Ketentuan Islam Tentang

KETENTUAN ISLAM TENTANG PERADILAN DAN HIKMAHNYA

DISUSUN OLEH : NAMA NIM
1

: SITI JUARIAH : 102320071

FAKULTAS MATA KULIAH DOSEN PENGAMPU

: TARBIYAH PAI / 4 C : FIQH ‘ALIYAH : MISBAHUSSURUR, SHI.MA

INSTITUT AGAMA ISLAM IMAM GHAZALI (IAIIG) 2012

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ...................................................................................................... KATA PENGANTAR ....................................................................................... BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. A. Latar Belakang ..................................................................................... B. Rumusan Masalah ................................................................................ BAB II PEMBAHASAN ................................................................................... A. Arti, fungsi dan Hikmah Peradilan ...................................................... B. Syari’at dan Hukum Acara Islam ......................................................... C. Proses Peradilan Dalam Islam ............................................................. 1. Peradilan Islam pada masa Khalifah Abu Bakar RA ...................... 2. Peradilan Islam pada masa Khalifah Umar bin Khattab .................
2

1 2 3 3 4 5 5 7 7 7 11

............. DAFTAR PUSTAKA .................................................... 4............................................................. BAB III PENUTUP ............................. Saran ......................... peradilan Islam pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib ................................................................................. A......... 14 15 17 17 17 18 KATA PENGANTAR 3 ...................................... Peradilan Islam pada masa Khalifah Utsman bin Affan ........................................................3........... Kesimpulan ..... B..............................

sehingga makalah yang berjudul “Ketentuan Islam Tentang Peradilan dan Hikmahnya” dapat terselesaikan. sholawat serta salam semoga dilimpahkan kepada Rasululloh SAW. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan dalam mata kuliah Fiqh ‘Aliyah di Institut Agama Islam Imam Ghazali. Syukur Alhamdulillah atas pertolonganNya. 4 . Peradilan merupakan suatu keharusan adanya di dalam masyarakat.Segala puji bagi Allah SWT. Materi yang ada dimakalah ini menjelaskan tentang ketentuan dan proses peradilan dalam islam serta ketentuan tentang hakim dan saksi dalam peradilan islam. Sebab diperadilan itulah masyarakat memperoleh jaminan dan kepastian hokum dengan sebaik-baiknya.

Keadilan adalah kualitas yang tidak memihak. Meskipun pada kenyataannya ada perbedaan besar antara dua istilah tersebut. Khulafa’al-rasyidin adalah Khalifah-khalifah (pengganti-pengganti) Rasulullah SAW yang berarti 5 .BAB I PENDAHULUAN A. Dalam satu konteks bisa berarti ‘Anda benar’ dalam lain ‘kau salah’ (Lawrence Rosen. Umar bin Khattab RA. berarti ‘tugas’. ‘realitas’ dan ‘kewajiban’. Utsman bin Affan RA dan Ali bn Abi Thalib RA. Latar Belakang Istilah keadilan seringkali digunakan oleh umat islam secara bergantian dengan istilah kebenaran. apakah mereka adalah agama. untuk berbicara kebenaran singkatnya. Selain itu. ‘kebenaran’. terutama dalam hal menilai dan kebenaran adalah kualitas bersikap jujur dalam memberikan fakta-fakta. Ini ‘benar’. Akan tetapi definisi ini tidak berlaku untuk konsep islam kehakiman. perjuangannya diteruskan oleh para Khulafa’al-rasyidin. Seperti yang sering terjadi. keadilan tunduk pada banyak pertimbangan. yaitu Abu Bakar Al-Shiddiq RA. Istilah kebenaran dalam masyarakat islam dan dalam pengadi. Apa yang ‘benar’ atau ‘nyata’ adalah web hutang yang menghubungkan makhluk hidup satu sama lain dalam rantau kewajiban (ibid : 6). Keadilan dalam Islam : 6). untuk menyampaikan bahwa rasa kewajiban bersama yang mengikat laki-laki untuk laki-laki dan laki-laki kepada Allah (ibid : 6) Setelah Nabi Muhammad SAW wafat. social atau pribadi.an memiliki berbagai makna yang berhubungan.

Al-Qur’an b. Rumusan Masalah Hukum islam memperoleh otoritasnya dari empat sumber utama. yaitu : 1. Analogi 6 .) a. Konsensus Ulama Muslim b. Khulafa’al-rasyidin banyak melakukan kebijakan untuk membangkitkan perjuangan islam. Tradisi Sunnah atau Islam 2. konsep peradilan Khulafa’al-rasyidin sangat penting dalam sejarah pembentukan peradilan islam.) a. Salah satunya adalah Peradilan. Peradilan sangat penting bagi pembangunan umat islam. karena Nabi yang mendapatkan wahyu dari Allah SWT sudah tidak ada lagi. Karena itu. B. karena mereka melaksanakan tugas sebagai pengganti Rasulullah SAW menjadi Kepala Negara Madinah dan sebagai pembantu rakyat dan wakil pelaksana mereka dalam mengelola Negara.mendapat bimbingan yang benar.

Arti.BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Peradilan 7 . Fungsi dan Hikmah Peradilan 1.

Fungsi Peradilan Lembaga peradilan bertugas menyelesaikan persengkataan dan memutuskan hukum. anak-anak yatim. Ibnu Khaldun menyatakan. sesuai dengan kaidah-kaidah hukum yang ditetapkan undangundang. peradilan berarti lembaga yang menempatkan perkara-perkara hukum sesuai dengan tempatnya. jamaknya “aq diya” yang berarti. Para ahli Fiqh memberikan definisi ‘qada’ suatu keputusan produk pemerintah atau “menetapkan hukum syar’I dengan jalan penetapan. Peradilan memberikan keputusan di dalam perkara yang nyata (konkrit) yang diembankan kepadanya untuk diadili. Yang benar diputuskan benar dan yang salah diputuskan salah. Dengan peradilan Allah memelihara keseimbangan dan kedamaian dalam masyarakat luas. Landasan dari fungsi peradilan adalah terpeliharanya kepastian hukum. 3. Untuk kata peradilan di dalam bahasa Arab digunakan kata “qada”. “memutuskan perkara / perselisihan antara dua orang atau lebih berdasarkan hukum Allah”. Dalam hal ini peradilan dikhususkan bergerak dalam masalah perkara-perkara hokum karenanya. bahwa tempat menegakkan hukum adalah menetapkan penyelesaian suatu perkara sehingga bersatu lagi pihakpihak yang bermusuhan. orang yang bangkrut dan mereka yang hidupnya kesusahan. Hikmah Peradilan 8 .Peradilan berarti “tempat atau lembaga yang menempatkan sesuatu pada tempatnya”. 2. terpenuhi sebagaian hak yang umum dari kaum muslimin dengan pertimbangan membantu yang lemah. yang kena jinayat.

Tercapainya keadilan dan perdamaian dalam masyarakat. Bagaimana umat itu dapat dinilai bersih sedangkan hukum (saja) tidak diberlakukan bagi orang-orang yang kuat dan hanya diberlakukan bagi orang-orang yang lemah diantara mereka?” ( HR. e. bersih dan berwibawa. Terwujudnya aparatur pemerintahan yang jujur. Allah SWT berfirman :       9        . Terciptanya keadilan dalam masyarakat. c. karena masyarakat memperoleh kepastian hukumnya dan diantara mereka saling menghargai hak-hak orang lain. Rasulullah SAW bersabda : Artinya : “Dari Jabir ia berkata. saya mendengar Rasulullah SAW bersabda. karena masyarakat memperoleh hak-haknya. Dapat terwujud suasana yang mendorong untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Ibnu Hibban ) b. Terciptanya kesejahteraan masyarakat. d.a.

niscata jelas baginya bahwa hukum acara yang diterapkan dalam sejarah peradilan islam merupakan komponen syari’at islam sebagai suatu sub dari sub-sub sistemnya. orang yang memahami filosofinya dan mampu menerapkannya secara proporsional. b. Politik berkeadilan atau siasat yang adil yang berfungsi mengeluarkan kebenaran dari orang-orang yang zalim dan lacur dan ini termasuk bagian dari syari’at. menelaah akan kesempurnaannya dan bersedia menggali nilai-nilai positifnya untuk kemaslahatan umat manusia serta menyadari bahwa yang menjadi cita-cita hukum dari syari’at islam adalah puncak keadilan yang dicita-citakan oleh seluruh umat manusia. tentu tidak akan memerlukan lagi hukum acara lain. 10 . Politik kotot atau siasat yang zhalim dan ini dilarang oleh syari’at.S. suatu keadilan yang tidak ada lagi yang melebihi muatan kemaslahatannya. Syari’at dan Hukum Acara islam Orang yang meresapi syari’at islam.                  Artinya : “Berlaku adillah karena (adil) itu lebih dekat kepada taqwa” (Q. Politik ada dua macam. yaitu : a. Al-Maidah / 5 : 8 ) B. Oleh karena itu.

Peradilan Islam Pada Masa Khalifah Abu Bakar RA Saidina Abu Bakar al-Shiddiq RA. beliau serahkan kursi hakim kepada para sahabat. Pada zaman Rasulullah SAW. Rasulullah SAW mengizinkan para sahabat memutuskan perkara sesuai dengan ketetapan Allah. Bagi daerah yang jauh. Ali bin Abi Thalib pernah ditugaskan menjadi hakim di Yaman. seperti imam solat. Ini dibuktikan dengan hadis Mu'adz bin Jabal tatkala beliau diangkat menjadi gubenur dan hakim di Yaman : 11 . Sunnah Rasul. Begitu juga dengan sahabat Mu'adz bin Jabal untuk menjadi gubenur dan hakim di Yaman. Sumber hukum yang dipakai Rasulullah SAW adalah Alquran dan wahyu kerasulan. mufti. Proses Peradilan Dalam Islam 1. Selanjutnya. hakim dijabat oleh Rasulullah SAW sendiri. dan lain-lain yang bukan sebagai rasul yang mendapatkan wahyu.C. Misalnya. adalah pengganti Rasulullah SAW dalam hal duniawi (pemerintahan) dan dalam hal ukhrawi (spiritual) yang hanya terbatas pada pemimpin agama. ijtihad atau qiyas.

Ini dikarenakan beliau sibuk menegakkan hukum Islam dengan memerangi kemurtadan.) Pada saat Abu Bakar RA menggantikan Rasulullah SAW.(Sesungguhnya Rasulullah SAW pada saat mengutusnya (Mu 'adz bin Jabal) ke Yaman. Lalu Rasul bertanya: "Kalau tidak terdapat di dalam kitab Allah?" Mu'adz menjawab: "Maka dengan memakai sunnah Rasulullah SAW". Malahan. Rasul berkata padanya: "Bagaimana kamu melakukan ketika kamu hendak memutus perkara?" Mu'adz pun menjawab: "Aku memutus dengan apa yang terdapat di dalam kitab Allah". pada periode ini peradilan dikuasai oleh khalifah sendiri. orang-orang muslim yang enggan membayar zakat. dan lainlain perkara yang berhubungan dengan politik dan hukum. Lalu Rasul bertanya: "Seumpama tidak ada di sunnah Rasulullah?" Mu'adz menjawab: "Aku berijtihad sesuai dengan pemikiranku bukan dengan nafsuku". dan kadang-kadang khalifah memberi kuasa kepada orang lain untuk 12 . dan Rasul bersabda "Segala puji bagi Allah yang telah mencocokkan kerasulan Rasullullah pada apa yang diridai Allah terhadap Rasulullah". beliau tidak merubah sistem peradilan yang berlaku pada zaman Rasulullah SAW. Lalu Rasulullah SAW menepuk dada Mu'adz.

yudikatif. sebaliknya khalifah memegang kekuasaan yudikatif. yaitu eksekutif. kekuasaan yudisial ini tidak dimiliki Umar secara khusus. ma/ca adanya Umar adalah awal-awalnya hakim di dalam Islam bagi khalifah) Menurut Doktor `Athiyyah. 13 . pada periode ini. malahan Umar mendapatkan tugas menjadi imam dan lainnya. Doktor `Athiyyah Mushthofa Musyrafah menukil dari Syaikh Muhammad Bakhit al-Muthi’i di dalam kitabnya yang berjudul. beliau (Abu Bakar) mengangkat Umar bin al-Khatthab sebagai hakim. Hakikat al-‘Islami wa ‘Ushul al-Hukm: (… dan pada kekhalifahan Abu Bakar. Hanya saja.menjadi hakim seperti yang dilakukan Rasulullah SAW. belum ada pemisahan antara tiga jenis kekuasaan. dan legislatif. Perkara ini berlaku sampai pada awal kekhalifahan Umar bin al-Khattab. Sedangkan Abu Bakar RA hanya mewakilkannya kepada Umar bin al-Khattab kadang-kadang untuk melihat kasus-kasus agar dicarikan inti pertikaiannya. Umar juga tidak disebut hakim pada zaman Khalifah Abu Bakar RA. Ini dikarenakan Umar adalah khalifah yang paling awal menentukan para hakim yang dikhususkan untuk menjadi hakim bagi pertikaian yang terjadi di antara manusia. Jadi. Umar juga tidak hanya bertugas sebagai hakim kadang-kadang. pendapat al-Muthi'i ini tidak dapat dibenarkan.

Jika sunnah tidak ada. baik. begitu juga melaksanakan hudia. maka beliau mengambilnya setelah mencari kebenaran tersebut.Pada saat Umar menjabat sebagai hakim selama lebih kurang dua tahun. Ini dikarenakan sahabat yang berperkara mengerti bahwa Umar adalah orang yang sangat tegas. Seumpama ditemukan. Beliau melantik pada setiap wilayah tersebut seorang pemimpin (amir) yang ada sebelumnya. Beliau akan berijtihad secara sendiri ('ijahad fardi) bagi masalah-masalah yang berhubungan dengan perseorangan. Apabila tidak ada barulah beliau merujuk pada sunnah Nabi Muhammad SAW. serta bertoleransi sehingga berusaha untuk menolak terjadinya pertikaian dan pendendaman. atau keputusan yang pernah diambil Rasulullah SAW. dan legislatif). Abu Bakar RA membagi Jazirah Arab menjadi beberapa wilayah. menjadi hakim bagi perkara yang diangkat padanya. Amir memimpin solat. 14 . Abu Bakar RA memberi setiap amir tersebut ketiga-ketiga kekuasaan pemerintahan (eksekutif. Setiap masalah selalu dirujuk pada Alquran dulu. Seumpama tidak ditemukan hukum untuk masalah ini di dalam Alquran dan sunnah. Dikarenakan ini. beliau bertanya kepada sahabat lain apakah ada yang tahu sunnah yang berkaitan dengan masalah mi. beliau berijtihad secara bersama-sama dengan sahabat lain (‘ijtihad jama’i) kalau memang masalah tersebut berhubungan langsung dengan hukum masyarakat. Cara Abu Bakar menghukumi sesuatu permasalahan adalah seperti apa yang dilakukan Rasulullah SAW sebelumnya. dan pada saat itu orang-orang masih bersifat wara'. yudikatif. tidak ada seorangpun yang datang berperkara.

Ini dikarenakan beliau takut terjadi kesalahan di dalam hukum. apabila ia adalah salah. Utsman Ibn Qais Ibn Abi al-`Ash di Mesir. 15 . maka ia adalah dari Allah. Umar mengangkat Abu Darda' untuk menjadi hakim di Madinah. beliau memutuskan untuk mengangkat hakim yang berada di luar kekuasaan eksekutif. sedang Pengadilan di Kufah diserahkan kepada Syuraih. Akan tetapi menurut kitab Torah al-Islam al-Siyasi.Walaupun Rasulullah SAW menetapkan kebolehan melakukan ijtihad dengan pemikiran rasional seseorang dan qiyas. Dengan semua kesibukan ini. Syuraih di Bashrah. Ini adalah pertama kali pemisahan antara kekuasaan eksekutif dan yudikatif terjadi. dan ekonomi semakin rumit. sedangkan untuk Syam pula diberi hakim tersendiri. 2. sehingga beliau tidak menggalakkan seseorang untuk memberi fatwa kepada orang lain yang berasal dari ketidak-tahuan. maka ia datang dariku. daerah Islam semakin luas. sedangkan Abu Musa al-Asy'ari di Kufah. Pada saat ini. Aku memohon ampun kepada Allah". apabila ia adalah benar. Khalifah Umar RA juga mulai sibuk dengan peperangan yang berlaku antara negara Islam dengan Parsi dan Romawi. Abu Musa menjadi hakim di masa Umar hanya untuk Bashrah saja. sosial. Khalifah Abu Bakar RA enggan memakainya kecuali sedikit saja. Tugastugas pemerintahan dalam bidang politik. Umar tidak sempat untuk menyelesaikan semua masalah peradilan. Peradilan Islam Pada Masa Khalifah Umar bin Khattab Setelah wafatnya Abu Bakar RA. kekhalifahan dipegang Saidina Umar bin al-Khattab RA. Di masa Utsman barulah Abu Musa menjadi hakim di Kufah. Maka dari itu. Beliau malah pernah berkata ketika berfatwa dengan memakai pemikirannya dan qiyas: "Ini adalah pendapatku.

maka carilah sunnah. 16 . Ini karena peradilan masih berada pada awal-awalnya dilahirkan. juga sekretaris. sehingga kekuasaan eksekutif benar-benar dapat diadili oleh kekuasaan yudikatif. Pada saat dibawa pada Syuraih. serta bebas dari administrasi yang banyak seperti yang dapat disaksikan sekarang mi. Lelaki itu berkata: "Aku rida dengan Syuraih dari Irak". Hukum acara juga tidak diperlukan. Maka beliau menunggangnya untuk mencobanya. Lalu kuda tersebut rusak. Menurut Doktor `Athiyyah. karena semua hukum keluar di balik hati seorang hakim. suatu ketika Umar RA mengambil seekor kuda untuk ditawar. peradilan pada masa Khalifah Umar RA adalah sesuatu yang mudah. Selain dari itu. Pada masa itu juga tidak diperlukan untuk mengkodifikasi hukum-hukum peradilan. Hakim pada masa itu tidak memerlukan panitera. Lelaki yang memiliki kuda pun menjawab: "Aku tidak mau menggambilnya. Lelaki itupun bertikaian dengan Umar. berijtihadlah memakai rasio kamu!". dalam arti mereka juga adalah sebagai juru sita. Lalu Umar berkata: "Aku sungguh kagum dengannya.Dalam pemisahan yang dilakukan Umar RA adalah pemisahan yang sesungguhnya. Umar pula berkata: "Kamu harus mencari orang tengah pada apa yang berlaku antara aku dan kamu". Lalu Umar berkata pada Syuraih: "Apabila telah jelas bagimu sesuatu melalui Alquran. maka aku pun mengutusnya menjadi hakim". kuda itu sudah rusak!". hakim juga adalah sebagai pelaksana hukum. Ini dibuktikan dengan sebuah riwayat bahwa. Belum ada pemikiran untuk ke situ. Seumpama kamu tidak menemuiya di sunnah. Seumpama tidak jelas apa yang ada di Alquran. maka kamulah yang menggantinya sampai kamu memulangnya dalam keadaan sehat dan selamat". bukan hanya pemutus hukum. luas. Syuraih berkata: "Kamu mengambilnya dalam keadaaan sehat dan selamat. maka jangan kamu pertanyakan lagi. Umar RA berkata: "Ambillah kudamu!".

Khalifah Umar RA juga pernah memiliki dustur al-qudlat. Dustur ini dikenal dengan nama risalat al-qadla’. Beliau memakai Alquran.Sumber hukum yang dipakai Umar RA adalah sama seperti Abu Bakar RA. Kalau ada kesepakatan. Seumpama tidak ada. lalu sunnah Nabi. yaitu sebuah pedoman bagi hakim agung dalam menjalankan peradilan serta dasar-dasar pokok. beliau melihat apakah Abu Bakar RA pernah memutuskan hal serupa. Isi dari dustur ini adalah seperti yang dicatat oleh Imam al-Mawardi di dalam kitabnya yang berjudul al-Ahkam al-Sulthaniyyah wa al-Wilayat alDiniyyah: 17 . barulah diputuskan. Seumpama tidak ada barulah memanggil para tokoh untuk dimusyawarahkan.

dan tidak pada lainnya. Khalifah Utsman adalah orang yang mengkodifikasi Alquran setelah pengumpulan yang dilakukan Abu Bakar RA atas usulan Umar RA. maka kursi kekhalifahan dipegang oleh Saidina Utsman bin Affan RA dengan dilantik oleh rakyat. yaitu khalifah sendiri atau penguasa daerah. maka yang memiliki kekuasaan ini (kepala negara) yang dapat menentukan wewenang hakim dalam wilayah tertentu. atau hudud itu tetap dipegang pemimpin negara.Dikarenakan peradilan adalah sebagian dari kewenangan umum. Umar bin al-Khattab pada saat beliau menentukan seseorang untuk menjadi hakim. Peradilan Islam Pada Masa Khalifah Utsman bin Affan Setelah Khalifah Umar bin al-Khattab RA meninggal dengan dibunuh. Sedangkan permasalahan pidana dan yang berhubungan dengannya seperti qishash. beliau membatasi wilayah wewenang mereka hanya pada hal-hal pertikaian perdata saja. Oleh karena itu. 3. 18 .

Sebelum Khalifah Utsman RA. Kalau tidak ditemukan. beliau akan bermusyawarah dengan para sahabat. masjid adalah tempat untuk berperkara. Utsman memakai Alquran. Salah satu perubahan penting bagi pengadilan Islam pada zaman Khalifah Utsman bin Affan RA adalah dibangunnya bangunan khusus yang digunakan untuk peradilan negara Islam. lalu pendapat khalifah sebelumnya. 19 . Utsman juga mengirim pesan-pesan kepada para pemimpin di daerah lain. dan masyarakat muslim secara umum untuk menegakkan kelakuan baik dan mencegah dari kemungkaran. Beliau memesan kepada petugas menarik pajak untuk menarik pajak dengan adil dan jujur. sunnah. karena beliau tinggal meneruskan saja sistem Umar RA yang sudah tertata rapi. petugas menarik pajak.Sistem pengadilan pada zaman beliau adalah sama seperti yang telah diatur Umar RA. Beliau memberi nasihat khusus kepada petugas pajak dengan kata-kata berikut ini: Dalam memberi hukum.

beliau memberi insruksi kepada Gubenur Mesir dalam penentuan orang-orang yang akan diangkat menjadi hakim. Peradilan Islam Pada Masa Khalifah Ali bin Abi Thalib Setelah meninggalnya Utsman RA. Salah satu kemusykilan hukum yang diselesaikan Ali RA adalah apabila ada seorang istri yang mana suaminya meninggal dunia sebelum suami tersebut 20 . Beliau tidak melakukan perubahan di dalam peradilan. Seumpama tidak ditemui. daya kerja yang sempurna. di samping mempunyai ilmu yang luas. Selain dari itu. lalu merujuk pada khalifah sebelumnya. Khalifah Ali bin Abi Thalib telah banyak memberi hukum atau fatwa yang dijadikan hukum oleh orang-orang setelahnya. baru beliau bermusyawarah dengan sahabat yang lain berdasarkan pada ayat: Sesuai dengan khalifah sebelumnya.4. dalam usaha Khalifah Ali RA meningkatkan kualitas peradilan Islam. jangan dari orang-orang yang tidak mempunyai wibawa dan jangan pula dari orangorang yang loba kepada harta dunia. Di dalam instruksi itu. Saidina Ali bin Abi Thalib RA menjabat sebagai khalifah. Beliau juga berpegang pada Alquran. otak yang cerdas. jangan dari orang-orang yang berpenghidupan sempit. Khalifah Ali bin Abi Thalib RA juga membayar gaji para hakim dengan memakai uang yang ada di Bait al-Mal. sunnah. ditekankan agar penguasa memilih orang-orang yang akan menjadi hakim dari orang-orang yang dipandang utama oleh penguasa sendiri.

Maka Ali RA menghukumi bahwa tidak ada hak bagi istri tersebut mas kawin yang sepadan . Ini berdasarkan pada firman Allah 21 . SWT : karena diqiyaskan pada wanita yang tertalak.menjimak istrinya. Sedangkan suami tersebut belum menyerahkan mas kawin kepada istri tersebut.

agar lebih memperdalam pemahaman mengenai Peradilan dalam Islam dengan memperbanyak kajian khusus di luar perkuliahan. 3. 22 . Saran Diharapkan kepada seluruh mahasiswa dan mahasiswi khususnya jurusan Tarbi'ah. maka kesimpulan yang didapatkan adalah sebagai berikut : 1. 4. Beliau juga membuat sebuah dustur yang dibuat pegangan bagi para hakim agung. B. Khalifah Umar bin al-Khattab RA adalah khalifah yang pertama kali memisah kekuasaan yudisial dari eksekutif.BAB III PENUTUP A. Utsman adalah khalifah yang pertama kali membangun gedung khusus untuk peradilan Islam. beliau tidak melakukan perubahan system peradilan seperti yang telah ditinggalkan Nabi Muhammad SAW. Kesimpulan Setelah membahas secara mendalam. 2. Utsman bin Affan RA tidak banyak melakukan perubahan sistem peradilan dari apa yang ditinggalkan Umar RA. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar RA. Ali bin Abi Thalib RA memberi instruksi kepada pemimpin-pemimpin daerah bagi krateria orang yang layak untuk diangkat menjadi hakim.

html http://google.gnfcw.DAFTAR PUSTAKA http://zulkiflibinsyukri.co.com/im ages/the_concept_of_justice_in islam. 23 .id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.com/2009/08/sejarah-peradilan-islarn-pada masa.blogspot.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful