P. 1
Pokok-pokok Bahasan Sosiologi

Pokok-pokok Bahasan Sosiologi

|Views: 1,504|Likes:

More info:

Published by: Arnold Jayendra Sianturi on Aug 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2013

pdf

text

original

Anggota kelompok : Abdi Setiawan (1002156095) Defri Yandri Maulana (1002134827) Dendly Marchya (1002135580) Tedy Novrianto C (1002155458

)

TUGAS SOSIOLOGI TENTANG PEMBAHASAN SOSIOLOGI BAB 2

Diajukan Sebagai Salah satu tugas mata kuliah Pengantar Sosiologi Dengan Drs.Swistantoro M.Si

Oleh Kelompok 13:

ABDI SETIAWAN DEFRI YANDI MAULANA DENDLY MARCHYA TEDY NOVIANTO. C

( 1002156095 ) ( 1002134827 ) ( 1002135580 ) ( 1002155458 )

Jurusan: Manajemen
R
E

S

I T A

S
R

U N I V

I A U

JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU

I

E

F

A K U L T A K O N O M

S

BAB II
Pokok-pokok Bahasan Sisiologi.
2.1 PANDANGAN PARA PERINTIS. Entil Durkheim:Fakta social. Sebagaimana telah disebutkan dalam bab 1,Emile Durkheim berpendapat bahwa sosiologi ialah suatu ilmu yang mempelajari apa yang dinamakannya fakta social (fait social).Menurut Durkheim fakta social merupakan cara bertindak,berfikir,dan berperasaan yang berada diluar individu,dan mempunyai kekuatan memaksa yang mengendalikannya,sebagaimana nampak dan definisi berikut ini: HERE,THEN IS A CATEGORY OF FACTS WITH VERY DISTINCTIVE CHARACTERISTICS:IT CONSIST OF WAYS OF ACTING,THINKING,AND FEELING,EXTERNAL TO THE INDIVIDUAL,AD ENDOWED WITH A POWER OF COERCION,BY REASON OF WICH THEY CONTROL HIM . . . . THESE WAYS OF THINKING AND ACTING . . . . CONSTITUTE THE PROPER DOMAIN OF SOCIOLOGY (DURKHEIM, 1965:3-4) . Untuk menjelaskan apa yang dimaksudnya dengan konsep fakta social ini,Durkheim menyajikan sejumlah contoh.Salah satu diantaranya ialah pendidikan anak:sejak bayi sesorang anak diwajibkan makan,minum,tidur,pada waktu tertentu;diwajibkan taat,dan menjaga kebersihan serta ketenangan:diharuskantenggang rasa terhadap orang lain,menghormati adat dan kebiasaan (lihat Durkheim,1965:6).Disini kita dapat menjumpai unsur-unsur yang dikemukakan dalam definisi Durkheim tersebut,ada acara bertindak,berfikir,dan berperasaan yang bersumber pada suatu kekuatan di luar individu,bersifat memaksa dan mengendalikan individu,dan berada diluar kehendak pribadi individu.Seorang anak yang tidak menaati cara yang diajarkan padanya akan mengalami sanksi dari suatu kekuatan luar. Contoh lain mengenal konsep fakta social dapat kita angkat dari dua buku terkenal yang ditulis Durkheim, The Division of Labor in Society (1968) dan Suicide ( 1968).Durkheim mengemukakan bahwa pembagian kerja dalam masyarakat dimasa ini mungkin akan lebih cenderung menggunakan istilah lain,seperti spesialisasi dan diferensiasi:merupakan fakta social.Spesialisasi dan diferensiasi dalam semua aspek kehidupan masyarakat seperti bidang ekonomi,pendidikan,politik,mukum,ilmu pengetahuan,kesenian,administrasi ini merupakan cara bertindak yang dianut secara umum,bersifat memaksa,berada diluar kehendak pribadi individu,dan dapat menjalankan paksaan dari luar terhadap individu.

