P. 1
Budaya, Bahasa, Dan Komunikasi (Lintas Budaya)

Budaya, Bahasa, Dan Komunikasi (Lintas Budaya)

|Views: 502|Likes:

More info:

Categories:Types, Reviews, Book
Published by: Fitriani Dzulfadhilah Halim Jaya on Aug 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/09/2014

pdf

text

original

Tugas Kelompok Mata Kuliah Dosen Pengampu : Lintas Budaya : Kurniaty Zainuddin, S. Psi., MA : Nurfitriany Fakhri, S. Psi.

, MA

BUDAYA BAHASA DAN KOMUNIKASI

MUTIA UNRU KARSIN NOOR ERDIANZA FITRIANI DZULFADHILAH IKE DWI FEBRIYANTI NIRWANA INDAH SARI KARTIKA CAHYANINGRUM ALUIYAH SINARSIH MUCHTAR

(087104024) (107104012) (107104051) (107104052) (107104054) (107104055) (107104059)

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 2012

BUDAYA BAHASA DAN KOMUNIKASI A. BUDAYA Budaya didefinisikan sebagai sekumpulan sikap, nilai, keyakinan dan perilaku yang dimiliki bersama oleh sekelompok orangm yang

dikomunikasikan dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Lewat bahasa atau beberapa sarana komunikasi lain (Barnouw, dalam Matsumoto 2004). Dalam pengertian ini, budaya adalah sebuah bentuk konstruk sosiopsikologis, suatu kesamaan dalam kelompok orang dalam fenomena psikologis seperti nilai, sikap, keyakinan dan perilaku. Anggota-anggota suatu budaya tertentu punya kesamaan dalam fenomena-fenomena psikologis ini. Anggota budaya lain tidak. Budaya tidak mesti berakar dalam biologi dengan kata lain budaya tidak sama dengan ras. Dua orang dari satu ras bisa punya kesamaan nilai dan perilaku alias punya budaya yang sama atau bisa sangat berbeda dalam make up (kenampakan) kultural mereka. Orangg-orang dengan warisan rasial yang sama secara umum mungkin mengalami proses-proses sosialisasi yang sama dan mengalami enkulturalisasi dengan cara-cara yang mirip. Dengan demikian, kita bisa berbicara tentang adanya budaya hispanik atau budaya AfrikaAmerika atau budaya Asia. Namun juga benar bahwa ras tidak harus berkorespondensi satu lawan satu dengan budaya. DEFINISI OPERASIONAL KONSEP BUDAYA Saat ini psikologi lintas budaya menghadapi dilema dalam operasionalisasi dalam metodologi budaya mencakup dalam persoalan bagaimana budaya didefinisikan dan diukur dalam penelitian. Sebagian besar ahli psikologi lintas budaya akan sepakat sikap, bahwa budaya merupakan dan konglomerasi bersama atau yang

sekump[ulan

nilai,

perilaku,

keyakinan,

dikomunikasikan dari satu generasi ke generasi berikutnya lewat bahasa. Definisi yang dimaksud adalah definisi yanag bersifat psikologis, tidak biologis, dan inilah letak permasalahannya.

Meskipun ada definisi diatas para peneliti lintas budaya tidak cukup punya cara yang memadai untuk mengukur persamaan karakteristik psikologis adalam penelitian mereka. Mereka kemudian mengandalkan aspek-aspek manusia yang lebih mudah diukur seperti ras. Tapi, budaya tidak mesti merupakan ras ataupun kebangsaan, tetappi budaya benar merupakan sebuah konstruk sosial psikologis. Karena tidak menemukan cara untuk mengukur budaya pada level sosiopsikologis, sesuai dengan definisi tentang budaya, para peneliti terpaksa “merendahkan standar” kemampuan untuk benar-benar mengkaji perbedaan lintas budaya. Bahkan kebanyakan mengukur budaya sebagai ras atau kebangsaan. Meskipun demikian kita tidak bisa mengabaikan studi-studi ,ini dan teman-temannya karena studi-studi tersebut menyediakan informasi penting mengenai persbedaan kultural dan batasan dari apa yang kita ketahui dan dianggap sebagai kebenaran yang didapat dari poenelitian psikologi

