P. 1
BukuBse.belajarOnlineGratis.com-Smp Kelas 9 Ips Lilis Yuliati-1

BukuBse.belajarOnlineGratis.com-Smp Kelas 9 Ips Lilis Yuliati-1

5.0

|Views: 49,502|Likes:
Published by BelajarOnlineGratis
membaca online buku sekolah elektronik kemdiknas untuk siswa-siswi kelas 3 SMP/MTS atau download gratis juga bisa
membaca online buku sekolah elektronik kemdiknas untuk siswa-siswi kelas 3 SMP/MTS atau download gratis juga bisa

More info:

Published by: BelajarOnlineGratis on Aug 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/28/2015

pdf

text

original

E.

e.Rasa Takut akan Terjadinya Kegagalan pada Integrasi
Kebudayaan

Perasaan ini muncul karena terdapat anggapan bahwa unsur-unsur dari
luar dikhawatirkan akan menggoyahkan integrasi kebudayaan. Akibatnya
mereka menolak unsur-unsur asing yang dikhawatirkan dapat mengakibatkan
terjadinya disintegrasi dan perubahan-perubahan pada aspek-aspek tertentu
dalam masyarakat. Oleh karena itu mereka senantiasa berusaha menghalangi
perubahan sosial budaya di dalam masyarakatnya.

f.Prasangka terhadap Hal-Hal Baru atau Sikap yang Tertutup

Sikap negatif pada masyarakat yang statis menimbulkan prasangka terhadap
hal-hal baru. Hal-hal baru dianggap hanya sebagai unsur yang menggoyahkan
kondisi sosial dan budaya yang mereka anut.

g.Hambatan-Hambatan yang Bersifat Ideologis

Kebudayaan yang bersifat ideologis berkaitan dengan apa yang dipikirkan,
diyakini, dan dilihat oleh masyarakat sebagai sesuatu yang dianggap ideal.
Keyakinan, nilai, dan idealisme dalam ideologi yang sudah sedemikian tertanam
dalam diri anggota masyarakat dapat menjadi penghambat perubahan sosial budaya.
Hal ini terjadi karena masyarakat sudah merasa mapan dengan ideologi yang
dianut. Kemapanan tersebut membuat masyarakat sulit untuk menerima perubahan,
khususnya perubahan-perubahan pada unsur-unsur kebudayaan rohaniah.

h.Adanya Nilai Bahwa Hidup ini pada Hakikatnya Buruk dan Tidak
Mungkin Diperbaiki (Nilai Pasrah)

Anggapan bahwa hidup ini sudah berjalan sesuai relnya dan apa yang terjadi
tidak mungkin dapat kembali seperti semula atau tidak mungkin diperbaiki
menjadikan sikap pasrah pada kondisi kehidupan. Sehingga perubahan yang
terjadi baik yang menuju ke arah kemajuan atau kemunduran tidak berpengaruh
sama sekali dan dianggap suatu hal yang biasa.

i.Adat atau Kebiasaan

Adat atau kebiasaan yang ternyata efektif di dalam memenuhi kebutuhan
pokok akan memunculkan krisis. Dengan demikian adat dan kebiasaan yang
mencakup bidang kepercayaan, sistem mata pencaharian, cara berpakaian
tertentu, dan lain-lain sangat kokoh sehingga sukar untuk diubah.

Perubahan sosial budaya dapat menimbulkan dampak positif (menguntung-
kan) dan dampak negatif (merugikan) bagi kehidupan di masyarakat.

1.Dampak Positif Perubahan Sosial Budaya

a.Semakin rekatnya integrasi dalam masyarakat. Hal ini terjadi apabila
masyarakat bijaksana dalam menyikapi perubahan yang ada. Dengan sikap
yang bijaksana perubahan sosial tidak menimbulkan konflik.

Bab 5 Perubahan Sosial Budaya117

b.Dapat mengadopsi unsur-unsur kebudayaan dari masyarakat luar, sebagai
sumber penambah kekayaan budaya suatu masyarakat. Unsur-unsur
budaya yang diadopsi adalah unsur budaya yang mudah diterima oleh
masyarakat. Unsur budaya tersebut mempunyai ciri-ciri berikut ini.
1)Unsur budaya kebendaan, misalnya teknologi atau peralatan yang
bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.
2)Unsur-unsur yang terbukti membawa manfaat besar, misalnya: radio,
TV, internet, komputer, dan lain-lain.
3)Unsur-unsur yang dengan mudah disesuaikan dengan keadaan
masyarakat yang menerima. Misalnya, alat penggilingan padi dengan
teknis yang sederhana dan harga yang murah mudah diterima oleh
masyarakat Indonesia yang agraris.
c.Dapat mengubah pandangan
masyarakat yang kurang sesuai
dengan perkembangan zaman.
Dampak ini khususnya dirasakan
manusia oleh masyarakat yang
primitif dan terisolir.
d.Terjadinya modernisasi di ber-
bagai bidang. Dengan modernisasi
dapat meningkatkan taraf ke-
hidupan masyarakat di berbagai
bidang, yaitu sosial, budaya, ekonomi, politik, dan lain-lain.

2.Dampak Negatif Perubahan Sosial Budaya

a.Terjadinya ketertinggalan budaya (cultural lag).
Cultural lag yaitu suatu keadaan di
mana terjadi unsur-unsur kebudayaan
tertentu yang tertinggal perkembangan-
nya di tengah berbagai kemajuan unsur
kebudayaan yang lain.
Cultural lag terjadi karena laju
pertumbuhan kebudayaan yang tidak
sama pada suatu masyarakat. Agar
tidak terjadi ketertinggalan budaya
maka masyarakat dibiasakan untuk
berpikir ilmiah dan rasional terutama
pada masyarakat yang sedang
berkembang.
b.Terjadinya disorganisasi sosial.
Disorganisasi sosial adalah suatu keadaan di mana tidak ada keserasian
pada bagian-bagian dari suatu kebulatan. Disorganisasi dapat diketahui,
dari suatu organisasi dapat berfungsi dengan baik atau tidak. Perwujudan
disorganisasi yang nyata adalah timbulnya masalah sosial.

Sumber: Encarta Encyclopedia, 2006

Gambar 5.10
Gambar 5.10

Gambar 5.10
Gambar 5.10
Gambar 5.10 Pesawat terbang merupakan
hasil modernisasi.

Ogburn dan Nimkoff: menge-
mukakan bahwa ketertinggalan
mempunyai dua arti, yaitu:
1)sebagai jangka waktu antara
terjadi dan diterimanya pe-
nemuan baru
2)dipakai untuk menunjuk pada
tertinggalnya suatu unsur ter-
tentu terhadap unsur yang
lainnya yang erat
hubungannya.

IPS IX untuk SMP/MTs

118

Pada dasarnya masyarakat dalam menghadapi perubahan tersebut dapat
bersikap conformity (proses menyesuaikan diri) bila ada kecocokan, tetapi
dapat juga bersikap deviation (penyimpangan).
Conformity adalah proses menyesuaikan diri anggota masyarakat dengan
cara mengindahkan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di masyarakat.
Sikap ini diambil karena terdapat kecocokan pada
perubahan sosial budaya yang telah terjadi. Masyarakat
tradisional cenderung menyesuaikan diri dengan yang
ada supaya di dalam masyarakat tercipta keseimbangan
sosial (equilibrium). Tetapi mereka cenderung bersifat
konservatif (kolot) terhadap hal-hal yang baru atau
kebudayaan baru karena tidak mudah mengganti yang
sudah ada dengan sesuatu yang baru.
Deviation adalah sikap penyimpangan yang
dilakukan oleh anggota masyarakat karena adanya
ketidaksesuaian sosial. Ketidaksesuaian sosial terjadi
karena hal yang lama atau yang sudah ada tidak lagi
cocok dengan perkembangan zaman. Para remaja
banyak yang bersikap menyimpang (deviation) sebagai tanggapan bahwa
keadaan yang ada tidak cocok lagi dengan keadaan zaman sekarang.

Definisi conformity adalah
bentuk interaksi yang di dalam-
nya seseorang berperilaku ter-
hadap orang lain sesuai dengan
harapan kelompok (Shcpard).
Cara adaptasi indvidu yang mana
perilaku mengikuti tujuan yang
ditentukan masyarakat, dan
mengikuti cara yang ditentukan
untuk mencapai tujuan (Merton).

Apabila masyarakat mengalami disintegrasi, maka keseimbangan dan
keserasian hubungan sosial akan terganggu. Akibatnya anggota-anggota
masyarakat tidak lagi mengalami ketenteraman dan ketertiban.
Apabila disorganisasi sosial dibiarkan akan mengakibatkan terjadinya
disintegrasi sosial. Disintegrasi sosial ditandai dengan gejala-gejala awal
berikut ini.
1)Tidak adanya persamaan pandangan antara anggota masyarakat
mengenai tujuan yang semula dijadikan pegangan bersama.
2)Nilai-nilai dan norma-norma masyarakat tidak lagi berfungsi dengan baik
karena adanya perubahan pada lembaga-lembaga masyarakat.
3)Terjadinya pertentangan antara norma-norma dalam masyarakat.
4)Sanksi yang diberikan pada pelanggar norma tidak dilakukan secara
konsekuen.
5)Terjadinya proses-proses sosial yang dissosiatif, misalnya konflik sosial,
kompetisi, dan kontravensi.
c.Menurunnya rasa solidaritas sosial, tenggang rasa, gotong royong, toleransi,
dan lain-lain.
d.Munculnya berbagai demonstrasi, kenakalan remaja, meningkatnya angka
kriminalitas dan pergolakan di berbagai daerah.

Tipe-Tipe Perilaku Masyarakat dalam Menyikapi Perubahan
Sosial Budaya

F.

Bab 5 Perubahan Sosial Budaya119

Tindakan yang dilakukan yaitu dengan menentang nilai-
nilai dan norma-norma yang berlaku serta berusaha lari dari
permasalahan dengan pesta narkoba, mabuk-mabukan, dan
perilaku-perilaku menyimpang lainnya.
Sebenarnya perilaku manusia dalam menyikapi per-
ubahan sosial dan budaya sangat beraneka ragam, tergantung
dari persepsi anggota masyarakat terhadap dampak yang
akan ditimbulkannya. Untuk lebih mudah memahami tipe
perilaku masyarakat dalam menyikapi perubahan dapat
diambil contoh lahirnya “Gerakan Reformasi” di Indonesia.
Ada beberapa pengelompokan tipe-tipe perilaku
masyarakat dalam menyikapi perubahan sosial budaya tersebut.

1.Tipe Perilaku Masyarakat yang Mengharapkan Terjadinya
Perubahan

Tipe perilaku ini adalah kelompok masyarakat
yang mempunyai pemikiran-pemikiran yang
progresif dan tidak nyaman dengan kemapanan.
Dari kelompok inilah sering muncul tokoh-tokoh
yang menggelorakan dan memperjuangkan secara
nyata perubahan dalam masyarakat. Tidak jarang
dari kelompok ini dalam usahanya melakukan
perubahan sosial budaya memunculkan gerakan
revolusi. Mereka dalam sosiologi dikenal sebagai
“Agent of Change” (agen perubahan), biasanya
berasal dari kelompok menengah. Dalam gerakan
reformasi di Indonesia tipe perilaku ini adalah para mahasiswa. Pada waktu itu
kelompok ini mendapat sebutan “anti status quo”.

2.Tipe Perilaku Masyarakat yang Apatis (Masa Bodoh) terhadap
Perubahan Sosial Budaya

Tipe perilaku masyarakat yang apatis terhadap
perubahan terdiri atas dua kalangan.
a.Kalangan anggota masyarakat yang disibukkan
dengan upaya-upaya pemenuhan kebutuhan
pokok. Mereka lebih mengutamakan usaha
memenuhi kebutuhan pokoknya daripada me-
mikirkan hal-hal yang tidak berhubungan langsung
dengan kebutuhan hidupnya secara ekonomi.
Dalam gerakan reformasi tahun 1998 kelompok
ini terdiri atas rakyat jelata yang pada waktu itu
banyak yang menderita karena harga-harga yang
melambung tinggi, akibat melemahnya nilai rupiah
terhadap dolar Amerika Serikat.

Sumber: Ensiklopedia Geografi Jilid 6, 2006
Gambar 5.12
Gambar 5.12

Gambar 5.12
Gambar 5.12
Gambar 5.12 Mahasiswa menduduki Gedung
DPR/MPR untuk menuntut perubahan.

Sumber: CD-Image.

Gambar 5.11
Gambar 5.11

Gambar 5.11
Gambar 5.11
Gambar 5.11
Penggunaan narkoba merupakan

Sumber: Ensiklopedia Geografi, Jilid 4,
2006

Gambar 5.13
Gambar 5.13

Gambar 5.13
Gambar 5.13
Gambar 5.13 Masyarakat yang sibuk
bekerja termasuk kelompok masyarakat
yang bersikap apatis terhadap perubahan.

IPS IX untuk SMP/MTs

120

1.Masyarakat Desa

Masyarakat desa adalah masyarakat yang bertempat tinggal di suatu wilayah
yang jauh dari keramaian, bersifat homogen dan sebagian besar bekerja di sektor
agraris. Masyarakat desa tergolong dalam masyarakat statis dan tradisional.
Masyarakat statis adalah masyarakat yang lambat dalam berkembang. Adapun
masyarakat tradisional yaitu masyarakat yang memegang teguh adat-istiadat dan
kepercayaan yang turun-temurun. Masyarakat desa enggan menerima masuknya
unsur-unsur budaya asing sehingga sulit untuk menerima perubahan-perubahan.
Di Indonesia masyarakat yang demikian masih cukup banyak jumlahnya
di desa-desa, khususnya suku terasing di pedalaman Pulau Sumatra, Pulau
Kalimantan, Pulau Sulawesi, dan Pulau Papua. Dalam kehidupan mereka sangat
bergantung pada pemberian alam sekelilingnya.
Talcott Parson menggambarkan masyarakat desa sebagai masyarakat
tradisional mempunyai ciri-ciri berikut ini.
a.Memiliki rasa afektivitas (kasih sayang, cinta, kesetiaan, dan kemesraan)
yang tinggi. Hal ini diwujudkan antara lain dalam sikap tolong menolong,
menyatakan simpati terhadap musibah, tidak suka menonjolkan diri dan
mau menolong orang tanpa pamrih.

b.Kalangan anggota masyarakat yang memandang bahwa perubahan sosial
budaya dalam masyarakat secara alamiah pasti terjadi. Mereka mempunyai
anggapan bahwa tidak ada gunanya menolak atau menerima perubahan,
karena perubahan itu pasti terjadi.
Dalam gerakan reformasi tahun 1998 kelompok ini terdiri atas masyarakat
yang berpendidikan dan berpengalaman.

3.Tipe Perilaku Masyarakat yang Menolak Perubahan Sosial
Budaya

Kelompok masyarakat yang menolak perubahan didasarkan pada beberapa
alasan. Berikut ini beberapa alasan tersebut.
a.Perubahan sosial budaya akan merusak sistem-sistem kemasyarakatan
yang sudah mapan. Dalam kenyataannya memang ada perubahan sosial
budaya suatu bangsa justru membawa kehancuran pada bangsa itu sendiri.
b.Adanya alasan-alasan yang bersifat subjektivitas pribadi, misalnya alasan
yang berasal dari kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki status
sosial yang telah mapan. Mereka memiliki rasa ketakutan karena perubahan
akan mengganggu kemapanannya.
Dalam gerakan reformasi tahun 1998 tipe perilaku ini adalah kelompok
masyarakat yang sudah menikmati kemapanan dan kesejahteraan. Mereka ini
tergolong dalam kelompok “status quo”.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->