Di dalam Undang-Undang Nomor 22 tahun 2007 disebutkan bahwa fungsi Pengawas Pemilu yang dijabarkan dalam tugas

, wewenang dan kewajiban Pengawas Pemilu. Berkaitan dengan tugas pengawasan pemilu ada pembagian tugas pengawasan pemilu yang dapat dijelaskan sebagai berikut : (a) Bawaslu melakukan pengawasan terhadap seluruh tahapan penyelenggaraan Pemilu; (b) Panwaslu Provinsi mengawasi tahapan penyelenggaraan Pemilu di wilayah provinsi; (c) Panwaslu kabupaten/kota mengawasi penyelenggaraan Pemilu di wilayah kabupaten/kota; (d) Panwaslu Kecamatan mengawasi tahapan penyelenggaraan Pemilu di wilayah kecamatan; (e) Pengawas Pemilu Lapangan mengawasi tahapan penyelenggaraan Pemilu ditingkat desa/kelurahan; (f) Pengawas Pemilu Luar Negeri mengawssi tahapan penyelenggaraan Pemilu di luar negeri. Adapun tugas dan wewenang Pengawas Pemilu dapatlah dijelaskan secara umum sebagai berikut : (1) Mengawasi tahapan penyelenggaraan pemilu; (2) Menerima laporan dugaan pelanggaran perundang-undangan pemilu; (3) Menyampaikan temuan dan laporan kepada KPU/KPU provinsi/KPU kabupaten/kota atau kepolisian atau instansi lainnya untuk ditindaklanjuti; (4) Mengawasi tindak lanjut rekomendasi; (5) Mengawasi pelaksanaan sosialisasi penyelenggaraan Pemilu; dan (6) Melaksanakan : a) Tugas dan wewenang lain ditetapkan oleh undang-undang (untuk Bawaslu, Panwaslu Provinsi, dan Panwaslu kabupaten/kota); b) Melaksanakan tugas lain dari Panwaslu Kecamatan (untuk Pengawas Pemilu lapangan); dan c) Melaksanakan tugas lain dari Bawaslu (untuk Pengawas Pemilu Luar Negeri). Dalam melaksanakan tugas, Bawaslu, Panwaslu Provinsi dan Panwaslu Kabupaten/Kota berwenang : (a) Memberikan rekomendasi kepada KPU untuk menonaktifkan sementara dan/atau mengenakan sanksi administratif atas pelanggaran; (b) Memberikan rekomendasi kepada yang berwenang atas temuan dan laporan terhadap tindakan yang mengandung unsur tindak pidana Pemilu. Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya Pengawas Pemilu berkewajiban sebagai berikut : 1. Bersikap tidak diskriminatif dalam menjalankan tugas dan wewenangnya Pengawas Pemilu disemua tingkatan 2. Melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas Pengawas Pemilu pada semua tingkatan 3. Melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas Pengawas Pemilu pada tingkatan dibawahnya 4. Menerima dan menindak lanjuti laporan yang berkaitan dengan dugaan adanya pelanggaran terhadap pelaksanaan peraturan perundang-undangan mengenai pemilu. 5. Menyampaikan laporan hasil pengawasan kepada presiden, DPR dan KPU sesuai dengan tahapan secara periodic dan/atau berdasarkan kebutuhan. Bawaslu 6. Menyampaikan laporan hasil pengawasan kepada Bawaslu sesuai dengan tahapan Pemilu secara peridik dan/atau berdasarkan kebutuhan Panwaslu Provinsi

Menyampaikan temuan dan laporan kepada Bawaslu berkaitan dengan adanya dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh KPU Provinsi yang mengakibatkan terganggunya penyelenggaraan tahapan Pemilu di tingkat provinsi. para pemilih harus bebas menentukan sikap politiknya tanpa adanya tekanan. regulasi pemilu seharusnya dapat meminimalisir terjadinya political inequality. Kebebasan (Freedom) Dalam pemilu yang demokratis. Setidak-tidaknya. Pengawas Pemilu Lapangan 12 Menyampaikan temuan dan laporan kepada Panwaslu Kecamatan berkaitan dengan adanya dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh PPS dan KPPS yang mengakibatkan terganggunya penyelenggaraan tahapan Pemilu di tingkat Desa/Kelurahan. 2009 : 7-8): o Universalitas (Universality) Karena nilai-nilai demokrasi merupakan nilai universal. Artinya konsep. Tidak seperti pada masa rezim orde baru dimana pemilu seringkali disebut sebagai ‘demokrasi seolah-olah’.7. Kesetaraan (Equality) Pemilu yang demokratis harus mampu menjamin kesetaraan antara masing-masing kontestan untuk berkompetisi. Bawaslu. Menyampaikan temuan dan laporan kepada Panwaslu Kabupaten/Kota berkaitan dengan adanya dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh PPK yang mengakibatkan terganggunya penyelenggaraan tahapan Pemilu di tingkat Kecamatan. Menyampaikan temuan dan laporan kepada Panwaslu Provinsi berkaitan dengan adanya dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh KPU Kabupaten/kota yang mengakibatkan terganggunya penyelenggaraan tahapan Pemilu di tingkat Kabupaten/Kota. antara partai politik besar dengan partai politik kecil yang baru lahir tentunya memiliki kesejnjangan sumberdaya yang lebar. Panwaslu Kecamatan 10. Secara sederhana. Salah satu unsur penting yang akan mengganjal prinsip kesetaraan ini adalah timpangnya kekuasaan dan kekuatan sumberdya yang dimiliki kontestan pemilu. o o . perangkat dan pelaksanaan pemilu harus mengikuti kaedah-kaedah demokrasi universal itu sendiri. Oleh karena itu. Panwaslu Provinsi 8. Menyampaikan laporan kepada Panwaslu Kecamatan berkaitan dengan adanya dugaan tindakan yang mengakibatkan terganggunya penyelenggaraan tahapan Pemilu di tingkat Kecamatan. pemilu yang sedang berlangsung sekarang sebagai pemilu reformasi harus mampu menjamin tegaknya prinsip-prinsip pemilu yang demokratis. maka perlakunya harus diancam dengan sanksi pidana pemilu yang berat. Panwaslu Kabupaten/Kota 9. Pengawas Pemilu Lapangan Pemilu dapat dikatakan demokratis jika memenuhi beberapa prasyarat dasar. Jika hal demikian terjadi dalam pelaksanaan pemilu. system. maka pemilu yang demokratis juga harus dapat diukur secara universal. prosedur. ada 5 (lima) parameter universal dalam menentukan kadar demokratis atau tidaknya pemilu tersebut. iming-iming pemberian hadiah tertentu yang akan mempengaruhi pilihan mereka. Panwaslu Kecamatan 11. yakni (Modul Pengawasan. intimidasi. Menyampaikan laporan kepada Panwaslu Kabupaten/Kota berkaitan dengan adanya dugaan tindakan yang mengakibatkan terganggunya penyelenggaraan tahapan Pemilu di tingkat Kecamatan.

maka Bawaslu membedakannya menjadi: 1) pelanggaran pemilu yang bersifat administratif . Dalam proses pengawasan tersebut. Sementara peserta pemilu harus dapat menjelaskan kepada public darimana. KPU harus dapat meyakinkan public dan peserta pemilu bahwa mereka adalah lembaga independen yang kan menjadi pelaksana pemilu yang adil dan tidak berpihak (imparsial). Panwaslu Kabupaten/Kota paling lambat 3 hari sejak terjadinya pelanggaran pemilu. tidak boleh diketahui oleh pihak manapun. tetapi tata cara penyelesaian yang diatur dalam UU hanya mengenai pelanggaran pidana. Dalam hal laporan atau temuan tersebut dianggap sebagai pelanggaran. Bawaslu memiliki waktu selama 3 hari untuk melakukan kajian atas laporan atau temuan terjadinya pelanggaran. Berdasarkan kajian tersebut. Transparansi (Transparency) Segala hal yang terkait dengan aktivitas pemilu harus berlandaskan prinsip transparansi. Selain berdasarkan temuan Bawaslu. pelanggaran diselesaikan melalui Bawaslu dan Panwaslu sesuai dengan tingkatannya sebagai lembaga yang memiliki kewenangan melakukan pengawasan terhadap setiap tahapan pelaksanaan pemilu. Batas Waktu Penanganan Pelanggaran Pemilu 1. . berapa dan siapa yang menjadi donator untuk membiayai aktifitas kampanye pemilu mereka. o C. Transparansi ini terkait dengan dua hal. melakukan kajian atas laporan dan temuan adanya dugaan pelanggaran. yakni kinerja dan penggunaan sumberdaya. Apabila Bawaslu menganggap laporan belum cukup lengkap dan memerlukan informasi tambahan. Pengawas dan pemantau pemilu juga harus mampu menempatkan diti pada posisi yang netral dan tidak memihak pada salah satu peserta pemilu. Tata Cara Penyelesaian Pelanggaran Meski jenis pelanggaran bermacam-macam. baik KPU. pelanggaran dapat dilaporkan oleh anggota masyarakat yang mempunyai hak pilih. Bawaslu dapat menerima laporan. peserta pemilu maupun Pengawas Pemilu. Kerahasiaan sebagai suatu prinsip sangat terkait dengan kebebasan seseorang dalam memilih. pemantau pemilu dan peserta pemilu kepada Bawaslu. dan 2) pelanggaran yang mengandung unsur pidana. Secara umum. Panwaslu Propinsi. maka Bawaslu dapat meminta keterangan kepada pelapor dengan perpanjangan waktu selama 5 hari. Bawaslu dapat mengambil kesimpulan apakah temuan dan laporan merupakan tindak pelanggaran pemilu atau bukan. bahkan oleh panitia pemilihan.o Kerahasiaan (Secrecy) Apapun pilihan politik yang diambil oleh pemilih. Pelanggaran administrasi diatur lebih lanjut melalui Peraturan KPU dan selisih hasil perolehan suara telah diatur dalam UU MK. Bagaimana system rekrutmen kandidat dan proses regenarasi politik yang ditempuh sehingga semua pihak memiliki peluang yang sama untuk dipilih sebagai kandidat wakil rakyat. Mekanisme Pelaporan Penyelesaian pelanggaran pemilu diatur dalam UU Pemilu BAB XX. dan meneruskan temuan dan laporan dimaksud kepada institusi yang berwenang.

Aturan mengenai tata cara pelaporan pelanggaran pemilu diatur dalam ketentuan pasal 247 UU 10/2008 yang diperkuat dalam Peraturan Bawaslu No. Mekanisme Penyelesaian Pelanggaran Pidana Pemilu. yang terikat dengan Kode Etik Pengawas Pemilu. Setiap tim beranggotakan antara 4-5 orang. diteruskan oleh Bawaslu kepada penyidik Kepolisian. Proses Penyidikan. Secara umum perbuatan tindak pidana yang diatur dalam UU Pemilu juga terdapat dalam KUHP. dan 123 ayat (2). pihak kepolisian telah membentuk tim kerja yang akan menangani tindak pidana pemilu. Panwaslu Kabupaten/Kota. Sebenarnya penanganan tindak pidana pemilu tidak berbeda dengan penanganan tindak pidana pada umumnya yaitu melalui kepolisian kepada kejaksaan dan bermuara di pengadilan. pembatalan kegiatan. Sesuai dengan sifatnya. setelah dilakukan kajian dan didukung dengan data permulaan yang cukup. Terhadap pelanggaran yang menyangkut masalah perilaku yang dilakukan oleh penyelenggara pemilu seperti anggota KPU. Mengacu kepada pasal 247 angka (9) UU Pemilu. Aturan lebih lanjut tentang tata cara penyelesaian pelanggaran administrasi dibuat dalam peraturan KPU. temuan dan laporan tentang dugaan pelanggaran pemilu yang mengandung unsur pidana. Panwaslu Propinsi dan Bawaslu untuk menyelesaikan temuan dan laporan pelanggaran terhadap ketentuan kampanye yang tidak mengandung unsur pidana (lihat UU 10/2008 pasal 113 ayat (2). pasal 118 ayat (2). POLRES: 10 TIM. 3. KPU Kabupaten/Kota. Hal ini mengacu kepada KUHAP yang mengartikan hari adalah 1 x 24 jam dan 1 bulan adalah 30 hari. dan KPU Kabupaten/Kota sebagaimana diatur dalam ketentuan UU Pemilu pasal 248-251. Apabila terdapat aturan yang sama maka ketentuan yang diatur KUHP dan KUHAP menjadi tidak berlaku. Panwaslu Propinsi. POLWIL: 3 TIM. POLDA: 5 TIM. Dengan adanya tim kerja tersebut maka penyidikan akan dilakukan bersama-sama. Guna mengatasi kendala waktu dan kesulitan penanganan pada hari libur. penonaktifan dan pemberhentian bagi pelaksana pemilu.1. dan jajaran sekretariatnya. KPU Propinsi. Hal yang sama juga berlaku bagi anggota Bawaslu. Meski kewenangan menyelesaikan pelanggaran administrasi menjadi domain KPU. UU membatasi waktu bagi KPU untuk menyelesaikan pelanggaran administrasi tersebut dalam waktu 7 hari sejak diterimanya dugaan laporan pelanggaran dari Bawaslu. Peraturan KPU mengenai hal tersebut sampai saat ini belum ada.05 /2008. KPU Propinsi. TIM PENYIDIK TINDAK PIDANA PEMILU POLRI BARESKRIM: 7 TIM (4 Dalam Negeri + 3 Luar Negeri). maka sanksi terhadap pelanggaran administrasi hendaknya berupa sanksi administrasi. 2. Sanksi tersebut dapat berbentuk teguran. Kepolisian mengartikan 14 hari tersebut termasuk hari libur. Setelah menerima laporan pelanggaran dari Bawaslu. maka Peraturan KPU tentang Kode Etik Penyelenggara Pemilu dapat diberlakukan. Tata cara penyelesaian juga mengacu kepada KUHAP. Dengan asas lex specialist derogat lex generali maka aturan dalam UU Pemilu lebih utama. dan jajaran sekretariatnya.Bawaslu meneruskan hasil kajian tersebut kepada instansi yang berwenang untuk diselesaikan. tetapi UU Pemilu juga memberikan tugas dan wewenang kepada Panwaslu Kabupaten/Kota. Proses penyidikan dilakukan oleh penyidik polri dalam jangka waktu selama-lamanya 14 hari terhitung sejak diterimanya laporan dari Bawaslu. 3. Mekanisme penyelesaian pelanggaran administrasi Pelanggaran pemilu yang bersifat administrasi menjadi kewenangan KPU untuk menyelesaikannya. penyidik segera melakukan penelitian terhadap: .

Proses Persidangan. Tindak lanjut dari penanganan dugaan pelanggaran pidana pemilu oleh Kejaksaan adalah pengadilan dalam yuridiksi peradilan umum. Di tingkat Kejaksaan Agung ditugaskan 12 orang jaksa yang dipimpin Jaksa Agung Muda Pidana Umum (Jampidum) untuk menangani perkara pemilu di pusat dan Luar Negeri. pihak penyidik harus menyampaikan hasil penyidikan beserta berkas perkara kepada penuntut umum (PU).1) kelengkapan administrasi laporan yang meliputi : keabsahan laporan (format. Hakim dalam memeriksa. waktu laporan. 125/2008. dan 91 Cabang Kejaksaan Negeri). maka dalam waktu paling lama 3 hari penuntut umum mengembalikan berkas perkara kepada penyidik kepolisian disertai dengan petunjuk untuk melengkapi berkas bersangkutan. Pada saat tersangka dan barang bukti dikirim/diterima dari kepolisian maka surat dakwaan sudah dapat disusun pada hari itu juga. 3. 272 kejaksaan Negeri. Bawaslu. Kepolisian dan Kejaksaan telah membuat kesepahaman bersama dan telah membentuk sentra penegakan hukum terpadu (Gakumdu). dan 2) materi/laporan yang antara lain : kejelasan indentitas (nama dan alamat) pelapor. Dengan demikian maka PU dapat mempersiapkan rencana awal penuntutan/matrik yang memuat unsur-unsur tindak pidana dan fakta-fakta perbuatan. 14 hari sejak diterimanya lapaoran dari Bawaslu. Masing-masing Kejaksaan Negeri dan Cabang Kejaksaan Negeri ditugaskan 2 orang jaksa khusus untuk menangani pidana pemilu tanpa menangani kasus lain di luar pidana pemilu.3. uraian kejadian/pelanggaran. PU melimpahkan berkas perkara kepada pengadilan. saksi dan tersangka. . Penugasan ini dituangkan dalam Keputusan Jaksa Agung No. Maksimal 5 hari sejak berkas diterima. penanda tangan. tempat kejadian perkara. maka proses penanganan pelanggaran menggunakan proses perkara yang cepat (speed trial). Jika hasil penyidikan dianggap belum lengkap.2. Perbedaan tersebut terutama menyangkut masalah waktu yang lebih singkat dan upaya hukum yang hanya sampai banding di Pengadilan Tinggi. Perbaikan berkas oleh penyidik maksimal 3 hari untuk kemudian dikembalikan kepada PU. Berdasarkan indentitas tersebut. penomoran. Karena sejak awal penanganan kasus di kepolisian pihak kejaksaan sudah dilibatkan untuk mengawal proses penyidikan maka duduk perkara sudah dapat diketahui sejak Bawaslu melimpahkan perkara ke penyidik. mengadili dan memutus perkara pidana pemilu menggunakan KUHAP sebagai pedoman beracara kecuali yang diatur secara berbeda dalam UU Pemilu. dan kejelasan penulisan. Melalui Surat Keputusan (September 2008) Jaksa Agung telah menunjuk jaksa khusus pemilu di seluruh Indonesia (31 Kejaksaan Tinggi. Adanya Gakumdu memungkinkan pemeriksaan perkara pendahuluan melalui gelar perkara. Karena itu masalah limitasi waktu tidak menjadi kendala. Untuk memudahkan proses pemeriksaan terhadap adanya dugaan pelanggaran pidana pemilu. Proses Penuntutan. kompetensi Bawaslu terhadap jenis pelanggaran. UU Pemilu tidak mengatur secara khusus tentang penuntut umum dalam penanganan pidana pemilu. penyidik melakukan pemanggilan terhadap saksi dalam waktu 3 hari dengan kemungkinan untuk memeriksa saksi sebelum 3 hari tersebut yang dapat dilakukan di tempat tinggal saksi. 3. tanggal. stempel. cap/stempel). Mengingat bahwa pemilu berjalan cepat.

Putusan sebagaimana dimaksud harus dilaksanakan paling lambat 3 hari setelah putusan diterima jaksa. serta dokumen tertulis lainnya. Permohonan diajukan oleh peserta pemilu paling lambat 3 x 24 jam sejak KPU mengumumkan penetapan perolehan suara hasil pemilu secara nasional. perselisahan tentang hasil perolehan suara pemilu diselesaikan melalui MK. MA juga telah mengeluarkan Surat Edaran No. Permohonan banding terhadap putusan tersebut diajukan paling lama 3 hari setelah putusan dibacakan. Untuk itu maka UU memerintahkan agar penanganan pidana pemilu di pengadilan ditangani oleh hakim khusus yang diatur lebih lanjut melalui Peraturan MA (Perma). PT memiliki kesempatan untuk memeriksa dan memutus permohonan banding sebagaimana dimaksud paling lama 7 (tujuh) hari setelah permohonan banding diterima. Pengaturan ini jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan UU 12/2003 yang memakan waktu 121 hari. dan DPRD. 07/A/2008 yang memerintahkan kepada Pengadilan Tinggi untuk segera mempersiapkan/menunjuk hakim khusus yang menangani tindak pidana pemilu. DPD. dan memutus perkara pidana pemilu. KPU. berita acara penghitungan beserta berkas pernyataan keberatan peserta. Tata cara penyelesaian perselisihan perolehan hasil suara pemilu 2009 telah diatur dalam PMK No. Proses Pelaksanaan Putusan. Putusan banding tersebut merupakan putusan yang bersifat final dan mengikat sehingga tidak dapat diajukan upaya hukum lain. Perselisihan Hasil Perolehan Suara Sesuai dengan Konstitusi yang dijabarkan dalam ketentuan UU 24/2003 tentang Mahkamah Konstitusi. sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan setiap jenjang. Batasan waktu ini akan berimbas kepada beberapa prosedur yang harus dilalui seperti pemanggilan saksi dan pemeriksaan khususnya di daerah yang secara geografis banyak kendala. para pihak memiliki kesempatan untuk melakukan banding ke Pengadilan Tinggi. maka proses penyelesaian pelanggaran pidana pemilu paling lama 53 hari sejak terjadinya pelanggaran sampai dengan pelaksanaan putusan oleh jaksa. KPU Propinsi dan KPU Kabupaten/Kota dan peserta harus sudah menerima salinan putusan pengadilan pada hari putusan dibacakan.PN melimpahkan berkas perkara permohonan banding kepada PT paling lama 3 hari sejak permohonan banding diterima.4. 14/2008 tentang Pedoman Beracara dalam Perselisihan Hasil Pemilu Anggota DPR. KPU berkewajiban untuk menindaklanjuti putusan sebagaimana dimaksud. Dalam hal terjadi penolakan terhadap putusan PN tersebut. 3. Tiga hari setelah putusan pengadilan dibacakan. 4. Khusus terhadap putusan yang berpengaruh terhadap perolehan suara ini. 03/2008 menegaskan bahwa Hakim khusus sebagaimana dimaksud berjumlah antara 3 – 5 orang hakim dengan kriteria telah bekerja selama 3 tahun. PERMA No. Jika perkara pelanggaran pidana pemilu menurut UU Pemilu dipandang dapat mempengaruhi perolehan suara peserta pemilu maka putusan pengadilan atas perkara tersebut harus sudah selesai paling lama 5 hari sebelum KPU menetapkan hasil pemilu secara nasional. Demikian pengecualian hukum beracara untuk menyelesaikan tindak pidana pemilu menurut UU 10/2008 yang diatur berbeda dengan KUHAP. mengadili. PN/PT harus telah menyampaikan putusan tersebut kepada PU. Sesuai dengan sifatnya yang cepat.Tujuh hari sejak berkas perkara diterima Pengadilan Negeri memeriksa. Pengajuan permohonan disertai dengan alat bukti pendukung seperti sertifikat hasil penghitungan suara. Apabila kelengkapan dan syarat .

Tiga hari kerja sejak permohonan tercatat dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi panitera mengirimkan permohonan kepada KPU. Ketentuan ini secara sengaja telah menutup celah bagi proses hukum terhadap pelanggaran pemilu yang tidak terjadi di ruang terbuka. dan DPRD tidak memberikan rincian lebih jauh dibandingkan dengan apa yang telah diatur dalam UU Pemilu. Apabila dalam waktu tersebut perbaikan kelengkapan dan syarat tidak dilakukan. keterangan KPU dan alat bukti oleh Panel Hakim dan/atau Pleno Hakim dalam sidang yang terbuka untuk umum. Dalam konteks hukum pidana. DPD. dan standar laporan dan berkas yang akan diteruskan kepada penyidik. KPU.permohonan dianggap tidak cukup. KPU Propinsi dan KPU Kabupaten/Kota wajib menindaklanjuti Putusan tersebut. kedudukan pemohon. Karena membutuhkan proses administrasi dan terkendala hari libur maka dana baru diterima setelah 3 hari. panitera MK memberitahukan kepada pemohon untuk diperbaiki dalam tenggat 1 x 24 jam. KPU dan Presiden serta dapat disampaikan kepada pihak terkait. pemantau dan pemilih harus disampaikan kepada Bawaslu paling lama 3 hari sejak terjadinya pelanggaran. Penetapan hari sidang pertama diberitahukan kepada pemohon dan KPU paling lambat 3 (tiga) hari sebelum hari persidangan. materi pelanggaran. Bawaslu perlu mengatur lebih detail tentang tata cara penanganan laporan/temuan pelanggaran terkait dengan dokumen bukti indentitas. Sampai saat ini KPU belum menerbitkan Peraturan tentang Tata Cara Penyelesaian Pelanggaran Administrasi yang . pokok permohonan. D. Pemeriksaan permohonan dibagi menjadi : 1) pemeriksaan pendahuluan untuk memeriksa kelengkapan dan kejelasan materi permohonan. jenis alat bukti minimal. Dalam permohonan tersebut disertakan juga permintaan keterangan tertulis KPU yang dilengkapi dengan bukti-bukti hasil penghitungan suara yang diperselisihkan. Putusan MK dijatuhkan paling lambat 30 hari kerja sejak permohonan dicatat dalam buku registrasi perkara konstitusi. Panel Hakim yang terdiri atas 3 orang hakim konstitusi wajib memberi nasihat kepada pemohon untuk melengkapi dan/atau memperbaiki permohonan apabila terdapat kekurangan paling lambat 1 x 24 jam. Beberapa format laporan sebagai lampiran dari Peraturan dimaksud lebih menunjukkan bahwa Peraturan mengarah kepada petunjuk teknis dan pedoman Bawaslu tentang penerimaan laporan pelanggaran pemilu. Keterangan tertulis tersebut haraus sudah diterima MK paling lambat 1 hari sebelum hari persidangan. Peraturan Bawaslu No. Mahkamah menetapkan hari sidang pertama dala mwaktu 7 hari kerja sejak permohonan diregistrasi. Sebagai contoh pemberian atau penerimaan dana kampanye yang melebihi jumlah yang telah ditentukan tetapi dilakukan melalui transfer rekening antar bank pada hari jumat malam. maka permohonan tidak dapat diregistrasi. 2) pemeriksaan persidangan yang dilakukan untuk memeriksa kewenangan MK. Laporan pelanggaran pemilu oleh peserta pemilu. c) Tata Cara Penyelesaian Pelanggaran Administrasi. Beberapa Permasalahan a) Waktu Terjadinya Pelanggaran. b) Penanganan Laporan. informasi/keterangan yang cukup. Putusan MK bersifat final dan selanjtunya disampaikan kepada pemohon. Secara konseptual terjadinya pelanggaran adalah hari jumat sehingga pelanggaran tidak dapat diproses. 05 Tahun 2008 tentang Tata Cara Pelaporan Pelanggaran Pemilu DPR. waktu kejadian perkara (tempus delicti) terhitung sejak suatu tindak pidana atau kejadian dilakukan oleh si pelaku dan bukan pada saat selesainya suatu perbuatan atau timbulnya dampak/akibat hukum.

Terjadi kerancuan pengaturan dalam ketentuan UU Pemilu antara pasal 248-251 dengan pasal 113 ayat (2). dan 123 ayat (2) serta UU KPU pasal 78 ayat (1) huruf c. Ketentuan ini tidak terdapat dalam UU 10/2008. e) Pengertian ”hari”. Peraturan tentang tata cara penyelesaian pelanggaran administrasi setidaknya mengatur mengenai kategorisasi tingkat pelanggaran. Yang dimaksud apakah hanya hari kerja atau termasuk hari libur dan yang diliburkan (cuti bersama). UU Pemilu tidak meberikan definisi dan penjelasan mengenai “hari” untuk menangani pelanggaran pemilu. KPU. tidak mengatur mengenai hal tersebut. Dikuatirkan KPU dan Bawaslu saling melepaskan tanggung jawab untuk menangani pelanggaran tersebut. DPRD. g) Gakkumdu. Kesepakatan ini dapat dianggap bertentangan ketentuan pasal 253 UU Pemilu yang memberikan kesempatan pengembalian/perbaikan berkas dari PU ke Penyidik . Tidak adanya pengertian yang sama mengenai masalah ini akan berpotensi mengganggu proses penanganan pelanggaran khususnya menyangkut batas waktu (daluarsa). f) Tindakan terhadap TNI. pasal 118 ayat (2). Belum adanya aturan mengenai masalah ini akan mengakibatkan penanganan pelanggaran administrasi yang berbeda antara kasus satu dengan yang lain bergantung kepada kemauan KPU sehingga tidak memberikan kepastian hukum dan dapat mencederai rasa keadilan. dan PNS harus dengan ijin khusus sebagaiman diatur dalam UU 13/1970 tidak berlaku. Selain itu. dan ketersediaan waktu yang cukup dan pasti. Kepolisian dan Kejaksaan telah bersepakat bahwa yang dimaksud dengan hari adalah 1 x 24 jam (termasuk di dalamnya hari libur) tetapi MA dan MK menegaskan bahwa hari adalah hari kerja. UU 12/2003 pasal 132 dengan tegas menyatakan bahwa tindakan kepolisian terhadap pejabat negara seperti anggota DPR. meski beberapa tahapan penyelenggaraan pemilu juga dibatasi dengan hari. Kepolisian dan Kejaksaan dan kesepakatan pembentukan Sentra Penegakan Hukum Terpadu (Gakumdu) belum menjawab kebutuhan terhadap kecepatan penanganan perkara. Bawaslu. Akibatnya terjadi perbedaan pemahaman antar instansi penegak hukum pemilu. Perlu ada kesepakatan antara KPU dan Bawaslu mengenai pembagian tugas dan wewenang penyelesaian pelanggaran administrasi. Pasal 12 MOU menyangkut proses pengembalian berkas perkara dari PU kepada Penyidik untuk diperbaiki dimungkinkan terjadi 2 kali masing-masing 3 hari. sehingga keputusan Kepolisian dan Kejaksaan untuk memeriksa anggota legislatif dan PNS tanpa ijin tersebut memiliki resiko hukum tersendiri. proses pelaksanaan sanksi. d) Penegasan wewenang dan tanggung jawab penyelesaian pelanggaran administrasi. pemanggilan pelaku. Pembuatan nota kesepahaman antara Bawaslu. Beberapa ketentuan yang bertolak belakang ini menyebabkan ketidakpastian proses penanganan pelanggaran pemilu yang tidak mengandung unsur pidana. maka bagaimana tata cara penyelesaiannya. atau disepakati untuk dikesampingkan karena bertentangan dengan asas kepastian dan keadilan.diamanatkan UU 10/2008. jenis sanksi yang dapat dijatuhkan berdasar tingkat pelanggaran atau kesalahan. Kalau dianggap pengecualian. pembuktian. Karena itu KPU harus segera membuat aturan tersebut sesegera mungkin sebagai pedoman bagi semua pihak yang terlibat dan berkepentingan dengan penyelenggaraan pemilu. adanya kesempatan pelaku untuk membela diri. UU Pemilu juga tidak mengatur keterlibatan POM TNI untuk memeriksa kasus yang menyangkut anggota TNI sementara penyidik Kepolisian merasa tidak memiliki wewenang untuk memeriksa anggota TNI. Wewenang Panwaslu Kabupaten/Kota untuk menangani pelanggaran administrasi pada tahap kampanye apakah merupakan suatu pengecualian. DPD.

UU KPU dan UU Pemilu tidak menegaskan bahwa Keputusan KPU bersifat final dan mengikat. Pengulangan ini akan mengakibatkan perkara yang sampai ke PU telah melampaui tenggat waktu dari yang telah ditentukan dalam UU Pemilu. Adanya titik hitung yang sama untuk dua persoalan yang berkelanjutan mengakibatkan waktu pemeriksaan di tingkat banding berkurang menjadi 4 hari. tetapi SEMA No. Khusus untuk menangani perkara pemilu Kejaksaan telah menugaskan 2 orang jaksa sementara PN dan PT harus menyediakan hakim khusus 3 – 5 orang sebagaimana diatur dalam Perma No. Apabila acara pemeriksaan singkat maka meski berkas perkara telah dilimpahkan tetapi tanggungjawab tersangka tetap ada pada jaksa sampai proses persidangan. Tetapi apabila menggunakan acara pemeriksaan biasa. k) Pelaksanaan Putusan. 03 tahun 2008 dan SEMA 07/A/2008. i) Jumlah aparat. Selain itu perlu juga ditegaskan mengenai bentuk salinan putusan dimaksud. Sementara proses pelimpahan berkas perkara banding dari PN ke PT dapat dilakukan paling lama 3 hari yang dihitung sejak “permohonan banding diterima”. Permasalahannya untuk melakukan eksekusi mengharuskan jaksa memperoleh salinan putusan dari pegadilan. kutipan atau petikan putusan? l) Sengketa Putusan KPU. Sementara mekanisme gugatan melalui PTUN sulit dilakukan. j) Jenis Pidana dan Hukum Acara Pemeriksaan. 8/2005 tentang Petunjuk Teknis Sengketa Pilkada mengartikan hasil pemilu ”meliputi juga keputusan-keputusan lain yang terkait dengan . Tidak ada penjelasan acara apa yang akan digunakan untuk mengadili. Namun begitu UU juga tidak mengatur mekanisme untuk menyelesaikan sengketa tersebut. Jumlah aparat tersebut dapat menyebabkan proses penanganan perkara terbengkalai apabila terjadi penumpukan perkara pada tahapan tertentu karena batasan waktu yang singkat dalam penanganannya termasuk apabila pelanggaran terjadi di wilayah yang memiliki kendala geografis. maka sejak pelimpahan berkas tanggung jawab terhadap barang bukti dan tersangka menjadi tanggung jawab pengadilan. Dalam KUHAP pelanggaran menggunakan hukum acara singkat dan kejahatan dengan hukum acara biasa. Padahal Keputusan KPU berpotensi menimbulkan sengketa.hanya satu kali (3 hari). Karena menyangkut tanggung jawab dari perkara inklusif perkara dan barang bukti. h) Banding. Selain itu sanksi pidana pemilu berbentuk kumulatif dengan rentang perbedaan yang cukup tinggi sehingga dapat memunculkan disparitas putusan. Sekalipun yang dicantumkan secara eksplisit dalam ketentuan pasal tersebut adalah mengenai hasil pemilu. Proses penanganan banding atas putusan PN dilakukan dalam waktu 7 hari yang terhitung “sejak permohonan banding diterima”. Pasal 2 huruf g UU PTUN (UU 5/1986 yang telah dirubah dengan UU No. Kalau dalam waktu 3 hari salinan putusan belum disampaikan apakah eksekusi tetap dapat dilaksanakan? Karena terhadap tersangka jaksa tidak dapat melakukan penahanan seperti pasal 21 KUHAP. apakah salinan putusan yang diketik. Dengan pemeriksaan yang sangat singkat dikhawatirkan PT tidak cukup waktu untuk menangani perkara. tetapi UU 10/2008 tidak membedakannya. UU memerintahkan 3 hari sejak putusan PN/PT dijatuhkan maka harus segera dilaksanakan oleh jaksa selaku eksekutor. apakah pelimpahan dengan menggunakan acara pemeriksaan singkat atau dengan pemeriksaan biasa. KUHP membedakan tindak pidana sebagai pelanggaran (tindak pidana yang ancaman hukumannya kurang dari 12 bulan ) dan kejahatan (ancaman hukumannya 12 bulan ke atas). 9/2004) menegaskan ”tidak termasuk ke dalam pengertian Keputusuan TUN adalah Keputusan KPU baik di Pusat maupun di daerah mengenai hasil pemilu”.

Pengaturan penyelesaian pelanggaran pemilu dengan batasan waktu yang singkat bertujuan untuk mendorong penyelesaian kasus yang disesuaikan dengan tahapan pelaksanaan pemilu sehingga ada jaminan bahwa pemilu diselenggarakan secara bersih.org/file/kajian/PelanggaranPemilu. serta meningkatkan kapasitas aparat di masing-masing lembaga mengenai aturan perundang-undangan pemilu. memberi tawaran alternatif kepada pihak-pihak yang bersengketa tetapi tidak mengikat. Sumber: www. 8/2005 sebaiknya dicabut. Untuk mengisi kekosongan hukum dan menghindari penafsiran menyimpang tersebut maka SEMA No. E. permintaan pihak yang merasa dirugikan kepada PTUN untuk membatalkan suatu Keputusan. Alternatif (III): Mediasi.pemilu”. dalam berbagai Yurisprudensi MA. Alternatif (IV): Arbitrase. Selain itu. Persoalannya beberapa ketentuan tidak cukup mampu untuk menindak terjadinya pelanggaran pemilu apalagi mencegahnya. kesepakatan bersama antara KPU – Bawaslu dan lembaga penegak hukum mengenai tata cara penanganan pelanggaran. Penanganan pelanggaran secara jujur dan adil merupakan bukti adanya perlindungan kedaulatan rakyat dari tindakan-tindakan yang dapat mencederai proses dan hasil pemilu.reformasihukum. multitafsir dan beberapa diantaranya kontradiksi. penyelenggara dan aparat penegak hukum untuk memastikan bahwa semua pelanggaran pemilu yang terjadi dapat diselesaikan secara adil dan konsisten. telah digariskan bahwa keputusan yang berkaitan dan termasuk dalam ruang lingkup politik dalam kasus pemilihan tidak menjadi kewenangan PTUN untuk memeriksa dan mengadilinya. Hal ini karena ketentuan UU Pemilu belum lengkap. Adalah kewajiban bagi pengawas.rtf . pembuatan satu keputusan untuk menyelesaikan persengketaan yang harus dipatuhi oleh pihak-pihak yang bersengketa. Upaya mengatasi permasalahan tersebut dapat dilakukan melalui pembuatan peraturan tertentu sebagaimana diamanatkan UU Pemilu. Alternatif (II): Konsiliasi. Rekomendasi Secara umum UU Pemilu telah memberikan pedoman untuk menyelesaikan pelanggaran yang terjadi. Alternatif Penyelesaian Sengketa Pemilu Alternatif (I): Gugatan. mempertemukan pihak-pihak yg bersengketa untuk mencapai suatu kesepakatan.

GUGATAN YANG BERKAITAN DENGAN PARTAI POLITIK MAHKAMAH Agung RI (MA-RI) pada tanggal 18 Desember 2008 telah mengeluarkan Surat Edaran (SEMA) Nomor 11 Tahun 2008 tentang Gugatan Yang Berkaitan Dengan Partai Politik (Parpol). 2. MA-RI memandang perlu untuk memberikan pengarahan agar ada kesatuan persepsi sebagai berikut: 1. M. Bahwa sesuai dan mengacu pada yurisprudensi yang sudah digariskan. serta pengadilan di lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) yaitu Pengadilan Tinggi TUN dan Pengadilan TUN di seluruh Indonesia. Dasar pertimbangan MARI menerbitkan SEMA tersebut adalah sehubungan semakin dekatnya masa pemilihan umum (Pemilu) 2009 yang diperkirakan akan terjadi peningkatan kasus-kasus yang diajukan ke Peradilan Umum dan PTUN. Bahwa pada umumnya perkara-perkara tersebut berisi gugatan yang ditujukan terhadap pejabat / fungsonaris dalam tubuh Parpol. maka Parpol bukanlah jabatan Tata Usaha Negara. antara lain terkait dengan Parpol.H.. Bahwa gugatan kepada fungsionaris dalam tubuh Parpol yang diajukan kepada Peradilan Umum pada hakikatnya merupakan urusan intrnal partai. Oleh karena itu. S. sehingga Hakim wajib berhati-hati dalam penyelesaiannya jangan sampai putusan tersebut akan menghambat tahapan dalam proses Pemilu. berkaitan dengan surat-surat keputusan yang diterbitkan dalam jangkauan internal kepartaian. Harifin A. – Wakil Ketua MA-RI Bidang Non Yudisial atas nama Ketua MA-RI. SEMA Nomor 11 Tahun 2008 tanggal 18 Desember 2008 tersebut ditujukan kepada para Ketua pengadilan di lingkungan Peradilan Umum yaitu Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Negeri. sehingga keputusan-keputusan yang diterbitkan bukan merupakan Keputusan Tata Usaha Negara dan tidak dapat menjadi objek gugatan di Peradilan Tata Usaha Negara.H. Tumpa. SEMA dimaksud ditandatangani oleh Hakim Agung DR. . 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful