ANALISIS HASIL PENGUJIAN UJI FATIK ROTATING BENDING DENGAN MENGGUNAKAN MATERIAL SS304 UNTUK VERIFIKASI MESIN

Oleh : Alim Mardhi, Histori Pusat Teknologi Reaktor Dan Keselamatan Nuklir – BATAN alim_mardhi@yahoo.com; histori@yahoo.com

ABSTRAK Analisis Hasil Pengujian Uji Fatik Rotating Bending Dengan Menggunakan Material SS304 Untuk Verifikasi Mesin. PTRKN-BATAN memiliki fasilitas mesin uji fatik tipe rotating bending yang dibeli pada tahun 1989. Untuk memastikan kinerja mesin sebelum dilakukan pengujian fatik, diperlukan verifikasi. Pada makalah ini dibahas tentang pengujian uji fatik rotating bending dengan menggunakan material SS304. Pengujian ini bertujuan untuk memverifikasi mesin uji fatik sehingga dapat digunakan pada penelitian fatik. Verifikasi mesin dilakukan dengan cara melakukan pengujian fatik dan validasi hasil pengujian dengan membandingkan nilai tegangan lentur pada penampang yang fatik antara nilai dari standar mesin dan nilai hasil perhitungan mekanika. Dari perbandingan ini diperoleh penyimpangan sebesar 5,89% . Sebagai hasil verifikasi berdasarkan hasil pengujian dan analisis disimpulkan bahwa mesin uji fatik dinyatakan layak untuk dipergunakan dalam penelitian dan nilai 5,89% akan dijadikan sebagai faktor koreksi terhadap data hasil pengujian. Kata kunci : Fatik; Mesin Uji Fatik; Rotating Bending; ABSTRACT Experimental Data Analysis of Rotating Bending Fatigue Tests by Using Metal SS304 for Machine Verification. PTRKN-BATAN has a rotating bending fatigue machine that was bought in 1989. To ensure the performance ability of this facility, the verification of the machine is needed. The topic of this paper is make an explanation about rotating bending fatigue test by using metal SS304. The objective is to provide data for supporting verification of fatigue machine that will be use in fatigue research. The verification methods are by doing fatigue experiment and analytical experimental results validation by make the bending stress comparison between test results and the machine reference standard. From the verification justification can be conclude that rotating bending fatigue machine is ready to use in fatigue research. Key word: Fatigue; Fatigue machine; Rotating Bending;

