P. 1
Sejarah, Pengertian, Hukum Dan Perkembangan Zakat Fitrah

Sejarah, Pengertian, Hukum Dan Perkembangan Zakat Fitrah

|Views: 118|Likes:
Published by Altamiz Aank

More info:

Published by: Altamiz Aank on Aug 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/25/2013

pdf

text

original

Sabtu, 20 Agustus 2011

Sejarah, Pengertian, Hukum dan Perkembangan Zakat Fitrah
Tulisan ini adalah hasil karya penelitian dari Kiyai Muda, al-ustadz AMIN SAEFULLAH MUCHTAR Pengurus Institut of hadits Ibn Hajar, Bandung Sumber tulisan: Halaman Facebook AMIN SAEFULLAH MUCHTAR Isi penulisan di blog ini sudah diedit ulang oleh Admin Purnawarman's Media, dengan tanpa merubah isi materinya Selama13 tahun hidup di Mekah sebelum hijrah, Nabi Muhamad telah 13 kali mengalami Ramadhan, yaitu dimulai dari Ramadhan tahun ke-41 dari kelahiran Nabi yang bertepatan dengan bulan Agustus 610 M, hingga Ramadhan tahun ke-53 dari kelahirannya yang bertepatan dengan bulan April tahun 622 M. Namun selama waktu itu belum disyariatkan kewajiban mengeluarkan zakat fitrah bagi kaum muslimin, dan Iedul fitrinya juga belum ada/belum disyariatkan. Setelah Nabi hijrah ke Madinah, dan menetap selama 17 bulan di sana, pada bulan Sya'ban tahun ke-2 H., turunlah ayat 183-184 surah al-Baqarah sebagai dasar disyariatkannya shaum bulan Ramadhan. Tidak lama setelah turunnya ayat itu, masih di bulan Ramadhan tahun itu pula, mulai diwajibkan zakat kepada kaum muslimin, sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Umar

‫ه‬

-

Dari Ibnu Umar, sesungguhnya Rasulullah saw. telah mewajibkan zakat fitrah pada bulan Ramadhan atas orang-orang sebesar 1 sha' kurma, atau 1 sha' gandum, wajib atas orang merdeka, hamba sahaya, laki-laki dan perempuan, dari kaum muslimin" H.r. Muslim Zakat ini kemudian populer dengan sebutan zakat fitrah.

Pengertian Zakat
Zakat berasal dari akar kata zaka yang berarti suci, baik, berkah, tumbuh, atau berkembang. Menurut terminologi syari'at (istilah), zakat adalah nama bagi sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah subhanahu wa ta'ala untuk dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak menerimanya (mustahiq) dengan persyaratan tertentu pula. Firman Allah

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan bendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu(menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Q.s. AtTaubah:103

R. Sehubungan dengan itu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: ‫ه‬ . baik dari sisi pengakuan bahwa penciptanya adalah Allah. yang masih di dalam rahim. maupun dari segi uraian tentang fitrah manusia. maka kedua orang tuanya lah yang menjadikan dia Yahudi. muzakki Zakat Fitrah/yang terkena kewajiban Zakat fitrah wajib dikeluarkan oleh setiap orang muslim. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. sebagai berikut: Pertama. H. bahkan bayi yang telah bernyawa. Al-Bukhari. Nashrani. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" Q. semuanya wajib mengeluarkan zakat fitrahnya.Maksud zakat membersihkan itu adalah membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda. Sisanya berhubungan dengan penciptaan manusia. atau Majusi. ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami). Keadaan inilah yang disebut al-fitrah. Nabi pun menetapkan beberapa aturan zakat yang amat penting diperhatikan oleh kaum muslimin. ataupun seorang kanak-kanak. maka zakatnya menjadi kewajiban penanggungnya. yaitu bertauhid (mengesakan Allah).s. tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Itulah agama yang lurus. 14 di antaranya berhubungan dengan bumi dan langit. manusia itu telah membawa potensi beragama yang lurus. Al-A'raf:172 Peristiwa ini memberikan gambaran bahwa sejak diciptakan. baik dari .‫ي‬ ‫ه‬ - "Setiap manusia dilahirkan atas fitrahnya. yakni fitrah Allah yang telah menciptakan manusia atas fitrah itu. seorang dewasa. baik ia seorang pembantu rumah tangga. Pengertian Fitrah Dalam AlQur'an kata fitrah dalam berbagai bentuknya disebut sebanyak 28 kali. Sehubungan dengan itu Allah berfirman pada surah Ar-Rum ayat 30: "Maka hadapkanlah dirimu dengan lurus kepada Agama itu. Selain menyebut istilah." Pada ayat lain diterangkan kronologis peristiwanya: Dan (ingatlah). Bagi mereka yang berada di bawah tanggungan orang lain. Sedangkan maksud zakat menyucikan itu adalah menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan mengembangkan harta benda mereka. kami menjadi saksi".

