MAKALAH

ALAT DETEKSI DAN PENGUKURAN RADIASI

Alat Ukur Radiasi di Bidang Kedokteran Nuklir

DISUSUN OLEH:

AGUNG KURNIAWAN
NIM 030800152

JURUSAN TEKNOFISIKA NUKLIR PRODI ELEKTROMEKANIK SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL 2010

Jalan Babarsari PO BOX 6101/YKBB, Catur Tunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta 55281 Telp (0274) 484085 Fax (0274) 489715

baik dua dimensi maupun tiga dimensi serta statik maupun dinamik. Berbagai disiplin ilmu kedokteran seperti endokrinologi. Penggunaan isotop radioaktif dalam kedokteran telah dimulai pada tahun 1901 oleh Henri Danlos yang menggunakan radium untuk pengobatan penyakit tubercolusis pada kulit. Selain itu pola epidemiologi penyakit di Indonesia juga mengalami pergeseran terutama di kota-kota besar sehingga saat ini penyakit kardiovaskuler. serebrovaskuler. Perkembangan ilmu kedokteran nuklir yang sangat pesat tersebut dimungkinkan berkat dukungan dari perkembangan teknologi instrumentasi untuk pembuatan citra terutama dengan digunakannya komputer untuk pengolahan data sehingga sistem instrumentasi yang dahulu hanya menggunakan detektor radiasi biasa dengan sistem elektronik yang sederhana. Aplikasi teknik nuklir dalam bidang kedokteran merupakan suatu terobosan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat penting di abad 20. neurologi. yang sekarang berkembang pesat dan dikenal sebagai ilmu kedokteran nuklir. Dewasa ini. Keunggulan kedokteran nuklir adalah kemampuannya mendeteksi bahan-bahan yang ditandai dengan perunut radioaktif. Oleh karena itu perlu suatu terobosan untuk mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi tersebut. ilmu penyakit syaraf. Bidang iptek ini. onkologi dan sebagainya telah lama memanfaatkan teknik ini. Berbagai disiplin ilmu kedokteran seperti ilmu penyakit dalam. de HEVESSY. Di samping itu teknik nuklir berperan pula dalam kajian-kajian dan penelitian-penelitian untuk lebih memahami proses fisiologi dan patofisiologi dari kelainan yang terjadi di berbagai organ tubuh manusia sampai tingkat seluler bahkan molekuler. kini telah berkembang menjadi peralatan canggih kamera gamma dan berbagai peralatan lain yang dapat menampilkan citra alat tubuh. ilmu penyakit jantung. dan sebagainya telah mengambil manfaat dari teknik nuklir ini. Dengan ditemukannya radioisotop buatan maka radioisotop alam tidak lagi digunakan. Namun yang dianggap Bapak Ilmu Kedokteran Nuklir adalah George C.PENDAHULUAN Semakin bertambah baiknya kondisi sosial ekonomi masyarakat di Indonesia sebagai hasil dari pembangunan nasional yang berkesinambungan maka terjadi peningkatan pemenuhan kebutuhan kesehatan oleh setiap individu. dan onkologi telah termasuk dalam 10 jenis penyakit pembunuh terbanyak. degeneratif. kardiologi. dialah yang meletakkan dasar prinsip perunut dengan menggunakan radioisotop alam Pb-212. Peranan dari ilmu kedokteran nuklir dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi penanggulangan berbagai masalah kesehatan itu. 2 . nefrologi. Kedokteran Nuklir adalah cabang dari ilmu kedokteran yang memanfaatkan radiofarmaka (senyawa kompleks dari radioisotop sumber terbuka berumur paro relatif pendek dengan suatu sediaan farmasi yang spesifik untuk organ tertentu) dan peralatan deteksi nuklir (deteksi sinar gamma atau beta) yang dilengkapi perangkat lunak khusus untuk mengetahui fungsi dan atau anatomi organ tertentu dalam rangka diagnostik suatu kelainan / penyakit dan atau terapi penyakit. aplikasi tenaga nuklir dalam bidang kesehatan telah memberikan sumbangan yang sangat berharga dalam menegakkan diagnosis maupun terapi berbagai jenis penyakit.

.............. 9  Pencacah Gamma dengan Detektor Sintilasi NaITl II.................................................................................................................................... Peralatan................................................1 Teknik in-Vivo imaging........................................................................................................................................................................... 4 i................................................................................................................................................................................................................ Kedokteran Nuklir dan Jenis-jenis Teknik yang Digunakan.......................................................................................................................................................................................................... 2 DAFTAR ISI........ Teknik in-Vitro........... 3 TINJAUAN PUSTAKA..... 1 PENDAHULUAN.............................................................................................................. 19 3 .................................................................................................. 10  Kamera Gamma II..... 9 I................................................................................. 6 PEMBAHASAN.............................................................................................................................................................................. DAFTAR TABEL....................................................................................................................... 7 A.................................. DAFTAR BLOK DIAGRAM........ 5 iii.....2 Teknik in-Vivo non-Imaging.....................................................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL.............................................................. 7 B........................................................................................................................................................................ DAFTAR GAMBAR................................................................................................................................. 4 ii... 18 DAFTAR PUSTAKA....................... 14  Renograf PENUTUP.................. 10 II.................................... Teknik in-Vivo...................... 18 Kesimpulan....................

............ 15 Tampilan Perangkat Lunak Reno XP........ 13 Slide Materi Pembelajaran............................................................................................................................................................................................................. 16 Kurva Renogram........................... 11 Tampilan Menu Pasien....... 17 4 ......................................................................................... 10 Tampilan Menu Utama............................................................................................................................................... 16 Tipikal Pola-pola Renogram................ 12 Tampilan Menu Akusisi.................................................TINJAUAN PUSTAKA i...................... DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Gambar 6 Gambar 7 Gambar 8 Gambar 9 Gambar 10 Kamera Gamma........................................................................................................................................................................................................................................... 13 Perangkat Keras Renograf Dual Probes.................. 12 Tampilan Laporan Hasil Analisis..................................................

...................................................ii................................................................. 10 Renograf BI-756............................................ DAFTAR BLOK DIAGRAM Halaman Blok Diagram 1 Blok Diagram 2 Blok Diagram 3 Sistem Pengukuran Radiasi dengan Detektor Sintilasi........ 9 Kamera Gamma......................... 15 5 ...........................

...... DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1 Perbedaan Pencitraan Kedokteran Nuklir dan Radiologi...... 8 6 ......iii.........................

gambar statik tomografik atau gambar seluruh tubuh. parenteral. yang diambil dari tubuh pasien yang lebih dikenal sebagai studi in-vitro (dalam gelas percobaan). gambar statik biasa. Citra atau gambar dari organ atau bagian tubuh pasien yang dapt diperoleh dengan bantuan peralatan yang disebut kamera gamma ataupun kamera positron (teknik in-vivo imaging). urine dan sebagainya) yang diambil dari tubuh pasien.PEMBAHASAN Kedokteran Nuklir dan Jenis-jenis Teknik yang Digunakan Kedokteran Nuklir adalah cabang dari ilmu kedokteran yang memanfaatkan radiofarmaka (senyawa kompleks dari radioisotop sumber terbuka berumur paro relatif pendek dengan suatu sediaan farmasi yang spesifik untuk organ tertentu) dan peralatan deteksi nuklir (deteksi sinar gamma atau beta) yang dilengkapi perangkat lunak khusus untuk mengetahui fungsi dan atau anatomi organ tertentu dalam rangka diagnostik suatu kelainan/penyakit dan atau terapi penyakit. Teknik in-vivo imaging adalah teknik dimana radiofarmaka (yang spesifik untuk organ tertentu) diberikan kepada subyek penelitian (secara oral. obat. protein endogen. kurva cacahan VS waktu. penanda tumor. 2. Pada kedokteran nuklir. 7 . Kurva-kurva kinetika radioisotop dalam organ atau bagian tubuh tertentu dan angka-angka yang menggambarkan akumulasi radioisotop dalam organ atau bagian tubuh tertentu disamping citra atau gambar yang diperoleh dengan kamera positron. cairan lambung. inhalasi dan lain-lain) kemudian dilakukan pendeteksian sinar gamma dari radioisotop yang terakumulasi didalam organ target dengan alat pendeteksi. radioisotop dapat dimasukkan ke dalam tubuh pasien (studi in-vivo) maupun hanya direaksikan saja dengan bahan biologis antara lain darah. Teknik in-vitro adalah teknik dimana cuplikan biologik dari subyek penelitian direaksikan dengan suatu radioisotop didalam tabung dalam rangka penetapan kadar zat tertentu didalam cuplikan tersebut untuk keperluan diagnostik fungsi organ atau sistem. setelah radioisotop dapat dimasukkan ke dalam tubuh pasien melalui mulut atau suntikan atau dihirup lewat hidung dan sebagainya maka informasi yang dapat diperoleh dari pasien dapat berupa: 1. dicacah dengan instrumen yang dirangkaikan pada detektor radiasi (teknik in-vivo non-imaging). Alat utamanya adalah Kamera Gamma (Gamma Camera) Planar atau SPECT. Zat-zat yang dapat ditetapkan kadarnya adalah hormon. Pada studi in-vivo. urine dan sebagainya. hasil analisis kuantitatif oleh perangkat lunak. 3. Data yang diperoleh baik dengan teknik imaging maupun non-imaging memberikan informasi mengenai fungsi organ yang diperiksa. Alat utamanya adalah Pencacah Gamma (Gamma Counter). Radioaktivitas yang terdapat dalam contoh bahan biologis (darah. Data yang dihasilkan berupa gambar serial. Salah satu teknik invitro yang banyak dipakai adalah teknik Radio Immuno Assay (RIA) dan Immuno Radio Metric Assay (IRMA). penanda infeksi dan lain-lain. setelah jeda waktu tertentu paska penyuntikkan radiofarmaka) atau SPECT (suatu teknik tomografi) atau pencacahan seluruh tubuh (whole body). Pendeteksian dapat dilakukan secara planar dinamik (cacahan perimage per satuan waktu secara serial sejak sesegera setelah radiofarmaka disuntikkan sampai dengan waktu tertentu) atau planar statik (cacahan per-image per satuan waktu.

perbedaan daya radioisotop dalam berbagai bagian tembus radiasi terhadap berbagai tubuh bagian tubuh Terutama fungsional Terutama anatomis-morfologis Tabel 1. kelenjar ludah. jantung. kelenjar air mata. Pemeriksaan fungsi organ yang dapat dilakukan adalah ginjal. Thyroid Uptake. Perbedaan Pencitraan Kedokteran Nuklir dan Radiologi 8 . Alat yang digunakan misalnya adalah Renograf. ginjal.Pemeriksaan fungsi organ (disebut juga scanning) yang dapat dilakukan adalah otak. dan lain-lain. empedu. paru. perbedaan akumulasi Transmisi radiasi. lambung. tulang (spot atau seluruh tubuh). Teknik in-vivo non-imaging adalah teknik dimana radiofarmaka (yang spesifik untuk organ tertentu) diberikan kepada subyek penelitian (secara oral atau parenteral) kemudian dilakukan pendeteksian sinar gamma atau betha dari radioisotop yang terakumulasi didalam organ target dengan alat pendeteksi dan data yang dihasilkan berupa cacahan atau kurva cacahan VS waktu. kelenjar mamae. hati. usus. Pencitraan (imaging) pada kedokteran nuklir dalam beberapa hasil-berbeda dengan pencitraan dalam radiologi. infeksi dan lain-lain. kelenjar getah bening. limpa. tiroid. Parameter Sumber Radiasi Pembentukan Citra Informasi yang diberikan Kedokteran Nuklir Zat radioaktif yang terbuka Radiologi Pesawat pembangkit radiasi Emisi radiasi. ditampilkan dalam tabel di bawah. Heliprobe dan lain-lain. tiroid. infeksi Helicobacter pylori.

proses konversi dari cahaya menjadi arus listrik dilakukan oleh tabung pengganda elektron (PMT). Untuk itu perlu dikonversikan dalam bentuk pulsa elektronik. Simbol kimia dari kristal sodium iodine dan thalium adalah NaI(Tl).Peralatan I. Kolimator Pancaran radiasi yang mengenai objek akan memancarkan radiasi hambur. Aktivator thalium yang muncul sebagai impuritas dalam struktur kristal. Teknik in-Vitro  Pencacah Gamma dengan Detektor Sintilasi NaITl Pembahasan Detektor Sintilasi NaITl Detektor sintilasi berfungsi sebagai alat konversi dari radiasi gamma menjadi sinar tampak dengan waktu yang sangat cepat (kerlipan cahaya). Kolimator hanya meneruskan radiasi yang searah dengan detektor. mempermudah terjadinya perubahan energi yang terserap ke dalam kristal menjadi cahaya. Detektor sintilasi dengan bahan sintilator yang berasal dari kristal sodium iodine (NaI) dan aktivator thalium (Tl) dikenal dengan nama detektor sintilasi NaI(Tl). Tabung pengganda elektron (PMT) Proses sintilasi yang dihasilkan oleh kristal mempunyai intensitas cahaya yang belum cukup kuat untuk dapat dilihat. sedangkan yang tidak searah akan diserap oleh kolimator. Anoda Radiasi Bahan Sintilator cahaya Photo Multiplier Tube dapat memancarkan cahaya Katoda Meter Blok Diagram 1. Untuk mengatasi hal tersebut digunakan suatu alat yang disebut kolimator. dan mempengaruhi ketajaman gambar yang dihasilkan. Diagram Sistem Pengukuran Radiasi dengan Detektor Sintilasi 9 .

Y dan Z. antara lain teknik in-vivo imaging dan teknik in-vivo nonimaging. Kamera Gamma Secara garis besar peralatan Kamera Gamma terdiri dari 3 bagian yaitu bagian deteksi. bagian pencitraan dan bagian mekanik. Blok Diagram 2.1 Teknik in-Vivo imaging  Kamera Gamma Pembahasan Kamera Gamma Peralatan Kamera Gamma merupakan alat diagnostik medik yang dapat menghasilkan citra anatomi dan fungsi organ dengan cara mendeteksi berkas radiasi dari radioisotop. II. Bagian deteksi terdiri dari detektor kristal sintilator NaI(Tl). Bagian pencitraan terdiri dari modul antar muka dan perangkat lunak akuisisi dalam komputer. penguat awal dan bagian pengolah sinyal.II. Sedang bagian mekanik terdiri dari beberapa sistem mekanik beserta kontrol penggerak mekanik. Kamera Gamma 10 . Blok diagram Kamera Gamma diperlihatkan dalam blok diagram 2. bagian ini mengolah sinyal masukan menjadi suatu citra obyek. dari bagian ini dihasilkan sinyal berbobot posisi X. Teknik in-Vivo Teknik ini terbagi menjadi dua. Gambar 1.