Menurut Durkheim (1968) angka bunuh diri (suicide rate) dalam tiap masyarakat yang dari tahun ketahun cenderung relative konstanpun merupakan suatu fakta social.Angka bunuh diri disebabkan kekuatan yang berada diluar individu.Dalam suatu jenis bunuh diri yang dinamakannya altruistic suicide angka bunuh diri disebabkan integrasi social yang terlalu kuat.Salah satu contoh yang disajikan Durkheim diangkatnya dari masyarakat militer,para anggotanya lebih sering mengorbankan jiwanya demi keselamatan rekan-rekannya daripada anggota kelompok lain.Dalam jenis bunuh diri yang dinamakannya egoistic suicide sejumlah besar orang melakukan bunuh diri,misalnya: manakala agamanya kurang mengikatnya.dalam bunuh diri jenis anomic banyak orang mencabut nyawanya sendiri karena masyarakat tidak member pegangan lagi pada warganya.Dari pendapat Durkheim ini Nampak bahwa dalam pandangannya angka bunuh diri bukan disebabkan oleh factor pribadi melainkan bersumber pada masyarakat.Gejala bunuh diri merupakan suatu fakta social. Max Weber :tindakan social. Pandangan Weber mengenai pokok pembahasan sosiologi sangat berbeda dengan pandangan Durkheim.Apa yang dimaksudkan Weber dengan tindakan social? Menurutnya tidak semua tindakan social apabila tindakan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain,dan berorientasi pada perilaku orang lain.Menyanyi dikamar mandi untuk menghibur diri sendiri,misalnya: tidak dapat kita anggap sebagai tindakan social.Tetapi menyanyi dikamar m,andi dengan maksud perhatian orang lain memang merupakan suatu tindakan social. Bunuh diri terjadi karena tidak dapat lagi menahan penderitaan yang disebabkan suatu penyakit menahun atau karena gangguan jiwa bukan tindakan social,tetapi bunuh diri untuk menghukum suami yang menyeleweng atau karena terdorong rasa malu setelah melakukan kesalahan merupakan tindakan social. Menurut Weber,suatu tindakan ialah perilaku manusia yang mempunyai makna subjektif bagi pelakunya.Karena sosiologi bertujuan memahami (Verstehen) mengapa tindakan social mempunyai arah akibattertentu,sedangkan tiap tindakan mempunyai makna subjektif bagi pelakunya,maka ahli sosiologi hendak melakukan penafsiran bermakna,yang hendak memahami makna subjektif suatu tindakan social harus dapat membayangkan dirinya ditempat pelaku untuk dapat ikut menghayati pengalamannya(“put one’s self imaginatively in the actor and thus sympathetically to participate in his experience”. Weber,1964:90).Hanya dengan menempatkan diri di tempat seorang pekerja seks atau seorang pelaku bunuh diri sajalah,misalnya seorang ahli sosiologi dapat memahami makna subjektif tindak social mereka: memahami mengapa tindakan social tersebut dilakukan serta dampak tindakan tersebut.

