Pengantar Soft System Methodology (SSM

)

PENGANTAR SOFT SYSTEMS METHODOLOGY (SSM)
Oleh : Purnama Alamsyah Start-up Researcher, PAPPIPTEK-LIPI

1. PENDAHULUAN Soft Systems Methodology (SSM) diperkenalkan oleh Peter Checkland di Universitas Lancaster, Inggris pada tahun 1981. SSM dikembangkan untuk menangani masalah-masalah manajemen yang muncul dari sistem aktivitas manusia (human activity systems) (Bergvall-Kareborn, 2002; Martin, 2008). SSM merupakan kerangka kerja (framework) pemecahan masalah yang dirancang secara khusus untuk situasi di mana hakikat masalah sulit untuk didefinisikan (Sinn, 1998; Martin, 2008). SSM merupakan sistem pembelajaran  yang tidak pernah berhenti (siklik)  yang menggunakan model sistem aktivitas manusia  yang secara aktif melibatkan aktor-aktor yang berkepentingan dalam situasi masalah melalui persepsi mereka dan kesiapan mereka dalam memutuskan tindakan yang terarah dengan mengakomodasi persepsi, penilaian, dan nilai-nilai aktor yang berbeda. SSM menyediakan pendekatan yang koheren terhadap pemikiran kelompok dan individu mengenai konteks, kompleksitas dan ambiguitas kebijakan. (Checkland dan Scholes, 1990). SSM telah digunakan di banyak bidang dan konteks termasuk di dalamnya manajemen perubahan, perencanaan sistem kesehatan dan medis, perencanaan sistem informasi, manajemen sumber daya manusia, analisis sistem logistik, dan pengembangan sistem pakar (Maqsood dkk, 2001). Manfaat penggunaan SSM menurut Delbridge (2008) adalah   meningkatkan pemahaman secara holistik pihak-pihak yang dieksplorasi terhadap kasus yang dihadapi; penggunaan SSM membuat proses pembelajaran dapat dibagikan kepada semua pihak yang terlibat;

1

2. 2001). 2 . mengemukakan bahwa SSM dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan informasi yang lebih unggul dibandingkan dengan yang diperoleh melalui penggunaan metode konvensional. 2005). SSM memiliki kapabilitas dalam menyediakan kerangka kerja untuk memahami masalah yang dihadapi bahkan masalah yang kompleks sekalipun (Daellenbach & McNickle. 1995). Tujuh tahap tersebut merupakan sejumlah ilustrasi yang disuling dari suatu proses iteratif sehingga dalam prakteknya. namun model original tujuh tahap merupakan model yang paling umum digunakan dan digunakan dalam tulisan ini. Sinn (1998) menjelaskan bahwa SSM merupakan suatu kerangka kerja pemecahan masalah yang dirancang khusus untuk situasi di mana sifat dari masalah tersebut sulit untuk ditentukan.Pengantar Soft System Methodology (SSM)  dan proses inovasi dalam penyelesaian masalah dapat dieksplorasi bersama-sama sehingga melahirkan banyak alternatif solusi. SSM mendorong peneliti dan praktisi untuk melihat organisasi dari perspektif budaya karena dalam organisasi. komponen manusia merupakan karakteristik penting dari organisasi serta merupakan atribut dan tujuan dari organisasi itu sendiri (Maqsood dkk. SSM merupakan respon terhadap kesulitan dalam menerapkan pendekatan hard systems thinking pada problem bisnis (sistem aktivitas manusia). SOFT SYSTEMS METHODOLOGY Pada dasarnya soft systems methodology (SSM) telah dikembangkan sebelum kontribusi Checkland (1991) pertama kali diperkenalkan dan sekarang penggunaannya telah meluas dalam berbagai variasi literatur untuk berbagai pendekatan serta aplikasi. Meskipun SSM telah mengalami sejumlah revisi dan modifikasi selama periode 1981 hingga 1990. Brocklesby (1995) berdasarkan penelitiannya mengenai manajemen sumber daya manusia. SSM merupakan bentuk khusus dari action research yang memiliki tujuan untuk meningkatkan praktek dan pemahaman tentang situasi melalui refleksi diri para pesertanya yaitu pihak yang dieksplorasi dalam SSM (Brocklesby. Pada dasarnya. Pemahaman tentang SSM dirancang khusus untuk situasi yang masalahnya sulit ditentukan sehingga membuat metodologi ini relevan dalam pengambilan keputusan dengan ketiadaan fakta-fakta yang jelas. Analisis hard menyatakan sistem dengan perilaku yang tidak terduga dan umpan balik yang kompleks antar komponen namun metode tersebut bermasalah saat diterapkan pada sistem manusia (Jackson (2002) dalam Andarini (2009)).