mainstream. Oleh karena itu, kita masih perlu memperhitungkannya namun kita harus hati-hati untuk menyadari jurang antara definisi kita tentang budaya dan definisi yang digunakan dalam suatu penelitian B. BAHASA Bahasa dan Pemerolehan Bahasa Bahasa adalah sarana utama untuk berkomunikasi dengan orang lain dan menyimpan informasi. Bahasa juga merupakan sarana utama dalam pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pemerolehan bahasa adalah suatu aspek penting dalam psikologi bahasa karena pengetahuan tentang hal itu akan membantu kita memahami isu-isu perilaku manusia yang lebih luas. Misalnya dengan mencari proses-proses pemerolehan hal-hal yang universal dan hal-hal yang khas pada suatu budaya tertentu. Pemahaman tentang bagaimana bahasa diperoleh juga penting karena alasan-alasan klasik. Di jaman global ini, pengetahuan mengenai lebih dari satu bahasa menjadi alat yang fital untuk memahami dan berkomunikasi dengan

orang yang berasl dari kebudayaan lain. Hal ini berlaku baik dalam konteks sebuah masyarakat yang plural dan multikultural maupun antar orang yang berbeda kebangsaan. Psikolog dalam memainkan peran yang penting dalam memfasilitasi perjumpaan antar budaya seperti itu. Pentingnya mempelajari bahasa tidak bisa diabaikan terutama oleh mahasiswa psikologi di Amerika. Secara umum orang Amerika terkenal tidak peduli dengan bahasa lain selain bahasa inggris dengan bahasa selain bahasa Inggris. Ketidakpedulian ini sering kali disertai dengan pandangan etnosentris tentang perlu tidaknya mempelajari, memahami dan menghargai bahasa, kebiasaan dan budaya-budaya lain. TEORI DAN PANDANGAN TRADISIONAL TENTANG BAHASA a. Ciri-ciri Bahasa Ahli psilinguistik biasanya mencoba menggambarkan bahasa dengan menggunakan 5 ciri kritis, yaitu: 1. Kosa kata, yaitu kata-kata yang ada dalam sebuah bahasa. Misalnya pohon, makan, dan pelan-pelan merupakan kosa kata bahasa Indonesia. 2. Sintaks dan tata bahasa, yaitu suatu bahasa mengacu pada sistem aturan yang mengatur bentuk kata dan bagaimana kata-kata dirangkai agar bisa menghasilkan makna. 3. Fonologi, merupakan sistem aturan yang mengatur bagaimana sebuah kata diucapkan (pronounciation) dalam suatu bahasa. 4. Semantik, yaitu arti yang dimaksud oleh suatu kata. 5. Pragmatik, yaitu sistem aturan tentang bagaimana bahasa digunakan dan dipahami dalam suatu konteks sosial. Ahli linguistik juga menggunakan dua konsep lain untuk membantu menjelaskan struktur bahasa yaitu fonem dan morfem.

D. HUBUNGAN ANTARA BUDAYA, BAHASA DAN KOMUNIKASI Budaya mempengaruhi komunikasi dan bahasa. Para pakar komunikasi terutama dalam hal komunikasi antarmanusia selalu melihat budaya sebagai titik tolak bagi orang-orang atau individu saat melakukan komunikasi sesama manusia yang memiliki latarbelakang budaya yang berbeda. Penggunaan bahasa sebagai sarana komunikasi juga kuat dipengaruhi oleh budaya masingmasing individu yang terlibat baik sebagai komunikator maupun komunikan. Para ahli komunikasi dalam hal penggunaan bahasa berkata bahwa 'bahasa bisa memenjarakan kita, namun bahasa juga bisa membebaskan kita.' Bahasa merupakan atau dapat dianggap selaku benar dalam kehidupan kita. Bahasa memberi kerangka yang akan memberikan harapan-harapan kepada kita dan dengan demikian menimbulkan persepsi bagi para individu yang terlibat dalam komunikasi. Chaer (2003:30) menyebutkan bahwa bahasa adalah alat verbal untuk komunikasi. Sebelumnya (1994), ia menegaskan bahwa bahasa sebagai “suatu lambang bunyi yang bersifat arbitrer yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat untuk berinteraksi dan mengidentifikasi diri”. Chaer

mengemukakan definisi bahasa itu berdasarkan pandangan Barber (1964:21), Wardhaugh (1997:3), Trager (1949:18), de Saussure (1996:16), dan Bolinger (1975:15), yang kemudian, Badudu (1989:3) dan Keraf (1984:16) juga sepakat bahwa bahasa adalah alat komunikasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi III (2005:88) disebutkan bahwa: 1. Bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota satu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri; 2. Bahasa merupakan percapakan (perkataan) yang baik.

