P. 1
Askep bayi BBLR

Askep bayi BBLR

|Views: 461|Likes:
Published by rakatsu

More info:

Published by: rakatsu on Aug 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/08/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kehidupan pada masa neonatus sangat rawan karena memerlukan penyesuaian fisiologis agar bayi di luar kandungan dapat hidup sebaik-baiknya. Peralihan kehidupan dari intrauterin ke ekstrauterin memerlukan berbagai perubahan biokimia dan faali. Banyak masalah pada bayi baru lahir yang berhubungan dengan gangguan atau kegagalan penyesuaian biokimia dan faali yang disebabkan oleh prematuritas, kelainan anatomik dan lingkungan yang kurang baik dalam kandungan, baik dalam proses persalinan maupun sesudah lahir. Di Indonesia Angka Kematian Bayi (AKB) masih tinggi, sekitar 56% kematian terjadi pada periode yang sangat dini yaitu di masa neonatal. Sebagian besar kematian neonatal terjadi pada 0-6 hari (78,5%) dan prematuritas merupakan salah satu penyebab utama kematian. Target MDG 2015 adalah menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB) kelahiran hidup menjadi 23 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, AKB masih 34/1.000 kelahiran hidup. Bayi dengan badan lahir rendah akan meningkatkan angka kesakitan dan angka kematian bayi. Berat badan lahir sangat menentukan prognosa dan komplikasi yang terjadi. Hal ini akan bertambah buruk jika berat badan tidak bertambah untuk waktu yang lama. Masalah yang mengancam pada BBLR dan BBLSR adalah resiko kehilangan panas dan ir yang relative lebih besar karena permukaan tubuh relatif luas, jaringan lemak subkutan lebih tipis, sehingga resiko kehilangan panas melalui kulit dan kekurangan cadangan energi lebih

besar. Daya tahan tubuh relative rendah karena prematuritas dan malnutisinya, juga fungsi organ belum baik (terutama UK < 34 minggu), misalnya : system pernafasan, saluran cerna, hati , ginjal, metabolisme dan system kekebalan. Bayi BBLSR mempunyai insiden perumahsakitan kembali yang lebih tinggi selama tahun pertama kehidupan, jika dibanding dengan bayi yang lebih besar, sebagai akibat dari hernia inguinalis, infeksi, pengobatan sisa akibat prematuritas dan gangguan perawatan.

BAB II KONSEP DASAR TEORI

A. Definisi Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram tanpa memperhatikan masa gestasi ( Donna L Wong 2000 : 124). Bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram merupakan salah satu faktor yang berperan terhadap kematian bayi khususnya pada masa perinatal. Upaya untuk meningkatkan kualitas manusia harus dimulai sedini mungkin sejak janin dalam kandungan. Angka kematian BBLR mencerminkan derajat kesehatan masyarakat. Bayi-bayi ini lebih mudah untuk menjadi sakit bahkan meninggal disbanding dengan bayi berat lahir rendah (Setyowati, 2004). Dahulu neonatus dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram atau sama dengan 2500 gram disebut prematur. Pada tahun 1961 oleh WHO semua bayi yang baru lahir dengan berat lahir kurang dari 2500 gram disebut Low Birth Weight Infants ( BBLR). Berdasarkan pengertian di atas maka bayi dengan berat badan lahir rendah dapat dibagi menjadi 2 golongan: 1. Prematuritas murni. Bayi lahir dengan umur kehamilan kurang dari 37 minggu dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa kehamilan atau disebut Neonatus Kurang Bulan Sesuai Masa Kehamilan ( NKBSMK). 2. Dismaturitas. Bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa kehamilan, dismatur dapat terjadi dalam preterm, term, dan post term. Dismatur ini dapat juga: Neonatus

Kurang Bulan - Kecil untuk Masa Kehamilan (NKB- KMK). Neonatus Cukup Bulan-Kecil Masa Kehamilan KMK ). BBLR merupakan salah satu risiko untuk terjadinya asfiksia Bayi Baru Lahir (BBL), dan seperti bayi baru lahir (BBL) yang lain, BBLR perlu mendapat perhatian dan tatalaksana yang baik pada saat lahir. (Kementrian Kesehatan, 2011) B. Etiologi Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur. Faktor ibu yang lain adalah umur, paritas, dan lain-lain. Faktor plasenta seperti penyakit vaskuler, kehamilan kembar/ganda, serta faktor janin juga merupakan penyebab terjadinya BBLR 1. Faktor ibu a. Penyakit : Seperti malaria, anaemia, sipilis, infeksi TORCH, dan lain-lain b. Komplikasi pada kehamilan : Komplikasi yang tejadi pada kehamilan ibu seperti perdarahan antepartum, pre-eklamsia berat, eklamsia, dan kelahiran preterm. c. Usia Ibu dan paritas : Angka kejadian BBLR tertinggi ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu dengan usia <> d. Faktor kebiasaan ibu : Faktor kebiasaan ibu juga berpengaruh seperti ibu perokok, ibu pecandu alkohol dan ibu pengguna narkotika. 2. Faktor Janin Prematur, hidramion, kehamilan kembar/ganda (gemeli), kelainan kromosom. ( NCB-KMK ), Neonatus Lebih Bulan-Kecil Masa Kehamilan (NLB-

3. Faktor Lingkungan Yang dapat berpengaruh antara lain; tempat tinggal di daratan tinggi, radiasi, sosio-ekonomi dan paparan zat-zat racun. C. Patofisiologi Secara umum bayi BBLR ini berhubungan dengan usia kehamilan yang belum cukup bulan (prematur) disamping itu juga disebabkan dismaturitas. Artinya bayi lahir cukup bulan (usia kehamilan 38 minggu), tapi berat badan (BB) lahirnya lebih kecil ketimbang masa kehamilannya, yaitu tidak mencapai 2.500 gram. Biasanya hal ini terjadi karena adanya gangguan pertumbuhan bayi sewaktu dalam kandungan yang disebabkan oleh penyakit ibu seperti adanya kelainan plasenta, infeksi, hipertensi dan keadaan-keadaan lain yang menyebabkan suplai makanan ke bayi jadi berkurang. Gizi yang baik diperlukan seorang ibu hamil agar pertumbuhan janin tidak mengalami hambatan, dan selanjutnya akan melahirkan bayi dengan berat normal. Dengan kondisi

kesehatan yang baik, system reproduksi normal, tidak menderita sakit, dan tidak ada gangguan gizi pada masa pra hamil maupun saat hamil, ibu akan melahirkan bayi lebih besar dan lebih sehat daripada ibu dengan kondisi kehamilan yang sebaliknya. Ibu dengan kondisi kurang gizi kronis pada masa hamil sering melahirkan bayi BBLR, vitalitas yang rendah dan kematian yang tinggi, terlebih lagi bila ibu menderita anemia. Anemia dapat didefinisikan sebagai kondisi dengan kadar Hb berada di bawah normal. Anemia defisiensi besi merupakan salah satu gangguan yang paling sering terjadi selama kehamilan. Ibu hamil umumnya mengalami deplesi besi sehingga hanya memberi sedikit besi kepada janin yang dibutuhkan untuk metabolisme besi yang normal. Selanjutnya mereka akan menjadi anemia pada saat kadar hemoglobin ibu turun sampai di bawah 11 gr/dl selama trimester

III. Kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan janin baik sel tubuh maupun sel otak. Anemia gizi dapat mengakibatkan kematian janin didalam kandungan, abortus, cacat bawaan, BBLR, anemia pada bayi yang dilahirkan, hal ini menyebabkan morbiditas dan mortalitas ibu dan kematian perinatal secara bermakna lebih tinggi. Pada ibu hamil yang menderita anemia berat dapat meningkatkan resiko morbiditas maupun mortalitas ibu dan bayi, kemungkinan melahirkan bayi BBLR dan prematur juga lebih besar.

D. Tanda-Tanda Klinis Gambaran klinis BBLR secara umum adalah : a. Berat kurang dari 2500 gram b. Panjang kurang dari 45 cm c. Lingkar dada kurang dari 30 cm d. Lingkar kepala kurang dari 33 cm e. Umur kehamilan kurang dari 37 minggu f. Kepala lebih besar g. Kulit tipis, transparan, rambut lanugo banyak, lemak kurang h. Otot hipotonik lemah i. Pernapasan tak teratur dapat terjadi apnea j. Eksremitas : paha abduksi, sendi lutut / kaki fleksi-lurus k. Kepala tidak mampu tegak l. Pernapasan 40 – 50 kali / menit m. Nadi 100 – 140 kali / menit

E. Pemeriksaan Diagnostik a. Pemeriksaan glucose darah terhadap hipoglikemia b. Pemantauan gas darah sesuai kebutuhan c. Titer Torch sesuai indikasi d. Pemeriksaan kromosom sesuai indikasi e. Pemantauan elektrolit f. Pemeriksaan sinar X sesuai kebutuhan ( missal : foto thorax ) F. Komplikasi Komplikasi langsung yang dapat terjadi pada bayi berat lahir rendah antara lain: 1. Sindroma distress respiratori idiopatik Terjadi pada 10% bayi kurang bulan. Nampak konsolidasi paru progresif akibat kurangnya surfaktan yang menurunkan tegangan permukaan di alveoli dan mencegah kolaps. Pada waktu atau segera setelah lahir bayi akan mengalami : a) rintihan waktu inspirasi b) napas cuping hidung c) kecepatan respirasi leih dari 70/ menit d) tarikan waktu inspirasi pada sternum ( tulang dada ) Nampak gambaran sinar- X dada yang khas bronkogrm udara dan pemeriksaan gas darah menunjukkan : a) kadar oksigen arteri menurun b) konsentrasi CO2 meningkat c) asidosis metabolic Pengobatan dengan oksigen yang dilembabkan, antibiotika, bikarbonas intravena dan

makanan

intravena.

