ENSIKLOPEDIA ILMU FALAK & RUMUS-RUMUS HISAB FALAK (Drs. Chairul Zen S.,al-Falaky) 01.

Ilmu Falak ; Suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang pengetahuan segala benda yang terdapat di angkasa raya. 02. Falak; Orbit ; lintasan benda langit. Ilmu Falak adalah ilmu yang mempeljari tentang prilaku bendabenda langit untuk keperluan perhitungan waktu, dan posisi kedudukan benda-benda langit di ekliptika. 03. Hisab; Ilmu ; Hisab artinya menghitung; Ilmu Hisab adalah ilmu yang mmpelajari tentang selukbeluk perhitungan atau aritmatika. Termasuk di dalamnya Ilmu Faraidh yang memang tidak pernah terlepas dari pada hitung-menghitung. Dalam pengertian yang lebih khusus; Ilmu Hisab adalah membahas tentang perhitungan ijtima‟ dan posisi hilal setiap awal bulan baru qomariah, termasuk juga waktu-waktu shalat dan perhitungan kemiringan sudut arah tepat qiblat. 04. al-Falaky; Ahli Falak, diantara ahli falak yang terkenal sejak ratusan tahun yang silam adalah khalifah al-Ma‟mun, Ulugh Beikh, al-Batthany, Ibnu as-Syakir yang bahkan telah berhasil menyusun table-tabel penting untuk perhitungan secara tepat dan akurat. 05. Hisab „Urfiy; Sistim perhitungan tanggal berdasarkan kepada peredaran umur rata-rata bulan qomariah mengelilingi bumi. Karenanya dapat diterapkan umur bulan secara rata-rata. Hisab „Urfiy ini hanya dipergunakan untuk penanggalan mu‟amalah secara internasional bukan untuk pelaksanaan ibadah secara syar‟iy. 06. Hisab Haqiqiy; Sistim perhitungan penentuan awal dan akhir bulan qomariah berdasarkan kepada peredaran bulan dan bumi yang sebenarnya; oleh sebab itu lebih banyak diikuti. Menurut aliran ini, umur dalam satu bulan qomariah tidaklah beraturan antara 29 dan 30 hari, melainkan bisa saja berurutan antara 29 atau 30 hari dalam beberapa bulan qomariah. Di Indonesia, sistim hisab haqiqiy ini dapat dikelompokkan menjadi tiga macam kategori; yakni : Hisab Hqiqiy Taqribiy, Hisab Haqiqiy Tahqiqiy, dan Hisab Haqiqiy Kontemporer. 07. Hisab Haqiqiy Taqribiy; Kelompok sistim hisab ini mempergunakan data bulan dan matahari berdasarkan pada data dan table hisab Ulugh Beikh dengan proses perhitungan yang sederhana. Hisab sistim ini hanya dengan cara : tambah, kurang, kali dan bagi; tanpa menggunakan teori sistim ilmu segitiga bola. Adapun kelompok yang termasuk dalam kategori Hisab Haqiqiy Taqribiy ini adalah sebagai berikut : a. Sullamun Nayyirain oleh Muhammad Manshur ibn Abd. Hamid ibn Muhammad ad-Damiri alBatawiy, dengan lokasi markaz observasinya kota Jakarta (=lintang : -06o 10‟ LS, bujur : 106o 49‟ BT ). Dengan Jazairul Khalidat (=garis bujur bumi) sebagai bujur standard 00 adalah Ujung Timur Amerika Latin atau pada posisi bujur geografis : 350 11‟ BB. b. Tadzkiratul Ikhwan oleh KH. Dahlan al-Semarangy, dengan lokasi markaz observa sinya kota Semarang (=lintang : -070 00‟ LS, bujur : 1100 24‟ BT ). c. Fathurraufil Manan oleh Abu Hamdan ibn. Abd. Jalil ibn. Abd. Hamid al-Kudusy; dengan lokasi markaz observasinya kota Semarang (=lintang : -070 00‟ LS, bujur : 1100 24‟ BT ).
