P. 1
Dampak Buruk Doktrin-Doktrin Islam

Dampak Buruk Doktrin-Doktrin Islam

|Views: 1,573|Likes:
Published by Ryan Ananda
Buku yang akan membawakan Anda sudut pandang yang berbeda dari doktrin-doktrin para ulama yang selama ini nyatanya banyak disalah pahami sehingga umat Islam terjebak dalam pola pikir jahiliyah
Buku yang akan membawakan Anda sudut pandang yang berbeda dari doktrin-doktrin para ulama yang selama ini nyatanya banyak disalah pahami sehingga umat Islam terjebak dalam pola pikir jahiliyah

More info:

Published by: Ryan Ananda on Aug 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

12/08/2012

pdf

Sections

BAGAIMANA HARUS BERSERAH DIRI PADA TUHAN

Berserah diri hakekatnya sama dengan “tapa ngeli” menghayutkan diri pada “aliran
sungai” kehendak Hyang Widhi (kareping rahsa) yang akan menjamin kita sampai pada
muara keberuntungan memasuki samodra anugrah Tuhan. Tapi orang kadang tanpa sadar
telah salah pilih, menghanyutkan diri pada “air bah” (rahsaning karep/keinginan jasad)
sehingga arahnya berbalik meninggalkan samodra anugrah Tuhan menuju ke daratan,
menyapu dan merusak apa saja yang dilewatinya. Menerjang wewaler, merusak kedamaian
dan ketentraman, tata krama, aturan, dan segala macam tatanan.

Itupun, bagi yang dapat melakukan “tapa ngeli” tetap harus sambil berenang (eling dan
waspadha) agar tidak tewas tenggelam. Bukan berarti, kita menyerahkan 100 % kemauan
(inisiatif) kita kepada Tuhan. Karena sikap ini sama saja membangun sikap FATALISTIS.
Lantas menganggap nasib buruk, kegagalan, penderitaan, kesulitan yang menimpa dirinya
sebagai takdir Tuhan. Secara tidak sadar sikap itu seperti halnya mengkambing hitamkan
Tuhan dan menafikkan tugas ihtiar manusia. Berserah diri 100% artinya kita tetap memiliki
inisiatif untuk berjuang dan berusaha, hanya saja harus menempuh cara-cara atau prosedur
yang mentatati rumus-rumus (kodrat) Tuhan. Sebab letak kodrat ada di dalam prosedur
dan cara-caranya, bukan pada garis nasib.
Merubah nasib itu menjadi tanggungjawab kita
sendiri. Hanya saja tata cara dan rumus-rumus merubah nasib, sudah disediakan Tuhan. Bila
kita menggunakan rumus Tuhan, pastilah akan menuai sukses besar. Sebaliknya akan
menuai kerusakan diri sendiri, orang lain, dan bumi. Manusia jenis inilah yang menjadi
seteru Tuhan.

10

Contoh rumus-rumus Tuhan/hukum alam/kodrat di alam semesta ialah “hukum sebab-
akibat
”. Barang siapa menanam maka mengetam, atau dalam terminologi jawa “sopo
nggawe bakal nganggo”. bahwa sesuatu yang sudah seharusnya menjadi milik Anda tidak
dapat dirampok, ditunda, atau dihentikan orang lain. Dan jika kita cermati masih banyak
lainnya, kuncinya ada pada kesadaran masing-masing manusia dalam memahami hukum
alam yang memang sudah disediakan oleh Yang Maha Bijaksana.

“Proses tetap menjadi tugas utama manusia”

Kegagalan bisa jadi karena manusia tidak mentaati rumus Tuhan. Atau Tuhan sengaja
menggagalkan upaya manusia sebab Tuhan Maha mengetahui dan selalu menentukan
yang terbaik untuk manusia
.

Hidup ibarat seni, perlu manajemen seni untuk menjalankan irama kehidupan sehari-hari
sesuai kehedak Tuhan. Kejadian yang sama belum tentu memiliki makna dan hikmah yang
sama pula. Itulah sulitnya menerjemahkan kehendak Tuhan, karna Tuhan “bekerja” dengan
cara yang misterius. Akan tetapi Tuhan Maha Adil, telah memberikan instrumen dalam jati
diri kita berupa rahsa sejati dan guru sejati, sebagai alat paling canggih yang dapat
menangkap bahasa isyarat dan kehendak Tuhan.
Sayangnya masih banyak orang yang
belum mengenali instrumen dalam diri pribadi setiap manusia tersebut.

Kodrat meliputi rumus-rumus ilmu Tuhan yang Mahaluas tak terbatas. Discovery,
penemuan ilmiah bidang sains, teknologi dan inovasi, teori-teori filsafat, sosial ekonomi,
politik, psikologi, kedokteran merupakan bukti nyata kesuksesan manusia dalam
mengejawantah rumus-rumus (kodrat) dan kehendak Tuhan. Bahkan banyak di antara
tokoh penemu sains dan teknologi, temuan mereka berkat diawali oleh sebuah ilham atau
wisik gaib.
Kadang dengan didahului oleh kejadian unik yang menjadi jalan penunjuk ke arah
penemuan baru. Dalam bahasa yang lebih ilmiah disebut sebagai talenta atau bakat alami
(ILMU LADUNI). Seperti Albert Einstein misalnya, ia dengan gamblang menyatakan :

"The intuitive mind is a sacred gift and the rational mind is a faithful servant. we
have creatd a society that honors the servant and has forgotten the gift"

yang kurang lebih jika diterjemahkan dalam bahasa indonesia,“INTUISI adalah anugerah
suci,dan pikiran rasional adalah budak yang penurut.selama ini kita telah mencipatakan
lingkungan yang memberi kemuliaan pada budak (baca : pikiran rasional) sehingga
mengesampingkan akan anugerah intuisi”.Jadi, dari sini kita bisa memahami bahwa intusi
mengambil peranan penting dalam datangnya suatu ilham atau wisik.
Seorang ilmuwan penemu, tidak akan tergantung apa sukunya, bangsanya, bahkan
agamanya.Inilah salah satu bukti jika Tuhan itu tidak primordial, anti sektarian dan
puritan.
Tapi mengapa ya manusia sering kebangeten dengan berulah dan bertabiat
kontraversi dengan “sikap” Tuhan tersebut ?

Sebagai bangsa yang agamis, harus berani jujur mengakui, telah kalah langkah dari orang-
orang dan bangsa yang justru sering dianggap sekuler dan kafir yang kenyataannya mampu
membuktikan diri berhasil menangkap rumus-rumus (kodrat) Tuhan. Hal ini terjadi mungkin

11

karena orang sibuk bertengkar gara-gara perbedaan nilai-nilai pada tataran syari’at atau
“kulit”, sekedar “baju” . Sehingga hidupnya selalu dirundung rasa curiga mencurigai sesama
(su’udhon). Manakah yang lebih religius ? Mana pula yang sekedar agamis ? Jika kita tetap
negatif thinking dan menutup mata, jangan menyalahkan siapa-siapa bila selamanya
ketinggalan dalam segala hal dan jatuh dalam keterpurukan. Padahal, kenyataannya orang
yang dapat meraih kemajuan dan kemuliaan hidup, adalah orang yang selalu positif thinking
(khusnudhon). Sebaliknya, tiada bosan-bosannya mengkritik diri sendiri.

1.3 Pasrah Atau Fatalis kah Diri Anda ??

Mengukur Kesadaran Diri

PASRAH

PASRAH, adalah kata-kata yang tak mudah dipahami. Banyak orang salah kaprah
mengartikan makna pasrah yang dipahami sebagai sikap melenyapkan segala kemauan,
keinginan, inisiatif, dan kehendak. Yang seperti ini sudah termasuk ke dalam terminologi
FATALISME yang rentan sekali terhadap sikap putus asa. Tanpa disadari keputus-asaan akan
mudah membuat siapapun mudah tergelincir pada sindrom radikalisme, ekstrimisme, dan
ekslusivisme.

Pasrah berhubungan dengan penyelarasan sikap dan perbuatan diri dengan kehendak
alam semesta
alias kehendak tuhan. Pasrah bukan bermakna sikap pasif dan tanpa usaha.
Justru pasrah di dalamnya termaktub suatu usaha sekuat tenaga, semaksimalnya agar
supaya sikap dan perbuatan kita selaras dan sinergis dengan hukum alam. Sehingga di
antara jagad kecil atau mikrokosmos dengan jagad besar atau makrokosmos tercipta
hubungan yang harmonis. Dan begitulah hakekatnya orang yang disebut tunduk patuh
kepada Tuhan. Sebaliknya, radikalisme, ekstrimisme, mengarah pada kekerasan dan
penghancuran antar sesama manusia, sudah termasuk ke dalam kategori bertentangan
dengan hukum/kodrat alam yang bersifat sebaliknya, selalu harmonis berada dalam hukum
keseimbangan alam semesta.

FATALISME

Fatalisme adalah faham atau cara pandang hidup, disebut pula prinsip dalam menjalani
kehidupan. Secara sosiologis fatalistis menunjuk sikap seseorang yang selalu menghilangkan
peran dan inisiatif diri sendiri secara mutlak, terutama pada saat menghadapi problema
kehidupan. Lantas di mana kehendak diri atau self ? Musnah ditelan oleh suatu paham akan
kemutlakan “kehendak Tuhan”! Bila seseorang terlalu pasrah dalam segala hal sampai-
sampai kehilangan inisiatifnya, maka sikap inilah disebut fatalis. Sikap fatalis yang telah
menjadi prinsip menjalani hidup sehari-hari, berubah menjadi paham fatalisme. Dalam
paham fatalisme, secara sadar atau tidak seseorang menyangka suatu keadaan sudah

12

dikuasai oleh nasib dan tidak bisa dirubahnya tanpa kehendak Tuhan. Bahkan pandangan
fatalisme yang paling ekstrim menganggap segala nasib baik dan buruk mutlak datang dari
kehendak Tuhan. Manusia tidak memiliki celah sedikitpun untuk merubahnya. Dalam
khasanah agama, sikap fatalistik berkaitan dengan cara pandang (mind set) seseorang
terhadap pemaknaan takdir atau kehendak Tuhan yang dipahami dengan salah kaprah.

Ironisnya, sikap fatalistis biasanya justru bermula dari cara penafsiran akan ajaran suatu
agama. Atau pola-pikir yang sudah terpola oleh doktrin agama yang tidak dipahami secara
esensial/hakekat. Sikap fatalis akan muncul bilamana seseorang memahami bahwa karsa
atau kehendak dalam kehidupan ini mutlak merupakan kehendak Tuhan. Tak ada gerak-
gerik sekecil apapun yang bukan kehendak Tuhan.

Sikap seorang fatalis menganggap semua keinginan manusia sekecil dan seburuk apapun
tidaklah mandiri, kecuali sudah menjadi determinasi kekuasaan Tuhan. Bahkan pada tingkat
ekstrim, orang-orang tipe fatalis akan menganggap “kemutlakan Tuhan” telah meniadakan
peran individu sebagai makhluk hidup yang memiliki kehendak mandiri, dan memiliki
kemampuan untuk memilih. Misalnya anda garuk-garuk kepala pada jam 23.09 malam
Jumat, tanggal 21 Agustus, merupakan kejadian yang sudah merupakan ketentuan Tuhan.
Tuhan mengatur seekor nyamuk supaya terbang dari comberan lalu menggigit pantat anda,
kemudian anda menepuk nyamuk tersebut pada jam 23.07 wit. Seorang fatalis akan
menganggap peristiwa itu sudah menjadi KODRAT TUHAN. Daun yang gugur dari ranting
pohon pada jam 23.56 pun dipahami sebagai kodrat dan iradat (ketentuan dan kehendak)
Tuhan saat itu. Artinya Tuhan telah menentukan peristiwa di mana anda menepuk nyamuk
pada jam tersebut serta gugurnya daun dari ranting pada jam tersebut.Cara berfikir
demikian inilah yang menjadi terkesan sangat aneh
!

LANTAS BAGAIMANA MEMAHAMI KODRAT ?

Kodrat saya pahami tak ubahnya hukum alam yang di dalamnya terkandung rumus-rumus
alam.Dengan kata lain, Tuhan hanya menciptakan rumus-rumus untuk segala kejadian.
Hukum sebab-akibat adalah salah satu contohnya.Rumus-rumus itu sebagian kecil telah
diketemukan manusia sejak zaman paleolitikum, mezolitikum hingga neolitikum. Hasil
temuan manusia jika dibukukan sebagai hasil penemuan manusia maka jadilah ilmu
pengetahuan. Jika dibukukan dengan klaim atas nama Tuhan, jadilah buku yang disucikan
dan dikeramatkan. Bedanya, ilmu pengetahuan butuh verifikasi, pengujian secara ilmiah,
terbuka untuk dikritik agar mencapai kesempurnaan pemahaman akan rumus-rumus Tuhan
yang berlaku. Sedangkan buku yang dikeramatkan justru bersifat anti kritik, tabu untuk
diperdebatkan, dan tidak butuh verifikasi atau uji kebenaran.

CHAOS dalam MEMAHAMI KODRAT

Kembali ke pokok bahasan, jika dianalogikan, kodrat bagaikan “karpet merah” yang musti
dilalui manusia agar selamat dan sentausa menggapai kemuliaan hidup. Sebaliknya, orang
yang enggan melewati “karpet merah” itu hidupnya akan mengalami sengsara dan gagal
meraih kemuliaan lahir dan batinnya. Kodrat bisa saja bersifat pasif, yang aktif tentu saja
manusianya. Manusia aktif untuk menentukan pilihannya secara tepat. Ketepatan memilih

13

ditentukan kecermatannya memahami rumus-rumus hukum alam. Itulah makna memahami
sejatinya hidup.

“Gusti iku mahawicaksana, nanging menungso ora biso hanggayuh kawicaksananing
Gusti”

Tuhan itu mahabijaksana, tetapi manusia sering gagal memahami kebijaksanaan Tuhan.
Sehingga kebijaksanaan Tuhan yang Maha luas tiada batas, menjadi sesempit nalar manusia,
lebih parah lagi dipersempit oleh doktrin (dogma-dogma) yang bertebaran menghipnotis
mayoritas masyarakat dunia. Kesadaran spiritual manusia tak bisa berkembang sebab selalu
terkurung di dalam kapsul kesadaran semu, kesadaran hasil indoktrinasi para saleh. Ironis
sekali! Seharusnya dogma bertujuan memerdekakan manusia, dan membuka kesadaran
spiritual seluas-luasnya, akan tetapi kenyataannya justru sebaliknya, doktrin menghegemoni
manusia, dan membelenggu kesadaran spiritual. Mengapa demikian ? Agama tak ubahnya
parpol yang berorientasi mengejar kekuasaan yang diperoleh dari sisi KUANTITAS, yakni
mencari pengikut sebanyaknya guna memperkuat barisan. Padahal tujuan semula agama
adalah untuk memerdekakan individu, menggapai kualitas kesadaran spiritual yang lebih
baik untuk menggapai kualitas hidup yang lebih baik pula. Namun kini, telah terjadi chaos
(kekacauan) dalam kesadaran spiritual beragama. Serba kebalik (wolak-waliking jaman).

Banyak orang tidak menyadari jika dirinya sedang tidak sadar. Yang sadar dianggap tak

sadar, yang tak sadar merasa dirinya sadar.

FATALISME & PENYAKIT JIWA

Kapsul kesadaran berakibat fatal. Di antaranya adalah fanatisme dan sikap fatalis. Sikap
fatalis menenggelamkan segala kehendak seseorang. Jika sikap ini terus-menerus dijadikan
pedoman hidup, setiap individu fatalis akan kehilangan cipta dan karsanya. Lantas ia
cenderung berpangku-tangan menunggu-nunggu kehendak Tuhan. Secara tidak langsung
sikap fatalis akan menimbulkan makna yang bisa di mana manusia sekedar menjadi obyek
penderita. Di samping itu tanpa di sadari justru menimbulkan pemahaman seolah manusia
bersikap tidak mau disalahkan, dan tidak mau melakukan instrospeksi diri akan keadaan
nasib buruknya. Apabila kita mengerjakan pekerjaan dengan ceroboh, lalu mengalami
kegagalan fatal, hal itu tetap dianggap sebagai kehendak Tuhan. Misalnya bila terjadi
musibah kapal tenggelam gara-gara kelebihan penumpang, serta-merta dianggap sebagai
kehendak Tuhan. Atau misalnya terjadi kasus jebolnya tanggul waduk Situ Gintung yang
menelan korban lebih dari 120 orang, lantas orang mengatakan,” musibah itu sudah
direncanakan Tuhan” untuk memberi cobaan kepada umat manusia yang beriman. Kenapa
orang tidak berkata sebaliknya,”..oh, musibah itu merupakan peringatan atau teguran tuhan
kepada umat manusia yang sudah tidak eling dan waspada. Jika kita mau instropeksi,
jebolnya tanggul Situ Gintung disebabkan oleh ulah para pejabat yang berwenang teledor
melakukan perawatan tanggul. Dana anggarannya sengaja disusutkan dari alokasi APBD,
atau malah diselewengkan sehingga rehabilitasi tanggul menjadi tertunda-tunda hingga
musibah benar-benar terjadi.

14

Coba kita renungkan bersama. Kenapa banyak orang menggunakan jalur hijau dan
wilayah resapan air sebagai pemukiman yang padat. Bukankah hal itu sebagai perbuatan
MELAWAN KODRAT ALAM (Tuhan) ??!! Kenapa banyak orang diwawancara televisi
berpendapat bahwa musibah itu dikatakan sudah menjadi kehendak dan rencana Tuhan ?
Waduh…jahat bener Tuhan demikian?? Apakah Tuhan berencana menciptakan para
koruptor dan para penyeleweng anggaran pembangunan ? Apakah Tuhan berencana
membuat pejabat yang ceroboh ? Apakah Tuhan merencanakan sebanyak 120 orang bakal
mati konyol menjadi korban kecerobohan segelintir pejabat ?

Kemutlakan kehendak Tuhan biasanya tertanam begitu kuat melalui doktrin yang
berkesinambungan sejak masih usia kanak-kanak. Wajar jika doktrin kemutlakan tersebut
akhirnya tertancap kuat dalam alam pikiran bawah sadar. Namun jika kemutlakan Tuhan
masih saja dipahami dengan pola pikir di atas, maka tanpa sadar pola pikir itu kian dekat
dengan virus fatalisme yang erat dengan “gangguan kejiwaan”. Cobalah bersama-sama kita
melakukan rehabilitasi atas gangguan kejiwaan itu. BUKAN BEGITU CARANYA MANUSIA
PASRAH kepada tuhan.

PASRAH (TAPA NGELI)

Pasrah merupakan upaya manusia untuk menselaraskan, harmonisasi dan sinergisasi
antara perilakunya dengan kodrat alam atau hukum alam yang terdapat di dalam semesta
raya ini. Kodrat/hukum alam itulah yang dimaksud dengan aturan tuhan. Berbeda dengan
fatalistis, “tapa ngeli” merupakan prinsip berserah diri atau selaras dan sinergis dengan
“kebijaksanaan” hukum alam (Tuhan). Tapa ngeli dapat “bekerja” secara efektif menjadi
pedoman perilaku dan perbuatan pada saat seseorang menghadapi masalah berat atau
dalam situasi yang serba gambling dan penuh resiko. Pada saat menghadapi kesulitan hidup
yang sulit untuk dijabarkan dan dianalisa apa yang sesungguhnya terjadi, tanpa bantuan dan
share dari siapapun, orang biasanya terjebak pada suatu keadaan yang serba
membingungkan, dilematis dan buntu. Sangat sulit memahami secara pasti bagaimana jalan
keluar yang harus ditempuh.

Belajar Dari Watak Sungai

Dalam kondisi demikian tapa ngeli menjadi jalan alternatif paling ideal. Tapa ngeli adalah
di mana seseorang berprinsip menyerahkan segala proses pada irama atau ritme alam atau
“kehendak Tuhan”. Karena alam semesta ini, hukum alam dengan rumus-rumus
keTuhanannya akan berproses secara alamiah. Terangkum sebagai rumus atau kodrat alam,
bahwa alam mampu melakukan seleksi secara alamiah, adil, bijaksana, teliti, dan cermat
(mulat laku jantraning bumi) tanpa menyisakan secuilpun ketidakadilan. Jika seseorang
dapat melakukan “tapa ngeli” ia akan membiarkan diri terbawa proses alamiah dalam
kebijaksanaan alam (kehendak Tuhan). Bagi pelaku “tapa ngeli” sikap dan perilaku akan
menjadi sinergis, harmonis, sesuai dengan rumus-rumus atau prinsip-prinsip alamiah
tentang keadilan dan kebijaksanaan yang sejatinya. Sebagaimana disuguhkan oleh alam
semesta melalui “bahasanya sendiri” yang menyiratkan hukum/kodrat alam.

15

Namun,prinsip-prinsip itu terasa sangat sulit dijabarkan dan dianalisa bila hanya
mengandalkan kemampuan akal budi manusia serta hanya berbekal dogma-dogma kaku
anti-kritik. Sebaliknya terasa lebih mudah dipahami melalui indera rasa pangrasa (mata
hati) kita. Prinsip utama tapa ngeli adalah ; sabar, sumarah, sumeleh (qonaah) & pantang
menggerutu (grenengan) atau tidak tulus menjalani suatu keadaan yang pahit. Dalam tapa
ngeli ibaratnya kita “menghanyutkan diri kedalam aliran sungai kehendak alam semesta”
yang terbukti bijaksana. Sungai yang masih alamiah selalu memiliki keseimbangan dengan
alam sekitarnya. Sungai yang masih alamiah belum terkena polusi akal-akalan dan
keserakahan manusia, sungguh masih berwatak sangat bijaksana. Sungai tidak akan
merusak lingkungan alam, termasuk para penghuninya yang terdiri dari tumbuhan, hewan,
masyarakat “halus” dan pemukiman penduduk. Sebaliknya sungai justru menjadi sumber
berkah bagi lingkungan alam yang dilaluinya. Perjalanan air sungai yang penuh berkah
hingga sampailah pada “muara keberuntungan”, masuk ke dalam “samudra kemuliaan”
hidup.

Kita dapat memahami bahwa rumus Tuhan mengejawantah ke dalam bahasa dan kodrat
alam. Pada saatnya pelaku “tapa-ngeli” akan berhasil memasuki “muara samudra
keberuntungan”. Ciri-ciri seseorang yang berhasil melakukan tapa ngeli, biasanya akan
merasakan nikmatnya hidup, seolah serba kebetulan, dan selalu memperoleh
keberuntungan (menggapai ngelmu bejo). Terjadinya lika-liku hidup dirasakan sudah seperti
ada yang mengatur. Sekalipun proses dan jalan cerita kehidupan kadang terasa pahit namun
selalu indah pada akhirnya (happy ending). Bisa saja anda kilas balik merasakan perjalanan
melewati masalah-masalah sulit dan berbahaya, namun pada akhirnya menemukan
kemenangan dan kesuksesan yang di luar yang anda duga-duga sebelumnya.

“Begitulah hukum alam, asal manusia bersedia sinergis dan harmonis dengan
hukum/kodrat alam, maka alam akan mengatur kehidupan anda menjadi harmonis penuh
berkah

Cermatilah ; “Tapa Ngeli” atau Mengikuti “Air Bah

Berikut ini saya membuat analogi dan ilustrasi untuk memudahkan Anda
memilah, mencermati dan membedakan mana tapa ngeli dan mana yang bukan tapa ngeli.
Tapa Ngeli adalah sikap perilaku kita yang mau mengikuti “aliran air sungai” agar kehidupan
kita selaras sesuai hukum alam (kodrat Tuhan). “Aliran air sungai” pasti menuju “samudra”
anugrah dan keberuntungan. Sebaliknya adalah sepak terjang air bah yang menerjang
wewaler, dengan kata lain perilaku yang melawan hukum alam (kodrat Tuhan). Jika tapa
ngeli jauh dari polusi hawa nafsu negatif (nuruti kareping rahsa). Sebaliknya mengikuti “air
bah” sama saja mengikuti hawa nafsu negatif (nuruti rahsaning karep) atau sikap semaunya
si hawa nafsu sendiri (dikiaskan; manut wudele dewe). Air bah menerjang segala sesuatu
yang bukan menjadi haknya. Air bah merusak tepi pantai, daratan, pemukiman penduduk,
sawah, ladang dan membuat kerusakan di mana-mana.

16

Perilaku “Tapa Ngeli

Apabila perilaku dan perbuatan anda tidak melanggar sesuatu yang menjadi hak orang
lain termasuk perbuatan melawan hukum (breaking the law), tidak menyinggung perasaan
atau menyakiti hati orang lain, atau perilaku anda tidak menimbulkan kerusakan dan
kerugian bagi orang banyak. Perbuatan Anda tidak merusak alam, lingkungan hidup, itulah
perilaku yang masih berada dalam koridor tapa ngeli.

Misalnya, perusahaan pengeboran tambang yang menyebabkan terjadinya semburan
lumpur Porong Sidoarjo boleh saja menganggap hal itu sebagai musibah. Musibah diterima,
dijalani, dan dirasakan dengan penuh kesabaran sebagai kelalaian dan kealpaan manusia.
Tidak perlu banyak menggerutu dan menyalahkan pihak lain atau mencari-cari kambing
hitam termasuk menganggap sebagai akibat dari efek gempa Jogjakarta yang letaknya nun
jauh dari lokasi musbah lumpur Porong Sidoarjo. Yang paling penting mau menanggung
semua resiko lalu memenuhi kewajibannya dengan cara yang penuh tanggungjawab,
ketulusan, dan penuh kasih sayang. Perusahaan secepatnya mengambil langkah-
langkah nyata melindungi dan mengganti kerugian kepada masyarakat sekitar yang
tertimpa luapan lumpur dengan tulus ikhlas walaupun menguras aset perusahaan sampai
habis. Begitulah perilaku tapa ngeli yang tepat. Jika semua tanggungjawab dijalani dengan
penuh kesabaran, penuh ketulusan dan kasih sayang untuk melindungi warga masyarakat
yang tertimpa luapan lumpur seadil-adilnya, maka kemungkinan besar perusahaan
pengeboran itu akan mendapatkan gantinya yang jauh lebih besar dari apa yang telah ia
keluarkan.

Sedangkan bagi masyarakat dan PemKab setempat, melakukan tapa ngeli dengan cara
menerima penderitaan itu dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Tidak sibuk
menggerutu atau meratapi nasibnya, namun sebaliknya dengan penuh semangat tetap
memperjuangkan apa yang menjadi haknya melalui prosedur yang tepat dan benar
secara hukum. Perjuangan tidak berhenti di situ saja, Pemkab bersama komponen
masyarakat secepatnya menyusun rencana ke depan untuk merubah musibah menjadi
anugrah
. Dengan berfikir kreatif, alternatif dan inovatif untuk menciptakan peluang baru di
tengah runyamnya keadaan akibat luapan lumpur. Dirancang melalui pemikiran positif,
dilakukan dengan sikap positif bahu membahu antara Pemerintah dengan semua unsur
masyarakat setempat. Saya yakin akan datang anugrah agung terlimpah bagi masyarakat
Sidoarjo. Saya termasuk orang yang yakin 100 % bahwa mukjizat Tuhan harus diraih oleh
manusia sendiri. Artinya manusia tidak bisa hanya dengan berpangku tangan lantas mukjizat
Tuhan datang dengan seketika. Manusia harus benar dulu “laku”nya. Barulah anugrah dan
mukjizat yang diharapkan benar-benar terwujud.

“Mujizat Tuhan (hukum alam semesta) hanya berlaku bagi orang-orang yang mau
memperjuangkannya dan bagi orang yang percaya 100% saja

17

Perilaku “Air Bah

Sebaliknya, apabila perilaku dan perbuatan Anda sadar atau tidak ternyata telah
menyakiti hati orang lain, menyinggung perasaan sesama, melibas hak orang lain,
mencelakai dan merugikan orang, melakukan tindakan invasi, menyerobot, menggusur dan
menjajah, maka termasuk mengikuti sepak terjang air bah.

Misalnya, perusahaan pengeboran tambang yang menyebabkan terjadinya semburan
lumpur Porong Sidoarjo menganggap hal itu sebagai cobaan buat dirinya (atau cobaan
untuk orang-orang yang “beriman”). Sekilas kalimat itu terdengar indah sekali. Namun
pernahkah berfikir dan melakukan instropeksi diri bahwa musibah itu timbul atas kelalaian
dan kecerobohan dirinya sendiri. Sangatlah arif dan bijaksana apabila pihak pengebor
sendiri menyadari bahwa luapan lumpur Porong sebagai bentuk teguran atau hukuman
Tuhan atas segala kesombongan manusia yang terlalu mengandalkan teknologi canggih,
kurang bijak perlakuan terhadap alam semesta, dan sikap lancang tidak menghargai
“masyarakat gaib” yang benar-benar ada di sekitar kita. Sikap instropeksi ini tentu saja lebih
tepat dilakukan serta lebih arif dan bijaksana karena tidak “menyalahkan” Tuhan secara
tidak langsung.

Namun pada umumnya terjadi anggapan yang sebaliknya, musibah lumpur itu dianggap
semata-mata datang dari Tuhan yang ingin mencoba-coba keimanan manusia. Seolah
konsep keTuhanan hanya dijadikan sebagai obyek penderita saja, bahkan secara tidak
langsung manusia menganggap Tuhan sebagai pelaku kerusakan alam. Lantas di mana letak
kebenaran rumus bahwa: “Tuhan merupakan berkah bagi alam semesta (rabbul alamin)..?!
Di situlah terdapat sifat egosentris manusia yang sangat halus, yang seringkali tidak
disadarinya. Tuhan dijadikan sarana kambing hitam dan cuci tangan manusia dari segala
tuntutan tanggungjawab atas segala resiko yang ditimbulkan akibat ulah ceroboh dan
kelalaiannya. Hebatnya orang-orang tipikal demikian disadari atau tidak, dengan santun
masih bisa berucap,”…kami melakukan “tapa ngeli” kami pasrah mengikuti apa yang
menjadi kehendak Tuhan..! Namun tanpa ia sadari dirinya telah mengikuti prinsip air
bah, nuruti rahsaneng karep, dengan bersikap golek menange dewe, golek benere dewe,
golek butuhe dewe, sembari menjadikan Tuhan sebagai “kambing hitam” yang telah
mendatangkan segala macam musibah. Orang-orang atau pihak yang memiliki sikap
demikian itu, cepat atau lambat tidak ada yang luput dari bebendu (hukuman) Tuhan sejak
masih di dunia maupun setelah ajal tiba. Itulah “ilustrasi” bilamana manusia mengikuti
kehendak “air bah”. Pada tingkat retorika, seolah sebagai orang yang tabah melakukan tapa
ngeli. Diawas den dieling, kita sering tidak menyadari hal itu terjadi pada diri kita sendiri.
Maka jangan tertipu indahnya kulit (baca : syari’at), merdunya kalimat dan pesona wajah
nan rupawan. Kebenaran sejati ada di dalam hakekat. Di balik semua yang tampak oleh
mata.

BETULKAH TUHAN GEMAR MENCOBA ?

Saya ingin berbagi kepada para pembaca yang budiman tentang suatu analisa bagaimana
sistematika dan hubungan sebab-akibaat atas terjadinya berbagai bencana dan musibah di
negeri ini, siapa tahu ada manfaatnya. Coba kita renungkan bersama, mengapa bencana
alam kebakaran, angin, banjir dan gempa kini sering terjadi.

18

“Mengapa terjadi kebakaran (hutan), banjir, angin, salah musim, hama tanaman, wabah
penyakit, hingga gempa dahsyat dan tsunami..?”

Pertanyaan di atas, akan menghasilkan berbagai jawaban seperti di bawah ini, sesuai
dengan tingkat kesadaran si penjawab.

*catatan ; mernurut ilmu filsafat,katagori manusia terbagi menjadi 4 yaitu :

1. MANUSIA ADA YANG TIDAK TAHU DALAM KETIDAKAHUANNYA

2. MANUSIA TIDAK TAHU DALAM KETAHUANNYA

3. MANUSIA TAHU AKAN KETIDAKTAHUANNYA

4. MANUSIA TAHU AKAN KETAHUANNYA

1. Jawaban paling mudah dan simpel, sekaligus bodoh; hal itu sudah menjadi kehendak
Tuhan. Sudah digariskan Tuhan untuk mencoba keimanan manusia. Nah, jawaban ini keluar
dari seseorang yang terlalu percaya diri, yang hanya membuat pribadi-pribadi seolah
agamis, tetapi sungguh congkak menganggap diri sebagai orang beriman paling baik dan
benar. Lantas dari mana manusia bisa mengukur keimanannya sendiri? Apa parameter
keimanan, yang berkaitan dengan keyakinan yang mengendap dalam perasaan dan di alam
pikiran bawah sadar? Jawaban ini beresiko membuat seseorang lupa diri, gagal melakukan
instropeksi dan evaluasi diri. Maka termasuk tipikal orang yang tak tahu jika dirinya sedang
tidak tahu.

2. Jawaban yang lumayan kritis ; hal itu terjadi karena manusia telah meninggalkan agama.
Cuma sayangnya, agama mana yang ditinggalkan ? Biasanya masing-masing orang
menjawab ; agama yang paling benar dan yang dianutnyalah yang ditinggalkan. Musibah
itu sebagai hukuman bagi orang-orang yang telah menutup mata terhadap agama yang
dianutnya. Jawaban ini masih terpolusi oleh rasa egoisme, fanatisme kelompok, golongan,
sektarian, primordial, etnosentrisme. Apakah berkah dan kasih sayang alam semesta
bersifat sektarian hanya welas asih kepada sekte/umat agama tertentu? Apakah kasih
sayang dan anugrah alam bersifat primordialis, pilih kasih hanya kepada agama tertentu ?
Apakah berkah dan anugrah alam bersifat etnosentris ? hanya berlaku bagi kebudayaan dan
peradaban manusia tertentu? Apakah sumber kehidupaan yang disediakan oleh jagad raya
ini hanya diperuntukkaan bagi suku dan ras tertentu? Coba berfikirlah lebih dalam dengan
hati yang bersih dan batin yang bening.

3. Jawaban lebih kritis; musibah dan bencana merupakan teguran tuhan (alam semesta)
atas perilaku, perbuatan dan ulah manusia. Bahkan merupakan hukuman tuhan (alam
semsta) agar supaya manusia dapat berinstropeksi diri. Agar supaya manusia lebih pandai
mensyukuri nikmat dan anugrah tuhan (alam semesta). Jawaban ini rasanya lebih positif,
tidak menjadikan diri kita congkak, terlalu merasa percaya diri, dan membuat lupa diri. Hal
ini menjadikan diri kita selalu sadar jika kita ternyata belum sadar. Kita menjadi tahu, jika

19

diri kita ternyata belum tahu. Dan begitulah modal besar bagi siapapun agar menjadi
orang yang tahu dan sadar
.

Jawaban yang lebih kritis, sebagai bentuk kesadaran kita akan adanya hukum sebab
akibat. Bahwa musibah dan bencana ada hubungannya dengan ulah manusia. Mau percaya
atau tidak percaya pada hukum alam dan hukum sebab akibat, toh hukum sebab akibat itu
tetap ada dan terbukti bisa disaksikan siapapun yang mau mencermati hukum alam. Akibat
adalah bentuk hisab. Kapan terjadinya hari hisab ? Tentu saja tak perlu menunggu “kiamat”
(bagi yang percaya kiamat). Hari hisab terjadi setiap hari, di mana hari ini merupakan “buah”
atas apa yang kita tanam beberapa hari, minggu, bulan, tahun lalu. Sing sopo nggawe bakal
nganggo, siapa menabur angin akan menuai badai, siapa menanam pasti akan mengetam.
Inilah hukum sebab akibat yang bisa terjadi kapan saja dan menimpa siapa saja, yang
memungkiri maupun yang tak memungkiri.

Gempa, banjir, kekeringan, kebakaran, bisa terjadi oleh ulah manusia. Manusia yg tak
memahami hukum alam di wilayah tertentu (misalnya Indonesia), dengan seenaknya
melakukan penggundulan hutan, ekploitasi alam secara berlebihan, tidak melakukan
konservasi alam, merusak sungai, hutan, tepi pantai. Akibatnya sangat fatal. Hutan gundul
mengakibatkan kurangnya resapan air ke dalam tanah. Akibatnya begitu kompleks.
Lempeng bumi yang selalu bergetar, bergeser, setiap saat terjadi kekurangan “pelumas” dan
pelentur berupa air sehingga keadaannya menjadi rapuh mudah patah. Pada saat terjadi
sedikit geseran dan getaran, maka patahlah lempeng bumi mengakibatkan gempa.
Terjadinya perpatahan lempeng bumi bersifat estafet, maka gempa terjadi beruntun terjadi
secara estafet pula. Lindu sedino ping pitu. Akibat lain, reboisasi berkurang sangat signifikan,
sehingga terjadi proses penguapan air tanah secara besar-besaran, berakibat pada
penyusutan kandungan air tanah dan global warming, hal ini menambah porsi penguapan
air laut semakin bertambah besar, yang berpengaruh pada perubahan iklim secara distortif,
lantas terjadi hujan salah mongso. Pada saat kemarau, empang, kolam tak kering kerontang,
pada saat musim penghujan air meluap menjadi banjir besar. Akibatnya hasil pertanian
gagal total. Sekali hujan maka terjadi sangat lebat, hingga menimbulkan banjir besar.
Pemanasan global berakibat es kutub meleleh, terjadi elevasi air laut, perubahan cuaca yang
begitu cepat dan terjadi berkali-kali dalam sehari. Suhu ektrim terjadi di mana-mana,
menimbulkan pergerakan udara dingin ke panas terjadi begitu cepat, sehingga
menimbulkan bencana angin topan, lesus, tornado, putting beliung yang merusak
permukaan bumi. Pemanasan global, distorsi cuaca dan iklim, berimplikasia
menimbulkan wabah penyakit, virus, bakteri mengalami perubahan genetika dan sifat
dasar, lantas muncullah penyakit-penyakit baru yang mematikan manusia, tanaman dan
binatang. Esuk lara sore mati, sore lara isuk mati.

Ini baru sedikit ulasan mengenai apa sebab musabab terjadinya gempa, banjir, angin dan
wabah penyakit. Masihkah kita “menyalahkan” Tuhan yang ujug-ujug (tiba-tiba) mencoba-
coba manusia ? Marilah berfikir dengan akal sehat, betapa ulah kita, ulah manusia telah
menjadi penyebab utama kerusakan bumi ini. Tegakah kita kepada anak cucu generasi
penerus kita, yang hanya kita warisi kerusakan, malapetaka, penyakit, wabah, kesengsaraan,
penderitaan. Jika tidak eling dan waspada, diam-diam kita bisa berubah menjadi generasi
biadab, keji, dan buas beringas, menjadi monster bagi anak turun kita sendiri…!! Siapa
sesungguhnya yang menjadi dajjal ?

20

SIAPA YANG TAK BERAGAMA?

Tapa ngeli berarti perilaku yang sesuai dengan kodrat alam atau kodrat ilahi. Pelaku
“tapa ngeli” inilah sesunggunya secara hakekat dikatakan orang yang beragama.
Sementara itu, mengikuti “air bah” berarti melawan kodrat alam, melawan hukum
alam. Dan yang ini, tipikal orang yang tak beragama, sekalipun ia menganut salah satu
agama yang ada
. Atheis (baca : kafir) bukan berarti orang yang tidak menganut satu
agamapun yang ada di bumi ini. Bagi saya pribadi, Atheis lebih pas untuk menyebut orang
yang perbuatannya selalu melawan dan menentang hukum alam. Sekalipun seseorang
memeluk salah satu agama yang bahkan mengklaim dirinya paling benar, namun
perbuatannya selalu membuat kerusakan alam, mencelakai dan membunuh orang lain.
Maka secara hakekat ia termasuk manusia tak beragama.

Jadi, kita bisa menyadari betapa buruknya dampak dari dogma-dogma Agama yang telah
kita salah pahami selama ini. Agama yang seharusnya bisa menjadikan manusia senantiasa
membawa berkah bagi alam semesta, tetapi malah berlaku sebaliknya, manusia menjadi
terjebak ke dalam fatalisme, dan tidak sadar bahwa dirinyalah yang telah menyebabkan
kerusakan di alam.sebagaimana yang telah Allah terangkan di dalam Al-Qur’an oleh salah
satu ayat berikut :

”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan
mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar)”.

(QS. Ar-Ruum 30:41)

Jika saja kita mengarahkan perhatian kita pada sejarah masa lalu dan berkaca diri, yakni
sekitar abad pertengahan,dimana ajaran islam pada waktu itu benar-benar diterapkan
secara tepat dan tidaklah disalah pahami seperti sekarang ini.

Mari..kita renungkan bersama..!

21

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->