P. 1
Metode Sosiologi

Metode Sosiologi

|Views: 517|Likes:

More info:

Published by: Arnold Jayendra Sianturi on Aug 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/16/2013

pdf

text

original

1

METODE SOSIOLOGI
Sebagaimana telah kita lihat, maka, seperti juga ilmu-ilmu pengetahuan lainnya, sosiologi merupakan suatu ilmu pengetahuan yang lahir, tumbuh, dan berkembang. Agar ilmu pengetahuan yang mempelajari berbagai segi kehidupan sosial manusia ini dapat tumbuh dan berkembang, perlu dilakukan kegiatan yang dinamakan penelitian sosial. Melalui penelitian sosial para ahli sosiologi mengumpulkan data yang dapat menambah pengetahuan kita mengenai sasaran perhatian mereka, yaitu masyarakat; melalui penelitian sosial para ahli sosiologi menemukan fakta baru yang memperluas cakrawala serta memperdalam pemahaman kita sehingga merupakan sumbangan ke arah pengembangan sosiologi. Bagaimanakah para ahli sosiologi mempelajari sasaran perhatian mereka?. Sebagaimana Anda mungkin masih ingat di kala kita membahas Comte (dengan metode positifnya) dan Durkheim (dengan aturan metode sosiologinya), maka dalam sosiologi dikenal berbagai cara-metode-untuk mempelajari gejala sosial. Metode penelitian yang digunakan ahli sosiologi tidak selalu sama, karena ruang lingkup sasaran perhatian para ahli sosiologi tidak selalu sama; ada yang mempelajari fakta sosial (Durkheim), sistem sosial (Parsons), institusi sosial (Durkheim), tindakan sosial (Weber). Sebagaimana akan kita lihat pada akhir buku ini, maka metode yang digunakan seorang ahli sosiologi terkait secara erat dengan teori atau paradigma yang dianutnya. Dalam usaha mengumpulkan data yang dapat menghasilkan temuan-temuan baru dalam sosiologi, para ahli sosiologi perlu memperhatikan tahap penelitian, yang saling berkaitan secara erat. Walaupun jumlah serta jenis tahap yang dijabarkan dalam berbagai buku penuntun metode penelitian tidak selalu sama, namun dalam kebanyakan buku tersebut dijumpai beberapa tahap yang dianggap pokok, yaitu tahap perumusan masalah, penyusunan desain penelitian, pengumpulan data, analisis data dan penulisan laporan penelitian.

2

PERUMUSAN MASALAH Berkat hasil pemikiran serta hasil penelitian sejumlah besar ahli sosiologi, terutama mereka yang telah berhasil mengungkapkan temuan-temuan baru, sosiologi makin berkembang. Usaha-usaha untuk memperluas cakrawala sosiologi dibangun di atas hasil temuan para ahli sosiologi terdahulu, dan setiap temuan baru merupakan suatu sumbangan pada suatu himpunan pengetahuan sehingga pengetahuan kita mengenai masyarakat bertambah. Karena itulah, sebelum memulai suatu usaha penelitian seorang ahli sosiologi tertebih dahulu harus melakukan tinjauan pustaka (literature review), yaitu tinjauan terhadap bahan-bahan pustaka yang ada di bidang yang bersangkutan agar dapat mengetahui temuan-temuan apa sajakah yang sebelumnya pernah dilakukan oleh ahli sosiologi lain. Seseorang yang ingin meneliti masalah sosiologi agama, misalnya, sekurang-kurangnya perlu mengenai tulisan tokoh klasik seperti Emile Durkheim dan Max Weber maupun tokoh masa kini seperti Robert Bellah dan Peter Berger mengenai pokok bahasan tersebut. Sukar dibayangkan suatu penelitian terhadap sistem kasta di India yang tidak didahului dengan tinjauan terhadap tulisan ahli sosiologi Srinivas dari India mengenai kasta. Suatu studi terhadap nasionalisme dan revolusi Indonesia pada tahun 1945 harus memanfaatkan karya relevan ilmuwan sosial seperti George McTurnan Kahin atau Benedict R.O.G. Anderson. Dan tulisan ilmuwan sosial Indonesia seperti Selo Soemardjan, Koentjaraningrat, Sajogyo, Soedjito Sosrodihardjo, Loekman Soetrisno merupakan bacaan wajib bagi mereka yang ingin mempelajari masayarakat desa di Jawa. Hanya melalui cara tinjauan pustakalah seseorang dapat mengetahui sumbangan apa yang dapat diberikannya kepada pengembangan ilmu melalui penelitian yang akan dilakukannya itu. Kadang-kadang seorang peneliti melakukan penelitian terhadap suatu objek tertentu tanpa terlalu memperhatikan hasil karya ahli sosiologi lain yang berkecimpung dalam bidang yang sama. Dalam hal demikian mungkin saja beberapa orang peneliti melakukan kegiatan penelitian serupa, tanpa saling mengetahui kegiatan masingmasing; dan masing-masing mungkin lalu merasa bahwa ia melakukan sesuatu yang asli, menemukan sesuatu yang baru. Dalam sejarah ilmu pengetahuan peristiwa

3

semacam ini banyak dijumpai, dan tidak jarang menimbulkan konflik perihal masalah keaslian temuan yang telah dilakukan masing-masing peneliti (lihat, antara lain, Merton, 1974). Selama tujuh tahun, misalnya, baik Luc Montagnier dari Institut Pasteur di Paris maupun Gallo dari Institut Kesehatan Nasional A.S. di Bethesda, Maryland masing-masing bersiteguh bahwa ialah yang pertama kali menemukan virus HIV yang menjadi penyebab penyakit AIDS. Semula tercapai kata sepakat bahwa kedua-duanya berhak mendapat penghargaan sebagai penemu virus HIV (lihat TIME, 20 Mei 1991), tetapi kemudian Gallo dituduh telah melakukan kecurangan. Kemungkinan lain ialah bahwa seseorang merasa telah menemukan sesuatu yang sebenarnya sudah lama ditemukan oleh ahli lain terdahulu. Masalah seperti ini terutama banyak dijumpai dalam masyarakat yang sedang berkembang dimana sarana komunikasi ilmiah seperti perpustakaan, buku, majalah, makalah ilmiah masih langka dan tradisi melakukan komunikasi ilmiah seperti tukar-menukar informasi ilmiah masih lemah, sehingga seorang ilmuwan seolah-olah bekerja sendiri secara terisolasi tanpa banyak mengetahui perkembangan yang terjadi di dalam bidang ilmunya (lihat, antara lain, Shils, 1972). Dengan semakin majunya teknologi komunikasi yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan komunikasi ilmiah, termasuk di dalamnya penggunaan komputer, jaringan internet, antena parabola, faksimili, komunikasi ilmiahpun menjadi semakin efektif dan efisien, dan daya jangkaunya semakin luas. Dengan demikian kemungkinan untuk tertinggal perkembangan ilmupun menjadi semakin besar bagi para ilmuwan yang tidak mau ataupun tidak mampu memanfaatkan teknologi komunikasi mutakhir tersebut. Selain mempelajari karya ahli sosiologi tertentu, dan menggunakannya dalam rangka usahanya untuk merumuskan masalah penelitian (research problem), maka seorang ilmuwan wajib pula menyatakan pengakuannya terhadap hasil karya ahli sosiologi lain tersebut dengan jalan menyebutkan nama dan hasil karya mereka di dalam tulisannya. Asas ini mencerminkan dianutnya norma kerendahan hati Ilmuwan, yang antara lain terwujud dengan pernyataan Newton mengeni standing on the

