P. 1
Duplik Kasus Perdata Mantan Sekda Ksb

Duplik Kasus Perdata Mantan Sekda Ksb

|Views: 859|Likes:

More info:

Categories:Types, Research, Law
Published by: Syahrul Mustofa.S.H.,M.H on Aug 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/20/2013

pdf

text

original

KANTOR ADVOKAT/PENGACARA (LAW OFFICE ) SYAHRUL MUSTOFA,S H.,M.H & ASSOCIATES MUSTOFA,S.H.,M.

H
Alamat Taliwang-KSB Kode Pos Alamat : Jl. Ade Irma Nasution, RT 05/01 Kelurahan Dalam, Kecamatan Taliwang 84355 Email : syahrulmustofa@yahoo.com atau arul_afif@yahoo.co.id Telp (0372) (0372)-81848 Fax : (0372)81848 Telp/HP : 085253830001

Sumbawa Barat, 17 Nopember 2010 7 Kepada Yang Terhormat, Ketua Pengadilan Negeri Sumbawa Besar c.q. Yang Mulia Majelis Hakim Yang Memeriksa Dan Mengadili Perkara No. 30/Pdt. G/2010/PN G/2010/PN-SBB Di – Sumbawa Besar PERIHAL DUPLIK TERGUGAT I, TERGUAT II DAN TERGUGAT III DALAM PERKARA PERDATA NO.30/PDT.G/2010/PN.SBB Dengan segala hormat, Yang bertanda tangan di bawah ini ;

Syahrul Mustofa, S,H.,M.H D.A Malik, S.H Basri Mulyani, SH Lalu Ahyar Supriadi, SH
Kesemuanya adalah Advokat PERADI, berkantor di Kantor Advokat-PERADI, Advokat/Pengacara ( (Law Office) SYAHRUL MUSTOFA, MUSTOFA,.S.H.,M.H & ASSOCIATES, Jl. Ade Irma Nasution, RT 05/01 Kelurahan Dalam, Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat NTB kode pos Barat-NTB 84355 Telefon : (0372)-81848 Fax : (0372)-81848 fon 81848, email: arul_afif@yahoo.co.id. Berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 11 Oktober 2010 dan Surat Kuas Khusus Tanggal 29 Oktober 2010 baik Kuasa sendiri-sendiri maupun bersama sama bertindak untuk dan atas sendiri bersama-sama nama Klien Kami : 1. Drs. Amrullah Ali, S.H, Untuk selanjutnya disebut Tergugat rs. I beralamat di RT 01 RW 08 Kelurahan Telaga Bertong, Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat, NTB. 2. Ir. Muhammad Saleh, M.Si. Untuk selanjut di sebut r. . Tergugat II, beralamat di RT 01 RW 08 Kel.Telaga Bertong, Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat, NT NTB.

Hal

1

3. Emmy A.Z, Untuk selenjutnya disebut Tergugat III, beralamat di RT 03/04 Kelurahan Bugis, Kecamatan TaliwangKab.Sumbawa Barat, NTB Kesemuanya telah memilih tempat kediaman hukum (domicilie) pada Kantor Kuasanya sebagaimana tersebut di atas. Dengan ini, perkenankan kami Majelis Hakim yang terhormat, Para Tergugat untuk mengajukan Duplik atas Replik Penggugat : BAKRAN BIN A.GANI, Pekerjaan Petani, beralamat di RT 04 RW 11 kelurahan Dalam Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat selanjutnya disebut sebagai PENGGUGAT, melalui Kuasa Hukumnya Neiki Hendrata, SH yang disampaikan pada tanggal 10 Nopember 2010. Adapun Duplik Para Tergugat adalah sebagai berikut :

DALAM REPLIK ATAS EKSEPSI Karena Penggugat menginginkan Tanah Objek Sengketa ditetapkan sebagai tanah milik yang diperoleh dari pemberian orang tua dan kakek penggugat. Secara implisit Penggugat menginginkan ditetapkan sebagai “Pemilik Atas Waris atau Hibah” yang sah. Oleh karena itu, maka, kompetensi itu menjadi kompetensi Peradilan Agama : 1. Bahwa dalil gugatan tidak menjelaskan proses kepemilikan atas tanah milik dari warisan atau hibah, namun dalam Petitum gugatan Penggugat meminta kepada Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini untuk menyatakan bahwa “tanah pertanian yang dikuasai oleh Tergugat Satu, Tergugat Dua, Tergugat Tiga diatas (obyek sengketa) adalah milik Penggugat diperoleh melalui proses pemberian orang tua Penggugat dan pada ponit dua Penggugat diperoleh dari warisan keluarga”. Petitum ini secara implisit mengandung makna agar SPPT yang dipegang saat ini : SPPT 52.04.030 006 000-0563 7 atas Nama ABDUL GANI dan SPPT 52.04 030 006 000-0260 7 atas nama CIN BIN BRAHOM untuk ditetapkan sebagai milik Penggugat dengan alasan Penggugat karena diperoleh dari pemberian orang tua dan warisan keluarga. 2. Bahwa Putusan Penetapan apakah tanah objek sengketa tersebut adalah merupakan pemberian orang tua dan atau

Hal

2

warisan keluarga yang berasal dari orang tua dan dari warisan dari kakek adalah merupakan kompetensi Peradilan Agama. Dalil Gugatan itu sendiri tidak jelas atau kabur (obscuur liibell) karena penggugat tidak menjelaskan bagaimana kedudukan, maupun proses pemberian orang tua dan warisan tersebut, sejak kapan dan atas dasar apa penggugat memperoleh hak atas tanah sengketa dari bapak dan kakeknya, bahkan dalam dalil gugatan maupun replik yang disampaikan Penggugat tidak menjelaskan bentuk dari pemberian yang dimaksud, apakah dalam bentuk hibah, warisan atau apa? dan bagaimana hingga pada akhirnya tanah yang diklaim sebagai milik Penggugat, sehingga ada kejelasan dalil gugatan dan memiliki korelasi dengan petitumnya. Gugatan yang tidak menyebutkan dengan jelas berapa dan siapa saja yang berhak atas objek warisan, dikategorikan sebagai gugatan kabur, karena tidak memenuhi dasar (feitlijke grond) gugatan. Tentang hal tersebut, ditegaskan dalam Putusan M.A No.1145 K/Pdt/1984. 3. Bahwa selain tidak memenuhi dasar feilijke grond, gugatan penggugat juga tidak memenuhi dasar hukum (reichtelijke grond) karena dasar hukum yang dijadikan alasan untuk kepemilikan tanah yang dijadikan alas hukum atas tanah objek sengketa berupa SPPT dimana dalam SPPT itu sendiri tercatat bukan atas nama Penggugat (point 2 tanah objek sengketa-CIN BIN BRAHOM), begitupun halnya, alasan bahwa penggugat telah menguasai tanah sejak tahun 1967 dan 1975, alasan tersebut adalah berupa alasan peristiwa feilijke grond1. Secara konseptual, dalam penguasaan tanah terdapat penguasaan tanah secara yuridis dan penguasaan tanah secara fisik. Secara yuridis, tentu bukanlah SPPT sebagai bukti yuridis terkait dengan kepemilikan hak atas tanah, sedangkan klaim penguasaan secara fisik tersebut, ternyata tidak kuasai penggugat sejak tahun 1967, melainkan adalah kakek dan orang tua penggugat. Dan penguasaan fisik, bukanlah dasar
1

Tahun 1967 dan 1975 Kakek Penggugat dan Orang Tua Penggugat masih hidup, bagaimana mungkin Penggugat menguasai tanah (warisan keluarga), sementara tanah tersebut dikuasai oleh Orang Tua dan kakek Penggugat, bagaimana warisan itu terjadi, sementara orang yang mewaris tersebut masih hidup. Artinya, jika Penggugat beralasan bahwa tanah tersebut adalah pemberian dari orang tua dan kakek penggugat sejak tahun 1967 dan 1975, patut untuk diragukan kebenaran meteriil dan alas hak yang dikalim penggugat mengenai hak milik penggugat dalam perakara ini.

Hal

3

untuk menyatakan bahwa penggugat telah menguasai secara yuridis atas objek sengketa. 4. Bahwa jika dihubungankan antara bukti kepemilikan SPPT dengan klaim hak milik yang diperoleh dari warisan sebagaimana gugatan penggugat, maka timbul pertanyaan, apa hubungan antara SPPT yang dipegang oleh Penggugat dengan Hak Atas Tanah Milik? Apakah SPPT dapat dibenarkan untuk dijadikan sebagai bukti hak milik dengan menyatakan diperoleh dari warisan? Sementara, klaim mengenai warisan itu sendiri yang didalilkan penggugat tidak memiliki kejelasan dan dasar hukum yang jelas?. Jika mencermati konstrukti petitum penggugat point C, sebagai berikut; Penggugat memegang SPPT kemudian dari SPPT tersebut dijadikan sebagai bukti kepemilik tanah, dengan alasan, tanah objek sengketa adalah pemberian orang tua dan kakek yang telah dikuasai sejak tahun 1967 dan 1975. Dengan konstruksi petitum demikian, kemudian penggugat mendalilkan bahwa tanah objek sengketa adalah milik Penggugat, dengan justifikasi tanah tersebut diperoleh dari pemberian orang tua dan warisan keluarga dari kakek dan untuk memperoleh kepastian hukum dan dasar hukum hak milik SPPT tersebut kemudian diminta untuk “dilegalkan” kebenarannya agar dalam perkara a quo Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini agar menyatakan hukum bahwa memang benar tanah objek sengketa adalah dari pemberian (warisan) orang tua dan kakek. Sementara dalil gugatan penggugat tidak menjelaskan proses dan dasar hukum mengenai warisan dimaksud. Bahwa lebih jauh bila dicermati gugatan dan petitum tersebut, sesungguhnya kejelasan dan kepastian kedudukan Penggugat sebagai ahli waris atas objek sengketa belum memiliki kejelasan, kepastian dan kebenaran hukum. Untuk itulah Penggugat kemudian menuntut demikian sehinggga status mengenai kedudukan Penggugat sebagai ahli waris atas objek sengketa, dan pemilik atas tanah berasal dari warisan tersebut menjadi beralasan hukum. 5. Bahwa posita maupun Petitum gugatan Penggugat sesungguhnya selain tidak memiliki korelasi telah mengandung kekaburan (obscuur libell) dan setelah mendalami hakekat materi yang terkandung dari petitum point C, secara materiil sebenarnya penggugat meminta adanya penetapan atau

