Terapi aminoglikosida untuk infekasi bakteri gram negative

Web: http://sumarheni.blogs.unhas.ac.id/2010/11/30/aminoglikosida/ Sejak ditemukan penisilin, masalah infeksi mikroba Gram-positif umumnya dapat diatasi secara baik. Dalam menemukan antimikroba untuk mengatasi kuman Gram-negatif, pada tahun 1943 berhasil diisolasi suatu turunan Streptomyces griseus yang menghasilkan streptomisin. Setelah streptomisin ditemukan pula berbagai antibiotik lain yang memiliki berbagai sifat mirip dengan streptomisin yaitu kanamisin, gentamisin, tobramisin, amikasin, netilmisin, neomisin. Aminoglikosida merupakan penanggulangan infeksi berat oleh kuman Gram-negatif. Aminoglikosida dihasilkan oleh jenis-jenis fungi streptomyces micromonospora (Aminoglikosida yang berasal dari streptomises mendapat tambahan ‖misin‖). Semua senyawa turunan semi sintesisnya mengandung dua atau tiga gula-amino didalam molekulnya, yang saling terikat secara glukosidis. Dengan adanya gugusan amino, zat-zat ini bersifat basa lemah dan garam sulfatnya yang digunakan dalam terapi mudah larut air. Antibiotika aminoglikosida adalah antibiotika golongan karbohidrat yang pada umumnya terdiri dari bagian aminosikloheksanol dan terikat secara glikosidik dengan gula amino lain (Crueger, 1984). Ditinjau dari struktur molekulnya, aminoglikosida dapat dibagi menjadi 2 golongan besar, yaitu aminoglikosida berinti streptidin (streptomisin, dihidrostreptomisin, dll) dan 2-deoksistreptamin (kanamisin, neomisin, gentamisin dll). Secara klinis aminoglikosida sering digunakan untuk terapi infeksi yang disebabkan oleh kuman Gram positif dan Gram negatif termasuk Mycobacterium tuberculosis, baik dalam bentuk sediaan tunggal maupun kombinasi dengan antibiotika lain . Aminoglikosida merupakan antibiotik utama untuk pengobatan infeksi serius yang disebabkan gram negatif, karena obat ini menimbulkan efek toksik yang serius, maka penggunaannya terbatas dan telah digantikan dengan obat yang lebih aman seperti generasi ketiga sefalosporin, fluorokuinolon dan imipenem/silastatin. Semua anggota aminoglikosida diketahui menghambat sintesis protein bakteri dengan mekanisme yang ditentukan untuk streptomisin. Aktivitas aminoglikosida dipengaruhi oleh berbagai faktor terutama perubahan pH, keadaan aerobik dan anaerobik. Aktivitas aminoglikosida lebih tinggi pada suasana alkali daripada suasan asam. Aminoglikosida berdifusi lewat kanal air yang dibentuk oleh porin proteins pada membran luar dari bakteri gram negatif masuk keruang periplasmik. Sedangkan transport melalui membran dalam sitoplasma membutuhkan energi. Fase transport yang dependen energi ini bersifat rate limiting, dapat diblok oleh Ca++ dan Mg++, hiperosmolaritas, penurunan pH dan anaerobiosis. Hal ini menerangkan penurunan aktivitas aminoglikosida pada lingkungan anaerobik suatu abses atau urin asam yang bersifat hiperosmolar. Setelah masuk sel, aminoglikosida terikat pada ribosom 30S dan menghambat sintesis protein. Terikatnya aminoglikosida pada ribosom ini mempercepat transport aminoglikosid kedalam sel diikuti dengan kerusakan membran sitoplasma dan disusul dengan kematian sel. Aminoglikosid juga merupakan senyawa yang terdiri dari 2 atau lebih gugus gula amino yang terikat lewat ikatan glikosidik pada inti heksosa. Dengan adanya gugusan-amino, zat-zat ini bersifat basa lemah dan garam sulfanya yang digunakan dalam terapi mudah larut dalam air. Aminoglikosid dari sejarahnya digunakan untuk bakteri gram negatif. Aminoglikosid pertama yang ditemukan adalah Streptomisin. Aktivitas bakteri Aminoglikosid dari Gentamisin, Tobramisin, Kanamisin, Netilmisin dan Amikasin terutama tertuju pada basil gram negatif yang aerobik (yang hidup dengan oksigen)Aminoglikosid merupakan produk streptomises atau fungus lainnya. Seperti Streptomyces griseus untuk Streptomisin, Streptomyses fradiae untuk Neomisin, Streptomyces kanamyceticus untuk Kanamisin,

Streptomyces tenebrarius untuk Tobramisin, Micromomospora purpures untuk Gentamisin dan Asilasi kanamisin A untuk Amikasin. Penggolongan Aminoglikosida dapat dibagi atas dasar rumus kimianya sebagai berikut : · Streptomisin yang mengandung satu molekul gula-amino dalam molekulnya · Kanamisin dengan turunan amikasin, dibekasin, gentamisin, dan turunannya netilmisin dan tobramisin, yang semuanya memiliki dua molekul gula yang dihubungkan oleh sikloheksan · Neomisin, framisetin dan paramomisin dengan tiga gula-amino. · Kanamisin dengan turunan amikasin, dibekasin, gentamisin, dan turunannya netilmisin dan tobramisin, yang semuanya memiliki dua molekul gula yang dihubungkan oleh sikloheksan · Neomisin, framisetin dan paramomisin dengan tiga gula-amino. Sifat Kimiawi dan Fisik Aminoglikosid mempunyai cincin Hexose yaitu streptidine (pada streptomycin),atau 2-deoxystreptamine (pada aminoglikosid lain), dimana berbagai gula amino dikaitkan oleh ikatan glikosid. Agen-agen ini larut air, stabil dalam larutan dan lebih aktif pada pH alkali dibandingkan pH asam. Aminoglikosid menghambat sintesis protein dengan 3 cara: 1. Agen-agen ini mengganggu kompleks awal pembentukan peptide 2. Agen-agen ini menginduksi salah baca mRNA, yang mengakibatkan penggabungan asam amino yang salah ke dalam peptide, sehingga menyebabkan suatu keadaan nonfungsi atau toksik protein 3. Agen-agen ini menyebabkan terjadinya pemecahan polisom menjadi monosom non-fungsional

Aminoglikosida bekerja secara sinergis dengan antibiotic β-laktam karena kerja β-laktam pada sintesis dinding sel meningkatkan difusi aminoglikosida kedalam bakteri. Semua aminoglikosida bersifat bakterisid. Streptomisin digunakan untuk obat tuberculosis, plague, tularemia dan kombinasi dengan penisilin untuk mengobati endokarditis. Penggolongan aminoglikosida yaitu : a. Streptomysin Streptomysin saat ini digunakan untuk pengobatan infeksi yang tidak lazim,pada umumnya dalam bentuk kombinasi dengan senyawa antimikroba yang lain. Streptomisin diperoleh dari streptomyces griseus oleh Waksman (1943) dan digunakan untuk pengobatan tubercolosis. Penggunaan pada terapi TBC sebagai obat pilihan utama sudah lama terdesak oleh obat lainnya yang berhubungan dengan toksisitasnya. Efek sampingnya terhadap ginjal dan organ pendengaran. Dosis streptomysin adalah 15 mg/kg per hari untuk pasien yang memiliki bersihan kreatinin di atas 80 ml/menit. Biasanya streptomysin diberikan dalam dosis 100 mg 1 kali sehari yang menghasilkan konsentrasi puncak dalam serum kurang lebih 50 hingga 60 µg/mL dan konsentrasi terendah kurang dari 1µg/mL.

