P. 1
Konsep Nafs (Jiwa Menurut Al-qur'an)

Konsep Nafs (Jiwa Menurut Al-qur'an)

|Views: 368|Likes:
Published by JAMRIDAFRIZAL
Konsep Nafs Konsep Nafs Konsep Nafs Konsep Nafs Konsep Nafs Konsep Nafs Konsep Nafs Konsep Nafs Konsep Nafs Konsep Nafs Konsep Nafs Konsep Nafs
Konsep Nafs Konsep Nafs Konsep Nafs Konsep Nafs Konsep Nafs Konsep Nafs Konsep Nafs Konsep Nafs Konsep Nafs Konsep Nafs Konsep Nafs Konsep Nafs

More info:

Published by: JAMRIDAFRIZAL on Aug 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/13/2013

pdf

text

original

Sections

1

NAFS (JIWA) MENURUT KONSEP AL-QUR’AN
BAB I

OLEH JAMRIDAFRIZAL, S.Ag.,M.HUM

A. Al-Qur’aan dan Metode Tafsir Mawdlu’i

Dalam bahasa Arab, nafs mempunyai banyak arti, dan salah satunya

adalah jiwa. 1

Oleh karena itu, ilmu jiwa dalam bahasa Arab disebut dengan nama







. 2

Nafs dalam arti jiwa telah dibicarakan para ahli sejak kurun waktu yang
sangat lama. Dan persoalan nafs telah dibahas dalam kajian filsafat, psikologi dan
juga ilmu tasawuf.

Dalam filsafat, pengertian jiwa diklasifikasi dengan bermacam-macam

teori, antara lain:
1. Teori yang memandang bahwa jiwa itu merupakan substansi yang berjenis
khusus, yang dilawankan dengan substansi materi, sehingga manusia
dipandang memiliki jiwa dan raga.
2. Teori yang memandang bahwa jiwa itu merupakan suatu jenis kemampuan,
yakni semacam pelaku atau pengaruh dalam kegiatan-kegiatan.
3. Teori yang memandang jiwa semata-mata sebagai sejenis proses yang tampak
pada organisme-organisme hidup.
4. Teori yang menyamakan pengertian jiwa dengan pengertian tingkah laku. 3

Dalam psikologi, jiwa lebih dihubungkan dengan tingkah laku sehingga
yang diselidiki oleh psikologi-psikologi adalah perbuatan-perbuatan yang
dipandang sebagai gejala-gejala dari jiwa. Teori-teori psikologi, baik psikoanalisa,
Behaviorisme maupun Humanisme memandang jiwa sebagai suatu yang berada di
belakang tingkah laku. 4

Sedangkan di kalangan ahli tasawuf, nafs diartikan sesuatu yang
melahirkan sifat tercela. Al-Ghazali (w. 1111 M.) misalnya menyebut nafs sebagai

1 Bahasa Arab menggunakan term nafs untuk menyebut banyak hal, seperti: roh,
diri manusia, hakikat sesuatu, darah, saudara, kepunyaan, kegaiban, ukuran samakan
kulit, jasad, kedekatan, zat, mata, kebesaran dan perhatian (lihat Ibn Manzhur, lisan al-
Arab, Dar al Ma’arif Jilid Vi, tt h. 4500-4501)
2 Misalnya judul buku ‘Ilm al-Nafs al-Islamii karangan Dr. Ramadlan Muhammad al-
Qazzafi, (Tripoli: Mansyuran Shahifah al-Da’wah al-Islamiyah, 1990)
3 Louis O. Kattsoff, Elements of Philosophy, alih bahasa Soeyono Soemargono
dengan judul Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1986), cet ke-1, h. 301
4 Teori psikoanalisa menempatkan keinginan bahwa sadar sebagai penggerak
tingkah laku. Behaviorisme menempatkan manusia sebagai makhluk yang tidak berdaya
menghadapi lingkungan sebagai stimulus, sedangkan teori Psikologi Humanisme sudah
memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki kemauan baik dalam merespon
lingkungan. Lihat Hassan Langgulung. Teori-teori kesehatan mental, perbandingan
Psikologi modern dan pendekatan pakar-pakar pendidikan Islam (Kuala Lumpur: Pustaka
Huda, 1983), cett. Ke-1, h. 9-26

2

pusat potensi marah dan syahwat pada manusia
















5

dan

sebagai pangkal dari segala sifat tercela























6

pengertian ini

antara lain dipahami dari hadits yang berbunyi










7

yang

artinya musuhmu yang paling berat adalah nafsumu yang ada di dua sisimu.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, nafs (nafsu) juga dipahami sebagai
dorongan hati yang kuta untuk berbuat kurang baik, 8

padahal dalam al-Qur’an

nafs tidak selalu berkonotasi negatif.
Kajian tentang nafs merupakan bagian dari kajian tentan hakikat manusia
itu sendiri. Manusia adalah makhluk yang bisa menempatkan dirinya menjadi
subyek dan obyek sekaligus. Kajian tentang manusia selalu menarik, tercermin
pada disiplin ilmu yang berkembang, baik ilmu murni maupun ilmu terapan. 9
Tentang manusia, al-Qur’an menggunakan tiga nama, yaitu (1)








-




(2)


dan (3)






atau







. 10

menurut kebanyakan tafsir, manusia
sebagai basyar lebih menunjukkan sifat lahiriah serta persamaannya dengan
manusia sebagai satu keseluruhan sehingga Nabi pun disebut sebagai basyar, 11
sama seperti yang lain, hanya saja beliau diberi wahyu oleh Tuhan, satu hal yang
membuatnya berbeda dengan basyar yang lain, seperti dijelaskandalam surat al-
Kahfi/18: 110



















.
Sedangkan nama insan yang berasal dari kata



(‘uns) 12

yang berarti

jinak, harmoni dan tampak, atau dari kata


(nasiya) 13

yang artinya lupa, atau

dari






(nasa yanusu) 14

yang artinya berguncang, menunjuk kepada manusia

5 Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din (tt: kitab al-Syu’ab, tth), vol. II h. 1345

6 Ibid

7

ibid

8

Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1994), cet ke-3, h.

679.

9

Dr. Muhammad Muhammad Jabir yang men-tashhih al-Munqizh min al-Dlalal-nya Imam
al-Ghazali mengatakan bahwa filsafat (sebagai ilmu dasar) sebenarnya merupakan symbol dari
revolusi melawan manipulator yang mengarahkan manusia tanpa bendera kemanusiaan.
Menurutnya, filsafat tidak bermaksud menghancurkan agama, tetapi keduanya berhubungan dalam
hal mencari kebajikan bagi manusia (lihat Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad Ibn
Muhammad al-Ghazali, al-Munqizh min al-Dlala, wa Kimya al-Sa’adah wa al-Qawa’id al-Asyrah
wa al-Adab fi al-Din
 (Beirut: al-Maktabah al-Saqafiyah, tth), h. 16

10

Al-Qur’an menyebut term insane sebanyak 65 kali, ins 12 kali, unas lima kali, nasiya satu
kali, al-Nas 250 kali, basyar 37 kali, bani Adam tujuh kali dan dzurriyah Adam satu kali.

11

Ibn Kastsir menafsirkan basyar dari surat al-Kahfi 110 ini dengan menyebutkan bahwa
Muhammad sebagai basyar tidak mengetahui hal-hal yang gaib, tidak mengetahui pula data
sejarah masa lalu dari bangsa-bangsa yang disebut al-Qur’an. Apa yang disampaikan oleh Nabi
bukan pengetahuannya karena beliau sebagai basyar pengetahuannya terbatas seperti keterbatasan
pengetahuan basyar yang lain, hanya saja Allah memberi beliau informasi tentang hal tersebut
melalui wahyu. (Muhammad Ali-al Shabuni, Mukhtashar Tafsir Ibn Katsir (Beirut : Dar al-
Qur’an, 1981), jilid II, h. 440

12

Ibn Manzhur, Lisan al-Arab (Kairo: dar al-Ma’arif, tth), Jilid I, h. 147-150

13

ibid, h. 147. menurut Ibn Abbas, manusia disebut insane karena sifat pelupanya terhadap janji, li

nisyanibi.

14

Ibid, jilid VI, h. 4575

3

dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raga. Perbedaan manusia antara yang satu
dengan yang lain, bisa merupakan perbedaan fisik, bisa juga perbedaan mental
dan kecerdasan. Kata nafs sendiri, dalam al-Qur’an mempunyai aneka makna.
Dalam surat al-Maidah/5:32, berbunyi







menunjuk pada arti totalitas

manusia, sedang pada surat al-Ra’d/13/11 yang berbunyi



























menunjuk pada apa saja yang terdapat dalam diri manusia yang
menghasilkan tingkah laku, dan pada surat al-An’am/ 6:12  yang berbunyi












menunjuk kepada diri Tuhan. Nafs dalam konteks pembicaraan tentang
manusia menunjuk kepada sisi dalam manusia yang berpotensi baik dan buruk.
Penelitian tentang hakikat manusia atau sekurang-kurangnya tentang sifat-
sifat manusia yang secara alami melekat pada manusia, atau hokum-hukum yang
berlaku pada kejiwaan manusia dalam hal ini konsep nafs dalam al-Qur’an adalah
sangat penting. Pentingnya penelitian tentang nafs bukan hanya terbatas pada
kebutuhan pengetahuan, tetapi juga pada kepentingan mengurai, meramalkan dan
mengendalikan tingkah laku manusia, baik secara individual maupun secara
kelompok, baik dalam kaitannya dengan bidang dakwah atau pendidikan maupun
untuk kepentingan menggerakkan masyarakat dalam pembangunan nasional.
Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa nafs sebagai sisi dalam manusia
berhubungan dengan dorongan-dorongan tingkah laku, sikap dan dengan tingkah
laku itu sendiri. Oleh karena itu kajian tentang nafs dalam al-Qur’an mencakup (1)
makna yang dapat di pahami dari ungkapan nafs, (2) nafs sebagai penggerak atau
dorongan tingkah laku dan (3) hubungan nafs dengan tingkah laku manusia.

B. Jiwa Menurut Term Nafs

Al-Qur’an menyebutnafsdalam bentuk-bentuk kata jadian























. Dalam bentuk mufrad, nafs disebut 77 kali tanpa idlafah dan 65 kali
dalam bentuk idlafah. Dalam bentuk jamak nufus disebut 2 kali, sedang dalam
bentuk jamak anfus disebut 158 kali. Sedangkan kata tanaffasa, yatanaffasu dan al-
mutanaffisun
masing-masing hanya disebut satu kali.
Dalam bahasa Arab, kata nafs mempunyai banyak arti, 15 tetapi yang
menjadi obyek kajian Dallam tulisan ini adalah nafs seperti yang dimaksud
dalam al-Qur’an. Term nafs dalam al-Qur’an semuanya disebut dalam benttuk
ism atau kata benda, yakni nafs, nufus dan anfus. Sedangkan kata



dalam surat

al-Takwir/ 81:18 (ﺲ



ـ








ـ



dan kata



ـ




dalam surat al-Muthaffifin/ 83: 26

(ﻥ

ـ














) meskipun kata-kata itu berasal juga dari kata nafasa/ nafisa, dalam
kata jadian seperti itu mempunyai arti yang tidak berhubungan dengan nafs.
Sastra Arab kuno menggunakan kata nafs untuk menyebut diri atau
seseorang, sementara kata roh digunakan untuk menyebut nafas dan angina.
Pada masa awal turunnya al-Qur’an, kata nafs di gunakan untuk menyebut jiwa

15 Bahasa Arab menggunakan term nafs untuk menyebut banyak hal, seperti roh, diri
manusia, hakikat sesuatu, darah, saudara, kepunyaan, kegaiban, ukuran samakan kulit,
jasad,kedekatan, zat, mata, kebesaran dan perhatian (lihat Ibn Manzhur, Lisan al-Arab (Ttp: dar al-
Ma'arif, tth), Jilid h. 4500-4501)

4

atau sisi dalam manusia 16 , sementara roh digunakan untuk menyebut malaikat
Jibril atau anugerah ketuhanan yang istimewa. 17 Baru pada periode sesudah al-
Qur’an secara keseluruhan memasyarakat di dunia Islam, kata nafs digunakan
oleh literature Arab untuk menyebut jiwa danroh secara silang, dan keduanya
digunakan untuk menyebut rohani, malaikat dan jin. Bahasa Arab juga
menggunakan istilah nafsiyun (ﻲ



) dan nafsaniyun (ﱐ



) untuk menyebut hal-

hal yang berhubungan dengannafs. 18
Dalam al-Qur’an, katanafsmempunyai aneka makna:
1. Nafs, sebagai diri atau seseorang, seperti yang disebut dalam surat Alu
Imran/ 3: 61 (ﻢ











) , surat Yusuf /12: 54

)























(

dan

surat al-Dzariyat / 51: 21 (ﻥ












)
2. Nafs, sebagai diri Tuhan, surat al-An’am / 6: 12, 54 (















-











)
3. Nafs, sebagai person sesuatu, dalam surat al-Furqon/ 25:3

























ﺿ
















dan surat al-An’am/ 6:130

4. Nafs sebagia roh, surat al-An’am / 6: 93









































5. Nafs sebagai jiwa, surat al-Syams/ 91: 7

)









(

dan surat al-Fajr/ 89: 27

(ﺔ














)
6. Nafs sebagai totalitas manusia, surat al-Maidah/ 5:32







































dan surat al-Qashash/ 28: 19, 33
7. Nafs sebagai sisi dalam manusia yang melahirkan tingkah laku, surat al-Rad/

13: 11 (ﻢ




























) dan al-Anfal/ 8: 53.
Dalam konteks manusia, disamping penggunaan nafs untuk menyebut totalitas
manusia, banyak ayat al-Qur’an yang mengisyaratkan gagasan nafs sebagai
sesuatu di dalam diri manusia yang mempengaruhi perbuatannya, atau nafs
sebagai sisi dalam manusia, sebagai lawan dari sisi luarnya.
Ayat-ayat yang mengisyaratkan adanya sisi luar dan sisi dalam manusia
antara lain adalah sebagai berikut:

16 Pada periode Mekkah, al-Qur'an sudah menyebut al-ruh al amin, al-ruh al qudus dan al-
malaikah wa al-ruh
sepeti yang tersebut dalam Q.s al-Syuara/ 26:193, Q.s. al-Nahl/ 16:102,Q.s al-
Ma'arij/ 70:4, Q.s. al-Naba/ 78:38, Q.s al-Qadr/ 97:4
17 Misalnya surat al-Mujadilah/ 58: 22 (ﻪ












) mengandung arti pertolongan Allah, dan

surat al-Syura /42:52 (ﺎ























) mengandung arti wahyu al-Qur'an. Lihat pula surat-
surat Q.s. al-Syuara/ 26:193, Q.s. al-Nahl/ 16:102, Q.s al-Maarij/ 70:4, Q.s al-Naba/ 78:38, Q.s al-
Qadr/ 97:4

18 Tentang penggunaan kalimat roh dan nafs dengan makna silang dapat dilihat antara lain
pada kitab al-Afhanni-kitab sastra masa Bani Umayyah, juga pada kitab-kitab hadits,al-Muwaththa,
Musnad Ibn Hanbal, Shahih Bukhari
pada kitab al_Farq bayn al-Firaq-nya al Baghdadi, al-Milal wa al-
Nihal-
nya al Syahristani dan lain-lain. Lihat pula Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, Dar al Ma'arif dan
H.A.R Gibb & J.H. kramers,Shorter Encyclopaedia of Islam (New York Cornell Uniersity Press, 1953),
h. 433-436 dan Edward William Lanc, Arabic-English Lexion, (London: Islamic Texts Society Trust,
1984), volume II, h. 2826-2829

5

!$#

ãNnètƒ

$tB

ã@ÏJøtrB

‘@à2

4Ós\&

$tBur

âÙ‹Éós?

ãP$ymö‘F{$#

$tBur

ߊ#yŠ÷“s?
(
‘@à2ur

>äóÓ

¼çny‰ã

A‘#y‰ø)ÏJÎ/

ÇÑÈ

ÞOÎ=»

É=ø‹ø9$#

Íoy‰»p9$#ur

玕Î7x6ø9$#

ÉA$yètFßJø9$#

ÇÒÈ

Öä!#uqy™

Oä3ZÏiB

ô`¨B

§Ž| r&

tAöqs)ø9$#

`tBur

t•ygy_

¾ÏmÎ/

ô`tBur

uqèd

¥‚tGó¡ãB

È@øŠ©9$$Î/

7>Í‘$y™ur

Í‘$pk¨]9$$Î/

ÇÊÉÈ

¼çms9

×M»t7Ée)ãB

.`ÏiB

Èû÷üt/

Ïm÷ƒy‰tƒ

ô`ÏBur

¾ÏmÏÿù=yz

¼çmtRqÝàxÿøts

ô`ÏB

ÌøBr&

«!$#

3
žcÎ)

©!$#

Ÿw

çŽÉi•ãƒ

$tB

BQöqs/

4Ó®Lym

(#ŽÉi•ãƒ

$tB

öNÍkŦàÿRr'Î/
3
!#sŒÎ)ur

yŠ#u‘r&

ª!$#

5Qöqs/

#[äþqß

Ÿx

¨Št•tB

¼çms9
4

$tBur

Oßgs9

`ÏiB

¾ÏmÏRrߊ

`ÏB

@A#ur

Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan
rahim yang kurang Sempurna dan yang bertambah. dan segala sesuatu pada sisi-
Nya ada ukurannya. Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak;
yang Maha besar lagi Maha Tinggi. Sama saja (bagi Tuhan), siapa diantaramu
yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus-terang dengan Ucapan
itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan
(menampakkan diri) di siang hari. Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang
selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka
menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan
sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka
sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum,
Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi
mereka selain Dia. (Q.s. Al-Rad/ 13:8-11)

1.Nafs sebagai Totalitas Manusia

Kata nafs digunakan al-Qur’an untuk menyebut manusia sebagai totalitas,
baik manusia sebagai makhluk yang hidup di dunia maupun manusia yang
hidup di alam akhirat. Surat al-Maidah/5:32, misalnya menggunakan nafs untuk
menyebut totalitas manusia di dunia, yakni manusia hidup yang bisa dibunuh,
tetapi pada surat Yasin/ 36: 54, kata nafs digunakan untuk menyebut manusia di
alam akhirat.

ô`ÏB

È@ô_r&

y7Ï9º

$o;tFŸ2

4n?

ûÓÍ_t/

Ÿ@ƒÏäÂó Î)

¼çm¯Rr&

`tB

Ÿ@tFs%

$G¡øÿtR

ÎŽö•Î/

C§øÿtR

÷rr&

7Š$|¡sù

’Îû

ÇÚö‘F{$#

$yJ¯Rr'x6

Ÿ@tFs%

}¨$¨Z9$#

$Yè‹ÏJy_

ô`tBur

$yd$uŠômr&

!$uK¯Rr'x6

$uŠômr&

}¨$¨Y9$#

$Yè‹ÏJy_
4

.
.
.