Proses diskusi membolehkan partisipan untuk 3 . (5) membandingkan model konseptual dengan situasi masalah. (6) menetapkan perubahan yang layak dan diinginkan. Biasanya dalam penggunaannya tidak terpaku bahwa proses itu harus sekuensial maju. dan (7) melakukan tindakan perbaikan atas masalah. (4) membangun model konseptual. namun gerakan setiap tahapan dalam SSM bisa maju atau mundur ke setiap tahapan (Brocklesby. Ketujuh tahapan tersebut menurut Checkland & Scholes (1990) adalah: (1) mengkaji masalah yang tidak terstruktur. 1995). Penelitian dapat dimulai pada setiap tahap dengan iterasi dan penelusuran ulang sebagai komponen penting (Maqsood dkk. 2001). (2) mengekspresikan situasi masalah.Pengantar Soft System Methodology (SSM) proses dapat dimulai dari mana saja. (3) membangun definisi permasalahan yang berkaitan dengan situasi masalah. Checkland dan Scholes (1990) menegaskan bahwa SSM merupakan suatu proses yang berlanjut namun tahapan-tahapan dalam SSM tidak bersifat kaku sehingga dapat disesuaikan dengan situasi dalam pelaksanaannya. Model-model ini digunakan sebagai media diskusi guna membawa perubahan situasi aktual. 1 Problem situation considered problematic 7 Action to improve the problem situation 6 Changes: Systematically desirable culturally feasible 2 Problem situation expressed 5 Comparison of models and real world Real World System Thinking about Real World 4 Conceptual models of the systems (holon) named in root deffinitions 3 Root definitions of relevant purposeful activity systems Gambar 1: Tahapan SSM Sumber: Checkland dan Scholes (1990) Inti dari SSM adalah membangun model dari sistem-sistem yang berkaitan dengan situasi masalah.

sebagai suatu proses (Martin. Pada tahap ini dilakukan pengumpulan sejumlah informasi yang dibutuhkan seperti sejarah.Pengantar Soft System Methodology (SSM) berdebat dan saling bertanya sedemikian rupa sehingga keragaman perspektif dapat terungkapkan. walaupun demikian tidak menutup kemungkinan informasi-informasi lain yang tidak langsung berhubungan dengan masalah kemitraan antara lembaga litbang pemerintah dengan industri dikumpulkan juga. Tujuannya agar informasi ini lebih kaya serta dapat dikembalikan lagi ke pihak yang bersangkutan sebagai masukan dan evaluasi. Kemudian pada setiap pertemuan. tema yang muncul. sistem sosial dan sistem politik di mana ketiga hal tersebut ada dalam masalah kemitraan antara lembaga litbang 4 . Observasi ini dilakukan untuk mendorong para pihak bersedia bertemu dalam satu forum dan berdialog mengenai masalah kemitraan antara lembaga litbang pemerintah dengan industri. 2008).Mengkaji masalah yang tidak terstruktur Mengkaji masalah yang tidak terstruktur adalah menyatakan suatu masalah yang membutuhkan analisis masalah dan situasi dengan membiarkan anggapan-anggapan yang beredar tanpa membatasi dan langsung menyimpulkan. dan jumlah serta pandangan dan asumsi pihak-pihak yang terlibat atau pihak yang dieksplorasi dengan menggunakan SSM. Tahap 1 . karakteristik responden. dan dari pihak industri/swasta terpilih. Hasil setiap dialog didistribusikan kepada pihakpihak yang terlibat dan pertemuan ini dilakukan berulang kali sesuai dengan kebutuhan. Untuk memudahkan pemahaman mengenai SSM. budaya. baik dalam bentuk wawancara atau FGD. maka dalam tulisan ini digunakan contoh kasus kemitraan antara lembaga litbang pemerintah dengan industri sebagai ilustrasi. jenis. Informasi ini dapat diperoleh melalui serangkaian observasi terhadap para pihak yang terlibat. Observasi ini dapat berupa wawancara dengan dengan pelaku litbang. serta pandangan peneliti terhadap responden. setidaknya harus melakukan analisis atau penyelidikan terhadap intervensi itu sendiri. struktur sosial. dilakukan perekaman dan dilakukan verbatim dengan melihat waktu. Informasi yang dikumpulkan diarahkan untuk satu tema misalnya kemitraan antara lembaga litbang pemerintah dengan industri. Metodologi Sistem Lunak dilaksanakan secara klasik melalui 7 (tujuh) tahap. pimpinan litbang. pencarian di internet mengenai produk dan teknologi yang berkembang di dunia sekarang ini Dalam penyelidikan masalah yang dihadapi. Di samping itu dilakukan juga penelusuran dokumen kemitraan antara lembaga litbang pemerintah dengan industri.

yakni aturan. Tahap 2 .Mengekspresikan situasi masalah Hasil tahap sebelumnya digunakan untuk membangun rich picture dari masalah yang sedang diobservasi. para peneliti. 2008). (2) peran would-be problem solver. Analisis sistem sosial adalah untuk melihat bagaimana sistem sosial secara terus menerus mengalami perubahan di antara ketiga elemennya. Analisis intervensi bermanfaat untuk melihat bahwa intervensi secara struktural memiliki tiga peran. Rich picture merupakan alat yang bermanfaat untuk menjelaskan kepada para pihak yang terlibat dalam masalah kemitraan antara lembaga litbang dengan industri/swasta bagaimana situasi 5 . yaitu pihak yang memiliki dan perhatian dengan masalah yang dihadapi. dan (3) peran problem owner. Hal ini merupakan dasar bagi diskusi lebih lanjut. yaitu: (1) peran client. dll. dan yang terakhir mengenai isu-isu yang berkaitan dengan masalah sosial-politis kemitraan antara lembaga litbang pemerintah dengan industry seperti aturan PNBP. yaitu pihak yang menyebabkan penyelidikan terjadi. norma dan nilai. politik dipandang sebagai proses di mana terdapat perbedaan kepentingan yang harus diakomodasi (Checkland & Scholes. informasi mengenai profil dan karakteristik lembaga litbang pemerintah yang dieksplorasi. Analisis sistem politik beranggapan bahwa setiap situasi yang dialami manusia memiliki dimensi politis dan perlu dieksplorasi.Pengantar Soft System Methodology (SSM) pemerintah dengan industri. pimpinan litbang pemerintah serta pihak industri yang diajak melakukan kegiatan kemitraan. analisis sistem sosial dan analisis sistem politik) akan menghasilkan informasi mengenai struktur baik fisik maupun sosial dari proses kemitraan antara lembaga litbang pemerintah dengan industri seperti proses komersialisasi hasil litbang yang dilakukan oleh lembaga litbang pemerintah. Relasi antara aktivitas dan institusi seyogyanya mengilustrasikan masalah. dan elemen lingkungan yang mudah dipahami. reputasi lembaga litbang. yaitu pihak yang berkeinginan untuk melakukan sesuatu terhadap situasi yang tengah dipertanyakan. Informasi dari ketiga analisis ini (analisis intervensi. peran. Dalam analisis sistem politik ini. tetapi untuk memperoleh sejumlah pemikiran yang sedang berkembang sehingga rentang pilihan-pilihan keputusan yang mungkin menjadi terbuka (Martin. Tujuan tahap ini bukan untuk mendefinisikan masalah. Gambar ini harus dapat melukiskan proses aktivitas dari setiap institusi yang terlibat dalam situasi masalah. 1990).

ko nsult a Rp (uang). modal. info Repo Rp (uang). konsultasi. maupun secar informal yaitu melakukan komersialisasi secara individu kepada pihak industri. capability building Industri/Mitra Rp (uang). konsultasi. c mod ltasi. m odal Lembaga Litbang Pemerintah Teknologi. Setelah itu mereka diminta untuk memberikan tanggapan yang selanjutnya diakomodasi untuk pengembangan rich picture yang baru dan sebagai bahan informasi baru bagi tahapan selanjutnya dari SSM. konsultasi. 6 . Report rmas r. k olo Tekn PT Industri Besar ng ba lit il ang). Report Gambar 2: Rich Picture Rich picture yang dibangun kemudian dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang terlibat dalam kemitraan antara lembaga litbang dengan industri. dalam rich picture yang dibangun dapat digambarkan bagaimana interaksi peneliti di sebuah lembaga litbang pemerintah melakukan komersialisasi hasil litbang baik secara formal yaitu melakukan komersialisasi melalui lembaga litbang di mana peneliti tersebut berada.Pengantar Soft System Methodology (SSM) digambarkan dan sebagai basis pertanyaan melalui persepsi mereka terhadap situasi. capability building Research à teknologi Teknologi. Gambar 2 di bawah merupakan salah satu contoh rich picture situasi kemitraan antara lembaga litbang dengan industri yang menggambarkan bagaimana interaksi antar pihak dalam proses kemitraan antara lembaga litbang pemerintah dengan industri. Report Teknologi. Sebagai contoh. Report Perorangan UKM Stker Komersialiasi     Research Paten Komersialisasi inkubasi si. Rp (u Tekn olog i. Report k Te as /h gi lo no ing build ility apab SATKER/UPT al. modal. Rp (uang). capability building i Instansi Pemerintah Koperasi Karyawan teknologi à produksi Rp (uang). onsu gi.

Hal tersebut berasal dari interpretasi tujuan yang berbeda. Root definition menyatakan tujuan inti dari tujuan yang mendasari setiap sistem. yaitu ‘output’.Pengantar Soft System Methodology (SSM) Tahap 3 . Untuk menentukan sifat yang muncul perlu mempertimbangkan CATWOE mnemonic sebagai berikut  C = costumer : Siapa yang mendapatkan manfaat dari aktivitas bertujuan?  A = actor : Siapa yang melaksanakan aktivitas-aktivitas?  T = tranformation : Apa yang harus berubah agar input menjadi output?  W = world-view : Cara pandang seperti apa yang membuat sistem berarti?  O = owner : Siapa yang dapat menghentikan aktivitas-aktivitas?  E = environment : Hambatan apa yang ada dalam lingkungan sistem? (Checkland & Scholes. dan terdapat hambatan dari lingkungan. Hal tersebut dinyatakan sebagai proses transformasi di mana sejumlah entitas input diubah atau ditransformasi menjadi bentuk baru dari entitas yang sama.Membangun definisi permasalahan yang berkaitan dengan situasi masalah Root definition permasalahan dibangun untuk mengidentifikasi sistem aktivitas manusia yang relevan pada tahap satu dan dua. pihak yang menjadi korban atau yang diuntungkan. 1990). Untuk berbagai purposeful activity akan terdapat sejumlah transformasi yang berbeda. Versi paling sederhana dari root definition yang diformulasikan melalui CATWOE ialah ‘suatu sistem untuk melakukan X dengan Y untuk mencapai Z dengan keterangan sebagai berikut:  X  Y  Z : : : proses transformasi tertentu T (di dalam struktur CATWOE) tujuan jangka panjang dari ‘owner’ 7 . Elemen lain di dalam CATWOE merupakan tambahan gagasan di mana terdapat pihak yang melakukan purposeful activity. Konsep inti di dalam CATWOE ialah pemadanan antara proses T dengan W. Weltanschauung yang membuat hal tersebut bermakna. pihak yang dapat menghentikannya.

Dalam tahapan ini. Masing-masing pihak berusaha mengajukan argumen atas “kebenaran” posisi dan tindakan mereka selama ini. “siapa” dan “mengapa” mengenai masalah kemitraan antara lembaga litbang pemerintah dengan industri. pandangan yang berbeda dari setiap individu harus dihargai dan dimasukkan dalam root definition (Checkland & Scholes. Informasi awal mengenai CATWOE dikomunikasikan kembali dengan partisipan yang kemudian dilakukan penyesuaian berdasarkan masukkan dari mereka.Pengantar Soft System Methodology (SSM) Mnemonik CATWOE dapat digunakan sebagai checklist untuk memastikan bahwa root definition selesai. CATWOE disusun peneliti berdasarkan hasil FGD dan interview dengan menanyakan kepada mereka dengan menggunakan kata “apa”. dan situasi. 1990). Setiap root definition mencakup suatu Weltanschauung yang berbeda. misalnya kemitraan antara lembaga litbang dengan industri. Pernyataan-pernyataan mengenai sudut pandang dari masing-masing pihak mengenai kemitraan yang dilakukan serta pandangan ke depan mereka mengenai bagaimana proses kemitraan yang seharusnya terjadi menjadi informasi penting dalam penyusunan CATWOE. Beberapa root definition dapat dibangun untuk masing-masing sistem aktivitas manusia yang relevan untuk diidentifikasi. pengalaman. Salah satunya. root definition ditentukan oleh peneliti atau pihak yang melakukan penelitian mengenai masalah yang dikaji. root definition dapat dirumuskan dari komponen CATWOE mnemonik. Namun. Hasil dari pandangan yang berbeda dibuat dalam dalam kesimpulan yang tidak eksplisit. Berikut ini contoh CATWOE yang dibangun 8 . root definition akan menjadi paragraf/statement singkat yang akan berisi semua informasi yang diperlukan untuk menjelaskan sistem. Alternatif lainnya. Individu yang berbeda akan melihat peristiwa yang sama dengan cara yang berbeda sesuai dengan pandangan mereka tentang dunia berdasarkan kepribadian. Setiap jawaban dari satu aktor salah satu pihak dikomentari oleh aktor dari pihak lawannya.

Pengantar Soft System Methodology (SSM) Tabel 1: CATWOE No. Komponen Sistem Permasalahan Client/Customers Actors Transformation Process Hasil Definisi Sistem Permasalahan Industri/swasta Satker/UPT Kemitraan yang tidak integratif dan berorientasi pada keuntungan finansial à kemitraan yang integratif dan berorientasi pasar Sistem kemitraan lembaga litbang dengan dunia industri yang menghasilkan produk/teknologi yang berkualitas dengan cara yang bersifat integratif sehingga mencapai hasil litbang yang dapat diterima dan berorientasi pasar Pimpinan lembaga litbang dan kepala satker/puslit UU mengenai PNPB dan struktur organisasi lembaga litbang 4. berkaitan dengan ‘kontrak kerja sama kemitraan’ (lihat gambar 3).Membangun model konseptual Setiap root definition akan menghasilkan suatu model konseptual. akan dikatakan bahwa model konseptualnya tidak lengkap (Checkland & Scholes. 1. Penstrukturan dilakukan berdasarkan kontingensi logika: ‘identifikasi dan seleksi’. 1990). 1990). 2. Owners Environmental Constraint Sumber: Penulis Tahap 4 . Model ini merupakan model intelektual dan tidak boleh tertutup oleh pengetahuan tentang dunia "nyata". Root definition dan CATWOE merupakan sumber dari purposeful holons yang dikenal sebagai sistem aktivitas manusia. Jika tidak. Sebagai contoh. 3. proses pemodelan mencakup pengumpulan dan penstrukturan aktivitas minimum yang dibutuhkan untuk melakukan proses transformasi dengan menggunakan elemen CATWOE (Checkland & Scholes. Bahasa pemodelan didasarkan pada kata kerja. Model konseptual harus berasal dari root definition itu sendiri. 6. Selain itu. Model konseptual mengidentifikasi aktivitas yang diperlukan minimal untuk mengidentifikasi sistem aktivitas manusia. Semua elemen mnemonik CATWOE harus disertakan di suatu tempat dalam model konseptual. Hubungan saling ketergatungan ini akan terlihat dengan mengaitkan antar-aktivitas 9 . World view 5. Sedangkan. model konseptual merepresentasikan hubungan antar-kegiatan.

Pengantar Soft System Methodology (SSM) melalui pencantuman anak panah dari ‘identifikasi dan seleksi’ menuju ‘kontrak kerja sama kemitraan’. karena terjadi umpan balik antara proses memodelkan dengan hasil ekspresi situasi masalah. apakah penggunaan sumber daya dalam proses transformasi merupakan penggunaan minimum? Effectiveness. Di samping itu. Analisis logis terhadap transformasi menunjukkan bahwa setiap konversi dari input menjadi output dapat dinilai sukses atau tidak sukses berdasarkan tiga kriteria berikut:    Efficacy. Model konseptual merupakan model intelektual dan tidak boleh tertutup oleh pengetahuan tentang real world. Semua elemen mnemonic CATWOE harus disertakan dalam model konseptual sehingga tidak mungkin untuk mengambil kata-kata atau statement dari root definition tanpa mempengaruhi model konseptual. Model konseptual ini dibangun berdasarkan sistem aktivitas manusia hasil ekspresi situasi masalah (rich picture). 10 . Hasil interaksi antar pihak yang terlibat dalam tahapan sebelumnya menjadi rujukan bagaimana model konseptual proses kemitraan antara lembaga litbang pemerintah dengan industri dibangun seperti contoh gambar 3 di bawah ini. apakah cara yang dipilih memang bekerja dalam menghasilkan output? Efficiency. dimensi efektivitas sering bermanfaat untuk diindikasikan di dalam model final. apakah T memenuhi tujuan jangka panjang? Dimensi efektivitas berada pada level yang berbeda dengan efficacy dan efficiency. Model konseptual ini merupakan proses adaptif.

monitoring e1 dan e2 12. kontrak kerja sama kemitraan 1. take action control Gambar 3: Model Konseptual Kemitraan antara Lembaga Litbang Pemerintah dengan Industri 11 . monitoring dan survey lapangan 2. mengajukan dan mempresentasikan ide penelitian (inovasi) 6. mengumpulkan stakeholder 8. mengadakan dan mengelola forum diskusi bersama antara litbang dengan industri terpilih 7. monitoring e3 22. menerima laporan pemanfaatan hasil litbang dari industri 20. identifikasi dan seleksi 15. menghasilkan ide penelitian (inovasi) 3. monitoring e1 dan e2 21. take action control 19. take action control 18. melakukan inkubasi 10. meng-update hasil penelitian 16. basic science 9. melakukan penelitian (inovasi) 13.Pengantar Soft System Methodology (SSM) 5. merekomendasikan hasil kemitraan yg efektif 11. mengadakan dan mengelola forum diskusi 17. riset pasar 4. menguji hasil penelitian 14.

Perbedaan antara kedua hal tersebut (real world dan systems thinking dalam hal ini model konseptual) tidak boleh mengakibatkan perubahan dalam model konseptual. Model konseptual akan dibandingkan dengan dunia nyata untuk menyoroti kemungkinan perubahan di dunia nyata. Sebaliknya.Membandingkan model konseptual dengan situasi masalah Model konseptual mengidentifikasi kegiatan yang perlu dimasukkan dalam human activity system (HAS) tertentu. jika dibangun dengan benar. mencakup semua kegiatan yang diperlukan untuk sifat yang muncul (emergent properties) dari sistem. ada kemungkinan terjadi kasus bahwa kegiatan yang muncul di dunia nyata tidak cocok dengan model konseptual (Checkland & Scholes.Pengantar Soft System Methodology (SSM) Model konseptual seperti gambar 3 ditujukan untuk mendeskripsikan aktivitasaktivitas yang harus ada untuk menjalankan kegiatan yang dinyatakan dalam root definitions terkait kemitraan antara lembaga litbang dengan industri. 12 . Model konseptual. bagaimana hal tersebut dilakukan? Bagaimana penilaian dan persepsi mengenai aktivitas ini? Apakah aktivitas ini memerlukan perubahan? No. Model konseptual disusun secara sekuensial dan memiliki sistem feedback seperti pada gambar 3 yang dimulai dengan aktivitas “menghasilkan ide penelitian (inovasi)” yang kemudian dilanjutkan dengan aktivitas “mengajukan dan mempresentasikan ide penelitian (inovasi)” dan seterusnya. Hal ini tidak peduli dengan bagaimana kegiatan tersebut akan dilakukan. Aktivitas Menghasilkan ide 1 penelitian (inovasi) mengajukan dan mempresentasikan ide 2 penelitian (inovasi) Melakukan penelitian 3 (inovasi 4 5 dst. Tabel 2: Contoh Template Pertanyaan Membandingkan Model Konseptual dengan Dunia Nyata Apakah ada di dunia nyata? Jika ada. Model Ini kemudian akan menjadi rekomendasi untuk perubahan. 1990). Tahap 5 . Pemindahan aktivitas dari model konseptual akan mengakibatkan sifat-sifat tersebut muncul dan hilang.

Implementasi itu sendiri merupakan ‘situasi permasalahan’ tersendiri (Checkland & Scholes. Struktur di sini menyangkut organisasi kelompok. apakah aktivitas itu harus tetap ada atau diubah. Pada kesempatan ini. dilakukan FGD yang didiskusikan dengan para pihak terkait model yang dibangun. Setelah dilakukan wawancara satu persatu. 1990). masing-masing pihak akan ditanyakan mengenai persepsi dan penilaian mereka terhadap aktivitas-aktivitas yang dimodelkan. pihak atau struktur tanggung jawab fungsional. Tahap 6 . masing-masing orang yang terlibat dalam diskusi kemitraan antara lembaga litbang pemerintah dengan industri/swasta dimintai tanggapan berdasarkan model konseptual pada tahap 4 dibuat sebelumnya.Pengantar Soft System Methodology (SSM) Pada bagian ini. Perubahan prosedur meliputi semua aktivitas yang dilakukan organisasi seperti tindakan-tindakan operasional. hal yang lebih utama ialah mengimplementasikan perubahan yang didefinisikan tersebut. bisa terdapat satu atau lebih model yang direkomendasikan. atau sikap orang-orang. 13 . Perubahan ini dapat saja terjadi dalam hal struktur. Akan tetapi. Kemudian ditanyai pula mengenai perubahan terhadap aktivitas-aktivitas yang telah dimodelkan dan apakah ada tambahan aktivitas terhadap model konseptual yang dibangun.Menetapkan perubahan yang layak dan diinginkan Tujuan tahap ini adalah untuk mengidentifikasi dan mencari perubahan yang diinginkan secara sistemik dan layak menurut budaya. Kedua alur berpikir dan bertindak di dalam SSM mempertemukan perdebatan yang terstruktur untuk mendefiniskan perubahan yang dapat membuang ketidakpuasan. Namun setelah didiskusikan secara mendalam di antara pihak yang terlibat. akan ditentukan satu pilihan model yang akan disepakati dan digunakan bersama. Perubahan sikap mengacu kepada perubahan dalam cara pandang mengenai sasaran dalam situasi masalah sehingga orang-orang akan memahami bagaimana seharusnya berperilaku dalam hubungan antar-mereka. Pada pelaksanaannya. prosedur.

Hal ini diakui bahwa tidak ada yang tetap atau statis dan intervensi yang direkomendasikan oleh konsultan atau peneliti akan mempengaruhi organisasi. 14 . setidaknya sebagian kecilnya. situasi masalah akan dimodifikasi. Pada bagian terakhir. Implementasi perubahan akan dilakukan di dalam kebudayaan manusia tertentu. Perubahan itu sendiri biasanya digambarkan sebagai systematically desirable dan culturally feasible (Checkland. Tahap 7 . dan akan memodifikasi budaya tersebut.Melakukan tindakan perbaikan atas masalah. 3. Kita mengkonseptualisasikan perubahan dan dan memodelkan sistem untuk beberapa mengimplementasikan melakukannya berdasarkan Welanschauungen. proses adalah siklus. dst. Dengan kata lain. yakni di dalam worldview budaya tersebut (Checkland & Scholes. Aktivitas Menghasilkan ide 1. dan mungkin sebagian besar. perubahan dapat diimplementasikan hanya jika implementasi tersebut dianggap sebagai sesuatu yang bermakna di dalam budaya tersebut. Hal ini penting untuk menghargai bahwa setelah perubahan ini dilaksanakan. kita menunjukkan dengan tepat sistem untuk melakukan perubahan yang aktivitasnya dapat menjadi real-world action. 1991).Pengantar Soft System Methodology (SSM) Tabel 3: Contoh Template Perubahan yang layak diinginkan Status Aktivitas: apakah aktivitas ini ada di dunia nyata? Perubahan apa yang perlu dilakukan? Bagaimana melakukan perubahan terhadap aktivitas ini? No. Akan tetapi. 1990). Rekomendasi untuk perubahan dapat diimplementasikan. penelitian (inovasi) 2.

Ion. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Peter. Delbridge. John Wiley & Sons. Qualifying Function in SSM Modeling – A Case Study.4. No. Palgrave Macmillan. Syst Pract Act Res 19:441–459 Holwell. 2005. 1998. Systemic Practice and Action Research. Birgitta. http://eprints.Donald. Pembangunan Kerangka Kerja Analisis Kebutuhan Sistem Pendukung Pembuatan Keputusan dengan Memanfaatkan Soft Systems Methodology dan Conceptagon Analytical Tools: Studi Kasus Perencanaan Transportasi untuk Penanganan Kemacetan. August 2002. Systems Thinking. Sinn JS.Pengantar Soft System Methodology (SSM) 3. 2009. Maqsood. Andrew D.. Sue. Soft Systems Methodology in Action. DAFTAR PUSTAKA Andarini.Using Soft Systems Methodology to Identify Competence Requirements in HRM. Thesis. Syst Pract Action Res 11:435–453 15 . Tayyab. 13. 5/6 Checkland. Aplikasi Metodologi Sistem Lunak Untuk Pengelolaan Kawasan Hutan Rawan Konflik: Kasus Hutan Penelitian Benakat. and Scholes. Chichester Checkland. 2000. Jim. Hans & McNickle. In Conference's name unknown. Bergvall-Kareborn. No. Systemic Practice and Action Research. Institut Teknologi Bandung. John. Sumatera Selatan. Wiley. Managerial Effectiveness from a System Theoretical Point of View. Brocklesby. Finegan. Edwin.. Derek H. P. Soft systems methodology: Other voices. Systems Practice. Vol. Vol 15. 6/7 Georgiou. Chichester Daellenbach.au/27456/ pada tanggal 1 Januari 2011 Martin. 6: 773-797.edu. Andra. (2001) Five case studies applying soft systems methodology to knowledge management. International Journal of Manpower 16. A comparison of interactive planning and soft systems methodology: enhancing the complementarist position. 2008. & Walker. Library Management Vol.qut. 2008 An illustrative application of soft systems methodology (SSM) in a library and information service context: Process and outcome. 1995. Management Science: Decision Making through Systems Thinking. 2006. 1990. 1991. Hampsire. 2002. Rachel. 29 No.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful