P. 1
Metodologi Perencanaan Bendungan

Metodologi Perencanaan Bendungan

|Views: 2,243|Likes:
pehamapan teori yang mendukung perencanaan bendungan
pehamapan teori yang mendukung perencanaan bendungan

More info:

Published by: Kukuh Prasetyo Pangudi Utomo on Aug 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/16/2015

pdf

text

original

METODOLOGI PERENCANAAN

BENDUNGAN
2.1. Debit banjir rancangan
2.1.1 Data yang diperlukan dalam perhitungan
Dalam perencanaan bendungan tipe urugan maka data-data hidrologi yang
diperlukan untuk perhitungan- perhitungan hidrologi adalah data curah hujan, data debit
sungai, luas daerah aliran sungai selama beberapa periode sebagai acuan untuk membuat
curah hujan rancangan dan debit banjir rancangan yang digunakan untuk perencanaan
pembuatan tubuh bendungan. Data- data yang diperoleh dari pencatatan- pencatatan dan
pengukuran-pengukuran tersebut merupakan data-data yabg sangat penting sebagai bahan
analisa-analisa dan perhitungan-perhitungan guna menentukan kapasitas calon waduk,
tinggi serta volume calon tubuh bendungan dan penetapan debit banjir rencana untuk
menentukan kapasitas bangunan pelimpah atau saluran-saluran banjir lainnya. Guna
pembuatan rencana teknis banguan pelimpah sebuah bendungan, maka diperlukan suatu
debit yng realistis. Untuk itu angka-angka hasil perhitungan hydrologi perlu diuji dengan
menggunakan data-data banjir banjir besar dari pencatatan pencatatan/ pengamatan
setempat. Sedangkan data-data curah hujan pada pembangunan sebuah bendungan
diperlukan untuk penganalisaan 2(dua) aspek utama yaitu
• Penganalisaan kapasitas persediaan air yang terdapat di daerah pengaliran yang
mengalir melalui tempat kedudukan calon bendungan serta fluktuasi
debitnya,dalam peride-periode harian, bulanan, tahunan atau periode jangka yang
panjang (multi yers period)
• Penganalisaan karakteristik debit banjir, antara lain mengenai kpasitas debit
banjir, durasi banjir, musim terjadinya banjir dan peride- periode perulangnnya.
Data curah hujan tersebut biasanya data curah hujan jam-jaman, hujan harian, distribusi
curah hujan pada saat terjadi hujan yang lebat, dan lain lain.
Pada tugas besar Konstruksi Bendungan 1 ini telah disediakan beberapa data yang
siap saji untuk pernencanaan sebuah bendungan urugan, antara lain :
1. Luas DAS
4
5
2. Panjang alur sungai utama (sungai terpanjang)
3. Koef. karakteristik HSS Nakayasu
4. Koef. Pengaliran
5. Hujan rancangan dengan kala ulang 25 th
6. Hujan rancangan dengan kala ulang 50 th
7. Hujan rancangan dengan kala ulang 200 th
8. Hujan rancangan dengan kala ulang 1000 th
9. Hujan rancangan dengan kala ulang PMF th
Adapun nantinya data-data diatas akan digunakan untuk perhitungan hidrologi
antara lain penetapan banjir rancangan, penentuan kala ulang (return period) banjir
rancangan , penentuan debit maksimum banjir yang mungkin terjadi (probable maximum
flood), pembuatan hidrograf banjir rancangan sebagai debit inflow banjir untuk
perencanaan bangunan pelepasan (outlet works) pada konstruksi bendungan.
2.1.2 Perhitungan Debit Banjir Rencana
Pada prinsipnya debit banjir rencana diperoleh dari hasil-hasil perhitungan curah
hujan rencana dengan memasukkan beberapa faktor kondisi daerah pengaliran, sedang
debit banjir rencana didapat dari perhitungan curah hujan maksimum rata-rata yang jatuh
didaerah pengaliran dan jangka waktu sejak terkumpulnya air hujan tersebut pada saat
terjadinya debit besar pada tempat kedudukan calon tubuh bendungan. Besarnya jangka
waktu terebut tergantung dari kondisi topografi dan geologi daerah pengaliran. Hanya
setelah diketahui angka-angka hubungan antara curah hujan dan debit banjir rencana
dapat dihitung dengan metode unit hidrograf. Secara garis besarnya perhitungan tersebut
terdiri dari 3 (tiga) tahapan sebagai berikut :
• Perhitungan curah hujan maximum rencana
• Perhitungan debit banjir rencana
• Pengujian hasil perhitungan debit banjir rencana
2.1.3 Kriteria Debit Banjir Rancangan
Untuk kriteria banjir rancangan yang akan dipakai dalam design bangunan
maka dalam pelaksanaan tugas besar ini telah ditetapkan untuk
a) Q 25 th untuk perencanaan diversion tunnel dan cover dam
6
b) Q 50 th untuk kontrol keamanan tinggi cover dam
c) Q 200 th untuk pertimbangan perencanaan peredam energi (stilling basin)
d) Q 1000 th untuk perencanaan pelimpah (spillway) dan maindam
e) Q PMF untuk kontrol keamanan kapasitas pelimpah (spillway) terhadap bahaya
overtopping diatas puncak tubuh bendungan utama (top dam)
2.2. Storage Curve
Fungsi utama tampungan waduk adalah sebagai penampung air dan sebagai
stabilisator aliran air yang terjadi pada suatu daerah aliran sungai. Oleh karena itu, hal
yang paling penting diperhatikan dari karakteristik fisik waduk adalah berapa besar
kapasitas tampungannya.
Perencanaan penentuan lokasi waduk, ditentukan dari peta kontur dan survei
topografi lokasi bendungan yang dilaksanakan, seperti ditunjukkan pada Gambar 2.18.
Luas yang tertandai di peta kontur berikut ini adalah lokasi waduk rencana. Elevasi
kontur dan area yang direncanakan di masing-masing elevasi dapat diplot dari kurva hasil
hubungan antara kapasitas waduk dan elevasi pada peta kontur, hubungan kapasitas
waduk dan elevasi disebut kurva kapasitas tampungan waduk. Untuk lebih jelasnya
seperti pada Gambar 2.2
Gambar2.1 Kurva kapasitas tampungan waduk
Untuk menghitung volume antar interval kontur dapat dihitung dengan rumus sebagai
berikut (Santosh Kumar, 2001:882) :
( ) h
A A
S ∆
+
· ∆
2
2 1
(2-)
7
atau dengan pendekatan :
( )
2 1 2 1
.
3
A A A A
h
S + +

· ∆ (2-)
Dimana
...... , , ,
4 3 2 1
A A A A
menunjukkan luasan di antara garis elevasi berurutan yang
mempunyai interval tingginya adalah h. Dari kapasitas tampungan berbagai tinggi
permukaan air yang diplot dan dianalisis akan diperoleh kurva kapasitas tampungan
waduk.
2.3. Hidrolika Terowongan
Sistem Pengelak Banjir dengan komponen utama berupa saluran pengelak dan
bendungan pengelak direncanakan sedemikian rupa, sehingga dapat mengalirkan debit
banjir yang mungkin terjadi dalam periode pelaksanaan konstruksi suatu bedungan dan
agar dapat dihindarkan kemungkinan terjadinya limpasan-limpasan di atas mercu
bendungan pengelak yang dapat menyebabkan genangan genangan pad daerah calon
tubuh bendungan yang sedang dikerjakan.
Beberapa faktor terpenting yang akan menentukan karakteristika hidrolika suatu
saluran pengelak adalah :
• Kemiringan dasar saluran pengelak
• Ukuran saluran pengelak
• Karakteristika terpenting saluran pengelak
• Panjang saluran pengelak
• Kekasaran dinding saluran pengelak
Kombinasi dari beberapa faktor-faktor tersebut akan sangat menentukan kapasitas
saluran pengelak.
Kemiringan saluran pengelak yang berupa terowongan (terowongan Pengelak)
biasanya diambil untuk aliran sub-kritis ataupun untuk aliran superkritis. Pada kedua
kondisi tersebut, maka posisi titik kontrol hidrlisnya biasanya tergantung dari hubungan
antara bentuk daerah pemasukan aliran serta tinggi tekanan air di daerah ini dan
tergantung pula pada kondisi pengaliran di ujung saluran tersebut.
Untuk analisis hidrolika pada saluran pengelak ini dibahas mengenai kapasitas
pengaliran melalui saluran pengelak, baik melalui terowongan maupun conduit karena
prinsip dasar dari ke-dua pengelak tersebut adalah sama. Kapasitas pengaliran saluran ini
dibedakan menjadi dua kondisi yaitu, pada saat aliran bebas (free flow) yaitu pada saat
8
sifat hidrolik yang terjadi berupa hidrolika saluran terbuka dan kondisi pada saat aliran
tertekan yaitu pada saat sifat hidrolik yang terjadi berupa hidrolika saluran tertutup.
2.3.1 Kriteria Aliran pada Terowongan
a. Kriteria Aliran pada Terowongan Menurut USBR
Menurut USBR (United States Bureau of Reclamation) kriteria aliran pada
terowongan dapat dibagi menjadi delapan tipe aliran. Faktor geometri saluran, faktor
aliran dalam aliran tekan maupun aliran bebas, kemiringan saluran, ukuran, bentuk,
panjang, dan kekasaran menentukan jenis aliran pada terowongan. Kombinasi efek dari
faktor tersebut menentukan lokasi kontrol yang dalam bagiannya juga menentukan
karakteristik debit terowongan. Lokasi dari kontrol saluran apakah berupa aliran penuh
total (tekan) atau penuh sebagian, membentuk hubungan tinggi muka air dengan debit
yang lewat.
Kemiringan terowongan mugkin saja landai atau curam; yang mana
kemiringannya mungkin lebih datar atau curam dari lainnya untuk debit tertentu hanya
akan mendukung aliran pada tathapan aliran kritis. Untuk kedua kemiringan terowonngan
landai maupun curam, kontrol keduanya bisa jadi pada masukan ataau keluaran,
tergantung pada geometri mulut masukan dan hubungan tinggi muka air fan kondisi aliran
di keluaran. Macam kondisi yang bisa menentukan tipe aliran tertentu ditunjukkan pada
Gambar 3.5.
Jika masukan terowongan tidak dalam kondisi tenggelam, kontrol terowongan
dengan kemiringan yang landai maka aliran penuih sebagian akan terjadi di keluaran. Jika
keluaran terowongan penuh total, aliran pada titik ini akan mengalir dengan kedalaman
kritis. Kondisi ini ditunjukkan pada kondisi 1 Gambar 2.3. Jika muka air hilir cukup
tinggi untuk membentuk kedalaman lebih besar dari kritis, tinggi muka air hilir akan
mengontrol aliran pada hulu tubuh terowongan. Jika muka air hilir menenggelamkan
keluaran, terowongan mungkin penuh sebagian sepanjang terowongan dan akhirnya akan
menenggelamkan masukan. Kondisi aliran ini digambarkan sesuai kondisi 6 pada
Gambar 2.2. Sampai aliran terowongan penuh, alirannya biasanya pada subkritis, dan
debit ditentukan dengan persamaan Bernoulli. Perhitungan dimulai pada outlet dimana
level muka air menenggelamkan inlet dan dimana H/D > 1,2. Kontrol pada kedalaman
kritis bisa diletakkan di inlet jika terowongan relatif pendek sehingga loncatan tidak
terjadi di dalam tubuh terowongan. Kondisi ini ditunjukkan pada kondisi 4.
9
Jika terowongan memiliki kemiringan yang curam dan mulut masukan tidak
tengggelam, aliran akan dikontrol oleh kedalaman aliran di inlet, seperti diindikasikan
pada kondisi 3. Permukaan air akan turun secara tiba-tiba menuju kedalaman kritis pada
mulut masukan, dan aliran saluran terbuka berada pada kecepatan superkritis akan terjadi
sepanjang tubuh terowongan. Debit pada tampungan akan berpengaruh pada aliran
saluran, dengan asumsi kedalaman aliran kritis terjadi di mulut masukan terowongan.
Setelah inlet tenggelam atau dimana H melampaui 1,2D, masih dimungkinkan
terjadi aliran saluran terbuka pada tingkatan superkritis pada tubuh terowongan, seperti
digambarkan pada kondisi 5, jika kontrol tetap pada mulut masukan. Pada kasus ini,
aliran pada inlet dapat disamakan dengan aliran pada orifice atau pada pintu sorong.
Kondisi aliran ini bergantung pada formasi konstruksi pada atas mulut masukan sehibgga
ruang batas udara terbentuk sepanjang bagian atas tubuh terowongan sehingga terjadi
aliran penuh sebagian sepanjang terowongan.
Karena tinggi muka air pada mulut masukan dan hasil dari peningkatan debit,
gesekan saluran atau disturbansi lokal akan menekan tubuh terowongan menjadi aliran
penuh total sampai dekat pada outlet, menutup terowongan hingga akhir hilir. Kecepatan
aliran yang tinggi di dalam terowongan akan membawa beberapa udara yang terjebak
pada bagian atas tubuh terowongan, mengurangi tekanan pada tekanan hingga di bawah
tekanan atmosfer. Lebih lanjut lagi, jika mulut masukan memiliki bentuk yang bertujuan
untuk mengurangi konstraksi inlet, tubuh terowongan akan mulai mengalir pada aliran
penuh total dekat inlet, setelah itu zona aliran penuh total akan memanjang secara tiba-
tiba sampai turun pada outlet. Efek dari kondisi aliran penuh total ini akan menjadi draft-
tube action (mirip dengan siphonic action) yang akan meningkatkan debit. Peningkatan
debit mengakibatkan penurunan lebih dalam dari hulu pada inlet. Sebuah vortex akan
terbentuk, dan udara akan masuk ke dalam terowongan yang akan merusak draft-tube
action. Pengurangan debit akan menghasilkan kembalinya kontrol orifice pada inlet.
Dengan seketika, gaya aliran penuh total akan terbentuk lagi, dan siklusnya terus
berulang. Pergantian antara gaya-gaya pemulaian dan penghentian akan menyebabkan
aliran berpusar/ bergetar yang menyebabkan fenomena hantaman yang ditunjukkan pada
kondisi 7. Ketika kondisi tampungan berada pada H/D > 1,5 penurunan muka air pada
mulut masukan tidak akan cukup kuat untuk menghasilkan gaya aliran penuh total, dan
aliran mantap pada pipa penuh ditunjukkan pada kondisi 8 akan berlaku.
Jika diinginkan bahwa terowongan tidak berupa aliran penuh total, geometri pada
inlet menjadi pertimbangan penting. Inletnya harus dibentuk untuk menghasilkan efisiensi
10
debit maksimum dan mengatasi dengan baik konstraksi bagian atas inlet yang akan
membuat permukaan pada udara bebas di dalam tubuh terowongan untuk semua tingkatan
muka air tampungan. Bentuk inlet bersudut menghasilkan konstraksi yang diinginkan
tanpa mengurangi kapasitas debit utama. Konstraksi pada inlet dapat terbentuk (tetapi
pada kapasitas hidrolik yang dikurangi) dengan inlet yang diproyeksikan, dengan
mengubah sudut inlet dengan menyamakan dengan kemiringan hilir, dengan bentuk
gelang orifice yang lebih kecil dari diameter terowongan, atau dengan menutup dinding
muka bagian atas dari mulut masukan terowongan.
Jika terowongan diizinkan untuk mengalir penuh total hingga tinggi muka air
yang lebih tinggi, kontrolnya akan terjadi pada outlet dan geometri inlet akan berpengaruh
lebih kecil. Pada kasus ini inlet harus dibentuk untuk meminimalisasikan konstraksi
pancar untuk mencegah abrasi dari aliran masuk dari tubuh terowongan karena aliran pipa
penuh total diinginkan pada semua kondisi kecuali ketika inlet tidak tenggelam. Bentuk
yang lebih streamline akan mengurangi kehilangan pada mulut masukan untuk kondisi
penuh total. Penghilangan konstraksi dicapai dengan membulatkan inlet atau dengan
membuat sudut transisi bertahap menuju ke tubuh terowongan.
Gambar 2.2 Model Kondisi Aliran pada Terowongan dengan Kemiringan/ Slope Landai
dan Curam.
Sumber: Design of Small Dams, 1987:423

b. Kriteria Aliran pada Terowongan Menurut Richard French
Berdasar dari buku Open Channel Hydraulics dari Richard H. French debit yang
melewati terowongan ditentukan melalui aplikasi dari persamaan kontinuitas dan energi
11
diantara bagian pengarah dan bagian hilir terowongan yang berada pada tubuh
terowongan (Gambar 4.11). Lokasi bagian hilir tergantung pada pembagian aliran di
dalam terowongan.
Gambar 2.3 Skema Definisi Aliran di Dalam Terowongan
Sumber : Open Channel Hydraulics, Richard H.F.,1985:365
Untuk kebutuhan perhitungan, aliran melalui terowongan dibagi ke dalam enam
bagian berdasarkan muka air hulu dan muka air hilir. Enam tipe aliran dan masing-
masing karakterisitiknya akan dijelaskan di Tabel 3.1. Di tabel tersebut, D = dimensi
vertikal maksimum terowongan, y
1
= kedalaman aliran bagian hulu, y
c
= kedalaman
kritis aliran, z = elevasi terowongan relatif terhadap datum sampai keluaran (outlet)
terowongan, dan y
4
= kedalaman aliran bagian hilir. Pada Gambar 3.2 persamaan debit
aliran melalui berbagai macam tipe aliran di terowongan dijelaskan. Di persamaan
tersebut, C
D
= koefisien debit, A
c
= luas pada aliran saat kedalaman kritis, ū
1
=
kecepatan rerata pada bagian hulu, α
1
= koefisien koreksi energi kinetik pada bagian
hulu, h
f1-2
= L
w
Q
2
/K
1
K
c
= kehilangan energi karena gesekan pada bagian hulu ke mulut
masukan (inlet) terowongan, L
w
= jarak dari bagian hulu ke mulut masukan terowongan,
K
1
= tetapan pada bagian hulu, K
c
= tetapan pada kedalaman kritis, h
f2-3
= LQ
2
/K
2
K
3
=
kehilangan energi karena gesekan pada tubuh terowongan, dan L = panjang tubuh
terowongan. Berdasarkan dari keenam klasifikasi aliran tersebut, karakteristik aliran
bisa dilihat sebagai berikut:
a. Aliran Tipe 1
12
Pada jenis aliran ini, kedalaman kritis terjadi di sekitar mulut masukan
terowongan. Agar aliran tipe 1 ini bisa terjadi persyaratan yang harus dipenuhi
:
1. Rasio tinggi muka air dan diameter terowongan tidak boleh melebihi 1,5.
2. Kemiringan tubuh terowongan S
o
harus lebih besar dari kemiringan kritis
S
c
.
3. Elevasi muka air hilir y
4
harus kurang dari elevasi muka air pada bagian
kritis.
b. Aliran Tipe 2
Pada jenis aliran ini, kedalaman kritis terjadi pada mulut keluaran
terowongan. Agar aliran tipe 2 ini bisa terjadi persyaratan yang harus dipenuhi
:
1. Rasio tinggi muka air dan diameter terowongan tidak boleh melebihi 1,5.
2. Kemiringan tubuh terowongan S
o
harus kurang dari kemiringan kritis S
c
.
3. Elevasi muka air hilir y
4
tidak boleh melebihi muka air pada bagian kritis.
c. Aliran Tipe 3
Pada jenis aliran ini, profil aliran berubah lambat laun merupakan faktor
penentu, kedalaman kritis tidak dapat terjadi, dan elevasi muka air hulu
merupakan fungsi dari elevasi hilir. Pada jenis aliran ini, aliran subkritis
terjadi pada seluruh panjang terowongan. Agar aliran tipe 3 ini bisa terjadi
persyaratan yang harus dipenuhi :
1. Rasio tinggi muka air dan diameter terowongan harus kurang dari 1,5.
2. Elevasi muka air hilir tidak cukup untuk menenggelamkan mulut keluaran
terowongan. Bagaimanapun elevasinya melampaui kedalaman kritis pada
mulut keluaran.
3. Batas terendah dari muka air hilir adalah seperti berikut: (a) elevasi muka
air hilir lebih besar dari elevasi kedalaman kritis pada mulut masukan
terowongan jika kondisi aliran serupa pada kedalaman kritis seperti pada
mulut masukan, dan (b) elevasi muka air hilir lebih besar dari elevasi
muka air kritis pada mulut keluaran jika kemiringan terowongan serupa
dengan kedalaman muka air kritis akan terjadi pada kondisi jatuh-bebas.
d. Aliran Tipe 4
13
Pada jenis aliran ini, aliran terowongan penuh, dan besar aliran bisa
diperkirakan secara langsung dari persamaan energi. Untuk aliran tipe 4 ini,
kehilangan energi terjadi diantara bagian 1 dan 2 dan bagian 3 dan 4 biasanya
diabaikan. Kehilangan berdasarkan perluasan aliran berubah tiba-tiba pada
mulut keluaran terowongan diasumsi dengan persamaan (h
3
-h
4
)
e. Aliran Tipe 5
Pada jenis aliran ini, aliran superkritis pada mulut masukan terowongan
dan rasio tinggi muka air hulu dengan diameter terowongan melampaui 1,5.
Namun elevasi muka air hilir masih di bawah terowongan, atau terowongan
hampir penuh.
f. Alliran Tipe 6
Pada jenis aliran ini, rasio tinggi muka air hulu-diameter terowongan
melampaui 1,5, aliran terowongan hampir penuh, dan mulut keluaran
terowongan tidak tenggelam. Flowchart di bawah nanti menjelaskan cara
mengklasifikasikan aliran terowongan dari keenam kategori berikut di atas.





14

Gambar 2.4 Gambar Klasifikasi Tipe Aliran pada Terowongan
Sumber : Open Channel Hydraulics, Richard H.F, 1986: 368
Tabel 3.1 Karakteristik Aliran di Dalam Terowongan (Bodhaine, 1976)
1 Penuh Sebagian Inlet Kedalaman Kritis Curam < 1,5 < 1,0 ≤ 1,0
2 Penuh Sebagian Outlet Kedalaman Kritis Landai < 1,5 < 1,0 ≤ 1,0
3 Penuh Sebagian Outlet Backwater Landai < 1,5 > 1,0 ≤ 1,0
4 Penuh Total Outlet Backwater Curam & Landai > 1,0 ….. > 1,0
5 Penuh Sebagian Inlet Geometri Masukan Curam & Landai ≥ 1,5 ….. ≤ 1,0
y
4
/y
c
y
4
/D
Geometri pada Masukan
dan Tubuh Terowongan
6 Penuh Total Outlet Curam & Landai ≥ 1,5 ….. ≤ 1,0
Tipe
Aliran
Aliran di Dalam
Tubuh Terowongan
Lokasi
Bagian Hilir
Tipe Kontrol
Kemiringan
Terowongan
y
1
/D
Sumber : Open Channel Hydraulics, Richard H.F., 1985:366
Tabel 3.2 Tabel Klasifikasi Aliran pada Terowongan dan Rumus Alirannya
Tipe
Tipe Aliran pada
Terowongan
Persamaan Debit
Tipe 1
Kedalaman kritis pada mulut
masukan.
(h
1
-z)/D < 1,5
h
4
/h
c
< 1,0
S
o
> S
c

,
_

¸
¸
− − + − ·
−2 1
2
1
1 1
2
2
f c C D
h y
g
u
z h g A C Q α
Tipe 2
Kedalaman kritis pada mulut
keluaran
(h
1
-z)/D < 1,5
h
4
/h
c
< 1,0
S
o
> S
c

,
_

¸
¸
− − − + ·
− − 3 2 2 1
2
1
1 1
2
2
f f c C D
h h y
g
u
h g A C Q α
Tipe 3
Aliran air tenang
(h
1
-z)/D < 1,5
h
4
/h
c
≤ 1,0
h
4
/h
c
> 1,0

,
_

¸
¸
− − − + ·
− − 3 2 2 1 3
2
1
1 1 3
2
2
f f D
h h h
g
u
h g A C Q α
15
Tipe 4
Mulut keluaran tenggelam
(h
1
-z)/D > 1,0
h
4
/D > 1,0
2 / 1
3 / 4
0
2 2
4 1
0
/ 29 ( 1
( 2

,
_

¸
¸
+

·
R L n C
h h g
A C Q
D
D
Tipe 5
Aliran air pada mulut
masukan berubah tiba-tiba
(h
1
-z)/D ≥ 1,5
h
4
/D
c
≤ 1,0
( ) z h g A C Q
D
− ·
1 0
2
Tipe 6
Aliran bebas pada mulut
keluaran
(h
1
-z)/D ≥ 1,5
h
4
/D ≤ 1,0
( )
3 2 3 1 0
2

− − ·
f D
h h h g A C Q
Sumber: Open Channel Hydraulics, Richard H.F., 1986:368
Gambar 2.5 Diagram Alir Penentuan Jenis Aliran pada Terowongan
Jika
Y
1
/D > 1
Jika
Y
1
/D ≥ 1
Jika
Y
4
/D > 1
Aliran Air Tipe 4
Jika
Y
1
/D < 1,5
Jika
Y
4
/Y
c
< 1
Jika
S
0
<S
c
Aliran Air Tipe 2
Error
Jika
Y
4
/D ≤ 1
Aliran Air Tipe 3
Aliran Air Tipe 1
Error
benar benar benar
salah
salah
salah salah
benar benar benar
Aliran Air Tipe 5
atau Tipe 6
salah
salah
benar
salah
Sumber: Open Channel Hydraulics, Richard H.F., 1986:370
c. Kriteria Aliran pada Terowongan Menurut Ven Te Chow
Dari buku Hidrolika Saluran Terbuka karangan Ven Te Chow, terowongan
adalah jenis yang unik dari suatu penyempitan dan jalan masuknya merupakan
penyempitan dengan bentuk khusus. Terowongan bersifat seperti saluran terbuka,
16
asalkan alirannya mengisi seluruh bagian gorong-gorong tersebut. Karakteristik
alirannya sangat rumit, karena aliran tersebut dikontrol oleh beberapa variabel,
antara lain: geometri pemasukan, kemiringan, ukuran, kekasaran, keadaan air
bawah, dan lain-lainnya. Oleh karena itu penelitian mengenai aliran yang melalui
terowongan harus dilakukan dilaboratorium atau penelitian lapangan.
Terowongan akan terisi penuh, bila jalan keluarnya terendam, atau bila jalan
keluarnya tidak terendam, tetapi air atasnya mempunyai tinggi dan kubah yang
panjang. Sesuai dengan penelitian laboratorium, bila jalan keluar terowongan biasa tidak
terendam, maka jalan masuknya tidak perlu terendam, jika air atasnya lebih kecil
dari suatu besaran kritis tertentu, yang diberi tanda H*. Nilai H* bervariasi antara
1,2 sampai 1,5 kali tinggi terowongaan, tergantung pada geometri masukan,
karakteristik kubah dan keadaan saluran terowongan. Untuk analisa pendahuluan
dapat digunakan batas atas H* = 1,5d, di mana d = tinggi terowongan. Hal ini
disebabkan dari perhitungan didapatkan, bahwa bila perendaman tidak menentu,
maka ketepatan perhitungan yang lebih besar didapatkan dengan menganggap
masukan dalam keadaan tidak terendam.
Gambar 2.6 Kriteria untuk Terowongan Pipa, Kotak Panjang dan Pendek Secara
Hidrolis dengan Kubah Beton; dan Masukan Berbentuk Persegi, Lingkaran atau
Pengurasan Miring dari Dinding Ujung Vertikal; Dilengkapi dengan atau Tanpa Dinding
Samping
Sumber: Hidrolika Saluran Terbuka, Ven Te Chow, 1997:444
Penelitian laboratorium juga menunjukkan bahwa pada suatu terowongan
(biasanya mempunyai potongan persegi pada bagian atas masukan), tidak akan memiliki
aliran penuh sekalipun masukan berada di bawah ketinggian air atas, bila saluran keluar
tidak terendam. Pada kondisi demikan, aliran yang masuk ke terowongan akan menyusut,
hingga kedalamannya lebih kecil daripada tinggi kubah terowongan; dengan cara yang
17
sangat mirip dengan penyusutan aliran air pada pintu air geser tegak. Kecepatan air yang
tinggi akan berlanjut sepanjang kubah, kemudian akan berkurang secara perlahan-lahan,
akibat kehilangan gesekan. Bila terowongan tidak cukup panjang untuk mengizinkan
penambahan kedalaman aliran di penyempitan hingga memenuhi kubah, maka aliran pada
terowongan tidak akan terisi penuh. Keadaan demikian dinamakan pendek secara
hidrolis. Sebaliknya, dikatakan panjang secara hidrolis, bila aliran pada terowongan
penuh, seperti yang terjadi pada pipa.
Penentuan suatu terowongan panjang atau pendek secara hidrolis, tidak dapat
ditentukan oleh panjang kubah saja. Tetapi tergantung pada karakteristik yang lain,
diantaranya: kemiringan, ukuran, geometri masukan, air atas, keadaan saluran masuk dan
keluar, dan lain-lainnya. Suatu terowongan, mungkin menjadi pendek secara hidrolis, bila
aliran hanya sebagian penuh, atau bila air atas lebih besar dari niali kritis. Untuk situasi
demikian, suatu grafik yang dibuat Carter (Gambar 2.6 dan Gambar 2.7), dapat
digunakan untuk membedakan secara kasar antara terowongan pendek secara hidrolis,
dengan saluran masuk terendam, dapat memperlengkapi dirinya sendiri secara otomatis,
aliran menjadi penuh. Dari hasil penelitian laboratorium yang dilakukan Li dan Patterson,
terjadinya aksi memperlengkapi dirinya sendiri, disebabkan oleh kenaikan air hingga
bagian atas gorong-gorong. Kenaikan ini pada kebanyakan kasus disebabkan oleh
loncatan hidrolik, pengaruh air balik pada jalan keluar, atau terbentuknya gelombang
permukaan diam di dalam kubah.
18
Gambar 2.7 Kriteria untuk Terowongan Pendek dan Panjang Secara Hidrolis, dengan
Kubah Kasar dari Pipa Bergelombang.
Sumber : Hidrolika Saluran Terbuka,Ven Te Chow, 1997:445
Untuk keperluan praktis, aliran gorong-gorong dapat digolongkan dalam 6 jenis,
dan ditunjukkan pada Gambar 2.8. ldentifikasi masing-masing jenis dapat diielaskan
sesuai dengan sketsa berikut:
A. Jalan keluar terendam……………………………… Jenis 1
B. Jalan keluar tidak direndam
1. Air atas lebih tinggi daripada nilai kritis
a. Terowongan panjang secara hidrolis………. Jenis 2
b. Terowongan yang pendek secara hidrolis.. Jenis 3
2. Air atas lebih rendah daripada nilai kritis
a. Air bawah lebih tinggi daripada kedalaman kritis Jenis 4
b. Air bawah lebih rendah daripada kedalaman kritis
i. Kemiringan subkritis…………………………………. Jenis 5
ii. Kemiringan superkritis………………………………. Jenis 6
19
Gambar 2.8 Jenis Aliran Terowongan
Sumber: Hidrolika Saluran Terbuka, Ven Te Chow, 1997:446
Jika saluran keluarnya terendam, aliran pada terowongan akan memenuhi seluruh
bagian, serupa dengan aliran pada pipa dan alirannya termasuk jenis 1. Bila saluran
keluar tidak terendam, maka air atas mempunyai kemungkinan lebih besar atau lebih
kecil dibandingkan nilai kritisnya. Jika air atas lebih besar dibanding nilai kritis,
kemungkinan terowongan bersifat panjang atau pendek secara nilai; dan untuk
membedakan hal ini, digunakan grafik pada Gambar 2.6 dan 2.7. Jika terowongan
panjang secara hidrolis, alirannya termasuk jenis 2, sedangkan jika pendek secara
hidrolis, maka alirannya berjenis 3. Bila air atas lebih kecil daripada nilai kritis,
maka pada saluran keluar, air bawah mungkin lebih besar atau lebih kecil dibanding
kedalaman kritis aliran. Untuk air bawah yang lebih besar, alirannya termasuk jenis 4.
Sedangkan untuk air bawah lebih kecil, alirannya berjenis 5, bila kemiringan
terowongannya subkritis; dan berjenis 6, bila kemiringannya superkritis.
Pada penggolongan di atas, terdapat kekecualian, yakni bahwa aliran jenis 1,
20
dapat terjadi dengan air atas sedikit lebih besar dari nilai kedalaman kritis, atau
dengan air atas lebih tinggi daripada bagian atas saluran keluar, asalkan kemiringan
dasar terowongan sangat curam. Jenis 1 dan 2, termasuk aliran pipa, sedang yang
lainnya termasuk aliran saluran terbuka. Untuk aliran jenis 3, terowongan berperan
seperti suatu orifis. Koefisien pelepasan beragam kira-kira dari 0,45 sampai 0,75.
Untuk aliran jenis 4, 5, dan 6, jalan masuknya terendam air, dan terowongan berperan
seperti penyekat. Koefisien pelepasan beragam kira-kira dari 0,75 sampai 0,95,
tergantung pada geometri masukkan dan kondisi air atas. Pada Gambar 3.11, terlihat
bahwa aliran jenis 4 adalah aliran subkritis pada sepanjang kubah. Aliran jenis 5
adalah aliran subkritis, oleh karena itu penampang kontrolnya terletak pada saluran
keluar.
Survai Geologi Amerika Serikat, telah mengembangkan suatu prosedur
terinci yang dapat digunakan untuk perhitungan hidrolik perancangan terowongan.
Untuk keperluan praktis, dapat digunakan suatu penyelesaian pendekatan dengan
menggunakan grafik pada Gambar 3.12 dan 3.13, masing-masing untuk terowongan
kotak dan lingkaran. Kedua kurva hanya berlaku untuk terowongan yang mempunyai
saluran masuk berpenampang bujur sangkar:
Jenis H/d < 1,0 1,0 < H/d < 1,5 H/d > 1,5
Lingkaran 0,87 H/d 0,87 H/d 1,09 + 0,10 H/d
Kotak 1,00 H/d 0,36 + 0,64 H/d 0,62 + 0,46 H/d
21
Gambar 2.9 Grafik untuk Nilai Air Atas Pendekatan Pada Terowongan Kotak, dengan
Satuan untuk Bujur Sangkar, Aliran Sebagian Penuh.
Sumber : Hidrolika Saluran Terbuka, Ven Te Chow, 1997:448
Gambar 2.10 Grafik untuk Nilai Air Atas Pendekatan pada Terowongan Lingkaran,
dengan Saluran Masuk Bujur Sangkar, Aliran Sebagian Penuh.
Sumber : Hidrolika Saluran Terbuka, Ven Te Chow, 1997:448
2.3.2 Aliran Bebas (free flow)
Dalam hal ini diasumsikan bahwa akan terjadi aliran bebas apabila tinggi muka air
di waduk (H) ≤ 1,5diameter pengelak (D). Untuk menentukan besarnya debit yang
lewat pengelak pada keadaan aliran bebas dapat digunakan rumus Manning bila aliran
adalah subkritis.
Gambar 2.11 Hidrolika Aliran dalam Pengelak Pada Aliran Bebas
Sumber: Hidrolika Saluran Terbuka, Ven Te Chow, 1997; 446
v =
2 / 1 3 / 2
1
S R
n
(3-1)
22
Q = A. v (3-2)
dimana:
v = kecepatan aliran (m/detik)
n = koefisien kecepatan manning (untuk beton n= 0,014)
R = jari-jari hidrolis =A/P (m)
A = luas penampang basah (m
2
)
S = kemiringan alur pengelak
Untuk memeriksa pada kedalaman berapa terjadi pengaliran kritis digunakan
rumus :
Qc =
B
z A g
3
.
(3-3)
F =
H g
v
.
(3-4)
Dimana:
Qc = debit yang melewati pengelak dalam kondisi kritis (m
3
/detik)
g = percepatan gravitasi (= 9,81 m/detik
2
)
A = luas penampang basah (m
2
)
F = bilangan Froude
H = kedalaman aliran (m)
Kondisi aliran tersebut sangat perlu untuk diketahui, karena dengan demikian
dapat diketahui karakteristik hidrolisnya. Bila kondisi aliran pada berbagai kedalaman
air superkritis (Q > Q
c
atau F > 1), maka rumus Manning tidak berlaku dan harus
digunakan rumus dalam kondisi kritis sebagai berikut:
Gambar 2.12 Hidrolika Aliran Dalam Pengelak pada Kondisi Superkritis
Sumber: Hidrolika Saluran Terbuka, Ven Te Chow, 1997; 446
v
c
=
c
H g. (3-5)
Y
c
= 2/3 H (3-6)
v
c
= gH
3
2
(3-7)
23
Q
c
= A gH
3
2
(3-8)
Dimana:
H
c
= kedalaman aliran kritis (m)
2.3.3 Aliran Tekan (Pressure Flow)
Diasumsikan bahwa aliran tekan ini akan terjadi bila tinggi air di waduk (H) > 1,5
diameter pengelak (D). Pada keadaan demikian digunakan rumus:
Gambar 2.13 Hidrolika Aliran Dalam Pengelak Pada Aliran Tekan
Q = A. v (3-9)
v =
) 1 (
) 2 / sin . ( 2
C
D L H g
Σ +
− + θ
(3-10)
dimana:
H = kedalaman air waduk dihitung dari dasar inlet pengelak (m)
D = tinggi pengelak (m)
L = panjang pengelak (m)
θ = sudut yang dibentuk oleh alur pengelak
c = jumlah koefisien kehilangan energi
Untuk jumlah kehilangan energi dapat dihitung berdasarkan desain saluran yang
dibuat oleh perencana.
2.4. Perencanaan Coferdam
2.4.1 Tinggi Bendungan
Yang dimaksud dengan tinggi bendungan adalah perbedaan antara elevasi
permukaan pondasi dan elevasi mercu bendungan. Permukaan pondasi adalah dasar
24
dinding kedap air atau dasar daripada zone kedap air. Apabila pada bendungan tidak
terdapat dinding kedap air, maka yang dianggap permukaan pondasi adalah garis
perpotongan antara bidang vertikal yang melalui tepi udik mercu bendungan dengan
permukaan pondasi alas bendungan tersebut. Untuk menentukan tinggi bendungan
secara optimal harus memperhatikan tinggi ruang bebas dan tinggi air untuk operasi
waduk (Soedibyo, 1993)
2.4.2 Tinggi Jagaan (freeboard)
Tinggi jagaan adalah perbedaan antara elevasi permukaan maksimum rencana
air dalam waduk dan elevasi mercu bendungan. Elevasi permukaan air maksimum
rencana biasanya merupakan elevasi banjir rencana waduk. Kadang – kadang elevasi
permukaan air penuh normal atau elevasi permukaan banjir waduk lebih tinggi dari
elevasi banjir rencana dan dalam keadaan yang demikian, yang disebut permukaan air
maksimum rencana adalah elevasi yang paling tinggi yang diperkirakan akan dicapai
oleh permukaan waduk tersebut. Selain itu dalam hal–hal tertentu tambahan tinggi
tembok penahan ombak di atas mercu bendungan kadang–kadang diperhitungkan pula
pada penentuan tinggi jagaan.
Dalam menentukan tinggi jagaan perlu memperhatikan hal–hal sebagai berikut :
1. Kondisi dan situasi tempat kedudukan calon bendungan
2. Pertimbangan–pertimbangan tentang karakteristika dari banjir abnormal
3. Kemungkinan timbulnya ombak–ombak besar dalam waduk yang disebabkan oleh
angin dengan kecepatan tinggi ataupun gempa bumi
4. Kemungkinan terjadinya kenaikan permukaan air waduk di luar dugaan, karena
timbulnya kerusakan–kerusakan atau kemacetan pada bangunan pelimpah
5. Tingkat kerugian yang mungkin dapat ditimbulkan dengan jebolnya bendungan
yang berangkutan
Kemudian untuk perhitungan secara teknis tinggi jagaan (Hf) untuk bendungan
ditentukan dari dua keadaan muka air waduk sewaktu bajir dengan kriteria sebagai
berikut:
a. Tinggi kenaikan permukaan air akibat banjir dengan periode ulang 1000 tahun
melimpah di atas bangunan pelimpah dan pada keadaan ini tidak boleh terjadi
kerusakan sedikitpun pada bendungan.
b. Dikontrol dengan tinggi kenaikan permukaan air akibat banjir boleh jadi
terbesar (Probable Maximum Flood= PMF) melilmpah di atas bangunan
25
pelimpah dan pada keadaan ini bendungan diizinkan mengalami kerusakan
ringan tetapi harus tetap stabil.
Oleh karena kriteria di atas maka pada keadaan (a) tinggi jagaan harus
mempertimbangkan sebagai berikut:
1. Tinggi kenaikan muka air waduk karena angin sangat kuat (S)
2. Tinggi kenaikan ombak/ gelombang yang diakibatkan karena angin (H
w
)
3. Tinggi kenaikan ombak/ gelombang yang diakibatkan oleh gempa (H
e
)
4. Tinggi rayapan gelombang/ ombak pada lereng bendungan (H
r
)
5. Tinggi kenaikan permukaan air akibat kemacetan pada waktu operasi pintu
pelimpah (h). tinggi kenaikan permukaan air ini didasarkan pada perbandingan
debit banjir dan lamanya kemacetan yang terjadi dan sebaliknya perbandingan
luas permukaan daerah genangan dan jumlah pintu. Untuk pelimpah yang
dilengkapi pintu, sebagai perkiraan diambil sebesar 0,50m.
Sedangkan pada keadaan (b) hanya akan mempertimbangkan hal sebagai berikut:
1. Tinggi kenaikan muka air waduk karena angin kuat (S)
2. Tinggi kenaikan ombak/ gelombang yang diakibatkan oleh karena angin kuat
(H
w
)
3. Tinggi rayapan gelombang/ ombak pada lereng bendungan yang diakibatkan
oleh angin kuat (H
r
)
2.4.2.1 Perhitungan Tinggi Jagaan
a. Pada banjir 1000 tahunan, tinggi jagaaan dihitung dengan rumus:
H
f
= ½ H
w
+ S + H
r
+ H
e
+ h
Dimana :
H
f
= tinggi jagaan
H
w
= tinggi kenaikan ombak karena angin
S = tinggi kenaikan muka air karena angin sangat kuat
H
r
= tinggi rayapan gelombang pada lereng bendungan
H
e
= tinggi kenaikan ombak akibat gempa
h = tinggi kenaikan muka air waduk akibat kemacetan operasi pintu
1. H
w
dihitung dengan rumus Molitor Stevenson sebagai berikut:
H
w
=
4
271 , 0 763 , 0 . 032 , 0 F v F − + (3-14)
berlaku untuk F < 32 km
dimana :
26
H
w
= tinggi kenaikan ombak/ gelombang (m)
v = kecepatan angin (km/ jam)
F = panjang efektif fetch = lintasan ombak (km)
2. S dihitung dengan rumus Zuider Zee, sebagai berikut :
S = α cos . .
63000
2
D
F v
(3-15)
Dimana :
S = kenaikan tinggi muka air karena angin (wind set up) (m)
v = kecepatan angin (km/jam)
F = panjang efektif fetch = lintasan ombak (km)
D = kedalaman air rata-rata sepanjang fetch efektif (m)
α = sudut antara bidang tegak lurus sumbu bendungan dengan arah
gelombang (
0
)
3. H
r
dihitung dengan rumus sebagai berikut, dengan menganggap
bahwa gesekan di lereng bendungan kecil:
H
r
=
g
v
g
2
2
(3-16)
Dimana :
H
r
= tinggi rayapan gelombang (wave run up ) (ft)
v
g
= kecepatan gelombang (ft/ detik)
v
g
= 5+2.H
d
(Gaillard) (3-17)
H
d
= tinggi gelombang desain (ft)
= 1,3 H
w
g = gravitasi (32,18 ft/detik
2
)
4. H
e
dihitung dengan rumus Seiichi Sato, sebagai berikut :
H
e
=
0
. .
2
.
H g
k
π
τ
(3-18)
Dimana :
H
e
= tinggi gelombang akibat gempa (m)
k = koefisien gempa
τ = periode gelombang (= 1detik)
= siklus gempa
g = gaya gravitasi bumi (9,81 m/detik
2
)
H
0
= kedalaman air waduk (m)
27
b. Pada banjir boleh jadi terbesar/ maksimum (Probable Maximum Flood,
PMF) tinggi jagaan dihitung dengan rumus :
H
f
= ½H
w
+ S + H
r
1. H
w
dihitung dengan rumus Molitor Stevenson,
H
w
=
4
271 , 0 763 , 0 . 032 , 0 F v F − +
berlaku untuk F < 32 km
dimana :
H
w
= tinggi kenaikan ombak/ gelombang (m)
v = kecepatan angin (km/ jam)
F = panjang efektif fetch = lintasan ombak (km)
2. S dihitung dengan rumus Zuider Zee, sebagai berikut :
S = α cos . .
63000
2
D
F v
Dimana :
S = kenaikan tinggi muka air karena angin (wind set up) (m)
v = kecepatan angin (km/jam)
F = panjang efektif fetch = lintasan ombak (km)
D = kedalaman air rata-rata sepanjang fetch efektif (m)
α = sudut antara bidang tegak lurus sumbu bendungan dengan arah
gelombang (
0
)
3. H
r
dihitung dengan rumus sebagai berikut, dengan menganggap
bahwa gesekan di lereng bendungan kecil:
H
r
=
g
v
g
2
2
Dimana :
H
r
= tinggi rayapan gelombang (wave run up ) (ft)
v
g
= kecepatan gelombang (ft/ detik)
v
g
= 5+2.H
d
(Gaillard)
H
d
= tinggi gelombang desain (ft)
= 1,3 H
w
g = gravitasi (32,18 ft/detik
2
)
Tinggi jagaan yang dihitung di atas adalah hanya akibat dari kenaikan muka air
waduk itu sendiri. Untuk ini masih perlu diberi penambahan tinggi urugan sebagai
28
cadangan tinggi jagaan akibat adanya penurunan yang terjadi pada bendungan yang
telah dibangun. Penurunan terbesar urugan karena beratnya sendiri akan terjadi
selama pemadatan. Selanjutnya penurunan akan terjadi dengan pertambahan sangat
kecil dan berkembang menurut umur bendungan dan fluktuasi air waduk. Untuk
memperkirakan peurunan total dipakai rumus empiris sebagai berikut :
S
tot
= 0,4%.H (3-19)
Dimana :
S
tot
= penurunan total (m)
H = tinggi urugan = tinggi bendungan (m)
Selain dari cara yang telah dibuat di atas The Japanese National Committee on
Large Dams (JANCOLD) telah menyusun standar minimal tinggi ruang bebas seperti
pada tabel. Di dalam standar ini maka yang di ambil sebagai permukaan air tertinggi
adalah FSL dan bukan TWL.
Tabel 2.1 Standar Ruang Bebas Menurut JANCOLD
No Tinggi bendungan (m) Bendungan beton Bendungan urugan
1.
2.
3.
< 50
50 – 100
> 100
1 m
2 m
2,5 m
2 m
3 m
3,5 m
Sumber : Soedibyo 1993
2.4.3 Tinggi Cofferdam
Penetapan tinggi mercu bendungan pengelak udik (cofferdam hulu), biasanya
didasarkan pada elevasi permukaan air yang terdapat di depan pintu pemasukan
saluran pengelak ditambah tinggi jagaan yang diperlukan untuk keamanan cofferdam
tersebut. Untuk detail perhitungan tinggi cofferdam bisa dilakukan perhitungan
penelusuran banjir.
2.5. Stabilitas Coferdam
2.5.1 Perhitungan Stabilitas pada Lereng Coffer Dam
2.5.1.1 Stabilitas Lereng Bendungan
Dalam banyak kasus, untuk membangun sebuah bendungan urugan diharapkan
mampu membuat perhitungan stabilitas talud guna memeriksa keamanan talud alamiah,
talud galian, dan talud timbunan yang didapatkan. Faktor yang perlu dilakukan dalam
pemeriksaan tersebut adalah menghitung dan membandingkan tegangan geser yang
29
terbentuk sepanjang permukaan retak yang paling mungkin dengan kekuatan geser dari
tanah yang bersangkutan (Das, BM; 1994).
2.5.1.2 Analisis Stabilitas Talud Metode Irisan Fellenius
Gambar 2.14 Sketsa Sederhana Analisis Stabilitas Lereng Metode Fellenius
(Sumber : Das, BM; 1994)
Analisis stabilitas dengan menggunakan metode irisan, dapat dijelaskan dengan
memperhatikan Gambar 2.14 dengan AC merupakan lengkungan lingkaran sebagai
permukaan bidang longsor percobaan. Tanah yang berada di atas bidang longsor
percobaan di bagi dalam beberapa irisan tegak. Lebar dari tiap–tiap irisan tidak harus
sama. Perhatikan suatu satuan tebal tegak lurus irisan melintang talud seperti gambar.
Gaya–gaya yang bekerja pada irisan tertentu ditunjukkan dalam Gambar 2.15. W
n
adalah berat irisan. Gaya–gaya N
r
dan T
r
adalah komponen tegak dan sejajar dari reaksi
R. P
n
dan P
n+1
adalah gaya normal yang bekerja pada sisi–sisi irisan. Demikian juga,
gaya geser yang bekerja pada sisi irisan adalah T
n
dan T
n+1
. Untuk memudahkan,
tegangan air pori di anggap sama dengan nol. Gaya P
n
dan T
n
adalah sama besar dengan
resultan P
n+1
, dan T
n+1
, dan juga garis–garis kerjanya segaris.
Gambar 2.15 Irisan Untuk Analisis Stabilitas Lereng Metode Fellenius
30
Sumber : Das, BM; 1994
Untuk pengamatan keseimbangan
N
r
= W
n
. cos 
n
(3-40)
Gaya geser perlawanan dapat dinyatakan sebagai berikut
T
r
=
n
s s
n f
n d
L c
F F
L
L ∆ + ·

· ∆ ) tan (
1
) (
) ( φ σ
τ
τ
(3-41)
Tegangan normal
σ
dalam persamaan di atas adalah sama dengan
n
r
L
N

=
n
n n
L
W

α cos
(3-42)
Untuk keseimbangan blok percobaan ABC, momen gaya dorong terhadap titik O
adalah sama dengan momen gaya perlawanan terhadap titik O, atau

·
·
p n
n
n n
r W
1
sinα =
) )( ( tan
cos 1
1
r L
L
W
c
F
n
n
n n
p n
n s

,
_

¸
¸

+

·
·
φ
α
(3-43)
atau
s
F
=
n
p n
n
n
p n
n
n n n
W
W L c
α
φ α
sin
) tan cos (
1
1


·
·
·
·
+ ∆
(3-44)
Dimana
n
L ∆
pada persamaan di atas sama dengan
n
n
b
α cos
dengan
n
b
= lebar
potongan irisan ke-n.
Perhatikan bahwa harga α
n
bisa negatif atau positif. Harga α
n
positif bila talud
bidang longsor yang merupakan sisi bawah dari irisan, berada pada kwadran yang sama
dengan talud maka tanah yang merupakan sisi atas dari irisan. Untuk mendapatkan angka
keamanan yang minimum yaitu angka keamanan untuk lingkaran kritis beberapa
percobaan dibuat dengan cara mengubah letak pusat lingkaran yang dicoba.
2.5.1.3 Analisis Stabilitas Talud Metode Irisan Bishop
Pada tahun 1995, Bishop memperkenalkan suatu penyelesaian yang lebih teliti
daripada metode irisan yang sederhana. Dalam metode ini, pengaruh gaya–gaya pada sisi
tepi tiap irisan diperhitungkan. Gaya – gaya yang bekerja pada irisan nomor n, yang
ditunjukkan dalam Gambar 2.16, digambarkan dalam Gambar 2.16 (a). Sekarang,
misalkan P
n
– P
n+1
= ∆P; T
n
– T
n+1
= ∆T. Juga, kita dapat menulis bahwa
31
T
r
=
s
n
s
r n d d r
F
L c
F
N L c N

+

,
_

¸
¸
· ∆ +
φ
φ
tan
) tan(
(3-45)
Gambar 2.16 Metode Irisan Bishop Yang Disederhanakan; (a) Gaya – Gaya yang
Bekerja Pada Irisan Nomor N, (b) Poligon Gaya Untuk Keseimbangan
Sumber : Das, BM; 1994
Gambar 2.16(b) menunjukkan poligon gaya untuk keseimbangan dari irisan
nomor n. Jumlahkan gaya dalam arah vertikal.
W
n
+ ∆T =
n
s
n
s
r
n r
F
L c
F
N
N α
φ
α sin
tan
cos
1
]
1

¸

+ +
(3-46)
atau,
N
r
=
s
n
n
n
s
n
n
F
F
L c
T W
α φ
α
α
sin tan
cos
sin
+

− ∆ +
(3-47)
Untuk keseimbangan blok ABC (Gambar 2.16), ambil momen terhadap O

·
·
p n
n
n n
r W
1
sin α =

·
·
p n
n
r
r T
1
(3-48)
dengan,
T
r
= n
s
L c
F
∆ + ) tan (
1
φ σ
=
) tan (
1
φ
r n
s
N L c
F
+ ∆
(3-49)
Dengan memasukkan persamaan (3-47) dan (3-48) ke persamaan (3-49), maka didapatkan
:
32
s
F
=
n
p n
n
n
p n
n n
n n
W
m
T W cb
α
φ φ
α
sin
1
) tan tan (
1
1 ) (


·
·
·
·
∆ + +
(3-50)
dengan
) (n
m
α
=
s
n
n
F
α φ
α
sin tan
cos +
(3-51)
Untuk penyederhanaan, bila kita mengumpamakan T = 0, maka persamaan berubah
menjadi :
s
F
=
n
p n
n
n
p n
n
n
n n
W
m
W cb
α
φ
α
sin
1
) tan (
1
1
) (


·
·
·
·
+
(3-52)
Gambar 2.17 Variasi
) (n
m
α
dengan
s
F / tan φ
dan
n
α
Sumber : Das, BM; 1994
Perhatikan bahwa F
s
muncul pada kedua sisi dari persamaan (2-91). Oleh karena
itu, cara coba–coba perlu dilakukan untuk mendapatkan harga F
s
. Gambar 2.17
menunjukkan variasi dari
) (n
m
α
dengan
s
F / tan φ
untuk bermacam – macam harga
n
α
.
33
Seperti pada metode irisan sederhana, beberapa bidang longsor harus diselidiki
untuk mendapatkan bidang longsor yang paling kritis yang akan memberikan angka
keamanan minimum.
2.5.1.4 Analisis Stabilitas dengan Metode Irisan dengan Rembesan Tetap
Pada Gambar 2.18 menunjukkan sebuah talud dengan rembesan yang tetap.
Untuk potongan nomor n, tekanan air pori rata – rata pada dasar potongan adalah sama
dengan
w n n
h u γ ·
. Gaya total yang disebabkan oleh tekanan air pori pada dasar
potongan nomor n adalah sama dengan
n n
L u ∆
.
Gambar 2.18 Stabilitas Talud Dengan Rembesan Yang Tetap
Sumber : Das, BM; 1994
Jadi persamaan (4-50) untuk metode irisan yang sederhana akan
disempurnakan untuk menentukan
s
F
=
[ ]
n
p n
n
n
p n
n
n n n n n
W
L u W L c
α
ϕ α
sin
tan ) cos (
1
1


·
·
·
·
∆ − + ∆
(3-53)
Begitu juga persamaan (2-89) untuk metode irisan yang disederhanakan
menurut Bishop akan disempurnakan ke persamaan berikut
s
F
=
[ ]
n
p n
n
n
n
p n
n
n n n n
W
m
b u W b c
α
φ
α
sin
1
tan ) (
1
) ( 1


·
·
·
·
− +
(3-54)
34
Perlu diperhatikan bahwa
n
W
dalam persamaan (4-51) dan (4-52) adalah berat
total irisan. Dengan menggunakan metode irisan dan bermacam–macam asumsi yang
lain, Bishop, Margenstern (1960) dan Spencer (1967) memberikan grafik (chart)
untuk menentukan angka keamanan dari talud yang sederhana dengan
memperhitungkan pengaruh tekanan air pori.
2.6. Gambar Perencanaan

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->