Sehingga efek beban bolakbalik (reversible) terjadi pada benda uji yang berakibat benda uji dapat mengalami kegagalan fatik (fatigue failure) setelah mengalami sejumlah putaran. Untuk mengetahui performa mesin dalam kondisi layak atau tidaknya dipergunakan maka harus dilakukan verifikasi terlebih dahulu. Mesin ini dibeli tahun 1989 dan dipasang di laboratorium uji merusak. TEORI Uji Fatik Prinsip kerja pengujian fatik secara umum adalah dengan mengaplikasikan beban bolak balik pada benda uji. Dari hasil perbandingan data tersebut dapat dijadikan referensi untuk menyatakan status kelayakan mesin untuk dapat dipergunakan dalam penelitian.[1] Fenomena ini merupakan penyebab utama dari banyak kegagalan yang terjadi pada integritas struktur. atau beban kombinasi (combined stress). Usia mesin yang sudah tua memerlukan kepastian agar dapat dipergunakan sesuai fungsinya. Diharapkan pengujian ini akan dapat memberikan verifikasi fungsional mesin.[2] Tipe pembebanan rotating bending adalah salah satu tipe yang tergolong beban kombinasi dikarenakan benda uji akan mendapat beban bending sekaligus diputar sehingga permukaan benda uji akan mengalami distribusi tegangan tarik dan tegangan tekan yang merata secara bergantian di permukaannya. Sehingga penelitian fatik masih terus dilakukan sampai saaat ini. Data yang dapat diperoleh dari pengujian fatik tipe rotating bending adalah tingkat tegangan atau nilai pembebanan yang diaplikasikan pada benda uji serta jumlah siklus atau putaran yang dicapai benda uji sampai mengalami patah. Untuk mendukung penelitian fatik. Gedung no 80 kawasan Puspiptek Serpong. Methodologi yang dipakai adalah dengan melakukan uji fungsi mesin secara keseluruhan seperti layaknya sebuah pengujian fatik untuk kemudian dilakukan validasi hasil pengujian tersebut secara analitik dengan menggunakan perhitungan mekanika kekuatan bahan. Biasanya posisi yang patah selalu terjadi pada daerah yang mendapatkan konsentrasi tegangan paling besar. Hasil pengujian dan validasi kemudian dibandingkan dengan spesifikasi standar yang dikeluarkan oleh pabrik pembuat mesin tersebut. Klasifikasi pengujian fatik didasarkan pada jenis pembebanan yang diterima oleh benda uji antara lain pengujian fatik dengan arah pembebanan axial (direct axial stress) berupa pembebanan tarik-tekan. secara experimental yang paling mendasar adalah diperlukan pengujian fatik.PENDAHULUAN Fatik adalah salah satu fenomena kegagalan material setelah kekuatan material tidak dapat menahan tegangan yang diakibatkan beban berulang dalam jumlah siklus tertentu. Grafik S-N . ada beberapa faktor yang mempengaruhi keakuratan dan kevalidan data yaitu faktor performa mesin uji. Data ini kemudian di plot dalam sebuah grafik yang disebut grafik S-N. PTRKN-BATAN memiliki mesin uji fatik tipe rotating bending. Sebagaimana pada pengujian yang menggunakan mesin uji. fabrikasi dan perlakuan terhadap benda uji dan kondisi lingkungan pada saat pengujian. batang berputar (rotating beam). torsi bolak-balik (alternating torsion). arah bidang bending (plane bending).

[4] σ= M x c FxL FxL = = 32 ………………………………………(pers. Pada bagian dalam grafik terdapat titik hitam yang merupakan data hasil pengujian pada satu benda uji. dimana sumbu horizontal berisi data jumlah siklus dan sumbu vertikal berisi data tingkatan tegangan pada saat patah pada jumlah siklus tertentu disebut kekuatan fatik (fatigue strength). Gambar 1. tegangan.1) I S π d3 I πd 3 dan untuk penampang berdiameter d nilai S = c 32 Dengan : M = F x L. amplitudo tegangan atau kekuatan fatik versus jumlah siklus operasi. Kondisi ini dinamakan batas ketahanan material dalam menerima beban fatik (endurance limit). Hasil pengujian akan diplot dalam sebuah grafik yang merupakan fungsi beban. Untuk merencanakan komponen yang dengan umur pakai yang aman bahkan umur tak hingga maka tingkat tegangan yang diaplikasikan harus berada di bawah batas tegangan endurance nya. Pada kondisi beban tertentu. Contoh grafik S-N diperlihatkan pada Gambar 1. Tingkatan tegangannya dinamakan tegangan endurance (σe). pengujian dapat dihentikan walau benda uji tersebut tidak patah dikarenakan jumlah siklus operasi yang sangat tinggi. Tegangan Lentur (Bending Stress) Dalam ilmu mekanika bahan. Hal ini ditunjukkan oleh grafik di atas dengan garis horizontal dan tanda panah yang berarti pada saat dihentikan. Grafik hasil pengujian fatik (fatigue test)[3] Dari grafik Gambar 1 di atas terdapat informasi mengenai karakteristik fatik dari material. S = Keterangan: .Grafik S-N adalah grafik yang didapat dari hasil pengujian fatik tipe pembebanan rotating bending. sedangkan pengujian masih berlangsung. untuk menghitung tegangan yang terjadi pada balok atau poros akibat menerima beban lentur menggunakan persamaan 1.

08 Vanadium V 0. material jenis ini digunakan karena banyak digunakan sebagai komponen di dalam reaktor nuklir. Pada pengujian ini digunakan jenis benda uji Toroidal sebagaimana di tampilkan dalam Gambar 2. . = Momen yang disebabkan beban F sejauh L dari titik tumpu. Berdasarkan hasil uji material dengan menggunakan alat uji Alloy Analyzer XMET 3000 dan dari hasil pengujian tarik didapat sifat-sifat material seperti yang ditampilkan pada Tabel 1 berikut: Tabel 1.63 Besi Fe 73. = Modulus penampang.24 Mangan Mn 0. = Diameter poros.1 Nikel Ni 7. = Jarak dari sumbu netral ke serat extrim tegangan.σ M F L I S c d = Tegangan akibat momen lentur. = Momen Inersia bahan. Spesimen Material yang dipakai adalah baja tahan karat jenis SS304.63 Tembaga Cu 0. = Beban yang dikenakan pada poros = Panjang lengan momen. Jenis pembebanan untuk benda uji jenis ini adalah tipe cantilever yaitu dengan ujung yang digantung beban sebesar P pada jarak 155 mm dari titik tumpu kemudian diputar sehingga menjadi pembebanan bolak-balik yang merupakan jenis pembebanan dalam fenomena fatik.22 Kobalt Co 0. Data sifat-sifat material SS304 Kandungan Unsur Material Jenis Unsur Persentase (%) Khromium Cr 18.312 Sifat-sifat Mekanik Material Tegangan Patah (MPa) 586 Tegangan Luluh (Mpa) 241 Elongation (%) 55 Bentuk dan dimensi spesimen untuk pengujian fatik mengacu pada standar pengujian fatik ISO 1143 dan ISO R375 [6] dan disesuaikan dengan spesifikasi mesin uji fatik yang digunakan.53 Molibden Mo 0. METODOLOGI 1.

prinsip operasinya adalah setelah benda uji terpasang pada clamp hex nut (9) dan rumah bantalan (13). Pencatat siklus ini bersifat berjenis analog dengan kemampuan menunjukkan angka sampai 107 digit. Namu perlu diketahui bahwa beban yang terpasang pada mesin uji harus dikurangi dengan bobot dudukan beban dan rumah bantalan sebesar 2 Kg. dari poros motor ditransmisikan melalui pulley motor ke pulley poros benda uji dimana antara keduanya dihubungkan dengan sabuk transmisi (2). Hasil akhir dari pencatat siklus akan di catat dan dijadikan data bersama beban yang terpasang. Dari pencatat siklus inilah akan diketahui jumlah siklus yang telah dicapai oleh benda uji. Adapun spesifikasi selengkapnya seperti ditampilkan dalam Tabel 2. Hasil yang telah diperoleh berupa jumlah siklus dan tegangan pada saat patah kemudian diplot dalam sebuah grafik S-N dengan nilai jumlah siklus pada sumbu absis dan nilai tegangan dalam . Selanjutnya apabila benda uji mengalami patah maka dudukan beban akan jatuh mengenai sensor dan otomatis operasi mesin akan terhenti. Uji Fatik Mesin yang digunakan dalam pengujian ini adalah mesin uji fatik dengan tipe pembebanan rotating bending. Setelah tombol mulai (start) (23) ditekan maka motor listrik akan berputar. Jadi untuk mendapatkan tegangan pada saat patah sebesar 25 Kg/mm2 maka operator hanya memasang beban sebesar 23 Kg. benda uji di beri beban dengan piringan baja yang memiliki berat tertentu pada dudukan beban (18). rumah bantalan yang terpasang dengan benda uji akan memutar pencatat siklus (counter) (11). Setelah poros benda uji berputar.Gambar 2. jenis benda uji toroida. Benda uji pengujian fatik jenis pembebanan rotating bending [7] 2. Untuk transmisi putaran ke poros benda uji. Gambar keseluruhan alat uji ini dapat dilihat pada Gambar 3. Nilai tegangan pada permukaan patah menurut buku petunjuk penggunaan mesin yang dikeluarkan oleh perusahaan pembuatnya setara dengan beban yang diberikan per satuan luas permukaan yang patah (Kg/mm2)[7].

1000. Mesin uji fatik rotating bending[7] 3. 3000 (Rpm) ISO 1143.sumbu ordinat. Kondisi pengujian fatik untuk spesimen jenis SUS304 adalah dengan kondisi temperatur suhu ruang. Untuk satu benda uji akan didapat satu data. Tabel 2. benda uji akan . Spesifikasi mesin uji fatik di Lab DT-PTRKN[7] Nama Mesin Merek Negara Pembuat Jenis Spesimen Kapasitas Beban Max Siklus Counter Speed Standar Pengujian Rotating Bending Fatigue Machine ANSALDO Italia Toroidal 1 Kg – 60 Kg ~ 10 Mpa – 600 Mpa 9x106 Siklus. sehingga diperlukan banyak benda uji untuk mendapatkan data yang akurat. Perhitungan Analitik Perhitungan analitik dilakukan dengan tujuan mendapatkan nilai pembanding dengan hasil pengujian untuk selanjutnya di validasi dengan standar yang ditetapkan oleh buku pedoman. Benda uji pada saat pengujian diberi beban sebesar P secara kantilever di ujungnya seperti ditampilkan pada Gambar 4. ISO R 373 Gambar 3. 2000. Untuk beban 22 sampai 30 Kg menggunakan kecepatan putaran motor 1000 rpm dan untuk pengujian dengan beban 21 Kg menggunakan putaran motor 2000 rpm. Akibat pembebanan ini.

Data yang diperlukan untuk melakukan perhitungan tegangan adalah berupa jarak sejauh L dari bagian yang patah ke pusat pembebanan dan diameter (d) dari penampang yang patah. Gambar 4. 1 2 3 4 5 Tegangan (MPa) 300 280 270 260 260 Jumlah siklus (N) 7050 19000 17170 27200 9200 . Arah dan dimensi pembebanan pada benda uji. dapat dilakukan dengan menggunakan persamaan 1 diatas. Tabel 3. Untuk menghitung besar tegangan yang diterima pada saat mengalami patah. Gambar 5.[4] HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Distribusi tegangan akibat beban lentur. Putaran pada benda uji akan mendistribusikan efek beban lentur merata di seluruh sisi benda uji sehingga satu sisi benda uji akan mendapat dua jenis tegangan secara bergantian (reversible) yang pada akhirnya akan menyebabkan kegagalan fatik.mendapatkan beban lentur sehingga terjadi distribusi tegangan pada luasan penampang berupa tegangan tarik (tension) dan tegangan tekan (compression) seperti ditampilkan pada Gambar 5.Hasil uji rotating bending fatik material SS304 No. Hasil Uji Fatik Dari hasil pengujian fatik dengan mesin uji fatik tipe beban rotating bending didapat data tingkat tegangan versus jumlah putaran. data selengkapnya seperti ditampilkan pada Tabel 3 dan di plot dalam bentuk grafik S-N seperti ditampilkan pada Gambar 6.

17 % sampai 5.58 98 Beban P (Kg) 30 28 26 26 27 25 24 Momen M (Kg.16 5.E+04 1.528 23.2 10.E+05 Log N (Cycles) 1.6 9.114 28.6 9.89 3.127 Tegangan Standar σ (Kg/mm2) 30 28 27 26 26 25 24 Galat Error (%) 3.12 Lengan Momen L (mm) 108 108. Artinya data yang diperoleh dari hasil pengujian memiliki nilai penyimpangan terbesar sebesar . Grafik S-N hasil pengujian 2.89 %.821 23. Data tersebut kemudian dibandingkan dengan nilai tegangan lentur yang telah distandarkan dari pabrik pembuat mesin seperti yang tertera pada buku petunjuk pengoperasian mesin uji.17 3.954 26.700 Tegangan Lentur σ (Kg/mm2) 31.71 0.815 82.048 26.815 86.131 108.35 90 90 82 94.67 3.499 101.163 86.mm) 3240 3033.546 100.E+03 1.954 26.33 9. Tabel 4.64 No 1 2 3 4 5 6 7 Persentase penyimpangan dari hasil perhitungan terhadap nilai standar seperti ditampilkan pada Tabel 4 memiliki nilai berkisar dari 0.5 2352 Modulus Penampang S 104.E+07 Gambar 6.Hasil perhitungan analitik tegangan lentur benda uji Diameter d (mm) 10.08 10. Perhitungan Analitik Dari benda uji yang telah patah pada saat pengujian dapat diperoleh data seperti ditampilkan pada Tabel 4 dan kemudian digunakan untuk menghitung secara manual tegangan lentur yang terjadi pada bagian yang patah.44 10.6 7 250 240 42190 62720 8 220 1500000* 9 221 1500000* Keterangan * : Spesimen tidak mengalami patah 300 280 Fatigue Strength (MPa) 260 240 220 Endurance line 200 180 1.17 0.E+06 1.8 2340 2340 2214 2364.

E. --------. Artinya data hasil pengujian dapat dipergunakan secara valid apabila dengan disertai faktor koreksi tersebut. 1991 4. J.89 %. 2. DIETER.Fatigue Bending Test Machines Operation and Maintenance Manual.. . ASM Metal Handbook. John Willey & Sons. Metal Fatigue in Engineering. Tokyo. Mc Graw Hill Int. DAFTAR PUSTAKA 1. --------.O. ASM INTERNATIONAL. karena selain faktor alat ada juga faktor kondisi pengujian dan faktor fabrikasi spesimen. RALPH I STEPHEN. 5. Nilai ini merupakan faktor koreksi terhadap data hasil pengujian. MISCHKE. 1975. Mechanical Engineering Design. New York. Mechanical Metallurgy. 5th Ed. Sebagai evaluasi untuk verifikasi mesin Faktor penyebab dari penyimpangan ini tidak dapat secara mutlak diindentifikasi sebagai penyimpangan performa alat. 3. --------. John Willey & Sons. 1982. 6. Ansaldo ESL 35820I0003. Italy.89%. Vol 19 Fatigue and Fracture.5. GEORGE E. sehingga mesin uji tersebut dapat dinyatakan layak untuk digunakan dalam penelitian fatik.International Standard ISO R 373. 7. SHIGLEY AND C. KESIMPULAN Pengujian fatik sangat diperlukan dalam rangka penelitian mengenai kegagalan fatik dimana fenomena ini sangat berpengaruh terhadap integritas struktur material.1996. 1964. H. Second Edition. Pengujian fatik yang telah dilakukan pada material logam SUS304 dengan menggunakan mesin uji fatik tipe rotating bending menghasilkan gambaran karakteristik kekuatan fatik material secara keseluruhan yang ditampilkan dalam sebuah grafik S-N.FUCHS. Namun nilai tersebut dapat dijadikan sebagai faktor koreksi terhadap data hasil pengujian menggunakan mesin uji tersebut.R.1983. Nilai penyimpangan tersebut dapat dijadikan sebagai acuan dalam memverifikasi mesin untuk menunjukkan bahwa performa mesin dapat dinyatakan layak untuk dapat dijadikan sebagai mesin uji fatik pada penelitian fatik.International Standard ISO 1143. Dari validasi secara analitik terhadap hasil pengujian menghasilkan nilai penyimpangan maksimum sebesar 5. 1989.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful