P. 1
Makalah Kimfis-kinetika Reaksi

Makalah Kimfis-kinetika Reaksi

|Views: 1,125|Likes:
Published by shle
makalah kimfis kinetika reaksi
makalah kimfis kinetika reaksi

More info:

Published by: shle on Aug 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/27/2013

pdf

text

original

BAB I

JAWABAN PERTANYAAN

I. Etanol Dalam Tubuh Manusia
1. Untuk mengetahui bagaimana perjalanan etanol dalam tubuh manusia, kita dapat
memanfaatkan ilmu farmakokinetik, cabang ilmu farmakologi. Analisa dilakukan
terhadap darah, dimana konsentrasi etanol waktu tertentu. Suatu percobaan
dilakukan dan hasil analisis terhadap darah sampel adalah sebgai berikut:
t, min 30 60 120 150 240 360 480
c x 10
6
, g/cm
3
0,699 0,622 0,413 0,292 0,152 0,060 0,024

a. Ada berapa metode yang dapat digunakan untuk menentukan kinetika reaksi
etanol dalam darah berdasarkan data yang diberikan? Jelaskan dan berikan
contoh untuk masing-masing metode tersebut.
b. Berdasarkan data tersebut, metode apakah yang paling sesui, dan tentukanlah
orde reaksi, konstanta laju reaksi, dan waktu paruh dari etanol dalam sampel
darah.
Jawaban
a. Metode-Metode untuk Menentukan Laju Reaksi
Metode-metode yang digunakan untuk menentukan laju reaksi ada 5, antara lain:
1. Metode Integrasi
Pada metoda integrasi, orde reaksi dapat ditentukan dengan mencocokan data
percobaan dengan persamaan laju reaksi standar setiap orde reaksi. Setelah
mengamati perubahan konsentrasi dengan waktu yang diukur, harga k dapat
dihitung dengan menggunakan persamaan terintegrasi. Harga k ini berbeda untuk
orde reaksi yang berbeda.
Sebagai contoh, untuk reaksi orde satu, persamaan laju reaksinya sesuai
dengan persamaan (1.1-1)

Setelah diintegrasikan, persamaan tersebut menjadi (1.1-2)

Dengan persamaan (1.1-2), nilai k dapat dicari, lalu dibandingkan dengan data
laju reaksi dari beberapa data untuk menentukan orde reaksi dari tiap reaktan.
Metode integrasi memiliki kelemahan, yaitu orde reaksi yang didapatkan
kurang akurat apabila terjadi reaksi samping (reaksi paralel) dan reaksi reversibel.
| |
| | A k
A d
- =
dt
.t
] [
] [
ln
0
k
A
A
=
2. Metode Grafik
Pada metode grafik, kita menggambarkan terlebih dahulu setiap data yang
ada. Konstanta laju reaksi dapat ditentukan berdasarkan informasi yang didapat
dari grafik.
Tabel 1. Kurva reaksi berbagai orde







sumber: http://www.colby.edu/chemistry/PChem/notes/1st2ndRate.pdf
3. Metode Diferensiasi
Dalam metode ini, data tidak dikumpulkan dalam bentuk konsentrasi
terhadap waktu, tetapi dinyatakan sebagai laju perubahan konsentrasi waktu
terhadap konsentrasi reaktan. Misalnya, persamaan laju umum yang melibatkan
dua reaktan A dan B yaitu
 (1.1-3)
l (atau m) dapat dievaluasi dari kemiringan plot antara log dan log| | A
(atau log| | B ) dengan menjaga | | B (atau | | A ) tetap, k dapat dihitung dari intersep
dan orde reaksi.
4. Metode Laju Reaksi Awal (Initial Rates Method)
Metode ini dilakukan dengan laju reaksi awal dengan konsentrasi awal
reaktan yang berbeda-beda. Misalnya, laju suatu reaksi = k a
x
b
y
c
z
, maka dalam
metode ini mula-mula a
x
b
y
c
z
dibuat tetap dengan jalan menambahkan a dan b
dalam konsentrasi yang tinggi sehingga banyaknya a dan b yang bereaksi dengan
c dapat diabaikan, dengan demikian persamaan laju reaksinya akan menjadi:
Laju reaksi = k
1
c
2

Dengan mengubah-ubah konsentrasi c, kita dapat mengukur laju awal tiap
reaksi dan dibuat kurva perubahan konsentrasi c terhadap waktu, seperti pada
gambar 1 di bawah ini.
Orde Nol Orde Pertama Orde Kedua
,-
garis horizontal


,-
garis lurus

,-
garis lurus

| |
| | | | B m A l k
dt
A d
log log log log + + = |
.
|

\
|
÷
| |
| | | |
m l
B A k
dt
A d
= ÷
| |
|
.
|

\
|
÷
dt
A d

Gambar 1. Metode laju reaksi awal untuk menentukan orde reaksi
sumber: Bird, Tony. 1993. Kimia Fisik Untuk Universitas. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Misalkan laju reaksi awal adalah γ, maka dari gambar di atas diperoleh:
γ
1
= k’(c
0
)
z
1
(1.1-4)
γ
2
= k’(c
0
)
z
2
(1.1-5)
γ
3
= k’(c
0
)
z
3
(1.1-6)
dengan z = orde reaksi terhadap c, c
0
= konsentrasi awal c, k’ = konstanta laju
reaksi (termasuk di dalamnya a
x
b
y
).
Bila persamaan diatas di-log-kan, akan diperoleh:
log γ = log k’ + z log c
0
(1.1-7)
Jika kita membuat kurva melalui persamaan (1.1-7) di atas diperoleh garis
lurus dengan gradien z. Dengan demikian orde reaksi terhadap c dapat ditentukan.
Kita dapat mengulangi cara di atas untuk reaktan a dan b, sehingga orde reaksi
terhadap a dan b juga dapat ditentukan. Akan tetapi, dengan cara ini sulit untuk
memperoleh nilai orde reaksi yang tepat.
5. Metode Waktu Paruh
Waktu paruh didefinisikan sebagai waktu yang dibutuhkan bila separuh
konsentrasi dari suatu reaktan digunakan. Waktu paruh dapat ditentukan dengan
tepat hanya jika satu jenis reaktan yang terlibat. Namun, jika suatu reaksi
berlangsung antara jenis reaktan yang berbeda, waktu paruh harus ditentukan
terhadap reaktan tertentu saja. Metode ini memerlukan penentuan waktu paruh
suatu zat (t
1/2
) sebagai suatu fungsi konsentrasi. Waktu paruh bergantung pada
konsentrasi awal zat.
Untuk sistem satu komponen, waktu paruh dihubungakan dengan konsentrasi
awalnya oleh persamaan
, untuk n ≠ 1 (1.1-8)


, untuk n = 1 (1.1-8a) dan , untuk n = 2 (1.1-8b)
k A n
t
n
n
. ] ).[ 1 (
1 2
1
0
1
2 / 1 ÷
÷
÷
÷
=
k
t
693 , 0
2 / 1
=
| |
0
2
1
1
A k
t =


Dari persamaan (1.1-8a) terlihat bahwa untuk reaksi orde pertama (n = 1) waktu
paruh tidak dipengaruhi oleh konsentrasi awal, [A]
0
.
Sebagai contoh, untuk reaksi orde kedua, persamaan waktu paruhnya
menggunakan persamaan (1.1-8b), sehingga konstanta laju reaksi (k) dapat
ditentukan dengan memplotkan

terhadap ,-

dihasilkan grafik berupa
garis lurus, dengan perpotongan terletak pada ] /[ 1
0
A dan gradien k.
Metode waktu paruh tidak dapat digunakan oleh reaksi yang konsentrasi A
dan B nya berbeda karena A dan B akan memiliki waktu paruh yang berbeda.
Jadi, metode ini dapat dipakai saat dua molekul yang bereaksi mempunyai
konsentrasi yang sama.

b. Penentuan Laju Reaksi Etanol
Dari metode-metode yang telah dijelaskan pada bagian a, metode yang paling
sesuai untuk menentukan kinetika reaksi etanol berdasarkan data pada soal adalah
metode integrasi. Sebab, dalam metode ini nilai k dihitung dengan menggunakan
persamaan terintegrasi berdasarkan perubahan konsentrasi terhadap waktu. Orde
reaksi diperoleh dari persamaan yang memberikan harga k yang konsisten. Metode
integrasi dapat dilakukan secara analitis ataupun grafik.
Dalam menjawab permasalahan ini, kami melakukan analisis dengan grafik
untuk persamaan reaksi orde pertama dan orde kedua.
- Reaksi Orde Pertama
Persamaan laju reaksi pada reaksi orde satu, yaitu

,-

,-
,-
,-

(1.1-9)
Dengan menyusun dan mengintegrasikannya dengan batas t = 0 → t dan konsentrasi
reaktan = ,-

,-
,
maka

,-
,-

,-
,-

(1.1-10)

,-
,-

,- ,-

(1.1-11)
dengan [A] merupakan konsentrasi etanol dalam darah.

Kemudian, membuat grafik antara ,- sehingga konstanta laju reaksinya
didapat dari nilai positif gradien grafik, sedangkan ,-

adalah intersepnya.

y = -0.0076x - 0.0514
R² = 0.9984
-4
-3.5
-3
-2.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
0 200 400 600
L
n

[
A
]

t (menit)
ln [A] vs Waktu (t)





















Gambar 2. Grafik ,-

Dari grafik di atas, diperoleh persamaan garis , dengan
gradien sebesar . Maka, nilai konstanta laju reaksi adalah

()

Untuk waktu paruh, dapat menggunakan persamaan (1.1-8a) sehingga

- Reaksi Orde Kedua
Hasil pengintegralan persamaan laju reaksi pada reaksi orde dua, yaitu
(1.1-12)




Persamaan (1.1-12) menunjukkan bahwa dengan memplotkan ] /[ 1 A terhadap waktu t
dihasilkan grafik, dengan perpotongan terletak pada ] /[ 1
0
A dan kemiringan garis k.



t
menit
[A] x 10
6

g/cm
3

ln [A]
30 0,699 -0,3581
60 0,622 -0,47482
120 0,413 -0,88431
150 0,292 -1,231
240 0,152 -1,88387
360 0,06 -2,81341
480 0,024 -3,7297
t, min 30 60 120 150 240 360 480
[A] x 10
6

g/cm
3

0,699 0,622 0,413 0,292 0,152 0,060 0,024

,-
1,43062 1,60772 2,42131 3,42466 6,57895 16,6667 41,6667
t .
] [
1
] [
1
0
k
A A
+ =
k
1
k
2

Gambar 3. Grafik 1/[A] terhadap waktu (t)

Dari grafik pada gambar 3, diperoleh persamaan garis ,
dengan gradien sebesar yang merupakan nilai konstanta laju reaksi. Untuk
reaksi orde dua ini, persamaan untuk menentukan waktu paruh dapat menggunakan
peramaan (1.1-8b) sehingga diperoleh

,-

Dari kedua grafik dan perhitungannya tersebut, terlihat bahwa grafik pada reaksi
orde satu memiliki bentuk yang lebih linear dan nilai R
2
yang lebih mendekati 1,
sehingga dapat disimpulkan bahwa reaksi etanol dalam tubuh merupakan reaksi
orde satu dengan konstanta laju reaksi sebesar 0.0076 min
-1
dan waktu
paruhnya adalah 91.203 menit.

2. Jika diasumsikan bahwa reaksi yang terjadi terhadap etanol dalam tubuh
manusia merupakan reaksi konsekutif, yaitu


a. Turunkan persamaan laju reaksi untuk peluruhan reaktan A dan laju
pembentukan spesi B dan C. Asumsikan pada awal reaksi [A] = [A]
o,
[B] = [C]
= 0, dan tentukan konsentrasi tiap spesi pada waktu t.
b. Jika konsentrasi maksimum B dicapai pada saat t
m,
dimana

(

,-

)
Tentukan persamaan yang menunjukkan konsentrasi B saat t
m.
y = 0.082x - 6.319
R² = 0.8403
-10
0
10
20
30
40
50
0 100 200 300 400 500 600
1
/
[
A
]

t, min
Kurva 1/[A] vs t
Jawaban
a. Persamaan laju reaksi untuk peluruhan reaktan A, laju pembentukan spesi B
dan C, dan konsentrasi tiap spesi pada waktu t. Asumsi [A] = [A]
o,
[B] = [C] = 0
Reaksi yang berlangsung adalah:

Karena reaksi pertama merupakan reaksi orde satu, laju peluruhan konsentrasi A
dapat dituliskan
,-

,-
,-
,-

(1.2-1)
Dengan menyusun dan mengintegrasikannya dengan batas t = 0 → t dan
konsentrasi reaktan = ,-

,-
,
maka

,-
,-

,-
,-

(1.2-2)

,-
,-

,- ,-

(1.2-3)
Jadi, konsentrasi A pada waktu t dapat ditulis sebagai berikut:
,- ,-

atau ,- ,-

(1.2-4)

Dalam menentukan laju pembentukan spesi B terhadap waktu, kita memiliki dua
persamaan, yaitu
.
,-

/

,- .
,-

/

,- (1.2-5)
sehingga laju pembentukan spesi B total adalah
.
,-

/ .
,-

/

.
,-

/

,-

,- (1.2-6)
Dengan mensubstitusi konsentrasi A dari persamaan (1.2-4) ke persamaan (1.2-
6), maka diperoleh
,-

,-

,- (1.2-7)
Bila persamaan (1.2-7) diintegralkan, akan didapatkan persamaan konsentrasi B pada
waktu t sebesar
,-

,-

(

) (1.2-8)
Persamaan laju reaksi pembentukan spesi C, yaitu:
,-

,- (1.2-9)

Bila pada saat t = 0, [A] = [A]
0
dan [B] = [C] = 0, dan diasumsikan keadaan tunak,
maka penurunan untuk mendapatkan persamaan konsentrasi spesi C pada waktu t
adalah sebagai berikut:

,-
,-

,-

∫ ,-

(

)
∫ (

)

,-

,-

,-

(

)
[(

)]

,-

,-

(

)
[(

) (

)]
,-

,-

(

)
*

+
,-
,-

(

)
(

)

,-

(

)
(

)

,- ,-

,-

(

)
(

)

,- ,-

0 .

/ (

)1 (1.2-10)

,- ,-

.

/ (1.2-11)

b. Persamaan konsentrasi B saat t
m

Pada persamaan (1.2-8) telah diketahui persamaan konsentrasi B pada waktu t,
yakni ,-

,-

(

), dan dari soal diketahui bahwa konsentrasi B
mencapai maksimum pada saat t
m
. Hal ini berarti untuk mencari konsentrasi B
maksimum, kita mensubstitusi nilai t dalam persamaan (1.2-8) dengan nilai t
m
pada
soal, sehingga diperoleh
,-

,-

,

(

,-

)

(

,-

)
-
,-

,-

,
(
,-

)

(

,-

)
-
,-

,-

,
,-

(
,-

)- (1.2-12)

3. Kita mengetahui ada beberapa jenis reaksi, tentu saja salah satunya adalah reaksi
konsekutif, seperti disebutkan di soal 2. Turunkanlah persamaan laju reaksi orde
n untuk setiap jenis reaksi tersebut.
Jawaban
Persamaan laju reaksi untuk setiap jenis reaksi sebagai berikut:
a. Reaksi Irreversibel
Reaksi irreversibel adalah reaksi kimia dimana ketika suatu reaktan telah
berubah menjadi produk, maka produk yang telah terbentuk tidak akan dapat
mengalami reaksi kebalikan yang membuatnya dapat berubah kembali menjadi
reaktan. Reaksi irreversibel merupakan reaksi paling umum dan yang paling sering
kita jumpai. Persamaan laju reaksi untuk reaksi ini sama dengan persamaan umum
dalam persamaan laju reaksi. Jika terdapat suatu reaksi irreversibel seperti
a A + b B → c C + d D
Persamaan laju reaksinya adalah:


,-


,-


,-


,-

(1.3-1)
atau
,-

,-

(1.3-2)
Dengan x adalah orde reaksi zat A dan y adalah orde reaksi zat B. bila reaksi
merupakan reaksi elementer, maka x dan y sama dengan koefisien dari zat tersebut,
tetapi bila reaksi merupakan reaksi non-elementer, maka orde reaksi tidak sama
dengan koefisien dari zat tersebut. Contoh dari reaksi irreversibel adalah:
2 N
2
O
5
→ 4 NO
2
+ O
2

Dari reaksi diatas maka persamaan laju reaksinya adalah

,

-


,

-


,

-

,

-

b. Reaksi Reversibel
Reaksi reversibel adalah reaksi yang memungkinkan produk yang telah
terbentuk kembali menjadi reaktan dengan sendirinya. Dalam menjelaskan
persamaan laju reaksi pada reaksi reversibel digunakan contoh reaksi esterifikasi
dibawah ini:
k
1
C
2
H
5
OH + CH
3
COOH CH
3
COOC
2
H
5
+ H
2
O
k
2
Konsentrasi awal : a mol/liter a mol/liter - -
Konsentrasi reaksi : x x x x
Konsentrasi pada t : (a - x) (a - x) x x

Jika a adalah konsentrasi C
2
H
5
OH dan CH
3
COOH awal, sedangkan x adalah
konsentrasi saat terjadinya reaksi, dan (a-x) adalah konsentrasi pada waktu t. Maka
terdapat dua laju reaksi, yaitu:
Reaksi ke kanan: .

/

( )

(1.3-3)
Reaksi ke kiri: .

/

(1.3-4)
Reaksi di atas adalah reaksi orde 2, dan bila dianggap reaksi tersebut
berlangsung dalam satu tahap, maka laju reaksi totalnya dapat dituliskan sebagai:


.

/

.

/

(1.3-5)

*

( )

+ (

) (1.3-6)
Pada saat tercapai kesetimbangan, reaksi ke kanan sama dengan reaksi ke kiri.
Jadi, tidak ada peningkatan produk sehingga ⁄ , maka laju reaksinya dapat
ditulis menjadi:
*

(

)

+ (

)

(

)

(1.3-7)
dimana
K = konstanta kesetimbangan
k
1
= konstanta laju reaksi ke kanan
k
2
= konstanta laju reaksi ke kiri
X
e
= konsentrasi pada saat setimbang

c. Reaksi Konsekutif (Seri)
Pada reaksi ini, produk dari sebuah reaksi menjadi reaktan dalam reaksi
selanjutnya, hal ini disebut dengan mekanisme reaksi berkelanjutan. Kita akan
membahas kasus sederhana dari dua reaksi konsekutif searah orde satu : A→ B
dengan konstanta laju reaksi k
1
dan B → C dengan konstanta laju reaksi k
2
:

dimana untuk menyederhanakan, kita mengasumsikan koefisien stoikiometri per
kesatuan. Karena reaksi diasumsikan orde satu, maka laju dari reaksi pertama dan
kedua adalah r
1
= k
1
[A] dan r
2
= k
2
[B]. Laju perubahan konsentrasi B terhadap
waktu dikarenakan reaksi pertama dan kedua masing-masing adalah
.
,-

/

,- .
,-

/

,- (1.3-8)
sehingga .
,-

/ .
,-

/

.
,-

/

,- –

,- (1.3-9)
Kita mempunyai persamaan:
,-

,-
,-

,-

,-
,-

,-
Apabila hanya A yang ada dalam sistem pada t = 0, maka
,-

,-

,-

Karena reaksi ini merupakan reaksi orde pertama, maka dalam hal ini berlaku
persamaan ,- ,-

(1.3-10)
Setelah disubtitusi, menghasilkan:

,-

,-

,- (1.3-11)
Jika persamaan ini diintegralkan, maka akan menghasilkan:
,-

,-

(

) (1.3-12)
Untuk menghitung [C], kita dapat mengintegralkan persamaan laju
pembentukan spesi C, seperti pada jawaban soal bagian I nomor 2a, sehingga
diperoleh ,- ,-

.

/ (1.3-13)

d. Reaksi Paralel
Reaksi paralel adalah reaksi-reaksi yang menggunakan reaktan yang sama dan
berlangsung pada saat yang bersamaan. Pada reaksi ini, zat yang bereaksi selain
dihasilkan produk utama, dihasilkan pula satu atau lebih produk samping. Contoh
dari reaksi ini adalah reaksi nitrasi fenol, saat fenol di nitrasi oleh HNO
3
, fenol dapat
membentuk orto-nitrofenol dan para-nitrofenol secara bersamaan. Berikut adalah
reaksinya:


+ HNO
3




+ H
2
O


Persamaan laju reaksi dari pembentukan orto-nitrofenol adalah
()

( )( ) (1.3-14)
Sedangkan persamaan laju reaksi untuk pembentukan para-nitrofenol adalah
()

( )( ) (1.3-15)
Sehingga laju reaksi totalnya adalah

(

)( )( ) (1.3-16)
Dengan a dan b berturut-turut adalah konsentrasi fenol dan asam nitrat pada awal
reaksi, x adalah jumlah zat yang bereaksi dan (a-x) dan (b-x) adalah konsentrasi pada
saat t.
e. Reaksi Rantai
Reaksi rantai adalah reaksi yang berlangsung dalam suatu rangkaian reaksi yang
berurutan yang diinisiasi oleh proses primer yang sesuai. Dalam reaksi rantai,
senyawa intermediet reaktif (sering juga disebut chain carrier) dikonsumsi, reaktan
dikonversi menjadi produk, dan kemudian senyawa intermediet reaktif diregenerasi
kembali. Regenerasi dari senyawa intermediet reaktif yang kemudian mengijinkan
siklus ini terjadi berulang-ulang. Kebanyakan dari reaksi pembakaran, peledakan,
dan adisi polimerisasi adalah reaksi rantai dan biasanya melibatkan radikal bebas
sebagai senyawa intermediet. Reaksi rantai juga banyak ditemui dalam oksidasi dari
berbagai macam gas hidrokarbon, phosfine, dan metil alkohol; dalam dekomposisi
ozon dan dalam reaksi fotokimia.
Salah satu reaksi rantai yang paling dimengerti adalah reaksi antara H
2
dan Br
2
.
Reaksi umum dari reaksi ini adalah:
H
2
+ Br
2
 2 HBr (1.3-17)
Pada tahun 1906, Bodenstein dan Lind menemukan bahwa laju reaksi dari reaksi di
atas tidak bisa diekspresikan dengan persamaan laju dalam basis sederhana apapun.
Laju pada persamaan di atas ternyata dapat ditentukan secara eksperimen, persamaan
lajunya adalah
+ HNO
3




+ H
2
O
,-

,

-,

-

,-
,

-
(1.3-18)
Penjelasan yang memuaskan dari persamaan (1.3-17) kemudian ditemukan dengan
membagi reaksi menjadi 5 tahap yaitu:
(1) Br
2
 2 Br dengan konstanta laju k
1

(2) Br + H
2
 HBr + H dengan konstanta laju k
2

(3) H + Br
2
 HBr + Br dengan konstanta laju k
3

(4) H + HBr  H
2
+ Br dengan konstanta laju k
4

(5) Br + Br  Br
2
dengan konstanta laju k
5


Tahap (1) disebut juga tahap inisiasi (initation) karena terjadinya pembentukan
intermediet reaktif Br, sedangkan tahap (2) dan (3) disebut juga tahap
perbanyakan/propagasi (propagation) karena terjadinya reaksi pembuatan HBr
(produk yang diinginkan) dan juga terjadi regenerasi Br (bahan untuk reaksi rantai-
senyawa intermediet). Tahap (4) disebut juga tahap penghambatan/inhibisi
(inhibition) karena terjadi pemakaian produk HBr yang mengecilkan laju, dan tahap
(5) disebut tahap pemutusan/terminasi (termination) karena terjadi reaksi
penghilangan Br, reaksi tahap (5) disebut juga chain-breaker.
Faktor lain yang penting dalam pemutusan atau terminasi adalah benturan dari
zat yang mem-propagasi dengan dinding dari wadah tempat reaksi berlangsung.
Benturan ini dapat menghasilkan deaktifasi zat atau reaksi antara zat dengan
dinding. Konsekuensi dari hal dalam kedua kasus diatas adalah rantai yang rusak.
Menurut mekanisme diatas, HBr dibentuk pada tahap (2) dan (3), dan kemudian
menghilang pada tahap (4). Karena itu, reaksi pembentukan HBr diberikan dengan
,-

,-,

-

,-,

-

,-,- (1.3-19)
Karena atom H dan Br hanya intermediet yang ada sebentar saja, karena itu kita
dapat mengaplikasikan prinsip steady state, sehingga diperoleh

,-

,-,

-

,-,

-

,-,- (1.3-20)

,-

,

-

,-,

-

,-,-

,-,

-

,-

(1.3-21)

Ketika persamaan (1.3-20) dan (1.3-21) dijumlah, maka

,

-

,-

,- 0

,

-

1

(1.3-22)
Dan ketika persamaan (1.3-22) disubtitusikan ke persamaan (1.3-20), maka
menghasilkan
,-

(

⁄ )

,

-,

-

,

-

,-
(1.3-23)
Persamaan (1.3-23) ketika disubstitusi ke persamaan (1.3-19), maka akan
memberikan

,-

(

⁄ )

,

-,

-

,-
,

-
(1.3-24)
Dapat dilihat bahwa persamaan (1.3-24) hampir sama dengan persamaan (1.3-
19), dimana k = 2k
2
(k
1
/k
3
)
1/2
dan k’ = k
4
/k
3
; k dan k’ merupakan gabungan dari
berbagai macam konstanta pada tahap reaksi individu.




Bagian ii
T, K 295 295 223 218 213 206 200 195
k, 10
6
dm
3

mol
-1
s
-1
3,70 3,55 0,494 0,452 0,379 0,295 0,241 0,271

Pertanyaan:
II. Polutan Metana
1. Jelaskan reaksi elementer yang terjadi antara metana dengan radikal hidroksil,
dan produk apakah yang terbentuk?
Tahap inisiasi
Pembentukan radikal-radikal bebas hidroksil dari asam peroksida
HO OH 2HO
*
Tahap Propagasi
Radikal bebas hidroksil mengawali sederetan reaksi dalam mana terbentuk radikal
bebas baru
HO*

CH
3
H
2
O + *CH
3
*CH
3
H

OH CH
3
OH + *OH
Tahap Terminasi
Reaksi yang memusnahkan radikal bebas atau yang mengubah radikal bebas menjadi
radikal bebas yang stabil dan tak reaktif.
HO* + *CH
3
CH
3
OH
*CH
3
+ *CH
3
CH
3
CH
3
Dari keseluruhan tahap di atas dapat kita buat suatu reaksi elementer metana dengan
radikal hidroksil,
CH
4
+ *OH CH
3
OH + CH
3
CH
3
+ H
2
O
2. Turunkanlah persamaan Arhennius yang menghubungkan antara laju konstanta
k dan energi aktivasi E
a
. Jelaskan semua istilah yang ada dalam persamaan
tersebut.
Persamaan Arrhenius menjelaskan bahwa variasi konstanta laju reaksi terhadap
temperatur dapat direpresentasikan dengan persamaan yang serupa dengan konstanta
kestimbangan, yaitu :

Jika persamaan di atas diintegrasikan, kita dapat memperoleh

atau

(

)

dimana C’ dan C adalah konstanta integrasi. Jika kita mengintegrasikan pada batas
antara k = k
1
pada T = T
1
dan k = k
2
dan T = T
2,
akan didapatkan :

(

)
Pada umumnya, kita mengetahui persamaan Arrhenius adalah sebagai berikut :



k : tetapan laju reaksi
A : tetapan Arrhenius yang harganya khas untuk setiap reaksi
E
a
: energi pengaktifan
R : tetapan gas universal = 0.0821.atm/mol
o
K = 8.314 joule/mol
o
K
T : suhu reaksi (
o
K)
atau


dimana
Temperatur atau suhu, T
Agar berlaku dalam persamaan, suhu harus diukur dalam kelvin.
Konstanta atau tetapan gas, R
Tetapan ini datang dari persamaan, pV = nRT, yang berhubungan dengan tekanan,
volume dan suhu dalam jumlah tertentu dari mol gas.
Energi aktivasi, E
A

Ini merupakan energi minimum yang diperlukan bagi reaksi untuk berlangsung. Agar
berlaku dalam persamaan, kita harus mengubahnya menjadi satuan Joule per mole,
bukan kJ mol
-1

e
Harga dari satuan ini adalah 2.71828 … dan ini merupakan satuan matematis seperti
layaknya pi.
Ekspresi, e
-(E
A
/RT)

Ekspresi ini menghitung fraksi dari molekul yang berada dalam keadaan gas dimana
memiliki energi yang sama atau lebih dari energi aktivasi pada suhu tertentu.
Faktor frekuensi, A
Kita juga dapat menyebut ini sebagai faktor pre-eksponensial atau faktor sterik.
A merupakan istilah yang meliputi faktor seperti frekuensi tumbukan dan orientasinya.
A sangat bervariasi bergantung pada suhu walau hanya sedikit. A sering dianggap
sebagai konstanta pada jarak perbedaan suhu yang kecil.
3. Terangkan bagaimana energi aktivasi dapat diukur secara eksperimen dan
jelaskan bagaimana data dapat dimanipulasi untuk mendapatkan nilai E
A
.
Pengukuran E
a

Plot Arrhenius
Plot Arrhenius digunakan untuk mempelajari bagaimana temperatur berpengaruh pada
laju reaksi. Plot Arrhenius diperoleh dengan menggrafikan nilai logaritmik konstanta
laju, K, dengan invers suhu (1/T). Garis kemiringan negatif yang dihasilkan berguna
untuk mencari komponen yang hilang dari persamaan Arrhenius. Ekstrapolasi garis
kembali ke sumbu y, menghasilkan intersep yang merupakan nilai ln A. Kemiringan
garis adalah sama dengan energi aktivasi negatif dibagi dengan gas konstan Plot
Arrhenius diperoleh dengan menggrafikan nilai logaritmik konstanta laju, K, dengan
invers suhu (1/T)., R.

Penentuan E
a
reaksi secara grafis

⁄ ()
Persamaan Arrhenius dapat disusun kembali untuk menghadapi situasi tertentu
(Persamaan x). Untuk membuatnya lebih mudah untuk menghubungkan persamaan
Arrhenius dengan plot Arrhenius, persamaan Arrhenius dapat disusun kembali ke dalam
format grafis linier, y = mx + b, dengan mengambil logaritma dari kedua belah pihak.
Bentuk persamaan Arrhenius memudahkan untuk menentukan slope dan y-intercept
dari plot Arrhenius. Hal ini juga nyaman untuk dicatat bahwa persamaan di atas
menunjukkan hubungan antara suhu dan laju konstan. Dengan naiknya suhu, tingkat
menurun konstan ketika persamaan di atas diplot. Hal yang sama berlaku ketika suhu
menurun, meningkatkan laju konstan. Dari hubungan ini, kita dapat menyimpulkan
bahwa tingkat konstan berbanding terbalik dengan suhu.

(

) ()
Kita juga dapat menggunakan bentuk terintegrasi dari persamaan Arrhenius (Persamaan
y). Variasi dari persamaan Arrhenius melibatkan penggunaan dua plot Arrhenius
dibangun pada grafik yang sama untuk menentukan energi aktivasi. Dari persamaan di
atas, kita dapat melihat pengaruh suhu terhadap konstanta laju ganda. Hal ini
memungkinkan kita untuk dengan mudah menyimpulkan tingkat konstanta sensitivitas
terhadap perubahan aktivasi energi dan suhu. Jika energi aktivasi yang tinggi untuk
kisaran suhu tertentu, maka laju konstan akan sangat sensitif. Ini berarti bahwa
perubahan suhu akan berdampak besar pada laju yang konstan. Jika energi aktivasi
yang rendah untuk kisaran suhu tertentu, maka tingkat konstan tidak akan sensitif. Ini
berarti bahwa perubahan suhu akan memiliki sedikit efek pada laju konstan. Secara
grafis kita bisa melihat fenomena ini dari contoh berikut (berdasarkan hasil
eksperimen).

Table 1. Tabel Data Eksperimental Sampel
(Petrucci, RH, WS Harwood, et al, General Chemistry:

Grafik 2 menunjukkan bahwa plot dengan kemiringan yang lebih besar memiliki energi
aktivasi yang lebih tinggi dan plot dengan kemiringan yang curam kurang memiliki
energi aktivasi yang lebih kecil. Ini berarti bahwa selama rentang suhu yang sama,
reaksi dengan energi aktivasi yang lebih tinggi akan berubah lebih cepat dari reaksi
dengan energi aktivasi yang lebih rendah.

4. Tentukan nilai A dan E
A
dari reaksi oksidasi tersebut berdasarkan data yang
diberikan.
T, K 295 295 223 218 213 206 200 195
k, 10
6
dm
3
mol
-1
s
-1
3,70 3,55 0,494 0,452 0,379 0,295 0,241 0,217

Jawaban:


Plot Arrhenius diperoleh dengan menggrafikan nilai logaritmik konstanta laju, K,
dengan invers suhu (1/T). Garis kemiringan negatif yang dihasilkan berguna untuk
Grafik 2. Plotterisasi Integradi Persamaan Arhenius (Alberty, RA and RJ Silbey, Physical Chemistry, 1997)

mencari komponen yang hilang dari persamaan Arrhenius, dalam hal ini yaitu nilai A
dan E
a
. Ekstrapolasi garis kembali ke sumbu y, menghasilkan intersep yang merupakan
nilai ln A. Kemiringan garis adalah sama dengan energi aktivasi negatif dibagi dengan
konstanta gas. Plot Arrhenius diperoleh dengan menggrafikan nilai logaritmik konstanta
laju k, sebagai sumbu y, dengan invers suhu (1/T) sebagai x.
T K x y
295 0,0000037 0,00339 -12,507
295 0,00000355 0,00339 -12,549
223 0,000000494 0,00448 -14,521
218 0,000000452 0,00459 -14,61
213 0,000000379 0,00469 -14,786
206 0,000000295 0,00485 -15,036
200 0,000000241 0,005 -15,238
195 0,000000217 0,00513 -15,343

Hasil plot data di atas, menghasilkan grafik sebagai berikut :

Dari hasil plot data pada grafik di atas didapatkanlah persamaan garis yaitu
y = -1.675,180x - 6,884
nilai gradien menunjukkan nilai E
a
/R, sehingga
-1675,180 = -E
a
/0,0821 L.atm/mol.K
E
a
= -(-1675,180 x 0,0821)
E
a
= 137,53 L.atm/mol
E
a
= 1,39 x 10
4
J/mol
y = -1,675.180x - 6.884
R² = 0.996
-18
-16
-14
-12
-10
-8
-6
-4
-2
0
0 0.001 0.002 0.003 0.004 0.005 0.006
l
n

k

1/T
Grafik 1/T vs Ln k

Nilai intersep menunjukkan nilai ln A, sehingga
-6,884 = ln A
A = 1,024 x 10
3
L.atm/mol.s

III.

1. Jelaskan sumber keberadaan senyawa – senyawa silane di lingkungan dan bahaya apa
saja yang bisa ditimbulkan ileh senyawa tersebut terhadap manusia dan lingkungannya.
2. Berdasarkan tahap reaksi yang diberikan, turunkanlah persamaan yang menunjukkan
laju konsumsi silane.
3. Berikanlah saran Anda untuk meminiminalisasi keberadaan senyawa silane di
lingkungan

III. Pencemaran Silane
Silane merupakan gas toksik yang sangat mematikan. Silane dapat teroksidasi oleh nitrous
oxide mengikuti mekanisme reaksi rantai berikut ini:

(inisiasi)

(propagasi)

(

)

(terminasi)

1. Jelaskan sumber keberadaan senyawa-senyawa silane di lingkungan dan bahaya apa saja
yang bisa ditimbulkan oleh senyawa tersebut terhadap manusia dan lingkungannya.

Silane (SiH
4
) adalah gas tidak berwarna dengan bau yang menjijikkan pada suhu kamar
dan tekanan atmosfer. Silane stabil dalam wadah logam, dan dalam keadaan murni akan
terbakar di udara.

2. Berdasarkan tahap reaksi yang diberikan, turunkanlah persamaan laju konsumsi silane.
,

-

,-,

-

,-,

-

,

-,

-

,-

,

-

,-,

-

,

-

,-,

- (1)

,-

,-,

-

,-,

- = 0

,-,

-

,-,

-

,-

,- (2)

,

-

,

-

,

-,

-

,

-,

-

,

- (3)
,

-

,

-,

-

,

-,

-

,

-,

-

,

-,

-

,

-,

-

,

-,

- (4)

Substitusi persamaan (3) ke (4)

,

-,

-

,

-

,

-,

- (5)

,

-

,-,

-

,-,

-

,

-,

-

,

-,

-

,

-,

-
Substitusi persamaan (1), (2), dan (4), menjadi:

,

-

,

-,

-

,

-

,

-,

- (6)

Substitusi persamaan (6) ke (5), menjadi:

,

-,

-

,

-

,

-

,

-,

- (7)

Jadi,
,

-

,-,

-

,-,

-

,

-,

-
,

-

,

-

,

-
,

-

,

-

Laju konsumsi silane =
,

-

,

-




You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->