Kanamisin dapat diberikan secara oral sebagai terapi tambahan pada kasus koma hepatik. c. Dosis yang diberi 1-4 g per hari yang dibagi dalam 2 atau 4 dosis selama 7-10 hari. Penyakit pes Streptomysin merupakan salah satu senyawa yang paling efektif dalam pengobatan penyakit pes. namun tidak tertutup kemungkinan kronisitas dapat terjadi. Dosis untuk pasien yang fungsi ginjalnya normal adalah 15 mg/kg per hari sebagai injeksi IM tunggal selama 2 sampai 3 bulan. b. Kanamisin atau (KANTREX) tersedia untuk injeksi dan penggunaan oral. Kanamisin Penggunaan kanamisin terbatas karena spektrum aktivitasnya yang terbatas dibandingkan aminoglikosida lainnya dan obat ini termasuk diantara yang paling toksik. Pada pemberian streptomysin 1 sampai 2 g (15-25 mg/kg) per hari (dalam dosis terbagi) selama 7 sampai 10 hari. Dosis parenteral untuk dewasa adalah 15 mg/kg perhari (terbagi dalam dua hingga empat dosis yang sama dan berjarak) Kanamisin hampir merupakan obat kuno yang indikasi penggunaannya sedikit.Rumus bangun : Penyakit yang diobati Tularemia Pasien yang menderita tularemia sangat diuntungkan dengan pemberian streptomysin karena dapat memperolehkesembuhan total. kanamisin digunakan untuk mengobati tuberculosis dalam kombinasi dengan obat-obat efektif lainnya. dosis pernah diberikan hingga 12 g perhari (dalam dosis terbagi). Tuberkulosis Streptomysin harus diberikan dalam bentuk kombinasi dengan sedikitnya 1 atau 2 obat lain yang sesuai dengan galur-galur penyebab tersebut. dilanjutkan dengan 2 atau 3 kali seminggu setelahnya. Amikasin . Efek terhadap bakteri usus mungkin tidak dapat dipertahankan bahkan saat dosis kanamisin sebesar itu diberikan. Karena terapi penyakit ini sangat lama dan melibatkan pemberian dosis obat total yang tinggi disertai resiko ototoksisitas dan nefrotoksisitas kanamisin digunakan hanya untuk mengobati pasien yang terinfeksi mikroorganisme yang telah resisten terhadap obat-obat yang lazim digunakan. Dosis yang biasa digunakan untuk tujuan ini 4 hingga 6 g per hari untuk 36 hingga 72 jam.

walaupun beberapa pihak menganggap kemungkinan itu sangat kecil. Beberapa rumah sakit membatasi penggunaannya untuk menghindari galur resisten. Gentamisin mempunyai rentang terapi sempit. Pemberian gentamisin dosis lazim dalam bentuk dosis berganda bolus intravena akan menghasilkan kadar puncak dan kadar lembah. antibiotika ini mempunyai peran khusus di rumah sakit tempat menyebarnya resistensi mikroorganisme terhadap gentamisin dan tobramysin. Karena konsentrasi antibiotik intraperitonial di bawah optimal dapat terjadi setelah pemberian IM atau IV pada pasien yang menjalani dialysis. Amikasin mirip dengan kanamisin dalam hal dosis dan sifat farmakokinetiknya.5 mg/kg biasanya antara 5 dan 10 µg/ml. Berkhasiat terhadap pseudomonas. Hal ini juga penting karena profil dosis dan kadar gentamisin dalam darah sukar diprediksi terutama kadar puncak dan waktu paruh eliminasi. Dosis yang dianjurkan untuk amikasin adalah 15 mg/kg per hari sebagai dosis tunggal harian atau dibagi menjadi dua atau tiga bagian yang sama. d. Efek terapi dihasilkan jika kadar tersebut berada diantara kadar aman maksimum dan kadar efektif minimum. Amikasin efektif terhadap hampir semua galur enterobacter dan e. agak jarang mengganggu pendengaran. proteus. Efek samping . Konsentrasi 12 jam setelah dosis 7. maka pemantauan obat dalam darah pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal adalah suatu kebutuhan agar keamanan dan efikasi terapi tercapai. pemberian infus intravena dalam dosis yang sama selama periode 30 menit menghasilkan konsentrasi puncak dalam plasma hampir 40 µg/ml pada akhir sesi infus. Efektivitas gentamisin diperoleh apabila kadar puncak dalam serum berada dalam rentang 5-10 µg/ml. maka obat ini sering digunakan pada infeksi dengan kuman-kuman tersebut. dan stafilokokus yang resisten untuk penisilin. Obat ini diperoleh dari micromonospora purpurea dan M. Termasuk diantaranya adalah sebagian besar Pseudomonas aeruginosa. Keadaan ginjal penderita merupakan faktor yang paling menentukan dalam pencapaian kadar tersebut. terapi pasien tersebut harus dilanjutkan dengan menggunakan cairan yang mengandung sejumlah gentamisin dalam konsetrasi yang sesuai. bersifat nefrotoksik dan ototoksik serta mempunyai variabilitas farmakokinetik interindividu cukup lebar.echinospora (1963). amikasin aktif melawan sebagian besar basilus aerob gram negatif di lingkungan maupun di rumah sakit.5 mg/kg. Karena keunikan resistensinya terhadap enzim penginaktivasi aminoglikosida. Efek sampingnya lebih ringan dari pada streptomisin dan kanamisin. yang kemudian turun hingga 20 µg/ml 30 menit kemudian. kadar puncak yang tinggi secara terus menerus menyebabkan nefrotoksistas dan otoktoksistas. Obat ini cepat diabsorpsi setelah injeksi intramuscular dengan konsentrasi puncak dalam plasma kirakira 20 µg/mL setelah injeksi sebanyak 7. Dosis empirik 80 mg bagi setiap penderita dengan berat badan bervariasi akan menghasilkan dosis mg/kg BB/ hari yang juga bervariasi. coli yang resisten terhadap gentamisin dan tobramysin. Gentamisin Gentamisin adalah antiobiotika golongan aminoglikosida yang mempunyai potensi tinggi dan berspektrum luas terhadap bakteri gram positif dan gram negatif dengan sifat bakterisid. dosis satu kali sehari 15 mg/kg menghasilkan konsentrasi puncak antara 50 dan 60 µg/ ml dan konsentrasi terendah <1µg/ml. Masing-masing dosis atau rentang antar dosis harus diubah untuk pasien gagal ginjal. Penyakit yang diobati Peritonitis Pasien yang mengalami penyakit ini akibat adanya dialisi peritoneal dapat memperoleh manfaat dari terapi gentamisin. Amikasin menjadi obat pilihan untuk pengobatan infeksi basilus gram negatif nesokomial di rumah sakit tempat resistensi terhadap gentamisin dan tobramysin merupakan persoalan serius.Spektrum aktivitas antimikroba amikasin (AMIKIN) merupakan yang terluas dikelompok ini dan karena resistensinya yang unik terhadap enzim penginaktivasi aminoglikosida.