Oleh Karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa:
barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan Karena orang itu
(membunuh) orang lain, atau bukan Karena membuat kerusakan dimuka bumi,

6

Maka seakan-akan dia Telah membunuh manusia seluruhnya]. dan barangsiapa
yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah dia Telah
memelihara kehidupan manusia semuanya. … (Q.s al-Maidah:32)

tPöqu‹ø9$$sù

Ÿw

ãNnàè?

Ó§øÿtR

$\«ø‹

Ÿwur

šc÷rt“øgéB

ž)

$tB

óOçFZà2

tbqè=yès?

ÇÎÍÈ

Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak
dibalasi, kecuali dengan apa yang Telah kamu kerjakan. (Q.s Yasin/ 36:54)

Penggunaan nafs untuk menyebut totalitas manusia juga dapat dijumpai
pada surat al-Baqarah/2:61 dan 123, Yusuf / 12:54, al-Dzariyat / 51: 21, dan al-
Nahl/ 16: 111. Dari penggunaan term nafs untuk menyebut manusia yang hidup
di alam dunia maupun di alam akhirat melahirkan pertanyaan tentang
pengertian totalitas manusia. Sebagaimana yang sudah menjadi pemahaman
umum bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki dua dimensi, yaitu jiwa
dan raga. Tanpa jiwa-dengan fungsi-fungsinya-manusia dipandang tidak
sempurna, dan tanpa jasa, jiwa tidak dapat menjalankan fungsi-fungsinya. Surat
Yasin/ 36: 54 mengisyaratkan adanya paham eskatologi dalam al-Qur’an, yakni
bahwa di samping manusia hidup di alam dunia, ada dunia lain, yakni alam
akhirat di mana manusia nanti harus mempertanggungjawabkan perbuatannya
selama di dunia. Jadi totalitas manusia menurut al-Qur’an bukan hanya
bermakna manusia sebagai makhluk dunia, tetapi juga sebagai makhluk akhirat,
yakni manusia yang juga harus mempertanggungjawabkan perbuatannya nanti
di alam akhirat.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana wujud kehidupan nafs di
akhirat dibanding dengan kehidupan di alam dunia. Alam dunia bersifat materi,
dan keberadaan manusia di alam dunia juga bisa didekati dengan ukuran-
ukuran materi dalam hal ini dengan panca indera-meski disisi lain manusia juga
memiliki kehidupan spiritual. Alam akhirat bukan alam materi, oleh karena itu
tolak ukur alam akhirat berbeda dengan tolak ukur alam dunia. Bagaimana
manusia hidup di dunia sudah diketahui oleh ilmu pengetahuan, sedang
bagaimana manusia hidup di alam akhirat hanya bisa didekati dengan
keyakinan.

Menurut al-Qur’an, di alam akhirat nanti, nafs akan dipertemukan
dengan badannya. Surat al-Takwir/ 81:7 berbunyi:











(dan ketika nafs-

nafs itu dipertemukan (dengan badannya).
Kebanyakan tafsir, misalnya tafsir al-Maraghi menafsirkan kalimat
zuwwiyat dengan arti dipertemukan dengan badannya. 19 Penafsiran ini
menunjukkan pada ayat lain yang mengisyaratkan bahwa di alam akhirat
manusia juga memiliki anggota badan. Surat Yasin/ 36: 65, misalnya berbunyi:

tPöqu‹ø9$#

ÞOÏFøƒwU

#n?

öNÎgÏdºuùr&

!$uZßJÏk=s?ur

öNÍk‰É÷ƒr&

߉p¶s?ur

Nßgè=ã_ö‘r&

$y/

(#qçR%x.

tbqç6Å¡õ3tƒ

ÇÏÎÈ

19 Ahmad Mushthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi (Beirut: dar al-Ihya al Turas al-Arabiyah,

1985), jilid 10 Juz 30, h. 55

7

Pada hari Ini kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada kami tangan
mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu
mereka usahakan. (Q.s Yasin/ 36:65)

Demikian juga ayat-ayat yang menggambarkan keadaan sorga
mengisyaratkan adanya bentuk-bentuk kehidupan yang menyerupai kehidupan
manusia di alam dunia, seperti adanya mata air sebagai sumber minuman dan
gelas yang diperuntukkan bagi al-abrar seperti yang terdapat dalam surat al-
Insan/76:5 (ﺱ












) serta adanya dipan-dipan dan bidadari seperti

dijelaskan surat al-Thur/ 52: 20

)



















(

Jika nafs di akhirat nanti akan dipertemukan dengan badannya,
pertanyaan yang timbul apakah badan yang lama, yang telah hancur menjadi
tanah, atau badan baru yang dirancang untuk hidup di alam rohani. Ditinjau
dari kekuasaan Tuhan, maka mempertemukan nafs dengan badannya bukanlah
masalah, karena seperti dipaparkan surat Yasin/36: 79 (ﺓ












)
Tuhan berkuasa menghidupkan yang mati sebagaimana berkuasa
menghidupkan pada kali pertama. Selanjutnya hal itu kembali kepada keimanan
dan keyakinan.

Berbeda dengan al-Maraghi, Abdullah Yusuf Ali dalam The Meaning of the

Glorius Quran mengartikan


dengan dipilih. Jadi menurut Yusuf Ali, pada
hari akhirat nanai nafs akan dikelompokkan menjadi tiga golongan, yaitu: nafs
yang termasuk dekat dengan Tuhan

)






(

dan dua selebihnya adalah golongan

kanan dan golongan kiri (ﻝ






). 20

Pendapat Yusuf Ali dalam hal ini sebenarnya merupakan tafsir al-Qur’an
bi al-Qur’an,
yakni bahwa surat al-Takwir/ 81:7 di tafsir dengan surat al-
Waqiah/56:7-10, bahwa kelak pada hari kiamat manusia akan dikelompokkan
menjadi tiga golongan,










. 21 Menurut Fakhr al-Razi, yang juga diikuti
oleh Mohammad Arkoun, 22 kalimat zuwwiyat pada surat al-Takwir /81:7
dimungkinkan untuk banyak penafsiratn. Pendapat-pendapat yang idkutip
Imam al-Razi, menegaskan prinsip bahwa yang dpertemukan dalam term
zuwwijat haruslah di antara dua pihak yang sepadan, maka makna zuwwijat bisa
berarti dipertemukan (a) nafs dengan jasadnya, (b) nafs-nya orang mukmin

20 Abdullah Yusuf Ali,The Meaning of Glorious Qur'an(Beirut: Dar al-Kutub al-Lubhani, tth),

h. 1694

21


ـ







ـ











ـ








































































(Q.s. al-

Waqiah/ 56: 7-11)

22 Muhammad Arkoun, al-Fikr al-Islami, Naqa wa Ijtihad (London: dar al-Saqi, 1990), h. 75-
105). Buku ini sebenarnyamerupakan kumpulan dari artikel dalam bahasa Prancis yang ditulis
dalam rangka seminar Internasional bertema Intellectuels et Militans dans le monde islamique yang
diselenggarakan oleh Universitas Ness bulan Desember 1988, tapi kemudian diterjemahkan dan
dita'liq oleh Hasyim Saleh dengan judul tersebut di atas. Hasyim bekerja keras mengorek
pemikiran Arkoun dengan mengajukan 21 topik pertanyaan kepada Arkoun. Hasyim juga secara
khusus mewawancarai dan mengulas pemikiran Arkoun pada tiga seminar yang lain.

8

dengan bidadari, (c) nafs-nya orang kafir dengan setan, (d) nafs-nya orang
Yahudi dengan Yahudi dan Nasrani dengan Nasrani, (e)nafs dengan amalnya. 23
Pengertian totalitas manusia juga bermakna bahwa manusia memiliki sisi
luar dan sisi dalam. Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa nafs juga merupakan sisi
dalam manusia.

2.Nafs Sebagai Sisi Dalam Manusia

Surat al-Rad/ 13:10, mengisyaratkan bahwa manusia memiliki sisi dalam

dan sisi luar.

Öä!#uqy™

Oä3ZÏiB

ô`¨B

§Ž| r&

tAöqs)ø9$#

`tBur

t•ygy_

¾ÏmÎ/

ô`tBur

uqèd

¥‚tGó¡ãB

È@øŠ©9$$Î/

7>Í‘$y™ur

Í‘$pk¨]9$$Î/

Sama saja (bagi Tuhan), siapa diantaramu yang merahasiakan ucapannya, dan
siapa yang berterus-terang dengan Ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di
malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari. (Q.s al-Rad/
13:10)

Kesanggupan manusia untuk merahasiakan dan berterus-terang (ﺮ



)
dengan ucapannya merupakan petunjuk adanya sisi dalam dan sisi luar dari
manusia. Al-Qur’an juga menyebut hubungan antara sisi dalam dan sisi luarnya.
Jika sisi luar manusia dapat dilihat pada perbuatan lahirnya, maka sisi dalam,
menurut al-Qur’an berfungsi sebagai penggeraknya. Suratal-Syams/ 91:7








secara tegas menyebut nafs sebagai jiwa. Jadi sisi dalama manusia adalah

jiwanya.

Sekurang-kurangnya al-Qur’an dua kali menyebut nafs sebagai sisi dalam
yang mengandung potensi sebagai penggerak tingkah laku, yaitu pada surat al-
Rad/13: 11dalam surat al-Anfal / 8: 53

3
žcÎ)

©!$#

Ÿw

çŽÉi•ãƒ

$tB

BQöqs/

4Ó®Lym

(#ŽÉi•ãƒ

$tB

öNÍkŦàÿRr'Î/

Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka
merobah keadaanyang ada padanafsmereka sendiri. (Q.s Al-Rad/ 13:11)

y7Ï9º

cr'Î/

©!$#

öNs9

à7tƒ

#ZŽÉi•ãB

ºpyèÏoR

$ygyJ÷Rr&

4n?

BQöqs%

4Ó®Lym

(#ŽÉi•ãƒ

$tB

öNÍkŦàÿRr'Î/

žcr&ur

©!$#

ìì‹ÏJy™

ÒOŠÎ=

ÇÎÌÈ

(siksaan) yang demikian itu adalah Karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak
akan meubah sesuatu nikmat yang Telah dianugerahkan-Nya kepada suatu
kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri dan
Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.s al-Anfal/
8:53

23 Imam al-Fakhr al-Razi,al-Tafsir al Kabir,(Beirut Dar Ihya al-Turats al-Arabi, tth) juz XXXI,

h. 69

9

Pada surat al-Ra’d/ 13: 11 di atas, ada dua kalimat yang menunjukkan
keadaan sesuatu pada kaum, yaitu kalimat






dan






. dalam kaidah

bahasa Arab, huruf




pada kalimat





dan








mengandung arti berita

(ﺔ



). Jadi






artinya apa yang ada pada sesuatu kaum, dan







artinya
apa yang ada padanafsatau sisi dalam mereka. Sedangkan apa kandungan huruf
ma dapat dilihat pada konteks ayat terseubt atau munasabah dari ayat sebelum
dan sesudahnya.

Surat al-Rad/ 13: 1-7 menyebutkan tentang kekuasaan Allah dan
kesempurnaan ilmu-Nya pada system jagad raya, serta keheranannya terhadap
orang kafir yang tidak percaya. Ayat 8-9 menyebutkan kesempurnaan
pengetahuan Allah terhadap kapasitas dan proses kejadian manusia ketika
masih dalam kandungan ibunya. Allah telah menetapkan kapasitas

)





(

manusia satu persatu sejak dini. Ayat 10 mengisyaratkan bahwa manusia
memiliki sisi luar dan sisi dalam, sisi yang tampak dan sisi yang tidak tampak,
yang keduanya tapak jelas bagi-Nya.Pada ayat 11, al-Qur’an menegaskan
komitmen Tuhan dalam memberikan rahmat kepada manusia, yakni
denganmengirimkan malaikat rahmat untuk selalu menyertai, mengawasi dan
menjaganya. Meskipun demikian manusia tetap diberi ruang yang besar untuk
menggapai apa yang diinginkan, sehingga apa yang dicapai bergantung
usahanya. Tuhan tidak hanya memberikan anugerah berupa nikmat kepada
manusia atau masyarakat, tetapi juga memberi kesempatan kepada mereka
untuk serta dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Jadi






pada surat al-Rad
/ 13:11 mengisyaratkan peluang keberhasilan manusia dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya.

Pada surat al-Anfal/ 8: 53, secara lebih jelas disebutkan bahwa apa yang
ada pada suatu kaum itu ialah nikmat Allah bagi manusia. Ayat sebelumnya (52)
dan sesudahnya (54) secara jelas menceritakan pasang surut kejayaan dan
keturunan Fir’aun dan orang-orang sebelumnya dimana siksaan Tuhan dating
disebabkan oleh perbuatan meraka mendustakan-Nya. Jadi surat al-Anfal/8:53
mengisyaratkan bahwa kejayaan suatu kaum bergantung kepada apa yang ada
dalam nafs mereka, karena Tuhan tidak akan mencabut atau mendatangkan
suatu tingkat kesejahteraan begitu saja kepada suatu kaum tanpa peran mereka,
dan peran itu bersumber dari apa yang ada dalamnafsmereka.
Dengan demikian kata







mengisyaratkan bahwa nafsitu merupakan
sisi dalam manusia yang juga merupakan wadah bagai suatu potensi, dan
sesuatu itu sangat besar perannya bagi perbuatan manusia. Apa yang ada
didalam nafs manusia berperan besar dalam mempertahankan, menambah atau
mengurangi tingkat social ekonomi masyarakat. Baik surat al-Rad maupun al-
Anfal mengubungkan apa yang ada di dalam nafs dengan perubahan. Apa yang
tersembunyai dalam nafs, dan dari sana lahir perbuatan akan dapat melahirkan
perubahan-perubahan besar dalam kehidupan manusia di muka bumi ini.
Pekerjaan melakukan perubahan adalah pekerjaan yang melibatkan
gagasan, perasaan dan kemauan. Oleh karena itu apa isi anfus seperti yang
dimaksud dalam term







pastilah suatu potensi, atau sekurang-kurangnya
di antara muatan nafs adalah potensi, yakni potensi untuk merasa, berpikir dan

10

berkemauan. Dari term







dapat dipahami bahwa nafs bukan alat, tetapi
lebih merupakan wadah yang didalamnya terdapat aneka fasilitas. Ia merupakan
ruang dalam atau rohani manusia yang sangat luas yang juga menampung aneka
fasilitas, ibarat ruang besar yang berkamar-kamar, menampung seluruh aspek
nafsmanusia, yang diisi dari maupun yang tidak disadari.
Hal ini diisyaratkan dalam surat Thaha/ 20: 7 yang berbunyi:

)ur

ö•ygrB

ÉAöqs)ø9$$Î/

¼çm¯RÎ*sù

ãNnètƒ

§ŽÅc£9$#

szr&ur

ÇÐÈ

Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, Maka Sesungguhnya dia mengetahui
rahasia dan yang lebih tersembunyi

Menurut al-Maraghi, al-sirr atau rahasia adalah apa yang dirahasiakan
seseorang kepada orang lain, sedangkan makna akhfa atau yang tersembunyi
adalah apa yang terlintas di dalam hati tetapi sudah tidak disadari, mungkin
sama dengan apa yang dalam istilah Ilmu Jiwa disebut alam bawahsadar. 24

a.Nafs sebagai Penggerak Tingkah Laku

Surat al-Rad/ 13-11, disamping mengisyaratkan nafs sebagai wadah, ia
juga mengisyaratkan sebagai penggerak tingkah laku. Tuhan tidak mengubah
keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan kaum sampai mereka
mengubah isi dari nafs mereka. Jadi nafs bisa dioptimalkan fungsinya untuk
menggerakkan tingkahlaku manusia melakukan perubahan-perubahan. Sebagai
wadah, nafs dapat menampung hal-hal yang baik maupun yang buruk, seperti
terdapat pada surat al-Syams/ 91:8, (ﺎ













) selanjutnya menurut surat

al-Naziat/ 79: 40 (ﻯ










), jika dijaga dari dorongan syahwat atau hawa
nafsu, dan disucikan, seperti yang terdapat dalam Q. S al-Syams/ 91:9,

)











(

nafs meningkatkan kualitasnya. Akan tetapi jia ia dikotori dengan perbuatan
maksiat dan menjauhi kebajikan seperti yang disebut dalam surat Q.S. al-Syams/
91:10







, maka nafs menjadi rendah kualitasnya. Kualitas nafs itu
berpengaruh terhadap perbuatan. Jika kualitas nafs itu baik, maka
kecenderungannya pada menggerakkan perbuatan baik, sebaliknya jika
kualitasnya rendah, maka nafs cenderung mudah menggerakkan perbuatan
buruk. Akan tetapi dalam menggerakkan tingkah laku dengan segala prosesnya,
nafs tidak bekerja secara langsung, karena nafs bukanlah alat. Nafs bekerja
melalui jaringan system yang bersifat rohani. Dalam system nafs terdapat sub
system yang bekerja sebagai alat yang memungkinkan manusia dapat
memahami, berpkir dan merasa, yaitu: qalb, bahirah, ruh dan aql, yang akan
dibahas pada bagian lain di belakang.

b. Kualitas Nafs

Al-Qur’an menegaskan bahwa pada dasarnya nafs diciptakan TUhan
dalam keadaan sempurna. Sebagai perangkat dalam (rohani) manusia, nafs

24 Ahmad Mushthafa al-Maraghi, op.cit vol. Vi, h. 96

11

dicipta secara lengkap, diilhamkan kepadanya kebaikan dan keburukan agar ia
dapat mengetahuinya.

<§øÿtRur

$tBur

$yg1§qy™

ÇÐÈ

$ygyJolù;r'sù

$ydu‘géú

$yg1uqø)s?ur

ÇÑÈ

ô‰s%

yxnùr&

`tB

$yg8©.y—

ÇÒÈ

ô‰s%ur

z>%s{

`tB

$yg9¢™yŠ

Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan
kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya
beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, Dan Sesungguhnya merugilah
orang yang mengotorinya. (Q.s al-Syams/ 91: 7-11)

Nafs adalah al-jawhar atau substansi yang menyebabkan manusia berbeda
kualitasnya dengan makhluk yang lain, yakni yang menyebabkan manusia
mampu menggagas, berpikir dan merenung, kemudian dengan gagasan dan
pikirannya itu manusia mengambil keputusan, dan dengan pikirannya itu
manusia juga dapat menangkap rambu-rambu dan symbol-simbol yang
membuatnya harus memilih jalan mana yang harus ditempuh.
Menurut al-Qur’an, nafs memiliki kemerdekaan dan memiliki peluang
apakah kemudian cenderung kepada kebaikan dan alergi kepada keburukan
atau sebaliknya, bergantung kepada faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Faktor terpenting dalam hal ini adalah bagaimana manusia mengendalikan
kodrat fitriahnya, tabiat individualnya serta daya responnya terhadap
lingkungan sebelum melakukan suatu perbuatan.
Menurut al-Qur’an, nafs memiliki kemerdekaan untuk membedakan
antara kebaikan dan keburukan, dan dengan alat bantu yang tersedia,
memungkinkan memilih jalan atau mengubah keputusan, sehingga suatu nafs
memutuskan untuk memilih jalan yang menuju kepada martabat takwa, dan di
waktu yang lain menyimpang ke jalan yang sesat.
Dalam surat al-Isra/ 17: 15 disebutkan:

Ç`¨B

3y‰tF÷d$#

$yJ¯RÎ*sù

“ωtGöku

¾ÏmÅ¡øÿuZÏ9
(

`tBur

¨@

$yJ¯RÎ*sù

‘@ÅÒtƒ

$pköŽn=
4

Ÿwur

âÌ“s?

×ou‘Η#ur

u‘øÍr

3t•÷zé&
3

$tBur

$¨Zä.

tûüÎ/Éj‹yèãB

4Ó®Lym

y]yèö6tR

Zwqß™u‘

ÇÊÎÈ

Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), Maka Sesungguhnya
dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat
Maka Sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. dan seorang
yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan kami tidak akan
meng'azab sebelum kami mengutus seorang rasul.

Sejalan dengan kemerdekaan yang diberi oleh Tuhan, nafs juga diberi
tanggung jawab dan otonomi. Seperti dijelaskan ayat di atas, bahwa seseorang
yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan Tuhan tidak akan
memberi azab sebelum terlebih dahulu memberi rambu-rambu yang harus
dipatuhi melalui rasul-Nya. Kemerdekaan dan tanggung jawab nafs itu diberikan
sedemikian rupa hingga Tuhan mengingatkan bahwa Dia mengetahui sisi dalam
yang disembunyikan manusia. Surat Qaf/ 50: 16 menyebutkan bahwa apa yang

12

dibicarakan oleh nafs, yang tidak terdengar oleh panca indera manusia, diketahui
oleh Tuhan.

ô‰s)s9ur

$uZø)n=yz

zSM}$#

ÞOnètRur

$tB

â¨Èqó™u?

¾ÏmÎ/

¼çmÝ¡øÿtR
(
ß`øtwUur

Ü>t•ø%r&

Ïmø‹s)

ô`ÏB

È@ö7ym

σ͑uqø9$#

ÇÊÏÈ

Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang
dibisikkan oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,
(Q.s. Qaf/ 50:16)

Kualitas nafs seseorang bisa meningkat dan bisa menurut dan hal ini
berkaitan dengan system yang melibatkan jaringan tabiat dan fitnah manusia.
Kualitas nafs yang telah terbentuk pada seseorang membentuk system
pengendalian oleh tiap-tiap individu, sehingga seseorang kuat dan yang lain ada
yang lembah dalam menghadapi godaan yang dating dari luar. Hal ini
diisyaratkan oleh al-Qur’an surat al-Naziat/ 79: 40-41:

$¨Br&ur

ô`tB

t$%s{

tP$s)tB

¾ÏmÎn/u‘

ygtRur

øÿ¨Z9$#

Ç`

3uqolù;$#

ÇÍÉÈ

¨bÎ*sù

sp¨Ypgø:$#

}‘Ïd

3u'yJø9$#

ÇÍÊÈ

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan
diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya syurgalah tempat
tinggal(nya).

Surat al-Hasyr/ 59: 9 juga menghubungkan kualitas nafs dengan tingkat
kecintaan kepada harta benda.

4

`tBur

s-qãƒ

£xä©

¾ÏmÅ¡øÿtR

š•Í´¯»s9''sù

ãNèd

šcqßsÎ=øÿßJø9$#

.....dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang
yang beruntung

Fisik manusia, meski genetiknya sehat, tetapi proses kehamilan, kelahiran
dan lingkungan hidup selanjutnya mempengaruhi tingkat kesehatannya.
Demikian juga tingkatan nafs, meskipun pada dasarnya ia dicipta Tuhan dalam
keadaan sempurna seperti yang disebut dalam surat al-Syams/ 91: 7-8, tetapi
pemeliharaan dan pemupukannya seperti yang diisyaratkan dalam surat al-
Naziat/ 79:40, surat al-Hasyr/ 59:9, dan surat al-Syams/ 91: 9-10 di atas
melahirkan tingkatan nafs yang berbeda-beda pada tiap orang. Pada orang
dewasa yang berakal, tingkatan nafs disebut dalam al-Qur’an dalam beberapa
tingkatan, seperti al-nafs al-Ammarah, al Nafs al-Lawwamah dan al-Nafs al-
Muthmainnah.
Sedangkan pada anak-anak yang belum mukallaf, al-Qur’an
menyebut nafs untuk mereka denggan nama nafs zakiyah yang diterjemahkan ke
dalam bahasa Indonesia dengan jiwa yang suci.

c. Kapasitas Nafs

13

Dihadapan Tuhan manusia bertanggung jawab secara perorangan.
Sebagai khalifah Allah, setiap manusia telah dilengkapi perangkat untuk
melaksanakan tugas-tugas kekhalifahannya. Perbuatan baik atau buruk kekecil
apapun yang dilakukan manusia tidak ada yang tercecer dalam “administrasi”
Tuhan (Q.S. al-Zilzalah/ 98: 8-7). 25 Perbuatan baik yang dilakukan oleh setiap
orang akan tercatat sebagai amal yang pahalanya diberikan kepada yang
bersangkutan.

)









26 Orang yang berdosa pun juga hanya
menanggung akibat dari dosa yang dia lakukan. Tidak seorang pun yang
teraniaya, yakni harus menanggung perbuatan dosa orang lain.
























) 27

Dihadapan Tuhan, nafs adalah otonom. Setiap nafs diberi peluang untuk
berhubungan langsung dengan Allah swt. Jika badan manusia yang bersifat
materi musnah bersama dengan kematian manusia, maka nafs manusia yang
immateri dipanggil untuk kembali kepada Tuhannya, seperti yang dijabarkan
dalam surat al-Fajr/ 89: 27:

$pJr'¯»tƒ

ߧøÿ¨Z9$#

èp¨ZÍ´yÜßJø9$#

ÇËÐÈ

ûÓÉëÅ_ö‘$#

4n)

Å7În/u‘

ZpuŠÅÊ#u‘

Zp¨ŠÅÊó£D

ÇËÑÈ

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi
diridhai-Nya.

Akan tetapi kapasitas nafs tiap orang berbeda-beda, maka disamping ada
nafs yang dipanggil untuk kembali kepada Tuthan dengan ridha dan diridhoi,
ada yang ditegur Tuhan karena tidak bisa mempertahankan kesucian nafs-nya.
Dalam surat al-Infithar Allah berfirman

ôMyJÎ=

Ó§øÿtR

$¨B

ôMt‰s%

ôNt•¨zr&ur

ÇÎÈ

$pkš‰r'¯»tƒ

ß`»RM}$#

$tB

x•xî

y7În/t•Î/

ÉOƒÌ•x6ø9$#

ÇÏÈ

“Ï%©!$#

y7s)n=yz

y71§q|¡sù

y7s9y‰yèsù

ÇÐÈ

Setiap nafs mengetahui apa yang Telah dikerjakan dan yang dilalaikannya. Hai
manusia, apakah yang Telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap
Tuhanmu yang Maha Pemurah. Yang Telah menciptakan kamu lalu
menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang,
(Q.s al-Infithar/ 82: 5-7)
Menurut al-Maraghi, kalimat




artinya membuatmu seimbang
badannya. 28 Sedangkan menurut Abdullah Yusuf Ali dalam the Meaning of the
Glorious Quran,
kalimat tersebut artinya membuatmu berprasangka adil, adil
sepanjang argument rasional dan perasaan spiritual. 29
Jadi pada dasarnya, meskipun nafs memiliki kemerdekaan, tetapi Tuhan
memberikan kecenderungan kepada kebaikan dan keadilan. Dalam surat al-

25











































26 Surat al-Imran/ 3:25 lihat pula Q.s al-Imran/ 3:161 dan Q.s al-Isra/ 17:15
27 Surat al-An'am/ 6:164 lihat Pula Q.s al-Baqarah/ 2:281
28 Ahmad Mushthafa al-Maraghi, op.cit Juz X, h. 66
29 Abdullah Yusuf Ali, op.cit h. 1701

14

Baqarah/ 2: 286, disebutkan bahwa nafs akan memperoleh ganjaran sesuai
dengan perbuatannya:

4

$ygs9

$tB

ôMt6|¡x.

$pköŽn=tãur

$tB

ôMt6|¡tFø.$#
3

Nafs memperoleh pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat
siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya (Q.s. al-Baqarah/ 2:286)

Dalam bahasa Arab, term


menunjuk pada usaha yang dilakukan

secara mudah, sedangkan term


menunjuk pada usaha yang susah dan
berat. 30 Jadi pada dasarnya nafs diciptakan Tuhan dalam system manusia berikut
dengan segala fitrahnya, sebagai fasilitas untuk berbuat baik. Dengan kata lain
pada dasarnyanya manusia diciptakan Tuhan untuk menjalankan kebaikan,
yang kemudian diberi fasilitas dengan nafs yang memiliki kecenderungan
kepada kebaikan. Akan tetapi kemerdekaan manusia memungkinkan ada orang
yang mengabaikan perbuatan baik, sebaliknya malah melakukan keburukan,
meskipun untuk itu harus bersusah payah melakukannya (iktasabat), yakni harus
memenangkan konflik batin, karena batin atau nafs-nya tidak mendukung
perbuatan buruk itu.

Ayat ini sebenarnya juga menegaskan apresiasi al-Qur’an terhadap
manusia, yakni memandang manusia sebagai makhluk yang mulia (positif) sejak
lahir, berbeda dengan agama Kristen yang menganggap manusia secara negatif,
yakni manusia dipandang telah membawa dosa warisan sejak lahir. 31
Sejalan dengan pandangan positif al-Qur’an, nafs diperlakukan Tuhan
secara adil dan tidak akan teraniaya, oleh karena itu Allah tidak membebani
suatu kewajiban kepada seseorang kecuali pasti sesuai dengan kapasitas
kesanggupannya, seperti yang dipaparkan dalam surat al-Baqarah/ 2-286:













C. Tingkatan Kualitas Nafs

Seperti telah dijelaskan dalam surat al-Syams/ 91: 9-10 bahwa nafs itu
diciptakan Tuhan secara sempurna, tetapi ia harus tetap dijaga kesuciannya,
sebab ia bisa rusak jika dikotori dengan perbuatan maksiat. Kualitas nafs tiap
orang berbeda-beda berkaitan dengan bagaimana usaha masing menjaganya dari
hawa (Q.s. Al-Naziat/ 79: 40), yakni dari kecenderungannya kepada syahwat,
karena menuruti dorongan syahwat itu, seperti yang dikatakan oleh al-Maraghi,
merupakan tingkah laku hewan yang dengan itu manusia telah menyia-nyiakan
potensi akal yang menandai keistimewaannya. 32
Dalam bahasa Indonesia, syahwat yang menggoda manusia sering
disebut dengan istilah hawa nafsu, yakni dorongan nafsuyang cenderung bersifat
rendah.

30 Ibn Manzhur, op.cit jilid V, h. 3870-3871
31 Gereja mengenal tiga macam dosa, yaitu dosa asal yang diwaris dari kesalahan Adam,
dosa berat dan dosa ringan, masing-masing mengandung aspek Kristosentris, berhubungan
dengan Tuhan, aspek social dan aspek eklesiologis, berhubungan dengan kegerejaan, lihat Vand
den End, Dr. Th, Harta dalam Bejana (Jakarta: Badan Penerbit Kristen, tth)
32 Ahmad Mushthafa al-Maraghi, op.cit , vol. X Juz xxx, h. 168-169

15

Al-Qur’an membagi tingkatan nafs pada dua kelompok besar, yaitu nafs
martabat tinggi dan nafs martabat rendah. Nafs martabat tinggi dimiliki oleh
orang-orang yang takwa, yang takut kepada Allah dan berpegang teguh kepada
petunjuk-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Sedangkan nafs martabat rendah
dimiliki oleh orang-orang yang yang menentang perintah Allah dan yang
menbaikan ketentuan-ketentuan-Nya, serta orang-orang yang sesat, yang
cenderung berperilaku menyimpang dan melakukan kekejian serta
kemungkaran.

Secara ekplisit al-Qur’an menyebut tiga jenis nafs, yaitu:

1.








(al-nafs al-muthma’innah)

2.












(al-nafs al-lawwamah), dan

3.















) (al-nafs al-ammarah bi al-su)
Ketiga jenis nafs tersebut merupakan tingkatan kualitas, dari yang
terendah hingga yang tertinggi. Ayat-ayat yang secara eksplisit menyebut ketiga
jenis nafsitu adalah sebagai berikut:

$pJr'¯»tƒ

ߧøÿ¨Z9$#

èp¨ZÍ´yÜßJø9$#

ÇËÐÈ

ûÓÉëÅ_ö‘$#

4n)

Å7În/u‘

ZpuŠÅÊ#u‘

Zp¨ŠÅÊó£D

ÇËÑÈ

’Í?ä{÷Š$$sù

’Îû

“Ï»t6Ïã

ÇËÒÈ

’Í?ä{÷Š$#ur

ÓÉL¨Zy_

ÇÌÉÈ

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi
diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, Masuklah ke
dalam syurga-Ku. (Q.s al-Fajr/ 89: 27-30)

Iw

ãNÅ¡ø%é&

ÏQöqu‹Î/

ÏpyuŠÉ)ø9$#

ÇÊÈ

Iwur

ãNÅ¡ø%é&

ħøÿ¨Z9$$Î/

ÏptB#§q¯=9$#

ÇËÈ

Aku bersumpah demi hari kiamat, Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat
menyesali (dirinya sendiri) (Q.s al-Qiyamah/ 75:1-2)

*

!$tBur

ä—Ìh•t/é&

ûÓŤøÿtR
4
¨bÎ)

øÿ¨Z9$#

8ou‘$¨BV{

Ïäþq•¡9$$Î/

ž)

$tB

zmu‘

þ’În1u‘
4
¨bÎ)

’În1u‘

Öÿxî

×LìÏm§

ÇÎÌÈ

Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya
nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat
oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha
penyanyang. (Q.s. Yusuf 12:53)

Disamping tiga penggolongan tersebut, al-Qur’an juga menyebut term
pada anak yang belumdewasa, seperti tersebut dalam surat al-Khaf / 18: 73:

$s)n=R$$sù

#Ó¨Lym

#sŒÎ)

$u‹É)s9

$VJ»nñ

¼ã&s#tGs)

tA$s%

|Mù=tGs%r&

$T¡øÿtR

Op§‹Ï.y—

ÎŽö•Î/

<§øÿtR

ô‰s)©9

|M÷¥Å_

$\«ø‹

#[õ3œR

ÇÐÍÈ

Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang
anak, Maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: "Mengapa kamu membunuh
jiwa yang bersih, bukan Karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu
Telah melakukan suatu yang mungkar". (Q.s. Al-Kahf/ 18:74

16

Dari keempat tingkatan itu dapat digambarkan bahwa pada mulanya,
yakni ketika seorang manusia belum mukallaf, jiwanya masih suci (zakiyah).
Ketika sudah mencapai mukallaf dan berinteraksi dengan lingkungan kehidupan
yang menggoda, jika ia merespons secara positif terhadap lingkungan hidupnya
makanafs itu dapat meningkat menjadi nafs muthma’innah setelah terlebih dahulu
berproses di dalam tingkatan nafs lawwamah. Setiap nafs yang telah mencapai
tingkat muthma’innah pastilah ia menyandang predikat zakiyah pula. Akan tetapi
jika nafs itu merespon lingkungan secara negatif, maka ia dapat menurun
menjadinafs ammarah dengan segala karakteristik buruknya.

a.Nafs Zakiyah danTazkiyah al-Nafs

Term zakiyah disebut dalam al-Qur’an sebanyak 25 kali dalam berbagai
kata bentukan, dua kai dalam bentuk ism sebagai sifat








dan,ﺎ




am

bentuk af’al tafdil



33 dua belas kali dalam bentuk kata kerja





34 satu kali

dalam bentuk kata kerja




empat kali dalam bentuk kata kerja






dua

kali dalam bentuk kata kerja




disamping 32 kali dalam bentuk kalimat




.

Menurut Isfahani, kalimat


pada dasarnya mengandung arti tumbuh
karena berkat dari Tuhan, seperti yang terkandung dalam dalam arti zakat. Jika
dihubungkan denganmakanan, mengandung arti halal, tetapi jika dihubungan
dengannafs makadi dalamnya terkandung arti sifat-sifat terpuji. 35 Terjemahan al-
Qur'an terbitan Departemen Agama RepublikIndonesia menggunakan istilah
"jiwa yang suci" ketika menterjemahkan kalimat








dengan demikian maka
pengertian menyucikan jiwa atau tazkiyah al-nafs adalah membersihkan jiwa dari
sifat tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji.
Dari ayat-ayat yang berbicara tentang gagasan nafs zakiyah dapat
disimpulkan bahwa konsepnafs zakiyah dalam al-Qur'an adalah sebagai berikut:
a. Bahwa ada nafs yang suci secara fitri, yakni suci sejak mula kejadiannya,
yaitu nafs dari anak-anak yang belum mukallaf dan belum pernah melakukan
perbuatan dosa seperti yang disebut dalam surat al-Kahf / 18: 74 dan surat
Maryam/ 19: 19:

$s)n=R$$sù

#Ó¨Lym

#sŒÎ)

$u‹É)s9

$VJ»nñ

¼ã&s#tGs)

tA$s%

|Mù=tGs%r&

$T¡øÿtR

Op§‹Ï.y—

ÎŽö•Î/

<§øÿtR

ô‰s)©9

|M÷¥Å_

$\«ø‹

#[õ3œR

ÇÐÍÈ

Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan
seorang anak, Maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: "Mengapa kamu
membunuh jiwa yang bersih, bukan Karena dia membunuh orang lain?
Sesungguhnya kamu Telah melakukan suatu yang mungkar". (Q.s. Al-Kahf/
18:74

tA$s%

!$yJ¯RÎ)

O$tRr&

ãAqß™u‘

Å7În/u‘

|=ydL{

Å7s9

$VJ»nñ

$|‹Å2y—

ÇÊÒÈ

33 Lihat Q.s. al-Kahf/ 18:74 dan Q.s. Maryam /19:19
34








lihat Q.s al-Baqarah/ 2:232 dan Q.s al-Nur/ 24:28, 30 dan Q.s. al-Kahf/ 18:19
35 Lihat misalnya Q.s Al-Syams/ 91:9 dan Q.s. al-Najm/ 53:32

17

Ia (Jibril) berkata: "Sesungguhnya Aku Ini hanyalah seorang utusan
Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci". (Q.s.
Maryam/ 91:10

b. Bahwa nafs yang suci jika tidak dipelihara kesuciannya bisa berubah menjadi
kotor seperti yang terdapat dalam surat al-Syams/ 91:10)

ô‰s%ur

z>%s{

`tB

$yg9¢™yŠ

ÇÊÉÈ

Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.(Q.s. Syams/ 91:10)
c. Bahwa manusia bisa melakukan usaha penyucian jiwa

)










(

seperti yang
disebut dalam surat al-Nazi'at / 79: 18, al Fathir/ 35: 18 dan surat al-A'la/ 87:
14:

4

`tBur

4’ª1t“s?

$yJ¯RÎ*sù

4’ª1u”tItƒ

¾ÏmÅ¡øÿuZÏ9
4
n)ur

«!$#

玕ÅÁyJø9$#

dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, Sesungguhnya ia mensucikan diri
untuk kebaikan dirinya sendiri. dan kepada Allahlah kembali(mu). (Q.s.
Fathir/ 35:18)

d. Proses penyucian jiwa itu bisa melalui usaha, yakni dengan mengeluarkan
zakat seperti yang tertera dalam surat al-Taubah/ 9:103, dan menjalankan
pergaulan hidup secara terhormat seperti yang disyaratkan dalam surat al-
Nur/ 24:28 dan 30.

õè{

ô`ÏB

öNÏlÎ;ºuqøBr&

Zps%y‰|¹

öNèdãÎdgè?

NÍkŽÏj.t“è?ur

$p5

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan (hati dari kekikiran dan cinta harta) dan mensucikan mereka
(dengan tumbuhnya sifat-sifat terpuji dalam jiwa meraka) (Q.s. al-
Taubah/9:103)

*sù

óO©9

(#ÅgrB

!$ygŠÏù

#Y‰ymr&

Ÿx

$ydqè=äzô‰s?

4Ó®Lym

šc÷sãƒ

ö/ä3s9
(
)ur

Ÿ@ŠÏ%

ãNä3s9

(#èÅ_ö‘$#

(#èÅ_ö‘$$sù
(
uqèd

4s—r&

öNä3s9
4

ª!$#ur

$y/

šcqè=yès?

ÒOŠÎ=

ÇËÑÈ

Jika kamu tidak menemui seorangpun didalamnya, Maka janganlah kamu
masuk sebelum kamu mendapat izin. dan jika dikatakan kepadamu:
"Kembali (saja)lah, Maka hendaklah kamu kembali. itu bersih bagimu dan
Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.s. al-Nur/ 24:28)

@è%

šúüÏZÏB÷sßJù=Ïj9

(#q‘Òäótƒ

ô`ÏB

ôMÏdÌ»ö/r&

(#àxÿøtsur

óOßgy_èù

4

y7Ï9º

4s—r&

öNçlm;

3

¨bÎ)

©!$#

•Î7yz

$y/

tbqãèoÁtƒ

ÇÌÉÈ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka
menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu
adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa
yang mereka perbuat". (Q.s al-Nur/ 24:30)

18

e. Penyucian nafs juga bisa dilakukan dengan proses pendidikan seperti yang
dilakukan para Nabi kepada umatnya. Hal ini ditegaskan al-Qur'an dalam
surat al-Baqarah/ 2: 129, 151, surat Alu-Imran 164 dan surat Jumu'ah /62:2

uqèd

“Ï%©!$#

y]yèt/

’Îû

z`¿Íh‹ÏiBW{$#

Zwqß™u‘

öNåk÷]ÏiB

(#qè=÷Ftƒ

öNÍköŽn=

¾ÏmÏG»tƒ#uä

öNÍkŽÏj.t“ãƒur

ãNßgßJÏk=ãƒur

|=»tGÅ3ø9$#

spyJõ3Ïtø:$#ur

)ur

(#qçR%x.

`ÏB

ã@ö6s%

’Å"s9

9@»n=

&ûüÎ7•B

ÇËÈ

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di
antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka,
mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As
Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam
kesesatan yang nyata, (Q.s. al-Jumu’ah/ 62:2)

f. Disamping melalui usaha dan pendidikan, penyucian jiwa juga bisa terjadi
karena manusia dan rahmat Allah yang diberikan kepada orang yang
dikehendaki oleh-Nya, seperti yang dijelaskan dalam surat al-Nur/ 24:21 dan
surat al-Nisa/ 4:49

*

$pkš‰r'¯»tƒ

tûïÏ%©!$#

(#qãZtB#uä

Ÿw

(#èÎ6-Gs?

ÏNºuÜäz

Ç`»ø‹¤±9$#

4

`tBur

ôìÎ7®Ktƒ

ÏNºuÜäz

Ç`»ø‹¤±9$#

¼çm¯RÎ*sù

âßDù'tƒ

Ïä!$t±ósxÿø9$$Î/

Ì•s3ZßJø9$#ur
4
Ÿwöqs9ur

ã@ôÒsù

«!$#

ö/ä3ø‹n=

¼çmçGuqu‘ur

$tB

4s1y—

Nä3ZÏB

ô`ÏiB

>‰tnr&

#Y‰t/r&

£`Å3»s9ur

©!$#

’Éj1t“ãƒ

`tB

âä!$t±o
3

ª!$#ur

ìì‹Ïÿ

ÒOŠÎ=

ÇËÊÈ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah
syaitan. barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, Maka
Sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan
yang mungkar. sekiranya tidaklah Karena kurnia Allah dan rahmat-Nya
kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari
perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah
membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha mendengar
lagi Maha Mengetahui. (Q.s. al-Nur/ 24:21)

g. Perbuatan mensucikan jiwa (tazkiyah al-nafs) merupakan perbuatan terpuji
dan dihargai Tuhan seperti yang disebut dalam surat Thaha/ 20: 75-76, Q.S
Al-Syams/ 91:9 Q.s al-A'la/ 87: 14, dan Q.S al-Layl/ 92: 18

àM»¨Zy_

5bô‰tã

“ÌøgrB

`ÏB

$pJøtrB

ã»pk÷XF{$#

tûïÏ$Î#»yz

$pkŽÏù
4
y7Ï9ºsŒur

âä!#t“y_

`tB

4’ª1t“s?

ÇÐÏÈ

(yaitu) syurga 'Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka
kekal di dalamnya. dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari
kekafiran dan kemaksiatan). (Q.s. Thaha/ 20:76)

h. Bahwa perbuatan mengaku jiwanya telah suci itu merupakan hal yang
tercela, seperti terdapat dalam surat al-Najm/ 53: 32, dan Q.s. Al-Nisa/ 4:49

19

(

Ÿx

(#þq’.t“è?

öNä3àÿRr&
(
uqèd

ÞOnær&

Ç`y/

#s?$#

...maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. dialah yang paling
mengetahui tentang orang yang bertakwa. (Q. Al-Najm/ 53:32)

1) Fitrah Kesucian Nafs

Pada dasarnya nafs itu diciptakan Tuhan dalam keadaan sempurna (Q.s.
al-Syams/91: 7-8), tapi ia dapat tercemar menjadi kotor jika tidak dijaga (Q.s. 91:
9-10). Tentang nafs yang masih suci disebutkan dalam surat al-Kahfi/ 18: 74,
dalam rangkaian kisah Nabi Musa dengan Nabi Khidir yang teks ayatnya telah
ditulis pada bagian depan.
Kalimat zakiyah pada ayat tersebut di atas (ﺔ






(

) merupakan sifat dari
nafs, sehingga nafs zakiyah artinya jiwa yang suci. Dalam konteks ayat tersebut,
pemilik nafs yang suci itu adalah seorang anak kecil, seperti yang juga disebut
dalam surat Maryam/ 19:19






. Jadi nafs yang secara fitri masih suci adalah
nafs dari anak yang belummukallaf,yang oleh karena itu belum berdosa.
Fakhr al-Razi mengutip perbedaan makna dari kalimat




dan





sebagian mufasir memandang sama arti dari dua kalimat itu, tetapi sebagian
membedakannya, antara lain Abu Amr ibn al-A'la yang membedakan arti dari
dua kalimat itu. Menurutnya, nafs zakiyah (dengan alif) adalah jiwa yang suci
secara fitri, yakni belum pernah melakukan dosa, sedang nafs zakiyah adalahjiwa
yang suci setelah melalui proses tazkiyah al-nafs dengan bertaubat dari perbuatan
dosa. 36

Kesucian nafs bersifat maknawi, maka kotornyapunjuga bersifat
maknawi. Seseorang dapat memelihara kesucian nafs-nya manakala ia konsisten
dalam jalan takwa, sebaliknya nafs berubah menjadi kotor jika pemiliknya
menempuh jalan dosa atau fujur surat al-Syams/ 91: 7-10 menyebutkan bahwa
sungguh rugi orang yang telah mengotori jiwanya (ﺎ






). Kata dassa

berasal dari kata


-


yang arti lughawinya menyembunyikan sesuatu di dalam
sesuatu. 37 Dalam kontek ayat ini, artinya orang mengotori jiwanya dengan
perbuatan dosa yang dilakukan secara sumbunyi-sembunyi. Oleh karena itu
sebagian mufasir berpendapat bahwa ayat Qur'an ini (Q.s. al-Syams/ 91:10)
berkenaan dengan nafsnya orang soleh yang melakukan kefasikan, bukan jiwa
orang kafir, karena orang saleh , meski ia melakukan perbuatan dosa, tetapi ia
malu dengan perbuatannya itu sehingga ia lakukan dengan cara sembunyi-
sembunyi, berbeda dengan orang kafir yang melakukannya dengan terang-
terangan. 38

2) Usaha Penyucian Nafs (tazkiyah al-nafs)

Al-Qur'an mengisyaratkan bahwa jia yang tercemar masih dapat
diusahakan untuk menjadi suci kembali, baik dengan usaha sendiri, melalui

36 Imam Fakhr al-Razi, al-Tafsir al-Kabir (Beirut dar Ihya al-Turats al Arabi, tth), cet III, juz

XXI, h. 155

37 Ibn Manzhur, op.cit, jilid II, h. 1372-1373
38 Imam Fakhr al-Razi, op.cit, juz xxxi, h. 193-194

20

pendidikan atau karena anugerah dan rahmat Allah seperti yang diisyaratkan
oleh surat Q.s. al-Taubah/ 9: 103, Q.s Al Imran/ 3: 164.

ô‰s)s9

£`tB

ª!$#

n?

tûüÏZÏB÷sßJø9$#

øŒÎ)

y]yèt/

öNÍkŽÏù

Zwqß™u‘

ô`ÏiB

ôMÎgÅ¡àÿRr&

(#qè=÷Gtƒ

öNÍköŽn=

¾ÏmÏG»tƒ#uä

öNÍkŽÅe2t“ãƒur

ãNßgßJÏk=ãƒur

|=»tGÅ3ø9$#

spyJò6Ïtø:$#ur

)ur

(#qçR%x.

`ÏB

ã@ö6s%

’Å"s9

9@»n=

AûüÎ7•B

ÇÊÏÍÈ

Sungguh Allah Telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika
Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri,
yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka,
dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya
sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan
yang nyata. (Q.s. al-Imran/3: 164

Ayat al-Qur'an tersebut mengisyaratkan bahwa orang yang sesat masih
dimungkinkan untuk dibersihkan jwianya. Usaha atau proses penyucian jiwa itu
disebut tazkiyah al-nafs. 39

Tazkiyah bisa dilakukan karena dorongan sendiri, atau didorong oleh
orang lain, melalui dakwah, pendidikan atau bahkan paksaan. Menurut al-
Qur'an surat Fathir/ 35: 18 manusia dapat secara sadar melakukan suatu
perbuatan yang dimaksud untuk mensyucikan jiwanya,














.

Perbuatan yang dapat menyucikan jiwa seseorang menurut al-Qur'an adalah
a). pengeluaran infak harta benda, surat Q.s al-Layl/ 92: 18

“Ï%©!$#

’ÎA÷sãƒ

¼ã&s!$tB

4’ª1u”tItƒ

ÇÊÑÈ

b). takut terhadap azab Allah dan menjalankan ibadah salat, surat Q.s Fathir/ 35:
18

3
$yJ¯RÎ)

âÉ?

tûïÏ%©!$#

šcöqøƒs

Nåk®5u‘

Í=ø‹ø9$$Î/

(#qãB$s%r&ur

no4qnÁ9$#
4

`tBur

4’ª1t“s?

$yJ¯RÎ*sù

4’ª1u”tItƒ

¾ÏmÅ¡øÿuZÏ9

c) menjaga kesucian kehidupan seksual, surat Q.s. al Nur/ 24-30

@è%

šúüÏZÏB÷sßJù=Ïj9

(#q‘Òäótƒ

ô`ÏB

ôMÏdÌ»ö/r&

(#àxÿøtsur

óOßgy_èù
4
y7Ï9º

4s—r&

öNçlm;

d) menjaga etika pergaulan, surat al-Nur/ 24: 28

(
)ur

Ÿ@ŠÏ%

ãNä3s9

(#èÅ_ö‘$#

(#èÅ_ö‘$$sù
(
uqèd

4s—r&

öNä3s9

39 Imam al-Ghazali lebih suka menyebuttazkiyah al-nafssebagairiyadlah al Nafsdiman apusat
perhatian riyadlah ini pada mengobati penyakit hati dan membangun akhlak mulia. Dalam hal ini
al-Ghazali menempatkan bahasan ini pada bagian dua dari rub al-Muhlikat. (lihat al-Ghazali, Ihya
Ulum al-Din
(Kairo, dar Ihya al Kutub al-Arabiyah, tth), jilid iv, h. 1426

21

Al-Qur'an juga mengisyaratkan bahwa proses tazkiyah itu bisa terjadi
melalui ajakan orang lain. Ada empat ayat yang menyebutkan bahwa apa yang
dilakukan oleh para Rasul kepada umatnya dengan mengajarkan al-kitab dan al-
hikmah
merupakan pekerjaan yang membuat umatnya tersucikan jiwanya, yakni
surat al-Baqarah /2:129, 151, Q.s Al Imran/3:164, dan Q.s al-Jumuah/62:2

ô‰s)s9

£`tB

ª!$#

n?

tûüÏZÏB÷sßJø9$#

øŒÎ)

y]yèt/

öNÍkŽÏù

Zwqß™u‘

ô`ÏiB

ôMÎgÅ¡àÿRr&

(#qè=÷Gtƒ

öNÍköŽn=

¾ÏmÏG»tƒ#uä

öNÍkŽÅe2t“ãƒur

ãNßgßJÏk=ãƒur

|=»tGÅ3ø9$#

spyJò6Ïtø:$#ur

)ur

(#qçR%x.

`ÏB

ã@ö6s%

’Å"s9

9@»n=

AûüÎ7•B

ÇÊÏÍÈ

Sungguh Allah Telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika
Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri,
yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka,
dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya
sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan
yang nyata. (Q.s. al-Imran/ 3:164)

Tentang makna tazkiyah al-nafs, para mufassir mempunyai pandangan

yang berbeda-beda:

1. Tazkiyah dalam arti para Rasul mengajarkan kepada manusia sesuatu
yang jika dipatuhi, akan menyebabkan jiwa mereka tersucikan
dengannya. 40
2. Tazkiyah dalam arti mensucikan manusia dari syirik, karena syirik itu oleh
al-Qur'an dipandang sebagai sesuatu yang bersifat najis. 41
3. Tazkiyah dalam arti mensucikan manusia dari syirik dan sifat rendah
lainnya. 42
4. Tazkiyah dalam arti mensucikan jiwa dari dosa. 43
5. Tazkiyah dalam arti mengangkat manusia dari amrtabat orang munafik ke
martabat mukhlisin. 44

Disamping tazkiyah sebagai usaha, al-Qur'an juga mengisyaratkan adanya
anugerah Allah kepada manusia berupa tazkiyah. Dalam surat al-Nur/ 24:21
disebutkan bahwa seandainya bukan karena anugerah Allah maka seseorang
selamanya tidak bisa mensucikan jiwanya, dan Allah memberikan anugerah itu
kepada orang yang dikehendakinyaﺀ


































).
Dalam surat al-Nisa/ 4: 49, ketika al-Qur'an mencela tingkah laku manusia
yangmerasa dirinya telah suci, juga ditegaskan bahwa Allahlah yang
membersihkan jia dari orang-orang yang dikehendaki-Nya.

40 Imam Fakhr al-Razi, op.cit, jilid Iv. H. 67
41 Ibid, dan Ahmad Mushthfa al-Maraghi, op.cit, jilid II, h. 123
42 Ahmad Mushthafa al-Maraghi, ibid, jilid VIII, h. 121 danjilid X h. 95
43 Imam Fakhr al-Razi, op.cit, jilid IX, h. 80
44 Ibid, jilid IV, h. 143

22

öNs9r&

t•s?

n)

tûïÏ%©!$#

tbq’.t“ãƒ

NåkàÿRr&
4
È@t/

ª!$#

’Éj1t“ãƒ

`tB

âä!$t±o

Ÿwur

tbqßJnàãƒ

¸x‹ÏGsù

ÇÍÒÈ

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih?
Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak
aniaya sedikitpun.

5). Keutamaan Tazkiyah al Nafs

Sebagaimana telah disebutkan pada uraian terdahulu bahwa nafs
diciptakan Tuhan dalam keadaan sempurna, diilhami dengan kebaikan dan
keburukan supaya menjadi dorongan untuk melakukan kebaikan dan menjauhi
keburukan. Perbuatan baik akan menjaga kesucian nafs dan dan perbuatan dosa
akan mengotorinya, dan  perbuatan melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan,
keduanya merupakan aktivitas tazkiyah yang dipandang sebagai ibadah.
Dalam Q.s al-Syams/ 91:9 dan Q.s al-A'la/ 87:14 orang yang melakukan
perbuatan tazkiyah al-nafs disebut sebagai orang yang beruntung dan bahagia










, dan dalam surat Q.s Thaha/ 20:6 kepadanya diberikan pahala berupa
derajat yang tinggi dan keabadian sorgawiﺀ






























sebagaimana halnya ibadah yang lain di man akualitas dari ibadah itu
hanya diketahui oleh Tuhan, maka al-Qur'an (Q.s al Najm/ 53: 32, Q.s Al-Nisa/
4:49) juga mencela orang yang seakan-akan telah mengetahui tingkat kesucian
jiwanya, karena kesucian jiwa itu hanya diketahui oleh Allah saja



















b. Al-Nafs al-Lawwamah
(Nafs yang Amat Menyesali Dirinya)

Term al-lawwamah hanya satu kali disebut dalam al-Qur'an, yaitu pada

surat al-Qiyamah/ 75: 1-2

w

ãNÅ¡ø%é&

ÏQöqu‹Î/

ÏpyuŠÉ)ø9$#

ÇÊÈ

Iwur

ãNÅ¡ø%é&

ħøÿ¨Z9$$Î/

ÏptB#§q¯=9$#

ÇËÈ

Aku bersumpah demi hari kiamat, Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya
sendiri) (Q.s. al-Qiyamah/75:1-2)

Lawwamah adalah kata bentukan dari












yang artinya
mencela. Secara lughawi, terma al lawwamah mangandung arti amat mencela.
Jadi secara lughawi nafs lawwamah adalah nafs yang banyak mencela. 45

Nafs
lawwamah
 termasuk kelompok nafs martabat tinggi, karena yang dicela oleh nafs
ini adalah dirinya sendiri.

Menurut riwayat Ibn 'Abbas, setiap nafs kelak di hari kiamat akan mencela
dirinya, baik nafs yang berbakti kepada Tuhan maupun nafs pendosa. Nafs yang
taat kepada Tuhan mencela dirinya karena menyesal tidak memperbanyak amal

45

Al-Raghib al-Isfahani, Mu'jam Mufradat Alfazah al-Qur'an (Beirut Dar al Fikr, tth) h.

476-477

23

baiknya, sedangkan nafs pendosa mencela dirinya karena menyesal tidak
melakukan perbuatan takwa. 46
Jadi cirri nafs al- lawwamah adalah selalu mengeluh, kecewa dan
menyalahkan dirinya. Dalam Surat al-Zumar/ 39:56 dan juga surat al-Ma'arij/
70:19-21 disebutkan bahwa nafs menyesali dirinya atas hilangnya peluang untuk
berbuat amal baik.

br&

tAqà)s?

Ó§øÿtR

4tAuŽô£ys»tƒ

4n?

$tB

৕sù

’Îû

É=/Zy_

«!$#

)ur

àMZä.

z`ÏJs9

tûïÌÏ»¡¡9$#

ÇÎÏÈ

Supaya jangan ada orang yang mengatakan: "Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam
(menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang Aku Sesungguhnya termasuk orang-orang yang
memperolok-olokkan (agama Allah ), (Q.s. al-Zumar/39:56)

*

¨bÎ)

zSM}$#

t,Î=äz

%·æqè=yd

ÇÊÒÈ

#sŒÎ)

çm¡¡tB

Ž¤³9$#

$Yã“y_

ÇËÉÈ

#sŒÎ)ur

çm¡¡tB

çŽö•ø:$#

$¸ãqãZtB

ÇËÊÈ

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia
berkeluh kesah, Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, (Q.s. al-Ma’arij/70: 19-21)

Menurut Imam Fakhr al-Razi dalam Tafsir al-Kabir-nya, prototype nafs
al- lawwamah
 dapat dicontohkan pada penyesalan Nabi Adam a.s.ketika harus
meninggalkan sorga sebagai akibat kesalahannya melanggar larangan
Tuhan. 47

Nafs lawwamah termasuk nafs yang mulia, karena hanya orang mukmin
yang bisa menyesali dan menyalahkan dirinya. Adapun orang bodoh biasanya ia
sudah merasa puas atau sekurang-kurangnya tidak merasa terganggu oleh
perbuatan bodohnya.

Makna lawwamah, dapat pula dicari pada munasabah ayat tersebut. Satu
hal yang menarik ialah bahwa nafs ini disebut al-Qur'an  dalam uslub qasam
(kalimat sumpah) dan disebut sejalan dengan hari kiamat.
Uslub qasam dalam al-Qur'an selalu menunjuk besarnya makna dari yang
disumpahkan, misalnya; Demi matahari (ﺲ



), demi masa (ﺮ




), demi mala

(ﻞ





) dan lain-lainnya. Bahwa hari kiamat layak disebut dengan uslub qasam,
para mufasir menyepakati bahwa hari kiamat memang besar dan dahsyat
maknanya. Sedangkan nafs lawwamah, apakah ia sesuatu yang dahsyat sehingga
disebutkan dalam uslub qasam dan bahkan disejajarkan dengan hari kiamat, para
mufasir berbeda pendapat.
Kebanyakan mufasir menilai bahwa kedua haruf

dalam



pada surat
al-Qiyamah/ 75: 1-2 ini adalah bermakna sumpah, sehingga arti dari ayat itu
adalah Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan Aku bersumpah dengan nafs
lawwamah
. Dua hal itu, hari kiamat dan nafs lawwamah dipandang sebagai hal
besar yang perlu ditonjolkan dengan uslub qasam. Dengan demikian maka antara
nafs lawwamah dengan hari kiamat memang ada munasabah makna. Nafs
lawwamah
 dipandang sebagai sesuatu yang besar oleh sebagian mufasir karena

46

Imam Fakhr al-Razi, op.cit, j.XXXI, h. 215

47

Ibid, h. 216

24

nafs itu memiliki keunikan dan keajaiban. Nafs selamanya menarik dan
memperdaya manusia ketika ia harus melaksanakan amanat yang diembannya,
seperti yang tersirat dalam surat al-Ahzab/ 33:72

.
.
.


















Hanya sebagian mufasir yang memandang nafs tidak layak di sebut
dengan uslub qasam karena terlalu kecil sehingga mereka berpendapat bahwa

pertama sebagai lam qasam dan

kedua sebagai lam nafi. Dengan demikian maka
ayat itu diterjemahkan menjadi Aku bersumpah dengan hari kiamat dan aku tidak
bersumpah dengan nafs lawwamah. Dikalangan ahli tafsir, penafsiran dalam arti
terakhir ini dipandang sebagai syadz, yakni menyimpang dan tidak lazim. 48
Menurut Imam Fakhr al-Razi, munasabah yamw al-qiyamah dengan al-
nafs al-lawwamah
 sehingga keduanya perlu disebut serempak adalah karena hari
kiamat itu sangat ajaib, dan salah satu maksud adanya hari kiamat adalah untuk
menunjukkan keadaan nafs lawwamah itu, yakni keberuntungan atau kerugiannya
pada hari itu. Sedangkan uslub qasam atas nafs lawwamah menunjuk pada
keajaiban nafs itu dalam merespon perintah Tuhan. 49
Jadi nafs lawwamah menurut al-Qur'an adalah nafs yang amat menyesali
hilangnya peluang baik, dan untuk itu ia mencela dirinya sendiri. Nafs dalam
tingkat ini merupakan keadaan batin yang bekerja mengawasi secara internal
terhadap tingkah laku, satu kondisi di mana orang-orang mukmin yang berada
pada tingkat ini selalu mempertanyakan dirinya, mengkalkulasi amalnya serta
mencela kesalahan yang terlanjur dilakukannya, baik perkataan maupun
perbuatan. Abdullah Yusuf Ali membandingkan tingkatan nafs lawwamah dengan
tingkatan kata hati (conscience). 50

c. Al-Nafs al-Muthma'innah (Jiwa yang Tenang)

Ayat al-Qur'an yang secara tegas menyebut al-Nafs al-Muthma'innah
adalah surat al-Fajr/ 89: 27-30:

$pJr'¯»tƒ

ߧøÿ¨Z9$#

èp¨ZÍ´yÜßJø9$#

ÇËÐÈ

ûÓÉëÅ_ö‘$#

4n)

Å7În/u‘

ZpuŠÅÊ#u‘

Zp¨ŠÅÊó£D

ÇËÑÈ

’Í?ä{÷Š$$sù

’Îû

“Ï»t6Ïã

ÇËÒÈ

’Í?ä{÷Š$#ur

ÓÉL¨Zy_

ÇÌÉÈ

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, Masuklah ke dalam syurga-Ku. (Q.s. al-
Fajr/89:27-30)

Pengungkapan peringkat nafs al- muthma'innah dalam al-Qur'an
mengisyaratkan tentang adanya hubungan langsung antara pencapaian martabat
muthma'innah dengan tingkat keimanan kepada Allah dan karakteristik dari nafs
tersebut. Dari ayat surat al-Fajr di atas dapat ditarik permasalahan (1) siapa nafs

48

Ibid,

49

Ibid

50

Abdullah Yusuf Ali, The Meaning of Gloriuos Qur'an, (Beirut: Dar al-Kutub al-Lubnani,

tth), h. 1649

25

yang menjadi mukhathab dalam ayat tersebut, dan (2) kapan panggilan itu
disampaikan.

1). Nafs yang Menjadi Mukhatab

Surat al-Fajr/ 89: 27-30 secara jelas menyebutkan bahwa yang dipanggil
supaya kembali kepada Tuhannya, berkumpul bersamahamba-hamba-Nya
danmasuk ke dalam sorga-Nya adalah nafs, yaitu al-nafs al- muthma'innah.
Sebagaimana telah diuraikan di bagian depan bahwa al-Qur'an menggunakan nafs
terkadang untuk menyebut totalitas manusia, dan terkadang hanya untuk
menyebut sisi dalamnya saja.

Menjawab tentang siapa nafs yang menjadi mukhatab, al-Zamakhsyari
dalam Tafsir al-Kasysyaf menyebutkan bahwa nafs dalam














bukanlah
sebagai substansi, tetapi nafs dalam arti orang mukmin yang jiwanya telah
mencapai martabat muthma'innah. 51

Al-Maraghi menafsirkan bahwa nafs
dimaksud adalah nafs sebagai substansi, yakni nafs yang sudah mencapai tingkat
yakin kepada kebenaran, yang sduah tidak tergoyahkan lagi oleh syahwat dan
kesenangan. 52

Sedangkan Ibn Katsir mengutip pendapat para sahabat yang juga
berbeda-beda. Ibn 'Abbas misalnya berkata bahwa ayat itu berkenaan dengan
'Utsman ibn Affan, tetapi menurut Buraydah ibn al-Hasib ayat itu berkenaan
dengan paman Nabi Hamzah ibn 'Abd al-Muthalib, dan dari sanad lain ibn Abbas
mengatakan bahwa panggilan al-nafs al- muthma'innah itu ditujukan kepada
semua arwah yang muthma'innah di hari kiamat. 53
Al-Qur'an memang secara konsisten sering menyebut nafs secara mutlak
seperti yang terdapat dalam ayat









(Q.s. al-Syams/91:7), tapi di tempat
yang lain al-Qur'an menyebutkan sekaligus dengan sifat-sifatnya seperti sifat
ammarah, (Q.s. Yusuf/ 12:53), sifat lawwamah (Q.s. al-Qiyamah/ 75:2) dan
Zakiyah (Q.s al-Kahf/ 18: 74) dan muthma'innah (Q.s. al-Fajr/ 89:27)
Meskipun kata nafs juga mengandung arti sosok manusia, tetapi
sebagaimana pandapat Fakhr al-Razi, nafs dalam ayat ini jelas bukan dalam arti
sosok manusia, karena sosok manusia itu bernama, sedangkan nafs itu anonym,
sosok manusia itu bersifat fisik, padahal keberdaan fisik terbatas hanya di dunia,
tidak sampai masuk ke sorga-Ku seperti yang terdapat dalam al-Fajr/ 89:30. 54
Dengan demikian maka al-nafs yang dipanggil dalam surat al-Fajr/ 89:27 ini
bukan nafs dalam pengertian totalitas manusia jiwa dan raga, tetapi nafs dalam
pengertian substansi yang bersifat rohani.

2). Saat Disampaikan Panggilan

Al-Qur'an tidak memberikan isyarat tentang kapan panggilan ini
disampaikan kepada manusia, apakah disampaikan ketika manusia
menghembuskan nafasnya yang terakhir (saat berpindahnya nafs dari badan), atau
pada hari kiamat nanti secara missal, ketika manusia bangkit dari "kuburnya",

51

Mahmud ibn Umar al-Zamakhsyari, al-Kasysyaf an Haqiqah al-Tanzil wa Uyun al-
Qaqawil fi Wujud al-Ta'wil,
 (tt: Dar al-Fikr, tth), jilid IV, h. 254

52

Ahmat Mushthafa al-Maraghi, Op.cit, v.x., h. 154

53

Ismail Ibn Katsir al-Qurasyi al Dimasyqi, Tafsir al-Qur'an al-Azbim (Beirut: dar al-

Ma'rifah, 1987), volume IV, h. 545

54

Imam Fkahr al-Razi, op.cit, h. 177

26

akan tetapi. Fakhr al-Razi dalam Tafsir al-Kabir nya mengutip pendapat ulama
yang berpendapat bahwa panggilan ini sebagaimana juga pendapat Ibn "Abbas di
sampaikan Tuhan ketika hari kiamat nanti, sehingga ayat









, masuklah ke

dalam kelompok hamba-hamba-Ku, ditafsirkan dengan











yang artinya, masuklah kamu (wahai nafs) kembali ke dalam tubuh yang engkau
telah keluar dari padanya. 55

Ibn Katsir mengutip hadits riwayat Ibn Jarir yang menyatakan bahwa
ketika Sa'id ibn Jabir di dekat Rasul membaca ayat tersebut (ﻪ










) dan

ketika Abu Bakar memujinya, tiba-tiba Rasul berkata






























(sesungguhnya malaikat akan mengucapkan kepadamu kalimat ini

ketikamaut menjemputmu). 56

3). Kriteria Muthma'innah

Menurut kaidah tafsir, kandungan suatu ayat dalam al-Qur'an bisa
diketahui dengan beberapa metode, antara lain:
(1). Dengan mencari keterangan pada ayat-ayat lain, sehingga kemudian al-Qur'an
ditafsir oleh al-Qur'an
(2). Dengan mencari keterangan pada sunnah Rasul, sehingga kemudian Sunnah
Rasul itu berfungsi sebagai tafsir dari al-Qur'an
(3). Di samping langkah no. 1 dan no. 2 di atas, juga diusahakan mencari pendapat
para sahabat nabi tentang maksud ayat tersebut. Metode ketiga ini lazim di
sebut tafsir bi al-matsur,
(4) dengan menggunakan kaidah-kaidah kebahasaan, dan
(5) dengan menggunakan analisis logika. Dua metode terakhir ini lazim disebut

tafsir bi al-ray

Mthma'innah berasal dari kata










yang artinya tenang setelah

mengeluh dan gelisah,








. Nafs muthma'innah dalam hal ini artinya

adalah jiwa yang tenang, karena ia mantap dan kuat (ﺕ










), 57

setelah
mengalami proses interaksi dengan lingkungan yang membuatnya mengeluh dan
gelisah. Makna muthma'innah dalam konteks al-nafs al- muthma'innah dalam al-
Qur'an dapat diketahui maknanya dari keterangan yang ada pada ayat-ayat yang
lain. Jadi dalam hal ini berlaku tafsir al-Qur'an bi al-Qur'an.
Menurut al-Qur'an, jiwa yang tenang ditandai dengan hal-hal sebagai

berikut:
(1) memiliki keyakinan yang tidak tergoyahkan terhadap kebenaran













seperti tersebut dalam Q.s. al-Nahl/ 16:106, karena telah menyaksikan bukti-
bukti kebenaran itu, seperti yang dialami oleh pengikut-pengikut Nabi Isa a.s.

55

Ibid

56

Ismail Ibn Katsir al-Qurasyi al-Dimasyqi, Op.cit.

57

Al-Raghib al-Isfahani, op.cit, h. 317. lihat pula Imam Fakhr al-Razi, Op.cit, h. 176

27

(#qä9$s%

߃ÌçR

br&

Ÿ@à2ù'¯R

$pk÷]ÏB

¨ûÈõuÜs?ur

$o/qè=è%

zNnètRur

br&

ô‰s%

$uZtFø%y‰|¹

tbqä3tRur

$uhøŠn=

z`ÏB

tûïÏÎg»¤±9$#

ÇÊÊÌÈ

Mereka berkata: "Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati
kami dan supaya kami yakin bahwa kamu Telah Berkata benar kepada kami,
dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu". (Q.s. al-
Maidah/5:113)
(2) Memiliki rasa aman, terbesas dari rasa takut dan sedih di dunia




















(Q.s. al-Nisa/ 4: 103) dan terutama nanti di akhirat (Q.s. Fushshilat/ 41:

30)
(3) Hatinya tentram karena selalu ingat kepada Allah

































(Q.s. al-Rad/ 13:28).
Jadi sifat orang yang jiwanya telah mencapai tingkat muthma'innah adalah
hatinya selalu tentram karena ingat kepada Allah, yakin seyakin-yakinnya terdapat
apa yang diyakininya sebagai kebenaran, dan oleh karena itu ia tidak mengalmi
konflik batin, tidak merasa cemas dan tidak pula takut. Sifat atau kondisi seperti
inilah yang oleh Abdullah Yusuf Ali dalam The Meaning of the Glorious Quran
disebut sebagai puncak kebahagiaan bagi seorang mukmin (the final stage of
blessI. 58

Term tuma'ninah digunakan al-Qur'an bukan hanya dalam konotasi positif,
tetapi juga yang mengandung konotasi negative. Dalam surat Yusuf/ 10:7
misalnya disebutkan bahwa orang kafir yang tidak percaya akan adanya akhirat
dan berpuas diri dengan kehidupan dunia juga disebut tuma'ninah, yakni
tuma'ninah terhadap kehidupan dunia (ﺎ




















ﺿ

















).

4). Hubungan Dzikir dengan Ketentraman Jiwa

Surat al-Rad/ 13:28, menyebutkan bahwa dengan mengingat (dzikir)
kepada Allah maka hati menjadi tentram (ﺏ













). Dikalangan penganut
tarekat tasawuf, dzikir sebagai metode mencapai ketenangan hati dilakukan
dengan tata cara tertentu. Di kalangan tarekat Naqsyabandiyah, dzikir dipahami
dan diajarkan dengan mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah secara keras
(dzikir jahr), dan dengan kalimat-kalimat yang memfokus, dari kalimat syahdat
La ilaha illa Allah ke lafzh Allah dan sampai ke lafazh hu. Tarekat lain ada yang
mengajarkan bukan hanya lafazh dzikir yang diucapkan tetapi juga disertai
dengan gerakan tertentu. 59

58

Abdullah Yusuf Ali, op.cit, h. 1735

59

Di Turki terdapat seni yang berasal dari tarian para sufi, demikianjuga sebagian Tarikat
Sufi di Mesir, melakukan tarian ringan disertai musik ringan dalam dzikirnya. Di Amerika
Seraikat, anggota tarekat Khalwati-Jarahi juga melaksanakan dzikir dengan nuansa seni. Menurut
S.H. Nasr, para sufi adalah pengolah seni dalam kerangka memancarkan keindahan Tuhan sebagai
Seniman Agung. Lihat S.H Nasr, living Sufisme, dan Ismail R. Al-Faruqi, The Cultural Atlas of
Islam
 (New York, MMC, 1986), h. 298

28

Sebenarnya hubungan dzikir dengan ketentraman jiwa dapat dianalisis
secara ilmiah. Dzikir secara lughawi artinya ingat atau menyebut. Jika diartikan
menyebut maka peranan lisan lebih dominant, tetapi jika diartikan ingat, maka
kegiatan berpikir dan merasa (kegiatan psikologis) yang lebih dominant. Dari segi
ini maka ada dua alur pikir yang dapat diikuti:
(a).Manusia memiliki potensi intelektual. Potensi itu kecenderungan aktif bekerja
mencari jawab atas semua hal yang belum diketahuinya. Salah satu hal yang
merangsang berfikir adalah adanya hokum kausalitas di muka bumi ini. Jika
seseorang melharikan suatu penemuan baru, bahwa A disebabkan B, maka
berikutnya manusia tertantang untuk mencari apa yang menyebkan B.
Begitulah seterusnya sehingga setiap kebenaran yang ditemukan oleh potensi
intelektual manusia akan diikuti oleh penyelidikan berikutnya sampai
menemukan kebenaran baru yang mengoreksi kebenaran yang lama, dan
selanjutnya kebenaran yang lebih baru akan ditemukan mengoreksi kebenaran
yang lebih lama. Sebagai makhluk berpikirmanusia tidak pernah merasa puas
terhadap "kebenaran ilmiah" sampai ia menemukan kebenaran perennial. 60
Melalui jalan supra rasionalnya. Jika orang telah sampai kepada kebenaran
ilahiah atau terpadunya pikir dan dzikir, maka ia tidak lagi tergoda untuk
mencari kebenaran yang lain, dan ketikaitujiwa menjadi tenang, tidak gelisah
dan tidak ada konflik batin. Selama manusia masih memikirkan ciptaan Tuhan
dengan segala hokum-hukumnya, maka hati tidak mungkin tenteram dalam
arti tenteram yang sebenarnya, tetapi jika ia telah sampai kepada memikirkan
Sang Pencipta dengan segala Keagungan-Nya, maka manusia tidak sempat
lagi memikirkan yang lain, danketika itulah puncak ketenangan dan puncak
kebahagiaan tercapai, dan ketika itulah tingkatan jiwa orang tersebut
telahmencapai al-nafs al-muthma'innah.
(b). Manusia memiliki kebutuhan dan keinginan yang tidak terbatas, tidak ada
habis-habisnya, padahal apa yang dibutuhkan itu tidak pernah benar-benar
dapat memuaskannya (terbatas) Oleh karena itu selama manusia masih
memburu yang terbatas, maka tidak mungkin ia memperoleh ketentraman,
karena yang terbatas (duniawi) tidak dapat memuaskan yang tidak terbatas
(nafsu dan keinginan). Akan tetapi, jika yang dikejar manusia itu Tuhan yang
tidak terbatas kesempurnaan-Nya, maka dahaganya dapat terpuaskan. Jadi jika
orang telah dapat selalu ingat (dzikir) kepada Allah maka jiwanya akan
tentram, karena "dunia" manusia yang terbatas telah terpuaskan oleh rahmat

60

Isitilah filsafat perennial (philosophia perennis) yang artinya filsafat keabadian sudah
dikenal pada tahun 1540, oleh Agustinus Steuchus, tetapi realitas filsfat penenial, masih tertutup
oleh alifan filsfat keduniawian di Barat. Bgi mereka yang menggeluti telaah-telaah tradisional,
filsfat perennial mengandung arti sebagai kebenaran kekal di pusat semua tradisi yang berkiatan
dengan sanatana dharma, dalam agama hindu, dan al-hikmah al-khalidah ata al-hikmah al-
laduniyah
 dalam agama Islam. Filsafat perennial dimakud untuk menuntun manusia masa kini
keluar dari kungkungan ketidakpedulian tempat dunia modern menemukan dirinya. Ia juga
merupakan saluran bagi suatu berkah sesungguhnya yang mengungkapkan suatu kerohanian yang
hidup di balik pemikiran-pemikiran dan kata-kata yang diucapkan suatu kerohanian yang hidup di
balik pemikiran-pemikiran dan kata-kata yang diucapkan. Bagi mereka yang telah mendalami
literature tasawuf. Pemikiran dalam filsafat perennial tidak terlalu asing. Lihat frithjof Schuon,
Islam and the Perennial Philosophy, (Teheran: WIF PUlishing Company Ltd, 1976)

29

Alah yang tidak terbatas. Hanya manusia pada tingkat inilah yang layak
menerima panggilan-Nya untuk kembali kepada-Nya, dan untuk mencapai
tingkat tersebut menurut al-Razi hanya memungkinkan bagi orang yang kuat
potensinya dalam berpikir ketuhanan atua kuat dalam uzlah dan kontemplasi
(tafakkur)-nya. 61

Jadi al-nafs al- muthma'innah adalah nafs yang takut kepada Allah, yakin
akan berjumpa dengan-Nya, ridha terhadap qadla-Nya, puas terhadap pemberian-
Nya, perasaannya tenteram, tidak takut dan sedih karena percaya kepada-Nya, dan
emosinya stabil serta kokoh.

d. Nafs Ammarah dan Karakteristiknya

Ketinggian dan kerendahan kualitas nafs diukur dengan tingkat
hubungannya dengan Tuhan. Nafs kualitas tinggi adalah nafs yang sudah sampai
pada tingkat dipanggil oleh Tuhan untuk kembali kepada-Nya dengan senang dan
diridhai, atau sekurang-kurangnya menyesali diri karena kurang menggunakan
peluang. Sedangkan nafs kualitas rendah ditandai dengan sifat-sifat yang tercela.
Ciri umum dari nafs kualitas rendah menurut al-Qur'an ada empat, yaitu (a) secara
mudah melanggar apa-apa yang dilarang Allah, (b) menurut dorongan hawa nafsu,
(c) menjalankan maksiat dan (d) tidak mau memenuhi panggilan kebenaran.
Secara eksplisit al-Qur'an menyebut al-Nafs al-Ammarah bi al-Su (ﺀ













)
sebagai nafs yang rendah kualitasnya. Al-Qur'an juga menyebut karakteristik-
karakteristik yang menjadi indicator dari nafs ammarah itu.
Term nafs ammarah secara implicit disebut dalam al-Qur'an surat Yusuf/
12:53 dengan ungkapan al-nafs al-ammarah bi al-su.

*

!$tBur

ä—Ìh•t/é&

ûÓŤøÿtR

4

¨bÎ)

øÿ¨Z9$#

8ou‘$¨BV{

Ïäþq•¡9$$Î/

ž)

$tB

zmu‘

þ’În1u‘

4

¨bÎ)

’În1u‘

Öÿxî

×LìÏm§

ÇÎÌÈ

Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena
Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu
yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha
Pengampun lagi Maha penyanyang. (Q.s. Yusuf/ 12:53)

Ayat ini turun dalam rangkaian kisah Nabi Yusuf a.s. khususnya dalam
konteks Zulaykha, ibu angkatnya, yakni istri seorang menteri di negeri Mesir.
Para mufasir berbeda pendapat tentang siapa yang mengeluarkan pernyataan itu,
apakah Yusuf, atau Zulaykha. Perbedaan pendapat itu berakibat juga pada
bagaimana menafsirkan ayat sebelumnya.
Jika kalimat itu diucapkan oleh Yusuf, maka makna ungkapan dari ayat itu
adalah dapat dipahami sebagai berikut: Yusuf berkata "aku tidak mengingkari
bahwa aku juga mencintai Zulaykha, karena sesungguhnya nafsu itu memang
cenderung menyuruh perbuatan yang buruk, yakni zina. Untuk Tuhan

61

Imam Fakhr al-Razi, op.cit, h. 177

30

menghindarkan aku dari melayani godaan Zulaykha, dan Tuhanku memang maha
Pengampun lagi Penyayang.

Tetapi jika kalimat itu diyakini sebagai kata-kata yang diucapkan oleh
Zulaykha, maka ungkapan dari ayat tersebut adalah sebagai berikut: Zulaikha
mengaku, "dan aku tidak mengingkari bahwa aku memang merayu Yusuf (seperti
yang dikatakan oleh Yusuf), karena sesungguhnya nafs (saya, perempuan muda
yang bersuamikan orang tua) itu meledak-ledak menuntut hubungan biologis,
tetapi untunglah Tuhan masih menghindarkan aku dari perbuatan dosa itu, karena
Tuhan memang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Jika dilihat susunan kisah dan makna kalimat, maka lebih logis kalimat itu
diucapkan oleh Zulaykha, tetapi penulis tidak bermaksud membahas perbedaan
pendapat tersebut. Dari ayat tersebut yang penting dikaji sehubungan dengan
tulisan ini ialah apa yang dimaksud dengan nafs ammarah, bagaimana konsep al-
su
 serta karakteristik dari nafs tersebut dan kapan rahmat Tuhan itu di berikan.

1). Karakteristik Nafs Ammarah

Karena konotasi negative yang terbayang maka penyebutan nafs ammarah
dalam bahasa Indonesia menjadi nafsu amarah. Ada tiga kata yang harus
diterjemahkan dalam pembahasan ini, yaitu




(nafs),ﺓ





(ammarah) danﺀ

(su).
Secara lughawi, nafs artinya jiwa, ammarah artinya yang banyak menyuruh dan
su artinya keburukan, atau kejahatan. Jadi al-nafs al-ammarah bi al-su atau dalam
bahasa Indonesia sering disingkat menjadi nafsu amarah, adalahjiwa yang
memiliki kecenderungan kepada keburukan. Dalam bahasa Arab, kalimat su yang
berasal dari kata





dan





mempunyai banyak arti, antara lain su
bermakna (1) keburukan sebagai lawan dari hasan atau kebaikan, (2) penyakit
belang, (3) segala macam bencana dan penyakit, dan (4) sesuatu yang dipandang
buruk jika terjadi atau buruk akibatnya. 62

Dalam konteks surat Yusuf/12:53, su
dimaksudkan untuk menyebut dorongan hubungan kelamin. Jadi nafsu amarah
dalam ayat ini dimaksudnya ialah nafs yang memiliki gejolak seksual, baik
gejolak lelaki maupun perempuan secara alamiah memiliki keinginan yang kuat
untuk menyalurkan tuntutan biologisnya berupa hubungan seksual. Dorongan
kepada hubungan seks dalam perspektif ini dipandang sebagai sesuatu yang alami
menjadi fitrah manusia. Yusuf yang masih muda dipandang wajar jika ia tertarik
kepada Zulaikha yang cantik danmenggoda, dan ZUlaykha yang masih muda
tetapi suaminya sudah tua, dan menurut sebagian mufasir menderita impotensi, 63
adalah wajar jikan nafs-nya bergelora setiap hari melihat yusuf, anak muda
tampan yang tinggal serumah.
Meskipun demikian, al-su sebagai suatu keburukan, walau merupakan
fitrah manusia, ia tetap dilarang, dan manusia harus menghindarinya. Dalam ayat
tersebut disyaratkan bahwa dorongan nafsu yang rendah ini memang sangat kuat,
dan hanya orang yang menerima rahmat Tuhan yang dapat menghindari godaan
itu.

62

Ibn Munzhur, Op.cit, vol. III, h. 2138-2140

63

Imam Fakhr Razi, op.cit, juz XVIII, h. 112

31

a. Rahmat Tuhan kepada Nafs

Huruf ma dalam kalimat






pada surat Yusuf/ 12:53 di atas adalah
bermakna man, artinya orang. Jadi ada orang tertentu yang diberi rahmat Allah
sehingga terhindar perangkap nafs ammarah. Kalimat itu dipahami oleh para
mufasir dengan dua pemikiran. Pertama bahwa ada makhluk Tuhan yang
dianugerahi rahmat-Nya sehingga selamanya ia tidak dapat digoda oleh dorongan
nafsu seks karena diberi penjagaan secara abadi. Mereka adalah para malaikat,
yakni mereka yang dibebaskan dari godaan syahwat. Kedua, yang memahami
bahwa yang dimaksud dengan seseorang yang terhindar dari jebakan nafsu karena
rahmat Allah adalah orang mukmin yang setiap kali dilanda godaan, ia segera
ingat kepada Tuhan, dan Tuhan kemudian menurunkan rahma-Nya kepadanya
sehingga ia bisa menghindarkan diri dari godaan yang sedang menggebu-gebu. 64

b. Konsep al-Su' (Keburukan)

Pengertian nafs ammarah bi al-su' jika merujuk kepada surat Yusuf/ 12:53
mengandung arti dorongan nafsu seksual, tetapi al-Qur'an menggunakan term su'
juga untuk menyebut keburukan yang lain. Sekurang-kurangnya al-Qur'an
menggunakan predikat buruk atau al-su' pada limabelas hal di luar pengertian
dorongan seksual, yaitu jalan yang buruk,ﻼ






(Q.s. al-Nisa/ 4:22), teman yang

buruk









(Q.s. al-Nisa/ 4:38), keputusan yang buruk,ﻥ






(Q.s. al-An'am/

6:126), beban yang buruk



(Q.S. Thaha/20: 101), tempat kembali yang

buruk,





(Q.s. al-Nisa/ 4:94), tempat tinggal yang buruk,













(Q.s. al-Furqon/ 25:66), giliran yang buruk,








(Q.s. al-Fath/ 48:6), siksaan

yang buruk,







(Q.s. Ibrahim/ 14:6), rumah atau kampung yang buruk,






(Q.s al-Rad/ 13:25), perhitungan yang buruk,





(Q.s. al-Rad/ 13:18)

amal yang buruk,





(Q.s. al-Mukmin/ 40: 37), perbuatan serong











(Q.s. Yusuf/ 12: 25) rekayasa jahat,





(Q.s. Fathir/ 35: 45) dan perlindungan

yang buruk







(Q.s al-Nisa/ 4: 85)
Al-Qur'an juga menggunakan kata su dalam berbagai kata bentukannya

untuk menyebut penyakit








(Q.s. al-Qashahshsh/ 28: 22), dosa,












(Q.s. Hud/ 11:10), dan hukuman,












(Q.s. al-Zumar/

39: 51)

Dari penggunaan kata su' yang mengandung banyak arti, maka pengertian
nafs ammarah dapat dirumuskan sebagai nafs yang memiliki kecenderungan
kepada segala hal yang buruk.

c. Kecenderungan Nafs Ammarah

Secara tersirat al-Qur'an menyebut banyak karakteristik buruk dari nafs
yang dapat digolongkan dalam rumpun nafs ammarah. Secara umum nafs
ammarah
 itu memiliki kecenderungan kepada semua hal-hal yang buruk. Secara

64

ibid

32

terperinci al-Qur'an menyebut jenis kecenderungan buruk itu, yaitu hasad,
kecenderungan berbuat dosa, zalim, culas, mesum, sombong dan kikir.

1). Dengki (alh-Hasad)

Term hasad disebut dalam al-Qur'an sebanyak lima kali dalam empat ayat
masing-masing surat Q.s. al-Baqarah/ 2:109, Q.s. al-Fath/ 48:15, Q.s. al-Nisa/
4:54 dan Q.s. al-Falaq/ 113:5). Dalam bahasa Arab hasad artinya seseorang
menginginkan hilangnya kesenangan yang dimiliki orang lain dan berusaha
memindahkannya kepada dirinya, sebagaimana yang tersebut dalam lisan al-Arab
(


















). 65

Bahasa Indonesia menggunakan kata dengki dan rii hati
untuk menyebut hasad. Hasad atau dengki banyak sekali dibahas dalam hadits
Nabi maupun literature akhlak tasawuf.
Surat al-Baqarah/ 2:109 mengisyaratkan adanya kedengkian orang Yahudi
madinah terhadap orang Islam setelah mereka tahu bahwa Muhammad secara
menyakinkan memiliki bukti-bukti kenabian (













































). Surat al-nias/ 4:54, menyebutkan kedengkian

orang Yahudi terhadap Nabi Muhammad (ﻪ























), surat al-
Fath / 48: 15, mengisyaratkan adanya tuduhan dengki orang munafik Madinah
terhadap Nabi dan kaum muslimin yang ikut dalam perang Khaibar (ﺎ








).
Tingkat keburukan hasad juga disebut dalam hadits Nabi yang mengumpamakan
sifat hasad sebagai kekuatan perusah, seperti merusaknya api terhadap kayu
bakar, 66

dan seperti gunting yang dapat mencukur amal, dan sebagai penyakit

umat. 67

Al-Qur'an mengidentifikasi karakter hasad dengan ungkapan yang sama

mengena.

)

öNä3ó¡|¡øÿsC

×puZ|¡ym

öNèd÷sÝ¡s?

)ur

öNä3ö7ÅÁè?

×pt¤ÍhŠy™

(#mt•øÿtƒ

$y/

Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika
kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. (Q.s. Al-Imran/
3:120)

Dalam rangkaian kisah Nabi Yusuf, al-Qur'an juga mengisyaratkan adanya
hasad pada saudara-saudara Nabi Yusuf karena ia lebih diperhatikan oleh
ayahnya, seperti yang dikisahkan dalam surat Yusuf/ 12: 8-17
Dari ayat-ayat al-Qur'an maupun dari hadits Nabi dapat dirumuskan bahwa
hasad atau dengki adalah perasaan iri pada seseorang terhadap keberuntungan
yang dimiliki oleh orang lain disertai keinginan untuk menghilangkan
keberuntungan itu dan memindahkannya kepada dirinya.
Perasaan dan perbuatan seperti itu secara jelas dicela oleh al-Qur'an surat

al-Nisa/ 4:32
























(Dan janganlah kamu iri hati terhadap

65

Ibn Munzhur, op.cit, jilid I, h. 868

66

ﺐﺼﺤﻟﺍ ﺭﺎﻨﻟﺍ ﻞﻛﺄﺗ ﺎﻤﻛ ﺕﺎﻨﺴﺤﻟﺍ ﻞﻛﺄﺑ ﺪﺴﺤﻟﺍ ﻥﺎﻓ ﺪﺴﺤﻟﺍﻭ ﻢﻛﺎﻳﺍ

)
ﻰﻘﻬﻴﺑﺍﻭ ﺩﻭﺍﺩ ﻮﺑﺍ ﻩﺍﻭﺭ

67

ﻦﻳﺪﻟﺍ ﻖﻴﻠﺤﺗ ﻦﻜﻟﻭ ﺮﻌﺸﻟﺍ ﻖﻴﻠﺤﺗ ﻝﻮﻗﺍ ﻻ ﻰﺗﺍ ﺎﻣﺃ ﺔﻘﻟﺎﺤﻟﺍ ﻲﻫ ءﺎﻀﻐﺒﻟﺍﻭ ﺪﺴﺤﻟﺍ ﻢﻜﻠﺒﻗ ﻢﻣﻷﺍ ءﺍﺩ ﻢﻜﻴﻟﺍ ﺏﺩ

)
ﺭﺍﺰﺒﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ

ﻰﻘﻬﻴﺑﻻﻭ
(

33

apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kau lebih banyak dari sebagian
yang lain.)

Sedangkan iri hati terhadap hal yang dimiliki orang lain, tidaklah tercela,
bahkan al-Qur'an menganjurkan manusia untuk berlomba memperoleh sesuatu
yang diinginkan, seperti yang tersebut dalam surat-al-Muthaffifin/ 83: 26













dan surat al Baqarah/ 2: 148









(1) Penyebab hasad

Menurut al-Qur'an, ada hal-hal yang menyebabkan timbulnya rasa dengki
pada manusia, yaitu (a) rasa permusuhan dan kebencian seperti yang disebutkan
dalam surat Ali-Imran/ 3: 118, (b) kagum diri dan merendahkan orang lain seperti
yang disebut dalam surat al-Zukhruf/43:31 dan surat al-Mu'minun/ 23:33.

(a) Rasa Permusuhan dan Kebencian

Surat al-Imran/ 3:118 secara tegas menyebutkan bahwa sebab-sebab
kedengkian orang Yahudi terhadap Nabi dan kaum Muslimin adalah rasa
permusuhan dan kebencian. Dijelaskan dalam ayat itu bahwa kaum muslimin
dilarang mengambil teman kepercayaan dari kalangan orang Yahudi Madinah
ketika itu, karena mereka sudah menampakkan secara jelas kebencian mereka
kepada kaum muslimin.

(b). Kagum diri dan Merendahkan Orang Lain

Al-Qur'an mengisyaratkan bahwa rasa dengki yang dimiliki oleh orang
kafir Quraysy Makkah kepada Nabi Muhammad dan oleh Kaum Ad kepada nabi
Hud adalah disebabkan oleh factor ini, yakni mereka kagum kepada diri mereka
sendiri sebagai orang kaya dan terhormat secara social sehingga mereka merasa
lebih pantas menjadi pemimpin, sementara Muhammad hanyalah seorang yatim
dan Miskin, yang menurut mereka tidak layak menduduki jabatan pemimpin.
Dalam perasaan seperti inilah mereka berandai-andai sekiranya wahyu itu
diturunkan kepada salah satu tokoh dari dua negeri; Makkah atau Tha'if, bukan
kepada Muhammad, satu hal yang dinafikan oleh kewenangan Allah.

(#qä9$s%ur

Ÿwöqs9

tAÌhçR

#x‹»yd

ãb#uäöà)ø9$#

4n?

9@ã_u‘

z`ÏiB

Èû÷ütGtƒö•s)ø9$#

Dan mereka berkata: "Mengapa Al Quran Ini tidak diturunkan kepada
seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini...... (Q.s. al-
Zuhruf/ 43:31)

tA$s%ur

_|yJø9$#

`ÏB

ÏmÏBöqs%

tûïÏ%©!$#

(#•xÿx.

(#/¤‹x.ur

Ïä!$s)Î=Î/

Íot•ÅzFy$#

öNßg»oùt•ø?r&ur

’Îû

Ío4quŠptø:$#

$u‹÷R‘9$#

$tB

!#x‹»yd

ž)

׎|³o0

ö/ä3è=÷WÏiB

ã@ä.ù'tƒ

$£JÏB

tbqè=ä.ù's?

çm÷ZÏB

ÛUt•ô±our

$£JÏB

tbqç/uŽô³n@

ÇÌÌÈ

Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan
akan menemui hari akhirat (kelak) dan yang Telah kami mewahkan mereka dalam
kehidupan di dunia: "(Orang) Ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan

34

dari apa yang kamu makan, dan meminum dari apa yang kamu minum. (Q.s. al-
Mu’minun/ 23:33)

Al-Qur'an surat al-Hijr/15: 7 juga mengisahkan bagaimana  orang kafir
merendahkan para Nabi Muhammad, karena status social Nabi yang tidak setara
dengan status social mereka sehingga mereka menuntut agar rasul itu bukan orang
miskin tetapi malaikat (ﲔ






























)

(2). Logika Hasad

Sebab mendasar dari timbulnya hasad atau dengki adalah perasaan
bermusuhan, dan permusuhan itu timbul karena ada persaingan untuk
memperebutkan obyek yang sama. Karena obyeknya satu dan berada dalam
ruangan yang sempit, maka para pesaing yang memperebutkan obyek tersebut
berkumpul berdesakan di dalam ruangan yang sama. Akibat dari ruang yang
sempit itu mereka harus berebut, bergesekan dan saling menjegal.
Penyebab sebenarnya dari persaingan ini adalah karena pada dasarnya
manusia menyukai kesempurnaan, dan lawan dari kesempurnaan (kalah) pasti
tidak disukai. Puncak dari kesempurnaan yang didambakan ialah apabila
seseorang menjadi satu-satunya pemilik kesempurnaan itu (menjadi orang nomor
satu). Oleh karena itu, orang yang merasa telah menjadi satu-satunya pemilik
kesempurnaan itu memandang semua pesaing sebagai ancaman dan lawan.
Demikian juga orang lain yang berkeinginan meraih kedudukan itu memandang
orang yang telah mencapai tingkat itu sebagai lawan yang harus dimusnahkan,
karena ia menghalangi keinginannya.
Tumbuh suburnya perasaan dengki di antara manusia adalah karena obyek
yang diperebutkan terlalu sempit sehingga mereka harus berdesakan di dalamnya.
Dalam perspektif ini, dunia dengan segala isinya adalah sempit, tidak mampu
menampung keinginan semua orang. Oleh karena itu sifat dengki hanya muncul
pada urusan keduaan, dengan fokus harta dan kekuasaan (ﺔ











).
Adapun jika obyek yang diperebutkan itu luas, maka dengki tidak akan
muncul, karena arena persaingan tidak ketat. Kehidupan akhirat dengan segala
nilai-nilainya merupakan lapangan yang  luas tidak terbatas, oleh karena itu tidak
ada orang yang dengki dalam memperebutkan kesempurnaan bidang ini. Di antara
orang yang ingin mencapai tingkat arif dan dekat (muqarrabin) dengan Tuhan,
pasti tidak ada permusuhan dan dengki, karena ruangan untuk ma'rifat dan
taqarrub kepada-Nya tidaklah sempit. Meskipun obyek yang ingin dituju itu
hanya satu, yaitu ridha Allah, tetapi karena ridha Allah sangat luas tidak terbatas,
maka betapa pun banyak manusia yang dapat mencapai tingkat itu merasa cukup
puas (radliyatan mardliyah) tanpa terganggu oleh jumlah pesaing, bahkan sesama
orang yang dekat dengan Tuhan terdapat rasa kemesraan yang luar biasa. Oleh
karena itu di antara para ulama arifin tidak ada persaingan untuk menjadi pemilik
satu-satunya kesempurnaan, karena hanya Allah-lah satu-satunya yang sempurna.
Akan tetapi jika para ulama itu mengejar harta atau kekuasaan meski dengan
bendera agama, maka persaingan dan benturan tidak bisa dihindari, dan tidak

35

mustahil hasad berkembang di antara mereka, karena medan harta dan kekuasaan
itu sangat sempit.

Dalam perspektif ini dapat dipahami ketika Nabi menggunakan term hasad
yang tidak berkonotasi negatif, tetapi positif. Kata Nabi, iri dibolehkan kepada
dua orang, yaitu (1) kepada orang yang dikaruniai banyak rizki tapi ia
menggunakannya secara bertanggungjawab, dan (2) orang laim yang
mengamalkan ilmunya dan mengajarkannya kepada orang lain.









)




ﺍﻭ

(

Hasad tidak diperbolehkan kecuali dalam dua hal; pertama iri hati kepada
seseorang yang dianugerahi Allah rizki banyak harta benda tetapi ia
menggunakannya untuk kepentingan kebenaran, kedua iri hati kepada
orang yang dianugerahi Allah banyak ilmu, dan ia mengamalkan ilmunya
dan mengajarkannya (kepada orang lain) (H.R. Bukhari).
Harta atau pangkat, jika telah dimiliki oleh seseorang maka orang lain
kehilangan peluang, dan selama hati orang itu dipenuhi oleh kesenangannya
kepada harta itu maka ia tidak sanggup menampung keinginan orang lain. Akan
tetapi jika hati seseorang dipenuhi oleh kegembiraan bermakrifat kepada Allah,
maka hatinya tetap terbuka untuk menerima hati orang yang menginginkan hal
yang sama. Terhadap mereka yang tidak lagi memiliki sifat hasad, al-Qur'an
menyebutkan:

$oãt“tRur

$tB

’Îû

NÏdÍß¹

ô`ÏiB

@e@Ïî

$ºRºuzÎ)

4n?

9ãß

tû,Î#Î7»s)tG•B

ÇÍÐÈ

Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka,
sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-
dipan. (Q.s. al-Maidah/5:30)

b.  Mudah Berbuat Dosa

Diantara karakteristik nafs ammarah adalah mudah berbuat dosa. Al-
Qur'an secara implisit mengisyaratkan adanya karakter nafs yang tidak ragu-ragu
dalam melakukan dosa besar, dan tidak mau berhenti dari melakukan hal-hal yang
dilarang Tuhan.

ôMtã§qsÜsù

¼çms9

¼çmÝ¡øÿtR

ŸFs%

ÏmŠÅzr&

¼ã&s#tGs)

yxt6ô¹r'sù

z`ÏB

šúïÎŽÅ£»ø:$#

ÇÌÉÈ

Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh
saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, Maka jadilah ia seorang diantara
orang-orang yang merugi. (Q.s. al-Maidah/5:30)

36

Ayat ini disebut dalam rangkaian kisah dua putra Nabi Adam, yaitu Qabil
dan Habi. Dalam ayat itu dikisahkan bahwa kurban Habil diterima Tuhan, tetapi
kurban Qabil tidak. Qabil merasa iri dan dengki atas keberuntungan saudaranya,
dan didorong oleh rasa dengkinya ia mengancam akan membunuh Habil. Dari
rangkaian ayat-ayat Q.s. al-Maidah/ 5:27-29 dapat dipahami bahwa ketika itu
belum pernah ada peristiwa kematian, apalagi pembunuhan, sehingga membunuh
adalah satu hal yang belum terbayangkan. Habil yang diancam akan dibunuh,
menurut ayat-ayat itu mengingatkan kepada Qabil bahwa membunuh itu
perbuatan dosa yang dilarang Tuhan, tetapi Qabil lebih mematuhi nafs-nya yang
iri dan dengki sehingga ia memandang perbuatan membunuh itu sebagai
perbuatan yang mudah, dan dengan tanpa ragu-ragu ia melakukannya.
Rangkaian ayat itu mengisyaratkan adanya dua tipe kejiwaan yang
kontras, jiwa Qabil dan jiwa Habil. Qabil memiliki temperamen yang sangat labil
sehingga dengan cepat ia dapat mengambil keputusan untuk membunuh tanpa
memikirkan dosa yang dilarang Tuhan, dan bahkan tanpa membayangkan apa
yang harus dilakukan setelahitu. Sedangkan Habil justru sebaliknya. Ketika
diancam akan dibunuh, ia mengingatkan kepada Qabil pangkal persoalan, bahwa
penerimaan kurban yang membuatnya iri dan dengki itu terpulang kepada
keikhlasan orang yang berkurban, dan bahwa keberhasilan itu merupakan buah
dari usaha masing-masing orang. Jiwanya yang halus menyebabkan ia tidak
terpancing oleh ancaman, sebaliknya ia justru menyatakan tidak akan merespon
perbuatan dosa (membunuh) itu dengan membalas atau melayani, semata-mata
karena ia tahu bahwa membunuh itu perbuatan dosa yang dilarang Tuhan, dan ia
merasa takut untuk melanggar larangan-Nya.
Sosok kejiwaan Habil adalah orang yang berusaha mengendalikan nafs-
nya dengan memperhatikan petunjuk Tuhan, sementara Qabil adalah orang yang
tunduk kepada dorongan hawa nafsunya tanpa memperdulikan larangan-Nya, dan
bahkan tanpa sempat membayangkan akibat langsung dari perbuatan dosanya.

(1). Konsep Dosa

Dalam bahasa Arab, dosa disebut dengan ungkapan













-



-





.
Keempat term tersebut secara lughawi mengandung arti mengerjakan sesuatu
yang tidak dibolehkan (ﻪ









). 68

Dan keempat term tersebut digunakan

semuanya dalam al-Qur'an. 69

Selain itu, al-Qur'an menyebut jenis perbuatan dosa

dengan term lain, yaitu







seperti yang disebut dalam Q.s. al-Syura/ 42:37,

Q.s al-Araf/ 7:33) yang mengandung arti perbuatan keji,


(Q.s. al-Nisa/ 4:112)

yang berarti kebohongan, dan







yang artinya perbuatan menyembunyikan

kesaksian (Q.s. al-Baqarah/ 2:283).
Termﰒ


sendiri disebut dalam al-Qur'an sebanyak 48 kali dalam berbagai

kata bentukannya. Para mufasir berbeda pendapat tentang perbedaan makna


dan

68

Ibn Manzhur, Op.cit, jilid I, h. 28

69

Term jirm dalam berbagai kata bentuknya disebut 66 kali,, misalnya pada Q.s. Thaha/
20:73, Q.s. al-An'am/ 6:55, 147, term dzanb-dzunub disebut 37 kali seperti pada Q.s. al-Araf/
7:100, Q.s. Al-Anfal/ 8:52-54, dan term mas'hiyah disebut 32 kali, misalnya pada Q.s. al-Tahrim/
66:6, Q.s. al-Ahzab/ 33:36

37




Dalam konteks ayat 15 15 surat al-Nisa















, fakhisyah
dapat dipahami sebagai perbuatan keji yang berhubungan dengan penyimpangan
seksual seperti yang tersebut dalam surat Q.s. al-Nisa/ 4:22,25, Q.s. al-Isra/ 17:32,
Q.s al-Naml/ 27:54 dan Q.s. al-Ankabut/ 29:28, sementara ism dipahami sebagai
perbuatan dosa yang berhubungan dengan minuman keras seperti yang terdapat
surat al-Baqarah/ 2:219 (ﲑ

















) dan syirik seperti dalam

surat al-Nisa /4:48 (ﺎ
















). Al-Qur'an juga memberi sifat

kepada dosa, seperti dosa besar,






dalam surat Q.s. al-Baqarah/2:219, Q.s.

al-Syuraa/ 42:37, Q.s. al-Najm/ 53:32, dan dosa yang nyata




dalam surat Q.s

al-Nisa/ 4:48, dosa yang nyata







dalam surat Q.s. al-Nisa/ 4:20,  50, 112, dan

Q.s al-Ahzab/ 33:58), dosa luar dan dosa dalam








dalam surat Q.s al-

An'am/ 6:120.
Jadi term


dalam al-Qur'an digunakan untuk menyebut semua jenis dosa
besar, yang tampak maupun yang disembunyikan, yang berkaitan dengan manusia
maupun dosa yang berkaitan dengan Tuhan. Sedangkan dosa kecil, al-Qur'an
menyebutnya dengan istilah al-lamam (ﻢ



) seperti yang tersebut dalam surat al-

Najm/ 53:32.

Menunjuk kepada contoh karakter Qabil, maka orang yang memiliki nafs
ammarah
 dengan karakter ini ia tidak ragu-ragu dalam melakukan dosa besar,
tidak pula (apalagi) melakukan dosa-dosa kecil. Secara lebih rinci cirri-ciri nafs
yang mudah melakukan perbuatan dosa itu diisyaratkan al-Qur'an dengan sebelas
cirri yaitu:
1. Tidak mau mendengarkan nasihat (Q.s al-maidah/ 5: 27-29)
2. Patuh kepada bisikan hawa nafsu (ﻪ








) (Q.s al-Maidah/ 5:30).

3. Tidak memperdulikan larangan Tuhan (ﺍ














) Q.s. al-

Jatsiyah/45:7)
4. Suka berdusta (ﺎ
















) Q.s. al-Nisa/ 4:20, 112 Q.s Al-Ahzab/ 33:58)

5. Suka bermusuhan (













) Q.s. al Mujadalah/ 58:8)
6. Suka melakukan berbagia perbuatan dosa (Q.s. al-Furqan/ 25:68)
7. Suka melampau batas (ﻢ







) (Q.s. al-Qalam/ 68:12)

8. Enggan berbuat baik (ﲑ






) (Q.s al-Qalam/ 68:12)

9. Suka berkhianat (



















) Q.s. al-Nisa/ 4:107).

10. Suka menyembunyikan kesaksian (ﻪ
















) (Q.s. al Baqarah/ 2: 283,

Q.s al-Maidah/ 5:106)
11. Buruk sangka (ﰒ






















) (Q.s al-Hujurat/ 49:12)

d. Berbuat Zalim

Karakteristik keempat dari nafs ammarah adalah zalim. Dalam bahasa
Indonesia, zalim digunakan untuk menyebut perbuatan aniaya atau sewenang-

38

wenang. 70

Dalam bahasa Arab, kalimat zhalim mengandung arti meletakkan

sesuatu tidak pada tempatnya,





ﺿ

. 71

Penggunaan kata zalim pada
manusia mengandung konotasi negative, yaitu melakukan sesuatu yang tidak
seharusnya dilakukan. Pengertian yang mendasar dari kata zalim adalah
menyimpang dan melampau batas. Dalam pengertian inilah maka orang Arab
menyebut perbuatan melenceng ke kiri dank e kanan dari jalan yang sedang
ditempuh juga dengan kata zalim. Demikian juga perbuatan memelihara binatang
buas (yang membahayakan manusia) juga disebut dengan kata zalim. 72
Dalam al-Qur'an term yang menyebutkan kalimat zalim pada nafs hanya
satu ayat, yaitu surat Yunus /10:54 (ﺖ











) selebihnya banyak ayat yang

menyebut bentuk-bentuk kezaliman.
Ayat itu diturunkan dalam rangkaian pernyataan Tuhan bahwa meskipun
Rasul itu jelas-jelas membawa kebenaran dari Tuhan tetapi orang-orang zalim
tetap saja tidak eprcaya, sampai mereka menyesali diri ketika mereka melihat
siksaat di alam akhirat.

Selanjutnya al-Qur'an lebih banyak menyebut konsep-konsep dan bentuk-
bentuk kezaliman, antara lain:
1. Bahwa manusia suka berbuat zalim kepada diri sendiri (Q.s. al-Baqarah/
2:231, Q.s al-Naml/ 27:44, Q.s al Qashahsh/ 28:16)
2. Bahwa Allah tidak menzalimi manusia (Q.s. Hu/ii:101, Q.s Al-Zukhruf/
43:26, Q.s Al-Imran / 3: 117, Q.s al-Nahl/ 16:32)
3. Bahwa dilarang percaya dan condong kepada orang zalim (Q.s Hud/ 11:113)
4. Bahwa orang yang dizalimi boleh membuka kezaliman orang yang
menzaliminya (Q.s. al-Nisa/ 4:148)
5. Orang yang dizalimi boleh membela diri dengan angkat senjata melawan si
zalim (Q.s al-Hajj/ 22:39)
Adapun bentuk-bentuk kezaliman yang disebut dalam al-Qur'an adalah

sebagai berikut:
a. Perbuatan yang melampau batas-batas yang ditetapkan Allah (Q.s. al-
Thalaq/65:1)
b. Syirik atau menyembah kepada selain Allah (Q.s al-Baqarah/2:54, Q.s al-
An'am/ 6:82)
c. Kufur (Q.s al-Nisa/ 4:168)
d. Melecehkan mu'jizat Nabi dan ayat-ayat Allah (Q.s al-Isra/ 17:59, Q.s al-
Furqon/ 25:4)
e. Mengikuti hawa nafsu tanpa pijakan ilmu (Q.s al Rum/30:29)
f. Merugikan orang lain secara material (Q.s al-Baqarah/ 2: 279)
g. Mengingkari ayat Allah (Q.s al-A'raf/7:9)
h. Melakukan kejahatan (Q.s al-Hajj/ 22:25)
i. Curang dalam urusan harta (Q.s al-Nisa/ 4:10)
j. Perlakuan tidak adil (Q.s. Thaha/ 20:112)
k. Berdusta dengan mengatasnamakan Allah (Q.s al Imran/3:94)

70

Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia  (Jakarta: Balai Pustaka, 1994), cet. Ke-3

71

Ibn Manzhur, op.cit, jilid IV, h. 2756

72

Ibid,

39

l. Tidak menjalankan hokum Allah (Q.s. al-Maidah/5:45)
m. Mengangkat orang kafir sebagai pemimpin (Q.s al-Tawbah/ 9:23)
n. Enggan bertaubat (Q.s al-Hujurat/ 49:11)
o. Melanggar perintah Tuhan (Q. 2:35)
p. Mengusir orang dari tempat tinggalnya (Q.s al-an'am/ 6:52)
q. Nifaq (Q. al-Taubah/ 9:47)
r. Mencuri (Q.s Yusuf/ 12:75)
s. Menghalangi orang menggunakan masjid untuk zikir
t. Berpura-pura tidak tahu terhadap ayat Allah (Q.s al-anbiya/ 21:140)
u. Mendustakan kebenaran (Q.s al-Ankabut/ 29:68)
v. Tidak mensyukuri nikmat (Q.s Ibrahim /14:34
w. Tidak jujur/tidak amanah (Q.s. al-Ahzab/ 33:72).
Disamping kata zhalim dalam berbagai kata bentuknya, al-Qur'an juga menyebut
kalimat



yang artinya kegelapan. Dalam bahasa Arab, antara kalimat zhulm
(dalam arti menyimpang jalan) dengan zhulumat (dalam arti gelap) mempunyai
hubungan arti, yaitu bahwa orang zalim itu seperti orang yang berjalan dalam
kegelapan, sehingga ia menyimpang dari jalan yang seharusnya, atau
menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya.

f. Al-Khi'ah (culas)

Karakter nafs ammarah berikutnya adalah al-khd'ah. Dalam bahasa Arab


, artinya menempatkan orang lain pada posisi yang dikatakan, yang
sebenarnya berbeda dengan maksud yang disembunyikan. 73

Menurut al-
Qadzdzafi, tanda-tanda khd'ah itu ada tiga; (1) tidak segan melakukan perbuatan
yang renda, (2) mudah memusuhi orang, (3) jika ingin menggapai suatu tujuan, ia
menempuh dengan cara yang melingkar-lingkar, yang merupakan perbuatan
makar dan tipuan. 74

Kata khid'ah dapat diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia
menjadi tipu daya, memperdayakan atau culas. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia,
 culas itu mengandung pengertian curang, tidak jujur, tidak lurus hati.
Keculasan mengandung arti penuh kepalsuan dan ketidak jujuran. 75
Isyarat adanya keculasan nafs dapat dilihat pada surat Yusuf: 18

>>>>>>4

tA$s%

ö@t/

ôMs9§qy™

öNä3s9

öNä3Ý¡àÿRr&

#\øBr&

Ya'qub berkata: "Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik
perbuatan (yang buruk) itu;  (Q.s. Yusuf/ 12:18)

Ayat ini disebut dalam rangkaian kisah Nabi Yusuf a.s. yaitu ketika
saudara-saudara Yusuf merasa iri kepadanya karena lebih disayang oleh ayahnya
(Nabi Ya'qub) mereka secara culas bersekongkol mengyingkirkan Yusuf dan
melaporkan kepada ayahnya bahwa Yusuf meninggal dimakan serigala. Kisah
keculasan saudara-saudara Yusuf telah disebutkan terdahulu pada uraian karakter

73

Al-Raghib al-Isfahani, op.cit, h. 144

74

Ramadlan Muhammad al-Qadzdzafi, Ilm al-nafs al Islami (Tripoli: mansyurah Shahifah
al-da'wah al-Islamiyah, 1990), cet. Ke-1 h. 13

75

Depdikbud, op.cit h. 198

40

hasad. Karakter khid'ah memang berada pada orang yang memiliki karakter
munafik dan hasad.

Karakteristik keculasan (al-khid'ah) diuraikan al-Qur'an dalam kaitannya
dengan tingkah laku orang munafik yang menipu Nabi dan kaum muslimin
dengan pura-pura beriman. Surat al-Baqarah/ 2:13 secara berturut-turut
memaparkan karakteristik orang munafik secara berturut-turut:
1. Mereka mengaku berimana kepada Allah dan hari akhir, padahal
sebenarnya tidak (Q.s. al-Baqarah/2:8)
2. Pada hakekatnya mereka menipu diri sendiri, bukan menipu Nabi (Q.s. Al-
Baqarah/2:9)
3. Penyebab kemunafikan mereka disebabkan adanya "penyakit" di dalam
hati mereka (Q.s al-Baqarah/2:10)
4. Mereka selalu mengklaim bahwa mereka berbuat konstruktip, padahal
yang sebenarnya mereka destruktif (Q.s al-Baqarah/2: 11-12)
5. Mereka menilah bahwa iman kepada Allah tiu merupakan bentuk
kebodohan (Q.s. al-Baqarah/2:13)
6. Mereka bermuka dua (Q.s. al-Baqarah/2:14)
7. Mereka terombang ambing oleh keculasannya (Q.s. al-Baqarah/2:15)
8. Mereka menjual barang berharga dengan bayaran yang tidak berharga
(Q.s. al-Baqarah/2:16)
9. Mereka mengalami kegelapan rohaniah sehingga mereka kebingungan
(Q.s. al-Baqarah/2:17-20)
Menurut Fakhr al-Razi, orang-orang munafik itu menipu Nabi dan kaum
muslimin dengan pura-pura beriman, dengan target-target sebagai berikut
1. Mengharapkan penghargaan sosial dari Nabi seperti yang diterima oleh
kaum muslimin lainnya
2. Dengan berdekatan dengan Nabi dan kaum muslimin, mereka mengharap
menemukan kelemahan-kelemahan Islam, untuk disampaikan kepada
musuh-musuh Nabi
3. Menghindarkan diri dari ancaman serangan, karena adanya perintah al-
Qur'an untuk memerangi orang yang belum beriman
4. Mengharap memperoleh bagian dari rampasan perang (ghanimah) 76
Karakteristik munafik itu oleh Nabi disebut dengan tiga tanda, seperti yang
tersebut dalam hadits riwayat Bukhara:

ﺍﻭ

ﺍﺫ

ﺍﻭ

ﺍﺫ





-




ﺍﻭ

Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga yaitu (a) jika berbicara berdusta,
(b) jika berjanji ingkar dan (c) jika dipercaya khianat. (H.R. Bukhari)

f. Mesum

Mesum dalam bahasa Indonesia seperti yang tersebut dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia
 mengandung pengertian perbuatan tidak senonoh, tidak patut

76

Imam Fakhr al-Razi, op.cit, jilid II, h. 63

41

dan cabul. 77

Lazimnya ungkapan tersebut digunakan berhubungan dengan tingkah
laku seks menyimpang. Al-Qur'an mengisyaratkan adanyamanusia yang tunduk
kepada dorongan untuk hubungan seks dengan cara menyimpang, baik
menyimpang dari norma hokum maupun menyimpang dari tatacara yang lazim.
Dorongan kepada tingkah laku mesum ini merupakan salah satu karakteristik dari
nafs ammarah. Kalimat













dalam surat Yusuf/ 12:53 jika dilihat
munasabah-nya dengan ayat-ayat lain yang menyebutkan hubungan Yusuf dengan
Zulaykha adalah hubungan dengan dorongan kepada perbuatan mesum. Surat
Yusuf/12:23 misalnya mengambarkan betapa kuatnya dorongan untuk berbuat
mesum hingga mengalahkan kejernihan akal seseorang.

çmø?yŠuu‘ur

ÓÉL©9$#

uqèd

†Îû

$yF֥t/

`

¾ÏmÅ¡øÿ¯R

ÏMs)¯=yñur

šu/F{$#

ôMs9$s%ur

|Mø‹yd

šs9

4

tA$s%

sŒ$yètB

«!$#

(

¼çm¯RÎ)

þ’În1u‘

z`ômr&

y#uWtB
(

¼çm¯RÎ)

Ÿw

ßxÎ=øÿãƒ

šcqßJÎ=»©à9$#

ÇËÌÈ

Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf
untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu,
seraya berkata: "Marilah ke sini." Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada
Allah, sungguh tuanku Telah memperlakukan Aku dengan baik."
Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. (Q.s.
Yusuf/12:23)

Dalam bahasa Arab, kalimat








mengandung arti usaha berulang-
ulang dan lemah lembut kepada orang untuk melakukan sesuatu yang tidak
dikehendaki oleh orang itu, dengan cara-cara tipuan dan kecurangan. 78

Sedangkan

kalimat



dalam bahasa Arab bermakna





yang merupakan bentuk kata

ajakanyang dipenuhi dengan nuansa perasaan malu. 79
Rangkaian kisah Yusuf pada ayat-ayat tersebut menceritakan bahwa Yusuf
yang memiliki kejujuran dan kesetiaan kepada tuannya (al-Aziz) tidak
membayangkan dalam dirinya untuk membalas kebaikan tuannya dengan
melayani godaan Zulaykha, istri tuannya Zulaikha merayu yusuf bukan hanya
dengan ajakan, tetapi juga dengan meniupkan logika bahwa Yusuf yang hanya
seorang anak angkat yang berasal dari budak yang dibeli harus mematuhi
kemauan tuan putrinya.

Tentang hubungan cinta Yusuf-Zulaykha, Q.s. Yusuf/ 12:24 menyebutkan.

77

Depdikbud, op.cit, h. 651

78

Al-Raghib al-Isfahani, Op.cit, h. 212

79

Ibn Manzhur, op.cit, jilid VI, h. 4731

42

ô‰s)s9ur

ôM£Jyd

¾ÏmÎ/
(
§Nydur

$p5

Iwöqs9

br&

#uä§

zyç/

¾ÏmÎn/u‘
4
y7Ï9ºx‹Ÿ2

tŽóÇuZÏ9

çm÷Z

uäþq•¡9$#

uä!$t±ósxÿø9$#ur
4
¼çm¯RÎ)

ô`ÏB

$tŠ$t6Ïã

šúüÅÁn=øÜßJø9$#

ÇËÍÈ

Sesungguhnya wanita itu Telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan
Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu Andaikata dia tidak melihat
tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar kami memalingkan dari padanya kemungkaran
dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih. (Q.s.
Yusuf/ 12:24)

Kebanyakan mufasir membedakan makna



dan


pada surat
Yusuf/12:24. Kalimat pertama dipahami bahwa Zulaykha memang memendam
cinta birahi kepada Yusuf, yang oleh karena itu ia merasa sangat kesal dan merasa
terhina ketika Yusuf menolak rayuannya. Sedangkan kalimat yang kedua (ﺎ

)
dipahami bahwa Yusuf merasa kesulitan menghindar dari jeratan godaan
Zulaykha. Hanya sedikit mufasir yang mengartikan sama kalimat hammat bihi dan
hamma biha, yakni bahwa baik Yusuf maupun Zulaykha keduanya dilanda
asmara, hanya saja Yusuf dijaga Tuhan, sedangkan Zulaykha, karena ia memiliki
jiwa mesum justru menuruti dorongan penyimpangannya. 80
Tingkah laku seks menyimpang bukan hanya penyimpangan dari
kelaziman norma hokum (perzinahan), tetapi juga dari kelaziman teknis. Jika
sekarang masyarakat mengenal tingkah laku seks menyimpang berupa seks sejenis
atau homo/lesbi, sodomi dan seks sadis, al-Qur'an juga telah mengisyaratkan
bahwa masyarakat pada zaman Nabi Luth juga telah melakukan penyimpangan
kehidupan seksual seperti yang disebut dalam surat al-Araf/ 7:80-81. Pandangan
bahwa penyimpangan kehidupan seksual itu bersumber dari nafs atau jiwa,
diperkuat oleh pendapat para ahli ilmu jiwa modern. Pada zaman modern
sekarang, kehidupan seksual menyimpang terungkap secara jelas dan sangat
beragam, sebagian orang memandangnya sebagai kewajaran, tetapi para ahli
memandangnya sebagai penyakit dan gangguan kejiwaan. Zakiah Daradjat,
misalnya mengkategorikan tingkah laku seks menyimpang sebagai gangguan
jiwa. 81

i. Sombong (Takabbur)

Diantara karakter nafs ammarah adalah sombong atau takabbur. Konsep
takabbur dalam al-Qur'an berpusat pada konsep hubungan manusia sebagai
makhluk (yang kecil) dengan Tuhan sebagai Sang Pencipta (Yang Maha Besar).
Sifat takabbur jika dihubungkan dengan Tuhan maka hal itu tidak berkonotasi
negative, karena takabbur bagi Tuhan memang sesuai dengan kebenaran dan
kenyataan, oleh karena itu dalam al-Qur'an juga disebutkan bahwa salah satu
nama dari







adalah



seperti yang tersebut dalam surat al-Haysr/ 59:23

(ﱪ




























). Dalam konteks Tuhan, al-mutakabbir

80

Imam Fakhr al-Razi, op.cit, juz XVIII, h. 114-120. lihat pula Ahmad Mushthafa al-

Maraghi, op.cit jilid IV, h. 131

81

Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental (Jakarta: CV. Masagung, 1980), cet ke 20

43

mengandung arti yang memiliki keagungan dan kekuasaan

)











). 82
Adapun manusiayang memiliki status sebagai hama Allah pastilah tidak besar,
oleh karena itu, sombong, membesarkan diri atau takabbur yang ada pada
manusia merupakan sifat tercela dan tidak sesuai dengan kenyataan.
Dalam bahasa Arab, kalimat

-


-





mempunyai arti yang
berdekatan, dan al-Qur'an menggunakan ketiga kalimat itu. Dalam surat al-
Mu'min/40:56 disebutkan bahwa di dalam "dada" manusia ada kibr (ﱪ





).

Kibr dalam ayat ini dihubungkan dengan manusia yang memiliki sifat

(ujub),
kagum diri, sehingga mereka memandang rendah orang lain (Nabi) yang
membawa kebenaran, dan oleh karena itu mereka berani menentang dakwah Nabi
(ayat-ayat Allah), meskipun mereka tidak memiliki argument yang memadai. 83
PUncak takabbur adalah takabbur kepada Tuhan, yakni menolak menerima
kebenaran dari Alah dan menolak perintahnya seperti yang dilakukan Iblis,
tersebut dalam surat al-Baqarah/2:34 (ﻦ













ﺍﻭ


). 84
Kesombongan manusia pada umumnya berhubungan dengan status social
tinggi, yang dimiliki oleh mereka, satu sikap yang menyebabkan mereka
memandang rendah orang lain yang status sosialnya lebih rendah, termasuk
kepada nabi dan Rasul yang berasal dari kalangan status social rendah.
Kesombongan jenis inilah yang dimiliki Fir'aun 85

dan kaumnya Nabi Shalih 86

serta kaum 'Ad dan Tsamud. 87
Kesombongan tingkah laku bersumber dari nafs yang sombong. Pada surat
al-Furqon/25:21 diungkapkan karakteristik kejiwaan dari orang yang sombong.

*

tA$s%ur

tûïÏ%©!$#

Ÿw

šcqã_ö•tƒ

$tRuä!$s)Ï9

Iwöqs9

t&

$uZøŠn=

èps3Í´¯»n=yJø9$#

÷rr&

3t•tR

$oY-/u‘
3

ωs)s9

(#Žy9õ3tGó™$#

þ’Îû

öNÎgÅ¡àÿRr&

öqtGtãur

#vqçGãã

#ZŽ•Î7x.

ÇËÊÈ

Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan
Kami: "Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau
(mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?" Sesungguhnya mereka
memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar Telah
melampaui batas(dalam melakukan) kezaliman". (Q.s. al-Furqon/ 25:21)

j. Kikir

Kikir merupakan salah satu karakter dari nafs ammarah. Al-Qur'an
menggunakan term dalam menyebut sifat kikir, yaitu



-



-




. Dalam bahasa
Arab, term bukhl-bakhil dan syuhh-syahih menunjuk pada perbedaan tingkat

82

Ibn Manzhur, Op.cit jilid 5, h. 3807. lihat pula Ismai'il Ibn Katsir al-Qurasyi al-Dimasyqi,

op.cit jilid IV, h. 367

83

Isma'il Ibn Katsir al-Qurasyi al-Dimasyqi, op.cit. h. 91

84

Lihat pula Q.s. al-Baqarah/2:76, Q.s al-Araf/ 7:40 dan Q.s al-Jatsiyat/ 45:31

85

LIhat .Q.s al-Ankabut/29:39 dan surat Q.s. Al-Mu'minun/ 23:46

86

LIhat Q.s. al-A'raf/7:75 dan 77

87

Lihat Q.s. Fushshilat/ 41:15 dan 17

44

kekikiran. Bakhil adalah lawan dari



yang artinya pemurah. Orang bakhil
adalah orang yang menggenggam erat-erat harta miliknya dan sama sekali tidak
mau memberikan kepada orang lain sampai pada barang-barang yang sudah tidak
dibutuhkannya. Sedangkan kikir pada term syuhh-syahih mengandung kadar yang
lebih tinggi, yaitu kikir yang disertai ketamakan. 88

disamping al-bukhl dan syuhh,

al-Qur'an dalam surat al-Isra/ 17:100 juga menggunakan term qatur (







). Term qatur dalam Bahasa Arab mengandung arti kikir dalam pengertian
berat mengeluarkan uang untuk keperluan sebagai lawan dari boros. 89

Dalam
perspektif al-Qur'an, kikir ada dua macam, pertama, kikir atas milik sendiri, dan
kedua kikir atau milik sendiri dan milik orang lain. Orang bakhil tipe kedua
tersebut menurut surat al-Nisa/ 4:36-37 memiliki kecenderungan sombong,
membanggakan diri dan menyebarluaskan kekikiran. Ia bukan hanya tidak malu
memiliki sifat kikir, tetapi malah mengajak orang lain untuk kikir (






































). Ia merasa senang jika orang lain kikir, dan tidak
suka kepada orang yang memiliki sifat pemurah meski ia tidak dirugikan sedikit
pun.

Dalam perspektif al-Qur'an, kekikiranmerupakan tabiat manusia, dan
bahkan sifat itu melekat di dalam jiwanya, seperti yang tersebut dalam surat-al-
Nisa/4:128








(bahwa manusia itu menurut tabiatnya kikir).
Sebagaimana halnya nafs itu bisa disucikan, demikian juga sifat kikir bisa ditekan
dan bahkan bisa diubah. Hadits Rasulullah mengisyaratkan bahwa sifat kikir tidak
membahayakan sepanjang tidak dipatuhi. Kekikiran yang merusak adalah kikir
yang dipatuhi

)



(

. 90

Al-Qur'an surat al-Nisa/17:100 mengingatkan bahwa
seandainya seluruh perbendaharaan bumi ini telah dikuasai, terasa belum
mencukupi, karena pada dasarnya manusia itu bertabiat amat kikir:

@è%

öq©9

öNçFRr&

tbqä3Î=ôJs?

tûÉî!#t“yz

Ïpymu‘

þ’În1u‘

#]ŒÎ)

÷Läêõ3øB`{

spu‹ô±yz

É-$xÿRM}$#
4

tb%x.ur

ß`»RM}$#

#YGs%

ÇÊÉÉÈ

Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-
perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan,
Karena takut membelanjakannya". dan adalah manusia itu sangat kikir.
(Q.s. al-Isra/ 17:100)

88

Al-Raghib al-Isfahani, op.cit, h. 35 dan 262

89

Ibid, h. 407

90

Lihat teks hadits pada catatan kaki no. 40 dari bab ini

45

1

NAFS (JIWA) MENURUT KONSEP AL-QUR’AN ( BAB II)

OLEH JAMRIDAFRIZAL, S.Ag.,M.HUM

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->