4

shoulders of giants (lihat Merton; 1974). Mereka yang tidak meng-indahkan hal milik intelektual Ilmuwan lain menghadapi risiko dituduh melakukan pelanggaran etika akademi dan terancam sanksi. Suatu penelitian diawali dengan suatu masalah penelitian, yang, sebagaimana telah kita lihat dalam Bab 2 mengenai pokok bahasan sosiologi, tidak selalu harus berarti masalah sosial. Bagaimanakah para perintis sosiologi merumuskan masalah penelitian mereka? Durkheim tertarik pada gejala bunuh diri, yang dirumuskannya sebagai "semua kasus kematian yang secara langsung ataupun tidak langsung dihasilkan oleh suatu tindak positif atau negatif si korban sendiri, yang diketahuinya akan membawa hasil tersebut" (Durkheim, 1968:44 terjemahan penulis). Dari data dalam berbagai dokumen Durkheim menyimpulkan bahwa dalam setiap masyarakat dijumpai suatu fakta sosial yang pasti, yaitu apa yang dinamakannya angka bunuh diri (suicide rate), angka perbandingan antara jumlah bunuh diri dengan jumlah penduduk masyarakat yang bersangkutan. Pertanyaan penelitian Durkheim adalah: faktor sosial apakah yang mempengaruhi angka bunuh diri dalam masyarakat? Kenapa angka tersebut berbeda antar satu masyarakat dengan masyarakat yang lain? Dan kenapa angka bunuh diri pada suatu masyarakat dapat berubah? Usaha Durkheim untuk menjawab pertanyaan penelitian tersebut dengan mengkaji data bunuh diri di berbagai wilayah di Eropa kemudian menghasilkan karyanya yang terkenal, Suicide (1968). Contoh lain mengenai suatu pertanyaan awal yang kemudian menghasilkan suatu karya besar ialah pertanyaan yang diajukan Max Weber. Karyanya The Protestant Ethic and the Spirit of a Capitalism (judul asli: Die protestantische Ethik und der Geist des Kapitalismus) dimulai dengan pengamatan bahwa di Jerman pimpinan perusahaan serta pemilik modal, para karyawan yang berketerampilan tinggi, serta personel terlatih perusahaan-perusahaan modern sebagian besar beragama Protestan (Weber, 1958:35). Dari pengamatan ini Weber sampai pada suatu pertanyaan dasar: kenapa terdapat hubungan antara pernyataan tertentu dari semangat Protestan kuno dengan kebudayaan kapitalis modern? Penelitian Weber untuk menjawab

5

pertanyaan tersebut menghasilkan tesisnya yang terkenal, yang hingga kini masih tetap menjadi pokok bahasan para ahli sosiologi. Sebagaimana halnya dengan hasil penelitian para perintis ilmu-ilmu sosial di masa lampau maka berbagai hasil penelitian masa kini terhadap masyarakat kitapun mcncerminkan keinginan para ahli ilmu sosial untuk menjawab suatu pertanyaan yang dianggap mendasar. Ahli ilmu politik Herbert Feith, misalnya, ingin mempelajari faktor yang menyebabkan memudarnya demokrasi konstitusional di Indonesia dalam periode 1948-1957 (Feith, 1968:xi); ahli antropologi Clifforc Geertz tidak puas dengan pernyataan bahwa lebih dari 90% Jawa beragama Islam, dan meneliti masyarakat sebuah kota di Jawa Timur untuk mencoba mengungkapkan keanekaragaman ritual, kepercayaan, dan nilai yang tersembunyi di balik pernyataan tersebut (Geertz, 1964:7); ahli sosiologi Selo Soemardjan berusaha untuk menggambarkan perubahan politik dan sosial di Yogyakarta di masa-masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang dan selama revolusi 1945 - 1949 (1962:xviii-xix). Dengan terjawabnya pertanyaan awal tersebut melalui prosedur yang disepakati masyarakat ilmiah, maka ilmu berkembang; batas-batas pengetahuan, "the frontiers of knowledge", diubah. TAHAP PENYUSUNAN DESAIN PENELITIAN DAN PENGUMPULAN DATA Setelah pertanyaan penelitian dirumuskan sedemikian rupa sehingga peneliti mempunyai suatu gambaran mengenai apa yang hendak diketahuinya melalui penelitian, maka ia harus menentukan metode penelitian yang akan dipilihnya untuk mengumpulkan data. Dalam ilmu-ilmu sosial dikenal berbagai metode pengumpulan data, seperti metode survai serta beberapa metode nonsurvai seperti metode pengamatan dan metode eksperimen. METODE-METODE UTAMA PENGUMPULAN DATA Penelitian Survai. Penelitian survai (survey research) ialah suatu jenis penelitian yang di dalamnya hal yang hendak diketahui peneliti dituangkan dalam suatu daftar pertanyaan (questionnaire) baku. Teknik survai ini sudah lama digunakan; pada tahun 1880, misalnya, Karl Marx mengirimkan daftar pertanyaan ke-25.000 orang buruh di Perancis, dan ahli sosiologi Max Weber pun dikabarkan menggunakan

6

teknik survai dalam penelitiannya terhadap Etika Protestan (lihat Babbie, 1973). Menurut Babbie ahli sosiologi masa kini yang dapat dianggap sebagai perintis teknik penelitian survai ialah Samuel A. Stouffer dan Paul F. Lazarsfeld. Suatu daftar pertanyaan pada umumnya memuat sejumlah pertanyaan yang dikenal dengan nama pertanyaan tertutup karena subyek penelitian diminta memilih satu dari sejumlah jawaban yang telah disediakan oleh peneliti. Contoh dari pertanyaan tertutup ialah, misalnya: "Apakah Saudara sekarang telah menikah dan hidup bersama suami atau istri saudara, janda atau duda, bercerai, berpisah, atau belum pernah menikah?", yang dijawab subyek penelitian dengan memilih satu di antara jawaban berikut: "Menikah, Janda/duda, Bercerai, Berpisah, Tidak pernah menikah." Kadang-kadang daftar pertanyaan memuat pula pertanyaan terbuka, pertanyaan yang dijawab secara bebas sesuai dengan keinginan subyek penelitian. Contohnya: pertanyaan "Mengapa Saudara tidak pernah meminjam uang dari bank? Harap jelaskan!" dapat dijawab secara bebas tanpa terikat pada sejumlah jawaban yang telah ditetapkan peneliti. Teknik survai mengandung persamaan dengan sensus; namun pada sensus yang menjadi subyek wawancara adalah seluruh populasi, misalnya semua kepala rumah tangga di seluruh Indonesia, sedangkan dalam teknik survai daftar pertanyaan diajukan pada sejumlah subyek penelitian yang dianggap mewakili populasi, misalnya 5% dari seluruh kepala rumah tangga di Indonesia. Biasanya para subyek penelitian survai merupakan contoh (sample) suatu populasi. Contoh dipilih secara acak atau dengan teknik penarikan contoh lain. Pada umumnya daftar pertanyaan dijadikan pedoman oleh pewawancara untuk mewawancarai subyek penelitian; dalam kasus tertentu (seperti misalnya kasus penelitian terhadap buruh Perancis tersebut di atas), subyek penelitian diminta untuk mengisi sendiri suatu daftar pertanyaan suatu teknik yang dikenal dengan nama selfadministered questionnaire.

7

Pengamatan. Pengamatan (observation) merupakan suatu metode penelitian nonsurvai. Dengan metode ini peneliti mengamati secara langsung perilaku para subyek penelitiannya. Melalui pengamatan terhadap perilaku seseorang atau sekelompok orang dalam kurun waktu relatif lama, seorang peneliti memperoleh banyak kesempatan untuk mengumpulkan data yang bersifat mendalam dan rinci, suatu hal yang kurang dapat dicapai dengan memakai metode survai. Selain itu, pengamatanpun memungkinkan peneliti untuk merekam perilaku yang wajar, asli, tidak dibuat-buat, spontan, yang mungkin kurang nampak bila ia menggunakan metode survai. Dalam sosiologi dikenal tipologi pengamatan berdasarkan peranan pengamat (lihat, antara lain, Denzin 1970, Lin 1976 dan Ritzer 1980). Tipe pertama dalam tipologi ini penelitian dimana peserta sepenuhnya terlibat (complete participant) atau melakukan pengamatan terlibat (participant observation). Suatu ciri penting yang membedakan pengamatan terlibat ini dengan tipe pengamatan lainnya ialah bahwa dalam penelitian ini para subyek penelitian tidak mengetahui bahwa mereka sedang diteliti oleh pengamat. Contoh penelitian yang menggunakan teknik ini ialah, misalnya, penelitian yang pernah dilakukan mahasiswa jenjang sarjana maupun pascasarjana kita terhadap kelompok gerakan kharismatik dalam agama Katolik atau persekutuan doa dalam salah sutu aliran agama Kristen Protestan. Dalam penelitian demikian mahasiswa menjadi anggota kelompok yang bersangkutan dan sepenuhnya melibatkan diri secara aktif dalam kegiatan kelompok. Ahli antropologi Parsudi Suparlan pun meneliti seluk-beluk kehidupan seharihari para gelandangan yang bermukim di Jakarta Pusat dengan melakukan pengamatan tipe ini (lihat, antara lain, Parsudi Suparlan, 1984:230-251). Ahli sosiologi William Kornblum berhasil mengungkapkan kehidupan di kalangan kaum buruh pabrik di Chicago Selatan, Amerika Serikat dengan jalan bekerja di suatu pabrik sebagai buruh (lihat Kornblum, 1974). Seorang ahli antropologi Unud pernah meneliti perilaku seks buruh bangunan di Denpasar dengan jalan berperan sebagai seorang buruh bangunan.

8

Di lapangan kita lebih sering menjumpai kasus dimana status pengamat selaku peneliti diketahui para subyek penelitian. Dikala sejumlah mahasiswa antropologi UI tinggal beberapa bulan di pedesaan Flores, Sumba dan Timor untuk mempelajari kehidupan pengrajin tenun ikat setempat, misalnya, penduduk setempat pada umumnya mengetahui bahwa para mahasiswa sedang mengumpulkan data untuk penulisan skripsi atau laporan penelitian lain. Dalam tipe penelitian ini, dikatakan bahwa para peserta (mahasiswa) sepenuhnya berperan sebagai pengamat (complete participant-as-observer). Suatu studi terkenal yang mempergunakan pengamatan tape ini ialah karya William Foote Whyte: Street Corner Society (1973). Dalam studi tersebut Whyte, seorang ahli sosiologi, tinggal pada suatu keluarga dalam suatu komunitas miskin di suatu kota besar Amerika. Whyte berhasil menggambarkan struktur sosial komunitas tersebut serta pola interaksi di antara para anggotanya, dengan jalan melibatkan diri dalam berbagai kegiatan sekelompok pemuda yang selalu berkumpul di sudut jalan, bermain boling dengan mereka, berkerumun di bar, berjudi dan sebagainya. Para subyek penelitian Whyte umumnya mengetahui bahwa Whyte akan menulis buku mengenai kehidupan mereka. Para subyek penelitian disertasi ahli sosiologi Selo Soemardjan di Daerah Istimewa Yogyakarta umumnya pun mengetahui bahwa kehadirannya dalam komunitas mereka adalah dalam rangka pengumpulan data untuk suatu laporan penelitian. Tipe ketiga merupakan teknik yang lebih sering lagi dijumpai karena bila dibandingkan dengan kedua teknik sebelumnya, dapat dilakukan secara relatif mudah dan dalam waktu relatif cepat. Dalam penelitian dimana pengamat berperan sebagai peserta (observer as participant) ini peneliti hanya berada di tempat penelitian untuk jangka waktu pendek. Keterbatasan waktu ini memaksanya untuk melakukan penelitian dengan memakai pedoman wawancara atau daftar pertanyaan terstruktur. Meskipun disini masih ada keterlibatan antara peneliti dengan subyek penelitian, namun keterlibatannya bersifat sangat terbatas.

9

Dalam tipe pengamatan keempat peneliti merupakan orang yang sepenuhnya melakukan pengamatan tanpa keterlibatan apa pun dengan subyek penelitian (complete observer). Salah satu contohnya ialah bentuk pengamatan yang oleh Webb et al. dinamakan unobtrusive measures, yang menurut mereka merupakan suatu bentuk nonreactive research (lihat Webb et al., 1966). Unobtrusive measures merupakan cara penelitian yang tidak mencolok, yang bersifat nonreaktif yaitu tidak menimbulkan reaksi pada subyek yang diteliti sehingga perilaku yang diamati, cara bertindak, cara berpakaian, cara berbicara dan sebagainya, terjadi secara wajar, tidak dibuat-buat. Penelitian ahli sosiologi terhadap perilaku di tempat umum seperti di pasar atau di terminal bis sering dilakukan dengan memakai bentuk pengamatan ini. Salah satu kelebihan pengamatan terlibat bila dibandingkan dengan survai ialah bahwa pengamatan terlibat lebih memungkinkan terjalinnya hubungan dekat (rapport) antara peneliti dengan subyek penelitiannya; jangka waktu penelitian yang lebih lama daripada survai memungkinkan peluang lebih besar bagi terjalinnya rasa percaya subyek terhadap peneliti dan bagi diterimanya peneliti sebagai anggota masyarakat. Hal ini antara lain dialami ahli antropologi Clifford Geertz tatkala mengadakan penelitian di Bali (lihat Geertz, 1973:412-453). Berkat sikapnya yang menunjukkan kesetiakawanan dengan penduduk desa dalam menghadapi razia polisi terhadap suatu kegiatan sabung ayam, Geertz secara tidak terduga dan mendadak memperoleh simpati penduduk setempat. Ini memungkinkannya untuk melakukan pengamatan terlibat secara bebas terhadap kegiatan sabung ayam. Atas dasar pengamatannya terhadap interaksi sosial yang terjadi selama sabung ayam, Geertz berhasil menyajikan suatu gambaran komprehensif mengenai jalinan hubungan sosial di antara pihak yang terlibat dalam kegiatan sabung ayam. Riwayat hidup. Riwayat hidup merupakan suatu teknik pengumpulan data dalam sosiologi yang jarang digunakan tetapi dianggap dapat mengungkapkan data yang penting mengenai pengalaman subyektif yang penting bagi pengembangan teori sosiologi. Kajian terhadap riwayat hidup dapat mengungkapkan data baru yang belum terungkap dengan memakai teknik pengumpulan data lainnya.

10

Studi sosiologi terkenal yang memakai pendekatan riwayat hidup ialah tulisan Thomas dan Znaniecki: The Polish Peasants In Europe dan America (lihat Becker, 1966). Studi awal terkenal lain yang pun menggunakan teknik riwayat hidup ialah buku The Jack-Roller yang mengisahkan riwayat hidup seseorang yang disekap dalam rumah tahanan untuk anak nakal (lihat Shaw, 1966 dan Becker, 1966). Studi Kasus. Dalam penelitian dengan memakai teknik studi kasus berbagai segi kehidupan sosial suatu kelompok sosial menyeluruh. Penelitian studi kasus klasik dalam sosiologi ialah penelitian Robert S. Lynd dan Helen Merrell Lynd terhadap kehidupan masyarakat suatu kota kecil di Amerika Serikat bagian tengah yang mereka beri nama samaran Middletown. Tujuan penelitian ini sangat luas karena mencakup segi pencarian nafkah, pembentukan rumah tangga, sosial asasi anak, penggunaan waktu luang, kegiatan di bidang keagamaan sampai ke keterlibatan dalam kegiatan komunitas. Hasil penelitian mereka kemudian dituangkan dalam dua buku, Middletown: A Study In Modern American Culture (1929) fan Middletown in Transition: A Study in Cultur Conflicts (1937). Analisis Isi (Content analysis). Suatu masalah penelitian dapat pula diungkapkan dengan jalan menganalisis isi berbagai dokumen seperti surat kabar, majalah, dokumen resmi maupun naskah di bidang seni dan sastra. Data dari berbagai sumber tersebut dialihkan menjadi suatu bentuk yang dapat dianalisis secara kuantitatif. Dalam teknik analisis isi peneliti menggunakan datanya itu untuk mengukur frekuensi suatu gejala sosial atau untuk mengukur perbedaan atau mencari hubungan antara beberapa gejala. Teknik ini dapat digunakan, misalnya, untuk mengukur besarkecilnya perhatian seorang penulis atau suatu media terhadap suatu pokok bahasan tertentu atau membandingkannya dengan perhatian penulis atau media lain. Satu contoh ialah kontroversi mengenai siapakah sebenarnya penulis sejumlah dokumen Federalist Papers: James Madison, atau Alexander Hamilton? (lihat Mosteller dan Wallace, 1972). Dengan menganalisis frekuensi kata dalam sejumlah dokumen Federalist Papers serta kebiasaan penggunaan kata tertentu oleh Hamilton maupun

11

Madison, Mosteller dan Wallace sampai pada kesimpulan bahwa bagian terbesar dokumen yang diperdebatkan itu kemungkinan besar ditulis oleh Madison. Penggunaan Data yang tersedia. Suatu penelitian dapat pula dilakukan dengan mengkaji data yang telah dikumpulkan oleh pihak lain, misalnya oleh berbagai instansi pemerintah serta pihak swasta, ataupun oleh peneliti lain. Kajian Durkheim terhadap gejala bunuh diri dalam bukunya Le Suicide, misalnya, memanfaatkan data yang telah dikumpulkan oleh kantor-kantor statistik berbagai negara Eropa serta Amerika Serikat, data dalam makalah-makalah yang dimuat dalam berbagai majalah ilmiah, dan berbagai kajian mengenai bunuh diri. Kajian Durkheim terhadap bentuk-bentuk awal kehidupan keagamaan di Australia pun di dasarkan pada laporan penelitian orang lain terhadap kaum Aborigin di Australia. Eksperimen. Meskipun teknik eksperimen lebih banyak dijumpai dalam ilmu sosial lain seperti psikologi, namun dalam hal tertentu kita pun menjumpai eksperimen dalam sosiologi. Dalam mikrososiologi, misalnya, kita dapat menjumpai berbagai penelitian eksperimen. Salah satu diantaranya ialah studi Michael Wolff terhadap interaksi diantara para pejalan kaki di kala mereka berpapasan di tengah kota (lihat Wolff, 1973). Dalam eksperimen ini anggota tim peneliti berjalan lurus ke depan meskipun dari arah berlawanan seorang pejalan kaki lain berjalan tepat ke arahnya untuk melihat bagaimana reaksi pihak lawan di kala kedua orang hampir bertabrakan. Dari berbagai reaksi tersebut kemudian disimpulkan adanya pola tertentu dalam interaksi demikian (gerak tubuh dan gerak tangan tertentu untuk menghindari kontak fisik, benturan kecil yang kadang-kadang tidak dapat dihindarkan, umpatan manakala benturan terjadi). Eksperimen dapat pula terdiri atas perbandingan antara kelompok yang diberi perlakuan (experimental group, kelompok eksperimen) dan kelompok yang tidak diberi perlakuan (control group, kelompok terkendali). Eksperimen dilakukan terhadap dua kelompok yang anggotanya dianggap mempunyal ciri sama. Kemudian kelompok eksperimen diberi perlakuan khusus, misalnya diikut sertakan dalam suatu lokakarya, diminta menonton film tertentu, atau menjalani teknik belajar-mengajar tertentu sedangkan kelompok terkendali tidak diberi perlakuan khusus (mereka tidak mengikuti

12

lokakarya, tidak menonton film, atau mengikuti teknik belajar-mengajar yang lazim). Setelah eksperimen selesai kemudian ciri kedua kelompok dibandingkan untuk rnelihat apakah sebagai akibat eksperimen tersebut telah terjadi perbedaan yang berarti antara perilaku, sikap atau pengetahuan kedua kelompok. PENELITIAN KUALITATIF DAN KUANTITATIF Dalam penelitian sosial sering dibedakan antara penelitian kuantitatif dan kualitatif. Penelitian yang memakai metode survai dan sensus menggunakan pendekatan kuantitatif, karena di sini peneliti mengumpulkan data yang dapat diukur, seperti misalnya tinggi pendidikan, banyaknya jenis pekerjaan, dan besarnya penghasilan warga masyarakat. Pendekatan kuantitatif dapat pula dilakukan dengan memakai metode penelitian lain seperti eksperimen, penggunaan data yang tersedia atau analisis isi. Penelitian kualitatif, di pihak lain, merupakan penelitian yang mengutamakan segi kualitas data. Teknik pengumpulan data yang digunakan antara lain terdiri atas berbagai teknik pengamatan yang telah diuraikan di atas dan wawancara mendalamteknik yang memerlukan waktu jauh lebih lama dan keterlibatan lebih besar daripada teknik pengumpulan data kuantitatif seperti survai dan sensus sehingga ruang lingkup penelitian kualitatif pun jauh lebih terbatas daripada penelitian kuantatif. Kalau survai dan sensus dapat menjaring informasi dari sejumlah besar subyek penelitian yang tempat tinggalnya mungkin saja tersebar di seluruh wilayah kota atau bahkan di seluruh negara kita, maka penelitian kualitatif hanya dapat dilakukan terhadap sejumlah kecil subyek penelitian yang berada di wilayah yang terbatas seperti misalnya di suatu desa atau di suatu lembaga seperti misalnya suatu rumah sakit jiwa, rumah tahanan atau sekolah. Namun, di pihak lain, penelitian kualitatif yang berjangka panjang memungkinkan dikumpulkannya sejumlah besar data secara rinci mengenai subyek penelitian, suatu hal yang tidak dapat dilakukan dengan teknik survai atau sensus yang biasanya melibatkan wawancara selama beberapa jam saja sehingga banyaknya informasi yang terkumpul relatif terbatas. ETIKA PENELITIAN

13

Penelitian merupakan suatu usaha untuk meningkatkan ilmu. Kepentingan ilmu dan kepentingan masyarakat yang menjadi subyek penelitian tidak selalu sepadan; dalam pencarian maupun pemanfaatan ilmu tersebut dapat melakukan hal yang melanggar aturan etika. Dalam pembahasannya mengenai survai Babbie (1973:347-357) menyebutkan beberapa aturan etika yang harus dihormati setiap peneliti. Meskipun Babble hanya membahas survai, namun asas yang dikemukakannya umumnya berlaku pula bagi penelitian yang memakai metode lain. Salah satu di antaranya ialah keikutsertaan secara sukarela; peneliti tidak dapat memaksa seseorang untuk ikut serta dalam suatu penelitian. Permintaan seorang peneliti kepada kepala desa untuk mewajibkan sejumlah warga desa datang ke kelurahan untuk diwawancarai atau permintaan kepada seorang kepala kantor untuk mewajibkan karyawannya datang ke gedung pertemuan kantor untuk mengisi daftar pertanyaan, misalnya, jelas merupakan suatu pelanggaran terhadap etika penelitian karena keikutsertaan subyek dalam penelitian tidak bersifat dengan sukarela melainkan dilakukan secara terpaksa. Babbie selanjutnya mengemukakan bahwa suatu penelitian tidak boleh membawa cedera bagi para subyek penelitian. Tanpa disadari, misalnya; seorang peneliti dapat mempertentangkan jawaban seorang subyek dengan jawaban subyek lain (misalnya: '"Apakah peristiwanya memang seperti yang Bapak jelaskan? Karena menurut Pak RT kejadiannya bukan begitu”). Keterangan seorang subyek yang kemudian disampaikan, oleh peneliti kepada pihak berwajib dapat saja mengakibatkan bahwa subyek ditindak oleh pihak berwajib. Dalam kasus seperti peneliti meninggalkan benih konflik dalam masyarakat yang diteliti sehingga mungkin saja subyek akan mengalami cedera, bukan hanya secara psikologis tetapi mungkin juga cedera fisik. Babbie menyebutkan dua asas penting lain untuk melindungi identitas subyek penelitian yaitu asas anonimitas (anonimity) dan kerahasiaan (confidentiality). Dalam penelitian survai subyek penelitian adalah anonim (tidak dikenal); namanya tidak dicantumkan pada daftar pertanyaan. Oleh sebab itu menurut Babbie usaha peneliti untuk mencari identitas subyek yang mengikuti survai (seperti: memberi tanda

14

tersembunyi pada daftar pertanyaan) tidak dapat dibenarkan karena merupakan pelanggaran terhadap etika. Peneliti tidak dibenarkan menyelidiki, misalnya, siapa yang memberikan jawaban secara politis peka, siapa yang membuat pernyataan yang dapat menyinggung perasaan kelompok tertentu, atau siapa yang mengaku sering melakukan hubungan homoseks. Meskipun dalam penelitian dengan metode pengamatan identitas subyek tidak dapat disembunyikan, namun peneliti terikat pada aturan mengenai kerahasiaan. Tidak jarang peneliti tidak hanya menyembunyikan nama subyek, tetapi bahkan juga nama tempat penelitian untuk melindung subyek penelitian mereka. Robert dan Merrell Lynd (1929 dan 1937), misalnya, mengganti nama sebuah kota kecil di Negara Bagian Indiana yang mereka teliti menjadi Middletown; nama kota kecil di Jawa Timur dimana Clifford Geertz (1963) melakukan penelitian diganti menjadi Mojokuto. Pemberian keterangan yang keliru untuk mendorong subyek agar mau ikut sertapun merupakan praktik yang menurut Babbie melanggar etika. Seorang peneliti tidak dapat, misalnya, memberikan informasi kepada para subyek penelitiannya bahwa daftar, pertanyaan penelitian wajib diisi karena merupakan bagian dari tugas kedinasan di kantor apabila daftar pertanyaan tersebut sebenarnya hanyalah merupakan suatu proyek pribadi belaka yang tidak ada kaitannya samasekali dengan kebutuhan data instansi. Penulisan dan penyajian laporan penelitian pun merupakan kegiatan yang terikat pada berbagai aturan etika. Babbie mengemukakan bahwa peneliti dituntut untuk menyajikan data penelitian secara jujur. Temuan yang negatif, misalnya, perlu disajikan bersama dengan temuan yang positif. Hipotesis harus dibuat sebelum penelitian diawali; bukan setelah hasil penelitian diketahui. ANALISIS DATA DAN PENULISAN HASIL PENELITIAN Setelah penelitian lapangan selesai data kemudian diolah dan dianalisis. Dalam tahap analisis data kuantitatif jawaban yang diberikan para subyek suatu penelitian survai dihitung frekuensinya untuk mencari keteraturan sosial. Dengan memakai data kuantitatif, peneliti dapat mempelajari ada-tidaknya kecenderungan tertentu dalam

15

masyarakat. Data kuantitatif memungkinkan kita untuk mengetahui, misalnya, kecenderungan tingkat pendidikan tertinggi penduduk, pekerjaan mereka, dan penghasilan mereka. Analisis demikian dinamakan analisis univariat karena hanya mempelajari satu gejala atau variabel. Analisis data univariat biasanya menghasilkan data yang memberikan gambaran mengenai satu gejala. Contoh data univariat ialah, misalnya, data mengenai Nilai Ebtanas Murni yang diperoleh siswa suatu SMU, atau data mengenai jenis kelamin siswa SMU tersebut. Analisis seperti ini dinamakan deskriptif, karena peneliti hanya menggambarkan kecenderungan (misalnya apakah NEM siswa SMU tersebut cenderung rendah, sedang, atau tinggi, atau apakah siswa SMU tersebut cenderung terdiri atas laki-laki ataukah perempuan) dan penyimpangan (sejauhmana dijumpai NEM lebih rendah dan lebih tinggi daripada NEM rata-rata kelas). Analisis data dapat pula berbentuk bivariat. Seorang peneliti menerapkan analisis bivariat bila ia ingin mengetahui hubungan antara dua variabel-misalnya hubungan antara variabel tahun dan variabel jumlah wisatawan. Dengan analisis ini diukur apakah dari tahun ke tahun frekuensi kunjungan wisatawan dalam dan luar negeri ke daerah tujuan wisata tertentu seperti Tana Toraja, Pulau Batam, Danau Kelimutu, atau Danau Maninjau cenderung stabil, meningkat ataukah menurun. Apabila peneliti meneliti hubungan antara lebih dari dua variabel, ia dikatakan melakukan analisis multivariat. Baik analisis data univariat, bivariat maupun multivariat dilakukan dengan teknik statistika tertentu. Para ahli sosiologi pendidikan sering mengadakan analisis multivariat untuk mengukur apakah penghasilan seseorang lebih cenderung berhubungan dengan pekerjaan orang tuanya, tingkat pendidikan orang tuanya, tingkat pendidikannya sendiri, ataukah dengan pekerjaannya sendiri. Kalau analisis data univariat hanya memungkinkan dilakukannya deskripsi, maka analisis data bivariat dan multivariat memungkinkan peneliti untuk melakukan pula penjelasan sebab akibat. Hubungan positif yang ditemukan Durkheim antara status pernikahan dengan angka bunuh diri, misalnya, mendorongnya untuk antara lain menyimpulkan bahwa seseorang yang sudah menikah lebih terlindung terhadap

16

perilaku bunuh diri daripada seseorang yang belum menikah. Diantara banyak ilmuwan sosial berlangsung perdebatan tak henti-hentinya mengenal faktor yang menjelaskan kecerdasan manusia; dengan memakai analisis multivariat satu pihak berusaha membuktikan bahwa kecerdasan lebih ditentukan oleh pendidikan, sedang pihak lain mencoba membuktikan pandangan bahwa kecerdasan lebih ditentukan oleh faktor keturunan. Dalam penelitian kualitatif teknik analisisnya jauh berbeda. Peneliti harus mempelajari beratus-ratus, dan bahkan mungkin beribu-ribu halaman catatan penelitian yang dibuatnya tiap hari tatkala dia berada di lapangan, yang secara rinci memuat tidak hanya hasil wawancara mendalam dengan para subyek penelitiannya tetapi juga hasil pengamatannya terhadap perilaku para subyek penelitian serta orang lain yang berada di tempat penelitian. Berbeda dengan analisis atau kuantitatif yang baru dapat dilaksanakan setelah seluruh data terkumpul dan diolah, maka nalisis data kualitatif berlangsung terus-menerus semenjak peneliti mulai memasuki lapangan dan arah penelitian dapat berubah sesuai dengan hasil analisis di lapangan. HUBUNGAN METODE, TEORI DAN PARADIGMA SOSIOLOGI Metode penelitian yang dipergunakan ahli sosiologi sering terkait dengan teori dan paradigma ini rdigma %% sosiologi yang dianutnya. Dalam kaitan dengan paradigma lni Ritzer (198&akar, pandangannya bahwa paradigma adalah "... a fundamental image of the subjeithina science ..." (Ritzer, 1980:7). Apa yang dimaksudkannya dengan "gambaran da ' '!1 "pokok bahasan suatu ilmu" itu? Dalam definisinya yang panjang itu Ritzer menjelash) ,.. v.stratu paradigma: "... serves to define what should be studied, what questions shoulq ia'ik; 4 how they should be asked, and what rules should be followed in interpreting the ans4s Jadi menurut Ritzer masalah apa yang akan diteliti seorang peneliti, pertanyaan obiained." akan diajukannya, caranya mengajukan pertanyaan penelitian, dan aturan yang rim, dalam menafsirkan temuan penelitiannya ditentukan oleh paradigma yang dianutnya Menurut Ritzer sosiologi merupakan suatu ilmu yang berparadigma majemukr(a"Wiiiile paradigm science), karena mempunyai tiga paradigma yaitu

17

paradigma fakta sosial (soda% fact paradigm), paradigma definisi sosial (social definition paradigm), dan paradigma (social behavior paradigm). Menurutnya ketiga paradigma tersebut dibedakan satu dengan yang lain dalam tiga hal: (1) exemplar (acuan atau contoh yang dijadikan teladan), (2) teori, dan (3) metode Bagaimana hubungan antara teori, paradigma dan metode sosiologi? Menurut Ritzer metode penelitian yang kita gunakan sangat tergantung pada paradigma yang kita anut. Paradigrna' pertama, fakta sosial, berteladan pada karya Durkheim, menggunakan fakta sosial sebagai pokok bahasan sosiologi dan menganut teori struktur-fungsi atau teori konflik. Metode yang umumnya. digunakan dalam paradigma ini ialah survai dengan menggunakan daftar pertanyaan dari. wawancara Paradigma kedua, definisi sosial, berorlentasi pada karya Max Weber mengenal tindakari sosial. Dalam paradigma ini pokok bahasan sosiologi terdiri atas definisi situasi serta dampaknya terhadap tindakan soslal. Teorl yang digunakan dalam paradigma ini bersumber pada pemildran sejumlah tokoh seperti Weber, Parsons, Maclver, Mead, Cooley, Thomas, Blumer, Schutz, Hu' dan Garfinkel. Sedangkan metode penelitlan yang diutamakan dl sini ialah pengamatan. Paradigma ketiga, perilaku sosial, berteladan pada karya Skinner. Dalam gambaran penganut paradigma Int, pokok bahasan sosiologi lalah perilaku manusla serta Imbalan dan hukuman yang mempengaruhlnya. Teorl yang dianut di sins lalah teori perilaku sosial dad Burgess dan Bushell, atau teori pertukaran dad Homans. Sedangkan metode penelitian yang diutamakan ialah eksperimen. PERKEMBANGAN MUTAKHIR DALAM METODE PENELITIAN Sebagaimana dikemukakan Sunalo (1996:433-44), dalam dua dasawarsa terakhir telah berkembang berbagai metode penelitian baru dalam ilmu-ilmu sosial. Beberapa di antaranya berorlentasi pada masyarakat pedesaan atau perkotaan, seperti RRA (rapid rural appraisal), RUA (rapid urban appraisal), PRA (participatory rural appraisal), dan PUR (participatory urban appraisal). Ada pula metode-metode penelitian sosial yang khas diperuntukkan bagl kaum perempuan sebagai subyekp seperti misalnya feminist methods yang antara lain mencakup metode penelitian feminis baik yang berbentukwa Seiarah lisan, analisis isi,studi kasus, kaji tindak

18

maupun metode majernuk (Iihat Reinharz, 1992)..Pun ada I pendekatan partisipatoris khas gender (gender-specific participatory approaches. Lihat Kerstan, 1995). Pendekatan-pendekatan baru lni kini sudah mulal banyak digunakan para ilmuwan sosial kita. Sebagian di antaranya beisifat terapan dan berorientasi pada perumusan kebijaksanaan sosial. Meskipun berbagai metode tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi, di antaranya dapat pula kita jumpai perbedaan penting. Telaah cepat seperti RRA dan RUA, misalnya, menekankan pada segi kecepatan (rapid) dan didasarkan pada upaya untuk memperoleh data mengenai masyarakat pedesaan ataupun perkotaan secara cepat tanpa mengorbankan segi kualitas. Digunakannya teknik ini didasarkan pada pertimbangan bahwa penelitian kualitatif secara konvensional sering berjangka panjang sedangkan untuk keperluan perumusan berbagai kebijaksanaan sosial (seperti kebijaksanaan penanggulangan kemiskinan, relatif singkat Metode seperti PRA dan PUR, di pihak lain, menekankan pada segi partisipasi dan diarahkan pada upaya pengembangan masyarakat pedesaan maupun perkotaan melalui proses pemberdayaan. Pendekatan partisi patoris khas gender (gender-specific participatory approaches) pun menekankan pada pemberdayaan perempuan ataupun laki-laki melalui pendekatan partisipatoris. Teknik analisis data kuantitatif pun berkembang pesat dengan memanfaatkan perkembangan dalam statistika (lihat Sunarto, 1996:43). Cepatnya perkembangan ini mengakibatkan kesenjangan lebar antara teknik analisis data kuantitatif yang digunakan para ahli sosiologi dalam komunikasi ilmiah di tingkat internasional dengan teknik dari tahun 80-an dan sebelumnya yang masih mendominasi buku teks, bahan kuliah, dan praktik penelitian kuantitatif para ilmuwan sosial kita. RINGKASAN Dalam usaha mengumpulkan data yang dapat menghasllkan temuan-temuan baru dalam sosiologi, para ahli soslologi perlu memperhatikan tahap penelitian, yang saling berkaitan secara erat. Sebelum memulal suatu usaha penelitlan seorang ahli pembinaan usaha kecil, pembangunan permukiman sederhana, penanggulangan penyakit menular) diperlukan data cukup akurat dalam kurun waktu

19

soslologi terlebih dahulu harus melakukan tinjauan terhadap bahan-bahan pustaka agar dapat mengetahul temuan-temuan yang sebelumnya. Setelah pertanyaan penelitlan dirumuskan, peneliti harus menentukan metode penelitian yang akan digunakannya. Dalam Ilmu-ilmu sosial dikenal berbagal metode pengumpulan data, seperti metode survai serta beberapa metode nonsurvai seperti metode rlwayat hidup, studi Kasus, anllsis isi, kajian data yang telah dikumpulkan oleh pihak lain, dan eksperlmen. Dalam penelitian survai hal yang hendak diketahui peneliti dituangkan dalam suatu daftar pertanyaan baku. Teknik survai mengandung persamean dengan sensus; namun pada sensus yang menjadi subyek wawancara adalah seluruh populasi sedangkan dalam teknik survai daftar aertanyaan diajukan pada sejumlah subyek penelitian yang dlanggap mewakili populasl. Para ;ubyek penelltian merupakan contoh yang ditarik dad populasi. Contoh dipllih secara acak atau Pengamatan merupakan suatu, fnetodegmelti ,mengarnati secara langsung Perilaku PPriP PenelitinnYa„,4a,13 h"lers{c: r, asli, tidak dibuat TIfaivrnendalam dan rinci. Dalam sosiologi dibedakan antara penelitian djniana tepenuhnya terlibat, ) berperan sebagai pengamat, (3) berperan sebagai peserta nuhnya melakulcan pengamatan tanpa keterlibatan apa pun dengan subyek Oengamatan terlibat bila dibandingkah dengan la)A., ah satu kelebihan Riwayat hidup merupakan suatu teknik pengumpulan data untUissmengeunigeknap alaman subyektif dengan tujuan mengungkapkan data barn. Dalam pegelitian;dengan memakai teknik studi kasus berbagai segi kehidupan sosial suatu kelompok sosial menieluruh. Suatu masalah penelitian dapat pula diungkapkan dengan jalan,inenganalisis isi berbagai dokumen seperti surat kabar, majalah, dokumen resmi maupun naskah di_bidang seni dan sastra. Suatu penelitian dapat pula dilakukan dengan mengkaji data yang telah dikurnpulkan oleh pihak lain--misalnya oleh berbagai instansi pemerintah serta pihak swasta, ataupun oleh peneliti lain. Meskipun teknik eksperimen lebin banyak dijumpai dalam ilmu sosial lain seperti psikologi, namun dalam hal tertentu kita pun menjumpai eksperimen dalam sosiologi.

20

Dalam penelitian sosial sering dibedakan antara penelitian kuantitatif dan kualitatif. Penelitian yang memakai metode survai dan sensus menggunakan pendekatan kuantitatif, - sedangkan penelitian kualitatif merupakan penelitian yang mengutamakari segi kualitas data dengan menggunakan teknik pengamatan dan wawancara mendalam. Dalam pencarian maupun pemanfaatan ilmu seorang ilmuwan harus menghomati ,atfan etika, seperti keikutsertaan secara sukarela, tidak membawa cedera bag i para subyek penelitian, asas anonimitas dan kerahasiaan, tidak memberikan keterangan yang kehru, dan menyajikan data penelitian secara jujur. Analisis data kuantitatif dinamakan univarlat bilamana yang dipelajarLhanya.satutgejala, blvariat bila yang Ingin diketahui lalah hubungan antara dua gejala, dan multivariat bila yang diteliti lalah hubungan antara leblh dart dua gejala. Analisis data univarlat hanya memungkinkan dilakukannya deskrlpsl, sedangkan anallsIs data blvariat dan multivarlat memungkinkan peneliti untuk melakukan pula penjelasan sebab-akibat. Dalam penelitian kualitatif mempelajari catatan penelitian lapangan, yang secara rinci memuat hasil wawancara mendalam dan pengamatannya. Analisis data kualitatif berlangsung terus-menerus semenjak peneliti mulai memasuki lapangan dan arah penelitian dapat berubah sesuai dengan hasil analisis di lapangan. Metode penelitian yang dipergunakan ahli sosiologi sering terkait dengan teori dan buat,,spootan,dalam kurun waktu retatif lamasehingga Menurut R=e- =sea* merupakan 'suatu ilmu yang berparadigma majemuk karena mem- paradigma punyai bga paraders yaltu (1) paradigma fakta sosial (2) paradigma definisi sosial dan (3) paradigms arillias add. Menurutnya ketiga"paradigma'tersebut dibedakan satu-dengan yang >tarr list (1) exemplar (acuan atau contoh yang dijadikan teladan), (2) teori, dan (3). Mounit litter paradigma fakta sosial menganut teori struktur-fungsi atau teori konflik dan aminpoollian metode survai. Paradigma definisi sosial menggunakan teori tokoh seperti Weber, eaumar. itactver, Mead, Cooley, Thomas, Blumer, Schutz, Hussseri, dan Garfinkel, dan metode prialMlian yang diutamakan lalah pengamatan. Sedangkan penganut paradigma perilaku sosial merigeorakan teori perilaku sosial dari

21

Burgess dan Bushell, atau teori pertukaran dari Homans Syr mengutamakan metode eksperimen. Dalam dua dasawarsa terakhir telah berkembang berbagai metode penelitian baru dalam arnu-arnu sosial. Ada yang berorientasi pada masyarakat pedesaan dan ada yang berorientas pada masyarakat perkotaan. Pun ada yang khas diperuntukkan bagi kaum perempuan sebaga subyek. Ada yang menekankan pada segi kecepatan, dan ada yang menekankan pada segi partisipasi dan pemberdayaan masyarakat. Teknik analisis data kuantitatif pun berkembang pesat dengan memanfaatkan perkembangan dalam statistika. Perkembangan ini mengakibatkan kesenjangan antara teknik yang digunakan dalam komunikasi ilmiah di tingkat internasional dengan teknik yang kini masitn mendominasi buku teks, bahan kuliah, dan praktik penelitian kuantitatif para ilmuwan sosial kita.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->