2.2PANDANGAN AHLI SOSIOLOGI MASA KINI. C.Wright Mills: The sociological Imagination. Bagaimanakah pandangan para ahli sosiologi abad ke-20 tentang tujuan sosiologi ini?.Seorang ahli sosiologi,C.Wright Mills,berpandangan bahwa untuk dapat memahami apa yang terjadi didunia maupun apa yang ada didalam diri sendiri manusia memerlukan dengan apa yang dinamakannya imajinasi sosiologi (sociological imagination).Menurut Mills sociological imaginationini akan memungkinkan kita untuk memahami sejarah masyarakat,riwayat hidup pribadi,dan hubungan antara keduanya,sebagaimana terlihat dari kutipan beikut: “The sociological imagination enables us grasp history and the relations between the two within society” (Mills,1968:6.Contoh yang diberikan Osborne dan Van Loon,dengan mengacu pada penambang batu bara disiberia yang bekerja dalam suhu 20 derajat Celcius dibawah nol,adalah sebagai berikut: Jika anda dapat membayangkan bagaimana rasanya hidup dengan kentang dan kubis rebus selama 6 bulan,tanpa digaji dan tidak dapat menonton MTV,mungkin anda bias memiliki imajinasi sosiologi(Osborne dan Van Loon, 1966:4) Mills berpendapat bahwa untuk melakukan sociological imagination diperlukan dua peralatan pokok,apa yang dinamakannya of personal troubles milieu dan public issues of social structure (Mills,1968:8).Menurutnya troubles(kesusahan) berlangsung dalam ciri individu dan dalam jangkauan hubungan langsunsnya dengan orang lain.Trouble merupakan masalah pribadi dan merupakan ancaman terhadap nilai yang didukung pribadi.Issues(isu),dipihak lain,merupakan hal yang berada diluar lingkungan setempat individu dan diluar jangkauan kehidupan pribadinya.Suatu issue merupakan suatu hal yang bersifat umum.Suatu nilai yang didukung umum dirasa terancam.Contoh yang disajikan Mills tentang konsep personal trouble ialah suatu kota berpenduduk 100.000 jiwa yang hanya mempunyai seorang penganggur.Bagi penganggur tersebut pengangguran merupakan personal trouble-nya,dan untuk mengatasinya kita mempertimbangkan cirri dan keterampilan individu yang bersangkutan serta kesempatan yang terbuka baginya.Namun bilamana dalam suatu kota berpenduduk 50 juta jiwa dijumpai 15juta orang penganggur,maka menurut mills yang kita hadapi ialah suatu issue yang pemecahannya berada diluar ruang lingkup kesempatan yang tersedia bagi masing-masing individu yang bersangkutan. Peter Berger Dalam bukunya yang berjudul invitation to sociology (1978) Berger mengajak kita untuk menjawab berbagai pertanyaan mengenai sosiologi.Disini kita tidak akan meliputi seluruh permasalahan yang dibahas berger dan harus membatasi diri dari pada beberapa pokok bahasannya saja. Berger mengawali tulisannya dengan mengajukan berbagai citra yang melekat pada ahli sosiologi (lihat Berger, 1978:11-36).Citra pertama,menurut berger,ialah bahwa seorang ahli

Sosiologi ialah seseorang yang suka bekerja dengan orang lain,menolong orang lain,melakukan sesuatu untuk orang lain.Citra berikut ialah bahwa ahli sosiologi sebagai seorang yang melakukan reformasi social.Pun ada citra yang menyajikan ahli sosiologi sebagai seseorang yang pekerjaannya mengumpulkan data satistik sebagai perilaku manusia.Dalam gambar lain,ahli sosiologi dianggap sebagai orang yang mencurahkan perhatiaanya pada pengembangan metodologi ilmiah untuk dipakai dalam mempelajari fenomena manusia.Citra terakhir memandang ahli sosiologi sebagai seorang pengamat yang memelihara jarak seorang manipulator manusia. Berger mengemukakan bahwa berbagai citra yang dianut orang tersebut tidak tepat,keliru,dan menyesatkan.Kegemaran menolong orang lain bukan ciri khas ahli sosiologi,meskipun di antara para ahli sosiologi tentu ada mempunyai watak demikian.Seorang ahli sosiologi bukan seorang pekerja social;pekerjaan social merupakan suatu praktik sedangkan sosiologi merupakan suatu usaha untuk memahami dengan dengan berpegangan pada nilai integritas ilmiah.Dengan alasan yang sama,citra mengenai ahli sosiologi sebagai perekayasa sosial pu n di tolak Berger.Berger mengemukan bahwa data statistik hanya menjadi sosiologi bila ditafsirkan secara sosiologis,sehingga menurutnya citra mengenai ahli sosiologi sebagai pengumpul data statistic mengenai perilaku manusia pun tidak tepat .Berger mengemukakan bahwa ahli sosiologi memang perl memikirkan masalah metodologi namun tujuannya ialah untuk memahami masyarakat,seraya mengakui bahwa diantara ahli sosiologi memang ada yang terlalu menyibukkam diri dengan metodologi sehingga lupa kepada masyarakat yang seharusnya dipelajarinya.Menurut Berger seorang ahli sosiologi pun bukan seorang pengamat tanpa keperdulian atau seorang manipulator tanpa hati nurani. Bagaimana tipe ideal ahli sosiologi ? Berger mengemukakan pandangan sebagai berikut: “The sociologist. . .is someone concerned with understanding society in a disciplined way.The nature of this discipline is scientific”(1978:27).Menurut Berger seorang ahli sosiologi bertujuan memahami masyarakat.Tujuannya bersifat teoretis, yaitu memahami semata-mata.Dalam mengejar tujuan ini ia harus mengikuti aturan ilmia,mengikuti aturan mengenai pembuktian ilmiah.Ia harus objektif,mengendalikan prasangka dan pilihan pribadi,mengamati secara jernih dengan menghindari penilaian normative. Faktor apakah yang mendorong seseorang untuk menjadi ahli sosiologi ?Jawaban Berger bagi pertanyaan ini:” the sociologist. . . is a person intensively,endlessly,shameslessly interested in the doings of men” (1978:29).Menurut Berger perhatian intensif,tk henti-henti serta tanpa rasa malu terhadap perilaku manusia ini membawa ahli sosiologi ketempat yang mungkin dihindari oleh orang lain.Berger mengemukakan ahli sosiologi melibatkan diri dengan hal yang dianggap terlalu suci atau pun terlalu menjijikan untuk diteliti secara tidak terlibat.Berger menyebutkan, misalnya, bahwa seorang ahli sosiologi akan menghargai pergaulan dengan rohaniwan maupun pekerja seks, apabila pertanyaan penelitiannya— bukan pilihan pribadinya –menuntun kesana. Di mana letak daya tarik sosiologi ?Menurut Berger :”The fascination of sociology lies in the fact that its perspective maks us see in a new light the very world in which we have lived all our lives”(1978:33).Dalam proses mengungkapkan.