kemudian pasien ditempatkan pada meja pasien. Dalam menu akuisisi tertampil beberapa parameter pengaturan seperti arah posisi pasien. penyimpanan file. Tampilan menu pasien diperlihatkan dalam Gambar 3. lamanya akuisisi data sesuai dengan batas waktu atau jumlah 11 . diumpankan ke bagian masukan modul antarmuka pencitraan untuk diubah menjadi sinyal digital agar dapat dipahami oleh perangkat lunak akuisisi pada komputer. oleh bagian pengolah sinyal pulsa tersebut dibobotkan kedalam bentuk sinyal posisi berdimensi X dan Y. akan tertampil Menu Utama yang berisi beberapa short cut fungsi operasi seperti diperlihatkan pada Gambar 2. detektor diarahkan kebagian organ yang diperiksa. Mula-mula pasien dilakukan penanganan klinis sesuai dengan kasus yang dideritanya. Detektor akan mendeteksi zarah radiasi yang dipancarkan oleh isotop yang terakumulasi dalam organ pasien. pengolahan data citra. maka akan tertampil form isian data pasien yang telah terisi. Y dan Z yang dihasilkan. kemudian pilih akuisisi sehingga tertampil menu akuisisi seperti yang diperlihatkan oleh Gambar 4. pulsa keluaran detektor juga dicek kebenarannya sebagai bobot energi oleh penganalisis tinggi pulsa (Single Chanel Analyzer). selanjutnya citra organ ini dilakukan analisis menggunakan studi pasien. pembesaran citra. Selain itu. selanjutnya dimulai pengambilan data dengan menekan Start Recording. Gambar 2. Pulsa-pulsa listrik yang dihasilkan oleh detektor akan dikuatkan oleh rangkaian penguat awal. Hasil perekaman data akan dicitrakan oleh perangkat lunak akuisisi Medicview menjadi citra organ pasien. Fungsi dari setiap short cut diterangkan dalam manual Medicview Akuisisi. Tampilan Menu Utama Dari short cut Patient akan ditampilkan menu pasien. pengaturan warna citra. Data pasien beserta studinya merupakan data yang sudah tetap dan nantinya akan diproses kembali pada saat akuisisi data. Setelah program diaktifkan. Pilih nama pasien yang akan dilakukan pemeriksaan. Jika pengaturan dirasakan telah cukup.Pemakaian alat untuk pemeriksaan pasien secara ringkas dapat diterangkan sebagai berikut. pelaporan dan pengiriman file kepada dokter maupun bagian lain untuk penanganan lebih lanjut. posisi pasien. oleh teknik logika pulsa ini dibentuk menjadi sinyal Z. Sinyal X. sehingga pulsa yang sesuai dengan bobot energi isotop saja yang dilewatkan. citra organ yang diperiksa dan daftar materi teori pembelajaran. yang berisi daftar semua nama pasien yang tercantum pada kotak daftar pasien dan nama studi pasien yang tercantum pada kotak studi pasien. Perangkat Lunak Medicview Pengoperasian perangkat lunak pelatihan ini sama seperti pengoperasian perangkat lunak Medicview saat digunakan untuk akuisisi data pasien.

Tampilan Menu Pasien Gambar 4.cacah yang telah ditentukan. 12 . setelah selesai akuisisi data kemudian tampilan akan kembali ke menu pasien. Gambar 3. Hasil analisis disimpan atau dapat dilaporkan kepada yang berkepentingan melalui pencetakan atau jaringan. Tampilan Menu Akusisi Hasil akuisisi data yang tersimpan dalam daftar studi pasien selanjutnya dilakukan analisis citra atau pengolahan hasil citra. Salah satu hasil analisis (contoh: analisis ginjal) diperlihatkan dalam gambar 5.

Gambar 6.Gambar 5. Tampilan Laporan Hasil Analisis Salah satu slide materi pembelajaran dalam bidang instrumentasi nuklir diperlihatkan pada Gambar 6. Slide Materi Pembelajaran 13 . melakukan pengaturan citra dan melakukan analisis hasil citra tanpa khawatir melakukan kesalahan maupun akibat lainnya. sehingga tidak gamang lagi nantinya dalam mengoperasikan peralatan Kamera Gamma. Dari menu yang tersedia. pengguna dapat leluasa mencoba semua shortcut. diharapkan dapat membantu meningkatkan kemampuan dan pengetahuan pengguna. Dengan sering mencoba media pembelajaran ini dan dengan didasari pengetahuan penanganan klinis.

Deskripsi Peralatan Sistem deteksi radiasi γ pada Renograf terdiri dari detektor sintilasi NaI(Tl) serta peralatan elektronika disusun seperti pada gambar blok diagram 3 dan diset-up pada kondisi kerja optimumnya agar diperoleh pencacahan yang benar dengan mengacu sistem deteksi radiasi γ. Alat ini mampu berperan sebagai pemantau dan pencacah aktivitas dari perunut radiofarmaka yang datang. Prinsip kerjanya adalah sinar radiasi gamma yang datang akan diterima oleh detektor NaI(Tl) dan oleh detektor akan diubah menjadi pulsa listrik. Pengujian sistem elektronik perlu dilakukan guna mengetahui kualitas Renograf serta untuk memenuhi standar intrumentasi nuklir yang telah ditentukan. Pulsa keluaran TSCA disamping masuk ke counter juga sebagai masukan Interface untuk ditampilkan dalam bentuk grafik pada layar monitor. Karakteristik utama yang diuji adalah Penyedia Daya Tegangan DC yaitu LV dan HV. kemudian dikuatkan lagi pada penguat utama sehingga pulsa keluaran berupa pulsa gaussian dengan tinggi pulsa yang sudah memenuhi syarat untuk dianalisa dan diubah menjadi bentuk digital pada TSCA yang selanjutnya pulsa digital akan dicacah pada counter. stabilitas HV dan tegangan ripelnya. pulsa keluaran Penguat utama. 14 . Renograf dengan detektor dual probe merupakan peralatan yang relatif sederhana yang memanfaatkan teknik nuklir. Penguat awal. selanjutnya pulsa keluaran detektor akan dibentuk menjadi pulsa semi gaussian dan dikuatkan oleh penguat awal. Penguat utama.II. pulsa keluaran TSCA. Uji fungsi dan rekalibrasi ini dilakukan setelah dilakukan perbaikan karakteristik sistem dan pemakaian pada kurun waktu satu tahun. ditangkap dan dikeluarkan oleh ginjal. Counter/Timer dan Interface. Unit Renograf Dual Probe terdiri dari dua buah Spektrometer yang dipadukan bersama yang terdiri dari sistem Penyedia daya tegangan DC. I-131 disuntikan pada pasien untuk menguji fungsi ginjal. tidak perlu persyaratan awal maupun pengaturan lebih lanjut. Counter/Timer. Kurva tersebut dikenal dengan renogram. Dasar renograf adalah Spektrometri gamma yang di desain untuk kepentingan dalam bidang kedokteran yang menyangkut prinsip keserdehanaan dan kemudahan dalam pengoperasian artinya alat tersebut mudah dioperasikan. Detektor NaI(Tl). TSCA. Interface dan personal komputer sebagai akuisisi data. Keluarannya berupa kurva hubungan antara waktu dengan aktivitas.2 Teknik in-Vivo non-Imaging  Renograf Pembahasan Renograf Renograf adalah salah satu alat yang dipergunakan dalam kedokteran nuklir untuk membuat grafik fungsi ginjal (renal) dalam pemeriksaan dari luar tubuh (in-Vivo).

Untuk mengikuti trend perkembangan komputer sedang dikembangkan modul akuisis data dengan memanfaatkan teknologi Universal Serial Bus (USB). Pemroses sinyal memperkuat sinyal dari detektor. serta menekan gangguan latar (back ground). 15 . Perangkat Keras Bagian utama dari perangkat keras peralatan renograf adalah :  Detektor Probes Detektor yang digunakan sebagai probes adalah jenis Scintilasi (Nal(TI)). Renograf BI-756 1. membentuk sinyal menjadi pulsa gaussian. memisahkan pulsa sesuai pilihan energi isotop dengan teknik Single Channel Analyzer (SCA). Gambar 7.Blok Diagram 3. serta mencacah pulsa per 4 detik. Probes ini dapat terpasang secara khusus pada kursi pasien. Saat ini unit detektor terdiri dari Modul Tegangan Tinggi dan Add-On Card untuk ISA bus. maupun pada statif tegak. Detektor dilengkapi dengan kolimator dari bahan timbal untuk mengarahkan ke masing-masing ginjal dan menghindari cross talk antar ginjal. Dengan statif tegak nenubgkinkan penggunaan sistem ini untuk keperluan lain. misalnya dengan perangkat unak khusus sebagai pengukur Thyroid Uptake. atau untuk keperluan prosedur lain yang dikembangkan lebih lanjut. Perangkat Keras Renograf Dual Probes  Catu daya detektor dan unit pemroses sinyal Catu daya detektor memberikan tegangan tinggi (sekitar 1000 VDC) yangdiperlukan untuk operasi detektor.

dan mencetak data hasil pemeriksaan. Gambar 9. kapasitas uptake dan kemampuan mengeluarkan perunut. menyimpan data pasien. Perangkat Lunak (software) Tersedia beberapa versi software yang digunakan dengan sistem operasi DOS. serta cacah pada menit ke sepuluh. Tampilan Perangkat Lunak Reno XP 2. membuka kembali/memeriksa/menganalisa file data pasien. Versi DOS memungkinkan pemanfaatan komputer lama jenis 486. ULD-LLD setting. Parameter yang ditampilkan meliputi cacah (count) maksimum masing-masing ginjal beserta waktu pencapaiannya. dan Window XP. sedangkan versi Windows yang memerlukan PC Pentium (dengan memori minimum 16 MB untuk Window 98 dan 32 MB untuk Window XP) lebih menawarkan kemudahan bagi operator (user friendly). Chi-Square Test) sebelum digunakan untuk pemeriksaan pasien.Gambar 8. Operasi perangkat lunak renograf mengharuskan operator setiap hari melakukan uji kualitas alat (spectum check. Window 98. up-take relatif. Kurva Renogram Berdasarkan renogram akan memberikan informasi tentang keadaan fungsi ginjal meliputi respon vasculer. waktu pencapaian 2/3 dan T1/2. Kurva Renogram 16 . Secara umum aplikasi renograf terdiri dari: akuisisi data pasien baru. Ada beberapa pola bentuk renogram yang berkaitan dengan kelainan fungsi ginjal yang dipergunakan sebagai acuan dalam dianogse. reno indeks.

Dalam analisis kurva renogram. 2.Kurva renogram seperti dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu: 1. Fase II. Fase III. Waktu paruh dari kurva naik maupun turun. menggambarkan proses ekskresi atau pembuangan (eliminasi) perunut radioisotop dari ginjal. 3. terjadinya setelah perunut radioisotop disuntikkan kedalam pembuluh darah.) yang sebelumnya akan menurun (awal sekresi). dilakukan dengan melihat beberapa ciri atau parameter meliputi: Kemiringan (Slope) dari setiap fase. Fase kedua disebut uptake atau konsentrasi. Perbandingan (Ratio) dari level laju pencacahan. Laju dan bentuk kurva dari fase III ini mencerminkan keadaan fungsional segmen ekskresi dari ginjal mulai dari pelvis renalis sampai dengan ureter. Tipikal Pola-pola Renogram Gambar 10. menggambarkan kapasitas pengambilan bahan perunut oleh ginjal (sistem nefron) akan terjadi proses sekresi tubuler dan filtrasi glomerular. Pada keadaan normal fase kedua ini berlangsung antara 2-5 menit setelah injeksi. Fase pertama disebut fase pembuluh darah (respon vasculer). Tipikal Pola-pola Renogram 17 . Kemiringan (inclination) dari fase II dapat memberikan informasi kondisi proses ginjal. Fase I. Fase ketiga disebut fase ekskresi atau eliminasi. Perunut akan bertambah sampai terjadi puncak kesetimbangan (T max. berlangsung sangat cepat sekali yaitu hanya berlangsung sekitar 12 detik.

infeksi dan lainlain. paru. radioisotop dimasukkan ke dalam tubuh pasien (in-vivo) maupun hanya direaksikan saja dengan bahan biologis antara lain darah. urine dan sebagainya. 6. kelenjar ludah. 4. kelenjar mamae.PENUTUP Kesimpulan 1. yang diambl dari tubuh pasien yang dikenal dengan studi in-vitro. Pemeriksaan fungsi organ yang dapat dilakukan adalah ginjal. penanda infeksi dan lain-lain. Thyroid Uptake. 5. Ilmu kedokteran nuklir adalah cabang ilmu kedokteran yang menggunakan sumber radiasi terbuka berasal dari desintegrasi inti radionuklida buatan. 2. tiroid. sehingga dapat digunakan untuk tujuan diagnostik. Alat utama teknik in-vivo imaging adalah Kamera Gamma (Gamma Camera) Planar atau SPECT. protein endogen. tiroid. lambung. 18 . penanda tumor. Pemeriksaan fungsi organ (disebut juga scanning) yang dapat dilakukan adalah otak. jantung. terapi dan penelitian kedokteran. Teknik in-vivo terbagi menjadi dua. infeksi Helicobacter pylori dan lain-lain. anatomi. kelenjar getah bening. untuk mempelajiri perubahan fisiologis. tulang (spot atau seluruh tubuh). ginjal. Zat-zat yang dapat ditetapkan kadarnya adalah hormon. Alat utama teknik in-vitro adalah Pencacah Gamma (Gamma Counter). Alat utama yang digunakan pada teknik in-vivo non-imaging misalnya adalah Renograf. Heliprobe dan lain-lain. hati. limpa. usus. antara lain teknik in-vivo imaging dan teknik in-vivo nonimaging. dan biokimia. 3. kelenjar air mata. obat. empedu. cairan lambung. Pada kedokteran nuklir.

php?storyid=60.ristek.go. diakses pada tanggal 31 Januari 2010.id/url?sa=t&source=web&ct=res&cd=8&ved=0CBwQFjAH&url=http% 3A%2F%2Fwww.infonuklir. diakses pada tanggal 10 Januari 2010. http://www.co.pdf+renograf&hl=id&gl=id&pid =bl&srcid=ADGEEShtSMJthu3ioq1b9VmeFGCyqGTIqM4n4P5E8KoRcZuvx9pVo3MB36eJKIqUtMelKqqDGtUIE16W94QIOBoo_1LmWVAxCAuTMpbFECokQJninmjjC7ExbBuhURLkn zw7MZFirl5&sig=AHIEtbSuQwAnaBwHUaYB-0cpU9x2vXZ_tQ. diakses pada tanggal 10 Januari 2010.blogspot.pdf&ei=FCRISP1Kors7AOnlMDXCw&usg=AFQjCNGwx7_iIHcsit73Fc2EbHOusbHgAw.id/wp-content/uploads/2008/06/39-sigit-bachtiar-hal-391-397.pdf.batan.google. 19 .sttn-batan.html. http://docs. http://jurnal. http://adigayani.sttn-batan.DAFTAR PUSTAKA http://www.pdf.go.com/2009/08/detektor-sintilasi.com/viewer?a=v&q=cache:pi1eMSkpPwJ:www.aagos.ac. pada tanggal 10 Januari 2010. diakses http://jurnal.id/wp-content/uploads/2008/06/22-djuningran-229-239. diakses pada tanggal 9 Januari 2010.google.ac.id%2Fptkmr%2FAlara%2FBulAlara%2520Vol%25201_1%2520Ags %252097%2FBAlara1997_01108_021.com/modules/news/makepdf.id/nuklir/renograf_dual_robes. diakses pada tanggal 9 Januari 2010.