P. 1
Cerpen asli

Cerpen asli

|Views: 96|Likes:
Published by Rio Febrian

More info:

Published by: Rio Febrian on Aug 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/05/2012

pdf

text

original

Warisan Silat Ayah- Bagian 1 Aku dan Ayah Cuaca hari ini begitu cerah.

Hamparan rumput yang tertata rapi. Luas, menghampar, terang, seolah mampu membelokkan cahaya matahari. Hijau, tak beralasan. Suara aliran sungai airnya begitu jernih terdengar dari kejauhan. Jernih, bening, mendamaikan. Hijau daun dan semilir angin melengkapi semua itu. Sebuah pertunjukan keindahan alam yang tiada duanya. Sangat sayang untuk dilewatkan oleh mata. Tampak dua orang sedang duduk bersila sambil memejamkan mata. Kedua tangan menjuntai santai dengan punggung tangan bersentuhan diatas lutut, telapak tangan menghadap ke langit. Semuanya bertelanjang dada. Hanya mengenakkan celana panjang hitam khas petani. Yang satu tampak masih begitu muda, sekitar 10 tahunan. Ditemani oleh seorang lelaki paruh baya, berusia sekitar 30 tahunan.

berlalu. Pori-pori kulit keduanya terlihat semakin mengembang, bertambah lebar. Perlahan namun pasti pori-pori sang lakilaki paruh baya ini kembali normal seiring dengan mata yang mulai terbuka perlahan. Sedangkan anak muda di sebelahnya masih tetap terpejam rapat. "Ayah, sudah selesaikah latihannya?", tanya anak yang masih sangat muda ini kepada laki-laki paruh baya disebelahnya yang dipanggil dengan sebutan 'Ayah'. Ia memberanikan bertanya meski matanya masih terpejam. "Iya nak. Sudah. Hasil latihanmu tampaknya lebih baik sekarang. Bahkan gerakan kelopak mata ayahpun sudah bisa kamu rasakan.", jawab laki-laki paruh baya yang dipanggil dengan sebutan 'Ayah' ini sambil tersenyum. Mendengar jawaban dari sang ayah, sang anak pun membuka matanya perlahan. "Bagaimana perasaanmu kali ini?", tanya sang ayah. "Segar sekali yah. Rasanya setiap

Mata keduanya terpejam dengan sangat rapat. Hampir tanpa celah. Hembusan dan tarikan nafas terlihat begitu teratur pada keduanya. Lembut, terukur, mengalir, terkendali. Cahaya matahari yang menyentuh tubuhnya seperti iri karena seolah tidak diperhatikan. Sungai tampak cemburu karena kilaunya seolah tidak diperhatikan. 5 menit, 10 menit, 15 menit, 20 menit, 25 menit, 30 menit

hembusan angin, gerakan dedaunan, ranting, dan bahkan aliran sungai seolah terdengar begitu jelas", jawab sang anak. "Benar nak. Lima tahun sudah kamu melatih ini, seharusnya kamu sudah bisa merasakan itu semua. Ketahuilah, yang disebut dengan mendengar tidak hanya dengan telinga. Yang disebut melihat juga tidak hanya dengan mata. Hati yang 1.

lebih penting. Lihatlah sekelilingmu dengan hatimu. Maka semua akan tampak lebih jelas dan indah. Kamu akan bisa melihat dan mendengar yang sebelumnya tidak bisa kamu lihat dan dengar.", jelas sang ayah. "Sungai. Rumput. Tanah. Pohon. Daun. "Iya yah. Terima kasih yah", jawab sang anak. "Ya sudah, sekarang kita akhiri dengan berdoa kepada Sang Pencipta, Allah SWT, Tuhan Sekalian Alam, Sang Penguasa Sejati Alam Raya, Sang Pemilik Sejati Diri ini. Jangan lupakan, bahwa setiap aktivitasmu harus diawali dan diakhiri dengan berdoa. Ingat selalu itu.", lanjut sang ayah. "Baik yah. Aa akan selalu mengingat pesan ayah.", jawab sang anak yang menyebut dirinya dengan sebutan 'Aa'. "Mari kita berdoa. Kita syukuri setiap apa yang kita dapatkan. Besar maupun kecil, banyak maupun sedikit. Syukuri setiap tarikan dan hembusan nafas yang keluar masuk pada tubuh ini. Mari nak.", lanjut sang ayah. Keduanya memejamkan mata kembali sambil merapatkan kedua tangan di depan dada. Suasana menjadi hening kembali. Raut wajah keduanya kembali tenang, lembut, serius, lepas, dan khusyuk. Kira-kira sepeminuman teh, keduanya membuka mata bersamaan dengan diturunkannya kembali posisi tangan di atas paha. Rileks, santai. "Mata hanyalah jendela hati. Meski kamu 2. "Maksudnya yah?", tanya sang anak. "Benar. Dan itulah batas pandangan matamu nak. Itulah yang maksimal yang bisa kau lihat. Mata adalah jendela dunia. Dengannya kamu bisa melihat indahnya dunia. Dengannya kamu bisa melihat semaraknya alam raya. Tapi mata itu ruang yang kecil nak. Ia hanya bisa melihat yang bisa dikenali oleh bentuk dan warna. Ia hanya jendela. Mata hanyalah jendela hati.", lanjut sang ayah. " tidak bisa yah. Mata Aku tidak bisa melihat seperti itu", jawab sang anak. "Bisakah kamu melihat apa yang ada dibalik daun? Bisakah kamu melihat apa yang ada dibawah akar? Bisakah kamu melihat apa yang ada dibalik ranting? Bisakah kamu melihat apa yang ada dibawah sungai? Apa yang ada di dalam cahaya matahari?", tanya sang ayah sambil tersenyum. Ranting. Batu. Air. Awan. Hijau, coklat, biru, putih, orange, abu-abu yah.", jawab sang anak sambil pandangannya menyapu ke sekeliling. "Lihatlah kesekelilingmu nak, apa yang kamu lihat?", tanya sang ayah mengawali. Sang ayah tersenyum.

bisa melihat segalanya, tapi kamu tetap tidak akan bisa melihat segalanya. Mungkin pada awalnya akan terdengar membingungkan ucapan ayah ini. Kalau kamu ingin melihat segalanya, maka jangan gunakan jendela itu. Biarkanlah hatimu yang melihat. Maka hatimu adalah duniamu. Lihatlah dunia ini dengan hatimu, tidak dengan matamu. Sebab suatu saat matamu bisa menipumu. Tapi hati tidak.", jawab sang ayah. "Iya yah", ujar sang anak. "Sesungguhnya bukan mata ini yang tidak bisa melihat, bukan telinga ini yang tidak bisa mendengar, tapi hati yang di dalam dada ini yang tidak bisa melihat dan mendengar. Karena itu, bukalah hatimu, lihatlah dengan hatimu, latihlah hatimu. Dan biarkan ia menjadi duniamu", lanjut sang ayah. "Aku masih belum paham yah", tanya sang ayah. "Tidak apa-apa. Ingat-ingat saja pesan ayah ini. Suatu hari nanti kamu akan mengerti. Kita sudahi latihan pagi ini. Ayo kita sarapan dulu", tutup sang ayah. Wajah sang anak tersenyum. Ia tahu, meski ia belum mengerti maksud ucapan sang ayah, tapi ia percaya pada ayahnya. Keduanya kemudian berdiri. Menepuknepuk celana untuk membersihkan rumput yang menempel dan kemudian berjalan perlahan menuju sebuah rumah

gubuk sederhana yang berada tidak jauh dari situ. Sang ayah berjalan di depan, sedangkan Aa sedikit agak dibelakang. Rumah gubuk itu begitu sederhana. Tak ada jendela. Hanya sebagai tempat bernaung saat teriknya matahari dan melindungi dari derasnya air hujan. Dibuat seadanya namun tampak kokoh. Hanya ada sebuah jalan masuk tanpa pintu. Di tengahnya terlihat ada sebuah bungkusan besar hitam yang tampaknya sudah dipersiapkan. Tidak berapa lama keduanya sampai di rumah gubuk tersebut. Sang anak, yang dipanggil Aa, mengambil posisi duduk didekat pintu. Sang ayah, duduk agak ke tengah. Ia membuka bungkusan hitam besar. Mengeluarkan isinya, dan meletakkannya di tengah.

Belajar memahami hidup dalam kehidupan... Warisan Silat Ayah –Bagian ke 2 Di Dalam Gubuk

Di tengah rumah gubuk itu sudah terlihat ada dua nasi bungkus, dua buah kerupuk, dan dua botol air minum. Sang ayah memberikan sebuah nasi bungkus kepada Aa. Diterima dengan suka cita. "Terima kasih ayah", sesaat setelah menerima nasi bungkus pemberian sang ayah. "Iya, sama-sama", jawab sang ayah. 3.

menyalurkannya pada telapak tangan Ketika Aa ingin membuka nasi bungkus tersebut, tiba-tiba tangan sang ayah memberikan simbol untuk melarang. Aa bingung dengan wajah tidak mengerti. "Tunggu sebentar. Ayah ingin lihat sejauh mana latihanmu. Coba kamu pejamkan matamu, lalu katakan pada ayah apa yang ada di dalam nasi bungkusmu itu. Kalau tepat, kamu boleh memakannya semua. Kalau salah, lauknya untuk ayah saja.", tanya sang ayah sambil tersenyum. "Rendang. Timun. Cabe hijau. Telur Aa mengangguk. Ia mengerti maksudnya dan mengikuti permintaan sang ayah. Bungkusan itu ia letakkan kembali di tengah. Lalu ia memejamkan mata sambil berdoa kepada Sang Pencipta agar diberi kemudahan dalam melakukan ini. Raut wajahnya terlihat tenang tapi serius. Perlahan, ia berkonsentrasi pada rasa diseluruh tubuhnya. Pori-pori kulitnya mulai melebar. Ia melihat warna hitam dalam pandangan mata terpejamnya. Ia kemudian mencoba menajamkan rasa untuk mencoba membuka selubung penghalang rasa seperti yang pernah diajarkan oleh ayahnya. Perlahan namun pasti, corak putih lembut mulai terlihat. Guratan abstrak mulai terlihat. Gambaran seperti siaran televisi rusak dengan garis-garis warna hitam dan putih dan kombinasi warna diantara hitam dan putih itu. Pusarnya mulai menghangat. Ia naikkan rasa hangat tersebut ke dada, lalu mengalirkan ke jantung, dan "Bagus. Hasil latihanmu sudah bertambah baik. Cukup. Buka matanya.", ujar sang ayah sambil tersenyum. Ia tampak sangat puas melihat perkembangan hasil latihan Aa. 4. "Di dalam nasi putihnya ada Paru goreng ya yah", jawab Aa. Aa terdiam. Wajahnya terlihat semakin serius. Ia memompa kembali rasa hangat dari pusarnya ke dada, lalu mengalirkan kembali ke telapak tangannya sembari meneruskan ke leher, kepala dan ubunubun, lalu memancar. Ia konsentrasikan semuanya pada rasa. Ia percayakan pada aliran rasa dan guratan yang terlihat dalam pandangan mata terpejamnya. Ia tersenyum kembali. "Ada lagi?", tanya sang ayah. dadar. Nasi putih.", jawab Aa dengan mantap. kanannya untuk kemudian dipancarkan. Bersamaan dengan itu ia juga mengalirkan rasa hangat ini terus ke atas, ke leher, melewati tenggorokan, lalu ke kepala dan ke ubun-ubun. Mengalir, menembus, memancar. Ia buka telapak tangan kanannya, kemudian rasa itu ia pancarkan pada nasi bungkus di depannya. Corak yang terlihat saat terpejam makin jelas. Hitam putih mulai terbayang dan berbayang. Ia kemudian tersenyum.