Pendapat lainnya dikemukakan oleh Brown dan Yule (1983: 1) yang menyatakan bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi. Lebih dari itu, kedua pakar linguistik ini menyebutkan dalam penggunaannya bahasa (language in use) merupakan bagian dari pesan dalam komunikasi. Dalam bahasa Brown dan Yule, hal ini disebut dengan istilah „transaksional‟ dan „interpersonal‟. Artinya, ada kebiasaan dan kebudayaan dalam menggunakan bahasa sebagai media/alat berkomunikasi. Budaya adalah pikiran, akal budi, yang di dalamnya juga termasuk adat istiadat (KBBI, 2005:169). Dengan demikian, budaya dapat diartikan sebagai sesuatu yang dihasilkan dari pikiran atau pemikiran. Maka tatkala ada ahli menyebutkan bahwa bahasa dan pikiran memiliki hubungan timbal-balik dapat dipahami bahwa pikiran di sini dimaksudkan sebagai sebuah perwujudan kebudayaan. Setelah para ahli sepakat menyataka bahwa bahasa adalah “alat” dalam berkomunikasi, sebagai alat tentunya ada yang menggunakan alat tersebut sehingga ia dapat dimanfaatkan (sebagai komunikasi). Dalam hal ini pengguna atau pemanfaat bahasa adalah manusia (terlepas kajian ada tidaknya bahasa juga digunakan oleh hewan) yang selanjutnya disebut sebagai penutur. Orang atau manusia yang mendengar atau yang menjadi lawan pentur disebut dengan “lawan tutur” atau “pendengar” atau “lawan bicara”. Dalam interaksi antara penutur dan lawan tutur inilah timbul beberapa perilaku berdasarkan pemikiran masing-masing sehingga lahirlah kebiasaan atau budaya. Budaya dan kebiasaan ini akan berbeda tergantung siapa dan di mana bahasa atau pengguna bahasa itu berada. Dalam interaksi sosial, kita tidak jarang menemukan bahwa apa yang kita ucapkan atau kita sampaikan kepada lawan bicara tidak bisa dipahami dengan baik. Kegagalan memahami pesan ini disebabkan beberapa faktor, antara lain: beda usia, beda pendidikan, beda pengetahuan, dan lain-lain. Selain itu, faktor budaya juga berhubungan dengan bahasa. Kata “Kamu” dan “Kau” misalnya,

diucapkan berbeda dalam konteks budaya berbeda. Sebutan “Bapak” di negara yang menggunakan bahasa pengantarnya adalah bahasa Inggris tidak cenderung digunakan. Masyarakat penutur bahasa Inggris akan langsung menggunakan sebutan nama diri/nama orang kepada lawan bicara yang lebih tua sekalipun. Hal yang wajar bagi masyarakat penutur bahasa Inggris ini tentu saja tabu jika dipakai oleh penutur bahasa Melayu atau Indonesia. Bahkan, akan lebih tabu lagi jika dipakai dalam masyarakat Aceh yang terkenal kental adat istiadatnya dalam menghormati orang lebih tua. Contoh lainnya dalam bahasa Inggris adalah kata “mati”. Bahasa Indonesia memiliki beberapa kata yang memiliki makna yang sama dengan maksud kata “mati” misal mampus, meninggal dunia, punah, mangkat, wafat, tewas, lenyap, dsb., sedangkan dalam bahasa Inggris hanya ada dua kata saja, yaitu die dan pass away.

DAFTAR PUSTAKA Gerry, J.W., Poortinga, Y.H., Segall, M.H., & Dasen, P.R. 2002. Cross-Cultural Psychology. United Kingdom: Cambridge University Press. Herman. 2009. Antara Bahasa dan Budaya (Online) (http://kompasiana.com, diakses 12 Maret 2012). Matsumoto, D. 2004. Pengantar Psikologi Lintas Budaya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Zakaria. 2007. Budaya Memengaruhi Bahasa dan Komunikasi (Online) (http://www.waspada.co.id).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->