P. 1
BukuBse.belajarOnlineGratis.com-Smp Kelas 9 Ips Lilis Yuliati-1

BukuBse.belajarOnlineGratis.com-Smp Kelas 9 Ips Lilis Yuliati-1

5.0

|Views: 48,739|Likes:
Published by BelajarOnlineGratis
membaca online buku sekolah elektronik kemdiknas untuk siswa-siswi kelas 3 SMP/MTS atau download gratis juga bisa
membaca online buku sekolah elektronik kemdiknas untuk siswa-siswi kelas 3 SMP/MTS atau download gratis juga bisa

More info:

Published by: BelajarOnlineGratis on Aug 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/28/2015

pdf

text

original

B.

Bab 12 Peristiwa Tragedi Nasional dan Konflik-Konflik Internal Lainnya (1948 1965)

267

Selain ke Bandung, gerakan APRA juga diarahkan ke Jakarta. Di Jakarta,

Westerling mengadakan kerja sama dengan Sultan Hamid II yang menjadi menteri

negara tanpa portofolio di dalam kabinet RIS. Menurut rencananya, APRA

menyerang gedung tempat diadakannya sidang kabinet. Tetapi berkat kesiagaan

APRIS, usaha APRA di Jakarta juga mengalami kegagalan. Westerling sendiri

pada tanggal 22 Februari 1950 meninggalkan Indonesia menuju Malaya.

2.Pemberontakan Andi Azis

Pemberontakan Andi Azis terjadi di Sulawesi Selatan di bawah pimpinan

Kapten Andi Azis, bekas perwira KNIL yang baru diterima ke dalam APRIS.

Latar belakang pemberontakan ini adalah sikap Andi Azis yang menolak

masuknya pasukan APRIS dari TNI ke Sulawesi Selatan. Selain itu, mereka juga

menginginkan untuk mempertahankan keutuhan Negara Indonesia Timur (NIT).

Sementara itu, di Makassar sendiri terjadi ketegangan karena adanya demonstrasi

antara rakyat yang antifederal dengan rakyat yang setuju dengan sistem federal.

Untuk mengatasi pemberontakan Andi Azis, pemerintah pusat RIS pada

tanggal 6 April 1950 mengeluarkan ultimatum yang menginstruksikan agar Andi

Azis dalam waktu 4 × 24 jam datang ke Jakarta

untuk melaporkan diri dan mempertanggung-

jawabkan perbuatannya. Ia juga diperintahkan agar

menarik pasukannya, menyerahkan semua senjata,

dan melepaskan semua tawanan. Akan tetapi,

panggilan tersebut tidak dihiraukan Andi Azis.

Tindakan Andi Azis yang tidak segera datang ke

Jakarta dalam batas yang telah ditentukan dianggap

pemberontakan.

Oleh karena itu, pemerintah pusat mengirimkan

pasukan ekspedisi ke Sulawesi di bawah pimpinan

Kolonel Alek E. Kawilarang untuk menangkap Andi

Azis. Akhirnya, pada tanggal 15 April 1950 atas

desakan Presiden NIT Sukawati, Andi Azis

menyerahkan diri kepada pemerintah RIS. Ia diadili

dalam suatu Mahkamah Militer di Yogyakarta.

3.Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS)

Republik Maluku Selatan (RMS) didirikan oleh Mr. Dr. Christian Robert

Steven Soumokil, mantan jaksa agung NIT pada tanggal 25 April 1950.

Sebenarnya Soumokil ikut mendalangi pemberontakan Andi Azis, namun setelah

muncul tanda-tanda kegagalan ia melarikan diri ke Maluku Tengah dan

memusatkan gerakannya di Ambon.

Pada awalnya, pemerintah RIS ingin menyelesaikan masalah ini secara

damai dengan jalan mengirimkan dr. Leimena. Tetapi misi damai ini ditolak

oleh Soumokil. Penolakan Soumokil ini mendorong pemerintah RIS untuk

mengirimkan ekspedisi militer ke Maluku yang dipimpin oleh Kolonel Alek E.

Kawilarang. Ekspedisi ini disebut Gerakan Operasi Militer II (GOM II).

Sumber: Ensiklopedi Nasional
Indonesia Jilid 8
, 1990
Gambar 12.5 Kolonel Alek

E. Kawilarang.

IPS IX untuk SMP/MTs

268

Pada tanggal 3 November 1950, pasukan APRIS berhasil menguasai Ambon

dan merebut Benteng Nieuw Victoria. Dalam perebutan benteng tersebut,

Letnan Kolonel Slamet Riyadi gugur. Dengan jatuhnya Ambon, maka per-

lawanan RMS praktis dapat dipatahkan. Soumokil dengan sisa pasukannya

melarikan diri ke pedalaman Pulau Seram. Akhirnya, pada tanggal 2 Desember

1953 Soumokil dapat ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.

4. Gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII)

Pemberontakan DI/TII merupakan suatu usaha untuk mendirikan negara

Islam di Indonesia dengan mengganti dasar negara Pancasila dan membentuk

kekuatan bersenjata di luar tubuh TNI. Pemberontakan DI/TII terjadi di

berbagai daerah di Indonesia antara lain di Jawa Barat, Jawa Tengah, Aceh,

Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan.

a.Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat

Gerakan DI/TII di Jawa Barat dipimpin oleh

Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo. Gerakan ini

muncul pada waktu terjadi penarikan pasukan TNI

dari wilayah yang diduduki Belanda ke wilayah RI

sebagai akibat adanya Persetujuan Renville. Namun

S.M. Kartosuwiryo tidak mau mengikuti ketentuan

persetujuan Renville. Bahkan mereka memutuskan

untuk tetap tinggal di Jawa Barat dan membentuk

Gerakan Darul Islam (DI). Pada tanggal 7 Agustus

1949, SM. Kartosuwiryo secara resmi menyatakan

berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) dan seluruh

pasukannya dijadikan Tentara Islam Indonesia (TII).

Usaha penumpasan Gerakan DI/TII di

Jawa Barat memakan waktu yang lama. Hal

ini disebabkan kesibukan TNI untuk

memadamkan pemberontakan PKI di

Madiun dan melawan agresi militer Belanda.

Akhirnya pada tanggal 4 Juni 1962, melalui

operasi Pagar Betis, pasukan TNI bersama

rakyat berhasil menghancurkan Gerakan

DI/TII. SM. Kartosuwiryo sendiri

tertangkap di Gunung Geber, Majalaya dan

selanjutnya dijatuhi hukuman mati.

b.Pemberontakan DI/TII di Jawa

Tengah

Gerakan DI/TII di Jawa Tengah dipimpin oleh Amir Fatah. Gerakan ini mem-

punyai tujuan yang sama dengan DI/TII di Jawa Barat, yaitu ingin mendirikan

Negara Islam Indonesia.

Sumber: Ensiklopedi Umum
untuk Pelajar Jilid 3
, 2005
Gambar 12.6 Sekarmadji

Maridjan Kartosuwiryo.

S.M. Kartosuwiryo adalah pe-
mimpin DI di Jabar (1946 -
1962). Pada masa pergerakan
nasional ia tergabung dalam SI.
Pada masa pendudukan Jepang
bergabung dalam MIAI. Setelah
Indonesia merdeka menjadi
pengurus besar Masyumi. Ketika
RI kalah dalam Perundingan
Renville, ia memproklamasikan
Negara Islam Indonesia dan
melakukan pemberontakan.

Bab 12 Peristiwa Tragedi Nasional dan Konflik-Konflik Internal Lainnya (1948 1965)

269

Pada tanggal 23 Agustus 1949, ia memproklamasikan berdirinya Darul

Islam di desa Pangarasan, Tegal. Pasukannya kemudian diberi nama Tentara

Islam Indonesia (TII). Gerakan Amir Fatah yang menamakan diri Majelis Islam

beroperasi di beberapa daerah, seperti Brebes, Tegal, Kebumen, dan Pekalongan.

Pada awalnya, pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah sudah mulai

terdesak oleh TNI. Namun, pada tahun 1952 mereka menjadi kuat kembali

setelah adanya pemberontakan Batalyon 423 dan 426. Untuk menumpas

gerakan DI/TII di Jawa Tengah ini, pemerintah membentuk pasukan khusus

yang disebut Banteng Raiders. Dengan pasukan khusus ini segera dilakukan

serangkaian operasi kilat yang disebut Gerakan Banteng Negara (GBN).

Akhirnya, pada tahun 1954 GBN ini berhasil menumpas Gerakan DI/TII di

Jawa Tengah. Sisa-sisa gerakan ini kemudian masuk ke hutan-hutan di Gunung

Merapi dan Merbabu serta melakukan berbagai perampokan, pembunuhan,

dan kerusuhan lainnya. Oleh karena itu, gerakan ini dikenal dengan Gerakan

Merapi Merbabu Complex (MMC).

c.Pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan

Gerakan DI/TII di Sulawesi

Selatan dipimpin oleh Kahar Muzakar.

Gerakannya dinamakan Komando

Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS).

Kahar Muzakar menginginkan agar

semua anggota KGSS dimasukkan ke

dalam APRIS dengan nama Brigade

Hasanuddin. Akan tetapi, tuntutan ini

tidak dapat dipenuhi pemerintah.

Pada bulan Januari 1952, Kahar

Muzakar menyatakan bahwa daerah

Sulawesi Selatan adalah bagian dari Negara Islam Indonesia di bawah pimpinan

Kartosuwiryo. Mulai saat itu, ia meningkatkan kegiatannya dengan jalan

melakukan teror terhadap rakyat Sulawesi Selatan.

Untuk mengatasi pemberontakan itu, pemerintah melancarkan operasi

militer ke Sulawesi Selatan. Operasi ini memakan waktu yang lama karena

gerakan yang dimulai pada tahun 1951 tersebut baru benar-benar diselesaikan

pada tahun 1965. Kemudian pada bulan Juli 1965, Gerungan (orang kedua

setelah Kahar Muzakar) dapat ditangkap. Dengan demikian, berakhirlah

pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan.

d.Pemberontakan DI/TII di Aceh

Gerakan DI/TII di Aceh dipimpin oleh Tengku Daud Beureuh. Gerakan ini

berawal setelah negara kesatuan terbentuk kembali dan pemerintah mengadakan

penyederhanaan administrasi pemerintahan, maka beberapa daerah mengalami

penurunan status. Salah satunya adalah Aceh yang diturunkan kedudukannya

dari Daerah Istimewa menjadi Karesidenan di bawah provinsi Sumatra Utara.

Sumber: Sejarah Nasional Indonesia VI, 1993
Gambar 12.7 Gerombolan DI/TII yang

menyerah kepada TNI.

IPS IX untuk SMP/MTs

270

Daud Beureuh yang sebelumnya menjabat sebagai Gubernur Militer Daerah

Istimewa Aceh merasa kurang puas dan menganggap kekuasaannya turun.

Oleh karena itu, pada tanggal 21 September 1953, Daud Beureuh mengeluarkan

maklumat yang menyatakan bahwa Aceh merupakan negara bagian dari Negara

Islam Indonesia di bawah Kartosuwiryo.

Untuk menumpas gerakan ini, pemerintah terpaksa menggunakan kekuatan

senjata dan operasi militer mulai dijalankan terhadap mereka. Selain itu, TNI

juga memberikan penerangan kepada rakyat Aceh untuk menghilangkan salah

paham dan mengembalikan kepercayaannya terhadap pemerintah.

Pemberontakan ini akhirnya dapat diselesaikan setelah tanggal 17 - 28

Desember 1962 dicapai kesepakatan melalui Musyawarah Kerukunan Rakyat

Aceh yang diadakan atas inisiatif Kolonel Jasin, Pangdam I dan didukung oleh

tokoh-tokoh pemerintahan daerah serta rakyat.

e.Pemberontakan DI/TII di Kalimantan Selatan

Pemberontakan DI/TII di Kalimantan Selatan dipimpin oleh Ibnu Hajar,

mantan anggota TNI berpangkat Letnan Dua. Pemberontakan ini

dilatarbelakangi adanya rasa tidak puas terhadap pemerintah. Gerakan Ibnu

Hajar ini diberi nama Kesatuan Rakyat yang Tertindas (KRYT) dan merupakan

bagian dari DI/TII Kartosuwiryo. Menurut Ibnu Hajar, pemerintah RI pimpinan

Soekarno hanyalah penindas baru yang tidak menghiraukan aspirasi rakyat

muslim. Oleh karena itu, rakyat harus bersatu untuk melawan pemerintah RI

pimpinan Soekarno dengan mendirikan Negara Islam.

Pada akhir tahun 1954, Ibnu Hajar membulatkan tekadnya untuk masuk

Negara Islam Indonesia pimpinan Kartosuwiryo. Ibnu Hajar sendiri diangkat

menjadi panglima Tentara Islam Indonesia untuk Kalimantan. Untuk menumpas

gerakan ini, pemerintah Republik Indonesia menempuh jalan damai dengan cara

memberi kesempatan kepada pemberontak untuk menyerahkan diri dan

diperbolehkan kembali masuk APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia).

Namun usaha ini gagal, bahkan Ibnu Hajar mengelabui pemerintah untuk

memperoleh senjata. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia bertindak tegas

dengan melakukan operasi militer. Akhirnya, pada bulan Juli 1963 Ibnu Hajar

dapat ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.

Pada masa Demokrasi Terpimpin terdapat persaingan antara PKI dan TNI

AD sehingga pada waktu itu, di Indonesia muncul interaksi tiga kekuatan,

yaitu presiden, PKI, dan TNI AD. Di tengah-tengah situasi persaingan antara

PKI dan TNI AD, muncul sekelompok pasukan bersenjata yang berusaha

menggulingkan pemerintahan Soekarno dan berusaha melakukan penculikan

terhadap beberapa perwira AD. Usaha sekelompok pasukan bersenjata ini

menamakan diri Gerakan 30 September (Gestapu) PKI.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->