Aa kemudian membuka kembali matanya setelah terlebih dahulu mengembalikan keadaan ke kondisi normal. Menarik kembali hawa hangat ke bawah pusar. Lalu menguncinya disitu. Guratan abstrak juga ia normalkan kembali. Tak lupa ia berdoa kembali kepada Sang Pencipta atas semua usahanya itu. Bersyukur atas keberhasilannya. Ia tersenyum lebar, karena itu berarti lauknya bisa ia nikmati semuanya. "Ayo Aa dibuka nasi bungkusnya. Ini ayah kasih bonus kerupuk buat Aa. Hehehe. Jangan lupa, sebelum makan, mari kita berdoa terlebih dahulu agar makanan ini membawa berkah bagi kita semua.", lanjut sang ayah. "Iya yah", jawab Aa. Keduanya kemudian membuka nasi bungkus masing-masing. Tak lupa sang ayah memberikan sebuah kerupuk pada Aa sebagai bonus keberhasilannya. Keduanya lalu memejamkan mata, berdoa kepada Tuhan Sang Pemberi Rezeki dan Sang Pemberi Nikmat atas apa yang terhidang di depan. Sesaat kemudian doa pun selesai. Keduanya kembali membuka mata. Aa membuka nasi bungkusnya. Tepatlah seperti yang tadi diucapkan. Sepotong rendang, timun, sambal cabe hijau, dan telur dadar. Aa kemudian membongkar nasi putih, dan benarlah ada sepotong paru goreng tersembunyi di dalamnya.

"Ayah sempet aja masukin paru goreng ke dalam nasi putih", goda Aa. "Hehehe, ayah sengaja melakukan ini untuk menguji sejauh mana hasil latihanmu. Pada tahapan ini, memang seharusnya tidak ada masalah untuk melihat adanya paru goreng yang ayah sembunyikan di dalam nasi putih ini. Perkembangan hasil latihanmu sudah cukup baik. Ya sudah, ngobrolnya nanti saja. Kita makan saja dulu. Setelah itu istirahat dan lanjut kembali latihannya.", jawab sang ayah. "Baiklah yah", lanjut Aa. "Dulu, Aa pernah bertanya khan mengapa semua itu bisa terjadi? Nanti setelah makan, ayah akan jelaskan mengapa itu bisa terjadi.", tutup sang ayah. "Iya yah", angguk Aa mantap.

Warisan Silat Ayah- Bagian 3 Memaknai Aliran

Angin berhembus agak kencang, matahari sudah naik sepenggalah, cahayanya sudah mulai terasa lebih 5.

panas bagi alam sekitar. Panas, tapi tidak membakar. Sebagian dari sinarnya mencoba menyeruak masuk melalui celah-celah atap rumbia di rumah gubuk. Sebagian lagi mengenai langsung pipi lelaki separuh baya yang dipanggil 'Ayah' yang sedang duduk di dalamnya. Hangat, lembut. Bulir-bulir keringat dari tubuh keduanya terlihat bercahaya oleh siraman cahaya yang masuk. Tampak Aa sedang merapihkan tempat makan. Mengambil nasi bungkus yang sudah habis, lalu memasukkannya kembali ke dalam kantong plastik hitam besar. Tangannya terlihat cekatan untuk usia anak sepuluh tahunan. Tidak berapa lama, sisa-sisa makanan dan bungkusan sudah dibersihkan. "Aa, sebelum kita lanjutkan latihan, kita sholat Dhuha dulu", ucap sang ayah mengawali pembicaraan. "Iya yah", jawab Aa. Sang ayah menggeser duduknya, kemudian mengambil tas besar di samping kanannya, lalu mengeluarkan dua potong baju. Sang ayah mengambil satu yang berwarna putih, bercorak batik dengan motif awan, dan mengambil satu lagi yang berwana coklat dengan jenis baju lengan panjang bercorak abstrak untuk diberikan pada Aa. Tidak berapa lama, keduanya sudah mengenakan baju dan berdiri perlahan. Ayah sedikit merapihkan bajunya yang terlipat di bagian bawah. Sedangkan Aa terlihat sedang merapihkan lengan bajunya yang

tergulung. Mereka kemudian keluar dari rumah gubuk, mengenakan sandal yang ada di depan jalan masuk, tanpa pintu, kemudian berjalan memutar, menuju air pancoran yang ada di belakang gubuk yang berjarak kurang lebih dua puluhan langkah. Terdengar suara gemericik air pancoran yang jatuh. Cukup deras sehingga suaranya terasa begitu keras dan jelas. Pancoran itu terbuat dari bambu yang tengahnya telah dilubangi. Dibelakang salah satu ujungnya ada tempat penampungan air alami berupa cerukan tanah selebar kira-kira dua meter dengan dalam kira-kira setengah meter. Ujung bambu masuk ke tengah genangan air, sedangkan ujung satunya lagi menjadi pancoran air dibawahnya. Untuk mencapai tempat penampungan air diatas bambu, harus melewati anak tangga batu alami yang sudah disusun sedemikian rupa. Tingginya sekitar dua meter. Agak licin karena mulai ditumbuhi lumut. Terlihat ada beberapa akar-akar mengambang diatas genangan air pada cerukan. Sebagian genangan diam, sebagian lagi berputar-putar. Kanan kirinya pohon cukup rimbun, dengan daun-daun yang menghijau. Sebagian ranting dan dedaunan yang telah tua telah jatuh. Sang ayah terlihat memandang ke atas, lalu pandangannya tertuju pada tumpukan akar yang mengapung di atas 6.

air. "Aa, naik ke atas dulu. Ada yang ingin ayah tunjukkan", tanya sang ayah. "Iya", Aa mengangguk. Sang ayah kemudian menaiki anak tangga batu alami satu persatu hingga mencapai puncak anak tangga. Lalu berjalan mendekati cerukan tanah tempat penampuangan air. Di belakangnya terlihat Aa mengikuti. Sang ayah berdiri disamping cerukan tanah. Aa ikut berdiri juga disampingnya. Sang ayah menengok ke sekeliling. Matanya seperti sedang mencari sesuatu. Ia tersenyum. Pandangannya kemudian terhenti pada sepotong ranting kecil yang berada di sebelah kiri sebatang pohon besar yang tak jauh dari cerukan sungai tersebut. Ia berjalan mendekat, membungkuk, dan mengambil sepotong ranting kering. Lalu berjalan kembali ke posisinya semula. Sambil memandang aliran air dan akarakar yang mengambang di atasnya, ia tersenyum kembali. "Aa, bagaimana menurut Aa aliran airnya?", tanya sang ayah. "Lancar sekali yah.", jawab Aa sambil tersenyum. "Bagaimana kalau sekarang?", tanya sang ayah. Sang ayah kemudian membungkuk, lalu tangannya menggerakkan ranting pada

beberapa tumpukan akar yang mengambang di atas permukaan air. Memutarnya perlahan sehingga tumpukan akar itu jadi semakin banyak. Lalu perlahan menggiringnya pada lubang bambu tempat air mengalir sehingga sebagian besar menutupi lubang. "Kalau gitu sih aliran airnya pasti terhambat yah. Bahkan bisa macet sama sekali.", jawab Aa. Sang ayah kembali berdiri. "Benar nak. Dan seperti itulah juga tenagamu. Kalau lancar, maka aliran tenaga akan lancar juga. Kalau terhambat, maka aliran tenaga juga akan terganggu.", lanjut sang ayah. "Apa yang bisa bikin terhambat yah?", tanya Aa. "Begini, ada hal-hal yang masih menjadi hijab atau penghalang untuk masuk ke tahap selanjutnya. Masih ingat ketika dulu ayah ajarkan bagaimana cara menguatkan konsentrasi pada Aa?", ujar sang ayah sambil tersenyum dan menoleh. "Iya yah, Aa masih ingat", jawab Aa sambil mengangguk. Aa kemudian terdiam. Ingatannya seperti dibawa kembali pada kira-kira dua tahunan yang lalu. Ayahnya mengajak untuk menonton pertandingan silat di Bandung. Ia berangkat berdua 7.

saja naik bis dari depan jalan rumahnya pagi-pagi jam setengah enam. Sejak umur lima tahun ia sudah diajarkan gerakan silat dari ayahnya. Ia mulai suka karena sering melihat ayahnya melakukannya di waktu pagi, atau siang, atau malam sebelum tidur. Terkadang, tanpa disadari ia suka menirunya. Lama kelamaan jadi hafal sendiri. Saat ayahnya kemudian mengajarkannya, ia jadi lebih paham. Gerakan silat yang diajarkan ayahnya cukup sederhana, mudah ditiru dan dihafalkan. Ayahnya dulu menjelaskan bahwa gerakan harus diikuti dengan teknik nafas. Harus seiring sejalan, bersamaan, harus paralel. Di dalam bis inilah pertama kalinya ayah mengajarkan bagaimana cara berkonsentrasi dan mengumpulkan tenaga di bawah pusar melalui olah nafas. Yang dilakukannya dulu hanya duduk diam, badan rileks, pikiran rileks. Konsentrasi hanya pada aliran nafas dan rasa tubuh yang masuk dan keluar ke tubuh ini. Polanya buang-tahan-tariktahan, dengan interval yang sama. Saat buang dengan interval tertentu, saat tahan dengan interval tertentu, saat tarik dengan interval tertentu, dan saat tahan dengan interval tertentu pula. Interval ini harus sama untuk semuanya. Ritmenya harus sama. Pada awalnya cukup sulit ia lakukan. Maklum, sebagai anak berusia delapan tahunan ia belum punya pikiran untuk bertanya ini itu. Dilakukan saja instruksi ayahnya apa adanya. Meski cukup sulit pada awalnya, tapi lama kelamaan ia mulai terbiasa dan mulai bisa merasakan sedikit demi

sedikit. Perlahan ia merasakan pusarnya menghangat. Tubuhnya ringan. Segar. Pikirannya terasa lebih terang dan lebih baik. Telinganya juga menjadi lebih peka. Suara di sekitar menjadi semakin jelas terdengar, semakin besar, seolah sangat dekat. Hampir empat jam perjalanan ke Bandung setengahnya diisi dengan latihan seperti ini. Rasa dingin dari AC di dalam bis sudah tidak begitu terasa lagi. Ia merasakan sensasi yang sangat hangat pada pusarnya. Pertama kali dalam hidupnya ia merasakan hal baru yang menarik seperti ini. Di sampingnya, ayahnya pun melakukan hal yang sama. Perjalanan saat itu diwarnai dengan aksi diam. Semuanya asyik dengan latihan masing-masing. Bis yang berbelok kanan dan kiri tidak dihiraukan. Semua larut dan tenggelam pada latihannya. Hingga tanpa terasa bis sudah mencapai terminal. Kami hentikan latihan setelah terdengar teriakan kondektur yang dengan lantang menyebutkan nama terminal yang terkenal di kota Bandung itu, Cicaheum namanya. "Yah, apa sih yang bikin aliran tenaga jadi terhambat?", tanya Aa mengulangi lagi. "Apa yang ayah akan jelaskan, mungkin belum akan kamu pahami saat ini. Tidak apa-apa nak, dengarkan saja baik-baik. Pemahaman tidak musti harus datang pada saat itu juga. Suatu hari nanti kamu akan menemukan jawabannya.", jawab sang ayah.

8.

Sang ayah menghela nafas perlahan. "Nak, ketahuilah, bahwa kehidupan ini sangat rumit. Ada banyak hal yang bisa terjadi di dalamnya. Ada banyak hal yang bisa menghambat. Saat seseorang ingin bertahan hidup, terkadang ia terhambat oleh rasa takutnya sendiri. Saat seseorang ingin mendapatkan kesenangan, terkadang ia terhambat oleh rasa bersalahnya. Saat seseorang ingin menjadi lebih kuat, terkadang ia terhambat oleh rasa malu. Saat seseorang mulai merasakan cinta dan ingin mencintai, terkadang ia terhambat oleh kesedihan dirinya. Saat seseorang ingin menjadi benar, terkadang ia terhambat oleh kebohongan-kebohongan yang pernah diperbuatnya. Saat seseorang ingin mendapatkan pengetahuan, terkadang ia terhambat oleh khayalan dan ilusi dirinya. Atau saat seseorang ingin mendapatkan daya linuwih, terkadang ia terhambat oleh hal-hal duniawi. Nah, ketakutan, rasa bersalah, rasa malu, kesedihan, kebohongan, khayalan atau ilusi, dan halhal duniawi itu terkadang menghambat diri kita untuk maju atau untuk naik setingkat lebih tinggi. Lebih jauh lagi, hambatan-hambatan itu membuat aliran tenaga kita menjadi terhalang dari yang semestinya. Persis seperti tumpukan akar-akar yang menutupi lubang bambu ini. Kita harus bisa melewati hambatanhambatan itu semua. Hambatanhambatan yang ayah sebutkan itu adalah hambatan psikologis, yakni hambatan mental. Ada juga jenis hambatan fisik

yang berkaitan dengan pengetahuan mengenai tubuh manusia. Tapi nanti saja ayah jelaskan untuk hambatan yang terakhir itu. Biar Aa tidak bingung.", jelas sang ayah. Aa mengangguk. Meski ia belum sepenuhnya bisa memahami penjelasan ayahnya, tapi ia bisa mengingat dengan baik setiap ucapan ayahnya. Ayahnya tak pernah bosan untuk mengulangi dan mengulangi setiap penjelasan yang ada. Terkadang, disertai contoh, atau bahkan contohnya bisa diambil dari buku belajarnya. Ia terkadang bertanyatanya dalam hati, dari mana ayahnya bisa mendapat pengetahuan sebanyak itu? "Ya sudah. Nanti kita lanjutkan lagi. Sambil latihan nanti akan lebih jelas. Ayo, kita turun. Ambil wudhu dulu. Kita selesaikan sholat Dhuha terlebih dahulu. Berdoa semoga Allah membukakan hati dan pikiran kita untuk menerima pengetahuan.", tutup sang ayah. "Iya yah", jawab Aa sambil mengangguk mantap.

Warisan Silat Ayah- Bagian 4 Kuatkan Dasar Filosofimu Nak!

"Assalamualaikum warahmatullah", kepala sang ayah menengok ke kanan. 9.

Yang Maha Pencipta. "Assalamualaikum warahmatullah", kepala sang ayah menengok ke kiri. Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Di sampingnya Aa mengikuti, tepat setelah salam yang kedua. Aa pun mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. Aa kemudian mencium punggung tangan kanan ayahnya. Saat mencium punggung tangan ayahnya, telapak tangan kiri bergerak menyentuh kepala Aa. Aa merasa damai sekali. Serasa ada getaran yang masuk ke tubuhnya. Nyaman. Mereka telah selesai menunaikan sholat Dhuha. "Mari kita tutup dengan berdoa. Diawali dengan berdzikir. Dzikir sebagai pengakuan kebesaran Allah, Sang Maha Pencipta. Bahwa manusia itu tiada daya dan upaya melainkan karena izin Allah. Tak ada satu lembar daunpun akan jatuh melainkan Allah tahu. Tak ada satu detakan jantung ditubuh kita terjadi melainkan Allah mengizinkannya. Tak ada satu aliran nafaspun yang akan terhenti melainkan Allah mengizinkannya. Perbanyak rasa syukur terhadap apapun.", pinta sang ayah. Keduanya kemudian berjalan menuju Aa mengangguk. Mereka menundukkan kepala. Khusyuk, dan mulai berdzikir. Selesai dzikir, kedua tangan sang ayah menengadah ke langit, diikuti oleh Aa. Mereka berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, kepada Tuhan 10. "Sikap Siap! Heaa!", teriak sang ayah. halaman rumput di depan rumah gubuk. Tempat yang tadi pagi sudah digunakan untuk latihan. Di tengah lapangan, mereka berhadapan dengan jarak kirakira dua meter. Tidak berapa lama, doa selesai. Mereka kembali membuka mata dan mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. "Ayo, kita lanjutkan latihannya. Buka lagi bajumu. Letakkan saja disitu. ", ucap sang ayah sambil berdiri dan jari tangan kanannya menunjuk pada sebuah kayu yang ada disebelah tempat sholat. Tak lupa, ayahnya juga membuka baju putih bercorak batiknya dan meletakkannya pada tempat yang ia tunjuk. Aa ikut berdiri. Mengikuti perintah ayahnya. Membuka baju coklat berlengan panjang, dan meletakkannya pada tempat yang ayahnya tunjuk. Alam seperti hening. Waktu seolah berhenti. Cahaya matahari seolah diam. Angin seperti enggan berhembus. Sungai seolah tak bergerak. Getaran doa di dalam hati mereka seolah mampu memerangkap alam semesta untuk diam. Hanya kepasrahan yang ada, hanya keikhlasan yang muncul. Perkenankanlah setiap doa kami ya Allah, pinta sang ayah dalam hati.

Aa melakukan apa yang diperintah. Sikap siap, kedua kaki selebar bahu. Badan rileks, dengan kedua lengan berada di samping badan. Jari-jari tidak mengepal, tapi terbuka rapat dengan ujung jari menghadap ke tanah. "Sikap sempurna! Heaa!"

gerakan. "Di dalam silat yang ayah ajarkan ini, menyerang dapat juga sekaligus bertahan. Bertahan dapat juga sekaligus menyerang. Menyerang dan bertahan itu suatu kesatuan. Kemarilah.", ucap sang ayah. Aa kemudian mendekat.

Sikap sempurna, tumit kaki digeser ke arah luar sehingga telapak menjadi sejajar. Kedua telapak tangan yang terbuka dinaikkan mulai dari samping tubuh hingga mendekati ketiak, kemudian disilangkan di depan dada dengan pergelangan tangan keduanya yang bergesekan dimana tangan kanan berada diatas tangan kiri. Kemudian ditarik dengan cara diturunkan mengayun kembali kearah pinggang sambil mengepal, tetapi sedikit lebih ke depan. Gerakkan Aa tampak mantap. Ia sudah terbiasa melakukan ini sejak umur lima tahun. Sejak ia sering melihat ayahnya berlatih, dan sejak ia sering menirukannya. "Aa tahu makna gerakan tadi?", tanya sang ayah. Aa menggeleng. Ia memang sering melakukannya, tapi ia belum pernah diajarkan manfaat dari masing-masing gerakannya. Tujuan dari masing-masing gerakannya untuk apa. Ia hanya mengikuti, menirukan, dan menghafal Aa mencoba bangun. Ia masih bingung, kenapa ia bisa terbanting? 11. Aa kemudian memukul dengan tangan kanannya. Kepalan kecilnya menuju dada ayahnya. Ayahnya kemudian melakukan gerakan Sikap Sempurna. Aneh, pukulannya jadi tertangkis oleh gerakan menyilang tangan kanan di atas tangan kiri pada sikap sempurna yang dilakukan. Pukulannya berada diantara pertemuan pergelangan tangan kanan dan kiri ayahnya. Sama sekali tidak mengenai sasaran. Tidak hanya itu saja, ayahnya bahkan memutar pergelangan tangan kanannya untuk menangkap pukulannya, menariknya ke bawah, tepat ke arah pinggang agak ke depan. Aa jadi terpelanting, terjatuh di samping ayahnya. Ia terbanting! Sedangkan ayahnya masih berada dalam posisi Sikap Sempurna! "Coba pukul ayah. Terserah bagian yang mana saja. Dada boleh, leher boleh, kepala juga boleh.", pinta sang ayah. Terlihat sang ayah dengan posisi sikap siap.

"Lihatlah nak. Bertahan sekaligus menyerang. Menyerang sekaligus bertahan. Inilah dasar filosofi aliran beladiri yang ayah ajarkan. Setiap gerakan memiliki makna. Jangan pernah meremehkan setiap gerakan apapun, bahkan yang paling sederhana sekalipun. Sikap Sempurna, meski tampak sederhana, tapi berisi teknik bertahan sekaligus menyerang. Bertahan sekaligus menyerang. Menyerang sekaligus bertahan.", jelas sang ayah. "Iya yah. Tadi Aa terbanting. Itu berarti bertahan sekaligus menyerang ya yah? Terus bagaimana yang menyerang sekaligus bertahannya yah?", tanya Aa. "Coba Aa berdiri lagi di depan ayah", pinta sang ayah. Aa mengikuti. Sang ayah kemudian melakukan kembali Sikap Sempurna. Saat kedua tangannya bersilangan, tiba-tiba ayah mengarahkan silangan tersebut ke leher Aa. Memutar sedikit pergelangannya sehingga kedua telapak tangannya menutupi leher Aa. Bersamaan dengan itu, ayah menarik tangan kanannya ke bawah, membentuk posisi Sikap Sempurna. Gerakan ini membuat Aa kehilangan keseimbangan karena lehernya ikut tertarik ke bawah. Dan ia terpelanting kembali di samping ayahnya. Ia terjatuh dua kali!

Aa kembali bangun. "Coba lagi yah. Aa akan coba siap-siap", jawab Aa. Tampaknya ia penasaran dan ingin mencoba sekali lagi. Ia kembali berdiri di depan ayahnya pada jarak serang. Ia tampaknya masih penasaran kenapa bisa terbanting. Sang ayah mengulangi kembali posisi Sikap Sempurna. Aa kali ini membiarkan tangan ayahnya menyentuh lehernya seperti tadi, tapi saat kemudian tersentuh, tangan kanan Aa melakukan pukulan ke arah rusuk ayahnya. Tibatiba gerakan ayahnya jadi melentur, ia melepaskan tekanan tangan kanan di lehernya dan menggerakkan tangan kanannya mengayun ke bawah membentuk posisi Sikap Sempurna. Gerakan tiba-tiba ini otomatis menangkis pukulan yang diarahkan ke rusuk ayahnya. Bersamaan dengan itu, tangan kirinya yang sengaja dibiarkan terlambat kembali menarik leher Aa hingga kembali terjatuh, terbanting. Aa jatuh tiga kali dengan bantingan! Meski demikian, Aa tersenyum. Aa tampak seperti menemukan 'sesuatu'. "Sudah paham?", tanya sang ayah sambil tersenyum. Aa mengangguk. "Bagus nak. Bertahan sekaligus

"Bagaimana?", tanya sang ayah sambil tersenyum.

menyerang, dan menyerang sekaligus bertahan. Ada banyak pengembangan 12.

yang bisa dilakukan dari sebuah gerakan sederhana. Ingat baik-baik filosofi ini.", jelas sang ayah.

menyebutnya dengan istilah Kota Udang. Meski demikian, tiap sebulan sekali pasti pulang dan berkumpul. Apalagi kalau liburan, pasti ayah sering mengajak kami berkemah di alam terbuka. Usiaku saat ini enam belas tahun. Jauh lebih besar, tegap, dan tinggi dibanding enam tahun yang lalu. Dan aku bersekolah di sebuah SMU favorit di daerahku, dekat dengan rumah orang tuaku. Hari ini, ayah ingin menjelaskan hal-hal yang lebih mendalam mengenai latihanku. Aku sangat senang setiap kali ayah bercerita, karena mudah dimengerti dan ayah tidak segan untuk mempraktekkannya. Kami akan berlatih di tempat yang sama. Aku tidak tahu mengapa ayah suka sekali berlatih di tempat itu. Aku pernah bertanya seperti itu, tapi ayah katakan kalau suatu hari nanti aku akan tahu mengapa tempat itu yang ayah pilih. Seiring pemahaman, aku akan lebih memahami. Begitu katanya. Aku berjalan keluar kamar, hanya mengenakan celana latihan hitam seperti biasa. Jahitan bagian bawahnya sudah agak terlepas. Mungkin karena seringnya dipakai dan dicuci mengakibatkan warnanya mulai memudar. Aku membuka pintu rumah. Dari jauh aku lihat ayah sudah menunggu. Ayah duduk sila sambil memejamkan mata. Ayah bertelanjang dada seperti biasa. Wajahnya terlihat tenang, serius, damai. Meski demikian, beberapa rambutnya sudah terlihat memutih. Jenggotnya juga beberapa sudah banyak yang memutih. Meski 13.

Warisan Silat Ayah- Bagian 5 Pusaran Waktu Yang Berlalu, Menyatulah Dengan Rasamu!

Hari demi hari berlalu. Rumput hijau sudah mulai menguning. Daun rumbia di atap rumah gubuk juga sudah mulai berwarna coklat tua, beberapa bahkan sudah jatuh karena mengering. Putaran waktu di alam ini seolah hampir tak terasa. Enam tahun sudah tempat itu selalu menjadi tempat latihan kami. Menjadi saksi dua anak manusia yang masih tetap rutin melatih dan berlatih, berlatih dan melatih. Tanah yang amblas karena hentakan kaki, bambu pancoran, cerukan air, ranting, undakan anak tangga batu, dan sungai, menjadi saksi bisu yang masih ada hingga kini. Namaku Akbar, tapi lebih suka dipanggil Aa. Aku anak tertua, dari empat bersaudara. Terdiri dari tiga orang lakilaki dan seorang perempuan. Adik perempuanku yang cantik, secantik ibuku, sekolah di lain kota karena kebetulan ibuku menjadi PNS di luar kota tempat kelahiranku. Konon kota kelahiranku sering disebut dengan istilah Kota Wali, beberapa juga

demikian, otot-otot ayah masih terlihat kokoh. Ayah tidak pernah lupa untuk berlatih. Ayah selalu meluangkan waktu untuk berlatih setiap harinya. Kata ayah, berlatihlah sebanyak kita makan nasi. Aku kemudian menghampiri. Dan duduk di depan ayah sambil bersila. Perlahan ayah membuka kelopak matanya. Ayah tersenyum. Lalu menyuruhku untuk melakukan rangkaian gerak dasar dan rangkaian gerak praktis dengan terlebih dahulu berdoa. Aku berdoa sambil duduk sila. Mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada, lalu memejamkan mata. Selesai berdoa, aku kembali membuka mata dan berdiri sempurna. Berjalan mundur sekitar 3 meteran untuk bersiap melakukan gerakan yang diminta oleh ayah. "Lakukan Gerakan Tangan Serangan. Lakukan dengan perlahan-lemas.", pinta ayah. Aku mengikuti apa yang ayah perintahkan. Dimulai dari kuda-kuda tengah sedang, kemudian kuda-kuda tengah rendah, kemudian membentuk sikap leyek. Yakni kondisi badan yang agak condong ke arah kanan dengan sedikit memutar bahu kiri ke arah depan sehingga tubuh menghadap ke kanan. Lutut kaki kanan agak ditekuk dan kaki kiri lurus sejajar dengan arah punggung. Kedua tangan berada di samping pinggang. Perlahan aku melakukan

gerakan tangan serangan seperti pukulan datar, pukulan silang, sodokan datar, sodokan silang, tebasan, tebangan, keprukan, ujung siku datar, ujung siku ke atas, ujung siku ke bawah, dan yang lainnya. Aku melakukannya dengan perlahan, lemas. Kata ayah, gerakan yang perlahan-lemas ini sangat berguna untuk mengenali bentuk dan merasakan aliran tenaga. "Bagus! Sekarang kamu lakukan gerakan yang sama, tetapi lakukan dengan pelan dan bertenaga!", pinta ayah. Aku melakukan apa yang ayah perintahkan. Aku masih ingat, ayah selalu melatihku dalam empat pola yakni pelan, cepat, lemas, dan bertenaga. Ayah mengkombinasikan dari keempat pola tersebut seperti pelan-lemas, pelanbertenaga, lemas-cepat, cepatbertenaga, dan sebagainya. Jadi, latihan gerak selalu mengikuti empat pola tersebut atau kombinasi dari empat pola tersebut. Tidak heran, saat latihan gerak bersama ayah aku bisa menghabiskan waktu 1 jam hanya untuk gerakan tangan serangan saja. Aku selalu diingatkan oleh ayah agar tidak boleh mengeluh dan tidak boleh menyerah. Belajar itu harus dengan usaha yang keras, dan jangan bosan untuk diulang-ulang. Begitulah kata ayah. Ayah juga pernah berkata kalau gerakan yang pelan-bertenaga berguna untuk merasakan kemana tenaga mengalir. "Bagus! Sekarang kamu lakukan dengan 14.

cepat-bertenaga!", pinta ayah. Aku melakukan kembali apa yang ayah perintahkan. Pukulanku kini dipercepat dan dengan tenaga maksimal. Awalnya saat pertama kali ayah melatihku seperti ini, aku sampai serasa kehabisan nafas. Otot-otot tubuhku serasa bergetar kelelahan. Tapi lama kelamaan, seiring peningkatan kemampuan fisikku, aku mulai terbiasa. Apalagi ketika ayah mulai mengajariku olah nafas. Kata ayah, bentuk yang cepat-bertenaga ini berguna untuk penerapan gerakan. Ayah tersenyum melihatku. "Bagus! Cukup!", ucap ayah. Aku menghentikan gerakanku. Dan mengambil posisi duduk sila kembali di depan ayah. Latihan untuk memahami tata gerak dari ayah tampaknya sudah selesai. Keringatku sudah sebesar bulir-bulir jagung. Berkilauan terkena cahaya matahari. Rasanya segar sekali. Ada banyak hal yang aku dapatkan. Tidak hanya bagaimana melakukan gerakan dengan benar, tapi juga ada apa dibalik setiap gerakan tersebut. Kata ayah, gerakan harus dimaknai. Gerakan harus dipahami, harus didalami. Gerakan jangan hanya sekedar dilakukan. Jangan hanya menjadi bentuk tanpa jiwa. Merasakan bentuk, juga harus merasakan jiwa. Gerakan harus dijiwai.

Untuk bisa menjiwainya, maka harus kenal dengan filosofinya. Begitu kata ayah. Aku pernah bertanya pada ayah, apa tujuan dari filosofi itu? "Nak, filosofi itu sudah direnungkan oleh para pendahulu kita. Merupakan petunjuk pemahaman keilmuan yang justru untuk kebaikan hasil latihan. Filosofi keilmuan dimanfaatkan sebagai akar pijakan bagi kita. Meski demikian, cara dulu guru ayah menjelaskan pada ayah akan bisa berbeda dengan cara ayah menjelaskannya kepadamu. Ada beberapa hal yang ayah bisa berikan apa adanya, bisa jelaskan apa adanya. Tapi ada beberapa hal yang ayah harus sesuaikan dengan cara pikirmu. Beberapa bahkan tidak bisa ayah terapkan persis seperti keadaan aslinya. Istilahnya, ambil apinya, dan bukan abunya.", jelas ayah. "Gerakan silat yang ayah ajarkan memang tidak terlalu kaya, tapi khas. Kamu sudah pernah melihat aliran beladiri lain yang berisi jurus-jurus atau gerakan-gerakan yang lebih kaya dari apa yang ayah pernah ajarkan. Silat yang kamu pelajari ini tidak punya jurus. Hanya dinamai gerak saja atau gerakan saja. Dianggap khas karena gerakannya seringkali menyatu dengan aplikasi olah nafas. Hampir semua bentuk baku, rangkaian gerak yang ayah ajarkan, akan saling dukung dengan hasil atau penerapan olah nafasnya. Meski 15.

demikian, ketika nanti sudah masuk pada gerak naluri, bisa jadi akan ada sedikit pergeseran, meskipun tidak menyimpang. Misal, ayah tidak pernah mengajarkan gerakan yang berbentuk cakar macan, tapi ketika nanti latihan naluri dan tibatiba terbentuk gerakan tersebut ketika menangkis dan menyerang, itu tidak masalah. Itu nalurimu untuk mengantisipasi gerakan lawan.", lanjut ayah. "Di dalam memahami tata gerak, pertama, kamu harus melakukan gerakan dengan benar. Disini kamu harus melihat gerakan dan menirunya. Nalarmu berperan disini. Untuk menirukan bentuk, untuk menirukan gerak." "Kedua, kamu harus menghafalnya. Nalarmu diuji disini. Sejauh mana kamu bisa mengingatnya." "Ketiga, kamu harus mengulang-ulangnya dengan pola kombinasi pelan, lemas, cepat, bertenaga. Disini, karena kamu sudah hafal, maka penggunaan nalar akan dikurangi dengan meningkatkan rasa dan tubuh untuk menghayati tata gerak. Sehingga nantinya akan di dapat gerak reflek yang hafal, penuh penjiwaan, ada dinamika semangat, tenaga, dan tempo yang pas." "Terakhir, barulah dilatih dengan dilambari penghayatan getaran, yang bila digabung dengan latihan gerak naluri maka tata gerak akan menjadi perbendaharaan beladirimu yang

menyatu dengan rasa dan tubuh, menjadi perbendaharaan gerak naluri beladiri." "Paham?", tanya ayah. Aku mengangguk. Aku mulai memahami maksud ayah selama ini. Dulu aku sekedar menirukan gerakan ayah. Kemudian ayah menyuruhku menghafalkannya. Setelah itu ayah selalu melatih dan menyuruhku berlatih terus dengan berulang-ulang. Bahkan aku sering melihat ayah melakukan satu gerakan yang sama berulang-ulang hingga 1 jam. Setelah ayah menjelaskan ini, pikiranku baru terbuka. Dulu, karena masih berusia sepuluh tahunan, pengertianku mungkin belum seperti sekarang. Meskipun ayah juga mengatakan hal yang sama enam tahunan yang lalu, tapi pemahamanku tidak seperti sekarang ini. "Iya yah. Aa mulai mengerti.", jawabku sambil mengangguk mantap sekali lagi. "Yah, apakah belajar gerakan ini ada batasnya?", aku memberanikan bertanya. "Nak, kalau hanya dibaca dan dipikir, ilmu tata gerak beladiri yang ayah ajarkan ini sebentar saja pasti sudah tuntas dan mentok.", jawab ayah sambil tersenyum. Ayah kemudian berdiri dan mendekatiku. Ia duduk kembali di depanku tapi lebih dekat.

16.

"Pejamkan matamu", pinta ayah. KRIIIIING... Aku menurut. Kedua mataku aku pejamkan. "Suatu gerakan harus bisa menyatu dengan ini.", ucap ayah sambil menggerakkan lengannya. Aku merasakan telapak tangan ayah yang hangat menyentuh dadaku. "Gerakan itu harus menyatu dengan rasa,", lanjut ayah sambil menepuknepuk dadaku. Aku tertawa kecil. Memang benar. Aku merasa sudah hafal Gerakan Dasar, aku juga hafal Rangkaian Gerak Praktis, dan juga rangkaian gerak yang lainnya. Tapi saat ayah menjelaskan filosofinya dan penerapannya, rasanya masih sangat luas sekali. Rasanya apa yang aku lakukan ini belum apa-apa. Aku membuka mata. Melihat ayah memejamkan mata sambil menengadahkan wajahnya kepada ke langit. Jenggotnya tampak bergerak tertiup angin. "Berbatas tapi tak berujung... Bertepi tapi tak berbatas... Suatu hari nanti kamu akan paham...", ayah berkata sambil menghela nafas. "Berdoa.. selesai!", ucapku lantang sekaligus mengakhiri pelajaran hari ini. Aku mengangkat kepalaku dan duduk kembali. Teman-teman yang lain juga terlihat sudah mengangkat kepala dan Warisan Silt Ayah - Bagian 6 Tubuh Ini, Pemahaman Ini mulai asyik dengan aktivitasnya masingmasing. Ada yang memasukkan buku, ada yang membetulkan tali sepatu, ada beberapa teman perempuan yang 17. Oh ya, aku adalah Ketua Murid di kelasku. Aku dipilih oleh teman-temanku melalui sebuah pemilihan yang alot. Dari tiga calon yang ada, aku hanya menang tipis. Kini, sudah tugasku untuk memimpin kelas untuk berdoa saat pelajaran usai. Aku kemudian menundukkan kepala. Membaca surat Al Fatihah di dalam hati. Diikuti juga oleh teman-temanku yang lain. "Siaaaaap! Mari kita tutup pelajaran hari ini dengan membaca doa. Berdoooaaaa! Mulai!", ucapku lantang. Bel sekolah terdengar nyaring. Aku membereskan buku-buku pelajaran, memasukkan ke tasku sekedarnya saja. Aku melihat pak guru juga sedang merapihkan buku-buku di meja beliau. Setelah terlihat rapi, beliau kemudian memberi isyarat padaku. Aku mengerti isyaratnya. Aku kemudian berdiri dan memulai untuk memimpin doa.

berdandan, ada yang membetulkan kerudungnya. Aku duduk di barisan paling belakang, dekat dengan tembok. Bagian belakang kursiku menempel dengan tembok kelas. Aku seharusnya duduk berdua bersama Andi. Tapi hari ini dia tidak masuk. Katanya sedang sakit. Rencanaku nanti sore selepas latihan aku mau menengoknya. "Baiklah anak-anak, sampai ketemu besok ya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh", ucap pak guru sambil berdiri dan berjalan meninggalkan ruang kelas. Beliau adalah pak Djauhari. Sosoknya tinggi jangkung, agak kurus dengan muka oval dan rambut yang mulai memutih. Beliau adalah guru Bahasa Inggris di sekolahku. "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakaatuh!", jawab kami serentak. "Aa, nanti jadi gak nih traktir makan?", tanya Herman sambil menengok ke belakang. Ia duduk di kursi di depan mejaku. Aku terkejut, lalu memberi isyarat diam pada Herman. "Ssst..! Jangan berisik!", pintaku pada Herman. Tapi ia tidak menggubrisku, dan malah berdiri di atas kursi sambil berteriak lantang. "Hooiii... teman-temaaan! Ada yang ulang tahun niiiih!", teriak Herman lantang sambil telunjuknya mengarah kepadaku.

Ia keliatan sangat gembira melakukan itu. Sedangkan aku sendiri yang mulai panik. "Eh iya nih, si Aa ulang tahun niiih!... Mana tim penyeraaaaang!", teriak Risa. Ia duduk di sebelah kananku persis. Ia berdiri dan juga menunjuk kepadaku. Tim penyerang? Haah, pasti ada yang akan membawa benda-benda untuk dilempari ke tubuhku. Kalau tidak telur ayam, tepung, air diplastik, mungkin cat. Haduuuh... bagaimana ini? Tanyaku dalam hati. Aku melihat Roni tiba-tiba berdiri, ia duduk paling depan. Di tangannya tergenggam sebuah telur ayam. Rupanya ia sudah mempersiapkannya. Entah sejak kapan mereka sudah merencanakan ini. Gawat, ia pasti akan melemparku dengan telur itu. Aku bangun dari kursi. Aku selempangkan tasku di bahu dan berdiri sejajar, mengambil jarak setengah meter dari tembok kelas belakang. Kakiku aku rentangkan selebar bahu. Benar saja, Roni tiba-tiba berjalan mendekat dan melemparku dengan telur itu! Aku terkejut. Secara reflek tubuhku aku miringkan bersamaan dengan menggeser tumit kaki kanan ke belakang empat puluh lima derajat dan tumit kaki kiri depan sehingga membentuk sikap leyek belakang. Posisi tubuhku yang tadinya menghadap ke depan, menjadi menghadap ke kiri. Di tempat yang sempit karena terhalang oleh kursi di kanan kiri, sikap leyek belakang sangat efektif untuk 18.

menghindari serangan. Entah kenapa tubuhku menganggap lemparan telur itu sebagai serangan sehingga secara reflek bergerak menghindar. Telur itu tidak mengenaiku, tapi menghantam tembok belakangku. Hancur berantakan. Pecahannya berhamburan kesana kemari. Tubuhku melompat ringan ke depan sehingga berada di sebelah Herman, menghindari pecahan telur dan isinya. Aku teringat, dulu ayah mengajariku bagaimana penerapan gerakan silat yang ayah ajarkan pada beberapa kondisi. Di tempat yang luas, di ruang yang sempit, di tempat dimana aku berada tersudut di pojok, saat kakiku tidak boleh digerakkan, saat mataku harus ditutup, dan kondisi-kondisi lain yang cukup menyulitkan. Tujuannya agar aku bisa menerapkan gerakan sesuai dengan keadaan. Ayah bilang kalau gerakan harus luwes, fleksibel, menyesuaikan dengan keadaan, menyesuaikan bentuk, dan keluar dari hati. Antara bentuk dasar dan penerapan tidak musti harus sama persis seratus persen. Beberapa memang bisa diterapkan utuh, tapi beberapa tidak dan harus disesuaikan. Ayah juga bilang kalau saat kita berdiri, maka lebar tubuh kita adalah sasaran tembak bagi lawan. Lebar kepala, lebar bahu, lebar kaki, lebar lengan, lebar paha, semuanya adalah sasaran tembak bagi lawan. Lawan akan tergerak untuk mengarah pada bagian yang ia lihat. Kalau ia melihat dada kita, maka lebar bahu itulah area yang bisa ia kenai. Untuk menghindarinya maka bentuk

harus diubah. Dengan menggeser posisi, maka lebar bisa diperkecil. Kalau tubuh kita sedang menghadap ke depan dan kemudian memutar pinggang sehingga bahu kita menjadi menghadap ke depan, maka area yang bisa dikenai oleh lawan akan berubah, akan mengecil atau bahkan hilang. Perubahan bentuk itu bisa dilakukan dengan pergeseran, dengan langkah, atau lompatan, atau dengan menggerakkan bagian lain seperti pinggang, lutut, tumit, atau dengan gerakan khas lainnya. Dan itulah yang terjadi. Tubuhku secara reflek berusaha menghindar dari serangan lemparan telur. Pecahan telur dan beberapa isinya mengenai Risa. Bajunya kotor. Ia terlihat marah. "Roniiii...!! Awass lu yaaa! Malah gue yang kotor niiiih...!", teriak Risa sambil memandang marah pada Roni. Ia mengambil potongan kertas, meremasnya menjadi bulatan lalu melemparkannya kepada Roni. Roni terlihat ketakutan. Ia berlari keluar ruangan kelas. Risa kelihatannya masih kesal, dan ia bersiap berlari mengejar Roni untuk "membalas dendam". Ia membawa sebuah buku di tangan kanannya. Tampaknya buku itu akan digunakannya untuk memukul si Roni. "Amppuuuunn Riiisss... Gue ga sengajaaa... Gue pengen lempar si Aa! Ampuuunn...! Hahahahahahaha!", teriak Roni sambil lari. Ia tertawa terbahak19.

bahak. Mungkin dipikirannya, meski gagal melemparku dan membuatku kotor, setidaknya ada yang menjadi "korban". Huh, dasar si Roni. Tapi ia belum sepenuhnya lolos dari "bahaya", karena di belakang si Risa mengejarnya. Temanteman yang lain menertawakan tingkah mereka yang lucu. Aku ikut tersenyum. Ron, malang nian nasibmu kali ini. Rasakan! Aku bersyukur karena baju sekolahku tidak kotor karena lemparan telur ayam dari Roni. Aku segera bergegas keluar ruangan agar aman dari "serangan" lain. Aku berjalan lebih cepat mendekati pintu. "Hoiii.. tungguuu! Gue ikuuut!", teriak Herman. Ia langsung melompat dari tempat duduknya dan berusaha mengejarku. Aku menoleh ke arah Herman. Tanpa sengaja aku melihat wajah Herman yang seperti memberi kode pada teman yang lain yang berada di dekat pintu keluar dengan bibirnya. Naluriku berkata kalau "serangan" belum usai. Benar saja. Selesai aku menoleh dan akan berjalan kembali ke pintu keluar, Cahyo, yang duduk di dekat pintu keluar tiba-tiba berdiri. Di tangannya terlihat sudah tergenggam dua butir telur ayam. Tibatiba ia langsung melemparku dengan telur ayamnya. Lemparannya lurus, mengarah ke dada. Tubuhku reflek menghindar. Aku memiringkan tubuh

sehingga lemparan itu tidak mengenai tubuhku. Bahaya, arah miring tubuhku malah membuat lebih dekat dengan tempat Cahyo berdiri. Telur itu menabrak tembok. Pecahannya berhamburan kemana-mana. Merasa gagal, Cahyo berusaha melempar sekali lagi. Tampaknya ia penasaran. Jarak Cahyo dan aku hanya tinggal satu setengah meter. Aku terlalu terbawa putaran pinggang saat memiringkan tubuhku. Lemparan kedua rasanya tidak bisa aku hindari. Tiba-tiba perut ini menghangat. Rasa hangatnya naik ke dada, ke leher, hingga kemudian berhenti di belakang kepala, tepat di otak kecil bagian belakang. Belakang kepalaku langsung menghangat. Bersamaan dengan itu, dunia yang aku lihat menjadi seolah melambat. Mulut Cahyo yang tertawa terbahak-bahak terlihat sangat jelas gerakannya. Lemparan tanggannya seolah menjadi slow motion, menjadi gerak lambat. Telur yang melayang di udara juga terlihat begitu jelas. Tangan kananku aku gerakkan. Telapak tangan kananku aku buka dan aku gerakkan menyongsong arah lemparan telur tapi memotong di tengah jalur, dan kemudian aku tarik perlahan seiring telur yang menyentuh telapak tanganku. Telur tidak membentur keras dan pecah, telur tetap utuh, dan mengikuti arah. Telapak tanganku jadi peredam. Aku membiarkan tanganku mengikuti arah lintasan telur itu. Aku mengikutinya. Bersamaan dengan itu, tubuhku ikut mundur dua 20.

langkah. Jarak ini kemudian membuat tenaga lemparan telur terhenti. Aku berhasil menangkap lemparan telur itu dengan telapak tanganku. Aku turunkan kembali rasa hangat yang memenuhi otak kecil di belakang kepalaku. Dunia kembali menjadi normal. Kecepatannya menjadi normal. Cahyo hanya bengong melihat telurnya aku tangkap. Tanpa menunggu lebih lama, aku bergegas berlari keluar ruangan dengan cepat. Sambil tidak lupa meletakkan telurnya di meja Cahyo. "Kabuuuuurrr!!!", teriakku lantang sambil berlari. Aku langsung berlari keluar dari ruangan, mengarah pada anak tangga. Kelasku berada di lantai 2, disebelah pojok dari bangunan baru. Tingginya sekitar lima meter. Dengan dua buah kelompok anak tangga yang masingmasing terdiri dari sepuluh undakan anak tangga. Aku berjalan cepat menuruni anak tangga. Lalu bergegas menuju kantin yang berjarak sekitar dua puluh meter dari tangga. Dari atas, aku melihat Herman berteriak menunjukku. "Itu dia! Si Aa ke kantiiiiiinnnn!!!", teriak Herman lantang. Beberapa teman juga menyorakiku. Mereka tampak gembira karena target buruannya sudah

ditemukan kembali. Aku tertawa sambil terus berjalan cepat menuju kantin. Aku duduk di depan penjual es. Itu adalah es kesukaanku. Es yang dijajakannya dibuat dari serutan es batu yang diberi air santan. Setelah itu dituangkan susu coklat di atasnya. Aku paling suka meminumnya sambil memakan roti yang memang disediakan disitu. Aku memesan satu. Aku memandang ke sekeliling. Kantin sekolahku cukup luas. Di dalamnya ada penjual gorengan, ada penjual nasi kuning, ada nasi rames, ada juga nasi empal sapi. Selain es susu coklat tadi, aku paling suka nasi empal sapi. Rasanya enak, harganya juga tidak terlalu mahal. Penjualnya bernama Atun, tidak tahu kenapa dipanggil begitu. Padahal ia seorang laki-laki. Sambil duduk, aku teringat kejadian dimana aku berhasil menangkap telur yang dilempar dari jarak satu setengah meter tanpa pecah. Tiba-tiba ingatanku seperti terbang di masa lalu, saat berlatih bersama ayah. Saat itu ayah mengajarkanku makna dari cepat dan lambat. Bagaimana cepat bisa mengalahkan lambat, dan bagaimana lambat bisa mengalahkan cepat. Kata ayah, cepat dan lambat itu ada pada persepsi, ada pada apa yang kita tangkap di otak kita. Otak kita bisa menterjemahkan sesuatu sebagai 'cepat' dan otak kita bisa menterjemahkan sesuatu sebagai 21.

'lambat'. Ada perbedaan pada sudut pandang yang melakukan. Yang cepat bisa dibuat jadi lambat. Yang lambat juga bisa dibuat jadi cepat. Setelah selesai berlatih gerak, ayah selalu melatih olah nafas kepadaku. Latihan olah nafas selalu ditutup dengan meditasi. Aku harus duduk sila memejamkan mata. Kedua tanganku menjuntai dengan punggung tangannya berada di atas lutut. Ibu jari dan jari tengah dipertemukan sehingga membentuk seperti lingkaran. Saat itu, aku harus berkonsentrasi pada nafas yang aku hirup. Setiap kali menghirup nafas, aku disuruh membayangkan tenaga yang aku keluarkan dari seluruh tubuh ditarik masuk dan disimpan ke bawah pusar. Terus saja seperti itu. Dianggap selesai ketika aku bisa merasakan detak jantungku pada ujung ibu jari dan jari tengah yang menempel dan suhu tubuhku sudah normal, sudah bisa merasakan angin dingin di sekitarku. Saat itu yang aku rasakan aliran hangat mengalir dari seluruh tubuhku menuju ke bawah pusar. Setelah dirasa cukup oleh ayah, aku harus 'menutup' aliran tenagaku. Cara menutupnya cukup dengan sugesti, dengan niat dan konsentrasi. Terkait dengan cepat dan lambat, ayah berkata bahwa bentuk meditasi seperti tadi bisa berguna untuk membuat persepsi pada otak. Kalau dialirkan ke otak kecil di belakang kepala, maka apa yang ditangkap oleh pandangan mata akan terlihat oleh otak seperti melambat. Benda yang dilihat sendiri sebenarnya tidak melambat,

tetapi persepsi otak terhadap apa yang dilihat akibat dari teknik ini akan membuat gerakan cepat terlihat lambat. Sehingga kita bisa melakukan antisipasi terhadap sesuatu. Pada awalnya aku tidak memahami ucapan ayah. Meskipun sudah dicoba berapa kalipun, yang aku lihat tetap saja sama, tidak melambat. Normal normal saja. Tapi barusan saat Cahyo melempar telur, aku benar-benar merasakan apa yang ayahku katakan. Aku melihat dunia seperti melambat. Sehingga aku bisa melakukan antisipasi terhadap telur yang dianggap sebagai 'ancaman' bagiku. Barangkali, ketika dulu aku berlatih bersama ayah, aku belum mendapatkan kondisi yang aku anggap sebagai ancaman bagiku, sehingga aku tidak bisa mengeluarkan potensi yang sebenarnya. Sedangkan tadi, ketika tubuhku menganggap lemparan telur sebagai ancaman, maka aku bereaksi dengan secara alamiah, mengikuti naluriku, mengikuti apa yang dulu pernah diajarkan kepadaku. Dan hasilnya persis seperti yang dijelaskan ayahku. Cepat dan lambat sesungguhnya ada persepsi, pada cara kita memandang. Cepat bisa dilawan dengan lebih cepat. Lambat bisa dilawan dengan cepat. Cepat juga bisa dilawan dengan lambat. Bukan lambat, tetapi "lambat". Sebab ketika sudah masuk pada ranah persepsi, maka cepat bukanlah "cepat" dan lambat bukanlah "lambat". Aku tersenyum. "Ayah, aku mulai paham. Terima kasih 22.

ayah.", ucapku dalam hati.

susu coklat.

"Biasa... Tiga ribu aja A sama rotinya...", jawab sang pedagan sambil tersenyum.

Warisan Silat Ayah- Bagian 7 Kalah Atau Salah?

Satu gelas es susu coklat dihargai dua ribu rupiah, sedangkan rotinya dihargai seribu rupiah. Aku mengeluarkan selembar lima ribuan dari saku celana sebelah kananku, lalu memberikannya pada sang pedagang es.

Kantin ini sudah mulai sepi. Yang terlihat hanyalah para pedagang yang sedang membereskan dagangannya. Aku masih duduk di kursi panjang ini. Aku menunggu lebih lama, menunggu lebih sepi. Sekolahku ini muridnya cukup banyak. Terdiri dari sembilan kelas untuk kelas satu, sembilan kelas untuk kelas dua, dan sebelas kelas untuk kelas tiga. Dengan rata-rata satu kelas terdiri dari tiga puluh hingga empat puluh orang. Bisa dibayangkan berapa jumlah muridnya apabila pulang sekolah.

"Ini A...", lanjutku.

Uangku diterimanya. Ia terlihat memasukkan pada kotak tempat penyimpanan uang di belakang tempat gelas, lalu mengambil selembar uang dua ribuan dan memberikannya kepadaku.

"Terima kasih A...", ucap sang pedagang. Siang ini aku berencana menengok Andi, teman sebangku yang tidak masuk karena sakit. Rumah Andi cukup jauh dari sekolahku. Kira-kira lima belas menit apabila berjalan kaki. Tapi cukup lima menit saja kalau naik angkot. Aku memasukkan uang kembalian ke saku sebelah kananku. Lalu mengambil tas dan diselempangkan ke bahu kananku. Aku Aku bersiap untuk beranjak dari kursi panjang ini. memutar tubuh, dan beranjak dari kursi panjang tersebut. Pandanganku masih mengarah pada kumpulan teman-teman yang sedang keluar dari pintu gerbang "Berapa A?", tanyaku pada pedagang es sekolah. Sudah tidak sebanyak tadi. Ya 23. "Iya, sama-sama A..", jawabku.

sudah, aku putuskan untuk pulang.

Dari jauh terlihat pak Madi, penjaga pintu gerbang sekolah. Terlihat sedang membereskan kunci dan rantai pintu.

Aku berjalan santai dari kantin menuju pintu gerbang. Aku harus melewati sebuah lapangan voli yang belum disemen dan sebuah lapangan basket yang sudah disemen. Jarak antara kantin sekolah dengan pintu gerbang kira-kira berjarak lima puluhan meter. Cukup jauh juga. Maklum, sekolah favorit ini penuh dengan bangunan-bangunan fasilitas penunjangnya. Termasuk juga lapanganlapangan olahraga yang disediakan.

Beliau menyapaku.

"Pulang A?", tanya pak Madi ramah.

Langkahku terhenti.

"Iya pak. Mari pak, saya pamit dulu...", jawabku ramah dengan kepala sedikit menunduk hormat. Pak Madi hanya tersenyum sambil juga menganggukkan

Aku sudah melewati lapangan bola voli. Sesaat ketika sepatuku menyentuh semen di lapangan basket, tiba-tiba hatiku menjadi gelisah. Hmmm, ada apa ini? Aku paksakan untuk melangkah. Tapi rasa di hati ini malah semakin kuat. Aku terdiam di tengah lapangan. Aku seperti merasakan akan ada sesuatu. Tapi aku tidak tahu apa itu?

kepala.

Aku meneruskan langkahku keluar dari pintu gerbang. Berjalan terus menuju pintu keluar sekolah yang letakknya berdekatan dengan jalan raya. Sekolahku berada di dekat jalan raya, namanya Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo. Salah satu jalan protokol di kotaku. Di depan sekolahku terdapat sebuah halte.

"Ah sudahlah!", jawabku dalam hati.

Disebut halte angkot, karena tidak ada bus di kotaku. Trotoar terlihat sepanjang jalan.Di sebelah kiri

Aku kuatkan niat dan langkah untuk keluar dari pintu gerbang. Niatku sudah bulat. Aku ingin menengok Andi!

sekolahku, kira-kira berjarak dua ratusan meter, terdapat sebuah pasar yang cukup besar, merupakan salah satu pasar utama di kotaku, namanya Pasar Gunung Sari. Persis di depan pasar

Seiring kuatnya niatku, maka rasa yang gelisah itu mulai menghilang.

tersebut terdapat sebuah mall yang terbesar di kotaku. Dipisahkan oleh sebuah jalan raya yang lebarnya kirakira lima mobil. Mall terbesar itu 24.

bernama Grage Mall. Tempat yang sering dijadikan tempat nongkrong anak sekolah. Meskipun seharusnya tidak boleh demikian. Tetapi entah mengapa pengelola mall membiarkan anak sekolah berkeliaran disana menggunakan baju sekolah.

naik. Aku tidak senang dengan pemandangan ini. Aku percepat langkahku untuk mendekati mereka.

"Lepaskan! Lepaskan!", teriak adik kelasku.

Aku sudah berjalan keluar dari pintu keluar sekolah. Berbelok ke sebelah kiri, menaiki trotoar pejalan kaki dan meneruskan jalan menuju ke arah pasar. Deretan setelah sekolahku juga terdapat ruko-ruko yang di depannya ada halaman ruang kosong untuk parkir mobil atau motor.

"Sudah diam! Sini berikan tasmu!", hardik salah satu pemuda yang mencoba merebut tasnya. Pemuda yang satunya hanya menyeringai sambil menunjukkan wajah seramnya. Tampaknya ia berusaha agar korban ketakutan.

Jarakku hanya tinggal lima meteran saja. Pemuda yang berbadan paling besar Dari jarak kira-kira lima puluhan meter, aku melihat ada beberapa pemuda yang mendekati adik kelasku. Aku tahu persis dia adik kelasku karena baju yang dipakainya. Meski demikian, aku tidak tahu namanya. Mereka terdiri dari tiga orang. Dua orang yang berbadan sedang dan satu orang yang berbadan besar dan tegap. Ah, dahiku mengerenyit. Tampaknya mereka sedang berusaha memaksa adik kelasku untuk menyerahkan barang berharganya. Aku melihat adik kelasku memegang erat tasnya. Sedangkan dua orang pemuda tadi mencoba merebutnya. Pemuda yang berbadan besar dan tegap hanya menonton saja. Aku menggeser tasku ke arah punggung. Aku tahu, sebentar lagi pasti akan terjadi perkelahian. Meskipun ayah selalu berpesan agar sebisa mungkin menghindari perkelahian, tapi aku tidak bisa melihat keadaan seperti ini di depan mataku. Entahlah, apakah aku sok jagoan atau bagaimana. Yang jelas, batinku tidak bisa menerima keadaan ini. "Hei kalian! Hentikan!", teriakku lantang sambil jari telunjukku mengarah pada kedua pemuda tersebut bergantian. dan paling tegap menoleh ke arahku.

Tiba-tiba dadaku bergemuruh. Emosiku

Kedua pemuda tersebut menoleh ke 25.

arahku. Salah satunya tertawa. Salah satunya lagi berjalan ke arahku. Dheg!

"Hahaha, mau ada yang jadi jagoan ya disini?", ucap pemuda yang berjalan ke arahku itu. Pandangan matanya tajam menusuk ke arahku. Jaraknya hanya sekitar satu meteran di depanku.

Aku terdiam. Tiba-tiba pusarku terasa menghangat. Rasa hangatnya bergerak naik. Alirannya terasa lebih cepat memenuhi seluruh tubuhku. Dadaku semakin bergemuruh.

Aku berdiri terdiam. Kedua bahuku aku lemaskan, tangan menjuntai ke bawah.

Secara reflek tangan kiriku menangkap tangan kanan yang mencengkeram kerahku, lalu memutarnya dengan cepat dan menariknya ke atas lebih tinggi dari

Pemuda itu semakin mendekatiku dan ia langsung mencengkram kerah bajuku dengan tangan kanannya.

kepalaku. Bersamaan dengan itu, tangan kananku bergerak cepat ikut membantu menguatkan pegangan tangan kiriku pada tangan pemuda itu. Lalu menekuknya ke arah pingggang kanan si pemuda

"Lu mau jadi jagoan disini?!!", hardik sang pemuda. Cengkraman kerah bajuku semakin diperkeras.

sehingga ia menjadi terbungkuk. Setelah itu kaki kiriku aku geser ke belakang dengan cepat sambil kedua tanganku menarik tangan si pemuda tersebut ke arah lutut kiriku. Gerakan ini membuat

"Nggak mas. Tapi tolong lepaskan adik kelas saya.", tanyaku pada sang pemuda. Aku mencoba ramah dan tidak berusaha menekan pada intonasi suaraku. Tak disangka, pemuda di depanku ini tampak semakin marah dengan jawabanku.

tubuh si pemuda terbanting dengan lengan terpuntir dan kepalanya berada di bawah lutut kiriku!

BUGGH!!!

"Eeh, lu siapa hah! Seenaknya aja main perintah! Lu mau gua hajar?!!", hardik si pemuda lebih keras sambil mendorongku ke belakang. Cengkramannya tidak ia lepaskan.

Ia terbanting keras.

"Uuuughh!!", teriak pemuda ini.

26.

Tidak berhenti sampai disitu, aku memutar lengannya sambil mengunci siku pemuda tersebut dengan lutut kiriku.

tangan, atau yang lainnya. Sedangkan sasaran serangan adalah titik-titik pada tubuh yang sudah diidentifikasi sedemikian rupa. Beberapa titik menyebabkan rasa sakit yang biasa-

"Aaaaaakkh!", pemuda itu berteriak kesakitan.

biasa saja, tapi beberapa menyebabkan rasa sakit yang sangat dahsyat, beberapa malah bisa menyebabkan kematian. Ayahku selalu mengingatkan,

Gerakanku masih berlanjut. Tangan kananku aku lepas dan langsung memukul urat leher besar di sebelah kanan. Pemuda itu tampak lemas. Ia pingsan!

bahwa pelajaran mengetahui titik-titik rawan tubuh janganlah melulu ditafsirkan sebagai cara untuk mengalahkan lawan dengan cepat. Tapi lebih jauh dari itu, pengetahuan terhadap titik-titik rawan tubuh juga

Oooh tidak! Aku lupa! Aku tidak boleh melakukan ini! Urat leher besar kanan adalah daerah sensitif, yang kalau terkena serangan keras akibatnya bisa menghentikan aliran darah dan bahkan bisa menyebabkan kematian. Ah, aku merasa bersalah.

bisa digunakan untuk mengobati seseorang, atau lebih jauh lagi bahkan dapat meningkatkan kemampuan kita. Tergantung ingin digunakan bagaimana pengetahuan tersebut. Ayah juga mengingatkan, bahwa pada mereka yang sudah terlatih fisik dan olah nafas, maka titik-titik rawan ini bisa sedemikian kuat, bahkan bisa disembunyikan, atau

Sesaat aku jadi teringat saat latihan bersama ayah. Saat itu, ayah mengajariku mengenai titik-titik rawan di dalam tubuh manusia. Titik-titik dimana apabila serangan kita diarahkan kepadanya akan bisa membawa rasa sakit dan penderitaan berat bagi lawan. Ayah pernah berkata bahwa ketika gerakan dilakukan, maka ia umumnya terdiri dari alat penyasar serangan dan sasaran serangan. Alat penyasar disesuaikan dengan bentuk gerakan. Ada yang berupa kepalan tangan utuh, ujung jari, sisi telapak tangan, punggung telapak tangan, ujung siku, telapak

lebih jauh lagi bisa digeser. Ayah menambahkan, bahwa yang digeser atau disembunyikan bukanlah fisik dari titik tersebut, tetapi rasa yang ada di dalamnya. Jadi, tidak semua titik-titik ini menjadi rawan. Tergantung dengan siapa kita berhadapan. Tetap waspada, dan jangan lengah. Begitulah pesan ayah. Meski demikian, ayah tidak pernah bosan mengingatkan agar sebisa mungkin menahan amarah, menahan emosi.

Maafkan aku ayah, aku sudah melanggar nasehatmu. Aku terpaksa melakukan ini. 27.

Tubuhku bergerak sendiri. Mengikuti naluriku. Mengikuti 'theg' di hatiku. Aku ingin memberi pelajaran pada orangorang jahat ini.

oleh tangan kiriku. Aku memutar tumit kaki kananku empat puluh lima derajat dan menarik kaki kiriku dengan cara menyeret memendek sehingga kaki kanan pemuda itu mendekat ke badanku. Ini adalah sikap leyek belakang. Tangan

Aku berdiri kembali, membiarkan pemuda ini tergeletak pingsan di sebelah kiriku. Aku menoleh pada pemuda yang satunya.

kananku melakukan gerakan yang disebut dengan Punggung Siku Datar yakni salah satu serangan tangan dimana punggung siku digunakan sebagai alat penyasarnya. Adapun sasarannya adalah sendi lutut kaki pemuda tersebut.

"Hei! Lu apain temen gua hah! Sialan lu!", teriak pemuda yang satunya. Ia berlari menuju ke arahku. "Aaakh!!!", pemuda itu berteriak.

Tiba-tiba ia meloncat sambil menendang dengan kaki kanannya. Tendangannya cukup keras. Aku menggeser kaki kananku melebar ke arah kanan sambil menekuk lutut kanan. Bersamaan dengan itu pinggangku aku putar sedemikian rupa sehingga tubuhku yang tadinya menghadap ke depan menjadi menghadap ke kanan. Ini adalah posisi leyek depan. Posisi yang bisa digunakan menghindar. Tendangan lawan otomatis tidak mengenai tubuhku. Aku melanjutkan gerakan.

Aku mengenai persendian lutut kanannya dengan keras. Meskipun aku sudah mengurangi tenagaku, tapi tak urung tetap membuat pemuda itu berteriak kesakitan. Kalau saja aku lepas kendali, aku pasti sudah mematahkan persendian lutut pemuda itu. Beruntung aku teringat pesan ayah agar tetap terkendali dan terkontrol meskipun dalam situasi sesulit apapun. Aku harus membereskan pemuda ini dengan cepat.

Gerakanku berlanjut. Kaki kananku aku geser mendekati tubuh pemuda itu Tangan kiriku aku gerakkan untuk melakukan tangkisan bawah, bergerak mengayun dengan lintasan dari atas ke bawah dan mengenai pergelangan kaki kanan pemuda tersebut. Sesaat setelah terasa mengena aku langsung mencengkram celana yang terpegang 28. sambil aku melakukan serangan yang disebut dengan Ujung Siku Datar. Serangan ini aku arahkan pada ulu hatinya. Sesuai dengan namanya, alat penyasarnya adalah ujung siku.

BUKK!!

kira-kira satu meter di depanku.

Pemuda itu tidak bersuara. Ulu hatinya terkena seranganku dengan telak. Ia terjatuh, mengaduh. Berguling-guling sebentar sambil memegangi ulu hatinya, lalu pingsan!

"Hmm, kamu keliatannya boleh juga...", ucap pemuda tersebut kalem.

Aku terdiam. Tidak menanggapi ucapannya. Tenang itu biasanya menghanyutkan. Begitu kata ayah saat

Aku terkejut. Apakah aku sekeras itu memukul? Rasanya biasa saja.

memberikan nasehat kepadaku. Berhatihatilah terhadap orang yang tenang, sebab bisa jadi ia menyimpan sesuatu.

Aku terngiang ucapan ayahku bahwa ketika seseorang sudah melatih tata gerak dengan pengulangan yang sangat banyak sedemikian rupa, maka gerakannya akan menjadi sangat akurat, sangat bertenaga. Apalagi kalau pada saat yang bersamaan juga ia melatih olah nafas dan digabungkan dengan penerapan tata geraknya. Maka efeknya bisa sangat dahsyat. Tanpa olah nafas saja efeknya bisa sangat membahayakan, apalagi digabung secara bersamaan. Aku tertegun. Masih dengan posisi ujung siku tangan kananku membentuk serangan. "Sudahlah, tidak usah banyak omong! Terima saja ini... huh!", teriak pemuda itu yang serta merta langsung menyerang dengan pukulan lurus ke arah kepalaku. Kuda-kudanya terlihat begitu Dua pemuda sudah roboh. lebar dengan kaki kanan di depan dan sedikit ditekuk. Pemuda yang satu lagi tampak cukup tenang. Ia terlihat lebih percaya diri dibanding teman-temannya. Ia juga lebih tegap dan kuat dibanding dua temannya. Ia berjalan mendekatiku dan berhenti Tidak mau kepalaku jadi sasaran serangan lawan, aku melangkah ke samping menghindari serangan pukulan dengan sikap leyek dengan tangan kiriku 29. Pemuda ini mulai berjalan mengitariku. Aku semakin waspada. "Maafkan saya kak. Tadinya saya hanya ingin teman-teman kakak ini tidak mengganggu adik kelas saya. Itu aja kak.", ucapku memulai. Pusarku kembali menghangat. Aku mulai waspada.

melakukan gerakan tangkisan bernama Tangkisan Atas, yakni tangkisan dengan menggunakan sisi telapak tangan yang sedikit ditekuk ke arah luar.

dengan Tendangan Samping menggunakan sisi telapak kaki kananku.

Pemuda itu menggeser tubuhnya ke arah kiri. Ia berusaha menjauh. Aku tidak TAKKK!! tinggal diam. Aku langsung mendekatinya dan melakukan serangan Pukulan Datar, yakni sebuah pukulan lurus dengan Aku berhasil menangkisnya. kepalan tangan yang aku arahkan di dadanya. "Huh, gerakan ini lagi! Sudah aku baca!", ucap pemuda itu. Ia langsung mengganti serangannya dengan melangkah maju dan melakukan pukulan yang kedua dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya ia simpan di pinggang kanan. Seranganku mengenainya. Pemuda itu terdorong mundur. Ia tampaknya tidak merasa kesakitan seperti dua pemuda tadi. Padahal pukulanku cukup keras Melihat ini, kaki kiriku aku gerakkan memutar ke arah belakang kaki kananku sehingga sedikit melewatinya. Putaran ini sekaligus dibarengi putaran pinggangku dengan tangan kananku melakukan gerakan tangkisan dengan punggung tangan. Gerak langkah ini disebut dengan Srimpet, sedangkan gerak tangkisannya disebut dengan Potongan. "Lumayan! Pantas lu berani sok jagoan!", ucap pemuda tersebut. Ia tidak mengelus dadanya atau mengurut dadanya. Ia terlihat biasa saja. Kepalanya manggut-manggut. Wajahnya kini terlihat serius. Tangannya kirinya terlihat masuk ke kantong celana PLAKK!! sedangkan tangan kanannya mengeluselus dagunya yang tidak berjenggot. Punggung tanganku berhasil menangkis serangan pukulannya. Kaki kananku secara reflek berusaha menendang ke arah tubuh pemuda itu dengan keras Aku kembali berdiri dengan kaki sejajar bahu. Jarak kami hanya sekitar satu setengah meter. 30. mengenai dadanya. Meski sedikit di atas ulu hatinya. Aku yakin cukup keras. Tapi rupanya belum cukup keras. BUGGH!!

begitu sakit aku rasakan. Aku lebih mengkhawatirkan mataku. Uuh sial, Tiba-tiba tangan kiri pemuda itu bergerak ke arah wajahku dan melemparkan sesuatu. Sekilas terlihat seperti pasir-pasir yang dilemparkan. Aku tidak tahu apa yang dilemparkan, apakah pasir atau bukan. Disaat seperti ini, aku teringat kembali latihan bersama ayah. Ayah mengajarkanku suatu materi yang ia sebut dengan Getaran Tutup Mata. Kata ayah, ini adalah salah satu seni rahasia "Terima ini!", ucap pemuda itu mendadak. dari aliran beladirinya. Memungkinkan orang yang melatihnya mampu mengembangkan daya kepekaan sedemikian rupa sehingga ia tidak "Uuuuh!", aku mencoba menutup kedua mata dengan tanganku. Tapi terlambat. Sebagian pasir mengenai mataku. Perih terasa. Aku langsung mundur tiga langkah. Mencoba menjaga jarak, sambil tanganku berusaha mengusap-usap kedua mataku yang perih. membutuhkan daya lihat optik seperti mata. Penglihatannya diganti dengan rasa. Rasa adalah penglihatannya. Sebuah daya kepekaan sedemikian rupa untuk menangkap gelombang, untuk menangkap getaran. Sebab getaran adalah gelombang. Semua yang bergetar akan memancarkan gelombang. Dan itu bisa kita rasakan, kata ayah. Air, batu, "Uuuh, bahaya ini. Perihnya tetap terasa!", batinku dalam hati. kayu, sungai, cahaya matahari, kulit, urat, otot, darah, semua memiliki getaran pada tingkatannya masingmasing. Dan semuanya memancarkan Aku hanya mendengar suara langkah kaki di depanku. Tiba-tiba dadaku terasa nyeri karena ditendang oleh pemuda itu. Aku kemudian menjadi lebih tenang. Aku pusatkan konsentrasi pada rasa. Pada BUGGGH!! warna hitam di 'pandangan' mataku. Aku mencoba menembus selubung penghalang rasa seperti yang pernah diajarkan oleh Aku terpental sampai tiga meteran. Jatuh berguling-guling di tanah. Aku langsung berusaha berdiri, dengan masih memejamkan mata. Serangan itu tidak ayahku. Perlahan, pori-pori kulitku mulai membesar seiring dengan guratan abstrak putih mulai terbentuk. Gambaran seperti siaran televisi rusak 31. gelombang. Itulah yang dirasakan. mataku masih perih.

mulai terlihat. Hitam dan putih. Terbayang dan berbayang. Semua yang berada di sebelah kananku, di sebelah kiriku, di depanku, di belakangku, di atasku, menjadi begitu sangat terasa. Setiap langkah dari pemuda itu sangat terasa. Aliran udara di sekitar tubuhnya. Bahkan hingga detak jantungnya pun terasa sekali. Sosok pemuda di depanku 'terlihat' mendekat. Jaraknya semakin dekat.

"Kurang ajar! Nih!", pemuda itu terlihat maju merangsek sambil memukul dengan tangan kanannya dengan arah lintasan memutar ke arah pelipis mata kananku. Tapi sebelum serangan itu sampai ke pelipis kananku, aku maju menyongsong serangannya sambil melakukan Tangkisan Atas dan Pukulan Datar secara bersamaan. Sasaran dari pukulan datarku adalah hidung pemuda itu.

PLAKK!! DHUESSS!!! Aku terdiam. Waspada. Pemuda itu terjerembab. Ia terjatuh "Mampus lu!", teriak pemuda itu sambil kaki kanannya menendang keras ke arahku. dan mengaduh sambil memegangi hidungnya. Darah 'terlihat' mengucur dari hidungnya. Aku kembali mengambil posisi siap. Barangkali pemuda itu masih punya rencana lain. Aku menggeser kakiku ke arah kanan. Serangan kaki itu luput. Ia kemudian berdiri, lalu berlari. Pemuda Pemuda itu kaget karena serangannya gagal. itu meninggalkan teman-temannya yang tergeletak. Ia tampak tidak peduli.

"Sialan lu! Nih, gua beri lagi!", hardik pemuda itu. Ia kemudian menendang kembali dengan kaki kirinya.

"Awas lu!!", teriak pemuda itu sambil berlari menjauh dan memegangi hidungnya. Aku hanya merasakan pemuda itu semakin menjauh. Ia terus berlari, dan aku tidak mempedulikannya.

Aku kembali menggeser kakiku, menjauh sedikit dari serangannya. Serangan kedua itu luput lagi. Suasana kemudian jadi hening. Aku hanya merasakan dua orang yang masih tergeletak pingsan. Uuh, mataku harus aku bersihkan. Aku kemudian menebar 32.

getaran deteksi ke sekelilingku. Mencoba mencari pedagang teh botol di sekitarku. Ketemu. Pedagang itu ada tidak jauh dari sebelah kiriku. Aku menghampirinya sambil masih tetap memejamkan mata. "Mas, beli Aqua satu ya", tanyaku. Tanganku langsung mengambil sebotol Aqua. Membuka tutupnya, lalu menuangkannya ke mataku sambil aku usap-usap. Aku mencoba membersihkan mataku dari rasa perih. Aku mengembalikan seluruh rasa getaran yang tadi aku gunakan ini kepada organ optikku kembali. Setelah itu aku mencoba membuka mata. Masih agak perih dengan pandangan sedikit kabur. Aku tuangkan kembali air Aqua itu pada kedua mataku. Aku usap-usap perlahan. Tidak berapa lama pandangan mataku sudah mulai normal. Alhamdulillah. Aku bersyukur tidak terjadi apa-apa pada kedua mataku. "I...i..iya mas", jawab pedagang itu. Ia barangkali bingung bagaimana aku bisa menghampirinya dan mengambil Aqua dengan tepat meskipun mataku terpejam. Aku tersenyum. Ini pertama kalinya aku menguji kemampuan Getaran Tutup Mata pada situasi sebenarnya. Meski ada banyak pertanyaan, tapi saat ini aku cukup puas. Terutama saat aku melakukan serangan terakhir. Sesungguhnya sebelum serangan pemuda itu akan disarangkan kepadaku, sesaat

sebelum serangan itu sampai, getaran 'niat' dari pemuda itu bisa aku rasakan benar. Aku sebenarnya sudah tahu kaki kanannya akan menendangku. Aku juga tahu kemudian kaki kirinya mencoba menendangku lagi. Dan pada serangannya yang ketiga, aku sudah bisa merasakan getaran 'niat' dari pemuda itu untuk melakukan serangan tangan berupa pukulan melingkar. Itulah sebabnya aku bisa menghindar dengan sempurna. Aliran getaran dari 'niat' dan bagian tubuh pemuda itu terasa di hatiku dan merambati seluruh tubuhku. Sehingga aku bisa melakukan antisipasi dengan benar. Meski demikian, ada satu hal yang masih jadi pertanyaan di benakku. Yakni saat sebelumnya aku berhasil memukul dada pemuda itu, tapi ia tampak tidak kesakitan. Padahal pukulanku cukup keras kulayangkan ke dadanya. Aku ingin menanyakan nanti pada ayah kenapa bisa begitu. Aku juga ingin minta maaf karena sudah melanggar nasehatnya dengan berkelahi di jalanan. Sesuatu yang ayahku sangat tidak sukai. Aku terngiang ucapan ayah. "Getaran adalah gelombang. Gelombang adalah getaran. Getaran dari sukma sejati. Gelombang dari sukma sejati. Seni ini sangat istimewa. Mengembangkan ini akan membuka cakrawala pengetahuan beladiri yang sama sekali baru. Akan membuka ranah pengetahuan baru. Sebuah evolusi yang 33.

benar-benar evolusi. Bukan sekedar pengembangan, tetapi benar-benar evolusi. Belum pernah dibukukan sebelumnya. Belum pernah dipikirkan sebelumnya. Gabungan tradisional dengan modern. Satu ruang tumbuh yang baru. Yang suatu hari nanti akan kamu tempati, asalkan kamu masih di jalan pendekar dan ilmuwan.", ucap ayah.

”Ayah terimakasih untuk semuanya,berkatmu pelajaran yang ayah berikan aku bias menjaga diriku dan orang lains”.

34.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->