P. 1
Distosia Kelainan Alat Kandungan 1 Jupek

Distosia Kelainan Alat Kandungan 1 Jupek

|Views: 1,277|Likes:
Published by Bevy Aryah Andini

More info:

Published by: Bevy Aryah Andini on Aug 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/20/2013

pdf

text

original

DISTOSIA KELAINAN ALAT KANDUNGAN

1.1 Pengertian a. Vulva

Kanker vulva adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam vulva Vulva merupakan bagian luar dari sistem reproduksi wanita, yang meliputi labia, lubang vagina, lubang uretra dan klitoris.3-4% kanker pada sistem reproduksi wanita merupakan kanker vulva dan biasanya terjadi setelah menopause. Vulva adalah organ ekternal genetinal wanita.Yang terdiri dari atas mons veneris, labia mayora, labia minora, klitoris, vestibulum (introitus vagina, urethra, ductus bartolini,ductus scene kiri dan kanan). Hygiene vulva adalah suatu tindakan memelihara kebersihan dan kesehatan organ eksternal genetalia wanita.Merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan oleh klien yang tidak mampu secara mandiri dalam membersihkan vulva. Juga merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan dalam prosedur asuhan kebidanan seperti, pemeriksaan dalam pada masa inpartu, pengambilan secret vagina dan lain lain.

Atresia vulva (tertutupnya vulva) ada yang bawaan dan ada yang diperoleh, misalnya karena radang atau trauma. Tentu atresia yang sempurna menyebabkan kemandulan, dan yang menye-babkan distosia hanya atresia yang inkomplit. Kelainan yang bisa menyebabkan distosia ialah oedema vulva, stenosis vulva, kelainan bawaan, varises, hematoma, peradangan, kondiloma akuminata dan fistula.

Bagian yang paling sering terkena karsinoma adalah labia, dimana labia mayora tiga kali lebih sering terkena daripada labia minora dan klitoris. Gambaran keseluruhan lesi kanker vulva adalah datar atau timbul dan berbentuk makulopapular atau verukosa. Lesi dapat hiperpigmentasi (coklat), merah atau putih.(Price,2005;1299).

1.2 Etiologi Penyebabnya tidak diketahui. Faktor resiko terjadinya kanker vulva:
1.

Infeksi HPV atau kutil kelamin (kutil genitalis).HPV merupakan virus penyebab Pernah menderita kanker leher rahim atau kanker vagina Infeksi sifilis Diabetes Obesitas Tekanan darah tinggi. Usia Tiga perempat penderita kanker vulva berusia diatas 50 tahun dan dua

kutil kelamin dan ditularkan melalui hubungan seksual.
2. 3. 4. 5.

6.
7.

pertiganya berusia diatas 70 tahun ketika kanker pertama kali terdiagnosis. Usia rata-rata penderita kanker invasif adalah 65-70 tahun. 8. 9. 10.
11.

Hubungan seksual pada usia dini Berganti-ganti pasangan seksual Merokok Infeksi HIV HIV adalah virus penyebab AIDS. Virus ini menyebabkan

kerusakan pada sistem kekebalan tubuh sehingga wanita lebih mudah mengalami infeksi HPV menahun. 12.
13. 14.

Golongan sosial-ekonimi rendah. Hal ini berhubungan dengan pelayanan Neoplasia intraepitel vulva (NIV) Liken sklerosus. Penyakit ini menyebabkan kulit vulva menjadi tipis dan gatal. Peradangan vulva menahun Melanoma atau tahi lalat atipik pada kulit selain vulva.

kesehatan yang adekuat, termasuk pemeriksaan kandungan yang rutin.

15.
16.

1.3 Gejala

Kanker vulva mudah dilihat dan teraba sebagai benjolan, penebalan ataupun luka terbuka pada atau di sekitar lubang vagina.Kadang terbentuk bercak bersisik atau perubahan warna. Jaringan di sekitarnya mengkerut disertai gatal-gatal. Pada akhirnya akan terjadi perdarahan dan keluar cairan yang encer.

 Gejala lainnya adalah:

1. nyeri ketika berkemih 2. nyeri ketika melakukan hubungan seksual. 3. Hampir 20% penderita yang tidak menunjukkan gejala. 1.4 Penegakan Diagnosa Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala, hasil pemeriksaan fisik dan hasil biopsi jaringan.Staging (Menentukan stadium kanker).Staging merupakan suatu peroses yang menggunakan hasil-hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan diagnostik tertentu untuk menentukan ukuran tumor, kedalaman tumor, penyebaran ke organ di sekitarnya dan penyebaran ke kelenjar getah bening atau organ yang jauh. Dengan mengetahui stadium penyakitnya maka dapat ditentukan rencana pengobatan yang akan dijalani oleh penderita. Jika hasil biopsi menunjukkan bahwa telah terjadi kanker vulva, maka dilakukan beberapa pemeriksaan untuk mengetahui penyebaran kanker ke daerah lain:
1. Sistoskopi (pemeriksaan kandung kemih) 2. Proktoskopi (pemeriksaan rektum)

3. 4.

Pemeriksaan panggula dibawah pengaruh obat bius Rontgen dada

5. CT scan dan MRI.

1.5 THERAPI Terdapat 3 jenis pengobatan untuk penderita kanker vulva: 1. Pembedahan
 Eksisi lokal luas : dilakukan pengangkatan kanker dan sejumlah jaringan normal di

sekitar kanker Eksisi lokal radikal : dilakukan pengangkatan kanker dan sejumlah

besar jaringan normal di sekitar kanker, mungkin juga disertai dengan pengangkatan kelenjar getah bening
 Bedah laser : menggunakan sinar laser untuk mengangkat sel-sel kanker.

 Vulvektomi skinning : dilakukan pengangkatan kulit vulva yang mengandung

kanker
 Vulvektomi

simplek parsial

: :

dilakukan dilakukan

pengangkatan pengangkatan

seluruh sebagian

vulva vulva

-

Vulvektomi

- Vulvektomi radikal : dilakukan pengangkatan seluruh vulva dan kelenjar getah bening di sekitarnya.
 Eksenterasi panggul : jika kanker telah menyebar keluar vulva dan organ wanita

lainnya, maka dilakukan pengangkatan organ yang terkena (misalnya kolon, rektum atau kandung kemih) bersamaan dengan pengangkatan leher rahim, rahim dan vagina.Untuk membuat vulva atau vagina buatan setelah pembedahan, dilakukan pencangkokan kulit dari bagian tubuh lainnya dan bedah plastik. 2. Terapi penyinaran Pada terapi penyinaran digunakan sinar X atau sinar berenergi tinggi lainnya utnuk membunuh sel-sel kanker dan memperkecil ukuran tumor. Pada radiasi eksternal digunakan suatu mesin sebagai sumber penyinaran; sedangkan pada radiasi internal, ke dalam tubuh penderita dimasukkan suatu kapsul atau tabung plastik yang mengandung bahan radioaktif.
3. Kemoterapi

Pada kemoterapi digunakan obat-obatan untuk membunuh sel-sel kanker. Obat tersedia dalam bentuk tablet/kapsul atau suntikan (melalui pembuluh darah atau otot). Kemoterapi merupakan pengobatan sistemik karena obat masuk ke dalam aliran darah sehingga sampai ke seluruh tubuh dan bisa membunuh sel-sel kanker di seluruh tubuh. 1.6 Stadium kanker Vulva

Stadium kanker vulva dari sistem FIGO:
1) Stadium 0 (karsinoma in situ, penyakit Bowen) : kanker hanya ditemukan permukaan

kulit vulva

2) Stadium I : kanker ditemukan di vulva dan/atau perineum (daerah antara rektum dan

vagina). Ukuran tumor sebesar 2 cm atau kurang dan belum menyebar ke kelenjar getah bening.
3) Stadium IA : kanker stadium I yang telah menyusup sampai kedalaman kurang dari 1

mm.
4) Stadium IB: kanker stadium I yang telah menyusup lebih dalam dari 1 mm 5) Stadium II : kanker ditemukan di vulva dan/atau perineu, dengan ukuran lebih besar

dari 2 cm tetapi belum menyebar ke kelenjar getah bening
6) Stadium III : kanker ditemukan di vulva dan/atau perineum serta telah menyebar ke

jaringan terdekat (misalnya uretra, vagina, anus) dan/atau telah menyebar ke kelenjar getah bening selangkangan terdekat.
7) Stadium IVA : kanker telah menyebar keluar jaringan terdekat, yaitu ke uretra bagian

atas, kandung kemih, rektum atau tulang panggul, atau telah menyebar ke kelenjar getah bening kiri dan kanan 8) Stadium IVB : kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di dalam panggul dan/atau ke organ tubuh yang jauh.

Pengobatan berdasarkan stadium

Pengobatan kanker vulva tergantung kepada stadium dan jenis penyakit serta usia dan keadaan umum penderita. - Kanker vulva stadium 0 1. Eksisi lokal luas atau bedah laser, atau kombinasi keduanya 2. Vulvektomi skinning 3. Salep yang mengandung obat kemoterapi - Kanker vulva stadium I

1. Eksisi lokal luas 2. Eksisi lokal radikal ditambah pengangkatan seluruh kelenjar getah bening selangkangan dan paha bagian atas terdekat pada sisi yang sama dengan kanker
3. Vulvektomi radikal dan pengangkatan kelenjar getah bening selangkangan pada salah

satu atau kedua sisi tubuh.

4. Terapi penyinaran saja. - Kanker vulva stadium II 1. Vulvektomi radikal dan pengangkatan kelenjar getah bening selangkangan kiri dan kanan. Jika sel kanker ditemukan di dalam kelenjar getah bening, maka dilakukan setelah pembedahan dilakukan penyinaran yang diarahkan ke panggul 2. Terapi penyinaran saja (pada penderita tertentu). - Kanker vulva stadium III 1. Vulvektomi radikal dan pengangkatan kelenjar getah bening selangkangan dan kelenjar getah bening paha bagian atas kiri dan kanan. Jika di dalam kelenjar getah bening ditemukan sel-sel kanker atau jika sel-sel kanker hanya ditemukan di dalam vulva dan tumornya besar tetapi belum menyebar, setelah pembedahan dilakukan terapi penyinaran pada panggul dan selangkangan 2. Terapi radiasi dan kemoterapi diikuti oleh vulvektomi radikal dan pengangkatan kelenjar getah bening kiri dan kanan 3. Terapi penyinaran (pada penderita tertentu) dengan atau tanpa kemoterapi. - Kanker vulva stadium IV 1. Vulvektomi radikal dan pengangkatan kolon bagian bawah, rektum atau kandung kemih ( tergantung kepada lokasi penyebaran kanker) disertai pengangkatan rahim, leher rahim dan vagina (eksenterasi panggul) 2. Vulvektomi radikal diikuti dengan terapi penyinaran 3. Terapi penyinaran diikuti dengan vulvektomi radikal

4. Terapi penyinaran (pada penderita tertentu) dengan atau tanpa kemoterapi dan mungkin juga diikuti oleh pembedahan.

- Kanker vulva yang berulang (kambuh kembali) 1. Eksisi lokal luas dengan atau tanpa terapi penyinaran 2. Vulvektomi radikal dan pengangkatan kolon, rektum atau kandung kemih (tergantung kepada lokasi penyebaran kanker) disertai dengan pengangkatan rahim, leher rahim dan vagina (eksenterasi panggul) 3. Terapi penyinaran ditambah dengan kemoterapi dengan atau tanpa pembedahn 4. Terapi penyinaran untuk kekambuhan lokal atau untuk mengurangi gejala nyeri, mual atau kelainan fungsi tubuh. 1.7 PENCEGAHAN Ada 2 cara untuk mencegah kanker vulva: 1. Menghindari faktor resiko yang bisa dikendalikan 2. Mengobati keadaan prekanker sebelum terjadinya kanker invasif.  Tujuan 1. Menjaga kebersihan vulva 2. Mencegah terjadinya infeksi pada vulva 3. Mencegah masuknya mikroorganisme pada urogenital tractus • Himen imperforatus Himen imperforatus ialah selaput darah yang tidak menunjukkan lubang (hiatus himenalis) sama sekali,suatu kelainan yang ringan dan yang cukup sering dijumpai. Kemungkinan besar kelainan ini tidak dikenal sebelum menarche.Sesudah itu molimina

menstrualia dialami tiap bulan,tetapi darah haid tidak keluar.Darah itu terkumpul di dalam vagina dan menyebabkan himen tampak kebiru-biruan dan menonjol ke luar.Bila kedaan ini yang dinamakan hematokolpos dibiarkan,maka uterus akan terisi juga dengan darah haid dan akan membesar (hematometra);selanjutnya akan akan timbul pula pengisian tuba kiri dan kanan (hematosalpinks) yang dapat diraba dari luar sebagai tumor kistik di kanan dan kiri simpisis. Diagnosis tidak sukar,dan pengobatannya ialah mengadakan himenektomi,dengan perlindungan antibioka,darah tua kental kehitam-hitaman keluar.

Sebaiknya sesudahtindakan penderita dibaringkan dalam letak Fowler.Selama 2-3 hari darah tua kental tetap akan mengalir disertai dengan pengencilan tumo-tumor tadi. • Atresia kedua labium minus Kelainan kongenital ini disebabkan oleh membrana urogenetalis yang tidak menghilang.Dibagian depan vulva dibelakang klitoris ada pengeluaran untuk air kencing dan darah haid.koitus walaupun sukar masih dapat dilaksanakan,malahan dapat terjadi kehamilan.pada partus hanya dapat diperlukan sayatan di garis tengah yang cukup panjang untuk melahirkan janin. Kelainan tersebut (atresia labia minora)dapat terjadi pula sesudah partus Dalam hal itu radang menyebabkan kedua labium minus melekat,dengan masih ada kemungkinan penderita dapat berkencing.pengobatan terdiri atas melepaskan perlekatan dan menjahit luka-luka yang timbul.
• Hipertrofi labium minus kanan/kiri

Ini dapat terjadi pada satu atau kedua labium minus.pemberian pengertian bahwa keadaan tersebut bukan suatu hal yang mengkhawatirkan biasanya cukup.bila penderita tetap merasa terganggu karenanya,maka pengangkatan jaringan yang berlebihan dapat dikerjakan. • Duplikasi vulva Ini jarang sekali ditemukan.Bila ada,biasanya ditemukan pula kelainan-kelainan lain yang lebih berat,sehingga sehingga bayi itu tidak dapat hidup.

• Hipoplasi vulva Ditemukan bersamaan dengan genetalia interna yang juga kurang berkembang pada keadaan hipoesterogenisme,infatilisme,dll.Biasanya ciri-ciri seks sekunder juga tidak berkembang.Pepatah perancis mengatakan la vulve estle mirroir de l’ovair (vulva mencerminkan keadaan ovarim). • Kelainan Perineum Pada kloaka persistens karena septum urogenital tidak tumbuh,bayi tidak mempunyai lubang anus,atau anus bermuara dalam sinus urogenitalis,dan terdapat satu lubang dapat dari mana keluar air kencing dan feses. • Oedema Vulva Bisa timbul pada waktu hamil, biasanya sebagai gejala pre eklamsia akan tetapi dapat pula mempunyai sebab lain misalnya gangguan giza. Pada persalinan lama dengan penderita dibiarkan mengedan terus, dapat pula timbul oedema pada vulva. Kelainan ini umumnya jarang merupakan rintangan bagi kelahiran per vaginam. • Stenosis Vulva Biasanya terjadi sebagai akibat perlukaan dan radang yang menyebabkan ulkus-ulkus yang sembuh dengan parut-parut yang dapat menimbulakn kesulitan. Walaupun umumnya dapat diatasi dengan mengadakan episiotomi, yang cukup luas. Kelainan congenital pada vulva yang menutup sama sekali hingga hanya orifisium utrethra eksternum tampak dapat pula, terjadi. Penanganan ini ialah mengadakan sayatan median secukupnya untuk melahirkan kepala. • Kelainan Bawaan Atresia vulva dalam bentuk atresia hymenalis yang menyebabkan hematokolpos, hematimetra dan atresia vagina dapat menghalangi konsepsi. varises Wanita hamil sering mengeluh melebarnya pembuluh darah di tungkai, vagina, vulva dan wasir. Serta dapat menghilang setelah kelahiran. Hal ini karena reaksi system vena pembuluh darah seperti otot-otot di tempat lain melemah akibat hormone estroid. Bahaya varises dalam kehamilan dan persalinan adalah bila pecah dapat mengakibatkan

fatal dan dapat terjadi pula emboli udara. Varises yang pecah harus dijahit baik dalam kehamilan maupun setelah lahir. • Hematoma Pembuluh darah pecah sehingga hematoma dijaringan ikat yang renggang divulva, sekitar vagina atay ligamentum latum. Hematoma vulva dapat juga terjadi karena trauma misalnya jatuh terduduk pada tempat yang keras atau koitus kasar. Bila hematoma kecil resorbsi sendiri, bila besar harus insisi dan bekuan darah dikeluarkan. • Peradangan Peradangan vulva sering bersamaan dengan peradangan vagina dan dapat terjadi akibat infeksi spesifik, seperti sifilis, gonorea, trikomoniasis.Sifilis disebabkan oleh troponema palladium. Luka primer di vulva sering tidak disadari penderita dalam stadium 2 dijumpai kondiloma akuminata yaitu tonjolan kulit lebar-lebar dengan permukaan licin, basah, warna putih atau kelabu dan sangat infeksius. Wanita hamil fluor albus harus diperiksa kemungkinan lues di samping pemeriksaan gonorea, trikomoniasias dan kandidiasis. Gonorea dapat menyebabkan vulvovaginitis dalam kehamilan dengan keluhan fluor albus dan disuria.Bayi yang lahir dengan ibu yang menderita gonorea dapat mengalami blenora neonaturum. Trikomoniasis vaginalis yang disebabkan parasit golongan protozoa menimbulkan gejala fluor albus dan gatal. Pasangan pria dapat ditulari melalui persetubuhan dan sebaliknya dia dapat menulari pasangan wanita. Penularan dapat terjadi juga melalui handuk. • Kondiloma Akuminata Merupakan pertumbuhan pada kulit selaput lender yang menyerupai jengger ayam jago. Berlainan dengan kondiloma latum permukaan kasar papiler, tonjolan lebih tinggi, warnaya lebih gelap. Sebaiknya diobati sebelum bersalin, banyak penulis menganjurkan insisi dengan elektrocavteratau atau dengan tingtura podofilin. Kemungkinan residiv selalu ada penyebab rangsangan tidak berantas lebih dahulu atau penyakit primernya kambuh. • Fistula Fistula vesikovaginal atau fistula rectovaginal biasanya terjadi pada waktu bersalin baik sebagai tindakan operatif maupun akibat nekrosis tekanan. Tekanan lama antara kepala

dan tulang panggul gangguan sirkulasi sehingga terjadi kematian jaringan local dalam 5-10 hari lepas dan terjadi lubang. Akibatnya terjadi inkotenensia alvi. Fistula kecil yang tidak disertai infeksi dapat sembuh dengan sendirinya. Fistula yang sudah tertutup merupakan kontra indikasi per vaginam. • Etiologi / Faktor Predisposisi Etiologi terjadinya kanker vulva belum diketahui secara pasti, namun yang menjadi faktor terjadinya kanker vulva adalah penyakit menular seksual, diantaranya :
1. Penyakit menular seksual granulomatosa

2. Sifilis 3. Herpes hominis tipe II
4. Kondiloma akuminata 5. Infeksi dari HPV (virus yang menyebabkan kutil genetalia dan ditularkan melalui

hubungan sesksual (Price,2005;1299)
6. Pernah menderita kanker leher rahim atau kanker vagina

7. Diabetes 8. Obesitas 9. Hipertensi
10. UsiaTiga perempat penderita kanker vulva berusia diatas 50 tahun dan dua

pertiganya berusia diatas 70 tahun ketika kanker pertama kali terdiagnosis. Usia rata-rata penderita kanker invasif adalah 65-70 tahun.
11. Hubungan seksual pada usia dini 12. Berganti-ganti pasangan seksual

13. Merokok
14. Virus HIV menyebabkan kerusakan pada sistem kekebalan tubuh sehingga lebih

mudah mengalami infeksi HPV menahun
15. Golongan sosial-ekonomi rendah. Hal ini berhubungan dengan ketidakmampuan

dalam membiayai diri ke pelayanan kesehatan
16. Neoplasia intraepitel vulva (NIV) 17. Liken sklerosus. Penyakit ini menyebabkan kulit vulva menjadi tipis dan gatal.

18. Melanoma atau tahi lalat atipik pada kulit selain vulva. • Gejala Klinis

Gejala klinis dari kanker vulva adalah : 1. Pruritus lama (gejala utama kanker vulva) 2. Perdarahan 3. Rabas berbau busuk 4. Nyeri juga terkadang dapat timbul 5. Terdapat lesi awal yang tampak sebagai dermatitis kronis kemudian dapat ditemukan pertumbuhan benjolan yang terus tumbuh dan menjadi keras, mengalami ulserasi seperti bunga kol (Smeltzer,2002;1565) b. Vagina Pengertian Vagina (dari bahasa Latin yang makna literalnya "pelindung" atau "selongsong") atau puki adalah saluran berbentuk tabung yang menghubungkan uterus ke bagian luar tubuh pada mamalia dan marsupilia betina, atau ke kloaka pada burung betina, monotrem, dan beberapa jenis reptil.

Serangga dan beberapa jenis invertebrata juga memiliki vagina, yang merupakan bagian akhir dari oviduct. Vagina merupakan alat reproduksi pada mamalia betina, seperti halnya penis pada mamalia jantan.

Vagina menghasilkan berbagai macam sekresi seperti keringat, sebum, dan sekresi dari kelenjar Bartholin dan Skene pada vulva, cairan endometrial, dan oviductal (yang berubah sesuai dengan siklus haid), cervical mucus, sel exfoliated, dan sekresi pada dinding vagina itu sendiri, yang dapat meningkatkan gairah seksual. Vagina pada semua wanita mengeluarkan pyridine, squalene, urea, asam asetat, asam laktat, alkohol kompleks (termasuk kolesterol), glikol (termasuk propylene glikol) keton, dan aldehid-aldehid.

Tapi suatu asam kimia lebih detil dalam pengeluaran vagina membagi wanita dalam dua kelompok. Semua wanita menghasilkan asam asetat, tapi sepertiga dari itu juga

menghasilkan rangkaian pendek asam aliphatic. Rangkaian pendek asam aliphatic, yang termasuk asetik, propionic, isovaleric, isobutryc, propanoic, dan asam butanoic. Semua asam tersebut merupakan tingkat tajam dari zat kimia yang dihasilkan oleh spesies primata yang lain sebagai sinyal peraba/penciuman seksual. Walau tidak ada satupun yang pernah membuktikan peranan asam-asam tersebut dalam aturan hubungan pada manusia, beberapa peneliti lebih menganggap ini sebagai copullins dan pheromones pada manusia.

Vagina merupakan organ reproduksi wanita yang sangat rentan terhadap infeksi. Hal ini disebabkan batas antara uretra dengan anus sangat dekat, sehingga kuman penyakit seperti jamur, bakteri, parasit, maupun virus mudah masuk ke liang vagina. Untuk itu, wanita harus rajin merawat kebersihan wilayah pribadinya ini. Infeksi juga terjadi karena terganggunya kesimbangan ekosistem di vagina. Ekosistem vagina merupakan lingkaran kehidupan yang dipengaruhi oleh dua unsur utama, yaitu estrogen dan bakteri Lactobacillus atau bakteri baik. Di sini estrogen berperan dalam menentukan kadar zat gula sebagai simpanan energi dalam sel tubuh (glikogen).

Glikogen merupakan nutrisi dari Lactobacillus, yang akan dimetabolisme untuk pertumbuhannya. Sisa metabolisme kemudian menghasilkan asam laktat, yang menentukan suasana asam di dalam vagina, dengan potential Hydrogen (pH) di kisaran 3,8 — 4,2. Dengan tingkat keasaman ini, Lactobacillus akan subur dan bakteri patogen (jahat) akan mati.

Di dalam vagina terdapat berbagai macam bakteri, 95 persen Lactobacillus, 5 persen patogen. Dalam kondisi ekosistem vagina seimbang, bakteri patogen tidak akan mengganggu.

Bila keseimbangan itu terganggu, misalnya tingkat keasaman menurun, pertahanan alamiah juga akan turun, dan rentan mengalami infeksi. Ketidakseimbangan ekosistem vagina disebabkan banyak faktor. Di antaranya kontrasepsi oral, penyakit diabetes mellitus, antibiotika, darah haid, cairan sperma, penyemprotan cairan ke dalam vagina (douching), dan gangguan hormon seperti saat pubertas, kehamilan, atau menopause.
 Kelainan yang dapat menyebabkan distosia adalah :

• Septum vagina Sekat sagital divagina dapat ditemukan dibagian atas vagina .tidak jarang hal ini ditemukan dengan kelainan pda uterus,oleh karena ada gangguan dalam fusi atau kanalisasi kedua duktus Mulleri. Pada umumnya kelainan ini tidak menimbulkan keluhan pada yang bersangkutan,dan baru ditemukan pada pemeriksaan ginekologik.Darah haid juga keluar secara normal.Dispareuni dapat timbul,meskipun biasanya septum itu tidak dapat mengganggu koitus. Pada persalinan septum tersebut dapat robek spontan atau perlu disayat dan diikat.Tindakan tersebut dilakukan pula bila ada dispareuni. • Kelainan Vagina Pada aplasia vagina tidak ada vagina dan ditempatnya introitus vagina dan terdapat cekungan yang agak dangkal atau yang agak dalam.Terapi terdiri atas pembuatan vagina baru beberapa metode sudah dikembangkan untuk keperluan itu, operasi ini sebaiknya pada saat wanita bersangkutan akan menikah. Dengan demikian vagina dapat digunakan dan dapat dicegah bahwa vagina buatan dapat menyempit.

Pada atresia vagina terdapat gangguan dalam kanalisasi sehingga terdapat satu septum yang horizontal, bila penetupan vagina ini menyeluruh menstruasi timbul tapi darahnya tidak keluar, namun bila penutupan vagina tidak menyeluruh tidak akan timbul kesulitan kecuali mungkin pada partus kala II. • Stenosis Vagina Kongenital

Jarang terdapat , lebih sering ditemukan septum vagina yang memisahkan vagina secara lengkap atau tidak lengkap pada bagian kanan atau bagian kiri. Septum lengkap biasanya tidak menimbulkan distosia karena bagian vagina yang satu umumnya cukup lebar,baik untuk koitus maupun lahirnya janin.Septum tidak lengkap kadang-kadang

menahan turunnya kepala janin pada persalinan dan harus dipotong dahulu. Stenosis dapat terjadi karena parut-parut akibat perlukaan dan radang. Pada stenosis vagina yang tetap laku dalam kehamilan dan merupakan halangan untuk lahirnya janin perlu ditimbangkan seksio ceaserea. • Tumor Vagina Dapat merupakan rintangan bagi lahirnya janinm per vaginam, adanya tumor vagina bisa pula menyebabkan persalinan per vaginam dianggap mengandung terlampau banyak resiko. Tergantung dari jenis dan besarnya tumor perlu dipertimbangkan apakah persalinan dapat berlangsung secara per vaginam atau diselesaikan dengan seksio sesar. • Kista Vagina Kista vagina berasal dari duktus gartner atau duktus muller, letak lateral dalam vagina bagian proximal, ditengah, distal di bawah orifisium urethra eksterna. Bila kecil dan tidak ada keluhan dibiarkan tetapi bila besar dilakukan pembedahan. Marsupialisasi sebaiknya 3 bulan setelah lahir.

c. Uterus/Serviks Gagal dalam pembentukan Apabila satu duktus mulleri tidak terbentuk,terdapat uterus unikornis.Dalam hal ini vagina dan serviks bentuknya normal,sedangkan uterus hanya mempunyai satu tanduk serta satu tuba.Biasanya juga hanya jika satu ovarium,dan satu ginjal.

Apabila kedua duktus mulleri tidak terbentuk,maka uterus dan vagina dan uterus tidak ada,kecuali sepertiga bagian bawah vagina;kedua tuba tidak terbentuk atau terdapat rudimenter dengan adanya ovarium yang normal,ciri-ciri seks sekunder tampak normal,tetapi terdapat amenorea primer.Pemeriksaan dengan laparoskop dapat membantu menegakkan diagnosis. Jarang sekali ditemukan,bahwa hanya serviks tidak terbentuk sedangkan uterus dan vagina normal.Hal ini mengakibatkan ginatesia servikalis;kelainan bawaan ini amat jarang ditemukan.Gejala-gejalanya seperti genetrasia himenalis yakni adanya molimina menstrualia tiap bulan,dan kriptominorea dapat timbul hematometra yang makin lama makin membesar dan dapat diraba diatas simpisis,begtitu pula dapat hematosalpinks.mengalirnya darah haid ke rongga pelvis menimbulkan perasaan nyeri

yang mendorong penderita pergi ke dokter.dahulu pada

kelainan ini dikerjakan

histerektomi total.Dewasa ini dengan adanya antibiotika dapat di usahakan operasi rekonstruksi:menghubungkan ruang uterus dengan cara memakai pipa karet atau poliethilen.bila terjadi epitelisasi pada dinding lubang,terdapat hubungan tetap antara uterus dan vagina. Leher rahim (serviks) adalah bagian bawah uterus (rahim). Rahim memiliki 2 bagian. Bagian atas, disebut tubuh rahim, adalah tempat di mana bayi tumbuh. Leher rahim, di bagian bawah, menghubungkan tubuh rahim ke vagina, atau disebut juga jalan lahir. Kanker serviks adalah keganasan yang terjadi pada leher rahim. Kanker serviks disebut juga kanker leher rahim atau kanker mulut rahim dimulai pada lapisan serviks. Kanker serviks terbentuk sangat perlahan. Pertama, beberapa sel berubah dari normal. menjadi sel-sel pra-kanker dan kemudian menjadi sel kanker. Ini dapat terjadi bertahuntahun, tapi kadang-kadang terjadi lebih cepat. Perubahan ini sering disebut displasia. Mereka dapat ditemukan dengan tes Pap Smear dan dapat diobati untuk mencegah terjadinya kanker. Untuk dapat memahami kanker serviks, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu anatomi rahim wanita.

 Gangguan dalam mengalami fusi Kegagalan untuk bersatu seluruhnya atau sebagian dari kedua duktus muller merupakan kelompok kelainan yang paling sering dijumpai.Dapat dijumpai kelainankelainan sebagai berikut: Uterus terdiri atas 2 bagian yang simetris:
1. Terdapat satu uterus,akan tetapi di dalamnya terdapat dua ruangan yang dipisahkan

oleh suatu sekat.Sekat itu memisah kavum uteri seluruhnya (uterus septus) atau hanya sebagian (uterus subseptus) 2. Dari luar tampak 2 hemiuterus,masing-masing mempunyai kavum uteri sendiri,atau 1 cavum uteri dibagi dalam 2 bagian.
a) Uterus bikornis bikollis (uteri didelphys)

Dua bagian terpisah sama sekali,dan tidak jarang ditemukan bersamaan dua vagina atau satu dengan sekat. b) Uterus bikornis unikollis Uterus mempunyai satu serviks,akan tetapi terdapat 2 tanduk,masing-masing dengan 1 kavum uteri dan 1 tuba dan 1 ovarium. c) Uterus arkuatus Pada fundus uteri tampak cekungan,yang ke dalam diteruskan menjadi subseptum. Uterus terdiri atas 2 bagian yang tidak simetris Satu duktus muller berkembang normal,akan tetapi yang lain mengalami kelambatan danormal,dalam pertumbuhanya.Dalam hal ini hemiuterus tumbuh normal,sedang yang lain rudimenter. Tanduk rudimenter umumnya tidak berhubungangan dengan kavum uteri dari tanduk yang normal,dan endometriumnya berfungsi.Jika endometrrium dari tanduk rudimenter berfungsi dan ada hubungan antara kedua kavum,maka darah haid dari tanduk rudimenter dapat keluar melalui tanduk yang normal.jika

endometrium berfungsi dan tidak ada komunikasimaka darh haid berkumpul dalam tanduk rudimenter dan terjadi satu tumor. Pada tanduk rudimenter,walaupun jarang,ada kemungkinan nidasi ovum yang telah dibuahi.keadaan ini dapat menimbulkan gejala akut seperti kehamilan ektopik terganggu.

25% dari wanita dengan kelainan uterus kembar itu tidak mengalami kesukarankesukaran,dapat hamil biasa dan bersalin biasa pula.Akan tetapi ada kemungkinan terjadi dismenorea,menoragia,metroragia,dispareunia,dan infertilitas.Kadang-kadang perlu dilakukan tindakan operasi,jika terdapat hematometra dan hematosalpinks di tanduk rudimenter, 1. Kelainan bawaan uterus Secara embriologis uterus , vagina, servik dibentuk dari kedua duktus muller yang dalam pertumbuhan mudigah mengalami proses penyatuan. Kelaina bawaan dapat terjadi akibat gangguan dalam penyatuan, dalam berkembangnya kedua saluaran muller dan dalam kanalisasi. Uterus didelfis atau uterus duplek terjadi apabila kedua saluaran muller berkembang sendiri-sendiri tanpa penyatuan sedikitpun sehingga terdapat 2 saluran telur, 2 servik dan 2 vagina. Uterus subseptus terdiri atas 1 korpus uteri dengan septum yang tidak lengkap, 1 servik, 1 vagina cavum uteri kanan dan kiri terpisah secara tidak lengkap. Uterus arkuatus hanya mempunyai cekungan di fundus uteri, kelainan ini paling ringan dan sering dijumpai. Uterus bikornis unilateral rudimentarius terdiri atas 1 uterus dan disampingnya terdapat tanduk lain. Uterus unikornis terdiri atas 1 uterus, 1 servik yang berkembang dari satu saluran kanan dan kiri. Kelainan ini dapat menyebabkan abortus, kehamilan ektopik dan kelainan letak janin.

2. Kelainan pertumbuhan uterus

Alat kandungan terbentuk dari saluran Muller kanan dan kiri yang pada ujungnya bersatu akan membentuk vagina bagian atas dan uterus, sedangkan bagian yang tetap terpisah akan menjadi tuba. Gangguan pertumbuhan saluran Muller dapat menimbulkan aplasi atau hipoplasi alat kandungan, sedangkan gangguan persatuan saluran Muller menimbulkan berbagai kelainan dari alat kandungan.

- Uterus duplex Jika terjadi kehamilan pada salah satu bagian uterus, maka bagian yang lain akan ikut membesar. Karena lapisan otot kurang tebal maka dapat terjadi kelemahan His dan ruptur uteri. Bagian uterus yang ikut membesar itu dapat menghalangi jalan lahir. - Uterus bicornis Sering ditemukan letak sungsang yang tak dapat diversi. Mungkin terjadi abortus dan partus praematurus. Pada uterus bicornis, pembukaan dapat terganggu oleh bagian uterus yang membesar;kornu yang kosong ikut membesar dan dapat merupakan tumor yang menghalangi jalan lahir. Mungkin terjadi inertia uteri dan ruptur uteri. - Uterus subseptus Dapat menyebabkan letak lintang yang tak dapat diversi. Kalau placenta melekat pada septum maka disebut placenta accreta. Uterus subseptus dapat juga menjadi sebab abortus (habitualis). - Uterus arcuatus Uterus arcuatus dapat menyebabkan letak lintang.

- Uterus bicornis dengan kornu yang rudimenter Dapat terjadi kehamilan dalam kornu yang rudimenter yang sifat – sifatnya kehamilan ektopic. Kehamilan ini terjadi dengan migratio eksterna. Biasanya terjadi ruptur dari kornu setetlah bulan ketiga. Pada operasi, kornu yang rudimenter ini sebaiknya diekstirpasi.

3. Kelainan letak uterus - Anteversio uteri Kelainan letak pada uterus ke depan dijumpai pada perut gantung. Perut gantung terdapat pada multipara karena melemahnya dinding perut, terutama multipara gemuk, hal ini menghalangi masuknya kepala ke dalam panggul, pembukaan tidak lancar. Dalam persalinan tidur telentang, setiap ada his fundus dorong ke atas. (Harsary, 2008).

- Retrofleksio uteri Retroflexi uteri sering dijumpai pada wanita Indonesia dan tidak usah kita anggap sebagai hal yang patologis. Kalau terjadi kehamilan maka beberapa kemungkinan yang terjadi adalah : - Biasanya retroflexi terkoreksi secara spontan - Terjadi abortus - Terjadi inkarserasi dari rahim yang terus membesar didalam rongga panggul kecil : retroflexio uteri gravidi inkarserata.

Biasanya bila terjadi kehamilan, uterus dalam retroflexio secara berangsur – angsur akan menjadi lurus. Pelurusan ini dapat terhalang karena adanya perlekatan perlekatan antara alat kandungan dengan alat – alat sekitarnya, dan juga kalau promontorium sangat menonjol. (Sastrawinata, 1981) Kadang - kadang retroflexi uteri menyebabkan kemandulan karena kedua tuba tertekuk. Uterus gravidus yang bertumbuh terus bisa terkurung dalam rongga panggul disebut retrofleksio uteri gravidi inkarserata. Nasib kehamilan pada retrofleksio uteri dapat koreksi spontan, abortus, koreksi tidak lengkap, inkarserasi. (Harsary, 2008)

Apakah retroflexi dapat menyebabkan abortus masih disangsikan, tetapi pada retroflexi uteri gravidi inkarserata kemungkinan abortus lebih besar. Jika kehamilan terus berlangsung tanpa perbaikan letak rahim, maka akhirnya rahim yang membesar ini akan mengisi seluruh rongga panggul dan terjepit. Inkarserasi baru terjadi antara minggu ke 13 – 17. (Sastrawinata, 1981)  Gejala-gejalanya adalah : • Retensi urine sampai inkontinensia paradoksal. Keadaan ini dapat menimbulkan cystitis, pyelitis, pyelonefritis, dan uremia. Bahkan dapat terjadi ruptur dari kandung kemih yang mengakibatkan peritonitis yang membawa maut. • Tekanan pada alat-alat sekitarnya dapat menimbulkan perasaan nyeri, tenesmi, dan obstipasi.

• Dapat terjadi abortus karena kurang ruang.

Jika seorang wanita pada kehamilan muda mengeluh tidak dapat kencing harus selalu diingatkan kemungkinan retroflexi uteri gravidi. PENGOBATAN Sebelum minggu ke-12 retroflexi uteri gravidi tidak perlu dihiraukan, karena uterus biasanya memperbaiki letaknya sendiri. Pasien boleh dianjurkan posisi berlutut pada malam hari dan pagi hari selama 10 menit. Dengan letak demikian diharapkan uterus dapat jatuh kedepan.Jika pada minggu ke-12 uterus masih dalam posisi retroflexi uteri gravidi maka reposisi tangan diusahakan. Jika ternyata setelah beberapa hari uterus tetap jatuh ke belakang, maka setelah reposisi dipasang pessarium Hodge. Pessarium diangkat lagi setelah kehamilan mencapai 18 minggu. Jika sudah terjadi inkarserasi pasien harus diopname. Agar tidak terjadi perdarahan ex vacuo perlu dipasang dauer catheter dan kandung kemih dikosongkan berangsur-angsur. Kemudian diusahakan reposisi dari luar Namun, bila tidak berhasil maka reposisi operatif perlu dilakukan.

Konsep asuhan kebidanan
2.1.1 Pengkajian Data Tanggal Tempat : ........................ :......................... jam : ………………

a. Data Subyektif 1. Biodata : agar tidak ada kekeliruan bila ada kesamaan nama : mengetahui resiko kehamilan : untuk memberi dukungan spiritual : untuk memberikan bimbingan sesuai pendidikan.. : mengetahui taraf hidup sosial ekonomi serta pekerjaan tersebut Alamat 2. :mempermudah pada waktu kunjungan rumah Keluhan Utama Nama ibu Umur Agama Pendidikan Pekerjaan

Apa keluhan yang dirasakan ibu saat petugas melakukan pegkajian. 3. Riwayat kesehatan sekarang

Keadaan klien,keluhan-keluhan yang dirasakan saat ini. 4. Riwayat penyakit yang lalu

Pasien ibu mengatakan tidak pernah mengalami penyakit seperti yang di derita saat ini dan tidak pernah menderita penyakit menahun,sistemik dan kronis. 5. Riwayat Keluarga

Biasanya dalam keluarga mempunyai penyakit menurun, menahun, dan menular yang dapat mempengaruhi abortus 6. Riwayat haid : 12 tahun : 28 hari

Menarche Siklus haid

Lama haid Banyaknya Dismenorea Lochea 7. Nikah Lama menikah

: 6-7 hari : 3-4 softek / hari : hari I : rubra

Riwayat Perkawinan :Sah :± 3th :22 th

Umur pertama kali nikah 8. Riwayat KB

Apakah ibu sudah pernah mengikuti KB / belum 9. a. b. c. BAB BAK 11. Pola istirahat Apakah ibu sudah bisa tidur / belum 12. Personal hygenis Pola kebiasaan sehari-hari Pola Nutrisi Tidak ada gangguan dalam eliminasi Pola aktivitas :2x/hari :6-7x/hari

10. Eleminasi sudah dapat BAB / BAK

Mandi Ganti pembalut Gosok gigi Ganti celana dalam 13. Aktivitas

:2 x / hari :4x/hari :3x/hari :3-4x/hari

Mengerjakan pekerjaan rumah tangga,aktivitas kebiasaan sehari-hari.

14. -

Keadaan psikososial Psikologi Ibu merasa cemas dengan keadaannya saat ini Sosial

Tidak ada masalah b. Data Obyektif 1. Pemeriksaan umum K/U Kesadaran TD Nadi RR Suhu 2. Pemeriksaan fisik Inspeksi Muka Mata Hidung : Pucat, ibu nampak cemas : konjungtiva pucat, sclera tidak ikterus : tidak ada pernafasan cuping hidung : baik s/d lemah : composmentis :
120

/90 mmHg

: 70 – 90 x/menit : 16 – 20 x / menit : 36-37,30 C

Mulut Leher Dada

: tidak pucat, tidak ada stomatitis : tidak ada pembesaran vena jugularis dan kelenjar tyroid : tidak ada retraksi dinding dada, putting susu menonjol, areola mamae

Abdomen Genetalia

: tidak ada bekas operasi : terdapat lochea rubra, sanguinalenta / alba, perdarahan ± 150 cc

Ekstremitas :tidak terdapat oedema dan varises Palpasi Leher Dada Abdomen : tidak ada pembesaran vena jugularis dan elenjar tyroid : tidak ada nyeri tekan, tidak keluar colostrum : terdapat nyeri tekan pada perut bagian bawah TFU 3 jari atas simpisis, UC baik Ekstremitas : tidak oedema, tugor baik Auskultasi Perusi 2.1.2 : normal : reflek patella pada kaki (+)

Interpretasi data dasar Dx Ds Do : kanker vulva : : K/U Kesadaran : ibu mengatakan nyeri ketika berkemih nyeri ketika melakukan : baik s/d lemah : composmentis

hubungan seksual,.

TD Nadi RR Suhu

:

120

/90 mmHg

: 70 – 90 x/menit : 16 – 20 x / menit : 36-37,30 C axilla

Pemeriksaan fisik Genetalia Vulva/vagina Ada nyeri tekan, Kandung kemih Hematuri Disuria Retensi urine :ada :nyeri :ada :terdapat nyeri tekan pada perut bagian bawah : .

Abdomen

2.1.5 IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL Ada masalah potensial(KANKER VULVA)

2.1.3

Identifikasi Kebutuhan Segera kolaborasi dengan dokter Pembedahan Penyinaran kemoterapi jam:

2.1.4

Intervensi Tanggal:

Dx

:Kanker vulva

1. Lakukan Pendekatan terapeutik dengan ibu R/. Pendekatan yang baik menunjang dalam perolehan data yang lengkap serta peningkatan kerjasama ibu dalam pemberian tindakan. 2. Jelaskan pada ibu tentang keadaannya saat ini dan tindakan yang diberikan. R/. Ibu mengetahui kondisi dirinya sehingga kecemasan ibu berkurang

3. Anjurkan ibu untuk istirahat yang cukup R/menjaga kondisi tubuh stabil. 4. Jelaskan pada ibu mengenai ketidak nyamanan pada penyakit yang dideritanya saat ini R/untuk menambah pengetahuan ibu. 5. Anjurkan pada ibu untuk kontrol 1 minggu lagi. R/. Memudahkan petugas dalam memantau keadaan ibu. 2.1.5 Implementasi

Tanggal : 16-11-2011 Jam :14:20 Dx : Kanker vulva 1. melakukan Pendekatan terapeutik dengan ibu agar ibu lebih kooperatif. 2. menjelaskan pada ibu tentang keadaannya saat ini dan tindakan yang diberikan. 3. menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup, siang 2jam, malam 8jam 4. menjelaskan pada ibu mengenai ketidak nyamanan pada penyakit yang dideritanya saat ini misal ketika berhubungan seksual dengan suami terasa nyeri, dibuat kencing nyeri. 5. menganjurkan pada ibu untuk kontrol 1 minggu lagi atau jika ada keluhan. 2.1.6 Evaluasi :16-11-2012

Tanggal

Jam DX

:14:20 : Kanker Vulva

S : Ibu mengatakan sering merasa nyeri pada bagian kemaluannya,ibu mengatakan susah tidur sejak sering terasa nyeri, nyeri ketika berkemih,nyeri ketika melakukan hubungan seksual.

O : ibu dapat mengulangi kembali penjelasan yang telah diberikan. K/U Kesadaran TD Nadi RR Suhu A :KANKER VULVA P : -berikan asuhan pada ibu mengenai penyakit yang di derita -persiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk menolong ibu -Anjurkan pada ibu untuk kontrol 1 minggu lagi. : baik s/d lemah : composmentis :
120

/90 mmHg

: 70 – 90 x/menit : 16 – 20 x / menit : 36-37,30 C axilla

TINJAUAN KASUS
Tanggal masuk Tanggal pengkajian/jam Tempat I. Pengkajian :BPS :25-3-2011 : 16-11-2011/14:20

A. Data Subyektif

Nama UmuR Agama Pendidikan Suku bangsa Pekerjaan Alamat rumah bale kmb a. Keluhan Utama

:Ny. “S” :25 tahun :Islam :SMA : Jawa :Swasta :Condet bale kmb

Ny S Nama Umur Agama PendidikaN Suku bangsa Pekerjaan Alamat rumah

:Tn.” I “ :30 tahun :Islam : SMA :Sumatra :Karyawan :Condet

Ibu mengatakan sering merasa nyeri pada bagian kemaluannya,ibu mengatakan susah tidur sejak sering terasa nyeri, nyeri ketika berkemih,nyeri ketika melakukan hubungan seksual, b. Riwayat Kesehatan Sekarang Ibu mengatakan sekarang nyeri saat kencing. c. Riwayat Kesehatan yang lalu Penyakit yg pernah di derita : ibu mengatakan tidak pernah mengalami penyakit seperti yang di derita saat ini dan tidak pernah menderita penyakit menahun,sistemik dan kronis.

d. Riwayat Penyakit menular / keturunan: ibu mengatakan tidak pernah menderita

penyakit.DM,Tipoid,Hepatitis,Hipertensi,Penyakit jantung koroner,TBC/dll. e. Riwayat kesehatan keluarga: Ditanyakan pada ibu dalam keluarga menderita penyakit menurun(Hipertensi,DM,asma) penyakit menular seperti (hepatitis,TBC,HIV/AIDS) dan penyakit sistemik (ginjal,jantung). f. Riwayat Perkawinan Status perkawinan Berapa kali Nikah g. Riwayat KB alat kontrasepsi yang digunakan sebelumnya: ibu mengatakan belum pernah menggunakan alat kontrasepsi apapun. h. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari : Bubur ayam lengkap dan buah, segelas susu i. Eleminasi sudah dapat BAB / BAK BAB BAK j. Pola istirahat Ibu mengatakan belum dapat tidur nyenyak k. Personal hygenis Mandi Ganti pembalut Gosok gigi :2 x / hari :4x/hari :3x/hari :2x/hari :6-7x/hari : Menikah : 1 x Lamanya 3 thn

Ganti celana dalam

:3-4x/hari

l. Aktivitas Ibu mengatakan mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu rumah,mengepel lantai,mencuci piring,mencuci baju. m. Kehidupan sosial budaya Kebiasaan pantang makanan : tidak ada
n. Data psikososial

Kehadiran anggota keluarga untuk membantu ibu dirumah ada yang membantu mengurus pekerjaan rumah Pembuat keputusan di rumah Kebiasaan minum alcohol Pola. Hub. Ibu, suami dan keluarga Kehidupan spiritual dan ekonomi keluarga B.DATA OBJECTIVE I. Pemeriksaan Fisik Tekanan Darah Pernafasan K/U ibU NadI Suhu 1. 2. 3. 4. : 110/60 : 20 x/mt : Composmentis : 88/x/mt : 36.50C Kepala Rambut Kebersihan (bersih), Rontok (normal) Muka pucat, tidak pucat, oedema, tidak oedema Mata, konjutiva normal, sclera merah jambu. Mulut dan gigi Karies Stomatitis :tidak ada :tidak ada - Perdarahan gusi - Lidah bersih/kotor :tidak ada :tidak ada : Suami : tidak pernah : baik : cukup baik

5. -

Telinga Serumen Pengeluaran :tidak ada :tidak ada

- cairan 6. 7.   Leher

Pembesaran thyroid Pembesar vena jugolaris Pembesaran kelenjar limf Dada Bentuk simetris / asimetris Mamae rada Puting susu Menonjol Datar Bersih Colostrums sudah keluar Pembesaran Abdomen Inspeksi LinEa alba Bekas luka oprasi Genetalia Ada nyeri tekan,ada oedema, :tampak

: tidak ada : tidak ada : tidak ada

ada benjolan

 8.  9.

hyperpigmentasi mamae simetris

:tidak tampak

- Vulva/vagina

- Kandung kemih Hematuri Disuria Retensi urine :ada :nyeri :

10. Extremitas atas dan bawah - Oedema - Kemerahan - Varises - Reflex II. :tidak ada :tidak ada :tidak ada :tidak ada - Kekakuan otot / sendi :tidak ada

INTERPRETASI DATA DX DS DO :Kanker vulva : ibu mengatakan nyeri ketika berkemih nyeri ketika melakukan hubungan seksual,. :ibu mengerti tentang apa yang dijelaskan oleh petugas.

III.

IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL Ada masalah potensial(KANKER VULVA)

IV.

IDENTIFIKASI DAN MENETAPKAN KEBUTUHAN SEGERA kolaborasi dengan dokter Pembedahan Penyinaran Kemoterapi

V.

INTERVENSI

1. Lakukan Pendekatan terapeutik dengan ibu

R/. Pendekatan yang baik menunjang dalam perolehan data yang lengkap serta peningkatan kerjasama ibu dalam pemberian tindakan.

2. Jelaskan pada ibu tentang keadaannya saat ini dan tindakan yang diberikan. R/. Ibu mengetahui kondisi dirinya sehingga kecemasan ibu berkurang 3. Anjurkan ibu untuk istirahat yang cukup R/menjaga kondisi tubuh stabil. 4. Jelaskan pada ibu mengenai ketidak nyamanan pada penyakit yang dideritanya saat ini R/untuk menambah pengetahuan ibu. 5. Anjurkan pada ibu untuk kontrol 1 minggu lagi. R/. Memudahkan petugas dalam memantau keadaan ibu. VI. IMPLEMENTASI

Tanggal : 16-11-2011 Jam :14:20 Dx : Kanker vulva 1. kooperatif. 2. yang diberikan. 3. malam 8jam 4. menjelaskan pada ibu mengenai ketidak nyamanan pada penyakit yang dideritanya saat ini misal ketika berhubungan seksual dengan suami terasa nyeri, dibuat kencing nyeri. menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup, siang 2jam, menjelaskan pada ibu tentang keadaannya saat ini dan tindakan melakukan Pendekatan terapeutik dengan ibu agar ibu lebih

5. ada keluhan. VII. Evaluasi :16-11-2012 :14:20 : Kanker Vulva

menganjurkan pada ibu untuk kontrol 1 minggu lagi atau jika

Tanggal Jam DX

S : Ibu mengatakan sering merasa nyeri pada bagian kemaluannya,ibu mengatakan susah tidur sejak sering terasa nyeri, nyeri ketika berkemih,nyeri ketika melakukan hubungan seksual. O : ibu dapat mengulangi kembali penjelasan yang telah diberikan. Tekanan Darah Pernafasan K/U ibU NadI Suhu A :KANKER VULVA P :-berikan asuhan pada ibu mengenai penyakit yang di derita -persiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk menolong ibu -Anjurkan pada ibu untuk kontrol 1 minggu lagi. : 110/60 : 20 x/mt : Composmentis : 88/x/mt : 36.50C

DAFTAR PUSTAKA  http://www.webmd.com/sexual-conditions/tc/bacterial-vaginosis-treatment-overview  http://healthlob.com/2011/06/risk-complication-bacterial-vaginosis/  Wiknjosastro Hanifa. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
 Prawiroharjo Sarwono, 1999. Ilmu Kandungan, Jakarta :Yayasan Bina Pustaka– Sarwono

Prawiroharjo.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->