Pembagian sosiologi :makrososiologi, mesososiologi, dan mikrososiologi
Dalam bab 1 dan pada awal bab 2 kita telah menjumpai berbagai cara untuk membagi sosiologi. Dari pandangan empat ahli sosiologi tersebut di atas kita telah melihat adanya persamaan maupun perbedaan pendapat mengenai apa yang seharusnya merupakan pokok pembahasan sosiologi. Ada perintis sosiologi yang membagi sosoilogi menjadi statika sosial-dinamika sosial (Comte); ada pula yang membagi sosiologi dalam sejumlah subdisiplin (Durkheim). Pembagian para tokoh awal ini hingga kini masih tetap berpengaruh. Pembedaan antara kajian terhadap struktur sosial dan terhadap proses sosial yang dilakukan banyak ahli sosiologi masa kini, misalnya, mencerminkan pengaruh klasifikasi Comte: statika sosial-dinamika sosial. Dikalangan para ahli sosiologi masa kini dijumpai kebiasaan utuk mengklasifikasikan pokok bahasan sosiologi kedalam 2 bagian. Nama yang diberikan untuk masing-masing bagian tidak selalu sama; Broom dan Selznick (1977), misalnya, membedakan antara tatanan makro (macro-order) dan tatanan mikro (micro-order); Jack Douglas (1973) membedakan antara perspektif makrososial (macrosocial perspective) dan perpektif mikrososial (microsocial perspective); Boyle Paul Johnson (1981) membedakan antara jenjang makro dan jenjang mikro; dan Randall Collins (1981) membedakan antara makrososiologi (macrosociologhy) dan mikrososiologi (microsiciologhy). Jack Douglas (1973) membedakan antara sosiologi kehidupan sehari-hari—the sociologhy of everyday life situations—dan sosiologi struktur sosial—the sociologhy of social structures. Sosiologi kehidupan sehari-hari mmenggunakan apa yang dinamakannya perspektif sehari-hari, interaksionis atau mikrososial sedangkan sosiologi struktur sosial menggunakan perpektif struktur atau perspektif makro sosial. Sosiologi struktur sosial mempelajari masysrakat secara keseluruhan serta hubungan antara bagain masyarakat ; masyarakat dipandang sebagai sesuatu yang melebihi kumpulan indivudu yang membentuknya. Sosiologi kehidupan sehari-hari, dipihak lain, mengkhsuskan diri pada apa yang terjadi antara individu dikala mereka berhadapan muka, bertindak dan berkomunikasi (lihat Douglas, 1981). Suatu usaha untuk menjabarkan perbedaan antara makrososiologi dan mikrososologi kita jumpai, antara lain, dalam pandanga Randall Collins (1981). Collins mengemukakan bahwa mikrososiologi melibatkan analisis terinci mengenai apa yang dilakukan, dikatakan, dan dipikirkan manusia dalam laju pengalaman sesaat, sedangkan makrososiologi melibat analisis proses sosial berskala besar dan berjangka panjang. Collins menetapkan dua landasan empiris untuk membedakan mikrososiologi dan makrososiologi, yaitu factor waktu dan ruang. Dari segi skalaruang, Collins mengemukakan bahwa pokok bahasan sosiologi dapat berkisar mulai dari seseorang, kelompok kecil, kerumunan atau organisasi, komunitas, sampai ke masyaratak territorial. Mikrososiologi lebih difokuskan pada seseorang dan kelompok kecil, sedangkan makrososiologi lebih diarahkan pada pengelompokan yang lebih besar seperti kerumunan atau organisasi, komunitas, dan masyarakat territorial.

Dari segi skala waktu, poko bahasan sosiologi dapat berkisar mulai dari apa yang tejadi dalam suatu detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, sampai kesuatu abad atau lebih. Collins melihat bahwa pokok bahasan mikrososiologi cenderung terdiri atas apa yang terjadi dalam jangka waktu pendek (detik, menit, jam), sedangakan makrososiologi cenderung mempelajari gejala sosial yang berlangsung dalam jangka waktu yang lebih panjang. Seorang ahli mikrososiologi sering mengamati berbagai peristiwa yang berlangsung tatkala orang yang tidak saling mengenal berpapasan. Ia akan mengamati, misalnya, apakah mereka itu saling memandang atau tidak itu ada hubungannya dengan faktor tertentu seperti jenis kelamin, usia, dan kelas sosial orang yang berpapasan (misalnya, apakah situasinya akan berbeda bila yang berpapasan adalah sekelompok dengan seorang pramugari, dan bila yang berpapasan adalah beberapa orang eksekutif bank dengan seorang nenek miskin). Ia mungkin akan mengamati pula teknik apa sajakah yang digunakan orang agar membentur dikala berpapasan, siapa yang memakai teknik tertentu (misalnya apakah kedua belah pihak saling menghindar saat terakhir, ataukah penghindaran hanya dilakukan oleh satu fihak—mungkin fihak yang kelas sosialnya lebih rendah atau dari jenis kelamin tertentu) dan reaksi yang timbul bila perbenturan terjadi (tidak ada reaksi, permintaan maaf, caci maki). Kesemuanya ini merupakan peristiwa yang berlangsung dalam jangka waktu beberapa detik saja, dan hanya melibat seorang atau beberapa orang pelaku yang berada dalam suatu situasi tertentu yang berada dalam jangakaun pandangan mata. Pokok bahasan seorang ahli makrososiologi berbeda. Tatkala Selo Soemardjan menulis disertasi Social Changes in Yogyakarta (1962), misalnya, maka dari segi ruang pokok bahasannya ialah suatu masyarakat territorial yang mencakup masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta—suatu pokok bahasan yang jauh melampaui batas pandang seseorang. Dari segi waktu kita menjumpai bahwa perubahan di Yogyakarta yang dikaji meliputi jangka waktu cukup panjang karena mencakup beberapa periode-periode penjajahan Belanda, periode pendudukan Jepang, dan periode kemerdekaan. Di samping klasifikasi sosiologi dalam dua jenjang analisis, adapula ahli sosiologi yang membuat pembagian dalam tiga jenjang. Gerhard Lenski (1985), misalnya, mengemukakan bahwa dalam sosiologi terdapattiga jenjang analisis : mikrososiologi, mesososiologi, makrososiologi. Menurut Lenski, jenjang mikrososiologi yang digumuli oleh para ahli mikrososiologi atau ahli psikologi sosial mempelajari dampak sistem sosial dan kelompok primer pada individu; para ahli mesososiologi tertarik pada institusi khas dalam masyarakat mereka, sedangkan para ahli makrososiologi mempelajari ciri masyarakat secara menyeluruh serta sistem masyarakat dunia. Kalau kita melihat penerapan pembagian makrososiologi-meso-mikro dibidang sosiologi pendidikan, misalnya, kita akan menjumpai bahwa makrososiologi pendidikan mempelajari pokok bahasan seperti hubungan antara faktor sosial dan pendidikan dalam masyarakat—misalnya hubungan antara pendidikan dan kelas sosial, jenis kelamin, wilayah tempat tinggal (kota-desa), terdapat ketimpangan dalam pemerataan kesempatan belajar—bahwa kesempatan belajar lebih dinikmati oleh kaum laki-laki, orang kaya, orang kota.

Kalau kita memakai skala ruang-waktu dari Collins (1981), kita akan menjumpai bahwa baik dari segi ruang maupun waktu ruang lingkup mesosiologi lebih terbatas daripada makrososilogi. Seorang ahli sosiologi yang mengkhususkan diri pada mesosiologi akan membatasi pokok bahasannya pada dimensi ruang yang lebih terbatas daripada masyarakat territorial tetapi lebih luas daripada perseorangan atau kelompok misalnnya pada hubungan antara pelaku dalam suatu organisasi pendidikan seperti universitas. Bagainmana hubungan antara pimpinan universitas dengan pimpinan fakultas? Antara pimpinan fakultas dengan pimpinan jurusan, mahasiswa dan karyawan? Dari segi dimensi waktu pokok bahasan mesosiologi pun relative lebih terbatas daripada makrososiologi, mengingat bahwa usia organisasi atau kelompok dibidang pendidikan lebih pendek daripada usia masyarakat. Seorang ahli mikrososiologi pendidikan akan memusatkan pengamatnnya pada interaksi social berjangka pendek dan berlingkup terbatas dibidang pendidikan misalnya pada interaksi yang berlansung antara guru dan siswa dan antara para siswa dalam kelas. Ia akan mengamati, misalnya, interaksi yang berbentuk kerja sama antara siswa untuk menyelesikan tugas sekolah, pesaingan untuk memperoleh perhatian guru, atau persaingan untuk mamanfaatkan fasilitas sekkolah yang terbatas jumlahnya. Inkeles (1965) pun melihat bahwa sosiologi mempunyai tiag pokok bahasan yang khas : hubungan social, institusi, dan masyarakat. Dalam pandangan inkeles hubungan social merupakan molekul kehidupan social. Menurutnya hubungan social merupakan salah satu analisis khas sosiologi. Pandangan inkeles ini antara lain dipengaruhi oleh pandangan max weber mengenai hubungan social dan tindakan social. Konsep hubungan social dan tindakan social akan dibahas secara rinci dalam bab 4 buku ini (interaksi social). System kompleks hubungan social membentuk institusi, dan menurt inkeles institusi pun merupakan pokok bahasan sendiri dalam sosilogi. Pandangan ini dipengaruhi oleh pandangan durkheim, yang menurutnya pernah mendefenisikan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan mengenai institusi. Dalam bab 10 buku ini konsep institusi social akan dibahas secara rinci. Menurut inkeles sosiologi tidak hanya membahas bagian tertentu masyarakat malainkan dapat pula mempelajari masyarakat itu sendiri sabagai satuan analisis. Suatu masyarakat dapat, misalnya, dipelajari perkembangannya ; dapatpula dibandingkan dengan masyarakat lain. Pandangan inkeles ini didasarkan pada karya weber yang menggunakan masyarakat sebagai satuan analisis ) mengenal klasifikasi inkeles ini lihat inkeles, 1865). Konsep masyarakat akan dibahas secara rinci dalam bab 5 buku ini ( tatanan social dan pengendalian social .

RINGAKASAN

Durkheim berpendapat bahwa sosiologi ialah suatu ilmu ayng mempelajari fakta social, menurut durkheim fakta social merupakan cara bertindak, berpikir, dan berperasaan, yang berada di luar individu, dan mempunyai kekuatan memaksa yang mengendalikannaya. Bagi weber sosiologi ialah suatu ilmu yang mempelajari tindakan social, yaitu tindakan yang dilakukan denagn mempertimbangkan perilaku orang lain dan berorientasi pada prilaku orang lain. Karena sosiologi bertujuan memahami (verstehen) mengapa tindakan social mempunyai arah dan akibat tertentu, sedangkan tiap tindakan mempunyai makna subjektif bagi pelakunya, maka ahli sosiologi harus dapat membayabgkan dirinya ditempat pelaku untuk dapat ikut menggahayati pengalamannya. Mills berpandangan bahwa manusia memerlukan imjinasi sosiologi untuk dapat memahami sejarah masyarakat, riwayat hidup pribadi, dan hubungan antara keduanya. Untuk melakukan hayalan sosiologis tersebut diperlukan 2 peralatan pokok : apa yang dinamakannya personal troubles of milieu dan public issues of socil structure. Berger mengajukan berbagai citra ayng melekat pada ahli sosiologi, yaitu sebagai seseorang yang suka bekerja dengan orang lain, menolonh orang lain, melakukan sesuatu untuk orang lain, seorang teoretikus di bidang perkerjaan social sebagai seseorang yang melakukan reformasi social, seseorang yang pekerjaanya mengumpulkan data statistic mengenai prilaku manusia, orang yang mencurahkan perhatianya pada pengmbangan metodolodi ilmiah untuk dipakai dalam mempelajari fenomena manusia dan seorang pengamat yang memelihara jarak – seorang manipulator manusia. Berger mengemukakan bahwa mengenai citra yang dianut orang tersebut tidak tepat, keliru dan meyesalkan. Menurut berger seorang ahli sosiologi bertujuan memahami masyarakat. Tujuannya bersifat teoritis yaitu memahami semata-maat. Berger berpendapat bahwa daya tarik sosiologi terletak pada kenyataan bahwa sudut pandang sosiologi memungkinkan kita untuk memperoleh gambaran lain mengenai dunia yang telah kita tempati sepanjang hidup kita. Suatu konsep lain yang disorotiberger ialah konsep masalah sosiologi. Menurut berger suatu masalah sosiologi tidak sama dengan suatu masalah social. Masalah sosiologis, menurut berger, menyangkut pemahaman terhadap interaksi social. Sejumlah ahli sosiologi mengklarifikasikan pokok bahasan soiologi kedalam dua bagian ada pula yang membagi kedalam tiga bagian. Broom dan selznick membedakan anatara tatanan makro dan tatanan mikro ; Douglas membedakan antara perspektif mikrososial; Johnson membedakan antara jenjang makro dan jenjang mikro; dan colons membedakan antara makrososiologi dan mikrososiologi. Lenski mengemukakan bahwa dalam sosiologi terdapat tiga jenjang analisis : mikrososiologi, mesososiologi dan makrososiologi. Inkeles pun melihat bahwa soiologi mempunyai tiga pokok bahasan yang khas : hubungan social, institusi dan masyarakat. KONSEP PENTING

Isu

: hal yang berada diluar lingkungan setempat individu dan di luar jangkauan kehidupan pribadinnya Makrososiologi : bagian sosiologi yang mempelajari cirri masyarakat secara menyeluruh serta system masyarakat dunia Mesososiologi : bagian sosiologi yang tertarik pada institusi khas dalam masyarakat Mikrososiologi : bagian sosiologi yang mempelajari dampak system social dan kelompokprimer pada individu Tindakan social : tindakan pelaku yang dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain, berorintasi pada prilaku orang lain dan mempunyai makna subjektif baginya Fakta social : cara bertibdak, berpikir, dan berperasaan yang berada diluar individu dan mempunyai kekuatan memaksa yang mengendalikan. Imajinasi sosiologi : pendekatan yang memungkinkan kita untuk memahami sejarah masyarakat, riwayat hidup pribadi dan hubungan antara keduanya. Sosiologi kehidupan sehari – hari : bagian sosiologi yang mempelajari masyarakat secara keseluruhan serta hubungan antara bagian masyarakat Sosiologi struktur social : bagian sosiologi yang mempelajari masyarakat secara keseluruhan serat hubungna antara bagian masyarakat. Kesusahan : masalah pribadi dan merupakan ancaman terhadap nilai yang didukung pribadi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->