Mungkin

diperlukan

tekanan

jalan

positif

berkelanjutan

menggunakan pipa endotrakea. Akhirnya dibutuhkan pernapasan buatan bila timbul gagal napas dengan pernapasan tekanan positif berkelanjutan. 2. Takipnea selintas pada bayi baru lahir Paru sebagian bayi kurang bulan dan bahkan bayi cukup bulan teteap edematous untuk beberapa jam setelah lahir dan menyebabkan takipnea. Keadaan ini tidak berbahaya, biasanya tidak akan menyebabkan tanda- tanda distress respirasi lain dan membaik kembali 12-24 jam setelah lahir. Perdarahan intraventrikular terjadi pada bayi kurang bulan yang biasanya lahir normal. Perdarahan intraventrikular dihubungkan dengan sindroma distress respiratori idiopatik dan nampaknya berhubungan dengan hipoksia pada sindroma distress respirasi idiopatik. Bayi lemas dan mengalami serangan apnea. 3. Fibroplasias retrolental Oksigen konsentrasi tinggi pada daerah arteri berakibat pertumbuhan jaringan serat atau fibrosa di belakang lensa dan pelepasan retina yang menyebabkan kebutaan.hal ini dapat dihindari dengan menggunakan konsentrasi oksigen di bawah 40% ( kecuali bayi yang membutuhkan lebih dari 40 % ). Sebagian besar incubator mempunyai control untuk mencegah konsentrasi oksigen naik melebihi 40% tetapi lebih baik menggunakan pemantau oksigan perkutan yang saat ini mudah didapat untuk memantau tekanan oksigen arteri bayi. 4. Serangan apnea Serangan apnea disebabkan ketidakmampuan fungsional pusat pernapasan atau ada hubungannya dengan hipoglikemia atau perdarahan intracranial. Irama pernapasan bayi tak teratur dan diselingi periode apnea. Dengan menggunakan pemantau apneadan

memberikan oksigen pada bayi dengan pemompaan segera bila timbul apnea sebagian besar bayi akan dapat bertahan dai serangan apnea, meskipun apnea ini mungkin berlanjut selama beberapa hari atau minggu. Perangsang pernapasan seperti aminofilin mungkin bermanfaat. 5. Enterokolitis nekrotik Keadaan ini timbul terutama pada bayi kurang bulan dengan riwayat asfiksia. Dapat juga terjadi setelah transfuse tukar. Gejalanya : kembung, muntah, keluar darah dari rectum dan berak cair, syok usus dan usus mungkin mengalami perforasi. Pengobatan diberikan pengobatan gentamisin intravena, kanamisin oral. Hentikan minuman oral dan berikan pemberian makanan intravena. Mungkin diperlukan pembedahan Masalah jangka panjang yang mungkin timbul pada bayi-bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) antara lain : a. Gangguan perkembangan b. Gangguan pertumbuhan c. Gangguan penglihatan (Retinopati) d. Gangguan pendengaran e. Penyakit paru kronis f. Kenaikan angka kesakitan dan sering masuk rumah sakit g. Kenaikan frekuensi kelainan bawaan G. Penatalaksanaan 1. Penanganan bayi

Semakin kecil bayi dan semakin premature bayi, maka semakin besar perawatan yang diperlukan, karena kemungkinan terjadi serangan sianosis lebih besar. Semua perawatan bayi harus dilakukan didalam incubator. 2. Pelestarian suhu tubuh Bayi dengan berat lahir rendah, mempunyai kesulitan dalam mempertahankan suhu tubuh. Bayi akan berkembang secara memuaskan, asal suhu rectal dipertahankan antara 35,50 C s/d 370 C. Bayi berat rendah harus diasuh dalam suatu suhu lingkungan dimana suhu normal tubuhnya dipertahankan dengan usaha metabolic yang minimal. Bayi berat rendah yang dirawat dalam suatu tempat tidur terbuka, juga memerlukan pengendalian lingkungan secara seksama. Suhu perawatan harus diatas 25
0

C, bagi bayi yang berat sekitar 2000

gram, dan sampai 300 C untuk bayi dengan berat kurang dari 2000 gram 3. Inkubator Bayi dengan berat badan lahir rendah, dirawat didalam incubator. Prosedur perawatan dapat dilakukan melalui “jendela“ atau “lengan baju“. Sebelum memasukkan bayi kedalam incubator, incubator terlebih dahulu dihangatkan, sampai sekitar 29,4 0 C, untuk bayi dengan berat 1,7 kg dan 32,20C untuk bayi yang lebih kecil. Bayi dirawat dalam keadaan telanjang, hal ini memungkinkan pernafasan yang adekuat, bayi dapat bergerak tanpa dibatasi pakaian, observasi terhadap pernafasan lebih mudah. 4. Pemberin oksigen Ekspansi paru yang buruk merupakan masalah serius bagi bayi preterm BBLR, akibat tidak adanya alveolo dan surfaktan. Konsentrasi O2yang diberikan sekitar 30- 35 %

dengan menggunakan head box, konsentrasi o2 yang tinggi dalam masa yang panjangakan menyebabkan kerusakan pada jaringan retina bayi yang dapat menimbulkan kebutaan 5. Pencegahan infeksi Bayi preterm dengan berat rendah, mempunyai system imunologi yang kurang berkembang, ia mempunyai sedikit atau tidak memiliki ketahanan terhadap infeksi. Untuk mencegah infeksi, perawat harus menggunakan gaun khusus, cuci tangan sebelum dan sesudah merawat bayi. 6. Pemberian makanan Pemberian makanan secara dini dianjurkan untuk membantu mencegah terjadinya hipoglikemia dan hiperbillirubin. ASI merupakan pilihan pertama, dapat diberikan melalui kateter ( sonde ), terutama pada bayi yang reflek hisap dan menelannya lemah. Bayi berat lahir rendah secara relative memerlukan lebih banyak kalori, dibandingkan dengan bayi preterm.
H. Penatalaksanaan Bayi BBLR dengan Asfiksia

a. Tindakan Umum 1) Bersihkan jalan nafas. Kepala bayi dileakkan lebih rendah agar lendir mudah mengalir, bila perlu digunakan larinyoskop untuk membantu penghisapan lendir dari saluran nafas yang lebih dalam.Saluran nafas atas dibersihkan dari lendir dan cairan amnion dengan pengisap lendir, tindakan ini dilakukan dengan hati- hati tidak perlu tergesa- gesa atau kasar. Penghisapan yang dilakukan dengan ceroboh akan timbul penyulit

seperti: spasme laring, kolap paru, kerusakan sel mukosa jalan nafas. Pada asfiksia berat dilakukan resusitasi kardiopulmonal. 2) Rangsang reflek pernafasan. Dilakukan setelah 20 detik bayi tidak memperlihatkan bernafas dengan cara memukul kedua telapak kaki menekan tanda achiles. Bayi yang tidak memperlihatkan usaha bernafas selama 20 detik setelah lahir dianggap telah menderita depresi pernafasan. Dalam hal ini rangsangan terhadap bayi harus segera dilakukan. Pengaliran O2 yang cepat kedalam mukosa hidung dapat pula merangsang reflek pernafasan yang sensitive dalam mukosa hidung dan faring. Bila cara ini tidak berhasil dapat dilakukan dengan memberikan rangsangan nyeri dengan memukul kedua telapak kaki bayi. 3) Mempertahankan suhu tubuh. Pertahankan suhu tubuh agar bayi tidak kedinginan, karena hal ini akan memperburuk keadaan asfiksia.Bayi baru lahir secara relative banyak kehilangan panas yang diikuti oleh penurunan suhu tubuh. Penurunan suhu tubuh akan mempertinggi metabolisme sel sehingga kebutuhabn oksigen meningkat. Perlu diperhatikan agar bayi mendapat lingkungan yang hangat segera setelah lahir. Jangan biarkan bayi kedinginan (membungkus bayi dengan kain kering dan hangat), Badan bayi harus dalam keadaan kering, jangan memandikan bayi dengan air dingin, gunakan minyak atau baby oil untuk membersihkan tubuh bayi. Kepala ditutup dengan kain atau topi kepala yang terbuat dari plastik. b. Tindakan khusus 1) Asfiksia berat

Berikan O2 dengan tekanan positif dan intermiten melalui pipa endotrakeal. dapat dilakukan dengan tiupan udara yang telah diperkaya dengan O2. Tekanan O2 yang diberikan tidak 30 cm H 20. Bila pernafasan spontan tidak timbul lakukan message jantung dengan ibu jari yang menekan pertengahan sternum 80 –100 x/menit. 2) Asfiksia sedang/ringan Pasang relkiek pernafasan (hisap lendir, rangsang nyeri) selama 30-60 detik. Bila gagal lakukan pernafasan kodok (Frog breathing) 1-2 menit yaitu : kepala bayi ektensi maksimal beri O2 1-2 1/mnt melalui kateter dalam hidung, buka tutup mulut dan hidung serta gerakkan dagu ke atas-bawah secara teratur 20 x/menit Penghisapan cairan lambung untuk mencegah regurgitasi.

Adapun bagan penatalaksaan berdasarkan

“New Born & Pediatric Resuscitation 2011

Guidelines” oleh The Singapore National Resuscitation Council’s Neonatal & Paediatric Resuscitation Workgroup, 2010-2011

I. Pencegahan

Pada kasus bayi berat lahir rendah (BBLR) pencegahan/ preventif adalah langkah yang penting. Hal-hal yang dapat dilakukan : a. Meningkatkan pemeriksaan kehamilan secara berkala minimal 4 kali selama kurun kehamilan dan dimulai sejak umur kehamilan muda. Ibu hamil yang diduga berisiko, terutama faktor risiko yang mengarah melahirkan bayi BBLR harus cepat dilaporkan, dipantau dan dirujuk pada institusi pelayanan kesehatan yang lebih mampu b. Penyuluhan kesehatan tentang pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim, tanda tanda bahaya selama kehamilan dan perawatan diri selama kehamilan agar mereka dapat menjaga kesehatannya dan janin yang dikandung dengan baik c. Hendaknya ibu dapat merencanakan persalinannya pada kurun umur reproduksi sehat (20-34 tahun) d. Perlu dukungan sektor lain yang terkait untuk turut berperan dalam meningkatkan pendidikan ibu dan status ekonomi keluarga agar mereka dapat meningkatkan akses terhadap pemanfaatan pelayanan antenatal dan status gizi ibu selama hamil. Tanda kecukupan pemberian ASI: o BAK minimal 6 kali/ 24 jam. o Bayi tidur lelap setelah pemberian ASI. o BB naik pd 7 hari pertama sbyk 20 gram/ hari. o Cek saat menyusui, apabila satu payudara dihisap  ASI akan menetes dari payudara yg lain. Indikasi bayi BBLR pulang: o Suhu bayi stabil.

o Toleransi minum oral baik  terutama ASI. o Ibu sanggup merawat BBLR di rumah. Cara menghangatkan bayi Cara Kontak kulit Petunjuk penggunaan Untuk semua bayi Untuk menghangatkan bayi dalam waktu singkat atau menghangatkan bayi hipotermi (32-36,4 oC) apabila cara lain tidak mungkin dilakukan.  Untuk menstabilkan bayi dgn berat badan <2.500 g, terutama direkomendasikan untuk perawatan berkelanjutan bayi dengan berat badan <1.800 g.  Tidak untuk bayi sakit berat (sepsis, gangguan napas berat)  Tidak untuk ibu yang menderita penyakit berat yang tidak dapat merawat bayinya.  Untuk bayi sakit atau bayi dengan berat 1.500 g atau lebih.  Untuk pemeriksaan awal bayi, selama dilakukan tindakan, atau menghangatkan kembali bayi hipotermi. Penghangatan berkelanjutan bayi dengan berat <1.500 g yang tidak dapat dilakukan KMC.  Untuk merawat bayi dengan berat <2.500 g yang tidak memerlukan tindakan diagnostik atau prosedur pengobatan.  Tidak untuk bayi sakit berat.  

KMC

Pemancar panas

Inkubator Ruangan hangat

Jumlah cairan yang dibutuhkan bayi (ml/Kg) Berat (g) >1500 <1500 1 60 80 2 80 100 Umur (hari) 3 100 120 4 120 140 5+ 150 150

Jumlah ASI untuk bayi sehat berat 1250-1499 Pemberian Jumlah ASI tiap 3 jam (ml/kali) 1 10 2 15 Umur (hari) 3 4 5 18 22 26 6 28 7 30

Kebutuhan cairan elektrolit bayi (ml/kg) Berat badan (g) <1000 1000 - <1500 1500 – 2500 >2500

Hari I Hari II Hari III Hari >IV

120 cc D5% 140 cc D5% 170 cc D5% 200 cc

100 cc D7,5% 120 cc D7,5% 130 cc D7,5% 140-150 cc

80 cc D10% 100 cc D10% 110 cc D10% 130-150 cc

80 cc D10% 90 cc D10% 100 cc D10% 120-150 cc

Pembuatan cairan D7,5% = 93 cc (D5%) + 7 cc (D40%) = 100 cc D7,5%.

Pathway BBLR dengan Asfiksia berat
Faktor Ibu: Malnutrisi, Anemia Faktor Janin: Hidramion Gemeli, Faktor Plasenta: Nutrisi Ibu ke Janin Tidak Efektif

Pertumbuhan Janin terhambat

BBLR : BB 1800-2500 gr BBSR : BB < 1500 gr BBER : BB < 1000 gr

System Pulmonal Imaturitas paru Produksi Spuntum ↑ Obs. Airway Prod. Surfaktan ↓ Perkembangan paru belum sempurna G3. Pertukaran Gas

System neurologi

System GI Sytem Integumentum Lemak subkutan tipis Fx GI blm max Pelepasan Panas Tubuh ↑ Reflek hisap lemah System Imaturitas

Imaturitas Hipotalamus G3. Termoregulasi

Fx GI blm max
Fx GI blm max

G3. Absorb makanan

Hipotermi Ineffektif Airway Clearance Asfiksia G3. Saat Persalinan G3. Ventilasi spontan Hiperventilasi Pola Nafas Tidak Efektif Accidosis Respiratori PO2↓, PCO2↑ Berlanjut Nutrisi < kebutuhan tubuh

Inefektif breast feeding

BAB III KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian a. Biodata 1) Klien Meliputi nama, jenis kelamin, tanggal lahir dan jam serta umur dan diagnosa medis. 2) Orang tua klien Biodata orang tua ini terdiri dari biodata ayah dan ibu klien meliputi : Nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, alamat dan pendidikan. b. Riwayat kesehatan 1) Keluhan utama Keluhan utama yang muncul pada BBLR diantaranya bayi kecil, tidak aktif, sulit menetek, malas menetek. 2) Riwayat kesehatan sekarang Dikembangkan dari keluhan utama dengan menggunakan :  P ( paliatif / provokatif ) merupakan faktor yang memperingan dan memperberat keluhan utama yang meliputi umur kehamilan, berat badan bayi saat lahir, penyakit yang pernah diderita ibu sehingga menimbulkan bayi lahir prematur atau BBLR.  Q ( quality ) hal-hal yang menyebabkan bayi mau menetek dan malas menetek pada keadaan prematur dan BBLR.

R ( region / radian ) mengkaji refleks hisap bayi ada atau tidak, serta ditunjang oleh refleks menelan ada atau tidak ada, biasanya pada bayi prematur seringkali tidak didapatkan refleks hisap maupun menelan.

S ( skala ) mengkaji adanya refleks hisap dan menelan, seberapa kuat refleks hisap dan menelan pada bayi prematur dan BBLR tersebut.

T ( timing ) meliputi kemajuan atau penurunan dari keluhan utama dari mulai munculnya keluhan saat dikaji.

