LAPORAN PENDAHULUAN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK

A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Penyakit Paru Obstruksi Kronik ( PPOK ) adalah suatu penyakit yang ditandai dengan adanya obstruksi aliran udara yang disebabkan oleh bronkitis kronis atau empisema. Obstruksi aliran udara pada umumnya progresif kadang diikuti oleh hiperaktivitas jalan nafas dan kadangkala parsial reversibel, sekalipun e,pisema dan bronkitis kronis harus didiagnosa dan dirawat sebagai penyakit khusus, sebagian besar pasien PPOK mempunyai tanda dan gejala kedua penyakit tersebut. Sekitar 14 juta orang Amerika terserang PPOK dan Asma sekarang menjadi penyebab kematian keempat di Amerika Serikat. Lebih dari 90.000 kematian dilaporkan setiap tahunnya. Rata-rata kematian akibat PPOK meningkat cepat, terutama pada penderita laki-laki lanjut usia. Oleh karena itu penyakit PPOK haruslah mendapatkan pengobatan yang baik dan terutama perawatan yang komprehensif, semenjak serangan sampai dengan perawatan di rumah sakit. Dan yang lebih penting dalah perawatan untuk memberikan pengetahuan dan pendidikan kepada pasien dan keluarga tentang perawatan dan pencegahan serangan berulang pada pasien PPOK di rumah. Hal ini diperlukan perawatan yang komprehensif dan paripurna saat di Rumah Sakit. 2. Tujuan Tujuan penulisan Laporan Pendahuluan ini adalah : a. Mengetahui dan memahami tentang proses penyakit, pengertian, penyebab, pengobatan dan perawatan dari PPOK. b. Mengetahui dan memahami pengkajian yang dilakukan, masalah keperawatan yang muncul, rencana keperawaatan dan tindakan keperawatan yang diberikan dan evaluasi keperawatan yang dilakukan. B. KONSEP TEORI 1. Pengertian a. PPOK Merujuk pada sejumlah gangguan yang mempengaruhi pergerakan udara dari dan keluar Paru. Gangguan yang penting adalah Bronkhitis Obstruktif, Emphysema dan Asthma Bronkiale. (Black. J. M. & Matassarin,.E. J. 1993). b. Suatu kondisi dimana aliran udara pada paru tersumbat secara terus menerus. Proses penyakit ini adalah seringkali kombinasi dari 2 atau 3 kondisi berikut ini (Bronkhitis Obstruktif Kronis, Emphysema dan Asthma Bronkiale) dengan suatu penyebab primer dan yang lain adalah komplikasi dari penyakit primer.(Enggram, B. 1996). Bronkhitis Kronis Gangguan klinis yang ditandai dengan pembentukan mucus yang berlebihan dalam bronkus dan termanifestasikan dalam bentuk batuk kronis dan pembentuk sputum selama 3 bulan dalam setahun, paling sedikit 2 tahun berturut – turut. Emphysema Perubahan anatomis parenkim paru yang ditandai pelebaran dinding alveolus, duktus alveolaris dan destruksi dinding alveolar Asthma Bronkiale Suatu penyakit yang ditandai dengan tanggap reaksi yang meningkat dari trachea dan bronkus terhadap berbagai macam rangsangan dengan manifestasi berupa kesukaran bernafas yang disebabkan oleh peyempitan yang menyeluruh dari saluran nafas. Asthma dibedakan menjadi 2 : 1. Asthma Bronkiale Alergenik 2. Asthma Bronkiale Non Alergenik Asthma tidak dibahas disini karena gejala dan tanda lebih spesifik dan ada pembahasan khusus mengenai penyakit asma

Penyebab PPOK a. UDARA YG KECIL KOLAPS PERADANGAN JALAN UDARA DINDING BRONKIALE HYPOVENTILASI LEMAH & ALVEOLAR PECAH SAAT EKSPIRASI SALURAN UDARA YANG KECIL KOLAPS EMPHYSEMA SERING PADA BRONKIOLITIS TERJADI EMPHYSEMA LANSIA KRONIS TIDAK TIMBUL GEJALA BRONKIOLITIS KRONIK SERING TERJADI PPOK 3.2. Patogenesis PPOK Patofisiologi Bronkhitis Kronis dan Emphysema MEROKOK PREDISPOSISI GENETIK FAKTOR 1 – ANTI TRIPSIN ) TIDAK DIKETAHUIPOLUSI UDARA ( KEKURANGAN GANGGUAN SEKAT DAN JARINGAN SEUMUR HIDUP PEMBERSIHAN PARU PENYOKONG HILANG PERADANGAN BRONKUS & ALVEOLUS SAAT EKSPIRASI SAL. Bronkitis Kronis 1) Faktor tak diketahui 2) Merokok 3) Polusi Udara .

4) Iklim b. Asthma Bronkiale Selama serangan klien mengalami dispnea dan tanda kesulitan bernafas. Whezing. Alergen (debu. b. Gambaran Klinis a. Lain-lain. Managemen medis yang diberikan berupa . Permulaan tanda serangan terdapat sensasi kontriksi dada (dada terasa berat). bulu binatang. Olahraga (kegiatan jasmani berat ) 5. 5) Mencegah adanya komplikasi (gagal nafas akut dan status asmatikus) 6) Mencegah allergen/iritasi jalan nafas 7) Membebaskan adanya ansietas dan mengobati depresi yang sering menyertai adanya obstruksi jalan nafas kronis. Infeksi saluran nafas 3. Stress 4. Polusi udara 7. bahan pengawet dll) 4. obat-obatan 6. batuk non produktif. Manifestasi klinis Emphysema dan bronkhitis kronis GAMBARAN EMPHYSEMA BRONKHITIS Mulai timbul Usia 30 – 40 tahun 20 – 30 tahun batuk akibat merokok (cacat pada usia pertengahan) Sputum Minimal Banyak sekali Dispne Dispnea relatif dini Lambat Rasio V/Q Ketidakseimbangan minimal Ketidakseimbangan nyata Bentuk Tubuh Kurus dan ramping Gizi cukup Diameter AP dada Dada seperti tong Tidak membesar Gambaran respirasi Hyperventilasi hypoventilasi Pa O2 Sa O 2 Norml/rendah normal Meningkat Desaturasi Polisitemia normal Hb dan Hematokrit meningkat Sianosis Jarang sering 5. PENATALAKSANAAN Intervensi medis bertujuan untuk : 1) Memelihara kepatenan jalan nafas dengan menurunkan spasme bronkus dan membersihkan secret yang berlebihan 2) Memelihara keefektifan pertukaran gas 3) Mencegah dan mengobati infeksi saluran pernafasan 4) Meningkatkan toleransi latihan. Asthma Bronkiale Faktor Prediasposisi nya adalah : 1. Emphysema 1) Faktor tak diketahui 2) Predisposisi genetic 3) Merokok 4) Polusi udara c. bumbu masak. (iklim. takhi kardi dan takipnea. kulit dll) 2. lingkungan kerja 8.

Sputum : Pemeriksaan gram kuman/kultur adanya infeksi campuran.Analisa Gas Darah Pulse oksimetri ® SaO2 oksigenasi menurun. Dilaksanakan dengan nebulizer. .4) FVC awal normal 5) TLC normal sampai meningkat sedang (predominan pada emphysema). sering menurun pada astma. beta adrenergik agonis selektif Non adrenergik : aminophilin.  Transfer gas (kapasitas difusi). 4) Menghindari bahan iritans Penyebab iritans jalan nafas harus dihindari seperti asap rokok dan perlu juga mencegah adanya alergen yang masuk tubuh. Elektrolit menurun oleh karena pemakaian deuritika pada cor pulmunale. Jumlah darah merah meningkat Eo dan total IgE serum meningkat. Bertujuan untuk membersihkan sekret dari paru-paru dan kemudian meningkatkan kerja silia dan menurunkan resiko infeksi. tefilin c) Antihistamin d) Steroid e) Antibiotic f) Ekspektoran Oksigen digunakan 3 l/m dengan cannula nasal. 2) Hygiene Paru.menurun Darah : Hb dan Hematokrit meningkat pada polisitemia sekunder. Dilaksanakan dengan jalan sehat. 5) Diet Klien sering mengalami kesulitan makan karena adanya dipsnea. Analisa Gas Darah PaO2 menurun. Pada emphysema : area permukaan gas menurun. epineprin. fisioterapi dada. gagal nafas kronis. sodium kromolin dll) b) Bronkodilator Adrenergik : efedrin. Pemeriksaan diagnostik Test faal paru 1) Kapasitas inspirasi menurun 2) Volume residu : meningkat pada emphysema. alkalosis respiratorik ringan sekunder. bronkhitis dan asthma 3) FEV1 selalu menurun = derajat obstruksi progresif Penyakit Paru Obstruktif Kronik menurun pada bronchitis dan astma. Pemberian porsi yang kecil namun sering lebih baik daripada makan langsung banyak. PH normal asidosis.1) Pharmacologic management a) Anti inflamasi ( kortikosteroid. 6. Transfer gas (kapasitas difusi). PCO2 meningkat. postural drainase 3) Exercise Bertujuan untuk mempertinggi kebugaran dan melatih fungsi otot skeletal agar lebih efektif. Pada Penyakit Paru Obstruktif Kronik Transfer gas relatif baik.

Jantung tampak memanjang dan menyempit. EKG. III dan aVF. UDARA YG KECIL KOLAPS PERADANGAN JALAN UDARA . kolap bronkhiale pada ekspirasi kuat. Sering terdapat RBBB inkomplet. rata-rata intake cairan dan diet harian. Moraxella catarrhalis. Di V1 rasio R/S lebih dari 1 dan di V6 V1 rasio R/S kurang dari 1. Pathway MEROKOK PREDISPOSISI GENETIK FAKTOR 1 – ANTI TRIPSIN ) TIDAK DIKETAHUIPOLUSI UDARA ( KEKURANGAN GANGGUAN SEKAT DAN JARINGAN SEUMUR HIDUP PEMBERSIHAN PARU PENYOKONG HILANG PERADANGAN BRONKUS & ALVEOLUS SAAT EKSPIRASI SAL. Hiperinflasi paru-paru. Bila sudah terdapat Kor Pulmonal terdapat deviasi aksis ke kanan dan P. Hemophylus influenzae.pulmonal pada hantaran II. Voltase QRS rendah. 7. Ruang udara retrosternal > (foto lateral).Kuman patogen >> : Streptococcus pneumoniae. Lain-lain perlu dikaji berat badan. Pada emphysema paru : Distensi > Diafragma letak rendah dan mendatar. Radiologi : Thorax foto (AP dan lateral). Kelainan EKG yang paling dini adalah rotasi clock wise jantung. Bronkogram : menunjukkan dilatasi bronkus. 2. pembesaran jantung dan bendungan area paru-paru.

. mengangkat bahu saat inspirasi. .Tinggal atau bekerja di area dengan polusi udara berat. 3. .Stress emosional.Infeksi saluran nafas. . dan perasaan dada seperti terikat.Riwayat Asthma pada anak-anak.Aktivitas fisik yang berlebihan. b. . • Takipnea. .Merokok merupakan faktor penyebab utama. Manifestasi klinik Penyakit Paru Obstruktif Kronik : • Peningkatan dispnea. Pernafasan cuping hidung. Gejala yang menetap pada penyakit dasar Asthma Batuk (mungkin produktif atau non produktif). Bronkhitis Batuk produktif dengan sputum berwarna putih keabu-abuan. Mengi saat inspirasi maupun ekspirasi yang dapat terdengar tanpa stetoskop.Polusi udara. . • Penggunaan otot-otot aksesori pernafasan (retraksi otot-otot abdominal. Riwayat atau faktor penunjang : . Ketakutan dan diaforesis. 2. Pemeriksaan fisik : a.Riwayat alergi pada keluarga .DINDING BRONKIALE HYPOVENTILASI LEMAH & ALVEOLAR PECAH SAAT EKSPIRASI SALURAN UDARA YANG KECIL KOLAPS EMPHYSEMA SERING PADA BRONKIOLITIS TERJADI EMPHYSEMA LANSIA KRONIS TIDAK TIMBUL GEJALA BRONKIOLITIS KRONIK SERING TERJADI PPOK KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN Pengkajian : 1. nafas cuping hidung). yang biasanya terjadi pada pagi hari.Alergen. Riwayat atau adanya faktor pencetus eksaserbasi : . • Penurunan bunyi nafas.

insomnia. Dada barell chest. Peningkatan frekuensi jantung Distensi vena leher. Ronki. edema. wheezing. rasa dada tertekan/ketidakmampuan untuk bernafas. Emphysema Penampilan fisik kurus dengan dada “barrel chest” (diameter thoraks anterior posterior meningkat sebagai akibat hiperinflasi paru-paru). Dispnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan Tanda Kelelahan. Nafsu makan menurun.Inspirasi ronkhi kasar dan whezzing. gerakan diafragma minimal. biasa melambat. Kesulitan bicara 94 – 5 kalimat 0 Sianosis bibir dan dasar kuku. Penampilan sebagai “pink puffers” Jari-jari tabuh. putih. dan dapat juga redup/pekak karena adanya cairan). jari tabuh. bau badan Pernafasan Gejala Nafas pendek. riwayat keluarga defisiensi alfa antitripsin Tanda Respirasi cepat dangkal. Sputum hijau. Bunyi nafas. nafas bibir (empisema) Pengguanaan otot Bantu pernafasan. penurunan BB. ketakutan dan peka rangsang Makanan/cairan Gejala Mual/muntah. berkeringat. Fase ekspirasi memanjang. khususnya pada saat kerja. Perlu tidur dalam posisi duduk cukup tingi. Seksualitas Libido menurun . Aktivitas dan Istirahat Gejala Keletihan. cuaca atau episode serangan asthma. Batuk menetap dengan produksi sputum setiap hari selama 3 bulan berturut-turut selam 3 tahun sedikitnya 2 tahun. kelelahan. fas ekspirasi memanjang dengan mendengkur. Sesak nafas Bronkhitis (tahap lanjut) Penampilan sianosis Pembengkakan umum atau “blue bloaters” (disebabkan oleh edema asistemik yang terjadi sebagai akibat dari kor pulmunal). sianosis perifer Integritas ego Gejala/tanda Ansietas. kelemahan umum/kehilangan masa otot Sirkulasi Gejala Pembengkakan pada ekstremitas bawah Tanda Peningkatan tekanan darah. redup Perkusi hypersonor pada area paru (udara terjebak. ketidakmampuan makan karena distress pernafasan Penurunanan BB menetap (empisema) dan peningkatan BB karena edema (Bronkitis) Tanda Turgor kulit buruk. gelisah. Emphysema (tahap lanjut) Hipoksemia dan hiperkapnia. malaise Ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari-hari karena sulit bernafas. kuning dengan jumlah banyak (bronchitis) Episode batuk hilang timbul dan tidak produktif (empisema). Riwayat Pneumonia. penurunan massa otot Hygiene Gejala Penurunan Kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktivitas tubuh Tanda Kebersihan buruk.

makan.Kesulitan berbicara .Orthopneu .Produksi sputum . Batasan Karakteristik : . Kurang perawatan diri : berpakaian. • Pemeliharaan fungsi paru yang optimal dalam waktu singkat dan panjang. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi 6. kecemasan). Kerusakan pertukaran gas 4.Interaksi sosial Gejala Hubungan ketergantungan. RENCANA KEPERAWATAN No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan criteria Hasil Intervensi 1 Bersihan Jalan Nafas tidak Efektif Definisi : Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernafasan untuk mempertahankan kebersihan jalan nafas. tujuan dan kriteria hasil dari masing-masing masalah yang ditemukan. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh 5. Penurunan suara nafas .Cyanosis . • Dapat melakukan aktifitas sehari-hari. mandi.Gelisah . • Mengurangi perburukan fungsi paru setiap tahunnya. • Menurunnya gejala psikologik (depresi. Tujuan Penatalaksanaan • Mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup. Pola nafas tidak efektif 3.Dispneu.Kelainan suara nafas (rales. toileting Perencanaan Perencanaan meliputi penyusunan prioritas.Mata melebar . kurang sisitem pendukung tanda Keterbatasan mobilitas fisik Kelalaian hubungan antar keluarga Diagnosa keperawatan 1. Kriteria Keberhasilan : • Berkurangnya gejala sesak nafas. • Membaiknya faal paru. • Memperbaiki kualitas hidup.Batuk. Bersihan jalan nafas tidak efektif 2. tidak efekotif atau tidak ada . • Berkurangnya frekuensi dan lamanya eksaserbasi. • Pencegahan dan penanganan eksaserbasi. wheezing) .

banyaknya mukus. adanya benda asing di jalan nafas. • Monitor respirasi dan status O2 2 Pola Nafas tidak efektif Definisi : Pertukaran udara inspirasi dan/atau ekspirasi tidak adekuat Batasan karakteristik : .Penurunan tekanan inspirasi/ekspirasi . perokok pasif-POK. NOC : Respiratory status : Ventilation Respiratory status : Airway patency Aspiration Control Kriteria Hasil : Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih. sekresi tertahan. guanakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu • Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi • Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan • Pasang mayo bila perlu • Lakukan fisioterapi dada jika perlu • Keluarkan sekret dengan batuk atau suction • Auskultasi suara nafas. frekuensi pernafasan dalam rentang normal. Berikan O2 dengan menggunakan nasal untuk memfasilitasi suksion nasotrakeal Gunakan alat yang steril sitiap melakukan tindakan Anjurkan pasien untuk istirahat dan napas dalam setelah kateter dikeluarkan dari nasotrakeal Monitor status oksigen pasien Ajarkan keluarga bagaimana cara melakukan suksion Hentikan suksion dan berikan oksigen apabila pasien menunjukkan bradikardi. mampu bernafas dengan mudah. (2) Airway Management • Buka jalan nafas. asma. menghirup asap rokok. sekresi bronkus.Dyspnea .Menggunakan otot pernafasan tambahan .Fisiologis : disfungsi neuromuskular. tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum.Perubahan frekuensi dan irama nafas Faktor-faktor yang berhubungan: . peningkatan saturasi O2. hiperplasia dinding bronkus. alergi jalan nafas.Lingkungan : merokok.. infeksi . irama nafas.Penurunan pertukaran udara per menit . tidak ada suara nafas abnormal) Mampu mengidentifikasikan dan mencegah factor yang dapat menghambat jalan nafas NIC : (1) Airway suction Pastikan kebutuhan oral / tracheal suctioning Auskultasi suara nafas sebelum dan sesudah suctioning. catat adanya suara tambahan • Lakukan suction pada mayo • Berikan bronkodilator bila perlu • Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl Lembab • Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan. .Obstruksi jalan nafas : spasme jalan nafas. Informasikan pada klien dan keluarga tentang suctioning Minta klien nafas dalam sebelum suction dilakukan. adanya jalan nafas buatan. adanya eksudat di alveolus.Nasal flaring . dll. tidak ada pursed lips) Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik.

Perlukaan pada jaringan syaraf tulang belakang .Disfungsi Neuromuskuler .Hiperventilasi .Nyeri .Perusakan/pelemahan muskulo-skeletal . AIRWAY MANAGEMENT • Buka jalan nafas. irama nafas. tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum.Imaturitas Neurologis NOC : Respiratory status : Ventilation Respiratory status : Airway patency Vital sign Status Kriteria Hasil : Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih.Posisi tubuh .Tahap ekspirasi berlangsung sangat lama .Kelainan bentuk dinding dada . tidak ada suara nafas abnormal) Tanda Tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah.Nafas pendek .Kedalaman pernafasan Dewasa volume tidalnya 500 ml saat istirahat Bayi volume tidalnya 6-8 ml/Kg .Kelelahan otot pernafasan .. guanakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu • Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi • Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan • Pasang mayo bila perlu • Lakukan fisioterapi dada jika perlu • Keluarkan sekret dengan batuk atau suction • Auskultasi suara nafas.Deformitas tulang .Kerusakan persepsi/kognitif .Orthopnea .Hipoventilasi sindrom .Timing rasio .Assumption of 3-point position .Kecemasan .Obesitas . pernafasan) NIC : I. nadi. mampu bernafas dengan mudah.Perubahan penyimpangan dada . frekuensi pernafasan dalam rentang normal.Pernafasan rata-rata/minimal Bayi : < 25 atau > 60 Usia 1-4 : < 20 atau > 30 Usia 5-14 : < 14 atau > 25 Usia > 14 : < 11 atau > 24 . catat adanya suara tambahan • Lakukan suction pada mayo . tidak ada pursed lips) Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik.Penurunan kapasitas vital Faktor yang berhubungan : .Penurunan energi/kelelahan .Pernafasan pursed-lip .Peningkatan diameter anterior-posterior .

nadi. nadi. RR. selama. atau berdiri Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan Monitor TD. Monitor respirasi dan status O2 Terapi Oksigen Bersihkan mulut. peningkatan sistolik) Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign 3 Kerusakan Pertukaran gas Definisi : Kelebihan atau kekurangan dalam oksigenasi dan atau pengeluaran karbondioksida di dalam membran kapiler alveoli Batasan karakteristik : Gangguan penglihatan Penurunan CO2 Takikardi Hiperkapnia Keletihan somnolen Iritabilitas Hypoxia kebingungan Dyspnoe nasal faring AGD Normal sianosis warna kulit abnormal (pucat. hidung dan secret trakea Pertahankan jalan nafas yang paten Atur peralatan oksigenasi Monitor aliran oksigen Pertahankan posisi pasien Onservasi adanya tanda tanda hipoventilasi Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi Vital sign Monitoring Monitor TD. warna. kehitaman) Hipoksemia hiperkarbia . suhu.• • • • Berikan bronkodilator bila perlu Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl Lembab Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan. duduk. dan RR Catat adanya fluktuasi tekanan darah Monitor VS saat pasien berbaring. sebelum. bradikardi. dan kelembaban kulit Monitor sianosis perifer Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang melebar. dan setelah aktivitas Monitor kualitas dari nadi Monitor frekuensi dan irama pernapasan Monitor suara paru Monitor pola pernapasan abnormal Monitor suhu.

tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum. kedalaman. ketidakakuratan mengikuti instruksi. RESPIRATORY MONITORING • Monitor rata – rata. takipenia. kurangnya keinginan untuk mencari informasi. Faktor yang berhubungan : keterbatasan kognitif. AIRWAY MANAGEMENT • Buka jalan nafas. kussmaul.sakit kepala ketika bangun frekuensi dan kedalaman nafas abnormal Faktor faktor yang berhubungan : ketidakseimbangan perfusi ventilasi perubahan membran kapiler-alveolar NOC : Respiratory Status : Gas exchange Respiratory Status : ventilation Vital Sign Status Kriteria Hasil : Mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat Memelihara kebersihan paru paru dan bebas dari tanda tanda distress pernafasan Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih. irama dan usaha respirasi • Catat pergerakan dada. guanakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu • Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi • Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan • Pasang mayo bila perlu • Lakukan fisioterapi dada jika perlu • Keluarkan sekret dengan batuk atau suction • Auskultasi suara nafas. cheyne stokes. tidak mengetahui sumber-sumber informasi. retraksi otot supraclavicular dan intercostal • Monitor suara nafas. penggunaan otot tambahan. • Monitor respirasi dan status O2 III. seperti dengkur • Monitor pola nafas : bradipena. hiperventilasi. tidak ada pursed lips) Tanda tanda vital dalam rentang normal NIC : II. perilaku tidak sesuai. mampu bernafas dengan mudah. interpretasi terhadap informasi yang salah. Batasan karakteristik : memverbalisasikan adanya masalah. catat adanya suara tambahan • Lakukan suction pada mayo • Berika bronkodilator bial perlu • Barikan pelembab udara • Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan. catat area penurunan / tidak adanya ventilasi dan suara tambahan • Tentukan kebutuhan suction dengan mengauskultasi crakles dan ronkhi pada jalan napas utama • auskultasi suara paru setelah tindakan untuk mengetahui hasilnya 4 Kurang Pengetahuan Definisi : Tidak adanya atau kurangnya informasi kognitif sehubungan dengan topic spesifik. NOC : Kowlwdge : disease process . biot • Catat lokasi trakea • Monitor kelelahan otot diagfragma (gerakan paradoksis) • Auskultasi suara nafas.amati kesimetrisan.

misinformasi . dengan cara yang tepat. Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang spesifik 2. Identifikasi kemungkinan penyebab. Gambarkan proses penyakit. prognosis dan program pengobatan Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya NIC : • Teaching : disease Process 1. dengan cara yang tepat 5. dengan cara yang tepat 14.Luka.Kowledge : health Behavior Kriteria Hasil : Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit. kondisi.Kurang berminat terhadap makanan . sesaat setelah mengunyah makanan . Sediakan bagi keluarga informasi tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat 9.Dilaporkan adanya perubahan sensasi rasa . Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit. dengan cara yang tepat 13.Kehilangan rambut yang cukup banyak (rontok) .Kehilangan BB dengan makanan cukup .Miskonsepsi . Rujuk pasien pada grup atau agensi di komunitas lokal. dengna cara yang tepat 6. Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi.Suara usus hiperaktif . Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi. dengan cara yang tepat 4. Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan.Mudah merasa kenyang. Hindari harapan yang kosong 8.Keengganan untuk makan . Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan.Nyeri abdominal dengan atau tanpa patologi .Membran mukosa dan konjungtiva pucat .Diare dan atau steatorrhea . Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Definisi : Intake nutrisi tidak cukup untuk keperluan metabolisme tubuh.Kelemahan otot yang digunakan untuk menelan/mengunyah . Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan 12.Dilaporkan adanya intake makanan yang kurang dari RDA (Recomended Daily Allowance) . Diskusikan pilihan terapi atau penanganan 11.Kram pada abdomen .Berat badan 20 % atau lebih di bawah ideal .Dilaporkan atau fakta adanya kekurangan makanan . dengan cara yang tepat 5. dengan cara yang tepat 7.Kurangnya informasi. Batasan karakteristik : . inflamasi pada rongga mulut . Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan atau proses pengontrolan penyakit 10.Perasaan ketidakmampuan untuk mengunyah makanan .Tonus otot jelek .Pembuluh darah kapiler mulai rapuh . 3.

hipertonik papila lidah dan cavitas oral. kerusakan kognitif atau perceptual. ketidakmampuan untuk toileting Faktor yang berhubungan : kelemahan. scarlet 6 Defisit perawatan diri b/d kelemahan fisik Definisi : Gangguan kemampuan untuk melakukan ADL pada diri Batasan karakteristik : ketidakmampuan untuk mandi. Hb. dan kekeringan jaringan konjungtiva Monitor kalori dan intake nuntrisi Catat adanya edema. Catat jika lidah berwarna magenta. kemerahan. rambut kusam. NOC : Nutritional Status : food and Fluid Intake Kriteria Hasil : Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi Tidak ada tanda tanda malnutrisi Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti NIC : Nutrition Management Kaji adanya alergi makanan Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.Faktor-faktor yang berhubungan : Ketidakmampuan pemasukan atau mencerna makanan atau mengabsorpsi zat-zat gizi berhubungan dengan faktor biologis. ketidakmampuan untuk berpakaian. ketidakmampuan untuk makan. psikologis atau ekonomi. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan Nutrition Monitoring BB pasien dalam batas normal Monitor adanya penurunan berat badan Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan Monitor interaksi anak atau orangtua selama makan Monitor lingkungan selama makan Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi Monitor turgor kulit Monitor kekeringan. kerusakan . dan mudah patah Monitor mual dan muntah Monitor kadar albumin. total protein. Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C Berikan substansi gula Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi) Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian. hiperemik. dan kadar Ht Monitor makanan kesukaan Monitor pertumbuhan dan perkembangan Monitor pucat.

Bagian Pulmonologi FKUI. Hood Alsagaff. EGC. Jakarta. (1995). Sediakan bantuan sampai klien mampu secara utuh untuk melakukan self-care. Pertimbangkan usia klien jika mendorong pelaksanaan aktivitas sehari-hari. tapi beri bantuan ketika klien tidak mampu melakukannya. Vol. Airlangga University Press.uckman & Sorensen’s Medical surgical Nursing A Phsycopsicologyc Approach. (1995). 1. Jakarta. toileting dan makan. Airlangga University Press. (1993). (1992). Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. (1990).Jakarta. l. Amin muhammad. berhias.B. Yunus Faisal. Surabaya. Ajarkan klien/ keluarga untuk mendorong kemandirian. (2000). Sylvia Anderson Price. DAFTAR PUSTAKA Alsagaff Hood.MJ Jacob. Pulmonologi Klinik. . Rencana Asuhan keperawatan Pedoman untuk Perencnaan /pendokumentasian Perawatan Pasien. Philapidelpia. untuk memberikan bantuan hanya jika pasien tidak mampu untuk melakukannya. Soeparman.hari sesuai kemampuan. (1999). Saunders Company. berpakaian. Dorong klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang normal sesuai kemampuan yang dimiliki. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Patofisiologi Konsep Klinis Proses . Dasar – Dasar Ilmu Penyakit Paru. EGC.neuromuskular/ otot-otot saraf NOC : Self care : Activity of Daily Living (ADLs) Kriteria Hasil : Klien terbebas dari bau badan Menyatakan kenyamanan terhadap kemampuan untuk melakukan ADLs Dapat melakukan ADLS dengan bantuan NIC : Self Care assistane : ADLs Monitor kemempuan klien untuk perawatan diri yang mandiri. Berikan aktivitas rutin sehari. Sarwono Waspadji. Jakarta. (1989). Dorong untuk melakukan secara mandiri. Lorraine McCarty Wilson. W.Proses Penyakit. Pengantar Ilmu Penyakit Paru. Balai Penerbit FKUI. Monitor kebutuhan klien untuk alat-alat bantu untuk kebersihan diri. Abdul Mukty. Penerbit EGC. Barbara Engram. Jakarta. Surabaya. Marylin E doengoes. Blac.