Page 1 of 10

Noor Ahmad Shadiq ibn. bujur : 1120 12‟ BT ). al-Mathlaus Sa‟id Fi Hisabil Kawakib “Ala Rusydil Jadid oleh Syeikh Husein Zaid al-Mishra. al-Khulashatul Wafiyyah oleh KH. dengan lokasi markaz observasinya kota Gresik (=lintang : -070 10” LS. j. Saryani al-Jepara. f. Muhammad Ma‟shum ibn. dengan lokasi markaz observasinya kota Mesir (lintang : 300 05‟ LU. dengan lokasi markaz observasinya kota Yogyakarta (Jawa Tengah. bujur : 390 50‟ BT ).d. c. g. al-Manahijul Hamidiyah oleh Syeikh Abdul Hamid Mursy Ghaisul Falakiy as. dengan lokasi markaz observasinya kota Semarang (=lintang : -070 00‟ LS. Zubeir Umar al-Jailaniy as-Salatiga. 08. bujur : 1120 30‟ BT ). h. bujur : 310 00‟ BT ). Mawawi Muhammad Yunus al-Kadiriy. bujur : 310 00‟ BT ). lintang : -070 48‟ LS. Hasan Basri al-Gresikiy. dengan markaz observasinya kota Mesir (=lintang : 300 05‟ LU. g. bujur : 1120 40‟ BT ). e. dengan lokasi markaz observasinya kota Kediri (=lintang : -070 49‟ LS. bujur : 1120 40‟ BT).. dengan lokasi markaz observasinya kota Pasuruan (=lintang : -070 40‟ LS. Kelompok sistim ini menggunakan table-tabel yang sudah dikoreksi dan menggunakan perhitungan yang relative lebih rumit dari pada kelompok aliran Hisab Haqiqiy Taqribiy serta telah memakai ilmu ukur segitiga bola. e. dengan lokasi markaz observasinya kota Gresik (Jawa Timur. bujur : 310 00‟ BT ). Ramli Hasan al-Gresikiy. bujur : 1100 24‟ BT ). Badi‟atul Mitsal oleh KH. al-Qawaidul Falakiyah oleh Abdul Fatah as-Sayyid at-Thuhy al-Falaky. Muhammad Hasan As-„Ariy al-Pasuruaniy. d. Qusyairi al-Pasuruaniy. dengan lokasi markaz observasinya kota Makkah al-Mukarramah (=lintang : 210 25‟ LU. bujur : 1100 21‟ BT ). lintang : -070 10‟ LS. bujur : 1120 00‟ BT). Adapun kelompok yang memakai aliran hisab falakiyah ini adalah sebagai berikut : a. dengan lokasi markaz observasinya kota Surabaya (Jawa Timur. Risalatul Falakiyah oleh KH. Page 2 of 10 .Syafi‟iy. Hisab Haqiqiy Tahqiqiy. Risalah Syamsul Hilal oleh KH. Noor Ahmad ibn Shadiq ibn. dengan lokasi markaz observasinya kota Mesir (=lintang : 300 05‟ LU. Muhammad Wardan Dipaningrat al-Yogyakarta. „Ali al-Jombangi. lintan : -070 25‟ LS. bujur : 1100 40‟ BT ). dengan lokasi markaz observasinya kota Makkah al-Mukarramah (=lintang : 210 25‟ LU. as-Syamsu Wal Qomar (Matahari & Bulan Dengan Hisab) oleh al-Ustadz Anwar Katsir al-Malangi. 1978 M. bujur : 1120 55‟ BT ). lintang : -070 48‟ LS. i. f. b. dengan lokasi markaz observasinya kota Jepara (Jawa Tengah. lintang : -060 36‟ LS. Saryani al-Jepara. Jadawilul Falakiyah oleh KH. Hisab Haqiqiy oleh KH. bujur : 390 50‟ BT ). dengan lokasi markaz observasinya kota Jombang (Jawa Timur. Risalatul Qomarain oleh KH. Muntaha Nataijul Aqwal oleh KH. Nurul Anwar oleh KH. Risalatul Hisabiyah oleh KH.

Dr. and Planets oleh Prof. Kelompok aliran sistim ini dalam teoritis dan aplikasinya telah menggunakan media komputerisasi dan peralatan canggih seperti : Kompas. bujur : 1120 45‟ BT ). Noor Ahmad ibn. Inproved Lunar Astromomical & Tables oleh EW. dengan lokasi markaz observasinya kota Green Wich-London (=lintang : 600 00‟ LU. Karim al-Gresikiy. dengan lokasi markaz observasinya kota Malang (lintang: -070 59‟ LS. Jean Meeus. Muhammad Zuber Abd. Kelompok aliran Hisab Haqiqiy Taqribiy menggunakan data tabel dan proses sederhana tanpa ilmu ukur segitiga bola. c. dengan lokasi markaz observasinya kota Greenwich-London. Muhammad Ilyas. H. Malaysia. b. dan sebagainya. serta ilmu ukur segitiga bola. Jakarta. 10. London. bujur : 000 00‟ BT ). Adapun kelompok aliran hisab ini adalah sebagai berikut : a. Bidron Hadi al-Yogyakarta (=modifikasi sistim new comb USA). e. Saadoe‟ddin Djambek (+Ketua Badan Hisab & Rukyah Depag RI yang pertama). Pengelompokan sistim hisab tersebut didasarkan kepada data dan cara yang ditempuh oleh seluruh sistim tersebut. Sistim Almanak Nautika ini pertama sekali dikembangkan di Indonesia oleh H. Saado‟eddin Djambek.. bujur : 1120 30‟ BT) menurut Waktu Jawa (=J M T ). . Hisab Haqiqiy Kontemporer. New Combinations (New Comb) oleh KH. Moon. Catatan Khusus : Istilah “Ilmu Hisab Haqiqiy dan Pengelompokannya “ menjadi tiga macam kategori tersebut muncul pertama sekali pada acara Seminar Sehari Hisab & Rukyat Departemen Agama RI pada tanggal 27 April 1992 M. Saryani (pengasuh Pondok Pesantren Jepara) dan Drs. dengan lokasi markaz observasinya kota Greenwich-London. lintang : -070 15‟ LS. 09. Ittifaq Dzatil Bain oleh KH. di Tugu Bogor (Jawa Barat). 1982 M. Diterbitkan setiap tahun oleh Her Majesty‟s Nautical Almanac Office. GPS. Theodolit. Kelompok aliran Hisab Haqiqiy Kontemporer menggunakan tabel dan proses lebih panjang serta ilmu ukur segitiga bola. Royal Greenwich Observatory. d. Data pada hisab haqiqiy kontemporer tersebut dicari Page 3 of 10 . Adapun maksudnya untuk menunjukkan bahwa sistim kitab-kitab yang telah ada dan menggunakan kaedah-kaedah ilmu ukur segitiga bola. Hisab Awal Bulan oleh al-Ustdz H. Taufiq SH. Cambridge. Kelompok aliran Hisab Haqiqiy Tahqiqiy menggunakan tabel dan proses perhitungannya lebih panjang. Almanak Nautika oleh Jawatan TNI – AL dinas Hidro-Oseanografi. Adapun lokasi markaz observasinya adalah kota Greenwich-London. Pengelompokan tersebut dikemukakan oleh KH. dengan lokasi markaz observasinya kota Greenwich-London. H. diterbitkan setiap tahun . g. dengan lokasi markaz observasinya kota Surabaya (Jawa Timur. Shadiq ibn. semua data hisab diprogramkan melalui perangkat komputerisasi untuk memperkecil kesalahan dalam perhitungan dan akurasi hasil perhitungan sesuai dengan kenyataannya di markaz observasi. Islamic Calender oleh Dr. Belgia. Jakarta. f.h. dengan lokasi markaz observasinya kota Greenwich-London. pertama kali terbit pada tahun 1993 M. Ephemeris Hisab & Rukyat dihisab oleh Team Ahli Badan Hisab & Rukyat Depaertemen Agama RI Pusat. Dalam perhitungan data-data hisab nya menggunakan rumus-rumus yang sangat rumit disamping menggunakan teori ilmu ukur segitga bola . Astronomical Tables of Sun. Brown.

Sukabumi di Jawa Barat. “Garis Batas Tanggal”. Hisab „Urfiy dan Taqribiy. terdapat beberapa methode atau cara yang diperhitungkan . Rukyah untuk menentukan awal bulan qomariah dilakukan di tempat-tempat yang terbuka. Hisab Haqiqiy Bittahqiqiy.berdasarkan rumus-rumus tertentu yang cukup rumit. b. sebagai berikut : a. Secara Tekhnis. Garis Ijtima‟ ini tidak membujur Utara-Selatan atau Timur-Barat. b. adalah garis batas antara tempat-tempat yang ke-esokan hariya sudah masuk bulan baru qomariah dengan tempat-tempat yang belum masuk. untuk memberikan perkiraan hari-hari terakhir bulan qo-mariah. Dengan kata lain adalah sebagai pengamatan terhadap hilal. Garis Tanggal Hijriah . Dari penelitian yang dilakukan dari berbagai sistim yang ada. Ma‟na Rukyah (=harfiyah). Fathurraufil Manan. garis tanggal Hijriah ini merupakan batas antara tempat-tempat yang di sana hilal mungkin terlihat (=karena berada di atas garis ufuk). Diantaranya adalah terletak di tepi pantai. yakni melihat dengan mata kepala. Garis ini bergeser setiap bulan. “Garis Ketinggian Hilal Nol Derjat”. Di wilayah Indonesia terdapat 30 titik markaz observasi pengamatan rukyah hilal dari Sabang hingga Merauke. yakni sebagai berikut : a. c. dan lain-lain. d. Page 4 of 10 . Sebagaimana matahari terbit dan terbenam di atas permukaan bumi pada sa‟at-sa‟at tertentu. antariksa. Hisab Kontemporer .dan pada kitab al-Khulashatul Wafiyyah. adalah untuk memberikan pencarian jam-jam terakhir di bahagian akhir bulan qomariah. “Melihat”. Parang Tritis di Jawa Barat. sehingga biasanya proses pencariannya menggunakan computer untuk memudahkan perhitungan dan memperoleh hasil data yang ter-akurat. hamper sama dengan hisab haqiqiy bittahqiqiy. al-Qawaidul Falakiyah. 11. dan lain-lain. Tanjung Kodok di Jawa Timur. Contoh : seperti Almanak Ephemeris. maka bulan pun terbit dan terbenam dengan cara yang sama pula. Jean Meeus. utamanya di tepi pantai laut lepas. d. namun miring dan melengkung . ternyata bahwa hasil hisab kontemporer lah mempunyai akurasi yang cukup tinggi. Al-Manak Nautika. garis batas tanggal tersebut ditentukan oleh tempat-tempat yang di sana bulan dan matahari terbenam secara bersamaan. Contoh . adalah untuk memberikan perkiraan menit-menit terakhir pada suatu jam di akhir bulan qomariah. rukyatul hilal. 13. c. dan tempat-tempat yang hilal tidak mungkin terlihat (=karena masih berada di bawah garis ufuk) sa‟at matahari terbenam. seperti yang tercantum dalam kitab al-Khulashatul Wafiyyah (=uraiannya di bahagian tengah kitab tersebut). Contoh : seperti yang tercantum pada halaman kitab Sullamun Nayyirain. dan lain sebagainya yang berhubungan dengan segala fenomena alam semesta. dan lain-lain. Oleh karenanya. Garis yang menghubungkan tempat-tempat tersebut menurut para „Ulama Falak Indonesia (al-Ustadz Saadoe‟ddin Djambek) dinamakan dengan istilah. akan tetapi data-data hisab yang dipakai selalu didasarkan kepada data-data yang terakhir. Hisab Haqiqiy Bittaqribiy(=hisab konvensional). Sistim Penentuan Awal/Akhir Bulan Qomariah . Pelabuhan Ratu. seperti yang tercantum pada halaman pertama dalam kitab Badi‟atul Mitsal. hisab kontemporer inilah yang dijadikan sebagai standard dalam kegiatan navigasi. Pelabuhan Sabang di Aceh Darussalam. 12. Dengan demikian. sedangkan menurut Taqwim Ditbinbapera Departemen Agama RI dinamakan dengan istilah.

Sistim Rukyah Bil Fi‟li inilah yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW. maka disebut tempat tersebut “tempat ketinggian hilal nol derjat”. Semakin jauh tenggang waktu antara ijtima‟ dengan waktu matahari terbenam. kemungkinan praktek observasi rukyah (=actual sighting) diperhitungkan dan diantisipasi.e. permukaan bulan dan matahari. Hisab kriteria imkan rukyah adalah merupakan yang paling mendekati persyaratan yang dituntut oleh fiqh dalam penentuan waktu pelaksanaan ibadah syar‟i. di tempat-tempat sebelah Timur tempat ketinggian hilal nol derjat. Jadi. Selain memperhitungkan wujudnya hilal di atas ufuk mar‟i . dan juga para shahabat beliau. Bila pada sa‟at ijtima‟ tersebut matahari terbenam. hilal belum terbenam karena dilihat dari tempat di permukaan bumi. Sebaliknya. melainkan juga ketinggiannya di atas garis ufuk mar‟i dan posisinys yang cukup jauh dari matahari. maka tanggal satu bulan qomariah tersebut ditetapkan pada malam hari berikutnya (=hari lusanya). matahari terbenam lebih lambat dari pada waktu ijtima‟. maka semakin besar pula kemungkinan terlihat. adalah suatu kondisi ketika bulan dalam peredaranya mengelilingi bumi… berada di antara bumi dan matahari. hilal tidak mungkin dapat dilihat atau dirukyah karena sudah terbenam (=berada di bawah garis ufuk mar‟i). hadirnya hilal di atas ufuk mar‟i disebutkan sebagai “kemungkinan hilal dapat dilihat (=imkan rukyah). sehingga ijtima‟ terjadi sebelum matahari terbenam. di tempat-tempat sebelah Barat tempat ketinggian hilal nol derjat. maka tempat-tempat yang berada di sebelah Timur tempat ketinggian nol derjat akan melihat matahari terbenam lebih dahulu dari pada tempat-tempat ketinggian nol derjat. Arti dasar : perhitungan kemungkinan hilal terlihat. Semakin tinggi hilal berada di atas ufuk mar‟i . Merauke di Irian Barat. Yakni bila pada sa‟at dan setelah matahari terbenam hilal masih berada di atas garis ufuk mar‟i. demikian pula halnya bulan (=hilal) yang berada segaris pada sa‟at ijtima‟. Oleh karena bumi berputar pada sumbunya dari Barat ke Timur. Bila hilal dapat dilihat. Dengan demikian. 16. selain kondisi dan posisi hilal. adalah merupakan usaha untuk melihat hilal dengan mata telanjang pada sa‟at matahari terbenam pada tanggal 29 bulan qomariah. dan kondisi alam maupun kondisi si pengamat mendukung. Waktu ijtima‟ untuk suatu bulan qomariah sama di seluruh dunia. maka ada kemungkinan hilal akan terlihat. bulan (=hilal) berada pada ketinggian nol derjat. 15. perhitungan teoritis dan kesepakatan di atara para ahli falak dan astronomi. hilal masih berada di atas ufuk mar‟i sehingga ada peluang untuk dapat dirukyah. Dalam hisab kriteria imkan rukyah. Rukyah Bil Fi‟li. di tempat-tempat tersebut matahari sudah berada di bawah garis ufuk. selain lebih mudah dilihat karena lebih Page 5 of 10 . maka di tempat tersebut juga bulan tepat sedang terbenam. Pada sa‟at matahari terbenam. Ini berarti bahwa pada sa‟at matahari terbenam. 17. Maka bilangan hari dari bulan yang sedang berjalan digenapkan (=di-istikmalkan) menjadi 30 hari. Kondisi ini terjadi satu kali setiap bulan qomariah. Maka jelaslah bahwa “Ijtima‟” berlaku untuk setiap tempat di permukaan bumi. pada sa‟at matahari terbenam. maka malam itu dank eesokan harinya ditetapkan sebagai tanggal satu bulan qomariah berikutnya. 14. Oleh sebab itu. bulan beredar lebih lambat dari pada matahari. Adapun syaratnya adalah langit harus terlihat cukup cerah tidak berawan. pada sa‟at ijtima‟ terjadi. Maksudnya . ketika matahari terbenam. Makna “Kemungkinan Terlihat” Pada Kriteria Imkan Rukyah. Sebab. dan posisinya paling dekat ke matahari. dalam hisab kriteria imkan rukyah. Jadi. diperhitungkan juga kuat cahayanya (brightnes) dan batas kemampuan mata manusia. Ijtima‟ (Konjungsi. maka semakin tinggi hilal di atas ufuk mar‟i sehingga semakin besar pula peluang terlihat pada sa‟at pelaksanaan rukyah. sedangkan bila hilal tidak berhasil dilihat.Crescent). ahli hisab juga memperhitungkan berbagai faktor lain yang menentukan terlihatnya hilal bukan hanya keberadaannya di atas ufuk mar‟i . Kriteria Imkan Rukyah. Dalam menyusun hipotesanya dipertimbangkan pula data statistic keberhasilan dan kegagalan rukyah.

semakin panjang waktu untuk melakukan pengamatan sebelum hilal tersebut terbenam. Hujan yang lebat akan membatasi pandangan antara 50 Mtr s/d 500 Mtr. b. Namun keduanya tetap tidak memungkinkan rukyah bil fi‟li. Terhadap Ketentuan Keberadaan Adanya Hilal di Atas Ufuk Mar‟i . seperti : kabut mist (kabut tipis) dan hujan. dan menghamburkan cahaya. Hasilnya bias berbeda sedikit ataupun banyak antara satu dengan lainnya tergantung pada cara perhitungan hisabnya. Data yang menunjukkan kapan bulan dan matahari berada dalam kedudukan ijtima‟. hilal sudah lebih tebal sekitar empat kali lebih terang dengan ketinggian yang bias mencapai sekitar 20 derjat. factor hujan menyebabkan ketidak mungkinkan dapat dilakukannya rukyah terhadap hilal yang jaraknya rata-rata 380.000 Km. awan bias menyebabkan ketiga dampat tersebut tergantung pada ketebalan dan bahan asal awan. Dengan demikian. awan tebal dan awan hitam. Hujan yang ringan akan membatasi pandangan antara 3 s/d 10 Km. hilal diperhitungkan telah berada di atas ufuk haqiqiy (=true horizon). Hilal Tanggal Satu. dan hilal sangat tipis (hanya sekitar 1% dari luas bulan purnama) serta hilal tidak terlalu tinggi di atas ufuk mar‟i (sekitar kurang dari 10 derjat). Dengan demikian. Seberapa tinggi hilal berada di atas garis ufuk dan seberapa jauh arah pandangannya dari arah ke matahari tidaklah dipermasalahkan. Catatan : Partikel-partikel tersebut mempunai dampak terhadap pandangan. Sedangkan kabut dapat juga membatasi pandangan hingga jarak sekitar 1 Km. Page 6 of 10 . 21. Makna “Hasil Hisab”. Catatan : Ketika terlihat pertama sekali. mendung . dan batasan ini lebih nyata mendekati keadaan sebenarnya pada sa‟at rukyah. berapa derjat ketinggian (altitude) dan azimuth (=sudut kemiringan arah) bulan ketika matahari terbenam. yakni sebagai berikut : a. serta partikel lainnya (litometeor) seperti : debu dan asap. Hilal yang terlihat pertama sekali setelah menghilang dari langit pada malam sebelumnya. Partikel atau butiran kecil yang menghambat pandangan yang berasal dari pada air (hydrometeor). Hilal dianggap sudah muncul bila pada sa‟at matahari terbenam. Garis singgung pandangan mata dengan permukaan bumi. Ketebalan awan. Hisab Haqiqiy hanya memperhitungkan wujud hilal di atas ufuk pandangan atau ufuk sesungguhnya. b. dalam kondisi berawan. 19. dsb. 22. c.. Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Terhalangnya Pandangan Ke Arah Hilal. Pernyataan kapan sa‟at suatu awal bulan qomariah terjadi. maka ke-esokan harinya dapat dipastikan merupakan awal bulan baru qomariah. kabut tipis tidak menghambat pandangan lebih jauh. Dalam hal ini.jauh ketinggiannya dari pada matahari yang sudah terbenam. 18. Ke-esokan petang harinya. Hilal dianggap sudah wujud ketika ijtima‟ terjadi sebelum matahari terbenam. Hilal dianggap telah muncul bila pada sa‟at ghurub matahari menurut perhitungan berada di garis ufuk mar‟i (=visible/ apparent horizon). kapan bulan terbenam. mengaburkan citra (bayangan) dari benda yang diamati. Adapun dasar anggapannya adalah asalkan hilal ada di atas garis ufuk. Makna “Kesimpulan Hisab”. Ufuk Mar‟i (Ufuk Pandangan). Terdapat 3 macam kategori criteria. bahwa hisab kriteria haqiqiy masih kurang realistis. 23. mengurangi cahaya. Menurut teoritis dan aplikasi di lapangan sebagai berikut : a. hilal sangat redup (=kuat cahayanya adalah 1% dari kuat cahaya purnama). Ketentuan kepastian wujudnya hilal tanggal satu qomariah dengan tanggal lainnya adalah berdasarkan hasil perhitungan hisab. 20.

matahari dan bintang-bintang begitu pula masa terbenamnya. Sehingga hal ini menimbulkan perbedaan pendapat di antara mereka tentang kriteria beda mathla‟ antara dua tempat tersebut menjadi tiga macam versi. Menurut Ibn Hajar al-Haitamiy mengutip pendapat dari Ardubili bahwa berbeda mathla‟ itu ialah jauh antara dua tempat yang apabila nampak hilal di suatu tempat biasanya tidak tampak pada tempat yang lain. Dalam hal ini para „Ulama Falak dan astronom berbeda pendapat tentang ketentuan patokan ketinggian minimum hilal supaya dapat terlihat. Menurut Abdullah as-Syarqawiy mantan Rektor al-Azhar. yang disusun berdasarkan kesepakatan Istambul pada Konferensi Almanak Islam pada tahun 1978 M. d. 26. Jika Bujur geografisnya sama. Imam al-Ghazali. Singapure) menetapkan bahwa ketinggian minimum hilal di atas ufuk mar‟i adalah 2 derjat. hanya menyebutkan contohnya saja tidak memberikan suatu qoedah yang pasti sehingga dapat diketahui berbedanya mathla‟ antara tempat rukyah dengan tempat yang lain. maka antara keduanya berbeda mathla‟. penanggalan qomariah ini hanya berlaku di tempat-tempat yang berdekatan sejauh jarak yang dikatakan satu mathla‟. Berbeda Mathla‟ Hilal. al-Baghawy. Dimana 1 farsakh setara dengan 5.544 Km. Indonesia. Musafah Qoshar. tinggi hilal minimal 5.).    24. Dalam hal ini para Fuqoha yang berpendapat bahwa ukuran jauh jarak tersebut berbeda mathla‟. AlBujairamiy juga mengutip pendapat al-Qalyubiy dengan tambahan “persis sama” ( ). Sedangkan menurut as-Syarwaniy mengutip pendapat dari al-Kurdy bahwa berbeda antara dua tempat pada masa terbit fajar. Imam al-Haramain. menurut Imam Hanafi dan Maliki penanggalan qomariah harus sama di dalam satu wilayah hokum suatu negara. yakni : 1. mesti sama pula pada masa rukyah hilal walaupun nilai lintang geografisnya sangat besar perbedaannya. tinggi hilal 5. Prinsif ini adalah salah satu dari tiga macam kategori konsepsi fiqh Islam. kriterianya adalah bahwa jarak busur minimal 10. Page 7 of 10 .0 derjat. Menurut Danjon (berdasarkan kajian ilmiah astronomi) kriterianya adalah bahwa jarak busur antara bulan dan matahari pada sa‟at matahari terbenam minimum 7 derjat. Inilah prinsif mathla‟ dalam mazhab Syafi‟iy.056 Km.056 Km.) dari arah mana sajapun. dan Imam Nawawiy dalam kitabnya Syarh Muslim. sebagai berikut : Khusus untuk wilayah Indonesia dan juga Mabims (=Malaysia. maka antara kedua tempat tersebut bersamaan mathla‟ dan bila lebih dari pada 24 farsakh. Cairo-Mesir menjelaskan bahwa para Fuqoha umumnya berpendapat bila jauh antara dua tempat tersebut tidak sampai 24 farsakh (= 133.704 Km. maka seluruh ummat Islam di Indonesia melaksanakan ibadah puasa dan berhari raya secara serentak.membicarakan juga tentang beda mathla‟ dalam rangka menjelaskan ukuran jarak antara dua tempat sehubungan dengan pengaruh rukyah. Menurut Ilyas. 25.5 derjat. Menurut Imam Hambali. yakni jarak dua tempat tersebut adalah 16 farsakh atau sama dengan 88. Mathla‟ Hilal. Meskipun wilayah Indonesia dilewati oleh garis penanggalan Islam Internasionalyang secara tekhnis berarti bahwa wilayah Indonesia terbagi atas dua bahagian yang mempunyai tanggal hijrah berbeda. hal ini didasarkan kepada dalil Phytagoras : ( jarak busur )2 = (tinggi hilal)2 + (beda azimuth matahari dan bulan)2 Hilal berpeluang terlihat dengan mata telanjang dengan kemungkinan 50 : 50 . yakni jarak busur minimal 8. b. kesamaan tanggal qomariah ini harus berlaku di seluruh dunia di bahagian mana malam dan siang yang sama.0 derjat. Sedangkan menurut Imam Syafi‟iy. Hampir semua kitab fiqh yang membicarakan tentang ibadah puasa. Wilayatul Hukmi.0 derjat. yakni bahwa hilal terlihat di manapun dalam wilayah wawasan nusantara. Brunai Darussalam. Ini adalah merupakan pendapat Imam al-Faraniy. al-Rafi‟iy. Ketinggian Minimum Hilal. maka telah dianggap berlaku di seluruh wilayah Indonesia. Indonesia menganut prinsif wilayatul hukmi. Adapun ukuran jarak antara dua tempat tersebut adalah sebagai berikut : a. Hal ini disebabkan karena berbeda pada lintang dan bujur geografisnya. 2. Sedangkan Muhammad ar-Ramliy mengutip penapat dari al-Tibrizy berpendapat bahwa tidak mungkin berbeda mathla‟ bila jauh antara dua tempat tidak sampai mencapai ukuran 24 farsakh ( 133.

29. seperti : al-Bujairamy dan Abu Makhramah tentang mathla‟ hilal adalah bila selisih bujur geografis antara dua tempat lebih besar dari 8 derjat (= 00j 32m 000 ) maka antara keduanya berbeda mathla‟. Page 8 of 10 . 27. Bujur Matahari (Longitude of Sun). dingin. Lingkaran ini berpotongan dengan equator di titik Aries atau Vernalekuinox dan Libra atau Autummalekuinox dan membentuk sudut sebesar 23. Penyimpangan kedudukan sumbu bumi terdapat bidang datar sebesar 23. ialah jarak busur pada lingkaran vertical yang melalui benda langit di atas horizon.semi.50 dan membentuk bidang ekliptika akibat dari pada inklinasi tersebut terjadi empat macam musim di permukaan bumi (=musim panas. 32. Tinggi Suatu Benda Langit. Pendapat Sayyid Utsman al-A‟lawiy menjelaskan bahwa yang menjadi pegangan „Ulama Mutaakhkhirin. Titik Semi juga beredar di bola langit karena rotasi bumi. Zubeir Umar al-Jailany dan Sayyid Muhammad as-Syaliy. 31.50 dengan equator. 28. Garis khayal yang kurang lebih mengikuti bujur 1800 dan dijadikan tempat pergantian tanggal. Para „Ulama yang mengutip pendapat ini diantaranya adalah Sayyid Abdurrah man Ba‟lawiy. ialah besar busur dari sudut khatulistiwa langit terhadap bahagian Utara dan bahagian Selatan bumi. dan letaknya terhadap bintang-bintang dapat dikatakan tetap.3. dan gugur) di daerah yang beriklim sedang. 30. ialah besar sudut busur antara lingkaran matahari dari Vernalequinox diukur kea rah Timur sepanjang garis ekliptika. Lingkaran perjalanan gerak semu matahari sepanjang tahun di bola langit. Garis Tanggal Internasional/Date Line International. Lingkaran Ekliptika. dalam praktiknya garis tersebut melintasi Selat Bering membelok kea rah Barat Daya sampai ke Pulau Attu lalu membelok kea rah Tenggara menyusuri bujur 1800 sampai ke Kepulauan Allice lalu membelok lagi ke arah Tenggara sampai ke Kepulauan Sanva. kemudian menyusuri 1740 Bujur Barat terus sampai kea rah Selatan. Deklinasi Matahari (Declination of Sun). Titik Aries ini juga disebut dengan istilah “titik semi” di mana matahari mulai memasuki bola langit di bahagian Utara dalam pergerakan tahunannya. Muhammad Arsyad al-Banjariy. Inklinasi.

Yang kedua. Langit Mekkah dan Jeddah. Rasi bintang Orion awalnya dikenal dengan AlJabbar. Mekkah. yang jauh di tenggara Asia. dan kondisi langit atau ufuk saat rukyah hilal. sebagai bangsa dan peradaban tua. Canis Minor (Al-Kalb Al-Asghar). Leo (Al-Asad). Ke Tanah Haram. sastrawan Arab banyak menyanjung langit di malam hari. atau di 22 tahun akan datang (tahun 2034) mendatang. memang perbedaan 1 Syawal dan 1 Ramadan hanya soal cara sistem penghitungan belaka. Ada pun yang memakai sistem Hisab berpendapat mereka melihat bulan dengan memakai ilmu kalendering. dalam hal ini Kemenag dan Ormas Nahdlatul Ulama (NU). atau Yaman dalam memutuskan 1 Ramadan. dengan rukyah. hampir 3 dekade di masa pemerintah Soeharto begitu kuat perbedaan "cara" itu nyaris tak pernah ada. Itu karena pemerintah kuat. Tandus dan kering. 1 Ramadan 1455." Tak mengherankan jika khasanah intelektual dunia soal astronomi banyak lahir di tanah Arab. Page 9 of 10 . Gugusan bintang-bintang banyak lahir dari istilah Arab awal. jika bulan terlihat.com – 14 jam yang lalu Laporan Wartawan Tribun Timur. Seperti China. selalu merujuk ke Arab. pun senantiasa berkiblat pada penentuan 1 Ramadan atau Syawal di Mekkah. itulah saat mulai berpuasa atau berbuka puasa (Idulfitri). Bahkan Malaysia dan Jepang. Thamzil Thahir SEMENANJUNG Arab adalah bentang daratan beralam kejam di siang hari. Dengan rujukan ini. selalu lebih terang. Syira. atau disesuaikan dengan kalender masehi. di Indonesia. selalu indah. Gemini (At-Tawa'man). Inilah yang selama ini jadi rujukan ormas Muhammadiyah. Namun di malam hari. Malam adalah inspirasi keindahan. melalui pertemuan antara pemeritah dan ormasormas Islam. Ingatkah kita. Dan. Scorpius (Al-'Aqrab). Langit Arab di malam hari. Arab adalah "surga" bagi para astronom. Sementara Indonesia umumnya menentukan sendiri. Inilah yang menjelaskan. dan masih punya otoritas dan kepercayaan. Dalam perhitungan 1 Ramadan dan 1 Syawal. Rasi bintang di malam hari selalu terlihat lebih jelas. seperti Mesir. sedangkan siang diibaratkan "kekerasan.Ini Uraian Mengapa Penetapan 1 Ramadan Selalu Berbeda TRIBUNnews. sudah bisa diketahui. kenapa di banyak negara-negara Islam di Semenanjung Arab. Inilah yang dipakai oleh pemerintah Indonesia. dan beberapa lainnya. Canis Major (Al-Kalb Al-Akbar). ada pula yang memakai Ru'yah atau melihat bulan/hilal. Taurus (Ath-Thawr). ada yang memakai Hisab dengan perhitungan astronomi yang rumit.

atau banyak partikel cahaya dari bumi. Page 10 of 10 . Ini lebih disebabkan karena memang langit lagi berawan. maka itulah awal Ramadan atau awal Syawal. Ketentuan Imkan rukyat menggunakan kriteria yang disepakati ketinggian bulan minimal 2 derajat. Maka pengguna rukyat kemungkinan besar menetapkan 1 Ramadan jatuh pada 21 Juli. maka pengguna hisab wujudul hilal akan menetapkan awal Ramadan jatuh pada 20 Juli. Jawa yang merupakan pulau terpadat di dunia begitu terang oleh cahaya lampu-lampu gedung dan rumah-rumah sehingga langit juga terlihat lebih terang termasuk di Boscha. Sementara itu. Selain itu. Dari perjalanan bulan. banyak daerah tak bertuan yang tidak berlampu. Nah. Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin mengungkapkan setelah mengamati posisi bulan menyimpulkan jika nantinya akan ada potensi perbedaan dalam penetapan 1 Ramadan. Oleh karena itu. sementara bintang-bintang dan bulan jadi tampak lebih besar (sekitar 4-6x lipat daripada di Indonesia) dan lebih terang. Sehingga langit begitu hitam kelam.4 juta km2) sementara jumlah penduduk cuma 1/5 pulau Jawa. tiap penduduk melihat bulan sendiri-sendiri. Rujukan yang terakhir ini biasanya http://moonsighting. Itulah. Ada pun yang memakai Ru'yah Global begitu ada minimal 2 orang saksi yang dipercaya melihat bulan. Pengguna rukyat ini di antaranya adalah pemerintah dan NU (Nahdlatul Ulama).Pada Ru'yah lokal. Galap gulita. Langit tidak berawan. posisi hilal yang rendah tadi (antara 0-2 derajat) tidak mungkin akan berhasil di-rukyat pada 19 Juli. Deputi Bidang Sains. sehingga tiap kota atau tiap negara merayakan hari Idulfitri sendiri-sendiri bisa berbeda satu negara dengan negara yang lain bahkan satu kota dengan kota yang lain. Akibatnya sinar-sinar bintang dan bulan terganggu dan terlihat kecil dan redup. Sedangkan ormas yang menggunakan hisab imkan rukyat akan menetapkan 1 Ramadan pada 21 Juli. Inilah yang menyebabkan bulan muda sering tertutup awan. Akan tetapi ketinggiannya kurang dari imkan rukyat. Di Arab sebaliknya. Hilal lebih mudah terlihat di sana. kenapa langit dan rasi bintang di Arab pada malam hari selalu lebih indah. karena pada 19 Juli 2012 bulan sudah wujud tetapi kurang dari 2 derajat.com/ Umumnya Tim Ru'yah di Indonesia gagal melihat hilal (bulan muda) bukan karena mereka "bodoh" atau minimnya peralatan. diketahui bahwa pada maghrib akhir Sya'ban atau 19 Juli 2012 nanti bulan telah wujud atau tampak di Indonesia. Dengan luas darat yang lebih besar daripada Indonesia (2. Pengguna hisab wujudul hilal ini di antaranya adalah Muhammadiyah.