3) Riwayat kesehatan dahulu  Riwayat prenatal Meliputi kehamilan ibu yang keberapa, frekuensi pemeriksaan kehamilan,

imunisasi TT, konsumsi tablet Fe, keluhan utama selama kehamilan, kebiasaan ibu tentang obat-obatan, alkohol. Kenaikan BB selama kehamilan, jarak kelahiran sebelumnya, tempat ibu memeriksakan kehamilannya (tempat PNC ). Kaji : Meliputi penyakit yang diderita ibu pada waktu hamil misalnya toxamie gravidarum, perdarahan antepartun, trauma fisik, DM, usia ibu pada waktu hamil dari 16 tahun atau lebih dari 35 tahun, adanya gangguan psikologis dan keadaan sosial ekonomi yang rendah. Apakah kehamilan kembar atau hidramnion. Apakah pernah terpapar zat-zat beracun atau terkena infeksi.  Riwayat Intra Natal Persalinan yang keberapa, jenis persalinan, umur kandungan, penolong persalinan, lamanya, APGAR SCORE, lilitan tali pusat serta komplikasi pada saat persalinan. Kaji adanya infeksi dijalan lahir.

Riwayat post Natal Berat badan bayi saat lahir, tinggi badan, ukuran proporsi kepala, lingkar dada, pengeluaran mekonium dalam 24 jam pertama, riwayat asfiksia. refleks yang terdapat pada bayi dengan umur 1 bulan seperti refleks menghisap, refleks menelan, refleks rooting, grasping, babinsky dan refleks lainnya yang umum terdapat pada bayi, perawatan bayi segera setelah lahir, apakah segera diberi ASI, pengeluaran mekonium dalam 24 jam pertama.

Neonatal Refleks yang terdapat pada bayi dengan umur 1 bulan seperti refleks menghisap, refleks menelan, refleks rooting, grasping, babyinski dan refleks lainnya yang terdapat pada bayi umunya, pemberian ASI, imunisasi, aktivitas tumbuh kembang, nutrisi, istirahat, eliminasi BAB dan BAK, personal hygiene.

4) Riwayat kesehatan keluarga Mengkaji struktur internal membuat diagram struktur keluarga untuk mengklarifikasi informasi yang berhubungan dengan komposisi keluarga, aspek yang dikaji dalam struktur internal : Komposisi dalam keluarga, siapa saja yang ada dalam keluarga, urutan tingkatan, jenis kelamin. Selain itu riwayat kesehatan keluarga dapat tergambar melalui ecomap yaitu mengkaji budaya keluarga : pandangan hidup, bahasa yang digunakan, berapa lama keluarga tersebut tinggal di daerah tersebut, kelompok suku tertentu yang diikuti, latar belakang etnis yang mempengaruhi, agama, status kelas sosial dan mobilitas lingkungan : rumah,

tetangga, komunitas keluarga besar : asal-usul keluarga dan saudara angkat, mengkaji kemungkinan adanya perbedaan RH atau ABO incompability, riwayat

penyakit keturunan maupun menular yang sedang diderita didalam keluarga inti, riwayat keluarga dengan kehamilan kembar atau prematur, cara mengatasi kesehatan dalam keluarga, fungsi penolong, fungsi ekspresif, komunikasi emosional, komunikasi verbal, komunikasi sirkuler, penyelesaian masalah, peran, pengawasan. 5) Riwayat psikologis, sosial, spiritual dan keluarga Secara psikologis orang tua yang mermiliki BBLR mengalami kecemasan terhadap anaknya karena keadaan fisik yang kecil dan berada dalam inkubator. Spiritual ditunjukan pada harapan keluarga terhadap kesembuhan dan kepercayaan keluarga mengenai keadaan yang diderita anaknya. Data sosial didapatkan dari interaksi keluarga klien antara anggota keluarga, tetangga, keadaan lingkungan keluarga klien, peran dan pekerjaan dari tiap-tiap anggota keluarga. 6) Pemeriksaan fisik (a) Kepala dan leher Bentuk kepala bulat, ukuran proporsi kepala biasanya lebih besar daripada dada kira-kira 3 cm lebih besar dari pada lingkar dada), lingkar kepala rata-rata dengan umur gestasi 32 minggu adalah 29 cm, ditemukan pemisahan antara fontanel dan garis sutura tampak jelas dan tulang fontanel agak lunak, cekung dan belum menutup. Keadaan rambut biasa, sedikit dan jarang. Muka warna kulit merah muda, kaji adanya refleks rooting. Sklera mata warna putih dan Konjuntiva tampak pucat dan refleks-refleks mata kurang terangsang karena belum maturnya fungsi mata.. Kaji kebersihan hidung, kelembaban mukosa

hidung, kaji milia epitelia. Kaji refleks-refleks pada mulut seperti sucking, rooting dan gag lemah, refleks batuk biasanya tidak ada, kaji apakah ada lesi ataupun jamur, ranula. Kaji tulang kartilago telinga, biasanya kurang berkembang, keadaan lunak dan lembut ditumbuhi lanugo. Fleksibilitas kurang baik. Pada leher ditemukan adanya refleks tonik neck, penurunan refleks menelan (swallow refleks). (b) Dada Bentuk dada relatif kecil dibandingkan ukuran lingkaran kepala tulang rusuk masih agak lemah. Pernafasan ditemukan ritme dan dalamnya pernafasan cenderung tidak teratur, seringkali ditemukan apneu, dalam keadaan ini timbul sianosis karena refleks batuk belum ada, sehingga resiko untuk masuk cairan ke dalam paru tinggi. Pada jantung dapat didengar suara murmur.

(c) Abdomen Abdomen buncit atau kembung dan pembuluh darah tampak terlihat, peristaltik usus dapat terdengar antara 9-30 x / menit, tampak kuning dan perlu dilakukan palpasi hepar, karena relatif besar, meski fliksura belum berkembang, bila bayi masih berumur di bawah satu minggu kaji apakah tali pusat telah puput atau belum. (d) Punggung dan bokong

Lengkung sakral tampak jelas dan pengkajian diarahkan terhadap adanya iritasi dan kemerahan, kulit tampak kuning, kaji bercak biru Mongolia. (e) Genitalia Pada perempuan labia mayora dan klitoris kurang berkembang dan tampak menonjol. Kaji kebersihannya, vulva tag dan sekret vagina. Anus kaji apakah ada iritasi, lubang anus dan pengeluaran BAB. Pola BAK biasanya didapatkan testis yang belum turun. (f) Ekstremitas Atas : Massa otot tidak ada, aktivitas lemah, refleks morro dan strartle tidak ada keadaan letargi dan spastis. Bawah : Massa dan kekuatan otot tidak ada, aktivitas lemah. Refleks plantargraf tidak ada. Biasanya refleks tidak aktif, garis tangan dari kaki sedikit, kuku tampak transparan dan tertutup lanugo, perkembangan gerak kurang sempurna, ekstremitas hipotonia, gerak refleks lemah. 2. Analisa data Merupakan kemampuan dalam mengaitkan data-data fokus secara konsep teori dan prinsip yang relevan untuk mengupulkan data, menentukan masalah keperawatan yang mungkin muncul pada klien dan keluarga. 3. Diagnosa Keperawatan Menurut Donna L Wong (2002), diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada bayi dengan resiko tinggi adalah :

1) Pola nafas tidak efektif b.d imaturitas paru dan neuromuskular, penurunan energi dan keletihan. 2) Termoregulasi tidak efektif b.d kontrol suhu yang imatur dan penurunan lemak tubuh subkutan. 3) Resiko tinggi infeksi b.d pertahanan imunologis yang kurang. 4) Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh ( resiko tinggi ) b.d ketidakmampuan mencerna nutrisi karena imaturitas dan atau penyakit. 4. Perencanaan a. Pola nafas tidak efektif b.d imaturitas paru dan neuromuskular, penurunan energi dan keletihan. Tujuan : Klien menunjukan oksigenasi yang adekuat Hasil yang diharapkan : 1) Jalan nafas tetap paten. 2) Pernafasan memberikan oksigenasi dan pembuangan CO2 yang adekuat. 3) Frekuensi dan pola nafas dalam batas yang dengan usia dan berat badan. 4) Gas darah arteri dan keseimbangan asam basa dalam batas normal sesuai usia pasca konsepsi. 5) Oksigenasi jaringan adekuat. Intervensi: 1) Posisikan untuk pertukaran udara yang optimal. 2) Hindari hiperekstensi leher karena akan mengurangi diameter trakea.

3) Observasi adanya penyimpangan dari fungsi yang diinginkan, kenali tanda-tanda distress misalnya mengorok, sianosis, PCH, apneu. 4) Lakukan penghisapan untuk menghilangkan mukus yang terakumulasi dari nasofaring, trakea dan selang endotrakeal. 5) Penghisapan seperlunya berdasarkan pengkajian misalnya dada, bukti penurunan oksigenasi, peningkatan kepekaan bayi. 6) Jangan pernah melakukan penghisapan secara rutin karena akan menyebabkan bronchospasme, intraventrikel. 7) Gunakan tekhnik pemasangan yang tepat karena dapat menyebabkan infeksi, kerusakan jalan nafas, pneumotoraks dan haemoragi intraventrikel. 8) Gunakan tekhnik penghisapan dua orang karena asisten dapat memberikan hiperoksigenasi dengan cepat. 9) Observasi adanya tanda-tanda distress pernafasan. 10) Pertahankan suhu lingkungan yang netral untuk menghemat penggunaan 02. 11) Pantau dengan ketat pengukuran AGD dan pembacaan sa02. 12) Berikan dan atur alat monitor dengan benar. 13) Observasi dan kaji Lakukan perkusi, vibrasi dan drainase postural memudahkan drainase sekret. 14) Hindari posisi trendelenburg karena dapat menurunkan kapasitas paru akibat gravitasi yang mendorong organ ke arah diafragma. 15) Gunakan posisi semi telungkup atau miring untuk mencegah aspirasi. 16) respons bayi terhadap terapi ventilasi dan oksigenasi. untuk bradikardia, hipoksia, peningkatan TTIK, haemoragi

b. Termoregulasi tidak efektif b.d kontrol suhu yang imatur dan penurunan lemak tubuh subkutan. Tujuan :Klien mempertahankan suhu tubuh stabil. Hasil yang diharapkan : 1) Suhu aksila bayi tetap dalam rentang normal untuk usia pascakonsepsi. Intervensi : 1) Tempatkan bayi di dalam inkubator untuk mempertahankan suhu tubuh stabil. 2) Pantau suhu aksila pada bayi yang tidak stabil. 3) Pantau tanda-tanda hipertermi misalnya kemerahan, ruam diaforesis. 4) Hindari situasi yang mempredisposisikan bayi pada kehilangan panas. 5) Pantau glukosa darah untuk memastikan euglikemia. 6) Gunakan pelindung panas plastik untuk menurunkan kehilangan panas.

7) Periksa suhu tubuh bayi dalam hubungannya dengan suhu unit pemanas untuk kehilangan panas radian langsung. 8) Atur unit sevokontrol atau kontrol suhu udara sesuai kebutuhan untuk mempertahankan suhu kulit. c. Resiko tinggi infeksi b.d pertahanan imunologis yang kurang. Tujuan :Klien tidak menunjukan tanda-tanda infeksi nasokomial. Hasil yang diharapkan : 1) Klien tidak menunjukan tanda-tanda infeksi nosokomial. Intervensi :

1) Pastikan bahwa setiap pemberi perawatan mencuci tangan. 2) Pastikan bahwa semua alat yang kontak dengan bayi sudah bersih dan steril. 3) Cegah personel dengan infeksi saluran pernafasan atas atau infeksi menular agar tidak mengadakan kontak langsung dengan bayi. 4) Isolasi bayi lain yang mengalami infeksi sesuai kebijakan institusional. 5) Instruksikan pekerja perawatan kesehatan dan orang tua dalam prosedur kontrol infeksi.. 6) Beri antibiotik sesuai infeksi. 7) Pastikan asepsis ketat atau sterilitas seperti terapi IV atau pemasangan kateter arteri / vena. d. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh ( resiko tinggi ) b.d ketidakmampuan mencerna nutrisi karena imaturitas dan atau penyakit. Tujuan : Klien mendapatkan nutrisi yang adekuat. Hasil yang diharapkan : 1) Klien mendapat kalori dan nutrien esensial yang adekuat. 2) Klien menunjukan penambahan berat badan yang mantap.

Intervensi : 1) Pertahankan cairan parenteral atau nutrisi parenteral total sesuai instruksi. 2) Pantau adanya tanda-tanda intoleransi terhadap terapi parenteral total protein dan glukosa. 3) Kaji kesiapan klien untuk menyusu pada payudara ibu, khususnya kemampuan untuk mengkoordinasikan menelan dan pernafasan. terutama

4) Susukan bayi pada payudara ibu bila pengisapan kuat serta menelan dan refleks muntah ada. 5) Ikuti protokol unit untuk meningkatkan volume dan konsentrasi formula untuk menghindari intoleransi pemberian makan. 6) Gunakan pemberian makan orogastrik bila bayi dalam keadaan lemah. 7) Bantu ibu untuk mengeluarkan ASI untuk menciptakan dan mempertahankan laktasi sampai bayi dapat menyusu ASI. 8) Bantu ibu dengan menyusui bila mungkin dan diinginkan. 5. Pelaksanaan Pelaksanaan merupakan tindakan dari rencana yang telah diterapkan bersama keluarga, dilakukan bersama-sama dengan keluarga dalam memenuhi kebutuhan dasar bayi,( iyer et.al, 2001). 6. Evaluasi Evaluasi merupakan pengukuran keberhasilan dari rencana keperawatan dengan cara membandingkan hasil pengukuran dengan kriteria evaluasi pada tujuan untuk mengetahui terpenuhinya kebutuhan klien pada hari pertama melakukan implementasi dan untuk hari-hari selanjutnya dalam catatan perkembangan, (Nursalam, 2001).

DAFTAR PUSTAKA

Depkes, RI. 2005. Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi. Jakarta. Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, Kementerian Kesehatan Indonesia. 2008. Manajemen bayi berat lahir rendah (BBLR) untuk bidan desa : buku acuan. - Jakarta : Departemen Kesehatan, 2008. Editor Santosa Budi. 2006. Panduan Diagnosis Keperawatan Nanda 2005-2006. Prima Medika: Jakarta Heardman, Heather T. 2010. Nanda International Diagnosa Keperawatan: Definisi dan klasifikasi 2009-2011. Jakarta. EGC Hidayat Alimul Aziz. 2006, Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Salemba Medika: Jakarta. Kementerian Kesehatan. 2010. Pelayanan kesehatan neonatal esensial: Pedoman teknis pelayanan kesehatan dasar. Jakarta ; Kementerian Kesehatan Indonesia Mario Johnson. 2006. Nursing diagnoses, outcomes, and interventions: NANDA, NOC, and NIC linkage. Prawirohardjo. 2002. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Bina Pustaka: Jakarta. Reeader et al. 2011. Keperawatan Maternitas: Kesehatan Wanita, Bayi, & Keluarga, Volume 2. Jakarta. EGC. Saifudin, Abdul Bari dkk (2002), Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Setyowati T. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Bayi Lahir dengan Berat Badan Rendah (Analisa data SDKI 1994). Badan Litbang Kesehatan, 1996. Avaliable from

:http://www.digilib.litbang.depkes.go.id. Last Update : 2003 [diakses tanggal 2 Desember 2007].

World Health Organization (WHO). Development of a strategy towards promoting optimal fetal growth. Avaliable from : http://www.who.int/nutrition/topics/feto_maternal/en.html. Last update : January 2007 [diakses pada tanggal 10 Desember 2007]. The Singapore National Resuscitation Council’s Neonatal & Paediatric Resuscitation Workgroup. 2011. New Born & Pediatric Resuscitation 2011 Guidelines. USAID. 2010. Neonatal Care Pocket Guide for Hospital Physicians. Wong, Donna L, 2003, Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik Edisi 4 ; alih bahasa, Monica Ester. Jakarta : EGC

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->