P. 1
BukuBse.belajarOnlineGratis.com-Smp Kelas 9 Ips Lilis Yuliati-1

BukuBse.belajarOnlineGratis.com-Smp Kelas 9 Ips Lilis Yuliati-1

5.0

|Views: 49,230|Likes:
Published by BelajarOnlineGratis
membaca online buku sekolah elektronik kemdiknas untuk siswa-siswi kelas 3 SMP/MTS atau download gratis juga bisa
membaca online buku sekolah elektronik kemdiknas untuk siswa-siswi kelas 3 SMP/MTS atau download gratis juga bisa

More info:

Published by: BelajarOnlineGratis on Aug 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/28/2015

pdf

text

original

A.

Sumber: 30 Tahun Indonesia
Merdeka
, 1981
Gambar 12.2 Muso, tokoh

pemimpin PKI.

Bab 12 Peristiwa Tragedi Nasional dan Konflik-Konflik Internal Lainnya (1948 1965)

265

2.Jalannya Pemberontakan

PKI mendorong dilakukannya demonstrasi dan pemogokan oleh kaum

buruh dan para petani. Kaum tani didorong supaya mengambil alih ladang milik

para tuan tanah mereka di daerah Surakarta dan daerah-daerah lainnya.

Pertentangan politik antara Kabinet Hatta dan FDR meningkat menjadi

insiden bersenjata di Solo. Insiden terjadi pada pertengahan bulan September

1948 antara simpatisan FDR/PKI dengan lawan-lawan politiknya dan juga

tani yang pro dengan pemerintah. Pada tanggal 17 September 1948, Divisi

Siliwangi berhasil memukul mundur para pendukung PKI dari Solo, mereka

kemudian mundur ke Madiun.

Setelah terjadi insiden bersenjata di

Solo, pada tanggal 18 September 1948

di Madiun oleh para tokoh PKI di-

proklamasikan berdirinya Republik Soviet

Indonesia dengan Muso sebagai

presidennya dan Amir Syarifuddin sebagai

perdana menterinya. Sementara itu, para

pendukung PKI berhasil merebut tempat-

tempat yang strategis di Madiun, seperti

radio Gelora Pemuda dan kota Madiun.

Selain itu, para pendukung PKI juga mem-

bunuh para tokoh yang pro pemerintah

dan Muso mengumumkan lewat berbagai

media bahwa suatu pemerintahan front

nasional telah terbentuk.

Pada tanggal 19 September 1948

sekitar 200 orang anggota PKI dan

pemimpin-pemimpin golongan kiri yang

masih berada di Yogyakarta ditangkap.

3.Operasi Penumpasan Peristiwa Madiun (PKI)

Dengan pecahnya pemberontakan PKI di Madiun, pemerintah segera

mengambil tindakan-tindakan untuk menumpasnya. Panglima Besar Sudirman

menyampaikan kepada pemerintah bahwa TNI dapat menumpas pasukan-

pasukan pendukung Muso dalam waktu dua minggu.

Kekuatan pasukan pendukung Muso digempur dari dua arah, yaitu dari Barat

oleh pasukan Divisi II di bawah pimpinan Kolonel Gatot Subroto yang diangkat

menjadi gubernur militer wilayah II (Semarang - Surakarta) tanggal 15 September

1948, dan pasukan dari Divisi Siliwangi. Sementara itu, dari Timur diserang oleh

pasukan dari Divisi I di bawah pimpinan Kolonel Sungkono yang diangkat menjadi

gubernur militer Jawa Timur, serta pasukan Mobile Brigade Besar (MBB) Jawa

Timur di bawah pimpinan M. Yasin pada tanggal 19 September 1948.

Sumber: 30 Tahun Indonesia Merdeka, 1981
Gambar 12.3Berita yang disiarkan

oleh koran PKI.

IPS IX untuk SMP/MTs

266

Menjelang bergabungnya RI dan RIS ke dalam NKRI, di berbagai daerah

muncul pemberontakan. Pemberontakan-pemberontakan tersebut terutama

dilatarbelakangi oleh adanya rasa tidak puas terhadap pembentukan RIS, dan

adanya ketidakpuasan pemerintah daerah atas kebijakan pemerintah pusat.

Berikut ini beberapa pemberontakan yang terjadi di daerah.

1.Angkatan Perang Ratu Adil (APRA)

Gerakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) dipimpin oleh Kapten Raymond

Westerling. Gerakan ini didalangi oleh kolonialis Belanda yang ingin mengamankan

kepentingan ekonominya di Indonesia. Munculnya gerakan ini didasari atas

kepercayaan rakyat akan datangnya Ratu Adil yang akan memerintah rakyat

dengan adil dan bijaksana seperti yang terdapat dalam ramalan Jayabaya.

Tujuan gerakan APRA yaitu keinginan untuk mempertahankan bentuk fede-

ral di Indonesia dan mempertahankan tentara tersendiri di negara-negara bagian

RIS. Pada bulan Januari 1950, APRA mengajukan ultimatum kepada pemerintah

RIS dan negara Pasundan, dan keberadaan tentara Pasundan tetap

dipertahankan. Namun, ultimatum tersebut tidak ditanggapi oleh pemerintah

RIS. Untuk melaksanakan gerakannya, pada tanggal 23 Januari 1950 dengan

menggunakan taktik gerak cepat pasukan APRA menyerang kota Bandung.

Untuk menumpas pemberontakan APRA, pemerintah RIS segera

mengirimkan bala bantuan ke Bandung. Sementara itu, Perdana Menteri RIS,

Drs. Moh. Hatta mengadakan perundingan dengan Komisaris Tinggi Belanda

Mayor Jenderal Engels. Hasil perundingan itu adalah agar Mayor Jenderal Engels

(komandan tentara Belanda di Bandung) mendesak Westerling untuk segera

meninggalkan kota Bandung. Setelah meninggalkan kota Bandung, pasukan

APRA menyebar ke berbagai tempat.

Pada tanggal 30 September

1948 pukul 16.15 WIB kota Madiun

berhasil direbut kembali. Kaum

pemberontak meninggalkan kota

Madiun dan terus dikejar-kejar oleh

pasukan pro pemerintah ke wilayah-

wilayah pedesaan. Aidit dan Lukman

melarikan diri ke Cina dan Vietnam.

Pada tanggal 31 Oktober 1948 Muso

tewas dalam suatu pertempuran

kecil. Kemudian, Amir Syarifudin dan

segerombolan tentara yang berjumlah

2.000 orang ditangkap dan ditembak

mati oleh TNI.

Sumber: 30 Tahun Indonesia Merdeka, 1981
Gambar 12.4 Amir Syarifuddin berhasil

ditangkap oleh TNI.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->