P. 1
tugas tekon 2

tugas tekon 2

|Views: 4,541|Likes:
Published by Dzikry Brak

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Dzikry Brak on Aug 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/10/2015

pdf

text

original

Adapun fungsi dari dinding yaitu:

1.

Dinding berfungsi sebagai pemisah antar ruang, baik antar ruang dalam

maupun ruang dalam dan ruang luar.

2.

Dinding berfungsi sebagai kenyamanan, kesehatan, keamanan dan

keindahan

−Sebagai pembatas ruang, memiliki sifat : privasi dan dalam skala, warna,

tekstur .

−Sebagai peredam terhadap bunyi, baik dari dalam maupun dari luar.

−Sebagai pelindung terhadap gangguan dari luar (sinar matahari, isolasi terhadap

suhu, air hujan dan kelembaban, hembusan angin, dan gangguan dari luar

lainnya).

− Sebagai penahan radiasi sinar atau zat-zat tertentu seperti pada ruang radiologi,

ruang operasi, laboratorium, dan lain-lain.

−Sebagai penyimpan surat-surat berharga seperti brankas di bank dan lain-lain

−Sebagai pembentuk ruang, menambah keindahan ruang dan point of interest.

−Sebagai fungsi artistik tertentu misalkan dinding bangunan untuk pencahayaan

alami.

Bangunan khususnya bangunan arsitektur pada era global warming atau

pemanasan global yang mengakibatkan iklim tidak menentu, cuaca yang berubah-

ubah, membuat bumi menjadi tidak stabil dan berakibat pergeseran suhu secara

tiba-tiba, pergeseran lempeng bumi dll. Hal ini dikarenakan eksploitasi bumi yang

semakin tidak terkendali, untuk memenuhi kebutuhan manusia yang semakin

meningkat, khususnya sumber energi tak tergantikan seperti minyak bumi, yang

6

oleh manusia digunakan sebagai bahan utama seperti bahan bakar, penerangan dll.

Oleh karena itu dengan berjalannya waktu banyak manusia sadar dan mengurangi

penggunaan energi tak tergantikan dengan mengandalkan energi yang sudah

tersedia dan tidak kurang dalam kualitas dan kuantitas. Contoh nyata adalah

penggunaan listrik untuk menyalakan tabung floar (lampu neon) yang listrik sendiri

memakai bahan baku utama sebagai pembangkit adalah minyak bumi.

Untuk menghindari pemakaian lampu, maka bangunan harus mengandalkan

pencahayaan alami sebagai sumber penerangan, dan itu terdapat pada cahaya

matahari, untuk memasukan cahaya matahri ke bangunan harus ada bukaan pada

kulit bangunan. Ada bebrapa macam contoh bangunan yang khususnya bangunan

yang relatif baru dan menerapkan sistem pencahayaan matahari khususnya pada

siang hari, bangunan-bangunan tersebut bahkan termasuk bangunan dengan desain

arsitektur yang cukup fenomenal pada saat ini. Bangunan yang pertama adalah

perpustakaan Alexandria di Mesir. Bangunan ini berbentuk lingkaran dan bangunan

ini sendiri berorientasi langsung terhadap matahari (mengahadap ke atas), atau

menghadap ke atas, yang berfungsi untuk mengaplikasikan pencahayaan alami.

Gambar 2.1 Perpustakaan Alexandria Gambar 2.2 Interior perpustakaan Alexandria

Pada bangunan gambar 2.1. Bangunan tersebut sangat banyak sekali

bukaan-bukaan baik bukaan “hidup” maupun bukaan “mati”. Bukaan “hidup”

7

dalam hal ini bukaan yang memang tidak terhalng apapun dan tidak secara langsung

berorientasi ke atas, tetapi menghadap secara vertikal yang berfungsi sebagai

sirkulasi udara, sedangkan untuk bukaan “mati” secara langsung menghadap ke atas

dan tertutup oleh sesuatu bahan yang bahan itu sendiri untuk menghindari direct

matahari.

Pada bangunan yang kedua adalah masjid di indoensia karya arsitek Ridwan

Kamil, pada bangunan ini terdapat bukaan “hidup” dalam ukuran kecil seukuran

batu bata, perletakan bukaan ini disusun secara tertata terukur meskipun tidak

membnetuk tulisan atau ggambar tertentu, dan diletakan secara menyebar baik

secara vertikal maupun horizontal pada seluruh dinding bangunan kecuali atap.

Pada bangunan gambar 2.4 terlihat jelas pada saat siang hari pencahayaan sangat baik

tanpa dibantu pencahayaan buatan (lampu).

Gambar 2.3 Masijd karya ridwan kamil

Gambar 2.4 Interior Masjid

3.

Dinding berfungsi sebagai konstruksi

−Sebagai pembatas dan penahan struktur (untuk fungsi tertentu seperti

dinding, lift, resovoar dan lain-lain)

8

−Sebagai pemikul. Itulah sebabnya konstruksinya harus kuat dan kokoh agar

mampu menahan beban super struktur, bebannya sendiri serta beban

horizontal.

−Sebagai pembatas/partisi

3.Jenis Dinding

Adapun jenis dinding yaitu:

1.Dilihat dari macamnya, dinding dapat digolongkan menjadi 3 bagian, yaitu:

a)Dinding Interior. Dinding Interior adalah dinding yang dipakai di dalam

ruangan. Ada pemilik rumah yang menginginkan rumahnya memiliki

dinding permanen atau dinding massive, ada juga pemilik yang

menggunakan dinding bangunan yang mudah seperti menggunakan partisi.

Dinding partisi ini merupakan sekat pembatas yang dapat diangkat atau

dipindahkan.

b)Dinding Exterior. Adalah dinding yang letaknya di luar ruangan. Karena

terletak di luar ruangan maka dinding exterior harus kuat, indah, dan tahan

cuaca, terutama disesuaikan dengan cuaca daerah sekitar. Disebut harus kuat

karena dinding exterior tersebut mengalami kontak langsung dengan kondisi

lingkungan seperti perubahan cuaca. Di daerah yang sering terjadi gempa,

sering hujan, dan tingkat cuaca panasnya tinggi, pemilihan jenis materialnya

untuk dinding sangat berpengaruh terhadap kekuatan dinding tersebut.

Sementara itu, disebut indah karena penampakan dari luar akan menjadi

nilai tambah pada sebuah rumah atau bangunan bila penampilannya indah.

9

Gambar 2.5 Eksterior Rumah Tinggal

c)Dinding Fungsi Khusus. Bila dinding mempunyai fungsi khusus, tentu

jenisnya disesuaikan dengan fungsi yang harus diembannya. Misalnya

dinding kedap suara, tentu dinding tersebut harus terbuat dari bahan akustik

yang disesuaikan dengan tingkat ambang kebisingan yang dapat ditoleran.

2.Ditinjau dari bahan mentah yang dipakai, dinding bangunan dapat dibedakan

atas:

a)

Dinding Bata cetak/bata kapur, adalah batu buatan yang dibuat dari

campuran beberapa bahan dengan perbandingan tertentu, Umumnya

digunakan pada rumah-rumah sederhana di perkampungan, pagar pembatas

tanah dan lain sebagainya.

b)

Dinding Bata celcon atau hebel, terbuat dari pasir silika. Harganya

lebih mahal dari pada bata merah. Ukuran umumnya 10 cm x 19 cm x 59

cm.

10

c)

Dinding Partisi, bahan yang dipakai umumnya terdiri dari lembaran

multiplek atau papan gipsum dengan ketebalan 9-12 mm.

d)

Dinding Batako dan blok beton, adalah batu buatan yang dibuat

daricampuran bahan mentah: tras+ kapur + pasir dengan perbandingan

tertentu. Batu buatan jenis ini bentuknya berlubang, model dan lubangnya

dibuat bermacam variasi model. Batako merupakan material untuk dinding

yang terbuat dari batu buatan/ cetak yang tidak dibakar. Terdiri dari

campuran tras, kapur (5 : 1), kadang – kadang ditambah PC. Karena

dimensinya lebih besar dari bata merah, penggunaan batako pada bangunan

bisa menghemat plesteran 75%, berat tembok 50% - beban pondasi

berkurang. Selain itu apabila dicetak dan diolah dengan kualitas yang baik,

dinding batako tidak memerlukan plesteran+acian lagi untuk finishing.Blok

beton, adalah batu buatan yang dibuat dari campuran bahan mentah: semen

+ pasir dengan perbandingan tertentu, sama juga dengan bataco, blok beton

ini juga berluban.

e)

Dinding Batu bata (bata merah), Dinding bata merah terbuat dari

tanah liat/ lempung yang dibakar. Untuk dapat digunakan sebagai bahan

bangunan yang aman maka pengolahannya harus memenuhi standar

peraturan bahan bangunan Indonesia NI-3 dan NI-10 (peraturan bata

merah). Dinding dari pasangan bata dapat dibuat dengan ketebalan 1/2 batu

(non struktural) dan min. 1 batu (struktural). Dinding pengisi dari pasangan

bata 1/ 2 batu harus diperkuat dengan kolom praktis, sloof/ rollag, dan

ringbalk yang berfungsi untuk mengikat pasangan bata dan menahan/

menyalurkan beban struktural pada bangunan agar tidak mengenai pasangan

11

dinding bata tsb. Pengerjaan dinding pasangan bata dan plesterannya harus

sesuai dengan syarat-syarat yang ada, baik dari campuran plesterannya

maupun teknik pengerjaannya. Pada umurnnya merupakan prisma tegak

(balok) dengan penampang empat persegi panjang, ada juga batu bata yang

berlubang-lubang, batu bata semacam ini kebanyakan digunakan untuk

pasangan dinding peredam suara. Ukuran batu bata di berbagai tempat dan

daerah tidak sama besamya disebabkan oleh karena belum ada keseragaman

ukuran dan teknik pengolahan. Ukuran batu bata umumnya berkisar 22 x

10,5 x 4,8 cm sampai 24 x 11,5 x 5,5 cm.

f)

Dinding Kayu Log/ Batang Tersusun, Kontruksi dinding seperti ini

umumnya ditemui pada rumah-rumah tradisional di eropa timur. Terdiri dari

susunan batang kayu bulat atau balok. Sistem konstruksi seperti ini tidak

memerlukan rangka penguat/ pengikat lagi karena sudah merupakan dinding

struktural.

g)

Dinding Papan, Dinding papan biasanya digunakan pada bangunan

konstruksi rangka kayu. Papan digunakan untuk dinding eksterior maupun

interior, dengan sistem pemasangan horizontal dan vertikal. Konstruksi

papan dipaku/ diskrup pada rangka kayu horizontal dan vertikal dengan

jarak sekitar 1 meter (panjang papan di pasaran ± 2 m, tebal/ lebar beraneka

ragam : 2/ 16, 2/20, 3/ 25, dll). Pemasangan dinding papan harus

memperhatikan sambungan/ hubungan antar papan (tanpa celah) agar air

hujan tidak masuk. Selain itu juga harus memperhatikan sifat kayu yang bisa

mengalami muai dan susut.

12

h)

Dinding Sirap, Dinding sirap untuk bangunan kayu merupakan

material yang paling baik dalam penyesuaian terhadap susut dan muai.

Selain itu juga memberikan perlindungan yang baik terhadap iklim, tahan

lama dan tidak membutuhkan perawatan. Konstruksi dinding sirap dapat

dipaku (paku kepala datar ukuran 1”) pada papan atau reng, dengan 2 – 4

lapis tergantung kualitas sirap. (panjang sirap ± 55 – 60 cm).

i)

Dinding Batu Alam, Dinding batu alam biasanya terbuat dari batu

kali utuh atau pecahan batu cadas. Prinsip pemasangannya hampir sama

dengan batu bata, dimana siar vertikal harus dipasang selang-seling. Untuk

menyatukan batu diberi adukan (campuran 1 kapur : 1 tras untuk bagian

dinding dibawah permukaan tanah, dan ½ PC : 1 kapur : 6 pasir untuk

bagian dinding di atas permukaan tanah). Dinding dari batu alam umumnya

memiliki ketebalan min. 30 cm, sehingga sudah cukup kuat tanpa kolom

praktis, hanya diperlukan.

3.Ditinjau dari jenisnyanya Terdapat 3 jenis utama dinding, yaitu:

a)

Dinding struktural adalah dinding bangunan, seperti dinding geser

b)

Dinding pembatas (boundary) seperti dinding batu bata, batako,

partisi dll.

c)

Dinding penahan (retaining). Seperti turap

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->