Hal

4

disahkannya tanah objek sengketa sebagai pemberian orang tua dan kakek penggugat (sehingga menjadi sah tanah objek sengketa sebagai tanah hak milik yang diperoleh dari warisan keluarga). 6. Bahwa oleh karena substansi Petitum menyatakan demikian, maka adalah sangat beralasan hukum pula bagi para Tergugat untuk menyarankan kepada Penggugat, sebaiknya sebelum mengajukan perkara ini dan untuk memperoleh kepastian dan ketetapan hukum yang tetap dan jelas, apakah memang tanah objek sengketa dimaksud adalah berasal dari pemberian orang tua (hibah atau waris) dan apakah memang benar Penggugat diwarisi atas tanah objek sengketa dari Orang Tua dan kakek Penggugat, maka Penggugat sebaiknya terlebih dahulu mengajukan perkara ini ke Pengadilan Agama, sehingga gugatan penggugat tidak prematur dan Penggugat memiliki dasar hukum untuk mengklaim tanah objek sengketa dalam perkara ini sebagai miliknya, setalah adanya dasar hukum tersebut (bahwa memang benar Penggugat adalah pemilik tanah berdasarkan dari warisan orang tua)--penggugat mengajukan perkara ini ke PN Sumbawa Besar2. Sehingga antara dalil gugatan dengan petitum memiliki korelasi dan konsistensi. Jangan sampai gugatan berisikan perbuatan melawan hukum namun tuntutan yang diminta adalah berupa penetapan pemberian harta warisan. 7. Bahwa berdasarkan dalil gugatan dan Petitum penggugat maupun replik Penggugat, maka semakin jelas dan terang bahwa ; (a). Sesungguhnya Petitum Point C gugatan penggugat dalam perkara a quo tidaklah berkorelasi dengan Posita, bahkan menjadi terkesan aneh karena dalam dalil gugatannya penggugat tidak menunjukkan dasar hukum dan dasar fakta dalam dalil gugatannya (b). Bahwa sesungguhnya Petitum Point C secara substantif berupa keinginan penggugat untuk menjustifikasi hak milik atas dasar tanah objek sengketa adalah berasal dari pemberian orang tua dan kakek, justifikasi itu sesungguhnya adalah keliru, karena bukan merupakan kompetensi dari Peradilan Umum (PN Sumbawa besar), melainkan adalah Kompetensi Peradilan Agama. (c). Petitum
2 Dalam replik Penggugat tanggal 10 Nopember 2010 pada angka 1 Penggugat beralasan bahwa obyek sengketa yang menjadi gugatan penggugat adalah milik penggugat yang akan dibuktikan dalam proses persidangan pokok perkaran. Alasan ini tidaklah memiliki alasan hukum yang logis, karena setiap gugatan haruslah mengandung dasar hukum dan dasar fakta.

Hal

5

yang tidak jelas dan tegas ini sesungguhnya adalah petitum yang masuk dalam kategori petitum obscurr libell. 8. Bahwa oleh karena itulah, dalam replik (point 1) Penggugat mungkin telah menyadari pula bahwa para tergugat adalah bukanlah para pihak yang masuk dalam struktur ahli waris keluarga penggugat dan tidak ada hubungan hukum waris antara penggugat dan tergugat. Oleh sebab itulah, semestinya pula para Tergugat adalah bukanlah orang yang seyogyanya untuk di gugat dalam Perkara ini, jika memang Penggugat menginginkan adanya penetapan atas objek sengketa adalah sebagai milik penggugat yang berasal dari warisan keluarga, maka seharusnya Penggugat menyelesaikan perkara ini kepada para ahli waris atau keluarganya ; 9. Bahwa berdasarkan alasan-alasan sebagaimana di atas, serta alasan-salan yang Para Tergugat ajukan dalam eksepsi dan jawaban sebelumnya, maka Para Tergugat berpendapat bahwa gugatan penggugat terkait dengan petitum point C adalah keliru dan salah alamat, karena Kompetensi mengenai Petitum dimaksud adalah merupakan Kompetensi Peradilan Agama. Dan atas dasar itu, Para Tergugat memohon kepada Majelis Hakim yang terhormat yang memeriksa, mengadili dan memutus perkara ini untuk menerima Eksepsi, Jawan dan Duplik yang diajukan Para TERGUGAT terkait dengan Kompetensi Peradilan Agama ; menolak gugatan penggugat atau setidak-tidaknya menyatakan gugatan penggugat tidak dapat diterima.

Tidak ada bantahan dari Penggugat mengenai Kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara Yang Berwenang Untuk Memeriksa dan Mengadili Perkara Ini. Dengan demikian, Eksepsi Tergugat mengenai Kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara dapat diakui alasan-alasan dan kebenarannya 1. Bahwa dalam gugatannya penggugat menginginkan agar Majelis Hakim untuk : “Membatalkan Sertifikat atau segala bentuk surat yang berkaitan dengan atas nama para tergugat atas tanah milik penggugat”. Maka sangatlah beralasan hukum, jika Para Tergugat dalam eksepsinya beralasan bahwa

Hal

6

gugatan Penggugat adalah keliru dan salah alamat, jika dalam gugatan penggugat diajukan ke Pengadilan Negeri Sumbawa Besar. Adapun hal ini didasari atas alasan-alasan, bahwa; Pertama, jika Pihak Penggugat memang merasa dirugikan akibat telah dikeluarkannya sertifikat hak milik atas tanah, maka adalah keliru, jika penggugat menggugat para tergugat3, penggugat juga telah keliru untuk mengajukan perkara ini ke Pengadilan negeri Sumbawa Besar. Oleh karena penerbitan sertifikat tersebut dilakukan oleh Pejabat Tata Usaha NegaraBadan Pertanahan Nasional C.q. Kepala Kantor Pertanahan Nasional Sumbawa Barat, maka Penggugat semestinya mengajukan Perkara a quo ke Pengadilan Tata Usaha Negara. Karena Para Tergugat bukanlah Para Pejabat Tata usaha Negara atau Badan Hukum yang diberikan kewenangan (mandat, delegasi maupun atribusi4) untuk mengeluarkan keputusan/ketetapan berupa Penerbitan Sertifikat Hak Milik Tanah. Oleh Karena Para Tergugat Bukanlah Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara, maka Para Tergugat bukanlah orang yang diberikan otoritas oleh peraturan perundangundangan sebagai pihak yang menerbitkan sertifikat. Oleh karena itu, sesuai dengan ketentuan UU. Nomor 14 Tahun 1970 jo. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 1999 jo. UU No.4 Tahun 2004 jo.UU Nomor 51 Tahun 2009 tentang PTUN. Seharusnya gugatan penggugat mengenai pembatalan atas sertifikat hak milik diajukan ke Pengadilan Tata Usaha Negara bukan PN Sumbawa Besar. Kedua; Bahwa Badan Pertanahan Nasional adalah lembaga negara/Badan Hukum yang memiliki wewenang (authority) berdasarkan atas ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dimana setiap kebijakan atau tindakannya bersumber atau bertumpu atas kewenangan yang sah, prinsip Rechtmategheid Van Bestuur (tata pemerintahan yang baik) atau Asas-Asas Umum Pemerintahan Yang Baik, Ruang lingkup keabsahan dan tindakanya didasari atas kewenangan, prosedur dan substansi sesuai dengan peraturan perundang-undangan, memperhatikan aspek prosedur hukum dalam membuat suatu keputusan atau
3 Kekeliruan Penggugat tersebut terkait dengan pemahaman mengenai kedudukan dan kapasitas para Tergugat yang bukan Pejabat Tata Usaha Negera yang mengeluarkan Keputusan Mengenai Sertifikat. Memang benar Tergugat Satu dan Tergugat Dua adalah Para Pejabat, tapi bukan Pejabatan TUN yang diberikan oleh Undang-Undang untuk menjalankan fungsi atau kewenangan penerbitan sertifikat hak milik atas tanah. 4 Mengenai teori kewenangan, Penggugat dapat membacanya pada Teori Kewenangan, pendapat Philipus M.hadjon.

Hal

7

ketetapan yang diterbitkannya. Pembatalan Sertifikat atau produk hukum yang telah dikeluarkannya suatu Keputusan Badan/Pejabat Tata Usaha Negara adalah merupakan kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara, dan pembatalan tersebut baru dapat dilakukan apabila Keputusan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara tersebut memang terbukti bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Seyogyanya, jika Penggugat merasa dirugikan akibat telah dikeluarkannya Keputusan/Ketetapan oleh Badan Hukum atau PejabatanTUN—atas terbitnya Sertifikat Hak Milik Atas Tanah, maka Pihak Penggugat mengajukannya ke PTUN, bukan PN Sumbawa Besar5 . 2. Bahwa Para Tergugat ingin menegaskan kembali Eksepsi dan Jawaban Para Tergugat dalam duplik ini mengenai PETITUM Pengugat mengenai : “Pembatalan Sertifikat atau Segala Bentuk Surat yang berkaitan dengan atas nama Para Tergugat atas tanah milik penggugat6”. Bahwa perumusan Petitum ini sesungguhnya adalah tidak jelas dan kabur. Ketidakjelasan dan kekaburan tersebut, ternyata bukan hanya menyangkut petitum melainkan pula terkait dengan ; Pertama, bahwa dalam dalil gugatan penggugat tidak menjelaskan dasar hukum (Rechtelije grond) maupun dasar fakta (Feitelijke Grond) mengenai perbuatan melawan hukum apasajakah yang dilakukan oleh para tergugat terkait dengan pembuatan suratsurat, penggugat tidak menjelaskan perbuatan hukum apa yang telah dilanggar oleh para tergugat mengenai surat atau keterangan palsu. Surat-surat apa sajakah yang dimaksud telah yang dipalsukan oleh para tergugat? Dan surat manakah yang dipalsukan? Apa dan bagaimana para tergugat memalsukan? Apa hubungannya antara surat dan kepentingan Penggugat? Kapan dan dimana Tergugat memalsukan? Keterangan palsu apa yang diberikan oleh Para Tergugat? siapa yang diberikan keterangan palsu? Kapan dan dan
5 Menurut Stellinga (Utrecht,: 115-116), keputusan pemerintah selalu tidak boleh dianggap batal karena hukum. Lebih lanjut dijelaskan, Suatu keputusan tidak pernah boleh dianggap batal karena hukum, baik dalam hal keputusan itu dapat digugat dimuka hakim administrasi atau banding administrasi, maupun dalam hal kemungkinan untuk menggugat dan untuk memohon banding itu tidak digunakan, demikian juga dalam hal kedua kemungkinan tersebut tidak ada. Dalam vernietigbaar (dapat dibatalkan), perbuatan hukum adalah sah sampai dinyatakan batal. Suatu perbuatan hukum yang dapat dibatalkan adalah suatu perbuatan yang mengandung cacat. Selama pihak yang berkepentingan dengan pembatalan itu tidak pernah menyatakan bahwa karena cacat ini perbuatan itu dipandang sebagai tidak sah “onrechtmatig“, maka tidak bisa dikatakan adanya pembatalan vernietiging. (Prawirohamidjojo, tanpa tahun: 3-5). Dengan kata lain, ketika ada gugatan dan kemudian gugatan telah mempunyai kekuatan hukum tetap terhitung sejak saat keputusan tata usaha negara itu dinyatakan batal (nietig). 6 Kutipan langsung dari PETITUM Penggugat.

Hal

8

seterusnya. Kekaburan petitum ini menunjukkan bahwa memang apa yang didalilkan penggugat dalam gugatannya adalah sebatas pada asumsi-asumsi, tidak berdasarkan atas dasar hukum dan dasar fakta, sehingga dalil gugatan memenuhi syarat sebagai gugatan. Kedua, dalam petitum penggugat tidak menjelaskan sertifikat apakah yang harus dibatalkan? Apakah sertifikat juara kelas, sertifikat diklat? Sertifikat Hak Milik, HGU atau sertifikat apa? Begitupun dengan “Segala Bentuk Surat”, Surat-surat apa yang dimaksud oleh PENGGUGAT, karena setiap hari Tergugat Satu dan Tergugat Dua maupun Tergugat Tiga banyak sekali menerbitkan surat-surat. 3. Bahwa kejelasan terhadap surat maupun sertifikat dimaksud sangat penting untuk ditujukan oleh penggugat dalam dalil gugatannya maupun petitumnya, karena terkait dengan sertifikat maupun surat-surat dimaksud akan sangat berkaitan pula dengan dasar hukum dan otoritas lembaga manakah yang berwenang untuk menerbitkan sutau keputusan/ketetapan. Jika yang dimaksud Penggugat adalah Sertifikat Hak Milik, maka surat-surat apa yang dimaksud telah dipalsukan oleh penggugat? Karena begitu banyak surat-surat yang harus dipenuhi oleh seseorang untuk dapat memperoleh Sertifikat Hak Milik, mulai dari A sampai Z. Begitupun prosedurnya, mulai dari A sampai Z, dimana setiap tahapan prosedur itupula orang/badan hukum yang mengurusi proses/prosedur pendaftaran tanah berbeda, beda. Belum lagi jika dihubungkan dengan ilmu hukum administrasi negara, seperti macammacam bentuk produk hukum dan hierarkhinya, serta macammacam keputusan/ketetapan. Petitum penggugat bila mengacu atau berdasarkan kaidah hukum dalam Yurisprudensi tahun 1970 , Buku No. 4, hal 391-4107. Maka, petitum penggugat adalah obscuur libeel. 4. Bahwa mengacu pula dan berdasarkan yurisprudensi M.A.R.I No.582 K/Sip/1973 tanggal 18 Desember Tahun 1975 dan

7 Dalam yurisprudensi ini menjelaskan bahwa mengenai Tuntutan-tuntutan yang berupa: agar semua putusan Menteri dinyatakan tidak sah tanpa menyebut putusan-putusan yang mana, serta ;agar segala perbuatan tergugat terhadap penggugat harus dinyatakan tidak sah tanpa menyebutkan dengan tegas perbuatan-perbuatan tergugat yang mana yang dituntut itu, dan ;ganti kerugian sejumlah uang tertentu tanpa perincian kerugian-kerugian dalam bentuk apa yang menjadi dasar tuntutan itu, harus dinyatakan tidak dapat diterima karena tuntutan tersebut adalah tidak jelas/tidak sempurna. Adalah Petitum yang obscuur libeell dan tidak sempurna.

Hal

9

Putusan M.A. R.I No.492 K/Sip/1970 tanggal 21 Nopember 1970. Kedua Putusan ini menekankan bahwa suatu petitum haruslah bersifat tegas dan spesifik menyebutkan apa yang diminta sesuai dengan dalil gugatan. Dalam Putusan M.A. R.I No.492 K/Sip/1970 tanggal 21 Nopember 1970, yang menyatakan gugatan tidak sempurna, karena tidak menyebut dengan jelas apa yang dituntut, sebab petitum hanya meminta agar dinyatakan sah semua Putusan Menteri Perhubungan Laut, tetapi tidak disebut putusan yang mana, serta juga meminta agar semua perbuatan tergugat dinyatakan melawan hukum terhadap penggugat tanpa menyebut yang mana yang di maksud. 5. Bahwa dalam gugatan maupun repik yang diajukan oleh Penggugat nampak jelas, bahwa Petitum Point E gugatan Penggugat maupun Repilk yang diajukan Penggugat tidak menjelaskan surat-surat manakah yang menurut Penggugat telah diduga dipalsukan oleh Para Tergugat. Kejelasan mengenai surat-surat terlebih lagi menyangkut dugaan perbuatan melawan hukum sesungguhnya sangatlah erat berhubungan apa dan kualifikasi perbuatan apa yang telah dilakukan, terlebih lagi menyangkut dugaan pemalsuan, maka sudah barang tentu menjadi sangat penting Penggugat dalam gugatan maupun repliknya menjelaskan jenis surat apasajakah yang dipalsukan? Karena pembuatan dan penerbitan surat terkait pula dengan siapa dan otoritas apa sehingga Tergugat diduga telah melakukan perbuatan melawan hukum?. Bahwa berdasarkan Replik Penggugat justeru terlihat bahwa gugatan yang diajukan semakin memperkokoh bahwa sesunggunya gugatan Penggugat tidak jelas dan kabur, bahkan semakin membingungkan konteks dan relasi hukum perkara ini. 6. Bahwa oleh karena Petitum Penggugat mengiginkan adanya pembatalan sertifikat dan segala bentuk surat sebagaimana tertuang dalam petitum point E, maka adalah beralasan hukum bagi para tergugat untuk memohon kepada majelis hakim yang terhormat, yang memeriksa dan mengadili perkara ini untuk menolak atau setidak-tidaknya menyatakan hukum gugatan penggugat tidak dapat diterima karena dalam petitum point E gugatan penggugat telah salah alamat dan keliru untuk mengajukan perkara ini ke Pengadilan Negeri Sumbawa Besar karena; Pertama, kompetensi untuk memutuskan perkara ini

Hal 10

adalah merupakan kompetensi dari Peradilan Tata Usaha Negara. Kedua, karena gugatan penggugat telah mengandung cacat formil (obscuur libeel) dan tidak sempurna. Ketiga, dalam repliknya penggugat tidak melakukan bantahan atas eksepsi yang diajukan para tergugat mengenai perakara a quo adalah merupakan kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara. Maka Para Tergugat memohon kepada Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini untuk mengabulkan eksepsi Para Tergugat.

Berdasarkan Petitum Point C dan Petitum Point E, maka Petitum Penggugat tidak sejalan dengan dalil gugatan (posita), sehingga gugatan mengandung cacat formil dan kabur (obscuur libel) 1. Bahwa berdasarkan Putusan M.A. R.I. Nomor 67 K/Sip/1975, tanggal 15 Mei 1975, yg intinya suatu gugatan haruslah sejalan dengan dalil gugatan, dengan demikian, petitum mesti bersesuaian atau konsisten dengan dasar hukum dan faktafakta yang dikemukan dalam posita. Tidak boleh terjadi saling bertentangan atau kontroversi diantaranya, apabila terjadi saling bertentangan, mengakibatkan gugatan mengandung cacat formil, sehingga gugatan dianggap kabur (obscuur libel). 2. Bahwa sesungguhnya bila dicermati dalil gugatan dengan petitum gugatan penggugat tidaklah memiliki kesesuaian atau konsisten dengan dasar hukum dan fakta-fakta yang dikemukakan dalam posita. Bahkan dalil gugatan penggugat sesungguhnya sangatlah kabur, dan jika dihubungkan antara dalil gugatan dengan petitum gugatan tidaklah berkesesuan, dalam dalil gugatan penggugat berusaha untuk menjelaskan mengenai perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh para tergugat, namun dalam petitumnya penggugat meminta ditetapkannya sebagai pemilik tanah berdasarkan pemberian dari orang tua dan kakek, dibatalkannya sertifikat, sita jaminan dan sebagainya. Dalil gugatan dan petitum tersebut sesungguhnya mengandung cacat obscuur libell.

Perbuatan Para Tergugat menurut Penggugat merupakan Kompetensi Pengadilan Negeri mengenai Perbuatan Pidana

Hal 11

(Replik Penggugat point 2). Berarti gugatan telah keliru, salah alamat dan tidak konsisten : 1. Bahwa sejak awal gugatan penggugat atas perkara ini sesungguhnya tidak jelas, apakah gugatan penggugat adalah mengenai perbuatan melawan hukum, wanprestasi, waris, atau mengenai pembatalan sertifikat hak milik atas tanah. Konstruksi gugatan (posita dan petitum) terlihat tidak konsisten bahkan tidak memiliki korelasi yang jelas dan tepat. Secara umum, dengan melihat konstruksi gugatan penggugat yang demikian, para tergugat menilai bahwa gugatan penggugat telah memenuhi unsur obscur libell 2. Bahwa hal itu tersirat pula dalam replik penggugat (point 3). Penggugat telah mengakui dan menyadari bahwa gugatan penggugat mengenai dugaan perbuatan melawan hukum para tergugat dengan cara membuat surat dan keterangan yang diduga palsu tersebut, adalah merupakan perbuatan pidana, dan kompetensi Pengadilan Negeri mengenai perbuatan pidana. Bahwa oleh karena replik demikian ; maka sesungguhnya konstruksi gugatan, posita maupun petitum perkara a quo adalah merupakan lingkup atau merupakan ranah Hukum Pidana, bukan Perdata. Sehingga, materi dan proses perkara ini seharusnya adalah berjalan pada rel hukum pidana dengan kerangka acuan proses mengacu pada Kitab Hukum Acara Pidana. Dengan demikian, Penggugat telah keliru dalam mengkonstruksikan gugatannya (Perdata) dan mengajukan pekara ini ke Pengadilan Negeri Sumbawa. 3. Bahwa oleh karena Penggugat telah keliru dan salah alamat untuk mengajukan perkara ini ke PN Sumbawa Besar, maka dalam konteks kompetensi mengenai kewenangan mengadili berarti pula kewenangan megadili perkara ini, bukanlah Kewenangan Pengadilan Negeri dan Dasar Hukum yang digunakan untuk proses beracara pada perkara ini bukan KUHPerdata melainkan KUHPidana ; 4. Bahwa berdasarkan itulah, maka para Tergugat memohon kepada Mejelis Hakim yang Memeriksa dan mengadili Perkara ini untuk menolak atau menyatakan gugatan penggugat tidak dapat diterima. Dalil gugatan penggugat mengenai perbuatan melawan hukum adalah dalil gugatan yang tidak memiliki atau

Hal 12

memenuhi landasan atau dasar hukum (Rechtelije Grond) dan Penggugat telah keliru jika proses pelaporan kepada kepolisian dijadikan sebagai bukti pihak tergugat satu telah melakukan pelanggaran hak orang lain (penggugat) secara melawan hukum : 7. Bahwa memang benar Penggugat telah melaporkan Tergugat Satu ke Kepolisian (Polrest Sumbawa Barat) pada tanggal 28 Nopember 2009 dan pada tanggal 3 Mei 2010 terkait dengan dugaan tindak Pidana Perampasan Hak atas tanah dan berdasarkan laporan itu tergugat telah diperiksa oleh Penyidik. Maka, apabila dasar laporan itu kemudian dijadikan sebagai dasar hukum dan alasan gugatan bahwa Tergugat Satu Melakukan Perbuatan Melawan Hukum sebagai dasar hukum gugatan penggugat adalah suatu kekeliruan besar karena dalil gugatan yang demikian adalah gugatan yang tidak mempunyai dasar hukum. Mengapa demikian? pertama; adanya pelaporan dari pelapor (Penggugat) bukan berarti bahwa setiap orang yang terlapor telah dinyatakan bersalah secara hukum8. Karena belum tentu laporan dari si Pelapor itu (Penggugat) adalah benar. Oleh sebab itu, maka setiap laporan yang diberikan oleh pelapor (Penggugat) kepada kepolisian sesuai dengan KUHPidana dilakukan proses penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan seterusnya, hingga berujung pada adanya putusan pengadilan yang bersifat inkracht. Setelah itu, baru seseorang dapat dinyatakan bersalah atau tidak bersalah (setelah adanya putusan pengadilan yang bersifat in-kracht). Kedua, adalah sangat-sangat keliru jika konstruksi berpikir hukum Penggugat telah memvonis terlebih dahulu9 bahwa setiap orang Terlapor adalah dinyatakan bersalah atau melakukan pelanggaran hak orang lain secara melawan hukum. Cara berpikir dan landasan yuridis seperti ini adalah akan sangat berbahaya bagi kelangsungan tertib hukum dan penegakkan hukum di Indonesia, karena jika setiap orang sebagai terlapor dinyatakan bersalah, maka setiap orang kemudian akan berpotensi besar untuk mengajukan atau
Salah satu asas hukum bahwa seseorang belum dinyatakan bersalah (melanggar) apabila belum ada Putusan tetap yang bersifat in-krahct dari Pengadilan yang berwenang untuk itu. 9 Penggugat ternyata mendahului vonis hakim atas perkara—laporan dugaan perampasan hak yang dilaporkan kepada Kepolisian, padahal laporan tersebut hingga sekarang masih pada tahap penyelidikan, bahkan dari pemeriksaan awal para saksi dan bukti-bukti awal yang ada, Tergugat Satu tidak cukup bukti untuk dijadikan sebagai tersangka, jikalaupun menjadi tersangka bahkan terdakwa bukan berarti bahwa Tergugat Satu telah melakukan perbuatan melawann hukum, karena harus menunggu hingga adanya putusan tetap dari pengadilan.
8

Hal 13

membuat laporan kepada kepolisian atas dugaan tindak pidana apapun untuk kemudian atas laporan tersebut—si pelpaor mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum perdata (meminta gantu rugi) karena si Terlapor telah bersalah dan melakukan perbuatan melawan hukum sesuai dengan laporan Pelapor (Penggugat) ke polisian. Sungguh Penggugat dalam konteks ini sebenarnya telah keliru dalam memahami arti dan makna perbuatan melawan hukum perdata serta melangkahi asas “presumption of innocence”. Bahkan, apa yang dijadikan dasar hukum tentang adanya perbuatan melawan hukum tergugat Satu telah mendahului putusan pengadilan. 8. Bahwa dengan asumsi dan kontsruksi dalil gugatan dan replik yang diajukan Penggugat tersebut sesungguhnya gugatan Penggugat tidak memenuhi atau tidak memiliki landasan hukum karena apa yang dijadikan sebagai dasar gugatan oleh Tergugat mengenai adanya perbuatan melawan hukum dengan alasan karena Penggugat telah melaporkan dugaan tindak pidana, sementara laporan tersebut sendiri hingga sekarang masih dalam proses penyelidikan dan belum ada ketetapan putusan atau vonis dari Pengadilan Negeri yang menangani dugaan tindak pidana sebagaimana yang dilaporkan oleh Penggugat. Sejauh ini pihak aparat kepolisian berdasarkan saksi dan bukti-bukti awal ternyata laporan Penggugat tidak beralasan hukum untuk menjadikan Tergugat Satu sebagai tersangka. 9. Bahwa dengan mengacu pada ; Pertama, Yurisprudensi M.A. R.I. Nomor 3133 K/Pdt/1983, 29-1-1985, jo. PT Medan No.310/1982 tanggal 16 Maret 1983, PT Tanjung Balai No.2/1980 tanggal 27 Agustus 1980. Kedua, Yurisprudensi M.A. R.I. Nomor 1085 K/Pdt/1984 tanggal 17 Oktober 1985, jo.PT Padang No.175/1983 tanggal 4 Oktober 1983 dan PN Padang No.68/1982 Tanggal 17 Januari 1983. Ketiga, Yurisprudensi M.A. R.I. No.2329 K/Pdt/1985, tanggal 18 Desember 198610. Maka cukuplah beralasan bagi para Tergugat untuk mengajukan ekspsi yang menyatakan bahwa dalil gugatan penggugat mengenai perbuatan melawan hukum adalah dalil gugatan yang tidak memiliki atau memenuhi landasan atau
10 Mengenai Dalil Gugat yang dianggap tidak mempunyai Dasar Hukum dapat dilihat oleh Penggugat pada buku karangan M.Yahya Harapap, SH, “Hukum Acara Perdata tentang Gugatan, Persidangan, Penyitaan, Pembuktian, dan Putusan Pengadilan”, yang diterbikan oleh Penerbit Sinar Grafika Jakarta, Cetakan Kesembilan-Nopember 2009, halaman 58-59.

Hal 14

dasar hukum (Rechtelije Grond). Dan mengacu pada Yurisprudensi Pertama di atas, maka landasan atau dasar hukum penggugat tidak ada, jikalaupun penggugat beralasan bahwa tanah itu dikuasai sejak 1967 dan 1975—alasan tersebut bukanlah merupakan alasan atau dasar hukum untuk terpenuhi gugatan berdasarkan hukum11, melainkan alasan penggugat tersebut termasuk dalam kategori Feiteljke Grond12 maka dalam yurisprudensi MA tersebut, gugatan dianggap cacat formil, dan dinyatakan tidak dapat diterima. Begitupun halnya jika gugatan ini adalah merupakan gugatan wanprestasi, dengan alasan Penggugat telah melaporkan Para Tergugat kepada polisi, maka tidaklah cukup menjadi dalil gugatan menuntut ganti rugi Penggugat kepada Tergugat. Bahwa adalah tidak mungkin pula aparat kepolisian akan berdiam diri atas laporan Penggugat tentang dugaan perampasan hak yang dilakukan oleh Tergugat Satu jika memang dari bukti permulaan awal yang cukup, Tergugat Satu adalah memang benar telah melakukan perbuatan pidana (perampasan hak)—bukan karena jabatan Tergugat Satu aparat kepolisian tidak menindaklanjuti laporan Penggugat (Pelapor) melainkan tentu adalah semata-mata atas alasan hukum kepolisian karena memang dalam pemeriksaan awal laporan Pengugat tidak cukup bukti dan alasan hukum yang sah dan benar bahwa Tergugat Satu telah melakukan perbuatan melawan hukum13. 10. Bahwa sesungguhnya apa yang dilakukan oleh Penggugat dengan melakukan upaya untuk melaporkan Tergugat Satu ke polisi adalah hanyalah sebuah strategy semata untuk membangun opini hukum dalam perkara ini kedalam mainstream logika hukum bahwa seakan-akan Penggugat
11 Bahwa klaim atas tanah objek sengketa yang dikalim Penggugat adalah klaim penguasaan tanah secara fisik. Padahal klaim atas penguasaan tanah secara fisik tersebut belum dilandasi dengan Penguasaan yuridis. Sementara Para Tergugat selain penguasaan tanah secara yuridis yang dilandasi hak yang dilindungi oleh hukum sebagai pemegang hak juga menguasai secara fisik tanah yang dimilikinya sampai sekarang. Oleh karena klaim kepemilikan tanah dalam gugatan penggugat tidak dilandasai dengan landasan yuridisnya, atau berdasarkan hak yuridisnya atas tanah objek sengketa, maka Penggugat tidak berhak untuk menuntut diserahkannyai tanah yang dikuasai oleh para tergugat. 12 Yang dimaksud dengan Feiteljke Grond adalah dasar fakta atau peristiwa—dalam konteks perkara ini, peristiwa sebagaimana yang didalilkan oleh Penggugat masih patut untuk diuji kebenarannya. Dasar gugat atau dasar tuntutan (dalil gugatan)/fundamentum petendi haruslah memenuhi syarat, memuat dua unsur, yakni Dasar Hukum (Rechtlejke Grond) dan Dasar fakta (Fetelijke Grond). Jika tidak terpenuhi maka gugatan kabur (obscuur libel). 13 Dalam gugatan penggugat pada angka 6, Penggugat telah melaporkan kepada polisi dua kali, pertama tanggal 28 Nopember 2009 dan kedua tanggal 3 Mei 2010. Jika dilihat dari rentang waktu laporan ini sudah cukup waktu bagi aparat kepolisian jika memang laporan penggugat (pelapor) memang cukup bukti untuk ditindaklanjuti ke proses penyidikan/penuntutan dan seterusnya. Seharusnya pihak Penggugat dapat mempelajari dari proses ini.

Hal 15

adalah selaku pemilik tanah yang sah dan telah dirugikan kepentingannya akibat adanya perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh para Tergugat dengan merampas hak orang lain14. Sehingga seakan-akan pula ada landasan hukum bagi Penggugat untuk mengajukan perkara ini ke PN Sumbawa Besar mengenai Perbuatan Melawan Hukum para tergugat atas objek sengketa.

Disamping Dasar Hukum Gugatan Tidak Jelas, Gugatan tentang Perbuatan melawan hukum yang diajukan penggugat dalam gugatannya telah mengandung Obscuur Libell 11. Bahwa dalam Repliknya point 4 : Penggugat beralasan bahwa gugatannya adalah berdasarkan hukum dengan alasan karena obyek sengketa sudah dikuasai sejak 1967 dan 1975. Secara teoritis, ini adalah bukan yang dimaksud sebagai dasar hukum (Rechtelije Grond) dalam fundamentum Petendi suatu gugatan melainkan masuk kedalam unsur dasar fakta (feitelijke grond), dan dalam konteks perkara ini, Penggugat berusaha untuk menjadikannya sebagai dasar hukum. Suatu gugatan (fundamentum petendi) haruslah memenuhi kedua unsur dasar hukum dan dasar fakta. Dan jika tidak maka dalill gugatan adalah kabur (obscuur libell). Gugatan penggugat sesungguhnya adalah telah mengandung cacat formil karena dalil gugatan kabur. 12. Bahwa menanggapi Replik PENGGUGAT pada point 4, gugatan PENGGUGAT semakin menunjukkan bahwa gugatan tidak berdasarkan landasan hukum. Disamping, itu dari replik point 4 menunjukkan bahwa materi gugatan yang diajukan penggugat adalah semakin tidak jelas dan kabur, sesungguhnya apakah yang didalilkan oleh PENGGUGAT dalam perkara a quo adalah gugatan mengenai perbuatan melawan hukum ataukah wanprestasi ataukah waris ataukah mengenai pembatalan sertifikat?. Replik PENGGUGAT point 4 menunjukkan semakin jelas dan terang bahwa konstruksi gugatan dan pemahaman PENGGUGAT terhadap pemaknaan Perbuatan Melawan Hukum dan Wanprestasi. Hal ini dapat
Upaya ini (penggugat) sepertinya hanya sebagai usaha untuk memenuhi unsur-unsur gugatan perbuatan melawan hukum .
14

Hal 16

dilihat pada kutipan langsung replik dari Penggugat yang mengatakan bahwa “Bagaimana mungkin Penggugat tidak mempunyai hak sebagai penggugat dalam perkara ini, padahal tergugat satu telah melakukan perbuatan melawan hukum dengan cara memberi janji dan sesuatu barang kepada penggugat tanpa adanya proses lebih lanjut untuk memenuhi janjinya.......dst”. dari Replik pernyataan replik PENGGUGAT sebagaimana di atas, maka menjadi pertanyaan penting apakah yang dimaksud dengan perbuatan melawan hukum adalah karena seseorang berjanji atau dengan modus berjanji kemudian jika janji tersebut tidak dipenuhi adalah merupakan bentuk dari perbuatan melawan hukum?. Lalu apa sesungguhnya yang dimaksud Penggugat dengan perbuatan melawan hukum? Apa yang dipahami pula oleh PENGGUGAT mengenai wanprestasi?. Konstruksi gugatan menjadi tidak jelas dan kabur karena PENGGUGAT tidak memilia secara jelas dan tegas apakah gugatan yang diajukan PENGGUGAT adalah mengenai Perbuatan Melawan Hukum ataukah Wanprestasi?. 13. Bahwa gugatan PENGGUGAT dan replik yang telah disampaikannya memperlihatkan bahwa materi gugatan PENGGUGAT telah mencampuradukan dan menggabungkan gugatan Perbuatan Melawan Hukum dan Perbuatan Ingkar Janji yang tidak berkorelasi baik antara posita dengan petitum maupun dari dasar fakta dan dasar hukumnya. Padahal, dalam Putusan M.A. R.I No.1875/Pdt/1984, tanggal 24 April 1986 tentang Penggabungan Gugatan Perbuatan Melawan Hukum berdasarkan Pasal 1243 KUHPerdata tidak dibenarkan digabungkan dengan Perbuatan Ingkar Janji (wanprestasi) berdasarkan 1365 KUHPerdata dalam satu gugatan menurut tertib beracara perdata, keduanya harus diselesaikan secara tersendiri. Sementara, jika melihat posita dan petitum gugatan penggugat, bukan hanya tidak berkorelasi dan mencampuradukkan, melainkan pula dalam posita dengan petitum yang sangat tidak berkolerasi, seperti pembatalan mengenai sertifikat. 14. Bahwa Bagaimana mungkin TERGUGAT melakukan perjanjian jual beli dengan PENGGUGAT (Bakran), karena PENGGUGAT bukanlah pemilik lahan pertanian (Objek sengketa), karena itu sesuai dengan Putusan M.A. R.I Nomor

Hal 17

1230 K/SIP/1980 : pembeli yang beritikad baik harus mendapat perlindungan hukum.

Gugatan tidak berdasarkan hukum, pengugat tidak memiliki dasar hukum untuk mengajukan gugatan karena Hak Pengugat Atas Objek Gugatan Tidak jelas 1. Bahwa berdasarkan Yurisprudensi M.A. R.I No.566 K/Sip/1973 tanggal 21 Agustus 1974 mengatakan bahwa Dalil Gugatan yang tidak menegaskan secara jelas dan pasti hak penggugat atas objek yang disengketakan, dianggap tidak memenuhi syarat, dan dinyatakan tidak sempurna. Dalam Putusan MA dimaksud tersebut, dinyatakan antara lain, suatu gugatan dianggap tidak memenuhi syarat dan tidak sempurna, apabila hak penggugat atas tanah terperkara tidak jelas15. 2. Bahwa dalam perkara ini kedudukan penggugat atas obyek dalam perkara a quo adalah tidak jelas. Penggugat mengkalim dirinya telah menguasai tanah objek sengketa sejak tahun 1967 dan 1975 dan mengklaim tanah tersebut adalah tanah miliknya berdasarkan SPPT Nomor 52.04 030 006 000-0563 7 dan SPPT 52.04 030 006 000-0260 7. Apabila SPPT ini dijadikan sebagai kepemilikan atas tanah PENGGUGAT, maka berarti Pertama; PENGGUGAT bukanlah pemilik atas tanah tersebut (Objek Tanah Perkara 2) karena dalam SPPT tersebut, tercantum atas nama CIN BIN BRAHOM. Seyogyanya, jika memang PENGGUGAT adalah orang yang telah menguasai tanah sejak tahun 1967 (objek tanah 2) hingga sekarang, maka tentu dalam SPPT tersebut adalah atas nama PENGGUGAT, karena penguasaan atas tanah pada objek sengketa (point 2 gugatan penggugat) telah dikalim dikuasai PENGGUGAT lebih lama dibandingkan dengan objek sengketa tanah point 1. Sehingga dengan demikian, cukuplah beralasan jika PENGGUGAT mempertanyakan kedudukan Penggugat atas objek sengketa. Sekligus mempertayakan apa yang menjadi alas hukum atau dasar hukum PENGGUGAT sehingga PENGGUGAT memilki standing in judicio atau kualifikasi sebagai PENGGUGAT.? Layakkah seorang PENGGUGAT yang hanya mengkalim dirinya adalah sebagai pemilik tanah tanpa landasan hak hukum yang jelas atas objek sengketa kemudian bertindak
Rangkupan Yurisprudensi MA, II, Hukum Perdata dan Acara Perdata, MA RI, halaman 195, dalam buku M.Yaya harapap Tentang Hukum Acara Perdata, hal 62-63.
15

Hal 18

sebagai Penggugat?, Disisilain, sementara kualifikasi dirinya sebagai PENGGUGAT sama sekali belum terpenuhi?. Bagaimana mungkin seorang PENGGUGAT yang tidak memiliki alas hukum untuk bertindak bisa merasa kepentingannya dirugikan? Atas dasar apa dan kerugian apa? Kedua, apakah secara hukum SPPT adalah landasan hukum atas hak milik tanah sekaligus dapat menjadi legal standing penggugat oleh setiap orang untuk mengajukan gugatan?, dan pada akhirnya, gugatan menjadi berdasarkan hukum dan mendudukukan PENGGUGAT sebagai pihak yang memiliki kualifikasi untuk bertindak sebagai PENGGUGAT kendati dasar hukum hak milik (SPPT) tersebut bukan atas nama PENGGUGAT? Ketiga, jika dengan landasan SPPT pihak PENGGUGAT adalah sebagai pemilik tanah (obyek sengketa) dan memiliki alas hukum—sebagai pemilik tanah yang sah, maka bukankah sebaiknya PENGGUGAT terlebih dahulu melakukan upaya hukum judicial review terlebih dahulu ke Mahkamah Konstitusi terhadap berbagai peraturan yang ada saat ini— agar Undang-Undang berubah dan akhirnya, menyatakan bahwa SPPT adalah sebagai bukti atas kepemilikan tanah yang sah (Hak Milik). Penggugat seyogyanya menyadari bahwa jika klaim yang dilakukannya akan membawa dampak hukum bahwa setiap orang yang memiliki SPPT kemudian dapat dibenarkan sebagai pemilik tanah yang sah (Hak Milik), maka dengan demikian, bisa saja si A, si B, si C dan seterusnya dengan hanya memiliki SPPT dapat mengklaim dirinya adalah sebagai pemilik tanah (hak milik). Kondisi ini tentu akan “merusak tertib” berupa kepastian, kedilan dan ketertibah hukum pertanahan. Keempat, bahwa katakanlah misalnya, SPPT adalah benar secara hukum sebagai bukti atas kepemilikan hak milik tanah (objek sengketa), dengan menyatakan bahwa pihak yang namanya tercantum dalam SPPT tersebut adalah pemilik tanah, maka, pertanyaannya adalah atas dasar dan hukum apakah Penggugat mengajukan perkara ini? Karena dalam SPPT tersebut tercatat bukan atas nama PENGGUGAT, melainkan atas nama CIN BIN BRAHOM. (“Kok bisa Penguggat menggugat para tergugat)”? Apa kapasitas dan kualifikasi penggugat sehingga penggugat dibenarkan secara

Hal 19

hukum sebagai pihak penggugat? Bahwa apa yang menjadi alasan hukum Penggugat dalam gugatannya bukanlah alasan yuridis yang dapat dijadikan sebagai dasar hukum, karena alasan tersebut hanyalah berupa gambaran peristiwa (1967 dan 1975). 3. Bahwa oleh karenanya sangat beralasan hukum, Para Tergugat untuk membantah alasan gugatan penggugat menyatakan bahwa gugatan tidak berdasarkan hukum, disamping alasan mengenai kedudukan dan hak PENGGUGAT yang tidak jelas dan pasti atas objek yang disengketakan sebagaimana di atas. Alasan lainnya adalah oleh karena bahwa ; Pertama, secara yuridis, SPPT bukan sebagai dasar bukti kepemilikan atas hak milik tanah (objek sengketa). Alasan ini mengacu pada Pengertian SPPT berdasarkan UU Nomor 12 Tahun 1985 Tentang Pajak Bumi dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985, Nomor 68. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3312) jo. UU Nomor 12 Tahun 1999, tentang Perubahan Atas UU Nomor 12 Tahun 1985 Tentang Pajak Bumi dan Bangunan. Dalam Ketentuan Pasal I ayat 5 UU No.12 Tahun 1985 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang adalah surat yang digunakan oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk memberitahukan besarnya pajak terhutang kepada Wajib Pajak. Kemudian dalam pasal 12 ditegaskan bahwa Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang, Surat Ketetapan Pajak, dan Surat Tagihan Pajak merupakan dasar penagihan pajak. Jadi, jelas bahwa SPPT bukanlah dasar kepemilikan hak atas tanah (Hak Milik) melainkan adalah dasar penagihan Pajak16. Dalam praktek SPPT hanyalah sebatas sarana atau media untuk memberitahukan besarnya pajak yang terutang terhadap suatu objek pajak dimana Pemerintah yang membidangi urusan tersebut menerbitkan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) yang diterbitkan setiap satu tahun sekali. Kedua, Bahwa secara yuridis pula, penegasan mengenai SPPT bukan merupakan bukti hak milik telah dijelaskan dan ditegaskan oleh Mahkamah Agung jauh sebelumnya. Melalui Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia tgl 03-02-1960 No. 34 K/Sip/1960, sebagai berikut bahwa : “ Surat ketetapan pajak tanah. Surat "petuk" pajak bumi ( sekarang PBB?) bukan merupakan suatu bukti mutlak bahwa tanah sengketa adalah milik orang yang namanya
16 Mengenai Hak Milik dan Hak-hak kepemilikan mengenai tanah Penggugat dapat lihat pada UU No.5 tahun 1960 Tentang UUPA. Sedangkan mengenai Sertifikat Hak Milik Atas Tanah termasuk Pendaftaran Tanah dapat dilihat pada PP No.24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah menggantikan PP Nomor 10 Tahun 1960.

Hal 20

tercantum dalam surat pajakbumi bangunan tersebut”17. Bahwa oleh karena SPPT Bukan Bukti Kepemilikan Atas Tanah maka PENGGUGAT berartipula gugatan tidak memiliki dasar hukum dan PENGGUGAT juga tidak memiliki landasan hukum untuk dapat mengajukan gugatan ini ke pengadilan negeri sumbawa besar. Ketiga, bahwa oleh karena dalam SPPT tersebut (objek sengketa point 2) masih atas nama CIN BIN BRAHOM maka berarti pula kedudukan PENGGUGAT sebagai penerima tanah atas objek sengketa (point 2 gugatan) patut untuk diragukan dan belumlah jelas dan pasti karena salah satu persyaratan pengajuan SPPT (berpindah kepada ahli waris) harus dibuktikan pula dengan adanya Akta Pembagian Hak Bersama (APHB)— yang menjelaskan pembagian tanah tersebut (PENGGUGAT sebagai penerima tanah pertanian atau ahli waris). 4. Berdasarkan alasan-asalan tergugat diatas, serta alasan-alasan yang telah disampaikan dalam eksepsi dan jawaban para tergugat, Maka dalam duplik ini Para Tergugat beranggapan bahwa sesungguhnya kedudukan penggugat atas objek sengketa tidak jelas dan denggan demikian pula gugatan penggugat sesungguhnya tidak berdasarkan hukum. Bahwa oleh karena gugatan Penggugat tersebut tidak berdasarkan hukum maka, mengacu pada Putusan Mahkamah Agung No.239 K/Sip/1968 gugatan harus dinyatakan tidak dapat diterima. (Sumber: Rangkuman Yurisprudensi Mahkamah Agung RI, Cetakan kedua, Mahkamah Agung RI, 1993, hlm. 330). Disamping Kedudukan Penggugat Tidak Jelas Atas Obyek Sengketa, Objek yang disengketakan oleh Penggugatpun tidak jelas, termasuk mengenai perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh Para Tergugat 1. Bahwa dalam ekspsi dan jawaban para tergugat (point 5 tergugat 1) dan point 2.3., yang disampaikan oleh Para Tergugat adalah berkaitan dengan objek sengketa, gugatan maupun replik yang disampaikan penggugat, alasan dan bantahan Penggugat ternyata tidak sejalan dengan makna yang terkandung dalam eksepsi dan jawaban yang diajukan oleh para tergugat ;

17 "surat petuk pajak bumi bukan merupakan suatu bukti mutlak, bahwa sawah sengketa adalah milik orang yang namanya tercantum dalam petuk pajak bumi tersebut, akan tetapi petuk itu hanya merupakan suatu tanda siapakah yang harus membayar pajak dari sawah yang bersangkutan."

Hal 21

2. Bahwa penggugat telah mendalilkan dalam gugatannya mengenai perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh para tergugat, dengan cara menguasai tanah penggugat, dalam dalil gugatan penggugat juga mengatakan bahwa Tergugat I, Tergugat II dan Tergugat III melakukannya secara paksa, sepihak dan melawan hukum. 3. Bahwa terkait dengan itu, seyogyanya gugatan penggugat maupun replik penggugat haruslah jelas dan terang (tidak kabur) mengenai tanah objek sengketa yang menjadi perkara ini, tanah-tanah manasajakah dan berapa luasnyanya, dan perbuatan melawan hukum yang mana yang dilakukan oleh para tergugat secara paksa dan sepihak tersebut? Tanah yang mana yang dirampas oleh Tergugat I, Tergugat II dan Tergugat III dan berapa luasnya? Sebab, dalam gugatan penggugat mendalilkan ada dua objek tanah sengketa berdasarkan SPPT yang dipegang Penggugat, Objek I seluas 9000 M2 atas nama Bakran Bin A Gani dan Objek Sengketa 2, seluas 5000 M2 atas nama Cin Bin Brahom. Jika dihubungkan dengan dalil gugatan perbuatan melawan hukum, kemudian adalah tanah manakah yang sesungguhnya para tergugat melakukan pemaksanaan, sepihak dan melawan hukum sebagaimana dimaksud dalam gugatan penggugat? 4. Bahwa kekaburan dan ketidakjelasan gugatan penggugat mengenai letak objek sengketa ini cukuplah beralasan karena apa yang dikuasai oleh para tergugat mengenai objek sengketa tanah dan lokasi, maupun batas-batas yang didalikan penggugat sangat berbeda dengan keadaannya, misalnya Tanah Tergugat I : Sebelah Barat : H.Iya/Rogaiyah dan Hajjah Esa Sebelah Timur : Mulyadi dan H.Yusuf (dan Ir. M.Saleh) Sebelah Selatan : Kali (Said Bappadal) Sebelah Utara : Jl. Raya Balat/H.Usin Kadir 5. Bahwa oleh karena objek sengketa yang diajukan penggugat tidak jelas mengenai keberadaan tanah dimaksud, dan antara batas-batas tanah yang diajukan penggugat dengan yang dikuasai penggugat berbeda bahkan sangat kabur. Maka, mengacu pada ; Pertama, Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor: 1149/K/SIP/1975 tanggal 17 April 1979 yang berbunyi "Karena surat gugatan tidak disebutkan dengan jelas letak / batas-batas tanah sengketa. Gugatan tidak

Hal 22

dapat diterima". Kedua, Yurisprudensi Mahkamah Agung RI dalam putusannya tertanggal 17-4-1979 No. 1149 K/1975 (vide Putusan Mahkamah Agung RI No. 81 K/Sip/1971 tanggal 9 Juli 1973) dan dalam putusannya tertanggal 29-4-1979 No. 3138 K/Pdt/1994 di mana disebutkan karena dalam surat gugatan tidak dijelaskan dengan jelas letak batas-batas tanah sengketa maka gugatan tidak dapat diterima. Bahwa berdasarkan alasan-alasan diatas itulah para tergugat menyatakan bahwa gugatan penggugat kabur, dan gugatan semakin kabur terkait dengan objek sengketa dan perbuatan melawan hukum yang di lakukan tergugat II dan Tergugat III.

Gugatan Penggugat juga Mengandung Error In Persona ; Pengugat Diskualifikasi In Persons (Tidak Mempunyai Hak untuk Menggugat Perkara yang disengketakan), gugatan juga kurang pihak (Plurium litis consortium), dan Penggugat telah Keliru Menarik Para Pihak dalam perkara ini : 1. Bahwa gugatan penggugat mengandung cacat formil error in persona dalam bentuk diskualifikasi in persona karena penggugat bukanlah pemilik atas objek sengketa, kedudukan penggugat yang bukan pemilik atas objek sengketa tersebut dibuktikan dengan dasar kepemilikan atas tanah yang dalam dalil gugatan Penggugat dalam bukti formil yang diajukan/didalilkan adalah berupa SPPT, sementara SPPT selain bukan sebagai bukti formil hak kepemilikan atas tanah, dalam SPPT tersebut tercatat bukan pula atas nama Penggugat, melainkan atas nama (objek sengketa pada point 2) CIN BIN BRAHOM. Sehingga, jika SPPT tersebut dijadikan alas hak atau dasar hukum penggugat sebagai pemilik, maka, penggugat dalam gugatannya seakan-akan berarti pula bertindak sebagai Cin Bin Brahom. Padahal, Cin Bin Brahom adalah pihak yang telah meninggal dunia dan tidak pernah mengajukan perkara ini sebelumnya dan atau meminta/mewasiatkan untuk menggugat tanah (objek sengketa sekarang), Cin Bin Brahom dan para ahli warisnya juga tidak pernah memberikan kuasa khusus atau kuasa lainnya kepada Penggugat untuk bertindak sebagai kuasanya dan mengajukan perkara ini ke PN Sumbawa Besar. 2. Bahwa Penggugat belum memiliki standing in judicio. Persona standing in judicio, karena dasar hak milik yang diklaim bahwa tanah tersebut diperoleh dari pemberian orang tua dan kakek,

Hal 23

tanpa ada dasar hukum yang jelas baik berupa ketetapan dan kejelasan bahwa memang penggugat sebagai ahli waris yang sah yang memang dan berhak untuk mengajukan gugatan dalam perkara ini, kedudukan penggugat atas objek atas tanah sengketa belum memiliki kejelasan. Begitupun dengan dasar alasan yang didalilkan penggugat, bahwa tanah objek sengketa telah dikuasai oleh penggugat sejak tahun 1967 dan 1975 alasan tersebut hanyalah uraian dasar fakta (feitelijke grond) dimana harus memiliki hubungan dan menunjukkan hubungan dengan dasar hukum Rechtelije Grosnd sehingga gugatan tersebut memenuhi syarat sebagai sebuah gugatan yang lengkap dan tidak kabur. Sebab, Dalil gugatan yang hanya berdasarkan atas peristiwa semata, hanya akan menjadi sebuah berita semata—yang tidak ubahnya dengan berita yang ada ditelevisi atau media massa cetak. Dengan tanpa adanya kejelasan hukum dan dasar hukum yang jelas serta alasanasalan hukum atas kepemilikan hak tanah penggugat yang pasti dan jelas, maka selain gugatan itu termasuk gugatan yang kabur, juga dalam gugatan perkara a quo menunjukkan bahwa kedudukan penggugat sebagai penggugat belumlah cukup menyakinkan secara hukum karena dasar hukum penggugat— memenuhi sebagai penggugat (sebagai ahli waris dan pemilik tanah waris tersebut) tidak berdasarkan alasan dan dasar hukum yang jelas. 3. Gugatan Penggugat tidak lengkap dalam menarik para pihak tergugat (Plurium litis consortium). Dalam petitum penggugat dalam point E, Penggugat meminta agar dibatalkan sertifikat dan surat-surat lainnya, namun Penggugat tidak memasukkan pihak tergugat atau turut tergugat dalam hal ini Badan Pertanahan Nasional—maupun pihak lainnya yang telah mengeluarkan sertifikat dan surat-surat yang dimaksud oleh Penggugat. Dengan tidak dimasukkannya Badan Pertanahan Nasional C.q. Kantor Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Sumbawa Barat, maka ; Pertama, tuntutan terhadap pembatalan atas sertifikat dan atau surat-surat berkaitan dengan atas nama penggugat, tidak dapat dilakukan berarti pula penggugat mengkesampingkan tuntutan dimaksud. Kedua, sesuai dengan ajaran atau kaidah hukum acara bahwa gugatan yang mengandung plurium litis consortium adalah gugatan yang tidak sempurna dan obscuur libell karena itu gugatan dinyatakan tidak dapat diterima hal ini sesuai pula dengan Putusan M.A. R.I. No. 1311 K/Pdt/1983 Tanggal 20-81884 jo. PT.Manado Np.113/1982, tanggal 29-1-1982, jo. PN Pulau No.21/1982, tanggal 19-2-1982. Ketiga, bahwa tidak ada bantahan (replik) dari Penggugat atas eksesksi ini dalam replik yang disampaikan pada tanggal 10 Nopember 2010, dengan

Hal 24

demikian berartipula Penggugat mengakui bahwa gugatan penggugat tidak sempurna dan mengakui adanya plurium litis consortium dalam gugatannya. 4. Bahwa gugatan Penggugat adalah keliru dalam menarik Tergugat II dan Tergugat III, karena Tergugat II dan Tergugat III adalah pihak yang tidak memiliki hubungan hukum dan tidak pernah melakukan perbuatan melawan hukum dengan Penggugat, Tergugat II dan Tergugat III melakukan perjanjian jual beli dengan Tergugat I, sehingga gugatan penggugat kepada Tergugat II dan Tergugat III mengenai Perbuatan melawan hukum adalah sebuah bentuk kekeliruan pihak Penggugat dalam menarik pihak tergugat II dan Tergugat III. Gugatan Penggugat tidak berdasarkan hukum karena Pemilik Tanah (Abdul Gani-Orang Tua Penggugat) Telah menjual Tanahnya kepada Tergugat Satu Secara Sah dan Penggugat adalah Pihak Ketiga yang tidak memiliki hubungan hukum dengan Tergugat I maupun Tergugat II dan Tergugat III 5. Bahwa Abdul Gani pada tahun 1996, telah melakukan perjanjian jual beli dengan Tergugat Satu. Maka, yang sah sebagai penggugat atau tergugat dalam perkara yang timbul dari perjanjian (jual beli tanah) adalah terbatas pada diri para pihak yang langsung terlibat dalam perjanjian tersebut. Hal ini sesuai dengan asas yang ditegaskan dalam Pasal 1340 KUHPerdata : persetujuan hanya mengikat atau berlaku antara pihak yang membuatnya. Prinsip ini disebut contract party. Selanjutnya pasal ini menegaskan, persetujuan tidak dapat menimbulkan kerugian kepada pihak ketiga. Sebaliknya, pihak ketiga tidak dapat memperoleh manfaat dari perjanjian. Oleh karena itu, yang dapat menjadi pihak penggugat maupun pihak tergugat dalam sengketa yang timbul dari suatu perjanjian, hanya terbatas pada diri orang yang terlibat menjadi pihak dalam perjanjian dimaksud. Pihak ketiga yang tidak ikut terlibat dalam perjanjian, tidak dapat bertindak menuntut pembatalan atau mengajukan tuntutan wanprestasi maupun perbuatan melawan hukum. Gugatan yang diajukan Penggugat itu dalam perkara ini mengandung cacat diskualifikasi karena yang bertindak sebagai Penggugat (Bakran Bin Abdul Gani) sebagai penggugat tidak punya hak untuk itu berdasarkan Pasal 1341 KUHPerdata. Sebaliknya, pihak ketiga tersebut tidak dapat dijadikan sebagai tergugat, karena akan berakibat, orang yang ditarik sebagai tergugat salah sasaran atau keliru orang yang digugat. Penerapan dan prinsip ini sesuai dengan Putusan M.A. R.I No.1270 K/Pdt/1991 Tanggal 30 Nopember

Hal 25

199318 yang menyatakan, suatu perjanjian kerjasama sesuai dengan ketentuan Pasal 1340 KUH Perdata, hanya mengikat kepada mereka. Penerapan pembatasan yang dapat bertindak sebagai pihak dalam suatu perjanjian, sangat rasional demi tegaknya ketertiban umum (public order). Adalah akan terjadi kekacauan dalam kehidupan masyarakat, apabila pihak ketiga (Penggugat-Bakran Bin Abdul Gani) dibenarkan bertindak sebagai pihak dalam proses peradilan atas perjanjian yang dibuat oleh pihak lain (Orang Tua Penggugat-Abdul gani dan Cin Bin Brahom). Replik penggugat (point 5) terhadap alasan penggugat telah dimaknai secara keliru dan bantahan tidak berdasarkan atas konstruksi hukum dan alasan hukum yang rasional, sehingga atas dasar itu berarti seluruh atau sebagian eksepsi dan jawaban tergugat satu dalam point 5 s.d. 8 diterima oleh penggugat ; 1. Bahwa dalam replik atas jawaban tergugat satu point 5,6,7 dan 8, penggugat di dalam repliknya menyatakan bahwa : “alasan tersebut (Para tergugat) adalah sebuah alasan yang dibuat-buat dan mengada-ada untuk membenarkan bahwa perbuatan tergugat satu sah, padahal kesemuanya sebagai bentuk semakin jelas bahwa tergugat satu telah mengambil alih hak orang lain (penggugat) secara melawan hukum dengan berlindung pada alasan yang mengada-ada, begitupun alasan tergugat II dan tergugat II copy paste alasan tergugat satu”. 2. Bahwa bila membaca dan memahami konstruksi hukum— dalam jawaban gugatan tergugat I maupun Tergugat II dan Tergugat III secara mendalam alasan-alasan dan bantahan atas gugatan yang diajukan para tergugat adalah berkaitan dengan syarat-syarat formil suatu gugatan, bahwa ; Pertama, sesungguhnya sebuah gugatan yang baik adalah gugatan yang tidak mengandung salah satunya adanya obscuur libell, sebelum mengajukan gugatan penggugat harus memahami terlebih dahulu mengenai objek sengketa yang akan digugatnya, keberadan dan batas-batas tanah, termasuk didalamnya adalah luas tanah objek sengketa, serta kejelasan hukum mengenai status kedudukan penggugat atas objek sengketa, sehingga gugatan tersebut tidak mengalami kekaburan, hal ini sejalan dengan yurispurdensi M.A. R.I sebagaimana yang telah dituangkan dalam jawaban para tergugat. Kedua, dengan replik penggugat yang demikian (point 5) nampak bahwa penggugat kurang memahami kejelasan atas materi gugatan, bahkan sangat prematur dalam
18

Lihat Varia Peradilan, Tahun IX, No.97, Oktober 1993, hlm. 36.

Hal 26

menarik kesimpulan para tergugat telah mengambil hak orang lain secara melawan hukum. Padahal, kedudukan penggugat, apa yang digugatnya belum jelas? Termasuk kualifikasi perbuatan melawan hukum yang manakah yang dituduhkan penggugat kepada para tergugat I, tergugat II dan Tergugat III?. Selain tentu saja, adalah mengenai dasar hukum yang dijadikan alas penggugat dengan alasan karena penggugat telah melapor ke polisi adalah sebuah kekliruan besar dari gugatan penggugat dalam memahami makna perbuatan melawan hukum. 3. Bahwa dalam eksepsi tergugat satu (point 6) tentang kualifikasi perbuatan tergugat, alasan tergugat jelas mengacu pada kaidah hukum—yurisprudensi M.A. R.I sebagaimana yang dijelaskan dalam jawaban tergugat satu. Oleh karena penggugat mendalilkan gugatannya mengenai perbuatan melawan hukum maka sudah sepatutnya dalam dalil gugatannya penggugat menjelaskan kualifikasi perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh tergugat I, Tergugat II maupun tergugat III dan harus menujukkan kejelasan mengenai perbuatannya sehingga gugatan tidak obscuur libell. 4. bahwa dalam jawaban tergugat satu (point 7) adalah mengenai penggabungan ggugatan, dimana dalam gugatannya penggugat telah mencampuradukan materi gugatan mengenai perbuatan melawan hukum, waris, wanprestasi, sertifikat dll . Bahwa landasan yang dijadikan sebagai dasar hukum eksepsi adalah Putusan MA sebagaimana jawaban tergugat satu sampaikan. Jika melihat gugatan penggugat secara sederhana dapat dilihat dalam Hal gugatan yang diajukan. Di dalam Surat gugatan, baik surat gugatan pertama maupun perbaikannya, hal yang ditulis adalah Hal : Gugatan (perbaikan) gugatan pertama : Hal Gugatan, dari sini saja terlihat ketidakjelasan tentang apa atau materi apa yang digugat? Dan bila dicermati secara lebih mendalam mengenai materi gugatan, semakin kabur, apa yang sesungguhnya digugat penggugat?, karena antara posita dan petitum tidak memiliki korelasi dan konsitensi, bahkan banyak kontradiksi. 5. Bahwa dalam point 8 tentang para pihak, kurang pihak dan pihak yang ditarik sebagai para tergugat yang keliru, dasar hukum adalah M.A. R.I sebagaimana jawaban tergugat. Jadi, sesungguhnya, menjadi sangat penting penggugat untuk dapat memahami prinsip-prinsip dan syarat-syarat formil sebuah gugatan, sehingga dalam gugatan tidak sekedar hanya menggugat, tanpa didasari oleh dasar hukum (reichtelije grond) dan dasar fakta (feilitjhe grond) dan hubungan antara dasar fakta dan dasar hukum, sehingga gugatan tidak menjadi

Hal 27

sekedar gugatan tanpa kontruksi hukum atas gugatan yang jelas (gugatan obscurr libell). 6. Bahwa setelah membaca dan mempelajari replik penggugat, terlihat bahwa replik penggugat atas jawaban tergugat 1, point 5, 6, 7, dan 8 menunjukkan bahwa replik penggugat bukanlah replik yang didasarkan atas pertimbangan, alasan-alasan dan bantahan-bantahan yang secara rasional-yuridis, dan atau berdasarkan atas hukum yang jelas, melainkan lebih didasarkan pada aspek logika dan subjektifitas penggugat, dan yang didasarkan pula hanya pada asumsi penggugat, bahkan penggugat terlihat tidak memahami konstruksi gugatan penggugat maupun jawaban yang disampaikan oleh para tergugat, oleh karenanya Para Tergugat memohon kepada yang Mulia Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini untuk mengkesampingkan replik penggugat point 5, dan mempertimbangkan jawaban tergugat I point 5, 6, 7, dan 8 serta alasan dan bantahan dalam duplik atas replik ini. 7. Bahwa dari uraian di atas pula sesungguhnya tuduhan penggugat mengenai alasan dan bantahan gugatan penggugat, maka adalah tidak benar, kalo para tergugat membuat-buat dan mengada-ada, justeru sebaliknya gugatan dan replik penggugat pada point 5 lah yang mengada-ada dan diadaadakan dan dibuat-buat, karena bantahan atas jawaban penggugat tidak didasari pada alasan-alasan hukum, dasar fakta dan lainnya, namun celakanya penggugat menghubungkan jawaban tergugat satu point 5,6,7, dan 8 sebagai bentuk dan kesimpulan terang bahwa tergugat satu telah mengambil alih hak orang lain secara melawan hukum dengan berlindung pada alasan yang menurut penggugat sebagai alasan meng- ada-ada. Bahwa Tuntutan Penggugat atas Sita Jaminan Yang diletakkan sah atau berharga tidak berlaku karena Penggugat Tidak mempunyai Dasar Hukum dan Bukan Orang Yang Memiliki Hak Atas Obyek Sengketa 1. Bahwa tuntutan Penggugat agar dilakukan sita jaminan yang diletakkan sah atau berharga (point B Petitum) tidak memenuhi syarat, karena dalil gugatan yang diajukan Penggugat tidak mempunyai dasar hukum. Penggugat bukanlah orang yang memiliki hak atas objek sengketa. Menurut Sudikno Mertokusumo dalam buku Hukum Acara Perdata Indonesia, karangan Liberty, Yogyakarta, tahun terbit 1998, hlm.63. “....dalam rangka menyelamatkan barang kepada pemilik yang sebenarnya sita ini tidak dapat diterapkan apabila keberadaan barang di bawah penguasaan tergugat berdasarkan titel yang sah. Misalnya, melalui jual-beli, tukar

Hal 28

menukar atau hibah dan sebagainya”. Bahwa oleh karena Penggugat tidak memenuhi syarat atau alasan karena bukan sebagai pemilik objek sengketa, serta tidak adanya fakta tentang hal kepemilikan yang dibuktikan penggugat, penggugat hanya menduga dan beralasan tentang adanya tindakan tergugat untuk menggelapkan barang (objek sengketa). 2. Bahwa penguasaan tanah objek sengketa oleh Para Tergugat bukanlah penguasaan tanpa hak, atau penguasaan yang dilakukan bertentangan dengan hukum, melainkan penguasaan yang didasarkan atas hak yang sah melalui perjanjian jual beli. Dalam gugatannya, Penggugat sesungguhnya tidak mampu menunjukkan fakta atau indikasi tentang penguasaan hak oleh para tergugat, oleh karena itulah, Para Tergugat memohon kepada majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini untuk menolak permohonan sita penggugat, berdasarkan ajaran : barang siapa yang menguasi barang dianggap sebagai pemilik (bezit geld als volkomen titel).

Bahwa Para Tergugat adalah Para Pembeli yang Beritikad Baik, karena itu dasar hukum dan dasar fakta para tergugat ajukan dimaksudkan agar penggugat menyadari bahwa dalil gugatan Penggugat tidak memenuhi dasar hukum dan dasar fakta, sehingga penggugat menyadari pula bahwa dalam gugatan ini telah keliru, dan sadar bahwa gugatan tidak memenuhi syarat untuk diajukan di persidangan. 1. Bahwa pada tanggal 20 September 1996, Tergugat Satu telah membeli sebidang tanah sawah dari Abdul Gani (Orang Tua) Penggugat yang terletak di Serangin Desa Kuang Kecamatan Taliwang seharga Rp.8.000.000,- dan disaksikan pula oleh Kepala Desa dan Saksi-Saksi lainnya (bukti kwitansi terlampir). 2. Bahwa adalah menjadi tidak benar dalil gugatan penggugat yang mengatakan bahwa pada tahun 1998, tergugat satu baru merencanakan akan membeli tanah, dan tidak benar pula harga dan bahwa tergugat satu tidak pernah membayarnya sebagaimana dalil gugatan penggugat pada point 7 gugatan penggugat (perbaikan), begitupun dengan dalil gugatan penggugat point 8 dan seterusnya. 3. Bahwa atas dasar itulah, maka sangat beralasan hukum jika para tergugat dalam jawabannya mengajukan eksepsi berkaitan dengan dasar hukum gugatan penggugat, dintaranya; persona standing in judicio penggugat, kualifikasi dan

Hal 29

kapasitas penggugat, letak objek tanah sengketa, dan lain sebagainya.

Akhirnya, mengenai Perihal Gugatan (Obscuur libell); tidak ada bantahan terhadap Eksepsi Tergugat II dan Tergugat III (point 2.1. dan 2.2.) mengenai dalil gugatan dan petitum penggugat : 1. Bahwa dalam gugatan yang disampaikan oleh Penggugat pada tanggal 20 Juli 2010 maupun perbaikan atas gugatan yang disampaikan pada tanggal 3 September 2010. Tidak jelas mengenai gugatan yang diajukan. Dalam gugatan tersebut mengenai halnya ditulis oleh Penggugat:adalah Hal Gugatan. Begitupun perbaikan yang telah diajukannya, tertulis : Hal : Gugatan (Perbaikan). Dari formil ini saja, sesungguhnya gugatan tersebut telah terlihat adanya kekaburan belum lagi substansi gugatan yang membingungkan semua pihak. Dalam ekspsi Tergugat II dan Tergugat III mengenai Gugatan penggugat Obscuur Libell tidak ada bantahan, dengan demikian ; 2. Bahwa disamping itu, telah mengakui kesalahan dalam gugatan, konstruksi gugatan, mencerminkan pula ketidakhatihatian dan ketidapkahaman penggugat dalam menkonstruksikan gugatannya sehingga menimbulkan semakin kaburnya dalil gugatan maupun tuntutan dalam gugatan. Hal ini terlihat dari Dalil Gugatan dan Tuntutan, dalam petitum penggugat pada point E (gugatan perbaikan)19 dan dalil gugatan point 1320, Dalil point 13 gugatan penggugat, secara tegas menjelaskan bahwa yang mengalami kerugian akibat penguasaan tanpa hak yang dilakukan oleh penggugat, tergugat mengalami kerugian atas tanah tersebut mencapai Rp.1.000.000.000,- (Satu Milyar). Sementara dalam petitumnya Penggugat (Petitum Poin F) meminta kepada Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini untuk “.........memerintahkan kepada para tergugat untuk membayar kepada penggugat baik sendiri sendiri maupun secara bersama sama sebesar kerugian atas tanah tersebut di atas sebesar Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah) atas penguasaan tanah milik penggugat oleh para tergugat secara melawan hukum”.

Petitum Penggugat PEIMAIR Point E menyebutkan bahwa “Membatalkan sertifikat atau segala bentuk surat berkaitan dengan atas nama para penggugat atas tanah milik penggugat yang dimaksud pada poitn 1 (satu) dan 2 (dua) tersebut di atas”.

19

Dalam Dalil Gugatan Point 13 menyatakan bahwa : “Akibat penguasaan tanpa hak yang dilakukan oleh para penggugat maka tergugat mengalami kerugian atas tanah tersebut berdasarkan harga pasar menc sejumlah pai Rp.1.000.0000.0000,- (Satu milyar)”.

20

Hal 30

Artinya, antara dalil gugatan dan tuntutan tidak konsisten, dan tidak memiliki korelasi (bahkan kontradiksi), bahwa berdasarkan dalil gugatan dan tuntutan tersebut, maka pihak Penggugatlah yang seharusnya membayar kerugian kepada para tergugat. Kedua, petitum point E dalam tuntutan penggugat meminta kepada Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini untuk : “membatalkan sertifikat atau segala bentuk surat yang berkaitan dengan atas nama para penggugat atas tanah milik penggugat yang dimaksud dalam point 1 (satu) dan 2 (dua) tersebut diatas.” . Berdasarkan tuntutan ini, maka jelas bahwa penggugat meminta para penggugat untuk dibatalkan sertifikat dan surat-surat lainnya. Sehingga, dengan demikian, Penggugat sendirilah yang membatalkan sertifikat atau surat-suratnya sendiri, karena penggugat sendiri yang meminta dibatalkannya sertifikat dan surat-surat tersebut. Berdasarkan beberapa fakta gugatan formil yang telah disampaikan penggugat kepada para tegugat jelas bahwa gugatan penggugat sangat kabur (obscuur libeell). 3. Bahwa dalam eksepsi yang diajukan oleh Para Tergugat, khususnya Tergugat II dan Tergugat III mengenai hal ini (point 2.2.) ternyata tidak dibantah atau ditangkis oleh Penggugat, sehingga berarti penggugat mengakui dalil dan tuntutan gugatan sebagaimana tertuang dalam gugatan penggugat pada tanggal 3 September 2010 (gugatan perbaikan)21. Atas dasar dan alasan-alasan tersebut di atas, maka dalam duplik ini kami mohon kepada Mejelis Hakim Pengadilan Negeri Sumbawa yang memeriksa dan mengadili perkara ini untuk menerima alasan, bantahan dalam duplik ini dan eksepsi serta jawaban yang telah diajukan oleh para tergugat. Bahwa dari uraian dan alasan-alasan yang telah disampaikan dalam eksepsi dan jawaban sebelumnya serta alasan dan bantahanbantahan Para Tergugat atas gugatan dan replik penggugat, maka Para Tergugat Mohon Kepada Majelis Hakim yang mengadili dan memutus perkara ini untuk berkenan menerimanya, dan Mohon kiranya pula atas replik penggugat yang tidak menjawab alasan dan bantahan Para Tergugat di dalam eksepsi dan jawabannya untuk dapat dipertimbangkan sebagai pengakuan dari penggugat.

Dalam replik penggugat mengatakan tetap pada gugatannya tertanggal 20 juli 2010 yang telah diperbaiki pada tanggal 3 september 2010

21

Hal 31

POKOK PERKARA Bahwa dalam pokok perkara Para Tergugat tetap pada jawabannya yang telah disampaikan oleh Tergugat I tertanggal 27 Oktober 2010 Perihal Eksepsi dan Jawaban Tergugat I, dan Jawaban Tergugat II dan Tergugat III pada tanggal 3 Nopember 2010. Yang intinya bahwa: 1. Bahwa Objek Sengketa adalah merupakan milik para tergugat yang diperoleh dari jual beli yang sah. 2. Bahwa Para Tergugat tidak melakukan perbuatan melawan hukum Dan untuk itu Para Tergugat dengan segala kerendahan hati, tetap Mohon kepada Bapak Majelis Hakim Yang Mulia, Yang Memeriksa dan Mengadili Perkara ini untuk berkenan menjatuhkan putusan sebagai berikut :

DALAM EKSEPSI : 1. Menerima dan mengabulkan Eksepsi Para Tergugat untuk seluruhnya. 2. Menolak Gugatan Penggugat untuk seluruhnya atau setidak-tidaknya menyatakan gugatan tidak dapat diterima/Niet Ontvankelijk Verklaard. 3. Menghukum Penggugat untuk membayar seluruh biaya yang timbul dalam perkara ini. DALAM POKOK PERKARA : 1. Menolak gugatan Penggugat untuk seluruhnya atau setidak-tidaknya menyatakan gugatan tidak dapat diterima/Niet Ontvankelijk Verklaard. 2. Menolak Permohonan Sita Jaminan Yang Diletakkan sah dan berharga; 3. Menghukum Penggugat untuk membayar keseluruhan biaya yang timbul dalam perkara ini. Demkian Duplik yang kami ajukan, Atas waktu, perhatian dan kebaikan Yang Mulia Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili Perkara Perdata No. 30/Pdt.G/2010/PN-SBW Kami haturkan banyak terima kasih.

Hal 32

Hormat Kami, Kuasa Hukum Para Tergugat (Terguat I, Tergugat II dan Tergugat III)

Syahrul mustofa, SH.,MH

D.a. Malik, S.H

Basri mulyani, S.H

Lalu ahyar supriadi, S.H

Hal 33

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->