Soeharto

Kekuasaan memang hal yang wajar ada pada setiap kehidupan masyarakat bernegara. Tidak terlepas didalamnya terdapat pihak yang menguasai (Pemerintah) dan pihak yang diperintah (warganegara). Memang ada bermacam-macam pola dalam subjek pengguna kekuasaan, dalam system otoriter pemerintahlah yang memiliki kewenangan tertinggi dalam mengatur Negara, sedangkan system demokrasi lebih menekankan tendensi masyarakat sebagai penguasanya. Max Weber merumuskan bahwa kekuasaan merupakan kemampuan individu dalam hubungan social untuk mewujudkan keinginannya di dalam suatu tindakan komunal meskipun melawan arus tantangan dan resistensi individu lain yang terlibat dalam tindakan tersebut (Franz Magnis Suseno). Lebih praktis lagi dari yang dikatakan oleh Ibnu Sodiq dalam Sejarah Politik Indonesia (2009) bahwa kekuasaan dimaknai sebagai upaya seseorang atau kelompok untuk mempengaruhi orang lain agar sesuai dengan tujuan dan keinginan orang yang berkuasa, tidaklah memiliki makna atau definisi tunggal, sebaliknya memiliki makna yang begitu luas. Dalam periodisasi Sejarah Indonesia terlintas panjang yang namanya “Orde Baru”. Sebuah era pemerintahan masa kepemimpinan Soeharto, seorang mantan pimpinan KOSTRAD yang beruntung atau sengaja dengan intriknya untuk menjadi seorang Presiden. Dari awal memang penuh kemelut dalam konteks pengangkatanya sebagai presiden RI, mulai dari isu keterlibatanya dalam peristiwa G30S dan tragedi SUPERSEMAR. Semua itu telah sengaja disembunyikan demi naiknya menjadi seorang presiden.

Orde Baru ini memang terkenal periode pemerintahannya yang cukup panjang. makin lama makin canggih. Yang bisa disampaikan di sini ada dua hal. Pertama. ibaratkan Indonesia adalah sebuah bangunan sebelum itu Soekarno adalah yang membuat fondasinya dan Soeharto-lah yang membuat rumahnya. dapat pula dikatakan bahwa mega-kekuasaan yang dijalankan Soeharto adalah bertahap. Kedua. yaitu 1) tumbuh. 2) berkembang/jaya. Awalnya kita bisa mempersepsikan bahwa hal itu mengindikasikan adanya kepuasan masyarakat akan pemerintahanya atau memang sengaja ada sebuah strategi di belakang untuk melanggengkan kekuasaan sekalipun masyarakat sebenarnya tidak menginginkanya. Bagi Soeharto untuk membangun Indonesia haruslah menggunakan caranya sendiri pribadi dan dalam waktu selama mungkin agar semua yang telah dibuatnya terkesan telah berdiri kokoh. Hingga kini masih banyak orang yang mengklaim bahwa Soeharto adalah bapak pembangunan. Klaim yang menyatakan adanya kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan orde baru itu bisa diperkirakan bahwa itu adalah sebuah kovernya saja sedangkan isinya hanya memuat tentang politik busuk yang menjunjung tinggi frasa “haus kekuasaan”. dan 3) mati. . Asumsinya adalah rezim tersebut mengalami tiga fase yang dialami setiap makhluk. Adalah mustahil membicarakan strategi Soeharto selama berkuasa 32 tahun dalam satu halaman. untuk memahami strategi Presiden Soeharto perlu ditetapkan terlebih dahulu pembagian (periodisasi) masa pemerintahannya. Presiden Soeharto memulai “Orde Baru” dalam dunia politik Indonesia dan secara dramatis telah memanfaatkan penuh kekuasaan yang berjalan selama 32 tahun itu.

hanya presiden terakhir saja yang dipilih langsung oleh rakyat sehingga cukup legitimat. Hal ini menandakan bahwa masa lalu Indonesia belum menjadi negara yang demokratis. Indonesia kurang mengalami penglaman dalam hal ini. Sukarno naik menjadi presiden karena posisinya yang amat menonjol selama periode pergerakan sampai pendudukan Jepang. Hampir semua presiden di Indonesia memiliki legitimasi yang amat rendah dari rakyat. Sebagai realita yang tidak kasat mata masa Orde Baru ini sebenarnya hampir mirip dengan apa yang dilakukan oleh .Tanpa disadari ternyata sebenarnya orde baru telah melakukuan banyak hal yang digunakan untuk mempertahankan kekuasaanya di Indonesia. Hasilnya adalah pertumpahan darah di hampir semua wilayah Indonesia yang mengantarkan Jenderal Suharto menjadi presiden. Posisinya hampir tidak tergoyahkan. Di negara-negara penganut demokrasi modern penopang utama kekuasaan adalah rakyat. Dan sekiranya orang-orang zaman reformasilah yang berani mengungkap semua ini yang baru disadari dari apa yang telah terlewat selama 32 tahun itu. Rakyat melegitimasi kekuasaan melalui pemilihan umum. Dengan demikian legitimasi terkuat naiknya Jenderal Suharto menjadi presiden adalah ceceran darah anak negeri yang melahirkan dalih bahwa untuk menghentikan ceceran darah tersebut maka ia harus mengambilalih kekuasaan. dan upaya untuk meruntuhkannya hanya bisa dilakukan dengan sebuah konspirasi yang cukup canggih antara elemen-lemen penentang di dalan negeri dengan elemen-elemen di luar negeri. Strategi ini bisa berupa hal hal yang sifatnya represif juga melalui pengendalian media untuk terus menarik simpati dari warganegara.

pertama pilar yang bersifat riil. A. Lampung. Tanjung priok. Militer pendukung utama kekuasaan Suharto adalah Angkatan Darat. Jumlah warga yang terbunuh pada 1965-1966 bila ditambah dengan mereka yang tewas dalam berbagai peristiwa sesudah itu di Aceh. Pilar yang bersifat riil sebagai penopang kekuasaan Suharto yang paling utama adalah militer. 2009) Lalu mengapa ia bisa bertahan sampai 32 tahun berkuasa? Apakah ia selalu mereproduksi legitimasi ceceran darah tersebut untuk melanggengkan kekuasaannya? Ataukah ia disangga oleh pilar-pilar yang demikian kokoh? Apa saja pilarpilar penyangga kekuasaannya tersebut? Secara ringkas pilar penopang kekuasaan Suharto selama berkuasa dapat dibagi menjadi dua. Orde baru juga menghabiskan lawan merka sebelumnya. Pilar ini tidak terlihat atau kasat mata tetapi memiliki efek yang luar biasa untuk mengendalikan rakyat dan menjadi semacam tangan gaib (invisible hand) penguasa untuk menggiring rakyat menuju pada satu kesetiaan tunggal. Kedua adalah pilar yang bersifat simbolik. yaitu pengikut komunis. . Naiknya Suharto menjadi presiden juga didukung oleh angkatan ini yang memanfaatkan kekisruhan politik tahun 1965 dan tahuntahun sebelumnya. ia berupa kekuatan nyata yang tidak sekedar melegitimasi kekuasaan tersebut tetapi membelanya jika ada ancaman. Banjarmasin. barangkali hamper sama dengan jumlah korban keganasan Khmer Merah (Asvi W. angkatan di mana Suharto pernah berkiprah sebelum ia menjadi presiden. Timor-Timur. Bedanya bila Khmer merah menganut dasar komunisme sedangkan Orde Baru menjalankan kapitalisme kasar. Irian Jaya.Khmer Merah di Kamboja.

Pemerintahan di-Backing oleh Militer Pasca meletusnya peristiwa yang dikenal dengan sebutan Gerakan 30 September 1965 posisi militer di Indonesia terpecah menjadi dua. yaitu terjadinya keretakan hubungan antara Suharto dengan militer atau yang disebutnya sebagai keretakan aliansi strategis Orde Baru. 2. Angkatan Darat menjadi pendukung utama saat Suharto menjadi presiden sampai jatuhnya pada tahun 1998. Agar Indonesia . Bahkan menurut beberapa kalangan jatuhnya Suharto juga tidak bisa dipisahkan dari faktor militer. Para pengamat politik dan para aktifis sering menyebut Indonesia sebagai negara yang militeristik dan fasis. Pada periode ini kondisinya tidak jelas benar. yaitu mereka yang masih loyal kepada Presiden Sukarno dan mereka yang lebih loyal kepada Jenderal Suharto.1. Secara berlahanlahan Suharto mulai mengkonsolidasikan Angkatan Darat menjadi kekuatan utama di tubuh militer yang loyal kepada dirinya. Ia mulai menempatkan Angkatan Darat sebagai kekuatan utama di tubuh militer melebihi angkatan-angkatan lain. siapa loyal kepada siapa masih sulit diidentifikasi. Dengan strategi ini pada saat Suharto naik menjadi presiden ia mendapatkan loyalitas yang melebihi porsinya dari Angkatan Darat. Menurut Harold Crouch pembelahan di tubuh militer mulai terlihat jelas pada tahun 1967 di mana kelompok-kelompok yang setia kepada Sukarno yang masih tersisa enggan menerima pendongkelan terhadap presiden. yang dengan kata lain Angkatan Darat mendapat porsi yang lebih istimewa dibandingkan dengan lainnya. Menyamarkan Demokrasi dengan Multi Partai Pilar riil kedua penopang kekuasaan Suharto adalah Golongan Karya (Golkar) dan partai politik.

Pada masa pemerintahan Suharto kedudukan politik rakyat amat merana. dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI).dicitrakan sebagai negara yang demokratis maka perlu ada lembaga-lembaga yang berfungsi mirip partai politik. Bahkan keberadaan Golongan Karya pun sebenarnya tidak pernah berfungsi secara riil sebagai penopang kekuasaan Suharto. Bahkan istilah “rakyat” menjadi berkonotasi amat . Di Indonesia pada masa kekuasaan Suharto terdapat tiga lembaga yang memerankan diri dengan peran seperti itu yaitu Golongan Karya. Partai Persatuan Pembangunan (PPP). dan lembaga stempel paling loyal tempat ia mendaftarkan diri maju sebagai presiden setiap lima tahun sekali. Golongan Karya pada periode ini memang memiliki tempat yang lebih istimewa dibandingkan dua partai politik yang lain karena Golongan Karyalah yang digunakan oleh Suharto sebagai kendaraan politik. terutama dalam menentukan ketua-ketuanya. Ketika Suharto menghendaki agar semua partai politik dan semua organisasi di Indonesia menjadikan Pancasila sebagai asaznya maka mereka tidak bisa menolaknya. 3. Keberadaan lembaga ini nyaris hanya sebagai simbol dan sebagai stempel demokrasi karena dalam kacamata Barat negara yang berdemokrasi adalah negara yang mengakomodir kekuatan partai politik. Logika politik di Indonesia pada masa Suharto dibuat jungkir balik olehnya. Bahkan Golongan Karya dan partai-partai politik sangat tergantung pada Suharto. Mensentralisasi Kekuasaan dengan Meminimalisir Peran Rakyat Dalam sistem pemerintahan yang militeristik dan terpusat pada satu individu posisi rakyat tidak terlalu penting karena dukungan politik riil bukan dari rakyat. Tanpa Golongan Karya dan partai politik lainnya Suharto tetap bisa berkuasa sepanjang ia didukung oleh militer.

namun bisa dirasakan bahwa penopang tersebut berfungsi sangat efektif. kekuasaan Suharto juga ditopang oleh pilar yang bersifat simbolik. . yang sebelumnya dipandang sebagai kekuatan politik terpentingdalam proses kemerdekaan Indonesia. penerapan azas tunggal Pancasila. dan propaganda hitam yang bertujuan untuk meningkatkan daya tawar penguasa dan militer serta untuk menjatuhkan nyali rakyat. Hal ini adalah ciri negara yang merupakan perkawinan antara sistem paternalistik dengan sistem militeristik. Ketika Suharto berkuasa. yang tidak terlihat oleh mata. Dikatakan secara imajiner karena secara riil dalam pemerintahan yang militeristik rakyat dikontrol amat ketat oleh rezim sehingga nyaris tidak bisa berbuat apa-apa. dan lain-lain. Apabila nyali rakyat sudah jatuh maka keberanian untuk mengkritik dan mengoreksi penguasapun sirna. isyu. Mereka merasa lebih mengerti keinginan dan kebutuhan rakyat daripada rakyat itu sendiri. Di samping berdiri di atas penopang riil.berbahaya dan dijadikan musuh imajiner oleh rezim Suharto. dan formalisasi P4 maka intelijen menciptakan musuh penguasa yang bersifat imajiner yang disebut Komando Jihad serta Kelompok Warman. Sebagai contoh misalnya ketika kelompok-kelompok Islam pada tahun 1980-an amat getol mengkritik penguasa dalam kasus Undangundang Perkawinan. Penciptaan musuh imajiner ini bertujuan untuk menjatuhkan mental ummat Islam agar tidak berbuat macam-macam kepada Suharto. membajak pesawat Garuda DC-9 “Woyla”. dan propaganda hitam. diubah sosoknya menjadi kekuatan politik yang paling berbahaya dalam masyarakat secara imajiner. intelijen berperan penting dalam menciptakan berbagai desas-desus. meledakan gereja dan candi Borobudur. Pertama. Rakyat. dan yang kedua adalah sejarah. isyu. Bahkan oleh elit politik rakyat sering diidentikan sebagai orang-orang “bodoh” saat mereka berbicara mengenai rakyat. Organisasi ini tidak jelas ujudnya tetapi tiba-tiba dituduh menyerbu Pos Polisi Cicendo Bandung. desas-desus.

Oleh karena itu di banyak negara -utamanya yang pemerintahannya berkuasa secara totaliter. Semua ide-ide Ali Murtopo digodok di sebuah lembaga yang dibentuk olehnya yaitu CSIS yang berkantor di Tanah Abang.Otak dari semua ini adalah Ali Murtopo. sejarawan dapat mengungkap dan merekonstruksi peristiwa yang telah terjadi pada masa lampau tanpa bisa dibantah oleh pemerintah yang berkuasa. 4. 2010: 3637). sahabat terdekat Suharto pada masa-masa awal berkuasa (Ibnu Sodiq. Demikian pula yang terjadi di Indonesia. Amat sering kita mendengar bahwa sejarah hanyalah cerita usang yang tidak memiliki nilai guna. Khrouchtchev. seorang pemimpin dari negeri tirai besi Uni Soviet mengakui bahwa sejarawan adalah satu-satunya kelompok yang bisa mempertanyakan legitimasi penguasa. Analisis kritis mengenai fungsi sejarah sebagai pilar yang menopang kekuasaan Suharto masih amat jarang dibahas melalui studi akademik yang komprehensif. Pembengkokan dan Penyeragaman Sejarah dalam Historiografi Indonesia (Sejarah untuk Membela Rezim Orde Baru) Reproduksi masa lalu atau lazim disebut sejarah juga menjadi elemen yang amat penting pada penegakan pemerintahan Suharto. Padahal . tetapi bagi kekuasaan yang hegemonik dan totaliter sejarah amat berguna untuk melegitimasi kekuasaan mereka. Melalui penelusuran atas sumber-sumber primer.pergulatan untuk mengendalikan sejarah amat intensif antara yang ingin mengendalikan sejarah untuk kepentingannya dengan sejarawan yang ingin mengungkapkan masa lalu dengan jujur apa adanya. Hampir semua sejarawan di Indonesia mengakui realitas tersebut namun kurang berani untuk mengungkapkannya apalagi meneliti secara intensif secara akademik.

realitas tersebut menyangkut eksistensi diri dan dunianya. Karena peran penting yang ia mainkan inilah maka Katharine menempatkan Nugroho Notosusanto pada posisi yang amat istimewa pada karyanya tersebut. yaitu Nugroho Notosusanto. Keterlibatan Nugroho Notosusanto dalam proyek-proyek sejarah militer (ABRI) sebenarnya cukup mengherankan apabila kita lihat latar belakang dia yang sipil tulen. namun hasil penelitian dari Katharine ini memberikan perspektif baru tentang tafsir terhadap upaya manipulasi militer terhadap sejarah untuk kepentingannya. McGregor seorang sejarawan dari Melbourne. ia juga sangat bangga mengendarai jip jika pergi ke . Dan yang mungkin agak mengejutkan adalah uraian penulis tentang seorang tokoh di balik berbagai manipulasi sejarah tersebut yang ternyata adalah seorang sipil. Australia dengan amat jeli berusaha membongkar sejarah yang dilacurkan pada masa Suharto berkuasa. Nugroho digambarkan sebagai orang yang lebih disiplin daripada insan militer (hlm. Menilik sikap-sikapnya yang lebih berjiwa militeristik daripada militer yang sesungguhnya sebenarnya patut dicurigai kondisi kejiwaan Nugroho Notosusanto. Beruntunglah karena Katharine E. Begitu pentingnya peran Nugroho sehingga dalam buku ini diulas secara khusus pada satu bab tersendiri (bab II) serta menjadi bagian dari ulasan-ulasan pada bab-bab lainnya. Memang dia pernah ikut bergabung dalam tentara pelajar tetapi ia tidak meneruskan untuk berkarir di bidang kemiliteran. Bisa dikatakan buku ini merupakan kisah (biografi) dari Nugroho Notosusanto dalam membantu kelompok militer menciptakan sejarah-sejarah yang bersifat ideologis dalam rangka mencuci otak masyarakat awam serta untuk mencekoki korps militer agar spirit korps (esprit d’corps) mereka tetap terjaga dan kepercayaan diri mereka tetap tinggi. Penelitian secara umum tentang kiprah militer di kancah politik di Indonesia sebenarnya bukan hal baru.272).

Sayangnya Katharine tidak menelisik sampai ke arah itu karena ia hanya berhenti pada penelusuran masa kecil.kampus. E McGregor. dan menteri. Pada waktu itu banyak penulis yang belum menyelesaikan bab-bab yang menjadi bagian mereka. Tetapi ternyata Nugroho menerbitkannya dalam bentuk yang belum sempurna. Nugroho yang berkedudukan sebagai penyunting dengan cerdik memerintahkan asistennya untuk mendapatkan salinan naskah volume enam (yang paling banyak menimbulkan kontroversi) dari para penulis dengan alasan untuk suatu keperluan yang lain. Oleh rekan-rekan sesama sejarawan yang terlibat dalam penulisan Sejarah Nasional Indonesia tindakan Nugroho tersebut dianggap sebagai pengkhianatan profesi (K. serta dengan taktik yang cukup licik. posisi sosial. nah untuk menepati tenggat waktu yang digariskan. dan dalam acara-acara resmi yang melibatkan dia sebagai Kepala Pusat Sejarah ABRI ia suka berseragam militer lengkap (hlm. menghalalkan segala cara. rektor. serta karir dia seperti menjadi dosen. Katharine mengungkapkan hal ini dalam kasus penulisan Sejarah Nasional Indonesia yang dilakukan pada pertengahan tahun 1970-an. Pengabdian total Nugroho Notosusanto pada rezim Suharto dan militer memang cenderung membabi-buta. Perbuatannya tersebut tentu saja mengundang kemarahan anggota penulis yang lain karena menerbitkan karya yang belum sempurna dan tanpa ijin kepada pengarangnya. 2008: 272-273). sebagai mahasiswa. Tindakan Nugroho tersebut tentu saja bagian dari upaya dia “cari muka” ke penguasa dan militer. . Kepala Pusat Sejarah ABRI. sedikit mengenai keterlibatan dia dalam kancah pertempuran. Sebelum buku tersebut diedarkan ke masyarakat ternyata Nugroho membuat skandal dengan menyerahkan naskah seri sejarah tersebut terlalu dini. 297).

yang pada saatsaat negara di ambang kehancuran. terdapat peristiwa sejarah yang lain yang selalu dijadikan referensi militer untuk terus-menerus dijadikan pembenar agar bisa terus-menerus terlibat dalam sistem politik Indonesia. militer Indonesia dalam waktu lama memperoleh justifikasi untuk memainkan peranan dwifungsi dalam pertahanan dan politik. legitimasi sejarah telah digunakan oleh militer Indonesia untuk mempertahankan hak-haknya dalam kekuasaan politik dan pengaruhnya. pemberontakan DI/TII. Pendek kata. Selain dua peristiwa penting tersebut. Atas dasar klaim ini. Militer Indonesia mengklaim dirinya lahir dari “gua garba” rakyat Indonesia jadi rakyatlah yang telah membentuk tentara.Bagaimana Nugroho menjadikan sejarah (khususnya sejarah militer) sebagai elemen simbolik penopang kekuasaan Suharto? Militer Indonesia selalu mengidentifikasikan dirinya sebagai militer yang unik karena lahir dari kancah perjuangan mengusir penjajah Belanda selama perang kemerdekaan. pemberontakan PRRI/Permesta. dan lain-lain. Klaim atas peristiwa-peristiwa penting yang melibatkan militer tersebut tentu saja membutuhkan simbol yang berfungsi untuk terus-menerus mengingatkan memori kolektif rakyat Indonesia bahwa militerlah. bukan pemerintah yang membentuk tentara. militer juga mengklaim dirinya sebagai satu-satunya lembaga yang berhasil mengakhiri penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan oleh pemerintah Sukarno serta berhasil menyetop kesewenang-wenangan politik komunis di Indonesia dengan digagalkannya upaya penggantian ideologi Pancasila pada peristiwa G 30 S/PKI tahun 1965. turun tangan mengatasi . Selain klaim tersebut mereferensi pada peristiwa perang kemerdekaan. Peristiwa tersebut antara lain pemberontakan PKI Madiun 1948. Selama perang kemerdekaan militer mengasumsikan diri sebagai lapisan kepemimpimpinan nasional setelah pemimpin sipil ditawan oleh Belanda dan diasingkan ke Pulau Bangka pada tahun 1948 saat aksi militer kedua.

terutama yang ada di Jakarta. Pertama adalah simbol dalam ujud fisik berupa museum-museum yang sebagian terdapat di Jakarta dan Yogyakarta. kedua simbol dalam ujud audiovisual yaitu film. 22). Namun dibandingkan dengan diorama. atau sudah menjadi sejarah maka simbol-simbol yang dibutuhkan adalah simbol yang berkategori dalam ranah (domain) sejarah (historical domain). Studi yang dilakukan oleh Katharine menemukan tiga bentuk simbol yang diciptakan oleh Nugroho Notosusanto. visualisasi peristiwa masa lampau akan berfungsi lebih efektif untuk mempengaruhi alam bawah sadar orang-orang yang melihatnya karena fungsi-fungsi otak akan lebih cepat mengolah data visual dibandingkan dengan data tertulis. hanya berisi visualisasi peristiwa sejarah dalam bentuk diorama versi tentara (dengan penyesuaian dan manipulasi). Dibandingkan dengan teks-teks dalam bentuk huruf. karena sebagian besar museum. di mana kebiasaan membaca masih rendah. Karena peristiwa-peristiwa tersebut sudah menjadi masa lampau. sehingga pengunjung museum tersebut adalah orang-orang kota dan sekitarnya yang sudah melek huruf. maka visualisasi sejarah merupakan cara paling efektif untuk mengungkapkan identitas ABRI (hlm. tingkat efektifitas visualisasi peristiwa akan meningkat lebih tinggi jika . dan ketiga dalah teks-teks buku sejarah yang disebarluaskan kepada masyarakat dan diajarkan di sekolah-sekolah mulai sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Namun jangan membayangkan bahwa museum-museum yang didirikan oleh militer berisi barangbarang yang berkaitan dengan peristiwa yang diacu. Alasan tersebut sebenarnya kurang masuk akal mengingat semua museum yang digagas oleh militer berada di kota besar. Pemilihan model sejarah visual ini sengaja dipilih oleh Nugroho Notosusanto karena sebagaimana dia ungkapkan bahwa di dalam sebuah masyarakat seperti Indonesia yang masih berkembang.keadaan.

Peristiwa serangan umum 1 Maret 1949 misalnya diangkat ke tingkat pemitosan Suharto sebagai pahlawan nasional utama yang merebut kembali Yogyakarta dari Belanda dan menguasainya selama enam jam.visualisasi menggunakan teknik audiovisual berupa film. yang kesemuanya disutradarai oleh Arifin C. Teknik semacam ini juga dimanfaatkan oleh militer sehingga lahirlah film-film dengan tema sejarah yang menonjol-nonjolkan kepahlawanan tentara yang berlebihan terutama peran Suharto. yang cukup banyak dilebih-lebihkan. Teks-teks buku sejarah menjadi amat penting sebagai media propaganda rezim Suharto terutama buku-buku sejarah yang diedarkan dan menjadi pegangan wajib siswa-siswa sekolah. Dengan film kesadaran penonton akan dibawa kepada ”peristiwa yang sebenarnya” karena ia akan dihadapkan kepada peristiwa yang hidup. Peristiwa tersebut difelmkan menjadi dua film yaitu Jakarta 66: Sejarah Perintah 11 Maret dan Pengkhianatan Gerakan 30 September. peristiwa yang bersuara. dan Serangan Umum. Efek-efek psikologis dari suara dan gerak akan terekam lebih mendalam dalam memori penonton bila dibandingkan dengan hanya melihat gambar dan patung yang diam. Ketika Nugroho Notosusanto menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ia menciptakan satu mata pelajaran wajib baru yang disebut Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa yang sebenarnya merupakan murni sejarah tentara Indonesia. Peristiwa ini diaudiovisualkan paling tidak menjadi tiga film dengan judul berbeda-beda.Peristiwa kedua adalah pemberontakan G 30 S/PKI. yaitu Enam Jam di Yogya. Janur Kuning. yang merupakan legitimasi naiknya Suharto menjadi presiden. dan peristiwa yang bergerak maju. Sayang sekali Katharine hanya sambil lalu saja menganalisis film-film sejarah dalam bukunya tersebut. Noor. Film Pengkhianatan Gerakan 30 September menjadi film terpanjang karena berdurasi sekitar empat jam. Penciptaan mata pelajaran baru tersebut diikuti dengan .

Namun. yaitu buku Sejarah Nasional Indonesia utamanya yang jilid enam. yaitu periode Suharto.proyek penulisan dan penerbitan buku teks untuk pelajaran itu. Jadi. Militer sepintas telah berhasil menciptakan citra tentang dirinya sebagai tentara rakyat yang berani berkorban. yang merupakan inisiatif dan dilakukan oleh masyarakat sipil Indonesia pada masa perjuangan. tetapi sebagai sebuah konstruksi masa kini. semua ini adalah sebuah representasi yang hipokrit. karena dalam kenyataannya militer mempraktikkan kekerasan selama berkuasa. tegas penulis. penggambaran peristiwa telah dijadikan alat-alat simbolik untuk mengukuhkan legitimasi sebuah kekuasaan. Buku ini menjadi amat penting untuk melengkapi berbagai studi yang telah dilakukan mengenai satu periode sejarah Indonesia yang amat represif. Masyarakat sipil hanya menumpang apabila diberi tempat. Inti dari semua proyek sejarah yang digagas oleh Nugroho Notosusanto sebenarnya bermuara pada satu titik. Materi yang terkandung di semua bukunya lebih banyak mengunggul-unggulkan peran tentara dan mereduksi banyak peristiwa penting lainnya. yaitu penciptaan simbol-simbol yang melegitimasikan bahwa pemilik sah republik ini adalah tentara. penulis menegaskan bahwa representasi di sini adalah sebuah mediasi diskursif yang terjadi antara peristiwa dan kebudayaan yang memberikan sumbangan terhadap konstruksi ideologi nasional. perjuangan diplomasi. kegunaannya bukan pada sebagai sebuah refleksi atau refraksi masa lalu. direduksi begitu saja dengan menyebut upaya tersebut sebagai kegagalan. Salah satu pesan yang paling jelas dan diketahui umum adalah bahwa kajian terhadap historiografi Orde Baru yang diproduksi militer adalah bahwa ketika satu versi tunggal . Dalam buku teks sejarah yang oleh Nugroho dijadikan buku babon. Lebih jauh dengan mengutip Graeme Turner. sebagai penjaga semangat kemerdekaan dan pelindung Pancasila.

paket 5 Undang-Undang (UU) Politik 1985 dan Dwi Fungsi ABRI dicabut. yaitu kelas menengah intelektual. Meradam Perlawanan Kaum Radikal Terhadap Pemerintah Penculikan dan semua tindakan teror itu tidak lepas dari semakin marakya perlawanan dari bawah. Baru satu elemen yang melakukan perlawanan secara meluas. kita ambil contoh reformasi politik. sejarah bisa menjadi bagian dari sistem ideologi otoritarianisme. juga sedikit kelas menengah profesional. Akhir-akhir ini mahasiswa tumpah ruah di mana-mana. . kebebasan membuat organisasi massa (ormas). Ini sama saja bunuh diri bagi kekuasaan Soeharto sebab kekuasaan Soeharto selama ini dipertahankan antara lain dengan memasung demokrasi melalui paket 5 UU Politik 1985 dan Dwi Fungsi ABRI itu. Orde Baru tak mampu dan tak punya niat baik memenuhi tuntutan reformasi. 5. Dan pada gilirannya elemen ini akan menyeret elemen yang lain --yang selama ini walaupun belum sesemarak aksi mahasiswa juga sudah turun ke jalan-yaitu elemen buruh. apa konsekuensinya ? Jelas akan ada kebebasan berpartai. Maraknya aksi mahasiswa ini sangat membahayakan kekuasaan sebab aksi-aksi ini belum mencapai puncaknya. serta keterbukaan dalam Sidang Umum (SU) MPR. kaum miskin kota. Mereka menuntut reformasi secara mendasar di segala bidang dan juga menolak pencalonan Soeharto sebagai presiden yang ketujuh kali. Studi Katharine ini juga menjadi pengingat bagi kita bahwa betapa bahayanya perselingkuhan yang dilakukan oleh sejarawan dengan penguasa yang otoriter dan lalim. Coba bayangkan jika.tentang masa lalu yang diperkenankan. kebebasan dalam pemilu.

Untuk menghadapi ini. (http://www. dibubarkan atau dilarrang . pembunuhan. yaitu REPRESI dan KONSESI. pemenjaraan. Cara pertama selalu dia lakukan. baik yang ringan seperti penggebukan para demonstran. misalnya. penangkapan. Soeharto memiliki dua cara. memuat kegagalan program. dan teror. Tuntutan mengubah UU tentang Pemilu. Sementara. Seperti tuntutan adanya dialog secara demokratis dan terbuka. Semantara pemerintah melarang media masa untuk memuat kritikan tajam atau sindiran kepada pemerintah. penyerbuan militer. Control media ini tidak lain hanya untuk terus menarik simpati dari warganegara agar terus mengklaim bahwa pemerintahan Soeharto adalam pemerintahan yang baik. Apabila pihak media masa melanggar apa yang menjadi kehendak pemerintah maka konsekuensinya perusahaan media masa tersebut harus dibredel.nl) 6. atau men-discover kasus kejahatan dibalik pemerintah atau intinya semua wacana yang mencemarkan nama baik pemerintah itu tidak boleh dimuat. dijawab dengan dialog yang artifisial dan direkayasa. hingga cara yang berat seperti penculikan. dijawab dengan mengubah aturan-aturan operasional semata. konsesi merupakan sogokan untuk memanipulasi tuntutan rakyat.xs4all. Isi dalam surat kabar tersebut dikehendaki agar memuat mengenai berita-berita gembira akan kesuksesan program pemerintah atau memuat acara-acara dari pemerintah yang bernilai positif. Kontrol Media Massa Semua media massa yang diterbitkan di Indonesia tidak akan lepas dari pengawasan pemerintah. Tetapi rakyat Indonesia tidak sebodoh yang diperkirakan rejim.

. mahasiswa. Upaya untuk meng-kloning / mem format otak manusia2 dengan identitas "numeric" . Hingga pada saat perjalanan Orde Baru diadakanlah program P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). islam ekstrimis bahkan hanya perserikatan buruhpun turut dibubarkan (dikhawatirkan menjadi cikal bakal Komunisme). Bisa disebut "ROBOTISASI" . Hal ini pernah dialami oleh perusahaan surat kabar Kompas. Penataran P4 merupakan sesuatu yang wajib ikuti bagi anak sekolah. Seluruh ideology yang tumbuh di Indonesia yang tidak sesuai dengan Pancasila tidak diberi hak untuk tumbuh seperti Reformis. Tempo. 7. Strategi Politik ORBA melalui Penataran / P4 intinya adalah upaya "penyeragaman isi otak" agar cenderung berpikir sesuai terminologi aturan penguasanya .menerbitkan lagi. dan juga beberapa elemen masyarakat. Melarang Ideologi Selain Pancasila Pancasila merupakan ideology tunggal Orde Baru yang diagung-agungkan paska G30S. Indonesia Raya dll. Jelas hal tersebut membunuh dan membungkam gagasan-gagasan visioner yang secara kodrati di Anugrahkan oleh YME kepada manusia. PNS.

Sekiranya hal-hal diatas telah menjawab realita betapa kuatnya pemerintahan orde baru mengakar di Indonesia hingga 32 tahun. Semua hal yang telah dilakukan hanyalah mencari sebuah simpati. Semua unsure diatas jelas tidak terjadi secara alamiah namun semua itu mengandung sebuah rekayasa demi mempertahankan kekuasaanya selama mungkin. kehormatan. Absolutely. ketangguhan pemerintahan yang berujung untuk kelanggengan legitimasi Kekuasaan. sejarah Indonesia harus membela Orde Baru. . Unsur Backing dengan Militer telah benyak berjasa dalam menjaga kedudukan Soeharto karena dimanapun juga bahwa Militer adalah oknum yang terkenal kuat baik ofensif maupun defensifnya namun itu justru digunakan sebagai pelindung pemerintah terhadap rakyat bukan sebagai pelindung rakyat terhadap musuh dari luar. Lebih parahnya lagi Orde Baru dengan Nugroho Notosusanto-nya telah banyak berbuat ketidak objektifan dalam historiografi Indonesia.