PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia terletak di daerah tropis yang memiliki curah hujan yang tinggi. Hal ini dapat menjadi berkah, tapi di sisi lain dapat pula menjadi musibah jika tidak dikelola dengan baik. Terbukti dengan banyaknya terjadi fenomena banjir di Indonesia ini. Salah satunya adalah banjir yang acap kali terjadi di Ibukota Jakarta. Ketika kita perhatikan, masalah banjir ini bermula dari adanya kerusakan hutan. Selama ini, banyak orang yang membicarakan kerusakan hutan di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Jarang sekali mereka membicarakan kerusakan hutan di Jawa, terutama Jawa Barat, Mereka berfikir hutan di Jawa sudah habis dan tak perlu dibicarakan lagi. Jadi lebih baik mempersoalkan kerusakan hutan di luar Jawa. Mereka lupa bahwa di Jawa juga masih ada sedikit hutan, di mana yang sedikit itu kondisinya terus memburuk. Masalah ini hingga kini belum juga mampu teratasi dengan baik. Padahal Ibukota Jakarta merupakan kota penting yang menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan. Sedangkan banjir yang terjadi di wilayah ini cukup intensif sehingga menimbulkan kerugian yang teramat banyak. Inilah masalah kita bersama dan sepatutnya kita fikirkan bersama. Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk memahami dan secara bersamasama mencari solusinya.

B. Batasan Masalah
Dalam penulisan materi ini, saya membatasi ruang lingkup permasalahan yaitu meliputi : FENOMENA BANJIR DI JAKARTA 1

1. Pengertian banjir 2. Faktor-faktor penyebab banjir 3. Peristiwa banjir di Jakarta 4. Kondisi daerah Jakarta 5. Kondisi curah hujan di daerah Jakarta 6. Solusi yang dapat direkomendasikan untuk menanggulangi masalah banjir di Jakarta

C. Rumusan Masalah
Peristiwa banjir yang sering terjadi di DKI Jakarta ini menimbulkan berbagai pertanyaan sebagai berikut : 1. Apa yang dimaksud dengan banjir ? 2. Apa faktor-faktor yang mengakibatkan banjir ? 3. Bagaimana peristiwa banjir di Jakarta ? 4. Bagaimana kondisi di daerah Jakarta ? 5. Bagaimana kondisi curah hujan di Jakarta ? 6. Bagaimana solusi yang dapat kita rekomendasikan ?

D. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini yaitu agar dalam mata kuliah Hidrologi mahasiswa mengenal dan memahami mengenai banjir dan mampu menganalisa fenomena-fenomena banjir di Indonesia pada umumnya dan Jakarta pada khususnya. Kemudian mampu

mendiskusikannya.

E. Metode Penulisan
Dalam menyusun makalah ini, saya menggunakan metode Kepustakaan/Literatur, yaitu memperoleh materi pembahasan dari buku dan media elektronik (internet) FENOMENA BANJIR DI JAKARTA 2

B. banjir adalah aliran yang relatif tinggi. Faktor Alami Dalam siklus hidrologi kita dapat melihat bahwa volume air yang mengalir di permukaan bumi dominan ditentukan oleh tingkat curah hujan. faktor-faktor yang mengakibatkan banjir dapat dibagi menjadi dua. Banjir adalah gelombang banjir berjalan kearah hilir sistem sungai yang berinteraksi dengan kenaikan muka air dimuara akibat badai. dan tidak tertampung oleh alur sungai atau saluran. 3. Menurut SK SNI M-18-1989-F (1989) dalam (Suparta (2004). FENOMENA BANJIR DI JAKARTA 3 . Namun secara sederhana banjir dapat didefinisikan sebagainya hadirnya air di suatu kawasan luas sehingga menutupi permukaan bumi kawasan tersebut. dan tingkat peresapan air ke dalam tanah. mengalir dan melimpas muka tanah yang biasanya tidak dilewati aliran air 2.PEMBAHASAN A. Pengertian Banjir Ada tiga pengertian mengenai banjir. Aliran air limpasan tersebut yang semakin meninggi. yaitu : 1. Banjir adalah aliran air sungai yang tingginya melebihi muka air normal sehingga melimpas dari palung sungai menyebabkan adanya genangan pada lahan rendah disisi sungai. yaitu : 1. Faktor-Faktor Penyebab Banjir Secara garis besar.

 Daerah tengah : Umumnya merupakan daerah kaki pegunungan. Dasar alur sungai melebar. dan aliran air sungai mengalir di selasela batu-batu tersebut. tetapi air sungai tidak melewati tebing sungai dan keluar dari alur sungai. Terjadi erosi horizontal yang mengerosi endapan sungai itu sendiri yang diendapkan sebelumnya. Tebing sungai tinggi. Terjadi erosi pada arah horizontal. Tebing sungai sangat tinggi. FENOMENA BANJIR DI JAKARTA 4 . Lembah sungai sempit dan potongan melintangnya berbentuk huruf “V”. Di dalam alur sungai banyak batu yang berukuran besar (bongkah) dari runtuhan tebing. Di segmen ini terjadi pengendapan di kiri dan kanan alur sungai pada saat banjir yang menghasilkan dataran banjir. dan di dasar alur sungai terdapat endapan sungai yang berukuran butir kasar. Bila debit air meningkat. Alur sungai dapat berkelok-kelok seperti huruf “S” yang dikenal sebagai “meander”.  Daerah hilir : Umumnya merupakan daerah dataran.Aliran Permukaan = Curah Hujan – Resapan ke dalam tanah Secara sederhana. aliran air dapat naik dan menutupi endapan sungai yang di dalam alur. Air sungai relatif sedikit. Alur sungai lebar dan bisa sangat lebar dengan tebing sungai yang relatif sangat rendah dibandingkan lebar alur. mengerosi batuan induk. kaki gunung atau kaki bukit. sehingga dikenal sebagai “dataran banjir”. Di kiri dan kanan alur terdapat dataran yang secara teratur akan tergenang oleh air sungai yang meluap. segmen aliran sungai itu dapat kita bedakan menjadi :  Daerah hulu : Terdapat di daerah pegunungan. gunung atau perbukitan. Terjadi erosi pada arah vertikal yang dominan oleh aliran air sungai. Alur sungai melebar dan potongan melintangnya berbentuk huruf “U”.

Secara alamiah. sedimen diendapkan di atas daratan. Faktor Tidak Alami  Perubahan Lingkungan Perubahan lingkungan? Tidak bisa kita pungkiri. 5 tahunan. Hal ini yang kadang tidak disadari oleh manusia ketika memilih lokasi pemukiman. 2. Interval tersebut tidak mesti sama untuk setiap sungai. secara sederhana dapat kita katakan bahwa manusia dapat terkena banjir karena tinggal di dataran banjir. Di daerah tengah. 25 tahunan. Saat ini yang paling hangat dibicarakan akibat dari perubahan lingkungan adalah terjadinya pemanasan global. Semakin lama jumlah vegetasi semakin berkurang. 50 tahunan atau bahkan 100 tahunan.” Banjir yang meluas hanya terjadi di daerah hilir dari suatu aliran dan melanda dataran di kiri dan kanan aliran sungai. dataran banjir memang tidak setiap saat dilanda banjir. Bila muatan sedimen sangat banyak.Dari karakter segmen-segmen aliran sungai itu. Apalagi bila pendatang yang tidak mengenal karakter suatu daerah di sekitar aliran sungai tertentu. maka pembentukan daratan juga terjadi di laut di depan muara sungai yang dikenal sebagai “delta sungai. Dengan banjir. dengan semakin meningkatnya populasi manusia telah menyebabkan semakin terdesaknya kondisi lingkungan. selain itu kita juga telah merubah penggunaan lahan (yang juga perubahan lingkungan) yang berakibat pada berkurangnya tutupan lahan. 10 tahunan. Untuk banjir yang secara langsung berkaitan dengan aliran sungai. Ada banjir tahunan. dan hanya dapat diketahui bila dilakukan pengamatan jangka panjang. khususnya di daerah perkotaan. banjir hanya terjadi di dalam alur sungai. FENOMENA BANJIR DI JAKARTA 5 . maka dapat dikatakan bahwa banjir merupakan bagian proses alami dalam pembentukan daratan oleh aliran sungai.

Memang. tapi juga di sebabkan oleh perubahan penggunaan lahan dan penyempitan saluran drainase (sungai). rumput 18% sedangkan tanah kosong sekitar 60%. Berdasarkan analisis statistik data curah hujan dari tahun 1900 sampai tahun 1989 terhadap variasi hujan dengan menggunakan uji F dihasilkan bahwa telah terjadi perubahan intensitas hujan untuk lokasi Ambon. makanya jangan heran kalau sewaktu-waktu hujan bisa sangat tinggi intensitasnya dan kadang sangat rendah. Menurut Castro (1959) tingkat aliran permukaan pada hutan adalah 2. Maros. 2006). berdasarkan kesimpulan penelitian tersebut bukan hanya faktor iklim yang menyebabkan terjadinya banjir. Padang. Branti.5%. ladang dll. Kotaraja. tegalan. dan Pontianak (Slamet dan Berliana.Akibat pemanasan global menyebabkan terjadinya perubahan pada pola iklim yang akhirnya merubah pola curah hujan. Sedangkan tutupan lahan itu vegetasi yang tumbuh di atas permukaan bumi) menyebabkan semakin tingginya aliran permukaan. sawah. Perubahan penggunaan lahan dan otomatis juga terjadi perubahan tutupan lahan (penggunaan lahan itu ada pemukiman. Aliran permukaan terjadi apabila curah hujan telah melampaui laju infiltrasi tanah. tanaman kopi 3%. Sedangkan berdasarkan penelitian Onrizal (2005) di DAS Ciwulan. Juni 2004 dan Februari 2007 bertepatan dengan fenomena La Nina dan MJO (Madden-Julian oscillation). Berdasarkan kajian LAPAN (2006). penebangan hutan menyebabkan terjadinya kenaikan aliran permukaan sebesar 624 mm/th. Palembang. banjir yang terjadi di Jakarta Januari tahun 2002. kedua fenomena ini menyebabkan terjadinya peningkatan curah hujan diatas normal. Kupang. Itu baru perhitungan yang di lakukan pada daerah hutan yang ditebang di mana masih ada tanah FENOMENA BANJIR DI JAKARTA 6 .

Yuwono (2005) juga mengungkapkan pengurangan luas hutan dari 36% menjadi 25%. dan juga meningkatkan persentase hujan menjadi direct run-off dari 53 % menjadi 63 %.2 mm/bln. Juli. Sedangkan kemampuan peresapan air pada DAS berhutan lebih besar 34. FENOMENA BANJIR DI JAKARTA 7 . Selain itu hasil penelitiannya juga menunjukkan bahwa apabila tanaman di bawah pohon hutan (tanaman yang kecil-kecil) itu hilang akan menyebabkan peningkatan aliran permukaan yang mencapai 6.9 mm/bln di bandingkan dengan DAS tidak berhutan. lantas jika seandainya tanah-tanah sudah tertutup beton pasti aliran permukaannya semakin bertambah. Hasil penelitian Fakhrudin (2003) dalam Yuwono (2005) menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan di DAS Ciliwung tahun 19901996 akan meningkatkan debit puncak dari 280 m3/det menjadi 383 m3/det. Kembali lagi kita ke hutan yang digunakan sebagai sampel apabila tidak ada vegetasi dan pengaruhnya terhadap aliran permukaan dan debit sungai.7 m3/ha/blan. Agustus dan September lebih tinggi dari curah hujan yang terjadi pada saat bulan-bulan tersebut. ini membuktikan bahwa vegetasi sebagai pengatur tata air dimana pada saat hujan tanaman membatu proses infiltrasi sehinggaa air disimpan sebagai air bawah tanah dan dikeluarkan saat musim kemarau. Hasil penelitian Bruijnzeel (1982) dalam Onrizal (2005) yang di lakukan pada areal DAS Kali Mondoh pada tanaman hutan memperlihatkan bahwa debit sungai pada bulan Mei. Onrizal (2005) juga mengungkapkan bahwa penebangan hutan menyebabkan berkurangnya air tanah rata-rata sebesar 53. Menurut Suroso dan Santoso (2006) dalam WWF-Indonesia (2007) perubahan penggunaan lahan sangat berpengaruh terhadap peningkatan debit sungai.yang bisa meresapkan air.

 Perubahan Masyarakat Perubahan masyarakat di sini maksudnya adanya pertambahan populasi penduduk yang terkadang memunculkan daerah-daerah slump dan perubahan gaya hidup berupa tempat tinggal dengan berlomba-lomba membangun tempat tinggal yang mewah.15% dan 0% akan menaikkan puncak banjir berturut-turut 12. pendangkalan sungai atau waduk-waduk serta makin meluasnya lahan-lahan kritis.4%. Menurut Priatna (2001) kerusakan tanah akibat terjadinya erosi dapat menyebabkan bahaya banjir pada musim hujan. dan 0% akan meningkatkan laju erosi sebesar 10%. Setelah terjadi seperti itu. banyak lapisan atas tanah yang hilang dan terangkut ke tempat-tempat yang lebih rendah. Adanya perubahan dari masyarakat petani menuju masyarakat industri juga mempengaruhi keberadaan banjir.7%. sehingga mengakibatkan semakin sempitnya lahan peresapan dari air hujan. maka kemungkinan erosi akan semakin tinggi. tanah yang hilang dan terangkut inilah yang menjadi sedimentasi yang dapat mendangkalkan waduk-waduk. bendungan-bendungan dan sungaisungai. 58. Akibat dari erosi ini tanah menjadi padat. kapasitas daya tampung dari saluran irigasi tersebut menjadi lebih kecil yang akhirnya dapat menyebabkan banjir walaupun dalam kondisi curah hujan normal.7% dan 90. menurut Yuwono (2005) pengurangan luas hutan dari 36% menjadi 25%. Sekarang kita coba hubungkan dengan erosi dan sedimentasi. Saat terjadi perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi tegalan. tapi tanpa memperhatikan ekologi. 15%. proses infiltrasi terganggu. 60% dan 90%. Dengan adanya FENOMENA BANJIR DI JAKARTA 8 .

Yang datang ke Jakarta jauh lebih banyak ketimbang yang keluar dari Jakarta sehingga hasilnya penduduk Jakarta bertambah terus. Setiap tahun ritual banjir di Jakarta nyaris tak berubah. di muara sungai Ciliwung. Daeraah yang tenggelam pun nyaris tak berubah. 1. tapi sayang geraknya kalah cepat dengan gerak para pendatang yang merusak program-program antisipasi banjir. Kasusnya hampir sama dengan problem jumlah penduduk DKI Jakarta. Fenomena Banjir di Jakarta Jakarta serasa tak henti-hentinya dengan berita banjir yang melanda kota tersebut. C. Teluk Jakarta. Ini bukan berarti Pemda DKI tidak bekerja serius untuk mengatasi banjir. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tampaknya kesal. Kerjanya serius sekali. Melihat ritual banjir di Jakarta yang nyaris tak berubah dari tahun ke tahun. Lantas mengapa banjir dapat melanda Jakarta setiap tahunnya dan belum didapati solusi hingga saat ini ? Hal inilah yang akan saya kupas lebih lanjut.perubahan ini menjadikan areal pertanian semakin sempit karena banyak digunakan untuk mendirikan perusahaan-perusahaan industri. Bahkan keberadaan industri ini terkadang menghasilkan limbah buangan berupa asap hasil pembakaran yang semakin memicu global warming. SBY tersadar bahwa rupanya apa yang dilakukan Pemerintah Daerah (Pemda) DKI untuk mengantisipasi banjir hanya berjalan di tempat. Presiden mempertanyakan kenapa ruang terbuka hijau (RTH) yang berfungsi sebagai resapan air di Jakarta terus menyusut. Jakarta terletak di dataran rendah pada FENOMENA BANJIR DI JAKARTA 9 . Kondisi Daerah di Jakarta Jakarta berlokasi di halaman utara pulau Jawa. Ini pun juga mempersempit daerah peresapan.

hingga menyebabkan terjadinya banjir di Jakarta. Curah hujan antara bulan Januari dan awal Februari sangat ekstrim. Kepulauan Seribu. terletak di Teluk Jakarta.4 inchi). suhu udara dapat mencapai 40 °C. Kondisi Curah Hujan di Daerah Jakarta Jakarta memiliki suhu udara yang panas dan kering atau beriklim tropis. Suhu rata-rata tahunan berkisar antara 25°-38 °C (77°-100 °F) Hal tersebut di atas menunjukkan adanya potensi banjir akibat curah hujan tinggi di Jakarta. Bulan September dan awal oktober adalah harihari yang sangat panas di Jakata. sebuah kabupaten administratif. Sungai yang terpenting ialah Ciliwung. Hal ini mengakibatkan Jakarta sering dilanda banjir. Sekitar 105 pulau terletak sejauh 45 km (28 mil) sebelah utara kota. Jakarta mengalami puncak musim penghujan pada bulan Januari dan Februari dengan rata-rata curah hujan 350 milimeter (14 inchi) dengan suhu rata-rata 27 °C. 2. Selatan Jakarta merupakan dataran tinggi yang dikenal dengan daerah Puncak. dan puncak musim kemarau pada bulan Agustus dengan rata-rata curah hujan 60 milimeter (2. Jakarta dialiri oleh 13 sungai yang kesemuanya bermuara ke Teluk Jakarta. Terletak di bagian barat Indonesia. faktor Tentunya manusia saya tidak ingin mengenyampingkan tentang dengan aktifitas pembangunan yang jauh lebih cepat berubah sehingga alam dalam hal ini curah hujan tinggi hanya berperan stimulus (mempercepat) perubahan kondisi lingkungan tersebut. yang membelah kota menjadi dua.ketinggian rata-rata 8 meter d. Sebelah timur dan selatan Jakarta berbatasan dengan provinsi Jawa Barat dan disebelah barat berbatasan dengan provinsi Banten.p.l. FENOMENA BANJIR DI JAKARTA 10 . pada saat itulah Jakarta dilanda banjir setiap tahunnya.

Selanjutnya. tentang potensi banjir Jakarta. Berdasarkan data curah hujan Jakarta Februari 2009. baik dengan model dinamis yang lebih komplek ataupun melalui pendekatan model statis tetapi ketepatan yang lebih baik yaitu dengan Model Proyeksi Curah Hujan Resolusi Tinggi seperti terlihat pada gambar ini. LAPAN juga tidak kalah tepatnya memberikan analisisnya. telah memberikan hasil analisisnya. diperkirakan mengalami curah hujan yang kurang lebih sama pada kisaran intensitas tersebut. Institut Teknologi Bandung (ITB). Intensitas hujan sebesar itu dinilai cukup tinggi dan berpeluang untuk terjadinya genangan atau banjir di Jakarta. Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). LAPAN mengidentifikasi curah hujan di sekitar Indonesia. Kedua data curah hujan ini memberikan suatu wacana bagi kita. Model tersebut dikembangkan dengan model matematis khusus yang merupakan gabungan antara model canggih Fast Fouries Transform (FFT) dan FENOMENA BANJIR DI JAKARTA 11 . Termasuk Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) juga telah mengeluarkan prediksinya dalam media ini beberapa waktu yang lalu. sebagai universitas riset. BMKG mengidentifikasi Jakarta berpotensi mengalami curah hujan tinggi dengan intensitas 300-400 mm/bulan. khususnya di wilayah Jawa mengalami intensitas curah hujan sekitar 300-350 mm/bulan. juga telah banyak memproduksi berbagai model prediksi cuaca di Indonesia sebagai model eksperimental.Untuk memprediksi apakah benar Jakarta berpotensi banjir. Begitu juga dengan Jakarta. maka beberapa instansi terkait. bahwa Jakarta berpotensi mengalami curah hujan yang cukup tinggi. Pegangan kita tentang informasi cuaca dari BMKG dan analisis cuaca dari LAPAN dan BPPT menjadi tumpuan kita bersama. yaitu Badan Meteorologi.

model simpangan datanya. penginderaan jauh dan ahli tentunya ahli meteorologi telah merampung model eksperimental curah hujan untuk wilayah Jakarta. kerjasama ahli informatika. Model ini dikembangkan oleh berbagai ahli dengan berbagai latar belakang keahlian yang berbeda. (a) (b) Gambar 3. (b) Proyeksi curah hujan Jakarta bulan Februari 2009 FENOMENA BANJIR DI JAKARTA 12 . sehingga model matematis khusus tersebut dapat digunakan untuk proyeksi mendatang. Penemuan 4 nilai frekuensi dalam persamaan khusus tersebut sangat menentukan ketepatan hasil model dengan data. matematika. (a) Proyeksi curah hujan Jakarta bulan Februari 2008.

Jakarta Pusat. curah hujan cenderung lebih rendah (lihat Gambar 3.a) dengan proyeksi curah hujan tahun 2009 (Gambar 3. baik yang berasal dari pegunungan di Bopunjur maupun yang berasal dari pantai utara (rob). Dalam kasus banjir belakangan ini Jakarta dihantam air bah. seperti Tangerang. terutama wilayah Jakarta bagian Utara. Kenaikan suhu bumi (global warming) yang mengakibatkan pencairan es abadi di kutub.b). sedangkan di wilayah lainnya sekitar Jakarta. dan Jakarta bagian Timur. Jakarta bagian Selatan. yaitu : a. Terlihat juga bahwa. Ini pun menimbulkan peningkatan permukaan air laut. jika kita bandingkan proyeksi curah hujan tahun 2008 (Gambar 3. Hasil model tersebut memberikan gambaran bahwa Jakarta berpotensi banjir dengan intensitas hujan yang sangat tinggi pada beberapa wilayah. maka terlihat bahwa curah hujan ini mengalami distribusi curah hujan hujan lebih tinggi akan tetapi cakupan luas wilayahnya lebih sempit di banding wilayah cakupan curah hujan tahun lalu.Wilayah Jakarta yang berada di dataran rendah mudah sekali terpengaruh oleh naiknya permukaan air laut.b). Biasanya kejadian banjir pasang (rob) akibat gerhana bulan tersebut terjadi dalam hitungan waktu 12 sampai 24 jam sedangkan rob akibat curah hujan tinggi relatif lebih FENOMENA BANJIR DI JAKARTA 13 . Sebenarnya kejadian genangan atau banjir di Jakarta dapat disebabkan oleh tiga kejadian. Sementara di bagian Selatan Jakarta curah hujan tinggi dimulai dari wilayah Bogor. Kejadian banjir pasang (rob) oleh gelombang pasang laut sebagai akibat curah hujan yang tinggi di laut atau kejadian rob juga bisa diakibatkan oleh pasang laut karena gerhana bulan.Peta curah hujan yang beresolusi lebih tinggi ini memperlihatkan bahwa wilayah Jakarta mengalami curah hujan cukup tinggi pada bulan Februari.

daerah-daerah hulu sungai yang mengalir di Jakarta. memasuki wilayah Jakarta. Cianjur) juga mengalami konversi lahan dari kawasan RTH menjadi kawasan RTB yang sangat mengkhawatirkan. Genangan atau banjir bisa terjadi akibat limpahan air hujan dari wilayah Bogor ke daerah aliran sungai di wilayah Jakarta. Sejak 2000. Idealnya. Banjir atau genangan di Jakarta akan bisa terjadi akibat pergeseran pola curah hujan dari bagian selatan (wilayah Bogor) ke arah Utara. c. air hujan yang jatuh di Bopunjur tak bisa terserap dan membanjiri Jakarta.5%. artinya terjadi perubahan pola curah hujan yang bergerak dari Selatan menuju Utara dari wilayah Bogor ke wilayah Jakarta. Masing-masing kejadian tersebut berpotensi menyebabkan banjir di Jakarta.yaitu daerah sekitar Bopunjur (Bogor. Daerah aliran sungai (DAS) yang dilalui oleh “banjir kiriman” tersebut akan terkena genangan. terutama daerah yang yang rendah di wilayah Jakarta dan banjir akan berlangsung 1-2 hari. Dampaknya. kejadian banjir yang jauh lebih besar akan mungkin terjadi dan FENOMENA BANJIR DI JAKARTA 14 . minimum 27. tergantung lamanya dan intensitas hujan di wilayah Bogor. Daerah genangan biasanya terpusat di wilayah rendah di wilayah utara Jakarta. Adanya wilayah hujan yang baru dengan perubahan pola ini disinyalir akan menyebabkan munculnya daerah genangan baru yang mungkin belum pernah ada sebelumnya di wilayah Jakarta dan sekitarnya. alih-alih tumbuh hutan kota untuk resapan air. Selanjutnya masyarakat sering mengidentifikasikan banjir ini sebagai ”banjir kiriman”. karena perubahan peruntukan lahan yang semula untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) kini menjadi ruang yang tertutup bangunan (RTB). Di pihak lain.singkat waktunya. Tetapi. Puncak. b. RTH Jakarta sudah di bawah 10%. Biasanya curah hujan yang menyebabkan genangan akan terjadi dalam waktu 1-3 hari. Hal ini. Akibatnya.yang muncul hutan beton yang menahan air. misalnya.

Sampai 2005 saja. Di sebagian wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Bahkan belakangan kondisinya lebih rendah lagi karena penyedotan air tanah yang berlebihan. baik di daerah hilir maupun hulu Jakarta. 60% sempadan sungai-sungai di Jakarta telah berubah menjadi bangunan perumahan dan pertokoan penduduk. pertokoan. b. hanya 10 meter di atas permukaan air laut. Morfologi tanah wilayah Jakarta relatif rendah. Banjir di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung adalah akibat menyempitnya lahan sempadan tersebut. Sampah rumah tangga yang tidak terurus. Menurut Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Setiap hari. dari 60 situ yang ada kini tinggal enam buah. di Jabodetabek dulu.menyebabkan banjir apalagi ketiga kejadian tersebut terjadi pada saat yang bersamaan atau dalam selang waktu yang kurang dari 6-12 jam.000-an ton sampah. Lebih kurang kejadian seperti itulah yang terjadi di Jakarta pada awal Februari 2 tahun yang lalu (tahun 2007). di Jakarta ada tambahan 10. tahun 1960-an. Di kawasan Depok saja. yang ironisnya 30% di antaranya dibuang ke sungai dan got-got yang ada di Jakarta. misalnya. contohnya. rata-rata. Selain ketiga hal utama tersebut. banyak yang berubah jadi perumahan.Kawasan situ yang sangat penting fungsinya untuk menampung limpahan air hujan. banjir di Jakarta juga disebabkan oleh : a. Kini tinggal 50-an saja. c.Tumpukan sampah inilah yang sering memacetkan aliran air drainase di perkotaan yang mengakibatkan banjir. FENOMENA BANJIR DI JAKARTA 15 . Sempadan tiga belas sungai yang ada di Jakarta makin menyempit. ada 218 situ. Kondisinya sekarang pasti lebih parah. Sempadan sungai yang seharusnya steril dari bangunan. Berkurangnya situ atau rawa di Jabodetabek. permukaan tanahnya sudah lebih rendah dari permukaan laut. kini telah berubah menjadi perumahan. dan lain-lain. d.

Inti konsep ini adalah pengendalian aliran air dari hulu sungai dan mengatur volume air yang masuk ke kota Jakarta. Dengan bantuan Netherlands Engineering Consultants. Terusan itu akan menampung semua arus air dari selatan dan dibuang ke laut melalui bagian. pengendalian banjir di Jakarta akan bertumpu pada dua terusan yang melingkari sebagian besar wilayah kota. yang dirilis tahun 1920. Berdasarkan rencana induk ini. Sebagai pengatur aliran air. Studi ini dilakukan setelah banjir besar melanda Jakarta dua tahun sebelumnya. Solusi Yang Dapat Direkomendasikan Selama ini pemerintah memang telah melakukan upaya untuk menanggulangi masalah banjir ini. Kelak. D.e. gagasan pembuatan Banjir Kanal dari Manggarai di kawasan selatan Batavia sampai ke Muara Angke di pantai utara sudah dilaksanakan.Lahan hutan kota dan hutan mangrove telah banyak berubah menjadi lahan real estat dan pertokoan. Banjir kanal ini merupakan gagasan Prof H van Breen dari Burgelijke Openbare Werken atau disingkat BOW. Antara tahun 1919 dan 1920. tersusunlah "Master Plan for Drainage and Flood Control of Jakarta" pada Desember 1973. dibangun pula Pintu Air Manggarai dan Pintu Air Karet. cikal bakal Departemen PU. Hilangnya lahan basah seperti hutan kota dan hutan mangrove yang berfungsi sebagai resapan dan reservoir air. FENOMENA BANJIR DI JAKARTA 16 . tidak di tengah kota Batavia. Salah satunya dengan banjir kanal. seperti yang ditulis Soehoed dalam Membenahi Tata Air Jabotabek. Termasuk juga disarankan adalah penimbunan daerah-daerah rendah.bagian hilir kota. Banjir Kanal Jakarta adalah kanal yang dibuat agar aliran sungai Ciliwung melintas di luar Batavia. terusan itu akan dikenal dengan nama Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur. Ini adalah salah satu upaya pengendalian banjir Jakarta di samping pembuatan waduk dan penempatan pompa pada daerah-daerah yang lebih rendah dari permukaan air laut.

karena sebagian besar alur kanal ini melintasi daerah permukiman padat. Thailand. yang telah berhasil menghidupkan kembali situ-situ di sana. Pemda DKI Jakarta perlu juga memikirkan bagaimana menghidupkan kembali situ-stu yang rusak atau mati. untuk pembebasan tanahnya dibutuhkan persiapan dan pelaksanaan yang panjang. Memang cukup bagus telah adanya upaya tersebut. Tetapi. Saluran banjir Cengkareng selesai dibuat pada tahun 1983. yang kemudian beken disebut sebagai Banjir Kanal Barat (BKB). pemerintah pusat bersama Pemerintah Daerah DKI Jakarta mencari jalan pemecahan untuk mengurangi potensi terjadinya genangan pada masa yang akan datang. Kanal ini adalah perluasan terusan banjir peninggalan Van Breen. penampungan air. Oleh karena itu. FENOMENA BANJIR DI JAKARTA 17 . 2. saya merekomendasikan beberapa solusi untuk masalah banjir di Jakarta. Namun hal tersebut menjadi kurang berarti jika belum juga selesai direalisasikan karena kendala dari masalah pembebasan tanah. yaitu : 1. Misalnya dengan membuat hutan mangrove di sepanjang pantai utara. dan penangkalan ombak atau rob air laut. Hutan mangrove yang ada di Jakarta sekarang ini jumlahnya masih terlalu sedikit dibanding problem daerah serapan air hujan. yakni jaringan kanal dan drainase yang dinamakan Sistem Drainase Cengkareng. Setelah terjadi banjir di wilayah Jakarta Barat pada Januari 1979. pembuatan perluasan BKB tersebut pun tertunda. Pemda DKI Jakarta juga bisa mengubah secara radikal RTH yang ada untuk mengatasi banjir. Pemda DKI membuat situ-situ baru di wilayah tertentu seperti dilakukan Pemda Kota Metropolitan Bangkok. Akibatnya. Bila perlu. Rencana perluasan BKB pun diganti dengan pembuatan jaringan pengendali banjir lainnya.Di dalam rencana induk itu dirancang sistem pengendalian dengan membuat kanal yang memotong aliran sungai atau saluran di wilayah Jakarta Barat.

5. Sebetulnya Pemda DKI Jakarta juga sudah memiliki peraturan daerah yang amat bagus untuk mengatasi banjir. Gatot Soebroto. Pengendalian terhadap pemanfaatan ruang yang mengganggu fungsi hidrologi serta kelestarian fungsi lingkungan hidup. Kinerja bersama untuk rehabilitasi DAS dan lahan kritis. 3. dan konservasi lahan secara intensif. yaitu peraturan daerah tentang keharusan membuat sumur resapan untuk satu satuan luas tertentu bangunan gedung atau rumah. sumur resapan ini sangat besar manfaatnya untuk resapan air dan menjaga stabilitas volume air tanah Jakarta yang terus berkurang. 7. Jika masalah sumur resapan diprioritaskan dan ditegakkan hukumnya. Oleh karena itu perlunya realisasi ketat mengenai peraturan ini. 6.Jangan sampai hutan mangrove yang ada tersebut malah diserobot peruntukannya menjadi perumahan. dan Kota. kebun. bisa dikurangi. Adanya subsidi silang hulu-hilir FENOMENA BANJIR DI JAKARTA 18 . Padahal. Sayangnya peraturan tersebut tidak dilaksanakan secara serius dan banyak pihak yang melanggarnya. 4. Perlu adanya perlindungan hutan. niscaya banjir besar di wilayah-wilayah seperti Cawang.

perlu adanya tidakan penanganan secara komprehensif dari berbagai kalangan dan secara berkelanjutan. Namun banjir ini akan menjadi masalah jika manusia tidak dapat menempatkan diri dalam membangun pemukiman serta intensitas banjir tersebut terlalu sering dan besar. manusialah tentunya yang akan menjadi tersangka sebagai biang keladi timbulnya banjir. Oleh karena itu. FENOMENA BANJIR DI JAKARTA 19 . Masalah banjir ini jika kita turut-turut.PENUTUP Banjir sebenarnya merupakan suatu proses alami dari pembentukan dataran. Tentunya hal tersebut bermula dari kesadaraan kita masing-masing. Bagaimanapun upaya yang kita usahakan akan sulit terwujud tanpa adanya kontribusi positif dari berbagai pihak untuk menanganinya.

wikipedia.wordpress.com Asy Syakur (20 Februari 2007). Apa sih Banjir ? Diambil pada tanggal 27 Maret 2010 dari http://asy-syakur. Diambil pada tanggal 27 Maret 2010 dari http://asy-syakur. Diambil pada tanggal 27 Maret 2010 dari http://www. Bandung :Yayasan Nuansa Cendekia Asy Syakur (20 Februari 2007). Diambil pada tanggal 27 Maret 2010 dari http://www. Banjir Makin Luas.wikipedia.wikipedia. Bumi Makin Panas.com FENOMENA BANJIR DI JAKARTA 20 . Faktor Penyebab Banjir (1)..wordpress.wordpress. Diambil pada tanggal 27 Maret 2010 dari http://www.com Asy Syakur (20 Februari 2007).com Banjir Kanal. Hadi S. Faktor Penyebab Banjir (2). 2004.DAFTAR PUSTAKA Ali Kodra. Syaukani.com Daerah Khusus Ibukota Jakarta.com Banjir. Diambil pada tanggal 27 Maret 2010 dari http://asy-syakur.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful