P. 1
BukuBse.belajarOnlineGratis.com-Smp Kelas 9 Ips Lilis Yuliati-1

BukuBse.belajarOnlineGratis.com-Smp Kelas 9 Ips Lilis Yuliati-1

5.0

|Views: 49,408|Likes:
Published by BelajarOnlineGratis
membaca online buku sekolah elektronik kemdiknas untuk siswa-siswi kelas 3 SMP/MTS atau download gratis juga bisa
membaca online buku sekolah elektronik kemdiknas untuk siswa-siswi kelas 3 SMP/MTS atau download gratis juga bisa

More info:

Published by: BelajarOnlineGratis on Aug 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/28/2015

pdf

text

original

C.

Sumber: 30 Tahun Indonesia Merdeka, 1981

Gambar 3.3
Gambar 3.3

Gambar 3.3
Gambar 3.3
Gambar 3.3 Dr. H.J. van Mook sedang
memimpin Konferensi Malino.

Bab 3 Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan (1945 – 1949)

57

Dengan terbentuknya Negara Indonesia
Timur, maka gagasan van Mook untuk memecah
belah negara Indonesia menjadi kenyataan,
karena berdirinya NIT tersebut diikuti dengan
terbentuknya beberapa negara bagian, seperti
Negara Pasundan (4 Mei 1947), Negara Madura
(23 Januari 1948), Negara Sumatra Timur (24 Maret
1948), dan Negara Jawa Timur (16 November
1948). Pada akhirnya, pada bulan 29 Maret 1948
Belanda berhasil membentuk BFO, semacam
badan permusyawaratan federal.
BFO (Bijeenkomst voor Federaal Overleg) adalah negara-negara bagian yang
dibentuk oleh Belanda, sehingga sering disebut sebagai negara boneka Belanda.
Jumlah BFO di Indonesia ada 15 negara yang terdiri atas enam negara bagian
dan sembilan daerah otonom. Enam negara bagian itu adalah Negara Indonesia
Timur (NIT), Negara Sumatra Timur, Negara Sumatra Selatan, Negara Jawa
Timur, Negara Madura, dan Negara Pasundan. Tiap-tiap negara bagian dipimpin
oleh seorang presiden. Sementara itu, sembilan daerah otonom adalah Kalimantan
Barat, Kalimantan Timur, Dayak Besar, Banjar, Kalimantan Tenggara, Bangka
Belitung, Riau, dan Jawa Tengah. Selanjutnya pada bulan Juli 1948, Belanda
mengadakan konferensi yang menghasilkan sebuah resolusi yang berisi tentang
pembentukan Negara Indonesia Serikat.
Meskipun berhasil membentuk negara federal dan memecah belah persatuan
dan kesatuan Indonesia, Belanda tidak dapat memadamkan semangat prorepublik
di kalangan elit-elit negara tersebut. Selain melakukan tekanan politik, Belanda
juga melakukan tekanan-tekanan militer untuk menguasai kembali wilayah
Indonesia. Dengan melakukan agresi militer, Belanda berusaha menguasai
Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah, dan Jawa Timur, serta daerah sekitar Medan
dan Palembang, dan wilayah Indonesia semakin dipersempit. Seperti halnya
tekanan politik, tekanan militer yang dilakukan Belanda tidak memengaruhi
jalannya pemerintahan Republik Indonesia. Hal ini dibuktikan pada waktu Agresi
Militer Belanda II dilancarkan. Pada waktu itu Presiden Soekarno, Wakil Presiden
Moh. Hatta beserta pemimpin-pemimpin lainnya ditawan oleh Belanda. Namun,
Presiden Soekarno masih sempat meminta kepada Menteri Kemakmuran,
Syafruddin Prawiranegara untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik
Indonesia (PDRI), sehingga pemerintahan RI tetap berjalan normal.
Selain tekanan politik dan militer, Belanda juga melakukan tekanan terhadap
perekonomian nasional Indonesia. Belanda melakukan blokade ekonomi dengan
cara menutup pintu perdagangan Republik Indonesia. Tujuan blokade ini adalah
untuk menjatuhkan perekonomian Indonesia. Untuk mengatasi kesulitan
perekonomian nasional, maka yang pertama kali dilakukan oleh pemerintah adalah
melakukan pinjaman nasional. Kemudian pada bulan Oktober 1946, pemerintah
RI mengeluarkan uang kertas baru atau ORI (Oeang Republik Indonesia), dan
selanjutnya diikuti dengan pembentukan Bank Negara Indonesia pada tanggal
1 November 1946.

C

Sumber: 30 Tahun Indonesia Merdeka, 1981
Gambar 3.4
Gambar 3.4

Gambar 3.4
Gambar 3.4
Gambar 3.4 Suasana dalam Konfrensi
Denpasar.

IPS IX untuk SMP/MTs

58

Untuk menyelesaikan konflik dengan Belanda, bangsa Indonesia selalu
menunjukkan sikap dan itikad baik terhadap bangsa asing, khususnya Inggris,
yang berusaha mempertemukan pemerintah Indonesia dan Belanda dalam suatu
perundingan. Melalui perjuangan diplomasi, bangsa Indonesia berupaya
menunjukkan kepada dunia internasional bahwa kemerdekaan dan kedaulatan
yang telah diraih bangsa Indonesia pantas untuk dibela dan dipertahankan.
Berikut ini beberapa perjuangan diplomasi yang telah dilakukan Indonesia.

1.Perundingan Hooge Veluwe

Perundingan ini disponsori oleh Sir Archibald Clark Kerr.
Pada perundingan di Hooge Veluwe ini, pemerintah Republik
Indonesia mengirimkan delegasi yang terdiri atas Mr. Suwandi,
dr. Sudarsono, dan Mr. Abdul Karim Pringgodigdo. Sementara
itu, delegasi Belanda yang diajukan dalam perundingan ini adalah
Dr. van Mook, Prof. Dr. Logeman, Dr. Idenburgh, Dr. van
Royen, Prof. van Asbeck, Sultan Hamid II, dan Surio Santoso.
Dalam perundingan ini, Belanda menolak usul Clark Kerr
tentang pengakuan de facto atas kedaulatan RI di Jawa dan
Sumatra. Pihak Belanda hanya bersedia memberikan pengakuan
de facto kedaulatan RI atas Jawa dan Madura, itu pun masih
dikurangi daerah-daerah yang diduduki oleh pasukan Sekutu.
Sementara itu, RI masih harus tetap menjadi bagian dari
Kerajaan Nederland. Dengan adanya perbedaan prinsip ini,
maka perundingan di Hooge Veluwe ini akhirnya gagal.

2.Perundingan Linggarjati

Setelah perundingan di Hooge Veluwe gagal, maka Inggris sebagai penengah
konflik mencoba mengatasi permasalahan Indonesia - Belanda dengan mem-
pertemukannya di Linggarjati, dekat Cirebon. Perundingan antara Indonesia
dengan Belanda ini dilaksanakan pada tanggal 10 November 1946. Perundingan
Linggarjati dihadiri oleh:
a.Belanda, diwakili Prof. Schermerhorn, De Boer, dan van Pool;
b.Indonesia, diwakili Sutan Syahrir; dan
c.Inggris, diwakili Lord Killearn (sebagai pihak penengah).
Perundingan yang dipimpin oleh Lord Killearn ini menghasilkan suatu
persetujuan yang disebut Persetujuan Linggarjati.

Selain itu, untuk menembus blokade ekonomi, pemerintah Indonesia
berupaya mematahkan isolasi ekonomi musuh. Usaha yang dilakukan yaitu
bersifat politis dengan cara bersedia mengirimkan bantuan ke India dengan
harapan India akan membantunya juga, dan bersifat ekonomis dengan cara
mengadakan hubungan dagang langsung dengan pihak luar negeri.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->