Q. ataupun oleh penanggung yang bertanggung jawab atasnya. Al-Bukhari Dengan kata-kata shagir (anakkecil) itu maka sudah tercakup di dalamnya pengertian bayi yang masih berada di dalam kandungan ibunya apabila usia kandungan itu telah mencapai umur 120 hari atau empat bulan. Dan beliau memerintahkan untuk ditunaikan sebelum orang-orang keluar melaksanakan shalat ied. untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan. Hal ini sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abu Syaibah Sesungguhnya Utsman bin Affan memberikan zakat fitrah dari bayi yang dikandung.R. perempuan.Abdurrazaq. orang yang merdeka. II:432 Demikian pula diterangkan oleh Abu Qilabah Dari Abu Qilabah. sasaran zakat atau yang lebih populer dengan sebutan mustahik (yang berhak menerima zakat) ada 8 ashnaf (golongan). untuk(memerdekakan) budak. III:319 Kedua. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari diterangkan. sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. bahkan yang masih dalam kandungan".hartanya sendiri. Firman Allah: Sesungguhnya zakat-zakat itu. orang dewasa dan bayi dalam kandungan. dewasa. H. laki-laki. setidaknya ada dua permasalahan yang perlu . orang-orang yang berhutang. Mustahiq/Masharif(Sasaran) Zakat Menurut Alquran. ia berkata. ‫ي‬ ‫ي‬ - ." H. pengurus-pengurus zakat. "Adalah menjadi perhatian mereka (para sahabat) untuk mengeluarkan/memberikan zakat fitrah dari anak kecil.‫ه‬ Ibnu Umar mengatakan. At-Taubah:60 Bila ayat di atas kita perhatikan secara seksama.r. al-Mushannaf. Mushannaf Ibnu Abu Syaibah. dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. atau satu sha dari syair (gandum) atas hamba sahaya."Rasulullah saw. Sehubungan dengan itu Utsman bin Afan membayar zakat fitrah bagi anak kecil. anak kecil dan dewasa dari kalangan muslimin.s. hanyalah untuk orang-orang fakir. orang-orang miskin. para mu'allaf yang dibujuk hatinya. mewajibkan zakat fitrah satu sha' dari kurma.

Ushlub (Gaya Bahasa)AlQuran Dalam mengungkap sasaran zakat di atas Alquran menggunakan ushlub (gaya bahasa) sastra yang tinggi nilainya. Sabilillah Orang yang bersungguh-sungguh dalam menegakkan ajaran Islam (memelihara berlakunya kebenaran. sabilillah. 6.al-gharimin. yakni laam/li dan fie. 7. Kriteria Ashnaf 1. 4. yaitu pada ayat di atas terdapat dua huruf yang masing-masing mengiringi empat ashnaf pertama dan empat ashnaf kedua. Fuqara(Fakir) Orang yang tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi kebutuhan hidupannya (primer). Ibnu Sabil Orang yang kehabisan bekal di tengah perjalanan. al-masakin.Orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah 5. Mu'allaf a. Amilin Orang yang bertugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat. A. al-'amilin. dan al-muallaf qulubuhum (empat ashnaf pertama). Gharimin Orang yang berhutang karena untuk kepentingan yang bukan kema'siatan dan tidak sanggup membayarnya. kebaikan. kriteria ashnaf itu sendiri. . dan keutamaan akhlak) 8. Kedua. tapi tidak mencukupi keperluan hidupnya (primer). 2. 3. Masakin (Miskin) Orang yang mempunyai harta dan tenaga. walaupun ia orang kaya di negerinya. dan ibnus sabil (empat ashnaf kedua).Huruf laam mengiringi kata al-fuqara.Sedangkan huruf fie mengiringi kata ar-riqab.Orang kafir yang ada harapan masuk Islam b. ushlub (gaya bahasa) AlQur'an dalam mengungkap sasaran zakat.digaris bawahi untuk kita kaji lebih jauh. Riqab Orang yang memerdekakan hamba sahaya. B. Pertama.

dan al-muallaf qulubuhum.untuk menegakkan agama Islam. Dengan perkataan lain. maka halitu cukup bagimu.Penempatan kedua huruf tersebut tentunya bukan suatu kebetulan." (Tafsir Ath-Thabari VI : 404). sabilillah. Sedangkan bagian kedua ialah ashnaf yang terdiri dari orang-orang yang berhak menerima zakat bukan sematamata kepentingan pribadi melainkan untuk kemaslahatan "acara" mereka. al-masakin. karena kebutuhan itu berbeda antara yang satu dan yang lainya. "Apabila engkau memberikan zakat pada satu sasaran saja. al-amilin. yaitu ar-riqab. Dari Hudzaifah. yaitu untuk memelihara berlakunya kebenaran (al-haq). dalam arti mereka berhak mendapat bagian untuk dirinya sendiri. Sementara empat ashnaf yang kedua mereka berhak menerima zakat untuk kemaslahatan yang berkaitan erat dengan "acara" mereka. sebab "fie" merupakan wadah untuk menampung. ia berkata. Masalah sasaran zakat telah selesai kita bahas. dan ibnus sabil. Disamping itu tidak ada kewajiban untuk menyamaratakan pemberian tersebut kepada individu yang diberinya. sehingga mereka terbebas dari hutang itu. yaitu wajibkah amil mendistribusikan zakat atau muzakki(wajib zakat) menyerahkan zakat kepada semua ashnaf yang delapan. yang dengan itu Allah mengingatkan bahwa mereka lebih berhak atasnya dan menjadikannya sebagai tempat harapan untuk mewujudkan kemaslahatan kaum muslimin secara umum. dan menyamaratakan prosentase zakat yang dibagikan di antara mereka? Hemat kami. Berdasarkan uraian di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa secara garis besar. Demikian pula dengan fie sabilillah. tapi boleh melebihkan prosentase bagian yang satu dengan yang lainya sesuai dengan kebutuhan. tetapi pasti mengandung nuktah (rahasia halus) yang harus dikaji secara mendalam. yaitu al-fuqara. yaitu untuk memberitahukan bahwa empat golongan kedua ini lebih layak untuk diprioritaskan daripada empat golongan pertama. semua harta zakat boleh diberikan kepada sebagian sasaran tertentu saja untuk mewujudkan kemaslahatan yang sesuai dengan syara'. Lebih jauh Imam az-Zamakhsyari berpandangan bahwa perpindahan dari "li" pada empat ashnaf pertama kepada "fie" pada empat ashnaf kedua mengandung rahasia. . Masih ada masalah yang mesti kita kaji. penempatan kedua huruf tersebut mengandung arti bahwa empat ashnaf yang pertama adalah para pemilik dari zakat tersebut. kebaikan. sasaran zakat itu ada dua bagian: Bagian pertama ialah ashnaf yang terdiri dari mereka yang boleh menerima zakat untuk dirinya sendiri. Dan menurut hemat kami. algharimin. mereka mendapat bagian dari zakat bukan semata-mata kepentingan pribadinya melainkan tugas dan tanggung jawab dalam mengemban amanah Islam. Adapun landasan syariatnya adalah sebagai berikut : 1.mereka mendapat bagian dari zakat bukan untuk dimiliki secara pribadi. Seperti al-gharimun (orang yang berhutang). tetapi untuk acara pelunasan hutang yang tentu saja harta zakat yang diterimanya itu harus diserahkan kepada orang yang menghutangkannya. dan kesempurnaan akhlak.

sebagaimana yang diungkapkan oleh hadis Rasul. Adapun kalimat tu'matan lil masakin yang berkaitan dengan zakat fitrah. 'Atha.) 4. bukan ukuran berat. seperti liter bukan kilogram. maksudnya agar zakat itu jangan diberikan kepada yang selain sasaran tersebut. Maka jika dia sebagai prajurit (fi sabilillah)." (Fiqh al-Zakah. maka mana diantara sasaran itu yang menurut penguasa lebih banyak jumlahnya dan lebih membutuhkan. Adapun tentang prosentase Ibnu Qudamah menjelaskan: ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ Dan jika pada salah satu terkumpul beberapa sebab yang menghendaki (melegitimasi) pengambilan zakat berdasarkan sebab itu. Adanya satu sebab tidak menghalangi tetapnya hukum atas sebab yang lain. Misalkan amil yang faqir. Danmudahmudahan dari tahun ke tahun zakat itu berpindah dari satu sasaran kepada sasaran lain. Ibid. Abu Tsaur berkata. "Apabila engkau memberikanzakat pada satu sasaran dari sasaran zakat. kecuali berdasarkan ijtihad penguasa. 6. dan Ibrahim an-Nakha'i (TafsirAth-Thabrani." 3... permasalahan pembagian zakat. tidaklah ada. V:223 Jumlah Besaran Minimal yang Harus dikeluarkan dalam zakat fitrah Di dalam hadits diterangkan bahwa besaran zakat fitrah yang dikeluarkan adalah sha'an (1 sha'). 1 liter beras . Pendapat di atas juga menjadi pegangan Umar bin Khatab. Sa'id bin jabir. 5. Karena tiap-tiap sebab itu ditetapkan hukumnya berdasarkan sebab masingmasing (bukan karena sama orangnya. al-Mughni. tapikarena beda sebabnya). maka ia boleh diberi berdasarkan sebab itu. itulah yang harus diutamakan. Sasaran yang lebih membutuhkan dan lebih banyak jumlahnya. ia punya hak mengambil bagian zakat untuk keperluan perangnya..". Sha merupakan istilah bagi ukuran isi/volume. hal. "menurut pendapat kami. makahal itu bukanlah takhshish (pengkhususan). Lihat. ia berhak mengambil pula untuk dapat memenuhi keperluannya itu (sebagai hak faqir).2. kebolehan memberikan zakat pada seorang mustahiq dari satu sasaran tidak ada bantahan dan tidak pula termasuk syubhat.sedangkan Firman Allah : "Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk parafakir. Abul 'Aliyyah. ia punya hak mengambil bagian zakatnya.. Ukuran isi tidak mengalami perubahan walaupun yang ditakarnya berbeda jenis.Yusuf Al-Qardhawi. maka hal itu cukup bagimu. melainkan tanshish (penekanan/prioritas) yang bersifat kondisional. Dr. Dan jika dia seorang gharim ia punya hak mengambil bagian zakat untuk melunasi hutangnya. Ibnu Abas berkata.. Jika tidak dapat menutupi kefakirannya. 667).. atau turadduna ila fuqaraihim yang berkaitan dengan zakat mal.senantiasa harus didahulukan dimanapun mereka berada.

anak kecil dan dewasa dari kalangan muslimin. "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah satu sha' dari kurma.r. Apakah makanan pokok menjadi syarat sah zakat fitrah? Keterangan terkait persoalan ini ‫ي‬ ‫ه‬ "Kami (para sahabat) mengeluarkan zakat firtah dizaman Rasulullah saw.r. (H. orang yang merdeka. hal tersebut bisa jadi berubah volume karena akan mengalami perbedaan tergantung jenis benda yang ditakarnya.r. al-Bukhari –‫ي‬ ‫ه‬ Ibnu Umar mengatakan. Hal itu didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut: . laki-laki. Namun. Al-Bukhari) – ‫ه‬ ‫ي‬ – Ibnu Umar mengatakan.47 cc = 3. maka setiap tahun besaran zakat fitrah itu bisa jadi berubah sesuai dengan perubahan harga yang berlaku saat itu. Apabila dikonversi berdasarkan qimah atau harga. atau satu sha dari syair (gandum)" H.Al-Bukhari Apabila hadits-hadits di atas dibaca secara mantuq (makna tersurat) dan konsisten tidak akan menerima mafhum (makna tersirat). Tapi lain halnya jika takaran berat yang diterapkan.5 Kg ini berat jenis beras yang rata-rata dikonsumsi oleh mayoritas.Karawang akan sama isinya dengan 1 liter beras Cianjur. H. 1 sha = 4 mud = 2770. pada (waktu) hari raya fitri (berupa) satu sho' dari makanan". benarkah demikian pesan utama Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. kata min tamrin atau min sya'ir dalam struktur kalimat di atas fungsinya bukan bayan lit takhsis (keterangan pengkhusus).1liter lebih = 2. yakni kurma dan gandum. atau satu sha dari syair (gandum)atas hamba sahaya. maka zakat fitrah yang wajib dikeluarkan terbatas jenisnya. yaitu bahwa zakat fitrah wajib dikeluarkan hanya dalam bentuk kurma dan gandum? Hemat kami. Adapun kata at-Tha'am pada hadits pertama tidak dapat dimaknai makanan secara umum karena sudah ada bayan tafshil (keterangan terperinci) pada hadits-hadits selanjutnya. "Rasulullah saw. perempuan.mewajibkan zakat fitrah satu sha' dari kurma.melainkan bayan lit tanshish (keterangan penegas/prioritas) sesuai dengan situasi dan kondisi mustahiq di suatu daerah tertentu.

" Maka orang-orang mengambil konversi itu. berat (Kg). (3) Secara ekonomi. dan tamr (kurma) adalah makanan kami" H. mewajibkan zakat fitrah sebagai pensuci bagi yang saum dari ucapan sia-sia dan porno dan sebagai makanan bagi orang miskin" (H. "Rasulullah saw. yaitu 1 sha' atau yang senilai 1 sha' dalam ukuran isi (liter). "Saya memandang bahwa 2 mud gandum Syam senilai dengan 1 sha kurma. Konversi nilai itu pernah dilakukakan oleh Mu'awiyah sebagaimana diterangkan dalam riwayat Muslim. dan harga. kedua jenis makanan itu lebih bermanfaat untuk orang miskin waktu itu sebagai thu'matan (makanan mudah saji). kedua jenis makanan tersebut di waktu itu lebih mudah didapat atau biasa dimiliki secara umum.r. Abu Said menjelaskan: ‫ي‬ – ‫ي‬ ‫ه‬ Dari Abu Sa'id al-Khudri.– ‫ه‬ Dari Ibnu Abas. ia berkata. Kedua. atau Zabib (kismis/anggurkering)" H. Al-Bukhari Mengapa jenis makanannya diperluas? Kata Abu Sa'id: – ‫ي‬ ‫ه‬ - "sya'ir (gandum). Hal ini tampak semakin jelas didukung oleh data faktual yang menunjukkan bahwa para sahabat memperluas jenis makanan dari yang disebut oleh Rasul.r. melainkan secara mafhum (makna tersirat). Dilihat dari sisi muzakki. hal itu terbukti dengan diperluas jenis makanannya. Al-Bukhari Katerangan Abu Said di atas menunjukkan bahwa (1)para sahabat memahami hadits Nabi tentang zakat fitrah itu tidak secara mantuq (makna tersurat). Dilihat dari sisi mustahiq. aqith (susu beku/keju). "Kami mengeluarkan zakat fitrah 1 sha makanan atau 1 sha min sya'ir(gandum). jenis pangan yang dimiliki oleh publik zaman sahabat sudah lebih berkembang daripada zaman Nabi. Ia berkata.Abu Daud) Dari hadis di atas kita dapat memahami bahwa Rasul menetapkan zakat fitrah dengan dua jenis makanan (kurma & gandum) berdasarkan atas dua sebab: Pertama. (2) para sahabat memahami hadis itu bukan sebagai takhsis(pengkhususan). atau aqith (susu beku/keju). atau tamr (kurma). Umar bin Abdul Aziz. al-Hasan al-Bishri dan Atha telah menetapkan zakat fitrah . Karena itu. ia berkata. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa yang menjadi pokok kewajiban zakat fitrah itu bukan "barangnya" melainkan "nilainya".r. Zabib (kismis/anggur kering).

Waktu itu Umar bin Abdul Aziz menetapkan nilai 1 sha = ½ dirham (lihat. pada (waktu) hari raya fitri (berupa)satu sho' berupa makanan". tapi sebagiannya saja.r. H.oleh harga/uang (dirham). Perbuatan para sahabat di atas merupakan pengalaman dari instruksi Rasulullah. Ibnu Tin menyatakan sebagai berikut : ‫ي‬ "(maksud hadis itu) ialah sebelum orang keluar untuk salat Idul Fitri (siang hari) dan setelah salat subuh". Kapan waktu yang tertentu dan terbatas itu? Abu Sa'id al-Khudri: -‫ي‬ ‫ه‬ "Kami (para sahabat) mengeluarkan zakat firtah di zaman Rasulullah saw. sebagaimana yang pernah diterangkan oleh Ibnu Umar : - - Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintah dengan zakat fitrah.karena Allah telah berfirman. 'Sungguh beruntung orang yang membersihkan(berzakat) dan mengingat Tuhannya. Karena itu membagikan zakat fitrah harus tepat pada waktunya.r. Untuk ebih jelasnya.) . (Ibid. yaitu sejak terbit fajar hingga selesai salat hari raya (Ied) setempat. H. Shahih Muslim. H.r. yaitu tertentu dan terbatas waktunya. bukan pada malam hari. Berdasarkan keterangan Ibnu Umar di atas maka semakin jelaslah makna yaumal fitri itu. I : 393 Sedangkan di dalam redaksi At-Tirmidzi diterangkan sebagai berikut : "Sesungguhnya Rasulullah saw. III : 439) Kemudian 'Ikrimah menegaskan pula: (artinya) "Seseorang mendahulukan zakatnya pada "hari raya fitri" dihadapan salatnya. memerintah untuk mengeluarkan zakat (fitrah) pada hari fitri sebelum pergi salat (hari raya)". Al-Bukhari Keterangan Abu Sa'id di atas menjadi petunjuk bahwa ketentuan waktu mengeluarkan zakat fitrah yang berlaku di zaman Rasulullah adalah pada yaumal fitri (siang hari raya fitri). supaya dilakukan sebelum orang keluar(pergi) ke shalat (hari raya). kemudian ia salat' ".. At-Tirmidzi. II:398) Waktu Membagikan Zakat Fitrah Zakat fitrah adalah ibadah yang mudhayyaq. MushannafIbnu Abi Syaibah. FathulBari. yakni bukan malam hari dan bukan pula sepanjang hari raya.

sebab) tertentu ? Sehubungan dengan itu Syekh al-Qardhawi menyatakan. mengingat sedikitnya jumlah anggota masyarakat dimasa itu.dan mereka menyerahkannya sehari atau dua hari sebelum hari raya". Yang menjadi permasalahan. dan karena itu pula dengan mudah dapat mengetahui siapa-siapa yang memerlukan zakat fitrah tersebut. dua hari. "Hadits yang menerangkan waktu pembagian zakat fitrah itu bersifat temporer atau situasional.Al-Bukhari ‫ه‬ Riwayat ini belum menerangkan secara jelas. yang menetapkan perubahan waktu tersebut (setelah shubuh). melainkan diperintahkan. Adapun tindakan mereka yang mengeluarkannya sehari atau dua hari sebelum hari raya.maka keterangan ini tidak bisa dipakai dalil bahwa ketentuan waktu di atas hanya berlaku bagi masyarakat di zaman Rasul saja. Ketentuan ini berlaku. 1993 : 144) Dalam hal ini. yang kemudian senantiasa dipraktekkan oleh para shahabat.(lihat. sekalipun situasi dan kondisinya telah berubah. maka ketentuan waktu untuk menyampaikan zakat fitrah kepada para mustahiq itu adalah dimulai sejak fajar hari raya fitri sampai selesai shalat 'ied setempat. penulis tidak sependapat dengan pemikiran Syekh al-Qardhawi di atas mengingat tidak adanya dalil dari seorang sahabat pun. baik bagi perorangan (ataupun kelembagaan [jami' zakat]). Jadi. Hal ini sebagaimana yang telah dipraktekkan oleh Abu Sa'id beserta para sahabat lainnya.sementara mereka saling mengenal satu sama lain. baik pada zaman Rasulullah maupun sesudahnya. tapi kepada jami zakat sebagai amanat untuk di bagikan kepadapara mustahiq. H. artinya ketentuan tersebut hanya berlaku bagi anggota masyarakat di masa itu.tidak ada problem apapun yang berkaitan dengan sempitnya waktu untuk itu".Berdasarkan keterangan-keterangan di atas. atau tiga hari sebelum hari raya itu bukan waktu untuk membagikan kepada para mustahiq. Namun di dalam riwayat Imam Malik hal itu dijelaskan sebagai berikut: ‫ي‬ Dari Nafi "Sesungguhnya Ibnu Umar mengirimkan zakat fitrahnya kepada yang mengumpulkan zakat (jami' zakat) dua hari atau tiga hari (menjelang hari raya)". setelah Rasulullah shallallau 'alaihi wasallam wafat. Hal itu bukan hanya dicontohkan saja.r. nanti pada waktunya. . kepada siapa zakat itu diserahkan. apakah ketetapan ini berkaitan dengan suatu 'illah (alasan. Adapun alasannya adalah sebagai berikut : – ‫ي‬ "Dan Ibnu Umar menyerahkan zakat fitrah kepada mereka yang menerimannya. sehari. Bagaimana Memahami Hadis Nabi. Berdasarkan keterangan di atas maka.

maka jelaslah bagi kita bahwa para shahabat tidak mengkondisikan hukum syara' (ketentuan waktu) sesuai dengan keadaan ruang lingkup masyarakat. tetapi mereka lebih menitik-beratkan perhatiannya pada pengefektifan fungsi serta tugas 'amilin agar zakat fitrah tersebut dapat diterima oleh para mustahiq dalam lingkup . tempat-tempat kediaman makin berjauhan dengan penghuni yang makin banyak. tapi justru keadaan ini menjadi pendorong bagi mereka untuk mengatur langkah serta menyusun strategi yang sedemikian rupa sehingga zakat fitrah yang diamanatkan itu dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Berdasarkan keterangan-keterangan di atas. lingkup masyarakat kian meluas. Aku bertanya lagi. dari Ayyub. sehingga dalam waktu yang sudah ditentukan zakat fitrah tersebut dapat ditunaikan. menagih. melalui jalan Abu Harits. mereka pun menangkap isyarat dari perintah tersebut tentang teknis pelaksanaan agar diperhatikan dan dipikirkan secara matang.. Ia menjawab. Ketentuan Waktu Tidak Membatasi Teknis Kita memaklumi bahwa di masa shahabat. dan membagikan zakat kepada para mustahiq sesuai dengan lingkup teritorial ketika itu. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh para shahabat di zaman Ibnu Umar berdasarkan riwayat di atas.adalah ketentuan yang berlaku secara umum. Situasi dan kondisi masyarakat yang seperti ini tidak di jadikan sebab atau alasan oleh mereka untuk mengubah ketentuan waktu mengeluarkan zakat fitrah yang telah di gariskan oleh Rasulullah saw.). Abu Abdullah (Imam Al-Bukhari)menegaskan dalam naskah al-Shaghani bahwa "mereka memberikan zakat fitrah(sebelum hari raya) lil jam'i (untuk di kumpulkan) la lil fuqara (bukan kepadafakir-miskin)". Fathul Bari.Bahkan lebih ditegaskan lagi di dalam riwayat Ibnu Khuzaemah. Berdasarkan pengetahuan mendalam para shahabat akan hikmah ajaran Agama. Berarti waktu sebanyak itu dianggap cukup atau memungkinkan bagi mereka untuk bekerja. yaitu mengurus. 'Kapan amil itu di bentuk?'. maka instruksi Rasulullah dalam masalah ini tidak hanya dipahami sebagai syarat maqbul dan tidaknya zakat tersebut. ia berkata: "Aku bertanya (kepada Nafi). (Ibid.III : 440441 Oleh karena itu. 'Kapan Ibnu Umar menyerahkan zakat fitrah ? 'Ia (Nafi) menjawab.setelah shalat subuh hingga selesai shalat 'Ied setempat . tapi lebih jauh dari itu. Berdasarkan petunjuk di atas pula. mereka (para amil) dibentuk atau mulai melaksanakan tugasnya adalah dua atau tiga hari sebelum hari raya. 'satu hari atau dua hari lagi menjelang idul fitri'". maka dapat kita simpulkan bahwa ketentuan waktu mengeluarkan zakat fitrah . tidak dibatasi oleh sebab keadaan situasi dan kondisi suatu daerah tertentu.'Apabila amil zakat telah ada (dibentuk)'.

sesuai dengan ketentuan waktu yang telah digariskan oleh Rasulullah saw. copy-paste dari : . Wallahu A'lam.masyarakat yang kian meluas.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->