salep dan produk lainnya. aureus dan M. dan 2% sampai 5% obat tersebut dapat dideteksi oleh urin. 1 ml sediaan ini ditambahkan 1000 ml larutan natrium klorida 0. basitrasin. konsentrasi plasma dapat mencapaii 4 µg/ml. osteomelitis dan pneumonia yang disebabkan oleh Pseudomonas. Mikroorganisme yang rentan biasanya dihambat oleh konsentrasi 5 hingga 10 µg/ml atau kurang. tobramysin yang dikombinasi dengan penisilin menunjukkan aktivitas yang buruk terhadap berbagai galur enterokokus. Berlawanan dengan gentamisin. Neomysin sulfat (MYCIFRADIN) tersedia untuk penggunaan topikal dan oral. Tidak ada bukti bahwa sediaan topikal ini mempersingkat waktu untuk menyembuhkan luka atau bahwa sediaan yang mengandung steroid lebih efektif.Efek samping paling penting dan berat pada pemakaian gentamisin adalah nefrotoksisitas dan ototoksisitas irreversible. Tujuannya untuk mencegah bakteriuria dan bakterimia akibat penggunaan kateter dalam tubuh. Kandung kemih ini biasanya dirigasi pada kecepatan 1000 ml tiap 24 jam.9% dan digunakan untuk irigasi kontinyu kandung kemih melalui sistem kateter yang sesuai. Indikasi penggunaan Tobramysin pada dasarnya identik dengan gentamisin.000 unit polimiksin B per mililiter. Spesies gram negatif yang sangat peka adalah E. .laktam antipseudomonas. Toksisitas paling umum terjadi pada konsentrasi minimal yang melebihi 2 µg/ ml pada periode yang diperpanjang. Mikroorganisme gram positif yang dapat dihambat meliputi S. Tobramysin dapat diberikan secara intramuscular ataupun intravena. antibiotik lain dan bermacam-macam kortikosteroid. Neomysin Neomysin merupakan antibiotik berspektrum luas. seperti halnya aminoglikosida lain. Aktivitas tobramysin sangat baik terhadap P. Pemberian intratekal atau intraventrikular jarang digunakan karena dapat menyebabkan peradangan lokal serta dapat mengakibatkan radikulitis dan komplikasi lain Gentamisin diabsorpsi sangat lambat jika digunakan dalam bentuk salep. Biasanya tobramysin digunakan secara bersamaan dengan antibiotik β. misalnya pada kasus luka bakar. Enterobacter erogenes dan Proteus vulgaris. tetapi kerja anti-pseudomonas in vitro-nya lebih kuat. Pada saat ini neomysin tersedia dalam berbagai merek krim. Dosis dan cara pemberian sama dengan gentamisin. f. e. Jangan diberikan lebih dari 10 hari. Teobromysin mungkin tidak begitu toksik terhadap sel-sel rambut pada organ ujung koklea dan organ ujung vestibula serta menyebabkan kerusakan tubulus ginjal yang lebih sedikit dibandingkan gentamisin. aeroginosa dan bermanfaat untuk pengobatan bakterimia. tuberculosis. menyebabkan nefrotoksisitas dan otoksisitas. Digunakan pada infeksi pseudomonas yang resisten untuk gentamisin Obat ini tersedia sebagai larutan 80 mg/2 ml untuk suntikan IM. dalam sediaan tunggal maupun kombinasi dengan polimiksin. jika antibiotik digunakan pada daerah permukaan tubuh yang luas. Untuk infus tobramysin dilarutkan dalam dektrose 5% atau larutan NaCl isotonis dan diberikan lebih dari 30-60 menit. Dosis konsentrasi serumserupa dengan gentamisin. Efek yang merugikan Teobromysin. Spektrum antimikrobanya mirip dengan gentamisin. tapi absorpsinya dapat lebih cepat jika krim digunakan secara topikal. Tobramysin Aktivitas antimikroba dan sifat farmakokinetik tobramysin (NEBSIN) sangat mirip dengan gentamisin. Neomysin dan polimiksin B telah digunakan untuk irigasi kandung kemih dalam larutan yang mengandung 40 mg neomysin dan 200.coli. Pengamatan toksisitas ini biasanya menunjukkan kerusakan fungsi ginjal sehingga memerlukan pengurangan dosis.

Netilmisin terbukti efektif melawan patogen-patogen tertentu yang resisten terhadap gentamisin. Individu yang diobati 4 hingga 6 g obat ini melalui mulut per hari terkadang mengalami sindrom mirip sariawan disertai dengan steatorea. Pemberian oral neomysin (biasanya dengan kombinasi eritromisin basa) terutama digunakan untuk ―persiapan‖ usus untuk operasi. namun pada dosis sebesar 100 mg/kg per hari. netilmisin tidak dimetabolisme kebanyakan enzim penginaktivasi aminoglikosida. penggunaannya pada pasien seperti ini lebih dari 3 minggu harus dihindari karena adanya absorpsi sebagian dari saluran intestinal. Individu yang peka terhadap obat ini mungkin mengalami reaksi silang jika terpajan aminoglikosida yang lain. Efek toksik neomysin yang paling penting adalah kerusakan ginjal dan ketulian akibat kerusakan saraf pendengaran. Efek merugikan yang paling penting akibat pemakaian neomysin adalah malabsorpsi dan superinfeksi usus. kanamisin. dosis harian total 10 g selama 3 hari menghasilkan konsentrasi dalam darah dibawah konsentrasi yang menyebabkan toksisitas sistemik jika fungsi ginjal normal. dan aktif melawan bakteri tertentu yang resisten terhadap gentamisin. Neomysin diabsorpsi buruk dari saluran gastrointestinal dan dieksresikan oleh ginjal sebagaimana aminoglikosida lainnya. Dosis oral sebanyak 3 g hanya menghasilkan konsentrasi puncak plasma 1 – 4 µg/ml. Namun pengobatan semacam ini tidak membasmi bakteri dan lesi. AKTIVITAS DAN MEKANISME KERJA Aktivitas antibakteri gentamisin. Aktivitas terhadap mikroorganisme anaerobik atau bakteri fakultatif dalam kondidi anaerobik rendah sekali. Netilmisin Merupakan aminoglikosida yang terbaru dipasarkan. g. Efek yang merugikan Seperti aminoglikosida lainnya netilmisin juga dapat menyebabkan otoksisitas dan nefrtoksisitas. kecuali enterokokus.5%. Efek yang merugikan Reaksi hipersensitivitas terutama ruam kulit terjadi 6% hingga 8% pasien jika diberikan secara topical. Toksisitas bahkan pernah muncul pada pasien dengan fungsi ginjal normal dengan penggunaan topikal atau irigasi luka dengan larutan neomysin 0. terutama jika terjadi pada lokasi penyakit. Pertumbuhan ragi yang berlebihan diusus juga dapat terjadi. Sekitar 97% dosis oral neomysin tidak diabsorpsi dan dieliminasi dalam bentuk tidak berubah pada feses. dan amikasin terutama tertuju pada basil Gram negatif yang aerobik.Neomysisn telah digunakan secara luas untuk penggunaan topikal pada berbagai infeksi kulit dan mebran mukus yang disebabkan oleh mikroorganisme yang rentan terhadap obat ini. Sebagaimana amikasin. Penggunaan terpeutik Netilmisin merupakan antibiotik yang bermanfaat untuk pengobatan infeksi serius akibat enterobacteriaceae yang rentan terhadap bacillus aerob Gram-negatif lainnya. Sifat farmakokinetik dan dosis penggunaan netimisin sama dengan gentamisin dan tobramysin. Ini dapat dijelaskan berdasarkan kenyataan bahwa untuk transport aminoglikosida . Ini sering terjadi jika jumlah antibiotik yang relatif besar ini digunakan secara parenteral dan merupakan alasan tidak digunakannya lagi neomysin dengan cara ini. Walaupun neomysin dapat diberikan secara oral untuk anak yang masih sangat kecil. Senyawa ini memiliki aktivitas antibakteri yang luas terhadap bacillus aerob Gram-negatif. Pasien dengan insufisiensi ginjal dapat mengakumulasi obat ini. Infeksi ini meliputi infeksi luka bakar dan dermatosis terinfeksi. tobramisin.

Resistensi terhadap streptomisin dapat cepat terjadi. Ototoksisitas dan nefrotoksisitas cenderung ditemukan saat terapi dilanjutkan hingga lebih dari 5 hari. enterobacter. kanamisin. EFEK AMINOGLIKOSIDA YANG MERUGIKAN Ototoksisitas Disfungsi vestibula dan auditori dapat terjadi setelah penggunaan setiap aminogilikosida. Obat ini juga aktif terhadap sejumlah kuman Gram-positif yaitu staphyl. aktivitasnya adalah bakterisid. Resistensi aminoglikosida dapat disebabkan menurunnya asupan obat bila sistem transport tergantung oksigen untuk aminoglikosida tidak ada. antara lain E. Difusi balik dalam aliran darah terjadi perlahan. Masalah resistensi merupakan kesulitan utama dalam penggunaan streptomisin secara kronik misalnya pada terapi tubercolosis. Amikasin dan toramisin berkhasiat kuat terhadap pseudomonas. sedangkan aminoglikosida lainnya terjadi lebih berangsur-angsur. dan amikasin aktif terhadap kuman tahan asam mycobacterium (TBC dan lepra). Aktivitas terhadap bakteri Gram-positif sangat terbatas.salmonella. dan shigella. Streptomisin. pada orang-orang lanjut usia dan dalam kondisi insufisiensi fungsi ginjal. RESISTENSI Masalah resistensi merupakan kesulitan utama dalam penggunaan streptomisin secara kronik misalnya pada terapi tuberculosis atau endokartitis terhadap bakterial sub akut. Kemungkinan terjadinya ototoksisitas lebih . atau fosforilasi 2) Menghalangi masuknya aminoglikosida ke dalam sel 3) Protein reseptor sub unit ribosom 30S kemungkinan hilang atau berubah sebagai akibat dari mutasi. waktu paruh aminoglikosida lima hingga enam kali lebih lama dalam cairan otak maupun dalam plasma. sedangkan aktivitas kerja gentamisin dan tobramisin sangat mirip. Sifat resistensi terhadap streptomisin mudah diperlihatkan dengan melakukan beberapa tahap pembiakan ulang suatu mikroba dalam medium yang mengandung streptomisin. aureus/epidermis. H. Akumulasi terjadi secara dominan bila konsentrasi dalam plasma tinggi. Difusi balik tergantung pada konsentrasi dan dipermudah pada saat konsentrasi obat terendah dalam plasma. melalui adenilasi. sedangkan gentamisin lebih ringan. Amikasin memiliki spektrum kerja yang paling luas. Telah ditentukan 3 mekanisme prinsip yaitu 1) Mikroorganisme memproduksi suatu enzim transferase atau enzim-enzim yang menyebabkan inaktivitas aminoglikosid. pada dosis yang lebih tinggi. Penelitian terhadap hewan dan manusia mencatat terjadinya akumulasi terhadap obat-obat ini secara progresif dalam perilimfe dan endolimfe telinga bagian dalam. perubahan reseptor ditempat ikatan sub unit ribosom 30S mempunyai afinitas yang rendah terhadap aminoglikosida. Resistensi terhadap streptomisin dapat cepat terjadi. EFEK-EFEK YANG TIDAK DIINGINKAN Semua Aminoglikosid bersifat ototoksik dan nefrotoksik.Influenzae. Sifat resistensi terhadap streptomisin mudah diperlihatkan dengan melakukan beberapa tahap pembiakan ulang suatu mikroba dalam medium yang mengandung streptomisin. Penggunaan bersama diuretik loop (misalnya furosemid) atau agen antimikroba nefrotoksik lain (misal vancomicyn atau amphotericyn) dapat meningkatkan nefrotoksisitas dan sedapat mungkin dihindarkan.coli.membutuhkan oksigen (transport aktif). Streptomisin dan gentamisin aktif terhadap enterokok dan streptokok lain tetapi efektivitas klinis hanya dapat dicapai bila digabung dengan penisilin. asetilasi. Spektrum kerja aminoglikosida cukup luas dan meliputi terutama banyak bacilli gram-negatif.

Reaksi ini sangat terkenal pada suntikan streptomisin IM.5 – 2. Dikemukakan bahwa pengukuran kadar lembah lebih bersifat prediktif untuk mencegah toksisitas. Namun tobramysin dosis tunggal dilaporkan menyebakan disfungsi koklea temporal yang ringan selama periode konsentrasi dalam plasma mencapai puncaknya. pernah dilaporkan 2. Kegagalan fungsi ginjal hampir selalu reversibel karena sel tubulus proksimal memiliki kemampuan untuk berenegerasi. adanya gangguan faal ginjal usia tua. tetapi berkepanjangan dan demam. berupa gangguan pendengaran dan keseimbangan pada ginjal. kadar puncak dan kadar lembah yang meningkat. Reaksi iritasi dan toksik Reaksi iritasi berupa rasa nyeri terjadi di tempat suntikan diikuti dengan radang dan dapat disertai pula peningkatan suhu badan setinggi 0. proteinuria ringan dan munculnya keeping-keping granular. Penyesuaian dosis dapat dilakukan dengan memperpanjang interval pemberian atau mengurangi dosis keduanya. stomatitis. Gejala lain pada susunan saraf ialah gangguan pernapasan akibat efek kurariform pada sistem neuromuscular. Setelah beberapa hari terjadi penurunan kemampuan ginjal dalam memekatkan urin. neuritis perifer. dan syok anafilaksis. serta gangguan visus. Penelitian terhadap marmot yang diberi gentamisin dosis tinggi menunjukkan terjadinya regenerasi sel-sel rambut sensorik tipe I di bagian sentral ampularis Krista (organ vestibula) dan terjadinya penggabungan rambut-rambut sensorik individual menjadi rambut-rambut raksasa. Manifestasi awal kerusakan bagian ini adalah enzim-enzim pada brush bolder tubulus ginjal. Oleh beberapa peneliti hal ini diduga menurunkan kepekaan epitel duktus pengumpul (collecting duct) terhadap hormone antidiuretik endogen. sedangkan kadar puncak prediktif untuk efek terapi dan toksisitas. Toksisitas terjadi akibat akumulasi dan resistensi amoniglikosida dalam sel tubulus proksimal. EFEK SAMPING Efek samping oleh aminoglikosida dalam garis besarnya dapat dibagi dalam tiga kelompok : 1.0 mg/dl. kecepatan filtrasi glomerulus berkurang beberapa hari kemudian. Kaitan hasil pengamatan ini terhadap hilangnya pendengaran secara permanen belum diketahui. yang sangat mudah rusak akibat aminoglikosida. Reaksi toksik terpenting oleh aminoglikosida ialah pada susunan saraf.besar pada pasien yang konsentrasi obat dalam plasmanya meningkat terus menerus. 40 – 175 µg/ml). Sebagian besar ototoksisitas yang bersifat irreversibel terjadi akibat dekstruksi progresif sel-sel sensorik ventribular atau koklea. Nefrotoksisitas Sekitar 8 – 26% pasien yang menerima aminoglikosida selama lebih dari beberapa hari akan mengalami kerusakan ginjal ringan yang hampir selalu reversibel. Alergi Secara umum potensi aminoglikosida untuk menyebabkan alergi rendah. Monitoring kadar aminoglikosida pada gagal ginjal merupakan pendekatan yang lebih tepat. . hipokalsemia kadang-kadang terjadi. Hipokalemia.5-1. Ototoksisitas aminoglikosida ditingkatkan oleh berbagai faktor antara lain: besarnya dosis.5 o C. Fase insufiensi ginjal nonoligiurik telah dipostulasikan sebagai akibat dari efek aminoglikosida pada bagian distal nefron. Walaupun nekrosis tubular parah jarang terjadi namun paling umum adalah terjadinya sedikit kenaikan kreatinin dalam plasma (0. Beberapa variabel ternyata mempengaruhi nefrotoksisitas akibat aminoglikosida. Toksisitas berkolerasi dengan jumlah total obat yang diberikan. Demam. riwayat penggunaan suatu obat ototoksik. pemberian bersama asam etakrinat (suatu diuretik kuat). Akibatnya toksisitas kemungkinan besar akan ditemukan pada terapi jangka panjang.

Mekanisme hambatan absorpsi ini antara lain terjadi akibat gangguan sistem enzim dan nekrosis sel epitel kripta usus.3. Perubahan pola mikroflora tubuh memungkinkan terjadinya superinfeksi oleh kuman gram-positif. Perubahan biologik Efek samping ini bermanifestasi dalam dua bentuk. untuk streptomisin parenteral diperkirakan ± 4%. Gangguan absorpsi dapat terjadi akibat pemberian neomisin per oral 3 g atau lebih dalam sehari. Superinfeksi Pseudomonas dapat timbul akibat penggunaan kanamisin. dan vitamin. Frekuensi kejadian superinfeksi tidak diketahui. protein. gram-negatif. maupun jamur. sedangkan penggunaan gentamisin oral cenderung menimbulkan kandidiasis. Jenis zat yang dapat dihambat absorpsinya meliputi karbohidrat. mineral. yaitu gangguan pada pola mikroflora tubuh dengan gangguan absorpsi di usus. lemak. .

Sulfonamida = larut sebagian air 1. 5. 2. dll. Sulfa dengan gugusan –SO2NHR akan terhidrolisis bila dimasak dengan asam kuat HCl atau HNO3.Sulfonamida Web: http://sayacintafarmasi. Rumus umum Sulfonamida Pemakaian 1. Berbagai variasi radikal R pada gugus amida (-SO2NHR) dan substitusi gugus amino (NH2) menyebabkan perubahan sifat fisik. soluseptazin. Sulfonamida berupa kristal putih yang umumnya sukar larut dalam air. Tidak larut dalam eter. Kelarutan dan Reaksi Umum Sulfonamida Cara Kelarutan 1. 2. Kelarutan 1. Rumus dasarnya adalah sulfanilamide. Garam-garam natriumnya b. Sulfathiazol Antidiabetikum : Nadisa. Sulfonamida merupakan kelompok obat penting pada penanganan infeksi saluran kemih (ISK). Diasamkan dengan asam cuka 3 % . kecuali Sulfasuksidin. A. misalnya septazin. Ftalazol dan Elkosin. 6. 1. 4. kimia dan daya antibaktreri sulfonamida. seseorang dianggap menderita ISK bila terdapat lebih dari 100. Larut dalam air a. Restinon. karena itu sukar dipindahkan dengan cara pengocokan yang digunakan dalam analisa organik. Sulfasetamid c. 4. kloroform. 3. Sulfa-sulfa yang mempunyai gugus amin aromatik tidak bebas akan mudah larut dalam HCl encer. tapi adakalanya akan larut dalam air anas. petroleum eter.000 kuman dalam 1 ml urin. Kemoterapeutikum : Sulfadiazin. Larut baik dalam aseton. Umumnya tidak larut dalam air. Pada umumnya. 3. Sulfa-sulfa dengan gugusan aromatik sekunder sukar larut dalam HCl. tetapi garam natriumnya mudah larut.com/2011/04/03/sulfonamida/ Sulfonamida adalah kemoterapeutik yang pertama digunakan secara sistemik untuk pengobatan dan pencegahan penyakit infeksi pada manusia. Irgamid dan Irgafen tidak larut dalam HCl encer. Penyebab infeksi bagian bawah atau cystitis ( radang kandung) adalah pertama kuman gram negatif. Desinfektan saluran air kencing : Thidiour Diuretikum : Diamox Sifat-Sifat Bersifat amfoter. Elkosin biasanya larut dalam air panas dan dingin. akan tetapi larut dalam NaOH. Infeksi saluran kemih (ISK) hampir selalu diakibatkan oleh bakteri aerob dari flora usus.wordpress. sulfasuksidin larut dalam HCl.

N. Sulfathiazol Na. Soluseptazin. Reaksi terhadap gugus-gugus amin : reaksi diazotasi. Sulfaguanidin. Reaksi furfural : terhadap gugus amin bebas: . sulfasetamid. elkosin. Sulfaguanidin. S : positif 2. sulfatiazol. sulfasetamid. Igafen. marfenil. reaksi korek api. 1. soluseptazin. 1.a. Radilon. Tidak larut dalam alkohol 96 % Sulfadiazin Na. 1. bahkan dalam aqua regia). Larut dalam alkohol 96% Sulfasetamid. reaksi dengan p-DAB–HCl. Reaksi terhadap gugus sulfon : Zat + H2O2 30% + 1 tetes FeCl3 + HNO3 dan BaCl2 atau Barium Nitrat → endapan BaSO4 putih (BaSO4 sukar larut. sulfa piridin. Reaksi elementer terhadap C. sulfamorazin. larut dalam air panas Sulfanalamid. b. Larut dalam asam cuka 7% Sulfanalamid. dan reaksi indophenol. sulfapyridin. 1. Tidak larut dalam air. 1. sulfamerazin. sulfametazin. Irgamid. irgamid. sulfamezatin. 1. 1. Sulfasetamid. Larut Sulfanilamid. 2. Septazin. Reaksi Umum 1. Larut dalam NaOH 10% dan HCl 1% Sulfaciazin. Sulfapyridin Na. Positif untuk amin-amin bebas. Tidak larut dalam NaOH 10 % Irgafen. Tidak larut dalam HCl 1% Irgafen. Tidak larut Sulfadiazin. Sulfamerazin Na. Sulfametazin Na. dan Sulfathiazol Na. Radilon. irgafen. 1.

pthalazol. Sulfanalamid Jingga : Sulfaguanidin 7. Semua sulfa memberikan hasil positif. Reaksi Diazotasi : untuk amin aromatik primer Zat + 2 tetes HCl 2 N + 1 ml air + NaOH/NaNO2 dan teteskan larutan 0. Sulfamerazin. panaskan diatas nyala api kecil ® kuning atau hijau muda Kecuali : Sulfamerazin Na : merah tua Sulfamezathin Na : merah tua Irgamid : hijau tua – hitam dengan tepi merah 4. Reaksi korek api Zat + HCl encer lalu kedalamnya dicelupkan korek api. Cara melakukan reaksi: Zat padat pada plat tetes + 2 tetes pereaksi ® kuning jingga Kuning sitrun : Sulfametazin. maka endapan akan berwarna merah ungu. Gratisin Kuning : Elkosin Kuning tua : Thazalol. Pereaksi : 1 gram p-DAB. 10 ml HCl. maka timbul warna jingga sampai jingga kuning. kecuali sulfasuksidin. Reaksi dengan CuSO4 . septazin 6. diatas kaca arloji atau objek : 1 tetes H2SO4 + beberapa kristal vanilin. tambahkan aquades hingga 100 ml.1 tetes pereaksi ( furfural 2% dalam asam asetat glasial ) + zat ® memberi warna merah tua segerah berubah menjadi ungu. Asam sulfanilat : kuning 5. septazin. Gratisin : kekeruhan jingga kuning Negatif : sulfasuksidin. Bila penggunaan beta-naftol diganti dengan alfa naftol. tambahkan zat uji. Sulfadiazin. Reaksi Erlich dengan p-DAB-HCl : reaksi yang umum dengan amin aromatik. Reaksi Vanilin : Huckhal dan Turftiti Terhadap derivat metil piridin. 3. thalazol. endapan jingga kemudian merah darah.1 g beta-naftol dalam 2 ml NaOH.

Cara melakukan reaksi: Panaskan zat 100 mg dalam tabung reaksi + 2 cc air sampai mendidih lalu segera + 2 tetes NaOH dan 2 ml kaporit + 1 tetes fenol liquafectum segera. Albuoid : Hijau (hijau tua) Sulfaddiazin : Merah rosa Elkosin : Coklat Sulfaguanidin : kuning Cantrisin : Merah coklat Sulfamerazin : Merah rosa Irgafen : Hijau Sulfametazin : merah rosa Lucosil : Coklat merah Sulfanalamid : biru Sulfapyridin : coklat Sulfasuksidin : kuning lemah Sulfa thiazol : kuning jingga Thalazol : tak berwarna 9. Sulfanalamid 8. Sulfatiazol Putih : Irgafen. setelah dingin + 1 tetes HCl encer sampai netral atau asam lemah ® lihat warna yang terjadi.Larutan CuSO4 dalam air yang encer Reaksi ini diberikan oleh sulfa yang heterosiklik dalam NaOH dengan CuSO4 → endapan dan warna Cara melakukan reaksi: Zat dalam tabung reaksi + 2 ml air dipanaskan sampai mendidih + NaOH 2 tetes. Amati perubahan warna yang terjadi. Sulfasuksidin. Sulfapyridin Ungu : Sulfadiazin. Globuoid. Peraksi Roux . Hijau : Elkosin. Reaksi Indophenol Khusus untuk gugus amin aromatik dengan tempat para yang kosong. Eucacil.

merah lama-lama keruh Sulfasuksidin: ungu coklat Thiadicur: kuning coklat Sulfadiazin : kuning jingga coklat merah 1. terjadi endapan. aquadest 100 ml. dan KMnO4 5 ml. Albuoid : Coklat hijau – hijau Sulfapyridin : ungu Elkosin : ungu coklat-ungu Sulfasuksidin : hijau kuning Sulfadiazin : ungu-hijau biru sulfathiazol : hijau kining Sulfaquanidin : ungu. NaOH 2 ml. Cara melakukan reaksi: Zat padat diletakkan diatas plat tetes lalu + 1 tts pereaksi lalu diaduk dengan batang pengaduk. Amati perubahan yang terjadi As. Reaksi dengan KBrO3 Tablet harus diisolasi dahulu. Pirolisa . Sulfanilat : ungu coklat Gratisin : coklat Marfanil : keruh putih kuning Nadisan : coklat-ungu-coklat Ftalazol : tidak berwarna Sulfanalamid: ungu. Na-Nitroprusid dilarutkan dalam air lalu tambahkan NaOH kemudian tambahkan KMnO4. Dilihat perubahan warna yang terjadi. Saring ke dalam botol berwarna coklat.Pereaksi : Na Nitroprusida 10 ml. Caranya melakukan reaksi: Dalam tabung reaksi kecil 10 mg zat + 1 cc H2SO4 + 1 tetes KBrO3 jenuh.coklat Sulfatiooreum: merah biru Sulfamezatinus : ungu – hijau tua Irgafen : hijau kuning Lucosil : hijau kuning hiaju Thazalol : (-0) 10.

Mayer .Cu kompleks . Sulfamezatin. 1. Reaksi Kristal .Alkohol – air . Thalazol.Eder .Asam pikrat 1 % dalam air .Fe kompleks .Bouchardat .Semua sulfida bila dipanaskan diatas titik leburnya akan terurai dan timbul warna dari residu. Sulfamerazin. Prinsip: dengan api kecil.p-DAB-HCl .Aseton – air .Asam sikikowolframat . Sublimasi Untuk beberapa sulfa yakni: Sulfadiazin.Dragendorf .Asam pikrolon . Elkosin.  Perubahan warna o Sulfadiazin : jingga o Sulfaguanidin : ungu o Sulfanalamid : ungu o Sulfatiazol : coklat merah o Membebaskan H2S  Elkosin Na – Sulfamezatin  Septazin Na – Sulfamerazin  Soluseptazain Na – Sulfathiazol  Sulfamerazain Na – Sulfadiazin  Ultraseptyl Sulfamezatin  Sulfatiazol Na-Irgamid Perhatian : yang melepaskan H2S adalah garamnya !  Melepaskan NH3 o Lucosil o Sulfapyridin o Melepaskan gas SO2  Sulfaguanidin  Sulfanalmid  Sulfathiazol 1.

Reaksi-Reaksi Identifikasi a. b.1 M NaOH dan tambahkan 1% (b/v) larutan tembaga sulfat sampai larutan berubah sempurna. tambahkan 1 tetes reagen diikuti dengan 10 mikroL larutan pirolidin dan campuran diaduk. c. Koniferil alkohol (reaksi untuk amin aromatik primer) Reagen Panaskan 0.AuBr3 .Asam dliitur . tambahkan 1 tetes reagen dan diberi uap HCl. biru atau cokelat mengindikasikan adanya sulfonamida.L.Cara rowen  Cara aseton-air Dalam tabung reaksi zat dilarutkan dengan aseton lalu disaring filtratnya. Indikasi . Indikasi Timbul warna hijau..PtCl . Indikasi Warna jingga mengindikasikan adanya amin aromatik primer yang terikat secara langsung pada cincin benzen. Tembaga sulfat Metode 1 Larutkan sampel dalam 0. Tes Koppanyi–Zwikker Larutan 1% (b/v) kobalt nitrat dalam etanol. Metode Larurkan sampel dalam 1 mL etanol. 74oC) larutkan dalam 3 mL etanol dan diencerkan dengan etanol ad 10 mL. 1.1 g koniferil alkohol sampai melebur (T. 1. Larutan ditetesklan di kaca objek. Metode Teteskan larutan sampel pada kertas saring. lihat kristal yang terjadi. tambahkan air secukupnya.

bemegrid. dimana C=O dan NH terikat dalam cincin (misalnya barbiturat. dan sulfametoksazol) struktur sulfadiazin dan sulfadimetoksin memberikan warna pink atau merah-violet.fenitoin>beneperidol. tambahkan 1 tetes reagen yang keruh. tambahkan serbuk natrium bikarbonat sampai menghasilkan gas dan endapan terbentuk berwarna kuning. riboflavin.pimozid>glutetimida. Tidak ada respon mengindikasikan adanya senyawa dengan atom nitrogen yang tersubstitusi. Merkuri nitrat (reaksi umum golongan mirip barbiturat) Reagen Untuk menjenuhkan larutan merkuri nitrat. Dalam hal sulfonamida: suksinil sulfatiazol. Indikasi Warna abu-abu gelap atau hitam mengindikasikan adanya cincin imida atau sulfonamida dengan cincin tambahan. Sulfonamida Short Acting . piradazin.Warna ungu diberikan oleh senyawa yang mengandung struktur berikut: 1. piridin. sulfasomidin. niridazol. Metode Larutkan sampel dalam etanol. sulfanilamida. Sulfonamida dan senyawa lain dengan gugus sulfamil (-SO2NH2) bebas dalam cincin (misalnya klopamida. kocok sebelum digunakan dan jangan disimpan melebihi 1 jam. Kecepatan dan intensitas reaksi bervariasi antarsenyawa. dan tidak adanya respon pada sikloserin. dan sakarin) 2. oksipenisatin. idoxuridin. sulfinpirazon. sulfanilamida. thiazida) atau dengan (-SO2NH2) yang terikat pada cincin benzen dengan cincin yang lain seperti pirazin. B. mefenitoin. Blanko negatif yang hanya mengandung etanol dan reagen harus disertai. Imida. glutetimida. Endapan kemudian berubah warna menjadi cokelat muda. d. sulfamoksol. Respon anomali diberikan oleh parametadion dan theofilin (violet). Intensitas reaksi imida berikut menurun dengan urutan: barbiturat. kocok dan amati selama 2 menit.oksifensatin>sakarin. Klorpropamid dan tolbutamind memberikan respon lemah. Reagen harus dibuat segar. dan sulfatiazol. atau pirimidin (misalnya sulfafurazol. furosemida.sikloserin.

Nama Dagang: Aristamid. Reaksi  Reaksi Warna Koniferil Alkohol—oranye. Titik Lebur: 243°C .2 Rumus Bangun Pemerian: Serbuk kristal putih. Sulfamimum Nama Dagang: Astreptine. praktis tidak larut dalam kloroform dan eter. 1. Merkuri Nitrat—hitam 2. Elkosil. Sulfaisodimidin.6.Prontosil album. 1:37 dalam etanol dan 1:5 dalam aseton. Prontylin Nama Kimia: Streptozid-4-Aminobenzensulfonamid BM 172. Elkosin(e). Elkosin. Titik didih sekitar 165°.6 (20°).AVC.1. Pada pemanasan serbuk kering dapat berubah menjadi ungu-biru dan kadang memproduksi anilin dan amonia. Streptocid. Domain. Sulfasomidin. Sulfonamid Rumus Struktur C6H8N2O2S Sinonim: Sulfamid. Sulfadimetilpirimidin yang biasa digunakan yaitu sulfasomidin dan terkadang digunakan sulfadimidin. Kelarutan: 1:170 dalam air. −0. Tembaga Sulfat (Metode 1)—biru. Sulfasomidin (Elkosin) Rumus Struktur C12H14N4O2S Sinonim: Sulfa–isodimerazin.3 Rumus Bangun Pemerian: kristal atau hablur putih atau krem-putih yang lambat laun menjadi gelap jika terpapar cahaya.6–dimetil–4–pirimidinil)benzensulfonamid BM 278. Sulfasomidin. Nama Kimia:4-Amino-N-(2.Azol. Koefisien Partisi: Log P(oktanol/air). larut dalam HCl dan larutan hidroksida alkali Konstanta disosiasi: pKa10. Koppanyi–Zwikker Test—biru-ungu.

Reaksi Kristal  Sublimasi .Kelarutan: larut dalam air. Reaksi dengan CuSO4 Pereaksi dan cara reaksi lihat di atas Hasil: hijau (terang). Reaksi korek api Zat + HCl encer lalu kedalamnya dicelupkan korek api. Koefisien Partisi: Log P (oktanol/air) −0. Hasil: Kuning (+) Elkosin d. Reaksi Roux Pereaksi dan cara pereaksi lihat di atas. larut dan asam mineral encer dan larutan hidroksi alkali. Reaksi Warna      Koniferil alkohol—oranye Tembaga (Metode 1)—hijau Koppanyi–Zwikker Test—biru-violet (transient) Merkuri nitrat—hitam Asam Nitrat—kuning b. Reaksi Vanilin Cara reaksi: lihat di atas Hasil: kuning atau hijau muda g. kloroform dan eter. sukar larut dalam etanol dan aseton. maka timbul warna jingga sampai jingga kuning.5 (27°).3 Reaksi a. Reaksi Erlich Pereaksi dan cara reaksi lihat di atas. Asam sulfanilat : Kuning e. h. Hasil: ungu coklat hitam – hitam kotor c. Konstanta Disosiasi: pKa 7. Indofenol Pereaksi dan cara reaksi: lihat di atas Hasil: Coklat f.

Renisul. (oktanol/air). 3. Thiosulfil. p-DAB-HCl Pereaksi dan cara reaksi lihat di atas.3. Reaksi Roux Pereaksi dan cara reaksi lihat di atas. Indofenol Cara reaksi lihat di atas . Methazol. Rufol. Salimol. 1: 10 hingga 1:13 dari aseton. Urolucosil. Konstanta Disosiasi:pKa5. Reaksi a. Hasil: hijau lemah-hijau coklat c.4–thiadiazol–2–yl)benzenesulfonamide BM 270.5).5. Nama Kimia: 4-Amino-N-(5–metil–1. Koefisien Partisi:Log P(oktanol/pH 7.1. 2. 1:30 etanol. larut dalam larutan alkali hidroksida dan larut dalam asam mineral. Nama Dagang : Famet. Urolex. –1. Thidicur. 1:40 metanol. dan 1:2800 kloroform. 4. Titik lebur 208° C. Sulfapyelon. 1:1370 eter. Kelarutan: larut 1:2000 air.5 (25°). Luco-Oph. Sulfamethizol Rumus Struktur C9H10N4O2S2 Sinonim: Sulfametilthiadiazol. 6. Hasil: warna yang timbul adalah kuning jingga d.3 Rumus Bangun Pemerian: Kristal tak berwarna atau putih hingga krem-serbuk kristal putih. 5. Lucosil. Koniferil alkohol—oranye Tembaga (Metode 1)—hijau Koppanyi–Zwikker Test—merah-violet (transient) Merkuri nitrat—hitam Asam Nitrat—kuning b. Reaksi Warna 1. 0.    Mayer Etanol-air Dragendorf Aceton-air 3.

Kalau yang dipakai alfa naftol : merah ungu. Reaksi Diazotasi Zat + 2 tts HCl 2 N dan air : + NaOH dan teteskan larutan 0. biru atau cokelat mengindikasikan adanya sulfonamida. Metode : Larutkan sampel dalam 0. Tembaga sulfat e. endapan jingga kemudian merah darah. tambahkan 1 tetes reagen diikuti dengan 10 mikroL larutan pirolidin dan campuran diaduk. g.1 M NaOH dan tambahkan 1% (b/v) larutan tembaga sulfat sampai larutan berubah sempurna. Sulfonamida Metode : Larutkan sampel dalam 1 mL etanol. Reaksi Kristal 1.Thidicur : hijau muda-kuning e. (+) : Warna jingga mengindikasikan adanya amin aromatik primer yang terikat secara langsung pada cincin benzen. Koniferil alkohol (reaksi untuk amin aromatik primer) Reagen : Panaskan 0. Aseton-air 3. Metode : Teteskan larutan sampel pada kertas saring. Zat + NaOH + air + CuSO4à hijau-hitam i.1 g koniferil alkohol sampai melebur (T. g. (+) : Timbul warna hijau. Dragendorf C.1 g beta-naftol dalam 2 ml NaOH. tambahkan 1 tetes reagen dan diberi uap HCl. Pirolisa : coklat + gas SO2 h. Tes Koppanyi–Zwikker Reagen : Larutan 1% (b/v) kobalt nitrat dalam etanol. Sulfonamida Medium Acting 1. (+) : Warna ungu. Reaksi-Reaksi Identifikasi f.L. 74oC) larutkan dalam 3 mL etanol dan diencerkan dengan etanol ad 10 mL. yang mengandung strukutur berikut : . pDAB-HCl 2. Reaksi KbrO3 Cara reaksi lihat di atas Hasil: kuning coklat f.

Endapan kemudian berubah warna menjadi cokelat muda. kocok dan amati selama 2 menit. oksipenisatin.Kristal putih sampai putih-kekuningan. atau pink hampir putih berbentuk kristal atau hablur. dan sakarin) h. Metode : Larutkan sampel dalam etanol + 1 tetes reagen. sublimasi . aseton air 3. sulfametoksazol. sulfamerazin.aseton-air. (+) : Warna abu-abu gelap atau hitam Sulfadiazin Sulfadiazin. sulfamezhatin. (misalnya barbiturat.1. glutetimida. Reaksi Warna     Koniferil alkohol à jingga tembaga sulfat à hijau Tes Koppanyi-Zwikker à biru-violet merkuri nitrat à hitam Reaksi Kristal Fe complex. Reagen harus dibuat segar. Sulfafenazole . bouchardat. Reaksi Warna :     Koniferil alkohol à Jingga Cuprum sulfat (metode 1) à Violet-Coklat Reaksi Koppanyi-Zwikker à Violet-Pink Merkuri nitrat à Hitam Reaksi Kristal Asam Pikrat. Sulfamethoksazol Pemerian . sulfafenazol Rumus Bangun Pemerian Putih. Merkuri nitrat (reaksi umum golongan mirip barbiturat) Reagen : jenuhkan larutan merkuri nitrar dengan penambahan serbuk natrium bikarbonat sampai menghasilkan gas dan endapan terbentuk berwarna kuning. dragendorf. asam pikrat 4. Imida. lambat laun menjadi gelap jika terpapar cahaya. putih kekuningan.

akan menghasilkan asap kekuningan yang berbau sulfur dioksida. Sulfonamida Long Acting 1. Ketika dipanaskan bubuk menjadi cokelat. Reaksi Warna     Koniferil alkohol à Jingga Cuprum sulfat (metode 1) à Hijau lalu menjadi Coklat Reaksi Koppanyi-Zwikker à Pink Merkuri nitrat à Hitam Reaksi Kristal Sublimasi. tidak berbau. dragendorf. aseton-air. ketika dipanaskan lebih jauh. asam pikrat 5. asam pikrat. Sulfamerazin Rumus Bangun Pemerian Putih atau putih kekuningan serbuk kristal yang lambat laun akan menjadi gelap jika terpapar cahaya. Fe complex.aseton-air. sublimasi . Reaksi Reaksi warna . Reaksi Warna      Koniferil alkohol à jingga tembaga sulfat à biru tes Koppanyi-zwikker à biru-violet merkuri nitrat à hitam asam nitrat à kuning. D. bouchardat. tidak berasa.Rumus Bangun Pemerian Serbuk kristal putih. Reaksi Kristal Fe complex. Sulfamethoksipiridazin Pemerian Serbuk Kristal putih sampai kekuningan.

Reaksi  Reaksi warna 1. Reaksi dengan AgNO3 àhitam 2. tetap warna merah)à coklat kehijauan 1. 3. Sulfadimethoxine . Reaksi dengan CuSO4à hijau 2. Reaksi  Reaksi warna 1. Reaksi dengan HNO3àkuning 2. Reaksi dengan HNO3àkuning 4. Reaksi dengan HNO3àkuning 1. Reaksi p-DAB-HCl (p-DAB 1gram+ HCl encer 10 ml+ aqua ad 100 ml)à (+) Caranya: zat padat pada plat tetes + 2 tetes pereaksià jingga merah 1. Sulfadoksin Pemerian Serbuk kristal putih.1. Reaksi dengan AgNO3 àhitam 2. Reaksi dengan AgNO3 àhitam 3. Sulfametoprazin Rumus Bangun Pemerian Serbuk kristal putih sampai kekuningan. setelah dingin + 1 tetes CuSO4 + 1 tetes HCl encer ad netral atau asam lemah (indicator congored. Reaksi dengan CuSO4 Caranya: zat dalam tabung reaksi +2ml air dipanaskan sampai mendidih + NaOH 2 tetes. Reaksi dengan CuSO4 → hijau 2.

Reaksi Erlich dengan p-DAB-HCl Sulfacetamid (di atas plat tetes) + 1-2 tetes p-DAB-HCl à warna hijau tua segera menjadi kuning jingga c. Sulfasetamid Pemerian Bubuk Kristal putih. Reaksi dengan KBrO3 Sulfacetamid + 1mL H2SO4 4N + 1 tetes KBrO3 jenuh à kuning jingga-coklat tua d. Reaksi dengan CuSO4 Zat dalam tabung reaksi + 2 mL air dipanaskan hingga mendidih + 2 tetes NaOH.Pemerian Serbuk kristal putih sampai kekuningan. setelah dingin + 1 tetes CuSO4 + 1 tetes HCl encer sampai netral atau asam lemah (indicator congo red. Pyrolisa . rasa asam keasinan lemah Reaksi a. tak berbau. Reaksi Indophenol Panaskan zat 50-100 mg dalam tabung reaksi + 2ccair sampai mendidih lalu segera tambahkan 2 tetes NaOH dan 2 ml Kaporit + 1 tetes fenol liq. tetap merah) à negatif (tidak terbentuk endapan) g. Reaksi dengan CuSO4 à hijau 2. kuning muda. Reaksi Roux Sulfacetamid (di atas plat tetes) + 1 tetes pereaksi Roux. Reaksi dengan HNO3àkuning E. aduk dengan batang pengaduk à warna hijau zamrud b. Reaksi dengan AgNO3 àhitam 3. Sulfonamida Penggunaan Lokal 1. Reaksi  Reaksi warna 1. Segar à hijau tua segera e. Esterifikasi Zat + etanol + H2SO4 pekat à etil asetat (bau cutex) f.

Reaksi Erlich dengan p-DAB-HCl Zat ( di atas plat tetes) + 1-2 tetes p-DAB-HCl à warna jingga d. Reaksi Kristal v 10mg zat + 1ml HCL 0. Sulfonamida untuk Usus .5N + CuO ammoniak à lihat mikroskop v Dengan p-DAB-HCl v Dengan aseton-air v Dengan asam pikrat v Sublimasi 2. panaskan di atas nyala api kecil à hijau tua (dilihat di bawah dasar putih) c. Reaksi Kristal v HCL 5% + zat à tidak berwarna v Sublimasi v Asam pikrat v Aseton-air F.01N à warna hilang b. Reaksi Vanillin 1 tetes H2SO4 + beberapa kristal vanillin. tidak berasa Reaksi a. 10 mg zat + 2 tetes NaOH 0. bau aniline + NH3 Zat + HCl à sulfanilamide (lakukan tes sulfanilamide) h. Sulfadikramid Pemerian Serbuk putih.Zat à warna kuning. campurkan + zat.1N + 1 tetes KMnO4 0. tidak berbau.

endapan coklat. (tidak terbentuk endapan jingga kemudian merah darah. Reaksi Kristal Aseton – air Fe kompleks Zat + HNO3 pekat.Bila ditambah asam. Reaksi ERLICH dengan p-DAB HCl Zat (diatas plat tetes) + 1-2 tetes p-DAB-HCl à hasil negatif Zat + HCl. dimasak lalu ditambahkan p-DAB-HCl à jingga (zat + HCl pekat à sulfathiazol) b. warna timbul kembali. + NaOH 2 tetes. Reaksi dengan Cu2SO4 Zat dalam tabung reaksi + 2 ml air dipanaskan hingga mendidih. aduk dengan batang pengaduk à warna hijau-kuning. rasa agak pahit. tetap merah) àwarna hijau abu-abu. Reaksi Umbelliferon Zat + resorcin + H2SO4 pekat. Reaksi a. setelah dingin + 1 tetes CuSO4 + 1 tetes HCl encer sampai netral atau asam lemah (indikator congo red. jika yang dipakai α-Naftol menjadi merah ungu) c. warna hilang. Suksinilsulfathiazol Pemerian Bubuk putih kekuningan. gores-gores à mengendap Zat + NH4OH + HCl 25% à kristal Sublimasi 2. tak berbau. dipanaskan.1 g β-Naftol dalam 2 ml NaOH à hasil negatif. g. 1. Reaksi ROUX Zat (diatas plat tetes) + 1 tetes pereaksi ROUX. dibakar bau menusuk. Fluoresensi à hijau 2. d.1. f. Reaksi Diazo (untuk amin aromatis primer) Zat + 2 tetes HCl 2N + 1 ml air + 2 tetes NaNO2 dan teteskan larutan 0.Bila kemudian ditambah basa. Phtalilsulfathiazol . e. h. + NaOH + air à warna jingga berfluoreseensi hijau. Reaksi dengan KBrO3 Zat + 1 ml H2SO4 4N + 1 tetes KBrO3 jenuh à warna ungu.

Reaksi dengan KBrO3 Zat + 1 ml h2SO4 4N + 1 tetes KBrO3 jenuh à tidak berwarna. kuning putih. Bila ditambah asam. c. e. Reaksi a. Bila kemudian ditambah basa. rasa pahit lemah. warna timbul kembali g. Reaksi ROUX Zat (diatas plat tetes) + 1 tetes pereaksi ROUX. Reaksi ERLICH dengan p-DAB-HCl Zat (diatas plat tetes) + 1-2 tetes p-DAB-HCl à jingga kuning. + NaOH + air à warna kuning berfluoresensi hijau.Pemerian Bubuk putih. aduk dengan batang pengaduk à warna hijau kuning kotor. warna hilang. Reaksi DIAZO (untuk amin aromatis primer) Akan member hasil negatif. b. Reaksi INDOPHENOL Akan memberi hasil negatif (tidak terjadi perubahan warna/tidak berwarna) f. Reaksi UMBELLIFERON Zat + resorcin + H2SO4 pekat. Reaksi kristal       Dragendorf Aseton – air Asam pikrat Asam pikrolon Fe kompleks Sublimasi . dipanaskan. d. tidak berbau.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful