P. 1
BukuBse.belajarOnlineGratis.com-Smp Kelas 9 Ips Suprihartoyo-1

BukuBse.belajarOnlineGratis.com-Smp Kelas 9 Ips Suprihartoyo-1

5.0

|Views: 18,431|Likes:
Published by BelajarOnlineGratis

More info:

Published by: BelajarOnlineGratis on Aug 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/11/2015

pdf

text

original

Brigade 49/Divisi India ke-23
tentara Sekutu (AFNEI) di bawah
komando Brigadir Jenderal
A.W.S. Mallaby untuk pertama kali
mendarat di Surabaya tanggal 25
Oktober 1945. Maka dimulailah
rangkaian peristiwa terjadinya
Pertempuran Surabaya.

Wawasan Sosial

Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

53

Pangkalan Udara Tanjung Perak, Kantor Pos Besar, Gedung
Internatio, dan beberapa objek vital lainnya.
Tindak provokatif ini akhirnya memupuskan kepercayaan
pemerintah Indonesia terhadap Inggris di Surabaya,
sekaligus menyulut pertempuran. Dalam pertempuran
tersebut hampir saja memusnahkan pasukan Inggris,
sebelum Soekarno memerintahkan gencatan senjata pada
tanggal 30 Oktober atas permintaan Inggris. Namun, keadaan
kembali memanas setelah Brigadir Jenderal Mallaby tewas
dalam tembak-menembak antara Tentara Keamanan Rakyat
(TKR) dengan Inggris.
Untuk membangkitkan semangat rakyat, Bung Tomo
menyerukan agar rakyat Surabaya tidak takut dan tidak
menyerah terhadap ancaman Sekutu. Keberanian rakyat
Surabaya diperingati setiap tanggal 10 November sebagai
Hari Pahlawan.
b.Pertempuran Ambarawa
Pertempuran Ambarawa diawali oleh mendaratnya tentara
Sekutu di bawah pimpinan Brigadir Jenderal Bethel di
Semarang pada tanggal 20 Oktober 1945. Kedatangan
mereka disambut dengan baik oleh masyarakat Semarang
karena tujuan mereka adalah untuk mengambil dan
mengurus tawanan Jepang. Mereka pun berjanji tidak
mengganggu kedaulatan RI. Namun, pertempuran demi
pertempuran terjadi di Magelang dan Ambarawa antara
pasukan Sekutu dan NICA dengan TKR. Hal ini dipicu oleh
pihak Sekutu yang secara sepihak membebaskan interniran
Belanda di Magelang dan Ambarawa. Kemudian Presiden
Soekarno dan Brigadir Jenderal Bethel berunding, hasilnya
pasukan Sekutu mundur ke Ambarawa pada tanggal 21
November 1945. Gerakan mundur pasukan Sekutu tertahan
oleh serangan dari pasukan TKR yang dipimpin
Sastrodihardjo di Desa Jambu. Di Desa Ngipik pun mereka
dihadang lagi oleh Batalyon I Surjosumpeno. Komandan
Resimen Banyumas Kolonel Isdiman gugur ketika mencoba
membebaskan dua desa yang dikuasai Sekutu. Karena
Isdiman gugur, maka pimpinan diambil alih oleh Soedirman.
Beliau menggunakan taktik untuk menyerang semua posisi
Sekutu secara bersamaan. Sampai pada akhirnya tanggal 12
Desember 1945 pasukan Sekutu harus mundur ke
Semarang.
c.Pertempuran Medan Area
Berita proklamasi baru sampai di Medan pada tanggal 22
Agustus 1945 dibawa oleh Gubernur Sumatra Mr. Teuku
M. Hassan. Gubernur ditugaskan untuk menegakkan
kedaulatan RI dengan membentuk Komite Nasional
Indonesia Wilayah Sumatra.
Pasukan Sekutu yang diboncengi oleh serdadu Belanda dan
NICA mendarat di Medan pada tanggal 9 Oktober 1945
dipimpin oleh Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly bertujuan

Gambar 2.4Bung Tomo, pemimpin per-
juangan rakyat Surabaya.

Sumber:30 Tahun Indonesia Merdeka

Gambar 2.5Teuku Moh. Hasan
Sumber:30 Tahun Indonesia Merdeka

Ilmu Pengetahuan Sosial SMP dan MTs Kelas IX

54

mengambil alih pemerintahan. Pertempuran pertama
meletus pada tanggal 13 Oktober 1945 antara para pemuda
dengan pasukan Belanda yang dikenal dengan Pertempuran
Medan Area. Pertempuran semakin meluas yang
menyebabkan Sekutu membuat larangan masyarakat untuk
membawa senjata. Bahkan semua senjata yang ada harus
diserahkan kepada Sekutu. Pada tanggal 10 Desember 1945,
Sekutu melancarkan operasi militer yang berdampak pada
pertempuran dengan pasukan TKR dan para pemuda.
d.Bandung Lautan Api
Pasukan Sekutu yang datang pada bulan Oktober 1945
menghendaki senjata-senjata yang didapatkan para pemuda
agar diserahkan kepada Sekutu. Karena perintah itu tidak
diindahkan oleh para pemuda, maka pada tanggal 21
November 1945 pasukan Sekutu mengultimatum agar
mengosongkan Bandung Utara yang berujung pada
seringnya terjadi insiden antara Sekutu dengan para pemuda.
Akhirnya Bandung Utara dapat dikuasai pasukan Belanda,
sedangkan Bandung Selatan tetap dikuasai oleh pasukan
TKR. Sekutu mengeluarkan ultimatum kedua pada tanggal
23 Maret 1946. Para pemuda terpaksa meninggalkan Kota
Bandung atas perintah pemerintah RI dengan terlebih
dahulu membakar Bandung Selatan, lalu mundur ke luar
kota. Peristiwa itu kemudian dikenal dengan “Bandung lautan
Api
”.
e.Pertempuran Margarana di Bali
Akibat Perjanjian Linggajati, maka daerah Bali bukan lagi
termasuk wilayah RI. Ketika Belanda hendak membentuk
negara boneka yaitu Negara Indonesia Timur, Letnan Kolonel
Ngurah Rai ditawari untuk bekerja sama dengan Belanda.
Namun, tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh beliau.
Bahkan, pada tanggal 18 November 1946 Ngurah Rai
menyerang pasukan Belanda. Belanda membalasnya dengan
mengerahkan semua kekuatan di Bali dan Lombok, lengkap
dengan pesawat terbang. Pertempuran yang dikenal dengan
Pertempuran Puputan itu dimenangkan Belanda, dan Ngurah
Rai gugur beserta anak buahnya.

2.Aktivitas Diplomasi Indonesia untuk Mem-
pertahankan Kemerdekaan

Berikut ini merupakan cara diplomasi yang dilakukan Indonesia
dengan Belanda.
a.Perundingan Linggajati
Perundingan Linggajati yang diadakan oleh pemerintah
Indonesia dan Belanda pada tanggal 10 November 1946 dan
ditandatangani secara resmi pada tanggal 25 Maret 1947
menghasilkan perjanjian yang disebut dengan Perjanjian
Linggajati yang isi pokoknya adalah sebagai berikut.

Tugas Mandiri

Apa alasan para pejuang Bandung
membumihanguskan Kota Bandung
Selatan?

Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

55

1)Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia
dengan wilayah kekuasaan meliputi Sumatra, Jawa, dan
Madura. Belanda sudah harus meninggalkan daerah de
facto
paling lambat tanggal 1 Januari 1949.
2)Republik Indonesia dan Belanda akan bekerja sama dalam
membentuk Negara Indonesia Serikat dengan nama
Republik Indonesia Serikat, di mana salah satu negara
bagiannya adalah Republik Indonesia.
3)Republik Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk
Uni Indonesia Belanda dengan ratu Belanda sebagai
ketuanya.
Pada Perundingan Linggajati, delegasi Indonesia dipimpin
Sutan Syahrir dan delegasi Belanda dipimpin Prof.
Schermerhorn. Sementara itu Inggris yang menjadi
penengah mengirim Lord Killearn.
Anggota delegasi Indonesia terdiri atas Moh. Roem, Susanto
Tirtoprojo, AG. Pringgodigdo, J. Leimena, AK. Gani, Amir
Syarifudin, dan Ali Budiharjo. Sedangkan delegasi Belanda
terdiri atas M. van Poll dan Dr. van Mook
Akibat Perjanjian Linggajati bagi Indonesia adalah sebagai
berikut.
1)Sisi positif, setelah Belanda mengakui wilayah RI secara
de facto, beberapa negara menyampaikan pengakuan
kedaulatan RI (Mesir, Lebanon, Suriah, dan lain-lain).
2)Sisi negatif, menimbulkan pro dan kontra dalam anggota
KNIP serta jatuhnya Kabinet Syahrir.
b.Perundingan Renville
Perundingan Renville diselenggarakan tanggal 8 Desember
1947 di geladak kapal perang Amerika USS Renville. Delegasi
Indonesia dipimpin oleh PM. Amir Syarifudin dan delegasi
Belanda dipimpin R. Abdul Kadir Widjojoatmodjo.
Delegasi Indonesia pada perundingan ini antara lain Amir
Syarifudin, Dr. J. Leimena, dan Ali Sastroamidjoyo. Perundingan
itu menghasilkan sebuah Perjanjian Renville yang
ditandatangani pada tanggal 17 Januari 1948. Perjanjian
Renville terdiri atas 10 pasal persetujuan gencatan senjata,
12 pasal prinsip politik, dan 6 pasal prinsip-prinsip tambahan.
Isi Perjanjian Renville antara lain sebagai berikut.
1)Segera dikeluarkan perintah penghentian tembak-
menembak di sepanjang garis van Mook.
2)Penghentian tembak-menembak segera diikuti dengan
perjanjian peletakan senjata dan pembentukan daerah-
daerah kosong militer.
3)RI menyetujui dibentuknya RIS dengan masa peralihan.
4)Daerah RI yang diduduki Belanda dari agresi pertama
harus diakui oleh Indonesia sebagai daerah pendudukan
Belanda.

Perjanjian Linggajati ditentang
oleh beberapa partai seperti PNI,
Masyumi, Partai Rakyat Indone-
sia, Partai Rakyat Jelata, dan
Partai Wanita. Partai penentang
ini selanjutnya mendirikan
organisasi Benteng Republik In-
donesia.

Wawasan Sosial

Ilmu Pengetahuan Sosial SMP dan MTs Kelas IX

56

Perjanjian ini sangat merugikan pihak Indonesia karena
wilayah Indonesia menjadi sempit dan dikepung oleh
wilayah-wilayah yang dikuasai Belanda dengan garis van
Mook. Apalagi Indonesia harus menghadapi blokade
ekonomi dari Belanda yang membuat posisi Indonesia
semakin sulit.
c.Konferensi Asia di New Delhi
Konferensi yang diprakarsai oleh Birma dan India ini
merupakan bentuk dukungan negara-negara Asia terhadap
kemerdekaan Indonesia sekaligus merupakan tekanan
internasional bagi Belanda. Konferensi yang dilaksanakan
tanggal 20 sampai 23 Januari 1949 ini dihadiri negara-negara
Afrika dan Australia yang menghasilkan resolusi sebagai
berikut.
1)Pengembalian pemerintah Republik Indonesia ke
Jogjakarta.
2)Pembentukan pemerintahan interim yang mempunyai
kemerdekaan dan politik luar negeri, sebelum tanggal
15 Maret 1949.
3)Penarikan tentara Belanda dari seluruh wilayah Indonesia.
4)Penyerahan kedaulatan kepada pemerintah Indonesia
Serikat paling lambat tanggal 1 Januari 1950.
d.Perundingan Roem–Royen
Lahirnya Perundingan Roem-Royen merupakan tindak lanjut
dari resolusi Dewan Keamanan PBB yang sebelumnya telah
didahului dengan perundingan di Hotel Des Indes Jakarta
pada tanggal 14 April 1949. Dalam perundingan ini delegasi
Republik Indonesia dipimpin Moh. Roem dengan anggota
Ali Sastroamidjojo, Dr. J. Leimena, Djoeanda, Soepomo, dan
Latuharhary. Delegasi Belanda dipimpin oleh van Royen yang
didampingi N. Blom, A. Jacob, dan J.J. van der Velde.
Sementara itu wakil dari PBB (UNCI) adalah Merle Cochran.

Dalam Perjanjian Renville, pihak
Belanda sengaja mengangkat
orang Indonesia sebagai ketua,
sekretaris, dan anggota delegasi
untuk menimbulkan kesan bahwa
pertikaian yang sesungguhnya
terjadi antara orang Indonesia
sendiri dan Belanda hanya
bertindak sebagai penengah.

Wawasan Sosial

Gambar 2.6Suasana perundingan di atas kapal Renville.
Sumber:30 Tahun Indonesia Merdeka

Gambar 2.7Suasana Konferensi
Asia di New Delhi yang
membicarakan masalah
Indonesia.

Sumber:30 Tahun Indonesia Merdeka

Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

57

Perundingan Roem-Royen mencapai kesepakatan tanggal 7
Mei 1949 dengan melahirkan persetujuan yang kemudian
dikenal dengan nama “Roem–Royen statements”. Adapun isi
pokok persetujuan tersebut adalah sebagai berikut.
1)Delegasi Indonesia menyatakan kesediaan pemerintah RI
untuk berikut ini.
a)Menghentikan perang gerilya.
b)Bekerja sama dalam mengembalikan perdamaian
serta menjaga ketertiban dan keamanan.
c)Turut serta dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di
Den Haag.
2)Delegasi Belanda menyetujui untuk berikut ini.
a)Mengembalikan pemerintahan RI di Jogjakarta.
b)Menjamin penghentian gerakan-gerakan militer dan
membebaskan semua tawanan perang.
c)Tidak akan mendirikan atau mengakui negara-negara
di daerah yang dikuasai RI sebelum tanggal 19
Desember 1948 dan tidak akan meluaskan negara atau
daerah dengan merugikan penduduk.
d)Menyetujui adanya Republik Indonesia sebagai
bagian dari Negara Indonesia Serikat.
e)Berusaha untuk segera mengadakan Konferensi Meja
Bundar (KMB) sesudah pemerintah republik ke
Jogjakarta.
Perjanjian itu sangat menguntungkan Indonesia karena
Belanda harus meninggalkan Jogjakarta, sehingga TNI dapat
memasuki Jogjakarta. Presiden dan wakilnya serta pejabat
tinggi pun dibebaskan dan dapat kembali ke Jogjakarta.
Dengan situasi seperti itu, maka Jenderal Soedirman dapat
kembali ke Jogjakarta dan Pemerintah Darurat Republik
Indonesia (PDRI) menyerahkan kembali mandatnya kepada
Presiden RI di Jogjakarta.
e.Konferensi Inter–Indonesia
Konferensi Inter–Indonesia diadakan pada tanggal 19–22 Juli
di Jogjakarta dan pada tanggal 30 Juli sampai tanggal 2
Agustus 1949 di Jakarta. Penyelenggaraan Konferensi Inter-
Indonesia ini dilatarbelakangi oleh keinginan menjalin
persatuan dan sikap bersama guna menghadapi Belanda
dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) nanti.
Pembicaraan dalam konferensi ini hampir semuanya
mengenai masalah pembentukan Indonesia Serikat (RIS),
terutama mengenai tata susunan dan hak pemerintah RIS
di satu pihak, serta hak negara-negara bagian di lain pihak.
Konferensi yang diselenggarakan antara wakil-wakil
Republik Indonesia dengan pemimpin-pemimpin Bijeenkomst
Voor Federal Overleg
(BFO) ini menghasilkan kesepakatan
sebagai berikut.

Gambar 2.8Setiba di Jogjakarta Jen-
deral Soedirman langsung
menemui presiden dan
wakil presiden.

Sumber:30 Tahun Indonesia Merdeka

Tugas Mandiri

Apakah makna yang dapat
diambil dengan kembalinya
presiden, wakil presiden, dan
para pejabat tinggi ke Jogjakarta?

Perundingan Roem-Royen mencapai kesepakatan tanggal 7
Mei 1949 dengan melahirkan persetujuan yang kemudian
dikenal dengan nama “Roem–Royen statements”. Adapun isi
pokok persetujuan tersebut adalah sebagai berikut.
1)Delegasi Indonesia menyatakan kesediaan pemerintah RI
untuk berikut ini.
a)Menghentikan perang gerilya.
b)Bekerja sama dalam mengembalikan perdamaian
serta menjaga ketertiban dan keamanan.
c)Turut serta dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di
Den Haag.
2)Delegasi Belanda menyetujui untuk berikut ini.
a)Mengembalikan pemerintahan RI di Jogjakarta.
b)Menjamin penghentian gerakan-gerakan militer dan
membebaskan semua tawanan perang.
c)Tidak akan mendirikan atau mengakui negara-negara
di daerah yang dikuasai RI sebelum tanggal 19
Desember 1948 dan tidak akan meluaskan negara atau
daerah dengan merugikan penduduk.
d)Menyetujui adanya Republik Indonesia sebagai
bagian dari Negara Indonesia Serikat.
e)Berusaha untuk segera mengadakan Konferensi Meja
Bundar (KMB) sesudah pemerintah republik ke
Jogjakarta.
Perjanjian itu sangat menguntungkan Indonesia karena
Belanda harus meninggalkan Jogjakarta, sehingga TNI dapat
memasuki Jogjakarta. Presiden dan wakilnya serta pejabat
tinggi pun dibebaskan dan dapat kembali ke Jogjakarta.
Dengan situasi seperti itu, maka Jenderal Soedirman dapat
kembali ke Jogjakarta dan Pemerintah Darurat Republik
Indonesia (PDRI) menyerahkan kembali mandatnya kepada
Presiden RI di Jogjakarta.
e.Konferensi Inter–Indonesia
Konferensi Inter–Indonesia diadakan pada tanggal 19–22 Juli
di Jogjakarta dan pada tanggal 30 Juli sampai tanggal 2
Agustus 1949 di Jakarta. Penyelenggaraan Konferensi Inter-
Indonesia ini dilatarbelakangi oleh keinginan menjalin
persatuan dan sikap bersama guna menghadapi Belanda
dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) nanti.
Pembicaraan dalam konferensi ini hampir semuanya
mengenai masalah pembentukan Indonesia Serikat (RIS),
terutama mengenai tata susunan dan hak pemerintah RIS
di satu pihak, serta hak negara-negara bagian di lain pihak.
Konferensi yang diselenggarakan antara wakil-wakil
Republik Indonesia dengan pemimpin-pemimpin Bijeenkomst
Voor Federal Overleg
(BFO) ini menghasilkan kesepakatan
sebagai berikut.

Ilmu Pengetahuan Sosial SMP dan MTs Kelas IX

58

1)BFO mendukung tuntutan RI atas penyerahan
kedaulatan tanpa ikatan-ikatan politik ataupun ekonomi.
2)Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS)
adalah angkatan perang nasional dan TNI menjadi inti
dari APRIS.
3)Pertahanan negara adalah semata-mata hak pemerintah
RIS, negara-negara bagian tidak mempunyai angkatan
perang sendiri.
4)Negara Indonesia Serikat diganti namanya menjadi
Republik Indonesia Serikat (RIS).
Dalam konferensi ini delegasi RI terdiri atas Moh. Hatta,
Moh. Roem, Soepomo, J. Leimena, Ali Sastroamidjojo,
Djoeanda, Soemitro Djojohadikoesoemo, Soekiman,
Soejono Hadinoto, T.B. Simatupang, dan Soemardi.
Sedangkan delegasi BFO dipimpin Sultan Hamid II dari
Pontianak.
f.Konferensi Meja Bundar (KMB)
Konferensi Meja Bundar dilaksanakan tanggal 23 Agustus
1949 di Den Haag. Pihak Indonesia diwakili Drs. Moh Hatta,
BFO dipimpin oleh Sultan Hamid II, Belanda diketuai Mr.
van Maarseveen, dan UNCI oleh Chritchley sebagai peninjau.
Konferensi tersebut menghasilkan keputusan sebagai
berikut.
1)Belanda akan mengakui RIS sebagai negara yang
merdeka dan berdaulat selambat-lambatnya pada akhir
Desember 1949.
2)Penyelesaian soal Irian Barat ditangguhkan sampai tahun
berikutnya sesudah pengakuan kedaulatan.
3)RIS dan Belanda akan bekerja sama dalam suatu
perserikatan yang dipimpin ratu Belanda atas dasar
sukarela serta persamaan derajat dan hak.
4)RIS mengembalikan hak milik Belanda, memberi hak
konsensi, dan izin baru bagi perusahaan-perusahaan
Belanda.
5)Semua utang bekas Hindia Belanda harus dibayar oleh

RIS.

6)Pembubaran KNIL, dan RIS akan membentuk angkatan
perang dengan TNI sebagai inti kekuatannya.
Persetujuan KMB berhasil ditandatangani pada tanggal 2
November 1949. Kemudian tanggal 29 Oktober 1949, RI
dan BFO melakukan penandatanganan piagam persetujuan
Konstitusi RIS.
Dengan persetujuan hasil KMB, maka berdirilah negara
Indonesia dalam bentuk federal dengan nama RIS (Republik
Indonesia Serikat). Negara RIS terdiri dari negara-negara
bagian, yaitu Negara Republik Indonesia, Negara Sumatra
Timur, Negara Sumatra Selatan, Negara Pasundan, Negara
Jawa Timur, Negara Madura, Negara Indonesia Timur, dan
sembilan satuan kenegaraan, yaitu Kalimantan Barat,

Gambar 2.10Konferensi Meja Bundar
yang berlangsung di
Den Haag, Belanda.

Sumber:Ensiklopedi Umum untuk
Pelajar

Gambar 2.9SuasanaKonferensi
Inter–Indonesia pertama
di Jogjakarta.

Sumber:30 Tahun Indonesia Merdeka

Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

59

Kalimantan Timur, Kalimantan Tenggara, Banjar, Dayak
Besar, Bangka, Biliton, Riau, dan Jawa Tengah.
Pada tanggal 23 Desember 1949 delegasi Indonesia yang
dipimpin oleh Moh. Hatta berangkat ke negeri Belanda untuk
menandatangani naskah pengakuan kedaulatan dari
pemerintah Belanda.
Selanjutnya Ratu Yuliana pada tanggal 27 Desember 1949
menandatangani piagam pengakuan kedaulatan RIS di
Amsterdam. Pada saat yang bersamaan di Istana Merdeka Jakarta
juga berlangsung penandatanganan pengakuan kedaulatan RIS
dari Wali Tinggi Mahkota Belanda Lovink kepada wakil
pemerintahan RIS Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Berbagai konferensi telah dilakukan oleh Indonesia dengan
Belanda untuk menyelesaikan pertikaian. Keberhasilan tokoh-
tokoh nasionalis Indonesia dalam perjuangan diplomasi
memaksa Belanda keluar dari Indonesia. Setelah Belanda pergi,
di dalam masyarakat muncul tuntutan-tuntutan untuk kembali
ke bentuk negara kesatuan sesuai dengan amanat UUD 1945.

Posisi Republik Indonesia yang hanya merupakan salah satu
negara bagian di dalam RIS secara tidak langsung telah
memperlemah posisi dan kedudukan RI sendiri. Hal inilah yang
diharapkan oleh Belanda. Karena walau bagaimanapun, negara-
negara bagian bentukan Belanda tersebut tentu lebih
memberikan dukungan kepada Belanda sebagai pembentuknya
daripada kepada Pemerintah Republik Indonesia yang jelas-jelas
berseberangan dengan Belanda.
Terbentuknya RIS mengakibatkan UUD 1945 hanya berlaku
di Republik Indonesia yang berstatus sebagai salah satu negara
bagian RIS. Sebagai undang-undang tertinggi, para pemimpin
RI dan negara-negara bagian memberlakukan Konstitusi RIS.
Kemudian, Ir. Soekarno diangkat sebagai presiden RIS dan
Drs. Mohammad Hatta sebagai perdana menteri RIS. Karena
diangkat sebagai presiden RIS, maka jabatan presiden RI
kemudian dijalankan oleh Mr. Asaat dengan status sebagai
pemangku tugas presiden RI.
Namun dalam perkembangannya, rencana Belanda untuk
tetap menanamkan pengaruhnya di Indonesia justru gagal total.
Ini disebabkan sebagian besar rakyat Indonesia yang sejak
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia mendukung Republik
Indonesia, tidak menerima kenyataan bahwa negara yang
mereka cintai hanya diakui sebagai salah satu negara bagian
dalam RIS. Karena itu, muncul asumsi bahwa RIS merupakan
negara bentukan Belanda, terutama karena adanya ketentuan
pembentukan Uni Indonesia–Belanda yang dipimpin ratu
Belanda.

Di samping rasa syukur bahwa
perjuangan bersenjata telah
berakhir, di kalangan masyarakat
terdapat pula rasa tidak puas
terhadap hasil-hasil yang dicapai
dalam KMB. Memang terbukti
kemudian bahwa Belanda telah
meninggalkan bom-bom waktu
yang akan mengganggu ketentera-
man bangsa Indonesia dalam
mengisi kemerdekaan.

Wawasan Sosial

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->