaria dapat dicegah dengan melakukan pemotongan Membunuhrantai penularan dengan cara : a. penderita tampak sehat dan setelah beberapa waktu timbul demam lagi. Mual dan muntah e. Terapi profilaktik terhadap malaria bagi orang yang berpergian ke daerah endemic b. leukosit. Ikterus Disebabkan hemolisis dan adanya gangguan hepar. Kemoterapi dengan obat anti malaria. Demam Demam terdiri dari 3 stadium : Stadium Frigoris : menggigil (15 menit sampai 1 jam) Stadium Acme : demam tinggi disertai sakit kepala hebat (2-6 jam) Stadium Sudoris : berkeringat (2-4 jam) Setelah demam turun. Penatalaksanaan Medik a. bisa setiap hari Pada Malaria ovale.

Komplikasi a. Gangguan pada traktus gastrointestinal sehingga timbul diare hebat. delirium. yaitu penderita tidak mampu berkeringat sehingga suhu meningkat hingga 42-43 c.perkembangbiakan nyamuk b. timbul kejang. Pola Nutrisi Metabolik danya anoreksia. Timbulnya nekrosis lobuler akut sebagai akibat iskemia ginjal g. Malaria serebral (malaria komatosa) ditandai dengan gangguan kesadaran sampai koma. mual dan Penurunan berat ba  Banyaknya minum dalam sehari muntah dan  Frekuensi BAB/ BAK Jenis makanan yang dikonsumsi c. yaitu timbul ikterik karena kerusakan parenkim hati (nekrosis daerah serebral labulus hati) dan hemalisis eritrosit d. Pola Persepsi Kesehatan. yaitu urine menjadi merah tua atau hitam karena hemoglobinuria akibat hemolisis berlebihan B. Pola Aktivitasdalam sehari dan A  Aktivitas rutin pasien setiap hari Latihan dan A ya kelemahan fisik danya nyeri saat beraktivitas e.mengandung lender dan darah yang disebabkan oleh adanya perdarahan dan lepasnya mukosa usus f. dan afasia. Pola Eliminasi Apakah ada rasa sakit saat BAB/ BAK d.  Riwayat penyakit dalam keluarga Kesehatan Bagaimana awal mulanya  Jenis pekerjaan lingkungan pekerjaan penyakit dan A pengobatan yang dilakukan b. Gangguan pada hepar. Konsep Dasar Keperawatan 1.Pemeliharaan Lingkungan tempat tinggal. Malaria heparpiretika. 8. Kemoprofilaksis Pemberian obat untuk tujuan profilaksis ini masih diteruskan sampai 1 bulan meninggalkan daerah endemis. Bilious remittent fever yang berhubungan dengan adanya komplikasi hepar yang ditandai dengan timbulnya muntah-muntah berwarna hijau empedu e. Pola Tidur dan Apakah sering terbangun karena a . parese paralise. b. Pengkajian a. “black water fever”.

Pola Sistem Kepercayaan Apakah pasien menyerahkan penyakitnya akan memberikan penyembuhan kepada Tuhan? 2. Perubahan perfusi jaringan prefer yang berhubungan dengan ketidakadekuatan sel darah merah mengangkut oksigen ke seluruh tubuh sekunder akibat penyakit b. e. Pola Persepsi dan Bagaimana klien meman Konsep Diri dan Perasaan tidak berdaya g dirinya dan putus asa h. Pola Reprodu Adakah efek terapi terhadap ksi Seksualitas Penurunan libido j. f. Peningkatan suhu : hipertermi yang berhubungan dengan proses infeksi dari plasmodium. Adakah pengguanaan alat Bantu tidur  Lama tidur dalam sehari Istirahat dan A ya demam f. Resiko tinggi perubahan pola eliminasi diare/konstipasi yang berhubungan dengan proses infeksi. Peningkatan suhu g. Gangguan rasa nyaman : nyeri epigastrium yang berhubungan dengan proses penyakit. Diagnosa Keperawatan a. . Pola peran dan Bantuan keluarga  Perhatian keluarga terhadap keadaan klien saat ini Hubungan dengan Sesama dan orang Bagaimana klien dapat beradaptasi terhadapterdekat terhadap klien lingkungan i. c. Gangguan pemenuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan intake yang tidak adekuat. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan kelemahan fisik. d. Pola Mekanisme Kopingkemampuan seksualitas dan A Stress danya perasaan cemas dan A  Membicarakan masalah dengan orang terdekat takut danya Percaya bahwa Tuhanperasaan marah/ emosi k. Pola Persepsi Kognitif dan A ya nyeri epigastrium danya cemas dan A gelisah danya demam.

serta hipotermi menunjukkan adanya penurunan perfusi 2. Kurangi rangsangan tertentu dan berikan rasa nyaman. Perubahan perfusi jaringan prefer yang berhubungan dengan ketidakadekuatan sel darah merah mengangkut oksigen ke seluruh tubuh sekunder akibat penyakit Tujuan : Perfusi jaringan perifer kembali TTVadekuat setelah dilakukan tindakan keperawatan Kriteria hasil : stabil dan Pasien mampu mempertahankan perfusi jaringan perifer adekuat dengan Hb dalam batas normaldalam batas normal Keluhan pusing dan Skala nyerinyeri kepala berkurang sampai dengan hilang 0  Pasien tampak tenang Intervens : 1. Anjurkan dan ajarkan kepada pasien untuk menggunakan teknik relaksasi (tarik napas dalam. 3. Peningkatan suhu : hipertermi yang berhubungan dengan proses infeksi dari plasmodium. Awasi tanda-tanda vital R/ Perubahan TTV seperti hipotensi. Anjurkan pasien untuk bedrest total dan kurangi aktivitas R/ Istirahat dapat membantu mengurangi metabolisme tubuh sehingga mencegah peningkatan suhu 6. pengalihan perhatian membantu pasien untuk tidak terobsesi terhadap nyeri 6. Anjurkan kepada pasien untuk menghemat energi dengan cara tidak terlalu banyak bergerak R/ Mengurangi aktivitas metabolisme tubuh yang berlebih. Berikan kompres hangat pada kepala dan axilla R/ membantu penurunan panas dengan evavorasi 4. Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman bagi pasien R/ lingkungan yang tenang akan memberikan kenyamanan bagi pasien 5. ciptakan lingkungan yang tenang. DP 2. Darah malaria negative Intervensi : Turgor kulit lembab  1. Kebutuhan pembelajaran tentang kondisi dan pengobatan yang berhubungan dengan kurangnya informasi 3. Tujuan : Peningkatan suhu: hipertermi tidak terjadi setelah dilakukan tindakan keperawatan.g. Observasi TTV tiap 3-4 jam R/ penurunan tekanan darah dan nadi dapat menunjukkan hipovolemia. bradikardia. peningkatan pernapasan menunjukkan hypoksia jaringan. Rencana Keperawatan DP 1. semakin banyak beraktivitas maka akan semakin banyak oksigen yang perlu dipompa oleh darah 7. suara lembut dan sentuhan ringan R/ Memberikan rasa tenang. Anjurkan kepada pasien untuk benyak minum air putih (2500-3000 cc/ 24 jam) R/ Peningkatan suhu tubuh dapat mengakibatkan penguapan tubuh meningkat . Berikan posisi berbaring yang nyaman seperti berbaring datar tanpa bantal R/ Berbaring datar membantu aliran darah merata ke seluruh tubuh hingga aliran darah ke otak adekuat 4. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik sesuai indikasi R/ Meminimalkan penyakit pasien. memperkecil respon fisiologi yang kurang baik 5. Kriteria hasil Suhu tubuh pasien dalam batas normal (36-37: 0C) Hasil lab. Kaji karakteristik nyeri. lokasi dan frekuensi nyeri R/ Menentukan besarnya nyeri sesuai persepsi pasien dan untuk menentukan intervensi selanjutnya 3. pengalihan perhatian) bila nyeri timbul R/ Tarik napas dalam dapat meringankan rasa nyeri dan meningkatkan relaksasi. Kaji waktu timbulnya demam R/ Mengidentifikasi pola demam pasien 2.

lokasi. Tujuan : Kebutuhan nutrisi pasien dapat terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan Pasien dapatKriteria Hasil : menghabiskan makanan sesuai dengan porsi yang dihidan Keluhan mual. waktu nyeri. Monitor intake dan output secara periodic Berguna dalam mengukur keefektifan nutrisi dan dukungan cairan 4. turgor kulit. Gangguan pemenuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan intake yang tidak adekuat. berat baanoreksia berkurang sampai dengan hilang dan dan derajat kekurangan berat badan serta integritas mukosa R/ Berguna dalam menentukan derajat/ luasnya masalah dan pilihan intervensi yang tepat 2. Kolaborasi dengan dokter dan tim Pemberian antipiretik R/ Membantu menurunkankesehatan lain untuk : suhu tubuh sehingga dapat meminimalkan kondisi penyakit DP 3. Kaji status nutrisi. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesic R/ Menurunkan/ mengontrol nyeri dan menurunkan rangsangan system saraf simpatis DP 4. Berikan kompres hangat di sekitar abdomen yang terasa nyeri R/ Kompres hangat dapat membantu untuk mengurangi nyeri 4. seperti bubur. seperti bimbingan imajinasi. frekuensi. Timbang berat badan tiap minggu R/ Berat badan adalah alat evaluasi praktis dalam melihat kecukupan nutrisi 7. Catat jumlah/ porsi makan yang dihabiskan pasien R/ Untuk mengetahui pemenuhan nutrisi pasien 6. Tingkatkan tirah baring pada pasien dengan posisi yang nyaman R/ Untuk penghematan energi dan dengan posisi semi fowler menurunkan tekanan intra abdomen 3. Dorong pasien untuk menggunakan teknik relaksasi. latihan tarik napas dalam. intensitas nyeri. Tujuan : Nyeri teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan Kriteria  Pasien akan melaporkan nyeri hilang sampai dengan terkontrol hasil : Pasien tampak rileks dan TTV dalam batas normal Intervensi : 1. Berikan umpan balik positif saat pasien mau berusaha menghabiskan makanannya R/ Memotivasi dan meningkatkan nafsu makan pasien 9. tim dan dihidangkan dalam keadaan hangat R/ Mengurangi beban kerja lambung dan mempertahankan asupan nutrisi adekuat 5. muntahgkan dan IMT dalam batas normal Intervensi : 1. Gangguan rasa nyaman : nyeri epigastrium yang berhubungan dengan proses penyakit. R/ Untuk mengetahui respon nyeri dan penyebabnya sehingga memudahkan dalam penentuan intervensi keperawatan 2. Berikan perawatan oral secara teratur setiap sebelum dan sesudah makan R/ Mengurangi adanya rangsangan mual dan muntah 8. Kaji karakteristik nyeri (skala nyeriberistirahat dengan tenang 0-10.sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan adekuat 7. Anjurkan . Anjurkan kepada pasien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan menyerap keringat R/ Mengurangi penguapan tubuh 8. Jelaskan penyebab peningkatan suhu tubuh R/ mengurangi ansietas keluarga dan pasien sehingga dapat bekerja sama dengan perawat 9. visualisasi R/ Meningkatkan relaksasi sehingga pasien dapat melupakan rasa nyerinya dan dapat meningkatkan koping pasien 5. Berikan makanan yang mudah ditelan. muntah dan nafsu makan pasien R/ Membantu dalam menentukan intervensi keperawatan yang tepat 3. Kaji keluhan mual.

Berikan penjelasan tentang hal-hal yang dapat membantu dan meningkatkan kekuatan fisik pasien R/ Agar pasien termotivasi untuk kooperatif elama perawatan terutama terhadap tindakan yang dapat meningkatkan kekuatan fisiknya seperti pasien mampu menghabiskan porsi makannya DP 6. dan eliminasi Intervensi : 1. Kebutuhan pembelajaran tentang kondisi dan pengobatan yang berhubungan dengan kurangnya informasi Tujuan : Kebutuhan pembelajaran pasien terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan Kriteria hasil : Pasien paham dengan proses penyakit dan kebutuhan Pasien mampu menenukan gejala yang memerlukan . Kaji tingkat kemandirian pasien untuk melakukan perawatan dirinya yang berhubungan dengan kelemahan fisik R/ Mengidentifikasi tingkat ketergantungan pasien dalam memenuhi kebutuhannya 3. Kolaborasi dengan dokter dan Pemberian nutrisi parenteral. Resiko tinggi perubahan pola eliminasi diare/konstipasi yang berhubungan dengan proses infeksi. tinggi karbohidrat dan protein R/ Memaksimalkan asupan nutrisi dan menurunkan iritasi gaster. 10. mandi. Kaji penghambat awitan/ tidak ada haluaran. Tujuan : Pasien mampu beraktivitas setelah dilakukan Pasien dapat mandiri dalamtindakan keperawatan Kriteria hasil : merawat diri. Kaji keadaan umum pasien dan keluhan rasa lemah dalam beraktivitas R/ Memudahkan dalam menentukan intervensi selanjutnya 2. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan kelemahan fisik. DP 7. Tinjau ulang program diet dan jumlah/ tipe masukan cairan R/ Masukan adekuat dari serat dan makanan kasar memberikan bulk dan cairan adalah factor penting dalam menentukan intervensi 4.kepada pasien untuk makan dalam porsi kecil tapi sering. Letakkan keperluan pasien di dekat tempat tidurnya R/ Untuk memenuhi kebutuhan pasien tanpa bantuan orang lain 6. Siapkan bel di dekat pasien R/ Pasien dapat meminta bantuan perawat saat membutuhkannya 5. Tujuan : Tidak terjadi perubahan pola eliminasi Pasien dapat memenuhi kebutuhan eliminasi sehari-hariKriteria hasil : Intervensi : 1. Kaji pola defekasi pasien dan gaya hidup sebelum sakit R/ Mengidentifikasi kebiasaan pasien dan sebagai data dasar dalam pemilihan intervensi selanjutnya 2. auskultasi bising usus R/ Penurunan atau peningkatan motilitas usus berpengaruh pada frekuensi defekasi 3. makan. Dorong masukan cairan 2000-2500 ml/hr dalam toleransi jantung R/ Membantu dalam memperbaiki konsistensi feses bila konstipasi dan akan membantu mempertahankan status hidrasi pada pasien diare. terapi antiemetiktim kesehatan lain : dan antasida R/ Nutrisi parenteral sangat bermanfaat terutama bila intake peroral sangat kurang dan terapi obat diberikan untuk mengurangi mual dan muntah Konsultasikan dengan ahli gizi untuk pemberian diit sesuai indikasi R/ Berguna dalam membuat keputusan tentang kebutuhan nutrisi yang tepat sesuai indikasi DP 5. Hindari makanan yang membentuk gas R/ Menurunkan distrs gastric dan distensi abdomen 5. Beri tuntunan penuh dalam merawat diri dan tingkatkan kemandirian pasien sesuai kemampuan fisik R/ Memenuhi kebutuhan personal hygiene pasien dan agar pasien tidak tergantung pada perawat 4.

pasien hanya menghabiskan ¼ porsi makanan yang dihidangkan. Dorong pasien dan keluarga/ orang terdekat untuk mengemukakan masalahnya R/ Mencegah adanya kesalahan persepsi tentang masalah yang dialami oleh pasien BAB III PENGAMATAN KASUS Ringkasan Kasus Nama : Nn. Pasien menunjukan perilaku untuk memperbaiki kesehatan. klien sudah dirawat selama sehari di unit Fransiskus RSSA. dosis obat. Matan 3 No. terpasang infuse RL 20 tts/mnt. observasi TTV : S : 39. nyeri epigastrium. usia 16 tahun. T NIM: 20040202 Unit : St. mual dan ingin muntah. Klien mengeluh nyri kepala dan pusing. PENANGGUNG JAWAB Nama initial : Tn. pengobatan. 73 Hubungan dengan klien : Ayah Kandung B. Berikan informasi tertulis pada klien untuk rujukan. Dikirim oleh : UGD Dokter praktek : II. Pada tanggal 23 Juli 2006. R/ Dapat menunjukkan pengaktifan ulang penyakit atau efek obat yang memerlukan evaluasi lanjut 3. TANDA-TANDA VITAL a. pengulangan menguatkan informasi 4. beragama Islam. Kesadaran * Kualitatif : Compos mentis Somnoleris Coma Apatis Soporocomatous * Kuantitatif: Jumlah : Skala . N Tempat / tgl lahir (umur) : 16 tahun Jenis kelamin : laki-laki Perempuan Status perkawinan : Belum Kawin Agama / suku : Islam Warga negara : Indonesia Asing : Bahasa yang digunakan : Indonesia Asing : Daerah Pendidikan : SMU Pekerjaan : Pelajar Alamat rumah : Perum II Gg. kesadaran compos mentis Alasan : Pasien berbaring lemah ditempat tidur. KEADAAN SAKIT : Klien tampak sakit sedang. I Alamat Rumah : Perum II Gg. pasien tampak lemah. pasien tampak meringis. Keluhan yang menyertainya pusing. KLIEN Nama Initial : Nn. Fransiskus Tgl.tanda dan gejala. Kaji kemampuan klien dalam memahami informasi yang diterima R/ Keadaan emosi dan kesiapan fisik mempengaruhi kesiapan penerimaan informasi 2. R/ Informasi yang tepat dan lengkap mencegah timbulnya komplikasi lebih lanjut 5. Nuroktavia Ismail Umur : 16 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Islam Diagnosa Medik : Malaria Tropika Tanggal Masuk RS : 23 Juli 2006 Pengamatan kasus dilakukan pada Nn. kesadaran compos mentis. Waktu pengkajian tanggal 24 Juli 2006. Pengkajian : 24 Juli 2006 Ruang/ Kamar : 05/3 Waktu Pengkajian : 10 . dirawat di unit Fransiskus dengan diagnosa Malaria Tropika. 73 II. Masuk RS : 23 Juli 2006 Auto Anamnese : Allo Anamnese : : No RM : 13-09-56 A. mual dan mau muntah.20C.tindakanpengobatan. pasien terbaring di tempat tidur. abdomen terasa sakit terutama daerah ulu hati. terpasang infus RL 20tts/mnt Lain-lain : . IDENTIFIKASI I. skala nyeri 4-6 (sedang). tidak ada nafsu makan. N: 89x/mnt.00 wib Tgl.klien dating ke UGD dengan keluhan demam tinggi dan menggigil. Intervensi : 1. TD: 110/70mmHg. contoh jadwal pemberian obat R/ Informasi tertulis menurunkan hambatan klien untuk mengingat sebagian besar informasi. N. P: 23x/mnt. Diagnosa Medik * Saat masuk : * Saat Pengkajian : C.II. KEADAAN UMUM I. DATA MEDIK I. Jelaskan tentang proses penyakit. nyeri kepala. nyeri ulu hati. Jelaskan gejala yang harus dilaporkan kepada perawat. PENGKAJIAN KEPERAWATAN Nama Mahasiswa yang mengkaji : Fransiska. penyebab. Matan 3 No.medis. contoh peningkatan suhu.

Kebersihan anus : Bersih. Saya minum air putih apabila saya merasa haus saja. Data Subyektif 1.Kebersihan kulit : Kulit tampak lembab. kenyal dan bersih .Kebersihan rambut : Tampak bersih dan tidak berbau .” b. reaksi alergi).Sclera : tidak ikterik .P. tidak berketombe .Kelenjar getah bening leher : tidak ada benjolan . Data obyektif 1. Lipat kulit triceps : 3 cm c. Keadaan sebelum sakit : Pasien mengatakan “Saya belum pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya.” 2.Kelenjar thyroid: tidak ada pembesaran Abdomen > Inspeksi : Bentuk : Datar .Palpebrae : tidak ada oedema Conjuctiva : tidak anemik . GENOGRAM Keterangan : : Pria normal : Wanita normal : Pria Meninggal : Wanita Meninggal : Orang terdekat : Umur klien : Orang yang tinggal serumah : Klien PENGKAJIAN POLA KESEHATAN I. . PENGUKURAN a. Tinggi badan : 160 cm Berat badan : 50 Kg IMT (Index Masa Tubuh) : 19.Kebersihan genitalia : Bersih .Higiene rongga mulut : Bersih . Setiap masuk makanan pasti saya muntahkan kembali.Kelenjar parotis : Tidak membesar . Suhu : 39. pusing disertai mual dan muntahmuntah sehingga saya tidak bisa makan apa-apa.2o C (Oral/Axillar/Rectal) d.a. Pemeriksaan fisik .Catatan : .Rongga mulut: Bersih tidak berbau Gusi tidak ada peradangan . Saya semua jenis makanan termasuk sayuran. Keadaan sejak sakit : Pasien mengatakan “Saya merasa lemah.” 2.Intake dan Output : Pasien menghabiskan 1/4 porsi makanan yang dihidangkan 2.Hidrasi kulit : Lembab tidak dehidrasi . Data obyektif 1. septum ditengah . Observasi . setiap masuk makanan ulu hati saya sakit. transfusi. Nadi : Frekuensi : 89 x / menit Irama : Teratur Tidak Teratur Kedalaman : Teraba Jelas Tidak teraba e. Observasi . Sekarang saya hanya makan sedikit. Data Subyektif 1.Coma Glassow: * Respon motorik : 6 * Respon bicara : 5 15 * Respon Membuka mata : 4 Kesimpulan : Pasien dalam keadaan sadar penuh * Flapping Tremor/Asterixis Positif Negatif b.Lidah : bersih tidak ada caries Tonsil tidak ada peradangan Pharing : tidak ada peradangan .Kemampuan mengunyah keras : Kanan dan kiri mampu mengunyah .A. gangguan kehamilan/ persalinan. biasanya hanya demam biasa kemudian minum obat dan sembuh. : 90 mmHg Kesimpulan : Perfusi ginjal memadai c. tetapi kadang sarapan kadang tidak. Catatan : .Kulit kepala : Bersih. kecelakaan. Di ulu hati saya terasa sakit setiap masuk makanan. Lingkar lengan atas : 22 cm b.Gigi geligi : Lengkap Gigi palsu : Tidak ada . Saya merasa mual dan sudah berkalikali muntah. Pernafasan : Frekuensi : 23 x / menit Irama : Teratur Kusmaull Cheynes-stokes Jenis : Dada Perut III. Tekanan Darah : 110 / 70 mmHg M.” b.Keadaan rambut : Tampak kusam.5 Kg/ M2 Kesimpulan : Tubuh kurang pangan Catatan : IV. Keadaan sebelum sakit : Pasien mengatakan “ Saya biasanya makan 3x sehari. Keadaan sesudah sakit : Pasien mengatakan “ Semenjak sakit saya tidak nafsu makan. abortus.Hidung : Bersih. operasi. KAJI PERSEPSI KESEHATAN – PEMELIHARAAN KESEHATAN Riwayat penyakit yang pernah dialami: (sakit berat. Kalau demam biasanya hanya 2 hari. KAJIAN NUTRISI METABOLIK a. dirawat. tidak ada haemoroid Tanda / Scar Vaksinal : BCG Cacar II.

Kulit : Spider naevi Negatif Positif Uremic frost Negatif Positif Edema Negatif Positif.Anus : * Peradangan Negatif Positif * Fisura Negatif Positif . Illiaca Hepar : tidak ada pembesaran Lien : tidak Teraba > Perkusi : Tympani Negatif Positif.…/…. KAJIAN POLA ELIMINASI a.Palpasi suprapubica kandung kemih : Penuh Kosong . Terapi : Infus RL 20 tts/ mnt III.Epigastrica Titik Mc Burney R. Keadaan sesudah sakit Pasien mengatakan “ BAB 1x sehari cair selama dirumah sakit dan BAK sedikit”. . b. Suprapubica R. Data obyektif 1. Pemeriksaan diagnostik .Laboratorium : . pasien.Lain –lain : 4.Mulut urethra :.Bayangan vena : tidak ada Benjolan vena : tidak ada > Auskultasi Peristaltik : 12 x/ mt > Palpasi : Tanda nyeri umum : Massa : tidak terdapat massa Hidrasi kulit : baik Nyeri tekanan R.Lesi : tidak ada 3. bisa bangun ke WC b. BAK tergantung berapa banyak saya minum”. Lokasi Icteric Negatif Positif . Data Subyektif 1. Keadaan sebelum sakit Pasien mengatakan “ BAB dan BAK biasa tidak ada masalah BAB 1-2x sehari . Pemeriksaan fisik .Nyeri ketuk ginjal : * Kiri Negatif Positif * kanan Negatif Positif .Kelenjar limfe inguinal : Ada benjolan . Observasi : Pasien tidak menggunakan cateter. 2.cm . Lingkar perut /.

Fiksasi : tidak ada . Data Subyektif 1. KAJIAN POLA AKTIVITAS DAN LATIHAN a.Aktivitas harian : * Makan * Mandi * Berpakaian * Kerapian * Buang air besar * Buang air kecil * Mobilisasi di tempat tidur * Ambulasi .Lain –lain : 3. Keadaan sesudah sakit Pasien mengatakan “badan saya lemah.30. dan selama dirumah sakit saya hanya berbaring ditidur saja”. capek.Tracheostomie : tidak ada 2. Terapi IV. Pemeriksaan fisik . Pulang sekolah saya langsung istirahat kalau capek. Keadaan sebelum sakit Pasien mengatakan “ Kegiatan sehari-hari saya sekolah. Data obyektif 1.Postur tubuh : Simetris .JVP : 5 – 2 cm H2O Kesimpulan : Pemompaan ventrikel baik .Laboratorium : . b. Observasi . Setiap hari saya masuk sekolah siang hari jam 12.Perfusi pembuluh perifer kuku : Kembali dalam 3 detik .Gaya jalan : lemah . Pemeriksaan diagnostik .Anggota gerak yang cacat : tidak ada .” 2.* Hemoroid Negatif Positif * Prolapsus uteri Negatif Positif 2.Thorax dan pernafasan > Inspeksi * Bentuk thorax : Datar Simetris * Stridor : Negatif Positif .

* Dyspnea d’Effort : Negatif Positif * Cyanosis : Negatif Positif . Renalis Negatif Positif A.Jantung > Inspeksi * Ictus cordis : Tidak tampak * Klien menggunakan alat pacu jantung Negatif Positif > Palpasi * Ictus cordis : Teraba di ICS V mid clavikula * Thrill Negatif Positif > Perkusi * Batas atas jantung : ICS 2 linea sternalis sinistra * Batas kanan jantung : ICS 2 linea sternalis dextra * Batas kiri jantung : ICS V mid klavikularis sinistra > Auskultasi * Bunyi jantung II A : Tunggal * Bunyi jantung II P : Tunggal * Bunyi jantung I T : Tunggal * Bunyi jantung I M : Tunggal * Bunyi jantung III Irama Gallop Negatif Positif * Murmur Negatif Positif : Tempat : − Grade : − * HR : 89 x/ mt * Bruit : Aorta Negatif Positif A.Perkusi : Sonor Redup Pekak * Batas paru hepar : ICS ke IV sternal kanan * Kesimpulan : Ekspansi paru baik .Auskultasi * Suara nafas : Vesicular * Suara acapan : Jelas intensitas dikiri dan kanan * Suara tambahan : Tidak ada suara tambahan .Lengan dan tungkai * Atrofi otot Negatif Positif. Femoralis Negatif Positif . tempat : * Rentang gerak : terbatas karena kelemahan Mati sendi : tidak ada Kaku sendi : tidak ada * Uji kekuatan otot Kiri : Kanan : * Refleks fisiologik * Reflleks patologik : Babinski Kiri Negatif Positif Kanan Negatif Positif .Palpasi * Vokal Fremitus : Getaran kiri – kanan sama .

N. gelisah. Keadaan sesudah sakit Pasien mengatakan “saya bila bangun dari tempat tidur badan terasa lemah dan capek”. Observasi .Lain-lain : 4. b. Data obyektif 1. Observasi : Pasien tampak gelisah. Terapi : VI.”.Kaku kuduk : tidak ada 3. Pemeriksaan fisik . pasien tampak memegang daerah kepala dan ulu hati 2.mengerakkan bola mata kesegala arah .* Cubing jari-jari : Negatif Positif * Varices tungkai : Negatif Positif .” 2. Data Subyektif 1.Columna vertebralis > Inspeksi * Kelainan bentuk : tidak ada kelainan > Palpasi * Nyeri tekanan Negatif Positif . Terapi : V.Ekspresi wajah mengantuk Negatif Positif . dapat . Data Subyektif 1. kacamata.00 wib dan bangun siang. Keadaan sesudah sakit klien mengatakan “selama di RS saya tidak bisa tidur.N. KAJIAN POLA PERSEPSI KOGNITIF a.N. Keadaan sebelum sakit : Keluarga klien mengatakan “malam biasa tidur jam 23. 2.Penglihatan . IX : Pasien mampu menelan dengan baik . Keadaan sebelum sakit : Klien mengatakan “saya tidak menggunakan alat Bantu dengar.Laboratorium : .VIII Romberg Test : Negatif Positif . Pemeriksaan Diagnostik . Saya tidak pernah tidur siang kecuali hari libur.III– IV–VI : Normal.“ b.Banyak menguap Negatif Positif .Palpebrae inferior bewarna gelap Negatif Positif 2. KAJIAN POLA TIDUR DAN ISTIRAHAT a. Data obyektif 1.

Pendengaran * Pina : simetris kiri kanan * Canalis : bersih * Membran tympani : utuh kiri kanan * Tes Pendengaran : dapat mendengar gesekan jari tangan .N.Laboratorium: . Data Subyektif 1.Kulit : tidak ada . Keadaan sebelum sakit : Pasien mengatakan “saya merasa cukup puas dengan keadaan sekarang.III sensorik : normal.N. Data obyektif 1.Kontak mata : pasien dapat mempertahankan perhatian .Rentang perhatian : perhatian penuh saat wawancara .VIII pendengaran : normal dapat mendengar 3.Pengenalan pada gerakan lengan tukai : . dapat membaca huruf cetak . tidak ulkus cornea * Visus : 6/6 * Pupil : Isokor 3mm * Lensa mata : jernih * Tekanan Intra Okular (TIO) : sama kenyal kanan dan kiri .VII sensorik : normal .I : dapat mencium minyak kayu putih . saya berharap mudah – mudahan saya cepat sembuh. Pemeriksaan Diagnostik . KAJIAN POLA PERAN DAN HUBUNGAN DENGAN SESAMA a. saya ingin ke sekolah lagi“ b.II : normal.Penggunaan protesa Hidung Payudara Lengan Tungkai VIII.N. Pemeriksaan fisik .“ 2. KAJIAN POLA PERSEPSI DAN KONSEP DIRI a.Kelainan bawaan yang nyata : tidak ada . dapat merasakan gesekan tissu .* Cornea : Jernih. Terapi : VII. Observasi .N. Keadaan sesudah sakit Klien mengatakan “Saya menerima keadaan sakit saya ini.Postur tubuh : simetris dan tegap 2.Suara dan cara bicara : jelas saat mengucapkan kata – kata .Lain – lain : 4. Data Subyektif .N.

tidak ada keluhan rasa sakit. Terapi X.” b. Observasi : Vagina tampak bersih 2. Observasi Pasien tampak tenang.Laboratorium : . bulan ini saya sudah 2 kali menstruasi. Data obyektif 1.” 2. Keadaan sesudah sakit Pasien mengatakan “Saat saya sakit. Keadaan sesudah sakit Pasien mengatakan “saat saya sakit saya selalu menceritakan apa yang saya rasakan kepada ibu atau ayah saya” b. Pemeriksaan fisik : tidak ada kelainan 3. Keadaan sebelum sakit : Pasien mengatakan “Saya anak bungsu dari 5 bersaudara.” 2. Hanya bila saya stress bisa tiba-tiba menstruasi lagi. Keadaan sesudah sakit Pasien mengatakan “Saat ini saya sedang menstruasi. saat ini saya tinggal dengan kedua orang tua saya.” b. Keadaan sebelum sakit : Pasien mengatakan “Saya pertama kali menstruasi kelas 2 SMP. Observasi :.ibu dan ayah saya bergantian menjaga saya. 2.mmHg . Pemeriksaan fisik . KAJIAN POLA REPRODUKSI – SEKSUALITAS a. menstruasi saya lancer dan teratur.Tidak ada gangguan interaksi dengan perawat atau orang lain IX. Data Subyektif 1.1.Lain – lain : 4.mmHg * Berdiri : . Data obyektif 1. Pemeriksaan Diagnostik . KAJIAN MEKANISME KOPING DAN TOLERANSI TERHADAP STRESS a.Tekanan darah * Berbaring : 110 / 70 mmHg * Duduk : . teman-teman saya banyak yang datang menjenguk. Data Subyektif 1. sedangkan kakak-kakak saya semuanya kuliah di luar Pontianak. Keadaan sebelum sakit : Pasien mengatakan “jika ada masalah saya selalu membicarakan dengan ibu saya “ 2. Data obyektif 1.

selalu sholat 5 waktu”. Keadaan sebelum sakit : Pasien mengatakan “Saya beragama Islam.Kulit * Keringat dingin : Tidak ada * Basah : Tidak ada XI. Data Subyektif 1.Kesimpulan : Hipotensi orthostatik Negatif Positif . Observasi : klien tampak berdoa sebelum makan Tanda Tangan mahasiswa yang mengkaji.HR :89 x/ mt . Keadaan sesudah sakit Pasien mengatakan “Saya hanya berdoa di tempat tidur” b. KAJIAN POLA SISTEM KEPERCAYAAN a. 2. T) ANALISA DATA . Data obyektif 1. ( Fransiska.

4.Marboen No Data Etiologi Masalah 1.Nama : Nn N Ruang : Fransiskus Umur / Jenis kelamin : 16 Thn / Perempuan No tempat tidur : 5/3 Diagnosa keperawatan : Malaria Dokter : dr. 3. 2. .

DO: Pasien tampak bertanya. DS : pasien mengatakan : “ Badan saya panas. DS: pasien mengatakan : “ perut saya sakit. P : 23 X/ menit. Turgor kulit kering. Falciparum. Observasi TTV : S : 39.5.” DO : Pasien makan 1/4porsi Terpasang infuse RL 20 tts/menit. Falciparum. Pem. TD: 110/70 mmHg.” DO: Pasien tampak meringis C. Skala nyeri sedang (4-6) DS: Pasian mengatakan “ saya tidak ada nafsu makan. Saya banyak minum air putih.” DO: Pasian tampak lemah dan gelisah. TD: 110 / 70mmHg. Pasien tampak lemah. saya hanya menghabiskan 1/4 porsi makanan.2 N: 89 X/menit. Observasi TTV: S: 39. Proses penyakit . DS: pasian mengatakan : “saya kurang mengerti tentang kondisi saya sekarang. Diulu hati saya juga sakit sekali.lab hematology Malaria + P.2 N: 89 X/menit. DS: pasian mengatakan : “ saya merasa lemah dan tidak bisa beraktivitas seperti biasa. Pasien tampak gelisah. Terpasang infuse RL 20tts/menit. Pem. mual dan terasa ingin muntah. saya merasa mual dan mau muntah.Lab hematology malaria + P. Pasien dan keluarganya meminta informasi. saya belum pernah sakit seperti ini. kepala saya pusing dan saya merasa lemah sekali” DO : Badan pasien terasa panas C. Turgor kulit kering.

Kurang informasi Peningkatan suhu tubuh: hipertermi. Kelemahan fisik. .Inflamasi sekunder akibat plasmodium falciparum Intake yang tidak adekuat.

Marboen No Tgl / Waktu Diagnosa keperawatan Nama jelas . DIAGNOSA KEPERAWATAN Nama : Nn N Ruang : Fransiskus Umur / Jenis kelamin : 16 Thn / Perempuan No tempat tidur : 5/3 Diagnosa keperawatan : Malaria Dokter : dr. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh.Gangguan rasa nyaman : nyeri. Gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari (personal hygiene). Kebutuhan pembelajaran tentang kondisi dan pengobatan.

T Fransiska. 2.00 Peningkatan suhu tubuh : hipertermi yang berhubungan dengan proses penyakit. T Fransiska. 5. T Fransiska. T . Fransiska. Gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari (personal hygiene) yang berhubungan dengan kelemahan fisik.1. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan intake yang tidak adekuat. 24 juli 2006 07.00 24 juli 2006 07.00 24 juli 2006 07. 3. Gangguan rasa nyaman: nyeri yang berhubungan dengan proses inflamasi sekunder akibat plasmodium falciporum.00 24 juli 2006 07.00 24 juli 2006 07. Kebutuhan pembelajaran tenang kondisi dan pengobatan yang berhubungan dengan kurang informasi. 4.

T PELAKSANAAN KEPERAWATAN Nama : Nn N Ruang : Fransiskus Umur / Jenis kelamin : 16 Thn / Perempuan No tempat tidur : 5/3 Diagnosa keperawatan : Malaria Dokter : dr.Marboen No Tanggal Waktu Evaluasi (soap) Nama jelas 1 .Fransiska.

24 juli 2006 .2.

25 juli 2005 05:00 06:00 07:00 07:55 08:10 09:00 09:10 11:30 11:40 14:00 15:00 16:00 17:00 21:00 22:00 01:00 05:00 06:00 .

15 14.00 08.00 .07:15 08:00 08:10 08:25 10:50 11:10 11:30 14:00 15:00 16:00 17:00 21:00 21:50 00:05 04:00 06:00 07:00 08.

badan Os terasa panas. N : 88 x/mnt. Obs suhu : 40C. Dianjurkan Px untuk minum air putih. Tenang tidur nyeyak. Dr marboen visite hasil malaria beliau tahu. Os sudah makan.35 C N : 1Mengobs TTV : S : 38608 x/mnt OS sudah sarapan. memberikan th/oral sore ke px Mengkaji KU tampak sakit sedang. Memberikan injeksi amoxan 1 gr (IV) Via infuse. Keluhan kepala pusing. terpasang inpus RL 20 tts/mnt Merapikan tempat tidur C N :Mengkaji TTV pasien : S : 39. kes: compos mentis Os belum tidur. C. infuse RL 20 tts/mnt. kesehatan compos mentis.2 89 x/mnt. anjurkan kurangi aktivitas. N : 120 x/mnt Memberikan th/oral ke pasien. Memberikan makan malam. demam masih ada. N : 1Obs. tempat tidur sudah dirapikan dan diganti. Px sudah mandi. tampak sakit sedang. dianjurkan kepada pasien untuk banyak minum airObs suhu : 38 dan melanjutkan kompres hangat. C. bagi obat oral Mengkaji keadaan umum:pasien tampak sakit sedang. kes : CM keluhan badan panas. Os. S : 38. . Pasien mengeluh mual.16. Os makan pagi Mengkaji KU tampak sakit sedang.400/60 mmHg. Biothicol 1 tab. Obat oral sudah diminum. memberikan injeksi Amoxan 1gr (IV). pusing. TD : 110/70 mmHg test obat amoxan Hasil test negative. infuse RL 20 tts/mnt. CM.902 x/mnt. Kes. P : 23 x/mnt. Memberikan kompres hangat kepada px C. dapat th/ + an maltron 2 x 2 hari I selanjutnya 2 x 1 tab Mengkaji pola makan pasien : P : menghabiskan 1/2 porsi makanan yang dihindangkan. badan lemah. TP : 1Mengobservasi TTV : S : 39. memberikan kompres air hangat pada dahi pasien. Mengkaji ulang KU.tidak terdapat tanda-tanda alergi tahap injeksi.

Amoxan 1gr Pasien sudah makan. pusing berkurang. kes. N: 72x/mnt. pasien mengeuh susah tidur mlm. CM. C. TD: 110/80mmHg. Mengkaji KU pasien tampak lemah. Mengkaji KU Ps : Ps tampak sakit sedang. T Fransiska. terapi lanjut. T Fransiska. P: 36x/mnt. Ulang suhu : 37.badan sudah tidak panas lagi. T . Os belum makan Mengkaji ulang KU tampak sakit sedang. N : 84 x/mntObs. keluhan istirahat (-). Membagi th/oral siang. 37. pusing.Mmberi injeksi Amoxan 1gr (IV) via infuse C menganjurkan kepada pasien banyak minum air putih. N : 84x/mntS: 365 Membagi obat oral pagi. S: 37 Memberikan injeksi amoxan 1gr W via infuse Memberikan Pasien th/oral sore. Marboen visit. Os sedang tidur. Kes: CM. pasien mengatakan sudah tidak mual lagi.membagikan terapi oral Fransiska. kes compos. Mengkaji Kv pasien tampak sakit sedang. terpasang infuse RL 20tts/mnt Memberikan inj. Dr. Infuse RL 20 tts/mnt.6 Dr marboen visite : th/ lanjut + an esilgam 1 mg 1 x 1 (malam) Mengganti infuse RL 20 tts/mnt.4oC. N: 70x/mnt Memberikan inj.Obs. px belum makan pasien sedang tidur. Amoxan 1gr (iv) via infuse Mengobservasi TTV: S. Memberikan obat oral : biothicol 4 x 500 gr : esilgan I mg Injeksi amoxan 1 gr via infuse Obs C. infuse RL 20 tts/mnt. observasi TTV: S: 37oC.

T Desi Desi Desi Desi Desi Rini Fransiska. T Fransiska. T Fransiska. T Fransiska. T Fransiska.Fransiska. T .

T Fransiska. T Fransiska.T EVALUASI KEPERAWATAN Nama : Nn N Ruang : Fransiskus Umur / Jenis kelamin : 16 Thn / Perempuan No tempat tidur : 5/3 Diagnosa keperawatan : Malaria Dokter : dr.Marboen No Tanggal Waktu Evaluasi (soap) Nama jelas 1.Fransiska. 24 juli 2006 . T Fransiska. T Fransiska. T Fransiska. T Desi Ika Fransiska.

13:00 13:00 13:00 .

” O : . Pasien tampak gelisah. N : 86 x/menit.20/70 mmHg. A : Masalah perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan D : Rencana keperawatan 1-8 dilanjutkan. kepala saya pusing dan saya merasa lemah sekali C.20/70 mmHg Badan pasien terasa panas.TTV : S : 38. P : 24 x/menit. P : Rencana keperawatan 1-7 dilanjutkan S : Pasien mengeluh ”perut saya terasa sakit terutama di bagian ulu hati. Pasien menghabiskan 1/4 porsi yang disediakan. perut saya terasa sakit dan rasa mual jika makan. N : 86 x/menit.observasi TTV : S : 38.13:00 13:00 S : .pasien menyatakan “ badan saya panas. P : 24 x/menit. C.Pasien nampak meringis. . Turgor kulit kering. Pasien tampak memegang kepala.Palpasi daerah abdomen pasien tampak meringis kesakitan A : Masalah gangguan rasa nyaman nyeri sebelum teratasi P : Rencana keperawatan 1-6 dilanjutkan. A : Masalah peningkatan suhu belum teratasi.Terpasang infuse RL 20 tts/menit Pasien tampak lemah.” O : . . S : Pasien mengeluh “ saya tidak ada nafsu makan. TD : 11. TD : 11O : .

P : Rencana keperawatan 1-6 dilanjutkan S : Pasien mengatakan “saya masih ingin tahu tentang penyakit saya dan kondisi kesehatan saya” O : . T Fransiska.Pasien apak gelisah dan lelah Personal hygiene pasien tampak dibantu oleh keluarganya. P : Rencana keperawatan 1-4 dilanjutkan Fransiska. A : Masalah pemenuhan kebutuhan-kebutuhan sehari-hari (personal hygiene) belm teratasi. T .S : Pasien mengatakan “ saya merasa lemah dan tidak mampu untuk beraktivitas.” O : .Pasien tampak masih terus bertanya . T Fransiska.Pasien memerlukan informasi yang jelas tentang penyakitnya. A : Kebutuhan pembelajaran pasien belum teratasi.

Fransiska. 25 juli 2006 13:00 13:00 .Marboen No tanggal Waktu Evaluasi ( SOAP ) Nama jelas 2. T EVALUASI KEPERAWATAN Nama : Nn N Ruang : Fransiskus Umur / Jenis kelamin : 16 Thn / Perempuan No tempat tidur : 5/3 Diagnosa keperawatan : Malaria Dokter : dr.

 .” O: Pasien tapak meringis. A : Masalah peningkatan suhu belum teratasi.13:00 13:00 13:00 S : Pasien mengeluh “ badan saya masih panas. observasi TTV : S : 37. teutama dibagia ulu hati. N : 88 x/mnt. O: C. Badan pasien terasa panas.6 Infuse RL 20 tts/mnt. S : Pasien mengatakan “perut saya masih sakit. Pasien tampak gelisah dan memegang kepala. P : Rencana keperawatan 1-7 dilanjutkan. kepala saya juga pusing.

O: Pasien tampak gelisah. TD 1 Observasi TTV : S : 37. S : Pasien mengatakan “ saya masih merasa lemah.” O: Pasien tampak puas dengan jawaban yang diberikan Pasien tampak mengerti dengan informasi yang diberikan. Pasien dimandikan oleh keluarganya. terima kasih atas penjelasannya saya banyak tahu sekarang. P : Rencana keperawatan 1-4 di stop Fransiska. A : Masalah pemenuhan kebutuhan sehari-hari (personal hygiene) belum teratasi. N : 88 x/mnt. P : Rencana perawatan 1-6 dilanjutkan S : Pasien mengeluh “ masih mual dan tidak nafsu makan. Ekspresi wajah mengantuk.” O: Pasien belum makan. P : Rencana keperawatan 1-6 dilanjutkan. T . Infuse RL 20 tts/mnt A : Masalah perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh belum teratasi.C. A : Kebutuhan pembelajaran pasien terpenuhi. S : Pasien mengatakan “ saya sekarang sudah mengetahui penyakit saya dan kenapa saya sakit serta pengobatannya.600/60mmHg. Infuse RL 20 tts/mnt Pasien tampak gelisah A : Masalah gangguan rasa nyaman nyeri belum teratasi. kepala saya juga masih pusing. P : Rencana perawatan 1-8 dilanjutkan.

T Fransiska.T .T Fransiska.Fransiska.T Fransiska.

EVALUASI KEPERAWATAN Nama : Nn N Ruang : Fransiskus Umur / Jenis kelamin : 16 Thn / Perempuan No tempat tidur : 5/3 Diagnosa keperawatan : Malaria Dokter : dr.Marboen No Tanggal Waktu Evaluasi ( soap ) Nama jelas 3 26 juli 2006 13:00 .

40/80 mmHg. N : 72 x/mnt.” O: C.2. Pasien masih tampak lemah.3.” O: Skala nyeri 1-3 (ringan) Pasien tampak rileks. pusing berkurang.3.2.6. di stop. mual sudah tidak ada lagi.7 di stop.6. A : Masalah gangguan rasa nyaman nyeri mulai terasa. 4 dilanjutkan S : Pasien mengatakan “ sakit dihuluhati saya sudah mulai berkurang. P : Rencana perawatan 1. 4 dan 5 dilanjutkan.5.13:00 13:00 13:00 S : pasien mengatakan “ badan saya tidak panas lagi. TD : 11 Observasi TTV : S : 37. A : Masalah peningkatan suhu teratas P : Rencana keperawatan 1.4. P : 36 x/mnt Pasien tampak rileks. S : Pasien mengatakan “ nafsu makan sudah ada. O: Pasien tampak menghabiskan 1 porsi makanan .

T . A: Masalah pemenuhan kebutuhan sehari-hari (personal hygienes) teratasi P : Rencana tindakan di STOP.T Fransiska. Pasien mampu mandi dan makan sendiri.T Fransiska. sudah tidak lemah lagi.Infuse RL 20tts/mnt A : Masalah perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh teratasi P : Rencana keperawatan di STOP S : pasien mengatakan “saya sudah bisa jalan sendiri untuk ke WC. Fransiska.” O: Pasien tampak rileks.

Diagnosa Keperawatan. dan . nyeri kepala. observasi dan pemeriksaan fisik langsung. kelemahan fisik. yaitu Pengkajian. N dengan gangguan system hematology: Malaria Tropika di unit St. Implementasi dan Evaluasi. Pengkajian Dalam melaksanakan pengkajian untuk memperoleh data penulis melakukan wawancara dengan klien.Fransiska. N dengan gangguan system Hematologi: Malaria Tropika adalah sesuai dengan proses keperawatan. asuhan keperawatan dilakukan dengan cara membandingkan asuhan keperawatan secara teoritis dengan kasus yang diamati langsung oleh penulis. menurut landasan teori. penulis membahas tentang asuhan keperawatan pada Nn. Adapun pembahasan kasus pada Nn. tandadan gejala klien malaria adalah: demam. Pelaksanaan pengkajian mengacu pada teori. Fransiskus Rumah Sakit Santo Antonius Pontianak yang dilaksanakan selama 3 hari dari tanggal 24-26 Juli 2006. A.T BAB IV PEMBAHASAN KASUS Pada makalah ini. mual. juga didiskusikan dengan perawat ruangan dan dokter yang merawat serta klarifikasi terhadap data yang ada di status/ catatan medik pasien. keluarga klien.

6. Peningkatan suhu : hipertermi yang berhubungan dengan proses infeksi dari plasmodium.20/70mmHg. sekalian nyeri 4-6. Adapun keluhan yang dirasakan klien adalah pusing. Resiko tinggi perubahan pola eliminasi diare/konstipasi yang berhubungan dengan proses infeksi. anemia. dan ikterus. spenomegali. Peningkatan suhu tubuh : hipertermi yang berhubungan dengan proses penyakit. Kebutuhan pembelajaran tentang kondisi dan pengobatan yang berhubungan dengan kurangnya informasi. 3. badan pasien panas dan C. klien tampak bertanya dan menceritakan masalahnya. nyeri epigastrik. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan tinjauan teoritis masalah yang sering muncul pada klien dengan system hematology : malaria adalah 1. 4. tidak nafsu makan. Kebutuhan pembelajaran tenang kondisi dan pengobatan yang berhubungan dengan kurang informasi. Gangguan pemenuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan intake yang tidak adekuat. pasien tidak nafsu makan. nyeri pada hulu hati. sekalian nyeri 4-6. dan ada muntah. Sedangkan dalam pengamatan kasus Nn N masalah yang ditemukan yaitu 1. 4. Gangguan rasa nyaman: nyeri yang berhubungan dengan proses inflamasi sekunder akibat plasmodium falciporum. 7. 3. 2. pasien mengeluh mual. P : 23 x/mnt TD : 11ada demam. mencoba makan sedikit tapi langsung mual. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan kelemahan fisik. 5. observasi TTV : S :39. nyeri epigastrium. Gangguan rasa nyaman : nyeri epigastrium yang berhubungan dengan proses penyakit. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan intake yang tidak adekuat. 5. pasien mengeluh lemah. N : 89 x/mnt.muntah. B. penulis tidak menemukan hambatan yang berarti karma data yang diperoleh langsung dari pasien karena pasien dalam keadaan sadar penuh. klien meminta informasi penyakitnya. Adanya perbadaan dalam menentukan masalah keperawatan secara teori dan . Pada saat melakukan pengkajian secara langsung. Perubahan perfusi jaringan prefer yang berhubungan dengan ketidakadekuatan sel darah merah mengangkut oksigen ke seluruh tubuh sekunder akibat penyakit 2. Pada pasien ditemukan data-data yaitu : pasien mengeluh pusing. Gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari (personal hygiene) yang berhubungan dengan kelemahan fisik. mual dan muntah. Dari data di atas tidak ditemukan adanya anemia dan konstipasi.

Menganjurkan pasien untuk melakukan tehnik relaksasi napas dalam. serta kejelasan dalam mengumpulkan data. 5. Mengobservasi kebiasaan makan pasien. Menciptakan suasana makan yang menyenangkan. edukatif. 12. Menimbang berat badan dua kali dalam minggu. Memberikan makanan dalam porsi kecil tapi sering. Memberikan informasi yang benar tentang penyakit dan kebutuhan pengobatannya. lokasi dan frekuensi nyeri. Memberikan makanan yang berpariasi sesuai dengan diit pasien (pasien diit lembut). C. D. dan kolaborasi. Membantu pasien dalam memenuhi kebutuhan harinya. Mengawasi tanda-tanda vital. mengkaji karakteristik. kurangi rangsangan tertentu dan berikan rasa nyaman (ciptakan lingkungan yang tenang. atau tehnik visualisasi pengalihan perhatian bila nyeri timbul. 4. 7. 3.observasi adanya mutah. 9. 1. 11. Pasien tidak mengalami peningkatan suhusetelah dilakukan tindakan . Implementasi Perencanaan disusun berdasarkan prioritas masalah yang ada disesuaikan dengan kondisi klien saat itu. Menjelaskan kepada pasien kegunaan makanan bagi tubuh. Dalam hal ini intervensi perawatan yang dilakukan penulisan antara lain. Adapun rencana tindakan dibuat berdasarkan urutan prioritas dan tidak jauh berbeda dengan study pustaka yang meliputi tindakan diagnostic. Rencana intevisien adalah bagian dari akhir perencanaan perawat dimana peawat memutuskan strategi dan tindakan yang akan dilakukan pada etiologi atau factor pendukung diagnosa keperawatan. 2. 8. Evaluasi yang diberikan klien adalah melihat apakah masalah yang dihadapi sudah teratasi atau diminimalkan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. suara lembut dansentuhan ringan). terapeutik. Tujuan ditetapkan dengan mengacu pada masalah yang akan diatasi/ diminimalkan dan menjadi alat ukur tercapainya tujuan dan yang menjadi alat ukur tercapainya tujuan yaitu sasaran /kreteria hasil. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi lanjut.pengamatan langsung dikarenakan oleh perbedaan kondisi. 13. Memberikan posisi berbaring yang nyaman seperti berbaring datar tanpa bantal. 10. Mengkaji kemampuan klien untuk belajar. jumlah yang dimakan. 6. 1. Berdasarkan studi yang harus dicapai adalah sebagai berikut. Evaluasi Fase akhir dari proses keperawatan ialah evaluasi terhadap asuhan keperawatan yang telah diberikan. situasi dan respon yang unik dari setiap individu dalam menghadapi reaksi penyakit.

Aktivitas pasien terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan 5. Masalah konstipasi teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan Sedangkan evaluasi yang dilakukan pasien laporan kasus ini adalah : 1. Prinsip penanganan pasien dengan penyakit malaria adalah istirahat dan nutrisi yang adekuat. Ada 4 jenis plasmodium penyebab malaria yaitu: Malaria Tetania disebabka leh parasit Plasmodium Vivak sedangkan malaria yang lainnya adalah : Plasmodium Malariae : malaria quartana. Nyeri pasien dapat diminimalkan sampai dengan teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan 3.namun daerah focus malaria yaitu daerah-daerah terpencil ( irian jaya. dan sebagian kalimantan). berjangkit disemua pulau didataran rendah maupun tinggi.keperawatan 2. Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan 4. Pengetahuan klien bertambah dalam waktu 2x24 jam. plasmodium Ovale : Malaria Ovaledan yang lebih ganas adalah plasmodium falciparum : malaria Topika karena sering merenggut nyawa karena menyerang otak dan ginjal. Setelah melakukan tindakan keperawatan pada pasien selama 3 hari berdasarkan hasil pengkajian maka dapat disimpulkan bahwa pasien menggalami infeksi yang cukup berat dengan dilihat dari tanda nyeri . maluku. BAB V PENUTUP A. Peningkatan suhu tubuh: hipertermi teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan 2. Untuk itu secara umum penyakit malaria perlu pencegahan dan penanganan secara dini mungkin. Kebutuhan sehari-hari (personal hygiene) terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan 5. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh teratasi stelah dilakukan tindakan keperawatan 4. Kesimpulan Di Indonesia penyakit malaria adalah tergolong penyakit menular yang masih bermasalah. Nyeri teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan 3. dengan 1 kali pertemuan Dalam penerapan proses keperawatan terhadap pasien memang hendaknya kriteria evaluasi tercapai setelah dilakukan tindakan keperawatan sesuai dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.

5. nabsu makan mulai ada. Untuk rekan-rekan yang akan meneruskan pendalaman kasus Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem hematology. hal ini tampak dari keadaan pasien sendiri. pasien tidak bertanya lagi. pasien tidak menunjukan tanda animea HB : 12. . 3. Untuk tercapai pelayanan lebih baik dan komprohensif diharapkan kepada perawat ruang untuk melakukan pendekatan dan selalu berkomunikasi bak dengan pasien maupun keluarga itu sendiri tidak hanya pada saat menjalankan program therapy saja atau mengobservasi. maka untuk lebih berhasilnya asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien dalam kesempatan ini penulis menyarankan : 1. Untuk pasien maupun keluarga atau masyarakat diharapkan dapat menjaga lingkungan tetap bersih dan khusus pasien yang dirawat diharapkan bekerja sama dalam mengikuti pemberian therapy yang diberikan selama perawatan maupun setelah diperbolehkan rawat jalan. Pihak institusi dapat menambah literature yang terbitan5 tahun terakhir. B. malaria diharapkan dapat dilengkapi segala kekurangan yang terdapat didalam proses keperawatan yang telah dilaksanakan. pasien tampak lebih rileks.5 gm/dl. tidak mengeluh nyeri. sakit kepala. mual dan anorexia. 4. 2. nyeri epigastrium berkurang. Untuk petugas kesehatan demi terciptanya tingkat kesehatan yang tinggi. dalam tiga hari penulis melihat adanya kemajuan kondisi pasien hal ini berkaitan dengan plasmodium yang yang menyerang tergolong jinak dan didukungdari daya tahan tubuh pasien itu sendiri.epigastrium. masalah pasien sakit kepala. pasien mengukapkan mengerti dengan penyakitnya dan cara penanganannya serta pencegahan oleh intruksi dokter pasien juga sudah boleh pulang dengan tetap melanjutkan therapy oral yang diberikan serta beristirahat dirumah. pusing berkurang. penulis menyarankan untuk ikut membantu pemerintah dalam usaha mencegah dan memberantas wabah malaria. Saran Setelah penulis melakukan asuhan keperawatan langsung pada pasien malaria. Dengan alas an diatas dapat disimpulkan bahwa upaya asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien sudah cukup maksimal.

(2001). Ed 1. Jakarta. I. Evelyn C. Lynda Juall. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Elisabeh C.et all.DAFTAR PUSTAKA Carpenito. Jakarta : EGC. Jakarta: penerbit Buku Kedokteran EGC.200 Kebijakan Pengembangan Tenaga Kesehatan Tahun 20002001.asetil sisteina 200mg Indikasi : demam. Jakarta: Bala penerbit FKUI. J. Laurent. Jakarta :EGC. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. 1997. Nursalam. Buku Saku Patologi. Sistenol Tiap kaplet : Parasetamol 500mg.R & Rampengan. Bahan Pendukung.H (1993) : Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak. DAFTAR OBAT 1. Handarwan 1993. Diagnosa Keperawatan : Aplikasi pada praktik klinis. kondisi nyeri ringan sampai nyeri sedang lainnya. (2000). (2001). Doengoes. sakit kepala. Jakarta: Salemba Medika. (2000). Konsep dan Praktik. T. Pengobatan Malaria. Jakarta. Proses dan Dokuentasi Keperawata. Jakarta:EGC Depkes RI. Jakarta: Puspa Suara. Penyebab. Ed 3. Pearce. . marillynn.1998. Pencegahan. Nadesul.

gangguan faal hati Efek samping : diskrasia darah. gangguan gastrointestinal. bakteri gram negative menyebabkan bakterimia. Braxidin Indikasi : pengobatan manifestasi gejala otonom dan somatic yang disebabkan rasa cemas. Pengobatan gejala tukak lambung dan usus 12 jari. riketsia. 125mg/5ml sirop kering. Indikasi : tukak usus 12 jari aktif. Famocid Famotidina 20mg. Esilgam 10. irritable bowel syndrome. paratifus. meningitis. dan adenoma endokrin berganda 3. influenza. diskenesia empedu. 40mg/tablet. Biothicol Tiamfenikol 250mg/kapsul. hati-hati pada penderita gangguan hati 6. salmonella. colitis. iritasi dan spastic kolon. kejang ureter dan diskenesia ureter. Indikasi : tifus. dismenore Kontra Indikasi : glaucoma dan hipertrofi prostate Perhatian : tidak boleh diberikan pada kehamilan trimester pertama. Maltron 9. Primaquin 8. Sy. grey sindrom pada bayi premature dan baru lahir 4. hipersekresi patologis seperti sindroma zollinger Ellison.dan infeksi berat lainnya Kontra indikasi : hipersensitivitas. nervous dyspepsia. Suldox 7. Cefotaxim 11. diare. Amoxan Diposkan oleh kristian Aarisandy di 08:59 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook . klamidia dari golongan psitakosis. H. 5. Curliv Indikasi : mengatasi gangguan yang berhubungan dengan hati serta mmbantu memulihkan dan melindungi kerja hati.mukolitik 2.limfogranuloma. hipersekresi dan hipermotilitas saluran pencernaan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful