P. 1
Buku Pendidikan Gratis

Buku Pendidikan Gratis

|Views: 454|Likes:

More info:

Published by: Syahrul Mustofa.S.H.,M.H on Aug 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/25/2013

pdf

text

original

PENDIDIKAN GRATIS

Konsep dan Implementasi di Kabupaten Sumbawa Barat

Penulis Syahrul Mustofa Dwi Arie Santo Deni Wanputra

Design Lay-out Cak-Lan

Diterbitkan oleh : LEGITIMID atas dukungan TIFA FOUNDATION

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

1

KATA PENGANTAR
Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah merupakan Kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Sumbawa. Kabupaten Sumbawa Barat atau dikenal dengan KSB, terbentuk berdasarkan UndangUndang Nomor 30 Tahun 2003 Tentang Pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat. Pada tahun 2005 untuk pertama kali, dilaksanakan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara langsung dan untuk pertama kali pula terpilih pasangan KH.Zulkifli Muhadli, SH.,MM dan Drs.Malarahman sebagai Bupati dan Wakil Bupati periode 2005-2010. Pada akhir tahun 2005, Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah terpilih meluncurkan gagasan program pendidikan gratis. Gagasan ini ditanggapi beragam dikalangan masyarakat ada yang pro dan kontra. Sebagian kelompok masyarakat yang kontra terhadap rencana kebijakan tersebut beralasan kemampuan keuangan daerah, sumberdaya manusia, sarana dan prasarana yang serta terbatas sebagai Kabupaten baru sisisilain kebutuhan serta persoalan dan tantangan yang dihadapi begitu kompleks sehingga sulit bagi daerah untuk dapat menyelenggarakan program pendidikan gratis1. Oleh karena itu mereka bersikap skeptis bahkan sinis menilai rencana kebijakan penyelenggaraan program pendidikan gratis—dipandang sebagai sebuah kebijakan yang dinilai “ambisius”, tidak rasional dan keliru bahkan dinilai hanya sebuah program “pencitraan politik belaka” untuk mendongkrak popularitas politik Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah terpilih. Sebaliknya, bagi sebagian masyarakat lainnya yang pro atas rencana program pendidikan gratis menyambutnya dengan sikap penuh gembira (euphoria) dan penuh optimis. Program pendidikan gratis dinilai sebagai bentuk kebijakan yang dinilai tepat dan perlu untuk memperoleh dukungan dari seluruh lapisan masyarakat karena melalui program tersebut diyakini tingkat pendidikan masyarakat dapat meningkat, termasuk Indeks Pembangunan Manusia yang pada akhirnya dapat meningkatkan pula tingkat kesejahteraan masyarakat, khususnya masyarakat pinggiran yang selama ini mengalami kesulitan dalam mengakses pendidikan yang tinggi. Meskipun pada awal rencana program pendidikan gratis banyak menuai kritik bahkan “penolakan” dari sebagian besar anggota DPRD Kabupaten sumbawa Barat, namun Pemerintah Daerah KSB tetap bertekad menetapkan kebijakan program kesehatan gratis sekalipun ketika itu muncul ancaman pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Tekad untuk menetapkan kebijakan penyelenggaraan program kesehatan gratis tidak terlepas dari komitmen atas visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati terpilih dalam rangka memenuhi hak asasi manusia, meningkatkan derajat pembangunan pendidikan yang berkualitas sebagai wujud nyata dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kebijakan penyelenggaraan program pendidikan gratis di Kabupaten Sumbawa Barat ditetapkan melalui Peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pelaksanaan Program Pendidikan Gratis. Pada awalnya, pemerintah daerah telah mengajukan ke DPRD dalam bentuk Rancangan Peraturan Daerah, namun Rancangan Peraturan Daerah tersebut mendapat penolakan dari DPRD. Akhirnya, Pemerintah Daerah KSB menempuh dalam bentuk Peraturan Bupati.
1

Kabupaten Sumbawa Barat terbentuk pada tahun 2003 berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat di Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

2

Pemerintah Daerah menyadari bahwa dari aspek hierarki peraturan perundang-undangan, kedudukan Peraturan Bupati relative lebih 2rendah dan lemah dibandingkan dengan Peraturan Daerah. Disamping itu, dari aspek substansi Pemerintah Daerah KSB juga menyadari bahwa substansi Peraturan Bupati yang ada saat ini memiliki banyak kelemahan karena disusun dalam situasi politik yang tidak kondusif. Oleh karena dalam bentuk Peraturan Bupati, maka jaminan keberlangsungan program pendidikan gratis pun terancam akan berakhir seiring dengan akan berakhirnya masa jabatan Bupati dan Wakil Bupati pada periode masa jabatan kedua yang akan berakhir pada tahun 2015. Padahal, disisilain program pendidikan gratis saat ini telah memperoleh dukungan luas dari masyarakat dan masyarakat telah merasakan dampak dan manfaat langsung atas program tersebut karena melalui program pendidikan gratis tingkat derajat kesehatan masyarakat mulai meningkat. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika masyarakat yang sebelumnya kontra terhadap kebijakan kesehatan gratis kini menginginkan program kesehatan gratis untuk tetap dipertahankan dan dilanjutkan dimasa yang akan datang. Harapan tersebut dibarengi pula dengan harapan adanya perbaikan atas pelayanan pendidikan gratis yang lebih berkualitas. Dalam rangka merespon kebutuhan dan tuntutan masyarakat, Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa (LEGITIMID) atas dukungan TIFA Foundation berinisiatif untuk mendorong adanya perubahan kebijakan (scallingup) program penyelenggaraan pendidikan gratis di Kabupaten Sumbawa Barat yang bermutu/berkualitas serta berkelanjutan. Program ini dimaksudkan untuk mendorong adanya perbaikan baik dari sisi konsep maupun implementasi atas kebijakan program pendidikan gratis yang berlangsung di KSB. Upaya perbaikan konsep dan implementasi program pendidikan gratis tersebut dilakukan dengan cara membangun kemitraan strategis dengan para stakeholders strategis terkait bidang pendidikan gratis. Serangkaian kegiatan telah dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut diantaranya adalah melakukan survey kepuasaan warga atas layanan pendidikan dan kesehatan, serial diskusi, seminar, loby-loby dan negoisasi serta kegiatan lainnya. LEGITIMID atas dukungan TIFA foundation telah berhasil melakukan evaluasi dan mendokumentasikan salah satu hasil dari kegiatan program, yakni berupa naskah akademik dan rancangan peraturan daerah tentang pendidikan gratis yang berkualitas. Pada awalnya, naskah akademik dan rancangan peraturan daerah ini dihajatkan hanya sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah dan DPRD untuk merumuskan perubahan kebijakan program pendidikan gratis. Namun, sebagian stakeholders di daerah menilai naskah akademik dan rancangan peraturan daerah yang telah disusun dipandang perlu untuk didokumentasikan dan dipublikasikan secara luas kepada para stakeholders, khususnya di daerah agar masyarakat secara luas dapat memahami program pendidikan gratis di KSB disamping sebagai bahan referensi sekaligus bahan untuk dapat turut berpartisipasi dalam rangka mendorong agenda perubahan kebijakan tentang pendidikan gratis di Kabupaten Sumbawa Barat. Naskah akademik dan rancangan peraturan daerah yang diterbitkan ini selain merespons tuntutan diatas, dimaksukan pula sebagai bahan dokumentasi dan sharing pembelajaran bersama atas hasil evaluasi kebijakan program pendidikan gratis yang dilakukan secara partisispatif di Kabupaten Sumbawa Barat. Kedua, untuk mendokumentasikan praktek best practices penyelenggaran program pendidikan gratis yang telah berlangsung di Kabupaten Sumbawa Barat. Ketiga, sharing informasi dan pembelajaran bersama bagi semua pihak yang berkeinginan untuk melakukan replikasi kebijakan dan advokasi kebijakan program pendidikan gratis di daerah.
2

Diterbitkan oleh LEGITIMID KSB atas dukungan dari TIfa Foundation Jakarta Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

3

Penulis menyadari bahwa buku naskah akademik dan raperda yang dipublikasikan ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu masukan, saran atau krtikan bahkan caci-makian sekalipun untuk penyempurnaan buku ini akan kami terima dengan senang hati. Dalam kesempatan ini, kami juga ingin mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada TIFA Foundation yang telah memberikan dukungan untuk penerbitan buku ini, kepada pemerintah daerah KSB yang telah bersedia menjalin kemitraan atas program serta semua pihak yang telah berkonstribusi atas terbitnya buku ini. Besar harapan, semoga buku yang sangat sederhana ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Sumbawa Barat, 2 Januari 2012 Team Penulis

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

4

BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Dalam berbagai level kehidupan, pendidikan memainkan peran yang sangat strategis. Pendidikan memberi banyak peluang untuk meningkatkan mutu kehidupan. Dengan pendidikan yang baik, potensi kemanusiaan yang begitu kaya pada diri seseorang dapat terus dikembangkan. Pada tingkat sosial, pendidikan dapat mengantarkan seseorang pada pencapaian dan strata sosial yang lebih baik. Secara akumulatif, pendidikan dapat membuat suatu masyarakat lebih beradab. Dengan demikian, pendidikan, dalam pengertian yang luas, berperan sangat penting dalam proses transformasi individu dan masyarakat. Pendidikan dapat dipahami sebagai suatu aktivitas atau usaha yang dilakukan secara sadar baik itu secara langsung ataupun tidak langsung oleh pemerintah, keluarga dan atau masyarakat sebagai pengelola pendidikan dan yang memiliki kepentingan terhadap pendidikan. Untuk menjamin terjadinya proses pendidikan diperlukan dukungan dari berbagai unsur seperti manusia, material, waktu, teknologi dan dari setiap pendidikan diharapkan menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap mandiri, percaya diri, memiliki pandangan jauh kedepan, gemar belajar, beriman, dan berakhlak mulia. Untuk menghasilkan sumber daya manusia yang diharapkan ini, tidak mungkin terjadi secara alamiah dalam arti tanpa usaha dan pengorbanan. Mutu dari keluaran yang diharapkan banyak dipengaruhi oleh besarnya usaha dan pengorbanan yang diberikan. Semakin tinggi tuntutan mutu, akan berdampak pada jenis dan pengorbanan yang harus direlakan. Pengorbanan yang diterjemahkan menjadi biaya merupakan faktor yang tidak mungkin diabaikan dalam proses pendidikan. Oleh karena itu dapat diperkirakan bagaimana sulitnya seseorang yang tidak memiliki kemampuan ekonomis untuk akses pada pendidikan yang bermutu. Hal ini tidak berarti bahwa hanya orang kaya yang akan memperoleh pendidikan, disini letak peranan pemerintah untuk membangkitkan peran masyarakat dalam arti luas untuk ikut ambil bagian dalam proses pendidikan, untuk itu dituntut keterbukaan dari pemerintah dalam hal pengelolaan biaya yang disediakan melalui APBN dan APBD setiap tahun, hanya dengan keterbukaan, yang didukung oleh kemampuan pemerintah untuk meyakinkan masyarakat bahwa pengelolaan anggaran pendidikan sudah bebas dari korupsi, kolusi, partisipasi masyarakat akan tumbuh.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

5

Partisipasi ini sangat penting kecuali pemerintah menyediakan biaya yang diperlukan untuk seluruh proses pendidikan. Pembiayaan pendidikan tergantung dari tujuan yang ingin dicapai dari adanya proses pendidikan yang diinginkan, selama kualitas pendidikan yang diinginkan, selama kualitas pendidikan merupakan tuntutan maka pembiayaan pendidikan pun menuntut untuk diperhatikan. Dalam perkembangan dunia pendidikan dewasa ini dengan mudah dapat dikatakan bahwa masalah pembiayaan menjadi masalah yang cukup pelik untuk dipikirkan oleh para pengelola pendidikan. Karena masalah pembiayaan pendidikan akan menyangkut masalah tenaga pendidik, proses pembelajaran, sarana prasarana, pemasaran dan aspek lain yang terkait dengan masalah keuangan. Fungsi pembiayaan tidak mungkin dipisahkan dari fungsi lainnya dalam pengelolaan sekolah. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa pembiayaan menjadi masalah sentral dalam pengelolaan kegiatan pendidikan. Ketidakmampuan suatu lembaga untuk menyediakan biaya, akan menghambat proses belajar mengajar. Hambatan pada proses belajar mengajar dengan sendirinya menghilangkan kepercayaan masyarakat pada suatu lembaga. Namun bukan berarti bahwa apabila tersedia biaya yang berlebihan akan menjamin bahwa pengelolaan sekolah akan lebih baik. Sejak tanggal 1 januari 2006, Pemerintah daerah Kabupaten Sumbawa Barat telah menetapkan program pendidikan gratis untuk seluruh penduduk KSB, mulai dari tingkat TK/RA hingga tingkat SMA/MA sederajat. Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Bupati Nomor 11 tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Pendidikan gratis. Program ini kemudian disambut bahagia oleh masyarakat, dukungan yang begitu luas dari masyarakat KSB atas kebijakan program pendidikan gratis, telah menghantarkan kepercayaan dan keyakinan pemerintah daerah bahwa apa yang dilakukan pemerintah daerah KSB selama ini adalah sesuatu yang memang ditunggu-tunggu masyarakat. Kebijakan program pendidikan gratis dirasakan sangat bermanfaat bagi masyarakat, bukan hanya telah membantu meringankan beban ekonomi masyarakat melainkan juga telah mendorong munculnya asa dari para anak untuk menggapai cita-cita yang setinggitinggi, mereka tidak lagi bermimpi untuk meraihnya karena kebijakan program pendidikan gratis yang pada awalnya hanya diperuntukkan hingga sekolah menengah pada tahun 2007 Pemerintah daerah KSB telah merintis pula kebijakan program pendidikan gratis hingga perguruan tinggi. Penerapan kebijakan gratis hingga perguruan tinggi telah memicu tumbuhnya angka partisipasi pendidikan yang tinggi—bagi generasi mudah untuk mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang setinggi-tingginya. Melalui program pendidikan gratis yang diterapkan pemerintah daerah KSB pun akhirnya berhasil meraih sederatan prestasi dan penghargaan baik dari pemerintah provinsi,
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

6

pemerintah pusat maupun dunia internasional. Sebagai kabupaten baru (2003), KSB menjadi salah satu kabupaten percontohan di NTB bahkan nasional yang berhasil membuktikan daerah pemekaran baru yang berhasil mendorong terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik, memajukan dan mensejahterakan masyarakat. Keberhasilan program pendidkan gratis tercermin pula dari indeks pembangunan manusia (IPM) KSB yang beranjak naik dari posisi awal berada pada posisi ke 7 dari 10 kab/kota di NTB beranjak menduduki posisi ketiga pada tahun 2010. Dibalik sederatan cerita keberhasilan program pendidikan gratis, tidak pula kita bisa pungkiri sejumlah permasalahan dan kendala masih dihadapi dalam implementasi program pendidikan gratis. Salah satu yang masih mendapat sorotan adalah terkait dengan peningkatan mutu pendidikan. Persoalan ini mutu pendidikan, memang belum menjadi tujuan utama dari tujuan kebijakan pendidikan gratis sebagaimana tertuang dalam Peraturan Bupati Nomor 11 tahun 2006. Konstruksi tujuan yang hendak dicapai dari perbup tersebut sesungguhnya adalah untuk membuka kesempatan atau akses yang seluas-luasnya kepada masyarakat agar anak usia sekolah dapat mengikuti pendidikan mulai dari pendidikan usia dini hingga pendidikan menengah. Disamping itu, dalam perjalanannya pula perbup belum dapat menjangkau problematika yang muncul pada akhir-akhir ini. Perkembangan perubahan kebijakan ditingkat nasional yang berlangsung begitu cepat juga menjadi faktor pendorong regulasi program pendidikan gratis yang berlaku saat ini tidak cukup akomodatif untuk dapat merespons dinamika persoalan yang berkembang baik ditingkat lokal, nasional maupun internasional. Masih banyaknya aspek yang belum diatur dalam perbup nomor 11 tahun 2006, dan dalam implementasinya pula masih banyak ditemukan ketidakjelasan dari materi yang terkandung dalam perbup tersebut. Kondisi ini menjadi sangat mamfhum, karena memang perbup nomor 11 tahun 20006, dilahirkan dalam keadaaan daerah yang “tidak normal”, kemelut politik pasca pilkada 2005, serta kondisi ekonomi dan sosial daerah yang belum stabil, disisilain pula kondisi politik yang memanas ketika itu, menyulitka bagi pemerintah daerah untuk dapat memimirkan dan merumuskan kebijakan perbup secara komprehensif dan sistematis. Perbup akhirnya lahir lebih kepada upaya perwujudkan komitmen politik Bupati dan Wakil Bupati untuk memenuhi “janji politik” kepada rakyat. Sejak berlakunya perbup nomor 11 tahun 2006 hingga sekarang belum ada evaluasi khusus yang dilakukan atas konsep dan impelementasi dari perbup tersebut, kendati berbagai persoalan banyak yang telah muncul. Oleh sebab itu, kajian menjadi sangat penting untuk dilakukan agar dapat memastikan apakah masalah yang muncul dalam program pendidikan gratis adalah perbup ataukah karena faktor lainnya. Jika terkait dengan perbup adalah apakah pada tataran konsepnya yang buruk ataukah pada tataran
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

7

implementasinya? Ataukah kedua-duanya, konsep yang buruk dan implementasi yang buruk. Kajian juga menjadi penting untuk dilakukan untuk dapat memastikan apakah perlu dilakukan scaling-up terhadap kebijakan pendidikan gratis, dari perbup menjadi peraturan daerah. Untuk itu, Legitimid KSB atas dukungan Tifa Foundation bekerjasama dengan Bappeda Kabupaten sumbawa barat menggagas satu kajian penyusunan scalling-up kebijakan program pendidikan gratis sebagai usaha untuk melakukan perbaikan dan penyempurnaan kebijakan program pendidikan gratis yang telah berlangsung selama ini. Kajian dilakukan dalam bentuk penyusunan naskah akademik dan perumusan awal rancangan peraturan daerah sebagai bahan bagi pemerintah daerah, DPRD dan para pemangku kepentingan pendidikan untuk merumuskan dan membahas lebih lanjut mengenai program pendidikan gratis di masa mendatang. B. Maksud dan Tujuan Scalling-up kebijakan pendidikan gratis dimaksudkan untuk melakukan revisi terhadap Peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Program Pendidikan Gratis. Revisi ini dilakukan dengan tujuan untuk ; 1. Memperbaiki berbagai kelemahan dari Peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2006 terkait dengan konsep kebijakan Program Pendidikan Gratis, ketidakjelasan pengaturan dalam berbagai aspek penyelenggaraan program pendidikan gratis. Praktek penyelenggaraan program pendidikan gratis di Kabupaten Sumbawa Barat merujuk pada Peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2006 saat ini, maka belum sepenuhnya dapat menjamin terwujudnya peningkatan terhadap mutu atau kualitas pendidikan dan menjamin adanya keberlanjutan progran pendidikan gratis dimasa mendatang, serta hubungan program yang harmonis dan sinerjik dari para pihak sebagaimana dimaksud dalam Perbup Nomor 11 tahun 2006 2. Ketidakjelasan materi dalam Perbup Nomor 11 Tahun 2006 sering membuat para pihak (para pemangku kepentingan pendidikan) program pendidikan gratis kesulitan dalam secara optimal. memahami dan melaksanakan

Disamping itu tidak jelasnya sistem pembiayaan ; (perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, evaluasi dan mekanisme pertanggungjawaban), penerapan standar pendidikan nasional, standar pelayanan pendidikan gratis dan ketentuan lainnya telah menyebabkan program pendidikan gratis pada akhirnya masih terbatas pada akses dan belum dapat menjangkau mutu pendidikan. Maraknya berbagai persoalan dalam pelaksanaan program pendidikan gratis yang berlangsung saat ini telah memuncul berbagai keluhan masyarakat, dan salah satu yang mendapat sorotan tajam adalah terkait dengan jaminan mutu pendidikan gratis. untuk itulah, maka perlu diperjelas konsep pendidikan gratis.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

8

3. Revisi perbup Nomor 11 tahun 2006 dilakukan untuk memperjelas berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan gratis yang selama ini belum diatur dengan jelas dalam Peraturan Bupati. Misalnya, mengenai kriteria dan persyaratan peserta program dan sekolah, materi dan tatacara verifikasi, evaluasi program, pemantauan dan pengawasan pelaksanaan program, peran para pihak, partisipasi masyarakat, dan sebagainya. Berbagaipengaturan tentang hal tersebut belum cukup jelas sehingga cenderung tidak efektif dan tidak mampu menjawab dinamika dalam pelayanan pendidikan gratis yang berkembang

sangat cepat dan kompleks. 4. Revisi ini dilakukan untuk menambahkan beberapa pengaturan baru yang

selama ini belum tercakup dalam Peraturan Bupati, namun sangat penting untuk mempercepat keberhasilan program pendidikan gratis untuk mewujudkan pembangunan pendidikan yangberkualitas, dan mampu meningkatkan derajat pendidikan masyarakat. diantaranya adalah Beberapa pengaturan terkait dengan hal itu mengenai kriteria dan persyarataan penerima program,

standar pelayanan pendidikan gratis, asas-asas pelayanan, hak-hak warga untuk berpartisipasi dalam program pendidikan gratis, hak-hak warga menyampaikan keluhan, akuntabiltas pengelolaan program dan anggaran, belum diatur dalam Peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2006. efektif dan berkualitas. 5. visi KSB sebagai Kabupaten Percontohan maka untuk memperkuat inovasi Sedangkan berbagai hal tersebut sangat strategis dalam menjamin terwujudnya program pendidikan gratis yang

program pendidikan gratis, dibutuhkan adanya kreativitas warga untuk selalu mencari alternatif dalam peningkatan kualitas hidupnya. Disislain, Birokrasi yang ada saat ini perlu untuk melakukan terobosan-terobosan pemikiran dalam pengembangan program pendidikan gratis. . Untuk itu diperlukan payung hukum untuk mendorong dan melindungi pemda KSB yang telah melakukan kegiatan- inovatif di bidang pendidikan dengan membuat program pendidikan gratis, tanpa dihantui oleh tuntutan hukum. Jangan sampai kegiatan yang inovatif saat ini, (program pendidikan gratis) bermuara pada kriminalisasi. 6. Revisi Perbup dimaksudkan untuk memberikan kepastian atas keberlanjutan program pendidikan gratis dimasa mendatang. Mengingat, landasan hukum program pendidikan gratis yang ada saat ini masih dalam bentuk Perbup. Dan Perbup tersebut merupakan komitmen dari Bupati KSB, sementara disisilain masa jabatan Bupati kSB memasuki periode kedua dan akan berakhir pada tahun 2015. Agar program pendidikan gratis tetap berlangsung dan menjadi komitmen
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

9

seluruh stakeholders di daerah, termasuk DPRD, maka perlu ditetapkan dalam bentuk Peraturan Daerah. Dengan adanya revisi Perbup ini diharapkan dapat memberi kesempatan untuk membangun kerangka hukum penyelenggaraan program pendidikan gratis di KSB yang lebih menyeluruh, visioner, dan efektif merespon berbagai masalah yang berkembang sekarang dan mungkin terjadi di masa mendatang dalam penyelenggaraan program pendidikan gratis di Kabupaten Sumbawa Barat. C. Metodologi Revisi Peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Program Pendidikan Gratis ini dirancang sedemikian rupa agar bersifat problem-based, partisipatif, dan berbasis pada pemikiran yang secara akademik dan politik dapat diterima. Bersifat problem-based karena inisiatif dan dasar untuk melakukan revisi adalah masalah yang dihadapi oleh daerah, para pelaksana program pendidikan gratis, dan para pemangku kepentingan lainya terkait dengan penyelenggarakan pendidikan gratis dan pemangku kepentingan setelah dikaji secara layanan akademik pendidikan gratis di KSB. Berbagai masalah yang dihadapi oleh penyelenggara ternyata bersumber dari ketidak jelasan pengaturan dari Perbup Nomor 11 Tahun 2006 dan ketidakharmonisan antara Perbup Nomor 11 Tahun 2006 dengan peraturan perundangan lainnya. Berbagai masalah yang dihadapi oleh banyak pemangku kepentingan ini menjadi dasar dan mendorong upaya untuk merevisi Perraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2006. Dorongan untuk melakukan revisi juga muncul dari masalah yang dihadapi dalam penyelenggaraan pendidikan gratis yang mekanisme pengelolaannya belum diatur dalam Peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2006. Misalnya, mengenai asas-asas dan prinsip pelayanan pendidikan gratis, standar pelayanan, partisipasi masyarakat, transparansi dan akuntabilitas program pendidikan gratis, dan beberapa materi lainnya. Padahal, hal-hal yang belum diatur tersebut adalah sangat strategis dan menjadi isu yang sangat penting karena terkait secara langsung dengan pelayanan pendidikan kepada masyarakat dan pilar pembangunan dalam bidang pendidikan. Untuk itu diperlukan revisi Perbup Nomor 11 Tahun 2006 untuk mengakomodasi kebutuhan adanya pengaturan yang diperlukan untuk menjawab tantangan sekarang dan dimasa mendatang dihadapi oleh pemerintah daerah. demikian, diharapkan Peraturan Daerah yang dihasilkan nanti yang Dengan

benar-benar

mampu menjawab berbagai masalah yang sekarang dihadapi ataupun tantangan yang mungkin terjadi di masa mendatang dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Metoda partisipatori digunakan dalam keseluruhan proses revisi Peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2006. Didalam menentukan agenda revisi, yaitu menentukan hal apa dari Peraturan Bupati Nomor 11 tahun 2006 yang perlu direvisi,
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

10

tim peneliti melakukan survey ke masing-masing sekolah, melakukan serangkaian FGD (focusssed- group discussion) di beberapa Kecamatan dengan multistakeholders para pelaksana pendidikan. Tim juga melakukan uji publik dengan kalangan pemerintah, LSM, Wartawan, DPRD, kalangan akademisi, Staf ahli DPRD, unsur masyarakat yang dilaksanakan di Hotel Grand Royal. memperoleh berbagai masukan dari berbagai kalangan Tim peneliti telah dan masukan-masukan

tersebut sepanjang bermanfaat serta layak dipertimbangkan telah dipergunakan Tim Revisi untuk menyempurnakan konsep yang secara terus menerus dibangun dan disempurnakan. Dengan melibatkan multi-stakeholders di berbagai kecamatan dan desa diharapkan agenda revisi dapat mencakup masalah dan kebutuhan yang dirasakan oleh banyak pihak yang mewakili kepentingan yang berbeda-beda. Proses revisi juga dilakukan secara terbuka dan partisipatif dimana tim revisi yang terdiri dari pakar berbagai bidang keilmuan yang relevan dengan penyelenggaraan pendidikan gratis bersama-sama dengan tim dari berbagai komponen di Bappeda dan Legitimid untuk mendiskusikan berbagai masalah yang terjadi dalam penyelenggaraan pendidikan gratis dan merumuskan norma yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dalam membahas berbagai isu, perdebatan yang intens dilakukan bukan hanya dengan Tim Pakar, pejabat dari pemerintah daerah, tetapi juga berbagai pihak diluar tim, seperti: pakar dari Dewan Pendidikan KSB dan lembaga lainnya, dan pemangku kepentingan lainnya. Dengan melibatkan proses yang terbuka dan partisipatif diharapkan pemikiran yang berkembang dalam revisi menggambarkan pemikiran yang terkini, relevan, dan efektif untuk menjawab masalah dan tantangan yang dihadapi dalam penyelenggaraan otonomi daerah. Dengan konsultasi publik yang luas dengan berbagai pihak dan pemangku kepentingan diharapkan dapat mendorong terjadi perdebatan yang terbuka tentang berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan gratis yang selama ini menjadi perhatian masyarakat luas. Tim Peneliti memperoleh masukan dan pemikiran yang berkembang dalam konsultasi publik menjadi informasi dan bahan yang penting untuk menjadikan Peraturan Daerah hasil revisi benar- benar menjadi milik masyarakat dan semua pemangku kepentingan. Revisi juga dilakukan dengan mengkombinasikan pendekatan keilmuan dan politik. Pendekatan keilmuan dilakukan untuk mencari solusi yang tepat terhadap berbagai masalah yang terjadi dalam penyelenggaraan pendidikan gratis. Dengan melibatkan beberapa kalangan akademisi dari beberapa universitas yang ada di KSB dan diharapkan revisi dapat menghasilkan pengaturan baru yang secara akademik kuat dan secara politik fisibel. Pengaturan baru tentunya harus memiliki landasan konsepsual yang kuat didukung oleh hasil riset . Untuk itu maka para melakukan kajian tentang berbagai isu yang dianggap penting dan menuliskan hasilnya sehingga dapat menjadi bahan untuk pembuatan naskah akademik dan
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

11

masukan yang penting dalam revisi Peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2006 Namun, pengaturan yang secara akademik sound harus juga dapat diimplementasikan dengan mudah, sederhana, dan efektif. Karena itu, pemikiran dari para pakar dan anggota Tim Revisi dikonsultasikan dengan para pihak yang berkepentingan sehingga pengaturan yang diusulkan bukan hanya tepat secara konsepsual, tetapi juga secara politik fisibel, dan akseptabel dimata berbagai pemangku kepentingan. D. Struktur Penulisan Naskah akademik ini terdiri dari 5 Bab. 1) Bab I menjelaskan tentang pendahuluan yang mencakup latar belakang, tujuan dari revisi, metodologi, dan struktur penulisan. 2) Bab II berisi tentang kerangka konsepstual/dasar yang menjelaskan konsep umum landasan pendidikan gratis dan perbandingan beberapa daerah dalam perda pendidikan gratis. Pembahasan ini untuk mengggali dasar-dasar pendidikan gratis dan studi perbandingan dengan beberapa daerah dalam program pendidikan gratis 3) Bab III berisikan tentang gambaran umum situasi dan kondisi pendidikan dan keuangan daerah di Kabupaten Sumbawa Barat sebelum pelaksanaan program pendidikan gratis 4) Bab IV memuat problematika peraturan Bupati Nomor 11 tahun 2006. Berbagai permasalahan dari sisi konsep regulasi dan implementasi regulasi dilakukan identifikasi dan dinalisis, kemudian dibahas mengenai penyebab-penyebab serta dibahas mengenai arah perubahan, solusi dan alternatif solusi kedepan. 5) Bab V inventarisasi peraturan perundang-undangan,Semua peraturan perundang-undangan yang memiliki keterkaitan dengan program pendidikan gratis dikaji dan dibahas dalam bab ini, serta diidentifikasi materi dan arah regulasi yang dibutuhkan untuk penyusunan perda; 6) Bab VI membahas muatan materi rancangan peraturan daerah, dalam baba ini juga dibahas muatan materi baru (penyempurnaan) 7) Bab VII Penutup

Lampiran : 1. Rancangan Peraturan Daerah tentang Program Pendidikan Gratis di Kabupaten Sumbawa Barat 2. Peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pendidikan Gratis

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

12

BAB II DASAR PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN GRATIS
Pada bab ini akan dibahas mengenai filosfi dasar mengapa kebijakan pendidikan harus digratiskan oleh pemerintah daerah. Apa yang menjadi landasan hukum maupun teoritis pendidikan harus digratiskan. Disamping itu, pada bagian ini juga akan dibahas perbandingan dari beberapa negara dan daerah yang melaksanakan program pendidikan gratis sebagai referensi bagi pemerintah daerah untuk melakukan revisi terhadap perubahan peraturan.

A.

Dasar Pendidikan Gratis

1.

Pendidikan Gratis adalah Hak Warga Negara
Salah satu tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dirumuskan oleh para pendiri negara (the founding father) sebagaimana disebutkan dalam pembukaan UUD 1945 alinia 4 (empat) adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan ini mengandung makna bahwa negara bertanggung jawab terhadap pendidikan semua warga negaranya. Oleh karena itu, pemerintah berkewajiban menyiapkan fasilitas pendidikan yang memadai agar semua warga negara Indonesia dapat menerima pendidikan dengan baik. Dalam UUD Negara Republik Indonesia 1945 (Amandemen IV) berkaitan dengan hak warga negara untuk memperoleh pendidikan terdapat dalam pasal 28C ayat (1) yang menyebutkan sebagai berikut: “… setiap orang berhak mendapatkan pendidikan …”. Selanjutnya pasal 31 ayat (1) menyebutkan “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”. Sedang kewajiban pemerintah dalam kaitannya dengan pendidikan bagi warga negaranya disebutkan dalam pasal 31 ayat (2) yang berbunyi sebagai berikut: “Setiap warga negara wajib mengkuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”. Bahkan dalam pasal 31 ayat (4) disebutkan: “Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional”. Pemerintah juga memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. Konstitusi tersebut lebih lanjut dijabarkan dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional—telah mengatur beberapa pasal yang menjelaskan pendanaan pendidikan yaitu pada Pasal 11 Ayat 2 Pemerintah dan
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

13

Pemerintah Daerah wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai lima belas tahun. Lebih lanjut pada Pasal 12, Ayat (1) disebutkan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orangtuanya tidak mampu membiayai pendidikannya dan mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orangtuanya tidak mampu membiayai pendidikannya3. Pada Bab VIII Wajib Belajar Pasal 34 menyatakan bahwa setiap warga negara yang berusia 6 (enam) tahun dapat mengikuti program wajib belajar; Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya, wajib belajar merupakan tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Pemerintah, Pemerintah Daerah dan masyarakat. Ketentuan mengenai wajib belajar sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1), Ayat (2) dan Ayat (3) diatur lebih lanjut dengan PP. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, ditegaskan bahwa Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pendidikan itu sendiri diselenggarakan secara demokrtis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa. Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistematik dengan sistem terbuka dan multimakna. Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran. Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat. Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan komponen masyarakat melalui peran serta dalam semua dan penyelenggaraan

pengendalian mutu layanan pendidikan (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 2,3 dan 4 ayat(1,2,3,4,5,6). Dalam rangka merealisasikan amanat UUD 1945 dan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pemerintah mengeluarkan PP. Nomor 47
3 Sumber pendanaan pendidikan ditentukan berdasarkan prinsip keadilan, kecukupan, dan keberlanjutan. Pengelolaan dana pendidikan dilakukan berdasarkan pada prinsip keadilan, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas publik.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

14

tentang Wajib Belajar. Dalam pasal 9 ayat (1) menyatakan sebagai berikut: “Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjamin terselenggaranya program wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya (gratis)”4. Dalam pasal 12 ayat (1) menyebutkan bahwa “Setiap warga negara Indonesia usia wajib belajar wajib mengikuti program wajib belajar”5. Sedang pada pasal 12 ayat (3) menyebutkan bahwa “Pemerintah kabupaten/kota wajib mengupayakan agar setiap warga negara Indonesia usia wajib belajar mengikuti program wajib belajar”. Pemerintah melalui Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo, juga telah mengeluarkan instruksi bernomor 186/MPN/KU/2008 yang ditujukan kepada penyelenggara pendidikan untuk tidak ada lagi pungutan-pungutan kepada masyarakat yang sedang menyekolahkan putra-putrinya pada pendidikan tingkat dasar (SDN & SMPN). Sebagai bentuk tindak lanjut diberlakukannya PP. No. 47/2008 dan PP. No. 48/2008 tentang pembiayaan pendidikan Pemerintah juga telah menetapkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, diatur bahwa standar nasional pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu. Standar nasional pendidikan bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencedaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, serta Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Jo.Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Pemerintahaan Daerah, yang didalamnya mengatur tentang kewenangan daerah provinsi, kabupaten dan kota. Salah satu urusan yang menjadi kewenangan daerah (otonomi) adalah urusan pendidikan. Adapun pengaturan lebih lanjut tentang kewenangan daerah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 yang didalamnya mengatur urusan pendidikan yang sifatnya urusan wajib.

Pendidikan dasar menurut Undang-Undang Sisdiknas tahun 2003 adalah program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh warga negara Indonesia atas tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah. Pendidikan dasar yang dimaksud adalah pendidikan 9 tahun, ini berarti pendidikan minimal yang harus dimiliki adalah tingkat SD dan SMP dimana anak berusia tujuh sampai limabelas tahun. 5 Wajib belajar ala Indonesia tidak identik dengan wajib belajar (compulsory education) seperti yang dipersepsi oleh negara-negara maju, yang secara ekonomis telah lebih makmur. Dalam pengertian negara maju, compulsory education mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (1) ada unsur paksaan agar peserta didik bersekolah; (2) diatur dengan undang-undang tentang wajib belajar; (3) tolok ukur keberhasilan wajib belajar adalah tiadanya orangtua yang terkena sanksi karena telah mendorong anaknya bersekolah; dan (4) ada sanksi bagi orangtua yang membiarkan anaknya tidak bersekolah. Adapun ciri-ciri wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun di Indonesia ialah: (1) tidak bersifat paksaan, melainkan himbauan; (2) tidak ada sanksi hukum, dan yang lebih menonjol adalah aspek moral, yakni orangtua dan peserta didik merasa terpanggil untuk mengikuti pendidikan dasar karena berbagai kemudahan telah disediakan; (3) tidak diatur dengan undangundang tersendiri; dan (4) keberhasilan diukur dengan angka partisipasi dalam pendidikan.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

4

15

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Jo. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007, maka untuk pelaksanaan kewenangan daerah tersebut diatur dengan Peraturan Daerah yang mencakup urusan pendidikan. Dengan demikian, maka penyusunan rancangan Peraturan Daerah tentang Program Pendidikan Gratis di Kabupaten Sumbawa Barat merupakan sesuatu yang amat urgen dalam rangka pelaksanaan kewenangan daerah di bidang pendidikan, yaitu dengan tujuan untuk menjadi acuan bersama dalam penyelenggaraan program pendidikan gratis di Kabupaten Sumbawa Barat guna mewujudkan ketentuan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang pada hakikatnya dalam rangka mewujudkan cita-cita bangsa/negara,yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

2. Mengapa Pendidikan Perlu Digratiskan
Setelah reformasi bergulir hak warga negara dan kewajiban negara terhadap pendidikan warga negaranya lebih ditegaskan lagi dalam beberapa pasal di UUD 1945. Oleh karena telah dimuat dan merupakan amanat dari para pendiri negara dan UUD 1945, maka sudah suatu kewajiban pendidikan gratis dilaksanakan, bukan hanya oleh Pemerintah melainkan pula adalah Pemerintah Daerah yang merupakan ujung tombak dalam mewujudkan masyarakat yang cerdas dan sejahtera. Untuk itupula, maka sesuai amanah konstitusi pula Pemerintah wajib untuk mengalokasikan 20% dari APBN dan APBD untuk kegiatan pendidikan. Alasan lainnya mengapa pendidikan perlu digratiskan adalah oleh karena:

a. Pendidikan di Indonesia Yang Terpuruk
Fakta menunjukkan bahwa kondisi pendidikan di Indonesia masih tertinggal bila dibandingkan dengan negara-negara lainnya, bahkan dengan negara ASEAN. Pada tahun 2007 posisi Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index) Indonesia masih berada di urutan 107 dari 177 negara di dunia. Di samping Indeks Pembangunan Manusia yang masih rendah, ternyata Indeks Pembangunan Pendidikan (Educational Development Index) Indonesia pada tahun 2007 menurut laporan EFA (Education For All) yang dimuat dalam Global Monitoring Report (GMR) juga masih berada dalam kategori sedang6. Pada tahun 2007 posisi
6 GMR adalah laporan tahunan yang diterbitkan oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) tentang hasil monitoring pembangunan pedidikan di seluruh dunia. Laporan tersebut mengelompokkan EDI dalam tiga kelompok yaitu; tinggi, sedang, dan rendah. Peringkat EDI didasarkan pada rangkuman hasil penilaian terhadap partisipasi warga negara terhadap pendidikan. Penilaiannya ditujukan kepada empat hal yaitu; angka partisipasi pendidikan dasar, angka melek huruf penduduk usia 15 tahun ke atas, angka partisipasi menurut kesetaraan gender, dan angka bertahan siswa hingga kelas lima sekolah dasar.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

16

EDI Indonesia mengalami penurunan lima tingkat dari tahun sebelumnya, yaitu dari 58 menjadi 62. Sedang Malaysia mengalami peningkatan yang cukup bagus dari 62 menjadi 56. Bila dibandingkan dengan negara tetangga, Indonesia memang masih tertinggal. Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Hasil survey tahun 2007 World Competitiveness Year Book memaparkan daya saing pendidikan dari 55 negara yang disurvei, Indonesia berada pada urutan 53. Implikasi kualitas pendidikan rendah ini terhadap sumber daya manusia sangat jelas sekali. Kemampuan sumber daya manusia Indonesia jauh tertinggal, hal ini dapat dilihat dari hasil riset Ciputra yang menyatakan bahwa Indonesia hanya baru mempunyai 0,18% pengusaha dari jumlah penduduk sedangkan syarat untuk menjadi negara maju minimal 2% dari jumlah penduduk harus ada pengusaha. Saat sekarang singapura sudah mempunyai 7% dan Amerika Serikat 5% dari jumlah penduduk. Dampak yang lain dari rendahnya kualitas pendidikan dapat dilihat dari Human Development Index (HDI) Indonesia. Di kawasan ASEAN Indonesia menempati urutan ke-7 dari sembilan negara ASEAN yang dipublikasikan. Peringkat teratas di ASEAN adalah Singapura dengan HDI 0,922, disusul Brunei Darussalam 0,894, Malaysia 0,811, Thailand 0,781, Filipina 0,771, dan Vietnam 0,733. Sedangkan Kamboja 0,598 dan Myanmar 0,583 berada di bawah HDI Indonesia. Biaya pendidikan yang semakin mahal ternyata telah memperpanjang deretan anak-anak tidak sekolah. Menurut hasil penelitian Organisasi Buruh Internasional (ILO) jumlah anak putus sekolah di Indonesia mencapai 4,18 juta. Kemudian 8000 anak di bawah umur yang bekerja ternyata mengalami putus sekolah. Hal ini berarti pendidikan masih belum menyentuh ranah masyarakat miskin. Pada tahun 2011, meningkatnya biaya hidup sementara pendapatan masyarakat masih tetap maka diprediksikan jumlah anak putus sekolah akan mengalami peningkatan dan mereka tidak bisa menyelesaikan kegiatan pendidikan sembilan tahun. Jika hal ini dibiarkan maka dimasa yang akan datang akan muncul generasi-generasi yang mempunyai sumber daya manusia yang rendah. Hal ini menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia menghadapi persaingan global yang semakin menuntut kualitas sumber daya manusia. Dampak yang paling signifikan dari anak-anak putus sekolah adalah rewannya mereka dieksplotasi dan diperdagangkan. Keadaan ini bisa dilihat dari jumlah pekerja anak yang selalu meningkat di Indonesia. ILO memaparkan bahwa sebanyak 19% anak yang dibawah usia 15 tahun yang tidak bersekolah telah memasuki berbagai dunia kerja. Tidak mengherankan diantaranya tereksplotasi dan

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

17

termasuk diperdagangkan. Menurut Aris Merdeka Sirait Sekretaris Jenderal Komnas Anak, sekitar 200 sampai 300 anak perempuan berusia di bawah 18 tahun di Indonesia telah diperjual belikan untuk memenuhi kebutuhan industri seks. Sebuah resiko yang sangat fenomelogis, jika pendidikan di Indonesia tidak dapat menyentuh semua kalangan. Untuk membangun sumber daya manusia di Indonesia pemerintah harus menyakinkan pendidikan yang mampu diakses oleh semua kalangan, sehingga anak-anak bangsa ini tidak mengalami putus sekolah. Beranjak dari permasalahan sebagaimana diuraikan di atas, maka sudah seharusnya untuk mengerjar ketertinggalan dari bangsa lain, pendidikan di Indonesia harus digratiskan.

b. Perintah Undang-Undang Pendidikan gratis sesungguhnya amanah cita-cita kemerdekaan republik indonesia, tahun 1945 ketika kita memproklamirkan diri sebagai bangsa Indonesia yang merdeka yang bercita-cita untuk mencerdaskan kehidupan bangsanya. Amaanah ini tertuang dalam pembukaan UUD 1945 Alinea ke-IV. Untuk melaksanakan cita-cita bangsa tersebut, maka apapun cara dan bagaimanapun jua, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa pemerintah harus menempuhnya. Cita-cita ini merupakan landasan idiel dari pembentukan bangsa Indonesia. Oleh karena amanah cita-cita bangsa adalah mencerdaskan bangsa, maka sudah sepatutnya dalam rangka mencapai cita-cita itu, pemerintah menggratiskan biaya pendidikan bagi para anak bangsa. Selain merupakan cita-cita bangsa yang telah tertuang dalam pembukaan Undang-Undang dasar, dalam bantang tubuh UUD 1945 (amandemen) juga menegaskan kewajiban negara untuk melaksanakan pendidikan gratis. Dalam ada pasal 31 ayat 2 UUD 1945 telah jelas menegaskan bahwa “Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya” Amanah sekaligus perintah ini merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh pemerintah maupun pemerintah daerah. Jika tidak, maka pemerintah dan pemerintah daerah dapat dikatakan telah melanggar konstitusi, dan atas pelanggaran konstitusi, maka pemerintah, dalam hal ini Presiden atau Bupati dapat diberhentikan. Perintah lainnya adalah ketentuan yang ada dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bahwa dalam
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

18

upaya meningkatkan mutu sumber daya manusia, mengejar ketertinggalan di segala aspek kehidupan dan menyesuaikan dengan perubahan global serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bangsa Indonesia melalui DPR dan Presiden pada tanggal 11 Juni 2003 telah mensahkan Undangundang Sistem Pendidikan Nasional, sebagai pengganti Undang-undang Sisdiknas Nomor 2 Tahun 1989. Perubahan yang mendasar dari ndang-undang Sisdiknas adalah demokratisasi dan desentralisasi pendidikan, peran serta masyarakat, tantangan globalisasi, kesetaraan dan keseimbangan, jalur pendidikan, dan peserta didik. Pemerintah (pusat) dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan bermutu bagi warga negara tanpa diskriminasi (pasal 11 ayat 1). Konsekwensinya pemerintah (pusat) dan pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia 7- 15 tahun (pasal 11 ayat 2). Dan oleh karena itupula, maka pemerintah (pusat) dan pemerintah daerah menjamin wajib untuk menyelenggarakan wajib belajar, minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa dipungut biaya, karena wajib belajar adalah tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh pemerintah (pusat), pemerintah daerah, dan masyarakat (pasal 34 ayat 2). Dalam undang-undang tersebut khusus untuk pemerintah kabupaten/kota diberi tugas untuk mengelola pendidikan dasar dan menengah, serta satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. Pendidikan gratis adalah upaya membebaskan biaya pendidikan bagi peserta didik di sekolah sebagai perwujudan dari upaya membuka akses yang luas bagi masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang merupakan hak dari setiap warga Negara sebagaiman anamat UUD 1945 pasal 31. Disamping amanah konstitusi dan amanah undang-undang, adalah Pemerintah Indonesia telah terikat dengan Keputusan bersama dalam Convenant on Economic, Social and Cultural Right (Pasal 13 & 14) menyebutkan bahwa Negara-Negara peserta Konvenan mengakui hak setiap orang atas pendidikan. Untuk melaksanakan hak itu secara penuh : (a) Pendidikan dasar harus diwajibkan dan terbuka bagi semua orang; dan (b) secara bertahap dan progresif setiap negara peserta konvenan bersedia untuk 2 tahun mengerjakan dan menyetujui suatu rencana kegiatan terperinci
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

19

melaksanakan asas wajib belajar dengan cuma-cuma (bebas biaya) bagi semua orang.

c. Banyaknya Warga Miskin Kemiskinan adalah salah satu faktor yang selama ini menjadi salah satu penghambat terbesar bagi masyarakat untuk mengakses pendidikan. Tingginya biaya pendidikan disatu sisi dan rendahnya tingkat pendapatan masyarakat pada sisilain menyebabkan masyarakat miskin terus mengalami kesulitan untuk dapat mengakses pendidikan. Dengan kondisi kemiskinan yang dialami, warga miskin tidak memiliki kesempatan untuk dapat mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, karena tidak memiliki pendidikan yang tinggi, maka peluang dan kesempatan untuk memperbaiki kehidupan ekonominya dan perubahan terhadap strata sosialnya kearah yang lebih baik sangat terbatas. Dan pada akhirnya, kemiskinan berlangsung secara turun temurun dan kemiskinan yang dialami semakin parah. Melalui program pendidikan gratis, bukan hanya akan memberikan kesempatan dan peluang bagi warga miskin untuk dapat mengakses pendidikan, warga miskin. d. Keuntungan, dampak dan manfaat pendidikan gratis lebih besar bagi warga Program pendidikan gratis ternyata lebih banyak memberikan tetapi lebih jauh adalah memberikan peluang dan kesempatan untuk peningkatan kesejahteraan ekonomi dan sosial bagi

keuntungan, dampak dan manfaat bagi masyarakat yang bersifat positif dibandingkan dengan dampak negatifnya. Dari hasil studi yang dilakukan oleh Legitimid dampak terbesar dari adanya program pendidikan gratis adalah meningkatnya akses masyarakat—mendorong terjadinya peningkatan angka partisipasi kasar maupun angka partisipasi murni pendidikan, mengurangi angka putus sekolah, mengurangi terjadinya tindakan eksploitasi dan perdagangan anak, mengurangi jumlah pengangguran, mengurangi kemiskinan dan beberapa keuntungan dan manfaat lainnya.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

20

Bagi masyarakat miskin, dengan adanya program pendidikan gratis, mereka merasakan sangat terbantu—karena dapat mengurangi biaya pengeluaran kehidupan rumah tangga, mereka dapat mengalokasikan anggaran biaya pendidikan atau sekolah yang selama ini dibayarkan ke sekolah, untuk memenuhi kebutuhan dasar lainnya; seperti biaya kesehatan, biaya konsumsi, dan lain sebagainya. Melalui program pendidikan gratis, seluruh warga masyarakat, pada akhirnya menikmati pula Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang selam ini didominasi dan dimonipoli oleh birokrasi dan politisi, setidaknya dengan adanya program pendidikan gratis—APBD dapat menetes dan dirasakan oleh masyarakat. Sebelum pendidikan gratis, banyak program dan kegiatan yang sifatnya rutinitas untuk memenuhi belanja pegawai maupun belanja kebutuhan lainnya untuk kepentingan birokrasi dan politisi. Terlepas dari adanya kelemahan dalam program pendidikan gratis. praktek pelaksanaan program pendidikan gratis, jauh lebih menguntungkan masyarakat dibandingkan sebelum adanya program pendidikan gratis. dan oleh karena, dampak dan manfaatnya langsung dirasakan oleh masyarakat, maka sudah sepatutnya—untuk mensejahterakan masyarakat, program pendidikan gratis diberlakukan.
e. Mempersiapkan bangsa dalam era globalisasi dan tekhnologi

Pengalaman negara industri baru (new emerging industrialized countries) dimulai dari pembangunan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai untuk mendukung pembangunan. Dan pembangunan masyarakat yang demokratis mensyaratkan manusia Indonesia yang cerdas. Selain itu, era global abad ke-21, yang antara lain ditandai oleh lahirnya knowledge base society atau masyarakat berbasis pengetahuan, menuntut penguasaan terhadap ilmu pengetahuan. Pendidikan gratis harus dilakukan agar masyarakat Indonesia siap dalam menghadapi perkembangan dan persaingan global serta mampu mengikuti perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Disamping itu pendidikan gratis juga akan mendorong lahirnya masyarakat yang lebih demokratis dan beradab.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

21

B. Pendidikan Gratis di Beberapa Negara dan Kabupaten di Indonesia 1. Pengalaman Negara Lain

Wajib

belajar

berimplikasi

terhadap

pembebasan

biaya

pendidikan sebagai bentuk tanggung jawab negara. Di berbagai negara yang mewajibkan warganya menempuh pendidikan dasar sembilan tahun, semua rintangan yang menghalangi anak menempuh pendidikan bermutu dihilangkan. Termasuk dalam hal pendanaan pendidikan. Di China pemerintah menggratiskan pendidikan dasar dan memberikan subsidi bagi siswa yang keluarganya mempunyai masalah ekonomi. Pengalaman negara lain pun hampir serupa. Di India wajib belajar berimplikasi juga pada pembebasan biaya pendidikan dasar. Bahkan, di negara yang baru keluar dari konflik dan kemiskinan masih mencengkeram seperti Kamboja, pendidikan dasar digratiskan dan disertai dengan upaya peningkatan mutu, khususnya dari segi tenaga pendidik. Selain itu, dibutuhkan kekuatan hukum mengikat untuk

mengimplementasikan wajib belajar. China, misalnya, membagi hukum wajib belajar sembilan tahun menjadi tiga kategori: perkotaan dan daerah maju, pedesaan, dan daerah miskin perkotaan. Target pencapaiannya berbeda-beda. Sebagai bentuk komitmen terhadap wajib belajar dikeluarkan pula pernyataan pada Januari 1986, yang menyatakan ilegal mempekerjakan anak sebelum selesai wajib belajar sembilan tahun. Negara super power seperti Amerika Serikat dalam masa perang dingin, sekitar tahun 1981, sempat khawatir dengan ketertinggalan pendidikannya sehingga muncullah laporan A Nation at Risk. Laporan tersebut mengatakan bahwa yang menyebabkan ketertinggalan Amerika dalam persaingan global antara lain karena buruknya pendidikan. Dua puluh tahun kemudian, tepatnya tahun 2003, pandangan yang muncul pada tahun 1983 itu perlu dievaluasi. Apakah benar bahwa saat itu AS dalam bahaya dan berisiko? Dengan kemenangan AS dalam perang dingin memang tidak semua laporan itu benar. Namun, pandangan tersebut juga menyajikan kenyataan pahit, yakni dengan status sebagai negara adidaya ternyata masih banyak anak
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

22

di AS yang drop out dari sekolah. AS kemudian menganggap perlu peraturan dalam melaksanakan wajib belajar sehingga lahir undangundang yang terkenal dengan sebutan “No Child Left Behind“. Dengan undang-undang ini, berbagai jenis pendidikan, mulai dari sekolah yang diadakan oleh keluarga di rumah hingga etnis minoritas, ditanggung negara. Bagi negara maju pendidikan gratis- selain karena tuntutan konstitusi mereka-juga didukung perekonomian negara yang sudah cukup mapan untuk investasi pendidikan. Anggaran pendidikan setidaknya telah mencapai 5-8 persen produk domestik bruto. Sementara di Indonesia investasi pendidikan masih sangat kecil, sekitar 1,3 persen dari produk domestik bruto. Jatah bagi investasi pendidikan semakin kecil lagi lantaran produk domestik bruto sendiri sudah kecil. Padahal, untuk mewujudkan pendidikan dasar gratis ini memang perlu servis dari pemerintah. Pada prinsipnya pendidikan gratis tidak dapat dikatakan sepenuhnya gratis karena tetap harus ada yang membiayai. Ada biaya terselubung, yang di negara lain seperti di AS sudah tersistem dalam satu kesatuan administrasi negara. Di AS sekolah publik gratis karena ada pajak sekolah khusus. Warga negara AS yang mempunyai tanah dan rumah harus membayar pajak sekolah di distriknya, terlepas dari warga tersebut mempunyai anak atau tidak. Di Belanda rata-rata pajak penghasilan cukup tinggi, yakni 60 persen. Sementara di negara-negara Skandinavia, pajak penghasilan mencapai 70 persen, tetapi kebutuhan dasar warga negara seperti pendidikan dijamin. Namun, pelaksanaan pendidikan gratis harus dengan

kewaspadaan tingkat tinggi dari berbagai celah penyalahgunaan dan pengawasan. Filipina, misalnya, mempunyai pengalaman buruk dengan penggunaan voucher pendidikan. Warga yang menginginkan pendidikan lebih membayar sendiri sisanya, tetapi sayangnya model tersebut tidak jalan dan rawan korupsi.
C. Penerapan Pendidikan Gratis di Beberapa Kabupaten di Indonesia 1. Pendidikan Gratis Ala Kabupaten Jembrana Bali
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

23

Kabupaten Jembarana, provinsi Bali adalah salah satu Kabupaten yang cukup terkenal karena program pendidikan gratis yang diberlakukan di daerah tersebut. Beranjak dari permasalahan yang dihadapi di bidang pendidikan, pemerintah Kabupaten Jembarana dengan segala keterbasannya menginsiasi lahirnya kebijakan pendidikan gratis. Pada awal program ini diberlakukan banyak orang yang bertanya, apa dasar kebijakan pendidikan gratis di Jembarana ? jawabnya ternyata sederhana, sesesungguhnya kebijakan pendidikan gratis sudah ada sejak negara dan bangsa ini didirikan oleh para pendiri bangsa. Semuanya beranjak dan berpangkal dari amanah yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, tentang kewajiban negara di dalam ikut mencerdaskan kehidupan bangsanya. Sedangkan dari sisi kebijakan yang bersifat operasional di lapangan, semua beranjak dari pengalaman empiris atas curat marutnya dunia pendidikan selama ini. Jadi, sebenarnya tidaklah ada yang luar biasa terhadap apa yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Jembarana, hanya saja selama ini indonesia merdeka, belum ada kebijakan daerah untuk menggratiskan pendidikan. memperoleh Kebijakan dukungan pendidikan yang begitu gratis luas inipun dari pada akhirnya komponen seluruh

masyarakat di Kabupaten Jembrana sekaligus menjadi modal dasar yang tidak ternilai haganya. Sehingga, dengan dukungan penuh dari setiap komponen masyarakat itu, partisipasi masyarakat di dalam ikut membangun peradaban pendidikan; di Kabupaten Jembrana menjadi sesuatu yang terjadi dan bergerak secara otomatis. Kontroversi Jembrana Ketika Pemerintah Kabupaten Jembrana di tahun 2002

menggulirkan kebijakan berupa Program Bebas SPP (biaya pcndidikan) terhadap murid-murid yang duduk di bangku Sekolah Dasar higga SMA Negeri, banyak pertanyaan dan kesangsian-kesangsian yang terlontarkan. Seolah-olah kebijakan Bebas SPP yang diambil oleh Pemerintah Kabupaten Jembrana itu tidak lebih dari sebuah kebijakan populis yang tanpa dasar, dan hanya menguntungkan posisi Bupati, saat itu dijabat oleh Prof.Winasa, sehingga lebih populer dimata masyarakat. Padangan kedua lebih pada pendekatan angka-angka, yakni

menghubungan PAD (pendapatan Asli Daerah) Kabupaten Jembarana yang memang tergolong rendah, dengan kemampuan serta daya dukung anggaran di dalam menjalankan kebijakan berupa pemberian subsidi langsung biaya pendidikan kepada masyarakatnya itu. “bagaimana mungkin daerah dengan PAD yang demikian rendah akan mampu menggartiskan biaya pendidikan atau SPP”? demikian kesangsian demi kesangsian yang muncul, seolah-olah
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

24

apa yyang dilakukan Pemerintah Kabupaten jembarana dengan kebijakan bebas SPP-nya hanyalah akal-akalan semata. Bagi sebagain orang, apalagi bagai mereka-mereka yang hanya memahami sebuah kebijakan atau program seperti kebijakan Bebas SPP hanya sepotong-potong saja, maka apa yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten jembarana boleh jadi merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Tetapi pertanyaannya adalah kenapa harus tidak mungkin? Atau kenapa sebagai pemerintah yang diberi amanah oleh masyarakat dan juga amanah yang secara konstitusi kita tidak berusaha untuk memeungkinkan sesuatu yang sebelumnya tidak mungkin itu menjadi mungkin demi peningkatan kesejahteraan masyarakat?. Disinilah sebenarnya jawaban atas kesangsiankesangsian yang menyertai kebijakan Bebas SPP yyang diterapkan di Kabupaten jembarana, dana kini mulai banyak ditiru atau diadopsi secara nasional lewat Program Bos (Biaya Operasional Sekolah). Ada pula sekelompok orang yang menghubungkan kebijakan Bebas SPP yang dilakukan Pemerintah Kabupaten jembarana dengan peningkatan mutu pendidikan dan anak didik. Atau kasarnya dinyatakan, bagaimana mungkin sesuatu yang digratiskan akan melahirkan ouput atau hasil yang berkualitas? Karena dipahami secara umum pendidikan memang bukanlah sesuatu yang murah dan dapat digratiskan begitu saja. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan, atau kesangsian

kesangsian yang mengemuka atas kebijakan Bebas SPP yang diterapkan oleh pemerintah daerah Kabupaten jembarana, pada tataran tertentu memang sangat bisa dipahami bahkan harus dipandang serta diposisikan sebagai bagian dari partisipasi masyarakat di dalam ikut serta membangun peradaban pendidikan di Kabupaten Jembarana. Pemerintah Kabupaten Jembarana pun dalam menyikapi setiap masukan serta kritik dan saran yang dilontarkan atas setiap kebijakan yang diambil, termasuk juga pada kebijakan Bebas SPP yang dianggap sebagai sebuah kebijakan dan program konstroversial dan sarat muatan populis tersebut, tidak harus dengan jawaban atau tanggapan yang reaktif emosional, tetapi harus ditempatkan pada proporsi dan posisinya masingmasing.Dalam artian, setiap tantangan yang datang tentu harus dihadapi sebagai sebuah peluang untuk menunjukkan nilai-nilai kebenaran yang selama ini disangsikan, karena masyarakat secara sosial senantiasa berpikir dengan sangat sederhana. Mereka memerlukan bukti dan bukan janji. Menjawab Kesangsian
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

25

Prof. Winasa (Bupati

Jembrana

yang

menetapkan

kebijakan

pendidikan gratis; sekarang calon gubernur Propinsi Bali) mengatakan : ”Yang perlu dipahami, secara filosofi dunia pendidikan adalah sumber mata air. Jadi hendaknyalah kita secara iklas memperlakukan ranah pendidikan sebagai wilayah yang sakral dan suci seperti sumber mata air kehidupan itu. Karena dari kandungan dunia pendidikanlah akan lahir generasi-generasi penentu masa depan sebuah negara-bangsa. Apakah sebuah negara-bangsa akan tetap terjaga keberadaannya atau tidak, semua itu sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia generasi berikutnya. Dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, tidak boleh tidak tentu haruslah melalui dunia pencerdasan yang disebut dunia pendidikan itu. Pendek kata, Pemerintah Kabupaten Jembrana menempatkan dunia pendidikan sebagai sumber mata air kehidupan yang senantiasa harus dijaga kemurniannya. Karena kalau sampai menjadi keruh, maka air yang dialirkannya pun akan ikut keruh”. Sebuah pertanyaan sederhana yang juga mendasari lahirnya kebijakan Bebas SPP itu. Pertanyaan tersebut, “Kenapa masyarakat tidak mau sekolah?” Sebuah pertanyaan yang sangat sederhana bukan? Dan jawabannya pun tidak kalah sederhananya, yakni, masyarakat tidak mau sekolah atau tidak menyekolahkan anak-anaknya karena merasa tidak mampu untuk membayar atau membiayai pendidikan anak-anaknya. Dari pertanyaan sederhana dan jawaban sederhana itulah ditemukan satu simpul strategis, bahwa ternyata masalah paling mandasar yang dihadapai dunia lainnya. Lantas solusi macam apakah yang harus diberikan, sehingga kendala utama berupa. ketidakmampuan masyarakat membiayai pendidikan anak-anaknya itu dapat terselesaikan? Di sinilah peran pemerintah dibutuhkan, karena pemerintah diadakan memang untuk memberikan proteksi-proteksi positif kepada masyaraatnya atas berbagai kendala yang ditemukan, tetapi pada tataran tertentu tanpa harus menghilangkan unsur partisipasi masyarakat sebagai modal utamanya. Dari kenyataan yang terjadi di dalam ranah pendidikan itu, dan juga kondisi rill masyarakat secara ekonomi yang belum terbebas dari bebagai keterhimpitan akibat krisis yang berkepanjangan, maka strategi yang harus dijalankan oleh Pemerintah Kabupaten Jembrana sebagai langkah pertama adalah bagaimana membuka kesempatan seluas-luasnya
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

pendidikan

kita

sebenarnya

berada

pada

ketidakmampuan

masyarakat atas biaya pendidikan itu sendiri, hukan oleh sebab- sebab

26

bagi warga masyarakat untuk dapat mengenyam pendidikan. Maka diterapkanlah kebijakan subsidi langsung biaya pendidikan kepada masyarakat lewat program Bebas SPP. Kebijakan pemberian subsidi langsung biaya pendidikan kepada masyarakat yang lebih dikenal sebagai program Bebas SPP itu bukanlah kebijakan yang berdiri sendiri. Tetapi merupakan bagian dari sebuah kebijakan dunia pendidikan di Kabupaten Jembrana yang diselenggarakan secara terintegrasi. Karena seperti diketahui, ada beberapa komponen dasar dalam sistem pendidikan itu sendiri yang mana antara satu dengan yang lainnya tidak bisa dipisah -pisahkan dan saling berkaitan. Komponen-komponen dasar sistem pendidikan itu antara lain adalah; siswa atau murid sebagai peserta didik, kemudian tenaga pengajar atau guru sebagai pendidik, bangunan atau gedung sekolah sebagai sarana belajar, masyarakat dan lingkungan sebagai sarana pendukung, dan pemerintah sebagai pembuat kebijakan. Antara satu komponen dengan komponen lainnya harus saling bersinergi sehingga melahirkan harmonisasi pada sistem pendidikan itu sendiri. Karena selama ini, harmonisasi itulah yang tidak pernah tercipta. Semuanya terkesan berjalan sendiri-sendiri di dalam irama yang berbeda, sehingga dunia dan sistem pendidikan di Indonesia senantiasa berada pada kondisi tambal sulam. Apa yang dilakukan di Kabupaten Jembrana, antara satu kebijakan dengan kebijakan lainnya senantiasa berada dalam satu tarikan napas dan terintegrasikan lewat garis komando dan koordinasi yang jelas dan bertanggungjawab. Demikian pula halnya dengan pembangunan di bidang pendidikan, antara satu kebijakan dengan kebijakan lainnya senantasa saling bertautan dalam rangka kualias pencapaian pelayanan tujuan di bersama, yakni bagaimana meningkatkan bidang pendidikan

sehingga cita-cita untuk melahirkan masyarakat belajar dan terdidik dapat direalisasikan. Bebas SPP Kebijakan bidang pendidikan yang diterapkan Pemerintah

Kabupaten Jembrana sebenarnya tidak hanya sebatas kebijakan berupa pemberian subsidi langsung biaya pendidikan kepada masyarakat atau lebih dikenal sebagai Program Bebas SPP semata. Selain itu masih banyak kebijakan atau program-program yang bersentuhan secara langsung
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

27

maupun tidak langsung dengan dunia pendidikan yang dilakukan, yang mana antara yang satu dengan lainnya saling kait mengkait. Sebutlah itu program pemberian beasiswa kepada siswa di sekolah swasta yang ada di Kabupaten Jembrana, yang untuk masing-masing jenjang pendidikan jumlah atau nilainya bervariasi. Untuk siswa SD masing-masing sebesar Rp 7.500/bulan, siswa SLTP Rp 12.500/bulan, dan untuk tingkat SMA sebesar Rp 20.000/bulan. Program ini mulai direalisasikan sejak tahun 2003. Sementara untuk program Bebas SPP bagi siswa sekolah negeri dari SD, SMP, hingga SMA telah direalisasikan sejak tahun 2001. Dimana besaran subsidi yang diberikan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan secara fluktuatif. Tahun 2001 alokasi dana untuk subsidi SPP sebesar Rp. 3.126.114.000, tahun 2002 sebesar Rp. 3.473.460.000, dan untuk tahun 2004 alokasi dana subsidi SPP sebesar Rp. 4.288.112.000. Peningkatan jumlah alokasi dana subsidi SPP untuk setiap tahunnya, dari tahun 2001 hingga 2004 menunjukkan akan meningkatnya partisipasi masyarakat di dalam memanfaatkan sarana pelayanan pendidikan, dengan menyekolahkan anak -anaknya karena sudah tidak dibebani oleh kewajiban untuk membayar biaya pendidikan (SPP) lagi, karena semua kewajiban atas pemenuhan biaya pendidikan sudah diambil alih oleh pemerintah daerah, lewat kebijakan subsidi langsung biaya pendidikan. Lantas bagaimana dengan komponen pendidikan lainnya seperti tenaga pengajar atau guru? Karena bagaimanapun juga, keberadaan serta kualitas pengajar atau guru akan sangat mempengaruhi kualitas anak didik itu sendiri. Pemerintah Kabupaten Jembrana menyadari betul akan posisi strategis pengajar atau guru di dalam dunia pendidikan. Untuk itulah sejak tahun 2002, Pemerintah Kabupaten Jembrana telah menggulirkan kebijakan berupa Program Peningkatan Kualitas Guru dan Siswa. Program Peningkatan Kualitas Guru dan Siswa ini diperuntukkan kepada guru-guru untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Mulai dari D3, D4, S1, hingga jenjang S2, dengan pola pembiayaan sebagian ditanggung oleh Pemerintah Kabupaten Jembrana. Sementara bagi para siswa berprestasi, baik secara akademis maupun di luar akademis, oleh

Pemerintah Kabupaten Jembrana diberikan bonus berupa beasiswa. Sedangkan dari sisi peningkatan kesejahteraan guru, Pemerintah Kabupaten Jembrana menerapkan pola insentif bagi guru, yakni untuk setiap jam pelajaran guru diberikan insentif sebesar Rp 5.000,00 di luar tunjangan guru dan bonus tahunan sebasar Rp 1 juta.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

28

Untuk meningkatkan kualitas proses belajar dan mengajar, serta optimalisasi pengadaan sarana dan prasarana agar lebih efektif dan efisien, maka terhadap sekolah dasar yang ada di Kabupaten Jembrana dilakukan regrouping. Sekolah dasar dengan rasio siswa di bawah atau kurang belajar dari dan 75 orang, digabung serta dengan sekolah lainnya. Dengan sarana dan prasarana pola regrouping ini, selain memberikan keuntungan dari sisi proses mengajar optimalisasi pendukungnya, juga terjadi efisiensi anggaran yang sangat besar. Karena kalau dihitung secara rata-rata, biaya operasional untuk 1 (satu) unit sekolah setingkat SD adalah sebesar Rp. 150 Juta dalam setiap tahun. Dan dari efisiensi biaya operasional sekolah yang didapatkan dengan polaregrouping itulah dimanfaatkan untuk kebutuhan lainnya di dunia pendidikan, termasuk pembebasan SPP. Karena sejak diterapkannya pola regrouping di tahun 2000, dari 209 sekolah dasar yang ada, hingga tahun 2002 sebanyak 22 sekolah dasar mengalami regrouping dengan efesiensi dana yang dihasilkan lebih dari Rp. 3 Milyar dalam setahun. Khas Jembrana Di samping langkah-langkah strategis yang menjadi prioritas dalam pembangunan dunia pendidikan di Kabupaten Jembrana, pihak Pemerintah Kabupaten Jembrana juga melakukan berbagai terobosanterobosan yang bersifat kreatif-inovatif dengan memperkenalkan pola pendidikan yang disebut sebagai “Sekolah Kajian”. Sekolah kajian ini adalah pengembangan pola pendidikan yang merupakan perpaduan antara pola pendidikan sekolah unggulan seperti SMA Taruna Nusantara dengan pola pendidikan yang dikembangkan di pondok

pondok pesantren modern seperti Pondok Peantren Gontor dan Pondok Pesantren Tebu Ireng, serta sekolah yang ada di Negeri Jepang. Pengembangan sistem pendidikan dengan pola sekolah kajian merupakan pilot proyek Kabupaten Jembrana di dalam pengembangan dunia pendidikan yang bersifat inovatif dengan orientasi ke depan, sesuai dengan perkembangan ilmu pengatahuan dan teknologi. Adapun nilai lebih yang dapat dilihat dari keberadaan sekolah kajian ini adalah tingginya disiplin siswa, seperti yang diterapkan di SMA Taruna Nusantara, serta sekolah-sekolah di Jepang. Sedangkan dari sisi bobot budi pekerti anak didik, diterapkan pola seperti yang diterapkan serta dianut oleh pondok-pondok pesantren modern, seperti hubungan yang dibangun antara santri dan kiai. Dari keberadaan sekolah kajian ini,

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

29

diharapkan akan lahir anak didik yang memiliki disiplin tinggi, berbudi pekerti, menguasai IPTEK, serta berwawasan global. Meskipun terkesan lebih mengedepankan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bersifat modern, keberadaan sekolah kajian di Kabupaten Jembrana tidaklah menafikan lokal genius. Untuk itu, di dalam pergaulan akademis dan keilmuannya, sekolah kajian juga memberi ruang yang seluas-luasnya untuk tumbuh-berkembangnya budaya lokal, sebagai dasar pijak anak didik di dalam memasuki pergaulan yang lebih global. Secara garis besar, proses belajar dan mengajar yang diterapkan di sekolah kajian menghabiskan waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan sekolah-sekolah konvensional. Waktu belajar di sekolah kajian dimulai pada pukuL 07.00 sampai pukul 16.00. Sementara pada saat waktu jeda atau istirahat, anak didik diberikan snack dan susu sehat, serta diadakan acara makan siang bersama-sama. Dengan pola ini diharapkan akan melahirkan rasa solidaritas dan soliditas sosial di antara anak didik. Selain itu, sekolah kajian juga menerapkan “pola asrama” bagi setiap anak didiknya. Dalam artian, semua anak didik selama menempuh pendidikan di sekolah kajian harus tinggal di asrama yang telah disiapkan oleh sekolah, dengan pengasuh sebagai pendamping. Tugas pengasuh di sini, selain mengawasi anak didik di luar jam belajar, juga ikut memberikan bimbingan belajar sehingga si anak didik tumbuh sikap kemandiriannya di dalam menjalani proses pendidikan. Di Kabupaten Jembrana, kini sudah dibangun dua sekolah kajian yaitu SMP Negeri 4 Mendoyo dan SMA Negeri 2 Negara. Dengan berbagai kebijakan di bidang pendidikan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Jembrana tersebut, selama kurun waktu dua tahun berjalan, didapatkan berbagai manfaat yang sangat positif seperti meningkatnya angka partisipasi masyarakat dalam pendidikan. Hal itu dapat dilihat dari besaran APK (Angka Partisipasi Kasar) yang ada. Angka putus sekolah (drop out) menurun dengan drastis dimana untuk tingkat sekolah dasar hanya sebesar 0,02%, dibandingkan angka rata-rata drop out secara nasional sebebasr 1%. Secara kualitas, pendidikan di Kabupaten Jembrana juga menunjukan peningkatan yang cukup siginifikan. Hal ini bisa dilihat dari hasil UAN (Ujian Nasional) dan UAS (Ujian Akhir Sekolah) yang angka kelulusannya mencapai 98,84%, yang merupakan angka tertinggi di Provinsi Bali.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

30

Apa yang telah dilakukan dan kemudian dicapai di bidang pendidikan oleh Kabupaten Jembrana, tentu bukanlah sebuah jaminan akan berkelanjutannya budaya belajar dan menuntut ilmu bagi masyarakat. Untuk itulah Pemerintah Kabupaten Jembrana meluncurkan program rintisan berupa Wajar (Wajib Belajar) 12 tahun. Jika di tingkat nasional diselenggarakan Wajib Belajar 9 Tahun, maka rintisan Wajib Belajar 12 Tahun yang diluncurkan Pemeritah Kabupaten Jembrana bukanlah sekedar program atau kebijakan yang mengada-ada, atau asal berbeda dengan Pusat. Tetapi di sini didasari oleh sikap bahwa penyelenggaraan pendidikan itu haruslah berkeadilan dan tidak mengenal diskriminasi. Program pendidikan berupa Wajar 9 Tahun yang diluncurkan oleh pemerintah Pusat itu masih terasa belum memenuhi syarat keadilan dan terkesan diskriminatif. Kenapa demikian? Jika diurai lebih jauh lagi, bukankah di dalam setiap kebijakan dan persyaratan-persyaratan yang dterapkan oleh pemerintah, selalu memakai acuan bahwa pendidikan serendah-rendahnya adalah SMA atau sederajat? Apa arti semua ini? Artinya mereka yang hanya berpendidikan di bawah SMA/sederajat akan tidak memiliki peluang. Sementara di bidang pendidikan pemerintah menerapkan kebijakan wajib belajar 9 tahun yang berarti setingkat SMP. Artinya, kalau pemerintah memang ingin adil kepada setiap warga negaranya, seharusnya wajib tahun, bukan Wajar 9 Tahun. 2. Kabupaten Enrekang Di Kabupaten Enrekang Propinsi Sulawesi Selatan sejak belajar yang ditetapkan adalah Wajar 12

tahun 2004 telah mengembangkan kebijakan pembebasan biaya sekolah oleh orang tua murid/siswa melalui 12 variabel, baik yang terkait dengan anak didik maupun dengan tenaga pendidik yang pada dasarnya merupakan perwujudan dari kebijakan pendidikan gratis. Implementasi kebijakan daerah dibidang pendidikan khususnya yang berkaitan dengan pendidikan gratis pada umumnya baru teraplikasi peda sekolah-sekolah negeri, sedangkan sekolah swasta masih sebatas pada alokasi dana BOS. Beberapa variable kebijakan pendidikan gratis pada sekolah swasta belum diimplemtasikan, oleh karena itu kedepan diupayakan ditingkatkan cakupan sekolah yang menerapkannya dari kondisi sekarang 87 % sekolah menjadi 100 % sekolah pada jenjang SD,MI, SMP, MTs dan SLB pada akhir tahun 2009 mendatang.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

31

Kebijakan

pendidikan

gratis

pada

perinsipnya

ditujukan

untuk

meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan pendidikan, dan biasanya diukur dengan angka tingkat partisipasi sekolah guna mengentaskan program nasional wajib belajar sembilan tahun. Angka partisipasi sekolah dimaksud adalah Angka Partisipasi Murni (APM) bagi anak usia sekolah baik di Sekolah Dasar maupun SMP dan sederajatnya yang mana APM SD/MI keadaan sekarang telah mencapai 95% akan ditingkatkan menjadi 99%, dan APM SMP/MTs dari 85% ditingkatkan menjadi 95%. Pendidikan gratis ditujukan untuk membebaskan biaya sekolah yang meliputi operasional sekolah, perawatan sekolah, insentif tenaga pendidik, transportasi bagi siswa miskin, tetapi tidak menutup keran bagi adanya bantuan yang sifatnya tidak mengikat dari lembaga, orang tua siswa maupun masyarakat lainnya. Untuk Kabupaten Enrekang, selama ini kebijakan pendidikan gratis menerapkan ada 12 variabel yaitu; 1) tunjangan wakil kepala sekolah, kepala usuran dan wali kelas, 2) bantuan dana ekstrakurikuler siswa, 3) dana penunjang pendidikan (DPP), 4) tunjangan guru terpencil, 5) tunjangan sekolah inti, 6) bantuan siswa terpencil, 7) honorarium guru kontrak, 8) KKG SD, 9) MGMP SMP, 10) dana kesejahteraan guru, 11) biaya ujian akhir sekolah (UAS), dan 12) biaya penerimaan siswa baru. Untuk realisisasi kebijakan pendidikan gratis sebagaimana yang dicanangkan oleh Gubernur Sulawesi Selatan, Kabupaten Enrekang memperoleh alokasi anggaran dari APBD Propinsi Sulawesi Selatan Rp. 5,905.088.400, yang akan dibayarkan pada tahap pertama sejumlah Rp. 1,968.362.800

3. Kebijakan Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan Pada tanggal 8 Juli 2008, H. Syahrul Yasin Limpo – H.Agus Arifin Nu’mang tepat 90 hari atau tiga bulan menjabat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan. Mereka resmi memimpin Sulsel sejak dilantik 8 April 2008 lalu oleh Mendagri Mardiyanto. Langkah awal yang dilakukan untuk memenuhi basic need (kebutuhan dasar) dalam program pendidikan dan
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

kesehatan gratis adalah membuat memorandum of understanding (MoU) antara 32

gubernur dengan 23 bupati/walikota se-Sulsel7. Dalam MoU tersebut gubernur meminta kepada para bupati/walikota untuk segera mengalokasikan anggaran pendidikan dan kesehatan gratis di masing-masing APBD kabupaten/kota. Sistem sharing dana pun disepakati dalam MoU tersebut, di mana seluruh anggaran Rp 465 miliar pendidikan gratis selama satu tahun ditanggung Pemprov Sulsel 40 persen dan masing-masing kabupaten/kota menanggung 60 persen. Hal yang sama juga terjadi pada program kesehatan gratis. Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) mencanangkan diri sebagai provinsi pertama di Indonesia yang melakukan pendidikan gratis dari tingkat pendidikan dasar hingga pendidikan lanjutan tingkat atas. Pelaksanaan pendidikan gratis di Sulsel berasal dari 60 persen dari APBD provinsi dan 40 persen dari APBD Kabupaten dan Kota, komitmen Gubernur didukungpula oleh DPRD untuk mendukung kebijakan pendidikan gratis dari SD hingga SMA. Sebelumnya, tiga kabupaten di Provinsi Sulsel telah melakukan pendidikan gratis dari tingkat SD hingga SMA. Yakni Kabupaten Sinjai, Pangkep dan Gowa. Pemerintah provinsi Sulsel mengalokasikan biaya pendidikan untuk 23 kabupaten/kota. Beberapa komponen pembiayaan pendidikan digratiskan, dan pemerintah Provinsi sulsel juga melakukan penambahan terhadap beberapa komponen seperti dana BOS SD/MI sebesar Rp. 4.000 per bulan persiswa. Sedangkan untuk dana BOS SMP/MTs sebesar Rp. 17.600 per bulan per siswa. Sementara, tambahan dana BOS regular untuk SD/MI sebesar Rp. 21.167 per bulan per siswa. Sedangkan dana BOS regular untuk SMP/MTs sebesar Rp. 29.500 per bulan per siswa.

(http://www.sulsel.go.id/berita/umum/pendidikan-dan-kesehatan-gratismasih-tataran-mou-20080708-2.htm)

7

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

33

BAB III KONDISI UMUM PENDIDIKAN DI SUMBAWA BARAT
Bagaimanakah keadaan umum Kabupaten Sumbawa Barat sebelum lahirnya program pendidikan gratis? Sejauhmanakah kemampuan keuangan daerah yang dimiliki oleh Kabupaten Sumbawa Barat untuk dapat menyelenggarakan program pendidikan gratis?
A. Kondisi Umum Kabupaten Sumbawa Barat

Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) adalah merupakan Kabupaten hasil Pemekaran dari Kabupaten Sumbawa (Kab induk), salah satu Kabupaten baru di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang terbentuk pada tahun 2003 ditetapkan berdasarkan Undang-undang Nomor 30 tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat8. Jumlah kecamatan saat terbentuk adalah sebanyak 5 kecamatan, yakni ; Kecamatan Sekongkang, Kecamatan Jereweh, Kecamatan Kecamatan Seteluk, Kecamatan Brang Rea dan Kecamatan Taliwang9, dengan jumlah desa sebanyak 38 desa10. Dari 38 desa, ternyata sebanyak 6 desa digolongkan sebagai desa swadaya, 12 status desa swakarya, dan 19 desa desa adalah desa swasembada 19 (Badan Pemberdayaan Masyarakat KSB dalam BPS dan Kabupaten Sumbawa dan Bappeda KSB, 2004). Secara umum, tingkat perkembangan desa tersebut tergolong menengah dan terbelakang Dilihat dari aspek kependudukan, jumlah penduduk KSB pada tahun 2004 adalah sebanyak 92.405 jiwa, terdiri atas laki-laki 47.344 jiwa (51,24 %) dan perempuan 45.061 jiwa (48,76 %)11. Pada tahun 2006 jumlah penduduk KSB menjadi sebanyak 95.837 jiwa, dan sebanyak 29.058 adalah kategori penduduk miskin (30,50%). Umumnya penduduk KSB adalah beragama Islam (97,70 % ), sisanya (2,30) beragama Hindu, Khatolik dan Protestan (BPS Kabupaten Sumbawa dan Bappeda KSB, 2004)12.Tingkat kesejahteraan sosial penduduk, secara umum adalah rumahtangga penduduk (58,04 %) katagori KS II - KS III+, dan sebanyak 41,96 % adalah katagori pra KS dan KS I13. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan penduduk

8 Secara administratif, Kabupaten Sumbawa Barat berbatasan dengan Sebelah Timur : Kabupaten Sumbawa, Sebelah Barat dengan Selat Alas, Sebelah Utara dengan Wilayah Kecamatan Alas Barat Kabupaten Sumbawa dan Sebelah Selatan Samudera Indonesia. 9 Saat ini jumlah kecamatan di Sumbawa Barat sebanyak 8 kecamatan, dengan jumlah desa sebanyak 57 desa, 6 kelurahan. 10 Kecamatan Seteluk 11 desa, Taliwang 11 desa, Brang Rea 4 desa, Jereweh 5 desa, dan Sekongkang 6 desa. 11 Dengan luas wilayah 1849,02 km2, maka kepadatan penduduk kabupaten tersebut adalah 50 jiwa/km2 (BPS Kabupaten Sumbawa dan Bappeda KSB, 2004). Artinya tingkat kepadatan penduduk tersebut tergolong “sangat jarang”, dan penyebaran penduduk antar kecamatan dan desa “relatif tidak merata”, dimana desa-desa di Kecamatan Seteluk dan Taliwang lebih padat dari desa-desa di Kecamatan Brang Rea, Jereweh dan Sekongkang. 12 Khusus untuk penduduk yang beragama non Islam, sebagian besar merupakan pendatang (transmigrasi spontan, transmigrasi umum, dan pekerja) dari Pulau Lombok, Bali dan pulau lainnya. 13 (BKKBN Kabupaten Sumbawa dalam BPS Kabupaten Sumbawa dan Bappeda KSB, 2004).

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

34

KSB secara umum masih tertinggal. (BPS Kabupaten Sumbawa dan Bappeda KSB, 2004). Sementara itu, dari aspek angkatan kerja, dari jumlah rumahtangga penduduk sebanyak 22.352 rumahtangga (tahun 2004), jumlah angatan kerja adalah sebanyak 36.925 jiwa, dari jumlah angkatan kerja tersebut sebagian besar (67,40 %) bermata pekerjaan utama pada sektor pertanian (pertanian, kehutanan, peternakan dan perikanan), sisanya, sebanyak 32,60% rumahtangga penduduk bermata pencarian/pekerjaan di sektor non pertanian (32,60 %) seperti: industri, perdagangan, pengangkutan, pegawai negeri dan jasa-jasa lainnya (BPS Kabupaten Sumbawa dan Bappeda KSB, 2004). Dilihat pada aspek berdasarkan struktur umur penduduk di KSB tahun 2004, jumlah penduduk yang tergolong usia produktif (usia 15 – 64 tahun) hanya sebanyak 59.134 orang (63,99 %), sedang penduduk yang berusia belum produktif (0 – 14 tahun) sebanyak 29.488 orang (31,91 %), dan penduduk berusia tidak produktif (65 tahun ke atas) atau sebanyak 3.783 orang (4,09 %) (BPS Kabupaten Sumbawa dan Bappeda KSB, 2004). Dengan demikian, maka angka ketergantungan (dependency ratio) penduduk di kabupaten tersebut sebesar 56,26 %, artinya setiap 100 orang penduduk usia produktif (tenaga kerja) harus menanggung hidup 56 orang penduduk usia belum/tidak produktif (bukan tenaga kerja). Indeks Pembangunan Manusia (IPM) KSB14 pada tahun 2004, relatif masih terbelakang jika dibandingkan dengan IPM dari kabupaten/kota lain di Propinsi NTB. Berikut tabel perbandingan IPM KSB dibandingkan dengan Kabupaten/Kota lain di NTB pada tahun 2004 : Tabel 1. IPM KSB dan Kabupaten/Kota Lain di Propinsi NTB Tahun 2004
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Kabupaten/ Kota Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Mataram Sumbawa Barat Sumbawa Dompu Bima Kota Bima Propinsi NTB Angka Harapan Hidup 55,2 55,8 54,7 64,0 56,0 56,7 57,7 57,3 61,2 57,3 Pendidikan 60,3 57,7 64,1 79,9 73,6 74,4 70,3 69,6 75,4 66,4 Paritas Daya Beli 55,5 57,2 57,3 62,5 56,1 58,5 59,1 53,7 53,3 58,1 IPM (0– 100) 57,0 56,9 58,7 68,8 61,9 63,2 62,3 60,2 63,5 60,6 Peringkat IPM 8 9 7 1 5 3 4 6 2 -

Sumber: Badan Pusat Statistik Propinsi NTB, 2005.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indeks komposit yang dikembangkan UNDP untuk mengukur tingkat pencapaian upaya pembangunan manusia dari berbagai bidang, meliputi: kesehatan (Angka Harapan Hidup), pendidikan (Angka Melek Hurup dan Rata-rata Lama Sekolah), dan pendapatan (Paritas Daya Beli)
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

14

35

DISTRIBUSI PERSENTASE PDRB
ATAS DASAR HARGA KONSTAN 1993
100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 20003 TERSIER SEKUNDER PRIMER 3.27% 1.01% 95.65% 2004 3.39% 0.99% 95.55% 2005 3.39% 0.99% 95.55% 2010 (Proyeksi) 3.39% 0.99% 95.55% 2015 (Proyeksi) 3.39% 0.99% 95.55% 2020 (Proyeksi) 3.39% 0.99% 95.55% 2025 (Proyeksi) 3.39% 0.99% 95.55%

Gambar 2. PDRB dan Perkiraan Perkembangannya di KSB Dari Gambar diatas diperkirakan sampai 20 tahun ke depan, struktur ekonomi KSB masih akan didominasi oleh sektor primer, yaitu pertanian dalam arti luas dan pertambangan. Sektor sekunder, yang terdiri dari: lapangan usaha industri pengolahan (manufaktur), lapangan usaha listrik, gas & air minum, dan lapangan usaha konstruksi diperkirakan berkembang sangat lambat, bahkan cenderung stagnan. Sektor tersier juga berkembang lambat, karena kontribusi terbesar diperoleh dari lapangan usaha perdagangan, hotel & restoran serta lapangan usaha pengangkutan & komunikasi. Lapangan usaha Bank dan lapangan usaha jasa-jasa sangat kecil kontribusinya kepada PDRB di KSB.

1. Kondisi Umum Pendidikan di KSB
Kualitas sumberdaya manusia di KSB tahun 2004 dilihat dari segi pendidikan, sebagian besar berkualitas rendah, yaitu tamat SD, tidak tamat SD dan belum sekolah sebanyak 73.194 orang (79,21 %); penduduk belum tamat SD sebanyak 6.375 orang (6,90 %); penduduk berpendidikan menengah (SLTP dan SLTA) sebanyak 12.326 orang (13,34 %); dan penduduk berpendidikan tinggi (Perguruan Tinggi) hanya 504 orang (0,55 %) (BPS Kabupaten Sumbawa dan Bappeda KSB, 2004). Jumlah penduduk KSB tahun 2004 yang termasuk dalam kelompok usia sekolah meliputi: umur 7 – 12 tahun untuk SD sebanyak 11.717 orang (12,68 %), umur 13 – 15 tahun untuk SLTP sebanyak 5.647 orang (6,11 %), dan umur 16 – 18 tahun untuk SLTA sebanyak 5.709 orang (6,18 %). Jumlah penduduk usia sekolah untuk masing-masing jenjang pendidikan terus
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

36

meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk. Perkembangan penduduk usia sekolah tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.

Penduduk Usia Sekolah
100% 80% 60% 40% 20% 0%
Bukan Usia Sekolah Penduduk Umur 16-18 th Penduduk Umur 13-15 th Penduduk Umur 7-12 th 2001 2002 2003 2004 2005 2010 2015 2020 2025

62,681 69,848 70,989 71,132 71,834 82,708 102,54 114,54 128,46 7,708 4,782 4,594 4,562 4,362 5,485 5,709 5,647 5,733 6,316 7,597 8,264 8,774 9,388

8,308 10,474 12,524 14,652

10,932 10,939 11,519 11,717 12,169 13,752 15,422 17,034 18,685

Gambar 3. Perkembangan Penduduk Usia Sekolah di KSB Selama tiga tahun terakhir perbandingan penduduk yang bersekolah SD dengan penduduk usia 7-12 tahun di KSB mengalami penurunan. Dan jika kecenderungan ini terus berlanjut, maka diproyeksikan jumlah penduduk usia 7 - 12 tahun yang bersekolah SD akan menjadi tinggal 40 % saja pada tahun 2025. Secara grafis penduduk usia 7-12 tahun yang bersekolah SD dapat dilihat pada Gambar 4.

Penduduk Yang Bersekolah SD
100% 80% 60% 40% 20% 0%
Umur 7-12 th yg Tidak Bersekolah

2001 605

2002 926

2003 1,506

2004

2005

2010

2015

2020

2025

1,913 2,435 4,739 7,082

9,399 11,734 7,635 6,951

Umur 7-12 th yg Bersekolah 10,327 10,013 10,013 9,804 9,734 9,013 8,340 SD

Gambar4. Perkembangan Pendidikan Penduduk Berusia 7-12 Tahun di KSB Selama tiga tahun terakhir perbandingan penduduk yang bersekolah SLTP dengan penduduk usia 13 - 15 tahun relatif tetap. Dan jika kecenderungan ini berlanjut, maka diproyeksikan jumlah penduduk usia 13 - 15 tahun yang bersekolah SLTP akan tetap 60 % pada tahun 2025. Keadaan tersebut disajikan pada Gambar 5.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

37

Penduduk Yang Bersekolah SLT P
100% 80% 60% 40% 20% 0%
Umur 13-15 th yg Tidak Bersekolah Umur 13-15 th yg Bersekolah SLTP

2001 2,189 2,593

2002

2003

2004 2,319 3,328

2005

2010

2015 4,451 6,023

2020

2025

1,724 2,402 2,838 3,083

2,743 3,510 3,573 4,798

5,276 6,179 7,248 8,473

Gambar 5. Perkembangan Pendidikan Penduduk Berusia 13-15 Tahun di KSB Selama tiga tahun terakhir perbandingan penduduk yang bersekolah SLTA dengan penduduk usia 16 - 18 tahun mengalami kenaikan. Dan jika kecenderungan ini berlanjut, maka diproyeksikan jumlah penduduk usia 16 - 18 tahun yang bersekolah SLTA akan mengalami peningkatan mendekati 80 % pada tahun 2025. Secara grafis penduduk usia 16 - 18 tahun yang bersekolah SLTA dapat dilihat pada Gambar 6.

Penduduk Yang Bersekolah SLTA
100% 80% 60% 40% 20% 0%
Umur 16-18 th yg Tidak Bersekolah Umur 16-18 th yg Bersekolah SLTA

2001

2002

2003

2004

2005

2010

2015

2020

2025

7,430 3,981 3,460 4,518 4,253 4,672 3,894 2,959 2,128 278 613 902 1,191 1,480 2,925 4,370 5,815 7,260

Gambar 6. Perkembangan Pendidikan Penduduk Usia 16-18 tahun di KSB

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

38

Kondisi tingkat pendidikan masyarakat Kabupaten Sumbawa Barat hingga tahun sampai akhir 2005 masih rendah yaitu lebih dari 90% masyarakat Sumbawa Barat tidak tamat SD dan belum sekolah, sedangkan masyarakat yang berpendidikan setingkat SLTP hanya mencapai 1,30% dan masyarakat yang buta huruf/aksara sekitar 6,4%. Persoalan pemerataan akses pelayanan pendidikan merupakan salah satu masalah yang dihadapi oleh pemerintah daerah KSB, dimana pada tahun 2005 nilai angka partisipasi kasar (APK) untuk jenjang pendidikan TK/RA mencapai 34,67%, jenjang pendidikan SD/MI/SDLB 114,02%, jenjang pendidikan SMP/MTs 90,97%, dan APK untuk jenjang pendidikan SMA/SMK/MA mencapai 70,59%. Nilai APK ini memperlihatkan bahwa hanya jenjang pendidikan SD/MI/SDLB saja yang telah mencapai nilai diatas 100%, artinya bahwa jumlah siswa di jenjang pendidikan ini telah melebihi jumlah penduduk usia sekolah SD/MI/SDLB. Sedangkan untuk jenjang pendidikan lainnya masih banyak penduduk yang belum mendapat akses. Lebih detail lagi, pemerataan akses pelayanan pendidikan dapat dilihat dari nilai angka partisipasi murni (APM) yang merupakan nilai perbandingan antara jumlah siswa usia di jenjang pendidikan tertentu dengan jumlah penduduk kelompok usia tertentu dengan nilai ideal 100% yang berarti bahwa semua penduduk usia sekolah telah mendapat pelayanan pendidikan di masing‐masing jenjang. Data tahun 2005 memperlihatkan nilai APM untuk jenjang pendidikan TK/RA mencapai 33,53%, jenjang pendidikan SD/MI/SDLB 98,53%, jenjang pendidikan SMP/MTs mencapai 78,38%, dan APM untuk jenjang pendidikan SMA/SMK/MA sebesar 47,85%. Nilai APM ini memperlihatkan bahwa hanya untuk jenjang pendidikan SD/MI/SDLB saja yang mendekati nilai ideal, hanya tinggal 2,5% penduduk belum mendapatkan layanan untuk jenjang pendidikan ini.

2. Kondisi Sarana dan Prasarana Pendidikan
Prasarana pendidikan (sekolah) yang ada di KSB tahun 2004 cukup tersedia untuk semua jenjang, baik negeri maupun swasta dengan jumlah 136 buah meliputi: TK 28 buah, SD/MI 111 buah, SLTP/MTs 17 buah, dan SLTA 5 buah, dan sejak tahun 2004 terdapat Perguruan Tinggi (PT) 1 buah. Jumlah dan kapasitas prasarana pendidikan untuk tingkat SD relatif sudah mencukupi, tetapi untuk SLTP, SLTA dan PT, jumlah dan kapasitasnya masih kurang (BPS Kabupaten Sumbawa dan Bappeda KSB, 2004). Terbatasnya jumlah dan kapasitas SLTP, SLTA dan PT mengakibatkan pengembangan kualitas sumberdaya manusia di kabupaten sumbawa barat relatif terlambat. Padahal disisilain, Prasarana pendidikan tersebut berperan penting dalam mempersiapkan sumberdaya manusia yang mampu barpartisipasi aktif dalam pembangunan KSB di masa mendatang. Perkembangan jumlah SD per 10.000 penduduk dapat dilihat pada Gambar 7.

Jumlah SD
120 9 8 7 6 4 3 2 1
2001 2002 2003 2004 2005 2010 2015 2020 2025

Jumlah SD

100 80 60 40 20 0

5 Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

Jmlh SD per 10.000 penduduk

140

10

39

-

Gambar 2.22. Perkembangan Jumlah SD di KSB Data pada Gambar 7. diketahui bahwa, prasarana pendidikan (sekolah) dasar 6 tahun, atau SD di KSB selama lima tahun terakhir telah berkembang dengan cepat, sesuai dengan pertumbuhan penduduk. Hal ini terbukti dari perbandingan jumlah SD untuk setiap 10.000 penduduk besarnya selalu tetap selama lima tahun terakhir, yaitu 9 SD per 10.000 penduduk. Diperkirakan jumlah SD akan meningkat terus di masa yang akan datang, namun dengan kecepatan tumbuh yang lebih lambat dari pertumbuhan penduduk. Sehingga diperkirakan mulai tahun 2015 sampai dengan tahun 2025, di KSB hanya ada 7 SD per 10.000 penduduk. Ini berarti penurunan dari kondisi sekarang. Diperkirakan jumlah SLTP di KSB akan meningkat lebih cepat dari pada jumlah penduduk. Pada saat ini di KSB terdapat 2 SLTP per 10.000 peduduk dan diperkirakan pada 2010 jumlah SLTP akan menjadi 4 buah per 10.000 penduduk. Angka ini akan meningkat terus sampai menjadi 7 SLTP per 10.000 penduduk. Perkembangan Jumlah SLTP di KSB dapat dilihat pada Gambar 8.

Jumlah SLTP
100 6 5 4 60 3 40 20 0
SLTP SLTP/10.000 penduduk

80

2 1
2001 2002 2003 2004 2005 2010 2015 2020 2025 9 1 9 1 15 2 18 2 23 2 45 4 68 5 90 6 113 7

-

Gambar 8. Perkembangan Jumlah SLTP di KSB Sebagaimana perkembangan SLTP, diperkirakan jumlah SLTA di KSB akan meningkat lebih cepat dari pada jumlah penduduk. Pada saat ini di KSB terdapat 1 SLTA per 10.000 peduduk dan diperkirakan pada 2010 jumlah SLTA akan menjadi 3 buah per 10.000 penduduk. Angka ini akan meningkat terus sampai menjadi 7 SLTA per 10.000 penduduk. Perkembangan jumlah SLTP di KSB dapat dilihat pad Gambar 9.

Jumlah SLTA
80 70

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta 5

umlah SLTA

60 50 40 30

4 3 2

per 10.000 penduduk

90

6

40

Jmlh SLTP per 10.000 penduduk

120

7

Jumlah SLTP

Gambar 9. Perkembangan Jumlah SLTA di KSB 3. Kondisi Politik Yang Mengalami Ketegangan Issue pendidikan dan kesehatan gratis menjadi issue “seksi” yang diangkat oleh para pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah pada pemilukada langsung pertama tahun 2005 di Kabupaten Sumbawa Barat yang diikuti oleh 5 pasangan pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah15. Dari lima pasangan calon, dua 2 pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah gencar mengangkat issue pendidikan dan kesehatan gratis. Kedua pasangan calon itu adalah pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Andi Azisi Amin, SE.,MSc dan Drs.H.Muchsin Hamin dan pasangan KH.Zulkifli Muhadli, SH.,MM dan Drs.H.Malarahman. Mereka mengaku terinsipirasi dari praktek penyelenggaraan program pendidikan dan kesehatan gratis yang berlangsung di Kabupaten Jembarana, Provinsi Bali16. Pada pemilu 2005, pasangan KH.Zulkifli Muhadli, SH.MM dan Drs. H.Malarahman muncul sebagai pemenang Pemilukada pertama di KSB dengan perolehan suara sebanyak 16949 suara (31,30%), 31,30%17 dengan sebaran perolehan suara (geoplotik) dari 5 kecamatan sebanyak 2 kecamatan dimenangkan oleh Pasangan KH. Zulkifli Muhadli dan Malarahman, Sedangkan sisanya dimenangkan oleh pasangan lainnya. Hasil Pemilukada 2005, ternyata ditolak oleh empat pasangan calon lainnya. Bahkan, salah satu pasangan calon menggugat hasil pilkada ke pengadilan
Kelima pasangan calon tersebut adalah pasangan (1) Drs. H.M Hatta Taliwang dan H. Abdul Razak, S.H yang diusung oleh Partai Amanat Nasional. (2) Pasangan Drs. H. Salim Ahmad dan H.M Syafe’i, yang diusung partai Golkar. (3) Pasangan KH Zulkifli Muhadli, S.H. MM dan Drs. H. Malarahman yang diusung oleh gabungan partai PBB dan PIB. (4) Pasangan Ir. H. Busrah Hasan dan Drs. Abdul Hamid Rahman yang diusung oleh gabungan partai PPP dan PDI-P. (5). Pasangan Andi Azisi Amin, SE, M.Sc dan Drs. H. Muchsin Hamim yang diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS). 16 Dalam debat publik visi dan misi calon yang dilaksanakan KPU Kabupaten Sumbawa Barat pada tanggal 15 juni 2005 di gedung teahter taliwang, dihadiri lebih dari 1000 warga masyarakat, pasangan Andi Azisi Amin, SE.,MSc dan Drs.H.Muchsin Hamin dan pasangan KH.Zulkifli Muhadli, SH.,MM dan Drs.H.Malarahman memaparkan program pendidikan dan kesehatan gratis dan 17 Urutan kedua adalah pasangan Andi Azisi Amin, SE.Msc dan H.Muchsin Hamin dengan perolehan suara sebanyak 12705 suara atau 23,46%, ketiga adalah pasangan Ir.Busrah Hasan dan Drs. Abdul hamid Rahman sebanyak 11192 suara atau 20,67%, keempat adalah pasangan Drs.Salim Ahmad dan H.M.Syafee’i sebanyak 10371 suara atau 19,15%, dan urutan kelima atau terakhir adalah pasangan Drs.H.M.Hatta Taliwang dan H.Abdul Razak, SH dengan perolehan suara sebanyak 2937 suara atau 5,42%17
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta
15

41

kendati pada akhirnya gugatan dicabut18. Pasca pelatikan tanggal 13 Agustus 2005, ketegangan politik belum jua berakhir. Bupati dan Wakil Bupati KSB harus menghadapi hak interpelasi DPRD terkait dengan dugaan sejumlah kebijakan, salah satu yang mendapat sorotan adalah terkait perubahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan pendidikan dan kesehatan gratis yang dinilai oleh sebagian kalangan anggota DPRD adalah merupakan kebijakan yang keliru. Rancangan Peraturan Daerah tentang pendidikan dan kesehatan gratis yang diajukan oleh Pemerintah Daerah ditolak oleh DPRD dengan alasan KSB sebagai Kabupaten baru belum siap untuk melaksanakan program pendidikan dan kesehatan gratis karena kemampuan keuangan daerah yang sangat terbatas, sejumlah anggota DPRD menilai bahwa pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana daerah atau infrastuktur daerah jauh lebih urgent dan mendesak daripada program pendidikan dan kesehatan gratis. Penolakan program pendidikan dan kesehatan gratis oleh DPRD mendapatreaksi keras dari para pendukung Bupati dan Wakil Bupati terpilih, DPRD dinilai tidak pro terhadap rakyat miskin. Bahkan, dinilai hanya mementingkan dirinya sendiri. Disisilain, ternyata rencana program pendidikan dan kesehatan gratis yang digagas oleh Bupati terus mengalir dan meluas, bukan hanya dari para pendukung Bupati dan Wakil Bupati terpilih, melainkan pula dari pendukung pasangan calon lainnya. Namun, DPRD yang mayoritas “kontra” dengan Bupati tetap menolak program pendidikan dan kesehatan gratis. Oleh karena tidak ada dukungan dari DPRD, maka akhirnya Rancangan Peraturan Daerah tentang pendidikan dan kesehatan gratis dirubah dalam bentuk Peraturan Bupati (perbup) dan pada tanggal 2 Mei tahun 2006 Bupati Kabupaten Sumbawa Barat mengeluarkan Peraturan Bupati tentang pendidikan dan kesehatan gratis di Kabupaten Sumbawa Barat. Kedua Peraturan itu adalah (1) Peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan program pendidikan gratis dan (2) Peraturan Bupati Nomor 9 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Pelayanan Kesehatan/Pengobatan gratis di Puskesmas dan jaringannya di Kabupaten Sumbawa Barat. Lahirnya dua kebijakan tersebut kemudian disambut gegap gempita oleh masyarakat Kabupaten Sumbawa Barat karena masyarakat menilai program pendidikan dan kesehatan gratis dapat mengurangi beban masyarakat. Dua kebijakan itu pun diberlakukan surut, yakni sejak tanggal 1 januari 200619 sehingga sejak tahun 2006 masyarakat Kabupaten Sumbawa Barat mulai memperoleh pelayanan pendidikan dan kesehatan secara gratis.

4. Kondisi Keuangan Daerah Yang Terbatas

Pasangan calon yang mengajukan gugatan adalah pasangan Drs.Salim Ahmad dan H.M.Syafee’i yang diusung partai golkar dengan nomor register perkara No.3/PEN.PDT.PILKADA/2005/PT. MTR. Pasnagan ini menggugat KPUD KSB yang dianggap telah melanggar dan membiarkan praktek kedurangan pemilukada, namun gugatan pasangan calon ini dicabut sebelum pokok perkara diperiksa oleh Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Mataram. 19 Kebijakan yang lahir inipun oleh sejumlah kalangan yang menolak program pendidikan dan kesehatan gratis dianggap “melanggar hukum” atau “illegal” karena Perbup yang ditetapkan berlaku surut dan Perbup tersebut tidak memiliki payung hukum diatasnya. Disamping pelaksanaan program pendidikan dan kesehatan gratis yang “mendahului” program daripada landasan hukum, dalam arti program telah berjalan namun tidak ada dasar hukum daerah sebelumnya.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

18

42

Sejak awal program pendidikan dan kesehatan gratis, memang dipertanyakan dan diragukan karena kemampuan keuangan daerah yang dimiliki daerah sangat terbatas. Pada tahun 2005, jumlah APBD KSB hanya sebesar Rp.107.833.901.500,- (Rp.107 milliar lebih) dengan jumlah PAD KSB yang dimiliki hanya sebesar Rp. 2.579.694.500,- atau hanya sebesar 2,37 % dari total penerimaan APBD Rp. 107.833.901.500. Dari jumlah APBD tersebut, sebagian besar penerimaan APBD tergantung dari pusat, tercatat penerimaan APBD dari Alokasi Dana Perimbangan tahun 2005 sebesar Rp. 101.354.207.000, yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Pajak sebesar Rp. 15.585.207.000, Dana Bagi Hasil Bukan Pajak sebesar Rp. 40.000.000, Dana Alokasi Umum sebesar Rp. 40.650.000.000,-Dana Alokasi Khusus sebesar Rp. 4.000.000.000,- dan Dana perimbangan dari Provinsi NTB sebesar Rp. 1.500.000.000,- serta penerimaan Daerah lainnya yang sah sebesar Rp 3.900.000.000. Dengan kamampuan keuangan daerah yang minim itulah, pada tahun 2005, KSB digolongkan sebagai kabupaten yang memiliki kemampuan keuangan daerah rendah20. Pada saat pelaksaan program pendidikan dan kesehatan gratis dilaksanakan Pada tahun 2006. Ternyata, APBD Kabupaten Sumbawa Barat baru berjumlah Rp. 220.995.028.794,54, dengan jumlah PAD yang ditargetkan Rp. 15.634.892.000, dan Dana Perimbangan 205.360.136.794,- Sementara belanja daerah diproyeksikan mencapai 272.161.196.844,-. Jika merujuk pada kapasitas fiskal atau keuangan daerah yang dimiliki oleh KSB, maka sangatlah mustahil sebagai kabupaten baru dengan anggaran yang masih sangat minim, KSB dapat menyelenggarakan program pendidikan dan kesehatan gratis. Karena disisilain sebagai Kabupaten baru—dituntut pula untuk dapat memenuhi sarana dan prasarana daerah . Namun, keterbatasan kemampuan anggaran itu, ternyata tidaklah menjadi penghambat bagi Pemerintah daerah KSB untuk melaksanakan program pendidikan dan kesehatan gratis.

Komponen utama pos pendapatan dari APBD KSB tahun anggaran 2005 adalah bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Perimbangan. PAD terdiri atas: pajak daerah, retribusi daerah dan lain-lain PAD yang sah. Sementara itu, Dana Perimbangan terdiri atas: bagi hasil pajak dan bukan pajak, Dana Alokasi Umum (DAU), dan Dana Alokasi Khusus (DAK).
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

20

43

BAB IV KONSEP DAN IMPELEMENTASI PENDIDIKAN GRATIS DI KSB DAN ARAH PERUBAHAN DIMASA MENDATANG
Pada bagian ini akan di bahas tentang pertama bagaimanakah regulasi yang mengatur program pelayanan pendidikan gratis di KSB serta bagaimanakah implementasi peraturan tersebut? Kendala dan tantangan apasajakah yang dihadapi dalam pelaksanaan program pendidikan gratis di KSB? Perubahan- apasajakah yang dibutuhkan dan arah perubahan yang perlu dituju dimasamendatang?

A. Konsep Pendidikan Gratis Menurut Peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2006 1. Landasan Penyelenggaraan Program Pendidikan Gratis Landasan pelaksanaan program pendidikan gratis di KSB adalah berdasarkan Peraturan Bupati Sumbawa Barat Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Program Pendidikan Gratis di Kabupaten Sumbawa Barat, peraturan ini ditetapkan pada tanggal 2 Mei 2006 dan diberlaku surut mulai sejak tanggal 1 januari 2006. Secara umum, ada dua dasar pertimbangan utama dikeluarkannya Perbup ini, sebagaimana tercantum dalam dasar menimbang huruf a adalah “dalam rangka meningkatkan cakupan sasaran pelayanan pendidikan kepada seluruh masyarakat, telah diambil suatu kebijakan Pembiayaan Sekolah melalui Program Pendidikan Gratis di Kabupaten Sumbawa Barat”. Huruf Pedoman Pelaksanaannya”. Merujuk pada dasar pertimbangan sebagaimana di atas, jelas bahwa Perbup Program Pendidikan Gratis adalah sebagai pedoman pelaksanaan program pelaksanaan program pendidikan gratis, kehadiran perbup ini dimaksudkan untuk meningkatkan cakupan sasaran pelayanan pendidikan kepada seluruh masyarakat. Dengan demikian, maka keberadaan/kedudukan perbup menjadi sangat strategis dalam menentukan kearahmana program dan apakah program pelayanan pendidikan gratis dapat berjalan efektif ataukah tidak. Sedangkan secara hukum, dasar hukum yang dirujuk atau dijadikan sebagai dasar mengingat adalah satau kerangka acuan hukum pembentukan Perbup ini, adalah sebanyak 13 peraturan, ke- 13 landasan peraturan itu adalah meliputi : a. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; b. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat di Provinsi Nusa Tenggara Barat;
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

b bahwa “agar penyelenggaraan kegiatan

sebagaimana dimaksud pada huruf a dapat berjalan efektif, perlu ditetapkan

44

c. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah sebagiamana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah sebagai Undang-undang d. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah; e. Undang-undang nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen; f. Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 1990 tentang pendidikan Dasar sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 1998; g. Peraturan Pemerintah nomor 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menegah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 1998; h. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1992 tentang Peran Serta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional; i. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar nasional Pendidikan; j. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 036/U/1995 tentang Pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan Dasar; k. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah; l. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 060/U/2002 tentang Pedoman Pendirian Sekolah; m. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 11 Tahun 2005 tentang Buku Teks Pelajaran. 2. Tujuan dan Sasaran Program Pendidikan Gratis Tujuan dari program pendidikan gratis di KSB adalah : a. Meringankan biaya pendidikan dari tingkat TK/RA, SD/MI, SMP/MTs sampai SMA/SMK/MA baik negeri maupun swasta yang sebelumnya menjadi tanggungan orang tua/wali siswa peserta belajar; b. Memperkecil dan atau mengurangi angka putus sekolah dalam kurun waktu selama 1-5 tahun di Kabupaten Sumbawa Barat c. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia di Kabupaten Sumbawa barat; (APM). Sedangkan yang menjadi Sasaran dari Program Pendidikan Gratis adalah seluruh peserta didik yang terdaftar disekolahnya masing-masing dan telah dilakukan oleh pihak sekolah serta dilaporakan kepada Dinas.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

d. Meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni

45

3. Para Pihak Terkait Dan Fungsi Para pihak terkait untuk mendukung kelancaran dan suksenya Program Pendidikan Gratis, maka dipandang perlu keterlibatan para pihak, yakni a. Dinas Pendidikan Pemuda dan Olaraga Dinas teknis ini mempunyai tugas melakukan pendataan, dan pemuktahiran data seluruh anak usia sekolah maupun tidak sekolah, sebagai dasar untuk menerapkan mekanisme kerja. Sementara fungsinya yaitu menysusn dan menetapkan mekanisme kerja dari perncanaan yang telah disusun sebelumnya b. Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Menyusun perencanaan terhadap mekanisme kerja program c. Inspektorat daerah Melakukan pembinaan dan pengawasan, serta tugas lain yang menjadi tupoksi dari Inspektorat Daerah, kaitannya dengan Pendidikan. d. Dewan Pendidikan Tugas dari lembaga ini memberikan dorongan, motivasi dan pencerahan kepada masyarakat terhadap penyelenggaraan program. Sebagai lembaga yang merepresentasikan masyarakat, maka keberadaannya berfungsi sebagai corong untuk menyampaikan aspirasi, menampung berbagaii masukan, dan menganalisa kebutuhan tersebut, yang nantinya menjadi dasar pihak lainnya untuk menjalankan program. e. Unit Pengaduan Masyarakat (UPM) Keberadaannya berfungsi mengawasi pelaksanaan program secara informal, mengidentifikasi pelaksanaan program, dan memberikan masukan terhadap penyelenggara program f. Dinas Kehutanan, Pertanian, Perkebunan, dan Ketahanan Pangan Membuat melaksanakan sistem Gerakan Sejuta Pohon sebagai syarat bagi warga untuk mendapatkan peleyanan pendidikan gratis g. Sekolah/Madrasah Menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar, dan memberikan informasi serta data yang dibutuhkan oleh Dinas sesuai dengan kebutuhan kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan setiap tahun anggaran h. Guru Melaksanakan kegiatan belajar mengajar dalam rangka mendukung kelancaran dan keberhasilan program i. Camat

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

46

j.

Membantu kelancaran pelaksanaan program diwilayahnya, memantau pelaksanaan program, untuk selanjutnya memberikan masukan kepada sekolah-sekolah dan atau Dinas dalam rangka penyempurnaan pelaksanaan program.

k.

Kepala Desa Membantu kelancaran pelaksanaan program diwilayah Desa/Keluharan ditempatnya, memantau pelaksanaan program, untuk selanjutnya memberikan masukan kepada sekolah-sekolah dan atau KCD dalam rangka penyempurnaan pelaksanaan program.

l.

Orang tua siswa Melaksanakan Gerakan Sejuta Pohon sebagai prasyarat untuk mendapatkan pelayanan pendidikan gratis, dan memberikan dukungan secara materil maupun non materil terhadap pelaksanaan rencana program sesuai dengan persetujuan komite sekolah.

m. Komite Sekolah Mengkoordinir orang tua siswa untuk dapat berparfisifasi dalam pelaksanaan program, membantu sekolah dalam menyelenggarakan program, dan memantau pelaksanaan program, untuk selanjutnya memebrikanmasukan masukan kepada sekolah guna penyempurnaan pelaksanaan program.

4. Penggunaan Pembiayaaan Program dan Mekanise Pelaksanaan Pembiayaan Program Pendidikan Gratis dipergunakan untuk : a. b. c. d. e. Biaya operasional TK/RA senilai Rp.15.000,-/siswa/bulan Biaya operasional SD/MI senilai Rp.5000,-/siswa/bulan sebagai tambahan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah); Biaya operasional SMP/MTs senilai Rp.5000,-/siswa/bulan sebagai tambahan dana BOS Biaya operasional SMA/MA senilai Rp.40.000,-/siswa/bulan Biaya operasional SMK senilai Rp.50.000,-/siswa/bulan Untuk dapat menerima biaya program pendidikan gratis, maka setiap sekolah menyampaikan Daftar Nama Peserta Belajar kepada Dinas Pendidikan dengan tembusan kepada Kepala Kantor Cabang setempat paling lama akhir bulan desember setiap tahun, nama-nama yang telah disampaikan sekolah kemudian Dinas Pendidikan melakukan verifikasi dan pemutakhiran data peserta belajar berdasarkan tingkat pendidikannya. Setelah melakukanverifikasi dan diperoleh data, Dinas Pendidikan melakukan koordinasi dengan BPKAD guna kelancaran proses administrasi keuangan. Dinas melakukan koordinasi dengan pihak sekolah, terkait syarat-syarat pengajuan pencairan keuangan maupun pertanggungjawabannya.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

47

Peserta belajar yang dapat menerima bantuan pendidikan dari program adalah siswa yang terdaftar disekolahnya masing-masing dan atau telah mempunyai sertifikat GSP (Gerakan Sejuta Pohon). Dan pada evaluasi pelaksanaan program dikaitkan dengan GSP dilaksanakan oleh Dinas bersama dengan Dinas Kehutanan, Pertanian, Perkebunan dan Ketahanan Pangan. Untuk memperlancar kegiatan evaluasi, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga dapat dibentuk Tim. Evaluasi terhadap seluruh pelaksanaan Program wajib dilakukan oleh Dinas Pendidikan untuk mengetahui keberhasilan dan kelemahan program dan hasil evaluasi secara lengkap dilaporkan kepada Bupati.Sedangkan pihakpihak terkait lainnya diwajibkan untuk melakukan pemantauan terhadap pelaskanaan program dan hasil pementauan tersebut disampaikan kepada Bupati, Dinas, Tim dan lainnya.

B. Hasil Evaluasi Konsep dan Pelaksanaan Peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2006 1. Kedudukan Perbup Tidak Dapat Menjamin Kepastian dan

Keberlanjutan program Pendidikan Gratis Bila menilik kembali latar belakang sejarah, lahirnya Perbup maka kita tidak lepas dari dinamika dan konsteleasi politik yang berkembang ketika perbup ini dilahirkan adalah pasca pilkada langsung 2005. Ketika itu, kondisi DPRD terfragmentasi begitu kuat, relasi eksekutif dengan legislatif pada awal kepemimpinan Bupati kurang berjalan harmonis, sebagian anggota DPRD KSB periode 1999-2004 menolak rencana kebijakan program pendidikan gratis, rancangan peraturan daerah yang disiapkan oleh Pemerintah Daerah pun “terpental” karena sebagian besar anggota menilai kebijakan pendidikan gratis, sulit untuk dapat dilaksanakan di KSB karena sebagai Kabupaten yang baru terbentuk pada akhir tahun 2003, membutuhkan banyak anggaran untuk melaksanakan berbagai agenda program dan kegiatan, khususnya terkait dengan agenda pembangunan infrastuktur daerah yang membutuhkan proses yang cepat disisilain ketersediaan dan kemampuan APBD daerah masih sangat rendah. Sehingga dalam presfektif sebagian anggota DPRD menilai kebijakan pendidikan
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

48

gratis, sulit untuk diterapkan dan bukan merupakan agenda prioritas pembangunan daerah tahun 2006. Oleh karena, tidak adanya dukungan politik yang cukup besar dikalangan legislative saat itu, sementara disisilain sosialiasi dan “janji politik” bupati kepada rakyat untuk menggratiskan biaya pendidikan mulai tingkat TK sampai dengan SMA/sederajat, telah tersosialisasikan keseluruh pelosok desa dan telah memeproleh dukungan yang luas dari masyarakat , khususnya masyarakat fakir miskin Dengan adanya dukungan yang luas dan kuat dari masyarakat itulah, pada akhirnya menjadi modal bagi pemerintah daerah untuk menginisiasi dan memberanikan diri untuk menetapkan Perbup Program Pendidikan Gratis, karena rancangan peraturan daerah tidak dapat diakomodir oleh DPRD.

Masalah dan Analisis Terkait Kedudukan Perbup Secara konseptual, dalam hireraki perundang-undangan, kedudukan

Peraturan Bupati ini adalah berada pada tingkatan terendah karena itu dari aspek hukum landasan dan kekuatan hukum untuk menjamin kepastian keberlangsungan terhadap program pendidikan gratis yang berkelanjutan masih belum efektif. Ancaman terhadap keberlangsungan program pendidikan gratis masih cukup potensial, karena landasan dan kekuatan hukum untuk menjamin keberlangsungan program pendidikan gratis hanya di payungi oleh perbup. Oleh karena hanya melalui perbup sementara hierarki perbup berada pada tingkatan terendah, maka : (a) Potensi peluang untuk dapat dibatalkan perbup masih terbuka lebar karena kedudukannya (perbup) yang paling rendah dalam hierarkis perundang-undangan sehingga perbup sesuai asas perundang-undangan, tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi (b) tidak adanya jaminan kepastian dan keberlanjutan terhadap penyelenggraan program pendidikan gratis yang berkualitas dimasa mendatang, karena perbup hanya mencerminkan komitmen dan tanggung jawab politik yang terbatas pada lingkup Bupati, bukan merupakan cermin dari komitmen politik dan tanggung jawab bersama seluruh pihak, Ancaman terhadap terhentinya program pendidikan khususnya DPRD.

gratis akan sangat terbuka lebar untuk dihilangkan atau dihapuskan ketika pada akhir masa jabatan Bupati 2015, dan Kepala Daerah terpilih nantinya tidak memiliki komitmen untuk melanjutkan program pendidikan gratis, maka dapat dipastikan pula pada tahun 2015, program pendidikan gratis

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

49

yang selama ini dilaksanakan dapat berakhir ditengah jalan. Dan tentu, hal ini akan menjadi persoalan sosial baru bagi masyarakat KSB. Arah Penyempurnaan Bentuk produk hukum yang dibutuhkan untuk pelaksanaan program pendidikan gratis adalah dalam bentuk Peraturan Daerah bukan dalam bentuk Peraturan Bupati sebagaimana yang berlangsung selama ini. Oleh karena ; (1) kedudukan PERDA merupakan salah satu jenis Peraturan Perundang-undangan dan merupakan bagian dari sistem hukum nasional yang berdasarkan Pancasila. Dan pada saat ini mempunyai kedudukan yang sangat strategis karena diberikan landasan konstitusional yang jelas sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang menyatakan “Pemerintahan Daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi daerah dan tugas pembantuan”. Berdasarkan UU No.10 Tahun 2004 Tentang Pedoman Pembentukan Peraturan Perundangundangan serta hierarkhi perundang-undangan kedudukan Perda di atas Peraturan Bupati. Berdasarkan UU No 32 Tahun 2004 pasal 146 ayat (1) menjelaskan bahwa Materi muatan Peraturan Kepala Daerah adalah materi untuk melaksanakan Peraturan Daerah atau atas kuasa peraturan perundang-undangan. Jadi beranjak dari ketentuan tersebut akan lebih tepat, jika Program Pendidikan Gratis ditetapkan melalui Peraturan Daerah, dan terhadap materi yang memerlukan peraturan lebih lanjt/aturan pelaskaaan diatur dalam Peraturan Bupati dan Keputusan Bupati. Dengan ditetapkannya program pendidikan gratis melalui perda, maka

komitmen untuk melaksanakan program pendidikan gratis bukan hanya semata dari Bupati melainkan pula DPRD—sehingga Bupati dan DPRD sama-sama bertanggung jawab untuk memastikan keberlanjutan terhadap program pendidikan gratis.

2. Dasar Hukum Yang Digunakan Tidak Relevan Lagi Dengan Peraturan Perundang-Undang Yang Berlaku Saat ini. Dalam peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2006, dalam dasar hukumnya (dasar mengingat), oleh perancang peraturan tidak memasukkan lembara negara/daerah dan tambahan negara dari ini setiap peraturan persoalan yang yang dicantumkannya. Padahal, persoalan bukanlah

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

50

sederhana, melainkan sangat mendasar karena menyangkut keabsahan dan keberlakuan suatu produk hukum. Beberapa dasar hukum yang digunakan yang memeiliki keterterkaitan langsung dengan materi pendidikan sangat terbatas untuk dimasukkan kedalam dasar pertimbangan, justeru dasar hukum yang digunakan tidak memiliki korelasi dengan substansi yang diatur. Disamping itu, jika merujuk pada dasar hukum yang digunakan saat ini sebagai dasar dari pembentukan Peraturan Bupati Nomor 11 tahun 2006, maka sudah kurang relevan lagi untuk digunakan karena berbagai perubahan kebijakan peraturan perundang-undangan baru. Oleh sebab itu, seiring dengan dinamika perkembangan dalam bidang pendidikan dan perkembangan kebijakan peraturan perundang-undangan yang lahir dan berlaku saat ini, maka kiranya perlu, dasar hukum penyelenggaraan program pendidikan gratis disesuaikan dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku saat ini. Perubahan Peraturan Bupati menjadi Peraturan Daerah diarahkan pula pada perubahan terhdap landasan hukum terkait program pendidikan gratis, dan untuk itu pula perubahan peraturan ini akan merespons sejumlah peraturan baru terkait dengan penyelenggaraan pendidikan gratis, diantaranya; Peraturan Pemerintah 74 Tahun 2008 tentang Guru, Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota, Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar; Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 Tentang pelayanan Publik dan beberapa peraturan terkait lainnya.

3. Masih Minimnya Cakupan Materi Yang Diatur dan Ketidakjelasan Materi Yang Diatur Dalam Peraturan Bupati Secara umum konsep atau materi Peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2006 masih banyak terdapat kelemahan. Kelemahan tersebut adalah terkait dengan cakupan materi dan ketidakjelasan materi yang diatur dalam Peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2006. Secara rinci Peraturan Bupati terdiri dari 7 Bab dengan jumlah pasal sebanyak 26 pasal yang mengatur tentang ketentuan umum, tujuan dan sasaran, para pihak terkait dan tugas fungsi, penggunaan pembiaayan program, mekanisme pelaksanaan, pemantauan dan pengawasan, pendataan dan pelaporan. Dari hasil kajian terhadap muatan materi peraturan bupati serta kalimat perundangDiterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

51

undangan yang digunakan dalam perumusan pasal demi pasal terdapat beberapa kelemahan antara lain, sebagai berikut ini:

Pasal N o 1

Subtansi yang diatur Sasaran Penerima Program Pendidikan Gratis a.

Kelemahan

Pasal 3

2

Pasal 4 dan pasal 5

Para Pihak Terkait dan Tugas Fungsi

Tidak mengatur syarat dan perlengkapan persyaratan yang harus dipenuhi oleh penerima program pendidikan gratis b. Tidak mengatur mekanisme dan format verifikasi serta petunjuk teknis atau pedoman bagi sekolahsekolah untuk melakukan verifikasi a. Tidak ada petunjuk pelaksana maupun petunjuk teknis dari para pihak untuk melaksanakan tugas fungsinya, cakupan dan batasan lingkup tugas dan fungsi, hak dan kewajiban para pihak, sanksi dan sebagainya. b. Uraian tugas yang dijabarkan dalam perbup lebih kepada uraian fungsi dari tupoksi masing-masing dinas/badan yang berlaku selama ini yang “tanpa” diatur dalam perbup pun memang melaksanakan fungsi tersebut. c. Tentang Unit Pengaduan Masyarakat (UPM), tidak jelas kedudukannya dimana, personil, mekanisme dan tata kerja, hak dan kewajiban dan lain sebagainya, tidak diatur dalam perbup, dan hingga saat ini tidak ada petunjuk teknis maupun petunjuk pelaksana mengenai UPM Perbup tidak mengatur prinsip-prinsip pengelolaan biaya pendidikan, mekanisme pengelolaan, hak dan kewajiban dalam pembiayaan dan sebagainya b. tidak ada petunjuk teknis maupun petunjuk pelaksana terkait dengan pembiayaan program 52 a.

3

Pasal 19

Penggunaan Pembiayaan Progran

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

4

Pasal 20 s.d. pasal 24

Mekanisme pelaksanaan

a.

b.

c.

d. e. 5 Pasal 25 s.d. pasal 26 Pemantauan Pengawasan dan a.

b.

6

Pasal 27

Pendataan Pelaporan

dan

a. b.

perbup tidak mengatur secara jelas mekanisme pelaksanaan apasajakah yang perlu diatur dalam perbup perbup hanya mengatur mengenai verifikasi peserta penerima program pendidikan dan tidak ada petujuk pelaksanaan lebih lanjut, seperti pemutakhiran data dan verifikasi, syarat-syarat pengajuan pencairan keuangan, pertanggungjawaban, dan lain sebagainya ketidakjelasan tentang evaluasi pelaksanaan program pendidikan gratis yang dikaitkan dengan GSP dilaksankan oleh Dinas pendidikan dan Dinas Kehutanan, pertanian dan Ketahanan pangan ketidakjelasan pengaturan mengenai pembentukan Tim ketiadaan juklak dan juknis dari pelaksanaan, termasuk format pelaporan program ketidakjelasan pihak-pihak terkait dalam melakukan pemantauan pelaksanaan program tidak diatur secara jelas pemantauan apakah yang dilakukan oleh masihmasing pihak terkait, bagaimanakah mekanisme pemantauan yang dilakukan, format pemantauan dan sebagainya. tidak adan petunjuk teknis dan pelaksana mengenai pendataan dan pelaporan tidak jelas diatur tentang pendataan dan pelaporan, misalnya siapa yang mendata, mengelola data, mendokumentasikan data, hak dan kewajiban, format pendataan, mekanisme pendataan dan sebagainya. Begitupun mengenai pelaporan pelaksanaan program, tidak ada standar pelaksanaan pelaporan program untuk masing53

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

masing sekolah sebagai acuan bagi sekolah untuk menyusun laporan pelaksanaan program

4. Minimnya Petunjuk Pelaksana dan Petunjuk Teknis Sebagai Aturan Pelaksanaan Perbup Untuk dapat melaksanakan Peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2006, maka sesungguhnya dibutuhkan berbagai aturan pelaksanaan, baik berupa petunjuk pelaksana maupun petunjuk teknis. Jika merujuk pada judul Peraturan Bupati yang ada saat ini (Perbup Nomor 11 tahun 2006) adalah berjudul Pedoman Pelaksanaan Program Pendidikan Gratis di Kabupaten Sumbawa Barat. Jika merujuk pada judul Peraturan Bupati tersebut, maka seyogyanya karena yang diatur adalah pedoman, maka dalam perbup tersebut dapat menjabarkan secara rinci, terhadap para pihak yang diatur baik impelemnting agency atau pelaksana dan para pihak pelaksana terkait lainnya harus jelas begitupun dengan role occupation atau pihak-pihak yang dituju dari peraturan tersebut. Jika melihat pada aspek susbstansi yang diatur dalam Peraturan Bupati dengan materi dalam Peraturan Bupati nampak ketidaksesuaian, pedoman apa sesungguhnya yang diatur dalam Perbup itu sendiri, apakah pedoman perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, pengawasan, akuntabilitas dalam program pendidikan gratis ? Begitupun sasaran yang dituju dari pedoman tersebut masih terdapat bias. Pedoman untuk siapa? Karena seluruh pihak yang dituju begitu luas dan cakupan mengenai tugas, fungsi, hak dan kewajiban masing-masing pihak yang dituju dari aturan tersebut tidak jelas. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika dalam pelaksanaanya, menimbulkan banyak penafsiran dan kebingungan, bahkan aturan tersebut sesungguhnya tidak mampu untuk mengjangkau apa yang diinginkan oleh Bupati. Persoalan lainnya adalah jika Peraturan ini adalah bersifat Pedoman, maka tentu ada peraturan diatasnya. Karena pada dasarnya pedoman ini adalah untuk melaksanakan aturan/kebijakan diatasnya. Jadi agak aneh dan timpang, peraturan mengenai pedoman ini muncul, namun yang dijadikan pedoman masih simpang siur atau belum jelas, bahkan tidak ada aturan diatasnya. Oleh karena Peraturan Bupati Nomor 11 tahun 2006 bersifat pedoman, maka menjadi aneh pula jika kemudian pemerintah daerah mengeluarkan peraturan/keputusan yang mengatur pedoman pelaksana dan pedoman teknis, karena dengan demikian berari pedoman melahirkan pedoman, atau juklak diatas juklak.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

54

Dari hasil kajian, persoalan ini tidak lepas dari paradigma perancang peraturan dalam memahami legislative drafting. Untuk dapat melaksanakan Perbup Nomor 11 Tahun 2006 dengan efektif, maka setidaknya jika merujuk pada materi yang ada dalam perbup, masih membutuhkan peraturan lebih lanjut yang perlu dijabarkan dalam bentuk petunjuk pelaksana dan ataupun petunjuk teknis, sehingga para pihak yang dituju baik impelemnting agency (badan pelaksana) maupun role accupation (para pihak yang dituju dalam peraturan) dapat melaksanakan sesuai dengan peraturan. Beberapa masalah kurang efektifnya perbup, karena cakupan dan materi yang diatur yang dimaksudkan sebagai pedoman program, tidak cukup komprehensif dan sistematik. Dan jika merujuk pada perbup tersebut, maka terdapat beberapa peraturan pelaksaan yang perlu diatur lebih lanjut, antara lain adalah meliputi ; a. juklak dan juknis tentang pendataan dan verifikasi penerima program pendidikan gratis b. petunjuk teknis pelaksanaan persyaratan dan kelengkapan persyaratan penerima program pendidikan gratis c. e. f. g. juklak dan juknis tentang pembentukan Tim dan Tata Kerja Tim juklak dan juknis tentang pemantauan dan pengawasan program pendidikan gratis untuk para pihak terkait juklak dan juknis pembentukan Unit Pengaduan Masyarakat dan Tata Kerja Unit Pengaduan Masyarakat Juklak dan juknis Pelaporan Program Pendidikan Gratis. Mekanisme Pengelolaan Anggaran untuk masing-masing sekolah i. j. Juklak dan juknis Pelaporan program dan ; Juklak dan juknis mengenai para pihak dan fungsi masing-masing para pihak dalam pelaksanaan program pendidikan gratis. Selain lingkup materi peraturan yang belum cukup komprehensif untuk mendukung pelaksanaan program pendidikan gratis berjalan efektif, dari aspek teknis kalimat perundang-undangan yang dirumuskan dalam pasal-pasal juga masih menimbulkan ketidakjelasan dan berpotensi terjadi multitafsir dan kondisi ini telah menimbulkan permasalahan dalam pelaksanaan program. Beranjak dari permasalahan diatas, maka arah perubahan penyempurnaan Peraturan Bupati—Penyusunan Peraturan daerah yang dituju adalah penyempurnaan terhadap judul dan materi peraturan, penyempurnaan terhadap kalimat peraturan, penyempurnaan terhadap sistematika materi, dan beberapa permasalahan lainnya agar lebih komprehensif dan sistematis.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

d. juklak dan juknis pelaporan program pendidikan gratis

h. Juklak dan Juknis Tata Cara Pengelolaan Anggaran, prosedur dan

55

5. Minimnya

Pemahaman

Masyarakat

Terhadap

Program

Pendidikan Gratis Pemahaman masyarakat terhadap program pendidikan gratis ternyata masih sangat minim dan masih sangat beragam. Bahkan, sebagian besar masyarakat tidak mengetahui materi apasajakah yang diatur dalam Perbup Nomor 11 Tahun 2006. Pemahaman masyarakat terhadap program pendidikan gratis selama ini dari mendengar, informasi dari para guru, teman, atau wargawarga dikampung yang membicarakan tentang program pendidikan gratis. lemahnya pemahaman masyarakat terhadap program pendidikan gratis ini, karena memang sejak awal dalam proses penyusunan Peraturan tersebut keterlibatan masyarakat sangat rendah, bahkan sama sekali tidak ada. Peraturan Bupati disusun ‘sendiri” oleh bagian hukum, tanpa ada proses konsultasi publik. Rendahnya keterlibatan masyarakat dalam proses ini, menurut pemda karena saat itu situasi “genting” dalam arti membutuhkan langkah yang cepat, karena adanya penolakan dari DPRD dan kondisi politik daerah yang kurang kondusif, hubungan eksekuitif dan legislatif tidak berjalan harmonis, dan hubungan antar warga masyarakat “masih” memanas karena pasca pilkada 2005, masih tersisa berbagai persoalan, termasuk penolakan atas terpilihnya Bupati saat itu. Sayangnya, pasca penetapan Peraturan Bupati Nomor 11 tahun 2006 dan situasi daerah berlangsung kondusif, sosialiasi perbup secara langsung, baik dari pemerintah daerah c.q. Bagian Hukum, maupun DPRD sangat minim. Hanya kalangan tertentu saja dari masyarakat yang mendapatkan Perbup Nomor 11 tahun 2005. Bahkan, para tenaga pendidik di sekolah-sekolah banyak yang mengetahui secara komprehensif perbup Nomor 11 tahun 2006. Bahkan, membaca perbup tersebut, karena minimnya sosialiasi atas perbup itu. Distribusi perbup kepada kelompok strategis masyarakat sangat terbatas. Akibatnya, program pendidikan gratis yang dimaknai dan dipahami masyarakat program pendirikan gratis adalah gratis biaya pendidikan seluruhnya, tidak ada lagi uang untuk membayar SPP/BP3, maupun pungutanpungutan uang lainnya dari sekolah, karena sekolah sudah digratiskan. Dan oleh karena pemahaman yang demikian, sulit bagi sekolah yang mengalami kekurangan operasional untuk menarik dana dari masyarakat atau menarik dana dari masyarakat untuk penambahan / pengembangan kegiatan yang ada disekolah, misalnya untuk kegiatan ekstrakurikuler, biaya kursus/jam tambahan mengajar diluar sekolah, dan sebagainya. Sementara disisilain, anggaran yang disediakan dari program pendidikan gratis masih sangat terbatas dan pemerintah daerah melarang kepada sekolah untuk menarik pungutan atau biaya-biaya lainnya dari siswa/orang tua murid. Salah satu penyebab masalah diatas adalah karena ; pertama, ketiadaan aturan yang jelas mengenai jenis-jenis pungutan
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

56

yang dilarang dan dibolehkan oleh sekolah sehingga terjadi perbedaan presepsi atau pemahaman antara masyarakat, pemda dan sekolah. kedua, adalah keterbatasan anggaran operasional untuk sekolah disisilain tuntutan terhadap peningkatan mutu pendidikan di masyarakat semakin meningkat.

Arah Perubahan Untuk mengatasi beberapa kelemahan/kendala sebagaimana diatas, maka perlu dilakukan ; pertama, pelibatan masyarakat dalam proses pembentukan peraturan daerah (revisi perbup), sejak awal pemerintah daerah c.q. bagian hukum dan DPRD perlu melibatkan dan melakukan sosialiasi secara luas kepada seluruh stakeholders di daerah—rancangan peraturan daerah perlu disitribusikan kepada masyarakat, khsusunya adalah sekolah (tenaga pendidik) dan para orang tua/wali. Pemerintah juga harus memberikan kesempatan dan bersikap terbuka untuk menerima saran dan masukan dari masyarakat terhadap rancangan peraturan daerah yang akan dibahas dan ditetapkan. Kedua, mengenai jumlah pembiayaan program pendidikan untuk membiayai operasional sekolah mulai dari TK/RA s.d. SMA/MA/SMK perlu dilakukan penyesuaian dan pengkajian secara mendalam dan dilakukan evaluasi secara terus menerus, karena pembiayaan operasional sekolah sangat tergantung dengan dinamika pasar, fluktuasi harga, dan faktor lainnya, pada setiap akhir tahun perlu dilakukan evaluasi dan penyesuaian terhadap biaya operasional sekolah. Mengenai jumlah pembiayaan operasional ini dapat dicantumkan dalam peraturan daerah dan atau dapat pula dicantumkan secara khusus dalam bentuk surat keputusan penetapan biaya operasional sekolah/tahun.

6. Adanya

Kekhawatiran

Masyarakat

Atas

Kepastian

dan

Keberlanjutan Program Pendidikan Gratis Pada dasarnya program pendidikan gratis memang sangat dibutuhkan masyarakat, terutama masyarakat miskin, dan hampir seluruh masyarakat program pendidikan gratis perlu untuk dipertahankan dan dilanjutkan di masa mendatang. Program pendidikan gratis dirasakan memiliki dampak dan manfaat langsung dirasakan masyarakat. Karena dengan adanya program pendidikan gratis selama ini sangat membantu mengurangi beban atau biaya pendidikan yang selama ini ditanggung oleh orang tua/wali murid. Saat ini dikalangan masyarakat mulai muncul kesangsian dan

kekhawatiran akan kepastian dan keberlanjutan program pendidikan gratis, pasca berakhirnya masa jabatan Bupati dan Wakil Bupati tahun 2015. Kekawatiran tersebut terkait dengan pertanyaan mendasar masyarakat, apakah
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

57

nantinya apabila Bupati dan Wakil Bupati sekarang berakhir masa jabatannya, akan berakhir pula program pendidikan gratis? Kekhawatiran tersebut muncul dan masyarakat beranggapan bahwa karena program pendidikan gratis yang berlangsung sekarang adalah karena merupakan kebijakan Bupati—ditetapkan melalui Peraturan Bupati nomor 11 tahun 2006, dan Bupati sudah 2 kali terpilih, dan karena itu adalah tidak mungkin Bupati sekarang akan kembali menjabat sebagai Bupati pada tahun 2015. Jika kemudian Bupati terpilih mendatang tidak lagi memiliki komitmen dan politicall will untuk melaksanakan program pendidikan gratis, maka akan berakhir pula program pendidikan gratis yang telah berlangsung saat ini. Tumpuhan masyarakat akan kepastian dan keberlangsungan program pendidikan gratis saat ini masih dan hanya tertuju pada sosok Bupati. Masyarakat belum menaruh harapannya kepada lembaga lain, seperti DPRD misalnya yang merupakan lembawa perawakilan masyarakat, karena politicall will dan keberpihakan DPRD terhadap masyarakat, dinilai warga masyarakat masih sangat minim. Belum ada kebijakan legislasi DPRD saat ini yang menyentuh kepada kepentingan dan kebutuhan real masyarakat.

Arah perubahan Scalling-up perbup untuk menjadi Perda adalah salah satu cara sekaligus usaha untuk menjamin kepastian dan kebrelanjutan terhadap program pendidikan gratis. Dorongan perlu pembentukan perda selain untuk menyempurnakan beberapa kelamahan perbup adalah dimaksudkan untuk mendoroong komitmen bersama seluruh stakeholders did aerah, khususnya DPRD untuk tetap melanjutkan program pendidikan gratis. Scalling-up ini juga sebagai upaya untuk “mengikat” DPRD agar sebagai lembaga perwakilan rakyat turut bertanggungjawab untuk memperjuangkan aspirasi yang berkembang dimasyarakat. Bertanggung jawab untuk mengalokasikan anggaran program pendidikan gartis serta sebagai upaya untuk menaikkan derajat hierarkhi produk hukum pengaturan program pendidikan gratis yang sebelumnya masih dalam bentuk perbup menjadi peraturan daerah. Arah perubahan yang penting pula yang perlu dipersiapkan saat ini adalah membangun sistem pendidikan gratis yang efektif, komprehensig dan sistematis. Sehingga, jika sistem program pendidikan gratis telah terbangun, maka diharapkan melalui sistem yang terbangun ini mampu untuk menjaga/mengawal Bupati dan Wakil Bupati maupun DPRD untuk mengikuti sistem tersebut. Untuk itupula, maka segala aspek regulasi yang bersifat mengikat untuk kesempurnaan produk hukum—program pendidikan gratis perlu dirumuskan dan ditetapkan sejak sekarang. Dengan berbagai instrumen hukum yang mengikat itupula
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

58

diharapkan akan muncul komitmen dan politicall will yang sama Bupati dan Wakil bupati di masa mendatang yang terpilih dengan Bupati yang ada saat ini.

7. Pendidikan Gratis Telah Memberikan Akses, Namun Belum Menjamin Pendidikan Yang Bermutu/Berkualitas Sebagaian besar masyarakat mengakui bahwa dengan adanya program pendidikan gratis yang berlangsung saat ini, akses masyarakat untuk dapat mengikuti pendidikan dari seluruh jenjang dapat lebih terjangkau dan lebih mudah untuk dicapainya. Pendidikan gratis juga telah mendorong motivasi orang tua dan siswa untuk meraih cita-cita setinggi-tingginya, karena sudah tidak ada lagi kendala untuk mengikuti proses pendidikan di KSB mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi. Ketercapaian tujuan program pendidikan gratis pada aspek ketersediaan dan keterjangkauan sudah cukup berhasil, bahkan melebihi target yang diharapkan oleh pemerintah daerah. Indikasi ketercapain ini tercermin dari Angka Partisipasi Murni dan angka Partisipasi Kasar yang terus mengalami perbaikan, disamping meningkatnya posisi Indeks Pembangunan Masyarakat (IPM) KSB yang sebelumnya berada pada posisi ke 7 dari 10 kabupaten/Kota di NTB naik menjadi peringkat ke 3. Seiring dengan itu, tujuan program pendidikan gratis diharapkan dimasa mendatang, tidak lagi sebatas pada aspek, melainkan sudah harus merambah pada peningkatan mutu/kualitas pendidikan. Tuntutan terhadap peningkatan mutu/kualitas karena masyarakat menilai pendidikan yang ada saat ini masih tertinggal dengan Kabupaten/Kota lainnya di Indonesia, bahkan masih tertinggal jauh dengan Kota Mataram. Sehingga, masih banyak pula warga KSB, yang meninggalkan KSB untuk ke Kota Mataram atau Kota/Kabupaten lainnya di Pulau Jawa—dengan tujuan dan alasan hanya mengejar mutu pendidikan, karena mutu pendidikan yang berada di daerah tersebut relatif lebih baik dibandingkan dengan mutu/kualitas pendidikan yang ada di KSB. Dikalangan masyarakat bawah (miskin) persoalan mutu pendidikan memang tidak menjadi sorotan dan kritikan yang tajam namun demikian, bukan berartipula masyarakat miskin tidak berhak untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas. Sesungguhnya, dalam benak merka menginginkan pula pendidikan yang bermutu. Bagi masyarakat miskin, cakupan program pendidikan gratis dimasa mendatang, bukan hanya terbatas diberikan untuk biaya operasional sekolah atau “pembebasan biaya” SPP, cakupan pendanaan program pendidikan gratis harus pula dapat menjangkau biaya penunjang siswa antara lain seperti ; biaya baju, buku, sepatu, transportasi dan sebagainya, karena biaya operasional inilah yang dirasakan masih sangat sulit dan memebankan mereka.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

59

Terkait dengan hal tersebut, dalam pandangan dan tuntutan masyarakat miskin terhadap program pendidikan gratis dimasa mendatang, dibutuhkan adanya reformulasi ulang terhadap sasaran kebijakan pemberian dana program pendidikan gratis. formulasi kebijakan baru program pendidikan gratis haruslah dapat mengutamakan terlebih dahulu kebutuhan dan kepentingan kepada masyarakat miskin. Dan dalam konteks itu, maka perlu dilakukan peninjauan pemberian dana pendidikan terhadap siswa yang mampu/mapan, perlu ada perhitungan khusus dan proporsi khusus anggaran pendidikan gratis antara warga miskin dengan warga yang mampu, dalam arti tidak lagi diperlakukan secara seragam. Arah perubahan Salah satu kelemahan dari Peraturan Bupati Nomor 11 tahun 2006 adalah tidak diaturnya mengenai standar pendidikan gratis. Persoalan lainnya adalah rendahnya kapasitas dan profesionalisme guru, masih terbatasanya sarana dan prasarana sekolah, dan faktor-faktor lainnya yang menyebabkan mutu pendidikan rendah. Perubahan revisi perbup diarahkan pada upaya perbaikan terhadap standar pendidikan dan dalam pemberian pelayanan mengacu pada UU.No.25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Sedangkan terkait dengan jumlah dan alokasi pemberian dana pendidikan yang tidak seragam perlu dilakukan kajian dan diatur secara khusus dalam surat keputusan atau ketetapan tentang besarnya proporsi anggaran bagi setiap peserta/siswa.

8. Pemberian Dana Program Pendidikan Gratis ke Sekolah Sudah Tepat, Namun Perlu Di bangun Transparansi dan Akuntabilitas Sekolah Selama ini dana program pendidikan gratis untuk siswa, tidak diberikan langsung kepada siswa melainkan kepada sekolah. Sejumlah kalangan menilai bahwa pemberian dana ke sekolah potensial terjadi penyimpangan, karena selama ini tidak ada keterbukaan informasi dan pertanggungjawaban publik terhadap pengelolaan dana program pendidikan gratis. Disamping itu, juga berpotensi terjadi manipulasi terhadap jumlah data siswa. Terkait dengan itu, ada sebagian kecil kalangan masyarakat yang menginginkan agar pemberian dana pendidikan gratis diberikan secara langsung berupa uang tunai kepada para penerima (siswa), dengan alasan dana tersebut adalah merupakan hak penerima program, karena itu siswa atau orang tua siswalah yang memiliki otoritas langsung untuk mengelolanya, bukan sekolah. Keinginan sebagian kalangan ini, justeru banyak yang ditolak oleh masyarakat, khususnya dari para tenaga pendidik. Mekanisme pemberian dan pengelolaan dana langsung kepada masing-masing sekolah sudah tepat, karena
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

60

dengan langsung sekoolah yang menerima dapat memberikan jaminan, dana pendidikan gratis yang diberikan oleh pemerintah daerah sesuai peruntukkanya ; membebaskan biaya operasinal siswa. Karena justeru, jika diberikan langsung dalam bentuk uang tunai kepada masing-masing siswa/orang tua siswa/wali dapat digunakan siswa/orang tua siswa/wali untuk keperluan belanja yang lainnya sehingga siswa pada akhirnya terkendala untuk mambayar uang sekolah. Dari aspek pemberian dana pendidikan gratis kepada sekolah-sekolah sudah cukup tepat. Persoalannya sekarang adalah bagaimana pemerintah daerah, masyarakat dan DPRD dapat mendorong adanya transparansi dan akuntabilitas dari masing-masing sekolah penerima program pendidikan gratis, agar dana program pendidikan gratis dapat diakses publik dan dipertanggungjawabkan serta tidak disalahgunakan. Khususnya, terhadap sekolah swasta, karena pertanggungjawaban sekolah swasta tergolong rendah dan pada sekolah swasta tidak ada larangan khusus dari pemerintah daerah untuk menarik dana-dana dari siswa atau orang tua siswa, sehingga dapat terjadi doubel acount anggaran. Disatu sisi sekolah tersebut menerima program dana pendidikan gratis, juga mereka menerima dana-dana dari siswa atau orang tua murid melalui kebijakan di yayasan tersebut. Arah Perubahan Transparansi pengelolaan anggaran pendidikan di masing-masing sekolah harus dibangun di masing-masing sekolah, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pelaporan atas program. Sekolah harus membuka akses dan menyampaikan secara terbuka terhadap para pemangku kepentingan yang ad di sekolah, seperti Komite Sekolah, Dewan Pendidikan, orang tua siswa/wali, dan kepada siswa. Kegiatan yang dilakukan misalnya dengan memasang papan informasi mengenai dana program pendidikan gratis, mengundang para orang tua/wali untuk mensosialisasikan anggaran yang diterima sekolah dari program pendidikan gratis, mempublikasikan secara terbuka laporan penggunaan anggaran pendidikan gratis dan lain sebagainya. Pertanggungjawaban pengelolaan anggaran pendidikan gratis, tidak lagi sebatas penyampaian pelaporan sekolah kepada Dinas, melainkan pertanggungjawaban harus pula disampaikan kepada Komite Sekolah, Dewan Pendidikan dan para orang tua/wali siswa.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

61

9. Menurunnya Partisipasi dan Tanggung Jawab Orang Tua/Wali dan Siswa Salah satu masalah yang muncul sejak diberlakukannya program pendidikan gratis adalah adanya kecendrungan menurunnya partisipasi dan tanggungjawab orang tua/wali siswa dalam memotivasi, mengawasi dan Mereka merasa oleh karena membina anaknya (siswa), bahkan sebagian orang tua, semakin kurang peduli terhadap perkembangan dan kemajuan siswa. sekolah sudah gratis, maka berarti tanggungjawab orang tua terhadap

pembiayaan sekolah sudah menjadi tanggung jawab pemerintah, karena sudah menjadi tanggungjawab pemerintah, maka kewajiban orang tua sudah tidak ada lagi, dan karena itu pula, jika ada anak siswa yang tidak naik kelas atau malas belajar tidak ada implikasinya terhadap orang tua/wali, karena orang tua tidak dirugikan, toh meskipun tidak naik kelas atau malas belajar dana pendidikan gratis tetap berjalan dan siswa tetap menerima program pendidikan gratis. Dampak dari minimnya partisipasi dan tanggungjawab orang tua terhadap siswa berpengaruh terhadap beban tugas dan fungsi para tenaga pendidik yang semakin meningkat, para tenaga pendidik, pada akhirnya harus membuat sejumlah kebijakan yang lebih kreatif dan ketat dalam pengawasan dan pembinaan siswa agar para siswa yang ada di masing-masing sekolah tetap menjalankan proses pembelajaran di sekolah dengan baik. Disamping , motivasi dan tanggungjawab dari para siswa itu sendiri yang juga cenderung menurun. Ada beberapa faktor munculnya masalah di atas ; pertama, karena

kurangnya pemahaman orang tua dan siswa terhadap tujuan program pendidikan gratis, bahkan siswa rata-rata belum tahu dan pernah membaca Perbup Nomor 11 Tahun 2006 (khususnya siswa SMP dan SMA). Sehingga sebagian siswa salah mensalahtafsirkan semangat dan tujuan dari program pendidikan gratis. Sehingga program pendidikan gratis, dimaknai sebagai hilangnya beban dan tanggungjawab mereka sebagai siswa kepada orang tua, guru dan sekolah—mereka merasa tidak perlu lagi untuk terus belajar dan meningkatkan prestasinya. Karena toh, jikalaupun pada akhirnya mereka gagal, orang tua mereka tidak dirugikan karena tidak ada biaya yang dikeluarkan, segala tanggungjawab kembali kepada sekolah dan pemerintah daerah.

Arah Perubahan Salah satu penyebab masalah di atas adalah karena di dalam Perbup Nomor 11 Tahun 2006 tidak mengatur pembatasan waktu dan jumlah biaya yang
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

62

dikeluarkan oleh pemerintah daerah untuk membiaya siswa di masing-masing jenjang, misalnya ; terkait dengan jenjang pendidikan di SMP adalah 3 tahun. Disamping itu adalah tidak adanya sanksi kepada siswa atau orang tua, misalnya sanksi berupa “pemutusan” dana bantuan pendidikan gratis apanila siswa/anak tersebut tidak naik kelas atau malas atau melanggar peraturan tata tertib yang ada di sekolah. Ketiadaan mekanisme tersebut menjadi salah satu pemicu minimnya tingkat partisipasi dan tanggung jawab orang tua/wali murid untuk mendukung upaya pencapaian program pendidikan gratis, termasuk peningkatan mutu/kualitas pendidikan. Oleh sebab itu, maka dalam revisi Perbup saat ini perlu dirumuskan adanya ketentuan pembatasan waktu dan jumlah pembiayaan pada setiap jenjang pendidikan serta sanksi terhadap siswa. Pembatsan waktu disesuaikan dengan masa jenjang pendidikan yang harus ditempuh, jika pendidikan SMP atau SMA, normalnya ditempuh selama 3 tahun, maka selama hanya 3 tahun itulah kewajiban pembiayaan pendidikan yang ditanggung pemerintah daerah dalam program pendidikan gratis. Sedangkan terkait dengan sanksi adalah berupa pemutusan atau pencabutan pemberian dana program pendidikan gratis, misalnya apabila masa poendidikan SMA adalah 3 tahun, kemudian ternyata ditempuh oleh siswa bersangkutan selama 5 tahun, maka 2 tahun kelebih masa waktu tersebut pembiayaannya menjadi tanggung jawab orang tua/wali siswa bersangkutan. Kedua pemerintah daerah melalui sekolah-sekolah perlu meningkatkan sosialiasi terhadap program pendidikan gratis. Sosialiasi tersebut, bukan hanya ditujukan kepada Komite Sekolah atau Orang Tua/Wali siswa, melainkan pula harus ditujukan langsung kepada para siswa penerima program pendidikan gratis khususnya kepada siswa SMP/Tsanawiyah dan SMA/SMK/Aliyah agar para siswa dapat memahami secara komprehensif terhadap program pendidikan gratis, dan mereka dapat berpartiispasi dan bertanggungjawab pula terhadap keberhasilan pelaksanaan terhadap program. program pendidikan gratis, karena keberhasilan program pendidikan gratis tergantung pula dari tingkat partisipasi siswa

10. Masih Terbatasnya Sarana dan Prasana Pendukung Sekolah Untuk Melahirkan Pendidikan Gratis Yang bermutu Persoalan keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan untuk dapat menunjang pendidikan gratis yang berkualitas dirasakan masih menjadi kendala yang dihadapai oleh sebagaian besar sekolah dari seluruh jenjang satuan pendidikan, mulai dari TK s.d. SMA/sederajat. Karena program pendidikan gratis yang diberikan oleh Pemerintah daerah terbatas pada subsidi untuk biaya
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

63

operasional pendidikan di masing-masing sekolah. Dukungan tersebut dirasakan sekolah belum cukup untuk dapat pendidikan yang berkualitas. Beberapa permasalahan yang banyak ditemukan di masing-masing sekolah adalah terkait dengan sarana dan prasana alat peraga, alat bermain, laboratorium, perpustakaan, komputer dan sarana pendukung lainnya. Bahkan, sekolah yang sedang menuju pada sekolah standar nasional, seperti SMAN I Taliwang dan SMPN I Taliwang, sarana dan prasarana disekolah tersebut belum memenuhi standar yang dipersyaratkan sebagai standar sekolah nasional. Sarana dan prasarana yang dirasakan belum belum cukup mendukung dan memadai antara lain standar sekolah nasional. Arah perubahan Peningkatan sarana dan prasarana merupakan masalah klasik yang masih menjadi kendala dalam upaya peningkatan mutu/kualitas pendidikan. Dalam rangka peningkatan mutu, selain memberikan dana program operasional sekolah melalui program pendidikan gratis, pemerintah daerah perlu mengalokasikan secara khusus dana peningkatan sarana dan prasarana sekolah dan mendukung sekolah-sekolah yang sedang menuju pada standar pendidikan nasional. Sekolah standar nasional dibutuhkan sebagai percontohan sekolah di KSB—mendorong sekolah-sekolah untuk menuju pada sekolah standar nasional dan pada akhirnya sekolah standar internasional. seperti fasilitas komputer yang masih terbatas begitupun dengan fasilitas laboratorium IPA dan IPS yang belum memenuhi

11. Perencanaan dan Pembiayaan Program bersifat Top Down Menghambat Kreatifitas Pengembangan Sekolah Penyusunan program dan kegiatan sekolah sangat tergantung dari pagu yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah melalui Dinas Pendidikan. Sekolah harus menyesuaikan dengan anggaran yang ditetapkan dan program maupun kegiatan sekolah pada akhirnya menyesuaikan dengan anggaran yang telah dialokasikan oleh masing-masing sekolah. Perencanaan kegiatan/program sekolah pada akhirnya banyak yang terhambat atau tidak dapat dilaksanakan oleh masing-masing sekolah secara efektif, karena secara prinsipil perencanaan program dan kegiatan masing-masing sekolah tidak berdasarkan pada kebutuhan, potensi, dan karakteristik yang dimiliki masing-masing sekolah. Pada dasarnya banyak sekolah yang telah memiliki rencana strategis, visi dan misi
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

64

serta agenda-agenda program yang harus dilaksanakan oleh sekolah, namun menjadi terhambat pengembangnnya karena alokasi anggaran yang diberikan terbatas, item jenis kegiatan yang dapat dibiayai oleh pemerintah sudha ditetapkan. Aspek perencanaan program dan anggaran pendidikan di masing-masing sekolah oleh sebagian besar tenaga pendidik di masing-masing sekolah menilai penyusunan program dan anggaran pendidikan gratis yang berlangsung selama ini lebih bersifat top down, anggaran pendidikan untuk masing-masing sekolah telah ditetapkan oleh Dinas Pendidikan, dan sekolah hanya menyesuaikan dengan kebijakan dari atas. Oleh sebab itu, sangat sulit bagi sekolah untuk dapat mengembangkan program pengembangan disekolahnya, terlebih lagi untuk program peningkatan mutu atau kualitas pendidikan di masing-masing sekolah. Karena jenis program dan kegiatan dimasing-masing sekolah yang harus disesaikan dengan rincian atau item anggaran yang telah ditetapkan oleh Dinas Pendidikan. Arah perubahan Perencanaan strategis atau renstra masing-masing sekolah perlu untuk dikembangkan di masing-masing sekolah. Renstra menjadi kerangka acuan bagi sekolah dan Dinas Pendidikan untuk menyusun program dan kegiatan tahunan. Pola pendekatan penyusunan anggaran untuk program pendidikan gratis perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing sekolah. Pemerintah daerah (Dinas Pendidikan) perlu untuk melibatkan sekolah-sekolah dalam proses penyusunan anggaran, termasuk melibatkan Dewan Pendidikan Daerah. Kajian dan evaluasi terhadap kebutuhan masing-masing sekolah harus terus dilakukan untuk memastikan tingkat perkembangan dan kemajuan masing-masing sekolah. Disamping itu, sebelum menetapkan dan memberikan alokasi anggaran kepada masing-masing sekolah Dinas Pendidikan perlu melakukan verifikasi terhadap usulan program dan kegiatan yang diajukan oleh masing-masing sekolah. Kebijakan alokasi anggaran untuk operasional sekolah melalui program pendidikan gratis dapat diberlakukan secara seragam, namun daerah untuk perlu pengembangan masing-masing sekolah, pemerintah

mempersiapkan dana khusus yang dialokasikan untuk pengembangan sekolah— berdasarkan rencana strategis yang dimiliki oleh masing-masing sekolah. Sehingga proporsi anggaran untuk operasional masing-masing sekolah tidak ditentukan semata atas dasar indikator/variabel jumlah siswa yang terdaftar di masing-masing sekolah, melainkan pula didasarkan atas basis kinerja—yang tertuang dalam rencana strategis masing-masing sekolah, sehingga dengan kebijakan model ini diharapkan sekolah juga menjadi kreatif dalam mengembangkan sekolahnya. Tidak tergantung dari kebijakan dan anggaran yang dialokasikan oleh Pemerintah Daerah.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

65

12. Sasaran Penerima Program Pendidikan Gratis Untuk Semua Sekolah Memicu Pelaku Usaha Pendidikan Untuk Mendirikan Sekolah-Sekolah Baru. Kebijakan pemberian dana program pendidikan gratis yang berlaku saat ini adalah diberikan kepada seluruh siswa TK s.d. SMA dan sederajat, baik swasta maupun sekolah negeri dan berlakupula pada seluruh siswa, baik yang miskin maupun siswa kaya. Tidak ada pembedaan, seluruh warga KSB memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan gratis. Dalam implementasinya pendekatan sasaran pemberian dana dengan cara seperti ini telah melahirkan persoalan antara lain adalah ; pertama, adanya kecendrungan munculnya sekolah-sekolah swasta baru, mulai dari tingkat PAUD hingga tingkat SMA sederajat, kemunculan sekolah-sekolah baru ini banyak yang motivasinya lebih kepada kepentingan usaha ‘bisnis pendidikan”. Bagi sejumlah pelaku usaha, dengan adanya program pendidikan gratis yang berlaku secara menyeluruh dipandang sebagai sebuah peluang atau bisnis baru yang relatif cukup menguntungkan. Situasi ini, kemudian dimanfaatkan dengan cara mendirikan sekolah, karena dengan sekolah baru itu, maka sekolah tersebut dapat menerima siswa, dan dengan menerima siswa itu maka akan memperoleh dana program pendidikan gratis. Fenomena kecendrungan ini dapat menjadi masukan atau isyarat penting bagi pemerintah daerah dalam rangka mengantisipasi terjadinya “ledakan atau lonjakan” jumlah dan jenis sekolah baru di Kabupaten Sumbawa Barat, karena memiliki konsekuensi terhadap anggaran daerah, berpotensi anggaran pendidikan akan semakin meningkat dan semakin banyak “tersedot” untuk mensubsidi sekolah-sekolah tersebut.

Arah perubahan Munculnya sekolah-sekolah baru disatu sisi cukup membantu

pemerintah daerah dalam meningkatkan ketersediaan (akses) pendidikan bagi masyarakat, namun disilain juga menjadi beban baru bagi pemeirntah daerah karena pemerintah daerah harus pula mengalokasikan anggaran untuk sekolah tersebut. Pemerintah daerah juga tidak bisa atau boleh melarang orang atau Badan Hukum yang mendirikan sekolah karena bagian dari partisipasi masyarakat terhadap pendidikan. Dilema ini menjadi tantangan tersedniri yang dihadapi pemerintah daerah dalam program pendidikan gratis. Munculnya sekolah baru yang kemudian memperoleh dana program pendidikan gratis salah satu penyebabnya adalah ketiadaan aturan yang jelas dalam peraturan Bupati Nomor 11 tahun 2006 mengenai kualifikasi dan persyaratan sekolah penrima program pendidikan gratis. Disamping minimnya
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

66

verifikasi dan pengawasan. Kehadiran sekolah baru juga banyak menimbulkan masalah baru dalam masyarakat, karena banyak sekolah baru yang tidak dilengkapi dengan kelengkapan dokumen perizinan yang memadai. Bahkan, terdapat sejumlah sekolah yang belum memiliki legal standing yang jelas, namun pemerintah telah memberikan dana untuk sekolah tersebut. Kondisi inipula yang menyebabkan dari hasil pemeriksaan BPK menemukan sejumlah temuan-temuan yang dinilai ebagai kesalahan. Untuk itu, maka pemerintah daerah perlu untuk melakukan perbaikan terhadap aturan main yang dijalankan dalam program pendidikan gratis dan perlu melakukan ; pertama, evaluasi terhadap keberadaan dan kinerja sekolahsekolah baru diseluruh tingkatan mulai dari PAUD hingga SMA sederajat khususnya terhadap sekolah swasta untuk dapat memastikan apakah sekolah yang didirikan tersebut telah memenuhi legalitas sekolah dan sebagainya. Kedua, pemerintah daerah perlu untuk menyusun kriteria dan persyaratan, mekanisme tata kelola dana pendidikan gratis, hak maupun kewajiban, akuntabilitas penggunaan dana dan lain sebagainya kepada masing-masing sekolah yang akan menerima dana pendidikan gratis, kualifiasi sekolah yang layak dan tidak layak untuk menerima dana pendidikan gratis perlu pula dirumuskan oleh pemerintah daerah khususnya terhadap sekolah swasta, sehingga tidak semua sekolah swasta, khususnya yang tidak layak untuk menerima dana pendidikan gratis untuk menerima anggaran dari APBD daerah. Oleh sebab itu maka, arah perubahan yang dituju dari adanya Revisi Peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2006 adalah diarahkan pada upaya untuk mengatasi beberapa permasalahan diatas. persyaratan dan kelayakan untuk menyelenggarakan pendidikan, baik sarana dan prasarana, tenaga pendidik,

13. Terjadi Disparitas Antara Sekolah Maju (Pavorit) Dengan Sekolah Pinggiran (Tertinggal)

Disparitas antara sekolah maju dengan sekolah pinggiran sesungguhnya terjadi bukan hanya pada masa sekarang atau sejak program pendidikan gratis diberlakukan. Sebelumnya, diparitas antar sekolah antara sekolah pavorit dengan sekolah pinggiran pun telah terjadi. Namun, kondisi disparitas antara sekolah maju dengan sekolah pinggiran semakin cenderung meningkat sejak diberlakukannya program pendidikan gratis. Salah satu penyebab pemicu terjadinya kesenjangan yang semakin jauh ini dikarenakan kebijakan program pemberian dana pendidikan gratis menjadikan indikator atau variabel jumlah siswa yangterdaftar disekolah menjadi salah satu variabel yang menentukan besarnya jumlah anggaran operasional untuk masing-masing sekolah.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

67

Kebijakan ini ternyata

memiliki konsekuensi sekolah pavorit (maju)

semakin maju karena memiliki jumlah murid dan kelas yang semakin meningkat dan anggaran yang semakin besar. Sebaliknya, sekolah yang tertinggal, terlebih lagi sekolah baru berdiri yang notabennya bukan sekolah pavorit cenderung akan menerima jumlah siswa/murid dan kelas yang semakin minim sehingga anggaran program pendidikan gratis yang diterima oleh sekolah itupun semakin terbatas. Oleh karena, anggaran operasional yang dimiliki sekolah tertinggal sangat terbatas, maka sulit bagi sekolah tersebut untuk dapat mengembangkan dan meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan, hanya sekolah baru tertentu saja yang berhasil dari ‘kemelut krisis” ini yang berhasil keluar dari masalah dan berhasil mejadi sekolah pavorit, itupun sangat terbtas jumlahnya. Minimnya anggaran yang diterima oleh sekolah tertinggal jika terus menerus berlangsung sepanjang tahun, maka dapat dipastikan sekolah tersebut akan mengalami “kebangkrutan” karena ketiadaan peserta didik dan anggaran operasional sekolah.

Arah perubahan Untuk mengatasi masalah tersebut, maka pemerintah daerah perlu untuk melakukan perubahan. Perubahan tersebut diarahkan pada bagaimana pemerintah daerah dapat lebih memperhatikan sekolah tertinggal dan memberikan kebijakan dan anggaran khusus bagi sekolah tertinggal. Pemerintah juga harus melakukan evaluasi terhadap sistem proporsi anggaran pada masingmasing sekolah, variabel jumlah murid perlu dipertimbangkan kembali penggunaannya terhadap sekolah tertinggal. Harus ada variabel tertentu yang digunakan oleh pemerintah, seperti misalnya variabel sekolah tertinggal sebagai penilaian dan pertimbangan khusus yang dijadikan dasar untuk menentukan besarnya biaya tambahan operasional bagi sekolah tertinggal. Karena secara prinsipil, dalam penyelenggaraan pendidikan biaya operasional yang harus dikeluarkan sekolah relatif sama antar sekolah tertinggal dengan sekolah maju. Misalnya, alat tulis mengajar yang dibutuhkan untuk melaksanakn pendidikan di sekolah. Arah perubahan kebijakan pendidikan yang dibutuhkan dimasa mendatang adalah bagaimana kebijakan program pendidikan gratis mampu mengurangi terjadinya disparitas antar sekolah. Sekolah negeri atau milik pemerintah khususnya, dapat berkembang maju secara bersama-sama dan dapat meningkatkan mutu dan kualitasnya, serta distribusi siswa yang merata di masing-masing sekolah, sehingga tidak terjadi penumpukan murid dan guru pada sekolah tertentu. program bantuan atau stimulus bagi sekolah tertinggal perlu untuk ditingkatkan dimasa mendatang. Oleh sebab itu, arah revisi
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

68

kebijakan yang ditempuh didorong pada upaya untuk mengtasi problem disparitas antar sekolah.

14. Pencairan APBD dengan Kalender Pendidikan Belum Sinkron dan Sinergis. Persoalan mendasar dan merupakan persoalan yang cukup krusial dari penyelenggaraan program pendidikan gratis adalah ketiadaan singkroninasi APBD dengan kalender pendidikan. Dua kebijakan ini, mekanisme APBD dan Kalender Pendidikan adalah merupakan kebijakan ditingkat pusat, yang sulit bagi daerah untuk menerobosnya. Sejak program pendidikan gratis diberlakukan keluhan sekaligus masalah yang banyak menjadi sorotan dari Kepala Sekolah dan Para Guru adalah terkait dengan waktu pencairan/pengeluaran anggaran program karena antara waktu pengeluaran anggaran dengan kalender pendidikan yang berbeda. Hampir seluruh sekolah, baik PAUD, TK, SMP, maupun SMA/sederajat mengalami kendala untuk menyesuaikan kebutuahan anggaran sekolah dengan waktu pencairan anggaran. Sebagaimana dimafhum dalam mekanisme penyusunan dan pembahasan APBD KSB selama ini baru dapat ditetapkan pada bulan febuari s.d. april. Sementara itu, dalam kalender pendidikan, pada bulan januari s.d. bulan april sekolah sedang menhadapi persiapan ujian nasional mapun ujian sekolah. Aktifitas kegiatan sekolah pada bulan ini (januari s.d. april) begitu tinggi, dan seiring dengan itupula sekolah membutuhkan anggaran yang memadai. Sementara itu, pada masa ini APBD umumnya masih dalam tahap pembahasan. APBD baru dapat dicairkan untuk program pendidikan gratis pada bulan mei bahkan bulan juni. Akibatnya, waktu pencairan anggaran tidak sesuai dengan waktu dan kebutuhan masing-masing sekolah. Persoalan lainnya yang menjadi masalah adalah masa tenggang waktu ketika proses APBD dibahas antar DPRD dengan Pemerintah Daerah, sekolah harus “menunggu”, dan pada masa menunggu penetapan dan pencairan APBD inilah sebagian besar sekolah mengalami kendala dalam melaksanakan berbagai kegiatan, karena ketiadaan dana operasional. Padahal, disisilain sekolah dituntut untuk terus melakukan proses belajar-mengajar, tanpa terganggu dengan pembahasan APBD. Untuk menjaga agar proses belajar-mengajar tetap berjalan efektif, sejumlah Kepala Sekolah, akhirnya terpaksa untuk mengisi “kekosongan” biaya operasional sekolah, mencari pinjaman atau “berhutang” kepada pihak tertentu. Keresahan dialami pula oleh para guru khususnya para guru yang berstatus sebagai Guru Tidak Tetap (GTT) maupun Guru Kontrak Daerah (GKD) pada masa tenggang waktu ini, mereka harus “berpuasa” karena tidak ada gaji atau honor untuk mereka. Padahal, mereka harus tetap menjalankan aktifitas dan
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

69

tugasnya mengajar, bagi guru GTT dan GKD yang jaraknya jauh dari sekolah mereka harus mengeluarkan biaya transportasi setiap hari, dan lebih parahnya lagi adalah GTT dan GKD yang statusnya tidak memiliki rumah atau mengontrak, mereka selain harus mengeluarkan biaya transportasi juga harus mengeluarkan uang bulanan kos-kosan. Situasi ini cukup memprihatinkan dan tentu dapat berdampak pada proses pembelajaran di sekolah.

Arah perubahan Untuk mengatasi permasalahan di atas, maka perlu dirumuskan formulasi kebijakan agar dana program pendidikan gratis dengan kalender pendidikan berjalan sinergis. Namun, oleh karena kedua kebijakan ini adalah merupakan kebijakan yang berlaku secara umum di tingkat pusat dan telah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat, sulit bagi Pemerintah Daerah untuk dapat merubahnya. Untuk itu, maka harus ada kebijaksaan atau sebuah terobosan inovatif baru dari daerah. Terobosan inovatif tersebut, misalnya adalah dengan cara membuat kebijakan semacam “dana cadangan” atau “DANA ABADI SEKOLAH” terganggu. Dana Abadi Sekolah adalah Dana yang diberikan oleh Pemerintah untuk masing-masing sekolah. Dana Abadi Sekolah ini semacam deposito yang dimiliki oleh masing-masing sekolah. Jumlahnya bervariasi sesuai dengan kebutuhan operasional masing-masing jenjang sekolah. Misalnya untuk sekolah SMA adalah Rp.50.000.000,- (lima puluh juta)/tahun. Dana ini diperuntukkan sebagai dana “cadangan” digunakan pada saat APBD belum dicairkan kepada masing-masing sekolah, setelah APBD ditetapkan dan diberikan kepada masing-masing sekolah, maka dana yang terpakai dari Dana Abadi Sekolah ini diganti kembali sesuai dengan jumlah yang dikeluarkan pada tahun tersebut. Sumber dari Dana Abadi Sekolah ini adalah berasal dari APBD. Dan dapat pula ditarik dari sumbangan pihak ketiga dan orang tua/siswa. untuk masing-masing sekolah agar pada masa tenggang waktu proses belajar mengajar atau operasional sekolah tidak pembahasan APBD,

15. Ruang

Partisipasi

Masyarakat

Tetap

Harus

Dibuka

Oleh

Pemerintah, Tidak Boleh Ada Larangan Bagi Masyarakat Yang Ingin Menyumbang Tidak seluruhnya masyarakat menolak jika ada kebijakan dari sekolah untuk memungut biaya kegiatan/program sekolah dalan rangka peningkatan kualitas pendidikan. Misalnya, pungutan untuk biaya pembelian fasilitas komputer siswa, penyediaan buku-buku perpustakaan sekolah, atau kegiatan tambahan mengajar (les) dari para guru. Beberapa orang tua/wali murid yang
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

70

memiliki kelebihan secara ekonomis, ternyata banyak pula yang tidak keberatan jika pungutan sekolah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Bahkan, banyak diantara para orang tua/siswa yang menginginkan untuk memberikan konstribusi langsung terhadap peningkatan mutu pendidikan disekolah. Keinginan sejumlah warga masyarakat yang memiliki perhatian dan kepedulian serta kemampuan ekonomis ini tentu harus diberikan apresiasi oleh pemerintah daerah dan sekolah. Arah perubahan Potensi ini dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah dan sekolah. Misalnya melalui penggalangan dan penyaluran Dana Abadi Sekolah (DAS). DAS ini dapat menjadi sarana atau wahana untuk penggalangan dana partisipasi masyarakat, termasuk para alumni sekolah yang bersangkutan yang memiliki kepedulian terhadap peningkattan mutu pendidikan di sekolah yang bersangkutan. Secara kelembagaan, kegiatan ini dapat dilakukan oleh Komite Sekolah di masing-masing sekolah. Sehingga, keberadaan dan peran Komite Sekolah tetap dapat berjalan dan tidak ternegasikan dengan adanya program pendidikan gratis—partisipasi komite sekolah justeru semakin minim.

16. Profesionalisme

Guru

Perlu

Ditingkatkan

Untuk

Menjaga

Pendidikan Gratis Yang Bermutu Pfofesionalisme guru memiliki peran yang sangat strategis dalam menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan. Untuk memperoleh guru yang profesional tentu dimulai sejak proses rekrutmen Pegawai Negeri Sipil. Seleksi dan Ujian yang dilakukan dalam penjaringan guru selain mengacu pada ketentuan standar umum, perlu dilakukan uji kompetensi. Uji kompetensi tersebut terkait dengan program studi yang akan diajar/dilamar. Jika lowongan CPNS guru bahasa inggris, maka peserta calon pegawai negeri sipil tersebut harus diuji kemampuannya secara langsung dengan program bahasa inggris, termasuk kemampuan untuk mengajar. Karena dari hasil evaluasi, masih banyak guru yang setelah lulus menjadi PNS-Guru ternyata tidak memiliki kapasitas untuk mengajar. Bahkan, banyak yang tidak mampu berbicara dihadapan siswa. Di beberapa sekolah saat ini banyak ditemukan pula pegawai negeri, yang sesungguhnya tidak memiliki background atau basic untuk mengajar atau berasal dari program studi keguruan dan ilmu pendidikan, sebagian besar adalah berasal dari akta IV (mengajar). Sehingga ada guru yang basic pendidikannya adalah Sarjana Pertanian, kemudian mengajar fisika dan kimia. Padahal, dari aspek kemampuan dan keilmuan yang dimiliknya dengan program studi yang diajarkan tidak memiliki korelasi dan kompetensi. Beberapa kasus lainnya adalah Guru yang hanya berpendidikan SMA mengajar di Sekolah Dasar dan
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

71

diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil, bahkan ada tenaga administrasi yang merangkap pula sebagai guru dan sebagainya. Letak persoalan sesungguhnya bukan karena keterbatasan jumlah guru yang memiliki kompetensi karena sebenarnya banyak guru di KSB yang memiliki kompetensi di GTT atau GKD, namun karena kesempatan yang dimiliki sangat terbatas, tidak ada akses dan jaringan ke tingkat kekuasaan, akhirnya mereka tersingkirkan dari proses seleksi CPNS. Rentannya praktek kolusi dan nepotisme dalam rekrutmen pegawai diyakni banyak kelangan sebagai masalah besar yang menyebabkan minimnya mutu pendidikan. Disamping itu upaya program untuk peningkatan kapasitas para tenaga pendidik di sekolah masih sangat minim.

Arah Perubahan Beranjak dari permasalahan diatas, maka perlu dilakukan perubahan terhadap sistem rekrutmen guru, perlu ada tambahan materi dalam seleksi guru, yakni melakukan uji dan fit and propertes guru, untuk memastikan bahwa calon PNS guru tersebut benar-benar memiliki kelayakan dan kompetensi untuk mengajar, karena nasib pendidikan tersebut sangat tergantung dari para guru. Uji kalayakan tersebut harus dilakukan secara terbuka dan independen serta mengkedepankan obyektivitas. Pemerintah daerah juga perlu untuk melakukan evaluasi secara khusus dan menyelruh terhadap para tenaga pendidik yang ada saat ini, khususnya adalah para guru PNS dan Guru PNS yang telah memiliki sertifikasi, apakah dengan sertifikasi yang telah dimilikinya saat ini mencerminkan kapasitas, integritas dan profesional mengajar yang cukup memadai ataukah sebaliknya. Disamping, melakulan peningkatan kapasitas kepada para guru di masingmasing sekolah, khususnya guru yang mengajar di sekolah tertinggal, perlu untuk mendapatkan perhatian dan pengembangan program kapasitas guru agar sekolah tersebut dapat sejajar dengan sekolah lainnya yang telah lebih dahulu maju. Sanksi terhadap para birokrat yang melakukan KKN dalam praktek rekrutmen CPNS guru juga perlu diberikan sanksi yang lebih berat—karena dampak yang ditimbulkan dari praktek tersebut adalah terhadap para generasi KSB dimasa mendatang, mereka diajar oleh para guru yang tidak memiliki komptensi atau berkualitas.

17. Tujuan Akses Pendidikan Telah Berhasil Dicapai, Namun Mutu Pendidikan Harus Terus Ditingkatkan Dari aspek pencapaian tujuan program, secara umum program pendidikan gratis telah menunjukkan adanya perkembangan kemajauan pencapaian. Hal ini tercermin dari meningkatkan APK (Angka Partisipasi Kasar)
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

72

dan Angka Partisipasi Murni (APM) dalam bidang pendidikan yang terus mengalamai peningkatan dari tahun ketahun, begitupun dengan tujuan meringankan biaya pendidikan, dan penguarangan terhadap angka putus sekolah. Mengalami kemjuan yang signifikan sejak diberlakukannya pendidikan gratis. Agenda yang masih mendapat sorotan dan kritikan adalah pada aspek mutu/kualitas pendidikan. Untuk itu, maka pada periode pembangunan pendidikan di KSB selanjutnya yang perlu untuk mendapat perhatian sekaligus perubahan yang harus dituju adalah pada peningkatan mutu pendidikan. Standar Pendidikan Nasional perlu untuk didorong dan diberlakukan pada sejumlah sekolah yang ada di KSB.

18. Lemahnya

Regulasi

Program

Pendidikan

Gratis

Saat

ini,

Menuntut Pentingnya dilakukan Scalling-Up Kebijakan

Berbagai permasalahan yang muncul terkait dengan pelaksanaan program pendidikan gratis sebagaimana di atas tidak lepas dari lemahnya regulasi yang mengatur tentang program pendidikan gratis. bahkan sejumlah materi dalam regulasi tidak dapat berjalan efektif sebagaimana mestinya. Beberapa substansi yang kurang efektif berjalan adalah sebagai berikut ; Pertama, aspek persyaratan penerima program. Secara konseptual program pendidikan gratis dihubungkan pula dengan program gerakan sejuta pohon atau dikenal dengan GSP21. Akan tetapi, Gerakan Sejuta Pohon sampai hari ini belum jelas konsepsi maupun implementasinya, serta korelasi positif antara GSP dengan Program Pendidikan Gratis. Dinas pendidikan sebagai leading sektor pelaksana program pendidikan gratis dan Dinas Kehutanan, Pertanian, dan Ketahanan Pangan sebagai leading sektor dari program berjalan sendiri-sendiri, kurangnya koordinasi dan harmoniasasi program antara Dinas Pendidikan dan Dinas Kehutanan juga menjadi kendala. Disamping kendala terkait petunjuk pelaksana dan teknis pejabaran atas kebijakan yang telah ditetapkan sebelumnya. Begitupun dalam aspek evaluasi program pendidikan dan kesehatan gratis, dalam konsep Perbup Nomor 11 Tahun 2006 dalam pasal 23 ayat (2) dikatakan bahwa evaluasi pelaksanaan program dikaitkan dengan Gerakan Penanaman Sejuta Pohon, dilaksanakan oleh Dinas (Pendidikan-red) bersama-sama dengan Dinas Kehutanan, Pertanian, Perkebunan dan Ketahanan Pangan. Tidak ada penjabaran lebih lanjut atau ketentuan lebih lanjut mengenai materi apasajakah
21 GSP ditetapkan dengan Peraturan Bupati Sumbawa Barat Nomor 10 Tahun 2006 Tentang Gerakan Sejuta Pohon di Kabupaten Sumbawa Barat, Peraturan ini ditetapkan pada tanggal 2 Mei 2006.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

73

yang dievaluasi oleh masing-masing pihak, cakupan dan lingkup evaluasi, indikator keberhasilan program, maupun korealasi antara program GSP dan Program Pendidikan Gratis. Dua program tersebut memiliki maisntream dan sesungguhnya semangat yang berbeda. GSP sesungguhnya adalah sebuah program nasional yang berlangsung pada tahun 2004, era pemerintahan megawati—sebagai bentuk respons pemerintah pusat atas kesepakatan dengan para donor asing terkait dengan upaya antisipasi pemanasan global dan perubahan iklim yang kemudian diadopsi oleh daerah. Sejauh ini belum terlihat ada keterpaduan antara kedua program tersebut. Dalam Perbup Nomor 11 Tahun 2006 pasal 23 secara eksplitit menyebutkan mengenai syarat penerima beasiswa. Bunyi pasal 23 adalah sebagai berikut “Peserta Belajar yang dapat menerima bantuan pendidikan dari Program adalah siswa yang terdaftar disekolahnya masing-masing dan atau telah mempunyai sertifikat GSP”. Dalam rumusan pasal ini, secara implisit, mencerminkan ada dua syarat dan dua otoritas lembaga yang memiliki kewenangan untuk menentukan peserta penerima program, yakni ; Dinas Pendidikan dengan syarat siswa yang terdafat di sekolah dan Dinas Kehuatanan, Pertanian, perkebunan dan Ketahanan Pangan dengan GSP. Ketidakjelasan rumusan ini, bukan hanya membingungkan masyarakat, tetapi juga dapat membingungkan implementing agency dari pembuat dan pelaksana aturan itu sendiri. Kedua, kekaburan rumusan dalan perbup Nomor 11 tahun 2006 tercermin pula dalam pengaturan mengenai pemantauan. Dalam pasal 25 ayat (1) dikatakan bahwa pihak-pihak terkaitpsimaksud dalam pasal 4 wajib melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan program. Ayat (2) hasil pemantauan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Bupati, Dinas, Tim dan lainnya guna keberhasilan Program. Dalam rumusan ini jelas bahwa Perbup memerintahkan kepada pihakpihak terkait yang meliputi ; a. c. e. f. g. Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora); Badan Pengeloa Keuangan Aset Daerah (BPKAD) Dinas Kehutanan, Pertanian, Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DISHUPPTAN) Dewan Pendidikan; Unit Pengaduan Masyarakat (UPM); Olahraga; i. Sekolah/Madrasah;
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

b. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) d. Inspektorat Daerah;

h. Kepala Kantor Cabang Dinas (KCD) Dinas Pendidikan, Pemuda dan

74

j. k. l.

Guru; Camat; Kepala Desa;

m. Orang Tua/wali Siswa dan; n. Komite Sekolah Untuk melakukan pemantauan terhadap program pendidikan gratis.

oleh karena perintah dalam pasal 25 adalah merupakan wajib atau suatu keharusan, maka tentu secara hukum memiliki konsekeunsi jika dilaksanakan akan memperoleh sanksi. Namun, perintah dalam pasal 25 tersebut tidak dibarengi dengan pengaturan terhadap sanksi. Sehingga perintah keharusan untuk bertindak sesuai dengan pasal 25 ayat (1) tidak memiliki kekuatan apapun karena ketiadaan atas sanksi. Begitupun terkait dengan tugas pemantauan, oleh karena dalam

ketentuan peraturan tersebut (pasal 25 ayat 1) merupakan sebuah keharusan untuk bertindak atau dijalankan, maka seyogyanya implementing agency merumuskan secara jelas apa dan siapa yang dipantau (obyek pemantauan) yang dilakukan oleh masing-masing pihak, waktu dan prosedur pemantauan yang dijalankan, format pemantauan, dan sebagainya. Namun dalam regulasi maupun turunannya tidak mengatur sama sekali, sehingga seulit bagi para pihak untuk dapat melaksanakan perintah pasal 24 ayat (1) dan (2). Bahkan menjadi keanehan, jika Dinas (dikpora) memantau dirinya sendiri dan melaporkannya kepada mereka sendiri (lihat pasal 24 ayat 1 dan 2). Dari rumusan pasal-pasal yang diatur dalam Perbup Nomor 11 Tahun 2006 menunjukkan lemahnya peraturan tersebut, baik dari aspek teknis pertimbangan, landasan yuridis yang digunakan, materi pengaturan, maupun kalimat perundang-undangan yang digunakan. Sehingga sangat wajar, jika impelemnting agency maupun rule ocupation dari peratura tersebut tidak dapat dijalankan secara efektif oleh para pihak atau dengan kata lain sulit bagi setiap orang untuk berperilaku atau bertindak sesuai dengan yang diinginkan oleh peraturan tersebut, karena perintah, larangan, kebolehan maupun pengaturan tentang obyek, impelemnting agency dan rule occupation atas peraturan tersebut tidak jelas dalam pengaturannya. Beranjak dari permasalahan tersebut, maka perlu untuk dilakukannya scalling-up perbup. Scalling-up perbup tersebut, bukan hanya pada aspek penyempurnaan substansi materi pengaturan melainkan pula adalah scalling-up kedudukan perbup untuk menjadi sebuah perda—sebagai landasan untuk mendorong peyelenggaraaan pendidikan yang bermutu/berkualitas di masa mendatang.

BAB V
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

75

LANDASAN PEMBENTUKAN PERDA PENDIDIKAN GRATIS DI KAB SUMBAWA BARAT
Pada pembahasan sebelumnya telah digambarkan mengenai problematika yang muncul terkait konsep dan implementasi program pendidikan gratis di Kabupaten Sumbawa Barat berdasarkan Perbup Nomor 11 Tahun 2006 serta perkembangan kebijakan dalam bidang pendidikan. Untuk memperkuat landasan dan alasan mengapa perlu dilakukannya scalling up perbup nomor 11 tahun 2006 ini adalahpenegasan alasan dan landasan filosofis, sosiologis dan landasan yuridis pembentukan perda pendidikan gratis.

A.

Landasan Penyempurnaan 1. Landasan filosofis Secara filosofis, pembentukan peraturan daerah tentang penyelenggaraan program pendidikan gratis adalah untuk memberikan jaminan dan kepastian atas keberlanjutan program pendidikan gratis di KSB dimasa mendatang. Pembentukan perda juga untuk memberikan payung hukum dan landasan bagi pemerintah daerah untuk melanjutkan inovasi yang telah dilaksanakan selama ini. Program pendidikan gratis, perlu untuk dipertahankan dan terus dikembangkan karena ; (1) merupakan praktek best practices dari desentralisasi di Indonesia. (2) Program pendidikan gratis mampu untuk mengurangi angka putus sekolah, meningkatkan angka partisipasi kasar maupun angka partisipasi murni pendidikan (APK dan APM), meningkatkan sumber daya manusia (IPM meningkat), meningkatkan kecerdasan masyarakat, mengurangi beban ekonomi masyarakat, serta mampu mendorong terwujudnya kesejahteraan masyarakat. (3) program pendidikan gratis adalah instrumen penting untuk mewujudkan cita-cita bangsa dan cita cita daerah, mewujudkan masyarakat yang cerdas, sejahtera dana sarana menju peradaban yang fitrah. Penyelenggaraan pendidikan gratis adalah merupakan bentuk investasi jangka panjang yang tak ternilai harganya dimasa mendatang untuk kemajuan pembangunan KSB. Oleh karena itu dibutuhkan regulasi untuk mendukung program pendidikan gratis. 2. Landasan Yuridis Secara yuridis landasan pembentukan peraturan daerah ini adalah untuk melaksanakan ; pertama, amanah pembukaan UUD 1945 alinia 4 (empat), yang intinya negara berkewajiban dan bertanggung jawab untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan manah pasal 28C ayat (1) UUD 1945 (amandemen), pasal 31 ayat (1), 31

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

76

ayat (2) dan 31 ayat (4) yang intinya negara berkewajiban dan rakyat berhak untuk memeproleh pendidikan. Kedua, adalah amanah UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 11 Ayat 2 Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai lima belas tahun, Peraturan Pemerintah Nomor 47 tahun 2008 tentang wajib belajar, yang intinya menegaskan bahwa setiap warga negara wajib belajar hingga 9 tahun dan Pemerintah maupun Pemerintah Daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya. Ketiga adalah oleh karena Pemerintah daerah telah menetapkan Peraturan Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 23 Tahun 2008 Tentang Program Wajib Belajar 12 Tahun di Kabupaten Sumbawa Barat (Lembaran Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2008 Nomor 23, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 90), maka konsekuensi atas penetapan kebijakan tersebut, Pemerintah Daerah berkewajiban untuk mendanai program wajib belajar 12 tahun. Keempat, secara yuridis kedudukan perbup nomor 11 tahun 2006 tentang pedoman pelaksaaan program pendidikan gratis sebagai payung hukum sekaligus landasan penyelenggaraan program pendidikan gratis di KSB sudah kurang relevan lagi untuk digunakan. Kelima, Perubahan perbup ini perlu dilakukan oleh karena kedudukan perbup yang secara hierarkhis hukum adalah merupakan peraturan paling rendah disisilain masa jabatan Bupati dan wakil bupati akan berakhir pada tahun 2015 menjadi sangat rentan, program pendidikan gratis potensial terancam berakhir manakala Bupati dan wakil bupati pada periode selanjutnya tidak memiliki komitmen dan politicall will yang sama dan kuat untuk melanjutkan program pendidikan gratis. Keenam, oleh karena telah terjadi berbagai erubahan peraturan perundangundangan baru yang dilahirkan oleh pemerintah pusat maka perlu pemeritah daerah untuk melakukan penyesuaian kebijakannya dengan peraturan perundanganundangan yang berlaku saat ini Keenam, oleh karena peraturan bupati sebagai pedoman penyelenggaraan program pendidikan gratis memiliki beberapa kekurangan (tidka komprehensif) mengatur berbagai hal, serta dalam implementasinya banyak menimbulkan kendala/permasalahan, karena itu maka perlu dilakukan perubahan. 3. Landasan Sosiopolitis Secara politik, perubahan ini perlu dilakukan karena situasi politik yang mengkehendaki masa jabatan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah berakhir pada tahun 2015, sehingga untuk menjamin keberlangsungan program pendidikan gratis dibutuhkan peraturan daerah agar lebih memiliki kekuatan dan jaminan
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

77

keberlanjutan. Secara politis, hubungan esekutif dan legislatif yang berlangsung saat ini cukup harmonis, sehingga berpotensi usulan perubahan dapat diterima, dan dengan ditetapkannya pelaksanaan program pendidikan gratis secara politis dan hukum akan mengikat lembaga legsilatif. Secara sosial, program pendidikan gratis merupakan program sosial yang didukung seluruh masyarakat, karena manfaat dan dampaknya sangat besar bagi masyarakat. Kebijakan program pendidikan gratis telah membantu untuk meringankan beban ekonomi masyarakat, meningkatkan akses pendidikan bagi seluruh warga usia sekolah, mengurangi angka putus sekolah, meningkatkan SDM masyarakat dan pada akhirnya program pendidikan gratis dapat mengurangi tingkat kemiskinan disatu sisi pada waktu bersamaam mampu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Program pendidikan gratis sangat dibutuhkan di masa mendatang, dan untuk menjamin kepastian dan keberlanjutan program pendidikan gratis, maka perlu adanya peraturan daerah tentang program pendidikan gratis sebagai landasan penyelenggaraan program.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

78

BAB VI PERKEMBANGAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN DAN RELEVANSINYA DENGAN PROGRAM PENDIDIKAN GRATIS DI KSB
Kebijakan Program Pendidikan Gratis di Kabupaten Sumbawa Barat yang saat ini berlangsung, ternyata sudah tidak relevan lagi dengan kebijakan di tingkat Pusat. Berbagai perubahan kebijakan yang berlangsung di tingkat pusat ternyata belum diakomodir dalam peraturan bupati nomor 11 tahun 2006 sehingga peraturan bupati perlu direview dan dilakukan perubahan sesuai dengan perkembangan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pada bab ini akan dilakukan inventarisasi peraturan perundang-undangan dan kajian peraturan perundang-undangan. Kajian ini dimaksudkan untuk melihat perkembangan perundang-undangan yang berlaku saat ini, memastikan muatan materi yang perlu diatur dalam peraturan daerah nantinya sejalan dengan semanngat peraturan perundangundangan yang berlaku saat ini, serta memastikan bahwa materi peraturan daerah yang akan disusun tidak bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi. Singkronisasi dan harmonisasi dalam perumusan produk hukum daerah dengan peraturan perundangundangan lainnya yang terkait menjadi sangat penting dilakukan agar produk hukum yang dilahirkan daerah memiliki landasan hukum yang kuat, memenuhi asas-asas pembentukan peraturan, serta harmonis dengan peraturan perundang-undangan lainnya, tidak saling menegasikan. Legitimid atas dukungan TIFA Foundation telah melakukan inventarisasi dan kajian terhadap berbagai produk peraturan perundang-undangan terkait dalam rangka mendukung upaya Pemerintah Daerah KSB untuk melakukan scalling-up kebijakan program pendidikan dan kesehatan gratis. Dalam proses nvetarisasi ini, Team peneliti LEGITIMID menjalin kerjasama dengan sejumlah kalangan akademisi dan praktisi hukum. Pada bab ini akan dibahas inventarisasi produk peraturan perundang-undangan terkait dengan penyelenggaraan program pendidikan gratis di KSB. Inventarisasi dan kajian Peraturan Perundang-Undangan Kebijakan pendidikan sesungguhnya adalah amanat dari UUD 1945, dalam pembukaan UUD 1945 alinea 4, memandatkan negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dan dalam batang tubuh pasal 31 ayat (1) memberikan hak kepada rakyat (warga negara indonesia) untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Dalam negara hukum, konstitusi
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

79

(UUD) merupakan peraturan yang tertinggi, seluruh peraturan perundang-undangan yang lahir dan dibentuk oleh pemerintah maupun pemerintah daerah tidak boleh bertentangan dengan konstitusi, bahkan pelanggaran terhadap konstitusi sebagai bentuk “kejahatan” yang dapat dihukum. Oleh sebab itu, amanah konstitusi ini itu menjadi kewajiban siapapun yang menjalankan negara, dan seluruh komponen bangsa indonesia, negara dan rakyat harus tunduk pada konsititusi. Dalam rangka melaksanakan mandat konstitusi tersebut, pemerintah telah mengeluarkan berbagai peraturan perundangundangan terkait dalam bidang pendidikan, sebagai berikut : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 78 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4301); Undang-undang ini menggantikan UU sebelumnya, yakni UU No 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 1989 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3390). Undang-undang ini lahir karena ; Pertama, Republik melaksanakan amanah pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Indonesia tahun 1945 yang mengamanatkan bahwa Pemerintah Negara

Indonesia melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial; kedua, melaksanakan amanah UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan Pemerintah untuk mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undangundang; ketiga, sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan; keempat, oleh karena Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional tidak memadai lagi, maka perlu diganti serta perlu disempurnakan agar sesuai dengan amanat perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dalam undang-undang ini telah dirumuskan beberapa pengertian penting, pengertian-pengertian tersebut tertuang dalam Bab I pasal 1, antara lain sebagai berikut :

(1) Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

80

(2) Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. (3) Sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. (4) Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. (5) Tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. (6) Standar nasional pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. (7) Wajib belajar adalah program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh Warga Negara Indonesia atas tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, juga mengatur mengenai dasar, fungsi dan tujuan pendidikan di Indonesia. Dalam pasal 2 dikatakan bahwa dasar pendidikan nasional adalah berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pendidikan nasional di indonesia berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (pasal 3). Dalam rangka menjalankan pendidikan nasional inodnesia, maka penyelenggaraannya didasarkan atas prinsip sebagai berikut : (1) Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa. (2) Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna. (3) Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. (4) Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran. (5) Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

81

(6) Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 juga telah meletakkan dan mengatur mengenai hak dan kewajiban warga negara, Orang tua, masyarakat, dan pemerintah ketentuan ini diatur dalam Bab IV. Dalam pasal 5 diatur mengenai hak dan kewajiban warga negara adalah sebagai berikut : (1) Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. (2) Warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. (3) Warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus. (4) Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus. (5) Setiap warga negara berhak mendapat kesempatan meningkatkan pendidikan sepanjang hayat. Dan dalam pasal 6 diatur: (1) Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar. (2) Setiap warga negara bertanggung jawab terhadap keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan. Undang-undang No.20 Tahun 2003, juga mengatur tentang hak dan kewajiban masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. Hak dan Kewajiban Orang Tua tercantum dalam pasal 7, sebagai berikut : (1) Orang tua berhak berperan serta dalam memilih satuan pendidikan dan memperoleh informasi tentang perkembangan pendidikan anaknya. (2) Orang tua dari anak usia wajib belajar, berkewajiban memberikan pendidikan dasar kepada anaknya. Sedangkan hak dan kewajiban masyarakat diatur dalam pasal 8 dan pasal 9. Dalam pasal 8 dikatakan bahwa Masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan. Sedangkan dalam pasal 9 diatur mengenai kewajiban masyarakat bahwa Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan. Sedangkan untuk hak dan kewajiban Pemerintah dan Pemerintah Daerah diatur dalam pasal 10 dan pasal 11. Dalam pasal 10 dikatakan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah berhak mengarahkan, membimbing, membantu, dan mengawasi
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

82

penyelenggaraan

pendidikan

sesuai

dengan

peraturan

perundang-

undangan yang berlaku. Dan dalam pasal 11 dijelaskan meneganai kewajiban pemerintah dan pemerintah daerah adalah sebagai berikut : (1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi. (2) Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun. Beranjak dari ketentuan yang diatur dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 dikaitkan dengan Peraturan Bupati Nomor 11 tahun 2006, maka terlihat adanya kekuarangan terdapat dalam perbup. Dalam program pendidikan gratis sebagaimana tertuang dalam perbup Nomor 11 tahun 2006 tidak mengatur tentang hak dan kewajiban orang tua, peserta didik, pemerintah daerah, masyarakat dan lainnya. Perbup juga tidak mengatur prinsip-prinsip penyelenggaraan pendidikan. Untuk itu, maka dalam perancangan peraturan daerah nantinya perlu diatur mengenai prinsipprinsip penyelenggaraan program pendidikan gratis, serta hak dan kewajiban dengan melakukan sinkronisasi dan harmonisasi dengan UU Nomor 20 tahun 2003. Karena UU ini menjadi kerangka acuan yang mesti harus dipertimbangkan dalam perumusan perda pendidikan gratis di KSB.

2. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4686);
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional, memiliki visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Kualitas manusia yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia pada masa yang akan datang adalah yang mampu menghadapi persaingan yang semakin ketat dengan bangsa lain di dunia. Kualitas manusia Indonesia tersebut dihasilkan melalui penyelenggaraan pendidikan yang
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

83

bermutu. Oleh karena itu, guru dan dosen mempunyai fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat strategis. Pasal 39 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidik merupakan tenaga profesional. Kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional mempunyai visi terwujudnya penyelenggaraan pembelajaran sesuai dengan prinsip-prinsip profesionalitas untuk memenuhi hak yang sarna bagi setiap warga negara dalam memperoleh pendidikan yang bermutu. Berdasarkan uraian di atas, pengakuan kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional mempunyai misi untuk melaksanakan tujuan Undang-Undang ini sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. mengangkat martabat guru dan dosen; menjamin hak dan kewajiban guru dan dosen; meningkatkan kompetensi guru dan dosen; memajukan profesi serta karier guru dan dosen; meningkatkan mutu pembelajaran; meningkatkan mutu pendidikan nasional; mengurangi kesenjangan ketersediaan guru dan dosen antardaerah dari segi jumlah, mutu, kualifikasi akademik, dan kompetensi; 8. mengurangi kesenjangan mutu pendidikan antardaerah; dan 9. meningkatkan pelayanan pendidikan yang bermutu. Berdasarkan visi dan misi tersebut, kedudukan guru sebagai tenaga profesional berfungsi untuk meningkatkan martabat guru serta perannya sebagai agen pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, sedangkan kedudukan dosen sebagai tenaga profesional berfungsi untuk meningkatkan martabat dosen serta mengembangkan ihnu pengetahuan, teknologi, dan Beni untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Sejalan dengan fungsi tersebut, kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yakni berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Untuk meningkatkan penghargaan terhadap tugas guru dan dosen, kedudukan guru dan dosen pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

84

menengah, dan pendidikan tinggi, maka diberikan sertifikat pendidik. Sertifikat tersebut merupakan pengakuan atas kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional. Dalam melaksanakan tugasnya, guru dan dosen harus memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum sehingga memiliki kesempatan untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya. Selain itu, perlu juga diperhatikan upaya-upaya memaksimalkan fungsi dan peran strategis guru dan dosen yang meliputi penegakan hak dan kewajiban guru dan dosen sebagai tenaga profesional, pembinaan dan pengembangan profesi guru dan dosen, perlindungan hukum, perlindungan profesi, serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja. Berdasarkan visi, misi, dan pertimbangan-pertimbangan di atas diperlukan strategi yang meliputi:
1. penyelenggaraan sertifikasi pendidik berdasarkan kualifikasi akademik dan kompetensi;

2. pemenuhan hak dan kewajiban guru dan dosen sebagai tenaga profesional yang sesuai dengan prinsip profesionalitas;

3. penyelenggaraan kebijakan strategis dalam pengangkatan, penempatan, pemindahan, dan pemberhentian guru dan dosen sesuai dengan kebutuhan, baik jumlah, kualifikasi akademik, maupun kompetensi yang dilakukan secara merata, objektif, dan transparan untuk menjamin keberlangsungan pendidikan; 4. penyelenggaraan kebijakan strategis dalam pembinaan dan pengembangan profesi guru dan dosen untuk meningkatkan profesionalitas dan pengabdian para guru dan dosen;
5. peningkatan pemberian penghargaan dan jaminan perlindungan terhadap guru dan dosen dalam pelaksanaan tugas profesional;

6. peningkatan peran organisasi profesi untuk menjaga dan meningkatkan kehormatan dan martabat guru dan dosen dalam pelaksanaan tugas sebagai tenaga profesional; 7. penguatan kesetaraan antara guru dan dosen yang bertugas pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah dengan guru dan dosen yang bertugas pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat; 8. penguatan tanggung jawab dan kewajiban Pemerintah dan pemerintah daerah dalam merealisasikan pencapaian anggaran pendidikan untuk memenuhi hak dan kewajiban guru dan dosen sebagai tenaga profesional; dan
9. peningkatan peran serta masyarakat dalam memenuhi hak dan kewajiban guru dan dosen.

Pengakuan kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional merupakan bagian dari pembaharuan sistem pendidikan nasional yang
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

85

pelaksanaannya memperhatikan berbagai ketentuan peraturan perundangundangan di bidang pendidikan, kepegawaian, ketenagakerjaan, keuangan, dan pemerintahan daerah. Sesuai dengan ruh dan semangat kehadiran UU nomor 14 tahun 2005, maka tentu dalam program pendidikan gratis—jangan sampai menegasikan keberadaan Undang-undang ini. Program pendidikan gratis di KSB harus pula mempertimbangkan aspek peningkatan kesejahteraan guru, khususnya adalah para guru yang masih berstatus sebagai GTT dan GKD. Kedudukan guru sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Oleh karena guru memiliki kedudukan yang strategis, merupakan bidang pekerjaan khusus, maka dalam Bab III Undang-Undang nomor 14 tahun 2005, mengatur tentang prinsip profesionalitas guru, bahwa dalam melaksanakan profesinya harus didasarkan atas prinsip sebagai berikut:
a. memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme; b. memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia; c. memiliki kualifikasi akademik dan Tatar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas; d. memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas; e. memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan; f. memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja; g. memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat; h. memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan; dan i. memiliki organisasi profesi yang rnempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.

Undang-undang juga telah mengatur standarisasi guru, dimana guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kompetensi guru itu sendiri profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Dalam pasal 14 diatur mengenai hak dan kewajiban guru. Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berhak:
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

meliputi kompetensi

pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi

86

a. memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial; b. mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja; c. memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual;
d. memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi; e. memperoleh dan memanfaatkan sarana dan prasarana pembelajaran untuk menunjang kelancaran tugas keprofesionalan; f. memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan ikut menentukan kelulusan, penghargaan, dan/atau sanksi kepada peserta didik sesuai dengan kaidah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundangundangan;

g. memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam melaksanakan tugas; h. memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi profesi; i. memiliki kesempatan untuk berperan dalam penentuan kebijakan pendidikan;
j. memperoleh kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi; dan/ atau

k. memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi dalam bidangnya.
Kesejahteraan penghasilan guru adalah penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum yang meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, serta penghasilan lain berupa tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, dan maslahat tambahan yang terkait dengan tugasnya sebagai guru yang ditetapkan dengan prinsip penghargaan atas dasar prestasi. Guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah diberi gaji sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat diberi gaji berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama. Pemerintah memberikan tunjangan profesi kepada guru yang telah memiliki sertifikat pendidik yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan dan/atau satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat. Tunjangan profesi yang diberikan adalah setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah pada tingkat, masa kerja, dan kualifikasi yang sama. Dan tunjangan profesi tersebut dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dan/atau anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Pemerintah dan/atau pemerintah daerah memberikan tunjangan fungsional kepada guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah ataupun yang diselenggarakan masyarakat (GTT dan GKD). Tunjangan fungsional dan subsidi tunjangan fungsional dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara dan/atau anggaran pendapatan dan belanja daerah. Dan khsusu, guru yang bertugas di daerah khusus, Pemerintah memberikan tunjangan khusus. Tunjangan khusus diberikan setara dengan 1 (satu)
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

87

kali gaji pokok guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah pada tingkat, masa kerja, dan kualifikasi yang sama.Disamping itu guru juga dalam UU ini guru diberikan pula Maslahat tambahan atau tambahan kesejahteraan yang diperoleh dalam bentuk tunjangan pendidikan, asuransi pendidikan, beasiswa, dan penghargaan bagi guru, serta kemudahan untuk memperoleh pendidikan bagi putra dan putri guru, pelayanan kesehatan, atau bentuk kesejahteraan lain dan pemerintah dan/atau pemerintah daerah menjamin terwujudnya maslahat tambahan tersebut. Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berkewajiban:

a. merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran; b. ineningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; c. bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran;
d. menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika; dan e. memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam UU No.14 tahun 2005, juga mewajibkan kepada pemerintah daerah untuk memenuhi kebutuhan guru baik dalam jumlah, kualifikasi akademik, maupun dalam kompetensi secara merata untuk menjamin keberlangsungan satuan pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal serta untuk menjamin keberlangsungan pendidikan dasar dan menengah yang diselenggarakan oleh Pemerintah/pemerintah daerah Pasal 24. Oleh karena kedudukan, tugas dan fungsi guru begitu strategis, maka dalam dalam pasal 25 ayat (1) disebutkan agar Pengangkatan dan penempatan guru dilakukan secara objektif dan transparan sesuai dengan peraturan perundangundangan. Dan bagi guru yang bertugas guru yang bertugas di daerah khusus, dalam pasal 29 ayat (1) memperoleh hak yang meliputi kenaikan pangkat rutin secara otomatis, kenaikan pangkat istimewa sebanyak 1 (satu) kali, dan perlindungan dalam pelaksanaan tugas. Beranjak dari ketentuan yang ada dalam UU No.14 tahun 2005 sebagaimana diuraikan secara singkat diatas, karena kedudukan, tugas dan fungsi guru yang begitu strategis dalam pencapaian tujuan pendidikan nasional, maka perlu dalam kebijakan penyelenggaraan program pendidikan gratis, juga mempertimbangkan aspek kesejahteraan guru, khususnya para guru yang berstatus sebagai guru GTT dan GKD, karena sejauh ini tingkat kesejahteraan, upah minimum yang diberikan terhadap guru GTT khususnya masih jauh berada dibawah upah minimum regional daerah (UMR), gaji mereka tentu tidak boleh disamakan dengan tenaga sukarela
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

88

lainnya. Para guru harus diberikan keistimewaan dan perlakuan khusus, karena nasib generasi KSB sangat ditentukan dari peran para guru. Reformulasi kebijakan dalam konstek pendidikan gratis, juga harus didukung dengan upaya peningkatan kesejahteraan guru.

3. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 61, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4846);
Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 28 F disebutkan bahwa setiap Orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh Informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, dan menyimpan Informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. Untuk memberikan jaminan terhadap semua orang dalam memperoleh Informasi, maka dibentuklah UU ini yang mengatur tentang keterbukaan Informasi Publik. Karena memperoleh Informasi merupakan adalah merupakan hak asasi manusia sebagai salah satu wujud dari kehidupan berbangsa dan bernegara yang demokratis. Keterbukaan informasi juga merupakan salah satu elemen penting dalam mewujudkan penyelenggaraan negara yang terbuka. Hak atas Informasi menjadi sangat penting karena makin terbuka penyelenggaraan negara untuk diawasi publik, penyelenggaraan negara tersebut makin dapat dipertanggungjawabkan. Hak setiap Orang untuk memperoleh Informasi juga relevan untuk meningkatkan kualitas pelibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan publik. Partisipasi atau pelibatan masyarakat tidak banyak berarti tanpa jaminan keterbukaan Informasi Publik. Keberadaan Undang-undang tentang Keterbukaan Informasi Publik dinggap penting oleh pemerintah karena sangat penting sebagai landasan hukum yang berkaitan dengan (1) hak setiap Orang untuk memperoleh Informasi; (2) kewajiban Badan Publik menyediakan dan melayani permintaan Informasi secara cepat, tepat waktu, biaya ringan/proporsional, dan cara sederhana; (3) pengecualian bersifat ketat dan terbatas; (4) kewajiban Badan Publik untuk membenahi sistem dokumentasi dan pelayanan Informasi. Dalam undang-undang ini, setiap Badan Publik mempunyai kewajiban untuk membuka akses atas Informasi Publik yang berkaitan dengan Badan Publik tersebut untuk masyarakat luas. Lingkup Badan Publik dalam Undangundang ini meliputi lembaga eksekutif, yudikatif, legislatif, serta penyelenggara negara lainnya yang mendapatkan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)/Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan mencakup pula organisasi nonpemerintah, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

89

hukum, seperti lembaga swadaya masyarakat, perkumpulan, serta organisasi lainnya yang mengelola atau menggunakan dana yang sebagian atau seluruhnya bersumber dari APBN/APBD, sumbangan masyarakat, dan/atau luar negeri. Melalui mekanisme dan pelaksanaan prinsip keterbukaan, akan tercipta kepemerintahan yang baik dan peran serta masyarakat yang transparan dan akuntabilitas yang tinggi sebagai salah satu prasyarat untuk mewujudkan demokrasi yang hakiki. Dengan membuka akses publik terhadap Informasi diharapkan Badan Publik termotivasi untuk bertanggung jawab dan berorientasi pada pelayanan rakyat yang sebaikbaiknya. Dengan demikian, hal itu dapat mempercepat perwujudan pemerintahan yang terbuka yang merupakan upaya strategis mencegah praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), dan terciptanya kepemerintahan yang baik (good governance). Dalam implementasi penyelanggaraan program pendidikan gratis, ditemukan berbagai masalah yang muncul disebabkan karena minimnya informasi publik untuk memahami program pendidikan gratis. Bahkan, hingga sekarang masyarakat sama sekali belum dapat mengakses kebijakan program pendidikan gratis. disisilain, informasi atas program mengenai program pendidikan gratis oleh pemerintah begitu minim. Ketiadaan informais publik selam ini juga telah mendorong terjadinya kerantanan dalam pelaksanaan program pendidikan gratis, terutama potensi terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme. Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan, mendorong adanya partisipasi masyarakat dalam program pendidikan gratis, serta meningkatkan kesadaran publik, dan membangun akuntabilitas dalam pelaksanaan program pendidikan gratis, maka perlu dalam perumusan peraturan daerah tentang program pendidikan gratis memasukkan unsur UU informasi publik sebagai bagian pertimbangan dengan memasukkan materi sistem informasi layanan pendidikan grati sebagai bagian dari regulasi yang diatur dalam peraturan daerah. Beberapa materi penting yang telah diatur dalam UU Nomor 14 tahun 2008 ini adalah terkait dengan asas dna tujuan dari informasi publik. Hak dan kewajiban pemohon, serta hak dan kewajiban badan publik. Dalam pasal 7 telah diatur mengenai kewajiban badan publik adalah sebagai berrikut: (1) (2) (3) Badan Publik wajib menyediakan, memberikan dan/atau menerbitkan Informasi Publik yang berada di bawah kewenangannya kepada Pemohon Informasi Publik, selain informasi yang dikecualikan sesuai dengan ketentuan. Badan Publik wajib menyediakan Informasi Publik yang akurat, benar, dan tidak menyesatkan. Untuk melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Badan Publik harus membangun dan mengembangkan sistem informasi dan dokumentasi untuk mengelola Informasi Publik secara baik dan efisien sehingga dapat diakses dengan mudah. Badan Publik wajib membuat pertimbangan secara tertulis setiap kebijakan yang diambil untuk memenuhi hak setiap Orang atas Informasi Publik.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

(4)

90

(5) (6)

Pertimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) antara lain memuat pertimbangan politik, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau pertahanan dan keamanan negara. Dalam rangka memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) Badan Publik dapat memanfaatkan sarana dan/atau media elektronik dan nonelektronik. Undang-undang ini juga mengatur mengenai informasi yang wajib dan

diumumkan secara berkala oleh badan publik, ketentuan ini diatur dalam pasal 9, yakni sebagai berikut : (1) Setiap Badan Publik wajib mengumumkan Informasi Publik secara berkala. (2) Informasi Publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. informasi yang berkaitan dengan Badan Publik; b. informasi mengenai kegiatan dan kinerja Badan Publik terkait; c. informasi mengenai laporan keuangan; dan/atau d. informasi lain yang diatur dalam peraturan perundangundangan. Kewajiban memberikan dan menyampaikan Informasi Publik tersebut dilakukan paling singkat 6 (enam) bulan sekali. Dalam pasal 9 ayat (4) juga diwajibkan untuk menyebarluaskan Informasi Publik diatas disampaikan dengan cara yang mudah dijangkau oleh masyarakat dan dalam bahasa yang mudah dipahami. Dan diatur pula mengenai informasi yang wajib tersedia setiap saat, ketentuan ini tercantum dalam pasal 11, sebagai berikut : (1) Badan Publik wajib menyediakan Informasi Publik setiap saat yang meliputi: a. daftar seluruh Informasi Publik yang berada di bawah penguasaannya, tidak termasuk informasi yang dikecualikan; b. hasil keputusan Badan Publik dan pertimbangannya; c. seluruh kebijakan yang ada berikut dokumen pendukungnya; d. rencana kerja proyek termasuk di dalamnya perkiraan pengeluaran tahunan Badan Publik; e. perjanjian Badan Publik dengan pihak ketiga; f. informasi dan kebijakan yang disampaikan Pejabat Publik dalam pertemuan yang terbuka untuk umum; g. prosedur kerja pegawai Badan Publik yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat; dan/atau h. laporan mengenai pelayanan akses Informasi Publik sebagaimana diatur dalam UndangUndang ini. Setiap tahun menurut pasal 12 Badan Publik wajib mengumumkan layanan informasi, yang meliputi: a. jumlah permintaan informasi yang diterima; b. waktu yang diperlukan Badan Publik dalam memenuhi setiap permintaan informasi; c. jumlah pemberian dan penolakan permintaan informasi; dan/atau d. alasan penolakan permintaan informasi. Dan untuk mewujudkan pelayanan cepat, tepat, dan sederhana setiap Badan Publik, maka dinunjuk Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi; dan pemerintah diharapkan membuat dan mengembangkan sistem penyediaan layanan informasi secara cepat, mudah, dan wajar sesuai dengan petunjuk teknis standar layanan Informasi Publik yang berlaku secara nasional (pasal 13). Memang tidak semua informasi harus dibuka kepublik dalam UU ini telah mengatur pula informasi yang dikecualian, sebagaimana diatur dalam Bab V dalam pasal 17, informasi yang dikecualikan adalah sebagai berikut : a. Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik dapat menghambat proses penegakan hukum, yaitu informasi yang dapat:
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

91

b. c.

d. e.

f.

1. menghambat proses penyelidikan dan penyidikan suatu tindak pidana; 2. mengungkapkan identitas informan, pelapor, saksi, dan/atau korban yang mengetahui adanya tindak pidana; 3. mengungkapkan data intelijen kriminal dan rencanarencana yang berhubungan dengan pencegahan dan penanganan segala bentuk kejahatan transnasional; 4. membahayakan keselamatan dan kehidupan penegak hukum dan/atau keluarganya; dan/atau 5. membahayakan keamanan peralatan, sarana, dan/atau prasarana penegak hukum. Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik dapat mengganggu kepentingan perlindungan hak atas kekayaan intelektual dan perlindungan dari persaingan usaha tidak sehat; Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik dapat membahayakan pertahanan dan keamanan negara, yaitu: 1. informasi tentang strategi, intelijen, operasi, taktik dan teknik yang berkaitan dengan penyelenggaraan sistem pertahanan dan keamanan negara, meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan dan pengakhiran atau evaluasi dalam kaitan dengan ancaman dari dalam dan luar negeri; 2. dokumen yang memuat tentang strategi, intelijen, operasi, teknik dan taktik yang berkaitan dengan penyelenggaraan sistem pertahanan dan keamanan negara yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan dan pengakhiran atau evaluasi; 3. jumlah, komposisi, disposisi, atau dislokasi kekuatan dan kemampuan dalam penyelenggaraan sistem pertahanan dan keamanan negara serta rencana pengembangannya; 4. gambar dan data tentang situasi dan keadaan pangkalan dan/atau instalasi militer; 5. data perkiraan kemampuan militer dan pertahanan negara lain terbatas pada segala tindakan dan/atau indikasi negara tersebut yang dapat membahayakan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan/atau data terkait kerjasama militer dengan negara lain yang disepakati dalam perjanjian tersebut sebagai rahasia atau sangat rahasia; 6. sistem persandian negara; dan/atau 7. sistem intelijen negara. Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik dapat mengungkapkan kekayaan alam Indonesia; Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik, dapat merugikan ketahanan ekonomi nasional: 1. rencana awal pembelian dan penjualan mata uang nasional atau asing, saham dan aset vital milik negara; 2. rencana awal perubahan nilai tukar, suku bunga, dan model operasi institusi keuangan; 3. rencana awal perubahan suku bunga bank, pinjaman pemerintah, perubahan pajak, tarif, atau pendapatan negara/daerah lainnya; 4. rencana awal penjualan atau pembelian tanah atau properti; 5. rencana awal investasi asing; 6. proses dan hasil pengawasan perbankan, asuransi, atau lembaga keuangan lainnya; dan/atau 7. hal-hal yang berkaitan dengan proses pencetakan uang. Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik, dapat merugikan kepentingan hubungan luar negeri : 1. posisi, daya tawar dan strategi yang akan dan telah diambil oleh negara dalam hubungannya dengan negosiasi internasional; 2. korespondensi diplomatik antarnegara; 3. sistem komunikasi dan persandian yang dipergunakan dalam menjalankan hubungan internasional; dan/atau 4. perlindungan dan pengamanan infrastruktur strategis Indonesia di luar negeri.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

92

Informasi Publik yang apabila dibuka dapat mengungkapkan isi akta otentik yang bersifat pribadi dan kemauan terakhir ataupun wasiat seseorang; h. Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik dapat mengungkap rahasia pribadi, yaitu: 1. riwayat dan kondisi anggota keluarga; 2. riwayat, kondisi dan perawatan, pengobatan kesehatan fisik, dan psikis seseorang; 3. kondisi keuangan, aset, pendapatan, dan rekening bank seseorang; 4. hasilhasil evaluasi sehubungan dengan kapabilitas, intelektualitas, dan rekomendasi kemampuan seseorang; dan/atau 5. catatan yang menyangkut pribadi seseorang yang berkaitan dengan kegiatan satuan pendidikan formal dan satuan pendidikan nonformal. i. memorandum atau suratsurat antar Badan Publik atau intra Badan Publik, yang menurut sifatnya dirahasiakan kecuali atas putusan Komisi Informasi atau pengadilan; j. informasi yang tidak boleh diungkapkan berdasarkan UndangUndang. Adapun kategori yang tidak termasuk dalam kategori yang dikecualikan, sebagaimana tertuang dalam pasal 18 adalah informasi berikut : (1) Tidak termasuk dalam kategori informasi yang dikecualikan adalah informasi berikut: a. putusan badan peradilan; b. ketetapan, keputusan, peraturan, surat edaran, ataupun bentuk kebijakan lain, baik yang tidak berlaku mengikat maupun mengikat ke dalam ataupun ke luar serta pertimbangan lembaga penegak hukum; c. surat perintah penghentian penyidikan atau penuntutan; d. rencana pengeluaran tahunan lembaga penegak hukum; e. laporan keuangan tahunan lembaga penegak hukum; f. laporan hasil pengembalian uang hasil korupsi; dan/atau g. informasi lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2). Tidak termasuk informasi yang dikecualikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 huruf g dan huruf h, antara lain apabila : a. pihak yang rahasianya diungkap memberikan persetujuan tertulis; dan/atau b. pengungkapan berkaitan dengan posisi seseorang dalam jabatanjabatan publik. Dalam hal kepentingan pemeriksaan perkara pidana di pengadilan, Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jaksa Agung, Ketua Mahkamah Agung, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, dan/atau Pimpinan Lembaga Negara Penegak Hukum lainnya yang diberi kewenangan oleh UndangUndang dapat membuka informasi yang dikecualikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, huruf f, huruf i, dan huruf j. Pembukaan informasi yang dikecualikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan dengan cara mengajukan permintaan izin kepada Presiden. Permintaan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) untuk kepentingan pemeriksaan perkara perdata yang berkaitan dengan keuangan atau kekayaan negara di pengadilan, permintaan izin diajukan oleh Jaksa Agung sebagai pengacara negara kepada Presiden. Izin tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) diberikan oleh Presiden kepada Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jaksa Agung, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Pimpinan Lembaga Negara Penegak Hukum lainnya, atau Ketua Mahkamah Agung. Dengan mempertimbangkan kepentingan pertahanan dan keamanan negara dan kepentingan umum, Presiden dapat menolak permintaan informasi yang dikecualikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), ayat (4), dan ayat (5). Undang-undang Nomor 14 tahun 2008 juga telah mengatir bagaimana mekanisme untuk memperoleh informasi publik, ketentuan ini diatur dalam Bab VI pasal 21dan pasal 22. Beranjak dari kehadiran UU diatas, maka dalam 93

g.

(2)

(3)

(4) (5)

(6)

(7)

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

penyelenggaraan program pendidikan gratis perlu untuk memasukkan pula UU No.14 tahun 2008 sebagai bagian dari petimbangan dasar hukum. Sekaligus perlu memasukkan keterbukaan informasi publik, khususnya terkait dengan pengelolaan dana program pendidikan gratis yang dikelola oleh masing-masing satuan pendidikan agar dana tersebut pada akhirnya dapat betul-betul dikelola secara tepat. Masyarakat juga perlu memperoleh informasi terkait dengan anggaran, kebijakan, para pelaksana dan sebagainya dari program pendidikan gratis. Arah perubahan perda perlu untuk mencatumkan UU ini sebagai bagian dari dasar pertimbangan mengingat.

4.

Undang-Undang Nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 112, Tambahan Lembaran negara Republik Indonesia Nomor 5038);
Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan bahwa tujuan didirikan Negara Republik Indonesia, antara lain adalah untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Amanat tersebut mengandung makna negara berkewajiban memenuhi kebutuhan setiap warga negara melalui suatu sistem pemerintahan yang mendukung terciptanya penyelenggaraan pelayanan publik yang prima dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar dan hak sipil setiap warga negara atas barang publik, jasa publik, dan pelayanan administratif. Saat ini, penyelenggaraan pelayanan publik masih dihadapkan pada

kondisi yang belum sesuai dengan kebutuhan dan perubahan di berbagai bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh ketidaksiapan untuk menanggapi terjadinya transformasi nilai yang berdimensi luas serta dampak berbagai masalah pembangunan yang kompleks. Sementara itu, tatanan baru masyarakat Indonesia dihadapkan pada harapan dan tantangan global yang dipicu oleh kemajuan di bidang ilmu pengetahuan, informasi, komunikasi, transportasi, investasi, dan perdagangan. Oleh sebab itu, maka kondisi dan perubahan cepat yang diikuti pergeseran nilai tersebut perlu disikapi secara bijak oleh pemerintah melalui langkah kegiatan yang terus-menerus dan berkesinambungan dalam berbagai aspek pembangunan untuk membangun kepercayaan masyarakat guna mewujudkan tujuan pembangunan nasional. Untuk itu, maka diperlukan konsepsi sistem pelayanan publik yang berisi nilai, persepsi, dan acuan perilaku yang mampu mewujudkan hak asasi manusia sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 agar tentunya dapat diterapkan sehingga masyarakat memperoleh pelayanan sesuai dengan harapan dan cita-cita tujuan nasional.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

94

Dengan dasar itulah, maka pemerintah menetapkan Undang-Undang tentang Pelayanan Publik. Kehadiran Undang-Undang pelayanan publik diharapkan dapat memberi kejelasan dan pengaturan mengenai pelayanan publik, antara lain meliputi: a. b. c. d. e. f. g. h. pengertian dan batasan penyelenggaraan pelayanan publik; asas, tujuan, dan ruang lingkup penyelenggaraan pelayanan publik; pembinaan dan penataan pelayanan publik; hak, kewajiban, dan larangan bagi seluruh pihak yang terkait dalam penyelenggaraan pelayanan publik; aspek penyelenggaraan pelayanan publik yang meliputi standar pelayanan, maklumat pelayanan, sistem informasi, sarana dan prasarana, biaya/tarif pelayanan, pengelolaan pengaduan, dan penilaian kinerja; peran serta masyarakat; penyelesaian pengaduan dalam penyelenggaraan pelayanan; dan sanksi. Dalam Undang-Undang tentang pelayanan publik, telah diberikan definisi atau pengertian mengenai pelayanan publik, beberapa pengertian penting yang diatur dalam UU pelayanan publik tercantum dalam Bab I ketentuan umum, yang mencatumkan beberapa pengertian penting sebagai berikut :: 1. Pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundangundangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. 2. Penyelenggara pelayanan publik yang selanjutnya disebut Penyelenggara adalah setiap institusi penyelenggara negara, korporasi, lembaga independen yang dibentuk berdasarkan undang-undang untuk kegiatan pelayanan publik, dan badan hukum lain yang dibentuk semata-mata untuk kegiatan pelayanan publik. 3. Atasan satuan kerja Penyelenggara adalah pimpinan satuan kerja yang membawahi secara langsung satu atau lebih satuan kerja yang melaksanakan pelayanan publik. 4. Organisasi penyelenggara pelayanan publik yang selanjutnya disebut Organisasi Penyelenggara adalah satuan kerja penyelenggara pelayanan publik yang berada di lingkungan institusi penyelenggara negara, korporasi, lembaga independen yang dibentuk berdasarkan undang-undang untuk kegiatan pelayanan publik, dan badan hukum lain yang dibentuk semata-mata untuk kegiatan pelayanan publik. 5. Pelaksana pelayanan publik yang selanjutnya disebut Pelaksana adalah pejabat, pegawai, petugas, dan setiap orang yang bekerja di dalam Organisasi Penyelenggara yang bertugas melaksanakan tindakan atau serangkaian tindakan pelayanan publik. 6. Masyarakat adalah seluruh pihak, baik warga negara maupun penduduk sebagai orang-perseorangan, kelompok, maupun badan hukum yang berkedudukan sebagai penerima manfaat pelayanan publik, baik secara langsung maupun tidak langsung. 7. Standar pelayanan adalah tolok ukur yang dipergunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pelayanan dan acuan penilaian kualitas pelayanan sebagai kewajiban dan janji Penyelenggara kepada masyarakat dalam rangka pelayanan yang berkualitas, cepat, mudah, terjangkau, dan terukur. 8. Maklumat pelayanan adalah pernyataan tertulis yang berisi keseluruhan rincian kewajiban dan janji yang terdapat dalam standar pelayanan. 9. Sistem informasi pelayanan publik yang selanjutnya disebut Sistem Informasi adalah rangkaian kegiatan yang meliputi penyimpanan dan pengelolaan
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

95

informasi serta mekanisme penyampaian informasi dari Penyelenggara kepada masyarakat dan sebaliknya dalam bentuk lisan, tulisan Latin, tulisan dalam huruf Braile, bahasa gambar, dan/atau bahasa lokal, serta disajikan secara manual ataupun elektronik.

Kehadiran UU Pelayanan publik ini adalah dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum dalam hubungan antara masyarakat dan penyelenggara dalam pelayanan publik (pasal 2). Adapun tujuan dari Tujuan Undang-Undang ini adalah (pasal 3):
a. terwujudnya batasan dan hubungan yang jelas tentang hak, tanggung jawab, kewajiban, dan kewenangan seluruh pihak yang terkait dengan penyelenggaraan pelayanan publik; b. terwujudnya sistem penyelenggaraan pelayanan publik yang layak sesuai dengan asas-asas umum pemerintahan dan korporasi yang baik; c. terpenuhinya penyelenggaraan pelayanan publik sesuai dengan peraturan perundang-undangan; dan d. terwujudnya perlindungan dan kepastian hukum bagi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Dalam undang-undang ini diatur mengenai-asas-asas dalam penyelenggaraan pelayanan publik yang meliputi : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. kepentingan umum; kepastian hukum; kesamaan hak; keseimbangan hak dan kewajiban; keprofesionalan; partisipatif; persamaan perlakuan/tidak diskriminatif; keterbukaan; akuntabilitas; fasilitas dan perlakuan khusus bagi kelompok rentan; ketepatan waktu; dan kecepatan, kemudahan, dan keterjangkauan.

Seluruh organisasi pemerintah maupun pemerintah daerah uang melaksanakan fungsi pelayanan, wajib untuk dilakukan evaluasi baik penyelenggaraanya maupun pada aspek pengelolaan atas layanan yang diberikan. Evaluasi terhadap penyelenggara pelayanan publik adalah terkait dengan evaluasi terhadap kinerja, dan evaluasi ini dilakukan secara berkala dan berkelanjutan (pasal 10 ayat 1). Dan berdasarkan hasil evaluasi itulah, Penyelenggara berkewajiban untuk melakukan upaya peningkatan kapasitas Pelaksana pelayanan publik. Evaluasi terhadap kinerja pelaksana tersebut harus dilakukan dengan indikator yang jelas dan terukur. Didalam UU ini juga membuat mekanisme reward and punishment terhadap pelaksana pelayanan publik, antara

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

96

lain

adalah

berupa

peningkatan ini

promosi

jabatan,

pemberian

penghargaan atas prestasi kerja. Disamping mekanisme hukuman. Undang-undang membedakan antara penyelenggara pelayanan dan pelaksana pelayanan, dan karena itu hak dan kewajiban nya pun berbeda. Dalam pasal 14 dan 15 diatur tentang hak dan kewajiban penyelenggara sebagai berikut :
Penyelenggara memiliki hak: a. memberikan pelayanan tanpa dihambat pihak lain yang bukan tugasnya; b. melakukan kerja sama; c. mempunyai anggaran pembiayaan penyelenggaraan pelayanan publik; d. melakukan pembelaan terhadap pengaduan dan tuntutan yang tidak sesuai dengan kenyataan dalam penyelenggaraan pelayanan publik; dan e. menolak permintaan pelayanan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Penyelenggara berkewajiban: a. menyusun dan menetapkan standar pelayanan; b. menyusun, menetapkan, dan memublikasikan maklumat pelayanan; c. menempatkan pelaksana yang kompeten; d. menyediakan sarana, prasarana, dan/atau fasilitas pelayanan publik yang mendukung terciptanya iklim pelayanan yang memadai; e. memberikan pelayanan yang berkualitas sesuai dengan asas penyelenggaraan pelayanan publik; f. melaksanakan pelayanan sesuai dengan standar pelayanan; g. berpartisipasi aktif dan mematuhi peraturan perundang-undangan yang terkait dengan penyelenggaraan pelayanan publik; h. memberikan pertanggungjawaban terhadap pelayanan yang diselenggarakan; i. membantu masyarakat dalam memahami hak dan tanggung jawabnya; j. bertanggung jawab dalam pengelolaan organisasi penyelenggara pelayanan publik; k. memberikan pertanggungjawaban sesuai dengan hukum yang berlaku apabila mengundurkan diri atau melepaskan tanggung jawab atas posisi atau jabatan; dan l. memenuhi panggilan atau mewakili organisasi untuk hadir atau melaksanakan perintah suatu tindakan hukum atas permintaan pejabat yang berwenang dari lembaga negara atau instansi pemerintah yang berhak, berwenang, dan sah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dalam undang-undang, mengatur tentang kewajiban dan larangan bagi pelaksana pelayanan publik, ketentuan tentang kewajiban diatur dalam pasal 16 sebagai berikut: a. melakukan kegiatan pelayanan sesuai dengan penugasan yang diberikan oleh Penyelenggara; b. memberikan pertanggungjawaban atas pelaksanaan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan; c. memenuhi panggilan untuk hadir atau melaksanakan perintah suatu tindakan hukum atas permintaan pejabat yang berwenang dari lembaga negara atau instansi pemerintah yang berhak, berwenang, dan sah sesuai dengan peraturan perundang-undangan; d. memberikan pertanggungjawaban apabila mengundurkan diri atau melepaskan tanggung jawab sesuai dengan peraturan perundang-undangan; dan
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

97

e. melakukan evaluasi dan membuat laporan keuangan dan kinerja kepada Penyelenggara secara berkala. sedangkan larangan-larangan bagi pelaksana pelayanan publik, diatur dalam ketentuan pasal 17 sebagai berikut, bahwa pelaksana dilarang : a. merangkap sebagai komisaris atau pengurus organisasi usaha bagi pelaksana yang berasal dari lingkungan instansi pemerintah, badan usaha milik negara, dan badan usaha milik daerah; b. meninggalkan tugas dan kewajiban, kecuali mempunyai alasan yang jelas, rasional, dan sah sesuai dengan peraturan perundang-undangan; c. menambah Pelaksana tanpa persetujuan Penyelenggara; d. membuat perjanjian kerja sama dengan pihak lain tanpa persetujuan Penyelenggara; dan e. melanggar asas penyelenggaraan pelayanan publik. Kemajuan penting dari UU ini adalah diaturnya tentang hak dan kewajiban masyarakat sebagai penerima layanan publik, selama ini tidak perna diatur mengenai hak dan kewajiban tersebut. Ketentuan ini diatur dalam pasal 18, bahwa masyarakat berhak : a. b. c. d. e. f. g. h. i. mengetahui kebenaran isi standar pelayanan; mengawasi pelaksanaan standar pelayanan; mendapat tanggapan terhadap pengaduan yang diajukan; mendapat advokasi, perlindungan, dan/atau pemenuhan pelayanan; memberitahukan kepada pimpinan penyelenggara untuk memperbaiki pelayanan apabila pelayanan yang diberikan tidak sesuai dengan standar pelayanan; memberitahukan kepada Pelaksana untuk memperbaiki pelayanan apabila pelayanan yang diberikan tidak sesuai dengan standar pelayanan; mengadukan Pelaksana yang melakukan penyimpangan standar pelayanan dan/atau tidak memperbaiki pelayanan kepada Penyelenggara dan ombudsman; mengadukan Penyelenggara yang melakukan penyimpangan standar pelayanan dan/atau tidak memperbaiki pelayanan kepada pembina Penyelenggara dan ombudsman; dan mendapat pelayanan yang berkualitas sesuai dengan asas dan tujuan pelayanan. Sedangkan kewajiban masyarakat adalah diatur dalam pasal 19, bahwa masyarakat berkewajiban : a. mematuhi dan memenuhi ketentuan sebagaimana dipersyaratkan dalam standar pelayanan; b. ikut menjaga terpeliharanya sarana, prasarana, dan/atau fasilitas pelayanan publik; dan c. berpartisipasi aktif dan mematuhi peraturan yang terkait dengan penyelenggaraan pelayanan publik. Perubahan yang cukup signifikan lainnya adalah bahwa dalam undangundang ini mengatur tentang standar pelayanan. Ketentuan ini tercantum dalam pasal 20, sebagai berikut : (1) Penyelenggara berkewajiban menyusun dan menetapkan standar pelayanan dengan memperhatikan kemampuan Penyelenggara, kebutuhan masyarakat, dan kondisi lingkungan.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

98

(2) Dalam menyusun dan menetapkan standar pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Penyelenggara wajib mengikutsertakan masyarakat dan pihak terkait. (3) Penyelenggara berkewajiban menerapkan standar pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pengikutsertaan masyarakat dan pihak terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan prinsip tidak diskriminatif, terkait langsung dengan jenis pelayanan, memiliki kompetensi dan mengutamakan musyawarah, serta memperhatikan keberagaman. (4) Penyusunan standar pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan dengan pedoman tertentu yang diatur lebih lanjut dalam peraturan pemerintah. Adapun, komponen standar pelayanan sekurang-kurangnya meliputi: a. dasar hukum; b. persyaratan; c. sistem, mekanisme, dan prosedur; d. jangka waktu penyelesaian; e. biaya/tarif; f. produk pelayanan; g. sarana, prasarana, dan/atau fasilitas; h. kompetensi Pelaksana; i. pengawasan internal; j. penanganan pengaduan, saran, dan masukan; k. jumlah Pelaksana; l. jaminan pelayanan yang memberikan kepastian pelayanan dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan; m. jaminan keamanan dan keselamatan pelayanan dalam bentuk komitmen untuk memberikan rasa aman, bebas dari bahaya, dan risiko keragu-raguan; dan n. evaluasi kinerja Pelaksana. Disamping itu, dalam UU pelayanan publik juga memasukkan adanya maklumat pelayanan, sebuah janji pelayanan antara penyelenggara dan pelaksana pelayanan publik dengan masyarakat atau pengguna layanan. Ketentuan ini diatur dalam pasal 22 sebagai berikut (1) Penyelenggara berkewajiban menyusun dan menetapkan maklumat pelayanan yang merupakan pernyataan kesanggupan Penyelenggara dalam melaksanakan pelayanan sesuai dengan standar pelayanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21. (2) Maklumat pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dipublikasikan secara jelas dan luas. Upaya mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dalam pelayanan publik sangat terlihat dari beberapa kemajuan sebagaimana diuraikan diatas, dalam undang-undang ini juga mengatur adanya sistem informasi pelayanan publik, diatur dalam pasal 23, sebagai berikut : (1) Dalam rangka memberikan dukungan informasi terhadap penyelenggaraan pelayanan publik perlu diselenggarakan Sistem Informasi yang bersifat nasional. (2) Menteri mengelola Sistem Informasi yang bersifat nasional. (3) Sistem Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berisi semua informasi pelayanan publik yang berasal dari penyelenggara pada setiap tingkatan. (4) Penyelenggara berkewajiban mengelola Sistem Informasi yang terdiri atas sistem informasi elektronik atau nonelektronik, sekurang-kurangnya meliputi:
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

99

a. b. c. d. e. f.

profil Penyelenggara; profil Pelaksana; standar pelayanan; maklumat pelayanan; pengelolaan pengaduan; dan penilaian kinerja.

(5) Penyelenggara berkewajiban menyediakan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) kepada masyarakat secara terbuka dan mudah diakses. Dalam hal Pengelolaan Sarana, Prasarana, dan/atau Fasilitas Pelayanan Publik, para Penyelenggara dan Pelaksana diwajibkan untuk mengelola sarana, prasarana, dan/atau fasilitas pelayanan publik secara efektif, efisien, transparan, akuntabel, dan berkesinambungan serta bertanggung jawab terhadap pemeliharaan dan/atau penggantian sarana, prasarana, dan/atau fasilitas pelayanan publik (pasal 25). Dan diwajibkan kepada pelaksana untuk memberikan laporan kepada Penyelenggara mengenai kondisi dan kebutuhan sarana, prasarana, dan/atau fasilitas pelayanan publik serta Pelaksana sesuai dengan tuntutan kebutuhan standar pelayanan. Terkait dengan sarana dan prasarana, UU ini melarang kepada Penyelenggara menggunakan untukmemberikan sarana, prasarana, izin dan/atau fasilitas membiarkan pelayanan pihak publik lain yang dan/atau

mengakibatkan sarana, prasarana, dan/atau fasilitas pelayanan publik tidak berfungsi atau tidak sesuai dengan peruntukannya (pasal 2). Dalam UU ini sesungguhnya pemerintah telah menyadari bahwa pada dasarnya Biaya/tarif pelayanan publik pada dasarnya merupakan tanggung jawab negara dan/atau masyarakat. Dan oleh karena itu dalam penentuan tarif, dalam pasal 27 ditetapkan bahwa Penentuan biaya/tarif pelayanan publik ditetapkan dengan persetujuan DPR/DPRD. Perubahan terpenting dari UU ini selain diatas, adalah diaturnya mengenai perilaku pelaksana dalam pelayanan. Dalam pasal 34, ditegaskan bahwa Pelaksana dalam menyelenggarakan pelayanan publik harus berperilaku sebagai berikut: a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. m. n. o. adil dan tidak diskriminatif; cermat; santun dan ramah; tegas, andal, dan tidak memberikan putusan yang berlarut-larut; profesional; tidak mempersulit; patuh pada perintah atasan yang sah dan wajar; menjunjung tinggi nilai-nilai akuntabilitas dan integritas institusi penyelenggara; tidak membocorkan informasi atau dokumen yang wajib dirahasiakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan; terbuka dan mengambil langkah yang tepat untuk menghindari benturan kepentingan; tidak menyalahgunakan sarana dan prasarana serta fasilitas pelayanan publik; tidak memberikan informasi yang salah atau menyesatkan dalam menanggapi permintaan informasi serta proaktif dalam memenuhi kepentingan masyarakat; tidak menyalahgunakan informasi, jabatan, dan/atau kewenangan yang dimiliki; sesuai dengan kepantasan; dan tidak menyimpang dari prosedur.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

100

Dan untuk pengawasan pelayanan publik, dilakukan oleh pengawas internal dan pengawas eksternal. engawasan internal penyelenggaraan pelayanan publik dilakukan melalui:
a. pengawasan oleh atasan langsung sesuai dengan peraturan perundang-undangan; dan b. pengawasan oleh pengawas fungsional sesuai dengan peraturan perundangundangan. Sedangkan Pengawasan eksternal penyelenggaraan pelayanan publik dilakukan melalui: a. pengawasan oleh masyarakat berupa laporan atau pengaduan masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik; b. pengawasan oleh ombudsman sesuai dengan peraturan perundang-undangan; dan c. pengawasan oleh Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota. UU pelayanan publik juga mengatur mengenai mekanisme komplain atau pengaduan masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan oleh pelaksana layanan publik. Dalam pasal 36, mengenai pengelolaan pengaduan sebagai berikut : (1) Penyelenggara berkewajiban menyediakan sarana pengaduan dan menugaskan Pelaksana yang kompeten dalam pengelolaan pengaduan. (2) Penyelenggara berkewajiban mengelola pengaduan yang berasal dari penerima pelayanan, rekomendasi ombudsman, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota dalam batas waktu tertentu. (3) Penyelenggara berkewajiban menindaklanjuti hasil pengelolaan pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (4) Penyelenggara berkewajiban mengumumkan nama dan alamat penanggung jawab pengelola pengaduan serta sarana pengaduan yang disediakan. Dan dalam ketentuan pasal 37, diatur kewajiban penyelenggaran untuk menyusun mekanisme pengelolaan pengaduan dari penerima pelayanan dengan mengedepankan asas penyelesaian yang cepat dan tuntas. Adapun mengenai Materi dan mekanisme pengelolaan pengaduan diatur lebih lanjut oleh Penyelenggara. Materi pengelolaan pengaduan tersebut sekurang-kurangnya meliputi: a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. identitas pengadu; prosedur pengelolaan pengaduan; penentuan Pelaksana yang mengelola pengaduan; prioritas penyelesaian pengaduan; pelaporan proses dan hasil pengelolaan pengaduan kepada atasan pelaksana; rekomendasi pengelolaan pengaduan; penyampaian hasil pengelolaan pengaduan kepada pihak terkait; pemantauan dan evaluasi pengelolaan pengaduan; dokumentasi dan statistik pengelolaan pengaduan; dan pencantuman nama dan alamat penanggung jawab serta sarana pengaduan yang mudah diakses. Dalam bab VII diatur mengenai mekanisme penyelesaian pengaduan, dalam pasal 40 diatur sebagai berikut:
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

101

(1) Masyarakat berhak mengadukan penyelenggaraan pelayanan publik kepada Penyelenggara, ombudsman, dan/atau Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota. (2) Masyarakat yang melakukan pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dijamin hak-haknya oleh peraturan perundang-undangan. (3) Pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan terhadap: a. Penyelenggara yang tidak melaksanakan kewajiban dan/atau melanggar larangan; dan b. Pelaksana yang memberi pelayanan yang tidak sesuai dengan standar pelayanan.

Pasal 41
(1) Atasan satuan kerja penyelenggara berwenang menjatuhkan sanksi kepada satuan kerja Penyelenggara yang tidak memenuhi kewajiban dan/atau melanggar larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (3) huruf a. (2) Atasan Pelaksana menjatuhkan sanksi kepada Pelaksana yang melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (3) huruf b. (3) Pemberian sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan berdasarkan aduan masyarakat dan/atau berdasarkan kewenangan yang dimiliki atasan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Pasal 42
(1) Pengaduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 diajukan oleh setiap orang yang dirugikan atau oleh pihak lain yang menerima kuasa untuk mewakilinya. (2) Pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak pengadu menerima pelayanan. (3) Pengaduan disampaikan secara tertulis memuat: a. nama dan alamat lengkap; b. uraian pelayanan yang tidak sesuai dengan standar pelayanan dan uraian kerugian materiil atau immateriil yang diderita; c. permintaan penyelesaian yang diajukan; dan d. tempat, waktu penyampaian, dan tanda tangan. (4) Pengadu dapat memasukkan tuntutan ganti rugi dalam surat pengaduannya sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (5) Dalam keadaan tertentu, nama dan identitas pengadu dapat dirahasiakan. Penyelenggaraan Program pendidikan gratis yang selama ini dilaksanakan masih jauh dengan ketentuan UU ini, bahkan belum sama sekali mengadopsi UU ini, karena memang peraturan bupati nomor 11 tahun 2006, hadir lebih dulu dari UU pelayanan publik. Untuk itu, maka perlu untuk disesuaikan dengan keberadaan UU pelayanan publik. Mengingat pelayanan pendidikan adalah merupakan bentuk dari pelayanan penyelenggara dan pelaksana dibidang pendidikan yang langsung dan menyentuh masyarakat, maka dalam proses pelayanan dibidang pendidikan perlu mengacu pada ketentuan yang ada dalam UU ini. Beberapa ketentuan yang ada dalam UU pelayanan publik akan diadopsi kedalam peraturan daerah—untuk mendorong pelaksanaan pelayanan publik dalam bidang pendidikan, program layanan pendidikan gratis selaras dengan semangat yang terkandung dalam UU pelayanan publik. Beberapa ketentuan penting yang perlu dimasukkan kedalam rancangan peraturan Daerah adalah terkait dengan standar pelayanan dan
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

102

penilaian kinerja serta mekanisme komplain masyarakat terhadap pelayanan pendidikan gratis. 5. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4496); Kehadiran PP ini, pada hakekatnya melihat pendidikan dalam konteks pembangunan nasional mempunyai fungsi: (1) pemersatu bangsa, (2) penyamaan kesempatan, dan (3) pengembangan potensi diri. Pendidikan diharapkan dapat memperkuat keutuhan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), memberi kesempatan yang sama bagi setiap warga negara untuk berpartisipasi dalam pembangunan, dan memungkinkan setiap warga negara untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal. Sementara itu, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional merupakan dasar hukum penyelenggaraan dan reformasi sistem pendidikan nasional. Undang-undang tersebut memuat visi, misi, fungsi, dan tujuan pendidikan nasional, serta strategi pembangunan pendidikan nasional, untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu, relevan dengan kebutuhan masyarakat, dan berdaya saing dalam kehidupan global. Visi pendidikan nasional adalah mewujudkan sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Misi pendidikan nasional adalah: (1) mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia; (2) meningkatkan mutu pendidikan yang memiliki daya saing di tingkat nasional, regional, dan internasional; (3) meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan global; (4) membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar; (5) meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral; (6) meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar yang bersifat nasional dan global; dan (7) mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia. Terkait dengan visi dan misi pendidikan nasional tersebut di atas, reformasi pendidikan meliputi hal-hal berikut: Pertama; penyelenggaraan pendidikan dinyatakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat,
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

103

di mana dalam proses tersebut harus ada pendidik yang memberikan keteladanan dan mampu membangun kemauan, serta mengembangkan potensi dan kreativitas peserta didik. Prinsip tersebut menyebabkan adanya pergeseran paradigma proses pendidikan, dari paradigma pengajaran ke paradigma pembelajaran. Paradigma pengajaran yang lebih menitikberatkan peran pendidik dalam mentransformasikan pengetahuan kepada peserta didiknya bergeser pada paradigma pembelajaran yang memberikan peran lebih banyak kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi dan kreativitas dirinya dalam rangka membentuk manusia yang memiliki kekuatan spiritual keagamaan, berakhlak mulia, berkepribadian, memiliki kecerdasan, memiliki estetika, sehat jasmani dan rohani, serta keterampilan yang dibutuhkan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Kedua; adanya perubahan pandangan tentang peran manusia dari paradigma manusia sebagai sumberdaya pembangunan, menjadi paradigma manusia sebagai subjek pembangunan secara utuh. Pendidikan harus mampu membentuk manusia seutuhnya yang digambarkan sebagai manusia yang memiliki karakteristik personal yang memahami dinamika psikososial dan lingkungan kulturalnya. Proses pendidikan harus mencakup: (1) penumbuhkembangan keimanan, ketakwaan,; (2) pengembangan wawasan kebangsaan, kenegaraan, demokrasi, dan kepribadian; (3) penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi; (4) pengembangan, penghayatan, apresiasi, dan ekspresi seni; serta (5) pembentukan manusia yang sehat jasmani dan rohani. Proses pembentukan manusia di atas pada hakekatnya merupakan proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Ketiga; Adanya pandangan terhadap keberadaan peserta didik yang terintegrasi dengan lingkungan sosial-kulturalnya dan pada gilirannya akan menumbuhkan individu sebagai pribadi dan anggota masyarakat mandiri yang berbudaya. Hal ini sejalan dengan proses pentahapan aktualisasi intelektual, emosional dan spiritual peserta didik di dalam memahami sesuatu, mulai dari tahapan paling sederhana dan bersifat eksternal, sampai tahapan yang paling rumit dan bersifat internal, yang berkenaan dengan pemahaman dirinya dan lingkungan kulturalnya. Keempat; Dalam rangka mewujudkan visi dan menjalankan misi pendidikan nasional, diperlukan suatu acuan dasar (benchmark) oleh setiap penyelenggara dan satuan pendidikan, yang antara lain meliputi kriteria dan kriteria minimal berbagai aspek yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan. Dalam kaitan ini, kriteria dan kriteria penyelenggaraan pendidikan dijadikan pedoman untuk mewujudkan: (1) pendidikan yang berisi muatan yang seimbang dan holistik; (2) proses pembelajaran yang demokratis, mendidik, memotivasi, mendorong kreativitas, dan dialogis; (3) hasil pendidikan yang bermutu dan terukur; (4) berkembangnya profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan;
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

104

(5) tersedianya sarana dan prasarana belajar yang memungkinkan berkembangnya potensi peserta didik secara optimal; (6) berkembangnya pengelolaan pendidikan yang memberdayakan satuan pendidikan; dan (7) secara berkelanjutan. Acuan dasar tersebut di atas merupakan standar nasional pendidikan yang dimaksudkan untuk memacu pengelola, penyelenggara, dan satuan pendidikan agar dapat meningkatkan kinerjanya dalam memberikan layanan pendidikan yang bermutu. Selain itu, standar nasional pendidikan juga dimaksudkan sebagai perangkat untuk mendorong terwujudnya transparansi dan akuntabilitas publik dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional. Standar nasional pendidikan memuat kriteria minimal tentang komponen pendidikan yang memungkinkan setiap jenjang dan jalur pendidikan untuk mengembangkan pendidikan secara optimal sesuai dengan karakteristik dan kekhasan programnya. Standar nasional pendidikan tinggi diatur seminimal mungkin untuk memberikan keleluasaan kepada masing-masing satuan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi dalam mengembangkan mutu layanan pendidikannya sesuai dengan program studi dan keahlian dalam kerangka otonomi perguruan tinggi. Demikian juga standar nasional pendidikan untuk jalur pendidikan nonformal hanya mengatur hal-hal pokok dengan maksud memberikan keleluasaan kepada masing-masing satuan pendidikan pada jalur pendidikan nonformal yang memiliki karakteristik tidak terstruktur untuk mengembangkan programnya sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Penyelenggaraan pendidikan jalur informal yang sepenuhnya menjadi kewenangan keluarga dan masyarakat didorong dan diberikan keleluasaan dalam mengembangkan program pendidikannya sesuai dengan kebutuhan keluarga dan masyarakat. Dalam Bab II, diatur tentang lingkup, fungsi dan tujuan dari Standar Pendidikan Nasional. Pasal 2 menegaskan bahwa lingkup standar nasional pendidikan adalah meliputi : terlaksananya evaluasi, akreditasi dan sertifikasi yang berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan

(1) Lingkup Standar Nasional Pendidikan meliputi:
a. b. c. d. e. f. g. h. standar isi; standar proses; standar kompetensi lulusan; standar pendidik dan tenaga kependidikan; standar sarana dan prasarana; standar pengelolaan; standar pembiayaan;dan standar penilaian pendidikan.

Untuk penjaminan dan pengendalian mutu pendidikan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan, maka evaluasi, akreditasi, dan sertifikasi. dilakukan Dan Standar Nasional

Pendidikan ini disempurnakan secara terencana, terarah, dan
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

105

berkelanjutan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global. Fungsi Standar Nasional Pendidikan itu sendiri adalah berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu (pasal 3). Tujuannya adalah untuk menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat (pasal 4) Dalam Bab VIII, diatur mengenai standar pengelolan oleh satuan pendidikan, diatur dalam pasal 49 ayat (1) bahwa Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan keterbukaan, dengan dan kemandirian, kemitraan, pasal partisipasi, 52, diatur akuntabilitas. Dalam

mengenai keharusan bagi satuan pendidikan untuk memeliki pedoman yang mengatur tentang :
a. b. c. d. e. f. g. h. i. Kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabus; Kalender pendidikan/akademik, yang menunjukkan seluruh kategori aktivitas satuan pendidikan selama satu tahun dan dirinci secara semesteran, bulanan, dan mingguan; Struktur organisasi satuan pendidikan; Pembagian tugas di antara pendidik; Pembagian tugas di antara tenaga kependidikan; Peraturan akademik; Tata tertib satuan pendidikan, yang minimal meliputi tata tertib pendidik, tenaga kependidikan dan peserta didik, serta penggunaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana; Kode etik hubungan antara sesama warga di dalam lingkungan satuan pendidikan dan hubungan antara warga satuan pendidikan dengan masyarakat; Biaya operasional satuan pendidikan.

Pedoman tersebut diputuskan oleh rapat dewan pendidik dan ditetapkan oleh kepala satuan pendidikan. Dan untuk (1) butir c dan i diputuskan oleh komite sekolah/madrasah dan ditetapkan oleh kepala satuan pendidikan. Sednagkan terkait dengan butir g ditetapkan oleh kepala satuan pendidikan setelah mempertimbangkan masukan dari rapat dewan pendidik dan komite sekolah/madrasah. Dan untuk Pedoman pada butir e ditetapkan oleh pimpinan satuan pendidikan. Setiap satuan pendidikan dikelola atas dasar rencana kerja tahunan yang merupakan penjabaran rinci dari rencana kerja jangka menengah satuan pendidikan yang meliputi masa 4 (empat) tahun. Adapun Rencana kerja tahunan itu sendiri meliputi:
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

106

a. b. c. d. e. f. g. h. i.

j. k. l.

kalender pendidikan/akademik yang meliputi jadwal pembelajaran, ulangan, ujian, kegiatan ekstrakurikuler, dan hari libur; jadwal penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan untuk tahun ajaran berikutnya; mata pelajaran atau mata kuliah yang ditawarkan pada semester gasal, semester genap, dan semester pendek bila ada; penugasan pendidik pada mata pelajaran atau mata kuliah dan kegiatan lainnya; buku teks pelajaran yang dipakai pada masing-masing mata pelajaran; jadwal penggunaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana pembelajaran; pengadaan, penggunaan, dan persediaan minimal bahan habis pakai; program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan yang meliputi sekurang-kurangnya jenis, durasi, peserta, dan penyelenggara program; jadwal rapat Dewan Pendidik, rapat konsultasi satuan pendidikan dengan orang tua/wali peserta didik, dan rapat satuan pendidikan dengan komite sekolah/madrasah, untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah; jadwal rapat Dewan Dosen dan rapat Senat Akademik untuk jenjang pendidikan tinggi; rencana anggaran pendapatan dan belanja satuan pendidikan untuk masa kerja satu tahun; jadwal penyusunan laporan akuntabilitas dan kinerja satuan pendidikan untuk satu tahun terakhir.

Untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah, rencana kerja tersebut harus disetujui rapat dewan pendidik setelah memperhatikan pertimbangan dari Komite Sekolah/Madrasah. Pengelolaan satuan pendidikan dilaksanakan secara mandiri, efisien, efektif, dan akuntabel (pasal 54). Dan apabila Pelaksanaan pengelolaan satuan pendidikan untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah yang tidak sesuai dengan rencana kerja tahunan, maka harus mendapat persetujuan dari rapat dewan pendidik dan komite sekolah/madrasah Pelaksanaan pengelolaan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dipertanggungjawabkan oleh kepala satuan pendidikan kepada rapat dewan pendidik dan komite sekolah/madrasah. Agar pelaksanan pengelolaan berjalan efektif dan terkendali, maka dilakukan Pengawasan terhadap satuan pendidikan meliputi pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan, dan tindak lanjut hasil pengawasan. Disamping pengawasan juga dilakukan Pemantauan dilakukan oleh pimpinan satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah atau bentuk lain dari lembaga perwakilan pihak-pihak yang berkepentingan secara teratur dan berkesinambungan untuk menilai efisiensi, efektivitas, dan akuntabilitas satuan pendidikan (pasal 56). Dalam undang-undang ini juga diatur mengenai supervisi dan pelaporan (pasal 57 dan pasal 58). PP juga mengatur dan menegaskan mengenai standar pengelolaan yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Dalam pasal 59, standar pengelolaan oleh pemerintah daerah adalah sebagai berikut : (1) Pemerintah Daerah menyusun rencana kerja pendidikan dengan memprioritaskan program: tahunan bidang

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

107

a. b. c. d. e. f. g. h. Realisasi

wajib belajar; peningkatan angka partisipasi pendidikan untuk jenjang pendidikan menengah; penuntasan pemberantasan buta aksara; penjaminan mutu pada satuan pendidikan, baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah maupun masyarakat; peningkatan status guru sebagai profesi; akreditasi pendidikan; peningkatan relevansi pendidikan terhadap kebutuhan masyarakat; dan pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang pendidikan. rencana oleh kerja tahunan diatas) sesuai disetujui dan

dipertanggungjawabkan diatur dalam PP,

Bupati/Walikota jika dapat

ketentuan dalam

peraturan konsteks

perundang-undangan yang berlaku. Jika merujuk pada konstruksi dan materi yang maka tentu diterapkan penyelenggaraan pendidikan gratis, maka persoalan terkait dengan mutu pendidikan gratis, mungkin dapat teratasi, atau setidaknya keluhan terhadap mutu pendidikan dapat berkurang. Dalam Peraturan Bupati Nomor 11 tahun 2006 tentang pedoman pelaksanaan program pendidikan gratis sebenarnya dalam dasar pertimbangan hukumnya telah memasukkan PP Nomor 19 tahun 2005, namun materi yang diatur dalam perbup tersebut sama sekali tidak mengacu pada ketentuan PP tersebut, bahkan cenderung menegasikan keberadaan PP No.19 tahun 2005. Sehingga berdampak pada munculnya berbagai persoalan terkait dengan mutu. Perancang peraturan yang menyusun Perbup tersebut,nampaknya kurang mendalami substansi yang diatur dalam PP, dan hanya sekedar memasukkan PP dalam rumusan dasar mengingat, namun tidak menjadikannya sebagai kerangka materi yang perlu dimasukkan sebagai muatan dalam perbup nomor 11 tahun 2006. Beranjak dari hal itulah, maka dalam perumusan perancangan peraturan daerah baru perlu memasukkan dasar pertimbangan hukum PP No.19 tahun 2005, termasuk semangat dan materi yang ada dalam PP No.19/2005 kedalam perda.

6.

Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 90, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4863);
Pasal 34 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan bahwa Pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya program wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya. Penyelenggaraan program wajib belajar pendidikan dasar merupakan bagian dari kebijakan pendidikan di Indonesia dalam mencapai pendidikan untuk semua (education for all). Program wajib belajar diselenggarakan untuk memberikan pelayanan pendidikan dasar seluas-luasnya kepada warga negara Indonesia tanpa

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

108

membedakan latar belakang agama, suku, sosial, budaya, dan ekonomi. Setiap warga negara Indonesia usia wajib belajar berhak mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu dan orang tua/walinya berkewajiban memberi kesempatan kepada anaknya untuk mendapatkan pendidikan dasar. Program wajib belajar diselenggarakan pada satuan pendidikan dasar pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal dan harus dapat menampung anak yang normal maupun yang berkelainan dan mempunyai hambatan. Peraturan tentang program wajib belajar mencakup hak dan kewajiban warga negara Indonesia, tanggung jawab Pemerintah dan pemerintah daerah. Penyelenggaraan program wajib belajar pendidikan dasar perlu dievaluasi pencapaiannya minimal setiap tiga tahun. Sebagai bentuk dari akuntabilitas publik, masyarakat berhak mendapat data dan informasi tentang hasil evaluasi penyelenggaraan program wajib belajar tersebut. Program wajib belajar merupakan gerakan nasional yang dilaksanakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan oleh Perwakilan Negara Republik Indonesia di luar negeri. Itulah petikan dari penjelasan yang tercantum dalam PP No.47 tahun 2008. Dan pemerintah daerah kabupaten sumbawa barat telah merespon kebijakan tersebut dengan menetapkan Peraturan Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 23 Tahun 2008 Tentang Program Wajib Belajar 12 Tahun di Kabupaten Sumbawa Barat (Lembaran Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2008 Nomor 23, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 90). Langkah ini tentu jauh lebih maju dibandingkan dengan kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemeirntah pusat yang baru hanya menetapkan pada tingkan pendidikan dasar 9 tahun. Sementara KSB telah mewajibkan kepada seluruh pendidikanya untuk wajib belajar 12 tahun atau hingga pendidikan menengah. Dalam PP No.47 tahun 2008, pemerintah telah menegaskan fungsi dan tujuan dari program wajib belajar. Dalam pasal 2 dikatakan bahwa Wajib belajar berfungsi mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara Indonesia. Sedangkan tujuan dari, program wajib belajar adalah bertujuan untuk memberikan pendidikan minimal bagi warga negara Indonesia untuk dapat mengembangkan potensi dirinya agar dapat hidup mandiri di dalam masyarakat atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (pasal 3) Untuk memastikan program wajib belajar dapat berjalan, maka dalam PP tersebut diatur mengenai pejaminan wajib belajar. Ketentuan ini diatur dalam pasal 9 sampai dengan pasal 12, sebagai berikut :

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

109

BAB VI PENJAMINAN WAJIB BELAJAR (1) (2) (3) Pasal 9 Pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya program wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya. Warga negara Indonesia yang berusia 6 (enam) tahun dapat mengikuti program wajib belajar apabila daya tampung satuan pendidikan masih memungkinkan. Warga negara Indonesia yang berusia di atas 15 (lima belas) tahun dan belum lulus pendidikan dasar dapat menyelesaikan pendidikannya sampai lulus atas biaya Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. Warga negara Indonesia usia wajib belajar yang orang tua/walinya tidak mampu membiayai pendidikan, Pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib memberikan bantuan biaya pendidikan sesuai peraturan perundangundangan. Pasal 10 Investasi pada lahan, sarana, dan prasarana selain lahan pendidikan pada satuan pendidikan dasar pelaksana program wajib belajar yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah menjadi tanggung jawab Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai kewenangan masing-masing. Investasi pada lahan, sarana, dan prasarana selain lahan pendidikan pada satuan pendidikan dasar pelaksana program wajib belajar yang diselenggarakan oleh masyarakat menjadi tanggung jawab badan hukum penyelenggara satuan pendidikan. Biaya operasi pada satuan pendidikan dasar pelaksana program wajib belajar menjadi tanggung jawab Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai kewenangan masing-masing. Ketentuan mengenai investasi dan biaya operasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) diatur dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pendanaan pendidikan. Pasal 11 Pemerintah dan pemerintah daerah menjamin tersedianya lahan, sarana, dan prasarana selain lahan pendidikan untuk setiap satuan pendidikan pelaksana program wajib belajar yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai kewenangannya masing-masing, dengan pembagian beban tanggung jawab sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pendanaan pendidikan. Pemerintah dan pemerintah daerah menjamin tersedianya pendidik, tenaga kependidikan, dan biaya operasi untuk setiap satuan pendidikan penyelenggara program wajib belajar dengan pembagian beban tanggung jawab sebagaimana diatur dalam dalam peraturan perundangDiterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

(4)

(1)

(2)

(3) (4)

(1)

(2)

110

(3)

undangan yang mengatur tentang pendanaan pendidikan. Pemerintah provinsi menjamin terselenggaranya koordinasi atas penyelenggaraan pendidikan, pengembangan tenaga kependidikan, dan penyediaan fasilitas penyelenggaraan pendidikan lintas kabupaten/kota di wilayahnya untuk pelaksanaan program wajib belajar. Pasal 12 Setiap warga negara Indonesia usia wajib belajar wajib mengikuti program wajib belajar. Setiap warga negara Indonesia yang memiliki anak usia wajib belajar bertanggung jawab memberikan pendidikan wajib belajar kepada anaknya. Pemerintah kabupaten/kota wajib mengupayakan agar setiap warga negara Indonesia usia wajib belajar mengikuti program wajib belajar.

(1) (2) (3)
.

Landasan PP No47/2008 tentang wajib belajar sesungguhnya semakin mengukuhkan kebijakan program pendidikan gratis yang berlangsung di KSB. Pemerintah pusat juga merencanakan pada tahun 2013 menerapkan kebijakan wajib belajar 12 tahun. Ini artinya, agenda untuk melanjutkan program pendidikan gratis dan cakupan program pendidikan gratis hingga pendidikan menengah (12 tahun) memiliki landasan hukum yang kuat, tidak bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi bahkan justeru dapat menjadi percontohan bagi daerah lainnya di Indonesia. Dengan demikian pula, maka penolakan sejumlah kalangan atas kebijakan program pendidikan gratis untuk menghentikan program pendidikan gratis dengan alasan tidak memiliki landasna hukum yang kuat adalah sebuah kekliruan dan alasan yang tidak berdasarkan hukum. Arah perubahan kebijakan program pendidikan gratis dengan menaikkan skala kedudukan kebijakan, dari peraturan bupati menuju peraturan daerah adalah cukup tepat dan harus didorong oleh seluruh komponen yang ada di daerah. Kebijakan scalling-up pendidikan gratis juga menjadi selaras dengan keberadaan Peraturan Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 23 Tahun 2008 Tentang Program Wajib Belajar 12 Tahun di Kabupaten Sumbawa Barat (Lembaran Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2008 Nomor 23, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 90), dengan dilakukannya scalling-up perbup menjadi perda adalah untuk mendukung pula perda Nomor 23 tahun 2008. Substansi yang perlu diatur dan disesuaikan dalam scalling-up terkait dengan ini adalah bagaimana mensinergiskan dan mengharmonisasikan materi yang ada dalam perda nomor 23 tahun 2008 dengan rancangan peraturan daerah yang akan dibentuk, sehingga kedua peraturan daerah ini nantinya saling mendukung dan mengkokohkan program pendidikan gratis yang dilaksanakan di KSB.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

111

7.

Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 91, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4864);
PP No.48 tahun 2008, lahir selain untuk melaksanakan amanah Pasal 46, Pasal 47, Pasal 48, dan Pasal 49, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, juga sebagai upaya dan tanggungjawab Pemerintah dan pemerintah daerah untuk menjamin dan memastikan ketersediaan anggaran pendidikan berdasarkan prinsip keadilan, kecukupan, dan keberlanjutan. PP ini sekaligus mendukung pula keberlakuan PP No.47 tahun 2008 tentang wajib belajar.

Oleh karena pemerintah telah meletakkan program wajib belajar 9 tahun, maka pemerintah daerah bertanggungjawab untuk dapat melaksanakan program tersebut, salah satu tanggungjawab tersebut adalah kaminan pendanaan untuk pelaksanaan program wajib belajar.

Dalam bab V pasal 50 diatur sumber pendanaan dan prinsip pendaan pendidikan sebagai berikut :

Pasal 50
Sumber pendanaan pendidikan ditentukan berdasarkan prinsip keadilan, kecukupan, dan keberlanjutan. (2) Prinsip keadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berarti bahwa besarnya pendanaan pendidikan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. (3) Prinsip kecukupan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berarti bahwa pendanaan pendidikan cukup untuk membiayai penyelenggaraan pendidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan. (4) Prinsip keberlanjutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berarti bahwa pendanaan pendidikan dapat digunakan secara berkesinambungan untuk memberikan layanan pendidikan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan. (1)

Dan (APBD).

pemerintah Ketentuan

menegaskan

mengenai

pengalokasikan dana pendidikan

dana ini

pendidikan, 20% baik di tingkat nasional (APBN) maupun ditingkat daerah mengenai pengalokasian tercantum dalam pasal 80 dan pasal 81, sebagai berikut :
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

112

Pasal 80
(1) Anggaran belanja untuk melaksanakan fungsi pendidikan pada sektor pendidikan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara setiap tahun anggaran sekurang-kurangnya dialokasikan 20% (dua puluh perseratus) dari belanja negara. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai alokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur oleh Menteri Keuangan.

Pasal 81
(1) Anggaran belanja untuk melaksanakan fungsi pendidikan pada sektor pendidikan dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah setiap tahun anggaran sekurang-kurangnya dialokasikan 20% (dua puluh perseratus) dari belanja daerah.

Penegasan ini semakin mengukuhkan amanah konstitusi (UUD 1945) yang mengharuskan agar APBN/APBD mengalokasikan anggaran untuk sektor pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari total APBN/APBD. Dengan merujuk pada ketentuan tersebut, maka adalalah menjadi suatu keharusan dan kewajaran, jika alokasi anggaran untuk pendidikan lebih besar jika dibandingkan dengan sektor belanja lainnya. Dan sangat beralasan dan cukup rasional, jika dalam APBD KSB selama ini telah mengalokasikan anggaran untuk sektor pendidikan gratis. dan tidak ada alasan pula bagi para pihak untuk menolak kebijakan ini, karena kebijakan program pendidikan gratis sesungguhnya adalah amanah konstitusi dan perintah undangundnag yang memang meski dijalankan, termasuk mengalokasikan anggaran pendidikan dalam jumlah yang besar.

8.

Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5105);
Latar belakang peraturan ini adalah berangkat dari visi sistem pendidikan nasional bahwa visi sistem pendidikan nasional adalah sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa dengan visi ini maka mengisyaratkan agar dalam pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat harus berlangsung sinergis.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

113

Visi

sistem

pendidikan

nasional

sendiri

dimaksudkan

untuk

memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Bahwa dalam era globalisasi dan informasi saat ini, keterbukaan telah menjadi karakteristik kehidupan yang demokratis, dan hal ini membawa dampak pada cepat usangnya kebijakan maupun praksis pendidikan. Parameter kualitas pendidikan, baik dilihat dari segi pasokan, proses, dan hasil pendidikan pun selalu berubah seiring dengan perubahan global. Dunia pendidikan khususnya dan tantangan masa depan umumnya telah berubah dan berkembang sedemikian cepatnya. Oleh sebab itu, maka untuk mengantisipasi serta merespon perubahan dan perkembangan tersebut, pemerintah memadang perlu untuk menetapkan PP tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan yang responsif untuk memaksimalkan terselenggaranya sistem pendidikan nasional. Dalam ketentuan PP ini pemerintah telah menklasifikasi pengelola pendidikan, dalam pasal 2 ddibutkan bahwa pengelolaan pendidikan dilakukan oleh : a. b. c. d. e. Pemerintah; pemerintah provinsi; pemerintah kabupaten/kota; penyelenggara satuan pendidikan yang didirikan masyarakat; dan satuan atau program pendidikan.

Pengelolaan pendidikan ini dimaksudkan dan ditujukan untuk menjamin: a. akses masyarakat atas pelayanan pendidikan yang mencukupi, merata, dan terjangkau; b. mutu dan daya saing pendidikan serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat; dan c. efektivitas, efisiensi, dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan. Adapun pengelolaannya didasarkan pada kebijakan nasional bidang pendidikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (pasal 4). Dalam bab II pasal 5 dan pasal 6 mengatur tentang pengelolaan pendidikan. Pada pasal 5 disebutkan bahwa Menteri bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional serta merumuskan dan/atau menetapkan kebijakan nasional pendidikan (pasal 5). Adapun kebijakan nasional pendidikan itu dalam: a. b. c. d. e. f. rencana pembangunan jangka panjang; rencana pembangunan jangka menengah; rencana strategis pendidikan nasional; rencana kerja Pemerintah; rencana kerja dan anggaran tahunan; dan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pendidikan. strategi dituangkan

Kebijakan nasional di atas, mencakup pula pelaksanaan pembangunan nasional yang meliputi: a. pelaksanaan pendidikan agama serta akhlak mulia;

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

114

b. c. d. e. f. g.

pengembangan dan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi; proses pembelajaran yang mendidik dan dialogis; evaluasi, akreditasi, dan sertifikasi pendidikan yang memberdayakan; peningkatan keprofesionalan pendidik dan tenaga kependidikan; penyediaan sarana belajar yang mendidik; pembiayaan pendidikan yang sesuai dengan prinsip pemerataan dan berkeadilan; h. penyelenggaraan pendidikan yang terbuka dan merata; i. pelaksanaan wajib belajar; j. pelaksanaan otonomi manajemen pendidikan; k. pemberdayaan peran masyarakat; l. pusat pembudayaan dan pembangunan masyarakat; dan m. pelaksanaan pengawasan dalam system pendidikan nasional.

Kebijakan nasional pendidikan ditas merupakan pedoman bagi: a. Kementerian; b. Kementerian Agama; c. kementerian lain atau lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan satuan pendidikan; d. pemerintah provinsi; e. pemerintah kabupaten/kota; f. penyelenggara pendidikan yang didirikan masyarakat; g. satuan atau program pendidikan; h. dewan pendidikan; i. komite sekolah/madrasah atau nama lain yang sejenis; j. peserta didik; k. orang tua/wali peserta didik; l. pendidik dan tenaga kependidikan; m. masyarakat; dan n. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di Indonesia. Dan agar sistem pendidikan nasional dapat dilaksanakan secara maka pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan. Pengalokasian anggaran pendidikan tersebut dikonsolidasikan oleh Menteri. Sedangkan terkait dengan pengelolaan pendidikan di tingkat daerah, diatur dalam Bab II bagian keempat, dalam pasal 28 sampai dengan pasal 38 tentang Pengelolaan Pendidikan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota, yakni sebagai berikut : Pasal 28 Bupati/walikota bertanggung jawab mengelola system pendidikan nasional di daerahnya dan merumuskan serta menetapkan kebijakan daerah bidang pendidikan sesuai kewenangannya. Pasal 29 (1) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dan Pasal 17, serta sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam: a. rencana pembangunan jangka panjang kabupaten/kota; b. rencana pembangunan jangka menengah kabupaten/kota; c. rencana strategis pendidikan kabupaten/kota; d. rencana kerja pemerintah kabupaten/kota; e. rencana kerja dan anggaran tahunan kabupaten/kota;
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

115

f. peraturan daerah di bidang pendidikan; dan g. peraturan bupati/walikota di bidang pendidikan. (3) Kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) merupakan pedoman bagi: a. semua jajaran pemerintah kabupaten/kota; b. penyelenggara pendidikan yang didirikan masyarakat di kabupaten/kota yang bersangkutan; c. satuan atau program pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan; d. dewan pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan; e. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di kabupaten/kota yang bersangkutan; f. peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan; g. orang tua/wali peserta didik di kabupaten/ kota yang bersangkutan; h. pendidik dan tenaga kependidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan; i. masyarakat di kabupaten/kota yang bersangkutan; dan j. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. (4) Pemerintah kabupaten/kota mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di kabupaten/kota yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif, efisien, dan akuntabel sesuai dengan kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3). Pasal 30 Pemerintah kabupaten/kota mengarahkan, membimbing, menyupervisi, mengawasi, mengoordinasi, memantau, mengevaluasi, dan mengendalikan penyelenggara, satuan, jalur, jenjang, dan jenis pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan sesuai kebijakan daerah bidang pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28. Pasal 31 (1) Bupati/walikota menetapkan target tingkat partisipasi pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan yang harus dicapai pada tingkat kabupaten/kota. (2) Target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. (3) Dalam memenuhi target tingkat partisipasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pemerintah kabupaten/kota mengutamakan perluasan dan pemerataan akses pendidikan melalui jalur pendidikan formal. Pasal 32 (1) Bupati/walikota menetapkan target tingkat pemerataan partisipasi pendidikan pada tingkat kabupaten/kota yang meliputi: a. antarkecamatan atau sebutan lain yang sejenis; b. antardesa/kelurahan atau sebutan lain yang sejenis; dan c. antara laki-laki dan perempuan. (2) Bupati/walikota menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik memperoleh akses pelayanan pendidikan bagi peserta didik yang orang tua/walinya tidak mampu membiayai pendidikan, peserta didik pendidikan khusus, dan/atau peserta didik di daerah khusus. Pasal 33 Bupati/walikota melaksanakan dan mengoordinasikan pelaksanaan standar pelayanan minimal bidang pendidikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 34
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

116

(1) Pemerintah kabupaten/kota melakukan dan/atau memfasilitasi penjaminan mutu pendidikan di daerahnya dengan berpedoman pada kebijakan nasional pendidikan, kebijakan provinsi bidang pendidikan, dan Standar Nasional Pendidikan. (2) Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pemerintah kabupaten/kota berkoordinasi dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. (3) Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi: a. akreditasi program pendidikan; b. akreditasi satuan pendidikan; c. sertifikasi kompetensi peserta didik; d. sertifikasi kompetensi pendidik; dan/atau e. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan. Pasal 35 (1) Pemerintah kabupaten/kota mengakui, memfasilitasi, membina, dan melindungi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Pemerintah kabupaten/kota melaksanakan dan/atau memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. (3) Pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi akreditasi internasional program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (4) Pemerintah kabupaten/kota memfasilitasi sertifikasi internasional pada program dan/atau satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pasal 36 (1) Pemerintah kabupaten/kota melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik di daerahnya yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, dan internasional. (2) Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi di bidang: a. ilmu pengetahuan; b. teknologi; c. seni; dan/atau d. olahraga. (3) Pemerintah kabupaten/kota memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pembinaan berkelanjutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) serta penyelenggaraan dan fasilitasi kompetisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Bupati/Walikota. Pasal 37 Bupati/walikota menetapkan kebijakan tata kelola pendidikan untuk menjamin efisiensi, efektivitas, dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang merupakan pedoman bagi:
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

117

a. semua jajaran pemerintah kabupaten/kota; b. penyelenggara pendidikan yang didirikan masyarakat di kabupaten/kota yang bersangkutan; c. satuan atau program pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan; d. dewan pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan; e. komite sekolah atau nama lain yang sejenis di kabupaten/kota yang bersangkutan; f. peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan; g. orang tua/wali peserta didik di kabupaten/kota yang bersangkutan; h. pendidik dan tenaga kependidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan; i. masyarakat di kabupaten/kota yang bersangkutan; dan j. pihak lain yang terkait dengan pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan. Pasal 38 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola system pendidikan nasional di daerah, pemerintah kabupaten/kota mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi pendidikan kabupaten/kota berbasis teknologi informasi dan komunikasi. (2) Sistem informasi pendidikan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. (3) Sistem informasi pendidikan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada satuan pendidikan pada semua jenjang, jenis, dan jalur pendidikan sesuai kewenangan pemerintah kabupaten/kota. Dan khusus mengenai pengelolaan pendidikan yang dilaksanakan oleh satuan pendidikan atau program pendidikan diatur pada bagian keenam, sebagai berikut : Pasal 49 (1) Pengelolaan satuan atau program pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah. (2) Pengelolaan satuan atau program pendidikan tinggi dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi, akuntabilitas, jaminan mutu, dan evaluasi yang transparan. Pasal 50 Satuan atau program pendidikan wajib bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional di satuan atau program pendidikannya serta merumuskan dan menetapkan kebijakan pendidikan sesuai dengan kewenangannya. Pasal 51 (1) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 merupakan penjabaran dari kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, Pasal 17, Pasal 28, dan/atau Pasal 39, serta sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) oleh satuan pendidikan anak usia dini, satuan pendidikan dasar, dan satuan pendidikan menengah dituangkan dalam: a. rencana kerja tahunan satuan pendidikan; b. anggaran pendapatan dan belanja tahunan satuan pendidikan; dan c. peraturan satuan atau program pendidikan. (3) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), oleh perguruan tinggi dituangkan dalam: a. rencana pembangunan jangka panjang perguruan tinggi;
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

118

b. c. d. e. f.

rencana strategis perguruan tinggi; rencana kerja tahunan perguruan tinggi; anggaran pendapatan dan belanja tahunan perguruan tinggi; peraturan pemimpin perguruan tinggi; dan peraturan pimpinan perguruan tinggi lain.

(4) Kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) mengikat bagi: a. satuan atau program pendidikan yang bersangkutan; b. lembaga representasi pemangku kepentingan satuan atau program pendidikan yang bersangkutan; c. peserta didik di satuan atau program pendidikan yang bersangkutan; d. orang tua/wali peserta didik di satuan atau program pendidikan yang bersangkutan; e. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan atau program pendidikan yang bersangkutan; dan f. pihak lain yang terikat dengan satuan atau program pendidikan yang bersangkutan. (5) Kebijakan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan penjabaran dan selaras dengan: a. kebijakan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5; b. kebijakan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17; c. kebijakan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28; dan d. kebijakan penyelenggara pendidikan yang didirikan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39. (6) Kebijakan perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) merupakan penjabaran dan selaras dengan: a. kebijakan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5; dan b. kebijakan penyelenggara pendidikan yang didirikan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39. (7) Satuan atau program pendidikan mengalokasikan anggaran pendidikan agar sistem pendidikan nasional di satuan dan/atau program pendidikan yang bersangkutan dapat dilaksanakan secara efektif, efisien, dan akuntabel. Pasal 52 Satuan atau program pendidikan mengelola pendidikan sesuai dengan kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, Pasal 17, Pasal 28, dan/atau Pasal 39, serta sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 53 Satuan atau program pendidikan sesuai dengan kewenangannya wajib menetapkan kebijakan untuk menjamin peserta didik memperoleh akses pelayanan pendidikan bagi peserta didik yang orang tua/walinya tidak mampu membiayai pendidikan, peserta didik pendidikan khusus, dan/atau peserta didik di daerah khusus. Pasal 54 Satuan atau program pendidikan wajib menjamin terpenuhinya standar pelayanan minimal bidang pendidikan. Pasal 55 (1) Satuan atau program pendidikan wajib melakukan penjaminan mutu pendidikan dengan berpedoman pada kebijakan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, Pasal 17, Pasal 28, dan/atau Pasal 39, serta Standar Nasional Pendidikan.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

119

(2) Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), satuan atau program pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, atau pendidikan menengah bekerja sama dengan unit pelaksana teknis Pemerintah yang melaksanakan tugas penjaminan mutu pendidikan. (3) Dalam rangka penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), satuan atau program pendidikan, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, mengikuti: a. akreditasi program pendidikan; b. akreditasi satuan pendidikan; c. sertifikasi kompetensi peserta didik; d. sertifikasi kompetensi pendidik; dan/atau e. sertifikasi kompetensi tenaga kependidikan. Pasal 56 (1) Satuan atau program pendidikan yang telah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dapat merintis dirinya untuk dikembangkan menjadi satuan atau program pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal. (2) Satuan atau program pendidikan yang telah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dapat mengikuti akreditasi dan/atau sertifikasi internasional satuan atau program pendidikan. Pasal 57 (1) Satuan atau program pendidikan wajib melakukan pembinaan berkelanjutan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan/atau olahraga pada tingkat satuan pendidikan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, dan internasional. (2) Untuk menumbuhkan iklim kompetitif yang kondusif bagi pencapaian prestasi puncak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) satuan dan/atau program pendidikan melakukan secara teratur kompetisi di satuan atau program pendidikan dalam bidang: a. ilmu pengetahuan; b. teknologi; c. seni; dan/atau d. olahraga. (3) Satuan atau program pendidikan memberikan penghargaan kepada peserta didik yang meraih prestasi puncak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan peraturan satuan atau program pendidikan. Pasal 58 Satuan atau program pendidikan wajib menetapkan kebijakan tata kelola pendidikan untuk menjamin efisiensi, efektivitas, dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan yang mengikat: a. satuan atau program pendidikan yang bersangkutan; b. lembaga representasi pemangku kepentingan pendidikan pada satuan atau program pendidikan yang bersangkutan; c. orang tua/wali peserta didik di satuan atau program pendidikan yang bersangkutan; e. pendidik dan tenaga kependidikan di satuan atau program pendidikan yang bersangkutan; dan f. pihak lain yang terikat dengan satuan atau program pendidikan yang bersangkutan.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

120

Pasal 59 (1) Dalam menyelenggarakan dan mengelola pendidikan, satuan dan/atau program pendidikan mengembangkan dan melaksanakan system informasi pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. (2) Sistem informasi pendidikan satuan atau program pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan subsistem dari sistem informasi pendidikan nasional. (3) Sistem informasi pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memberikan akses informasi administrasi pendidikan dan akses sumber pembelajaran kepada pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik.

Dalam PP ini datur pula tujuan masing-masing pengelolaan pada satuan pendidikan, penerimaan siswa, dan lain sebagainya. Beranjak dari ketentuan yang ada dalam PP No.17 tahun 2010, maka sebagai produk hukum daerah yang secara hierarkhis berada paling rendah, maka perlu sekiranya perbup Nomor 11 tahun 2006 untuk disempurnakan. Hal ini seiring oleh karena belum diakomodir kebijakan tersebut dalam Peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2006. Dan oleh karena itu, maka dalam perumusan perda tentang program pendidikan gratis di Kabupaten Sumbawa Barat, PP No.17 tahun 2010, bukan hanya kan menjadi landasan hukum pembentuk perda melainkan pula menjadi salah satu materi yang perlu dimasukkan kedalam pengaturan mengenai pengelolaan program pendidikan gratis. Disamping peraturan perundang-undangan diatas, beberapa peraturan terkait dengan penyelenggaraan program pendidikan gratis yang harus disinkronisasikan dan diharmonisasikan dengan pembentukan peraturan daerah tentang program pendidikan gratis adalah :

1. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah; 2. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 tahun 2006 Tentang Pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional dan Peraturan Menteri Nomor 22 tahun 2006 Tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah Kompetensi Menengah 3. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal; 4. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah;
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

Pendidikan Nasional Nomor 23 tahun 2006 Tentang Standar Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan

121

5. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah; 6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru; 7. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Bagi Guru Dalam Jabatan; 8. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah; 9. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan; 10. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama /Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA); 11. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 tahun 2007 Tentang Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah 12. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 50 tahun 2007 Tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Pemerintah Daerah 13. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 79 tahun 2007 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pencapaian Standar Pelayanan Minimal; 14. 15. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 63 Tahun Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 15 tahun 2009 Tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan 2010 Tentang Standar Pelayanan Minimal Pendidikan Dasar Di Kabupaten/Kota 16. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah;

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

122

17.Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 060/U/2002 tentang Pedoman Pendirian Sekolah; 18. Peraturan Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Kewenangan Kabupaten Sumbawa Barat Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2008 Nomor 3) 19. Peraturan Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 23 Sumbawa Barat (Lembaran Daerah Kabupaten Tahun 2008 Tentang Program Wajib Belajar 12 Tahun di Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2008 Nomor 23, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 90) 20. Peraturan Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 13 Tahun 2010 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2008 Tentang Pembentukan, Susunan, Kedudukan, Tugas Pokok dan Fungsi Dinas-Dinas Daerah Kabupaten Sumbawa Barat (Lembaran Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2010 Nomor 13) 21. Peraturan Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 14 Tahun 2010 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2008 Tentang Pembentukan, Susunan, Kedudukan, Tugas Pokok dan Fungsi Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Sumbawa Barat (Lembaran Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2010 Nomor 14)
Demikian inventarisasi peraturan perundang-undangan ini dilakukan sebagai bahan penting bagi para perancang peraturan daerah dalam merumuskan peraturan daerah tentang program pendidikan gratis. semoga dengan adanya inventarisasi peraturan ini peraturan daerah yang ditetapkan dapat dirumuskan secara komprehensif, sistematik dan membawa perubahan yang transformatif bagi kemajuan kebijakan program pendidikan gratis di KSB.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

123

BAB VII IDE DAN MATERI MUATAN PERATURAN DAERAH PENDIDIKAN GRATIS
Pada pembahasan sebelumnya telah dibahas berbagai permasalahan dan tantangan yang dihdapi oleh daerah dalam pelaksanaan pendidikan gratis. Salah satu persoalan yang menjadi kendala dalam penyelenggaraan pendidikan gratis di KSB adalah disebabkanlemahnya materi peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2006 dan oleh karenanya perlu dilakukan perubahan terhadap mutan materi atas perbup tersebut. Pada bab ini akan dibahas mengenai materi umum yang dianggap perlu diatur dalam Peraturan Daerah tentang Program Pendidikan Gratis di KSB di masa mendatang.

A. Materi Muatan
Beberapa materi yang perlu diatur dalam peraturan daerah tentang program pendidikan gratis yang merupakan penyempurnaan atas perbup Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Pendidikan Gratis di daerah adalah :

1. Nama/Judul Peraturan
Dalam perbup Nomor 11/2006 judul peraturan tersebut adalah Pedoman Pelaksanaan Program Pendidikan Gratis Di Kabupaten Sumbawa Barat. Perubahan judul peraturan yang ditawarkan dalam Peraturan Daerah ini adalah :

1. Peraturan Daerah Tentang Penyelenggaraan Program Pendidikan Gratis di Kabupaten Sumbawa Barat, atau ; 2. Peraturan Daerah Tentang Pendidikan Gratis di Kabupaten Sumbawa Barat.
Adapun alasan perubahan nama/judul perda telah dibahas pada bab sebelumnya. Rancangan yang disusun dalam Raperda ini adalah Penyelenggaraan Program Pendidikan Gratis di Kabupaten Sumbawa Barat

2. Dasar Pertimbangan Pembentukan Peraturan Daerah
Pada bab sebelumnya telah dibahas mengenai alasan atau dasar pertimbangan perubahan perbup menjadi peraturan daerah. Dari uraian yang telah dibahas tersebut, maka penting dalam permusan pertimbangan peraturan daerah yang dibentuk memasukkan unsur pertimbangan sebagai berikut:

a. Peraturan pendidikan,

daerah serta

ini

dibentuk

untuk daya

menjamin saing

dan

meningkatkan perluasan pemerataan kesempatan dan mutu meningkatkan masyarakat sumbawa dalam menghadapi berbagai tantangan perubahan kehidupan di tingkat daerah, nasional, dan internasional saat ini dan masa mendatang ;

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

124

b. Penyelenggaraan pendidikan gratis adalah merupakan amanah UUD 1945, UndangUndang Sisdiknas dan berbagai peraturan lainnya c. Pemerintah daerah telah menetapkan Peraturan Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 23 Tahun 2008 Tentang Program Wajib Belajar 12 Tahun di Kabupaten Sumbawa Barat (Lembaran Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2008 Nomor 23, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 90) konsekuensi atas penetapan kebijakan tersebut, maka Pemerintah Daerah berkewajiban untuk mendanai program wajib belajar 12 tahun; d. Program wajib belajar 12 tahun adalah merupakan usaha pemerintah daerah untuk memajukan dan mensejahterakan masyarakat, mewujudkan cita-cita bangsa, mewujudkan visi dan misi serta cita-cita pembangunan daerah melalui wajib belajar 12 tahun akan terjadi peningkatkan sumberdaya manusia yang pada akhirnya dengan meningkatnya SDM akan tercipta mmasyarakat yang cerdas, beradab, demokratis dan sejahtera serta mampu bersaing baik ditingkat daerah, nasional maupun global ; e. Melalui program pendidikan gratis pemerintah membantu meringankan masyarakat serta sesungguhnya membantu pula upaya pengentasan kemiskinan, oleh karena itu cakupan penyelenggaraan program pendidikan gratis diberlakukan mulai dari TK/RA, SD, MI, SMP, MTs, SMA, MA dan SMK Negeri/Swasta dalam lingkup Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat yang dilaksanakan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan; f. Pembentukan peraturan daerah tentang program pendidikan gratis juga untuk menjamin adanya kepastian hukum, menjamin keberlangsungan dan keberlanjutan dan memberikan landasan pijakan bagi para pemerintah daerah, penyelenggara pendidikan, masyarakat dan para pemangku kepentingan
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

125

pendidikan lainnya dalam mengimplementasikan program pendidikan gratis. g. Perubahan perbup dilakukan oleh karena kedudukan perbup yang secara hierarkhis hukum adalah merupakan peraturan paling rendah disisilain masa jabatan Bupati dan wakil bupati akan berakhir pada tahun 2015 menjadi sangat rentan, terancam berakhir manakala Bupati dan wakil bupati pada periode selanjutnya tidak memiliki komitmen dan politicall will yang kuat untuk melanjutkan program pendidikan gratis. faktor kedua adalah adanya perubahan peraturan perundangundangan baru yang dilahirkan oleh pemerintah pusat

menuntut pula dilakukannya penyesuaian kebijakan di tingkat daerah. Faktor ketiga, adalah oleh karena peraturan bupati sebagai pedoman penyelenggaraan program pendidikan gratis memiliki beberapa kekurangan (tidka komprehensif) mengatur berbagai hal, serta dalam implementasinya banyak menimbulkan kendala/permasalahan, karena itu maka perlu dilakukan perubahan. Alasan-alasan diatas adalah alasan yang akan diijadikan dasar dan muatan dalam raperda.
3. Dasar hukum Oleh karena dasar hukum yang digunakan dalam Perbup No.11 Tahun 2006 sudah kurang relevan lagi untuk dijadikan landasan hukum karena beberapa peraturan tersebut telah ada yang dicabut atau dinyatakan tidak berlaku, serta terdapat beberapa peraturan perundangundangan baru terkait dengan pendidikan yang belum disesuaikan dan masukkan maka perlu dalam rumusan raperda ini memasukkan beberapa peraturan baru kedalam dasar hukum penyelenggaraan pendidikan gratis. Beberapa peraturan baru terkait dan cukup relevan untuk dijadikan dasar hukum (dasar hukum tambahan selain yang telah ada dalam perbup) pembentukan peraturan daerah adalah sebagai berikut :

a. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

126

Tahun

2008 Nomor 61, Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia Nomor 4846); b. Undang-Undang Nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 112, Tambahan Lembaran negara Republik Indonesia Nomor 5038); c. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4585); d. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); e. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 124, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4769); f. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 90, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4863); g. Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 91, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4864); h. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5105);

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

127

i. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah; j. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 tahun Pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan dan Peraturan 2006 Tentang

Nasional Nomor 22 tahun 2006 Tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah k. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal; l. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah; m. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah; n. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru; o. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Bagi Guru Dalam Jabatan; p. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah; q. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan; r. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama /Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA);

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

128

s. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 tahun 2007 Tentang Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah t. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional 2007 Tentang Standar Pengelolaan Pemerintah Daerah u. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 79 tahun 2007 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pencapaian Standar Pelayanan Minimal; v. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 63 Tahun 2009 Tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan w. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 15 tahun 2010 Tentang Standar Pelayanan Minimal Pendidikan Dasar Di Kabupaten/Kota x. Peraturan Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Kewenangan Kabupaten Sumbawa Barat Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2008 Nomor 3) y. Peraturan Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 23 Tahun 2008 Tentang Program Wajib Belajar 12 Tahun di Kabupaten Sumbawa Barat (Lembaran Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2008 Nomor 23, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 90)
4. Maksud, Fungsi dan Tujuan 4.1. Maksud Maksud dari ditetapkannya peraturan daerah tentang program pendidikan gratis secara umum adalah untuk; pertama, memberikan jaminan kepastian hukum terhadap pelaksanaan program pendidikan gratis dimasa mendatang. Jaminan kepastian hukum tersebut berupa adanya peraturan daerah yang memayunginya, sekaligus sebagai alas atau pijakan bagi para penyelenggara program pendidikan gratis untuk melaksanakan program pendidikan gratis selanjutnya. Kedua, maksud ditetapkannya peraturan daerah tentang program pendidikan gratis adalah untuk memberikan jaminan kepada seluruh para pemangku kepentingan pendidikan, khususnya adalah kepada peserta didik dan
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

Nomor

50 tahun oleh

Pendidikan

129

para orang tua/wali murid program pendidikan gratis 18 tahun tetap akan dilaksankaan oleh pemerintah daerah, dengan adanya perda ini maka jaminan keberlanjutan program pendidikan gratis dimasa mendatang semakin kuat. Ketiga, melalui peraturan daerah ini, maka akan mengikat seluruh pihak, pemda, DPRD, masyarakat dan para pemangku kepentingan lainnya untuk taat dan tunduk pada peraturan daerah yang akan dibentuk.

4.2. Fungsi Fungsi dari diselenggarakannya program pendidikan gratis adalah untuk ; Pertama, memberikan kesempatan (sarana) kepada setiap penduduk usia sekolah 4 sampai dengan 18 tahun untuk dapat mengikuti pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Kesempatan ini dibuka seluas-luasnya oleh pemerintah daerah, agar anak usia sekolah (4 s.d.18) di KSB tidak lagi putus sekolah karena persoalan biaya. Dengan dibukanya kesempatan yang luas kepada seluruh penduduk KSB, maka seluruh penduduk KSB khususnya adalah masyarakat ksb yang tergolong fakir miskin yang selama ini terkendala dalam mengikuti pendidikan karena persoalan biaya pendidikan yang mahal dapat dihapuskan karena adanya program pendidikan gratis. dan sarana atau kesempatan yang diberikan oleh pemerintah daerah adalah kepada seluruh penduduk KSB, tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, jenis kelamin untuk dapat mengikuti pendidikan yang dimulai dari pendikan anak usia dini, pendidikan dasar, hingga pendidikan menengah. Kedua, fungsi dari penyelenggaraan program pendidikan gratis adalah untuk memberikan kesempatan (sarana) kepada anak usia sekolah agar mereka dapat mengembangkan kemampuannya, melalui pendidikan gratis diharapkan akan membentuk watak yang cerdas dan bermartabat; Ketiga, fungsi dari penyelenggaraan pendidikan gratis adalah sebagai sarana untuk dapat memajukan dan membentuk masyarakat KSB yang demokratis, sejahtera dan berperadaban fitrah. Ketiga fungsi tersebut merupakan peraturan bupati. fungsi utama dari program pendidikan gratis di KSB yang sebelumnya tidak dimasukkan dalam

4.3. Tujuan (goals)

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

130

Tujuan yang ingin dicapai dari program pendidikan gratis, dapat dibedakan menjadi dua. Pertama adalah tujuan umum (overall goals) dan tujuan khusus (goals/objective). Tujuan umum atau tujuan akhir (overall goals) dari adanya program pendidikan gratis adalah : tercapainya pendidikan minimal bagi penduduk sumbawa barat untuk dapat mengembangkan potensi dirinya agar dapat hidup mandiri di dalam masyarakat atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pendidikan minimal sebagaimana dimaksud pada tujuan akhir dari program pendidikan gratis adalah sekurang-kurangya penduduk KSB adalah berpendidikan menengah, dengan minimal pendidikan menengah itu diharapkan setiap penduduk KSB pada akhirnya mampun untuk mengembangkan potensi yang ada pada dirinya agar Ia (penduduk) kSB bisa hidup mandiri di dalam masyarakat. Kedua, dengan pendidikan minimal yang telah dimiliki, maka setiap penduduk KSB dapat mengikuti jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Itulah tujuan umum (overall goals) yang harus dicapai dalam program pendidikan gratis. Sedangkan tujuan khusus dari program pendidikan gratis yang hendak atau perlu dicapai atau dituju/dihasilkan dari program pendidikan gratis adalah : a. terlaksananya program wajib belajar 12 tahun yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah. b. meningkatnya pemerataan kesempatan kepada setiap Penduduk Kabupaten Sumbawa Barat untuk mengikuti seluruh jenjang pendidikan mulai dari pendidikan usia dini (TK/RA) sampai sekurang-kurangnya pendidikan menegah ( SMA/MA/SMK dan sederajat) ; c. terbantunya biaya pendidikan bagi siswa atau Orang Tua/wali pada setiap jenjang pendidikan ; d. berkurangnya angka putus sekolah pada setiap jenjang pendidikan; e. f. g. meningkatnya kualitas sumberdaya manusiasumbaw abarat memiliki daya saing dimasa mendatang; adanya investasi pembangunan daerah dimasa mendatang serta ; meningkatnya kesadaran dan kepedulian masyarakat akan pentingnya pendidikan. agar

5. Prinsip-prinisip penyelenggaraan pendidikan gratis
Prinsip-prinsip apasajakah yang perlu diatur dalam penyelenggaraan pendidikan gratis, agar tujuan pendidikan gratis dapat tercapai. Prinsip sangat penting untuk dirumuskan dalam perda, karena prinsip atau azas merupakan
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

131

norma tertinggi yang harus dipedomani oleh setiap orang. Dalam penyelenggaraan pendidikan gratis sangat dibutuhkan untuk menjaga agar penyelenggaraan pendidikan gratis tidak keluar dari koridor filosfis, sosiologis dan yuridis serta tujuan dari peraturan yang akan dibentuk. Prinsip-prinisp penyelenggaraan pendidikan gratis yang dirumuskan dalam raperda ini adalah: Pertama, Pendidikan gratis harus diselenggarakan secara partisipatif, transparan, akuntabel dan profesional. Prinsip ini adalah merupakan prinsip dari tatakelola penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik yang baik. Partisipasi, transparansi, akuntabilitas dan profesional merupakan 4 dari 10 prinsip good governance. Keempat prinsip yang dimasukkan sebagai prinsip dalam penyelenggaraan pendidikan gratis adalah dimaksudkan untuk mendorong adanya partisipasi warga dalam proses penyelnggaraan pendidikan (partisipatif), menjaga terjadinya praktek penyimpangan baik berupa penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) maupun praktek korupsi (prinsip transparansi), mendorong adanya pertanggungjawaban para penyelenggara dan pengelola pendidikan atas pengelolaan pendidikan yang telah dilaksanakan kepada masyarakat/publik (akuntabilitas) dan terakhir adalah profesional, prinsip ini menekankan agar pengelolaan pendidikan dilakukan secara benar, baik dan dikelola dengan standar manajemen yang memadai dan orang-rang yang memiliki kompetensi dan integritas untuk melaksanakan pendidikan gratis. Kedua, Pendidikan gratis diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistematik dengan sistem yang terencana, terarah, terpadu, terbuka, bertanggung jawab dan berkelanjutan. Prinsip ini meletakkan bahwa penyelenggaraan pendidikan mulai dari satuan pendidikan anak usia dini hingga satuan pendidikan tinggi memiliki hubungan atau keterkaitan, karena itu dalam penyelenggarakan pendidikan harus dilihat secara komprehensif, tidak boleh dilaksankan secara parsial. Kebijakan dan Penyelenggaraan pendidikan harus disusun secara terencana tidak boleh reaksinoer, memiliki arah sasaran, tujuan dan hasil yang jelas, dan antar komponen memiliki keterpaduan baik secara vertikal maupun secara horizontal karena itu harus dapat diintegrasikan dan dapat disinergiskan seluruh aspek yang mendukung terlaksananya pendidikan yang baik. Dan para pengelola pendidikan haruslah bersikap terbuka, dan bertanggung jawab. Penyelnggaraan pendidikan juga tidak boleh terhenti karena kendala atau tantangan yang dihadapi, proses pendidikan harus tetap berjalan apapun situasi dan kondisinya, dan harus berkelanjutan. Ketiga, Pendidikan gratis diselenggarakan sebagai satu proses

pembudayaan dan pemberdayaan secara berkesinambungan. Pendidikan gratis merupakan sarana pembudayaan pendidikan dalam arti bahwa pendidikan gratis adalah merupakan sarana pembelajaran sepanjang hayat bagi masyrakat, proses
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

132

interaksi dalam pendidikan yang berlangsung secara terus menerus akan membentuk budaya baru dan akan melahirkan satu peradaban baru bagi masyarakat—melalui pendidikan gratis proses pembangunan budya tersebut dibangus atas kecerdasan masyarakat, dan akan membentuk suatu karaktek masyarakat. Pendidikan gratis menjadi sarana atau wahana untuk memberdayakan masyarakat, terutama masyarakat yang selama ini tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan melalui pendidikan gratis dapat menjadi lebih berdaya. Pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan gratis menjadi prinsip yang harus dimiliki oleh para setiap penyelenggara pendidikan di KSB. Keempat, Pendidikan gratis diselenggarakan secara adil, demokratis dan tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai agama, nilai budaya lokal dan kebhinekaan. Prinsip ini megandung pengertian bahwa dalam penyelenggaraan pendidikan gratis, para penyelenggara pendidikan harus dapat memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh penduduk KSB usia sekolah (4 s.d. 18 tahun), seluruh penduduk tanpa membeda-bedakan agama, suku, ras, jenis kelamin, warna kulit, kaya dan miskin, kota atau desa , pejabat atau bukan anak pejabat, haruslah diberlakukan secara adil, adil dalam arti diberikan kesmepatan untuk dapat mengikuti jenjang pendidikan dari masing-masing satuan pendidikan yyang menyelenggarakan program pendidikan gratis. Nilai-nilai demokratisasi harus dibangun di satuan pendidikan, dan harus dapat ditanamkan pemahaman dan prinsip dasar mengenai HAM, demokrasi, dan kebinekaan. Dengan prinsip ini, diharapkan perlakukan-perlakuan yang diskriminatif yang selama ini masih ada dalam penyelenggaraan pendidikan gratis diaharapkan dapat dihapuskan oleh para penyelnggara pendidikan. Kelima, Pendidikan gratis diselenggarakan dalam suasana yang

menyenangkan, menantang, mencerdaskan dan kompetitif dengan dilandasi keteladanan. Pendidikan sebagai sebuah proses dan sebagai sebuah hasil, sangat ditentukan dari peran para pendidik dan satuan pendidikan yang melaksanakan pendidikan. Pendidikan yang baik, proses maupun hasil yang baik ditentukan dari sejauhmana para tenaga pendidik mampu untuk mengembangkan berbagai kreasi dan inovasi-inovasi baru dalam proses pembelajaran , upaya mencerdaskan para peserta didik pada hakekatnya sangat tergantung dari kompetensi dan profesionalitas para tenaga didik. Dan para tenaga didik (guru) adalah merupakan contoh bagi para peserta didik. Keteladanan yang baik perlu ditunjukkan oleh para tenaga pendidik kepada para peserta didik agar pendidikan pada akhirnya dapat mencerdaskan dan dapat bersaing. Keenam, Pendidikan gratis diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca dan belajar bagi segenap warga masyarakat. Persoalan mutu yang selama ini menjadi masalah dalam penyelenggaraan pendidikan gratis perlu
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

133

untuk segera diperbaiki. Para penyelenggara pendidikan harus membangun budaya membaca di satuan pendidikan, budaya membaca dan belajar tersebut, bukan hanya ditujukan kepada para peserta didik semata, melainkan pula kepada para tenaga pengajar yang ada di masing-masing sekolah. Seluruh komponen penyelenggara pendidikan harus bahu membahu untuk mengatasi masalah rendahnya budaya membaca dan belajar baik dikalangan peserta pendidik maupun dikalangan para tenaga pendidikan, terlebih lagi dikalangan warga masyarakat secara luas. Kesempatan pendidikan gratis haruslah dapat dimanfaatkan oleh seluruh para pemangku kepentingan untuk mendorong terjadinya minat baca dikalangan siswa maupun murid. Dalam rangka mewujudkan prinsip tersebut diatas, ketersediaan buku-buku bacaan dan perpustakaan sekolah menjadi sangat penting untuk dapat diperhatikan oleh para pemimpin satuan pendidikan, termasuk pemerintah daerah. Keterbatasan sarana perpustakaan, serta minimnya para pedagang/penjual buku yang di KSB menjadi salah satu indikator rendahnya budaya membaca dikalangan masyarakat KSB. Pendidikan gratis yang diselnggarakan oleh pemerintah daerah haruslah dapat mendorong meningkatnya minat membaca dan belajar. Melalui proggram pendidikan gratis, prinsip ini (membaca dan belajar) diharapkan dapat dilaksanakan oleh seluruh stakeholder pendidikan, khususnya adalah peserta didik dan tenaga pengajar. Ketujuh, Pendidikan gratis diselenggarakan dengan memberdayakan seluruh komponen pemerintah daerah dan masyarakat serta memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berperan serta dalam penyelenggaraan dan peningkatan mutu pendidikan. Untuk dapat melangsungkan proses pendidikan gratis, seluruh komponen yang ada didaerah haruslah dapat bahu-membahu untuk menopang terselenggaranya pendidikan gratis yang bermutu. Melalui pendidikan gratis, sepatutnya peran serta masyarakat terhadap penyelenggaraan penndidikan semakin meningkat bukan justeru sebaliknya, tanggungjawab masyarakat semkain menurun, bahkan tidak peduli sama sekali terhadap para peserta didik dan lingkungan penyelnggara pendidikan. Pemberdayaan komponen pemerintah daerah harus dilakukan mulai dari pendanaan pendidikan, kebijakan, program dan kegiatan, hingga persoalan kapasitas pengelolaan satuan pendidikan dan peningkatan para tenaga didik (guru) seluruh komponen daerah yang mendukung dan berpengaruh terhadap penyelenggaraan pendidikan gratis harus terus diberdayan. Agar penyelnggaraan pendidikan gratis juga dapat menghasilkan mutu pendidikan yang berkualitas. Begitupun dengan peran serta masyarakat, pemerintah daerah perlu membuka ruang yang sebesar-besarnya untuk adanya keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan dan peningkatan mutu pendidikan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi penyelenggaraan pendidikan. Dalam penyelenggaraan pendidikan pemerintah daerah tidak boleh menutup ruang partisipasi masyarakat, termasuk ruang bagi
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

134

masyarakat untuk memberikan sumbangan dalam rangka peningkatan mutu, sepanjang sumbangan yyang diberikan masyarakat atas dasar kesukarelaan, tanpa ada unsur paksaan dan tekanan, maka sepanjang itupula, pemerintah tidak boleh melarang masyarakat untuk menyumbang. Kedelapan, Pendidikan gratis diselenggarakan dengan mengacu pada prinsip-prinisp pelayanan publik yang baik sebagaimana datur dalam UndangUndang Nomor 25 tahun 2009 Tentang pelayanan publik dan peraturan perundang-undangan yyang berlaku lainnya. Prinsip-prinsip yang diacu adalah asas-asas dan prinsip-prinsip yang terkandung dalam undang-undang pelayanan publik, selaku pelayan publik para penyelenggara pelayanan publik, diharuskan untuk dapat memberikan pelayanan secara optimal kepada masyarakat atau pengguna layanan. Dan para penyelenggara pelayanan publik diharuskan untuk menyusun standar pelayanan publik, menyediakan akses bagi masyarakat untuk mengadu atas layanan publik yang buruk dan sebagainya. Kesembilan, Pendidikan gratis dilaksanakan dengan mengacu pada standar pendidikan yang ditetapkan oleh pemerintah dan menyesuaikan dengan perkembangan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

6. Ruang Lingkup Cakupan pelayanan yang diatur dalam peraturan daerah penyelenggaraan pendidikan gratis adalah hanya pada lingkup pendidikan anak usia dini (TKA/RA), pendidikan dasar, dan pendidikan menegah. Sedangkan untuk pendidikan tinggi perlu diatur tersendiri karena perguruan tinggi memiliki karekteristik sendiri. Tanggungjawab pemerintah untuk membiayai pendidikan gratis tersebut adalah meliputi sekolah swasta dan sekolah negeri. Untuk mendorong agar peserta didik mengikuti pendidikan gratis dengan sungguh-sungguh, dan mendorong adanya pengawasan dan tanggung jawab orang tua/wali terhadap anaknya (siswa), dan beberapa permasalahan lainnya, maka pemerintah daerah perlu untuk membatasi masa waktu pembiayaan yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah untuk masing-masing satuan pendidikan. Dalam perbup sebelumnya ruang lingkup pendidikan gratis ini tidak diatur.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

135

7. Sasaran Sasaran penerima pendidikan gratis adalah seluruh peserta didik yang terdaftar pada satuan pendidikan dan memenuhi syarat sebagai penerima program pendidikan gratis. Sasaran ini sama dengan perbup sebelumnya. Akan tetapi, dalam materi raperda ini menegaskan agar pemerintah daerah perlu dalam pemberian program miskin pendidikan gratis untuk mendahulukan dan memprioritaskan peserta didik yang berasal dari keluarga fakir

8. Syarat Penerimaan program untuk peserta didik
Dalam perbup sebelumnya mensyaratkan adanya sertifikat Gerakan Sejuta Pohon (GSP) oleh karena program ini tidak berjalan efektif hingga sekarang syarat sertifikat GSP pada akhirnya tidak dapat berlaku efektif atau digunakan. Beberapa persyaratan baru yang akan dirumuskan dalam raperda adalah :

a. Bersedia untuk menyelesaikan pendidikan sesuai dengan batas waktu yang ditentukan oleh satuan pendidikan; syarat ini dimaksudkan untuk mendorong agar para peserta didik memiliki tanggungjawab dan motivasi untuk belajar dan mengembangkan dirinya dengan sungguhsungguh ; b. Bersedia untuk mentaati peraturan dan tata tertib satuan pendidikan; syarat ini untuk mendorong agar para peserta didik tidak semena-mena terhadap sekolah yang menyenggarakan pendidikan, karena merasa gratis—berbuat semaunya terhadap sekolah, syarat ini juga dimaksudkan untuk mencegah kenalan siswa. c. Bersedia untuk membayar uang ganti rugi apabila tidak naik kelas; syarat ini dimaksudkan untuk memicu prestasi, kreasi dan kemauan anak untuk berusaha keras mengejar prestasi di sekolah sekaligus mendorong adanya peran dan tanggung jawab orang tua/wali untuk meningkatkan prestasi anaknya. d. Bersedia untuk tidak menggunakan dan terlibat Narkoba, obat terlarang, dan zat adiktif. Persyaratan ini untuk mencegah dan mengurangi terjadinya penyalahgunaan obat-obatan oleh peserta
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

136

didik/siswa, dan sejak awal siswa diperigatkan dengan adanya persyaratan ini. Kedua adalah untuk mencegah terjadinya kenakalan remaja, syarat ini khususnya diberlakukan bagi siswa SMP, SMA/MA dan sederajat lainnya. e. Tidak pernah dikeluarkan dari sekolah lain karena sebab akademis atau hukuman. Syarat ini untuk mencegah dan menghindari siswa untuk bertindak nakal, karena perbuatannya yang buruk disatu sekolah, kemudian pindah kesekolah lain, atau karena tidak naik kelas untuk tetap mendapatkan pendidikan gratis pindah kesekolah lainnya.
Beberapa persyaratan yang dirumuskan ini bukan menjadi sebuah persyaratan yang dimaksudkan untuk atau dapat menghambat siswa untuk menerima pendidikan gratis, melainkan lebih kepada upaya untuk memberikan pendidikan kepada siswa, tanggung jawab, serta mendorong motivasi para siswa agar dengan pendidikan gratis, berarti mereka harus dapat berprestasi, dan persyaratan ini juga dimaksudkan untuk mendorong agar para orang tua/wali murid memiliki tanggungjawab dan ikut berpartisipasi dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan gratis.

9. Pemutusan biaya pendidikan gratis kepada peserta didik
Pemutusan biaya pendidikan gratis kepada peserta didik ini adalah sebagai suatu peringatan sekaligus sanksi kepada seluruh penerima program pendidikan gratis, agar tidak menyalahgunkan dan mengartikan penyelenggaraan pendidikan gratis. Pemutusan biaya pendidikan gratis dapat dilakukan apabila : a. Tingkat kehadiran peserta didik mengikuti proses belajar dikelas kurang dari 85 % (delapan puluh lima persen) dalam satu tahun tanpa alasan dan keterangan yang jelas; b. Peserta didik tidak naik kelas sebanyak 2 kali secara berturut-turut pada kelas yang sama dan jenjang satuan pendidikan yang sama; c. peserta didik tidak mematuhi peraturan dan tata tertib sekolah, dan dampak dari perbuatannya sangat berpengaruh buruk terhadap siswa dan lingkungan sekolah; d. terlibat penyalahgunaan narkotika, obat terlarang, dan zat adiktif.

10. Penyelenggara Pendidikan Gratis Dalam perbup sebelumnya tidak diatur secara jelas mengenai penyelenggara pendidikan secara rinci, hak dan kewajiban para pihak.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

137

Maka dalam rancangan peraturan daerah ini. Penyelenggara pendidikan dirincikan dan dibagi menjadi 3 aktor utama. Pembagian ketiga aktor ini didasarkan atas kedudukan, peran dan fungsinya dalam penyelenggaraan program pendidikan gratis. Pembagian ini untuk memudahkan para pihak, dalam memahami kedudukan, peran dan fungsi sekaligus lingkup tanggungjawab yang diterima dari program pendidikan gratis. Ketiga aktor utama penyelenggara pendidikan gratis ini dalam rumusan rancangan peraturan daerah ini dibagi sebagai berikut : a. Penyelenggara (pemda KSB c.q. Dikpora) Dikpora adalah lembaga teknis yang selama ini memiliki tupoksi dalam bidang pendidikan. Tugas utama dari dikpora dalam penyelenggaraan program pendidikan gratis adalah lebih kepada aspek perumusan dan penetapan kebijakan/regulasi, perumusan dan penetapan kebijakan anggaran program, supervisi pelaksanana program kepada satuan pendidikan, evaluasi dan pelaporan atas pelaksanaan program. Dikpora adalah sebagai penanggung jawab pelaksana atas program pendidikan gratis. dan dalam melaksankan tupoksinya bertanggung jawab langsung kepada Bupati selaku pembina. b. Lembaga pendukung (Bappeda, DPKAD, dan dinas teknis lainnya) adalah bagian dari penyelenggara yang sifatnya mendukung ketercapaian pelaksanaan program pendidikan gratis yang dalam hal ini dilaksanakan oleh Dikpora. Tugas utama lembaga pendukung ini adalah memberikan supporting untuk mendukung ketercapaian program pendidikan gratis. c. Pengelola adalah satuan pendidikan (sekolah). Yakni, pihak yang secara langsung mengelola dana serta melaksanakan program pendidikan gratis pada masing-masing satuan kepada masyarakat langsung, adalah selaku pengelola satuan pendidikan bertanggung jawab kepada Pemda c.q. Dikpora secara vertikal, dan secara horizontal bertanggung jawab kepada masyarakat, baik melalui Dewan Pendidikan, Komite Sekolah maupun langsung kepada Orang Tua/wali.

11. Hak dan Kewajiban
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

138

Dalam perbup sebelumnya tidak diatur mengenai hak dan kewajiban para pihak. Maka dalam rancangan ini, parak aktor-aktor baik sebagai penyelenggara, pengelola maupun penerima program pendidikan gratis akan diatur hak dan kewajibannya masing-masing. Dalam rancangan perda ini ada lima aktor/unsur subyek yang akan diatur tentang hak dan kewajibannya dalam program pendidikan gratis, yakni :

a. Hak dan Kewajiban Pemerintah Daerah b. Hak dan Kewajiban Satuan Pendidikan c. Hak Dan Kewajiban Orang Tua/Wali dan Masyarakat d. Hak dan Kewajiban Peserta Didik e. Hak dan Kewajiban Tenaga Pendidik
Diaturnya hak dan kewajiban dari lima subyek hukum diatas untuk memberikan kepastian, dan kejelasan peran masing-masing pihak, baik menyangkut hak-haknya yang patut diterima maupun kewajiban-kewajiban yang harus ditaati dari adanya program pendidikan gratis. Peletakkan pengaturan mengenai hak dan kewajiban ini dilakukan dengan prinsip terjadinya keseimbangan antara hak dan kewajiban. Dengan adanya pengaturan hak dan kewajiban para pihak ini maka tentu akan memiliki implikasi, atas hak dan kewajiban yang dilaksanaknnya.

12. Pendanaan Pendidikan Gratis Tentang pendaan pendidikan, dalam perbup sebelumnya dituangkan besaran jumlah biaya/dana pendidikan untuk operasional masing-masing sekolah. Dalam rancangan peraturan daerah ini, jumlah dana yang diberikan ditetapkan secara sendiri melalui keputusan Bupati yang ditetapkan setiap tahun, karena jumlah biaya operasional tersebut bersifat fluktuatif. Namun, untuk memastikan pendanaan pendidikan gratis teralokasi dalam APBD, maka ditetapkan jumlah minimal APBD untuk sektor pendidikan adalah 20% dan alokasi tersebut adalah belanja langsung yang diprioritaskan untuk membiaya pendidikan gratis. Dalam rancangan peraturan daerah ini juga mengatur mengenai komponen-komponen pembiayaan yang dibiayai dan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Dan untuk mencegah terjadinya penyelahgunaan penggunaan anggaran pendidikan gratis, maka dalam rancangan peraturan daerag ini mengatur prinsip-prinisp mengenai

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

139

pengelolaan dana pendidikan gratis yang harus dipedomani oleh penyelenggara pendidikan, pengelola maupun masyarakat. Dalam rancangan peraturan daerah ini juga merumuskan adanya Dana Abadi Sekolah sebagai dana deposito sekolah yang diberikan oleh pemerintah daerah kepada masing-masing satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan gratis, dana abadi sekolah ini akan dilaksanakan secara bertahap dengan memprioritaskan terlebih dahulu sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah. Besarnya Dana Abadi sekolah ini ditetapkan melalui keputusan bupati. Tujuan dari dana ini adalah untuk memastikan bahwa penyelenggaraan pendidikan gratis tidak terhambat dengan proses pembahasan APBD, karena tidak sesuai dengan kalender pendidikan sekaligus memastikan sekolah yang menyelenggarakan pendidikan gratis dapat melaksankan program tersebut setiap tahunnya, tanpa kendala atau terhambat dengan keterlambatan pencairan anggaran program (APBD). Dalam rancangan peraturan daerah ini juga memasukkan unsur pungutan yang dibolehkan oleh sekolah, yakni bersifat sukarela dan pungutan tersebut 75% diarahkan untuk peningkatan mutu pendidikan dengan persetujuan dari para peserta didik dan orang tua/wali yang kemudian disetujui pula oleh dewan pendidikan dan dikpora. Kriteria persyaratan dirinci dan diatur dalam rumusan rancangan peraturan daerah. Rancangan peraturan daerah ini juga mensyaratkan agar para pengelola satuan pendidikan untuk mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran, mekanisme dan prinsip transapransi dan akuntabilitas publik diatur secara khusus untuk memastikan seluruh pelaksanaan program dan penggunaan naggaran pendidikan gratis berjalan on the track sesuai regulasi yang ditetapkan. Oleh karena itu dirumuskan pula mengenai prinsip-prinisp pengelolaan dana Pengaturan bagaimana mengenai pendanaan ini untuk gratis, memastikan mulai dari pendanaan program pendidikan

pengalokasikan hingga pelaporan atas penggunaan anggaran. Tidak menimbulkan adanya permasalahan. 13. Standar Pelayanan

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

140

Materi penting yang diatur dari rancangan peraturan daerah ini adalah terkait dengan adanya pengaturan mengenai standar pelayanan pendidikan gratis, yakni meliputi; pertama, standar pelayanan yang diberikan oleh satuan pendidikan. Standar tersebut merujuk pada SPM yang ditetapkan oleh Pemerintah serta standar pendidikan nasional. Pengaturan ini dimaksudkan agar mutu/kualitas penyelenggaraan penddiikan gratis menghasilkan mutu/kualitas yang baik, tidak terjadi penurun mutu pendidikan. SPM ini juga menjadi salah satu instrumen penting untuk mengukur kinerja para penyelenggara dan pengelola pendidikan gratis, serta mendorong agar seluruh satuan pedididikan yang menyelenggarakan pendidikan gratis memiliki standar. Dikpora sebagai penanggungjawab atas penyelenggaraan program pendidikan gratis diharapkan dan didorong dalam rancangan peraturan daerah ini untuk merumuskan dan menetapkan serta memberlakukan SPM pada seluruh satuan pendidikan. Dan untuk menjaga standar mutu, maka seluruh satuan pendidikan yang melaksanakan program pendidikan gratis diwajibkan untuk mengacu pada standar pendidikan nasional. Kedua, pengaturan mengenai standar informasi pelayanan pendidikan gratis. dirumuskan dan dirancangan dalam raperda untuk menjamin adanya keterbukaan dan informasi publik. Informasi mengenai program pendidikan gratis sangat dibutuhkan oleh masyarakat—karena dengan adanya informasi itulah masyarakat baru dapat berpartisipasi, dan dengan adanya informasi itupula masyarakat dapat melakukan pemantauan dan pengawasan serta dapat mengambil posisi dan perannya masing-masing dalam program pendidikan gratis. Sistem informasi pendidikan ini diharapkan juga akan mendorong adanya pemahaman secara komprehensif masyarakat atas penyelenggaraan program pendidikan gratis. Ketiga, Indeks Kepuasaan Mayarakat. Pengukuran kinerja atas pelaksanaan program pendidikan gratis, tidak diukur hanya terbatas laporan yang disampaikan satuan pendidikan kepada pemerintah daerah, begitupun dengan penyelnggara (dikpora) hanya melaporkan kepada bupati, tetapi kinerja dan keberhasilan pelaksanaan program penddiikan gratis akan diukur dari penilaian masyarakat langsung selaku pengguna layanan, melalui indeks kepuasaan masyarakat (IKM). Indeks kepuasaan masyarakat akan dilakukan sekurang-kurang 2 tahun sekali, dan
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

141

berdasarkan hasil indeks kepuasaan masyarakat itulah pemerintah daerah dapat memberikan penghargaan kepaa satuan pendidikan dan tenaga pendidikan yang berprestasi yang telah berhasil memajukan program pendidikan gratis. Keempat, unit pengaduan pelayanan. Menyadari bahwa program pendidikan gratis adalah pelayanan publik yang berhubungan langsung dengan masyarakat dan seringpula menimbulkan persoalan, maka dalam rancangan perda perlu dirumuskan mengenai unit pengaduan masyarakat—yang merupakan mekanisme dari pelayanan publik yang baik, serta tatakelola yang menuju pada good governance. Dan kelima adalah penilaian kinerja. Penilaian kinerja yang dirumuskan dalam materi rancangan perda bukan hanya terbatas penilaian pimpinan kepada bawahan, melainkan pula penilaian bawahan kepada pimpinan, mekanisme mengenai penilaian kinerja dan indikator keberhasilan kinerja diatur dalam ranperda ini. 14. Pengawasan dan evaluasi

Pengawasan terhdap program pendidikan gratis dapat dilakukan oleh seluruh pihak sesuai dengan proporsinya masingmasing, dalam rumusan rancnagan perda diatur mengenai pengawasan adalah Pemerintah Daerah, DPRD, Dewan Pendidikan, Komite Sekolah, DPRD dan para pemangku kepentingan. Dalam konteks evaluasi, materi yang akan dimasukkan sebagai rumusan materi adalah terkait dengan evaluasi dibagi menjadi beberapa bagian, dan kinerja. 15 Peran serta masyarakat Dalam perbup sebelumnya tidak diatur secara jelas mengenai peran serta masyarakat, maka dalam rancangan perd aini akan diatur mengenai peran serta masyarakat dalam program pendidikan gratis pada bab khusus mengatur tentang peran serta masyarakat. evaluasi tersebut meliputi; Evaluasi Program Pendidikan Gratis itu sendiri, evaluasi belajar, evaluasi

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

142

Peran serta masyarakat perlu diatur dalam rancangan perda program pendidikan gratis. Peran serta masyarakat yang akan diatur adalah peran serta masyarakat dalam penyelnggaraan program pendidikan gratis, peran serta masyarakat dalam pengembangan pendidikan, dan peran serta masyarakat dalam komite sekolah dalam konteks penyelenggaraan pendidikan gratis. 16 Penghargaan (reward) Pendekatan pemberian penghargaan (reward) adalah dimaksudkan agar setiap orang untuk termotivasi dan memiliki semangat untuk berpikir dan bertindak positif dihadapan hukum (perda) sekaligus sebagai kepada semua pihak. Melalui reward ini diharapkan semua pihak akan terangsang untuk mentatai peraturan, tanpa perlu mendapat tekanan, ancaman, atau lainnya dan diharapkan pula terjadi kompetisi fair dan postif untuk mendorong pencapaian tujuan program pendidikan gratis. Pemberian reward yang diatur dalam peraturan daerah adalah ditujukan kepada satuan pendidikan (sekolah) yang berperasti dalam menyelenggarakan pendidikan gratis. Kedua adalah kepada para guru yang berpretasi dan ketiga adalah kepada para peserta didik.
17 Sanksi Administratif Dapat perbup sebelumnya juga tidka mengatur mengenai sanksi, dalam rancangan peraturan daerah ini akan memuat sanksi, namun sanksi tersebut bukanlah sanksi pidana melainkan adalah sanksi yang bersifat administratif. Kewenangan untuk memberikan sanksi itu diberikan dan terletak pada Bupati, sanksi administratif yang dapat diberikan adalah berupa : a. c. teguran/peringatan; pembubaran. b. pencabutan ijin pendirian sekolah/penyelenggaraan pendidikan ;

bentuk apresiasi pemerintah daerah

18. Ketentuan peralihan
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

143

Ketentuan peralihan diperlukan untuk memuat status keberlakuan peraturan daerah mengenai program pendidikan gratis yang sudah ada pada saat peraturan daerah ini mulai berlaku. Hal ini dimaksudkan untuk penyesuaian dan agar tidak menimbulkan permasalahan hukum seperti kekosongan hukum.

19 Ketentuan penutup
Ketentuan penutup diperlukan untuk mulai berlakunya Peraturan daerah yang baru ini pada saat diundangkan. Dan untuk mengukur efektivitas keberlakukan peraturan daerah ini, maka perlu dilakukan evaluasi setiap tahun. 2

B. SISTEMATIKA RAPERDA PENYELENGGARAAN PROGRAM PENDIDIKAN GRATIS Sitematika Rancangan Peraturan Daerah ini terdiri dari : • BAB I KETENTUAN UMUM

• •

BAB II MAKSUD, FUNGSI DAN TUJUAN BAB III PRINSIP-PRINSIP PENYELENGGARAAN PROGRAM PENDIDIKAN GRATIS BAB IV RUANG LINGKUP DAN SASARAN
BAB V SYARAT PENERIMAAN DAN PEMUTUSAN PENDANAAN PROGRAM PENDIDIKAN GRATIS BAB VI PENYELENGGARA, PENDUKUNG DAN PENGELOLA BAB VII HAK DAN KEWAJIBAN BAB VIIIPENDANAAN PENDIDIKAN GRATIS

• • • •


• • • • • •

BAB IX STANDAR PELAYANAN
BAB X PENGAWASAN DAN EVALUASI BAB XI PERAN SERTA MASYARAKAT BAB XII PENGHARGAAN BAB XIII SANKSI ADMINISTRATIF BAB XIV KETENTUAN PERALIHAN BAB XV KETENTUAN PENUTUP

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

144

PEMERINTAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT
RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT NOMOR .......... TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM PENDIDIKAN GRATIS DI KABUPATEN SUMBAWA BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBAWA BARAT, Menimbang : a. bahwa untuk menjamin dan meningkatkan perluasan pemerataan kesempatan dan mutu pendidikan, serta meningkatkan daya saing masyarakat sumbawa dalam menghadapi berbagai tantangan perubahan kehidupan di tingkat daerah, nasional, dan internasional saat ini dan masa mendatang maka perlu diselenggarakan program pendidikan gratis mulai dari TK/RA, SD, MI, SMP, MTs, SMA, MA dan SMK Negeri/Swasta dalam lingkup Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat yang dilaksanakan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan; b. bahwa penyelenggaraan pendidikan gratis adalah usaha pemerintah daerah untuk menuntaskan wajib belajar 12 tahun di daerah serta usaha pemerintah daerah untuk memajukan dan mensejahterakan masyarakat, mewujudkan cita-cita bangsa, mewujudkan visi dan misi serta cita-cita pembangunan daerah ; c. bahwa penyelenggaraan pendidikan gratis merupakan salah satu instrument untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan Indeks Pembangunan Manusia. mengurangi beban ekonomi masyarakat dan kemiskinan di daerah; d. bahwa penyelenggaraan pendidikan gratis berdasarkan Peraturan Bupati Nomor 11 tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Pendidikan Gratis di Kabupaten
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

145

Sumbawa Barat sudah tidak memadai lagi dan perlu diganti serta perlu disempurnakan agar sesuai dengan dinamika kebutuhan masyarakat dan perkembangan peraturan perundang-undangan yang berlaku; e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, b, c, dan d perlu membentuk Peraturan daerah tentang Penyelenggaraan Pendidikan Gratis di Kabupaten Sumbawa Barat;

Mengingat :

1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4301); 2. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat di Provinsi Nusa Tenggara Barat (Lembaran Negara Tahun 2003, Nomor 145, Tambahan Lembaran Negara 4340) 3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 4. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); 5. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4686); 6. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 61, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4846); 7. Undang-Undang Nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 112, Tambahan Lembaran negara Republik Indonesia Nomor 5038); 8. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1992 tentang Peran Serta Masyarakat Dalam Pendidikan Nasional (Lembaran
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

146

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 69, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3485); Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4496); Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578); Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4585); Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4614); Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 124, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4769); Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 90, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4863); Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 91, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4864); Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5105); Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah;
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

147

19. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 tahun 2006 Tentang Pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 Tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah 20. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal; 21. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah; 22. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah; 23. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru; 24. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Bagi Guru Dalam Jabatan; 25. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah; 26. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan; 27. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama /Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA); 28. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 tahun 2007 Tentang Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah 29. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 50 tahun 2007 Tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Pemerintah Daerah 30. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 79 tahun 2007 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pencapaian Standar Pelayanan Minimal; 31. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 63 Tahun 2009 Tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan 32. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 15 tahun 2010 Tentang Standar Pelayanan Minimal Pendidikan Dasar Di Kabupaten/Kota 33. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah;

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

148

34. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 060/U/2002 tentang Pedoman Pendirian Sekolah; 35. Peraturan Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Kewenangan Kabupaten Sumbawa Barat Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2008 Nomor 3) 36. Peraturan Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 23 Tahun 2008 Tentang Program Wajib Belajar 12 Tahun di Kabupaten Sumbawa Barat (Lembaran Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2008 Nomor 23, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 90) 37. Peraturan Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 13 Tahun 2010 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2008 Tentang Pembentukan, Susunan, Kedudukan, Tugas Pokok dan Fungsi Dinas-Dinas Daerah Kabupaten Sumbawa Barat (Lembaran Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2010 Nomor 13) 38. Peraturan Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 14 Tahun 2010 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2008 Tentang Pembentukan, Susunan, Kedudukan, Tugas Pokok dan Fungsi Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Sumbawa Barat (Lembaran Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2010 Nomor 14)

MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM PENDIDIKAN GRATIS DI KABUPATEN SUMBAWA BARAT BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kabupaten Sumbawa Barat. 2. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Daerah dan DPRD menurut azas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945. 3. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan Wakil Bupati beserta Perangkat Daerah Lainnya sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan daerah. 4. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat. 5. Kepala Daerah adalah Bupati Sumbawa Barat.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

149

6. Dinas adalah Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sumbawa Barat. 7. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. 8. Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. 9. Sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. 10. Standar nasional pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia 11. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. 12. Tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. 13. Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. 14. Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan. 15. Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan. 16. Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan. 17. Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. 18. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. 19. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. 20. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. 21. Taman Kanak-kanak, yang selanjutnya disingkat TK, adalah salah satu bentuk satuan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. 22. Raudhatul Athfal, yang selanjutnya disingkat RA, adalah salah satu bentuk satuan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

150

menyelenggarakan program pendidikan dengan kekhasan agama Islam bagi anak berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6 (enam) tahun. 23. Pendidikan dasar adalah jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah, berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat. 24. Wajib belajar 12 tahun adalah program pendidikan minimal 12 tahun yang harus diikuti oleh setiap warga negara Indonesia Penduduk Kabupaten Sumbawa Barat yang ditanggung oleh pemerintah daerah. 25. Sekolah Dasar, yang selanjutnya disingkat SD, adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar. 26. Madrasah Ibtidaiyah, yang selanjutnya disingkat MI, adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar. 27. Sekolah Menengah Pertama, yang selanjutnya disingkat SMP, adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar sebagai lanjutan dari SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama atau setara SD atau MI. 28. Madrasah Tsanawiyah, yang selanjutnya disingkat MTs, adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar sebagai lanjutan dari SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama atau setara SD atau MI. 29. Pendidikan menengah adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal yang merupakan lanjutan pendidikan dasar, berbentuk Sekolah Menengah Atas, Madrasah Aliyah, Sekolah Menengah Kejuruan, dan Madrasah Aliyah Kejuruan atau bentuk lain yang sederajat. 30. Sekolah Menengah Atas, yang selanjutnya disingkat SMA, adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama atau setara SMP atau MTs. 31. Madrasah Aliyah, yang selanjutnya disingkat MA, adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama atau setara SMP atau MTs. 32. Sekolah Menengah Kejuruan, yang selanjutnya disingkat SMK, adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP,

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

151

MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama atau setara SMP atau MTs. 33. Madrasah Aliyah Kejuruan, yang selanjutnya disingkat MAK, adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama atau setara SMP atau MTs. 34. Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. 35. Standar pelayanan minimal adalah kriteria minimal berupa nilai kumulatif pemenuhan Standar Nasional Pendidikan yang harus dipenuhi oleh setiap satuan pendidikan. 36. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. 37. Dewan pendidikan adalah lembaga mandiri yang beranggotakan berbagai unsur masyarakat yang peduli pendidikan. 38. Komite sekolah/madrasah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orang tua/wali peserta didik, komunitas sekolah, serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan. 39. Mutu pendidikan adalah tingkat kecerdasan kehidupan bangsa yang dapat diraih dari penerapan Sistem Pendidikan 40. Penjaminan mutu pendidikan adalah kegiatan sistemik dan terpadu oleh satuan atau program pendidikan, penyelenggara satuan atau program pendidikan, pemerintah daerah, pemerintah dan masyarakat untuk menaikkan tingkat kecerdasan kehidupan bangsa melalui pendidikan. 41. Standar Pelayanan Minimal Pendidikan, yang selanjutnya disebut SPM, adalah jenis dan tingkat pelayanan pendidikan minimal yang harus disediakan oleh satuan atau program pendidikan, penyelenggara satuan atau program pendidikan, dan pemerintah daerah. 42. Standar Nasional Pendidikan, yang selanjutnya disebut SNP, adalah kriteria minimaltentang sistem pendidikan diseluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.. 43. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. 44. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. 45. Evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan, dan penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan. 46. Akreditasi adalah kegiatan penilaian kelayakan program dalam satuan pendidikan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

152

47. Sumber daya pendidikan adalah segala sesuatu yang dipergunakan dalam penyelenggaraan pendidikan yang meliputi tenaga kependidikan, masyarakat, dana, sarana, dan prasarana. 48. Masyarakat adalah kelompok Warga Negara Indonesia nonpemerintah yang merupakan penduduk Kabupaten Sumbawa Barat yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang pendidikan. 49. Informasi adalah keterangan, pernyataan, gagasan, dan tanda-tanda yang mengandung nilai, makna, dan pesan, baik data, fakta maupun penjelasannya yang dapat dilihat, didengar, dan dibaca yang disajikan dalam berbagai kemasan dan format sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi secara elektronik ataupun nonelektronik. 50. Informasi Publik adalah informasi yang dihasilkan, disimpan, dikelola, dikirim, dan/atau diterima oleh suatu badan publik yang berkaitan dengan penyelenggara dan penyelenggaraan negara dan/atau penyelenggara dan penyelenggaraan badan publik lainnya yang sesuai dengan UndangUndang ini serta informasi lain yang berkaitan dengan kepentingan publik. 51. Pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundangundangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. 52. Penyelenggara pelayanan publik yang selanjutnya disebut Penyelenggara adalah setiap institusi penyelenggara negara, korporasi, lembaga independen yang dibentuk berdasarkan undang-undang untuk kegiatan pelayanan publik, dan badan hukum lain yang dibentuk semata-mata untuk kegiatan pelayanan publik. 53. Standar pelayanan adalah tolok ukur yang dipergunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pelayanan dan acuan penilaian kualitas pelayanan sebagai kewajiban dan janji Penyelenggara kepada masyarakat dalam rangka pelayanan yang berkualitas, cepat, mudah, terjangkau, dan terukur 54. Standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. 55. Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. 56. Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan. 57. Standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan. 58. Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

153

diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. 59. Standar pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan. 60. Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun. 61. Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. 62. Biaya operasi satuan pendidikan adalah bagian dari dana pendidikan yang diperlukan untuk membiayai kegiatan operasi satuan pendidikan agar dapat berlangsungnya kegiatan pendidikan yang sesuai standar nasional pendidikan secara teratur dan berkelanjutan. 63. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. 64. Ulangan adalah proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk memantau kemajuan dan perbaikan hasil belajar peserta didik . 65. Ujian adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai pengakuan prestasi belajar dan/atau penyelesaian dari suatu satuan pendidikan. 66. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. 67. Kualifikasi Akademik adalah ijazah jenjang pendidikan akademik yang harus dimiliki oleh Guru sesuai dengan jenis, jenjang, dan satuan pendidikan formal di tempat penugasan. 68. Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk Guru. 69. Sertifikat Pendidik adalah bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada Guru sebagai tenaga profesional. 70. Program adalah penjabaran kebijakan SKPD dalam bentuk upaya yang berisi satu atau lebih kegiatan dengan menggunakan sumber daya yang disediakan untuk mencapai hasil yang terukur sesuai dengan misi SKPD. 71. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau lebih unit kerja pada SKPD sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personal (sumber daya manusia), barang modal termasuk peralatan dan teknologi, dana, atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. 72. Pendanaan pendidikan adalah penyediaan sumberdaya keuangan yang diperlukan untuk penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

154

73. Pemangku kepentingan pendidikan adalah orang, kelompok orang, atau organisasi yang memiliki kepentingan dan/atau kepedulian terhadap pendidikan. BAB II MAKSUD, FUNGSI DAN TUJUAN Bagian Kesatu Maksud Pasal 2 Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Pendidikan Gratis dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum dan jaminan atas keberlangsungan dan keberlanjutan penyelenggaraan program pendidikan gratis di Kabupaten Sumbawa Barat Bagian Kedua Fungsi Pasal 3 Pendidikan gratis berfungsi sebagai sarana untuk ;
memberikan kesempatan kepada setiap penduduk usia sekolah 4 sampai dengan 18 tahun untuk mengikuti pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah b. memberikan kesempatan kepada anak usia sekolah di wilayah sumbawa barat untuk mengembangkan kemampuan, membentuk watak yang cerdas dan bermartabat untuk menuju kehidupan masyarakat Sumbawa Barat yang demokratis, sejahtera dan berperadaban fitrah c. untuk memberikan peluang pada orang tua siswa untuk mengalihkan dana kebutuhan anak didik menjadi dukungan biaya terhadap peningkatan fasilitas belajar dan potensi siswa. a.

Bagian Ketiga Tujuan Pasal 4 (1) Tujuan umum penyelenggaraan program pendidikan gratis adalah tercapainya pendidikan minimal bagi penduduk sumbawa barat untuk dapat mengembangkan potensi dirinya agar dapat hidup mandiri di dalam masyarakat atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. (2) Tujuan khusus penyelenggaraan program pendidikan gratis adalah : a. terlaksananya program wajib belajar 12 tahun yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah. b. meningkatnya pemerataan kesempatan kepada setiap Penduduk Kabupaten Sumbawa Barat untuk mengikuti seluruh jenjang pendidikan mulai dari pendidikan usia dini (TK/RA) sampai sekurang-kurangnya pendidikan menegah ( SMA/MA/SMK dan sederajat) ; c. terbantunya biaya pendidikan bagi siswa atau Orang Tua/wali pada setiap jenjang pendidikan ;
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

155

d. berkurangnya angka putus sekolah pada setiap jenjang pendidikan; e. meningkatnya kualitas sumberdaya manusiasumbaw abarat agar memiliki daya saing dimasa mendatang; f. adanya investasi pembangunan daerah dimasa mendatang serta ; g. meningkatnya kesadaran dan kepedulian masyarakat akan pentingnya pendidikan.

BAB III PRINSIP-PRINSIP PENYELENGGARAAN PROGRAM PENDIDIKAN GRATIS Pasal 5 Prinsip-prinsip penyelenggaraan pendidikan gratis adalah:
(1) Pendidikan gratis diselenggarakan secara partisipatif, transparan, akuntabel dan profesional dan menjadi tanggung jawab bersama Pemerintah, Pemerintah Daerah, Masyarakat dan Peserta Didik. (2) Pendidikan gratis diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistematik dengan sistem yang terencana, terarah, terpadu, terbuka, bertanggung jawab dan berkelanjutan. (3) Pendidikan gratis diselenggarakan sebagai satu proses pembudayaan dan pemberdayaan secara berkesinambungan. (4) Pendidikan gratis diselenggarakan secara adil, demokratis dan tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai agama, nilai budaya lokal dan kebhinekaan. (5) Pendidikan gratis diselenggarakan dalam suasana yang menyenangkan, menantang, mencerdaskan dan kompetitif dengan dilandasi keteladanan. (6) Pendidikan gratis diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca dan belajar bagi segenap warga masyarakat. (7) Pendidikan gratis diselenggarakan dengan memberdayakan seluruh komponen pemerintah daerah dan masyarakat serta memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berperan serta dalam penyelenggaraan dan peningkatan mutu pendidikan. (8) Pendidikan gratis diselenggarakan dengan mengacu pada prinsip-prinisp pelayanan publik yang baik sebagaimana datur dalam Undang-Undang Nomor 25 tahun 2009 Tentang pelayanan publik dan peraturan perundang-undangan yyang berlaku lainnya. (9) Pendidikan gratis dilaksanakan dengan mengacu pada standar pendidikan yang ditetapkan oleh pemerintah dan menyesuaikan dengan perkembangan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

BAB IV RUANG LINGKUP DAN SASARAN Bagian Pertama Ruang Lingkup Pasal 6 (4) Pemerintah daerah menjamin terselenggaranya pendidikan gratis mulai
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

156

pendidikan anak usia dini sampai jenjang pendidikan menengah tanpa memungut biaya. (5) Penduduk Kabupaten Sumbawa Barat yang berusia 4 (empat) sampai 6 (enam) tahun wajib mengikuti pendidikan gratis pada satuan pendidikan anak usia dini sesuai daya tampung satuan pendidikan. (6) Penduduk Kabupaten Sumbawa Barat yang berusia 6 (enam) tahun wajib mengikuti pendidikan gratis pada satuan pendidikan dasar sesuai daya tampun. (7) Penduduk Kabupaten Sumbawa Barat yang berusia di atas 15 (lima belas) tahun dan belum lulus pendidikan dasar wajib menyelesaikan pendidikannya sampai lulus atas biaya pemerintah daerah. (8) Penduduk Kabupaten Sumbawa Barat yang berusia diatas 18 tahun dan belum lulus pendidikan menengah wajib menyelesaikan pendidikannya sampai lulus atas biaya pemerintah daerah. (9) Penduduk Kabupaten Sumbawa Barat usia wajib belajar yang orang tua/walinya tidak mampu membiayai pendidikan, pemerintah daerah wajib memberikan bantuan biaya pendidikan sesuai peraturan perundangundangan. (10) Pemerintah daerah wajib untuk mengupayakan agar setiap Penduduk Kabupaten Sumbawa Barat usia wajib belajar mengikuti pendidikan gratis. Pasal 7 (1) Ruang lingkup penyelenggaraan program pendidikan gratis adalah mencakup Pendidikan Anak Usia, Pendidikan Dasardan Pendidikan Menengah. (2) Pendidikan Anak Usia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah meliputi; a. Taman Kanak-kanak ( TK) negeri dan swasta; b. Raudhatul Athfal (RA) negeri dan swasta. c. Atau bentuk lain yang sederajat (3) Pendidikan Dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah meliputi: a. Sekolah Dasar (SD) negeri dan swasta ; b. Madrasah Ibtidaiyah (MI) negeri dan swasta ; c. Sekolah Menengah Pertama (SMP) negeri dan swasta; d. Madrasah Tsanawiyah, (MTs) negeri dan swasta; e. atau bentuk lain yang sederajat (4) Pendidikan Menengah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah meliputi: a. Sekolah Menengah Atas (SMA) negeri dan swasta; b. Madrasah Aliyah (MA) negeri dan swasta; c. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) negeri dan swasta; d. Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) negeri dan swasta ; e. atau bentuk lain yang sederajat. Pasal 8
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

157

(1) Cakupan penyelenggaraan pendidikan gratis yang menjadi tanggungjawab pemerintah daerah adalah meliputi : a. Pendaftaran siswa baru; b. Bangku/meja belajar; c. Bantuan pembangunan dan atau pemeliharaan sekolah; d. Bantuan dengan alasan dana sharing; e. Buku ajar; f. Iuran kegiatan ekstrakurikuler; g. Lembaran Kerja Siswa (LKS); h. Pengayaan materi; i. Penamatan; j. Photo; k. Penilaian dan evaluasi belajar; l. Penulisan buku laporan hasil belajar; m. Penulisan ijazah; n. Atribut dan kartu peserta didik; o. Pakaian praktek Laboratorium peserta didik; p. Praktek Kerja Lapang (PKL) bagi program studi tertentu; (2) Rincian jenis cakupan, penambahan dan pengurangan jenis cakupan, serta besarnya anggaran dari masing-masing komponen yang ditanggung pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pengkajian setiap tahunnya dan ditetapkan melalui Keputusan Bupati.

Bagian Kedua Masa Waktu Pendidikan Pasal 9 (1) Masa waktu pendidikan yang menjadi tanggungan pemerintah daerah untuk membiayai program pendidikan gratis kepada peserta didik adalah: a. Pendidikan Anak Usia Dini (TK/RA) selama 2 (dua) tahun. b. Pendidikan Dasar (SD/MI dan sederajat) selama 6 tahun; c. Pendidikan Dasar (SMP/Mts dan sederajat) selama 3 tahun; d. Pendidikan Menengah (SMA/MA/SMK dan sederajat) selama 3 tahun; (2) Apabila peserta didik melampau batas waktu sebagaimana ditetapkan pada ayat (1), Orang Tua/Wali wajib menanggung sendiri dan melanjutkan pendidikan hingga tuntas. (3) Pemerintah daerah wajib memberikan perhatian dan bantuan khusus kepada peserta didik/siswa yang berasal dari keluarga fakir miskin yang tertinggal di kelas/tidak naik kelas untuk dapat melanjutkan pendidikan pada satuan pendidikan yang ditempuhnya.

Bagian Ketiga Sasaran Pasal 10
(1) Sasaran penerima pendidikan gratis adalah seluruh peserta didik yang terdaftar pada satuan pendidikan dan memenuhi syarat sebagai penerima program pendidikan gratis.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

158

(2) Pemerintah daerah dan satuan pendidikan wajib mendahulukan dan memprioritaskan peserta didik penerima pendidikan gratis yang berasal dari keluarga fakir miskin

BAB V SYARAT PENERIMAAN DAN PEMUTUSAN PENDANAAN PROGRAM PENDIDIKAN GRATIS Bagian Pertama Syarat Pasal 11 Syarat untuk dapat menerima program pendidikan gratis adalah: a. Warga Negara Indonesia dan Penduduk Kabupaten Sumbawa Barat b. Usia Sekolah 4 tahun sampai dengan 18 tahun ; c. Terdaftar sebagi peserta didik pada satuan pendidikan; d. Bersedia untuk menyelesaikan pendidikan sesuai dengan batas waktu yang ditentukan oleh satuan pendidikan; e. Bersedia untuk mentaati peraturan dan tata tertib satuan pendiidkan; f. Bersedia untuk mengikuti proses belajar dengan sungguh-sungguh ; g. Bersedia untuk membayar uang ganti rugi apabila tidak naik kelas; h. Bersedia untuk tidak menggunakan dan terlibat Narkoba, obat terlarang, dan zat adiktif. i. Tidak pernah dikeluarkan dari sekolah lain karena sebab akademis atau hukuman Bagian Kedua Kelengkapan Persyaratan Pasal 12
(1) Setiap peserta didik atau orang tua/wali penerima program pendidikan gratis harus melengkapi dan menyerahkan berkas kelengapan persyaratan sebagai berikut: a. Peserta didik satuan pendidikan usia dini (TK/RA) ; 1) Foto warna peserta/siswa/anak; 2) Foto copy akta kelahiran; 3) Foto copy kartu keluarga; 4) Foto copy Kartu Tanda Penduduk orang tua/wali ; 5) Surat keterangan penghasilan orang tua/wali yang disahkan oleh kepala desa/kelurahan setempat; b. Peserta didik dari satuan pendidikan dasar (SD/MI, SMP/Mts dan sederajat); 1) Foto peserta/siswa/anak; 2) Foto copy akta kelahiran; 3) Foto copy kartu keluarga; 4) Foto copy Kartu Tanda Penduduk orang tua/wali ; 5) Surat keterangan penghasilan orang tua/wali yang disahkan oleh kepala desa/kelurahan setempat;
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

159

6) Surat kesanggupan/kesediaan orang tua/wali untuk menanggung biaya sendiri apabila anaknya tidak naik kelas ; 7) Surat pernyataan kesediaan siswa untuk mentaati peraturan dan tata tertib sekolah (khusus siswa SMP/Mts dan sederajat); 8) Surat pernyataan untuk tidak menggunakan dan terlibat Narkoba, zat adiktif dan obat-obatan terlarang lainnya (khusus siswa SMP/MTs dan sederajat); 9) Surat pernyataan kesediaan untuk belajar sungguh-sungguh dan bersedia untuk diberikan sanksi atas pelanggaran sekolah; 10) Surat kesanggupan untuk menanam 1 pohon diperkarakan, sekolah, atau tempat lainnya sebagaimana yang diatur dalam gerakan sejuta pohon. Bagian Ketiga Verifikasi Persyaratan Pasal 13
(1) Berkas kelengkapan persyaratan diserahkan oleh peserta didik, atau Orang Tua/Wali atau orang yang dikuasakan untuk menyerahkan kepada satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan gratis (2) Satuan pendidikan gratis yang ditugaskan untuk menerima berkas persyaratan melakukan verifikasi berkas persyaratan, dan menyampaikan hasil verifikasi pada hari itupula kepada peserta didik, Orang Tua/wali; (3) Peserta didik, Orang Tua atau Wali melakukan perbaikan dan menyempurnakan berkeas kelengkapan apabila dinyatakan masih belum lengkap/kurang oleh petugas penerima satuan pendidikan; (4) Petugas penerima berkas kelengkapan wajib memberikan pelayanan kepada peserta didik/Orang Tua/Wali dengan mudah, cepat dan akurat; (5) Peserta didik yang belum melengkapi berkas kelengkapan dapat diterima dan mengikuti program pendidikan gratis sepanjang ada kesanggupan untuk dapat melengkapi berkas persyaratan.

(1)

(2)

Pasal 14 Kepala Desa/Lurah dan Camat dilarang untuk menarik biaya administrasi, uang rokok atau sebutan lainnya dari peserta didik atau Orang Tua/Wali untuk pengurusan berkas kelengkapan persyaratan program pendidikan gratis. Kepala desa/Lurah dan Camat wajib mendahulukan dan mengutamakan pelayanan kepada peserta didik atau Orang tua/Wali yang melengkapi persyaratan kelengkapan peseryaratan program pendidikan gratis.

Pasal 15 Syarat dan kelengkapan persyaratan, tata cara verifikasi berkas kelengkapan persyaratan dan waktu sebagaimana dimaksud dalam pasal 11, pasal 12 dan pasal 13, diatur oleh masih-masing satuan pendidikan dengan mengacu pada peraturan daerah ini atau pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah daerah.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

160

Bagian Keempat Pemutusan Pasal 16 (1) Pemutusan penerimaan program pendidikan gratis kepada peserta dapat dilakukan oleh Pimpinan satuan pendidikan melalui Surat Keputusan Satuan Pendidikan setelah berkoordinasi dan mendapat persetujuan dari Komite Sekolah, Dewan Pendidikan dan Dikpora (2) Pemutusan peserta didik untuk menerima program pendidikan gratis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan apabila : e. Tingkat kehadiran peserta didik mengikuti proses belajar dikelas kurang dari 85 % (delapan puluh lima persen) dalam satu tahun tanpa alasan dan keterangan yang jelas; f. Peserta didik pindah atau keluar dari sekolah yang menyelenggarakan program pendidikan gratis; g. Peserta didik tidak naik kelas sebanyak 2 kali secara berturut-turut pada kelas yang sama dan jenjang satuan pendidikan yang sama; h. peserta didik tidak mematuhi peraturan dan tata tertib sekolah, dan dampak dari perbuatannya sangat berpengaruh buruk terhadap siswa dan lingkungan sekolah; i. terlibat penyalahgunaan narkotika, obat terlarang, dan zat adiktif.

Pasal 17 Tata cara pemutusan pemberian penerimaan program pendidikan gratis sebagaimana dimaksud dalam pasal 16 diatur lebih lanjut oleh satuan pendidikan dengan mengacu pada pedoman yang ditetapkan pemerintah daerah.

BAB VI PENYELENGGARA, PENDUKUNG DAN PENGELOLA Bagian Kesatu Penyelenggara Pasal 18 (1) penyelenggaraan program pendidikan gratis diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah (2) Bupati adalah penanggung jawab dan pembina penyelenggaraan pendidikan gratis Pasal 19 (1) Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (DIKPORA) adalah penanggung jawab teknis penyelenggaraan pendidikan gratis

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

161

(2) Tugas dan Fungsi Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga dalam penyelenggaraan pendidikan gratis adalah : a. menyusun dan menetapkan kebijakan/regulasi teknis berupa petunjuk pelaksana dan petunjuk teknis dan atau kebijakan teknis lainnya untuk mendukung keberhasilan pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan gratis; b. mengkoordinir seluruh proses dan tahapan, program dan kegiatan penyelenggaraan pendidikan gratis; c. melakukan pendataan, verifikasi dan pemutakhiran data dan informasi peserta didik, anak usia sekolah, anak usia sekolah yang tidak sekolah dan satuan pendidikan penyelenggra pendidikan gratis secara berkala; d. melakukan pengawasan, evaluasi dan memberikan pelaporan terhadap perkembangan kemajuan program pendidikan gratis secara berkala kepada Bupati; e. memberikan supervisi terhadap satuan penyelenggara pendidikan anak usia dini, satuan pendidikan dasar dan satuan pendidikan menengah yang melaksanakan penyelenggaraan pendidikan gratis; f. memfasilitasi terselenggaranya pendidikan gratis dimasing-masing satuan pendidikan dan ; g. tugas-tugas lainnya yang dilimpahkan Bupati sesuai dengan kewenangannya dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku Pasal 20 Rincian Tugas dan fungsi serta Tata Kerja Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga sebagaimana dimaksud dalam pasal 19 ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan/Keputusan Bupati Bagian kedua Pendukung Pasal 21 Tugas dan Fungsi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) dalam penyelenggaraan pendidikan gratis adalah: a. memfasilitasi perencanaan dan pengembangan pendidikan gratis sesuai dengan kebutuhan pendidikan, laporan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga dan kebijakan pembangunan daerah; b. memfasilitasi Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah raga, Satuan Pendidikan Anak Usia Dini, Satuan Pendidikan Dasar, dan Satuan Pendidikan Menengah dalam upaya untuk perencanaan dan pengembangan program pendidikan gratis; c. membantu memfasilitasi peningkatan kapasitas tenaga pendidik pada satuan pendidikan anak usia dini, satuan pendidikan dasar, dan satuan pendidikan menengah dalam penyusunan perencanaan program dan peningkatan pendidikan gratis dengan berkoordinasi dengan Dinas Teknis/Badan terkait.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

162

d. memastikan penyelenggaraan pendidikan gratis terakomodir dalam kegiatan dan penganggaran dalam RAPBD setiap Tahunnya e. melakukan penelitian dan kajian dalam bidang pendidikan untuk pengembangan kebijakan, program/kegiatan di masa mendatang;

Pasal 22 Tugas dan Fungsi Badan Pengelola Keuangan dan Asset Daerah (BPKAD) dalam penyelenggaraan pendidikan gratis adalah : a. melakukan bimbingan dan pembinaan teknis terkait anggaran Program; b. memasukkan anggaran untuk pelaksanaan Program dalam APBD setiap Tahun Anggaran; c. melakukan asistensi usulan penggunaan anggaran untuk program; d. menerima laporan penggunaan anggaran program yang disampaikan oleh Dinas. Pasal 23 Tugas dan Fungsi Inspektorat Daerah dalam penyelenggaraan pendidikan gratis adalah : a. melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan maupun anggaran Program; b. melakukan tugas-tugas lain sesuai tugas dan fungsi Inspektorat Daerah terkait dengan pelaksanaan pendidikan gratis. Pasal 24 Tugas dan Fungsi Kepala Kantor Cabang Dinas (KCD) dalam penyelenggaraan pendidikan gratis adalah : a. membantu sekolah-sekolah dalam menyusun rencana kegiatan dan penganggaran Program; b. memantau pelaksanaan Program, untuk selanjutnya memberi masukan kepada sekolah-sekolah guna dapat menyempurnakan pelaksanaan Program.

Pasal 25 Tugas dan Fungsi Camat dalam penyelenggaraan pendidikan gratis adalah : a. membantu sekolah-sekolah dalam memberikan data dan informasi yang dibutuhkan untuk menyusun rencana program; b. memantau pelaksanaan program di wilayahnya, untuk selanjutnya memberikan masukan kepada sekolah-sekolah dan atau Dinas dalam rangka penyempurnaan pelaksanaan Program. Pasal 26 Tugas dan Fungsi Kepala Desa/Kepala Kelurahan dalam penyelenggaraan pendidikan gratis adalah: a. membantu sekolah-sekolah dalam memberikan data dan informasi yang dibutuhkan untuk menyusun rencana Program;
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

163

b. memantau pelaksanaan Program di wilayahnya, untuk selanjutnya
memberikan masukan kepada sekolah-sekolah dan atau KCD dalam rangka penyempurnaan pelaksanaan Program.

(1)

(2) (3)

(4)

(1)

(2)

Bagian Ketiga Pengelola Pasal 27 Pengelolaan program pendidikan gratis pada tingkat satuan pendidikan anak usia dini menjadi tanggung jawab pemimpin satuan pendidikan anak usia dini. Pengelolaan program pendidikan gratis pada tingkat satuan pendidikan dasar menjadi tanggung jawab pemimpin satuan pendidikan dasar. Pengelolaan program pendidikan gratis pada tingkat satuan pendidikan menengah menjadi tanggung jawab pemimpin satuan pendidikan menengah Satuan pendidikan dasar dan satuan pendidikan menengah selaku pengelolan program pendidikan gratis pada satuan pendidikan wajib menjaga keberlangsungan pelaksanaan program pendidikan gratis yang bermutu dan memenuhi Standar Nasional Pendidikan. Satuan pendidikan dasar dan satuan pendidikan menengah pelaksana penyelenggara program pendidikan gratis wajib menerima peserta didik program wajib belajar dari lingkungan sekitarnya tanpa diskriminasi sesuai daya tampung satuan pendidikan yang bersangkutan. Satuan pendidikan dasar dan satuan pendidikan menengah penyelenggara program pendidikan gratis yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenakan sanksi administrasi berupa teguran, penghentian pemberian bantuan hingga penutupan satuan pendidikan yang bersangkutan.

BAB VII HAK DAN KEWAJIBAN Bagian Pertama Hak dan Kewajiban Pemerintah Daerah Pasal 28 Pemerintah Daerah berhak mengatur dan menyelenggarakan pembebasan biaya pendidikan dalam wilayah Kabupaten Sumbawa Barat serta meminta pertanggungjawaban kegiatan dan keuangan dari pengelola pendidikan gratis tingkat satuan pendidikan. Pasal 29 (1) Pemerintah Daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu pada jenjang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

164

(2) Pemerintah Daerah wajib menjamin tersedianya anggaran pendidikan gratis dan anggaran pendidikan secara menyeluruh paling kurang 20% di luar gaji yang dianggarkan melalui APBD Kabupaten Sumbawa Barat. Bagian Kedua Hak dan Kewajiban Satuan Pendidikan Pasal 30 (1) Pengelola pendidikan gratis adalah satuan pendidikan anak usia dini, satuan pendidikan dasar dan satuan pendidikan menengah yang menerima program pendidikan gratis dari pemerintah daerah (2) Pengelola pendidikan gratis berhak untuk ;
a. menerima peserta didik sesuai dengan daya tampung yang tersedia di masingmasing sekolah; b. memperoleh anggaran pendidikan gratis sesuai dengan kebutuhan sekolah dan kemampuan keuangan daerah; c. mengelola anggaran pendidikan gratis sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku; d. memberikan pelayanan pendidikan gratis kepada peserta didik tanpa dihambat pihak lain yang bukan tugasnya; e. memberikan sanksi kepada peserta didik yang melanggar peraturan dan tata tertib sekolah dan peraturan perundang-undangan lainnya; f. melakukan pembelaan terhadap pengaduan dan tuntutan yang tidak sesuai dengan kenyataan dalam penyelenggaraan pendidikan; dan g. menolak permintaan pelayanan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 31 Satuan pendidikan pengelolan pendidikan gratis berkewajiban untuk: a. menerima peserta didik program wajib belajar dari lingkungan sekitarnya tanpa diskriminasi sesuai daya tampung satuan pendidikan yang bersangkutan. b. menyusun perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan pelaksanaan pendidikan gratis; c. mengelola anggaran program pendidikan gratis sesuai peruntukkannya dan berlandaskan pada prinsip-prinsip tata kelola manajemen yang baik; d. melaksankan program pendidikan gratis yang bermutu dan memenuhi Standar Nasional Pendidikan dan peraturan perundang-udangan yang berlaku. e. memelihara sarana, prasarana, dan/atau fasilitas pendidikan ; f. memberikan pelayanan pendidikan yang bermutu kepada pserta didik sesuai dengan asas penyelenggaraan pendidikan gratis g. memberikan laporan dan pertanggungjawaban pengelolaan pendidikan gratis yang diselenggarakan kepada pemerintah daerah dan komite sekolah secara berkala; h. membantu orang tua siswa/wali atau masyarakat penerima pendidikan gratis dalam memahami hak dan tanggung jawabnya;

Bagian Ketiga
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

165

Hak Dan Kewajiban Orang Tua/Wali dan Masyarakat Pasal 32 Setiap Orang Tua/Wali berhak : a. memperolah data dan informasi perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pelaporan penyelenggaraan pendidikan gratis pada satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan gratis ; b. berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan penyelenggaraan pendidikan gratis pada satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan gratis; c. melaporkan dan mengadukan temuan pelanggaran atas pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan kepada pimpinan satuan pendidikan, Dikpora, Bupati, DPRD dan atau pihak-pihak lainnya dan berhak untuk memperoleh tanggapan terhadap pengaduan yang diajukan serta mendapat avdokasi dan perlindungan hukum atas laporan yang disampaikannya; d. memperoleh kemudahan dan diperlakukan secara adil/tidak diskriminatif dalam pelayanan pengurusan kelengapakan dokumen persyaratan penerimaan program pendidikan gratis. e. mendapat pelayanan yang berkualitas sesuai dengan asas dan tujuan penyelenggaraan pendidikan gratis.

Pasal 33 Setiap orang tua/wali peserta pendidikan gratis berkewajiban untuk; a. melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap anak; b. berpartisipasi dalam pengembangan program pendidikan gratis dan mengikuti kegiatan yang diselenggarakan sekolah untuk pengembangan kualitas murid/siswa; c. mematuhi peratuan dan tata tertib yang diberlakukan sekolah d. menanggung biaya sendiri apabila anak/siswa tidak naik kelas e. mematuhi dan memenuhi segala peraturan perundang-undangan yang berlaku; f. ikut menjaga terpeliharanya sarana, prasarana, dan/atau fasilitas pendidikan; dan g. berpartisipasi aktif dan mematuhi peraturan yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan gratis. Pasal 34 (1) Masyarakat berhak menyampaikan kepada pemerintah daerah jika terdapat anak usia 7 sampai dengan 18 tahun yang tidak bersekolah. (2) Masyarakat diwajibkan menyampaikan kepada pemerintah daerah jika terdapat anak usia 7 sampai dengan 18 tahun dipekerjakan sebagaimana layaknya tenaga kerja baik di dalam maupun di luar lingkungan keluarganya pada jam penyelenggaraan sekolah.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

166

Bagian Keempat Hak dan Kewajiban Peserta Didik Pasal 35 (1) Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak :
a. pemperoleh pelayanan pendidikan gratis yang bermutu dari satuan pendidikan sesuai standar dan peraturan yang berlaku;

b. mendapatkan pendidikan Agama sesuai agama dianutnya dan pendidikan budi pekerti dan akhlak mulia yang terintegrasi pada semua mata pelajaran; c. mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat dan minat siswa; d. penyelesaian program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masingmasing dan tidak menyimpang dari batas waktu yang ditetapkan; e. mendapatkan buku pelajaran minimal buku yang masuk dalam ujian akhir nasional.

(2) Setiap peserta didik yang tidak mampu, berhak untuk diprioritaskan dalam pemberian pendidikan gratis, pemberian tambahan dana bantuan atau beasiswa dari pemerintah, pemerintah daerah dan lembaga penyantun lainnya. Pasal 36 (1) Setiap peserta didik berkewajiban untuk ; a. menjaga norma-norma pendidikan baik di dalam dan atau di luar lingkungan sekolah untuk menjamin keberlangsungan proses dan keberhasilan pendidikan; b. mentaati peraturan/tata tertib sekolah; c. menyelesaikan jenjang pendidikan sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan.

Bagian Kelima Hak dan Kewajiban Tenaga Pendidik Pasal 37 Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, tenaga pendidik berhak;
a. Memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial; b. Mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja; c. Memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual; d. Memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi; e. Memperoleh dan memanfaatkan sarana dan prasarana pembelajaran untuk menunjang kelancaran tugas keprofesionalan; f. Memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan ikut menentukan kelulusan, penghargaan, dan/atau sanksi kepada peserta didik sesuai dengan kaidah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undangan; g. Memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam melaksanakan tugas; h. Memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi profesi; i. Memiliki kesempatan untuk berperan dalam penentuan kebijakan pendidikan; j. Memperoleh kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualifikasi k. akademik dan kompetensi; dan/atau l. Memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi dalam bidangnya.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

167

Pasal 38 Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, tenaga pendidik berkewajiban;
a. Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran; b. Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; c. Bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran; d. Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika; dan e. Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.

BAB VIII PENDANAAN PENDIDIKAN GRATIS Bagian Kesatu Pengalokasian Dana Pendidikan Gratis Pasal 39 (1) Sumber pendanaan pendidikan gratis ditentukan berdasarkan prinsip keadilan, kecukupan, dan keberlanjutan. (2) Penyediaan pendanaan pendidikan gratis menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah bersama DPRD. (3) Pemerintah Daerah dan DPRD wajib untuk mengalokasikan anggaran pendidikan gratis dalam APBD untuk para peserta didik yang terdaftar pada satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. (4) Dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) pada sektor pendidikan. (5) Alokasi anggaran minimal 20% harus diprioritaskan terlebih dahulu untuk memenuhi cakupan program pendidikan gratis; (6) Pemerintah Daerah dapat menyediakan Dana Abadi Sekolah sebagai jaminan penyelenggaraan pendidikan gratis; (7) Dana Abadi Sekolah diperuntukkan untuk operasional sekolah pada satuan pendidikan yang menyelanggarakan pendidikan gratis; (8) Besarnya Dana Abadi Sekolah pada masing-masing satuan pendidikan dan mekanisme pengelolaan Dana Abadi Sekolah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati Bagian Kedua Komponen Pembiayaan Pasal 40
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

168

Komponen pembiayaan penyelenggaraan pendidikan gratis meliputi biaya kegiatan proses belajar mengajar yang mencakup biaya opesional, pemeliharaan, ekstrakurikuler, insentif pendidik dan tenaga kependidikan.

Pasal 41 Pengelolaan dana pendidikan gratis didasarkan atas prinsip-prinsip umum pengelolaan dan pendidikan, meliputi ; a. prinsip keadilan; b. prinsip efisiensi; c. prinsip transparansi; dan d. prinsip akuntabilitas publik. Pasal 42 (1) Prinsip keadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan dengan memberikan akses pelayanan pendidikan yang seluas-luasnya dan merata kepada peserta didik atau calon peserta didik, tanpa membedakan latar belakang suku, ras, agama, jenis kelamin, dan kemampuan atau status sosial-ekonomi. (2) Prinsip efisiensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan dengan mengoptimalkan akses, mutu, relevansi, dan daya saing pelayanan pendidikan. (3) Prinsip transparansi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilakukan dengan memenuhi asas kepatutan dan tata kelola yang baik dapat dipertanggungjawabkan secara transparan kepada pemangku kepentingan pendidikan. (4) Prinsip akuntabilitas publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dilakukan dengan memberikan pertanggungjawaban atas kegiatan yang dijalankan oleh penyelenggara atau satuan pendidikan kepada pemangku kepentingan pendidikan (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai komponen pembiayaan, pengelolaan dan prinsip-prinsip pengelolaan dana pendidikan gratis sebagaimana dimaksud dalam pasal 40 dan 41 dan pada pasal 42 ayat (1), ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati dengan merujuk pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Bagian Ketiga Penyaluran dan Dana Abadi Sekolah Dana Pendidikan Gratis Pasal 43 (1) Penyaluran dana pendidikan diberikan Dikpora langsung kepada masingmasing satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan gratis sesuai dengan jumlah peserta didik yang ditetapkan masing-masing satuan pendidikan;
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

169

(2) Penyaluran dana pendidikan kepada masing-masing satuan pendidikan selambat-lambatnya diberikan 30 hari sejak APBD ditetapkan oleh Pemerintah Daerah dan DPRD. (3) Untuk mengatasi keterlambatan dalam penyaluran dana pendidikan ke masing-masing satuan pendidian Sekolah menggunakan Dana Abadi Sekolah (4) Dana Abadi Sekolah adalah dana cadangan sekaligus dana deposito sekolah yang diperuntukkan dan digunakan hanya untuk operasional satuan pendidikan sebelum dana program pendidikan gratis diterima oleh masingmasing ssatuan pendidikan

Bagian Keempat Pengawasan dan Pemeriksaan Pasal 44 (1) Pengawasan penerimaan dan penggunaan dana pendidikan gratis dilakukan oleh pemerintah daerah atau pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Pemeriksaan penerimaan dan penggunaan dana pendidikan gratis dalam rangka pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 45 (1) Pengawasan penerimaan dan penggunaan dana satuan pendidikan gratis yang diselenggarakan oleh masyarakat dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan anggaran dasar serta anggaran rumah tangga penyelenggara atau satuan pendidikan yang bersangkutan. (2) Pemeriksaan penerimaan dan penggunaan dana dalam rangka pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Bagian Kelima Pertanggungjawaban Pasal 46 (1) Dana pendidikan gratis pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah dan pemerintah dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Dana pendidikan gratis pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan anggaran dasar serta anggaran rumah tangga penyelenggara atau satuan pendidikan yang bersangkutan.

Pasal 47

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

170

(1) Setiap satuan pendidikan yang menerima dan mengelolan dana pendidikan gratis wajib untuk mengelola anggaran sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku dan menerapkan prinsip transparans, akuntabel, efisien, efektif dan tepat sasaran. (2) Setiap satuan pendidikan wajib untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan pengelolaan anggaran bantuan pendidikan secara jelas, terbuka dan berkala kepada Dinas Pendidikan dan para pemangku kepentingan. (3) Pelaporan pengelolaan dana bantuan sebagaimana dimaksud dilaporkan sesuai dengan prinsip atau standar akuntansi yang berlaku pada lingkungan pemerintah daerah.

Bagian Keenam Sumbangan Sukarela Pasal 48

Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan satuan pendidikan dapat menarik sumbangan sukarela atau pungutan dari peserta didik, orang tua, dan/atau walinya dengan ketentuan sebagai berikut: a. didasarkan pada perencanaan investasi dan/atau operasi yang jelas dan dituangkan dalam rencana strategis, rencana kerja tahunan, serta anggaran tahunan yang mengacu pada Standar Nasional Pendidikan; b. perencanaan investasi dan/atau operasi sebagaimana dimaksud pada huruf a diumumkan secara transparan kepada pemangku kepentingan satuan pendidikan; c. dana yang diperoleh disimpan dalam rekening atas nama satuan pendidikan; d. dana yang diperoleh dibukukan secara khusus oleh satuan pendidikan terpisah dari dana yang diterima dari penyelenggara satuan pendidikan; e. tidak dipungut dari peserta didik atau orang tua/walinya yang tidak mampu secara ekonomis; f. menerapkan sistem subsidi silang yang diatur sendiri oleh satuan pendidikan; g. digunakan sesuai dengan perencanaan sebagaimana dimaksud pada huruf a; h. tidak dikaitkan dengan persyaratan akademik untuk penerimaan peserta didik, penilaian hasil belajar peserta didik, dan/atau kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan; i. sekurang-kurangnya 75% (tujuh puluh lima persen) dari total dana pungutan peserta didik atau orang tua/walinya digunakan untuk peningkatan mutu pendidikan; j. tidak dialokasikan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk kesejahteraan anggota komite sekolah/madrasah atau lembaga representasi pemangku kepentingan satuan pendidikan; k. pengumpulan, penyimpanan, dan penggunaan dana diaudit oleh akuntan publik dan dilaporkan kepada Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga,

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

171

apabila jumlahnya lebih dari jumlah tertentu yang ditetapkan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan OlahRaga; l. pengumpulan, penyimpanan, dan penggunaan dana dipertanggung jawabkan oleh satuan pendidikan secara transparan kepada pemangku kepentingan pendidikan terutama orang tua/wali peserta didik, dan penyelenggara satuan pendidikan; dan m. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 49
(1) Sebelum melakukan pungutan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam pasal 48 satuan pendidikan tersebut harus mendapat persetujuan sekurangkurangnya 75% suara dari para peserta didik, orang tua dan atau walinya di satuan pendidikan bersangkutan dan disetujui oleh Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (2) Pungutan tersebut besifat sukarela, tidak mengikat, memaksa dan sanksi kepada peserta atau orang tua/wali dan tidak mengikat kepada siswa/murid atau orang tuang/wali yang tidak setuju untuk membayar sumbangan (3) Pungutan yang dilakukan satuan pendidikan tidak boleh melanggar peraturan perundang-undangan atau meresahkan orang tua/wali (4) Dana yang berasal dari pungutan wajib dipertanggungjawabkan oleh pemimpin satuan pendidikan kepada pemangku kepentingan pendidikan secara periodik tahunan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan peraturan penyelenggara atau satuan pendidikan.

BAB IX STANDAR PELAYANAN Bagian Pertama Standar Pelayanan Pasal 50
(1) Setiap satuan pendidikan yang menyelenggaraan program pendidikan gratis wajib untuk menyusun standar pelayanan minimal (SPM) ; (2) Penyusunan standar pelayanan minimal pada masing-masing satuan pendidikan mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku; (3) Penyusunan dan penetapan SPM pada masing-masing satuan pendidikan disusun secara terbuka dan partisipatif dengan melibatkan komite sekolah, dewan pendidikan, atau lembaga swadaya masyarakat atau badan lain yang memiliki kepedulian/perhatian dibidang pendidikan; (4) Pimpinan satuan pendidikan menetapkan SPM melalui Surat Keputusan Pimpinan. (5) Setiap satuan pendidikan berkewajiban untuk melaksankaan SPM yang telah ditetapkan pada masing-masing satuan pendidikan; (6) Pemerintah daerah dapat memfasilitasi sekolah yang belum dapat menyusun dan menetapkan SPM dan atau membuat pedoman penyusunan SPM untuk satuan pendidikan yyang menyelenggarakan program pendidikan gratis ;

Pasal 51 (1) Setiap satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan gratis berkewajiban menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan gratis sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan yang berlaku ;
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

172

(2) Standar Nasional Pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi: a. Standar isi b. Standar proses c. Standar kompetensi kelulusan d. Standar pendidikan dan tenaga kependidikan e. Standar sarana dan prasarana f. Standar pengelolaan g. Standar pembiayaan ; dan h. Standar penilaian pendidikan (3) Untuk menjaga dan menjamin mutu pendidikan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga melakukan pembinaan, pengawasan dan evaluasi kepada pimpinan satuan pendidikan (4) Tatacara pengendalian mutu dan standar sebagaimana dimaksu pada ayat (2) dan ayat (3) akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati dengan mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku,

Bagian Kedua Sistem Informasi Pasal 52 (1) Dalam rangka memberikan dukungan informasi terhadap penyelenggaraan pelayanan pendidikan gratis perlu diselenggarakan Sistem Informasi program Pendidikan gratis (2) Sistem Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berisi semua data dan informasi pelayanan pendidikan gratis yang berasal dari ppemerintah daerah dan satuan pendidikan yang mengelola program pendidikan gratis; (3)Pemerintah daerah dan satuan pendidikan berkewajiban mengelola sistem data dan informasi layanan program pendidikan gratis yang terdiri atas sistem informasi elektronik atau nonelektronik, sekurang-kurangnya meliputi: g. profil Penyelenggara pendidikan; h. profil Pelaksana pendidikan; i. profil penerima program pendidikan gratis; j. anggaran program pendidikan gratis; k. kebijakan program pendidikan gratis; l. standar pelayanan minimal pendidikan gratis; m. maklumat pelayanan pendidikan gratis; dan n. penilaian kinerja. (4) Penyelenggara berkewajiban menyediakan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada masyarakat secara terbuka dan mudah diakses. Bagian Kedua Indeks Kepuasan Masyarakat Pasal 53 Tujuan penyusunan IKM pendidikan gratis adalah untuk ;
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

173

mendapatkan tanggapan balik (feedback) secara berkala atas kinerja/kualitas pelayanan yang diberikan pemerintah daerah dan satuan pendidikan kepada masyarakat sebagai bahan untuk menetapkan kebijakan dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan program pendidikan gratis b. memberikan informasi kepada para pemangku kepentingan mengenai potret kinerja layanan pendidikan menurut perspektif peserta didik (siswa) sebagai pengguna layanan. c. Sebagai bahan untuk memunculkan berbagai inovasi program pendidikan gartis di tahun selanjutanya. Pasal 54

a.

Penilaian indeks kepuasan layanan pendidikan gratis dengan menggunakan enam indikator utama, yang meliputi:
a. b. c. d. e. f. Metode Pembelajaran, Metode evaluasi belajar, Kinerja guru, Fasilitas sekolah, Tata kelola sekolah dan etika pelayanan.

Pasal 55 (1) IKM dilaksanakan sekurang-kurangnya setiap 2 (dua) tahun sekali (2) IKM dapat dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah atau Satuan Pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan dan hasil IKM dipublikasikan secara luas kepada para pemangku kepentingan pendidikan (3) Pemerintah daerah dapat melakukan kerjasama dengan pihak ketiga yang memiliki kompetensi dan kapasitas untuk melaksanakan IKM secara berkala;

Bagian Ketiga Unit Pengaduan Masyarakat Pasal 56
(1) Pemerintah daerah berkewajiban menyediakan sarana pengaduan masyarakat atas pelaksanaan program pendidikan gratis dan mengumumkan nama dan alamat penanggung jawab pengelola pengaduan, serta sarana pengaduan yang disediakan. (2) Pemerintah daerah dapat membentuk Kelompok Kerja atau Unit Pengaduan Masyarakat yang bertugas mengelola pengaduan yang berasal dari penerima program pendidikan gratis, Orang Tua/wali, Perseorang/Badan Hukum, masyarakat dan para pemangku kepentingan pendidikan; (3) Kelompok Kerja atau Unit Pengaduan Masyarakat yang dibentuk Pemda berkewajiban untuk menindaklanjuti hasil pengelolaan pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

Pasal 57
(1) Kelompok Kerja atau Unit Pengaduan Masyarakat atau nama lain yang dibentuk pemda berkewajiban menyusun mekanisme pengelolaan pengaduan dari penerima pelayanan dengan mengedepankan asas penyelesaian yang cepat dan tuntas.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

174

(2) Materi dan mekanisme pengelolaan pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut oleh kelompok Kerja/UPM atau sebutan lain. (3) Materi pengelolaan pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya meliputi: k. identitas pengadu; l. prosedur pengelolaan pengaduan; m. penentuan Pelaksana yang mengelola pengaduan; n. prioritas penyelesaian pengaduan; o. pelaporan proses dan hasil pengelolaan pengaduan kepada atasan pelaksana; p. rekomendasi pengelolaan pengaduan; q. penyampaian hasil pengelolaan pengaduan kepada pihak terkait; r. pemantauan dan evaluasi pengelolaan pengaduan; s. dokumentasi dan statistik pengelolaan pengaduan; dan t. pencantuman nama dan alamat penanggung jawab serta sarana pengaduan yang mudah diakses. Bagian Keempat Penilaian Kinerja Pasal 58
(1) Pemerintah daerah berkewajiban melakukan penilaian kinerja penyelenggaraan program pendidikan gratis yang dilaksanakan satuan pendidikan secara berkala. (2) Pimpinan satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan gratis berkewajiban untuk melakukan penilaian kinerja terhadap tenaga pendidik secara berkala; (3) Penilaian kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan menggunakan indikator kinerja berdasarkan standar pelayanan minimal yang dtelah ditetapkan.

BAB X PENGAWASAN DAN EVALUASI Bagian Kesatu Pengawasan Pasal 59
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

175

(1) Pemerintah Daerah, DPRD, Dewan Pendidikan, Komite Sekolah, DPRD dan para pemangku kepentingan wajib melakukan pengawasan atas penyelenggaraan pendidikan gratis pada jenjang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan menengah. (2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas. (3) Ketentuan mengenai pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Keputusan Bupati.

Bagian Kedua Evaluasi Program Pendidikan Gartis Pasal 60 (1) Evaluasi program pendidikan gratus bertujuan untuk pengendalian mutu pendidikan gratis secara keseluruhan sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilakukan oleh Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga secara berkala. (3) Evaluasi terhadap pelaksanaan program pendidikan gratis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya meliputi: a. tingkat pencapaian penyelenggaraan pendidikan gratis; b. pelaksanaan kurikulum pendidikan pada masing-masing satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan pendidikan menengah; c. hasil belajar peserta didik pada masing-masing satuan pendidikan; dan d. realisasi anggaran. (4) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaporkan kepada Bupati. (5) Atas dasar hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Bupati melakukan evaluasi komprehensif untuk menilai: a. ketercapaian penyelenggaraan pendidikan gratis; b. kemajuan penyelenggraan pendidikan gratis; dan c. hambatan penyelenggaraan pendidikan gratis. (6) Evaluasi terhadap pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan gratis dapat dilakukan oleh lembaga evaluasi mandiri yang didirikan masyarakat sesuai Standar Nasional Pendidikan.

Bagian Ketiga Evaluasi Belajar Pasal 61 (1) Evaluasi belajar peserta didik menjadi tanggung jawab guru dan satuan pendidikan yang bersangkutan, yang meliputi proses dan hasil belajar dengan menerapkan prinsip ketuntasan belajar secara berkesinambungan. (2) Jenis evaluasi hasil belajar pada satuan pendidikan meliputi:
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

176

(3) (4) (5) (6)

(7)

a. penilaian kelas; b. ujian akhir; c. test kemampuan dasar; dan d. penilaian mutu. Evaluasi peserta didik dilakukan secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistemik untuk mencapai standar kompetensi tertentu. Peserta didik berhak mendapat sertifikasi atas dasar evaluasi yang dilakukan. Sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) berbentuk ijazah dan sertifikasi kompetensi Lembaga pendidikan yang terakreditasi berhak memberi ijazah kepada peserta didik sebagai pengakuan terhadap prestasi belajar dan/atau penyelesaian suatu satuan pendidikan setelah lulus dalam ujian. Penyelenggara pendidikan dan pelatihan berhak memberikan sertifikat kompetensi kepada peserta didik dan warga masyarakat sebagai pengakuan terhadap kompetensi untuk melakukan pekerjaan tertentu setelah lulus uji kompetensi. Bagian Keempat Evaluasi Kinerja Pasal 62

(1) Evaluasi kinerja tenaga pendidik menjadi tanggung jawab atasan langsung dari satuan pendidikan, yang meliputi: a. perencanaan; b. pelaksanaan; c. penilaian hasil belajar; d. analisis hasil belajar; dan. e. perbaikan dan pengayaan. (2) Evaluasi kinerja tenaga pendidik dilakukan secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistemik. (3) Tes kompetensi dan sertifikasi tenaga pendidik merupakan salah satu bentuk evaluasi kinerja tenaga pendidik dalam rangka peningkatan dan pengembangan tenaga kependidikan. (4) Evaluasi kinerja yang dilakukan masyarakat atas penyelenggaraan pelayanan yang diterima dari satuan pendidikan berdasarkan Standar Pelayanan Minimal. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara evaluasi kinerja diatur dengan Peraturan Bupati. BAB XI PERAN SERTA MASYARAKAT Bagian Kesatu Umum Pasal 63 (1) Peran serta masyarakat dalam pendidikan gartis meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

177

(2) (3)

(4)

organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan gratis. Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan gratis. masyarakat dapat melakukan pemantauan, pengawasan dan meminta laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan pengelolaan anggaran pendidikan gratis ; Ketentuan mengenai peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati mengacu pada Peraturan Pemerintah. Bagian Kedua Pendidikan Berbasis Masyarakat Pasal 64 Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama, lingkungan sosial, dan budaya untuk kepentingan masyarakat. Penyelenggara pendidikan berbasis masyarakat mengembangkan dan melaksanakan kurikulum dan evaluasi pendidikan, serta manajemen dan pendanaannya sesuai dengan standar nasional pendidikan. Dana penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat dapat bersumber dari penyelenggara, masyarakat, Pemerintah, Pemerintah Daerah dan/atau sumber lain yang tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. Lembaga pendidikan berbasis masyarakat dapat memperoleh bantuan teknis, subsidi dana, dan sumber daya lain secara adil dan merata dari Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah. Ketentuan mengenai peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati dengan berpedoman pada peraturan perundnag-undangan yang berlaku.

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

Bagian Ketiga Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah Pasal 65 (1) Masyarakat berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan gratis yang meliputi perencanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan gratis melalui dewan pendidikan dan Komite Sekolah. Dewan pendidikan mewadahi peran serta masyarakat dalam rangka peningkatan mutu, pemerataan dan efisiensi pengelolaan pendidikan gratis, meningkatkan tanggung jawab dan peran aktif dari seluruh lapisan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan gratis; dan menciptakan suasana dan kondisi transparan, akuntabel, dan demokratis dalam penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan gartis yang bermutu.

(2)

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

178

(3)

Dalam mendukung ketercapaian program pendidikan gratis Dewan Pendidikan berfungsi sebagai: a. pemberi pertimbangan; b. pendukung; c. pengontrol; dan d. mediator.
Dewan pendidikan dan Komite Sekolah dapat memberikan laporan langsung kepada dikpora dan atau Bupati atas pelaskanaan program pendidikan gratis berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan oleh Dewan Pendidikan

(4)

BAB XII PENGHARGAAN Pasal 66
(1) Bupati wajib memberikan penghargaan kepada satuan pendidikan yang memiliki kinerja dan prestasi sangat baik dalam penyelenggaraan program pendidikan gratis di Kabupaten Sumbawa Barat (2) Bupati wajib memberikan penghargaan kepada para tenaga pendidik yang memiliki kinerja dan prestasi sangat baik dalam memberikan layanan pendidikan kepada para peserta didik; (3) Bupati wajib memberikan penghargaan kepada peserta didik yang berasal dari fakir miskin dan memiliki prestasi baik pada satuan pendidikan; (4) Pemberian penilaian dan penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) didasarkan atas hasil laporan kinerja dan evaluasi Dikpora, laporan hasil Indeks Kepuasaan Masyarakat dan indikator penilaian lainnya yang dilaksanakan secara obyektif. (5) Pemberian penilaian dan penghargaan kepada peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) didasarkan atas hasil prestasi yang dicapai pada satuan pendidikan dan pencapaian prestasi lainnya dan penilaiannya dilakukan secara obyektif. (6) Satuan pendidikan, tenaga pendidik dan peserta didik yang berprestasi diumumkan secara terbuka melalui media massa atau media lainnya kepada para pemangku kepentingan dan masyarakat; (7) Materi, Bentuk, waktu dan Tata Cara dan penetepan pemberian penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ayat (2) dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan/Keputusan Bupati

(1)

(2)

(2)

BAB XIII SANKSI ADMINISTRATIF Pasal 67 Bupati berwenang memberikan sanksi administratif terhadap penyelenggara pendidikan pada semua tingkatan yang melakukan pelanggaran terhadap Peraturan Daerah ini. Sanksi administrasif sebagaimana dimaksud ayat (1) dapat berupa: a. teguran/peringatan; b. pencabutan ijin pendirian sekolah/penyelenggaraan pendidikan ; c. pembubaran. Pelanggaran terhadap Peraturan Daerah ini bagi Pegawai Negeri Sipil dikenakan sanksi administratif sesuai dengan ketentuan Peraturan
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

179

Perundang-Undangan yang berlaku.

BAB XIV KETENTUAN PERALIHAN Pasal 68 Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka penyelenggaraan program pendidikan gratis yang saat ini masih berjalan berdasarkan Peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2006 tetap dinyatakan sah dan berlaku hingga akhir anggaran tahun APBD berjalan; BAB XV KETENTUAN PENUTUP Pasal 69 (1) Semua peraturan yang diperlukan untuk melaksanakan Peraturan Daerah ini harus diselesaikan paling lambat dua tahun terhitung sejak berlakunya Peraturan Daerah ini. (2) Untuk mengukur efektivitas keberlakukan peraturan daerah ini, maka perlu dilakukan evaluasi setiap 2 tahun. Pasal 70 Pada saat mulai berlakunya Peraturan Daerah ini, Peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Pendidikan Gratis dinyatakan tidak berlaku. Pasal 71 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Sumbawa Barat

Ditetapkan di Taliwang Pada...tanggal.....2011 BUPATI SUMBAWA BARAT,

ZULKIFLI MUHADLI Diundangkan di Taliwang pada tanggal ...................2011 SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT,
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

180

MUSYAFIRIN

BERITA DAERAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT TAHUN .......... NOMOR...

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

181

BUPATI SUMBAWA BARAT
PERATURAN BUPATI SUMBAWA BARAT NOMOR 11 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN GRATIS DI KABUPATEN SUMBAWA BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBAWA BARAT,

Menimbang :

a. bahwa

dalam

rangka

meningkatkan

cakupan

sasaran

pelayanan pendidikan kepada seluruh masyarakat, telah diambil suatu kebijakan Pembiayaan Sekolah melalui Program Pendidikan Gratis di Kabupaten Sumbawa Barat; b. bahwa agar penyelenggaraan kegiatan sebagaimana dimaksud pada huruf a dapat berjalan efektif, perlu ditetapkan Pedoman Pelaksanaannya; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b perlu ditetapkan dengan Peraturan Bupati. Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; 39. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2003 tentang

Pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat di Provinsi Nusa Tenggara Barat; 40. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang

Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

182

Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagai Undang-Undang; 41. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah; 42. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen; 43. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar sebagaimana telah diubah dengan

Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 1998; 44. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 1998; 45. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1992 tentang Peran Serta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional; 46. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan; 47. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 036/U/1995 tentang Pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan Dasar; 48. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah; 49. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 060/U/2002 tentang Pedoman Pendirian Sekolah; 50. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 11 Tahun 2005 tentang Buku Teks Pelajaran;

MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN BUPATI TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN

PROGRAM PENDIDIKAN GRATIS DI KABUPATEN SUMBAWA BARAT.

BAB I KETENTUAN UMUM
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

183

Pasal 1
Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan : 74. Daerah adalah Kabupaten Sumbawa Barat. 75. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat. 76. Kepala Daerah adalah Bupati Sumbawa Barat. 77. Dinas adalah Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sumbawa Barat. 78. Badan Pengelola Keuangan dan Asset Daerah yang selanjutnya disingkat BPKAD adalah Badan Pengelola Keuangan dan Asset Daerah Kabupaten Sumbawa Barat. 79. Peserta Belajar adalah para siswa sekolah mulai tingkat TK/RA, SD/MI, SMP/MTs sampai SMA/SMK/MA yang terdaftar di sekolahnya masing-masing. 80. Program Pendidikan Gratis yang selanjutnya disebut Program adalah suatu upaya yang ditempuh Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat untuk memberikan bantuan biaya pendidikan kepada Peserta Belajar sebagai pengganti biaya operasional pendidikan yang sebelumnya menjadi beban tanggungan orang tua/wali siswa selama mengikuti pendidikan mulai Tingkat TK/RA sampai dengan SMA/SMK/MA. BAB II TUJUAN DAN SASARAN Bagian Pertama Tujuan Pasal 2 Program Pendidikan Gratis bertujuan untuk : a. meringankan biaya pendidikan dari tingkat TK/RA, SD/MI, SMP/MTs sampai

SMA/SMK/MA baik negeri maupun swasta yang sebelumnya menjadi tanggungan orang tua/wali siswa peserta belajar; b. memperkecil dan atau menghilangkan angka putus sekolah dalam kurun waktu selama 1 – 5 tahun di Kabupaten Sumbawa Barat; c. meningkatkan kualitas sumberdaya manusia di Kabupaten Sumbawa Barat. Bagian Kedua Sasaran Pasal 3 Sasaran Program Pendidikan Gratis adalah seluruh peserta belajar yang terdaftar di sekolahnya masing-masing dan telah dilakukan verifikasi oleh pihak sekolah serta dilaporkan kepada Dinas.

BAB III PARA PIHAK TERKAIT DAN TUGAS FUNGSI Bagian Pertama Para Pihak Terkait Pasal 4
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

184

Untuk kelancaran dan suksesnya Program Pendidikan Gratis perlu keterlibatan para pihak, yaitu: a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (DIKPORA); Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA); Badan Pengelola Keuangan dan Asset Daerah (BPKAD); Inspektorat Daerah; Dinas Kehutanan, Pertanian, Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DISHUPPTAN); Kepala Kantor Cabang Dinas (KCD) Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga; Sekolah-sekolah; Guru; Camat; Kepala Desa; Orang tua/wali siswa; Komite Sekolah. Bagian Kedua Tugas Fungsi Pasal 5 Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (DIKPORA) mempunyai tugas dan fungsi : a. b. c. d. menghimpun data seluruh peserta belajar yang dilaporkan pihak Sekolah; melakukan pendataan seluruh anak usia sekolah yang tidak bersekolah; melakukan pemutakhiran data terkait huruf a dan b di atas; menyusun dan menetapkan mekanisme kerja, standar dan lain-lainnya terhadap perencanaan penganggaran, proses dan prosedur pengajuan, pencairan, pengawasan, pertanggungjawaban, pelaporan dan evaluasi pelaksanaan Program.

Pasal 6 Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) mempunyai tugas dan fungsi : f. g. melakukan bimbingan dan pembinaan umum terhadap sistem perencanaan Program; memasukkan jenis kegiatan dan penganggaran dari Program ke dalam bagian perencanaan pembangunan daerah, terutama melalui RAPBD setiap Tahun Anggaran.

Pasal 7 Badan Pengelola Keuangan dan Asset Daerah (BPKAD) mempunyai tugas dan fungsi : a. b. c. d. melakukan bimbingan dan pembinaan teknis terkait anggaran Program; memasukkan anggaran untuk pelaksanaan Program dalam APBD setiap Tahun Anggaran; melakukan asistenti usulan penggunaan anggaran untuk Program; menerima laporan penggunaan anggaran Program yang disampaikan oleh Dinas. Pasal 8 Inspektorat Daerah mempunyai tugas dan fungsi :
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

185

a. melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan maupun anggaran
Program;

b. melakukan tugas-tugas lain sesuai tugas dan fungsi Inspektorat Daerah terkait dengan
pelaksanaan pendidikan. Pasal 9 Dinas Kehutanan, Pertanian, Perkebunan dan Ketahanan Pangan mempunyai tugas dan fungsi : a. membuat dan/atau mengesahkan Sertifikat Gerakan Sejuta Pohon (GSP) yang dipergunakan sebagai syarat untuk pemberian bantuan pendidikan dari Program; b. membuat dan melaksanakan sistem Gerakan Sejuta Pohon. Pasal 10 Kepala Kantor Cabang Dinas (KCD) Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga mempunyai tugas dan fungsi :

a. membantu sekolah-sekolah dalam menyusun rencana kegiatan dan penganggaran Program; b. memantau pelaksanaan Program, untuk selanjutnya memberi masukan kepada sekolahsekolah guna dapat menyempurnakan pelaksanaan Program. Pasal 11 Sekolah-sekolah mempunyai tugas dan fungsi :

a. melaporkan data dan keadaan seluruh Peserta Belajar kepada Dinas. b. menyusun dan/atau mengajukan rencana kegiatan dan penganggaran Program; c. melaksanakan kegiatan dan menggunakan penganggaran Program sesuai rencana; d. melaporkan pelaksanaan kegiatan dan penggunaan anggaran Program secara berkala setiap
tiga bulan, enam bulan dan satu tahun kepada Dinas dengan tembusan kepada KCD setempat.

Pasal 12 Guru mempunyai tugas dan fungsi :

a. membantu sekolahnya masing-masing dalam memberikan data, informasi dan keadaan proses
belajar mengajar sesuai kebutuhan Program;

b. melaksanakan kegiatan belajar mengajar dalam rangka mendukung kelancaran dan
keberhasilan Program. Pasal 13 Camat mempunyai tugas dan fungsi :

a. membantu sekolah-sekolah dalam memberikan data dan infromasi yang dibutuhkan untuk
menyusun rencana Program;

b. memantau pelaksanaan Program di wilayahnya, untuk selanjutnya memberikan masukan
kepada sekolah-sekolah dan atau Dinas dalam rangka penyempurnaan pelaksanaan Program.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

186

Pasal 14 Kepala Desa mempunyai tugas dan fungsi :

a. membantu sekolah-sekolah dalam memberikan data dan informasi yang dibutuhkan untuk
menyusun rencana Program;

b. memantau pelaksanaan Program di wilayahnya, untuk selanjutnya memberikan masukan
kepada sekolah-sekolah dan atau KCD dalam rangka penyempurnaan pelaksanaan Program. Pasal 15 Orang tua siswa mempunyai tugas dan fungsi :

a. melaksanakan Gerakan Sejuta Pohon (GSP) agar memperoleh Sertifikat GSP sebagai syarat
untuk dapat menerima bantuan pendidikan melalui Program;

b. memberikan dukungan material maupun non material terhadap pelaksanaan rencana Program
sesuai kesepakatan dalam Komite Sekolah. Pasal 16 Komite Sekolah mempunyai tugas dan fungsi :

a. menghimpun dan mengkoordinir orang tua siswa dan pihak lainnya untuk dapat berpartisipasi
dalam mendukung keberhasilan Program;

b. membantu sekolah-sekolah dalam menyusun rencana kegiatan dan penganggaran Program; c. memantau pelaksanaan Program, untuk selanjutnya memberi masukan kepada sekolahsekolah guna penyempurnaan pelaksanaan Program.

BAB IV PENGGUNAAN PEMBIAYAAN PROGRAM Pasal 17 Pembiayaan Program Pendidikan Gratis dipergunakan untuk :

a. biaya operasional TK/RA senilai Rp. 15.000,-/siswa/bulan (lima belas ribu rupiah per siswa
per bulan);

b. biaya operasional SD/MI senilai Rp. 5.000,-/siswa/bulan (lima ribu rupiah per siswa per
bulan) sebagai tambahan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah);

c. biaya operasional SMP/MTs senilai Rp. 5.000,-/siswa/bulan (lima ribu rupiah per siswa per
bulan) sebagai tamabahan dana BOS;

d. biaya operasional SMA/MA senilai Rp. 40.000,-/siswa/bulan (empat puluh ribu rupiah per
siswa per bulan);

e. biaya operasional SMK senilai Rp. 50.000,-/siswa/bulan (lima puluh ribu rupiah per siswa per
bulan). BAB V
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

187

MEKANISME PELAKSANAAN Bagian Pertama Administrasi Keuangan Pasal 18

Setiap sekolah menyampaikan Daftar Nama Peserta Belajar kepada Dinas dengan tembusan kepada Kepala Kantor Cabang Dinas setempat paling lama akhir bulan Pebruari setiap tahun.
Pasal 19

(1) Terhadap Daftar Nama Peserta Belajar yang disampaikan sekolah, Dinas melakukan verifikasi dan pemutakhiran data peserta belajar berdasarkan tingkat pendidikannya. (2) Setelah diperoleh data yang telah diverifikasi, Dinas melakukan koordinasi dengan BPKAD guna kelancaran proses administrasi keuangan.
Pasal 20

(1) Dinas melakukan koordinasi dengan pihak sekolah, terkait syarat-syarat pengajuan pencairan keuangan maupun pertanggungjawabannya.
(2) Dalam melakukan koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Dinas dapat mengikutsertakan pihak-pihak terkait. Bagian Kedua Kompensasi Kepada Peserta Belajar Pasal 21 (1) Peserta Belajar yang dapat menerima bantuan pendidikan dari Program adalah siswa yang terdaftar di sekolahnya masing-masing dan/atau telah mempunyai Sertifikat GSP. (2) Evaluasi pelaksanaan Program dikaitkan dengan Gerakan Penanaman Sejuta Pohon, dilaksanakan oleh Dinas bersama-sama dengan Dinas Kehutanan, Pertanian, Perkebunan dan Ketahanan Pangan. (3) Untuk lebih memperlancar Kegiatam Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dapat dibentuk Tim. Pasal 22

(1) Dinas wajib melakukan evaluasi terhadap seluruh proses pelaksanaan Program guna mengetahui keberhasilan dan kelemahan Program.
(2) Dalam melakukan evaluasi, Dinas dapat membentuk Tim dengan melibatkan pihak terkait. (3) Hasil evaluasi secara lengkap dilaporkan kepada Bupati. BAB VI
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

188

PEMANTAUAN DAN PENGAWASAN Bagian Pertama Pemantauan Pasal 23 (1) Pihak-pihak terkait sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 wajib melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan Program. (2) Hasil pemantauan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Bupati, Dinas, Tim dan lainnya guna keberhasilan Program.

Bagian Kedua Pengawasan Pasal 24

(1) Inspektorat Daerah melakukan pengawasan terhadap proses dan pelaksanaan Program.
(2) Bupati dapat menetapkan lembaga/tim/perorangan untuk melakukan pengawasan secara Khusus terhadap proses dan pelaksanaan Program.

BAB VII PENDATAAN DAN PELAPORAN Pasal 25

(1)

Pendataan yang dibutuhkan untuk menyusun rencana kegiatan dan penganggaran program dilakukan oleh Dinas yang didukung oleh pihak terkait.

(2) Data-data sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaporkan kepada Bupati sebagai dasar untuk
menentukan kebijakan selanjutnya dibidang pendidikan.

(3) Pelaporan pelaksanaan Program dilakukan oleh sekolah-sekolah kepada Dinas sesuai
ketentuan Pasal 11 huruf d.

(4) Pelaporan pelaksanaan Program dilakukan oleh Dinas kepada Bupati pada setiap akhir tahun
anggaran. BAB VIII PENUTUP Pasal 26

Peraturan Bupati ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan dan mempunyai daya laku surut sejak tanggal 1 Januari 2006. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Bupati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Sumbawa Barat.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

189

Ditetapkan Taliwang

di

pada tanggal 2 Mei 2006

BUPATI SUMBAWA BARAT,

ZULKIFLI MUHADLI

Diundangkan di Taliwang pada tanggal 2 Mei 2006

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT,

AMRULLAH ALI

BERITA DAERAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT TAHUN 2006 NOMOR

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

190

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->